''Doragūn ~ ryū kishi e no michi ~''

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Dragoon 1 : Anak Laki-Laki Yang Egois[edit]

Ini merupakan sebuah daerah yang tidak jauh dari ibu kota dari Kerajaan Courois di Benua Coutois, wilayahnya yang sangat luas itu dimiliki oleh salah satu dari tiga bangsawan dari kerajaan, the “Three Lords”. Kejadian ini akan terjadi di sebuah wilayah dari archduke Arses. Keluarga Arses merupakan sebuah keturuan yang telah jatuh karena korupsi dalam sejarah yang panjang di Courois.


Eksploitasi pajak tinggi ke masyarakat, wilayah yang penuh dengan suap tanpa adanya semangat. Tetapi karena orang-orang tidak dapat pergi dengan leluasa, mereka hanya dapat bertahan dengan sakit yang dirasakan.


Di dalam rumah bangsawan yang keji itu, bocah lima tahun yang egois dan sombong anak sulung Rudel Arses melihat ke langit dengan kedua matanya terbuka lebar.


“A-apa itu!?”


Apa yang Rudel lihat di langit merupakan sebuah badan yang kuat dengan warna emerald gelap, dan dua sayap besar yang leluasa menggerakkan tubuh itu melintasi langit…sisik dan tanduk dari reptil memberikan rasa kebesaran.


Itu merupakan naga…dan orang yang mengendalikannya, kesatria yang melindungi negara yang diberikan julukan Dragoon.


Rudel langsung bertanya pada pelayan disekitarnya mengenai naga yang dilihatnya di langit. Nadanya yang tinggi, dan bukan sebuah sikap yang akan diberikan oleh anak lima tahun ketika bertanya kepada orang dewasa.


“Apa itu!? Aku tidak pernah mendengarnya… Kenapa kalian tidak memberitahukannya padaku!?”


Para pelayan merasa aneh jika ada seorang anak di negara ini yang tidak mengetahui mengenai naga. Tetapi mereka sedang berhadapan dengan bocah yang benci belajar, benci latihan, dan bersikap buruk Rudel. Karena jengkel, para pelayan dengan sopan menjelaskan mengenai naga dan dragoon padanya.


“Naga adalah monster terkuat, dan mereka merupakan salah satu yang dibanggakan akan kecerdasannya yang tinggi”

“Yang dituruti oleh pada naga adalah dragoon…kesatria terkuat di Courtois”

“Para kesatria yang menjadi dragoon tidak hanya kuat, mereka adalah kesatria ‘kebajikan’.”


Mendengar kata-kata itu, kedua mata Rudel berubah dari mata yang dimiliki oleh ikan busuk dengan kesombongan, ke mata seorang bocah yang dipenuhi dengan kekaguman. Walau dengan mendengarkan itu…


“Berapa banyak yang perlu dibayar untuk membeli ‘kebajikan’!? Aku akan membayar berapapun itu, bawakan itu padaku sekarang juga!”


Tidak dapat memami kebajikan, pernyataannya mengenai membeli kebajikan itu memberikan reaksi muak dari orang-orang disekitarnya. Ketika mereka pikir mengenai bagaimana bakal kepala keluarga ini, pada pelayan sampai menahan niat membunuh mereka… tetapi terdapat seorang pelayan yang mempunya ide. Tentang bagaimana mengajarkan bocah bodoh pedihnya kenyataan.


Pada saat itu, tidak seorang pun yang menyangka kata-kata itu akan mengubah Keluarga Arses dan Kerajaan Courois. Benar, semua itu bermula dari ‘kebencian’ dari para pelayan yang terlalu banyak bekerja.


“Rudel-sama, ‘kebajikan’ munjukkan martabat dan karakter seseorang. Itu bukan sesuatu yang dapat didapatkan dengan uang. Itu merupakan benda berharga yang hanya didapatkan dari kerja keras.”


Dari kata-kata itu, Rudel membuat wajah yang gagal memahami. Rudel benci belajar, dan dia orang yang egois. Dia memiliki seorang tutor, tetapi tidak mendengarkan kata-kata dari tutor, dia hanya mendatangi kelas dapat dihitung dengan jari.


“Bagaimana untuk Aku dapat menjadi dragoon? Aku mau menjadi seorang dragoon.”


Mendengarkan itu, para pelayan terkikik. Kau pikir kau bisa menjadi salah satunya? Latihan berat, uji coba pengetahuan dan keadaban seseorang, para pahlawan diantara para pahlawan Courtois yang dituruti oleh naga… para pelayan dengan sopan menanamkan kenyataan itu kepada Rudel.


“Saya percaya itu akan sulit… mereka yang menjadi dragoon hanya kesatria terkuat dari kerajaan. Artinya melatih kekuatan dan kebaikan mereka, pengetahuan dan budaya… Anda juga perlu menerima pengetahuan dari para naga.”


“Kau bilang itu tidak mungkin untukku!?”


“Iya. Tetapi itu bukan masalah untuk anda. Sederhananya sangat sulit untuk menjadi seorang dragoon. Dengan kata lain walaupun dengan wilayah luas dari Courtois, merupakan sebuah berkah jika terdapat sepuluh dragoon yang diangkat dalam setahun.”


Rudel tidak memami dengan benar penjelasannya. Kedambaannya ketika melihat naga pertama dalam hidupnya terbakan kuat pada dada anak muda ini.


“…Bagaimana untuk Aku dapat menjadi salah satunya? Jika itu bukan tidak mungkin, maka itu berarti tidak mungkin tidak ada cara untuk menjadi salah satunya, benarkan? Bagaimana agar Aku dapat menjadi seorang dragoon!?”


Mengeluh terhadap sikap Rudel, para pelayan memberikan subteks , ’kalau begitu berhenti bermain-main dan perbaiki kepribadianmu itu!’ kedalam penjelasan mereka.


“Rudel-sama, jika anda melanjutkan cara hidup anda saat ini, anda tidak akan pernah menjadi seorang dragoon. Sebuah cara hidup yang cocok dengan seorang bangsawan, kebaikan yang tidak pernah berubah pada semuanya, dan ketekunan yang tak henti-hentinya merupakan yang penting… saat ini, anda kurang dari segala aspek.”


Para pelayan mengatakannya dengan jelas. Terdapat sebuah alasan mengapa mereka berkata sebanyak itu. Pada umumnya, Rudel adalah orang bodoh. Tindakannya terlalu tinggi, dan dia terus membuat masalah pada sekitarnya. Orang tuanya hanya melinainya sebagai bakal kepala keluarga, meninggalkanya pada perlengkapannya sementara mereka memanjakan adik laki-lakinya.


Dia selalu langsung melupakannya ketika seseorang menjelek-jelekkannya. Itu berhubungan dengan sikap dingin dari para pelayannya.


Mungkin saja Rudel merupakan pihak yang menyedihkan. Tidak ada seorangpun yang menemaninya, selalu dijelek-jelekkan oleh para pelayannya… tetapi saat ini, Rudel memiliki sosok yang membuatnya kehilangan minat terhadap semua hal itu.


Rudel telah menemukan dirinya sebuah tujuan. Sejak hari itu juga, bocah egois dan sombong bersungguh-sungguh berangkat tidak untuk apapun melainkan untuk menjadi seorang dragoon.



Sejak keesokan harinya, Rudel bangun dengan terbitnya sang surya. Biasanya dia bangun sebelum siang hari, tidak ada seorang pun pelayan di ruangannya ketika ia berganti ke pakaian latihannya. Tidak, terdapat seorang pelayan disana, namun dia terlelap di kursinya, tanpa tanda akan bangun.


Pada hari para pelayan mengejeknya, dia telah pergi ke sekeliling menanyai merekan apa yang dia harus lakukan. Ketika mereka merasa itu mengganggu, para pelayan dengan enggan menjelaskan, dan Rudel telah mengingatnya dengan seluruh kemampuan yang ia miliki.


“Bangun pagi dan berlari, makan makanan sehat dan mengunyah dengan benar sebelum menelannya…”


Bergumam pada dirinya, Rudel meninggalkan ruangannya dan berangkat… di mansion yang diterangi cahaya redup, sebuah sosok keluyuran, bocah yang berguman benar-benar sosok yang beralamat buruk.


Dan manor yang luas dimana orang dapat mengatakannya sebuah istana. Ketika Rudel berlomba mengelilingi halaman dari istana, dia sangat cepat kelelahan. Setelah sejauh ini, cara hidup kesehariannya yang tidak seimbang dan kebanyakan makan sangat menyiksanya… ketika dia hanyalah berumur lima tahun.


Melihatnya seperti itu, para pelayan dan prajurit yang berjaga menaikkan suara mereka dan menertawakannya. Diantara mereka terdapat juga yang terang-terangan mengejeknya. Tetapi dengan semua itu, Rudel berlari tanpa peduli pada yang dipikirkan mereka.


Ketika waktunya dia selesai berlari, tubuhnya dipenuhi dengan keringat, dan tubuhnya bukan di kondisi dimana dia dapat menerima makanan apapun. Akan tetapi, dia tetap pergi ke dapur, dan meminta pada juru masak untuk menyiapkannya sesuatu yang sehat. Itu merupakan pertama kalinya Rudel membuat permintaan dengan sungguh, namun ketika mendengarnya, juru masak- sebagian karena bagaimana sibuknya pada pagi hari- tidak berhenti untuk berpikir.


Baiklah, merupakan yang dapat dikatakannya ketika ia mulai menyiapkan jamuan yang cocok dengan permintaan.


Jamuan Rudel umumnya seorang diri. Tidak begitu disayangi oleh kedua orang tuanya, dan terus-menerus dipandang rendah pelayan estate. Dan apa yang disajikan diatas meja makan yang ditujukan pada satu orang adalah semua makanan yang dibencinya… sayuran, produk dari susu, dan ayam untuk protein… dari sudut pandang orang biasa, itu merupakan sebuah sajian yang mewah, namun Rudel merupakan anak sulung dari seorang archduke.


Ini merupakan perlayanan yang buruk. Apalagi, tidak terdapat tanda bumbu yang diberikan agar sesuai dengan seleranya. Dia membenci sayuran yang masih pahit, dan masakan lain bukan merupakan sesuatu yang anak kecil sukai.


Ini menunjukkan seberapa besar Rudel tidak disukai. Kalaupun dia berpikir untuk balas dendam, dia adalah orang bodoh, jadi dia akan melupakannya tidak dalam waktu lama, mereka akan terang-terangan melecehkannya.


Akan tetapi, Rudel,


“Selamat makan?[1]


Memberikan sapaan canggung ketika ia memakan sarapannya. Pahit! Pikirnya ketika ia bertahan untuk menjadi seorang dragoon. Setelah itu merupakan saatnya belajar dengan tutor rumahnya. Walaupun Rudel memiliki motivasi, tutornya tidak. Sementara dia umumnya menjawab jika ditanyai, sisanya tidak dihiraukan.


Akan tetapi, Rudel membaca buku paketnya, terus dan terus bertanya mengenai hal yang tidak dipahaminya. Tutor rumah yang berpikir Rudel adalah orang bodoh, Mengatakan beberapa sinisme… tetapi disini para penghuni mansion sedang dalam kesalahpahaman. Ketika terdapat masalah pada tindakan dan pikiran Rudel, kepalanya tidak begitu buruk. Ketika dia akan mengambil tindakan tanpa pikir panjang, kepalanya tidak pernah lebih buruk.


Ketika dia tidak mengetahui apa yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang dragoon, dia telah menanyai para pelayan, dan dia telah mendengarkan jawaban mereka. Dan dia segera mengubahnya dalam bentuk tindakan. Mungkin itu merupakan kekuatan Rudel. Jika bertindak sesegera mungkin adalah kekurangan Rudel, itu juga merupakan kelebihannya.


Selanjutnya merupakan latihan dalam permainan pedang dan bela diri. Tetapi disana juga…


“Ada apa, tuan muda!? Mencoba menjadi seorang dragoon ketika kau bahkan tidak dapat menghalang serangan ini, apa kau mencoba membuatku tertawa?”


Rudel gemetar ketakutan dari serangan tanpa ampun dari prajurit yang melatihnya. Sang prajurit yang mengetahui bagaimana menyiksa tanpa meninggalkan luka yang membekas merupakan seorang veteran yang berpengalaman. Namun setelah ditugaskan di wilayah ini, tugas pertamanya untuk mengajarkan Rudel yang bodoh permainan pedang… dia melampiaskan perasaan itu pada sang anak.


Walaupun seperti itu, Rudel berdiri.


“Sangat keras kepala…baiklah, kita lihat seberapa lama kau dapat bertahan!”



Kau dapat mengatakan bahwa pada hari pertama merupakan hal yang pastinya terburuk. Dia kehabisan napas setelah dia memulai berlari, dia tidak sampai dimanapun dengan belajarnya, dan tubuhnya berteriak dari permainan pedang. Akan tetapi, Rudel menarik sebuah buku dari rak buku dan merangkak kedalam tempat tidurnya.


“Dragoon merupakan kesatria terkuat…”


Itu merupakan sebuah buku yang mengenalkan dragoon dari kerajaan Courtois dalam bentuk mendekati sebuah buku bergambar. Ketika Rudel membacanya dengan keras, pelayan disampingnya mulai jengkel.


(Pergi tidur sudah sana, bocah sialan… aah, aku ngantuk.)


Dia sangat telat untuk menyadari… bahwa Rudel yang tidak pernah belajar dengan benar sedang menbaca sebuah buku seperti itu…


Ketika dia selesai membacanya, kedua mata Rudel tertutup dengan buku tetap berada di sisi kiri tempat tidur.


“Aku pastikan akan menjadi seorang dragoon…”


Dia langsung terlelap. Si pelayan mengambil buku itu dan mengembalikannya ke tempatnya semula di rak buku. Dan berbalik pada Rudel,


“Mana mungkin kau bisa. Kau benar-benar orang bodoh… Fhaaah, aku harus pergi tidur.”


Alasan mengapa pelayan disana awalnya untuk saat genting. Dia tentunya bukan di posisi dimana dia dapat tidur.

Catatan Translator dan Referensi[edit]

  1. Original Text - “Thank you for the meal?”. Sepertinya ini dari kata "Itadakimasu?".


Dragoon 2 : Anak Laki-Laki yang Dibenci[edit]

Di pagi hari yang lain, Rudel berlari lagi. Telah beranjak sepuluh, Rudel telah memahami untuk mengontrol Mana melalui tubuhnya untuk berlari dengan kecepatan yang luar biasa. Jika dia berlari di halaman, orang tuanya dan para pelayan akan komplain, makannya sekarang dia akan meninggalkan istana, dan berlari sepanjang dinding luar kota… untuk lebih tepatnya, dia akan berlari secara tegak lurus dengan dinding. Itu merupakan seberapa besar kecepatan yang dihasilkannya.


Dia akan berlari hingga waktu menandakan bahwa perutnya mamanggil, dan mempercayai jam perutnya, dia akan kembali ke istana untuk menemukan sarapan telah dihidangkan tepat pada waktunya. Di sebuah ruangan tanpa apapun, dia akan menikmati sarapannya… keseharian Rudel tidak berubah dalam lima tahun ini.


Dia akan menunjukkan sikap yang layak ketika dia makan, dan tanpa gagal,


“Selamat makan![1]


Dia akan mengucapkan permohonannya. Melihat dia seperti itu, pada pelayan merasa Rudel mengerikan. Ketika dia berbica pada dirinya sendiri di ruangan yang kosong… walaupun lima tahun telah berlalu, perlakuan pada Rudel belum berubah.


Walaupun begitu, Rudel tidaklah sedih. Untuk Rudel, yang hanya mengimpikan untuk menjadi seorang dragoon secepat mungkin, dia tidak memiliki waktu untuk mengkhawatirkan mengenai hal lainnya, dan dari awal dia tidak mengetahui apa itu kebaikan. Waktu ketika dia belajar hanyalah pada saat di dunia bukunya.


Akhir-akhir ini, ia kurang dan kurang menanyai tutornya. Tutornya menyimpulkan bahwa dia telah menyerah mencoba. Tetapi Rudel telah memahami kempuan dari tutor rumahnya. Terdapat saat yang sering terjadi dimana dia tidak mendapat jawaban yang memuaskan jika dia bertanya, jadi dia hanya beranjak ke belajar otodidak.


Dia telah membuat banyak permintaan ke orang tuanya untuk tutor baru, namun mereka tidak menanggapinya dengan serius. Alasannya, tutor itu sangat memuji adik laki-lakinya Chlust. Mereka cukup menyukai tutor yang akan mengatakan, Chlust memiliki masa depan yang besar dibandingkan dirinya...


Walaupun begitu Rudel memiiki seseorang yang dihormatinya. Mantan mercenary instruktor permainan pedangnya. Dia tidak memiliki hubungan terhadap Chlust kecil. Chlust diajari oleh pendekar pedang lain yang terkenal.


Teknik bela diri dan teknik berpedang mendekati pertarungan yang sebenarnya telah ditanamkan dalam tubuh Rudel. Itu karena dia dapat mengalaminya secara langsung Rudel menghormati si prajurit... meskipun begitu dia tetap diejek...


Dan suatu hari sebuah titik balik datang ke kehidupannya. Kelahiran dari adik perempuannya. Kedua adik perempuannya yang akan beranjak tiga tahun pada tahun ini tidaklah kembar. Ayah Rudel telah menanam bibit di tempat lain.


Yang pertama adalah Erselica, lahir dari ibunya sendiri, dan yang satunya adalah Lena. Mereka berdua menerima perlakuan yang sangat berbeda. Erselica sangat dimanjakan. Namun, Lena hanya menerima interaksi minimum.


Di Courtois dimana rambut pirang sangatlah lazim, Lena adalah seorang gadis yang menonjolkan rambut hitam dan mata berwarna hitam yang langka. Dia lebih sering berdiam diri dikamarnya. Namun diantara Lena dan Rudel, sebuah aliran pertemuan yang aneh akan terulang. Ruangan Rudel berada pada lantai dua, sedangkan Lena berada tepat dibawahnya.


Ketika Rudel akan memulai bergerak setiap hari ketika matahari terbit, keluar melalui pintu depan menjadi merepotkan... dia telah terbiasa dengan melompat keluar dari jendela. Pertama kali Lena menemukannya, dia pikir Rudel merupakan karakter yang mencurigakan. Dan sejak hari itu, dia akan bangun pada saat itu untuk mengamati sosok mencurigakan itu.


Bangun pada saat matahari terbit, pergi keluar, dan kembali setiap hari pada saat yang sama. Nantinya dia akan mengetahui Rudel merupakan kakak laki-lakinya yang lahir dari ibu berbeda.


Pada saat itu, kesan Lena terhadap Rudel adalah,


“Keren...”


Gadis kecil yang agak aneh. Lena memiliki sifat yang mendekati Rudel. Tipe orang yang tubuhnya bergerak dahulu sebelum pikirannya, seorang gadis yang akan makan dengan baik dan sering tidur... dan Lena memiliki ketertarikan terhadap Rudel. Dia akan mengikuti Rudel setiap hari untuk melihat punggungnya.


Mungkin karena itu, nama Lena di mansion dikenal dengan, ‘lingering shadow’. Rudel yang aneh dipasangkan dengan adik perempuannya yang aneh, itu berlanjut tanpa peduli hinaan para pelayan.


“... Apa yang kau lakukan disana?”


“Hah!?”


Suatu hari, setelah selesai melakukan latihan pedannya, Rudel memutuskan untuk berbalik pada Lena sebelum kembali ke ruangannya. Dia telah menyadari Lena untuk beberapa saat, sengaja menyembunyikannya. Tetapi saat itu terus terjadi hari ke hari, dia mulai kehabisan kesabarannya...


Ketika dia berbalik, dia menemukan seorang gadis yang tidak pernah ditemui sebelumnya... itulah kesan Rudel. Pada dasarnya Rudel tidak tertarik pada hubungan manusia yang berada pada mansion, dia bahkan tidak mengetahui keberadaan adik perempuannya.


“Y-yo!”


Sementara Lena memberikan sesuatu seperti sebuah salam, menatap dengan rasa ingin tahu ke dirinya, Rudel kesulitan. Dia tidak pernah menyangka untuk sebuah salam untuk datang. Dan dia mulai sedikit tertarik.


“...Yo?”


Sejah hari itu, Lena dengan berani mendekati Rudel. Rudel memiliki sedikit ketertarikan pada gadis yang berada didekatnya dengan gelisah, dan menyetujuinya. Dan mereka pergi sarapan bersama-sama.


“Bwo, ini rasanya pahit...”


Ketika dia menggigit sayurannya, Lena mengeluh pada Rudel. Rudel telah memakannya untuk lima tahun, jadi dia tidak menghiraukannya, tetapi secara umum, santapan Rudel rasanya buruk.


“Itu penuh akan nutrisi, jadi kamu harus makan dengan benar... kunyah dengan benar... tidak, jangan hanya menelannya, kamu harus mengunyahnya!”


Terhadap pahit yang membuka lubang di perutnya, Lena menelannya sebelum dia merasakan rasanya. Itu merupakan hal yang mengejutkan untuk Rudel... jadi cara seperti itu juga ada! Pikirnya... Sepertinya Rudel dan Lena sama-sama bodoh.


Dan juga dia mengajarkan Lena belajar. Tutor rumah yang sekarang tidak lebih dari sosok yang hanya berwujud, dan ketika Lenda berada di ruangan dia tidak mengatakan apapun.


“Satu, dua, tiga... banyak.”


“... Itu empat.”


Mungkin Rudel pikir Lena sebuah beban sebelumnya. Tetapi dia mengetahui seberapa besar keberadaan Lena untuknya ketika Lena terkena demam. Ketika seseorang yang terus mengikutinya tidak ada, dia tidak bisa apa-apa jika dia akan sangat khawatir.


Dan melihat Lena mengikuti untuk keesokan harinya, Rudel merasa tenang. Menyadari itu, Rudel...


“Apa kamu kesepian?”


“Kenapa?”


“Tidak apa-apa. Sekarang jangan manja, kamu harus mengunyah dengan benar dan makan... seperti kataku, jangan hanya menelannya!”


Pada fakta bahwa dia dapat memiliki percakapan seperti itu saat sarapan, Rudel memberikan terima kasihnya dengan tulus untuk pertama kalinya.


Dan pada hari lainnya, Chlust dan seorang gadis yang tidak diketahuinya datang berjalan di koridor dari arah berlawanan. Rudel dan Lena memiliki urusan di depan, jadi tentu saja mereka berjalan lurus. Tetapi Chlust dan gadis itu berjalan tepat di tengah koridor.


Rudel merupakan anak sulung. Jadi ketika dia berjalan di aula, dia jarang menyerahkan jalan ke orang lain. Dia berjalan lurus ke arah Chlust... Dibelakang Chlust, beberapa pelayan menahan diri sambil memperhatikan situasi.


“Kakak, maukah kamu menyingkir?”


“Chlust, Aku kakakmu, dan kupikir posisiku lebih tinggi dibandingkan dirimu.”


Saudara berbeda satu tahun, tetapi mereka yang dekat berpikir bahwa Rudel adalah orang bodoh, dan Chlust seorang yang berbakat.


“Rudel-sama, Chlust-sama sedang terburu-buru, jadi jika anda tidak memberikan jalan...”


Salah seorang pelayan mengatakannya, tetapi Rudel tidak akan mundur. Dia tanpa ekspresi berdiri di tempatnya sambil menunggu pihak lain untuk mundur. Yang jengkel dari itu semua adalah Chlust. Chlust selalu saja mendengarkan itu dari mereka disekitar,


‘Jika saja Rudel tidak ada... yang pantas untuk menjadi kepala keluarga adalah Chlust.’


Mereka akan berkata demikian. Jadi dia menyimpan rasa tidak suka yang berlebihan akan sikap Rudel. Dan didepan adik perempuan yang imut, menyerahkan jalan ke Rudel tidak dapat terpikirkan. Erselica menggenggam tangan Chlust sambil melotot pada Rudel, kakak yang tidak pernah terlibat dengannya.


Para pelayan di sekitar tahu ini tidaklah bagus. Jadi sementara itu akan menjadi jalan memutar, mereka membimbing Chlust ke jalur berbeda. Chlust berbalik membelakangi Rudel sambil berjalan menjauh...


Melihat kakaknya, Erselica berkata,


“Kamu hanya perlu menyelesaikannya...”


Saudara sedarah dengan dinding besar diantara mereka... Rudel dan Chlust akan berakhir bermusuhan untuk beberapa kali setelah itu.

Catatan Translator dan Referensi[edit]

  1. Original Text - “Thank you for the meal!”. Sepertinya berasal dari kata "Itadakimasu!".


Dragoon 3 : Anak Laki-Laki Melakukan Perjalanan[edit]

Pada umur lima belas tahun, Rudel telah dewasa. Tubuhnya telah tumbuh, dan latihanyannya telah membuat tubuhnya kuat. Saat ini dia telah dapat menggunakan sihir dasar, dan selain teknik berpedang, dia dapat menggunakan tombak dan panah... dia telah mendapatkan berbagai macam keahlian. Adiknya Lena yang selalu mengikutinya telah berumur delapan tahun. Tubuhnya telah berkembang, dan dia mendapatkan pelajaran yang mirip dengan Rudel.


Untuk Rudel, tahun ini merupakan tahun terpenting baginya. Telah ditentukan jika dia akan pergi ke sekolah swasta di ibu kota Courtois.


"Kak, apa kamu akan pergi ke ibu kota?"


Ketika Lena mengayunkan tombak khususnya ke arahnya, Rudel menerimanya dengan pedangnya sambil menjawab.


"Iya, kamu harus menjadikannya tujuanmu juga. Jika kamu tidak pergi kesana, kamu tidak mendapatkan kualifikasi untuk menjadi kesatria."


Melihat wajah kesepian Lena, hati Rudel terasa sedikit perih. Ketika dia telah memahami arti dari kesepian, Rudel menganggapnya tidak lebih dari emosi yang menyusahkan.


"Jangan khawatir. Aku akan kembali pada liburan panjang."


"Benarkah!?"


Walau sedang melakukan percakapan yang mengharukan, mereka terus mengayunkan senjata mereka. Kemampuan mereka telah berkembanga pada tingkat dimana mereka terlihat tertawa sambil mencoba membunuh lawannya. Langkah kaki Lena dan ketajaman tusukannya dapat membuat orang dewasa untuk malu. Dan Rudel yang menangkis serangan itu sambil melakukan percakapan merupakan hal yang luar biasa.


... Jika mereka tidak diremehkan, mungkin mereka berdua akan menjadi terkenal di seluruh Courtois dalam artian baik.


Rudel terkenal akan hal lain. Sebagai bocah bodoh yang tidak dapat hidup di kemasyarakatan... itulah pandangan Rudel yang tersebar di seluruh dunia. Di Courtois dimana ditekankan bahwa anak laki-laki tertua yang akan meneruskan sebuah keluarga, kecuali hal buruk terjadi, tidak diperbolehkan anak laki=laki yang lebih muda untuk mengambil alihnya.


Merasakan bajunya yang basah karena keringat, Rudel menghentikan latihannya. Mengikutinya, Lena duduk di tempat dan mengatur pernapasannya.


"Apakah sekolah itu menyenangkan?"


"Siapa tahu? Untukku, disana merupakan tempat untuk menjadi seorang kesatria, dan aku tidak terlalu peduli jika disana menyenangkan ataupun tidak... Aku tidak akan pergi ke suatu tempat hanya untuk bersenang-senang, tetapi tidak menjadikanku seorang kesatria."


Rudel melakukan perawatan pada pedang latihannya sambil menjawab pertanyaan Lena. Lena juga telah mempelajari bagaimana cara melakukan, dan dia mulai merawat tombaknya.


"Bagaimana caranya untuk menjadi seorang kesatria?"


"Kamu harus menyelesaikan kurikulum biasa, mendapat nilai yang cukup untuk jalur kesatria, dan mengambil ujian bertarung dan tulis."


"Uuurrrgh... Aku tidak begitu pandai dalam ujian tulis."


Ketika percapakan selesai, Rudel menyadari matahari mulai terbenam. Langsung berdiri, ia berjalan ke arah manor[1]. Jam perutnya memberitahukannnya sudah saatnya makan siang.



Beberapa hari kemudian, Rudel menaiki wagon[2] yang akan berangkat ke upacara matrikulasi[3]. Dengan garis keturunan dari salah satu dari tiga raja, wagonnya pun mewah, dan semua perabotan dan kebutuhan sehari-hari merupakan barang-barang mahal.


Mata masyarakat ketika mereka melihat wagon itu sungguh gelap.


Bukanlah suatu perasaan baik untuk mengantarkan kepergian anak bangsawan ―yang mengeksploitasi mereka― ke sebuah perjalanan dengan wagon yang mewah. Dari orang-orang yang mengentarkan kepergiannya, sikap kedua orang tuanya dan para pelayan tidak begitu berubah dari biasanya. Sebaliknya, beberapa dari mereka gembira.


'Dia akhirnya pergi'


Akhir-akhir ini, RUdel mendapatkan perasaan kesepian. Dalam sepuluh tahun ini, dia sangat berhati-hati untuk menghormati semua hal. Faktanya pandangan terhadapnya tetap juga tidak berubah pasti karena kesalahannya, pikirnya.


Dia sulit untuk menerima penilaian terhadapnya ini selamanya, dan pada saat yang sama, dia pikir ini menunjukkan seberapa putus asa dirinya. Meski begitu, RUdel ingin menjadi seorang Dragoon.


Ketika ia beranjak, Rudel mempunyai surat dari adiknya Lena tergenggam di tangannya.


'Lakukan yang terbaik!'


Kata-kata itu sendiri membuat hatinya terasa sangat ringan... melihat keluar jendela wagon, dia melihat langit tinggi yang tetap sama. Dan pada saat yang sama, dia menemukan naga yang didambakannya berlomba melintasinya. Dengan tergesa-gesa dia mengeluarkan tubuhnya dari jendela yang terlihat seperti dia akan melompat keluar, dia terus memandangi naga itu.


Binatang yang tak begitu lama tidak dapat terlihat lagi mengaduk-aduk hatinya. Mungkinkah si naga memberkati perjalananku? Rudel membuat dirinya salah paham. Dan menggunakannya sebagai bahan bakar, dia meneguhkan dirinya untuk melakukan yang terbaik di sekolah.



Telah melihat seekor naga sebelum mencapai Courtois Academy, Rudel sangat bersemangat. Dia terseret ke dalam apa yang dapat disebut dengan ciri khas saat ajaran baru sekolah, itu adalah kemacetan lalu lintas di sekitar gerbangnya. Meski begitu, Rudel menghabiskan waktu tanpa memperdulikannya.


Buku mengenai dragoon yang telah sering dibacanya hingga membuat pengikatnya rusak, dan buku pelajaran barunya yang sangat diperlukan di sekolah... dia membaca semua itu untuk membuang waktu.


"Sudah kuduga, ini buku yang bagus tidak peduli berapa kalipun kubaca."


Apakah aneh jika anak laki-laki berumur lima belas tahun tersenyum-senyum membaca sesuatu yang mendekati buku bergambar? Mungkin berpikir begitu, para siswa yang diterima memberikan Rudel tatapan jijik terhadap Rudel sambil melewati wagonnya.


Disana, seorang gadis muda berteriak.


"Betapa bodoh. Membaca buku bergambar yang dibuat untuk memuji para dragoon yang sombong itu...manusia benar-benar ganas, dan kalian bangsawang tidak dapat tertolong."


Rudel bereaksi berlebihan terhadap suara itu. Meletakkan bukunya, dia melompat keluar dari wagon dan melototi si gadis. Rambut hijau dan telinga panjang... melihati si gadis yang tidak lain merupakan elf demi-human, Rudel memberi bantahan.


"Aku mau kamu menarik kembali ucapanmu..."


Rudel sendiri tidak paham kenapa dia melompat dari wagon dan mendekati si gadis. Ketika dia biasanya tidak akan memikirkan pendapat orang-orang disekitar, untuknya untuk bereaksi hingga seperti itu sangatlah aneh... Rudel meyakinkan dirinya jika dia hanya gugup, telah datang di tempat yang baru.


"...Aku minta maaf. Aku telah berkata yang tidak-tidak."


"Hah? Apa yang kau katakan? Lebih penting lagi, lambang di wagonmu adalah lambang dari Archduke Arses, kan? Jadi kamu adalah anak sulung dari wilayah terburuk di Courtois?"


Ketika Rudel mencoba untuk mengakhiri masalah ini, saat ini si gadis yang mendekat. Peraturan Keluarga Arses sangatlah buruk. Dia tahu itu, dan dia merasa bersalah kepada masyarakat. Rudel sendiri sudah berkonsultasi ke orang tuanya beberapa kali, akan tetapi 'Jangan ikut campur!' mereka tidak akan menganggap serius dirinya.


Akan tetapi bagi Rudel, si gadis dengan mata yang sedikit sipit meneruskan.


"Betapa tenangnya! Ketika terdapat orang-orang yang menderita karena kalian, kau duduk disini membaca buku bergambar? Bukankah ada hal lain yang harusnya kau lakukan!?"


Si gadis elf menegurnya dengan mata yang sombong. Tetapi para pelayan di wagonnya mengangguk pada kata-kata itu tanpa berusaha menolong Rudel. Terhadap anak sulung dari salah satu tiga raja, ini tidak akan lepas hanya sebagai kekasaran. Apa yang dilakukan oleh siswi elf biasa adalah perilaku yang dapat menghasilkan eksekusi terhadap seluruh sukunya.


Tidaklah baik jika orang biasa menjelekkan bangsawan. Penjaga di gerbang sekolah berkumpul untuk mengendalikan masalah ini. Ini merupakan hal yang sering terjadi setiap tahunnya, dan masalah ini hampir dilaporkan. Ini merupakan lingkaran yang tidak menentu...


"Aku memahami penderitaan mereka. Karena itu aku datang kesini untuk belajar... jika aku telah mengatakan sesuatu yang menyinggungmu, aku minta maaf."


Rudel tidak dapat memahami kenapa dia berkelahi dengan gadis ini. Dia biasanya hanya mengabaikannya...


Semua yang ada disana pada saat itu tercengang dengan reaksi Rudel... sangatlah jarang melihat bangsawan tingkat tinggi meminta maaf hingga mereka binggung bagaimana mereka menanggapinya.


Ketika hal itu terjadi, seorang pemuda mengitari gerbang, datang dengan jalan kaki seperti siswa terdaftar lainnya. Dia menggumakan pakaian mewah seorang bangsawan, walaupun dia menghiasinya sedikit. Ketika dia tiba di pemandangan yang tak dapat terlukiskan dari Ruden dan si gadis, dia tertawa.


"Oy, oy, apa yang anak tidak berpengalaman sepertimu lakukan, mendekati seorang gadis muda elf?"


??? Tidak ada orang yang hadir pada saat itu yang memahami perkataannya. Pada saat itu, semua orang berusaha untuk menanggapi permintaan maaf Rudel...tentu saja, berdasarkan bagaimana kamu melihatnya, itu terlihat seperti dia sedang mendekati si gadis, namun...


Rambut emas yang berkilau, mata heterochromia[4] antara biru dan hijau yang sangat indah. Seorang lelaki yang sangat indah hingga terlihat tidak wajar...di pakaiannya, 'Lambang dari Count Hardie' tersulam dengan benang emas.


"Tidak, kami telah selesai disini."


Si gadis elf segera mendapatkan kembali ketenangannya, pergi seperti kabur dari bocah Hardie dan Rudel.


"Huh? Menurut Event[5], tadi seharusnya menjadi duel untuk menaikkan flag[6]gadis itu...apa aku sedikit berlebihan bermain-main dengan sejarah?"


Orang-orang disekitar mendapati monolog[7] sang bocah sangat menyeramkan. 'Sebuah duel? Beri kami istirahat! Lelaki itu dari salah satu keluarga dari tiga raja! Itu akan menjadi tanggung jawabmu!' Dengan maksud tersembunyi dari para tentara, Rudel dan bocah itu dipisahkan secara paksa, dan wagon Rudel mendapat prioritas untuk masuk sekolah.


Itulah pertemuan dari bocah 'tokoh utama', dan 'penghalang'-nya Rudel.

Catatan Translator dan Referensi[edit]

  1. Manor
  2. Carriage/Wagon
  3. Matrikulasi
  4. Heterochromia
  5. Event - Event disini merupakan istilah didalam game.
  6. Flag - Semacam pemicu untuk mendapatkan sebuah Event.
  7. Monolog


Dragoon 4 : Anak Laki-Laki Yang Mencurigakan[edit]

Setelah keributan di depan gerbang sekolah, Rudel menuruni wagon, dan membawa perlengkapannya ke asrama putra yang akan digunakanannya. Barang miliknya yang sedikit dibawa masuk hanya dalam beberapa putaran, dan setelah para pelayan memberi salam perpisahan, mereka beranjak pulang.


"Kamar yang tidak terlalu buruk...meski begitu aku rasa ruangan ini terlalu besar sebagai bagian dari asrama.”


Melepas bajunya yang dibordir berlebihan, dia berganti ke sesuatu yang lebih mudah untuk bergerak sambil mengecek jadwalnya. Setelah upacara penerimaan besok, sebuah rapat dan pesta penyambutan yang menunggu. Pada umur lima belas tahun, para siswa akan memilih antara dua, tiga atau lima tahun kurikulum… pastinya akan banyak lagi yang lebih bertalenta dibandingkan dirinya, dan dia bersaing dengan mereka untuk menjadi kesatria.


Sambil berpikir seperti itu, Rudel mulai menggerakkan tubuhnya di dalam kamar yang telah dirapikannya. Dengan tekanan dan kegelisahan ini, jika aku tidak menggerakkan tubuhku… pikirnya.


Tetapi walaupun dia melakukannya, dia tidak dapat tenang. Sejak dia datang ke sekolah, dia merasakan kegelisahan dan kegugupan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Dia merasa sesuatu yang mirip dengan godaan untuk meninggalkan kamarnya.


“Apa ini? Ini tidak pernah terjadi sebelumnya…”


Ucapnya sambil dia berpakaian yang cukup agar dia tidak malu walau terlihat berjalan-jalan. Walau dia berjalan mengitari sekolah―tepatnya areal di sekitar asrama putra― ‘ini bukan tempatnya,’ perasaan aneh bergema di dalam kepalanya…ah apalah! Dia membiarkan kakinya bergerak sesuka mereka.


Dan dimana kakinya membawanya… adalah asrama putri.


“Apa aku benar-benar frustasi[1]? Tidak, itu, mungkin… Aku seorang lelaki, dan bukannya aku tidak tertarik.”


Rudel cukup bingung akan kenyataan bahwa dia secara tidak sadar berjalan kesini. Beberapa tentara perempuan datang menghampirinya dengan waspada.


“Apa yang kau lakukan disana? Ini adalah asrama putri, dan laki-laki dilarang untuk masuk.”


Itu adalah penjelasan yang sopan, tetapi asrama putri menampung beberapa siswi yang memiliki derajat tinggi. Dan para tentara ini yang akan pertama disingkirkan jika sesuatu terjadi, para lelaki tidak lain hanyalah pembawa masalah.


Karena itu, walaupung mereka sopan, terdapat tenaga pada tangan yang mereka gunakan untuk menggenggam gagang pedang dipinggang mereka.


“M-maafkan saya. Saya hanya tersesat… dapatkan anda menunjukkan jalan ke asrama putra?”


“…aku akan membawamu kesana. Tetapi jangan berpikir alasan itu dapat berguna untuk kedua kali.”


Kelompok yang kesal mengelilingi Rudel dan mengantarkannya pulang.


“Haduh, akan bermasalah jika kalian bangsawan tidak mengontrol diri kalian! Dengarkan, satu kesalahan, dan itu akan menjadi masalah besar yang akan menimbulkan kekacauan antar keluarga…”


Si tentara perempuan berjalan didepan memarahi dan menjelaskan dengan nada lelah. Masalah sekolah ini yang sering disembunyikan merupakan sumber dari kesulitan yang tak henti bagi para tentara.


Sepertinya kalian melalui sesuatu yang sulit… yang dapat Rudel rasakan. Lagi pula dia tidak memiliki perasaan tidak senonoh, dan itu adalah tempat yang pikirnya tidak akan didatanginya lagi. Rudel kadang meminta maaf pada perkataan si tentara perempuan sambil dia menyusuri jalur ke asrama putra.


“Ah! Bisa kau tunjukkan kartu pelajarmu? Ini adalah peraturan, agar lebih jelas, jadi aku harus memastikan identitasmu…”


Dari sudut pandang bangsawan ke pendaftar biasa, sekolah menampung begitu banyak siswa, dan membawa kartu pelajar merupakan sebuah kewajiban. Ini untuk mencegah agar tidak ada orang asing yang dapat masuk, tetapi mengatur para siswa adalah tujuan utamanya. Kartu pelajar merekam jumlah penahanan dan berbagai macam masalah yang disebabkan oleh seorang siswa.


“Ini dia.”


Berkeinginan untuk hidup taat peraturan, Rudel terus membawa kartu pelajarnya seperti yang ditetapkan peraturan sekolah yang telah dipastikannya sebelumnya. Ketika dia menyerahkan kartu pelajarnya…


“…Rudel Arses? Archduke Arses-sama!!! M-mohon maafkan saya!!! Saya telah berlaku yang tidak pantas! Anda memiliki keperluan di asrama putri, benarkan? Saya akan langsung membawa anda…”


“T-tidak, saya benar-benar hanya tersesat!”


“Iya! K-kalau begitu, saya akan memanggil, ‘seseorang yang dapat memperkenalkan anda ke wanita seperti itu’… jadi saya mohon, jika mungkin… tolong, jangan para siswi… maafkan saya, saya sudah bersikap tidak sopan, benarkan.”


Rudel cukup kasihan melihat tentara perempuan yang bingung. Dan pada saat yang sama, dia paham bagaimana dia dimata orang-orang… apakah dia benar-benar terlihat begitu kelaparan[2]? Itu yang ada di pikirannnya, dia menjadi sangat depresi.



Entah bagaimana dia dapat menyelesaikan kesalahpahaman tadi, Rudel kembali ke kamarnya dan istirahat. Mungkin berinteraksi dengan lebih banyak orang daripada sebelumnya membuatnya lelah, dan walaupun masih terlalu dini, dia memutuskan untuk tidur.


Ketika pagi tiba, dia membuka kedua matanya saat fajar yang telah menjadi rutinitasnya. Setelah mengambil seragam yang lupa diambilnya kemarin, dia sadar dia masih memiliki waktu, jadi dia memutuskan untuk menjelajahi halaman asrama putra.


Tetapi suasana sekitar sama sekali tidak sunyi. Kerumunan pria kasar yang berlatih dengan pedang mereka dan melakukan pertarungan, suara dari kayu dan besi saling beradu berdering ke sekitar. Pemandangan yang membuat Rudel senang.


(Semuanya rupanya bekerja keras. Jika aku tidak melakukan yang terbaik, mereka akan melampauiku.)


Rudel menemukan sebuah tempat senggang di halaman dan mulai mengayunkan pedangnya. Beberapa kakak kelas menyadarinya dan coba untuk mengatakan sesuatu, akan tetapi malah memutuskan untuk meninggalkannya sambil mereka mencucurkan keringat mereka.


Setelah beberapa waktu telah berlalu, suara lonceng berdentang enam kali… mendengar itu, para siswa mulai beres-beres dan berjalan ke arah kantin. Rudel ragu akankah dia ikut atau tidak.


“Kau siswa baru, kan? Walaupun kau ingin ikut, kau bisa santai dulu sekarang… tempatnya masih sepi jam segini.”


“Tertulis bahwa kantin cukup populer, jadi sebaiknya bergegaslah.”


Rudel mengingat sebuah daftar untuk petunjuk penting yang telah dibacanya beberapa waktu sebelumnya. Dalam hal itu, si kakak kelas,


“Kantin akan ramai jika lonceng berdentang tujuh kali. Tapi orang sekitar sini yang akan ada jam segini.”


Dengan begitu dia mengikuti kakak kelasnya, dan memasuki kantin sekolah. Didalamnya, sosok laki-laki dengan piring merekan yang tertumpuk tinggi dengan makanan… membuat perutnya sakit.


“Lihat, bukankah sekarang sepi? Aku Vargas, kelas tiga.”


“Aku Rudel. Rudel Arses.”


“Seorang bangsawan? Aku dari desa, jadi aku cukup kurang paham jika mengenai bangsawan… yah, biarlah, salam kenal.”


Kakak kelas Vargas, dengan rambut merah panjangnya yang diikat ke belakang. Kulit coklatnya dan tubuhnya yang kuat sedikit terasa menakutkan, tetapi setelah berbincang dengannya, dia merupakan pria yang ramah.


“Iya!”


Untuk Rudel, ini adalah saat dimana dia mendapat teman yang dapat berbincang dengannya selain keluarganya.



Kembali ke kamarnya dari kantin, Rudel berganti ke seragamnya, memasuki bangunan besar atas perintah sekolah. Dibandingkan sebuah auditorium, ini seperti… benar, ini merupakan sebuah tempat yang mirip arena. Walau pertarungan memang dilangsungkan di tempat ini, penjelasannya tidaklah salah, tetapi…


“Saya senang akan banyaknya pemuda-pemudi yang kami sambut melalui pintu kami tahun ini…”


Setelah menerima pidato panjang dari kepala sekolah, para siswa terbagi dalam beberapa kelas dan memasuki kelas mereka masing-masing. Pada umumnya, sekolah hanya memberikan dasar pada dua tahun pertama, dan pembagian kelas hanya untuk memisahkan bangsawan yang saling berseteru, atau mengumpulkan mereka yang memiliki status rendah dalam satu tempat… itu merupakan hal semena-mena.


Tapi Rudel merupakan anak sulung dari Keluarga Arses, salah satu dari Tiga Bangsawan Tinggi. Untuk menghindari ketidaksopanan, dia dikirim ke kelas yang terdiri dari para bangsawan muda. Dan tahun ini, selain Rudel, anak sulung dari Tiga Bangsawan Tinggi lain juga akan memasuki kelas ini, jadi sekolah dipenuhi dengan suasana tegang.


“Aku harap kita dapat akur satu sama lain untuk dua tahun kedepan.”


Wali kelas memberikan salam singkat, dan perkenalan di kelas… yang seharusnya berakhir dengan tenang.


Akan tetapi itu tidak dapat terwujud. Sesuatu akan terjadi, tidak, dia akan membuat sesuatu terjadi! Sebuah sensasi aneh menguasai Rudel. Khawatir akan sensasi yang tidak pernah dirasakan sebelum dating ke sekolah ini, Rudel menyelesaikan perkenalannya tanpa masalah.


Akan tetapi!


“Izumi Shirasagi.”


Dengan perkenalan dari seorang gadis dari tirum, suasana di kelas berubah. Rambut dan mata hitam yang jarang terlihat di Courtois; karakter timur itu yang menjadi targer sempurna para anak-anak. Ejekan terlemparkan, dan perkataan untuk melukai si gadis terus bergema.


Kelas yang berfokus pada bangasawan. Untuk seorang gadis timur, yang mungkin saja dalam maksud pertukaran budaya. Sebenarnya, ini untuk menujukan perhatian kepadanya untuk meastikan para bangsawan tidak berseteru satu sama lain.


Para laki-laki dibelakanya menarik rambut panjangnya, yang dikuncir kuda[3] sambil mengoloknya… Ketika si gadis sedang dilecehkan, Rudel melihat adiknya sendiri Lean. Tidak seperti rambut Lena yang lurus dan terlihat halus untuk disentuh.


“Apakah kalian tidak bisa berhenti? Tahukah betapa memalukan kalian terlihat?”


Cukup sepatah kata dari mulut Rudel untuk membuat kelas kembali sunyi. Si guru mendukungnya dan mengingatkan para siswa yang menjahilinya. Untuk anak-anak ini yang tumbuh sebagai bangsawan, mereka terbiasa untuk menerima perintah. Berdasarkan derajat keluarga, tidak ada seorang pun yang dapat membantah Rudel dari Tiga Bangsawang Tinggi.


Pada akhirnya, guru memuju Rudel, dan mereka yang disekitarnya ikut setuju… untuk Rudel, suasana ini terlihat sangat salah.

Catatan Translator dan Referensi[edit]

  1. Dalam hal seksual.
  2. Dalam hal seksual.
  3. Ponytail


Dragoon 5 : Anak Laki-Laki Playboy dan Anak Laki-Laki yang Bereinkarnasi[edit]

Rudel telah dengan aman masuk ke sekolah [1]. Dengan memastikan tingkat dasar dan pemahaman siswa, tiga bulan pertama dilalui dengan tes kemampuan. Semua orang telah hidup di lingkungan yang berbeda-beda… perbedaan prestasi tiap siswa dan lingkungan yang akan membantu untuk membentuk kebijakan untuk kedepannya.


Dan seperti itulah, sekolah mengevaluasi siswa-siswa barunya… tetapi para guru berbeda pendapat mengenai penilain dari Rudel.


“Ini tidak mungkin! Fakta bawha telah menyelesaikan pembelajaran dasar adalah hal lain… tapi untuk sihir dasar sampai permainan pedang dan bela diri, nilai ini sungguh tidak masuk akal!”


“Dan kudengar Rudel-sama dari Keluarga Arses seharusnya orang gagal[2].”


“Sepertinya kita mendapatkan panen besar[3] tahun ini… anak sulung dari Tiga Bangsawan Besar juga unggul dalam sihir dan permainan pedang.”


“Tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keanehan Aleist Hardie? Bocah itu bisa menggunakan sihir lanjutan, iya kan? Walaupun dia otodidak, permainan pedangnya tidak bisa diremehkan.”


“Menggunakan dan menguasai adalah hal yang berbeda! Karena ini kalian orang bodoh suka berbesar kepala… dengarkan, Rudel-sama telah menguasai sihir daras. Di uji tarung, para penguji yang melawannya takut dan menyerah di tengah jalan!”


Para guru merenung… benar, jadi orang yang tidak mampu merupakan suatu masalah, tapi jadi orang yang terlalu mahir juga sama. Itulah bagaimana mereka bermasalah untuk bagaimana mereka menanganinya…


Dikenal sebagai bocah pembawa masalah, sementara Rudel pada dasarnya orang yang bodoh, dia sangat jujur. Dia tekun mendengarkan pelajaran, dan tidak ada masalah dengan sikapnya kepada para guru. Dia membenci segala macam ejekan yang tidak baik, dan di kelas, dia menertibkan sekitarnya.


Cukup sedikit yang dapat diajarkan padanya. Malah, tidak ada apapun yang dapat diajarkan lagi padanya!


Di uji tarung, beberapa dari penguji telah dikalahkan. Bahkan walaupun mereka adalah penguji dari kurikulum dasar, mereka memiliki kemampuan yang cukup baik.


Dan Rudel akan sering kali menunjukkan tingkah laku yang luar biasa. Dia telah menantang siswa yang telah mendapatkan kualifikasi kesatria untuk bertarung, dan menanyai siswa yang berbakat dan guru yang mempelajari sihir apapun yang tidak dipahaminya… dia akan melakukan semua hal yang tidak dapat diduga.


Dan masalah dari deklarasinya, ‘Aku ingin menjadi seorang Dragoon’. Pahwalan dari para pahwalan yang kemampuannya sulit untuk ditemukan di seluruh kerajaan… jika bocah bangsawan yang manja mengatakan untuk menjadi salah satunya, banyak orang yang akan mengerjainya. Tetapi derajat Rudel sangat tinggi jika sesuatu terjadi, tidaklah aneh jika kepala semua orang akan melayang.


“Kenapa harus seperti ini!? Dia sangat berbakat dan tekun kita tidak dapat memperingatkan dia, dan memberikan pendisiplinan kepadanya sangatlah sulit…”


Kesulitan para guru pun berlanjut…



Tiga bulan setelah pendaftaran, Rudel sedang mengulas kembali pelajaran bersama Izumi di dalam ruang kelas. Untuk Izumi yang datang dari negeri seberang, dia tidak akan lepas dalam melakukan ulasan kembali.


“Ini sulit…”


Sementara Izumi mahir dengan nomor[4], Rudel membaca buku sambil mengabaikan Izumi belajar. Walau Rudel punya masalahnya sendiri. Pakaian Izumi terlalu terbuka… dipenuhi dengan rasa ingin tahu, Rudel berusaha keras untuk menahan diri.


(Kuh! Kenapa harus terbuka[5]… Bahkan aku bisa melihat kulitmu secara langsung!!!)


Pada umur lima belas tahun dalam masa puber, Rudel telah mengembangkan rasa ingin tahu dalam hal lain selain Naga. Dan akhir-akhir ini, dia merahasiakan beberapa pertemuan yang bermacam-macam. Dimulai dari para kesatria yang bertugas untuk keamanan asrama putri, dan guru sihir dasar… mereka semua adalah wanita.


(Mungkinkah ini? Sebuah ujian untuk menggoda ku dan mencegahku untuk menjadi seorang dragoon? Kalau begitu aku tidak akan kalah!!!)


Rudel menemukan resolusi baru di bagian yang aneh. Kenapa dia harus memasuki pemikirian seperti pendeta[6]?



Jadi Rudel memutuskan untuk berkonsultasi dengan Vargas untuk masalah ini.


“… Iya, jadi? Kau tidak perlu bereaksi berlebihan pada setiap pakaian minim yang kau lihat! Dan juga kau harusnya akan berhubungan[7] dengan manajer asrama dan guru perempuan jika kau seorang pelajar! Berapa sih umurmu?”


Kepada konsultasi Rudel, Vargas memberi jawaban lelah.


“Lima belas.”


“Aku tahu! Aku menanyakan umur batinmu! Dengarkan, hanya…”


Ketika Vargas akan menjelaskan, dua guru perempuan berpapasan dengan mereka. Melihat mereka, guru-guru perempuan itu melambaikan tangan mereka sebagai sapaan. Vargas mengacuhkannya sambil dia melambai balik… Rudel sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


“I-iya. Kau dan aku, kita berdua masih muda, seperti itulah. Yep!”


“Apa yang harus aku lakukan agar tidak terlalu terpengaruh oleh itu[8]? Jujur saja, menahannya dan semacamnya seperti aku hanya hanya membuang-buang waktu, atau bahkan…”


“Entahlah? Mungkin akan berbeda lagi jika kau punya beberapa pengalaman atau sesuatu.”


Pada perkataan Vargas yang tidak hati-hati, Rudel langsung beraksi. Dia berdiri, dan menemukan resolusi baru.


“Baiklah! Aku akan mencari pengalaman! Terima kasih Vargas!”


…Pada perkataan Rudel, awalnya Vargas melihat dia pergi sambil melambai. Ketika Rudel sudah tidak terlihat, dia baru sadar.


“Ah! Tunggu! Sebentar, Rudel!!!”



Rudel belum mengkonfirmasi apa yang harus dia alami. Jadi bocah itu datang ke perpustakaan untuk mengumpulkan data. Perpustakaan yang layak untuk sekolah swasta, dan untuk saat ini, Rudel sedang mencari sebuah buku yang berkaitan untuk mendapatkan pengalaman.


“…Ini tidak bagus. Aku tidak bisa menemukannya.”


Umumnya, dia menggunakan perpustakaan kapanpun dia ingin untuk mempelajari ekologi dari naga, dan kemampuan yang dibutuhkannya untuk menjadi seorang dragoon, jadi dia tidak pernah menyangka akan membutuhkan waktu untuk menemukan sesuatu. Kalau begitu aku hanya perlu bertanya! Dia melanjutkan bertindak berdasarkan instingnya…


‘Siswa terkait perlu diberikan penahanan. Rudel Arses.’


Didalam ruang pendisiplinan dari asrama putra, Rudel duduk diatas sebuah kursi. Dia berdoa agar ini tidak akan mempengaruhi masa depannya. Ini tidak akan mencegahnya untuk menjadi seorang dragoon, kan? Lebih penting lagi, bukankah dua minggu untuk penyesalan terlalu berlebihan? Yang aku katakan hanya, berikan aku beberapa pengalaman! Pengalaman apa? Yang aku tanyakan hanya…


Ketika Rudel berpikir demikian, Vargas membawakannya makanan.


“Apa yang kau lakukan!? Dengarkan, mengenai pengalaman diantara pria dan wanita, itu sudah pasti 〇〇〇! Sekarang coba katakan itu dengan wajah datar… apa kau mesum!?”


“Kau benar. Aku tidak pernah dengar seseorang memberikan salam dengan kata. ‘Mau melakukan 〇〇〇?’ Tapi apa kau bisa katakan itu tidak pernah terjadi?”


“Ada apa dengan pemikiran itu!?”


Walaupun ini mungkin menyimpang, dari wanita yang didesak Rudel… dia telah merayu beberapa ratus, dan menerima tanggapan positif dari beberapa lusin.


Diantara mereka, beberapa…siswi bahkan mengatakan ‘Oke’.


Ketika Rudel dengan sempurna mengeksekusi strategi, ‘jika kau menembak sebanyak mungkin, kau pastinya akan mengenai sesuatu,’ sejak hari itu, para siswa kagum padanya, dan memberikannya sebuah julukan. ‘Pria Playboy’.



Aleist Hardie adalah seorang reinkarnator. Rambut pirang, dan heterochromia[9] menghiasi tingkat kecantikannya yang tidak wajar… itulah Aleist. Dia memiliki pemahaman lengkap mengenai dunia ini. System pertumbuhan, event[10], panduan penyelesaian… itu semua muncul dari dunia game yang disukainya.


Dengan semua itu, ada suatu sosok yang dapat dikatakan tidak dapat diterka. Rudel.


Perannya seharusnya untuk menjadi anak dari seorang bangsawan sombong, dan tanda dari bangsawan keji yang menyiksa masyarakat. Dengan kepribadian yang membenci kerja keras dan menyelesaikan segalanya dengan uang, dia dengan tenangn melakukan perbuatan yang sangat pengecut.


Rudel yang seharusnya menjadi karakter batu pijakan untuk tokoh utama Aleist. Di event pembuka, dia seharusnya mengalahkan Rudel mendekat ke seorang gadis elf dengan sikap keren, menjalankan sebuah flag[11] dengan gadis itu.


Setelah itu, Rudel akan membawa pengikutnya dan membuat kekacauan di asrama putri. Disana, si gadis elf akan mencari pertolongan darinya, dan dia akan mengalahkan Rudel dan pengikutnya… ini harusnya menjadi sebuah event besar dimana Aleist akan mendadak terkenal, tetapi Rudel kembali setelah dia tiba.


“Apa yang terjadi? Apa ini salahku karena tidak menjadi orang biasa seperti tokoh utama? Apakah karena aku mendapat status Count[12] jadi para gadis tidak berani mendekat? … kalau begitu, ini sangat buruk! Kenapa aku harus meminta untuk status ‘saat itu’! Aku bodoh!!”


Tapi itu akan segera berakhir. Pada akhir tahun pertama, sebuah event menunggunya. Turnamen antar kelas… sebuah pertarungan satu lawan satu antara lima wakil kelas tiap tahunnya.


“Statusku saat ini adalah tingkat lanjut dari ‘Rune Knight’, dan aku dapat menggunakan sihir tingkat lanjut. Jujur saja, aku dapat bertarung dengan para alumni dengan kemampuanku. Jadi seberapa lama aku harus membuang waktu sampai nanti… belum ada event dengan pemeran utama, dan aku belum bertemu dengan elf ‘Millia’ sejak saat itu… aah, aku bosan.”


Bagi Aleist yang mengetahui segalanya untuk sistem pertumbuhan dari awal, sangatlah mudah untuk mencapai pekerjaan tingkat lanjut pada saat dia menginjak lima belas tahun. Di sihir dan permainan pedang, Aleist dijuluki sebagai yang terkuat tahun ajarannya.


… Namun pemeran pembuka yang dikatakannya, ‘Millia’,’Izumi’, dan ‘Vargas’ telah berhubungan dengan Rudel.


Pergi dan cari mereka, Aleist-kun…

Catatan Translator dan Referensi[edit]

  1. Dalam hal registrasi.
  2. Tidak menghasilkan prestasi apapun dan hanya membuat masalah.
  3. Mendapatkan siswa dengan kompetensi yang tinggi.
  4. Pandai berhitung.
  5. Pakaian minim.
  6. Monk : Pendeta dari Buddha yang umumnya mengisolasikan dirinya dari hasrat duniawi
  7. Komunikasi
  8. Masalah Rudel mengenai pakaian minim yang sebelumnya dibicarakan
  9. Heterochromia
  10. Istilah Event pada game.
  11. Flag dimana syarat terjadinya sebuah Event
  12. Merujuk pada peringkat bangsawan pada zaman pertengahan


Dragoon 6 : Anak Laki-Laki dan Gadis Samurai[edit]

Libur panjang di tahun pembelajaran. Disamping itu, Rudel pulang ke rumahnya. Walaupun jika dia hanya pergi selama tiga bulan, semuanya merupakan pengalaman baru untuknya, dan merasa sedikit pertumbuhan pada dirinya.


Tapi tidak ada perubahan pada perlakuannya di rumahnya Keluarga Arses. Lebih dari itu… ketika ayahnya melihat kartu laporannya, dia menjadi iri pada si bocah yang melakukan lebih baik dibandingkan dirinya. Ayah Rudel juga bukan lah bocah baik, dan ketika dia mengetahui anak bodohnya Rudel lebih berbakat dibandingkan dirinya, sikapnya mengalami perubahan drastis.


“Apa bagusnya selembar kertas itu!? Tidak peduli sebesar apapun upaya manusia tidak berguna sepertimu, tidak ada apa-apanya!”


Ayah Rudel telah memberikan semua harapannya kepada Chlust. Chlust yang pintar dan patuh… Namun Rudel yang berbakat telah melampaui semua bakat yang dilihatnya pada Chlust.


“Wajahmu sangatlah menjengkelkan untuk dipandang!”


Jika mereka menyadari aku bukanlah tidak berguna, akankah perlakuan orang-orang disekelilingku berubah? Itulah harapan kecil Rudel. Setelah mengalami berbagai macam pertemuan di sekolah, hidupnya dirumah tidaklah begitu menyakitkan.



“Kak? Ketika kau akhirnya pulang, kau terlihat murung.”


Adik tirinya Lena mulai khawatir sambil dia memakan sarapannya dengan Rudel, dan bertanya. Kakaknya yang selalu makan sarapan dengan rasa yang buruh tanpa meninggalkan apapun sama sekali belum menyentuh makanannya.


“Iya, hmm… hei, kenapa kamu piker aku dibenci?”


“? Apa yang kamu bicarakan, kak? Aku cukup menyukaimu.”


Rudel terkena senyuman polos dari adiknya. Perasaannya mulai tenang,


“Begitu ya… berar juga. Terima kasih, Lena.”


Rudel pikir. Terdapat waktunya ketika dia pikir sikap sekelilingnya itu normal. Tapi sekarang dia telah mulai merasakan kegelisahan terhadap kebencian disekitarnya… itu mungkin dikarenakan dirinya yang lemah, dia meyakinkan dirinya.


Dan pada saat yang sama, Rudel paham dia perlu menjaga orang-orang yang memegang perasaan positif padanya. Sejak saat ini, dia yakin untuk menghadapi pertemuan penting lainnya.


“Dan juga! Kamu tidak akan menjadi dragoon seperti itu. Kakakku adalah seseorang yang tidak pernah putus semangat.”


Pada kata-kata itu, Rudel tersenyum. Reaksi Lena menunjukkan dia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.


“Kamu benar! Itu benar sekali. Tidak seperti diriku untuk depresi terus.mau melakukan beberapa latihan diluar?”


“Iya! Aku akan menunjukkanmu seberapa kuat aku dalam tiga bulan ini.”



Seperti itu, liburan pun usai, dan Rudel kembali ke sekolah. Dia tiba di sekolah beberapa hari lebih awal, dan ketika dia melihat sekitar, kenalan yang dapat ditemuinya hanyalah Izumi. Bahkan… dia belum menanyakan apakah Izumi pulang ke rumah.

Menyiapkan beberapa kue dari daerahnya sebagai oleh-oleh, Rudel mengundang Izumi ke kantin. Dia membawa beberapa kue standar. Melihatnya, Izumi menerimanya dengan segan.


“Aku minta maaf. Aku tidak dapat membawakan oleh-oleh apapun.”


Pada perkataan itu, Rudel bertanya tanpa berpikir panjang.


“Kau tidak pulang ke rumah? Kenapa?”


Sambil sedikit ragu-ragu, Izumi telah memahami kepribadian Rudel selama tiga bulan terakhir. Rudel jarang bertingkah sambil membaca suasana. Dia tidak akan ambil pusing untuk mengingat hal-hal yang tidak menarik baginya. Pada sisi lain, dia akan mencoba sekuat tenaga untuk mempelajari semua yang dapat dipelajari jika dia tertarik…


Menyerah, Izumi menjelaskan.


“Rumahku sangatlah jauh, dan keluargaku tidaklah berkecukupan. Dan aku seorang wanita, kan? Namun sekarang aku memasuki sekolah negeri seberang. Aku memiliki sedikit kenalan yang tidak berpikir bagus akan hal ini. Ini mungkin sulit untuk dipahami dengan perbedaan budaya kita.”


Rudel mendengar semuanya dengan serius. Baginya, apakah Izumi adalah wanita ataupun pria bukanlah masalah besar. Terdapat beberapa kesatria perempuan diantara para Dragoon. Itu lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa wanita juga memiliki kemampuan.


Apalagi, dia tertaruk akan permainan pedang Izumi. Awalnya dia melihat Izumi menarik ‘katana’ yang tipis dan melengkung untuk memotong, dia merasa kagum.


Tetapi walaupun begitu, Rudel tidak akan menyangkal budayanya.


“Terdapat banyak hal yang tidak aku ketahui mengenai budaya, jadi aku tidak dapat mengatakan apapun. Tapi aku tidak berpikir kamu harus merendahkan dirimu hanya karena kamu seorang wanita. Kamu kuat, dan cantik.”


“Tunggu, apa!? R-Rudel? Kepalamu terbentur atau apa?”


Wajah Izumi memerah. Tetapi pada saat yang sama, dia mengingat kepribadian Rudel. Dari sudut pandangnya, Rudel dapat dikatakan aneh. Pada suatu saat dia akan melakukan hal yang berlebihan, dan karena itulah, dia sering menarik sekitarnya. Namun dia seorang pekerja keras, dan tekun… Rudel pada dasarnya tidak dapat memuji.


Cukup sering dia bingung terhadap perkataannya yang datang tanpa pikir panjang, tetapi mendengar Rudel mengatakan dirinya cantik adalah hal yang membuatnya senang.


“Ada apa? Apa aku mengatakah hal buruk lagi? Kalau begitu akau akan meminta maaf…”


“Hah, bukan begitu. Aku hanya tidak berpikir ada orang yang melihatku secara langsung dan mengatakan bahwa aku itu cantik sebelumnya… ngomong-ngomong, apa kamu menikmati perjalananmu pulang?”


Izumi mencoba untuk mengganti topic pembicaraan. Tetapi,


“Oh? Apakah dirumahku menyenangkan? Aku lebih tertarik mendengar perkataanku yang salah tadi.”


Tidak dapat menghindarinya, Izumi dengan hati-hati menjelaskan padanya dengan wajah yang memerah. Untuk membuatnya lebih secara tidak langsung, atau dia nantinya akan salah paham jika Rudel mengatakannya secara langsung padanya dengan nada serius… setelah hal itu berlalu dua hari sebelum sekolah dimulai pun berlanjut, beberapa siswa yang tersisa memperhatikan Rudel dan Izumi dengan tatapan hangat.



Pada semester kedua, dan bersamaan dengan sebagian besar kegiatan sekolah. Siswa kelas satu dan dua hanya diajarkan kurikulum dasar, jadi mereka melaksanakannya bersamaan dengan kegiatan belajar sehari-hari. Tetapi sekolah yang umumnya merupakan tempat untuk meluluskan kesatria dan ahli sihir, kekuatan perang dan pegawai sipil… acara ini dimaksudkan dengan tujuan tersebut.


“Bulan depan, kita akan berlatih teknik untuk berburu monster. kegiatan gabungan ini antara kelas satu dan dua, dan kalian tidak akan mendapat nilai jika kalian bolos.


Seperti yang telah dijelaskan oleh wali kelas, kelas yang sebagian besar ditempati oleh bangsawan bersuara tidak senang. Ini adalah latihan yang menggunakan hutan yang cukup dekat dengan sekolah. Tentu saja, walau dikatakan dekat, jaraknya tetap beberapa kilometer jauhnya… monster yang diburu pastinya yang siapapun dapat kalahkan.


Ini adalah latihan bertarung untuk melatih kerjasama ke dalam tubuh mereka. Tentu saja, seorang pemburu handal akan ikut. Dengan perseteruan antar kelas, ini akan menjadi sebuah kompetisi. Peringkat pertama diantara kelas dua akan mendapatkan hadiah yang disebut kehormatan… yah, sebernarnya mereka tidak mendapatkan apapun.


“Pertarungan, ya… ini pertama kalinya untukku.”


Rudel begitu semangat mendengar latihan yang orang lain enggan untuk berpartisipasi. Dia akan menantang monster yang orang lain dapat kalahkan, namun monster yang umumnya berkelompok. Sementara ini dapat memastikan keamanan sekolah, ini juga bertujuan untuk mengurangi populasi monster, membuat latihan ini sangat bermanfaat.


“Kalau begitu mari kita mulai kelas. Buka halaman…”



Sebuah kejanggalan sedang berlangsung di dalam hutan dekat sekolah. Pohon-pohon tumbang, dan mayat dari monster lemat berserakan di segala tempat. Bersamaan dengan geraman lemah, sebuah sosok besar yang diselimuti dengan bulu bergerak.


“Grrrrruuuuuu!!!”


Seekor babi hutan yang kuat, dengan kedua matanya merah menyala sambil menerkan monster-monster. Sementara itu terdapat situasi yang tidak normal, si monster yang tidak cocok dengan sekitarnya menghilang ke dalam hutan.


Kulit berbulu hitam, dengan garis putih menghiasi seluruh tubuhnya, sebuah monster yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Namun apa arti dari kehadiran ‘monster yang tidak mungkin ada’ ini…

Catatan Translator dan Referensi[edit]


Dragoon 7 : Anak Laki-Laki dan Wanita yang Lebih Tua[edit]

Suasana sekolah berbeda dibandingkan biasanya. Para siswa dari kurikulum dasar semuanya sudah berkumpul, memakai pakaian agar mudah bergerak, setiap siswa membawa senjata. Senjata ini dapat barang pribadi atau senjata yang dipinjamkan oleh sekolah, dan tidak ada rasa keseragaman dari perlengkapan mereka.


“Untuk selanjutnya, kalian akan berjalan ke hutan terdekat…”


Guru yang bertugas menjelaskan kepada para siswa semua hal yang penting dan bahaya. Namun pada akhirnya, berpikir mereka hanya melawan beberapa monster lemah, pada siswa tidak serius.


Perjalan pun dimulai. Ini merupakan kegiatan tahunan yang tidak bisa ditinggalkan, jadi mungkin para guru juga kurang semangat… sambil mereka berjalan dengan jumlah yang cukup banyak, penampilan mereka dimulai dari anak-anak dengan senjata hingga seperti tentara mapan. Benar, percampuran dari sebuah pasukan…



Kelas Aleist berjalan dengan Aleist di bagian depan yang melenyapkan semua yang berada dijalurnya. Bagi Aleist, kegiatan ini adalah sesuatu yang bagus untuk memanen EXP, tidak lebih dan tidak kurang.


“Ah, Aleist, tidak boleh, Aleist! Kamu menghancurkan hutannya.”


Dari serangan beruntun dari sihir tingkat lanjut yang memiliki area besar, pohon-pohon di hutan bertumbangan, dan tanah terkoyak… hamper seperti ada sebuah badai yang lewat…


Teman sekelasnya melihatnya seperti mereka melihat sesuatu yang mengerikan. Namun si bocah yang bersangkutan tidak menyadarinya. Kegiatan ini semuanya ditujukan untuk dia…


“Sesuatu dengan tingkat ini bukan apa-apanya… dan jika kita tetap seperti ini, kita akan tiba pertama.”



Di jalur yang lain dari kelompok yang memaksakan diri mereka untuk menerobos hutan, Rudel berjalan dengan penuh kerja keras. Sementara teman sekelasnya berjalan melalui hutan, seseorang harus memimpin. Para pemburu handal memantau para siswa dari belakang, dan jika situasi menjadi berbahaya, mereka akan memberikan perintah.


Namun pada situasi lain, Rudel terpilih menjadi pemimpin karena derajatnya yang tinggi. Tentunya, kenyataan bahwa tidak ada yang dapat melawan garis keturunannya adalah salah satu alasan lainnya. Ini adalah sebuah cara untuk mendiamkan pada bangsawan muda.


Mungkin karena itu… diantara bangasawan tinggi, ini sudah menjadi seperti sebuah kompetisi. Walaupun Rudel sepertinya tidak begitu peduli…


Para ahli yang tidak bersangkutan pada kegiatan ini[1] menyeringai sambil mereka memantau Rudel yang dengan kaku memimpin dan bertarung. Ketika dia mencoba untuk bergerak, temannya akan menghalangi, dan ketika dia bertarung, temannya akan tersesat… cukup sekali lirik untuk mengetahui mereka sedang mengalami masalah.


“Kuh! Kita tidak memiliki kemajuan.”


“Tenang, Rudel. Dibandingkan monster, hanya berjalan melalui hutan ini saja cukup berat.”


Izumi menjelaskan pada Rudel. Melihat sekitar, teman sekelasnya kelelahan karena tidak terbiasa berjalan di hutan dan menerima lebih banyak luka dari pepohonan dibandingkan monster.


Dengan masalah seperti itu terulang, matahari mulai terbenam, dan hutan menjadi gelap. Karena berkemah juga salah satu bagian dari latihan, sebuah kelas yang hanya terdiri dari bangsawan memiliki kerugian besar. Tentu saja, kelas ini memiliki beberapa orang berbakat yang membantu dari belakang.


“Oy! Kenapa aku harus melakukan sesuatu seperti mendirikan sebuah tenda!?” “Cepatlah! Kami semua kelelahan, dan kami ingin istirahat!” “Lalu kenapa tidak kau saja yang melakukannya, dasar bangsawan miskin!”


Di belakang, para ahli tersenyum sambil mereka melihat adat tahunan ini. Rudel juga jengkel karena semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya. Melihat peta, dia berkecil hati pada kenyataan dia tidak dapat mencapai titik yang direncanakan.


“Jadi hutan merupakan ancaman terbesar dibandingkan monster… hal yang tidak dapat dipandang remeh.”


Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk pertama kali mencapai titik akhir. Kalau seperti ini, mungkin saja mereka akan tiba terakhir. Para kelas dari orang biasa telah berjalan pada jarak yang cukup jauh. Jika seperti ini, akan ada jarak yang cukup jauh diantar mereka. Apakah ini kenyataan… pikir Rudel sambil semangatnya turun.


“Mari kita istirahat hari ini. Kita dapat mulai pagi hari besok.”


Upaya Izumi untuk menyemangati Rudel tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Bagi Rudel, ini adalah kegiatan penting yang akan mempengaruhi nilainya. Untuk menjadi seorang dragoon, nilainya di sekolah akan menjadi syarat. Ketika dia berpikir seperti itu, Rudel tidak dapat tenang.


“Kita akan menebus kekurangan hari ini besok!”


Rudel meyakinkan dirinya. Namun kenyataan tidak begitu indah.



Ahli pemburu monster, banyak cara untuk menyebut mereka, tapi mereka cukup mirip dengan tentara. Mereka terdiri dari tentara bayaran dan penjelajah, hingga mereka yang sangatlah ahli dalam pertahanan… berbagai macam yang telah dikumpulkan.


Diantara mereka beberapa berharap untuk pertemuan penting di kegiatan ini. Bukan yang berkaitan dengan romansa. Mereka pelindung mencoba untuk menjual[2] diri mereka ke bangsawan-bangsawan muda… mereka mendapatkan informasi mengenai bangsawan yang memiliki kuasa sebelumnya. Sementara ini tidak sepenuhnya diperbolehkan, jika mereka berbuat sejauh itu, mereka akan terlampaui dalam waktu dekat.


Salah satu anggota diantara mereka, Basyle adalah seorang wanita yang memiliki karakteristik kulit kecoklatan dan rambut pirang berkilau. Disenjatai dengan tongkat berbilah[3] yang orang tidak bisa bedakan apakah itu sebuah tombak atau tongkat, dia menggunakan pakaian penari yang sangat terbuka. Jika dilihat dari tempat dia berada, itu sangat tidak benar, namun inilah bukti akan kemampuannya yang dapat membuatnya seperti itu.


…Setelah berjalan lama melewati hutan, dia tidak tergores sedikitpun.


“Yah, untuk bocah zaman sekarang, kurasa ini cukup untuk dikatakan lolos?”


Dia membuat keputusan sambil melihat kearah kemah kelompok Rudel. Tentu saja, ini adalah keputusan yang mempertimbangkan bahwa para bangsawan ini baru pertama kali di alam liar… dengan kriteria normal, mereka tidak perlu dipertanyakan lagi.


Ucap salah satu rekan pelindung Basyle.


“Penjaganya tertidur, api unggun padam… dengan bagaimana ini berlangsung, orang-orang disekitar tidak dapat tertidur.”


Dia mengangkat bahu sambil memberikan pendapatnya. Malam adalah saat dimana monster paling aktif. Itu adalah waktu yang membawa ancaman terbesar.


“Aku senang aku dapat melindungi kelas ini. Ketika semuanya telah dikatakan dan dilakukan, kita mempunyai keluarga Arses, dan segala macam bangsawan yang kaya… semakin tidak berdaya mereka, semakin besar kesempatan untuk beraksi.”


Bagi Basyle, jika dia akan pensiun sebagai penjelajah dan posisi pelindungnya, maka dia tidak masalah bersama anak-anak. Dia bahkan berpikir untuk memberikan tubuhnya.


“Tapi… Rudel itu tidak disangka cukup mampu. Para penjual informasi yang bodoh itu sudah mengacaukan rencanaku.”


Para pelindung berpikir Rudel akan sangat tidak berguna dalam memimpin. Namun dia tidak disangka dengan cakap mengurangi peran mereka. Basyle sudah ingin menjual kebaikan pada saat ini…


“Aku akan mengembalikan hutang dari informasi salah ini… tapi ini sangat aneh. Dari apa yang aku lihat, dia cukup berbakat.”


Permainan pedang, sihir, dan pertarungan… di mata para pelindung, Rudel itu mapan. Karena dia kesulitan berperan sebagai pemimpin, kesalahannya begitu mencolok… walaupun begitu, kau dapat mengatakan dia lolos. Jika dia mengatakan dia ingin masuk ke partynya[4], dari segi kemampuan, Basyle tidak bermasalah dengan itu.


“Dia panik, namun dari reaksi sekitar, dia tidak begitu dibenci. Dia barang yang bagus.”


Termasuk Basyle, penilaian dari para pelindung tidak disangka tinggi… dan mereka telah dibayar untuk pekerjaan lain. Mereka juga adalah penilai untuk kegiatan ini.



Sementara dia sedang menerima penilaian yang begitu tinggi, Rudel sendiri tidak dapat tenang pada situasi yang tidak normal. Pada hari ketiga, dia menghadapi kenyataan bahwa dia belum mencapai setengah dari jarak yang ditentukan, dan kelasnya yang sudah kelelahan. Bukan dari monster… mereka tidak dapat mengangkat tangan atau kaki pada lingkungan hutan yang tidak familiar ini.


“Kenapa kita tidak ada kemajuan!?”


Orang disekitar ketakutan pada kejengkelan Rudel. Membuat marah anak sulung dari salah satu Three Lords yang dengan cara apapun dihindari oleh orang tua mereka. Suasana secara langsung berubah buruk…


“Rudel… semuanya melakukan apa yang mereka bisa pada lingkungan tidak familiar ini. Dan tinggal sedikit lagi jarak ke lokasi tujuan. Kita sudah setengah perjalanan kesana.”


“Dan masih ada setengah jalan lagi. Kalau seperti ini, kita benar-benar akan berada pada urutan terakhir…”


Rudel tidak peduli pada pandangan orang. Dia hanya peduli dengan nilai. Karena dia menyadari itu, Izumi tahu seberapa serius Rudel untuk menjadi seorang dragoon, membuatnya tidak dapat berkata lagi.


Mereka berdua menundukkan kepala mereka sambil berpikir apa yang akan terjadi. Pada saat itu.


“A-apa itu!?”


Rudel dan Izumi mengangkat wajah mereka. Diarah salah dimana salah satu teman kelas mereka menunjuk, mereka dapat melihat bayangan hitam, besar dari monster. Kedua mata merahnya memandang Rudel dan seluruh kelas sebagai buruan…

Catatan Translator dan Referensi[edit]

  1. Tidak ambil bagian secara langsung melainkan memantau dari balik layar.
  2. Semacam mempromosikan diri.
  3. Bladed Cane
  4. Istilah Party dalam game.


Dragoon (Indonesia): Dragoon 8 Dragoon (Indonesia): Dragoon 9 Dragoon (Indonesia): Dragoon 10 Dragoon (Indonesia): Dragoon 11 Dragoon (Indonesia): Dragoon 12 Dragoon (Indonesia): Dragoon 13 Dragoon (Indonesia): Dragoon 14 Dragoon (Indonesia): Dragoon 15 Dragoon (Indonesia): Dragoon 16 Dragoon (Indonesia): Dragoon 17 Dragoon (Indonesia): Dragoon 18 Dragoon (Indonesia): Dragoon 19 Dragoon (Indonesia): Dragoon 20 Dragoon (Indonesia): Dragoon 21 Dragoon (Indonesia): Dragoon 22 Dragoon (Indonesia): Dragoon 23 Dragoon (Indonesia): Dragoon 24 Dragoon (Indonesia): Dragoon 25 Dragoon (Indonesia): Dragoon 26 Dragoon (Indonesia): Dragoon 27 Dragoon (Indonesia): Dragoon 28 Dragoon (Indonesia): Dragoon 29 Dragoon (Indonesia): Dragoon 30