<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Suparman</id>
	<title>Baka-Tsuki - User contributions [en]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Suparman"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Special:Contributions/Suparman"/>
	<updated>2026-05-03T04:55:20Z</updated>
	<subtitle>User contributions</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.43.1</generator>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Talk:Baka_to_Test_to_Shoukanjuu_(Indonesia)&amp;diff=435117</id>
		<title>Talk:Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Talk:Baka_to_Test_to_Shoukanjuu_(Indonesia)&amp;diff=435117"/>
		<updated>2015-04-03T15:38:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;the hell.... MIA=Maiden In Action...? *sigh*&lt;br /&gt;
apa cowoknya jg masih Maiden lolz... *ngacir*&lt;br /&gt;
-[[User:Tony Yon|Tony Yon]] ([[User talk:Tony Yon|talk]])&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hooo..... MIA harusnya Missing In Action, ya kan? [[User:Rage Ender|Rage Ender]] ([[User talk:Rage Ender|talk]]) 03:05, 21 October 2013 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hohoho. numpang lewat gw cuma bantu bikin shortcut paling bawah buat next atau before doang (~&#039;.&#039;)~&lt;br /&gt;
buat volume 1 all done [[User:Suparman|hahaha Suparman lewat]] 10:02 pm. 3 April 2015&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_id&amp;diff=435112</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_id&amp;diff=435112"/>
		<updated>2015-04-03T15:29:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: Created page with &amp;quot;==Ilustrasi Novel==  {{:Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Illustrations}} {{:Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal Pertama}} {{:Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kedu...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Ilustrasi Novel==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{:Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Illustrations}}&lt;br /&gt;
{{:Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal Pertama}}&lt;br /&gt;
{{:Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kedua}}&lt;br /&gt;
{{:Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Ketiga}}&lt;br /&gt;
{{:Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Keempat}}&lt;br /&gt;
{{:Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kelima}}&lt;br /&gt;
{{:Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Keenam}}&lt;br /&gt;
{{:Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Ketujuh}}&lt;br /&gt;
{{:Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kedelapan}}&lt;br /&gt;
{{:Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kesembilan}}&lt;br /&gt;
{{:Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Terakhir}}&lt;br /&gt;
{{:Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Catatan Penulis}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]   &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Catatan_Penulis&amp;diff=435109</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Catatan Penulis</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Catatan_Penulis&amp;diff=435109"/>
		<updated>2015-04-03T15:24:07Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Untuk pembaca yang membeli buku ini, senang berjumpa denganmu. saya Kenji Inoue, yang memenangkan hadiah ENTAME ke-8 dengan novel ini, dan memulai perjalanan menulisku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena ini adalah novel pertama saya, sudah pasti saya tidak memiliki pengalaman dalam menerbitkan novel sebelumnya. Dari pesta selamatan atas memenangan hadiah tersebut, hingga pertemuan sebelum menerbitkan bukunya, semuanya sangat baru untuk saya, jadi saya selalu panik.&lt;br /&gt;
Diantara semua pengalaman ini, satu yang sangat membuat saya panik adalah ketika diberitahu saya memenangkan hadiahnya, dan harus bertemu dengan editor. Tolong biarkan saya menggunakan beberapa ruang untuk menjelaskan apa yang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hari pertama kami bertemu, saya pergi ke tempat pertemuan 20 menit lebih awal. Saat itu saya menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang mungkin ditanyai nanti. Seperti jenis novel apa yang ingin saya tulis di masa depan, apa yang akan saya lakukan jika terdapat volume kedua, dan tempat seperti apa yang saya sukai ketika menulis. Sebagai seorang dewasa yang bekerja dalam masyarakat, saya sudah menyiapkan jawaban biasa di otak saya yang tidak akan mengecewakan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sekitar lima belas menit, editornya akhirnya datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada masalah, tidak perlu cemas. Saya sudah cukup siap dan sudah berlatih di otak saya beberapa kali. Pertanyaannya pasti sekitar minat, khususnya untuk produk lokal yang terkenal tanpa kehilangan apapun. Tidak peduli bagaimanapun dia menyerang, aku tidak akan dikalahkan! Lalu, pertanyaan pertama yang ditanyakan editor ke saya adalah --&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tn. M (Editor) : &amp;quot;Inoue lebih memilih dada besar atau dada rata?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia benar-benar orang yang bekerja di ladang kreatifitas, bahkan pertanyaan yang dia tanyakan sangat kreatif. Bahkan jika pertanyaan yang dia tanyakan di luar perkiraanku, jika saya tidak dapat menjawab dengan jawaban yang memuaskan, itu akan memalukan diri saya sendiri sebagai orang dewasa yang bekerja dalam masyarakat. Meskipun saya sedikit pemalu, saya masih mengekspresikan pilihan saya seperti ini: &amp;quot;Besar lebih baik...... &amp;quot;.&lt;br /&gt;
Setelah itu editor tersebut mengangguk dan menanyakan pertanyaan berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tn. M: &amp;quot;Apa kamu Siscon atau lebih memilih wanita dewasa? &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si professinal sangat mengerikan. Saya tidak pernah mengira dia lebih tertarik dengan kesukaan pribadi saya daripada rencana untuk masa depan. Jika saya sudah merencanakan pertanyaan seperti ini, saya mungkin bisa mengatakan jawaban yang dewasa seperti &amp;quot;Saya lupa saya memiliki sepupu perempuan seumuran dengan saya.&amp;quot;. Saya hanya bisa menjawab pertanyaan ini seperti orang biasa, &amp;quot;Saya ingin mempunyai seorang kakak yang cantik dan lembut yang tidak akan menggangu adik laki-lakinya&amp;quot;. Sekarang aku melihat kebelakang, jika aku dapat menjawab pertanyaannya dengan tenang, aku mungkin tidak akan mendapatkan posisi rendah di perusahaan penerbitan iya kan? jika beberapa diantara pembaca ingin menjadi seorang penulis novel, demi posisi masa depan anda di perusahaan penerbitan, kau harus menyiapkan jawaban untuk dua pertanyaan diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saya berhenti menulis disini, orang-orang mungkin berpikir saya ini seorang idiot yang normal benar? Mohon izinkan saya untuk menjelaskan sendiri. Meskipun isi dalam catatan penulis sedikit bodoh, novelnya bukanlah cerita yang membosankan. karena ini dapat diterbitkan, ini pasti memiliki sesuatu yang setidaknya sebagus novel lain. Ini mungkin terdengar sedikit sombong, saya sangat yakin dengan satu bagian novel ini. Apakah itu? Saya rasa semua pembaca telah mengetahuinya iya kan? Benar sekali! Itu adalah ilustrasi novel ini!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ingin menggunakan ruang yang tersisa untuk berterima kasih kepada beberapa orang lagi. Pertama-tama kepada juri, saya sangat berterima kasih dan saya ingin mengatakan &#039;Cara novel ini ditulis memiliki beberapa masalah&#039; sebagai saran. Juga untuk bagian editor dan orang yang membuat novel ini berhasil diterbitkan, dan juga senpai yang memberi saya banyak saran pada pesta selamatan. terakhir tapi bukan sedikit, untuk pembaca yang membeli buku ini, saya persembahkan ucapan terima kasih terpaling saya, dan berharap mendapat kesempatan untuk bertemu semuanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume2_Soal Terakhir|Soal Terakhir]]   &lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume2_Catatan_Penerjemah&amp;diff=435107</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume2 Catatan Penerjemah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume2_Catatan_Penerjemah&amp;diff=435107"/>
		<updated>2015-04-03T15:20:29Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Catatan Penerjemah==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Soal Pertama===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*[1] Pakaian tradisional China untuk wanita.[http://en.wikipedia.org/wiki/Cheongsam]&lt;br /&gt;
*[2] Huruf kanji untuk &#039;Makanan&#039; sama dengan huruf cina, yakni 食品 (shokuhin). Dalam bahasa cina adalah 食品 (shi pin)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Soal Kedua===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*[1] Negara Negara Baltik, Lithuania, Estonia and Latvia. Terdapat di Eropa Utara. Nama &amp;quot;Baltik&amp;quot; Didapat dari lokasi ketiga negara yang berada dekat laut Baltik. Info lebih lanjut [http://en.wikipedia.org/wiki/Baltic_states] (Wikipedia Inggris)&lt;br /&gt;
*[2] Uruyasu, Kota terletak di Chiba Barat, Disneyland ada disana.&lt;br /&gt;
*[3] Semua nama ini adalah perfektur dari Shikoku, sebuah pulau di jepang dengan kota kota besar yang punya nama yang sama.&lt;br /&gt;
*[4] Kepsek lupa pepatah aslinya. Mungkin maksudnya &#039;kalau buru buru tidak akan mendapatkan hasil apa apa&#039; dan semacamnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]   &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Catatan_Penulis&amp;diff=435106</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Catatan Penulis</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Catatan_Penulis&amp;diff=435106"/>
		<updated>2015-04-03T15:18:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Untuk pembaca yang membeli buku ini, senang berjumpa denganmu. saya Kenji Inoue, yang memenangkan hadiah ENTAME ke-8 dengan novel ini, dan memulai perjalanan menulisku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena ini adalah novel pertama saya, sudah pasti saya tidak memiliki pengalaman dalam menerbitkan novel sebelumnya. Dari pesta selamatan atas memenangan hadiah tersebut, hingga pertemuan sebelum menerbitkan bukunya, semuanya sangat baru untuk saya, jadi saya selalu panik.&lt;br /&gt;
Diantara semua pengalaman ini, satu yang sangat membuat saya panik adalah ketika diberitahu saya memenangkan hadiahnya, dan harus bertemu dengan editor. Tolong biarkan saya menggunakan beberapa ruang untuk menjelaskan apa yang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hari pertama kami bertemu, saya pergi ke tempat pertemuan 20 menit lebih awal. Saat itu saya menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang mungkin ditanyai nanti. Seperti jenis novel apa yang ingin saya tulis di masa depan, apa yang akan saya lakukan jika terdapat volume kedua, dan tempat seperti apa yang saya sukai ketika menulis. Sebagai seorang dewasa yang bekerja dalam masyarakat, saya sudah menyiapkan jawaban biasa di otak saya yang tidak akan mengecewakan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sekitar lima belas menit, editornya akhirnya datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada masalah, tidak perlu cemas. Saya sudah cukup siap dan sudah berlatih di otak saya beberapa kali. Pertanyaannya pasti sekitar minat, khususnya untuk produk lokal yang terkenal tanpa kehilangan apapun. Tidak peduli bagaimanapun dia menyerang, aku tidak akan dikalahkan! Lalu, pertanyaan pertama yang ditanyakan editor ke saya adalah --&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tn. M (Editor) : &amp;quot;Inoue lebih memilih dada besar atau dada rata?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia benar-benar orang yang bekerja di ladang kreatifitas, bahkan pertanyaan yang dia tanyakan sangat kreatif. Bahkan jika pertanyaan yang dia tanyakan di luar perkiraanku, jika saya tidak dapat menjawab dengan jawaban yang memuaskan, itu akan memalukan diri saya sendiri sebagai orang dewasa yang bekerja dalam masyarakat. Meskipun saya sedikit pemalu, saya masih mengekspresikan pilihan saya seperti ini: &amp;quot;Besar lebih baik...... &amp;quot;.&lt;br /&gt;
Setelah itu editor tersebut mengangguk dan menanyakan pertanyaan berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tn. M: &amp;quot;Apa kamu Siscon atau lebih memilih wanita dewasa? &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si professinal sangat mengerikan. Saya tidak pernah mengira dia lebih tertarik dengan kesukaan pribadi saya daripada rencana untuk masa depan. Jika saya sudah merencanakan pertanyaan seperti ini, saya mungkin bisa mengatakan jawaban yang dewasa seperti &amp;quot;Saya lupa saya memiliki sepupu perempuan seumuran dengan saya.&amp;quot;. Saya hanya bisa menjawab pertanyaan ini seperti orang biasa, &amp;quot;Saya ingin mempunyai seorang kakak yang cantik dan lembut yang tidak akan menggangu adik laki-lakinya&amp;quot;. Sekarang aku melihat kebelakang, jika aku dapat menjawab pertanyaannya dengan tenang, aku mungkin tidak akan mendapatkan posisi rendah di perusahaan penerbitan iya kan? jika beberapa diantara pembaca ingin menjadi seorang penulis novel, demi posisi masa depan anda di perusahaan penerbitan, kau harus menyiapkan jawaban untuk dua pertanyaan diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saya berhenti menulis disini, orang-orang mungkin berpikir saya ini seorang idiot yang normal benar? Mohon izinkan saya untuk menjelaskan sendiri. Meskipun isi dalam catatan penulis sedikit bodoh, novelnya bukanlah cerita yang membosankan. karena ini dapat diterbitkan, ini pasti memiliki sesuatu yang setidaknya sebagus novel lain. Ini mungkin terdengar sedikit sombong, saya sangat yakin dengan satu bagian novel ini. Apakah itu? Saya rasa semua pembaca telah mengetahuinya iya kan? Benar sekali! Itu adalah ilustrasi novel ini!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ingin menggunakan ruang yang tersisa untuk berterima kasih kepada beberapa orang lagi. Pertama-tama kepada juri, saya sangat berterima kasih dan saya ingin mengatakan &#039;Cara novel ini ditulis memiliki beberapa masalah&#039; sebagai saran. Juga untuk bagian editor dan orang yang membuat novel ini berhasil diterbitkan, dan juga senpai yang memberi saya banyak saran pada pesta selamatan. terakhir tapi bukan sedikit, untuk pembaca yang membeli buku ini, saya persembahkan ucapan terima kasih terpaling saya, dan berharap mendapat kesempatan untuk bertemu semuanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume2_Soal Terakhir|Soal Terakhir]]   &lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Next Page [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume2_Catatan Penerjemah|Catatan Penerjemah]]   &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Terakhir&amp;diff=435105</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Soal Terakhir</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Terakhir&amp;diff=435105"/>
		<updated>2015-04-03T15:14:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;pertanyaan terakhir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pertanyaan:silahkan mengisi () dengan tahun yang benar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pada tahun (),kristen pertama kali di perkenalkan di jepang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jawaban kirishima shouko:&lt;br /&gt;
&amp;quot;1549&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
komentar guru :&lt;br /&gt;
jawaban yang benar,tidak ada komentar pada khususnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jawaban sakamoto yuuji:&lt;br /&gt;
&amp;quot;pada musim dingin yang penuh dengan salju yang putih bersih,saya merasakan dingin dan tangan ku menggigil pada tahun 1993.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
komentar guru:&lt;br /&gt;
tidak peduli seberapa romantis kamu membuat tampilan jawabanmu,jawaban yang salah tetaplah salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;3 VS 2,kelas A menang&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ini adalah kalimat pertama yang takahashi sensei katakan pada kami ketika kami melangkah ke dalam kelas video.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ya,aku tahu,kita kalah.kita dikalahkan tanpa diragukan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;yuuji,aku menang&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kirishima berjalan menuju yuuji,yang berlutut di tanah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;bunuh aku&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;baiklah,jika kau sudah siap aku akan membunuhmu tarik napas dalam - dalam dan mati!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;yoshii tenanglah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
himeji memegang saya kembali dari belakang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;idiot ini mendapat nilai lima puluh tiga jika ia mendapat nol mungkin itu karena ia lupa untuk menulis namanya!! sebuah nilai seperti ini....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;ini adalah hal terbaik yang bisa kulakukan&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kesembilan|Soal Kesembilan]]   &lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]   &lt;br /&gt;
| Next Page [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Catatan Penulis|Catatan Penulis]]   &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Kesembilan&amp;diff=435104</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Soal Kesembilan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Kesembilan&amp;diff=435104"/>
		<updated>2015-04-03T15:12:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pertanyaan ke Sembilan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawablah pertanyaan berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebutkan lima nutrisi dasar yang dibutuhkan manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban Himeji Mizuki:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;1. Lemak, 2. Karbohidrat, 3. Protein, 4. Vitamin, 5. Mineral&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komentar Guru:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat sekali, Himeji!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban Yoshii Akihisa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;① Gula ② Garam ③ Air keran ④ Air hujan ⑤ Mata air&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komentar Guru: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya cuma kau yang bisa bertahan dengan semua ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban Tsuchiya Kouta:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu disebut menarche, periode pertama sejak wanita dilahirkan. Dalam bahasa medis, periode ini disebut periode menstruasi. Menarche sering dihubungkan dengan faktor usia dan berat badan. Biasanya ini muncul saat berat badan si wanita mencapai 43 kg, tapi faktor usia bisa berbeda-beda tergantung individu masing-masing. Di Jepang, rata-rata usianya 12 tahun. Ada juga faktor lain selain berat badan, seperti ras, cuaca, dan lingkungan sosial yang akan mempengaruhi waktu terjadinya menarche...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Menarche bisa terjadi sebelum si wanita berusia 10 tahun, yang biasanya disebut menarche prematur. selain itu, menarche yang terjadi setelah 15 tahun disebut menstruasi yang terlambat. Juga, jika menarche tidak pernah terjadi sampai umur 18 tahun disebut promaru amenorrhea...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komentar Guru:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mohon maaf, aku hendak menginformasikan padamu bahwa ujian kesehatan sudah lewat sejam yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesudah itu, aku pergi ke ruang guru untuk mengikuti pelajaran privat dengan mereka. Lalu aku pulang ke rumah dalam keadaan lelah dan langsung tertidur begitu aku menyentuh ranjang. Aku benar-benar kecapaian dan jatuh ke alam mimpi seperti selembaran kain kumal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Esok paginya kami menghadiri rapat setelah mengikuti ujian mengisi kembali skor kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rapat itu adalah rapat diskusi taktik yang terakhir sebelum kami menghadapi lawan terakhir, Kelas A, dan mengucapkan selamat tinggal pada ruang Kelas F.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih pada semua orang yang telah membantu Kelas F sampai sejauh ini. Aku benar-benar bersyukur untuk semua bantuan yang kalian berikan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yuu...Yuuji, apa yang salah denganmu? Tidak biasanya kau mengucapkan sesuatu seperti itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah, kupikir juga begitu, tapi kata-kata itu berasal dari lubuk hatiku yang paling dalam.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersentuh dengan perkataannya. Siapa yang pernah mengira kami, murid-murid Kelas F, bisa mencapai sebegini banyak dalam perang ini...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena kita sudah sampai sejauh ini, kita harus menghalalkan segala cara supaya bisa memenangkan perang melawan Kelas A. Kita akan membuktikan pada para guru bahwa hasil ujian bukanlah segalanya, oke?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;YEAH---!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;ITU BENAR---!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hidup bukan berarti belajar!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pertarungan terakhir, aku merasa hati kami semua bersatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terima kasih banyak. Mengenai perang dengan Kelas A, aku berencana menantang mereka berduel.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak terkejut karena aku sudah mendengar hal itu tepat sebelum rapat. Namun, mereka yang baru pertama kali mendengarnya terlihat sedikit terkejut; ruangan ini dipenuhi ketegangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa artinya itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa yang bakal mewakili kita dalam duel?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau yakin kita bisa menang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tenang semua! Biar kujelaskan rencanaku sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji memukul meja untuk menenangkan semuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yang akan berduel, tentu saja, Kirishima Shouko dan aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketua Kelas A adalah Kirishima Shouko dan ketua Kelas F adalah Sakamoto Yuuji. Jika perlu seseorang untuk ditunjuk mewakili kelas dalam duel, tentu saja ketua kelas wajib dipilih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti semuanya sampai titik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, aku tidak mengerti bagaimana Yuuji akan bisa menang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musuhnya adalah Kirishima. Dia bukan hanya pemimpin seluruh murid, nilainya juga lebih tinggi dari Himeji, yang sudah terlalu bagus bahkan jika dibandingkan dengan murid Kelas B. Meskipun ini terdengar jahat, tapi----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Si bodoh Yuuji tidak akan pernah menang melawan--- WAH!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah pisau Stanley mendadak melesat melewati pipiku. Sialan kau Yuuji, kau mau membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa dia tidak sekejam itu. Sejelek apapun Yuuji, dia tidak akan pernah sengaja berpikir untuk membunuh temannya sendiri...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lain kali targetnya adalah telingamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya aku bukan temannya Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi seperti yang Akihisa bilang, Shouko sangat kuat. Kalau aku menantangnya secara langsung, aku tidak mungkin punya kesempatan untuk menang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kau mengakui kau tidak bisa menang, tidak perlu melempar pisau Stanley itu padaku kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi bukannya itu sama saja seperti pertarungan kita melawan Kelas D dan Kelas B? Kita pasti akan kalah kalau kita berhadapan langsung dengan mereka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kami terus menang sampai sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kali ini tidak akan sama seperti waktu itu. Aku harus mengalahkan Shouko dan Kelas F akan mendapatkan ruang Kelas A. Kemenangan akan menjadi milik kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji telah memimpin kami meraih kemenangan dalam Perang Tes Pemanggilan yang semula kami pikir tidak bisa kami menangkan, jadi meskipun rencana Yuuji kedengaran tidak terlalu meyakinkan, tidak ada seorangpun di kelas yang tidak setuju dengan rencananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Serahkan semua padaku! Aku akan memperlihatkan pada kalian semua kekuatan dari mantan &#039;Anak Jenius&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;OHHHH----&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tidak perlu menanyakan pendapat tiap orang. Kami semua percaya pada Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, biarkan aku menjelaskan detail taktiknya... Aku berencana menantang Shouko dalam beberapa bidang yang terbatas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bidang yang terbatas? Pelajaran apa saja yang mau kau pilih?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sejarah Jepang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah Jepang? Kalaupun Kirishima kurang mahir dalam Sejarah Jepang, aku tidak pernah mendengar nilai Sejarah Jepang Yuuji bagus. Kenapa dia mau memilih pelajaran itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi aku mau membatasi cakupan ujiannya. Level kesulitannya setingkat dengan level sekolah dasar dan skor maksimal adalah seratus. Syokanju tidak akan dipakai dan hasilnya hanya bergantung pada skor ujian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujian setingkat sekolah dasar dengan nilai maksimal seratus?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kondisi ini, umumnya bisa dipastikan keduanya akan mendapat nilai seratus dan orang pertama yang membuat kesalahan akan kalah. Kalau begitu, tantangannya menjadi seberapa fokus mereka. Sepertinya kesempatan kami untuk menang bakalan lebih tinggi dibanding bertarung langsung melawan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi kalau kalian berdua dapat nilai yang sama, kalian akan diberikan pertanyaan lain kan? Kalau begitu pertanyaannya mungkin akan makin sulit. Bukannya itu akan jadi kerugian bagi Yuuji, yang sudah berhenti belajar beberapa lama?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah, Akihisa benar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mekipun kelihatannya kami bisa menang dengan rencana ini, ini juga merupakan pertaruhan yang berbaya. Dan kunci dalam rencana ini adalah Yuuji?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, jangan meremehkan aku. Soalnya taktik yang hanya mengandalkan hoki bukanlah taktik sama sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Yuuji, kau tahu bagaimana membuat Kirishima kehilangan fokus dalam ujian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak. Aku tidak berpikir cewek itu akan kalah dalam pertanyaan level SD hanya karena kehilangan fokus.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar. Selain itu, teknik-teknik yang bisa digunakan dalam ujian yang diawasi tidak pernah bisa mempengaruhi Kirishima. Kalau begitu apa yang bisa dia lakukan untuk menang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yuuji, berhenti merahasiakan rencanamu! Sudah waktunya kau mengatakan kartu as-mu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua orang dalam kelas mengangguk setelah Hideyoshi berkata demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, maaf. Pidato pembukanya ternyata lebih panjang dari yang kuduga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji menggelengkan kepalanya, dan mulai berkata lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hanya ada satu alasan yang membuatku memilih duel macam ini. Itu karena aku tahu cewek itu pasti akan salah menjawab satu pertanyaan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan? Pertanyaan macam apa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pertanyaannya adalah ---- &#039;Pembaruan Taika&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pembaruan Taika? Pertanyaan seperti kapan siapa melakukan apa? Memangnya pertanyaan itu akan keluar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kurasa sekolah tidak akan menyiapkan pertanyaan macam begitu, tapi sekolah yang mendukung murid-muridnya untuk belajar sebanyak-banyaknya mungkin akan mengeluarkan soal seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, bukan pertanyaan selengkap itu. Pertanyaannya jauh lebih simpel dari itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau bilang simpel, mungkin pertanyaan soal tahunnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh Hideyoshi, BINGO! Seperti yang kau bilang barusan, kalau pertanyaan tentang tahun berapa itu keluar, kemenangan akan menjadi milik kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun berapa Pembaruan Taikan terjadi? Pertanyaan mudah seperti itu, apa si pintar Shouko akan salah menjawab? Bahkan aku tahu bahwa &#039;Nightingale menangis. Pembaruan Taika&#039;[1], bahkan aku ingat tahunnya dengan kalimat ini!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pembaruan Taika terjadi di tahun 645. Pertanyaan ini begitu mudah yang bahkan Akihisa pun bisa menjawabnya dengan benar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong... Jangan... Lihat aku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi Shouko pasti akan salah menjawab dan kita akan menang. Pada waktu itu kita bisa mengucapkan selamat tinggal pada kelas butut ini sesuai rencana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, ada sesuatu yang membuatku penasaran untuk waktu yang lama---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Errr----Sakamoto.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Ada apa, Himeji?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau...akrab dengan Kirishima?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat sekali. Yuuji menyebut Kirishima dengan sebutan &amp;quot;cewek itu&amp;quot; atau &amp;quot;Shouko&amp;quot;. Kalau mereka tidak akrab satu sama lain, dia tidak akan menggunakan sebutan-sebutan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak mungkin, cowok di hadapanku ini... Bukan cuma Himeji yang menyukainya, bahkan Kirishima yang pintar dan cantik tidak berdaya menghadapi pesonanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah, Shouko adalah teman masa kecilku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semua, LAKUKAN!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Kenapa semua mematuhi perintah Akihisa dan siap melempar sandal?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Diam, kau musuh semua pria! Kami akan mengorbankanmu sebelum kami mengalahkan Kelas A!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa salahku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak perlu bertukar kata lagi. Semua laki-laki di kelas mempunyai pendapat yang sama. Aku merasa diberkati bisa belajar di kelas yang kompak seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa itu kata-kata terakhirmu? Tunggu, Sugawa, masih terlalu dini melepas kaos kakimu. Kita harus menjejalkan senjata terlarang itu ke dalam mulutnya setelah kita menangkapnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengerti!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musuh para lelaki, nikmatilah empat-puluh-tujuh pasang kaos kaki bau milik kami!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Err, Yoshii.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Ada apa, Himeji?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa Yoshii menyukai Kirishima?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, lumayan! Soalnya dia sangat cantik!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Himeji, kenapa kau siap menyerangku? Dan Minami, kenapa kau mengangkat meja guru dan menargetkannya padaku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semuanya tenang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hideyoshi menepuk tangan dengan keras untuk mencegah situasi bertambah buruk; dia benar-benar kalem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Humph, Hideyoshi, kau tidak benci Yuuji?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tenanglah dan pikirkan lagi, kalian semua. Kita semua sedang membicarakan Kirishima Shouko kan? Kurasa dia tidak akan pernah tertarik dengan pria seperti Yuuji.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, benar juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebenarnya, dia mungkin tertarik pada orang lain...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami semua mendadak fokus pada seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa? Apa aku melakukan kesalahan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji mulai panik. Jangan khawatir, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Walaupun kau tidak berbuat apa-apa, kemungkinan besar orang itu akan melakukan sesuatu padamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu, Shouko dan aku adalah teman masa kecil, dan aku sengaja memberitahu jawaban yang salah tentang pertanyaan itu waktu kami masih kecil.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku masih meragukan hubungannya dengan Kirishima, aku akan membiarkannya untuk saat ini karena Kirishima hanya menyukai wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cewek itu tidak akan melupakan semua yang sudah dia pelajari karena dia adalah murid terbaik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Otak pintar yang dengan mudah mengingat segala sesuatu akan menjadi kunci kegagalannya kali ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan menggunakan fakta ini untuk mengalahkannya, dan mengganti meja-meja kita dengan----&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meja-meja kelas atas!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
☆&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Duel?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar. Ketua Kelas F dan Kelas A akan mewakili kelas masing-masing dalam duel menentukan pemenang Perang Tes Pemanggilan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini deklarasi perang yang biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyampai pesan yang dikirim untuk mendeklarasikan perang dengan Kelas A adalah sang pemimpin Yuuji, dan beberapa anggota penting dalam kelas kami seperti Himeji, Hideyoshi, Mutsuriini, dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau saja ini dilakukan tiap kali, seragamku tidak akan ada yang tercabik-cabik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Err, sebenarnya apa tujuan kalian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang sedang bernegosiasi dengan Yuuji sekarang adalah Hideyoshi------- kakak perempuannya, Kinoshita Yuuko. Dia terlihat persis seperti versi perempuannya Hideyoshi. Tapi, jika aku mengakui aku tertarik pada gadis itu, berarti aku juga mengakui aku tertarik pada Hideyoshi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tujuan kami tentu saja memenangkan perang ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kinoshita Yuuko jelas sekali mencurigai kami. Hal ini dapat dimengerti, karena kami adalah kelas beranking paling rendah, yang menantang murid paling pintar di angkatan ini --- Kirishima, untuk berduel, yang sangat tidak masuk akal. Wajar jika dia takut kami merencanakan sesuatu yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meskipun kupikir ini ide yang bagus untuk menyingkirkan Perang Tes Pemanggilan yang merepotkan, tidak ada gunanya mengambil resiko.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar-benar pintar!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban yang sudah diduga, kini negosiasi resmi dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya perang antara kelasmu dan Kelas C?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji menyilangkan tangannya dan menggunakan tangan yang lain untuk menopang dagunya. Dia bersikap sangat tenang dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cukup makan waktu, tapi kami terlalu hebat untuk mereka, jadi tidak ada masalah sama sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas C telah diejek oleh Hideyoshi dan berperang melawan Kelas A. Perang itu hanya memakan waktu kira-kira setengah hari. Sekarang Kelas C memakai peralatan yang selevel dengan Kelas D.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kelas B kelihatannya tertarik untuk berperang melawanmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kelas B... Maksudmu ITU yang kemarin?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah, kualitas kelas bisa dilihat dari ketuanya. Meskipun mereka belum mendeklarasikan perang secara resmi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi Kelas B baru saja berperang dengan Kelas F. Jadi dalam periode persiapan selama tiga bulan, mereka seharusnya tidak berhal mendeklarasikan perang kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu peraturan dari Perang Tes Pemanggilan adalah adanya periode persiapan selama tiga bulan antar perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas yang kalah dalam perang tidak berhak mendeklarasikan perang yang lain dalam waktu tiga bulan. Peraturan ini dibuat untuk mencegah kelas yang kalah menantang kelas yang menang, dan membuat jenjang per kelas makin jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau harus tahu, tak peduli bagaimana kelihatannya, perang itu berakhir dengan &#039;Kesepakatan Damai&#039;, jadi mereka tidak terikat oleh peraturan ini... Bukan hanya Kelas B, Kelas D juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah alasannya mengapa kami tidak mengambil peralatan kelas mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa itu ancaman?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kedengarannya tidak terlalu menyenangkan; bagaimana kalau menyebut ini permintaan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa Yuuji persis seperti Nemoto. Menggunakan teknik negosiasi seperti ini membuat Yuuji tak ada bedanya dengan penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oke, aku mengerti. Walaupun aku tidak tahu apa yang kalian rencanakan, tidak mungkin ketua kelas kami kalah. Aku terima permintaan kalian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Benarkah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menerimanya tanpa pikir panjang. Meskipun aku tidak ambil bagian dalam percakapan barusan, aku berseru karena aku terlalu kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena, aku tidak mau bertarung melawan kelas yang memiliki ketua seperti ITU...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itu mengingatkanku. Nemoto memakai seragam cewek saat dia mendatangi Kelas A. Aku tidak menyangka sesuatu seperti itu secara tidak langsung membantu permintaan kami diterima dengan mudahnya, benar-benar kejutan yang cukup menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi kami memiliki beberapa syarat. Perang ini bukan hanya berupa duel antara ketua kelas. Benar, mari lakukan seperti ini. Masing-masing kelas pilih lima orang, dan bertarung dalam lima duel yang berbeda. Kelas yang memenangkan tiga pertarungan berarti memenangkan perang. Bagaimana? Kalau kalian terima, kami juga terima permintaan kalian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmmmm...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya gadis itu tidak kelihatan terlalu berhati-hati, tapi ternyata dia sangat waspada. Kami tidak boleh meremehkan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitu, kau mencoba mencegah kami mengirim Himeji?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, walaupun kurasa itu bukan masalah besar. Tapi jika Ketua Kirishima berada dalam kondisi yang kurang baik sementara Himeji sedang sangat baik, mungkin akan ada beberapa kecelakaan yang tidak terprediksi sebelumnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucapannya benar-benar merendahkan Himeji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi dia tidak bicara besar, karena Kirishima memang benar-benar menyeramkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan khawatir! Aku yang mewakili Kelas F dalam pertarungan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak mungkin, aku benar-benar tidak percaya padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu kemudian berkata bahwa ini perang, bukan kompetisi. Dan dia benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oya? Kalau begitu aku setuju dengan persyaratanmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak percaya Yuuji berkata demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau serius? Lima duel berbeda, memangnya kita punya kesempatan untuk menang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah? Senangnya~&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi kami yang akan memilih pelajarannya. Tidak apa-apa kan kalau kau memberi kami sedikit keuntungan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu, Yuuji hendak bernegosiasi dengan cara seperti itu. Penting bagi kami untuk memilih pelajaran. Lawan tidak akan begitu baiknya menerima duel satu-lawan-satu dan mempersilakan kami memilih pelajaran. Jadi Yuuji sengaja menerima syarat mereka tentang lima duel berbeda supaya kami bisa mendapat kesempatan memilih pelajarannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Hmmm...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kinoshita Yuuko memikirkan hal itu dengan berhati-hati. Negosiasi ini mewakili keputusan kelas. Hasilnya bisa sangat mempengaruhi perang nanti, jadi dia harus benar-benar hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku terima!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;WAH!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku terima saran Yuuji.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba terdengar suara kalem dan lantang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menyadari kapan Kirishima tiba. Aku tahu gadis itu pendiam, tapi aku tidak pernah mengira dia bisa menyembunyikan aura keberadaannya seperti ahli silat profesional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Kau yakin, Ketua Kelas?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebagai gantinya, aku ingin menambahkan syarat lagi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Syarat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirishima mengangguk. Dia memandang Himeji dari atas ke bawah sementara Himeji bersembunyi di belakang Yuuji, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pihak yang kalah harus menerima permintaan apapun dari pihak yang menang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I-Ini adalah krisis terbesar bagi keperawanan Himeji! Apa, apa, apa, apa yang harus kulakukan? Kalau sesuatu seperti ini terjadi... Aku bakal jadi sangat panik sampai tidak bisa tidur! Aku bahkan tidak punya uang untuk membeli kamera digital!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...(suara foto diambil.)&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mutsuriini, masih terlalu dini untuk mengambil foto sekarang! Apa kau berencana untuk kalah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ini harus terjadi? Hal ini pasti bakal mempengaruhi moral kelas. Apa Kirishima telah merencanakan hal ini dari awal? Kirishima Shouko, dia benar-benar hidup sesuai nama ketua OSIS, dia benar-benar menyeramkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kalau begini: kau menentukan tiga pelajaran, sementara sisanya ditentukan oleh kami, bagaimana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun ini tetap tidak memberikan keuntungan secara penuh kepada kami, usul Kinoshita Yuuko tetap memberikan sedikit keuntungan. Sekarang, apa yang harus kami lakukan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Himeji, apa kau setuju?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Eh? Apa maksudmu?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Maksudku kalau kita kalah, Himeji, maka kau akan...)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi kupikir hal itu tidak menjadi masalah.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Menerima hal itu dengan mudahnya... kau yakin? Kalau kita kalah, Himeji dan Kirishima akan---)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Negosiasi selesai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-Yuuji! Bagaimana bisa kau memutuskan ini secara sepihak! Himeji belum setuju dengan syarat itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kau ketua kelasnya, tetap saja kau egois! Soalnya ini berhubungan dengan kebahagiaan Himeji!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan cemas. Aku tidak akan membiarkan Himeji dapat masalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata begitu dengan percaya diri. Dia benar-benar yakin kami akan memenangkan pertarungan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kapan duelnya dimulai?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm, bagaimana kalau kita mulai jam sepuluh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oke.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirishima itu unik. Cara bicaranya mirip dengan Mutsuriini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oke. Karena negosiasi sudah selesai, mari kita kembali ke kelas!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar. Kita perlu melaporkan ini pada seisi kelas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pertemuan itu selesai, kami meninggalkan ruang Kelas A.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertempuran terakhir tinggal sebentar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
☆&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kalian semua siap?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru pengawas hari ini adalah Takahashi-sensei, wali Kelas A, dan dia sudah banyak membantu kami di pertempuran-pertempuran sebelumnya. Hari ini dia memakai kacamata dengan desain yang indah yang membuatnya terlihat berintelijensi tinggi, dan kakinya yang panjang dengan rok ketat terlihat mempesona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak masalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Medan perang kali ini adalah Kelas A. Bukan hanya karena kelas ini lebih luas, lantainya juga jauh lebih bagus dari tatami butut, yang bisa terbelah kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Secara resmi duel pertama dimulai sekarang. Mohon maju ke depan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku yang pergi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lawan kami mengirim kakaknya Hideyoshi, Kinoshita Yuuko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan orang yang mewakili kelas kami dalam pertarungan ini adalah ------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ijinkan aku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adiknya, Kinoshita Hideyoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pastinya Hideyoshi tahu pelajaran yang merupakan kelemahan kakaknya dan bagaimana cara mengganggu konsentrasinya. Kunci pertarungan ini adalah bagaimana Hideyoshi mengacaukan perasaan kakaknya-----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ngomong-ngomong, Hideyoshi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau tahu Koyama dari Kelas C?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Siapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eh? Kenapa rasanya aku punya firasat buruk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak apa-apa kalau kau tidak tahu. Kau bisa kesini sebentar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Kakak, kenapa kau menyeretku ke koridor?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi Hideyoshi terlihat seperti murid-murid Kelas C saat mereka dimarahi Hideyoshi waktu dia menyamar jadi kakaknya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kakak, ini waktunya pertarungan------ Kenapa kau mencengkeram tanganku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau berbuat sesuatu pada anak-anak Kelas C ya? Kenapa aku jadi orang yang mengumpati anak-anak kelas C babi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hahaha. Soal itu, aku hanya melakukan apa yang kupikir kepribadianmu yang sebenarnya, kak-----Ah, kakak! Tidak... Jangan memelintir sendiku kesitu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(*suara pintu dibuka*)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kinoshita Yuuko membuka pintu dan masuk ke dalam kelas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hideyoshi berkata dia ada hal darurat yang harus diurus lalu pulang. Kau mau mengirim orang lain untuk menggantikannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-Tidak... Kami menyerah di pertarungan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Yuuji pun tidak berani berkata apapun pada Kinoshita Yuuko, yang sedang tersenyum dan mengelap darah di tangannya dengan sapu tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takahashi-sensei mengetik di komputer notebook dan layar lebar di dinding menunjukkan hasil dari pertarungan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas A Kinoshita Yuuko VS Kelas F Kinoshita Hideyoshi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanda-tanda kehidupan MENANG VS MATI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada seorangpun yang yakin Hideyoshi masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selanjutnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan pergi. Pelajaran yang kami pilih adalah Fisika.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wakil dari Kelas A adalah Sato, dan wakil Kelas F kali ini adalah---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oke Akihisa, kuserahkan padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh!? Aku!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa! Aku mewakili kelasku dalam duel! Tidak akan ada jalan balik kalau aku kalah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan khawatir, aku percaya padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benarkah? Yuuji, kau...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Huh... Kali ini, waktunya aku serius.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah, tidak perlu menyembunyikannya lagi. Biarkan semua orang tahu kekuatanmu yang sebenarnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, memangnya Akihisa sebegitu kuatnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, aku tidak pernah mendengar hal itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yuuji cuma bercanda lagi, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak-anak Kelas F, yang seharusnya adalah kawanku, telah mengatakan komentar yang sangat kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah sudahlah. Wajar kalau mereka berpikir seperti itu setelah melihat penampilanku yang sebelum-sebelumnya. Namun, kali ini berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau Akihisa? Mungkinkah... kau...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lawanku Sato kelihatannya telah menyadari sesuatu dan mulai gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengamatannya cukup baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, kau sudah menyadarinya? Kau benar. Aku tidak pernah menunjukkan kekuatanku sampai saat ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersiap untuk bertarung, aku menggulung lengan bajuku dan menggerakkan pergelangan tanganku sedikit sebagai pemanasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kau adalah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar, seperti yang kau pikirkan. Meskipun aku menyembunyikannya selama ini, sebenarnya aku ini----&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menghela napas dalam dan mengumumkan pada semua:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;----kidal!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas A Sato VS Kelas F Yoshii Akihisa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fisika 389 VS 62&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aneh sekali. Bagaimana mungkin aku bisa kalah setelah aku menunjukkan kekuatanku yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bego kau! Memangnya hasil ujian berhubungan sama tangan mana yang kau gunakan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mi-Minami! Daya reaksi kalian sudah cukup menyakitkan, kumohon padamu tolong berhenti menghajarku, oke?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya aku tidak bisa menang melawan musuh yang punya nilai 6 kali lebih besar dibanding aku yang hanya punya kecepatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oke, pertarungan yang sebenarnya dimulai sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tunggu, Yuuji! Sejak awal kau tidak pernah percaya padaku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Percaya? Apa itu? Makanan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin sekali menonjoknya dengan tangan kiri emasku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, grup ketiga mohon bersiap-siap.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...(berdiri)&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mutsuriini berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekuatan dari memilih mata pelajaran mulai menguntungkan kami sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini karena 80% dari total semua nilai Mutsuriini didapat dari pelajaran kesehatan. Dalam mata pelajaran ini, bahkan Kelas A tidak bisa menantangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu giliranku sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas A mengirim seorang gadis dengan rambut berwarna terang dan pendek yang terlihat sangat mirip laki-laki. Siapa dia, kenapa aku tidak mengenalnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Senang bertemu denganmu, aku Kudo Aiko yang baru pindah kesini kelas satu akhir semester lalu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berbadan rata yang membuat dia terlihat seperti laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pelajaran apa yang mau kau pilih?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takahashi-sensei bertanya pada Mutsuriini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kesehatan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mutsuriini memilihi mata pelajaran terkuatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau Tsuchiya kan? Kelihatannya kau sangat percaya diri dalam pelajaran kesehatan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kudo mulai berbicara pada Mutsuriini. Apa situasinya sekarang? Dia murid pindahan, jadi dia tidak tahu kekuatan Mutsuriini yang sesungguhnya? Tapi dia terlihat sangat santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi aku juga ahli dalam pelajaran ini... tidak sepertimu, aku lebih unggul dalam praktek!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
P-Pernyataan macam apa itu? Untuk beberapa alasan, jantungku berdetak sangat kencang sekarang!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, kau yang disana, kau Akihisa kan? Kelihatannya kau tidak tahu cara belajar. Ijinkan aku mengajarimu pelajaran kesehatan kalau ada waktu, oke? Jangan cemas, aku akan mengajarimu dengan latihan praktek.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana dia bisa tahu jantungku berdebar keras sekarang? Dan dia berkata pada semua orang dia ingin mengajariku pelajaran kesehatan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ha, memangnya apa yang ku ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aki tidak akan pernah punya kesempatan itu, jadi tidak ada gunanya belajar kesehatan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar! Dia tidak pernah perlu mempelajari itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada dan Himeji, tolong lihat Akihisa. Dia kelihatan sangat sedih!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak sebegitunya tidak beruntung kan? Bahkan orang seperti aku akan punya kesempatan untuk menggunakan pengetahuanku tentang kesehatan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kedua pihak silakan bersiap untuk memanggil.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;O---ke. Memanggil syokanju!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memanggil syokanju!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syokanju yang sangat mirip dengan pemilik masing-masing muncul sambil memegang senjata. Syokanju Mutsuriini terlihat sama seperti ketika dia bertarung melawan Kelas B. Senjatanya adalah dua kodachi[2]. Sementara itu, syokanju Kudo...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Kenapa kapaknya super besar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syokanju Kudo memegang sebuah kapak raksasa yang terlihat sangat kuat. Syokanjunya juga memakai gelang, yang berarti dia bisa menggunakan kemampuan spesial. Astaga rohku! Kudo benar-benar kuat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mari kita tentukan siapa yang lebih kuat, yang jago di teori atau yang jago di praktek sesungguhnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kudo tersenyum dengan manis. Setelah itu, gelang syokanjunya bersinar dan dia mulai menyerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada halilintar mengitari kapak syokanju Kudo dan dia melesat ke arah Mutsuriini dengan kecepatan yang tidak bisa dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Da-dah, Mutsuriini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, tangan syokanjunya yang kuat mengayunkan kapak. Serangan ini tidak mungkin dihindari!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mutsuriini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika kapak itu hendak membelah syokanju Mutsuriini menjadi dua---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Akselerasi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gelang di tangan syokanju Mutsuriini bersinar, dan cahayanya menyelimuti pemiliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya Kudo tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tidak hanya dia, bahkan aku pun sama sekali tidak mengerti. Bagaimana caranya syokanju Mutsuriini meloloskan diri dari jarak serang lawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Akselerasi akhir.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mutsuriini dengan tenang berkata.&lt;br /&gt;
BTS vol 01 259.jpg&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendadak, darah bermuncratan dari setiap bagian tubuh syokanju Kudo ketika syokanju itu jatuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas A Kudo Aiko VS Kelas F Tsuchiya Kouta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran Kesehatan 446 poin VS 572 poin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lu-luar biasa! Skor Mutsuriini mungkin lebih besar dari jumlah seluruh nilaiku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Waktu melawan Kelas B, dia tidak sedang berada dalam kondisi terbaiknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji mulai menjelaskan padaku, yang kini sangat syok. Aku tidak pernah tahu bahwa Mutsuriini sangat menyeramkan kalau dia berkonsentrasi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mu-Mustahil... Bagaimana bisa aku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kudo berlutut di lantai, dia terlihat sangat syok juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang 2 VS 1, siapa berikutnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takahashi-sensei masih melanjutkan kompetisi dengan tanpa ekspresi di wajahnya. Sepertinya dia tidak terlalu peduli bahkan jika anak-anak kelasnya kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, y-ya, sekarang giliranku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami sudah pasti mengirim Himeji, satu-satunya orang di Kelas F yang bisa bertarung melawan Kelas A secara langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu aku yang jadi lawanmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang berjalan dari kubu Kelas A adalah---- Kubo Toshimitsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Akhirnya muncul juga kau, wakil ketua OSIS.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, namanya adalah Kubo Toshimitsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemampuannya hanya sedikit di bawah Himeji, ranking tiga umum di kelas dua. Dia adalah wakil ketua OSIS kelas dua karena Himeji tidak melalui tes pembagian kelas dengan baik kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pertarungan ini yang paling kukhawatirkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah seharusnya Yuuji cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemampuan Kubo hampir sama baiknya seperti Himeji. Perbedaan total skor mereka bahkan kurang dari dua puluh. Dan karena Himeji telah bertarung selama beberapa hari terakhir ini, kami tidak bisa terlalu yakin berkata bahwa Himeji bisa menang...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa mata pelajarannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takahashi-sensei bertanya pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, pihak yang mana yang boleh memilih pelajaran sekarang? Pertarungan Hideyoshi sangat kacau dan kini aku tidak tahu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku pilih jumlah semua pelajaran.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika aku sedang berpikir, Kubo menjawab pertanyaan Takahashi-sensei dengan ringan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey tunggu dulu! Jangan dengan mudahnya memutuskan---&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sih setuju saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Himeji?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji menghentikan aku yang sedang protes. Kau yakin kau akan baik-baik saja?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu......&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sama seperti pertarungan yang sudah-sudah, Takahashi-sensei terus bermanuver dengan komputernya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua belah pihak memanggil syokanju mereka, duel ini akan ditentukan beberapa detik lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas A Kubo Toshimitsu VS Kelas F Himeji Mizuki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah skor seluruh pelajaran 3997 poin VS 4409 poin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sejak kapan Himeji mulai berkembang begitu pesat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengan skor seperti ini, dia bahkan bisa menantang Kirishima Shouko!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seruan kaget terdengar dari mana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan skor mereka lebih dari empat ratus? Meskipun aku tahu bahwa Himeji sangat kuat, tapi ini bukan skor yang bisa diperoleh manusia normal!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sial! Himeji, bagaimana bisa kau jadi begitu kuat......&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kubo menyesal sekarang, dan bertanya pada Himeji. Kemampuan mereka masih kurang-lebih sama sampai beberapa waktu lalu. Tidak ada seorangpun yang menduga perbedaannya akan jadi sangat besar, itulah mengapa Kubo sangat gelisah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Aku suka semua orang di kelas, dan semua anak di Kelas F adalah orang-orang yang rela berkorban untuk temannya tanpa mengharapkan imbalan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau suka Kelas F?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Itulah sebabnya aku bisa terus berusaha keras.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Himeji sungguh menyenangkan hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benarkah? Himeji, kau benar-benar menyukai Kelas F, kelas yang terdiri dari cowok-cowok bodoh. Tapi aku ada dalam Kelas F ini, membuatku merasakan hangat dalam hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Skor sekarang 2 VS 2.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi Takahashi-sensei sedikit berubah, yang merupakan fakta agak aneh. Apa karena perkembangan Himeji yang luar biasa atau karena Kelas F ternyata bisa bertarung melawan Kelas A?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Duel terakhir, kedua pihak harap bersiap.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oke.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang berjalan keluar dari kubu Kelas A adalah musuh terkuat---- Kirishima Shouko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang pastinya kami kirim tentu saja---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Giliranku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya, Sakamoto Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa pelajarannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin karena mereka berpikir tidak mungkin Kirishima Shouko bakal kalah, tidak terdengar sedikitpun suara yang keluar dari Kelas A. Mereka cuma melihat ke Kirishima dan Yuuji dengan kalem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku memilih Sejarah Jepang, kajiannya terbatas sampai level sekolah dasar dan skor maksimal seratus.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendadak terjadi keributan di segala penjuru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Skornya ada batas maksimum?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Level sekolah dasar? Bukannya itu berarti mereka akan dapat nilai penuh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pertarungan ini akan ditentukan oleh seberapa fokus mereka...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini juga akan memberikan kami kesempatan untuk menang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas A juga menyadarinya, jadi mereka mulai ribut sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengerti. Aku harus menyiapkan beberapa pertanyaan. Silakan tunggu disini sebentar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takahashi-sensei menutup laptop-nya dan berjalan keluar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takahashi-sensei sangat antusias dalam edukasi, mungkin dia mengumpulkan beberapa set pertanyaan SD?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap sang guru meninggalkan lokasi dan berbalik ke Yuuji segera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yuuji, aku berharap padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggenggam erat tangan Yuuji. Kami telah melakukan semua yang kami bisa. Sekarang semuanya bergantung pada hasil duel Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah, serahkan saja padaku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia juga menggenggam erat tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...(mengulurkan tangan)&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mutsuriini menghampiri kami dan menunjukkan pose tangan kemenangan pada Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tenagamu banyak membantuku, terima kasih banyak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...(ha)&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibir Mutsuriini terangkat sedikit, kemudian dia kembali ke tempatnya semula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sakamoto, terima kasih telah memberitahuku semua cerita itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, maksudmu cerita tentang Akihisa? Jangan cemas, dan lakukan yang terbaik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hah? Cerita tentangku? Apa yang Yuuji katakan barusan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya pasti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji melontarkan jawaban yang enerjik. Yuuji juga tersenyum senang. Itu adalah wajah yang perhatian dan lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Duel terakhir adalah Sejarah Jepang. Kirishima dan Sakamoto, silakan datang ke ruang kelas bervideo.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takahashi-sensei kembali ke kelas dan memberi perintah pada kedua ketua kelas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;OK.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirishime memberikan jawaban singkat lalu meninggalkan ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku harus pergi sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sakamoto, hati-hati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji mengucapkan selamat tinggal pada Yuuji kemudian Yuuji pergi menuju tempat pertarungan terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertarungan terakhir akhirnya dimulai. Bukan masalah apa kami akan menangis atau tertawa, perang tes pemanggilan akan berakhir sebentar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kedelapan|Soal Kedelapan]]   &lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]   &lt;br /&gt;
| Next Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Terakhir|Soal Terakhir]]   &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Kedelapan&amp;diff=435103</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Soal Kedelapan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Kedelapan&amp;diff=435103"/>
		<updated>2015-04-03T15:11:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pertanyaan Kedelapan &lt;br /&gt;
Mohon jawab pertanyaan berikut :&lt;br /&gt;
Perempuan akan menampakkan karakteristik seks sekunder setelah ( ), dan lalu mengembangkan karakteristik kewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban Himeji Mizuki :&lt;br /&gt;
&amp;quot;Menstruasi&amp;quot; &lt;br /&gt;
Komentar Guru : &lt;br /&gt;
Jawaban yang tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban Yoshii Akihisa : &lt;br /&gt;
&amp;quot;Besok&amp;quot; &lt;br /&gt;
Komentar Guru : &lt;br /&gt;
Apa kau tak kecepatan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Jawaban Tsuchiya Kouta : &lt;br /&gt;
“Ia disebut menstruasi, datang bulan pertama sejak perempaun lahir. Dalam istilah medis, datang bulan disebut periode menstruasi. Menstruasi sangat berhubungan dnegan fator usia dan berat badan. Ia biasanya muncul saat tubuh perempuan mencapai 43 kg, tapi usia akan berbeda pada tiap orang. Di Jepang, rata-rata usia adalah 12 tahun. Ada faktor lain disamping berat badan, seperti ras, cuaca dan lingkungan yang akan mempengaruhi waktu kemunculan menstruasi...”&lt;br /&gt;
Komentar Guru: &lt;br /&gt;
Kau menulis terlalu banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Akihisa, kau benar-benar putus asa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu hal pertama yang dikatakan Hideyoshi padaku setelah pertempuran berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Urgh...sakit, ini benar-benar sakit...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, tanganku benar-benar nyeri. Meski tidak semua gaya berbalik padaku, nyeri hasil dari menghancurkan tembok dengan tangan kosong tak main-main.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Taktik semacam ini ...benar-benar sesuai sifatmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa iya? Bukankah seharusnya kau lebih memujiku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini adalah operasi luar biasa dan jantan yang memaksa dirimu pada keadaan yang sangat berbahaya dan lalu menggunakan rasa tak aman untuk menyelesaikannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa kau mencoba mengatakan bahwa aku seorang tolol?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghancurkan tembok di sekolah bukan masalah kecil. Aku dipaksa tinggal di kantor guru untuk menerima konseling psikologi. Jika ini bukan kenakalan pertamaku di sekolah, aku mungkin tak bisa naik kelas, atau bahkan ditendang keluar sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, inilah kekuatan Akihisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji menepuk bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi tolol adalah kekuatanku? Itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang, mari kita mulai pertemuan yang membuat beberapa orang senang tapi juga menghinakan yang lainnya. Bagaimana pendapatmu. Pemimpin Kelas Pecundang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nemoto, bagaikan balon tanpa udara sedikitpun, duduk diam di tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku berencana mengambil seluruh peralatan kelasmu, dan lalu memberikkanmu meja-meja kecil bergaya jepang nan cantik sebagai hadiah. namun, aku bisa memberikan kalian selembar perjanjian istimewa, yang membuat kalian lolos dari hukuman ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengumuman Yuuji sepertinya membuat reaksi-reaksi yang tak diharapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang semuanya. Aku telah mengatakannya sebelumnya, target kita adalah Kelas A. Akhir kita bukan disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, dia benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tempat ini hanya titik transisi bagi kita. Jadi selama Kelas B menyetujui syarat kita, kita akan melepas mereka untuk sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua orang di kelasku menunjukkan pengertian pada apa yang diumumkan Yuuji. Yuuji telah mengatakan sesuatu yang mirip saat kami bertempur dengan Kelas D, jadi temen-temen sekelas sudah mengerti dia lebih baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa syaratnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nemoto bertanya dnegan suara lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syaratnya berhubungan denganmu, Pemimpin Kelas Pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Kali ini kau sudah telah menggunakan cukup banyak permainan-permainan kotormu, dan jujur saja, aku tak menyukaimu sejak tahun kemarin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski apa yang Yuuji katakan tak sopan, Nemoto benar-benar melakukan apa yang dikatakan Yuuji, jadia tiada yang bangkit dan membantunya. dan sepertinya dia juga mengerti situasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memberikan kalian, Kelas B, kesempatan istimewa yang tiada duanya ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji menambahkan apa yang kuminta darinya kemarin kedalam persyaratan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi ke kelas A dan katakan pada mereka bahwa Kelas B sangat siap untuk Ujian Penyummonan. Jika kalian melakukan itu, aku takkan mengambil peralatan kelas kalian. Namun, ingat untuk tidak mengumumkan pertempuran melawan Kelas A; atau kalian takkan bisa menghindari pertempuran. Yang perlu kalian lakukan adalah membuat mereka mengerti bahwa kalian berencana bertempur, itu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Itu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Nemoto penuh dengan rasa tak percaya. Jika ini berjalan sebagaimana rencana sebelumnya, ini akan menjadi semua yang kami minta darinya. Namun...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, selama ketua kelas B memakai ini dan mengatakan persis sama dengan apa yang baru saja kukatakan, aku akan memaafkan nyawamu kali ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah taktik untuk mendapatkan seragamnya, tapi kupikir Yuuji juga mencampur sedikit perasaan pribadinya kedalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-berhenti bercanda! berani-beraninya kalian menyuruhku melakukan tindakan bodoh semacam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nemoto mulai panik dan tak bisa berbicara dnegan benar; kupikir dia benar-benar membenci ini!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Murid-murid Kelas B pasti akan melakukan apa yang dikatakan Tuan Yuuji (penerj: ini dari terj inggris, tapi rasanya yang asli pakai –sama)!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percayakan saja pada kami! Kami pasti akan membuatnya mengenakan seragam perempuan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika melakukan ini bisa melindungi peralatan Ruang kelas, kami tak punya pilihan lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah sleuruh dukungan hangat yang datang dari Murid-murid Kelas B. Dari sikap mereka, aku bisa membayangkan hal-hal kotor yang biasa dilakukan Nemoto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan ini kita telah sepakat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oi! J-jangan mendekat! Kalian mesum...Ugh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diamkan dia dulu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, makasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, seseorang dari Kelas B memberikan sekepal tinju ke perut ketua kelas mereka. bahkan Yuuji pun terkejut dengan kecepatan perubahan sikap mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang, mari kita mengganti bajunya. Akihisa, kuserahkan ini padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dimengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendekat pada Nemoto, yang tengah terbaring di tanah dan mulai melepas bajunya. Meski tiada hukuman yang lebih buruk dari melepas baju seorang lelaki, tiada yang dapat kulakukan karena ini salah satu tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Urgh...Urgh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nemoto membuat suara-suara. Oh tidak, mungkin dia akans egera bangun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahhhh!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Urgh!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar yakin dia tak bangun, aku memberikannnya sekepal tinju lainnya. Setelahnya, aku mengambil seragam lelakinya yang aku hapal, dan bersiap membantunya mengenakan seragam perempuan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Err...bagaimana aku memakaikan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara mengenakan seragam perempuan sangat berbeda dari seragam lelaki. Aku bahkan tak tahu harus mulai dari mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku kebingungan dan tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku membantumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang perempuan dari Kelas B memunculkan dirinya untuk membantu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Terima kasih atas bantuannya. Ini adalah kesempatan langka, jadi berikan dia sedikit riasan cantik juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu mustahil, karena dasarnya sudah busuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sangat kasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, Aku akan serahkan ini padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku serahkan Nemoto pada perempuan itu dan mengambil seragamnya dari TKP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ada di sekitar sini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencari-cari pada seragam Nemoto, dan akhirnya menemukan sebuah objek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ketemu, ketemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil surat yang terlihat sangat kuhapal dan menaruhnya di saku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, apa yang harus kulakukan dengan seragam ini? Yah, aku memutuskan untuk melemparnya jauh-jauh. Karena ini adalah sebuah kesempatan untuk mengizinkan Nemoto menikmati  sentuhan dan rasa dari sehelai seragam perempuan saat pergi pulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memikirkan semua hal ini, dan berjalan menuju ruang Kelas F sebelum yang lain sampai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melempar seragam Nemoto ke tong sampah, aku menarik surat dari sakuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kini waktunya mengembalikan ini ke pemiliknya yang sebenarnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh surat itu kedalam tas Himeji yang berada di atas meja, dan misi ini  resmi berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yoshii!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, seseorang berteriak dari belakang. Aku tak bisa tidak menjerit bagaikan seorang tolol, malunya aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke belakang dalam panik, dan melihat Himeji berdiri disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii.....&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
matanya terlihat seakan siap menangis kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir misiku menyentuh tas Himeji telah diketahui, jadi aku mulai benar-benar panik. Tiba-tiba, Himeji memelukku, memeluk dengan sangat erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waaa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-terima kasijh atas bantuanmu...Aku benar-benar tak tahu-menahu soal apa yang harus kulakukan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan seharusnya aku, kan? Sial! Apa ini taktik yang baru ditemukan untuk memaksa orang mengubah perhatian mereka?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ba-bagaimanapun juga, kau perlu tenang dulu, Aku akan bermasalah bila kau menangis seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menenangkan Himeji, aku mendorongnya ringan menjauh dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sial! Mengapa aku harus mendorongnya menjauh! Aku takkan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku, Aku kesenangan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji mengusap matanya yang agak memerah setelah menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah! Aku ingin sekali mengatakannya! Mohon sekali lagi peluk erat diriku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin...ingin...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah! Itu keluar mulutku! Aku akan berada dalam masalah besar bila aku tak bisa mengatakan sesuatu untuk mengeluarkan diriku dari sini!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menghantam tembok lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bodohnya aku! aku benar-benar seorang tolol ! apa kau seorang teroris? Mengapa kau ingin menghantam tembok lagi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Er, jika kau melakukannya lagi, kau takkan bisa naik kelas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku sudah tahu itu. Jangan tatap aku seperti itu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau begitu, aku perlu bergabung dengan yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ah, mohon tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa benar-benar lemah dan mencoba berbalik dan kabur, tapi Himeji menarik lengan bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Er...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin dia ingin memperkenalkan seorang dokter yang bagus padaku&amp;gt; Sial! Aku tak pikir bahwa apa yang kukatakan sebelumnya akan berbalik menghantamku segera. Mengapa aku harus menghadapi penghinaan semacam ini setiap waktu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Soal surat itu, makasih atas bantuanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji menundukkan kepalanya dan berterima kasih padaku dengan suara yang sangat kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“tak apa-apa! Aku hanya kebetulan menemukan surat itu dan mengambilnya dari seragam Nemoto.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu...sebuah kebohongan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tak benar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yoshii, kau benar-benar lembut. saat aku perlu meninggalkan kursiku saat ujian pembagian kelas, kau juga bangkit dan bangkit pada pengawas, ‘Hanya karena meninggalkan kursi sebab merasa tak enak, ini sangat tak adil...!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, hal seperti itu dulu terjadi. karena pengawas terlalu acuh, aku tak bisa tidak jadi marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan, pertempuran ini...dimulai karenaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Ah, tidak! bagaimana itu mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hehe, kau tak bisa menyembunyikan ini lagi. Karena, saat pengenalan diriku dihentikan, aku melihat Yoshii menanyai Yuuji untuk mendiskusikan sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melihat kami berdiskusi? Kalau begini aku tak bisa menyembunyikannya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sangat, sangat bahagia. Yoshii, kau sangat baik, tepat seperti ketika kau di SD...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa? Aku tak bisa tidak merasa keadaan ini, adegan ini, sangat aneh. Aku bahkan merasakan rasa lumpuh yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Meski aku kurang mengerti apa yang terjadi, aku sama sekali tak menyukai keadaan ini!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-Surat itu, aku harapkan yang terbaik bagimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bagaimanapun jua, mari ubah topiknya sekarang juga atau ini mungkin berkembang ke tahap di luar jangkauan imajinasiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah...Ya! Aku akan melakukan yang terbaik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji tersenyum dan menjawab apa yang kukatakan. Ketika melihat senyumnya, aku tak bisa tidak memikirkan: gadis ini sangat menyukai Yuuji! Aku tahu ini dari dulu sekali, aku tahu aku tak bisa menyaingi Yuuji. Meski aku tak menyukainya, aku tak bisa berbuat apa-apa soal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus, kapan kau akan “menembak”?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mari mencoba memainkan isu sedikit, setidaknya aku bisa melakukan ini, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Er...kupikir itu harus menunggu hingga semuanya selesai....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
wajah Himeji memerah saat menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu toh, kupikir menembak langsung lebih baik daripada selembar surat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B...benarkah begitu? Yoshii lebih suka begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Jika aku orangnya, mengatakannya di hadapanku akan membuatku lebih bahagia!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Nemoto, surat in menjadi ingatan buruk. Kupikir ini lebih baik bagi diri Himeji sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Jangan lupa apa yang kau baru katakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Ah, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Opiniku mungkin berbeda dengan Yuuji, tapi Himeji nampak sangat senang, seakan dia mendapatkan saran yang penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“P-pakaian ini, roknya terlalu pendek!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir soal itu; kau akan baik-baik saja jika kau berjalan pelan-pelan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-Sialan kau Sakamoto, berani-beraninya kau membuatku melakukan ini....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan menyia-nyiakan waktu! Nanti Kau punya  syuting foto di luar, jadi kau takkan tepat waktu jika tak cepat-cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tunggu, aku tak pernah mendengar itu sebelumnya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, suara-suara rusuh datang dari koridor. Sepertinya pertunjukan telah dimulai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ga tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ada sesi syuting foto luar yang baru disamping mengirimkan secarik pesan ke Kelas A. Sepertinya hari ini akan menjadi ingatan nan indah yang takkan pernah dilupakan nemoto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun jua, semoga berhasil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya! Terima kasih!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji memberikan jawaban bersemangat lalu meninggalkan ruang kelas, betapa ringan langkahnya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini waktunya bagiku kembali ke grup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti Himeji, dan bersiap meninggalkan ruang kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Tunggu, sebelum itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan menuju kursi Yuuji, dan mengambil tasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“bagaimanapun, mari tinggalakan beberapa kata kasar di buku teks Yuuji!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan seseorang yang bisa menyelamati seorang lelaki beruntung dengan mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Ketujuh|Soal Ketujuh]]   &lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]   &lt;br /&gt;
| Next Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kesembilan|Soal Kesembilan]]   &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Ketujuh&amp;diff=435102</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Soal Ketujuh</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Ketujuh&amp;diff=435102"/>
		<updated>2015-04-03T15:10:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;===Soal Ketujuh===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawablah pertanyaan berikut:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa bentuk komparatif dan superlatif dari kata “good” dan “bad”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Himeji Mizuki:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;good — better — best &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bad — worse — worst&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawabannya benar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[image:BTS vol 01 195.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Yoshii Akihisa:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;good — gooder — goodest&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terkejut kau membuat kesalahan yang sangat umum. Bentuk komparatif dan superlatif untuk good dan bad tidak hanya dibentuk dengan menambahkan “er” dan “est”; Lain kali jangan lupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Tsuchiya Kouta:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;bad — butter — bust&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti ketiga kata itu adalah &#039;jelek&#039;, &#039;mentega&#039;, &#039;payudara&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan menggunakan taktik tersembunyi yang aku bilang kemarin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini kalimat pertama yang dikeluarkan Yuuji saat dia masuk sekolah keesokan paginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Taktik? Ini belum waktunya untuk bertarung, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini waktu menunjukkan jam setengah sembilan, dan pertarungan dijadwalkan berlangsung pada jam 9.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak menggunakannya pada kelas B; Target kita adalah kelas C.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, begitu toh. Apa yang akan kau lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berencana membuatmu. Hideyoshi, mengenakan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji mengambil seragam wanita dari tasnya setelah mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam ini menggunakan hitam dan merahs ebagai warna dasar. Ia merupakan sekeping karya seni langka dalam masyarakat dan siswa-siswa dari sekolah lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, Yuuji, bagaimana kau bisa mendapatkan ini? Apa yang terjadi padamu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak masalah, tapi mengapa kau ingin aku mengenakan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hideyoshi, sebagai lelaki, kaus eharusnya lebih perhatian, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, setelah mengenakannya, Hideyoshi lebih nampak sebagai seorang gadis, hampir persis seperti saudara perempuan kembarnya di kelas A---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin kau bersikap seperti   Kinoshita Yuuko, dan berpura-pura sebagai utusan dari kelas A.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh begitu, jadi itulah mengapa dia ingin Hideyoshi memakai seragam wanita!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hideyoshi punya saudara perempuan kembar di kelas A. Mereka terlihat sama persis, seperti kembar monozigotik (penerjemah: monozigotik itu berarti kembar dari satu zigot yang sama, padahal, kalau berbeda kelamin, bisa dipastikan kembar itu tidak berasal dari satu zigot). Perbedaan mereka adalah hasil ujian mereka dan cara mereka berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Dengan kata lain, berpura-pura jadi saudara perempuannya, dan menggunakan nama kelas A, menekan kelas C?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hideyoshi, cepat kesana dan ganti seragammu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, OK...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hideyoshi mengambil seragam dari Yuuji, dan bersalin di depan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ada yang salah? Apa perasaan aneh di dadaku ini? Meski dia seorang lelaki, aku tak bisa melepas mataku darinya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot; *Suara gambar diambil*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Pendiam Porno menggunakan kecepatan yang hampir membuat jemarinya kebakaran dan terus menekan tombol di kamera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung, bukan aku saja yang berperasaan aneh ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OK, aku sudah bersalin. Huh? Ada apa dengan kalian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir wajah kami pasti terlihat sangat rumit, begitu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harus kukatakan? Aku juga tak yakin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian sangat aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, penampilanmu yang aneh! Mengapa kau terlihat begitu cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, ayo ke kelas C.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji keluar ruang kelas dengan Hideyoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku juga ingin pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat membuntuti mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah memikirkan inis ejak kemarin. Ada jarak yang sangat panjang antara kelas C dan kelas F. Meski ini lebih karena perbedaan ukuran tiap ruang kelas, aku masih berharap sekolah dapat membangunnya dengan lebih sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami terus berjalan, dan akhirnya berhenti di depan ruang kelas C.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, Hideyoshi. Kau harus kedalam sendirian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena dia perlu berpura-pura sebagai utusan dari kelas A, Aku dan Yuuji yang meruapakan murid kelas F tak bisa tetap disampingnya. Oleh karenanya kami berencana bersembunyi di suatu tempat dan mengamati bagaimana ini berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak ingin benar-benar kesana...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hideyoshi tampak sangat tak berkeinginan melakukannya. Ini dapat dimengerti, berpura-pura menjadi saudara perempuannya dan mencurangi musuh bukan sebuah pengalaman yang baik untuk dilalui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami mengharapkanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah...tiada cara lain...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi mohon kompori mereka sepanas yang kau bisa. Buat mereka membenci kelas A dari dasar lubuk hati. Kupikir kau seharusnya bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hideyoshi seorang jenius dalam hal akting, dengan julukan ‘Bintang Klob Drama’. Meski dia tak jago saat belajar, kemampuannya di hal lain cukup mencengangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah...jangan taruh terlalu banyak harapan di pundakku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hideyoshi mendesah dan berjalan gontai menuju kelas C. Dia terlihat sagat tak senang. Bisakah dia mencurangi mereka dalam kondisinya sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuji, kau yakin Hideyoshi baik-baik saja? Kupikir kita lebih baik menukar rencana...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir seharusnya tak masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benarkah? Aku terus merasa bahwa Hideyoshi sama sekali tak ingin melakukannya. AKu hanya berharap bahwa kemampuan aktingnya takkan dipengaruhi instabilitas mentalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku khawatir...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shhhhhh! Hideyoshi hendak masuk kedalam ruang kelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji menaruh jari di mulutnya. Kami begitu jauh; Seharusnya emreka tak bisa mendengar kami. namun lebih baik main aman dan ikut saja apa yang dikatakan Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Suara pintu dibuka* kami mendengar suara pintu yang dibuka Hideyoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian babi-babi jorok, tutup mulut sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Wow&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hideyoshi benar-benar sesuai julukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tak ada cara lain yang lebih baik untuk mengompori mereka selain ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan meski dia tak mengatakan apapun, Kebencian kelas C pada kelas A akan naik secara dramatis, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Apa katamu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan itu pasti datang dari ketua kelas C, Koyama. AKu bisa merasakan amarah dalam kata-katanya tanpa melihat wajahnya. Ini sesuai perkiraan, mereka dibentak bagai babi-babi tanpa mengetahui apa yang tengah berlangsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan bicara padaku! Atau bau babi kalian yang menjijikkan akan menulariku juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau berjalan mendekati mereka sendiri lalu menyalahkan mereka yang menyebarkan bau babi? Wow, apa kau tak berlebihan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau Kinoshita dari kelas A, kan? Jangan pikir kau bisa begitu arogan hanya karena hasil ujianmu bagus. Apa yang kau lakukan disini di ruang kelas kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal nama buruk di sekolah, Kinoshita Yuuko lebih terkenal dibandingkan Hideyoshi. Hideyoshi pun tengah mengenakan sehelai seragam wanita sekarang; jadi tak mungkin mereka tahu. Lagipula, dia telah berhasil mengompori mereka, yang telah menurunkan kemampuan menghakini mereka. Ini sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagiku, hal yang paling tak dapat dterima adalah adalah bahwa ruang kelas A dibangun disamping ruang kelas jelek dan bau ini! Bagi orang-orang sepertimu, sebangun kandang babi lebih dari cukup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa! Apa kau mencoba mengatakan bahwa kami berada pada tingkat yang sama dengan kelas F?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Oi, Koyama! Dia tak pernah mengatakan apapun soal kelas F!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski Aku tak ingin mengotori tanganku, aku akan memberikanmu satu tawaran istimewa dan mempersilahkanmu pergi langsung ke kandang babi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ini tingkat minimal dari kemampuan akting untuk masuk klub drama? Atau apa sekolah kami memang terlalu aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian tengah bersiap-siap untuk Perang Jelmaan Ujian, kan? Yakinkan diri kalian bersiap dengan sebaik-sebaiknya, karena nanti kami akan membersihkan kalian para babi kotor, semuanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Hideyoshi mengatakan itu, dengan sengaja dia menghantam tanah dengan keras saat meninggalkan ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu OK?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hideyoshi tampak segar kembali dan berjalan menuju kami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kau telah melakukannya dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tak punya waktu untuk diganggu lawan seperti kelas F! Semuanya, bersiaplah untuk perang dengan kelas A!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan-teriakan mengerikan datang dari ketua kelas C, Koyama. Sepertinya rencana berlangsung dengan sangat mulus bagi kami. Namun tetap saja, mengapa aku merasa agak bersalah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rencana telah berhasil dilaksanakan. Kita harus memulai persiapan kita untuk perang melawan kelas B.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, OK.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada waktu untuk terganggu oleh hal-hal remeh. Perang Jelmaan Ujian akan dimulai dalam 10 menit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan cepat, kami berjalan kembali ke ruang kelas F.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 ☆&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gunakan pintu-pintu dan dinding-dindeng dengan sebaik-baiknya! Jangan buat daerah pertarungan membesar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perintah Hideyoshi bergema di medan perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat pukul 9, pertempuran dengan Kelas B resmi pecah. Kami melanjutkan dari posisi kami di pertempuran kemarin, yang tepat di depan ruang kelas B., dan mulai menyerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan suruh-suruhan Yuuji, tujuan kami adalah menjaga agar musuh tetap di ruang kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama kami mengikuti suruhan tersebut, ada masalah baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu tampak kurang baik pada Himeji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia seharusnya menjadi komandan, dia tak memberikan perintah sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, dia tampak tak ingin mengambil bagian dalam pertempuran. Apa yang terjadi padanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Coba gunakan hanya satu subjek pada satu waktu untuk mengalahkan musuh! Lihat-lihat klo ada bala bantuan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karenanya, yang memimpinpasukan sekarang adalah wakil komandan, Hideyoshi. Dia mengikuti suruhan Yuuji dan mencapai banyak hasil dalam beberapa jam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jalan masuk kiri tengah diserang balik musuh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami kekurangan tenaga Pustaka Klasik. Kami perlu bala bantuan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan masuk kiri yang tengah diserang musuh tengah disupervisi Takenaka-sensei, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini kedengarannya sama sekali tak bagus. Ada banyak siswa di Kelas B yang jago dalam subjek-subjek terkait pustaka. Jika kami tak membalas serangan mereka dengan petarung-petarung kami yang kuat, kemungkinan ini bisa memberikan mereka kesempatan untuk menembus pasukan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Himeji, mohon berikan dukungan ke sayap kiri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam rencana Yuuji, Himeji punya tugas yang penting dilakukan pada siang hari. Meski aku merasa tak enak untuk kepagian mengganggu Himeji, ini tak dihindari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, i-itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat penting ini, Himeji tak langsung bergabung dalam pertarungan. Dia terlihat hendak menangis, panik, dan jalan berputar-putar. Ini kelihatannya tak bagus; musuh-musuh akan tembus!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berteriak, mendorong menembus kerumunan, dan berlari menuju sayap kiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya, aku membisikkan sesuatu pada guru yang mensupervisi, Takenaka-sensei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bla-bla....jika ini diumumkan...citramu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takenaka-sensei mendorong kepalaku ke bawah, dan mulai melihat-lihat sekelilingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak pernah membayangkan bahwa aku harus menggunakan info yang mengancam yang ku persiapkan bila keadaan darurat---versi Pustaka klasik! Ini bukan bagian dari rencana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku perlu pergi sebentar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti yang kuperkirakan, kami bisa sedikit bernapas lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka yang masih memiliki nilai pustaka klasik pergi ke jalan masuk kiri! Nereka yang nilainya termakan segera remed!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini hanya penyelesaian sementara, tapi seharusnya menyelesaikan masalah untuk saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini waktunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Himeji, ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat menanyai Himeji apa yang kupikirkan. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya ada sesuatu yang salah dengannya. Tak mengetahui penyebab akan membuat kami dalam posisi tak menguntungkan di pertempuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Ah, aku baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji buru-buru menggelengkan kepala, rambut panjangnya juga berayun mengikuti gerakannya. Gerakannya sangat berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas-jelas ada sesuatu yang salah dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti ada sesuatu yang salah, kan? Bisakah kau memberitahuku jika ada sesuatu? Mungkin apa yang kau katakan bisa mempengaruhi rencana kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-Sumpah, tak ada apa-apa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terus membantahnya, tapi sepertinya dia akan menangis setiap saat. Pasti ada sesuatu yang salah dengannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata pelajaran  di jalan masuk kanan telah diubah ke Bahasa Jepang Modern!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terjadi dengan guru matematika!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin diculik Kelas B!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan mata pelajaran  sayap kanan pun telah diubah ke yang Kelas B jago, kami dalam maslah besar sekarang!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan bertarung!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji dengan cepat berlari keluar dan berencana bergabung dengan pertarungan setelah mengatakan itu. Namun---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tiba-tiba berhenti bergerak dan menelungkupkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi? sepertinya Himeji melihat sesuatu lalu berlaku seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang arah yang tengah dilihat Himeji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung pandanganku ada seorang sialan yang bersender di jendela dan melihat ke bawah pada kami---Nemoto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang Nemoto lakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang tak jelas dari tempatku berdiri, jadi  aku mulai melihat dengan penuh perhatian tapi tak melihat sesuatu yang istimewa---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sesuatu dalam tangannya melompat dalam pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benda yang sangat biasa. Tak sulit untuk mendapatkannya, tapi itu juga sesuatu yang tak bsia kau beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benda di tangannya adalah---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat yang Himeji si pemalu ingin sembunyikan dariku 3 hari lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, begitu, jadi begitu toh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AKu tengah berandai-andai ketika kudengar tentang perjanjian dengan Kelas B. Si licik nan Culas Nemoto takkan pernah memberikan perjanjian yang adil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya dia berencana melumpuhkan Himeji. Jika benar begitu, maka akan beralasan baginya untuk berjanji. Jika Himeji tak bisa bertarung, maka perjanjian akan sangat berguna untuk Kelas B.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar-benar suatu taktik yang bagus. Tiada kehilangan maupun resiko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Himeji.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-Ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kau merasa tak enak, jangan memaksakan dirimu bergabung dalam pertarungan. Perang Jelmaan Ujian belum berakhir, kau perlu menjaga kesehatanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OK, aku punya sesuatu yang lain yang harus kulakukan dan perlu pergi sekarang juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski Himeji nampak hendak ingin mengatakan sesuatu, Aku terus saja berbalik darinya dan berlari menjauh dari TKP (penerjemah: tempat kejadian perkara, disingkat aja biar gampang dan enak) karena aku punya sesuatu yang lebih penting untuk ditangani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nemoto, kau telah melakukans esuatu yang sangat meanrik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak bisa menghentikan diriku untuk emngatakan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si bangsat itu, aku harus membunuhnya, bagaimanapun jua!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
☆&lt;br /&gt;
“Yuuji!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Ada apa, Akihisa? Apa kau kabur dari pertempuran? Jika ya maka aku akan menggunakan gunting untuk menusukmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku buru-buru kembali ke ruang kelas, Yuuji tengah menulis sesuatu di buku catatan. Saat aku melihat lebih dekat, buku tersebut mengandung seluruh info untuk kekuatan yang tersisa, baik musuh maupun kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku perlu bicara denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka aku akan memaksakan diriku untuk mendengarkanmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku tak punya waktu untuk membalas candaannya, dan sepertinya Yuuji menyadari sikapku berbeda dari biasanya. Dia melihat padaku dengan serius, jadi aku juga melihatnya dengan wajah serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku perlu seragam yang Nemoto tengah pakai sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terjadi padamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
S-Sial! Ini kedengarannya seperti aku seorang mesum!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, no, itu, er...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya aku menginginkan surat dalam seragam itu, tapi aku tak bisa menjelaskannya...apa yang harus kulakukan? Jika aku tak menjelaskannya, aku akan jadi lelaki mesum yang menginginkan mengingnkan sehelai seragam yang dikenakan lelaki lain, Aku pasti akan menghadapi takdir penanyaan nan kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti, tak masalah. Saat kita memenangkan pertempuran, aku akan memikirkan cara untuk mendapatkannya bagimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia setuju? Jangan berikan reaksi ini padaku! Ini seperti mengatakan “Tak mengejutkan bahwa kau punya keinginan semacam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, aku tak bisa menjelaskan keadaan. Sial...Meski sakit rasanya, kini aku hanya bisa menerima kesalahpahaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji melihatku dengan wajah tak tertolong. Tentu saja bukan hanya itu yang kumau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga berharap kau tak mengirimkan Himeji kedalam pertarunagn.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasannya apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa bilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski nanti Himeji akan menceritakan padanya, ini bukan sesuatu yang bisa kuberitahukan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengirim dia tak peduli keadaan apapun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tak peduli apapun keadaannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji menggunakan tangannya untuk menahan dagunya, dan menimbang-nimbang permintaan yang kubuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permintaaku yang baru saja kubuat sekarang sangat tak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak menggunakan Himeji untuk bertarung melawan Kelas B tak hanya mengurangi kekuatan bertarung kami secara drastis, itu juga tindakan bunuh diri. Adalah sangat mungkin pertempuran ini akan terlepas dari kami karena permintaan ini, dan Yuuji harus bertanggung jawab atas hasilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memohon padamu, Yuuji!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membungkuk dalam-dalam pada Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga mengerti permintaan ini terlalu egois.Ini tidak hanya akan gagal memberikan Yuuji keuntungan apapun saat menerima permintaanku, ia juga akan harus menanggung bahaya yang sangat besar. Jujur, bila aku jadi dia, aku takkan menerima permintaan tak beralasan seperti ini tanpa menjelaskan keadaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa menyetujui hanya dengan satu syarat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu syarat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau akan melaksanakan misi yang direncanakan untuk Himeji. Aku tak peduli bagaimana kau melakukannya; kau mesti berhasil bagaimanapun jua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski Yuuji menerima permintaanku, dia benar-benar terbuat dari kaliber yang lebih tinggi dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja, percayakan saja padaku! Aku pasti akan menyelesaikan misinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudut bibir Yuuji perlahan naik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang harus kulakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serang Nemoto pada waktu yang tepat dengan mata pelajaran apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada bala bantuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada. Jalan masuk kelas B harus dihalang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Permintaanmu sangat sulit dipenuhi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AKu dalam masalah besar sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertarungan sekarang dilakukan di kedua jalan masuk ruang kelas B. Karena lokasinya, pertarungan hanya bisa dilakukan satu lawan satu. Ini adalah langkah kunci untuk mendapatkan lebih banyak waktu untuk melakukan rencana Yuuji. Untuk mendekati Nemoto, yang menyiapkan sebentuk formasi dalam ruang kelas, seseorang harus memiliki kemampuan bertarung yang sangat kuat. Ya benar, seseorang dengan kekuatan mirip Himeji, dan aku tak punya kekuatan semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terjadi jika aku gagal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kegagalan bukan suatu pilihan; kau harus menyelesaikan tugas meski bayarannya nyawamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berbicara dengan nada yang sangat kuat yang sanagt berbeda dari biasanya. Sepertinya misi ini sangat dekat dengan keseluruhan taktik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku bisa berhasil di misi ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, aku mengandalkanmu sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji bangkit dan bersiap meninggalkan ruang kelas, meninggalkanku yang baru saja berpikir dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Kemana kau mau pergi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“AKu akan ke Kelas D untuk memberikan mereka perintah-perintah. Ini tentang persetujuan waktu itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Kelas D...Kemungkinan besar soal mesin AC diluar ruang kelas mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tak penting. Apa yang harus kulakukan sekarang, bagaimana aku bisa menyelesaikan misi untuk Himeji...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akihisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Yuuji berjalan keluar ruang kelas, dia berbalik padaku dan mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hasil ujianmu sangat jelek; namun, seperti Hideyoshi dan si mesum pendiam. kau punya sesuatu yang tak bisa ditandingi yang lain. Itulah mengapa aku bisa sangat mempercayaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuji...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lakukanlah dengan baik, aku takkan mengubah rencana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengatakan itu, Yuuji meninggalkan ruang kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku jago apa ya? Teknik mengendalikan syokanju baik-baik-ku tak berguna bila bertarung dalam suatu daerah sempit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski itu bukan benar-benar suatu kelebihan, aku masih punya satu teknik khusus dibandingkan yang lain. Ada sebuah cara untuk menyelesaikan misi yang hanya bisa dilakukan seseorang yang nilainya serendah aku. Namun ia perlu keteguhan yang membaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini pasti sangat menyakitkan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya membayangkan apa yang akan terjadi saja menyebabkan nyeri yang sangat kuat menjalari tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengejutkan adalah aku mengumpulkan tekadku dengan begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OK! Kini waktunya mengajari si jahat satu pelajaran yang takkan terlupa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berikan pipiku beberapa tabokan untuk menyemangati diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ada jalan dengan kemungkinan berhasil tinggi, dan bisa dilakukan bila aku punya keberanian! Aku tak punya alasan untuk kabur. Konsekuensi? Siapa peduli!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Minami! Muto and Kimishima! Datang dan bantu aku sebentar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meneriaki ketiga orang yang tengah ujian untuk memperbaiki bilai mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tengah ujian sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nilai mereka bertiga telah termakan banyak saat pertempuran kemarin, jadi misi mereka adalah menjalani ujian untuk memperbaiki nilai mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan ujiannya, dan datang serta bantu aku. Ini misi yang akan menentukan hasil pertempuran ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kedengarannya sangat penting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tiada omong kosong sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“apa yang harus kulakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bertarung dengan syokanjuku.”&lt;br /&gt;
☆&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kalian berdua serius?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Supervisor pertarungan syokanju dari Kelas D----Endo sensei sang guru bahasa Inggris, mengingatkan kami lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat atau lambat, Aku akan bertarung dengan si tolol ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dan Minami saling menatap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi tak perlu datang jauh-jauh ke Kelas D dan bertarung, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti yang dikatakan guru, kami sengaja datang ke kelas D untuk bertarung. Selain kami berdua sebagai murid kelas F, ada murid-murid kelas F lainnya di sekitar kami. Ini pasti situasi yang sangat aneh bagi Endo-sensei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami tak bisa lakukan apa-apa terhadap hal ini, si tolol ini adalah &#039;Kansatsu Shobunsha.&#039; Jika kami bertarung di ruang Kelas F yang kumuh, kekuatan syokanjunya pasti membuat seluruh ruang kelas ambruk”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian berdua, mohon pikirkan tentang ini sekali lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku telah menetapkan hati. Jika aku tak membayar apa yang biasa dia lakukan padaku, Aku takkan pernah tidur dengan tenang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Ada pepatah: Dua orang mungkin lebih saling mengerti  setelah pertarungan, sepertinya itu juga bagian dari pendidikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Endo sensei menghembus dalam-dalam dan menjauh dari kami setelah mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini kami bisa menghadirkan syokanju kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AKu mengambil napas dalam-dalam, lalu berkata lantang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memanggil Syokanju---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syokanju ang biasa hadir di depan mataku. Meski ada banyak masalah saat menjadi &amp;quot;Kansatsu Shobunsha,&amp;quot;, ini adalah pertama kalinya aku berterimakasih karena mendapatkan julukan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serbu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syokanju Minami muncul di layar untuk menjawab keinginan bertarungku. Aku membuat diriku yang lain memegang erat bokutonya, begitu erat sehingga bokuto hanpir menyatu dnegan tangannya, dan berlari menuju musuh. Maju!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi musuh yang ada dinding di belakangnya, syokanjuku menggunakan inertia dari larinya dan mengayunkan sekepal pukulan yang kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*PONG* &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sial!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerakan itu terlalu jelas dan musuh menghindarinya dnegan mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya, nyeri dari pukulan Syokanju berbalik menerpaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AKu memerintahkan Syokanjuku untuk melayangkan pukulan yang lebih keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musuh menghindari ke samping dengan mudah dan pukulan itu mendarat lagi di tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aduh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepalanku menderita nyeri hebat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukulan itu cukup untuk mengguncang seluruh ruang kelas, yang juga akan memiliki gaya reaksi nan besar. Ada rasa nyeri yang hebat dari pangkal kepala hingga ujung kaki dan itu membuatku merasa sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aki, kita bisa kehabisan waktu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Minami yang memandang jam di dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini 2.57 siang, hanya 3 menit dari waktu dimulainya misi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah waktunya kalian menyerah? Menggunakan begitu banyak orang untuk menutup jalan masuk ruang kelas membuat ruangan sangat panas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara dari pemimpin Kelas B, Nemoto, terdengar dari kejauhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? Sang Pemimpin Kelas B Tak bernyali berencana menyerah sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara yang menyahut dan  kukenal itu milik Yuuji. karena Himeji tak bisa bergabung dalam pertempuran, dia yang perlu menggunakan pasukan utama kami dan memimpin mereka?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HA!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syokanju itu bergerak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerakan besar itu masih gagal mengenai musuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya si syokanju kehilangan kemampuan belajarnya dan terus memukul tembok dengan kekuatan penuh. Sebelum nyeri reda, nyeri baru langsung muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? Seharusnya kau yang harus menyerah, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan urusanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bahkan meski kondisi penyelamatmu, Himeji, tak terlihat bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk lawan sepertimu, tak perlu memakai Himeji. Aku meninggalkannya untuk beristirahat di belakang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmph! Sepertinya kau agak jago ngomong, pemimpin kelas pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pecundang? Jika kau berbicara mengenai Kelas F, kau sebentar lagi akan menikmati perasaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HA!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini serangan keempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cairan hangat menetes dari kepalanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melihatnya, sepertinya ku kehilangan cukup banyak darah. Ada kolam darah kecil di lantai sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada suara keras dari dinding untuk waktu lama, apa yang tengah berlangsung?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa tahu? Mungkin kalian terlalu menjijikkan dan membuat yang lain memberi kalian masalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmph, ngomong saja sesukamu, pemenang akan segera ditentukan. Semuanya, serbu keluar bersama-sama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atur lagi barisan! Mundur dulu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? Membanggakan diri dan kabur di saat bersamaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aki, waktunya sudah dekat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berikan tanda pada teman-teman di sekelilingku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya mengangguk dalam diam.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yoshii, Shimada apa yang kalian rencanakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Endo-sensei tiba-tiba berbalik dan memandangi kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlu menyelesaikan tugas sebelum dia menyadari pertarunagn pura-pura kami dan memanggil kembali para syokanju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OHHHHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggunakan seluruh kekuatabku dan melenguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini pasti disudahi di kali kelima! Tiada kesempatan berbalik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan meninggalkan sisanya padamu, Akihisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memancing pasukan utama menjauh, Yuuji menggunakan suara jelas dan biasanya untuk membuat pengumuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini tepat jam 3 siang, misi dimulai sekarang!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;HAAAA!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memusatkan seluruh kekuatan syokanju pada kepalannya, dan meninju dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan kami sejak awal adalah dinding yang memisahkan Kelas D dan Kelas B. Pertarungan dengan Minami hanyalah alasan untuk memanggil syokanju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Urgh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nyeri yang menjalari seluruh tubuhku menstimulasi saraf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hanya aku yang bisa melakukan ini. Dengan harga menderita nyeri yang berbalik, syokanjuku memiliki kemampuan menyentuh benda-benda fisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Suara dinding ambruk*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seberkas suara ambruk membuka jalan ke Kelas B.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di belakang dinding yang ambruk ada wajah Nemoto, yang tak karuan lantaran saking terkejutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir seluruh pasukan musuh telah  meninggalkan ruang kelas untuk mengejar kelompok utama Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini kesempatan yang sangat jarang. Karena pasukan utama tidak ada, kekuatan pertahanan di sekitar pemimpin kelas sangat lemah, kini waktunya menang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“mati kau, Nemoto Kyouji---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menyerbu maju dan bersiap menantang Nemoto, yang masih terpaku karena semua perubahan tiba-tiba ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Endo-sensei! Shimada Kelas F ingin---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yamomoto Kelas B menerima tantangan! Memanggil Syokanju!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sial! Itu para pengawal pribadi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pengawal pribadi yang diam di ruang kelas menghadang jalan di depan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya  ada sekitar 20 mmeter dari Nemoto, namun kami berada dalam suatu ruang kelas kecil yang membuat jarak ini terlihat sangat jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hahaha! Kalian benar-benar mengejutkanku! Namun kalian sangat tak beruntung! Rencana serangan kejut kalian masih gagal!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nemoto Kyouji sengaja tertawa keras untuk menutupi kelakuannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar rencana serangan kejut kami telah gagal/ Para pengawal pribadi sudah mengelilingi Nemoto. Karena nilai kami lebih rendah, kami tak bisa memecahkan keadaan sekarang dengan tiba-tiba. Namun kami telah mencapai tujuan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu ini perubahan topik yang sangat cepat, tapi izinkan aku menjelaskan karakteristik tiap subjek! Tiap subjek diajar oleh guru yang berbeda. Berdasarkan sang guru, keadaan tes juga akan berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contohnya, Kiuchi sensei, sang guru matematika menilai ujian dnegan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contohnya Tanaka sensei, sang guru sejarah dinia yang sangat longggar dalam hal penilaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contohnya Endo-sensei, sang guru bahasa Inggris, yang kini ada di TKP, cenderung “memberikan” beberapa nilai saat menilai ujian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, bagaimana dengan pendidikan kesehatan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru pendidikan kesehatan tak benar-benar cepat dalam menilai ujian dan kriteria penilaiannya juga tak terlalu longgar. Daerah pemanggilan juga tak begitu jauh dan sang guru tak berlari begitu cepat. Karakteristik dari pendidikan kesehatan, adalah sang guru---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Suara orang-orang mendarat* &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan masuk dihadang. Ruang kelas terisi paanas yang tak terbayangkan, tiba-tiba seorang siswa dan seorang guru muncul di TKP; seberkas suara mendarat nan jelas menggema ke seluruh ruang kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena AC rusak, jendela-jendela dibuka agar udara mengalir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua orang turun dari atap dengan tali, lalu melompat kedalam ruang kelas dan mendarat tepat di depan Nemoto Kyoji. Ya benar, karakteristik pendidikan kesehatan adalah kemampuan luar biasanya untuk bergerak kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tsuchiya Kouta, Kelas F.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Si-sialan...kau!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akan menantang Nemoto Kyouji Kelas B dengan Pendidikan Kesehatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Si mesum pendiam---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pengawal pribadinya tengah bertarung dengan kami, Nemoto Kyouji tak punya pengawal yang melindunginya. Kini dia tak punya jalan kabur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“---Memanggil Syokanju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tsuchiya Kouta Kelas F  VS Nemoto Kyoji Kelas B&lt;br /&gt;
Pendidikan Kesehatan nilai 441 VS nilai 203 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pisau pendek di tangan syokanju berkilat, dan langsung menewaskan musuh. Pertempuran melawan Kelas B resmi berakhir disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Keenam|Soal Keenam]]   &lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]   &lt;br /&gt;
| Next Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kedelapan|Soal Kedelapan]]   &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Keenam&amp;diff=435101</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Soal Keenam</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Keenam&amp;diff=435101"/>
		<updated>2015-04-03T15:08:32Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: /* Soal Keenam */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Soal Keenam==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawablah soal berikut ini:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuliskan formula molekul dari Benzene.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Himeji Mizuki:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;C6H6&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal yang mudah, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[image:BTS vol 01 151.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Tsuchiya Kouta:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ben + zene = Benzene&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau menghina kimia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Yoshii Akihisa:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;B-E-N-Z-E-N&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Datanglah ke ruang guru nanti, bersama Tsuchiya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kerja bagus, teman-teman. Terima kasih untuk kerja keras kalian mengambil tes-tes itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji berkata sambil berdiri di belakang meja guru dan meletakkan tangannya di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang pagi ini kami mengerjakan tes. Tes-tes itu selesai belum lama ini. Sekarang kami mau makan siang. Untuk mengisi kembali sejumlah skor yang hilang dalam semua mata pelajaran, jumlah tes yang kami kerjakan sungguh mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita akan mulai Perang Tes Syokanju dengan Kelas B siang ini. Kalian siap untuk membantai?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oooo...!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semangat kami masih tinggi, dan itu adalah satu-satunya senjata kelas kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tujuan Perang ini adalah untuk menahan musuh dalam kelas mereka; untuk itu, kita tidak boleh kalah dalam pertarungan di koridor.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oooo...!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Himeji Mizuki akan jadi komandannya. Teman-teman, bersiagalah dan bersiap untuk mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku... Aku akan berusaha sebaik-baiknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan malu-malu Himeji berjalan keluar dari kerumunan; mungkin ia tidak ingin berteriak seperti para cowok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;OOOO...!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semangat pasukan garis depan bertambah melebihi batas karena mereka bisa bertarung bersama gadis cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulannya, inti dari Perang ini adalah pertarungan di koridor; jika kami kalah disana, habislah kami. Maka, dari 50 murid di Kelas F, kami mengirim 40 murid untuk pertarungan itu. Pasukan ini akan dipimpin oleh Himeji, yang adalah murid terkuat di kelas kami dan yang kedua terkuat di sekolah ini, jadi kami seharusnya bisa menang tanpa banyak kesulitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bel yang menandakan istirahat siang selesai berbunyi, Perang melawan Kelas B akhirnya dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;OK, ayo semua! Target kita adalah meja-meja yang sistematis!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siap, sir!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk bisa sukses menahan musuh dalam kelas mereka, kami harus mengontrol setiap momen-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami bergegas ke koridor di luar Kelas B dengan kecepatan penuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena banyak murid di Kelas B menguasai pelajaran bukan-sains dan karena guru matematika Hasegawa-sensei bisa menciptakan wilayah pemanggilan yang lebih besar, kami memilih matematika sebagai pelajaran utama untuk bertarung; dengan kata lain, jika kami ingin menyelesaikan pertarungan secara cepat, Hasegawa-sensei akan sangat berguna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi kami juga ada guru Komposisi Inggris Yamada-sensei dan guru fisika Kimura-sensei. Kali ini, kami perlu meningkatkan jumlah guru pengamat dan membantai musuh secepat mungkin!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bisa melihat murid Kelas B!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mereka membawa Bu Takahashi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murid-murid Kelas B berjalan pelan di hadapan kami, tapi jumlah mereka hanya 10. Mereka pasti pasukan barisan depan, dan mereka hanya ingin menguju kemampuan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan biarkan mereka kabur hidup-hidup!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersamaan dengan teriakan yang menakutkan ini, Perang melawan Kelas B secara resmi dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;Kelas B Nonaka Chounan VS Kelas F Kondou Yoshimune&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nilai Gabungan&lt;br /&gt;
1943 VS 764&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa!? Dia terlalu kuat! Mereka seperti berada di level yang benar-benar berbeda!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;Kelass B Kaneda Ichiyuuko VS Kelass F Mutou Keita&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matematika&lt;br /&gt;
159 VS 69&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;Kelas B Satoi Mayuko VS Kelas F Kimishima Hiroshi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fisika&lt;br /&gt;
152 VS 77&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan kemampuan bertarungnya terlalu besar; pasukan garis depan kami terus-menerus kalah. Kalau kami tidak mengirim pasukan pembantu sebelum skor mereka mencapai 0, jumlah pasukan kami akan berkurang sangat banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku berusaha mengamati apakah kami punya bala bantuan atau mungkin rute-nya telah dihalangi oleh musuh...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-aku terlambat... M-maaf...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji yang hampir kehabisan napas tiba di tempat; kurasa ia pasti berlari sepanjang jalan menuju garis depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Himeji Mizuki di sini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu murid Kelas B berseru. Sepertinya Kelas B sudah tahu bahwa Himeji tidak masuk ke Kelas A dan menyelidikinya, kurasa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua murid Kelas B tampak syok ketika mereka mendengar hal itu. Sangat mudah dilihat bahwa mereka takut sekali pada Himeji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Himeji, meski kau baru saja tiba, tapi bisakah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-Ya. Aku pergi sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji segera bergegas ke tengah-tengah arena pertarungan. Melihat gadis itu saja bisa membuatmu merasa tenang. Aku benar-benar ingin memotretnya sekarang dan menyimpannya sebagai sufenir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pak Hasegawa, aku Iwashita Ritsuko dari Kelas B, dan aku mau menantang matematika Himeji Mizuki dari Kelas F!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, Pak Hasegawa, aku Himeji Mizuki; senang bertemu denganmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera saja Himeji menjadi target musuh; mungkin musuh kami ingin menyingkirkannya secepat mungkin?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ritsuko, aku akan membantu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis lain dari Kelas B maju dan memanggil syokanju-nya di saat yang bersamaan. Dua dari sepuluh murid Kelas B menantangnya; kelihatannya mereka benar-benar takut pada Himeji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Summon!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lingkaran sihir muncul setelah pemanggilan, dan syokanju yang sangat familiar muncul di hadapan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syokanju-syokanju musuh mengacungkan pedang dan tombak mereka pada syokanju Himeji, tapi syokanju itu tampak sangat tenang dan hanya menggenggam greatsword-nya yang sudah pernah kami lihat sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketiga syokanju dengan wajah respektif pemilik mereka saling berhadapan, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Syokanju Himeji pakai aksesori.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, ya. Karena nilai Matematika-ku cukup baik...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau bisa pakai aksesori dalam pelajaran yang kau kuasai?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syokanju Himeji yang hanya setinggi dua kepala itu memakai gelang indah di tangan kirinya selain memegang greatword.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-itu...!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia bukan lawan yang bisa kami hadapi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para musuh mulai panik ketika melihat gelang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku jadi ingat: memakai gelang berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Erm, aku akan menyerang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji memegang kencang tangannya; mengikuti tindakan Himeji, syokanju-nya melesat menuju musuh dari sisi kiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tunggu sebentar!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ritsuko! Hindari serangannya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua Syokanju mereka melompat ke samping dengan dramatis. Tiba-tiba, gelangnya syokanju Himeji mengeluarkan sinar terang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Beep!*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahhh!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ri... Ritsuko!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika setelah gelang itu bersinar, salah satu syokanju musuh yang tidak sempat kabur langsung diselimuti api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;Kelas F Himeji Mizuki VS Kelas B Iwashita Ritsuko &amp;amp; Kikuiri Mayumi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matematika&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
412 VS 189 &amp;amp; 151&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, pakai gelang berarti syokanju bisa menggunakan kemampuan spesial? Meskipun aku sudah lupa berapa tepatnya skor yang dibutuhkan untuk itu, aku ingat peraturan entah-di-bagian-mana yang mengatakan bahwa syokanju dari murid yang nilainya di atas jumlah tertentu bisa memakai gelang yang membuat mereka memiliki kemampuan spesial. Peraturan ini tidak ada gunanya untukku, makannya aku melupakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;M-maaf. Aku tidak bisa lembut dalam pertarungan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syokanju Himeji menghampiri musuh yang sudah hilang kontrol karena mengelak dari serangan sebelumnya, kemudian membelah syokanju itu juga senjatanya, membunuhnya dengan instan dan memenangkan pertarungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iwashita dan Kikuiri tewas di pertarungan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa!? Bagaimana mungkin!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Himeji Mizuki lebih menyeramkan dari rumornya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Delapan murid sisa dari kelas B kelihatan sangat syok; yang tidak mengejutkan kenapa mereka bisa kelihatan begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, Himeji, kau terlalu kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-teman-teman, lakukan yang terbaik...!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji berkata sesuatu yang tidak terdengar seperti perintah dari seorang komandan, tapi justru sangat efektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan mengerahkan kekuatanku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Himeji yang terbaik!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah penggemar Himeji bertambah drastis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Himeji, kau bisa istirahat sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semangat musuh telah turun drastis, jadi lebih baik Himeji istirahat sekarang. Kemampuan spesial memang bisa menyebabkan damage yang besar, tapi juga menghabiskan banyak poin. Bahkan jika tidak ada Himeji, mengalahkan barisan depan musuh sekarang hanya masalah waktu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ganti dengan pasukan utama sekarang sekaligus mundur. Jangan mati di pertarungan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itu adalah komando musuh. Yang penting kami sudah mencapai target kami dengan sukses. Biar musuh mundur perlahan, batasi gerak mereka dalam ruang Kelas B, maka pertarungan untuk hari ini akan berakhir. Semua ini berkat kemampuan bertarung Himeji yang luar biasa sehingga rencana kami berjalan dengan lancar, terima kasih banyak!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Akihisa, aku mau kembali ke kelas sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kenapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hideyoshi berjalan ke arahku ketika aku sedang mengamati situasi perang secara keseluruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kembali&amp;quot;? Apa yang terjadi pada pasukan utama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ketua kelas di Kelas B itu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cowok yang bernama Nemoto.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau bilang &#039;Nemoto&#039;; maksudmu Nemoto Kyouji?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cowok yang bernama Nemoto Kyouji punya reputasi yang sangat buruk. Menurut rumor, ia ahlinya melakukan trik kotor dan akan melakukan apa saja untuk bisa meraih tujuannya. Ada rumor tentang &amp;quot;meracuni tim lawan dalam permainan bola&amp;quot;, &amp;quot;bawa senjata waktu berkelahi dengan yang lain&amp;quot;, dsb. Aku tidak terlalu percaya ia sebusuk itu, tapi berhati-hati juga tak ada salahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengerti, kalau begitu lebih baik kita kembali secepatnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meskipun kurasa Yuuji tidak akan jatuh dalam jebakannya, sebaiknya kita kembali untuk memastikan semuanya baik-baik saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesudah memberitahu Himeji tentang ini, Hideyoshi dan aku membawa beberapa orang dan kembali ke kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 200%; border: &amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;center&amp;gt;☆&amp;lt;/center&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wha, jahat sekali!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak pernah membayangkan mereka benar-benar akan melakukan ini semua.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar-benar kejam.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami kembali ke kelas, kami melihat meja teh kami sudah berlubang-lubang, juga semua pensil dan penghapus kami rusak serta patah menjadi dua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini gawat; kita jadi tidak bisa menambah skor kita dengan lancar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah, ini mungkin masalah kecil, tapi benar-benar akan mempengaruhi penambahan skor kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, kupikir Nemoto itu pengecut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan terlalu dipikirkan. Memang butuh waktu untuk memperbaikinya, tapi tidak akan terlalu berpengaruh pada rencana kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, kalau begitu, Yuuji, kami turuti saja perkataanmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kelas ini bisa jadi serusak ini, dan Yuuji, bagaimana bisa kau tidak tahu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas ini tidak seperti ini sebelum istirahat siang, jadi pengrusakan pasti terjadi antara waktu pertarungan dimulai sampai sekarang. Dan Yuuji seharusnya ada di kelas dan bisa menghentikan mereka, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mereka ingin membuat kesepakatan denganku dan aku pergi untuk bernegosiasi, jadi kelas ini kosong waktu itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kesepakatan apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, jika tidak ada di antara kita yang memenangkan Perang ini sebelum jam 4 sore, maka Perang-nya akan dilanjutkan besok pagi jam 9, dan sampai saat itu, kedua pihak tidak boleh melakukan apapun yang berhubungan dengan Perang Tes Syokanju.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengerti. Dan kau setuju?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yep.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi kalo sampai pada titik &#039;stamina menentukan kemenangatn&#039;, kita seharusnya lebih punya keuntungan, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar bagi kita semua kecuali Himeji.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Setelah mengurung mereka dalam kelas, Perang akan berakhir untuk hari ini; pertarungan yang sesungguhnya akan dimulai besok.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Sepertinya kita memang tidak bisa mengalahkan mereka hari ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot; Saat itu, kemampuan bertarung Himeji akan sangat diperlukan, dibanding seluruh kelas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudnya pertarungan akan berfokus dalam area tertentu? Kalau begitu bakalan sama seperti perang melawan Kelas D dan biarkan Himeji membantai Ketua Kelas, begitu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi itulah kenapa kau menerima saran mereka: membiarkan Himeji bertarung dalam kondisi sempurna?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Ini cara yang bagus menurutku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oya? Bagus kalau begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, aku merasa sedikit janggal. Mereka menghancurkan meja kami, terus membuat kesepakatan yang menguntungkan untuk kami di waktu yang bersamaan. Kupikir Nemoto Kyouji bukanlah orang yang naif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Akihisa, kita harus pergi ke garis depan sekarang; mereka mungkin menggunakan cara kotor lagi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hideyoshi berlari keluar kelas setelah ia berkata begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah. Yuuji, sisanya terserah kau.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, aku mau menyiapkan pensil dan penghapus baru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji mengangkat tangannya dan mengucapkan &#039;dadah&#039;. Aku kemudian mengejar Hideyoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhasil mencapai Hideyoshi dengan segera tanpa perlu berlari cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tetap berpikir bahwa kita belum benar-benar melihat &#039;yang sesungguhnya&#039; dari mereka!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah. Kurasa mereka tidak akan cuma melakukan itu saja; kita sebaiknya berhati-hati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Trik curang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya? Sialan, mereka punya kemampuan bertarung yang jauh lebih baik daripada kami, tapi kenapa mereka tidak langsung saja menghadapi kami?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami hampir sampai di arena pertarungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ingat, hati-hati!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau juga, Hideyoshi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah saling mengingatkan satu sama lain, kami kembali pada pasukan kami masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii! Akhirnya kau kembali!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menyambutku kembali adalah Sugawa. Hah? Bukannya yang seharusnya mengontrol pasukan adalah Shimada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maaf membuat kalian menunggu! Bagaimana situasinya sekarang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sangat buruk bagi kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah!? Kenapa!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasukan utama musuh tidak pernah muncul, dan kemampuan bertarung kami lebih baik dari mereka; kenapa sekarang situasi kami malah memburuk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada tertangkap dan ditawan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang mereka menggunakan tawanan!? Apa mereka benar-benar yakin mereka akan menang dengan trik curang!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Musuh cuma tinggal 2 orang, tapi kita jadi tidak bisa menyerang mereka. Apa yang harus kita lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasukanku jadi terkonfrontasi berkat insiden ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmmm... biar kulihat dulu situasinya sebelum bikin keputusan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu lebih baik kita kesana sekarang. Mereka menghalangi kami di koridor sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sugawa memimpin, dan aku mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melewati pagar-pagar betis yang dibuat pasukanku, di depanku jelas terlihat situasi tepat seperti yang Sugawa katakan: Shimada dan syokanju-nya ditawan oleh 2 murid Kelas B.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ada guru remedial di sebelah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-Yoshii!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa jadi terdengar seperti sinetron?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berhenti kalian! Lebih dekat lagi dan aku akan memberikan serangan terakhir ke syokanju-nya dan mengirim gadis ini ke ruang remedial!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu musuh yang menangkap Shimada maju dan membatasi gerakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka tidak hanya membuat murid cewek yang sangat langka di kelas kami tewas, tapi mereka juga secara sengaja menawannya untuk menakut-nakuti kami dan menurunkan semangat kami di saat yang bersamaan. Benar-benar strategi yang sangat hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kami langsung menerobos sebelum mengalahkan mereka, mereka akan menewaskan Shimada dan membuat kami merasa bersalah karena telah mengirimnya ke ruang remedial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Tidak apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semua, bersiaplah menyerang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ketua, kau yakin!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada cara lain! Selalu ada korban dalam setiap Perang! Ini bukan balas dendam karena aku disiksa terus setiap hari; ini hanyalah keputusan yang memang sudah seharusnya diambil oleh seorang ketua!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-tunggu, Yoshii!&amp;quot;(?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan musuh pun menyuruhku berhenti; sungguh tidak keren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukannya kau seharusnya heran kenapa dia bisa ketangkap oleh kami?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya karena dia idiot.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan membunuhmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hah? Apa? Kenapa Shimada terdengar lebih kuat dariku meskipun dia sedang ditawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gadis ini percaya informasi palsu tentang kau yang terluka dan kemudian meninggalkan pasukan, pergi ke UKS untuk melihat kondisimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bilang apa!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku berpikir terlalu banyak? Kelihatannya wajah Shimada memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Membunuhku diam-diam sewaktu aku terluka, apa kau iblis!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan karena itu aku pergi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar-benar menakutkan. Sekarang aku tidak bisa tidur siang dengan tenang di UKS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memangnya salah kalau aku ingin menjenguk dan melihat bagaimana keadaanmu!? Aku mencemaskanmu, tahu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hah...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, apa itu benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-Iya. Tidak boleh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada terlihat sedikit marah dan mengalihkan pandangannya ke samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar-benar. Dia, mencemaskan aku. Shimada yang itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Sekarang kau mengerti. Dengarkan aku dan jangan lakukan apapun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semuanya, serang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa? Apa pertanyaan seperti itu perlu dijawab?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia bukan Shimada! Dia pasti musuh yang menyamar!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian memilih orang yang salah untuk disamar! Shimada yang itu tidak akan pernah bersikap lembut! Kalau dia benar-benar Shimada yang asli, pasti dia bakalan sangat senang mengirimku ke neraka!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oi, tunggu sebentar! Shimada yang ini asli!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murid-murid Kelas B, betapa tidak kerennya kalian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Diam! Kau tetap ingin menipu kami meskipun kami sudah tahu? Busuk sekali!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma membertahumu, dia benar-benar asli..!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas B Suzuki Jirou VS Kelas F Tanaka Akira&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B.Ing-Writing&lt;br /&gt;
33 VS 65&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas B Yoshida Takuo VS Kelas F Sugawa Ryou&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B.Ing-Writing&lt;br /&gt;
18 VS 59&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalahkan kedua orang itu dulu! Bantai syokanju mereka!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aaah...!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tolong aku...!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keduanya langsung dibawa pergi oleh guru remedial. Setelah membantai mereka, aku merasa bahagia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus, sekarang tinggal...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semuanya, hati-hati! Musuh kita itu mungkin saja membuka samarannya dan menyerang kita!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialah si palsu yang mencoba menyamar menjadi Shimada!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-Yoshii, kau kejam... Padahal aku benar-benar mengkhawatirkanmu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hentikan akting jelekmu itu, dasar aktor kelas bawah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada yang asli tak akan pernah berkata seperti itu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ih, benar! Aku benar-benar mengkhawatirkanmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kepung dia. Walau dia berasal dari Kelas B, dia tidak akan bisa bertarung melawan kita semua sekaligus.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku serius! Kudengar &#039;Yoshii melihat celana dalam Mizuki dan tidak bisa berhenti mimisan&#039;, dan aku jadi sangat cemas!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tahan serangan! Dia Shimada yang asli!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cuma dia satu-satunya orang yang percaya pada kebohongan idiot macam begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, kau baik-baik saja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengulurkan tangan pada Shimada yang terduduk di lantai. Sialan kalian, Kelas B; berani-beraninya kalian menggunakan trik kotor seperti ini!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baguslah kalau kau baik-baik saja. Aku mencemaskanmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Beristirahatlah dalam kelas. Kau pasti capek kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oya, ngomong-ngomong, mereka itu benar-benar pengecut. Apa mereka tidak punya harga diri sebagai manusia?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada tidak bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah... Shimada. Sebenarnya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya ia memalingkan kepalanya dan memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha keras untuk tersenyum penuh permintaan maaf padanya, yang sekarang menatapku tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu itu benar-benar kau sejak awal?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada ngamuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Dimana aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku siuman, aku melihat langit-langit yang penuh debu. Ini... ah, kelas kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, kau sudah sadar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara yang imut terdengar di sebelahku. Mungkinkah itu Himeji?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cemas sekali. Yoshii, kau terlihat seperti telah dihajar oleh seseorang kemudian didorong dari atas tangga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban yang tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meskipun ini &#039;Perang&#039;, tak perlu melukai seseorang sampai seperti ini kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, kurasa sebutan yang lebih tepat adalah pembantaian-oleh-satu-pihak...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak penting. Bagaimana Perang Tes Syokanju-nya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba bangkit, duduk di tatami dan merasakan sekujur tubuhku sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Menurut kesepakatan, kita sekarang sedang gencatan senjata. Perang-nya akan dilanjutkan besok.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus situasi kita?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kurang lebih kita sudah menyerang sampai ke depan kelas mereka, sesuai rencana. Tapi, kita kehilangan lebih banyak dibanding yang kita kira pada awalnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji membaca laporan kerugian di kertas selembar demi selembar. Meskipun rencana kami cukup berhasil, tapi kami tetap menderita kerugian yang besar. Sepertinya kami tidak menang dengan telak di pertarungan di koridor, dan karena kami mengirim sebagian besar sumber daya manusia ke sana, hasilnya tidak terlalu bagus untuk keseluruhan rencana kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meskipun ada sedikit kecelakaan, sepertinya semuanya berjalan lancar untuk saat ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bisa dibilang begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, lawan kami adalah Nemoto Kyouji, si pengecut itu; dia pasti punya beberapa rencana rahasia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... *ketukan di pintu*&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, Muttsulini. Ada sesuatu yang perlu dilaporkan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menyadarinya, Muttsulini sudah ada disampingku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muttsulini adalah anggota tim intelijen, jadi dia tidak ambil bagian dalam pertarungan hari ini. Tugasnya adalah mengawasi dan melaporkan apapun yang terjadi di markas musuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Ada yang aneh dengan Kelas C?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... *angguk*&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut informasi Muttsulini, Kelas C sedang bersiap untuk Perang Tes Syokanju. Jika mereka tidak berniat menantang Kelas A, maka hanya ada satu alasan...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mereka ingin memilih lawan yang mudah. Mereka benar-benar bajingan pengecut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang Yuuji katakan, mereka berencana menyerang pemenang dari Perang ini. Akan lebih mudah bertarung dengan lawan yang sudah kecapekan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yuuji, apa rencanamu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hm, apa ya...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji mendongak dan melihat ke arah jam. Sekarang jam 4:30-belum terlalu sore.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita sebaiknya membuat kesepakatan dengan Kelas C juga. Kalau kita mengancam mereka dengan ancaman &#039;Kelas D akan menyerang kalian&#039;, aku yakin mereka tidak akan jadi menyerang kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan mereka memang tidak percaya kita akan memenangkan Perang kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya tidak akan susah membuat kesepakatan dengan Kelas C.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oke. Ayo.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba bangkit meskipun masih merasa kesakitan. Tapi kurasa badanku masih baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk rencana cadangan, Hideyoshi, tinggallah dalam kelas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kenapa? Memangnya tidak apa-apa kalau aku tidak ikut kalian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau wajahmu terlihat, strategi rahasiaku buat keadaan emergensi nanti tidak akan berhasil.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak terlalu mengerti sih, tapi ya sudahlah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hideyoshi duduk kembali dengan patuh. Aku jadi ingin tahu, keadaan emergensi apa yang dimaksud Yuuji?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu, ayo kita pergi. Mungkin akan sedikit berbahaya karena jumlah kita cuma sedikit.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa Hideyoshi, Yuuji, Himeji, Muttsulini, dan aku berjalan menuju Kelas C.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, aku menghabiskan banyak waktu hanya untuk membersihkan darahmu dari jari-jariku; aku akan membuat perhitungan denganmu nanti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memangnya itu salah Yoshii?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami sampai di koridor, kami melihat Shimada, yang sedang mengelap tangannya dengan sapu tangan, dan Sugawa, yang menggendong tas di punggungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, Shimada, Sugawa. Kebetulan sekali. Ayo kita pergi ke Kelas C.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kurasa tidak akan terjadi, tapi mungkin saja murid-murid Kelas C akan menyerang kami, dan pergi kesana dengan hanya beberapa orang saja akan berbahaya. Juga kami butuh orang tambahan untuk menjaga Himeji. Aku terus berpikir begitu sambil memanggil kedua sahabat baikku itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, sebagai sahabat baik, mereka tidak akan menolak ajakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmmm, oke?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Buatku sih tidak masalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku punya cadangan yang bisa kupercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cepatlah, atau Ketua Kelas C bakalan sudah pulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, ayo!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesudah Shimada dan Sugawa bergabung bersama kami, kami meneruskan langkah menuju Kelas C.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku Ketua Kelas F, Sakamoto Yuuji. Siapa Ketua Kelas disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih banyak murid yang tinggal di Kelas C. Seperti yang dilaporkan Muttsulini: mereka bersiap-siap untuk Perang Tes Syokanju dan mengincar target yang lebih cetek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku. Mau apa kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis yang muncul di hadapan kami berambut sangat pendek. Bukankah dia Koyama, bintang di klub voli? (?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mau bernegosiasi denganmu sebagai Ketua Kelas F. Kau punya waktu sekarang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Negosiasi&#039;? Hah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku tidak suka menjelek-jelekkan wanita, Koyama sangat jauh dari &#039;lembut&#039; dan &#039;menenangkan&#039;. Sesudah mendengar apa yang Yuuji katakan, dia tersenyum jahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah, aku disini untuk mengajukan perjanjian non-agresi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Perjanjian non-agresi... Bagaimana menurutmu, Nemoto?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koyama berbalik dan bicara pada sekelompok murid di ujung kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hah? &amp;quot;Nemoto&amp;quot;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja tidak. Perjanjian macam itu tidak diperlukan kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa!? Nemoto!? Kenapa ada Kelas B disini!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cowok yang berjalan ke arah kami sambil membawa sekelompok orang adalah musuh utama kami: Ketua Kelas B, Nemoto Kyouji. Berambut pendek, dengan janggut yang belum dicukur di sekeliling mulutnya, dan sinar mata jahat. Penampilannya sangat berkebalikan dengan Yuuji yang punya sorot mata tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jahat sekali, Kelas F. Kalian mengingkari perjanjian. Bukannya kita sudah sepakat bahwa kita tidak akan melakukan apapun yang berhubungan dengan Perang Tes Syokanju?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau bilang...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalian yang duluan ingkar janji kan? Aku cuma melakukan apa yang akan kalian lakukan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesudah dia berkata begitu, sekelompok murid yang ada di belakangnya bergerak. Orang yang tersembunyi di belakang mereka adalah Hasegawa-sensei, yang memang pendek dan berada di arena pertarungan barusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hasegawa-sensei! Yoshino dari Kelas B menantang-&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak secepat itu! Sugawa dari Kelas F menerima tantangannya! Summon!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Yoshino dari Kelas B hendak menyerang Yuuji secara tiba-tiba, Sugawa melompat ke depan dan menerima tantangan itu untuk melindungi Yuuji. Kerja bagus, Sugawa!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami tidak mengingkari perjanjian! Ini cuma di antara Kelas C dan Kelas F-&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada gunanya, Akihisa! Nemoto pasti akan menggunakan kalimat &#039;semua yang berhubungan dengan Perang Tes Syokanju&#039; sebagai alasan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, dan memang itu yang akan kuperbuat♪&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Omong kosong!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Omong kosong&#039; juga adalah teori yang sangat berguna!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Akihisa, lari!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sial!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami pergi secepat yang kami bisa, meninggalkan Sugawa yang sedang bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas B Yoshino Takayuki VS Kelas F Sugawa Ryou&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matematika&lt;br /&gt;
161 VS 41&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan biarkan mereka lolos! Kalahkan Sakamoto!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Nemoto dan langkah-langkah yang berlari terdengar di belakang kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jujur saja, keadaan saat ini sangat berbahaya. Bukan cuma kami tidak bisa bertarung menghadapi Kelas B, tapi juga satu-satunya harapan kami, Himeji, telah banyak menghabiskan skor Matematika-nya. Nemoto pasti tahu itu, makanya dia memanggil Hasegawa-sensei kesana. Dia menggunakan trik kotor lagi, dan kali ini berhasil dengan efektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah, hoo...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Himeji, kau baik-baik saja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berlari di sepanjang koridor dengan kecepatan penuh, tapi langkah Himeji makin lama makin pelan. Tubuhnya lemah, jadi lari-larian seperti ini pasti sangat sulit baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;K-Kalian... duluan saja...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat berkata begitu napas Himeji terengah-engah. Kami tidak bisa kabur dari musuh kalau begini, tapi kami juga tidak bisa kehilangan Himeji. Kalau kami kehilangan Himeji, siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada Perang besok. Dan lagi, aku tidak bisa meninggalkan seorang gadis demi menyelamatkan nyawaku sendiri!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tidak ada yang bisa kami lakukan sekarang...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yuuji!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa, Akihisa!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Serahkan semuanya padaku! Yuuji, kaburlah bersama Himeji!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dan memandang ke belakang, dan Himeji dan Yuuji berlari melewati aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak pernah membayangkan diriku sendiri bakalan pernah mengucapkan kata-kata keren seperti itu. Apa aku terlihat cukup keren?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-Yoshii, j-jangan khawatirkan aku-&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengerti. Kuserahkan padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji memotong ucapan Himeji, dan menyetujui saranku. Inilah Yuuji yang kukenal, dia tidak pernah mencapur-adukkan perasaan dengan keputusan yang penting yang harus diambilnya, sehingga dia dapat dengan tenang memutuskan sesuatu sesuai situasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... *berhenti berlari*&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tunggu, Muttsulini, kau juga harus pergi dari sini. Kurasa kau bakalan jadi kunci di pertarungan besok.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muttsulini berhenti bersamaku pada saat yang bersamaan. Aku menghargai tindakannya itu, tapi kurasa dia punya misi lain yang lebih penting yang harus diselesaikan; kami juga tidak bisa kehilangan dia sekarang!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu, kalau aku yang tinggal, tidak apa-apa kan, Ketua?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada berhenti berlari, dan berdiri di sampingku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Apa aku bisa mengandalkanmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja bisa. Serahkan saja padaku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... (Semoga beruntung)&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muttsulini mengacungkan kedua jempolnya, dan langsung kabur dari tempat ini dengan segera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Apa yang harus kita lakukan sekarang? Ketua?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, aku punya ide.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Sungguh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada menatapku dengan tatapan kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wa--- kelihatannya dia tidak pernah benar-benar percaya padaku, sungguh wakil ketua yang tidak sopan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak mau berakhir di ruang remedial, jadi serahkan saja padaku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu mereka! Yoshii dan Shimada dari Kelas F!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bunuh mereka!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musuh mendekati kami dengan cepat. Hasegawa-sensei juga ada di antara mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oy, Kelas B! Berhenti!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menurunkan semangat dan menghentikan mereka, aku sengaja membentak mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalian punya nyali. Kalian pikir kalian bisa mengalahkan kami, hanya berdua saja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, sebelum kita bertarung, aku ingin mengatakan sesuatu pada Hasegawa-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kami menunjukkan kelemahan kami pada musuh, situasi bakalan jadi tak terkendali, jadi aku terus menggertak mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Yoshii, kau gila? Kau mau protes pada Hasegawa-sensei dan bilang bahwa mereka mengingkari perjanjian?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Yah pokoknya aku punya ide.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbisik pada Shimada yang sekarang mulai panik. Ah, dia terlalu paranoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa, Yoshii?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasegawa-sensei maju ke depan. Beliau masih terengah-engah, mungkin beliau perlu lebih banyak berolahraga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa sensei tahu kalau Kelas B tidak mematuhi kesepakatan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau kan guru, tentunya seorang guru tidak akan berpihak pada murid yang tidak patuh pada peraturan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Si licik, Nemoto itu pasti sudah memikirkan alasan yang bagus.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dari yang kudengar, yang mengingkari perjanjian adalah Kelas F, kan? Kalau kau protes karena diserang seperti ini, sebelum berkata sesuatu tentang perjanjian, kau seharusnya instropeksi diri dulu kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa komentar guru itu sedikit kasar. Dan aku yakin Nemoto telah memutar-balikkan fakta waktu menceritakan hal ini pada Hasegawa-sensei, seperti yang sudah Shimada bilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Ini tepat seperti yang kubayangkan, apa rencanamu selanjutnya?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Aku percaya padamu, Yoshii.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada mengedipkan sebelah matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbeban dengan ekspektasi Shimada, aku berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tamatlah kita...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cowok ini idiot!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejam sekali.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sakamoto! Yoshii... Apa... Apa dia akan baik-baik saja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja! Aku tidak bisa menjamin yang lainnya, tapi aku yakin Akihisa pasti tidak akan mengalami kesulitan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dalam hal pelajaran dia memang parah. Tapi, nilai jelek bukan segalanya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;M-maksudmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Si bodoh itu... Dia bukan &#039;Kansatsu Shobunsha&#039; biasa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Summon!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat musuh kami memanggil syokanju mereka bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami terus kabur, tapi koridor ini penuh dengan jalan buntu. Cuma tinggal masalah waktu saja sebelum kami benar-benar harus berhadapan dengan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, kita harus berbuat apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau bertanya padaku? Lalu aku harus bertanya pada siapa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun lah, pokoknya pikirkan sesuatu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada dan aku berlari sambil saling berseru satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oke, aku mengerti! Shimada, kau hadapi mereka semua sekaligus!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oke oke, terus?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku kabur.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku pasti akan menghabisimu suatu hari nanti!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang kami sampai di jalan buntu yang lain. Di depan kami hanya ada dinding dengan jendela kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, panggil syokanju-mu sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Panggil sekarang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu biarkan syokanjumu menerima serangan menggantikan aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mati saja kau!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wa! Kenapa kau tiba-tiba mengamuk? Memangnya kau berserker?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terus berlari sambil menghindari tonjokan-tonjokan Shimada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial. Jalan buntu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyandarkan punggungku ke dinding dan melihat musuh semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalian pasti kelelahan setelah berlarian kesana kemari!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ngomong-ngomong, memangnya kita harus mengejar mereka?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara lain. Sementara kita dengan bodoh &#039;bermain&#039; dengan mereka, Sakamoto dkk berhasil kabur.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu, ayo kita habisi mereka lalu kembali!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mereka menyadari kami tidak bisa kabur lagi, mereka yang sudah kehabisan tenaga akibat mengejar-ngejar kami mulai ngobrol di hadapan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau memang tidak perlu mengejar kami, kenapa tidak biarkan saja kami kabur!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oi, sudah selesai ngobrolnya?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada jadi marah dan membentak mereka karena perkataan mereka yang tidak sopan tadi. Oh, bahkan dalam situasi seperti ini, Shimada tetap galak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena... Ah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalian kelas terjelek.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berani-beraninya dia! Aku harus membalasnya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami bukan kelas terjelek! Cuma kebetulan saja muridnya jelek-jelek!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, diam!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hah? Aku mencoba membalas mereka, kenapa Shimada malah marah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan meremehkan kami hanya karena kami dari Kelas F!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh begitu? Memangnya level F seperti kalian bisa melakukan apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Coba saja sendiri! Summon!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada berseru dan kemudian muncullah Chibi Shimada yang sudah sering kulihat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Akan kubuat kau mengerti perbedaan kekuatan kita!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cowok Kelas B yang bertengkar dengan Shimada itu juga memanggil syokanju-nya, yang menggenggam pisau. Syokanju itu melesat ke arah kami. Meskipun dia tidak bisa membuat gerakan rumit, dia punya kekuatan yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada juga membuat syokanju-nya melesat maju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu serangan dashyat dari musuh membuat syokanju Shimada---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas B Kudou Shinji VS Kelas F Shimada Minami&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matematika&lt;br /&gt;
159 VS 171&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau, kau benar-benar dari Kelas F?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, mereka setara! Apa yang sebenarnya terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;He he, ini salahmu, kenapa kau pilih matematika. Untuk pelajaran ini, tidak masalah jika aku tidak mengerti kanji[1]!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
OH, Shimada kau sangat keren!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ngomong-ngomong, Shimada, berapa skor Sastra Kuno-mu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cuma satu digit!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sangat yakin! Itu juga keren sekali!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kudo, kau butuh bantuan? Kau tidak mau dikirim ke ruang remedial kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sial, tolong bantu aku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kudo menggigit bibirnya, merasa menyesal. Sungguh memalukan meminta bantuan waktu melawan Kelas F.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian situasinya berubah jadi buruk bagi Shimada. Kedua syokanju itu menggunakan senjata mereka dan bertarung dengan sekuat tenaga, tidak ada di antara mereka yang bisa bergerak sekarang. Kalau jumlah musuhnya bertambah, Shimada pasti kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, butuh bantuan? Kau tidak mau dikirim ke ruang remedial kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau cuma bakal merepotkan aku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau kejam!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyesal dan menggigit bibirku. Dia benar-benar jahat padaku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, saat ini bukan saat yang tepat untuk bercanda. Tak peduli betapa lelahnya aku, aku tidak bisa kabur begitu saja. Sudah waktunya untukku bergabung dalam pertarungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Summon!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lingkaran sihir yang familiar muncul di sebelahku. Syokanju yang memiliki kemampuan bertarung yang sama dengan skor matematikaku, perlahan muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang terlihat kuat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhnya yang kekar!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerakannya yang cepat dan gesit!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekuatan absolut yang terlihat saat dipanggil!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan pedulikan Yoshii! Kau bisa lihat, dia lemah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kembalikan! Kembalikan deskripsi ketampananku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pergi sana, lembek!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, apa kau benar-benar partner-ku? Kenapa kau menistaku terus-terusan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar bahwa syokanju-ku cuma memiliki bokutou[2] sebagai senjata dan terlihat lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku dikepung oleh musuh (salah satu di antara mereka adalah teman sekelasku sendiri)!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita dalam masalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kening Shimada sedikit berkerut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun tadinya dia bisa menang, tapi sekarang skor-nya dengan skor-ku tidak beda jauh. Jelas sekali dia telah menghabiskan banyak skor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat tinggal!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murid Kelas B itu menyuruh syokanjunya menyerang; syokanju Shimada tidak sempat menghindar. Sekarang saatnya aku pamer!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Rasakan tendanganku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuat syokanju-ku melesat maju dan menyandung musuh dari samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meremehkan kemampuanku plus tidak biasa mengontrol syokanju, syokanju musuh tersandung dengan mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Belum berakhir!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengayunkan bokuto-ku ke arah musuh, memukulkannya ke tanah. Sekarang saatnya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah----&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan cepat syokanju-ku mencengkeram kepala bagian belakang syokanju musuh, dan membantingnya ke tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boom! Hal itu membuat suara yang sangat keras di sepanjang koridor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya berkata begitu secara bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir dari pertarungan ini dengan segera dapat diputuskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas B Sanada Yuka VS Kelas F Yoshii Akihisa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matematika&lt;br /&gt;
166 VS 51&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Skor kami baru saja muncul di udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh memalukan! Skor-nya dia tiga kalinya skor-ku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa! Skor-nya Sanada lebih tinggi kan? Kenapa dia bisa dikalahkan syokanju lemah itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kudo dari Kelaas B protes pada guru. Tak ada gunanya kau protes, toh semuanya ini tidak ada hubungannya dengan guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Syokanju-ku masih hidup?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syokanju yang sudah kuhajar tadi mulai berdiri, kekuatanku memang tidak cukup...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, apa yang terjadi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah... Kurasa ini untungnya jadi &#039;Kansatsu Shobunsha&#039;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari yang kulihat waktu Perang lawan Kelas D, ternyata mengontrol syokanju itu tidak mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenaga yang luar biasa serta perbedaan ukuran membuat syokanju lebih susah dikontrol. Karena itu, biasanya murid-murid hanya menggunakan teknik serangan yang simpel dan langsung, dan membiarkan skor menentukan hasilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa maksudnya &#039;untung&#039;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maksudnya, aku terbiasa mengontrol syokanju!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai &amp;quot;Kansatsu Shobunsha&amp;quot;, aku sudah memanggil syokanju-ku jutaan kali, dan rasa sakit serta lelah yang dibiaskan padaku membuatku punya beberapa keuntungan----aku bisa membuat syokanju-ku melakukan aksi-aksi yang lebih rumit. Kalau aku cuma tahu aksi simpel seperti &amp;quot;berlari&amp;quot; atau &amp;quot;ayunkan pisau&amp;quot;, aku tidak akan pernah bisa melakukan pekerjaan ekstra yang biasanya diberikan para guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini cuma kebetulan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musuh mengacungkan pisaunya lagi dan menyerangku. Tapi ekspresinya ketakutan membuatku sedikit senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ha!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuat syokanju-ku memblokir serangannya. Kalau aku menerima serangannya secara langsung, bokuto-nya pasti bakalan patah, jadi aku harus bertahan dengan mengalihkan serangan musuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pisau musuh terlempar ke samping, dan tubuhnya kini dapat diserang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haaa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kubiarkan syokanju-ku melesat maju dan memukul pinggang serta kepala syokanju musuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas B Sanada Yuka VS Kelas F Yoshii Akihisa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matematika&lt;br /&gt;
126 VS 51&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Skor yang ditampilkan berubah sedikit. Aku sudah menindas musuh sampai seperti ini, tapi skor kami masih beda jauh. Syokanju-ku memang benar-benar lemah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita sebaiknya mulai serius sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meskipun aku tidak mau menindas Kelas F seperti ini, tapi kita tidak bisa diam saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua murid yang sedari tadi tidak ikut bertarung kini maju. Situasinya jadi semakin gawat kalau begini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, tunggu dulu. Setidaknya kita bertarung secara adil, dua lawan dua!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, kau salah, sekarang bukan empat lawan dua.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Pasukan cadangan sudah disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang lima lawan satu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, kau mengkhianatiku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memangnya seberapa besar kebenciannya padaku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terima ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersamaan dengan beberapa seruan tidak berguna, syokanju musuh mulai menyerang. Aku membuat syokanju-ku menunduk menghindari serangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Orang ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cowok yang tidak-mati-mati-juga ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wa! Jumlah syokanju musuh baru saja bertambah dua kali lipat! Apa ini yang namanya hukuman kematian?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syokanju musuh berdiri berdampingan dan bergegas maju ke arahku. Aku tidak bisa membiarkan mereka mengepungku sebelum aku mengalahkan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sudah jelas kita bisa mengalahkan dia dengan satu kali pukul...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi serangan kita tidak ada yang mengenainya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Orang ini seperti Lendir Besi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak selemah itu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan marah aku melesat ke salah satu musuh dan menonjok perutnya, telak!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tanganku jadi sakit. Inilah akibatnya melakukan kekerasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bisakah kita mulai sekarang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sial! Aku mundur!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kudo menyadari bahwa dia tidak bisa menang melawanku satu-lawan-satu jadi dia memutuskan untuk mundur. Dia sudah menghabiskan banyak skor di pertarungan barusan, jadi kabur memang pilihan yang tepat. Sekarang jadi tiga-lawan-dua---Tidak, Shimada juga sudah kehilangan banyak skor, jadi sekarang tiga-lawan-satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memberi instruksi pada Shimada yang sedang tidak diserang musuh, dan yang sedang memandangi tabung pemadam kebakaran yang pernah kugunakan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Roger!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kelima|Soal Kelima]]   &lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]   &lt;br /&gt;
| Next Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Ketujuh|Soal Ketujuh]]   &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Kelima&amp;diff=435100</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Soal Kelima</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Kelima&amp;diff=435100"/>
		<updated>2015-04-03T15:06:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== Fifth Question ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Dalam kalimat berikut, isi ( ) dengan jawaban yang benar.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya adalah gelombang dan ( ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Himeji Mizuki:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[partikel]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Tsuchiya Kouta:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[objek yang akan menolak semua benda yang mendekatinya.]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawabanmu selalu mengejutkanku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:BTS vol 01 101.jpg|thumb]] &lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Yoshi Akihisa:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Senjata pahlawan]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru: &#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya juga senang main game.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;quot;Ketua Kelas CD Hiraga Genji Gugur di Medan Perang!&amp;quot;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oooo---&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara ini yang menggemuruh di sekolah merupakan teriakan kemenangan Kelas F dan tangisan kekalahan Kelas D.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Luar biasa! Aku tidak percaya kita menang melawan Kelas D!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang kita bisa mengucapkan selamat tinggal pada tatami dan meja kecil!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, sekarang barang-barang rusak tersebut menjadi milik Kelas D!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hidup Sakamoto Yuuji!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cinta Himeji!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang memuji Ketua Kelas Yuuji dari segala penjuru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke arah Yuuji berdirim dikelilingi siswa Kelas F dan kelas D, yang telah kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, itu sih bukan apa-apa! Kalau kalian memujiku begini, apa yang harus kukatakan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji menggaruk pipi dan memutar pandangannya. Mengejutkan, ternyata dia pemalu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sakamoto! Aku ingin menjabat tanganmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku juga!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua orang memperlakukannya sebagai pahlawan. Jika dilihat dari situasi ini, kau bisa memahami betapa tidak sukanya kami terhadap Kelas F. Tatami di sana sudah rusak, jadi wajar bagi kami untuk membnci ruangan kelas tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
OK, aku harus membaur dalam kerumunan dan mencari kesempatan untuk mendekati Yuuji. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yuuji!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, bukankah itu Akihisa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji menolehkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melangkah mendekatinya dan senyum menghiasi wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku ingin menjabat tangan Yuuji juga!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kujulurkan tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oooo!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(suara remuk)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yuuji...... Aku hanya ingin menjabat tanganmu, kenapa kau menggenggam tanganku seperti ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Diam... sudah tentu aku harus menahan tanganmu seperti ini... Hmph!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanganku sepertinya dibalikkan ke arah yang salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bsia menahan rasa sakitnya, jadi aku menjerit seperti babi yang tertusuk dan secara tidak sengaja menjatuhkan pisau di tangan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yuuji, selamat memenangkan perang bersama yang lainnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak pernah tahu melaksanakan pekerjaan dengan teman sekelas bisa memberimu perasaan yang memuaskang. Aku tersentuh bahkan sendi pergelangan tanganku terasa sakit!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau rencakanan barusan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku hanya ingin menggunakan tangan ini, yang bisa hancur kapan saja, untuk menjabat tanganmu dan berbagi keceriaan kemenangan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oi, seseorang ambilkan palu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;W... tunggu! Aku minta maaf!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmph.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melepaskanku akhirnya. Itu pengalaman yang sangat menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, apa yang akan dia lakukan dengan palu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;*membual*&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya Yuuji mengucapkan sesuatu, apa yang dia katakan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;paku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan melawannya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak pernah membayangkan Himeji sebenarnya anggota Kelas F... sulit dipercaya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara seseorang dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menoleh ke balakang dan melihat Hiraga, yang sudah sulit berjalan dan pelan-pelan datang ke kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, aku... minta maaf atas kejadian sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji juga lari ke kami dari arah berlawanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, kau tidak harus meminta maaf. Ini hanya hasil yang kami dapat dari tidak melawan Kelas F secara serius.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia kompetisi memang keras. Mereka kalah karena dicurangi, tapi Himeji tidak perlu meminta maaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan menyerahkan ruangan Kelas D sesuai aturan. Hanya saja, sekarang sudah agak larut, bagaimana kalau kita lakukan besok?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyedihkan sekali bagi komandan yang kalah di medan perang! Dalam tiga bulan ke depan, mereka tidak bisa melakukan Perang Tes Monster Panggilan, jadi dia harus menerima amarah dan dendam dari teman sekelasnya dalam ruangan payah itu. Ketua kelas akan menjadi pahlawan jika menang dan pecundah kalau kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja tidak ada yang salah kalau kita lakukan besok. Ya? Yuuji?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keadaan sekarang, aku tidak kuasa meminta Kelas D untuk menyerahkan ruangannya sekarang, jadi aku berpaling dan meminta pendapat Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, itu sama sekali tidak perlu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa percaya jawaban yang keluar dari mulut Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kenapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku tidak berencana mendapatkan ruangan Kelas D.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji bilang pada kami seolah dia telah mengatkannya dari awal, padahal sampai sekarang aku belum tahu rencananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yuuji, ada apa? Bukankah kita sudah mengorbankan tenaga untuk mendapatkan fasilitas normal ini, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukannya kau melupakan sesuatu? Target kita ruangan Kelas A!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengalahkan Kelas A, adalah target aku dan Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang begitu, kenapa kita tidak melawan Kelas A dari awal? Bukankah ini sangat aneh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau memang pada akhirnya kita akan melawan mereka, kenapa tidak lakukan dari awal, daripada menghabiskan waktu dan tenaga seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sadari batas kemampuanmu! Inilah kenapa kau selalu disebut &#039;Abang Dungu&#039; oleh anak SMP sekitar sini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Berhenti mengatakan sesuatu yang hanya setengah benar!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, maaf. Seharusnya kubilang hanya anak SD yang memanggilmu seperti itu, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...... bukan itu masalahnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa...... Kau sungguh punya nama panggilan seperti itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
J-jangan melihat ke arahku! Berhenti melihatku dengan ekspresi itu di wajahmu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagian, aku tidak berniat mengambil fasilitas ruangan Kelas D.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini adalah hasil terbaik bagi kami... tapi apa kau yakin?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, dengan satu syarat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar. Kalau kita melepaskan mereka begitu saja, pertarungan tidak ada gunanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mari kita dengarkan dulu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan khawatir, bukan sesuatu yang spesial. Kalau aku memberimu sinyal, aku ingin kau merusakkan benda itu di balik kaca. Itu saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari Yuuji menunjuk mesin AC bagian luar di balik kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, mesin itu bukan peralatan Kelas D. Fasilitas Kelas D cuma peralatan normal yang bisa kau temukan di sekolah miskin sekalipun, yang tidak termasuk AC. Mesinnya ada di situ karena tidak cukup di ruangan kelas pemiliknya, jadi mereka menaruhnya di luar Kelas D.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mesin AC bagian luar milik Kelas B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, merusakkannya akan berakibat kau dimarahi guru, tapi tawaranku seharusnya masih kedengaran baik bagimu, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau mereka &amp;quot;tidak sengaja&amp;quot; merusakkannya, paling parah mereka akan diberi surat peringatan. Tapi, jika mereka bisa melakukannya demi tetap memiliki ruangan Kelas D selama tiga bulan ke depan, tidak ada penawaran yang lebih baik dari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kedengarannya bagus bagi kami. Tapi kenapa kau mau kami melakukan ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan Hiraga kedengaran sangat beralasan. Kalau tujuan kami adalah Kelas A, kenapa kami melakukan hal yang tidak ada hubungannya seperti merusakkan peralatan Kelas B dan mentarget mereka?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu ada hubungannya dengan taktik kita melawan Kelas B.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah? Kalau begitu dengan senang kuterima tawaranmu itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan berbicara denganmu lagi lusa, pada waktu yang sama. Kau bisa kembali sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;OK, terima kasih. Semoga kau bisa mengalahkan Kelas A seperti rencanamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, berhenti mengatakan hal yang kau maksud. Sebenarnya kau percaya kami akan kalah, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar. Kelas F tidak akan pernah mengalahkan Kelas A. Itu cuma mimpi dan harapan belaka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketua Kelas D mengangkat tangannya dan pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semuanya! Terima kasih atas kerja keras hari ini! Besok, kita akan memulihkan nilai yang sudah kita gunakan, jadinya semuanya pulang dan istirahat! Itu saja untuk sekarang!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Yuuji mengeluarkan komando, semuanya berbicara satu sama lain dan berjalan kembali ke kelas untuk mengepak barang lalu pulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yuuji, apa kita pulang juga?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan menang sangat hebat, tapi kalau boleh kukatakan, sebenarnya aku sangat lelah. Besok, kami akan melanjutkan peperanganya, jadi aku sebaiknya langsung pulang dan istirahat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Keempat|Soal Keempat]]   &lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]   &lt;br /&gt;
| Next Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Keenam|Soal Keenam]]   &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Keempat&amp;diff=435099</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Soal Keempat</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Keempat&amp;diff=435099"/>
		<updated>2015-04-03T15:05:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== Soal Keempat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1)	Berapakah nilai &#039;&#039;X&#039;&#039; yang memenuhi persamaan &#039;&#039;4 sin X + 3 cos 3X = 2&#039;&#039; dan berada di kuadran pertama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2)	Dari keempat persamaan berikut, manakah yang sama artinya dengan &#039;&#039;sin (A+B)&#039;&#039;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
① &#039;&#039;sin A + cos B&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
② &#039;&#039;sin A – cos B&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
③ &#039;&#039;sin A cos B&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
④ &#039;&#039;sin A cos B + cos A sin B&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Himeji Mizuki&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1)	X = π/6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2)	④&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Catatan Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Kamu dapat menulis besaran sudut dalam π selain menggunakan °. Jawabanmu sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:BTS vol 01 061.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Tsuchiya Kouta&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1)	X = mungkin 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Catatan Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kira kamu mencoba untuk &#039;slack off&#039; dengan menulis &#039;mungkin&#039;. Walaupun mendekati, saya tidak dapat memeberimu poin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Yoshii Akihisa&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2)	mungkin ③&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Catatan Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya telah melihat berbagai jawaban mencoba-coba murid, tetapi kamulah yang pertama kali mencoba untuk &#039;slack off&#039; dalam pilihan ganda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii! Pasukan Kinoshita mulai bertempur dengan Kelas D di koridor!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan rambut yang dikucir   her ponytail bergerak-gerak dibelakang pungungnya, orang yang berlari menujuku adalah Shimada, yang ditempatkan pada pasukan yang sama denganku. Dengan pengamatan yang teliti, kamu dapat melihat bahwa dia tinggi, dengan kaki yang panjang, lantas mengapa dia tak terlihat seperti perempuan? Bagian manakah yang salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, mungkin karena dadanya yang rata.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kupatahkan jarimu satu persatu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, aku telah menginjak sebuah ranjau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan diperpanjang. Kita harus tetap fokus dalam Test Summoning War!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasukan yang bertempur di garis depan adalah barisan yang dipimpin oleh Kinoshita. Pasukan cadangan kita berada di antara garis depan dan Kelas F. Saya tidak ingat menerima tawaran untuk menjadi pemimpin pasukan, tetapi sekarang saya harus mengambil tanggung jawab untuk memimpin semua orang, jadi saya harus fokus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, kita perlu merasakan suasana pertempuran. Jika saya mendengarkan dengan seksama, saya pikir saya bisa mendengar suara pertempuran berasal dari pasukan pelopor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tunjukkan apa yang kau punya, pecundang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I. .. Ironman Tidak!? Saya tidak ingin pergi ke ruang perbaikan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Diam! Para tahanan perang akan tinggal di ruang perbaikan dan akan belajar sampai pertempuran berakhir! Ku tidak yakin berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengakhiri, tapi sepertinya aku akan punya cukup waktu untuk mengajari Kalian! &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;To-Tolong, biarkan aku pergi aku tidak memiliki keyakinan untuk melewati siksaan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Penyiksaan? Itu tidak benar, Itu hanya kuliah pendidikan luar biasa.. Di waktu ini telah berakhir, Kalian telah terdidik menjadi mahasiswa  yang hobinya belajar, seperti Ninomiya Kinjiro.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;S-setan!, seseorang tolong aku......TIDAK!.....&amp;quot; *pintu tertutup*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah, sekarang aku punya gambaran bagus seperti apa perang Ujian Panggil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada!, sampaikan perintah pada pasukan&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;OK?, perintah apa?, kau ingin aku mengatakan apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kabur!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;PENGECUT!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ia gunakan jurus rahasianya untuk mencolok kedua mata ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ow!, mata ku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa itu membangunkan mu Idiot!?, kau adalah pimpinan pasukan, bagaimana bisa kau mundur tanpa perlawanan&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa perlu memberi rasa sakit pada bola mata?, jika ingin menjernihkan pikiran ku harusnya berupa tamparan atau pukulan, bukan kedua mata ku yang di colok!.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;dengar Yoshii. Misi kita adalah mendukung pasukan bertahan Kinoshita, Di saat mereka sedang mengisi ulang Nilai Tes, kita yang berada di garis depan menggantikannya. Jika pasukan kita mundur dari sini sekarang, Nilai test mereka tidak akan terisi maksimal&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jarang Shimada mengatakan hal serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang ia katakan benar, kita memikul misi penting. Tindakan kita sekarang akan berpengaruh  pada hasil perang ini, Semantara aku, berfikir melarikan diri cuma karena takut menderita di ruang perbaikan....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada, kau memang pemberani, entah kenapa aku sampai menitikan air mata (Apa mungkin karena di colok tadi?).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maaf, aku salah, akan ku buang rasa takut ku, dan fokus untuk memenangkan pertarungan&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus, sebenarnya tidak ada yang perlu di khawatirkan,  memang kita lemah jika pertarungan satu lawan satu, tapi jika bersama, kurasa akan baik baik saja&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar, sekalipun nilai kita paling rndah, itu bukan penentu faktor kemenangan. Tergantung dari strategy, kita masih punya kesempatan untuk memenangkan perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar!, Aku penuh energy sekali sekarang&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu baru semangat Yoshii&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami semua mengacungkan kepalan tangan keatas. ya, kami bisa lakukan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera ketika semangat kami memuncak, permbawa pesan mendekati Shimada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, pasukan bertahan telah di pukul mundur&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;KABUR!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebentar!, itu berbeda sekali dari pidato panjang lebar yang kau katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, ayo kita segera kabur!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya perasaan ini akan menyebabkan masalah besar, tapi mungkin cuma perasaan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;baiklah, kita mundur terlebih dahulu, terlalu sulit untuk bertarung sekarang&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar, kita telah lakukan yang terbaik&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat kebelakang dimana kelas F berada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yokoda (kelas F) yang harusnya berjaga di ruang kelas berdiri di belakang ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yokoda?, kenapa kau di sini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;aku membawa pesan untuk mu dari Ketua Kelas&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yokoda mengeluarkan secarik kertas dan membacanya keras-keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau berani lari, Ku bunuh kau!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semuanya, Maju!!!!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa kusadari aku telah berada di medan tempur. Ini semua untuk kemenangan kelas F!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba tiba, ada seorang gadis cantik yang datang kearah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, kau datang utuk membantu ku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, ternyata Hideyoshi, bagaimana aku mengatakannya, abisnya dia cantik banget sih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hideyoshi, kau baik baik saja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah, aku berhasil selamat, tapi Nilai ku berkurang banyak sekali&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;begitu, bagaimana dengan &#039;Syoukanju&#039; milik mu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terlalu lelah untuk bergerak, tidak bisa lagi melanjutkan pertarungan&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, utamakan segera isi Nilai mu dulu&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar, mungkin tidak cukup waktu untuk semua subject, tapi jika satu atau dua kurasa masih sempat&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia segera berlari ke arah ruang kelas, di ikuti di belakangnya pasukan bertahan. Tampaknya jumlah sekarang mereka lebih sedikit dari sebelum perang di mulai, pasti telah banyak dari mereka yang di kirim ke ruang perbaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, kau masih ingat aturannya?, jika guru tidak ada kau tidak bisa memanggil &#039;Syoukanju&#039;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang Shimada katakan. Selain mengguankan Nilai test kita untuk bertarung, kita juga harus mentaati aturan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;{{{id}}}&amp;quot; style=&amp;quot;background: {{{backgroundcolor}}}; border: 1px solid #aaa; padding: .5em; margin-bottom: 6px; font-size: 100%; width: 600px; float:{{{1}}};&amp;quot;&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;left&amp;quot;| &amp;lt;center&amp;gt;&#039;&#039;&#039;Akademi Fumizuki Aturan yang Berhubungan Tentang&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/center&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;&#039;&#039;&#039;Fasilitas kelas dan Perang Ujian Panggil&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Prinsipnya adalah pertarungan antara kelas. Di bawah pengawasan guru yang mengajar subject apapun, pelajar diijinkan mengaktifkan Sistem pemanggil untuk memanggil Syoukanju dan bertarung berdasarkan Nilai mata pelajaran guru yang melakukan pengawasan. Tapi pertarungan yang menggunakan total seluruh nilai ulangan harus di bawah pengawasan kepala sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Pelajar hanya boleh menggunakan satu Syoukanju, dan kekuatan Syoukanjuu sama dengan kekuatan Nilai Ulangan yang terakhir di ikuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Nilai Ulangan akan berkurang jika Syoukanju menerima serangan. dan begitu Nilai Ulangan mencapai angka 0. Syoukanjuu mereka tidak bisa melanjutkan pertarungan dan pelajar akan menerima pelajaran tambahan di ruang berbaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Pelajar boleh mengisi Nilai Ujian mereka kapan saja tanpa batasan selama Syoukanjuu mereka masih bisa bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Jika pelajar gagal melakukan panggilan setelah lawannya memanggil Syoukanju, maka dia akan anggap mundur dan menerima pelajaran tambahan secara otomatis di ruang perbaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Jangkauan Syoukanjuu untuk bisa di panggil adalah 10 m dari guru pengawas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Pertarungan hanya boleh di lakukan Syoukanjuu, keterlibatan fisik secara langsung akan menerima hukuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Perang berakhir jika salah satu ketua kelas di kalahkan. Selama mereka dalam pengawasan, peajar di ijinkan menggunakan cara apapun untuk memenangkan peperangan. Ini adalah &#039;perang&#039; yang mengguanakan Nilai Ulangan sebagai senjata. Mereka yang ingin berpartisipasi di haruskan secara mental bersiap.&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aturan ini mungkin telah secara keseluruhan, Walaupun mungkin ada beberapa perubahan dan aturan yang lebih spesifik, tapi ini adalah aturan dasarnya. Jika kau tidak membacanya dengan hati hati kau mungkin akan melewatkan aturan penting dalam perang karena dasarnya: &#039;&#039;&#039;Perang menggunakan &#039;Syoukanju&#039; untuk menentukan hasilnya, tapi pelajar boleh menggunakan cara lain atau tatic selain nilai ulangan.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya kepala sekolah yang mengawasi sekarang, Subjeck pertarungan berdasarkan total seluruh nilai ulangan seperti yang di uraikan di aturan pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, lihat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada yang berlari di samping ku berteriak dengan keras, ada apa?.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu Igarashi sensei dan Fuse sensei, Kelas D sialan!, mereka membawa guru kimia ke sini&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika di lihat guru kimia untuk tahun kedua Igarashi sensei dan Fuse sensei berdiri di koridor yang terhubung dengan bangunan sekolah baru dan lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu rupanya, durasi perang bisa lebih lama jika hanya satu guru yang mengawasi, tapi dalam hal ini, Kepala sekolah, mereka sengaja menambah jumlah pengawas untuk menghabisi kita dalam satu serangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sebabnya Hideyoshi mundur lebih awal dari yang di rencanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, bagaimana dengan Nilai kimia mu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Buruk, cuma dapet sekitar 60&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang di harapkan dari kelas F, tidak peduli seberapa rendah nilai standar, 60 bukanlah hasil yang bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah kita harus menjauhdari Igarashi sensei dan Fuse sensei, menuju kepala sekolah&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Menuju Takahashi sensei?, Dimengerti&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada dan aku mengendap endap di pojokan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya Lihat!, pahlawan kesiangan dan asistennya datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah!, yang mengendap ngendap di sana, Onee-sama dari kelas F, Igarashi sensei, cepat kesini&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sialan, malah ketahuan&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu pelajar kelas D menemukan Shimada dan membawa Igarashi sensei, kemari. Celaka, jika kita tidak segera memanggil &#039;Syoukanju&amp;quot; hanya akan butuh satu serangan untuk mengirim kami ke ruang perbaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;OK Shimada, ku serahkan dia padamu, sampai nanti!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebe-...Normalnya perkataan itu harusnya &#039;serahkan ini pada ku, pergilah! &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;ini bukan negeri dongeng&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, kejam sekali kau!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Onee-sama, tidak akan ku biarkan kau lari&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Miharu, sepertinya aku harus bertarung untuk nyawa ku&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku beridiri 10 m jauhnya dari Igarashi sensei, jadi aku bisa tenang melihat kekalahan Shimada. Perempuan dari kelas D sudah memanggil &#039;Syoukanju&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada siap melakukan serangan balik, ia menatap Miharu dan berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Summon!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan teriakan Shimada, lingkaran sihir bersama berbentuk Geometrik tercipta di bawah kakinya. Ini adalah tanda pengaktivasian sistem peanggil di bawah pengawasan guru. Setelah itu &#039;Syoukanju&#039; di hadapannya muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di samping menggunakan seragam militer dan membawa sebilah tipis sabre di tangan, ia memiliki Pony Tail dan mata bersemangat seperti Shimada, tingginya tidak lebih dari sekitar 8 cm. Lebih tepatnya ini adalah &#039;Versi Chibi Shimada Minami&#039;, dan bersebrangan juga dari lawannya versi chibi dari pemiliknya hanya menggengam sebilah pedang biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku telah menunggu saat ini, setelah Onee-sama menolak ku&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak bisakah kau menyerah!!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertempuran bisa di mulai kapan saja, walaupun aku tidak berada di medan tempur aku tidak bisa berhenti bergetar melihatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, tentang &#039;Onee-sama&#039; yang ia bicarakan&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak mau kamu!, Onee-sama akan menjadi Miharu Onee-sama apapun caranya&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan mendekati ku, aku gadis normal yang suka dengan lawan jenis&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau bohong!, Onee-sama juga mencintai Miharu!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tidak tahu apa-apa tentang ku&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:BTS vol 01 071.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa, Shimada telah berada di tempat yang tak terjamah oleh ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bersiaplah Onee-sama&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua &#039;Syoukanju&#039; saling berhadapan dan siap bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;HAAAAAA&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;YAAAAAA&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan mereka memenuhi koridor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Syoukanju&#039; mereka saling mengangkat pedang tinggi tinggi dan menyerang dengan tenaga brutal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Miharu tidak akan kalah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua &#039;Syoukanju&#039; saling menyalurkan kekuatan mereka lewat pedang. Bahkan mereka yang menonton merasa tegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, nilai lawan mu jauh di atas angin!!, melawannya langsung tidak akan menguntungkan mu&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak perlu kau untuk mengingatkannya, tapi aku kesulitan mengendalikan &#039;Syoukanju&#039; ku untuk melakukan jurus special&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kalah dari pertarungan pedang. &#039;Syoukanju&#039; Shimada tidak punya lagi kekuatan, dan senjatanya jatuh ketanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sial!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lawan segera mengunci &#039;Syoukanju&#039; Shimada ketanah. Nilai ulangan mereka yang menunjukan kekuatan terlihat dari angka yang muncul di atas. kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;Kelas F Shimada Minami VS Kelas D Shimizu Miharu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
53 VS 94&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada, kenapa kau bohong tentang Nilai ujian mu, Itu bahkan tidak sampai 60.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Onee-sama, kemenangan ini milik ku&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lawan mengacungkan pedang pada &#039;Syoukanju&#039; Shimada, jika cuma pergelangan tangan atau kaki yang terkena serangan Poin Nilai hanya akan berkurang sedikit, tapi jika jantung atau leher di pastikan mati dan Shimada pun akan berakhir di ruang perbaikan. Sekarang Shimada tidak bisa bergerak sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ti-tidak!, aku tidak mau ke ruang perbaikan&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ruang perbaikan?, Hu...Hu........&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah senang pun menghiasi Shimizu dan menarik Shimada meninggalkan tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eh...Shimizu, itu ke arah UKS kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Huhuhu, Onee-sama, pasti banyak ruang kosong di UKS sekarang&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, tolong aku, perasaan ku mengatakan ada sesuatu yang lebih berbahaya di ruang UKS&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya sih, perasaan ku juga, tapi......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;ku bunuh kau!, siapapun yang berani berdiri di jembatan cinta Miharu dan Onee-sama akan di bunuh!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maaf, shimada, aku terlalu takut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pengorbanan mu tidak akan pernah terlupa&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahh!, Yoshii, kau menyerah sebelum mencoba!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kematian bagi mereka yang mencoba mengehentikan ku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Celaka!, sekarang Shimizu akan menyerang ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Minggir Yoshii!, Summon&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara dari samping ku, itu sugawa!, kau terlihat seperti Messiah sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;Kelas F Sugawa Ryou VS Kelas D Shimizu Miharu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
76 VS 41&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sugawa menebas musuh sampai jatuh ketanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aw!, yeah, Sugawa menang, sepertinya Shimizu kehilangan banyak poin dari pertarungan sebelumnya, membuat ini kemenangan instan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, kau tidak apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yeah, aku selamat, terimakasih sugawa, Iro- maaf, Nishimura sensei!, segera bawah maniak ini ke ruang perbaikan&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh!, Shimizu rupanya, ayo ikut aku, biar ku berikan pendidikan yang bagus&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dari Shimada, &#039;Syoukanju&#039; SHimizu telah mati tidak bisa bergerak, inilah yang kami sebut kondisi gugur di perang &#039;Ujian Panggil&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Onee-sama, Mihru tidak akan ernah menyerah, jangan kira bisa lulus dengan tenang!!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meningalkan kalimat yang penuh makna berbahaya, Shimizu di paksa masuk ruang perbaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di suut pandang berbeda perng ini cukup mengerikan juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shimada, kau pasti lelah, segera kembali dan isi Nilai Kimia mu&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah sugawa, kau ikut aku perang ini masih berlanjut&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii!!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-iya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tega sekali kau mencoba lari meninggalkan ku seorang diri&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...A-aku tidak tahu apa maksud mu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah medan tempur. Keinginan membunuh membuat kulit ku iritasi...... tapi cuma ada Shimada di belakang ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua terdiam sesaat, Mengapa aku punya perasaan abis ini gak bakal berakhir bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Matilah kau Yoshii Akihisa!!!, Summo-&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;seseorang, amankan dia!!!, segera bawa pergi dari sini&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sugawa menghentikan tindakan Shimada dan mencoba membujuknya di saat bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Minggir!, dia musuh ku, dia musuh bebuyutan ku!!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itu ada benarnya juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sugawa, maaf, aku minta tolong pada mu&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di mengerti&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lepaskan aku Sugawa!, Yoshii, tidak akan ku maafkan kau!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cepat bawa dia, ratapannya bisa membunuh ku!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;tung....lepaskan, akan ku bunuh kau!!!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan beberapa kalimat yang penuh makna mengancam,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Ketiga|Soal Ketiga]]   &lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]   &lt;br /&gt;
| Next Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kelima|Soal Kelima]]   &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Talk:Baka_to_Test_to_Shoukanjuu_(Indonesia)&amp;diff=435098</id>
		<title>Talk:Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Talk:Baka_to_Test_to_Shoukanjuu_(Indonesia)&amp;diff=435098"/>
		<updated>2015-04-03T15:03:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;the hell.... MIA=Maiden In Action...? *sigh*&lt;br /&gt;
apa cowoknya jg masih Maiden lolz... *ngacir*&lt;br /&gt;
-[[User:Tony Yon|Tony Yon]] ([[User talk:Tony Yon|talk]])&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hooo..... MIA harusnya Missing In Action, ya kan? [[User:Rage Ender|Rage Ender]] ([[User talk:Rage Ender|talk]]) 03:05, 21 October 2013 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hohoho. numpang lewat gw cuma bantu bikin shortcut paling bawah buat next atau before doang (~&#039;.&#039;)~[[User:Suparman|Suparman hahaha]] 10:02 pm. 3 April 2015&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Ketiga&amp;diff=435096</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Soal Ketiga</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Ketiga&amp;diff=435096"/>
		<updated>2015-04-03T15:00:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;===Soal Ketiga===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Terjemahkan kalimat berikut dalam bahasa Jepang&#039;&#039;&#039;:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini adalah rak buku yang sering nenek saya gunakan.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Himeji Mizuki:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;これは私の祖母が愛用していた本棚です.&amp;quot; (Ini adalah rak buku yang sering nenek saya gunakan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Kau pasti sudah belajar giat!&lt;br /&gt;
[[Image:BTS vol 01 037.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Tsuchiya Kouta:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;これは&amp;quot; (Ini)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau hanya tahu untuk menerjemahkan “Ini”?&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Yoshii Akihisa:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;☆●◆∇┐♪*×&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gunakan bahasa manusia untuk menjawab soalnya. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Mendeklarasikan perang melawan Kelas A.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usulan ini kedengaran terlalu tidak nyata bagi Kelas F.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil bagi kita untuk menang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mau mendapat peralatan yang lebih buruk dari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama ada Himeji di sini aku sudah puas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan seperti ini memenuhi seluruh kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan orang buta bisa melihat perbedaan kemampuan bertarung antara Kelas A dan Kelas F.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah empat tahun berlangsung semenjak Akademi Fumitsuki mengadopsi sistem ujian tanpa nilai tertinggi yang dibatasi hingga 100. Di bawah sistem ini, siswa bisa menjawab sebanyak-banyaknya pertanyaan yang bisa mereka jawab dalam waktu satu jam. Makanya, tidak ada batasan nilai yang seorang siswa dapat raih. Nilai bisa meningkat tanpa batasan, dibatasi hanya oleh kemampuan kecerdasan siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu,  ada &amp;quot;Sistem Panggil Syokanju&amp;quot;[http://www.baka-tsuki.net/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Translator%27s_Notes#Question_3] yang diciptakan dengan menggabungkan teknologi sains dan kekuatan supernatural. Di bawah pengawasan guru, siswa dapat memanggil ‘Syokanju’ dengan nilai kekuatan setara dengan nilai ujian mereka dan bertarung satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keseluruhan nilai rata-rata sekarang cukup rendah, dan ini adalah sistem terbaru yang diciptakan untuk mendorong siswa belajar. Dengan sistem ini sebagai intinya, siswa diperbolehkan untuk memiliki perang antar kelas, yang disebut &amp;quot;Perang Ujian Panggil,&amp;quot; di mana syokanju siswa bertarung satu sama lain.  Hasil ujian sangat penting dalam perang, dan ada perbedaan nilai antara Kelas A dan Kelas F yang sangat besar. Jika menyerang secara langsung, satu siswa dari Kelas A mungkin bisa mengalahkan tiga siswa dari Kelas F dalam satu waktu. Bahkan, jika siswa tersebut sangat pintar, mungkin dia bisa mengalahkan empat atau lima dari kami bersamaan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita akan menang. Pasti! Tidak hanya itu aku akan menunjukkan kepada kalian bahwa kita bisa menang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski tahu ada perbedaan yang besar antara kemampuan bertarung kami, Yuuji masih dengan yakin mengatakan kita akan menang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pasti bercanda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu tidak mungkin, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang membuatmu begitu yakin?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Protes datang dari setiap sudut ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, tidak peduli bagaimana kau melihatnya, ini bukan perang yang dapat dimenangkan. Aku sendiri tidak menyangkalnya, meski aku sudah berjanji pada Yuuji untuk memulai perang bersama-sama. Tapi walaupun mustahil, aku tidak akan menyerah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja aku punya teori. Kita memiliki beberapa faktor kuat yang akan membantu kita menang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh kelas ribut setelah Yuuji mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah masih mungkin bagi kami untuk menang? Meskipun kami Kelas F, kelas terburuk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Biar kujelaskan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman burukku itu berdiri di podium dan menunjukkan senyum berani di wajahnya, menghadap kami dari atas tanah. &amp;lt;- Teman Buruk tidak terdengar benar! -&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kouta, berhenti tiduran di tatami dan mengintip celana dalam Himeji. Ayo sini sebentar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;!” (Menggelengkan kepala)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tsuchiya Kouta menggelengkan kepala dan tangannya, mencoba menunjukkan bahwa ia tidak melakukan kejahatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji menekan ke bawah roknya; Tsuchiya Kouta menutupi tanda tatami yang tersisa di wajahnya, dan berjalan menuju podium.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menakjubkan. Dia adalah satu-satunya orang yang berani setidak tahu malu itu, dan menggunakan pose yang tidak tepat untuk mengintip pakaian dalam seorang perempuan. Dia jauh lebih berani daripada orang sepertiku, yang menggunakan cermin kecil untuk mengintip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tsuchiya Kouta. Orang ini adalah ‘Ninja Mesum’ yang terkenal itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;!” (Sengit menggelengkan kepala)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama Tsuchiya Kouta mungkin tidak dikenal, tapi julukan &amp;quot;Ninja Mesum&amp;quot; berbeda: julukan ini dihormati dan ditakuti oleh para siswa laki-laki; dibenci dan direndahkan oleh siswi perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia adalah Ninja Mesum...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana mungkin? Ninja Mesum terlihat seperti INI?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi ada buktinya. Dia berani berbuat Mesum!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, seperti namanya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tatapan sedih, dia menyembunyikan tanda tatami yang tersisa di wajahnya dengan tangan. Aku dengar dia tidak akan pernah mengakui apa yang dia lakukan dalam keadaan apapun. Nah, satu saksi mata lebih baik dari sepuluh seperti orang bilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji tampak seperti dia punya banyak tanda tanya di atas kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkinkah dia tidak tahu dari mana julukan &amp;quot;Sang Pengintip&amp;quot; datangnya? Haruskah aku menjelaskannya padanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Himeji tidak boleh dilupakan. Setiap orang tahu betapa hebatnya dia..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya? Apakah kau sedang membicarakan aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar, kau adalah pilar kekuatan utama; aku mengharapkan kinerja besar darimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita benar-benar akan memulai Perang Ujian Panggil, aku pikir tak seorang pun yang lebih dapat dipercaya selain dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar, Himeji ada di pihak kita!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau dia di sini, kita tidak akan kalah dari orang-orang kutu buku dari kelas A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada masalah selama dia di sini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa itu? Siapa orang yang terus-terusan mengirim pesan cinta ke Himeji?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita juga memiliki Kinoshita Hideyoshi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kinoshita Hideyoshi, meskipun nilainya tidak menonjol, masih terkenal sebagai bintang dari klub drama, memiliki saudari kembar, dll&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oooo ....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia saudaranya Kinoshita Yuuko ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja aku akan berusaha yang terbaik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu kau seorang pria yang memegang kata-katanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah Sakamoto disebut ‘Bocah Jenius’ ketika dia di sekolah dasar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apakah artinya dia sakit juga selama ujian pembagian kelas, seperti Himeji?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Artinya kita memiliki dua orang dengan kemampuan Kelas A di kelas kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kita mungkin bisa menang! Terutama dengan atmosfer semacam ini!&lt;br /&gt;
Itu benar; entah bagaimana semangat kelas meroket.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Juga, kita punya Yoshii Akihisa.&amp;quot;   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Total diam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian secara dramatis moral jatuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa! Apakah namaku begitu merusak? Mengapa dia menyebut namaku sekarang!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tunggu, Yuuji. Mengapa kau  menyebutkan namaku sekarang! Kau melakukan hal yang tidak perlu, kan?”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii Akihisa? Siapa itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Belum pernah dengar, tuh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau lihat! Semangat tiba-tiba hilang. Aku tidak seperti Yuuji dan yang lainnya, aku hanya orang biasa. Perlakukan aku biasa saja --- Tunggu, mengapa menatapku? Bukan salahku semangat kelas turun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Mendesah) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan jika seseorang di kelas pernah mendengar tentang aku, itu bukan suatu hal yang baik. Karena memang tidak ada yang tahu tentang aku, aku tidak sengaja membuat sesuatu semakin kacau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kalian tidak tahu, maka biarkan aku memberitahu kalian! Julukannya adalah &#039;Kansatsu Shobunsha&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh tidak, dia telah mengatakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah itu istilah lain untuk idiot?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang di kelas, memberikan pendapat yang fatal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;N. .. Tidak! Itu hanya julukan kecil untuk seorang remaja 16 tahun yang payah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, dengan kata lain idiot.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tolong jangan percaya itu. Yuuji, idiot!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kansatsu Shobunsha&amp;quot; adalah hukuman yang diberikan kepada siswa yang memiliki masalah belajar. Aku adalah salah satu dari mereka.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maaf, bisa kau ceritakan apa artinya tepatnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji menyandarkan kepalanya ke satu sisi, dan dia tampak bingung. Karena dia adalah seorang siswi yang selalu berada di puncak piramida, wajar saja dia asing dengan julukan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sederhananya, siswa yang melakukan pekerjaan sambilan untuk guru. Syokanju mereka memiliki kemampuan istimewa untuk dapat menyentuh benda fisik, dan dapat membantu pekerjaan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar; biasanya syokanju tidak bisa menyentuh benda yang normal. Yang bisa mereka menyentuh atau berinteraksi dengannya adalah syokanju lainnya. Mereka seperti hantu. Lantai di sekolah dibuat khusus sehingga syokanju bisa berdiri di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi syokanjuku berbeda. Sama seperti yang Yuuji katakan, punyaku adalah salah satu syokanju khusus yang bisa menyentuh benda-benda fisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh aku mengerti, itu luar biasa! Aku dengar bahwa syokanjus tidak hanya lucu, namun juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Mampu menyentuh benda yang normal itu cukup praktis.&amp;quot; Himeji menatapku dengan mata berbinar penuh dengan kekaguman dan rasa hormat; kuberitahu saja, itu membuatku gatal dan tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ha ha, tidak seistimewa itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya melambaikannya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, tidak ada yang istimewa tentang ini. Jika aku bisa memesan syokanju secara bebas, itu akan sangat berguna. Syokanju bahkan yang lemah, jika dipanggil oleh seseorang dengan nilai rendah seperti aku, akan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada manusia. Menghancurkan batu sesederhana ABC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, aku tidak pernah dapat manfaat dari itu; jika ada, hal ini menyebabkan efek yang berlawanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para syokanju hanya bisa digunakan di bawah pengawasan guru. Guru hanya akan membolehkan aku untuk memanggil ketika mereka butuh untuk pekerjaan berat. Itulah faktanya. Dan bagiku, tidak ada manfaat sama sekali. Karena hanya di bawah pengawasan seorang guru, aku hampir tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menggunakannya untuk tujuan sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, nyawa syokanju dan energinya secara langsung terhubung kepadaku. Misalnya, jika syokanjuku membawa beban berat dan berlari di sekitar sekolah, aku akan merasa lelah. Jika benda berat jatuh ke kaki syokanjuku saat bekerja, aku akan merasakan sakit. Bukan hanya tidak diperbolehkan menggunakannya untuk keuntungan pribadi, rasa sakit dari pekerjaannya juga dipindahkan ke saya. Itu hukuman namanya.&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, menjadi &amp;quot;Kansatsu Shobunsha&amp;quot; bukan hal yang bisa dibanggakan, dan membuat tidak nyaman. Itu hanya hukuman bagi siswa yang memiliki prestasi buruk dan tidak memiliki kemauan untuk belajar. Makanya identik dengan &amp;quot;bodoh&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tunggu sebentar, karena ia adalah &#039;Kansatsu Shobunsha,&#039; kalau syokanjunya dipukuli dalam perang, dia akan menderita juga, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar. Kita akan segera kehilangan seorang prajurit!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka akhirnya tahu. Ini adalah mengapa aku ingin menghindari pertempuran. Jika syokanju milikku dipukuli, aku akan merasa sakit!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan khawatir tentang hal itu. Seorang prajurit rendahan seperti dia tidak lebih dari aset saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yuuji, kau tidak membantu sama sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pokoknya, untuk menunjukkan kekuatan kita, aku berencana untuk menaklukkan Kelas D dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa! Kau tidak bisa mengacuhkanku begitu saja!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdiri begitu berdekatan, tapi kebencianku tidak bisa tembus!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semua orang tidak puas dengan situasi saat ini, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kami inginkan adalah meja dan kursi dari Kelas A, bukan meja gaya Jepang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu semuanya ambil pena di tangan kalian, kita akan bersiap untuk berperang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ooo ----&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oo, oo ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipengaruhi oleh momentum menakjubkan di kelas, Himeji juga mengangkat kepalan kecilnya. Aku merasa perlu untuk melindunginya, tetapi pada akhirnya mungkin dia yang akan melindungiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Akihisa, nyatakan perang terhadap Kelas D. Kau harus berhasil, bahkan jika nyawa taruhannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketabahan hati seperti itu! Jika memang itu begitu penting, kenapa dia tidak melakukannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apakah mereka tidak akan memukuli utusan kelas yang lebih rendah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan khawatir, mereka tidak akan menyakitimu sama sekali. Bertingkah saja seperti kau dipaksa untuk pergi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sungguh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja! Kau pikir siapa aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah respon definitif tanpa ada kesempatan untuk sanggahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu pasti benar. Meski Yuuji suka bercanda, dia bukan pembohong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan khawatir. Percayalah, aku tidak akan pernah berbohong kepada seorang teman.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan yang menggembirakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir dia masih merencanakan sesuatu, tapi aku harus melakukannya. Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oke, serahkan padaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengandalkanmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas mengirimku dengan bersorak-sorai dan tepuk tangan. Aku meninggalkan kelas dan menuju Kelas D dengan suasana khusyuk dan beraduk.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 200%; border: &amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;center&amp;gt;☆&amp;lt;/center&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
   &lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku kena tipu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melarikan diri ke koridor dan berlari untuk bertahan hidup. Aku akhirnya melompat, berguling, dan merangkak kembali ke dalam kelas.&lt;br /&gt;
Aku, aku hampir tewas! Bajingan-bajingan di Kelas D! Jika mereka menangkapku, mereka akan membunuhku! Aku ambruk di lantai kehabisan napas dan memelototi Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seperti yang kuduga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana kau bisa berkata begitu tenang? Kau bajingan, aku akan merobekmu menjadi potongan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa maksudmu ‘seperti yang kuduga?! Kau tahu bahwa ini akan terjadi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja. Bagaimana lagi aku menjadi pemimpin kelas?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Setidaknya merasalah bersalah tentang hal itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku sudah mengenalnya sejak musim semi lalu, ada beberapa hal tentang dirinya yang tidak aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, kau baik-baik saja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji berlari ke arahku ketika melihat bajuku compang-camping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, hanya beberapa goresan dan memar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada datang juga. Perhatian teman sekelas membantuku mengatasi rasa sakit yang lebih besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi begitu, baguslah… Masih ada tempat yang bisa kupukul.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahh! Beri aku istirahat! Aku sekarat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tangan ke dada dan berguling-guling kesakitan. Bahkan jika dia adalah seorang perempuan, Shimada tidak bisa dianggap enteng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan repot-repot dengan dia, kita rapat sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji membuka pintu dan berjalan keluar dari ruangan, dia pasti telah mencari ruangan untuk rapat. Bukankah sebaiknya kau menunjukkan sedikit simpati untuk temanmu sendiri? Dipikir-pikir, apakah Yuuji benar temanku? Ini bukan pertama kalinya aku bertanya-tanya itu, mungkin aku memikirkannya sehari sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Beritahu aku bila besok masih sakit.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Himeji dan segera mengikuti di belakang Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Masih sakit?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang cowok dengan tubuh mungil, seperti seorang gadis muda ---- Hideyoshi, menyentuh bahuku dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;.....” ( Suara berjalan) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ninja Mesum mengusap wajahnya dan berjalan ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, Ninja Mesum, tanda tatami dari tadi pagi sudah hilang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;....” ( Menggelengkan kepala) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan repot-repot menyangkal, aku tahu itu kau.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;....” ( Menggeleng lagi) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di satu sisi, cukup mengesankan kau masih bisa menyangkal itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;....” ( Menggeleng lagi) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa warnanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;....” ( Menggeleng lagi) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Biru muda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjawab langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot; Ninja Mesum, kau memang menghidupkan namamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;....” ( Menggeleng lagi) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika aku sedang mengobrol dengan Ninja Pengintip ---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, kau harus datang juga.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shimada dengan tegas menangkap pergelangan tanganku dan menyeretku keluar. Dan di sini aku berpikir akan punya kesempatan untuk bermalas-malasan...  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, ya, ya.&amp;quot;  &amp;quot;Sekali saja sudah cukup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Bu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Suatu hari nanti akan ku-&#039;&#039;Das Brechen&#039;&#039; kau, hmm, bagaimana mengatakannya dalam bahasa Jepang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulut Shimada tiba-tiba melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Das Brechen&#039;&#039;? Bahasa Jerman, ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&#039;Patahkan’.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:BTS vol 01 051.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
Suara Ninja Mesum datang dari dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar. Akan ku patahkan kau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mematahkan ku? Bukankah seharusnya kau menggunakan kata seperti “mengajar” dan “melatih? &#039;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu akan mengambil tengahnya saja, dan menggunakan kata &#039;&#039;Züchtigung&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“… aku tidak tahu artinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam bahasa Jepang, seharusnya berarti… ‘penyiksaan’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan itu lebih buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa dia hanya tahu kata-kata seperti itu, dan tidak tahu kata-kata normal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong, Ninja Mesum. Bagaimana kau tahu frase ‘menembus’ dalam bahasa Jerman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“… belajar dari hidup normal dan prinsip moral.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip moral macam apa yang kau jalani? Prinsip mana yang membuatmu mempelajari kata-kata seperti “penyiksaan”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ninja Mesum, kau tidak pernah berubah! Otakmu kaya akan pengetahuan seks, tapi miskin dalam hal lainnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;....” (tetap menggelengkan kepala)&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kami melanjutkan diskusi tidak berguna kami selagi berjalan mengitari sekolah. Yuuji, yang berjalan di depan tim, sudah mencapai atap sekolah. Dia membuka pintu dan keluar di bawah sinar matahari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matahari menyilaukan mata, bersinar cerah di langit tanpa awan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sinar matahari yang membutakan dan angin musim semi membuat semua orang (kecuali Ninja Mesum) menutup mata. Dia tidak melakukannya karena dia sibuk memandangi rok Himeji yang sedang ditiup angin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akihisa, kau sudah mendeklarasikan perang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji duduk di tangga di depan pagar besi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Intinya sudah ku katakan pada mereka bahwa kita akan menyerang siang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, bukankah kita harus makan siang dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar. Akihisa, bisakah kau makan sesuatu yang normal siang ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kau memang begitu peduli, traktir aku roti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku adalah seseorang yang tidak pernah bisa mengisi apapun di perutku. Tidak ada kecuali perasaan, tentu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Yoshii tidak pernah makan siang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji melihatku seperti tidak bisa percaya. Hidupnya pasti normal dan teratur. Dan sepertinya dia tumbuh dengan baik karena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja aku makan siang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu terhitung makan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji memotong pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau coba katakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, maksudku, bukankah makananmu… cuma garam dan air?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji kedengaran begitu sedih dan simpatik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu kasar sekali. Aku tidak akan diam saja menerima celaan ini!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga makan gula!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yoshii. ‘Makan’ tidak bisa dikaitkan dengan air dan gula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar. Kau seharusnya mengatakan ‘menjilat’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua orang melihatku dengan kebaikan yang aneh, tapi itu tidak membuatku merasa lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau seharusnya melakukan perencanaan dan menabung sejumlah uang untuk makanan. Dasar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena aku, aku tidak punya uang yang cukup untuk tinggal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, orangtuaku bekerja di luar negeri, jadi aku tinggal sendiri. Tentu saja mereka mengirimkan uang setiap bulannya… Tapi aku justru menghabiskannya untuk game dan manga. Hobi itu memang mahal!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, kalau kau tidak keberatan, biarkan aku membuatkan bekal untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara yang lembut datang tiba-tiba dan aku tidak bisa berpikir kecuali aku mendengar sesuatu yang salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bekal? Dari seorang anak perempuan? Buatan tangan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Aku tidak pernah makan seuatu kecuali garam dan gula selama ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu. Bila kau tidak keberatan, akan ku buatkan besok”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu hebat Akihisa. Bekal makan siang yang dibuat dengan cinta, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Dalam situasi seperti ini, aku perlu menunjukkan padanya betapa bahagianya aku. Sekalipun cemoohan Yuuji tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Haha, Mizuki, kau terlalu baik, membuatkan bekal HANYA untuk Akihisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak terlalu mengerti kenapa Shimada menggunakan suara bosan dan mengatakan sesuatu sesuatu yang menusuk seperti itu. Bagaimana kalau Himeji berkata, “Aku tidak akan melakukannya kalau begitu,” atau sesuatu seperti itu. Bagaimana kau akan bertanggung jawab?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, tidak! Sebenarnya aku bisa membuat untuk semuanya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah itu? Benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, jika kalian tidak keberatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ooo, bahkan Yuuji juga mendapatkannya. Himeji terlalu baik. Bagaimanapun, aku merasa sedikit kecewa karena tidak bisa menikmatinya sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot; (mengangguk)&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“…Mari kita lihat seberapa bagus kau dalam memasak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, termasuk Himeji sendiri, Dia harus membuatkan bekal untuk enam orang. Pasti akan melelahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, kalau begitu aku akan membawa bekal semua orang ke sekolah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam situasi begini, dia tidak pernah menunjukkan setitik pun keberatan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Himeji, kau begitu baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini datangnya dari dasar hatiku. Benar-benar tidak mudah untuk membawa enam bekal ke sekolah; aku benar-benar tidak bisa mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah orang yang tidak memikirkan diri sendiri dan menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak ada sesuatu seperti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengatakan ini agak telat, tapi ketika aku pertama kali melihatmu di kelas, aku merasa-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Oi, Akihisa, jika kau ditolak sekarang, kau tidak akan dapat bekal besok.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-pernah mengenalmu sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sukses menghindari penolakan. Untungnya aku mengubah “jatuh cinta padamu” sebelum menyelesaikan kalimat itu. Penilaianku benar-benar mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akihisa, menyatakan isi hati secara terang terangan adalah adalah kebiasaan orang mesum”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benci penilaianku sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akihisa, kadang-kadang kau melakukan hal yang hanya bisa kuimpikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi… bekal makan siang dengan cinta…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya untuk menyelamatkanku dari mati kelaparan. Semuanya karena kemiskinan! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cukup mengobrolnya, mari kita lanjutkan diskusi Perang Ujian Panggil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, itu benar. Aku nyaris lupa kenapa kita di sini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuji, aku punya pertanyaan. Kenapa kita melawan Kelas D? Jiika kita berperang sesuai urutan, target pertama kita seharusnya Kelas E. Dan jika kita mau bertarung sekali dan mati-matian, bukannya seharusnya kita memilih Kelas A?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang kau bilang begitu, kau benar sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang benar, tapi aku punya rencana berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji dengan percaya diri menganggukkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rencana apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walau rencanaku sebenarnya lebih dalam, alasan kita tidak menyerang Kelas E simpel. Mereka tidak berharga untuk kita ladeni.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Tapi peringkat mereka lebih tinggi dari kita, bukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pembagian kelas berdasarkan jasil ujian, maka seharusnya Kelas E lebih baik dari Kelas F, kan? Kenapa dia bilang mereka tidak berharga untuk diladeni berperang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha, itu benar jika menurut hasil ujian pembagian kelas, tapi situasi sebenarnya berbeda. Coba lihat, siapa yang kau punya di samping kalian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Er....&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Aku melakukan yang Yuuji suruh, melihat orangdi sekitarku. Hmm, siapa yang kita punya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dua gadis cantik, dua idiot, dan pengintip sunyi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa gadis cantik yang kau maksud?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? Yuuji, kau bereaksi ketika kusebutkan gadis cantik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…&amp;quot;(wajah menjadi merah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ninja Mesum, kau juga? Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa berpikir untuk kita semua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semuanya, diamlah! Biarkan Ninja Mesum menerimanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu sebentar. Sebelum kita melanjutkan rapatnya, aku ingin komplain tentang perempuan cantik tadi yang megganggu pikiran kita semua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudahlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji berdehem, dan melanjutkan penjelasannya. Apakah dia berusaha mengacuhkan keberadaanku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika Himeji bisa bertarung dengan kita, Kelas E bukan tandingan kita, sekalipun kita langsung lawan dengan modal kekuatan saja. Karena target final kita adalah Kelas A, tidak ada gunanya mengahabiskan waktu dengan kelas E.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana jika langsung melawan Kelas D&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Persentase kemenangan kita tidak sampai 100%”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, seharusnya kita mengincar Kelas A dari awal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Targetku adalah Kelas A, bukan Kelas D. Alasanku untuk Perang Ujian Panggil berbeda dengan Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini di karenakan debut perang pertama kita. Kalian ingin pertarungan hebat yang menarik perhatian semua orang bukan?, Di tambah lagi, kita juga harus mengalahkan kelas A.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah rencana untuk menang melawan Kelas A? Tapi Yuuji masih menyimpan detilnya untuk diri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ma-maaf!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak biasanya Himeji berbicara keras. Apa yang sedang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Himeji? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Err, itu… apa yang kau bicarakan sekarang adalah tentang Perang Ujian Panggil yang Yoshii dan Sakamoto diskusikan sebelumnya, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, kau bicara tentang itu. Baru saja, Akihisa datang untuk mengobrol denganku tentang betapa kau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi itu maksudnya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghentikan Yuuji melanjutkan pembicaraan tidak perlunya, aku dengan sengaja menaikkan suaraku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita tidak bisa mengalahkan Kelas D, semua yang kita bicarakan tadi tidak akan berarti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi keraguanku, Yuuji tertawa keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan bantuan kalian semua, kita jelas bisa mengalahkan mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menang melawan Kelas D? Dengan bantuan kami? Dalam Perang Ujian Panggil?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada perasaan aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu memberi kami semangat untuk mendapatkan kembali momentum berjalan. Walaupun situasinya kelihatan tanpa harapan, kami merasa dipulihkan dan percaya diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Yuuji sepertinya memiliki semacam kekuatan sihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hebat. Kelihatannya ini akan menjadi sangat menarik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo tarik kembali kutu buku Kelas A ke tanah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...” (memuji)&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“A-aku akan berusaha yang terbaik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalahkan Kelas A.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedengarannya gila; ini mungkin hanya mimpi yang tidak akan menjadi nyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, kalau kita tidak melakukan apapun, mimpi apapun tidak akan terwujud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semenjak kita semua terjebak di kelas yang sama, tidaklah terlalu buruk untuk berusaha dan bekerja untuk tujuan yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, biar kujelaskan strategi perangnya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami tetap di lantai atap, menikmati hembusan angin, dan mendengarkan strategi yang akan membawa kami pada kemenangan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kedua|Soal Kedua]]   &lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]   &lt;br /&gt;
| Next Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Keempat|Soal Keempat]]   &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Kedua&amp;diff=435095</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Soal Kedua</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Kedua&amp;diff=435095"/>
		<updated>2015-04-03T15:00:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;===Soal Kedua===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Tuliskan sebuah idiom yang memiliki arti mendekati kalimat berikut:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1) Gagal dalam bidang keahlian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2) Sial melulu.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Himeji Mizuki:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
(1) &amp;quot;Seekor kera dapat jatuh dari pohon&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2) &amp;quot;Atap bocor di hari hujan&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Ada beberapa jawaban lain untuk pertanyaan bagian pertama, seperti, “Kuda hilang kuku kaki depannya”, dan “Bahkan ikan tenggelam”; Jawaban lain untuk bagian kedua misalnya, “Kejadian baik tidak pernah datang, kejadian buruk tidak pernah berakhir,” dan “Satu tahun penuh kesialan,” dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:BTS vol 01 013.jpg|thumb|Syokanju Yoshii Akihisa]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Tsuchiya Kouta&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
(1) &amp;quot;Bahkan kuda dapat jatuh dari atas pohon&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pemandangan yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Yoshii Akihisa:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2) &amp;quot;Atap bocor dan tanah longsor pada saat bersamaan&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah itu terlalu tidak beruntung?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 200%; border: &amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;center&amp;gt;☆&amp;lt;/center&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ... Bukankah ruangan ini terlalu besar untuk sebuah ruangan kelas?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aku melangkah ke lantai tiga yang tidak sempat kukunjungi tahun lalu, melihat sebuah kelas lima kali lebih besar dari biasanya tepat di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inikah Kelas A yang sering orang bicarakan? Coba kita lihat apa yang ada di dalam sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat! kalian berhasil melanjutkan ke kelas dua. Nama saya Takahashi Youko, dan saya adalah guru wali kelas untuk Kelas A. Senang bertemu anda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhenti dan melihat ke dalam kelas melalui jendela besar, ada seorang wanita yang kelihatan cerdas dengan kacamata berdiri di depan kelas. Rambut diikat ke belakang dan berdandan rapi dalam setelan jas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia berhenti berbicara, namanya tidak ditulis di papan tulis. Malahan, muncul pada TV plasma yang besar hingga menutupi seluruh dinding. Betapa mewahnya! Berapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pertama-tama, periksalah barang-barang yang telah diberikan kepada anda. Setiap orang seharusnya memiliki laptop, AC pribadi, kulkas-mini, sofa, dan lain-lain. Apakah semua berfungsi dengan baik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada lebih dari sekadar ruangan, fasilitas, dan peralatan mewah yang cukup untuk 50 orang siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kulkas dipenuhi dengan cemilan dan minuman ringan. Setiap siswa memiliki AC sendiri, yang bisa mereka atur suhunya berapapun yang mereka mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika melihat ke sekeliling kelas, kau akan memerhatikan bahwa langit-langitnya terbuat dari kaca. Lukisan-lukisan mahal digantung di dinding, dan ada tanaman hias di dalam ruangan. Desain interiornya tampak seperti lobi sebuah hotel bintang lima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selain buku pelajaran dan buku tambahan, makanan dan minuman di kulkas disediakan oleh sekolah, gratis. Jika anda butuh fasilitas atau peralatan tambahan, silahkan jangan sungkan untuk memberitahu kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa mencium wangi kōcha, tampaknya ada siswa yang telah membuat beberapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, perkenalkan ketua kelas kita. Kirishima Shouko, silakan maju ke depan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang berdiri dan menjawab panggilan adalah seorang gadis dengan rambut hitam yang panjang. Penampilannya mirip boneka Jepang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah seorang gadis memiliki wajah cantik dan aura bermartabat yang membuatnya terlihat bebas dari urusan duniawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua orang di kelas itu melihatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketua kelas ---- adalah orang yang mendapat nilai tertinggi dalam ujian pembagian kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, orang terpintar di Kelas A juga merupakan orang terpandai di seluruh kelas dua; ini menjelaskan mengapa dia menerima begitu banyak perhatian dari orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nama saya Kirishima Shouko, senang bertemu kalian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun semua orang sedang menatapnya, dia masih memperkenalkan diri seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampak semua orang menatap matanya, tapi ketika aku melihat dengan cermat, mereka semua perempuan. Sepertinya rumor yang beredar itu benar!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sangat terkenal begitu mendaftar ke sekolah ini. Semua orang tahu betapa cantiknya dia, dan banyak orang ingin memacarinya. Namun, tidak satupun dari mereka pernah berhasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak saat itu, ada rumor mengatakan dia sebenarnya menyukai sesama gadis ----- Aku melihat ada asap karena api!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semua orang di Kelas A, bekerja samalah dengan Kirishima mulai sekarang hingga akhir tahun ajaran kedua dan belajar tekun bersama-sama! &#039;PERANG&#039; sudah dimulai dari sekarang, jangan kalah dengan kelas lain!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru wali kelas menyudahi pidato, Kirishima membungkuk dan kembali ke tempat duduknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh tidak, aku harus buru-buru ke kelasku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lekas berjalan menyusuri koridor dengan kecepatan yang sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri di bawah tanda dengan tulisan “Kelas 2-F” tertera di sana, dan ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah datang terlambat ke kelas akan memberikan teman sekelasku kesan pertama yang buruk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ada orang di kelas yang jorok, menyeramkan, atau susah diatasi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman-teman macam apa yang akan bersamaku selama satu tahun ke depan? Semakin kupikirkan, semakin gugup jadinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“oke deh, paling gue terlalu khawatir doang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku cuma terlambat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita teman sekelas; tidak ada perlu ditakutkan! Mungkin saja mereka yang khawatir padaku, jika aku tidak masuk karena sakit (sebenarnya, aku bangun kesiangan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang saja, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Aku harus percaya pada temanku, aku harus bekerja sama dengan mereka mulai dari sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memantapkan pikiran, kudorong pintu hingga terbuka dan kusapa teman-teman di kelas dengan suaraku yang paling halus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maaf aku terlambat ♪.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat dan duduk, loe idiot!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imej sempurnaku hancur! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“loe ga denger apa yang gue bilang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang ini kasar sekali. Menjadi guru tidak memberikanmu hak untuk berbicara seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap tajam orang yang berdiri di atas podium itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata dia tinggi, mungkin hampir 180 cm. Tubuhnya atletis seperti petinju. Perlahan kuarahkan pandangan ke atas, aku melihat sepasang mata yang terisi semangat api membara, wajah yang liar dan tampan, dan rambut cepak di kepalanya yang kelihatan seperti rambut singa.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Yuuji, ngapain loe?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang ini bukan guru; dia adalah teman dekatku, Sakamoto Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena guru datengnya telat, gue mengambil tempatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“loe nggantiin guru? loe? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“gatahu kenapa, nilai gue yang paling tinggi di kelas F.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi itu yang bikin loe jadi ketua kelas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji tersenyum licik. Setelah mendengarkan apa katanya, aku ikut tersenyum. Karena, jika aku bisa mengatasi Yuuji, tidak ada yang bisa menghentikanku melakukan apapun di kelas ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;nah karena itu, semua orang di kelas ini jadi bawahan gue.&amp;quot;  Yuuji dengan bahagia mengabaikan teman sekelas yang duduk di lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---- Ya, semua orang duduk di lantai.  Mengapa? Jawabannya sederhana, tidak ada kursi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;ngomong-ngomong, kelas ini bener-bener pas disebut kelas F.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya mencari tempat dulu dan duduk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maaf, permisi.&amp;quot;  Tiba-tiba, suara lemah terdengar dari belakangku.  Seorang pria tua tidak tampak intelek, mengenakan kemeja kusut dengan rambut berantakan berdiri di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang jadwalnya pertemuan wali kelas; apa bisa saya menaruh kursi di situ?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia tidak mengenakan seragam, dan jelas bukan remaja, mungkin dia adalah guru wali kelas kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Roger.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oke.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji dan aku menjawab masing-masing dan kembali ke tempat duduk kami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru tersebut menunggu hingga kami duduk, kemudian berdiri di podium dan berbicara perlahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat pagi semuanya, nama saya adalah Fujihara Shin; Saya akan menjadi guru wali kelas untuk Kelas 2-F. Senang bertemu kalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula Fujihara-sensei ingin menulis namanya di papan tulis kotor, tapi dia tidak bisa karena alat tulisnya tidak ada. Oh! Sekolah tidak menyediakan kapur tulis?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah semuanya memiliki meja Jepang dan satu bantal? Tolong angkat tangan bila tidak ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sekitar lima puluh murid di kelas kecil ini tanpa meja tulis yang layak. Hanya ada tatami, meja Jepang(meja yang sangat kecil dan biasanya dipakai untuk meja tamu) dan bantal untuk duduk. Fasilitas parah sekali. Aku sudah mendengar tentang ini semenjak tahun pertamaku, tapi mengalaminya sendiri sungguh mengejutkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensei, bantal gue nggak ada kapasnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak murid yang mengeluh tentang peralatan rusak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Pasrah saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensei, kaki mejaku rusak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya tadi mereka memberi lem? Lem sendiri nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensei, udara dingin masuk dari jendela yang pecah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Nanti akan kulaporkan ke sekolah dan meminta kantung plastik dan lakban untuk memperbaikinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung ruangan ada laba-laba yang dengan bebas membuat sarang, dan tidak ada satu titik pun di dinding yang bersih atau tanpa coretan. Ini parah; apakah ini bangunan tak berpenghuni?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika ada perlu yang lain, urus sendiri…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada bau jamur semerbak di kelas; pasti datangnya dari bawah tatami-tatami tua ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari kita mulai perkenalan diri. Kita akan mulai dari orang yang duduknya di samping koridor.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Fujihara-sensei selesai bicara, salah satu murid berdiri dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama saya adalah Kinoshita Hideyoshi, anggota klub drama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu Hideyoshi yang berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki gaya yang unik saat berbicara. Dengan tubuh langsing dan rambut yang diikat longgar sebahu, sekilas ---- Tidak, bahkan ketika aku melihatnya dengan cermat, kemanisannya bisa dengan mudah membuatku, seseorang yang sudah mengenalnya, berpikir bahwa dia adalah perempuan. Benar, itu adalah Kinoshita Hideyoshi, teman sekelasku tahun lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di samping itu, jika dia berpakaian dalam seragam wanita dan mengubah cara bicaranya, dia jelas akan diperlakukan sebagai perempuan. Ini bisa dengan mudah terjadi di kelas yang dipenuhi cowok bau seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitulah, senang bertemu kalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hideyoshi tersenyum halus, dan mengakhiri perkenalan dirinya. Sangat ... sangat MANIS! Tunggu sebentar, Yoshii Akihisa, jangan jatuh hati padanya! Dia seorang pria! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tsuchiya Kouta...&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku masih menggumamkan peringatan yang telah kuberikan pada diriku sendiri beberapa kali tahun lalu, siswa berikutnya sudah mulai memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa barusan? Ah, aku kenal orang ini juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tsuchiya masih pendiam seperti biasa. Dia tidak memiliki tubuh besar, tapi dari ototnya kau bisa tahu bahwa dia bagus di bidang olahraga. Walau begitu aku tidak tahu kenapa dia pemalu. Apa mungkin karena dia tidak ingin mencolok dan terlibat masalah? Nah, ada segala macam orang di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, aku hanya melihat cowok di dalam kelas. Apakah murid perempuan selalu sedikit di kelas terburuk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...adalah namaku. Aku besar di luar negeri. Walau bisa berbicara bahasa Jepang, tapi membaca huruf kanji masih susah buatku.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku termenung, perkenalan lain dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kemampuan bahasa Inggrisku jelek karena aku besar di Jerman. Hobiku ---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
OH! Seorang gadis kali ini; dia adalah harta berharga bagi seluruh kelas. Akhirnya, setidaknya ada satu perempuan di kelas ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hobiku adalah menghabisi Yoshii Akihisa☆.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa itu?! Yang punya hobi ekstrem dan berbahaya ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hai---&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang sedang tersenyum dan melambai padaku adalah... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shi-Shimada, loe!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, kita sekelas lagi tahun ini.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang lain lagi yang kukenal, serta musuh alamiku dari tahun lalu... Shimada Minami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa? Kenapa ada begitu banyak orang yang kukenal berada di kelas yang sama denganku? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah itu aneh? Apakah ini contoh dari, “Kawanan burung tidak akan lepas dari kawanannya?” Aku tidak percaya bahwa aku sebenarnya di kelas yang sama dengan mereka!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Salam kenal.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oke, kelihatannya orang di depanku baru saja selesai dan sekarang adalah giliranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil napas dan bangkit dari lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita mulai perkenalan diriku! Kesan pertama sangatlah penting. Agar dapat membuat banyak teman baik, aku akan menekankan bahwa aku adalah orang positif dan optimis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ada ide yang melintas di benakku. Aku memutuskan untuk menggunakan lelucon segar sebagai awal perkenalanku. Aku berusaha yang terbaik untuk bicara dalam gaya yang lucu, dan memulai perkenalan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nama gue adalah Yoshii Akihisa; silahkan panggil gue &#039;Sayang.&#039;&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;big&amp;gt;&#039;&#039;&#039;&amp;quot;SA--YAAAANG!&amp;quot;&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paduan dari suara-suara cowok menjijikkan jauh melebihi dari apa yang pernah kubayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, gue gajadi ngomong gitu! Senang bertemu kalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau harus tersenyum palsu dan kembali ke tempat duduk, aku masih merasa aku akan muntah. Aku tidak pernah membayangkan kalau mereka benar-benar akan memanggilku demikian. Kelas F memang parah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena perasaanku berkecamuk, rasanya perkenalan diri tidak kunjung berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika aku hampir jatuh terlelap karena perkenalan nama yang monoton, seseorang membuka pintu. Seorang perempuan berdiri di pintu masuk, meletakkan tangannya di dada sambil mencoba menarik napas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sa, saya minta maaf… Saya terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa!?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua orang berteriak, tapi ini sudah terduga. Jika sesuatu seperti ini terjadi, siapapun akan terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya kau datang di saat yang tepat. Kita sedang memperkenalkan diri sekarang. Silahkan perkenalkan dirimu ke kelas, Himeji.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“O-OK! Nama Saya Himeji Mizuki, senang bertemu kalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:BTS vol 01 025.jpg|thumb|Himeji Mizuki, murid tercantik dan terpintar di Kelas F]]&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
Himeji mengeluarkan suara yang lebih kecil dari tubuh mungilnya. Kulitnya seputih salju baru. Rambut panjang dan lembut sepunggungnya menunjukkan sifat lembut pemiliknya. Dengan kemanisan wajahnya, dia sungguh menonjol di kelas yang dipenuhi cowok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, bukan karena dia cantik semua orang terkejut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“gue mo nanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang cowok yang telah memperkenalkan diri mengangkat tangan kanannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dihujani pertanyaan segera setelah masuk ke dalam kelas, Himeji tidak bisa menyembunyikan kekagetan dan kegugupannya, tapi tindakannya ini mengingatkanku pada hewan mungil yang lugu. Itu sangat lucu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa loe di sini?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu pertanyaan pertama yang tidak sopan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku yakin, semua orang di sini memiliki pertanyaan yang sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecantikannya memang menarik perhatian, tapi yang menjadi masalah dia seharusnya memiliki nilai sangat tinggi. Dia merupakan murid dengan nilai tertinggi kedua ketika ujian masuk pertama, dan selalu berada di peringkat sepuluh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siswi sebaik dia seharusnya tidak berada di kelas F. Tidak masalah kepada siapa pun kau bertanya, jawabannya sudah pasti: dia harusnya di kelas A.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Anu...&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan wajah gugup terlihat di wajahnya, badannya menegang, dan dia bilang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“saya sakit demam saat ujian pembagian kelas…” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar itu, seluruh kelas mengangguk seakan berkata “Jadi begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan di tengah-tengah ujian akan berakhir dengan kegagalan. Dengan kata lain, dia tidak menyelesaikan ujian pembagian kelas tahun lalu, makanya dia ditempatkan di kelas F.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar jawaban Himeji, banyak orang di kelas mulai mengatakan alasan mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setelah kupikir-pikir, aku ditempatkan di kelas F karena demam juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, karena kimia, kan? Itu memang susah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“gue nggak ngerjain dengan baik gara-gara gue denger kakak gue kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diamlah, dasar penipu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pacar gue bikin gue nggak bisa tidur semalaman sebelum ujian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah kebohongan terbesar yang pernah gue dengar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang ini lebih idiot dari yang bisa kubayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senang… senang bertemu kalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama murid-murid diskusi dan berisik, Himeji berjalan ke tempat kosong di antara Yuuji dan aku. Aku tidak pernah bermimpi akan berada di kelas yang sama dengannya, lebih-lebih duduk di sebelahnya. Jujur saja, jantungku berdegup sangat kencang. Dia benar-benar cantik, dan itu membuatku berpikir bahwa menerimanya di kelas seberisik ini sebenarnya merupakan sebuah kejahatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“saya takut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji mendesah dan tiuran di atas meja ketika mencapai tempat duduknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hebat! Karena kami duduk begitu dekat bersama-sama, ini adalah kesempatan besar untuk berbicara! Cinta kami akan bermula dari kejadian ini, dan akhirnya kami akan menjadi sepasang kekasih yang ditakdirkan. Itu benar, kalimat pertama akan menjadi kunci untuk pintu kebahagiaan dan masa depan kami bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hime-&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Himeji.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji, yang duduk di sampingku, berbicara dan mengeraskan suaranya di atasku. Sialan kau Yuuji! Rencana masa depanku &amp;quot;Dari teman sekelas ke karpet merah pernikahan---pertemuan musim semi kami--- Enam ratus lima puluh empat episode&amp;quot; berakhir tanpa bermain selama lebih dari dua menit! Apa yang harus kutunjukkan kepada penonton untuk 653 jam lima puluh delapan menit selanjutnya!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-ya? Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji melihat Yuuji, panik, dan berhati-hati meluruskan roknya. Apakah karena duduk di bantal membuatnya gampang kusut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama gue Sakamoto, Sakamoto Yuuji, senang berkenalan denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, saya Himeji, senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam dan memberikan salam hormat. Pendidikan keluarganya pasti sangat baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;loe masih merasa sakit?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;gue juga pengen tahu.&amp;quot; Aku sengaja memotong ke dalam percakapan. Aku duduk di sampingnya selama pemeriksaan pembagian kelas, dia tidak terlihat terlalu baik waktu itu. Aku bertanya-tanya apakah ia merasa lebih baik sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yo-Yoshii?&amp;quot; Himeji terkejut ketika dia melihat wajahku. Apakah kau harus sangat terkejut seperti itu? Apakah wajahku yang jelek? Ini...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Himeji, maaf wajah jelek Akihisa menakutkan buat loe.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa? Apa yang terjadi di sini? Mungkin Yuuji berusaha untuk menyelamatkan posisiku, tapi ia hanya membuatnya lebih buruk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu ... Itu nggak bener. Loe liat, mata gue penuh dengan energi, wajah gue ramping dan indah! gue nggak jelek sama sekali! cuman gue..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“gara-gara inget itu, wajah loe nggak keliatan buruk sama sekali. Sebenarnya, gue tahu ada orang yang tertarik sama loe!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa? Aku tidak pernah membayangkan bahwa Yuuji memiliki informasi bagus seperti itu. Aku perlu mengkonfirmasi hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Siapa...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa ... Siapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Himeji menutupi suaraku. Yah, itu tidak jadi masalah karena kami mengajukan pertanyaan yang sama. Sepertinya gadis di usia ini tertarik pada topik seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;gue inget. Namanya Kubo ---&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kubo? Siapa gadis dengan nama Kubo?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Toshimitsu, kalau nggak salah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kubo Toshimitsu -&amp;gt; ♂ (Jenis Kelamin/ PRIA)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Akihisa, loe nangis diam-diam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ternoda sekarang, tidak bisa lagi menjadi mempelai pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan khawatir, setengah dari itu lelucon.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Bagaimana dengan separuh lainnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, Himeji, loe udah ngerasa sehat sekarang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, saya sehat sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuji, bagaimana dengan setengah lainnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Yuuji mengabaikan aku, aku mengeraskan suaraku untuk mendapatkan perhatiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalian yang di sana, diamlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru mengetuk meja beberapa kali, sebagai peringatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maaf ---&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Suara Hancur)&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, meja guru runtuh ke dalam pecahan kayu. Mejanya bahkan tidak bisa menahan beberapa ketukan, seberapa buruk keadaan kita di kelas ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Saya akan mengambil meja baru untuk menggantinya. Harap bersabar..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang guru merasa malu dan cepat melangkah keluar dari kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi aku menyadari betapa buruknya peralatan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaha...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Himeji memiliki senyum yang dipaksakan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihatnya seperti ini mengingatkanku bahwa orang-orang seperti Yuuji dan aku memang pantas untuk belajar di kelas seperti ini, tetapi pasti sulit sekali bagi siswi seperti dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, adalah kesalahan kami sendiri karena tidak berhasil dengan baik dalam ujian. Mampu menjaga kesehatan sendiri adalah semacam kekuatan juga. Tapi ditempatkan di Kelas F hanya karena meninggalkan ujian karena sakit itu konyol. Seharusnya mereka memberinya kesempatan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemarahan terhadap ketidakadilan pembagian kelas pemeriksaan berputar-putar di dalam pikiranku. Jika memang itu masalahnya, kita harus berusaha yang terbaik dalam mendapatkan peralatan yang lebih baik untuk Himeji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbicara dengan ketua kelas yang sedang menguap saat ini, &amp;quot;Yuuji, sini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;mau apa loe?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita nggak bisa nggak bisa ngobrol di sini, ayo ke koridor.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oke.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dan berjalan menuju koridor. Pada saat itu, Himeji dan aku entah bagaimana membuat kontak mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu sedang pertemuan wali kelas dan tidak ada seorang pun di koridor, jadi kami bisa berbicara dengan bebas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentang kelas ini ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja maksudku kelas yang ini, yang mana lagi?.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruangan kelas F? ternyata lebih ancur dari yang gue bayangin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;loe juga mikir gitu, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;tentu aja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;loe udah liat peralatan Kelas A?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. beda banget dari kita. gue belom pernah liat kelas kayak gitu sebelumnya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di satu sisi adalah ruang kelas dengan papan tulis penuh retakan, bahkan tanpa ada kapur. Di sisi lain ruang kelas dengan TV plasma mahal. Tidak ada yang bisa menerima diskriminasi perlakuan seperti ini, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;gue punya ide. Karena kita udah kelas dua , kita bisa ngajuin &#039;Perang Tes Syokanju!&#039;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Perang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, dan musuhnya kelas A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, Yuuji menatapku dengan sikap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;nggak ada alasan khusus, cuman kelas kita benar-benar buruk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan bohong ke gue. orang kayak loe, yang bahkan nggak pengen belajar, sekarang pengen perang demi fasilitas? Kalo kelas kita menang undian, itu masih lebih mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial! Indra keenamnya masih sebagus dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”nggak, nggak, bukan gitu! kalo gue nggak pengen belajar, gue gabakal masuk sekolah ini ---&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;loe milih sekolah ini karena bayarannya murah dan reputasinya bagus di perguruan tinggi, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak! Aku telah menjelaskan alasanku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah... Itu... Itu soalnya....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang harus aku katakan? Aku tidak bisa memikirkan sesuatu yang lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini karena Himeji, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Astaga!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena alasanku yang sebenarnya telah dia ketahui, aku tak sengaja panik dan menegangkan punggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;gimana ... gimana loe tahu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;loe itu simpel banget. gue cuma nebak dikit, trus loe sendiri yang bilang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata yang tampak waspada itu menghilang, digantikan oleh senyuman Yuuji. Aku telah ditipu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;bukan itu satu-satunya alasan gue...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, ya, loe nggak usah ngomong apa-apa lagi, gue udah ngerti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;gue bilang ini nggak kayak yang loe pikirin!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial! Aku bahkan tidak bisa berkomunikasi dengan orang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan kuatir, bahkan kalo loe nggak nyaranin ini, gue udah punya rencana buat perang lawan kelas A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kenapa? Yuuji, loe juga nggak suka belajar kayak gue, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sebabnya dia tidak peduli tentang peralatan kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;gue cuma pengen mbuktiin kalo nilai bukan segalanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;gue bahkan udah punya rencana buat ngalahin Kelas A ---- Oh, gurunya balik! Ayo masuk ke kelas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji mendesakku ke dalam kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mari kita lanjutkan dengan perkenalan diri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah membawa pada meja baru (yang satu ini tampak sangat buruk juga), pertemuan wali kelas berlanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nama gue Sugawa Ryou, hobi gue adalah ---.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan monoton seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sakamoto, kau yang terakhir.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Roger.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuji menjawab panggilan guru dan bangkit dari tempat duduknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terus menjaga sikap bercanda biasanya dan berjalan perlahan menuju podium, dengan martabat seorang pemimpin kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sakamoto adalah ketua kelas F, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi pertanyaan Fukuhara-sensei, Yuuji menjawab dengan anggukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pasangan yang sempurna, ketua kelas terburuk untuk kelas terburuk. Alih-alih mengatakan itu suatu kehormatan, sebenarnya mungkin itu sesuatu yang memalukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Yuuji tidak berpikir seperti itu. Dia berdiri penuh percaya diri di podium dan menatap kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;gue ketua Kelas F, Sakamoto Yuuji. loe semua bisa manggil gue Sakamoto, atau ketua kelas..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar siswa di kelas tidak benar-benar peduli siapa dia, karena dia hanya salah satu dari banyak idiot di Kelas F. Kebanyakan berpikir seperti maling teriak ketel hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, gue punya pertanyaan buat loe semua.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap mata semua orang, dan berbicara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin karena dia mendapatkan waktu yang tepat, semua orang menatapnya sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia memastikan sudah mendapat perhatian semua orang, matanya pindah ke setiap sudut kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sebuah kelas dengan bau jamur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Bantal tua dan kotor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Meja kayu kecil gaya Jepang dengan kotoran yang tersisa dari keringat.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mengikuti pandangannya, melihatnya satu per satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kelas A nggak cuman punya AC, tapi juga punya kursi empuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil napas dalam-dalam, dan berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;apa loe puas?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;ya nggaklah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangisan dari jiwa-jiwa setiap anggota di Kelas F terdengar melalui koridor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bener, kan? bahkan gue nggak puas sama situasi ini. Sebagai ketua kelas, gue ngeliat masalah besar di sini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;nggak peduli semurah apa bayarannya, nggak bener ngebiarin kita make fasilits kayak gini! Kita harus ngomong sekolah buat memperbaikinya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;kita bayar jumlah yang sama kayak kelas A, tapi kita diperlakukan terlalu berbeda!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komplain datang dari setiap sudut kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalian bener. Karena itu ....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puas dengan reaksi dari teman sekelas, Yuuji menunjukkan senyum tanpa takut di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebagai ketua kelas, gue punya usul.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menampilkan taring harimaunya pada teman-teman, dia menyatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;gue punya rencana buat ngajuin &#039;Perang Tes Syokanju&#039; lawan kelas A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketua Kelas F, Sakamoto Yuuji, telah menyulut api perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot;  cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9;  border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal Pertama|Soal Pertama]]   &lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]   &lt;br /&gt;
| Next Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Ketiga|Soal Ketiga]]   &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Pertama&amp;diff=435094</id>
		<title>Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Soal Pertama</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal_Pertama&amp;diff=435094"/>
		<updated>2015-04-03T14:59:15Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Prolog==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tadi Yuuji bilang, kapan reformasi Taika?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau anak kelas tiga sekarang, dan kau masih belum tahu? Kau sungguh bodoh, Shouko.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita belum diajari sampai situ sekarang. Kau saja yang terlalu pintar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk menghafalnya mudah. Ingat saja &#039;Reformasi Tanpa-Kecelakaan&#039;.”   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tanpa-Kecelakaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada kecelakaan yang terjadi ketika itu. Ingat ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reformasi itu terjadi di tahun 625.”&amp;lt;ref&amp;gt;Tanpa-Kecelakaan dalam Bahasa Jepang kedengaran seperti 625, ini lelucon dalam bahasa Jepang.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, sudah kuhafal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus. Pastikan kau mengingatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir, aku tak akan lupa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Soal Pertama===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawablah soal-soal berikut ini:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengurangi massa panci penggorengan, unsur magnesium digunakan dalam proses manufakturnya. Akan tetapi hal ini dapat memicu hal yang tidak diinginkan ketika digunakan dalam memasak. Deskripsikan sesuatu yang tidak diinginkan tersebut, dan sebutkan nama logam campuran yang dapat digunakan untuk menggantikan magnesium tersebut. &lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Himeji Mizuki:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
“Reaksi kimia keras akan terjadi ketika magnesium berhubungan langsung dengan api dan menyebabkannya terbakar. Duralumin dapat digunakan untuk mengganti magnesium.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
“Benar. Pertanyaannya dengan jelas menanyakan ‘nama logam campuran’, jadi jika menjawab “besi” akan salah. Bagus, kau tidak terjebak.”&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Tsuchiya Kouta:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tagihan gasnya belum dibayar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak relevan dengan pertanyaannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
[[image:BTS vol 01 017.jpg|thumb|Meja kecil gaya Jepang.]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jawaban Yoshii Akihisa:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Futuranium dapat digunakan ( -&amp;gt; Nantinya akan sangat keras).&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar Guru:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini belum ditemukan, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sekarang adalah musim semi keduaku di Akademi Fumizuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah menyambut murid baru, kedua sisi lereng yang mengarah ke akademi dipenuhi pohon sakura berbunga mempesona. Aku bukan tipe orang elegan dan berkelas yang biasanya berhenti sebentar untuk menikmati keindahan, tapi pemandangan ini terlalu indah hingga aku tidak bisa tidak terpesona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski itu terjadi hanya untuk sesaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiranku dipenuhi dengan hal-hal berbau musim semi, tapi bukan tentang bunga sakura. Aku ingin tahu kelas baruku dan teman-teman seperjuanganku, yang akan berbagi kelas denganku selama setahun ke depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 200%; border: &amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;center&amp;gt;☆&amp;lt;/center&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, kau telat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara yang tidak ramah menyapaku saat sampai ke gerbang sekolah. Aku menolehkan kepala dan melihat ke arah suara tersebut. Seorang pria bertubuh kekar, kulit kecoklatan dan rambut pendek, berdiri di sana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, tetsu- Maksudku, Pak Nishimura, selamat pagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menundukkan kepala sedikit ketika menyapanya. Bagaimanapun juga, dia adalah guru galak. Kau jelas berada dalam masalah jika dia memanggil namamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan kau memanggilku ‘Tetsujin’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haha, Bapak salah dengar, kali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nyaris sekali, aku hampir memanggilnya seperti yang biasa kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omong-omong, dia dipanggil “Tetsujin” [EdNote: = manusia besi, ironman] karena hobinya ikut lomba triatlon&amp;lt;ref&amp;gt;Triatlon adalah sebuah kompetisi yang terdiri atas serangkaian cabang olahraga, yaitu renang, balap sepeda, dan lari yang dilakukan secara berkesinambungan dalam satu kesatuan waktu. Triatlon adalah kompetisi kecepatan waktu di mana peserta harus dapat membagi tenaga dalam setiap tahapnya. Dan event pertama triatlon modern jarak jauh adalah Triatlon Ironman Hawai. Penulis memakai nama Ironman mengacu pada hal ini.&amp;lt;/ref&amp;gt;. Tentu saja kebiasaannya memakai baju lengan pendek bahkan di musim dingin memberikan kontribusi untuk itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, kau tidak hanya akan menyapaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, maaf. Bapak kelihatan agak hitam hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau lebih kuatir dengan warna kulitku daripada meminta maaf yang sopan karena terlambat?”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Oh jadi itu maksudnya… Maaf saya terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun… Kau tidak pernah belajar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengeluarkan desahan sambil menggumam. Dari apa yang dia bilang, kedengarannya aku pelanggar peraturan yang sering terlambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pak, biasanya saya tidak terlambat, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau adalah wali kelasku tahun lalu, jadi seharusnya tahu sudah berapa kali aku telat datang ke sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, ini ambillah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil sebuah amplop dari dalam kotak kardus dan menyerahkannya padaku. Namaku, Yoshii Akihisa, jelas tertera di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunduk dengan sopan dan mengambil amplopnya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa pihak sekolah menyerahkan hasil pembagian kelas dengan cara yang merepotkan? Bukankah akan lebih mudah jika menempelnya di papan buletin?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya bagiku tampak sangat tidak praktis, menyerahkan hasil untuk tiap siswa dalam amplop dan mengatarnya secara pribadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita akan melakukan itu jika kita sekolah reguler biasa, tapi sekolah kita adalah yang pertama menggunakan sistem ujian tercanggih. Inilah alasannya kita membagikan hasil secara individual.&amp;quot;&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
&amp;quot;Entah kenapa aku segan dengan jawaban itu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kujawab dia sambil membuka amplopnya. Kelas mana yang akan kutempati? Aku tidak sabar ingin mengetahuinya.&lt;br /&gt;
[[Image:BTS_vol_01_004.jpg|thumb|Bagan/Peta lantai kelas dua]]&lt;br /&gt;
Murid kelas dua dan yang lebih tua di Akademi Fumizuki akan ditempatkan ke dalam ruangan kelas yang terpisah, mulai dari kelas A hingga kelas F, dan dibagi berdasarkan hasil ujian kelas. Mudahnya, di Kelas A ada anak jenius, dan anak yang paling idiot pasti ada di Kelas F, bersama dengan orang-orang di antaranya. Kemampuan intelejen akan ditandai oleh kelas mana kau berada. Untuk melindungi harga diriku sebagai lelaki, aku akan melakukan apapun agar &#039;&#039;tidak&#039;&#039; berakhir di Kelas F.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yoshii, sesungguhnya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amplopnya dilem rekat sekali, aku masih berusaha membukanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Setelah setahun mengamatimu, aku sudah lama berpikir: &#039;&#039;Apakah Yoshii seorang idiot?&#039;&#039;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bapak jelas salah tentang itu. Aku sudah akan menambahkan &#039;Bodoh&#039; pada julukanmu bila kau serius tentang itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak sedang berusaha untuk menjilat. Aku memang tidak belajar banyak saat ujian kemarin, tapi aku rasa aku bisa mengerjakan ujiannya. Pastinya, beliau sudah mengubah opini tentangku ketika dia melihat hasilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar. Saat aku melihat hasilmu, aku tersadar betapa kelirunya aku dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku senang mendengarnya, Pak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap tidak bisa membukanya. Sepertinya aku harus merobek bagian atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kelas mana aku akan berada? Apakah kelas D? Atau kelas C?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahagialah, Yoshii. Kecurigaanku padamu sudah berakhir.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka lembaran hasil di dalamnya, dan membaca tulisan di atasnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===&amp;quot;Yoshii Akihisa - Kelas F&amp;quot;===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau &#039;&#039;memang&#039;&#039; idiot.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian, hidupku di kelas terparah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Catatan Translator&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;   &lt;br /&gt;
{|  border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em  0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em;  border-collapse: collapse;&amp;quot;   &lt;br /&gt;
|-   &lt;br /&gt;
| Previous Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1 Illustrations|Ilustrasi Novel]]   &lt;br /&gt;
| Back to [[Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)|Halaman Utama]]   &lt;br /&gt;
| Next Page [[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kedua|Soal Kedua]]   &lt;br /&gt;
|-   &lt;br /&gt;
|}   &lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Test_to_Shoukanjuu_(Indonesia)&amp;diff=435093</id>
		<title>Baka to Test to Shoukanjuu (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Test_to_Shoukanjuu_(Indonesia)&amp;diff=435093"/>
		<updated>2015-04-03T14:57:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: /* Volume 1 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:BakaToTest-7.5_-_1.jpg|300px|thumb|Sampul Volume 7.5]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Baka to Tesuto to Shoukanjuu (SI Bego, Ujian, dan Makhluk Panggilan)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;DILARANG KERAS MENJUAL TERJEMAHAN INI DALAM BENTUK APAPUN. INI ADALAH TERJEMAHAN GRATIS OLEH PENERJEMAH DAN PENYUNTING BUKAN UNTUK KEGIATAN KOMERSIAL&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serial &amp;quot;Baka to Tesuto to Shoukanjuu&amp;quot; juga terdapat dalam pilihan bahasa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju|English (English)]]&lt;br /&gt;
*[[Baka to Test to Shoukanjuu ~ Czech Version ~|Čeština (Czech)]]&lt;br /&gt;
*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju_~Versi%C3%B3n_Espa%C3%B1ola~|Español (Spanish)]]&lt;br /&gt;
*[[Baka to Test to Shoukanjuu tiếng Việt|Tiếng Việt (Vietnamese)]]&lt;br /&gt;
Catatan: Persentase translasi setiap bahasa bervariasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sinopsis Cerita ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokoh utama dalam serial ini adalah seseorang yang paling tolol diantara orang-orang tolol di sekolahnya. Di sekolah ini, nilai kalian bisa lebih dari angka 100. Jikalau seseorang meninggalkan ujian di tengah jalan, maka ia akan mendapatkan nilai nol. Seorang cewek manis dan juga cantik, Himeji Mizuki, menderita demam tinggi disaat sedang mengikuti Ujian. Dia pun mendapatkan nilai nol karena sakit tersebut dan ditempatkan di kelas paling jelek, yaitu kelas F, meskipun ia  sebenarnya mempunyai potensi untuk bisa menjadi ranking 2 paling tinggi dalam perolehan nilai ujian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sekolah ini nilai adalah segalanya. Kelas A, diajari oleh seorang guru bertampang pintar, menggunakan sebuah plasma TV yang ukurannya sama dengan seluruh dinding sebagai papan tulis, punya laptop sendiri-sendiri, AC di setiap meja, kulkas, kursi putar, dan segala fasilitas lainnya. Di dalam kulkasnya pun terdapat segala macam minuman dan jajanan. Langit-langitnya terbuat dari kaca, dan dinding-dinding mereka biasa dipergunakan untuk memajang lukisan papan atas serta tanaman hias.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Kelas F, yaitu kelas paling jelek... mereka menggunakan meja lesehan serta bantal duduk lesehan. Papan tulisnya sangatlah kotor dan bahkan kapur pun kadang nggak punya! Ketika seseorang protes karena kaki mejanya sudah patah, guru nya pun menjawab, &amp;quot;Bukankah sekolah sudah memberi lem kayu? Silahkan nanti kau lem sendiri.&amp;quot; Disaat yang lain protes karena angin dingin masuk dari jendela-jendela rusak, Pak guru pun menjawab &amp;quot;Baiklah, nanti akan bapak pintakan kertas plastik dan lakban transparan agar kalian bisa membetulkan jendelanya nanti.&amp;quot; Sarang laba-laba bertebaran dimana-mana, tidak sedikitpun ada dinding yang  masih bersih. Berbagai macam bau kotoran menyebar ke seluruh penjuru kelas dari tatami sebagai ubin kelasnya. Beginilah keadaan dari Kelas F.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Tokoh Utama sangat merasa tidak senang dengan pengaturan seperti ini, dan meminta pertolongan dari teman-temannya untuk membuat perubahan melalui Ujian &#039;&#039;Summoning War&#039;&#039;!! Bersama-sama, mereka merancang segala cara dan juga strategi untuk mencoba mengalahkan Kelas A, dengan tujuan jika menang, mereka bisa mengambil alih ruangan Kelas A dan segala fasilitas yang dimiliki Kelas A!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kenji Inoue==&lt;br /&gt;
Lahir di Tokyo, tapi dibesarkan di Sapporo. Jatuh cinta dengan Kinoshita Hideyoshi yang digambar oleh Yui Haga sensei. Orang tua dan teman-teman terdekat nggak tahu sama sekali ketika novel pertama diterbitkan. Menjadi terkenal di perusahaan tempat bekerja karena pada suatu hari pak supervisor mengeluh  &amp;quot;Nggak ngerti bahasa Jepang yang ditulis oleh Inoue&amp;quot;. Makanya sampai sekarang, saya masih belum berani menyatakan kalo saya ini seorang penulis walau pernah menang penghargaan. Novel ini memenangkan hadiah penghargaan dalam 8th Entame Award untuk kategori Editor karena para juri nggak membacanya dengan teliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Terjemahan dari sampul di dalam Volume 1)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penerjemahan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada perbedaan laju kecepatan penerjemahan versi Inggris atau yang lainnya. Oleh karena ini, mohon dibantu teman-teman dari Indonesia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Baka_to_Test_to_Shoukanjuu (Indonesia):Halaman Pendaftaran|Dibutuhkan Penerjemah dan Penyunting]] ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak perlu muluk-muluk, kalau anda bisa bahasa Inggris dan punya dedikasi yang baik untuk menyelesaikan satu bab, silahkan daftar di sini: [[Baka_to_Test_to_Shoukanjuu (Indonesia):Halaman Pendaftaran|&#039;&#039;&#039;DAFTAR / REGISTRASI&#039;&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit petunjuk format standar untuk setiap bab, bisa dilihat di: [[Format_guideline | Format Standar(Bahasa Inggris)]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==[http://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=29&amp;amp;t=5030 Topic  Thread]==&lt;br /&gt;
Jika para pembaca mempunyai kritik, saran dan pertanyaan, silahkan diskusikan itu di [http://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=29&amp;amp;t=5030 thread] yang telah disediakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Riwayat Update==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;- 17 Mei - bikin thread)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Seri &#039;&#039;Baka to Test to Shoukanjuu&#039;&#039; oleh Inoue Kenji ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 1 [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_id|(Full Text)]]===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Soal Pertama|Soal Pertama]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kedua|Soal Kedua]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Ketiga|Soal Ketiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Keempat|Soal Keempat]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kelima|Soal Kelima]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Keenam|Soal Keenam]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Ketujuh|Soal Ketujuh]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kedelapan|Soal Kedelapan]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Kesembilan|Soal Kesembilan]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume1_Soal_Terakhir|Soal Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume1_Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 2===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume2_Soal Pertama|Soal Pertama]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume2_Soal_Kedua|Soal Kedua]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume2_Soal_Ketiga|Soal Ketiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume2_Soal_Keempat|Soal Keempat]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume2_Soal_Kelima|Soal Kelima]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume2_Soal_Keenam|Soal Keenam]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume2_Soal_Ketujuh|Soal Ketujuh]] 10%&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume2_Soal Terakhir|Soal Terakhir]] (7/9) &lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume2_Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume2_Catatan Penerjemah|Catatan Penerjemah serta Referensi]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 3===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3_Soal Pertama|Soal Pertama]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume3_Soal_Kedua|Soal Kedua]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume3_Soal_Ketiga|Soal Ketiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume3_Soal_Keempat|Soal Keempat]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume3_Soal_Kelima|Soal Kelima]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume3_Soal_Keenam|Soal Keenam]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka to Tesuto to Syokanju:Volume3_Soal_Ketujuh|Soal Ketujuh]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3_Soal Terakhir|Soal Terakhir]]  &lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3_Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3_Catatan Penerjemah|Catatan Penerjemah serta Referensi]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 3.5===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3.5_Novel_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3.5_Baka_to_Test_to_Shoukanjuu_~Bab_Persiapan~|Baka to Test to Shoukanjuu ~Bab Persiapan~]]~10%&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3.5_Fumizuki_News_(Bahasa_Indonesia)|Fumizuki News: Wawancara dengan Yoshii Akihisa dari Kelas 2F]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3.5_Aku, Preman dan Sebuah Surat Cinta|Aku, Preman dan Sebuah Surat Cinta]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3.5_Aku, Shouko dan Kisaragi Highlands|Aku, Shouko dan Kisaragi Highlands]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3.5_Cerita_Seks_Mini_Tsuchiya_dan_Kudou|Cerita Seks Mini Tsuchiya dan Kudou]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3.5_Aku, Kolam Renang dan Surga Pakaian Renang|Aku, Kolam Renang dan Surga Pakaian Renang]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3.5_Ruang_Konseling|Buletin Khusus: Ruang Konseling Kehidupan Guru Bertangan Besi]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume3.5_Aku, Kerja Paruh Waktu dan Akhir Pekan yang Berbahaya|Aku, Kerja Paruh Waktu dan Akhir Pekan yang Berbahaya]] ~50%&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 4===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume4_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume4_Soal Pertama|Soal Pertama]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume4_Soal Kedua|Soal Kedua]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume4_Soal Ketiga|Soal Ketiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume4_Soal Keempat|Soal Keempat]] ~65%&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume4_Soal Kelima|Soal Kelima]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume4_Soal Keenam|Soal Keenam]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume4_Soal Terakhir|Soal Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume4_Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Collaboration Anthology 2: Book Girl Ascends the Stairway of the Gargoyles and Idiots===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 5===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume5_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume5_Soal Pertama|Soal Pertama]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume5_Soal Kedua|Soal Kedua]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume5_Soal Ketiga|Soal Ketiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume5_Soal Keempat|Soal Keempat]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume5_Soal Kelima|Soal Kelima]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume5_Soal Keenam|Soal Keenam]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume5_Soal Ketujuh|Soal Ketujuh]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume5_Soal Terakhir|Soal Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume5_Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 6===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume6_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume6_Soal Pertama|Soal Pertama]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume6_Soal Kedua|Soal Kedua]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume6_Soal Ketiga|Soal Ketiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume6_Soal Keempat|Soal Keempat]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume6_Soal Kelima|Soal Kelima]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume6_Soal Keenam|Soal Keenam]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume6_Soal Terakhir|Soal Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume6_Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume6_Catatan Penerjemah|Catatan Penerjemah serta Referensi]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 6.5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 7===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7_Novel_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7_Soal Pertama|Soal Pertama]] ongoing&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7_Soal Kedua|Soal Kedua]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7_Soal Ketiga|Soal ketiga]] &lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7_Soal Keempat|Soal Keempat]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7_Soal Kelima|Soal Kelima]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7_Soal Keenam|Soal Keenam]] &lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7_Soal Ketujuh|Soal Ketujuh]] &lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7_Soal Kedelapan|Soal Kedelapan]] &lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7_Soal Terakhir|Soal Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7_Catatan Penerjemah|Catatan Penerjemah serta Referensi]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 7.5===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7.5_Ilustrasi Novel |Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7.5_&#039;lagu untuk kita&#039; oleh Akihisa Yoshii|&#039;lagu untuk kita&#039; oleh Akihisa Yoshii]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7.5_Aku, Kebohongan, dan Harga Diri Pria|Aku, Kebohongan, dan Harga Diri Pria]] &lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7.5_Buletin Khusus dari kehidupan Konseling Pak Besi|Buletin Khusus dari kehidupan Konseling Pak Besi]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7.5_Aku, Alasan sesungguhnya, dan Makhluk Panggilan|Aku, Alasan sesungguhnya, dan Makhluk Panggilan]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7.5_&#039;&#039;lagu untuk kita&#039; oleh Yuusaku Tsunemura|&#039;lagu untuk kita&#039; oleh Yuusaku Tsunemura]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7.5_Aku, Lotere, dan Panci kegelapan|Aku, Lotere, dan Panci kegelapan]] &lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7.5_Sesi Khusus dari Murid Pintar|Sesi Khusus dari Murid Pintar]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7.5_Aku, Jepang, dan Bahasa Yang Asing Bagiku|Aku, Jepang, dan Bahasa Yang Asing Bagiku]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume7.5_Author&#039;s Notes|Author&#039;s Notes]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 8===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume8_Novel Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume8_Soal Pertama|Soal Pertama]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume8_Soal Kedua|Soal Kedua]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume8_Soal Ketiga|Soal Ketiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume8_Soal Keempat|Soal Keempat]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume8_Soal Kelima|Soal Kelima]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume8_Soal Terakhir|Soal Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume8_Catatan Author|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 9===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9_Novel Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9_Soal Pertama|Soal Pertama]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9_Soal Kedua|Soal Kedua]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9_Soal Ketiga|Soal Ketiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9_Soal Keempat|Soal Keempat]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9_Soal Kelima|Soal Kelima]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9_Soal Keenam|Soal Keenam]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9_Soal Terakhir|Soal Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9_Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 9.5===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9.5_Novel Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9.5_Berita Fumitzuki (Hiburan)|Fumitzuki News (Entertainment)]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9.5_Aku, anak-anak dan makhluk panggilan|Aku dan anak-anak dan makhluk panggilan]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9.5_Berita Fumitzuki (Iklan)|Fumitzuki News (Adverts)]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9.5_Aku, Himeji-san dan Sore Waktu Tertentu|Aku dan Himeji-san dan Sore Waktu Tertentu]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9.5_Buletin Khusus: Ironfist-sensei Hidup Konseling Chatroom (Bagian 1)|Buletin Khusus: Ironfist-sensei Hidup Konseling Chatroom (Bag.1)]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9.5_Aku, Rumah Tsuchiya dan Hati Tak Tergoyahkan|Aku dan Rumah Tsuchiya dan Hati Tak Tergoyahkan]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9.5_Buletin Khusus: Ironfist-sensei Hidup Konseling Chatroom (Bagian 2)|Buletin Khusus: Ironfist-sensei Hidup Konseling Chatroom (Bag.2)]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9.5_Aku, Pertengkaran dan Idiot Luar biasa|Aku dan Pertengkaran dan Idiot Luar biasa]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume9.5_Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 10===&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10_Novel_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10_Soal Pertama|Soal Pertama]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10_Soal Kedua|Soal Kedua]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10_Soal Ketiga|Soal Ketiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10_Soal Keempat|Soal Keempat]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10_Soal Kelima|Soal Kelima]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10_Soal Keenam|Soal Keenam]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10_Soal Ketujuh|Soal Ketujuh]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10_Soal Terakhir|Soal Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10_Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 10.5===&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10.5_Ilustrasi Novel|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10.5_Hasil Kontes Kepopuleran (Juara III)|Hasil Kontes Kepopuleran (Juara III)]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10.5_Aku, Kakak dan Guling yang Mencurigakan|Aku, Kakak dan Guling yang Mencurigakan]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10.5_Hasil Kontes Kepopuleran (Juara II)|Hasil Kontes Kepopuleran (Juara II)]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10.5_Aku, Yuuji dan sihir hitam yang berbahaya|Aku, Yuuji dan sihir hitam yang berbahaya]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10.5_Hasil Kontes Kepopuleran (Juara I)|Hasil Kontes Kepopuleran (Juara I)]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10.5_Aku, Masa Depan, dan Summoned Beast|Aku, Masa Depan, dan Summoned Beast]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10.5_Hasil Kontes Kepopuleran (Ekstra)|Hasil Kontes Kepopuleran (Ekstra)]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10.5_Aku (Watashi), kelinci, dan Cinta Pada Pandangan Pertama|Aku (Watashi), kelinci, dan Cinta Pada Pandangan Pertama]] &#039;&#039;&#039;belum selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume10.5_Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 11=== &lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume11_Ilustrasi Novel|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume11_Soal Pertama|Soal Pertama]] - 40%~&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume11_Soal Kedua|Soal Kedua]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume11_Soal Ketiga|Soal Ketiga]] &lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume11_Soal Keempat|Soal Keempat]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume11_Soal Kelima|Soal Kelima]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume11_Soal Keenam|Soal Keenam]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume11_Soal Ketujuh|Soal Ketujuh]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume11_Soal Kedelapan|Soal Kedelapan]]&lt;br /&gt;
::* [[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju:Volume11_Soal Kesembilan|Soal Kesembilan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==[[Baka_to_Tesuto_to_Syokanju(Bahasa Indonesia):Registration_Page|Staff Proyek]]==&lt;br /&gt;
:*Manajer Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
:*Pengawas Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Aktif===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*[[user:Dwiki prayoga|Dwiki prayoga]]&lt;br /&gt;
:*[[user:RaFuFu|RaFuFu]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Bryanjava|Bryanjava]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Icenwald|Icenwald]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Tegarfiction|Tegarfiction]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===MIA (Hilang saat bertugas/Missing in Action)===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*[[user:NexXkinn|NexXkinn]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Bryanjava|Bryanjava]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Razor_127|Razor_127]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Simbadda|Simbadda]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Tracker_725|Tracker_725]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Xbypass|Xbypass]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Haibu.hiiru|Haibu.hiiru]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Kejargantengin|Kejargantengin]]&lt;br /&gt;
:*[[user:MataLoro|MataLoro]]&lt;br /&gt;
:*[[user:ihzain|ihzain]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Fairuxx|Fairuxx]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Redoxx|Redoxx]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penyunting===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*[[user:Siginjai|Siginjai]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Nomor Serial ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 1: ISBN 978-4757733299 (29 Januari 2007)&lt;br /&gt;
*Volume 2: ISBN 978-4757735057 (28 April 2007)&lt;br /&gt;
*Volume 3: ISBN 978-4757736825 (30 Agustus 2007)&lt;br /&gt;
*Volume 3.5: ISBN 978-4-7577-3979-6 (30 Januari 2008)&lt;br /&gt;
*Volume 4: ISBN 978-4-7577-4236-9 (30 Mei 2008)&lt;br /&gt;
*Volume 5: ISBN 978-4-7577-4518-6 (29 November 2008)&lt;br /&gt;
*Volume 6: ISBN 978-4-7577-4827-9 (30 April 2009)&lt;br /&gt;
*Volume 6.5: ISBN 978-4-7577-5040-1 (29 Agustus 2009)&lt;br /&gt;
*Volume 7: ISBN 978-4-0472-6195-2 (26 Desember 2009)&lt;br /&gt;
*Volume 7.5: ISBN 978-4-04-7263130  (27 Februari 2010)&lt;br /&gt;
*Volume 8: ISBN 978-4-04-726727-5 (30 Agustus 2010)&lt;br /&gt;
*Volume 9: ISBN 978-4-04-727031-2 (29 Januari 2011)&lt;br /&gt;
*Volume 9.5: ISBN 978-4-04-727332-0 (30 Juni 2011)&lt;br /&gt;
*Bungaku Shoujo VS Baka to Tesuto to Syokanju: ISBN 978-4-7577-4484-4 (30 Oktober 2008)&lt;br /&gt;
*Volume 10: ISBN 978-4-04-727647-5 (26 Desember 2011)&lt;br /&gt;
*Volume 10.5: ISBN 978-4-04-728351-0 (29 September 2012)&lt;br /&gt;
*Volume 11: ISBN 978-4-04-728752-5 (30 Maret 2013)&lt;br /&gt;
*Volume 12: ISBN 978-4-04-729293-2 (30 November 2013) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Light novel (Indonesian)]]&lt;br /&gt;
[[Category:Indonesian]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435059</id>
		<title>Zero no Tsukaima (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435059"/>
		<updated>2015-04-03T07:55:51Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: /* Jilid 4 - Saksi Janji Sang Arwah Air / 誓約の水精霊 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:Znt novel cover.jpg|300px|thumb|Vol.One Cover]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;DILARANG KERAS MENJUAL TERJEMAHAN INI DALAM BENTUK APAPUN. INI ADALAH TERJEMAHAN GRATIS OLEH PENERJEMAH DAN PENYUNTING BUKAN UNTUK KEGIATAN KOMERSIAL&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seri &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; juga terdapat dalam berbagai bahasa:&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima|English (Inggris)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero no Tsukaima - Français|Français (Perancis)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_%7EItalian_Version%7E|Italiano (Italia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_wersja_polska|Polski (Polandia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_%7EVersi%C3%B3n_Espa%C3%B1ola%7E|Español (Spanyol)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Deutsche Version|Deutsch (Jerman)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Korean_Version|한국어 (Korea)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_~Russian_Version~|Русский (Russia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Tiếng Việt|Tiếng Việt (Vietnam)]]&lt;br /&gt;
(Nb: Proses penerjemahan mungkin berbeda tergantung versinya masing-masing.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunjungi [http://www.baka-tsuki.org/forums Baka-Tsuki Project Forum] untuk mendiskusikan seri ini dan informasi lainnya dari Baka-Tsuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penerjemah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Dibutuhkan Para Penerjemah Nganggur! ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Baka-Tsuki sangat mencari para penerjemah untuk seri ini.&#039;&#039;&#039; Jika berkeinginan untuk menerjemahkan seri ini, kirimkan posting anda di [http://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=29&amp;amp;t=2843 forum], dan kami akan membantumu untuk memulainya, terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero no Tsukaima Registration versi Indonesia|Registrasi]]===&lt;br /&gt;
Penerjemah di minta untuk menandai semua bab yang mereka inginkan untuk diterjemahkan di [[Zero no Tsukaima Registration versi Indonesia|Registration Page]] berdasarkan [[Zero_no_Tsukaima:Guideline#Translation_Management|Translation Management]] sesi dari &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; [[Zero_no_Tsukaima:Guideline|Project Specific Guidelines]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Standar Format===&lt;br /&gt;
Setiap bab (setelah di edit) harus dikonfirmasikan lagi sampai memenuhi standar format. Lihat [[Format_guideline|Format/Style Guideline]] dan [http://www.baka-tsuki.net/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima:guidelines Naming Conventions For ZnT].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pengumuman==&lt;br /&gt;
Dengan berat hati kami sampaikan bahwa Noboru Yamaguchi, penulis dari &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; meninggal karena kanker pada 4 April, 2013. Karenanya, seri ini tetap tidak terselesaikan pada 20 volume dan kemungkinan besar tidak akan ada lagi terbitan baru setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;AC/DC RULES&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*September 29, 2009:&lt;br /&gt;
:* Jilid 1 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!!&lt;br /&gt;
*xxxber xx, 2009:&lt;br /&gt;
:* Jilid 2 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!!&lt;br /&gt;
*April 3, 2010 - jam 2.20:&lt;br /&gt;
:* Jilid 3 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!! Ingat!! masih ada banyak kesalahan, mohon bantuan untuk perbaikannya. khusus obakasan n altux, makasih dah nerjemahin&lt;br /&gt;
*Mei 5,2011 &lt;br /&gt;
:* Baru lihat Jilid 4 udah diselesaikan, akhirnya udah sampai sejauh ini, terima kasih buat para penerjemah, pembaca, dan pendukung zero no tsukaima versi Indonesia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Oktober 16,2011 &lt;br /&gt;
Buku ke-5 beres...jadi udah 5 buku dalam 3 tahun, semoga ada yang bisa nerusin, terima kasih buat mereka yang membaca, mendukung dan nerjemahin.  THANKS BANGET BRO!!! Ingat!! masih  ada banyak kesalahan, mohon bantuan untuk perbaikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Seri [http://id.wikipedia.org/wiki/Zero_no_Tsukaima &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039;] oleh [http://en.wikipedia.org/wiki/Noboru_Yamaguchi_(author) Noboru Yamaguchi]==&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1|Jilid 1 - Familiarnya si Zero / ゼロの使い魔]]=== &lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Insert_&amp;amp;_Back Cover|Insert &amp;amp; Back Cover]]&lt;br /&gt;
:*&#039;&#039;&#039;Kerajaan sihir&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab1|Bab 1 - Aku Seorang Familiar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab2|Bab 2 - Louise si Zero]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab3|Bab 3 - Legenda]] &lt;br /&gt;
:*&#039;&#039;&#039;Gandálfr&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab4|Bab 4 - Hari Familiar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab5|Bab 5 - Kirche si Ardent]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab6|Bab 6 - Penjual Senjata Tristain]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab7|Bab 7 - Fouquet si Crumbling Earth]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab8|Bab 8 - Tongkat Penghancur]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2|Jilid 2 - Albion Si Negeri Angin / 風のアルビオン]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab1|Bab 1 - Kapal Rahasia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab2|Bab 2 - Kemurungan Baginda Ratu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab3|Bab 3 - Permintaan Teman Masa Kecil]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab4|Bab 4 - Kota Pelabuhan - La Rochelle]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab5|Bab 5 - Sehari Sebelum Berangkat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab6|Bab 6 - Negeri Putih]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab7|Bab 7 - Pangeran dari Negeri yang Sekarat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab8|Bab 8 - Pesta di Newcastle Sebelum Pertarungan Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab9|Bab 9 - Pertarungan Terakhir]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3|Jilid 3 - Buku Doa Sang Founder / 始祖の祈祷書]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab1|Bab 1 - Garis Keturunan Sang Zero]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab2|Bab 2 - Penyakit Cinta Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab3|Bab 3 - Buku Doa Sang Founder]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab4|Bab 4 - Cinta Segitiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab5|Bab 5 - Keluarga Kerajaan dan Senjata Rahasia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab6|Bab 6 - Memburu Harta Karun]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab7|Bab 7 - Pakaian Naga]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab8|Bab 8 - Laboratorium Tuan Colbert]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab9|Bab 9 - Deklarasi Perang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab10|Bab 10 - Sang Void]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4|Jilid 4 - Saksi Janji Sang Arwah Air / 誓約の水精霊]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Illustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Pengantar|Prolog]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab1|Bab 1 - Orang Suci]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab2|Bab 2 - Saito Pergi Berbelanja di Kota yang Penuh Keramaian]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab3|Bab 3 - Baju Pelaut dan Kecemburuan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab4|Bab 4 - Rahasia Tabitha]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab5|Bab 5 - Kekuatan Obat Cinta]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab6|Bab 6 - Arwah Air]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab7|Bab 7 - Cincin Andvari]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab8|Bab 8 - Reuni yang Kebohongan Semata]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab9|Bab 9 - Sengketa Kesedihan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Penutup|Epilog]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5|Jilid 5 - Hari Libur Tristania / トリスタニアの休日]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume5_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab1|Bab 1 - Penginapan &amp;quot;Charming Fairies&amp;quot;]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab2|Bab 2 - Pertempuran dengan Api dan Pertemanan dengan Angin]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab3|Bab 3 - Hari Libur Tristania]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6|Jilid 6 - Batu Ruby Penebusan Kesalahan / 贖罪の炎赤石]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume6_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab1|Bab 1 - Pulang Kampung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab2|Bab 2 - Cattleya]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab3|Bab 3 - Adipati de La Vallière]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab4|Bab 4 - Opsir Pemerintah Guiche dan Opsir Kadet Malicorne]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab5|Bab 5 - Api Dua Puluh Tahun yang Lalu - (5%)]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab6|Bab 6 - Serangan Tiba-Tiba]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab7|Bab 7 - Ilusi di Dartanes]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab8|Bab 8 - Penebusan Dosa Api]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 7 – Pentakosta Perak / 銀の降臨祭===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume7_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab1|Bab 1 - Perbedaan Suhu di Antara Dua Orang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab2|Bab 2 - Peri]] --- 3%&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab3|Bab 3 - Pendeta Shinto Priest Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab4|Bab 4 - Sekretaris dan Kaisar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab5|Bab 5 - Gotha Selatan si Kota Sejarah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab6|Bab 6 - Gencatan Senjata]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab7|Bab 7 - Alasan untuk Bertarung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab8|Bab 8 - Raja Gallia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab9|Bab 9 - Mengalah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab10|Bab 10 - Tempat untuk Keberanian]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 8 – Rayuan Musik Nostalgia / 望郷の小夜曲===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume8_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab1|Bab 1 - Akhir dari Perang tiap Pihak]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab2|Bab 2 - Pagi Saito]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab3|Bab 3 - Elf Emas]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab4|Bab 4 - Kunjungan Sang Pendeta ]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab5|Bab 5 - Gandalfr yang Menghilang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab6|Bab 6 - Konferensi Negara-Negara]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab7|Bab 7 - Keputusan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab8|Bab 8 - Para Pengguna Void]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab9|Bab 9 - Myoznitnir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab10|Bab 10 - Ksatria Pedang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 9 - Pesta Dansa Bulan Kembar/ 双月の舞踏会===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume9_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab1|Bab 1 - Ketakutan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab2|Bab 2 - Elf Hutan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab3|Bab 3 - Pertemuan dan Perpisahan Para Pengguna]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab4|Bab 4 - Gelar Chevalier]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab5|Bab 5 - Ondine ・ Kesatuan Satria Arwah Air]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab6|Bab 6 - Perasaan Sang Ratu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab7|Bab 7 - Permohonan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab8|Bab 8 - Pesta Dansa Sleipnir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab9|Bab 9 - Pertempuran dengan Burung Misterius]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 10 - Pahlawan Ivaldi / イーヴァルディの勇者===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume10_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab1|Bab 1 - Ostland]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab2|Bab 2 - Si Elf]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab3|Bab 3 - Kegelisahan dan Kecemburuan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab4|Bab 4 - Ratu dan Ksatria]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab5|Bab 5 - Saudara Kandung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab6|Bab 6 - Enam serangkai yang Dipenjara]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab7|Bab 7 - Penyelesaian Masa Lalu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab8|Bab 8 - Rumah Tua Orléans]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab9|Bab 9 - Benteng Alhambra]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab10|Bab 10 - Pahlawan Ivaldi]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Catatan_kaki|Catatan_kaki]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Catatan_penerjemah|Catatan_penerjemah]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 11 - Sebuah Pasangan Ingatan  / 追憶の二重奏===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume11_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab1|Bab 1 - Von Zerbst]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab2|Bab 2 - Ratu dan Adipati]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab3|Bab 3 - Karin si Angin Ribut]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab4|Bab 4 - Keluarga Vallière]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab5|Bab 5 - Aturan Baru Sekolah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab6|Bab 6 - Les Privat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab7|Bab 7 - Pope Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab8|Bab 8 - Jörmungand]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab9|Bab 9 - Reuni di Westwood]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab10|Bab 10 - Hati Pasangan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 12 – Hari Libur Peri Kecil / 妖精達の休日===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume12_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Pembukaan&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Murid Baru di Negara Putih (Albion)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
::*Bab 3&lt;br /&gt;
::* Bab 4&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Serang, Kesatuan Satria Arwah Air!&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Hak untuk Menggunakan Saito selama Satu Hari&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 13 - The Pintu Dunia si Negeri Suci / 聖国の世界扉===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume13_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab1|Bab 1 - Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab2|Bab 2 - Keputusan Saito]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab3|Bab 3 - Berangkatkan &#039;&#039;Ostland&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab4|Bab 4 - Dua Kesatuan Satria]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab5|Bab 5 - Ajakan Paus]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab6|Bab 6 - Tombak Panjang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab7|Bab 7 - Pintu Dunia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab8|Bab 8 - Arti Senyuman]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 14 – Orang Suci Aquileia / 水都市の聖女===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume14_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 – Pemberontakan Skuadron Flowerbed&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Upacara Penobatan Ke-tiga&lt;br /&gt;
::*Bab 3 -  Gandalfr Peri&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Ibukota Air&lt;br /&gt;
::*Bab 5 – Enam Ribu Tahun yang Lalu&lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Jalan Besar Macan&lt;br /&gt;
::*Bab 7 – Orang Suci Aquileia&lt;br /&gt;
::*Bab 8 – Macan Besi &lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Memori Ikatan&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 15 -  Labirin Oblivion / 忘却の夢迷宮===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume15_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - Carcassonne&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Kontes Satria Sandbank&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - Linglung&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Permata Api&lt;br /&gt;
::*Bab 5 – Bulan Madu&lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Malam Panjangnya Tabitha&lt;br /&gt;
::*Bab 7 – Taktik Diplomatik Henrietta&lt;br /&gt;
::*Bab 8 - Penobatan&lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Pintu Keluar Labirin&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 16 – Waktu Teh Des Ornières / ド・オルニエールの安穏===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume16_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 – Hadiah dari Kampanye &amp;lt;!--/ 戦の恩賞--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Mencari Tempat Tinggal &amp;lt;!--お屋敷探し--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - Kemulungan Henrietta, Kegelisahan Louise, Kenaikan Jabatan Saito &amp;lt;!--アンリエッタの憂鬱、ルイズの不安、才人の出世--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Ibu dan Keponakan &amp;lt;!--/母と従姉--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 5 - Saito Chevalier De Hiraga Des Ornières &amp;lt;!--/ サイト・シュヴァリエ・ド・ヒラガ・ド・オルニエール--&amp;gt; &lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Waktu The Sehari-hari &amp;lt;!--/ 安穏の日々--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 7 - Akademi Eléonore &amp;lt;!--/ アカデミーのエレオノール--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 8 – Ruangan Bawah Tanah Rumah &amp;lt;!--/ 屋敷の地下室--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Pertemuan Rahasia &amp;lt;!--/ 密会--&amp;gt; &lt;br /&gt;
::*Bab 10 - 元素の兄弟&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 17 - Soeur Sang Petang / 黎明の修道女===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume17_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 1 - Keputusasaan Saito &amp;lt;!--才人の絶望--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 2 - Penerbangan &amp;lt;!--逃避行--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 3 - Pertemuan dan sahabat &amp;lt;!--仲間と出会い--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 - Sulpice &amp;lt;!--シュルピス--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 5 - Pertemuan Pertama dengan Jack&amp;lt;!--ジャックとの初対戦--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 6 - Damien dan Lord Gondrin &amp;lt;!--ダミアンとゴンドラン卿--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 7 - Soeur Louise &amp;lt;!--修道女ルイズ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 8 - Resolusi Josette&amp;lt;!--ジョゼットの決心--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 9 - Dua Tongkat, Satu mahkota&amp;lt;!--二本の杖、一つの王冠--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 10 - Pesta Kebun untuk Merayakan Penobatan&amp;lt;!--即位祝賀口遊会--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 11 - Ikatan &amp;lt;!--絆--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Epilog&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 18 - Batu Jiwa Kehancuran / 滅亡の精霊石===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume18_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 1 - Pasangan&amp;lt;!--恋人--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 2 - Fouquet dan Wardes &amp;lt;!--ワルドとフーケ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 3 - Pesta Kebun Josette&amp;lt;!--ジョゼットの園遊会--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 - Strategi &amp;lt;!--策謀--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 5 - Pengakuan Paus&amp;lt;!--教皇の告白--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 6 - Batu Jiwa Kehancuran &amp;lt;!--破滅の精霊石--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 7 - Rumah Kami &amp;lt;!--我が家--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 8 - Elf Sahara &amp;lt;!--サハラのエルフ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 9 - Pertemuan Kebetulan &amp;lt;!--邂逅--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 1 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume1_cerita1|Story 1 - Tabitha dan Pterosaur (0.5%)]]&lt;br /&gt;
::*Story 2 - Tabitha and Sang Vampir&lt;br /&gt;
::*Story 3 - Tabitha and Sang Assassin&lt;br /&gt;
::*Story 4 - Tabitha and Si Boneka Sihir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 2 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険2===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_cerita5|Story 5 - Tabitha dan Si Penjudi]]&lt;br /&gt;
::*Story 6 - Tabitha and Si Minotaur&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_BabTambahan|Bab Tambahan - Sehari di hidup Sylphid]]&lt;br /&gt;
::*Story 7 - Tabitha dan Si Burung dari Surga &lt;br /&gt;
::*Story 8 - Tabitha dan Pelabuhan Kapal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 3 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険3===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Story 9 - Tabitha dan Sylphid&lt;br /&gt;
::*Story 10 - Tabitha dan Sang Ksatria Tua &lt;br /&gt;
::*Story 11 - Tabitha dan Cinta Pertama&lt;br /&gt;
::*Story 12 - Kelahiran Tabitha&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Staf Proyek==&lt;br /&gt;
*Manajer Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Pengawas Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Tukang Bantu + Edit: [[User:Suparman|Suparman hahaha]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penerjemah===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;AKTIF&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[User:Altux|Altux]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;TIDAK AKTIF&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[User:Masterdiki|Masterdiki]]&lt;br /&gt;
::*[[User:Obakasan|Obakasan]]&lt;br /&gt;
::*[[User:Prinzwit|Prinzwit]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penyunting===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[White Line|White Line]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Zero no Tsukaima:Series Overview|Informasi ISBN]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Light novel (Indonesian)]]&lt;br /&gt;
[[Category:Indonesian]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Pengantar&amp;diff=435058</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Pengantar</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Pengantar&amp;diff=435058"/>
		<updated>2015-04-03T07:55:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
==Prolog==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Danau Ragdorian yang terletak diantara kerajaan Tristain dan Gallia meruapakan salah satu tempat terindah Hakegenia. Ia membentang sekitar 600 kilometer persegi dan luasnya dapat dibandingkan dengan jarak Tristania, ibukota Tristain, dengan akademi sihir. Danau itu terletak di dataran yang agak tinggi, dan indah bagaikan sebuah lukisan, Hijau matang dari hutan yang disulam dengan air jernih dari danau merupakan mahakarya yang tak mungkin dbuat dewa yang dengan ceroboh mengayunkan kapaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, danau itu bukan sesuatu yang dimiliki manusia. Tempat itu didiami roh air, yang merupakan penduduk asli Halkegenia. Ia meruapakan surga bagi roh air yang memiliki sejarah yang jauh lebih panjang dari manusia. Roh-roh air telah mebuat sebuah benteng dan kota didasar danau dan mengembangkan kultur dan kerajaan mereka sendiri, Dikatakan bahwa siapapun yang melihatnya, tak peduli seberapa jahat mereka, akan memulai lembaran baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Roh-roh air ini disebut roh dari sumpah dan dikatakan bahwa sumpah yang dibuat dengan mereka takkan pernah terputus. Itu katanya...roh-roh air, yang dikatakan melebihi keindahan warna yang tersulam di hutan, langit dan danau, jarang muncul di hadapan manusia. 10 tahun lalu, mereka muncul sekali untuk memperbaharui sumpah mereka dengan keluarga kerajaan Tristain, tapi sejak itu, mereka tak muncul lagi dari dasar danau. Karena itulah, meski dikatakan &amp;quot;sumpah yang dibuat dengan mereka takkan pernah putus&amp;quot;, merupakan tugas maha sulit untuk  membuktikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama kalinya Henrietta dan Wales bertemu adalah saat di Danau Ragdorian. Itu tiga tahun lalu...Untuk merayakan HUT Ratu Marianne, Kerajaan Tristain mengundang tamu dari seluruh negara dan mengadakan sebuah pesta taman besar-besaran di Danau Ragdorian. Para bangsawan dan keluarga kerajaan yang diundang dari seluruh Halkegenia - Kerajaan Albion, Kerajaan Gallia, dan kekaisaran Germania, berkumpul di danau, semua berpakaian mewah dan berinteraksi sampai ke hati mereka. Kembang api dari sihir dipasang dan dibawah sebauh tenda besar, sebuah pesta diadakan sepanjang malam dengan santapan dan anggur terbaik dunia tersaji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada malam di akhir minggu pertama, saat perayaan sudah habis setengahnya, Henrietta yang 14 tahun meninggalkan tendanya dan berjalan menuju pesisir danau tanpa pengiring maupun pengawal/ Dia kenyang akan perayaan, yang sepertinya takkan berakhir, Hari-hari disesaki dengan event-event, seperti santapan, pesta dansa, pembacaan puisi...Dia sudah kenyang dengan semua penyambutan dan pujian, Dia ingin sendiri dan menghirup udara segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia telah melewati daerah dimana tenda-tenda dan bangunan didirikan dengan wajahnya tersembunyi dibalik tudung besar dan membuat jalan ke sisi pesisir yang sepi. Bulan bersinar terang, menciptakan suasana impian. Terpukau oleh pemandangan ini, Henrietta hanya bisa memandangi sungao, yang mecerminkan bulan nan terang benderang. Sepertinya terpukau oleh pemandangan tak cukup baginya. Henrietta melihat sekelilingnya. Setelah memastikan tiada orang di sekeliling, dia terus menanggalkan pakaiannya. Dengan senyum licik mengembang di wajahnya, dia perlahan mengukir jalannya ke air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air nan dingin menyelimuti badannya, Kini awal musim panas, jadi kesejukannya terasa menyegarkan di malam yang hangat. Dia akan dimarahi bila ditemukan di tempat semacam ini oleh La Porte si chamberlain, tapi dia telah menahan soal pesta taman yang mengikat terlalu lama. Aku akan dimaafkan untuk sesuatu seperti ini, bisik Henrietta begitu dia mulai berenang. Setelah berenang sebentar, tiba-tiba dirasanya ada orang di peisir. Wajah Henrietta memerah dan dia menyembunyikan badannya dengan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Siapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok itu tak menjawab. Siapa ini? La Porte si chamberlain yang menyebalkan? Temannya yang setahun lebih muda darinya, Louise Françoise? Namun, dia telah menusup keluar dari tenda tanpa sepengetahuan mereka. Merasa tak enak, dia meminta identitas sosok itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wahai orang yang tak sopan. Sebutkan namamu!&amp;quot; Suaranya yang bernada panik mencapai pesisir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bukan orang mencurigakan. Aku hanya keluar untuk jalan-jalan. mengapa kau disini, berenang, pada waktu begini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta merasa diserang oleh sikap tenang sosok itu, meski dia telah melihat Henrieeta berenang selama ini. &amp;quot;Bukankah Aku meminta namamu? Meski aku tak terlihat sepertinya, aku seorang putri dari sebuah negeri. Sebelum keadaan memburuk, sebutkan namamu dan enyahlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ini, sosok itu terkejut. &amp;quot;Seorang putri? Apa mungkin, Henrietta?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta terkejut pada ketiadaan sebutan &#039;putri&#039;. hanya ada lima orang yang berkumpul di danau yang dapat menyebutnya dengan sikap begitu. Akan menjadi seorang pendosa sukar dipercaya keberadaannya bila dia bukan salah satu dari lima itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta telah membuka topeng putrinya dan menanyai sosok itu dengan suara seorang gadis yang ketakutan. Sosok itu tertawa. Ditertawakan, Wajah Henrietta memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini aku Henrietta, Wales. Wales dari Albion. Sepupumu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wales...? Maksudmu, Pangeran Wales?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pangeran Wales. Putra mahkota Albion. Mereka tak pernah bertemu sebelumnya, tapi tentu saja dia tahu namanya. Putra tertua dari saudara ayahnya. Wajahnya semakin memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tiba disini malam ini dengan ayahku, Aku hendak sekilas saja mengamati Danau Ragdorian karena ia sangat terkenal. Maaf menakutimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ampun deh, aku tak bisa mempercayaimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pakaiannya sudah dipakai kembali, Henrieta menoleh menghadapi Wales. &amp;quot;Kau bisa berbalik sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales berbalik saat Henrietta berganti pakaian, Begitu dia berbalik lagi, sesuatu mengalir menyusuri tulang belakang Henrietta untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya. Tubuhnya, yang dingin karena danau memanas seakan api telah membakarnya. Dia tersenyum malu karena penampilan gagahnya. Tampaknya Wales juga merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku terkejut. Kau telah tumbuh menjadi cantik, Henrietta...&amp;quot; Pangeran yang terkagum mengutarakan kata-kata yang melelehkan dari mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-aku tak begitu...&amp;quot; Henrietta menunduk, tak kuasa mengangkat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak bermaksud mengagetkanmu. Aku tengah melepas kebosanan dan mendengar beberapa &#039;plas-plas&#039;...saat aku kesini, aku menyadari seseorang tengah berenang. Maaf. Aku tak kuasa menontom.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau menontonnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah roh-roh air yang hidup di danau ini tertarik pada sinar rembulan? Aku ingin melihat mereka sekali-kali. Kecantikan para roh air dikatakan dpat mempermalukan kedua bulan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta tersenyum. &amp;quot;Maaf bahwa aku yang disitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menggaruk pipinya dengan sikap malu-malu, Dia dengan jujur berkata. &amp;quot;Tidak juga, aku tak pernah melihat roh air sebelumnya, tapi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau jauh lebih cantik. Lebih cantik dari roh air.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena malu, Henrietta menyembunyikan wajahnya. &amp;quot;Orang-orang Albion luar biasa leluconnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;I-ini bukan lelucon! Aku seorang pangeran tahu. Kutak pernah berbohong, tak pernah sekalipun! Aku benar-benar berpikir kau lebih cantik!&amp;quot; Jawab Wales yang panik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Detak Henrietta tertahan seakan sebuah mantra dikenakan padanya. Sepupu di hadapannya...Seorang pangeran dari negeri lain, yang dia hanya tahu namanya. Pesta taman yang membosankan, tiba-tiba menjadi indah berwarna-warni saat mereka berdiri ditepi Danau Ragdorian yang berkemilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan mereka tumbuh semakin erat meski waktunya tak lama. Mereka mengerti perasaan masing-masing hanya dengan saling memandang mata, mereka juga mengerti waktu mereka bersama terbatas. Tiap malam di pesta taman, Wales dan Henrietta akan bertemu di danau. Henrietta akan menyembunyikan wajahnya dengan sebuah kudung besar, dan Wales menggunakan topeng phantom yang telah digunakan di pesta topeng. Tanda dari pertemuan mereka adalah suara dari batu kecil yang dilempar ke sungai. Orang yang pertama kali tiba akan menunjukkan diri dari penyamaran yang menyembunyikan diri mereka, dan setelah memeriksa tiada orang disekitar, mereka menggunakan sebuah sandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Wales mengatakan &amp;quot;Pada malam dimana angin berhembus&amp;quot;, Henrietta akan membalasnya dengan &amp;quot;Sebuah sumpah pada air yang kubacakan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari, keduanya berjalan-jalan menyusuri danau sambil berpegangan tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau agak telat Henrietta. Aku hampir kelelalahan menunggu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maaf. Pestanya ngaret. Sudah kenyang aku akan obrolan para mabuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi...Apa benar tak apa-apa bagimu untuk menyusup keluar seperti ini tiap malam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta tertawa kecil pada wajah khawatir Wales. &amp;quot;Tak apa. Aku menggunakan sebuah umpan.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebuah umpan! Itu sesuatu yang cukup serius.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia tak sbesar itu juga kok. Temanku yang kau lihat bersamaku saat makan siang di hari sebelumnya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maksudmu gadis kurus yang berambut panjang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales membengkokkan kepalanya. Gadis yang akan mengiuti Henrietta kemana-mana dan bermain dengannya. Dia begitu terpukau dengan Henrietta sehingga dia benar-benar tak bisa mengingat tampang gadis itu. namun, dia samar-samar ingat warna rambutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Dia berpakaian sepertiku, dan kemudian ke kasurku untukku. Selimut menutupinya dari ujung kepala sehingga meski ada yang berdiam di samping kasur, mereka tak bisa melihat wajahnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, bukankah warna rambutnya berbeda denganmu? Jika aku benar mengingatnya, dia pink, sedangkan kau...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales menyisir rambut Henrietta dengan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Warna chestnut nan indah. Ia jadi umpan yang agak buruk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku telah mengadakan sebuah cat rambut sihir khusus untuknya. Tapi aku merasa agak bersalah. Aku tak benar-benar mengatakan bahwa aku bertemu denganmu. Dia pikir aku keluar hanya untuk jalan-jalan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar-benar jahat!&amp;quot; kata Wales sambil tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shh! Jangan tertawa keras-keras. Kita tak tahu bila ada yang mendengarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tiada yang akan ada disini, mendengarkan kita, pada malam jam segini kecuali para roh air. Ah, aku ingin meliaht mereka sekali saja. Aku membayangkan kecantikan macam apa yangmembuat rembulan iri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil memanyunkan bibirnya, Henrietta membalas Wales dengan nada terusik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, aku sadar sekarang. Jadi kau sebenarnya tak ingin bertemu denganku. Kau hanya ingin melihat roh air, dan mengajakku ikut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales tiba-tiba berhenti dan mencubit lembut pipi Henrietta dengan kedua tangannya dan menggapai bibirnya. Henrietta terkejut, tapi sejurus kemudian menutup matanya. Bibir keduanya saling menekan. Setelah sesaat, Wales menjauhkan mukanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Aku mencintaimu, Henrietta.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku juga mencintaimu.&amp;quot; bisik Henrietta, Wajahnya snagat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah kilasan kesenderian terpantul dari mata Wales. Selama dia tersihir oleh ide cinta mereka, akal sehatnya juga membayangkan kesudahannya. Status mereka tak memperbolehkan mereka untuk bersama, Jika ada yang tahu tentang hubungan mereka...mereka mungkin takkan pernah diperbolehkan melihat satu sama lain lagi dalam acara-acara resmi. Itu bagian dari menajdi seorang putri dan pangeran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales mulai berbicara, mencoba melegakan suasana. &amp;quot;Hahaha...kita berdua terlahir dengan takdir yang mengganggu. Kebanyakan waktu yang kita habiskan bersama adlah saat malam, dengan penyamaran! Adalah sangat bagus, paling tidak sekali, jika aku bisa menemanimu di danau ini, hanya denganmu dan sang surya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menutup matanya dan dan perlahan menyender pada dada Wales. &#039;Buatlah sebuah janji.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Janji?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Para roh air yang hidup disini juga dikenal sebagai &#039;roh dari janji&#039;. Janji yang dibuat di hadapan mereka dikatakan takkan terputus.&amp;quot; bisik Henrietta 14 tahun sambil menutup mukanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu hanya sebuah takhayul. Sebuah dongeng tua.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan jika ia takhayul, aku mempercayainya. Jika dengan percaya, janjiku akan terpenuhi, maka aku akan percaya selamanya. Selamanya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setetes airmata jatuh dari matanya dan mengalir menuruni pipinya. Wales dengan lembut mengusap pipi Henrietta. &amp;quot;Aku mencintaimu, Henrietta, karena kau sangat mencintaiku. Jadi jangan menangis seperti ini. Sungainya akan kebanjiran dengan airmatamu. Orang-orang yang berkumpul disini akan tenggelam tahu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau mungkin tak tahu seberapa cintanya aku padamu. Semakin aku serius, semakin kau menggodaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan seperti itu Henrietta.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengagkat ujung roknya, Henrietta memasuki air. &amp;quot;Putri dari Tristain, Henrietta, bersumpah demi para roh air bahwa dia akan mencintai Pangeran Wales selamanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau berikutnya, Wales. Bersumpahlah seperti aku tadi,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales memasuki air dan memeluk Henrietta. Henrietta memegangi bahu wales. &amp;quot;Wales?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kakimu akan kedinginan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa. Daripada itu, aku bersumpah untuk mencintaimu selamanya. Bersumpahlah juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sumpah yang tak terputus hanyalah takhayul.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau berkata hatimu akan berubah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales terdiam beberapa lama, berpikir dalam. Akhirnya Dengan wajah lembut, dia mengucapkan sempahnya pada danau. &amp;quot;Pangeran Albion, Wales, bersumpah demi para roh air , bahwa suatu hari nanti, dia akan berjalan di Danau Ragdorian ini bersama Henrietta dan sang surya, tangan dengan tangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku telah bersumpah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mengubur wajahnya kedalam dada wales dan berbisik pelan pada dirinya sendiri. &amp;quot;...Jadi kau takkan bersumpah untuk mencintaiku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permukaan danau berkemilauan dengan cahaya. Kemudian setelah sesaaat tertelan lagi oleh kesunyian. Keduanya saling memandang. Apa tadi cahaya rembulan, ataukah para roh air yang menerima sumpah mereka, mereka tak tahu...Tapi dengan saling bersandar, mereka terus menerawangi keindahan Danau Ragdorian.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435057</id>
		<title>Zero no Tsukaima (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435057"/>
		<updated>2015-04-03T07:55:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: /* Jilid 4 - Saksi Janji Sang Arwah Air / 誓約の水精霊 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:Znt novel cover.jpg|300px|thumb|Vol.One Cover]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;DILARANG KERAS MENJUAL TERJEMAHAN INI DALAM BENTUK APAPUN. INI ADALAH TERJEMAHAN GRATIS OLEH PENERJEMAH DAN PENYUNTING BUKAN UNTUK KEGIATAN KOMERSIAL&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seri &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; juga terdapat dalam berbagai bahasa:&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima|English (Inggris)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero no Tsukaima - Français|Français (Perancis)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_%7EItalian_Version%7E|Italiano (Italia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_wersja_polska|Polski (Polandia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_%7EVersi%C3%B3n_Espa%C3%B1ola%7E|Español (Spanyol)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Deutsche Version|Deutsch (Jerman)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Korean_Version|한국어 (Korea)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_~Russian_Version~|Русский (Russia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Tiếng Việt|Tiếng Việt (Vietnam)]]&lt;br /&gt;
(Nb: Proses penerjemahan mungkin berbeda tergantung versinya masing-masing.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunjungi [http://www.baka-tsuki.org/forums Baka-Tsuki Project Forum] untuk mendiskusikan seri ini dan informasi lainnya dari Baka-Tsuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penerjemah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Dibutuhkan Para Penerjemah Nganggur! ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Baka-Tsuki sangat mencari para penerjemah untuk seri ini.&#039;&#039;&#039; Jika berkeinginan untuk menerjemahkan seri ini, kirimkan posting anda di [http://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=29&amp;amp;t=2843 forum], dan kami akan membantumu untuk memulainya, terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero no Tsukaima Registration versi Indonesia|Registrasi]]===&lt;br /&gt;
Penerjemah di minta untuk menandai semua bab yang mereka inginkan untuk diterjemahkan di [[Zero no Tsukaima Registration versi Indonesia|Registration Page]] berdasarkan [[Zero_no_Tsukaima:Guideline#Translation_Management|Translation Management]] sesi dari &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; [[Zero_no_Tsukaima:Guideline|Project Specific Guidelines]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Standar Format===&lt;br /&gt;
Setiap bab (setelah di edit) harus dikonfirmasikan lagi sampai memenuhi standar format. Lihat [[Format_guideline|Format/Style Guideline]] dan [http://www.baka-tsuki.net/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima:guidelines Naming Conventions For ZnT].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pengumuman==&lt;br /&gt;
Dengan berat hati kami sampaikan bahwa Noboru Yamaguchi, penulis dari &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; meninggal karena kanker pada 4 April, 2013. Karenanya, seri ini tetap tidak terselesaikan pada 20 volume dan kemungkinan besar tidak akan ada lagi terbitan baru setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;AC/DC RULES&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*September 29, 2009:&lt;br /&gt;
:* Jilid 1 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!!&lt;br /&gt;
*xxxber xx, 2009:&lt;br /&gt;
:* Jilid 2 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!!&lt;br /&gt;
*April 3, 2010 - jam 2.20:&lt;br /&gt;
:* Jilid 3 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!! Ingat!! masih ada banyak kesalahan, mohon bantuan untuk perbaikannya. khusus obakasan n altux, makasih dah nerjemahin&lt;br /&gt;
*Mei 5,2011 &lt;br /&gt;
:* Baru lihat Jilid 4 udah diselesaikan, akhirnya udah sampai sejauh ini, terima kasih buat para penerjemah, pembaca, dan pendukung zero no tsukaima versi Indonesia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Oktober 16,2011 &lt;br /&gt;
Buku ke-5 beres...jadi udah 5 buku dalam 3 tahun, semoga ada yang bisa nerusin, terima kasih buat mereka yang membaca, mendukung dan nerjemahin.  THANKS BANGET BRO!!! Ingat!! masih  ada banyak kesalahan, mohon bantuan untuk perbaikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Seri [http://id.wikipedia.org/wiki/Zero_no_Tsukaima &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039;] oleh [http://en.wikipedia.org/wiki/Noboru_Yamaguchi_(author) Noboru Yamaguchi]==&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1|Jilid 1 - Familiarnya si Zero / ゼロの使い魔]]=== &lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Insert_&amp;amp;_Back Cover|Insert &amp;amp; Back Cover]]&lt;br /&gt;
:*&#039;&#039;&#039;Kerajaan sihir&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab1|Bab 1 - Aku Seorang Familiar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab2|Bab 2 - Louise si Zero]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab3|Bab 3 - Legenda]] &lt;br /&gt;
:*&#039;&#039;&#039;Gandálfr&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab4|Bab 4 - Hari Familiar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab5|Bab 5 - Kirche si Ardent]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab6|Bab 6 - Penjual Senjata Tristain]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab7|Bab 7 - Fouquet si Crumbling Earth]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab8|Bab 8 - Tongkat Penghancur]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2|Jilid 2 - Albion Si Negeri Angin / 風のアルビオン]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab1|Bab 1 - Kapal Rahasia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab2|Bab 2 - Kemurungan Baginda Ratu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab3|Bab 3 - Permintaan Teman Masa Kecil]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab4|Bab 4 - Kota Pelabuhan - La Rochelle]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab5|Bab 5 - Sehari Sebelum Berangkat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab6|Bab 6 - Negeri Putih]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab7|Bab 7 - Pangeran dari Negeri yang Sekarat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab8|Bab 8 - Pesta di Newcastle Sebelum Pertarungan Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab9|Bab 9 - Pertarungan Terakhir]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3|Jilid 3 - Buku Doa Sang Founder / 始祖の祈祷書]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab1|Bab 1 - Garis Keturunan Sang Zero]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab2|Bab 2 - Penyakit Cinta Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab3|Bab 3 - Buku Doa Sang Founder]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab4|Bab 4 - Cinta Segitiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab5|Bab 5 - Keluarga Kerajaan dan Senjata Rahasia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab6|Bab 6 - Memburu Harta Karun]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab7|Bab 7 - Pakaian Naga]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab8|Bab 8 - Laboratorium Tuan Colbert]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab9|Bab 9 - Deklarasi Perang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab10|Bab 10 - Sang Void]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4|Jilid 4 - Saksi Janji Sang Arwah Air / 誓約の水精霊]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Illustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Pengantar|Pengantar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab1|Bab 1 - Orang Suci]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab2|Bab 2 - Saito Pergi Berbelanja di Kota yang Penuh Keramaian]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab3|Bab 3 - Baju Pelaut dan Kecemburuan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab4|Bab 4 - Rahasia Tabitha]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab5|Bab 5 - Kekuatan Obat Cinta]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab6|Bab 6 - Arwah Air]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab7|Bab 7 - Cincin Andvari]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab8|Bab 8 - Reuni yang Kebohongan Semata]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab9|Bab 9 - Sengketa Kesedihan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Penutup|Epilog]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5|Jilid 5 - Hari Libur Tristania / トリスタニアの休日]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume5_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab1|Bab 1 - Penginapan &amp;quot;Charming Fairies&amp;quot;]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab2|Bab 2 - Pertempuran dengan Api dan Pertemanan dengan Angin]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab3|Bab 3 - Hari Libur Tristania]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6|Jilid 6 - Batu Ruby Penebusan Kesalahan / 贖罪の炎赤石]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume6_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab1|Bab 1 - Pulang Kampung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab2|Bab 2 - Cattleya]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab3|Bab 3 - Adipati de La Vallière]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab4|Bab 4 - Opsir Pemerintah Guiche dan Opsir Kadet Malicorne]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab5|Bab 5 - Api Dua Puluh Tahun yang Lalu - (5%)]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab6|Bab 6 - Serangan Tiba-Tiba]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab7|Bab 7 - Ilusi di Dartanes]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab8|Bab 8 - Penebusan Dosa Api]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 7 – Pentakosta Perak / 銀の降臨祭===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume7_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab1|Bab 1 - Perbedaan Suhu di Antara Dua Orang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab2|Bab 2 - Peri]] --- 3%&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab3|Bab 3 - Pendeta Shinto Priest Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab4|Bab 4 - Sekretaris dan Kaisar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab5|Bab 5 - Gotha Selatan si Kota Sejarah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab6|Bab 6 - Gencatan Senjata]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab7|Bab 7 - Alasan untuk Bertarung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab8|Bab 8 - Raja Gallia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab9|Bab 9 - Mengalah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab10|Bab 10 - Tempat untuk Keberanian]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 8 – Rayuan Musik Nostalgia / 望郷の小夜曲===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume8_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab1|Bab 1 - Akhir dari Perang tiap Pihak]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab2|Bab 2 - Pagi Saito]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab3|Bab 3 - Elf Emas]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab4|Bab 4 - Kunjungan Sang Pendeta ]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab5|Bab 5 - Gandalfr yang Menghilang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab6|Bab 6 - Konferensi Negara-Negara]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab7|Bab 7 - Keputusan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab8|Bab 8 - Para Pengguna Void]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab9|Bab 9 - Myoznitnir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab10|Bab 10 - Ksatria Pedang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 9 - Pesta Dansa Bulan Kembar/ 双月の舞踏会===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume9_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab1|Bab 1 - Ketakutan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab2|Bab 2 - Elf Hutan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab3|Bab 3 - Pertemuan dan Perpisahan Para Pengguna]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab4|Bab 4 - Gelar Chevalier]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab5|Bab 5 - Ondine ・ Kesatuan Satria Arwah Air]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab6|Bab 6 - Perasaan Sang Ratu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab7|Bab 7 - Permohonan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab8|Bab 8 - Pesta Dansa Sleipnir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab9|Bab 9 - Pertempuran dengan Burung Misterius]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 10 - Pahlawan Ivaldi / イーヴァルディの勇者===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume10_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab1|Bab 1 - Ostland]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab2|Bab 2 - Si Elf]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab3|Bab 3 - Kegelisahan dan Kecemburuan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab4|Bab 4 - Ratu dan Ksatria]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab5|Bab 5 - Saudara Kandung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab6|Bab 6 - Enam serangkai yang Dipenjara]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab7|Bab 7 - Penyelesaian Masa Lalu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab8|Bab 8 - Rumah Tua Orléans]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab9|Bab 9 - Benteng Alhambra]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab10|Bab 10 - Pahlawan Ivaldi]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Catatan_kaki|Catatan_kaki]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Catatan_penerjemah|Catatan_penerjemah]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 11 - Sebuah Pasangan Ingatan  / 追憶の二重奏===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume11_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab1|Bab 1 - Von Zerbst]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab2|Bab 2 - Ratu dan Adipati]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab3|Bab 3 - Karin si Angin Ribut]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab4|Bab 4 - Keluarga Vallière]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab5|Bab 5 - Aturan Baru Sekolah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab6|Bab 6 - Les Privat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab7|Bab 7 - Pope Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab8|Bab 8 - Jörmungand]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab9|Bab 9 - Reuni di Westwood]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab10|Bab 10 - Hati Pasangan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 12 – Hari Libur Peri Kecil / 妖精達の休日===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume12_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Pembukaan&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Murid Baru di Negara Putih (Albion)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
::*Bab 3&lt;br /&gt;
::* Bab 4&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Serang, Kesatuan Satria Arwah Air!&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Hak untuk Menggunakan Saito selama Satu Hari&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 13 - The Pintu Dunia si Negeri Suci / 聖国の世界扉===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume13_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab1|Bab 1 - Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab2|Bab 2 - Keputusan Saito]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab3|Bab 3 - Berangkatkan &#039;&#039;Ostland&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab4|Bab 4 - Dua Kesatuan Satria]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab5|Bab 5 - Ajakan Paus]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab6|Bab 6 - Tombak Panjang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab7|Bab 7 - Pintu Dunia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab8|Bab 8 - Arti Senyuman]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 14 – Orang Suci Aquileia / 水都市の聖女===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume14_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 – Pemberontakan Skuadron Flowerbed&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Upacara Penobatan Ke-tiga&lt;br /&gt;
::*Bab 3 -  Gandalfr Peri&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Ibukota Air&lt;br /&gt;
::*Bab 5 – Enam Ribu Tahun yang Lalu&lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Jalan Besar Macan&lt;br /&gt;
::*Bab 7 – Orang Suci Aquileia&lt;br /&gt;
::*Bab 8 – Macan Besi &lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Memori Ikatan&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 15 -  Labirin Oblivion / 忘却の夢迷宮===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume15_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - Carcassonne&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Kontes Satria Sandbank&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - Linglung&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Permata Api&lt;br /&gt;
::*Bab 5 – Bulan Madu&lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Malam Panjangnya Tabitha&lt;br /&gt;
::*Bab 7 – Taktik Diplomatik Henrietta&lt;br /&gt;
::*Bab 8 - Penobatan&lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Pintu Keluar Labirin&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 16 – Waktu Teh Des Ornières / ド・オルニエールの安穏===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume16_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 – Hadiah dari Kampanye &amp;lt;!--/ 戦の恩賞--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Mencari Tempat Tinggal &amp;lt;!--お屋敷探し--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - Kemulungan Henrietta, Kegelisahan Louise, Kenaikan Jabatan Saito &amp;lt;!--アンリエッタの憂鬱、ルイズの不安、才人の出世--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Ibu dan Keponakan &amp;lt;!--/母と従姉--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 5 - Saito Chevalier De Hiraga Des Ornières &amp;lt;!--/ サイト・シュヴァリエ・ド・ヒラガ・ド・オルニエール--&amp;gt; &lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Waktu The Sehari-hari &amp;lt;!--/ 安穏の日々--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 7 - Akademi Eléonore &amp;lt;!--/ アカデミーのエレオノール--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 8 – Ruangan Bawah Tanah Rumah &amp;lt;!--/ 屋敷の地下室--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Pertemuan Rahasia &amp;lt;!--/ 密会--&amp;gt; &lt;br /&gt;
::*Bab 10 - 元素の兄弟&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 17 - Soeur Sang Petang / 黎明の修道女===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume17_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 1 - Keputusasaan Saito &amp;lt;!--才人の絶望--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 2 - Penerbangan &amp;lt;!--逃避行--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 3 - Pertemuan dan sahabat &amp;lt;!--仲間と出会い--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 - Sulpice &amp;lt;!--シュルピス--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 5 - Pertemuan Pertama dengan Jack&amp;lt;!--ジャックとの初対戦--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 6 - Damien dan Lord Gondrin &amp;lt;!--ダミアンとゴンドラン卿--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 7 - Soeur Louise &amp;lt;!--修道女ルイズ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 8 - Resolusi Josette&amp;lt;!--ジョゼットの決心--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 9 - Dua Tongkat, Satu mahkota&amp;lt;!--二本の杖、一つの王冠--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 10 - Pesta Kebun untuk Merayakan Penobatan&amp;lt;!--即位祝賀口遊会--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 11 - Ikatan &amp;lt;!--絆--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Epilog&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 18 - Batu Jiwa Kehancuran / 滅亡の精霊石===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume18_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 1 - Pasangan&amp;lt;!--恋人--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 2 - Fouquet dan Wardes &amp;lt;!--ワルドとフーケ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 3 - Pesta Kebun Josette&amp;lt;!--ジョゼットの園遊会--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 - Strategi &amp;lt;!--策謀--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 5 - Pengakuan Paus&amp;lt;!--教皇の告白--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 6 - Batu Jiwa Kehancuran &amp;lt;!--破滅の精霊石--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 7 - Rumah Kami &amp;lt;!--我が家--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 8 - Elf Sahara &amp;lt;!--サハラのエルフ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 9 - Pertemuan Kebetulan &amp;lt;!--邂逅--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 1 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume1_cerita1|Story 1 - Tabitha dan Pterosaur (0.5%)]]&lt;br /&gt;
::*Story 2 - Tabitha and Sang Vampir&lt;br /&gt;
::*Story 3 - Tabitha and Sang Assassin&lt;br /&gt;
::*Story 4 - Tabitha and Si Boneka Sihir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 2 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険2===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_cerita5|Story 5 - Tabitha dan Si Penjudi]]&lt;br /&gt;
::*Story 6 - Tabitha and Si Minotaur&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_BabTambahan|Bab Tambahan - Sehari di hidup Sylphid]]&lt;br /&gt;
::*Story 7 - Tabitha dan Si Burung dari Surga &lt;br /&gt;
::*Story 8 - Tabitha dan Pelabuhan Kapal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 3 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険3===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Story 9 - Tabitha dan Sylphid&lt;br /&gt;
::*Story 10 - Tabitha dan Sang Ksatria Tua &lt;br /&gt;
::*Story 11 - Tabitha dan Cinta Pertama&lt;br /&gt;
::*Story 12 - Kelahiran Tabitha&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Staf Proyek==&lt;br /&gt;
*Manajer Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Pengawas Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Tukang Bantu + Edit: [[User:Suparman|Suparman hahaha]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penerjemah===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;AKTIF&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[User:Altux|Altux]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;TIDAK AKTIF&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[User:Masterdiki|Masterdiki]]&lt;br /&gt;
::*[[User:Obakasan|Obakasan]]&lt;br /&gt;
::*[[User:Prinzwit|Prinzwit]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penyunting===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[White Line|White Line]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Zero no Tsukaima:Series Overview|Informasi ISBN]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Light novel (Indonesian)]]&lt;br /&gt;
[[Category:Indonesian]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Penutup&amp;diff=435056</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Penutup</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Penutup&amp;diff=435056"/>
		<updated>2015-04-03T07:54:50Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Epilog==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta pingsan sesaat, tapi dia bangun karena sebuah suara yang memanggil-manggil namanya. Louise tengah menepuk-nepuknya, khawatir. Hujan telah berhenti. Rerumputan dekat sana basah dan diselimuti udara dingin. Bagaikan pertarungan keras yang baru saja tadi hanyalah sebuah dusta, pikir Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ia bukanlah sebuah dusta. Mayat dingin Wales terbaring disisinya. Mayat-mayat dingin lainnya betebaran di sekelilingnya, Ini akhir dari yang diberikan hidup palsu oleh Cincin Andvari. &amp;quot;Mantra Penangkal&amp;quot; Louise menghilangkan nyawa palsu dan mereka kembali ke keadaan asli mereka, meski Henrietta tak tahu alasannya. Hanya saja, dia merasa semua yang perlu kembali telah pada keadaan seharusnya, Dan, itu sudah cukup untuk sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia ingin berfikir ini sebagai sebuah mimpi. Tapi, semuanya adalah kenyataan bagai mimpi buruk. Dan dia sendiri, telah mencoba melemparkan segalanya dan menyerahkan dirinya pada mimpi buruk itu. Henrietta menutupi wajahnya dengan tangannya, Kini, dia tak punya hak untuk memegangu mayat Wales. Apalagi wajah untuh menghadapi Louise di hadapannya, yang telah mencintainya sejak mereka masih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang baru saja kulakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau sudah bangun?&amp;quot; tanya Louise pada Henrietta dengan nada sedih nan dingin. Tiada tanda-tanda kemarahan. Ada beberapa hal yang perlu dipikirkan, tapi ini Louise yang biasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mengangguk.&amp;quot;Apa yang harus kukatakan untuk meminta maaf padamu? Apa yang harus kuucapkan untuk meminta ampun dari orang-orang yang kusakiti? Kumohon, katakan padaku, Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk sekarang, kekuatan putri-sama diperlukan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menunjuk Saito yang terkapar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Luka-luka yang mengerikan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia telah ditelan puyuh itu, Mohon sembuhkan dia dnegan &#039;air&#039;mu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta dan melantunkan sebuah aksara, Dengan kekuatan tongkat keluarga kerajaan yang menyimpan kekuatan &#039;air&#039;, luka Saito mulai menutup. Mata Saito terbelabak saat dia menyadari yang menyembuhkan lukanya adalah Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak punya kata apapun untuk meminta maaf. Apa ada orang lain yang terluka?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak ningrat yang selamat dari skuad hippogrif. Henrietta menyembuhkan luka mereka satu-satu. Lalu...tanpa peduli apakah teman atau musuh, mayat-mayat dibawa ke lindungan sebuah pohon. Bahkan bila mayat-mayat ini akan dikubur, mereka tak bisa ditinggalkan begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise dll...bahkan Kirche, bahkan Tabitha, tak bisa menyalahkan Henrietta. Henrietta tengah bermimpi buruk. Sebuah mimpi manis nan menggoda. Jika  mereka harus membenci seseorang, pastilah yang memberi Wales nyawa palsu dan mengambil untung dari hati Henrietta dengan cara ini. Tak bisa dikatakan Henrietta tak berdosa, tapi adalah kebenaran jua bahwa ada sesuatu yang mengambil untung dari dosa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mencoba menggerakkan Wales pada akhirnya. Saat itu...Henrietta melihat sesuatu yang samasekali tak bisa dipercayainya...Mungkin cinta menyedihkan Henrietta mencapai entah dimana...Mungkin, seseorang dengan lembut, untuk menghapus dosanya, dengan lembut melepas sisik kehidupan...Saat Henrietta menyentuh pipi Wales, matanya perlahan membuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Henrietta? Apa itu kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah suara yang lemah dan pudar, tapi itu tak diragukan lagi adalah suara Wales, Bahu Henrietta berguncang. Jika mukjizat ada di halkegenia, waktu-waktu seperti ini adalah salah satunya. Itu karena tiada yang bisa menjelaskan alasan mengapa cahaya kehidupan yang seharusnya menghilang diberikan nyala redup. Mungkin saat &#039;Sihir Penangkal&#039; Louise menyapu nyawa palsu tersebut, napas kehidpan Wales yang seidkit menyalakan apinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah mungkin bahwa perasaan Henrietta pada Wales memanggil kasih Tuhan. Tiada yang tahu mengapa. Hanya dengan itu, Wales membuka matanya, Itulah kenyataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wales-sama...&amp;quot; panggil Henrietta pada cintanya, Dia mengerti. Kali ini, Wales ini adalah yang sebenarnya. Bukan sebuah boneka yang digerakkan nyawa palsu, tapi dia yang sebenarnya. Airmata mengalir dari mata Henrietta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, apa ini, Begitu lama aku menunggu-nunggu saat ini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerombolan itu segera mendatangi mereka dengan wajah terkejut. Pada saat itu, Henrietta melihat bahwa noda merah sudah menyebari kaos putih wales, Luka yang disebabkan tusukan Wardes yang ditutup nyawa palsu telah terbuka. Panik, Henrietta melantunkan sebuah mantra untuk menutup luka itu. namun...kenyataan memang kejam. Sihir Henrietta tak bekerja pada luka itu, Dengan luka yang tak menutupm noda darah terus membesar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wales-sama, jangan....Tidak, mengapa...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tiada gunanya...Henrietta. Luka ini takkan menutup lagi. Tubuh yang telah mati sekali takkan hidup lagi. Aku mungkin telah kembali sebentar, sebentar saja. Mungkin, ini kekuatan Arwah Air.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wales-sama, tidak, tidak...Apa kau berencana meninggalkanku sendirian lagi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Henrietta. Aku punya satu harapan terakhir.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan katakan sesuatu seperti &#039;terakhir&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku ingin pergi ke Danau Ragdorian itu, tempat dimana aku bertemu denganmu pertama kali. Ada sesuatu yang ingin aku kau janjikan disana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha membawa naga anginnya, Saito dan Kirche menaruh Wales di punggungnya. Setelahnya, Henrietta, yang menaiki naga angin, menempatkan kepala wales di pangkuannya dan mendukung tubuh Wales agar tak jatuh. Naga angin itu mengembang ke atas, membawa kelompok itu. Bertujuan ke Danau Ragdorian, si naga angin terbang lurus kesana.&lt;br /&gt;
__________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Danau Ragdorian, Wales menyenderkan tubuhnya pada Henrietta begitu mereka berjalan di tepian. Langit mulai memutih. Pagi sudah dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sangat penuh kenangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;saat kita pertamakali bertemu, kupikir kau tampak bagaikan seorang peri. Lihat, kau mandi di sekitar sini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales menunjuk satu titik. Dia mungkin tak lagi bisa melihat. Titik itu sangat berbeda dari yang ada dalam ingatan Henrietta. Namun, Henrietta mengangguk. Dengan sepenuh tenaga dia berusaha menahan tangisannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, kau ahli sebagaimana selama ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pada waktu itu, inilah yang kupikirkan. Jika saja kita lemparkan segalanya seperti ini. Kemanapun tak apa-apa. Tempat tak masalah. Adalah cukup untuk memiliki hanya sebuah rumah kecil dengan sebuah taman. aah, hamparan bungan juga diperlukan. Sebuah hamparan bunga tempat kau menumbuhkan bunga-bunga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya tenaga disedot dari kaki Wales tiap langkah yang ditempuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, aku selalu ingin menanyaimu. Pada saat itu, mengapa kau tak ucapkan kata-kata lembut itu? mengapa kau tak katakan kau mencintaiku? Akus elalu menantikannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales tersenyum. &amp;quot;Aku takbisa mengucapkan kata-kata tersebut, itu akan membuatmu tak bahagia.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa-apaan katamu? adalah kebahagiaanku untuk dicintai olehmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales lalu terdiam. Henrietta merasakan nyawa memudar dari tubuh Walesnya yang tercinta sedikit demi sedikit. Baginya untuk bertahan begitu lama, pasti itu sebauh mukjizat. Namun, dia tak bisa menangis. Dalam waktu yang tersisa, dia ingin bertukar kata dengannya sebanyak mungkin. meski begitu, suaranya bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengeluarkan segenap tenanganya, wales berkata. &amp;quot;Bersumpahlah, Henrietta.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan bersumpah apapun. Apa yang harus kusumpahkan? Mohon bilang padaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk melupakanku. Bersumpahlaj kau akan melupakanku dan mencari lelaki lain untuk dicintai. Aku ingin mendengar kata-kata itu. Di Danau Ragdorian ini, Di hadapan Arwah Air, Aku ingin kau bersumpah itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan katakan yang tak mungkin. Aku tak bisa bersumpah semacam itu. Tak mungkin bagiku bersumpah sebuah dusta.&amp;quot; Henritta membeku di tengah-tengah. Bahunya berguncang, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kumohon, Henrietta, Kalau tidak, rohku mungkin berkeliaran selamanya, Apa kau ingin aku tak bahagia?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menggelengkan kepalanya. &amp;quot;Tidak, Aku pasti tak mau.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tiada waktu lagi. Tiada waktu lagi yang tersisa. Aku sudah...Karenanya, kumohon...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu, kalau begitu...bersumpahlah. Bersumpahlah kau mencintaiku. Kini, kau bisa bersumpah itu, kan? Jika kau bersumpah begitu, maka aku pun akan bersumpah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pasti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta, dengan sebuah wajah penuh kesedihan, mengutarakan kalimat sumpahnya. &amp;quot;...Aku bersumpah. Untuk melupakan soal Wales-sama.Dan juga, untuk mencari orang lain untuk dicintai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales berkata dengan wajah puas. &amp;quot;Terima kasih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berikutnya giliranmu. Kumohon.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pasti. Bawa aku ke sisi air.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta membawa Wales ke tepi air. Mentara pagi menyembul melalui ruang diantara pepohonan, dan dengan keindahan yang tak terperikan, Danau Ragdorian berkilauan. Kaki mereka kebasahan dalam air. Henrietta memegangi bahu Wales. Kini katakan. Untuk mencintaiku. Tak apa-apa untuk hanya saat ini. Aku akan memeluk saat ini selamanya. Tak peduli apa yang kau ucapkan. aku akan memeluknya. Mengerti?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Wales tak menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wales-sama?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menggoyangkan bahu Wales. Tapi8, Nyawa Wales telah melayang. Henrietta perlahan-lahan mengingat hari-hari disini, saat dia bertemu Wales untuk pertama kalinya. Bagaikan mengambil ingatan satu demi satu dari kotak barang berharga dan memeriksanya satu-satu. Hari-hari yang menyenangkan dan ceria takkan lagi datang. Kalimat sumpah yang dipertukarkan di danau ini tak bisa lagi dijaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Orang yang jahat,&amp;quot; bisik Henrietta sambil memandang lurus ke depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hingga akhir, kau tak pernah ucapkan kalimat sumpah itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelan-pelan, Henrietta menutup matanya. Dari kelopak matanya yang tertutup, sebuah aliran airmata terbentuk menggarisi pipinya.&lt;br /&gt;
____________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito yang menonton keduanya dari bayangan, tengah memegangi bahu Louise. Louise mengamati Henrietta dalam diam, menahan suaranya selama menangis. Sambil memegangi bahu Louise, Saito berpikir...Apa aku benar?...Pada waktu itu, apa menyilahkan Henrietta pergi, seperti yang dikatakannya...akan membuatnya lebih bahagia? Bahkan bila itu cinta palsu...Jika orang yang sebenarnya percaya itu nyata, bukankah itu baik-baik saja?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil memegangi bahu Louise, yang tengah menangis seperti anak kecil, Saitoteus berfikir soal itu. Aoa yang benar, dan apa yang salah...Bahkan setelah ini, kemungkinan ada banyak hal lain yang bakal membuatnya khawatir, pikir Saito mendalam. Bahkan setelah ini, ada kemungkinan datangnya saat-saat dimana dia tertekan untuk membuat keputusan seperti saat ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memeluk Louise erat. Setidaknya, saat waktu itu tiba...untuk dia, dia sendiri, untuk tak goyah, Saito berdoa.&lt;br /&gt;
__________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta membaringkanmayat Wales dalam air. Lalu dia sedikit mengayunkan tongkatnya, dan melantunkan sebuah aksara. Air danau bergeral, pelan-pelan membawa tubuh Wales kedalam air, dimana ia tenggelam. Airnya tembus pandang hinga sanagt dalam, dan mayat Wales yang tenggelam bisa dilihat dengan jelas. Bahkan setelah dia tak bisa melihat Wales lagi, Henrietta tetap mematung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan saat permukaan danau memantulkan cahaya matahari dan mulai menyebarkan cahaya tujuh warna prismatik di sekitara situ...Henrietta terus memandang untuk selamanya.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab9&amp;diff=435055</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Bab9</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab9&amp;diff=435055"/>
		<updated>2015-04-03T07:54:29Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 9 - Sengketa Kesedihan==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggangi naga angin Tabitha, Saito, Louise, Kirche, dan Tabitha sendiri, terbang menuju Istana Kerajaan, meninggalkan Akademi sihir dua jam lalu. Kini sejam setelah tengah malam. Halaman depan tengah kacau. Louise dan Saito merasa firasat buruk mereka menjadi kenyataan. Saay Naga angin mendarat di Halaman, ia langsung dikepung tentara penjaga sihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komandan kesatuan Manticore, dengan keras memerintahkan. &amp;quot;Hei kalian! Istana Kerajaan kini tertutup! Enyahlah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia sudah mengenali kelompok ini saat melihatnya. Mereka sama dengan yang datang kesini tepat sebelum perang melawan Albion dimulai. Sang komandan mengernyitkan alisnya. &amp;quot;Kalian lagi! Kalian hanya datang pada waktu-waktu bermasalah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie meloncat turun dari si naga angin. Dia tak puya waktu bermain tanya-jawab dengan kapten penjaga. Dia bertanya sambil terengah-engah. &amp;quot;Putri-sama! Tidak, sang Paduka, apa dia baik-baik saja?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lapangan tengah berdengung bagai sarang lebah. Para ningrat sedang membawa tongkat sihir bersinar mereka, sementara tentara - senter, mencari sesuatu. Jelas sekali bahwa sesuatu terjadi di Istana Kerajaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak harus menceritakan apapun padamu, hai terkutuk. Enyahlah sekarang juuga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan wajah merah saking marahnya, Lousie menarik keluar sesuatu dari sakunya. Itu surat izin yang diberikan Henrietta pada Louise sebelumnya. &amp;quot;Aku adalah wanita senat dibawah kendali langsung dari Sang Paduka! Di tanganku ada surat Izin yang ditandatangani sang Ratu! Aku punya hak memeriksa yurisdiksi Paduka! Aku meminta penjelasan segera atas situasi terkini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Komandan mencengkram Surat Izin dari tangan Louise dengan keterkejutan luar biasa di seluruh wajahnya. Mereka memang surat izin asli yang ditandatangani Henrietta yang bertuliskan.- &#039;Louise Françoise Le Blanc De La Vallière diberikan hak menjadi seorang perwakilan kerajaan. Permintaannya mesti dipenuhi.&#039; Dengan tandatangan kerajaan tertera. Sang Komandan Menatap Louise dengan kagum dan terkejut. GAdis yang begitu muda...punya dokumen yang begitu penting dari Sang Paduka..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia hanyalah seoran pelayan.Tak peduli bagaimana orang melihat, seorang atasan tetap seorang atasan. Dia langsung berdiri tegak dan melaporkan situasi mengenai Sang Paduka. &amp;quot;Dua jam lalu, seseorang menculik Sang Paduka pergi. Satu penjaga dihajar begitu mereka kabur dengan kuda-kuda. Skuad griffon tengah mengejar mereka. Kami mencari-cari disni untuk mencari bukti-bukti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kompleksi Louise berubah.&amp;quot;Kemana mereka berangkati?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mereka ke selatan lewat jalan utama. Sepertinya mereka kabu menuju distrik La Rochelle. Tak diragukan lagi, Albion punya peran dalam hal ini. Meski perintah untuk menutup pelabuhan langsung dikirim...Kesatuan Ksatria Naga hampir hancur di perang sebelumnya. Jadi satu-satunya cara mengejar mereka adalah dengan griffon atau kuda...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Naga angin lebih ringan dari griffon jadi biasanya mereka yang jadi pengejar...tapi dengan keadaan sekarang - adalah dipertanyakan apakah mungkin untuk menyusul mereka. Louise meloncat ke naga angin lagi. &amp;quot;Cepatlah! Pencuri yang menculik putri-sama melarikan diri menuju La Rochelle! Kita dalam masalah besar bila kita tak bisa menyusul mereka saat pagi tiba!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya, mendengar keadaannya, mengangguk, terlihat tegang. Tabitha memerintahkan si naga angin. Sylphid terbang memasuki kegelapan malam lagi. Louise berteriak. &amp;quot;Terbang rendah! Musuh mengendarai kuda!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si naga angin terus terbang mengikuti jalan utama dengan kelenturan yang mengejutkan. Kini malam gelap pekat, tapi meski tiada yang bisa melihat beberapa langkah ke depan. si naga angin terus terbang  menggunakan hidung tajamnya, menghindari pepohonan dan bebangunan.&lt;br /&gt;
______________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Unit griffon telah memecah jadi dua, satunya terbang di sepanjang jalan utama, yang lain mengendarai kuda. Sudah dapat diduga bahwa  Kesatuan Griffon adalah yang teringan diantara ketiga skuad dan mereka dapat melihat lebih baik saat malam. Karenanya, mereka dipilih sebagai unit pengejar. Banyak orang dalam skuad terbakar amarah. Musuh menyerang senat dibawah lindungan kegelapan. Bahkan dalam mimpi terliar mereka sekalipun, ta dapat dibayangkan bahwa seseorang berani Istana di ibukota. Terlebih lagi, adalah Ratu muda Henrietta yang diculik, seorang penerus tahta. Bagi ksatria sihit yang telah menjadi penjaga keluarga kerajaan, tiada algi coreng yang lebih dari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Griffon menggunakan kai dan sayap mereka untuk memburu ke depan. Meski keberangkatannya tertunda akibat seluruh kebingungan tadi, tetap saja musuh menggunakan kuda. Tiada alasan bagi mereka untuk tak bisa menyusul. Komandan meneriaki unitnya dengan keras. &amp;quot;Ayo Lari! Susul Paduka secepat mungkin!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekelompok unit Griffon maju memburu kedepan. Ada sebuah keributan besar diantara unit Griffon yang tadi maju. Mereka mungkin telah menemukan sesuatu. Dibawah tanda si komandan, seorang pengguna api maju dan melumcurkan sebuah mantra api. Ini menerangi jalan utama hingga 100 mail kedepan, dan dapat terlihat sosok-sosok penunggang di kejauhan. Mereka 10x banyaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Koamndan tersenyum kejam. &amp;quot;Pertama-tama, sasar kudanya! Jangan melukai Sang Paduka!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesatuan Griffon memburu maju, meluncurkan mantra bergantian. Setelah tembok mantra mengepung musuh, para ksatria meluncurkan sebuah serangan dalam seketika. Bola api, bilah angin, tombak es, semua mengarah pada kuda yang dikendarai musuh. Doh! Bumi berguncang, membuat kuda-kuda jauh satu demi satu. Si Komandan memastikan bahwa Ratu Henrietta, yang berpakaian gaun putih, menunggangi punggung kuda pertama. Dalam situasi darurat seperti ini, dia ragu - adalah penting untuk menyelematkan &lt;br /&gt;
Sang Paduka tanpa kurang satu apapun. Jika Sang Paduka terluka, dia pasti dapat beberapa bentakan keras setelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengucapkan permintaan maaf, sang komandan melantunkan mantra angin, memutuskan kaki kuda pertama dan melemparkan sang Putri dan pengendaranya ke tanah. Tanpa ampun, skuad griffon mengepung ksatria musuh yang jatuh. Leher para penculik dipotong dengan bilah angin dan tombak es menembus jantung mereka. Ksatria yang memimpin pelarian mendapati kepalanya dipotong bilah angin si komandan, sebuah luka mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertarungan telah putus dalam sesaat. Saat si Komandan mengangguk memberi tanda, unit itu berhenti. Lalu dia meloncat turun dari griffonnya. dan menghampiri ratu yang terjatuh ke rerumputam...Ksatria, yang seharusnya telah tewas, berdiri secara bergantian. Para Ksatria grifoon, yang menurunkan kewaspadaan mereka karena berpikir musuh telah dibasmi kini dikejutkan sihir musuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah!&amp;quot; erang si komandan yang mencoba menarik keluar tongkatnya saat tubuhnya ditelan topan. Lengan dan kaki diputus topan itu, menghabisi mereka dalam sesaat, begitu ksatria yang seharusnya telah dihabisi si komandan bangkit berdiri, dngan luka terbuka yang terlihat jelas di lehernya, dan tersenyum.&lt;br /&gt;
---------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Wales akhirnya menaruh tongkatnya ke sisi, dia menghapiri rerumputan dimana Henrietta jatuh. Henrietta baru saja mencoba sembuh dari kekagetan terlempar ke rerumputan.Dia menatap wales dengan mata tak percaya. &amp;quot;Wales-sama, kau...apa-apaan ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terkejut?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menghunus tongkat kristal yang selalu dibawa bersamanya dan menyasarnya pada Wales. &amp;quot;Siapa kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku adalah Wales.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bohong! Kau bunuh kesatuan ksatria sihir...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau ingin membunuhku? Tak apa-apa, Remukkan aku dengan sihirmu. Iris jantungku jika kau mau.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales menunjuk dadanya, Tangan yang menggenggam tongkat Henrietta mulai gemetaran. Mantra sihir tak keluar dari mulutnya.Yang keluar malah sebuah isakan tertahan. &amp;quot;Mengapa kau lakukan ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Percayalah padaku, Henrietta.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi...tapi, ini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan mengatakan alasannya nati. Banyak hal-hal yang menjadi sebabnya, Untuk sekarang, ikutilah aku tanpa banyak tanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Aku tak mengerti. Mengapa kau melakukan hal semacam ini...Apa yang coba kau lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales menjawab lembut. &amp;quot;Kau tak perlu mengerti. Kau tak perlu menyukai sumpah, kau hanya perlu mengikutinya. Apa kau ingat? Kalimat sumpah yang kau ucapkan di Danau Ragdorian. Kalimat yang kau ucapkan di hadapan Arwah Air.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak mungkin aku melupakannya. Aku akan mengingatnya hingga aku mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mohon ucapkan itu, Henrietta.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mengucapkan sumpah itu kata demi kata. &amp;quot;...Aku, Henrietta, putri Tristain bersumpah di hadapan Arwah Air bahwa dia akan mencintai Wales-sama selamanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hanya satu hal yang kini berubah dari sumpah di masa lalu. Kau kini seorang ratu. Tapi, bukankah yang lainnya tak &lt;br /&gt;
berubah? dan takkan berubah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mengangguk. Aku selalu hanya bermimpi saat wales akan memelukku dalam lengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meski sekarnag kini begini, sumpah yang terucap di hadapan Arwah Air tak bisa dirusak. Kau hanya perlu percaya pada kata-katamu sendiri. Mohon serahkan yang lainnya padaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiap kata-kata lembut Wales membuat Henrietta semakin menjadi seorang gadis yang tak tahu apa-apa. Henrietta terus mengangguk beberapa kali, seperti seorang anak kecil. Dia terbujuk secara sempurna. Setelahnya, Wales  bangkit dan menghampiri ksatria-ksatrianya. Dapat terlihat luka mematikan pada leher atau dada mereka. Namun...mengabaikan itu, mereka bergerak bagai makhluk hidup lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka pergi memeriksa kuda-kuda yang jatuh, tapi, mereka semua telah mati. Mereka lalu menyembunyikan diri dalam rerumputan nan tinggi, satu demi satu menghilang dari pandangan. Garis penyergapan. Tanpa berkata apa-apa, mereka dan wales membentuk garis penyergapan, dan berhenti bergerak. Tepat seperti apa yang dilakukan makhluk hidup.&lt;br /&gt;
____________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dkk terbang diatas naga angin menyusuri jalan utama hingga mereka melihat pemandangan mengerikan. Mayat-mayat betebaran dimana-mana. Si Naga angin berhenti, dan mereka meloncat turun. Tak ikut turun, Tabitha melihat-melihat sekitar dengan awas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putri.&amp;quot; ucap Saito. Mayat-mayat terbakar dengan lengan dan kaki terputus betebaran. Griffon-griffon dan kuda-kuda terbaring dalam kolam darah mereka sendiri. Ini pasti unit griffon itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada yang hidup!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dan Louise berlari menuju suara Kirche. Meski terluka dalam di lengannya, seseorang selamat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau baik-baik saja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise kini menyesal tak mengikutserakan Montmorency dengan mereka. Dalam kasus luka-luka, sihir airnya takkan tergantikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku baik-baik saja...dan kau siapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami, sama sepertimu, memburu geng yang menculik Yang Mulia. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Ksatria menjawab dengan nada gemetaran. &amp;quot;Mereka, luka mereka benar-benar parah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, si ksatria tak bisa menceritakan apa-apa lagi. Merasa lega bahwa kini bantuan telah datang, dia pingsan. Tepat saat itu, sebuah serangan sihir dilancarkan dari segenap penjuru. Tabitha langsung bereaksi. Sudah menduga bahwa akan ada serangan sebelumnya, dia menciptakan sebuah tembok udara di atas dan membuatnya terbang turun dengan sihirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluar dari reruputan, bayangan-bayangan bangkit, berayun dalam gerakan lambat. Mereka ningrat Albion yang telah tewas dan dibangkitkan oleh cincin Andvari. Kirche dan Tabitha bersiap. Namun, untuk alasan tertentu, musuh tak meluncurkan serangan lagi. Ketegangan dimulai. Lalu, Saito terkaget-kaget saat menemukan bayangan yang begitu dikenalnya disana. &amp;quot;Pangeran Mahkota Wales!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia...Wales, yang telah tewas dan diberikan nyawa palsu oleh Cromwell menggunakan Cincin Andvari, hasil curian dari Arwah Air, telah menculik Henrietta. Sambil berpikir begitu, Saito menjadi marah pada tindakan yang begitu curang tersebut. Da mencengkram Derflinger di bahunya. Tanda di tangan kirinya mulai bersinar. &amp;quot;Kembalikan Sang Putri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Wales tak mengurungkan senyumnya. &amp;quot;Kau berkata hal-hal dengan begitu yakin. Aku tak bisa mengembalikannya karena dia mengikutiku atas kehendaknya sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibelakang punggung Wales, Henrietta, berpakaian gaun, muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putri!&amp;quot; teriak Louise. &amp;quot;Tolong jangan kesana! Pangeran Wales itu bukan wales yang sebenarnya! Ia jelmaan Pangeran, dibangkitkan oleh tangan Cromwell menggunakan Cincin Andvari!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Henrietta tak melangkah maju. &lt;br /&gt;
Dia hanya menggigit dan mengeraskan bibirnya yang gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Putri?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lihat kan? Kini, bagaimana denagn sebuah kesepakatan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kesepakatan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar. Meski kami senang untuk bertengkar denganmu disini, kami kehilangan kuda-kuda kami, Dan berkelana tanpa kuda melalui malam bisa berbahaya, jadi aku ingin menyimpan sihir sebanyak mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha melantunkan mantra. &#039;Tetes berangin&#039; - mantra serangan oleh Tabitha nan ahli. Tepat di tengah-tengah perkataannya, panah es itu menembus tubuh Wales. Namun...sungguh mengejutkan, Wales tak terjerembab dan lukanya sembuh sendiri beberapa saat kemudian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tiada gunanya. Aku tak mempan oleh seranganmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, meski sudah melihat ini, ekspresi Henrietta tak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lihat! Ia bukan Sang Pangeran! Ini sesuatu yang lai! Putri!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Henrietta tak mau percaya, dan menggelengkan kepalanya dari kanan ke kiri. Lalu berkata pada Louise denagn suara tertahan. &amp;quot;Kumohon, Louise, turunkan tongkatmu. Mohon lakukan itu untukku. Mohon biarkan kami pergi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putri? Apa katamu?! Putri! Itu bukan Pangeran Mahkota Wales! Putri, kau telah ditipu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta lalu memberikan senyum, sebuah senyum nan membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kutahu itu. Dalam kamarku, saat bibir kami bertemu, aku tahu itu 100 kali. Namun, tetap saja kutak peduli. Louise kau belum pernah mencintai seseirang begitu kuat. Saat kau bena-benar jatuh cinta, kau bisa melemparkan segala yang lain. Kau ingin mengikutinya kemanapun. Meski itu sebuah dusta. Kau tak bisa melakukan yang lainnya selain percaya. Aku bersumpah, Louise. Aku membuat sumpah di hadapan Arwah Air, mengatakan &#039;Aku bersumpah mencintai Wales selamanya&#039;. Meski seluruh isi dunia mengatakan ini sebauh dusta, perasaanku sendiri bukanlah sebuah dusta. Karenanya, Biarkan kami pergi, Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putri!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini sebuah perintah, Louise Françoise. Yang terkahir, dariku padamu. Mohon, menyingkirlah dari jalan kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan Louise yang mengarahkan tongkat turun ke samping. Mengerti keputusan tegas Henrietta, dia tak bisa tidak menyerah. Mengapa dia harus menghentikna cinta yang ebgitu kuat...Garis orang-orang yang telah mati mencoba melewati Louise yang mematung. Tapi, sebelum mereka...Saito, sambil memegang Derflinger, menutup jalan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sangat sedih. Dia mengerti perasaan Henrietta. Tapi akal sehat Saito tak bisa menermianya. Pikirannya menjerit bahwa dia harus tak membiarkannya. Saito berkata dengan nada yang mengandung kesedihan dan kemarahan. &amp;quot;Putri, jika aku boleh bicara, berbicara dalam tidur tidak baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahu dan tubuhnya bergetar,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kehendak, cinta, bersama dengan seorang wanita, tak peduli hal lainnya. Apa itu cinta sejati? itu hanya kebutaan belaka. Darah memenuhi kepala dan membuatmu tak bisa berpikir lurus.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pergi! Ini sebuah perintah!&amp;quot; jerit Henrietta dengan seluruh ketegasannya yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sayangnya, aku bukan bawahanmu. Perintahmu tak berarti apa-apa untukku. Meski kau terus memerintahku...aku takkan mendengarkan. Aku akan memotong menembus mantramu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah Wales yang bergerak pertama kali. Meski dia mencoba mengucapkan sebuah mantra, Saito menerjangnya, Namun, sebuah dinding air menerbangkan saito. Henrietta yang mematung, menggenggan tongkat sambil gemetaran. &amp;quot;Aku takkan membiarkanmu menyentuh seujung jaripun dari Wales.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding air penghancur bergerak menuju Saito lagi. Namun, ruang dihadapan Henrietta meledak disaat berikutnya. Henrietta diterbangkan.&lt;br /&gt;
 Louise telah melantunkan mantra peledak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meski kau seorang putri, aku juga takkan membiarkanmu  menyentuh seujung jaripun dari familiarku.&amp;quot; Dengan rambut acak-acakan, Louise mengucapkan itu dengan nada bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak Ledakan ini, Tabitha dan Kirche, yang selama ini menonton pertunjukan dengan keterkejutan hampa, mulai ikut melantun mantra. Pertarungan dimulai. Saito terus menahan mantra sihir dengan pedangnya di hadapan Louise. Meski sihir tersebar kemana-mana, tiada yang terluka parah. Meski sihir Tabitha dan Kirche yang dilepaskan mampu menjatuhkan musuh, musuh sendiri menimpan kekuatan hati mereka, berharap melemahkan mereka sedikit demi sedikit dengan mantra titik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kerjasama musuh sangat bagus, Sedikit demi sedikit, Saito dkk tersudut. Sebelum mereka menyadarinya, Louise, Saito dll dikepung dalam lingakaran nan ketat. Mereka tersudut dalam keadaan bertahan. Jumlah musuh terlalu besar, jadi tiada kesempatan untuk menyerang. Kirche melepaskan bola api lagi, membakar habis seorang penyihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apinya mangkus! Ia hanya perlu membakar!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche meluncurkan serangan api lainnya, Tabitha menukar serangan untuk langsung melindungi Kirche, Saito juga berubah menjadi pendukung. Mantra yang terbang pada Kirche diserap Derflinger. Para musuh menyembuhkan diri dan mencoba memotongnya dengan pedang angin. Namun, api Kirche membakar habis tiga lagi dari mereka...Musuh berlari menjauh dari rentang sihir Kirche lalu berkumpul lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begini, jika kau membakar mereka dengan api sedikit demi sedikit...kita mungkin punya kesempatan menang.&amp;quot; ucap Kirche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Langit berpaling dari mereka. Perlahan, Tabita menyadari sesuatu yang basah menerpa pipnya, Dengan wajah khawatirm dia menengadah ke langit, Sebuah awan besar dari hujan mengembang di atas mereka. Hujan yang mulai turun sebagai rintik-rintik, berubah menjadi deras dalam sekejap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta berteriak, &amp;quot;Singkirkan tongkat kalian! Aku tak mau membunuh kalian!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bangunlah, putri! Kumohon!&amp;quot; teriak Louise, tapi suaranya teredan suara air hujan yang turun semakind eras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lihat! Hujan! Hujan! Mantra &#039;Air&#039; akan selalu menang dalam hujan! Berkat hujan ini, kemenangan kami sudah diputuskan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah?&amp;quot; teriak Saito tegang, Kirche, yang hendak mengatakan itu, mengangguk, menunjukkan ketidaksetujuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar-benar ini, Sang Putri dapat melantunkan sebuah dinding air pada kita dnegan ini, Apiku tak guna sekarang. Angin Tabitha dan bahkan pedangmu tak bisa melukai mereka...Yah, kini sudah selesai. Kalah!&amp;quot; Ucap Louise dengan suara tertahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meski aku tak ingin melakukan ini, ayo kabur, Kita tak bisa mati disini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi bagaimana kita bisa kabur? Kita dikeping, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya terdiam. lalu Deflinger dengan cemerlang bersuara. &amp;quot;aah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku ingat. Mereka menggunakan sihir yang sangat mengenang...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saat aku melihat sang Arwah Air, ia menggelitik sesuatu di alam pikiranku...Tidak, rekan, maaf ~ Aku lupa. Aku ingat sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sumber mereka dan kita adalah jenis sihir yang sama. Ngomong-ngomong, ia berbeda dari dasar sistem empat elemen agungmu - sihir dari &#039;hidup&#039;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Pedang legendaris! Berkatalah hanya bila kau punya sesuatu yang penting untuk dikatakan! Dasar tak bsia apa-apa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yang tak bisa apa-apa adalah kau. Meski menjadi pengguna void, menembakkan &#039;Ledakan&#039; secara terus menerus adalah tolol, aku lihat dan ingat itu, Meski orang itu bisa jadi sangat kuat, jumlah kekuatan hati yang termakan besar sekali. Seperti hari ini, meluncurkan yang gede-gedean seperti itu bisa membutuhkan setahun untuk menembak lagi. Kita perlu kembang api yang beda hari ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baliklah halaman buku doa. Wahai Brimir, orang hebat. Dia pasti punya balasan yang bagus.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie melihat-lihat halaman, seperti yang disuruh. Namun, selain &#039;Ledakan&#039; ia kosong sebagaimana biasa. &amp;quot;Ini bahkan tiada tulisan apapun! Putih diatas putih!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Balik lebih jauh. Jika diperlukan, kau akan bisa membacanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Louise menangkap halaman dimana huruf-huruf tertulis. Ia ditulis dalam aksara-aksara bahasa kuno.&amp;quot;...Mantra Penangkal?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;itu benar. &#039;Lepas&#039;. Ramuan yag kau minum sebelumnya adalah alasan mengapa kau bisa membacanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta dengan sedih menggelengkan kepalanya. Meski dia menyuruh Louise untuk melarikan diri, dia tak menurut. Terlebih lagi, Louise melangkah mendekat ke pusat lingkaran yang ketat itu. Sambil menengadah ke atas, Henrietta mulai mengucapkan sebuah mantra. Aku tak ingin membunuh jika memungkinkan, Namun, jia kau tetap menahan langkahku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan cantrip aria Henrietta, air hujan mulai menderas. Satu demi satu penihir musuh dilingkupi armor air pada diri mereka. &#039;Nyala&#039; lawan tersegel dnegan ini. Sebagai tambahan, Henrietta mengucapkan mantra lain. Mantra Wales bergabung dengannya. Wales mengamati Henrietta sambil tersenyum dingin. Meski dia menyadari kurangnya kehangatan, hati Henrietta tetap mersakan pasnas yang berembun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keduanya dikelilingi topan air. &#039;Air&#039;, &#039;Air&#039;,&#039;Air&#039;, dan &#039;Angin&#039;,&#039;Angin&#039;,&#039;Angin&#039;,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekuatan keenam. - air dan angin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peniyihir segitiga biasanay tak bisa membuat mantra kuat semacam ini. Untuk mengatakan tak pernah, bukanlah sebuah plebih-lebihan, Namun, darah terpilih dari keluarga kerajaan memungkinkan itu. Hanya keluarga kerajaan yang bisa melakukan mantra segi enam. Mantra gabungan mereka meningkat menjadi ukuran yang sukar dipercaya. Kedua segitiga bersentuhan, menciptakan sebuah puyuh besar dari yang keenam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puyuh itu bagai tsunami. Jika kena, ia bisa menerbangkan sebuah benteng sekalipun. Suara lantunan Lousie bercampur dengan suara hujan. Dibelakang punggung Saito, mantra Louise dapat dilantunkan dengan nyaman. Bagi Louise, tiada yang mustahil hari ini. Dia terus memusatkan kekuatan hatinya sambil mengucapkan aksara-aksara kuno secara bergantian dengan mulutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang slaah dengan gadis ini?&amp;quot; tanya Kirche sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah, dia hanya bertingkah sepertis ebuah legenda sekarang.&amp;quot; Saito mencengkram pedangnya dan menjawab dengan nada bercanda. Mendnegar Louise melantunkan sebuah mantra &#039;Void&#039; memberinya keberanian. Keberanian yang membuatnya tersenyum. Keberanian yang bisa merubah kematian jadi candaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi. Ini bagus begitu. Namun, bila &#039;Legenda&#039; itu tak paling tidak mengucurkan sesuatu, kita tak bisa menang melawan puyuh itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puyuh air raksasa yang berputar-putar di sekeliling Wales dan Henrietta mengembang cepat. Lantunan sunyi Louise terus berlanjut. Tepat seperti yang diharapkan dari &#039;Void&#039;. Ia panjang sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini buruk. Mereka lebih cepat.&amp;quot; gumam Deflinger.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus bagaimana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau seharusnya tahu apa yang harus dilakukan. Adalah tugasmu untuk menghentikan puyuh itu, Gandálfr.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tugas..apa?&amp;quot; wajah Saito mengernyit. Namun, dia tak takut. Keberaniannya yang membaja memenuhi seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, aku pikir-pikir,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau ketakutan oleh puyuh yang sedemikian besar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mugkin ya. Kau slaah paham, Gandálfr. Tugasmu bukan menyerang musuh tapi menjaga  tuanmu selama mantra dilantunkan. Hanya sgitu tugasmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi itu tak mudah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau mendapatkan keberanian saat mendengar mantra tuanmu, Wajahmu memerah, kau ingin tertawa keras-keras, detakmu semakin cepat. Ini semua ada sebabnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku serahkan ini padamu.&amp;quot; gumam Kirche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha mengamati wajah Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kemenangan mudah.&amp;quot; gumam Saito, &amp;quot;Aku adalah familiar si Void.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mantra Wales dan Henrietta sudah sempurna. Puyuh raksasa dari air yang berkobar terbang menuju Saito dkk, Meski besar, kecepatannya mengejutkan. Ia bagai sebuah benteng air. Benteng air yang bakal menyapu sekelilingnya dengan kejam dan menelan mereka. Sambil mencengkram Derflinger, Saito menyerbu maju menuju puyuh bagaikan langkah penari dan mendorongkan Derflinger pada inti puyuh air yang memutar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia hampir tertelan, dia berdiri tegak pada kakinya. Nyeri menjuluri tubuhnya. Dia tak bisa bernapas. Air dengan kejam menghantamnya, merobek-robek kulitnya. Namun, Saito bertahan. Kukunya tercabut. Gendang telinganya robek. Alisnya teriris, nyeri berdenyut melalui bola matanya. Dia tak bisa berapas, Lengan kanannya melepas pedang begitu sendinya patah. Derflinger tertelan air itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat semuanya tampak bakal runtuh, Louise menyelesaikan mantranya. Meski dia tak bisa mendengar maupun melihat apa-apa, Saito bisa merasakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Akhirnya, dasar.&amp;quot; gumam Saito yang lalu pingsan.&lt;br /&gt;
______________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hadapan mata Louise, yang menyempurnakan mantranya, sebuah puyuh raksasa mengamuk. Namun, itu tak mencapainya. Saito berdiri dianta topan itu, dan dia bisa melihat Saito mati-matian menahan nyeri. Akhirnya Saito kalah pada kekuatan alam yang mengamuk dan rebah ke tanah sebelum air terjun raksasa itu meninggalkan celah kecil didalamnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menggigit bibir, Melalui celah itu, dia arahkan &#039;Sihir Penangkal&#039; pada musuh. Sekeliling Henrietta berubah jadi cahaya bersinar nan kemilau. Denagn sebuah dug, tubuh Wales, yang berdiri di sebelahnya, rebah ke tanah, Meski Henrietta mencoba berlari menyongsongnya, dia pingsan sebagai bayaran mantra yang memakan seluruh kekuatan hatinya dan terantuk ke tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika, suasana dilingkupi keheningan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab8&amp;diff=435054</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Bab8</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab8&amp;diff=435054"/>
		<updated>2015-04-03T07:54:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 8 - Reuini Yang Kebohongan Semata==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta yang hampir telanjang tengah berbaring di kasur. Yang dikenakannya hanyalah sebuah chemise tipis. Kamar yang ditempatinya dulu dimiliki ayahnya, Raja yang telah berpulang. Tapi dia mulai menggunakannya setelah menjadi ratu. Disamping kasur yang berkanopi raksasa ada meja kesukaan ayahnya. Dia perlahan mengulurkan tangannya dan meraih botol anggur. Setelah menuangkannya ke cangkirnya, dia menenggaknya sekali teguk. Sebelumnya, dia telah meminum alkohol secara ringan saat dia makan...tapi setelah menjadi ratu, jumlah yang diminumnya meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Henrietta yang tak lain hanya merupakan hiasan bagi pemerintah, ditanyai soal keputusan adalah sesuatu yang dia khawatirkan. Kebanyakan keputusan dibawa padanya dalam keadaan matang, tapi meski begitu, yang menyetujuinya adalah dia. Apalagi, meski aktivitasnya tengah menurun, perang masih berjalan. Meski dia hanya penguasa hiasan, tanggung jawab yang begitu banyak telah membebaninya. Henrietta masih menangani tekanan itu. Dia tak bisa tidur tanpa minum. Dia tak bisa menunjukkan ini pada wanita senat penasihatnya atau  pejabat-pejabatnya, jadi dia meminum anggur tersembunyi itu di malam buta. Sekali lagi, dia menuangkan anggur kedalam cangkirnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mungkin minum terlalu banyak. Dia berpikir sambil mengantuk dalam mabuknya. Dengan hening dia melantunkan sebuah mantra dan mengayunkannya ke bawah pada cangkir yang tadi dituangkan anggur. Air mengalir dari ujung tongkatnya dan mengisi cangkir.  Ini sebuah mantra untuk mengembalikan uap air di udara menjadi cairan kembali. Ia sebuah mantra dasar dari unsur air. Airnya kepenuhan dan tumpah dari cangkir. Mungkin karena mabuknya, dia tak bisa mengendalikan jumlah yang dituangkannya. Dia meminum semuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta yang pipinya tercelup pink, terbaring dalam kasurnya sekali lagi. Saat dia mabuk, apa yang diingatnya adalah...hari-hari yang menyenangkan itu. Hari-hari penuh kilau. Sedikit dari waktunya dimana dia benar-benar merasa hidup. Waktu nan pendek musim panas dimana dia 14 tahun. Kata-kata yang ingin didengarnya sekali saja...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau tak mengucapkannya saat itu?&amp;quot; tanya Henrietta, menutupi wajahnya dengan kedua tanannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, orang yang akan mengatakannya tak lagi disini. Tidak dimanapun di dunia ini. Dia rasa bahwa kemenangan mungkin menyembuhkan kesedihan. Dia pikir bahwa keja seorang ratu yang melelahkan dapat membuatnya lupa akan itu. Tapi, dia tak bisa melupakannya. Kemenangan gemilang, kata-kata pujian, teriakan orang-orang yang menghormati dan mencintainya sebagai seorang suci...tak bisa menandingi satu kata itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar, air matanya menetes. Oh tidak, pikirnya. Pagi esok akan datang cepat. Ada perundingan dengan duta Germania. Bagi Tristain dan Henrietta yang menginginlan perang tolol ini segera berakhir, ini adalah perundingan yang penting. Aku tak bisa menunjukkan wajahku yang basah dengan airmata.Aku tak bisa lagi menunjukkan sisi lemahku pada siapapun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengusap airmatanya. Dan saat dia menggapai cangkir anggurnya lagi...Ada sebuah ketukan di pintu. Siapa ini yang datang malam buta begini? Apa masalah muncul lagi? Ini mengganggu, tapi aku tak bisa mengabaikannya, Albion mungkin telah melepas armada mereka lagi. Henrietta memakai gaunnya dengan sikap mengantuk dan bertanya dari kasurnya. &amp;quot;La Porte? Ataukah Kardinal? Ada apa, di malam nan buta begini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiada jawaban. Sebagai gantinya, ada ketukan lain. Jika ini bukan Pejabat tertinggi atau Kardinal, lalu siapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa ini? Sebutkan dirimu. Bagi orang yang mengunjungi ruangan Ratu begitu telat saat malam, tak munkin tak bisa menyebutkan diri mereka. Kini, bicaralah, Kalau tidak, aku akan memanggil yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat kata-kata itu masuk telinganya, ekspresi wajah Henrietta menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya aku minum terlalu banyak. Ini tak aik, untuk mendengar halusinasi begitu jelas...&amp;quot; Sambil menggumamkan itu, dia menempatkan tangannya di dada. Tapi, kuatnya degupan jantungnya tak berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini aku. Ini aku, Henrietta. Bukalah pintu ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta buru-buru ke pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pangeran Wales? Tak mungkin. Kau seharusnya tewas di tangan seorang pengkhianat...&amp;quot; Dengan suara bergetar, dia mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu sebuah kesalahan. Da aku, selamat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu sebuah dusta. Dusta. Bagaimana bisa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku telah melarikan diri. Yang mati itu adalah...samaranku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu...Meski, Rubi Angin...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta memeriksa cincin itu, sebuah kenangan dari Wales, yang ada di jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk mengecoh musuhmu, kau harus mulai dari temanmu, kan? Yah, bisa dimengerti bila kau tak mempercayaiku. Maka, aku akan memperdengarkanmu bukti bahwa aku adalah aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ssambil gemetaran, Henrietta menunggu perkataan Wales.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di malam saat angin bertiup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata kunci yang begitu sering didengarnya di Danau Ragdorian. Henrietta langsung membuka pintu, bahkan sampai lupa menjawabnya. Senyum yang dimimpikannya berulang kali berdiri disana. &amp;quot;Ooh, Pangeran Wales...Kau benar-benar selamat...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi kemudian tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Henrietta dengan erat memeluk dada Wales, Lalu menempatkan wajahnya disitu dan terisak. Wales dengan lembut menepuk-nepuk kepalanya. &amp;quot;Kau selalu sama, Henrietta. Benar-benar cengeng.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu karena, Aku pikir kau benar-benar sudah mati...Mengapa kau tak berkunjung lebih cepat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Setelah kalah, aku kabur menggunakan sebuah kapal. Aku bersembunyi di huatan Tristain sampai saat ini. Aku tak bisa membiarkan musuh menemukan keberadaanku, jadi aku mengubah tempatku beberpaa kali. Aku datang ke tanah di mana benteng tempat kau hidup berada dua hari lalu...Adalah memakan waktu untuk memeriksa kapan kau akan sendirian. Tak mungkin aku bisa hanya berdiri di ruang tunggu sebagai seorang hadirin di waktu siang, kan?&amp;quot; Wals tersenyum menggoda saat mengatakan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebagaimana biasanya, kau selalu jahat. Kau tak mengerti...Seberapa dalam aku bersedih...Seberapa sendirian aku rasa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengerti. Itulah mengapa aku datang untuk mengunjungimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sesaat, Henrietta dan wales berpelukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau bisa datang ke benteng ini sebanyak yang kau mau. Albion tak punya kekuatan untuk menyerbu Tristain saat ini. Yah, armada andal mereka telah hancur. Benteng ini adalah tempat teraman di Halkegenia. Musuh tak bisa menyentuhmu seujung jaripun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;tak bisa seperti itu.&amp;quot; Wales tersenyum ceria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang akan kau lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku harus kembali ke Albion.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hal yang sangat bodoh! Ini seperti membuang sia-sia nyawa yang nyaris saja terlepas dari genggaman!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meski begitu, aku harus kembali. Aku harus membebaskan Albion dari tangan Reconquista.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Omong kosong!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini bukanlah sebuah omong kosong. Untuk alasan itu, aku datang menemuimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kekuatanmu diperlukan untuk pembebasan Albon. Ada orang-orangku di sana juga, tapi...Lebih dari itu, aku perlu seseorang yang bisa kupercaya. Kau akan pergi denganku, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak mungkin...Aku senang dengan perkataanmu, tapi itu mustahil. Aku bisa pergi berpetualang begitu saat aku seorang putri, tapi kini aku seorang ratu. Entah aku suka atau tidak, negara dan rakyat ada di pundakku. Mohon jangan katakan yang tak mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Wales tak menyerah. Dengan perkataan yang lebih manis, dia mencoba meyakinkan Henrietta. &amp;quot;Aku tahu ini mustahil, Tapi, kau penting untuk kemenangan. Di tengah-tengah kekalahan perang, aku menyadarinya. Tentang betapa butuhnya aku padamu. Aku perlu sang &amp;quot;Santo&amp;quot; yang akan membawa kemenangan bagiku dan Albion.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta merasa suatu panas mengaliri tubuhnya. Dia dibutuhkan oleh orang tercintanya. Mabuk dan kesendirian mengompori kehendak yang mengembang dalam dirinya. Meski begitu, Henrietta sekeras hati menjawab. &amp;quot;Jangan menggangguku lagi. Mohon tunggulah, aku akan mendatangkan orang-orang dan menyiapkan tempat tidur untukmu. Besok, sekali lagi, kita bisa merundingkan hal ini, perlahan...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales menggel;engkan kepalanya. &amp;quot;Kita takkan tepat waktu besok.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Wales dengan mudah mengucapkan kata-kata yang selalu ingin didengar henrietta.&amp;quot; Aku mencintaimu, henrietta. Itulah mengapa, ikutlah denganku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantung Henrietta mulai berdetak dengan irama yang sama saat dia dan wales bercengkrama di Danau Ragdorian. Wales perlahan mendekatkan Bibirnya pada Henrietta. Pada Bibir Henrietta yang mencoba mengatakan sesuatu, wales menyegelnya. Dalam alam pikiran Henrietta, dia mengingat lagi semua ingatan manis itu. Karena itu, Henrietta tak menyadari sihir penidur dimantrakan padanya. Masih merasa bahagia, Henrietta jatuh ke alam mimpi.&lt;br /&gt;
__________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, di saat yang sama...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam salah satu kamar di asrama putri di Akademi Sihir Tristain, Montmorency tengah berusaha sekuat mungkin meramu sesuatu selama Saito dll menontonnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selesai~! Fuu! Tettap saja, itu benar-benar sulit~!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengusap keringat dari dahinya, Montmorency menjatuhkan diri ke kursinya. Dalam pot di atas meja ada obat penawar yang baru saja dia ramu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apakah untuk meminumnya seperti ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengambil pot itu, Saito membawanya ke ujung hidung Louise. Louise mengerut karena baunya. &amp;quot;Baiklah, Louise. Minum ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak. Ini bau luar biasa busuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menggelengkan kepalanya. Sial, aku seharusnya mencampurnya dengan sesuatu dan membuatnya minum ini tanpa sadar. Untuk membuat anak-anak makan wortel, kau memotong-motongnya dan mencampurnya dalam hamburger.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayolah. Minum ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku minum ini, apa kau akan menciumku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menganggauk, menyadari dia tak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;OK. Jika kau meminum ini, aku akan menciummu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menjawab. &amp;quot;Aku mengerti&amp;quot;, dan mengambil pot itu. Dia melihat sisinya dengan ekspresi jijik sebentar, tapi dia menutup matanya dengan tegas dan meminum seluruhnya. Montmorency, menyaksikan ini, mecolek Saito. &amp;quot;Untuk sekarang, bukankah lebih baik jika kau kabur?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena ingatan dari waktu saat dia tergila-gila padamu setelah meminum ramuan cinta tak menghilang. Dia ingat semuanya. Louise itu ingat segala yang dilakukannya dan apa yang dilakukan padanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menegang dalam keterkejutan dan melihat ke arah Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise ber&amp;quot;Buhwa!&amp;quot; setelah meminum semuanya, lalu dia cegukan sekali. &amp;quot;Funya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, sekan roh jahat telah meninggalkannya, ekspresi wajahnya kembali normal secara sempurna. Melihat Saito di hadapannya. wajahnya tiba-tiba memerah. Mengunyah-ngunyah bibirnya, dia mulai gemetaran. Saito mengucapkan. &amp;quot;Ya Tuhan,&amp;quot; dan mencoba menyusup keluar .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tunggu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maaf, tapi makanan untuk merpatiku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau bahkan tak memelihara merpati seekorpuuuuuuuuuuuuuun!!!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Louise menggema. Ini buruk. Aku akan dibunuh. Saito membuka pintu dan brlari menuruni tangga seakan-akan dia berguling-guling. Namun, Louise yang sekarang bergerak secepat kilat. Melompat dari landaian tangga, dia menyasar sebuah tendangan ke arah bawah tangga pada punggung Saito. Saito berputar kincir, berguling ke lantai pertama, dan menghantam lantai dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untungnya, ini adalah jalan masuk asrama putri. Dia mencoba kabur dengan merangkak, tapi, sebagaimana biasa, punggung lehernya diinjak erat oleh kaki Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Aku tak melakukan kesalahan apapun! Ini tak bisa dielakkan! Ini salah obat itu! Kita sama-sama tak senang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabpa menjawab balik, Louise menarik parkanya ke atas. Lalu dia menarik kaosnya. Menemukan tanda cium yang lebih banyak lagi, wajahnya semakin memerah. dia membuat ini sendiri. Ini adalah, Ini adalah-Ini adalah...bagiku untuk melakukan hal seperti ini...Dia menelusur punggung lehernya dengan jarinya. Tanda yang sama oleh Saito ada disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan malu dan marah pada dirinya bercampur, akal sehat Louise melayang. Pada akhirnya, yang menerima kemarahannya yang tak beralasan adalah tubuh saito. Jeritan Saito bergema di udara.&lt;br /&gt;
_________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sebuah bangku di Plaza Austria, Saito tengah berbaring tak bergerak disana. Dia terluka hingga koma, dan setengah mati. Dia terkadang berkejut, jadi dia belum mati. Disampingnya adalah Louise yang akhirnya tenang kembali, duduk di ujung bangku, yang tengah memerah pipinya dan berpikir tentag sesuatu sambil manyun seakan dia marah.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kedua bulan telah terbit dan bersinar pada keduanya dengan lembut. Namun, udara yang mengitari keduanya jauh dari lembut dan terasa aneh, panas, dan melumpuhkan. Dengan kata lain, uadara diantara keduanya telah kembali normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau puas sekarang?&amp;quot; ucap Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ji-jika aku normal, aku pasti takkan melakukan sesuatu seperti itu! Beneran! Hmph!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu itu.&amp;quot; ucap Saito dengan nada kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, akhirnya Louise menyadari bahwa itu bukanlah salah Saito sama sekali. Meski begitu, dia membiarkan Louise melakukan apa yang dia lakukan dan menerima amukannya. Pipinya bengkak. Apa dia baik-baik saja? Meski dia yang mencederainya, dia merasa tertahan untuk merawatnya, Tapi...itu benar-benar memalukan. Ingatan dari saat-saat setelah dia meminum, ramuan cinta menahannya untuk menghampiri Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi mengapa familiar ini membiarkan dirinya dipukuli ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau adalah kau juga. Kau tak harus patuh dan dihajar olehku hingga jadi begini, kan? Sheesh! Melawanlah sedikit! Aku kelewatan, tahu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Tak apa-apa.&amp;quot; ucap Saito dengan nada kecapean.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Karena jika aku melakukan itu, kau takkan merasa puas, kan? Aku mengerti yang kau rasakan. Yah, kau mengikuti seorang lelaki yang bahkan kau tak suka begitu dekat, dan kau bahkan melakukan hal ini dan itu. Untuk seseorang yang berharaga diri tinggi sepertimu, tak mungkin kau bisa memaafkannya, kan? dan tetap saja, kalau dilihat kebelakang, aku punya sedikit tanggung jawab saat membuatmu marah...Sudahlah, tak usah mengkhawatirkan soal itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wow, bukankah itu kata-kata yang manis. Meski aku mehajarnya begitu parah. Itu datang menembusnya. Tapi, perkataan yang keluar adalah kebalikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-aku tak mengkhawatirkannya. Beneran, aku hanya ingin cepat-cepat melupakannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haa, mengapa aku tak bisa jujur? pikirnya. Louise lalu menanyakan satu hal yang selama ini mengusiknya. &amp;quot;Hei, apa aku bisa menanyaimu sesuatu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentang apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saat aku, yah, dalam keadaan dimana aku tak bisa hidup tanpamu berkat obat itu...mengapa kau tak, um, me-me-melakukan apapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito blingsatan menjawabnya, &amp;quot;Itu karena, itu bukanlah kau. Aku tak bisa melakukan sesuatu padamu yang bukan kau. Aku tak bisa takluk pada hawa nafsu dan mencemari seseorang yang penting bagiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan bahwa dia penting, pipi Louise memerah. Tapi dia tak bisa menunjukkan wajah ini padanya. Louise membuang muka. Tapi, dia benar-benar penasaran. Mengapa aku penting? Hei...mengapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Me-mengapa, mengapa aku penting?&amp;quot; tanyanya dengan suara bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya...kau menyediakan makanan dan tempat untuk tidur.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa...&amp;quot;Dia merasa kecewa. Yah, itu masuk akal. Aku malu hingga aku bergairah untuk sesat, Louise telah membuang muka dari Saito, jadi dia tak menyadari Saito mengatakan itu dengan wajah nan merah. Tetap saja, dia seorang familiar yang tetap memanggilku, tuannya, &amp;quot;penting&amp;quot; setelah dilukai begitu parah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi sedikit lebih jujur, Louise meminta maaf dengan sikap ngambek. &amp;quot;..Maafkan aku. Aku takkan marah lagi. Kau punya hak melakukan sesuatu secara bebas juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau mau jujur, dia tak mau mengatakan ini, Dia teringat saat-saat ramuan cinta mengendalikannya. Itu mungkin adalah kehendaknya yang sebenarnya, pikirnya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa. Kau bukanlah kau jika kau tak marah. Lakukanlah semaumu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, keduanya terdiam. Tak bisa menahan suasana itu, Louise akhirnya merubah topik pembicaraan. &amp;quot;Haa, tetap saja, memang penuh kenangan...Danau Ragdorian itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah kesana sebelumnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eeh. Saat aku 13. Ada perayaan saat aku menemani sang Putri. Sebuah Pesta Kebun nan megah diselenggarakan saat itu...itu benar-benar hidup dan mewah. Itu sangat menyenangkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie menarik dasar-dasar ingatannya dan mulai bicara. &amp;quot;Kau tahu, Danau Ragdorian adalah tempat dimana Pangeran Wales dan sang Putri bertemu. Di malam butam sang Putri mengatakan padaku &#039;Aku ingin keluar jalan-jalan, jadi aku perlu menyusup keluar dari kasur. Aku sangat menyesal, tapi Lousie, bisakah kau berbaring kasur menggantikanku?&#039; dan aku bertindak sebagai penggantinya. Kalau dipikir-pikir sekarang, itu mungkin saat mereka bercengkrama.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Louise mengatakan itu, sebuah suara keras bergema dari belakang bangku. Dar lubang yang digali tikus tanah yang pernah digunakan sekali oleh Louise untuk mengawasi Siesta dan saito, rambut merah Kirche menyembul. Tabitha berada disampingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu dia! Aku ingat sekarang! Itu Pangeran Wales!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa katamu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa! Kalian berdua nguping?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ehehehe,&amp;quot; Kirche merangkak keluar lubang sambil menyeringai. &amp;quot;Iyaah, Aku ingin melihat kalian berbaikan satu sama lain...melodrama setelah kau menghajarnya begitu parah. Bukankah itu tampak menarik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ga mungkin sama sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Louise dan Saito bersemu merah. Kirche mendekati bangku sambil mengangguk-ngangguk. &amp;quot;Itu benar. Kupikir aku melihat wajahnya sebelumnya entah dimana. Ihaay, jadi begitu toh. Itu pembunuh wanita asal Albion, Pangeran Wales.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche telah melihat wajahnya saat Upacara penobatan Kaisar Germania. Saat itum dia duduk di kursi tamu, memancarkan senyum bangsawan yang menyilaukan ke sekitarnya. Doa akhirnya ingat sekarang, jadi Kirche puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau maksud dengan &#039;Itu adalah Pangeran Wales&#039;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menjelaskan pada Saito dan Louise. Bagaimna mereka berpapasan dengan sekelompok orang yang menunggangi kuda saat menuju Danau Ragdorian. Bagaimana dia ingat melihat wajah itu entah dimana tapi tak bisa mengingatnya dengan baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi aku ingat sekarang. Itu adalah Pangeran wales, Ada pengumuman bahwa dia tewas dalam pertempuran, tapi dia hidup~.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu mustahil! Pangeran seharusnya telah tewas! Aku disana, menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche tak melihat Pangeran Wales tewas, jadi dia sebenarnya tak merasakan kematiannya dari tangan pertama. Karenanya, dia menanyai Saito dengan sikap bercanda. &amp;quot;Oh? Benarkah begitu? Lalu, siapa yang kulihat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau tak tertukar dengan orang lain?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak mungkin bagiku untuk salah mengira si ganteng itu dengan orang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teat saat itu, sesuatu tersambung dalam kepala Saito. Hal yang sama juga terjadi pada Louise. Keduanya berpandangan. Kata-kata yang Arwah Air ucapkan...Ada seseorang bernama &amp;quot;Cromwell&amp;quot; dalam kelompok yang mencuri Cincin Andvari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cincin Andvari...Jadi, Benar-benar Reconquista yang...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, Kirche. Hendak kemana kelompok itu?&amp;quot; tanya Louise, kehabisan napas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditekan sikap serius keduanya, Kirche menjawab.&amp;quot; Dia berpapasan dengan kami, jadi, mari kita lihat, menuju ibukota, Tristain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise berlari. Saito mengikuti setelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tunggu! Apa yang tengah terjadi?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sang Putri dalam masalah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa~?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche dan Tabitha tak tahu soal hubungan rahasia Wales dan Henrietta, jadi mereka tak mengerti arti dibalik kata-kata itu. Tapi, penasaran dengan sikap Louise dan Saito yang tak biasa, Mereka mengikuti keduanya.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab7&amp;diff=435053</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Bab7</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab7&amp;diff=435053"/>
		<updated>2015-04-03T07:53:29Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 7 - Cincin Andvari==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito yang matanya telah disembuhkan mantra air Montmorency, telah mulai bertanya pada Kirche, yang sedang memasak daging dengan Tabitha disekitar api unggun. Guiche tampak mabuk sempurna dan telah berbicara sendiri keras-keras dengan segelas anggur di tangannya. Sepertinya dia terlalu mabuk untuk berkelana. Kini sudah lewat tengah malam, dan rembulan kembar berkilau dengan indahnya di permukaan danau. Ia pemandangan yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche mendekati Saito dan menanyakan apa kulanya sudah pulih. Meski Saito merasa agak tak enak karena kalah, dia tak bisa tidak mengakui kerja sama keduanya. &amp;quot;Kau benar-benar hebat, kami tak punya kesempatan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalah menang juga bergantung pada keberuntungan. Jika keberuntunganmu lebih baik, kami hanya bisa kabur. Lagipula, kau bertarung sendirian, Guiche tak berguna, Montmorency hanya menonton, dan Louise hanya mengirimkan &lt;br /&gt;
hantaman terakhir.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche dengan bangga menyisiri rambutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi mengapa kau menyerang sang Roh Air?&amp;quot; tanya Saito, duduk dekat api unggun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kalian perlu melindunginya?&amp;quot; tanya Kirche balik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise, yang telah menggosok-gosokkan dirinya ke peunggung Saito untuk beberapa waktu, menarik lengan parkanya dengan sedih. &amp;quot;Kau pikir Kirche lebih baik dariku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahj! Tidak - Itu tidak benar! Aku hanya menanyakan apa yang sedang terjadi! Mengapa kau tak pergi tidur saja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak mungkin, aku tak perlu istirahat! Apa kau tak ingin ngobrol denganku? Itu kali ke-32 kau bilang agar aku tidur hari ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya Louise telah mengitung kata-kata yang diucapkan saito padanya. Meski sedikit menakutkan, Saito merasa Lousie benar-benar manis saat itu. Tapi kini dia tengah sibuk sehingga dia dengan lembut menaruh tangannya pada bahu Louise dan berbicara seakan Louise seorang anak kecil:&amp;quot; Kita bisa bicara nanti, kau seharusnya pergi tidur. Kau baru saja melantunkan mantra yang hebat, apa kau tak lelah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie dengan lucunya membentuk libngkaran dengan jarinya pada dada Saito. &amp;quot;Kalau begitu...bejanjilah padaku dengan sebuah ciuman.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Apa...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cium aku atau aku takkan pergi tidur.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menatap mereka dengan mulut menganga. Guiche dan Montmorency saling memandang sambil mesem-mesem. Kirche dan Tabitha masih tak tahu apa yang telah terjadi. saito dengan enggan mencium pipi Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menggembungkan pipinya dan berkata tegas. &amp;quot;Pipi saja tak cukup!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito merasa sangat aneh, akan sangat memalukan bila mencium Louise langsung di bibir saat semuanya menonton. Dia berfikir untuk sesaat dan akhirnya mencium dahi Louise. Louise tak cukup puas, tapi dia merangkak ke pangkuan Saito, mengistirahatkan dirinya diantara lutut Saito dan menyenderkan tubuhnya pada dada saito, lalu menutup matanya. Sebentar setelahnya, napasnya melambat dan dengkuran ringan keluar dari bibir pinknya yang agak menganga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kau bisa menjinakkan Louise hingga jadi begini? Aku tak pernah terfikir bahwa kau lelaki yang bisa menaklukkan seorang gadis, tapi kini dia sudah memperlakukanmu bagai seorang dewa!&amp;quot; tanya Kirche terkagum-kagum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini tak seperti itu, Montmorency membuat ramuan cinta dan Louise meminumnya secara tak sengaja. Orang yang pertama kali dilihatnya adalah aku dan kini dia jatuh cinta denganku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ramuan cinta? Mengapa kau membuat barang semacam itu?&amp;quot; tanya Kirche pada Montmorency, yang tengah mengunyah daging.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Oh, aku hanya penasaran untuk melihat apakah aku bisa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency telah menghindari pertanyaan dengan jawaban yang biasa...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Benar-benar deh. seorang wanita yang tak percaya pada auranya adalah yang terburuk. Bukankah begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Matilah kau! Lagipula, ini semua salah guiche, jika dia yang meminumnya, kita tak perlu mencari penawarnya saat ini!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau mengatakan, sejak awal ini memang salahku?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menjelaskan keadaannya pada Kirche. Untuk membuat penawarnya, mereka perlu airmata Roh Air. Dan sebagai imbal;annya, mereka perlu melawan para penyerangnya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi begitu toh, itulah mengapa kau melindungi sang Roh Air/&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menatap aneh Tabitha yang tengah memandangi api unggun dengan ekspresi merasa disudutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Ini buruk; kami tak bisa melawanmu, tapi jika kami tak menghentikan sang Roh Air, keluarga Tabitha bakal bermasalah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa perlu untuk menyingkirkannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibujuk oleh saito, Kirche menjawab dengan enggan. Dia sudah pasti tak bisa secara terbuka menceritakan soal urusan pribadi keluarga Tabitha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu, permukaan air telah menyebabkan kerusakan pada daerah sekitarnya. Keluarga Tabitha telah menderita karena kerusakan ini sehingga kami dipercayai untuk menyingkirkannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi begitu toh. Mereka tak bisa pulang dengan tangan kosong. Lalu bagaimana&lt;br /&gt;
 seharusnya mereka menanganinya ya...Saito memikirkannya sebentar dan berkesimpulan.&amp;quot;Tak apa, kalian bisa berhenti menyerang sang Roh Air dan kita bisa mencari tahu mengapa sang Roh Air menaikkan permukaan air begitu tinggi dan memintanya menghentikannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sang Roh Air bakal mendengarkan kita?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pagi ini, kami berunding dengannya dan ia setuju memberikan kami sebagian tubuhnya jika kami menghentika para penyernagnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche memikirkannya sebentar lalu menanyai Tabitha, &amp;quot;Asalkan banjir berhenti dan dataran kembali pada keadaannya semula, apa itu bisa/&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus, sudah diputuskan! Kita akan berunding besok!&amp;quot;&lt;br /&gt;
_____________________________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi-pagi keesokan harinya, Motmorency, seperti hari sebelumnya, melepas familiar katak mungilnya kedalam danau untuk memanggi sang Roh Air. Air terpisah dan sang Roh Air muncul memcah kabut pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Roh Air, para penyerang takkan lagi mengganggumu, sebagai bagian dari persetujuan kita, berikanlah sebagian tubuhmu!&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Montmorency selesai berbicara, tubuh sang Roh Air gemetar dan secuplik tubuhnya terlepas sebagai tetesan dan masuk kedalam vial yang dipegang Guiche. Janji telah dipenuhi, sang Roh Air kembali tenggelam kedalm danau. Namun Saito dengan cepat memanggilnya untuk berhenti.&lt;br /&gt;
 &amp;quot;Mohjon tunggu! Aku ingin meminta sesuatu padamu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Roh Air bangkit dari permukaan air, mengambil, ini yang tak disenangi Montmorency, bentuk telanjang Montmorency sekali lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa, manusia nan rendah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau meninggikan permukaan air? Tolonglah, apa ada alasan yang bisa kau ceritakan pada kami? Kami bisa membantumu jika kau menghentikan semua ini.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh sang Roh Air membengkak dan berubah-ubah posisi. Ia terus-menerus merubah-ubah sikap dan ekspresi &#039;Montmorency&#039; yang seoertinya menunjukkan perasaan. Mungkin, bentuknya menunjukkan pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan memikirkan soal memercayakan tugas ini padamu. Karena kau memnuhi kontrak kita sbelumnya, kupikir aku bisa memercayaimu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba nampak marah, sang Roh Air berhenti, Saito tak berkata apapun, menunggu sang roh untuk melanjutkan. Setelah berubah bentuk beberapa kali, sang Roh Air telah membentuk tubuh Montmorency lagi dan melanjutkan ucapannya. &amp;quot;Dahula kala, seseorang dari kalian mencuri salah satu hartaku.&#039;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebuah harta?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, milikku yang paling penting tercuri dari bagian terdalam danauku, sekitar 30 bulan sebelum bulan sabit.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekitar 2 tahun lalu...&amp;quot; gumam Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau hedak balas dendam pada manusia dengan meninggakan permukaan air dan membanjiri desa-sesa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Balas dendam? Jenis kami rak punya maksud semacam itu. Aku hanya mencoba mengambil kembali hartaku, dan bahkan bila ia perlu waktu selamanya, air akan perlahan membanjiri daratan. Bahkan jika perlu untuk menenggelamkan seisi benua, aku akan mendapatkan kembali apa yang direbut dariku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau hendak melakukan sampai sebegitunya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sudah keterlaluan, sang Roh Air hendak menenggelamkan seisi benua untuk mengambil kembali hartanya, proses yang bisa memakan waktu ratusan, bahkan ribuan tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau sabar sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Konsep kami tentang waktu berbeda, untukku, selamanya sama dengan kini. Seluruh waktu sama bagiku, tak peduli masa kini atau masa depan, ia pasti datang. Ia tak memiliki perbedaan karena aku selalu ada.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Roh Air tampaknya tak memiliki konsep kematian. Waktu dengan skala begini takkan terbayangkan &lt;br /&gt;
oleh manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, kami bisa membantumu mengambil kembali harta itu. Harta apap itu?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hartaku adalah Cincin Andvari, ia telah bersamaku sampai saat ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Rasanya aku pernah mendengarnya.&amp;quot; ucap Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebuah barang sihir legendaris dari sistem air. Katanya ia bisa memberikan nyawa palsu pada mayat...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu tak salah, tapi kematian adalah konsep yang tak kupahami, karenanya, aku tak bisa mengerti gambaran yang kau berikan, Cincin Andvari tak hanya memberikan nyawa palsu, ia juga perwujudan &amp;quot;Kekuatan air&amp;quot; kuno, ia bukan barang sihir biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu siapa yang mecurinya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengan menggunakan sihir angin, beberapa manusia datang ke tempatku. Mereka tak menggangguku yang tengah terlelap dan merampas barangku yang paling berharga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kau bahkan tak tahu nama mereka?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Salah satu dari mereka bernama Cromwell.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche berkata pada dirinya sendiri, &amp;quot;Kalau tak salah, dia kan Kaisar Baru Albion.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya ecuali Saito hanya bisa saling memandang tak tahu harus bagaimana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa dia orang yang berbeda? Ada kemungkinan dua orang bernama sama...Jika dia mendapatkan kekuatan nyawa palsu, kira-kira untuk apa ya dia bakal menggunaannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mereka yang bangkit kembali akan kehilangan kebebasannya. Mereka harus mematuhi pemilik cincin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar-benar cincin iblis, mengendalikan yang telah mati adalah kekuatan yang menjijikkan.&amp;quot; kata Kirche dengan nada rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche terus bergumam sendiri, dia merasa dia teringat sesuatu tapi tak dapat menerangkannya dengan jelas. Saito mengangguk yakin, lalu berbalik menghadap Sang Roh Air. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengerti. Mohon hentikan menaikkan permukaan air dan aku jamin aku akan mengembalikan cincinmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Roh Air gemetara, &amp;quot;Aku mempercayaimu, jika kau bisa membawa kembali cincin itu, aku takkan lagi menaikkan permukaan air.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu kapan aku harus sudah mengembalikannya padamu?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, Sang Roh Air menggelengkan kepala dan gemetaran. &amp;quot;Sebelum hidupmu berakhir, selain itu aku tak peduli.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak apa-apa dengan waktu yang begitu lama?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak peduli, bagikum besok tiada bedanya dengan bagian lain dari masa depan.&#039; Setelah mengatakn itu, Sang Roh Air kembali ke dasar Danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat itu, Tabitha menahannya dengan memanggilnya. &amp;quot;Mohon tunggulah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya menatap Tabitha dengan heran dan kaget. Meski dia selalu bersama mereka sampai saat ini, ini kali pertama dia berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Roh Air, aku inginmenanyakan sesuatu padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa pertanyaanmu?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami para manusia selalu menyebutmu sebagai &amp;quot;Roh dari Sumpah&#039;, Aku ingin tahu alasannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wahai manusia nan rendah, keberadaan aku dan kau sangat jauh berbeda. Aku tak dapat mengerti pertanyaanmu secara penuh, tapi aku bisa menngira-ngira. Keberadaanku inilah yang merupakan alasan untuk nama itu. Aku tak punya bentuk yang tetap, namun aku takkan pernah berubah. Dari generasi ke generasi yang tak terhitung jumlahnya, aku selalu berada disini, di air ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Roh Air gemetaran saat berbicara. Suaranya menggema di udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena kau tak berubah selamanya, pastilah kau akan selamanya membawa harapan kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha mengangguk, lalu mengejapkan matanya. Pada akhirnya, kepada siapa dia bersumpah? Kirche dengan lembut menaruh tangan di bahunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency yang melihat hal ini, langsung menepuk Guiche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cepatlah, bersumpahlah juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sumpah apa?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pikir untuk apa aku membuat ramuan cinta itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mmm! Ah...Aku bersumpah bahwa aku akan mendahulukan Montmorency di atas yang lainnya mulai saat ini dan seterusnya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menepuk Guiche lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Owww...Ah...! Apaan sih! Sumpah lho!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak ingin diatas yang lain, aku ingin jadi satu-satunya. Bersumpahlah kau hanya mencintaiku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche memaksa kata-kata sedih keluar dengan nada yang bakal sukar dipercaya kebanyakan orang.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bersumpah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise juga menarik lengan baju Saito, matanya menatap &lt;br /&gt;
lurus kedalam mata Saito. &amp;quot;Kau juga - bersumpahlah padaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memandangi dalam-dalam wajah Louise. Hari ini dia harus mengucapkan selamat tinggal pada Louise ini dan dia tak bisa membantah dia merasa kesepian, entah bagaimana. Meski ini semua terjadi karena ramuan cinta itu, berapa kali sih Louise mengatakan padanya bahwa dia mencintai Saito?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Saito lebih menyukai Louise yang asli. Meski dia dihantam oelhnya dan diperlakukan bagai seekor anjing, dia pikir yang asli lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak hendak bersumpah padaku? Kau tak mencintaiku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata mengisi mata Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maaf...Aku tak bisa bersumpah padamu...Aku tak bisa berjanji pada engkau yang sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito mengatakan itu, dia mulai menangis. Sailto dengan lembut mengusap kepala Louise.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab6&amp;diff=435052</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Bab6</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab6&amp;diff=435052"/>
		<updated>2015-04-03T07:53:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
==Bab 6 - Arwah Air==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukit dan gunung membayangi ombak Danau Ragdorian yang berwarna biru gelap, begitu mereka berayun. Penyinaran matahari pada danau disebarkan bagai selayar gelas yang berkilauan. Saito dkk tiba di danau menggunakan kuda.  Karena Louise tak suka berkuda sendiri, dia dan Saito di kuda yang sama. Dia duduk di depan. Sepertinya dia tak mau menginggalkan sisi Saito meski sesaat. Montmorency dan Guiche sama-sama berkendara pada kuda abu-abu nan bagus secara terpisaj.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini pasti Danau Ragdorian yang terkenal itu! Tidak, keindahan danau ini tak terlukiskan! Roh air ada disana! Aku terkesan! HO-HO-HO – YAHOO!&amp;quot; teriak Guiche sambil meccambuk kudanya dan membuatnya berlari menuruni bukit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kudanya takut air dan saat ia mencapai tepian, ia berhenti dengan tiba-tiba. Mengikuti hukum Inersia, Guiche terlempar dari kuda dan dengan bantingan yang bergemuruh, jatuh dengan kepala di bawah kedalam danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak bisa menjejak tanah! Ini dalam! Dalaaaaaaaam!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche dengan putus asa berteriak meminta tolong selama bergerak-gerak dalam air. Sepertinya Guiche tak tahu cara berenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya aku harus berpikir ulang soal hubungan kita ya?&amp;quot; gumam Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu sangat baik sekali.&amp;quot; angguk Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menatap Saito dengan wajah khawatir. &amp;quot;Montmorency baik?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku t-tak bermaksud begit-tu. Tunggulah. Aku akan mengembalikanmu pada diri asalmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito membawa kudanya mendekat ke tepian. Guiche, setelah usaha yang sekian lama, gemetaran dan kebasahan dari kepala hingga ujung jari kaki begitu dia mencapai tepian. Dia berwajah nanar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei Hei, bukankah seharusnya kau menolongku? Jangan meninggalkan seseorang yang tak bisa berenang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Montmorency sama sekali tak memedulikan Guiche dan malah memandangi danau dengan curiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa/&amp;quot; tanya Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aneh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apanya yang aneh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tinggi air naik. Tepian Ragdorian mestinya agak jauh diatas sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Lihat disana. Ada atap menyembul. Sepertinya desa itu kebanjiran.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengikuti mata Montmorency, memang mereka bisa melihat atap tersebut. Saito bahkan bisa menyadari bayangan hitam rumah yang terendam permukaan air. Montmorency berjalan menuju tepian, mencemplungkan jarinya kedalam air dan menutup matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya Roh air marah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kau tahu itu?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku pengguna elemen air, Monmorency si Wangi. Keluarga Kerajaan Tristain telah berhubungan dnengan Roh Air danau Ragdorian berdasarkan sebuah sumpah kuno. Keluarga &amp;quot;Air&amp;quot; Montmorency telah bernegoisiasi dengannya selama sekian generasi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan kini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kini, untuk berbagai alasan, ningrat lainnya yang melakukan itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu, apa kau pernah melihat roh air itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hanya sekali saat masih kecil duku. Saat kami perlu drainase untuk tanah kami, keluarga kami meminta bantuan roh air. Sebuah wadah gelas besar dibuat untuk memindahkannya. Namun, karena harga diri roh air sangat tinggi, ia bisa sangat-sangat aredif. Faktanya, adalah karena keagresifan mereka, skema drainase keluarga kami gagal. Ayahku bilang pada roh air &#039;Jangan berjalan, Lantainya jadi basah&#039;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana penampakan roh air ini?&amp;quot; tanya Saitom penasaran dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebenarnya aku tak pernah benar-benar melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche, yang mengibas-ngibaskan kemeja basahnya yang dikepas, mengangguk tanda setuju, Louise, yang sama sekali tak tertarik diskusi ini, bersembunyi dibelakang Saito dan tanpa sadar menggenggam erat ujung parkanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Indah! begitulah...:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepar saat itu, seorang petani tua yang sendirian dan selama ini bersembunyi di bekalang pohon, melangkah keluar. &amp;quot;Sepertinya, kalian, adalah bangsawan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang petani berusia pertengahan menengadah dengan wajah malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot; tanya Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tuan-tuan, apa kalian datang untuk bernegosiasi dengan Roh Air? Jika ya, maka kami terselamatkan! Kami mohon, cepatlah bersepakat dan selesaikan masalah banjir ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka saling memandang. Sepertinya petani ini seorang penduduk desa yang ditenggelamkan kedakam danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu, yah, kami... kami hanya datang kesini untuk melihat-kihat danau.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah pasti, Montmorency ta bisa mengatakan bahwa mereka datang untuk medapatkan air mata Roh Air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, begitu...Memang sih, para tuan tanah dan sang ratu hanya tertarik dengan perang melawan Albion, tak memedulikan desa terpenxil seperti milik kami. Mereka bahkan tak bisa membayangkan bagaimana susahnya memanen...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa,&amp;quot; desah si petani dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memangnya apa yang terjadi pada Danau Ragdorian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Air mulai naik sekitar 2 tahun lalu. Permukaan naik perlahan, pertama-tama membanjiri pelabuhan, lalu kuil dan ladang...Lihat kan? Sekarang, bahkan sarang para elang dibanjiri. Para tuan tanah setempat yang bertanggung jawab pada daerah ini menceburkan diri dalam kesenangan urusan kerajaan dan tak memerhatikan permohonan kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yoyoyo,” isak si petani tua nanar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekama bertahun-tahun hidup kami di tanah ini, kami bergantung pada suasana hati Roh Air. Jujur saja, adalah bagus sekali jika ia tinggal di dasar danau...Kami benar-benar ingin mengerti mengapa tiba-tiba ia tertarik dengan tanah ami. Karena tanah ini milik manusia! Tapi, hanya seorang ningrat yang bisa berbicara dengannya. Aku ingin tahu apa yang kami, para petani yang menderita ini, lakukan sehingga membuatnya kehilangan kontrol.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dan yang lainnya menunduk malu.&lt;br /&gt;
____________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah si petani selesai menggerutu dan pergi, Montmorency mengeluarkan sesuatu dari tas yang diikatkan ke pinggangnya, sebuah katak mungil. Warnanya kuning terang dengan banyak bintik hitam. Montorency lalu menaruhnya di telapak tangannya, ia menengadah dan menatap pada Monmon dengan pandangan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Katak!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise, yang takut akan katak, berteriak dan mendekati Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa dengan katak berwarna yang beracun ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kubilang padamu, Ia tak beracun! Ia familiarku tercinta!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelaslah bahwa katak mungil ini adalah familair Montmorency. Montmorency mengangkat jarinya, dan memerintahkan pada familairnya. &amp;quot;Dengarkan Robin, aku ingin kau menghubungi seorang teman lamamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Montmorency merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah jarum, dalam sekejap dia menusukkannya ke jarinya, membuat darah merah seterang sebuah rubi mengucur. Membalikkan jarinya, dia membiarkan setetes jatuh pada kataknya. Setelah itu, Montmorency melantunkan sebuah mantra, menyembuhkan luka di ujung jarinya, Kemudian dia mendekatkan lagi si katak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;karena dia tahu siapa aku, dia seharusnya tahu kau siapa. Tolonglah Robin, demi nama roh-roh besar dari yang meninggal, cari Roh Air tua, dan bilang padanya aku berharap berbicara dengannya karena aliansi kita. Lakukan itu untukku, mengerti?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si katak mengangguk pelan dan menghilang kedalam air dengan sebuah plas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kini, Robin pergi untuk memanggil Roh Air, Jika dia bisa menemukannya, sepertinya dia bakal membawanya kesini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito terlihat meragukannya. &amp;quot;Saat-saat begini, kita harus menceritakannya sebuah cerita menyedihkan, tapi aku membayangkan apa itu bisa ya? Mungkin cerita yang aku tahu soal seorang tuan dan seekor anjing bisa menjelaskannya. Tapi, itu sangat tua, aku membayangkan apa ini bakal cocok dengan orang-orang ini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cerita menyedihkan? Apaan sih yang kau katakan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kita perlu airmata dari Roh Air. Bagaimana cara kita mendapatkannya bila kita tak membuatnya menangis?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar-benar Tak tahu apa-apa. Yah, sepertinya karena bahkan penyihir elemen bukan air juga tak tahu, jadi mustahilberharap seorang jelata sepertimu tahu, Airmata Roh Air hanyalah sebuah sebutan. Ia tak benar-benar menangis.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dan Guiche saling memandang. Louise yang kesepia tanpa perhatian Saito, &amp;quot;Sok-sok&amp;quot; menggosokkan pipinya pada punggung Saito. Ini benar-benar aneh! Meski seseorang bisa mati dari seorang Louise yang begitu manis, yang dipedulikannya kini hanyalah cerita Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu, apa sih airmata Roh Air itu?&amp;quot; tanya Guiche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sang Roh Air...dibandingakan dengan rentang hidup manusia, ia bisa hidup selama waktu yang sangat, sangat lama. Katanya ia sudha ada sejak 6.000 tahun yang lalu, saat Brimir sang Pendiri mendirikan Halkegenia. Tubuhnya, seperti juga air, dapat berubah bentuk...dan diterangi sinar matahari, ia berkilauan dnegan tujuh warna...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat Montmorency mengatakan ini, permukaan air mulai bercahaya...Sang Roh Air muncul.&lt;br /&gt;
_________________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
30 meter dari tepain dimana Saito dkk berdiri, permukaan air bersinar. Permukaan air mulai beriak tiada henti. Kemudian air mengembang bagai kue yang diragi. Saito menonton itu semua dengan wajah kosong saking terkejutnya. Airnya terus berubah bentuk sehingga tiada yang bisa melihat tangannya. Ia terlihat bagai amoeba raksasa. Meski cahaya yang berwarna-warni indah...itu membuat mereka tak nyaman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Katak familiar Montmorency, meloncat balik ke tuannya dnegan sebuah plas. Montmorency mengulurkan telapak tangannya dan menangkap si katak. Dia menepuk kepala kataknya dengan jarinya. &amp;quot;Terima kasih kau membantu membawanya kesini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Montmorency bangkit, mengembangkan tangannya pada Roh Air, dan membuka mulutnya. &amp;quot;Saya adalah Montmorency Margarita La Fère de Montmorency. Pengguna air, anggota dari keturunan pengemban sumpah kuno. Saya telah menempatkan darah pada katak itu untuk membantumu mengingatnya. Jika anda mengingatnya, jawablah dengan cara dan kalimat yang kami mengerti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Roh air...naik dari permukaan air...perlahan mulai membentuk sosok tanah liat. Mata Saito terbelabak saking terkejutnya menonton ini semua. Massa air perlahan membentuk dirinya jadi bentuk Montmorency dan tersenyum tipis. Namun, ia lebih besar dan tak berpakaian. Ia terlihat bagaikan Montmorency yang transparan dan telanjang. Seperti patung es saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi Roh Air berubah dalam kedalam berbagai bentuk. Setelah senyum, marah mengikuti, lalu - wajah menangis. Tiap kali dia mencoba sebuah ekspresi baru, bentuk wajah dari air itu bergerak. Memang dia terlihat indah. Bagaikan permata yang selalu berubah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian wajahnya jadi dingin kembali begitu sang Roh Air menjawab pertanyaan Montmorency. &amp;quot;Saya ingat, manusia nan rendah. Saya ingat cairan yang mengaliri tubuhmu. Bulan telah berganti 52 kali sejak pertemuan terakhir kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya bahagia, Roh Air, Saya perlu meminta sesuatu pada anda. Meski ini sepertinya tak sopan, bisakah anda memberikan saya sebagian kecil dari tubuhmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian tubuhnya? Saito membayangkannya. Apa itu? Saat dia mencolek Monmorency, Montmorency berbalik dan merasa terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meski itu airmata, adalah mustahil membuat roh abadi menangis. Mereka...berbeda dnegan kita. Aku bahkan tak tahu apa mereka bisa disebut makhluk hidup. Bagaimanapaun jua, airmata Roh Air adalah sebuah bagian dari tubuhnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kita harus memotong tubuhnya?!&amp;quot; teriak saito terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Shh! Jangan keras-keras! Toh Air bisa menjadi sangat pemarah! Itulah mengapa mendekati mustahil untuk mendapatkan airmatanya. Bagaimana orang-orang di pasar gelap kota bisa mendapatkannya...aku benar-benar tak bisa membayangkannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Roh Air tersenyum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, ia tersenyum! Pasti dia setuju!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, kata-kata yang datang dari mulutnya...mungkin karena ia masih tak mengerti cara berbicara yang benar, benar-benar bertolak belakang. &amp;quot;Aku menolak, manusia nan rendah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah? Tak beruntunglah kami. Yah, Kami akan kembali sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito terkejut atas bagaimana mudahnya Montmorency menyerah. &#039;Hei Hei! Tunggu sebentar! Jangan menyerah atas Louise begitu saja! Hei, Roh Air!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mendorong Montmorency kesisi dan menghadap sang Roh Air. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tunggu! Kau! Hentikan! Jangan membuat Roh Air marah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorentcy mencoba mendorong Saito kesamping, tapi Saiyo bahkan tak bergeming. Guiche menundukkan kepalanya membayangkan apa yang akan terjadi. Louise dengan diam-diam mendekati Saito. Melihat pemandangan seperti itu, sulit dibilang siapa yang merupakan familiar diantara mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Roh Ait nan Agung! Kumohon! Aku akan lakukan apapun untuk meminta airmatamu! Secuplik! Hanya secuplik!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Roh air berbentuk Montmorency tak menjawab Saito sama sekali, yang bersujud. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kumohon! Orang paling penting bagiku kini dalam masalah! Bukankah kau juga punya seseorang yang penting bagimu? Orang yang penting bagiku kini tengah membutuhkan pertolongan...dan untuk itu, sebagian tubuhmu diperlukan! Karenanya, kumohon! Lihatlah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ini, Montmorency berhenti mencoba menarik Saito menjauh dan mendesah dalam-dalam. Guiche, yang begitu tersentuh hingga berurai airmata, mengangguk. Louise, yang merasa tak aman, terus memegangi Saito. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Roh Air merubah penampilannya beberapa kali sebelum mengambil bentuk Montmorency lagi, dan berkata pada Saito, &amp;quot;Baiklah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yay! Benarkah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi dengan satu syarat. Sebagai manusia rendahan yang tak tahu alasan dunia ini, kau berkata kau akan lakukan apapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Itulah yang kukatakan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maka hentikanlah mereka yang menyerangku, kawan-kawanmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka saling memandang. &amp;quot;Menghentikan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku telah meninggikan permukaan air sejauh yang kubisa. Aku tak mempunyai tenaga lagi untuk melawan mereka. Jika kalian bisa menang melawan mereka. Aku akan menganugrahi kalian dengan airmataku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, aku benci perkelahian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menaruh tangannya di bahu Montmorency dan menepuknya. &amp;quot;Kau lebih ingin memakan makanan penjara?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, Saito mengamcam Montmorency soal ramuan terlarang dan dia, seperti hari sebeumnya, tak bsa apa-apa dan menurut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sudah tahu itu! Aku akan melakukannya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, diputuskan bahwa mereka perlu mencari tahu jatidiri orang-orang yang menyerang Roh Air.&lt;br /&gt;
_________________________________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat dimana Roh Air hidup adalah di dasar terdalam danau. Seseorang, dengan menggunkan sihir, menyerangnya pada tengah malam. Saito dkk bersembunyi dalam bayang-bayang pepohonan di tepian bagian Gallia - sebuah tempat yang ditunjukkan Roh Air pada mereka -  dan menunggu diam-diam kedatangan para penyerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche, untuk menyenangkan dirinya sebelum pertarungan. menyeruput anggur yang dibawa Saito. Saat seluruh ketegangannya pergi dan da mulai menyenyi, Saito mendorong kepalanya kesamping. Hati Louise dalam keadaan luar biasa buruk karena Saito hanya berbicara dengan Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa dia lebih sayang pada Montmorency daripada aku, apa dia mencintainya, atau mungkin dia membenciku, Waah waah - dia menangis marah, dan dengan raungannya seperti itu, Saito harus mencium pipinya berkali-kali untuk menenangkannya dan menidurkannya. Karena itu, kini dia tengah terlelap tenang disisinya, bernapas lembut dengan sebuah selimut membungkusnya. Sepertinya siapapun bakal seperti itu jika sebuah ramuan membuat mereka jatuh cinta gila.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Orang-orang yang menyerang Roh Air pergi ke dasar danau. Bagaimana mereka bisa bernapas dibawah permukaan air?&amp;quot; tanya Saito pada Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency berpikir sejenak. &amp;quot;Mungkin mereka pengguna elemen air? Menggunakan gelembung udara disekitar pngguna, takkan sulit ke dasar danau. Di waktu yang sama, bahkan jika kau menggunakan sihir air dan bisa bernapas dibawah permukaan air, menyentuh air secara langsung sama dengan bunuh diri karena Roh Air yang mengendalikannya disini. Jadi mungkin ia penyihir elemen udara, sehingga mereka bisa tak menyentuh air sama sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Roh Air, dia diserang tiap malam secara terus-terusan, sehingga beberapa bagian tubuhnya tercabik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi bagaimana seseorang bisa melukainya dan tetap dapat melenggang tanpa diketahui?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gerakan Roh Air lambat...Lagipula, bila kau memisahkannya dengan sumber airnya, sihirnya akan perlahan habis. Sebuah nyala api yang kuat bakal membuanya menguap perlahan-lahan. Akan menjadi mustahil untuk menjadi cairan kembali begitu dirubah menjadi gas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mustahil untuk kembali?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jiwa Roh Air bagaikan sebuah gumpalan. Meski dicabik-cabik hinga menjadi serpihan, ia bisa menyambung kembali jadi satu, asalkan ia memiliki &lt;br /&gt;
seluruh bagiannya. Ia makhluk yang sangat rumit dibandingkan dengan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm...&amp;quot; Saito mengangguk&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan karena para penyerangnya tak menyentuh air, Roh Ait tak bisa menyentuh mereka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi ia tak begitu kuat ternyata.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar-benar deh...Kau tak tahu seberapa menakutkannya Roh Air...Bila untuk sesaat saja kau kehilangan fokus dan gelembung menghilang dan air masuk untuk terhubung denganmu --  maka hasilnya mengerikan. Air mengendalikan hidup makhluk air. Jika kau kehilangan perlindungan gelembung, maka kau akan memasuki wilayah Roh Air dimana menantangnya adalah sesuatu yang bahkan seharusnya tak dilakukan, bahkan oleh iblis terhebat sekalipun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mendesah. Benar-benar, Halkegenia diisi makhluk-makhluk yang tak bisa dia bayangkan sebelumnya, Dua bulan tengah bersinar, tinggi nun jauh di langit, Kini tengah malam. Saito menutup mulutnya dan dengan satu tangan meraih Derflinger, yang tergantung di punggungnya, mendekat. Montmorency, yang ketakutan oleh ketegangan yang tba-tiba, bergumam denagn suara bergetar. &amp;quot;Bagiamanapun, karena aku benci perkelahian, aku menyerahkan semuanya padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan khawatir Montmorency, aku disini. Aku akan dengan berani melindungi sang gadis dari peperangan dan menghukum si jahat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche, yang jelas-jelas minum anggur terlalu banyak, mulai bersender pada Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengarkan, pergi tidur sajalah kau. Kau penuh bau alkohol.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Guiche, jadi umpan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche mengangguk dengan wajah merahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengambil napas dalam-dalam. Intuisi petarung yang dia peroleh dari banyak pertarungan yang dilaluinya kini mengatakan padanya seseorang ada di dekatnya. Mulutnya dipenuhi air liur. Musuhku mereka? Tapi, semuanya bakal baik-baik saja. Aku adalah Gandálfr yang legendaris. Aku seharusnya bisa menghajar para penyihir. Apa sih susahnya dibandingkan dengan para ksatria naga yang menyerangku sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak sadar diri, Saito menjadi terlalu pede. Dia menerawangi wjaha Louise yang tengah terlelap. Tunggulah, aku pasti membawamu kembali -- gumamnya pelan.&lt;br /&gt;
______________________________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejam telah berlalu sejak saat itu. Bayangan muncul di tepian. Dua irang, Karena sosok-sosok tersebut memakai junah hitam pekat bertudung, sulit ditebak apa mereka pria atau wanita. Saito mencengkram pegangan Derflinger. Tanda di tengan kirinya mulai bersinar, Namun, dia belum meninggalkan titik persembunyiannya. Dia masih belum bisa memutuskan apa mereka yang menyerang roh air apa bukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, pasangan itu mengeluarkan tongkat mereka sambil berdiri di tepian. Sepertinya mereka mulai melantunkan mantra. Merasa yakin bahwa kini tiada kesalahan, Saito bangkit dari perlindungan pepohonan dan bergerak menuju keduanya. Dua orang seharusnya bakal jadi pertarungan yang mudah. Karena aku telah...mengalahkan Wardes dan setan Orc yang 10x lebih besar, dan ini hanya sepasang orang. Hei, mereka bahkan tak melihat ke arahku. Kemenangan yang mudah, pasti menang ini, aku bisa mengalahkan mereka dalam sehembus angin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menyembunyikan dirinya dibelakang pohon disamping pasangan tersebut. Melihatnya berjingkok, Guiche mulai melantunkan mantranya. Tanah dimana pasangantersebut berdiri tiba-tiba naik dan menjadi tentakel bagaikan tangan yang mncengkram kaki para penyerang....hening...Saito keluar dan menyerbu dari bayang-bayang pohon. Jarak ke para penyihir sekitar 30 meter. Saito, menunjukkan kekuatan Gandálfr, menolkan jarak dalam 3 detik kurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, reaksi musuh sangat cepat, Para penyerang mulai melantunkan mantra di saat yang sama dengan naiknya tanah. Api terbang dari ujung tongkat, membakar tanah yang mencengkram kaki pasnagn tersebut. Bayangan yang lebih kecil bertindak lebih mengejutkan. Daripada melepaskan mantranya pada Guiche, dia mengarahkannya pada Saito, yang tak siap untuk ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh itu berbalik dengan cepat. dan tongkatnya diayunkan. Tepat seperti dalam pertarungan dengan Wardes sebelumnya, sebuah palu udara menghantam tubuh Saito. Saito, yang tak menduga serangan semacam ini, terkena di bagain depan dan dengan mudah diterbangkan. Dalam sekejap, sebuah panah es mengikuti. Saito membalikkan badan dan menghindarinya dengan meloncat, tapi penyihir yang tinggi menembakkan sebuah bola api besar padanya. Meski Saito juga mencoba menghindarinya, arahnya akurat bagaikan gerakan Saito sudah diantisipasi sebelumnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Rekan! Angkat aku!&amp;quot; teriak Derflinger.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito buru-buru menahan bola api dengan pedangnya, namun meski ia diserap kedalam pedang, ia meledak, menyebarkan pecahan api. Saito nampak terpana dan terhenti. Meski dia dengan sekerasnya berusaha menyingkirkan rqasa nyeri, matanya masih sakit. percikan masuk matanya, Saito menjadi ragu-ragu. Sial! Tongkat mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengurangi kewaspadaannya&lt;br /&gt;
 karena mengira musuh akan fokus pada Guiche, Tapi musuh sudah berpengalaman dalam pertarungan dan mengantisipasi sebuah serangan dari arah yang berbeda&lt;br /&gt;
, tak &lt;br /&gt;
terkejut sedikitpun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, mereka bekerjasama dengan baik. saat yang lain menyiapkan mantra, yang lain melepasnya. Meski ini taktik sederhana, hasilnya mangkus. Bagaimanapun, tiada celah. Angin yang meraung melepas pedang dari genggaman Saito yang terpana. Tubuhnya jadi terasa berat. Di sudut matanya, dia dapat melihat bola api besar lainnya tengah mendekat. saito menyerah. Kepercayaan dirinya yang berlebihan telah enyah begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah, aku ternyata seorang amatiran. Kekuatan Gandálfr memberikanku kepercayaan diri lebih dari kemampuanku yang sebenarnya. Menyerang langsung tak bekerja pada semua lawan! aah, Louise, maaf! Louise!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, dewi fortuna tak meninggalkan Saito, meski pada saat ini sekalipun. Di saat bola api menghantam saito, daerah di hadapannya meledaj. Bola api dan Saito diterbangkan. Sihir ini adalah &#039;Void&#039; Louise!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan menyakiti Saitooo!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeritan Louise bergema sepanjang malam. Ini hampir membuat Saito menangis. Louise menolongku. Meski dia terlelap...tapi dia mungkin terbangun oleh semua keributan ini. Louise menunggu serangan, tapi penjagaan mereka telah turun. Karenanya, kini dia bisa memulihkan diri. Entah bagaimana, saito memaksa membuka mata kanannya dan mengambil Derflinger.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebelum dia menyerbu dan menyerang lagi...Pasangan itu berhenti bergerak. Teriakan Louise membuat mereka menyadari sesuatu. Kedua bayangan itu saling memandang....dan membuka tudung mereka. Wajah yang nampak oleh cahaya rembulan adalah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirche! Tabitha!” teriak Guiche keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa lega, Saito yang kelelahan berlutut di tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau? Kenapa, sayang?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kirche juga berteriak.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab2&amp;diff=435051</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Bab2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab2&amp;diff=435051"/>
		<updated>2015-04-03T07:52:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
==Bab 2 - Saito Pergi Berbelanja di Kota yang Penuh Keramaian==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes bangun. dia mencoba bangkit dan bermuka masam. Saat clingak-clinguk(wonder ni susah nerjemahinnya, tergantung situasi), dia melihat bandana yang dilingkarkan pada tubuhnya. Dimana aku? Aku yakin aku kena sihir dari mesin terbang yang dipiloti Gandálfr dan pingsan. Dia melihat sekelilingnya. Ia kamar sederhana dengan dinding dan lantai kayu. Ada liontin di meja, yang dia pakai di lehernya. Melihat sebuah jug, dia mencoba meraihnya. Tapi dia tak bisa mencapainya, karena seluruh tubuhnya masih nyeri/ Pada saat itu, pintu terbuka dan dia melihat sebuah wajah yang biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, kau sudah sadar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tanah Ambruk? Kau...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fouquet menempatkan sepiring sup di meja. Wardes mencoba bangkit lagi dan merasakan sesetruman nyeri di sekujur tubuh. &amp;quot;Agh..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau masih tak bisa bergerak. Badanmu ditembus rentetan peluru di sekujur tubuh. Ia menghabiskan seluruh penyihir elemn air untuk membacakan mantra &#039;penyembuhan&#039; selama tiga hari tiga malam untuk menyembuhkanmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;peluru?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes membuat wajah curiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku ditembak pistol? Inikah kekuatan pistol?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pistol adalah senjata yang digunakan jelata. Tekanan dari percikan pelatuk, menekan sebuah peluru bundar keluar dari senjata. Meski kekuatannya dalam jarak dekat melebihi dari busur, keharusan mengisi peluru dan bubuk mesiu secara terpisaj membuatnya sulit untuk menembak cepat. Sebagai tambahan, akurasinya tak lebih baik dari panah. Kelebihan utama dari pistol adalah kau tak perlu latihan tambahan untuk menggunakannya. Ia bukanlah senjata hebat bagi seorang penyihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah? Kau bahkan tak tahu senjata yang mengalahkanmu? Oh orang yang acuh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berkata begitu, Fouquet menyendok sup dan membawanya ke mulut Wardes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes berfikir, ini pasti mesin terbang aneh yang digunakan Gandalfr... Tak hanya ia bisa terbang cepat, tapi ia juga dilengkap pistol yang bisa menembak terus-terusan. Dan lalu, dalam sekejap, sebuah pusaran cahaya muncul...Seluruh kloter Albion telah dihancurkan dalam sekedip mata oleh cahaya itu...Apa cahaya yang kulihat? Sesuatu pasti tengah terjadi Halkegenia. Aku bisa mengambil keuntungan dari kesempatan ini, karena kejadian ini meungkin berhubungan dengan itu entah bagaimana...Keinginanku untuk mendapatkan kemampuan Louise. Dan kemampuan manipulasi sihir aneh milik Kaisar Suci Cromwell...Bahkan jika dia akan mengikuti Cromwell dan pergi ke Tanah Suci, rencanya mungkin tak berhasil, mengingat seluruh kloter dihancurkan hanya oleh satu orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, supnya dingin nih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata Fouquet, dengan nada marah, pada Wardes. Dia hilang dalam alam pikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dimana ini tempat?&amp;quot; pinta Wardes, tak sekalipun melirik supnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Albion. Ini kuil di pinggiran Londinium, dimana aku bertugas dulu. Baguslah kau bisa kembali dengan utuh, kau harus berterima kasih padaku untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Albion? Apa yang terjadi dengan sebuan militer?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah, kukira kau tak tahu keadaan karena kau pingsan. Ia kegagalan sempurna. Setelah pengahncuran kloter, Tentara Albion memutar arah. Ampun deh. &#039;Kemengan Pasti&#039; apanya. Jika kau tak bisa mengalahkan Tristain, yang jumlahnya kau lebihi berkali-kali lipat, kau mungkin kesulitan mengambil kembali Tanah Suci.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kutak tahu kau bergabung dengan prajurit penyerbu juga. Kau seharusnya bilang padaku soal itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fouquet terheran-heran. :Aku memberitahumu kok! Aku bertugas disana sebagai unit pemandu karena tentara Albion tak biasa dengan geografi negara asing! Sepertinya kau jenis yang melupakan hal yang tak menarik bagimu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah&amp;gt; Aah, itu benar. Maaf.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Wardes bergumam&amp;quot;Aku lapar, berikan aku sedikit sup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski Wajah Fouquet berubah muram dan kesal, sup tetap saja dikirim ke mulut Wardes. &amp;quot;Apa hanya &#039;lapar&#039; yang bisa kau ucapkan? Aku dengan cepat merawatmu, segera menyembuhkanmu dengan mantra &#039;Air&#039;ku. Setelah itu, dengan menggunakan relasi ilegalku saat aku jadi pencuri, aku entah bagaimana dapat kapal untuk Albion, dan kabur dengan aman. Beneran dah, seharusnya aku tak menyelamatkan orang yang tak tahu terima kasih ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes menunjuk meja. &amp;quot;Bisakah kau membawa liontinitu padaku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Liontin ituberupa loket perak. Fouquet membawanya pada Wardes.Dia mengambilnya dan mengenakannyadi leher.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ia sangat penting bagimu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ga begitu juga, tapi ia menenangkanku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia wanita yang sangat cantik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Fouquet menonton Wardes dengan senyum dikulum, pipi Wardes memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau melihatnya?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, karena kebiasaan. Kau memegangnya erat dalam tidurmu, jadi aku penasaran.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebagaimana yang diharapkan dari seorang pencuri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi ceritakanlah, siapa orang itu? Yang penting bagimu yang lain?&amp;quot; tanya Fouquet pada wardes sambil membungkuk kedepan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes berkata dengan nada tak senang. &amp;quot;Dia ibuku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;ibumu? Penampilanmu menipuku, ku tak tahu kau begitu manja ke ibumu. Kau hidup dengannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak lagi. Selain itu, ia bukan urusanmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Setelah merawatmu, itukah sikapmu sebagai balasannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, pintu terbuka denagn sebuah &#039;clank&#039;. Itu Cromwell, ditemani Sheffield. Melihat wardes, dia tersenyum tipis. Senyum itu tak pernah berubah. Seperti boneka saja, pikir Wardes. Mereka mengalami kekalahan. Sebuah antukan tak terpikirkan pada langkah pertama dari ambisi Albion. Namun fakta itu tampak tak mempengaruhi Cromwell. entah dia benar-benar tegar atau optimis nan acuh. Itu sulit dikata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya kau sudah sadar, Viscount.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku minta pengampunanmu, Yang Mulia. Aku tak hanya gagal sekali, tapi dua kali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi sepertinya kegagalanmu tak penting.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehffield, yang berdiri di sisi Cromwell, mengangguk, kemudian membaca gulungan parkemen yang tampak sebagai laporan, dan bergumam, &amp;quot;Sebuah bola cahaya muncul di langit dan menerjang kloter kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengan kata lain, musuh menggunakan sihir tak diketahui untuk melawan kita. Ini adalah kesalahan perhitungan dan itu bukan kesalahan siapapun. Jika ada yang harus dipersalahkan...itu adalah kesalahan pimpinan untuk tidak menganalisis potenso perang musuh dengan tepat. Prajurit biasa sepertimu seharusnya tak dipersalahkan untuk itu. Kau seharusnya fokus pada penyembuhan kesehatanmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cromwell menawarkan tangannya pada Wardes. Wardes menciumnya. &amp;quot;Aku berterima kasih atas kebaikan Yang Mulia.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes teringat rambut pink blonde  panjang Louise. Louise berada di mesin terbang itu. Sihir begituan tak pernah...Wardes telah melihat talenta Louise. Dia ingin memilikinya dalam tangannya sendiri...elemen yang digunakan Brimir sang Pendiri. Elemen yang hilang, &#039;Void&#039;. Dia menggelengkan kepalanya. Cromwell mengatakan &#039;Void&#039; adalah elemen yang mengendalikan kehidupan. Tapi bagaimana ia bisa menciptakan cahaya yang bisa mengalahkan seluruh kloter? Bahkan jika ia benar-benar sihir yang kuat, adalah sulit membayangkan bahwa Louise bisa mengendalikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa &#039;Void&#039; sumber cahaya itu? Tapi &#039;Void&#039; yang Yang Mulia bicarakan dan cahaya itu tampaknya berbeda jauh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tiada yang bisa mengatakan mereka punya pengetahuan lengkap soal apa itu &#039;Void&#039;. &#039;Void&#039; adalah misteri besar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sheffield menyela. &amp;quot;Ia dibungkus di sisi lain sejarah yang gelap dan tua.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sejarah menyembunyikan banyak hal menarik. Satu kali, Aku ketemu sebuah buku yang menamakan salah satu perisai Pendiri sebagai Santo Aegis. Ia punya sedikit info mengenai &#039;Void&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cromwell berbicara seakan-akan tengah bersyair. &amp;quot;Sang Pendiri menciptakan matahari, untuk menynari bumi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memang. Dulu tiada cahaya dalam matahari kecil itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Misteri diatas misteri, aku merasa sakit, Terbangun juga buruk.&amp;lt;!&amp;gt; Apa iaya begitu, Viscount?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia sebagaimana yang kau katakan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Katanya tentara Tristain dipimpin Henrietta. Untuk alasan apa seorang putri yang masih mentah bertarung? Putri itu menggunakan &#039;Buku Doa Sang Pendiri&#039;. Mungkin dia mengendus rahasia yang tertidur dalam Keluarga kerajaan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa rahasia yang tertidur dari Keluarga Kerajaan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Keluarga Kerajaan Albion, Keluarga Kerajaan Tristain, dan Keluarga Kerajaan Gallia...mulanya satu. Dan rahasia Sang Pendiri dibagi diantara mereka. Bukankah begitu, Nona Sheffield?&amp;quot; bujuk Cromwell pada wanita di sebelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia sebagaimana yang dikatakan Yang Mulia. Harta yang diberikan pada Keluarga Kerajaan Albion adalah &#039;Rubi Angin&#039;...Namun, dimana Rubi Angin menghilang belum ditemukan. Ini akrena investigasi belum berakhir sampai saat ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes mngawasi wanita itu dengan perasaan curiga. Karena wajahnya tersembunyi oleh tudung panjang, wajahnya tak mungkin terlihat. Meski orang-orang berpikir dia adalah sekretaris Cromwell...Dia tak memberikan kesan hanya sebagai sekretaris. Tiada sihir kuat yang terasa darinya, Namun, karena dia dipromosikan kesini oleh Cromwell, dia mungkin punya kemampuan khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kini, Henrietta, seorang &#039;Wanita Suci&#039; yang disembah, dinobatkan sebagai ratu.&amp;quot; gumam Cromwell.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sheffield berkata, &amp;quot;Pemerintahan kerajaan. Ratu negeri itu juga akan mendapatkan rahasia Keluarga Kerajaan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cromwell tersenyum. &amp;quot;Wales-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales, yang dihidupkan lagi oleh Cromwell, memasuki ruangan dari koridor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau memanggil, Yang Mulia?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku ingin memberikan rasa terimakasihku pada penobatan cintamu....sang Wanita Suci. Aku ingin dia datang ke istanaku di Londinium. Namun, perjalanan sepertinya bakal melelehkan jadi temani dia untuk menghapus kebosanan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales menggumamkan, &amp;quot;Pasti&amp;quot; dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi, Wardes-san. Jaga diri ya? Aku akan menyerahkan urusan mengundang sang &#039;Wanita Suci&#039; ke pesta makan malam dan meyakinkan kedatangannya dengan selamat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes membungkuk. Cromwell dan yang lainnya meninggalkan ruangan. Fouquet bergumam acuh tak acuh. &amp;quot;Lelaki menjijikkan. Mengumpan seorang pecinta dengan cintanya yang telah mati bukanlah cara seorang ningrat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fouquet menambahkan, meski dia sendiri membenci para ningrat. &amp;quot;Lelaki itu bukan seorang ningrat. Belumkah kau mendengarnya? Dia hanya seorang pendeta biasa pada mulanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Wardes menghirup napas keras-keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak bisa tenang. Jika saja lukaku sudah sembuh...Aku bisa mengerjakan tugasku daripada bermain dengan mayat...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, Wardes dengan rasa menyesal mengubur wajahnya di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sial! Aku...Apa aku lemah? Bukankah Tanah Suci terlepas lagi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fouquet tertawa sambil tersenyum,  dan menempatkan tangannya pada bahu wardes. &amp;quot;Kau adalah seorang elaki lemah...Yah, kutahu itu sejak awal.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, Fouquet mendekatkan wajahnya pada wajah Wardes dan menempelkan bibirnya pada bibir Wardes. Sambil perlahan menarik bibirnya kembali, Fouquet bergumam. &amp;quot;Kini, beristirahatlah. Aku tak tahu apa yang kau sembunyikan...Namun sesekali kau harus beristirahat juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam istana Kerajaan Tritain, Henrietta tengah menunggu tamunya. Meski dia seorang ratu, tak pernah dia duduk di tahta. Dia lebih banyak mengerjakan pekerjaan seorang raja. Setelah penobatan selesai dan dia menjadi ratu, Jumlah hal-hal yang perlu dikerjakan untuk urusan domestik dan asing bertambah dengan hebat. Ada yang meminta pinjaman, ada yang memintanya secara baik-baik, dan Henrietta, sejak pagi hingga malam, selalu bertemu orang. Dan, karena perang, ada lebih banyak tamu dari biasanya. Karena dia selalu memaksakan diri untuk menunjukkan kehormatannya, dia menjadi sangat kelelalahan. Meski dibantu Mazarini, dia harus menjawabnya sendiri. Sudah terlalu terlambat untuk Henrietta untuk kembali menjadi seorang putri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun...untuk tamu yang baru saja datang ini, dia tak menunjukkan maupun membuat ekspresi maupun sikap begitu. Sebuah suara tertahan dari luar ruangan memanggil, memberitahu Henrietta soal kedatangan sag tamu. Tepat setelah itu, pintu terbuka. Adalah Louise yang berdiri disana, yang dengan hormat menundukkan kepalanya. Disebelahnya, sosok Saito terlihat. Bahkan sekarang, sebuah alat penahan untuk menjinakkan binatang buas dipasang pada badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise, aah, Louise!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta berlari menuju mereka dan memeluk Louise erat. Dengan wajah menengadah, Louise berkata. &amp;quot;Putri-sama...Tidak, kini, saya harus memanggil anda Paduka .&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak suka bila kau mengucapkannya begitu resmi, Louise Francoise. Bukankah kau temanku yang tercinta?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maka, Saya akan memanggil anda putri-sama, sebagaimana biasanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mohon lakukan itu untukku, Aah, Louise, aku tak ingin jadi seorang ratu. Ia dua kali lebih membosankan, tiga kali lebih mengikat, dan 10x lebih mengkhawatirkan.&amp;quot; ucap Henrietta, yang tampak bosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya, Louise diam, menunggu untuk titah Henrietta. Pagi ini, kurir dari Henrietta datang ke Akademi Sihir. Mereka naik kereta yang disediakan Henrietta dan datang kesini. Sepertinya aku dipanggil untuk alasan tertentu. pikir Louise. Apa ini tentang &#039;mantra &#039;Void&#039;? Tapi, dia sepertinya enggan berbicara soal itu. Henrietta hanya bertatapan dengan matanya, tak berbicara. Akhirnya, Louise berkata. &amp;quot;Saya harus memberikan selamat atas kemenangan ini.&amp;quot; Louise mencoba menemukan topik yang tak sulit bagi Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kemenangan ini seluruhnya berkat kau, Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie memandangi wajah Henrietta dengan wajah kaget. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak bisa menyembunyikan rahasia yang begitu hebat dariku, Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-Tapi, aku tak melakukan apapun...&amp;quot; Louise tetap mencoba berpura tak tahu-menahu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta tersenyum dan menyerahkan laporan, yang ditulis pada parkemen, kepada Louise, Setelah membacanya, Louise mendesah. &amp;quot;Anda bahkan memeriksa itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, karena itu hasil perang, adalah lebih baik untuk tidak melewatkan apapun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya, Henrietta menghadapi Saito, yang diacuhkan hingga sekarang. Di perjalanan, Saito mendengar dari Louise bahwa Henrietta telah menjadi seorang ratu, jadi dia merasa sangat tegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk mengendalikan mesin terbang negeri asing yang menghancurkan korps ksatria naga musuh, Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak...itu tidak seperti itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau adalah pahlawan negeri ini. Jadi kini aku memberikan kau glar keningratan...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu sangat salah! merubah seekor anjing menjadi seorang ningrat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Anjing?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-Tidak...itu bukan apa-apa.&amp;quot; gumam Louise dengan wajah memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maka, aku akan menghadiahimu gelar seorang &#039;teman&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Henrietta mengatakan ini, Saito mengucapkan, &#039;Haa&#039;. Lalu dia mengingat perkataan Kirche yang dulu, Bahwa di Tristain, jika kau bukan seorang penyihir sejak lahir, maka kau tak bisa jadi seorang ningrat. Tapi, pikirannya soal &#039;teman&#039; ini tak keluar dari mulutnya. Yah, bagaimanapun juga, saat kembali ke Jepang, seluruh gelar akan kehilangan makna mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Luar biasa...hasil perang yang luar biasa, Louise Francoise. Perang berakhir berkat kau dan familiarmu. Tidak pernah ada kemenangan seperti ini sepanjang sejarah Halkegenia. Dengan penuh kesungguhan, Lousie, kau seharusnya diberikan tanah seukuran negara kecil dan gelar sebagai duchess untuk ini. Dan familiarmu dianugrahi gelar &#039;teman&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku t-tak perlu apa-apa...perbuatan ini adalah familiarku...&amp;quot; ucap Louise enggan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau penyebab cahaya itu, Louise? Cahaya itu disebut sebuah mukjizat istana, namun aku tak percaya mukjizat. Cahaya itu datang dari mesin terbang yang kau naiki. Bukankah kau penyebabnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menatap Louise dalam-dalam. Mustahil untuk menyembunyikan segalanya dengan ini. dan bagaimana dengan Saito? Meski dia terus-terusan menatik lengan baju Louise, mencoba menyela dnegan &amp;quot;Ngomong-ngomong...&amp;quot;, Louise perlahan-lahan mulai berbicara soal Buku Doa sag Pendiri. Dia tak bisa berbicra mengenai itu dengan orang lain. Adalah terlalu beresiko untuk melakukan itu. Perlahan-lahan...Louise berbicara pada Henrietta. Dia mengambil &amp;quot;Ruby Air&#039; milik Henrietta, menempatkannya pada halaman dari Buku Doa sang Pendiri dan sebuah tulisan kuno muncul. Saat dia membacanya pada saat itu, dia membacakan mantra sebentuk cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Buku Doa sang Pendiri ditulis dengan elemen &#039;Void&#039;. Apakah ini benar, Putri-sama?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menatap menembus bahu Louise. &amp;quot;Kau tahu Louise? Brimir sang Pendiri memberikan cincin pada tiga anak dari tiga keluarga kerajaan untuk dijaga sebagai pusaka. Tristain mendapatkan &amp;quot;Rubi Air&#039; dan Buku Doa sang Pendiri, dimana keduanya kini milikmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Err...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia telah diwarisikan seperti ini diantra keluarga-keluarga kerajaan. Keluarga-keluarga kerajaan inilah yang mewarsi kekuatan sang Pendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya bukanlah seorang keluarga kerajaan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa maksudmu Louise? Leluhur Duke de La Vallière merupakan anak ilegal raja. Dan kau adalah anak Duke itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Engkau juga mewarisi darah Keluarga Kerajaan Tristain. Dan itu sucudh sudah cukup bagus.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya, Henrietta mengambil tangan Saito. Saat melihat tanda, dia mengangguk. &amp;quot;Apa ini tanda dari &#039;Gandálfr&#039;? Tanda familiar yang Brimir sang Pendiri gunakan untuk perlindungan selama membacakan mantra?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengangguk. Sir Osmond juga mengatakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi...Saya benar-benar seorang pengguna &#039;Void&#039;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kupikir memang begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mendesah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kau mengerti kan mengapa aku tak bisa menganugrahimu, Louise/&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito, yang tak mengerti, menanyakan kenapa. &amp;quot;kenapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menjawab dnegan wajah kelabu. &amp;quot;Jika aku memberikan penghargaan, pelayanan rahasia Louise akan tersingkap seterang siang bolong. Itu berbahaya. Kekuatan Louise terlalu besar. bahkan satu negeri takkan bisa menangani kekuatan semacam ini. Jika ada musuh yang tahu rahasia Louise, mereka akan tergila-gila padanya dan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Aku sendiri akan menjadi sasaran musuh,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, Henrietta mendesah. &amp;quot;Musuh bukanlah satu-satunya pihak yang tertarik pada &#039;Void&#039;. Bahkan didalam istana...mereka yang tahu kekuatan itu, akan selalu mencoba menggunakannya demi kepentingan mereka sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie mengangguk dengan mata ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena itulah, Louise, kau seharusnya jangan berbicara dengan siapapun soal kekuatan itu. Rahasiamu aman bersamaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Lousie berfikir sesaat...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, dengan cara perlahan yang memperlihatkan keteguhannya, dia buka mulut. &amp;quot;Jangan khawatir Putri-sama. Aku ingin menunjukkan &#039;Void&#039;ku untuk anda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan...tidak apa-apa. Kau harus melupakan kekuatan itu sesegera mungkin. Dan jangan pernah menggunakannya lagi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi...putri-sama, aku ingin membantu anda dengan kekuatan yang dianugrahkan padaku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, Henrietta menggelengkan kepalanya. &amp;quot;Ibu berkata, kekuatan hebat membuat orang gila. Siapa yang bisa yakin bahwa kau, setelah mendapatkan kekuatan &#039;Void&#039;, takkan ke arah sana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise dengan bangga mengangkat kepalanya. Itu wajah seseorang yang telah memutuskan misinya. Tapi, wajah itu &#039;berbahaya&#039;.  &amp;quot;Aku selalu ingin mendedikasikan kekuatan dan tubuhku pada putri-sama dan ibu pertiwi. Aku diajar begitu, aku percaya itu, dan aku tumbuh dengannya. Namun, sihirku selalu gagal. Sebagaimana yang anda tahu, aku dijuluki &#039;Zero&#039;. Dibelakang cemoohan dan hinaan, aku selalu diguncang penyesalan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise dengan jelas mendeklarasikan. &amp;quot;Tetapi, Tuhan memberikan kekuatan semacam ini padaku. Aku sendiri percaya diri dalam menggunakannya. Namun, bila anda berkata bahwa paduka takkan memerlukannya, maka adalah perlu untuk mengembalikan tongkatku pada Paduka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta tersentuh oleh deklarasi Louise. &amp;quot;Louise, aku mengerti, Kau masih tetap...Sahabat terbaikku. Dari saat-saat dimana kau membantuku di danau Ragdorian. Kau dihukum demi aku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putri-sama...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise dan Henrietta saling berpelukan dengan erat. Saito, yang selalu ditinggal, mengayunkan kepanaya dnegan fikiran kosong. Louise terlalu baik untuk berjanji tanpa berfikir dulu...pikirnya, meski dia tak menyatakannya. Meski adalah hal baik untuk membantu Henrietta...tapi bagaimana dengan perjalanan ke timur untuk menemukan jalan untuk mengembalikanku ke rumah... Dengan membantu Henrietta, sepertinya mereka takkan kesana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Setelah ini, aku juga akan membantu Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu alami, putri-sama.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini aku berikan kembali Buku Doa sang Pendiri padamu. Tapi, Louise, berjanjilah padaku. Jangan bilang siapa-siapa bahwa kau seorang pengguna &#039;Void&#039;. Dan jangan menggunakannya sembarangan juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pasti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Setelah ini, kau akan jadi wanita senatku dan hanya akan mematuhiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mengambil pena bulu dan parkemen haluys. Setelah itu, dia menandatangani dokumen itu dan meletakkan pena bulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Ambillah ini. Ini izin resmiku. dengan ini, baik didalam istana. didalam maupun diluar negeri, kau akan memiliki otoritas luar biasa diatas segalanya, bahkan diatas polisi. Jika tiada kebebasan, seseorang tak bisa bekerja baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise dengan khidmat menerima izin dengan wajah penuh rasa terima kasih. otoritas Henrietta. Ini berarti Louise dianugrahi hak bertindak atas nama ratu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika saya menghadapi masalah yang hanya bisa diselesaikan anda, saya pasti meminta bantuan. Untuk ini, mohon tetap berlaku sebagai siswa Akademi Sihir seperti yang anda lakukan sampai saat ini. Karena anda, tanpa keraguan, akan melakukannya dengan baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, Henrietta menoleh pada Saito. Memilki ide, dia merogoh kantong bajunya, Saat dia mengeluarkan beberapa koin emas, Saito tahu apa yang akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku memintamu untuk memperhatikan Louise, sahabat pentingku, familiar-san nan baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-itu, aku tak bisa mengambilnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito terlihat kagum pada koin emas dan perak dalam tangannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengan sepenuh hati, mohon terima ini. Hanya memberikanmu ini sebagai tanda Chevalier adalah yang terbaik yang bisa dilakukan ratu lemah ini. kau menunjukkan kesetiaan padaku dan ibu pertiwi. Ini tak seharusnya tak dihadiahi.&amp;quot; kata Henrietta dengan mata penuh kesungguhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sat melihat mata yang begitu, mustahil menolaknya. Setelah menerima ini, sepertinya dia tak bisa menolak untuk membantu Louise. Karena Saito tak berasal dari dunia ini, dia juga bukan bawahan Henrietta, tapi meski dia tak perlu merasa bertanggung jawab, Saito merasakan perlunya melakukan sesuatu. Aah, mungkin ini takdir, pikirnya, Tidak, ini lebih pada pribadinya daripada takdir. Saat seorang wanita cantik seperti Henrietta mengatakan &#039;kumohon&#039;, dia tak bisa menemukan tempat di hati untuk menolak. Orang yang berhati baik ya aku ini. Haa. Dia tak terlalu diterima di Jepang pada waktunya. Bagaimanapun juga, aku harus mencari jalan untuk pulang, pikir Saito, sambil memasukkan koin-koin emas kedalam sakunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dan Louise keluar dari Istana Kerajaan berurutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar-benar deh, kau terlalu baik dalam berjanji.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa maksudmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menatap Saito.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena, kau berkata kau akan membantu putri-sama, tapi itu membuat pergi ke timur mustahil.&amp;quot; kata Saito dengan nada kecewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;jangan pergi tanpa izin. Semuanya tetap disni, jadi berhentilah bertanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise membuang muka dan mulai berjalan meninggalkan Saito di belakang. Saito berlari mengejarnya yang tengah panik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;bagaimana kau bisa berkatas begitu? Lepaskan aku dari ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menunjuk pada alat penahan yang digunakan untuk menjinakkan binatang buas yang pasanga pada tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan membantah! Jika si familiar bertindak seenaknya, adalah tugas tuannya untuk memasang rantai padanya.&amp;quot; jawab Louise acuh tak acuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito, yang ingin diperhatikan, tiba-tiba mencengkram bahu Louise. Mereka sudah di jalan Bourdonne, tepat di depan Istana Kerajaan, Jalan raya, dan bagaimana dengan pengguna jalan? mereka semua menonton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei! Orang-orang melihat! Lepaskan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berkata dengan nada rendah. &amp;quot;Kau berpikir bahwa aku seharusnya tak kembali?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie jadi kelabakan dengan kata-kata ini dan merubah wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi begitu, ya kan? kau khawatir aku akan pergi kan? Akan jadi sulit untuk membantu putri-sama kalau begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seperti itu, Louise ingin berkata begitu, tapi tetap menutup mulutnya. itu bukan alasan mengapa aku tak ingin Saito kembali ke dunia asalanya. Namun, dengan mengatakan ini, dia akan membuka perasaan hatinya pada Saito. harga diri Lousie takkan memperbolehkan hal itu. Dalam keadaan terombang-ambing, Louise mngangguk paksa. &amp;quot;I-itu benar! Nanti malah tiada yang mengurusmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Luar biasa, jadi begitu toh.&amp;quot; gumam Saito, dan mulai berjalan lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang sebenarnya dipikirkannya adalah, dia tak harus bilang &#039;aku mencintaimu&#039;, tapi setidaknya dia bisa bilang &#039;aku akan sendirian&#039; atau paling tidak ;&#039;aku ingi  kau tak kemana-mana&#039;, jika dia bilang itu, Saito tak masalah membantunya dan akan mencari jalan kembali setelahnya. Saat henrietta meminta bantuannya tadi, meski dia pikir ini mengganggu, dia juga senang untuk sesaat. Tiada yang benar-benar memerlukannya di Jepang. Bumi tetap berputar, meski Saito hilang. Namun, itu berbeda dengan dunia ini. Siesta dan Henrietta...ada beberapa orang yang memerlukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun dia ingin lebih diperlukan Louise. Tapi, dari perkataannya di awal, yang ia pedulikan hanyalah kekuatan Gandalfr. Saito ngambek, dia pundung. meneguhkan hati, dia mulai mendorong melalui kerumunan. Kota masih ramai oleh pewrayaan kemenangan. Sekelompok pemabuk tengah tos dan berteriak sambil memegang cangkir yang terisi anggur. Louise yang masih terguncang akibat sikap Saito, membeku sejenak. Dengan wajah menunduk, dia menggigit bibir. Saat wajahnya diangkat, Saito sudah pergi masuk kerumunan dan tak terlihat. Louise berlari panik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;nyingkah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menabrak keras seorang lelaki. Doa, yang tampak seperti tentara bayaran, jatuh. Di tangannya ada sebotol sake, yang tengah ditenggaknya. Sepertinya dia benar-benar mabuk. Meski Louise mencoba melewati samping lelaki itu, dia menggenggam tangan Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;tunggu Nona, kau harus meminta maaf karena menabrak seseorang di tengah jalan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, laki-laki lain, yang tampaknya tentara bayaran, menyadari mantel Lousie dan bergumam. &amp;quot;Seorang ningrat, huh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, lelaki yang mencengkram tangan Louise tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hari ini adaalh festival perayaan kemenangan di Tarbes. Kesampingkan status. Hari ini, ningrat, tentara, dan pedagang sama derajatnya, Hei, Nona ningrat, bagaimana kalau berbagi satu minum denganku sebagai permintaan maaf menabrakku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berkata begitu, dia mengacungkan guci anggurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lepaskan aku! Dasar orang kasar!&amp;quot; teriak Louise. Wajah lelaki itu langsung menjadi brutal dan menggelagak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau panggil aku apa, Hei! Siapa yang kau pikir menyerang tentara Albion di Tarbes! Wanita suci atau ningrat sepertimu, tidak, kami para tentara!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki itu mencoba meraih rambut Louise. Namun tangannya dihentikan. Saito, yang muncul tepat dihadapan mereka, dengan erat mencengkram tanagn lelaki itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Enyahlah nak!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lepaskan.&amp;quot; kata Saito dengan nada pelan. Dulu, kakinya bakal gemetar saat mengancam lelaki yang tampak mengerikan. Namun, kini dia saito yang melalui berbagai pertarungan. Karenanya dia mendapat keberanian. Kini dia hanya perlu meraih Derflinger di punggungnya saat waktunya datang, Tidak mengeluarkannya, tapi menggenggamnya saja sudah cukup untuk mengKO para prajurit ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki itu melihat pedang di bahu saito, dengan mata sama. Pengalaman yang didapatnya dari medan pertempuran selama bertahun-tahun mengatakannya bahwa sikapo saito bukan hanya omong kosong. Dia lalu meludah, lalu membujuk teman-temannya pergi. Saito dengan diam mengambil tangan Louise, dan mulai berjalan. Louise mencoba mengatakn sesuatu pada saito. Tapi, ini semua membuatnya tak mampu menemukan kata. Saito berjalan cepat, mendorong melalui kerumunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau marah?&amp;quot; tanya Louise dengan nada pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ga juga.&amp;quot; sahut Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pegangan tangannya membuat Louise berdetak sesaat. Apa Saito juga merasakannya sama? Namun, karena Saito berjalan lurus kedepan, dia tak bisa melihat ekspresi wajahnya. Louise mengikuti sambil ditarik. Ini menyegarkan, perasaan menyenangkan yang tak bisa dijelaskan maupun dimengerti Louise.&lt;br /&gt;
------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise, selama berjalan dan berpegangan tangan dengan saito, kembali ceria. Kota dipenuhi festival aneka warna, pertunjukan menyenangkan, kios dan gerobak makanan dimana barang-barang aneh dijual dan terhampar sepanjang jalan. Karena dia seorang putri tuan tanah lokal, Louise tak pernah berjalan dalam kota ramai dengan cara ini. Terlebih algi, dia tak pernah berjalan dalam kota sambil berpegangan tangan dengan lawan jenisnya. Dengan keduanya bergabung, kepala Louise menjadoi ringan dan melayang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sangat ramai.&amp;quot; kata saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar.&amp;quot; gumam Louise senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Rasanya bagai festival duniaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;benarkah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Kios jalanan nan semarak berbaris tepat seperti ini, menangkap ikan mas, memancing yo-yo, toko okonomiyaki, dan gerobak makanan dalam barisan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berkata begitu, mata Saito menerawang. Louise mengeratkan pegangannya pada tangan Saito. Entah bagaimana, bayangan kepergian Saito yang tiba-tiba ke tempat nan jauh membuanya tak enak. Suatu saat...hari dimana Saito pergi, pasti tiba. Namun, saat berjalan bersama begini, Aku ingin kau hanya melihatku, pikir Louise. Hanya saat ini. Dan tak peduli yang lain. Dan di saat yang sama dia marah pada dirinya sendiri yang telah berpikir begitu. Karena cinta? Bukan itu. Adalah harga dirinya yang jadi masalah. Setelah meyakinkan dirinya sendiri soal itu, Louise menatap sekelilingnya dengan hampa. Dan kemudian, sambil berteriak &amp;quot;Waa.&amp;quot;, dia berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berbalik, Louise tengah memandangi toko perhiasan. Disana, pada sebuah kain, terpampang berbagai cincin dan kalung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau ingin liat-liat?&amp;quot; tanya Saito, dan Louise, dengan pipi memerah, mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
melihat dua orang mendekat, seorang pedagang dengan turban di kepala menggosokkan kedua tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh! Ayo masuklah! Aku lihat kau seorang ningrat, nona. Kami punya barang-barang langka untuk ditawarkan, ini terbuat dari &amp;quot;emas ukiran&amp;quot;, ini bukan bohongan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhiasan-perhiasan yang dihamparkan cocok bagi ningrat untuk dikenakan; terbuat dengan baik untuk memuaskan berbagai rasa. Lousie mengambil sebuah kalung. Gantungannya putih murni, diukir dengan bentuk kerang, Ada banyak permata besar disekitarnya. namun, bila dilihat seksama, permata itu hanyalah kristal murahan. Namun, Lousie menyukai gantungan berkilau ini. Dalam suasana festival yang ramai, terisi dengan barang-barang berharga, sesuatu yang mencolok bakal menarik perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau menginginkannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menggelengkan kepalanya, malu. &amp;quot;tak punya uangnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, aku akan menurunkannya. 4 ecus saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pedagang tersenyum manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terlalu mahal!&amp;quot; teriak Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak punya segituan?&amp;quot; tanya Saito, terkejut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie manyun. &amp;quot;Aku akan bila aku tak beli pedang kurang ajar kemarin-kemarin. Aku habiskan seluruh uang saku bulananku untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan enggan merogoh sakunya, Dia denagn erat menggenggam koin-koin emas yang diterimanya dari Henrietta tadi. Sambil memegang koin-koin emas yang kira-kira seukuran koin satu yen de telapaknya, Saito bertanya, &amp;quot;Segini berapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Pedagang terkejut bahwa Saito yang bawa duitnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-ini...! Bagus kali.....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengambil empat koin emas yang terukirkan potret raja, si pedagang menyerahkan gantungan kalung pada Louise. Louise terkejut dan kaget, pipinya jadi lemas. Hal pertama yang dilakukan Saito pada uang yang diberikan Henrietta adalah berbelanja untukku. Dia sangat bahagia. Setelah beberapa saat itu di tangannya, dia dengan riang memasangnya di leher. &amp;quot;Ia pas untukmu.&amp;quot; kata sang pedagang dengan nada sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin Saito melihatku, pikirnya sambil menarik lengan bajunya, Namun Saito, yang perhatiannyatertuju pada kios dekat pinggir, tak bergerak. Apaan sih yang kau lihat?...Saito tengah memandangi barang rampasan, dari tentara Albion, yang dihamparkan di tanah. Barang-barang yang diambil prajurit diberikan pada para pedagang. Itu kepunyaan musuh yang dirampas...pedang, baju baja, pakaian, jam. Saito mengambil salah satu pakaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin dia melihatku, Louise manyun, ngambek dia. Namun, perhatian Saito tertuju penuh pada pakaian, Memang beralasan sih dia ingin baju baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa, ingin baju baru? tapi bukan ide bagus untuk memakai baju bekas setengah rusak yang perbah dipakai musuh, ada yang jauh lebih baik kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Saito tak menjawab. Dia meraih salah satu potong pakaian, dan tangannya bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wahai pelanggan, kau punya mata yang bagus, Ini seragam pelaut dari Albion. meski murahan, ia juga enak dipakai. Dengan memasang kerahnya begini, ia melindungi leher dari angin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam pelaut? memang! T-tapi di dunia Saito ia disebut seragam nahkoda...Kepala Saito mulai bekerja dengan kekuatan penuh. Meski ukurannya kebesaran, ia masih bisa dipermak agar bisa dipakai Siesta...Dia membayangkan Siesta memakainya...kelihatannya bagus...Kesenangannya bertambah. Tidak, bukan itu, Bukan kesenangan pribadi. Terima kasih. Ini balasan untuk syal itu! Tapi, Dia tetap merasa agak bersalah. Itu benar, Saito mendinginkan kepala. Uang, dia mutlak harus memakainya untuk ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berapa?&amp;quot; tanya Saito dengan nada yang sangat bergairah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tiga ecus cukup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie terkejut. membayar begitu banyak uang untuk pakaian bekas adalah keterlaluan. Tapi Saito membayar harga yang diminta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----------------------------------&lt;br /&gt;
Louise, yang telah kembali ke kamarnya, tengah berbaring di kasur, membuka-buka Buku Doa Sang Pendiri sambil bersenandung. Sepertinya hatinya senang. Saito mencoba menyusup keluar dari kamar diam-diam, dia ingin ke Siesta untuk menyerahkan barang yang dibelinya hari ini, tapi pintu dikunci Louise yang mengayunkan tongkatnya dan menyihirkan mantra pengunci pada pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau akan pergi entah kemana saat tengah malam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Tidak...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu dia tak bisa mengatakan dia hendak menuju tempat Siestauntuk mengantarkan seragam pelaut yang dibelinya hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;H-hanya ingin merasakan angin malam! Wah! Wahahaha!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menatap Saito masam. Dan, dengan tegas, dia menuju Saito dan dengan dengan sikap biasa melepas jaket Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa-apaan kau?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Melepasnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Melepasnya? Alat penahan Hewan Buas membuatnya nyangkut!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito berteriak begitu, Lousie melepas kunci alatnya, menunduk untuk sesaat. Karena dia membelikan gantungan di kota hari ini, dia pikir Louise telah memaafkannya. Namun Louise tak bisa dengan mudah memaafkan dia yang mandi bersama dengan seorang gadis. Louise mengendurkan alat penahan dan melepas jaket Saito. Wajahnya selalu marah. Dia mengunyah bibir bagian bawahnya. Kemudian Lousie kembali ke kasur, memeluk jaket yang dilepas erat-erat. dan berkata &amp;quot;Menghadaplah kesana!&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan seluruh pakaiannya ditanggalkan. Louise, yang hanya memakai jaket Saito, manyun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Masih ingin pergi jalan-jalan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memberikannya pada Siesta harus menunggu hingga malam besok, pikir Saito, yang kini hanya mengenakan kaos. Meski sudah awal musim panas, tetap saja iklim di Halkegenia sangat berbeda dengan Jepang. Jalan-jalan dengan keadaan begini, bisa membuatnya masuk angin. Tak perlu diragukan lagi Louise jyga tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada banyak hal yang lebih penting daripada angin malam, bukankah begitu~? dan seorang rekan yang tak melayani tuannya tak bagus, nekankah begitu~?&amp;quot; kata Louise sambil berbaring pada perutnya dan mengayun-ayunkan kakinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan, Saito duduk di kasur. &amp;quot;Dimengerti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise, yang berbaring di kasur, mulai membaca Buku Doa sang Pendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah semuanya kosong?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bisa membacanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menunjukkan &amp;quot;Ruby Air&amp;quot; di jarinya pada Saito dan menjelaskan hubungannya dengan Buku Doa sang Pendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apaaa. elemen dari Void...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito teringat cahaya sihir, yang mnyapu habis kloter pada hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Void&#039;. Elemen legendaris yang Brimir sang Pendiri gunakan...Dan, aku seorang familiar yang katanya digunakan Brimir sang Pendiri - &#039;Gandalfr&#039;. Familiar legendaris yang memiliki kemampuan ahli menggunakan segala macam senjata, untuk melindungi sang Pendiri, selama dia membacakan mantranya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kau penyihr terkuat di dunia ini? Keren! Menghancurkan hanya dengan sekali ayun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku takkan berkata begitu, jadi aku belum mengatakan ini pada putri-sama karena aku tak ingin mengecewakannya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah desah, Louise meraih tongkatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya, Lousie dengan pelan-pelan mulai membacakan mantra. &amp;quot;Eor Sun Fuir...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;H-Hentikan! Dasar bodoh!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah sangat mengerikan bila ledakan semacam itu terjadi di tempat seperti ini. Tapi, Louise tak berhenti membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yarunsakusa..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyelsaikan mantra tanpa halangan, Louise mengangkat tongkatnya. Saito menyembunyikan dirinya di tumpukan jerami, membuat jerami bertebaran disekitarnya. Kemudian mata Louise berputar ke belakang dan tiba-tiba ambruk ke kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“L-L-L-Louise? Louise!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengguncangkan Louise, panik. Setelah diguncang beberapa saat, Louise membuka mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auuu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa? Ada apa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menggoyangkan kepalanya, Lousie dengan cepat bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berhentilah ribut-ribut. Aku hanya pingsan sesaat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Eeeh?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sudah membacakan &amp;quot;Ledakan&amp;quot; hingga menit terakhir, tapi ga ada apa-apa...Setelah itu, tak peduli seberapa banyak aku memantra, aku pingsan di tenagh-tengah. Ledakan hanya timbul sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semacam apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kupikir alasannya adalah kekuatan hati tak mencukupi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kekuatan hati?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar. Kekuatan hati terpakai saat sihir dibacakan. Kau tak tahu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana aku bisa tahu hal begituan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, Louise duduk tegak sambil malu-malu, mengagkat jari dan mulai menjelaskan dengan bangga bagaikan seekor merak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &amp;quot;Dengarkan. jumlah elemen yang bisa digunakan penyihir bisa ditambah, dan tingkat dia bisa berubah tergantung itu. Seorang penyihir yang hanya bisa menggunakan satu elemen adalah titik. Bisa dua - jadi garis. Bisa tiga - segitiga. Mantra juga ada tingkatannya.. mantra dari tiga elemen disebut &amp;quot;mantra Segitiga&#039;. Tiap kali tingkat mantra meninggi, konsumsi kekuatan hati mengganda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Haa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Misalnya, mantra garis akan mengambil delapan kekuatan hati penyihir, tapi saat penyihir itu memutuskan memakai mantra titik, hanya empat ekuatan hatinya yang terpakai. Harganya bergantung pada orangnya, tapi aturannya berlaku ke semua.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Poin utamanya, penyihir itu bisa memakai dua mantra titik saja. Delapan dibagi empat adalah dua. Karenanya, kau bisa memakai mantra dua kali, Tapi saat kau memakai mantra garis, kau hanya bisa sekali, karena kekuatan hati yang dipakai dua kalinya, dan delapan dibagi delapan adalah satu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat penyihir garis tumbuh jadi penyihir segitiga, pemakaian kekuatan hati utuk mantra titik berkurang setengahnya. karenanya, empat dibagi dua - dua. dia bisa menggunkan mantra titik empat kali. Mantra garis bisa dua kali. Mantra segitiga - sekali. Itu karena penyihir mendewasa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa. Dengan kata lain, mantra kelas rendah bisa dipakai berulang kali, sedangkan mantra kelas tinggi hanya bisa dipakai beberapa kali saja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar. jadi kini kau ngerti kan hubungan mantra dengan kekuatan hati?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitulah. Jadi, kau pingsan tadi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. tadi aku pingsan karena aku maksa dan menghabiskan seluruh kekuatan hatiku. Mantranya terlalu kuat dan kekuatan hatiku tak cukup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus, napa kau bisa menggunakannya pas hari itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah..erm...aku juga tak mencari-cari...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kekuatan hati terisi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dasarnya, ia terisi lagi saat tidur.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito beroikir sambil melipat kedua lengannya. &amp;quot;Ummmm...Yah, hingga kini, kau tak menggunakan kebanyakan mantra dengan benar, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, benar sih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karenanya, kau mengumpulkan banyak kekuatan hati, kan? dan saat itu, kau menghabioskannya sekali pakai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Louise terkaget-kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Misalnya, ambillah kekuatan hatimu 100. &#039;Ledakan&#039;, menghabiskan 100, seluruhnya dalams ekali pakai. kekuatan hati biasanya terisi saat tidur saat malam, tapi jumlah yang diperlukan terlalu besar bagimu...Karena ia 100, kau tak bisa mengiusinya kembali hanya dengan tidur semalam.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan datar menguraikan hipotesisnya &amp;quot;Apa? Bagiku itu sepertinya akhir sihirmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, Wajah Louise serius. &amp;quot;Mungkin saja...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Eeeh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;dengan menggunakan mantra bumi kelas persegi &#039;Emas Cetakan&#039;. emas bisa diciptakan. Tapi kau mengapa dunia masih menggunakan uang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Diakatakan bahwa penyihir persegi tak bisa begitu saja membacakan mantra berulang kali. Ia tak bisa diandalkan, sekali isi ulang mungkin perlu seminggu, lainnya - sebulan. lagipula, jumlah emas yang bisa kau dapat dengan cara begini terlalu kecil. Makanya uang digunakan, bukan emas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengan kata lain, mantra kuat menghabiskan lebih banyak kekuatan hati dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terisi lagi, Untukku, sepertinya begitu juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu...kapam kau bisa memantar lagi...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ga tahu,. aku...sebulan atau mungkin setahun...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie menerawang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;10 tahun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan berkata yang tidak-tidak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, ia berhasil.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah. Tiada yang benar-benar mengerti &#039;Void&#039;. bagaimanapun juga, kekuatan pembacaannya telah ditunjukkan. Tiada mantra lain seperti ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia terlalu kecil sekarang. Uuu, jeramiku...&amp;quot; kata saito sambil melihat jerami-jerami yang betebaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah tak apa-apa? Meski tiada tumpukan jerami.&amp;quot; ucap Louise, yang wajahnya memerah karena alasan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa&amp;quot;. Saito menahan napasnya sesaat begitu dia menyadari sesuatu. Apa! Dia menjadi gila dari pemandangan yang diberikan Louise padanya, yang tak disadari Louise sendiri. Ujung jaketnya telah naik hingga paha Louise. Sedikit lagi, sediiiikit laghi. dia mengintip. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito cepat-cepat memegang hidungnya. Karena sikap Saito, Louise akhirnya sadar bahwa jaket telah naik. Dia langsung menggerakkan kakinya dan menurunkan ujung jaket dengan wajah memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Na! Kau lihat! Kau lihat, Kau lihat! Kau lihaaaaat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;S-Salahmu karena tak makai celana dalam apapun!&amp;quot; teriak Saito juga,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak bisa tidur dengannya! Sealu begitu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selalukah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu Louise menggigit bibir bawahnya, dan dengan sedikit weruwush, menyusup dibawah selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidur.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan enggan masuk dari ujung selimut. Dia dengar suara dari Louise yang ngambek didalams elimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidurlah di tumpukan jerami, familiar pengintip.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia betebaran.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia dengar Lousie menggeram beberapa kali dari dalam selimut, dai tenang kembali setelah beberapa saat. &amp;quot;Aah&amp;quot;. Sambil memikirkan tentag seragam pelaut yang akan diserahkannya pada Siesta besok malam, Saito jatuh terlelap.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab5&amp;diff=435049</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Bab5</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab5&amp;diff=435049"/>
		<updated>2015-04-03T07:52:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 5 - kekuatan Obat Cinta==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito bangun di pagi hari, Louise tengah tidur disebelahnya. Malam sebelumnya, saat Louise, yang matanya bengkak penuh air mata, kelelahan, dia membawanya ke kamar   dan langsung terlelap. &amp;quot;Kuukuu,&amp;quot; dengan wajah tanpa dosa, dia menghembuskan napas saat tidur. Apa yang membuatnya berubah jadi begini kemarin? Saat itu dia siap &lt;br /&gt;
 membunuh, saat lainnya - dia tiba-tiba menangis &amp;quot; Mengapa kau tak memerhatikanku!&amp;quot; Apa? Apa? fikir Saito. &lt;br /&gt;
Dia mulai bangun. Dengan tergesa-gesa, Louise bangkit, dan menyadari adanya Saito, menggigit bibir. Kemudian dengan suara tertahan, dia bergumam. &amp;quot;Selamat pagi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;S-selamat pagi,&amp;quot; Saito membalas salam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian wajah Louise memerah dengan mata marah di wajahnya, tapi kini yang beda. Sambil menatap Saito, dia dengan lembut melengkungkan bibirnya dan berkata dengan malu-malu.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maafkan aku.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise membuka mulutnya dan berkata dengan nada sesal. &amp;quot;MaafkanakuMaafkanakuMaafkanaku. Maafkan aku?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise ini aneh sekali. Dia menatap Saito dengan mata puppy yang terlantar, padahal dia tak pernah menatap  S a i t o   b e g i n i   s e b e l u m n y a .   L o u i s e   s e l a l u   m e r e n d a h k a n n y a   a t a u   b e r w a j a h   m a s a m ,   d i a   t a k   b i a s a   d i l i h a t   d e n g a n   c a r a   l a i . &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar-benar deh, apa yang salah denganmu?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena khawatir, dia mencengkram bahu Louise. Louise yang hanya   bergaun malam membengkokkan kepalanya dan menyenderkan pipinya pada tangan   Saito. Saito merasakan pang yang tak terduga. Terlebih lagi, pang pada sisi kirinya. Y a n g   c e pat tentu saja. Sesaa t   kemudian, dia terpengaruh sempurna oleh sebuah kekuatan mengerikan. Badannya gemetaran hebat dan detaknya   e n g g a n   b e r d e n y u t .   A a h ,   m e l i h a t   L o u i s e   s e p e r t i   i n i . . . D i a   ta k   j a t u h   c i n t a   p a d a k u   k a n ? ! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku lihat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...sebuah mimpi kemarin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;M-Mimpi apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebuah mimpi tentang Saito.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;M-Mimpi tentng apa/&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saito berlaku jahat dalam mimpi. Meski aku berbicara sangat keras, dia masih berbicara dengan gadis lainnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Gab&#039; Louise menggigit tangan Saito. Namun, itu tak sakit. Louise menggigit sangat lembut. Kemudian mentapa keatas pada wajah saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meski begitu, itu kemarin. Jangan membeli hadiah untuk gadis lainnya, jangan melirik gadis lainnya - kau punya tuanmu Louise -sama kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menelan ludah selama melihat Louise. Dia tak pernah menyadari Louise begitu mencintainya...Tapi apa yang membuat sikap Louise berubah drastis. Seakan dia orang yang sangat berbeda. Louise yang begitu merendahkanku hingga kini, tak bisa jadi manis hanya dengan begitu, Pertama-tama dia marah. dan kini di dengan lembut mengunyah telapaknya selama memarahinya. Dia takkan pernah menggigit seperti ini. Dia akan memukul. Louise takkan pernah menjual dirinya untuk seorang jalang...Meski pertama-tama Saito pikir Louise mungkin jatuh cinta, dia menyingkirkan cahaya harapan terakhir dari pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengarkan aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kayakan padaku sejujur-jujurnya. S-siapa yang paling kau cintai di dunia?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengubur wajahnya di dada Saito dan berucap dengan nada memelas. Saito merasa pening kepala dan menjawab tak jelas. &amp;quot;T-tuan-sama. Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bohong.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan kebohongan. Saat dekat, hanya Louise yang bisa membuat dadanya berdetak begini. Namun, Louise yang sekrang...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Louise bangkit, dan tototo. berlari ke sisi lain kasur. Setelah mengeluarkan sesuatu dari celah rahasia di dinding disamping kasur, dia berlari ke Saito dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;N. N, nh&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia menyodorkannya pada Sairo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;apa...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Ambillah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barang rumit yang disodorkan terbuat dari wol rajut. Dalam hal apapun juga, ia tampak tak bisa dipakai. Saito menerimanya dan membengkokkan kepalanyam mencoba mencari tahu gunanya. Apakah mungkin, iini sesuatu untuk &amp;quot;dipakai&amp;quot;? Tidak, takkan pernah. Dia tak punya bagian tubuh dimana ini bisa masuk. Louise dengan diam terus menonton Saito...Dengan mata yang tampak berkaca-kaca dari tangisan. Aah, tak bisa menolak saat melihat mata yang seperti itu. Mata itu merupakan mata penih harapan. Dan dia tak bisa menjawab harapan Louise karena dia tak tahu sama sekali ini untuk apa, namun, dia harus melakukan sesuatu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa-apaan ini, pikir Saito, Berfikirlah! Yaaah, kalau dilihat-lihat, ini sepertinya mirip mainan Medusa. Ia juga bisa dilihat sebagai spesies fauna Burgess yang menguasai lautana di masa kuno. Meski ia tampak seperti hewan misterius. kareba Louise yang menyerahkannya padaku, ia pasti punya kegunaan. Ah! Pikirkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito kebingungan, perlahan kehilangan kendali. &amp;quot;Hebat! Ini? sesuatu yang luar biasa! Tampilan Medusa! Yang terbaiklah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Lousie jatuh. &amp;quot;Itu berbeda...bukan itu...Itu sweater.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kata alien Sweater. ia berbeda sama sekali dari apa yang diharapkan orang. Ia dengan mudahnya melewati bayangan Saito. Panik, Saito mencoba memakainya. Tapi bagaimana mengenakannya? Entah bagaimana, ia menemukan sebuah lubang dan mendorong kepalanya masuk. Tapi lengannya tak keluar dan setengah kepalanya tetap tersendat didalam. Tersendat dengan cara yang tak enak, Saito berdiri diam. Kemudian, Louise memeluk erat Saito dan mendorongnya jatuh ke kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “L-Louise...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena lengannya tertahan oleh sweater, dia tak bisa bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tenanglah,&amp;quot;  mohon Louise pada Saito&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa? Aku sudah diam. Tapi itu karena aku tak bisa mengeluarkan lenganku dari sweater.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak bisa.&amp;quot; katanya pelan, jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memegang Saito erat, bagai seorang gadis memeluk boneka hewan kesukaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ugh, bukankah kau harus ke kelas?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa, Aku bolos saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muhaa! Semakin dia memikirkannya, semakin mencurigakanlah semuanya. Biasanya, Louise tak pernah bolos kelas dengan begitu ringannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk seharian ini. Karena, jika kau ditinggalkan, kau bermesraan dengan gadis lain. Aku benci itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya dia ingin mengikat saito dengan ini. tapi, untuk seorang Louise yang harga dirinya begitu tinggi untuk mengatakan hal semacam itu...Bahkan jika dia merasa begini, dia takkan pernah mengucapkannya keras-keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Katakanlah sesuatu.&amp;quot; ucap Louise dengan manisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito, ada apa dengan Louise? fikirnya, sambil mengkahwatirkannya, apa yang membuat Louise mulai berbicara begitu lembut dan halus.&lt;br /&gt;
---------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siangnya, Louise akhirnya terlelap. Gadis muda itu mengorok lemah dalam tidur nyenyaknya. Kemudian Lousie dengan sembunyi-sembunyi menyelinap keluar kamar dan menuju ruang makan. Dia juga hendak mengambil bagian Louise. Siesta, yang sudah menyiapkan makan siang di dapur, dengan manis tersenyjm saat dia selesai menjelaskan situasi yang dihadapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau terkenal.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, ini beda. Lousie bukan dirinya. Dia berkelakuan lucu. Tak bisa diapa-apakan, dan kini aku harus dapt sebagian dari makanan ini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengataknnya dengan nada khawatir, sedangkan Siesta menginjak-injak kaki Saito tanpa menghentikannya senyumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu bagus.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-Siesta?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya dia benar-benar marah. Senyum dinginnya hanya menunjukkan kemarahan bekunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Heeeh. Nona Vallière, ningrat yang harga dirinya tinggi itu tiba-tiba menjadi begitu manis pada saito. Apa yang membuatnya berubah pikiran tentang Saito-san? Aku khawatir.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil tetap tersenyum, Siesta menguatkan injakannya pada kaki Saito. Saito berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-itu benar! Dia memang tiba-tiba mulai bertingkah aneh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;benarkah?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya...seakan-akan dia berubah jadi orang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar itu, Siesta mulai berpikit dengan wajah serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu mengingatkanku, kudengar ada ramuan sihir yang dapat mengubah pikiran orang jadi begini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ramuan sihir?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar. namun karena aku bukan seorang penyihir, aku mungkin tak mengerti benar tentang itu...tapi Nona Vallière takkan meinum barang semacam itu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito teringat malam sebelumnya. Tingkah Louise berubah drastis setelah masuk kamar Montmorency...selama dia bersembunyi dibawah selimut kasur. Pada saat itu, kelakuan Louise tiba-tiba berubah...Apa louise melakukan sesuatu setelahnya?...Ah...Itu mengingatkanku, dia berkata &amp;quot;Fuah! Aku haus dari lari kesana-kemari!&amp;quot; dan dalam sekali teguk meminum anggur merah di meja!....itu? Apa itu ya...? Saito mulai merasa curiga pada anggur merah dalam kamar Montmorency.&lt;br /&gt;
------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menunggu Montmorency keluar dari ruang makan dan mencengkram lengannya, Guiche, yang berjalan disebelah Montmorency, ngamuk. &amp;quot;hei! Apa yang kau lakukan pada Montmorencyku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, wajah Montmorency tiba-tiba memucat, bukannya mengeluh. Apa?! Meski dia mencengkram lengan seorang ningrat seperti itu!  Sepertinya Montmorency, yang bahkan lebih arogan dari Louise, tak ingin membuat keributan lebih lanjut. Dengan kata lain, dia merasa berutang pada Saito soal sesuatu dan ia pasti berhubungan dengan perubahan Louie yang tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei Monmon.&amp;quot; Saito menatap Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan aneh membuang muka. Dia tak marah dipanggil Monmon. Ini makin lama makin mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau buat yang diminum Louise?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&#039; Guiche membuat wajah curiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Montmorency memberikan Louise sesuatu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei Guiche. Kau melihat perubahan Louise kan? Suatu saat dia marah, setelahnya dia menempatkan telapaknya dengan lembut. Bahkan orang setolol kau harusnya jadi curiga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche berpikir sambil menyilangkan lengannya. Ini makan waktu, karena dia lamban sebagaimana biasa. Lalu Guiche, yangd engan usaha keras ingat kejadian malam sebelumnya, menganggul. &amp;quot;Ia sebagaimana katamu. Seharusnya tak mungkin bagi Louise untuk jadi lembut tiba-tiba kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar! Monmon! Louise jadi aneh setelah meminum anggur di kamarmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu anggur yang kubeli! Tiada yang mencurigakan soal itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengatakan itu, Guiche menyadari tingkah tak biasa Montmorency. Dia tengah menggigit bibirnya kuat-kuat dan tetes-tets kecil keringat dingin muncul di dahinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Montmorency! Anggur itu, benarkah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Anak itu meminumnya tanpa permisi!&amp;quot; teriak Montmorency, karena tak tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya! itu salahmu!&amp;quot; katanya sambil menunjuk Guiche, menepuk hidung Guiche dengan jarinya. Kini, dengan amrah yang berbalik, Guiche dan Saito mematung  dan hanya menonton Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena kau selalu main kemana-mana!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau1 apa yang kau taruh di anggur itu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengerti. Montmorency ingin Guiche meminum sesuatu yang ditaruh dalam anggur. Tapi malah Louise, yang menyerbu masuk, yang meminumnya. Untuk sesaat, keduanya, Guiche dan saito, berdiri dengan enggan dan malu, kemudian menyurut kebelakang. Kemudian Montmorency dengan nada pelan dan tertahan bilang. &amp;quot;...Ramuan cinta.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ramuan cinta!&amp;quot; teriak Guiche dan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency buru-buru menempatkan kedua tangannya pada mulut keduanya dalam panik. &amp;quot;Tolol! Jangan keras-keras!...ia dilarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mencengkram lengan Montmorency, menyingkirkan tangannya dari mulut dan berteriak. &amp;quot;Ya jangan memulai semua ini dong! Tolonglah Louise, entah gimana!&amp;quot;&lt;br /&gt;
--------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency, saito dan Guiche memeras otak dalam kamar Montmorency. Montmorency menjelaskan pada keduanya dengan arogan bahwa dia membuat sebuah ramuan cinta untuk mencegah Guiche berselingkuh. Dia menaruhnya dalam gelas Guiche agar dia meminumnya, Tapi kemudain Saito dan Louise menyerbu masuk kedalam kamar. Tak sulit bagi Saito untuk membayangkan apa yang terjadi setelah itu. Tak tahu apa-apa, Louise meminum semuanya. Saito berteriak, &amp;quot;Apa yang telah kau lakukan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Tapi. kalau tidak, dia takkan jatuh cinta padaku kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche, yang hingga tadi diam, memegangi tangan Montmorency yang memerah. &amp;quot;Montmorency, kau begitu perhatian padaku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah! Kau pikir aku melakukannya untukmu? Aku takkan menyia-nyiakan waktuku untuk itu. Hanya saja, adalah tak enak bagiku, bahwa kau berselingkuh di belakangku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merah pada pipi Montmorency dengan cepat berganti wajah masam nan arogan. Sebagaimana bisa diduga, harga diri seorang wanita ningrat Tristain sangatlah tinggi. Sangat mementingkan diri sendiri dan arogan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan khawatir soal aku yang berselingkuh! Aku pelayanmu, selamanya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche mendekap Montmorency erat. Kemudian, dia memegang pipinya, mencoba menciumnya. Montmorency yang terpana menutup matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hentikan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Saito menarik dan memisahkan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau lakukan, tolol?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak penting itu! Tolong Louise dulu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia bakal sembuh cepat ataupun lambat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kapankah &#039;cepat ataupun lambat&#039; ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency terlihat ragu-ragu. &amp;quot;Fisiologi tiap orang beda-beda, mungkin ia bakal makan sebulan atau mungkin setahun...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau berencana membiarkanku minum itu?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche memucat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu terlalu lama. Yang cepat! Bagaimanapun caranya! lakukan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memanjangkan lehernya dan mendekatkan wajahnya pada Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengerti! Tapi butuh waktu untuk menyiapkan penawarnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Buruan dan lakukan itu! Sekarang! buat itu sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, untuk membuat penawar, ada obat tertentu nan mahal yang diperlukan, aku gunakan seluruh uangku untuk membuat ramuan cinta dan itu sangat mahal. Aku tak bisa melakuaknnya dalam waktu dekat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, uang bakal susah didapatkan, jangan berlebihan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tiada uang? Kalian adalah ningrat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saat Saito berteriak, Guiche dan Montmorency saling memandangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meski kami adalah ningrat, kami juga murid.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Adalah anggota dewasa dari keluarga yang memiliki tanah dan uang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya minta ortu kalian untuk mengirimkan uang.&amp;quot; kata Saito pada keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, Guiche lalu mengangkat telunjuknya dan mulai berbicara. &amp;quot;Dengarkan, Di dunia ini ada dua jenis ningrat. Yang satu adalah ningrat yang tak punya keberuntungan yang bagus soal uang, yang satunya lagi - ningrat yang memiliki uang. Misalnya saja, de Montmorency. Keluarga Montmorency gagal dalam reklamasi tanah dan pengaturan tanahnya buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency menyela masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Atau seperti Keluarga de Gramont, keluarga Guiche, yang demi kehormatan, terlibat dalam sebuah perang dan menghabiskan seluruh uang mereka...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimanapun juga, ada ningrat yang tak berpunya. Sebenarnya, aku tak berlebihan lho, setengah ningrat di dunia ini hanya punya cukup uang untuk menjaga kediaman dan tanah disekitarnya. Tapi, seorang jelata sepertimu tentu takkan mengerti kesulitan menjaga kehormatan dan harga diri kebangsawanan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang ini...Saito dengan enggan mulai merogoh-rogoh dalam kantong jin dan parkanya. Kemudian dia menarik keluar koin-koin emas yang diterimanya dari Henrietta sebelumnya. Setengahnya dia tinggalkan di kamar Louise dan setengahnya lagi dia bawa sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Segini cukupkah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menghamburkan mereka ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uwaa! mengapa kau punya begitu banyak uang? Kau!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat jumlah emas yang terhampar di meja, napas Montmorency hampir saja terhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Luar biasa, bahkan ada beberapa yang 500 ecu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;jangan tanyakan darimana asalnya. Beli saja obat mahal itu dengannya di akhir besok.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency mengangguk dengan enggan.&lt;br /&gt;
__________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia kembali ke kamar dengan kantong yang kosong, kamarnya terlihat aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah bagaimana, seisi kamar dipenuhi asap seperti yang berasal dari rokok. tapi baunya harum. Louise tengah duduk di tengah ruangan dengan stik joss yang dibakar disekelilingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apaan ini? Ada apa dengan semua ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito berkata begitu. Louise, yang selama ini menunggunya, menjawab dengan nada terisak-isak. &amp;quot;Darimana saja engkau...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itulah Saito baru menyadari betapa menggodanya penampilan Louise. Dia tak mengenakan roknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tinggalkan aku sendirian...&amp;quot; katanya dengan nada terisak-isak sambil menangadah menatap Saito dengan pundungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya, selama dia merasa kesepian, dia mulai membakar semua aroma ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ma-maaf...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa dia tak memakai rok?! Dia mencoba memalingkan mukanya dari tubuh Louise saat dia menyadari fakta lain yang tak diduga. Yah...Lo-Louise, Louise Françoise, si nakal ini, rok bukanlah satu-satunya yang dia lewatkan...CDnya juga hilang. Garis perut bawahnya mengintip dari celah kemejanya. Tiada tanda-tanda pakaian dalam di dalam. Saito mulai gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;K-kau, P-pakailah C-c-c-cdmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil gemetaran, dia berteriak sambil memalingkan muka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Takkan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa tidak?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak cukup seksi. Aku tahu ini karena malam demi malam, Saito tidur disisiku di kasur, tapi dia tak melakukan apapun padaku. Aku tak tahan lagi.&amp;quot; kata Louise dengan nada terisak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-itu, kau, aku, apa kau berkata kau ingin aku m-mendorongmu jatuh dan l-l-l-l-lakukan hal-hal itu padamu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&amp;quot;A-apa itu buruk...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, aku akan mengejapkan mata dan selama sejam, aku akan berpura-pura tak tahu apa-apa.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi dengan mengatakan bahwa dia akan berpura-pura tak tahu...Louise membuat sebuah komitmen besar. Louise menarik ujung kemejanya kebawah untuk menutupi kemaluannya dan bangkit berdiri. Louise menggerakkan kakinya yang telanjang dan kurus. Hati Saito berdetak dalam dadanya, suaranya bagai deringan sebuah bel yang terus-menerus. Louise melompat ke dada Saito. Bau harum rambutnya bahkan lebih kuat dari aroma wewangian dalam ruangan. Dia tak pernah menggunkan parfum, ini bau alami tubuhnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan wajahnya terkubur dalam parka Saito, Saito gemetaran dan bergerak-gerak. &#039;Aku kesepian...Bodoh...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua tangan Saito menempatkan diri mereka pada tubuh Louise. Mereka tampak memeluknya erat secara insting. Saito menggigit bibir. Dia agak menekankan gigitannya untuk mendapatkan kembali kesadarannya melalui nyeri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise hari ini...bukanlah Louise yang kukenal. Adalah ramuan cinta yang membuat diriku kehilangan akal. Louiseku adalah yang kulindungi dan kusukai...Dengan alasan ini, aku tak bisa memeluknya dengan keadaannya sekarang. Apa yang terjadi jika remnya gagal? Dia pasti menelan Lousie bagaikan binatang buas. Karena cinta, ini tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito, dengan tangan yang gemetaran, mencengkram bahu Louise. Kemudian dia menatap lurus pada mata Louise dan memeras keluar suara sehalus mungkin. &amp;quot;Louise...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saito...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-yah...kau bertingkah aneh hari ini karena suatu obat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Obat...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menengadah pada saito dengan mata yang berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar. Kau kini bukanlah dirimu yang sebenarnya. tapi jangan khawatir. Aku akan menemukan penawarnya, bagaimanapun caranya. OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini bukan karena obat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menatap lurus pada Saito. &amp;quot;Perasaan ini bukanlah karena obat. Karena setiap kali kumelihat Saito, jantungku mulai berdetak liar. Tak hanya itu...Aku tak bisa bernapas dan merasa tak tertolong. Aku tahu, perasaan ini adalah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-itu beda. Aku akan menerima bila itu adalah perasaanmu yangs ebenarnya, tapi ini bukan, ini beda. Ini karena obat. Penawarnya akan ada besok malam, jadi tunggu hingga saat itu. Yah, itu..dan, kini. pergi tidur yuk?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menggelengkan kepalanya.&amp;quot;Aku tak paham. Itu tak ada kaitannya. bagaimanapun. kau harus memelukku erat atau aku tak tidur.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika aku melakukannya, kau akan masuk kasur/&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengangguk. Saito membawanya ke kasur. Kemudian berbaring, bergeser ke sisinya. seperti biasa, Louise memeganginya dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;jangan kemana-mana. Pandangilah aku, hanya aku, jangan yang lain. hanya aku.&amp;quot; ulangnya, bagaikan itu semacam mantra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menganggul. &amp;quot;Aku takkan kemana-mana. Aku akan tetap disini untuk waktu yang lama.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;aah. Ya. jadi tenang sajalah, ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;un...Jika Saito berkata begitu, aku akan tidur. Karena aku tak ingin dia membenciku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Louise tak pergi tidur, dan malah bergeser sedikit dan menempatkan wajahnya yang memerah ke punggung leher Saito. Sebelum Saito sempat memikirkan apa yang tengah dilakukannya, dia mulai mencium leher Saito. Ini bagai tusukan ribuan harum sepanjang tulang punggungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaaaaaaaaaah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai gemetar ketakutan. Sementara itu, Louise mulai mengisap kuat-kuat kulit Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise! Louise!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kau tak hentikan ini, aku akan mati. Tapi Louise tak berhenti. Dengan pipi yang memerah, diamatinya tempat yang baru saja diciumnya. tempat itu memerah seakan digigit serangga. Menyadari ini, Louise melanjutkan dan terus meninggalkan tanda di kulit Saito dengan rasa ketertarikan nan tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise, hentikan! Aku sudah! Aku! Aah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fikirannya sudah tak tahan. Saat Louise menyingkirkan bibirnya, dia bergumam dengan nada pundung. &amp;quot;Tidak, aku takkan berhenti. Saito adalah milikku, hanya milikku. Karenanya, aku akan meninggalkan tanda untuk menunjukkan dia milikku dan menjaga agar gadis-gadis lain menjauh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, siksaan Saito berlanjut untuk beberapa waktu. Louise mulai meninggalkan bekas ciuman tak hanay di punggung lehernya tapi bahkan juga di dadanya, Akhirnya ada 10-an. Konvulsi kuat Saito menjadi gemetaran ringan saat bibir Louise akhirnya meninggalkan dadanya. Kemudian Louise memutarkan kepalanya ke samping, menunjukkan lehernya sendiri pada Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, kau tandai aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-tapi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memandangi leher Louise yang kurus dan putih salju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau tak melakukan ini - aku takkan pergi tidur.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada jalan lain. Saito mengejapkan matanya dan membawa bibirnya pada leher Louise. Dia menyentuhnya. Sebuah desahan dalam meluncur dari bibir Louise. Tak pernah mendengar desahan yang begitu manis darinya sebelumnya, Saito hampir tewas. Dengan ketegangan nan tinggi, dia mengisap kulit celadon Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nh...!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise pasti tegang juga, tuh dia mengerang sebagai bukti. Kelelahan dengan cepat menghampirinya dan Louise mulai bernapas sebagaimana seorang setengah tertidur setelah sesaat. Saito bernapas keras-keras, dia harus menahan diri berkali-kali, klo tidak, dia bakal menyerang Louise yang dengan damai terlelap disisinya. tenanglah! Louise bersikap begini hanya karena ramuan itu! Dia harus cepat-cepat mencari penawarnya, untuk mengembalikan Louise yang sepedas biasanya, bukan yang manis begini!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito lalu menyadari  apa yang digenggam erat Louise dalam tidurnya. Itu kalung yang dibelikan Saito ketika ke kota. Dia menggenggamnya erat seakan itu semacam harta berharga. Melihat pemandangan nan manis ini hampir membuatnya kehilangan seluruh tenaganya. Ini kejam. Louise sangat jahat. Adalah sebuah kejahatam untuk terlihat begitu manis. Tanpa sadar, dia mengulurkan tangannya menjangkau Louise, hanya untuk menahannya dengan yang satunya lagi. Aku tak punya hak untuk mengambil kesempatan pada Louise dengan cara ini. Ini terjadi bukan karena aku. Ini karena ramuan. Tahanlah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja aku tak pernah menginginkan Siesta mengenakan seragam pelaut itu, Louise takkan jadi begini...Karenanya ini salahku. Aku tak berguna, pikir Saito. Aku tak pernah menolak kesempatan untuk bermesraan dengan seorang gadis dan...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta. Ya, Siesta....Aah, Siesta, cukup dengan kehadirannya, aku tenang. dia juga berparas bagus.,,,Tapi saat Louise didekatnya, hatinya berdegup....Aah, manakah yang lebih kucintai?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekhawatiran yang sangat mewah. Dia bahkan tak pernah membayangkan bakal mengkhawatirkan soal beginian saat masih di bumi. Melihat wajah Louise yang tertidur, dia mulai berfikir...Mengapa kembali ke dunia asalnya, jika kau bisa tinggal disini?...Saat Louise menjadi Wanita Senat Henrietta, semakin sulit untuk berkelana ke timur...Meski dia kecewa, di saat yang bersamaan, dia juga merasa senang. Karena dengan itu, dia bisa tinggal di sisi Louise. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah, Bumi, Siesta dan Louise. Ketiganya berputar-putar dalam kepala Saito, membuatnya frustasi...Pilihan mana yang kuambil? Dia bisa saja tak memilih sekarang, tapi suatu saat, dia harus....Mungkin, di masa depan yang dekat.&lt;br /&gt;
___________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sore hari berikutnya, Saito tengah berada di kamar Montmorency. Dia bertengakr dengan Louise sebelum meninggalkannya dan datang kesini...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak bisa membuat penawar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan wajah terangkat, Saito menatap Montmorency. Disamping Monmon, Guiche duduk sambil memegangi dagu dan terdiam nanar. Montmorency dan Guiche telah pergi ke kota hari itu untuk bertemu para pedagang pasar gelap dengan harapan menemukan penawar, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini tak bisa diapa-apakan! ia terjual habis!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus kapan kau bisa membelinya?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu...sepertinya mereka tak punya apa yang diperlukan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memangnya apa itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Obat khusus dari Danau Ragdorian, di perbatasan dengan Gallia, Ia terbuat dari air mata roh air...Namun sepertinya mereka tak bisa berhubungan dengan roh-roh air sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Apaa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;dengan kata lain, kita tak bisa mendapatkan obat khusus ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu bagaimana dnegan Louise?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, maksudku, klo dipikir-pikir, apa sih jeleknya ini? Dia telah jatuh cinta padamu. Kau menyukai Louise, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Saito tak bisa setuju dengan apa yang dikatakan Guiche. &amp;quot;Aku tak bisa bahagia jika alasan dia menyukaiku adalah karena obat itu. Itu bukan perasaan Louise yang sebenarnya. Itulah mengapa aku ingin Louise kembali menjadi dirinya yang sebenarnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi...Montmorency manyun dan Guiche menggelengkan kepalanya dengan enggan. Bahkan Saito pun berpikir dalam hening untuk sesaat, sebelum akhirnya dia mengepalakan tangannya, membulatkan tekad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dimana roh air itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Aku sudah bilang padamu, di danau Ragdorian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kau hanya perlu bertemu dengannya, kan?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eeeeeh!? Kini, dengarkan! Roh air jarang sekali memunculkan wajahnya pada manusia! Dan jika dia muncul, dia sangat kuat! Jika dia dibuat marah, hasilnya bisa mengerikan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Aku tak peduli, Ayo berangkat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi aku peduli! Aku sudah mutlak tak pergi1&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menyilangkan lengan. &amp;quot;Baikalah kalau begitu, hanya ada satu hal yang bisa kulakukan. Aku harus bilang soal ini pada Baginda Yang Mulia Putri tentang ramuan cinta ini, atau Baginda Yang Mulia Ratu ya sekarang? Bagaimanapun, aku pasti harus meminta bantuan padanya soal ini. Klo dipikir-pikir, bukankah ramuan itu dilarang? Berarti seharusnya ia tak boleh dibuat, kan? Sekarang...apa ya yang bakal dilakukan Paduka bila mengetahui hal ini/&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Montmorency memucat dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana menurutmu, Monmon?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya sudahlah! Aku mengerti! Aku akan pergi, jika kau pergi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm, kita tak bisa biarkan Louise tinggal klo begini. Nanti malah ada yang menyadari tingkah anehnya dan curiga soal ramuan cinta.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche menggelengkan kepalanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan takut cintaku. Aku akan selalu disisimu selama perjalanan ini.&amp;quot; kata Guiche sambil bersender masuk dan mencoba dengan perlahan menempatkan tangannya pada bahu Montmorency, tapi Montmorency dengan cepat menghindarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu tak benar-benar menginspirasi. kau terlalu lemah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, ketiganya membuat persiapan untuk perjalanan ini. Mereka akan pergi hari berikutnya, saat pagi buta. Karena mereka tak tahu bagaimana gerak-gerik Louise  bila ditinggalkan sendiri, mereka memutuskan membawanya turut serta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;haah, ini kali pertama ku nolos sekolah.&amp;quot; desah Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan bagaimana denganku, karena aku tak ke sekolah selama setengah tahun sekarang? Setelah Saito datang, petualangan selalu ada tiap hati! Ahahaha!&amp;quot; Guiche meledak dalam tawa yang hangat.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab4&amp;diff=435048</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Bab4</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab4&amp;diff=435048"/>
		<updated>2015-04-03T07:52:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 4 - Rahasia Tabitha==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa hari sebelumnya, di ujung pagi hari Louise mengejar Saito kemana-mana. Kirche dan Tabitha duduk di kereta yang ditarik kuda. Mereka telah menjelajah dari tenggara, dari akademi sihir. Kirche menarik keluar kepalanya dari jendela dan berteriak. &amp;quot;Tabitha! Lihat ini! Sapi! Banyak lho! Lihat! Ada banyak sekali!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rancah berada dikedua sisi jalan dan sapi-sapi tengah merumput.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mereka merumput! Moo, Moomoo!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Tabitha tak bereaksi. Dia terus membaca bukunya sebagaimana biasa. Merasa bosan, Kirche melemaskan lengannya keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, Tabitha. Ini perjalanan pulang yang sudah lama ditunggu kan? bukankah kau seharusnya lebih senang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Louise dan Saito tak ada karena dipanggil ke Istana Kerajaan, saat dia mendatangi kamar Tabitha untuk bermain, dia terkejut menemukan Tabitha mengemas barang-barangnya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau hendak melakukan perjalanan?&amp;quot; tanya Kirche padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha menjawab bahwa dia hrus pulang untuk melihat ibunya, Meski Tabitha dingin sebagaimana biasanya, Kirche merasakan ada yang beda dalam suaranya. Jadi Kirche dan Tabitha berangkat bersama. KArena keluarga Tabitha mengirimkan sebuah kereta, mereka tak perlu menggunakan naga anginnya. Ia berputar-putar diatas mereka di langit selama pejalanan sambil membawa Salamander Kirche di punggungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena sekolah telah memberikan izin resmi untuk kepergian kita, ia takkan dihitung sebagai absen dan kita tak perlu khawatir soal membersihkan menara sebaagi hukuman.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha terus melihat bukunya tanpa menjawab. Aku telah menjadi temannya selama lebih dari 3 tahun, dan aku tetap tak tahu apa yang dipikirkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche memutuskan untuk mencoba dan memulai pembicaraan yang berbeda. &amp;quot;Ini kali pertama aku mempelajari bahwa ibu pertiwimu bukan Tristain, melainkan Gallia. Kaus eorang murid pindahan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka sebentar lagi melewati perbatasan, Kirche sudah meminta Kepsek Osman untuk menandatangani dan menyediakan dokumen-dokumen untuk keamanan pelewatannya. Kirche punya rasa samar-samar bahwa nama Tabitha adalah psudonym...Tapi dia tak pernah menanyakannya soal asal namanya. Tabitha. Ia sebenarnya nama yang cukup biasa. Bahkan jelata akan memakai nama yang lebih baik. Ia semacam nama  yang bisa diberikan pada kucing. Selama ini, dia selalu berpikir bahwa Tabitha mungkin menyembunyikan perihalbahwa dia berasal dari keluarga aristokrat terhormat Tristain, tapi dia salah, dia sebenarnua berasal dari bangsawan Kerajaan kuno Gallia yang berbatasan dengan Germania.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanah Halkegenia dikelilingi lautan dan punya busuran yang lemah, menciptakan semenanjung raksasa. Hanya orang-orang asli tanah ini tahu kata-kata untuk menggambarkannya, Gallia berada di tenggara dan Germania, di timur laut. Tristain berada diantara keduanya dan ukurannya sama dengan Belanda+belgia di dunia saito. Luas wilayah kedua negara ini sektar 10x Tristain. Penduduk Tristain memanggil ibu pertiwi mereka &#039;negeri kecil&#039; dalam mempermainkan diri sendiri. Di semenanjung kecil di selatan yang menghadap laut, Negara-negara seperti Germania harus berperang untuk penguasaan lokal. Romalia sang negeri relijius terlibat dalam perang untuk penguasaan; kantor paus mengadvokasi kepercayaan tentang Brimir sang Pendiri dan para Tuhan. Kebetulan Kardinal Mazarini berasal dari Romalia.Terus-terusan melayang diataslautan dan tanah utama Halkegenia adalah benua melayang Albion. Bila mau ikut aturan, Albion bukanlah bagian dari Tanah utama Halkegenia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche berbalik untuk menanyai Tabitha, &amp;quot;Mengapa kau belajar di sebrang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Tabitha tak menjawab perkataan Kirche. Dia terus duduk dan membaca bukunya sebagaimana sebelumnya. Kemudian Kirche tiba-tiba menyadari sesuatu. Halaman di bukunya tak pernah berubah, ia sama seperti sebelumnya. Selama ini, Tabitha terus memandangi halaman yang sama. Kirche memutuskan untuk tak bertanya lagi. Apapun alasannya untuk belajar sebrang atau kembali pulang, dia akan menunggu hingga Tabitha bilang soal itu sendiri. Dia mengerti bahwa pada saat itu, saat Tabitha mengemas barang-barangnya, dia dikelilingi suasana yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski umur mereka berbeda, mereka berteman, dan tak hanya karena sekolah mereka sama. Meski berteman, ada hal-hal yang kedua sisi tak dpat dipaksakan untuk membicarakannya. Tabitha yang tak buka mulut sering-sering. Kirche perhatian sebagai seorang senior. Keduanya punya alasan masing-masing untuk melewati perbatasan dan pergi ke Tristain. Sambil meneruskan berjalan. Kirche teringat pada berbagao situasi politik berbagai negeri. Meski dia tak tertarik politik. Namun dengan isu-isu perang yang beterbangan di sekelilingm dia tak bisa tidak tapi mengira-ngira dengan pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gallia tetap netral dan terus diam soal penyerbuan Tristain oleh Albion. Meski ancaman dpat terasa dari perubahan politik di Albion dan pemerintahan baru mereka. Sebuah proposal aliansi dibuat oleh Tristain, tapi ditolak. Hampir pasti mereka akan mempertahankan netralitas mereka selama wilayah mereka aman. Ada isu yang masuk kupingnya soal Gallia yang membakar krisis dalam negeri ini. Dengan seluruh masalah internal dan eksternal ini, bukan perkara mudah untuk membayangkan pening yang diahadapi para politikus. Dia terus menemani Tabitha ke Kerajaan Gallia. Meski mereka datang sebagai turis, Kirche punya firasat kuat sesuatu yang salah tengah berlangsung. Saat dia memikirkan ini, dia dengan kosong mengeluarkan kepalanya dari kereta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaris penduduk desa muncul muncul jauh didepan kereta. Perhatian Kriche tertuju pada barisan yang terdiri dari kurdang dari 10 penduduk desa. Semuanya memakai jubah bertudung yang menutupi wajahnya. Kirche menyadari bahwa mereka semua membawa tongkat sihir. Kalau dilihat lebih seksama, bentuk tongkat mereka sepertinya menunjukkan mereka adalah tentara. Karena kini perang berkobar, hal semacam itu tak asing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuda terus melaju. Melalui celah tudung jubah, dia dapat melihata wajah salah satu ningrat. Itu mata seorang pemuda yang sangat tampan. Dia menyenderkan kepalanya pada lengannya dan mendesah. &amp;quot;Seorang ganteng, di tempatku berada.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu dia tiaba-tiba menyadarinya. Kupikir akau tahu dia. &amp;quot;Diamana aku melihatnya ya...siapa ya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandanginya saat dia masih terlihat, panas tubuhnya naik lalu mendingin. Aantusiasmenya segera pergi saat dia tak lagi bisa melihatnya, pria itu segera terlupakan. Kirche maju dan memandangi Tabitha. Mata biru intannya yang disembunyikan dibelakang kacamatanya memandang ke bawah pada halaman buku yang sama. Sambil dengan lembut menaruh tangannya di abahu Tabaitha, dia aberkata dengan suara bersemangatanya yang biasa. &amp;quot;tak apa-apa. Apapun yang terjadi, aku akan bersamamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, mereka terus melanjutkan perjalanan selama 2 hari hingga mereka mencapai gerbang. Di titik pemeriksaan tapal batas, para penajaga membaca dokumen mereka dan menyilahkan mereka masuk. Ini Gallia. Bahasa dan tradisi Gallia serta Tristain miripsatu sama lain. Mereka juga dikenal sebagai &amp;quot;Mahkota kembar&amp;quot;. Saat mereka tiba adi persimpangan perbatasan, para penjaga menghampiri dan meminta bukti perjalanan. Sambil memegang tombak besar, merekaa membuka pintu dan mengonfirmasi izin wisata Tabaitha dan Kirche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melihatnya dan berkata dengan enggan. &amp;quot;Jalan didepan tak dapat digunakan lagi, kau harus memutar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa, apa yang sedang terjadi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena kini, danau meluap dan beberapa jalan sudah penuh kebanjiran.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Danau Ragdorian merupakan danau abesar yang terbentang disepanjang perbatasan Gallia dan Tristain. Ia tempat dengan apemandangan terindah di Halkegenia dan punya reputasia besar. Setelah maju sebentar dia jalan itu, mereka akhirnya amencapai daerah terbuka.  Jalannya terletak di ujung sejumlah kecil bukit rendahm dan pembukaan di ketinggian terpisah dari Danau Ragdorian. Di seberang pesisir danau adalah Tristain. Sebagaimana yang dikatakan penjaga, permukaan air danau dipastaikan telah naik. Tanpa melihat batas danau pun, mereka bisa menyaksikan air sudah mencapai bukit-bukit terdekat. Bunga dan rumput yang terendam air dapat terlihat. Tabitha menutup bukunya dan memandang keluar jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Apa rumahmu dekat sini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bentar lagi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini pertama kalinya Tabitha buka mulut sejak mereka naik kereta, Tapi dia diam lagi. Berganti ke jalan pegunungan, kereta kuda terus maju menuju rumah keluarga Tabitah. Mereka memasuki hutan dan mencapai tempat dimana pepohonan oak besar tumbuh. Petani-petani tengah beristirahat di bawah naungan bayanga-bayang, Kirche menyadari seorang petani dengan sekeranjang apel dan menghentikan laju kereta, Kemudian dia berteriak memanggil petani tersebut. &amp;quot;Itu sepertinya apel-apel yang lezat, berapa kau jual padaku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petani itu mengambil sebuah apel dari keranjang dan menyerahkannya pada Kirche untuk ditukar beberapa koin perunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini cukup untuk membeli seisi keranjang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dua cukup!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menggigit apel begitu petani tersebut menyerahkan apel kedua padanya. Kirche dengan cepat memberikannya pada Tabitha. Dia terus mengatakan. &amp;quot;Apel ini sangat enak. Apa nama daerah ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Daerah disekitar Ragdoriam merupakan area kendali langsung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Area kendali langsung?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Area yang langsung dipegang dan diatur raja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tanah ini dibawah penguasaan langsung Paduka, dan kami kini merupakan vassalnya.&amp;quot; kata petani tersebut sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanah itu sangat subur dan bagaikan keluar dari lukisan dengan keindahan ala gambar. Mengapa raja menginginkan tanah ini dapat dimengerti. Kirche memandangi Tabitha. &amp;quot;Area ini dikuasai keluargamu...apa kau...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekitar 10 menit, akhirnya mereka bisa melihat rumah Tabitha didepan. Ia berupa mansion Tuan tanah feodal nan kuno, yang dibangundengan penuh agung. Kirche memandangi ukiran sabit yang dapat dilihat di gerabng. Napasnya tertahan. Tanda itu berupa dua tongkat sihir yang bersilangan dan tertulis &amp;quot;untuk maju&amp;quot;. Ini adalah crest Keluarga kerajaan Gallia. namun, saat mereka mendekat, sebuah celah dapat terlihat pada crest itu. Itu tanda cela. Meski itu berarti ini adalah keluarga kerajaan, mereka dicabuti haknya. Kereta berhenti didepan pagar, dan seorang pelayan tua menghampiri mereka, membungkuk, lalu membuka pintu untuk Tabitha untuk bisa keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nona, selamat kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada orang lain yang datang dan ini membuat Kirche merasa daerah ini ditinggalkan. Dia turun dari kereta sambil memikirkan ini. Tabitha dan Kirche tiba di ruang tengah dengan bimbingan pelayan tua itu. Ruangan itus angat rapih, namun, kebisuannya aneh, hampir tampak tak beruh. Ia bagai kuil yang bersiap untuk pemakaman. Kirche duduk di sofa ruangan tengah dan berkata. &amp;quot;Bisakah kita pertama-tama mengatakan spunten pada ayahmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Tabitha menggelengkan kepalanya. &amp;quot;Tunggu disini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lalu meninggalkan ruang tengah. Kirche duduk di sofa dan memandang ke kanan begitu pelayan tua itu mendekat dengan anggur dan suguhan dan menyiapkannya untuk Kirche. Tapi dia tak menyentuhnya dan malah bertanya langsung pada pelayan tua itu. ;ini ruahnya, tapim sepertinya, kecuali engkau, tiada lagi yang tinggal disini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku butler keluarga Orléans, Percerin. Apa kau sahabat Nona Charlotte?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche mengangguk. Charlotte d&#039;Orléans sepertinya merupakan nama asli Tabitha. Orléans, Orléans, dia terus memikirkan nama itu, kemudian tiba-tiba dia memikirkan sesuatu. Orléans, bukankah itu nama keluarga adik Raja Gallia?  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa ada tanda cela di crest rumah ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya kau seorang asing, mohon ampuni aku, apa aku bisa menanyakan namamu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya Von Zerbst dari Germania. ngomong-ngomong, ada apa dengan rumah ini? MengapaTabitha belajar di sebrang menggunakan nama alias? Mengapa saat dia masih kanak-kanak?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butler itu mendengarkan pertanyaan Kirche kemudian mendesah. &amp;quot; Nona menyebut dirinya Tabitha...Begitukah...dia tak pernahmembawa teman sebelumnya. Karena kau orang yang bisa dia membuka diri, sehrausnya tak masalah untuk menceritakannya padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu Percerin membungkuk dalam-dalam lalu melanjutkan pembicaraan. &amp;quot;Kediaman ini sebenarnya adalah penjara.&amp;quot;&lt;br /&gt;
-------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha mengetuk pintu kamar terdalam di kediaman itu. Tiada jawaban. Semuanya biasa saja. Dalam lima tahun ini, tiada yang pernah membuka pintu saat ia diketuk. Saat itu, tabitha baru 10 tahun. Tabitha membuka pintu. Keadaan didalam kamar berbeda dengan bagian mansion lainnya. Yang ada di kamar hanyalah sebuah tempat tidur, meja, dan sebuah kursi. Tiada yang lain, Hembusan sejuk mengalir masuk melalui jendela yang terbuka. Renda bergelombang saat ditiup angin. Sis ruangan tak terganggu selaan. Ada wanita tinggi dan kurus, memegangi erat sebuah boneka di tangannya. Apa yang tersisa dari wajah cantiknya kini hilang karena sebuah penyakit. Dia diantara 35-40 tahun, tapi terlihat seperti 20 tahun. Dia mengintip Tabitha dengan mata ketakutan bagaikan seorang anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Siapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha membungkuk dalam-dalam sambil menghampiri wanita itu. &amp;quot;Aku telah kembali, ibu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, wanita itu tak mengakui Tabitha sebagai putrinya, Tak hanya itu, dia juga berbalik dari Tabitha dengan dingin dan berkata. &amp;quot;Enyahlah kau gadis murahan! Apa kau mata-mata dari keluarga kerajaan? Kau ingin merenggut putri cantikku Charlotte dari tanganku? Aku takkan pernah memberikan Charlotte padamu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitah tak bereaksi dan tetap menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Betapa buruknya untuk berpura-pura bahwa anak ini suatu hari ini akan menginginkan tahta...Aku sudah kenyang oleh hidup kotor istana! KAmi hanya ingin hidup tenang...Tinggalkan saja aku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya melempar gelas berisi air di meja pada Tabitha. Tabitha tak menghindarinya. Itu mengenai kepalanya dan jatuh ke lantai. Ibunya kembali menggosok-gosok wajah boneka. Sebagian wajah boneka terkuak dan menampakkan kapas dibawahnya, hampir pasti habis dari seluruh gosokan tangan ibu di masa lalu. Tabitha menampakkan sebuah senyum sedih, sebuah ekspresi yang hanya akan ditunjukkannya di kamar ini di hadapan ibunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Suamimu telah dibunuh, itulah emngapa kau begini; bagaimanapun juga, aku akan meninggalkanmu sekarang, tapi aku akan kembali cepat ataupun lambat. Hingga hari itu, mohon berdoa untuk keselamatan boneka putrimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angin bertiup mengalir masuk kamar melalui jendela-jendela yang terbuka, menggoyangkan tirai. Meski ini awal musim panas, angin yang bertiup dari danau terasa dingin nan menusuk.&lt;br /&gt;
-----------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seorang korban dari perang suksesi?&amp;quot; Saat Kirche menanyakan itu, Percerin mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kejadiannya 5 tahun lalu saat raja mangkat. Dia meninggalkan 2 putra mahkota. Yang kini bertahta adalah putra sulung, Joseph. Ayah Nona Charlotte, Duke Orleans. adalah putra kedua.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi dia memang berasal dari keluarga kerajaan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Duke Orleans berbakat dan dicintai semuanya, dia tampak sebagai penguasa yang pantas di mata rakyatm medki dia dia harus menghadapi kesulitan karena menjadi putra kedua. Karena ini, banyak orang mendukung sang Duke dan menginginkannya yang bertahta. Istana kemudian terbagi kedalm dua kelompok, keduanya meluncurkan usaha kotor untuk kekuatan. Akhirnya, Duke Orleans dibunuh. Dia kena panah beracun didadanya, Seseorang yang lebih terhormat dari siapapun di negeri ini dibunuh bukan oleh sihir, tapi panah beracun. Penyesalan dan amarah tak dapat dibayangkan. Namun tragedi masih lama berakhinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percerin mengambil napas dalam-dalam dan melanjutkan. &amp;quot;Kemudain, mereka yang menjadikan Joseph raja mulai menyasar Nona. Mereka ingin mnyingkirkan kemungkinan masalah di masa depan. Orang-orang ini mendatangkan Madam dan Nona ke pesta yang diadakan mereka. Namun, mereka meracuni minuman nona. Madam telah menyadari ini, dan untuk melindungi Nona, dia sendiri yang meminumnya. Sebuah sihir yang merusak pikiran seseorang telah ditempatkan di air itu. Sejak itu, Madam menjadi gila.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche, terkejut dan kehilangan kata-kata, mendengarkan pengakuan butler itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sejak itu, Nona menyegel mulut dan ekspresinya, Nona Charlotte asalnya ceria dan cerah, orang yang berbeda dengan saat ini. namun ini bisa dimengerti. Siapapun yang menyaksikan ibu mereka jadi gila akan jadi seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lainnya, mengetahui mereka telah gagal dan untuk melindungi mereka sendiri, mengirimkan perintah kerajaan pada Nona Charlotte, Tugasnya luarbiasa sulit, tiada yang pernah bisa menyelesaikannya hidup-hidup. Namun Nona menyelesaikan tugas dan menyatakan loyalitasnya pada keluarga kerajaan, untuk melindunginya. Tapi Nona Charlotte tetap diperlakukan semena-mena oleh keluarga kerajaan. Biasanya, prestasi ini cukup untuk mendapatkan sebuah daerah, tapi dia malah dihadiahi gelar Chevalier dan dipaksa belajar di sebrang. Madam tinggal disini, di rumah ini, dengan keadaan yang kini dia alami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percerin menggigit bibirnya penuh sesal. &amp;quot;Lalu...! Kapanpun keluarga kerajaan punya tugas sulit untuk diselesaikan, mereka memintanya melakukanpekerjaan kotor mereka? ayahnya dibunuh, ibunya diracun dan jadi gila, dia sendiri dipimpin dan disuruh-suruh mush pribadinya bagai duri dalam daging! Kutak pernah tahu sesuatu setragis ini, bagaimana orang bisa menjadi sebegitu jahatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche kini menyadari mengapa Tabitha tetap diam. Dia tak pernah tahu alasan mengapa Tabitha diberikan gelar Chevalier untuk tugas yang tak dimintanya. Di perjalanan, dia terus menatap halaman yang sama dari bukunya. Nama runenya adalah &#039;Badai salju&#039;. Angin dingin telah bertiup kedalam hatinya dan belum mereda. Rasa dingin yang dirasakannya, pikir Kirche, tak dapat dibayangkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau bilang Nona memperkenalkan dirinya sebagai Tabitha?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Madam merupakan orang yang sangat sibuk, namun, Nona kecil tetap bersikap terbuka dan ceria. Nona kecil sebenarnya sangat kesepian. Madam pergi ke kota dan memilihkan sebuah boneka khusus untuk Nona kecil selama jadwal padatnya. Nona sangat bahagia dan memperlakukannya bagaikan adik perempuannya. Kini boneka itu ada di tangan madam. Karena keadaan pikirannya saat ini, ida percaya boneka itu adalah Nona charlotte.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tabitha. itu nama yang Nona kecil berikan untuk boneka itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba Pintu terbuka dan Tabitha berjalan masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Butler membungkuk, menyembunyikan wajah nyerinya dan menyerahkan sebuah surat dari keluarga kerajaan. &amp;quot;ini perintah dariakeluarga kerajaan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha melepas segel setelah menerima surat dan mulai membcanya secara biasa. Saat dia selesaia membacanya, dia mengangguk ringan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Kapan kau mulai?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha menjawab bagaikan menjadwalkan jalana-ajalan. &amp;quot;Besok.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Diterima, Akua akan menyampaikan ini pada utusan. Akua mengharapkan keselamatnmu sat tugasini selesai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Butler membungkuk hormat alalu meninggalkan ruangan. Tabitha berjalan melewati menuju Kirche. &amp;quot;Tunggu disini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menggelengkan kepalanya. &amp;quot;Maaf, aku dengar semuanya, aku juga ikut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berbahaya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kutak bisa amembiarkanmu pergi sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha tak menjawab. Tapi dia menundukkan kepalanya dengan ringan.&lt;br /&gt;
----------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malamnya, keduanya tidur di kamar yang sama. Begitu Tabitha mengenai kasur, dia segera terlelap. Kirche tak abisa tidur dan berbaring di sofa dengan satu tangan di bawah bantal. Tabitha talh menjelaskan pada Kirche soal tugas macam apa yang bakal dilaksanakan, dan menyanyai Kirche apa dia benar-benar ahendak datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Meski aku telah berjanji...Ini pasti bukan tugas biasa. Besar kemungkinan mereka bisa tewas untuk menyelesaikan tugas ini. Tapi sebagai ningrat, resiko tewas tak pernah jauh-jauh. Daripada itu, dia lebih mengkhawatirkan anak ini. Kesepian macam apa yang kemungkinan telah ditanggung anak ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha tengah gelisah di kasurnya. Dengan tanggalnya kacamata, wajah tidurnya menyerupai seorang gadis kecil tanpa dosa. Wajah yang tak menunjukkan dia menanggung ketakbahagiaan yang tak pantas untuk seusianya, pengabdian terhormat yang memberinya gelar Chevalier dan tugas sulit yang harus dia selesaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Morn.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha berkata dalam tidurnya. Bahu Kirche bereaksi pada perkataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bunda, jangan minum itu. Bunda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha memanggil ibunya beberapa kali dalam tidurnya. Dahinya terus mengucurkan keringat yang makin menyangat setelah tiap panggilan. Kirche dengan lembut bangkit, berbaring di kasur di samping Tabitha, dan mendekapnya mendekat. Tabitha mengubur kepalanya dalam dada Kirche. Detak jantungnya tersalurkan pada Tabitha begitu mereka berbaring disana, mungkin itu terasa bagaikan milik seorang ibu. Beberapa saat kemudian, Tabitha tenang kembali, keringat malamnya pergi meninggalkannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirche, Dia pikir bahwa dia entah bagaimana mengerti alasan mengapa Tabitha memperlakukannya sebagai seorang teman. Hatinya belum beku sempurna, sedikit kehangatan masih tersisa didalamnya. Hanya saja angin es yang bertiup menyumbatnya. Dia mungkin merasakan bahwa api didalam Kirche dapat melelehkannya. Kirche, sambil perlahan terlelap, berkata dengan lembut.&amp;quot;Hai Charlotte. &#039;Ardent&#039; menghangatkan dan melelehkan segalanya, jadi kau bisa beristirahat dengan tenang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
--------------------------------------&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab3&amp;diff=435047</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Bab3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab3&amp;diff=435047"/>
		<updated>2015-04-03T07:51:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 3 : Baju Pelaut dan Kecemburuan Louise==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sinar matahari bersinar terang di plaza Austri. Saito tengah berguling-guling di tanah dan gemetaran hebat. Kemudia dia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengangkat wajahnya, memandangi karya seni yang dihasilkannya, dan sekali lagi menggila karena kegairahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&amp;quot;Hah, hah, hah...&amp;quot; napasnya memanas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Detak jantungnya mencapai puncaknya berulangkali dan membawa hati Saito pada utopia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bergetarlah, detak jantungku,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berdeguplah, hatiku yang penuh rindu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bergetarlah lebih dan lebih panas, berkahilah kejeniusanku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kata sang malaikat. Katanya disini. Aku bersyukur aku hidup....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menggenggam era-erat rumput yang tumbuh di tanah dan berteraik keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;UooooooooooOOOOOOH! Aku yang terheBAAAAAAAAT!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia menunjuk pada malikat dihadapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siesta juga yang terheBAAAAAAAT!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta, yang terheran-heran, menonton seluruh tingkah Saito karena kegairahan dan kesenangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito-san...aneh....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bergumam tak sadar. Itu benar-benar menunjukkan seaneh apa Saito berlaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-tapi, pakaian ini.....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa? Ada yang salah? Apa ada yang kurang?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito terbang denagn ringannya menuju Siesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-yah...maksudku, ini seragam militer kan? Bahkan jika aku mengenakannya, takkan terlihat bagus...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan berkata bodoh!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap mengancam Saito membuat Siesta &amp;quot;Hii...&amp;quot; dan mundur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di DuNIAAAA iiiiNIIIII! yakin itu pasti pakaian untuk prajurit angkatan laut! taPIIIIIIIIII! di duniAAAAAAAkUUUUUUU! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis-gadis usimu memakainya dan pergi ke sekolah! perGIIIIIIIIIIIIIIIIIII dalam bentuk kemajuan masa kini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-Ya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah, Saito san benar-benar aneh....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Sairo berteriak setengah menangis. &amp;quot;Ia disebut seragam pelaut di duniaku! MaaaaaaaaaaaaaF aku terlaHIIIIIIIIIIIIIIr!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta pikir, jadi ini toh....Ini pakaian dari tempat kelahiran Saito....Kemarin malam, Saito mendatanginya dan menyerahkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seragam pelaut dengan wajah kaku, Saat Saito berkata &amp;quot;Aku akan memermak pakaian ini sehingga bisa kau pakai.&amp;quot; Dia dengan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jujur pikir Saito telah kehilangan akal sehatnya, Meski begitu, Saito dengan jujur merasa senang bahwa Saito membelikan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pakaian untuknya, Dan kini, kepada Saito yang senang karena memakaikannya pakaian dari tempat kelahirannya, dia merasa malu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saat ini Saito normal, menarik diri darinya adalah satu-satunya yang mungkin dilakukan, tapi untuk alasan itu, wajah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pertamanya kukira Saito san jadi gila, tapi dia punya alasan seperti itu....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti! Siesta mengangguk dan berbalik untuk menghadap Saito dengan serius. &amp;quot;Apa yang harus kulakukan untuk &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menyenangkanmu lebih lanjut?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito, sekali lagi, memandangi penampilan Siesta dari atas sampai bawah. Pertama, bagian atas. Ia Permata indah yang terbuat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dari baju pelaut Albion, Lengan putih panjang dengan mulut hita, Kerah dan syal biru gelap. Tiga garis putih mengitari kerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, Saito mengembunkan kejeniusannya kedalam &amp;quot;panjang&amp;quot;. Saito, dengan segenap kemampuannya, memerintahkan Siesta &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
untuk membuat bagian perut pendek. Dengan memendekkan panjang bagian atas. Ia hanya mencapai ujung atas rok. Karenanya, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kapanpun Siesta membengkokkan tubuhnya, dia bisa melihat perut Siesta. Saito memang benar-benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, rok, Dia seharusnya tak melakukannya, tapi dia curi seragam cadangan Louise. Ia punya lipatan, jadi dia membuatnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
terpakai, Ini, juga, dipendekkan hingga yang terpendek yang dia bisa. Hasilnya, Sepertinya rok pertama di dunia lain ini yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berukuran 15 cm diatas lutut tercipta. Dan lalu kaos kaki, Mereka hasil dari gabungan antara keinginan Saito dan kenyataan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito denagn hati-hati memilih dan menyusun kaos kaki biru gelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepatunya. Mereka boot berenda tinggi yang selalu dipakai Siesta. Ia satu-satunya goresan dalam karya seni yang berkilau ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar mengingikan sepatu berhak disini. Sedihnya, itu tak ada di dunia ini. Bagaimanapun juga, Ini semuanya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
diperiksa dan disusun oleh Saito. Dada besarnya, yang biasanya tertutupi dan disembunyikan apron, terangkat oleh seragam &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pelaut buatan tangan. Kakinya yang kurus, dan sehat bagaikan kepunyaan serow, tersedot kedalam rok yang berada 15 cm diatas &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lutut. Siesta biasanya tak memakai rok yang pendek begitu, jadi campuran nostalgia dan kesegaran membuatnya lebih dan lebih &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tergerak secara emosional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bilang padaku! Saito-san! Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu mendekat pada tempat kelahiranmu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berpikir. Dengan serius tentu saja, mempertaruhkan nyawanya. Dia mengingat seluruh jenis pola. Seperti kalkulator nan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
canggih, kepala Saito berputar. Suara hatinya berbisik. Saito, HANYA ITU YANG BISA, Benar, Hanya itu...Hanya itu...Dengan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
suara yang hampir tersengak, dia meremasnya  keluar. &amp;quot;Berputarlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berputar-putar, seperti itu, Lalu, setelahnya, katakan &#039;Maaf membuatmu menunggu!&#039; penuh keceriaan padaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta melangkah mundur. Saito sejenis lelaki yang ibunya bilang padanya agar tak didekati saat dia masih kecil. Tetap saja &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta ingin menyenangkannya. Bagaikan menyiapkan dirinya, &amp;quot;Y-ya...&amp;quot; Dia mengangguk, dan Siesta pun berputar. Syal dan roknya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tersibak dengan ringan ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ma-maaf membuatmu menunggu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Salaaaaaaah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hii!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di akhir, kau mengankat satu jari dan bilang &amp;quot;ne&amp;quot;. Penuh keceriaan. Sekali lagi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengangguk, Siesta mengulangi sebagaimana diperintahkan. Melihat ini, Saito beretriak. &amp;quot;Terima kasih untuk &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
k-k-k-keberaniamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ini ga papa, Siesta? Benarkah...untuk orang ini? Dia agak merasakannya dari bagian dirinya yang lebih sadar, tapi Siesta &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menutupnya dengan penolakan. -Tiap orang punya hobi dan kesukaan yang tak bisa mereka katakan pada orang lain. Saito-san &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bukan kekecualian. Yah, itu saja... Ya, itu! Dia mengataknnya pada dirinyas endiri dengan cerah dan tersenyum. Siesta ini &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang harus kulakukan selanjutnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Um, selanhjutnya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito melipat lengannya dan mulai bingung soal ini, Dua orang berjalan mendekati mereka dengan sikap aneh. Itu Guiche &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan Malicorne si gemuk. Sebuah duo yang tak biasa. Seperti keduanya telah menonton Siesta dari tempat tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;ehem:, Guiche berdehem untuk menarik perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu...apa? Apa-apan pakaian itu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk alasan tertentu, Guiche bergairah saat memandanginya seakan dia hendak menangis. Malicorne juga menunjuk Siesta sambil &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lu-Luar biasa! Mutlak Luarbiasa! Bukankah begitu?! Guiche!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah, ini! Tak pernah kulihat pakaian seluarbiasa ini sebelumnya! I-I-itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia langsung menyerang pikiran!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata keduanya berkemilauan dengan sangat, dan menatap Siesta seakan hendak memakannya. Waaan, kepusingannya berlipat ganda, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta merasa agak gimana, tapi keduanya ningrat. Karena dia harus, Siesta memaksa tersenyum. Senyum dan seragam pelaut &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tampaknya merusak Malicorne dan Guiche secara sempurna, karena mereka mulai mendekat dengan tingkah terkagum-kagum bagaikah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seorang yang jalan sambil tidur. Siesta, yang merasakan bahaya pada tubuhnya, berkata &amp;quot;Yah, aku akan kembali bekerja!&amp;quot; dan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sangat manis...&amp;quot; guam Guiche degan nada melamun saat melihat Siesta melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar sekali...&amp;quot; Malicorne juga bergumam, tampaknya terikat mantra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalian kesini untuk apa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito berteriak, keduanya akhirnya sadar, Lalu, Guiche memeluk bahu Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;H-Hei kau, Dimana kaubeli pakaian itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang hendak kau lakukan dengan menanyakan itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche berkata dengan nada malu-malu. &amp;quot;A-Ada seseorang yang hendak keberikan pakaian itu sebagai hadiah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putri?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bodoh! Terlalu! Itu keterlaluan! Paduka Putri kini adalah Paduka Ratu! Aah, dia telah pergi ke tempat nan tinggi yang tak &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dapat kujangkau...Lebih baik saat dulu dia masih putri, tapi kini sebagai Ratu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat tinggi apa? Kau tak pernah punya kesempatan sejak awal. Pikir Saito, tapi dia memutuskan untuk tetap diam dan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, aku akhirnya ingat. Dia selalu di sampingku, terus menontonku dengan mata manisnya...Rambut blonde indah, senyum manis &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bagai parfum...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, mantan pacarnya. Saito menyadarinya. &amp;quot;Monmon?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot; Bukan Monmon! Ia Montmorency!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, begitu. Kau ingin mendekatinya lagi. Kau tahu, kau memang tak punya keutuhan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;AKu tak ingin dikatai begitu olehmu. Kini, bilang padaku. Dimana pakaian itu dijual?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmph, Seakan kau bisa pernah mengerti seni.&amp;quot; Sahut Saito. Dia tak ingin seseorang seperti Guiche mempermalukan ingatan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tempat kelahirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mau bagaimana lagi? Aku takkan hanya melaporkan kejadian hari ini, tapi juga menanyakan Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kata sihir yang paling pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku masih punya dua lagi. Gunakan mereka sesukamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menarik penyerahan diri maksimum Saito seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tetap saja. apaan sih pakaian ini? Kupikir aku pernah melihatnya dimana...gitu. Bukankah pelaut memakai pakaian itu? Untuk, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hmmm, seorang gadis memakainya dan memberi daya tarik yang begitu kuat! Misterius sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil melipat lengannya, Saito membusungkan dada dengan bangga. &amp;quot;Tentu saja. Ia memiliki sihir penarik dari tempat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kelahiranku terpasang padanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
----------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, di malam hari itu. Montmorency, yang bangga dengan rambut emas bergelombang panjang dan mata biru jernihnya, tengah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
meracik sebuah ramuan dalam kamar di asrama, Sambil menyenderkan tubuh tingginya di kursi, dia tengah serius meracik ramuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
rahasia dalam sebuah pot dengan alu kayu. Montmorency si &amp;quot;Harum&amp;quot;. seorang penyihir dari elemen &amp;quot;air&amp;quot;, memiliki hobo pada obat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sihir...membuat ramuan. Dan tepat seperti yang nama keduanya bilang, keahliannya adalah membuat pengharum. pengharum &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
buatannya dikenal memancarkan harum yang khas dan manis, dan dia sangat terkenal diantara para gadis dan wanita kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini, Montmorency dengan bersemangat menracik sebuah ramuan tertentu. Ia bukan ramuan biasa. Pastilah, sebab ini adalah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ramuan yang terlarang. Oleh proklamasi negeri, ia merupakan barang terlarang untuk diciptakan ataupun digunakan. Montmorency &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menjual pewangi yang dibuatnya ke kota, dan perlahan mengumpukan uang. Lalu, hari ini, dia menghabiskan uang yang ditabungnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan mendapatkan bahan-bahan untuk ramuan terlarang, juga obat rahasai mahal yang diperlukan untuk meracik. Di toko sihir &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hitam. Hobi menang atas moral. Karena kenyang soal membuat ramuan biasa, Montmorency ingin membuat sesuatu yang dilarang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
meski denda besar bakal ditimpakan padanya bila dia ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kayu wangi sulfur naga, dan mandragora yang digejrot, akhirnya, tinggal menuangkan obat rahasia nan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
essensial...cairan yang dibayar dengan uang yang begitu banyak untuk didapatkan. Dia meraih botol kecil disampingnya. Jumlah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang kecil...Untuk jumlah cairan yang begitu sedikit dalam botol parfum ini, Monmorency menghabiskan begitu banyak uang yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
telah ditabungnya, 700 ecu koin emas. Jumlah uang yang seorang jelata bisa gunakan ntuk hidup selama 5-6 tahun. Saat dia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
memiringkan botol kecil pada pot, dia berhati-hati agar tiada yang tumpah...seseorang mengetuk pintu, menyebabkan Montmorecy &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Si-siapa...? Saat begini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh bahan-bahan dan peralatan yang tadinya di meja kedalam lemari. Setelahnya, dia menuju pintu sambil menyisir &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
rambutnya keatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini aku! Guiche! Pelayan abadimu! Bukakan pintu ini untukku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pelayan abadi apaan&amp;quot;. gumam Montmorency. Dia tahu sifat ketidaksetiannya dengan cukup baik. Saat mereka jalan bersama di &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kota, dia akan tertarik dan melihat sekeliling mencari wanita cantik tanpa lelah. Saat mereka minum anggur di bar, Dia akan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mencoba menggaet pelayan kapanpun dia meninggalkan kursinya sebentar.Terakhir, dia akan melupakan janji kencan dan memetik &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kembang untuk seorang gadis di tempat lain. Adalah menggusarkan mendengarnya mengucapkan &#039;abadi&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency berbicara dengan nada gusar. &amp;quot;Mengapa kau datang kesini? Aku sudah putus denganmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sama sekali tak berpikir seperti itu. Tapi jika kau berpikir seperti itu, maka itu salahku...Bagaimanapun jua, aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mencintai hal-hal yang indah. Dengan kata lain, aku hamba keindahan...Seperti yang sudah kau ketahui, sni, benar sekali, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seni! Aku terlalu lemah terhadap hal-hal indah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau mencintai seni? Untuk seseorang dengan selera buruk, beraninya kau mengatakan itu. Pikirnya. Warna kemeja yang dipakain &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche saat kencan adalah ungu gingira, dan dia pening sewaktu Guiche datang memakai syal merah dan hijau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi aku sudah meyakinkan diri untuk tidak lagi menerima seni apapun selain kau. Bagaimanapun jua, kau sepertinya yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
paling bersni. Um, seperti rambut blondemu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kau seorang tolol?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Enyahlah, aku sibuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Montmorency dengan dingin mengatakan itu. Sunyi datang menyergap sebentar. Setelahnya, Guiche yang menangis dan meratap &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dapat terdengar dari koridor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengerti...Dikatai begitu, aku hanya bisa hancur di sini. Jika aku dibenci olehmu, yang kucintai, sampai sebegitunya, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
maka tiada harganya sama sekali hidup ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lakukanlah apa yang kau mau.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki seperti Guiche takkan mati hanya karena ditolak. Montmorency terus memasang sikap dinginnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saat ini, Aku ingin, setidaknya...di pintu kamar dimana kau hidup, memahat bukti bahwa aku telah hidup...bahwa aku telah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mencintaimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa yang hendak kau lakukan?! Hentikan itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara sesuatu yang keras dapat terdengar menggaruk-garuk pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lelaki yang mengorbankan dirinya untuk cinta, Guiche de Gramont, Hancur oleh cinta abadi, dia mati disini...sekian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan &#039;sekian&#039;! ampuuun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency membuka pintu. Guiche berdiri disana dengan senyum sempurna di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Montmorency! Aku mencintaimu! Aku benar-benar mencintaimu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, dia memeluknya erat. Montmorency membeku untuk sesaat. Lagipula, Guiche terus mengatakan &amp;quot;Aku mencintaimu&amp;quot;. Itu karena &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dia kekurangan kosakata, tapi tak peduli berapa kali dia mengatakannya, Montmorency tak merasa buruk. Lalu Guiche menyerahkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bungkusan yang dipegangnya pada Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Apa ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukalah, Itu sebuah hadiah untukmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency membuka bungkusan itu. Isinya seragam pelaut. Saito telah meminta Siesta untuk memermak seragam itu agar pas &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dengan tubuh Montmorency. Guiche selalu mengingat ukuran gadis-gadis yang dipcarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pakaian yang aneh...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency mengernyitkan alis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kalau kau mengenakannya? Ia pasti pas denganmu. Kesucianmu akan meningkat berlipat ganda, Ayolah. Cepat. Apa, aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menghadap arah lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menghadap kebelakang, Guiche mulai menggigit-gigit kukunya terus-terusan. Melihat ini tak terhindarkan, Montmorency &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
melepas kemejanya dan memakai pakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sudah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat berbalik, wajah Guiche mencerah penuh energi. &amp;quot;Aah, Montmorency~...Kau benar-benar suci...Montmorencyku yang manis~...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menggumamkan itu, Guiche mencoba menciumnya. Montmorency langsung menahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Monmon...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Guiche tampa kusut sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan salah paham. Aku membuka pintu ke kamarku, tapi aku tak membuka pintu ini. Aku belum memutuskan untuk berbaikan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
denganmu. Dan, siapa yang kau panggil Monmon?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan itu, Guiche girang. Masih ada harapan tersisa. &amp;quot;Montmorencyku~! Kau merasa untuk mempertimbangkannya, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
begitukah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau mengerti, enyahlah! Aku tengah mengerjakan sesuatu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berkata &amp;quot;Ya, Ya, tentu saja aku akan pergi, Jika kau bilang begitu, aku akan pergi kapan saja.&amp;quot; Guiche meninggalkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kamar sambil berjingkrak-jingkrak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency bercermin di kaca. &amp;quot;Apaan ini...Tak mungkin aku mengenakan sessuatu yang pendek nan memalukan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar wajahnya memerah . Bila melihat lebih dekat, pakaian ini agak manis. Guiche dengan sengaja menyiapkan pakaian ini &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
untuknya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumumu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, dibilang &amp;quot;Aku mencintaimu&amp;quot; seperti itu, hatinya tengah melambung. Mereka asalnya jadian, jadi dia tak membencinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;harus bagiamana ? Memaafkannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, dia teringat bagaimana Guiche mencurnaginya di masa lalu. Bahkan jika aku jadian dengannya lagi, bukankah semuanya akan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berulang lagi. Dia sudah mau muntah karena khawatir akan kecurangannya. Apa yang seharusnya kulakukan? Selama memikirkan itu, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dia teringat ramuan yang diraciknya. Dia membuka lemari. Dia melihat obat rahasia didalam botol pewangi yang disembunyikannya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tadi. Montmorency memiringkan kepalanya dan mulai berfikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Un, ini penawaran yang bagus...aku juga bisa menguji kemangkusannya. Bagaimana kalau aku uji ramuan ini sedikit setelah ia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
diselesaikan? pikir Montmorency.&lt;br /&gt;
----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari berikutnya, perhatian seluruhnya terus-menerus tertuju pada Montmorency saat dia memasuki kelas. Mengapa? dia muncul &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dengan memakai seragam pelaut itu. Siswa-siswa pria dengan cepat bereaksi. Pakaian pelaut dan gadis....Merasakan kerapihan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
segar pada penggabungan ini yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya, mereka mulai menatap Montmorency dengan sangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyadari cara para pria bereaksi, para siswa wanita denagn cepat merasa iri, dan mereka mentapnya juga. Montmorency berhasip &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
memonopoli tatapan semua orang dalam kelas, sehingga dia merasa sangat senang. Sambil berkacak pinggang, dia memandang ke &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
atas dan dewngan bangga menaruh di udara, kemudian menuju kursinya. Louise juga menatap Monmorency sambil melongo. Kalau tak &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
salah, itu kan pakaian pelaut tentara Albion yang Saito beli di kota kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menepuk Saito, yang berada disampingnya dan tengah gemetaran karena alasan tertentu. &amp;quot;Hei, bukankah itu pakaian yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kau beli? Mengapa Montmorency memakainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, aah...yah, ah, Guiche bilang untuk memberikan itu pada dia...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise ingat Guiche dan Montmorency berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;mengapa kau memberikannya pada Guiche?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai gemetar yang lebih hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? karena, dia bilang dia menginginkannya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise merasa sesuatu yang mencurigakan dari sikap Saito. &amp;quot;Hooi, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapnya dengan mata tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Eeeeh&amp;gt; Aku tak menyembunyikan apapun! Ayolah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito merasakan keringat dingin nan lembab mengalir di tengkuknya. Tak terpikir plehnya bahwa Montmorency akan memakainya ke &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial, Jika Louise tahu itu hadaih untuk Siesta...Louise pasti jadi marah, Sepertinya gadis ini bakal bosan jika aku, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
familiarnya, bersama gadis lain. Meski dia tak mencintai atau sejenisnya, dia tak bisa memaafkannya. Itu pasti, tepat seperti &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang selalu dikatakan Louise, &amp;quot;mengabaikan tuanmu dan bersama gadis lain&amp;quot; menggusarkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa-apaan ini? Bagaimanapun juga, keinginannya adalah untuk memonopoli familiarnya, menurut Saito. Dia menjadi marah padanya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena anjing piaraannya lebih terikat pada orang lain daripada dengannya. Tak pernah dalam mimpi terliarnya sekalipun Saito &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pikir Louise punya rasa padanya. Ini sangat-Saito, Cara berfikir yang sangat memutar untuk salahpaham. Aah, saat dia tahu aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mandi bersama Siesta beberapa saat yang lalu, setelahnya mengerikan. Dengan penuh sesal, Saito melihat alat penahan yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dipasang sekali lagi padanya. Perkara itu...jika Louise tahu dia memakaikan pakaian pelaut pada Siesta dan menikmati putaran &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
roknya....Wajahnya membeku dalam ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Digantung di langit-langit, dan disetrum berulang-ulang....Terakhir, rasa serangan &amp;quot;Void&amp;quot;...Berceceran bagai helaian &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jerami...Aku mungkin mati...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai bergetar dengan sangat. Jangan gemetaran, ini mencurigakan! Semakin dia memikirkannya, semakin gemetaran dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, apa harusnya aku mempersembahkan seragam pelaut itu pada Lousie untuk pertama kali? Tidak. Louise yang harga &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dirinya tinggi takkan pernah memakainya. Lagipula, Siesta lebih pas dengan seragam pelaut itu. Rambutnya hitam, dan dia 1/8 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jepang. Rambut blonde-pink Louise takkan pas dengan seragam pelaut itu. Tubuhnya juga terlalu kecuali, jadi nanti &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kelonggaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa?...I-Itu! Sial, Itu bisa agak bagus juga. I-tu  bisa juga jadi bagus. Sial! Kesalahan perhitungan! Apa yang telah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kulakukan........?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menggelengkan kepalanya untuk mengusir keluar delusi-delusi itu. Bagaimnapun juga, yang kuinginkan adalah menikmati &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
suasana dari tempat kelahiranku. Tiada yang harus dirasakan bersalah, Ini dusta, tapi tidak. Wajahnya biru pucat, dia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gemetaran hebat, dan dia bergumam dengan napas berat, jadi bukan hanya Louise yang menilainya mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Hoi. Apa yang kau sembunyikan? Aku takkan memaafkanmu bila kau menyembunyikan sesuatu dariku.&amp;quot; Mata Louise melotot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Aku tak menyembunyikan apapun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlalu mencurigakan. Louise mencoba menanyainya lagi, tapi dia harus menyerah saat guru memasuki ruang kelas. Saat sekolah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
selesai, Saito meninggalkan alasan mustahil soal &amp;quot;Aku harus memberi makan merpati-merpati&amp;quot; dan menghilang dari ruangan kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kapan dia dapat merpati?&amp;quot; gumam Louise dengan wajah sangat ngambek. Untuk alasan tertentu, suatu firasat busuk dapat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
diraskan&lt;br /&gt;
------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berlari ke dapur. Dia tak bisa berbicara dengan Siesta untuk saat ini karena Siesta tampak sibuk selama makan siang dan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pengamatan Louise yang ketat. Melihat Saito yang terengah-engah saat tiba, wajah Siesta bersinar cerah. &amp;quot;Waah! Saito-san!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepala Koki, Marteau si tua, juga mendatanginya dan melingkarkan lengan tebalnya di leher Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hoi! Pedang kami! Lama tak jumpa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ha-halo...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yey! Akhir-akhir ini, kau tak datang kesini! Siesta selalu kesepian, kau tahu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wahahaha&amp;quot; Suara tawa memenuhi seisi dapur. Memerah wajahnya, Siesta, yang berada di wastafel, memeluk sebuah pelat erat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta dengan cepat mendekatkan mulutnya ke telinga Siesta. &amp;quot;Siesta.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-ya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentang pakaian itu...Saat kau selesai dengan pekerjaanmu, bisakah kau membawa mereka denganmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm, lihatlah...Tempat dimana tiada orang yang bisa melihatn kita sepertinya bagus....di plaza Vestri, ada tangga menuju &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menara kan? Bawa mereka kesana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Siesta memerah kagum. Setelahnya, Saito berlari pergi dan menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah...aku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa, Siesta. Janji untuk bertemu/&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siulan menggema, tapi itu tak lagi memasuki telinga Siesta. Wajahnya memerah sempurna, Siesta berbisik kosong. &amp;quot;Apa yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
harus kulakukan? Aah, aku akan direnggut pergi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, di sisi lain, Louise tengah berjalan keliling sekolah dan mencari familiarnya. Sejak dia bilang dia hendak memberi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
makan merpatinya, Saito tak menunjukkan diri. Dia pergi ke menara api, dan mengintip kedalam lab Pak Colbert. Meski namanya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lab, ia hanya gubug yang hampir rubuh. kapanpun Colbert punya waktu luang, dia biasanya disana/ Tapi, Saito tak disana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Colbert sendiri tengah mengerjakan sesuatu dengan ributnya pada baju Naga yang ditinggalkan didepan labnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menanyai Colbert. &amp;quot;pak Colbert, apa anda melihat saito?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kutak tahu...dia tak kesini untuk 2-3 hari.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memandangi Zero fighter dan terkaget-kaget. Bagian mesin dari hidungnya telah dicopot dari badannya dan ditempatkan di &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tanah, dan ia dengan tragis telah dicopot-copoti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, ini! Aku tertarik dengan strukturnya. Aku tak dapat izin dari saito-kun, tapi ini hanya pencopotan ringan. Ia rumit, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi secara teoritis, ia tak begitu jauh berbeda dari &amp;quot;Ular Senang&#039; yang kurancang. Tetap saja, ini agak mudah rusak. Jika ia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
terbang sekali, ia harus dengan tepat dicopoti dan bagian-bagiannya dirawat. Kalau tidak, tidak hanya ia bakal gagal &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menjalankan kesangkilan aslinya, tapi juag ada kemungkinan ia hancur...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Colbert akhirnya mulai berbicara soal struktur mesin dan perawatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ha, hah...Kalau begitu, Punten.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tak benar-benar tertarik dengan percakapan semacam itu, jadi dia menundukkan kepalanya dan mulai berlari lagi. Colbert &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berteriak pada punggungnya.&amp;quot;Nona! Jika kau bertemu saito-kun, bilang ini padanya! Aku telah menempatkan senjata baru yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengejutkan pada &amp;quot;Baju Naga&#039; ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat selanjutnya yang dikunjungi Louise adalah menara angin. Di Akademi Sihir, Menara tersusun dalam pentagram dengan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menara utama di tengah, Menara angin adalah salh-satunya. Ia lebih sering dipakai untuk kelas-kelas. Hanya ada satu pintu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
masuk. Louise melihat bayangan mencurigakan seseorang yang menghilang melalui pintu kedalam menara. Baju putih,,,sebuah kerah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
besar, Jelas sekali, itu pakaian pelaut yang diapakai Montmorency tadi. Siapa itu? Jika itu Montmorency, maka rambutnya pasti &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
blonde...Orang yang tadi masuk berambut hitam. Louise diam-diam mengikuti orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah membuka pintu ke menara angin, dia berlari lurus melewati koridor yang memiliki ruangan semisirkular yang tersusun &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kiri-kanan. Setelah mendorong membuka pintu, dia mendengat suara jejak langkah yang dengan pasti mendaki tangga. Setelah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise sebentar mengambil napas pada lantai pertama, dia mengejar orang itu, Dia mendengar suara pintu yang membuka-menutup &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
di lantai kedua, Agar tidak langkah kakinya tak terdengar, Louise dengan hati-hati mendekati pintu itu. Disana, Louise &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menyenderkan badannya didekatnya. Ini kan gudang. Apa sih yang direncanakan orang yang mengenakan pakaian pelaut itu disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menyisirkan rambut blonde pinknya kebelakang dan menempatkan telinganya di pintu. Dia mendengar sebuah suara aneh dari &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dalam. Suara yang kadang-kadang terhenti....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haah, Nn, Haahaa...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara semacam itu. Alis mata Louise mengernyit. Karena kecilnya, dia tak bisa menebak siapa itu. Tapi itu punya lelaki. Di &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tempat seperti ini, memanggil seseorang sambil memakai pakaian itu...Ornag yang bisa bersuara begitu... Louise memikirkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
delusi mengerikan dalam otaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa! Lu-lu, lucu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lucu? Saat itu, sesuatu menggebrak kedalam kepala Louise. Baang! Dia membuka pintu dan menyerbu masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang sedang kau lakukan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hiiiiii!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang disana berbalik. Dia memakai pakaian pelaut, terlebih lagi, dengan rok di bawah. Sudah pasti, itu Malicorne si gemuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ma-Ma, Malicorne?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise!&amp;quot; Malicorne mencoba melarikan diri, tapi dia tak biasa dengan rok, sehingga kakinya terjerat oleh itu dan terjatuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah! Nna! Ah! Fua! AAH!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malicorne berteriak sambil menggelepar di lantai. Dengan wajah ogre, Louise menginjak-injak punggung Malicorne. Dalam gudang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ada cermin tua. &amp;quot;Cermin Pembohong&amp;quot;. Ia cermin yang memantulkan keindahan dari keburukan dan sebaliknya, tapi karena berbagai &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
alasan, ia hampir pecah, jadi ia disimpan disni. Sepertinya Malicorne mencari kepuasan sendiri dengan mencerminkan dirinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesenangan yang tak dapat dimengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau memakai itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, ia begitu indah...Ta-tapi, aku tak punya siapa-siapa yang akan memakainya untukku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kau memakainya sendiri?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-itu benar! Apa itu salah? A-Aku harus memakainya sendiri! Guiche punya Montmorency dan familiarmu yang jelata itu punya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pelayan dari dapur! Tapi, aku tak punya pacaaaaaar!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau bilang? Ada apa antara Saito dan pelayan itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Louise membara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? yah, dia membuat pelayan itu memakai pakaian ini dan berputar-putar...Aah, itu sangat menyentuh! Hanya dengan memikirkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
itu, hatiku terasa terbakar dari rasa yang sangat menggetarkan itu! Itulah kenapa aku harys setidaknya mencerminkan diriku di &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
cermin ini dengan memakai ini sebagai memento dari ingatan itu...aah, aku...Aku  peri nan indah...AAAaaaaahh!&amp;quot; teriak &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malicorne/ Louise menginjak-injak wajah itu dengan kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Diamlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah! Aah! Ah! Louise! Ah! Louise! dIinjak-injak gadis cantik sepertimu...Kurasa aku kehilangan indraku! Bakarlah dosaku! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarkan aku menebusnya! Remukkan dosaku kehilangan kendali atas diriku yang berlaku bagai peri manis di tempat begini! Ada &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sesuatu yang salah denganku! Ah! Ah! Nnnnaaaaaaaaa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan begitu, Louise menginjak-inhaj wajah Malicorne dan menyebabkannya pingsan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, pasti ada yangsalah denganmu.&amp;quot; gumam Louise, yang bahunya naik-turun karena amarah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitu toh...Jadi ini artinya...Pelayan itu begitu baik...jadi dia begitu baik sehingga kau memberikannya pakaian nan indah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sebagai hadiah...Terlebih lagi kau bersenang-senang dengan membuatnya berputar-putar? Jangan becanda ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil meremas telapaknya kedalam kepalan, Louise mendengus. &amp;quot;Familiar itu, meski dia menciumku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
--------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sudut tempat yang ditentukan, plaza Vestri, Siesta datang naik tangga menara api setelaha malam tiba, Setelah tugasnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berakhir, perlu waktu untuk bersih-bersih badan dengan mandi dana berdandan. Dia menuju landaian tangga, tapi Saito tak &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disana, Hanya ada dua galon disana, Sekelilingnya remang-remang. Siesta dengan pandangan khawatir mulai melihat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sekelilingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saito-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah takut-takut mengutarakan itu,tutup galon membuka dengan suara, Siesta langsung mundur, tapi Saito menyembul darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siesta.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wah! Saito-san! Kenapa kau disana?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, ada beberapa alasan...tung-. eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memandangi penampilan Siesta dan matanya terbelabak. Dia memakai pakaian apelaut buatan tangan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;K-kau datang sambil memakainaya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh, ya...Karena kupikir Saito-san akan alebih bahagia bila aku mengenakan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial. AAku seharusnya bilang &amp;quot;kembalikan&amp;quot;, bukan &amp;quot;bawakan&amp;quot;. Tak mungkin akau bilang supaya ia melepasnya disni. Saat Saito &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
panik begitu, Siesta berputar dan mengacungkan jari didepan wajahnya. Roknya terangkat dengan anggun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Un, um...Terima kasih telah menunggu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Siesta tersenyum cerah. Ma-manis. Tanpa sadar, wajah Saito memerah. Tepat saat itu juga, terdengar suara galon &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bergetar dibelakang mereka. Siesta jadi &amp;quot;Kayaa!&amp;quot; dan memeluk Saito. &amp;quot;Nyaa, nyaa&amp;quot;, terdenagr suara kucing. Saito mengelus &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
adadanya tanda lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, cuma seekor kucing..&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi,masalahnya bukan kucing. Siesta tengah menekankan dadanya pada Saito. Mereka terimpit dada Saito, dan pakaian pelaut &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
buatan tangan telah aadengan bebas berubaha bentuk. Wajah Saito amemucat. Raa-ra-ra sa ini adalah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;S-Siesta, um...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak mengenakan bra?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta menatapanya kosong. &#039;Bra itu apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Eeeeehhh? itu lho, untuk dada, seperti ini, melindunginya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, Siesta tetap menatapnya kosong. Sepertinya atiada bra di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, Aku memang mengenakan pakaian dalam dan sebuah korset dibawah kemejaku saat aku dalam pakaian pelayanku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian wajahnya memerah.&amp;quot;Tapi, aku tak mengenakan apapun saat ini. Pakaian dalam akan kelihatan jika aku mengenakannya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bersama rok pendek ini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa itu pakaian dalam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh, Um. semacam celana pendek.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah, itu lho yang seperti spat panjang. Haah, jadi payudaranya seperti ini kalau dia tak memakai korset. Pikir Saito sambil &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menerawangi langit. Dia pikir dia akan mimisan bila dia tak begitu. Terlebih lagi, tiada bra? begitu toh. Jika aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
memikirkannya, saat aku mencuci pakaian dalam Louise, aku ingat mencucui celana dala, chemise dan korset, tapi tiada bra. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir itu karena dia tak punya payudara, tapi sepertinya bra itu sendiri tak ada. Apalagi, kalau gadis ningrat mengenakan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pakaian dalam berenda, gadis biasa seperti Siesta takkan begitu kan? Eh? Dia tak mengenakan apapun saat ini?...Berarti....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau jahat Saito-san...Aku tak punya pakaian dalam berenda seperti para ningrat...Tapi kau malah membuatku mengenkan rok yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
begitu pendek...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata Lain, Dia tak mengenakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MEMANG!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kepalanya, bermunculan irama-irama seperti banbakabaanbanbonbanbanbakabaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat pertama. Siesta-san, tempat pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta dengan erat menyandarkan badannya pada Saito. Memeluk bahunya. Perlahan, Siesta mendekatkan bibirnya pada yang Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;U, um... Apa, apa kita akan melakukannya disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku seorang gadis desa, jadi aku tak pilih-pilih tempat, tapi, um...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siesta?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tempat yang lebih bersih yang takkan didatangi orang akan lebih baik. Ah, tapi ini hanya harapan saja! Jika Saito-san bilang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tempat ini baik, maka aku juga ok dengan itu. Aah, aku takut. Bagaimanapun juga, ini kali pertamaku. Ibu, maafkan aku, aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
akhirnya akan terenggut disini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya dia benar-benar salahpaham. Saito hanya ingin dia mengembalikan pakaian pelaut disini. Tapi Siesta pikir dia akan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
direnggut. Saat dia pikir dia perlu menjelaskan...dibelakang mereka, tutup dari galon lainnya terbuka lurus keatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito berbalik, tutup galon yang jatuh langsung menghantam kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gyaa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dari dalam galon, sebuah bayangan bangkit bersamaan dengan bergetarnya tanah. Sebenarnya, yang bergetar hanyalah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
galonnya, tapi rasanya bagaikan tanah pun bergetar. Itu menunjukkan betapa marahnya orang didalam galon itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;L-Louise?&amp;quot; ucap Saito dengan nada bergetar. Siesta ketakutan oleh Louise, yang kepalanya menyenbul dari galon, dan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bersembunyi di bayang-bayang Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Me-mengapa kau ada didalam sebuah galon...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tengah membuntutimu dan melihatmu sembunyi didalam galon, Jadi aku mengikutimu dan bersembunyi di galon sebelahnya. Aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berhati-hati agar tak bersuara. Tapi aku sedikit memukul galon karena marah. bagian &#039;nyaa, nyaa.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah, suara kucing tadi adalah Louise, Terlebih lagi, dia, mendengarkan seluruh percakapan kami tadi. Wajah Louise pucat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saking marahnya. Matanya melotot, seluruh tubuhnya gemetaran bagai gempa. Dengan nada penuh getaran, Louise berucap. &amp;quot;Itu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
merpati yang sangat bagus untuk engkau pelihara, a kan&amp;gt; Heeh. Sebuah pakaian indah sebagai hadiah, huh. baiklah. Aku baik, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jadi aku akan memaafkan hal semacam itu. Aku tak apa-apa kau mengabaikan tuanmu dan mengirimkan merpatimu hadiah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise, dengarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, merpati itu bilang begini.&#039;Kau membuatku memakai rok yang begitu pendek&#039;. Tanpa pakaian dalam apapun.&#039;Kau membuatku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
memakai rok yang begitu pendek&#039;. Yang terbaik. itu lelucon terbaik abad ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise! Dengarkan! Kumohon!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tenanglah. Ia takkan sakit. Dengan &amp;quot;Void&amp;quot;ku, aku takkan menyisakan setitikpun daimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyiapkan &amp;quot;Buku Doa Sang Pendirinya&amp;quot;, Louise mulai membacakan mantranya. Merasakan bahaya hidup, Saito refleks menggapai &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Derflinger yang tergantung di punggungnya. Siesta menjadi ketakutan dan bersembunyi dalam perlindungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa denganmu? Apa kau berencana melawan tuanmy? Bukankah itu menarik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie yang mengucapkan itu menakutkan. Melebihi kapal perang, melebihi naga, melebihi iblis orc, melebihi Wardes...Louise &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lebih menakutkan daripada yang sudah-sudah. Tubuh Saito gemetaran kaku. Apaan sih dengan ketegangan ini...I-ini &amp;quot;Void&amp;quot;...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Rekan, menyerahlah.&amp;quot; bisik Derflinger dengan sikap bosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menunjukkan ketegaran seorang tolol, Saito menarik keluar pedangnya, &amp;quot;Vo-vo-vo-void bukanlah apa-apa! Ayo!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanda di tangan kiri Saito bersinar...&lt;br /&gt;
Louise mengayunkan tongkatnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ke bawah saat pembacaannya belum selesai. Boom! Dan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tempat didepan Saito meledak. Tertelan oleh akilatan, Saito diterbangkan dari landaian dan menghantam tanah dibawah. Setelah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengahantam tanah, wajah Saito tak karuan karena ketakutan, dan dia bangkit lalua kabur. Louise menengok dari landaian dan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berteriak. &amp;quot;Tunggu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ga mungkin aku nunggu. Jika aku nunggu, aku tewas, Pasti tewas. Ketakutan primitif mengambil alih otak Saito. Saito, sambil &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
terjatuh-jatuh, lari sekuat-kuatnya. Louise mengejar setelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche tengah mencoba sebaika mungkin dalamkamar Montmorency untuk menenangakan pacarnya. Tentanga bagaimna penampilan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency bagaikan mawar, bagai mawar liar, bagai mawar putih, bagaimana matanya bagaikan mawar biru, pokoknyam dia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menggunakan mawar-mawar dan memujinya, danlalu dia menyanjungnya menggunakan roh air sebagai perbandinagan. Montmorency, yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bukan merupakan kekecualian diantara ningrat Tristain, sanagt bangga dan angkuh, jadi diataka membenci pujian. Namun &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
punggungnya menghadap aGuiche, dan dia bersikap menerawangi jendela. itu tanda &amp;quot;Puji aku lagi&amp;quot;. Melihat ini, Guiche mengeruk &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
isi kepalanya lebih keras dan melepas kata-kata untuk menarik hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di hadapanmu, nukankah roh air akan melarikan diri? Lihatlah, rambut ini...ia bagai ladang rumput emas. Ia lautan bintang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang berkerlip/ Aah, wanita apapun disampingmu takkan lagi masuk penglihatanku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche terus masuk-keluar kamar, dan dia sudah mengeluarkan kata-kata yang cukup untuk sebuah drama. Kurasa ini cukup pikir &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency. Perlahan, sambil tetap membelkangi. dia dengan lembut mengeluarkan tangan kirinya pada Guiche. &amp;quot;aah&amp;quot; Guiche &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mendesah, membayangkan apa yang terjadi, dan mencium tangan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah, Montmorencyku~...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche mencoba membawa bibirnya mendekati bibir Montmorency, tapi it dihentikan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebelum itu, mari kita minum beberapa tetes anggur. Kau kan cape-cape membawanya kesini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Te-tentu saja!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diatas meja, vas berisi bunga, sebotol anggur, dan dua gelas keramik ditaruh. Guiche mendatangi kamar Montmorency dengan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
membawa itu. Guiche cepat-cepat menuangkan anggur kedalam gelas. Saat dia begitu, Montmorency tiba-tiba menunjuk keluar &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jendela. &amp;quot;Oh? seorang putri telanjang tengah terbang di angkasa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Dimana? Dimana, dimana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Guiche melotot dan melotot keluar jendela seakan-akan hendak memakannya. Apaan &amp;quot;Wanita lain selainmu takkan l;agi masuk &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mataku&amp;quot;, sepertinya aku harus menggunakan ini. Sambil memikirkan itu, Montmorency dengan sembunyi-sembunyi menuangkan isi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
botol kecil yang disembunyikannya di lengan baju kedalam cangkir anggur Guiche. Cairan bening terlarut kedalam anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency tersenyum manis. &amp;quot;Hanya main-main. Yah, ayo bersulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayolah, jangan mengagetkanku seperti itu...&amp;quot; tepat saat Guich mengatakan itu, pintu membuka dengan sebuah bam dan sebuah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
angin puyuh mengalir masuk. Guiche diterbangkan dan berguling di lantai. Itu Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa, haa, haa... Hi-hi-hi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa kau disini?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sembunyikan aku!&amp;quot; Sambil mengatakan itu, Saito loncat ke kasur Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei! Apa ada orang yang bakal loncat kedalam kasur Montmorency! Pergi! Kau!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tunggu, apa yang kau lakukan?! Masuk kamar orang sesukamu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Montmorency menyilangkan lengannya dan meneriaki Saito, angin puyuh lain mengalir masuk kamar. Montmorency diterbangkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan mendapati hidungnya terhantam parah ke lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise!&amp;quot; teriak Guiche. Mengapa, itu Louise yang kehilangan dirinya dalam marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-a-a-a-pa yang kalian berdua lakukan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Diamlah! Mana Saito!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditekan oleh sikap mengancam Louise, Guiche dan Montmorency bertukar pandang dan menunjuk ke kasur. Ada gumpalan tebal dalam &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
futon, agak bergetar. Dengan nada rendah, Louise memerintah kearah kasur. &amp;quot;Saito, keluarlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah suara kaku keluar dari futon. &amp;quot;saito tak disni.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengambil gelas anggur dari meja. Montmorency ber &amp;quot;Ah!&amp;quot; dengan nada pelan, tapi terlambat, Louise menenggak semuanya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dalam satu tegukan. &amp;quot;Buhah! Aku haus dari lari-lari ini. Semuanya salahmu. Baiklah, aku yang bakal mendatangimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menarik minggir futon kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito disana gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bersiaplah...Nna?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat dia memandangnya dan mengatakan itu, perasaan Louise berubah. Louise mengejar Saito karena dia tak bisa memaafkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito yang memberikan hadiah pada wanita lain meski telah mencium dia. Jika kau mencium gadis seperti Louise, itu bakal jadi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
masalah. Dengan kata lain, ini masalah harga diri. Tapi, kini. tepat saat dia melihat Saito, perasaannya pada Saito loncat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
begitu saja. Hingga detik ini, yah, dia samar-samar menyukainya. Dia takkan menerimanya, tapi dia menyukainya. Itulah mungki &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengapa dia begitu cemburu...Di saat ini, dia mencintai tanpa hambatan apapun. Emosinya begitu besar, bahkan pikiran Louise &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sendiri jadi liar. Tanpa berpikir, Louise menutupi pipinya dengan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh...aku begitu mencintainya?....Aku mencintainya begitu....begitu....besar? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ait mata mengalir deras dari mata Louise. Perasaan sedihnya lebih besar dari perasaan marahnya. Dia mencintainya begitu kuat, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jadi mengapa Saito tak memerhatikannya. ini begitu menyedihkan, Louise mulai terisak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan curiga melihat Louise, yang sikapnya berubah 180 derajat, dan bangkit. Guiche juga melihat Louise, yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tiba-tiba mulai menangis, dengan mata terkejut. Montmorency tengah memegangi kepalanya dan ber&amp;quot;oh, tidak&amp;quot;. Obat yang hendak &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
diminumkannya pada Guiche telah diminum Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, Louise...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memandangi Saito dan memeluk dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tolol!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tolol, tolol! Mengapa? Mengapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mulai dengan sangat berbeda. Saito panik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau tak memerhatikanku! Itu jahat banget! Uweeeee~h!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengubur wajahnya kedalam dada Saito dan terisak-isak.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab3&amp;diff=435045</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Bab3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab3&amp;diff=435045"/>
		<updated>2015-04-03T07:51:14Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;===Bab 3 : Baju Pelaut dan Kecemburuan Louise===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sinar matahari bersinar terang di plaza Austri. Saito tengah berguling-guling di tanah dan gemetaran hebat. Kemudia dia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengangkat wajahnya, memandangi karya seni yang dihasilkannya, dan sekali lagi menggila karena kegairahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&amp;quot;Hah, hah, hah...&amp;quot; napasnya memanas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Detak jantungnya mencapai puncaknya berulangkali dan membawa hati Saito pada utopia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bergetarlah, detak jantungku,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berdeguplah, hatiku yang penuh rindu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bergetarlah lebih dan lebih panas, berkahilah kejeniusanku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kata sang malaikat. Katanya disini. Aku bersyukur aku hidup....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menggenggam era-erat rumput yang tumbuh di tanah dan berteraik keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;UooooooooooOOOOOOH! Aku yang terheBAAAAAAAAT!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia menunjuk pada malikat dihadapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siesta juga yang terheBAAAAAAAT!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta, yang terheran-heran, menonton seluruh tingkah Saito karena kegairahan dan kesenangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito-san...aneh....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bergumam tak sadar. Itu benar-benar menunjukkan seaneh apa Saito berlaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-tapi, pakaian ini.....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa? Ada yang salah? Apa ada yang kurang?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito terbang denagn ringannya menuju Siesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-yah...maksudku, ini seragam militer kan? Bahkan jika aku mengenakannya, takkan terlihat bagus...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan berkata bodoh!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap mengancam Saito membuat Siesta &amp;quot;Hii...&amp;quot; dan mundur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di DuNIAAAA iiiiNIIIII! yakin itu pasti pakaian untuk prajurit angkatan laut! taPIIIIIIIIII! di duniAAAAAAAkUUUUUUU! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis-gadis usimu memakainya dan pergi ke sekolah! perGIIIIIIIIIIIIIIIIIII dalam bentuk kemajuan masa kini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-Ya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah, Saito san benar-benar aneh....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Sairo berteriak setengah menangis. &amp;quot;Ia disebut seragam pelaut di duniaku! MaaaaaaaaaaaaaF aku terlaHIIIIIIIIIIIIIIr!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta pikir, jadi ini toh....Ini pakaian dari tempat kelahiran Saito....Kemarin malam, Saito mendatanginya dan menyerahkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seragam pelaut dengan wajah kaku, Saat Saito berkata &amp;quot;Aku akan memermak pakaian ini sehingga bisa kau pakai.&amp;quot; Dia dengan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jujur pikir Saito telah kehilangan akal sehatnya, Meski begitu, Saito dengan jujur merasa senang bahwa Saito membelikan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pakaian untuknya, Dan kini, kepada Saito yang senang karena memakaikannya pakaian dari tempat kelahirannya, dia merasa malu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saat ini Saito normal, menarik diri darinya adalah satu-satunya yang mungkin dilakukan, tapi untuk alasan itu, wajah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pertamanya kukira Saito san jadi gila, tapi dia punya alasan seperti itu....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti! Siesta mengangguk dan berbalik untuk menghadap Saito dengan serius. &amp;quot;Apa yang harus kulakukan untuk &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menyenangkanmu lebih lanjut?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito, sekali lagi, memandangi penampilan Siesta dari atas sampai bawah. Pertama, bagian atas. Ia Permata indah yang terbuat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dari baju pelaut Albion, Lengan putih panjang dengan mulut hita, Kerah dan syal biru gelap. Tiga garis putih mengitari kerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, Saito mengembunkan kejeniusannya kedalam &amp;quot;panjang&amp;quot;. Saito, dengan segenap kemampuannya, memerintahkan Siesta &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
untuk membuat bagian perut pendek. Dengan memendekkan panjang bagian atas. Ia hanya mencapai ujung atas rok. Karenanya, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kapanpun Siesta membengkokkan tubuhnya, dia bisa melihat perut Siesta. Saito memang benar-benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, rok, Dia seharusnya tak melakukannya, tapi dia curi seragam cadangan Louise. Ia punya lipatan, jadi dia membuatnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
terpakai, Ini, juga, dipendekkan hingga yang terpendek yang dia bisa. Hasilnya, Sepertinya rok pertama di dunia lain ini yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berukuran 15 cm diatas lutut tercipta. Dan lalu kaos kaki, Mereka hasil dari gabungan antara keinginan Saito dan kenyataan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito denagn hati-hati memilih dan menyusun kaos kaki biru gelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepatunya. Mereka boot berenda tinggi yang selalu dipakai Siesta. Ia satu-satunya goresan dalam karya seni yang berkilau ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar mengingikan sepatu berhak disini. Sedihnya, itu tak ada di dunia ini. Bagaimanapun juga, Ini semuanya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
diperiksa dan disusun oleh Saito. Dada besarnya, yang biasanya tertutupi dan disembunyikan apron, terangkat oleh seragam &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pelaut buatan tangan. Kakinya yang kurus, dan sehat bagaikan kepunyaan serow, tersedot kedalam rok yang berada 15 cm diatas &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lutut. Siesta biasanya tak memakai rok yang pendek begitu, jadi campuran nostalgia dan kesegaran membuatnya lebih dan lebih &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tergerak secara emosional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bilang padaku! Saito-san! Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu mendekat pada tempat kelahiranmu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berpikir. Dengan serius tentu saja, mempertaruhkan nyawanya. Dia mengingat seluruh jenis pola. Seperti kalkulator nan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
canggih, kepala Saito berputar. Suara hatinya berbisik. Saito, HANYA ITU YANG BISA, Benar, Hanya itu...Hanya itu...Dengan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
suara yang hampir tersengak, dia meremasnya  keluar. &amp;quot;Berputarlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berputar-putar, seperti itu, Lalu, setelahnya, katakan &#039;Maaf membuatmu menunggu!&#039; penuh keceriaan padaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta melangkah mundur. Saito sejenis lelaki yang ibunya bilang padanya agar tak didekati saat dia masih kecil. Tetap saja &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta ingin menyenangkannya. Bagaikan menyiapkan dirinya, &amp;quot;Y-ya...&amp;quot; Dia mengangguk, dan Siesta pun berputar. Syal dan roknya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tersibak dengan ringan ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ma-maaf membuatmu menunggu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Salaaaaaaah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hii!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di akhir, kau mengankat satu jari dan bilang &amp;quot;ne&amp;quot;. Penuh keceriaan. Sekali lagi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengangguk, Siesta mengulangi sebagaimana diperintahkan. Melihat ini, Saito beretriak. &amp;quot;Terima kasih untuk &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
k-k-k-keberaniamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ini ga papa, Siesta? Benarkah...untuk orang ini? Dia agak merasakannya dari bagian dirinya yang lebih sadar, tapi Siesta &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menutupnya dengan penolakan. -Tiap orang punya hobi dan kesukaan yang tak bisa mereka katakan pada orang lain. Saito-san &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bukan kekecualian. Yah, itu saja... Ya, itu! Dia mengataknnya pada dirinyas endiri dengan cerah dan tersenyum. Siesta ini &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang harus kulakukan selanjutnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Um, selanhjutnya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito melipat lengannya dan mulai bingung soal ini, Dua orang berjalan mendekati mereka dengan sikap aneh. Itu Guiche &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan Malicorne si gemuk. Sebuah duo yang tak biasa. Seperti keduanya telah menonton Siesta dari tempat tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;ehem:, Guiche berdehem untuk menarik perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu...apa? Apa-apan pakaian itu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk alasan tertentu, Guiche bergairah saat memandanginya seakan dia hendak menangis. Malicorne juga menunjuk Siesta sambil &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lu-Luar biasa! Mutlak Luarbiasa! Bukankah begitu?! Guiche!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah, ini! Tak pernah kulihat pakaian seluarbiasa ini sebelumnya! I-I-itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia langsung menyerang pikiran!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata keduanya berkemilauan dengan sangat, dan menatap Siesta seakan hendak memakannya. Waaan, kepusingannya berlipat ganda, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta merasa agak gimana, tapi keduanya ningrat. Karena dia harus, Siesta memaksa tersenyum. Senyum dan seragam pelaut &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tampaknya merusak Malicorne dan Guiche secara sempurna, karena mereka mulai mendekat dengan tingkah terkagum-kagum bagaikah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seorang yang jalan sambil tidur. Siesta, yang merasakan bahaya pada tubuhnya, berkata &amp;quot;Yah, aku akan kembali bekerja!&amp;quot; dan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sangat manis...&amp;quot; guam Guiche degan nada melamun saat melihat Siesta melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar sekali...&amp;quot; Malicorne juga bergumam, tampaknya terikat mantra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalian kesini untuk apa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito berteriak, keduanya akhirnya sadar, Lalu, Guiche memeluk bahu Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;H-Hei kau, Dimana kaubeli pakaian itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang hendak kau lakukan dengan menanyakan itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche berkata dengan nada malu-malu. &amp;quot;A-Ada seseorang yang hendak keberikan pakaian itu sebagai hadiah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putri?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bodoh! Terlalu! Itu keterlaluan! Paduka Putri kini adalah Paduka Ratu! Aah, dia telah pergi ke tempat nan tinggi yang tak &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dapat kujangkau...Lebih baik saat dulu dia masih putri, tapi kini sebagai Ratu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat tinggi apa? Kau tak pernah punya kesempatan sejak awal. Pikir Saito, tapi dia memutuskan untuk tetap diam dan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, aku akhirnya ingat. Dia selalu di sampingku, terus menontonku dengan mata manisnya...Rambut blonde indah, senyum manis &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bagai parfum...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, mantan pacarnya. Saito menyadarinya. &amp;quot;Monmon?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot; Bukan Monmon! Ia Montmorency!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, begitu. Kau ingin mendekatinya lagi. Kau tahu, kau memang tak punya keutuhan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;AKu tak ingin dikatai begitu olehmu. Kini, bilang padaku. Dimana pakaian itu dijual?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmph, Seakan kau bisa pernah mengerti seni.&amp;quot; Sahut Saito. Dia tak ingin seseorang seperti Guiche mempermalukan ingatan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tempat kelahirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mau bagaimana lagi? Aku takkan hanya melaporkan kejadian hari ini, tapi juga menanyakan Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kata sihir yang paling pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku masih punya dua lagi. Gunakan mereka sesukamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menarik penyerahan diri maksimum Saito seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tetap saja. apaan sih pakaian ini? Kupikir aku pernah melihatnya dimana...gitu. Bukankah pelaut memakai pakaian itu? Untuk, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hmmm, seorang gadis memakainya dan memberi daya tarik yang begitu kuat! Misterius sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil melipat lengannya, Saito membusungkan dada dengan bangga. &amp;quot;Tentu saja. Ia memiliki sihir penarik dari tempat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kelahiranku terpasang padanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
----------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, di malam hari itu. Montmorency, yang bangga dengan rambut emas bergelombang panjang dan mata biru jernihnya, tengah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
meracik sebuah ramuan dalam kamar di asrama, Sambil menyenderkan tubuh tingginya di kursi, dia tengah serius meracik ramuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
rahasia dalam sebuah pot dengan alu kayu. Montmorency si &amp;quot;Harum&amp;quot;. seorang penyihir dari elemen &amp;quot;air&amp;quot;, memiliki hobo pada obat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sihir...membuat ramuan. Dan tepat seperti yang nama keduanya bilang, keahliannya adalah membuat pengharum. pengharum &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
buatannya dikenal memancarkan harum yang khas dan manis, dan dia sangat terkenal diantara para gadis dan wanita kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini, Montmorency dengan bersemangat menracik sebuah ramuan tertentu. Ia bukan ramuan biasa. Pastilah, sebab ini adalah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ramuan yang terlarang. Oleh proklamasi negeri, ia merupakan barang terlarang untuk diciptakan ataupun digunakan. Montmorency &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menjual pewangi yang dibuatnya ke kota, dan perlahan mengumpukan uang. Lalu, hari ini, dia menghabiskan uang yang ditabungnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan mendapatkan bahan-bahan untuk ramuan terlarang, juga obat rahasai mahal yang diperlukan untuk meracik. Di toko sihir &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hitam. Hobi menang atas moral. Karena kenyang soal membuat ramuan biasa, Montmorency ingin membuat sesuatu yang dilarang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
meski denda besar bakal ditimpakan padanya bila dia ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kayu wangi sulfur naga, dan mandragora yang digejrot, akhirnya, tinggal menuangkan obat rahasia nan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
essensial...cairan yang dibayar dengan uang yang begitu banyak untuk didapatkan. Dia meraih botol kecil disampingnya. Jumlah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang kecil...Untuk jumlah cairan yang begitu sedikit dalam botol parfum ini, Monmorency menghabiskan begitu banyak uang yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
telah ditabungnya, 700 ecu koin emas. Jumlah uang yang seorang jelata bisa gunakan ntuk hidup selama 5-6 tahun. Saat dia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
memiringkan botol kecil pada pot, dia berhati-hati agar tiada yang tumpah...seseorang mengetuk pintu, menyebabkan Montmorecy &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Si-siapa...? Saat begini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh bahan-bahan dan peralatan yang tadinya di meja kedalam lemari. Setelahnya, dia menuju pintu sambil menyisir &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
rambutnya keatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini aku! Guiche! Pelayan abadimu! Bukakan pintu ini untukku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pelayan abadi apaan&amp;quot;. gumam Montmorency. Dia tahu sifat ketidaksetiannya dengan cukup baik. Saat mereka jalan bersama di &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kota, dia akan tertarik dan melihat sekeliling mencari wanita cantik tanpa lelah. Saat mereka minum anggur di bar, Dia akan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mencoba menggaet pelayan kapanpun dia meninggalkan kursinya sebentar.Terakhir, dia akan melupakan janji kencan dan memetik &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kembang untuk seorang gadis di tempat lain. Adalah menggusarkan mendengarnya mengucapkan &#039;abadi&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency berbicara dengan nada gusar. &amp;quot;Mengapa kau datang kesini? Aku sudah putus denganmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sama sekali tak berpikir seperti itu. Tapi jika kau berpikir seperti itu, maka itu salahku...Bagaimanapun jua, aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mencintai hal-hal yang indah. Dengan kata lain, aku hamba keindahan...Seperti yang sudah kau ketahui, sni, benar sekali, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seni! Aku terlalu lemah terhadap hal-hal indah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau mencintai seni? Untuk seseorang dengan selera buruk, beraninya kau mengatakan itu. Pikirnya. Warna kemeja yang dipakain &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche saat kencan adalah ungu gingira, dan dia pening sewaktu Guiche datang memakai syal merah dan hijau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi aku sudah meyakinkan diri untuk tidak lagi menerima seni apapun selain kau. Bagaimanapun jua, kau sepertinya yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
paling bersni. Um, seperti rambut blondemu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kau seorang tolol?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Enyahlah, aku sibuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Montmorency dengan dingin mengatakan itu. Sunyi datang menyergap sebentar. Setelahnya, Guiche yang menangis dan meratap &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dapat terdengar dari koridor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengerti...Dikatai begitu, aku hanya bisa hancur di sini. Jika aku dibenci olehmu, yang kucintai, sampai sebegitunya, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
maka tiada harganya sama sekali hidup ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lakukanlah apa yang kau mau.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki seperti Guiche takkan mati hanya karena ditolak. Montmorency terus memasang sikap dinginnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saat ini, Aku ingin, setidaknya...di pintu kamar dimana kau hidup, memahat bukti bahwa aku telah hidup...bahwa aku telah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mencintaimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa yang hendak kau lakukan?! Hentikan itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara sesuatu yang keras dapat terdengar menggaruk-garuk pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lelaki yang mengorbankan dirinya untuk cinta, Guiche de Gramont, Hancur oleh cinta abadi, dia mati disini...sekian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan &#039;sekian&#039;! ampuuun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency membuka pintu. Guiche berdiri disana dengan senyum sempurna di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Montmorency! Aku mencintaimu! Aku benar-benar mencintaimu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, dia memeluknya erat. Montmorency membeku untuk sesaat. Lagipula, Guiche terus mengatakan &amp;quot;Aku mencintaimu&amp;quot;. Itu karena &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dia kekurangan kosakata, tapi tak peduli berapa kali dia mengatakannya, Montmorency tak merasa buruk. Lalu Guiche menyerahkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bungkusan yang dipegangnya pada Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Apa ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukalah, Itu sebuah hadiah untukmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency membuka bungkusan itu. Isinya seragam pelaut. Saito telah meminta Siesta untuk memermak seragam itu agar pas &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dengan tubuh Montmorency. Guiche selalu mengingat ukuran gadis-gadis yang dipcarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pakaian yang aneh...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency mengernyitkan alis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kalau kau mengenakannya? Ia pasti pas denganmu. Kesucianmu akan meningkat berlipat ganda, Ayolah. Cepat. Apa, aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menghadap arah lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menghadap kebelakang, Guiche mulai menggigit-gigit kukunya terus-terusan. Melihat ini tak terhindarkan, Montmorency &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
melepas kemejanya dan memakai pakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sudah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat berbalik, wajah Guiche mencerah penuh energi. &amp;quot;Aah, Montmorency~...Kau benar-benar suci...Montmorencyku yang manis~...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menggumamkan itu, Guiche mencoba menciumnya. Montmorency langsung menahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Monmon...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Guiche tampa kusut sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan salah paham. Aku membuka pintu ke kamarku, tapi aku tak membuka pintu ini. Aku belum memutuskan untuk berbaikan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
denganmu. Dan, siapa yang kau panggil Monmon?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan itu, Guiche girang. Masih ada harapan tersisa. &amp;quot;Montmorencyku~! Kau merasa untuk mempertimbangkannya, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
begitukah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau mengerti, enyahlah! Aku tengah mengerjakan sesuatu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berkata &amp;quot;Ya, Ya, tentu saja aku akan pergi, Jika kau bilang begitu, aku akan pergi kapan saja.&amp;quot; Guiche meninggalkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kamar sambil berjingkrak-jingkrak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency bercermin di kaca. &amp;quot;Apaan ini...Tak mungkin aku mengenakan sessuatu yang pendek nan memalukan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar wajahnya memerah . Bila melihat lebih dekat, pakaian ini agak manis. Guiche dengan sengaja menyiapkan pakaian ini &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
untuknya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumumu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, dibilang &amp;quot;Aku mencintaimu&amp;quot; seperti itu, hatinya tengah melambung. Mereka asalnya jadian, jadi dia tak membencinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;harus bagiamana ? Memaafkannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, dia teringat bagaimana Guiche mencurnaginya di masa lalu. Bahkan jika aku jadian dengannya lagi, bukankah semuanya akan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berulang lagi. Dia sudah mau muntah karena khawatir akan kecurangannya. Apa yang seharusnya kulakukan? Selama memikirkan itu, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dia teringat ramuan yang diraciknya. Dia membuka lemari. Dia melihat obat rahasia didalam botol pewangi yang disembunyikannya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tadi. Montmorency memiringkan kepalanya dan mulai berfikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Un, ini penawaran yang bagus...aku juga bisa menguji kemangkusannya. Bagaimana kalau aku uji ramuan ini sedikit setelah ia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
diselesaikan? pikir Montmorency.&lt;br /&gt;
----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari berikutnya, perhatian seluruhnya terus-menerus tertuju pada Montmorency saat dia memasuki kelas. Mengapa? dia muncul &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dengan memakai seragam pelaut itu. Siswa-siswa pria dengan cepat bereaksi. Pakaian pelaut dan gadis....Merasakan kerapihan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
segar pada penggabungan ini yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya, mereka mulai menatap Montmorency dengan sangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyadari cara para pria bereaksi, para siswa wanita denagn cepat merasa iri, dan mereka mentapnya juga. Montmorency berhasip &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
memonopoli tatapan semua orang dalam kelas, sehingga dia merasa sangat senang. Sambil berkacak pinggang, dia memandang ke &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
atas dan dewngan bangga menaruh di udara, kemudian menuju kursinya. Louise juga menatap Monmorency sambil melongo. Kalau tak &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
salah, itu kan pakaian pelaut tentara Albion yang Saito beli di kota kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menepuk Saito, yang berada disampingnya dan tengah gemetaran karena alasan tertentu. &amp;quot;Hei, bukankah itu pakaian yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kau beli? Mengapa Montmorency memakainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, aah...yah, ah, Guiche bilang untuk memberikan itu pada dia...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise ingat Guiche dan Montmorency berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;mengapa kau memberikannya pada Guiche?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai gemetar yang lebih hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? karena, dia bilang dia menginginkannya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise merasa sesuatu yang mencurigakan dari sikap Saito. &amp;quot;Hooi, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapnya dengan mata tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Eeeeh&amp;gt; Aku tak menyembunyikan apapun! Ayolah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito merasakan keringat dingin nan lembab mengalir di tengkuknya. Tak terpikir plehnya bahwa Montmorency akan memakainya ke &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial, Jika Louise tahu itu hadaih untuk Siesta...Louise pasti jadi marah, Sepertinya gadis ini bakal bosan jika aku, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
familiarnya, bersama gadis lain. Meski dia tak mencintai atau sejenisnya, dia tak bisa memaafkannya. Itu pasti, tepat seperti &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang selalu dikatakan Louise, &amp;quot;mengabaikan tuanmu dan bersama gadis lain&amp;quot; menggusarkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa-apaan ini? Bagaimanapun juga, keinginannya adalah untuk memonopoli familiarnya, menurut Saito. Dia menjadi marah padanya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena anjing piaraannya lebih terikat pada orang lain daripada dengannya. Tak pernah dalam mimpi terliarnya sekalipun Saito &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pikir Louise punya rasa padanya. Ini sangat-Saito, Cara berfikir yang sangat memutar untuk salahpaham. Aah, saat dia tahu aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mandi bersama Siesta beberapa saat yang lalu, setelahnya mengerikan. Dengan penuh sesal, Saito melihat alat penahan yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dipasang sekali lagi padanya. Perkara itu...jika Louise tahu dia memakaikan pakaian pelaut pada Siesta dan menikmati putaran &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
roknya....Wajahnya membeku dalam ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Digantung di langit-langit, dan disetrum berulang-ulang....Terakhir, rasa serangan &amp;quot;Void&amp;quot;...Berceceran bagai helaian &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jerami...Aku mungkin mati...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai bergetar dengan sangat. Jangan gemetaran, ini mencurigakan! Semakin dia memikirkannya, semakin gemetaran dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, apa harusnya aku mempersembahkan seragam pelaut itu pada Lousie untuk pertama kali? Tidak. Louise yang harga &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dirinya tinggi takkan pernah memakainya. Lagipula, Siesta lebih pas dengan seragam pelaut itu. Rambutnya hitam, dan dia 1/8 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jepang. Rambut blonde-pink Louise takkan pas dengan seragam pelaut itu. Tubuhnya juga terlalu kecuali, jadi nanti &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kelonggaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa?...I-Itu! Sial, Itu bisa agak bagus juga. I-tu  bisa juga jadi bagus. Sial! Kesalahan perhitungan! Apa yang telah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kulakukan........?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menggelengkan kepalanya untuk mengusir keluar delusi-delusi itu. Bagaimnapun juga, yang kuinginkan adalah menikmati &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
suasana dari tempat kelahiranku. Tiada yang harus dirasakan bersalah, Ini dusta, tapi tidak. Wajahnya biru pucat, dia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gemetaran hebat, dan dia bergumam dengan napas berat, jadi bukan hanya Louise yang menilainya mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Hoi. Apa yang kau sembunyikan? Aku takkan memaafkanmu bila kau menyembunyikan sesuatu dariku.&amp;quot; Mata Louise melotot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Aku tak menyembunyikan apapun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlalu mencurigakan. Louise mencoba menanyainya lagi, tapi dia harus menyerah saat guru memasuki ruang kelas. Saat sekolah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
selesai, Saito meninggalkan alasan mustahil soal &amp;quot;Aku harus memberi makan merpati-merpati&amp;quot; dan menghilang dari ruangan kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kapan dia dapat merpati?&amp;quot; gumam Louise dengan wajah sangat ngambek. Untuk alasan tertentu, suatu firasat busuk dapat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
diraskan&lt;br /&gt;
------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berlari ke dapur. Dia tak bisa berbicara dengan Siesta untuk saat ini karena Siesta tampak sibuk selama makan siang dan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pengamatan Louise yang ketat. Melihat Saito yang terengah-engah saat tiba, wajah Siesta bersinar cerah. &amp;quot;Waah! Saito-san!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepala Koki, Marteau si tua, juga mendatanginya dan melingkarkan lengan tebalnya di leher Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hoi! Pedang kami! Lama tak jumpa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ha-halo...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yey! Akhir-akhir ini, kau tak datang kesini! Siesta selalu kesepian, kau tahu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wahahaha&amp;quot; Suara tawa memenuhi seisi dapur. Memerah wajahnya, Siesta, yang berada di wastafel, memeluk sebuah pelat erat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta dengan cepat mendekatkan mulutnya ke telinga Siesta. &amp;quot;Siesta.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-ya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentang pakaian itu...Saat kau selesai dengan pekerjaanmu, bisakah kau membawa mereka denganmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm, lihatlah...Tempat dimana tiada orang yang bisa melihatn kita sepertinya bagus....di plaza Vestri, ada tangga menuju &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menara kan? Bawa mereka kesana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Siesta memerah kagum. Setelahnya, Saito berlari pergi dan menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah...aku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa, Siesta. Janji untuk bertemu/&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siulan menggema, tapi itu tak lagi memasuki telinga Siesta. Wajahnya memerah sempurna, Siesta berbisik kosong. &amp;quot;Apa yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
harus kulakukan? Aah, aku akan direnggut pergi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, di sisi lain, Louise tengah berjalan keliling sekolah dan mencari familiarnya. Sejak dia bilang dia hendak memberi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
makan merpatinya, Saito tak menunjukkan diri. Dia pergi ke menara api, dan mengintip kedalam lab Pak Colbert. Meski namanya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lab, ia hanya gubug yang hampir rubuh. kapanpun Colbert punya waktu luang, dia biasanya disana/ Tapi, Saito tak disana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Colbert sendiri tengah mengerjakan sesuatu dengan ributnya pada baju Naga yang ditinggalkan didepan labnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menanyai Colbert. &amp;quot;pak Colbert, apa anda melihat saito?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kutak tahu...dia tak kesini untuk 2-3 hari.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memandangi Zero fighter dan terkaget-kaget. Bagian mesin dari hidungnya telah dicopot dari badannya dan ditempatkan di &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tanah, dan ia dengan tragis telah dicopot-copoti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, ini! Aku tertarik dengan strukturnya. Aku tak dapat izin dari saito-kun, tapi ini hanya pencopotan ringan. Ia rumit, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi secara teoritis, ia tak begitu jauh berbeda dari &amp;quot;Ular Senang&#039; yang kurancang. Tetap saja, ini agak mudah rusak. Jika ia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
terbang sekali, ia harus dengan tepat dicopoti dan bagian-bagiannya dirawat. Kalau tidak, tidak hanya ia bakal gagal &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menjalankan kesangkilan aslinya, tapi juag ada kemungkinan ia hancur...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Colbert akhirnya mulai berbicara soal struktur mesin dan perawatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ha, hah...Kalau begitu, Punten.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tak benar-benar tertarik dengan percakapan semacam itu, jadi dia menundukkan kepalanya dan mulai berlari lagi. Colbert &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berteriak pada punggungnya.&amp;quot;Nona! Jika kau bertemu saito-kun, bilang ini padanya! Aku telah menempatkan senjata baru yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengejutkan pada &amp;quot;Baju Naga&#039; ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat selanjutnya yang dikunjungi Louise adalah menara angin. Di Akademi Sihir, Menara tersusun dalam pentagram dengan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menara utama di tengah, Menara angin adalah salh-satunya. Ia lebih sering dipakai untuk kelas-kelas. Hanya ada satu pintu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
masuk. Louise melihat bayangan mencurigakan seseorang yang menghilang melalui pintu kedalam menara. Baju putih,,,sebuah kerah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
besar, Jelas sekali, itu pakaian pelaut yang diapakai Montmorency tadi. Siapa itu? Jika itu Montmorency, maka rambutnya pasti &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
blonde...Orang yang tadi masuk berambut hitam. Louise diam-diam mengikuti orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah membuka pintu ke menara angin, dia berlari lurus melewati koridor yang memiliki ruangan semisirkular yang tersusun &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kiri-kanan. Setelah mendorong membuka pintu, dia mendengat suara jejak langkah yang dengan pasti mendaki tangga. Setelah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise sebentar mengambil napas pada lantai pertama, dia mengejar orang itu, Dia mendengar suara pintu yang membuka-menutup &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
di lantai kedua, Agar tidak langkah kakinya tak terdengar, Louise dengan hati-hati mendekati pintu itu. Disana, Louise &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menyenderkan badannya didekatnya. Ini kan gudang. Apa sih yang direncanakan orang yang mengenakan pakaian pelaut itu disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menyisirkan rambut blonde pinknya kebelakang dan menempatkan telinganya di pintu. Dia mendengar sebuah suara aneh dari &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dalam. Suara yang kadang-kadang terhenti....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haah, Nn, Haahaa...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara semacam itu. Alis mata Louise mengernyit. Karena kecilnya, dia tak bisa menebak siapa itu. Tapi itu punya lelaki. Di &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tempat seperti ini, memanggil seseorang sambil memakai pakaian itu...Ornag yang bisa bersuara begitu... Louise memikirkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
delusi mengerikan dalam otaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa! Lu-lu, lucu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lucu? Saat itu, sesuatu menggebrak kedalam kepala Louise. Baang! Dia membuka pintu dan menyerbu masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang sedang kau lakukan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hiiiiii!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang disana berbalik. Dia memakai pakaian pelaut, terlebih lagi, dengan rok di bawah. Sudah pasti, itu Malicorne si gemuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ma-Ma, Malicorne?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise!&amp;quot; Malicorne mencoba melarikan diri, tapi dia tak biasa dengan rok, sehingga kakinya terjerat oleh itu dan terjatuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah! Nna! Ah! Fua! AAH!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malicorne berteriak sambil menggelepar di lantai. Dengan wajah ogre, Louise menginjak-injak punggung Malicorne. Dalam gudang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ada cermin tua. &amp;quot;Cermin Pembohong&amp;quot;. Ia cermin yang memantulkan keindahan dari keburukan dan sebaliknya, tapi karena berbagai &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
alasan, ia hampir pecah, jadi ia disimpan disni. Sepertinya Malicorne mencari kepuasan sendiri dengan mencerminkan dirinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesenangan yang tak dapat dimengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau memakai itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, ia begitu indah...Ta-tapi, aku tak punya siapa-siapa yang akan memakainya untukku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kau memakainya sendiri?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-itu benar! Apa itu salah? A-Aku harus memakainya sendiri! Guiche punya Montmorency dan familiarmu yang jelata itu punya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pelayan dari dapur! Tapi, aku tak punya pacaaaaaar!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau bilang? Ada apa antara Saito dan pelayan itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Louise membara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? yah, dia membuat pelayan itu memakai pakaian ini dan berputar-putar...Aah, itu sangat menyentuh! Hanya dengan memikirkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
itu, hatiku terasa terbakar dari rasa yang sangat menggetarkan itu! Itulah kenapa aku harys setidaknya mencerminkan diriku di &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
cermin ini dengan memakai ini sebagai memento dari ingatan itu...aah, aku...Aku  peri nan indah...AAAaaaaahh!&amp;quot; teriak &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malicorne/ Louise menginjak-injak wajah itu dengan kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Diamlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah! Aah! Ah! Louise! Ah! Louise! dIinjak-injak gadis cantik sepertimu...Kurasa aku kehilangan indraku! Bakarlah dosaku! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarkan aku menebusnya! Remukkan dosaku kehilangan kendali atas diriku yang berlaku bagai peri manis di tempat begini! Ada &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sesuatu yang salah denganku! Ah! Ah! Nnnnaaaaaaaaa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan begitu, Louise menginjak-inhaj wajah Malicorne dan menyebabkannya pingsan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, pasti ada yangsalah denganmu.&amp;quot; gumam Louise, yang bahunya naik-turun karena amarah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitu toh...Jadi ini artinya...Pelayan itu begitu baik...jadi dia begitu baik sehingga kau memberikannya pakaian nan indah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sebagai hadiah...Terlebih lagi kau bersenang-senang dengan membuatnya berputar-putar? Jangan becanda ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil meremas telapaknya kedalam kepalan, Louise mendengus. &amp;quot;Familiar itu, meski dia menciumku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
--------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sudut tempat yang ditentukan, plaza Vestri, Siesta datang naik tangga menara api setelaha malam tiba, Setelah tugasnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berakhir, perlu waktu untuk bersih-bersih badan dengan mandi dana berdandan. Dia menuju landaian tangga, tapi Saito tak &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disana, Hanya ada dua galon disana, Sekelilingnya remang-remang. Siesta dengan pandangan khawatir mulai melihat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sekelilingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saito-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah takut-takut mengutarakan itu,tutup galon membuka dengan suara, Siesta langsung mundur, tapi Saito menyembul darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siesta.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wah! Saito-san! Kenapa kau disana?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, ada beberapa alasan...tung-. eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memandangi penampilan Siesta dan matanya terbelabak. Dia memakai pakaian apelaut buatan tangan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;K-kau datang sambil memakainaya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh, ya...Karena kupikir Saito-san akan alebih bahagia bila aku mengenakan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial. AAku seharusnya bilang &amp;quot;kembalikan&amp;quot;, bukan &amp;quot;bawakan&amp;quot;. Tak mungkin akau bilang supaya ia melepasnya disni. Saat Saito &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
panik begitu, Siesta berputar dan mengacungkan jari didepan wajahnya. Roknya terangkat dengan anggun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Un, um...Terima kasih telah menunggu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Siesta tersenyum cerah. Ma-manis. Tanpa sadar, wajah Saito memerah. Tepat saat itu juga, terdengar suara galon &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bergetar dibelakang mereka. Siesta jadi &amp;quot;Kayaa!&amp;quot; dan memeluk Saito. &amp;quot;Nyaa, nyaa&amp;quot;, terdenagr suara kucing. Saito mengelus &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
adadanya tanda lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, cuma seekor kucing..&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi,masalahnya bukan kucing. Siesta tengah menekankan dadanya pada Saito. Mereka terimpit dada Saito, dan pakaian pelaut &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
buatan tangan telah aadengan bebas berubaha bentuk. Wajah Saito amemucat. Raa-ra-ra sa ini adalah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;S-Siesta, um...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak mengenakan bra?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta menatapanya kosong. &#039;Bra itu apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Eeeeehhh? itu lho, untuk dada, seperti ini, melindunginya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, Siesta tetap menatapnya kosong. Sepertinya atiada bra di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, Aku memang mengenakan pakaian dalam dan sebuah korset dibawah kemejaku saat aku dalam pakaian pelayanku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian wajahnya memerah.&amp;quot;Tapi, aku tak mengenakan apapun saat ini. Pakaian dalam akan kelihatan jika aku mengenakannya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bersama rok pendek ini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa itu pakaian dalam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh, Um. semacam celana pendek.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah, itu lho yang seperti spat panjang. Haah, jadi payudaranya seperti ini kalau dia tak memakai korset. Pikir Saito sambil &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menerawangi langit. Dia pikir dia akan mimisan bila dia tak begitu. Terlebih lagi, tiada bra? begitu toh. Jika aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
memikirkannya, saat aku mencuci pakaian dalam Louise, aku ingat mencucui celana dala, chemise dan korset, tapi tiada bra. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir itu karena dia tak punya payudara, tapi sepertinya bra itu sendiri tak ada. Apalagi, kalau gadis ningrat mengenakan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pakaian dalam berenda, gadis biasa seperti Siesta takkan begitu kan? Eh? Dia tak mengenakan apapun saat ini?...Berarti....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau jahat Saito-san...Aku tak punya pakaian dalam berenda seperti para ningrat...Tapi kau malah membuatku mengenkan rok yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
begitu pendek...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata Lain, Dia tak mengenakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MEMANG!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kepalanya, bermunculan irama-irama seperti banbakabaanbanbonbanbanbakabaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat pertama. Siesta-san, tempat pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta dengan erat menyandarkan badannya pada Saito. Memeluk bahunya. Perlahan, Siesta mendekatkan bibirnya pada yang Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;U, um... Apa, apa kita akan melakukannya disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku seorang gadis desa, jadi aku tak pilih-pilih tempat, tapi, um...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siesta?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tempat yang lebih bersih yang takkan didatangi orang akan lebih baik. Ah, tapi ini hanya harapan saja! Jika Saito-san bilang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tempat ini baik, maka aku juga ok dengan itu. Aah, aku takut. Bagaimanapun juga, ini kali pertamaku. Ibu, maafkan aku, aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
akhirnya akan terenggut disini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya dia benar-benar salahpaham. Saito hanya ingin dia mengembalikan pakaian pelaut disini. Tapi Siesta pikir dia akan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
direnggut. Saat dia pikir dia perlu menjelaskan...dibelakang mereka, tutup dari galon lainnya terbuka lurus keatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito berbalik, tutup galon yang jatuh langsung menghantam kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gyaa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dari dalam galon, sebuah bayangan bangkit bersamaan dengan bergetarnya tanah. Sebenarnya, yang bergetar hanyalah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
galonnya, tapi rasanya bagaikan tanah pun bergetar. Itu menunjukkan betapa marahnya orang didalam galon itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;L-Louise?&amp;quot; ucap Saito dengan nada bergetar. Siesta ketakutan oleh Louise, yang kepalanya menyenbul dari galon, dan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bersembunyi di bayang-bayang Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Me-mengapa kau ada didalam sebuah galon...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tengah membuntutimu dan melihatmu sembunyi didalam galon, Jadi aku mengikutimu dan bersembunyi di galon sebelahnya. Aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berhati-hati agar tak bersuara. Tapi aku sedikit memukul galon karena marah. bagian &#039;nyaa, nyaa.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah, suara kucing tadi adalah Louise, Terlebih lagi, dia, mendengarkan seluruh percakapan kami tadi. Wajah Louise pucat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saking marahnya. Matanya melotot, seluruh tubuhnya gemetaran bagai gempa. Dengan nada penuh getaran, Louise berucap. &amp;quot;Itu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
merpati yang sangat bagus untuk engkau pelihara, a kan&amp;gt; Heeh. Sebuah pakaian indah sebagai hadiah, huh. baiklah. Aku baik, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jadi aku akan memaafkan hal semacam itu. Aku tak apa-apa kau mengabaikan tuanmu dan mengirimkan merpatimu hadiah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise, dengarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, merpati itu bilang begini.&#039;Kau membuatku memakai rok yang begitu pendek&#039;. Tanpa pakaian dalam apapun.&#039;Kau membuatku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
memakai rok yang begitu pendek&#039;. Yang terbaik. itu lelucon terbaik abad ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise! Dengarkan! Kumohon!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tenanglah. Ia takkan sakit. Dengan &amp;quot;Void&amp;quot;ku, aku takkan menyisakan setitikpun daimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyiapkan &amp;quot;Buku Doa Sang Pendirinya&amp;quot;, Louise mulai membacakan mantranya. Merasakan bahaya hidup, Saito refleks menggapai &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Derflinger yang tergantung di punggungnya. Siesta menjadi ketakutan dan bersembunyi dalam perlindungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa denganmu? Apa kau berencana melawan tuanmy? Bukankah itu menarik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie yang mengucapkan itu menakutkan. Melebihi kapal perang, melebihi naga, melebihi iblis orc, melebihi Wardes...Louise &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lebih menakutkan daripada yang sudah-sudah. Tubuh Saito gemetaran kaku. Apaan sih dengan ketegangan ini...I-ini &amp;quot;Void&amp;quot;...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Rekan, menyerahlah.&amp;quot; bisik Derflinger dengan sikap bosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menunjukkan ketegaran seorang tolol, Saito menarik keluar pedangnya, &amp;quot;Vo-vo-vo-void bukanlah apa-apa! Ayo!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanda di tangan kiri Saito bersinar...&lt;br /&gt;
Louise mengayunkan tongkatnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ke bawah saat pembacaannya belum selesai. Boom! Dan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tempat didepan Saito meledak. Tertelan oleh akilatan, Saito diterbangkan dari landaian dan menghantam tanah dibawah. Setelah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengahantam tanah, wajah Saito tak karuan karena ketakutan, dan dia bangkit lalua kabur. Louise menengok dari landaian dan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berteriak. &amp;quot;Tunggu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ga mungkin aku nunggu. Jika aku nunggu, aku tewas, Pasti tewas. Ketakutan primitif mengambil alih otak Saito. Saito, sambil &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
terjatuh-jatuh, lari sekuat-kuatnya. Louise mengejar setelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche tengah mencoba sebaika mungkin dalamkamar Montmorency untuk menenangakan pacarnya. Tentanga bagaimna penampilan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency bagaikan mawar, bagai mawar liar, bagai mawar putih, bagaimana matanya bagaikan mawar biru, pokoknyam dia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menggunakan mawar-mawar dan memujinya, danlalu dia menyanjungnya menggunakan roh air sebagai perbandinagan. Montmorency, yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bukan merupakan kekecualian diantara ningrat Tristain, sanagt bangga dan angkuh, jadi diataka membenci pujian. Namun &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
punggungnya menghadap aGuiche, dan dia bersikap menerawangi jendela. itu tanda &amp;quot;Puji aku lagi&amp;quot;. Melihat ini, Guiche mengeruk &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
isi kepalanya lebih keras dan melepas kata-kata untuk menarik hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di hadapanmu, nukankah roh air akan melarikan diri? Lihatlah, rambut ini...ia bagai ladang rumput emas. Ia lautan bintang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang berkerlip/ Aah, wanita apapun disampingmu takkan lagi masuk penglihatanku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche terus masuk-keluar kamar, dan dia sudah mengeluarkan kata-kata yang cukup untuk sebuah drama. Kurasa ini cukup pikir &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency. Perlahan, sambil tetap membelkangi. dia dengan lembut mengeluarkan tangan kirinya pada Guiche. &amp;quot;aah&amp;quot; Guiche &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mendesah, membayangkan apa yang terjadi, dan mencium tangan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah, Montmorencyku~...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche mencoba membawa bibirnya mendekati bibir Montmorency, tapi it dihentikan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebelum itu, mari kita minum beberapa tetes anggur. Kau kan cape-cape membawanya kesini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Te-tentu saja!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diatas meja, vas berisi bunga, sebotol anggur, dan dua gelas keramik ditaruh. Guiche mendatangi kamar Montmorency dengan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
membawa itu. Guiche cepat-cepat menuangkan anggur kedalam gelas. Saat dia begitu, Montmorency tiba-tiba menunjuk keluar &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jendela. &amp;quot;Oh? seorang putri telanjang tengah terbang di angkasa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Dimana? Dimana, dimana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Guiche melotot dan melotot keluar jendela seakan-akan hendak memakannya. Apaan &amp;quot;Wanita lain selainmu takkan l;agi masuk &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mataku&amp;quot;, sepertinya aku harus menggunakan ini. Sambil memikirkan itu, Montmorency dengan sembunyi-sembunyi menuangkan isi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
botol kecil yang disembunyikannya di lengan baju kedalam cangkir anggur Guiche. Cairan bening terlarut kedalam anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency tersenyum manis. &amp;quot;Hanya main-main. Yah, ayo bersulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayolah, jangan mengagetkanku seperti itu...&amp;quot; tepat saat Guich mengatakan itu, pintu membuka dengan sebuah bam dan sebuah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
angin puyuh mengalir masuk. Guiche diterbangkan dan berguling di lantai. Itu Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa, haa, haa... Hi-hi-hi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa kau disini?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sembunyikan aku!&amp;quot; Sambil mengatakan itu, Saito loncat ke kasur Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei! Apa ada orang yang bakal loncat kedalam kasur Montmorency! Pergi! Kau!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tunggu, apa yang kau lakukan?! Masuk kamar orang sesukamu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Montmorency menyilangkan lengannya dan meneriaki Saito, angin puyuh lain mengalir masuk kamar. Montmorency diterbangkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan mendapati hidungnya terhantam parah ke lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise!&amp;quot; teriak Guiche. Mengapa, itu Louise yang kehilangan dirinya dalam marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-a-a-a-pa yang kalian berdua lakukan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Diamlah! Mana Saito!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditekan oleh sikap mengancam Louise, Guiche dan Montmorency bertukar pandang dan menunjuk ke kasur. Ada gumpalan tebal dalam &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
futon, agak bergetar. Dengan nada rendah, Louise memerintah kearah kasur. &amp;quot;Saito, keluarlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah suara kaku keluar dari futon. &amp;quot;saito tak disni.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengambil gelas anggur dari meja. Montmorency ber &amp;quot;Ah!&amp;quot; dengan nada pelan, tapi terlambat, Louise menenggak semuanya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dalam satu tegukan. &amp;quot;Buhah! Aku haus dari lari-lari ini. Semuanya salahmu. Baiklah, aku yang bakal mendatangimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menarik minggir futon kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito disana gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bersiaplah...Nna?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat dia memandangnya dan mengatakan itu, perasaan Louise berubah. Louise mengejar Saito karena dia tak bisa memaafkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito yang memberikan hadiah pada wanita lain meski telah mencium dia. Jika kau mencium gadis seperti Louise, itu bakal jadi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
masalah. Dengan kata lain, ini masalah harga diri. Tapi, kini. tepat saat dia melihat Saito, perasaannya pada Saito loncat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
begitu saja. Hingga detik ini, yah, dia samar-samar menyukainya. Dia takkan menerimanya, tapi dia menyukainya. Itulah mungki &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengapa dia begitu cemburu...Di saat ini, dia mencintai tanpa hambatan apapun. Emosinya begitu besar, bahkan pikiran Louise &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sendiri jadi liar. Tanpa berpikir, Louise menutupi pipinya dengan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh...aku begitu mencintainya?....Aku mencintainya begitu....begitu....besar? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ait mata mengalir deras dari mata Louise. Perasaan sedihnya lebih besar dari perasaan marahnya. Dia mencintainya begitu kuat, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jadi mengapa Saito tak memerhatikannya. ini begitu menyedihkan, Louise mulai terisak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan curiga melihat Louise, yang sikapnya berubah 180 derajat, dan bangkit. Guiche juga melihat Louise, yang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tiba-tiba mulai menangis, dengan mata terkejut. Montmorency tengah memegangi kepalanya dan ber&amp;quot;oh, tidak&amp;quot;. Obat yang hendak &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
diminumkannya pada Guiche telah diminum Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, Louise...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memandangi Saito dan memeluk dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tolol!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tolol, tolol! Mengapa? Mengapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mulai dengan sangat berbeda. Saito panik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau tak memerhatikanku! Itu jahat banget! Uweeeee~h!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengubur wajahnya kedalam dada Saito dan terisak-isak.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab2&amp;diff=435044</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Bab2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab2&amp;diff=435044"/>
		<updated>2015-04-03T07:50:50Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;===Bab 2 - Saito Pergi Berbelanja di Kota yang Penuh Keramaian===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes bangun. dia mencoba bangkit dan bermuka masam. Saat clingak-clinguk(wonder ni susah nerjemahinnya, tergantung situasi), dia melihat bandana yang dilingkarkan pada tubuhnya. Dimana aku? Aku yakin aku kena sihir dari mesin terbang yang dipiloti Gandálfr dan pingsan. Dia melihat sekelilingnya. Ia kamar sederhana dengan dinding dan lantai kayu. Ada liontin di meja, yang dia pakai di lehernya. Melihat sebuah jug, dia mencoba meraihnya. Tapi dia tak bisa mencapainya, karena seluruh tubuhnya masih nyeri/ Pada saat itu, pintu terbuka dan dia melihat sebuah wajah yang biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, kau sudah sadar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tanah Ambruk? Kau...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fouquet menempatkan sepiring sup di meja. Wardes mencoba bangkit lagi dan merasakan sesetruman nyeri di sekujur tubuh. &amp;quot;Agh..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau masih tak bisa bergerak. Badanmu ditembus rentetan peluru di sekujur tubuh. Ia menghabiskan seluruh penyihir elemn air untuk membacakan mantra &#039;penyembuhan&#039; selama tiga hari tiga malam untuk menyembuhkanmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;peluru?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes membuat wajah curiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku ditembak pistol? Inikah kekuatan pistol?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pistol adalah senjata yang digunakan jelata. Tekanan dari percikan pelatuk, menekan sebuah peluru bundar keluar dari senjata. Meski kekuatannya dalam jarak dekat melebihi dari busur, keharusan mengisi peluru dan bubuk mesiu secara terpisaj membuatnya sulit untuk menembak cepat. Sebagai tambahan, akurasinya tak lebih baik dari panah. Kelebihan utama dari pistol adalah kau tak perlu latihan tambahan untuk menggunakannya. Ia bukanlah senjata hebat bagi seorang penyihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah? Kau bahkan tak tahu senjata yang mengalahkanmu? Oh orang yang acuh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berkata begitu, Fouquet menyendok sup dan membawanya ke mulut Wardes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes berfikir, ini pasti mesin terbang aneh yang digunakan Gandalfr... Tak hanya ia bisa terbang cepat, tapi ia juga dilengkap pistol yang bisa menembak terus-terusan. Dan lalu, dalam sekejap, sebuah pusaran cahaya muncul...Seluruh kloter Albion telah dihancurkan dalam sekedip mata oleh cahaya itu...Apa cahaya yang kulihat? Sesuatu pasti tengah terjadi Halkegenia. Aku bisa mengambil keuntungan dari kesempatan ini, karena kejadian ini meungkin berhubungan dengan itu entah bagaimana...Keinginanku untuk mendapatkan kemampuan Louise. Dan kemampuan manipulasi sihir aneh milik Kaisar Suci Cromwell...Bahkan jika dia akan mengikuti Cromwell dan pergi ke Tanah Suci, rencanya mungkin tak berhasil, mengingat seluruh kloter dihancurkan hanya oleh satu orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, supnya dingin nih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata Fouquet, dengan nada marah, pada Wardes. Dia hilang dalam alam pikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dimana ini tempat?&amp;quot; pinta Wardes, tak sekalipun melirik supnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Albion. Ini kuil di pinggiran Londinium, dimana aku bertugas dulu. Baguslah kau bisa kembali dengan utuh, kau harus berterima kasih padaku untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Albion? Apa yang terjadi dengan sebuan militer?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah, kukira kau tak tahu keadaan karena kau pingsan. Ia kegagalan sempurna. Setelah pengahncuran kloter, Tentara Albion memutar arah. Ampun deh. &#039;Kemengan Pasti&#039; apanya. Jika kau tak bisa mengalahkan Tristain, yang jumlahnya kau lebihi berkali-kali lipat, kau mungkin kesulitan mengambil kembali Tanah Suci.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kutak tahu kau bergabung dengan prajurit penyerbu juga. Kau seharusnya bilang padaku soal itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fouquet terheran-heran. :Aku memberitahumu kok! Aku bertugas disana sebagai unit pemandu karena tentara Albion tak biasa dengan geografi negara asing! Sepertinya kau jenis yang melupakan hal yang tak menarik bagimu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah&amp;gt; Aah, itu benar. Maaf.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Wardes bergumam&amp;quot;Aku lapar, berikan aku sedikit sup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski Wajah Fouquet berubah muram dan kesal, sup tetap saja dikirim ke mulut Wardes. &amp;quot;Apa hanya &#039;lapar&#039; yang bisa kau ucapkan? Aku dengan cepat merawatmu, segera menyembuhkanmu dengan mantra &#039;Air&#039;ku. Setelah itu, dengan menggunakan relasi ilegalku saat aku jadi pencuri, aku entah bagaimana dapat kapal untuk Albion, dan kabur dengan aman. Beneran dah, seharusnya aku tak menyelamatkan orang yang tak tahu terima kasih ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes menunjuk meja. &amp;quot;Bisakah kau membawa liontinitu padaku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Liontin ituberupa loket perak. Fouquet membawanya pada Wardes.Dia mengambilnya dan mengenakannyadi leher.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ia sangat penting bagimu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ga begitu juga, tapi ia menenangkanku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia wanita yang sangat cantik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Fouquet menonton Wardes dengan senyum dikulum, pipi Wardes memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau melihatnya?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, karena kebiasaan. Kau memegangnya erat dalam tidurmu, jadi aku penasaran.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebagaimana yang diharapkan dari seorang pencuri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi ceritakanlah, siapa orang itu? Yang penting bagimu yang lain?&amp;quot; tanya Fouquet pada wardes sambil membungkuk kedepan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes berkata dengan nada tak senang. &amp;quot;Dia ibuku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;ibumu? Penampilanmu menipuku, ku tak tahu kau begitu manja ke ibumu. Kau hidup dengannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak lagi. Selain itu, ia bukan urusanmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Setelah merawatmu, itukah sikapmu sebagai balasannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, pintu terbuka denagn sebuah &#039;clank&#039;. Itu Cromwell, ditemani Sheffield. Melihat wardes, dia tersenyum tipis. Senyum itu tak pernah berubah. Seperti boneka saja, pikir Wardes. Mereka mengalami kekalahan. Sebuah antukan tak terpikirkan pada langkah pertama dari ambisi Albion. Namun fakta itu tampak tak mempengaruhi Cromwell. entah dia benar-benar tegar atau optimis nan acuh. Itu sulit dikata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya kau sudah sadar, Viscount.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku minta pengampunanmu, Yang Mulia. Aku tak hanya gagal sekali, tapi dua kali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi sepertinya kegagalanmu tak penting.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehffield, yang berdiri di sisi Cromwell, mengangguk, kemudian membaca gulungan parkemen yang tampak sebagai laporan, dan bergumam, &amp;quot;Sebuah bola cahaya muncul di langit dan menerjang kloter kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengan kata lain, musuh menggunakan sihir tak diketahui untuk melawan kita. Ini adalah kesalahan perhitungan dan itu bukan kesalahan siapapun. Jika ada yang harus dipersalahkan...itu adalah kesalahan pimpinan untuk tidak menganalisis potenso perang musuh dengan tepat. Prajurit biasa sepertimu seharusnya tak dipersalahkan untuk itu. Kau seharusnya fokus pada penyembuhan kesehatanmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cromwell menawarkan tangannya pada Wardes. Wardes menciumnya. &amp;quot;Aku berterima kasih atas kebaikan Yang Mulia.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes teringat rambut pink blonde  panjang Louise. Louise berada di mesin terbang itu. Sihir begituan tak pernah...Wardes telah melihat talenta Louise. Dia ingin memilikinya dalam tangannya sendiri...elemen yang digunakan Brimir sang Pendiri. Elemen yang hilang, &#039;Void&#039;. Dia menggelengkan kepalanya. Cromwell mengatakan &#039;Void&#039; adalah elemen yang mengendalikan kehidupan. Tapi bagaimana ia bisa menciptakan cahaya yang bisa mengalahkan seluruh kloter? Bahkan jika ia benar-benar sihir yang kuat, adalah sulit membayangkan bahwa Louise bisa mengendalikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa &#039;Void&#039; sumber cahaya itu? Tapi &#039;Void&#039; yang Yang Mulia bicarakan dan cahaya itu tampaknya berbeda jauh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tiada yang bisa mengatakan mereka punya pengetahuan lengkap soal apa itu &#039;Void&#039;. &#039;Void&#039; adalah misteri besar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sheffield menyela. &amp;quot;Ia dibungkus di sisi lain sejarah yang gelap dan tua.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sejarah menyembunyikan banyak hal menarik. Satu kali, Aku ketemu sebuah buku yang menamakan salah satu perisai Pendiri sebagai Santo Aegis. Ia punya sedikit info mengenai &#039;Void&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cromwell berbicara seakan-akan tengah bersyair. &amp;quot;Sang Pendiri menciptakan matahari, untuk menynari bumi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memang. Dulu tiada cahaya dalam matahari kecil itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Misteri diatas misteri, aku merasa sakit, Terbangun juga buruk.&amp;lt;!&amp;gt; Apa iaya begitu, Viscount?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia sebagaimana yang kau katakan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Katanya tentara Tristain dipimpin Henrietta. Untuk alasan apa seorang putri yang masih mentah bertarung? Putri itu menggunakan &#039;Buku Doa Sang Pendiri&#039;. Mungkin dia mengendus rahasia yang tertidur dalam Keluarga kerajaan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa rahasia yang tertidur dari Keluarga Kerajaan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Keluarga Kerajaan Albion, Keluarga Kerajaan Tristain, dan Keluarga Kerajaan Gallia...mulanya satu. Dan rahasia Sang Pendiri dibagi diantara mereka. Bukankah begitu, Nona Sheffield?&amp;quot; bujuk Cromwell pada wanita di sebelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia sebagaimana yang dikatakan Yang Mulia. Harta yang diberikan pada Keluarga Kerajaan Albion adalah &#039;Rubi Angin&#039;...Namun, dimana Rubi Angin menghilang belum ditemukan. Ini akrena investigasi belum berakhir sampai saat ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes mngawasi wanita itu dengan perasaan curiga. Karena wajahnya tersembunyi oleh tudung panjang, wajahnya tak mungkin terlihat. Meski orang-orang berpikir dia adalah sekretaris Cromwell...Dia tak memberikan kesan hanya sebagai sekretaris. Tiada sihir kuat yang terasa darinya, Namun, karena dia dipromosikan kesini oleh Cromwell, dia mungkin punya kemampuan khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kini, Henrietta, seorang &#039;Wanita Suci&#039; yang disembah, dinobatkan sebagai ratu.&amp;quot; gumam Cromwell.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sheffield berkata, &amp;quot;Pemerintahan kerajaan. Ratu negeri itu juga akan mendapatkan rahasia Keluarga Kerajaan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cromwell tersenyum. &amp;quot;Wales-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales, yang dihidupkan lagi oleh Cromwell, memasuki ruangan dari koridor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau memanggil, Yang Mulia?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku ingin memberikan rasa terimakasihku pada penobatan cintamu....sang Wanita Suci. Aku ingin dia datang ke istanaku di Londinium. Namun, perjalanan sepertinya bakal melelehkan jadi temani dia untuk menghapus kebosanan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales menggumamkan, &amp;quot;Pasti&amp;quot; dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi, Wardes-san. Jaga diri ya? Aku akan menyerahkan urusan mengundang sang &#039;Wanita Suci&#039; ke pesta makan malam dan meyakinkan kedatangannya dengan selamat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wardes membungkuk. Cromwell dan yang lainnya meninggalkan ruangan. Fouquet bergumam acuh tak acuh. &amp;quot;Lelaki menjijikkan. Mengumpan seorang pecinta dengan cintanya yang telah mati bukanlah cara seorang ningrat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fouquet menambahkan, meski dia sendiri membenci para ningrat. &amp;quot;Lelaki itu bukan seorang ningrat. Belumkah kau mendengarnya? Dia hanya seorang pendeta biasa pada mulanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Wardes menghirup napas keras-keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak bisa tenang. Jika saja lukaku sudah sembuh...Aku bisa mengerjakan tugasku daripada bermain dengan mayat...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, Wardes dengan rasa menyesal mengubur wajahnya di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sial! Aku...Apa aku lemah? Bukankah Tanah Suci terlepas lagi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fouquet tertawa sambil tersenyum,  dan menempatkan tangannya pada bahu wardes. &amp;quot;Kau adalah seorang elaki lemah...Yah, kutahu itu sejak awal.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, Fouquet mendekatkan wajahnya pada wajah Wardes dan menempelkan bibirnya pada bibir Wardes. Sambil perlahan menarik bibirnya kembali, Fouquet bergumam. &amp;quot;Kini, beristirahatlah. Aku tak tahu apa yang kau sembunyikan...Namun sesekali kau harus beristirahat juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam istana Kerajaan Tritain, Henrietta tengah menunggu tamunya. Meski dia seorang ratu, tak pernah dia duduk di tahta. Dia lebih banyak mengerjakan pekerjaan seorang raja. Setelah penobatan selesai dan dia menjadi ratu, Jumlah hal-hal yang perlu dikerjakan untuk urusan domestik dan asing bertambah dengan hebat. Ada yang meminta pinjaman, ada yang memintanya secara baik-baik, dan Henrietta, sejak pagi hingga malam, selalu bertemu orang. Dan, karena perang, ada lebih banyak tamu dari biasanya. Karena dia selalu memaksakan diri untuk menunjukkan kehormatannya, dia menjadi sangat kelelalahan. Meski dibantu Mazarini, dia harus menjawabnya sendiri. Sudah terlalu terlambat untuk Henrietta untuk kembali menjadi seorang putri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun...untuk tamu yang baru saja datang ini, dia tak menunjukkan maupun membuat ekspresi maupun sikap begitu. Sebuah suara tertahan dari luar ruangan memanggil, memberitahu Henrietta soal kedatangan sag tamu. Tepat setelah itu, pintu terbuka. Adalah Louise yang berdiri disana, yang dengan hormat menundukkan kepalanya. Disebelahnya, sosok Saito terlihat. Bahkan sekarang, sebuah alat penahan untuk menjinakkan binatang buas dipasang pada badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise, aah, Louise!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta berlari menuju mereka dan memeluk Louise erat. Dengan wajah menengadah, Louise berkata. &amp;quot;Putri-sama...Tidak, kini, saya harus memanggil anda Paduka .&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak suka bila kau mengucapkannya begitu resmi, Louise Francoise. Bukankah kau temanku yang tercinta?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maka, Saya akan memanggil anda putri-sama, sebagaimana biasanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mohon lakukan itu untukku, Aah, Louise, aku tak ingin jadi seorang ratu. Ia dua kali lebih membosankan, tiga kali lebih mengikat, dan 10x lebih mengkhawatirkan.&amp;quot; ucap Henrietta, yang tampak bosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya, Louise diam, menunggu untuk titah Henrietta. Pagi ini, kurir dari Henrietta datang ke Akademi Sihir. Mereka naik kereta yang disediakan Henrietta dan datang kesini. Sepertinya aku dipanggil untuk alasan tertentu. pikir Louise. Apa ini tentang &#039;mantra &#039;Void&#039;? Tapi, dia sepertinya enggan berbicara soal itu. Henrietta hanya bertatapan dengan matanya, tak berbicara. Akhirnya, Louise berkata. &amp;quot;Saya harus memberikan selamat atas kemenangan ini.&amp;quot; Louise mencoba menemukan topik yang tak sulit bagi Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kemenangan ini seluruhnya berkat kau, Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie memandangi wajah Henrietta dengan wajah kaget. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak bisa menyembunyikan rahasia yang begitu hebat dariku, Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-Tapi, aku tak melakukan apapun...&amp;quot; Louise tetap mencoba berpura tak tahu-menahu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta tersenyum dan menyerahkan laporan, yang ditulis pada parkemen, kepada Louise, Setelah membacanya, Louise mendesah. &amp;quot;Anda bahkan memeriksa itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, karena itu hasil perang, adalah lebih baik untuk tidak melewatkan apapun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya, Henrietta menghadapi Saito, yang diacuhkan hingga sekarang. Di perjalanan, Saito mendengar dari Louise bahwa Henrietta telah menjadi seorang ratu, jadi dia merasa sangat tegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk mengendalikan mesin terbang negeri asing yang menghancurkan korps ksatria naga musuh, Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak...itu tidak seperti itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau adalah pahlawan negeri ini. Jadi kini aku memberikan kau glar keningratan...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu sangat salah! merubah seekor anjing menjadi seorang ningrat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Anjing?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-Tidak...itu bukan apa-apa.&amp;quot; gumam Louise dengan wajah memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maka, aku akan menghadiahimu gelar seorang &#039;teman&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Henrietta mengatakan ini, Saito mengucapkan, &#039;Haa&#039;. Lalu dia mengingat perkataan Kirche yang dulu, Bahwa di Tristain, jika kau bukan seorang penyihir sejak lahir, maka kau tak bisa jadi seorang ningrat. Tapi, pikirannya soal &#039;teman&#039; ini tak keluar dari mulutnya. Yah, bagaimanapun juga, saat kembali ke Jepang, seluruh gelar akan kehilangan makna mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Luar biasa...hasil perang yang luar biasa, Louise Francoise. Perang berakhir berkat kau dan familiarmu. Tidak pernah ada kemenangan seperti ini sepanjang sejarah Halkegenia. Dengan penuh kesungguhan, Lousie, kau seharusnya diberikan tanah seukuran negara kecil dan gelar sebagai duchess untuk ini. Dan familiarmu dianugrahi gelar &#039;teman&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku t-tak perlu apa-apa...perbuatan ini adalah familiarku...&amp;quot; ucap Louise enggan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau penyebab cahaya itu, Louise? Cahaya itu disebut sebuah mukjizat istana, namun aku tak percaya mukjizat. Cahaya itu datang dari mesin terbang yang kau naiki. Bukankah kau penyebabnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menatap Louise dalam-dalam. Mustahil untuk menyembunyikan segalanya dengan ini. dan bagaimana dengan Saito? Meski dia terus-terusan menatik lengan baju Louise, mencoba menyela dnegan &amp;quot;Ngomong-ngomong...&amp;quot;, Louise perlahan-lahan mulai berbicara soal Buku Doa sag Pendiri. Dia tak bisa berbicra mengenai itu dengan orang lain. Adalah terlalu beresiko untuk melakukan itu. Perlahan-lahan...Louise berbicara pada Henrietta. Dia mengambil &amp;quot;Ruby Air&#039; milik Henrietta, menempatkannya pada halaman dari Buku Doa sang Pendiri dan sebuah tulisan kuno muncul. Saat dia membacanya pada saat itu, dia membacakan mantra sebentuk cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Buku Doa sang Pendiri ditulis dengan elemen &#039;Void&#039;. Apakah ini benar, Putri-sama?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menatap menembus bahu Louise. &amp;quot;Kau tahu Louise? Brimir sang Pendiri memberikan cincin pada tiga anak dari tiga keluarga kerajaan untuk dijaga sebagai pusaka. Tristain mendapatkan &amp;quot;Rubi Air&#039; dan Buku Doa sang Pendiri, dimana keduanya kini milikmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Err...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia telah diwarisikan seperti ini diantra keluarga-keluarga kerajaan. Keluarga-keluarga kerajaan inilah yang mewarsi kekuatan sang Pendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya bukanlah seorang keluarga kerajaan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa maksudmu Louise? Leluhur Duke de La Vallière merupakan anak ilegal raja. Dan kau adalah anak Duke itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Engkau juga mewarisi darah Keluarga Kerajaan Tristain. Dan itu sucudh sudah cukup bagus.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya, Henrietta mengambil tangan Saito. Saat melihat tanda, dia mengangguk. &amp;quot;Apa ini tanda dari &#039;Gandálfr&#039;? Tanda familiar yang Brimir sang Pendiri gunakan untuk perlindungan selama membacakan mantra?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengangguk. Sir Osmond juga mengatakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi...Saya benar-benar seorang pengguna &#039;Void&#039;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kupikir memang begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mendesah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kau mengerti kan mengapa aku tak bisa menganugrahimu, Louise/&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito, yang tak mengerti, menanyakan kenapa. &amp;quot;kenapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menjawab dnegan wajah kelabu. &amp;quot;Jika aku memberikan penghargaan, pelayanan rahasia Louise akan tersingkap seterang siang bolong. Itu berbahaya. Kekuatan Louise terlalu besar. bahkan satu negeri takkan bisa menangani kekuatan semacam ini. Jika ada musuh yang tahu rahasia Louise, mereka akan tergila-gila padanya dan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Aku sendiri akan menjadi sasaran musuh,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, Henrietta mendesah. &amp;quot;Musuh bukanlah satu-satunya pihak yang tertarik pada &#039;Void&#039;. Bahkan didalam istana...mereka yang tahu kekuatan itu, akan selalu mencoba menggunakannya demi kepentingan mereka sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie mengangguk dengan mata ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena itulah, Louise, kau seharusnya jangan berbicara dengan siapapun soal kekuatan itu. Rahasiamu aman bersamaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Lousie berfikir sesaat...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, dengan cara perlahan yang memperlihatkan keteguhannya, dia buka mulut. &amp;quot;Jangan khawatir Putri-sama. Aku ingin menunjukkan &#039;Void&#039;ku untuk anda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan...tidak apa-apa. Kau harus melupakan kekuatan itu sesegera mungkin. Dan jangan pernah menggunakannya lagi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi...putri-sama, aku ingin membantu anda dengan kekuatan yang dianugrahkan padaku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, Henrietta menggelengkan kepalanya. &amp;quot;Ibu berkata, kekuatan hebat membuat orang gila. Siapa yang bisa yakin bahwa kau, setelah mendapatkan kekuatan &#039;Void&#039;, takkan ke arah sana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise dengan bangga mengangkat kepalanya. Itu wajah seseorang yang telah memutuskan misinya. Tapi, wajah itu &#039;berbahaya&#039;.  &amp;quot;Aku selalu ingin mendedikasikan kekuatan dan tubuhku pada putri-sama dan ibu pertiwi. Aku diajar begitu, aku percaya itu, dan aku tumbuh dengannya. Namun, sihirku selalu gagal. Sebagaimana yang anda tahu, aku dijuluki &#039;Zero&#039;. Dibelakang cemoohan dan hinaan, aku selalu diguncang penyesalan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise dengan jelas mendeklarasikan. &amp;quot;Tetapi, Tuhan memberikan kekuatan semacam ini padaku. Aku sendiri percaya diri dalam menggunakannya. Namun, bila anda berkata bahwa paduka takkan memerlukannya, maka adalah perlu untuk mengembalikan tongkatku pada Paduka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta tersentuh oleh deklarasi Louise. &amp;quot;Louise, aku mengerti, Kau masih tetap...Sahabat terbaikku. Dari saat-saat dimana kau membantuku di danau Ragdorian. Kau dihukum demi aku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putri-sama...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise dan Henrietta saling berpelukan dengan erat. Saito, yang selalu ditinggal, mengayunkan kepanaya dnegan fikiran kosong. Louise terlalu baik untuk berjanji tanpa berfikir dulu...pikirnya, meski dia tak menyatakannya. Meski adalah hal baik untuk membantu Henrietta...tapi bagaimana dengan perjalanan ke timur untuk menemukan jalan untuk mengembalikanku ke rumah... Dengan membantu Henrietta, sepertinya mereka takkan kesana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Setelah ini, aku juga akan membantu Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu alami, putri-sama.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini aku berikan kembali Buku Doa sang Pendiri padamu. Tapi, Louise, berjanjilah padaku. Jangan bilang siapa-siapa bahwa kau seorang pengguna &#039;Void&#039;. Dan jangan menggunakannya sembarangan juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pasti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Setelah ini, kau akan jadi wanita senatku dan hanya akan mematuhiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mengambil pena bulu dan parkemen haluys. Setelah itu, dia menandatangani dokumen itu dan meletakkan pena bulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Ambillah ini. Ini izin resmiku. dengan ini, baik didalam istana. didalam maupun diluar negeri, kau akan memiliki otoritas luar biasa diatas segalanya, bahkan diatas polisi. Jika tiada kebebasan, seseorang tak bisa bekerja baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise dengan khidmat menerima izin dengan wajah penuh rasa terima kasih. otoritas Henrietta. Ini berarti Louise dianugrahi hak bertindak atas nama ratu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika saya menghadapi masalah yang hanya bisa diselesaikan anda, saya pasti meminta bantuan. Untuk ini, mohon tetap berlaku sebagai siswa Akademi Sihir seperti yang anda lakukan sampai saat ini. Karena anda, tanpa keraguan, akan melakukannya dengan baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, Henrietta menoleh pada Saito. Memilki ide, dia merogoh kantong bajunya, Saat dia mengeluarkan beberapa koin emas, Saito tahu apa yang akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku memintamu untuk memperhatikan Louise, sahabat pentingku, familiar-san nan baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-itu, aku tak bisa mengambilnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito terlihat kagum pada koin emas dan perak dalam tangannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengan sepenuh hati, mohon terima ini. Hanya memberikanmu ini sebagai tanda Chevalier adalah yang terbaik yang bisa dilakukan ratu lemah ini. kau menunjukkan kesetiaan padaku dan ibu pertiwi. Ini tak seharusnya tak dihadiahi.&amp;quot; kata Henrietta dengan mata penuh kesungguhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sat melihat mata yang begitu, mustahil menolaknya. Setelah menerima ini, sepertinya dia tak bisa menolak untuk membantu Louise. Karena Saito tak berasal dari dunia ini, dia juga bukan bawahan Henrietta, tapi meski dia tak perlu merasa bertanggung jawab, Saito merasakan perlunya melakukan sesuatu. Aah, mungkin ini takdir, pikirnya, Tidak, ini lebih pada pribadinya daripada takdir. Saat seorang wanita cantik seperti Henrietta mengatakan &#039;kumohon&#039;, dia tak bisa menemukan tempat di hati untuk menolak. Orang yang berhati baik ya aku ini. Haa. Dia tak terlalu diterima di Jepang pada waktunya. Bagaimanapun juga, aku harus mencari jalan untuk pulang, pikir Saito, sambil memasukkan koin-koin emas kedalam sakunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dan Louise keluar dari Istana Kerajaan berurutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar-benar deh, kau terlalu baik dalam berjanji.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa maksudmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menatap Saito.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena, kau berkata kau akan membantu putri-sama, tapi itu membuat pergi ke timur mustahil.&amp;quot; kata Saito dengan nada kecewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;jangan pergi tanpa izin. Semuanya tetap disni, jadi berhentilah bertanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise membuang muka dan mulai berjalan meninggalkan Saito di belakang. Saito berlari mengejarnya yang tengah panik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;bagaimana kau bisa berkatas begitu? Lepaskan aku dari ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menunjuk pada alat penahan yang digunakan untuk menjinakkan binatang buas yang pasanga pada tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan membantah! Jika si familiar bertindak seenaknya, adalah tugas tuannya untuk memasang rantai padanya.&amp;quot; jawab Louise acuh tak acuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito, yang ingin diperhatikan, tiba-tiba mencengkram bahu Louise. Mereka sudah di jalan Bourdonne, tepat di depan Istana Kerajaan, Jalan raya, dan bagaimana dengan pengguna jalan? mereka semua menonton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei! Orang-orang melihat! Lepaskan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berkata dengan nada rendah. &amp;quot;Kau berpikir bahwa aku seharusnya tak kembali?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie jadi kelabakan dengan kata-kata ini dan merubah wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi begitu, ya kan? kau khawatir aku akan pergi kan? Akan jadi sulit untuk membantu putri-sama kalau begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seperti itu, Louise ingin berkata begitu, tapi tetap menutup mulutnya. itu bukan alasan mengapa aku tak ingin Saito kembali ke dunia asalanya. Namun, dengan mengatakan ini, dia akan membuka perasaan hatinya pada Saito. harga diri Lousie takkan memperbolehkan hal itu. Dalam keadaan terombang-ambing, Louise mngangguk paksa. &amp;quot;I-itu benar! Nanti malah tiada yang mengurusmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Luar biasa, jadi begitu toh.&amp;quot; gumam Saito, dan mulai berjalan lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang sebenarnya dipikirkannya adalah, dia tak harus bilang &#039;aku mencintaimu&#039;, tapi setidaknya dia bisa bilang &#039;aku akan sendirian&#039; atau paling tidak ;&#039;aku ingi  kau tak kemana-mana&#039;, jika dia bilang itu, Saito tak masalah membantunya dan akan mencari jalan kembali setelahnya. Saat henrietta meminta bantuannya tadi, meski dia pikir ini mengganggu, dia juga senang untuk sesaat. Tiada yang benar-benar memerlukannya di Jepang. Bumi tetap berputar, meski Saito hilang. Namun, itu berbeda dengan dunia ini. Siesta dan Henrietta...ada beberapa orang yang memerlukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun dia ingin lebih diperlukan Louise. Tapi, dari perkataannya di awal, yang ia pedulikan hanyalah kekuatan Gandalfr. Saito ngambek, dia pundung. meneguhkan hati, dia mulai mendorong melalui kerumunan. Kota masih ramai oleh pewrayaan kemenangan. Sekelompok pemabuk tengah tos dan berteriak sambil memegang cangkir yang terisi anggur. Louise yang masih terguncang akibat sikap Saito, membeku sejenak. Dengan wajah menunduk, dia menggigit bibir. Saat wajahnya diangkat, Saito sudah pergi masuk kerumunan dan tak terlihat. Louise berlari panik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;nyingkah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menabrak keras seorang lelaki. Doa, yang tampak seperti tentara bayaran, jatuh. Di tangannya ada sebotol sake, yang tengah ditenggaknya. Sepertinya dia benar-benar mabuk. Meski Louise mencoba melewati samping lelaki itu, dia menggenggam tangan Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;tunggu Nona, kau harus meminta maaf karena menabrak seseorang di tengah jalan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, laki-laki lain, yang tampaknya tentara bayaran, menyadari mantel Lousie dan bergumam. &amp;quot;Seorang ningrat, huh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, lelaki yang mencengkram tangan Louise tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hari ini adaalh festival perayaan kemenangan di Tarbes. Kesampingkan status. Hari ini, ningrat, tentara, dan pedagang sama derajatnya, Hei, Nona ningrat, bagaimana kalau berbagi satu minum denganku sebagai permintaan maaf menabrakku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berkata begitu, dia mengacungkan guci anggurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lepaskan aku! Dasar orang kasar!&amp;quot; teriak Louise. Wajah lelaki itu langsung menjadi brutal dan menggelagak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau panggil aku apa, Hei! Siapa yang kau pikir menyerang tentara Albion di Tarbes! Wanita suci atau ningrat sepertimu, tidak, kami para tentara!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki itu mencoba meraih rambut Louise. Namun tangannya dihentikan. Saito, yang muncul tepat dihadapan mereka, dengan erat mencengkram tanagn lelaki itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Enyahlah nak!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lepaskan.&amp;quot; kata Saito dengan nada pelan. Dulu, kakinya bakal gemetar saat mengancam lelaki yang tampak mengerikan. Namun, kini dia saito yang melalui berbagai pertarungan. Karenanya dia mendapat keberanian. Kini dia hanya perlu meraih Derflinger di punggungnya saat waktunya datang, Tidak mengeluarkannya, tapi menggenggamnya saja sudah cukup untuk mengKO para prajurit ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki itu melihat pedang di bahu saito, dengan mata sama. Pengalaman yang didapatnya dari medan pertempuran selama bertahun-tahun mengatakannya bahwa sikapo saito bukan hanya omong kosong. Dia lalu meludah, lalu membujuk teman-temannya pergi. Saito dengan diam mengambil tangan Louise, dan mulai berjalan. Louise mencoba mengatakn sesuatu pada saito. Tapi, ini semua membuatnya tak mampu menemukan kata. Saito berjalan cepat, mendorong melalui kerumunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau marah?&amp;quot; tanya Louise dengan nada pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ga juga.&amp;quot; sahut Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pegangan tangannya membuat Louise berdetak sesaat. Apa Saito juga merasakannya sama? Namun, karena Saito berjalan lurus kedepan, dia tak bisa melihat ekspresi wajahnya. Louise mengikuti sambil ditarik. Ini menyegarkan, perasaan menyenangkan yang tak bisa dijelaskan maupun dimengerti Louise.&lt;br /&gt;
------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise, selama berjalan dan berpegangan tangan dengan saito, kembali ceria. Kota dipenuhi festival aneka warna, pertunjukan menyenangkan, kios dan gerobak makanan dimana barang-barang aneh dijual dan terhampar sepanjang jalan. Karena dia seorang putri tuan tanah lokal, Louise tak pernah berjalan dalam kota ramai dengan cara ini. Terlebih algi, dia tak pernah berjalan dalam kota sambil berpegangan tangan dengan lawan jenisnya. Dengan keduanya bergabung, kepala Louise menjadoi ringan dan melayang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sangat ramai.&amp;quot; kata saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar.&amp;quot; gumam Louise senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Rasanya bagai festival duniaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;benarkah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Kios jalanan nan semarak berbaris tepat seperti ini, menangkap ikan mas, memancing yo-yo, toko okonomiyaki, dan gerobak makanan dalam barisan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berkata begitu, mata Saito menerawang. Louise mengeratkan pegangannya pada tangan Saito. Entah bagaimana, bayangan kepergian Saito yang tiba-tiba ke tempat nan jauh membuanya tak enak. Suatu saat...hari dimana Saito pergi, pasti tiba. Namun, saat berjalan bersama begini, Aku ingin kau hanya melihatku, pikir Louise. Hanya saat ini. Dan tak peduli yang lain. Dan di saat yang sama dia marah pada dirinya sendiri yang telah berpikir begitu. Karena cinta? Bukan itu. Adalah harga dirinya yang jadi masalah. Setelah meyakinkan dirinya sendiri soal itu, Louise menatap sekelilingnya dengan hampa. Dan kemudian, sambil berteriak &amp;quot;Waa.&amp;quot;, dia berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berbalik, Louise tengah memandangi toko perhiasan. Disana, pada sebuah kain, terpampang berbagai cincin dan kalung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau ingin liat-liat?&amp;quot; tanya Saito, dan Louise, dengan pipi memerah, mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
melihat dua orang mendekat, seorang pedagang dengan turban di kepala menggosokkan kedua tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh! Ayo masuklah! Aku lihat kau seorang ningrat, nona. Kami punya barang-barang langka untuk ditawarkan, ini terbuat dari &amp;quot;emas ukiran&amp;quot;, ini bukan bohongan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhiasan-perhiasan yang dihamparkan cocok bagi ningrat untuk dikenakan; terbuat dengan baik untuk memuaskan berbagai rasa. Lousie mengambil sebuah kalung. Gantungannya putih murni, diukir dengan bentuk kerang, Ada banyak permata besar disekitarnya. namun, bila dilihat seksama, permata itu hanyalah kristal murahan. Namun, Lousie menyukai gantungan berkilau ini. Dalam suasana festival yang ramai, terisi dengan barang-barang berharga, sesuatu yang mencolok bakal menarik perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau menginginkannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menggelengkan kepalanya, malu. &amp;quot;tak punya uangnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, aku akan menurunkannya. 4 ecus saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pedagang tersenyum manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terlalu mahal!&amp;quot; teriak Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak punya segituan?&amp;quot; tanya Saito, terkejut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie manyun. &amp;quot;Aku akan bila aku tak beli pedang kurang ajar kemarin-kemarin. Aku habiskan seluruh uang saku bulananku untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan enggan merogoh sakunya, Dia denagn erat menggenggam koin-koin emas yang diterimanya dari Henrietta tadi. Sambil memegang koin-koin emas yang kira-kira seukuran koin satu yen de telapaknya, Saito bertanya, &amp;quot;Segini berapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Pedagang terkejut bahwa Saito yang bawa duitnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-ini...! Bagus kali.....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengambil empat koin emas yang terukirkan potret raja, si pedagang menyerahkan gantungan kalung pada Louise. Louise terkejut dan kaget, pipinya jadi lemas. Hal pertama yang dilakukan Saito pada uang yang diberikan Henrietta adalah berbelanja untukku. Dia sangat bahagia. Setelah beberapa saat itu di tangannya, dia dengan riang memasangnya di leher. &amp;quot;Ia pas untukmu.&amp;quot; kata sang pedagang dengan nada sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin Saito melihatku, pikirnya sambil menarik lengan bajunya, Namun Saito, yang perhatiannyatertuju pada kios dekat pinggir, tak bergerak. Apaan sih yang kau lihat?...Saito tengah memandangi barang rampasan, dari tentara Albion, yang dihamparkan di tanah. Barang-barang yang diambil prajurit diberikan pada para pedagang. Itu kepunyaan musuh yang dirampas...pedang, baju baja, pakaian, jam. Saito mengambil salah satu pakaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin dia melihatku, Louise manyun, ngambek dia. Namun, perhatian Saito tertuju penuh pada pakaian, Memang beralasan sih dia ingin baju baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa, ingin baju baru? tapi bukan ide bagus untuk memakai baju bekas setengah rusak yang perbah dipakai musuh, ada yang jauh lebih baik kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Saito tak menjawab. Dia meraih salah satu potong pakaian, dan tangannya bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wahai pelanggan, kau punya mata yang bagus, Ini seragam pelaut dari Albion. meski murahan, ia juga enak dipakai. Dengan memasang kerahnya begini, ia melindungi leher dari angin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam pelaut? memang! T-tapi di dunia Saito ia disebut seragam nahkoda...Kepala Saito mulai bekerja dengan kekuatan penuh. Meski ukurannya kebesaran, ia masih bisa dipermak agar bisa dipakai Siesta...Dia membayangkan Siesta memakainya...kelihatannya bagus...Kesenangannya bertambah. Tidak, bukan itu, Bukan kesenangan pribadi. Terima kasih. Ini balasan untuk syal itu! Tapi, Dia tetap merasa agak bersalah. Itu benar, Saito mendinginkan kepala. Uang, dia mutlak harus memakainya untuk ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berapa?&amp;quot; tanya Saito dengan nada yang sangat bergairah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tiga ecus cukup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie terkejut. membayar begitu banyak uang untuk pakaian bekas adalah keterlaluan. Tapi Saito membayar harga yang diminta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----------------------------------&lt;br /&gt;
Louise, yang telah kembali ke kamarnya, tengah berbaring di kasur, membuka-buka Buku Doa Sang Pendiri sambil bersenandung. Sepertinya hatinya senang. Saito mencoba menyusup keluar dari kamar diam-diam, dia ingin ke Siesta untuk menyerahkan barang yang dibelinya hari ini, tapi pintu dikunci Louise yang mengayunkan tongkatnya dan menyihirkan mantra pengunci pada pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau akan pergi entah kemana saat tengah malam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Tidak...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu dia tak bisa mengatakan dia hendak menuju tempat Siestauntuk mengantarkan seragam pelaut yang dibelinya hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;H-hanya ingin merasakan angin malam! Wah! Wahahaha!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menatap Saito masam. Dan, dengan tegas, dia menuju Saito dan dengan dengan sikap biasa melepas jaket Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa-apaan kau?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Melepasnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Melepasnya? Alat penahan Hewan Buas membuatnya nyangkut!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito berteriak begitu, Lousie melepas kunci alatnya, menunduk untuk sesaat. Karena dia membelikan gantungan di kota hari ini, dia pikir Louise telah memaafkannya. Namun Louise tak bisa dengan mudah memaafkan dia yang mandi bersama dengan seorang gadis. Louise mengendurkan alat penahan dan melepas jaket Saito. Wajahnya selalu marah. Dia mengunyah bibir bagian bawahnya. Kemudian Lousie kembali ke kasur, memeluk jaket yang dilepas erat-erat. dan berkata &amp;quot;Menghadaplah kesana!&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan seluruh pakaiannya ditanggalkan. Louise, yang hanya memakai jaket Saito, manyun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Masih ingin pergi jalan-jalan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memberikannya pada Siesta harus menunggu hingga malam besok, pikir Saito, yang kini hanya mengenakan kaos. Meski sudah awal musim panas, tetap saja iklim di Halkegenia sangat berbeda dengan Jepang. Jalan-jalan dengan keadaan begini, bisa membuatnya masuk angin. Tak perlu diragukan lagi Louise jyga tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada banyak hal yang lebih penting daripada angin malam, bukankah begitu~? dan seorang rekan yang tak melayani tuannya tak bagus, nekankah begitu~?&amp;quot; kata Louise sambil berbaring pada perutnya dan mengayun-ayunkan kakinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan, Saito duduk di kasur. &amp;quot;Dimengerti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise, yang berbaring di kasur, mulai membaca Buku Doa sang Pendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah semuanya kosong?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bisa membacanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menunjukkan &amp;quot;Ruby Air&amp;quot; di jarinya pada Saito dan menjelaskan hubungannya dengan Buku Doa sang Pendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apaaa. elemen dari Void...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito teringat cahaya sihir, yang mnyapu habis kloter pada hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Void&#039;. Elemen legendaris yang Brimir sang Pendiri gunakan...Dan, aku seorang familiar yang katanya digunakan Brimir sang Pendiri - &#039;Gandalfr&#039;. Familiar legendaris yang memiliki kemampuan ahli menggunakan segala macam senjata, untuk melindungi sang Pendiri, selama dia membacakan mantranya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kau penyihr terkuat di dunia ini? Keren! Menghancurkan hanya dengan sekali ayun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku takkan berkata begitu, jadi aku belum mengatakan ini pada putri-sama karena aku tak ingin mengecewakannya...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah desah, Louise meraih tongkatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya, Lousie dengan pelan-pelan mulai membacakan mantra. &amp;quot;Eor Sun Fuir...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;H-Hentikan! Dasar bodoh!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah sangat mengerikan bila ledakan semacam itu terjadi di tempat seperti ini. Tapi, Louise tak berhenti membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yarunsakusa..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyelsaikan mantra tanpa halangan, Louise mengangkat tongkatnya. Saito menyembunyikan dirinya di tumpukan jerami, membuat jerami bertebaran disekitarnya. Kemudian mata Louise berputar ke belakang dan tiba-tiba ambruk ke kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“L-L-L-Louise? Louise!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengguncangkan Louise, panik. Setelah diguncang beberapa saat, Louise membuka mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auuu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa? Ada apa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menggoyangkan kepalanya, Lousie dengan cepat bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berhentilah ribut-ribut. Aku hanya pingsan sesaat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Eeeh?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sudah membacakan &amp;quot;Ledakan&amp;quot; hingga menit terakhir, tapi ga ada apa-apa...Setelah itu, tak peduli seberapa banyak aku memantra, aku pingsan di tenagh-tengah. Ledakan hanya timbul sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semacam apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kupikir alasannya adalah kekuatan hati tak mencukupi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kekuatan hati?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar. Kekuatan hati terpakai saat sihir dibacakan. Kau tak tahu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana aku bisa tahu hal begituan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, Louise duduk tegak sambil malu-malu, mengagkat jari dan mulai menjelaskan dengan bangga bagaikan seekor merak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &amp;quot;Dengarkan. jumlah elemen yang bisa digunakan penyihir bisa ditambah, dan tingkat dia bisa berubah tergantung itu. Seorang penyihir yang hanya bisa menggunakan satu elemen adalah titik. Bisa dua - jadi garis. Bisa tiga - segitiga. Mantra juga ada tingkatannya.. mantra dari tiga elemen disebut &amp;quot;mantra Segitiga&#039;. Tiap kali tingkat mantra meninggi, konsumsi kekuatan hati mengganda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Haa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Misalnya, mantra garis akan mengambil delapan kekuatan hati penyihir, tapi saat penyihir itu memutuskan memakai mantra titik, hanya empat ekuatan hatinya yang terpakai. Harganya bergantung pada orangnya, tapi aturannya berlaku ke semua.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Poin utamanya, penyihir itu bisa memakai dua mantra titik saja. Delapan dibagi empat adalah dua. Karenanya, kau bisa memakai mantra dua kali, Tapi saat kau memakai mantra garis, kau hanya bisa sekali, karena kekuatan hati yang dipakai dua kalinya, dan delapan dibagi delapan adalah satu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat penyihir garis tumbuh jadi penyihir segitiga, pemakaian kekuatan hati utuk mantra titik berkurang setengahnya. karenanya, empat dibagi dua - dua. dia bisa menggunkan mantra titik empat kali. Mantra garis bisa dua kali. Mantra segitiga - sekali. Itu karena penyihir mendewasa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa. Dengan kata lain, mantra kelas rendah bisa dipakai berulang kali, sedangkan mantra kelas tinggi hanya bisa dipakai beberapa kali saja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar. jadi kini kau ngerti kan hubungan mantra dengan kekuatan hati?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitulah. Jadi, kau pingsan tadi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. tadi aku pingsan karena aku maksa dan menghabiskan seluruh kekuatan hatiku. Mantranya terlalu kuat dan kekuatan hatiku tak cukup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus, napa kau bisa menggunakannya pas hari itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah..erm...aku juga tak mencari-cari...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kekuatan hati terisi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dasarnya, ia terisi lagi saat tidur.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito beroikir sambil melipat kedua lengannya. &amp;quot;Ummmm...Yah, hingga kini, kau tak menggunakan kebanyakan mantra dengan benar, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, benar sih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karenanya, kau mengumpulkan banyak kekuatan hati, kan? dan saat itu, kau menghabioskannya sekali pakai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Louise terkaget-kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Misalnya, ambillah kekuatan hatimu 100. &#039;Ledakan&#039;, menghabiskan 100, seluruhnya dalams ekali pakai. kekuatan hati biasanya terisi saat tidur saat malam, tapi jumlah yang diperlukan terlalu besar bagimu...Karena ia 100, kau tak bisa mengiusinya kembali hanya dengan tidur semalam.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan datar menguraikan hipotesisnya &amp;quot;Apa? Bagiku itu sepertinya akhir sihirmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, Wajah Louise serius. &amp;quot;Mungkin saja...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Eeeh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;dengan menggunakan mantra bumi kelas persegi &#039;Emas Cetakan&#039;. emas bisa diciptakan. Tapi kau mengapa dunia masih menggunakan uang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Diakatakan bahwa penyihir persegi tak bisa begitu saja membacakan mantra berulang kali. Ia tak bisa diandalkan, sekali isi ulang mungkin perlu seminggu, lainnya - sebulan. lagipula, jumlah emas yang bisa kau dapat dengan cara begini terlalu kecil. Makanya uang digunakan, bukan emas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengan kata lain, mantra kuat menghabiskan lebih banyak kekuatan hati dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terisi lagi, Untukku, sepertinya begitu juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu...kapam kau bisa memantar lagi...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ga tahu,. aku...sebulan atau mungkin setahun...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie menerawang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;10 tahun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan berkata yang tidak-tidak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, ia berhasil.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah. Tiada yang benar-benar mengerti &#039;Void&#039;. bagaimanapun juga, kekuatan pembacaannya telah ditunjukkan. Tiada mantra lain seperti ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia terlalu kecil sekarang. Uuu, jeramiku...&amp;quot; kata saito sambil melihat jerami-jerami yang betebaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah tak apa-apa? Meski tiada tumpukan jerami.&amp;quot; ucap Louise, yang wajahnya memerah karena alasan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa&amp;quot;. Saito menahan napasnya sesaat begitu dia menyadari sesuatu. Apa! Dia menjadi gila dari pemandangan yang diberikan Louise padanya, yang tak disadari Louise sendiri. Ujung jaketnya telah naik hingga paha Louise. Sedikit lagi, sediiiikit laghi. dia mengintip. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito cepat-cepat memegang hidungnya. Karena sikap Saito, Louise akhirnya sadar bahwa jaket telah naik. Dia langsung menggerakkan kakinya dan menurunkan ujung jaket dengan wajah memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Na! Kau lihat! Kau lihat, Kau lihat! Kau lihaaaaat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;S-Salahmu karena tak makai celana dalam apapun!&amp;quot; teriak Saito juga,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak bisa tidur dengannya! Sealu begitu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selalukah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu Louise menggigit bibir bawahnya, dan dengan sedikit weruwush, menyusup dibawah selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidur.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan enggan masuk dari ujung selimut. Dia dengar suara dari Louise yang ngambek didalams elimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidurlah di tumpukan jerami, familiar pengintip.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia betebaran.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia dengar Lousie menggeram beberapa kali dari dalam selimut, dai tenang kembali setelah beberapa saat. &amp;quot;Aah&amp;quot;. Sambil memikirkan tentag seragam pelaut yang akan diserahkannya pada Siesta besok malam, Saito jatuh terlelap.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab1&amp;diff=435043</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4 Bab1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume4_Bab1&amp;diff=435043"/>
		<updated>2015-04-03T07:50:31Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1 - Orang Suci==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada Jalan Bourdonné di kota sebelum Istana Tristain, tampak parade luar biasa yang diadakan sebagai perayaan kemenangan. Parade dipimpin kereta perang Putri Henrietta, yang ditarik oleh hewan legendaris yang dikenal sebagai unicorn. Bangsawan terkenal dalam kereta perang mereka mengikuti. Disekitar mereka, skuad sihir pertahanan berlaku sebagai penjaga mereka. Jalan sempit itu dipenuhi penonton. Orang-orang bersorak begitu mereka melihat kereta-kereta perang tersebut lewat dari jendela-jendela dan atap-atap bangunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hidup Putri Henrietta!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hidup Tristain!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerumunan snagat antusias. Putri Henrietta telah membimbing tentara Tristain pada kemenangan di Padang Tarbes di hari sebelumnya melawan tentara Albion yang merusak perjanjian. Putri Henrietta, yang mengalahkan musuh yang melebihi jumlah mereka, dipuja sebagai seorang &amp;quot;santo&amp;quot; dan seterkenal yang seharusnya. Setelah Parade selesai, upacara penobatan menunggu Henrietta, dimana dia yang akan meneruskan tahta. Ini diajukan Kardinal Mazarini, yang disetujui mayoritas ningrat senat dan menteri kabinet. Perkawinan pangeran dengan negeri tetangga, Germania, demham Henrietta dibatalkan, lebih karena kekecewaan mereka. Yah, mereka tak bisa menerima mereka tak berguna bagi negera yang telah mengalahkan tentara penyerbu dari Albion.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, pembatalan aliansi tak pernah terlintas dalam pikiran. Tristain adalah negara kuat yang Germania, yang ketakutan oleh kemarahan Albion, tak bisa abaikan untuk diajak. Dengan kata lain, Henrietta mendapatkan kebebasannya melalui tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekelompok tentara Albion yang kalah tengah menonton keramaian dari sudut plaza. Mereka adalah ningrat dari tentara Albion yang ditawan. Meski mereka tawanan, mereka diperlakukan baik, Tongkat mereka diamankan, tapi mereka tak diikat, dan bisa dnegan bebas berdiri, Penjaga ditempatkan disekitar mereka, tapi tiada yang berpikir untuk kabur. Saat ningrat ditangkap sebagai tawanan, mereka terkena sumpah. Jika mereka merusak sumpah itu, maka kehormatan dan nama mereka menjadi abu. Untuk ningrat, yang sangat menghargai kehormatan, itu sama dengan kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didalamnya, ada seorang lelaki dengan wajah terbakar sedikir dengan wajah polos. Itu Tuan Bowood, kapten dari kapal perang Lexington, yang Louise tenggelamkan dengan membuatnya tertelan nyala sihir Voidnya. Dia menyikut seorang ningrat disebelahnya dan berbicara padanya. &amp;quot;Lihat Horatio, itu &#039;santo&#039; yang mengalahkan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ningrat yang dipanggil Horatio membalikkan sosok gemuknya dan menyahut. &amp;quot;Hm...Belum pernah ada penobatan seorang putri di Halkegenia sebelumnya. Dan meski mereka mengalahkan kita, perang belum selesai. Lebih jauh lagi, tidakkah dia sedikit terlalu muda?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Horatio, kau seharusnya beljar sedikit sejarah. Ada satu kejadian di Gallia dan dua di Tristain dimana putri dinobatkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Horatio menggaruk kepalanya. &amp;quot;Sejarah kau bilang? Jika ya, kita hanya pita yang menghiasi lembar pertama dari sejarah brilian Santo Henrietta. Cahaya itu! Tak hanya menghancurkan kapalku, tapi juga milikmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bowood mengagguk, Bola cahaya yang menyinari diatas Lexington mengembang menjadi raksasa hanya dalam beberapa detik. Tidak hanya menyebabkan kloter ditelan dalam nyala api, ia juga menghancurkan &#039;batu angin&#039; di kapal, menyebabkan mereka tenggelam menuju tanah. Yang lebih mengejutkan lagi, cahaya itu tak membunuh satu orangpun. Cahaya itu menghancurkan si kloter, tapi tak berefek pada mereka. Mereka bisa melayang turun ke tanah dengan sedikit kontrol yang tersisa pada mereka. Nyalanya memang mencederai banyak orang tapi tiada kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebuah cahaya mukjizat...Aku tak bisa mempercayainya, Aku belum pernah mendengar atau melihat sihir semacam itu sebelumnya. Negara kita punya musuh yang mengerikan.&amp;quot; bisik Bowood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memanggil seorang prajurit yang tengah memegang sebuah halberd raksasa. &amp;quot;Kau, ya, kau.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengangkat alisnya, prajurit tersebut menghampiri Bowood. &amp;quot;Apa anda memanggil saya, Tuan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli lawan maupun kawan, ningrat diperlakukan dengan hormat, Si prajurit menunggu Bowood berbicara dengan sikap sopan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bawahanku tak dipenjarakan kan? Apa mereka diberi makan dengan baik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentara yang ditawan dikumpulkan dan diundang masuk tentara Tristain. Apa pekerjaan yang harus dikerjakan mereka tapi kebanyakan mereka seharusnya mau bergabung dengan tentara kami. Bagaimanapun juga, ia adalah kemenangan besar. Jangan khawatir tentang perut mereka, Tristain bukanlah negara miskin yang berhitung untuk memberikan atau tak memberikan tawanan makanan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini secangkir untuk merayakan kemenangan &#039;santo.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prajurit itu tertawa. &amp;quot;Mohon persilahkan saya untuk menawarkan sebuah cangkir untuk kesehatan Yang Mulia.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa senang, Bowood berbisik saat dia melihat prajurit itu pergi. &amp;quot;Jika perang yang menggusarkan ini berakhir dan kau kembali pulang, apa yang akan kau lakukan, Horatio?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan pensiun dari ketentaraan. Aku bahkan bersedia melepas tongkatku, setelah melihat cahaya itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bowood tertawa keras. &amp;quot;Kita berpikiran hal yang sama! Aku juga merasa begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah senyum mengembang di wajah Kardinal Mazarini selama dia duduk disebelah Henrietta. Itu senyum yang dia tak pernah tunjukkan selama 10 tahun, sebuah senyum tanpa kekhawatiran. Sambil membuka jendela kereta, dia melambaikan tangannya untuk membalas sorakan dari kerumunan. Dia senang dua beban di bahunya terangkat. Administrasi internal dan diplomasi. Dia mempertimbangkan untuk menyerahkannya pada Henrietta dan berlaku sebagai penasehat saja. Mazarini menyadari tuan barunya berwajah sedih. Sambil memainkan kumisnya, dia menanyakan. :Sepertinya kau tak merasa bahagia. Aku belum melihat keceriaanmu sejak kau melangkah masuk kereta ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa aku mesti naik tahta? Bukankah masih ada Ibu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia bahkan takkan bereaksi bila kami memanggilnya &#039;Yang Mulia Ratu&#039;/ Dia mengatakan dia bukanlah seorang raja, dia hanyalah istri seorang raja dan ibumu. dan pasti takkan mengenakan mahkota.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa ibuku menolak menermanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segurat kesedihan terpancar dari wajah Mazarini. &amp;quot;Sang ratu masih bersedih. Dia masih merindukan ayahmu yang tiada.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mendesah. &amp;quot;Maka aku akan jadi seperti ibuku. Tahta bisa tetap dikosongkan. Penobatan takkan dilakukan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan mengatakan hal yang egois begitu! Penobatanmu adalah sesuatu yang juga diharapkan ibumu. Tristain tak bisa jadi sebuah negara lemah sekarang ini. Para ningrat dan rakyat dari Tristain, juga negara sekutu, berharap kau untuk mengambil alih tahta.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mendesah lagi. Dia menatap rubi angin pada jari manis kirinya. Itu cincin yang dibawa Saito kembali padanya, sebuah pengingat dari Wales. Kemenangan yang mengangkatnya ke tahta...dalam sudut pandang tertentu adalah kemenangan Wales, Cincin itu memberi Henrietta keberanian untuk menghadapi musuh. Jika ibu membiarkan tahta kosong karena merindukan ayah...maka aku ingin melakukan hal yang sama. Aku tak ingin jadi seorang ratu. Tapi dia bisa mendengar sorakan kerumunan. Seakan membujuknya, Mazarini dengan pelan berbisik. &amp;quot;Seluruh Rakyat mengharapkan penobatan ini. Badan Yang Mulia sudah bukan lagi milik anda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah deheman, dia melanjutkan. &amp;quot;Aku akan menjelaskan tatacara penobatan. jadi kau takkan membuat kesalahan apapun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia hanya mengenakan sebuah mahkota...Mengapa begitu cerewet.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan berkata begitu. Ia adalah sebuah ritual suci. Ritual dimana kau dibebani kekuatan yang diberkahi Sang Pendiri dan menyatakannya pada dunia. Seluruh Tatcaranya adalah sebuah tradisi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suasana &#039;penting&#039;, Mazarini menjelaskan tatacaranya. &amp;quot;...Kemudian, saat ritual selesai, Yang Mulia akan emnghampiri Sang Ratu di altar. Kau akan membacakan sumpah yang ditulis Sang Pendiri dan Dewa, kemudian ibumu akan mengenakan mahkota padamu. Kemudian seluruh Halkegenia, termasuk aku, akan menyebutmu dengan &#039;Paduka&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah sumpah...Bersumpah akan sesuatu yang tak benar-benar dipegang teguh dlam hatinya,,,bukankah itu pengkhianatan? Pikir Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak bisa berpikir diriku adalah ratu. Kemenangan itu...Kemenangan di Tarbes yang mengangkatku ke tahta tak dicapai dengan kepemimpinanku, tapi karena berlebihnya pengalaman dan keteguhan dari para jenderal dan Mazarini. Aku hanya memimpin, aku tak melakukan selain itu. Jika Wales masih hidup, apa yang akan dikatakannya padaku? Aku, yang telah diberikan tugas untuk melayang ke puncak kekuatan...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wales. Walesku yang tersayang. Satu-satunya yang pernah kucintai...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum itu atau bahkan setelahnya, Satu-satunya saat dimana aku benar-benar bersumpah dengan kata-kata yang bergema dengan sebenar-benarnya dalam hatiku adalah saat itu di Danau Ragdorian. Kemenangan Besar dan kecemerlangan penobatan tak meringankan Hati Henrietta dari pikiran semacam itu. Dia menatap parkemen di tangannya dengan tatapan kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu laporan yang dikirim pada Henrietta pada hari sebelumnya. Yang tertulis disana adalah hasil interogasi tawanan yang dilakukan penjaga. Ada stertulis sesuatu tentang Zero fighter Saito menembak jatuh para naga. Seorang tawanan yang menjadi pengendara naga mengatakan ia terbang dengan kelincahan tinmggi dan menggunakan serangan berdasar sihir yag kuat, menembak jatuh sekutunya satu demi satu. Tapi naga semacam itu tak ada di tentara Tristain. Bingung dengan ini, si penjaga memeriksa hal ini lebih lanjut, Sebuah laporan dari Desa Tarbes berlanjut. &#039;Naga&#039; yang digunakan pengendaranya adalah tak lain dan tak bukan merupakan barang sihir yang dinamakan &#039;Baju Naga&#039; milik Desa Tarbes. Tapi sepertinya ia bukan barang sihir, tapi lebih sebagai mesin yang tak dikenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengendalikannya adalah familiar temannya, La Vallière. Dan...Juga Ada sedikit petunjuk info mengenai cahaya yang menghancurkan kloter musuh. Cahaya itu, muncul dekat mesin terbang itu. Penjaga telah berhipotesa, bahwa La Vallière dan familiarnya merupakan sumber cahaya itu. Namun, penjaga itu merasa bingung apa dia harus menghubungi mereka berdua. Laporan itu diakhiri dengan permintaan untuk arahan lebih lanjut soal investgasi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya yang membawakanku kemenangan...Cahaya kuat yang menyerupai matahari...Bahkan memikirkan soal cahaya itu membuat tubuhku menghangat...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa itu kau Louis?&amp;quot; Bisik Henrietta perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, berlawanan dengan keriuhan di jalan Bourdonné, hari-hari tua yang berulang terus berlangsung di Akademi Sihir. Kepala Akademi, Osman, telah memuji kemenangan Tentara kerajaan di Tarbes, tapi selain itu, tiada yang terjadi. Tapi, sekali lagi, mereka berada di sekolah, sebuah lingkungan yang tak memiliki tempat untuk politik. Bahkan dalam kecamuk perang, para murid entah kemana mengerjakan keperluan mereka sendiri. Bagi ningrat Halkegenia, perang adalah sesuatu yang terjadi tiap tahun. Selalu ada pertengkaran dimanapun di dunia ini. Dan saat semua menjadi lebih serius, akan selalu ada kekacauan, tapi saat perang telah usai, semua kembali seperti sediakala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didalam proses ini, sebuah perang kecil lain telah terbangun dan menggelinding di Lapangan Vestri yang sunyi. Pada sebuah bangku dibawah matahari nan hangat, Saito membuka bungkusan di tangannya. Wajahnya berseri-seri, &amp;quot;wow! Hebat sekali! Sebuah syal!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta yang wajahnya memerah duduk di sampingnya, &amp;quot;Yahh, em, apa ya...pesawat? Dingin kan kalau naik itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini tiga jam lewat tengah siang. Karena Siesta mengatakan memiliki sesuatu untuk diberikan padanya, dia bilang supaya Saito datang ke lapangan Vestro. Dan hadiahnya berupa syal. Sebuah syal seputih salju. Ia hangat bagai kulit lembut Siesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Memeng jadi agak dingin sih klo buka pelindung anginnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengenakannya di leher untuk mencobanya. Kini awal musim panas, tapi langit masih dingin dan lebih dingin lagi kalau pelindung angin dibuka. Selama lepas landas dan pendaratan, dia perlu menyembulkan kepalanya keluar pelindung angin untuk memeriksa bawahnya, Ini berbeda dengan pesawat modern dimana mereka bisa melakukan semuanya dengan pelindung angin tertutup. Di syal putih itu, ada kata-kata tertul;is dengan wol rajut hitam. Mulanya mereka terlihat sebagai huruf-huruf dari alfabet, tapi bila dilihat lebih dekat, mereka adalah karakter-karakter Halkegenia, agak berbeda dari alfabet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa artinya ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hm? Ah. kau tak bisa membaca tulisan kami karena kau dari dunia lain. Um, Namamu tertulis disitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito tersanjung, &amp;quot;Ah, jadi begini cara namaku ditulis dalam karakter dunia ini.&amp;quot; pikirnya sambil melihatnya terkagum-kagum. Empat karakter tersusun berderet, yang mungkin dibaca &amp;quot;Saito. Didekatnya ada susunan karakter berjumlah 6.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau ini bagaimana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;hehe...tiu namaku. Maaf, aku tak bisa tidak. kau tak suka?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ti-tidak, buikan begitu1&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan panik menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku benar-benar senang kau merajut sebuah syal untukku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini kali pertama dalam hidupnya dia menerima hadiah dari seorang gadis. Dia teringat tragedi yang terjadi tiap tahun. Ulang tahunnnya jatuh pada hari libur nasional, jadi sekolah libut. Dia tak punya pacar sekalipun yang menyelamatinya. Pernah sekali, ibunya memberi sebuah jam padanya, yang rusak di hari berikutnya. Pada hari valentine, pernah kejadian kursinya tertukar dengan orang disebelahnya dan sebauh coklat diletakkan di mejanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa ya?! Siapa ya yang suka padaku?! teriaknya, menari kemana-mana saking bahagianya. Seorang gadis berpenampilan biasa mendatanginya dan mengatakan &amp;quot;Maaf, kursnya tertukar.&amp;quot; Malu karena tingkahnya, dia berakhir dengan ngambek dalam toilet. Dan karena itulah, menerima sebuah hadiah dari seorang gadis cukup untuk membuanya berkaca-kaca. Fakta bahwa ia buatan tangan menguatkan manisnya Siesta 120%. Siesta yang biasanya manis kini terangkat derajatnya menjadi malaikat.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ta[i apa tak apa-apa memberikan ini padaku? Pasti butuh kerja keras untuk merajut ini.&amp;quot; kata Saito perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa. kau tahu, saat tentara Albion menyerang, aku sangat ketakutan. Tapi saat kudengar pertempuran berakhir dan keluar hutan, kau sudah mendarat dengan pesawat itu kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku benar-benar senang. Itulah mengapa aku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keduanya tersadar bahwa wajah mereka memerah. Siesta telah memeluk dan mencium saito di saat itu. Penduduk desa keluar hutan sebentar setelahnya. Banyak dari mereka telah menonton Saito mengalahkan naga musuh dengan Zero fighternya dengan penuh perhatian. Mereka memuji Saito dan Louise sebagai pahlawan karena telah meremukkan mush. Perayaan diadakan tiga hari tiga malam, dan keduanya menerima perlakuan setara keluarga kerajaan. Mereka juga telah mengembalikan kehormatan Kakek Siesta, dengan membuktikan bahwa Zero fighter memang bisa terbang.  Selama perayaan, Siesta dengan rajin mendekati Saito dan merapat padanya, Seperti sekarang, tubuhnya menyender ringan pada Saito. Kebingungan, Saito mengucek-ucek Syal di lehernya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyadari sesuatu. :Siesta, syalnya agak panjang...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hehe...itu karena ia dibuat untuk melakukan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta mengambil ujung syal dan melilitkannya di lehernya. Saat dia melakukan itu, panjang syalnya sudah pas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-ia dibuat untuk dua orang/&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yap. Kau tak menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada aura kuat terpancar begitu Siesta memandangi kedalam mata Saito setelah berkata begitu. Ini bagai dia memiliki mata seekor pupi nan manis. Sebuah syal untuk berdua...Kau ini apa, pelayan nan sempurna? Pelayan sepertimu akan dihukum mati di jepang, k-k-k-kau... Pikiran Saito mulai ga beres. Sikap bagai-pelayan Siesta telah mendaratkan hantaman kritis di fikirannya. Siesta meluncurkan serangan lainnya. Sambil menutup mata, dia memajukan bibirnya dan bersender pada Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menelan ludah. Reaksi dia akan membuatnya menekankan bibirnya pada milik Siesta. Tapi...ingatan tentang perkataan ayah Siesta  selama pesta mengemuka dalam pikirannya. Dia telah menghampiri Saito saat Siesta meninggalkan kursinya sebentar, Dia memuji Saito sebagai pahlawan desa, untuk aksinya mengalahkan para naga dari Albion. Namun, wajah tersenyumnya memancarkan aura gelap saat dia mengarahkan pandangan mengerikannya pada Saito. &amp;quot;Kau penyelamat desa ini, dan pahlawan yang melindungi Tristain dari Albion. Aku mencintaimu untuk itu. Tapi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Um, tapi apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau membuatku putriku menangis, aku akan membunuhmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito takkan pernah melupakan wajah ayah Siesta saat dia mengatakan itu. Ia lebih menakutkan dari para orc, naga, bahkan sihir Louise yang menghancurkan kloter mush. Dia tak bisa dengan santai menggapai Siesta. Dia adalah seseorang yang bagaimanapun juga harus kembali pulang...Jika dia menciumnya, maka dia akan membuat Siesta sedih. Dan jika itu terjadi, ayah Siesta mungkin akan mengikutinya ke bumi dan memburunya. Teror yang dipancarkan wajah ayah Siesta, cukup mengancam untuk menghentikannya dari menertawakan ide itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, begitu bibir Siesta mendekat semakin dekat, keengganannya mulai goyah. Karena Saito tak juga bergerak mendekat, sepertinya Siesta berencana menolkan jarak sendiran. Sambil memegangi kepala Saito, dia dengan berani mendekatkannya. Siesta adalah seorang gadis dengan keberanian yang seukar dipercaya saat dia berani. Saito tak bisa melawan. Ah, tidak...tapi jika hanya sebuah ciuman...Pikirnya begitu tubuhnya mengkaku. dang dengan &amp;quot;duk&amp;quot; nan keras, Saito pingsan karena sebuah batu besar dilemparkan pada kepalanya. Sekitar 15 meter di belakang bangku yang ditempati saito dan Siesta, ada sebuah lubang menganga di tanah. Didalamnya, ada seirang gadis yang tengah mengumpulkan napas. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Louise. Louise menginjak keras tanah. disampingnya, ada tikus tanah raksasa yang menggali lubang itu, Verdandi dan si pedang pintar, Derflinger. Setelah memaksa tikus tanah Guiche menggali lubang, Louise bersembunyi didalamnya, menyembulkan kepalanya dalam sunyi  dan mengawasi Saito dan Siesta. Dia telah membawa Derflinger bersamanya karena dia ingin menanyakan beberapa hal padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apaan sih familiar itu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Racaunya sembari meninju dinding lubang dengan kepalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan mati Saito!&amp;quot; dapat terdengar dari bangku, begitu Siesta memapah saito. Louise telah melemparkan batu yang mengenai Saito di kepala. Adalah tak terampuni untuk mencium gadis lain karena dia familiarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei gadis ningrat.&amp;quot; kata Derfilnger dengan suara tak bernada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Mulailah mengingat namaku dari sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa peduli tentang itu? daripada itu, apakah kini tengah tren menggali tanah untuk mengawasi familiar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa ia bisa ngtren?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu mengapa kau mengintip dari lubang ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika aku terlihat, aku akan terlihat buruk.&amp;quot; kata Louise sambil menatap pedang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;jadi bukankah lebih baik untuk berhenti mengintipnya? Tak apa-apa kan meninggalkannya melakukan apa yang disukainya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, itu tidak apa-apa. Familair tolol itu, bahkan tanpa meminta nasihat dariku, menghabiskan seharian berc-c-c-c-cumbu dengan gadis itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Louise mulai bergetar ketika dia mencapai kata &amp;quot;bercumbu.&amp;quot; dia cukup marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mungkin adalah penyihir &#039;Void&#039; nan legendaris, tapi aku tak bisa menemukan seorangpun untuk membicarakannya. Aku bahkan hendak mencari familiarku yang tolol, tak guna nan inkompeten tapi dia pergi entah kemana berc-c-c-cum...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;C-c-c-cum-&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Jangan meniruku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi bukankah melemparkan sebuah batu sedikit berlebihan? Rekanku mungkin bisa mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menyilangkan lengannya sambil duduk didalam lubang. &amp;quot;Bercumbu di suatu tempat tanpa memenuhi tugas seorang familiar; dia masih 10 tahun terlalu muda untuk itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cemburu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak. kau salah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Louise membuang mukanya yang memerah, Derflinger meniru nada biacara Louise. &amp;quot;Mengapa dia tak mencoba menciumku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Diamlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bahkan berpura-pura terlelap. Aku akan menangis, kau tahu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau mengatakan itu lagi, aku akan melelehkanmu dengan sihir &#039;Void&#039;ku. Aku bersumpah, aku akan melelehkanmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Derflnger gemetar tak karuan dengan tawa. Sambil memicingkan mata tanda ketidaksenangannya, Louise menanyai Derflinger. &amp;quot;Hei, sepertinya tiada lagi yang bisa ditanya selain kau. Seorang ningrat terhormat seperti aku, tengah menanyai sebuah pedang karatan sepertimu sebuah pertanyaan, berterima kasihlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise berdehem. Dengan wajah memerah, dia menanyai Derflinger dalam nada suara yang dengan habis-habisan mencoba menyelamatkan tiap harga diri yang dimilikinya. &amp;quot;Katakan di bagain mana pelayan itu lebih menarik daripadaku, dengan singkat dan mudah dimengerti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa gunanya bertanya itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu bukan urusanmu. Jawab saja pertanyaannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kecemburuan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kukatakan bukan itu kan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan kau dnegan sepenuh hatimu menciumku saat itu...aku akan menangis kau tahu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, kini saatnya melelehkanmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise dengan erat memegang tongkatnya sambil menggumamkan sebuah mantra. Derflinger dengan cepat menjawab dalam kepanikan. Dia tak mungkin menahan sebuah ledakan dari cahaya bersihir.&amp;quot;O-OK, aku mengerti! Itu tak membantumu ya?! Pertama-tama, gadis itu bisa masak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kukira juga begitu. Terus apa. Kau bisa hanya memesan makanan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cowok suka cewek yang bisa. Dia juga tampak mahir dalam menjahit.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku juga bisa. Aku diajar ibuku kau tahu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau bagai kadal, dan dia naga bila ada yang membandingkan kalian dalam menjahit.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berikutnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, wajah...Kupikir ini masalah kesukaan. Kau cukup bagus dalam bagian ini tapi gadis itu juga punya auranya sendiri. Tapi gadis itu punya senjata yang tak kau miliki.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan apakah itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Buah dada.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Orang akan tumbuh, tahu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengatakan itu sambil membusungkan dadanya. Sebuah dada yang benar-benar datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berapa usiamu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;16.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, Sudah dewasa. Tiada harapan tersisa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mulai menggumamkan mantra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tungu! Hentikan! Hei! Cowok secara alami menyukai cewek dengan buah dada besar. Dia nyata-nyata terbang ke tanah peri saat dia mandi bersama gadis itu.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Derflinger bicara begitu, amarah mulai mengisi mata Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa yang baru saja kau katakan?&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Saat mereka mandi bersama...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Derflinger menjelaskan kejadian saat Saito dan Siesta mandi bersama. Louise menghirup dan menghembuskan napasnya dalam-dalam. Dia gemetar karuan karena marahnya. Derflinger memutuskan tetap diam setelah ditakuti olehnya, sesuatu yang jarang bagi pedang seperti dia untuk dirasakan. Sementara itu, si tikus tanah telah menyembulkan kepalanya dari lubang. Ia telah melihat sosok senang tuannya yang sedari tadi mencari-carinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berjongkok, Guiche melingkarkan lengannya pada familiarnya dan menggosokkan dagu padanya. &amp;quot;Ah! Aku tadi mencari-carimu, Verdandi! kau si lucu berambut! Demi Hakkegenia, apa yang tengah kau lakukan, menggali lubang di tempat seperti ini? Hm? Eh. Lousie?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche tampak terkejut saat dia menjorok ke lubang dan menemukan Louise. &amp;quot;Mengapa kau berada dalam lubang ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan wajah khawatir, Verdandi memandangi Guiche dan Louise. Guiche memberikan anggukan pelan dan mulai berbicara dengan sikap yakin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengerti Louise. Kau membiarkan Verdandi menggali lubang, sehingga kau bisa mencari cacing tanah? Untuk membuat  serum kecantikan ya. Dan familiarmusepertinya bersama pelayan dari aula makan juga...&amp;quot; kata Guiche, sambil melirik adegan Siesta merawat Saito. Seperti biasanya, Saito pingsan. Siesta akan memegangi dadanya dan membuat keributan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaha! Kau akan harus bekerja keras pada kecantikanmu untuk memenangkan kembali familiarmu itu! Diambil oleh seorang gadis desa...kehormatanmu dengan pasti akan hancur!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sial.&amp;quot; gumam Derflinger.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louie menggenggam lutut Guiche dan menarknya kedalam lubang. dalam dua detik, dia sudah menghabisi Guiche. Si tikus tanah dengan khawatir menyentuh-nyentyhkan hidungnya pada wajah pingsan Guiche. Sambil mengeraskan kepalannya. Dia bergumam dalam nada rendah. &amp;quot;Berikutnya dia.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya &#039;Zero&#039; ini 100x lebih mengerikan daripada sebelumnya.&amp;quot; kata Derflinger pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menguisap kepalanya yang nyeri, Saito kembali ke kamar Louise, dan menemukan Louise yang tengah duduk sambil menyilanglkan kaki di kasur sambil menatap jendela. Kamarnya agak gelap. Kinis udah sore tapi Louise belum menyalakan cahaya apapun. Saito merasakan bulu kuduknya berdiri dari suasana ngeri ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ada saah Louise? Bukankah kamarnya agak gelap?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tak menjawab. Dia terus membelakangi Saito. Seprtinya dia tengah pundung(maaaf, ini bahasa sunda). Apa ya kira-kira yang bikin dia marah? fikir Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Waktu yangagak telat untuk kembali ya? Apa saja yang kau lakukan?&amp;quot; kata Louise tanpa bergerak seincipun. Nada suaranya dingin, tapi sepertinya dia tak marah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mendesah lega dan menjawab &amp;quot;Aku bertemu Siesta di lapangan Vestro. Dia bilang dia memiliki sesuatu yang ingin diberikannya. Dan setelahnya ada batu entah darimana yang menghantam kepalaku...Ia benar-benar sakit.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar-benar deh. Pasti hukuman langit. Ngomong-ngomong, aku punya sesuatuuntuk dikatakan padamu...jadi duduklah di lantai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh, lantai?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau anjing.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, kembali pada anjing~&amp;quot;, gumam Saito sambil perlahan kembali ke pintu. Jangan mengutuk para dewa, kate mereka. Uh, Louise lebih mengerikan dari seorang dewa. Apa itu karena sihir Void sang Pendiri, dia tak tahu, tapi ini Louise - yang menghancurkan seluruh kapal musuh dnegan sebuah mantra. Louise menyentak tongkatnya saat Saito mencoba membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Huh?&amp;quot; saat dia mencoba memotar pegangan pintu, ia tak mau memutar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aneh, huh,...sepertinya kini aku bisa sihir biasa dengan mudah.&amp;quot; kata ouise dengan punggungnya tetap membelakangi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;L-Louise?&amp;quot; tanya Saito dengan suara bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengerikan. Suaranya biasa, tapi tetap saja dia mengerikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku selalu gagal pada mantra keempat cabang  sihir sampai titik ini...mungkin memang benar aku adalah yang terpilih untuk memakai void. Dan dari hari ke hari, akan ada pertumbuhan. Menurutmu bagaimana, anjing?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito kini habis-habisan mencoba memutar pegangan pintu, tapi ia tak mau bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tiada gunanya. Aku menyihir sebuah mantra &amp;quot;Pengunci&amp;quot; disitu. Ngomong-ngomong, anjing, tuanmu tengah gelisah. Aku mungkin yang terpilih untuk memakai sihir void, tapi aku bahkan tak bisa menemukan seorangpun untuk berbicara. Tiada yang tahu kini aku bisa menggunakan sihir void. Sepertinya sihir ledakanku hanya diperlakukan sebagai mukjizat oleh orang-orang...Tapi kupikir istana akan segera tahu. Allu apa jadinya aku? Dalam situasi sulit begini, familiarku yang tolol nan memalukan memutuslan untuk pergi berkencan dengan seorang pelayan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kau bahkan menc-c-c-ciumku - Louise hampir mengatakannya sebelum dengan cepat menutup mulutnya. Setelah mengambil napas dalam-dalam, dia pilah kata-kata berikutnya. Wajah Saito makin memucat daripada yang sudah-sudah setelah terus berusaha memutar pegangan pintu. Tak peduli seberapa keras dia mencoba memutarnya, pegangan tetap tak terputar. Sihir &#039;pengunci&#039;nya sangat kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebuah kencan kurasa takapa-apa. Tapi mandi bersama. Kini itu tak bisa. It yang terburuk dari yang terburuk. Mengabaikan tuanmu dan mandi bersama dengan seorang pelayan? Aku cukup yakin itu pantas dihukum mati. Kau sangat beruntung aku orang yang lembut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mulai gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau bahkan menc-c-c-ciumku. Mandi bersama. Mandi bersama dengan si pelayan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu terbang menuju jendela. Itu seekor pelikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, cepat ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise membuka paket di kaki pelikan, menempatkannya di kasur dan menaruh beberapa koin emas di paruhnya. Sepertinya pelikan digunakan sama dengan pelayanan kiriman di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa yang kau beli?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku kini menyadari anjing tak jua kapok bila kau hanya menggunakan sebuah cambuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Saito membeku sambil dengan gila-gilaan mencoba memutar pegangan pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-Tolong! Tolong!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kukatakan padamu, itu taida gunanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia melirik ke belakang, Louise berdiri tepat dibelakangnya. Saito menjerit saat melihat wajah Louise. Louise tengah menggigit bibir dengan mata terbakar. Dia mungkin lebih mengerikan dari Ayah Siesta. Seperti biasanya, Louise mengarahkan sebuah tendangan pada bagian bawah Saito, yang hasilnya berupoa kolapsnya Saito di lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aaaaaah...mengapa kau sangat tak manusiawi pada bagia sensitifku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menekankan satu kaki pada leher Saito. &amp;quot;Dengarkan anjing. Sepertinya kau kurang hormat. Selalu mengibaskan ekormu disini dan disana - itulah menapa aku beli ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mulai mengikat sesuatu yang sepetinya mirip tali kulit pada tubuhnya. Dan dengan sebuah &#039;clink&#039; kunci didadanya terkunci. Ini semacam pengikat tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Alat sihir penahan yang biasanya digunakan untuk menjinakkan binatang buas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pasti bercanda!&amp;quot; teriak Saito sambil mencoba berdiri. Louise menggumamkan sebuah mantra pendek. &amp;quot;Vasra.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan geliatan kesakitan, Saito jatuh ke tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia punya sihir air dan angin padanya. Dengan sinyal dari tuannya, ia akan mulai memberikan struman listrik.&amp;quot; Jelas Louise, tapi Saito sudah pingsan karena setruman tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menarik tubuhnya melewati lantai dan melemparkannya kedalam tumpukan jemari. &amp;quot;Kau kecepatan 100 tahun untuk mandi bersama seorang gadis!&amp;quot;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5_Bab3&amp;diff=435042</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5 Bab3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5_Bab3&amp;diff=435042"/>
		<updated>2015-04-03T07:45:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 3: Hari libur Tristania==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lonceng Kuil Saint Rémy berdentang menandakan jam 11 tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito tengah berlari menuju plaza pusat di jalan De Chicton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasa dia lari adalah...,itu karena dia terlambat untuk sebuah kencan. Dia menyikut menyibak melalui massa untuk berjalan, dan hampir saja tak sampai tepat waktu di plaza pusat, dimana disana dia melihat orang yang menungguinya tengah merajuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;H-hei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Saito, Louise, yang tengah duduk di pancuran, menggembungkan pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa denganmu?! Kau telat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak...aku dicegat scarron saat hendak berangkat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Abaikan saja dia.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak bisa, dia majikanku saat ini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menekan, Louise menarik Saito. aah, seharusnya aku menyelamatkan diri dan tak datang ke kencan ini bila dia marah-marah seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise berdandan untuk kesempatan ini. dia malu-malu, karena meski dia terlihat cantik, pakaiannya tetap tak pantas bagi seorang ningrat...Dia berpakaian dalam trend terkini, yang terkenal diantara gadis-gadis kota __beret hitam dan baju hitam dengan garis leher yang tegas. Kalung yang diberikan Saito tergantung di lehernya. Dia nemar-benar terlihat seperti gadis kota dalam pakaian ini. Sebagaimana kita duga dari gadis dalam masa puber, sulit bagi Louise untuk mendapatkan baju yang cocok di kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aaah, dia benar-benar memikat bila diam. Dengan lengan terlipat dan dagu terangkat, sang gadis memandangi jalan penuh fokus. Rambur pink blondenya berkilau lemah dibawah cahaya sang surya. Mata hazel besarnya merupakan tanda nyata bahwa dia dari dunia lain. Aah, Tuan tercintanya terlihat sangat manis sekarang, tengah menggerak-gerakkan kakinya tanda tak sabar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hai, ayo pergi! Biar sampai sebelum acara dimulai.&amp;quot; kata Louise yang tetap terdengar sedikit malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengangguk dan terus berjalan namun Louise tetap berdiri di tempatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa sih?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Muu! Dampingi aku dengan benar dong!&amp;quot;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mendampingi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar. Hei!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise langsung menarik lengan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kuh?&amp;quot; Dia terlihat kaget dengan terangkainya lengan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegangan Tangan! Hal ini membuat Saito bertingkah aneh. Walau Louise biasa menggunakan tangannya sebagai bantalan tidur akhir-akhir ini, dia tetap tak terbiasa berjalan sambil berpegangan tangan di tengah-tengah kota. Saito merasa tegang. Lalu Louise menginjak kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau harus memimpin jalan selama Hari Void kita. Mengapa kau tak mengatakan sesuatupun? Uuuuh!&amp;quot; Louise mengamuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ka-karena ini hari Void kita, bagaimana kalau kita ke te-teater?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menggelengkan kepala sambil mendesah lalu menarik lengan saito dan menyeretnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Muu! Pendamping payah! Lewat sini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan begitulah yang terjadi, berjalan dengan cara dimana tak jelas siapa memimpin siapa, pasangan ini menyusuri jalan-jalan Tristain, di bawah terik sinar matahari musim panas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Lalu, mengapa mereka ingin menonton pertunjukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini adalah Hari Rag dan penginapan Tutup. Louise mengatakan dia ingin pergi menonton pertunjukan pagi-pagi sekali saat tengah sarapan (meski sebenarnya ini makan malam, karena mereka tidur telat malam kemarin) dengan Saito di loteng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pertunjukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya benar.&amp;quot; gumam Louise yang entah kenapa mali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau suka hal-hal semacam pertunjukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak suka, tapi aku ingin melihat salah satu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
&amp;quot;Menontonnya?.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise mengangguk. Bila dipikir baik-baik, Louise tumbuh di lingkungan yang berbeda. Louise dididik keras di rumah sehinggadia mungkin tak pernah ke teater kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito tiba-tiba merasa kasihan pada Louise saat memikirkan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, tapi mengapa sekarang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jessica bilang hari ini ada pertunjukan yang sangat terkenal dipentaskan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tetap seorang gadis, yang tertarik hal-hal yang tengah ngetrend, sama seperti yang lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise bersikeras hal itu harus dilakukan dengan kencan untuk alasan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Rasanya tak benar hanya pergi kesana. Rasa itu penting! Karenanya ayo ketemuan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ketemuan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mau kan? Ketemuannya di air mancur di plaza pusat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Repot.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu tidak. makanya, ayo ke Teater Tanaijiiru Royal.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fuu~n.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadilah mereka ketemuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teater Royal Tanaijiiru benar-benar megah, sebuah teater agung dari pahatan nan indah. Kolom-kolom yang berbaris membuatnya bagaikan kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para lelaki dan wanita yang berpakaian indah berkumpul di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito juga mengikuti mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah membeli tiket yang ternyata murah (mengejutkan!!!) dari loket, saito menuju kursi penonton. Sebuah tirai tebal diturunkan di panggung, membuat keadaan sekitar merinding...Saito memang bergairah oleh suasana yang misterius ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kursi-kursi ditandai angka-angka yang juga tertulis pada tiket, menunjukkan dimana orang seharusnya duduk, namun karena saking bersemangatnya, Saito duduk di kursi yang berbeda tanpa menyadarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saat dia dan Louise menunggu pertunjukan dimulai, seorang ningrat tampan berusia pertengahan dengan rambut perak nan indah menepuk pundaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai kawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kursi yang kupesan sejak lama. Bukankah kursimu beda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan itu, nomor kursi dicocokkan. Memang sebagaimana yang dikatakan orang tadi. Dengan agak enggan, Saito, sambil dibujuk Louise, berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Muu! Kau memalukan!” keluh Louise sambil menggelengkan kepala. Sambil mencari kursinya, saito menanyai Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, pertunjukannya apa ya tadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ ...hari libur Tristania.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana alurnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Putri sebuah negri dan pangeran negeri lain datang ke Tristania secara diam-diam. Psangan ini saling bertemu sambil menyembunyikan identitas mereka, namun begitu mereka jatuh cinta...mereka menyingkap identitas masing-masing dan berpisah. Sebuah kisah sedih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita semacam itu sangat terkenal bagi gadis-gadis remaja. Dan memang teater disesaki gadis-gadis remaja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia bersusah payah menemukan kursinya, tirai terangkat. Pertunjukan dimulai. Musik dimainkan dan...terdengar indah dalam teater.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Luar biasa.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menonton panggung dengan perhatian penuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito, yang menonton pertunjukan Helkeginia untuk pertamakalinya, awalnya memperhatikan penuh perhatian juga, Namun...dia segera bosan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Skenarionya tak buruk – pikirnya. Tapi para pemainnya tak ahli. Meski Saito tak terlalu tertarik pada pertunjukan, dia pernah menonton berbagai movie di bumi dan beberapa pertunjukan sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan itu...orang-orang ini pemain kelas teri. Terkadang suara mereka fals dan adegan menyanyi dilakukan dengan tak bernada. Apa ini benar-benar opera raya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Louise tetap tersentuh secara mendalam olehnya, sampai tertawa ‘ha!’ dan mendesah lemah. waa, seharusnya aku menikmati pertunjukan seperti mereka, pikir Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun...pertunjukan tak menunjukkan kemajuan. Dia menerawangi, memperhatikan para penonton sekelilingnya dan menguap. Tampaknya ada beberapa wajah terkenal disana. Akan tetapi, hanya gadis-gadis remaja menonton para pemain dengan penuh fokus. Sepertinya ada hal-hal yang tak berubah meski dunianya berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai mengantuk saat pertunjukan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tak mampu lagi menahannya, dia mulai mendengkur perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
   Louise melemparkan pandangan marah pada Saito yang tertidur,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A-Apa?! Dia ini...meski ini pertunjukan istimewa! Sia-sia Aku  mengundangnya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah sebuah kencan bagi Louise. Seharusnya ini kencan pertama yang akan terus terkenang. Makanya dia begitu ribut soal-hal-hal kecil seperti cara bertemu dsb, tapi si familiar ini tak menyadarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, dia tak membimbingku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tak tahu diaman teaternya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang harusmembeli tiket!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih jauh lagi, dia salah kursi, itu sangat memalukan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu...dia tertidur!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia memilih Saito sebagai teman kencan pertamanya yang telah begitu lama dinanti, familiar ini malas-malasan saat menjadi teman kencan tuannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Saito memilih untuk acuh tak acuh! Tak Ter-Am-Pu-Ni! Louise menahan perasaan yang ingin ditumpahkannya dan menatap tajam Saito, yang telah memulai perjalanannya ke alam mimpi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi..pertunjukannya sangat lama...dan Louise juga makin lelah seiring waktu. Lalu kantuk menguasanya dan dia perlahan menutup matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang tak mungkin menahannya...dan dia menyenderkan kepalanya pada bahu saito...dia mulai menonton pertunjukan lain di alam mimpi...Louise mulai mendayung sebuah perahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada pengunjung lain yang juga tak menonton. Dia adalah bangsawan umur pertengahan yang kursinya diambil Saito secara salah tadi. Dia duduk di sebelahs eorang pedagang dan tengah mengadakan pembicaraan rahasia dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isi pembicaran ini...adalah hal-hal yang mereka dengar dari Jenderal-jenderal Tristain. Rahasia militer Tristain yang sangat tertutup adalah objek gosip ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembangunan armada?” tanya sang pedagang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paling tidak makan waktu setengah tahun.” jawab sang bangsawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada lebih banyak bisikan selama pembicaraan...sebagai imbalan informasi rahasia terkait kerajaan. si pedagang memberikan sebuah kantong kecil pada si bangsawan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pedagang berbisik, “Tapi...mengapa kita bertemu di teater?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? Untuk mengadakan pembicaraan rahasia di keramaian. Sudah biasa bila kita membisikkan sebuah cerita disini. Karenanya- sebuah teater. Jika kau melakukannya di sebuah ruangan sempit, orang-orang akan curiga kau merencanakan suatu makar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haha. Saya yakin Yang Mulia akan sangat tertarik pada informasi Tuah. Dia bahkan mungkin memberimu sebuah medali jika kau datang ke atas awan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang Albion ini berhati dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? Seluruh daratan ini akan dipanggil dengan nama itu, cepat atau lambat. Terima kasih untuk kerjasamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengatakan ini, si pedagang mencoba berdiri. Sang Bangsawan menghentikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa kau tak berlaku lebih tenang? Tunggu hingga menit terakhir pertunjukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantai batu Istana Kerajaan Tristain menggemakan suara derap sepatu begitu seorang ksatria wanita muda berjalan. Rambutnya blonde pendek dan matanya biru cerah. Sebuah baju rantai pelindung dengan bagian lapisan logam melingkari tubuhnya, sebagai tambahan  dari jubah dengan mantel lili bersenjata yang dilukis pada jubah tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tiada tongkat di pinggangnya...yang ada malah sebuah pedang yang panjang dan tipis. datang dan pergi, para penjaga yang merupakan bangsawan dan penyihir  terhenti dan menatapnya heran, karena tak biasa melihat pedang di Istana Kerajaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para penyihir yang melihat pedang di pinggangnya dan mal rantai yang dia pakai mulai berbisik sesama mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah! Wanita jelata!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia pasti mendapatkan izin luar biasa untuk berjalan di Istana dengan pakaian seperti itu, oh...zaman sudah berubah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apalagi wanita ini Protestan! Memberikan gelar Chevalier pada serangga yang sangat berbahaya...aku malu sekali pada paduka muda kita!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski tatapan dan suara-suara tak enak menggema, wanita muda itu terus berjalan lurus, tanpa memandang mereka sedikitpun. Di akhir lorong...dia menuju kantor Henrietta. Dia diberhentikan oleh seorang anggota penyihir penjaga di pintu yang menyandang sabit kerajaan di dadanya, yang tak memperbolehkannya mengunjungi Paduka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paduka tengah berada dalam sebuah konferensi saat ini. Datang lagi nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyihir penjaga mengatakannya dengan dingin, sama sekali tak berusaha menyembunyikan ketaksukaannya pada ksatria wanita tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon bilang padanya bahwa Agnes datang. Aku diizinkan mengunjungi Paduka setiap saat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Penjaga menatapnya tajam lalu membuka pintu dan menghilang kedalam ruangan. Setelah itu, dia datang kembali dan mengizinkan Agnes masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Agnes memasuki ruangan, Henrietta tengah berdiskusi dengan Richmon dari Pengadilan Tinggi. Apa itu Pengadilan Tinggi? Pengadilan tinggi merupakan Badan yang mengatur administrasi keadilan kerajaan. Kapanpun kelas yang diistimewakan tak setuju...Keputusan menyela masuk. Mereka memeriksa sastra, opera atau pertunjukan dalam teater, atau membimbing pasar rakyat jelata dan seringkali menangani konflik didalam administrasi pemerintahan monarki provinsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta yang menyadari kehadiran Agnes, tersenyum sampai ke ujung bibir, dan mengatakan pada Richmon agar diskusi ditunda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi Paduka...Menaikkan pajak lagi akan membuat ketidakpuasan diantara rakyat jelata membesar. Ini akan menciptakan kekacauan, Negara lain mungkin akan memanfaatkan situasi ini untuk menekan kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini darurat. Meski rakyat kita kekurangan...”&lt;br /&gt;
“Pembangunan 50 kapal perang! 20.000 tentara bayaran! Mempersenjatai 15.000 tentara ningrat! Ransum untuk petugas, orang dan kekuatan sekutu! darimana kau bisa dapat uang sebegitu banyak? Membangun sebuah tentara penyerbu dst...Mohon dilupakan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kini, Prioritas nasional Tristain adalah Penggulingan Albion.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi Paduka, meski mantan raja-mantan raja dari Halkeginia bersatu dan menyerang Albion berulang kali...mereka selalu dikalahkan. Pergi berperang menyebrangi langit memiliki lebih banyak kesulitan daripada yang terbayangkan.” ucap Richmon, dengan bahasa tubuh yang mengisyaratkan “tak mungkin”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu. namun, aku juga tahu bahwa Menteri keuangan melaporkan bahwa “Pengadaan biaya perang ini tak mustahil.”. Apa kau tak puas kau takkan bisa menikmati kemewahanmu yang sekarang? Aku ingin tahu, seberapa banyak sih yang kau tabung sejak kau mulai bekerja?” kata Henrietta secara sarkastik, sambil memandang pakaian indah yang dikenakan Richmon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sendiri melarang ksatria penjaga kerajaan untuk mengenakan rantai perak yang menghiasi cane sebagai contoh bagi yang lain. Kita sekarang bersatu Richmon. Tiada lagi ningrat, jelata atau anggota keluarga kerajaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menatap  tegas pada Richmon. Richmon menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau dapat aku dengan ini. Aku tahu Paduka. Namun, Dewan Pengadilan Tinggi terdiri dari banyak orang dan tak mungkin mereka serempak setuju dengan perang ini. Aku ingin kau menyadarinya sebagai sebuah kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan mencapai kesepakatan, dengan usaha dari kardinal dan saya sendiri.  Saya percaya kita dapat membujuk dewan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon memandangi Henrietta yang mengucapkan ini dengan mata nan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“..Ada yang salah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak..Aku hanya mengagumi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengagumi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar. Richmon ini telah melayani Philip si hebat selama 10 tahun, 30 tahun lalu. Saat kau lahir, aku tahu lebih banyak mengenai Yang Mulaia dibandingkan Yang Mulia sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Meski mungkin  kau tak ingat, Raja dan Ratu benar-benar senang dengan kelahiranmu! Meski menakutkan untuk mengangkat tubuh kecilmu dengan lenganku, aku merasa terhormat untuk mengayunkan dan memandikan Paduka sekali-dua kali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ibuku mengatakan kau mekukannya dengan baik.” kata Henrietta sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau terlalu baik. Baru saja aku berkata kasar soal tak memikirkan ibu Pertiwi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau seorang Pahlawan sejati, aku tahu itu dengan sangat baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya sudah, aku takkan mengatakan apa-apa lagi. Meski dahulu Yang Mulia adalah seorang cengeng, kini dia telah menjadi wanita sempurna. Tiada yang perlu aku sesali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih seorang yang cengeng. Mohon pinjamkan kekuatanmu untuk Ibu Pertiwi, Richmon.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon membungkuk, meminta izin untuk meninggalkan ruangan. Henrietta mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes yang berdiri di sebelah pintu, menonton Richmon yang pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya Agnes menghadap Henrietta, yang duduk di kursi, dan berlutut sambil menundukkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang,  Agnes Chevalier de Milan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil melihat ke langit-langit, Henrietta bertanya “Apa kau sudah menyelesaikan penyelidikan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes mengeluarkan surat dari dadanya dan menyerahkannya pada Henrietta. Sang Ratu mengambilnya dan membaca isinya. Ini adalah...Ini adalah...Henrietta memerintahkan Ksatria wanita ini untuk menyelidiki kejadian malam tak terduga itu. Malam dimana seorang penculik dari Albion...Wales yang dihidupkan kembali, menyusup masuk Istana Kerjaan, sesuai rencana tertulis seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi sang penunjuk jalan tak dibimbing sendiri...begitu kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali, dia dibantu orang dalam, jalinan ditarik ke atas, dan dia bisa masuk kedalam Istana kerajaan tanpa disadari bagai dia seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk bersembunyi, begitu kelompok yang mencoba membujukku datang.” kata Henrietta dengan mata yang berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Hanya dalam 5 menit, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ketahuan, dia bersikeras ini kebetulan semata. Namun, dia tak bisa menjelaskan sumber uang yang diterimanya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang namanya tertulis disana, adalah salah satu yang dia tunjuk sendiri, dan dikiranya akan setia, namun disuap sejumlah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“70.000  écu...Emas sejumlah ini lebih tinggi daei seluruh pensiunnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitulah sebagaimana yang kau katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berlutut, Agnes menyetujui perkataan ratu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kita bisa menangkap mata-mata yang bekerja demi uang itu...Jumlah yang menyebrang ke sisi Albion kini meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karyawan itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa menghubunginya kemarin. Mungkin, dia merasa dia sudah ketahuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Henrietta mendesah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ular di dada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Para bangsawan Reconquista mencapai dan mendengar jauh melebihi batas negara.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan uang. Seorang lelaki dengan mimpinya berubah jadi lelaki dengan nafsu pada emas. Untuk uang...dia berusaha menjualku dan negara.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes terdiam. Henrietta menaruh tangannya pada bahu Agnes dengan perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau melakukannya dengan baik. Terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes melihat sabit di jubahnya. Sabit...lili, perlambang keluarga Kerajaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mendedikasikan diriku pada Yang Mulia. Yang Mulia telah memberi saya nama keluarga dan Posisi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa percaya pada opemakai sihir lagi. Kecuali beberapa teman lama...” ucap Henrietta dengan nada sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di Tarbes, bangsawan mirip dengan tentara. Karenanya, inilah yang membuatmu seorang ningrat sejati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau terlalu baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Henrietta menggelengkan kepalanya perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Agnes, Kau...bersusah payah di dewan kerajaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku lahir sebagaimana aku dilahirkan. Dan ejekan-ejekan itu tak berpengaruh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau bukan seorang ningrat sejak lahir, kau seorang ningrat dengan jiwamu. betapa bodohnya mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes menggumamkan sebuah pertanyaan, “Dan bagaimana tindakanmu terhadap kasus orang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak cukup bukti. Sulit untuk membuktikan sebuah kejahatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu...”Agnes melanjutkannya dengan suara rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanyalah seorang Ratu yang baru diangkat...Aku akan menyerahkan semuanyapada ‘Korps Musketeer’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pengkhianatan komandan Wardes, Perang Tarbes, dan pemusnahan Korps Griffon yang baru-baru saja terjadi, Garda Sihir yang seharusnya melindungi Kerajaan runtuh. Korps Griffon kini dibawah komando Korps Manticore, karenanya  hanya satu unit yang masih bertugas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengatasi kekurangan penjaga, Henrietta mendirikan ‘Korps Musketeer’ yang dipimpin Agnes. Sebagaimana namanya, ia menggunakan kekuatan musket dan pedang, bukan sihir. Karena kekurangan penyihir, anggotanya adalah para jelata...demi keselamatan pribadi Henrietta, yang merupakan wanita, Garda ini seluruhnya terdiri dari Wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena ada kesulitan komunikasi bila seorang komandan buka aristokrat, Agnes dihadiahi sebuah Gelar bangsawan karena pengecualian. Dia menjadi sorang Chevalier dan sebuah nama keluarga buatan diberikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengecualian Henrietta membuat kekuatan militer nasional menngkat karena jumlah para jelata yang bergabung. Meski golongan ningrat terhenak oleh ide ini, Henrietta menekannya. Meski kelihatannya seperti bagaimana mereka bersekutu dengan Germania, sebenarnya ini berbeda. Henrietta, berkat penculikan yang menghancurkan kepercayaannya begitu dalam...tak bisa mempercayai penyihir lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“kami adalah sebagaimana yang dikatakan Dewan Kerajaan – terlahir tanpa kebaikan. Memang mustahil untuk menjadi seorang ningrat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menggelengkan kepalanya. :Siapa yang bilang kau bukan seorang ningrat? kau adalah komandan Korps Ksatria garda Imperial yang aku bentuk sendiri. Komandan garda Imperial berbeda dengan yang lainnya, karena posisimu hanya bisa ditandingi seorang marshal lapangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes membungkuk dalam-dalam,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banggalah, Berjalan tegaklah. “Aku seorang aristokrat’ Bilang itu pada dirimu sendiri di depan cermin. Jika kau melakukannya, kau pada akihirnya akan memperoleh kebaikan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagaimana kata anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau terus saja ikuti rencana awal kita dan awasi aksi orang itu. Jika kita benar, si penjahat pasti akan membuka dirinya sendiri besok.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita takkan membiarkan mereka pergi bebas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“tentu. Aku takkan memaafkan siapapaun yang terkait kejadian malam itu...Negara...orang..Siapapaun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Agnes membungkuk dalam-dalam dan meninggalkan ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sangat berterimakasih pada Henrietta. Bukan karena posisi atau nama keluarga...Bukan itu, tapi karena dia diberikan kesempatan untuk membalas dendam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito tengah terbaring di lantai. Sedang menindih diatasnya Louise yang berdiri bernapas terengah-engah. Kita bewrada di dapur penginapan ‘Charming Fairies’. Penginapan baru saja dibuka, tapi didalam sudah ramai. Louise, dengan lengan tersilang, memandang ke bawah pada Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kakak, Ceritakan padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tetap memanggilnya kakak. Di sini, Saito berpura-pura menjadi kakak Louise. Tiada yang mempercayainya, toh semua orang di penginapan sudah tahu Louise seorang ningrat, namun Louise terus memanggilnya Kakak. Benar-benar kepala batu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa, adikku?” tanya Saito dalam nada tertahan dan sesak karena hajaran keras Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau lakukan sebelum ku memanggilny?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mencuci piring.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan berdusta. Kau melihat yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sedikit”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“itu tidak sedikit namanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menunjuk ke  dalam penginapan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau memandangi paha gadis itu, dada gadis itu, dan pantat gadis itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, dengan marah, Louise menunjuk Jessica.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tengah memandangi lembah dada Jessica juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sedikit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kakak, Hei...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menginjak wajah Saito dengan kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah akibatnya buruk bagimu bila kau tak memperhatikanku? Bukankah Tuanmu mengumpulkan info dari pemabuk-pemabuk? Jika tuanmu yang manis ini dalam keadaan bahaya, kau harus melindunginya, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf saja tidak cukup, kau hanya memperhatikanku dua kali. Aku menghitungnya lho. Kau melihat gadis ini dan itu empat kali. Kau melihat belahan Jessica 12 kali. Kau membuang pandangan dari tuanmu, mengacuhkannya, Aku tak bisa menoleransinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, aku tak memandangi mereka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Punten. Aku melihat Louise setiap hari. Wajah tidurnya pun aku tonton. Itu adalah cinta. Aah, tuan memang manis. Namun, aku ingin kau memperbolehkanku memandangi gadis lainnya. Ini sudah sifat lelaki. Kau tak bisa melawannya meski membuang pandangan. Tiada gunanya menjadi marah...Saito salah memahami amarah Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, dia takkan mengatakannya keras-keras. Kini, Saito sudah mempelajari cara menjinakkan Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau saat kau melihat yang lain, aku diserang orang aneh? Apa kau paham? Apa kau begitu inginnya membahayakan aku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak...Bukankah semuanya akan baik-baik saja? Ugh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya tuan tidak begitu menarik. Tubuh kecil, popularitasnya kecil juga.” kata Saito, mengeluarkana isi pikirannya. Louise mengembangkan tangannya, mendesahkan “Fuuh’, dan memulai pemanasan untuk olahraga fisik berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Begitu ya? Anjing ini hanya bisa diajarkan secara fisik. Nnshotto.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise kembali memulai olahraga fisiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama Louise sedang pemanasan, Saito diam-diam menyelinap keluar pintu belakang. Dia sudah cukup dengan hukuman yang tadi. 10 menit. Dia perlu melarikan diri dan beristirahat. Saito mencengkram Derflinger yang terbungkus kain. Karena insiden-inseden sebelumnya, kini dia selalu membawa Derflinger. Dia memutuskan membawanya, meski enggan, karena agak menyusahkan dia. Begitu dia membuka pintu belakang dan melangkah ke jala, dia melihat seorang wanita berkerudung berlari dalam langkah kecil-kecil menuju arahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Don! Wanita ini bertabrakan dengan Saito, yang baru saja membuka pintu, dan jatuh ke tanah. Ini membuat Saito terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maaf..Apa kau tak apa-apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita ini menyembunyikan wajah dengan kerudungnya dan berkata dengan nada panik, “...itu, apakah penginapan “Charming Fairies” di sekitar sini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Eh? Itu disini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat mengucapkan itu, saito menyadari suara wanita itu sepertinya ia kenal. Wanita itupun menyadari hal yang sama. Diam-diam, dia menyingkap ujung kerudungnya dan mencuri pandang pada wajah Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Putri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shh!” katanya, menutup mulut Saito. Henrietta yang terbungkus dalam kerudung abu-abbu, menyembunyikan dirinya di belakang Saito agar tak terlihat dari Jalan Utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cari disana!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin dia menuju Jalan Bourdonne!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jalan utama, terdengar suara-suara kasar para prajurit. Henrietta memasang kerudungnya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apakah ada tempat dimana ku bisa bersembunyi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta tampak begitu kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Disini ada loteng tempat kami tinggal...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon tunjukkan jalan ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saito diam-diam membawa Henrietta ke loteng. Henrietta duduk di kasur dan menghembuskan napas kuat-kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Aman untuk saat ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tak aman. Apa yang tadi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baru saja menyelinap keluar selama semenit...dan kekacauan semacam itu terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Bukankah anda diculik kemarin-kemarin? Pantas saja terjadi keributan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta terdiam,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Putri, bukankah kau sekarang memimpin? Dan masih saja bertindak semau hati&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu. Ini karena ada urusan penting...Dan kudengar dari lkaporan bahwa Louise ada disini...Aku sendang bisa bertemu langsung denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OK, OK, kalau begitu akan kupanggil Louise.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise yang menyadari setelahnya bahwa Saito menghilang pasti akan meledak, tapi mungkin ini bisa melembutkannya. Sikap Louise mudah dikira-kira seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menghentikan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-mengapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak ingin berbicara dengan Louise.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak ingin mengecewakan anak itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saito lalu duduk di kursi dan menatap Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, untuk apa lagi? Menyelinap keluar benteng tanpa izin bukanlah hal yang baik untuk dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Saito sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, jika kau tak kesini untuk bertemu Louise, lalu untuk apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku datang untuk meminjam kekuatanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-Saya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau setuju, aku ingin kau menjagaku hingga esok.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“”M-mengapa saya? Bukankah anda Sang Ratu? Anda punya banyak tentara dan penyihir untuk menjaga anda...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk hari ini dan esok, aku ingin bercampur dengan rakyat jelata. Dan tentu saja aku tak ingin siapapun dari Istana tahu. jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya mempercayaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu...tak punyakah anda orang lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tahu kau orang baik, dan aku sendiri, kesepian di Istana. Banyak yang tak menyukaiku sebagai seorang ratu muda...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Dan setelah keenganan sesaat, menambahkan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dan sebagai seorang pengkhianat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito teringat Wardes . Meminta Louise, yang merupakan teman terbaiknya, untuk menempuh perjalanan incognito – mungkin ada sesuatu yang bahkan tak bisa dibicarakan dengan Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengerti. Karena ini permintaan Putri, saya akan melakukannya, tapi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito lalu menatap wajah Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini berbahaya, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menundukkan pandangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Kalau begitu, Tuan putri jangan bilang tentang urusan menempuh bahaya inipada Louise. Berjanjilah pada Saya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Ok, semua sudah jelas, tapi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, ayo pergi. Kita tak bisa disini terus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kemana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita takkan meninggalkan kota. Harap tenang. Kini, aku ingin ganti pakaian...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta memandangi pakaian di bawah jubahnya. Pakaian putih, bersih dan elehan yang tersembunyi dibalik jubah adalah terlalu mencolok. Bahkan seorang ningrat pun takkan mengeluh akan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini adalah pakaian Louise tapi...Dia membelinya untuk membuatnya tampak seperti rakyat jelata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon pinjamkan padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menarik kotak dibawah kasur dan mengeluarkan pakaian Louise. Henrietta lalu membalikkan badan, membelakangi Saito, tak khawatir Saito melihatnya! Saito mulai panik begitu dia menanggalkan pakaiannya. Secara tak sengaja, Saito menangkap sekilas dada Henrietta dari belakang. Meski tak sebesar Kirche, tetap saja ia lebih besar dari milik Siesta. Toh, dia seorang ratu, jadi dadanya pastilah yang pantas untuk seorang ratu. Tapi dia lalu sadar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa Henrietta bisa mengenakan kemeja Louise?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang terjadi tepat seperti perkiraannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kemejanya...rada-rada sesak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ‘rada-rada’ lagi. Kemeja itu dibeli untuk ukuran Louise, dan tak bisa memuat dada Henrietta. Semakin dia bergerak, semakin banyak kancing yang terlepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mhm, Sangat...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata Saito sambil memegangi hidungnya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mhh, bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagus! Tiada lagi yang bisa diharapkan kita dari seorang ratu. Henrietta seharusnya tak khawatir soal itu. “Aku harap ini tak terlalu menonjol diantara orang-orang.” gumam Henrietta saat dia melepas 2 kancing teratas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu hanya semakin menonjolkan lembah dadanya – Seakan tiada kemeja sejak awal. Meski agak malu, berjalan disebelah lelaki adalah keuntungan. Ini juga  membuat mereka tak menyadari ia seorang ratu dan membuatnya nampak lebih sebagai seorang wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo pergi.” ujar Henrietta pada saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita belum bisa pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? benarkah/”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setidaknya kau harus mengubah gaya rambutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, ubahlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Toh, Henrietta memang mirip dengan Louise, ratu yang tak berpengalaman, pikir Saito sambil merapihkan rambut Henrietta. bahkan mengubah pakaian tak bisa menutupinya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat rambut Henrietta membentuk poni, sebagaimana dia sesekali lakukan untuk Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sangat mengubah suasana. Saito lalu mengenakan riasan ringan pada Henrietta dengan kosmetik Louise.  Bukankah kita perlu riasan di penginapan? Karena Louise berkata begitu, saito membelinya...Tapi karena Louise tak pernah menggunakannya, sisanya sangat banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fufu, dengan begini, kau terlihat seperti wanita kota.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan riasan ringan dan kemeja yang terbuka bagian depannya...Dia terlihat seperti seorang wanita kota yang ceria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia datang duluan ke loteng, sepertinya mereka takkan memberitahu apapun pada Louise. Saito merasa tak enak untuk sesaat. Dia rasa dia nanti harus berbicara dengan Louise. Ini diluar kuasanya, karena ini adalah keinginan Ratu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dan Henrietta diam-diam menyelinap melalui pintu belakang ke gang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keadaan waspada soal hilangnya Ratu sepertinya meningkat...Jalan keluar ke Chicton dijaga ketat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Mereka menempatkan sebuah cordon”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito melaporkan keadaan yang tampak bagaikan drama polisi di dunianya. Entah bagaimana dia mengerti, Henrietta mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“bagaimana sekarang? Apakah tak apa-apa bila tak menyembunyikan wajahmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyembunyikannya akan lebih mencurigakan. Letakkan tanganmu diatas bahuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memegangi bahu Henrietta sebagaimana diperintahkan. mereka menghampiri tempat dimana penjaga-penjaga berdiri. Ketegangan meningkat dan denyut mereka semakin cepat. Henrietta berbisik dengan nada keras.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berpura-puralah bersender padaku. Seperti seorang pacar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eh? Tak memberinya waktu berpikir. Henrietta menggenggam tangan Saito yang tengah memegangi bahunya, dan membimbingnya ke celah kemejanya yang terbuka. Saito panik begitu merasakan bukit Henrietta yang halus dan lembut diantara jemarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan berontak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henriettamendekatkan mulutnya ke telinga saito dan bergumam pelan, dengan sebuah senyum palsu di bibir,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito melewati penjaga sambil merasa tegang dua kali lipat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sang penjaga tak sengaja melihat pasangan tersebut...dia hanya pernah melihat wajah Ratu dari kejauhan. Lagipula, bahkan dalam mimpi terliarnya sekalipun, dia tak bisa membayangkan sang Ratu berjalan bersama seorang jelata, menyilahkan tangannya untuk menyentuh kulitnya dengan cara yang sedemikian rupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia langsung membuang pandangannya dan memanggil wanita lainnya untuk berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta tertawa sambil berjalan keluar ke Jalan Utama, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Putri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak...Aku minta maaf. Karena tadi itu saat yang menggelikan. Namun, menyenangkan juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengenakan pakaian kasar, mengubah gaya rambutku...hanya mengenakan riasan ringan dan tiada yang dapat mengenalku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu pasti...Henrietta tampak menyatu dengan pemandangan malam ini. Saito merasa dia wanita yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“namun, kita terlihat oleh seseorang yang sedikit mengenal wajahmu, Putri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eh? Eeeh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan memanggilku putri di hadapan umum. Panggil aku ‘Ann; saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ann, begitulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Henrietta memiringkan kepalanya dalam keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ceritakan padaku namamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa sedih Tak dikenal sang Putri, saito menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saito.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“saito, nama yang aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Henrietta bergumam sambil bersender pada saito layaknya seorang wanita kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yeah, Ann. Memang aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih keras.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dimengerti, Ann.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta melingkarkan lengannya pada saito sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena malam datang perlahan, pasangan ini pergi ke sebuah hotel untuk sementara. Hotel tersebut rumah tinggal yang murah nan tawar. Mereka diantar ke kamar kumuh di lantai 2 yang membuat loteng di “Charming Fairies” terlihat bagaikan surga. Kasurnya lembab, tak jelas sudah berapa hari ia ditinggal untuk dikeringkan, dan sebuah jamur kecil tumbuh di sudut kamar. Lampu tetap hitam meski arangnya telah digosok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“yah, untuk uang yang segitu, kamarnya ternyata begini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Henrietta yang duduk di kasur berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kamar ini luar biasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. disini, setidaknya kau tak harus khawatir...soal ular berbisa yang tidur di dadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga tiada kumbang aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito duduk di kursi yang ada di kamar. Si Kursi seoleh protes, membuat suara derikan nan aneh. Karena sesuatu, dia ingin menjaga jarak antara dia dan rekan terhormatnya sejauh mungkin. Karena sulit untuk terus berbicara, Saito bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ini benar-benar kamar yang bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ini menggairahkan. karena ada rasa biasa dan tak penting dari rakyat biasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menunjukan itu dengan sikap nan manis. Sikap Henrietta seperti itu menciptakan sedikit perasaan “dekat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kamar gelap gulita, mereka memutuskan untuk menyalakan lampu berarang itu. dia tak dapat menemukan korek api sebatangpun, meski dia telah mencarinya kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiada korek disini..aku akan turun dan membawanya kesini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menggelengkan kepala dan mengeluarkan sebuah tongkat sihir kristal dari tasnya. Dia mengayunkannya dan ‘Posh!”, sumhbu lampu pun menyala. Henrietta duduk sambil menerawangi lampu dan meletakkan tangannya di dagu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito yang entah kenapa merasa terpesona membuang pandangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Henrietta yang tenang seperti itu...meski dia masih memiliki rasa dekat disekitarnya, dia tetaplah seorang Putri. Tidak, kini dia seorang Ratu...meski masih sangat muda. Kata Putri lebih pas baginya. Kelembutan dan ketegaran yang tak tertandingi. Meski rasanya mirip dengan Louise...tapi Louise dapat kekanak-kanakan ketika tak senang, sedangkan Henrietta tetap tenang dan teratur. Dia memiliki aura dewasa yang matang disekitarnya. Bahkan, hanya dari celah kemejanya saja orang sudah dapat mencium pesona kewanitaaannya. Pesona tak tergambarkan dari campuran harga diri ningrat dan bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menanyai Saito dengan nada nan murni. Putri seperti ini memang sangat cantik, pikir Saito sambil menggumamkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Louise bak-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya Henrietta pada Saito dari sisi lain lampu. Secara misterius, hadirnyaHenrietta membuat tempat kumuh ini bagaikan kamar tidur Istana Kerajaan, Henrietta memiliki kekuatan untuk mengubah suasana sekitar. Bahkan, waktu malam terasa bagaikan siang terang nan benderang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yeah. Toh, dia, itu, dia berkata dia akan menyelesaikan tugasnya demi Putri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Louise, dia selalu menghardik Saito karena gagal mengumpulkan info.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia baik-baik saja dalam hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu telah mengirimkanku laporan yang presisi melalui kurir burung hantu setiap hari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kau memikirkannya, dia mungkin menulisnya saat Saito tidur. Betapa seriusnya dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...dia memberitahuku secara persis perihal setiap isu...Setiap isu. Tanpa keluhan sedikitpun. Dia bercampur dengan rakyat jelata secara meyakinkan, tak khawatir kapan ini akan berakhir. Karena anak itu ningrat...aku khawatir apa kesehatannya baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia baik-baik saja. Dia mengerjakan segalanya dengan bersemangat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengangguk&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya juga senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, apakah informasi yang dikumpulkan Louise benar-benar berguna?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. ia berguna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akus endiri ingin mendengarkan keinginan rakyat yang sebenarnya, opini nyata tentang politik yang kulakukan. Jika mereka memberitahuku secara langsung, mereka mengubah beberapa hal. Mereka takkan nyaman memberitahuku...sebagaimana bila mereka dengan yang lain. Aku ingin tahu yang sebenarnya. Bahkan hal-hal yang tak kusuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah senyum sedih muncul di wajah Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Putri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak...Hanya saja, aku terkadang sulit menerima kenyataan. Meski aku disebut sebagai “Wanita Suci”, ada banyak sebutan kasar yang kudengar. AKu dipandang sebelah mata sebagai anak bawang yang mencoba menyerang Albion, menyalahgunakan wewenangnya untuk membentuk tentara penyerbu, dan aku dicurigai sebagai boneka Germania...benar sekali, tak sperti ratu sama sekali...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah duniamu juga sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito terpana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan kelancanganku. Aku menanyai Osman sang Direktur Akademi Sihir. Aku terkejut saat mengetahui kau datang dari dunia yang berbeda. Aku sulit membayangkan bahwa dunia seperti itu ada. Jadi di duniamu, saat perang...apakah pemerintahan dikata-katai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito ingat. Koran dibanjiriberita-berita tentang korupsi para politisi saat perang...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiada banyak perbedaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi disanapun sama saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gumam Henrietta, lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang..apa kalian mengalaminya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Negara kami tengah berada dalam salah satu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak...maksudku, selain menyerbu benua yang melayang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa kau berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“baru saja tadi kau berkata soal tentara penyerbu. Apa penyerbuan yang mirip juga berlangsung disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitulah. dalam kasus itu, perangnya tak berujung...Ada hal-hal yang tabu dibicarakan. Ini bukan hal yang dapat dibicarakan denganmu. Mohon lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja,Henrietta yang menyadari Saito terdiam, menengadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau membenci perang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya aku tak menyukainya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kau menyelamatkan kerajaan saat Perang Tarbes.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku melakukannya untuk menjaga seseorang yang penting bagiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, malam itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta membuang muka dan menggumamkannya dengan enggan. Lalu saito teringat malam jahanam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam dimana Wales yang dikira sudah mati, hidup kembali dan mencoba menculik Henrietta. Dia ingat saat dimana dia melihat mayatnya, tapi dia tak dapat mengingat semuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku meminta maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata henrietta dnegan suara kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan lalu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hujan mulai turun. Sebuah pelangi kecil menyembul di jendela. Mereka dapat mendengar orang-orang di jalan berteriak “Yah! Hujan!”, “ Di siang bolong lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mulai gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Putri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta bergumam dalam suara rendah. Suara yang sepertinya menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Bisakah kau melakukan sesuatu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pegang erat bahuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tongkat sihir terlepas dari tangan Henrietta yang gemetara dan jatuh ke lanta, membuat suara kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku takut hujan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar kata-kata itu...Saito teringat bahwa hujan pun tutun pada malam itu. Henrietta dan Wales yang bangkit kembali menggunakan hujan itu untuk menciptakan...topan raksasa yang mencoba menelam Saito dkk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito diam-diam duduk dekat Henrietta dan memegangi bahunya. Henrietta tetap gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Putri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“karena aku...semuanya tewas...Aku membunuh mereka. Aku tak mengerti. Aku tak mengerti ini. Bisakah aku dimaafkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berpikir sesaat lalu berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiada yang bisa memaafkan itu. Itu sudah pasti...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, benar. Aku tak pantas dimaafkan atas apa yang kulakukan padamu atau yang lain...Saat kudengar rintik-rintik hujan, aku hanya bisa memikirkan hal-hal semacam ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta memejamkan mata dan mendekatkan pipinya pada dada Saito. Jemarinya menggenggam Saito erat-erat. Dengan dilatari suara rintik hujan, tubuhnya smakin bergemetaran. Dia bukan seorang ratu dan bukan pula seorang putri...Kini, dia hanyalah seorang gadis yang lemah dan kesepian. Seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang pangeran dari negeri seberang. Mungkin orang ini lebih lemah dari siapapun. Dia tak bisa melakukan sesuatu tanpa seseorang di sisinya. Namun dia dipaksa mengenakan mahkota, dia dipaksa menggenggam tongkat komando yang memimpin perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran-pikiran tak bahagia berseliweran di kepala Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tengah menonton hujan yang jatuh sambil menggerutu. Kemana Saito pergi di tengah-tengah hujan begini? Louise baru saja sudah selesai  pemanasan, tapi saat dia berbalik menghadap Familiarnya untuk sedikit “pengajaran”...Saito menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia keluar masuk penginapan untuk mencarinya, dia tak ada dimana-mana. Awalnya dia pikir Saito kembali ke loteng dan bersembunyi disana, tapi ternyata disana kosong. Namun...Baju biasa miliknya yang dibeli untuk menyamar juga menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa tak enak, Louise meninggalkan loteng. Saat dia kembali ke penginapan, Scarron dan yang lainnya terlihat khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tak bagus, hujan turun...Pelanggan akan berhenti datang karenanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi diluar cukup rusuh. Apa terjadi sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana yang dikatakan, memang terdengar rintik hujan bercampur teriakan penjaga istana di luar sana. Louise membuka pintu dan melangkah keluar. Dia menghampiri seorang tentara berpedang dan memanggilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, ada apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si prajurit memandang sekilas pada camisole Louise dan berkata dengan nada ketus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Eei! Tutup mulutmu! ini bukan urusan wanita Bar! Kembali saja ke asalmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memanggil dan menghentikan dia, lalu mengeluarkan kertas izin Henrietta dari belahan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski aku terlihat begini, aku adalah wanita anggota dewan Paduka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 sambil melotot, si prajurit melihat pada Louise, lalu pada Surat izinnya, kemudian kembali pada Louise, dan berdiri tegak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maafkan kelancangan hamba!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ceritakan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu prajurit menjelaskan pada Lousie dengan nada kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kami selesai memeriksa Champ de Mars, tapi ketika kami kembali ke istana kerajaan, Paduka telah menghilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ini kerjaan Reconquista lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tujuan si penjahat tak diketahui, tapi dia sangat ahli...tiba-tiba sebuah kabut keluar dari kendaraannya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kalian yang berjaga saat itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berjaga adalah Korps yang abru terbentuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, begitu. Terima kasih. Apa kau punya seekor kuda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Prajurit menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak berguna!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mulai berlari menuju istana kerajaan sambil menerobos hujan. Pada saat seperti ini, kemana sih si Saito? Dia mendecakkan lidahnya karena marah. Benar-benar deh, tepat di saat kau paling membutuhkannya, dia tak ada disana!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes menarik kuda yang tadi dia naiki ke pemberhentian di depan sebuah Rumah yang besar. Itu adalah kediaman Richmon...disini, saat siang, dia berdiskusi dengan Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah sudut dari kompleks perumahan dimana para bangsawan sering tinggal. Agnes memandangi Rumah besar dan luas bertingkat dua dan mengerutkan bibirnya. Dia tahu dengan sangat baik secara menyakitkan bahwa Richmon tinggal 20 tahun disini dan menggunakan segala cara yang mungkin untuk membangun mansion mewah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengetuk pagar, memberitahukan kehadirannya dengan keras. saat jendela pagar terbuka, seorang pesuruh menyembulkan kepalanya keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“siapa disana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon katakan pada Richmon bahwa Agnes, Ksatria Paduka telah tiba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada Jam  segini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata si pesuruh dengan nada curiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, kini tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ada Pesan yang mendesak. Aku harus menyampaikannya dengan cara apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Memasukkan kepalanya, si pesuruh menghilang ke dalam. Sesaat kemudian, dia kembali dan membuka gembok pagar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Agnes memberikan kudanya pada si pesuruh dan bergerak menuju Rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat kemudian, saat dia melewati ruang keluarga, akhirnya dia melihat Richmon yang memakai pakaian malamnya duduk dekat perapian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pesan mendesak, huh? Ini harus benar-benar mendesak karena telah membangunkanku begitu tiba-tiba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gumam Richmon yang tak mencoba menyembunyikan kekesalannya pada Agnes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paduka telah menghilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikun! – alis mata Richmon terangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diculik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sedang diselidiki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon tampak tak percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini benar-benar kejadian besar. Tapi, apa ini sama dengan kasus penculikan yang kemarin? Apa Albion terlibat lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sedang diselidiki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan cara penjaga berbicara! Sedang diselidiki! Sedang diselidiki! tapi kau tak bisa lakukan apapun. Kau selalu membawa masalah pada akademi hukum. Unit apa yang sedang bertugas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami, para Ksatria.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon menatap Agnes dengan wajah tak senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini hanya membuktikan ketidakmampuanmu sebagai unit yang baru dibentuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Richmon dengan nada penuh sarkasme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk membersihkan nama kami, kami tengah melakukan yang terbaik yang kami bisa pada penyelidikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa kukatakan bahwa pedang dan pistol hanya mainan anak-anak dibandingkan tongkat sihir! Satu unit jelata tak dapat menggantikan satu penyihir!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes menonton Richmon dalam diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan penggunaan militer...Saya ingin mendapatkan izin untuk memblokir jalan-jalan dan pelabuhan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon menyabetkan canenya, dia mencengkram pena yang terbang ke arahnya, menulis sesuatu di perkamen dan menyerahkannya pada Agnes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lakukan yang terbaik untuk menemukan Paduka. Jika kau tak mampu menemukannya, seluruh anggota unit Ksatria akan digantung di tribun perang. Fikirkan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes berbalik untuk pergi tapi berhenti di depan pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Apa? Ada yang lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang terhormat...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan nada rendah, penuh amarah, dan tertahan, Agnes mulai menyemburkan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Ini ada desas-desus soal kejadian dimana kau terlibat 20 tahun lalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil Meniti benang ingatannya, Richmon mengejapkan matanya. 20 tahun lalu...sebuah pemberontakan yang mengguncang negara dan dia teringat akan pemadamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang terhormat terlibat dalam ‘Pembantaian D&#039;Angleterre’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembantaian? Jangan katakan itu dengan nama yang begitu nuruk. Bukankah para jelata di provinsi-provinsi yang jauh berencana menumbangkan negara? Itu merupakan tugas mulia pemadaman. Lagipula, sebagian besar hanyalah legenda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon menatap pintu yang tertutup selama beberapa saat....Bila ada kesempatan untuk diberikan pena dan perkamen lagi, dia mungkin merubah keputusannya, karena dia merasa ada kekuatan liar yang kini baru saja dilepas.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes, yang meninggalkan kediaman Richmon, mengambil kuda dari si pesuruh. Dia mengeluarkan sebuah jubah hitam dari kantong sadelnya dan mengenakannya merangkap garmen rantainya, dan memakai tudungnya diatas kepala. Dia lalu mengeluarkan dua pistol dan mengisi ulang mereka, sambil berhati-hati agar bubuk mesiu tak basah oleh hujan. Dia lalu memeriksa pemicu api, palu hentak dan menutup tong pelurunya. Ini adalah pistol jenis flint yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lalu menyarungkan pedangnya dan menghentakkankudanya, menandakan persiapan perangnya telah selesai. Tapi kemudian...seseorang berlari dari gerimis hujan. Gadis yang kelihatannya datang dari jalan Chicton ini, setelah menyadari Agnes yang menghentakkan kudanya, berlari menuju Ksatria wanita ini. Karena dia berlari menerobos hujan, sepertinya keadaannya mengkhawatirkan. Camisole putihnya kotor terkena lumpur dan dia bertelanjang kaki karena dia melepas sepatunya yang tak nyaman diapakai berlari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu! Tunggu! Mohon berhenti!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Penasaran, Agnes berbalik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinjamkan kudamu! Cepatlah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menolak.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berkata begitu, Agnes mencoba memutar kudanya menjauh tapi gadis itu menghalangi jalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Minggirlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
katanya tapi gadis itu tak mau mendengar. Dia mengeluarkan semacam perkamen dan menunjukkannya ke hadapan Agnes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku adalah wanita Dewan Paduka! Aku punya kewenangan menggunakan kekuatan Polisi! Kudamu diambil atas nama Paduka! Turunlah darinya sekarang juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wanita Dewan Paduka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes tampak ragu-ragu. Gadis ini terlihats eperti wanita bar. Namun, meski dia kotor karena berlari dalam hujan, sisi ningratnya masih dapat dikenali. Agnes ragu untuk sesaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise yang akhirnya habis kesabaran karena Agnes tak tutun dari kudanya mengeluarkan tongkat sihirnya. Dnegan meniru gerak Louise, Agnes pun mengeluarkan pistolnya seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua orang itu mengarahkan tongkat dan pistol mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise berkata dengan nada rendah yang bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Meski aku masih belum terlalu biasa dengan sihirku. Namun, ini tetap lebih kuat. Menyerahlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes menjawab dengan jari di palu perkusi pistol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dari jarak iji, sebuah pistol akan lebih akurat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan mengambil alih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perkenalkan dirimu, jika kau puya tongkat, maka kau pasti seorang ningrat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata Agnes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wanita Dewan, langsung dibawah Paduka, de La Vallière.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
La Vallière? Itu nama yang sangat ia kenal. Saat bercakap dengan Henrietta, dia mendengar nama itu berulang kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lau, kau...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes menarik pistolnya. Gadis yang gemetaran dengan tongkat sihirnya yang siap...diisukan sebagai teman terbaik Paduka. Gadis dengan rambut pink yang tak diikat...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mengenalku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise, dengan sebuah ekspresi kosong di wajahnya, juga menurunkan tongkatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sering mendengarmu. Aku merasa terhot\rmat akhirnya bertemu denganmu. Kau bisa berbagi kuda denganku. Izinkanku menjelaskan keadaannya padamu. Jika kau tertembak, Pasti Paduka akan mendendam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes megulurkan tangannya pada Louise. Agnes dengan mudah menarik Louise dengan kekuatan yang sulit dibayangkan dimiliki oleh seorang wanita yang rapuh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menghentakkan punggung Agnes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ksatria Paduka. Komandan Agnes.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini membuat Louise, yang telah mendengar soal “Ksatria” dari prajurit tadi, meledak,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan yang kau kerjakan selama ini?! Apa kau tidur sambil melupaskan tugasmu?! Paduka diculik secara memalukan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang, izinkanku menjelaskan situasinya, lagipula, Paduka aman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes menepuk kuda dan ia mulai berlari. diiringi derasnya hujan yang turun, keduanya menghilang dalam kegelapan malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sebuah kasur rumah penginapan yang murah, Henrietta tengah duduk dengan mata terpejam dengan lengan Saito mengelilinginya, dia tengah bergemetaran. Saito tak dapat menemukan kata untuk dikeluarkan...sehingga dia hanya bisa duduk dan memegangi bahu Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat hujan akhirnya berubah jadi gerimis, Henrietta menjadi sedikit tenang dan memaksakan diri untuk tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku membawamu ke tempat yang tak berguna ini, namun aku masih saja ditolong olehmu di akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang begitu. Pada malam itu, a..aku tak dapat berfikir jernih, aku dimanipulasi dan berusaha pergi dengan Wales...kau menghentikanku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“saat itu, kau berkata. ‘Jika kau pergi, aku akan menebasmu. Aku tak bisa mengizinkanmu berbohong pada dirimu sendiri, sekalipun kau sedang gila cinta’, katamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A...aku berkata begitu...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menunduk karena malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun tetap saja diriku yang bodoh tak terbangun. Aku mencoba membunuhmu. Namun, kau menghentikan topan bodoh yang kulepaskan sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta memejamkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, aku...merasa lega saat itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lega?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, benar. Meski aku menyadari bahwa ini bukan Wales yang kucinta. Kenyataannya berbeda. Aku...dalam lubuk hatku yang terdalam, menginginkan seseorang mengatakan itu dan menghentikan aku yang bodoh ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setelah mengambil napas yang, seakan menyakitkan, dalam, Henrietta melanjutkan bicaranya. dengan nada tertahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karenanya,Familiar-san, kumohon padamu. Jika aku melakukan kebodohan lagi...Jika aku dirasuki lagi.. bisakah kau menghentikan ku dengan pedangmu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“mengapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada saat itu, aku benar-benar sudah siap membunuh, tak dapat menahan diri lagi. Meski aku diminta Louise, anak yang lembut itu, aku tak bisa berhenti. Karenanya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berkata dengan nada terkaget-kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa melakukannya! Beneran deh...kau tak bisa lemah begitu. Engkau seorang ratu. Semua orang mematuhi titahmu. Jangan bicara seperti ini, Putri. Kau takkan hidup setelah ini jika kau tak berani. Apa semua itu kebohongan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menunduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
duk, duk, duk!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seseorang menggedor pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buka! Buka! Ini polisi kerajaan! kami tengah mencari pelarian yang bersembunyi dalam penginapan ini! Buka sekarang juga1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saito dan Henrietta saling memandang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya mereka tak mencariku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Biarkan mereka pergi.  Tetaplah diam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mengangguk setuju...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, gagang pintu mulai berputar...namun...ia tak mungkin terbuka karena dikunci. Clank-clank! Gagang pintu bergetar keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buka sekarang juga! Ini keadaan darurat! Atau aku akan merusaknya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bam! Suara pedang menghantam gagang pintu terdengar, menandakan usaha membukanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tak bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta, dengan wajah penuh keyakinan, membuka kancing kemejanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Putri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara keheranannya dipotong oleh tertangkapnya bibirnya oleh bibir Henrietta. Ciuman itu tiba-tiba dan pekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengunci lengannya pada leher Saito, Henrietta mendorongnya ke kasur. Henrietta yang terlihat tak terganggu memejamkan matanya dan dengan desah yang dalam, dia mendorong lidahnya kedalam mulut Saito. Ini dapat mengambil kesadaran seseorang saking pekatnya ciuman itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersamaan dengan dorongan Henrietta pada Saito ke kasur, si prajurit, yang mencoba merusak gagang kunci, menendang pintu yang lalu terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Apa yang sepasang prajurit itu lihat...adalah seorang wanota muda yang berbaring diatas seorang lelaki, mencium bibirnya begitu pekat. Wanita itu tak memperhatikan para prajurit dan terus semakin meliar. Desah nafsu keluar dari celah bibir keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prajurit-prajurit menonton kejadian untuk sesaat...lalu saling bergumam diantara mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...M-mereka tampaknya hanya berlindung dari hujan, dan sngata menikmatinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sial, ayo selesaikan ini, periksa yang lainnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thud! Pintu ditutup dan mereka menghilang ke bawah tangga. Karena gagang pintu rusak, pintu kembali terbuka, sedikit berderik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta beroisah dari bibir saito...tapi, meski para prajurit sudah di luar hotel, dia terus memandangi Saito dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito benar-benar terheran dengan kelakuan Henrietta saat ini. Saat waktunya datang, dia dapat mengorbankan tubuhnya sendiri, seperti malam ini, hanya untuk menjaga rahasia. Dia benar-benar kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pipi yang memerah, Henrietta terus melihat Saito dalam diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Putri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Henrietta dengan nada tertahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah bilang padamu untuk memanggilku Ann.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetapi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menunggunya menyelesaikannya. Henrietta menekan bibirnya pada Saito lagi. Kali ini, ciumannya lembut dan...emosional. Dalam terang lampu yang temaram...dia dapat melihat bahu putih Henrietta yang dia pegangi tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Saito yang sanagt keheranan, bibir Henrietta mulai mengelus sisi wajah saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau punya...pacar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan nada panas, Henrietta membisikkan itu ke telinganya. Dia merasa dirinya meleleh karena suara itu. lalu, wajah Louise menyembul dalam alam pikiran Saito. Louise bukanlah cintanya. tetapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak punya, namun...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mulai memain-mainkan daun telinga Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka, perlakukan aku sebagai cintamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “A-apa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak apa-apa, hanya untuk malam ini. Aku tak memintamu untuk menjadi pacarku. Tapi, kumohon, peluk aku...dan ciumlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu – waktu terhenti – dan menit-menit pun berlalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uap mengisi kamar berkat hujan. Bau campuran futon dan badan berseliweran di udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memandangi mata Henrietta. bahkan dalam kamar kotor ini sekalipun.,,Wajah Henrietta yang cantik tetap memesona. Tidak, mungkin ia memesona karena kamar kotor ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia hampir tak dapat tidak tertelan oleh pesona ini. Tapi...dia tak bisa lebih jauh lagi melangkah dari mencium Henrietta...Louise takkan pernah memaafkan Saito. Louise tak hanya takkan pernah memaafkannya, dia jga bakal sedih karena Louise begitu menghormati Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tak dapat melakukan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tak bisa berpura-pura menjadi pacar dan berciuman dengan orang semacam ini...Orang yang dipandang begitu tinggi oleh orang yang penting baginya. Henrietta hanya kesepian. Pasti ada cara lain untuk menenangkan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karenanya, Saito dengan perlahan menepuk rambut coklat muda Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa menjadi seorang pangeran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau Ingat? Aku bukanlah dari dunia ini, aku dari dunia yang berbeda. Aku tak bisa...menggantikan seseorang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta memejamkan mata dan mendekatkan pipinya ke dada Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya...saat hawa panas alhirnya menghilang...Henrietta dengan malu-malu, bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kau pasti berpkir aku seorang wanita yang tak tahu malu. Meski aku disebut seorang ratu...aku tetaplah wanita. Dan aku masih kehilangan kehangatan seseorang saat malam hari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sesaat...Henrietta tak mengucapkan sepatah katapun dan hanya berbaring disana, menekan pipinya pada dada Saito. Di dalam rumah inap murah itu, mungkin yang termurah sekota, Wanita paling terhormat negeri ini gemetaran seperti seorang anak kecil dalam dekapannya. Saito tersenyum pahit dalam situasi yang entah kenapa bisa terbolak-balik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan...merasa tak enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Putri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Mohon jelaskan pelan-pelan pada saya. Apa-apaan yang tengah kita lakukan disini? Rahasia...semuanya berusaha keras menemukanmu. Dan...kau begitu keras berusaha untuk bersembunyi. Ini bukan hanya salah-satu dari hal-hal yang main-main itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oh, baiklah. Rasanya aku perlu menceritakan keseluruhannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Henrietta memancarkan ketegasannya kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini adalah perburuan seekor rubah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perburuan rubah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kau tahu hewan pinter itu, kan? Si Rubah, bahkan dengan anjing di belakangnya, bahkan dengan pemukul, tak mudah menangkap ekornya. Karenanya,..aku menyiapkan sebuah jebakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jebakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, dan aku umpannya. Datanglah besok...rubah itu akan meninggalkan lubang persembunyiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan siapa rubah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata-mata Albion.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes dan Louise tengah mengendaria kuda menuruni gang yang mengarah ke mansion Richmon. Meski hujan berangsur-angsur menjelma jadi gerimis, hawa dingin masih terasa. Agnes menyerahkan mantelnya pada Louise untuk dipakai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Apa latar belakangnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perburuan Tikus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Perburuan Tikus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, mereka tak hanya merusak lmbung kerajaan...mereka juga mencoba mengkhianati sang tuan di tengah-tengah perburuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menatapnya, tak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jelaskan dalam rincian penuh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiada waktu untuk menjelaskan lebih lanjut, sekarang. Nha!Kita sampai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerbang kediaman Richmon terbuka dan seorang pesuruh muda muncul di depan kuda Agnes. Ia seorang pemuda berumur 12-13 tahun dengan pipi nan merah.  Dia terus-menerus memerhatikan sekeliling dengan obor di tangan, sebelum akhirnya mulai menjalankan kudanya. Si pesuruh mulai mempercepat diri sambil memegangi obor. Agnes tersenyum tipis dan mulai mengejar kuda tersebut, dengan dibimbing cahaya obor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa yang sedang terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Sekarang semuanya dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jawab Agnes, pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di keheningan malam, si pesuruh terus berkuda dengan kecepatan penuh. Sepertinya dia disuruh sebelumnya untuk cepat-cepat oleh tuannya. Anak tersebut memerhatikan sekelilingnya sambil berusaha keras agar tak terjatuh dengan berpegangan pada punggung kuda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes mengikuti sambil menjaga jarak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuda si pesuruh telah keluar dari daerah kompleks para petinggi dan berjenti di sebuah perkampungan yang mencurigakan. Di kegelapan malam ini, dapat terdengar suara dari kelompok pencari Ratu yang pesta minum-minum dan bersenang-senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa tak aman melewati Jalan Chicton, si kuda menghilang ke gang yang tersembunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia menghilang dari mulut gang, Agnes turun dari kuda dan melihat keadaan gang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan kuda di kandang, Agnes menuju hotel setelah meyakinkan diri bahwa hotel inilah yang dimasuki si pesuruh. setelah melompat turun dari kuda, Louise bertanya sambil berlari setelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa, Apa yang sedang berlangsung?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes tak lagi menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memasuki hotel dan memaksakan jalan melewati massa bar di depan dengan sikutnya hingga dia melihat si pesuruh naik ke lantai 2. Dia mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari tangga yang dipakai, Agnes memastikan pintu mana yang dimasuki si pesuruh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua orang sedang menunggu pengunjung selama beberapa saat disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes berbisik pada Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lepaskan mantelmu. Mulailah bersender padaku sebagaimana seorang wanita bar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski tak mengerti, Louise melakukan apa kata Agnes dan melepas mantelnya. Dia lalu berpura-pura jadi kopyor yang bermesraan dengan sang ksatria. Dia pernah melihat kejadian-kejadian ini selama kerja di bar dan mencetaknya dalam ingatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata Agnes pada Louise tanpa memindahkan tatapannya dari lantai 2. Meski suaranya masih kewanita-wanitaan, dia meninggalkan kesan sebagai ksatria terhormat saat diam, mungkin karena rambut pendeknya. Pipi Louise mulai memerah tak terkendali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Pesuruh sudah melangkah keluar dari  kamar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Agnes menarik Louise mendekat padanya. ah, dan mencuri sebuah ciuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski Louise mencoba berontak karena marah, Agnes menekannya dengan tenaganya yang kuat, sehingga dia tak bisa bergerak...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pesuruh menatap Louise dan Agnes yang berciuman untuk sesaat, lalu segera membuang pandangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seorang ksatria berciuma dengan seorang wanita bar, sebuah pemandangan yang biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pesuruh lalu keluar melalui gerbang keluar, menaiki kuda tepat seperti ketika dia datang dan menghilang ke kota di kegelapan malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes akhirnya membebaskan Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa yang kau lakukan?!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
teriak Louise dengan pipi memerah. Jika yang melakukannya seorang lelaki, dia pasti sudah menghunus tongkatnya dan meledakkan tempat ini dari tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Teang saja, aku tak punya hobi semacam itu. Ini tugas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu pula aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu Louise teringat pada si pesuruh yang pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau takkan menguntitnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak apa-apa. Anak itu tak tahu apapun. Perannya hanya sebagai pembawa surat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes, berusaha agar langkahnya tak bersuara, diam-diam mendekati pintu kamar tamu yang tadi dimasuki pesuruh. Louise bertanya dengan berbisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau bukan seorang penyihir, kan? kau tak bisa mendobrak pintu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ini masih bisa didobrak dengan tenaga otot.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ini pasti terkunci . Tiada yang bisa kau lakukan. dengan segala kletak-kletok itu dia mungkin melarikan diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menghunus tongkat yang terpasang di pahanya, menghirup napas dalam-dalam, dan menggumamkan mantra “Void” sambil mengarahkan tongkat ke pintu. ‘Ledakan’...pintunya meledak dan diterbangkan kedalam kamar, Tanpa menunggu lagi, Agnes menghunus pedang dan meloncat masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada Seorang pedagang disana, dia berdiri dekat kasur dengan wajah terkejut. Dia memegang sebuah tongkat di salah-sati tangannya. Dia seorang penyihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki ini sepertinya seorang ahli sihir, karena dia langsung mengarahkan tongkatnya pada Agnes yang meloncat masuk, dan segera menggumamkan mantra. Segelembung massa udara menerbangkan Agnes menjauh. Saat dia mengucapkan mantra lain dan melemparkan Agnes ke dinding...Louise masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ledakan Louise mengenainya. Ledakan kena langsung di depan, menyebabkan dia tersungkur di lantai sambil memegangi wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes bangkit dan memukul tongkat sihir dari genggaman orang tersebut dengan pedangnya. Louise mengambil tongkat yang tergeletak di lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes mengarahkan ujung pedangnya ke leher lelaki tersebut. Ia berumur pertengahan. Meski kelihatannya dia seorang pedagang, cahaya matanya berbeda. Kemungkinan dia seorang aristokrat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan bergerak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih mengarahkan pedangnya, Agnes mengeluarkan boprgol dari pinggangnya dan memborgol pergelangan lelaki tersebut. Dia lalu menyumpal mulut lelaki tersebut dengan segulung sobekan kain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi malam-malam pada jams egini? – pengunjung hotel mulai berkerumun dan melihat kedalam kamar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan ribut! Ini hanya penahanan seorang pencuri licin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang hotel yang ketakutan menarik diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selembar surat yang diberikan si pesuruh pada lelaki itu pasti ada didalam, entah dimana, pikir Agnes. Dengan senyum di bibir, dia mengobrak-abrik lemari meja si lelaki. Dia menemukan banyak surat dan lembaran dan mulai membaca mereka dengan perlahan, satu persatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa orang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tikus Albion. Dia berpura-pura menjadi pedagang dan berkeliaran di Tristania, mengumpulkan info untuk Albion.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berarti, orang ini...adalah mata-mata musuh. Ini hebat bukan?! Kita berhasil menangkapnya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini belum selesai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “mengapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tikus induknya masih ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes lalu menemukan selembar kertas, yang dia tatap dalam hening. Isinya berupa sketsa kasar bangunan. Ada catatan di beberapa sudut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“jadi begitu toh...Kalian para terkutuk pasti berencana bertemu di teater, kan? Surat ini datang beberapa waktu lalu, isinya tentang bertemu di tempat yang sama, besok. Dari sketsa kasar ini, tempat ini pastilah sebuah teater, ya? Pasti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki itu tak menjawab. Dia terdiam dan diam-diam membuang pandangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jawablah...harga diri ningrat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan senyum dingin di bibir, Agnes memaku kaki lelaki tersebut ke lantai dengan pedangnya. Dengan sumpal di mulutnya, lelaki tersebut merintih kesakitan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes mengeluarkan pistol dari ikat pinggangnya dan mengarahkannya ke wajah lelaki tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan menghitung sampai 2. Pilih. Harga diri atau nyawa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alis lelaki tersbut mulai berkeringat. Gachink...Suara terangkatnya palu perkusi oleh Agnes bergema dalam kamar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Subuh tengah mencerah, pagi pun tiba. Di Plaza pusat, lonceng kuil Confucius Santo Rémy didentangkan. Sekarang tepat jam 11.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah kereta tunggal berheti di depan Teater Tanaijiiru kerajaan. Richmon melangkah keluar darinya. Dia menatap sekeliling teater dengan rasa bangga, Pesuruh yang duduk di kotak pengendara, hendak turun dan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak apa-apa. Tunggu saja di kereta.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ricmon menggelengkan kepalanya dan memasuki teater, Penjual tiket membungkuk begitu dia menyadari kehadirannya. Richmon terus maju, tidak membeli tiket dulu. Karena inspeksi pertunjukan merupakan salah satu tugasnya sebagai direktur sensor, tempat ini bagaikan villa pribadinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengunjung teater yang hanya berupa wanita muda telah mulai berdatangan sejak enam menit yang lalu. Pada awalnya, pertunjukan ini sangat terkenal, tapi karena akting yang buruk, kritik pedas pun diterima. Sepertinya ia sudah kehilangan pangsa pasar sebagai imbalannya. Richmon duduk di kursi pribadinya dan diam menunggu tirai diangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes dan Louise telah tiba didepan teater beberapa saat yang lalu. Louise tak dapat mengerti mengapa mereka harus selalu mengendap-endap di gang dekat teater saat ini. Agnes baru mengizinkan mereka meninggalkan persembunyian setelah suatu kereta tertentu muncul. Louise capek dan merasa habis. Dia tak tidur tadi malam. Lagipula, Agnes tak menjelaskan apa-apa. Dia mengatakan ini perburuan tikus, itu OK, tapi kapanpun dia bertanya siapa tikus itu...Agnes terdiam dan berhenti berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didepan mata Louise, yang dengan sabar menunggu di depan teater, lewat beberapa orang yang sangat dikenalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah Henrietta yang ditemani Saito, yang memiliki kantung di bawah matanya disebabkan kurang tidur.  Meski Henrietta mengenakan sehelai jubah dan pakaian jelata yang dibeli Louise dulu, dan mengikat rambutnya dengan cara wanita kota...Louise yakin dia tak salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes mengenali kedua orang lebih dulu karena dia telah mengirimkan laporan dengan kurir burung hantu dan terus membuka mata untuk menyambut kedatangan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Putri, Saito.!”&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
Apa yang dimulai sebagai gumaman kecil berubah jadi teriakan keras begitu dia berlati menuju pasangan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Louise...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta memeluk tubuh kecil Louise erat-erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat khawatir! Kemana anda menghilang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku meminjam Familiar-san yang lembut ini...dan bersembunyi dalam kota. Maafkan karena aku tak biloang padamu. Aku tak ingin menyeretmu dalam hal ini. Jadi ketika saya diberitahu Agnes pagi ini bahwa kalian bertindak bersama-sama, saya terkejut. Namun, kau adalah teman terbaikku, jadi sepertinya kita memeang ditakdirkan untuk bertemu entah cepat atau lambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Agnes yang yang berdiri dalam diam di dekat mereka kemudian berlutut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu perintah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih. Kau benar-benar melakukannya dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan penonton terakhir yang tiba di depan teater....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
adalah Korps Manticore, Garda Penyihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua yang menonton terkejut begitu komandan mereka, yang memiliki simbol binatang khayalan berkepala naga dan bertubuh ular pada baju besinya, menghampiri mereka dengan marah-marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Agnes-dono, Apa-apaan ini?! Aku kesini dengan terbang seusai menerima suratmu, tapi Paduka tak disini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, komandan Manticore menyadari kehadiran Henrietta dan berlari menuju dia dengan panik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Yang Mulia! Kami sangat khawatir! Engkau ada dimana? Kami semalaman mencari anda!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata yang hendak tertumpah, sang komandan meninggikan suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada apa dengan unit garda sihir ini? Penonton mulai mengerumuni mereka sambil bertanya-tanya. Karena keributan ini, Henrietta menutup wajahnya dengan kerudung jubahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf karena menyebabkan ketegangan ini. Nanti, Aku akan menjelaskannya. Untuk sekarang, ikuti saja perintahku, komandan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa perintah anda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“dengan korps yang kau bawahi, mohon kepung Teater Tanaijiiru kerajaan. Jangan biarkan bahkan seekor semut pun keluar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sang KOmandan langsung membungkuk meski memasang wajah curiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagaimana keinginanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku akan masuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya ikut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
teriak Louise, Namun, Henrietta menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kau mesti menunggu disini. Ini adalah sesuatu yang harus kuselesaikan sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi-.“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini perintah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise langsung membungkuk, meski dengan sikap tak sempurna, begitu mendengar kata-kata putus tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hensrietta menghilang kedalam teater, sendirian. Agnes yang memiliki hal rahasia lainnya untuk dilakukan, segera menaiki kudanya dan pergi entah kemana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi...kini hanya dua orang, Saito dan Louise, yang tinggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menarik lengan baju Saito, yang tengah menonton kepergian Henrietta dengan pipi memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa, apa yang terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“AKu diceritakan bahwa ini merupakan perburuan rubah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“yang kudengar ini perburuan tikus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Toh, sma-sama aja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, mereka berdua saling menatap dengan pandangan kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Entah apa, itu adalah tugas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Spertinya kita hanya pemeran pembantu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tiba-tiba menyadari ada bau tertentu dan mendekatkan hidungnya pada tubuh Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa-.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan wajah garang, Louise mulai membaui bau tubuh Saito dengan hidungnya. *sniff snif*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hei, apa-apaan-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bau ini...ini bau parfum putri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau..kau tak melakukan yang aneh-aneh pada Putri, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memandangi Saito dengan mata mengancam. Saito langsung pucat. Tentu saja dia tak bisa bilang soal ciuman itu. Dia tak bisa mengkhianati Henrietta. Demi kehormatan Putri, dia tak boleh menceritakan hal ini. Lagipula, meski dia cerita, Louise juga takkan percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bo-bodoh! Aku tak melakukan apa-apa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louie terus memandangi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini pasti kena ketika bersama-sama kesini, tadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mencengkram telinga saito dan menariknya medekat. Lalu dia mengubur hidungnya di permukaan leher Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Snif, snif, snif, snif. Lalu mengapa baunya ada di tempat seperti ini? Mengapa ada parfum di permukaan lehermu hanya dari menemani? Parfum macam apa itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu....itu pasti dari bolak-balik di kasur saat tidur. Wajah kami mungkin mendekat. Tak ada hal lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak apa-apa. Aku akan mendengar semuanya dari tubuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise, masih memegangi telinga saito, menyeretnya ke gang sebelah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeritan Saito bergema ke jalan yang kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tirai diangkat dan....pertunjukan dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pertunjukannya hanya untuk wanita, penontonnya hanyalah wanita muda. Dengan dikelilingi sorakan yang riuh rendah, para aktor yang berpakaian sangat mewah mulai mementaskan cerita cinta nan sedih di atas panggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu pementasan yang pernah ditonton Louise sebelumnya...’Liburan Tristania.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon mengernyitkan alisnya. Bukan karena tawa atau gaya para aktor, bukan pula karena sorakan tak sopan maupun melingking para wanita muda, tapi karena tamu yang diharapkan tak muncul pada waktu yang dijanjikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam kepalanya, beragam pertanyaan mulai berseliweran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa menghilangnya ratu merupakan plot Albion yang tak diberitahukan padaku? Jika ya, apa lasannya? Jika tidak, apa mungkin ada kekuatan ketiga dalam Tristania yang tak dia tahu? Kedua-duanya memusingkan – gumam Richmon pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu...seorang penonton duduk disebelahnya. Apa dia tamu ayng diharapkan? Dia mencuri pandang sekilas. Bukan dia. Ini seorang wanita muda dengan kerudung menutupi kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon berbisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Punten. Kursi ini sudah dipesan. Mohon duduk di tempat lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, wanita itu tak berusaha bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita muda ini...Dengan wajah marah, Richmon memutar untuk menghadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mademoiselle, Apa kau tak mendengarku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Richmon-dono, Penonton seharusnya menonton pertunjukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Richmon terbelabak saat dia mengenali wajah wanita berkerudung itu. Ia orang yang dia yakin telah menghilang...Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta yang memandang lurus ke panggung, menanyai Richmon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini adalah pertunjukan untuk wanita. Apa kau menontonnya dengan senang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon menenangkan diri, menyusun lagi sikapnya dan menyenderkan dirinya ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“AKu memperhatikan pertunjukan semacam ini hanya karena tugas. Lagipula, Yang Mulia, ada isu bahwa kau telah menyembunyikan dirinya...Apa itu untuk keselamatanmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu. Aku berhati-hati dengan orang-orangku. Ini adalah tempat yang bagus untuk bertemu dengan selirku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon tertawa. namun, Henrietta tidak. Dia menyipitkan mata bagaikan seorang pemburu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika seseorang bisa mendapatkan semuanya, adalah sia-sia untuk menunggu. AKu berdiri mengantri tiket. Kau pergi menonton pertunjukan tanpa membeli tiket, ini adalah pelanggaran aturan. Aku ingan Istana Kerajaan mengadili mengikuti aturan yang ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ho! Sejak kapan penjualan tiker menjadi kewenangan Keluarga Kerajaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mendesah, memutuskan benang ketegangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah, marti hentikan omong kosong in sekarang. Kurir rahasia Albion, yang kau hubungi hari ini, ditahan kemarin malam. Dia menceritakan semuanya. Kini dia ada di penjara Chernobog.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menyudutkan Richmon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, seakan tahu bahwa hal ini akan terjadi, Richmon tak kehilangan ketenangannya. Dia tersenyum lebar dengan sikap tak takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoho! Hubunganku tersembunyi dengan baik, kau tak bisa mengalahkan strategiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“itu benar, Hakim istana kerajaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku takkan menari di telapak tangan Yang Mulia!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku benar-benar tak ingin semua...Menjadi seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon tak pernah menunjukkan niat jahat dalam senyumnya. Dia tak pernah menunjukkan sikap buruk, ingat Henrietta dengan hati tak enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menghilang, kau memutuskan untuk berhubungan dengan kurir rahasia. ‘Sang ratu ditangkap tangan lain, selain yang kita.’ Bagimu, ini hanyalah sebuah adegan. Kau tenang dan tak panik. Seekor rubah yang berkepala dingin, yang tak menunjukkan ekornya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, sejak kapan kau mulai curiga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“AKu tak yakin. Selain kau, ada banyak tersangka lain. Namun, orang yang memberitahukan aku menghilang malam itu, pasti adalah penjahatnya. Dan orang itu adalah KAU.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta meneruskan dengan nada sedih nan lelah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak ingin mempercayainya. Kau merupakan...Hakim Istana Kerajaan, orang yang seharusnya mempertahankan kekuasaan dan kebaikan Kerajaan, malah membantu rencana pengkhianatan semacam ini. Selama masa kecilku, kaulah yang selalu menyayangiku...dan kini menjualku pada musuh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, bagiku, kau tetaplah seorang gadis yang tak tahu apapun. Diperintah oleh Albion masih lebih daripada gadis pengabai di tahta.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa cintamu padaku adalah kebohongan? Kau terlihat sepeti orang yang sangat lembut. Apa itu juga kebohongan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kecintaan pada putri raja tak diturunkan pada seorang tuan tanah. Kau tak bisa mengerti itu. Karena kau begitu naif, aku melakukan hal ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta memejamkan matanya. Siapa yang harus kupercaya? Mengapa begitu sulit untuk dikhianati orang yang kau percaya? Tidak...aku tak dikhianati. Lelaki ini mencurangiku demi karirnya. Aku tak bisa mengerti hal semacam ini, sehingga, sebagaimana yang dikatakan Richmon, aku masih kanak-kanak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, aku tak bisa terus menjadi anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mendapatkan...mata yang melihat kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang melihat kebenaran bagaimanapun suasana hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta berkata dengan nada tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atas nama Sang Ratu, kau dicabut dari kedudukan hakim Istana Kerajaan. Menyerahlah dengan tenang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon sama sekali tak bergerak. Malah, dia menunjuk pada panggung dan berkata dengan nada seakan Henrietta hanyalah seorang tolol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“jangan berkata hal-hal tak pantas semacam itu. Biarkan pertunjukan berjalan terus. Ini baru saja dimulai. Pergi sebelum pertunjukan selesai adalah ketidak sopanan pada para aktor.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat ini, di luar, para garda sihir sudah mengepung bangunan. Kini tunjukkanlah keberanian seorang ningrat dan serahkan Canemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar...seorang anak bau kencur...Siapa yang kau pikir bakal kau tahan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa katamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“AKu hanya berkata kau masih kecepatan 100 tahun untuk menjebakku, itu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pon” Richmon bertepuk tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, para aktor yang hingga saat ini memainkan adegan...sekitar 6 lelaki dan wanita, menghunus tongkat yang disembunyikan di celana atau jaket mereka, dan mengarahkannya pda Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para wanita muda mulai ribut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diam! Tonton pertunjukannya dengan tenang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nada marah Richmon...yang menyingkap sifat aslinya, menggema di dalam teater.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapapun yang membuat suara akan dibunuh. Ini bukanlah pertunjukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, seisi gedung diliputi keheningan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar tak beruntung untuk datang kesini, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta...bergumam pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Para aktor...ternyata adalah rekanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ini bukanlah suatu bualan. Mereka adalah penyihir kelas satu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aktor buruk sebagaimana yang kita lihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon mencengkram tangan Henrietta. Henrietta menggigil karena sentuhan kasarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Skenarioku melihat jauh kedepan. Paduka, Aku akan mengambilmu sebagai tawanan. Lalu, aku akan menyiapkan sebuah kapal ke Albion. Dirimu akan menjadi hadiah emigrasiku ke Albion. Tamat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang. Skenario pertunukan ini adalah milikmu. Panggungnya adalah Tristain dan aktornya adalah Albion...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kau akan jadi Putrinya. Jadi, ambillah bagian dalam komedi ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayangnya, hanya Tragedi yang cocok dengans eleraku. Aku tak dapat mengambil bagian dalam pertunjukan monyet semacam ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sedihnya, dalam hidup ini, tiada yang bertindak melawan skenarioku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menggelengkan kepalanya. Matanya memancarkan rasa Pede.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, skenario pertunjukan hari ini adalah milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manajemenmu buruk. Sedihnya, sebagai ketua, aku tak dapat membiarkanmu menghancurkan pertunjukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta, dengan tetap pede...menunjukkan tongkatnya pada para penyihir, yang menyamar sebagai aktor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang buruk adalah para aktor. Mereka aktor sampah. Tiada yang takkan menyadarinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan mengatakan hal-hal yang berlebihan. Cepat atau lambat mereka akan menjadi aktor yang dipuja-puja di Albion.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kini, tinggalkan panggung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para wanita yang ribut dan ketakutak hingga saat ini...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setelah kata-kata Henrietta, mengubah penampakan mereka 180 derajat dan mengeluarkan pistol mereka secara bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para penyihir bawahan Richmon yang tengah mengarahkan tongkat mereka pada Henrietta, terkejut oleh pemandangan ini, yang memperlambat reaksi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doon! Suara dari 10 tembakan pistol meleleh jadi satu suara keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dalam teater, suaranya meningkat beberapa kali, dan terasa bagaikan raungan petir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat asap hitam dan tebal menghilang...Para penyihir Albion yang menyamar sebagai aktor diterjang peluru, semuanya mati di panggung sebelum sempat melantunkan satu mantra pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh penonton teater...merupakan anggora Musketeer. secara alami, bahkan Richmon yang penuh kewaspadaan tak dapat melihat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh Musketeer adaalh jelata muda...terlebih lagi...wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menginfokan pada penonton tetangganya dengan nada es,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon berdiri, Richmon. Pertunjukan sudah selesai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon berdiri dengan berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetawa keras dan menghunus daggernya secara bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil terus tertawa keras bagai orang gila dan tak menghiraukan pedang yang diarahkan padanya, Richmon naik ke atas panggung perlahan-lahan. Para Musketeer mengepungnya. Mereka bersiap menusuknya bila dia membuat bahkan satu gerakan yang mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketahui kapan saatnya menyerah! Richmon!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sanagt senang dengan sukses ini! Ini tak mungkin skenario luar biasa yang ditulis Yang Mulia! Sungguh terlalu untuk skenario pertunjukanku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon memandangi musketeer yang mengepungnya dengan sikap acuh tak acuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang Mulia...Ini nasihat terakhir dari seseorang yang telah melayani Yang Mulia sejak hari kelahiranmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bicaralah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, Meski semuanya dimulai sejak dulu sekali,...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Richmon berdiri di sudut panggung...dan *Don* dia menghentakkan lantai dengn kakinya. lalu, tepat seperti lubang jebakan, lantai terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia berakhir pendek disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Richmon langsung jatuh kedalamnya. Meski para musketeer berlari menujunya dengan waspada...lantainya terkunci dan tak terbuka meski mereka mendorong maupun menariknya. Sepertinya ini dikendalikan sihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang Mulia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sluruh anggota menatap Henrietta dengan tegang. Merasa terhina, setelah menggigit kuku jemarinya, Henrietta menengadah dan berteriak,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cari dia di Gerbang depan! Semuanya, Bewrgerak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lubang itu terhubung ke jalan bawah tanah. Richmon membuat lubang tikus ini untuk hari berhujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk berhenti dari terus-terusan jatuh, Richmon menggunakan “melayang’ dan, dengan menggunakan manta cahaya pada tongkatnya, mulai menyusuri jalan bawah tanah sembari menerangi tanah sekitar di bawah kakinya. Terowongan ini menuju kediaman Richmon. Dia perlu kembali kesana. Da hendak kabur ke Albion setelah mengumpulkan uangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “tapi...Yang memimpin ini adalah Putri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari dia kabur, dia akan mengajukan satu regimen tentara pada Cromwell, lalu dia akan kembali lagi ke Tristain, menangkap Henrietta, dan setelah membayar berkali-kali untuk penghinaan hari ini, dia akan memperkosa dan membunuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat sedang berjalan dan membayangkan hal-hal itu...dia melihat sebuah bayangan dalam cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat berlalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah yang timbul dari kegelapan...adalah wajah Agnes, sang Musketeer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, engkau Richmon-dono. Mengambil jalur pulang alternatif?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata Agnes sambil tersenyjm. Suaranya bergema di terowongan gelap, sempit dan suram tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon menjawab sambil tersenyum lega. Memang, mereka mungkin telah menemukan terowongan rahasia ini dan mungkin telah menyingkap rencana teaternya...tapi ini bukan seorang penyihir, hanya seorang pemedang yang menyerangnya, ini seharusnya tak sulit. Dia, seperti kebanyakan penyihir, memandang remeh para pemedang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyingkirlah. Tiada waktu bermain denganmu. Terlalu menggangguku untuk membunuhmu di tempat seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kata-kata Richmon, Agnes mengeluarkan pistolnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Skakmat. Akus udah mengucapkan mantra. Aku hanya perlu melepaskannya padamu. Peluru tak bisa menembus pelindung 20 lapisku. Kesetiaanmu pada Henrietta tak termasuk memberikan nyawamu. Karena kau seorang jelata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon meneruskan dengan nada bosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“bayaran serangga tak pantas untuk mantra ningrat. Pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes memeras keluar kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membunuhny, bukan karena kesetiaan pada ratu, tapi untuk dendam pribadiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dendam pribadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D&#039;Angleterre.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon tersenyum. kalau dipikir-pikir, dia hari itu, sebelum meninggalkan kediamanku...si ini menanyaiku soal ini. jad itu alasannya. Richmon yang akhirnya mengerti alasannya, tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu toh! Jadi kau orang yang selamat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“kau bertanggung jawab atas kejahatan itu...kota asalku dihancurkan, bahkan tanpa tahu kenapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Agnes sambil menggigit bibir. Sealiran darah menuruni bibirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembelot Romalia. “Perburuan Protestan.’ Kau mengklaim ‘Protestanism’ sebagai pemberontakan dan menghancurkan kotaku. Berapa sih yangkau dapat dari agen agama Romalia sebagai balsannya, Richmon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau menanyakan jumlah uangnya? Kau ingin tahu? Aku ingin mengatakannya, tapi aku tak ingat jumlah sogokannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah hanya pada uang kau percaya? wahai orang tak beruntung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Caramu percaya Tuhan, begitulah kupercaya uangku, apa ada perbedaan? Caramu meratapi keluarga yang pergi, begitulah pengharapanku pada uang, apa ada perbedaan? Ceritakanlah padaku. Aku ingin tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membunuhmu. Pergunakanlah tabunganmu di neraka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski adalah sia-sia untuk menggunakan sebuah mantra ningrat pada orang sepertimu...ini adalah takdir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon bergumam dan melepas mantranya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bola api besar muncul di ujung tongkat sihir dan melesat menuju Agnes. Dia mengira Agnes bakal menembakkan pistol yang digenggam tangannya..tapi, dia malah membuangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melingkupi dirinya dengan mantel dan menerima bola api tersebut. Meski mantel terbakar sesaat...kantong air di bawahnya menguap untuk menyerap daya bola api. Namun, dayanya tak menghilang seluruhnya. Ia memukul tubuh Agnes, dan menghantam baju rantainya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Agnes bertahan, ia tak jatuh, Sebuah kekuatan hati yang luar biasa. Sambil menahan sakit karena seluruh tibuhnya terbakar, dia berlari menjuju Richmon sambil menghunus pedangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Richmon buru-buru menembakkan mantra lainnya untuk menyerang balik. Bilah angin itu mengenai Agnes. Ia merobek baju rantai dan layar baju besi, yang mencegahnya menderita luka mematikan. Sambil menerima tebasan yang tak terhitung jumlahnya, Agnes terus melaju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dimana Richmon mencoba melantunkan mantra lainnya, Agnes menabrak dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uooo...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan mantra yang keluar dari mulu Richmon...melainkan darah nan merah. Agnes menekan pegangan, memasukkan pedang lebih dalam ke dada Richmon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pe-penyihir kalah oleh jelata...seorang ningrat sepertiku...kalah dari pemedang sepertimu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“,,,katakan padaku, apakahpedang dan pistol masih mainan bagimu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih dengan tubuh yang terbakar dan tertebas, Agnes memutar pedangnya perlahan-lahan dan menarik keluar isi dada Richmon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka bukanlah mainan. Mereka adalah senjata. Tak seperti kalian, para ningrat, kami setidaknya mengasah taring kami. Matilah karena taring itu, Richmon.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Gop* Richmon memuntahkan darah dalam jumlah sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Dan perlahan-lahan jatuh ke tanah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan kembali menyeruak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes mengambil lentera yang dijatuhkannya tadi, dan dengan bersender pada tembk, dia perlahan berjalan tertatih-tatih. Tebasan diatas bagian yang terbakar begitu nyeri sehingga Agnes bisa jatuh setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Agnes terus berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tak bisa mati disini. Aku masih...masih...harus membunuh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
perlahan, langkah demi langkah, dengan pedang sebgai penopangnya dan masih berdarah-darah, Agnes menuju jalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan keluar terdekat dari terowongan rahasia di bawah tanah Tristania ini adalah...saluran air di Jalan Chicton. Begitu Agnes merangkak keluar dari sana dnegan menyeret badannya keluar, Penduduk kota langsung menjerit. Setelah menengadah memandangi matahari yang cemerlang...merasa beruntung karena bertahan hidup, Agnes pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3 hari kemudian...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dapur, Saito tengah mencuci piring sebagaimana biasa. *Don* Louise menubruk punggungnya. Karena hampir menjatuhkan piring, saito mengeluh, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih berhati-hatilah! jangan buat aku memecahkan piring!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Grr, Louise menatapnya tajam. Merasa lega, Saito memutar kepalanya. Sejak hari itu...Louise tak pernah bicara padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mencelanya, sejak saito akhirnya menceritakan segala yang terjadi selama bersembunyi bersa Henrietta di penginapan murah itu. Kecuali satu hal...ciumannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia hanya cemberut sekarang, tapi dia akan jdi serius kalau dia menyingkap soal ciuman itu. Lagipula, Keinginan Louise untuk memonopoli sangat kua. Dia mengamuk kapanpun Saito si familiar terpikat oleh gadis lain. Ciuman dengan Henrietta yang begitu dipujanya bakal lebih buruk lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise akan membunuhnya kalau dia tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karenanya, tak peduli bagaimanapun jua, Saito harus berusaha agar dia tak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...J-Jangan marah begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak marah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu mengapa kau tak bicara? Aku dan putri saling berpelukan karena tak ada pilihan lain. Kami tak ingin ditemukan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau tak melakukan hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai bersiul-siul saat mencuci piring-piring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dari sisi orang lain ini terlihat seperti pertengkaran antar pacar...mereka berdua berpikir sebaliknya. Saito melihat keirian Louise sebagai keinginan memonopoli familiarnya. Dan Louise sebagai Louise takkan mengakui perasaannya secara jujur. Jadi dengan begitu, hubungan keduanya masih berjalan di garis yang paralel. Apa ini akan terus begitu? Untuk saat ini, hubungan mereka masih berupa garis paralel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, di tempat dimana hubungan dua orang ini rumit sebagaimana biasanya, pintu terbuka dan dua tamu menunjukkan diri. Mereka mengenakan Tudung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai. Ada yang bisa dibantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat saat Louise melangkah pergi untuk mengambil pesanan, Salah satu tamu dengan tenang mengangkat tudung dan menunjukkan wajahnya pada Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Agnes!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes berbisik pada Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon siapkan kamar di lantai dua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika ini kau, maka ..yang lain...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“..Adalah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengangguk dan menyiapkan kamar tamu di lantai dua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang...Louise. Pertama-tama, izinkan aku menghatur terima kasihku padamu...” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata Henrietta sambil memandangi semuanya yang duduk di sekitar meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise, Saito, Agnes...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski Agnes luka parah, dengan bantuan mantra “Penyembuhan“ Henrietta, yang merupakan pengguna air, dia hampir sembuh seperti sedia kala. Namun, dia masih belum bisa mengenakan pelindung. Oleh karena itu, hari ini dia mengenbakan Kaos dalam yang dilapis dan celana tawar dengan sepatu laras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Info yang kau kumpulkan benar-benar berguna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa itu semua berguna bagimu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan hanya isu politik yang ada di gosip-gosip kota. Ada juga opini dan kritik warga. Meski dia tak bisa memikirkan soal itu semua, ternyata itu semua berguna bagi Henrietta...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan begini aku dapat melihat tanpa berpura-pura bagaiaman aku dipandang orang lain. Aku ingin mendengar kenyataan yang sesungguhnya. Meski mereka sakit bagi telinga...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari situ,  ada banyak kritik mengenai Henrietta. Meski Louise tak setuju, dia melaporkan segalanya apa adanya. Itulah mengapa Henrietta senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“AKu masih bau kencur, karenanya aku harus menerima kritik ini, karena ia penting untuk perkembangan masa depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise membungkuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“AKu juga perlu minta maaf. Aku minta maaf karena meminjam familiar sanmu tanpa izin dan tak menjelaskan situasinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“memang, jahat sekali kau mengabaikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata Louise datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak ingin kau terlibat terlalu dalam. Aku harus melakukan pekerjaan kotor menyebarkan jebakannya...untuk si pengkhianat...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hakin Istana Kerajaan adalah si Pengkhianat...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski Henrietta mencoba merahasiakannya...Rahasia itu sudah bocor kemana-mana. Berita Richmon yang jadi mata-mata Albion sudah jadi isu terkenal di kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memundurkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun, aku bukan anak-anak lagi. Aku bisa menyimpan rahasia Putri-sama. Dari mulai saat ini, mohon selalu beritahu aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta menganggu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Mari kita lakukan itu. Lagipula, orang-orang yang bisa kupercaya dari dasar lubuk hatiku...hanyalah orang-orang di ruangan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“familiar juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise berfikir. Mata Henrietta dan Saito bertemu untuk sesaat. Setelah itu, warna merah nan semu nampak di pipi keduanya, dan bersama-sama mereka menundukkan pandangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-ya...Sudah pasti begitu. Ah! Itu Benar! Kita masih belum berkenalan secara resmi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta mencoba mengubah topik, dan mengulurkan tangannya pada Agnes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini adalah Komandan Musketeerku yang terpercaya, Agnes Chevalier de Milan. Meski dia seorang wanita, dia menggunakan pedang dan pistol seahli lelaki. Dia juga menghukum tegas si pengkhianat yang mencoba kabur. dia berdiri tanpa takut melawan seorang penyihir hanya dengan sebilah pedang...seorang pahlawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“AKu bukanlah pahlawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes menepis pernyataan itu dan mengembalikan wajah cerianya lagi. Lalu dia berkata dengan nada halus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, kita tak perlu perkenalan. Aku sudah mengadakan hubungan semalam dengan Nona Vallière.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi Louise memerah, mengingat ciuman itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan seperti yang kalian kira!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah malam tak terlupakan, ya, kan, Nona Vallière?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata Agnes sambil tertawa. Ini membuat pipi Louise makin memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Malan yang tak terlupakan?” tanya Henrietta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan apa-apa, untuk menipu mata musuh, kami berpura-pura menjadi kekasih. Kami berciuman! Itu sangat lucu! Ahahahaha!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes tertawa senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi Louise makin memerah saja. Dia mengira Saito akan mulai mempermainkannya soal dia dicium oleh wanita. Tetapi, dia tak tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah mengapa, dengan aneh dia membuang pandangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menatap lurus henrietta. Dia juga tengah mempermainkan jemarinya tak terkendali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, ketika mata mereka bertemu tadi, mereka menundukkan wajah mereka. Sbuah ragu nan aneh...menyelinap ke hati Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah, ada beberapa hal lain yang harus dilakukan, kita harus bersiap pergi, Agnes.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Kupikir kita bakal minum-minum semalaman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengkhawatirkan lukamu..baiklah, Louise, aku minta kau untuk lanjut saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Henrietta buru-buru keluar kamar. Agnes, yang tampak kehilangan pegangan, mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saito juga bangkit dan mencoba keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu terburu-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menahannya. Merasakan firasat buruk. wajah Saito memucat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidah, ini, mencuci piring...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata Saito sambil menatap lurus kedepan. suaranya bergetar,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tersenyjm, namun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm, duudklah, tak apa-apa. Tinggallah disini hingga pagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menunjuk ke kasur. Saito duduk pelan-pelan. Apa yang tengah terjadi, apa dia tahu? Ciuman Putri..Tidak, pasti tisdak...Dia tak bisa begitu tenang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I-itu benar. Jika dia tahu, Louise takkan bersikap begini. Dia akan menginjak wajah Saito berulang kali sambil berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mencium Putri, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
namun dia tersenyjm. Mungkin dia benar-benar, tanpa modus tersembunyi, menunjukkan penghargaan pada kesialan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-ada apa? Kau begitu lembut secara aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, Terima kasih untuk kerja kerasmu akhir-akhir ini. Aku hanya ingin mewujudkan rasa terima kasihku. Itu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memberikan saito sebuah cangkir dan menungakan anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar, aku...hanya kecewa Putri tak membutuhkanku. Lalu 2-3 hari aku dalam suasana hati yang tak enak...soal ini dan itu. Tapi kini aku bersemangat lagi! Semuanya baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat itu, saito merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aaah, dia khawatir yang berlebihan...aku senang...Sepertinya dia benar-benar telah memancarkan lagi humor segarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.”Apa sulit untuk menjaga Sang Putri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menggenggam tangan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hingga tingkat tertentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa Louise begitu lembut? Ah, apa peduliku, aku tak pernah merasa begitu baik selama ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagaimana yang diharapkan dari Familiarku! Aku sangat bangga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai membusungkan dada&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu...gampang saja. Kami melakukannya bersama-sama...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetap saja itu hebat. Caramu hingga tiada yang bisa menemukanmu, kau pastinya menipu para pengejar, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Minum-minumlah yang banyak. Aku yang bertugas menjadi Majikan penyayang hari ini. Aku akan jadi pelayannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengatakan itu, dia mengisi ulang gelas dengan Anggur. Dipuji Louise begitu, kepercayaan diri Saito perlahan tumbuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saito sangat hebat! Saat dia ditemui tiba-tiba, di dengan cepat, dengan kehendaknya sendiri, berpura-pura jadi sepasang kekasih dan menipu mereka, kan? Kau seharusnya jadi aktor saja! Kau bisa jadi Pemain Utama Teater Kerajaan TanaiJiiru!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar! Kemenangan mudah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise melanjutkan dengan cara yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saito sangat luar biasa! Apa dia mencium Sang Putri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat itu, susana membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menyadari bahwa dia ditipu mentah-mentah. Jika kau ingin menarik keluar sesuatu dari rekanmu, pertama-tama, kau perlu membuatnya merasa tenang. Teknik yang Louise dapat di bar! Dia memakainya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Loui8se memakainya tiap hari, jadi keahliannya berkembang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“L-Louise, ini...K-kau...itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketegangan dalam kamar meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise lalu bangkit dan mengunci pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membalikkan badan, Louise berkata dengan nada cerah yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, anjing.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam satu tarikan napas, rasa mabuk dari anggur menguap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa aura gelap itu memancar dari bahu Louise?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa-apaan aura gelap ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anjing, ada yang salah? Jawab aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“W-woof!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam ini, “Anjing’ terdengar sangat berbeda. Ini berbeda. Bayangan neraka menusuk tiap tubuh Saito yang lumpuh. Rasa putus asa nan asam memenuhi mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Punten. Sihir atau kaki, mau yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dua-duanya tampak Ngeriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi memang harus mengerikan. Sekarang, putuskanlah, ayo buruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan jadinya.....ini akan jadi malam nan panjang....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat panjang. dan sebuah hari istirahat nan panjang juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila. aku bisa bertahan malam ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan aku harus mewaspadai semua gadis yang menyajikan alkohol mulai saat ini, pikir Saito.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5_Bab2&amp;diff=435041</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5 Bab2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5_Bab2&amp;diff=435041"/>
		<updated>2015-04-03T07:43:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 2: Pertempuran Dengan Api dan Pertemanan Dengan Angin==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yap, ini adalah Akademi Sihir Tristain. Liburan musim panas baru saja dimulai dan di dalam asrama, dua ningrat tengah menghabiskan waktu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah Kirche si &amp;quot;Ardent&amp;quot; dan Tabitha si &amp;quot;Badai salju&amp;quot;. Kirche tengah malas-malasan berbaring di kasur Tabitha dengan pose yang sangat tak sopan. Dia melepas seluruh kancing bajunya dan tengah mengipasi dada montoknya dengan tangan. Kirche memang menyukai panas tapi tak tahan hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tak bisa mengendalikan panas yang mendidih di ruang yang dipanggang matahari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei Tabitha, bisakah kau menghembuskan angin untukku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha mengayunkan tongkat panjangnya tanpa menoleh dari buku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berikan yang dingin. Yang bisa dinginnya menembus tulang, tepat seperti nama keduamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana diharapkan, ada es dalam anginnya. Angin bersalju itu langsung mendinginkan badan Kirche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahh-, rasanya enak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil minum dalam angin dingin Tabitha, Kirche membuka kemejanya. dia menyilangkan kakinya dalam sikap yang takkan pernah dilihat lusinan teman lelakinya yang menyembahnya bagaikan seorang dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menerawang ke arah Tabitha yang dari tadi membaca buku. Tabitha tak berkeringat setetes pun, seolah-olah menyatu sempurna dengan bukunya. &amp;quot;Mungkin nama keduanya &#039;Badai Salju&#039; mendinginkan badan dan juga pikirannya,&amp;quot; gumam Kirche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei &amp;quot;Badai salju&amp;quot;? Kau benar-benar suka membaca buku ya? Seperti protestan saja. Apa itu buku Protestan terkenal yang berjudul &amp;quot;Doktrin Praktis&amp;quot;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Doktrin praktis&amp;quot; merupakan kitab yang dibaca oleh sekte protestan, yang merupakan kitab tafsir dari &amp;quot;Buku Doa Sang Pendiri&amp;quot;, yang merekam amal dan ajaran Sang Pendiri, Brimir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski setiap versi &amp;quot;Buku Doa Sang Pendiri&amp;quot; mengklaim sebagai sebagai versi yang asli, isi mereka agak berbeda. Terlebih lagi, ada teori bahwa &amp;quot;Buku Doa Sang Pendiri&amp;quot; ditulis ratusan tahun setelah kejatuhan Brimir Sang Pendiri. &amp;quot;Buku Doa Sang Pendiri&amp;quot; yang telah diwariskan turun temurun oleh keluarga kerajaan Tristain bahkan tak ada tulisannya. Karenanya, banyak teologiawan menafsirkannya dengan cara yang begitu kabur sehingga meningkatkan kekuatan politik gereja Halkegenia dan mereka sendiri. Badan praktisi utama dari &amp;quot;Doktrin Praktis&amp;quot; dimulai di pusat agama negara Romania dan dibangun para jelata yang ingin mereformasi gereja-gereja korup yang mengeksploitasi masyarakat. Kejadian ini segera menginternasional.&lt;br /&gt;
 Ia menyebar dari para jelata da petani-petani, mereka melucuti kekuasaan dan tanah dari para pendeta, tapi tiada yang tahu&lt;br /&gt;
 jika perbuatan dan penafsiran mereka benar. Yang tahu jawabannya mungkin hanya Brimir Sang Pendiri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha menutup bukunya dan menunjukkan judulnya pada Kirche. Itu bukan buku agama, hanya sebuah buku penelitian seihir kuno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hanya membaca.&amp;quot; kata Tabitha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu. Bagaimanapun juga, kau tak mungkin seorang protestan. Ahh, hari ini benar-benar panas. SANGAT PANAS. Itulah mengapa aku mengundangmu untuk pergi ke Germania denganku. Disana jauh lebih sejuk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha membuka kembali bukunya dan melanjutkan membaca. Kirche, yang tahu situasi keluarga Tabitha, memutuskan mengundangnya ke Keluarga Zerbst, tapi Tabitha menolak pergi.  Tanpa pilihan lain, Kirche memutuskan untuk menemani Tabitha di Akademi. dia tak bisa meninggalkan Tabitha sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin cuma kita yang tinggal di sauna ini.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche berpikir untuk mandi di lapangan. Karena seluruh guru dan murid pergi dan pulang ke rumah, harusnya tiada bahaya para pengintip. tapi lalu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jeritan terdengar dari lantai bawah. Kirche dan Tabitha bertukar pandang secara kilat. Kirche segera mengenakan kemejanya dan meloncat keluar dari kamar dengan tongkat di tangan. Tabitha segera mengikuti di belakangnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah kamar di lantai bawah, sebuah pasangan lain tengah bertengkar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau pikirkan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Um, aku...aku pikir kini panas, dan aku hanya coba membantu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertengkaran terjadi antara Guicje dan Montmorency. Mengapa pasangan ini tak meninggalkan asrama untuk liburan musim panas?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, begitu. jadi itu maksudmu! &#039;Ayo buat ramuan sama-sama&#039; pantatmu! Aku seharusnya tak mendengarkan ocehanmu soal mampu membuat Ramuan terlarang apapun yang kaumau. Apa sih maumu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu tujuanku! Aku tak berdusta!&amp;quot;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau berpikiran yang tidak-tidak karena tidak ada orang, kan? Maaf saja, tapi aku takkan memberimu sejaripun hingga aku kawin!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche menggeleng-gelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan mendekat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bersumpah, aku pegang kata-kataku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche menaruh tangannya di dada. &amp;quot;Aku bersumpah demi Tuhan dan sang Pendiri bahwa aku, Guiche de Gramont tak melepas kancing Montmorency yang tengah tidur karena maksud kotor, melainkan karena benar-benar berpikir dia terlihat demam. Kau berkeringat begitu banyak sehingga aku khawatir kau akan dididihkan hingga mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah?&amp;quot; tanya Montmorency yang memandangnya ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Demi Tuhan.&amp;quot; jawab Guiche khidmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...kau ga kan melakukan yang aneh-aneh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, takkan pernah terpikir untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berfikir sesaat, Montmorency mengangkat roknya dan menunjukkan celana dalamnya sekilas. Karena Guiche menerjangnya seketika, dia berteriak sekeras-kerasnya. &amp;quot;Oh Tuhan! Pendusta! Dia seorang pendusta!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putih! Putih! Ia benar-benar putih!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan! Hentikan! Mohon Hentikan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah geje beberapa saat, pintu terbuka dengan sebuah dak. Kirche dan Tabitha masuk dan mata mereka beradu dengan mata Montmorency, yang baru saja didorong ke kasur oleh Guiche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...oh, kalian baru saja akan melakukannya,&amp;quot; desah Kirche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche, yang tiba-tiba jadi serius, bangkit, berdiri dan berkata dengan cara yang begitu tegas, &amp;quot;Oh, aku hanya... membereskan kerutan kemeja Montmorency.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengan mendorongnya ke kasur? Kirche mengejek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Membereskan kerutan,&amp;quot; ulang Guiche sekali lagi,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency berkata dengan nada dingin, &amp;quot;Sudahlah. Hanya itu yang ada di kepalamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche tersipu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche buka mulut dan berkata dengan sikap lelah. &amp;quot;Kalian berdua benar-benar pasangan murahan. Kalian tak harus melakukannya di asrama yang menyesakkan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami tak melakukan apapun!...dan akulah yang seharusnya bertanya apa yang kalian lakukan. Kini liburan musim panas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia tak seharga masalahnya bagi kami. Meski kini liburan, cape lho untuk nyebrang perbatasan hanya untuk itu, Jadi apa sih yang kalian lakukan sebenarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami tengah, um...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency memainkan jemarinya, karena dia tak bisa bilang dia tengah membuat Ramuan Terlarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pe-Penelitian sihir.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm, kau memang tengah melakukan semacam penelitian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Guiche yang ingin melakukannya! Otaknya mungkin tergoreng dalam panas ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan itu, Guiche yang dikritisi membengkokkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche membalas,&amp;quot;apa maksudmu dengan &#039;sepertinya&#039;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayo kita keluar. Tak mengherankan bila otak kita tergoreng disini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;hah? Kemana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ke kota sajalah. Kini liburan panjang, jadi mari bersenang-senang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar itu, aku juga ingin meminum yang dingin-dingin...&amp;quot; kata Guiche setuju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency, yang bahkan tak mau berfikir tentang apa yang bakal terjadi bila dia ditinggalkan sendirian dengan Guiche juga setuju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dinginkan kepalamu benar-benar saat minum yah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pasti, demi Tuhan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi, bagaimana dengan si kecil?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency menunjuk pada Tabitha. Kirche menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia ikut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau bisa tahu hanya dengan memandangnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bisa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Kirche seakan-akan itu sudah jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha lalu menutup bukunya, berjalan menuju jendela, lalu bersiul. Suara kepakan lalu terdengar. dalam sekejap, Tabitha meloncat keluar jendela, diikuti Kirche. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Montmorency mengitip keluar jendela, dia melihat naga angin Tabitha yang melayang disana. Kirche tengah menunggangi punggungnya dan tengah melambaikan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Buruan atau kami tinggal!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche dan Montmorency meloncat. Guiche yang duluan, mencoba menangkap Montmorency. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu Montmorency mulai menjerit-jerit soal &#039;jangan menyentuhku&#039; dan &#039;jangan menatapku&#039; untuk menggoda Guiche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi...aku hanya mencoba menangkapmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pikir apa yang kau sentuh, hah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kupikir kalian pacaran,&amp;quot; ucap Kirche terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok ini akhirnya tiba di kota benteng Tristain dan pergi ke sebuah jalan yang bercabang dari Jalan Raya Bulton. Kini matahari hampir terbenam. Di jalan-jalan yang mulai gelap, lampu-lampu sihir mulai mewarnai sekitarnya. Pemandangan sihir nan menyilaukan itu menciptakan suasana gembira yang menyelimuti jalan yang masih terasa kehangatan musim panasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Jalan raya Bulton adalah wajah depan Tristain, maka jalan Chicton adalah perutnya. Bar-bar merah dan perjudian-perjudian berbaris sepanjang jalan. Montmorency bermuka masam, tapi Kirche terus berjalan, tak mempedulikan semua itu. Sambil berjalan, mereka berrembuk soal bar mana yang akan didatangi. &amp;quot;Apa kau tahu soal bar-bar disekitar sini?&amp;quot; tanya Kirche pada Guiche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche menjawab sambil tersenyum,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Soal itu...Aku tahu satu yang bagus yang selalu ingin kudatangi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan yang aneh, kan?&amp;quot; tanya Montmorency begitu dia mendengar nada mencurigakan pada Guiche. Guiche menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia sama sekali tak aneh!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu, bar macam apa dia?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lihat kan? itu pasti bar yang aneh! katakan saja sejujurnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency mulai mencekik Guiche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ti-,tidak! hanya gadis-gadis dengan pakaian manis membawakan anggur untukmu...Ukh!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika itu tak aneh lalu apa yang aneh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kedengarannya menarik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya itu telah memetik kepenasaran Kirche. Dia menyarankan pada Guiche,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayo kesana, bar yang biasa akan terlalu membosankan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;APA?&amp;quot; Montmorency protes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa wanita Tristain tak punya kepercayaan pada diri mereka sendiri? Membuatku sakit.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Kirche mengatakannya dengan cara yang begitu menghantui, Montmorency tiba-tiba bangkit dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini hanya karena anggur akan terasa hambar bila kita membiarkan wanita rendahan menuangkannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi karena Guiche, yang telah didukung Kirche mulai berjingkrak-jingkrak menjauh, Montmorency tak meniliki pilihan selain ikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei! Tunggu! Jangan tinggalkan aku disini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat datang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu mereka memasuki bar, seorang lelaki tinggi yang memakai baju leather menyambut mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, apa kalian baru? Lebih banyak lagi wanita ningrat! Betapa indahnya ini! Betapa très bien! para gadis dalam bar akan iri! Aku sang pemilik, Scarron. Mohon nikmati hari kalian!&amp;quot; katanya sambil membungkukkan badannya. Meski dia tampak aneh, dia memuji mereka sehingga kini suasana hati Montmorency membaik. dia menyisir rambutnya dengan tangan dan berkata dengan jelas, &amp;quot;Bimbing kami ke meja terbersih&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tiap meja dalam bar ini digosok untuk bersinar bagaikan istana Paduka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron membimbing mereka ke salah satu meja. Bar itu tampak ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti rumor yang dihembuskan, gadis-gadis dengan pakaian yang menggoda membawakan anggur dan makanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche, yang sudah melihat-lihat dengan penuh semangat, akhirnya dijewer oleh Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mereka duduk di meja, seorang gadis berambut blonde pink datang untuk mengambil pesanan, tapi untuk alasan tertentu, buru-buru menutupi wajahnya dengan sebuah nampan. Sekujur tubuhnya gemetar perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau menyembunyikan wajahmu?&amp;quot; kata Guiche kecewa. Tanpa menjawab, dia menanyakan pesanan lewat geraknya. Hanya dengan melihat tinggi dan warna rambut si gadis, Kirche cepat menyadari sesuatu dan, untuk pertama kalinya pada musim panas ini, sebuah senyuman sangat besar tersungging di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi, apa anggur rekomendasimu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu menunjuk sebuah anggur yang telah disajikan pada meja lainnya, sebuah anggur Gernew yang cukup tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu Kirche berkata dengan nada terkejut, &amp;quot;Ah, Familiar-san apel dengan seorang gadis!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu muncul dari balik nampan dan menatap sekeliling ruangan dengan mata tajamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua di grup kecuali Kirche berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menyadaris seringai lebar di wajah Kirche dan menyadari bahwa dia telah ditipu, dan sekali lagi menyembunyikan wajahnya dengan nampan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sudah terlambat La Vallière.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bukan Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata Louise dengan suara bergetar. Kirche menarik lengan Louise dan membaringkannya di atas meja. Kirche mencengkram lengan kanan, Guiche yang kanan, Tabitha mencengkram kaki kanan dan Montmorency memegang yang kiri. Louise yang tak bisa bergerak menghadap ke samping dan berkata dengan nada bergetar,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bukan Louise! Lepaskan aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Beneran deh, apa sih yang kau lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise takkan menjawabnya. Tlek! Kirche menjentikkan jarinya dan Tabitha melantunkan mantra. Dengan kekuatan angin, Tabitha melilitkan udara disekitar Louise dan mengendalikannya. Louise diloncatkan ke atas meja dan berpose seiza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-, Apa yang kau lakukan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menjentikkan jarinya sekali lagi. Tanpa suara, Tabitha mengayunkan tongkatnya. Massa udara yang mengendalikan Louise menjadi jari-jari yang tak terlihat, dan mulai menggelitiki badan Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahahaha! hentikan! Ini geli! Hentikan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi, Atas dasar apa kau kerja disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku takkan bilang! Ahahaha!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jari udara itu terus menggeletiki Louise tapi dia takkan mengaku. Perlahan-lahan badannya melayu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Anak mulut gembok. Kau menyembunyikan banyak hal akhir-akhir ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau mengerti...tinggalkan saja aku sendiri...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Akan dilakukan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche mengambil menu dengan acuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cepatlah, segera pesan sesuatu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini,&amp;quot; kata Kirche menunjuk menu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak mengerti, yang mana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya...pertama-tama, semua yang tertulis di menu ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Huh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menatap Kirche, hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bawakan saja semuanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar-benar kaya...betapa irinya aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche lalu mengatakan pada Louise,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, tentu saja ini traktiranmu. Aku akan sangat senang menerimanya, La Vallière-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Jangan bermulut manis! Mengapa aku harus menraktirmu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ataukah aku harus bilang pada seisi sekolah bahwa kau kerja disini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menjatuhkan rahangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau bilang itu...Aku...aku akan membunuhmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun, aku tak ingin mati. Jadi bisakah kau cepat-cepat membawa semuanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menjatuhkan bahunya dengan sedih dan menghilang ke dapur sambil memukul-mukul barang di jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche berkata sambil menggelengkan kepalanya,&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar-benar wanita jahat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menjawab dengan senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan salah paham, aku hanya tak menyukainya. pada dasarnya kami musuh...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche memotong bicaranya dan memperbaiki jubah Tabitha yang berantakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Beneran deh, Kau seharusnya memperbaiki kebiasaan mengacak rambut dan jubahmu saat kau melantunkan mantra. Wanita adalah tentang penampilan dan kepintaran adalah yang kedua.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menyisir rambut tabitha bagaikan seorang kakak memperhatikan adiknya atau ibu mengkhawatirkan putrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche memandangi Tabitha. Mengapa wanita Germania ini memercayai Tabitha dan hanya Tabitha? pikir Guiche. Meski kini musim panas, keduanya tak pulang dan tinggal bersama di sekolah. Apalagi, mereka tampak berhubungan dengan telepati. Mungkin ini karena tabitha jarang bicara, tapi mereka dapat mengerti satu sama lain hanya dengan bertukar pandang dan sedekat saudara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi...Guiche mengorek-ngorek ingatannya.  Mereka tak sedekat ini ketika pertama kali masuk. Aku tak yakin karena aku terlalu sibuk bermain-main dengan gadis-gadis tapi bukankah mereka memulai sebuah pertarungan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Guiche ingin menanyakannya, sekelompok pelanggan baru masuk bar. Mereka ningrat yang tampan. Mereka mengenakan topi dengan nrim lebar yang dihiasi bulu nan elegan dan tongkat sihir berbentuk pedang yang menonjol dari jubah. Tampaknya mereka adalah petugas dari Tentara Kerajaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka kemungkinan telah berlatih sepanjang hari; Mereka datang tak peduli sekelilingnya dan mulai melihat-lihat meja yang kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para petugas mulai ngobrol tentang gadis-gadis dalam bar. Gadis yang berbeda-beda menuangkan anggur tapi tiada yang tampak memuaskan para petugas. Seorang petugas menyadari kehadiran Kirche dan mengedipkan mata padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah itu seorang gadis ningrat? Wanita yang bisa bersama kita harus membawa sebuah tongkat sihir bersamanya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar! Ini adalah istirahat yang diberikan Paduka yang jarang terjadi, pada kita petugas tentara kerajaan. Kita  tak bisa mendapati seorang jelatan yang menuangkan anggur kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengatakan itu, mereka dengan ributnya merundingkan siapa yang akan pergi dan menjemput para gadis. Sepertinya Kirche terbiasa dengan hal-hal semacam ini dan terus minum dengan tenang, tapi Guiche merasa tak nyaman. Dia berusaha menempatkan dirinya dalam posisi dimana dia seharus melindungi para gadis, tapi tak bisa tegas di hadapan para ningrat yang merupakan petugas tentara kerajaan. Dia kemungkinan dihajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya keputusan soal siapa yang pergi berbicara keluar. Salah satu ningrat berdiri. Dia seorang pria ganteng yang baru lewat 20 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan penuh percaya diri, dia memainkan kumisnya dan membungkuk secara elegan pada Kirche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami adalah para petugas dari resimen navaaru. Kami terpanah keagungan kecantikanmu dan ingin sekali mengundangmu pada meja makan kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menjawab tanpa memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maaf, tapi aku tengah menikmati waktu bersama teman-temanku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman-teman si petugas mulai berhuu-huu. Jika dia ditolak sekarang, itu akan melukai harga dirinya. Dia mencoba membujuk Kirche dengan kata-kata penuh antusiasme. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku memohon padamu untuk menarik itu. Mohon berkahi kami saat kebahagiaan yang tak memiliki apa-apa selain peperangan tak termaafkan yang menunggu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja Kirche mengayunkan tangannya, menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si ningrat kecewa, dan kembali kepada teman-temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak terkenal diantara wanita,&amp;quot; ujar seorang petugas. Tapi pemuda itu menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau dengar aksennya? Dia pasti wanita Germania. agak mencurigakan sebagai seorang ningrat, jika kau tanya aku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi kudengar wanita Germania benar-benar gatelan. Jarang-jarang ada wanita dengan sikap yang tegas begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin seorang protestan hingga kaki!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini sebagian karena alkohol, tapi para petugas mulai mengejek Kirche. Guiche dan Montmorency saling memandang dan menanyai Kirche apakah dia ingin meninggalkan bar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi kita disini duluan,&amp;quot; ucap Kirche sambil berdiri. Rambut panjangnya tampak menyala bagaikan inferno nan liar. Pelanggan dan pelayan lainnya serta yang lain  yang menonton seluruh kejadian menjadi hening.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, jadi kau sudah berubah pikiran dan memutuskan menemani kami?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya tapi tidak dengan gelas...tapi dengan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menghunus tongkat sihirnya dngnan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pria terjatuh dari kursi saking berlebihannya tawa mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan pernah mencoba, gadisku. Kami adalah para ningrat dan takkan menghunus tongkat sihir kami pada wanita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kalian takut pada wanita Germania?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&amp;quot;Tak mungkin!&amp;quot;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pria terus tertawa keras-keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maka aku akan membuat kalian menghunus tongkat kalian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche mengayunkan tongkatnya. Bola api sejumlah para petugas muncul dari ujung tongkatnya dan langsung membakar bulu hiasan pada topi petugas. Bar bergolak. Kirche bangkit dan membungkuk pada hadirin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pria yang menjadi bahan tertawaan langsung bangkit berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nona, lelucon ini sudah keterlaluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah? tapi aku selalu sungguh-sungguh. Dan, bukankah kalian yang mengundangku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami mengundangmu untuk minum, bukan untuk bertarung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maka bisakah aku bertarung dengan kalian para pria yang mengejekku hanya karena aku tak menerima tawaran minum kalian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Udara bar membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah seorang petugas berbicara dengan tegas,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gadis asing, apa kau tahu Kebijakan Tak Bertarung? Di bawah perintah paduka, kami dilarang bertarung. Tapi kau seorang asing. Selama kita sepakat, kami bisa melakukan apa saja padamu. Apa kau berbicara dnegan mengetahui ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ningrat di Tristain kepanjangan lidahnya. Jika ini Germania, duel sudah berakhir sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka tak bisa mundur setelah dipermainkan seperti ini. para petugas saling memandang dan salh satu dari mereka meremas brim topinya dan berkata, &amp;quot;Pilih lawanmu, kau berhak untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kirche tak mengubah air mukanya. Tapi ada kemarahan yang bergelagak di dalam. semakin Kirche marah, semakin tenang dan santun dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebagaimana yang kau katakan, wanita Germania sangat gatal, jadi aku akan melawan kalian semua.&amp;quot; Tepukan terdengar dari bar untuk kata-kata berani Kirche. Wajah para petugas marah padam karena marah oleh hinaan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&amp;quot;Kami adalah ningrat tapi juga tentara di saat bersamaan. Saat dihina, saat ditantang, kami takkan menahan diri meski lawan adalah wanita. majulah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ningrat menunjuk keluar dengan dahu mereka. Guiche gemetaran di bawah tekanan ini. Montmorency terus minum anggur, seakan itu bukan urusannya. Louise berkata soal bagaimana si wanita bodoh itu masuk kedalah masalah tak perlu lagi dan bersembunyi di dapur. Saito tak beruntung karena menjadi korban kemarahan Louise pada Kirche dan pingsan karena nyeri yang ditimpakan Lousie padanya; jadi dia tak bisa menengahi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jadi, yang bangkit adalah tabitha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;kau tak usah khawatir. duduklah, ini akan berakhir seketika.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Tabitha menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku berhutang padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau merujuk pada kejadian di danau Ragdorian? Tak apa-apa. Aku melakukannya karen akeinginanku sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Tabitha dnegan jelas mengucapkan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berhutang satu padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu sudah lama sekali.&amp;quot; Kirche tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berpikir untuk sesaat tapi akhirnya memutuskan menyerahkannya pada temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang terjadi? Ketakutan? Kami akan memaafkanmu jika kau meminta maaf sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meski Kau masih harus menuangkan minum untuk kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;kau beruntung bila ini berakhir hanya dengan kau menuangkan minum.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para petugas tertawa. Kirche menunjuk pada Tabitha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;maafkan aku, tapi dia bahkan lebih ahli dariku. dia bahkan punya gelar Chevalier.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
para petugas memasang wajah ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha baru saja berjalan menuju arah masuk bar dnegan tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ada diantara kalian yang memiliki gelar Chevalier?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para petugas membengkokkan kepala mereka karena tak percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;maka dia seharusnya lebih dari sekedar lawan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Kirche selesai berbicara, dia duduk di kursi seakan tugasnya sudah selesai. Para petugas, yang tak bisa mundur, mengikuti tabitha keluar bar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa dia akan baik-baik saja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya Guiche. kirche terus saja meminum anggurnya dnegan elegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gadis itu tak pernah lupa pada janji tua semacam ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gumam Kirche bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di luar, Tabitha tengah menghadapi para petugas pada jarak 10 langkah. Disekitar mereka, penghuni kediaman berkumpul tapi dengan menjaga jarak mereka. Sebenarnya, meski Kebijakan Tiada Pertarungan berlaku, ia tak menghentikan seluruh pertarungan antar-ningrat. Pertarungan semacam ini terjadi setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun...lawan dari kelompok dari tiga petugas tentara kerajaan adalah seorang gadis muda yang masih kecil. Kombinasi ini menarik perhatian para penonton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Teman-teman, lawan kami adalah seorang anak. Setelah ini orang-orang akan mengata-ngatai kita penggojlok. Kehormatan kita akan hancur tak peduli kita menang atau kalah. Apa yang seharusnya kita lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang termuda diantara mereka menjawab pertanyaan lelaki yang mengundang Kirche dnegan &amp;quot;Mengapa tak biarkan dia duluan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria yang sedari tadi diam kini berkata dnegan nada senang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah, mendidik anak-anak adalah tanggung jawab yang dewasa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chevalier? dia pasti bercanda. Tak mungkin gadis kecil begini diberikan gelar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia seorang anak, dia tetap seorang ningrat. Kami tak bisa memaafkan dusta semacam ini. Apalagi mengejek seorang petugas tentara kerajaan, itu tak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha hanya berdiri tenang disana dengan tongkat di tangan kanan. Tiada yang bisa dibaca dari ekspresinya. Sepertinya kerumunan maupun ketiga petugas tak bisa mengoyak emosinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gadis kecil, hunus tongkatmu lebih dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata ningrat yang tertua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para penonton menahan napas dan menonton mereka penuh perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha hanya mengayunkan tongkatnya sedikit, seperti waktu dia membuat angin untuk mendinginkan Kirche. Pertarungan berakhir seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu para pelanggan melihat Tabitha kembali masuk bar, mereka memberikannya selamat nan meriah yang bercampur kekaguman dan keheranan. Ada keributan besar di luar. hanya karena satu pukulan dari &amp;quot;Palu Udara&amp;quot; raksasa, sebuah palu dari udara termampatkan, Tabitah menerbangkan para petugas ke sisi lain dari jalan dan meng-KO mereka. Seorang pelanggan dengan malu-malu mengintip keluar jendela dan melihat seorang petugas sudah sadar dan menyeret dua yang lain pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau mengagumkan meski kau kecil!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski bar dipenuhi applaus, Tabitha hanya membalikkan sebuah lembar di bukunya, tak memedulikan itu semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menuangkan anggur kedalam cangkir Tabitha dnegan wajah smug.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mari bersulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche menanyai Kirche karena dia kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Um, Kirche?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kalian berdua snagat dekat? Kalian berdua seperti saudara.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;kami hanya berteman.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi mereka berlawanan satu sama lain. Apalagi...Guiche menata kembali apa yang diingatnya tadi. Keduanya telah melakukan pertarungan seperti ini diluar begitu mereka masuk sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;apakah kalian selalu sedekat ini? Apa yang terjadi di antara kalian? Ceritakan padaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini juga menimbulkan rasa penasaran Montmorency dan dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang terjadi? Ceritakanlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menatap tabitha, tapi Tabitha diam saja. Namun Kirche mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia berkata aku bisa berbicara soal itu jadi aku akan melakukannya. Ceritanya ga seheboh itu juga kok.&amp;quot; Kirche mengambil segelas penuh anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menenggaknya habis, dan mulai menceritakan dengan mata mengantuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche memasuki Akademi sihir begitu musim semi, pada bulan keempat, minggu kedua bulan Feoh, di tengah-tengah minggu Heimdallr.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Upacara masuk diadakan di Aula Alvíss . Disana, setiap tahun, 90-an siswa baru akan dibagi menjadi tiga kelas. Anak-anak dari keluarga aristokrat, yang dikumpulkan dari sluruh daerah, telah menunggu Kepsek osman dengan wajah tegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Osman, yang memimpin para guru, muncul di lantai kedua dan memandangu para siswa di lantai bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Para siswa, kalian dari Tristain...Argh!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Osman, melebarkan lengan dan kakinya, telah meloncat dari terali lantai 2, bersiap untuk mendarat di sebuah meja di lantai 1. Di udara, dia mengayunkan tongkatnya untuk menggunakan &amp;quot;Melayang&amp;quot; untuk mendarat dengan aman, tapi gagal. Dia telah menua; waktu untuk melantunkan mantra memanjang dan dia langsung jatuh ke meja. Aula dipenuhi keributan begitu para guru meloncat turun untuk membantunya berdiri. Osman telah melakukan sesuatu dengan buruk dan seseorang harus menyembuhkannya dengan sihir air. Dia melanjutkan, tanpa sedikitpun tanda malu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semuanya, Jadilah Aristokrat yang akan mendukung Helkeginia di masa depan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata yang berani. Semuanya mulai bertepuk tangan, karena kasihan pada Osman yang berusaha keras menjaga harga dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kerumunan..Ada seorang gadis cantik yang menonjol bahkan diantara para ningrat. Itu Kirche, yang bergelar &amp;quot;Ardent&amp;quot;. Mengeluarkan uapan besar begitu melihat Kepsek nan ceroboh, dia berfikir apakah dia membuat kesalahan dengan melamar kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, bagi Kirche, yang telah meninggalkan Akademi Sihir Vindobona di ibukota Germania...Tiada pilihan lain, selain pergi ke sebrang untuk belajar. Orang tuanya di Zerbst berencana menikahkan Kirche, yang bermalas-malasan disekitar rumah setelah meninggalkan sekolah, pada seorang Marquis tua. Kirche, yang tak memiliki keinginan untuk menikah saat itu, meninggalkan negaranya ke Tristain untuk mencari perlindungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melakukannya tak sadar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak muda, begitu dia menyukai sesuatu, dia akan melakukan segalanya untuk mendapatkannya. Jika seorang protes, dia akan membungkamnya dengan keahliannya, &amp;quot;Api&amp;quot;. Alasannya di-DO, &amp;quot;insiden&amp;quot; yang terjadi di Germania, adalah hasil dari aspek kepribadiannya ini..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepribadian yang kau tumbuh dengannya adalah hal yang sulit diubah. Bahkan di Tristain, cara arogannya tetap mekar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali ke sini, di sebelah kirche, duduk seorang gadis berambut biru nan mungil. Dibandingkan dengan Kirche sang dewi kecantikan, pemilik tubuh iblis, tubuh gadis ini bahkan belum mencapai puber. Dia memang hanya seorang anak kecil. mata jade deibelakang kacamata masih membawa tanda-tanda anak-anak. Meski dia pergi ke Upacara Masuk , matanya tetap terbuka lebar, tenggalam dalam membaca buku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa alasan, Kirche mulai sebal dengan sikapnya. bagi Kirche, anak baik yang senang belajar adalah sasaran yang bagus untuk digojlok.  dia berkata dengan nada rendah, &amp;quot;Apa yang kau baca?&amp;quot; dan merebut buku itu. Gadis itu hanya melihatnya dengan mata yang mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata dalam buku terlalu berat untuk Kirche, dia tak mengerti apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa-apaan ini...&amp;quot;Pengaruh Kekuatan Angin pada Atmosfer dan Akibatnya&#039;? Apaan nih kata-katanya. Apa kau bisa menggunakan sihir tingkat tinggi ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu tak menjawab, hanya mengulurkan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, jika kau minta bantuan seseorang, kau seharusnya memberikan namamu, apa orang tuamu tak pernah mengajarimu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, ini bukan meminta bantuan, ini hanya mencoba mengambil kembali apa yang telah direbut...Gadis itu termenung sesaat, dan mengatakan namanya..&amp;quot;tabitha&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;apaan itu? apa semua orang di Tristain memakai nama yang aneh-aneh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche hampir berguling-guling di lantai dalam tawa. Guru yang bertugas membagi kelas menatapnya tajam, tapi Kirche mengabaikannya dan terus tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha menatap kirche dengan mata dingin. Rantai yang membawa takdir orang tuanya...untuknya telah dihina oleh seseorang. Saat itu, Kirche sama sekali tak melihat perubahan mata tabitha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis dengan rambut blonde-stroberi, yang tak bisa lagi menahan diri, langsung bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gadis di sebelah sana! Sesuatu yang penting tengah diumumkan sekarang! mengapa kau tak menutup mulutmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kemungkinan telah menolerir arogansi Kirche sejak tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa kau? aku  Louise Françoise Le Blanc de la Vallière. Sungguh mengejutkan ada orang sepertimu yang masuk sini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;la Vallière?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche memandangi wajah Louise dengan senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mohon bantuannya. Aku Kirche von Zerbst, tetanggamu. Sebuah keistimewaan untuk bertemu denganmu disini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ini, Sekujur Tubuh Louise mulai gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-A-Apa yang kau katakan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, mohon bantuannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche tetawa penuh daya tarik. Seorang guru yang melihat mereka gemetaran karena amrah berteriak pada ketiganya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semuanya DIAM!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;OK.&amp;quot; sambil mengatakan itu, Kirche kembali ke kursinya. Tabitha merebut bukunya dari tangan Kirche dan menatapnya tajam dari sudut matanya, bibirnya ditekan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setiap tahun dibagi dalam tiga kelas, yang merupakan nama 3 santo legendaris,  Suen, Iyer and Seger. Kirche dan tabitha di Suen, Louise di Iyer, sementara Guiche dan Montmorency di Seger.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan kejutan besar di upacara masuk, Kirche diabaikan oleh gadis-gadis lain di kelasnya. Daya tarik liar gadis Germania, dengan dada aduhainya, membuat hormon di udara tak bisa disumbat. dalam sekejap, semua lelaki di kelas telah doimilikinya. ini membuat gadis-gadis Tristain, yang sangat terkenal karena sifat irinya, terbakar dengki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepribadiannya adalah salah satu alasan mengapa dia tak disukai. Bahkan di Germania, Tanah Api itu sendiri, Kirche didiamkan karena arogansinya. Kepribadiannya hanya memperparah perasaan orang-orang Tristain, yang menyembah kehati-hatian sebagai keagungan, dengan cara yang salah. Dalam jangka waktu yang begitu pendek, dia sudah menggoda tiga pemuda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua alasan. Pertama, ketiga dari mereka adalah yang lebih tampan di kelas. Kedua, dan yang lebih penting...Dia begitu bosan.Pertama, pandangan menggoda dilemparkan ketika di aula. Kedua, membusungkan dadanya ketika berpura-pura tersandung. Ketiga, menyilangkan kakinya di hadapan mereka.hanya dengan itu, ketiganya sudah meminta Kirche untuk bersama mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menerima permintaan mereka meski dia menerima panggilan secara bersamaan. Dia pergi bersama ketiganya tanpa menyembunyikan apapun, sehingga ketiganya segera terlibat dalam pertarungan.Di akhir dari pertarungan tersebut, lelaki ketiga muncul sebagai pemenang. Tepat ketika dia akan menghadiahi dirinya sendiri dengan akhirnya mendapatkan Kirche hanya untuk dirinya, Kirche menemukan yang keempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis-gadis yang tertarik dengan pemuda-pemuda ini membentuk sebuah aliansi untuk berunding dengan Kirche. Kirche, yang barus saja menemukan yang ke-5 dan ke-6, dan sekali lagi men-tiga, meng-huh-kan saja usaha gadis-gadis malang tersebut.&amp;quot;tak tahukah kapan kau harus berhenti? Berapa banyak lelaki yang kau inginkan sebelum kau bahagia?&amp;quot;&amp;quot;Siapa tahu, aku tak tahu.&amp;quot;Kata Kirche sambil duduk di kursi dan memoles kukunya.&amp;quot;jangan berpura-pura!&amp;quot;&amp;quot; Aku tak melakukan apapun. Mereka menemukanku atas usaha mereka sendiri, berkata &#039;Kirche, ingin datang ke kamarku untuk minum,&amp;quot; atau &#039;aku telah menuliskan sebuah puisi, ingin mendengarnya,&#039; yah seperti itulah.&amp;quot;kata Kirche, meniru para pemuda.&amp;quot;Selalu seperti itu, aku cukup kesal juga, jadi aku harus menerimanya, dalam bahasa kalian &#039;Oui&#039;. Apa aku mengejanya dengan benar?&amp;quot;Sikapnya membuat dengki para gadis langsung meroket ke tingkat yang baru.&amp;quot;Dengar. Ini Tristain, diaman kami menghargai adat dan tradisi, tak seperti negara barbarmu. bahkan dalam cinta ada cara-cara yang patut, Seorang gadis desa nan abai yang bahkan tak tahu itu seharusnya pulang saja!&amp;quot;&amp;quot;Jika kau benar-benar perhatian tentang cintamu, mengapa tak menguncinya di kamarmu?&amp;quot;&amp;quot;Apa katamu?&amp;quot;&amp;quot;Aku hanya bingung. Jika kau punya waktu untuk mengiri, mengapa tak membujuknya untuk tinggal? Jika kau menyukainya kau seharusnya memujinya sedikit. Yang kalian semua tahu hanyalah bagaimana memasang wajah marah, kalian bahkan tak tahu bagaimana mengatakan hal-hal yang membuat pria bahagia, kan?&amp;quot;&amp;quot;Itu tugas pria!&amp;quot;&amp;quot;Kalau aku sih tak begitu, jika aku menginginkan seseorang, aku akan memujinya sebanyak mungkin, kalau tidak, aku akan menjadi sangat sedih.&amp;quot;&amp;quot;Jangan memeprlakukan kami seperti orang tolol!&amp;quot;&amp;quot;bagaimanapun, kalian semua bisa tenang. Meski aku mengikuti filosofi &amp;quot;Lakukan apapun untuk mendapatkan apa yang kumau,&amp;quot; Aku takkan pernah mengambil apa yang paling penting bagi seseorang.&amp;quot;Pembohong! Bukankah kau mencoba menggenggam para pacar kami dengan tangan kotormu?&amp;quot;Kirche memutar pandangannya perlahan pada gadis-gadis yang mengelilinginya.&amp;quot;Bagi kalian, itu bukan hal paling penting, kan?&amp;quot;&amp;quot;Apa katamu?&amp;quot;&amp;quot;Jika ia merupakan hal yang begitu penting, kalian takkan membentuk sebuah tim untuk berunding denganku. kalian akan menggulingkan kepalaku dari bahu dari dulu, atau apakah aku salah?&amp;quot;para gadis yang iri tak bisa berkata apa-apa.&amp;quot;...Er...&amp;quot;&amp;quot;Aku belum ingin mati. Makanya aku takkan mengambil apa yang paling berharga dari seseorang.&amp;quot;Para gadis telah dipukul oleh sikap Kirche dan mulai saling memandang satu sama lain.Dengan itu, pacar Kirche terus bertambah, tapi dia tak bisa membuat satu jalinan pertemanan. Namun Tabitha  juga tak lebih baik.Tabitha jarang berbicara pada siapapun. Entah itu waktu istirahat atau makan siang, kelas dimulai atau berakhir, bahkan dalam asrama atau tempat-tempat ramai. Dia tak mengatakan apapun pada siapapun. Pendiam, dengan wajah pencemas dunia pada mukanya...hanya membaca. Tak peduli siapapun yang mencoba bicara kepadanya, Tabitha mengabaikan mereka. Tak hanya mengabaikan, dia bahkan tampak mengabaikan keberadaan mereka.karena ini, Tabitha menjadibahan ejekan. Untuk alasan tertentu, dia menolak memberitahu nama belakangnya, jadi muncul isu-isu bahwa dia seorang penjahat.Saat dimana dia benar-benar membakar kedengkian seluruh kelas adalah pada saat kelas pertama mereka.Tabitha, yang dikira sebagai kutu buku biasa, ternyata adalah seorang Penyihir &amp;quot;Angin&amp;quot; jagoan. Ini baru diketahui saat pelajaran sihir &amp;quot;Angin&amp;quot; pertama.pak Quito adalah penanggung jawab kelas &#039;Angin&amp;quot;. kata-kata pertama dari mulutnya adalah,&amp;quot;Siswa-siswa tahun ini begitu menyedihkan.&amp;quot;Ketaksenangan langsung terpancar dari wajah para siswa, yang berkumpul di Lapangan Pusat.&amp;quot;Melihat rekaman sekolah kalian, hampir semuanya adalah penyihir &amp;quot;Titik&amp;quot;, hanya sedikit yang &amp;quot;garis&amp;quot;. bahkan tiada yang &amp;quot;segitiga&amp;quot;. Ada apa ini?&amp;quot;Titik dan segitiga mengacu pada jumlah elemen yang bisa dipakai. &#039;Titik&#039; berarti satu elemen, &#039;garis&#039; berarti dia bisa memadukan dua. Meskipun ia merupakan elemen yang sama, selama ia bisa dipakai, sebuah mantra kuat dapat tercipta.&amp;quot;Aku mutlak tak punya harapan untuk kalian semua, tapi ini perkerjaanku, jadi kuteruskan.&amp;quot;Setelah Pak Quito selesai berbicara dengan nada rendah, kelas dimulai. Kemampuan dasar &amp;quot;Angin&amp;quot; adalah &amp;quot;terbang&amp;quot; dan &amp;quot;melayang&amp;quot;.namun...Tabitha mulai menunjukkan kemampuannya mulai saat itu.dia adalah yang pertama terbang begitu tinggi menggunakan mantra &amp;quot;terbang&amp;quot;. Meski untuk menghindari perhatian, dia sengaja tak menggunakan seluruh kekuatannya. Pak Quito rada bingung.&amp;quot;Untuk seorang penyihir &#039;titik&#039;, itu cukup bagus.&amp;quot;karena tak mengetahui kemampuan Tabitha yang sebenarnya, tak salah bila dia mengatakan itu.Untuk alasan-alasan tertentu, satu-satunya yang tahu kekuatan tabitha yang sebenarnya adalah Kepsek Osman. Terlebih lagi Pak Quito belum melihat rekaman siswa-siswa pertukaran.&amp;quot;Tak peduli bagaimanapun juga, kalian semua kalah dari gadis termuda di kelas. tidakkah kalian malu?&amp;quot;karena perkataan Pak Quito itu, seluruh kelas mulai marah.Saat istirahat setelah makan siang, seorang lelaki meminta Tabitha untuk berlatih dengannya.latihan seperti ini pada dasarnya sama dengan bertarung. Karena ini Latihan, tiada kemungkinan untuk kehilangan nyawa, setidaknya tidak pada masa ini. Di masa lalu, tersiar kabar bahwa memberikan lawanmu coup de grace adalah cara ningrat, tapi masa para pahlawan ini sudah menghilang menjadi sejarah. Metode modern adalah dengan menggunakan mantra-mantra dengan ancaman nyawa yang kecilm dan sekali seseorang terluka, pemenangnya sudah diputuskan. Meski ada kejadian dimana ada jari yang patah, ini lebih aman daripada mempertaruhkan nyawa, mencuri tongkat lawan merupakan cara paling elegan untuk menang.Pemuda yang menantang tabitha bernama de Lorraine. terlahir di keluarga yang terkenal dengan sihir &amp;quot;Anginnya&amp;quot;. dia merupakan salah satu dari penyihir &#039;garis&#039; elit angkatan mereka.Dia menyimpan dendam karena dikalahkan di &amp;quot;terbang&amp;quot; oleh seseorang tak dikenal seperti tabitha. Dia suka menyombongkan diri bahwa tiada yang bisa bertanding dengannya dalam sihir &amp;quot;angin&amp;quot;, dan ingin mendapatkan kesempatan untuk membalas tabitha.Sambil berjalan menuju tabitha yang tengah membaca di Lapangan pusat, dia mendeklarasikan perang,&amp;quot;Nona, aku menginginkan instruksimu dalam sihir &#039;Angin&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika tabitha tak menjawab apapun, de Lorraine mulai marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;melanjutkan membaca saat seseorang menantangmu, apa itu tidak keterlaluan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha tetap tak menjawab. Perkataan de Lorraine melewaqti telinganya, tak terdengar, seakan ia hanya suara hembusan angin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi, untuk ini, kau tak punya keberanian. Itu tak terlalu sulit dimengerti. apalagi, ini mempertaruhkan nyawa! sangat berbeda dengan terbang dan meloncat-loncat di dalam kelas!&amp;quot;Tabitha terus membalikkan halaman bukunya. Ejekan De Lorraine tak berefek apapun pada gadis bermata jade ini.&amp;quot;Heh!&amp;quot;De Lorraine mendengus, dan tersenyum mengejek.&amp;quot;Jadi, sepertinya isu bahwa kau seorang bajingan benar. Aku takut kau bahkan tak tahu siapa ibumu. Untuk mendengki seseorang yang begitu hina sepertimu akan merusak reputasi keluargaku!&amp;quot;Begitu dia habis berkata begitu dan hendak pergi, tabitha akhirnya bangkit berdiri. Jika Kirche melihatnya sekarang, mungkin dia akan merasakannya. Didalam mata jade yang tak bernyawa itu, sebuah angin beres berhembus.&#039;Apa kau akhirnya serius?&amp;quot;tabitha menyimpan bukunya di bangku, dan berputar, berjalan menuju daerah terbuka.tabitha dan De Lorrain berdiri saling menghadap dalam jarak sekitar 10 meter.&amp;quot;Meski aku tak mau memberikan namaku untuk seorang bajingan sepertimu, ini adalah prakterk umum. Aku, Verrieres de Lorraine, akan menjadi lawanmu.&amp;quot;Tabitha tak memberikan namanya.&amp;quot;Adalah sangat menyedihkan untuk tidak memiliki nama untuk disebutkan, bahkan pada saat seperti ini! Aku takkan menunjukkan ampun! En guarde!&amp;quot;  Teriak De Lorraine, dan ulai melantunkan mantra, &amp;quot;Gebrakan Angin &amp;quot;. Dia hendak menerbangkan Tabitha dalam sekali pukul. Tabitha dan menyiapkan kuda-kuda, dan hanya bersiap dalam hening untuk menahan angin yang tampak akan menerbangkannya.Apa yang tengah terjadi? Dia sama sekali tak hendak mengambil kuda-kuda persiapan. &#039;Gebrakan Angin&amp;quot; De Lorraine adalah mantra yang kuat, sebuah mantra untuk membalasnya akan memakan waktu untuk dilantunkan.Apakah ini karena dia tak pernah latih-tanding seperti ini sebelumnya, atau karena dia begitu ketakutan oleh mantra De Lorraine...apapun alasannya, waktu telah habis.Tepat ketika De Lorraine merasa kemenangan sudah di tangan...tabitha mengangkat tongkatnya, dan bagaikan membersihkan sarang laba-laba dari hadapannya, mengayunkankannya secara acak. Sebuah kata diucapkan, dan dengan itu saja, tabitha sudah mengendalikan seluruh arus udara di sana.Penyesuaian aliran udara ini mengubah arah mantra de Lorraine, mengembalikannya pada pemantranya,De Lorraine diterbangkan ke tembok oleh anginnya sendiri. Tanpa memberikannya waktu, Tabitha langsung memantra lagi, Uap air di udara membeku jadi es, berubah jadi panah es, yang menuju de Lorraine,&amp;quot;Ah!&amp;quot;Dengan suara &amp;quot;Duk&amp;quot; yang jelas, panah es tersebut menancapkan de Lorraine ke tembok pada jubah dan bajunya. Dia membeku ketakutan oleh kekuatan yang baru kali ini dia lihat selama hidupnya. &amp;quot;Angin&amp;quot;, apa mungkin bisa sekuat ini? Sebuah panah es raksasa terbang menuju de lorraine yang tertancap dari depan.&amp;quot;Aku akan mati! selamatkan aku!&amp;quot;Dia berteriak secara refleks. panah itu, setebal tangannyam berhenti di depan matanya, Ia lalu mulai mencair, menjadi genangan.Pada saat yang sama, panah-panah yang menahan tubuhnya di tembok pun mulai mencair.De Lorraineyang baru terlepas gemetaran tak terkendali. Di kakinya, sebuah genangan mulai terbentuk, bukan dari panah esyang mencair, tapi dari cairan lain. Dari antara kedua kakinya, cairan mengalir, membentuk genangan air sesuhu suhu tubuh. Dia bertekuk lutut.Sambil melemparkan tongkatnya dan memohon, &amp;quot;Mohon ampuni aku,&amp;quot; dia merangkak pergi.Kaki kecil Tabitha tiba-tiba mengisi pandangannya, membuatnya begitu ketakutan sehingga dia mundur. Tabitha berdiri disana memandangnya dari atas, ekspresinya tetap sama.&amp;quot;Ampuni aku! biarkan aku hidup! L-latih tanding hanyalah sebuah permainan! Pertarungan dimana kau mempertaruhkan nyawa hanyalah sejarah lama1&amp;quot;kata De Lorraine, bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya tadi. tabitha memunculkan sebuah tongkat.&amp;quot;Biarkan aku pergi! jika kau biarkan aku hidup, aku akan melakukan apapun yang kau katakan!&amp;quot;Tabitha menunjuk tongkat di tangannya, dan hanya berkata,&amp;quot;Kau lupa ini.&amp;quot;itu tongkat yang dilemparkan de Lorraine.Itu adalah alasan mengapa Kirche dan Tabitha  dibenci isi kelas yang lain...Kirche khususnya oleh gadis-gadis yang dicuri pacarnya, dan Tabitha oleh de Lorraine, yang telah dikalahkan begitu telak.De Lorraine mengajukan suatu rencana pada para gadis.Ketika mendengarnya, para gadis bertepuk tangan dan setuju. Mereka akan menjaga identitas mereka dari ketahuan dan akan mengurus dua gadis yang paling dibenci dalam kelas mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pesta dansa penyambutan bagi siswa baru diadakan pada akhir minggu kedua, minggu Heimdallr, bulan Ur. Karena tajuk utama pesta ini adalah siswa baru, kakak-kakak kelas menghiasi aula dan menghibur para siswa  baru sebagai tuan rumah.Meja-meja terisi hidangan yang khusus dipersiapkan untuk menyambut perut siwa-siswa baru. Kakak-kakak kelas yang berpakaian istimewa tengah mendiskusikan adik-adik kelas mana saja yang akan diundang berdansa.Tak perlu dikatakan lagi bahwa orang yang paling menarik perhatian adalah si siswa asing dari Germania, Kirche.Pada dasarnya, para siswa baru masih tak terbiasa dengan kegiatan sosial, jadi gerakan dansa, atau rasa keindahan mereka masih rendah, shingga mereka belum pantas jadi rekan dansa para kakak kelas. Namun, siswa Germania ini, yang sangat &amp;quot;hidup&amp;quot; dalam sektor sosial pada seluruh aspek adalah kasus lain. Dia memiliki daya tarik seks yang kuat, kecantikannya  menyerupai sepetik bunga yang mengeluarkan bau  nektar nan manis. Topik obrolan siswa-siswa senior terfokus pada siapa yang bakal mengundang siswi baru ini untuk berdansa.Dan, saat Kirche -yang mengenakan gaun hitam nan seksi yang menonjolkan dada mekarnya, rambutnya ditata menjadi gaya yang terkenal di jalalanan, dan mengenakan kalung Rubi yang menyimbolkan sedikit panas-muncul, seluruh lelaki di sana berdesah emosional. Desahan menyebar bagai riak, dan dalam sesaat, Kirche telah menangkap mata seluruh orang di sana.Begitu melihat penampilan Kirche, wanita-wanita lainnya disana membuang pandangan mereka, dan mulai mencari-cari kesalahan pada pakaian dan gaya rambutnya. Ini karena keadaan dimana seorang wanita sing menarik seluruh perhatian membuat mereka tak senang.Para lelaki senior mengelilingi Kirche, semuanya mencoba mengundangnya berdansa. Kirche menunjukkan wajah bangga, dan menyipitkan matanya seperti seorang ratu yang sombong.Begitu Kirche mengambil gelas anggur, akan ada seseorang yang menuangkkan anggur untuknya. kapapnpun dia menggigit sepotong keju, akan ada seseorang yang membawanya sebuah piring dengan daging. Jika dai bercanda, semuanya akan tertawa sepenuh hati. Tiap gerakan Kirche menarik mata semua orang disana.Musik telah dimulai. Kirche memilih seorang bangsawan sebagai rekan dansanya. Dia siswa tahun kedua nan tinggi dan tampan. Si tampan ini menunjukkan sebuah senyuman seperti patung nan sempurna, dan mencium punggung tangan Kirche yang diulurkan padanya. Siapapun bisa berkata dengan mudah bahwa keduanya adalah sorotan hari ini.Ada sekelompok orang di kursi mereka di tempat yang agak jauh, menonton ini dengan mata sedingin es.Mereka adalah orang-orang yang hendak membalas dendam pada Kirche dan Tabitha. Salah satu dari mereka, yang menyembunyikan cinta untuk siswa tahun kedua yang tampan itu, menggigit sapu tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena marah.&amp;quot;Ah~~Apa itu! Berani-beraninya dia mendekati Pellison-sama...&amp;quot;Ucap Thonet Charante pelan, pemimpin kelompok pendendam ini, sambil menyibakkan rambut abu-abunya.&amp;quot;Lihat saja. Kami akan mempermalukanmu tepat dihadapan semuanya...&amp;quot;Setelahnya, dia mengirimkan sebuah sinyal pada De Lorraine. Dia sedang bersembunyi di belakang tirai pada sudut aula, menunggu-nunggu saat ini tiba.Dia mengikuti skenario yang dia latih sebelumnya, dan mulai melantunkan sebuah mantra sambil menunjuk tongkatnya pada Kirche.Kirche tengah berpegangan pada seorang siswa tahun kedua dan berjalan kedalam aula, saat tiba-tiba, sebuah topan kecil menyelimuti tubuhnya.&amp;quot;Apa ini?&amp;quot;Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, topan itu mulai berputar dan berpilin, membuat gaunnya terlilit.&amp;quot;Huh? Oh?&amp;quot;Pisau angin nan kcil dan tak terhitung banyaknya memotong rok dan pakaian dalam Kirche, merobek mereka jadi serpihan.&amp;quot;Waaaaahhhhhhhhhhhhhhh!&amp;quot;Yang menjerit bukan Kirche, tapi seorang gadis yang berdiri di dekatnya. Selain dari sepatu di kakinya, Kirche bagaijkan seorang yang baru lahir, mematung berdiri di pusat aula, telanjang.Siswa tahun kedua yang seharusnya bersama Kirche mendapat mimisan, dan ambruk setelah kehilangan sekolam darah, Seluruh lelaki disana, termasuk para guru, semuanya menatap lurus pada Kirche, bagaikan menelannya bulat-bulat. Sedangkan par wanita yang tak senang dengan Kirche, meski mereka mengeluarkan sesuatu mirip desahan kasihan para kejadian tiba-tiba ini, mereka tetawa dalam hati, merasakan perasaan tak senang   mereka teralirkan.Namun...Kirche tak panik karena kecelakaan tak beruntung ini, dan malah, membawakan sikap ratunya disitu.Dia tak menutupi tubuh berwarna perunggunya, yang memberikan daya tarik liar, sama sekali. Dia berjalan ke arah dinding, terlihat sangat alami, dan duduk di sofa disana.dan dibawah tatapan siswa-siswa, dia menyilangkan kaki, bergumam seperti &amp;quot;sekarang lebih sejuk&amp;quot;. Pada saat ini, sang tersangka, De Lorraine bersikap biasa dan berjalan kesana.&amp;quot;Bencana yang luar boiasa.&amp;quot; katanya sambil memberikan jubahnya pada Kirche.&amp;quot;Siapa sih...yang melakukan ini...&amp;quot;kata De Lorraine, membuang pandangannya dari tubuh Kirche yang sangat dibanggakan. Dia tak bisa menolong wajahnya yang memerah.&amp;quot;Pada dasarnya aku bisa agak-agak menebak siapa.&amp;quot;Kirche menatap sekelompok gadis di sudut jauh. Mereka melihat ke arah sni, menyeringai sambil saling berbisik.De Lorraine menempatkan mulutnya di sisi telinga Kirche.&amp;quot;Erm...aku melihats eseorang yangs epertinya pelaku di bayang-bayang tirai...&amp;quot;Kirche menggunakan mata penuh curiga untuk menatap De Lorraine.&amp;quot;Oh...Benarkah?&amp;quot;&amp;quot;Ya. Jika aku mengatakan padamu siapa itu, apa kau akan kencan denganku?&amp;quot;De Lorraine mengulangi naskah yang disiapkan sebelumnya. Kebanyakan karena Thonet Charente berargumen sangat kuat bahwa, dengan menanyakan ini, Kirche sepertinya lebih bakal percaya pada apa yang akan dikataknnya.Kirche mempelajari De Lorraine perlahan-lahan. Dia memiliki wajah yang terlihat rada kaku...Dia termasuk jenis yang. meski pede dengan pelajaran dan sihir mereka, mutlak tak tahu soal hubungan pria-wanita. Sepertinya dia mungkin secara rahasia jatuh cinta padanya?Kirche  memberikan senyuman nan menawan. Merendahkannya, dia berpikir sendiri: Apa ini? jadi orang ini hanya pengagum rahasia diriku yang lain. Untuk orang-orang yang sangat-sangat narsistik, mata mereka yang seharusnya melihat kebenaran cenderung mudah dibatakan dengan mudah juga.&amp;quot;Pasti, jadi ceritakan padaku.&amp;quot;De Lorraine menceritakannya kepada Kiche dengan pelan.&amp;quot;...pelakunya gadis yang kecil. Dia tengah memandangmu dan mengayunkan tongkatnya, jadi kupikir pasti dia.&amp;quot;&amp;quot;Jadi, siapa dia?&amp;quot;&amp;quot;Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas.&amp;quot;De Lorraine tampak malu begitu dia menambahkan.&amp;quot;Yeah, setelahnya, perhatianku tertuju padamu, dengan gaunmu yanhg menjadi sepihan kain. Adalah setelah itu kupikir ia mungkin pelaku semua ini. Tapi saat aku menoleh lagi, dia tak lagi disana.&amp;quot;&amp;quot;Oh...Apakah ada sesuatu padamu yang bisa bertindak sebagai bukti?&amp;quot;De Lorraine mengambil sehelai rambut dari kantongnya. Sehelai rambut biru.&amp;quot;Warna ramhbut ini sangat tak biasa.&amp;quot;&amp;quot;Yang memiliki rambut dnegan warna itu seharusnya tak banyak.&amp;quot;De Lorraine mengangguk.&amp;quot;Terima kasih, kupikir aku tahu siapa dia.&amp;quot;Kirche mengatakannya begitu pelan, memandang sekitarnya dan...matanya berhenti pada seorang gadis kecil yang memakai kacamata. Anak itu, namanya Tabitha kan?De Lorraine, yang kini berdiri disebelahku, bukankah dia pernah bertarung dengannya? Karena Kirche tak tertarik dengan hals emacam ini, dia hanya mendengarkan sedikit dari apa yang terjadi.&amp;quot;Bukankah kau pernah bertarung dengannya?&amp;quot;&amp;quot;Ya.&amp;quot; angguk De Lorraine. &amp;quot;Meski memalukan, aku kalah sangat telak.&amp;quot;&amp;quot;Begitu yang kedengar. Alasan pertarungannya?&amp;quot;&amp;quot;Karena dia sangat tak hormat padaku, aku berkata: &#039;Aku berandai-andai bagaimana ibumu.&#039; Seperti yang kau tahu, gadis itu punya nama yang aneh kan? Diapasti menyembynyikan kelahiran yang memalukan. Tepat saat aku mengatakannya, dia tiba-tiba bertindak, itulah mengapa aku kalah darinya.&amp;quot;De Lorraine berdusta.Kirche memiringkan kepalanya dan berpikir soal itu.Kirche mengoloknya sedikit saat upacara masuk , apa mungkin itu alasannya? lagipula, dia tampaknya mengolok nama Tabitha sebelumnya.Dia menyipitkan matanya dan menatap Tabitha, wajahnya menunjukkan sebuah senyum dingin.Melihat ini, De Lorraine berfikir bahwa rencananya tampak berjalan mulus,  dia tak bisa menolong dirinya yang menyeringai dalam hati.Kirche tampaknya teryakinkan...Tabitha menyimpan dendam padanya karena mengolok namanya, dan ingin membalas dendam.Alasan Thonet Charente menyuguhkan ide ini pada De Lorraine adalah akrena dia ingat bahwa sebelumnya pernah ada gesekan antara Kirche dan tabitha selama upacara masuk, jadi dia menggunakannya untuk rencana ini.Pagi setelahnya...Kirche berjalan masuk kelas dan duduk di sebelah Tabitha. Tabitha sendiri membaca bukunya tanpa bergerak. Kirche mengambil inisiatif dan merebut bukunya.Tabitha memandang pada Kirche, mata biru itu yang tetap tak memperbolehkan orang lain mendeteksi emosi apapun di dalamnya bersinar dengan cahaya yang nyata.&amp;quot;Kau...cara balas dendam yang kau dapat benar-benar cerdas.&amp;quot;Tabitha tak menjawab.&amp;quot;Apakah sebegitu tak termaafkannya untuk mempermainka namamu?&amp;quot;Tabitha memiringkan kepalanya, memandangi Kirche, dia tampak tak mengerti bahwa Kirche menceritakan kejadian itu.Kirche melemparkan serpihan-serpihan gaunnya pada Tabitha.&amp;quot;Ini sangat mahal.&amp;quot;Tabitha menggunakan jarinya untuk menggosok kain tersebut, dan memandanginya sebentar.&amp;quot;Aku ingin kau menderita penghinaan yang sama, apa kau menerimanya?&amp;quot;Tabitha menggelengkan kepalanya, bagaikan mengatakan &amp;quot;Aku tak mengerti apa yang kau katakan.&amp;quot;&amp;quot;Berhentilah berpura-pura, kau ahli sihir &amp;quot;angin&amp;quot; kan? Aku aslinya benci angin, tapi kini aku semakin membencinya. Seseorang sepertimu, yang mengyelinap ke sudut gelap untuk melepaskan sebuah topan...Itu sangat mengganggu!&amp;quot;&amp;quot;Itu bukan aku.&amp;quot;Dengan keadaan yang sudah begini, Tabitha akhirnya buka mulut.&amp;quot;Sekarang sudah sampai segininya, dan kau masih ingin bersikap tak bersalah?&amp;quot;Rambut Kirche menari bagai api. Dia menunjukkan senyum tak terpaksa dan mengatakan dengan nada tenang.&amp;quot;Ingat ini, seharusnya tak perlu waktu lama bagiku untuk membuatmu mengingatnya.&amp;quot;Dengan itu, Kirche bangkit dan berjalan kembali ke kursinya.Thonet Charante dan De Lorraine menyelinap dan bersembunyi di salah satu sudut kelas untuk menguping pembicaraan mereka; setelahnya, mereka bertukar pandang, dan diam-diam tersenyum.Mereka memicu bagian kedua rencana mereka dengan sangat cepat.Setelah sekolah hari itu, Tabitha kembali ke rumahnya, hanya untuk menemukannya dalam keadaan mengerikan. Kamarnya terisi bau dan buku terbakar, yang selama ini merupakan satu-satunya teman Tabitha, dan lemari buku untuk menyimpan mereka terbakar seluruhnya menjadi abu. Tabitha mengambil sisa-sisa dari salah satu buku yang terbakar. Halaman di dalamnya terbakar menjadi abu, dan terbang ke bawah, jatuh ke lantai.Tabitha menggigit bibir keras-keras. Dia menggunakan mata tak bernyawanya untuk melihat sekeliling, dan menemukan sehelai rambut yang jatuh ke kasurnya. Dia mengambilnya dan dengan lampu kerosen dalam kamarnya, dia melihat rambut merah panjang yang bersinar dengan nafsu.Deidalam mata biru Tabitha, sebuah angin dingin nan keras mulai berhembus.Pada larut malam, ada sebuah ketukan di pintu Kirche.Kirche sangat marah soal menyajikan tubuhnya secara gratis di pesta untuk dikagumi seluruh siswa dan guru di sekolah, dia menanyai orang diluar: Siapa?&amp;quot;&amp;quot;Ini aku.&amp;quot;Itu suara Tabitha. Sisi bibir Kirche terangkat dengan sikap tegas, menampakkan senyum kejam yang takkan pernah ditunjukkan kepada orang lain. Dia membuka pintu kamarnya.Tabitha yang memegang tongkat besar di tangannya berdiri di luar.&amp;quot;Kau akhirnya ingin menyelesaikan segalanya sekali ini dan untuk selamanya?&amp;quot;tanya Kirche, sambil melihat gadis ini yang tingginya hanya sedada dia dari atas. Tabitha tak menjawab, dan hanya menggunakan mata dinginnya untuk menatap Kirche.Matanya memberikan jawaban yang jelas pada pertanyaan Kirche.&amp;quot;Tempat?&amp;quot;Kirche bertanya sekali lagi.&amp;quot;Dimanapun bisa.&amp;quot;&amp;quot;Waktu?&amp;quot;&amp;quot;Sekarang.&amp;quot;&amp;quot;Bagus.&amp;quot;Kirche mengambil tongkatnya, dan berjalan pergi sebelum Tabitha.di pusat Lapangan Vestri yang jarang ada orang bahkan di siang hari, Kirche dan Tabitha membalikkan badan untuk saling berhadapan. Sepertinya hanya bulan yang menjadi hadirin mereka.Namun...Ada penonton lainnya yang bersembunyi di belakang semak-semak ataupun dalam bayang-bayang menara. Mereka adalah De Lorraine, dan gadis-gadis yang mencari balas dendam, dengan Thonet Charante sebagai pemimpin mereka. Dan Thonet Charante adalah pelaku yang menyelinap ke kamar Tabitha dan membakar lemari bukunya.Mereka berpuas diri atas kesuksesan rencana mereka. Mereka ingin melihat hasil akhir, jadi mereka menyelinap kesini, sembunyi-sembunyi, di belakang Tabitha dan Kirche.Kegelapan diam-diam menyelimuti udara dingin nan lembab di malam musim semi.Tabitha mengangkat tongkat ke hadapannya.&amp;quot;Pertama-tama, aku ingin meminta maaf. Terkait soal menghina namamu...aku tak punya niat buruk. Sebagaimana yang kau lihat, ini hanya kepribadianku~aku cenderung secara tak sengaja membuat marah orang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha menempatkan tongkat besarnya menghadap tanah, dan bersiap melantunkan mantra kapapnpun jua.&amp;quot;Tapi, aku tak pernah mengira kau akan membuatku merasakan penghinaan seperti itu, jadi aku takkan main-main denganmu.&amp;quot;namun, Kirche menyadari bahwa Tabitha masih sangat kecil. Meski dia benar-benar marah, tapi untuk bertarung dengan gadis sekecil dia...Apa ini benar? Kecamuk kecil ini muncul sayup-sayup di hatinya.&amp;quot;Jangan ambil aku sebagai penggoda biasa dan meremehkan kemampuanku. Aku adalah Zon Verbst dari Germania, kau sudah mendengarnya, kan?&amp;quot;Tabitha mengangguk.&amp;quot;Maka kau seharusnya tahu isu-siu soal keluargaku di medan perang. Keluargaku ramai dan bebas bagai api, tapi tidak hanya itu. Kami akan dengan gembira dan bebas membakar apapun menjadi abu. Dan tidak hanya musuh kami...bahkan pihak kami sendiri yang tak mematuhi kami.&amp;quot;Tabitha memandangi Kirche tanpa gerak, wajahnya tampak berkata: &amp;quot;Terus kenapa?&amp;quot;&amp;quot;Hal yang paling kubanggakan adalah api Zerbst yang mengalir dalam tubuhku. Jadi selama ada sesuatu yang menghalangi jalanku, tak peduli apapun itu, aku akan membakarnya jadi abu. Bahkan bila itu adalah raja kami...Atau seorang anak, mereka semua sama.&amp;quot;Tabitha mulai melantunkan mantra. Sepertinya ancaman Kirche tak berefek apapun pada Tabitha.&amp;quot;Aku sudah memperingatkanmu.&amp;quot;Kirche mengayunkan tongkatnya. Karena beratnya latihan militer yang diterimanya, saat dia serius, kecepatan lantunnya lebih cepat dari siapapun.dari ujung tongkatnya, muncul bola api, bukan yang biasa dari ukuran maupun kekuatannya, dan terbang menuju Tabitha. Tabitha merubah mantranya seketika, membuat sebuah tembok es tepat dihadapannya.Sebuah tembok es tebal menahan bola api Kirche...dan meleleh jadi air. Tapi tembok es ini tak mampu sepenuhnya menahan bola api Kirche, menyebabkan rambut Tabitha terbakar oleh pecahan api.Tabitha melompat ke belakang dan berubah dari bertahan menjadi menyerang. Dia membuat uap air di udara berkondensasi jadi es, dan mengirimkan panah es pada Kirche dari seluruh arah. Dia juga serius, dibandingkan dengan saat dia memaku De Lorraine ke tembok, kini jumlah panah esnya tiga kali lebih banyak...semua langsung menuju Kirche.Kirche mengayunkan tongkatnya. Api berputar menyelimuti tubuhnya, menyalut panah es nan tajam, dan melelehkan mereka sepenuhnya. Tapi salah satu panah es yang belum meleleh sepenuhnya menggesek pipinya.Setetes darah segar menetes dari pipi Kirche.Namun...Baik Kirche maupun Tabitha berhenti setelah itu...Serangan dari kedua belah pihak diakhiri disana.Keduanya menurunkan tongkat mereka, dan saling menatap.Kirche menggunakan lidahnya untuk menjilat darah yang mengalir dari pipinya.Tabitha juga menggunakan tangannya untuk memeriksa rambutnya yang terbakar.De Lorraine yang tengah bersembunyi di semak-semak menanyai Thonet Charante yang berada di sampingnya, yang tengah menahan napasnya untuk menyaksikan pertarungan.&amp;quot;...Apa yang teengah berlangsung? Apa ini sudah selesa?&amp;quot;&amp;quot;...Bagaimana kutahu. Ampun dah, teruskanlah pertarungannya. Belum ada hasilnya, kan?&amp;quot;Mengapa Tabitha dan Kirche berhenti bertarung setelah saling melepaskan satu serangan? De Lorraine dan Thonet Charante tak bisa mengerti alasannya sama sekali.&amp;quot;Pusing deh...sepertinya ini memang salah pengertian.&amp;quot; kata Kirche, merajuk.Perkataan lepas ini membuat De Lorraine dkk makin bingung. Kini bukan waktunya membuat ceramah yang begitu kepas, kan? Mereka seharusnya bertarung, mempertaruhkan nyawa mereka, kan?Tabitha tampaknya memiliki pendapat yang sama dengan Kirche, dan mengangguk.Setelahnya, dia berjalan mendekati Kirche, dan menyerahkan buku yang terbakar pada Kirche. Kirche melihatnya dengan seksama, menggelengkan kepala, dan berkata.&amp;quot;Aku tak melakukan ini.&amp;quot;Tabitha mengangkat kepalanya dan memandangi Kirche. Kirche tersenyum tipis, dan menepuk bahunya.&amp;quot;walah, kalau ada sesuatu yang kuinginkan, aku akan merampoknya, tapi aturanku adalah &#039;tidak merebut apa yang paling berharga dari seseorang&#039;.&amp;quot;Tabitha membuka mulutnya untuk berkata.&amp;quot;Mengapa?&amp;quot;&amp;quot;Karena, jika aku merebutnya, akan menyebabkan keadaan dimana aku harus membahayakan nyawaku, bukankah hal semacam itu sangat mengganggu?&amp;quot;Kirche tertawa gembira.Tabitha, dipimpin Kirche, menampakkan senyuman kecil.Kirche tampaknya menyadari senyum itu, dan berkata pada Tabitha.&amp;quot;Kau lebih manis bila tersenyum seperti ini.&amp;quot;Setelahnya, Kirche mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Beberapa bola api kecil ditembakkan ke langit seperti kembang api, menerangi sekelilingnya seakan kini pagi.De Lorraine dkk yang bersembunyi dalam gelap langsung terlihat dalam cahaya.&amp;quot;Hi! Hiiiiii!&amp;quot;&amp;quot;Kalian...Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&amp;quot;T-tidak, hanya jalan-jalan!&amp;quot;&amp;quot;Jalan-jalan? Itu untuk nanti saja. Yap, untuk penghinaan yang kuderita berkat kau...Aku ingin &#039;membayar&#039;mu.&amp;quot;Para gadis dan De Lorraine hendak lari, tapi kaki mereka diikat erat oleh tali angin tabitha.Kirche mendekati De Lorraine yang terjatuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;M-M-Mengapa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau mencoba bertanya mengapa kami menyadarinya?&amp;quot;De Lorraine mengangguk-angguk berkali-kali seakan dia memiliki kram.&amp;quot;Dengarkan baik-baik, apa kau pernah dengar ungkapan &#039;Yang kuat akan mengenali yang kuat?&#039; Saat kau menjadi &#039;Kelas segitiga&#039; seperti kami, kau akan bisa mengerti tingkat sihir yang diarahkan padamu. topan yang merobek gaunku di pesta, bila dibandingkan dengan panah es yang digunakan anak ini sekarang, meski mereka sama-sama sihir &amp;quot;angin&amp;quot;, kekuatan sihirnya jauh berbeda!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hi! Hi! Hiiiii!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar istilah &amp;quot;Penyihir Segitiga&amp;quot;, Semua yang terjatuh ke lantai begitu ketakutan sehingga mulai gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku dan tabitha menyadari kami berdua penyihir segitiga; itulah mengapa kami menurunkan tongkat kami. Jika terbakar oleh apiku, bagaimana mungkin masih ada buku yang mempertahankan bentuk aslinya? Ingat baik-baik, &amp;quot;apiku&amp;quot; akan membakar semuanya &#039;jadi abu&#039;.&amp;quot;De lorraine berusaha bangkit untuk kabur. Tabitha hendak melantunkan sebuah mantra, tapi Kirche menghentikannya.&amp;quot;Biarkan aku saja.&amp;quot;Tabitha menggelengkan kepalanya.&amp;quot;Apaan buku-buku itu! Aku akan menjadi temanmu menggantikan bukumu! Tapi penghinaan diriku...Aku tak bisa mendapatkan gantinya. Jadi, aku akan membalas dendam untukmu juga, tonton sajalah!&amp;quot;Sesuatu yang hangat termanifestasi dalam hati Tabitha. Sejak dia meninggalkan namanya, ini adalah kali pertama seseorang mengatakan sesuatu seperti &amp;quot;menjadi temanmu&amp;quot;.Kalimat ini...tampaknya telah membuat badai yang mengamuk dalam hatinya perlahan-lahan meleleh...Tabitha merasakan itu.&amp;quot;Aku berutang satu padamu.&amp;quot;Tabitha mengatakannya sambil mengangguk.Suaranya begitu lembut...Dia terdengar sedikit malu-malu, dan tampaknya ada sedikit kebahagiaan dalam nadanya. Memiliki seseorang dimana dia bisa berhutang budi, ini membut Tabitha sangat senang tanpa tahu mengapa.&amp;quot;Baiklah, kau kini berhutang padaku. Kau sebaiknya membayarnya di masa depan!&amp;quot;Kirche menggunakan suara nan tenang dan sikap khidmat untuk memulai pelantunan mantra. Sebuah bola api terbang kepada De Lorraine dkk, yang tak tahu harus lari kemana.Ratu api mengirimkan lebih banyak bola api secara berurutan, tindakannya tampak seakan dia tengah menari, nadanya seakan dia tengah bernyanyi dengan riang...Semakin Kirche marah, semakin dingin ucapannya, dan semakin tenang sikapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengarkan cerita masa lalu mereka, Montmorency tampak sulit menerimanya dan berkata,&amp;quot;Jadi perkara dengan De Lorraine dan rambut serta pakaian Thonet Charante yang terbakar, juga digantung sungsang di menara, dilakukan olehmu!&amp;quot;&amp;quot;Benar sekali&amp;quot;, Kirche mengangguk gembira, mengakuinya.Pagi setelahnya, saat De Lorraine dan Thonet Charante diselamatkan dari menara, mere bersikeras bahwa mereka memanjat untuk menggantung sungsang secara sukarela. Tapi kebenaran dibalik perkara itu? tiada yang tahu. Sepertinya mereka diancam oleh Kirche.Guiche mengangguk keras setuju&amp;quot;Dengan begitu, ketika sekarang Tabitha berkata &amp;quot;berutang satu padamu&amp;quot; sebagai alasannya, dan bertarung menggantikanmu...adalah karena kau membalas dendam untuk Tabitha juga?Kirche mengangguk.&amp;quot;Ya.&amp;quot;Louise, yang awalnya menyajikan makanan dan anggur, dan Saito, yang sedang mencuci piring-piring di dapur, telah bergabung dengan kelompok di meja, dan mendengar sekenanya.Louise, yang mengenakan vest yang bertali bahu dekat dan rok, menggunakan nada acuh untuk bilang.&amp;quot;Tapi, waktu itu kau hanya hendak menghukum De Lorraine dkk sendiri, jadi kau mencuri kesempatan Tabitha membalas dendam karena keinginanmu kan? Jadi ada apa hingga dia berutang satu padamu?&amp;quot;&amp;quot;kau bisa bilang begitu juga.&amp;quot;&amp;quot;Kau benar-benar keterlaluan.&amp;quot;Guiche mengekspresikan pandangannya denagn nada tak tertolong.&amp;quot;Aku, benar-benar...&amp;quot;&amp;quot;Benar-benar apa...?&amp;quot;&amp;quot;Benar-benar berkeinginan kuat...mungkin itu kejadiannya?&amp;quot;Kirche menggelengkan kepalanya dan menggerutu, kesal. Semuanya mendesah dalam-dalam. Jadi orang ini tak pernah menyadarinya!&amp;quot;kau tak perlu menggantikan tempat wanita ini untuk pertarungan itu, kan? Berdasarkan apa yang dikatakannya sendiri....Sebagaimana yang tadi dikatakan Louise, kau tak berutang apapun padany.&amp;quot; kata Montmorency pada Tabitha, yang tengah membaca sebuah buku.Tidak----Tabitha menggelengkan kepalanya menolak komentar Montmorency. Dia tak merasa dia berutang pada Kirche karena Kirche membantunya membalas dendam saat itu.&amp;quot;Aku akan menjadi temanmu.&amp;quot; kalimat inilah alasan mengapa Tabitha merasa dia berutang pada Kirche.Dengan kata lain, itu adalah bukti persahabatan mereka. Jadi...bila Kirche dihina orang lain, dia akan menggantikan bertarung untuknya, dan dia melihat ini sebagai bukti persahabatan mereka.Apa yang diutangkan, harus dikembalikan.Tapi Tabitha tak mencoba menjelaskannya lebih lanjut, dan hanya sedikit mengangguk.&amp;quot;Huaaaaa~&amp;quot; Kirche menguap. &amp;quot;Meminum anggur dan ngobrol lama-lama membuatlku mengantuk.&amp;quot;&amp;quot;Begitukah, bagus sekali, langsung balik saja.&amp;quot; jawab Louise dengan nada dingin.&amp;quot;Adalah sangat bermasalah kalau kembali~ Aku ingin tinggal disini.&amp;quot;&amp;quot;Bagaimana dengan uangnya?&amp;quot;&amp;quot;Terima kasih untuk traktirannya.&amp;quot;&amp;quot;Apa katamu! Kau pikir berapa sih harga hidangan ini!&amp;quot;&amp;quot;Aku akan mengatakannya pada semua orang di akademi...&amp;quot;Louise terdiam dan menundukkan kepalanya.Setelahnya, Kirche menarik Tabitha dan bangkit, naik ke daerah kamar tamu di lantai dua dan meninggalkan Montmorency, Guiche dan saito yang masih duduk disitu.&amp;quot;Wa-wanita ituuuu! Sa-satu hari nanti, aku pasti akan membunuhnya...&amp;quot; Louise begitu merah sehingga sekujur tubunya terus bergetar.Guiche menarik-narik bagian bawah pakaian Montmorency.&amp;quot;Apa yang kau lakukan?&amp;quot;&amp;quot;A-ayo tinggal disini untuk hari ini?&amp;quot;&amp;quot;...Ok, tapi mesti ada dua kasur!&amp;quot;&amp;quot;Kau akan membayar tagihan kalian sendiri, kan!? Louise menatap tajam mereka berdua.&amp;quot;Err, kami tak punya uang...Jangan begitu perhitungan, karena kau telah membayar untuk mereka berdua, bagaiaman kalau kau juga membayari kami.&amp;quot;&amp;quot;Apaan yang kau katakan!&amp;quot;Begitu Louise meneriaki mereka berdua, Saito ingat bahwa dia telah memberikan uangnya pada mereka dulu, dan dia belum mendengar kelanjutannya. pertama-tama, mereka bilang mereka perlu uang untuk membuat penawar ramuan cinta, jadi dia memberikan sekitar 500 écu emas dulu. Dia belum mendapatkan uangnya kembali hingga kini.&amp;quot;Hei Guiche.&amp;quot;&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&amp;quot;Aku memberikan kalian sedikit uang, kan? Cepatlah kembalikan.&amp;quot;Guiche dan Montmorency memasang wajah aneh dan saling memandang.Saito mulai berkeringat dingin di punggung.&amp;quot;Hei...Jangan bilang padaku kalian sudah menghabiskannya?&amp;quot;&amp;quot;Tidak...Tidak, kami tidak begitu...hanya saja...&amp;quot;&amp;quot;Apa?&amp;quot;&amp;quot;Erm, begini nih....Karena keperluan untuk membuat obat...&amp;quot; Montmorency tersenyum seakan mencoba melembutkan hati saito.&amp;quot;jadi kalian menghabiskannya, kan?&amp;quot;&amp;quot;Aku akan mengembalikan uangnya padamu dalam waktu dekat!&amp;quot;&amp;quot;Seberapa lama itu! Dasar Ningrat miskin!&amp;quot;&amp;quot;Siapa yang kau bilang miskin!&amp;quot;Lalu, tepat ketika mereka akan bertengkar...Para ningrat yang tadi diurus Tabitha datang ke toko sekali lagi. Mereka menyadari Guiche dan Montmorency, dan mendekat.&amp;quot;Apa yang kalian inginkan?&amp;quot; Guichedan Montmorency sangat terkejut, dan jlai gemetaran setelahnya.Ningrat berusia pertengahan diantara mereka berbicara.&amp;quot;Kemana para wanita yang tadi pergi?&amp;quot;&amp;quot;Mereka, mereka naik tangga untuk beristirahat.&amp;quot; jawab Montmorency sambil gemetaran.Para petugas militer saling memandang.&amp;quot;Mereka kabur?&amp;quot;&amp;quot;Sepertinya begitu.&amp;quot;&amp;quot;Apa- pakag aku boleh tahu apa masalahnya?&amp;quot; selidik Guiche.Pihak yang lain memberikan senyum gembira dan menjawab.&amp;quot;Tidak, tidak begitu banyak. Kami hanya berpikir bahwa kai akan berterima kasih pada mereka, terkait apayang terjadi tadi. Tapi, jika hanya ada sebagian dari kami, kami mungkin tak bisa berterimakasih secara patut pada mereka...Jadi, mohon lihatlah, dengan begini, kami membawa seluruh skuad kesini.&amp;quot;Louise dkk terkejut, dan buru-buru melihat keluar toko.Karena ada beberapa ratus prajurit yang berbaris diluar, pemandangan itu membuat mereka begitu ketakutan sehingga mereka hampir jatuh dari kursi.&amp;quot;Semuanya perhatian[[User:Altux|Altux]]Berbaris pada Kanan kalian!!&amp;quot;Setelah petugas militer yang berdiri di sebelah skuad meneriakkan perintah secara keras, seluruh prajurit langsung menyesuaikan kelompoknya, senjata di tengan mereka mengeluarkan suara yang terdengar jelas.&amp;quot;Aku akan membawa mereka kebawah sekarang!&amp;quot; Guiche bangkit, dan hendak kabur ke lantai dua.&amp;quot;Tidak, tidak, tidak, jika kalian juga kabur, kami akan sangat terganggu. tak masalah, tak apa-apa bagi kawan mereka untuk menerima terima kasih kami juga. Karena, entah itu membalas dendam untuk seorang teman, atau menerima pembalasan untuk seorang teman...Itu adalah sebagian dari keistimewaan dari menjadi teman, dan juga sebuah tugas. Saito dkk buru-buru mencoba kabur, tapi mereka dnegan mudah ditangkap petugas-petugas militer. Keempatnya diseret keluar toko bersama-sama.&amp;quot;kalian seharusnya merupakan penyihir jagoan juga! Karena kalian teman kedua wanita itu! Jadi kami mohon, jangan malu-malu, kalian mesti menunjukkan kekuatan kalian pada kami!&amp;quot;&amp;quot;Tolong! kami bukan teman mereka!&amp;quot;Jeritan keempatnya bergema di langit malam.2 jam kemudian.Pada akhirnya, Kirche yang belum cukup minum, turun ke toko...dan dia menemukan Louise, Montmorency, Guiche dan saito berbaring di meja, setegah mati.Mereka dihajar orang-orang militer tadi, dan setengah mati. Louise sudah terlalu banyak menggunakan sihir &amp;quot;Ledakan&amp;quot; dalam beberapa hari ini, dan itu memakan seluruh kekuatan hatinya. Saito, sebagaimana biasa, meninggalkan Derflinger di kamar kecil di kolong atap, dan tiada gunanya. Guiche, ditundukkan dalam dua detik saja. Karena Montmorency benci pertarungan, dia mendeklarasikan netralitas, tapi pihak lain tak menerimanya.Kirche, yang tidak tahu apa-apa soal apa yang terjadi, menggaruk kepalanya, kebingungan.&amp;quot;Kalian semua...Apa yang terjadi?&amp;quot;Pihak yang terbaring di meja menggunakan suara penuh benci untuk menjawab serentak.&amp;quot;Kau berutang satu pada kami!&amp;quot;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5_Bab1&amp;diff=435040</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5 Bab1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5_Bab1&amp;diff=435040"/>
		<updated>2015-04-03T07:41:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: /* Bab 1: The &amp;quot;Charming Fairies&amp;quot; Inn */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1: Penginapan &amp;quot;Charming Fairies&amp;quot;==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, besok adalah awal liburan musim panas.&amp;quot; kata Louise, sambil menunduk memandangi familiarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memang Iya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menempel pada tanah, mendongak pada tuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kalau kita semingguan bersenang-senang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka ada di Plaza Austri. Seperti biasa, Saito tengah diinjak Louise, dan dia, sekali lagi harus menjelaskan alasan mengapa dia tengah diinjak oleh Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, Siesta bilang dia bakal berkelana ke desa Tarbes, Bukankah tak apa-apa jika aku singgah sebentar lalu kembali ke daerahmu? Terkadang tak buruk bila kau hanya dengan keluargamu tanpa siapa-siapa, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, dari wajah Louise, sepertinya bujukan itu ditolak lagi. Gerbang depan yang dipenuhi murid-murid yang hendak pulang dapat terlihat dari plaza. Para murid, yang telah menunggu berhari-hari untuk pulang, akan naik kereta. Mereka akan pulang ke kota asal mereka, yang lalu disemangati orang tua mereka untuk kembali ke ibukota Tristania. Akademi Sihir Tristania akan masuk liburan musim panas nan panjang mulai besok, sekitar dua setengah bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;K-kau tahu, Nona Vallière. Kupikir Saito-san juga perlu istirahat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata seorang Siesta yang salah tingkah pada Louise yang tengah menyakiti Saito. Sebagai persiapan pulang, Siesta tak mengenakan seragam pelayannya yan biasa, tapi pakaian biasa, terdiri dari kaos hijau gelap dan rok coklat. Louise melemparkan tatapan padanya. Tapi...Ini bukan Siesta yang dulu. Dengan jiwa bersaing seorang gadis dalam cinta, dia balik menatap Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Se-sebuah istirahat juga penting, kan? K-Kau selalu mempekerjakannya sesukamu..., itu buruk sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Orang ini baik-baik saja. Itu karena dia familiarku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta tampaknya mencium sesuatu dalam sikap itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Familiar ya? hmm, apa hanya itu alasannya...?&amp;quot; gumam Siesta. Matanya berseri-seri, bagaikan tengah menyiapkan perangkap untuk menangkap seekor kelinci. Gadis yang jatuh cinta sensitif pada lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wh? Apa artinya itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-tak ada?&amp;quot; gumam Siesta pura-pura tak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Katakan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hanya saja akhir-akhir ini, caramu memandangi Saito sedikit mencurigakan. Itu yang kupikirkan.&amp;quot; ucapSiesta, menyelesaikannya dengan melihat ke samping. Louise menatapnya dengan panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan seorang pelayan mempermainkanku. Ini salah Saito. Meski dia seorang jelata, dia lakukan semua hal-hal aneh. Bahkan jelata-jelata di akademi mulai mejadi kepedean. Louise telah mendengar isu-isu semacam ini sebelumnya, tapi ini toh kenyatannya. Kuasa kerajaan. Kuasa bangsawan. Hmph, itu semua tiada artinya, yang penting kuasaku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise berguncang sambil berdebar-debar. Siesta, yang menyipitkan matanya karena cahaya matahri yang gahar mendesah &amp;quot;fuuh&amp;quot;, memaparkan dadanya, dan mengusap keringatnya menggunakan saputangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar-benar deh...musim panas ini sangat panas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaikan sebuah bunga yang mekar di alam liar, banyak rasa yang tertuang keluar darinya. Luar biasa saat dilepaskan, jurang dari kedua bukit terlukis kedalam matanya. Louise jadi &amp;quot;Ha-!&amp;quot; dan memandangi wajah Saito. Dari bawah kakinya, si familiar dengan sekuat tenaga mencoba melihat celah dari baju Siesta yang terbuka. Louise hampir saja meledak tapi dia menahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memangnya aku bakal kalah! Ya benar, aku seorang ningrat. Jika aku diam saja, kebangsawanan akan tumpah dari celah bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menirunya, Dia bergumam : Fuuh, panas ya.&amp;quot; dan mengendurkan kancing kemejanya, Lalu dia mengusap keringatnya dengan sebuah sapu tangan, Tapi...Yang ada disana bukanlah sebuah jurang, tapi tapi sebuah hamparan menyegarkan yang terbentang kemanapun. Saito tampaknya lebih memilih dataran dengan puncak dan lembah dan tak memindahkan pandangannya. Melihat hasil pertarungan, Siesta melepaskan sebuah tawa renyah, membuat Louise meledak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa! Kau tertawa sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Tak mungkin aku bakal tertawa. Tak mungkin, kan? Bagiku untuk memandangi seorang ningrat dan tertawa...&amp;quot; kata Siesta, menenangkan Louise dengan sebuah wajah yang berseri. Lalu duia membuang muka dan berucap. &amp;quot;...Dengan tubuh anak-anak begitu, seorang ningrat?...Heeh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kaha,&amp;quot; tumpah dari mulut Louise sbagai hembusan, &amp;quot;Apa yang baru saja kau katakan?! Hei!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;..Siapa tahu,...tak ada. Bagaimanapun, ini panas. Panas, panas. Aah, panas ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise berguncang sekujur tubuhnya. Saito berbisik, &amp;quot;Hei, tuanku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa&lt;br /&gt;
 tak apa-apa bagiku untuk pergi ke Tarbes?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kauha,&amp;quot; Louise mendesah terpuruk, dan mulai menghantam Saito dengan sekuat tenaga, berfikir - Berapa kali seih kau akan bertanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta berkata, &amp;quot;Tenanglah! Nona Vallière! Mohon tenanglah!&amp;quot; dan mencengkram punggungnya. Saat kerusuhan yang biasa bakal dimulai...*flak**flak* begitu seekor burung hantu muncul. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nn?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si burung hantu berhenti di bahu Louise dan memukul kepala Louise dengan sayapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa-apaan sih burung hantu ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Burung hantu itu menggigit sebuah surat. Louise mengambilnya. Mengenali cap yang ada padanya, Louise kembali berwajah serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa burung hantu ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta memandanginya. Saat Louise jadi serius, Saito berkata, &amp;quot;Apa itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memeriksa isinya, Louise memindai sepotong kertas tunggal itu, Lalu Louise berkata, &amp;quot;Pulang ke rumah dibatalkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa maksudmu dibatalkan? Siesta bahkan mengundangku...Aku benar-benar kecewa, tahu.&amp;quot; kata Saito, melihat Louise kembali ke kamarnya dan memeriksa bawaannya yang telah dibungkusnya untuk kembali pulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menunjukkan surat yang baru saja dibawa si burung hantu pada Saito. &amp;quot;Tidak, aku ga bisa baca huruf sini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise duduk tegak di kasurnya dan mulai bicara. &amp;quot;Setelah perkara sebelumnya...kau tahu Putri-sama terpuruk, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengangguk. Itu kejadian yang tragis. Cintanya yang telah tewas...dibangkitkan musuhnya dan mencoba menculiknya. Sudah pasti dia bakal terpuruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bersedih untuknya...tapi sepertinya dia tak bisa terus tenggelam dalam palung kesedihan untuk selamanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa maksudmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menjelaskan apa yang tertulis dalam surat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Albion menyerah untuk menyerbu secara layak hingga angkatan udara mereka terbangun kembali, jadi mereka mencoba bertempur dengan cara lain - Adalah apa yang diperkirakan kabinet, dengan Mazarin sebagai penariknya. Mereka tak bisa secara pengecut menyerang Tristain dari dalam dengan menyalakan pemberontakan dan kerusuhan yang merajalela. Karena Henrietta dan orang-orangnya takut akan konspirasi semacam ini, dia tengah menguatkan pemeliharaan ketertiban umum...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa kan untuk menguatkan ketertiban umum, tapi apa yang ingin dia mau kau lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebuah misi pengumpulan data melibatkan penyembunyiin diriku. Apa ada aksi tak patut tengah terjadi? Isu macam apa yang tengah disebarkan diantara jelata?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uwah, seorang mata-mata!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mata-mata?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di duniaku, pekerjaan mengumpulkan informasi semacam itu disebut begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Huunn...apapunlah, pada dasarnya, ia memata-matai, kan...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk beberapa alasan, Louise tampak tak puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yaa...bukankah ini datar?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, buaknkah info itu penting? Kakekku bilang Jepang dulu kalah perang gara-gara mereka terus mengabaikan info.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan apa-apa. Ini tak terlalu penting...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat Henrietta, ada petunjuk untuk berdiam di sebuah penginapan di Tristania, menyembunyikan identitas mereka dan mengerjakan sesuatu seperti menjual bunga, dan mengumpulkan segala jenis info yang dipertukarkan diantara jelata. Sebuah catatan untuk membayar kembali biaya untuk misi ini terlampir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itulah mengapa aku menyusun kembali bawaanku. Aku tak bisa membawa begitu banyak pakaian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menunjuk bawaannya yang telah meringan sekitar sekantong penuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi aku harus bekerja meski kini liburan musim panas...&amp;quot; gumam Saito sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berhentilah mengeluh. Ayo, kita pergi sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ini semua kejadian. keduanya pergi menuju Tristania. Untuk menyembunyikan status sosial mereka. mereka tak bisa menggunakan kereta. Kuda-kuda di akademi adalah milik akademi, jadi mereka tak bisa menggunakannya. Pada akhirnya, mereka berjalan. Louise dan Saito berjalan di jalan dibawah matahari yang membara, menuju Tristania. Perlu dua hari untuk sampai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat matahari dengan sikap mencela, Saito berbisik, &amp;quot;Sial...meski seharusnya aku di rumah Siesta meminum air dingin sekarang...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan mengeluh! Ayolah! Jalan!&amp;quot; teriak Louise, yang mendpaati familiarnya membawa seluruh bawaan, marah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tiba di kota, keduanya pertama-tama mengunjungi kantor usrusan keuangan untuk menukarkan catatan dengan koin-koin emas. enam ratus dalam koin emas baru. empat ratus écus. Saito teringat uang dari Henrietta dalam kantong yang terikat pada ikat pinggangnya. Ada sisa 400 koin emas baru. Jadi sekitar 207 écus. Saito pertama-tama menemui seorang penjahit dan membelikan pakaian tawar untuk Louise. Louise tak menyukainya, tapi memakai mantel dengan sebuah pentagram bakal membuka jatidirinya sebagai seorang ningrat. Adalah mustahil bercampur dengan jelata dan mengumpulkan info. Tiada artinya berjalan kesini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Louise, yang dipaksa memakai pakaian tawar, tampak tak puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini tak cukup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uang kita untuk misi ini. Dengan hanya 400 écus, kita bakal bangkrut setelah membeli seekor kuda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita tak perlu kuda. Tertulis disana bagimu untuk menyembunyikan status sosialmu, kan? Dengan kata lain, kau seharusnya berlaku sebagai seorang jelata. Ayo jalan. Kau punya kaki.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&amp;quot;Aku akan bersikap sebagaimana seorang jelata, tapi aku tak bisa mendapatkan pelayanan memuaskan tanpa seekor kuda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seekor kuda murah tak apa, kan? Kompromilah disini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kuda-kuda jenis itu tak guna saat kita benar-benar membutuhkan mereka! Kita juga perlu pelana. Dan juga...kita takkan bisa tinggal di penginapan aneh. Dengan uang sejumlah ini, ia akan habis setelah tinggal selama hanya 2,5 bulan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penginapan macam apa yang bisa menghabiskan 600 koin emas?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebuah penginapan murah tak apa, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak mungkin! Aku tak bisa tidur baik dalam sebuah kamar murahan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti apa yang diharapkan dari seorang putri ningrat. Meski dia punya sebuah misi untuk bercampur dengan jelata dan mengumpulkan info, dia berencana tinggal di penginapan kelas atas.Saito membayangkan, Apa yang tengah dia pikirkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku juga punya beberapa. Aku akan membagi beberapa denganmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Itu tetap tak cukup. Layanan memakan uang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu apa yang harus kita lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ada caa untuk mendapatkan lebih banyak uang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti itu, selama berdiskusi soal mendapatkan lebih banyak uang dan menemukan sebuah tempat murah, mereka masuks ebuah bar dimana Saito menemukan tempat berjudi didirikan di sebuah sudut bar. Disana, lelaki mabuk dan wanita mencurigakan tengah mengambil chip-chip dan mendapati chip-chip mereka diambil. Tanpa mempedulilam Louise yang mengernyitkan alis matanya oada mereka, Saito memandangi perjudian itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau pandangi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya...Aku hanya berfikir soal mendapatkan uang dengn ini. Bagaimana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah itu berjudi? Yang kaya gitu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, lihat aku. Aku sering melakukannya sebelumnya dalam permainan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menukar 30 koin emas baru, 20 écus dengan chip-chip, lalu menuju meja dengan cakram berputar. Permukaan cakram itu dibagi jadi 37 bagian, tiap-tiapnya punya angka tersendiri dan berwarna merah atau hitam. ebuah bola besi berputar dalam cakram itu. Dan di dekat cakram itu, ada lelaki dan wanita dengan warna mati yang berganti menatapnya penuh harap. Itu sebuah rolet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengamati tempat tebakan. Pertama, aku uji keberuntunganku dulu. Meniru tebakan pemenang, Saito menempatkan sebuah chip seharga sekitar 10 écus pada merah. Bola memasuki sebuah kantung merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lihat kan? Aku mendapatkannya! Aku luar biasa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito entah kenapa pelit, jadi dia menempatkan secara hati-hati dan menghasilkan chip-chip seharga 30 écus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lihat kan? Uang yang kita punya untuk menyelesaikan misi meningkat! Yahm ini bedanya dengan seseorang yang hanya bisa mengeluh!&amp;quot; kata Saito sambil membusungkan dada. mata Louise berkilat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Minta sebagian!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan. Mustahil bagimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa katamu? Jika familiarnya menang, maka tuannya bakal menang 10x lipat jka dia mencoba.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise langsung menaruh apa yang Saito menangkan pada hitam. Tapi...dia meleset. Apa yang telah didapat Saito menguap dalam sesaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau lakukan?! Padahal aku akhirnya bisa dapat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di-diam.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah...Meski kau selalu bersikap bangga, kau tak bisa menghasilkan uang dengan baik. Belajarlah dari Siesta sedikit. Belajarlah memasak sesuatu. Lalu pergi bekerja sebagai koki di restoran manapun. Itulah kerja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu terpicu dalam diri Louise pada kalimat &amp;quot;Belajarlah dari Siesta&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;L-l-lihat saja aku. Siapa sih yang bakal kalah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito gemetar mengamatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
_____________________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
30 menit kemudian,..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tengah menjatuhkan bahunya dan memandang benci pada papan. Chip-chip yang dia taruh sesaat sebelumnya menghilang dalam sunyi ke tangan bandar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahu gadis blonde cantik jatuh selama beberapa saat, tapi lalu mengagkat kepalanya dengan bangga, dia mencoba menaruh semua chipnya pada satu titik. Saito, yang selama ini mengamati dari belakangnya, mencengkram bahu Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot; sahut Louise dengan nada kesal yang jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan datar berkata. &amp;quot;Ayo sudahi saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan menang nanti. Aku pasti menang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pikirkan, berapa kali kau mengatakan itu?!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeritan Saito bergaung, Para tamu yang tengah menaruh chip berbalik dan tersenyum pahit. Ini adegan yang terjadi setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau bahkan belum menang sekalipun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengacungkan jarinya di depan hidung Louise. Ini pertama kalinya Saito melihat seseorang yang begitu buruk dalam dalam berjudi. Louise sudah kehilangan 400 écus...kebanyakan uang yang diperlukan untuk misi. Jika mereka menukar chip-chip Louise yang tersisa menjadi uang, mereka takkan dapat lebih dari 30 écus. Jika mereka kehilangan ini, mereka akan bangkrut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa. Berikutnya, Aku akan mengeluarkan metode pasti menang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ceritakan padaku soal itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hingga kini, aku bertaruh pada merah atau hitam, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Untuk meleset 15x bertaruh pada merah atau hitam...Kau lebih baik mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di-diam. Dengarkan? Jika begitu, jika aku menang, aku hanya dapat 2 kalinya, tapi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berguncang. Louise berbicara seakan dirasuki sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika aku menang dengan angka, aku akan dapat 35xnya taruhanku. Aku bisa mendapatkan lagi apa yang kita kehilangan dan lebih lagi. Aku seharusnya melakukan ini sejak tadi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu metode pasti menangmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengangguk  jelas sekali. Saito dengan diam mencengkram lengan Louise dan menariknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Peluang kau menang 1 berbanding 37!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus kenapa?! Aku sudah kalah 15x. Tak peduli apa yang kau pikirkan soal itu, aku akan menang nanti. Akan aneh jika aku tidak. Jika aku akan menang, Aku juga mengejar kemenangan besar!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata coklat kemerahan Louise berkerlip-kerlip. Ini mengaingatkannya pada mata pamannya yang gagal di saham dan melarikan diri malam-malam. Dia punya mata seperti itu saat terakhir kali Saito melihatnya. Di hari itu, saham yang kata dia bakal naik tinggi malah turun drastis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tenanglah. Ayo tukar chipmu dengan uang dan gunakan itu untuk mencari sebuah tempat untuk menginap, OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, jika kau pergi saat sedang kalah, Nama La Vallière akan menangis.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memangnya yang kaya gitu bakal nangis!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia meneriakkan itu, dia ditendang tepat pada daerah antara kaki dan bergulingan di lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hoaaaaaaaaaaa....Apa kau punya dendam pada daerahku yang menyedihkan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyingkirkan familiarnya yang mengganggu, Louise kembali menuju cakram rolet. Sang pelempar hendak melempar bola ke roda. Dia masih bisa bertaruh. Louise menaruh seluruh chipnya yang tersisa pada angka yang ada di kepalanya sejak sesaat lalu. Lalu dia menatap pada roda dan bola dengan mata yang tak bisa lebih serius dari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersuara klip-klop, bola akdir memasuki sebuah kantong. Wajah Louise bersinar penuh harapan untuk sesaat, tapi ia berubah jadi putus asa seketika. Kantong itu berada tepat di sebelah angka taruhan Louise. Sambil mengusap daerah bawahnya, Saito bangkit dan menarik Louise. &amp;quot;Ayo pergi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau bilang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Heh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;itu kantong tetanggku. Berikutnya, ia akan mengunjungi rumahku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita tak punya uang lagi untuk bertaruh, kan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uang do kantongmu akan membantu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tolol! Ini uangku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito Saito melindungi kantongnya. Dia tak bisa mendapati ini dipertaruhkan. Jika ya, bahkan dia bakal bangkrut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;kau tahu? Barang familiar adalah barang tuannya. Itu sudah jelas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan bercanda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi dibandingkan Siesta. itu tak mencapai telinga Louise, yang fikirannya terbakar demam judinya. Dia mencoba menendang daerah bawah Saito dengan kecepatan kilat. TapiSaito berbeda dari biasanya. Dia dengan cepat menutup kedua kakinya dan menangkisnya. Lalu dia mencengkram kaki Louise yang terangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ga mungkin aku membiarkanmu menendangku lagi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise bergumam dengansuara dfingin. &amp;quot;Vasra.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alat sihir penahan menyelimuti badan Saito dan mengeluarkan arus listrik. Kejang-kejang luar biasa, Saito berguliangan kembali di lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Oh begitu, aku tak mewaspadai itu.&amp;quot; kata Saito lemah sambil mengutuk kepenasarannya. Aah, jika aku tak tertarik tempat judi ini, yang seperti ini takkan...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise merogoh kantong Saito, mengambil seluruh koin emas yang tersisa, dan dengan cepat menukar mereka dengan chip-chip. Saito agak lega. Bahkan bila itu seseorang seperti Louise yang punya bakat nol untuk berjudi, dia takkan kehilangan seluruh chip itu sebelum tubuhnya sembuh dari mati rasa ini. Setelah mati rasa ini pergi, dia akan menutup mulut Louise dan meninggalkan tempat ini tanpa membiarkan Louise berkata apapun. Itu keputusan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bertaruh pada satu tempat sepertnya tak jalan. Aku akan kembali ke dasar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar...Merah dan hitam, Hanay sejumlah kecil pada merah atau hitam. Setidaknya lakukan itu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk menunjukkan hormatku pada familiarku yang setia, aku akan bertaruh pada warna rambut dan mata itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hitam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar.&amp;quot; Sambil mengangguk, Louise menaruh koinnya pada hitam. Semuanya...chip-chip seharga 270 écus, seluruhnya. Saito hampir bocor. &amp;quot;H! E! N! T! I! K! A! N!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tersenyum cerah pada Saito. &amp;quot;Bodoh. Bahkan jika bayarannya ganda, uang adalah uang. Jika aku menang, kita akan mendapat kembali apa yang telah terambil dan lebih. Apalagi, hanya sekali. Kita hanya perlu menang sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;K! U! M! O! H! O! N!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku seharusnya lakukan ini dari tadi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang pelempar memutar roletnya. Bola kecil mulai berputar, membawa takdir sang tuan dan familiarnya bersamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat sebuah suara kering, si bola berputar di atas roda. Putaran dengan perlahan menurun kecepatannya, dan seakan membagi takdir. mengarah pada kantong kanan. Louise telah bertaruh jumlah yang besar pada hitam, jadi tamu lain bertaruh pada merah. Satu-satunya yang bertaruh pada hitam hanyalah Louise. Ia masuk merah, meninggalkannya, lalu masuk hitam, meninggalkannya...Louise berkata seakan sedang terkena demam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku seorang legenda. Aku takkan pernah kalah, ya!, di tempat seperti ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bola masuk sebuah kantung...dan berhenti. Louise menutup matanya tanpa pikir lagi. Di sekelilingnya, desahan sedih terdengar menggema. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya,  selain Louise, bertaruh merah. Desahan datang dari mereka. Dengan kata lain, yang beratruh merah kalah. Yang berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku benar-benar seorang pengguna &amp;quot;Zero&amp;quot;!&amp;quot; meneriakkan itu, Louise membuka matanya. Tepat setelahnya, mulutnya menganga lebar. Bolanya...tak masuk hitam atau merah, tapi kantung hijau satu-satunya. Di tengah-tengah kantung tersebut..., bagaikan memberikan berkah pada Louise, angka &amp;quot;0&amp;quot; berkilauan disana.&lt;br /&gt;
_____________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dan Louise tengah duduk lemas di sudut plaza pusat kota sewaktu matahari terbenam. Lonceng gereja Saint Rémy berdentang enam kali saat petang. Mereka kecapean dan lapar tapi tak punya tempat untuk dituju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memakai baju terusan coklat tawar yang tadi dibelikan Saito. Di kakinya ada sepatu kayu kasar. Mantel dan tongkatnya disimpan didalam tas yang dibawa Saito. dari bajunya saja, dia terlihat seperti gadis desa lainnya, tapi berkat wajah kelas atas dan rambut blonde pinknya, dia memberikan semacam perasaan tak cocok, semacam rasa pada gadis yang tak terbiasa berakting pada sebuah adegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memakai pakaiannya yang biasa, tapi dia tak bisa berkeliaran di kota dengan pedang terhunus, jadi dia bungkus Derflinger dengan kain dan membawanya di punggung. Louise bergumam pelan, menunjukkan bahwa dia baru saja menyadari seberapa besar dosa yang telah dilakukannya. &amp;quot;A-apa yang harus kita lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menatap Louise. &amp;quot;Aku takkan pernah membiarkanmu membawa uang lagi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uuu...&amp;quot; Louise mendengung sedih sambil memeluk lututnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, apa ya yang harus kita lakukan. Uang. Jika kita tak bisa menemukan sebiah penginapa untuk tinggal, kita takkan bisa makan. Bagaimana dengan misi? Oh wahai wanita senat dari paduka, mohon ajari familiar nan rendah ini. Kumohon?&#039; kata Saito penuh sindiram. Bahkan uangnya dipakai. Dia akan membuat Louise membayar kembali suatu hari nanti, tapi kini, masalahnya adalah penginapan dan makanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku memikirkan soal itu sekarang.&amp;quot; kata Louise dengan wajah kesal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mari dengan penuh kerendahan menundukkan kepala kita pada Putri-sama  dan meminta uang lebih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu mustahil. Putri-sama memberikanku misi rahasia ini menurut dirinya sendiri. Kabinet mungkin tak membiarkan anggaran dipakai. Dia kemungkinan tak bisa menggunakan lebih dari apa yang bebas dimilikinya. Mungkin, itu sudah yang terbaik yang dia bisa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau membuang uang itu dalam 30 menit. Apa sih yang kau pikirkan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu karena aku tak bisa mendapatkan pelayanan memuaskan hanya dengan 400!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu karena kau selalu ingin kemewahan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mereka diperlukan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu. bagaimana dengan ini? Hubungi rumahmu. Ya, hei, Duke-sama.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak mungkin. Ini misi rahasia. Aku juga tak bisa bilang-bilang keluargaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil memeluk lututnya, Louise menaruh dagunya padanya. Dia benar-benar seorang nona muda yang abai terhadap aliran dunia...Dia bahkan tak bisa berbelanja dengan baik. Bahkan Saito, yang datang dari dunia lain, bisa menangani lebih baik. Takkan ada yang selesai bila dia yang melakukannya. Tapi Saito tak bisa memikirkan sebuah ide bagus. Dia menerawangi air mancur plaza sambil termenung, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nn?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menadari orang-orang yang lewat memandang kagum pada Louise. Bahkan jika dia tak menginginkannya, pesona dan keningratan Louise menarik perhatian. Terutama jika dia tengah memeluk lututnya, terlihat sebagai seorang gadis desa. Orang-orang melirik Louise dengan mata yang berkata &amp;quot; Dia mungkin melarikan diri dari sebuah rumah bordir.&amp;quot; Saito bangkit secepat kilat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise terkejut. &amp;quot;Adaapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan kata-kata Louise, Saito menghadap orang-orang di jalan dan mulai mengumumkan. :Eeh, Hadirin dan hadirat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang berlalu berhenti, mengira-ngira apa yang tengah berlangsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eeh- Gadis ini adalah seekor gadis-serigala yang kabur dari sirkus.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apaan sih yang dikatakan orang ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dibesarkan serigala, dia melolong dan menyalak! Ini benar-benar mengganggu! Tapi yang paling mengagumkan adalah bahwa dia bisa menggaruk lehernya dengan kakinya! Kini bersiaplah! Dia akan menggaruk leher dengan kakinya sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berbisik pelan pada Louise. &amp;quot;Yah, garuk lehermu dengan kakimu. Ayolah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengejeknya dengan dagunya. Louise menginjak wajah itu dengan telapak kakinya. Saito berguling-guling di tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apaan sih yang kau pikirkan?! K-k-kau ingin aku berlaku sebagai bintang?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito juga bangkit, menarik lengan Louise, dan berteriak. :kita tak punya pilihan selain tampil, kan?! Apa ada cara lain untuk menghasilkan uang?! Aah?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengayunkan rambutnya dengan ganas, Louise mulai bertengkar dengan Saito. &amp;quot;Dia benar-benar seekor gadis serigala.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anehnya, hadirin terpuaskan. Tapi setelah menyadari segra bahwa ini hanya pertengkaran. hadirin dengan cepat menjadi bosan dan pergi. Mereka tak mendapatkan apapun. Tenaganya menguap dan Saito terbaring di tanah. Louise juga cape dan dengan cepat kehabisa tenaga fisiknya, jadi dia duduk di punggung Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku lapar...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku juga...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada keduanya yang tengah duduk seperti ini, seseorang melemparkan sebuah koin tembaga. Saito loangsung loncat dan mengambilnya. Louise bangkit dengan sebuah suara beramarah. &amp;quot;Siapa?! Keluar sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengatakan itu, seorang pria aneh keluar dari kerumunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh tidak, kukira kalian pengemis...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anehnya, dia ngomong dengan cara wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haah? Jelaskan dirimu? Kau tahu, aku, sangat mengagumkan, berasal dari keluarga Duke...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia mencoba mengatakan itu, Saito bangkit dan menutup mulut Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Keluarga Duke?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan apa-apa! Ya! Otaknya memang sedikit begitulah. Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tersinggung, Louise meronta-ronta, tapi Saito mengabaikannya dan terus menutup mulutnya. Jika mereka membuka diri, bukan misi rahasia lagi namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria tersebut memandang Saito dan Louise penuh ketertarikan. Dia mengenakan pakaian yang mencolok. Pakaian Guiche juga mencolok, tapi arahnya beda. Rambut hitam yang dilapisi minyak, sebuah kemeja satin-tanah ungu yang berkilau dengan bagian dada membuka dengan rambut dada tak tersukur menyembul. Di bawah hidungnya ada dagu yang terbelah sempurna dan kumis bergaya, Sebuah bau parfum yang kuat menyentuh hidung Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu mengapa kalian tidur di tanah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, kami tak punya tempat tidur dan makan...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi kami bukan pengemis.&amp;quot; kata Louise terbuka. Pria tersebut memandang dalam wajah Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh begitu, Klo begitu, datanglah ke tempatku, Namaku Scarron. Aku menjalankan sebuah penginapan. Aku akan menyiapkan sebuah kamar,&amp;quot; kata pria tersebut sambil tersenyum. Cara dia bicara dan berpakaian menjijikkan, tapi dia sepertinya orang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Saito bersinar. &amp;quot;Benarkah?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan melakukan apapun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengurus sebuah toko di antai pertama. Gadis ini akan membantu. Itu kesepakatannya. OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tampak enggan, tapi dia dengan patuh mengangguk saat Saito menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Très bien.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron mengumpulkan tangannya dan menempatkan mereka pada pada pipinya, menyempitkan bibirnya, tersenyum. Dia bertingkah seperti seorang gay. Sebenarnya, dia bukan apapun selain seorang gay. Menjijikkan. Ada gay di dunia lain juga...Dan ada &amp;quot;Très bien.&amp;quot; itu...Saito anehnya jadi terpuruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putus sudah. Ikut aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria tersebut mulai berjalan. Mengayunkan pinggangnya secara berirama. Saito dnegan enggan meraih tangan Louise dan mengikuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya aku tak mau. Dia aneh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memandangi Louise dengan amarah membara di matanya. &amp;quot;Kau pikir kau dalam posisi untuk memilih?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalimat Baik&amp;quot; Para peri!&amp;quot; kata Scarron begitu dia menggerakkan pinggnya sambil mengamati sekeliling toko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Pak Scarron!&amp;quot; Sambut para gadis yang terbunglus pakaian yang mencolok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salaaaaaaaaaahh!&amp;quot; Teriak Scarron dengan menggerakkan pinggangnya secara berlebihan kesana kemari saat mendengar sambutan para gadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan pak, tapi panggil saya sebagai Mi Mademoiselle, ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Mi Mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Très bien.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron berguncang senang sambilo mengger-gerakkan pinggangny. Melihat proa setengah baya yang mengajaknya kesini, Saito merasa sakit. Tapi para gadis di toko sudah terbiasa dengan kebiasaan ini, dan tak menunjukkan perubahan pada wajah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, kita akan mulai dengan pengumuman menyedihkan dari Mi Mademoiselle. Akhir-akhir ini, pendapatan penginapan &amp;quot;Peri-Peri Memesona&amp;quot; menurun. Sebuah toko bernama sebuah &amp;quot;kafe&amp;quot; yang menyediakan &amp;quot;teh&amp;quot; yang baru saja diimpor dari timur kini mencuri pelanggan-pelanggan kita...Sniff...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan menangis! Mi Mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalian benar. Jika kita kalah dari &amp;quot;teh&amp;quot; ini, kalimat &amp;quot;Peri-peri Memesona&amp;quot; bakal menangis.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Mi Mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron meloncat ke atas meja dan berpose semarak. &amp;quot;Sumpah Peri-Peri Memesona! Un~~&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Melayani dengan snyum ceria!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sumpah Peri-Peri Memesona! Deux~~&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dalaman toko yang bersih nan berkilat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&amp;quot;Sumpah Peri-Peri Memesona! Trois~~&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Menerima banyak tips!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Très bien.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron tersenyum puas. Lalu dia membengkokkan pingganya dan berpose. Isi lambung naik ke tenggorokannya, tapi Saito sekuat tenaga menelannya kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, aku punya pengumuman bagus untuk kalian, para peri. Kita dapat teman baru hari ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para gadis bersorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maka, biarkan aku memperkenalkannya! Louise-chan! Kesini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikelilingi oleh sorakan, Louise muncul, merah sempurna di wajah dari malu dan marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menelan napas. Perias toko telah memermak rambut blonde-pink Louise dan membuat rambut di kiri-kanan menjadi jalinan kecil. Dia juga memakai camisole pendek nan menggoda, menempel padanya bagaikan sebuah korset dan membuat garis badannya lebih jelas. Ia terbuka di punggung, menguapkan pesona yang jelas. Penampilan yang sangat seperti peri tercinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise-chan hendak dijual pada sirkus, tapi tepat di detik terakhirkabur dengan saudaranya, Dia gadis yang sangat manis tapi patut dikasihani.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desahan simpati datang dari para gadis. Itu sebuah dusta yang dibuat Saito di sepanjang jalan ke toko. Sekuat tenaga, dia memutuskan untuk menjadi kakak Louise. Mereka tak terlihat bersaudara tak peduli bagaimana orang melihat, tapi Scarron tak peduli di situ. Sepertinya itu tak terlalu bermasalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, Louise-chan. Salami peri-peri yang bakal jadi teman kerjamu.&amp;quot; Louise berguncang. Sepertinya dia marah. Dalam. Kuat. Seorang bangsawan berharga diri tinggi seperti Louise tengah disuruh menundukkan kepalanya pada jelata dalam baju itu. Saito takut dia bakal jadi gila dan melepaskan &amp;quot;Ledakan&amp;quot; berulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi...Rasa tanggung jawab yang menyuruhnya menyelesaikan tugas menahan amarah Louise. Pikirkanlah, isu-isu biasanya berkumpul di bar-bar. Ini sempurna unuk mengumpulkan info. Tambahan lagi, mereka bangkrut. Sambil mengatakan ini sebuah misi pada dirinya, Louise membungkuk dengan senyum yang dipaksakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-a-a-aku Louise. Se-se-senang bertemu kalian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ok, bersorak!&amp;quot; teriak Scarron. Sebuah sorakan hebat menggema ke seluruh Toko. Scarron melihat Jam di dinding. Akhirnya kini waktunya toko buka. Dia menjentikkan jari. Meresponnya, boneka-boneka yang terbuat dari sihir di sudut toko mulai memainkan musik nan ramai. Ini irama untuk berbaris. Scarron berucap dengan nada bergairah. &amp;quot;Sekarang! waktunya buka!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintu sayap terbuka dengan sebuah &amp;quot;bam&amp;quot; begitu pelanggan yang menunggu mengerumuni toko. Penginapan &amp;quot;Peri-peri memesona&amp;quot; yang ditinggali Loise dan Saito terlihat sebagai bar, namun sebenarnya adalah toko terkenal dimana gadis-gadis manis dengan pakaian menggoda membawakan pelanggan minuman mereka. Scarron menyadari kecantikan dan pesona Louise dan membawanya kesini untuk bekerja sebagai pelayan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah apron dimana ada tanda toko padanya, Saito diberikan tugas mencuci piring. Selama dia tinggal di penginapan, dia harus melakukan beberapa pekerjaan. Toko tengah penuh, jadi pegunungan peralatan makan dikirimkan padanya. Sepertinya tak peduli dimanapun seseorang berada, bahkan di dunia lain, mencuci piring adalah tugas untuk pendatang baru. Saito tak ingin mencuci piring dari toko gay itu, tapi dia menahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini demi tugas Louise. Dia tak bisa apa-apa, egois, keras hati, dan seorang gadis kecil arogan yang tak pernah mendengarkan apa yang dikatakannya, tapi ini tak bisa diapa-apakan karena dia tertangkap olehnya. Meski selalu mengeluh, sepertinya kali ini dia berusaha keras untuk berhasil dalam mengumpulkan info. Dan juga, wajah sedih Henrietta yang dilihatnya di tepian Danau Ragdorian...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia ingin melakukan sesuatu untuk putri yang menyedihkan itu. Jika dia bisa membantu orang yag dia suka dengan melakukan apa yang dia bisa, dia tak segan-segan menunda pencarian jalan kembali ke dunianya. Melalui setumpuk masalah, kesederhanaannya membuatnya berpikir begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito bergelut dengan piring-piring. Tapi semua punya hal yang disebut &amp;quot;batas&amp;quot;. Setelah beberapa sat, dia tak bisa lagi menggerakkan tangannya yanmg kecapean. Tapi meski dia kelelahan, jumlah piring yang harus dicucinya takkan menghilang dan mulai menumpuk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis berpenampilan mencolok muncul didekat Saito, yang tengah menatap hampa gunungan piring dan kecapaian mati rasa didepan tempat cuci piring, Gadis manis ini punya rambut hitam panjang lurus. Alis tebalnya menguapkan aura hidup. Sepertinya dia dekat dengan Saito dalam hal umur. Saito cepat-cepat tersentak saat matanya penuh oleh belahan dadanya yang muncul dari baju terusan hijaunya yang membuka di bagian dada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei! Kita tak punya piring tersisa!&amp;quot; teriaknya, berkacak pinggang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-aku minta maaf! Langsung!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbiasa diperintah gadis-gadis manis, Saito langsung loncat dan secara refleks mulai mencucui piring-piring. Melihat gerakan tangan amatirannya, gadis berambut hitam membengkokkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Biarkan aku lihat itu.&amp;quot; Mengatakan itu, dia mengambil kain yang digunakan untuk mencuci piring dari tangan Saito dan mulai menggosok dengan cara berpengalaman. Dengan gerakan halus yang tak menyampah, piring-piring perlahan tercuci. Saito menyadari bahwa ada rahasia dam mencuci piring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Butuh waktu kan untuk mencuci satu sisi dalam satu waktu? Kau bisa menaruh kain diantara dua sisi dan menggosok keras-keras.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Luar biasa,&amp;quot; kata Saito. Melihat dia benar-benar kagum, gadis itu tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku Jessica. Kau saudara gadis baru itu, kan? Nama?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saito. Hiraga Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu nama yang aneh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Biar saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai memcuci piring-piring bersa,a Jessica. Setelah melihat sekelilingnya, dia berbisik pada Saito dengan suara pelan. &amp;quot;Hei, hal itu tentang kau bersaudara dengan Louise adalah dusta, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak. 100% kakak lelaki asli dan adik perempuan.&amp;quot; kata Saito kaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Warna rambut, warna mata , dan bentuk wajah kalian berdua jauh berbeda. Takkan ada yang akan mempercayaimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito tak bisa berkata apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meski itu bukan masalah. Gadis-gadis disini baik-baik saja dengan alasan apapun. Tiada orang disini yang akan mengorek masa lalu seseorang. Tenang saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;O-oh begitu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica menatap kedalam mata Saito. Untuk sesaat, dia kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi bisakah kau diam-diam menceritakannya saja padaku? Apa sih hubungan diantara kalian berdua? Apa kalian kabur dari suatu tempat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya terkadang Jessica cenderung sepenasaran Saito. Dia melihat Saito dengan bergairah. tapi tak mungki Saito bisa mengatakan yang sebenarnya. Saito melirik pakaian Jessica yang mencolok. Dia mungkin salah satu dari pelayan &amp;quot;peri&amp;quot;. Korekan tak perlu mengganggu, jadi Saito mengibaskan tangannya untuk membuatnya pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa tak apa-apa bagimu untuk malas-malasan disini? Kau punya kerjaanmu sendiri untuk dibereskan. Pergi dan bawalah beberapa anggur atau bandrek. Manajer Scarron akan marah padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa bagiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku putri Scarron.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menjatuhkan sebuah piring. Membuat suara pecah, Piring itu pecah berkeping-keping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah! Apa yang kau pecahkan?! Kau akan membayar dari gajimu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putri?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk putri semanis ini terlahir dari manajer toko gay itu...Saito membayangkan gen macam apa yang direkayasa mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayolah! Jangan hanya ngomong dan mulai gerakkan tanganmu! Toko akan semakin sibuk dari sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito punya beberapa kesulitan, tapi Louise menderita lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...I-ini pesanan kalian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekuat tenaga berusaha tersenyum...dia meninggalkan sebotol anggur dan sebuah gelas keramik di meja. Di hadapannya, seorang lelaki tengah memandangi Louise sambil tersenyum vulgar. &amp;quot;Gadis kecil, tuangkan aku sedikit.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuangkan alkohol untuk seorang jelata, seorang jelata, seorang jelata? Seorang bangsawan sepertiku? Seorang bangsawan sepertiku? Seorang bangsawan sepertiku? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran-pikiran terhina semacam itu berkeliaran dalam kepalanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Anh? Ada apa? Bukankah aku menyuruhmu untuk cepat-cepat dan menuangkan aku sedikit?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menghembus dan mencoba menenangkan dirinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sebuah misi. Ini sebuah misi. Pengumpulan info sambil menyamar sebagai jelata, Pengumpulan info...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggumamkan itu bagai sebuah mantra, dia entah bagaimana dapat tersenyum. &amp;quot;Ba-baiklah, aku akan menuangkan beberapa untukmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Huun...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengambil botol dan mulai perlahan menuangkan anggur kedalam gelas lelaki tersebut. Tapi...Karena dia gemetaran dari amarah, dai meleset dan menumpahkan anggur pada baju lelaki tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uwah! Kau menumpahkannya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-aku minta ma...af.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memangnya sebuah permintaan maaf bakal membantu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu lelaki itu mulai menatap Louise. &amp;quot;Kau...tak punya dada, tapi kau sangat cantik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa darah meninggalkan wajah Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mulai menyukaimu. Mungkin jika kau menyuapku dari mulut ke mulut, aku akan memaafkanmu! Gahaha!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie mengambil botol, meminum anggur kedalam mulutnya, dan memuntahkannya kembali pada wajah lelaki itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau lakukan, bocah?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bam!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan satu kaki di meja, Louise menatap ke bawah pada lelaki yang duduk. Untuk sesaat, lelaki itu meringis pada aura yang dilepaskan gadis kecil ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;R-r-r-rendaham. K-Ka-ka-kau pikira aku siapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;U-u-untuk infomu, d-d-d...duk...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat dia hendak mengatakan &amp;quot;keluarga duke&amp;quot;. Louise diterbangkan dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku~~minta~~ maaf~~!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu Scarron. Duduk di samping lelaki itu, dia mulai mengusap kemejanya dengan kain piring di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-ada apa dengamu, gay sialan...Aku tak memerlukanmu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini tak bisa! Ia basah kuyup dengan anggur! Hei, Louise-chan! Bawa beberapa anggur baru! Selama dia membawanya, mi mademoiselle akan menemanimu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron bersender mendekari lelaki tersebut. Lelaki itu tampak hendak menangis, tapi Scarron menahannya dengan kekuatan manusia super sehingga dia tak bisa bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-ya!&amp;quot; kata Louise, akhirnya terhubung kembali dengan kenyataan, dan lari masuk dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh-baiklah, terima kasih untuk kerja kerasnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat toko tutup, langit mulai memutih, Saito dan Louise berdiri tak tegaj. Mereka sangat kecapaean, mereka merasa bahwa mereka akan mati. Mereka sangat cape melakukan sebuah pekerjaan yang merea tak terbiasa dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalian semua bekerja sebaik-baiknya, spertinya begitu. Kita hijau bulan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron mulai menyerahkan gaji pada gadis-gadis  yang bekerja di toko dan para koki dalam dapur, yang semuanya mengeluarkan teriakan kegembiraan. Sepertinya hari ini hari gajian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini, Louise-chan, Saito-kun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpikir, &amp;quot;Kita dapat juga?&amp;quot;, wajah Saito dan Louise menyala sesaat, tapi...yang ada hanyalah selembar kertas tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ini?&amp;quot; tanya Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyum menghilang dari wajah Scarron. &amp;quot;Sebuah tagihan. Saito-kun, berapa piring yang kau pecahkan? Louise-chan, berapa pelanggan yang kau buat marah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise dan saito saling bertatapan dan mendesah, &amp;quot;tak apa-apa. Semua membuat kesalahan di awal. Terus coba sebaik kalian mulai dari sekarang dan bayar tagihannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
-----------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan...desahan tak berhenti sampai di situ. Kamar yang diberikan pada Louise dan Saito dicapai dengan mengikuti sebuah koridor yang diisi pintu kamar tamu...dan menggunakan sebuah tangga untuk mendaki dan mencapai loteng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli bagaimana kau melihatnya, ini bukanlah kamar yang dibuat untuk tempat orang tinggal. Berdebu dan remang-remang, sepertinya ia digunakan sebagai gudang. Rak dan kursi rusak, peti-peti yang menyimpan botol anggur, dan tong-tong...segala macam barang menumpuk. Sebuah tempat tidur kayu kasar telah ditempatkan disana. Saat Louise duduk, kakinya menyelusup sehingga dia jatuh ke samping kanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ini?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebuah tempat tidur, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil membersihkan sebuah sarang laba-laba, Saito membuka jendela kecil itu. Saat melakukannya, para kalong yang sepertinya hidup di loteng keluar sambil menjerit dan menggantung pada sebuah lampu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa itu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin teman sekamar kita.&amp;quot; kata Saito dengan nada tenang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau ingin bangsawan sepertiku tidur disini?! teriak Louise marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan diam mengambil selimut di atas kasur dan membersihkan debunya. Dia lalu berbaring dan menyelimuti dirinya. &amp;quot;Ayolah, tidur saja. Scarron sudah mengatakannya. Ku bangun di siang hari dan menyiapkan toko, Kau akan membersihkan toko,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau baik-baik saja dengan ini?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini tak begitu berbeda dengan cara seseorang biasa memperlakukanku.&amp;quot; mengatakan itu, Saito, mungkin karena dia lelah, dengan cepat terlelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengerang &amp;quot;uu~&amp;quot; dan &amp;quot;mu~&amp;quot;, tapi dia menyerah setelah beberapa saat dan meringkuk masuk bersama Saito. Menggeliat di sekitarnya, dia menaruh kepalanya di lengan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini jelas-jelas tempat yang mengerikan...tapi ada satu hal yang menyenagkannya...Pelayan itu tak disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya ampun, aku tak tahu, apa sih bagusnya familiar ini! Pelayan yang menyukai Saito itu tak ada disni. Ini sebenarnya luar biasa. Aku-tak benar-benar, suka-, ini, tapi...gumam Louise dalam rasa agak senang, mendekatkan pipinya pada Saito dan menutup matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pipi memerah, dai berbisik,&amp;quot; Aku akan mendapatimu memperlakukanku dengan lembut pada liburan musim panas ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga...mengambil isu-siu di kota dan memberikan laporan mendalam pada Putri-sama. Berfikir bahwa semua akan segera semakin sibuk, Louise terlelap.&lt;br /&gt;
------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi...kebahagiaan kecil Louise diremukkan sempurna. Sebabnya adalah malam hari berikutnya, Penginapan &amp;quot;Peri-Peri memesona&amp;quot; ramai juga pada hari itu. Louise dengan sibuk membawa makanan atau minuman keluar seperti hari sebelumnya. Lelaki-lelaki yang mabuk punya dua jenis reaksi saat melihat Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama adalah orang yang memandangi Louise, yang kecil dalam berbagai bagian tubuhnya, dan berkata&amp;quot;Toko ini menggunakan anak-anak?&amp;quot; denagn marah, Pada pelanggan-pelanggan ini, Lousie melayani mereka dengan banyak anggur, dia juga mendapati mereka meminum botolnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, ada pelanggan-pelanggan yang punya ketertarikan khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya penampilan luar Louise yang begitu manis, jadi sebaliknya, ia adalah hal terindah bagi orang dengan jalan pikiran ini. Orang-orang ini meremehkan Louise karena dia terlihat patuh saat diam dan mengulurkan tangan mereka pada pantat atau paha kecinya. Pada orang-orang ini, Louise memutuskan untuk memberikan mereka telapaknya. Dia memberikan itu pada kedua pipi, dan sewaktu-waktu, bahkan di hidungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisa bersikap santun sama sekali, dengan begitu saja, Louise akhirnya tak menerima tips sedikitpun dan disuruh &amp;quot;Diam disini dan amati apa yang dilakukan gadis lainnya&amp;quot; oleh Scarron dan dipaksa berdiri di sudut. Ya, gadis lainnya sangat ahli. Mereka tersenyum cerah dan tak marah tak peduli apa yang dikatakan maupun dilakukan orang. Mereka dengan halus bercakap dan memuji para lelaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan saat para lelaki mencoba menyentuh mereka, mereka dengan lembut mencengkram tangan itu dan mencegahnya menyentuh. Denagn begitu, para lelaki mencoba memenangkan perhaian si gadis dan menumphakan tips. Tak mungkin aku melakukan itu, Louise masam. Keluarga dimana aku lahir di dunia ini keluarga Vallière, yang merupakan ningrat dan penyihir. Terlebih lagi, mereka adalah keluarga duke! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku kembali pada tanahku, aku adalah seorang putri! adalah apa yang dipikirkan Louise. Bahkan jka kau mengatakan padaku dunia akan berakhir besok, aku tak bisa berlaku sopan pada mereka. Apalagi, dalam pakaian memalukan ini...Pakaian?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menyadarinya pada saat itu. Dia dalam pakaian camisole yang sama dengan kemarin. Meski dia pikir dalam dirinya tak manis, tapi dia merupakan sesuatu di luar. Dia mencari-cari da menemukan sebuah cermin dalam toko. Dia membuat berbagai macam pose di hadapan cermin. Dia mencoba memegang jempol dalam mulutnya dan menggelisah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yep, pakaian ini memalukan, tapi aku manis, Seorang ningrat meski aku membusuk. Tiada gadis disini yang bisa menyamai keningratan aku pancarkan. Benar. Pasti. Mungkin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Saito tersihir oleh penampilanku, pikirnya, dan menjadi senang. Apa, bodoh? Kau telat untuk menyadari pesonaku. Pasti dia bakal &amp;quot;aah, Louise manis, luar biasa, gadis semanis itu pernah disampingku...Aku tak menyadarinya...Tapi aku malah terpikat denagns eorang pelayan...Membuatnya memakai pakaian pelaut dan berputar-putar...aku menyesalinya...anjing tolol ini menyesalinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmph. Apa kau seorang idiot? Pasti perlu waktu lama bagimu untuk menyadari pesona tuanmu. Tapi kau hanya seorang familiar, jadi jangan memandangi tuanmu dengan cara kasar itu. Pergi dan semir sepatuku atau apalah! Apa? kau tak bisa, Kau tak bisa menyentuh tuanmu. Untuk seorang anjing, mana yang kau sentuh? Tapi jika kau berjanji melayaniku seumur hidupmu, akan kubiarkan kau melakukannya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebagai byayarannya, berlututlah di tanah. Berlututlah di tanah dan minta ampunlah pada seluruh waktu dimana kau mengabaikanku. Mengerti? Berfantasi sebegitu jauh, Louise menutup mulutnya dan emnahan tawanya. lalu melihat ke samping...dia mencuri lirikan pada dapur, berpikir bahwa Saito tersihir olehnya sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disana! Anjing tolol itu mencuci piring dengan mata bodoh itu!...Eh!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, Saito dengan penuh mengamati tempat dimana Louise berada sambil dengan pikiran-kosong mencuci piring-piring. Tapi...Dia tak sedang memandangi Louise. Louise mengikuti pandangannya. Apa yang ada disana adalah seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang tengah mengumbar tawa dengan seorang pelanggan. Itu Jessica.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut blonde pink Louise mulai menggelombang. Lagi-lagi, kau dan itu. Rambut hitam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengamati Jessica lebih jauh, dia mengikuti pandangan Saito dalam mili-unit. Jessica tengah mengenakan terusan yang membuka pada buah dada besarnya. Sudut pandang Saito mengejar kedalam belahan yang menyembul dari baju terusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dadanya. Apa kau benar-benar suka barang mirip apel sampai sebegitunya? Mengapa anjing-anjing suka dada semacam itu? Huh?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hou~&amp;quot; Saito melepaskan desahan sedih. Dengan wajah tersihir, dia menggambarkan lingkaran dengan kedua tangannya seakan mengukur keliling dada Jessica. Sesuatu berderik dalam pikiran Louise, jadi untuk sekarang, dia memutuskan untuk melempar gelas didekatnya dengan sekuat tenaga. Langsung kena di sekitar keningnya, Saito jatuh didepan tempat cuci piring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau lakukan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki yang gelasnya dilempar bangkit dan mencoba mencengkram bahu Louise. Louise mengangkat tubuhnya dangan mencegkram meja dan melayangkan telapak kedua sepatunya pada wajah pria tersebut. Ini pelayanan khusus, isi berganda. Melihat kebelakang pada Scarron yang ber&amp;quot;Louise-chan&amp;quot; dan buru-buru kesana, Louise dengsn erat menggenggam kepalannya sambil berguncang ke seluruh tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Familiar itu...Lihat saja. Aku akan memberikanmu pelayanan yang seharusnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
---------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito bangun...apa yang ada disana adalah dada besar Jessica. Berpikir &amp;quot;Apa ini!&amp;quot;, mulutnya terbuka menganga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wah, kau akhirnya sadar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekeliling, dia menyadari dia berbaring pada sebuah kasur. &amp;quot;Dimana ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamarku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duduk pada kursi dengan cara seakan memeluk punggung kursi, Jessica tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;mengapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pingsan saat sebuah gelas terbang ke kepalamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh begitu...Apaan gelas itu...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sepertinya Jessica tak punya rasa tertarik pada gelas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, hei, aku tahu sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise. Dia seorang ningrat, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai batuk-batuk keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak usah berpura-pura. Papa telah mempercayakanku urusan gadis-gadis toko. Kemampuanku membedakan gadis-gadis cukup bagus. Ya ampun, Louise itu bahkan tak tahu bagaimana cara membawa piring. Tak hanya itu, harga dirinya tinggi sekali. Dam kelakuan itu...ningrat sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memegangi kepalanya. Dia bahkan membuat Louise memakai baju terusan nan tawar...Ia jelas sekali, ya kan? Apaan tuyh &amp;quot;sembunyikan status sosialmu&amp;quot;? Tiada samaran sama sekali. &amp;quot;Hah! Dia seorang ningrat? Tak mungkin! Dia sangat kasar, keras, dan tak punya keanggunan sama sekali...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa. Aku takkan bilang siapapun. Kau punya alasan tertentu, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Saito tetap diam, Jessica tersenyum. Orang semacam ini cenderung menjadi sasaran kepenasaran...Dia ingin menanyai Saito, jadi dia sengaja jauh-jauh membawanya kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lebih baik jika kau tak menempatkan hidungmu di ini.&amp;quot; kata Saito dengan nada rendah. Dia ingin menakuti Jessica dan membuatnya tak menanyainya lebih jauh, Tapi ini tak bekerja untuk Jessica.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh-! Apa itu? Sesuatu buruk terlibat? Bukankah itu menarik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyenderkan tubuhnya lebih jauh, dia membawa wajah...dadanya mendekat. Mengapa belahannya sangat menekan, alasannya adalah karena pakaiannya lebih berani dibandingkand engan Siesta karena dia seorang gadis kota, dan wajah Saito mulai memerah, disaat itulah Jessica menyunggingkan senyum penuh makna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau belum pernah kencan dengan seorang gadis sebelumnya, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa? Itu, kau tak bisa meremehkanku atau...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kena. Dia sangat tajam dalam berbagai hal...Lalu keringat dingin mulai mengucur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengerti. Aku seorang gadis kota yang agak tajam, tentu saja. Sangat mudah untuk menebak apa yang ada dalam kepala orang-orang desa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan sebagai orang desa, Saito sedikit menderik. kau tahu, di Tokyo, tak peduli tentang Tristania ini, bukanlah struktur murahan. Kau akan menangis bila kau melihat Menara Tokyo. Memeikirkan itu, dia membalas, &amp;quot;Siapa yang orang desa? Aku tak ingin dikatakan begitu oleh seorang putri gay.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu jahat. Meski dia seperti itu, dia seorang ayah yang lembut. Saat ibuku meninggal, dia berkata, &#039;Baiklah, papa juga akan bekerja di tempat mama...&#039; &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Très bien itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica mengangguk. &amp;quot;yah, kita bisa mengenyampingkan soal papa. Hei, apa yang kau rencanakan bersama gadis ningrat itu? Kau bukan seorang bangsawan, kan? Pengiringnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bukan pengiringnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Saito berkata dengan sikap agak kesal, Jessica tertawa sepuasnya dan mencengkram tangan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau ingin aku mengajarimu soal wanita?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langsung mematung, Saito menatap Jessica tanpa berkedip. Gadis bar ini yang tahu agak baik soal bagaimana menggunakan pesonanya tak melewatkan perubahan tiba-tiba Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, sebagai balasannya, ceritakan padaku yang sebenarnya, OK? Tentang apa yang kalian berdua rencanakan...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica mengambil tangan Saito yang dicengkramnya dan membawanya pada belahannya. Saito lumpuh. Bersama seorang gadis dari bar. Bukankah ini juga cara yang bagus untuk mengumpulkan info? Segala macam pelanggan mengunjungi bar. Isu-isu juga terkumpul disini. Orang-orang yang merencanakan sesuatu mungkin menurunkan kewaspadaan pada gadis-gadis dan menceritakan rahasia mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat Jessica sebagai teman disini mungkin akan menjadi nilai tambah untuk kegiatan ini dari sekarang. Berpikir begitu, tepat saat dia rasa kulit yang hangat mencapai jarinya...Pintu kamar Jessica diterbangkan. Saito bangkit. Louise, gemetaran sambil mengenakan camisole putih murninya, berdiri disana. &amp;quot;Apa yang kau lakuakn?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito melihat tangannya dan menariknya kembali sembari panik. &amp;quot;Pe-pengumpulan info.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Info siapa dan dimana yang kau kumpulkan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama Saito panik, Louise berjalan cepat-cepat kedalam kamar dan menendang bagian bawah Saito dari depan. Saito bergulingan. Dicengkram pada mata kaki, saat dia hendak diseret pergi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica memanggil dan menghentikan Louise. &amp;quot;Tunggu sebentra, Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang terjadi dengan melayani pelanggan? Bukankah kau tengah bekerja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipanggil dengan sikap biasa oleh seorang gadis kota biasa, Louise mulai berguncang, tapi itu tak bisa dicegah sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Tutup mulutmu! Setelah aku mendisiplinkan Fa-fa...kakak tolol ini, Aku akans egra kembali!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito telah menjadi saudara Louise disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau punya begitu banyak waktu luang? Meski kau bahkan tak bisa mendapatkan satu tip dengan baik...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-itu tak ada hubungannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu sangat berhubungan. Ini karena aku dibebani urusan soal para gadis. Gadis sepertimu adalah pengganggu. kau membuat marah pelanggan setia, tak menerima perintah, melempar gelas kemana-mana, dan mengajak tengkar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mulai terlihat tak senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku rasa itu tak bisa diubah, Bocah sepertimu tak bisa bekerja sebagai peri bar.&amp;quot; kata Jessica bosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bukan seorang bocah. Aku 16.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Kau seumuran denganku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica memandang Lousie dengan terkejut yang tak dibuat-buat. Lalu dia melihat dada Louise lalu miliknya sendiri. Lalu dia menutup mulutnya setelah membuat sebuah suara tawa cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semoga beruntung kalau begitu. Meski aku tak mengharapkan apa-apa. tapi jika kau mengacaukan lebih jauh, kau dipecat, mengerti/&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menderik pada sikap Jessica. &amp;quot;A-apa...Wanita bodoh dengan dada besar mereka...memanggil orang bocah, atau seorang anak, atau seorang lemah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito, masih di lantai, menyela. &amp;quot;Tidak, tiada yang berkata lemah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menginjak-injak rata wajah itu. Saito mengerang dan terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan mengumpulkan tips yang cukup untuk membanguns ebuah benteng.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh~, benarkah? Aku benar-benar bahagia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena jika aku melakukan sebaik yang kubisa, aku luar biasa. Para pria itu bakal berbalik padaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau mengatakannya, huh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengatakannya. Siapa yang bakal kalah pada orang sepertimu?&amp;quot; kata Lousie sambil menatap benci dada Jessica. Si anjing tolol melihat padanya. Si anjing tolol menggosokkan tangannya disana!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pas sekali waktunya. Ada lomba tip minggu nanti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lomba tip?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya benar. Ini lomba dimana para gadis toko bersaing untuk melihat seberapa banyak tip yang bisa mereka dapat. Ada juga sebuah hadiah yang disiapkan bagi pemenang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah itu terdengar menarik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berusahalah sebaikmu. Jika kau mengalahkanku dalam lomba tip itu, aku takkan pernah memanggilmu bocah lagi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Para peri! Akhirnya, minggu yang dinanti-nanti tiba!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Mi mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mari kita mulai lomba tip dengan penuh antusias!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sorakan dan sambutan menggema seisi toko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, sebagaimana yang diketahui semua...Pendirian penginapa &amp;quot;Peri-Peri Memesona&amp;quot; ini terjadi 400 tahun lalu, selama masa Yang Mulia, Henry III, dikenal sebagai Raja Atraksi Tristain. Yang Mulia Henry III, dikenal sebagai lelaki tampan tiada tanding, disebut-sebut sebagai jelmaan seorang peri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron mulai berbicara dalam sikap menyelami cerita. &amp;quot;Suatu hari, raja itu mengunjungi kota secara diam-diam. Dan, anehnya, dia menginjakkan kakinya di bar yang belum dibuka ini. Pada saat itu, nama toko ini adalah &#039;Kasur Belut&#039;, yang tak punya sedikitpun daya tarik atau apapun. Disana, sang raja, Luar biasa! Jatuh cinta dengan seorang gadis pelayan yang ditemuainya disana!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Scarron menggelengkan kepalanya sedih. &amp;quot;tapi seorang raja tak seharusnya jatuh cinta dengan seorang gadis dari bar...Pada akhirnya, sang raja menyerah dari cinta ini. Lalu...sang raja menyiapkan sebuah bustier dan mengirimnya pada si gadis sebagai pengingat cinta mereka. Leluhurku sangat terkesan dnegan cinta itu dan mengubah nama toko, mendasarkannya pada bustier tersebut. Oh, cerita nan indah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cerita yang sangat indah! Mi Mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Inilah bustier &#039;Peri-Peri Memesona&#039;!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tegas, Scarron melepaskan garmen luar dan celananya, Kali ini, Saito, yang menonton dari jauh, ber&#039;Ouue&#039; dan muntah. Ini karena Scarron memakan bustier hitam pendek nan seksi yang memuat tubuh Scarron secara sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bustier &#039;Peri-Peri Memesona&#039; yang dikirimlan raja pada gadis yang dicintainya 400 tahun lalu adalah pusaka keluargaku! Bustier ini memiliki sihir yang membuatnya dapat merubah ukuran sesuai ukuran pemakainya dan juga sihir &amp;quot;Daya tarik&amp;quot; terpasanga padanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini luar biasa! Mi Mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nnnn~! Très bien!&amp;quot; Scarron berpose dengan suara bergairah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu...Anehnya, perasaan &amp;quot;ini tak terlalu buruk&amp;quot; bangkit dalam diri Saito. Keinginan baik terhadap Scarron...perasaan seperti itu. Meski penampilannya menjijikkan, bukankah ini baik dalam caranya sendiri? mulai dirasa Saito...Saito lalu menyadarinya. Ini adalah identitas dari sihir &amp;quot;Daya tarik&amp;quot;! Tapi penampilan Scarron terlalu minus, jadi efeknya hanya bisa sampai &amp;quot;Ini pas...begitulah&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh begitu. Karena pemakainya Scarron, aku hanya berpikir sampai segitu. Jika seorang gadis biasa memakainya...Aku mungkin melihatnya sebagai si cantik tiada tanding. Sihir benar-benar menakutkan, angguk Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil tetap berpose, Scarron melanjutkan pidatonya. &amp;quot;Peri yang memenangkan lomba tip yang dimulai minggu ini akan diberikan hak memakai bustier &#039;Peri-Peri Memesona&#039; selama sehari! Ya ampun! Aku membayangkan berapa besar sih tip yang bakal didapat pada hari dia memakainya! Aku jadi bersemangat hanya dengan memikirkannya! Dan karena itulah semuanya harus berusaha sebaik-baiknya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Mi Mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus sekali! Baiklah, semuanya! Pegang gelas kalian!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para gadis mengangkat gelas mereka seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk kesuksesan lomba tip dan bisnis, kesejahteraan dan...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disitu, Scarron memotong kalimatnya dan berdiri tegak dnegan wajah serius setelah membersihkan tenggorokannya. Setelahnya, tidak dalam bahasa femininnya yang biasa, tapi dengan suara pria berusia setengah baya, dia berkata, &amp;quot;Sebuah doa pada Kesehatan Yang Mulia Ratu. Bersorak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan mengangkat gelas anggurnya.&lt;br /&gt;
-------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, lomba tip dimulai seperti ini, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia berpikir dengan keadaan seperti ini, dia takkan mendapatkan tip berapapun, Louise memutuskan untuk berhenti berbicara. Louise menyadari dia bakal membuat pelanggan marah kapapnpun dia buka mulut. Itulah mengpa dia memutuskan diam sebisa mungkin. Dengan begitu, dia menuangkan anggur untuk seorang pelanggan tertentu saat dia berbicara pada Louise. Sukses. Ini kesempatan untuk mendapatkan tip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, kau, sebentar. Tunjukkan tanganmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengulurkan tangannya. &amp;quot;Aku mengerjakan ramalan, jadi aku akan meramalmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelanggan itu memandangi telapak tangan Louise dan berkata begini. &amp;quot;Berdasarkan ramalanku, kau...dilahirkan sebagai penumbuk tepung. Apa aku benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berani-beraninya kau membandingkan penumbuk tepung dengan seorang ningrat sepertiku, keterlaluan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu meramal lebih lanjut. &amp;quot;Oh! Kau seperti itu kan? Punya seseorang yang kau suka?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memikirkan wajah familiarnya. Dia tak bisa memaafkan dirinya sendiri karena berfikir begitu. Aku tak punya satupun. Louise menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak? kau punya, kan?! Maka aku akan meramal kecocokanmu dnegannya...Wah! Aku terkejut!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu dengan sedih menggelengkan kepalanya. &amp;quot;Terburuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu itu bahkan bila kau tak memberitahuku. Aku tahu itu terlalu baik. Lagipula, pertama-tama, aku juga tak suka dia...Tersinggung, Louise memberikan terima kasihnya atas ramalan itu dengan kakinya, Bagi Louise, orang berupa lawan jenis yang terdekat adalah Saito. Kebiasaannya memperlakukan Saito tak sengaja keluar. Kebiasaan itu menakutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-ada apa denganmu?! Kau bocah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan seorang bocah. aku 16. Dia ingin merespon, tapid engantegas tetap diam. Aku memutuskan untuk dia beberapa saat yang lalu, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Katakan sesuatu, kau bau kencur!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya lambat tumbuh. Kejam sekali perkataanmu...Berpikir untuk mengatakan baik-baik soal umurnya pada pelanggan, Louise menendang wajah pelanggan itu 16 kali. Tamunya langsung rata. Yah, selalu saja begini, jadi Louise tak mendapat tip berapapun hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise ngeri karena sebagai hasil mencoba diam, jumlah telapak kakinya terbang meningkat sebagai ganti bahasa kasarnya. Sepertinya perasaan yang tak bisa diungkapkan keras-keras malah dikatakan telapak kakinya. Pagi berikutnya, Louise berdiskusi dengan Saito tentang apa yang harusdilakukan. Saito mengusulkan, untuk mencegah telapak kakinya kemana-mana, Louise seharusnya melepas celana dalamnya dan bekerja, dan dia dihantam.&lt;br /&gt;
-----------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise sangat hati-hati agar tak membiarkan kakinya terbang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk membuatnya tersenyum tak peduli apa kata orang, dia menempatkan kawat di mulutnya dan membuat wajahnya tersenyum. Pelayan Louise yang siap sempurna tak pernah berhenti tersenyum. Tapi...Dia tak pernah menerima tip. Dia menahan dan menjaga ujung kakinya terbang, dan dia menahan senyumnya. Tapi kemudian...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wow, masalahnya datang dari tangannya. Seorang pelanggan tertarik pada Louise yang melayani. Sepertinya dia menyukai wajahnya. &amp;quot;Oh, kau, agak manis, ya? Tuang untukku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu puas dnegan wajah Louise, tapi kemudian dia menyadari suatu kesalahan nan pasti. Dada Louise. Apa ini. Datar smpurna. Tanpa sadar, kata-kata godaan keluar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa denganmu? Jangan katakan kau seorang lelaki? Yah, toh wajahmu mendinganlah...Dengarkan, biarkan aku mengajarimu sebuah muslihat. Setidaknya sumpal beberapa kain dan semacamnya disitu. Jika kau melakukannya, kau akan jadi yang pertma disini! Gahaha! Sekarang tuang beberapa untukku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata-kata pria itu, otot wajah Louise mulai berdenyut-denyut, tapi senyumnya tetap muncul berkata kawatnya. Disini, seharusnya semuanya berjalan baik berkat kawat itu... Tapi tidak begitu yang kejadian....Louise telah menuangkan anggur pada kepala pria itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apaan sih kau?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu bangkit. Louise, merasakan bahayapada tubuhnya, menghantamkan botol anggur pada kepalanya. Pria itu runtuh ke lantai sehingga Louise tak harus menuang untuknya lagi, tapi dia tak mendapatkan tip berapapun. Seperti ini, Louise terkejut bahwa tiapkali seseorang menghina ukuran dadanya, tanganya bergerak sendiri dan membuat kepala pelanggan meminum anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi berikutnya, Louise berdiskusi dengan Saito. Saito mengusulkan, bahwa untuk menjaga dirinya dari membuat kepala pelanggan meminum anggur, dia seharusnya menaruh botol angur diantara dadanya dan menuang. Botol anggur takkan secara fisik mencapai kepala pelanggan jika tangannya berada pada dadanya. Apalagi, pose ini sangat menyenangkan bagi pelanggan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Louise, berfikir bahwa dia mengatakan seseuatu yang buruk soal ukuran dadanya, dan memukul Saito.&lt;br /&gt;
------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ketiga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise berhati-hati untuk menjaga tangannya dari bergerak. Setelah dia menaruh anggur di atas meja, dia menaruh tangannya dibelakang dan tersenyum cerah. Bahkan saat dia disuruh untuk menuangkan sesuatu, yang dilakukannya hanyalah tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tuangkan aku sebagian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bilang tuangkan aku sebagian!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa denganmu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak mungkin baginya mendapatkan tip satupun. Saat dia berdiskusi dengan Saito, dia bilang untuk memegangnya di mulut saat Louise menuangkannya. mulut Louise kecil. Sebuah botol anggur tak muat disitu. kalau dilihat lebih dekat, Saito terlihat dia mengantuk. Hanya karena kau mengantuk tak berarti kau bisa berkata serampangan. Dan Louise menghantam Saito.&lt;br /&gt;
-------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari keempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lomba sudah setengah jalan. Jumlah tip sampai saat ini adalah nol. Sebagaimana diduga, Louise mulai putus asa. Louise melayani sambil berhati-hati pada telapak kakinya, posisi dia menuangkan anggur, dan kata-katanya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tampak tak ahli, tapi anehnya sikapmu anggun, kau bisa mendapatkan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin karena usahanya, Louise mendapatkan sebuah koin emas dari seseorang yang tampaknya adalah pelanggan bangsawan pertama yang dilayaninya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Be-benarkah? Bisakah aku memiliki ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah, Ambil saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Waai!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melompat tinggi saking bahagianya, dia membalikkan sebuah piring dan menumpahkan makanan ke baju pelanggan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-aku minta maaf...&amp;quot; Louise minta maaf, tapi pelanggan ningrat itu tak bisa memaafkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau...Baju ini adalah pertama dari sutra yang gajimu takkan pernah bisa membayarnya, Apa yang akan kau lakukan tentangnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku benar-benar minta maaf...Auu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, apa yang bakal kau lakukan untuk ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-aku akan membayar untuk itu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmph, klo gitu, mari kita lakukan ini. Kau harus mebayar ini dengan sesuatu yang bisa kau lakukan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang harus kulakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak seberapa, hanya datang ke kamarku pada tengah malam.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau akan mengerti apa yang akan terjadi setelahnya, kan? Kau bukan seorang bocah, kan? Seorang bocah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa maksudnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maksudku kau harus membayar agak banyak dengan tubuhmu. Itulah maksudku. Muhoho!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Darah naik ke kepala Louise. E. e-e, meski kau seorang ningrat, apaan ini! Putri ketiga dari keluarga duke menjadi marah. Jangan menempatkan para ningrat dekat keasusilaan. Sebagai wakil Yang Mulia, aku harus memutus dan menghukum noda hitam keningratan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau memalukan! Karena orang-orang sepertimu ada! Ototritas Kerajaan! Ototritas! dan juga otoritasku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa yang kau lakukan? Uwah! Hentikan! Hentikan, kataku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakinya, ucapannya, dan anggur, semuanya terbang seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kukembalikan ini padamu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melemparkan tip yang didapatnya pada wajah si pelanggan. Louise dipanggil Scarron dan disuruh untuk mencuci piring seharian besok sebagai hukuman. Louise sangat kesal dan memutuskan untuk memukul Saito.&lt;br /&gt;
--------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari kelima...Saat Louise tengah mencuci piring bersama Saito, Jessica mendatangi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kabarmu? Ojou-sama, aku telah mengumpulkan 120 écus sejauh ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah itu luar biasa?&amp;quot; jawab Louise pundung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau takkan mendapatkan tip apapun sambilo mencuci piring.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kutahu itu.&amp;quot; kata Louise sambil mencucui piring sekenanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sheesh. Kau bahkan tak bisa mencucui sebuah piring dengan benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku mencuci piring dengan benar, kau tahu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lihat, ini masih ada minyak tersisa. Kau tak bisa menyebut ini tercuci.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica mengambil piring dari Louise dan mencucuinya dalam gerakan tangan nan cepat. Louise menontonnya, merasa tersinggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei.&amp;quot;Jessica menatap Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seseorang mengajarimu. Apaan sikap itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Uu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menonton keduanya bertukar pandang dengan wajah terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saat seseoran mengajarimu seseuatu, kau mengucap &#039;terima kasih&#039; kan? Ini dasar, dasar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Te-terima kasih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun, adalah karena kau berwajah seperti itu kau tak mendapat tip apapun. Esok hari terakhir, ya kan? Berbenahlah, Ojou-sama.&amp;quot;Meninggalkan ucapan itu, Jessica menghilang, kembali ke bar. Louise menggantung kepalanya merasa terhina.&lt;br /&gt;
--------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu hari menuju pagi...Louise, setelah mencuci piring sepanjang malam, melihat tangannya sendiri dan mendesah. Jari-jari Louise yang tak pernah mencuci apapun sebelumnya menjadi merah terang karena kerja dapur yang dia tak terbiasa dan sakit berkat air dingin dan sabun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa aku harus melakukan sesuatu seperti ini? pikirnya. Meski dia sendiri adalah seorang ningrat, dia harus mencuci piring...Mendapati dirinya melayani semua jelata itu...Tambahan lagi, seorang gadis bar berbicara kurang ajar padaku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak lagi.&amp;quot; gumam Louise. Apa itu mengumpulkan info atau apapun, ini bukanlah tugasku, Aku seorang legenda, Aku pengguna Void, kau tahu. Namun mengapa aku harus menjadi pelayan di sebuah bar? Bukankah, misalnya, sebuah misi yang lebih bergengsi tengah menunggu aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpikir seperti itu, air mata mulai berjatuhan karena sedih. Membuka sebuah papan lantai, Saito menyembulkan kepalanya dari tangga sehingga Louise merangkak meuju kasur. Dia tak ingin Saito melihatnya menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini ada makanan.&amp;quot; Saito memanggil Louise, menaruh sebuah piring berisi rebusan di meja.Tapi Louise hanya menjawab lelah dari dalam kasur. &amp;quot;aku tak memerlukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak mungkin kau tak memerlukannya. kau takkan bertahan bila kau tak makan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia tak enak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Meski kau berkata ini tak enak, tiada lagi yang bisa dimakan jadi tak bisa diapa-apakan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, Louise menyelimuti dirinyadan tak keluar dari kasur. Saito menghampiri tempat tidur dan menarik lepas selimutnya. Louise tengah meringkuk dalam futon denga piyamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Makanlah. Badanmu akan roboh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tanganku sakit. Aku tak bisa memegang sendok.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengeluh seperti anak kecil. Melihat ini tiada gunanya, Saito menyendok rebusan dan membawanya ke mulut Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu, sini, aku akan menyuapmu. Makanlah. ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise akhirnya menelannya, Airmata bercucuran dari matanya. &amp;quot;Aku tak menginginkan ini lagi. Aku aka kembali ke akademi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan tugasnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak peduli, Ini bukan tugasku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menarik balik sendok dan menatap Louise. &amp;quot;Kau tahu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau mempunyai motivasi meski sedikit?&amp;quot;\&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku punya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putri-sama mempercayakanmu pekerjaan ini karena dia percaya padamu, kan? Bercampur dengan para jelata dan mengumpulkan info. Karena jika dia memakai seseorang dari senat kerajaan, dia akan ditolak...Dia tak bisa bergantung pada siapapun jadi dia bergantung padamu, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan lihat dirimu sekarang. Kehilangan seluruh uang kita di arena judi karena kau tersinggung, dan kau seret harga diri ningratmu kesini dan tak dapat tip satupun. Kau juga membuat pelanggan marah. tak dekat sama sekali dengan pengumpulan info.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tutup mulutlah kau. Tapi apa hubungannya tugas itu dnegan melayani dan mencucui piring bodoh itu? Aku ingin tugas yang lebih besar. Tiada lagi dari ini. Mengapa seorang ningrat sepertiku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mencengkram bahu Louise dan membuat Louise menghadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tebak apa, Ojou-sama? Semuanya kerja. Mereka berusaha sebaik mereka di pekerjaan ini yang kau bilang bodoh dan makan makanan ini. Hanya kalian para ningrat yang bermain kesana-kemari dan membuat orang-orang menyuap kalian.&amp;quot; kata Saito dengan nada serius. Louise, karena takutnya, menunduk tanpa pikir panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak bisa mengatakan banyak omomgkosong karena aku dibesarkan mirip denganmu, tapi setelah datang kesini, aku menderita dalam banyak cara dan mengerti. Bahwa adalah agak bermasalah hanya untuk hidup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah mengapa tak bisa membalas, Louise tetap diam. Sato melanjutkan kata-katanya. &amp;quot;Aku tak terlalu mengerti, tapi mungkin orang-orang begitu yang sibuk dengan harga diri bodoh mereka tak bisa melakukan pekerjaan besar? Yah, aku berpikir begitu sih. Ya...jika kau menyuruhku berhenti, aku berhenti. Aku tak peduli juga sih. Karena ini memang bukan pekerjaanku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menutup mulutnya, terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak lagi menginginkannya?&amp;quot; tanya Saito sambil mengulurkan sendok, Louise melompat dari kasur, mengambil sendok dari Saito, dan mulai menghabiskan rebusan. Saito mengembangkan tangannya, memutar kepalanya, dan mengambil sesuatu. Ia sebuah kotak keramik kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Apa itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Krim yang bekerja pada kulit yang tergerus air, Jessica memberikannya padaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito kemudian menyuruh Louise untuk menjulurkan tangannya. Louise melakukannya dengan patuh. Louise melihat muka Saito rasa bersalah selama dia mengoleskan krimnya, tapi...sesaat kemudian dia bergumam dengan nada kecil. &amp;quot;Hei...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan melayani, Aku akan mencuci piring. Apa itu OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu OK.&amp;quot; kata Saito dengan nada lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi apa kau tak apa-apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Soal apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ini OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi Louise memerah dan berkata dengan nada tak senang. &amp;quot;Melayani sih OK. Aku bahkan akan mengatakan kata-kata anggun. Tapi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa tak apa-apa jika para pelanggan menyentuh-nyentuh tuanmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito langsung terdiam tak mampu berkata apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei. Bagaimana dnegan itu? Jangan berkata hal-hal yang memeningkan diri sendiri dan jawablah dengan baik jika ia baik atau borok.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai memakan rebusan dengan diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bilang hei. Yang mana? katakan.&amp;quot; Tanya Louise sambil menarik telinga Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat terengah-engah pada rebusan, Saito bergumam &amp;quot;...Ji-jika kau memperbolehkan sentuhan semacam itu, aku akan menampar mereka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa yang bakal kau tampar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Kau.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menatap tajam kedalam mata Saito. &amp;quot;Mengapa? Si tuan ini bakal ditampar familiarnya, coba jelaskan alasannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hening menyapa...Sambil membuang muka ke samping, Saito berucap tak jelas &amp;quot;Meski A-aku akan memaafkan pegangan tangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apaan itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menerbangkan Saito. &amp;quot;Apaan tuh &#039;Aku akan memaafkan berpegangan&#039;?! Aku menyaimu alasan menampurku! Tolol!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ka-karena...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula, apa maksudmu &#039;memaafkan? Berakting begitu bangga. Soal aku berpegangan tangan atau lainnya tak diputuskan olehmu. Itu semua oleh aku, aku! Hmph!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menyisir rambut pink blondenya dan memasang sikap tegas. Dia melipat lengannya. &amp;quot;Baiklah. Bukankah itu Bustier &#039;Peri-peri memesona&#039;? Aku akan memakainya dan membuat seluruh peanggan terpesona. yah, demi tip. Aku akan memaafkan. Tak hanya tanganku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito bangkit loncat dan berteriak pada Louise. &amp;quot;Jangan bercanda!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise membuang muka dan mernagkak kembali ke kasur. Beberapa saat setelahnya, Saito berhasil menguasai diri dan menggelengkan kepalanya. &amp;quot;Yah, bustier &#039;Peri-Peri Memesona&#039; itu mustahil. itu hadiah pemenang. Kini, kau mungkin yang terakhir dalam lomba tip.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tak menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi khawatir, Saito bertanya &amp;quot;...Apa kau benar-benar akan memaafkan mereka? Mengenyampingkan kemenangan lomba tip, apa kau benar-benar sudah teguh? Bukankah itu sedikit keterlaluan? Ayolah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tak membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa kau benar-benar akan melakukannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan suara yang hampir menangis, Saito terus menanyai Louise. Tapi, Louise berteriak &amp;quot;Diamlah! Aku hendak tidur!&amp;quot;...dan Saito dengan berat hati merangkak kedalam kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari terakhir lomba tips telah datang. Pada sorenya, Scarron mengumumkan hasil sejauh ini. &amp;quot;Kini aku akan mengumumkan tiga teratas terkini! Pertama adalah tempat ketiga! Marlene-chan! 84 écus, 52 sous, dan 6 deniers!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambutan bergema. Gadis blonde bernama Marlene membungkuk dengan anggunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kedua! Jeanne-chan! 96 écus, 65 sous, dan 3 deniers!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambutan bergema lagi. Gadis berambut chestnut bernama Jeanne tersenyum dan mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kemudian...Yang pertama!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron pelan-pelan meninjau seluruh gadis dan mengangguk berulang-ulang. &amp;quot;Tanpa tanding, putriku! Jessica! 160 écus, 70 sous, and 8 deniers!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Waaaahhhh!&amp;quot; Begitu sorakan kegembiraan membahana. Jessica, yang memakai pakaian yang menggoda dengan celah besar yang disiapkan untuk hari ini, membungkuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang! Entah kau menangis atau tertawa, hari ini adalah hari terakhir! Tapi hari ini adalah hari daeg dari minggu teuz! Karena ini akhir bulan, banyak pelanggan bakal datang! Jika kau berusaha keras, kau mungkin dapat banyak tip. Tempat teratas masih berada dalam jangkauan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Mi mademoiselle!:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mencolek Louise yang berwajah serius. Louise menampakkan wajah semacam itu bia dia berkeinginginan keras untuk sesuatu. &amp;quot;Berapa yang kau punya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menjawab, Louise membuka kepalannya yang erat. Disana...ada beberapa koin tembaga yang berkilauan. Saito mengelus dada. Dengan itu, kemenangan mustahil bahkan jika Louise berusaha sekeras-kerasnya. Kata-kata Louise &amp;quot;Jika aku mendapatkan Bustier &#039;Peri-Peri Memesona;, aku akan membuat pelanggan terpesona dan memaafkan apapun&amp;quot; masih mengganggunya hingga kini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apaan tuh &amp;quot;Memaafkan semuanya&amp;quot;?!&amp;quot; Apa maksudmu?! Meski, a...aku belum melakukan apapun! Meski bukan berarti aku punya hak untuk itu. Tapi tak begitu juga sih. Ah, apalah aku ini, hanya seorang familiar belaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Aku ingin dia berusaha sebaik-baiknya, tapi tidak hingga tingkat itu&#039; adalah jenis emosi yang berlarian di pikiran Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron berteriak dengan sebuah suara keras. &amp;quot;Maka, ayo lakukan ini dengan penuh semangat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sorakan membahana dengan seluruh macam perasaan bergema mengisi toko.&lt;br /&gt;
___________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian sekarang....Louise sedikit berbeda hari ini. Dia melepas kawat yang menahan senyumnya dan menampakkan sebuah senyum alami. Dia akan tersenyum cerah lalu menyentuhkan jari dengan gelisah sambil malu-malu. Dengan begitu, pelanggan akan bertanya, &amp;quot;Apa ada sesuatu yang salah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise akan memainkan jempolnya dan terus gelisah. Dan lalu, seakan mengatakan sesuatu yang sulit diucapkan, Dia akan berusaha dan mengucapkan &amp;quot;Ya..., Pelanggan, karena kau sangat luar biasa...&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi si pelanggan sendiri tampak sudah terbiasa dengan tingkat pujian segitu. Tanpa bergerak, dia mengacungkan gelas anggurnya. Disini, Louise akan melepaskan gerakan pamungkasnya. Memegang ujung hem camisolenya, dia membungkuk dengan anggun. Persis seperti yang diharapkan dari keluarga duke. Bungkukan ini, yang dilakukan sekaan berada de depan raja, berisi ruh seorang ningrat. Tiada gadis lain yang bisa meniru sikap ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan itu, si pelanggan akan menjadi tertarik pada latar Louise. Oh begitu. Bila aku melihat lebih jelas, ciri-cirinya agak mirip dengan seorang ningrat. &amp;quot;Kau lahir dari kelas atas, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, Louise tak berhenti menunjukkan malu-malunya. Lalu dengan penuh kesedihan dan penuh kenangan, dia menerawang keluar. Pria itu menjadi semakin terpikat pada kelakuan Louise yang anggun. Sambil membungkukkan dirinya kedepan, dia menyuarakan harapannya. &amp;quot;Apa kau melayani rumah ningrat tertentu? Mereka mengajarimu etika luhur disana, kan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise terus terenyum cerah. Angan-angan si pelanggan membumbung tinggi seiring dengan kesenangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika seorang gadis manis dan pendiam sepertimu melayani mereka, mungkin akhirnya tak disitu saja. Tak hanya etika, tapi juga begini dan begitu...juga dipaksakan masuk padamu, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memberikan bungkukan anggun. Senjata Louise hanyalah senyum dan bungkukannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kuh! Cerita yang menyedihkan! Seorang gadis manis sepertimu...Tapi bagaimana seorang pelayan sepertimu datang untuk bekerja di toko ini...Oh begitu! Aku tahu! Kau tak tahan dengan tuanmu yang memaksa membuatmu mengerjakan begini dan begitu, lalu kau kabur dari kediamannya, kan? tapi utang yang ditinggalkan ortumu tetap ada. Untuk melunasinya, kau bekerja sekuat tenaga. Seperti itu, kan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tersenyum sambil memandangi pelanggan. Dipandangi oleh mata Louise yang coklat merah bagaikan permata, si pelanggan, seakan tersihir mantra, ingin melonggarkan tali dompetnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kasihan anak ini. Hmm, gunakan ini untuk melunasi hutangmu. Ngomong-ngomong, yah, hal-hal semacam ini dan itu...itu apa ya? Tolong ceritakan padaku, OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pelanggan, yang tengah terbang dalam khayalannya sendiri karena sikap Louise, akan memberikan Louise koin emas dan perak. Tepat saat dia mendapatkannya, dia berlari secepat-cepatnya ke dapur, berjongkok, dan melepaskan napas terburu-buru. Memaksakan dirinya bersikap anggun dan bertingkah yang menarik simpati orang bagai leprosy, jadi Louise memutuskan memukul Saito, yang tengah mencuci piring, untuk sekarang. Dengan begitu, dia merasa sedikit tersegarkan. Lalu dia buru-buru kembali ke meja.    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya, ini waktunya ber&amp;quot;tugas&amp;quot;. Itu mengumpulkan info yang dipercayakan padanya oleh Putri-sama. Dia tak ingin kalah di lomba tip, tapi tugas ini lebih penting. Duduk disamping si pelanggan, dia bertanya, &amp;quot;Ya ampun, mereka mengatakan ini sebuah perang. Kau akan lelah oleh ini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, begitulah. Mereka mengangkatnya sebagai &amp;quot;wanita suci&amp;quot;, tapi bagaimana dengan pemerintahan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa maksudnya itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengatakan putri yang abai itu tak bisa memerintah negara ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menghina Henrietta, tapi Louise dengan sekuat tenaga menahannya. Dia harus mendengar semua jenis cerita darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seperti Pertempuran Tarbes...sepertinya kita menag karena beruntung! Aku tak terlalu yakin tentang yang selanjutnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan seperti itu, Louise perlahan mengumpulkan isu-siu di kota. para pemabuk suka berdiskusi soal keadaan dunia. Saat Louise mengangkar hal untuk menarik mereka, mereka akan mulai mengritisi pemerintahan seakan mereka menunggu Louise bertanya. Para pemabuk akan ngobrol soal pemerintahan seakan mereka menteri kabinet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula, akan lebih baik bagi negeri ini bila Albion yang memerintah kita, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika opini yang begitu kelewatan keluar,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengatakan kita seharusnya cepat-cepat dan menyerang Albion!&amp;quot; sebuah opini nan berani bakal menyembul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berkata, &amp;quot;Ada isu bahwa tentara akan diperkuat! Pajak-pajak akan ditingkatkan lagi! mereka pasti bercanda!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu. &amp;quot;Bisakah tentara yangs ekarang melindungi negara ini? Kuberharap mereka cepat-cepat dan mengatur armada!&amp;quot; sebuah opini yang sangat bertolak belakang terangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga...disambung-sambungkan, keterkenalan henrietta dari mengalahkan Albion di pertempuran tarbes mulai menurun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Perang tetap belum beres...Sepertinya depresi akan berlanjut. Henrietta masih muda. Bisakah dia membimbing negara ini dengan baik dari sekarang?&#039; adalah ketegangan yang dirasakan semuanya. Mungkin ini cerita nan menyakitkan bagi Henrietta, tapi aku harus melaporkan yang sebenarnya padanya...pikir Louise. Seperti itu, Louise mulai mengumpulkan tip dan info tapi...Pengumpulan tip Jessica begitu tak tertandingi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, Jessica ahli dalam membuat para pelanggan berpikir &amp;quot;Dia telah jatuh cinta padaku.&amp;quot; Louise mulai mengamati bagaimana Jessica melakukannya, jika kau tak tahu musuhmu, kau tak bisa memenangkan pertarungannya. Jessica pertama-tama bersikap dingin pada pelanggan sasarannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh makanan didepan pelanggan sambil terlihat marah. si pelanggan terkejut dengan sikap itu. &amp;quot;hei, apaan ini, Jessica? Apa hatimu sedang tak enak?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica menatap tajam pelanggan dengan mata dingin. &amp;quot;Tadi kau bicara kepada siapa?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kau menyebutnya keahlian atau yang lainnya, keiriannya sangat dewa. Bagaimanapun juga, kelihatannya dia benar-benar iri. Pada saat itu, si pelanggan salah mengerti bahwa dia tengah jatuh cinta padanya dan kini sangat iri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa...tersenyumlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan apa-apa...Kau suka gadis itu, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bodoh! Yang paling kucintai adalah Kau! Ayolah...&amp;quot; Katanya dan mencoba menyerahkan sebuah tip. tapi Jessica menampik uang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan uang! Yang kuinginkan adalah kata-kata manis! Apa yang kau katakan sebelumnya...Apa itu dusta belaka? Aku benar-benar serius! Apa?! Aku tak peduli lagi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak mungkin itu dusta belaka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayo cerialah...Kaulah satu-satunya untukku. OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau mengatakan itu pada semua orang. Hanya karena kau sedikit terkenal diantara gadis-gadis...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli bagaimana kau melihatnya, pria itu tak mempunyai wajah yang terkenal. Biasanya, dia takkan percaya pujian semacam itu. Tapi kata-kata sihir tengah keluar dari mulut Jessica. Dengan cara bagaikan dia melakukannya tak sengaja. Pria itu tertipu sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak terkenal! Beneran!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar, Satu-satunya yang akan berpikir untuk mencium bibirmu adalah aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar...Sangat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hau... Tapi aku kelelahan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu, sekarang kami tengah mengadakan lomba bodoh ini yang disebut lomba tip. Aku tak terlalu pedulid engan tip tapi...Aku akan dihardik bila hanya mendapatkan jumlah kecil.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika itu berupa tip, aku akan memberikanmu beberapa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa! Kau memberikanku kata-kata lembut, jadi tak apa-apa! Sebagai gantinya, Aku akan marah bila kau mengatakan hal yang sama pada gadis lainnya, mengerti?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia memandanginya, Dengan begini, pria tersebut kalah telak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah...Tapi adalah benar-benar melelahkan untuk memberikan pujian demi tip...Karena mengungkapkan perasaanmu secara jujur pada orang yang kau cintai dan pujian berbeda...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengerti. Aku akan memberikanmu ini, jadi jangan pergi menyedot pada orang lain, ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku berkata ini tak apa-apa! Aku tak memerlukannya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini perasaanku. Perasaanku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu membuat Jessica yang menolak, mengambil tip. &amp;quot;Terima kasih&amp;quot; bisik Jessica malu-malu dan mengenggam tangan pria tersebut. Pria tersebut lalu mencoba membuat janji kencan dengan Jessica. &amp;quot;Kalau begitu, hari ini, saat toko tutup...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah! Ini tak bagus! Makanan akan hangus...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia mendapatkan apa yang diinginkannya, tiada lagi perlunya dia. Jessica bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, hey...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayo ngobrol lagi nanti! Jangan jelalatan melihat pada gadis lainnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapkan punggungnya pada pria itu, Jessica menjulurkan lidahnya, Semuanya hanya pura-pura. Setelah Jessica pergo, si pelanggan menghadap teman-temannya dan ber&amp;quot;Iyah, jadi iri seperti itu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise terkagum-kagum. Teknik yang benar-benar mengerikan dari seorang gadis kota yang membuat Kirche terlihat seperti anak kecil. Kemampuan membujuknya, yang membuat orang-orang membayangkan tak peduli seberapa banyak cara dia menunjukkan keiriannya, membuatnya mapu mengumpulkan tip seakan menyapunya dengan sebuah sapu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica bukan seorang cantik yang begitu menonjol. Tapi...dia berada di tapal batas yang membuat pria berpikir &#039;Klo segini sih, mungkin bahkan kupun bisa .&amp;quot; Jenis-jenis gadis seperti ini cenderung lebih terkenal di dunia debandingkan dengan orang-orang yang cantik tiada tanding. Louise, yang tengah mengamati, bertemu mata dengan Jessica. Jessica menyeringai dan menunjukkan Louise dia yang menyimpan tip diantara belahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, bahkan jika dia tak berjudi, Saito tetap akan menjadi tak beruang, pikir Louise. Jika gadis kota itu tahu dia punya uang, tiada yang tahu apa yang bakal dilakukannya. Dan familiar bodoh itu...akan digulung dan dijemur dalam sesaat.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memikirkan wajah Siesta, Dia memikirkan wajah Jessica. Dia memikirkan wajah Saito yang melihat pada belahan keduanya. Kayak aku bakal kalah. Louise dengan erat mengepalkan tangannya...membusungkan dada ratanya, dan dengan rusuh bangkit pada kedua kakinya.&lt;br /&gt;
------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi para gadis berlomba untuk jumlah tip seperti itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintu bulu terbuka, dan sekelompok pelanggan baru muncul. Di depan ada pria setengah baya yang mengenakan sebuah mantel yang berarti dia seorang ningrat. Sepertinya dia menggemuk, dan rambut yang menipis tertempel pada dahi mulusnya. Yang bersamanya sepertinya ningrat dari kelas lebih rendah. Mereka memiliki tongkat sihir mirip rapier tergantung pada pinggang mereka, dan ada beberapa ningrat yang mengenakan seragam militer bersama mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat para ningrat masuk, semua yang berada dalam toko hening. Scarron buru-buru ke tamu yang baru sambil menggosok kedua tangannya bersamaan. &amp;quot;Jika ini bukan Chulenne-sama, Selamat datang di penginapan &#039;Peri-peri memesona&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si bangsawan bernama Chulenne membengkokkan kumis mirip lelenya dan membengkokkannya ke belakang. &amp;quot;Hmm, ehem, Toko sepertinya tengah makmur ya, huh, manajer toko?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, tidak. Tak sama sekali. Ini hanya kebetlan saja hari ini. Biasanya, yang terjadi hanyalah suara tekukur. Aku tengah akan segera berdiskusi dengan putriku soal mengunjungi kuil besok untuk mendapatkan permisi untuk menyelamatkan leherku. ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa, hari ini bukanlah hari kerja. kau tak harus membuat alasan begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meminta maaf, Scarron melanjutkan. &amp;quot;itu hanya perkataanku, Chulenne-sama, tapi sebagaimana yang kau lihat, hari ini, toko sudah penuh terisi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak melihatnya begitu lho.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Chulenne berlebihan seperti itu, para ningrat pengikutnya mengeluarkan tongkat mereka. Para pelanggan, ketakutan oleh ongkat sihir berkilau para bangsawan, bangun dari mabuk mereka, bangkitm dan menghilang dari pintu masuk dengan kecepatan penuh. Toko kosong seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya perkataan soal tekukur benar juga adanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perut yang bergerak-gerak, kelompok Chulenne menduduki meja di tengah. saat Saito menyadarinya, Jessica disampingnya, melihat Chulenne dengan putus asa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa orang itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Chulenne, pengumpul pajak disekitar sini. hanya dengan begini, dia datang ke toko-toko di bawah wewenangnya dan berkerumun di sekitar kami. Seorang yang buruk! Dia takkan membayar satu koin tembaga pun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seperti itukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berlagak seperti itu hanya karena dia seorang ningrat. Jika kau membuatnya tak senang, dia akan membebani pajak berlebihan padamu dan membangkrutkan tokomu, jadi semuanya mendengarkan apa yang dikatakannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya disetiap dunia, ada orang-orang yang menyalahgunakan kekuatan mereka dan memeras rakyat. Tiada yang datang melayaninya, jadi Chulenne jadi kesal. Setelahnya, dia mulai mengeluh. &amp;quot;Oh! Toko ini tampaknya untung agak besar! Bukankah ini anggur sebuah sake yang difermentasi begitu baik dari Gronyu? pakaian yang dikenakan gadis itu dijahit Gallia! Sepertinya aku harus melihat lagi tingkat pajak tahn ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangsawan yang mengelilinginya ber&amp;quot;itu benar&amp;quot; atau mengangguk setuju pada Chulenne.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apakah tiada gadis yang akan menungakan alkohol pada Pengumpul pajak Yang Mulia Ratu?! Toko ini setidaknya menjual itu, kan?!&amp;quot; teriak Chulenne. Tapi, tiada gadis toko yang menghampirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa yang akan menuang untukmu, saat kau takkan pernah menyerahkan tip apapun tak peduli sebanyak berapapun kau menyentuh mereka?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Jessica menggumamkan itu mengejeknya....Sebuah bayangan kecil yang mengenakan camisole putih menghampirinya sambil membawa nampan dengan anggur. Itu Louise. Dia punya banyak kesalahan...salah satunya adalah &amp;quot;tak bisa membaca keadaan&amp;quot;. Kepalanya penuh dengan &amp;quot;bekerja keras sebagai pelayan&amp;quot; sehingga dia tak terpikir untuk mengerti suasana diantara para pelanggan dan toko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Siapa kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chulenne memandang Louise curiga. Tersenyum, Louise meninggalkan anggur di hadapan Chulenne. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Si-si bodoh itu...&amp;quot; Saito bergumam terkejut sambil memandangnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pak...anda melamun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertingkah seakan mengikuti sebuah panduan, Louise, yang tak bisa membaca keadaan, memujinya, Tapi, sepertinya Chulenne tak menemukan Louise sesuai seleranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ini?! Toko ini menggunakan anak-anak?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa bergerak, Louise memegang camisolenya dan membungkuk. Hanya itulah yang bisa dilakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, Enyahlah, enyahlah. Aku tak perlu anak-anak. Pergilah kau.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito melihat dahi Louise mengernyit. Sepertinya dia marah. Saito berdoa. Louise, jangan meledak! Orang itu terlalu berbahaya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, dilihat lebih dekat, kau bukanlah seorang anak-anak...hanya seorang gadis dnegan dada kecil.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Louise memucat. Kakinya mulai bergetar perlahan. Wajah Chulenne mulai terwarnai nafsu. dan lalu...menjulurkan tangannya pada dada kecil Louise. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, bagaimana kalau Chulenne-sama ini memeriksa dan melihat seberapa besar mereka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat itu...Sebuah telapak kaki meledak pada wajah Chulenne. masih di kursi, Chulenne berguling-guling ke belakang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Me-mengapa kau!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ningrat-ninrat sekeliling menghunus tongkat mereka seketika. Di hadapannya...ada bayangan seorang pemuda yang bahunya berguncang karena amarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saito.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memandangi punggung Saito, yang bangkit melindunginya. Selama memandangi punggung itu...sesuatu yang hangat mengisi dadanya yang sedang berguncang karena amarah. Sebagaimana diduga, Saito tak bisa menahannya lagi. Louise mencoba sekuat tenaga, kan?  Tuanku tak punya dada, tapi dia manis, kan? Louise yang itu mencoba keras memujmu, dan apa yang kau lakukan? Hanya mengeluh!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mengeluh itu tak apa-apa. Aku juga terkadang berkata-kata. Ini Louise, jadi itu tak bisa dicegah. Tapi...Tapi...Ada satu hal yang tak bisa kumaafkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, orang tua, sudah sajalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Si-sialan kau...ke wajah seorang ningrat, kau...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mau ningrat, pangeran, atau dewa...aku pasti takkan membiarkan mereka melakukannya. Ini hanya khusus untukku. Siapa peduli soal ningrat?! Yang bisa menyentuh Louise hanyalah aku!&amp;quot; teriak Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa bisa dicegah, pipi Louise bersemu merah. Meski kau hanya seorang familiar, hal-hal congkak apa yang kau katakan?! Kau juga tak punya hak untuk itu! dia coba katakan, tapi...dengan alasan tertentu, kata-kata itu tak keluar. Otaknya mengosong, seakan direbus. Bahkan dengan keadaan seperti itu di sekelilingnya, Louise akhirnya melamun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tahan orang-orang itu! Aku akan menggantung mereka!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawahan Chulenne mengepung Saito. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan perlahan mengamati sekelilingnya. &amp;quot;Siapa yang bakal menangkap siapa? Sungguh sial kalian, aku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sial kenapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untung atau sial, aku menerima hal ini yang disebut kekuatan legendaris...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengucapkan itu, dia menggerakkan tangannya ke punggungnya. Dan...menyadari Derflinger, yang seharusnya ada disana, tak disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa bermasalah, Saito menggaruk kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar...Aku meninggalkan si legenda di loteng...Toh, ia hanya akan jadi pengganggu selama mencuci piring.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;tahan dia dan gadis papan cuci itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para bangsawan itu menghunus tongkat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ku-Kup!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tiada kup. Para ningrat yang marah melantunkan mantra mereka. Sebuah tali kecil nampak seperti topan, dan tepat saat ia mencoba mengitari Saito...Sebuah cahaya putih murni berkilat menembus toko dan menerbangkan para bangsawan bersenjata jauh hingga ake pintu masuk. setelah cahaya itu perlahan menghilang...Louise muncul, dengan mengangkat dirinya hingga titik tertinggi di atas meja. Serangan tadi merupakan mantra &amp;quot;Void&amp;quot; Louise, &#039;Ledakan&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekujur tubuhnya berguncang karena marah, tongkat pusaka kesukaannya tengah berkilau di tangannya. Louise mengikatnya pada pahanya dan menyembunyikannya, untuk berjaga-jaga bila sesuatu terjadi. Bingung, para ningrat menjadi panik. Louise berucap dengan nada kecil. &amp;quot;...Papan cuci tak perlu disebut, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suasana hati senangnya yang jarang didapat diterbangkan dengan pernyataan tunggal itu. Dia teringat banyak dari masa lalu gelapnya dnegan kata tunggal &amp;quot;papan cuci&amp;quot; itu. Dia memikirkan belahan Jessica &amp;amp; Siesta dalam pikirannya. Ini keterlaluan. Untuk kau mengatakan sesuatu seperti itu saat seseorang pada akhirnya pergi melayanimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hii! Hiiiiiiii!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Intensitas sang legenda...intensitas &amp;quot;Void&amp;quot; membuat bulu kuduk para bangsawan disana berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau harus begitu jauh sampai mengatakan hal itu? Bukankah itu keterlaluan bagimu untuk memanggilku sebuah papan cuci saat aku datang untuk menuangkan kau beberapa alkohol? Kau sebaiknya bersiap-siap!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para bangsawan bergludak-gluduk untuk kabur. Tanpa bergerak, Louise mengayunkan tongkatnya. Permukaan didepan pintu masuk dihancurkan, menciptakan sebuah lubang besar. Seluruh ningrat terperangkap kedalamnya dnegan begitu mulusnya. Para ningrat itu bertumpuk satu sama lain dan menengadah ke atas. Louise perlahan muncul, dan dan para bangsawan mulai berguncang lebih keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Si-siapa kau? Siapa kau? Dari kelompok sihir mana?!&amp;quot; Chulenne, sambil gemetaran, menanyai Louise. Dia tak pernah melihat maupun mendengar soal cahaya yang menerbangkan orang. Tanpa menjawab, Louise mengeluarkan surat izin yang didapatnya dari Henrietta dan menyodorkannya pada wajah Chulenne.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Su-su-surat izin Paduka?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku adalah wanita senat Paduka Ratu, dan dan putri ketiga dari keluarga terpandang yang memiliki sejarah luar biasa. Aku tak punya nama untuk diberikan pada pegawai rendahan sepertimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Aku minta ampun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chulenne membengkokkan tubuh gemuknya  dan memaksa membungkuk dalam lubang. Para ningrat yang terdorong olehnya mengerang. Louise bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lepaskan aku! Setidaknya nyawaku!&amp;quot; Sambil mengatakan itu, Chulenne grusak-grusuk merogohi pakaiannya dan melemparkan seisi dompetnya pada Louise. Dia memohon pada ningrat di sekelilingnya, dan membuat mereka melakukan hal yang sama dan menyerahkan dompet mereka pada Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengan ini! Lupakan semua yang terjadi! Aku mohon!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa melihat sedikitpun pada dompet-dompet yang terkumpul, Louise menyatakan. &amp;quot;Lupakan semua yang kalian dengar dan lihat hari ini. Kalau tidak, tak peduli berapa banyak nyawa yang kalian punya, ia takkan cukup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Aku bersumpah! Aku bersumpah pada Yang Mulia dan Sang Pendiri bahwa aku takkan menyingkap apa yang terjadi hari ini pada siapapun!&amp;quot; dengan meneriakkan itu, dia keluar dari lubang dengan berguling-guling, lalu Chulenne dan orang-orangnya menghilang di kegelapan malam. Louise dengan tegak kembali kedalam toko. Tepukan pemekak telinga menyerbu Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu luar biasa! Louise-chan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak tahan dengan wajah Chulenne tadi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;:Aku merasa tersegarkan! Itu tadi hebat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron, Jessica, dan para gadis toko langsung mengelilingi Louise. Disitu, Louise kembali tersadar, pikiran &amp;quot;Kini aku melakukannya...&amp;quot;, dan kepalanya tergantung malu. Dia lepas kendali saat dia dipanggil sebuah papan cuci. Saito hendak tertangkap, jadi dia melantunkan mantranya tanpa pikir panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menghampirinya dan berbisik padanya. &amp;quot;...Bodoh! Kau seharusnya tak memakai sihir, kan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uu...Tapi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sheesh...Hah, baguslah...Kini kita harus mulai lagi dari nol...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron menepuk pundak Louise dan Saito. &amp;quot;Tak apa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Heh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu Louise-chan adalah seorang ningrat sebelum ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menatap tajam Jessica. Panik, Jessica mengibaskan tangannya di depan wajahnya, memberitahu Saito &amp;quot;Aku tak mengatakan apapun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ba-bagaimana?&amp;quot; Tanya Louise sambil terpana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena, ya.., itu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para gadis toko mengambil alih dari Scarron. &amp;quot;Itu sangat jelas dari kelakuan dan sikapmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uu, jadi itu...pikir Louise, merasa lemas hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;kau pikir kami sudah berapa lama menjalankan bar ini? Mataku untuk membedakan orang adalah kelas atas. Tapi kau punya alasan tertentu, kan? tenanglah, tiada seorang pun gadis disini yang akan menyingkap rahasia masa lalu temen sekerja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh gadis mengangguk sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi begitu. Pikir Saito. Bukan hanya Jessica yang tajam disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seluruh gadis disini pada nrimo. Itulah mengapa kau bisa tenang...Terus dapetin tip dari sekarang, OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengangguk. Saito merasa lega. Menepuk kedua tangannya bersama, Scarron berkata dengan nada ceria. &amp;quot;Kini! Seluruh pelanggan telah pulang , jadi aku akan mengumumkan hasil lomba tip.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara sorakan membahana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, perhitungan tak perlu, kan?&amp;quot; kata Scarron setelah melihat gundukan dompet yang ditinggalkan Chulenne dan orang-orangnya di tanah. Melihat dompet-dompet itu, Louise menyadari maksud Scarron, Di dalamnya...uang segunung ada disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Ini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tip, kan?&amp;quot; kata Scarron sambil mengedipkan sebelah mata. Lalu dia mencengkram tangan Louise dan mengangkatnya tinggi-tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pemenang! Louise-chan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepuk tangan bergemuruh seisi Toko.&lt;br /&gt;
__________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sore hari berikutnya...Louise tak keluar dari kasurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;hei, ayo pergi bertugas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku beristirahat hari ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Heh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memandang hampa padanya. lalu dia berpikir kembali. Yah, sudah agak lama dia tak menggunakan sihir, jadi dia mungkin kelelahan. Sepertinya tak apa-apa bila dia beristirahat hari ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah. Bilang padaku bila kau merasa tak enak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadiah pemenang, Bustier &amp;quot;Peri-Peri Memesona&amp;quot;, digantung di dinding. Meski itu merupakan hadiah...dia hanya bisa mengenakannya hari ini. Yah, bagaimanapun juga, ini sebuah pusaka.&lt;br /&gt;
______________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni tangga, Scarron naik mendatanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh? Apa yang terjadi dengan Louise-chan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya dia berencana untuk beristirahat seharian ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh..tak mungkin, sia-sia saja atuh...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena, dia hanya bisa mengenakannya hari ini. Aku akan memintanya mengembalikannya besok.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau mengenakan itu, kau bisa mendapatkan tip sebanyak yang kau mau...benar-benar sia-sia, sungguh.&amp;quot; menggumamkan itu, Scarron menghilang kedalam toko, yang mulai menjadi riuh.&lt;br /&gt;
__________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito pergi ke cuci-piringnya, tak bisa mengerti apa yang tegah terjadi. Setelah bekerja keras dan menyelesaikan tugasnya, Saito kembali ke loteng. Menengadah dari koridor...cahay tampak menembus papan-papan lantai kamar. Sepertinya Lousie masih bangun. Ada apa dengannya...Meski dia bilang dia tengah kelelahan dan akan beristirahat, dia tak tidur sama sekali. Dia seharusnya mengenakan bustier itu dan menghasilkan beberapa uang kalau begini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendorong papan lantai loteng ke atas, Saito menyembulkan kepalanya. Dan langsung terpana. Kamar telah disapu bersih, dan sepertinya sebuah lap debu digunakan karena tiada debu sedikitpun betebaran. Sampah yang menggunung telah terkumpul di satu titik, dan akamr telah ditata sehingga sepertinya seseorang bisa hidup layak disitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa...yang terjadi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku yang melakukannya, Menjijikkan untuk hidup terus-menerus di tempat kotor.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi suara Louise, Saito semakin terpana. Makanan dan anggur telah ditata di atas meja...dan sebuah lilin meneranginya. Dan cahaya itu...juga menyinari pemilik Saito yang berpakaian sangat indah. Saito menelan ludah. Kelelahan dari pekerjaan harian mulai terbang jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tengah duduk di kursi di sebelah meja. Menyilangkan kaki, ramutnya telah ia rias dengans ebuah barette seperti dulu. &amp;amp;...penampilan anggunnya juga memasukkan Bustier &amp;quot;Peri-Peri Memesona&amp;quot;. Bustier hitam itu membuat kecantikan Louise lebih gemerlap. Hanya bisa menganga, Saito terus menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seberapa lama kau hendak memasang ekspresi bodoh itu? Ayo, mari makan.&amp;quot; kata Lousie dengan nada tak biasa. Sebuah hidangan telah dibariskan di meja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ini?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku membuatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menatap Louise, yang tampak malu. &amp;quot;benarkah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mendapat Jessica mengajariku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangi Louise, yang bersemu merah dan mengatakan itu, Degup jantung Saito makin kencang. Garis pusat bagian atas Louise menjadis ebuah mesh, membuat kulit putihnya nampak. Bustier hitam memuatnya sempurna, membuat garis-garis tubuhnya makin menonjol. Pannier yang agak pendek terputar ke belakang pada pinggangnya pada tingkat yang bisa dimaafkan. Ini terlihat lebih erotik daripada Louise dalam keadaan telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito tanpa sadar membuang pandangannya. Dia merasa dia bakal jadi gila bila terus menatap. Entah dia bakal jadi gila karena dia sudah jatuh cinta padanya, ataukah karena sihir &amp;quot;Susuk&amp;quot; yang dimantrakan pada bustier, itu tak diketahui Saito, tapi...ada satu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memesona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tanpa bisa mengatakan itu, Saito bicara dengan nada marah. &amp;quot;...Bukankah kau akan mengenakan itu dan melayani pelanggan sepuas hatimu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika aku memperbolehkan mereka menyentuh, kau akan menamparku, kan?&amp;quot; balas Louise dengan  sikap mencibir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya sudah, ayo makan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengangguk, dan mulai melahap makanan buatan Louise. Tapi...darah telah membanjiri kepalanya dan mencegahnya dari merasakan rasa. Ini mungkin buruk. Tapi, bagaimanapun, ini tak apa-apa. Louise membuatnya. Itu sebuah kemajuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana rasanya?&amp;quot; tanya Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bu-bukankah ini lezat?&amp;quot; jawab Saito dalam sikap untuk menghindari poin utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku membersihkan kamar. bagaimana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Whew, Ini sesuatu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, bagaimana tentang, aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersender pada sikunya, Louise bersender dan menatap Saito. Cahaya pagi merekah merajai pagi. Sinarnya menyelimuti loteng, meneranginya. Dia telah menutup mulutnya dengan lugas hingga kini, tapi Saito akhirnya memikirkan beberapa kata. &amp;quot;Très bien.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Setidaknya puji aku dengan kata yang berbeda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mendesah. Benarkah sihir susuk dimantrakan pada ini? Apa? Meski aku berpikir untuk mendapatinya memperlakukanku dengan lembut. Kelakuannya masih sama seperti dulu. Seakan dia marah, seakan dia terganggu, tingkah semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membosankan. Kupikir dia akan akan menjunjungku tinggi-tinggi bagaikan seorang tolol jika aku mengenakan ini. Lalu aku akan memperlakukannya sedingin mungkin. Terlalu telat sekarang untuk menyadari seberapa memesonanya tuanmu ini! Apa, tolol? Jangan menyentuhku. Tapi, ya...saat kau bilang &amp;quot;Yang bisa menyentuh Louise hanya aku!&amp;quot;, aku sedikit bahagia karena alasan tertentu, jadi aku akan memperbolehkannya sedikit, tapi hanya sedikit. hanya sedikit, mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia membayangkan itu, meki dia sudah menghabiskan seharian untuk bersiap-siap, Saito hanya melihat ke arah lain...Betapa membosankan pikir Louise kesal...Pada akhirnya, Louise tak pernah menyadarinya...Saito sudah menggila cintanya padanya sedari dulu...jadi sihir &amp;quot;susuk&amp;quot; itu sudah tak berarti.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5_Bab2&amp;diff=435039</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5 Bab2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5_Bab2&amp;diff=435039"/>
		<updated>2015-04-03T07:38:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 2: Pertempuran Dengan Api dan Pertemanan Dengan Angin==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yap, ini adalah Akademi Sihir Tristain. Liburan musim panas baru saja dimulai dan di dalam asrama, dua ningrat tengah menghabiskan waktu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah Kirche si &amp;quot;Ardent&amp;quot; dan Tabitha si &amp;quot;Badai salju&amp;quot;. Kirche tengah malas-malasan berbaring di kasur Tabitha dengan pose yang sangat tak sopan. Dia melepas seluruh kancing bajunya dan tengah mengipasi dada montoknya dengan tangan. Kirche memang menyukai panas tapi tak tahan hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tak bisa mengendalikan panas yang mendidih di ruang yang dipanggang matahari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei Tabitha, bisakah kau menghembuskan angin untukku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha mengayunkan tongkat panjangnya tanpa menoleh dari buku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berikan yang dingin. Yang bisa dinginnya menembus tulang, tepat seperti nama keduamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana diharapkan, ada es dalam anginnya. Angin bersalju itu langsung mendinginkan badan Kirche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahh-, rasanya enak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil minum dalam angin dingin Tabitha, Kirche membuka kemejanya. dia menyilangkan kakinya dalam sikap yang takkan pernah dilihat lusinan teman lelakinya yang menyembahnya bagaikan seorang dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menerawang ke arah Tabitha yang dari tadi membaca buku. Tabitha tak berkeringat setetes pun, seolah-olah menyatu sempurna dengan bukunya. &amp;quot;Mungkin nama keduanya &#039;Badai Salju&#039; mendinginkan badan dan juga pikirannya,&amp;quot; gumam Kirche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei &amp;quot;Badai salju&amp;quot;? Kau benar-benar suka membaca buku ya? Seperti protestan saja. Apa itu buku Protestan terkenal yang berjudul &amp;quot;Doktrin Praktis&amp;quot;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Doktrin praktis&amp;quot; merupakan kitab yang dibaca oleh sekte protestan, yang merupakan kitab tafsir dari &amp;quot;Buku Doa Sang Pendiri&amp;quot;, yang merekam amal dan ajaran Sang Pendiri, Brimir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski setiap versi &amp;quot;Buku Doa Sang Pendiri&amp;quot; mengklaim sebagai sebagai versi yang asli, isi mereka agak berbeda. Terlebih lagi, ada teori bahwa &amp;quot;Buku Doa Sang Pendiri&amp;quot; ditulis ratusan tahun setelah kejatuhan Brimir Sang Pendiri. &amp;quot;Buku Doa Sang Pendiri&amp;quot; yang telah diwariskan turun temurun oleh keluarga kerajaan Tristain bahkan tak ada tulisannya. Karenanya, banyak teologiawan menafsirkannya dengan cara yang begitu kabur sehingga meningkatkan kekuatan politik gereja Halkegenia dan mereka sendiri. Badan praktisi utama dari &amp;quot;Doktrin Praktis&amp;quot; dimulai di pusat agama negara Romania dan dibangun para jelata yang ingin mereformasi gereja-gereja korup yang mengeksploitasi masyarakat. Kejadian ini segera menginternasional.&lt;br /&gt;
 Ia menyebar dari para jelata da petani-petani, mereka melucuti kekuasaan dan tanah dari para pendeta, tapi tiada yang tahu&lt;br /&gt;
 jika perbuatan dan penafsiran mereka benar. Yang tahu jawabannya mungkin hanya Brimir Sang Pendiri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha menutup bukunya dan menunjukkan judulnya pada Kirche. Itu bukan buku agama, hanya sebuah buku penelitian seihir kuno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hanya membaca.&amp;quot; kata Tabitha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu. Bagaimanapun juga, kau tak mungkin seorang protestan. Ahh, hari ini benar-benar panas. SANGAT PANAS. Itulah mengapa aku mengundangmu untuk pergi ke Germania denganku. Disana jauh lebih sejuk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha membuka kembali bukunya dan melanjutkan membaca. Kirche, yang tahu situasi keluarga Tabitha, memutuskan mengundangnya ke Keluarga Zerbst, tapi Tabitha menolak pergi.  Tanpa pilihan lain, Kirche memutuskan untuk menemani Tabitha di Akademi. dia tak bisa meninggalkan Tabitha sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin cuma kita yang tinggal di sauna ini.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche berpikir untuk mandi di lapangan. Karena seluruh guru dan murid pergi dan pulang ke rumah, harusnya tiada bahaya para pengintip. tapi lalu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jeritan terdengar dari lantai bawah. Kirche dan Tabitha bertukar pandang secara kilat. Kirche segera mengenakan kemejanya dan meloncat keluar dari kamar dengan tongkat di tangan. Tabitha segera mengikuti di belakangnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah kamar di lantai bawah, sebuah pasangan lain tengah bertengkar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau pikirkan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Um, aku...aku pikir kini panas, dan aku hanya coba membantu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertengkaran terjadi antara Guicje dan Montmorency. Mengapa pasangan ini tak meninggalkan asrama untuk liburan musim panas?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, begitu. jadi itu maksudmu! &#039;Ayo buat ramuan sama-sama&#039; pantatmu! Aku seharusnya tak mendengarkan ocehanmu soal mampu membuat Ramuan terlarang apapun yang kaumau. Apa sih maumu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu tujuanku! Aku tak berdusta!&amp;quot;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau berpikiran yang tidak-tidak karena tidak ada orang, kan? Maaf saja, tapi aku takkan memberimu sejaripun hingga aku kawin!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche menggeleng-gelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan mendekat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bersumpah, aku pegang kata-kataku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche menaruh tangannya di dada. &amp;quot;Aku bersumpah demi Tuhan dan sang Pendiri bahwa aku, Guiche de Gramont tak melepas kancing Montmorency yang tengah tidur karena maksud kotor, melainkan karena benar-benar berpikir dia terlihat demam. Kau berkeringat begitu banyak sehingga aku khawatir kau akan dididihkan hingga mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah?&amp;quot; tanya Montmorency yang memandangnya ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Demi Tuhan.&amp;quot; jawab Guiche khidmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...kau ga kan melakukan yang aneh-aneh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, takkan pernah terpikir untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berfikir sesaat, Montmorency mengangkat roknya dan menunjukkan celana dalamnya sekilas. Karena Guiche menerjangnya seketika, dia berteriak sekeras-kerasnya. &amp;quot;Oh Tuhan! Pendusta! Dia seorang pendusta!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putih! Putih! Ia benar-benar putih!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan! Hentikan! Mohon Hentikan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah geje beberapa saat, pintu terbuka dengan sebuah dak. Kirche dan Tabitha masuk dan mata mereka beradu dengan mata Montmorency, yang baru saja didorong ke kasur oleh Guiche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...oh, kalian baru saja akan melakukannya,&amp;quot; desah Kirche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche, yang tiba-tiba jadi serius, bangkit, berdiri dan berkata dengan cara yang begitu tegas, &amp;quot;Oh, aku hanya... membereskan kerutan kemeja Montmorency.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengan mendorongnya ke kasur? Kirche mengejek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Membereskan kerutan,&amp;quot; ulang Guiche sekali lagi,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency berkata dengan nada dingin, &amp;quot;Sudahlah. Hanya itu yang ada di kepalamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche tersipu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche buka mulut dan berkata dengan sikap lelah. &amp;quot;Kalian berdua benar-benar pasangan murahan. Kalian tak harus melakukannya di asrama yang menyesakkan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami tak melakukan apapun!...dan akulah yang seharusnya bertanya apa yang kalian lakukan. Kini liburan musim panas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia tak seharga masalahnya bagi kami. Meski kini liburan, cape lho untuk nyebrang perbatasan hanya untuk itu, Jadi apa sih yang kalian lakukan sebenarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami tengah, um...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency memainkan jemarinya, karena dia tak bisa bilang dia tengah membuat Ramuan Terlarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pe-Penelitian sihir.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm, kau memang tengah melakukan semacam penelitian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Guiche yang ingin melakukannya! Otaknya mungkin tergoreng dalam panas ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan itu, Guiche yang dikritisi membengkokkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche membalas,&amp;quot;apa maksudmu dengan &#039;sepertinya&#039;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayo kita keluar. Tak mengherankan bila otak kita tergoreng disini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;hah? Kemana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ke kota sajalah. Kini liburan panjang, jadi mari bersenang-senang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar itu, aku juga ingin meminum yang dingin-dingin...&amp;quot; kata Guiche setuju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency, yang bahkan tak mau berfikir tentang apa yang bakal terjadi bila dia ditinggalkan sendirian dengan Guiche juga setuju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dinginkan kepalamu benar-benar saat minum yah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pasti, demi Tuhan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi, bagaimana dengan si kecil?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency menunjuk pada Tabitha. Kirche menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia ikut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau bisa tahu hanya dengan memandangnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bisa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Kirche seakan-akan itu sudah jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha lalu menutup bukunya, berjalan menuju jendela, lalu bersiul. Suara kepakan lalu terdengar. dalam sekejap, Tabitha meloncat keluar jendela, diikuti Kirche. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Montmorency mengitip keluar jendela, dia melihat naga angin Tabitha yang melayang disana. Kirche tengah menunggangi punggungnya dan tengah melambaikan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Buruan atau kami tinggal!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche dan Montmorency meloncat. Guiche yang duluan, mencoba menangkap Montmorency. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu Montmorency mulai menjerit-jerit soal &#039;jangan menyentuhku&#039; dan &#039;jangan menatapku&#039; untuk menggoda Guiche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi...aku hanya mencoba menangkapmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pikir apa yang kau sentuh, hah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kupikir kalian pacaran,&amp;quot; ucap Kirche terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok ini akhirnya tiba di kota benteng Tristain dan pergi ke sebuah jalan yang bercabang dari Jalan Raya Bulton. Kini matahari hampir terbenam. Di jalan-jalan yang mulai gelap, lampu-lampu sihir mulai mewarnai sekitarnya. Pemandangan sihir nan menyilaukan itu menciptakan suasana gembira yang menyelimuti jalan yang masih terasa kehangatan musim panasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Jalan raya Bulton adalah wajah depan Tristain, maka jalan Chicton adalah perutnya. Bar-bar merah dan perjudian-perjudian berbaris sepanjang jalan. Montmorency bermuka masam, tapi Kirche terus berjalan, tak mempedulikan semua itu. Sambil berjalan, mereka berrembuk soal bar mana yang akan didatangi. &amp;quot;Apa kau tahu soal bar-bar disekitar sini?&amp;quot; tanya Kirche pada Guiche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche menjawab sambil tersenyum,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Soal itu...Aku tahu satu yang bagus yang selalu ingin kudatangi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan yang aneh, kan?&amp;quot; tanya Montmorency begitu dia mendengar nada mencurigakan pada Guiche. Guiche menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia sama sekali tak aneh!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu, bar macam apa dia?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lihat kan? itu pasti bar yang aneh! katakan saja sejujurnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Montmorency mulai mencekik Guiche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ti-,tidak! hanya gadis-gadis dengan pakaian manis membawakan anggur untukmu...Ukh!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika itu tak aneh lalu apa yang aneh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kedengarannya menarik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya itu telah memetik kepenasaran Kirche. Dia menyarankan pada Guiche,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayo kesana, bar yang biasa akan terlalu membosankan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;APA?&amp;quot; Montmorency protes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa wanita Tristain tak punya kepercayaan pada diri mereka sendiri? Membuatku sakit.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Kirche mengatakannya dengan cara yang begitu menghantui, Montmorency tiba-tiba bangkit dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini hanya karena anggur akan terasa hambar bila kita membiarkan wanita rendahan menuangkannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi karena Guiche, yang telah didukung Kirche mulai berjingkrak-jingkrak menjauh, Montmorency tak meniliki pilihan selain ikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei! Tunggu! Jangan tinggalkan aku disini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat datang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu mereka memasuki bar, seorang lelaki tinggi yang memakai baju leather menyambut mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, apa kalian baru? Lebih banyak lagi wanita ningrat! Betapa indahnya ini! Betapa très bien! para gadis dalam bar akan iri! Aku sang pemilik, Scarron. Mohon nikmati hari kalian!&amp;quot; katanya sambil membungkukkan badannya. Meski dia tampak aneh, dia memuji mereka sehingga kini suasana hati Montmorency membaik. dia menyisir rambutnya dengan tangan dan berkata dengan jelas, &amp;quot;Bimbing kami ke meja terbersih&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tiap meja dalam bar ini digosok untuk bersinar bagaikan istana Paduka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron membimbing mereka ke salah satu meja. Bar itu tampak ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti rumor yang dihembuskan, gadis-gadis dengan pakaian yang menggoda membawakan anggur dan makanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche, yang sudah melihat-lihat dengan penuh semangat, akhirnya dijewer oleh Montmorency.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mereka duduk di meja, seorang gadis berambut blonde pink datang untuk mengambil pesanan, tapi untuk alasan tertentu, buru-buru menutupi wajahnya dengan sebuah nampan. Sekujur tubuhnya gemetar perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau menyembunyikan wajahmu?&amp;quot; kata Guiche kecewa. Tanpa menjawab, dia menanyakan pesanan lewat geraknya. Hanya dengan melihat tinggi dan warna rambut si gadis, Kirche cepat menyadari sesuatu dan, untuk pertama kalinya pada musim panas ini, sebuah senyuman sangat besar tersungging di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi, apa anggur rekomendasimu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu menunjuk sebuah anggur yang telah disajikan pada meja lainnya, sebuah anggur Gernew yang cukup tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu Kirche berkata dengan nada terkejut, &amp;quot;Ah, Familiar-san apel dengan seorang gadis!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu muncul dari balik nampan dan menatap sekeliling ruangan dengan mata tajamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua di grup kecuali Kirche berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menyadaris seringai lebar di wajah Kirche dan menyadari bahwa dia telah ditipu, dan sekali lagi menyembunyikan wajahnya dengan nampan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sudah terlambat La Vallière.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bukan Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata Louise dengan suara bergetar. Kirche menarik lengan Louise dan membaringkannya di atas meja. Kirche mencengkram lengan kanan, Guiche yang kanan, Tabitha mencengkram kaki kanan dan Montmorency memegang yang kiri. Louise yang tak bisa bergerak menghadap ke samping dan berkata dengan nada bergetar,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bukan Louise! Lepaskan aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Beneran deh, apa sih yang kau lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise takkan menjawabnya. Tlek! Kirche menjentikkan jarinya dan Tabitha melantunkan mantra. Dengan kekuatan angin, Tabitha melilitkan udara disekitar Louise dan mengendalikannya. Louise diloncatkan ke atas meja dan berpose seiza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-, Apa yang kau lakukan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menjentikkan jarinya sekali lagi. Tanpa suara, Tabitha mengayunkan tongkatnya. Massa udara yang mengendalikan Louise menjadi jari-jari yang tak terlihat, dan mulai menggelitiki badan Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahahaha! hentikan! Ini geli! Hentikan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi, Atas dasar apa kau kerja disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku takkan bilang! Ahahaha!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jari udara itu terus menggeletiki Louise tapi dia takkan mengaku. Perlahan-lahan badannya melayu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Anak mulut gembok. Kau menyembunyikan banyak hal akhir-akhir ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau mengerti...tinggalkan saja aku sendiri...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Akan dilakukan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche mengambil menu dengan acuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cepatlah, segera pesan sesuatu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini,&amp;quot; kata Kirche menunjuk menu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak mengerti, yang mana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya...pertama-tama, semua yang tertulis di menu ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Huh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menatap Kirche, hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bawakan saja semuanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar-benar kaya...betapa irinya aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche lalu mengatakan pada Louise,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, tentu saja ini traktiranmu. Aku akan sangat senang menerimanya, La Vallière-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Jangan bermulut manis! Mengapa aku harus menraktirmu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ataukah aku harus bilang pada seisi sekolah bahwa kau kerja disini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menjatuhkan rahangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau bilang itu...Aku...aku akan membunuhmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun, aku tak ingin mati. Jadi bisakah kau cepat-cepat membawa semuanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menjatuhkan bahunya dengan sedih dan menghilang ke dapur sambil memukul-mukul barang di jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche berkata sambil menggelengkan kepalanya,&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar-benar wanita jahat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menjawab dengan senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan salah paham, aku hanya tak menyukainya. pada dasarnya kami musuh...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche memotong bicaranya dan memperbaiki jubah Tabitha yang berantakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Beneran deh, Kau seharusnya memperbaiki kebiasaan mengacak rambut dan jubahmu saat kau melantunkan mantra. Wanita adalah tentang penampilan dan kepintaran adalah yang kedua.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menyisir rambut tabitha bagaikan seorang kakak memperhatikan adiknya atau ibu mengkhawatirkan putrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche memandangi Tabitha. Mengapa wanita Germania ini memercayai Tabitha dan hanya Tabitha? pikir Guiche. Meski kini musim panas, keduanya tak pulang dan tinggal bersama di sekolah. Apalagi, mereka tampak berhubungan dengan telepati. Mungkin ini karena tabitha jarang bicara, tapi mereka dapat mengerti satu sama lain hanya dengan bertukar pandang dan sedekat saudara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi...Guiche mengorek-ngorek ingatannya.  Mereka tak sedekat ini ketika pertama kali masuk. Aku tak yakin karena aku terlalu sibuk bermain-main dengan gadis-gadis tapi bukankah mereka memulai sebuah pertarungan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Guiche ingin menanyakannya, sekelompok pelanggan baru masuk bar. Mereka ningrat yang tampan. Mereka mengenakan topi dengan nrim lebar yang dihiasi bulu nan elegan dan tongkat sihir berbentuk pedang yang menonjol dari jubah. Tampaknya mereka adalah petugas dari Tentara Kerajaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka kemungkinan telah berlatih sepanjang hari; Mereka datang tak peduli sekelilingnya dan mulai melihat-lihat meja yang kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para petugas mulai ngobrol tentang gadis-gadis dalam bar. Gadis yang berbeda-beda menuangkan anggur tapi tiada yang tampak memuaskan para petugas. Seorang petugas menyadari kehadiran Kirche dan mengedipkan mata padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah itu seorang gadis ningrat? Wanita yang bisa bersama kita harus membawa sebuah tongkat sihir bersamanya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar! Ini adalah istirahat yang diberikan Paduka yang jarang terjadi, pada kita petugas tentara kerajaan. Kita  tak bisa mendapati seorang jelatan yang menuangkan anggur kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengatakan itu, mereka dengan ributnya merundingkan siapa yang akan pergi dan menjemput para gadis. Sepertinya Kirche terbiasa dengan hal-hal semacam ini dan terus minum dengan tenang, tapi Guiche merasa tak nyaman. Dia berusaha menempatkan dirinya dalam posisi dimana dia seharus melindungi para gadis, tapi tak bisa tegas di hadapan para ningrat yang merupakan petugas tentara kerajaan. Dia kemungkinan dihajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya keputusan soal siapa yang pergi berbicara keluar. Salah satu ningrat berdiri. Dia seorang pria ganteng yang baru lewat 20 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan penuh percaya diri, dia memainkan kumisnya dan membungkuk secara elegan pada Kirche.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami adalah para petugas dari resimen navaaru. Kami terpanah keagungan kecantikanmu dan ingin sekali mengundangmu pada meja makan kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menjawab tanpa memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maaf, tapi aku tengah menikmati waktu bersama teman-temanku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman-teman si petugas mulai berhuu-huu. Jika dia ditolak sekarang, itu akan melukai harga dirinya. Dia mencoba membujuk Kirche dengan kata-kata penuh antusiasme. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku memohon padamu untuk menarik itu. Mohon berkahi kami saat kebahagiaan yang tak memiliki apa-apa selain peperangan tak termaafkan yang menunggu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja Kirche mengayunkan tangannya, menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si ningrat kecewa, dan kembali kepada teman-temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak terkenal diantara wanita,&amp;quot; ujar seorang petugas. Tapi pemuda itu menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau dengar aksennya? Dia pasti wanita Germania. agak mencurigakan sebagai seorang ningrat, jika kau tanya aku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi kudengar wanita Germania benar-benar gatelan. Jarang-jarang ada wanita dengan sikap yang tegas begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin seorang protestan hingga kaki!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini sebagian karena alkohol, tapi para petugas mulai mengejek Kirche. Guiche dan Montmorency saling memandang dan menanyai Kirche apakah dia ingin meninggalkan bar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi kita disini duluan,&amp;quot; ucap Kirche sambil berdiri. Rambut panjangnya tampak menyala bagaikan inferno nan liar. Pelanggan dan pelayan lainnya serta yang lain  yang menonton seluruh kejadian menjadi hening.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, jadi kau sudah berubah pikiran dan memutuskan menemani kami?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya tapi tidak dengan gelas...tapi dengan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menghunus tongkat sihirnya dngnan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pria terjatuh dari kursi saking berlebihannya tawa mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan pernah mencoba, gadisku. Kami adalah para ningrat dan takkan menghunus tongkat sihir kami pada wanita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kalian takut pada wanita Germania?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&amp;quot;Tak mungkin!&amp;quot;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pria terus tertawa keras-keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maka aku akan membuat kalian menghunus tongkat kalian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche mengayunkan tongkatnya. Bola api sejumlah para petugas muncul dari ujung tongkatnya dan langsung membakar bulu hiasan pada topi petugas. Bar bergolak. Kirche bangkit dan membungkuk pada hadirin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pria yang menjadi bahan tertawaan langsung bangkit berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nona, lelucon ini sudah keterlaluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah? tapi aku selalu sungguh-sungguh. Dan, bukankah kalian yang mengundangku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kami mengundangmu untuk minum, bukan untuk bertarung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maka bisakah aku bertarung dengan kalian para pria yang mengejekku hanya karena aku tak menerima tawaran minum kalian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Udara bar membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah seorang petugas berbicara dengan tegas,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gadis asing, apa kau tahu Kebijakan Tak Bertarung? Di bawah perintah paduka, kami dilarang bertarung. Tapi kau seorang asing. Selama kita sepakat, kami bisa melakukan apa saja padamu. Apa kau berbicara dnegan mengetahui ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ningrat di Tristain kepanjangan lidahnya. Jika ini Germania, duel sudah berakhir sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka tak bisa mundur setelah dipermainkan seperti ini. para petugas saling memandang dan salh satu dari mereka meremas brim topinya dan berkata, &amp;quot;Pilih lawanmu, kau berhak untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kirche tak mengubah air mukanya. Tapi ada kemarahan yang bergelagak di dalam. semakin Kirche marah, semakin tenang dan santun dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebagaimana yang kau katakan, wanita Germania sangat gatal, jadi aku akan melawan kalian semua.&amp;quot; Tepukan terdengar dari bar untuk kata-kata berani Kirche. Wajah para petugas marah padam karena marah oleh hinaan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&amp;quot;Kami adalah ningrat tapi juga tentara di saat bersamaan. Saat dihina, saat ditantang, kami takkan menahan diri meski lawan adalah wanita. majulah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ningrat menunjuk keluar dengan dahu mereka. Guiche gemetaran di bawah tekanan ini. Montmorency terus minum anggur, seakan itu bukan urusannya. Louise berkata soal bagaimana si wanita bodoh itu masuk kedalah masalah tak perlu lagi dan bersembunyi di dapur. Saito tak beruntung karena menjadi korban kemarahan Louise pada Kirche dan pingsan karena nyeri yang ditimpakan Lousie padanya; jadi dia tak bisa menengahi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jadi, yang bangkit adalah tabitha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;kau tak usah khawatir. duduklah, ini akan berakhir seketika.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Tabitha menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku berhutang padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau merujuk pada kejadian di danau Ragdorian? Tak apa-apa. Aku melakukannya karen akeinginanku sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Tabitha dnegan jelas mengucapkan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berhutang satu padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu sudah lama sekali.&amp;quot; Kirche tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berpikir untuk sesaat tapi akhirnya memutuskan menyerahkannya pada temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang terjadi? Ketakutan? Kami akan memaafkanmu jika kau meminta maaf sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meski Kau masih harus menuangkan minum untuk kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;kau beruntung bila ini berakhir hanya dengan kau menuangkan minum.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para petugas tertawa. Kirche menunjuk pada Tabitha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;maafkan aku, tapi dia bahkan lebih ahli dariku. dia bahkan punya gelar Chevalier.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
para petugas memasang wajah ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha baru saja berjalan menuju arah masuk bar dnegan tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ada diantara kalian yang memiliki gelar Chevalier?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para petugas membengkokkan kepala mereka karena tak percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;maka dia seharusnya lebih dari sekedar lawan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Kirche selesai berbicara, dia duduk di kursi seakan tugasnya sudah selesai. Para petugas, yang tak bisa mundur, mengikuti tabitha keluar bar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa dia akan baik-baik saja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya Guiche. kirche terus saja meminum anggurnya dnegan elegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gadis itu tak pernah lupa pada janji tua semacam ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gumam Kirche bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di luar, Tabitha tengah menghadapi para petugas pada jarak 10 langkah. Disekitar mereka, penghuni kediaman berkumpul tapi dengan menjaga jarak mereka. Sebenarnya, meski Kebijakan Tiada Pertarungan berlaku, ia tak menghentikan seluruh pertarungan antar-ningrat. Pertarungan semacam ini terjadi setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun...lawan dari kelompok dari tiga petugas tentara kerajaan adalah seorang gadis muda yang masih kecil. Kombinasi ini menarik perhatian para penonton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Teman-teman, lawan kami adalah seorang anak. Setelah ini orang-orang akan mengata-ngatai kita penggojlok. Kehormatan kita akan hancur tak peduli kita menang atau kalah. Apa yang seharusnya kita lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang termuda diantara mereka menjawab pertanyaan lelaki yang mengundang Kirche dnegan &amp;quot;Mengapa tak biarkan dia duluan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria yang sedari tadi diam kini berkata dnegan nada senang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah, mendidik anak-anak adalah tanggung jawab yang dewasa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chevalier? dia pasti bercanda. Tak mungkin gadis kecil begini diberikan gelar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia seorang anak, dia tetap seorang ningrat. Kami tak bisa memaafkan dusta semacam ini. Apalagi mengejek seorang petugas tentara kerajaan, itu tak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha hanya berdiri tenang disana dengan tongkat di tangan kanan. Tiada yang bisa dibaca dari ekspresinya. Sepertinya kerumunan maupun ketiga petugas tak bisa mengoyak emosinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gadis kecil, hunus tongkatmu lebih dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata ningrat yang tertua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para penonton menahan napas dan menonton mereka penuh perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha hanya mengayunkan tongkatnya sedikit, seperti waktu dia membuat angin untuk mendinginkan Kirche. Pertarungan berakhir seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu para pelanggan melihat Tabitha kembali masuk bar, mereka memberikannya selamat nan meriah yang bercampur kekaguman dan keheranan. Ada keributan besar di luar. hanya karena satu pukulan dari &amp;quot;Palu Udara&amp;quot; raksasa, sebuah palu dari udara termampatkan, Tabitah menerbangkan para petugas ke sisi lain dari jalan dan meng-KO mereka. Seorang pelanggan dengan malu-malu mengintip keluar jendela dan melihat seorang petugas sudah sadar dan menyeret dua yang lain pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau mengagumkan meski kau kecil!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski bar dipenuhi applaus, Tabitha hanya membalikkan sebuah lembar di bukunya, tak memedulikan itu semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menuangkan anggur kedalam cangkir Tabitha dnegan wajah smug.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mari bersulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guiche menanyai Kirche karena dia kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Um, Kirche?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kalian berdua snagat dekat? Kalian berdua seperti saudara.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;kami hanya berteman.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi mereka berlawanan satu sama lain. Apalagi...Guiche menata kembali apa yang diingatnya tadi. Keduanya telah melakukan pertarungan seperti ini diluar begitu mereka masuk sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;apakah kalian selalu sedekat ini? Apa yang terjadi di antara kalian? Ceritakan padaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini juga menimbulkan rasa penasaran Montmorency dan dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang terjadi? Ceritakanlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menatap tabitha, tapi Tabitha diam saja. Namun Kirche mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia berkata aku bisa berbicara soal itu jadi aku akan melakukannya. Ceritanya ga seheboh itu juga kok.&amp;quot; Kirche mengambil segelas penuh anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menenggaknya habis, dan mulai menceritakan dengan mata mengantuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian 2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche memasuki Akademi sihir begitu musim semi, pada bulan keempat, minggu kedua bulan Feoh, di tengah-tengah minggu Heimdallr.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Upacara masuk diadakan di Aula Alvíss . Disana, setiap tahun, 90-an siswa baru akan dibagi menjadi tiga kelas. Anak-anak dari keluarga aristokrat, yang dikumpulkan dari sluruh daerah, telah menunggu Kepsek osman dengan wajah tegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Osman, yang memimpin para guru, muncul di lantai kedua dan memandangu para siswa di lantai bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Para siswa, kalian dari Tristain...Argh!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Osman, melebarkan lengan dan kakinya, telah meloncat dari terali lantai 2, bersiap untuk mendarat di sebuah meja di lantai 1. Di udara, dia mengayunkan tongkatnya untuk menggunakan &amp;quot;Melayang&amp;quot; untuk mendarat dengan aman, tapi gagal. Dia telah menua; waktu untuk melantunkan mantra memanjang dan dia langsung jatuh ke meja. Aula dipenuhi keributan begitu para guru meloncat turun untuk membantunya berdiri. Osman telah melakukan sesuatu dengan buruk dan seseorang harus menyembuhkannya dengan sihir air. Dia melanjutkan, tanpa sedikitpun tanda malu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semuanya, Jadilah Aristokrat yang akan mendukung Helkeginia di masa depan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata yang berani. Semuanya mulai bertepuk tangan, karena kasihan pada Osman yang berusaha keras menjaga harga dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kerumunan..Ada seorang gadis cantik yang menonjol bahkan diantara para ningrat. Itu Kirche, yang bergelar &amp;quot;Ardent&amp;quot;. Mengeluarkan uapan besar begitu melihat Kepsek nan ceroboh, dia berfikir apakah dia membuat kesalahan dengan melamar kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, bagi Kirche, yang telah meninggalkan Akademi Sihir Vindobona di ibukota Germania...Tiada pilihan lain, selain pergi ke sebrang untuk belajar. Orang tuanya di Zerbst berencana menikahkan Kirche, yang bermalas-malasan disekitar rumah setelah meninggalkan sekolah, pada seorang Marquis tua. Kirche, yang tak memiliki keinginan untuk menikah saat itu, meninggalkan negaranya ke Tristain untuk mencari perlindungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melakukannya tak sadar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak muda, begitu dia menyukai sesuatu, dia akan melakukan segalanya untuk mendapatkannya. Jika seorang protes, dia akan membungkamnya dengan keahliannya, &amp;quot;Api&amp;quot;. Alasannya di-DO, &amp;quot;insiden&amp;quot; yang terjadi di Germania, adalah hasil dari aspek kepribadiannya ini..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepribadian yang kau tumbuh dengannya adalah hal yang sulit diubah. Bahkan di Tristain, cara arogannya tetap mekar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali ke sini, di sebelah kirche, duduk seorang gadis berambut biru nan mungil. Dibandingkan dengan Kirche sang dewi kecantikan, pemilik tubuh iblis, tubuh gadis ini bahkan belum mencapai puber. Dia memang hanya seorang anak kecil. mata jade deibelakang kacamata masih membawa tanda-tanda anak-anak. Meski dia pergi ke Upacara Masuk , matanya tetap terbuka lebar, tenggalam dalam membaca buku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa alasan, Kirche mulai sebal dengan sikapnya. bagi Kirche, anak baik yang senang belajar adalah sasaran yang bagus untuk digojlok.  dia berkata dengan nada rendah, &amp;quot;Apa yang kau baca?&amp;quot; dan merebut buku itu. Gadis itu hanya melihatnya dengan mata yang mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata dalam buku terlalu berat untuk Kirche, dia tak mengerti apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa-apaan ini...&amp;quot;Pengaruh Kekuatan Angin pada Atmosfer dan Akibatnya&#039;? Apaan nih kata-katanya. Apa kau bisa menggunakan sihir tingkat tinggi ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu tak menjawab, hanya mengulurkan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, jika kau minta bantuan seseorang, kau seharusnya memberikan namamu, apa orang tuamu tak pernah mengajarimu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, ini bukan meminta bantuan, ini hanya mencoba mengambil kembali apa yang telah direbut...Gadis itu termenung sesaat, dan mengatakan namanya..&amp;quot;tabitha&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;apaan itu? apa semua orang di Tristain memakai nama yang aneh-aneh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche hampir berguling-guling di lantai dalam tawa. Guru yang bertugas membagi kelas menatapnya tajam, tapi Kirche mengabaikannya dan terus tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha menatap kirche dengan mata dingin. Rantai yang membawa takdir orang tuanya...untuknya telah dihina oleh seseorang. Saat itu, Kirche sama sekali tak melihat perubahan mata tabitha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis dengan rambut blonde-stroberi, yang tak bisa lagi menahan diri, langsung bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gadis di sebelah sana! Sesuatu yang penting tengah diumumkan sekarang! mengapa kau tak menutup mulutmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kemungkinan telah menolerir arogansi Kirche sejak tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa kau? aku  Louise Françoise Le Blanc de la Vallière. Sungguh mengejutkan ada orang sepertimu yang masuk sini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;la Vallière?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche memandangi wajah Louise dengan senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mohon bantuannya. Aku Kirche von Zerbst, tetanggamu. Sebuah keistimewaan untuk bertemu denganmu disini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ini, Sekujur Tubuh Louise mulai gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-A-Apa yang kau katakan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, mohon bantuannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche tetawa penuh daya tarik. Seorang guru yang melihat mereka gemetaran karena amrah berteriak pada ketiganya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semuanya DIAM!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;OK.&amp;quot; sambil mengatakan itu, Kirche kembali ke kursinya. Tabitha merebut bukunya dari tangan Kirche dan menatapnya tajam dari sudut matanya, bibirnya ditekan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setiap tahun dibagi dalam tiga kelas, yang merupakan nama 3 santo legendaris,  Suen, Iyer and Seger. Kirche dan tabitha di Suen, Louise di Iyer, sementara Guiche dan Montmorency di Seger.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan kejutan besar di upacara masuk, Kirche diabaikan oleh gadis-gadis lain di kelasnya. Daya tarik liar gadis Germania, dengan dada aduhainya, membuat hormon di udara tak bisa disumbat. dalam sekejap, semua lelaki di kelas telah doimilikinya. ini membuat gadis-gadis Tristain, yang sangat terkenal karena sifat irinya, terbakar dengki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepribadiannya adalah salah satu alasan mengapa dia tak disukai. Bahkan di Germania, Tanah Api itu sendiri, Kirche didiamkan karena arogansinya. Kepribadiannya hanya memperparah perasaan orang-orang Tristain, yang menyembah kehati-hatian sebagai keagungan, dengan cara yang salah. Dalam jangka waktu yang begitu pendek, dia sudah menggoda tiga pemuda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua alasan. Pertama, ketiga dari mereka adalah yang lebih tampan di kelas. Kedua, dan yang lebih penting...Dia begitu bosan.Pertama, pandangan menggoda dilemparkan ketika di aula. Kedua, membusungkan dadanya ketika berpura-pura tersandung. Ketiga, menyilangkan kakinya di hadapan mereka.hanya dengan itu, ketiganya sudah meminta Kirche untuk bersama mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirche menerima permintaan mereka meski dia menerima panggilan secara bersamaan. Dia pergi bersama ketiganya tanpa menyembunyikan apapun, sehingga ketiganya segera terlibat dalam pertarungan.Di akhir dari pertarungan tersebut, lelaki ketiga muncul sebagai pemenang. Tepat ketika dia akan menghadiahi dirinya sendiri dengan akhirnya mendapatkan Kirche hanya untuk dirinya, Kirche menemukan yang keempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis-gadis yang tertarik dengan pemuda-pemuda ini membentuk sebuah aliansi untuk berunding dengan Kirche. Kirche, yang barus saja menemukan yang ke-5 dan ke-6, dan sekali lagi men-tiga, meng-huh-kan saja usaha gadis-gadis malang tersebut.&amp;quot;tak tahukah kapan kau harus berhenti? Berapa banyak lelaki yang kau inginkan sebelum kau bahagia?&amp;quot;&amp;quot;Siapa tahu, aku tak tahu.&amp;quot;Kata Kirche sambil duduk di kursi dan memoles kukunya.&amp;quot;jangan berpura-pura!&amp;quot;&amp;quot; Aku tak melakukan apapun. Mereka menemukanku atas usaha mereka sendiri, berkata &#039;Kirche, ingin datang ke kamarku untuk minum,&amp;quot; atau &#039;aku telah menuliskan sebuah puisi, ingin mendengarnya,&#039; yah seperti itulah.&amp;quot;kata Kirche, meniru para pemuda.&amp;quot;Selalu seperti itu, aku cukup kesal juga, jadi aku harus menerimanya, dalam bahasa kalian &#039;Oui&#039;. Apa aku mengejanya dengan benar?&amp;quot;Sikapnya membuat dengki para gadis langsung meroket ke tingkat yang baru.&amp;quot;Dengar. Ini Tristain, diaman kami menghargai adat dan tradisi, tak seperti negara barbarmu. bahkan dalam cinta ada cara-cara yang patut, Seorang gadis desa nan abai yang bahkan tak tahu itu seharusnya pulang saja!&amp;quot;&amp;quot;Jika kau benar-benar perhatian tentang cintamu, mengapa tak menguncinya di kamarmu?&amp;quot;&amp;quot;Apa katamu?&amp;quot;&amp;quot;Aku hanya bingung. Jika kau punya waktu untuk mengiri, mengapa tak membujuknya untuk tinggal? Jika kau menyukainya kau seharusnya memujinya sedikit. Yang kalian semua tahu hanyalah bagaimana memasang wajah marah, kalian bahkan tak tahu bagaimana mengatakan hal-hal yang membuat pria bahagia, kan?&amp;quot;&amp;quot;Itu tugas pria!&amp;quot;&amp;quot;Kalau aku sih tak begitu, jika aku menginginkan seseorang, aku akan memujinya sebanyak mungkin, kalau tidak, aku akan menjadi sangat sedih.&amp;quot;&amp;quot;Jangan memeprlakukan kami seperti orang tolol!&amp;quot;&amp;quot;bagaimanapun, kalian semua bisa tenang. Meski aku mengikuti filosofi &amp;quot;Lakukan apapun untuk mendapatkan apa yang kumau,&amp;quot; Aku takkan pernah mengambil apa yang paling penting bagi seseorang.&amp;quot;Pembohong! Bukankah kau mencoba menggenggam para pacar kami dengan tangan kotormu?&amp;quot;Kirche memutar pandangannya perlahan pada gadis-gadis yang mengelilinginya.&amp;quot;Bagi kalian, itu bukan hal paling penting, kan?&amp;quot;&amp;quot;Apa katamu?&amp;quot;&amp;quot;Jika ia merupakan hal yang begitu penting, kalian takkan membentuk sebuah tim untuk berunding denganku. kalian akan menggulingkan kepalaku dari bahu dari dulu, atau apakah aku salah?&amp;quot;para gadis yang iri tak bisa berkata apa-apa.&amp;quot;...Er...&amp;quot;&amp;quot;Aku belum ingin mati. Makanya aku takkan mengambil apa yang paling berharga dari seseorang.&amp;quot;Para gadis telah dipukul oleh sikap Kirche dan mulai saling memandang satu sama lain.Dengan itu, pacar Kirche terus bertambah, tapi dia tak bisa membuat satu jalinan pertemanan. Namun Tabitha  juga tak lebih baik.Tabitha jarang berbicara pada siapapun. Entah itu waktu istirahat atau makan siang, kelas dimulai atau berakhir, bahkan dalam asrama atau tempat-tempat ramai. Dia tak mengatakan apapun pada siapapun. Pendiam, dengan wajah pencemas dunia pada mukanya...hanya membaca. Tak peduli siapapun yang mencoba bicara kepadanya, Tabitha mengabaikan mereka. Tak hanya mengabaikan, dia bahkan tampak mengabaikan keberadaan mereka.karena ini, Tabitha menjadibahan ejekan. Untuk alasan tertentu, dia menolak memberitahu nama belakangnya, jadi muncul isu-isu bahwa dia seorang penjahat.Saat dimana dia benar-benar membakar kedengkian seluruh kelas adalah pada saat kelas pertama mereka.Tabitha, yang dikira sebagai kutu buku biasa, ternyata adalah seorang Penyihir &amp;quot;Angin&amp;quot; jagoan. Ini baru diketahui saat pelajaran sihir &amp;quot;Angin&amp;quot; pertama.pak Quito adalah penanggung jawab kelas &#039;Angin&amp;quot;. kata-kata pertama dari mulutnya adalah,&amp;quot;Siswa-siswa tahun ini begitu menyedihkan.&amp;quot;Ketaksenangan langsung terpancar dari wajah para siswa, yang berkumpul di Lapangan Pusat.&amp;quot;Melihat rekaman sekolah kalian, hampir semuanya adalah penyihir &amp;quot;Titik&amp;quot;, hanya sedikit yang &amp;quot;garis&amp;quot;. bahkan tiada yang &amp;quot;segitiga&amp;quot;. Ada apa ini?&amp;quot;Titik dan segitiga mengacu pada jumlah elemen yang bisa dipakai. &#039;Titik&#039; berarti satu elemen, &#039;garis&#039; berarti dia bisa memadukan dua. Meskipun ia merupakan elemen yang sama, selama ia bisa dipakai, sebuah mantra kuat dapat tercipta.&amp;quot;Aku mutlak tak punya harapan untuk kalian semua, tapi ini perkerjaanku, jadi kuteruskan.&amp;quot;Setelah Pak Quito selesai berbicara dengan nada rendah, kelas dimulai. Kemampuan dasar &amp;quot;Angin&amp;quot; adalah &amp;quot;terbang&amp;quot; dan &amp;quot;melayang&amp;quot;.namun...Tabitha mulai menunjukkan kemampuannya mulai saat itu.dia adalah yang pertama terbang begitu tinggi menggunakan mantra &amp;quot;terbang&amp;quot;. Meski untuk menghindari perhatian, dia sengaja tak menggunakan seluruh kekuatannya. Pak Quito rada bingung.&amp;quot;Untuk seorang penyihir &#039;titik&#039;, itu cukup bagus.&amp;quot;karena tak mengetahui kemampuan Tabitha yang sebenarnya, tak salah bila dia mengatakan itu.Untuk alasan-alasan tertentu, satu-satunya yang tahu kekuatan tabitha yang sebenarnya adalah Kepsek Osman. Terlebih lagi Pak Quito belum melihat rekaman siswa-siswa pertukaran.&amp;quot;Tak peduli bagaimanapun juga, kalian semua kalah dari gadis termuda di kelas. tidakkah kalian malu?&amp;quot;karena perkataan Pak Quito itu, seluruh kelas mulai marah.Saat istirahat setelah makan siang, seorang lelaki meminta Tabitha untuk berlatih dengannya.latihan seperti ini pada dasarnya sama dengan bertarung. Karena ini Latihan, tiada kemungkinan untuk kehilangan nyawa, setidaknya tidak pada masa ini. Di masa lalu, tersiar kabar bahwa memberikan lawanmu coup de grace adalah cara ningrat, tapi masa para pahlawan ini sudah menghilang menjadi sejarah. Metode modern adalah dengan menggunakan mantra-mantra dengan ancaman nyawa yang kecilm dan sekali seseorang terluka, pemenangnya sudah diputuskan. Meski ada kejadian dimana ada jari yang patah, ini lebih aman daripada mempertaruhkan nyawa, mencuri tongkat lawan merupakan cara paling elegan untuk menang.Pemuda yang menantang tabitha bernama de Lorraine. terlahir di keluarga yang terkenal dengan sihir &amp;quot;Anginnya&amp;quot;. dia merupakan salah satu dari penyihir &#039;garis&#039; elit angkatan mereka.Dia menyimpan dendam karena dikalahkan di &amp;quot;terbang&amp;quot; oleh seseorang tak dikenal seperti tabitha. Dia suka menyombongkan diri bahwa tiada yang bisa bertanding dengannya dalam sihir &amp;quot;angin&amp;quot;, dan ingin mendapatkan kesempatan untuk membalas tabitha.Sambil berjalan menuju tabitha yang tengah membaca di Lapangan pusat, dia mendeklarasikan perang,&amp;quot;Nona, aku menginginkan instruksimu dalam sihir &#039;Angin&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika tabitha tak menjawab apapun, de Lorraine mulai marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;melanjutkan membaca saat seseorang menantangmu, apa itu tidak keterlaluan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha tetap tak menjawab. Perkataan de Lorraine melewaqti telinganya, tak terdengar, seakan ia hanya suara hembusan angin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi, untuk ini, kau tak punya keberanian. Itu tak terlalu sulit dimengerti. apalagi, ini mempertaruhkan nyawa! sangat berbeda dengan terbang dan meloncat-loncat di dalam kelas!&amp;quot;Tabitha terus membalikkan halaman bukunya. Ejekan De Lorraine tak berefek apapun pada gadis bermata jade ini.&amp;quot;Heh!&amp;quot;De Lorraine mendengus, dan tersenyum mengejek.&amp;quot;Jadi, sepertinya isu bahwa kau seorang bajingan benar. Aku takut kau bahkan tak tahu siapa ibumu. Untuk mendengki seseorang yang begitu hina sepertimu akan merusak reputasi keluargaku!&amp;quot;Begitu dia habis berkata begitu dan hendak pergi, tabitha akhirnya bangkit berdiri. Jika Kirche melihatnya sekarang, mungkin dia akan merasakannya. Didalam mata jade yang tak bernyawa itu, sebuah angin beres berhembus.&#039;Apa kau akhirnya serius?&amp;quot;tabitha menyimpan bukunya di bangku, dan berputar, berjalan menuju daerah terbuka.tabitha dan De Lorrain berdiri saling menghadap dalam jarak sekitar 10 meter.&amp;quot;Meski aku tak mau memberikan namaku untuk seorang bajingan sepertimu, ini adalah prakterk umum. Aku, Verrieres de Lorraine, akan menjadi lawanmu.&amp;quot;Tabitha tak memberikan namanya.&amp;quot;Adalah sangat menyedihkan untuk tidak memiliki nama untuk disebutkan, bahkan pada saat seperti ini! Aku takkan menunjukkan ampun! En guarde!&amp;quot;  Teriak De Lorraine, dan ulai melantunkan mantra, &amp;quot;Gebrakan Angin &amp;quot;. Dia hendak menerbangkan Tabitha dalam sekali pukul. Tabitha dan menyiapkan kuda-kuda, dan hanya bersiap dalam hening untuk menahan angin yang tampak akan menerbangkannya.Apa yang tengah terjadi? Dia sama sekali tak hendak mengambil kuda-kuda persiapan. &#039;Gebrakan Angin&amp;quot; De Lorraine adalah mantra yang kuat, sebuah mantra untuk membalasnya akan memakan waktu untuk dilantunkan.Apakah ini karena dia tak pernah latih-tanding seperti ini sebelumnya, atau karena dia begitu ketakutan oleh mantra De Lorraine...apapun alasannya, waktu telah habis.Tepat ketika De Lorraine merasa kemenangan sudah di tangan...tabitha mengangkat tongkatnya, dan bagaikan membersihkan sarang laba-laba dari hadapannya, mengayunkankannya secara acak. Sebuah kata diucapkan, dan dengan itu saja, tabitha sudah mengendalikan seluruh arus udara di sana.Penyesuaian aliran udara ini mengubah arah mantra de Lorraine, mengembalikannya pada pemantranya,De Lorraine diterbangkan ke tembok oleh anginnya sendiri. Tanpa memberikannya waktu, Tabitha langsung memantra lagi, Uap air di udara membeku jadi es, berubah jadi panah es, yang menuju de Lorraine,&amp;quot;Ah!&amp;quot;Dengan suara &amp;quot;Duk&amp;quot; yang jelas, panah es tersebut menancapkan de Lorraine ke tembok pada jubah dan bajunya. Dia membeku ketakutan oleh kekuatan yang baru kali ini dia lihat selama hidupnya. &amp;quot;Angin&amp;quot;, apa mungkin bisa sekuat ini? Sebuah panah es raksasa terbang menuju de lorraine yang tertancap dari depan.&amp;quot;Aku akan mati! selamatkan aku!&amp;quot;Dia berteriak secara refleks. panah itu, setebal tangannyam berhenti di depan matanya, Ia lalu mulai mencair, menjadi genangan.Pada saat yang sama, panah-panah yang menahan tubuhnya di tembok pun mulai mencair.De Lorraineyang baru terlepas gemetaran tak terkendali. Di kakinya, sebuah genangan mulai terbentuk, bukan dari panah esyang mencair, tapi dari cairan lain. Dari antara kedua kakinya, cairan mengalir, membentuk genangan air sesuhu suhu tubuh. Dia bertekuk lutut.Sambil melemparkan tongkatnya dan memohon, &amp;quot;Mohon ampuni aku,&amp;quot; dia merangkak pergi.Kaki kecil Tabitha tiba-tiba mengisi pandangannya, membuatnya begitu ketakutan sehingga dia mundur. Tabitha berdiri disana memandangnya dari atas, ekspresinya tetap sama.&amp;quot;Ampuni aku! biarkan aku hidup! L-latih tanding hanyalah sebuah permainan! Pertarungan dimana kau mempertaruhkan nyawa hanyalah sejarah lama1&amp;quot;kata De Lorraine, bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya tadi. tabitha memunculkan sebuah tongkat.&amp;quot;Biarkan aku pergi! jika kau biarkan aku hidup, aku akan melakukan apapun yang kau katakan!&amp;quot;Tabitha menunjuk tongkat di tangannya, dan hanya berkata,&amp;quot;Kau lupa ini.&amp;quot;itu tongkat yang dilemparkan de Lorraine.Itu adalah alasan mengapa Kirche dan Tabitha  dibenci isi kelas yang lain...Kirche khususnya oleh gadis-gadis yang dicuri pacarnya, dan Tabitha oleh de Lorraine, yang telah dikalahkan begitu telak.De Lorraine mengajukan suatu rencana pada para gadis.Ketika mendengarnya, para gadis bertepuk tangan dan setuju. Mereka akan menjaga identitas mereka dari ketahuan dan akan mengurus dua gadis yang paling dibenci dalam kelas mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pesta dansa penyambutan bagi siswa baru diadakan pada akhir minggu kedua, minggu Heimdallr, bulan Ur. Karena tajuk utama pesta ini adalah siswa baru, kakak-kakak kelas menghiasi aula dan menghibur para siswa  baru sebagai tuan rumah.Meja-meja terisi hidangan yang khusus dipersiapkan untuk menyambut perut siwa-siswa baru. Kakak-kakak kelas yang berpakaian istimewa tengah mendiskusikan adik-adik kelas mana saja yang akan diundang berdansa.Tak perlu dikatakan lagi bahwa orang yang paling menarik perhatian adalah si siswa asing dari Germania, Kirche.Pada dasarnya, para siswa baru masih tak terbiasa dengan kegiatan sosial, jadi gerakan dansa, atau rasa keindahan mereka masih rendah, shingga mereka belum pantas jadi rekan dansa para kakak kelas. Namun, siswa Germania ini, yang sangat &amp;quot;hidup&amp;quot; dalam sektor sosial pada seluruh aspek adalah kasus lain. Dia memiliki daya tarik seks yang kuat, kecantikannya  menyerupai sepetik bunga yang mengeluarkan bau  nektar nan manis. Topik obrolan siswa-siswa senior terfokus pada siapa yang bakal mengundang siswi baru ini untuk berdansa.Dan, saat Kirche -yang mengenakan gaun hitam nan seksi yang menonjolkan dada mekarnya, rambutnya ditata menjadi gaya yang terkenal di jalalanan, dan mengenakan kalung Rubi yang menyimbolkan sedikit panas-muncul, seluruh lelaki di sana berdesah emosional. Desahan menyebar bagai riak, dan dalam sesaat, Kirche telah menangkap mata seluruh orang di sana.Begitu melihat penampilan Kirche, wanita-wanita lainnya disana membuang pandangan mereka, dan mulai mencari-cari kesalahan pada pakaian dan gaya rambutnya. Ini karena keadaan dimana seorang wanita sing menarik seluruh perhatian membuat mereka tak senang.Para lelaki senior mengelilingi Kirche, semuanya mencoba mengundangnya berdansa. Kirche menunjukkan wajah bangga, dan menyipitkan matanya seperti seorang ratu yang sombong.Begitu Kirche mengambil gelas anggur, akan ada seseorang yang menuangkkan anggur untuknya. kapapnpun dia menggigit sepotong keju, akan ada seseorang yang membawanya sebuah piring dengan daging. Jika dai bercanda, semuanya akan tertawa sepenuh hati. Tiap gerakan Kirche menarik mata semua orang disana.Musik telah dimulai. Kirche memilih seorang bangsawan sebagai rekan dansanya. Dia siswa tahun kedua nan tinggi dan tampan. Si tampan ini menunjukkan sebuah senyuman seperti patung nan sempurna, dan mencium punggung tangan Kirche yang diulurkan padanya. Siapapun bisa berkata dengan mudah bahwa keduanya adalah sorotan hari ini.Ada sekelompok orang di kursi mereka di tempat yang agak jauh, menonton ini dengan mata sedingin es.Mereka adalah orang-orang yang hendak membalas dendam pada Kirche dan Tabitha. Salah satu dari mereka, yang menyembunyikan cinta untuk siswa tahun kedua yang tampan itu, menggigit sapu tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena marah.&amp;quot;Ah~~Apa itu! Berani-beraninya dia mendekati Pellison-sama...&amp;quot;Ucap Thonet Charante pelan, pemimpin kelompok pendendam ini, sambil menyibakkan rambut abu-abunya.&amp;quot;Lihat saja. Kami akan mempermalukanmu tepat dihadapan semuanya...&amp;quot;Setelahnya, dia mengirimkan sebuah sinyal pada De Lorraine. Dia sedang bersembunyi di belakang tirai pada sudut aula, menunggu-nunggu saat ini tiba.Dia mengikuti skenario yang dia latih sebelumnya, dan mulai melantunkan sebuah mantra sambil menunjuk tongkatnya pada Kirche.Kirche tengah berpegangan pada seorang siswa tahun kedua dan berjalan kedalam aula, saat tiba-tiba, sebuah topan kecil menyelimuti tubuhnya.&amp;quot;Apa ini?&amp;quot;Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, topan itu mulai berputar dan berpilin, membuat gaunnya terlilit.&amp;quot;Huh? Oh?&amp;quot;Pisau angin nan kcil dan tak terhitung banyaknya memotong rok dan pakaian dalam Kirche, merobek mereka jadi serpihan.&amp;quot;Waaaaahhhhhhhhhhhhhhh!&amp;quot;Yang menjerit bukan Kirche, tapi seorang gadis yang berdiri di dekatnya. Selain dari sepatu di kakinya, Kirche bagaijkan seorang yang baru lahir, mematung berdiri di pusat aula, telanjang.Siswa tahun kedua yang seharusnya bersama Kirche mendapat mimisan, dan ambruk setelah kehilangan sekolam darah, Seluruh lelaki disana, termasuk para guru, semuanya menatap lurus pada Kirche, bagaikan menelannya bulat-bulat. Sedangkan par wanita yang tak senang dengan Kirche, meski mereka mengeluarkan sesuatu mirip desahan kasihan para kejadian tiba-tiba ini, mereka tetawa dalam hati, merasakan perasaan tak senang   mereka teralirkan.Namun...Kirche tak panik karena kecelakaan tak beruntung ini, dan malah, membawakan sikap ratunya disitu.Dia tak menutupi tubuh berwarna perunggunya, yang memberikan daya tarik liar, sama sekali. Dia berjalan ke arah dinding, terlihat sangat alami, dan duduk di sofa disana.dan dibawah tatapan siswa-siswa, dia menyilangkan kaki, bergumam seperti &amp;quot;sekarang lebih sejuk&amp;quot;. Pada saat ini, sang tersangka, De Lorraine bersikap biasa dan berjalan kesana.&amp;quot;Bencana yang luar boiasa.&amp;quot; katanya sambil memberikan jubahnya pada Kirche.&amp;quot;Siapa sih...yang melakukan ini...&amp;quot;kata De Lorraine, membuang pandangannya dari tubuh Kirche yang sangat dibanggakan. Dia tak bisa menolong wajahnya yang memerah.&amp;quot;Pada dasarnya aku bisa agak-agak menebak siapa.&amp;quot;Kirche menatap sekelompok gadis di sudut jauh. Mereka melihat ke arah sni, menyeringai sambil saling berbisik.De Lorraine menempatkan mulutnya di sisi telinga Kirche.&amp;quot;Erm...aku melihats eseorang yangs epertinya pelaku di bayang-bayang tirai...&amp;quot;Kirche menggunakan mata penuh curiga untuk menatap De Lorraine.&amp;quot;Oh...Benarkah?&amp;quot;&amp;quot;Ya. Jika aku mengatakan padamu siapa itu, apa kau akan kencan denganku?&amp;quot;De Lorraine mengulangi naskah yang disiapkan sebelumnya. Kebanyakan karena Thonet Charente berargumen sangat kuat bahwa, dengan menanyakan ini, Kirche sepertinya lebih bakal percaya pada apa yang akan dikataknnya.Kirche mempelajari De Lorraine perlahan-lahan. Dia memiliki wajah yang terlihat rada kaku...Dia termasuk jenis yang. meski pede dengan pelajaran dan sihir mereka, mutlak tak tahu soal hubungan pria-wanita. Sepertinya dia mungkin secara rahasia jatuh cinta padanya?Kirche  memberikan senyuman nan menawan. Merendahkannya, dia berpikir sendiri: Apa ini? jadi orang ini hanya pengagum rahasia diriku yang lain. Untuk orang-orang yang sangat-sangat narsistik, mata mereka yang seharusnya melihat kebenaran cenderung mudah dibatakan dengan mudah juga.&amp;quot;Pasti, jadi ceritakan padaku.&amp;quot;De Lorraine menceritakannya kepada Kiche dengan pelan.&amp;quot;...pelakunya gadis yang kecil. Dia tengah memandangmu dan mengayunkan tongkatnya, jadi kupikir pasti dia.&amp;quot;&amp;quot;Jadi, siapa dia?&amp;quot;&amp;quot;Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas.&amp;quot;De Lorraine tampak malu begitu dia menambahkan.&amp;quot;Yeah, setelahnya, perhatianku tertuju padamu, dengan gaunmu yanhg menjadi sepihan kain. Adalah setelah itu kupikir ia mungkin pelaku semua ini. Tapi saat aku menoleh lagi, dia tak lagi disana.&amp;quot;&amp;quot;Oh...Apakah ada sesuatu padamu yang bisa bertindak sebagai bukti?&amp;quot;De Lorraine mengambil sehelai rambut dari kantongnya. Sehelai rambut biru.&amp;quot;Warna ramhbut ini sangat tak biasa.&amp;quot;&amp;quot;Yang memiliki rambut dnegan warna itu seharusnya tak banyak.&amp;quot;De Lorraine mengangguk.&amp;quot;Terima kasih, kupikir aku tahu siapa dia.&amp;quot;Kirche mengatakannya begitu pelan, memandang sekitarnya dan...matanya berhenti pada seorang gadis kecil yang memakai kacamata. Anak itu, namanya Tabitha kan?De Lorraine, yang kini berdiri disebelahku, bukankah dia pernah bertarung dengannya? Karena Kirche tak tertarik dengan hals emacam ini, dia hanya mendengarkan sedikit dari apa yang terjadi.&amp;quot;Bukankah kau pernah bertarung dengannya?&amp;quot;&amp;quot;Ya.&amp;quot; angguk De Lorraine. &amp;quot;Meski memalukan, aku kalah sangat telak.&amp;quot;&amp;quot;Begitu yang kedengar. Alasan pertarungannya?&amp;quot;&amp;quot;Karena dia sangat tak hormat padaku, aku berkata: &#039;Aku berandai-andai bagaimana ibumu.&#039; Seperti yang kau tahu, gadis itu punya nama yang aneh kan? Diapasti menyembynyikan kelahiran yang memalukan. Tepat saat aku mengatakannya, dia tiba-tiba bertindak, itulah mengapa aku kalah darinya.&amp;quot;De Lorraine berdusta.Kirche memiringkan kepalanya dan berpikir soal itu.Kirche mengoloknya sedikit saat upacara masuk , apa mungkin itu alasannya? lagipula, dia tampaknya mengolok nama Tabitha sebelumnya.Dia menyipitkan matanya dan menatap Tabitha, wajahnya menunjukkan sebuah senyum dingin.Melihat ini, De Lorraine berfikir bahwa rencananya tampak berjalan mulus,  dia tak bisa menolong dirinya yang menyeringai dalam hati.Kirche tampaknya teryakinkan...Tabitha menyimpan dendam padanya karena mengolok namanya, dan ingin membalas dendam.Alasan Thonet Charente menyuguhkan ide ini pada De Lorraine adalah akrena dia ingat bahwa sebelumnya pernah ada gesekan antara Kirche dan tabitha selama upacara masuk, jadi dia menggunakannya untuk rencana ini.Pagi setelahnya...Kirche berjalan masuk kelas dan duduk di sebelah Tabitha. Tabitha sendiri membaca bukunya tanpa bergerak. Kirche mengambil inisiatif dan merebut bukunya.Tabitha memandang pada Kirche, mata biru itu yang tetap tak memperbolehkan orang lain mendeteksi emosi apapun di dalamnya bersinar dengan cahaya yang nyata.&amp;quot;Kau...cara balas dendam yang kau dapat benar-benar cerdas.&amp;quot;Tabitha tak menjawab.&amp;quot;Apakah sebegitu tak termaafkannya untuk mempermainka namamu?&amp;quot;Tabitha memiringkan kepalanya, memandangi Kirche, dia tampak tak mengerti bahwa Kirche menceritakan kejadian itu.Kirche melemparkan serpihan-serpihan gaunnya pada Tabitha.&amp;quot;Ini sangat mahal.&amp;quot;Tabitha menggunakan jarinya untuk menggosok kain tersebut, dan memandanginya sebentar.&amp;quot;Aku ingin kau menderita penghinaan yang sama, apa kau menerimanya?&amp;quot;Tabitha menggelengkan kepalanya, bagaikan mengatakan &amp;quot;Aku tak mengerti apa yang kau katakan.&amp;quot;&amp;quot;Berhentilah berpura-pura, kau ahli sihir &amp;quot;angin&amp;quot; kan? Aku aslinya benci angin, tapi kini aku semakin membencinya. Seseorang sepertimu, yang mengyelinap ke sudut gelap untuk melepaskan sebuah topan...Itu sangat mengganggu!&amp;quot;&amp;quot;Itu bukan aku.&amp;quot;Dengan keadaan yang sudah begini, Tabitha akhirnya buka mulut.&amp;quot;Sekarang sudah sampai segininya, dan kau masih ingin bersikap tak bersalah?&amp;quot;Rambut Kirche menari bagai api. Dia menunjukkan senyum tak terpaksa dan mengatakan dengan nada tenang.&amp;quot;Ingat ini, seharusnya tak perlu waktu lama bagiku untuk membuatmu mengingatnya.&amp;quot;Dengan itu, Kirche bangkit dan berjalan kembali ke kursinya.Thonet Charante dan De Lorraine menyelinap dan bersembunyi di salah satu sudut kelas untuk menguping pembicaraan mereka; setelahnya, mereka bertukar pandang, dan diam-diam tersenyum.Mereka memicu bagian kedua rencana mereka dengan sangat cepat.Setelah sekolah hari itu, Tabitha kembali ke rumahnya, hanya untuk menemukannya dalam keadaan mengerikan. Kamarnya terisi bau dan buku terbakar, yang selama ini merupakan satu-satunya teman Tabitha, dan lemari buku untuk menyimpan mereka terbakar seluruhnya menjadi abu. Tabitha mengambil sisa-sisa dari salah satu buku yang terbakar. Halaman di dalamnya terbakar menjadi abu, dan terbang ke bawah, jatuh ke lantai.Tabitha menggigit bibir keras-keras. Dia menggunakan mata tak bernyawanya untuk melihat sekeliling, dan menemukan sehelai rambut yang jatuh ke kasurnya. Dia mengambilnya dan dengan lampu kerosen dalam kamarnya, dia melihat rambut merah panjang yang bersinar dengan nafsu.Deidalam mata biru Tabitha, sebuah angin dingin nan keras mulai berhembus.Pada larut malam, ada sebuah ketukan di pintu Kirche.Kirche sangat marah soal menyajikan tubuhnya secara gratis di pesta untuk dikagumi seluruh siswa dan guru di sekolah, dia menanyai orang diluar: Siapa?&amp;quot;&amp;quot;Ini aku.&amp;quot;Itu suara Tabitha. Sisi bibir Kirche terangkat dengan sikap tegas, menampakkan senyum kejam yang takkan pernah ditunjukkan kepada orang lain. Dia membuka pintu kamarnya.Tabitha yang memegang tongkat besar di tangannya berdiri di luar.&amp;quot;Kau akhirnya ingin menyelesaikan segalanya sekali ini dan untuk selamanya?&amp;quot;tanya Kirche, sambil melihat gadis ini yang tingginya hanya sedada dia dari atas. Tabitha tak menjawab, dan hanya menggunakan mata dinginnya untuk menatap Kirche.Matanya memberikan jawaban yang jelas pada pertanyaan Kirche.&amp;quot;Tempat?&amp;quot;Kirche bertanya sekali lagi.&amp;quot;Dimanapun bisa.&amp;quot;&amp;quot;Waktu?&amp;quot;&amp;quot;Sekarang.&amp;quot;&amp;quot;Bagus.&amp;quot;Kirche mengambil tongkatnya, dan berjalan pergi sebelum Tabitha.di pusat Lapangan Vestri yang jarang ada orang bahkan di siang hari, Kirche dan Tabitha membalikkan badan untuk saling berhadapan. Sepertinya hanya bulan yang menjadi hadirin mereka.Namun...Ada penonton lainnya yang bersembunyi di belakang semak-semak ataupun dalam bayang-bayang menara. Mereka adalah De Lorraine, dan gadis-gadis yang mencari balas dendam, dengan Thonet Charante sebagai pemimpin mereka. Dan Thonet Charante adalah pelaku yang menyelinap ke kamar Tabitha dan membakar lemari bukunya.Mereka berpuas diri atas kesuksesan rencana mereka. Mereka ingin melihat hasil akhir, jadi mereka menyelinap kesini, sembunyi-sembunyi, di belakang Tabitha dan Kirche.Kegelapan diam-diam menyelimuti udara dingin nan lembab di malam musim semi.Tabitha mengangkat tongkat ke hadapannya.&amp;quot;Pertama-tama, aku ingin meminta maaf. Terkait soal menghina namamu...aku tak punya niat buruk. Sebagaimana yang kau lihat, ini hanya kepribadianku~aku cenderung secara tak sengaja membuat marah orang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabitha menempatkan tongkat besarnya menghadap tanah, dan bersiap melantunkan mantra kapapnpun jua.&amp;quot;Tapi, aku tak pernah mengira kau akan membuatku merasakan penghinaan seperti itu, jadi aku takkan main-main denganmu.&amp;quot;namun, Kirche menyadari bahwa Tabitha masih sangat kecil. Meski dia benar-benar marah, tapi untuk bertarung dengan gadis sekecil dia...Apa ini benar? Kecamuk kecil ini muncul sayup-sayup di hatinya.&amp;quot;Jangan ambil aku sebagai penggoda biasa dan meremehkan kemampuanku. Aku adalah Zon Verbst dari Germania, kau sudah mendengarnya, kan?&amp;quot;Tabitha mengangguk.&amp;quot;Maka kau seharusnya tahu isu-siu soal keluargaku di medan perang. Keluargaku ramai dan bebas bagai api, tapi tidak hanya itu. Kami akan dengan gembira dan bebas membakar apapun menjadi abu. Dan tidak hanya musuh kami...bahkan pihak kami sendiri yang tak mematuhi kami.&amp;quot;Tabitha memandangi Kirche tanpa gerak, wajahnya tampak berkata: &amp;quot;Terus kenapa?&amp;quot;&amp;quot;Hal yang paling kubanggakan adalah api Zerbst yang mengalir dalam tubuhku. Jadi selama ada sesuatu yang menghalangi jalanku, tak peduli apapun itu, aku akan membakarnya jadi abu. Bahkan bila itu adalah raja kami...Atau seorang anak, mereka semua sama.&amp;quot;Tabitha mulai melantunkan mantra. Sepertinya ancaman Kirche tak berefek apapun pada Tabitha.&amp;quot;Aku sudah memperingatkanmu.&amp;quot;Kirche mengayunkan tongkatnya. Karena beratnya latihan militer yang diterimanya, saat dia serius, kecepatan lantunnya lebih cepat dari siapapun.dari ujung tongkatnya, muncul bola api, bukan yang biasa dari ukuran maupun kekuatannya, dan terbang menuju Tabitha. Tabitha merubah mantranya seketika, membuat sebuah tembok es tepat dihadapannya.Sebuah tembok es tebal menahan bola api Kirche...dan meleleh jadi air. Tapi tembok es ini tak mampu sepenuhnya menahan bola api Kirche, menyebabkan rambut Tabitha terbakar oleh pecahan api.Tabitha melompat ke belakang dan berubah dari bertahan menjadi menyerang. Dia membuat uap air di udara berkondensasi jadi es, dan mengirimkan panah es pada Kirche dari seluruh arah. Dia juga serius, dibandingkan dengan saat dia memaku De Lorraine ke tembok, kini jumlah panah esnya tiga kali lebih banyak...semua langsung menuju Kirche.Kirche mengayunkan tongkatnya. Api berputar menyelimuti tubuhnya, menyalut panah es nan tajam, dan melelehkan mereka sepenuhnya. Tapi salah satu panah es yang belum meleleh sepenuhnya menggesek pipinya.Setetes darah segar menetes dari pipi Kirche.Namun...Baik Kirche maupun Tabitha berhenti setelah itu...Serangan dari kedua belah pihak diakhiri disana.Keduanya menurunkan tongkat mereka, dan saling menatap.Kirche menggunakan lidahnya untuk menjilat darah yang mengalir dari pipinya.Tabitha juga menggunakan tangannya untuk memeriksa rambutnya yang terbakar.De Lorraine yang tengah bersembunyi di semak-semak menanyai Thonet Charante yang berada di sampingnya, yang tengah menahan napasnya untuk menyaksikan pertarungan.&amp;quot;...Apa yang teengah berlangsung? Apa ini sudah selesa?&amp;quot;&amp;quot;...Bagaimana kutahu. Ampun dah, teruskanlah pertarungannya. Belum ada hasilnya, kan?&amp;quot;Mengapa Tabitha dan Kirche berhenti bertarung setelah saling melepaskan satu serangan? De Lorraine dan Thonet Charante tak bisa mengerti alasannya sama sekali.&amp;quot;Pusing deh...sepertinya ini memang salah pengertian.&amp;quot; kata Kirche, merajuk.Perkataan lepas ini membuat De Lorraine dkk makin bingung. Kini bukan waktunya membuat ceramah yang begitu kepas, kan? Mereka seharusnya bertarung, mempertaruhkan nyawa mereka, kan?Tabitha tampaknya memiliki pendapat yang sama dengan Kirche, dan mengangguk.Setelahnya, dia berjalan mendekati Kirche, dan menyerahkan buku yang terbakar pada Kirche. Kirche melihatnya dengan seksama, menggelengkan kepala, dan berkata.&amp;quot;Aku tak melakukan ini.&amp;quot;Tabitha mengangkat kepalanya dan memandangi Kirche. Kirche tersenyum tipis, dan menepuk bahunya.&amp;quot;walah, kalau ada sesuatu yang kuinginkan, aku akan merampoknya, tapi aturanku adalah &#039;tidak merebut apa yang paling berharga dari seseorang&#039;.&amp;quot;Tabitha membuka mulutnya untuk berkata.&amp;quot;Mengapa?&amp;quot;&amp;quot;Karena, jika aku merebutnya, akan menyebabkan keadaan dimana aku harus membahayakan nyawaku, bukankah hal semacam itu sangat mengganggu?&amp;quot;Kirche tertawa gembira.Tabitha, dipimpin Kirche, menampakkan senyuman kecil.Kirche tampaknya menyadari senyum itu, dan berkata pada Tabitha.&amp;quot;Kau lebih manis bila tersenyum seperti ini.&amp;quot;Setelahnya, Kirche mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Beberapa bola api kecil ditembakkan ke langit seperti kembang api, menerangi sekelilingnya seakan kini pagi.De Lorraine dkk yang bersembunyi dalam gelap langsung terlihat dalam cahaya.&amp;quot;Hi! Hiiiiii!&amp;quot;&amp;quot;Kalian...Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&amp;quot;T-tidak, hanya jalan-jalan!&amp;quot;&amp;quot;Jalan-jalan? Itu untuk nanti saja. Yap, untuk penghinaan yang kuderita berkat kau...Aku ingin &#039;membayar&#039;mu.&amp;quot;Para gadis dan De Lorraine hendak lari, tapi kaki mereka diikat erat oleh tali angin tabitha.Kirche mendekati De Lorraine yang terjatuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;M-M-Mengapa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau mencoba bertanya mengapa kami menyadarinya?&amp;quot;De Lorraine mengangguk-angguk berkali-kali seakan dia memiliki kram.&amp;quot;Dengarkan baik-baik, apa kau pernah dengar ungkapan &#039;Yang kuat akan mengenali yang kuat?&#039; Saat kau menjadi &#039;Kelas segitiga&#039; seperti kami, kau akan bisa mengerti tingkat sihir yang diarahkan padamu. topan yang merobek gaunku di pesta, bila dibandingkan dengan panah es yang digunakan anak ini sekarang, meski mereka sama-sama sihir &amp;quot;angin&amp;quot;, kekuatan sihirnya jauh berbeda!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hi! Hi! Hiiiii!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar istilah &amp;quot;Penyihir Segitiga&amp;quot;, Semua yang terjatuh ke lantai begitu ketakutan sehingga mulai gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku dan tabitha menyadari kami berdua penyihir segitiga; itulah mengapa kami menurunkan tongkat kami. Jika terbakar oleh apiku, bagaimana mungkin masih ada buku yang mempertahankan bentuk aslinya? Ingat baik-baik, &amp;quot;apiku&amp;quot; akan membakar semuanya &#039;jadi abu&#039;.&amp;quot;De lorraine berusaha bangkit untuk kabur. Tabitha hendak melantunkan sebuah mantra, tapi Kirche menghentikannya.&amp;quot;Biarkan aku saja.&amp;quot;Tabitha menggelengkan kepalanya.&amp;quot;Apaan buku-buku itu! Aku akan menjadi temanmu menggantikan bukumu! Tapi penghinaan diriku...Aku tak bisa mendapatkan gantinya. Jadi, aku akan membalas dendam untukmu juga, tonton sajalah!&amp;quot;Sesuatu yang hangat termanifestasi dalam hati Tabitha. Sejak dia meninggalkan namanya, ini adalah kali pertama seseorang mengatakan sesuatu seperti &amp;quot;menjadi temanmu&amp;quot;.Kalimat ini...tampaknya telah membuat badai yang mengamuk dalam hatinya perlahan-lahan meleleh...Tabitha merasakan itu.&amp;quot;Aku berutang satu padamu.&amp;quot;Tabitha mengatakannya sambil mengangguk.Suaranya begitu lembut...Dia terdengar sedikit malu-malu, dan tampaknya ada sedikit kebahagiaan dalam nadanya. Memiliki seseorang dimana dia bisa berhutang budi, ini membut Tabitha sangat senang tanpa tahu mengapa.&amp;quot;Baiklah, kau kini berhutang padaku. Kau sebaiknya membayarnya di masa depan!&amp;quot;Kirche menggunakan suara nan tenang dan sikap khidmat untuk memulai pelantunan mantra. Sebuah bola api terbang kepada De Lorraine dkk, yang tak tahu harus lari kemana.Ratu api mengirimkan lebih banyak bola api secara berurutan, tindakannya tampak seakan dia tengah menari, nadanya seakan dia tengah bernyanyi dengan riang...Semakin Kirche marah, semakin dingin ucapannya, dan semakin tenang sikapnya.Bagian 4Setelah mendengarkan cerita masa lalu mereka, Montmorency tampak sulit menerimanya dan berkata,&amp;quot;Jadi perkara dengan De Lorraine dan rambut serta pakaian Thonet Charante yang terbakar, juga digantung sungsang di menara, dilakukan olehmu!&amp;quot;&amp;quot;Benar sekali&amp;quot;, Kirche mengangguk gembira, mengakuinya.Pagi setelahnya, saat De Lorraine dan Thonet Charante diselamatkan dari menara, mere bersikeras bahwa mereka memanjat untuk menggantung sungsang secara sukarela. Tapi kebenaran dibalik perkara itu? tiada yang tahu. Sepertinya mereka diancam oleh Kirche.Guiche mengangguk keras setuju&amp;quot;Dengan begitu, ketika sekarang Tabitha berkata &amp;quot;berutang satu padamu&amp;quot; sebagai alasannya, dan bertarung menggantikanmu...adalah karena kau membalas dendam untuk Tabitha juga?Kirche mengangguk.&amp;quot;Ya.&amp;quot;Louise, yang awalnya menyajikan makanan dan anggur, dan Saito, yang sedang mencuci piring-piring di dapur, telah bergabung dengan kelompok di meja, dan mendengar sekenanya.Louise, yang mengenakan vest yang bertali bahu dekat dan rok, menggunakan nada acuh untuk bilang.&amp;quot;Tapi, waktu itu kau hanya hendak menghukum De Lorraine dkk sendiri, jadi kau mencuri kesempatan Tabitha membalas dendam karena keinginanmu kan? Jadi ada apa hingga dia berutang satu padamu?&amp;quot;&amp;quot;kau bisa bilang begitu juga.&amp;quot;&amp;quot;Kau benar-benar keterlaluan.&amp;quot;Guiche mengekspresikan pandangannya denagn nada tak tertolong.&amp;quot;Aku, benar-benar...&amp;quot;&amp;quot;Benar-benar apa...?&amp;quot;&amp;quot;Benar-benar berkeinginan kuat...mungkin itu kejadiannya?&amp;quot;Kirche menggelengkan kepalanya dan menggerutu, kesal. Semuanya mendesah dalam-dalam. Jadi orang ini tak pernah menyadarinya!&amp;quot;kau tak perlu menggantikan tempat wanita ini untuk pertarungan itu, kan? Berdasarkan apa yang dikatakannya sendiri....Sebagaimana yang tadi dikatakan Louise, kau tak berutang apapun padany.&amp;quot; kata Montmorency pada Tabitha, yang tengah membaca sebuah buku.Tidak----Tabitha menggelengkan kepalanya menolak komentar Montmorency. Dia tak merasa dia berutang pada Kirche karena Kirche membantunya membalas dendam saat itu.&amp;quot;Aku akan menjadi temanmu.&amp;quot; kalimat inilah alasan mengapa Tabitha merasa dia berutang pada Kirche.Dengan kata lain, itu adalah bukti persahabatan mereka. Jadi...bila Kirche dihina orang lain, dia akan menggantikan bertarung untuknya, dan dia melihat ini sebagai bukti persahabatan mereka.Apa yang diutangkan, harus dikembalikan.Tapi Tabitha tak mencoba menjelaskannya lebih lanjut, dan hanya sedikit mengangguk.&amp;quot;Huaaaaa~&amp;quot; Kirche menguap. &amp;quot;Meminum anggur dan ngobrol lama-lama membuatlku mengantuk.&amp;quot;&amp;quot;Begitukah, bagus sekali, langsung balik saja.&amp;quot; jawab Louise dengan nada dingin.&amp;quot;Adalah sangat bermasalah kalau kembali~ Aku ingin tinggal disini.&amp;quot;&amp;quot;Bagaimana dengan uangnya?&amp;quot;&amp;quot;Terima kasih untuk traktirannya.&amp;quot;&amp;quot;Apa katamu! Kau pikir berapa sih harga hidangan ini!&amp;quot;&amp;quot;Aku akan mengatakannya pada semua orang di akademi...&amp;quot;Louise terdiam dan menundukkan kepalanya.Setelahnya, Kirche menarik Tabitha dan bangkit, naik ke daerah kamar tamu di lantai dua dan meninggalkan Montmorency, Guiche dan saito yang masih duduk disitu.&amp;quot;Wa-wanita ituuuu! Sa-satu hari nanti, aku pasti akan membunuhnya...&amp;quot; Louise begitu merah sehingga sekujur tubunya terus bergetar.Guiche menarik-narik bagian bawah pakaian Montmorency.&amp;quot;Apa yang kau lakukan?&amp;quot;&amp;quot;A-ayo tinggal disini untuk hari ini?&amp;quot;&amp;quot;...Ok, tapi mesti ada dua kasur!&amp;quot;&amp;quot;Kau akan membayar tagihan kalian sendiri, kan!? Louise menatap tajam mereka berdua.&amp;quot;Err, kami tak punya uang...Jangan begitu perhitungan, karena kau telah membayar untuk mereka berdua, bagaiaman kalau kau juga membayari kami.&amp;quot;&amp;quot;Apaan yang kau katakan!&amp;quot;Begitu Louise meneriaki mereka berdua, Saito ingat bahwa dia telah memberikan uangnya pada mereka dulu, dan dia belum mendengar kelanjutannya. pertama-tama, mereka bilang mereka perlu uang untuk membuat penawar ramuan cinta, jadi dia memberikan sekitar 500 écu emas dulu. Dia belum mendapatkan uangnya kembali hingga kini.&amp;quot;Hei Guiche.&amp;quot;&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&amp;quot;Aku memberikan kalian sedikit uang, kan? Cepatlah kembalikan.&amp;quot;Guiche dan Montmorency memasang wajah aneh dan saling memandang.Saito mulai berkeringat dingin di punggung.&amp;quot;Hei...Jangan bilang padaku kalian sudah menghabiskannya?&amp;quot;&amp;quot;Tidak...Tidak, kami tidak begitu...hanya saja...&amp;quot;&amp;quot;Apa?&amp;quot;&amp;quot;Erm, begini nih....Karena keperluan untuk membuat obat...&amp;quot; Montmorency tersenyum seakan mencoba melembutkan hati saito.&amp;quot;jadi kalian menghabiskannya, kan?&amp;quot;&amp;quot;Aku akan mengembalikan uangnya padamu dalam waktu dekat!&amp;quot;&amp;quot;Seberapa lama itu! Dasar Ningrat miskin!&amp;quot;&amp;quot;Siapa yang kau bilang miskin!&amp;quot;Lalu, tepat ketika mereka akan bertengkar...Para ningrat yang tadi diurus Tabitha datang ke toko sekali lagi. Mereka menyadari Guiche dan Montmorency, dan mendekat.&amp;quot;Apa yang kalian inginkan?&amp;quot; Guichedan Montmorency sangat terkejut, dan jlai gemetaran setelahnya.Ningrat berusia pertengahan diantara mereka berbicara.&amp;quot;Kemana para wanita yang tadi pergi?&amp;quot;&amp;quot;Mereka, mereka naik tangga untuk beristirahat.&amp;quot; jawab Montmorency sambil gemetaran.Para petugas militer saling memandang.&amp;quot;Mereka kabur?&amp;quot;&amp;quot;Sepertinya begitu.&amp;quot;&amp;quot;Apa- pakag aku boleh tahu apa masalahnya?&amp;quot; selidik Guiche.Pihak yang lain memberikan senyum gembira dan menjawab.&amp;quot;Tidak, tidak begitu banyak. Kami hanya berpikir bahwa kai akan berterima kasih pada mereka, terkait apayang terjadi tadi. Tapi, jika hanya ada sebagian dari kami, kami mungkin tak bisa berterimakasih secara patut pada mereka...Jadi, mohon lihatlah, dengan begini, kami membawa seluruh skuad kesini.&amp;quot;Louise dkk terkejut, dan buru-buru melihat keluar toko.Karena ada beberapa ratus prajurit yang berbaris diluar, pemandangan itu membuat mereka begitu ketakutan sehingga mereka hampir jatuh dari kursi.&amp;quot;Semuanya perhatian[[User:Altux|Altux]]Berbaris pada Kanan kalian!!&amp;quot;Setelah petugas militer yang berdiri di sebelah skuad meneriakkan perintah secara keras, seluruh prajurit langsung menyesuaikan kelompoknya, senjata di tengan mereka mengeluarkan suara yang terdengar jelas.&amp;quot;Aku akan membawa mereka kebawah sekarang!&amp;quot; Guiche bangkit, dan hendak kabur ke lantai dua.&amp;quot;Tidak, tidak, tidak, jika kalian juga kabur, kami akan sangat terganggu. tak masalah, tak apa-apa bagi kawan mereka untuk menerima terima kasih kami juga. Karena, entah itu membalas dendam untuk seorang teman, atau menerima pembalasan untuk seorang teman...Itu adalah sebagian dari keistimewaan dari menjadi teman, dan juga sebuah tugas. Saito dkk buru-buru mencoba kabur, tapi mereka dnegan mudah ditangkap petugas-petugas militer. Keempatnya diseret keluar toko bersama-sama.&amp;quot;kalian seharusnya merupakan penyihir jagoan juga! Karena kalian teman kedua wanita itu! Jadi kami mohon, jangan malu-malu, kalian mesti menunjukkan kekuatan kalian pada kami!&amp;quot;&amp;quot;Tolong! kami bukan teman mereka!&amp;quot;Jeritan keempatnya bergema di langit malam.2 jam kemudian.Pada akhirnya, Kirche yang belum cukup minum, turun ke toko...dan dia menemukan Louise, Montmorency, Guiche dan saito berbaring di meja, setegah mati.Mereka dihajar orang-orang militer tadi, dan setengah mati. Louise sudah terlalu banyak menggunakan sihir &amp;quot;Ledakan&amp;quot; dalam beberapa hari ini, dan itu memakan seluruh kekuatan hatinya. Saito, sebagaimana biasa, meninggalkan Derflinger di kamar kecil di kolong atap, dan tiada gunanya. Guiche, ditundukkan dalam dua detik saja. Karena Montmorency benci pertarungan, dia mendeklarasikan netralitas, tapi pihak lain tak menerimanya.Kirche, yang tidak tahu apa-apa soal apa yang terjadi, menggaruk kepalanya, kebingungan.&amp;quot;Kalian semua...Apa yang terjadi?&amp;quot;Pihak yang terbaring di meja menggunakan suara penuh benci untuk menjawab serentak.&amp;quot;Kau berutang satu pada kami!&amp;quot;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5_Bab1&amp;diff=435038</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5 Bab1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5_Bab1&amp;diff=435038"/>
		<updated>2015-04-03T07:35:22Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1: The &amp;quot;Charming Fairies&amp;quot; Inn==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian 1&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, besok adalah awal liburan musim panas.&amp;quot; kata Louise, sambil menunduk memandangi familiarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memang Iya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menempel pada tanah, mendongak pada tuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kalau kita semingguan bersenang-senang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka ada di Plaza Austri. Seperti biasa, Saito tengah diinjak Louise, dan dia, sekali lagi harus menjelaskan alasan mengapa dia tengah diinjak oleh Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, Siesta bilang dia bakal berkelana ke desa Tarbes, Bukankah tak apa-apa jika aku singgah sebentar lalu kembali ke daerahmu? Terkadang tak buruk bila kau hanya dengan keluargamu tanpa siapa-siapa, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, dari wajah Louise, sepertinya bujukan itu ditolak lagi. Gerbang depan yang dipenuhi murid-murid yang hendak pulang dapat terlihat dari plaza. Para murid, yang telah menunggu berhari-hari untuk pulang, akan naik kereta. Mereka akan pulang ke kota asal mereka, yang lalu disemangati orang tua mereka untuk kembali ke ibukota Tristania. Akademi Sihir Tristania akan masuk liburan musim panas nan panjang mulai besok, sekitar dua setengah bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;K-kau tahu, Nona Vallière. Kupikir Saito-san juga perlu istirahat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata seorang Siesta yang salah tingkah pada Louise yang tengah menyakiti Saito. Sebagai persiapan pulang, Siesta tak mengenakan seragam pelayannya yan biasa, tapi pakaian biasa, terdiri dari kaos hijau gelap dan rok coklat. Louise melemparkan tatapan padanya. Tapi...Ini bukan Siesta yang dulu. Dengan jiwa bersaing seorang gadis dalam cinta, dia balik menatap Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Se-sebuah istirahat juga penting, kan? K-Kau selalu mempekerjakannya sesukamu..., itu buruk sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Orang ini baik-baik saja. Itu karena dia familiarku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta tampaknya mencium sesuatu dalam sikap itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Familiar ya? hmm, apa hanya itu alasannya...?&amp;quot; gumam Siesta. Matanya berseri-seri, bagaikan tengah menyiapkan perangkap untuk menangkap seekor kelinci. Gadis yang jatuh cinta sensitif pada lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wh? Apa artinya itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;T-tak ada?&amp;quot; gumam Siesta pura-pura tak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Katakan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hanya saja akhir-akhir ini, caramu memandangi Saito sedikit mencurigakan. Itu yang kupikirkan.&amp;quot; ucapSiesta, menyelesaikannya dengan melihat ke samping. Louise menatapnya dengan panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan seorang pelayan mempermainkanku. Ini salah Saito. Meski dia seorang jelata, dia lakukan semua hal-hal aneh. Bahkan jelata-jelata di akademi mulai mejadi kepedean. Louise telah mendengar isu-isu semacam ini sebelumnya, tapi ini toh kenyatannya. Kuasa kerajaan. Kuasa bangsawan. Hmph, itu semua tiada artinya, yang penting kuasaku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise berguncang sambil berdebar-debar. Siesta, yang menyipitkan matanya karena cahaya matahri yang gahar mendesah &amp;quot;fuuh&amp;quot;, memaparkan dadanya, dan mengusap keringatnya menggunakan saputangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benar-benar deh...musim panas ini sangat panas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaikan sebuah bunga yang mekar di alam liar, banyak rasa yang tertuang keluar darinya. Luar biasa saat dilepaskan, jurang dari kedua bukit terlukis kedalam matanya. Louise jadi &amp;quot;Ha-!&amp;quot; dan memandangi wajah Saito. Dari bawah kakinya, si familiar dengan sekuat tenaga mencoba melihat celah dari baju Siesta yang terbuka. Louise hampir saja meledak tapi dia menahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memangnya aku bakal kalah! Ya benar, aku seorang ningrat. Jika aku diam saja, kebangsawanan akan tumpah dari celah bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menirunya, Dia bergumam : Fuuh, panas ya.&amp;quot; dan mengendurkan kancing kemejanya, Lalu dia mengusap keringatnya dengan sebuah sapu tangan, Tapi...Yang ada disana bukanlah sebuah jurang, tapi tapi sebuah hamparan menyegarkan yang terbentang kemanapun. Saito tampaknya lebih memilih dataran dengan puncak dan lembah dan tak memindahkan pandangannya. Melihat hasil pertarungan, Siesta melepaskan sebuah tawa renyah, membuat Louise meledak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Apa! Kau tertawa sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Tak mungkin aku bakal tertawa. Tak mungkin, kan? Bagiku untuk memandangi seorang ningrat dan tertawa...&amp;quot; kata Siesta, menenangkan Louise dengan sebuah wajah yang berseri. Lalu duia membuang muka dan berucap. &amp;quot;...Dengan tubuh anak-anak begitu, seorang ningrat?...Heeh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kaha,&amp;quot; tumpah dari mulut Louise sbagai hembusan, &amp;quot;Apa yang baru saja kau katakan?! Hei!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;..Siapa tahu,...tak ada. Bagaimanapun, ini panas. Panas, panas. Aah, panas ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise berguncang sekujur tubuhnya. Saito berbisik, &amp;quot;Hei, tuanku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa&lt;br /&gt;
 tak apa-apa bagiku untuk pergi ke Tarbes?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kauha,&amp;quot; Louise mendesah terpuruk, dan mulai menghantam Saito dengan sekuat tenaga, berfikir - Berapa kali seih kau akan bertanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta berkata, &amp;quot;Tenanglah! Nona Vallière! Mohon tenanglah!&amp;quot; dan mencengkram punggungnya. Saat kerusuhan yang biasa bakal dimulai...*flak**flak* begitu seekor burung hantu muncul. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nn?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si burung hantu berhenti di bahu Louise dan memukul kepala Louise dengan sayapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa-apaan sih burung hantu ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Burung hantu itu menggigit sebuah surat. Louise mengambilnya. Mengenali cap yang ada padanya, Louise kembali berwajah serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa burung hantu ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siesta memandanginya. Saat Louise jadi serius, Saito berkata, &amp;quot;Apa itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memeriksa isinya, Louise memindai sepotong kertas tunggal itu, Lalu Louise berkata, &amp;quot;Pulang ke rumah dibatalkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa maksudmu dibatalkan? Siesta bahkan mengundangku...Aku benar-benar kecewa, tahu.&amp;quot; kata Saito, melihat Louise kembali ke kamarnya dan memeriksa bawaannya yang telah dibungkusnya untuk kembali pulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menunjukkan surat yang baru saja dibawa si burung hantu pada Saito. &amp;quot;Tidak, aku ga bisa baca huruf sini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise duduk tegak di kasurnya dan mulai bicara. &amp;quot;Setelah perkara sebelumnya...kau tahu Putri-sama terpuruk, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengangguk. Itu kejadian yang tragis. Cintanya yang telah tewas...dibangkitkan musuhnya dan mencoba menculiknya. Sudah pasti dia bakal terpuruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bersedih untuknya...tapi sepertinya dia tak bisa terus tenggelam dalam palung kesedihan untuk selamanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa maksudmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menjelaskan apa yang tertulis dalam surat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Albion menyerah untuk menyerbu secara layak hingga angkatan udara mereka terbangun kembali, jadi mereka mencoba bertempur dengan cara lain - Adalah apa yang diperkirakan kabinet, dengan Mazarin sebagai penariknya. Mereka tak bisa secara pengecut menyerang Tristain dari dalam dengan menyalakan pemberontakan dan kerusuhan yang merajalela. Karena Henrietta dan orang-orangnya takut akan konspirasi semacam ini, dia tengah menguatkan pemeliharaan ketertiban umum...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa kan untuk menguatkan ketertiban umum, tapi apa yang ingin dia mau kau lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebuah misi pengumpulan data melibatkan penyembunyiin diriku. Apa ada aksi tak patut tengah terjadi? Isu macam apa yang tengah disebarkan diantara jelata?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uwah, seorang mata-mata!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mata-mata?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di duniaku, pekerjaan mengumpulkan informasi semacam itu disebut begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Huunn...apapunlah, pada dasarnya, ia memata-matai, kan...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk beberapa alasan, Louise tampak tak puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yaa...bukankah ini datar?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, buaknkah info itu penting? Kakekku bilang Jepang dulu kalah perang gara-gara mereka terus mengabaikan info.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan apa-apa. Ini tak terlalu penting...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat Henrietta, ada petunjuk untuk berdiam di sebuah penginapan di Tristania, menyembunyikan identitas mereka dan mengerjakan sesuatu seperti menjual bunga, dan mengumpulkan segala jenis info yang dipertukarkan diantara jelata. Sebuah catatan untuk membayar kembali biaya untuk misi ini terlampir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itulah mengapa aku menyusun kembali bawaanku. Aku tak bisa membawa begitu banyak pakaian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menunjuk bawaannya yang telah meringan sekitar sekantong penuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi aku harus bekerja meski kini liburan musim panas...&amp;quot; gumam Saito sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berhentilah mengeluh. Ayo, kita pergi sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ini semua kejadian. keduanya pergi menuju Tristania. Untuk menyembunyikan status sosial mereka. mereka tak bisa menggunakan kereta. Kuda-kuda di akademi adalah milik akademi, jadi mereka tak bisa menggunakannya. Pada akhirnya, mereka berjalan. Louise dan Saito berjalan di jalan dibawah matahari yang membara, menuju Tristania. Perlu dua hari untuk sampai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat matahari dengan sikap mencela, Saito berbisik, &amp;quot;Sial...meski seharusnya aku di rumah Siesta meminum air dingin sekarang...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan mengeluh! Ayolah! Jalan!&amp;quot; teriak Louise, yang mendpaati familiarnya membawa seluruh bawaan, marah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tiba di kota, keduanya pertama-tama mengunjungi kantor usrusan keuangan untuk menukarkan catatan dengan koin-koin emas. enam ratus dalam koin emas baru. empat ratus écus. Saito teringat uang dari Henrietta dalam kantong yang terikat pada ikat pinggangnya. Ada sisa 400 koin emas baru. Jadi sekitar 207 écus. Saito pertama-tama menemui seorang penjahit dan membelikan pakaian tawar untuk Louise. Louise tak menyukainya, tapi memakai mantel dengan sebuah pentagram bakal membuka jatidirinya sebagai seorang ningrat. Adalah mustahil bercampur dengan jelata dan mengumpulkan info. Tiada artinya berjalan kesini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Louise, yang dipaksa memakai pakaian tawar, tampak tak puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini tak cukup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uang kita untuk misi ini. Dengan hanya 400 écus, kita bakal bangkrut setelah membeli seekor kuda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita tak perlu kuda. Tertulis disana bagimu untuk menyembunyikan status sosialmu, kan? Dengan kata lain, kau seharusnya berlaku sebagai seorang jelata. Ayo jalan. Kau punya kaki.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&amp;quot;Aku akan bersikap sebagaimana seorang jelata, tapi aku tak bisa mendapatkan pelayanan memuaskan tanpa seekor kuda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seekor kuda murah tak apa, kan? Kompromilah disini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kuda-kuda jenis itu tak guna saat kita benar-benar membutuhkan mereka! Kita juga perlu pelana. Dan juga...kita takkan bisa tinggal di penginapan aneh. Dengan uang sejumlah ini, ia akan habis setelah tinggal selama hanya 2,5 bulan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penginapan macam apa yang bisa menghabiskan 600 koin emas?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebuah penginapan murah tak apa, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak mungkin! Aku tak bisa tidur baik dalam sebuah kamar murahan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti apa yang diharapkan dari seorang putri ningrat. Meski dia punya sebuah misi untuk bercampur dengan jelata dan mengumpulkan info, dia berencana tinggal di penginapan kelas atas.Saito membayangkan, Apa yang tengah dia pikirkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku juga punya beberapa. Aku akan membagi beberapa denganmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Itu tetap tak cukup. Layanan memakan uang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu apa yang harus kita lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ada caa untuk mendapatkan lebih banyak uang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti itu, selama berdiskusi soal mendapatkan lebih banyak uang dan menemukan sebuah tempat murah, mereka masuks ebuah bar dimana Saito menemukan tempat berjudi didirikan di sebuah sudut bar. Disana, lelaki mabuk dan wanita mencurigakan tengah mengambil chip-chip dan mendapati chip-chip mereka diambil. Tanpa mempedulilam Louise yang mengernyitkan alis matanya oada mereka, Saito memandangi perjudian itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau pandangi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya...Aku hanya berfikir soal mendapatkan uang dengn ini. Bagaimana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah itu berjudi? Yang kaya gitu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, lihat aku. Aku sering melakukannya sebelumnya dalam permainan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menukar 30 koin emas baru, 20 écus dengan chip-chip, lalu menuju meja dengan cakram berputar. Permukaan cakram itu dibagi jadi 37 bagian, tiap-tiapnya punya angka tersendiri dan berwarna merah atau hitam. ebuah bola besi berputar dalam cakram itu. Dan di dekat cakram itu, ada lelaki dan wanita dengan warna mati yang berganti menatapnya penuh harap. Itu sebuah rolet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengamati tempat tebakan. Pertama, aku uji keberuntunganku dulu. Meniru tebakan pemenang, Saito menempatkan sebuah chip seharga sekitar 10 écus pada merah. Bola memasuki sebuah kantung merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lihat kan? Aku mendapatkannya! Aku luar biasa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito entah kenapa pelit, jadi dia menempatkan secara hati-hati dan menghasilkan chip-chip seharga 30 écus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lihat kan? Uang yang kita punya untuk menyelesaikan misi meningkat! Yahm ini bedanya dengan seseorang yang hanya bisa mengeluh!&amp;quot; kata Saito sambil membusungkan dada. mata Louise berkilat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Minta sebagian!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan. Mustahil bagimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa katamu? Jika familiarnya menang, maka tuannya bakal menang 10x lipat jka dia mencoba.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise langsung menaruh apa yang Saito menangkan pada hitam. Tapi...dia meleset. Apa yang telah didapat Saito menguap dalam sesaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau lakukan?! Padahal aku akhirnya bisa dapat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di-diam.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah...Meski kau selalu bersikap bangga, kau tak bisa menghasilkan uang dengan baik. Belajarlah dari Siesta sedikit. Belajarlah memasak sesuatu. Lalu pergi bekerja sebagai koki di restoran manapun. Itulah kerja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu terpicu dalam diri Louise pada kalimat &amp;quot;Belajarlah dari Siesta&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;L-l-lihat saja aku. Siapa sih yang bakal kalah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito gemetar mengamatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
_____________________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
30 menit kemudian,..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tengah menjatuhkan bahunya dan memandang benci pada papan. Chip-chip yang dia taruh sesaat sebelumnya menghilang dalam sunyi ke tangan bandar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahu gadis blonde cantik jatuh selama beberapa saat, tapi lalu mengagkat kepalanya dengan bangga, dia mencoba menaruh semua chipnya pada satu titik. Saito, yang selama ini mengamati dari belakangnya, mencengkram bahu Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot; sahut Louise dengan nada kesal yang jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan datar berkata. &amp;quot;Ayo sudahi saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan menang nanti. Aku pasti menang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pikirkan, berapa kali kau mengatakan itu?!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeritan Saito bergaung, Para tamu yang tengah menaruh chip berbalik dan tersenyum pahit. Ini adegan yang terjadi setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau bahkan belum menang sekalipun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengacungkan jarinya di depan hidung Louise. Ini pertama kalinya Saito melihat seseorang yang begitu buruk dalam dalam berjudi. Louise sudah kehilangan 400 écus...kebanyakan uang yang diperlukan untuk misi. Jika mereka menukar chip-chip Louise yang tersisa menjadi uang, mereka takkan dapat lebih dari 30 écus. Jika mereka kehilangan ini, mereka akan bangkrut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa. Berikutnya, Aku akan mengeluarkan metode pasti menang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ceritakan padaku soal itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hingga kini, aku bertaruh pada merah atau hitam, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Untuk meleset 15x bertaruh pada merah atau hitam...Kau lebih baik mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di-diam. Dengarkan? Jika begitu, jika aku menang, aku hanya dapat 2 kalinya, tapi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berguncang. Louise berbicara seakan dirasuki sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika aku menang dengan angka, aku akan dapat 35xnya taruhanku. Aku bisa mendapatkan lagi apa yang kita kehilangan dan lebih lagi. Aku seharusnya melakukan ini sejak tadi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu metode pasti menangmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengangguk  jelas sekali. Saito dengan diam mencengkram lengan Louise dan menariknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Peluang kau menang 1 berbanding 37!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus kenapa?! Aku sudah kalah 15x. Tak peduli apa yang kau pikirkan soal itu, aku akan menang nanti. Akan aneh jika aku tidak. Jika aku akan menang, Aku juga mengejar kemenangan besar!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata coklat kemerahan Louise berkerlip-kerlip. Ini mengaingatkannya pada mata pamannya yang gagal di saham dan melarikan diri malam-malam. Dia punya mata seperti itu saat terakhir kali Saito melihatnya. Di hari itu, saham yang kata dia bakal naik tinggi malah turun drastis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tenanglah. Ayo tukar chipmu dengan uang dan gunakan itu untuk mencari sebuah tempat untuk menginap, OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, jika kau pergi saat sedang kalah, Nama La Vallière akan menangis.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memangnya yang kaya gitu bakal nangis!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia meneriakkan itu, dia ditendang tepat pada daerah antara kaki dan bergulingan di lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hoaaaaaaaaaaa....Apa kau punya dendam pada daerahku yang menyedihkan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyingkirkan familiarnya yang mengganggu, Louise kembali menuju cakram rolet. Sang pelempar hendak melempar bola ke roda. Dia masih bisa bertaruh. Louise menaruh seluruh chipnya yang tersisa pada angka yang ada di kepalanya sejak sesaat lalu. Lalu dia menatap pada roda dan bola dengan mata yang tak bisa lebih serius dari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersuara klip-klop, bola akdir memasuki sebuah kantong. Wajah Louise bersinar penuh harapan untuk sesaat, tapi ia berubah jadi putus asa seketika. Kantong itu berada tepat di sebelah angka taruhan Louise. Sambil mengusap daerah bawahnya, Saito bangkit dan menarik Louise. &amp;quot;Ayo pergi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau bilang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Heh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;itu kantong tetanggku. Berikutnya, ia akan mengunjungi rumahku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kita tak punya uang lagi untuk bertaruh, kan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uang do kantongmu akan membantu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tolol! Ini uangku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito Saito melindungi kantongnya. Dia tak bisa mendapati ini dipertaruhkan. Jika ya, bahkan dia bakal bangkrut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;kau tahu? Barang familiar adalah barang tuannya. Itu sudah jelas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan bercanda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi dibandingkan Siesta. itu tak mencapai telinga Louise, yang fikirannya terbakar demam judinya. Dia mencoba menendang daerah bawah Saito dengan kecepatan kilat. TapiSaito berbeda dari biasanya. Dia dengan cepat menutup kedua kakinya dan menangkisnya. Lalu dia mencengkram kaki Louise yang terangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ga mungkin aku membiarkanmu menendangku lagi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise bergumam dengansuara dfingin. &amp;quot;Vasra.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alat sihir penahan menyelimuti badan Saito dan mengeluarkan arus listrik. Kejang-kejang luar biasa, Saito berguliangan kembali di lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Oh begitu, aku tak mewaspadai itu.&amp;quot; kata Saito lemah sambil mengutuk kepenasarannya. Aah, jika aku tak tertarik tempat judi ini, yang seperti ini takkan...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise merogoh kantong Saito, mengambil seluruh koin emas yang tersisa, dan dengan cepat menukar mereka dengan chip-chip. Saito agak lega. Bahkan bila itu seseorang seperti Louise yang punya bakat nol untuk berjudi, dia takkan kehilangan seluruh chip itu sebelum tubuhnya sembuh dari mati rasa ini. Setelah mati rasa ini pergi, dia akan menutup mulut Louise dan meninggalkan tempat ini tanpa membiarkan Louise berkata apapun. Itu keputusan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bertaruh pada satu tempat sepertnya tak jalan. Aku akan kembali ke dasar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar...Merah dan hitam, Hanay sejumlah kecil pada merah atau hitam. Setidaknya lakukan itu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk menunjukkan hormatku pada familiarku yang setia, aku akan bertaruh pada warna rambut dan mata itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hitam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar.&amp;quot; Sambil mengangguk, Louise menaruh koinnya pada hitam. Semuanya...chip-chip seharga 270 écus, seluruhnya. Saito hampir bocor. &amp;quot;H! E! N! T! I! K! A! N!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tersenyum cerah pada Saito. &amp;quot;Bodoh. Bahkan jika bayarannya ganda, uang adalah uang. Jika aku menang, kita akan mendapat kembali apa yang telah terambil dan lebih. Apalagi, hanya sekali. Kita hanya perlu menang sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;K! U! M! O! H! O! N!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku seharusnya lakukan ini dari tadi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang pelempar memutar roletnya. Bola kecil mulai berputar, membawa takdir sang tuan dan familiarnya bersamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat sebuah suara kering, si bola berputar di atas roda. Putaran dengan perlahan menurun kecepatannya, dan seakan membagi takdir. mengarah pada kantong kanan. Louise telah bertaruh jumlah yang besar pada hitam, jadi tamu lain bertaruh pada merah. Satu-satunya yang bertaruh pada hitam hanyalah Louise. Ia masuk merah, meninggalkannya, lalu masuk hitam, meninggalkannya...Louise berkata seakan sedang terkena demam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku seorang legenda. Aku takkan pernah kalah, ya!, di tempat seperti ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bola masuk sebuah kantung...dan berhenti. Louise menutup matanya tanpa pikir lagi. Di sekelilingnya, desahan sedih terdengar menggema. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya,  selain Louise, bertaruh merah. Desahan datang dari mereka. Dengan kata lain, yang beratruh merah kalah. Yang berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku benar-benar seorang pengguna &amp;quot;Zero&amp;quot;!&amp;quot; meneriakkan itu, Louise membuka matanya. Tepat setelahnya, mulutnya menganga lebar. Bolanya...tak masuk hitam atau merah, tapi kantung hijau satu-satunya. Di tengah-tengah kantung tersebut..., bagaikan memberikan berkah pada Louise, angka &amp;quot;0&amp;quot; berkilauan disana.&lt;br /&gt;
_____________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dan Louise tengah duduk lemas di sudut plaza pusat kota sewaktu matahari terbenam. Lonceng gereja Saint Rémy berdentang enam kali saat petang. Mereka kecapean dan lapar tapi tak punya tempat untuk dituju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memakai baju terusan coklat tawar yang tadi dibelikan Saito. Di kakinya ada sepatu kayu kasar. Mantel dan tongkatnya disimpan didalam tas yang dibawa Saito. dari bajunya saja, dia terlihat seperti gadis desa lainnya, tapi berkat wajah kelas atas dan rambut blonde pinknya, dia memberikan semacam perasaan tak cocok, semacam rasa pada gadis yang tak terbiasa berakting pada sebuah adegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memakai pakaiannya yang biasa, tapi dia tak bisa berkeliaran di kota dengan pedang terhunus, jadi dia bungkus Derflinger dengan kain dan membawanya di punggung. Louise bergumam pelan, menunjukkan bahwa dia baru saja menyadari seberapa besar dosa yang telah dilakukannya. &amp;quot;A-apa yang harus kita lakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menatap Louise. &amp;quot;Aku takkan pernah membiarkanmu membawa uang lagi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uuu...&amp;quot; Louise mendengung sedih sambil memeluk lututnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, apa ya yang harus kita lakukan. Uang. Jika kita tak bisa menemukan sebiah penginapa untuk tinggal, kita takkan bisa makan. Bagaimana dengan misi? Oh wahai wanita senat dari paduka, mohon ajari familiar nan rendah ini. Kumohon?&#039; kata Saito penuh sindiram. Bahkan uangnya dipakai. Dia akan membuat Louise membayar kembali suatu hari nanti, tapi kini, masalahnya adalah penginapan dan makanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku memikirkan soal itu sekarang.&amp;quot; kata Louise dengan wajah kesal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mari dengan penuh kerendahan menundukkan kepala kita pada Putri-sama  dan meminta uang lebih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu mustahil. Putri-sama memberikanku misi rahasia ini menurut dirinya sendiri. Kabinet mungkin tak membiarkan anggaran dipakai. Dia kemungkinan tak bisa menggunakan lebih dari apa yang bebas dimilikinya. Mungkin, itu sudah yang terbaik yang dia bisa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau membuang uang itu dalam 30 menit. Apa sih yang kau pikirkan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu karena aku tak bisa mendapatkan pelayanan memuaskan hanya dengan 400!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu karena kau selalu ingin kemewahan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mereka diperlukan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu. bagaimana dengan ini? Hubungi rumahmu. Ya, hei, Duke-sama.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak mungkin. Ini misi rahasia. Aku juga tak bisa bilang-bilang keluargaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil memeluk lututnya, Louise menaruh dagunya padanya. Dia benar-benar seorang nona muda yang abai terhadap aliran dunia...Dia bahkan tak bisa berbelanja dengan baik. Bahkan Saito, yang datang dari dunia lain, bisa menangani lebih baik. Takkan ada yang selesai bila dia yang melakukannya. Tapi Saito tak bisa memikirkan sebuah ide bagus. Dia menerawangi air mancur plaza sambil termenung, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nn?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menadari orang-orang yang lewat memandang kagum pada Louise. Bahkan jika dia tak menginginkannya, pesona dan keningratan Louise menarik perhatian. Terutama jika dia tengah memeluk lututnya, terlihat sebagai seorang gadis desa. Orang-orang melirik Louise dengan mata yang berkata &amp;quot; Dia mungkin melarikan diri dari sebuah rumah bordir.&amp;quot; Saito bangkit secepat kilat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise terkejut. &amp;quot;Adaapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan kata-kata Louise, Saito menghadap orang-orang di jalan dan mulai mengumumkan. :Eeh, Hadirin dan hadirat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang berlalu berhenti, mengira-ngira apa yang tengah berlangsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eeh- Gadis ini adalah seekor gadis-serigala yang kabur dari sirkus.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apaan sih yang dikatakan orang ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dibesarkan serigala, dia melolong dan menyalak! Ini benar-benar mengganggu! Tapi yang paling mengagumkan adalah bahwa dia bisa menggaruk lehernya dengan kakinya! Kini bersiaplah! Dia akan menggaruk leher dengan kakinya sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito berbisik pelan pada Louise. &amp;quot;Yah, garuk lehermu dengan kakimu. Ayolah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengejeknya dengan dagunya. Louise menginjak wajah itu dengan telapak kakinya. Saito berguling-guling di tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apaan sih yang kau pikirkan?! K-k-kau ingin aku berlaku sebagai bintang?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito juga bangkit, menarik lengan Louise, dan berteriak. :kita tak punya pilihan selain tampil, kan?! Apa ada cara lain untuk menghasilkan uang?! Aah?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengayunkan rambutnya dengan ganas, Louise mulai bertengkar dengan Saito. &amp;quot;Dia benar-benar seekor gadis serigala.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anehnya, hadirin terpuaskan. Tapi setelah menyadari segra bahwa ini hanya pertengkaran. hadirin dengan cepat menjadi bosan dan pergi. Mereka tak mendapatkan apapun. Tenaganya menguap dan Saito terbaring di tanah. Louise juga cape dan dengan cepat kehabisa tenaga fisiknya, jadi dia duduk di punggung Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku lapar...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku juga...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada keduanya yang tengah duduk seperti ini, seseorang melemparkan sebuah koin tembaga. Saito loangsung loncat dan mengambilnya. Louise bangkit dengan sebuah suara beramarah. &amp;quot;Siapa?! Keluar sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengatakan itu, seorang pria aneh keluar dari kerumunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh tidak, kukira kalian pengemis...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anehnya, dia ngomong dengan cara wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haah? Jelaskan dirimu? Kau tahu, aku, sangat mengagumkan, berasal dari keluarga Duke...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia mencoba mengatakan itu, Saito bangkit dan menutup mulut Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Keluarga Duke?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan apa-apa! Ya! Otaknya memang sedikit begitulah. Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tersinggung, Louise meronta-ronta, tapi Saito mengabaikannya dan terus menutup mulutnya. Jika mereka membuka diri, bukan misi rahasia lagi namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria tersebut memandang Saito dan Louise penuh ketertarikan. Dia mengenakan pakaian yang mencolok. Pakaian Guiche juga mencolok, tapi arahnya beda. Rambut hitam yang dilapisi minyak, sebuah kemeja satin-tanah ungu yang berkilau dengan bagian dada membuka dengan rambut dada tak tersukur menyembul. Di bawah hidungnya ada dagu yang terbelah sempurna dan kumis bergaya, Sebuah bau parfum yang kuat menyentuh hidung Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu mengapa kalian tidur di tanah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, kami tak punya tempat tidur dan makan...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi kami bukan pengemis.&amp;quot; kata Louise terbuka. Pria tersebut memandang dalam wajah Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh begitu, Klo begitu, datanglah ke tempatku, Namaku Scarron. Aku menjalankan sebuah penginapan. Aku akan menyiapkan sebuah kamar,&amp;quot; kata pria tersebut sambil tersenyum. Cara dia bicara dan berpakaian menjijikkan, tapi dia sepertinya orang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Saito bersinar. &amp;quot;Benarkah?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan melakukan apapun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengurus sebuah toko di antai pertama. Gadis ini akan membantu. Itu kesepakatannya. OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tampak enggan, tapi dia dengan patuh mengangguk saat Saito menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Très bien.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron mengumpulkan tangannya dan menempatkan mereka pada pada pipinya, menyempitkan bibirnya, tersenyum. Dia bertingkah seperti seorang gay. Sebenarnya, dia bukan apapun selain seorang gay. Menjijikkan. Ada gay di dunia lain juga...Dan ada &amp;quot;Très bien.&amp;quot; itu...Saito anehnya jadi terpuruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putus sudah. Ikut aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria tersebut mulai berjalan. Mengayunkan pinggangnya secara berirama. Saito dnegan enggan meraih tangan Louise dan mengikuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya aku tak mau. Dia aneh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memandangi Louise dengan amarah membara di matanya. &amp;quot;Kau pikir kau dalam posisi untuk memilih?&amp;quot;&lt;br /&gt;
_____________________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian 2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalimat Baik&amp;quot; Para peri!&amp;quot; kata Scarron begitu dia menggerakkan pinggnya sambil mengamati sekeliling toko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Pak Scarron!&amp;quot; Sambut para gadis yang terbunglus pakaian yang mencolok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salaaaaaaaaaahh!&amp;quot; Teriak Scarron dengan menggerakkan pinggangnya secara berlebihan kesana kemari saat mendengar sambutan para gadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan pak, tapi panggil saya sebagai Mi Mademoiselle, ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Mi Mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Très bien.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron berguncang senang sambilo mengger-gerakkan pinggangny. Melihat proa setengah baya yang mengajaknya kesini, Saito merasa sakit. Tapi para gadis di toko sudah terbiasa dengan kebiasaan ini, dan tak menunjukkan perubahan pada wajah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, kita akan mulai dengan pengumuman menyedihkan dari Mi Mademoiselle. Akhir-akhir ini, pendapatan penginapan &amp;quot;Peri-Peri Memesona&amp;quot; menurun. Sebuah toko bernama sebuah &amp;quot;kafe&amp;quot; yang menyediakan &amp;quot;teh&amp;quot; yang baru saja diimpor dari timur kini mencuri pelanggan-pelanggan kita...Sniff...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan menangis! Mi Mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalian benar. Jika kita kalah dari &amp;quot;teh&amp;quot; ini, kalimat &amp;quot;Peri-peri Memesona&amp;quot; bakal menangis.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Mi Mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron meloncat ke atas meja dan berpose semarak. &amp;quot;Sumpah Peri-Peri Memesona! Un~~&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Melayani dengan snyum ceria!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sumpah Peri-Peri Memesona! Deux~~&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dalaman toko yang bersih nan berkilat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&amp;quot;Sumpah Peri-Peri Memesona! Trois~~&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Menerima banyak tips!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Très bien.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron tersenyum puas. Lalu dia membengkokkan pingganya dan berpose. Isi lambung naik ke tenggorokannya, tapi Saito sekuat tenaga menelannya kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, aku punya pengumuman bagus untuk kalian, para peri. Kita dapat teman baru hari ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para gadis bersorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maka, biarkan aku memperkenalkannya! Louise-chan! Kesini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikelilingi oleh sorakan, Louise muncul, merah sempurna di wajah dari malu dan marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menelan napas. Perias toko telah memermak rambut blonde-pink Louise dan membuat rambut di kiri-kanan menjadi jalinan kecil. Dia juga memakai camisole pendek nan menggoda, menempel padanya bagaikan sebuah korset dan membuat garis badannya lebih jelas. Ia terbuka di punggung, menguapkan pesona yang jelas. Penampilan yang sangat seperti peri tercinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise-chan hendak dijual pada sirkus, tapi tepat di detik terakhirkabur dengan saudaranya, Dia gadis yang sangat manis tapi patut dikasihani.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desahan simpati datang dari para gadis. Itu sebuah dusta yang dibuat Saito di sepanjang jalan ke toko. Sekuat tenaga, dia memutuskan untuk menjadi kakak Louise. Mereka tak terlihat bersaudara tak peduli bagaimana orang melihat, tapi Scarron tak peduli di situ. Sepertinya itu tak terlalu bermasalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, Louise-chan. Salami peri-peri yang bakal jadi teman kerjamu.&amp;quot; Louise berguncang. Sepertinya dia marah. Dalam. Kuat. Seorang bangsawan berharga diri tinggi seperti Louise tengah disuruh menundukkan kepalanya pada jelata dalam baju itu. Saito takut dia bakal jadi gila dan melepaskan &amp;quot;Ledakan&amp;quot; berulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi...Rasa tanggung jawab yang menyuruhnya menyelesaikan tugas menahan amarah Louise. Pikirkanlah, isu-isu biasanya berkumpul di bar-bar. Ini sempurna unuk mengumpulkan info. Tambahan lagi, mereka bangkrut. Sambil mengatakan ini sebuah misi pada dirinya, Louise membungkuk dengan senyum yang dipaksakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-a-a-aku Louise. Se-se-senang bertemu kalian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ok, bersorak!&amp;quot; teriak Scarron. Sebuah sorakan hebat menggema ke seluruh Toko. Scarron melihat Jam di dinding. Akhirnya kini waktunya toko buka. Dia menjentikkan jari. Meresponnya, boneka-boneka yang terbuat dari sihir di sudut toko mulai memainkan musik nan ramai. Ini irama untuk berbaris. Scarron berucap dengan nada bergairah. &amp;quot;Sekarang! waktunya buka!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintu sayap terbuka dengan sebuah &amp;quot;bam&amp;quot; begitu pelanggan yang menunggu mengerumuni toko. Penginapan &amp;quot;Peri-peri memesona&amp;quot; yang ditinggali Loise dan Saito terlihat sebagai bar, namun sebenarnya adalah toko terkenal dimana gadis-gadis manis dengan pakaian menggoda membawakan pelanggan minuman mereka. Scarron menyadari kecantikan dan pesona Louise dan membawanya kesini untuk bekerja sebagai pelayan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah apron dimana ada tanda toko padanya, Saito diberikan tugas mencuci piring. Selama dia tinggal di penginapan, dia harus melakukan beberapa pekerjaan. Toko tengah penuh, jadi pegunungan peralatan makan dikirimkan padanya. Sepertinya tak peduli dimanapun seseorang berada, bahkan di dunia lain, mencuci piring adalah tugas untuk pendatang baru. Saito tak ingin mencuci piring dari toko gay itu, tapi dia menahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini demi tugas Louise. Dia tak bisa apa-apa, egois, keras hati, dan seorang gadis kecil arogan yang tak pernah mendengarkan apa yang dikatakannya, tapi ini tak bisa diapa-apakan karena dia tertangkap olehnya. Meski selalu mengeluh, sepertinya kali ini dia berusaha keras untuk berhasil dalam mengumpulkan info. Dan juga, wajah sedih Henrietta yang dilihatnya di tepian Danau Ragdorian...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia ingin melakukan sesuatu untuk putri yang menyedihkan itu. Jika dia bisa membantu orang yag dia suka dengan melakukan apa yang dia bisa, dia tak segan-segan menunda pencarian jalan kembali ke dunianya. Melalui setumpuk masalah, kesederhanaannya membuatnya berpikir begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito bergelut dengan piring-piring. Tapi semua punya hal yang disebut &amp;quot;batas&amp;quot;. Setelah beberapa sat, dia tak bisa lagi menggerakkan tangannya yanmg kecapean. Tapi meski dia kelelahan, jumlah piring yang harus dicucinya takkan menghilang dan mulai menumpuk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis berpenampilan mencolok muncul didekat Saito, yang tengah menatap hampa gunungan piring dan kecapaian mati rasa didepan tempat cuci piring, Gadis manis ini punya rambut hitam panjang lurus. Alis tebalnya menguapkan aura hidup. Sepertinya dia dekat dengan Saito dalam hal umur. Saito cepat-cepat tersentak saat matanya penuh oleh belahan dadanya yang muncul dari baju terusan hijaunya yang membuka di bagian dada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei! Kita tak punya piring tersisa!&amp;quot; teriaknya, berkacak pinggang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-aku minta maaf! Langsung!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbiasa diperintah gadis-gadis manis, Saito langsung loncat dan secara refleks mulai mencucui piring-piring. Melihat gerakan tangan amatirannya, gadis berambut hitam membengkokkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Biarkan aku lihat itu.&amp;quot; Mengatakan itu, dia mengambil kain yang digunakan untuk mencuci piring dari tangan Saito dan mulai menggosok dengan cara berpengalaman. Dengan gerakan halus yang tak menyampah, piring-piring perlahan tercuci. Saito menyadari bahwa ada rahasia dam mencuci piring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Butuh waktu kan untuk mencuci satu sisi dalam satu waktu? Kau bisa menaruh kain diantara dua sisi dan menggosok keras-keras.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Luar biasa,&amp;quot; kata Saito. Melihat dia benar-benar kagum, gadis itu tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku Jessica. Kau saudara gadis baru itu, kan? Nama?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saito. Hiraga Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu nama yang aneh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Biar saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai memcuci piring-piring bersa,a Jessica. Setelah melihat sekelilingnya, dia berbisik pada Saito dengan suara pelan. &amp;quot;Hei, hal itu tentang kau bersaudara dengan Louise adalah dusta, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak. 100% kakak lelaki asli dan adik perempuan.&amp;quot; kata Saito kaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Warna rambut, warna mata , dan bentuk wajah kalian berdua jauh berbeda. Takkan ada yang akan mempercayaimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito tak bisa berkata apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Meski itu bukan masalah. Gadis-gadis disini baik-baik saja dengan alasan apapun. Tiada orang disini yang akan mengorek masa lalu seseorang. Tenang saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;O-oh begitu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica menatap kedalam mata Saito. Untuk sesaat, dia kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi bisakah kau diam-diam menceritakannya saja padaku? Apa sih hubungan diantara kalian berdua? Apa kalian kabur dari suatu tempat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya terkadang Jessica cenderung sepenasaran Saito. Dia melihat Saito dengan bergairah. tapi tak mungki Saito bisa mengatakan yang sebenarnya. Saito melirik pakaian Jessica yang mencolok. Dia mungkin salah satu dari pelayan &amp;quot;peri&amp;quot;. Korekan tak perlu mengganggu, jadi Saito mengibaskan tangannya untuk membuatnya pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa tak apa-apa bagimu untuk malas-malasan disini? Kau punya kerjaanmu sendiri untuk dibereskan. Pergi dan bawalah beberapa anggur atau bandrek. Manajer Scarron akan marah padamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa bagiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku putri Scarron.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menjatuhkan sebuah piring. Membuat suara pecah, Piring itu pecah berkeping-keping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah! Apa yang kau pecahkan?! Kau akan membayar dari gajimu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putri?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk putri semanis ini terlahir dari manajer toko gay itu...Saito membayangkan gen macam apa yang direkayasa mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayolah! Jangan hanya ngomong dan mulai gerakkan tanganmu! Toko akan semakin sibuk dari sekarang!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito punya beberapa kesulitan, tapi Louise menderita lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...I-ini pesanan kalian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekuat tenaga berusaha tersenyum...dia meninggalkan sebotol anggur dan sebuah gelas keramik di meja. Di hadapannya, seorang lelaki tengah memandangi Louise sambil tersenyum vulgar. &amp;quot;Gadis kecil, tuangkan aku sedikit.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuangkan alkohol untuk seorang jelata, seorang jelata, seorang jelata? Seorang bangsawan sepertiku? Seorang bangsawan sepertiku? Seorang bangsawan sepertiku? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran-pikiran terhina semacam itu berkeliaran dalam kepalanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Anh? Ada apa? Bukankah aku menyuruhmu untuk cepat-cepat dan menuangkan aku sedikit?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menghembus dan mencoba menenangkan dirinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sebuah misi. Ini sebuah misi. Pengumpulan info sambil menyamar sebagai jelata, Pengumpulan info...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggumamkan itu bagai sebuah mantra, dia entah bagaimana dapat tersenyum. &amp;quot;Ba-baiklah, aku akan menuangkan beberapa untukmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Huun...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengambil botol dan mulai perlahan menuangkan anggur kedalam gelas lelaki tersebut. Tapi...Karena dia gemetaran dari amarah, dai meleset dan menumpahkan anggur pada baju lelaki tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uwah! Kau menumpahkannya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-aku minta ma...af.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Memangnya sebuah permintaan maaf bakal membantu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu lelaki itu mulai menatap Louise. &amp;quot;Kau...tak punya dada, tapi kau sangat cantik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa darah meninggalkan wajah Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mulai menyukaimu. Mungkin jika kau menyuapku dari mulut ke mulut, aku akan memaafkanmu! Gahaha!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lousie mengambil botol, meminum anggur kedalam mulutnya, dan memuntahkannya kembali pada wajah lelaki itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau lakukan, bocah?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bam!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan satu kaki di meja, Louise menatap ke bawah pada lelaki yang duduk. Untuk sesaat, lelaki itu meringis pada aura yang dilepaskan gadis kecil ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;R-r-r-rendaham. K-Ka-ka-kau pikira aku siapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;U-u-untuk infomu, d-d-d...duk...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat dia hendak mengatakan &amp;quot;keluarga duke&amp;quot;. Louise diterbangkan dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku~~minta~~ maaf~~!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu Scarron. Duduk di samping lelaki itu, dia mulai mengusap kemejanya dengan kain piring di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-ada apa dengamu, gay sialan...Aku tak memerlukanmu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini tak bisa! Ia basah kuyup dengan anggur! Hei, Louise-chan! Bawa beberapa anggur baru! Selama dia membawanya, mi mademoiselle akan menemanimu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron bersender mendekari lelaki tersebut. Lelaki itu tampak hendak menangis, tapi Scarron menahannya dengan kekuatan manusia super sehingga dia tak bisa bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Y-ya!&amp;quot; kata Louise, akhirnya terhubung kembali dengan kenyataan, dan lari masuk dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh-baiklah, terima kasih untuk kerja kerasnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat toko tutup, langit mulai memutih, Saito dan Louise berdiri tak tegaj. Mereka sangat kecapaean, mereka merasa bahwa mereka akan mati. Mereka sangat cape melakukan sebuah pekerjaan yang merea tak terbiasa dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalian semua bekerja sebaik-baiknya, spertinya begitu. Kita hijau bulan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron mulai menyerahkan gaji pada gadis-gadis  yang bekerja di toko dan para koki dalam dapur, yang semuanya mengeluarkan teriakan kegembiraan. Sepertinya hari ini hari gajian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini, Louise-chan, Saito-kun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpikir, &amp;quot;Kita dapat juga?&amp;quot;, wajah Saito dan Louise menyala sesaat, tapi...yang ada hanyalah selembar kertas tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ini?&amp;quot; tanya Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyum menghilang dari wajah Scarron. &amp;quot;Sebuah tagihan. Saito-kun, berapa piring yang kau pecahkan? Louise-chan, berapa pelanggan yang kau buat marah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise dan saito saling bertatapan dan mendesah, &amp;quot;tak apa-apa. Semua membuat kesalahan di awal. Terus coba sebaik kalian mulai dari sekarang dan bayar tagihannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
-----------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan...desahan tak berhenti sampai di situ. Kamar yang diberikan pada Louise dan Saito dicapai dengan mengikuti sebuah koridor yang diisi pintu kamar tamu...dan menggunakan sebuah tangga untuk mendaki dan mencapai loteng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli bagaimana kau melihatnya, ini bukanlah kamar yang dibuat untuk tempat orang tinggal. Berdebu dan remang-remang, sepertinya ia digunakan sebagai gudang. Rak dan kursi rusak, peti-peti yang menyimpan botol anggur, dan tong-tong...segala macam barang menumpuk. Sebuah tempat tidur kayu kasar telah ditempatkan disana. Saat Louise duduk, kakinya menyelusup sehingga dia jatuh ke samping kanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ini?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sebuah tempat tidur, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil membersihkan sebuah sarang laba-laba, Saito membuka jendela kecil itu. Saat melakukannya, para kalong yang sepertinya hidup di loteng keluar sambil menjerit dan menggantung pada sebuah lampu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa itu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin teman sekamar kita.&amp;quot; kata Saito dengan nada tenang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau ingin bangsawan sepertiku tidur disini?! teriak Louise marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan diam mengambil selimut di atas kasur dan membersihkan debunya. Dia lalu berbaring dan menyelimuti dirinya. &amp;quot;Ayolah, tidur saja. Scarron sudah mengatakannya. Ku bangun di siang hari dan menyiapkan toko, Kau akan membersihkan toko,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau baik-baik saja dengan ini?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini tak begitu berbeda dengan cara seseorang biasa memperlakukanku.&amp;quot; mengatakan itu, Saito, mungkin karena dia lelah, dengan cepat terlelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengerang &amp;quot;uu~&amp;quot; dan &amp;quot;mu~&amp;quot;, tapi dia menyerah setelah beberapa saat dan meringkuk masuk bersama Saito. Menggeliat di sekitarnya, dia menaruh kepalanya di lengan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini jelas-jelas tempat yang mengerikan...tapi ada satu hal yang menyenagkannya...Pelayan itu tak disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya ampun, aku tak tahu, apa sih bagusnya familiar ini! Pelayan yang menyukai Saito itu tak ada disni. Ini sebenarnya luar biasa. Aku-tak benar-benar, suka-, ini, tapi...gumam Louise dalam rasa agak senang, mendekatkan pipinya pada Saito dan menutup matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pipi memerah, dai berbisik,&amp;quot; Aku akan mendapatimu memperlakukanku dengan lembut pada liburan musim panas ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga...mengambil isu-siu di kota dan memberikan laporan mendalam pada Putri-sama. Berfikir bahwa semua akan segera semakin sibuk, Louise terlelap.&lt;br /&gt;
------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi...kebahagiaan kecil Louise diremukkan sempurna. Sebabnya adalah malam hari berikutnya, Penginapan &amp;quot;Peri-Peri memesona&amp;quot; ramai juga pada hari itu. Louise dengan sibuk membawa makanan atau minuman keluar seperti hari sebelumnya. Lelaki-lelaki yang mabuk punya dua jenis reaksi saat melihat Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama adalah orang yang memandangi Louise, yang kecil dalam berbagai bagian tubuhnya, dan berkata&amp;quot;Toko ini menggunakan anak-anak?&amp;quot; denagn marah, Pada pelanggan-pelanggan ini, Lousie melayani mereka dengan banyak anggur, dia juga mendapati mereka meminum botolnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, ada pelanggan-pelanggan yang punya ketertarikan khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya penampilan luar Louise yang begitu manis, jadi sebaliknya, ia adalah hal terindah bagi orang dengan jalan pikiran ini. Orang-orang ini meremehkan Louise karena dia terlihat patuh saat diam dan mengulurkan tangan mereka pada pantat atau paha kecinya. Pada orang-orang ini, Louise memutuskan untuk memberikan mereka telapaknya. Dia memberikan itu pada kedua pipi, dan sewaktu-waktu, bahkan di hidungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisa bersikap santun sama sekali, dengan begitu saja, Louise akhirnya tak menerima tips sedikitpun dan disuruh &amp;quot;Diam disini dan amati apa yang dilakukan gadis lainnya&amp;quot; oleh Scarron dan dipaksa berdiri di sudut. Ya, gadis lainnya sangat ahli. Mereka tersenyum cerah dan tak marah tak peduli apa yang dikatakan maupun dilakukan orang. Mereka dengan halus bercakap dan memuji para lelaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan saat para lelaki mencoba menyentuh mereka, mereka dengan lembut mencengkram tangan itu dan mencegahnya menyentuh. Denagn begitu, para lelaki mencoba memenangkan perhaian si gadis dan menumphakan tips. Tak mungkin aku melakukan itu, Louise masam. Keluarga dimana aku lahir di dunia ini keluarga Vallière, yang merupakan ningrat dan penyihir. Terlebih lagi, mereka adalah keluarga duke! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku kembali pada tanahku, aku adalah seorang putri! adalah apa yang dipikirkan Louise. Bahkan jka kau mengatakan padaku dunia akan berakhir besok, aku tak bisa berlaku sopan pada mereka. Apalagi, dalam pakaian memalukan ini...Pakaian?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menyadarinya pada saat itu. Dia dalam pakaian camisole yang sama dengan kemarin. Meski dia pikir dalam dirinya tak manis, tapi dia merupakan sesuatu di luar. Dia mencari-cari da menemukan sebuah cermin dalam toko. Dia membuat berbagai macam pose di hadapan cermin. Dia mencoba memegang jempol dalam mulutnya dan menggelisah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yep, pakaian ini memalukan, tapi aku manis, Seorang ningrat meski aku membusuk. Tiada gadis disini yang bisa menyamai keningratan aku pancarkan. Benar. Pasti. Mungkin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Saito tersihir oleh penampilanku, pikirnya, dan menjadi senang. Apa, bodoh? Kau telat untuk menyadari pesonaku. Pasti dia bakal &amp;quot;aah, Louise manis, luar biasa, gadis semanis itu pernah disampingku...Aku tak menyadarinya...Tapi aku malah terpikat denagns eorang pelayan...Membuatnya memakai pakaian pelaut dan berputar-putar...aku menyesalinya...anjing tolol ini menyesalinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmph. Apa kau seorang idiot? Pasti perlu waktu lama bagimu untuk menyadari pesona tuanmu. Tapi kau hanya seorang familiar, jadi jangan memandangi tuanmu dengan cara kasar itu. Pergi dan semir sepatuku atau apalah! Apa? kau tak bisa, Kau tak bisa menyentuh tuanmu. Untuk seorang anjing, mana yang kau sentuh? Tapi jika kau berjanji melayaniku seumur hidupmu, akan kubiarkan kau melakukannya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebagai byayarannya, berlututlah di tanah. Berlututlah di tanah dan minta ampunlah pada seluruh waktu dimana kau mengabaikanku. Mengerti? Berfantasi sebegitu jauh, Louise menutup mulutnya dan emnahan tawanya. lalu melihat ke samping...dia mencuri lirikan pada dapur, berpikir bahwa Saito tersihir olehnya sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disana! Anjing tolol itu mencuci piring dengan mata bodoh itu!...Eh!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, Saito dengan penuh mengamati tempat dimana Louise berada sambil dengan pikiran-kosong mencuci piring-piring. Tapi...Dia tak sedang memandangi Louise. Louise mengikuti pandangannya. Apa yang ada disana adalah seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang tengah mengumbar tawa dengan seorang pelanggan. Itu Jessica.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut blonde pink Louise mulai menggelombang. Lagi-lagi, kau dan itu. Rambut hitam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengamati Jessica lebih jauh, dia mengikuti pandangan Saito dalam mili-unit. Jessica tengah mengenakan terusan yang membuka pada buah dada besarnya. Sudut pandang Saito mengejar kedalam belahan yang menyembul dari baju terusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dadanya. Apa kau benar-benar suka barang mirip apel sampai sebegitunya? Mengapa anjing-anjing suka dada semacam itu? Huh?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hou~&amp;quot; Saito melepaskan desahan sedih. Dengan wajah tersihir, dia menggambarkan lingkaran dengan kedua tangannya seakan mengukur keliling dada Jessica. Sesuatu berderik dalam pikiran Louise, jadi untuk sekarang, dia memutuskan untuk melempar gelas didekatnya dengan sekuat tenaga. Langsung kena di sekitar keningnya, Saito jatuh didepan tempat cuci piring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang kau lakukan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki yang gelasnya dilempar bangkit dan mencoba mencengkram bahu Louise. Louise mengangkat tubuhnya dangan mencegkram meja dan melayangkan telapak kedua sepatunya pada wajah pria tersebut. Ini pelayanan khusus, isi berganda. Melihat kebelakang pada Scarron yang ber&amp;quot;Louise-chan&amp;quot; dan buru-buru kesana, Louise dengsn erat menggenggam kepalannya sambil berguncang ke seluruh tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Familiar itu...Lihat saja. Aku akan memberikanmu pelayanan yang seharusnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
---------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Saito bangun...apa yang ada disana adalah dada besar Jessica. Berpikir &amp;quot;Apa ini!&amp;quot;, mulutnya terbuka menganga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wah, kau akhirnya sadar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekeliling, dia menyadari dia berbaring pada sebuah kasur. &amp;quot;Dimana ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamarku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duduk pada kursi dengan cara seakan memeluk punggung kursi, Jessica tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;mengapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pingsan saat sebuah gelas terbang ke kepalamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh begitu...Apaan gelas itu...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sepertinya Jessica tak punya rasa tertarik pada gelas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, hei, aku tahu sekarang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Louise. Dia seorang ningrat, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai batuk-batuk keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak usah berpura-pura. Papa telah mempercayakanku urusan gadis-gadis toko. Kemampuanku membedakan gadis-gadis cukup bagus. Ya ampun, Louise itu bahkan tak tahu bagaimana cara membawa piring. Tak hanya itu, harga dirinya tinggi sekali. Dam kelakuan itu...ningrat sekali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memegangi kepalanya. Dia bahkan membuat Louise memakai baju terusan nan tawar...Ia jelas sekali, ya kan? Apaan tuyh &amp;quot;sembunyikan status sosialmu&amp;quot;? Tiada samaran sama sekali. &amp;quot;Hah! Dia seorang ningrat? Tak mungkin! Dia sangat kasar, keras, dan tak punya keanggunan sama sekali...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa. Aku takkan bilang siapapun. Kau punya alasan tertentu, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Saito tetap diam, Jessica tersenyum. Orang semacam ini cenderung menjadi sasaran kepenasaran...Dia ingin menanyai Saito, jadi dia sengaja jauh-jauh membawanya kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lebih baik jika kau tak menempatkan hidungmu di ini.&amp;quot; kata Saito dengan nada rendah. Dia ingin menakuti Jessica dan membuatnya tak menanyainya lebih jauh, Tapi ini tak bekerja untuk Jessica.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh-! Apa itu? Sesuatu buruk terlibat? Bukankah itu menarik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyenderkan tubuhnya lebih jauh, dia membawa wajah...dadanya mendekat. Mengapa belahannya sangat menekan, alasannya adalah karena pakaiannya lebih berani dibandingkand engan Siesta karena dia seorang gadis kota, dan wajah Saito mulai memerah, disaat itulah Jessica menyunggingkan senyum penuh makna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau belum pernah kencan dengan seorang gadis sebelumnya, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa? Itu, kau tak bisa meremehkanku atau...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kena. Dia sangat tajam dalam berbagai hal...Lalu keringat dingin mulai mengucur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengerti. Aku seorang gadis kota yang agak tajam, tentu saja. Sangat mudah untuk menebak apa yang ada dalam kepala orang-orang desa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan sebagai orang desa, Saito sedikit menderik. kau tahu, di Tokyo, tak peduli tentang Tristania ini, bukanlah struktur murahan. Kau akan menangis bila kau melihat Menara Tokyo. Memeikirkan itu, dia membalas, &amp;quot;Siapa yang orang desa? Aku tak ingin dikatakan begitu oleh seorang putri gay.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu jahat. Meski dia seperti itu, dia seorang ayah yang lembut. Saat ibuku meninggal, dia berkata, &#039;Baiklah, papa juga akan bekerja di tempat mama...&#039; &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Très bien itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica mengangguk. &amp;quot;yah, kita bisa mengenyampingkan soal papa. Hei, apa yang kau rencanakan bersama gadis ningrat itu? Kau bukan seorang bangsawan, kan? Pengiringnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bukan pengiringnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Saito berkata dengan sikap agak kesal, Jessica tertawa sepuasnya dan mencengkram tangan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau ingin aku mengajarimu soal wanita?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langsung mematung, Saito menatap Jessica tanpa berkedip. Gadis bar ini yang tahu agak baik soal bagaimana menggunakan pesonanya tak melewatkan perubahan tiba-tiba Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, sebagai balasannya, ceritakan padaku yang sebenarnya, OK? Tentang apa yang kalian berdua rencanakan...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica mengambil tangan Saito yang dicengkramnya dan membawanya pada belahannya. Saito lumpuh. Bersama seorang gadis dari bar. Bukankah ini juga cara yang bagus untuk mengumpulkan info? Segala macam pelanggan mengunjungi bar. Isu-isu juga terkumpul disini. Orang-orang yang merencanakan sesuatu mungkin menurunkan kewaspadaan pada gadis-gadis dan menceritakan rahasia mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat Jessica sebagai teman disini mungkin akan menjadi nilai tambah untuk kegiatan ini dari sekarang. Berpikir begitu, tepat saat dia rasa kulit yang hangat mencapai jarinya...Pintu kamar Jessica diterbangkan. Saito bangkit. Louise, gemetaran sambil mengenakan camisole putih murninya, berdiri disana. &amp;quot;Apa yang kau lakuakn?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito melihat tangannya dan menariknya kembali sembari panik. &amp;quot;Pe-pengumpulan info.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Info siapa dan dimana yang kau kumpulkan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama Saito panik, Louise berjalan cepat-cepat kedalam kamar dan menendang bagian bawah Saito dari depan. Saito bergulingan. Dicengkram pada mata kaki, saat dia hendak diseret pergi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica memanggil dan menghentikan Louise. &amp;quot;Tunggu sebentra, Louise.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang terjadi dengan melayani pelanggan? Bukankah kau tengah bekerja?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipanggil dengan sikap biasa oleh seorang gadis kota biasa, Louise mulai berguncang, tapi itu tak bisa dicegah sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Tutup mulutmu! Setelah aku mendisiplinkan Fa-fa...kakak tolol ini, Aku akans egra kembali!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito telah menjadi saudara Louise disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau punya begitu banyak waktu luang? Meski kau bahkan tak bisa mendapatkan satu tip dengan baik...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-itu tak ada hubungannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu sangat berhubungan. Ini karena aku dibebani urusan soal para gadis. Gadis sepertimu adalah pengganggu. kau membuat marah pelanggan setia, tak menerima perintah, melempar gelas kemana-mana, dan mengajak tengkar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mulai terlihat tak senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku rasa itu tak bisa diubah, Bocah sepertimu tak bisa bekerja sebagai peri bar.&amp;quot; kata Jessica bosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bukan seorang bocah. Aku 16.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Kau seumuran denganku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica memandang Lousie dengan terkejut yang tak dibuat-buat. Lalu dia melihat dada Louise lalu miliknya sendiri. Lalu dia menutup mulutnya setelah membuat sebuah suara tawa cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Semoga beruntung kalau begitu. Meski aku tak mengharapkan apa-apa. tapi jika kau mengacaukan lebih jauh, kau dipecat, mengerti/&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menderik pada sikap Jessica. &amp;quot;A-apa...Wanita bodoh dengan dada besar mereka...memanggil orang bocah, atau seorang anak, atau seorang lemah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito, masih di lantai, menyela. &amp;quot;Tidak, tiada yang berkata lemah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menginjak-injak rata wajah itu. Saito mengerang dan terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan mengumpulkan tips yang cukup untuk membanguns ebuah benteng.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh~, benarkah? Aku benar-benar bahagia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena jika aku melakukan sebaik yang kubisa, aku luar biasa. Para pria itu bakal berbalik padaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau mengatakannya, huh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengatakannya. Siapa yang bakal kalah pada orang sepertimu?&amp;quot; kata Lousie sambil menatap benci dada Jessica. Si anjing tolol melihat padanya. Si anjing tolol menggosokkan tangannya disana!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pas sekali waktunya. Ada lomba tip minggu nanti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lomba tip?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya benar. Ini lomba dimana para gadis toko bersaing untuk melihat seberapa banyak tip yang bisa mereka dapat. Ada juga sebuah hadiah yang disiapkan bagi pemenang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah itu terdengar menarik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berusahalah sebaikmu. Jika kau mengalahkanku dalam lomba tip itu, aku takkan pernah memanggilmu bocah lagi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
-----------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Para peri! Akhirnya, minggu yang dinanti-nanti tiba!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Mi mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mari kita mulai lomba tip dengan penuh antusias!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sorakan dan sambutan menggema seisi toko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, sebagaimana yang diketahui semua...Pendirian penginapa &amp;quot;Peri-Peri Memesona&amp;quot; ini terjadi 400 tahun lalu, selama masa Yang Mulia, Henry III, dikenal sebagai Raja Atraksi Tristain. Yang Mulia Henry III, dikenal sebagai lelaki tampan tiada tanding, disebut-sebut sebagai jelmaan seorang peri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron mulai berbicara dalam sikap menyelami cerita. &amp;quot;Suatu hari, raja itu mengunjungi kota secara diam-diam. Dan, anehnya, dia menginjakkan kakinya di bar yang belum dibuka ini. Pada saat itu, nama toko ini adalah &#039;Kasur Belut&#039;, yang tak punya sedikitpun daya tarik atau apapun. Disana, sang raja, Luar biasa! Jatuh cinta dengan seorang gadis pelayan yang ditemuainya disana!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Scarron menggelengkan kepalanya sedih. &amp;quot;tapi seorang raja tak seharusnya jatuh cinta dengan seorang gadis dari bar...Pada akhirnya, sang raja menyerah dari cinta ini. Lalu...sang raja menyiapkan sebuah bustier dan mengirimnya pada si gadis sebagai pengingat cinta mereka. Leluhurku sangat terkesan dnegan cinta itu dan mengubah nama toko, mendasarkannya pada bustier tersebut. Oh, cerita nan indah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cerita yang sangat indah! Mi Mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Inilah bustier &#039;Peri-Peri Memesona&#039;!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tegas, Scarron melepaskan garmen luar dan celananya, Kali ini, Saito, yang menonton dari jauh, ber&#039;Ouue&#039; dan muntah. Ini karena Scarron memakan bustier hitam pendek nan seksi yang memuat tubuh Scarron secara sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bustier &#039;Peri-Peri Memesona&#039; yang dikirimlan raja pada gadis yang dicintainya 400 tahun lalu adalah pusaka keluargaku! Bustier ini memiliki sihir yang membuatnya dapat merubah ukuran sesuai ukuran pemakainya dan juga sihir &amp;quot;Daya tarik&amp;quot; terpasanga padanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini luar biasa! Mi Mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nnnn~! Très bien!&amp;quot; Scarron berpose dengan suara bergairah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu...Anehnya, perasaan &amp;quot;ini tak terlalu buruk&amp;quot; bangkit dalam diri Saito. Keinginan baik terhadap Scarron...perasaan seperti itu. Meski penampilannya menjijikkan, bukankah ini baik dalam caranya sendiri? mulai dirasa Saito...Saito lalu menyadarinya. Ini adalah identitas dari sihir &amp;quot;Daya tarik&amp;quot;! Tapi penampilan Scarron terlalu minus, jadi efeknya hanya bisa sampai &amp;quot;Ini pas...begitulah&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh begitu. Karena pemakainya Scarron, aku hanya berpikir sampai segitu. Jika seorang gadis biasa memakainya...Aku mungkin melihatnya sebagai si cantik tiada tanding. Sihir benar-benar menakutkan, angguk Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil tetap berpose, Scarron melanjutkan pidatonya. &amp;quot;Peri yang memenangkan lomba tip yang dimulai minggu ini akan diberikan hak memakai bustier &#039;Peri-Peri Memesona&#039; selama sehari! Ya ampun! Aku membayangkan berapa besar sih tip yang bakal didapat pada hari dia memakainya! Aku jadi bersemangat hanya dengan memikirkannya! Dan karena itulah semuanya harus berusaha sebaik-baiknya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Mi Mademoiselle!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus sekali! Baiklah, semuanya! Pegang gelas kalian!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para gadis mengangkat gelas mereka seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untuk kesuksesan lomba tip dan bisnis, kesejahteraan dan...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disitu, Scarron memotong kalimatnya dan berdiri tegak dnegan wajah serius setelah membersihkan tenggorokannya. Setelahnya, tidak dalam bahasa femininnya yang biasa, tapi dengan suara pria berusia setengah baya, dia berkata, &amp;quot;Sebuah doa pada Kesehatan Yang Mulia Ratu. Bersorak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan mengangkat gelas anggurnya.&lt;br /&gt;
-------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, lomba tip dimulai seperti ini, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia berpikir dengan keadaan seperti ini, dia takkan mendapatkan tip berapapun, Louise memutuskan untuk berhenti berbicara. Louise menyadari dia bakal membuat pelanggan marah kapapnpun dia buka mulut. Itulah mengpa dia memutuskan diam sebisa mungkin. Dengan begitu, dia menuangkan anggur untuk seorang pelanggan tertentu saat dia berbicara pada Louise. Sukses. Ini kesempatan untuk mendapatkan tip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, kau, sebentar. Tunjukkan tanganmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengulurkan tangannya. &amp;quot;Aku mengerjakan ramalan, jadi aku akan meramalmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelanggan itu memandangi telapak tangan Louise dan berkata begini. &amp;quot;Berdasarkan ramalanku, kau...dilahirkan sebagai penumbuk tepung. Apa aku benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berani-beraninya kau membandingkan penumbuk tepung dengan seorang ningrat sepertiku, keterlaluan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu meramal lebih lanjut. &amp;quot;Oh! Kau seperti itu kan? Punya seseorang yang kau suka?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memikirkan wajah familiarnya. Dia tak bisa memaafkan dirinya sendiri karena berfikir begitu. Aku tak punya satupun. Louise menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak? kau punya, kan?! Maka aku akan meramal kecocokanmu dnegannya...Wah! Aku terkejut!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu dengan sedih menggelengkan kepalanya. &amp;quot;Terburuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu itu bahkan bila kau tak memberitahuku. Aku tahu itu terlalu baik. Lagipula, pertama-tama, aku juga tak suka dia...Tersinggung, Louise memberikan terima kasihnya atas ramalan itu dengan kakinya, Bagi Louise, orang berupa lawan jenis yang terdekat adalah Saito. Kebiasaannya memperlakukan Saito tak sengaja keluar. Kebiasaan itu menakutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-ada apa denganmu?! Kau bocah!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan seorang bocah. aku 16. Dia ingin merespon, tapid engantegas tetap diam. Aku memutuskan untuk dia beberapa saat yang lalu, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Katakan sesuatu, kau bau kencur!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya lambat tumbuh. Kejam sekali perkataanmu...Berpikir untuk mengatakan baik-baik soal umurnya pada pelanggan, Louise menendang wajah pelanggan itu 16 kali. Tamunya langsung rata. Yah, selalu saja begini, jadi Louise tak mendapat tip berapapun hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise ngeri karena sebagai hasil mencoba diam, jumlah telapak kakinya terbang meningkat sebagai ganti bahasa kasarnya. Sepertinya perasaan yang tak bisa diungkapkan keras-keras malah dikatakan telapak kakinya. Pagi berikutnya, Louise berdiskusi dengan Saito tentang apa yang harusdilakukan. Saito mengusulkan, untuk mencegah telapak kakinya kemana-mana, Louise seharusnya melepas celana dalamnya dan bekerja, dan dia dihantam.&lt;br /&gt;
-----------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise sangat hati-hati agar tak membiarkan kakinya terbang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk membuatnya tersenyum tak peduli apa kata orang, dia menempatkan kawat di mulutnya dan membuat wajahnya tersenyum. Pelayan Louise yang siap sempurna tak pernah berhenti tersenyum. Tapi...Dia tak pernah menerima tip. Dia menahan dan menjaga ujung kakinya terbang, dan dia menahan senyumnya. Tapi kemudian...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wow, masalahnya datang dari tangannya. Seorang pelanggan tertarik pada Louise yang melayani. Sepertinya dia menyukai wajahnya. &amp;quot;Oh, kau, agak manis, ya? Tuang untukku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu puas dnegan wajah Louise, tapi kemudian dia menyadari suatu kesalahan nan pasti. Dada Louise. Apa ini. Datar smpurna. Tanpa sadar, kata-kata godaan keluar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa denganmu? Jangan katakan kau seorang lelaki? Yah, toh wajahmu mendinganlah...Dengarkan, biarkan aku mengajarimu sebuah muslihat. Setidaknya sumpal beberapa kain dan semacamnya disitu. Jika kau melakukannya, kau akan jadi yang pertma disini! Gahaha! Sekarang tuang beberapa untukku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata-kata pria itu, otot wajah Louise mulai berdenyut-denyut, tapi senyumnya tetap muncul berkata kawatnya. Disini, seharusnya semuanya berjalan baik berkat kawat itu... Tapi tidak begitu yang kejadian....Louise telah menuangkan anggur pada kepala pria itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apaan sih kau?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu bangkit. Louise, merasakan bahayapada tubuhnya, menghantamkan botol anggur pada kepalanya. Pria itu runtuh ke lantai sehingga Louise tak harus menuang untuknya lagi, tapi dia tak mendapatkan tip berapapun. Seperti ini, Louise terkejut bahwa tiapkali seseorang menghina ukuran dadanya, tanganya bergerak sendiri dan membuat kepala pelanggan meminum anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi berikutnya, Louise berdiskusi dengan Saito. Saito mengusulkan, bahwa untuk menjaga dirinya dari membuat kepala pelanggan meminum anggur, dia seharusnya menaruh botol angur diantara dadanya dan menuang. Botol anggur takkan secara fisik mencapai kepala pelanggan jika tangannya berada pada dadanya. Apalagi, pose ini sangat menyenangkan bagi pelanggan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Louise, berfikir bahwa dia mengatakan seseuatu yang buruk soal ukuran dadanya, dan memukul Saito.&lt;br /&gt;
------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ketiga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise berhati-hati untuk menjaga tangannya dari bergerak. Setelah dia menaruh anggur di atas meja, dia menaruh tangannya dibelakang dan tersenyum cerah. Bahkan saat dia disuruh untuk menuangkan sesuatu, yang dilakukannya hanyalah tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tuangkan aku sebagian.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bilang tuangkan aku sebagian!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa denganmu?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak mungkin baginya mendapatkan tip satupun. Saat dia berdiskusi dengan Saito, dia bilang untuk memegangnya di mulut saat Louise menuangkannya. mulut Louise kecil. Sebuah botol anggur tak muat disitu. kalau dilihat lebih dekat, Saito terlihat dia mengantuk. Hanya karena kau mengantuk tak berarti kau bisa berkata serampangan. Dan Louise menghantam Saito.&lt;br /&gt;
-------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari keempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lomba sudah setengah jalan. Jumlah tip sampai saat ini adalah nol. Sebagaimana diduga, Louise mulai putus asa. Louise melayani sambil berhati-hati pada telapak kakinya, posisi dia menuangkan anggur, dan kata-katanya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tampak tak ahli, tapi anehnya sikapmu anggun, kau bisa mendapatkan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin karena usahanya, Louise mendapatkan sebuah koin emas dari seseorang yang tampaknya adalah pelanggan bangsawan pertama yang dilayaninya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Be-benarkah? Bisakah aku memiliki ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah, Ambil saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Waai!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melompat tinggi saking bahagianya, dia membalikkan sebuah piring dan menumpahkan makanan ke baju pelanggan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-aku minta maaf...&amp;quot; Louise minta maaf, tapi pelanggan ningrat itu tak bisa memaafkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau...Baju ini adalah pertama dari sutra yang gajimu takkan pernah bisa membayarnya, Apa yang akan kau lakukan tentangnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku benar-benar minta maaf...Auu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, apa yang bakal kau lakukan untuk ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-aku akan membayar untuk itu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmph, klo gitu, mari kita lakukan ini. Kau harus mebayar ini dengan sesuatu yang bisa kau lakukan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa yang harus kulakukan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak seberapa, hanya datang ke kamarku pada tengah malam.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau akan mengerti apa yang akan terjadi setelahnya, kan? Kau bukan seorang bocah, kan? Seorang bocah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa maksudnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Maksudku kau harus membayar agak banyak dengan tubuhmu. Itulah maksudku. Muhoho!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Darah naik ke kepala Louise. E. e-e, meski kau seorang ningrat, apaan ini! Putri ketiga dari keluarga duke menjadi marah. Jangan menempatkan para ningrat dekat keasusilaan. Sebagai wakil Yang Mulia, aku harus memutus dan menghukum noda hitam keningratan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau memalukan! Karena orang-orang sepertimu ada! Ototritas Kerajaan! Ototritas! dan juga otoritasku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa yang kau lakukan? Uwah! Hentikan! Hentikan, kataku!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakinya, ucapannya, dan anggur, semuanya terbang seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kukembalikan ini padamu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melemparkan tip yang didapatnya pada wajah si pelanggan. Louise dipanggil Scarron dan disuruh untuk mencuci piring seharian besok sebagai hukuman. Louise sangat kesal dan memutuskan untuk memukul Saito.&lt;br /&gt;
--------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari kelima...Saat Louise tengah mencuci piring bersama Saito, Jessica mendatangi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kabarmu? Ojou-sama, aku telah mengumpulkan 120 écus sejauh ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah itu luar biasa?&amp;quot; jawab Louise pundung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau takkan mendapatkan tip apapun sambilo mencuci piring.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kutahu itu.&amp;quot; kata Louise sambil mencucui piring sekenanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sheesh. Kau bahkan tak bisa mencucui sebuah piring dengan benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku mencuci piring dengan benar, kau tahu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lihat, ini masih ada minyak tersisa. Kau tak bisa menyebut ini tercuci.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica mengambil piring dari Louise dan mencucuinya dalam gerakan tangan nan cepat. Louise menontonnya, merasa tersinggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei.&amp;quot;Jessica menatap Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seseorang mengajarimu. Apaan sikap itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Uu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menonton keduanya bertukar pandang dengan wajah terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saat seseoran mengajarimu seseuatu, kau mengucap &#039;terima kasih&#039; kan? Ini dasar, dasar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Te-terima kasih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun, adalah karena kau berwajah seperti itu kau tak mendapat tip apapun. Esok hari terakhir, ya kan? Berbenahlah, Ojou-sama.&amp;quot;Meninggalkan ucapan itu, Jessica menghilang, kembali ke bar. Louise menggantung kepalanya merasa terhina.&lt;br /&gt;
--------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu hari menuju pagi...Louise, setelah mencuci piring sepanjang malam, melihat tangannya sendiri dan mendesah. Jari-jari Louise yang tak pernah mencuci apapun sebelumnya menjadi merah terang karena kerja dapur yang dia tak terbiasa dan sakit berkat air dingin dan sabun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa aku harus melakukan sesuatu seperti ini? pikirnya. Meski dia sendiri adalah seorang ningrat, dia harus mencuci piring...Mendapati dirinya melayani semua jelata itu...Tambahan lagi, seorang gadis bar berbicara kurang ajar padaku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak lagi.&amp;quot; gumam Louise. Apa itu mengumpulkan info atau apapun, ini bukanlah tugasku, Aku seorang legenda, Aku pengguna Void, kau tahu. Namun mengapa aku harus menjadi pelayan di sebuah bar? Bukankah, misalnya, sebuah misi yang lebih bergengsi tengah menunggu aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpikir seperti itu, air mata mulai berjatuhan karena sedih. Membuka sebuah papan lantai, Saito menyembulkan kepalanya dari tangga sehingga Louise merangkak meuju kasur. Dia tak ingin Saito melihatnya menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini ada makanan.&amp;quot; Saito memanggil Louise, menaruh sebuah piring berisi rebusan di meja.Tapi Louise hanya menjawab lelah dari dalam kasur. &amp;quot;aku tak memerlukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak mungkin kau tak memerlukannya. kau takkan bertahan bila kau tak makan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ia tak enak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Meski kau berkata ini tak enak, tiada lagi yang bisa dimakan jadi tak bisa diapa-apakan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, Louise menyelimuti dirinyadan tak keluar dari kasur. Saito menghampiri tempat tidur dan menarik lepas selimutnya. Louise tengah meringkuk dalam futon denga piyamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Makanlah. Badanmu akan roboh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tanganku sakit. Aku tak bisa memegang sendok.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengeluh seperti anak kecil. Melihat ini tiada gunanya, Saito menyendok rebusan dan membawanya ke mulut Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu, sini, aku akan menyuapmu. Makanlah. ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise akhirnya menelannya, Airmata bercucuran dari matanya. &amp;quot;Aku tak menginginkan ini lagi. Aku aka kembali ke akademi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan tugasnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak peduli, Ini bukan tugasku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menarik balik sendok dan menatap Louise. &amp;quot;Kau tahu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa kau mempunyai motivasi meski sedikit?&amp;quot;\&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku punya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Putri-sama mempercayakanmu pekerjaan ini karena dia percaya padamu, kan? Bercampur dengan para jelata dan mengumpulkan info. Karena jika dia memakai seseorang dari senat kerajaan, dia akan ditolak...Dia tak bisa bergantung pada siapapun jadi dia bergantung padamu, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan lihat dirimu sekarang. Kehilangan seluruh uang kita di arena judi karena kau tersinggung, dan kau seret harga diri ningratmu kesini dan tak dapat tip satupun. Kau juga membuat pelanggan marah. tak dekat sama sekali dengan pengumpulan info.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tutup mulutlah kau. Tapi apa hubungannya tugas itu dnegan melayani dan mencucui piring bodoh itu? Aku ingin tugas yang lebih besar. Tiada lagi dari ini. Mengapa seorang ningrat sepertiku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mencengkram bahu Louise dan membuat Louise menghadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tebak apa, Ojou-sama? Semuanya kerja. Mereka berusaha sebaik mereka di pekerjaan ini yang kau bilang bodoh dan makan makanan ini. Hanya kalian para ningrat yang bermain kesana-kemari dan membuat orang-orang menyuap kalian.&amp;quot; kata Saito dengan nada serius. Louise, karena takutnya, menunduk tanpa pikir panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak bisa mengatakan banyak omomgkosong karena aku dibesarkan mirip denganmu, tapi setelah datang kesini, aku menderita dalam banyak cara dan mengerti. Bahwa adalah agak bermasalah hanya untuk hidup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah mengapa tak bisa membalas, Louise tetap diam. Sato melanjutkan kata-katanya. &amp;quot;Aku tak terlalu mengerti, tapi mungkin orang-orang begitu yang sibuk dengan harga diri bodoh mereka tak bisa melakukan pekerjaan besar? Yah, aku berpikir begitu sih. Ya...jika kau menyuruhku berhenti, aku berhenti. Aku tak peduli juga sih. Karena ini memang bukan pekerjaanku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menutup mulutnya, terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tak lagi menginginkannya?&amp;quot; tanya Saito sambil mengulurkan sendok, Louise melompat dari kasur, mengambil sendok dari Saito, dan mulai menghabiskan rebusan. Saito mengembangkan tangannya, memutar kepalanya, dan mengambil sesuatu. Ia sebuah kotak keramik kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Apa itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Krim yang bekerja pada kulit yang tergerus air, Jessica memberikannya padaku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito kemudian menyuruh Louise untuk menjulurkan tangannya. Louise melakukannya dengan patuh. Louise melihat muka Saito rasa bersalah selama dia mengoleskan krimnya, tapi...sesaat kemudian dia bergumam dengan nada kecil. &amp;quot;Hei...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku akan melayani, Aku akan mencuci piring. Apa itu OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu OK.&amp;quot; kata Saito dengan nada lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi apa kau tak apa-apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Soal apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ini OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi Louise memerah dan berkata dengan nada tak senang. &amp;quot;Melayani sih OK. Aku bahkan akan mengatakan kata-kata anggun. Tapi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa tak apa-apa jika para pelanggan menyentuh-nyentuh tuanmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito langsung terdiam tak mampu berkata apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei. Bagaimana dnegan itu? Jangan berkata hal-hal yang memeningkan diri sendiri dan jawablah dengan baik jika ia baik atau borok.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mulai memakan rebusan dengan diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku bilang hei. Yang mana? katakan.&amp;quot; Tanya Louise sambil menarik telinga Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat terengah-engah pada rebusan, Saito bergumam &amp;quot;...Ji-jika kau memperbolehkan sentuhan semacam itu, aku akan menampar mereka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa yang bakal kau tampar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Kau.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menatap tajam kedalam mata Saito. &amp;quot;Mengapa? Si tuan ini bakal ditampar familiarnya, coba jelaskan alasannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hening menyapa...Sambil membuang muka ke samping, Saito berucap tak jelas &amp;quot;Meski A-aku akan memaafkan pegangan tangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apaan itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menerbangkan Saito. &amp;quot;Apaan tuh &#039;Aku akan memaafkan berpegangan&#039;?! Aku menyaimu alasan menampurku! Tolol!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ka-karena...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula, apa maksudmu &#039;memaafkan? Berakting begitu bangga. Soal aku berpegangan tangan atau lainnya tak diputuskan olehmu. Itu semua oleh aku, aku! Hmph!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise menyisir rambut pink blondenya dan memasang sikap tegas. Dia melipat lengannya. &amp;quot;Baiklah. Bukankah itu Bustier &#039;Peri-peri memesona&#039;? Aku akan memakainya dan membuat seluruh peanggan terpesona. yah, demi tip. Aku akan memaafkan. Tak hanya tanganku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito bangkit loncat dan berteriak pada Louise. &amp;quot;Jangan bercanda!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise membuang muka dan mernagkak kembali ke kasur. Beberapa saat setelahnya, Saito berhasil menguasai diri dan menggelengkan kepalanya. &amp;quot;Yah, bustier &#039;Peri-Peri Memesona&#039; itu mustahil. itu hadiah pemenang. Kini, kau mungkin yang terakhir dalam lomba tip.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tak menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi khawatir, Saito bertanya &amp;quot;...Apa kau benar-benar akan memaafkan mereka? Mengenyampingkan kemenangan lomba tip, apa kau benar-benar sudah teguh? Bukankah itu sedikit keterlaluan? Ayolah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tak membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa kau benar-benar akan melakukannya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan suara yang hampir menangis, Saito terus menanyai Louise. Tapi, Louise berteriak &amp;quot;Diamlah! Aku hendak tidur!&amp;quot;...dan Saito dengan berat hati merangkak kedalam kasur.&lt;br /&gt;
_______________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian 4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari terakhir lomba tips telah datang. Pada sorenya, Scarron mengumumkan hasil sejauh ini. &amp;quot;Kini aku akan mengumumkan tiga teratas terkini! Pertama adalah tempat ketiga! Marlene-chan! 84 écus, 52 sous, dan 6 deniers!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambutan bergema. Gadis blonde bernama Marlene membungkuk dengan anggunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kedua! Jeanne-chan! 96 écus, 65 sous, dan 3 deniers!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambutan bergema lagi. Gadis berambut chestnut bernama Jeanne tersenyum dan mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kemudian...Yang pertama!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron pelan-pelan meninjau seluruh gadis dan mengangguk berulang-ulang. &amp;quot;Tanpa tanding, putriku! Jessica! 160 écus, 70 sous, and 8 deniers!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Waaaahhhh!&amp;quot; Begitu sorakan kegembiraan membahana. Jessica, yang memakai pakaian yang menggoda dengan celah besar yang disiapkan untuk hari ini, membungkuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang! Entah kau menangis atau tertawa, hari ini adalah hari terakhir! Tapi hari ini adalah hari daeg dari minggu teuz! Karena ini akhir bulan, banyak pelanggan bakal datang! Jika kau berusaha keras, kau mungkin dapat banyak tip. Tempat teratas masih berada dalam jangkauan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Mi mademoiselle!:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mencolek Louise yang berwajah serius. Louise menampakkan wajah semacam itu bia dia berkeinginginan keras untuk sesuatu. &amp;quot;Berapa yang kau punya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menjawab, Louise membuka kepalannya yang erat. Disana...ada beberapa koin tembaga yang berkilauan. Saito mengelus dada. Dengan itu, kemenangan mustahil bahkan jika Louise berusaha sekeras-kerasnya. Kata-kata Louise &amp;quot;Jika aku mendapatkan Bustier &#039;Peri-Peri Memesona;, aku akan membuat pelanggan terpesona dan memaafkan apapun&amp;quot; masih mengganggunya hingga kini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apaan tuh &amp;quot;Memaafkan semuanya&amp;quot;?!&amp;quot; Apa maksudmu?! Meski, a...aku belum melakukan apapun! Meski bukan berarti aku punya hak untuk itu. Tapi tak begitu juga sih. Ah, apalah aku ini, hanya seorang familiar belaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Aku ingin dia berusaha sebaik-baiknya, tapi tidak hingga tingkat itu&#039; adalah jenis emosi yang berlarian di pikiran Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron berteriak dengan sebuah suara keras. &amp;quot;Maka, ayo lakukan ini dengan penuh semangat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sorakan membahana dengan seluruh macam perasaan bergema mengisi toko.&lt;br /&gt;
___________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian sekarang....Louise sedikit berbeda hari ini. Dia melepas kawat yang menahan senyumnya dan menampakkan sebuah senyum alami. Dia akan tersenyum cerah lalu menyentuhkan jari dengan gelisah sambil malu-malu. Dengan begitu, pelanggan akan bertanya, &amp;quot;Apa ada sesuatu yang salah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise akan memainkan jempolnya dan terus gelisah. Dan lalu, seakan mengatakan sesuatu yang sulit diucapkan, Dia akan berusaha dan mengucapkan &amp;quot;Ya..., Pelanggan, karena kau sangat luar biasa...&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi si pelanggan sendiri tampak sudah terbiasa dengan tingkat pujian segitu. Tanpa bergerak, dia mengacungkan gelas anggurnya. Disini, Louise akan melepaskan gerakan pamungkasnya. Memegang ujung hem camisolenya, dia membungkuk dengan anggun. Persis seperti yang diharapkan dari keluarga duke. Bungkukan ini, yang dilakukan sekaan berada de depan raja, berisi ruh seorang ningrat. Tiada gadis lain yang bisa meniru sikap ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan itu, si pelanggan akan menjadi tertarik pada latar Louise. Oh begitu. Bila aku melihat lebih jelas, ciri-cirinya agak mirip dengan seorang ningrat. &amp;quot;Kau lahir dari kelas atas, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, Louise tak berhenti menunjukkan malu-malunya. Lalu dengan penuh kesedihan dan penuh kenangan, dia menerawang keluar. Pria itu menjadi semakin terpikat pada kelakuan Louise yang anggun. Sambil membungkukkan dirinya kedepan, dia menyuarakan harapannya. &amp;quot;Apa kau melayani rumah ningrat tertentu? Mereka mengajarimu etika luhur disana, kan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise terus terenyum cerah. Angan-angan si pelanggan membumbung tinggi seiring dengan kesenangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika seorang gadis manis dan pendiam sepertimu melayani mereka, mungkin akhirnya tak disitu saja. Tak hanya etika, tapi juga begini dan begitu...juga dipaksakan masuk padamu, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memberikan bungkukan anggun. Senjata Louise hanyalah senyum dan bungkukannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kuh! Cerita yang menyedihkan! Seorang gadis manis sepertimu...Tapi bagaimana seorang pelayan sepertimu datang untuk bekerja di toko ini...Oh begitu! Aku tahu! Kau tak tahan dengan tuanmu yang memaksa membuatmu mengerjakan begini dan begitu, lalu kau kabur dari kediamannya, kan? tapi utang yang ditinggalkan ortumu tetap ada. Untuk melunasinya, kau bekerja sekuat tenaga. Seperti itu, kan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tersenyum sambil memandangi pelanggan. Dipandangi oleh mata Louise yang coklat merah bagaikan permata, si pelanggan, seakan tersihir mantra, ingin melonggarkan tali dompetnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kasihan anak ini. Hmm, gunakan ini untuk melunasi hutangmu. Ngomong-ngomong, yah, hal-hal semacam ini dan itu...itu apa ya? Tolong ceritakan padaku, OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pelanggan, yang tengah terbang dalam khayalannya sendiri karena sikap Louise, akan memberikan Louise koin emas dan perak. Tepat saat dia mendapatkannya, dia berlari secepat-cepatnya ke dapur, berjongkok, dan melepaskan napas terburu-buru. Memaksakan dirinya bersikap anggun dan bertingkah yang menarik simpati orang bagai leprosy, jadi Louise memutuskan memukul Saito, yang tengah mencuci piring, untuk sekarang. Dengan begitu, dia merasa sedikit tersegarkan. Lalu dia buru-buru kembali ke meja.    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelahnya, ini waktunya ber&amp;quot;tugas&amp;quot;. Itu mengumpulkan info yang dipercayakan padanya oleh Putri-sama. Dia tak ingin kalah di lomba tip, tapi tugas ini lebih penting. Duduk disamping si pelanggan, dia bertanya, &amp;quot;Ya ampun, mereka mengatakan ini sebuah perang. Kau akan lelah oleh ini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, begitulah. Mereka mengangkatnya sebagai &amp;quot;wanita suci&amp;quot;, tapi bagaimana dengan pemerintahan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa maksudnya itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengatakan putri yang abai itu tak bisa memerintah negara ini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menghina Henrietta, tapi Louise dengan sekuat tenaga menahannya. Dia harus mendengar semua jenis cerita darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seperti Pertempuran Tarbes...sepertinya kita menag karena beruntung! Aku tak terlalu yakin tentang yang selanjutnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan seperti itu, Louise perlahan mengumpulkan isu-siu di kota. para pemabuk suka berdiskusi soal keadaan dunia. Saat Louise mengangkar hal untuk menarik mereka, mereka akan mulai mengritisi pemerintahan seakan mereka menunggu Louise bertanya. Para pemabuk akan ngobrol soal pemerintahan seakan mereka menteri kabinet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula, akan lebih baik bagi negeri ini bila Albion yang memerintah kita, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika opini yang begitu kelewatan keluar,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengatakan kita seharusnya cepat-cepat dan menyerang Albion!&amp;quot; sebuah opini nan berani bakal menyembul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berkata, &amp;quot;Ada isu bahwa tentara akan diperkuat! Pajak-pajak akan ditingkatkan lagi! mereka pasti bercanda!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu. &amp;quot;Bisakah tentara yangs ekarang melindungi negara ini? Kuberharap mereka cepat-cepat dan mengatur armada!&amp;quot; sebuah opini yang sangat bertolak belakang terangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga...disambung-sambungkan, keterkenalan henrietta dari mengalahkan Albion di pertempuran tarbes mulai menurun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Perang tetap belum beres...Sepertinya depresi akan berlanjut. Henrietta masih muda. Bisakah dia membimbing negara ini dengan baik dari sekarang?&#039; adalah ketegangan yang dirasakan semuanya. Mungkin ini cerita nan menyakitkan bagi Henrietta, tapi aku harus melaporkan yang sebenarnya padanya...pikir Louise. Seperti itu, Louise mulai mengumpulkan tip dan info tapi...Pengumpulan tip Jessica begitu tak tertandingi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, Jessica ahli dalam membuat para pelanggan berpikir &amp;quot;Dia telah jatuh cinta padaku.&amp;quot; Louise mulai mengamati bagaimana Jessica melakukannya, jika kau tak tahu musuhmu, kau tak bisa memenangkan pertarungannya. Jessica pertama-tama bersikap dingin pada pelanggan sasarannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh makanan didepan pelanggan sambil terlihat marah. si pelanggan terkejut dengan sikap itu. &amp;quot;hei, apaan ini, Jessica? Apa hatimu sedang tak enak?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica menatap tajam pelanggan dengan mata dingin. &amp;quot;Tadi kau bicara kepada siapa?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kau menyebutnya keahlian atau yang lainnya, keiriannya sangat dewa. Bagaimanapun juga, kelihatannya dia benar-benar iri. Pada saat itu, si pelanggan salah mengerti bahwa dia tengah jatuh cinta padanya dan kini sangat iri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-apa...tersenyumlah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan apa-apa...Kau suka gadis itu, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bodoh! Yang paling kucintai adalah Kau! Ayolah...&amp;quot; Katanya dan mencoba menyerahkan sebuah tip. tapi Jessica menampik uang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan uang! Yang kuinginkan adalah kata-kata manis! Apa yang kau katakan sebelumnya...Apa itu dusta belaka? Aku benar-benar serius! Apa?! Aku tak peduli lagi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak mungkin itu dusta belaka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayo cerialah...Kaulah satu-satunya untukku. OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau mengatakan itu pada semua orang. Hanya karena kau sedikit terkenal diantara gadis-gadis...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli bagaimana kau melihatnya, pria itu tak mempunyai wajah yang terkenal. Biasanya, dia takkan percaya pujian semacam itu. Tapi kata-kata sihir tengah keluar dari mulut Jessica. Dengan cara bagaikan dia melakukannya tak sengaja. Pria itu tertipu sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak terkenal! Beneran!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau benar, Satu-satunya yang akan berpikir untuk mencium bibirmu adalah aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar...Sangat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hau... Tapi aku kelelahan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu, sekarang kami tengah mengadakan lomba bodoh ini yang disebut lomba tip. Aku tak terlalu pedulid engan tip tapi...Aku akan dihardik bila hanya mendapatkan jumlah kecil.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika itu berupa tip, aku akan memberikanmu beberapa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak apa-apa! Kau memberikanku kata-kata lembut, jadi tak apa-apa! Sebagai gantinya, Aku akan marah bila kau mengatakan hal yang sama pada gadis lainnya, mengerti?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia memandanginya, Dengan begini, pria tersebut kalah telak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah...Tapi adalah benar-benar melelahkan untuk memberikan pujian demi tip...Karena mengungkapkan perasaanmu secara jujur pada orang yang kau cintai dan pujian berbeda...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mengerti. Aku akan memberikanmu ini, jadi jangan pergi menyedot pada orang lain, ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku berkata ini tak apa-apa! Aku tak memerlukannya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini perasaanku. Perasaanku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu membuat Jessica yang menolak, mengambil tip. &amp;quot;Terima kasih&amp;quot; bisik Jessica malu-malu dan mengenggam tangan pria tersebut. Pria tersebut lalu mencoba membuat janji kencan dengan Jessica. &amp;quot;Kalau begitu, hari ini, saat toko tutup...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah! Ini tak bagus! Makanan akan hangus...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia mendapatkan apa yang diinginkannya, tiada lagi perlunya dia. Jessica bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, hey...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ayo ngobrol lagi nanti! Jangan jelalatan melihat pada gadis lainnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapkan punggungnya pada pria itu, Jessica menjulurkan lidahnya, Semuanya hanya pura-pura. Setelah Jessica pergo, si pelanggan menghadap teman-temannya dan ber&amp;quot;Iyah, jadi iri seperti itu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise terkagum-kagum. Teknik yang benar-benar mengerikan dari seorang gadis kota yang membuat Kirche terlihat seperti anak kecil. Kemampuan membujuknya, yang membuat orang-orang membayangkan tak peduli seberapa banyak cara dia menunjukkan keiriannya, membuatnya mapu mengumpulkan tip seakan menyapunya dengan sebuah sapu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jessica bukan seorang cantik yang begitu menonjol. Tapi...dia berada di tapal batas yang membuat pria berpikir &#039;Klo segini sih, mungkin bahkan kupun bisa .&amp;quot; Jenis-jenis gadis seperti ini cenderung lebih terkenal di dunia debandingkan dengan orang-orang yang cantik tiada tanding. Louise, yang tengah mengamati, bertemu mata dengan Jessica. Jessica menyeringai dan menunjukkan Louise dia yang menyimpan tip diantara belahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, bahkan jika dia tak berjudi, Saito tetap akan menjadi tak beruang, pikir Louise. Jika gadis kota itu tahu dia punya uang, tiada yang tahu apa yang bakal dilakukannya. Dan familiar bodoh itu...akan digulung dan dijemur dalam sesaat.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memikirkan wajah Siesta, Dia memikirkan wajah Jessica. Dia memikirkan wajah Saito yang melihat pada belahan keduanya. Kayak aku bakal kalah. Louise dengan erat mengepalkan tangannya...membusungkan dada ratanya, dan dengan rusuh bangkit pada kedua kakinya.&lt;br /&gt;
------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi para gadis berlomba untuk jumlah tip seperti itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintu bulu terbuka, dan sekelompok pelanggan baru muncul. Di depan ada pria setengah baya yang mengenakan sebuah mantel yang berarti dia seorang ningrat. Sepertinya dia menggemuk, dan rambut yang menipis tertempel pada dahi mulusnya. Yang bersamanya sepertinya ningrat dari kelas lebih rendah. Mereka memiliki tongkat sihir mirip rapier tergantung pada pinggang mereka, dan ada beberapa ningrat yang mengenakan seragam militer bersama mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat para ningrat masuk, semua yang berada dalam toko hening. Scarron buru-buru ke tamu yang baru sambil menggosok kedua tangannya bersamaan. &amp;quot;Jika ini bukan Chulenne-sama, Selamat datang di penginapan &#039;Peri-peri memesona&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si bangsawan bernama Chulenne membengkokkan kumis mirip lelenya dan membengkokkannya ke belakang. &amp;quot;Hmm, ehem, Toko sepertinya tengah makmur ya, huh, manajer toko?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, tidak. Tak sama sekali. Ini hanya kebetlan saja hari ini. Biasanya, yang terjadi hanyalah suara tekukur. Aku tengah akan segera berdiskusi dengan putriku soal mengunjungi kuil besok untuk mendapatkan permisi untuk menyelamatkan leherku. ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa, hari ini bukanlah hari kerja. kau tak harus membuat alasan begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meminta maaf, Scarron melanjutkan. &amp;quot;itu hanya perkataanku, Chulenne-sama, tapi sebagaimana yang kau lihat, hari ini, toko sudah penuh terisi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tak melihatnya begitu lho.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Chulenne berlebihan seperti itu, para ningrat pengikutnya mengeluarkan tongkat mereka. Para pelanggan, ketakutan oleh ongkat sihir berkilau para bangsawan, bangun dari mabuk mereka, bangkitm dan menghilang dari pintu masuk dengan kecepatan penuh. Toko kosong seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya perkataan soal tekukur benar juga adanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perut yang bergerak-gerak, kelompok Chulenne menduduki meja di tengah. saat Saito menyadarinya, Jessica disampingnya, melihat Chulenne dengan putus asa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa orang itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Chulenne, pengumpul pajak disekitar sini. hanya dengan begini, dia datang ke toko-toko di bawah wewenangnya dan berkerumun di sekitar kami. Seorang yang buruk! Dia takkan membayar satu koin tembaga pun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seperti itukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Berlagak seperti itu hanya karena dia seorang ningrat. Jika kau membuatnya tak senang, dia akan membebani pajak berlebihan padamu dan membangkrutkan tokomu, jadi semuanya mendengarkan apa yang dikatakannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya disetiap dunia, ada orang-orang yang menyalahgunakan kekuatan mereka dan memeras rakyat. Tiada yang datang melayaninya, jadi Chulenne jadi kesal. Setelahnya, dia mulai mengeluh. &amp;quot;Oh! Toko ini tampaknya untung agak besar! Bukankah ini anggur sebuah sake yang difermentasi begitu baik dari Gronyu? pakaian yang dikenakan gadis itu dijahit Gallia! Sepertinya aku harus melihat lagi tingkat pajak tahn ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangsawan yang mengelilinginya ber&amp;quot;itu benar&amp;quot; atau mengangguk setuju pada Chulenne.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apakah tiada gadis yang akan menungakan alkohol pada Pengumpul pajak Yang Mulia Ratu?! Toko ini setidaknya menjual itu, kan?!&amp;quot; teriak Chulenne. Tapi, tiada gadis toko yang menghampirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa yang akan menuang untukmu, saat kau takkan pernah menyerahkan tip apapun tak peduli sebanyak berapapun kau menyentuh mereka?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Jessica menggumamkan itu mengejeknya....Sebuah bayangan kecil yang mengenakan camisole putih menghampirinya sambil membawa nampan dengan anggur. Itu Louise. Dia punya banyak kesalahan...salah satunya adalah &amp;quot;tak bisa membaca keadaan&amp;quot;. Kepalanya penuh dengan &amp;quot;bekerja keras sebagai pelayan&amp;quot; sehingga dia tak terpikir untuk mengerti suasana diantara para pelanggan dan toko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Siapa kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chulenne memandang Louise curiga. Tersenyum, Louise meninggalkan anggur di hadapan Chulenne. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Si-si bodoh itu...&amp;quot; Saito bergumam terkejut sambil memandangnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pak...anda melamun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertingkah seakan mengikuti sebuah panduan, Louise, yang tak bisa membaca keadaan, memujinya, Tapi, sepertinya Chulenne tak menemukan Louise sesuai seleranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ini?! Toko ini menggunakan anak-anak?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa bergerak, Louise memegang camisolenya dan membungkuk. Hanya itulah yang bisa dilakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, Enyahlah, enyahlah. Aku tak perlu anak-anak. Pergilah kau.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito melihat dahi Louise mengernyit. Sepertinya dia marah. Saito berdoa. Louise, jangan meledak! Orang itu terlalu berbahaya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, dilihat lebih dekat, kau bukanlah seorang anak-anak...hanya seorang gadis dnegan dada kecil.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Louise memucat. Kakinya mulai bergetar perlahan. Wajah Chulenne mulai terwarnai nafsu. dan lalu...menjulurkan tangannya pada dada kecil Louise. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, bagaimana kalau Chulenne-sama ini memeriksa dan melihat seberapa besar mereka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat itu...Sebuah telapak kaki meledak pada wajah Chulenne. masih di kursi, Chulenne berguling-guling ke belakang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Me-mengapa kau!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ningrat-ninrat sekeliling menghunus tongkat mereka seketika. Di hadapannya...ada bayangan seorang pemuda yang bahunya berguncang karena amarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saito.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise memandangi punggung Saito, yang bangkit melindunginya. Selama memandangi punggung itu...sesuatu yang hangat mengisi dadanya yang sedang berguncang karena amarah. Sebagaimana diduga, Saito tak bisa menahannya lagi. Louise mencoba sekuat tenaga, kan?  Tuanku tak punya dada, tapi dia manis, kan? Louise yang itu mencoba keras memujmu, dan apa yang kau lakukan? Hanya mengeluh!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mengeluh itu tak apa-apa. Aku juga terkadang berkata-kata. Ini Louise, jadi itu tak bisa dicegah. Tapi...Tapi...Ada satu hal yang tak bisa kumaafkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, orang tua, sudah sajalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Si-sialan kau...ke wajah seorang ningrat, kau...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mau ningrat, pangeran, atau dewa...aku pasti takkan membiarkan mereka melakukannya. Ini hanya khusus untukku. Siapa peduli soal ningrat?! Yang bisa menyentuh Louise hanyalah aku!&amp;quot; teriak Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa bisa dicegah, pipi Louise bersemu merah. Meski kau hanya seorang familiar, hal-hal congkak apa yang kau katakan?! Kau juga tak punya hak untuk itu! dia coba katakan, tapi...dengan alasan tertentu, kata-kata itu tak keluar. Otaknya mengosong, seakan direbus. Bahkan dengan keadaan seperti itu di sekelilingnya, Louise akhirnya melamun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tahan orang-orang itu! Aku akan menggantung mereka!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawahan Chulenne mengepung Saito. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito dengan perlahan mengamati sekelilingnya. &amp;quot;Siapa yang bakal menangkap siapa? Sungguh sial kalian, aku...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sial kenapa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Untung atau sial, aku menerima hal ini yang disebut kekuatan legendaris...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengucapkan itu, dia menggerakkan tangannya ke punggungnya. Dan...menyadari Derflinger, yang seharusnya ada disana, tak disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa bermasalah, Saito menggaruk kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar...Aku meninggalkan si legenda di loteng...Toh, ia hanya akan jadi pengganggu selama mencuci piring.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;tahan dia dan gadis papan cuci itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para bangsawan itu menghunus tongkat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ku-Kup!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tiada kup. Para ningrat yang marah melantunkan mantra mereka. Sebuah tali kecil nampak seperti topan, dan tepat saat ia mencoba mengitari Saito...Sebuah cahaya putih murni berkilat menembus toko dan menerbangkan para bangsawan bersenjata jauh hingga ake pintu masuk. setelah cahaya itu perlahan menghilang...Louise muncul, dengan mengangkat dirinya hingga titik tertinggi di atas meja. Serangan tadi merupakan mantra &amp;quot;Void&amp;quot; Louise, &#039;Ledakan&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekujur tubuhnya berguncang karena marah, tongkat pusaka kesukaannya tengah berkilau di tangannya. Louise mengikatnya pada pahanya dan menyembunyikannya, untuk berjaga-jaga bila sesuatu terjadi. Bingung, para ningrat menjadi panik. Louise berucap dengan nada kecil. &amp;quot;...Papan cuci tak perlu disebut, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suasana hati senangnya yang jarang didapat diterbangkan dengan pernyataan tunggal itu. Dia teringat banyak dari masa lalu gelapnya dnegan kata tunggal &amp;quot;papan cuci&amp;quot; itu. Dia memikirkan belahan Jessica &amp;amp; Siesta dalam pikirannya. Ini keterlaluan. Untuk kau mengatakan sesuatu seperti itu saat seseorang pada akhirnya pergi melayanimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hii! Hiiiiiiii!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Intensitas sang legenda...intensitas &amp;quot;Void&amp;quot; membuat bulu kuduk para bangsawan disana berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa kau harus begitu jauh sampai mengatakan hal itu? Bukankah itu keterlaluan bagimu untuk memanggilku sebuah papan cuci saat aku datang untuk menuangkan kau beberapa alkohol? Kau sebaiknya bersiap-siap!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para bangsawan bergludak-gluduk untuk kabur. Tanpa bergerak, Louise mengayunkan tongkatnya. Permukaan didepan pintu masuk dihancurkan, menciptakan sebuah lubang besar. Seluruh ningrat terperangkap kedalamnya dnegan begitu mulusnya. Para ningrat itu bertumpuk satu sama lain dan menengadah ke atas. Louise perlahan muncul, dan dan para bangsawan mulai berguncang lebih keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Si-siapa kau? Siapa kau? Dari kelompok sihir mana?!&amp;quot; Chulenne, sambil gemetaran, menanyai Louise. Dia tak pernah melihat maupun mendengar soal cahaya yang menerbangkan orang. Tanpa menjawab, Louise mengeluarkan surat izin yang didapatnya dari Henrietta dan menyodorkannya pada wajah Chulenne.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Su-su-surat izin Paduka?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku adalah wanita senat Paduka Ratu, dan dan putri ketiga dari keluarga terpandang yang memiliki sejarah luar biasa. Aku tak punya nama untuk diberikan pada pegawai rendahan sepertimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;A-Aku minta ampun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chulenne membengkokkan tubuh gemuknya  dan memaksa membungkuk dalam lubang. Para ningrat yang terdorong olehnya mengerang. Louise bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lepaskan aku! Setidaknya nyawaku!&amp;quot; Sambil mengatakan itu, Chulenne grusak-grusuk merogohi pakaiannya dan melemparkan seisi dompetnya pada Louise. Dia memohon pada ningrat di sekelilingnya, dan membuat mereka melakukan hal yang sama dan menyerahkan dompet mereka pada Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dengan ini! Lupakan semua yang terjadi! Aku mohon!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa melihat sedikitpun pada dompet-dompet yang terkumpul, Louise menyatakan. &amp;quot;Lupakan semua yang kalian dengar dan lihat hari ini. Kalau tidak, tak peduli berapa banyak nyawa yang kalian punya, ia takkan cukup.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya! Aku bersumpah! Aku bersumpah pada Yang Mulia dan Sang Pendiri bahwa aku takkan menyingkap apa yang terjadi hari ini pada siapapun!&amp;quot; dengan meneriakkan itu, dia keluar dari lubang dengan berguling-guling, lalu Chulenne dan orang-orangnya menghilang di kegelapan malam. Louise dengan tegak kembali kedalam toko. Tepukan pemekak telinga menyerbu Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu luar biasa! Louise-chan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tak tahan dengan wajah Chulenne tadi!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;:Aku merasa tersegarkan! Itu tadi hebat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron, Jessica, dan para gadis toko langsung mengelilingi Louise. Disitu, Louise kembali tersadar, pikiran &amp;quot;Kini aku melakukannya...&amp;quot;, dan kepalanya tergantung malu. Dia lepas kendali saat dia dipanggil sebuah papan cuci. Saito hendak tertangkap, jadi dia melantunkan mantranya tanpa pikir panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menghampirinya dan berbisik padanya. &amp;quot;...Bodoh! Kau seharusnya tak memakai sihir, kan?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Uu...Tapi...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sheesh...Hah, baguslah...Kini kita harus mulai lagi dari nol...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scarron menepuk pundak Louise dan Saito. &amp;quot;Tak apa.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Heh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu Louise-chan adalah seorang ningrat sebelum ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menatap tajam Jessica. Panik, Jessica mengibaskan tangannya di depan wajahnya, memberitahu Saito &amp;quot;Aku tak mengatakan apapun.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ba-bagaimana?&amp;quot; Tanya Louise sambil terpana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena, ya.., itu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para gadis toko mengambil alih dari Scarron. &amp;quot;Itu sangat jelas dari kelakuan dan sikapmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uu, jadi itu...pikir Louise, merasa lemas hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;kau pikir kami sudah berapa lama menjalankan bar ini? Mataku untuk membedakan orang adalah kelas atas. Tapi kau punya alasan tertentu, kan? tenanglah, tiada seorang pun gadis disini yang akan menyingkap rahasia masa lalu temen sekerja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh gadis mengangguk sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi begitu. Pikir Saito. Bukan hanya Jessica yang tajam disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seluruh gadis disini pada nrimo. Itulah mengapa kau bisa tenang...Terus dapetin tip dari sekarang, OK?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mengangguk. Saito merasa lega. Menepuk kedua tangannya bersama, Scarron berkata dengan nada ceria. &amp;quot;Kini! Seluruh pelanggan telah pulang , jadi aku akan mengumumkan hasil lomba tip.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara sorakan membahana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, perhitungan tak perlu, kan?&amp;quot; kata Scarron setelah melihat gundukan dompet yang ditinggalkan Chulenne dan orang-orangnya di tanah. Melihat dompet-dompet itu, Louise menyadari maksud Scarron, Di dalamnya...uang segunung ada disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh? Ini...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tip, kan?&amp;quot; kata Scarron sambil mengedipkan sebelah mata. Lalu dia mencengkram tangan Louise dan mengangkatnya tinggi-tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pemenang! Louise-chan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepuk tangan bergemuruh seisi Toko.&lt;br /&gt;
__________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sore hari berikutnya...Louise tak keluar dari kasurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;hei, ayo pergi bertugas.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku beristirahat hari ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Heh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito memandang hampa padanya. lalu dia berpikir kembali. Yah, sudah agak lama dia tak menggunakan sihir, jadi dia mungkin kelelahan. Sepertinya tak apa-apa bila dia beristirahat hari ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah. Bilang padaku bila kau merasa tak enak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadiah pemenang, Bustier &amp;quot;Peri-Peri Memesona&amp;quot;, digantung di dinding. Meski itu merupakan hadiah...dia hanya bisa mengenakannya hari ini. Yah, bagaimanapun juga, ini sebuah pusaka.&lt;br /&gt;
______________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni tangga, Scarron naik mendatanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh? Apa yang terjadi dengan Louise-chan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya dia berencana untuk beristirahat seharian ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh..tak mungkin, sia-sia saja atuh...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mengapa begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena, dia hanya bisa mengenakannya hari ini. Aku akan memintanya mengembalikannya besok.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sepertinya begitu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau mengenakan itu, kau bisa mendapatkan tip sebanyak yang kau mau...benar-benar sia-sia, sungguh.&amp;quot; menggumamkan itu, Scarron menghilang kedalam toko, yang mulai menjadi riuh.&lt;br /&gt;
__________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito pergi ke cuci-piringnya, tak bisa mengerti apa yang tegah terjadi. Setelah bekerja keras dan menyelesaikan tugasnya, Saito kembali ke loteng. Menengadah dari koridor...cahay tampak menembus papan-papan lantai kamar. Sepertinya Lousie masih bangun. Ada apa dengannya...Meski dia bilang dia tengah kelelahan dan akan beristirahat, dia tak tidur sama sekali. Dia seharusnya mengenakan bustier itu dan menghasilkan beberapa uang kalau begini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendorong papan lantai loteng ke atas, Saito menyembulkan kepalanya. Dan langsung terpana. Kamar telah disapu bersih, dan sepertinya sebuah lap debu digunakan karena tiada debu sedikitpun betebaran. Sampah yang menggunung telah terkumpul di satu titik, dan akamr telah ditata sehingga sepertinya seseorang bisa hidup layak disitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa...yang terjadi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku yang melakukannya, Menjijikkan untuk hidup terus-menerus di tempat kotor.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi suara Louise, Saito semakin terpana. Makanan dan anggur telah ditata di atas meja...dan sebuah lilin meneranginya. Dan cahaya itu...juga menyinari pemilik Saito yang berpakaian sangat indah. Saito menelan ludah. Kelelahan dari pekerjaan harian mulai terbang jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise tengah duduk di kursi di sebelah meja. Menyilangkan kaki, ramutnya telah ia rias dengans ebuah barette seperti dulu. &amp;amp;...penampilan anggunnya juga memasukkan Bustier &amp;quot;Peri-Peri Memesona&amp;quot;. Bustier hitam itu membuat kecantikan Louise lebih gemerlap. Hanya bisa menganga, Saito terus menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seberapa lama kau hendak memasang ekspresi bodoh itu? Ayo, mari makan.&amp;quot; kata Lousie dengan nada tak biasa. Sebuah hidangan telah dibariskan di meja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa ini?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku membuatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito menatap Louise, yang tampak malu. &amp;quot;benarkah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku mendapat Jessica mengajariku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangi Louise, yang bersemu merah dan mengatakan itu, Degup jantung Saito makin kencang. Garis pusat bagian atas Louise menjadis ebuah mesh, membuat kulit putihnya nampak. Bustier hitam memuatnya sempurna, membuat garis-garis tubuhnya makin menonjol. Pannier yang agak pendek terputar ke belakang pada pinggangnya pada tingkat yang bisa dimaafkan. Ini terlihat lebih erotik daripada Louise dalam keadaan telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito tanpa sadar membuang pandangannya. Dia merasa dia bakal jadi gila bila terus menatap. Entah dia bakal jadi gila karena dia sudah jatuh cinta padanya, ataukah karena sihir &amp;quot;Susuk&amp;quot; yang dimantrakan pada bustier, itu tak diketahui Saito, tapi...ada satu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memesona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tanpa bisa mengatakan itu, Saito bicara dengan nada marah. &amp;quot;...Bukankah kau akan mengenakan itu dan melayani pelanggan sepuas hatimu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika aku memperbolehkan mereka menyentuh, kau akan menamparku, kan?&amp;quot; balas Louise dengan  sikap mencibir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya sudah, ayo makan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saito mengangguk, dan mulai melahap makanan buatan Louise. Tapi...darah telah membanjiri kepalanya dan mencegahnya dari merasakan rasa. Ini mungkin buruk. Tapi, bagaimanapun, ini tak apa-apa. Louise membuatnya. Itu sebuah kemajuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana rasanya?&amp;quot; tanya Louise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bu-bukankah ini lezat?&amp;quot; jawab Saito dalam sikap untuk menghindari poin utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku membersihkan kamar. bagaimana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Whew, Ini sesuatu...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi, bagaimana tentang, aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersender pada sikunya, Louise bersender dan menatap Saito. Cahaya pagi merekah merajai pagi. Sinarnya menyelimuti loteng, meneranginya. Dia telah menutup mulutnya dengan lugas hingga kini, tapi Saito akhirnya memikirkan beberapa kata. &amp;quot;Très bien.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Setidaknya puji aku dengan kata yang berbeda.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Louise mendesah. Benarkah sihir susuk dimantrakan pada ini? Apa? Meski aku berpikir untuk mendapatinya memperlakukanku dengan lembut. Kelakuannya masih sama seperti dulu. Seakan dia marah, seakan dia terganggu, tingkah semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membosankan. Kupikir dia akan akan menjunjungku tinggi-tinggi bagaikan seorang tolol jika aku mengenakan ini. Lalu aku akan memperlakukannya sedingin mungkin. Terlalu telat sekarang untuk menyadari seberapa memesonanya tuanmu ini! Apa, tolol? Jangan menyentuhku. Tapi, ya...saat kau bilang &amp;quot;Yang bisa menyentuh Louise hanya aku!&amp;quot;, aku sedikit bahagia karena alasan tertentu, jadi aku akan memperbolehkannya sedikit, tapi hanya sedikit. hanya sedikit, mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia membayangkan itu, meki dia sudah menghabiskan seharian untuk bersiap-siap, Saito hanya melihat ke arah lain...Betapa membosankan pikir Louise kesal...Pada akhirnya, Louise tak pernah menyadarinya...Saito sudah menggila cintanya padanya sedari dulu...jadi sihir &amp;quot;susuk&amp;quot; itu sudah tak berarti.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5&amp;diff=435037</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5&amp;diff=435037"/>
		<updated>2015-04-03T07:34:22Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Ilustrasi Novel==&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima:Volume5_Illustrations|Ilustrasi Novel}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab1}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab2}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab3}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot; &lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| [[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4|Sebelumnya ke Volume 4]] &lt;br /&gt;
| [[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version|Kembali ke Halaman utama]] &lt;br /&gt;
| [[Selanjutnya ke Volume 6]] &lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435035</id>
		<title>Zero no Tsukaima (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435035"/>
		<updated>2015-04-03T07:29:31Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: /* Staf Proyek */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:Znt novel cover.jpg|300px|thumb|Vol.One Cover]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;DILARANG KERAS MENJUAL TERJEMAHAN INI DALAM BENTUK APAPUN. INI ADALAH TERJEMAHAN GRATIS OLEH PENERJEMAH DAN PENYUNTING BUKAN UNTUK KEGIATAN KOMERSIAL&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seri &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; juga terdapat dalam berbagai bahasa:&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima|English (Inggris)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero no Tsukaima - Français|Français (Perancis)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_%7EItalian_Version%7E|Italiano (Italia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_wersja_polska|Polski (Polandia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_%7EVersi%C3%B3n_Espa%C3%B1ola%7E|Español (Spanyol)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Deutsche Version|Deutsch (Jerman)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Korean_Version|한국어 (Korea)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_~Russian_Version~|Русский (Russia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Tiếng Việt|Tiếng Việt (Vietnam)]]&lt;br /&gt;
(Nb: Proses penerjemahan mungkin berbeda tergantung versinya masing-masing.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunjungi [http://www.baka-tsuki.org/forums Baka-Tsuki Project Forum] untuk mendiskusikan seri ini dan informasi lainnya dari Baka-Tsuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penerjemah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Dibutuhkan Para Penerjemah Nganggur! ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Baka-Tsuki sangat mencari para penerjemah untuk seri ini.&#039;&#039;&#039; Jika berkeinginan untuk menerjemahkan seri ini, kirimkan posting anda di [http://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=29&amp;amp;t=2843 forum], dan kami akan membantumu untuk memulainya, terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero no Tsukaima Registration versi Indonesia|Registrasi]]===&lt;br /&gt;
Penerjemah di minta untuk menandai semua bab yang mereka inginkan untuk diterjemahkan di [[Zero no Tsukaima Registration versi Indonesia|Registration Page]] berdasarkan [[Zero_no_Tsukaima:Guideline#Translation_Management|Translation Management]] sesi dari &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; [[Zero_no_Tsukaima:Guideline|Project Specific Guidelines]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Standar Format===&lt;br /&gt;
Setiap bab (setelah di edit) harus dikonfirmasikan lagi sampai memenuhi standar format. Lihat [[Format_guideline|Format/Style Guideline]] dan [http://www.baka-tsuki.net/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima:guidelines Naming Conventions For ZnT].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pengumuman==&lt;br /&gt;
Dengan berat hati kami sampaikan bahwa Noboru Yamaguchi, penulis dari &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; meninggal karena kanker pada 4 April, 2013. Karenanya, seri ini tetap tidak terselesaikan pada 20 volume dan kemungkinan besar tidak akan ada lagi terbitan baru setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;AC/DC RULES&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*September 29, 2009:&lt;br /&gt;
:* Jilid 1 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!!&lt;br /&gt;
*xxxber xx, 2009:&lt;br /&gt;
:* Jilid 2 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!!&lt;br /&gt;
*April 3, 2010 - jam 2.20:&lt;br /&gt;
:* Jilid 3 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!! Ingat!! masih ada banyak kesalahan, mohon bantuan untuk perbaikannya. khusus obakasan n altux, makasih dah nerjemahin&lt;br /&gt;
*Mei 5,2011 &lt;br /&gt;
:* Baru lihat Jilid 4 udah diselesaikan, akhirnya udah sampai sejauh ini, terima kasih buat para penerjemah, pembaca, dan pendukung zero no tsukaima versi Indonesia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Oktober 16,2011 &lt;br /&gt;
Buku ke-5 beres...jadi udah 5 buku dalam 3 tahun, semoga ada yang bisa nerusin, terima kasih buat mereka yang membaca, mendukung dan nerjemahin.  THANKS BANGET BRO!!! Ingat!! masih  ada banyak kesalahan, mohon bantuan untuk perbaikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Seri [http://id.wikipedia.org/wiki/Zero_no_Tsukaima &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039;] oleh [http://en.wikipedia.org/wiki/Noboru_Yamaguchi_(author) Noboru Yamaguchi]==&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1|Jilid 1 - Familiarnya si Zero / ゼロの使い魔]]=== &lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Insert_&amp;amp;_Back Cover|Insert &amp;amp; Back Cover]]&lt;br /&gt;
:*&#039;&#039;&#039;Kerajaan sihir&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab1|Bab 1 - Aku Seorang Familiar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab2|Bab 2 - Louise si Zero]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab3|Bab 3 - Legenda]] &lt;br /&gt;
:*&#039;&#039;&#039;Gandálfr&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab4|Bab 4 - Hari Familiar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab5|Bab 5 - Kirche si Ardent]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab6|Bab 6 - Penjual Senjata Tristain]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab7|Bab 7 - Fouquet si Crumbling Earth]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab8|Bab 8 - Tongkat Penghancur]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2|Jilid 2 - Albion Si Negeri Angin / 風のアルビオン]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab1|Bab 1 - Kapal Rahasia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab2|Bab 2 - Kemurungan Baginda Ratu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab3|Bab 3 - Permintaan Teman Masa Kecil]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab4|Bab 4 - Kota Pelabuhan - La Rochelle]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab5|Bab 5 - Sehari Sebelum Berangkat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab6|Bab 6 - Negeri Putih]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab7|Bab 7 - Pangeran dari Negeri yang Sekarat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab8|Bab 8 - Pesta di Newcastle Sebelum Pertarungan Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab9|Bab 9 - Pertarungan Terakhir]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3|Jilid 3 - Buku Doa Sang Founder / 始祖の祈祷書]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab1|Bab 1 - Garis Keturunan Sang Zero]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab2|Bab 2 - Penyakit Cinta Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab3|Bab 3 - Buku Doa Sang Founder]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab4|Bab 4 - Cinta Segitiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab5|Bab 5 - Keluarga Kerajaan dan Senjata Rahasia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab6|Bab 6 - Memburu Harta Karun]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab7|Bab 7 - Pakaian Naga]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab8|Bab 8 - Laboratorium Tuan Colbert]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab9|Bab 9 - Deklarasi Perang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab10|Bab 10 - Sang Void]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4|Jilid 4 - Saksi Janji Sang Arwah Air / 誓約の水精霊]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Illustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Pengantar|Pengantar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab1|Bab 1 - Orang Suci]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab2|Bab 2 - Saito Pergi Berbelanja di Kota yang Penuh Keramaian]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab3|Bab 3 - Baju Pelaut dan Kecemburuan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab4|Bab 4 - Rahasia Tabitha]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab5|Bab 5 - Kekuatan Obat Cinta]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab6|Bab 6 - Arwah Air]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab7|Bab 7 - Cincin Andvari]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab8|Bab 8 - Reuni yang Kebohongan Semata]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab9|Bab 9 - Sengketa Kesedihan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5|Jilid 5 - Hari Libur Tristania / トリスタニアの休日]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume5_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab1|Bab 1 - Penginapan &amp;quot;Charming Fairies&amp;quot;]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab2|Bab 2 - Pertempuran dengan Api dan Pertemanan dengan Angin]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab3|Bab 3 - Hari Libur Tristania]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6|Jilid 6 - Batu Ruby Penebusan Kesalahan / 贖罪の炎赤石]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume6_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab1|Bab 1 - Pulang Kampung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab2|Bab 2 - Cattleya]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab3|Bab 3 - Adipati de La Vallière]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab4|Bab 4 - Opsir Pemerintah Guiche dan Opsir Kadet Malicorne]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab5|Bab 5 - Api Dua Puluh Tahun yang Lalu - (5%)]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab6|Bab 6 - Serangan Tiba-Tiba]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab7|Bab 7 - Ilusi di Dartanes]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab8|Bab 8 - Penebusan Dosa Api]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 7 – Pentakosta Perak / 銀の降臨祭===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume7_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab1|Bab 1 - Perbedaan Suhu di Antara Dua Orang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab2|Bab 2 - Peri]] --- 3%&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab3|Bab 3 - Pendeta Shinto Priest Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab4|Bab 4 - Sekretaris dan Kaisar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab5|Bab 5 - Gotha Selatan si Kota Sejarah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab6|Bab 6 - Gencatan Senjata]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab7|Bab 7 - Alasan untuk Bertarung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab8|Bab 8 - Raja Gallia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab9|Bab 9 - Mengalah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab10|Bab 10 - Tempat untuk Keberanian]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 8 – Rayuan Musik Nostalgia / 望郷の小夜曲===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume8_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab1|Bab 1 - Akhir dari Perang tiap Pihak]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab2|Bab 2 - Pagi Saito]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab3|Bab 3 - Elf Emas]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab4|Bab 4 - Kunjungan Sang Pendeta ]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab5|Bab 5 - Gandalfr yang Menghilang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab6|Bab 6 - Konferensi Negara-Negara]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab7|Bab 7 - Keputusan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab8|Bab 8 - Para Pengguna Void]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab9|Bab 9 - Myoznitnir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab10|Bab 10 - Ksatria Pedang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 9 - Pesta Dansa Bulan Kembar/ 双月の舞踏会===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume9_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab1|Bab 1 - Ketakutan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab2|Bab 2 - Elf Hutan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab3|Bab 3 - Pertemuan dan Perpisahan Para Pengguna]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab4|Bab 4 - Gelar Chevalier]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab5|Bab 5 - Ondine ・ Kesatuan Satria Arwah Air]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab6|Bab 6 - Perasaan Sang Ratu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab7|Bab 7 - Permohonan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab8|Bab 8 - Pesta Dansa Sleipnir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab9|Bab 9 - Pertempuran dengan Burung Misterius]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 10 - Pahlawan Ivaldi / イーヴァルディの勇者===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume10_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab1|Bab 1 - Ostland]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab2|Bab 2 - Si Elf]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab3|Bab 3 - Kegelisahan dan Kecemburuan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab4|Bab 4 - Ratu dan Ksatria]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab5|Bab 5 - Saudara Kandung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab6|Bab 6 - Enam serangkai yang Dipenjara]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab7|Bab 7 - Penyelesaian Masa Lalu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab8|Bab 8 - Rumah Tua Orléans]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab9|Bab 9 - Benteng Alhambra]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab10|Bab 10 - Pahlawan Ivaldi]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Catatan_kaki|Catatan_kaki]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Catatan_penerjemah|Catatan_penerjemah]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 11 - Sebuah Pasangan Ingatan  / 追憶の二重奏===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume11_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab1|Bab 1 - Von Zerbst]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab2|Bab 2 - Ratu dan Adipati]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab3|Bab 3 - Karin si Angin Ribut]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab4|Bab 4 - Keluarga Vallière]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab5|Bab 5 - Aturan Baru Sekolah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab6|Bab 6 - Les Privat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab7|Bab 7 - Pope Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab8|Bab 8 - Jörmungand]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab9|Bab 9 - Reuni di Westwood]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab10|Bab 10 - Hati Pasangan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 12 – Hari Libur Peri Kecil / 妖精達の休日===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume12_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Pembukaan&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Murid Baru di Negara Putih (Albion)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
::*Bab 3&lt;br /&gt;
::* Bab 4&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Serang, Kesatuan Satria Arwah Air!&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Hak untuk Menggunakan Saito selama Satu Hari&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 13 - The Pintu Dunia si Negeri Suci / 聖国の世界扉===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume13_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab1|Bab 1 - Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab2|Bab 2 - Keputusan Saito]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab3|Bab 3 - Berangkatkan &#039;&#039;Ostland&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab4|Bab 4 - Dua Kesatuan Satria]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab5|Bab 5 - Ajakan Paus]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab6|Bab 6 - Tombak Panjang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab7|Bab 7 - Pintu Dunia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab8|Bab 8 - Arti Senyuman]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 14 – Orang Suci Aquileia / 水都市の聖女===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume14_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 – Pemberontakan Skuadron Flowerbed&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Upacara Penobatan Ke-tiga&lt;br /&gt;
::*Bab 3 -  Gandalfr Peri&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Ibukota Air&lt;br /&gt;
::*Bab 5 – Enam Ribu Tahun yang Lalu&lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Jalan Besar Macan&lt;br /&gt;
::*Bab 7 – Orang Suci Aquileia&lt;br /&gt;
::*Bab 8 – Macan Besi &lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Memori Ikatan&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 15 -  Labirin Oblivion / 忘却の夢迷宮===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume15_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - Carcassonne&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Kontes Satria Sandbank&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - Linglung&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Permata Api&lt;br /&gt;
::*Bab 5 – Bulan Madu&lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Malam Panjangnya Tabitha&lt;br /&gt;
::*Bab 7 – Taktik Diplomatik Henrietta&lt;br /&gt;
::*Bab 8 - Penobatan&lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Pintu Keluar Labirin&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 16 – Waktu Teh Des Ornières / ド・オルニエールの安穏===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume16_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 – Hadiah dari Kampanye &amp;lt;!--/ 戦の恩賞--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Mencari Tempat Tinggal &amp;lt;!--お屋敷探し--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - Kemulungan Henrietta, Kegelisahan Louise, Kenaikan Jabatan Saito &amp;lt;!--アンリエッタの憂鬱、ルイズの不安、才人の出世--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Ibu dan Keponakan &amp;lt;!--/母と従姉--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 5 - Saito Chevalier De Hiraga Des Ornières &amp;lt;!--/ サイト・シュヴァリエ・ド・ヒラガ・ド・オルニエール--&amp;gt; &lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Waktu The Sehari-hari &amp;lt;!--/ 安穏の日々--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 7 - Akademi Eléonore &amp;lt;!--/ アカデミーのエレオノール--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 8 – Ruangan Bawah Tanah Rumah &amp;lt;!--/ 屋敷の地下室--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Pertemuan Rahasia &amp;lt;!--/ 密会--&amp;gt; &lt;br /&gt;
::*Bab 10 - 元素の兄弟&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 17 - Soeur Sang Petang / 黎明の修道女===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume17_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 1 - Keputusasaan Saito &amp;lt;!--才人の絶望--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 2 - Penerbangan &amp;lt;!--逃避行--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 3 - Pertemuan dan sahabat &amp;lt;!--仲間と出会い--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 - Sulpice &amp;lt;!--シュルピス--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 5 - Pertemuan Pertama dengan Jack&amp;lt;!--ジャックとの初対戦--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 6 - Damien dan Lord Gondrin &amp;lt;!--ダミアンとゴンドラン卿--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 7 - Soeur Louise &amp;lt;!--修道女ルイズ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 8 - Resolusi Josette&amp;lt;!--ジョゼットの決心--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 9 - Dua Tongkat, Satu mahkota&amp;lt;!--二本の杖、一つの王冠--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 10 - Pesta Kebun untuk Merayakan Penobatan&amp;lt;!--即位祝賀口遊会--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 11 - Ikatan &amp;lt;!--絆--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Epilog&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 18 - Batu Jiwa Kehancuran / 滅亡の精霊石===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume18_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 1 - Pasangan&amp;lt;!--恋人--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 2 - Fouquet dan Wardes &amp;lt;!--ワルドとフーケ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 3 - Pesta Kebun Josette&amp;lt;!--ジョゼットの園遊会--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 - Strategi &amp;lt;!--策謀--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 5 - Pengakuan Paus&amp;lt;!--教皇の告白--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 6 - Batu Jiwa Kehancuran &amp;lt;!--破滅の精霊石--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 7 - Rumah Kami &amp;lt;!--我が家--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 8 - Elf Sahara &amp;lt;!--サハラのエルフ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 9 - Pertemuan Kebetulan &amp;lt;!--邂逅--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 1 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume1_cerita1|Story 1 - Tabitha dan Pterosaur (0.5%)]]&lt;br /&gt;
::*Story 2 - Tabitha and Sang Vampir&lt;br /&gt;
::*Story 3 - Tabitha and Sang Assassin&lt;br /&gt;
::*Story 4 - Tabitha and Si Boneka Sihir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 2 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険2===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_cerita5|Story 5 - Tabitha dan Si Penjudi]]&lt;br /&gt;
::*Story 6 - Tabitha and Si Minotaur&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_BabTambahan|Bab Tambahan - Sehari di hidup Sylphid]]&lt;br /&gt;
::*Story 7 - Tabitha dan Si Burung dari Surga &lt;br /&gt;
::*Story 8 - Tabitha dan Pelabuhan Kapal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 3 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険3===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Story 9 - Tabitha dan Sylphid&lt;br /&gt;
::*Story 10 - Tabitha dan Sang Ksatria Tua &lt;br /&gt;
::*Story 11 - Tabitha dan Cinta Pertama&lt;br /&gt;
::*Story 12 - Kelahiran Tabitha&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Staf Proyek==&lt;br /&gt;
*Manajer Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Pengawas Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Tukang Bantu + Edit: [[User:Suparman|Suparman hahaha]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penerjemah===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;AKTIF&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[User:Altux|Altux]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;TIDAK AKTIF&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[User:Masterdiki|Masterdiki]]&lt;br /&gt;
::*[[User:Obakasan|Obakasan]]&lt;br /&gt;
::*[[User:Prinzwit|Prinzwit]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penyunting===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[White Line|White Line]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Zero no Tsukaima:Series Overview|Informasi ISBN]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Light novel (Indonesian)]]&lt;br /&gt;
[[Category:Indonesian]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume6&amp;diff=435029</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume6&amp;diff=435029"/>
		<updated>2015-04-03T07:24:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: Created page with &amp;quot;{{:Zero_no_Tsukaima:Volume6_Illustrations}} {{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab1}} {{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab2}} {{:Zero_no_Tsukaima...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{:Zero_no_Tsukaima:Volume6_Illustrations}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab1}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab2}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab2}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab3}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab4}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab5}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab6}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab7}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab8}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot; &lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| [[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5|Sebelumnya ke Volume 5]] &lt;br /&gt;
| [[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version|Kembali ke Halaman utama]] &lt;br /&gt;
| [[Selanjutnya ke Volume 7]] &lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435027</id>
		<title>Zero no Tsukaima (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435027"/>
		<updated>2015-04-03T07:17:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: /* Jilid 6 - Batu Ruby Penebusan Kesalahan / 贖罪の炎赤石 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:Znt novel cover.jpg|300px|thumb|Vol.One Cover]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;DILARANG KERAS MENJUAL TERJEMAHAN INI DALAM BENTUK APAPUN. INI ADALAH TERJEMAHAN GRATIS OLEH PENERJEMAH DAN PENYUNTING BUKAN UNTUK KEGIATAN KOMERSIAL&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seri &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; juga terdapat dalam berbagai bahasa:&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima|English (Inggris)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero no Tsukaima - Français|Français (Perancis)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_%7EItalian_Version%7E|Italiano (Italia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_wersja_polska|Polski (Polandia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_%7EVersi%C3%B3n_Espa%C3%B1ola%7E|Español (Spanyol)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Deutsche Version|Deutsch (Jerman)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Korean_Version|한국어 (Korea)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_~Russian_Version~|Русский (Russia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Tiếng Việt|Tiếng Việt (Vietnam)]]&lt;br /&gt;
(Nb: Proses penerjemahan mungkin berbeda tergantung versinya masing-masing.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunjungi [http://www.baka-tsuki.org/forums Baka-Tsuki Project Forum] untuk mendiskusikan seri ini dan informasi lainnya dari Baka-Tsuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penerjemah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Dibutuhkan Para Penerjemah Nganggur! ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Baka-Tsuki sangat mencari para penerjemah untuk seri ini.&#039;&#039;&#039; Jika berkeinginan untuk menerjemahkan seri ini, kirimkan posting anda di [http://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=29&amp;amp;t=2843 forum], dan kami akan membantumu untuk memulainya, terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero no Tsukaima Registration versi Indonesia|Registrasi]]===&lt;br /&gt;
Penerjemah di minta untuk menandai semua bab yang mereka inginkan untuk diterjemahkan di [[Zero no Tsukaima Registration versi Indonesia|Registration Page]] berdasarkan [[Zero_no_Tsukaima:Guideline#Translation_Management|Translation Management]] sesi dari &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; [[Zero_no_Tsukaima:Guideline|Project Specific Guidelines]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Standar Format===&lt;br /&gt;
Setiap bab (setelah di edit) harus dikonfirmasikan lagi sampai memenuhi standar format. Lihat [[Format_guideline|Format/Style Guideline]] dan [http://www.baka-tsuki.net/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima:guidelines Naming Conventions For ZnT].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pengumuman==&lt;br /&gt;
Dengan berat hati kami sampaikan bahwa Noboru Yamaguchi, penulis dari &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; meninggal karena kanker pada 4 April, 2013. Karenanya, seri ini tetap tidak terselesaikan pada 20 volume dan kemungkinan besar tidak akan ada lagi terbitan baru setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;AC/DC RULES&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*September 29, 2009:&lt;br /&gt;
:* Jilid 1 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!!&lt;br /&gt;
*xxxber xx, 2009:&lt;br /&gt;
:* Jilid 2 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!!&lt;br /&gt;
*April 3, 2010 - jam 2.20:&lt;br /&gt;
:* Jilid 3 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!! Ingat!! masih ada banyak kesalahan, mohon bantuan untuk perbaikannya. khusus obakasan n altux, makasih dah nerjemahin&lt;br /&gt;
*Mei 5,2011 &lt;br /&gt;
:* Baru lihat Jilid 4 udah diselesaikan, akhirnya udah sampai sejauh ini, terima kasih buat para penerjemah, pembaca, dan pendukung zero no tsukaima versi Indonesia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Oktober 16,2011 &lt;br /&gt;
Buku ke-5 beres...jadi udah 5 buku dalam 3 tahun, semoga ada yang bisa nerusin, terima kasih buat mereka yang membaca, mendukung dan nerjemahin.  THANKS BANGET BRO!!! Ingat!! masih  ada banyak kesalahan, mohon bantuan untuk perbaikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Seri [http://id.wikipedia.org/wiki/Zero_no_Tsukaima &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039;] oleh [http://en.wikipedia.org/wiki/Noboru_Yamaguchi_(author) Noboru Yamaguchi]==&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1|Jilid 1 - Familiarnya si Zero / ゼロの使い魔]]=== &lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Insert_&amp;amp;_Back Cover|Insert &amp;amp; Back Cover]]&lt;br /&gt;
:*&#039;&#039;&#039;Kerajaan sihir&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab1|Bab 1 - Aku Seorang Familiar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab2|Bab 2 - Louise si Zero]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab3|Bab 3 - Legenda]] &lt;br /&gt;
:*&#039;&#039;&#039;Gandálfr&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab4|Bab 4 - Hari Familiar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab5|Bab 5 - Kirche si Ardent]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab6|Bab 6 - Penjual Senjata Tristain]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab7|Bab 7 - Fouquet si Crumbling Earth]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab8|Bab 8 - Tongkat Penghancur]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2|Jilid 2 - Albion Si Negeri Angin / 風のアルビオン]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab1|Bab 1 - Kapal Rahasia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab2|Bab 2 - Kemurungan Baginda Ratu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab3|Bab 3 - Permintaan Teman Masa Kecil]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab4|Bab 4 - Kota Pelabuhan - La Rochelle]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab5|Bab 5 - Sehari Sebelum Berangkat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab6|Bab 6 - Negeri Putih]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab7|Bab 7 - Pangeran dari Negeri yang Sekarat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab8|Bab 8 - Pesta di Newcastle Sebelum Pertarungan Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab9|Bab 9 - Pertarungan Terakhir]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3|Jilid 3 - Buku Doa Sang Founder / 始祖の祈祷書]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab1|Bab 1 - Garis Keturunan Sang Zero]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab2|Bab 2 - Penyakit Cinta Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab3|Bab 3 - Buku Doa Sang Founder]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab4|Bab 4 - Cinta Segitiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab5|Bab 5 - Keluarga Kerajaan dan Senjata Rahasia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab6|Bab 6 - Memburu Harta Karun]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab7|Bab 7 - Pakaian Naga]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab8|Bab 8 - Laboratorium Tuan Colbert]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab9|Bab 9 - Deklarasi Perang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab10|Bab 10 - Sang Void]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4|Jilid 4 - Saksi Janji Sang Arwah Air / 誓約の水精霊]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Illustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Pengantar|Pengantar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab1|Bab 1 - Orang Suci]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab2|Bab 2 - Saito Pergi Berbelanja di Kota yang Penuh Keramaian]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab3|Bab 3 - Baju Pelaut dan Kecemburuan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab4|Bab 4 - Rahasia Tabitha]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab5|Bab 5 - Kekuatan Obat Cinta]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab6|Bab 6 - Arwah Air]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab7|Bab 7 - Cincin Andvari]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab8|Bab 8 - Reuni yang Kebohongan Semata]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab9|Bab 9 - Sengketa Kesedihan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5|Jilid 5 - Hari Libur Tristania / トリスタニアの休日]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume5_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab1|Bab 1 - Penginapan &amp;quot;Charming Fairies&amp;quot;]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab2|Bab 2 - Pertempuran dengan Api dan Pertemanan dengan Angin]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab3|Bab 3 - Hari Libur Tristania]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6|Jilid 6 - Batu Ruby Penebusan Kesalahan / 贖罪の炎赤石]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume6_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab1|Bab 1 - Pulang Kampung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab2|Bab 2 - Cattleya]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab3|Bab 3 - Adipati de La Vallière]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab4|Bab 4 - Opsir Pemerintah Guiche dan Opsir Kadet Malicorne]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab5|Bab 5 - Api Dua Puluh Tahun yang Lalu - (5%)]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab6|Bab 6 - Serangan Tiba-Tiba]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab7|Bab 7 - Ilusi di Dartanes]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab8|Bab 8 - Penebusan Dosa Api]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 7 – Pentakosta Perak / 銀の降臨祭===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume7_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab1|Bab 1 - Perbedaan Suhu di Antara Dua Orang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab2|Bab 2 - Peri]] --- 3%&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab3|Bab 3 - Pendeta Shinto Priest Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab4|Bab 4 - Sekretaris dan Kaisar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab5|Bab 5 - Gotha Selatan si Kota Sejarah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab6|Bab 6 - Gencatan Senjata]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab7|Bab 7 - Alasan untuk Bertarung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab8|Bab 8 - Raja Gallia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab9|Bab 9 - Mengalah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab10|Bab 10 - Tempat untuk Keberanian]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 8 – Rayuan Musik Nostalgia / 望郷の小夜曲===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume8_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab1|Bab 1 - Akhir dari Perang tiap Pihak]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab2|Bab 2 - Pagi Saito]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab3|Bab 3 - Elf Emas]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab4|Bab 4 - Kunjungan Sang Pendeta ]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab5|Bab 5 - Gandalfr yang Menghilang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab6|Bab 6 - Konferensi Negara-Negara]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab7|Bab 7 - Keputusan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab8|Bab 8 - Para Pengguna Void]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab9|Bab 9 - Myoznitnir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab10|Bab 10 - Ksatria Pedang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 9 - Pesta Dansa Bulan Kembar/ 双月の舞踏会===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume9_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab1|Bab 1 - Ketakutan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab2|Bab 2 - Elf Hutan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab3|Bab 3 - Pertemuan dan Perpisahan Para Pengguna]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab4|Bab 4 - Gelar Chevalier]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab5|Bab 5 - Ondine ・ Kesatuan Satria Arwah Air]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab6|Bab 6 - Perasaan Sang Ratu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab7|Bab 7 - Permohonan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab8|Bab 8 - Pesta Dansa Sleipnir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab9|Bab 9 - Pertempuran dengan Burung Misterius]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 10 - Pahlawan Ivaldi / イーヴァルディの勇者===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume10_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab1|Bab 1 - Ostland]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab2|Bab 2 - Si Elf]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab3|Bab 3 - Kegelisahan dan Kecemburuan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab4|Bab 4 - Ratu dan Ksatria]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab5|Bab 5 - Saudara Kandung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab6|Bab 6 - Enam serangkai yang Dipenjara]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab7|Bab 7 - Penyelesaian Masa Lalu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab8|Bab 8 - Rumah Tua Orléans]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab9|Bab 9 - Benteng Alhambra]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab10|Bab 10 - Pahlawan Ivaldi]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Catatan_kaki|Catatan_kaki]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Catatan_penerjemah|Catatan_penerjemah]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 11 - Sebuah Pasangan Ingatan  / 追憶の二重奏===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume11_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab1|Bab 1 - Von Zerbst]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab2|Bab 2 - Ratu dan Adipati]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab3|Bab 3 - Karin si Angin Ribut]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab4|Bab 4 - Keluarga Vallière]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab5|Bab 5 - Aturan Baru Sekolah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab6|Bab 6 - Les Privat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab7|Bab 7 - Pope Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab8|Bab 8 - Jörmungand]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab9|Bab 9 - Reuni di Westwood]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab10|Bab 10 - Hati Pasangan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 12 – Hari Libur Peri Kecil / 妖精達の休日===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume12_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Pembukaan&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Murid Baru di Negara Putih (Albion)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
::*Bab 3&lt;br /&gt;
::* Bab 4&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Serang, Kesatuan Satria Arwah Air!&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Hak untuk Menggunakan Saito selama Satu Hari&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 13 - The Pintu Dunia si Negeri Suci / 聖国の世界扉===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume13_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab1|Bab 1 - Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab2|Bab 2 - Keputusan Saito]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab3|Bab 3 - Berangkatkan &#039;&#039;Ostland&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab4|Bab 4 - Dua Kesatuan Satria]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab5|Bab 5 - Ajakan Paus]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab6|Bab 6 - Tombak Panjang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab7|Bab 7 - Pintu Dunia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab8|Bab 8 - Arti Senyuman]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 14 – Orang Suci Aquileia / 水都市の聖女===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume14_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 – Pemberontakan Skuadron Flowerbed&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Upacara Penobatan Ke-tiga&lt;br /&gt;
::*Bab 3 -  Gandalfr Peri&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Ibukota Air&lt;br /&gt;
::*Bab 5 – Enam Ribu Tahun yang Lalu&lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Jalan Besar Macan&lt;br /&gt;
::*Bab 7 – Orang Suci Aquileia&lt;br /&gt;
::*Bab 8 – Macan Besi &lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Memori Ikatan&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 15 -  Labirin Oblivion / 忘却の夢迷宮===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume15_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - Carcassonne&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Kontes Satria Sandbank&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - Linglung&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Permata Api&lt;br /&gt;
::*Bab 5 – Bulan Madu&lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Malam Panjangnya Tabitha&lt;br /&gt;
::*Bab 7 – Taktik Diplomatik Henrietta&lt;br /&gt;
::*Bab 8 - Penobatan&lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Pintu Keluar Labirin&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 16 – Waktu Teh Des Ornières / ド・オルニエールの安穏===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume16_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 – Hadiah dari Kampanye &amp;lt;!--/ 戦の恩賞--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Mencari Tempat Tinggal &amp;lt;!--お屋敷探し--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - Kemulungan Henrietta, Kegelisahan Louise, Kenaikan Jabatan Saito &amp;lt;!--アンリエッタの憂鬱、ルイズの不安、才人の出世--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Ibu dan Keponakan &amp;lt;!--/母と従姉--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 5 - Saito Chevalier De Hiraga Des Ornières &amp;lt;!--/ サイト・シュヴァリエ・ド・ヒラガ・ド・オルニエール--&amp;gt; &lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Waktu The Sehari-hari &amp;lt;!--/ 安穏の日々--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 7 - Akademi Eléonore &amp;lt;!--/ アカデミーのエレオノール--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 8 – Ruangan Bawah Tanah Rumah &amp;lt;!--/ 屋敷の地下室--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Pertemuan Rahasia &amp;lt;!--/ 密会--&amp;gt; &lt;br /&gt;
::*Bab 10 - 元素の兄弟&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 17 - Soeur Sang Petang / 黎明の修道女===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume17_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 1 - Keputusasaan Saito &amp;lt;!--才人の絶望--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 2 - Penerbangan &amp;lt;!--逃避行--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 3 - Pertemuan dan sahabat &amp;lt;!--仲間と出会い--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 - Sulpice &amp;lt;!--シュルピス--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 5 - Pertemuan Pertama dengan Jack&amp;lt;!--ジャックとの初対戦--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 6 - Damien dan Lord Gondrin &amp;lt;!--ダミアンとゴンドラン卿--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 7 - Soeur Louise &amp;lt;!--修道女ルイズ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 8 - Resolusi Josette&amp;lt;!--ジョゼットの決心--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 9 - Dua Tongkat, Satu mahkota&amp;lt;!--二本の杖、一つの王冠--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 10 - Pesta Kebun untuk Merayakan Penobatan&amp;lt;!--即位祝賀口遊会--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 11 - Ikatan &amp;lt;!--絆--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Epilog&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 18 - Batu Jiwa Kehancuran / 滅亡の精霊石===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume18_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 1 - Pasangan&amp;lt;!--恋人--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 2 - Fouquet dan Wardes &amp;lt;!--ワルドとフーケ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 3 - Pesta Kebun Josette&amp;lt;!--ジョゼットの園遊会--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 - Strategi &amp;lt;!--策謀--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 5 - Pengakuan Paus&amp;lt;!--教皇の告白--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 6 - Batu Jiwa Kehancuran &amp;lt;!--破滅の精霊石--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 7 - Rumah Kami &amp;lt;!--我が家--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 8 - Elf Sahara &amp;lt;!--サハラのエルフ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 9 - Pertemuan Kebetulan &amp;lt;!--邂逅--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 1 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume1_cerita1|Story 1 - Tabitha dan Pterosaur (0.5%)]]&lt;br /&gt;
::*Story 2 - Tabitha and Sang Vampir&lt;br /&gt;
::*Story 3 - Tabitha and Sang Assassin&lt;br /&gt;
::*Story 4 - Tabitha and Si Boneka Sihir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 2 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険2===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_cerita5|Story 5 - Tabitha dan Si Penjudi]]&lt;br /&gt;
::*Story 6 - Tabitha and Si Minotaur&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_BabTambahan|Bab Tambahan - Sehari di hidup Sylphid]]&lt;br /&gt;
::*Story 7 - Tabitha dan Si Burung dari Surga &lt;br /&gt;
::*Story 8 - Tabitha dan Pelabuhan Kapal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 3 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険3===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Story 9 - Tabitha dan Sylphid&lt;br /&gt;
::*Story 10 - Tabitha dan Sang Ksatria Tua &lt;br /&gt;
::*Story 11 - Tabitha dan Cinta Pertama&lt;br /&gt;
::*Story 12 - Kelahiran Tabitha&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Staf Proyek==&lt;br /&gt;
*Manajer Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Pengawas Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Tukang Edit: [[User:Suparman|Suparman hahaha]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penerjemah===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;AKTIF&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[User:Altux|Altux]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;TIDAK AKTIF&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[User:Masterdiki|Masterdiki]]&lt;br /&gt;
::*[[User:Obakasan|Obakasan]]&lt;br /&gt;
::*[[User:Prinzwit|Prinzwit]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penyunting===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[White Line|White Line]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Zero no Tsukaima:Series Overview|Informasi ISBN]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Light novel (Indonesian)]]&lt;br /&gt;
[[Category:Indonesian]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Talk:Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435026</id>
		<title>Talk:Zero no Tsukaima (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Talk:Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435026"/>
		<updated>2015-04-03T07:15:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Xcuse me? Koq disini ngga mencantumkan nama2 Supervisor/Penerjemah/Penyunting-nya sih? Jangan2 yang nerjemahin hantu? - [[User:SATRIA|SATRIA]] - [[User talk:SATRIA|Talk]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permisi kak itu yang volume 6 chapter 5 kok kgk ad ya...&lt;br /&gt;
tapi pas ane liat dipendaftaran itu page udah selesai.. &lt;br /&gt;
maksudnya apa....????&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[User:Suparman|Suparman hahaha]] hadeeh dasar orang Indonesia kerjanya setengah2 nih. haha. Gw bantu deh bikin shortcut wikitextnya. Moga-moga lo pada jadi semangat lagi dah ngerjainnya hahahaha. 2:15 pm, 3 April 2015&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435025</id>
		<title>Zero no Tsukaima (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435025"/>
		<updated>2015-04-03T07:12:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: /* Seri Zero no Tsukaima oleh Noboru Yamaguchi */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:Znt novel cover.jpg|300px|thumb|Vol.One Cover]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;DILARANG KERAS MENJUAL TERJEMAHAN INI DALAM BENTUK APAPUN. INI ADALAH TERJEMAHAN GRATIS OLEH PENERJEMAH DAN PENYUNTING BUKAN UNTUK KEGIATAN KOMERSIAL&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seri &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; juga terdapat dalam berbagai bahasa:&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima|English (Inggris)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero no Tsukaima - Français|Français (Perancis)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_%7EItalian_Version%7E|Italiano (Italia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_wersja_polska|Polski (Polandia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_%7EVersi%C3%B3n_Espa%C3%B1ola%7E|Español (Spanyol)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Deutsche Version|Deutsch (Jerman)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Korean_Version|한국어 (Korea)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_~Russian_Version~|Русский (Russia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Tiếng Việt|Tiếng Việt (Vietnam)]]&lt;br /&gt;
(Nb: Proses penerjemahan mungkin berbeda tergantung versinya masing-masing.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunjungi [http://www.baka-tsuki.org/forums Baka-Tsuki Project Forum] untuk mendiskusikan seri ini dan informasi lainnya dari Baka-Tsuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penerjemah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Dibutuhkan Para Penerjemah Nganggur! ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Baka-Tsuki sangat mencari para penerjemah untuk seri ini.&#039;&#039;&#039; Jika berkeinginan untuk menerjemahkan seri ini, kirimkan posting anda di [http://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=29&amp;amp;t=2843 forum], dan kami akan membantumu untuk memulainya, terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero no Tsukaima Registration versi Indonesia|Registrasi]]===&lt;br /&gt;
Penerjemah di minta untuk menandai semua bab yang mereka inginkan untuk diterjemahkan di [[Zero no Tsukaima Registration versi Indonesia|Registration Page]] berdasarkan [[Zero_no_Tsukaima:Guideline#Translation_Management|Translation Management]] sesi dari &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; [[Zero_no_Tsukaima:Guideline|Project Specific Guidelines]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Standar Format===&lt;br /&gt;
Setiap bab (setelah di edit) harus dikonfirmasikan lagi sampai memenuhi standar format. Lihat [[Format_guideline|Format/Style Guideline]] dan [http://www.baka-tsuki.net/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima:guidelines Naming Conventions For ZnT].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pengumuman==&lt;br /&gt;
Dengan berat hati kami sampaikan bahwa Noboru Yamaguchi, penulis dari &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; meninggal karena kanker pada 4 April, 2013. Karenanya, seri ini tetap tidak terselesaikan pada 20 volume dan kemungkinan besar tidak akan ada lagi terbitan baru setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;AC/DC RULES&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*September 29, 2009:&lt;br /&gt;
:* Jilid 1 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!!&lt;br /&gt;
*xxxber xx, 2009:&lt;br /&gt;
:* Jilid 2 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!!&lt;br /&gt;
*April 3, 2010 - jam 2.20:&lt;br /&gt;
:* Jilid 3 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!! Ingat!! masih ada banyak kesalahan, mohon bantuan untuk perbaikannya. khusus obakasan n altux, makasih dah nerjemahin&lt;br /&gt;
*Mei 5,2011 &lt;br /&gt;
:* Baru lihat Jilid 4 udah diselesaikan, akhirnya udah sampai sejauh ini, terima kasih buat para penerjemah, pembaca, dan pendukung zero no tsukaima versi Indonesia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Oktober 16,2011 &lt;br /&gt;
Buku ke-5 beres...jadi udah 5 buku dalam 3 tahun, semoga ada yang bisa nerusin, terima kasih buat mereka yang membaca, mendukung dan nerjemahin.  THANKS BANGET BRO!!! Ingat!! masih  ada banyak kesalahan, mohon bantuan untuk perbaikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Seri [http://id.wikipedia.org/wiki/Zero_no_Tsukaima &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039;] oleh [http://en.wikipedia.org/wiki/Noboru_Yamaguchi_(author) Noboru Yamaguchi]==&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1|Jilid 1 - Familiarnya si Zero / ゼロの使い魔]]=== &lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Insert_&amp;amp;_Back Cover|Insert &amp;amp; Back Cover]]&lt;br /&gt;
:*&#039;&#039;&#039;Kerajaan sihir&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab1|Bab 1 - Aku Seorang Familiar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab2|Bab 2 - Louise si Zero]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab3|Bab 3 - Legenda]] &lt;br /&gt;
:*&#039;&#039;&#039;Gandálfr&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab4|Bab 4 - Hari Familiar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab5|Bab 5 - Kirche si Ardent]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab6|Bab 6 - Penjual Senjata Tristain]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab7|Bab 7 - Fouquet si Crumbling Earth]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab8|Bab 8 - Tongkat Penghancur]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2|Jilid 2 - Albion Si Negeri Angin / 風のアルビオン]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab1|Bab 1 - Kapal Rahasia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab2|Bab 2 - Kemurungan Baginda Ratu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab3|Bab 3 - Permintaan Teman Masa Kecil]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab4|Bab 4 - Kota Pelabuhan - La Rochelle]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab5|Bab 5 - Sehari Sebelum Berangkat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab6|Bab 6 - Negeri Putih]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab7|Bab 7 - Pangeran dari Negeri yang Sekarat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab8|Bab 8 - Pesta di Newcastle Sebelum Pertarungan Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab9|Bab 9 - Pertarungan Terakhir]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3|Jilid 3 - Buku Doa Sang Founder / 始祖の祈祷書]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab1|Bab 1 - Garis Keturunan Sang Zero]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab2|Bab 2 - Penyakit Cinta Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab3|Bab 3 - Buku Doa Sang Founder]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab4|Bab 4 - Cinta Segitiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab5|Bab 5 - Keluarga Kerajaan dan Senjata Rahasia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab6|Bab 6 - Memburu Harta Karun]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab7|Bab 7 - Pakaian Naga]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab8|Bab 8 - Laboratorium Tuan Colbert]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab9|Bab 9 - Deklarasi Perang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab10|Bab 10 - Sang Void]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4|Jilid 4 - Saksi Janji Sang Arwah Air / 誓約の水精霊]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Illustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Pengantar|Pengantar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab1|Bab 1 - Orang Suci]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab2|Bab 2 - Saito Pergi Berbelanja di Kota yang Penuh Keramaian]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab3|Bab 3 - Baju Pelaut dan Kecemburuan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab4|Bab 4 - Rahasia Tabitha]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab5|Bab 5 - Kekuatan Obat Cinta]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab6|Bab 6 - Arwah Air]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab7|Bab 7 - Cincin Andvari]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab8|Bab 8 - Reuni yang Kebohongan Semata]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab9|Bab 9 - Sengketa Kesedihan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5|Jilid 5 - Hari Libur Tristania / トリスタニアの休日]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume5_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab1|Bab 1 - Penginapan &amp;quot;Charming Fairies&amp;quot;]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab2|Bab 2 - Pertempuran dengan Api dan Pertemanan dengan Angin]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab3|Bab 3 - Hari Libur Tristania]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 6 - Batu Ruby Penebusan Kesalahan / 贖罪の炎赤石===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume6_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab1|Bab 1 - Pulang Kampung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab2|Bab 2 - Cattleya]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab3|Bab 3 - Adipati de La Vallière]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab4|Bab 4 - Opsir Pemerintah Guiche dan Opsir Kadet Malicorne]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab5|Bab 5 - Api Dua Puluh Tahun yang Lalu - (5%)]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab6|Bab 6 - Serangan Tiba-Tiba]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab7|Bab 7 - Ilusi di Dartanes]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab8|Bab 8 - Penebusan Dosa Api]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 7 – Pentakosta Perak / 銀の降臨祭===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume7_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab1|Bab 1 - Perbedaan Suhu di Antara Dua Orang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab2|Bab 2 - Peri]] --- 3%&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab3|Bab 3 - Pendeta Shinto Priest Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab4|Bab 4 - Sekretaris dan Kaisar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab5|Bab 5 - Gotha Selatan si Kota Sejarah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab6|Bab 6 - Gencatan Senjata]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab7|Bab 7 - Alasan untuk Bertarung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab8|Bab 8 - Raja Gallia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab9|Bab 9 - Mengalah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab10|Bab 10 - Tempat untuk Keberanian]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 8 – Rayuan Musik Nostalgia / 望郷の小夜曲===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume8_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab1|Bab 1 - Akhir dari Perang tiap Pihak]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab2|Bab 2 - Pagi Saito]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab3|Bab 3 - Elf Emas]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab4|Bab 4 - Kunjungan Sang Pendeta ]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab5|Bab 5 - Gandalfr yang Menghilang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab6|Bab 6 - Konferensi Negara-Negara]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab7|Bab 7 - Keputusan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab8|Bab 8 - Para Pengguna Void]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab9|Bab 9 - Myoznitnir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab10|Bab 10 - Ksatria Pedang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 9 - Pesta Dansa Bulan Kembar/ 双月の舞踏会===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume9_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab1|Bab 1 - Ketakutan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab2|Bab 2 - Elf Hutan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab3|Bab 3 - Pertemuan dan Perpisahan Para Pengguna]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab4|Bab 4 - Gelar Chevalier]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab5|Bab 5 - Ondine ・ Kesatuan Satria Arwah Air]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab6|Bab 6 - Perasaan Sang Ratu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab7|Bab 7 - Permohonan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab8|Bab 8 - Pesta Dansa Sleipnir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab9|Bab 9 - Pertempuran dengan Burung Misterius]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 10 - Pahlawan Ivaldi / イーヴァルディの勇者===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume10_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab1|Bab 1 - Ostland]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab2|Bab 2 - Si Elf]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab3|Bab 3 - Kegelisahan dan Kecemburuan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab4|Bab 4 - Ratu dan Ksatria]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab5|Bab 5 - Saudara Kandung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab6|Bab 6 - Enam serangkai yang Dipenjara]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab7|Bab 7 - Penyelesaian Masa Lalu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab8|Bab 8 - Rumah Tua Orléans]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab9|Bab 9 - Benteng Alhambra]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab10|Bab 10 - Pahlawan Ivaldi]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Catatan_kaki|Catatan_kaki]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Catatan_penerjemah|Catatan_penerjemah]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 11 - Sebuah Pasangan Ingatan  / 追憶の二重奏===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume11_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab1|Bab 1 - Von Zerbst]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab2|Bab 2 - Ratu dan Adipati]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab3|Bab 3 - Karin si Angin Ribut]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab4|Bab 4 - Keluarga Vallière]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab5|Bab 5 - Aturan Baru Sekolah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab6|Bab 6 - Les Privat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab7|Bab 7 - Pope Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab8|Bab 8 - Jörmungand]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab9|Bab 9 - Reuni di Westwood]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab10|Bab 10 - Hati Pasangan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 12 – Hari Libur Peri Kecil / 妖精達の休日===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume12_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Pembukaan&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Murid Baru di Negara Putih (Albion)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
::*Bab 3&lt;br /&gt;
::* Bab 4&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Serang, Kesatuan Satria Arwah Air!&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Hak untuk Menggunakan Saito selama Satu Hari&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 13 - The Pintu Dunia si Negeri Suci / 聖国の世界扉===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume13_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab1|Bab 1 - Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab2|Bab 2 - Keputusan Saito]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab3|Bab 3 - Berangkatkan &#039;&#039;Ostland&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab4|Bab 4 - Dua Kesatuan Satria]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab5|Bab 5 - Ajakan Paus]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab6|Bab 6 - Tombak Panjang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab7|Bab 7 - Pintu Dunia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab8|Bab 8 - Arti Senyuman]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 14 – Orang Suci Aquileia / 水都市の聖女===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume14_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 – Pemberontakan Skuadron Flowerbed&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Upacara Penobatan Ke-tiga&lt;br /&gt;
::*Bab 3 -  Gandalfr Peri&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Ibukota Air&lt;br /&gt;
::*Bab 5 – Enam Ribu Tahun yang Lalu&lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Jalan Besar Macan&lt;br /&gt;
::*Bab 7 – Orang Suci Aquileia&lt;br /&gt;
::*Bab 8 – Macan Besi &lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Memori Ikatan&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 15 -  Labirin Oblivion / 忘却の夢迷宮===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume15_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - Carcassonne&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Kontes Satria Sandbank&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - Linglung&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Permata Api&lt;br /&gt;
::*Bab 5 – Bulan Madu&lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Malam Panjangnya Tabitha&lt;br /&gt;
::*Bab 7 – Taktik Diplomatik Henrietta&lt;br /&gt;
::*Bab 8 - Penobatan&lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Pintu Keluar Labirin&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 16 – Waktu Teh Des Ornières / ド・オルニエールの安穏===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume16_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 – Hadiah dari Kampanye &amp;lt;!--/ 戦の恩賞--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Mencari Tempat Tinggal &amp;lt;!--お屋敷探し--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - Kemulungan Henrietta, Kegelisahan Louise, Kenaikan Jabatan Saito &amp;lt;!--アンリエッタの憂鬱、ルイズの不安、才人の出世--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Ibu dan Keponakan &amp;lt;!--/母と従姉--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 5 - Saito Chevalier De Hiraga Des Ornières &amp;lt;!--/ サイト・シュヴァリエ・ド・ヒラガ・ド・オルニエール--&amp;gt; &lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Waktu The Sehari-hari &amp;lt;!--/ 安穏の日々--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 7 - Akademi Eléonore &amp;lt;!--/ アカデミーのエレオノール--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 8 – Ruangan Bawah Tanah Rumah &amp;lt;!--/ 屋敷の地下室--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Pertemuan Rahasia &amp;lt;!--/ 密会--&amp;gt; &lt;br /&gt;
::*Bab 10 - 元素の兄弟&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 17 - Soeur Sang Petang / 黎明の修道女===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume17_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 1 - Keputusasaan Saito &amp;lt;!--才人の絶望--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 2 - Penerbangan &amp;lt;!--逃避行--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 3 - Pertemuan dan sahabat &amp;lt;!--仲間と出会い--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 - Sulpice &amp;lt;!--シュルピス--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 5 - Pertemuan Pertama dengan Jack&amp;lt;!--ジャックとの初対戦--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 6 - Damien dan Lord Gondrin &amp;lt;!--ダミアンとゴンドラン卿--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 7 - Soeur Louise &amp;lt;!--修道女ルイズ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 8 - Resolusi Josette&amp;lt;!--ジョゼットの決心--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 9 - Dua Tongkat, Satu mahkota&amp;lt;!--二本の杖、一つの王冠--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 10 - Pesta Kebun untuk Merayakan Penobatan&amp;lt;!--即位祝賀口遊会--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 11 - Ikatan &amp;lt;!--絆--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Epilog&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 18 - Batu Jiwa Kehancuran / 滅亡の精霊石===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume18_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 1 - Pasangan&amp;lt;!--恋人--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 2 - Fouquet dan Wardes &amp;lt;!--ワルドとフーケ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 3 - Pesta Kebun Josette&amp;lt;!--ジョゼットの園遊会--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 - Strategi &amp;lt;!--策謀--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 5 - Pengakuan Paus&amp;lt;!--教皇の告白--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 6 - Batu Jiwa Kehancuran &amp;lt;!--破滅の精霊石--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 7 - Rumah Kami &amp;lt;!--我が家--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 8 - Elf Sahara &amp;lt;!--サハラのエルフ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 9 - Pertemuan Kebetulan &amp;lt;!--邂逅--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 1 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume1_cerita1|Story 1 - Tabitha dan Pterosaur (0.5%)]]&lt;br /&gt;
::*Story 2 - Tabitha and Sang Vampir&lt;br /&gt;
::*Story 3 - Tabitha and Sang Assassin&lt;br /&gt;
::*Story 4 - Tabitha and Si Boneka Sihir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 2 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険2===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_cerita5|Story 5 - Tabitha dan Si Penjudi]]&lt;br /&gt;
::*Story 6 - Tabitha and Si Minotaur&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_BabTambahan|Bab Tambahan - Sehari di hidup Sylphid]]&lt;br /&gt;
::*Story 7 - Tabitha dan Si Burung dari Surga &lt;br /&gt;
::*Story 8 - Tabitha dan Pelabuhan Kapal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 3 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険3===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Story 9 - Tabitha dan Sylphid&lt;br /&gt;
::*Story 10 - Tabitha dan Sang Ksatria Tua &lt;br /&gt;
::*Story 11 - Tabitha dan Cinta Pertama&lt;br /&gt;
::*Story 12 - Kelahiran Tabitha&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Staf Proyek==&lt;br /&gt;
*Manajer Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Pengawas Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Tukang Edit: [[User:Suparman|Suparman hahaha]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penerjemah===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;AKTIF&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[User:Altux|Altux]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;TIDAK AKTIF&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[User:Masterdiki|Masterdiki]]&lt;br /&gt;
::*[[User:Obakasan|Obakasan]]&lt;br /&gt;
::*[[User:Prinzwit|Prinzwit]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penyunting===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[White Line|White Line]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Zero no Tsukaima:Series Overview|Informasi ISBN]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Light novel (Indonesian)]]&lt;br /&gt;
[[Category:Indonesian]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435024</id>
		<title>Zero no Tsukaima (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_(Indonesia)&amp;diff=435024"/>
		<updated>2015-04-03T07:10:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: /* Staf Proyek */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:Znt novel cover.jpg|300px|thumb|Vol.One Cover]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;DILARANG KERAS MENJUAL TERJEMAHAN INI DALAM BENTUK APAPUN. INI ADALAH TERJEMAHAN GRATIS OLEH PENERJEMAH DAN PENYUNTING BUKAN UNTUK KEGIATAN KOMERSIAL&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seri &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; juga terdapat dalam berbagai bahasa:&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima|English (Inggris)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero no Tsukaima - Français|Français (Perancis)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_%7EItalian_Version%7E|Italiano (Italia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_wersja_polska|Polski (Polandia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_%7EVersi%C3%B3n_Espa%C3%B1ola%7E|Español (Spanyol)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Deutsche Version|Deutsch (Jerman)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Korean_Version|한국어 (Korea)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_~Russian_Version~|Русский (Russia)]]&lt;br /&gt;
*[[Zero_no_Tsukaima_Tiếng Việt|Tiếng Việt (Vietnam)]]&lt;br /&gt;
(Nb: Proses penerjemahan mungkin berbeda tergantung versinya masing-masing.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunjungi [http://www.baka-tsuki.org/forums Baka-Tsuki Project Forum] untuk mendiskusikan seri ini dan informasi lainnya dari Baka-Tsuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penerjemah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Dibutuhkan Para Penerjemah Nganggur! ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Baka-Tsuki sangat mencari para penerjemah untuk seri ini.&#039;&#039;&#039; Jika berkeinginan untuk menerjemahkan seri ini, kirimkan posting anda di [http://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=29&amp;amp;t=2843 forum], dan kami akan membantumu untuk memulainya, terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero no Tsukaima Registration versi Indonesia|Registrasi]]===&lt;br /&gt;
Penerjemah di minta untuk menandai semua bab yang mereka inginkan untuk diterjemahkan di [[Zero no Tsukaima Registration versi Indonesia|Registration Page]] berdasarkan [[Zero_no_Tsukaima:Guideline#Translation_Management|Translation Management]] sesi dari &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; [[Zero_no_Tsukaima:Guideline|Project Specific Guidelines]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Standar Format===&lt;br /&gt;
Setiap bab (setelah di edit) harus dikonfirmasikan lagi sampai memenuhi standar format. Lihat [[Format_guideline|Format/Style Guideline]] dan [http://www.baka-tsuki.net/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima:guidelines Naming Conventions For ZnT].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pengumuman==&lt;br /&gt;
Dengan berat hati kami sampaikan bahwa Noboru Yamaguchi, penulis dari &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039; meninggal karena kanker pada 4 April, 2013. Karenanya, seri ini tetap tidak terselesaikan pada 20 volume dan kemungkinan besar tidak akan ada lagi terbitan baru setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;AC/DC RULES&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*September 29, 2009:&lt;br /&gt;
:* Jilid 1 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!!&lt;br /&gt;
*xxxber xx, 2009:&lt;br /&gt;
:* Jilid 2 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!!&lt;br /&gt;
*April 3, 2010 - jam 2.20:&lt;br /&gt;
:* Jilid 3 Akhirnya sukses diselesaikan. Thx untuk semua penerjemah yang membantu dalam penerjemahan ini dan juga para editor yang mau bersusah payah untuk meng-editnya. THANKS BANGET BRO!!! Ingat!! masih ada banyak kesalahan, mohon bantuan untuk perbaikannya. khusus obakasan n altux, makasih dah nerjemahin&lt;br /&gt;
*Mei 5,2011 &lt;br /&gt;
:* Baru lihat Jilid 4 udah diselesaikan, akhirnya udah sampai sejauh ini, terima kasih buat para penerjemah, pembaca, dan pendukung zero no tsukaima versi Indonesia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Oktober 16,2011 &lt;br /&gt;
Buku ke-5 beres...jadi udah 5 buku dalam 3 tahun, semoga ada yang bisa nerusin, terima kasih buat mereka yang membaca, mendukung dan nerjemahin.  THANKS BANGET BRO!!! Ingat!! masih  ada banyak kesalahan, mohon bantuan untuk perbaikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Seri [http://id.wikipedia.org/wiki/Zero_no_Tsukaima &#039;&#039;Zero no Tsukaima&#039;&#039;] oleh [http://en.wikipedia.org/wiki/Noboru_Yamaguchi_(author) Noboru Yamaguchi]==&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1|Jilid 1 - Familiarnya si Zero / ゼロの使い魔]]=== &lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Insert_&amp;amp;_Back Cover|Insert &amp;amp; Back Cover]]&lt;br /&gt;
:*&#039;&#039;&#039;Kerajaan sihir&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab1|Bab 1 - Aku Seorang Familiar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab2|Bab 2 - Louise si Zero]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab3|Bab 3 - Legenda]] &lt;br /&gt;
:*&#039;&#039;&#039;Gandálfr&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab4|Bab 4 - Hari Familiar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab5|Bab 5 - Kirche si Ardent]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab6|Bab 6 - Penjual Senjata Tristain]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab7|Bab 7 - Fouquet si Crumbling Earth]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume1_Bab8|Bab 8 - Tongkat Penghancur]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2|Jilid 2 - Albion Si Negeri Angin / 風のアルビオン]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab1|Bab 1 - Kapal Rahasia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab2|Bab 2 - Kemurungan Baginda Ratu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab3|Bab 3 - Permintaan Teman Masa Kecil]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab4|Bab 4 - Kota Pelabuhan - La Rochelle]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab5|Bab 5 - Sehari Sebelum Berangkat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab6|Bab 6 - Negeri Putih]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab7|Bab 7 - Pangeran dari Negeri yang Sekarat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab8|Bab 8 - Pesta di Newcastle Sebelum Pertarungan Terakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume2_Bab9|Bab 9 - Pertarungan Terakhir]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3|Jilid 3 - Buku Doa Sang Founder / 始祖の祈祷書]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab1|Bab 1 - Garis Keturunan Sang Zero]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab2|Bab 2 - Penyakit Cinta Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab3|Bab 3 - Buku Doa Sang Founder]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab4|Bab 4 - Cinta Segitiga]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab5|Bab 5 - Keluarga Kerajaan dan Senjata Rahasia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab6|Bab 6 - Memburu Harta Karun]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab7|Bab 7 - Pakaian Naga]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab8|Bab 8 - Laboratorium Tuan Colbert]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab9|Bab 9 - Deklarasi Perang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume3_Bab10|Bab 10 - Sang Void]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4|Jilid 4 - Saksi Janji Sang Arwah Air / 誓約の水精霊]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Illustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Pengantar|Pengantar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab1|Bab 1 - Orang Suci]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab2|Bab 2 - Saito Pergi Berbelanja di Kota yang Penuh Keramaian]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab3|Bab 3 - Baju Pelaut dan Kecemburuan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab4|Bab 4 - Rahasia Tabitha]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab5|Bab 5 - Kekuatan Obat Cinta]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab6|Bab 6 - Arwah Air]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab7|Bab 7 - Cincin Andvari]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab8|Bab 8 - Reuni yang Kebohongan Semata]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Bab9|Bab 9 - Sengketa Kesedihan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5|Jilid 5 - Hari Libur Tristania / トリスタニアの休日]]===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume5_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab1|Bab 1 - Penginapan &amp;quot;Charming Fairies&amp;quot;]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab2|Bab 2 - Pertempuran dengan Api dan Pertemanan dengan Angin]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab3|Bab 3 - Hari Libur Tristania]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 6 - Batu Ruby Penebusan Kesalahan / 贖罪の炎赤石===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume6_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab1|Bab 1 - Pulang Kampung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab2|Bab 2 - Cattleya]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab3|Bab 3 - Adipati de La Vallière]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab4|Bab 4 - Opsir Pemerintah Guiche dan Opsir Kadet Malicorne]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab5|Bab 5 - Api Dua Puluh Tahun yang Lalu - (5%)]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab6|Bab 6 - Serangan Tiba-Tiba]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab7|Bab 7 - Ilusi di Dartanes]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume6_Bab8|Bab 8 - Penebusan Dosa Api]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 7 – Pentakosta Perak / 銀の降臨祭===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume7_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab1|Bab 1 - Perbedaan Suhu di Antara Dua Orang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab2|Bab 2 - Peri]] --- 3%&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab3|Bab 3 - Pendeta Shinto Priest Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab4|Bab 4 - Sekretaris dan Kaisar]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab5|Bab 5 - Gotha Selatan si Kota Sejarah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab6|Bab 6 - Gencatan Senjata]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab7|Bab 7 - Alasan untuk Bertarung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab8|Bab 8 - Raja Gallia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab9|Bab 9 - Mengalah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Bab10|Bab 10 - Tempat untuk Keberanian]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume7_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 8 – Rayuan Musik Nostalgia / 望郷の小夜曲===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume8_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab1|Bab 1 - Akhir dari Perang tiap Pihak]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab2|Bab 2 - Pagi Saito]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab3|Bab 3 - Elf Emas]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab4|Bab 4 - Kunjungan Sang Pendeta ]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab5|Bab 5 - Gandalfr yang Menghilang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab6|Bab 6 - Konferensi Negara-Negara]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab7|Bab 7 - Keputusan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab8|Bab 8 - Para Pengguna Void]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab9|Bab 9 - Myoznitnir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Bab10|Bab 10 - Ksatria Pedang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume8_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 9 - Pesta Dansa Bulan Kembar/ 双月の舞踏会===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume9_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab1|Bab 1 - Ketakutan Louise]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab2|Bab 2 - Elf Hutan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab3|Bab 3 - Pertemuan dan Perpisahan Para Pengguna]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab4|Bab 4 - Gelar Chevalier]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab5|Bab 5 - Ondine ・ Kesatuan Satria Arwah Air]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab6|Bab 6 - Perasaan Sang Ratu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab7|Bab 7 - Permohonan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab8|Bab 8 - Pesta Dansa Sleipnir]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Bab9|Bab 9 - Pertempuran dengan Burung Misterius]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume9_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 10 - Pahlawan Ivaldi / イーヴァルディの勇者===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume10_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab1|Bab 1 - Ostland]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab2|Bab 2 - Si Elf]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab3|Bab 3 - Kegelisahan dan Kecemburuan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab4|Bab 4 - Ratu dan Ksatria]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab5|Bab 5 - Saudara Kandung]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab6|Bab 6 - Enam serangkai yang Dipenjara]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab7|Bab 7 - Penyelesaian Masa Lalu]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab8|Bab 8 - Rumah Tua Orléans]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab9|Bab 9 - Benteng Alhambra]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Bab10|Bab 10 - Pahlawan Ivaldi]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Catatan_kaki|Catatan_kaki]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume10_Catatan_penerjemah|Catatan_penerjemah]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 11 - Sebuah Pasangan Ingatan  / 追憶の二重奏===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume11_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab1|Bab 1 - Von Zerbst]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab2|Bab 2 - Ratu dan Adipati]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab3|Bab 3 - Karin si Angin Ribut]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab4|Bab 4 - Keluarga Vallière]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab5|Bab 5 - Aturan Baru Sekolah]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab6|Bab 6 - Les Privat]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab7|Bab 7 - Pope Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab8|Bab 8 - Jörmungand]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab9|Bab 9 - Reuni di Westwood]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Bab10|Bab 10 - Hati Pasangan]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume11_Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 12 – Hari Libur Peri Kecil / 妖精達の休日===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume12_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Pembukaan&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Murid Baru di Negara Putih (Albion)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
::*Bab 3&lt;br /&gt;
::* Bab 4&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Serang, Kesatuan Satria Arwah Air!&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Hak untuk Menggunakan Saito selama Satu Hari&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1&lt;br /&gt;
::*Bab 2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 13 - The Pintu Dunia si Negeri Suci / 聖国の世界扉===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume13_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab1|Bab 1 - Romalia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab2|Bab 2 - Keputusan Saito]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab3|Bab 3 - Berangkatkan &#039;&#039;Ostland&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab4|Bab 4 - Dua Kesatuan Satria]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab5|Bab 5 - Ajakan Paus]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab6|Bab 6 - Tombak Panjang]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab7|Bab 7 - Pintu Dunia]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Bab8|Bab 8 - Arti Senyuman]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume13_Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 14 – Orang Suci Aquileia / 水都市の聖女===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume14_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 – Pemberontakan Skuadron Flowerbed&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Upacara Penobatan Ke-tiga&lt;br /&gt;
::*Bab 3 -  Gandalfr Peri&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Ibukota Air&lt;br /&gt;
::*Bab 5 – Enam Ribu Tahun yang Lalu&lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Jalan Besar Macan&lt;br /&gt;
::*Bab 7 – Orang Suci Aquileia&lt;br /&gt;
::*Bab 8 – Macan Besi &lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Memori Ikatan&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 15 -  Labirin Oblivion / 忘却の夢迷宮===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume15_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - Carcassonne&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Kontes Satria Sandbank&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - Linglung&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Permata Api&lt;br /&gt;
::*Bab 5 – Bulan Madu&lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Malam Panjangnya Tabitha&lt;br /&gt;
::*Bab 7 – Taktik Diplomatik Henrietta&lt;br /&gt;
::*Bab 8 - Penobatan&lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Pintu Keluar Labirin&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 16 – Waktu Teh Des Ornières / ド・オルニエールの安穏===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume16_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Bab 1 – Hadiah dari Kampanye &amp;lt;!--/ 戦の恩賞--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 2 – Mencari Tempat Tinggal &amp;lt;!--お屋敷探し--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - Kemulungan Henrietta, Kegelisahan Louise, Kenaikan Jabatan Saito &amp;lt;!--アンリエッタの憂鬱、ルイズの不安、才人の出世--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 4 – Ibu dan Keponakan &amp;lt;!--/母と従姉--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 5 - Saito Chevalier De Hiraga Des Ornières &amp;lt;!--/ サイト・シュヴァリエ・ド・ヒラガ・ド・オルニエール--&amp;gt; &lt;br /&gt;
::*Bab 6 – Waktu The Sehari-hari &amp;lt;!--/ 安穏の日々--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 7 - Akademi Eléonore &amp;lt;!--/ アカデミーのエレオノール--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 8 – Ruangan Bawah Tanah Rumah &amp;lt;!--/ 屋敷の地下室--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Bab 9 – Pertemuan Rahasia &amp;lt;!--/ 密会--&amp;gt; &lt;br /&gt;
::*Bab 10 - 元素の兄弟&lt;br /&gt;
::*Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 17 - Soeur Sang Petang / 黎明の修道女===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume17_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 1 - Keputusasaan Saito &amp;lt;!--才人の絶望--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 2 - Penerbangan &amp;lt;!--逃避行--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 3 - Pertemuan dan sahabat &amp;lt;!--仲間と出会い--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 - Sulpice &amp;lt;!--シュルピス--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 5 - Pertemuan Pertama dengan Jack&amp;lt;!--ジャックとの初対戦--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 6 - Damien dan Lord Gondrin &amp;lt;!--ダミアンとゴンドラン卿--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 7 - Soeur Louise &amp;lt;!--修道女ルイズ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 8 - Resolusi Josette&amp;lt;!--ジョゼットの決心--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 9 - Dua Tongkat, Satu mahkota&amp;lt;!--二本の杖、一つの王冠--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 10 - Pesta Kebun untuk Merayakan Penobatan&amp;lt;!--即位祝賀口遊会--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 11 - Ikatan &amp;lt;!--絆--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Epilog&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 18 - Batu Jiwa Kehancuran / 滅亡の精霊石===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Volume18_Illustrations|Novel Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 1 - Pasangan&amp;lt;!--恋人--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 2 - Fouquet dan Wardes &amp;lt;!--ワルドとフーケ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 3 - Pesta Kebun Josette&amp;lt;!--ジョゼットの園遊会--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 - Strategi &amp;lt;!--策謀--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 5 - Pengakuan Paus&amp;lt;!--教皇の告白--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 6 - Batu Jiwa Kehancuran &amp;lt;!--破滅の精霊石--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 7 - Rumah Kami &amp;lt;!--我が家--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 8 - Elf Sahara &amp;lt;!--サハラのエルフ--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Chapter 9 - Pertemuan Kebetulan &amp;lt;!--邂逅--&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 1 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume1_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume1_cerita1|Story 1 - Tabitha dan Pterosaur (0.5%)]]&lt;br /&gt;
::*Story 2 - Tabitha and Sang Vampir&lt;br /&gt;
::*Story 3 - Tabitha and Sang Assassin&lt;br /&gt;
::*Story 4 - Tabitha and Si Boneka Sihir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 2 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険2===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_cerita5|Story 5 - Tabitha dan Si Penjudi]]&lt;br /&gt;
::*Story 6 - Tabitha and Si Minotaur&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume2_BabTambahan|Bab Tambahan - Sehari di hidup Sylphid]]&lt;br /&gt;
::*Story 7 - Tabitha dan Si Burung dari Surga &lt;br /&gt;
::*Story 8 - Tabitha dan Pelabuhan Kapal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Cerita Tambahan Jilid 3 - Petualangan Tabitha / タバサの冒険3===&lt;br /&gt;
::*[[Zero_no_Tsukaima:Side_Story_Volume3_Illustrations|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*Story 9 - Tabitha dan Sylphid&lt;br /&gt;
::*Story 10 - Tabitha dan Sang Ksatria Tua &lt;br /&gt;
::*Story 11 - Tabitha dan Cinta Pertama&lt;br /&gt;
::*Story 12 - Kelahiran Tabitha&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Staf Proyek==&lt;br /&gt;
*Manajer Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Pengawas Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Tukang Edit: [[User:Suparman|Suparman hahaha]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penerjemah===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;AKTIF&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[User:Altux|Altux]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;TIDAK AKTIF&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*[[User:Masterdiki|Masterdiki]]&lt;br /&gt;
::*[[User:Obakasan|Obakasan]]&lt;br /&gt;
::*[[User:Prinzwit|Prinzwit]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penyunting===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[White Line|White Line]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Zero no Tsukaima:Series Overview|Informasi ISBN]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Light novel (Indonesian)]]&lt;br /&gt;
[[Category:Indonesian]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5&amp;diff=435022</id>
		<title>Zero no Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Zero_no_Tsukaima_~_Indonesian_Version:Volume5&amp;diff=435022"/>
		<updated>2015-04-03T07:09:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: Created page with &amp;quot;{{:Zero_no_Tsukaima:Volume5_Illustrations|Ilustrasi Novel}} {{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab1}} {{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab2}} {{:...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{:Zero_no_Tsukaima:Volume5_Illustrations|Ilustrasi Novel}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab1}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab2}}&lt;br /&gt;
{{:Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume5_Bab3}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot; &lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
| [[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version:Volume4|Sebelumnya ke Volume 4]] &lt;br /&gt;
| [[Zero_no_Tsukaima ~ Indonesian Version|Kembali ke Halaman utama]] &lt;br /&gt;
| [[Selanjutnya ke Volume 6]] &lt;br /&gt;
|- &lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=User:Suparman&amp;diff=435017</id>
		<title>User:Suparman</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=User:Suparman&amp;diff=435017"/>
		<updated>2015-04-03T06:52:50Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Suparman: Created page with &amp;quot;Suparman here. I am Indonesian. Probably will help here and there. Doing this just for fun. Hmm, I am not really talkative but, probably that is all I am writing now. Good day...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Suparman here. I am Indonesian. Probably will help here and there. Doing this just for fun. Hmm, I am not really talkative but, probably that is all I am writing now. Good day, modemeselle&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Suparman</name></author>
	</entry>
</feed>