A Simple Survey (Indonesia):Jilid 2 Arena02

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Arena 02: Perjudian Petak Umpet[edit]

“Sebelum permainannya dimulai, mohon jawab pertanyaan di lembar ini. Dua tim, yang masing-masing terdiri dari lima orang bermain petak umpet dengan batas waktu 30 menit. Kalau semua orang dari tim yang bersembunyi berhasil ditemukan, maka tim pencari akan menang. Namun jika satu orang saja tidak ditemukan, tim yang bersembunyi menang. Dengan kondisi seperti itu, tim mana yang menurut anda akan menang?”

Kupikir faktor yang paling penting dalam petak umpet adalah luas dan tingkat kerumitan arena, namun di pertanyaan tak disebutkan sedikitpun tentang arenanya. Namun, aku selalu berhasil bersembunyi dalam permainan petak umpet. Karena itu, aku melingkari jawaban “tim penyembunyi” tanpa berpikir panjang.

Kalau kupikir-pikir, seharusnya aku sadar dari awal bahwa saat itu permainannya telah dimulai.

Mataku ditutup, lalu aku dimasukkan ke dalam truk milik sebuah perusahaan ekspedisi bernama Direct Transportation, dan dibawa ke suatu tempat antah berantah.

Ketika penutup mataku dibuka, yang pertama kali kulihat adalah reruntuhan komidi putar yang sudah berkarat disana-sini.

Suara burung gagak memekakkan telingaku.

“Oke, oke, oke. Mari kita mulai permainan ini!” kata seorang gadis kelinci dengan suara yang santai sembari berdiri di antara beberapa laki-laki yang tampak sangar berpakaian kerja. “Semuanya, perhatikan pita di lengan kalian. Merah berarti kalian adalah yang mencari, dan biru berarti kalian yang bersembunyi. Baiklah, silakan berbaris sesuai dengan tim kalian sekarang.”

Pita di lengan kananku berwarna biru.

Itu berarti aku seorang penyembunyi.

Tim penyembunyi terdiri dari dua laki-laki dan tiga perempuan, sedangkan tim pencari dengan pita merah berisi empat laki-laki dan satu perempuan.

Si gadis kelinci segera melanjutkan penjelasannya dengan ceria.

“Now, the seekers are Tanaka Masuo-san, Satou Tadakage-san, Inoue Kyouko-san, Kinoshita Shizuyuki-san, and Kawamo Ryuujin-san. The hiders are Yamada Megumi-san, Akaumi Hatsuko-san, Hasebe Kensuke-san, Tobukuro Jirou-san, and…oh, we have two Tanaka-sans. This one is Tanaka Mitsu-san. Those are the ten participants in this attraction. Baiklah, yang menjadi pencari adalah Tanaka Masuo-san, Satou Tadakage-san, Inoue Kyouko-san, Kinoshita Shizuyuki-san, dan Kawamo Ryuujin-san. Yang bersembunyi adalah Yamada Megumi-san, Akaumi Hatsuko-san, Hasebe Kensuke-san, Tobukuro Jirou-san, dan…oh, kita punya dua Tanaka-san. Yang satu ini adalah Tanaka Mitsu-san.”

Ia tak menjelaskan siapa orang yang mana.

Dan si gadis kelinci nampaknya juga tak peduli.

Ia juga tak peduli apakah kami akan bekerja sama atau berusaha sendiri-sendiri.

“Petak umpet ini akan berlangsung di seluruh bagian taman bermain ini. Tim pencari akan diberi kamera digital murahan. Penyembunyi manapun yang berhasil difoto akan dianggap tertangkap. Kami akan menentukan foto yang layak. Penyembunyi bisa bebas berpindah lokasi bersembunyi selama kalian tidak tertangkap. Tapi jika bergerak justru membuat kalian tertangkap, maka tak ada gunanya juga berpindah-pindah.”

“…”

“Tim pencari akan menunggu disini selama 30 menit sembari tim yang lain bersembunyi. Setelah itu, tim pencari akan diberi 30 menit untuk mencari tim lawan. Apakah tim pencari berhasil menemukan semuanya sebelum waktunya habis, atau akankah satu orang berhasil bersembunyi dan tak ditemukan? Itu akan menentukan siapa yang menang di permainan ini, jadi lakukan yang terbaik☆”

Suara peluit terdengar melengking keras.

Suara itu datangnya dari mulut kecil si gadis kelinci.

Aku adalah penyembunyi, jadi aku segera pergi, seperti yang telah diinstruksikan padaku. Berbeda dengan para pencari, tak ada untungnya para penyembunyi untuk berkumpul di satu tempat. Kalau salah satu dari kami berhasil selamat, kami semua akan menang, jadi peluang kami lebih besar jika kami berada sejauh mungkin satu sama lain.

“Baiklah…”

Hal yang paling mencolok dari taman bermain yang sudah hancur ini adalah komidi putar, tapi aku juga bisa melihat rel roller coaster yang melintang di atas permukaan tanah. Selain itu, ada juga rumah hantu, permainan terjun bebas, serta tempat yang terisi beberapa restoran dan sebuah mall.

Karena kami bermain petak umpet, aku perlu masuk ke suatu bangunan.

Keputusan pertama yang harus kuambil adalah…

“Apakah aku sebaiknya tetap tinggal di satu tempat atau bergerak berpindah-pindah?”

Kalau aku berencana untuk tinggal di satu tempat tanpa berpindah, aku perlu bersembunyi di satu tempat dimana orang tak mungkin masuk. Misalnya, di terowongan roller coaster. Tempat seperti itu biasanya tak boleh dimasuki karena berbahaya, tapi sekarang pasti aman, karena roller coasternya tak berfungsi.

Tapi jika aku bersembunyi di tempat seperti itu, aku takkan bisa melihat situasi di luar, dan tentu akan sangat sulit untuk kabur jika aku nyaris ditemukan. Bersembunyi di tempat seperti itu sama saja seperti bertaruh hidup atau mati.

Kalau aku ingin berpindah-pindah, aku perlu bersembunyi di suatu tempat yang punya banyak jalan keluar. Aku akan bisa kabur ketika aku hampir ditemukan. Tapi tempat seperti itu juga akan mudah dimasuki pencari, jadi aku juga punya peluang ditemukan lebih besar.

Kedua pilihan itu punya keuntungan dan kerugiannya masing-masing.

Ketika aku sedang menimbang-nimbang jalan yang akan kuambil, seseorang memanggilku dari belakang.

“Hei. Hei, kau!”

“?”

Aku berbalik dan melihat seorang gadis yang seumuran mahasiswa mendekatiku.

“Pita di lenganmu biru, jadi kau bersembunyi juga, kan? Aku Yamada. Siapa namamu?”

“Hasebe,” jawabku.

“Hasebe, hm? Kau tak berpikir untuk bersembunyi di tempat-tempat yang rumit, kan? Itu, seperti memanjat pilar penyangga permainan terjun bebas, jadi tak ada yang bisa melihatmu dari bawah.”

“Apa masalahnya?”

Aku masih belum memutuskan apa yang akan kulakukan, tapi aku masih ingin pembicaraan ini tetap berlanjut.

Yamada-san merengut dan berkata, “Apakah kau tak mendengarkan aturannya? Para pencari hanya perlu memotret kita untuk menangkap kita. Kalaupun kau kabur ke tempat dimana mereka tak dapat menyentuhmu, satu kilatan kamera saja dapat membuatmu kalah.”

Benar juga…

Ketika aku berpikir tentang kamera digital yang dimiliki para pencari, masalah lain muncul di kepalaku.

“Kalau begitu bukankah kita akan berada dalam masalah ketika salah satu pencari memanjat suatu tempat yang tinggi sehingga mereka bisa memotret semua isi taman bermain ini?”

“Tentu saja. Oh, benar, benar. Apakah kau sudah mengecek jam tanganmu?

“?”

“Lho, itu kan salah satu ancaman kita yang paling sederhana. Tim pertama bersembunyi selama 30 menit pertama, dan tim kedua mencari selama 30 menit berikutnya. Tapi bagaimana jika salah satu pencari meniupkan peluit palsu? Mereka bisa saja memotret anggota tim pertama yang keluar tanpa berpikir dua kali.”

Itu sama sekali tak terpikirkan olehku sebelumnya.

Tapi dengan hadiah yang ditawarkan permainan ini, bukan tidak mungkin mereka akan berbuat curang.

Masing-masing pemenang akan diberi 200 juta yen.

Lalu yang kalah akan dieksekusi. Aku tak tahu pasti bagaimana mereka akan mencabut nyawa tim yang kalah, tapi aku tak yakin mereka akan melakukannya dengan cepat dan tanpa rasa sakit. Lagipula, mereka sudah susah-susah menarik kami ke tempat ini dengan uang sebesar itu.

Permainan ini akan membawa kami, antara ke surga, atau ke neraka.

“Peluitnya ditiup jam 4:30 tepat. Gunakan waktu itu sebagai dasar pertimbanganmu. Aku sendiri juga harus bersembunyi, jadi aku ingin sebanyak mungkin anggota tim ini tidak tertangkap.”

Permainan ini adalah permainan yang kejam dengan nyawa manusia sebagai taruhannya, tapi setidaknya ada batas yang jelas antara kawam atau lawan. Kalau tim kami menang, semua anggota akan mendapat hadiah, jadi tak ada alasan untuk mengkhianati satu sama lain.

“Aku pergi dulu kalau begitu. Mari berusaha supaya kita tidak tertangkap.”

Aku melihat badan Yamada-san menjauh ketika ia berlari menuju mall, tapi aku kembali tersadar kalau aku tak punya banyak waktu.

Para penyembunyi tak mendapat banyak keuntungan ketika mereka bekerja sama, tapi para pencari akan lebih mudah menemukan kami kalau mereka bekerja sama.

Misal, jika salah satu dari mereka pergi ke tempat yang lebih tinggi untuk mengamati taman bermain ini, maka hampir past ia dapat mengamati semua area yang ada di luar ruangan. Kalau pencari yang lain kemudian mencari ke semua bangunan yang ada, tentu mereka akan dengan mudah menemukan sebagian besar orang yang bersembunyi.

Tempat-tempat yang ada di dalam ruang sangatlah terbatas.

Entah dimanapun kau bersembunyi, kau akan dapat ditemukan kalau setiap sudut bangunan tersebut diperiksa.

Mungkin saja empat pencari yang mencari di dalam gedung-gedung tidak dapat memeriksa semua gedung dalam batas waktu yang sudah ditentukan, tapi terlalu bahaya untuk bergantung pada asumsi di saat-saat seperti ini.

Kalau aku kalah, aku akan dibunuh.

Tidak, bahkan jika aku tak ikut dalam permainan ini, hidupku sudah akan hancur terlebih dulu.

Aku tak punya pilihan lain.

Kalau aku tak menang disini, maka semuanya akan berakhir.

Aku akan melakukan apapun untuk menang. Dan semua peserta, baik yang mencari atau yang bersembunyi, akan merasakan hal yang sama.

Aku takkan bisa menang kalau aku melihat permainan ini seperti permainan petak umpet biasa.

Aku butuh cara yang lebih licik, namun juga pasti bisa membuatku tidak dapat ditemukan.

“…Tunggu.”

Kalau aku tak bersembunyi di dalam gedung, aku akan dapat terlihat dari tempat yang tinggi.

Kalau aku bersembunyi di dalam gedung, aku akan ditemukan jika mereka memeriksa seluruh bagian gedung.

Tapi…

Bagaimana jika ada pilihan ketiga yang bukan di luar atau dalam gedung?


Waktu 30 menit telah berlalu.

Suara peluit di kejauhan menandakan akhir dari waktu bersembunyi.

Langkah-langkah kaki yang cepat dapat kudengar beberapa saat setelahnya.

Setidaknya salah satu dari pencari akan bergerak menuju tempat yang tinggi untuk mengawasi tempat-tempat yang ada di luar gedung.

Di tempat bersembunyi yang kupilih, penglihatanku benar-benar terbatas. Masalah utama dari tempat bersembunyi yang baik adalah minimnya informasi mengenai keadaan sekeliling. Aku tak bisa melihat ke tempatku bersembunyi dari atas seperti di film atau video game.

Lagipula, disini sulit sekali bernafas.

Setiap kali aku menghembuskan nafas, udara yang hangat segera terkumpul di depan mukaku. Aku mulai berpikir apakah aku akan mati karena sesak nafas disini.

“Kya!! Tunggu, jangan potret aku!!”

“Aku menemukan seorang! Sepertinya namanya Akaumi. Hei, hentikan. Jangan sentuh kameraku!!”

“Aku dengar seseorang berlari ke rumah hantu!”

“Bodoh! Kenapa orang yang ada di atas tidak memotretnya?! Kalau begitu, kita pasti sudah menangkapnya!!”

Jarak pandangku begitu terbatas, aku tak tahu pasti apa yang sedang terjadi, tapi aku masih bisa mendengar percakapan antara para pencari, dan aku bisa menangkap bahwa permainan ini mulai memanas. Jantungku berdegup begitu kencang, sampai-sampai aku khawatir suara detak jantungku bisa membuatku ketahuan.

Tapi aku akan baik-baik saja.

Seharusnya.

Para pencari, mereka mencari dengan strategi dimana satu orang mengamati tempat-tempat di luar gedung dari tempat tinggi, dan sisanya mencari di dalam ruang. Mereka tidak akan mengira ada pilihan lain seperti yang kulakukan.

Lagipula…

Aku ada di dalam kostum maskot dekil, terbaring di atas tanah.

Bisa dibilang aku bersembunyi di luar ruangan.

Namun, si pencari yang ada di tempat tinggi tidak akan dapat mengetahui apakah ada seseorang yang bersembunyi di balik kostum ini. Selain itu, mungkin saja orang lain ada terlalu dekat denganku dan dapat mendengar nafasku, tapi pencari yang lain akan berasumsi bahwa penyembunyi yang tidak ada di luar, bersembunyi di dalam gedung.

Dan pasti mereka tidak akan melakukan pencarian yang mendalam di luar gedung.

Mereka akan terburu-buru mencari di dalam gedung. Mereka tidak akan membiarkan satu gedungpun tidak dimasuki sebelum waktunya habis.

Aku hanya perlu melakukan satu hal.

Aku tak perlu jungkir balik menghindari para pencari atau menghalangi diriku sendiri dari para pencari seperti mata-mata di film-film action.

Aku hanya perlu diam, tak bergerak.

Aku harus tetap berbaring di atas tanah tanpa menggerakkan satu ototpun.

Tapi ketika kegagalan berarti kematian, berdiam diri selama 30 menit itu bukan hal yang mudah. Bahkan, aku tak bisa lagi memperkirakan waktu yang telah berlalu. Mungkin aku akan gila di dalam kostum itu kalau saja tak ada alarm jam yang menandakan permainan sudah berakhir.

Kostum ini terletak di dekat mall lama.

Kalau aku hampir ketahuan, maka ada gedung di dekatku yang bisa kumasuki.

Aku yakin ini adalah jawaban yang benar.

Bisa saja ada pencari yang menganggap kostum ini tak lebih dari suatu pakaian, dan foto dari kostum ini saja sudah cukup untuk menangkapku, tapi ini masih lebih aman daripada berlarian di sekitar taman bermain.

Itu yang kupikirkan.

Tapi keadaan sekitar bisa mengubah semuanya dengan segera.

Seseorang tiba-tiba menendang kepala kostum yang kupakai.

Aku nyaris saja menjerit, namun buru-buru kutahan.

Permainan petak umpet ini adalah permainan tim. Kalau satu orang yang bersembunyi tidak bisa ditemukan sampai permainan berakhir, maka semua orang yang bersembunyi akan menang. Jadi masih ada harapan meskipun aku tertangkap. Namun, aku tak tahu berapa banyak penyembunyi yang tersisa.

Dan…

Aku sudah lelah dengan hidupku yang selalu diatur-atur.

Setengah putus asa, aku mencoba mengira-ngira apakah orang yang menendang kepala kostum barusan hanya karena tidak sengaja, atau memang ingin mengecek kalau-kalau ada seseorang di dalamnya. Tapi entah apapun itu jawabannya, aku tetap harus berdiam diri.

Yang pasti, semuanya akan berakhir kalau orang itu sadar ada yang bersembunyi di balik kostum ini.

Tolong, tinggalkan aku.

Tolong pergilah.

Ketika aku tengah berdoa, sesuatu yang tak kukira sebelumnya terjadi.

“…Hasebe-kun?”

Aku mendengar suara yang familiar. Suara Yamada-san, penyembunyi yang lain.

Aku tak harus menjawabnya, dan orang-orang yang bersembunyi tidak mendapat keuntungan apa-apa dengan bekerja sama, tapi semuanya akan usai jika salah satu pencari melihat kami. Aku menjawab lirih sembari berusaha tak bergerak supaya tidak menarik perhatian pencari yang ada di tempat tinggi.

“Ya, ini aku.”

“Bagus. Kau belum ditemukan.”

“Bagaimana denganmu, Yamada-san? Apakah kau tahu bagaimana kondisi yang lain?”

Di permainan ini, para penyembunyi tak punya alasan untuk saling mengkhianati. Itu kenapa aku tetap bicara padanya, namun ada sesuatu yang janggal.

Ya.

Mungkin ia tahu ada yang bersembunyi di kostum ini karena ada sedikit gerakan atau ada suara nafas, tapi bagaimana bisa ia tahu bahwa orang itu adalah aku?

Seolah-olah ia telah melihat apa yang terjadi pada penyembunyi yang lain.

Tak mungkin…

Tenggorokanku terasa kering.

Waktu terus berjalan.

Tak mungkin!!

Dan kemudian Yamada-san, yang seharusnya juga ikut bersembunyi, berteriak sekeras-kerasnya.

“Ada yang bersembunyi disiniiiiiiiii!!!!!!”

Teriakannya tak masuk akal.

Tapi tetap saja ia mengubah jalannya permainan.

Aku buru-buru berdiri tanpa melepas kostum maskot itu dan berlari ke mall. Si pencari yang ada di tempat tinggi mungkin berhasil memotretku, tapi aku tak mendengar seorangpun berteriak bahwa mereka mendapatkanku.

Tapi ini semua hanya masalah waktu.

Dimana aku harus bersembunyi sekarang? Mall ini cukup besar, tapi pilihan tempat untuk bersembunyi tetap saja terbatas. Kalau empat pencari yang ada di bawah mencari di dalam gedung ini dengan teliti, tentu saja mereka akan menemukanku.

Dan…

Yamada-san dengan santai berjalan masuk ke mall dan, sambil menyeringai, ia berkata,

“Tak ada gunanya. Kau dan aku adalah penyembunyi yang tersisa. Kita berdua akan ditemukan disini, dan semuanya akan usai.”

Di permainan ini, para penyembunyi tak dapat keuntungan apapun dengan saling mengkhianati.

Kalau tim ini kalah, maka Yamada-san juga akan dibunuh.

Tapi…

Bagaimana jika asumsi itu salah?

“Kita semua diberi pertanyaan di awal permainan. Kita semua ditanyai, apakah pencari atau penyembunyi yang akan menang. Kupikir timnya ditentukan berdasarkan jawaban dari pertanyaan itu, tapi…”

“Tapi permainan ini tak akan berjalan lancar bila lebih banyak orang memilih ke salah satu tim, bukan?”

Aku tak tahu bagaimana mereka menentukan tim kalau-kalau hasil dari pertanyaan tadi tidak sama rata. Mungkin mereka mengundi siapa yang masuk di tim mana.

Yang penting adalah bahwa Yamada-san telah menjawab bahwa pencari yang akan menang.

Dan jika pertaruhan nyawanya ditentukan dari tim yang diprediksi peserta akan menang, bukan dari tim tempat peserta bermain sekarang…

Maka tentu saja akan ada seseorang seperti Yamada-san di tim penyembunyi yang ingin para pencari untuk menang.

“Kh!!”

Kulepaskan kostum maskot yang tak lagi berguna itu dan melihat ke jam di tanganku. Masih ada 15 menit sebelum permainan berakhir. Aku takkan bisa kabur dari para pencari selama itu hanya dengan berlari menghindar.

Meskipun mall itu cukup besar, desainnya sangat sederhana, untuk membuat ruang di dalamnya terlihat lebih besar lagi. Dengan kata lain, aku akan dapat ditemukan dengan mudah dimanapun aku bersembunyi. Akuarium besar di dekat pintu masuk terisi dengan air berlumpur, tapi kalaupun aku ingin bersembunyi di dalamnya, aku takkan bisa menahan nafas selama 15 menit.

“Aku tak tahu bagaimana mereka akan membunuhmu, tapi aku janji akan tertawa ketika kulihat kau meregang nyawa.”

“…”

Entah bersembunyi di dalam atau luar ruangan, aku akan ditemukan.

Para pencari telah membuat sistem yang rapi.

Aku perlu menemukan tempat dimana pencari tidak akan mencoba mencarinya, seperti kostum maskot yang sebelumnya.

Aku perlu titik yang tak terlihat.

AKu hanya punya satu harapan untuk menang.


Dan para pencari berhasil menemukanku, tak lama setelah aku masuk ke mall.

Aku bersembunyi di dalam tempat sampah, tapi mereka juga mencari di dalamnya. Aku mungkin membuat mereka jadi berusaha untuk mencari di tempat-tempat yang kecil setelah mereka tahu aku sebelumnya bersembunyi di kostum maskot.

Aku tak mengingat nama mereka, tapi aku difoto oleh dua pria kantoran dari tim pencari. Setelah itu salah satu dari panitia yang mengenakan pakaian kerja membawaku ke pintu masuk taman bermain.

Penyembunyi yang lain telah berkumpul disana.

Satu orang gadis mengeluarkan darah dari bibirnya yang sobek. Mungkin ia yang tadi mencoba mencuri kamera dari pencari.

Setelah melihat ke jamnya selama beberapa saat, si gadis kelinci meniup peluit peraknya dan suara yang melengking keras segera memenuhi seluruh taman bermain.

Suara yang penuh keputusasaan.

Para pencari dan penyembunyi. Suara peluit itu menjanjikan hadiah yang besar untuk satu kelompok dan kematian untuk kelompok yang lain.

Si gadis kelinci tersenyum dan berkata, “Baiklah, sepertinya hasilnya sudah jelas, tapi sekarang saatnya pengumuman hasil resminya.” Suaranya terdengar keras dan jelas. Kata-katanya seperti tak berujung. “Empat orang yang bersembunyi sudah tertangkap. Yamada Megumi masih tidak ditemukan. Satu orang penyembunyi tidak berhasil ditangkap, jadi pemenang permainan ini adalah tim yang bersembunyi☆”

Seluruh ototku seperti mati rasa.

“Heh.”

Dan seberkas senyum muncul di mukaku.

Tapi ini bukanlah senyuman yang biasa kau temukan tergambar di buku harian anak-anak.

Ini adalah senyuman dari seseorang yang baru saja melemparkan orang lain ke depan bus yang sedang melaju

Tapi aku menang.

Aku menang.

“Ha ha ha! Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha!!”

Anggota tim yang lain tak tahu apa yang telah terjadi, tapi ketegangan mereka sepertinya juga mulai lenyap. Mereka semua saling tidak mengenal, tapi mereka saling berpelukan dengan penuh tangis bahagia. Aku bahkan dipeluk dan pipiku dicium oleh seseorang. Tapi yang mengecewakan, ternyata orang itu adalah laki-laki.

Sedangkan, tim pencari benar-benar kecewa.

“Bagaimana? Bagaimana mungkin?! Apa maksudmu kau tidak bisa menemukan Yamada?! Bukankah dia bertaruh untuk para pencari?!”

“Apakah kerjasamanya hanya tipuan belaka? Tidak, dia tak mendapat apa-apa kalau begitu. Dia pasti sedang bersembunyi sekarang. Kalau ia bisa menemukan tempat bersembunyi yang benar-benar aman, ia tak perlu repot-repot bekerjasama dengan kita!”

Entah apapun yang mereka katakan, permainannya sudah usai.

Hasilnya sudah ditentukan.

Aku akan diberi hadiah 200 juta yen. Aku bisa kabur dari hidup yang buntu. Tiba-tiba, si gadis kelinci datang kepadaku.

“Selamat.”

“Bisakah kau menciumku di pipi? Aku baru saja mendapat pengalaman yang mengerikan.”

“Silahkan.”

“Di barat, ini adalah ungkapan salam!!”

Setelah sesaat penuh kebahagiaan, gadis kelinci itu bertanya padaku.

“Omong-omong, perasaanku mengatakan bahwa kau memegang peran utama dari permainan kali ini. Apakah kau keberatan kalau aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku tak keberatan menjawabnya, selama aku sudah yakin bahwa hasil dari permainan ini sudah ditetapkan. Bisakah kau menjamin bahwa hasilnya takkan diubah dan hadiahku tak akan diambil lagi?”

“Kujamin itu. Sekarang, aku ingin tahu dimana Yamada Megumi-san.”

“Oke.”

Jawabannya sederhana saja.

Yamada-san bertaruh bahwa pencari akan menang, tapi ia ada di posisi dimana ia menjadi penyembunyi. Itu berarti kami akan menang kalau ia tak ditemukan hingga permainan berakhir. Itu kenapa aku melakukan apa yang harus kulakukan.

Ya.

Ada tempat dimana para pencari itu takkan mencarinya.

Tempat dimana aku sendiri tak dapat bersembunyi di dalamnya.

“Ia ada di akuarium berlumpur di dalam mall. Aku menambahkan beban di pakaiannya sehingga ia tenggelam hingga ke dasar akuarium.”

Tidak ada aturan bahwa penyembunyi harus tetap hidup sampai permainan berakhir.