A Simple Survey (Indonesia):Jilid 1 Akhir4

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Kasus Aisu[edit]

Part 1[edit]

“Oh, kau mendapat hasil yang sama denganku. Kurasa terkadang hal-hal aneh bisa terjadi,” kata seorang gadis dengan nama abad ke-21 Aisu. Sebelum Anzai dapat mengatakan apapun sebagai responnya, Harumi meletakkan tangannya ke udara dan berkata, “Itu benar-benar berbeda dariku.”

“Itu juga sama sekali tak mirip dengan hasilku,” kata Kozue.

“Tak bisakah kita membicarakan hal ini nanti sesudah kita sampai ke kedai kopi? Mereka suka tutup kalau mereka mendapat kesempatan, jadi kita harus cepat,” kata Hotaru.

Kemudian mereka meninggalkan auditorium.

Kedai kopi kampus adalah bagian dari jaringan internasional, tetapi kedai itu terkenal suka mengabaikan jam aslinya dan tutup lebih awal.

“Oh, pernahkah kau mendengar rumor tentang menu rahasia di sana?”

“Kupikir hal itu tidak lebih dari kegagalan manajer dalam membuat espresso dan dia mencoba untuk menjualnya sebagai minuman rahasia.”

“…Hah?” kata Anzai.

Dia memasukkan tangannya ke dalam sakunya, lalu mengecek tas kecilnya.

Benda itu tidak ada di sana.

“Apakah aku meninggalkan ponselku di suatu tempat?”

“Apakah itu berada di auditorium, mungkin?” tanya Aisu, namun Anzai menggelengkan kepalanya.

“Tidak, aku tak ingat pernah mengeceknya saat survei. …Mungkin ada di ruang kuliah.”

“Dapatkah kau mencarinya menggunakan GPS?”

“Aku telah mematikan semua fungsi pelacakan. Hal-hal semacam itu membuatku takut.”

“Kau terdengar seperti seorang gadis perawan,” komentar Harumi.

Anzai menggaruk kepalanya dan berkata, “Aku akan pergi mengecek gedung universitas. Maaf, tapi aku harus melewatkan kedai kopinya.”

“Hah?”

“Harumi, mengingat situasinya, kita tak bisa menghentikannya.”

“Kupikir aku harus membantunya.”

“Astaga. Membuat dia berjalan melewati kegelapan hanya dengan Kozue akan menempatkannya dalam bahaya yang terlalu besar, jadi kupikir aku juga harus ikut.”

Anzai ingin berurusan dengan masalah ponselnya secepat mungkin, jadi dia memberikan salam perpisahan sederhana kepada para gadis dan pergi. Dia berjalan di jalan yang dingin dan hampir semuanya gelap gulita. Pada dasarnya, mungkin hal itu kelihatannya menyeramkan, tetapi kekhawatiran realistis yang mendesaknya menyapu pergi hal apapun semacam itu.

Kemudian dia mendengar suara dari belakangnya.

“Hei, tunggu!”

“?”

Dia berbalik untuk menemukan si gadis klub kabaret (kecokelatan) bernama Aisu yang sedang joging dari belakangnya. Dan Kozue sedang bersamanya.

“Apa?”

“Kozue yang baik hati (dengan motif tersembunyi) takkan membiarkan dirinya santai, jadi biarkan saja kami membantumu.”

“Hal itu tidak benar.” Kozue sepertinya sedikit jengkel. “Dan aku minta padamu untuk berhenti menggunakanku sebagai bantalan untuk mempermudah dirimu sendiri kapanpun sesuatu membuatmu malu.”

“Mgh!? A-apa yang sedang kau bicarakan!? Ga ha ha!!”

“Kapanpun kebiasaan bantalanmu itu menunjukkan dirinya, tingkat bahaya yang kau hubungkan padaku melonjak naik tanpa akhir! Mungkin orang-orang yang berkeliaran denganku adalah para aparat keamanan publik!”

“Oh, tapi kan memang benar kalau kau mengikuti orang di sekitarmu, Kozu-…Gyah gyah gyah!?”

Aisu mengeluarkan teriakan yang mirip seperti suara statis ketika Kozue menggunakan tangannya yang kecil untuk mengusutkan rambut gadis klub kabaret itu.

“Begitu ya. Jadi mengapa kalian ada di sini?” tanya Anzai ke Aisu.

“Hm? Aku hanya jarang mendapatkan kesempatan untuk memasuki gedung seni liberal.”

“Tidak adil! Kau selalu mengambil jawaban yang keren untuk dirimu sendiri!”

“Hentikan, hentikan!! P-pokoknya cuma penasaran saja. Ha ha ha!!”

Hal itu sudah pasti menandakan kalau bidang Aisu adalah sains. Meskipun terlihat seperti seorang gadis klub kabaret. Tapi dia juga terlihat asing dalam seni liberal.

“Terkejut?”

“Kurasa…” kata Anzai dengan acuh. “Hotaru…-san kan? Yang tinggi dengan rambut hitam. Dialah orang yang kuanggap di bidang sains.”

“Meskipun penampilannya seperti itu, Hotaru itu cukup romantis. Mata kuliah pokoknya adalah Sastra Perancis.”

“Sekarang, hal itu mengejutkan.”

“Ya, dia terlihat lebih ke membuat manusia buatan sendiri di laboratorium yang menakutkan.”

Sepertinya mereka juga telah mengenal satu sama lain dalam waktu lama atau mengenal satu sama lain dengan sangat baik karena mereka bisa mengatakan hal mengerikan seperti itu dengan begitu santai.

“Harumi dan Hotaru meneruskan perjalanan mereka ke kedai kopi. Kalau mereka tak menempati salah satu mejanya, manajer itu benar-benar akan menutup kedai itu. Ayo temukan ponselmu dan kembali ke sana supaya kita bisa berbicara.”

“Hah? Kita masih mau ke kedai kopi?”

Sambil berbicara, Anzai dan kedua gadis lainnya memasuki gedung universitas. Karena para mahasiswa pascasarjana akan menginap sepanjang tahun, pintunya tidak dikunci dan lampu pada segelintir ruangan menyala.

“Ngomong-ngomong, mata kuliah pokokmu apa?” tanya Aisu.

“Sosiologi. Tapi aku adalah mahasiswa tingkat pertama, jadi aku masih mendapatkan pendidikan umum.”

“Kau mahasiswa tingkat pertama?”

“Aku membutuhkan waktu 2 tahun untuk masuk ke universitas.”

“Kuliah pendidikan umum, hm? Ketika aku pertama kali tiba di sini, aku terkejut mendapati kau harus mengambil kelas penjas. Memakai tracksuit dan berlari jarak jauh bukanlah hal yang akan kusebut cerdas.”

“Kozue, jangan marah pada berlari hanya karena kau tidak punya sesuatu yang bergoyang-goyang saat kau berlari.”

“Hal itu tidak cerdas.”

Tak ada yang berada di ruang kuliah, tapi pintunya tidak dikunci. Setelah pencarian singkat di ruangan itu, Anzai menemukan ponselnya dengan hampir terlalu mudah. Ponselnya jatuh di bawah meja tulis yang dia tempati sebelumnya.

“Leganya.”

“Bagaimana kalau kau mengecek lognya? Kau mau memastikan tak ada orang mencurigakan memasukan kode aksesnya kan?”

Anzai menggunakan ibu jarinya untuk mengecek beberapa hal, tapi tak ada tanda kalau ada yang mengacaukan ponselnya.

“Terlihat baik.”

“Kalau begitu aku akan mengirim email ke Harumi dan Hotaru untuk bilang kalau kita sedang dalam perjalanan ke sana.”

“Kalau dipikir-pikir,” gumam Anzai saat mereka berjalan kembali ke koridor. “Mungkin kita harus melaporkan ke kantor kalau ruang auditoriumnya tidak dikunci. Profesor itu langsung kabur ke suatu tempat tanpa mengurus hal itu.”

“Kantornya dekat, jadi kita dapat mampir dengan mudah.”

“Bagaimana dia mengumpulkan survei dan lalu menghilang membuatku berpikir tentang cerita kode hitam.” Pada universitas manapun yang sudah agak terkenal, rumor semacam itu akan menyebar. Hal-hal seperti seorang peneliti gempa bumi terkemuka tiba-tiba menghilang. Universitas ini bukanlah pengecualian. Mungkin saja kalau menyebutnya sebagai “universitas itu” akan cukup bagi siapapun di Jepang untuk mengetahui universitas mana yang sedang kau bicarakan.

Sambil mengetik email dengan ibu jarinya, dia berkata, “Ya, aku pernah mendengar cerita itu. Di sini ada lebih dari 1000 laporan yang diserahkan setiap tahun, tapi cerita itu bilang bahwa ada rak yang dipenuhi dengan beberapa laporan yang mempunyai isi yang terlalu berbahaya untuk diungkapkan kepada masyarakat umum.”

“Aku pernah mendengar kalau salah satu dari laporan itu berisi data yang diambil sambil menyelidiki kebenaran di balik sebuah bakteri pembunuh misterius tertentu,” kata Kozue.

“Apa yang aku dengar adalah seorang profesor dengan setengah bercanda menambahkan pertanyaan ‘apakah kau pernah menusuk seseorang?’ ke dalam survei yang dia berikan kepada para muridnya. Dia mendapatkan beberapa hasil yang tak mungkin dan dia tak pernah terlihat lagi setelah itu,” kata Anzai.

Sambil berbicara, mereka telah sampai di depan kantor. Mereka dapat melihat cahaya yang datang dari sekitar pintu itu, jadi pasti setidaknya ada satu pekerja yang masih di sana.

Anzai mengetuk pintunya dengan pelan dan kemudian masuk ke kantor. Ketika mereka berbicara dengan seorang wanita paruh baya yang bekerja di sana, dia mengerutkan dahinya dan berkata, “Tapi kami tak pernah memberi izin untuk menggunakan auditorium malam ini.”

Part 2[edit]

“Hah? Apa, apa? Lalu survei apa itu?” tanya Harumi di kedai kopi, tapi Anzai ak bisa menjawab.

Dia hanya tahu kalau tak ada yang diberi izin untuk menggunakan auditorium pada hari itu. Apa arti hal itu, dia tak bisa bilang.

Hotaru mengerutkan dahinya dan berkata, “Jadi profesor itu melaksanakan survei itu tanpa memberi tahu universitas?”

“Lebih dari hal itu.” Anzai mendesah. “Profesor itu mengenalkan dirinya sebagai Tanaka-san, kalian ingat? Yah, tak ada profesor dengan nama keluarga itu di universitas kita.”

“Lalu siapa dia?”

“Kita tak tahu,” kata Aisu dengan kepasrahan yang terasa samar. “Kelihatannya suatu pria tua yang tak punya urusan dengan universitas kita datang ke kampus, memberi kita pemberitahuan mengenai survei itu, dan lalu melaksanakan acara itu sendiri. Yang tak dapat aku pahami adalah apa yang dia dapatkan dari melakukan semua itu.”

Ketika mencampurkan beberapa jeli kopi ke dalam minumannya, Kozue berbicara dengan tentang.

“Informasi pribadi kita mungkin?”

“Satu-satunya hal yang dia dapatkan hanyalah nama kita.”

“Kau tertidur, kan?” kata Harumi. “Setelah survei itu berakhir, profesor itu berkata sesuatu tentang penomoran kita untuk film-film pendek itu mengungkapkan sesuatu mengenai cara kerja hati kita.”

“Tapi apa yang dia dapatkan?” tanya Aisu. “Alamat dan nomor telepon kita adalah pengecualian, tapi bagaimana bisa dia membuat uang dari mempelajari hati kita?”

“Tepat,” kata Anzai. Dia tak bisa menyingkirkan ketakutannya, tapi beban mentalnya diperringan oleh fakta bahwa dia tak dapat membayangkan bahaya yang nyata dari hal itu. “Tapi aku agak takut kalau seseorang di luar universitas tahu tentang kurangnya kreditku.”

“Jadi bagimu itu adalah kredit.”

“Hah? Bagi kalian berempat bukan itu?”

“Kita punya alasan tersendiri,” kata Hotaru sambil memalingkan wajahnya.

“Apa?”

“Biarkan saja,” kata Aisu sambil mencoba untuk mengabaikan hal itu dengan senyuman.

“Apa yang terjadi pada kalian berempat?”

“Hal itu adalah sesuatu yang mirip dengan situasimu. Jangan mengkhawatirkan hal itu,” kata Kozue dengan jelas.

“Aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.”

“Ah ha ha ha ha ha…!”

Harumi mencoba melewatinya hanya dengan tertawa.

Pada akhirnya, tak ada yang akan menjawabnya. Dunia adalah tempat yang dingin.

Dengan cepat Aisu mengganti topik.

“Pokoknya, wanita di kantor mengatakan mereka perlu memeriksa hal ini, jadi akan lebih cepat kalau kita hanya menunggu mereka mendapatkan jawabannya.”

Yang lain setuju dengannya.

Dan bahkan jika mereka tidak pernah mengetahui siapa profesor itu, Anzai ragu kalau hal itu akan meletakkan mereka ke dalam bahaya. Kalau para pekerja kantor menemukan siapa dia, bagus sekali. Kalau mereka tak bisa, mereka semua akan melupakan hal itu. Hanya itu saja yang datang dari kejadian aneh seperti itu.

…Kira-kira seperti itulah pemikiran Anzai.

Part 3[edit]

Hal-hal misterius terjadi.

Tak ada yang bisa dilakukan mengenai hal itu.

Sama halnya seperti kasus pemilihan waktu yang buruk seperti membuat kue dalam kelas memasak, pergi makan siang dan mendapati makan siang sekolah mempunyai kue untuk makanan penutup, dan lalu pulang ke rumah untuk menemukan kue di sana. Kau tidak mengontrol jadwalmu, jadi kau tak dapat mencegah hal-hal seperti itu supaya tak terjadi.

Tapi apa yang sebenarnya telah terjadi di sini?

Anzai akan segera menemukan jawabannya.

Part 4[edit]

“Uuh…”

Anzai terbangun karena suara dari jam alarm.

Secara naluriah dia mengulurkan tangannya untuk menghentikan jam yang berisik itu, tapi kemudian dia menyadari sesuatu.

(Apa yang sedang terjadi?)

Anzai menggunakan timer di ponselnya untuk membangunkan dirinya. Dia tidak menggunakan jam alarm.

Setelah pikiran setengah sadarnya kembali mendapatkan kemampuan untuk berpikir, dia menyadari kalau hal itu hampir bukan masalah utamanya.

Dia tidak berada di apartemennya.

Dia sedang berbaring di lantai yang keras dan badannya sakit-sakit sebagai hasilnya. Ruangan persegi itu cukup gelap, namun tak sepenuhnya gelap. Cahaya redup datang dari suatu dinding. Kelihatannya suatu jendela ditutupi oleh gorden.

“Tunggu. Apakah ini…?”

Dia tidak sedang berada di lingkungan hidup yang layak seperti sebuah apartemen. Dan juga tidak terlihat seperti ruang usaha semacam restoran keluarga atau toserba. Namun, dia mengenalinya. Tempat itu bukanlah jenis area spesial apapun.

Ya.

“Apakah ini adalah universitas?”

Dia bertanya-tanya kenapa dia kembali ke sana. Namun, keinginannya untuk keluar dari sana lebih kuat. Sama seperti bagaimana seseorang di rumah yang kebakaran ingin melarikan diri ke suatu tempat yang aman daripada membobrokan otak mereka dan mencoba untuk mencari tahu apa yang menyebabkan kebakaran itu.

Apakah artinya berada di sana adalah sesuatu yang berbahaya?

Anzai memutuskan untuk menyimpan pertanyaan itu sampai dia meninggalkan tempat itu, dan dia mencoba untuk berdiri.

Saat dia melakukannya, dia mendengar suara bising dentingan logam. Itu adalah suara rantai yang bergerak.

Sesuatu seperti jam tangan terpasang di pergelangan tangan kirinya. Dia menyentuhnya di tempat dengan cahaya yang redup dan menyadari kalau jam itu sama seperti borgol. Namun, rantainya cukup panjang. Panjangnya sekitar satu meter, dan itu menuju ke…

Untuk beberapa alasan, Aisu berbaring di atas lantai sama seperti Anzai dan dengan dia memakai pakaian renang berbentuk V minim aneh yang membuat hampir seluruh kulitnya telanjang.

“………………………………………………………………………………………………………………Apa?”

Dia sangat yakin kalau pakaian renang itu disebut slingshot bikini. Pakaian renang berbentuk V yang terbuat dari bahan sintesis berwarna pink adalah jenis hal yang hanya diinzinkan di dunia majalah glamor yang terisolasi, jadi melihatnya dari dekat memberikan dorongan untuk tertawa dari pada terlihat seksi.

Namun, tak ada waktu untuk tertawa.

Faktanya, tersenyum saja akan menjadi hal yang buruk dalam posisinya.

Mereka hanya berdua dalam situasi ekstrim tersebut. Segala macam kesalahpahaman pasti terjadi. Jika tiga gadis yang lain dari hari sebelumnya juga ada di sini, mungkin dia akan mengalami kesalahpahaman yang lebih ringan. Namun, ketiga gadis yang lainnya tidak ada di sana.

“Tapi…”

(Apa-apaan yang terjadi? Bagaimana aku berakhir di lingkungan yang sempurna menjadi berakhir menerima tuduhan salah tertimpang di dunia!?)

Bahkan jika dia berusaha keras untuk menyelesaikan situasinya, dia ragu kalau hal itu akan pantas seperti film Hollywood dan dia punya perasaan kalau dia hanya akan menemukan suatu kesimpulan yang sangat tidak memuaskan jika dia mencoba untuk mengetahui sebab dari semuanya. Secara naluriah Anzai mencoba untuk menjauh dari Aisu, namun fakta bahwa pergelangan tangan mereka dihubungkan oleh rantai itu menyebabkan hal ini menjadi kehancurannya.

Gerakan Anzai menarik pergelangan tangan Aisu yang memberikan stimulus ke kesadaran Aisu.

“Uuh…”

Dia mengatakan hal yama sama seperti yang Anzai katakan saat terbangun.

Saat itu juga Anzai mempertimbangkan dengan serius untuk melakukan karate chop ke sisi lehernya supaya dia kembali tidur, tapi dia berhasil menghentikan dirinya.

Dan lalu gerbang neraka terbuka lebar.

Awalnya, Aisu mengerutkan dahinya karena bingung dan melihat sekelilingnya. Lalu, dia menyadari kalau ada sesuatu yang aneh dengan pakaiannya. Ketika dia memahami inti dari situasinya, seluruh wajahnya menjadi merah seperti bit.

“Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh!? Jadi ini bukanlah mimmmmmmmmppppppppppppppppiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!?”

“Eh!? Jadi kau bangun sebelum aku dan pingsan lagi karena terk-…gbvheh!?” Setelah menahan karate chop, Anzai menerima serangan dengan kekuatan penuh. (Aisu → Alat → Jam Alarm)

Saat dia mendapatkan pengalaman yang sangat langka, yaitu pingsan karena serangan ke wajahnya, Anzai mulai mempertanyakan dengan serius mengenai pilihan awalnya.

Part 5[edit]

Sekarang, sebuah pertanyaan.

“Kelihatannya ini adalah ruang kelas di universitas. Aku hanya mengambil kuliah pendidikan umum, jadi aku belum pernah berada di ruangan sekecil ini. Dan juga, sekarang jam 8 pagi. Para dosen harusnya sudah berada di sini. Beberapa mahasiswa yang lebih gegabah mungkin berada di sini juga. Senior yang mengabiskan malam di sini untuk menulis tesis mereka pasti ada di sini. Namun, jam utama para mahasiswa tiba seharusnya jam 8.30-9.00 pagi.”

“… Jadi kalau kita tidak menemukan pakaian ganti pada waktu itu, aku akan dipaksa untuk memberikan adegan fanservice ke seluruh universitas sambil diborgol denganmu?”

“Tentu saja akan menjadi masalah besar kalau kau meninggalkan gedung dengan pakaian seperti itu. Itulah mengapa kita harus menemukan alat penting ‘Pakaian Katun’ di suatu tempat di gedung.”

“Bagiku kelihatannya ada beberapa pakaian di sini. Kau memakainya, kan? Setidaknya biarkan aku meminjam kemejamu!! Pria telanjang dada atas bukanlah suatu masalah. Kau hanya akan terlihat seperti berada di film kung fu!!”

“Ada masalah dengan hal itu, Nyonya Aisu.”

“Hm? Hah? Kancing kemejamu terkunci karena dilem dengan lem instan!?”

“Celana dan ikat pinggangku juga begitu. Aku baru saja menyadarinya. Kelihatannya siapapun yang mengatur hal ini berniat mempunyai aksi thriller mata-mata yang menampilkan gadis dengan pakaian renang minim yang berlari mengelilingi gedung universitas.”

“Aku takkan memaafkan siapapun yang melakukan hal ini!! Aku tak bisa mempercainya!! Aku tahu, Aku bisa menutupi badanku dengan gorden…Ahh!? Aku hanya menarik gorden tebal itu dengan pelan dan gorden itu mulai berantakan!!”

Anzai menduga bahwa gorden itu telah berkarat dengan suatu jenis senyawa kimia atau diganti dengan gorden dengan bahan yang mudah disobek ketika mereka tidur.

Siapapun yang mengatur hal ini cukup teliti, namun apa arti dari melakukan semua ini?

Faktanya, siapa yang melakukannya?

“Tak ada lagi yang bisa kupakai untuk menutupiku!”

“Ada beberapa kartu memo di sana. Mungkin kartu-kartu itu ditinggalkan oleh suatu profesor.”

“Mari kita lihat… ‘Kalau apa yang aku lihat adalah kenyataan, berarti aku membutuhkan orang yang dapat disebut Ab. Buster. Aku telah mengumpulkan terlalu banyak hal itu untuk menentangnya. Itulah mengapa aku membutuhkan orang baru untuk berperan sebagai Ab. Buster dan…’ Ah, Aku tak peduli! Kartu ini kecil!! Aku tak bisa menutupi apapun dengan kartu memo kecil ini! Telapak tanganku lebih besar dari kartu ini!!”

Dalam amuknya, Aisu merobek kartu memo itu dan membuang sobekan-sobekannya.

(Haruskah dia benar-benar melakukan itu? Aku tak terlalu mengerti apa yang sedang terjadi di sini, tapi kurasa itu adalah informasi penting yang dibutuhkan sebagai prolog untuk apapun yang sedang terjadi di sini…)

“Tapi di mana kita bisa menemukan pakaian ganti? Apa kau punya ide?”

Tak seperti SMP ataupun SMA, mahasiswa tak punya “ruangan kelas tetap” di universitas, jadi tak ada kebiasaan meninggalkan barang pribadimu di mana saja. Hal itu sedikit mengubah bagi mereka di dalam seminar tertentu atau mahasiswa pascasarjana yang terus-menerus pergi ke dan dari laboratorium tertentu, tapi Anzai hampir tidak mengambil apa-apa selain program pendidikan umum, jadi dia tidak terbiasa dengan mereka dekat ruang pribadi.

Aisu menggunakan tangannya untuk menutupi badannya, tapi Anzai punya perasaan kalau hal itu sebenarnya membuat berbagai tempat semakin menonjol.

Dia mengeluarkan rintihan yang pelan dan berkata, “…Ah. Kalau kita berhasil menuju gedung aktivitas klub, mungkin kita bisa menemukan tracksuit atau seragam.”

“Apa kau ikut suatu klub?”

“Ya, Klub Penghidupan Pertarungan ala Francia Barat.”

Anzai tak cukup yakin apa yang sebenarnya klub seperti itu akan lakukan, tapi dia bersumpah di dalam hatinya untuk tidak membuat lelucon lain yang dapat membuat Aisu ingin menyakitinya. Dia hanya berharap kalau sebenarnya itu adalah klub kebudayaan.

“Tapi gedung aktivitas klub lumayan jauh dari gedung ini.”

“Dan juga, kunci ruangan klub disimpan di kantor dosen, jadi para dosen akan melihat kita …”

“Berarti kita membutuhkan pilihan yang lain.”

“Tapi tak ada lagi tempat di mana orang-orang meninggalkan barang pribadi mereka.”

“Lalu bagaimana dengan tempat yang punya pakaian yang bukan milik personal? …Hmm, mungkin seperti kantin?”

“?”

“Aku menduga bahwa hal itu demi alasan kesehatan, tapi semua koki memakai tracksuit dan celemek, kan? Pakaian terbaik adalah topi dan pakaian dari bahan sintetis tipis seperti orang-orang yang bekerja di pabrik pembuatan semikonduktor, tapi para pelanggan mungkin tak mau para koki terlihat seperti mereka ditutupi dengan bahan kimia.”

“Maksudmu?”

“Pakaian itu bukan milik pribadi. Kemungkinan, beberapa set ditinggal di dalam dapur.”

“Ya!! Kerja bagus!!”

“Gyaahhhh!? Hanya karena kau mengatasi masalahmu dengan bersukacita, tak ada alasan untuk mendatangi dan memelukku dengan pakaian seperti itu!”

Aisu sadar kembali dan memberikan tamparan yang tak adil. Kemudian mereka mulai keluar dari tempat itu.

…Tapi pertama-tama, Anzai menanyakan suatu pertanyaan hanya untuk memastikan sesuatu.

“Bagaimana dengan teman-temanmu yang kemarin? Harumi dan dua gadis lainnya. Tak bisakah kau menghubungi mereka dan menyuruh mereka membawa pakaian ganti?”

“Tidak. Sama sekali tidak. Kalau mereka tahu aku berkeliaran di sekitar universitas dengan pakaian seperti ini, dunia akan hancur hebat.”

Dan begitulah, aksi thriller mata-mata dimulai dengan nyawa (seseorang yang tak punya relasi dengan Anzai) dalam bahaya. Dia keluar sambil menyeret Aisu, raja iblis yang telah sampai di abad ke-21.

Rantainya relatif panjang, jadi Anzai akan pergi duluan untuk memastikan sesuatu kalau keadaan aman dan lalu Aisu akan mengikutinya dengan badan berayun.

Di sudut koridor, Anzai melihat sekilas rambut putih panjang. Tampaknya seorang gadis yang umurnya sekitar 12 tahun berbalk ke arah mereka, tapi kelihatanya dia tidak melihat mereka.

(…Bukankah ini adalah universitas?)

Itu adalah pemandangan yang agak aneh, tapi dia tak punya waktu untuk memedulikan hal itu. Yang penting tak ada orang lain lagi di sana. Gadis tadi sudah menghilang. Kelihatannya sudah aman untuk menuruni koridor pagi yang dingin.

“…Itu terlihat baik-baik saja.”

“Ayo kita selesaikan situasi darurat yang bodoh ini.”

“Tapi mungkin kau harus tetap jongkok sambil jalan. Kalau kau berdiri, seseorang dapat melihatmu melalui jendela koridor.”

Anzai dan Aisu melawan dorongan untuk berteriak dan berlari dengan kecepatan penuh, dan bergerak perlahan dan diam-diam melalui koridor. Tentu saja jantung Anzai juga berdebar-debar. Kalau Aisu mengacau dan mulai menangis dalam situasi ini, dia punya perasaan kalau hidupnya akan hancur terlepas dari konteks yang benar dari situasi itu.

“Kita di lantai berapa?”

“Dari apa yang bisa kulihat dari jendela, sepertinya lantai tiga. Aku dapat mengetahuinya dari seberapa tingginya kita dari tanah.”

“Kantin ada di lantai pertama.”

“Ini lebih mudah untuk bersembunya daripada koridor yang langsung menuju ke sana. Hal itu meningkatkan resiko tiba-tiba bertemu dengan seseorang, tapi …tunggu. Shh!”

“Gyaaaaahhhh!? Ada langkah kaki yang menuju arah ini!!”

Saat mereka mendatangi tangga, mereka mendengar langkah kaki dari bawah. Anzai dan Aisu menyadari bahwa mereka akan ketahuan, jadi mereka mengubah rencana mereka dan naik tangga dengan sangat ketakutan. Hanya dengan kepala mereka mencuat keluar dari bordes, mereka meneliti situasinya.

“(Mereka akan berhenti di lantai tiga, kan!? Kalau mereka terus naik, kita akan ketahuan! Mungkin kita harus memasang tanda ‘lantai basah’)”

“(Dan pentualangan seperti apa yang kau rencanakan untuk berjalan mendapatkan tanda itu!? Apa yang perlu kita lakukan adalah mengecek atas! Kalau seseorang mulai datang ke bawah, kita takkan punya tempat untuk lari!)”


Kedua orang itu melambaikan tangan mereka tanpa arti sambil berdebat, tapi beruntungnya pemilik langkah kaki itu berhenti di lantai ketiga. Dari apa yang mereka dapat lihat dari punggung orang itu, tampaknya orang itu adalah Profesor Shinagawa, nyonya keras kepala yang adalah subjek dari rumor yang diragukan yang mengatakan bahwa dia takkan memberi kredit apapun ke gadis yang memakai makeup tebal.

“K-kalau dia melihat kita, matilah kita.”

“…Kupikir mungkin aku benar-benar akan dikubur di bawah pohon ceri kampus.”

Namun, mereka tak punya pilihan lain selain maju karena sekarang jalan bagi mereka sudah terbuka.

Anzai dan Aisu turun ke lantai pertama dari bordes di antara lantai ketiga dan keempat.

Di perjalanan, tiba-tiba Anzai bertanya, “Jadi menurutmu siapa yang mempersiapkan hal ini?”

“Yah, aku tak bisa banyak memikirkan yang menghubungkan kita. Faktanya, kita baru saja bertemu kemarin.”

“Jadi…” Anzai tahu pemikiran itu mempunyai beberapa kelemahan, tapi dia tetap menyuarakan hal itu. “Pelakunya adalah Harumi, Hotaru, atau Kozue?”

“Tidak,” sangkal Aisu dengan cepat. Bukannya dia punya bukti nyata apapun mengenai hal itu. “Tak peduli bagaimana tampaknya mereka, mereka tahu jalur apa yang tidak untuk dilalui. Dengan sesuatu seekstrim ini, kita dapat menyingkirkan mereka. Ini bukanah sesuatu yang sahabat yang anak SD impikan akan lakukan.”

“Apakah begitu?”

“Iya. Kalau ternyata pelakunya mereka, aku akan menikam mereka.”

Pernyataan kasar itu diucapkan tanpa keraguan.

Bagaimana gadis kadang-kadang akan menyerang dengan cara yang gila itu membuat Anzai takut. Tanpa memerhatikan seberapa dalam luka sebenarnya, mereka tak pernah membiarkan apapun pergi seperti hal itu adalah kail yang menusuk mereka. Anzai secara sah tak tahu apakah Aisu bercanda atau tidak.

“Tapi apakah kita punya koneksi selain dengan mereka?” Tanya Anzai.

“Yah…” Aisu melemah sebelum dia dapat melanjutkan perkataannya.

Pada awalnya, Anzai berpikir bahwa hal itu disebabkan karena mereka telah sampai di lantai pertama dengan aman, tapi bertingkah aneh.

Saat Anzai menjulurkan kepalanya keluar dari area tangga untuk mengecek koridor, Aisu yang memakai pakaian renang yang gila berbicara kepadanya.

“Anu, Aku baru saja menyadari sesuatu.”

“Apa?”

“…Kantin berada di ujung lain bengunan ini. Artinya kita harus melewati area masuk di tengah bangunan ini.”

“…”

Sekarang jam 8.10.

Tak banyak waktu yang tersisa sampai pukul 8.30.

“J-jadi haruskah kita kembali ke lantai kedua, berjalan lewat sana, dan kemudian turun ke bawah menggunakan tangga di sisi lain?”

“Aku mau, tapi…tunggu, tunggu! Aku mendengar langkah kaki mendekat dari atas tangga!!”

Seperti membangun piramid dari kartu remi dan sejenisnya, rencana yang mereka buat dengan sangat ketakutan hancur begitu saja karena kejutan yang besar. Dengan tangan mereka yang terikat, mereka keluar menuju koridor tanpa yakin kalau hal itu aman.

Dan sekali mereka melangkah ke depan, mereka tak punya pilihan lain selain terus melaju ke arah itu.

Keraguan hanya akan meningkatkan resiko kegagalan.

“Kupikir professor yang dari survei itu adalah yang paling mencurigakan!” kata Aisu sambil berjalan jongkok.

“Kenapa?”

“Survei itu adalah satu-satunya koneksi antara kita selain dengan Harumi, Kozue, dan Hotaru.”

“Tapi kenapa kita? Pesertanya kan ada banyak.”

Mungkin saja ada pasangan lain yang menyelinap bersama di bagian lain universitas, tapi Anzai memutuskan untuk mengabaikan kemungkinan itu karena mereka tak punya bukti untuk hal itu.

Dengan tangannya menutupi badannya, Aisu melihat sekitar dan berkata, “Apa kau ingat apa yang kita pelajari kemarin? Hasil kita pada survei itu benar-benar cocok. Mungkin hanya kita berdua yang seperti itu.”

“Apa kau punya bukti?”

“Itu adalah masalah sederhana matematika. Menurutmu berapa peluang untuk mendapatkan hasil pengurutan 24 film pendek yang benar-benar sama?”

“Hah? Anu, uh….? A-aku bisa matematika dengan kalkulator! Sumpah!!”

“Kau bisa menggunakan kalkulator kalau mau, tapi lakukan perhitungan saja!!” wajah Aisu semakin memerah, kali ini asalnya dari sesuatu selain rasa malu. “Jawabannya 10 pangkat -23 dikali 1/6. Penyebutnya adalah angka diatas triliun dan kuadriliun, jadi aku tak tahu mau menyebutnya apa, tapi kesempatannya sangat kecil.”

“…A-Aku tak menyadari kalau hal itu adalah hal itu adalah hal yang luar biasa.”

“Tentu saja, peluangnya bukan 0, jadi mungkin saja ada orang ketiga, tapi…yah…hal itu akan menjadi sebuah keajaiban. Hanya dua saja sudah cukup hebat.”

Mendengar hal itu, Anzai mulai merasa seperti hasil survei lebih penting daripada fakta bahwa dia telah berbicara dengan gadis lainnya.

Dan lagi, mungkin saja peluang menemukan orang tertentu lebih rendah daripada mengurutkan 24 film pendek dengan cara yang sama.

“…Kita berhasil sampai ke zona merah daerah ranjau.”

“Kau terlihat lebih tenang. Apakah indramu sudah mati rasa?”

Mereka ada di area masuk. Pada waktu itu, area ini adalah area yang mempunyai kesempatan mereka ketahuan orang lain tertinggi. .

Beberapa universitas berbeda-beda, tapi yang satu ini masih menggunakan sistem sendal rumah. Dengan kata lain, di pintu masuk terdapat deretan loker sepatu. Mungkin alasannya untuk memastikan alat penelitian yang mahal dan buku-buku tua tidak dirusak oleh kotoran. Melepas sepatumu sebelum memasuki ruangan tertentu sepertinya lebih populer, tapi para professor di sini tampaknya khawatir kotoran apapun dalam gedung dapat masuk dari bagian bawah pintu.

Namun, para mahasiswa pergi ke bangunan yang berbeda tergantung di mana kelas mereka, jadi taka da yang punya loker pribadi. Kau menaruh sepatumu di dalam sembarang loker dan lalu memakai sepasang sendal rumah.

Sama seperti sebelumnya, Anzai maju dan menjulurkan kepalanya keluar untuk melihat apakah situasi aman untuk melanjutkan perjalanan mereka.

“Aku tak melihat siapapun …”

Hal selanjutnya yang dia tahu, Aisu mendorongnya dengan kasar dari belakang. Dia dipaksa masuk ke area di antara deretan loker.

Dia menyadari apa yang terjadi sebelum dia dapat mengomel.

Dia mendengar beberapa gadis mengobrol di deret loker selanjutnya.

“Harumi, kau datang lebih awal.”

“Aku mengubah akun bankku, jadi aku harus memberi tahu orang-orang di kantor untuk mengubah tempat mereka menarik biaya kuliahku. Semua hal prosedural ini sungguh menyebalkan. Kenapa kau ada di sini, Hotaru-san?”

“Tak ada alasan yang nyata. Jalan utama itu biasanya jauh lebih ramai, tapi hari ini sedikit yang berlalu lalang.”

Karakter bos personal yang mereka paling tak ingin biarkan mengetahui hal ini muncul.

Karena hanya ada sederet loker di antara mereka, jarak antara mereka sebenarnya sekitar 60 cm.

Hanya untuk memastikan, Anzai bertanya, “…Apa yang terjadi kalau mereka tahu?”

“Dunia akan hancur.”

Dia berpengang teguh pada jawaban itu.

Masalahnya ada tak ada hal proaktif yang bisa mereka lakukan mengenai itu. Mereka hanya bisa berdoa agar Harumi dan Hotaru pergi.

Dan tentu saja, dunia tak terlalu baik sampai-sampai mau memberikan keamanan yang sempurna kepada mereka.

Pada detik berikutnya, ponsel Anzai mulai berdering begitu saja.

Usaha mereka untuk bersembunyi sia-sia. Dan juga, Aisu panic dan berteriak.

“Vaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!”

Tapi setelah Anzai kembali tenang, dia menyadari Harumi dan Hotaru tak mungkin tahu bagaimana suara nada dering ponselnya, jadi tak masalah kalau mereka mendengarnya. Masalah yang sebenarnya adalah…

“Hah? Aku baru saja mendengar suara Aisu.”

“Kalau begitu, kita juga akan menemukan Kozue di sini.”

Anzai mendengar langkah kaki mereka mendekat saat mereka mengobrol. Sudah jelas mereka mengelilingi deretan loker.

Kedua gadis itu hanya ingin memberikan salam mereka seperti biasa, tapi Anzai dan Aisu tak bisa membiarkan hal itu terjadi.

Tahu betul kalau dia sendirilah yang menyebabkan situasinya memburuk, Aisu mencengkeram kerah Anzai menggunakan kedua tanganya dengan amarah yang meledak-ledak.

“(Kenapa kau tak mematikan ponselmu!?)”

“(Tapi sudah jelas kalau ini salahm -…gweh!!)”

Kalau mereka tetap tinggal di tempat mereka sekarang, Harumi dan Hotaru akan menemukan mereka, aksi thriller mata-mata itu akan berakhir dengan kegagalan, dan dunia jelas akan hancur. Karena kedua gadis itu sedang berjalan di belakang deret loker di mana mereka berada, Anzai dan Aisu berjalan lewat depan.

“Hah?”

“Ke mana dia pergi?”

Saat mereka mendengar suara Harumi dan Hotaru dari luar loker, mereka kabur dari area masuk. Mereka kabur melewati koridor dan pergi menuju kantin.

Kantin dibuka sebelum siang dan penyiapan makanan dimulai sekitar pukul 10, jadi sepertinya rempat itu kosong. Setelah mereka berhasil melewati area paling berbahaya di area masuk, tak ada lagi yang dapat mereka takutkan.

Mereka berlari dari koridor ke kantin.

Jarak ke dapur sekitar 30 meter lagi.

“Entah mengapa hal ini terasa seperti kelanjutan survei itu.”

“?”

“Hanya bentuk pertanyaannya saja yang berubah. Apakah kita menuruni tangga atau melewati koridor? Apakah kita melewati area masuk atau kita mengelilinginya? Rasanya seperti kumpulan pertanyaan kecil seperti itu.”

Dan sekali lagi mereka megeluarkan pertanyaan bersama-sama.

“Tapi untuk apa?”

“Yah, bahkan kita tak tahu apa tujuan survei itu. Tapi dari tindakan professor itu sebelumnya, kelihatannya dia ingin orang lain melakukan sesuatu untuk tujuannya sendiri.”

Apakah artinya survei adalah pertanyaan pertama, masalah pakaian renang adalah pertanyaan kedua, dan selanjutnya akan dilanjutkan pertanyaan ketiga dan keempat?

Berapa lama hal itu akan berlangsung?

Apa tujuan tujuan persiapan dan pemutaran film itu?

Atau akankah mereka telah menyelesaikan apapun tujuan professor itu dengan menjawab semua pertanyaannya?

“Jadi apakah kita harus mengalahkan raja iblis yang jahat?”

“Dunia yang menyaratkan pemakaian slingshot bikini untuk menjadi seorang pahlawan lebih baik hancur saja,” kata Aisu sambil cemberut.

“Tapi kalau dia membuat situasi-situasi aneh ini dengan harapan kita dapat melaluinya, mungkin dia sedang mencari orang dengan keahlian khusus tertentu.”

“Apa maksudmu?”

“Mungkin dia mati-matian membutuhkan orang dengan kemampuan untuk menentang segala bentuk keanehan. Mungkin hal itu tak segila melawan raja iblis atau armada UFO galaksi luar angkasa, tapi mungkin ada beberapa keanehan dahsyat lainnya.”

Apapun masalahnya, mereka harus manyelesaikan pertanyaan kedua terlebih dahulu.

Anzai dan Aisu berjalan melalui kantin menuju dapur. Mereka menuju belakang dapur dan menemukan ruang penyimpanan. Ruang itu juga merupakan ruang istirahat, jadi ruang itu memiliki loker-loker yang tinggi dan sempit, sebuah meja, dan TV.

Mereka menemukan apa yang mereka cari di salah satu loker.

Orang yang bekerja di kantin selalu memakai tracksuit dan celemek yang sama.

“O-ohhhhhhh!! Di sini benar-benar ada celemek! Sudah jelas kalau kita berhasil!!”

“Kalau begitu cepat pakai celemek itu.”

Anzai mencoba bertingkah keren, tapi sebenarnya dia sedikit enggan untuk berpisah dengan slingshot bikini Aisu. Namun, dia punya perasaan kalau dia akan dihajar kalau mengatakan hal itu keras-keras, jadi dia tetap diam.

Sementara itu, Aisu terlihat terlalu senang karena telah menghidari situasi berbahaya itu.

“Celemek! Celemek! Celemek! Celemek! … Celemek?”

Entah mengapa, dia menambahkan tanda tanya pada akhir ucapannya.

Anzai mengerutkan dahinya dan menyadari kalau wajah Aisu memucat.

“…Anu, di sini hanya ada celemek.”

“Hah!? Apa yang terjadi pada tracksuitnya!? Apakah professor itu menyembunyikannya!?”

Kebetulan, professor itu meninggalkan sebuah kartu memo. Kartu itu mengatakan, “Celemek ini mengandung bahan kimia yang tidak membahayakan bagi manusia. Beberapa detik setelah pakaian renang menyentuh celemek ini, pakaian renang itu akan berkorosi dan hancur.”

Terlalu cepat untuk mulai memikirkan pertanyaan ketiga.

Pilihan untuk pertanyaan kedua belum berakhir.

Akankah Aisu memakai celemek itu? Atau tidak?

Dari sudut pandang yang murni memfokuskan ke area yang tertutup, seharusnya dia memakai celemek itu tanpa ragu.

Namun, apakah membuang pelindung yang kecil namun setidaknya ada yang dia pakai sebelumnya adalah pilihan benar?

Tapi bukankah tetap memakai slingshot bikini adalah pilihan yang salah?

Maka sekarang.

Keputusan apa yang menurutmu benar?