A Simple Survey (Indonesia):Jilid 1 Akhir2

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Kasus Hotaru[edit]


"Kebetulan sekali. Itu mirip seperti punyaku," kata Hotaru.


Dia adalah seorang gadis tinggi dengan rambut yang hitam dan panjang. Dia cantik, tapi itu adalah jenis kecantikan yang senada dengan kata-kata "bergidik" atau "menakutkan" di pikiranmu. Terus terang saja, Anzai adalah orang yang paling sulit untuk menemukan topik pembicaraan dengan gadis ini.


"Kau mungkin suka film yang sama," kata Harumi.


"Bukanya semua orang salah, tapi akan menjengkelkan bagi orang lain jika kau berbicara tentang hal itu. Yah, itu masih lebih baik daripada berbicara tentang bisbol."


"Aisu, kau harus mengubah kebiasaanmu meraih orang aneh dengan satu tangan di restoran sambil menonton TV dan memegang cangkir bir dengan tanganmu yang lain ... Oh?”


Kozue melemah.


Saat mereka meninggalkan auditorium, dia mendongak ke langit malam dan mengangkat telapak tangannya seolah-olah hendak menangkap sesuatu.


Hotaru mengerutkan kening.


"Mau hujan?"


Begitu dia menggumamkan itu, Anzai merasa setetes besar air jatuh di atas hidungnya. Tetesan itu diikuti oleh apa yang tampak seperti siraman hujan. Gedung sekolah itu cukup jauh dari kedai kopi, dan tidak satupun dari mereka memiliki payung. Mereka berlima dengan panik berlari kembali ke auditorium.


Mereka telah mematikan lampu ketika mereka pergi, jadi ruangannya gelap gulita. Namun, tidak terkunci. Atau lebih tepatnya, ruangan itu telah ditinggalkan tebuka.


"Hyaahh!! Hujannya benar-benar turun!"


"Dengan hujan deras seperti ini, mungkin tidak akan bertahan sepanjang malam."


"Aku basah kuyup. "


"Malang sekali kau nak, semuanya gelap gulita. Jika ada lampu, kau akan mendapatkan adegan fanservice dari kami berempat. "


Anzai mengabaikan Hotaru, malahan dia memeriksa barang-barangnya sendiri. Dia tidak membawa banyak perlengkapan sekolah di tasnya, tapi sepertinya ada semprotan tahan air yang didapatkannya setelah seorang petugas departemen store membujuknya untuk membeli, dan itu terbukti efektif. Dia membuka ritsleting dan merogohkan tangannyake dalam, tapi tidak ada yang terasa basah.


Berikutnya, ia memeriksa ponsel yang ada dalam saku celananya.


Anzai mengeluarkan ponsel dan menyalakannya. Untungnya, suatu layar passcode biasa muncul. Tampaknya ponsel itu tidak rusak.


Ketika Anzai terfokus pada telepon genggamnya, cewek yang terlihat seperti anggota klub kabaret bernama Aisu menjerit.


"Gyaaahhhh!! Seperti yang sudah kuduga, pakaian kita yang basah dan tembus pandang dilindungi oleh kegelapan ruangan ini, tapi ternyata ia membawa penerangan cadangan!?”


"?"


"Oke deh, kalau begitu aku akan melakukan pengamanan-penutup-mata untuk keselamatan!" teriak Harumi dari belakang Anzai yang secara refleks berbalik ke arah Aisu sembari ia berteriak.


Detik berikutnya, mata pria itu ditutupi oleh dua tangan yang basah. Pandangannya tiba-tiba terputus, dan pada saat yang sama ia merasakan suatu tekanan lembut pada punggungnya.


Sesuatu seperti tembakan arus listrik menembus pusat tubuh Anzai.


Terlalu jauh untuk dikatakan bahwa pria itu telah lengah.


"Aisu, kau mencoba untuk membuatnya terlihat seakan-akan kau malu, lantas kau menjerit untuk menarik perhatian, bukankah begitu?"


"Tidak, itu tadi murni respon dariku! Dan seperti itulah, dia menempel padanya, aku pikir Harumi lah yang paling diuntungkan di sini!!"


"Dia hanya tersenyum dan tidak melakukan apa-apa!?"


"Apa? Apa? Apa sebabnya kau jadi begitu bersemangat?" tanya Harumi.


"Ampun deh, apa sih yang sedang kalian lakukan?" kata Hotaru dengan berputus asa.


Anzai kemudian merasa seseorang mengambil ponsel dari tangannya. Ketika Harumi melepaskan "penutup mata" darinya, semua sumber cahaya lenyap. Seseorang mengembalikan ponsel itu kepadanya dalam kegelapan.


"Ponsel ini adalah benda terlarang. Mengerti?"


"Aku hanya memeriksa untuk melihat apakah ponselnya masih bekerja, itu tidaklah masalah bagiku. "


"Aisu, kau gagal menarik perhatian yang cukup untuk dirimu sendiri. Harumi mengalahkanmu," komentar Kozue.


"Kita selalu seperti ini, kan?"


Anzai bisa mendengar mereka berbicara dalam kegelapan, tapi dia tidak mencoba untuk bergabung dalam pembicaraan itu. Tindakan terbaik yang bisa dia lakukan adalah mengangguk ke arah (sepertinya) Hataru berada.


"Hujan ini berlangsung lebih lama daripada yang aku duga sebelumnya," kata suara Hotaru. "Kalau hujannya sekeras ini, aku anggap itu akan berakhir dengan cepat."


"Jika hujannya berlangsung sampai pagi, kita harus mempersiapkan diri," jawab Anzai secara tak acuh.


Dia tentu saja tidak berbicara tentang tinggal di sana semalaman. Dia berbicara tentang berlarian menuju rumah sambil menembus hujan.


Aisu melanjutkan, "Auditorium ini cukup besar, mungkin ada stan payung dan ada beberapa payung yang tersisa di dalamnya."


"Mengambil benda yang bukan milikmu adalah kesalahan, Aisu."


"Kita bisa mengembalikannya besok. Paling tidak, kita harus coba mencarinya."


Tapi mereka tidak bisa menemukan benda semacam itu di dekat pintu masuk auditorium. Mereka dipaksa untuk mencari dengan meraba-raba dan menduga-duga, tapi tampaknya memang tak ada payung.


"Sama seperti penghancuran mobil, para dosen mungkin mengambil payung-payung yang tersisa."


"Tapi artinya, kita tak bisa meninggalkan tempat ini"


"Aku tahu!" kata Harumi. "Ini adalah suatu auditorium, sehingga pasti terdapat banyak tong sampah. Jika kita dapat menemukan kantor, mungkin mereka memiliki kantong sampah baru."


"Jika kau meletakkannya di atas kepalamu, berjalan melalui distrik perbelanjaan metropolitan, dan naik bus atau kereta api, sepertinya mereka harus membuat patung untuk menghormati keberanianmu, lantas menempatkannya di gerbang sekolah."


"Huh?" kata Anzai.


Karena hanya sedikit penerangan dari lampu luar, jalan dari pintu masuk menuju sampai auditorium menyala dengan samar-samar. Dia melihat sesuatu yang berkilau di sana. Gadis-gadis sepertinya tidak mau membiarkan dia melihat mereka dengan pakaian basah yang membuat dalamannya terlihat, sehingga mereka tidak mendekati cahaya itu. Namun, Anzai berada di posisi yang berbeda. Ia mendekati pintu kaca untuk memeriksa, dan dia tahu benda apa itu.


"Ada payung plastik tergeletak di sana."


Dua atau tiga potong kerangka logam telah rusak, sehingga lembaran plastik payungnya berkibar. Embusan angin yang kuat atau sesuatu sejenisnya pasti telah merusaknya, jadi si pemilik membuang payung itu. Namun, payung dalam keadaan seperti itu masihlah cukup untuk melindungi tubuh mereka dari hujan.


Anzai meletakkan tas dan telepon di atas lantai, membuka pintu kaca, dan menuju ke luar. Dia mengambil payung plastik yang rusak dan bergegas kembali.


"Para pemenang adalah mereka yang berani merampas. Sepertinya kita bisa melanjutkan ke langkah berikutnya. ... Tunggu dulu, apa itu?"


Area di dalam auditorium itu bahkan lebih gelap daripada daerah yang berada tepat di sebelah pintu kaca, di mana Anzai berdiri, sehingga ia tidak bisa melihat mereka. Namun, ia merasakan ketegangan pada atmosfer di sekitarnya.


Hotaru memecah kesunyian.


"Untuk referensi di masa mendatang, anak-anak perempuan sungguh sangat malu ketika mereka melihat pakaian dalam lawan jenisnya."


"? Yang lebih penting, aku berhasil mendapatkan payung untuk kita ... "


"Tidak, tidak lebih penting! Argh, cepat ke sini!!"


"Aisu, kau hendak memeluknya karena kau tidak dapat menahan diri?"


"Apa!? Aku mengatakan bahwa kalian juga perlu pertahanan kegelapan!!"


Atas desakan mereka, Anzai menuju kembali ke dalam kegelapan.


"Pokoknya, aku menemukan payung."


"Iya iya. Suatu payung."


"... Adalah suatu hal yang mustahil jika kita menggunakan payung setengah rusak ini secara bersamaan. "


"Kozue, apakah kau baru saja menelan ludah?"


"Tidak, menurutku Aisu yang melakukannya."


Mereka mengabaikan Anzai karena mereka terus bercakap-cakap.


"Pokoknya, tidak bisakah kia membiarkan satu orang menggunakan payung ini untuk menuju ke toserba, lantas membeli beberapa payung lebih banyak?" ia menyarankan suatu ide.


"Oh! Bagus! Ide bagus!"


"Nah, setidaknya itu realistis."


"Tunggu, orang-orang muda! Kau menyarankan agar salah satu dari kita keluar ke daerah terang sementara dalam kondisi basah kuyup!! "


"Ini bisa menjadi malam yang selalu kuingat."


Anzai pun berpikiran bahwa sedikit keterlaluan untuk memaksa seorang gadis berkeliaran ke toserba dalam keadaan celana dalamnya kelihatan.


"Yah, aku sendiri yang punya ide, jadi aku lah yang akan pergi."


"Tunggu, nak!! Jujur saja, aku pikir kau lah pilihan yang paling berbahaya!! \"


"?"


"Jika salah satu dari kita sangat malu untuk pergi membeli payung, maka aku pikir kita harus memutuskannya dengan menggunakan batu-kertas-gunting."


"Aku kira demikian, tapi aku adalah seorang lelaki. Aku mungkin juga ... "


"Tidak, itulah alasannya! Karena kau seorang lelaki, maka kau tidak boleh pergi, dasar idiot!!"


Anzai dihentikan oleh suatu logika yang tidak bisa dipahami olehnya. Mungkin ada semacam aturan khusus pada kelompok perempuan.


Bagaimanapun juga…


"Tapi kita harus menuju ke distrik perbelanjaan untuk pulang. Dan kau menyebutkan bahwa kita akan menggunakan kereta atau bus. Pada akhirnya kita akan berada pada suatu tempat penuh cahaya. "


"... !?"


"!"


"!!"


"... !!"


Komentar santainya membuat keempat gadis lainnya tersentak. Tampaknya bagi para perempuan, ini adalah suatu masalah serius layaknya hidup dan mati.


"B-berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengeringkan pakaian?"


"Untuk mengeringkannya dengan bantuan udara, akan dibutuhkan waktu semalaman. Kita mungkin perlu pengering rambut atau sejenisnya."


"Tidak, itu tidak ngefek. Kita membutuhkan pengering pakaian sungguhan."


"Mari berpikir dengan jernih," kata Kozue. "Apakah kau menyarankan bahwa kita menggunakan mesin laundry otomatis tanpa baju ganti? Apa yang harus kita lakukan sementara pakaian kita berguling-guling dalam mesin pengering?"


"Kau betul juga, Kozue, tetapi kau benar-benar berpikir bahwa ini adalah kesempatanmu, bukan!?"


"B-bisakah kau berhenti memproyeksikan pikiranmu padaku, Aisu?"


Ketika percakapan mulai bergeser ke arah yang aneh, Hotaru mencoba untuk memperbaikinya.


"Pokoknya, pertama-tama kita butuh payung yang cukup agar kita bisa bergerak dengan bebas. Kita harus memutuskan siapa yang akan menuju ke toserba dengan menggunakan batu-kertas-gunting. "


"Oke, mari kita mulai! Batu, kertas ... "


"Tidak, tunggu," potong Anzai. "Kita tidak bisa melihat tangan masing-masing di dalam kegelapan seperti ini. "


Mereka semua terdiam.


Pada akhirnya, mereka memilih untuk meninggalkan pertahanan kegelapan yang telah melindungi mereka semua sampai saat ini. Keempat gadis dipaksa untuk mengekspos bentuk tubuh mereka dengan mendekati pintu kaca, yang terdapat penerangan dari lampu luar. Bagi Anzai, hal yang lebih mengganggu bukanlah keadaan pakaian mereka yang tembus pandang, melainkan cara wanita-wanita itu menggeliatkan tubuh mereka.


"Batu gunting kertas!!!!!"


Mereka mengayunkan lengan mereka setengah putus asa, tetapi setelah permainan itu usai, Anzai memikirkan sesuatu.


"…Baru kusadari. Kita bisa saja menjulurkan tangan kita dari kegelapan. "


Detik berikutnya, empat "batu" terbang ke arahnya.

Sejujurnya, empat gadis basah dengan pakaian tembus pandang lebih membekas bagai Anzai daripada survei misterius itu. Yang paling membekas di pikirannya adalah pakaian dalam Hotaru. Dari awal sampai akhir, aura gadis itu sungguhlah menawan, sehingga ia pun tidak menduga bahwa mereka begitu menyimpang ... atau kalau boleh sedikit blak-blakan, mereka gila.


Lantas…


Ketika Anzai terbangun dari tempat tidur pada hari berikutnya, ia sudah lupa tentang survei tersebut. Itu tidak berbeda dari laporan yang juga sudah dia telantarkan di malam hari, sehingga tidak ada gunanya mengingat-ingat itu kembali.


Namun ...


Di dunia ini, terdapat beberapa hal yang aneh. Tak peduli apakah kau mengakuinya ataukah tidak.


Atau lebih tepatnya…


Sederhananya, hal-hal yang ia pikir sudah selesai, ternyata tidak belum selesai sedikitpun.


Hari hujan sangatlah melankolis.


Setelah dengan setengah hati memperhatikan kuliah bahasa asing yang sepertinya dia lupakan, Anzai berlari melintasi Hotaru yang 80% dia yakin tak pernah dilihatnya lagi. Tampaknya dia tidak sedang bersama tiga wanita yang kala itu menemaninya.


Dia cantik, tapi dia adalah tipe cewek kakak kelas yang begitu indah, sampai-sampai pria lain akan enggan berbicara dengannya.


Dia adalah jenis kecantikan yang akan membuat suatu keheningan ketika diajak karaoke.


Anzai sendiri bisa merasakan giginya terkatup.


"Namamu Anzai-kun, kan? Apa kelasmu berikutnya?"


"Matematika. Ini adalah hari di mana aku mengerjakan persyaratan pendidikan umumku."


"Kalua begitu, lewatkan saja."


"Apa maksudmu ‘kalau begitu’ ?"


"Kau tidak akan pernah menggunakan apa yang kau pelajari di kelas itu, kan?"


Anzai memiliki perasaan dengan penalaran yang sama bahwa 5 pelajaran selama masa-masa SMP dan SMA tidak akan diperlukan, tapi dia memang tidak ingin menghadiri kelas matematika hari itu, jadi dia tidak membantah.


Masalah sebenarnya adalah, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


"Jadi apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan pergi ke suatu tempat?"


"Ingat survei kemarin?"


Mereka meninggalkan ruang kuliah sembari mereka berbicara.


Ekspresi Hotaru tidak berubah.


"Apakah Kau ingat nama profesor yang memberikan kita survey tersebut?"


"Tanaka-san, aku pikir. Aku cukup yakin dia memperkenalkan dirinya sendiri sebelum survei dimulai."


"Ya, hanya itu informasi yang aku ingat. Aku punya beberapa urusan di kantor, jadi aku bertanya pada para petugas kantor ketika aku berada di sana, tetapi tampaknya tidak ada profesor bernama Tanaka di universitas ini. "


"Hah ...?"


Pikiran Anzai membeku.


Dia mengerti apa yang Hotaru berbicarakan, tapi dia tidak bisa memahami apa yang ia maksudkan.


"Tanaka adalah nama yang cukup umum. Mungkin itu adalah salah satu dari 5 nama paling pasaran di Jepang. Fakta bahwa tidak ada satu orang pun bernama Tanaka yang bekerja di sini, meninggalkan kesan yang kuat ketika aku bertanya pada petugas kantor. Dia menyebutnya sebagai universitas tanpa Tanaka. "


Pikiran Anzai menjadi kosong, tapi ia masih bisa merasakan keringat di pipinya. Butuh sedikit lebih lama baginya untuk menyadari mengapa terjadi hal seperti itu. Hujan di luar. Ruang kuliah yang sebenarnya mungkin sedikit hangat, tapi kesejukan tak menyenangkan dari luar telah mengisi lorong. Keringat dari dalam tubuhnya tidak menghasilkan panas, dengan kata lain, dia sedang bermandikan keringat dingin.


"... Kemudian siapakah profesor itu? ... Atau survey tentang materi apa itu?”


"Ini membuatmu penasaran, kan? Beberapa orang mencurigakan datang dari luar universitas, berkumpul dengan beberapa siswa, memberi mereka survei menyeramkan berkaitan dengan pikiran dan suara hati mereka, dan kemudian meninggalkannya begitu saja. Untuk apa itu semua? Dan bagaimana dia melakukannya? Ini adalah universitas nasional, sehingga keamanannya cukup layak. Dia bisa saja melakukan survei itu di mana saja, jadi mengapa ia memilih tempat berbahaya seperti universitas ini. Dan juga, kenapa dia memilih kita dan mengapa dia begitu jauh meneliti keadaan personal untuk mengarahkan kita?”


"Tunggu, bagaimana dengan SKS-ku!? Jika orang yang seharusnya bernama Tanaka-san ini bukanlah profesor di sini, aku mungkin benar-benar gagal melalui semester pertama!"


"..."


Hotaru terdiam dan dengan ringan menendang Anzai pada tulang keringnya.


Anzai berteriak, melompat kebelakang, dan air mata merembes di kelopak matanya.


"Bisakah kau tidak merusak suasana hatiku?" katanya tanpa ekspresi.


"Aku tidak ingin mendengar itu dari orang yang meyakinkan aku untuk melewatkan kelas!!"

Universitas mereka tidak punya profesor bernama Tanaka.


Kalau begitu, siapakah sebenarnya profesor itu?


Dan survei macam apa itu? Apa yang telah diambil dari mereka?


Itulah hal yang sedang mereka teliti, tapi ...


"Jadi, apa sebenarnya yang akan kita selidiki sementara aku melewatkan kelas?" tanya Anzai. "Tanaka-san itu bukan berasal dari universitas kita, kan? Bukankah kita tak akan menemukan apa-apa jika berputar-putar di sekitar universitas begitu saja?"


"Aku tidak begitu yakin," kata Hotaru, dia dengan mudah menyangkal komentar si pria. "Aku mungkin tidak tahu untuk apa survei itu diberikan, tapi aku punya tebakan tentang film-film pendek yang digunakannya pada survei itu. Mungkin film itu dibuat oleh klub studi film dari universitas ini."


"Apakah kau memiliki buktinya?"


"Aku mengenali beberapa lokasi pada film pendek tersebut. Aku pikir, adegan-adegan itu diambil dari kampus ini. Kemungkinan besar, si misterius bernama profesor Tanaka ini meminta agar klub studi film memproduksi beberapa film pendek. "


"... Jadi dia pernah berada di kampus ini, selain pada waktu malam itu?”


"Mengerikan, bukan? Itu membuatnya terdengar seperti Youkai atau sejenisnya."


Setelah mengikuti Hotaru, Anzai tiba di ruang klub studi film. (Apakah ruang klub adalah pilihan yang tepat? Anzai bukanlah anggota dari klub manapun, sehingga dia tidak yakin.)


"Biasanya, pintunya terkuci."


"Kau bisa mendapatkan cetakan dengan menuangkan perekat karet ke lubang kunci. Walaupun itu sedikit sulit. "


"... Bagiku, kau lah yang tampak seperti Youkai."


Hotaru menggunakan kunci sedikit tidak rata terbuat dari benda yang mungkin adalah timah, bukannya besi atau aluminium, dan pintu pun dengan mudah terbuka.


Saat mereka masuk, Anzai mengajukan pertanyaan.


"Jadi, apakah yang kau inginkan ada di sini?"


"Aku tidak tahu apakah itu ada di sini, tetapi aki sih berharap demikian. "


"?"


"Film-film pendek itu. Aku ingin tahu tentang beberapa hal mengenainya. Aku ingin menontonnya lagi untuk memeriksa."


Setelah sedikit mencari, mereka dengan mudah menemukan apa yang mereka cari. Itu adalah suatu USB drive dengan tulisan "Untuk Survey" pada stiker yang seharusnya bertuliskan nama si pemilik.


"Huh? Bukankah itu adalah gulungan film raksasa yang pernah ia tunjukkan di dalam auditorium?”


"Mereka mungkin mengeditnya secara digital, kemudian membakarnya dalam bentuk film. Klub studi film sangat pilih-pilih tentang hal semacam itu. Ini adalah USB drive seharga ¥ 20.000 dan berkapasitas tinggi. Film-film itu membutuhkan peralatan semacam ini. Video itu pastilah memakan space cukup banyak. "


"Itu dapat diubah dengan menggunakan kompresi, tapi aku kira, seperti itulah sifat para anggota dari klub ini. Meskipun mata manusia tidak dapat mengenali perbedaannya, orang seperti itu masihlah menolak untuk menggunakan jenis video kompresi."


Anzai bertanya-tanya, apa yang Hotaru ingin periksa pada film-film pendek itu.


Dia menancapkan USB drive ke slot smartphone dan memainkan video tersebut di layar kecil.


Anzai bertanya-tanya berapa lama waktu yang dibutuhkan, tapi Hotaru mengangguk setelah hanya 3 menit.


"Aha, aku benar. Lihatlah, di sini, di sini, dan di sini. "


"Apakah ada hantu di video itu?"


"Bahkan lebih baik lagi." Hotaru menghentikan videonya. "Apakah kau familiar dengan Istilah "fiksi abu-abu"?”


"... Maksudmu seperti film alien?"


"Itu tidak sepenuhnya salah. "


Dia menanggapi lelucon itu dengan ekspresi serius.


Anzai merasa sedikit tidak mengerti, tapi Hotaru masih tanpa ekspresi di wajahnya.


"Hal ini mengacu pada cerita fiksi yang tidak dapat dilabeli sebagai cerita nyata karena berbagai keadaan. Kau kadang-kadang mendengar tentang masalah ini karena adanya alasan politik, tapi baru-baru ini digunakan dalam suatu film yang menunjukkan fasilitas penelitian UFO. Dan juga film horor dengan motif roh penasaran yang balas dendam dari periode Heian."


"Bagaimana dengan itu?"


"Ini film pendek yang sama." meskipun perkataan yang dia ucapkan barusan begitu konyol, ekspresinya masihlah tidak berubah. "Karya fiksi abu-abu meninggalkan tanda-tanda kecil yang akan diabaikan oleh para penonton. Tanda-tanda seperti itu dapat dilihat pada kumpulan film pendek ini. Mungkin kebetulan saja tertangkap kamera, akan tetapi itu semua disengaja. "


"Eh? Tunggu ... maksudmu gadis berambut putih yang berada di tepi layar itu?”


"Tidak, bukan itu."


(Lantas siapa gadis ini?)


Anzai masih memiliki pertanyaan, tapi Hotaru tidak membiarkan percakapan mengarah ke sana.


"Kesimpulanku adalah, semua film pendek yang ditampilkan adalah fiksi abu-abu."


"... Maksudmu itu benar-benar nonfiksi?"


"Ya."


"Tapi tidakkah ada cerita tentang peri dan ninja di sana!? Tidakkah satu cerita tentang troll bergaya RPG dari dunia fantasi abad pertengahan yang terpotong tidak pernah ada dalam sejarah!?”


"Jangan tanya aku. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa begitu." Hotaru mendesah. "Tapi tampaknya film-film pendek itu tidak menunjukkan beberapa dunia yang aneh secara keseluruhan. Rasanya lebih seperti, hanya satu ruangan atau satu bagian dari dunia itu sendiri. Mungkin ada beberapa ruang di bangunan, atau kubah bawah tanah di mana hal-hal itu terjadi. Atau mungkin, ada dunia misterius, dan ada beberapa kamar pada suatu tempat di bumi ini yang terlihat seperti dunia lain misterius. "


(Itu konyol ...)


Jika kau diberitahu bahwa ada seorang pahlawan dan raja setan pada suatu tempat di bumi ini, akankah kau percaya?


Dan virus komputer yang berbicara seperti manusia tampak lebih fantastis daripada pahlawan atau raja iblis.


"Tapi, apakah definisi dari nonfiksi?" tanya Anzai.


"Hm?"


"Nostradamus peramal yang dianggap nonfiksi. Dengan kata lain, tidak berarti isi nonfiksi adalah suatu kebenaran. Artinya, si penulis berpikir bahwa cerita itu benar adanya. Kalau begitu…"


"Profesor itu tidak waras?"


"Memang gampang kalau kita berpikir seperti itu."


"Mungkin," Hotaru mengakuinya. Tapi kemudian, "Atau mungkin ada suatu aturan umum di balik semua ini yang telah meyakinkan si profesor agar melihat film-film tersebut. "


"... Maksudmu seperti hipnotis?"


"Betapa klise. Setidaknya gunakan imajinasimu lebih jauh dan katakan bahwa ia membuat film pendek untuk menunjukkan apa yang telah ia saksikan ketika mengejar plot besar tertentu."


Anzai tidak merespon.


Entah kenapa, tanda-tanda fiksi abu-abu mungkin adalah sesuatu yang profesor itu telah masukkan ke dalamnya sebagai lelucon.


Tapi apa artinya dia melakukan hal seperti itu?


"Pada akhirnya, apa yang profesor itu ingin lakukan? Apa artinya memfilmkan sesuatu seperti itu? Bahkan, apa tujuan dari survei itu sendiri?”


"Siapa yang tahu." Hotaru menanggapinya dengan tak acuh sebelum menambahkan komentar samar lainnya. "Tapi aku merasa ada suatu hubungan."


"?"


"Aku merasa ada hubungan antara kejadian aneh yang diceritakan pada film-film pendek tersebut, dan bagaimana cara si profesor menyelinap ke dalam universitas, melakukan survei itu, dan kemudian menghilang. Dan jika ada koneksi, kita mungkin terlibat secara tidak langsung dengan kejadian-kejadian yang dimulai dengan ditayangkannya film-film pendek tersebut. "


"... Sepertinya ini adalah suatu hal yang buruk. "


"Tidak. Tetapi jika film-film pendek itu sungguh merupakan fiksi abu-abu, si profesor itu mungkin mendapatkan suatu kesimpulan yang tepat."


"Apa maksudmu?"


"Orang-orang yang bersikeras bahwa mereka diculik oleh UFO adalah tipe "aneh" yang berbeda dari UFO itu sendiri. Absurditas, kau bisa menyebutnya demikian. Atau jika ada seorang ahli yang bisa kau tanyai berbagai hal, misalnya ada seorang customer service yang hanya membahas masalah tentang setan, ahli itu akan menjadi absurditas beberapa jenis setan yang berbeda." Hotaru berhenti sejenak. "Dengan kata lain, mereka yang bekerja untuk menganalisa hal misterius akan terpengaruh dan menyatu dengan hal yang mereka hadapi. Lantas mereka menjadi suatu jenis absurditas yang sesuai dengan bidangnya. Dengan pengalaman yang diambil untuk mengumpulkan survei yang didasarkan pada film fiksi abu-abu, si profesor misterius mungkin telah benar-benar berubah menjadi absurditas. ... Tak peduli siapa pun dia sebelumnya. "


"..."


Setelah mendengar semua itu, Anzai akhirnya menyadari sesuatu.


Survei itu bukan hal yang paling berbahaya.


Bukan juga si profesor.


Hal yang paling berbahaya adalah apa yang berada tepat di depan matanya.


"H-hei, ke manakah perginya para anggota klub studi film ini? Jika kamu ingin belajar tentang film pendek ini, tidakkah akan lebih baik jika kita bertanya pada mereka terlebih dahulu? Mereka adalah pihak yang benar-benar memutarkan kameranya sebelum hal-hal misterius ini terjadi."


"Akan jadi lebih mudah jika hal itu memungkinkan."


Dia tidak memberikan jawaban yang lebih spesifik.


Namun, Anzai merasakan semacam hal yang tidak menyenangkan pada akhir pernyataannya yang ambigu.


Mereka tidak bisa memeriksa dengan orang-orang itu.


Mereka tidak bisa berbicara dengan orang-orang itu.


Mereka tidak tahu di mana orang-orang itu berada.


Ya.


Sama seperti si profesor.


"Teorimu adalah, si profesor menjadi gila ketika menganalisis hal-hal misterius itu, bukan? Meskipun begitu, mari kita kesampingkan alasan tentang sesuatu yang berbau fisik dan mental."


"Ya, itu hanya teori. Tapi itu adalah hal-hal semacam grimoires dan lingkaran sihir, kan? Itu hanya menampilkan cara kerjanya dalam bentuk teks atau diagram."


"Nah, jika perubahan bisa terjadi hanya dengan menganalisis hal-hal ini ..."


Anzai menunjuk.


Dia menunjuk hal yang paling berbahaya.


Dia menunjuk USB drive yang ada di tangan Hotaru dan berisikan cuplikan film pendek.


"... Bukankah memiliki benda itu jugalah suatu hal yang berbahaya?”


"Ya. Dibandingkan dengan survei, profesor, orang-orang dari klub studi film, melihat setiap film pendek, atau fiksi abu-abu itu sendiri ... "


Hotaru tersenyum.


Karena biasanya wajahnya terlihat tanpa ekspresi, senyum itu terkesan sangat lebar.


"... Tidakkah kau berpikir bahwa USB drive ini memiliki absurditas yang jauh, jauh, jauh, jauh lebih kental di dalamnya? Benda ini seperti tongkat ajaib yang memungkinkanmu untuk naik level tanpa akhir, hanya dengan melambaikannya."