A Simple Survey (Indonesia):Jilid 1 File13

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

File 13: Bagaimana Kalau Kita Mengintip?[edit]


Kita tinggal di zaman di mana kita bisa mengintip ke dalam neraka.


Pengembang teknologi telah mencoba untuk mengintip ke dalam surga, namun para teolog* dari seluruh dunia menentang keras ide ini. Mereka beranggapan bahwa hanya orang-orang yang telah melewati proses yang benarlah yang dapat melihat surga. [Teolog adalah orang yang mempelajari agama dari segi sifat-sifat Tuhan.]


Sebagian dari mereka berpendapat kalau melihat neraka itu tidak apa-apa, dan akhirnya, izin untuk mengintip ke dalam neraka pun diberikan untuk memperlihatkan betapa mengerikannya keadaan di sana supaya semua orang bertobat dan mau mengubah jalan hidupnya ke arah yang benar. Sebagian orang menganjurkan teknologi ini untuk dikelompokkan secara resmi ke dalam software pendidikan.


…Tetapi, apa yang terjadi tidak persis seperti apa yang diharapkan.


“Halo? Ashtart?”


Ketika aku sedang menggunakan sistem permainan genggamku di ruang LAN gratis milik suatu restoran cepat saji, suara seorang wanita datang dari layar sistemku.


Tapi wanita itu bukanlah manusia.


“Ada apa, nak? Diintip oleh manusia sepertimu melalui permainan genggam dan apapun itu sungguh melelahkan. Memperlihatkan dan diintip adalah 2 hal yang jauh berbeda.”


“Ashtart, kudengar neraka itu tempat yang sangat mengerikan, tempat yang penuh penderitaan. Tapi dari apa yang kulihat, semuanya terlihat santai-santai saja.”


“Menurutmu kenapa neraka itu ada?”


“?”


“Menurutmu kenapa?”


“Untuk menjadi tempat bagi orang-orang yang melakukan kejahatan?”


“Kau benar. Tetapi peran itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Ada banyak jenis iblis dengan peran yang berbeda-beda, tapi iblis golonganku diberi izin oleh Tuhan untuk menggoda manusia. Baca saja tentang iblis yang bernama Mastema* kalau mau tahu lebih banyak.” [Mastema adalah iblis dari mitologi Yahudi yang menjatuhkan hukuman Tuhan. Dia juga menguji keyakinan umat manusia terhadap Tuhannya.]


“Tapi, Ashtart, kau tidak melakukan apapun terhadap manusia. Dengan pakaian renang itu, kau malah terlihat seperti sedang liburan”


Dia mempunyai rambut panjang berwarna merah dan kulit putih yang alami. Bisa dikatakan kalau dia mempunyai tubuh yang glamor, tapi dengan tanduk dan sayap yang terlihat seperti milik kelelawar. Ekornya yang bergoyang ke depan dan kebelakang membuatku ingin menggenggamnya.


“Hal itu karena semuanya itu menyebalkan.”


Ketika sedang berbaring di kursi pantai, Ashtart menggoyangkan pinggulnya ke depan dan ke belakang.


“Dengan gambaran tentang iblis menurut manusia dan perintah Tuhan kepada kami untuk memberi cobaan dan membawa kesengsaraan, rasanya banyak sekali hal yang diharapkan dari kami. Tapi kami adalah iblis. Keyakinan kami adalah melawan apapun yang diperintahkan kepada kami.”


“Hm? Hmm???”


Saat aku makan french fries dengan tampak kebingungan, Ashtart sedikit mengangkat telunjuk.


“Neraka adalah tempat yang mengerikan kalau para iblis melakukan pekerjaan mereka dengan benar. Tapi iblis bukanlah tipe pekerja yang rajin. Jika kau mengalikan negatif dengan negatif, apa yang kau dapatkan? Positif!! Pada dasarnya, neraka telah menjadi pantai yang belum pernah terjadi sebelumnya karena neraka dijalankan oleh para iblis yang tidak punya motivasi atau apapun itu!!”


Ashtart terlihat sangat yakin, tapi apa maksud dari mengalikan negatif itu? Jika kau punya 4 kotak dengan 3 apel di setiap dalam kotaknya, hal itu menjadi 3 x 4 yang adalah 12. Aku sudah mempelajarinya di sekolah…tapi kalau kau kehilangan 4 set dari “3 hal yang hilang”* kau dapat…lebih banyak???? Hal itu pasti adalah sesuatu dari dunia filsafat. Para iblis memang memikirkan hal-hal yang misterius. [Dia menganalogikan bilangan negatif dengan sesuatu yang hilang. Secara matematis, -4 x -3 = 12 dan dia mempermasalahkan hal itu. Bagaimana bisa “kehilangan” dikalikan dengan “kehilangan”, hasilnya malah “ada”. Yah, itulah perbedaan antara matematis dan filosofis.]


“Oh, apa kau sudah diajarkan bagaimana cara mengalikan bilangan negatif?”


“Jadi, surga bukanlah tempat tujuan yang bagus?”


“Para malaikat berbeda dari para iblis, jadi aku yakin kalau mereka membuat surga menjadi tempat yang bagus. Lagipula, angka positif yang dikalikan dengan angka positif masih menghasilkan positif. Tetapi hanya karena surga adalah tempat yang bagus bukan berarti kalau neraka adalah sebaliknya. Neraka juga tempat yang bagus kok. Tapi jika orang-orang tahu hal itu, mereka tidak akan bersusah-susah hanya untuk pergi ke surga, jadi kami harus merahasiakan ini. Tapi terima kasih untuk teknologi kalian, sekarang kalian semua tahu!!”


Ashtart menjulurkan lidahnya dan menggaruk kepala bertanduknya itu ketika aku mengangguk.


“Aneh sekali.”


“Aneh. Karena beberapa alasan, kalian para manusia berpikir kalau kami para iblis mengincar jiwa kalian atau hal-hal seperti itu, tapi orang jahat secara otomatis masuk neraka setelah mereka mati, jadi kami gak punya alasan untuk pergi ke dunia manusia. Dan juga, kenapa kalian berpikir kalau kami akan hidup sesuai tujuan kami diciptakan dan menjadi penjahat yang rajin? Hal yang kami para iblis lakukan hanyalah mengecewakan Tuhan yang telah memberi kami tujuan seperti itu.”


“Jadi karena kalian diharapkan untuk berbuat jahat, kalian tidak berbuat jahat?”


“Tepat sekali. Dan para teolog yang berasumsi kalau kami berbuat jahat adalah mereka yang berekspetasi kalau kami mau memenuhi semua tugas.”


Ashtart menghisap minuman biru dari gelasnya menggunakan sedotan.


“Aku hanya ingin bermalas-malasan, jadi menurutku hal itu tidak terlalu penting, tapi kalau aku disuruh pilih surga atau neraka, aku akan memilih neraka. Keduanya memang tempat yang cukup nyaman, Tapi surga itu ketat kalau tentang kejujuran dan intergritas. Kau tidak dapat hidup di sana dengan bermewah-mewahan. Di neraka lebih mudah karena kau gak perlu takut tentang hal seperti itu. Jika kau ingin melakukan sesuatu, ya lakukan saja. Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa si Satan bego itu mencoba untuk kembali ke surga. Apa salahnya kalau berada di neraka? Di sini enak dan hangat kok.”


“Kedengarannya bagus, Ashtart.”


“Gimana kalau kamu jalan-jalan ke neraka selama 3 hari, mau coba?”


“Boleh nih?”


“Boleh, boleh. Bukankah aku sudah bilang kepadamu? Segala sesuatu yang ada di sini sungguh sederhana. Gak ada yang punya motivasi. Mungkin kalau datang ke surga pasti ketat dengan kualifikasi dan kedisiplinan, tapi kalau di neraka kami tidak peduli tentang hal seperti itu. Kalau kau mau datang, ya datang aja. Kau akan tahu bagaimana rasa minuman ini. Aku akan memberimu tiket ke neraka.”


Tepat setalah Ashtart mengatakan hal itu, lampu dari sistem permainan genggamku menyala. Hal itu memberitahu kalau aku mendapat email. Sepertinya itu adalah tiket yang tadi Ashtart bicarakan.


Aku hendak menyentuh layarnya supaya aku dapat pergi ke neraka dan bersenang-senang, namun...


“Hah?”


“Kenapa, nak?”


“Ada panggilan masuk.”


“...Sistem permainan jaman sekarang pasti nyaman ya.”


Bada detik aku menekan tombolnya, terdengar suara perempuan yang tidak familiar denganku meneriakiku.


“Hhhhhhhhheeeeeeeeeennnnnnnnnnntttttttttiiiiiiiikkkkkkkkkkaaaaaaaannnnnnnnnnnn!!”


“Nyahh!?”


“Geh. Apakah itu suara Gabriel!? Pasti iya. Cuman dia malaikan yang perempuan.”


Aku hampir jatuh dari kursiku ke belakang, tetapi perempuan itu tetap melanjutkan teriakannya melalui telepon.


“Domba yang tak berdosa!! Karena beberapa alasan, aku tidak dapat mengunjungimu, tapi aku dapat memberimu nasihat. Jangan mau pergi ke neraka begitu saja!!”


“Eh? Tapi Ashtart bilang…”


“Itu benar. Itu benar. Aku mengirimkannya udangan yang asli, jadi dia tidak akan dianggap masuk secara ilegal atau hal semacam itu. Cepatlah ke sini supaya kita bisa bermain bola pantai.”


“Domba, kenapa kamu ingin ke neraka?”


“Karena para iblis tidak punya motivasi jadi neraka menjadi seperti pantai. Gimana kalau kau juga mengenakan pakaian renangmu, Gabriel.”


“Heh heh heh. Itu benar! Itu benar! Pakailah I-front micro bikini!!”


“Diamlah, kau jalang sialan!! A-ahem. Memang benar kalau teknologi yang telah manusia kembangkan membuat neraka terlihat seperti area dengan pasir putih dan lautan biru di mana para iblis bermalas-malasan dan melakukan apa yang mereka mau. Tapi…”


“Tapi?”


“Tapi harusnya kamu tidak memercayai iblis! Apa kamu pikir di neraka beneran ada pasir putih dan lautan biru!?”