A Simple Survey (Indonesia):Jilid 2 Arena10

From Baka-Tsuki
Jump to navigation Jump to search

Arena 10: Dapatkan 200.000 Yen dengan 1 Milimeter[edit]

Permainan ini diikuti oleh 5 orang peserta.

Tapi jumlah sebanyak itu bisa dibilang luar biasa untuk permainan yang segila ini.

“Baiklah, ini guillotine yang akan kalian pakai. Aku yakin kalian semua sudah pernah mendengar namanya.”

Ruangan ini terlihat seperti ruang yang ada di gedung perkantoran manapun.

Ruangan berbentuk persegi panjang, yang semua furnitur dan perlengkapan lainnya sudah dikeluarkan. Di dalamnya, dua benda yang tidak biasanya ada di tempat seperti ini, berada di pusat ruangan.

Yang pertama, alat eksekusi yang dipakai di jaman dulu, yaitu guillotine.

Yang kedua, seorang gadis kelinci yang tersenyum sambil memberikan penjelasan.

“Orang-orang yang dihukum mati akan dieksekusi dengan alat ini. Bisa kalian lihat tiga lubang di bawah pisau itu? Leher dan pergelangan tangan orang yang dieksekusi akan dimasukkan ke dalamnya.” Si gadis kelinci mengangkat telunjuknya. “Pisau itu beratnya 170 kilogram. Biasanya, mata pisau akan dibuat tajam, supaya kepala manusia lebih mudah putus, namun untuk permainan ini, mata pisaunya dibuat tumpul. Maaf untuk itu. Beberapa jenis guillotine menggunakan tali untuk menahan pisaunya, dimana tali akan dipotong untuk menjatuhkan pisau. Beberapa model lain menggunakan rantai dan roda gerigi untuk menggerakkannya. Yang ini adalah jenis yang kedua.”

Tak ada yang mengatakan apapun.

Suasana aneh memenuhi seisi ruangan.

Rasanya seperti tidak penting apakah nyawa manusia akan tercabut disini atau tidak.

Mungkin seperti ini rasanya ada berada di dalam sekte agama sesat.

“Sekarang akan aku jelaskan aturan dari permainan ini. Tak perlu khawatir, tak begitu susah, kok. Satu persatu, peserta akan dikunci di alat ini, tangan dan leher dijepit di bagian bawah guillotine. Sesudahnya peserta ini akan diberi dua tombol yang akan dipegang di tangan kanan dan kirinya.”

Ia menunjukkan pada kami tombol berwarna merah dan biru yang masing-masing terhubung dengan kabel.

Sepertinya kami akan menekannya dengan jempol kami masing-masing.

“Tombol yang merah akan menjatuhkan mata pisau guillotine, dan tombol yang biru akan menghentikannya. Kami ingin kalian bisa menghentikan mata pisaunya sebelum kepala kalian terpenggal. Kalian akan diberi uang berdasarkan seberapa jauh mata pisau itu jatuh. Namun,” si gadis kelinci mengangkat telunjuknya lagi, “titik acuan yang digunakan untuk menghitung hadiah kalian adalah bukanlah di mana mata pisaunya berada. Tapi tepat di tengah jarak antara mata pisau dan ujung bawah guillotine. Sekitar satu meter dari mata pisau, adalah titik acuannya. Kalian akan dibayar jika mata pisaunya jatuh lebih rendah dari itu, namun kalian harus membayar kami jika mata pisaunya berhenti sebelum titik acuan.”

Itu berarti kami hanya akan mendapatkan sesuatu jika mata pisaunya jatuh lebih dekat dengan leher kami.

“Setiap milimeter mata pisau jatuh dari titik acuan, kalian akan mendapat 200 ribu Yen. Kalau kalian benar-benar menghentikannya tepat di atas leher kalian, kalian akan mendapatkan 200 juta Yen.”

Kami berlima merasa perut kami seperti dikocok-kocok, dan bulu kuduk kami ikut merinding.


Masing-masing dari kami butuh 200 juta.

Dan kami tak bisa berharap dengan janji-janji palsu yang ditawarkan lotere. Hidup kami akan benar-benar berakhir kalau kami tidak mendapatkan uang itu sesegera mungkin. Hanya orang-orang seperti itu yang akan berkumpul di tempat seperti ini.

Si gadis kelinci menunjukkan lima batang sumpit yang digunakan untuk mengundi giliran seperti dalam Permainan Raja-rajaan[1].

Permainan ini akan menentukan nasibku.

Permainan ini sudah dimulai.

Dalam permainan ini hanya ada dua pilihan: menang, atau kalah, entah itu karena menanggung utang yang lebih besar, atau karena mati terpenggal.

Kami tak bisa berlatih, dan kami tak dapat mengulang giliran kami, jadi kami harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin sebelumnya untuk menemukan cara yang terbaik untuk menang.

Orang yang dapat giliran pertama akan mendapat kesulitan yang luar biasa. Aku benar-benar berharap peserta yang lain akan mendapat giliran pertama sehingga ada yang bisa menguji alat itu, namun peserta yang lain tentunya akan berpikiran sama.

Langkah pertama menuju hidup atau mati akan ditentukan dengan undian yang terlihat dibuat dengan asal-asalan ini.

Giliran pertama didapatkan oleh pria tua yang pendek dan berkacamata.

Giliran kedua didapatkan oleh gadis yang nampak seumuran mahasiswi yang mengenakan kimono.

Giliran ketiga didapatkan oleh pria paruh baya yang mengenakan jas namun tidak terlihat seperti seorang pegawai kantoran.

Giliran keempat didapatkan olehku.

Giliran kelima didapatkan oleh anak SMA yang mengenakan pakaian olahraga.

“Baiklah, Yamai-san. Kau yang dapat giliran pertama. Maju kesini. Maju kesini.”

Jadi bapak tua itu adalah penendang pertamanya[2].

Aku tak tega melihatnya, tapi aku tak bisa bersimpati padanya. Aku harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Yang paling ingin kutahu adalah jeda waktu antara penekanan tombol dengan jalan dan berhentinya mata pisau guillotine.

Aku ingin mendapatkan informasi sebanyak mungkin sebelum giliranku tiba.

Tentu saja, sudah jelas apa yang akan terjadi pada kepalaku jika aku gagal.

“…”

Dipaksa maju oleh si gadis kelinci, bapak-bapak yang gugup itu dikunci di alat eksekusi yang disediakan. Alat itu sejatinya digunakan untuk membunuh penjahat, jadi ia memang sengaja didesain tanpa memperhatikan kehormatan orang yang dieksekusi. Dengan kepala dan tangannya sudah masuk ke celah yang disediakan, bapak itu dipaksa merangkak seperti seekor anjing.

Bapak berkacamata itu diberikan dua buah tombol.

Ia akan segera memulai gilirannya.

Permainan yang menggunakan alat yang dipakai untuk menghina sekaligus membunuh manusia ini akan segera dimulai.

“Kau bisa mulai kapanpun kau mau, tapi aku akan menjatuhkan pisau itu sendiri kalau kau masih belum mulai sebelum tiga menit. Kalau kau tak yakin dengan kemampuanmu sendiri, lebih baik biarkan aku saja yang menjatuhkannya untukmu.”

Tak mungkin bapak itu akan membiarkan si gadis kelinci menjatuhkan pisaunya.

Aku tak tahu seberapa cepat pisaunya akan jatuh, tapi tak mengetahui kapan ia jatuh, akan menjadi kerugian yang luar biasa. Terlambat beberapa detik saja menjadi pembeda antara hidup dan mati.

Dengan tubuhnya sudah tertahan, bapak itu hanya bisa berusaha menggerakkan bola matanya, setengah putus asa, berusaha untuk melihat sekelilingnya.

Ia mungkin hanya ingin petunjuk, entah sekecil apapun, yang bisa ia temukan.

Ia mungkin hanya ingin seseorang memberikan saran padanya.

Atau…

Ia mungkin hanya ingin mengeluh bahwa semua ini salah, meskipun ia sudah sampai sejauh ini.

“…”

Berdasarkan posisi lehernya, aku tak yakin bapak itu bisa melihat wajahku, yang sekarang sedang melihat ke arahnya, tapi aku menggelengkan kepala.

Kalau ia tidak hancur separah ini, ia tak akan diundang ke permainan ini. Tak mungkin juga ia akan mau datang kalau tidak terpaksa.

Ia harus mempersiapkan dirinya sendiri.

Mau tak mau, ia harus sadar bahwa ia sudah melihat ke segala arah dan tidak menemukan apapun yang bisa membantunya. Kalau ia tak mau kembali ke kehancuran, ia harus menang di sini.

Lalu…

Aku mendengar suara desah panjang, seperti udara yang berebut keluar dari balon.

Aku baru sadar kalau itu adalah suara nafas yang panjang dan lambat dari bapak itu.

Dan sesaat setelahnya…

Giliran pertama dimulai dan pisau yang besar dan berat itu jatuh.

Semua yang melihatnya pasti merasakan ketegangan luar biasa, seperti disetrum listrik ratusan volt.

Kupikir jantungku sudah berhenti.

Aku harus mengamatinya.

Aku harus mengumpulkan informasi.

Meskipun nyawaku bergantung padanya, namun aku sama sekali tak bisa mengumpulkan informasi apapun, otakku terfokus ke apa yang ada di hadapanku sekarang.

Pisau seberat 170 kilogram yang digerakkan dengan rantai dan roda gigi itu jatuh ke bawah. Hal yang nampak sederhana, namun nyawa orang sangat bergantung pada pisau sebesar itu.

Meski begitu, pada kenyataannya, mimpi buruk ini hanya akan berlangsung satu detik, atau sedikit lebih lama.

Si gadis kelinci tersenyum dan berkata, “Yamai-san gagal!”

Cairan yang menjijikkan menetes ke bawah guillotine.

Tapi itu bukan darah segar.

Melainkan air mata. Keringat. Ingus. Semua cairan yang dapat keluar dari muka, mengalir dari wajah bapak-bapak yang gemetar itu. Kehormatannya sebagai orang yang lebih tua musnah sudah.

Yang jadi masalah adalah, titik berhentinya mata pisau guillotine.

Si gadis kelinci menatap ke garis pengukur yang ada di tiang penyangga guillotine.

“Kau hanya bisa sampai di 72.2 cm. Belum cukup! Aku sudah susah-susah menjelaskan kalau 1 meter adalah titik nolnya, tapi kau bahkan tak bisa mencapainya! Kau punya jarak dua meter total, tapi setengahnya saja bahkan kau tak sanggup!!”

Kata-katanya semakin mengiris hati bapak itu.

Si gadis kelinci menjentikkan jarinya, dan beberapa pria dengan pakaian kerja memasuki ruangan ini. Mereka datang untuk menyeret bapak itu, membawanya entah kemana.

“Dan itu berarti Yamai-san harus menerima hukuman! Ia akan menerima hutang yang besarnya sesuai dengan jarak antara berhentinya pisau dengan titik nol. Baiklah, kalau 1 milimeter sama dengan 200 ribu Yen, jadi berapa totalnya?”

“Gh…kh…”

“Hei, Yamai-san. Aku tak tahu kenapa kau mau ikut permainan ini, tapi mungkin kau akan lebih senang kalau kepalamu terpenggal barusan.”

“Aaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!! Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!”

Bapak itu berteriak penuh keputusasaan, namun para pria berpakaian kerja dengan tenang menarik lengan dan kakinya, dan dengan cepat membawanya keluar dari ruangan ini.

Ia berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.

Tapi aku tak yakin masih ada harapan untuk bapak itu.

Ia sudah kehilangan kesempatan untuk memutarbalikkan hidupnya.

Itulah yang kami dapatkan kalau kami gagal menjatuhkan guillotine.

“Baiklah, giliran kedua. Ise-san, silakan maju ke depan.”

Perempuan yang mengenakan kimono itu terlonjak kaget, tapi ia sudah tahu tak ada jalan lain. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah merangkak di bawah guillotine supaya ia bisa memulai gilirannya.

Aku giliran keempat, namun kalau permainan berlangsung secepat ini, tak lama lagi giliranku akan tiba.

Aku ingin mengumpulkan petunjuk sebanyak mungkin. Aku ingin tahu cara yang pasti untuk menghentikan guillotine ini pada saat yang benar-benar tepat.

Lalu…

“(Apakah kau sudah memahami permainan ini?)” Bocah berpakaian olahraga berbisik padaku sembari melihat permainan ini dengan lengan yang besedekap. “(Apakah kau sudah mengerti masalah dengan permainan ini?)”

“(Rantainya tidak bergerak semulus yang kuduga. Dan sepertinya mereka sengaja membuat remnya agak aneh untuk membuat kita lebih takut.)”

“(Menurutku mereka ingin membuat permainan ini seadil mungkin. Mereka sudah membuat kita merangkak, itu untuk membuat kita merasa terhina.)”

“(Meskipun si gadis kelinci bisa saja menjatuhkan mata pisau itu sesukanya kalau seorang peserta menunggu terlalu lama?)”

“(Bagaimana kalau ternyata mereka bisa mematikan rem kalau seandainya seseorang akan bisa menghentikan pisau itu tepat waktu? Aku lebih khawatir dengan tombl birunya.)”

Aku tak yakin mereka akan melakukannya. Atau mungkin aku hanya tak ingin percaya mereka akan melakukan hal seperti itu.

Dengan sedikit mengamati saja, aku sudah yakin. Mereka ingin melihat orang-orang berjuang mempertaruhkan nyawa mereka masing-masing, jadi tak mungkin mereka membuat alat itu sedemikian rupa sehingga kami semua mati dengan cepat.

Meski begitu, aku sudah putuskan untuk tidak membiarkan gadis kelinci itu menekan tombolnya ketika giliranku nanti tiba.

“(Kupikir ada hal lain yang lebih penting.)”

“(Hal lain?)”

“(Kau akan tahu nanti. Yang ini cukup jahat, mengingat aturan yang sudah diberikan di permainan ini.)”

Perhatianku justru tertuju pada bocah itu.

Karena itu aku tak memperhatikan ronde kedua yang sudah berlangsung.

Aku mendengar suara yang lain dari sebelumnya. Kedengarannya seperti benda lunak yang teriris.

Lalu segalanya berwarna merah.

Aku masih tak mengerti mengapa ada bau besi yang berkarat. Aku tak mengerti mengapa pakaianku terasa basah. Aku tak mengerti bagaimana bisa tubuh gadis berkimono itu jatuh ke tanah, padahal ia sudah ditahan di guillotine.

Lalu aku melihat sebuah kepala.

Aku melihat dua telapak tangan.

Semuanya tergeletak di tengah genangan merah.

“Eh? Ah…?”

Aku melihatnya, aku menatapnya, dan mataku tak mau bergerak darinya.

Akhinya, hasil dari permainan kedua terdengar di telingaku.

Gagal.

Tewas.

Mati.

Kata-kata itu berputar-putar di pikiranku, tapi rasanya seperti tak cocok dengan apa yang terlihat di depanku.

Seseorang telah mati.

Ia mati terpenggal.

Dan meki begitu, aku tak mendengar teriakan apapun. Kepala perempuan itu terpisah dari tubuhnya begitu saja, semudah mengganti kepala boneka. Apakah memang seperti itu nyawa manusia? Sesuatu yang bisa lenyap begitu mudahnya? Aku selalu berpikir hidup manusia selalu terlindungi oleh semacam benang yang tidak terlihat.

“Ise-san gagal!” kata si gadis kelinci yang tersenyum, badannya terkena cipratan darah, sama sepertiku.

Aku tak bisa membiarkan pikiranku diam begitu saja.

Aku harus berpikir. Aku harus mengamati apa yang terjadi.

Nasibku akan ditentukan seberapa banyak petunjuk yang aku dapatkan sebelum giliranku tiba. Tapi meski begitu, apa yang terjadi di hadapanku terlihat begitu nyata sehingga pikiranku tak bisa memproses apa yang terjadi.

Para pria berpakaian kerja datang sekali lagi dan mengambil perempuan berkimono itu, yang tentu saja sudah mati.

Si gadis kelinci dengan malasnya mengepel darah dari lantai sebelum berkata, “Baiklah, giliran ketiga. Yate-san, silakan maju.”

“T-Tidak…” kata laki-laki yang mengenakan jas meskipun tidak terlihat seperti pegawai kantoran itu dengan begitu gemetar. “Aku sudah muak!! Ini...ini tidak normal! Ini benar-benar menjijikkan! Aku takkan melakukannya. Aku lebih baik melakukan pekerjaan tersulit di dunia ini daripada mengikuti permainan ini!”

“Yate-san?”

“Aku tak mau melakukannya. Sudah kubilang aku takkan melakukannya! H-Hei!! Aku tak mau melakukannya!! Aku mau pergi dari sini. Berhenti! Lepaskan aku!! Hei! Bangsat!! Kubilang lepaskan aku!!”

“Yate-saaan?”

Para pria berpakaian kerja menggenggam lengan laki-laki berjas itu, memaksanya merangkak, dan menguncinya di guillotine yang penuh bau karat itu.

Lalu aku tersadar.

“(Aku mengerti sekarang.)”

“(Kau sudah mengerti?)”

“(Mereka memaksa kita untuk merangkak seperti anjing, supaya kita tak bisa melihat seberapa jauh mata pisaunya bergerak. Ini lebih parah dari sekedar permainan adu nyali belaka.)”

“(Tepat sekali. Masalahnya adalah kita tak punya kesempatan untuk memenangkan permainan ini tanpa mengatasi masalah itu.)”

Peserta ketiga tidak menekan tombol merah ataupun biru.

Tapi si gadis kelinci melakukan sesuatu yang menggerakkan roda gigi dan rantai yang menahan mata pisau. Pisau itu jatuh dan sesaat kemudian, satu kepala kembali jatuh ke tanah.

Lebih banyak darah yang muncrat keluar.

Aku terkejut dengan diriku sendiri yang tak lagi kaget setelah melihat terpenggalnya kepala manusia dua kali berturut-turut.

Apakah aku sudah mulai terbiasa? Atau ketakutanku sudah melebihi batas sehingga semua inderaku telah mati rasa?

Mayat itu dibawa tak ubahnya seperti benda tak bernyawa lainnya.

Sekarang sudah benar-benar tertutup warna merah darah, si gadis kelinci berkata, “Baiklah, giliran keempat.”

Apakah aku sudah selesai melakukan pengamatan?

Apakah aku sudah menemukan cara yang jitu?

Belum.

Waktunya tidak cukup. Sama sekali tidak cukup!

“Yamazaki-san, silakan maju ke depan.”

Ia menyuruhku maju.

Sekarang giliranku.

Keringat dingin segera membasahi seluruh tubuhku.

Tapi aku harus melakukannya.

Aku sudah melihat bahwa melawan tak ada gunanya.

Setelah aku merangkak dengan leher dan tanganku terkunci di guillotine, aku mencoba untuk menatap mata si gadis kelinci.

Tapi aku tak bisa.

Aku hanya bisa melihat sampai ke pinggangnya.

“Aku akan melakukannya sendiri, jadi singkirkan tanganmu dari tombolmu.”

“Kau pikir aku akan berbuat curang?” kata si gadis kelinci.

Sekarang, apa yang harus kulakukan?

Aku tak bisa melihat pisau guillotine dari posisi ini. Dan aku juga tak tahu seberapa jauh mata pisau besar itu, jadi aku tak bisa benar-benar tahu kapan harus menekan tombol biru untuk menghentikannya.

Kalau begitu, aku perlu mengukur waktu dan kecepatan jatuhnya mata pisau.

Tapi itu sudah terlambat, sekarang giliranku untuk bermain.

Seharusnya aku melakukannya sebelum giliranku tiba, untuk mendapatkan cara yang jitu untuk memenangkan permainan ini.

Aku sudah diberikan tiga kesempatan untuk melihat pemain-pemain sebelumnya.

Tapi aku tak menggunakan kesempatan itu dengan benar.

Apakah bocah berbaju olahraga itu sudah mengamati dengan benar? Atau dia berencana menggunakan giliranku untuk mengamati permainan ini?

Tanpa dasar yang jelas, mau tak mau aku terpaksa untuk menekan tombol biru berdasarkan insting belaka. Kalau aku terlalu lambat, maka kepalaku akan terpenggal. Permainan ini terlalu berbahaya untuk mengandalkan insting saja.

Aku butuh sesuatu.

Aku butuh satu cara untuk melihat mata pisau di atasku.

“…?”

Ketika aku melihat lantai di bawahku, aku melihat sesuatu.

Lantainya.

Lantainya tidak dilapisi karpet, justru dibuat seperti lantai di sekolah atau rumah sakit. Dengan kata lain, lantainya memantulkan cahaya. Memang tidak sebagus cermin, tapi aku bisa melihat bayangan yang sedikit kabur.

Aku bisa menentukan jarak mata pisau dengannya.

Kalau kau ingin melihat sesuatu yang ada di belakangmu, biasanya kau akan menggunakan cermin.

“Tidak…”

Aku menggenggam tombol merah itu lebih erat, lalu aku berubah pikiran.

Tunggu.

Apakah memang semudah itu?

Membaca tulisan dengan menggunakan cermin tidaklah mudah. Sama seperti itu, mungkin saja pikiranku tidak mampu memproses bayangan di lantai dengan akurat. Bisa saja mata pisau guillotine jatuh sebelum aku menangkap adanya pembiasan pada bayangan di lantai.

Kalau dipikir-pikir lagi, pandangan semua orang akan tertuju pada titik ini ketika dipaksa merangkak seperti ini.

Meskipun dua orang telah terpenggal, si gadis kelinci masih mengepel lantai ini untuk menghilangkan darah dari permukaannya.

Mengapa?

Untuk memastikan bahwa jebakan ini masih berfungsi!!

Sama seperti orang yang tenggelam akan berusaha menggapai benda apapun yang terapung, kami akan masuk jebakan ini dengan mudah, karena tak banyak yang bisa kami tahu. Aku perlu menenangkan diri. Aku tak bisa masuk ke lubang jebakan yang sama. Aku harus mengamati semuanya dengan tenang. Aku harus berpikir tentang orang-orang yang merancang permainan ini.

Mengapa mereka merancang jebakan seperti ini?

Pasti itu untuk membuat perhatian kami teralihkan dari hal-hal lain. Itu teknik yang biasa digunakan oleh pesulap. Pasti ada sesuatu di baliknya. Pasti ada cara yang jitu. Jebakan ini diatur supaya kami tak memperhatikan cara yang lain.

Tapi…

Cara apa?

Cara apa yang bisa membuatku menghentikan mata pisau itu tepat waktu, sebelum ia menyentuh leherku?

“Yamazaki-san? Ada apa? Kalau batas waktunya habis, aku akan menjatuhkan mata pisau itu.”

Jantungku berdetak tidak beraturan.

Aku tak punya jawaban.

Apakah aku tak bisa melakukan apa-apa selain mempercayakan nyawaku pada intuisi belaka?

Aku tak bisa melihat mata pisau itu jatuh, jadi apakah ada cara lain untuk mengukur seberapa jauh mata pisau itu jatuh?

“Ada.”

“Ada apa?”

Ada cara untuk mengukurnya.

Aku kembali mencoba mengangkat kepalaku, tapi aku hanya merasakan nyeri di leherku yang sudah terkunci. Aku tak bisa melihat pisau itu jatuh. Tapi pasti ada cara yang lain.

Tidak dengan melihat mata pisau itu secara langsung.

Namun dengan rantai dan roda gigi yang menahan mata pisau itu.

“Hei, bocah! Kau, yang akan maju setelahku!!”

“Eh? Aku?”

“Katakan padaku berapa besar roda gigi yang ada di atasku, dan berapa banyak geriginya! Dengan itu, aku akan bisa menang!!”

“Tunggu, kau harus memainkan permainan ini sendiri,” keluh si gadis kelinci.

Naif sekali.

Aku terus-menerus mengamati permainan ini. Aku sudah mendapatkan petunjuk yang kubutuhkan untuk menang.

Karena itu, aku bisa yakin.

“Tak ada aturan yang mengatakan kami tak boleh menerima saran. Dan hadiah kami tak ditentukan berdasarkan berapa banyak peserta yang menang, jadi bocah itu tak punya alasan untuk menipuku. Dengar, kalau aku bisa menang di sini, kau akan bisa menentukan cara yang tepat. Kalau kau ma tahu cara yang tepat untuk menyelamatkan dirimu, bantu aku sekarang!!”

Si bocah itu mendesah dan berkata, “Roda gigi itu berdiameter sekitar 20 cm. Kurasa ada 70 mata gigi.”

Aku menang.

Ketika rantai bergerak, roda gigi akan berputar. Aku bisa menghitung berapa kali rantai menyentuh mata roda gigi. Kalau aku bisa menentukan seberapa jauh mata pisau itu jatuh, maka aku bisa memenangkan permainan adu nyali yang menjijikkan ini.

Dan si gadis kelinci menambahkan, “Tapi kau tak tahu apakah Matsui-san mengatakan yang sesungguhnya.”

“Aturan permainan ini membuatnya tak punya alasan untuk mengkhianatiku.”

“Tapi aturannya juga tidak mengatakan bahwa ia perlu membantumu. Bagaimana kalau selama ini ia sudah mengkhianati semua orang yang mempercayainya?

Keheningan sesaat.

Bertanya langsung pada bocah itu takkan ada gunanya.

Apa gunanya bertanya padanya apakah ia berkata jujur atau tidak?

Kusentuh permukaan tombol merah dengan jempolku.

“Aku bisa memenangkan permainan ini.”

“Benarkah?”

“Aku akan menang dan memperbaiki hidupku!! Dan langkah pertama adalah menjatuhkan mata pisau ini!!”

“Aku tak yakin kau akan bisa melakukannya.”

Aku measakan ketegangan yang memancar dari kedua tanganku, dari tombol merah dan biru.

Meski begitu, aku harus terus maju.

guillotine.

Alat yang digunakan untuk mengeksekusi penjahat.

Alat yang digunakan untuk membunuh.

Aku memegang tombol yang akan menggerakkannya.

Kupegang erat-erat tombol merah.

Dan kutekan.

Catatan Penerjemah[edit]

  1. Permainan Raja-rajaan (King's Game): Permainan dimana beberapa orang mengambil undian, lalu yang mendapat undian sebagai 'Raja' bisa menyuruh pemain yang lainnya.
  2. Aslinya istilah yang dipakai disini adalah top batter, yang berarti pemukul pertama dalam baseball. Namun karena di Indonesia sepak bola lebih populer, penerjemah menggunakan istilah penendang pertama dalam adu penalti.