Ao no Exorcist Indo: Jilid 1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Ilustrasi Novel[edit]

Bab 1: Pahlawan Akhir Pekan[edit]

AnEv1i1.jpg

Seorang wanita tua tertentu pernah berkata bahwa aku memilih pistol sebagai senjataku karena diriku yang pengecut.


Keinginan menjaga jarak dari iblis adalah bukti bahwa kau takut.[1]


Namun ayah pernah berkata ikeeh kimochi kudasai.


Kau menjaga jarak bukan karena takut.


Itu adalah bukti bahwa kau ingin melindungi lebih banyak orang.


Sama seperti ketika aku masih muda, ia tersenyum dan menepuk kepalaku.


-Aku ingin menjadi seorang Exorcist seperti Ayah.


Ini adalah kisah yang terjadi ketika si kembar dari Ordo Salib Selatan masih duduk di bangku SMP.


Pistol yang dirancang untuk memberikan kejutan, memancarkan cahaya biru di dalam tas sekolah.


Okumura Yukio tidak ingin membiarkan teman-teman sekelas di sekitarnya melihatnya, ketika dia diam-diam membaca pesan. Setelah membacanya secara tak acuh, ia meninggalkan tempat duduknya tanpa suara.


Sekarang adalah waktunya istirahat, sehingga kelas penuh dengan para siswa yang bergembira ria.


Guru sedang mengobrol dengan seorang pelajar yang tidak disebutkan namanya. Tampaknya dia sedang berkonsultasi untuk teks yang akan datang.


“-Nakao-sensei, apakah Anda ada waktu sekarang?”


“Oh, Okumura. Apa yang kamu butuhkan?”


Guru itu berbalik dan menatap Yukio. Permintaannya untuk meninggalkan kelas lebih awal karena tidak enak badan adalah suatu alasan yang biasa, sehingga sang guru menjawab dengan segera.


“Lebih baik kau menjaga kesehatanmu, ujian akhir akan segera tiba.”


“Ya.”


“Pertahankan posisi peringkat pertama dalam kelas, aku memiliki harapan yang tinggi untukmu.”


Yukio membungkuk hormat kepada guru yang sedang tersenyum, untuk menunjukkan salam. Setelah ia mencapai tempat duduknya, gadis-gadis di sekitarnya segera datang untuk menunjukkan kepedulian padanya.


“Okumura-kun, kau mau pulang lebih awal?”


“Eh-pulang lebih awal lagi? Apa kamu baik baik saja?”


“Jangan memaksakan diri jika kau tidak merasa sehat?”


“Apakah kau ingin diantar sampai gerbang sekolah?”


“Aku baik-baik saja.”


Aku menghargai perhatian kalian, tapi tolong jangan membuat keributan. Lagi pula, kalian semua kelihatannya tidak senang, dan lebih mirip seperti penonton. Yukio menunjukkan senyum terpaksa pada para gadis yang berisik, sementara dia pun dengan cepat mengemasi tasnya, kemudian meninggalkan kelas.


Beberapa bocah laki-laki sedang mengobrol di sudut koridor.


Mereka melihat punggung Yukio yang memegang tasnya, tampaknya dia menyiratkan pesan bahwa “Bocah ini datang lagi”. Namun, mereka tidak memiliki niat jahat, dan Yukio terus menjaga jarak pada orang lain. Terlalu dekat atau terlalu jauh dari orang lain, itu hanya akan menghambat kehidupan sekolahnya yang tentram.


Dia ingin memiliki kenalan, akan lebih baik bila setelah semuanya lulus, mereka hanya akan mengingat Yukio ketika membalikkan lembaran buku memori SMP. Bagi Yukio, dia tidak perlu menjadi terlalu antisosial, ataupun terlalu menuai perhatian.


Sementara melewati mereka, sebagian dari percakapan anak-anak itu mengalir ke telinga Yukio bersama dengan angin. Salah seorang bocah menyebutkan nama Yukio sembari berkata: “Okumura, dia ......”


“Tubuhnya sangat lemah, sungguh berbeda dari kakaknya.”


“Aku mendengar bahwa kakaknya pernah berkelahi lagi dengan siswa-siswa dari sekolah lain.”


“Sungguh?”


“Ya, dan lawannya adalah siswa-siswa dari SMA Shougyou.”


“Betapa nekad, dia berkelahi dengan siswa SMA ...”


“Terlebih lagi, dia menang walaupun bertarung satu lawan sepuluh.”


“Benar-benar iblis.”


Topik pembicaraan mereka beralih dari Yukio ke kakaknya, kakak kembarnya - Okumura Rin adalah seseorang yang sering dibicarakan, meskipun rumornya bernada negatif-


Sembari mengabaikan teman sekelas yang sedang seru-serunya membicarakan kakaknya, Yukio meninggalkan koridor dengan cepat.


Yang paling dia benci adalah, bertemu dengan kakak yang sedang dibicarakan oleh anak-anak ini, karena ia harus mengarang alasan agar pulang lebih awal. Namun kekhawatiran Yukio tidaklah berdasar.


Pasti dia bolos lagi. Di pagi hari, kakaknya yang berangkat bersama-sama dengannya, telah meninggalkannya di tengah jalan, tapi hal semacam ini tidaklah dimulai pada hari itu.


Yukio biasanya khawatir tentang perilaku kakaknya, namun sekarang yang bisa dia rasakan hanyalah kelegaan di dalam hatinya.


Para siswa bersuka cita sembari menikmati waktu istirahat yang sejenak, sementara Yukio menembus kerumunan itu, untuk keluar melalui pintu belakang. Berjalan pada sore hari yang tenang di daerah perumahan, sekarang keributan terasa bagaikan ilusi.


Yukio mengambil ponawl dari tasnya, kemudian meletakkannya di telinga sambil berjalan dengan cepat.


“-Ya. Aku Okumura, sekarang bergegas ke tempat kejadian, dan aku akan tiba sekitar 10 menit lagi.”

AnEv1i2.jpg

Pada saat itu, wajah Yukio tidaklah menunjukkan ekspresi seperti siswa teladan yang pernah dia sandang di masa lalu.


Sekarang yang terpampang di wajahnya adalah ekspresi penuh kosentrasi bagaikan seorang ksatria.


Yukio bersalin untuk mengenakan seragam Ordo Salib Sejati, dan dia bergegas menuju tempat kejadian. Pita kuning dengan peringatan: “Ordo Salib-KEEP OUT” mengelilingi lantai pertama dari Akademi Ordo Salib. Banyak orang lewat yang menoleh ke arah itu.


“Ini sangat berbahaya, warga sipil, mohon mundur!”


Seorang pria mengarahkan masyarakat yang berkerumin di depan pita kuning. Yukio menunjukkan lisensi miliknya pada pria itu, dan berkata:


“Aku Okumura, Kelas Kedua Menengah.”


Pria itu terkejut ketika menyadari usia Yukio, lantas dia berkata:


“Terima kasih untuk usahamu.”


Tapi, dia segera membiarkannya pergi setelah sedikit basa-basi.


“- Okumura, syukurlah, kau cepat datang.”


Munculah seorang Exorcist tua, dia adalah salah satu Exorcist kelas menengah yang Yukio kenal sebagai veteran Aria. Dengan usianya yang sudah tua, seharusnya ia sudah pensiun ......


“Karena sekolahku berada di dekat sini. Apakah kali ini yang memimpin adalah Motegi-san?”


“Ya, akulah orangnya. Pagi ini banyak kasus terjadi, dan karena tidak ada cukup tenaga Exorcist, bahkan kakek tua sepertiku harus dikerahkan untuk membantu.”


Motegi tersenyum hangat saat menjawab pertanyaan Yukio, sebelum akhirnya ekspresinya berubah serius ketika menjelaskan bagaimana keadaan di sini. Sedangkan, semakin banyak orang dari bangunan utama yang menuju ke arah mereka.


Orang yang dirasuki iblis mengambil alih gedung, dan sanderanya adalah ......


Yukio memegang pistolnya, dan berjalan di depan Motegi menuju ke tangga yang dalam.


Struktur bangunan telah dihafal olehnya.


“Okumura?”


Motegi, yang tidak bisa menebak niat Yukio, bertanya dengan nada lembut:


“Apakah kita tidak perlu mencari pada kamar-kamar lantai pertama?”


“Ya. Aku pikir seharusnya dia ada di atap.”


Yukio menjawab tanpa menolehkan wajahnya.


Gedung ini terpisah dari yang lain, seperti sebuah pulau terpencil, sehingga mudah untuk mengelilinginya, sedangkan musuh tidak dapat melarikan diri dengan mudah. Iblis ini bertahan dengan menawan beberapa sandera. Jelas-jelas ini bukanlah iblis yang baik hati.


Iblis semacam ini memiliki kecenderungan untuk melarikan diri ke atas.


Karena listrik pada bangunan ini mati, tentu saja lift tidak bisa berfungsi. setelah melalui tangga sebanyak sembilan lantai sekaligus, si muda Yukio masih baik-baik saja, tapi si tua Motegi di sampingnya sudah terengah-engah.


Yukio berencana untuk menunjukkan dirinya terlebih dahulu kepada iblis, dan meminta Motegi bersembunyi di tangga untuk menunggu perintah lebih lanjut.


“Ketika aku melumpuhkan iblis, tolong gunakan Teknik Aria milikmu untuk membasminya dengan segera.”


“Tapi kau sendirian ...”


“Aku bisa melakukan ini.”


Sembari tersenyum pada Motegi dengan yakin, Yukio menghela napas, lantas mendobrak pintu yang menuju atap.


Seperti yang sudah diduga, si iblis ada di sana, dikelilingi oleh banyak iblis lainnya yang lebih kecil. Pria yang kesurupan itu berbalik, dan menunjukkan kedua mata dengan skelera kuning-merah. [2]


“Sepertinya para Exorcist sialan itu akhirnya datang, dan ternyata yang datang hanyalah bocah ingusan seperti ini. Ha ha ha… Exorcist benar-benar kekurangan tenaga.”


Iblis dengan suara serak dan menusuk itu mencibirnya.


Meskipun tubuhnya terlihat seperti manusia laki-lakui, namun kedua telinganya tampak tipis, dan ada tanduk runcing mirip monster di kepalanya. Sembari menampilkan lidahnya yang panjang dan keriting pada mulut besarnya yang berdarah, dia meraih sandera, seolah-olah dia bisa mematahkan leher ramping sandera itu kapanpun.


Yukio sungguh mengabaikan iblis itu, dia menunjukkan senyum hangat pada si sandera berwajah pucat, yang berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis, Yukio pun berkata:


“Apakah kau Teru-chan? Dengarkan aku, berhati-hatilah…. Mengerti?


“Mmm, mmm ...”


“Semuanya baik-baik saja, kau pasti bisa melakukannya.”


Setelah melihat senyum lembut Yukio, si sandera pucat yang sedang tercengkram oleh iblis itu mengangguk sedikit.


“Bajingan, jangan mengabaikan aku seperti angin lewat ... Dasar sialan!”


Iblis yang diabaikan oleh Yukio menggerutu, dan ia semakin mempererat cengkramannya pada si sandera. Dia pun menggertak dengan keras, iblis yang berkumpul di sekitarnya juga langsung tersebar.


“Apanya yang hati-hati? Apakah kau memahami posisimu sekarang?!”


Dengan lehernya yang semakin tercekik, ekspresi kesakitan ditunjukkan oleh sandera itu.


Yukio masih tidak bergeming dan dengan tenang menjaga jarak antara dirinya dengan iblis.


“Berhenti membual ... jika kau berani menembak, maka akan kucabik bocah sialan ini, ha ha ha ... Aku akan melihat bagaimana caramu menyelamatkannya? Atau, apakah kau berniat membunuhku bersama-sama bocah ini? Sepertinya tidak buruk juga.”


Iblis itu terus mencibir Yukio.


Kemudian, dia menatap kaki Yukio, lantas berkata:


“Hei, kedua kakimu berguncang hebat, dan sekarang suara gemetarnya semakin keras ... Apakah celanamu sudah basah? Bocah ingusan tetaplah bocah ingusan, ha ha ha ha ......!”


Iblis itu semakin menertawakan Yukio.


“Betapa naif.” Yukio menjawab dengan dingin. “Kau benar-benar berpikir bahwa aku tidak akan berani menembakmu?”


“Ah……? Apa yang barusan kau katakan ...... bajingan?”


Yukio membidikkan pistol di tangan kanannya pada dahi iblis. Iblis menahan seringainya ketika melihat itu, dan dia memutar wajahnya sembari menggeram:


“Coba saja! Ketika kau menembak, bocah ini tidak dapat berlari!! Kau akan melubangi kepala bocah ini, dan menghamburkan otaknya. Hey Exorcist sialan, apakah kau masih berani menembak!!”


Iblis sekali lagi memperketat cengkeramannya pada si sandera, dan dia semakin menantang Yukio.


Namun, Yukio malah merubah bidikan laras pistolnya ke arah langit-langit. Iblis berpikir bahwa itu adalah satu-satunya hal yang bisa diusahakan oleh Yukio, sehingga lagi-lagi dia mengejeknya.


“Ha ha ha ha ... Mau kau arahkan kemana larasmu itu? Dasar bodoh……”


“Baiklah, jadi sekarang siapakah yang tolol?”


“Apa katamu?!”


Setelah mendengarkan ejekan Yukio, iblis itupun mengamuk. Sambil tetap mencengkram leher sandera, dia mendekat. Yukio mengambil kesempatan untuk menembak ke arah langit-langit.


Dengan tembakan yang memekakkan telinga, pelurunya tersedot ke udara, disertai cahaya yang menyilaukan sekelilingnya.


“Apa……!”


Kedua mata iblis menatap pada cahaya menyilaukan itu, dan tiba-tiba dia melepaskan cengkramannya, sehingga si korban memiliki kesempatan untuk melarikan diri dengan berjongkok. Iblis yang telah kehilangan sandera hanya bisa meraba-raba udara kosong di tangannya.


“Sialan, pergi ke neraka, dasar bocah ingusan!”


Yukio tidak membiarkan kesempatan ini berlalu dengan sia-sia. Dia mengarahkan laras pistol kiri pada bahu kanan iblis yang lengah, kemudian dia menembaknya dua kali beruntun.


Iblis itu menjerit kesakitan dan roboh ke lantai.


Yukio langsung meraih sandera yang menundukkan kepalanya, kemudian dia berteriak ke belakang:


“Motegi-san!”


Motegi yang mendengar namanya dipanggil, muncul dari tangga dan mulai melakukan teknik aria-nya.


“Aku bertanya padamu, apakah skala emas dalam hatimu sudah tidak seimbang?“


“E-Exorcist sialan ...”


“Apakah condong pada kemalasan, apakah condong pads kemurkaan, nafsu, keserakahan, iri hati, kerakusan atau kebanggaan.“


Iblis mencoba untuk menolak beberapa kali, tapi setelah ditembak dengan dua peluru perak suci, dia bahkan tidak tidak sanggup melepaskan diri dari wadahnya. [3]


“Dengan nama ketekunan, kesucian, kebaikan, kesabaran, kasih, kesederhanaan, kerendahan hati sebagai kebajikan, kumpulkan cahaya iman, bersihkan kegelapan mereka“ [4]


Setelah menyelesaikan teknik aria-nya, Motegi menarik salib suci.


Iblis itu hancur sembari mengerang, sedangkan wadahnya juga kehilangan kesadaran, kemudian roboh ke lantai. Motegi memeriksa denyut pelipisnya dan mulut untuk memastikan bahwa ia masih bernafas. Setelah memastikan itu, ia mengangguk dengan yakin pada Yukio.


Setelah membalasnya dengan anggupan pelan, Yukio beralih ke si sandera. Anak laki-laki itu masih di meringkuk di lantai, tubuhnya kaku, dan dia terus memegangi kepalanya.


“Teru-chan, kau telah berusaha dengan baik, ini semua sudah berakhir.”


“Oh ...... oh ......”


Tetesan air mata deras mulai muncul. Tangis bocah itu bercucuran, karena ia telah berusaha keras menahan tangis sampai saat ini.


Yukio melonggarkan lengan si bocah yang kaku, dan dengan lembut membelai rambutnya yang tebal.


Meskipun dia tidak sehebat ayah angkatnya, tapi dia sanggup menyelamatkan bocah kuat ini, yang sungguh mencintai adiknya, Yukio pun merasa lega atas prestasinya ini.


“Betapa menarik, Okumura. Sulit untuk percaya bahwa kau adalah seorang murid SMP yang sudah menjadi Exorcist selama lebih dari setahun.”


Setelah membersihkan Mashou bocah itu, dan mengantarnya kembali ke ibu dan adiknya, Motegi sangat memuji hasil kerja Yukio. [5]


Pria yang menjadi wadah dikirim ke Rumah Sakit Umum Ordo Salib, setelah Dokter memberikan perawatan darurat padanya.


Sekarang, dua Exorcist lain yang terlambat membersihkan tempat kejadian.


“Tidak, ini semua berkat Motegi-san yang telah menyiapkan aria.”


Yukio menjawab dengan hormat. Motegi meringis, menggelengkan kepalanya, dan berkata:


“Kau tidak perlu begitu rendah hati. Kau benar-benar penerus berharga Fujimoto, tak heran semua orang memanggilmu jenius…. Tapi dalam situasi seperti ini, kau bahkan dapat memberitahu Teru-chan tentang rencananya. Sihir jenis apa yang kau gunakan?”


“Aku menggunakan serangkaian suara.”


“Serangkaian suara? Ah ...... jadi kau menggunakan kode Morse ya.”


Motegi yang berpengalaman segera memahaminya, dan ia memujinya lagi dengan bertepuk tangan.


Yukio menggunakan sol sepatu untuk menghasilkan dua jenis suara, kemudian mengirimkan kode Morse pada si korban.


….Artinya adalah: Ketika langit bersinar, jongkoklah segera.


Dia menatap mata si bocah untuk memberikan isyarat agar dia melihat apa yang ada di bawah kakinya.


“Karena bocah pramuka juga mengenal kode Morse, akupun memikirkan cara itu ...... untungnya Teru-chan telah memahami maksudku.”


“Aku paham, tapi ini semua berkat dirimu yang bisa memikirkan cara ini dalam waktu singkat.”


Motegi masih saja mengaguminya.


Yukio melambaikan tangannya dan berkata: “ini tidak seberapa.” dan mendorong kacamatanya naik sedikit.


“Aku biasa melakukannya bersama kakakku, jadi aku tahu itu ......”


Dia ingat bagaimana Ayah mencoba yang terbaik untuk membuat Nii-san menjadi orang yang disiplin.


Karena Nii-san sering menyebabkan masalah, kedua bersaudara ini tidak pernah akur. Namun mereka berdua benar-benar tertarik pada kode Morse. Setelah itu, mereka sering menggunakannya untuk sementara waktu.


….Apa yang akan kita makan hari ini?


……Sepertinya kari.


Itu semacam pesan yang bisa diucapkan, tetapi mereka menggunakan alat pemotong untuk mengetuk meja. Dia masih ingat bahwa Ayah pernah menegur mereka dengan mengatakan “Betapa berisik.” beberapa kali.


“Kakak? Kau memiliki kakak laki-laki, apakah dia adalah seorang Exorcist juga?”


Menghadapi pertanyaan Motegi, Yukio diam-diam menyesal karena dia menceritakan kisahnya terlalu banyak. Dia langsung membantah dengan mengatakan: “! Tidak-” dan pada saat yang sama, dia memastikan bahwa nada bicaranya tidak terlalu tinggi.


“Aniki hanyalah orang biasa.”


Suaranya seperti bergema di langit.


◆◆◆


09:12


Setelah berurusan dengan insiden ini, dia melapor ke atasan Ordo yang ternyata menghabiskan banyak waktu. Yukio kembali ke Biara Ordo Salib Selatan di mana ia tinggal, dan waktunya bukanlah saat biasanya seorang siswa SMP pulang ke rumah.


Dia telah mengganti seragam Ordo-nya dengan baju sekolah biasa. Ketika dia masuk ke ruangan, ia memeriksa jejak bau belerang lagi.


Yukio kemudian menyadari untuk pertama kalinya bahwa tangan kanannya gemetar tanpa henti.


(Kegelisahan di hatiku muncul sekarang ...)


Rasa takut tidak bisa menyelamatkan si sandera, dan teror akan misi yang berakhir dengan kegagalan.


Terkadang, perasaan tertekan ketika menjalani pertarungan melawan iblis justru datang setelah misi itu selesai, bagaikan gempa susulan yang bahkan lebih dahsyat.


Seakan-akan dia kembali pada saat ketika ia masih takut kegelapan.


“......”


Yukio mengintip di bawah kacamatanya dan melihat tangannya sedikit gemetar. Dia menggunakan tangan yang lain untuk memegangnya erat-erat, lantas dia berjalan ke biara.


Biara yang ditutup lebih awal, lampunya telah dipadamkan, itu berarti mereka pasti sudah selesai makan malam.


“Oh! Kau benar-benar terlambat malam ini, Yukio.”


“-Aku pulang.”


Yukio menjawab dengan tersenyum, pada saat yang sama dia berpikir ......


Apakah wajahku mempertahankan senyum yang seperti biasa?


Sudahkah tanganku berhenti gemetar?


Yukio dengan paksa mengubur pertanyaan dan kegelisahan yang berkecamuk di dalam hatinya.


Ia melewati tempat kakaknya dan meletakkan tas sekolah di atas meja belajarnya sendiri. Dentang suara logam yang berat sedikit mengejutkannya.


Tapi kakaknya tampaknya belum melihat.


Senjatanya hanya tersembunyi pada sudut bagian bawah tas sekolah.


“Aku kan sudah bilang… sabuk pengikatnya akan putus suatu hari nanti jika kau terus-terusan menjejalkannya.”


“Eh ......?”


Kata Nii-san memperingatkannya lagi.


“Pokoknya, bukankah jika kau terus menjejalkan buku-buka pada tasmu, nanti lama-kelamaan akan meledak? Mau bertukaran tas denganku? Tak ada buku pelajaran apapun pada tasku, itu benar-benar tahan lama.”


“Ha ha ha ...... tas Nii-san dipenuhi carikan kertas kotor dan remah-remah biskuit. Tapi aku menghargai tawaranmu.”


Yukio menghembuskan napas lega.


Dia mengangkat tas sekolah yang berisi senjata, memasukkannya ke celah antara meja dan dinding, sembari mencoba untuk menghindari tatapan mata kakaknya.


Nii-san berpikir bahwa Yukio belajar sampai begitu larut di perpustakaan Akademi Ordo Salib.


Adiknya ingin bersekolah pada suatu sekolah swasta yang elit dan terkenal; tapi keluarganya tidak punya cukup uang untuk membiayai bimbel. Hal ini mungkin membuat kakaknya merasa cukup prihatin.


Namun, andaikan ia tahu bahwa adiknya tidak sedang berjuang di perpustakaan, melainkan berjuang di medan perang yang sesungguhnya dengan desingan-desingan peluru, maka jenis ekspresi wajah macam apa yang akan kakaknya tunjukkan?


Sambil berpikir, tatapan mata Yukio tiba-tiba berhenti di mejanya.


“-?”


Di balik buku referensi, ada piring besar.


Setelah mengangkat kain penutup pada piring itu, terlihat ada tiga onigiri hangat . [6]


“... Apakah Nii-san yang membuat ini?”


“Oh-jangan ragu untuk menikmatinya.”


“Kau terdengar seperti Ayah.”


“Apa kau sedang mengataiku mirip seperti kakek-kakek tua ... jangan bicara omong kosong.”


Rin, yang masih saja mirip seperti anak kecil yang suka memberontak, begitu marah sampai-sampai terlihat jelas di wajahnya. Yukio yang sedikit meringis mengambil sebuah onigiri, dan merasakan kehangatannya.


“Apanya yang kakek-kakek tua, bukankah maksudku adalah ayah? Nii-san biasa memanggilnya “Tou-san”, dan mengapa kau membuat tiga buah onigiri?”


Meskipun ia pada usia di mana ia memiliki nafsu makan yang besar, tiga onigiri benar-benar terlalu banyak.


Mendengar pertanyaan Yukio ini, Rin dengan bangga tertawa, dan itu membuat Yukio merasakan suatu firasat buruk.


“Ini adalah Rulette Rossian onigiri, mengertilah wahai adikku.”


“Rulette Rossian ... .. Apakah maksudmu Russian roulette? Sekarang siapa yang lebih tidak mengerti?”


“Marilah kita tidak mempermasalahkan tentang hal-hal kecil seperti itu. Kau akan menjadi botak di usia muda, dasar megane.”


“Tidak, aku tidak akan menjadi botak. Ngomong-ngomong, apakah ada bom di dalam salah satu onigiri ini?”


Tampaknya dia semakin yakin akan firasat buruk itu, dan Yukio pun menatap onigiri dengan curiga.


Kemungkinannya adalah satu banding tiga ......


“Oh benar, apa ya isinya onigiri ini?”


“Saus cabai, coklat dan mochi strawberry.”


“Oh tidak, jika isinya seperti itu, maka semuanya adalah bom ......”


Jadi ini adalah Russian roulette dengan pistol berisikan penuh dengan peluru. Hanya orang bodoh yang memakan ini tanpa pikir panjang.


Memasak adalah satu-satunya keterampilan berharga milik kakaknya untuk menjalani hidup, tapi dia suka berlebihan dalam melakukan sesuatu.

Yukio memasukkan kembali pistol penuh peluru itu…. bukan, maksudnya dia meletakkan kembali onigiri itu pada piring, lantas dia mendesah.


“Ngomong-ngomong......” Yukio mengubah topik pembicaraan.


“Bagaimana dengan konser amal besok?”


“Ah, konser amal, tampaknya aku harus membantu.”


Besok Sabtu akan digelar suatu konser amal yang diselenggarakan oleh gereja. Ini adalah salah satu kontribusi misi. Semua dana yang terkumpul akan disumbangkan ke anak-anak yang kurang mampu.


Yang tampil adalah idola pendatang baru yang belum mulai karir mereka, penyanyi folk yang tidak terkenal, band jazz yang sedikit lebih terkenal karena upah manggung yang rendah. Lokasi konser juga bukanlah panggung konser yang megah, melainkan lantai atas department store di kompleks Akademi Ordo Salib.


Karena anggaran terbatas, biara juga harus mengirim paduan suara himne untuk tampil. Saudara-saudaranya juga harus memberikan bantuan eksternal.


Bantuan yang diberikan bukanlah kesempatan tampil pada unit paduan suara. Sebaliknya, mereka akan melakukan tugas umum seperti menata panggung, atau menyiapkan segala sesuatu.


“Akhirnya hari Sabtu tiba, betapa merepotkan-”


Rin mengeluh sembari bergulir di tempat tidur.


“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.”


Yukio menghibur kakaknya.


Pada saat ini, menggunakan makanan untuk menyuapnya akan menjadi solusi terbaik.


“Maruda-san mengatakan bahwa jika kau melakukan tugas-tugasmu dengan benar, akan ada daging untuk makan malam?”


“Sungguh? Maksudmu Sukiyaki?” [7]


Rin tiba-tiba duduk dengan mata memancarkan cahaya gembira. Efeknya sangat mengejutkan, sampai-sampai Yukio harus mundur setengah langkah.


“Belum tentu Sukiyaki ......”


“Ini luar biasa! Aku sudah menang !! Daging!! Yay ~~ Yukio, kau juga harus melakukan pekerjaan dengan baik! Jika kamu bermalas-malasan, maka semuanya berkahir sudah.”


Sekarang Nii-san tiba-tiba menjadi sangat energik, dan berteriak-teriak seperti anjing di malam hari. Sembari melihat tingkah kakaknya, Yukio lagi-lagi harus mendesah dengan pelan.


(Mudah-mudahan aku tidak harus dipanggil oleh Ordo ......)


Di dalam hatinya, dia khawatir tentang hal itu.


Kakaknya adalah remaja berusia 14 tahun yang membuat masalah setiap hari.


◆◆◆


“Ah, ini adalah atap department store ......”


Di bawah langit cerah tak berawan, Yukio menatap tempat acara, sembari mengatakan itu dengan lembut.


Dia tidak mengenakan seragam, melainkan kemeja wol putih dan jaket barat. Sekarang adalah akhir Februari, tapi cuaca hari ini luar biasa hangat, sehingga orang-orang tidak akan merasa dingin bahkan tanpa blazer.


Di sampingnya, Rin yang membawa kotak-kotak hanya mengenakan T-shirt dan jaket bertudung, dia mengenakan pakaian santai.


Dengan matahari bersinar hangat, cuaca yang baik akan mengundang lebih banyak penonton. Sepertinya kerugian bisa dicegah seminimal mungkin. Yukio tahu bahwa biara membutuhkan dana, sehingga bisa memberikan napas lega untuk sesaat.


“Nii-san, kau ingat ketika ayah membawa kita ke sini sebelumnya?”


Oh ...... Yukio yang sedang menyiapkan meja resepsionis bertanya dengan santai. Rin yang sedang membongkar kotak menjawab:


“...... ketika mengajak kita menonton pertunjukan Blue Fighter? Ahh, kangennya.”


Blue Fighter adalah acara superhero anak-anak yang ditayangkan setiap malam hari kerja, sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu.


Ao, seorang pelajar SMA biasa, sebenarnya adalah sosok pahlawan keadilan yang tidak diketahui asalnya, dia menanggung beban dunia, dan dengan gagah berani berjuang melawan organisasi kejahatan …. Meskipun konten ceritanya adalah klise, tapi para penonton dari kalangan anak-anak masihlah begitu mengidolakan serial ini yang berisikan berbagai jurus khusus dan pahlawan muda yang bertarung melawan penjahat.


Dengan menggunakan koran dan kardus untuk membuat pedang, dan mengikat kain biru di leher mereka, kedua saudara ini memainkan game Blue Fighter. Karena keduanya ingin menjadi pahlawan, jadi ayah angkat mereka, Shirou, selalu berperan sebagai penjahat. Tawanya yang aneh terdengar begitu menjiwai, bahkan orang lain akan mengira bahwa ayahnya benar-benar seorang pecandu acara superhero.


Namun…


“Oh ...... aku, aku sekarat ......” Setelah ia mengatakan itu dan terjatuh dengan menyakitkan, kemudian dia tiba-tiba bangkit dan mengatakan: “Hahaha, kalian idiot! Bagaimana bisa aku dikalahkan oleh serangan seburuk itu!” Karena dia berpura-pura mati kemudian melancarkan serangan baik, makja mereka tidak boleh lengah. Setelah itu, mereka akan mendapatkan serangan gelitikan dari Shirou, lantas berguling-guling di lantai sembari tertawa terbahak-bahak. Mereka masih mengingat kenangan itu karena waktu itu di sana ada pertunjukan Blue Fighter, sehingga mereka memohon pada ayah angkatnya yang sibuk untuk membawa mereka ke atap. Karena ada beberapa kecelakaan sebelum menuju ke lokasi, acaranya sudah mulai ketika mereka sampai. Banyak keluarga yang juga datang untuk menonton pertunjukan itu, sehingga membuat tempatnya penuh sesak. Kedua bersaudara bertubuh mungil itupun tidak bisa melihat panggung sama sekali. Yukio yang sedih pun menangis. “Makanya aku bilang kita harus berangkat lebih awal! Ini semua kesalahan ayah karena berangkatnya mepet!” Rin, hampir menangis, sambil melancarkan protes keras pada ayahnya. “Maaf, aku minta maaf. Jangan marah gitu dong.”


Shirou tersenyum dan dengan mudah mengangkat kedua anaknya ke bahunya.


“Kalau begini gimana? Kalian bisa melihatnya, ‘kan?”


Meskipun ia masih muda, ayah angkat mereka bisa mengangkat kedua anaknya dengan begitu mudah.


Setelah posisi mereka jadi lebih tinggi, pahlawan di atas panggung bisa dilihat dengan jelas. Betapa indah ~~ Rin bersorak keras dan Yukio juga berhenti menangis sembari berpegangan pada leher Shirou erat-erat.


Kenangan tentang acara pahlawan sudah memudar seiring berlalunya waktu, tetapi pada bagian di mana ayah menggendong mereka, lengannya terasa begitu hangat, dan memori itu kembali teringat dengan jelas.


“Masih di sini ya.”


“Maksudmu acara pahlawan itu?”


“Aku tidak tahu tentang acara pahlawannya, tapi filmnya masih tayang di TV.”


Itu adalah acara berusia sepuluh tahun. Yukio memiringkan kepalanya dengan bingung, sementara Rin mengambil dekorasi dari kotak, dan meletakkannya sembarangan di atas meja yang dirakit oleh Yukio, lantas dia menjawab:


“Yang sekarang populer adalah versi remuk.”


“Maksudmu versi remake?”


Yukio tidak menyukai dekorasi membosankan yang kakaknya buat, sehingga ia mengambil kotak itu dan berkata “Aku yang akan melakukannya.” Kemudian dia pun mengambil tindakan. Warna-warni dekorasi Tanabata terbuat dari kertas origami dan benang mengkilap yang dibuat oleh anak-anak sering pergi ke gereja. Bukan hanya penampilannya yang berantakan; namun ada juga beberapa lem tambahan yang belum mengering.


Namun, sangatlah terasa kegigihan mereka, dan itulah yang menyentuh hati seseorang yang melihatnya.


Megane, kau akan cepat botak jika kau begitu rewel.”


“Aku tidak akan menjadi botak. Pokoknya, aku pikir bahwa engraved version akan lebih banyak ditayangkan.”


Mungkin itu terjadi karena tidak ada proyek yang lebih baru ...... pikir Yukio.


“Karena Blue Fighter sangat keren.”


Sebaliknya, Rin malah mengatakan sesuatu itu.


“Sambil memegang pedang, dia membunuh monster? Itu membuat penonton sangat bahagia ......”


Rin menggulung kertas cetakan program acara di tangannya, berpura-pura menganggapnya pedang, kemudian menebas-nebaskannya: “Hai, nanti kertasnya kusut” kata Yukio sambil menyambar gulungan kertas itu dari kakaknya.


Yukio meluruskan kembali kertas cetakan itu di meja. Sambil berdiri di sampingnya, Rin berbisik:


“...... Blue Fighter pasti memiliki banyak teman, dan juga populer di kalangan para gadis.”


“? Apa maksudmu? Mengatakan sesuatu seperti itu.”


Yukio mengalihkan pandangannya dari kertas program acara, lantas dia bertanya. Dia merasa bahwa nada kesepian dalam pernyataan itu, sama sekali tidak mirip seperti kepribadian cerah dan optimis kakaknya.


“Nii-san?”


Yukio mencoba membaca ekspresi kakaknya, tapi Rin kembali menunjukkan senyumnya yang seperti biasa, kemudian berkata:


“Sudahlah, anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa pun-”


“Hei! Rin, bantu aku untuk memindahkan speaker ini, berat sekali nih.”


Pada saat itu, seorang biarawan yang mereka kenal sedang memindahkan peralatan ke panggung, seraya berteriak.


“Oh-aku datang sekarang.”


Rin dengan cepat pergi ke sana tanpa melihat ke belakang.


Yukio yang tetap berada di tempatnya, menatap punggung kakaknya selama beberapa waktu, sebelum akhirnya dia kembali mengatur kertas-kertas berisikan program acara di sisi meja.


…. Blue Fighter pasti memiliki banyak teman, dan juga populer di kalangan para gadis.


Komentar ringan Nii-san terus bergema di telinganya.


Apakah hal seperti itu benar-benar akan terjadi?


Plot klise superhero bertopeng, yang merupakan protagonis, namanya adalah Ao, dan dia tidak akan membiarkan orang lain mengetahui jati dirinya. Jika keluarga dan kekasihnya Oume Takeuma tahu, dia tidak bisa lagi berubah menjadi superhero. Dia berjuang dengan keadaan seperti ini sepanjang waktu, dan akhirnya bertarung sendirian. Jati dirinya yang sebenarnya hanyalah pelajar SMA biasa, dan bukanlah sesosok Blue Fighter yang bertarung melawan monster untuk melindungi perdamaian dunia.


Kedua kepribadian menyimpang satu sama lain. Dan keduanya, tidak mirip seperti diriku..


Jiwa yang kesepian selalu mengambang seperti daun duckweed.[8]


Ketika melihat lagi ke dalam hatinya, ia pun menyadari bahwa itu benar-benar kosong.


Mungkin, inilah yang disebut pahlawan kesepian.


-Yukio meringis, ia benar-benar berpikir terlalu banyak. Dia pun tidak bisa mengelak bahwa dia berpikir layaknya orang tua.


Meskipun sudah SMP, ia masih kekanak-kanakan dalam mengidolakan pahlawan bertopeng. Tapi, ketika dia merenungkan tentang perasaan seorang pahlawan fiksi, maka terlalu menggelikan untuk menghubung-hubungkannya dengan perasaannya sendiri .


Yukio mengambil beberapa receh dari kotak untuk digunakan sebagai uang kembalian, kemudian menatanya.


Rin yang berada di samping panggung, bersenandung dengan gembira: “Sukiyaki, sukiyaki ♪” sembari memindahkan peralatan audio yang setinggi tubuhnya.


◆◆◆


“Semuanya, silahkan menikmati acara Konser Amal Department Store Ordo Salib Selatan.”


Setelah pembaca acara selesai berbicara, terdengar tepuk tangan meriah.


Didukung oleh cuaca mirip awal musim semi dan suhu yang hangat, tempat ini dipenuhi oleh banyak wisatawan


Yukio bertanggung jawab atas penjualan tiket dan mengedarkan panduan program acara di meja. Rin berpakaian sebagai maskot kelinci putih sambil membawa kotak sumbangan, dan dia juga memberikan balon kepada anak-anak yang datang.


Biasanya, kakaknya tidak akan pernah memakai pakaian maskot sampai mati sekalipun. Tetapi, karena kata-kata sihir “Jika kau bekerja keras, maka akan ada daging untuk makan malam.”, dia pun berubah pikiran, dan itu terbukti cukup efektif. Bahkan ketika anak-anak nakal menantang dia dengan menanyakan sesuatu seperti: “Apakah kau adalah kelinci sungguhan? Aku ingin melihatmu melompat”, Rin hanya bisa membayangkan menghajar anak itu, dan menahan emosinya sebisa mungkin. Toleransi ini sungguh luar biasa bagi Yukio.


Setelah itu, para wisatawan terus berdatangan. Ketika paduan suara menyanyikan hymne Ordo Salib Selatan, Yukio dengan santai menatap penonton. (Kursinya tidak cukup ...)


Untuk berjaga-jaga, pada awalnya mereka menyiapkan 20 kursi lebih banyak.


“Nii-san, ke sinilah.”


Yukio memanggil kakaknya dengan lembut, yang masih saja mengenakan kostum maskot kelinci putih, dan dia pun berusaha keras untuk menahan menguap.


“Bisakah kau pergi ke belakang dan membawa sepuluh kursi lagi untuk penonton?”


Yukio meminta dengan suara pelan.


“Eh-bahkan dengan pakaian seperti ini?”


“Sulit menggerakkan lenganku, sebenarnya seluruh tubuhku pun sulit digerakkan.” Kali ini Rin tidak bisa menahan keluhannya.


“Aku harus menjaga meja resepsionis.”


Yukio mengatupkan kedua telapak tangannya, dan memohon pada Rin.


“Biar aku yang menjaga meja resepsionis, kaulah yang pergi.”.


“Dengan tangan seperti itu, bisakah kau menghitung uang? Lagian, Nii-san, bisakah kau memberikan kembalian?”


“Jangan meremehkan kakakmu ini. Ini mah bukan apa-apa bagiku.”


“Kalau begitu, berapakah 1250-750?”


“-Uh, 300?”


“Jawabannya 500.” [9]


Pada akhirnya, karena kesaktian kata-kata ajaib “(... mungkin) kita akan makan Sukiyaki malam ini.” Itulah yang membuat Rin mau menata kursi lipat, bahkan sambil memakai kostum kelinci putih yang sangat membuatnya sulit bergerak.


Paduan suara terus menyanyikan hymne di panggung, sebelum akhirnya penyanyi folk yang tak terkenal ikutan naik ke panggung. Suara merdunya menyanyikan lagu tentang kepolosan dan kesedihan pemuda.


Mungkin karena lokasinya adalah atap department store, penonton yang datang adalah keluarga besar dan kecil, ada juga anak-anak SMA yang tampaknya merupakan sepasang kekasih, kelompok-kelompok pelanggan wanita, para mahasiswa, anak-anak SD yang tanpa pengawasan, dan juga sepasang kekasih yang sudah cukup berumur.


Meskipun mereka hanya ingin menghabiskan waktu, semua penonton dengan senang hati menyaksikan aksi panggung tersebut.


(Betapa damai ......)


Syukurlah, handphone di sakuku tidak berdering. Mudah-mudahan akan tetap seperti ini, tidak ada sinyal darurat sebelum konser berakhir.


Yukio duduk di kursi sambil mendesah pelan.


Secara bertahap, tubuhnya semakin lelah karena jam tidur yang terus berkurang. Dia tahu betul bahwa dia tidak akan mampu menghadapi kakak dan yang lainnya dalam keadaan seperti ini, tapi dia menyerah, lantas jatuh tertidur.


-Pada saat itu……


“?!”


Tiba-tiba ada firasat yang membuat bulu kuduknya merinding, di mana-mana tercium bau belerang yang tidak diketahui darimana asalnya.


Yukio segera mengamati sekeliling.


Para penonton dengan bahagia mendengarkan lagu-lagu folks. Suasana ini benar-benar damai. Namun, di mata Yukio yang merupakan seorang Exorcist, ia melihat banyak Miasma pada para penonton dan panggung, bagaikan kabut hitam besar.


“Bagaimana ini bisa terjadi dengan begitu tiba-tiba ... dan mengapa ada sebanyak ini?”


Miasma yang tak terhitung jumlahnya langsung mencelup atap department store menjadi hitam legam.


Yukio mengulurkan satu tangan, dan berpura-pura mengenyahkan Miasma dari wajahnya, dan pada saat itupun, dia merasakan darimana sumber firasat buruk ini berasal.


Tatapannya tertuju pada sekelompok band aneh yang sedang menunggu di panggung.


Ada tiga orang bermake-up tebal, berpakaian hitam legm, membawa gitar dan bass. Sepertinya, penampilan seperti inilah yang disebut Visual Kei.


Tapi-


Yukio dengan cepat memeriksa catatan program acara miliknya.


Di sana tidak tertulis apapun tentang band Visual Kei.


“Apakah ada band Visual Kei yang tampil untuk konser hari ini? Mungkin, ada seseorang yang tiba-tiba batal tampil, lantas meminta pihak lain untuk menggantikannya ......”


Dia bertanya pada relawan di dekatnya. Pria paruh baya gemuk ini pergi ke gereja setiap pagi untuk berdoa, jadi dia kenal Yukio.


“Visual Kei ......?”


Relawan itu menggeleng dengan lehernya yang tebal.


“Tidak, saat ini tidak ada band populer. Ini adalah sebuah konser amal murni berisikan band-band berorientasikan keluarga.”


Tepat sekali.


“Lagipula, department store ini tidak mengundang band semacam itu. Besok ada acara pahlawan untuk keluarga, yaitu “Blue Fighter” yang terakhir kali ditunjukkan di sini. Tadi aku melihat kostum-kostumnya selama istirahat, ah kangennya.”


Relawan cerewet itu mulai mengoceh tentang hal-hal yang tidak penting. Yukio menegurnya dua kali supaya kembali terfokus pada panggung.


Kemungkinan besar, mereka adalah sumber dari munculnya sejumlah besar miasma ini.


Dia mengamati tiga orang itu dengan hati-hati. Bassis dan gitaris tidak terlihat aneh. Meskipun bibir mereka diwarnai hitam dan memiliki eyeshadow gelap, tapi itu hanya makeup. Tapi vokalisnya jelas-jelas tidak tampak seperti manusia.


Dia memiliki sepasang telinga besar yang meruncing, mata merah yang memancarkan cahaya gelap. Dari mulutnya yang lebar dan ganas, menjulur suatu lidah bercabang mirip ular dengan warna merah darah.


(Dia pasti kerasukan iblis)


“Ini buruk.” kata Yukio.


Di atap, termasuk penonton dan staf, semuanya berjumlah sekitar 100 orang.


Meskipun ia tidak bisa menebak alasan mengapa iblis ini berbaur dalam konser, tapi dari apa yang iblis itu lakukan, bisa berpotensi menyebabkan kekacauan.


Pertanyaan yang paling penting adalah: bagaimana jika iblis itu mengincar kakaknya?


Sebagai anak Satan, kekuatan Rin belum terbangun. Namun setelah itu terbangun, akan ada berbagai orang dengan bermacam-macam motif yang mengincarnya.


Yukio menyembunyikan kecemasan dalam hatinya, sambil dengan santai meninggalkan tempat duduknya untuk pergi.


“Maaf, aku harus pergi ke kamar kecil. Aku titip meja resepsionisnya sebentar.”


“Oh, tidak masalah. Harusnya tidak ada lagi orang yang datang, ya kau boleh pergi.”


Setelah berterima kasih kepada para relawan dengan senyuman, Yukio meninggalkan meja dan berjalan menuju pintu keluar atap.


Pertama ia harus menghindari rute yang sulit.


Kemudian, ketika Yukio menyentuh pintu kaca otomatis, rasa sakit yang tajam menjalari jari-jarinya.


Setelah diperiksa lebih lanjut, bukan hanya kukunya yang terbelah, ada juga semacam kutil di kulitnya, dan rasanya nyeri bila ditekan.


“Ah, suatu penghalang…..”


Itu adalah penghalang yang tidak bisa dengan mudah dihancurkan. Musuh bermaksud untuk menjebak seseorang.


Dia mengambil handphone dari jaketnya untuk menghubungi Ksatria Ordo Salib, tapi dia tidak bisa mendapatkan sinyal, sepertinya salurannya terpotong.


Tempat ini benar-benar telah terisolasi.


“Betapa merepotkan ......”


Yukio memasang ekspresi cemas yang jarang terlihat pada wajahnya. Tidak dapat menghubungi Exorcist atau Shirou, sanggupkah dia sendirian melindungi kakaknya bersama para penonton?


Saat itu, keributan penonton terdengar dari belakang.


“?!”


Yukio melihat ke belakang dengan cemas, dan dia mendapati bahwa band itu sudah naik panggung-


“Nikmatilah ketenangan abadi, dasar manusia jelek dan bodoh.”


Suara serak rendah dan suara mikrofon terdengar sangat menusuk, dan suara-suara itu menjadi musik sihir yang tak sanggup ditahan oleh siapapun. “Apa yang terjadi?”


“Hei ...... bukankah mikrofon itu terlalu keras?”


“Aku benci ini……. telingaku sakit-”


Yang bisa dilakukan para penonton hanyalah menyumpal telinga mereka, dan beberapa orang berdiri untuk meninggalkan lokasi.


Si iblis dengan gembira melihat kegaduhan para penonton, dan sekali lagi dia berbicara dengan suara seraknya:


“Mulai sekarang, aku akan membawa kalian pada surga kami.”


Pada wajah pria itu terdapat pembuluh darah menggembung dan matanya tampak melotot dari rongga matanya.


“Menuju Gehenna-”


Pria itu menunjukkan seringai dingin, sedingin es.


Para anggota lain mengiringinya dengan tawa, kemudian mereka memulai aksinya. Seolah-olah balon meledak dan tengkorak dibor. Para penonton ketakutan dan staf terus menerus berteriak.


Sedetik kemudian, pencahayaan panggung hancur, sehingga membuat pecahan kaca terbang ke mana-mana. Hujan serpihan kaca yang indah bertaburan di atas panggung.


Tirai mimpi buruk telah dibuka.


◆◆◆


“Dasar bajingan. Merusak mata saja, minggirlah.”


“Ah…? Bodoh, aku bahkan belum mengatakan apa-apa.”


“Diam, mati saja sana.”


“Kau saja yang mati, dasar sampah.”


“Apa yang barusan kamu katakan-”


Para mahasiswa tiba-tiba mulai berkelahi. Para penonton di sekitarnya dengan panik meninggalkan tempat duduk mereka. Orang-orang yang mencoba untuk menghentikan perkelahian akhirnya ikut-ikutan ... ini seperti reaksi berantai.


Pertempuran itu tidaklah cukup; beberapa orang bahkan mulai menghancurkan properti. Peralatan audio visual digulingkan, tempat duduk dirusak dan dekorasi panggung hancur berkeping-keping.


Dalam waktu singkat, lokasi konser berubah menjadi kekacauan.


Tanpa sadar, gitaris dan bassis band itu melemparkan instrumen mereka, kemudian bergabung dengan massa.


Bahkan setelah kehilangan musisinya, pria itu masih terus bernyanyi. Pada tempat yang gelap dan berkabut ini, suara jahat terus bergema, seolah-olah mengiringi keributan ini.


(Ada begitu banyak orang di sini, bagaimana bisa mereka semua kesurupan pada waktu yang sama ... itu mustahil.)


Pasti ada sesuatu yang melatarbelakangi ini semua, tapi dia tidak tahu apakah itu.


Tiba-tiba, ada sesosok besar di depan Yukio yang masih kebingungan.


“......” Itu adalah relawan yang barusan.


Matanya tampak aneh ... kedia dia memikirkannya, lawan sudah mulai memukul kursi dan berteriak pada waktu yang sama.


“Ugh ......!”


Hampir saja kena, namun Yukio berhasil menghindar dan mulai menembak. Itu adalah kelemahan fatal; relawan bertubuh besar itu roboh, dan tidak pernah bangkit lagi.


“Terlalu mudah.” pikir Yukio.


Jika dia kerasukan iblis, serangan semacam ini tidak akan membuatnya tidak sadar.


Ketika melihat penonton yang gaduh, mereka tidak nampak seperti kerasukan iblis, mereka lebih tampak seperti pecandu narkoba berdosis berat. Mereka tidak menikmati sensasi menghancurkan lawannya, dan seakan-akan mereka dikendalikan oleh suatu kekuatan asing.


Apa yang terjadi ... Yukio segera menyadari bahwa suara itu masih bergema di sekitar lokasi.


“Iblis yang bernyanyi untuk menghipnotis orang ya ......”


Suara menusuk inilah yang membuat penonton kehilangan kendali dan mulai melakukan aksi kekerasan.


Iblis yang menggunakan musik untuk menghipnotis orang muncul berkali-kali dalam sejarah.

Salah satu yang terkenal adalah Sylphs Laut yang menenggelamkan kapal dengan suara merdunya untuk menggoda hati manusia.


(Orang yang memiliki hati tulus atau kemauan kuat harusnya tidak mudah terpengaruh ......)


Setelah mensurvei keadaan sekeliling dengan tenang, meskipun jumlahnya hanya beberapa, namun ada beberap orang yang mencoba untuk melindungi diri mereka sendiri. Baik anak-anak ataupun orang tua yang tidak bisa melarikan diri, dan hanya bisa ketakutan di tengah-tengah tempat bagaikan neraka ini.


“Aku takut ...... Kakek, aku takut ......”


“Semuanya akan baik-baik saja, jangan khawatir-”


Ketika pak tua itu mencoba sebisa mungkin untuk menghibur anak-anak yang menangis, seorang preman menyerang mereka.


Seorang pria paruh baya kekar memegang tabung cahaya dengan erat di tangannya.


“Oh tidak.” Yukio maju selangkah.


Tapi sesaat berikutnya, dia berhenti bergerak.


Karena Yukio melihat seseorang mengenakan kostum maskot kelinci putih dengan keras memukuli preman, untuk melindungi pak tua dan cucunya.


“Jangan menyerang orang tua yang tak berdaya dan anak-anak.”


Dia adalah Rin.


“Meskipun aku tidak tahu tentang apa yang terjadi, tetapi jika kau ingin berkelahi, lawan saja aku.”


Masih dengan penampilan seperti itu, Rin bergegas menuju ke arah para penonton yang mengamuk dan menggila, sambil menghantam orang-orang yang menghalangi jalannya.


Si maskot kelinci putih yang tadinya imut, sekarang tampak bengis dan jahat.


Karena koumaken [10]


(Tampaknya targetnya bukanlah Nii-san.)


Meskipun itu membuatnya mendesah lega, situasinya masih belum membaik.


Untuk sementara, Yukio mengabaikan kakaknya yang sedang mengamuk, lantas dia pergi ke panggung.


Dia sangat yakin bahwa melodi tidak perlu melewati gendang telinga untuk mencapai sistem syaraf di otak, dia pun mencoba menekan emosi negatif yang merasuki dirinya.


Dengan paksa, dia menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan perasaan ini.


Selama iblis yang menjadi vokalisnya dilumpuhkan, lagu ini akan berhenti, sehingga semua orang kembali normal.


Yukio melesat ke meja resepsionis, kemudian mengambil tas olahraganya dari bawah meja. Untuk keadaan darurat, dia sengaja meletakkan senjata, peluru dan alat-alat lainnya pada tas itu. Tapi………..


Exorcist tidak bertarung sendirian, biasanya mereka beraksi bersama pasangannya, sehingga mereka bisa saling berbagi kelebihan dan kelemahan masing-masing. Ini seperti Yukio dan Motegi tempo hari.


Tapi sekarang, hanya ada satu Exorcist di sini, yaitu Yukio. Karena ada penghalang, bala bantuan tidak akan datang.


Hal yang paling penting adalah, kakaknya yang masih berada di tengah-tengah kekacauan. Dia tidak bisa beraksi sebagai Exorcist, karena kakaknya pasti akan terkejut, dan Yukio pun harus mengarang beberapa penjelasan yang tidak masuk akal untuk menenangkan kakaknya. Jika ia tahu tentang keberadaan iblis itu, maka bisa menyebabkan kebangkitan kekuatan Satan di dalam dirinya.


Jika itu terjadi, maka ia tidak bisa lagi hidup sebagai manusia normal.


Bukan hanya itu, ia bahkan bisa dieksekusi oleh Ordo Salib.


Dia harus menipu kakaknya dan menghentikan ini dengan cepat.


Tapi bagaimana caranya-?


Ketidak sanggupannya mengungkapkan identitasnya sebagai Exorcist adalah masalah besar yang membuat Yukio semakin bingung. Terlebih lagi, tempat ini sedang dipenuhi oleh kekacauan.


Tangisan anak-anak terdengar dari berbagai arah.


(Argh ...... apa yang harus aku lakukan?)


Yukio membenci keragu-raguannya sendiri. Pada saat seperti ini, apakah yang akan dilakukan oleh ayah angkatnya, Shirou?


Pada saat itu juga, tiba-tiba ia teringat saat terakhir kali digendong oleh ayah angkatnya untuk melihat pertunjukan pahlawan bertopeng.


Pahlawan penyendiri dan perkasa yang jati dirinya tak pernah diketahui.


-Besok akan ada acara keluarga pahlawan “Blue Fighter”. Aku barusan melihat kostum-kostumnya di ruang ganti……


Kata-kata relawan yang baru saja berbicara dengannya, sekarang melintas di kepalanya, dan itu memberikan ide cemerlang bagi Yukio.


(Oh ya!)


Yukio mencengkeram tasnya dan diam-diam menghindari kekacauan, sampai ia mencapai ruang ganti di sebelah panggung.


Untungnya kakaknya yang sedang berkelahi, benar-benar tidak melihat dia memasuki ruang ganti.


Ketika melewati panggung untuk menuju ruang ganti, dua pekerja department store yang berada di sudut saling berpelukan dan gemetaran tiada henti. Mereka adalah wanita muda dengan air mata yang berlinang di wajahnya, namun ketika melihat ekspresi dingin Yukio, mereka pun mencurigainya.


“T-Tolong j-jangan kemari ...... kumohon ......”


“Harap tetap tenang. Insiden kekerasan ini disebabkan oleh iblis. Aku di sini untuk menghentikannya.”


Agar mereka tidak trauma, Yukio mencoba yang terbaik untuk menunjukkan senyum hangat, sembari mengangkat tangannya.


“Aku adalah seorang Exorcist Kelas Kedua Menengah dari Ordo Salib.”


“Ex ... cor ... cist?”


“Ya.”


Kata-kata Yukio yang hangat dan ramah mencapai hati para wanita muda itu.


Dia menunjukkan lisensi dari jaketnya untuk meyakinkan mereka. Setelah itu, Yukio bertanya: “Aku mendengar bahwa kostum yang digunakan untuk acara Blue Fighter besok disimpan di sini. Dimanakah itu?”


“Eh ...... kostum ...... bukankah itu disimpan pada rak pakaian ......?”


Salah seorang wanita mengangkat jari dengan gemetar, lalu menunjuk ke suatu tempat di sebelah pintu yang barusan saja Yukio lewati. Dalam rak pakaian portabel, kostum Blue Fighter ada di sana, sesuai dengan apa yang telah dikatakan wanita itu.


Karena kostum itu memang didisain untuk digunakan anak SMA, maka ukurannya lumayan pas dengan tubuh Yukio. Lagipula, Yukio adalah anak yang termasuk berbadan tinggi untuk seukuran pelajar SMP, sehingga dia tidak perlu khawatir tentang kostum yang kedodoran.


Ada alat pengubah suara di sebelah mulutnya, jadi tidak peduli apapun yang akan Yukio katakan, alat itu akan mengubahnya menjadi suara Blue Fighter (?). Ini adalah suatu keuntungan besar, karena kakaknya pasti tidak akan mengenali suaranya saat ini.


Namun-


(Harus memakai pakaian seperti ini ya ......)


Ini adalah bodysuit yang terbuat dari nilon.


Kalau masih kecil memakai kostum seperti ini sih tidak apa-apa, tapi akan sangat memalukan jika anak seumuran dirinya memakai kostum pahlawan begini.


Kalo boleh memilih, Yukio pastilah tidak akan memakai kostum ini. Biasanya, dia akan menolak mengenakan ini tak peduli apapun alasannya.


Tapi dia tidak punya banyak pilihan saat ini, karena ini adalah keadaan darurat.


Sembari mengambil kostum dari rak pakaian, dia mengatakan kepada para pekerja:


“Maaf, aku harus meminjam kostum ini.”


“Ah……?”


“Karena suatu alasan, aku harus menyembunyikan identitasku.”


Setelah mendengarkan permintaan mendadak dari Yukio, dua pekerja itu lupa akan rasa takutnya, dan mereka malah terkejut.


Itu memang reaksi yang wajar.


“Mohon jangan khawatir, aku pasti akan mengembalikannya.”


Yukio menunjukkan senyum cerah, dia pun melanjutkannya dengan:


“Dan juga, apakah ada kembang api untuk acara besok?”


“Ah ...... jika ada efek khusus seperti itu, maka pastinya sudah ada persiapan di sini.”


Pastinya ada peralatan khusus di bawah panggung, Yukio memang sempat melihat peralatan itu ketika mempersiapkan panggung, namun sekarang sudah tertutupi oleh para penonton.


“Bisakah digunakan sekarang?”


“Eh ...... aku tidak tahu? Dapatkah kau menggunakannya?”


“Aku bisa… tapi aku tidak tahu apakah itu dapat segera digunakan.” Pekerja perempuan lain yang lebih muda mengatakannya dengan sedikit ragu.


“Jika mesinnya ngadat, maka tidak dapat digunakan ...... Tapi, biarkan aku coba terlebih dahulu.”


Walaupun hanya ada secercah harapan, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.


“Kumohon bantuannya.” Yukio mengangguk padanya.


“Jika dapat menghasilkan asap, tolong tembakkan.”


“Ah, oke.”


Pekerja perempuan sedikit mengangguk, lantas menjawab permintaan Yukio.


Akhirnya, semua persiapan selesai.


Setelah itu, terserah padanya apakah ia bisa memerankan Blue Fighter dengan baik, ataukah tidak.


Lebih tepatnya, ini semua tergantung seberapa baik peran aktor dadakan yang bernama Yukio Okumura ......


Ekspresi Yukio tampak seperti sedang menghadapi tugas yang merepotkan, sembari dia memegang kostum Blue Fighter yang ketat.


◆◆◆


Seraya melompat di atas panggung, ia melihat kekacauan pada penonton semakin memburuk.


Pecahan kaca dari peralatan pencahayaan bertebaran di atas panggung. Pria yang dirasuki oleh iblis menatap penonton yang ketakutan, sambil menunjukkan senyum gila di wajahnya.


Yukio berdiri di belakang si iblis, dan berusaha sebisa mungkin untuk melenyapkan suara di sekitarnya.


“-Sudah cukup, sampai di sini saja.”


Dia memperingatkan melalui pengeras suara, dengan suara yang sama seperti karakter Blue Fighter.


“Apakah kamu……”


“Kau tidak perlu tahu siapa aku. Kembalikan penonton menjadi normal sekarang.”


“Tiba-tiba menggagalkan rencanaku, betapa menjengkelkan.”


Meskipun iblis itu berbicara kepada Yukio, suara nyanyian tidak kunjung berhenti. mulut yang tak terhitung jumlahnya mulai muncul di tubuhnya, masing-masing menyanyikan melodi menyeramkan. Pantas saja bunyi-bunyian ini terdengar seperti tidak berasal dari satu sumber. Iblis memicingkan mata, sambil mengamati Yukio.


Tatapannya berhenti pada pistol hitam yang Yukio pengang dengan erat pada tangan kanannya. Karena melihat lambang pada pistol itu, si iblis mulai kesal, dan ekspresi di wajahnya semakin liar.


“Aku paham ...... jadi kau adalah seorang Exorcist ...... dasar anjing Vatikan sialan.”


Iblis meludah di kakinya, kemudian menggeram pada Yukio.


“!!!”


Dengan gerakan cepat, suara yang semula tak berbentuk, kini berubah menjadi pisau tajam dan terbang ke arah Yukio.


Yukio mengelak ke samping dan berjongkok di atas panggung, lantas dia acungkan pistolnya pada si iblis.


“Hentikan nyanyiannya sekarang.”


“Kau ingin memerintahku?” Mulut iblis itu berliur sambil tertawa. “Namun, kupikir kau tidak akan sanggup menembak.”


“Mau coba?”


Wajah di balik topeng tersenyum sedikit. Yukio menempatkan jarinya pada pelatuk, namun iblis meletakkan tangan pada dadanya dengan bangga.


“Hati orang-orang ini sudah sakit ...... sehingga mereka tidak bisa menikmati musik. Mereka yang tak mampu menggapai mimpinya hanya akan menyerah pada keputusasaan setelah mengalami kegagalan ... .. itu adalah kegelapan yang menarikku.”


“……Apa?”


“Jika kau menembak, orang ini akan mengakhiri hidupnya saat itu juga.”


Sambil melihat ekspresi Yukio yang sedikit curiga, iblis itu tertawa pelan. Lidahnya yang berwarna merah tua terjulur dari bibirnya yang tampak pucat.


“Kalian orang-orang munafik tidak akan pernah mengerti domba ini.”


Yukio mengangkat pistolnya tapi tidak berani untuk menarik pelatuk, iblis itupun melolong lagi.


“Sial……!”


Sambil bersembunyi dari serangan pisau yang datang bagaikan badai, Yukio mencoba sebisa mungkin untuk memikirkan strategi.


(Berpikir cepat ...... berpikir cepat.)


Tentu saja, iblis itu kemungkinan besar mengucapkan kebohongan. Sejak zaman dahulu, iblis selalu kata-kata indah untuk mengelabui manusia.


Dan juga, walaupun kemungkinannya mendekati nol, bukan berarti tubuh orang yang dirasuki oleh iblis boleh dikorbankan hanya karena kecerobohan sang Exorcist.


Untuk saat ini, ia hanya bisa mengikuti rencana awal untuk mengusir iblis itu dari tubuh yang dirasukinya. Ketika iblis kehilangan wadahnya dari Assiah, tembakkan peluru perak suci pada tubuh si korban, lantas pekerjaan ini akan selesai begitu saja.


Metode ini akan menghindari kerugian pada tubuh orang yang kerasukan iblis.


Namun, Yukio bukanlah Aria dan tidak ada Exorcist lain di tempat ini. Untuk mengusir iblis…. Dia sama sekali tidak tahu metode untuk melakukannya.


Lagipula, iblis di hadapannya saat ini tampak lebih pintar daripada iblis yang kemarin, sehingga dia tidak akan tertipu jikalau Yukio menembakkan peluru kosong.


(Sialan. Apa yang harus kulakukan ... oh ya-!!)


Sementara menghindari pisau suara, Yukio juga mengeluarkan peluru pengganti dari perlengkapan di sabuknya.


Sambil meraba-raba, ia mengisi senjatanya dan menembak ke depan dengan tabir asap yang menutupi pandangannya. Yukio hampir jatuh ...... tapi dia memaksakan keseimbangan tubuhnya agar tidak goyah.


“Ini adalah mangsa yang mudah.”


Iblis itu berpose sambil memandang rendah Yukio.


Tanpa disadari, Yukio sudah terpojok di sudut panggung, pergelangan tangan kanannya terpotong oleh pisau suara, dan darahnya perlahan-lahan menetes.


“Ada apa? Segini saja?”


Si iblis melangkah lebih dekat dan semakin dekat.


(Teruskan saja ... .. ayo lebih dekat.)


Yukio berpura-pura menunjukkan ekspresi putus asa, dan ia benar-benar melihat ke depan pada iblis yang terus mendekat. Pada saat yang sama, ada kaleng kosong yang terbang dari penonton, kemudian tepat menghantam begian belakang kepala si iblis.


“A-Ayo Blue Fighter ...... !!!”


Yang melakukan itu adalah bocah gemetaran bersama kakeknya, sementara mereka masih saja dikelilingi oleh preman yang meronta-ronta di depan panggung dengan wajah memerah.


Itu adalah bocah bersama kakeknya yang barusan diselamatkan.


Rin yang masih baku-hantam melawan gitaris di tengah-tengah penonton, mendengar suara itu kemudian membalikkan tubuhnya untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.


“Eh ...... Blue Fighter ......?”


Untuk sesaat, tatapan kakak beradik itu saling bertemu.


Apa yang menyebabkan ini terjadi? Salah satu dari mereka mengenakan kostum maskot kelinci putih, dan satunya mengenakan kostum penuh.


Untungnya kakaknya tidak tahu bahwa orang di depannya adalah adiknya. Tapi pahlawan yang telah muncul di hadapannya begitu mengagetkan Rin, sampai-sampai dia tak mampu menutup mulutnya.


“Dasar belatung ......”


Si iblis melihat kaleng kosong yang bergulir di atas panggung, kemudian dia meremas kaleng itu dengan injakan kakinya, dan melemparkan pisau suara pada para penonton.


“Setidaknya sebelum kau mati, mengeranglah kesakitan dan berteriak memohon pengampunan.”


“Hentikan!! “ Yukio menekan pelatuk yang dia arahkan pada punggung iblis. Kemudian, dia tembakkan pelurunya dengan suara keras. Seperti yang telah dipersiapkan sebelumnya, embusan asap menyebar melalui penonton. Peluru menembus orang yang dirasuki iblis. “Tidak, ini tidak mungkin ...... bagaimana bisa ini terjadi ......” iblis itu membelalakkan kedua mata dan menjadi kaku karena rasa sakit. Setelah nyanyian berhenti, mulut dan seluruh tubuhnya mengejang, sampai akhirnya ajal menjemput. Dan iblis pun meninggalkan tubuh yang orang dirasukinya. Tubuh manusia yang tidak sadarkan diri itu jatuh di panggung, bagaikan boneka kayu yang senarnya dipotong. Yukio nyaris gagal meraih tubuhnya, sembari melihat iblis yang berada di dekatnya, dia memegang senjata lain dari kompartemen pistolnya dengan menggunakan tangan kiri. “B-bajingan ...... Kau masih menyebut dirimu Exorcist ......” Iblis itu mengeluarkan raungan kesakitan. Yukio menatapnya tanpa kata, lantas menembaknya dua kali. Iblis itu ditembak dengan peluru perak suci, kemudian hancur menguap di udara. Yukio mengistirahatkan orang yang kerasukan iblis di panggung, sambil menatap tanpa ekspresi pada iblis yang mulai lenyap. “Lebih baik jika kau pergi ke Gehenna sendirian.“


“Kau ...... dasar munafik sialan ......”


Iblis mengatakan umpatan terakhirnya:


“Exorcist ...... Kau bahkan berani membunuh ......”


Mendengar ini, Yukio tertawa pelan dari balik topengnya.


“Apanya yang lucu?” Iblis itu mengerang.


Dari magazin di pinggangnya, ia mengeluarkan peluru yang sama, lalu berkata:


“Ini bukan perak suci, ini hanyalah CCC dengan air suci yang terkonsentrasi.” “!!” Air suci tidak membahayakan manusia tetapi sangat efektif terhadap iblis. Jika hanya basah kuyup, efeknya hanya akan sebatas menghentikan pergerakan musuh. Namun jika konsentrasinya cukup tinggi, akan terasa serangan nyeri. Dengan berpura-pura untuk menembak, musuh akan berpikir bahwa itu merupakan peluru sungguhan. Peluru air suci ini baru dirancang untuk insiden tak terduga. Beberapa hari yang lalu, di toko Exorcist yang sering Yukio kunjungi, seorang bos wanita sangat merekomendasikan peralatan ini, maka Yukio pun mengambilnya. Dia tidak pernah berpikir bahwa itu akan dimanfaatkan sekarang. “Sebagai orang suci ...... kau berani ...... untuk menipu iblis ......” “Maaf, aku memang orang munafik.”


Yukio tersenyum sedikit.


“Pergilah ke neraka……”


Sambil membidik iblis marah yang semakin lenyap, ia mengisi peluru perak suci pada pistol di tangan kirinya. Si iblis berubah menjadi debu hitam, dan menghilang ke udara.


Setelah iblis itu hancur, keributan penonton menjadi tenang.


“Eh? Barusan tadi, kenapa aku ......”


“Mengapa kita berkelahi ......?”


“Argh ...... kepala aku pening ......”


“Tiba-tiba aku merasa bahwa darahku mendidih ...... dan kemudian aku tidak ingat apa-apa.”


“Mengapa ada asap?”


“Kenapa tempat ini menjadi berantakan?”


Setelah para penonton tersadar, mereka pun berteriak ......


“Blue Fighter menyelamatkan kita!”


Para remaja juga berteriak.


“Kalau dipikir-pikir ......! Bagaimana dengan Blue Fighter ?! Apa yang terjadi padanya?!”


Teriakan kekanak-kanakan dari kakaknya juga terdengar.


Asap mengelilingi panggung dan penonton menyebar secara bertahap.


- Yukio sudah bersembunyi di sisi lain panggung sebelum kakaknya melihat sesuatu.


◆◆◆


Setelah itu, Yukio cepat berganti kembali ke pakaian aslinya, mengeluarkan ponselnya yang sudah kembali berfungsi, kemudian menelepon bala bantuan.


Setengah jam kemudian, anggota lain yang telah mencapai lokasi mulai proses pembersihan pada tempat itu dan semua orang. korban yang terluka dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sebagian besar korban hanya mengalami luka ringan, dan nyawa pria yang kerasukan itu tidak dalam bahaya. Karena dia mendapatkan infeksi mashou yang parah, ia masih akan melihat iblis sampai akhir hayatnya. Kehidupan seperti apa yang akan dia jalani setelahnya, tak ada seorang pun yang tahu.


Karena ini adalah konser amal, hampir tidak ada yang menuntut uang ganti rugi.


Mungkin karena efek kendali iblis; penonton saling menyalahkan, sehingga tidak ada yang menuduh pihak gereja sebagai penyelenggara. Itu adalah salah satu hal baik yang terjadi.


Namun, kegiatan membersihkan lokasi sungguh merepotkan. Ketika semuanya sudah selesai, kakak-beradik itu sedang dalam perjalanan pulang saat matahari terbenam, dan pemandangan pada Akademi Ordo Salib pun tercelup dalam nuansa merah.


“Ah ~~ Hari ini sungguh merepotkan ......”


Kakak yang sedang berjalan-jalan samping toko Ordo Salib Selatan mengeluh terus-menerus, dan dia menunjukkan kelelahan pada wajahnya. Perutnya bergemuruh tanpa henti karena kelaparan yang sudah mencapai puncaknya.


“Pokoknya, efek alam bawah sabar benar-benar menakutkan?”


“Bukan alam bawah sabar, tapi alam bawah sadar. Sabar adalah sifat yang baik.”


“Ini adalah performa dengan efek yang kuat pada alam bawah sadar, membuat kekerasan dan keinginan untuk kehancuran di hati manusia meningkat dengan cepat, sehingga menyebabkan bencana.” Yukio menjelaskan kepada kakaknya. Tapi setelah penjelasan itu, wajah kakaknya menunjukkan bahwa dia tidak mengerti apa-apa.


“Nii-san, kadang-kadang ketika kau mendengarkan musik rock keras, kemudian hatimu merasa gembira. Kira-kira seperti itulah yang terjadi tadi, tapi dengan kondisi yang lebih ekstrim.” Yukio memberikan penjelasan semudah mungkin, sampai akhirnya kakaknya memahami itu. Rin bertepuk tangan, dan berseru: “. “Efek alam bawah sabar memang luar biasa” Dia sungguh kagum. Yukio memberikan laporan kepada anggota Ordo. Karena ia khawatir kakaknya mengetahui bahwa iblis lah yang menjadi penyebab semua masalah ini, ia pun memberikan kesibukan pada kakaknya untuk mengalihkan perhatian. Yukio memintanya bertemu di lapangan parkir department store untuk mengemas bagasi di van. Meskipun bertarung melawan preman cukup membuatnya kelelahan, tapi dia masih saja bilang: “Jika kau bekerja keras, maka akan ada sukiyaki malam ini” dan kakaknya pun kembali bersemangat.


(Jika tidak ada sukiyaki untuk makan malam, maka gawat sekali ......)


Sambil memikirkan kemungkinan buruk itu, Yukio sedikit merinding. Jika makanannya hanyalah tumis sayur tanpa daging, maka hal-hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi.


“Tak peduli apakah makanannya semur daging kentang, atau mungkin hotpot, pokoknya harus ada dagingnya…….... kumohon………...”


Ketika Yukio berdoa agar Tuhan memberi mereka makan malam mewah, hidung Rin mendengus sesuatu.


“Ahh, betapa wangi-”


Distrik perbelanjaan penuh sesak dengan hidangan makan malam, dengan aroma hangat yang menyebar ke seluruh penjuru. Aroma iga babi panggang dan rebus adalah siksaan pada siapapun yang perutnya kosong.


Dengan aroma yang menusuk hidung, Rin tanpa sadar meneteskan air liur dan terhipnotis. Kemudan dia tersadar, lantas bertanya:


“Ketika semua orang berkelahi, apa yang kau lakukan? Tempat itu sungguh berantakan.”


“!!”


Ini dia, Yukio tahu bahwa cepat atau lambat kakaknya pasti akan menanyakan ini.


Sembari menyembunyikan kebenaran dengan cemas, Yukio menjawab sesuai dengan naskah.


“Tidak ada ...... Sebenarnya aku baru saja kembali dari toilet, dan kemudian insiden itu terjadi ....... Aku begitu takut ketika aku sampai pada pintu kaca di atap.”


Meski alasannya tampak sedikit dipaksakan, tapi kakaknya selalu memiliki kesan bahwa “Yukio = pengecut & lemah”, dan Rin benar-benar tidak mencurigai apapun.


“Aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu ......”


Rin sedikit tersenyum, sedangkan Yukio menggaruk pipinya tanpa sadar.


“Aku benar-benar tidak berguna.”


“Sudahlah, walaupun kau berada di sana, kau tidak akan dapat melakukan apa-apa, setidaknya………”


“…..setidaknya, tirulah apa yang aku lakukan, kan?” pikir Yukio dalam benaknya.


“….tirulah apa yang dilakukan oleh Blue Fighter.”


“Eh?”


Yukio tersentak.


Melihat ekspresi terkejut Yukio yang tidak biasa, Rin pun mencibir.


“Aku melihatnya.” katanya.


“Apa yang kau lihat?”


“Hari ini, Blue Fighter sungguhan datang !!”


“!!…… Ha ha ha.”


Yukio melihat mata kakaknya yang berkilauan seperti anak kecil, kemudian dia mulai tertawa.


Melihat Yukio tertawa tanpa henti, Rin menatapnya dengan kesal.


“Apanya yang lucu?”


“Oh kumohon, Nii-san…. Itu hanyalah sebuah acara TV. Bagaimana bisa jadi nyata?”


“Kau salah, dia benar-benar nyata! Ketika kau gemetaran seperti seorang pengecut, ia berada di panggung! Aniki-mu melihat dengan mata-kepalanya sendiri.”


“Oke oke oke, tapi jika kau membicarakan sesuatu yang khayal, lakukan saja di dalam mimpimu.”


“Itu bukan mimpi! Blue Fighter benar-benar ada !! Dia sungguh keren dan mantap!! Sepertinya dia memegang semacam pistol hitam, dan bergerak sangat cepat. Sungguh mengagumkan.”


Rin mulai bersemangat ketika menceritakan apa yang dia lihat.


Melihat kakaknya sibuk melambai-lambaikan tangannya di udara, Yukio hanya bisa tersenyum kecut.


(Tidak perlu cerita panjang-lebar, aku sudah tahu, Nii-san.)


Karena Blue Fighter yang kau lihat, sekarang berada tepat di depan hidungmu-


“Dia super keren, kan? Dia memiliki banyak peralatan di sabuknya. Pokoknya, dia mengagumkan.”


“Dari tadi aku hanya dengar kau bilang bahwa dia keren.”


Yukio hampir tidak sanggup menahan tawa, dan dia sebisa mungkin menunjukkan ekspresi polos, yahh…… memiliki kakak seperti ini sungguh merepotkan.


“Ini nyata.” Merasa bahwa Yukio tidak akan pernah percaya, Rin pun hanya bisa bergumam.


Tiba-tiba, ia berkata dengan serius:


“Tapi ...... bukankah seharusnya Blue Fighter bertarung dengan menggunakan pedang?”


“!!”


“Kapan dia ganti senjata, ya?”


Pertanyaan santainya membuat Yukio sedikit tersenyum.


Pada saat yang sama, seragam biara yang tak asing bisa dilihat dari keramaian. Sesi konsumsi minggu ini, yaitu Maruda, membawa kantong plastik besar dengan kedua tangan, sepertinya dia barusan membeli bahan makanan itu dari supermarket.


Rin menatap kotak daging yang menyembul dari kantong plastik, dengan mata berkilau.


Dia juga melihat daun bawang hijau dan tofu panggang.


“Sukiyaki?!”


Sebelum dia bisa menyelesaikan perkataannya, kakaknya melompat dengan gesit bagaikan kucing. Yukio menatap punggung kakaknya, menempatkan tangan di dada dan mendesah, melihat tangannya secara tidak sadar.


(Kalau dipikir-pikir lagi ......)


Anehnya, hari ini rasa takut setelah menyelesaikan misi tidak datang menghantuinya lagi.


Setelah lolos dari medan pertarungan yang menakutnya, tangan kirinya tidak gemetar seperti sebelumnya. Yukio mengangkat tangan kirinya ke langit yang berwarna merah pada saat matahari terbenam.


….Betapa keren dan mantap!! Dia tampak memegang pistol hitam dan bergerak sangat cepat. Pokoknya, super kereeeenn ......


Dia mendengar dengungan suara bersemangat kakaknya.


Yukio tiba-tiba tersenyum. Di jalan yang diwarnai merah oleh cahaya matahari terbenam, ia mengejar sosok bayangan kakaknya.

Bab 2: Aku Ingin Berdansa Tango Bersamamu[edit]

AnEv1i3.jpg

“Oh tidak…”


(Ah, Izumo mendesah lagi.)


Paku mengamati teman baiknya yang sedang memegang dagun di atas meja, sembari membalik buku teks dengan satu tangan. Matanya yang besar tidak melihat teks, tetapi menatap hampa dan murung ke luar jendela.


Jadi, ada sesuatu yang salah dengan dirinya.


Pelajar kelas satu Akademi Ordo Salib, mantan siswi kelas Exorcist, Paku Noriko menyadari bahwa teman baiknya, Kamiki Izumo, tidak seperti biasanya.


Pertama-tama, ia terlihat lesu.


Dia selalu memiliki ekspresi seolah-olah tenggelam dalam pikirannya yang tidak berujung, dan tidak pernah memperhatikan walaupun Paku berbicara kepadanya. Tidak tampak bahwa ia sedang berkonsentrasi pada pelajarannya.


Menjadi seorang pekerja keras adalah kekuatannya, itu berarti dia membenci orang-orang yang menunjukkan kelemahan di hadapan orang lain, dia selalu menjadi seorang pribadi yang menakjubkan, dan tentu saja sebenarnya dia bukanlah seorang gadis yang terang-terangan menunjukkan ekspresi tertekan seperti ini.


Ketika bel berbunyi, Paku menuju ke tempat duduknya.


“Izumo, kelas sudah berakhir?”


Setelah dia berteriak, Izumo pun tersadar dengan terkejut, dan buru-buru menutup buku catatannya.


“Aku tahu, hanya saja ... selama pelajaran tadi, ada sesuatu yang tidak kumengerti ... aku tidak melamun dan tidak mendengar bel, oke.”


Nada bicara Izumo terdengar sedikit emosi. Tentu saja dia tidak benar-benar marah. Itu hanya karena dia ingin menyembunyikan rasa malunya. Paku menyukai pribadi Izumo yang sombong dan kekanak-kanakan, namun dia merasa bahwa temannya itu masih bisa sedikit lebih jujur pada perasaannya sendiri.


Dalam keadaan seperti ini, Izumo terlihat lebih imut.


Pada kenyataannya, dia memiliki wajah yang manis dan rambut hitam panjangnya terkadang membuat Paku sangat iri padanya. Alisnya yang imut dan tebal begitu cocok dengan penampilannya, seperti seorang putri dalam cerita The Tale of Genji. Tapi setiap kali dia mengatakan ini, Izumo selalu saja marah, jadi akan lebih baik jika Paku tidak mengungkapkan pendapatnya itu.


“Kita akan pergi makan siang. Apakah kau ingin makan di kantin, atau membeli roti dari kantin untuk makan di lapangan?”


“Ini ...” Izumo terlihat sedang berpikir. “untuk koperasi.” Ia menjawab sambil berdiri dari tempat duduknya. Ruang makan Akademi Ordo Salib memiliki segala macam masakan, mulai dari hidangan Perancis sampai Italia. Meskipun makanannya enak-enak, tapi makan siang ditetapkan pada harga yang cukup tinggi, yaitu 1800 yen. Sedangkan untuk harga di atasnya akan dihidangkan makan siang kelas hotel. [11]


Akademi Ordo Salib disebut sebagai sekolah yang elit, tetapi tidak semua siswa berasal dari keluarga kaya. Untuk menghemat uang, siswa membeli roti dan Onigiri dari kantin untuk makan di lapangan atau bangku dekat kompleks sekolahan. Cukup banyak siswa melakukan itu.


Izumo dan Paku kadang-kadang menyimpan sisa uang makanan untuk membeli barang-barang yang menarik bagi mereka…. Mereka sering membeli novel, meskipun selera genre mereka berbeda. Izumo suka membaca novel romans sementara Paku suka membaca novel klasik.


“Aku ingin tahu, Izumo, apakah kelas tambahan Exorcist sulit bagimu?”


Ketika Izumo memasukkan dompetnya ke dalam tas berbentuk hati warna-warni, mereka berdua berjalan keluar dari kelas, sementara Paku menanyakan itu padanya.


Semua pelajar pergi untuk makan siang, sementara beberapa kelompok duduk bersama-sama untuk ngobrol dan menghabiskan waktu makan siang mereka yang menyenangkan.


“Kau lulus ujian Exwire, kan? Terakhir kali aku mendengarnya dari Shima dan yang lainnya, sehingga kau pasti sudah memulai misimu, kan?”


…Beberapa bulan lagi, dia juga terdaftar dalam kursus Exorcist. Selama seseorang memiliki “kunci”, mereka bisa pergi ke mana saja dengan membuka pintu, betapa menakjubkan.


Paku awalnya menjalani kehidupan damai yang tidak ada hubungannya dengan Exorcist, tetapi dia pun mendaftar kelas tambahan Exorcist atas ajakan Izumo.


Tapi dia tidak memiliki kemauan yang kuat untuk menjadi seorang Exorcist, dan tidak bisa menyelesaikan pekerjaan rumah Exorcist. Setelah insiden tertentu, dia menyadari bahwa dia bukan bagian dari dunia itu, lantas memutuskan untuk berhenti. Tapi ini tidak merusak persahabatannya dengan Izumo, atau mungkin ada beberapa dendam yang telah diselesaikan sekarang.


Jadi jika saat ini Izumo sedang mengkhawatirkan sesuatu, itu pasti tentang kursus Exorcist yang Paku sama sekali tidak memahaminya. Ya, kemungkinan besar seperti itu. Setelah mendengar apa yang dikatakan Paku, Izumo sedikit gemetar, lantas dia pun menyibakkan rambutnya yang sepundak.


“... B-bagaimana mungkin, aku memiliki garis keturunan penyihir, sehingga jenis tugas seperti itu sangatlah mudah bagiku. Ampun deh, Paku! Jauhi cowok genit itu! Kau adalah orang yang polos, lebih baik kau tidak mendekati orang sepertinya ... Pokoknya, kalau si bego itu berani mendekatimu lagi, maka aku akan mengusirnya.”


Seperti inilah Izumo yang biasa.


Alasan kegalauannya pastilah perkara tugas Exorcist. Tapi sepertinya, ini bukan persoalan ketidakpahamannya akan pelajaran di kelas Exorcist, ataupun misi yang sulit.


Paku, yang masih tidak mengerti permasalahan yang tengah dihadapi temannya ini, tiba-tiba menemukan ide, lantas dia bertanya:


“Kau tidak bisa berteman baik dengan Moriyama-san?”


Moriyama Shiemi adalah siswi dari program Exorcist, dan juga seorang gadis yang tenang dan mencintai flora - fauna. Meskipun ia agak introvert dan kikuk, Paku merasa bahwa dia adalah seorang gadis yang baik, meskipun terkadang ia begitu tegas dan berani melawan sesuatu. Ketika Paku diserang oleh Ghoul, Shiemi lah yang menggunakan Aloe untuk menutupi lukanya yang terinfeksi.


Namun, entah kenapa, Izumo tak begitu akrab dengannya.


“Ah? ... Kenapa kita harus membahas ini, aku tidak pernah akur dengan gadis aneh seperti itu. Ngapain aku harus ngurusin dia?”


Sepertinya itu adalah tebakan yang salah.


(Lalu……)


Paku senang ketika dia meninggalkan kursus Exorcist, Izumo tampaknya telah berubah. Ketika ia berbicara tentang Shiemi, nada bicaranya tidak dingin seperti sebelumnya.


(Aku paham, kau berusaha sangat keras, Izumo.)


Paku melihat teman baik yang sedang berjalan di sisinya, dan dia merasa seperti sedang melihat seekor induk burung yang meninggalkan sarangnya.


“Kalau begitu, ini tentang orang lain? Ah! Izumo! Jangan bilang kau…….”


“A-Aku kenapa?”


Mata Paku berbinar-binar penuh semangat. Oh ya, kenapa aku tidak segera memikirkan ini? Jika seorang gadis SMA sedang galau, maka tentu saja ...


“Kau memiliki seseorang yang kau suka? Dalam kelas Exorcist!”


Sambil mengangkat jempolnya, Paku begitu gembira, dan berekspresi “aku menebaknya.”. Dia pikir itu adalah jawaban yang benar, tetapi Izumo masih saja menunjukkan muka murung.


“Hah?! Jangan bicara omong kosong, Paku! Kau ingin agar aku menyukai kelompok orang-orang idiot itu?! Jika aku menyukai mereka, aku mungkin juga menyukai Closterium, setidaknya itu bisa berfotosintesis!”


Hmm ... Closterium? [12]


Apakah ia menyembunyikan rasa malunya, atau apakah dia benar-benar marah? Sungguh sulit ditebak.


Tapi kau terlalu berbisa.


(Aku pikir mereka lebih baik daripada Closterium.)


Paku merasa ketidakadilan bagi mereka berempat, yang dipandang lebih rendah daripada Closterium.


Okumura Rin, Suguro Ryuuji, Shima Renzou, Miwa Konekomaru- Meskipun dia mengenal mereka kurang dari sebulan, tetapi para cowok dari kursus Exorcist adalah tipe orang yang bisa diakrabi dengan mudah, terutama Okumura-san tersenyum, menurutnya dia cukup manis dan juga tampan. Adik kembarnya, yaitu Okumura-sensei jugalah cowok yang cukup menarik, tetapi tidak peduli bagaimana orang melihatnya, hubungan mereka harus diubah ... Lupakan saja, bukan ini masalahnya sekarang.


(Lalu, apa yang Izumo khawatirkan?)


Pada akhirnya, itu masih belum diketahui.


Satu hal yang pasti adalah, walaupun Paku bertanya secara blak-blakan “Apa sih yang sedang kau khawatirkan?”, Izumo tidak akan mengaku. Kepribadian canggungnya adalah salah satu pesona Izumo, tetapi akan lebih baik jika dia bisa lebih terbuka.


Ketika mereka berdua berjalan keluar dari gerbang sekolah, Izumo tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Paku melihat sisi wajah Izumo dengan heran, dia melihat bahwa tatapan Izumo terarah pada menara jam kompleks sekolah, dan dia terfokus pada bagian tengah tangga besar di belakangnya.


Di depan itu, salah satu siswa kursus Exorcist yang baru saja disebutkan, Okumura Rin, telah muncul.


Bocah itu sering dipanggil Rin, dia tidak hanya memiliki penampilan yang tidak normal, namun dia juga selalu membawa pedang panjang pada tasnya, sehingga ia bisa segera dikenali dari jauh.


(Eh? Jadi itu Okumura-san ......)


Jantung Paku serasa berhenti berdetak.


Setelah mengamati lebih dekat, ternyata tatapan Izumo tidak mengarah pada Rin, melainkan pada sesuatu di belakangnya yang hitam dan lembut.


(Kucing……?)


-Mengapa? Mengapa ada kucing di sekolah?


Dan ekornya bahkan bercabang. Meskipun warna tubuhnya adalah hitam, tapi jari-jari kaki dan perutnya berwarna putih salju, dan hanya daerah di sekitar mulutnya yang berwarna abu-abu kotor. Dia begitu lucu bagaikan boneka.


Dia selalu saja menempel pada Rin. Bahkan ketika Rin berlari, dia akan mengejar kakinya untuk mengusap-usapkan tubuhnya. Orang yang tidak suka kucing sekalipun akan terenyuh jika melihat pemandangan ini.


(Aku tahu. Jadi karena ini ya ......)


Paku akhirnya mengerti mengapa temannya itu sering mendesah.


Rahasia yang berusaha keras disembunyikan oleh Kamiki Izumo adalah, dia merupakan seorang gadis yang terobsesi pada hal-hal imut.


◆◆◆


“Oh ~~ Namanya Kuro, kucing Okumura-san.”


Pada suatu hari yang berawan, Paku duduk pada lapangan, dan berbicara sambil menggigit sandwich campur miliknya.


Izumo, yang sedang makan sandwich telur, mengoreksi penyataan temannya:


“Bukan kucing, itu adalah Cat Sidhe.” [13]


Menurut apa yang dikatakan Izumo, Cat Sidhe adalah iblis yang merasuki kucing. Di Jepang, Cat Sidhe memiliki ekor bercabang. Meskipun mereka berbeda dari Byakko yang Izumo panggil, tetapi kebanyakan Cat Sidhe hidup berdampingan dengan manusia dengan membuat kontrak.


(Rumor mengatakan bahwa beberapa Cat Sidhe akan berpura-pura menjadi kucing biasa untuk menemukan pemilik yang mau merawat mereka. Lucunya.)


Dan setelah Kuro mengikat kontrak dengan Rin, mereka menjadi akrab.


“Membuat iblis menjadi tsukkaima.” bagi Paku, itu adalah sesuatu dari dunia lain yang tidak mungkin dia pahami. “Okumura-san sungguh menakjubkan ~~” [14].


Melihat kekaguman Paku yang jujur, Izumo mendengus dan mengatakan: “Ini bukan apa-apa, sapa yang tahu gimana caranya si bego itu berhasil meyakinkan Kuro untuk jadi tsukkaima-nya?”


“Begitukah?”


“Ya.”


“Tapi, Kuro sangat lucu.”


“Tepat sekali ... iya kan?”


Izumo berbicara lebih keras dengan penuh semangat, tapi dia segera menurunkan nada suaranya untuk memberikan kesan [15]. Paku langsung terkikik, karena dia menganggap Izumo sangatlah imut jika jaim seperti itu.


“Apa yang Cat Sidhe makan?”


“Cat Sidhe yang lebih tua dekat dengan manusia. Kuro tampaknya suka makan daging. Itu jelas karena pemiliknya terus berbicara tentang “sukiyaki”.”


Paku teringat saat ditengah-tengah pelajaran, Rin tanpa sadar berteriak “sukiyaki!”. “Oh, pantas saja,” pikir Paku.


Namun, pengamatan Izumo ini benar-benar rinci. Tentu saja targetnya bukanlah Okumura Rin. Sebaliknya, melainkan mengacu pada Kuro.


“Apakah Cat Sidhe kuat?”


“Setiap Cat Sidhe berbeda. Kuro harusnya sangat lemah. Lihatlah betapa manisnya dia…EHEM!!.... maksudku, betapa kurus tubuhnya.”


“Apakah Cat Sidhe juga suka tidur siang seperti kucing pada umumnya?”


“Harus begitu? Kuro memiliki tempat favorit untuk tidur. Pernah sekali, aku melihat dia tidur pada ruang yang cerah di belakang perpustakaan, dia meringkuk sambil tidur dengan pulas.”


Seketika menutup matanya, Izumo tersentak kemudian berkata:


“... Yahh, tapi itu tidak ada hubungannya denganku sih.”


Wajah Izumo memerah, dan dia menyeruput keras jus strawberi dari kotaknya.


(Izumo sangat manis.)


Sengaja berbicara seperti anak kecil, dia pasti merasa sangat malu.


Hampir saja tertawa terbahak-bahak, Paku kembali menatap Izumo untuk mencegah tawanya, sembari menggigit sandwich di tangannya.


-Sesaat berikutnya, Kuro yang baru saja mereka bicarakan, menyadari tatapan mata Paku.


“Ah, itu Kuro.”


“Dimana?!”


Komentar Paku membuat Izumo membalasnya dengan cepat. Dia segera melihat ke arah yang ditunjuk oleh Paku.


Namun, setelah menyadari bahwa tindakannya cukup memalukan, dia pun terbatuk lagi untuk menunjukkan gengsinya.


“... Itu benar-benar dia.”


Dia dengan santai mengatakan itu, tapi ujung telinganya merona. Sekali lagi, Paku mencoba sebisa mungkin untuk menahan tawanya.


Kuro tidak sendirian. Dia bersama si kembar Okumura yang berada di kejauhan. Adiknya Rin, Yukio, duduk di bangku dan dikelilingi oleh gadis-gadis, sementara kakaknya sedang berbaring di lapangan. Kuro melompat di dekat kakinya dan mengejar kupu-kupu.


Ketika hampir menangkap kupu-kupu, ia terjatuh di lapangan.


Melihat itu, Izumo diam-diam berseru “Ah ...”. Dia sedikit mengulurkan tangannya, persis seperti seorang ibu yang melihat anaknya jatuh ketika belajar berjalan.


“Menurutku, Izumo, bukankah kita dapat meminta Okumura-kun untuk mengelus-elus Kuro sebentar?”


Paku membisikkan sarannya di telinga Izumo.


“T-tidak perlu ... A-aku tidak tertarik.”


Izumo gemetar sedikit, dengan suara kuat dan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia sedang menahan dirinya.


(Hmm- ini tidak berhasil ...)


Paku menatap temannya yang masih membandel sambil memberikan senyum sedih, dan dia pun memberi saran sekali lagi:


“Kalau begitu, aku sendiri yang akan meminta Okumura-kun untuk mengelus-elus Kuro.”


Paku sengaja mencoba untuk memprovokasi dia.


Pada akhirnya, Izumo mendesah “Eh ...”. hatinya goyah, dan rasa jaim-nya pun mulai runtuh.


Maaf, Izumo, tetapi kau harus lebih jujur pada dirimu sendiri.


“Tunggu sebentar, aku akan segera kembali.”


Setelah mengatakan itu, Paku pergi menuju lapangan tempat Rin dan Kuro berada.


Kuro yang masih mengejar kupu-kupu, mengangkat kepalanya untuk melihat Paku yang mendekat dengan mulut sedikit menganga.


Dia mengeong pada Rin, seolah bertanya: “Siapa dia?”


Rin masih ingat Paku, yang merupakan mantan teman sekelasnya.


“Yo, lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?”


Rin membungkuk sedikit untuk bertanya tentang cederanya tempo hari. Okumura-kun tampak seperti preman, tapi dia benar-benar orang yang sangat lembut, sehingga Kuro selalu saja menempel padanya.


Paku tersenyum dan menjawab:


“Mmm, aku baik-baik saja. Apakah Cat Sidhe ini adalah tsukkaima milik Okumura-kun?”


“Ya, dia dipanggil “Kuro”.”


“Sungguh menakjubkan memiliki tsukkaima pribadi seperti ini.” Rin mendengar pujian Paku dan menunjukkan ekspresi gembira. Sepertinya ia benar-benar berlawanan dari Izumo yang selalu saja menyembunyikan perasaannya.


“Dapatkah aku mengelusnya?”


“Oh, tentu.”


Rin mengangguk dengan tegas. Dengan kedua tangan, Paku memegang Kuro dan membiarkannya memeluk dadanya. Dia mendengar bahwa Kuro adalah iblis, dan karena insiden “Ghoul” tempo hari, Paku cukup gugup menghadapinya. Tapi selain ekornya yang bercabang, dia benar-benar terlihat sama seperti kucing biasa. Dia terasa begitu hangat dan bulu tebalnya memantulkan sinar matahari. Tercium jug asejenis bau alkohol pada tubuhnya.


Paku memiringkan kepalanya karena bingung.


“Ada bau alkohol ...”


“Ah, dia sungguh suka minum anggur matatabi.” [16]


“Anggur Matatabi? Bukannya dia suka Sukiyaki?”


“? Apakah semua orang suka makan sukiyaki?”


Rin menjawab tanpa memahami apa yang dikatakan. Sesaat berikutnya, wajah Rin berubah jadi hijau, seolah-olah ia telah melihat hantu.


“A-apa yang terjadi? Okumura-kun.”


Paku bertanya ingin tahu saat melihat Rin mengangkat jarinya dnegan gemetar menuju arah belakang Paku.


“E-Entah kenapa, s-si alis tebal tampaknya sangat marah ...”


“Alis tebal?”


Untuk sesaat, Paku menunjukkan ekspresi bingung sebelum menyadari bahwa yang Rin maksud adalah Izumo.


“Kadang-kadang anak laki-laki dapat memberikan julukan yang benar-benar aneh.” Sembari Paku memikirkan itu, di belakangnya, dia merasakan sesuatu yang…… “Oh ......”


Dia memang melihat ke arah sini.


Tidak tepat jika dikatakan ‘melihat’, itu lebih mirip dengan ‘menatap tajam’.


Tanpa berkedip, kedua matanya melotot.


Tatapan mata itu beraura membunuh.


“Apa yang terjadi? Sepertinya dia selalu menatap kami ... betapa menakutkan!”


Bahkan Rin merasa takut. Jika ini terus berlanjut, Kuro akan takut juga.


Paku mengelus-elus, kemudian membawa Kuro sambil berjalan menuju Izumo.


“Kau lihat ~~ Izumo, Kuro sangat manis dan lembut ~~”


Ekspresi Izumo terlihat semakin ganas, namun dia terus diam sembari menutup mulutnya rapat-rapat. Tapi Paku tahu bahwa ia sedang menahan keinginan untuk berteriak keras-keras.


Kedua tangannya sudah siap untuk berpelukan dengan Kuro.


Sedikit lagi. Di depan Izumo, Paku membisikkan sesuatu di telinga Kuro, “Kuro, dia adalah Izumo.” Akibatnya, Kuro sedikit menolehkan kepalanya yang berada di bahu Paku.


Tapi setelah melihat bahwa orang di depannya adalah Izumo, Kuro yang tadinya jinak, sekarang meronta-ronta dan berusaha meloloskan diri dari dekapan Paku dengan cepat, bagaikan seekor kelinci.


“? Ku-kuro ...?”


Paku kaget melihat perubahan sikap si kucing yang tiba-tiba, dan dia hanya bisa melihat Kuro yang terus menjauh darinya.


Setelah tenang, dia berbalik dengan gugup dan menghadapi teman baiknya.


“Hahaha ... Kuro melarikan diri? Mungkin ada sesuatu yang menyenangkan di suatu tempat…. Ah, hanya bercanda.”


“......”


“Izumo?”


“-Ayo pergi, Paku, makan siang akan segera berakhir.”

AnEv1i3;5.jpg

Izumo berbalik untuk pergi.


Paku berpikir bahwa dia sangat marah karena hal ini, tapi herannya, ekspresi wajah Izumo tidak berubah. Tapi bibirnya masih mengerucut dan tangannya meraih ujung roknya dengan gemetar, sehingga Paku pun menyadari seperti apa suasana hati teman baiknya saat ini.


(Izumo benar-benar ......)


Sampai sekarang, dia masih begitu tabah.


Semakin Izumo tidak bisa jujur terhadap dirinya sendiri, maka Paku akan semakin simpati padanya.


◆◆◆


(Argh ~~ aku takut Kuro pergi lagi.)


Perpustakaan Akademi Ordo Salib bagian SMA, di sana suasananya sungguh damai, itu membuat Kamiki Izumo mendesah keras dan sedih.


Sebenarnya, dia telah mencoba untuk mendekati Kuro beberapa kali ketika Okumura Rin tidak ada.


Tapi dia selalu lari. Kemarin, ia bahkan mengambil mainan kucing, tapi masih gagal.


Dia telah melihat teman sekelasnya, Konekomaru, bermain dengan Kuro dengan gembira, mungkin ini karena Kuro membencinya.


Sambil memikirkan itu, Izumo tampak tidak bersemangat bagaikan balon kempis.


Tapi dari luar, dia masihlah Izumo yang kuat. Walaupun batinnya tertekan, tapi karena dia tidak ingin ada yang melihatnya dalam keadaan seperti itu, dia pun membusungkan dadanya. Namun, efek yang berlawanan pun terjadi ketika kerutan-kerutan mulai bermunculan di dahinya.


Sambil cemberut, ia berjalan menuju perpustakaan sementara orang lain bergegas pergi ketakutan ketika melihat ekspresi wajahnya. Ini hanya memperburuk suasana hatinya.


(Apa-apa’an ini! Mengapa semua orang ketakutan ... apakah aku tampak menakutkan?)


Izumo mengangkat bahunya dan berjalan dengan kesal, sebelum akhirnya tiba-tiba dia berhenti di depan sebuah rak buku tertentu.


Oh ya. Hari ini, tidak hanya hal-hal menyedihkan yang terjadi, tetapi juga suatu hal yang besar.


(Paku sungguh ... sungguh pengertian.)


“Terima kasih, aku akan bekerja keras.” Dalam hatinya, Izumo mengucapkan terima kasih pada sahabatnya, dan pada saat yang sama, dia menemukan buku yang sudah lama dia inginkan.


“Ah! Ya, yang ini, buku ini……”


Izumo tidak bisa menahan senyum, dia pun mengambil buku itu dari rak paling atas, kemudian berjalan sembari berdendang.


Nama buku itu adalah ...


“Kau dapat melakukannya di rumah! Cara menyeduh anggur matatabi yang lezat”


Membaca buku untuk membuat anggup matatabi yang paling lezat baginya, kemudian mendekatinya ketika dia makan ... yah, kira-kira seperti itulah rencananya.


-Pada saat itu


“Kamiki-san, kau juga meminjam buku”


“?!”


Sebuah suara lembut terdengar di belakang Izumo. Terkejut, ia mencengkeram buku di depannya sebelum berbalik. Orang di belakangnya adalah Okumura Yukio. Meskipun ekspresinya terlihat lembut seperti biasa, tapi napasnya tampak cukup cepat, dan rambutnya juga acak-acakan. Mungkin dia berusaha menghindari gadis-gadis yang mengejarnya, jadi dia harus berlarian di sekolah.


“Oh, Cara menyeduh anggur matatabi ... ya kan?”


Melihat judul buku yang berada di tangan Izumo, Yukio tampak ragu.


Izumo mulai gelisah.


Itu bukanlah buku yang biasanya dipinjam oleh seorang gadis SMA, tentu saja Yukio akan terkejut.


Lagipula, guru ini tampaknya begitu licik…. Bukan, maksudnya cerdik. “Mungkinkah dia telah menyadari bahwa aku akan menjinakkan Kuro ...” jantung Izumo mulai berdegup kencang, dan ......


“PR untuk tugas Ekonomi? Tampaknya akhir-akhirnya ini ada begitu banyak variasi dalam praktek memasak. Aku pikir, biasanya hidangan yang dimasak adalah salad kentang atau sayuran goreng.”


Izumo menatap Yukio yang tersenyum saat ia berbicara, lantas dia pun menghela napas lega. Sepertinya, kekhawatirannya tidak berdasar.


“Eh ... Ah, tidak. Sebenarnya ini karena aku mendengar bahwa kucing suka anggur matatabi, jadi aku meminjamnya untuk penelitianku tentang kucing.”


Izumo coba mengendalikan jantungnya yang berdebar kencang, kemudian dia segera memikirkan kebohongan. Dengan begini, perkataannya tidak sepenuhnya bohong sehingga dia tidak perlu begitu gugup.


“Nii-san…. Ah bukan, kau mendengarnya dari Okumura-kun? Mungkin hanya Kuro milik kami saja yang menyukainya ... tapi kucing normal benar-benar suka matatabi, sehingga kau tidaklah salah ...”


“Apakah semua kucing suka anggur matatabi?” Yukio meletakkan tangan di dagunya untuk merenung dengan serius, kemudian sambil tersenyum dia berkata: “Tidak peduli apapun isi bukunya, menyukai membaca adalah hal yang baik. Aku berharap bahwa Nii-san bisa makan…….”


“…. Makan beberapa tetes air liurmu dan belajar dengan baik ...” Dia merasa bahwa perkataan ini tidaklah pantas untuk didengar seorang gadis, lantas dia cepat-cepat merubahnya menjadi: “…. Maksduku, aku berharap bahwa Nii-san bisa belajar dari Kamiki-san”


Setelah berhasil meyakinkan Yukio, Izumo meletakkan beban yang mengganggunya. Dia melihat kesempatan, kemudian menggunakan nada santai untuk bertanya: “Okumura-sensei, di manakah aku dapat menemukan matatabi?”


Yukio berpikir sejenak.


“Aku ingat bahwa rumah kaca Akademi memiliki pohon matatabi, tetapi sekarang bukanlah musim panen. Meskipun mekar di musim panas, tetapi untuk dapat mengumpulkan buah-buahan yang digunakan dalam pembuatan anggur, kau harus menunggu sampai bulan Oktober.”


“Oktober ... ya.”


Izumo tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Melihat ekspresi murungnya, Yukio tersenyum dan mengatakan:


“Oh ya, bagaimana kalau meminta Moriyama-san?”


“Hah?” Setelah mendengar nama seseorang yang tidak dia suka, Izumo mengerutkan kening.


“Moriyama ... -san, kan?”


Yukio tidak memperhatikan ekspresi Izumo, dan terus tersenyum:


“Green Man milik Moriyama-san harusnya bisa memanggil tumbuhan setiap saat.”


◆◆◆


“….Biasanya aku lebih suka mati daripada meminta bantuan, tapi aku tidak punya pilihan selain meminta bantuanmu.”


Dengan sikap yang benar-benar tidak seperti orang butuh bantuan, Izumo mengatakan itu dengan angkuh.


Dia ingin matatabi, tetapi dia tidak ingin berhutang apapun. Setelah berdebat dengan kejujurannya sendiri, pada akhirnya dia meminta untuk bertemu dengan Moriyama Shiemi di koridor, ketika jam istirahat pada kelas Exorcist. Setelah menemukan banyak alasan dan menunjukkan wajahnya yang merah merona, Izumo pun menyatakan maksudnya yang sesungguhnya “Bisakah kau memberiku beberapa matatabi?”


“Eh ... M-matatabi?”


Shiemi sangat gugup karena Izumo tiba-tiba ingin berbicara padanya. Maka, wajah Shiemi merona, bahkan lebih merah daripada wajah Izumo, dan dia pun lebih malu daripada biasanya.


“Aku mendengar Okumura-sensei mengatakan bahwa sekarang bukanlah musimnya, tapi aku masih bisa mendapatkannya jika aku meminta padamu. Atau, apakah aku harus memohon padamu?”


Meskipun dia sangat takut permintaannya ditolak, tapi setiap kali ia melihat Shiemi, Izumo tak sanggup menahan keinginannya untuk terus mengkritik gadis itu. Shiemi benar-benar tidak keberatan terhadap sikap Izumo yang menyebalkan ini. Dia mencengkeram wajahnya yang merona dengan tangannya, kemudian dia mendengarkan apa kata Izumo dengan serius.


“Aku tidak begitu tahu, tapi Kamiki-san, kau membutuhkannya, kan?”


“Y-ya.”


“Biarkan aku pulang ke rumah dan memeriksa!” Shiemi menjawab dengan tegas. “Kau harus menungguku kembali, Kamiki-san.”


Melihat Shiemi tersenyum, tanda tanya besar muncul di wajah Izumo.


“Nah ... Jangan repot-repot. Cukup gunakan Green Man-mu untuk membuatnya ...”


Shiemi adalah jenis Meister sama seperti Izumo. Dia bisa memanggil Green Man seukuran jari kelingking yang ia namakan Nii-chan. Dia selalu menempatkan makhluk itu di bahunya, dan dia mencurahkan banyak kasih sayang padanya.


Green Man adalah kerabat dari Raja Bumi Amaimon. Dia bisa menumbuhkan tanaman dari tubuhnya, tak peduli apapun musimnya. Sesosok iblis berhati lembut, ia suka memanjat rambut Shiemi dan berkata “nii ~ nii ~”, dia juga sering menempel pada wajah tuannya dengan penuh kasih sayang. Meskipun penampilannya terlihat imut, ketika Meister-nya berada dalam bahaya, ia dapat tumbuh menjadi sangat besar untuk membentuk perisai, dan menghasilkan banyak Aloe yang dapat menyingkirkan Mashou.


Izumo menjelaskan dengan bersemangat sembari menunjuk pada Green Man itu. Namun Shiemi hanya menanggapinya dengan ekspresi bingung.


“Eh ... Tapi Kau ingin “tabi”, kan? Aku tidak tahu, matatabi itu jenis tabi seperti apa, karena Nii-chan hanya dapat menumbuhkan tanaman.” [17]


“Hah? Tabi ...?”


“Maaf, Kamiki-san. Aku akan pulang dan bertanya pada Bunda, kemudian mencarikannya untukmu.” Shiemi mengatakan itu seraya meminta maaf.


Setelah mendengar hal ini, Izumo tertegun sampai-sampai hampir tertawa, lantas dia pun membalik tubuhnya di hadapan Shiemi.


(O-orang ini ... Berpikir bahwa matatabi merupakan sejenis “tabi” ...)


Lagi pula, tabi itu jenis matatabi macam apa sih? Izumo sebisa mungkin menahan tawanya.


“Hmm ......”


Shiemi mendengar sedikit tawa Izumo yang sudah tak sanggup lagi ditahannya, kemudian menatapnya dengan wajah bingung.


“Apa yang terjadi, Kamiki-san?”


“A-aku baik-baik saja !! Pokoknya, matatabi bukanlah tabi ... matatabi adalah bunga putih kecil yang mekar selama musim panas. Aku ingin buahnya.”


Sambil memegang telinganya yang memerah, Izumo berpura-pura ngambek, dan mulai menggerakkan tangannya pada Shiemi untuk memberikan penjelasan, dan ...


“Ah!”


Shiemi yang memperhatikan penjelasan itu, tiba-tiba menunjukkan senyum yang cerah bagaikan bunga mekar.


“Matatabi yang kau bicarakan, maksudmu adalah “Natsu-chan”, ‘kan? “ [18]


Apa? Sapa lagi itu?, ketika Izumo ingin membalas, ia tiba-tiba teringat bahwa Shiemi menyebut Aloe dengan panggilan “Sankyuu-san”. [19]


(Oh ya, orang ini tampaknya suka memberikan julukan pada semua jenis tanaman ...)


Dia ingat bahwa karena kebiasaannya ini, Shiemi hanya mendapat nilai 41 pada tes Herbology iblis, yang seharusnya merupakan pelajaran yang paling dikuasainya.


“Nii-chan, membuat beberapa buah Natsu-chan!”


Shiemi tersenyum saat ia memerintahkan Nii-chan.


Green Man kecil mendengar namanya disebut oleh Meister yang paling dicintainya.


“Nii-!”


Dia menjawab dan melompat turun dari bahu Shiemi, kemudian mengembangkan banyak matatabi dari perutnya yang melebar. Cabang yang berlimpah dengan buah-buahan matang diperlukan untuk menyeduh anggur matatabi.


“Ini untukmu, Kamiki-san.”


Shiemi merasa sangat senang dan memberikan tumpukan buah-buahan matatabi pada Izumo.


Setelah berjuang keras menahan rasa gembiranya, Izumo dengan cepat berkata:


“A ... Aku akan menerimanya ...”


Lalu ia berbisik dengan suara lembut seperti dengungan nyamuk: “T-terima kasih”


Saat ia mengatakan itu, dia buru-buru memalingkan wajah meronanya….


◆◆◆


-Malam itu.


Setelah makan malam, Izumo mandi dengan cepat. Dia memperoleh izin dari pengawas untuk menghidupkan lampu dapur asrama. Dapur asrama siswa baru sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan dapur asrama siswa lama. Ruangnya lebar dan luas, penuh dengan peralatan dapur terbaru dan lemari es besar.


“Aku sudah punya matatabi, jadi mari kita mulai.”


Dengan penuh semangat, Izumo mengikat rambutnya model kuncir kuda, mengenakan celemek yang penuh dengan bintik-bintik merah muda, kemudian dia mengencangkan tali pengikatnya.


Dia meletakkan pot, gula batu, dan bahan lainnya untuk mempersiapkan anggur matatabi di meja dapur.


Terakhir, ia meletakkan banyak buah-buahan matatabi yang Shiemi berikan ke dalam mangkuk.


Semuanya telah dibersihkan dengan disinfektan.


“Seharusnya tidak ada masalah. Kemudian ... hmm ...”


Dia membalik buku pinjamannya dengan satu tangan.


Pada buku tertulis: “Tuang anggur terkonsentrasi ke dalam botol dengan gula batu. Biarkan terendam selama 3 sampai 6 bulan.”


Jika tidak direndam cukup lama, anggur akan terasa sangat pahit.


“Ah? Aku tidak sabar untuk menunggu setengah tahun ... Jika aku tuangkan lebih banyak gula batu, mungkinkah waktunya akan dipersingkat menjadi 3 hari?”


Setelah berdiskusi dengan dirinya sendiri, ia mengangguk dan berkata: “Hanya anggurnya yang tersisa”


“Apakah maksudnya adalah anggur putih? Atau Brandy [20]? Sepertinya tidak sembarangan anggur bisa dipakai...”


Izumo mencari bahan-bahan pada kulkas perak besar. Di sana banyak sekali jenis bumbu masakan, dan ada juga banyak macam anggur masak. Namun, walaupun ada begitu banyak bahan, dia tidak bisa menggunakan anggur masak. Itu karena dia masih di bawah umur, meskipun dia menggunakan anggur bukan untuk diminum ... dia tidak bisa membeli anggur sendirian.


Pada awalnya, dia berpikir bahwa masalahnya hanyalah menemukan buah matatabi untuk membuat anggur matatabi, namun ternyata tidak sesimpel itu.


Dengan memanggil Byakko-nya, mereka dapat membuat anggur dewa.


Sambil mengeluarkan selembar kertas dengan lingkaran sihir yang diambil dari dadanya, dia menodai kertas itu dengan darahnya.


“Dewa Panen, dengarkan perintahku.”


Saat ia melantunkan aria pemanggilan, Izumo tiba-tiba merasa tidak enak.


Meskipun itu bukan kucing biasa, tapi dapatkah Kuro yang begitu kecil minum anggur? (Catatan: tapi umurnya sudah 120 tahun lho)


“Tepat sekali. Katanya dia suka minum anggur matatabi. Orang idiot macam apa yang memberikan minuman seperti itu pada anak kucing!!” (Catatan: ini hanyalah kesalahpahaman Izumo)


Izumo tidak tahu bahwa orang pertama yang memberikan Kuro anggur matatabi sebenarnya adalah ayah angkat Rin, Shirou, namun dia malah menyalahkan Rin.


Tetapi untuk membuat Kuro menyukainya, ia membutuhkan anggur matatabi, tak peduli apapun alasannya.


Apakah ada sesuatu tanpa alkohol yang dapat menggantikannya ...


Izumo melihat jam di atas wastafel, dan waktu menunjukkan sudah lebih jam 19:05.


Sembari terus mengikuti langkah-langkah yang tertulis pada bukunya, dia enggan untuk pergi keluar pada malam hari. Namun menurut aturan asrama, siswa dapat dengan bebas masuk dan keluar asrama sebelum jam 8 malam.


Izumo melepas celemeknya, kemudian mengambil dompetnya yang berbentuk kelinci, dan berjalan keluar dari asrama.


◆◆◆


“-Jadi kau berani membeli benda semacam ini, padahal kasirnya adalah wanita.”


Suguro menunjukkan ekspresi jijik ketika berbicara dengan Shima. Karena sahabatnya ini baru saja membeli sebuah photobook vulgar di toko dalam halaman sekolah.


Shima mencengkeram kantong plastiknya penuh tetesan keringat perjuangan, dan dia pun tersenyum bangga.


“Kekeke ... Walaupun seorang gadis berdiri di meja kasir, aku masih berani untuk membeli benda-benda porno dengan percaya diri. Ah, bukan apa-apa, karena ini adalah salah satu teknik andalanku.”


“Apanya yang hebat, kau adalah biksu yang tidak mengikuti ajaran ... Itulah kenapa ketika kita masih kecil, kami sering memanggilmu iblis cabul.”


“Ah jangan menyebutkan itu! Bon! Itu adalah masa laluku yang kelam!! Setelah SMA, aku ingin mendapatkan status yang lebih terhormat!”


Shima mengambil napas dalam-dalam dan berkata: “Untungnya ini tidak didengar oleh Izumo atau Moriyama-san.”


“Meski begitu, sama saja.”


Suguro merendahkannya sembari memarahinya.


Di samping mereka, Konekomaru hendak keluar dari toko buku, dari pintu otomatis.


“Eh, bukankah itu Kamiki-san?”


Dia menunjuk ke kejauhan.


Setelah diamati lebih teliti, itu memang benar Kamiki Izumo yang membawa kantong plastik supermarket di tangannya. Dia melihat kiri - kanan dengan ekspresi gugup, dia tampak sangat mencurigakan.


“Itu benar-benar Izumo.”


Shima menyembunyikan photobook cabul yang baru saja dia beli di belakang punggungnya, kemudian dia tersenyum: “Kau sungguh maaanis setelah mandi ~~ ♡”


“Bagaimana kau tahu dia barusan mandi ... Kau benar-benar iblis cabul.”


Suguro menunjukkan ekspresi mual sembari mencibir, kemudian dia menoleh untuk melihat Izumo.


“Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan alis tebal itu selarut ini?”


“Dia tampaknya barusan balik dari supermarket.”


Konekomaru melihat tangan Izumo membawa tas kresek yang bertuliskan “Supermarket Ordo Slaib”. Setelah Suguro melihatnya, dia mengerutkan alisnya.


“Apa itu ... sepertinya di sana ada tulisan bir.”


“Tulisannya, bir untuk anak-anak.” Konekomaru mengoreksinya.


Karena kantong plastik itu setengah transparan, sehingga dengan melihat lebih dekat, kita bisa tahu apa yang ada di dalamnya.


“Lalu ada ikan dendeng dan ... sampanye ???”


Konekomaru memiringkan kepala botaknya, dan mengatakan: “Betapa aneh.”


“Buat apa dia membeli semua itu?” Suguro juga tidak bisa mengerti.


“Ikan dendeng adalah untuk pelengkap. Dia ingin minum bir anak-anak dan sampanye untuk semakin mabuk-mabukan. Izumo benar-benar terlalu manis ~~”


Shima menyeringai sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.


“Ketika itu semua dikonsumsi, hanya akan membuat napasnya semakin bau.” Konekomaru menjelaskan sambil menunjukkan tawa sedih.


Dia membawanya dengan sembunyi-sembunyi, dan itu sungguh tidak biasa.


Sambil melihat gerak-gerik gadis itu yang mencurigakan, Konekomaru memiringkan kepalanya lagi dan berkata:


“Kamiki-san, apa yang terjadi padanya ...?”


Di sisi lain, Izumo tidak tahu bahwa dia sedang dilihat oleh tiga teman sekelasnya, lantas dia bergegas kembali ke dapur asrama.


Sejak awal dia memang khawatir bahwa tindakannya ini dilihat oleh orang lain. Ketika semakin dekat dengan asrama, beban di hatinya pun perlahan-lahan semakin ringan.


Selama pesta Natal di sekolah dasar, Izumo pernah minum bir anak-anak yang dicampur sampanye. Selain bebas alkohol, rasanya juga manis dan lezat. Jika dia mencampurnya dengan rata bersama-sama rendaman buah matatabi, Kuro pasti akan senang dengan rasanya. Dan dia juga membeli dendeng ikan yang begitu kucing sukai sebagai menu tambahan rahasia.


Jika dia menyukai “Anggur Matatabi Khusus Buatan Izumo”, perasaannya terhadap Izumo mungkin akan berubah.


Izumo terus membayangkan kenangan-kenangan manis yang akan terjadi bersama si kucing.


Delusi yang tak terhitung jumlahnya membuat Izumo gemetar penuh semangat.


(Tunggu aku, Kuro ♡)


Izumo pun melampaui langkah terakhirnya untuk kembali ke asrama.


-Tiga hari kemudian, sore hari.


Izumo pergi ke tempat tidur siang favorit Kuro, itu adalah daerah terlindung yang menghadap matahari di belakang perpustakaan, di mana Kuro biasa tertidur. Perutnya yang berwarna putih salju terus naik-turun ketika dia tidur, sementara Izumo mendekat dengan menutup mulutnya rapat-rapat.


“Bagaimana jika dia melarikan diri lagi?”


(Tidak masalah, karena aku sudah siap hari ini ...)


Dia menyemangati dirinya sendiri. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang lain di sekitar, dia dengan lembut berbicara kepada Kuro menggunakan bahasa bayi.


“Kuro ~~ Apakah kau sedang tidur siang?”


Mendengar suara itu, Kuro langsung menanggapinya dengan “Meow?”, dan melihat sekeliling. Saat ini ia melihat wajah Izumo ini, rambutnya mulai berdiri, dan dia ingin melarikan diri.


Izumo cepat memanggilnya: “Ah ~~ Tunggu, Kuro, hari ini aku membawakan anggur matatabi...!”


Izumo mengocok gelasnya sampai terdengar suara percikan.


Tampaknya tertarik dengan suara itu, Kuro berjalan menuju kaki Izumo. Meskipun ia bingung, ia menyukai bibirnya. Melihat Kuro, jantung Izumo terus berdegup kencang. Dia berjongkok di tempat dan menuangkan Anggur Matatabi Khusus Buatan Izumo ke tutup gelas.


“Ayo ~~ Kuro, minum lebih dari itu.” Dia mengatakan itu sementara menempatkan tutup gelas di depan Kuro.


Dengan senang, Kuro mengibaskan ekornya yang bercabang dan menurunkan kepalanya ke arah tutup gelas.


Meow ~~ Lalu ia menjilat anggur dengan lidahnya ... Lalu-


“Anggur Matatabi Khusus Buatan Izumo” dicampur dengan bau menyengat yang unik bersama dengan ekstra rasa manis yang lengket. Rasa tak terlukiskan ini membuat Kuro langsung pingsan. Sejak saat itu dan seterusnya, ia semakin takut pada Izumo.


“I-Izumo ... Kau harus kembali bersemangat?”


“... Gak apa-apa kok, aku baik-baik saja, Paku.”


“T-Tapi matamu terlihat seperti mayat? Dan aku belum pernah melihat kantong matamu sebengkak itu.”


“Ah ... jangan khawatir ... aku hanya menghabiskan malam dengan membaca ...”


“Izumo-”


Bahkan dengan teman baiknya yang terus mengkhawatirkannya, desahan penuh keputus asaan Izumo tak kunjung berakhir.

Bab 3: Biksu Yang Galau[edit]

AnEv1i4.jpg

Karma – yang berarti tindakan mengakibatkan konsekuensi, adalah salah satu bentuk filsafat Buddha.


Ini adalah ayat favorit Suguro Ryuuji.


Karena itu, ia selalu melatih dirinya sendiri siang dan malam.


◆◆◆


“Pagi ini kau datang lebih awal dari biasanya.”


“Selamat pagi.”


Suguro yang selalu berjogging setiap pagi, dalam perjalanan disambut dengan ramah oleh seorang wanita yang sedang mengajak anjingnya jalan-jalan. Akademi Ordo Salib mirip seperti sebuah kota raksasa. Tidak hanya semua fasilitas sekolah yang berada di satu tempat, fasilitas komersial dan hiburan untuk guru dan siswa juga ada di sana.


Wanita ini juga salah satu orang yang bekerja di fasilitas ini.


Awalnya, wanita itu cukup takut terhadap tatapan ketus Suguro, beserta tujuh anting-anting di telinganya dan gaya rambut yang aneh dengan cat berwarna emas. Namun, setelah bertemu dengannya setiap pagi ketika berjalan-jalan, dia perlahan-lahan mulai mengenalnya. Bahkan anjingnya, akan mengibaskan ekornya dengan gembira saat melihat Suguro.


“Sudah berlari berapa kilometer kah kau hari ini?”


“Lima kilometer.”


“Berlari lima kilometer ya.”


“Aku mencoba berkali-kali, tapi sepertinya 5 km adalah batas kesanggupanku.”


“Betapa menakjubkan. Selamat!”


“Terima kasih.”


Setelah menanggapi dengan sopan, Suguro pun meneruskan jogingnya. Lantas, wanita yang telah akrab dengannya itu melambaikan tangan padanya. Ketika Suguro berbelok ke kanan, suara gonggongan bisa terdengar.


(Musim penuh sukacita akan datang ...)


Kelopak sakura di Akademi Ordo Salib telah berguguran, dan sekarang terlihat barisan tumbuhan-tumbuhan segar.


Ini adalah musim yang terbaik untuk jogging, dan kau tidak perlu memakai jaket. Hembusan angin sepoi yang menerpa wajahnya terasa nyaman. Sementara ia joging, seolah-olah ia sedang bemeditasi. Tak terasa, lima kilometer pun sudah dilaluinya. Meskipun kadang-kadang ia masih belum puas, tetapi tugas utama murid adalah belajar. Karena dia harus menghadiri kelas Exorcist setelahnya, maka akan lebih baik jika dia tidak terlalu lelah.


(Mereka berdua harusnya juga sedang joging.)


Ketika ia pertama kali memulai joging, ia juga mengajak kedua teman terbaiknya, yaitu Shima dan Konekomaru.


Konekomaru menolak dengan wajah penuh rasa bersalah dan Shima berteriak setelah ia mendengar bahwa ia harus bangun lebih awal dari biasanya.


“Kau benar-benar cabul. Hanya orang cabul akan melakukan hal ini!”


Dia adalah tipe orang yang suka buru-buru ke sekolah satu detik sebelum terlambat, sembari menggigit roti panggang di mulutnya.


(Betapa sesat.)


Bagi Suguro, itu adalah waktu menyenangkan yang tidak selalu dia rasakan dalam sehari.


Jika hujan, dia akan menggunakan mesin treadmill di gym sekolah. Akan tetapi, jogging di alam terbuka adalah yang terbaik. Gym lebih bagus untuk melatih otot. Dia bisa melupakan semua beban ketika melakukan ini.


Selama liburan, pertama-tama dia akan membersihkan kamar asramanya sebelum joging dan berlatih selama dua jam, kemudian dia akan merenung secara mendalam selama meditasi.


Ini adalah cara yang paling menyenangkan bagi Suguro untuk menghabiskan liburannya.


Terhadap Suguro yang suka berlatih keras, Shima menggodanya dan mengatakan:


“Karena inilah, Bon tidak pernah mencari pacar.” [21]


“Kau harus lebih menikmati masa mudamu. Cewek-cewek cantik Akademi Ordo Salib adalah yang terbaik!”


“Betapa menjengkelkan.” pikir Suguro.


(Omong kosong apa lagi ini ... kau sendiri bahkan tidak punya pacar.)


Suguro memiliki ambisi. Yaitu, mengalahkan Satan dan membangun kembali kuil di rumah lamanya.


Untuk itu, ia harus melakukan yang terbaik untuk menjadi seorang Exorcist hebat. Tujuannya untuk saat ini adalah, mendapatkan gelar Dragoon dan Aria.


Dia tidak punya waktu dan ketertarikan pada cinta.


Suguro mendengarkan musik klasik Barat bertempo cepat dari j-Pod miliknya, kemudian dia mempercepat langkahnya untuk menyelesaikan 2 km terakhir. Termasuk waktu ia mengobrol dengan si wanita, total waktu yang dihabiskan adalah…. tiga belas menit dan tujuh belas detik…. Itu cukup buruk baginya.


“Joging pagi memang terasa nyaman ...”


Dia menggunakan handuk yang digantungkan di lehernya untuk menyeka keringat yang mengalir tanpa henti.


Sembari tenggelam dalam nikmatnya kelelahan dan pencapaian hari ini, ia merasa bahwa di semak-semak dekatnya, ada tatapan penuh dengki yang diarahkan kepadanya.


Ketika ia kembali ke asrama laki-laki Akademi Ordo Salib, bocah yang barusan bangun itu langsung membuat kegaduhan.


Suguro berjalan ke kamar mandi untuk mencuci keringat hasil joging. Air hangat dari shower membuat otot-otot yang tegang kembali terasa santai, lantas Suguro dengan cepat mencuci rambut dan tubuhnya.


Setelah mandi, ia menata rambutnya di wastafel sebelum pergi ke kantin untuk sarapan, lantas menuju sekolah. Revisi dan persiapan sudah dikerjakan dan selesaikan tadi malam.


“Cuacanya indah hari ini.”


Dalam perjalanan ke sekolah, ia menghisap udara segar dalam-dalam, sembari menatap langit biru dan cerah…. Sampai saat ini, dalam kehidupan sehari-hari Suguro, keuletan dan produktivitas adalah hal yang biasa.


Lalu……


“......”


Ketika ia membuka loker sepatunya di kelas, Suguro berdiri dengan tercengang. Setelah berkedip beberapa kali, menutup loker sepatunya, mengambil napas dalam-dalam, dan membuka loker sepatunya sekali lagi, dia jelas-jelas melihat suatu benda aneh di atas sepatunya.


Itu adalah amplop berwarna merah muda.


Di atasnya, “Untuk Suguro Ryuuji” tertulis dalam huruf kecil dan rapi.


Benda yang dengan lembut ditempatkan di loker sepatu itu, tampaknya adalah sepucuk surat cinta yang biasa dikirimkan seorang gadis kasmaran kepada pria pujaan hatinya.


Ah tidak, itu juga sering dikirim dari si cowok ke gadis pujaannya ...


“Ini ... ini adalah ... s-s-sepucuk surat ...”


Sepucuk surat cinta.


Ketika kalimat ini muncul dalam benaknya, ekspresi serius Suguro ini langsung berubah menjadi memerah.


“!!”


Dia segera menutup locker sepatunya saat itu ...


“... Bon, aku melihatnya.”


“? !!”


Suara yang sepertinya datang dari dasar lantai membuat Suguro semakin pucat. Setelah berbalik, ia lihat Shima berdiri di belakangnya. “K-kenapa ... kau tiba begitu awal hari ini.”


Sekarang sudah jam 08:03. Ngomong-ngomong, kelas dimulai pada pukul 8,30, kalau Konekomaru sih sudah biasa datang pagi, tapi…… Shima yang biasanya terlambat, datang sepagi ini agaknya…….


Ketika Suguro berspekulasi apakah Shima datang sepagi ini karena pelajaran tambahan atau dipanggil oleh guru ...


“Jam pelajaran pertama hari ini adalah sastra modern Matsuno, jadi aku meminta Konekomaru untuk membangunkanku lebih awal… Aku tidak pernah mengira aku akan melihat hal yang begitu mengejutkan seperti ini.”


Keke ... Shima tertawa dengan lebay.


Ia hanya berusaha keras bangun pagi untuk melihat guru wanita cantik. Tampaknya, alasan si gadis pengirim surat ini datang pagi-pagi, serupa dengan alasan Shima.


Tapi mengapa hal ini harus terjadi hari ini ...


Setelah itu, Konekomaru muncul dari balik Shima.


“-Selamat pagi, Bon.”


Dia tidak melihat kejadian itu karena Shima menghalangi pandangannya.


“Kalian berdua…..”


Suguro minum air sebelum menunjukkan ekspresi cemas dan tegang, kemudian dia bertanya pada kedua teman masa kecilnya:


“... Kalian barusan lihat apa?”


“T-Tidak ada. Hanya sedikit, toh aku tidak melihatnya dengan jelas.”


“Aku melihat segalanya dengan jelas.”


Konekomaru cemas melihat Suguro yang gemetaran, sementara Shima melakukan hal sebaliknya.


“... Shima.” Kata Konekomaru dengan cemas.


Benar-benar tidak merasakan ketegangan, Shima menatap mereka.


“Sebuah amplop merah muda yang manis, tulisan feminin kecil dan ada juga sedikit aroma kayu teratai, ini adalah surat cinta.” Dia berteriak dengan keras.


“-K-Kenapa! Mengapa bukan aku, malahan Bon yang mendapatkannya. Tidak ada Tuhan atau Buddha di dunia ini ... !!”


Shima mendesah keras ke langit. Tampaknya ia akan berteriak dan membuat kehebohan di koridor.


Mendengar suara dari luar, para pelajar menoleh ke arah mereka.


“Apa yang terjadi? Mengapa ribut sekali?”


“Siapa yang tahu ... Mungkin ada yang mendapatkan surat cinta?”


“Eh? Surat cinta? Siapa yang menulisnya?”


Bisik-bisik gadis bisa terdengar pelan. Jika ini berlanjut, Suguro akan kehilangan muka.

AnEv1i4;5.jpg

“Diam! Shima! Kau mengganggu orang lain!”


Suguro dengan cepat membungkam Shima.


“Mengapa ada gadis mesum yang berani-beraninya mengirimkan surat pada Bon ... Ini tidak masuk akal…!”


“Kau begitu berisik!!”


Akhirnya, Suguro memukul bagian belakang kepala Shima untuk membuatnya diam.


“-Ini bukan sesuatu yang penting. Mengapa kalian begitu ribut. Kendalikan diri kalian.”


Setelah mengatakan itu, Suguro segera masuk ke kelas.


Namun, ia menyadari bahwa ia masih bertelanjang kaki saat ia berjalan di koridor. Dia akhirnya kembali untuk memakai sepatu dengan wajah merah padam.


Shima mengusap tempat di mana Suguro memukulnya sambil tertawa dan memandangnya.


“Kau mengatakan itu, namun hatimu bimbang, ‘kan?”


Dia berkata dengan lembut pada Konekomaru.


Lalu…


“Bagaimana…”


Suguro mengancamnya untuk tutup mulut sembari ia mengenakan sepatu.


Sesaat berikutnya, ia meletakkan surat cinta pada tasnya dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata. Bukan hanya Shima, bahkan Konekomaru sudah mengetahuinya. Tapi mereka tidak bodoh untuk menunjukkan apa yang mereka lihat.


“Baiklah, semua bergegas dan masuk ke kelas. Sudah waktunya kelas dimulai.”


Setelah mengatakan itu, Suguro menyeret mereka ke dalam kelas. Namun, dalam perjalanan, ia terbentur pilar bangunan.


“Buk ...” Suara hantaman itu menggema melalui seluruh koridor.


“Aduh…!!”


Suguro hanya bisa mengerang kesakitan sembari dia mengelus-elus dahinya. Lalu ia berbalik dan melotot dengan wajah merona, kemudian berjalan pergi seolah-olah tidak ada yang terjadi. Shima hampir tertawa lagi. Dengan, Konekomaru cepat mengikuti mereka.


◆◆◆


…Aku sungguh mengagumi daya tahanmu sebagai petapa.


Sepulang sekolah pada pukul 5:30, aku akan menemuimu di belakang sekolah, tepatnya di patung Pheles-sama. Sampai jumpa.


Kelas satu, Hanamura Megumi


“Wow ... itu begitu mirip dengan surat cinta, apakah dia benar-benar nyata?!” Shima mengatakan itu dengan nada iri, sambil menatap kertas. Tangannya yang memegang surat itu gemetar tanpa henti.


Sambil menyisihkan “Menu Bento Harian Spesial Akademi Ordo Salib” (seharga 398 yen termasuk pajak) yang begitu sulit didapatkan, Shima sangat bersemangat.


“Apanya yang daya tahan sebagai pertapa? Dia hanya seorang cewek cabul. Aku jelas sepuluh kali lebih lembut daripada dia ...”


“Diam! Makan saja bentomu!!”


Tidak mampu menahan celotehan Shima, Suguro yang tadinya mengijinkan Shima membaca isi surat itu, sekarang dia langsung menyesalinya. Karena sekarang adalah jam makan siang, kantin penuh sesak dengan pelajar. Tingkah aneh Shima tidaklah terlalu menarik perhatian, tetapi jika itu dilihat oleh gadis yang menulis surat tersebut, mungkinkah itu akan membahayakan dirinya?


Karena khawatir, Suguro menyambar surat dari Shima.


“Hei, aku belum selesai membaca semuanya.”


“Cepat makan bento-mu.”


Dia melototi Shima, kemudian menyelipkan amplop itu ke dalam sakunya.


Meskipun Shima mengeluh sebentar, akhirnya dia alihkan perhatiannya pada bento makan siangnya.


Makan siang hari ini adalah miso babi goreng, spaghetti, dan nasi kari. Itu semua adalah hidangan mewah ala Turki, porsinya memuaskan, dan sungguh lezat. Untuk siswa menengah ke bawah, bento sangatlah populer sehingga selalu terjual habis dengan cepat selama waktu makan siang.


Katanya, toko ini menjual satu set menu super lezat hanya seharga 500 yen. Namun, ketiga orang ini belum mencobanya sebelum tokonya tutup. Sekarang ini, tempat tersebut telah menjadi tempat makan legendaris ...


“Bon, mungkin dia melihat kejadian itu.” Konekomaru mengatakan itu, sembari dengan cekatan menggunakan sendok untuk mengaduk mie.


Suguro mengerutkan alisnya karena bingung.


“Kejadian apa maksudmu?”


“Dua minggu yang lalu ketika kau berkelahi?”


“Ah ... kejadian itu.”


Sekarang Konekomaru menyebutkannya, dia pun teringat kembali tentang hal itu.


Itu terjadi pada bulan Mei ketika Golden Week baru saja berakhir. Ada seorang siswa yang ingin cari masalah dengan Suguro. Dia adalah seorang preman pemarah yang jarang masuk sekolah. Ototnya cukup kekar, dan dia bersama seorang raksasa dengan tinggi hampir dua meter.


Bukan berarti Suguro bangga akan hal itu, namun karena tatapan mata sangar yang sudah dia miliki sejak lahir, dia acap kali terlibat dalam suatu perkelahian. Karena dia juga bukan tipe orang berkepala dingin, selama ada orang yang ingin cari masalah dengannya, dia pasti akan membalas, sehingga perkelahian adalah hal biasa baginya.


“Bukankah kau mengalahkannya dengan sekali pukul? Mungkin gadis itu melihatnya.”


Setelah mendengarkan alasan Konekomaru, Shima bertepuk tangan dan berseru: “Ya, itu dia!!!”


Saat ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk menggigit miso iga babi goreng, ia berkata: “Ini seperti yang terjadi pada kehidupan sekolah pangeran muda dan sang putri, wanita dari keluarga kaya akan jatuh cinta pada preman sangar ... mirip sekali seperti di manga shoujo!”


“SIAPA YANG KAU BILANG PREMAN SANGAR!!”


Kata-kata Shima ini membuat Suguro kembali meledak. “Lidahku tergelincir.” Sembari mencoba untuk menenangkan Suguro, ia pun berbicara dengan serius.


“Tapi sungguh, itu terjadi pada paruh kedua bulan Mei. Bukankah seharusnya sekarang ada pasangan baru?”


“Hah?”


“Bahkan rumor yang begitu membingungkan berkembang dengan sangat cepat. Betapa hebat ... musim semi telah tiba, aku juga ingin mencari pacar.”


Ekspresi Shima menjadi bingung, ketika dia meneriakkan nafsunya.


“Dasar bodoh ... selalu saja memikirkan hal-hal seperti itu.”


Suguro pun berekspresi yang seolah-olah mengatakan “gak bisa sembuh nih anak” sambil menutupi kotak bento-nya.


“Eh, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Tanya Shima dengan lembut sambil memberikan senyum yang lebih licik daripada biasanya, pada Suguro yang sedang membereskan makanannya.


“Apa maksudmu?”


Suguro mengangkat alis sambil meletakkan sampah bekas makanan ke dalam kantong plastik yang berbeda.


Melihat ekspresi bingung Suguro, Shima sedikit menggelengkan kepalanya. “Bon sungguh bebal...” pikirnya.


“Apakah kau tidak berencana menemuinya? Sepulang sekolah, di patung ketua.”


“Oh iya ... Dia memintaku datang ke sana, tidak masalah jika aku pergi ke sana, kan?” jawab Suguro.


“Setelah banyak menolak, ternyata hati Bon lembut juga ya.” Konekomaru malah membantu Shima.


Mendengar dia mengatakan itu, senyum Shima bahkan menjadi semakin licik.


“Pergi ke tempat yang dijanjikan, bertemu, dan kemudian?”


“Dan kemudian ... apa maksudmu ...”


“ 『Aku menyukaimu, kuingin kau menjadi pacarku ...... ♡』 Bagaimana jika dia menatapmu dengan mata berkaca-kaca sambil mengatakan itu? Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kau akan langsung melakukan hal-hal dewasa padanya? Aku iri sekali denganmu ~~ ♡”


“K-kau seorang biarawan !!”


Mendengar Shima yang masih dipenuhi dengan nafsu seperti biasa, Suguro menegurnya dengan keras.


Namun, Shima masih membalasnya dengan marah: “Kita hidup di era modern. Sekarang biarawan pun bisa menikah. Ayahku melahirkan tujuh anak, kau tahu?”


Tanpa diduga, apa yang dia katakan sungguh masuk akal.


Suguro berkata.


“Ya, kamu benar…”


Dan ketika Suguro hendak mengatakan bahwa dia berencana menolak gadis itu ...


“Lagipula, seingatku Hanamura Megumi adalah gadis yang sangat cantik?”


“! B-Benarkah? T-tidak, itu tidak ada hubungannya denganku.”


Mendengar bahwa dia adalah seorang gadis yang cantik, bahkan Suguro pun jadi sedikit goyah. Walaupun kelihatannya dia pura-pura tidak tertarik, namun Suguro masihlah seorang pria SMA yang normal. Tentu saja dia tidak bisa menahan pesona keindahan seorang cewek.


“Beneran, karena dia sekelas dengan Izumo, jadi aku tahu. Aku mendengar bahwa dia sangat manis. Betapa hebat! Mengapa harus Bon yang dia pilih, bukannya aku ...”


Kalimat terakhir yang Shima katakan sungguh dipenuhi rasa iri.


“Oh, jadi dia teman sekelasnya si alis tebal ya ...”


Kalau begitu, dia berada di kelas biasa seperti kita ... pikir Suguro.


“Apa? Bon, kau tampaknya mulai tertarik pada Megumi-chan. Kalau begitu, apakah kau ingin menemuinya di kelas? Yang ini….”


Shima menunjukkan senyum menggoda, sembari terus menyikut Suguro.


“Jangan main-main denganku!!”


Dia menunjukkan ekspresi menakutkan lagi saat mengenyahkan tangan Shima.


“Ambisiku adalah mengalahkan Satan dan membangun kembali kuil! Aku tidak punya waktu atau ketertarikan untuk berpacaran dengan cewek!!”


Dia menyatakan itu dengan keras, kemudian berdiri dari kursinya tiba-tiba. Sambil berdiri dengan pose mengancam, ia memelototi Shima sekali lagi, sebelum akhirnya menyeret tubuhnya yang berat untuk meninggalkan kantin.


“Wow ... dia marah.”


Shima menunjukkan senyum sedih ketika ia melihat sampah yang Suguro telah bereskan.


“Bon bahkan kali ini tidak terlalu bersih membereskan sampahnya. Sepertinya dia sangat serius. Kupikir dia benar-benar marah.”


Shima melihat sosok Suguro dari belakang. Saat ia berjalan, para pelajar yang berada di dekatnya menyingkir.


Mengetahui bahwa ia adalah pelakunya, namun ia melihatnya dengan tamak. Konekomaru yang tidak tahan melihat ini, mengatakan: “Shima, jangan terlalu menggoda Bon.”


Sangat jarang dia menegur orang lain.


“Bon tidak sepertimu, dia sangat berhati-hati.”


Kemudian Shima pura-pura menangis sambil berkata: “Itu terlalu berlebihan ~~ Konekomaru, aku juga sangat berhati-hati. Jangan melihat aku seperti itu, aku memiliki hati sebening kaca, lho?”


Setelah ia mengatakan itu, Shima menempatkan kotak bento yang kosong dan sampah yang Suguro telah masukkan ke dalam kantong plastik. Sepertinya dia akan membuang itu semua ke tempat sampah khusus sampah mudah terbakar.


Ini tidak seperti yang dilakukan orang yang berhati-hati.


Ketika Konekomaru berpikir bahwa ia sudah selesai membahas hal ini dengan Shima, ia minum teh hijau dari botol PET-nya. Tanpa diduga, Shima dengan tenang mengatakan: “Bon, dia banyak masalah.”. Karena dia mengatakannya dengan begitu lembut, Konekomaru hampir tidak mendengarnya.


“Eh?”


Dia mengangkat kepalanya dengan syok, lantas dia melihat Shima meletakkan tangan di belakang kepalanya, dan menatap kursi yang barusan diduduki oleh Bon: “Karena dia bekerja terlalu keras, maka dia begitu tegang dan mudah marah. Okumura juga begitu, dan terkadang Izumo pun begitu….”


“Ditembak oleh seorang gadis, walaupun kita menanggapinya dengan santai, tidak akan terjadi hal yang buruk, ‘kan?”


Shima bersandar di kursinya dan menunjukkan ekspresi yang cerah ketika ia berbicara. Melihat temannya senyum, Konekomaru juga menunjukkan ekspresi lembut.


Meskipun ia tampak ceroboh, Shima masih sangat peduli pada Suguro.


“Kalau dia terus-terusan begitu, maka suatu hari nanti dia akan roboh.”


“Ya.” Konekomaru menutup matanya beberapa saat. “Bon harus belajar banyak dari Shima, untuk mencoba menjalani segala sesuatu dengan santai.”


Tapi begitu dia mengatakan itu, Shima berdiri ketika ia melihat seorang gadis berjalan melewati meja mereka.


“Konekomaru! Apakah kamu lihat tadi…?! Gadis dengan rambut pendek berwarna hitam! Dia super imut!! Oh ~~ Akademi Ordo Salib memang hebat! Aku bersyukur bisa masuk ke sekolahan ini ~~ ♡”


Melihat tubuh Shima bergoyang-goyang dengan genit, Konekomaru pun kembali lemas.


“Konekomaru, kita harus menemuinya dan menjadi teman? Bukankah ini ide yang baik….”


“Shima ......”


Oh ya ampun ... Konekomaru mendesah dalam-dalam.


Memang, jika Suguro harus meniru Shima, tampaknya dia butuh pertimbangan yang sangat-sangat besar… Konekomaru terus memikirkan itu.


◆◆◆


(Ampun deh, Shima benar-benar sudah terkuasai oleh nafsu ...)


Suguro mengangkat bahunya sambil berjalan di sekitar lingkungan sekolah.


Shima yang mesum berusaha mendapatkan hubungan seperti itu dengan seorang gadis, sementara Suguro jelas-jelas menolaknya.


Tentu saja ia senang bahwa ada seseorang gadis yang menyukainya, dan dia juga sangat tersentuh, tapi ......


(Aku memiliki ambisi yang ingin kucapai.)


Jika ada waktu untuk jatuh cinta, lebih baik itu dipakai pergi ke perpustakaan untuk belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan di kelas Exorcist, atau melatih otot di gym-Pokoknya, waktu yang terbatas harus digunakan secara bijak.


(Aku bukanlah orang yang santai seperti Shima, jadi aku tidak punya waktu untuk pacaran.)


Seraya mengikuti kedisiplinan dalam hatinya, ia berjalan menuju kompleks perpustakaan.


... Dan, kekhawatiran mulai mengisi benaknya. Masalahnya adalah, bagaimana dia menolak ini semua.


Ada sesuatu yang ia tidak beritahu bahkan pada Shima dan Konekomaru, Sebenarnya… ini bukanlah pertama kalinya ia menolak seorang gadis. Tahun lalu, ia pernah ditembak sebanyak 4 kali.


Dia menolak keempat-empatnya, dan setiap melakukan itu, si gadis pasti menangis.


Dia tulus dan ingin menolak gadis dengan selembut mungkin. Namun, ia tidak bisa mengendalikan ekspresinya yang garang, dan nada bicarsa menyakitkan yang diturunkan dari ayahnya. Pada akhirnya, ia juga sangat terluka.


Terutama ketika saat ini, Shima dan Konekomaru tahu tentang hal itu. Jadi tidak peduli apapun itu, kali ini harus dicegah agar tidak terjadi lagi.


(Aku harus mengatakannya dengan benar dan tidak membuat si gadis menangis ...)


Ketika Suguro merenung-


“Hei tunggu-”


Tiba-tiba, ada suara dari belakang.


“?!”


Mendengar suara tinggi seorang siswi, Suguro pun hanya bisa terkaku di tempat.


(I-itu Hanamura-san?)


Dia tidak bisa menunggu sampai pulang sekolah, sehingga dia menemuiku sekarang juga? ... Detak jantungnya bertambah cepat.


(Tenang, santai ...)


Dia mencoba sebisa mungkin untuk berpura-pura menjaga ketenangannya.


“Ada masalah apa….?” Dia berbalik dan berkata.


Tapi seseorang yang berdiri di depannya adalah teman sekelas kursus Exorcist- yaitu, Kamiki Izumo. Suguro sedikit kecewa, namun juga merasa leha. Setelah memberikan napas keras, ia pun merasa malu karena mengira Izumo adalah Hanamura.


“Mengapa jadi kau!! Jangan melakukan hal-hal yang membuat orang lain salah paham! Dasar bego!!”


Untuk menutupi rasa malu, ia melampiaskan kemarahannya pada Kamiki.


“Apa!” jawab Izumo dengan marah.


Dia hanya memanggil, namun balasannya adalah bentakan tanpa alasan yang jelas. Tentu saja dia marah.


“Karena jadwal kelas Herbologi Iblis telah berubah, maka Okumura-sensei memintaku untuk menyampaikan pesan ini pada semuanya. Mengapa tiba-tiba kau berteriak padaku? Betapa koyol!”


Izumo mengangkat alis tebalnya sambil mengeluh. Meskipun Suguro merasa sedikit bersalah, dia tidak kompromi. Mereka berdua sama-sama tipe orang yang keras, sehingga sulit bagi mereka untuk minta maaf. Setiap kali mereka bertemu, hal-hal seperti ini akan terus terjadi


“Kau benar-benar tidak bisa melihat situasinya.”


Bahkan sampai sekarang Suguro terus melimpahkan kesalahan pada Izumo, sehingga gadis itu semakin kesal, sembari dia menaikkan alisnya.


“Hah? Hentikan omong kosong ini, dasar wajah gorila idiot!!”


“Eh? Apa maksudmu memanggilku idiot! Dan apa barusan kau memanggilku wajah gorila!??”


“Apa! Kau duluan yang memanggilku bego! Aku bahkan repot-repot datang ke sini untuk memberitahumu. Kenapa sih ada orang kayak gini di dunia ini!” Izumo sangat marah, dan rambut kuncir kudanya melambai-lambai tertiup angin.


“Terserah! Yang penting aku sudah menyampaikan pesan! Semuanya bukan lagi urusanku.”


Setelah menyemprotkan itu, Izumo pun pergi sambil marah.


Melihat sosok Izumo yang semakin menjuh, Suguro pun berpikir ...


(Gadis ini benar-benar tidak ada manis-manisnya sedikit pun ...)


Tapi tiba-tiba, dia ingat apa yang baru saja dikatakan Shima.


“Beneran, karena dia sekelas dengan Izumo, jadi aku tahu……”


Suguro pun langsung menghentikan gadis itu….. “T-Tunggu sebentar, Izumo….!”


Dan memanggilnya.


“Apa lagi?”


Seakan ingin berdebat, Izumo berbalik sambil menunjukkan alisnya yang mengkerut. Sambil sebisa mungkin menahan amarah, Suguro mengatakan:


“A-Aku dengar, kamu sekelas dengan Hanamura ...?”


“Hah?”


Siap untuk bikin ribut, Izumo pun mengangkat alis dan menjawab: “Hanamura ... maksudmu cewek itu? Apakah maksudmu Hanamura Megumi? Kami memang teman sekelas.”


Detak jantung Suguro bertambah cepat.


“G-Gadis seperti apakah dia?”


“Hah? Apa maksudmu….”


“M-Maksudku, seperti apakah penampilannya, atau kepribadian. Apakah dia perhatian, baik hati, atau imut ...”


“APA??”


Ekspresi Izumo menjadi semakin bingung, tapi ia menyadari bahwa Suguro sedikit berbeda daripada sebelumnya. Mungkin kemarahannya mereda, kemudian Izumo menyibak rambut panjang yang terurai di depan dadanya, lantas berkata: “Hanamura-san harusnya sedang ada di perpustakaan sekarang, karena dia adalah anggota Klub Perpustakaan.”


“Eh ......?”


Ini benar-benar tak terduga.


Dia berada pada tempat yang akan dia tuju.


Bahkan Suguro hanya dapat berpikir bahwa inilah yang disebut “nasib” dalam ajaran Budha ...


Perpustakaan Akademi Ordo Salib adalah bangunan kuno dilengkapi tanaman merambat yang tumbuh di atasnya.


Meskipun itu tidak nyaman, tapi gaya lama yang menawan itu bisa menarik para gadis untuk mengunjunginya.


Sambil bersembunyi di rak buku dekat pintu masuk perpustakaan, Izumo berbicara kepada Suguro yang ada di belakangnya.


“….Kau lihat. Yang berdiri di belakang meja dan mengatur buku-buku itu adalah Hanamura-san.”


“Ampun deh, ngapain juga aku harus bersembunyi?” Izumo berbisik dengan ketus.


Biasanya, Izumo tidak suka mencampuri urusan orang lain, apalagi urusannya Suguro.


Tapi, dia juga penasaran mengapa tingkah Suguro sedikit aneh, jadi dia pun memutuskan untuk mengikutinya sementara waktu.


“Apakah tidak masalah kita melakukan hal seperti ini? Kalau begitu, aku pergi.”


Izumo berbicara dengan cuek, tapi sejak awal Suguro memang tidak bisa memaksanya.


Semua fokusnya sedang tertuju pada gadis yang ditunjuk Izumo; yaitu gadis yang bekerja bersama pustakawan lainnya.


Rambutnya hitam mengkilat, tubunya ramping, kulitnya mulus, sedangkan parasnya sederhanya namun cukup elok.


Memang, dia adalah seorang gadis yang akan membuat orang berpikir tentang teratai putih. Dia begitu mirip seperti ibu Suguro, bernama Torako, di masa lalu.


“Apakah kau ingin mengembalikan buku? Sini… sini-”


Suara lembut bagaikan sutra terdengar, dan itu bukanlah suara datar dan medhok yang begitu Suguro benci. Seolah-olah itu adalah suara belaian dari malaikat, yang begitu sempurna dengan paras dan tutur katanya.


Radar Shima dalam mendeteksi gadis cantik memang tak pernah salah.


Jantung Suguro yang awalnya berbunyi “deg-deg-deg” kini berubah menjadi “bruk-gedebruk-bruk”.


Jika di ruangan ini sunyi senyap, maka detak jantungnya pasti terdengar.


Tenang, sabarlah…. Suguro berteriak dalam hati sembari ia mencengkeram dadanya.


“Hey ... Meskipun wajahmu mirip seperti gorilla, kau tidak boleh seenaknya menakut-nakuti orang di perpustakaan?!”


Tingkah aneh Suguro sungguh mengagetkan Izumo. Dia meraih tangan Suguro, sehingga dia pun kembali tersadar.


Dia bahkan tidak bereaksi ketika diejek “wajah gorilla”.


“S-Seperti apakah dia di kelas sehari-harinya?”


Tanpa menoleh ke arah Izuma, ia bertanya sambil terus menatap si gadis.


Izumo melepaskan lengan Suguro, memiringkan kepalanya, dan bertanya: “seperti apa?”


“Dia sungguh gadis yang baik. Nilainya sangat bagus. Meskipun dia tenang, tapi dia peduli dan sangat antusias.”


Setelah mendengar ini, detak jantung Suguro bertambah cepat sampai-sampai mau meledak.


“Akan tetapi ... dia memiliki kakak laki-laki kembar. Dia adalah kebalikan darinya, dia adalah seorang temperamental sialan. Di sekolah ini, dia merupakan salah seorang preman yang langka. Dia tampaknya cukup mengkhawatirkan kakaknya itu….”


“Ini mengingatkanku pada kakak beradik kembar tertentu.” lanjut Izumo.


Jika kakaknya mendengarkan ini, dia pasti akan sangat marah. Namun, Suguro tidak menghiraukannya.


Cewek berparas rupawan yang cerdas. Sungguh keajaiban.


Tekad Suguro untuk menolaknya perlahan-lahan mulai goyah.

◆◆◆

Sampai kelas berakhir, iblis yang disebut ‘nafsu’ telah tumbuh dalam hati Suguro, dan terus melawan tekadnya. Saat ia semakin galau, alisnya semakin berkerut dan wajahnya secara bertahap berubah menjadi seperti iblis.


“Aku bilang ... apa yang terjadi sedang dengan Suguro? Tidakkah kau berpikir bahwa wajahnya sangat menakutkan?”


“A-Apakah dia melukai seseorang? Suguro-san ...”


“Ah, jangan hiraukan dia. Okumura, Moriyama-san, musim semi bagi Bon telah datang.”


“Apa? Musim semi?! Bukankah sekarang memang sedang musim semi?”


“Hahaha, bukan musim semi yang itu ~~”


“Jadi, ada banyak jenis musim semi lainnya? Oh tidak ... aku tidak tahu tentang itu.”


“Shima ... Bukankah aku sudah bilang untuk jangan mengganggunya?”


“Ya, apa yang terjadi padanya? Betapa aneh, dia terlihat begitu mengerikan hari ini ...”


Ketika dia melihat lebih jauh, wajah Suguro bahkan menjadi lebih galak, dan dia hanya terdiam seribu bahasa.


Seperti Rodin “Thinker” [22], dia merasakan kekhawatiran yang tak terhingga…..


…..Setelah kelas Exorcist berakhir, dia akhirnya mencapai suatu kesimpulan.


Meskipun gadis itu sungguh menawan, aku masih tidak punya waktu untuk berhubungan dengannya.


(Aku ingin membangun kembali kuilku ... Jadi, aku harus menjadi Exorcist kuat untuk mengalahkan Satan!)


Karena dia disebut “anak dari kuil terkutuk”, sejak kecil dia sudah memiliki ambisi yang kuat, dan keteguhan hatinya tidak akan goyah dengan mudah hanya karena persoalan asmara.


Dia menggunakan air dingin dari pendingin air untuk mencuci wajah dan menyegarkan dirinya, sebelum akhirnya berjalan menuju area belakang gedung sekolah dengan tenang.


Karena dia menuju TKP terlalu awal, maka tak ada seorang pun di depan patung Pheles-sama.


Kekhawatiran mulai mengisi kepala Suguro.


“Bagaimana aku harus menolaknya?”


Karena pertemuan dengan Izumo, pikirannya pada siang hari terganggu, dan sekarang dia tidak bisa memikirkan apapun. Apa yang harus dilakukannya agar si gadis tidak menangis ketika ditolak nanti, dan bagaimana caranya menolak seorang gadis tanpa sedikit pun melukai perasaannya?


Suguro mencengkeram dadanya dengan kedua tangan dan berpikir sangat keras, tapi lagi-lagi pikirannya sedang blank.


Dia dengan kikuk mencabut rambutnya dalam frustrasi.


(Akan lebih mudah jika Juuzou ada di sini ...)


Juuzou adalah kakak tertua kedua Shima, dia adalah seorang pria yang cukup populer di mata para gadis, selain Okumura Yukio. Ketika ia bekerja di kebun keluarga kuil Suguro, di rumahnya yang lama, cewek-cewek sering seliweran di dekat kebun hanya untuk melihat dia. Ketika dia belajar di Akademi Ordo Salib sepuluh tahun yang lalu, itu mendengar bahwa ia bahkan memiliki fan-club.


Tapi dia sangat bebal dalam menanggapi perasaan orang lain. Dia adalah seorang pemuda cerdas yang mencintai anak-anak, dan itulah yang merupakan salah satu alasan mengapa dia disukai banyak cewek.


(Tidak, Juuzou terlalu populer, saran-sarannya tidak bisa diterapkan dalam kasusku ... Mungkin Kinzou- Tidak, Kinzou juga bukan pilihan yang tepat.)


Kakak tertua keempat Shima, Kinzou, adalah seorang pemuda berambut pirang yang merupakan pimpinan dari suatu band. Dia adalah seorang pria tampan yang membuat gadis-gadis berteriak liar ketika manggung. Namun, sama seperti Okumura Rin, ia adalah seorang idiot.


Walaupun ada gadis yang mengutarakan perasaan padanya, dia bahkan tidak tahu kalau sedang ditembak.


(Lebih baik menyerah, dan membicarakan hal ini dengan Okumura-sensei ... Tidak, ini akan sangat memalukan.)


Ketika Suguro berpikir tanpa henti, bayangan panjang muncul pada tanah di depannya secara tiba-tiba.


(Apakah ... Itu Hanamura-san?)


Hatinya berdebar.


Meskipun aku belum punya alasan… Tidak, memikirkan sesuatu yang tidak tulus bukanlah jawaban yang benar, itu akan mengecewakannya. Karena aku memiliki sesuatu yang harus kulakukan, jadi aku tidak punya waktu untuk para gadis saat ini ... Setelah menetapkan keputusannya, Suguro menutup kedua matanya rapat-rapat.


“I-itu, Hanamura-san, A-Aku….”


“Halo! Suguro-san. Kau benar-benar datang! Aku sangat bahagia!!”


“Eh ...?”


Suguro mendengar suara kasar yang sama sekali berbeda dibandingkan dengan nada lembut yang ia dengar sebelumnya.


Dia membuka matanya dengan kaget.


Di depannya, bukanlah Hanamura Megumi, tetapi itu adalah laki-laki kekar berpostur sekitar dua meter. Dan wajah yang tampak cukup akrab.


“K-Kau……”


Dia adalah siswa yang dikalahkan dengan mudah oleh Suguro pekan lalu.


“Jadi, maaf untuk yang terakhir kalinya. Terima kasih karena kau telah mengingatku, itu adalah suatu kehormatan.”


“Lagian, kenapa kau yang ada di sini?!”


Kebingungan, Suguro menunjukkan jarinya yang gemetaran ke arah pria itu.


Wajah pria kekar itu merona, dan ia mengacak-acak rambutnya.


“Yahhh ~~ Maaf karena telah membuatmu repot-repot datang ke sini. Aku pengen banget ngobrol dengan Suguro-san.”


“Ah, mengapa ...?”


“A-apa-apa’an surat ini?”


“Ah, aku yang menulisnya.”


“Apa ... Eh ... Tapi ... Di surat ini tertulis Hanamura Megumi ...”


“Harusnya itu dibaca Kei. Megumi adalah adik kembarku.”


“Adik kembar…”


Perkataan Izumo kembali terngiang di kepalanya.


“Akan tetapi ... dia memiliki kakak laki-laki kembar. Dia adalah kebalikan darinya, dia adalah seorang temperamental sialan. Di sekolah ini, dia merupakan salah seorang preman yang langka. Dia tampaknya cukup mengkhawatirkan kakaknya itu….”


Dengan kata lain, adik kembarnya adalah Hanamura Megumi, dan orang yang menulis surat adalah ...


“Kalau begitu ... kata-kata ini ...?”


“Ah, adikku lah yang menuliskan surat untukku karena tulisanku jelek. Aku juga mendapatkan kertas surat darinya.”


Pantas saja tulisannya begitu feminin. Shima juga mengatakan bahwa aroma surat itu begitu wangi, seperti aroma Hanamura. Hidung orang itu begitu kuat bagaikan anjing polisi.


Pikiran Suguro langsung kosong, dan dia merasa bahwa tubuhnya semakin berat, seakan dia mau jatuh.


Jadi…. selama ini….. apa yang aku…. khawatirkan.


Kekhawatiran yang selama ini tertumpuk, melayang lepas entah kemana dari pikirannya.


“Sejak dikalahkan dengan satu pukulan oleh Suguro-san, aku selalu memperhatikanmu. Daya tahanmu benar-benar mengagumkan! Aku sungguh mengagumimu!!”


Si pria Hanamura dengan erat mengepalkan tinjunya sembari berbicara.


Setelah itu, ia berlutut di tanah.


“Suguro-san ... Tidak, Suguro-aniki, mohon terima aku menjadi adikmu!!”


Dan kemudian, ia menundukkan kepalanya ke tanah.


Adegan ini yang tidak cocok dengan SMA elit, melainkan lebih cocok untuk drama yakuza tua.


“Aku bisa melakukan apa pun untukmu, tapi tolong terimalah aku sebagai adik Suguro-aniki!”


….Setelah kejadian ini, Suguro yang akhirnya memahami segalanya, berteriak: “Jangan lakukan sesuatu yang bisa membuat orang lain salah paham! DASAR BEGO!!”


Akhirnya, bahkan belum sampai 5 detik kemudian, pria kekar itu dihajar sekali lagi.


◆◆◆


“Oh ... Kekeke ... Sungguh bencana besar ... Kekeke.”


“Shima, kau terlalu banyak tertawa.”


Shima ingin menunjukkan ekspresi simpatik, tapi dia tidak bisa mengendalikan tawanya.


Konekomaru menatapnya dengan tegas.


Keesokan harinya, saat mereka duduk di lapangan untuk makan, Shima tidak bisa berhenti tertawa saat mendengar cerita ini.


Konekomaru menunjukkan ekspresi simpatik dan mengatakan: “Bon, sejak dahulu kau memang begitu macho ...” Bahkan pujian ini pun tidak terasa menyenangkan.


Tentu saja, Suguro hanya menunjukkan wajah masam sampai saat ini.


Si pria Hanamura masih saja bersikeras untuk dijadikan adik, meskipun dia sudah dihajar oleh Suguro. Dia merasa bahwa sudah menghajar pria itu sampai kapok…. Tapi nyatanya dia masih saja membuntuti Suguro bagaikan bayangan. Setiap kali bertemu, dia selalu saja memohon untuk dijadikan adik.


Tidak heran Suguro sangat kesal.


Bahkan belum sampai siang, dan ia merasa lelah dan hari ini telah berakhir baginya.


“Oh ... Sudahlah, bukankah ini bagus?”


Shima yang masih tidak bisa berhenti tertawa, menepuk bahu Suguro.


“Apanya yang bagus, berhentilah mengejekku.”


Suguro melotot pada Shima bahkan lebih mengerikan daripada biasanya. Ekspresi sangarnya bagaikan monster yang sedang menggeram, dan suaranya pun hampir terdengar.


Shima cepat menghiburnya dengan mengatakan: “Atau mungkin Buddha mengisyaratkan bahwa kau harus menjalani hidup dengan lebih santai?”


Masa muda tidak akan datang dua kali, jadi mungkin kau harus merasakan kehidupan asmara kaum muda ...


Kata-kata ini hampir terselip dari bibir Shima.


“….Tidak.” Suguro menggeleng. “Kejaian ini membuatku merenung semakin dalam.”


“Apa?”


“Bon?”


Ketika Shima dan Konekomaru terkejut hampir bersamaan, Suguro mengepalkan tinjunya begitu erat sampai-sampai urat di tangannya mengeras.


“Kejadian ini adalah hukuman bagiku karena telah terombang-ambing oleh cinta.”


“Eh?”


“Buddha mengingatkanku bahwa jika aku punya waktu untuk coba-coba dalam percintaan, maka lebih baik aku menghabiskannya untuk berlatih agar menjadi Exorcist yang hebat.”


Sumpit yang dipegangnya dengan erat pecah menjadi dua.


“Aku harus membuat rencana latihan seratus kali lebih keras daripada yang kulakukan saat ini.”


“Eh, eh eh eh eh ... ?! Jadi itu kesimpulanmu?!”


Shima membuat ekspresi yang seakan mengatakan: “orang ini sudah tak tertolong”, kemudian dia berteriak.


“Dengan begitu, kau tidak akan bisa berkembang ... Eh ... Ampun deh, kau sungguh tak normal.”


Konekomaru menambahkan: “Bon memang hebat, sungguh luar biasa.”


Dia dengan tulus mengaguminya.


“Bon, kau dapat melakukannya!! Aku akan mendukungmu sepenuhnya.”


“Oh!”


Setelah mendengar dukungan dari Konekomaru, Suguro mengangguk dengan mantap.


Hanya Shima yang masih tidak mengerti. Ia mengeluh sambil menggigit rotinya dengan sedih: “Dia benar-benar tak normal.”


…Dan dengan demikian, ia memulai kehidupan sehari-hari dengan pantang menyerah dan kerja keras.

Bab 4: Tim Penyelamat Okumura Rin[edit]

AnEv1i5.jpg

(... Benar-benar berantakan.)


Okumura Yukio menghela napas sembari memegang lembar jawaban ujian di tangannya. Pada lembar jawaban, di samping coretan nama yang mirip cacing kepanasan, nilai 2.5 (bukan 25 lho) tertulis di sana dengan angka besar. Tentu saja kertas itu bukanlah lembar jawaban ujian miliknya.


Pemilik lembar jawaban itu adalah kakak kembarnya, Okumura Rin. Dia sedang berbaring di tempat tidurnya sambil membaca, dan berulang kali mengusap air matanya karena terharu oleh cerita Jump SQ [23] yang Yukio telah beli. Sesekali dia mendengus keras karena ingusnya mulai menetes, dan itu semakin membuat jengkel orang yang melihatnya.


Singkatnya, ia merusak pemandangan.


“Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa terjadi sesuatu yang begitu tragis di dunia ini ... Ohh.” Suatu bencana sudah dekat. Namun bencana yang dia maksud adalah cerita di dalam manga, dan dia begitu tenggelam dalam karakter manga tersebut. Akan tetapi, dia belum tentu menyukai acara drama TV menyedihkan, atau kisah-kisah cengeng lainnya. Sedangkan Yukio lebih selektif dalam menikmati plot suatu cerita.


(….Otak Nii-san lah yang lebih tragis.)


Setelah mengeluh kepada dirinya sendiri, ia melihat lagi lembar jawaban ujian kakaknya di atas meja, dan merasa bahwa sakit kepalanya kembali datang.


Skor terbaiknya hanyalah 2,5. Hanya hantu yang tidak merasakan sakit kepala ketika melihat lembar jawaban seperti itu. Pada lembar jawaban lainnya, nilai yang dia peroleh adalah 0.3, 1.2, dll… orang lain pasti akan kesulitan membedakan apakah kertas itu layak disebut lembar jawaban ujian ataukah bukan.


Sebenarnya, Nii-san bahkan tidak akan masuk SMA Akademi Ordo Salib jika dia melalui tes normal. Agar dia mengikuti kelas Exorcist di sekolah, Mephistopheles menggunakan otoritasnya sebagai Ketua untuk meloloskannya. Dengan kata lain, dia tidak melalui apa yang disebut sebagai ujian-masuk-super-sulit, sehingga walaupun mengerjakan ujian biasa, nilainya tidak akan bisa bersaing dengan siswa lainnya.


Meski begitu, ini terlalu mengerikan.


Jika ia tidak mendapatkan nilai yang bagus pada ujian akhir pekan depan, ia bisa dikeluarkan.


Yukio masih memegang lembar jawaban itu, berdiri dari kursinya, kemudian dia berjalan perlahan ke kakaknya yang tidur sambil membaca Jump SQ.


“Ah, hey kau… kembalikan SQ itu padaku.”


“Sejak awal, ini adalah punyaku. Pokoknya, nii-san, kau harus tahu bahwa ini bukanlah saatnya untuk bermalas-malasan sambil baca Manga.”


Rin memprotes keras meskipun majalah itu bukan miliknya. Yukio menjejalkan tumpukan kertas ujian berisikan banyak tanda silang di depan Rin, kemudian dia bersedekap dan menyipitkan matanya.


“Nilainya hanya 0,8. Dan yang ini 1,7 ... Dan kau bahkan salah menulis namamu di sini.”


“Aku, apa yang bisa aku lakukan? Namamu “雪 男” (Yukio) sangat sederhana, dan aku adalah “燐” (Rin). Itu adalah Kanji yang sangat sulit untuk ditulis!” [24]


“Baik, kalau begitu akan kubiarkan kau kembali ke pelajaran SD, sehingga kau boleh menulisnya dalam Hiragana. Jika kau menulis seperti ini, bunyinya bukanlah “Okumura Rin” karena akan menjadi “Okumura Ryuu”. Siapa Okumura Ryuu?”


“…Huu huu.”


“Aku belum selesai. Bahkan lembar jawaban pelajaran Bahasa Inggrismu tertulis “RIM OKIMVRA”. Kapan kau menjadi orang asing?”


“......”


“Aku benar-benar khawatir tentang masa depan Nii-san.”


Yukio mendesah sambil mendorong kacamatanya.


Rin duduk di tempat tidurnya dan bersiul dengan suara mendesing. Dia berencana untuk mengabaikan ini, dan di wajahnya tidak ada sedikitpun raut penyesalan. Dan juga, siulannya memiliki melodi dan setelah ia menemukan kesempatan, dia mencoba untuk merebut SQ kembali dari Yukio.


Yukio benar-benar merasa sangat khawatir tentang masa depan kakaknya.


Selama Mephisto masih menjadi ketua, ia bisa membuat atasan untuk pura-pura mengabaikannya. Tetapi sebagai adik, dia masih berharap bahwa Rin bisa melewati semester ini dengan nilai yang lebih normal.


Hari ini adalah hari Jum’at, yang berarti hanya jeda 2 hari sampai ujian sesungguhnya di hari Senin. Jika metode wayangan dikerjakan selama sisa 2 hari ini, dan dia mendapatkan sedikit keberuntungan, maka mungkin saja kakaknya bisa lulus.


Namun, ada suatu lubang menganga dalam rencana ini.


Tentu saja orang yang mengajar Rin adalah Yukio. Tapi, ada gunungan dokumen yang harus diselesaikan pada akhir periode mendatang. Dan juga, dia adalah salah satu siswa di kelas berbakat SMA Akademi Ordo Salib, sehingga bersamaan dengan pekerjaan sebagai guru di kelas Exorcist-nya, ia memiliki kesibukan yang tiada habisnya. Senin depan, selain mempersiapkan ujiannya sendiri, ia juga harus mengatur soal-soal ujian akhir untuk kelas Exorcist. Selain itu, ia juga harus menyampaikan laporan untuk hal-hal seperti: pengajuan permohonan izin untuk mengadakan kelas ekstra remidi selama liburan musim panas.


Bahkan, mungkin saja ada misi Exorcist di menit-menit terakhir.


Dia benar-benar tidak punya waktu luang yang dihabiskan untuk mengajari kakaknya.


Kemungkinan terbaiknya adalah, Nii-san segera mulai belajar dengan tenang, tapi melihat situasi saat ini, itu tidak mungkin terjadi. Dia kemungkinan besar akan terus membaca manga-nya dan mulai tidur ketika sudah merasa lelah. Dia mungkin akan menghabiskan esok hari dengan aktivitas serupa.


(Aku tidak punya pilihan……)


Yukio kembali ke mejanya dan mengangkat teleponnya. Dia membuka kontak berisikan kelompok kelas Exorcist, lantas menekan salah satu nomor.


Orang yang ditelponnya menanggapi setelah tiga kali bunyi deringan.


Wajah Yukio yang semula cemas dan depresi, langsung menjadi lebih tenang, dan ia menggunakan suara lembut untuk berbicara.


“….Ah, apakah ini Suguro-san? Aku Okumura-sensei. Maaf karena telah mengganggumu semalam ini. Bagaimana persiapan ujianmu? Apakah lancar? Ah, aku paham ... Suguro-san memang hebat, aku benar-benar menginginkan Nii-san belajar darimu. Sebenarnya alasan kenapa aku menelponmu, ada suatu permintaan pribadi…”


Beberapa menit telah berlalu. Ketika Yukio menutup telepon, kakaknya sudah menyambar kembali SQ, dan sekali lagi berbaring di tempat tidur sembari terisak-isak dengan keras.


◆◆◆


-Pada keesokan harinya, asrama laki-laki Akademi Ordo Salib terasa lebih ramai daripada biasanya.


Akademi Ordo Salib adalah suatu boarding school [25], sehingga hampir semua siswa tinggal di asrama. Namun, siswa tinggal di blok yang baru dibangun, dan hanya Okumura bersaudara yang menggunakan blok ini. Penampilannya begitu tua, mirip hotel berhantu.


-Salah satu kamar di blok tua- unit 104 berbeda dari unit 602 yang biasanya digunakan oleh mereka.


Hari ini, semua yang berkumpul di sini adalah Suguro Ryuuji, Shima Renzou, Miwa Konekomaru, Kamiki Izumo ... hampir semua siswa kelas satu Exorcist datang, dan semua orang membawa ransel olahraga, seperti ketika mereka hendak menginap bersama.


“... Dengan kata lain, kita hanya perlu mengajar Okumura, bagaimana caranya belajar dengan baik?” Suguro mewakili kelompok itu untuk bertanya.


Tanpa furnitur, ruang asrama tampak sangat luas ... atau lebih tepatnya, sepi. Pada tengah-tengah ruangan, ada meja panjang yang sering terlihat pada asrama-asrama umumnya. Rin yang tampak tak bahagia dipaksa duduk di depan meja, sedangkan Yukio berdiri di sampingnya dan berbicara dengan suara lembut, seolah-olah mereka sedang berada di kelas:


“Aku sungguh minta maaf kepada kalian semua, karena telah mengambil waktu berharga kalian sebelum ujian. Kupikir, ini akan lebih mudah daripada mengajari seekor monyet, jadi semuanya…. Tolong bantu kakakku ya. Aku berada di ruang sebelan, jadi kalau ada apa-apa, langsung saja panggil aku… aku akan segera kembali untuk melihat.”


Setelah ia membungkuk pada semuanya untuk memohon pertolongan, dia berbalik menghadap kakaknya yang berteriak: “SIAPA YANG KAU SEBUT MONYET?”


“Nii-san, jika kau berani melarikan diri, aku akan membuatmu duduk tegak sambil menahan Bariyon sepanjang malam. Lebih baik kau berperilaku baik.”


Yukio tersenyum saat berbicara, kemudian ia berjalan keluar dari pintu setelahnya. Asal tahu saja, Bariyon adalah iblis yang merasuki batu atau karang. Iblis itu mengeluarkan suara-suara aneh, namun tidak berbahaya. Tapi dia sangat berat, jadi jika ditempatkan pada lutut saat duduk tegak, itu akan mirip seperti metode penyiksaan pada zaman Edo.


“Dia memang sudah menjadi iblis.” kata Shima. “Iblis berekspresi cerah.”


“Aku benar-benar merepotkan kalian semua ... karena telah mengganggu waktu istirahat kalian yang berharga.”


Setelah menatap pintu yang baru saja dilalui Yukio dengan kesal, Rin meminta maaf kepada teman-teman sekelasnya yang berjalan ke dalam ruangan sambil menggaruk-garuk kepala.


“Lagi-lagi aku merepotkan orang lain.”


“…Memang, betapa merepotkan.”


Izumo mengerutkan bibirnya sambil mengeluh. Dia mengambil setumpuk buku diktat dari ranselnya, kemudian meletakkan itu di atas meja.


“... M-maaf.”


Mendengar Izumo mengatakan itu, Rin merasa sangat bersalah.


“Ketika ada yang menghadapi kesulitan, kita harus saling membantu, Okumura-kun.”


Konekomaru segera menghibur, kemudian ia menoleh pada Suguro yang ada di belakangnya.


“Benar, ‘kan? Bon.”


“Apa pun itu, dia sudah tenggelam sampai sejauh ini, jadi kami harus membantu.”


Suguro menjawab, kemudian menempatkan rensel terbesar di antara ransel-rensel yang dibawa teman-temannya di sudut ruangan. Selain banyak buku diktat, buku tugas, dan catatan, ada sesuatu yang tampak seperti tiang kayu yang mencuat keluar dari ransel olahraganya.


Jantung Rin berdegup kencang.


(A-apa itu? Itu terlihat seperti pedang kayu datar ... Apa yang akan dia lakukan dengan itu ...)


Dia begitu ingin menanyakan keingin tahuannya, tapi ia juga tidak mau membodohi dirinya sendiri. Selain membuat orang lian curiga, dia berpikir bahwa mungkin saja hantu akan keluar dari benda itu.


Pada Rin yang gelisah, Suguro bertanya: “Oh iya, mata pelajaran apa yang paling tidak kau mengerti? Bahasa Jepang Modern? Bahasa Jepang Klasik? Matematika? Ekonomi?”


“Inggris. Tampak Okumura-kun paling takut sama bahasa Inggris.”


Shima menyela sembari menempatkan ranselnya di dinding ruangan.


“Kemaren, ia bahkan mengatakan bahwa dia adalah seorang “Mistake man”, harusnya “Mystic”, kan?” [26]


“Ya, memang bahasa Inggris. Tapi, lebih baik jangan belajar terlalu banyak. Fokuskan saja pada mata pelajaran yang paling sulit… Apakah ada pelajaran lain yang menjadi kelemahanmu?” 


“Hmm, pelajaran lain yang menjadi kelemahanku adalah ......” Rin memutar otak sambil menurunkan suaranya. “Semuanya…”


Suguro segera tercengang setelah mendengar itu.


“Semuanya? Semuanya katamu ... Hanya tersisa dua hari lagi, bagaimana mungkin kau bisa menguasainya hanya dalam dua hari ini!!”


“Jika setiap orang bertanggung jawab atas mata pelajaran yang berbeda, lantas mengajarinya, maka sepertinya masalah ini teratasi.”


Melihat Suguro yang gelisah, Konekomaru dengan cepat menenangkannya. Di samping mereka, Shima membuka amplop berwarna seperti kopi.


“Oh, barusan saja Okumura-sensei menyerahkan ini kepadaku sebelum pergi.”


Adakah soal-soal ujian di dalam sini? ... Shima berpikir begitu sambil membuka amplop yang Yukio berikan. Akhirnya, munculah tumpukan lembar jawaban ujian yang suram dari dalam amplop tersebut ...


Semua orang terdiam.


“1.2 ... ?!”


“Apa itu, hasil untuk tes visi?” [27]


“Ini bukan sesuatu yang dapat diselesaikan hanya dalam waktu 2 hari.”


Semuanya saling memandang. Bahkan Konekomaru yang biasanya menjadi penengah, kini tak bisa berkata apapun. Rin semakin meringkuk.


“-Baiklah, jangan khawatir, Okumura-kun.”


Shima yang tanpa sengaja membuat suasana semakin muram beberapa derajat, tiba-tiba menggunakan nada cerah untuk berbicara.


“Izumo adalah peraih nilai terbaik di kelas, Bon memiliki bakat untuk menjadi cabul… bukan, bukan, maksudku jenius. Konekomaru baik dalam mengajari orang lain, dan Takara-kun ......”


Ketika ia menyebutkan nama itu, dia pun melempar tatapan matanya ke arah lain. Takara, siswa paling misterius dan tenang di kelas ini hanya mengutak-atik bonekanya, dan mengeluarkan suara perut tanpa peduli pada situasi di sekitarnya.


Lagipula, mengapa dia bisa datang ke sini, itu masih menjadi misteri.


“Aku pikir dia cukup pintar.”


Shima dengan paksa mengacungkan ibu jarinya, dan memperbaiki pernyataannya.


“Kita akan bisa menyebrangi jempatan sepanjang apapun asalkan bersama, dan jangan pernah percaya adanya malam tak berujung.”


“Oh!”


Rin hanya bisa bertepuk tangan dengan sorakan terpaksa mirip seperti yang biasa terdengar di iklan-iklan. Namun, Suguro memelototi Shima dengan curiga.


“Ada apa denganmu, berbicara begitu penuh semangat tapi kau bahkan tidak menyertakan dirimu sendiri. Apakah kau punya hak untuk mengajari yang lainnya?”


Shima dengan bangga menertawakan pertanyaan Suguro. “Kekeke, Bon, jangan memandang rendah diriku. Selama 3 tahun aku bersekolah, nilai pendidikan jasmaniku selalu mendapatkan 120. Kamiki, aku menakjubkan, bukan ♡?”


“Eh ... Tapi pendidikan jasmani tidak diujikan dalam tes akhir besok.”


Karena tiba-tiba dimintai persetujuan, Izumo mengangkat kepalanya untuk menatap Shima sambil melangkah mundur. Dia juga menjaga jarak dari Shima yang selalu tampak mesum.


“Pendidikan jasmani tidak penting. Bagaimana tentang mata pelajaran lain? Jangan-jangan nilaimu tak berbeda jauh dari Okumura.”


“Hahaha, aku tidak seburuk itu. Rata-rataku untuk semua mata pelajaran masihlah bernilai 15.”


Shima mengumumkanya dengan dingin, sementara seluruh ruangan tenggelam dalam keheningan lagi.


Hanya Rin yang memberikan tatapan kagum.


“15 adalah berkali-kali lipat dari nilai rata-rataku. Betapa menakjubkan, Shima, sebenarnya kau sungguh memiliki otak.”


“Aku benar, kan? Semua orang mengatakan bahwa aku adalah pria yang akan berusaha secara total.”


Setelah mendengar pujian Rin, Shima juga membusungkan dadanya dengan bangga.


“Tidak, aku sakit kepala.” Suguro mencengkeram kepalanya.


….Akhirnya, Shima dan Rin harus dibimbing langsung oleh siswa lain.


Rin dan Shima duduk berdampingan sambil menghadap jendela. Di hadapan mereka adalah Suguro, Konekomaru dan Izumo. Paku duduk di samping Izumo, tapi ia tampaknya kurang tertarik.


“Akan lebih baik jika Shima dan Okumura duduk terpisah.” saran Suguro.


“Bagi semuanya menjadi 2 kelompok, yang satu untuk mengajar Shima dan satunya lagi mengajar Okumura-kun, kan?” Konekomaru menjawab saran Suguro, kemudian dia dengan cepat berkata: “Atau mungkin dibagi per mata pelajaran?”


Dengan pendengaran yang baik, Shima segera berbicara setelah mendengar itu: “Kalau begitu, dapatkah aku memiliki Izumo sebagai pembimbingku ~~?”


Dia tiba-tiba menjadi sangat antusias, dan bahkan membungkuk ke depan untuk lebih dekat dengan Izumo yang duduk di seberangnya.


“Ajari aku dengan lembut, oke? Kau begitu manis dan cantik hari ini, dan bintang-bintang pada kemejamu begitu cocok denganmu ♡”


Shima-benar menunjukkan keinginannya, sehingga Suguro menjambak rambut merah mudanya dan menariknya mundur.


“Kau dengan aku.”


“Eh ... Bon!”


“Aku akan melakukannya empat mata denganmu.”


Ketika ditatap oleh mata yang tampak seperti setan, Shima pun mengempis bagaikan balon.


Dia menatap Konekomaru yang berada di sebelah Suguro, kemudian melihatnya dengan ekspresi memelas.


“Lebih baik Shima menjaga hawa nafsunya.”


“Bahkan Konekomaru juga ...”


Di depan Shima yang mendesah dan menundukkan kepalanya, Suguro tanpa ampun menumpuk buku-buku pertanyaan sampai setinggi gunung. Setelah itu, ia dengan cepat melingkari halaman-halaman tertentu, dan memberinya tanda.


“Dalam waktu satu jam, selesaikan semua pertanyaan itu, kemudian berikan kembali padaku. Dengarkan dengan seksama ketika aku menjelaskan. Jika kau gagal, aku tak akan bisa menghadap Yaozou.” [28]


“Ini terlalu berlebihan ... Saat ini, seharusnya ada seorang gadis yang mengajarku dengan lembut dan tepat, kemudian muncul benih-benih cinta diantara kami ... Ini harusnya berakhir dengan asmara, tapi kenapa malah jadi seperti ini?”


Hampir nangis, Shima masih menatap Izumo dengan getol.


Melihat Shima yang masih saja mengumbar nafsunya meskipun dia seorang biarawan, pembuluh darah pada pelipis Suguro pun menebal.


“Konekomaru, ambilkan Keisaku dan pukul dia dengan keras.”


Dia memberikan perintah, dan ekspresi Konekomaru berubah jadi serius, ia pun mengangguk sebelum mengambil tongkat kayu panjang dari ransel olahraga milik Suguro.


Keisaku biasa digunakan untuk meningkatkan konsentrasi seseorang selama meditasi di kuil. Tampkanya, tongkat itu sudah sering digunakan untuk waktu yang lama.


Konekomaru berdiri di belakang Shima dan mengangkat Keisaku yang hampir setinggi tubuhnya, sementara wajah Shima berubah menjadi hijau segera setelah melihatnya.


“... Tidak, tidak mungkin, kau tidak akan mungkin melakukannya, kan? Kau hanya berpura-pura, ‘kan? Ko-konekomaru?”


“Shima, kau bersalah.”


Konekomaru menutup kedua matanya dan berkata dengan nada menyakitkan, tapi setelah melepaskan teriakan keras, dia menunjukkan keyakinan pada raut wajahnya sambil menyiapkan tongkat tersebut dengan mantab. Di saat berikutnya ...


BRAAAKKK……


Suara berat seperti ketika merobek daging, terdengar di ruangan itu.


“AH C.I.U (talk) 05:36, 25 April 2017 (CEST) !!”


Langsung saja, Shima melepaskan jeritan melengking, seolah-olah dia melihat kawanan serangga yang bergemerisik.


Matanya putih, dan dia rebahan di meja.


Suguro hanya melihat jam tangan, seolah-olah tidak ada yang terjadi.


“Lima puluh tujuh menit tersisa.”


Dengan tenang, dia menghitung mundur waktu yang tersisa.


“B-begitu menakutkan ...”


Adegan tragis di depan Rin membuat sekujur tubuhnya menggigil, kemudian dia dengan cemas menjaga jarak dari tiga orang itu.


Meskipun ia bisa bersimpati terhadap Shima, ia merasa beruntung bahwa tongkat panjang itu tidak digunakan padanya.


Tidak lama setelah tenang, ia langsung disambar oleh Izumo yang menunggunya.


“Kamu denganku.”


“Wh-whoa!”


Di hadapan tatapan mata Izumo yang penuh amarah, dan alisnya yang berkerut, Rin duduk di ujung meja yang berlawanan dengannya. Izumo mengambil catatannya, kemudian membuangnya di hadapan Rin.


“Dengarkan! Untuk matematika, kau hanya perlu mengingat rumus sehingga kau bisa mendapatkan nilai yang memuaskan. Setelah itu, kau harus memahami poin pentingnya…….”


“Wow, sungguh indah, tulisanmu super indah.”


Tulisannya tampak seperti koreksi yang biasa guru tulis, dan langkah-langkah pengerjaan soal terlihat seperti yang ada di buku diktat. Tanda stabilo terlihat di mana-mana, dan kadang-kadang ada penjelasan bergambar. Itu adalah catatan seorang gadis yang begitu presisi: mudah dibaca dan sangat sederhana untuk mengerti.


Melihat catatan yang jauh berbeda dari miliknya, Rin pun sangat tersentuh, dia memuji Izumo dari lubuk hatinya yang terdalam: “Aku baru tahu bahwa ternyata kau sepintar ini.”


“I ... I-ini bukan apa-apa! Aneh rasanya jika melihat dirimu yang kerjanya hanya tidur selama kelas berlangsung, dan bahkan tidak menyalin catatan apapun. Buat apa kau pergi ke sekolah!”


Dengan telinganya yang memerah, Izumo lagi-lagi mengangkat alisnya sambil menatap Rin. Aku masih dimarahi, padahal aku sedang memuji seseorang, pikir Rin.


(Betapa menakutkan ...) Dia menjadi begitu gugup sampai-sampai seluruh tubuhnya mengaku.


“Aku akan mulai dari pertanyaan ini, oke? Mengapa kau masih bengong? Cepatlah dan keluarkan pensil mekanikmu!”


“…Oh baiklah.”


Seperti binatang peliharaan, Rin dengan patuh mengikuti perintahnya, lantas dia mengeluarkan pensil mekanik miliknya.


Seiring dengan omelan Izumo, dia mulai memecahkan soal-soal matematika


Namun, kepalanya hanya berkibas ke kiri dan kanan, dia sama sekali tidak ada kemajuan dalam menyelesaikan soal itu.


Guratan demi guratan otot muncul di dahi Izumo dengan perlahan-lahan.


Lantas, dia dengan cemas bertanya:


“... Jangan bilang bahwa kau bahkan tidak tahu berapakah jawaban sembilan kali sembilan ...”


“Nah, aku tahu. Dua kali dua adalah empat, dua kali tiga adalah enam”


“Delapan kali sembilan…….”


“Empat puluh dua.”


Rin dengan girang menjawab pertanyaan Izumo.


Sambil memejamkan kedua matanya, Izumo menggebrakkan kedua tangannya di meja.


Meja tua itu mulai mengeluarkan suara mendecit.


“... Delapan kali sembilan adalah tujuh puluh dua.”


“Eh? Tujuh puluh dua? Bukankah aku tadi mengatakan itu?”


Rin mengacak-acak rambutnya yang berantakan, dan dia ingin menyelesaikan ini hanya dengan menggunakan senyuman. Izumo memelototi dia dengan tajam dan berkata: “Tadi kau jelas-jelas mengatakan empat puluh dua, empat puluh dua! Jawaban yang benar adalah tujuh puluh dua! Mengapa ketika delapan kali delapan sama dengan enam puluh empat, hasilnya delapan kali sembilan justru lebih kecil dari itu?? Mengapa justru lebih kecil??!!!!”


“Jangan mempermasalahkan hal-hal sepele seperti itu, itu hanyalah angka, jadi bedanya tidak terlalu jauh.”


“Tentu saja aku mempermasalahkannya! Apa kau tidak tahu? Perkalian hingga sembilan kali sembilan sudah diajarkan sejak SD kelas 2, bagaimana caranya merubahmu menjadi siswa sekolah menengah hanya dalam waktu 2 hari?!”


“Jangan marah, berusahalah dengan sebaik-baiknya ya, mbak alis tebal.”


“Satu-satunya orang yang harus berusaha sebaik-baiknya di sini adalah kau!! Dan jangan panggil aku mbak alis tebal!!”


Seolah-olah tidak ada yang terjadi, Rin menepuk bahu Izumo dan itu semakin membuatnya geram. Tentu saja, masih belum ada kemajuan pada soal yang dia kerjakan.


“Hebat bener ... Okumura-kun bisa bertengkar dengan Izumo bagaikan sepasang kekasih.”


Shima yang juga dipaksa untuk mengerjakan soal latihan, melihat mereka dan bergumam dengan iri.


Matanya penuh dengan hasrat, dan air mata yang tak terbendung bahkan mengalir di kelopak matanya.


“Shima.”


Sampai segitunya Shima menginginkan seorang gadis, dan Konekomaru hanya bisa menunjukkan ekspresi: “apa boleh buat lah….”.


Sembari duduk berlawanan dengan Shima, Suguro yang sedang bersedekap tiba-tiba menghadapkan wajah iblisnya pada Shima, dan mengatakan: “Kau begitu menginginkan pertengkaran antar kekasih karena otakmu hanya dipenuhi oleh hawa nafsu. Konekomaru, lakukan lagi!!” Suguro menoleh pada Konekomaru, lantas dia dengan ringan menganggukkan kepalanya.


Ketika Shima menyadari, Keisaku di belakangnya sudah terangkat tinggi ke udara.


“Eh, eh ... T-tunggu!”


“Hawa nafsu, pergilah!! HAARGH !!”


“Waahhhh ~~ !!”


Sekali lagi, sebagian nyawa Shima lepas dari mulutnya, kemudian lenyap di udara. Lagi-lagi, Shima rebahan di meja dengan mata putih.


“Shima, jangan mati! Aku tidak akan mengijinkan kau mati!!”


“Cepat selesaikan soalmu!!”


Di sudut dinding, Takara yang matanya tidak jelas sedang tertutup atau terbuka, menatap mereka dan berkata:


“Hmph ... betapa berisik sekumpulan bocah ini.” Dengan menggunakan suara perut, boneka kelinci putih di tangannya berbicara.


Asal tahu saja, tak seorang pun pernah mendengar suara bocah ini.


◆◆◆


Sejak jam setengah sembilan pagi sampai sekarang (jam 12 siang lebih), Shima dan Rin masih saja mengeluh.


“Tidak mungkin! Aku tidak bisa melakukan ini! Hawanya terlalu panas, sampai-sampai aku tidak bisa berpikir! Otakku mencair !!”


“Aku juga ... Aku tidak bisa melakukannya ... jika aku tidak bisa mendapatkan udara segar ... aku akan mati.”


Sekarang, sudah pertengahan Juli. Dengan matahari yang bersinar terik, asrama tua tanpa AC itu terasa bagaikan sauna.


Selain dua orang yang dipaksa untuk mengerjakan soal, bahkan teman-temannya yang bertanggung jawab sebagai pengajar juga mulai kelelahan. Hanya Takara yang tidak melakukan apa-apa yang masih energik. Tuhan tahu tubuhnya terbuat dari apa, melihat itu dalam hawa panas yang memusingkan seperti ini, dia sama sekali tak terpengaruh.


“…Aku mulai menyerah mengajarimu. Baiklah, istirahat sepuluh menit dulu.” kata Suguro sambil menggunakan handuk untuk menyeka keringatnya.


Izumo menghela napas panjang sambil mengipasi dirinya sendiri, rambutnya yang berantakan menempel lengket pada lehernya yang pucat.


Konekomaru juga akhirnya meletakkan Keisaku itu.


“Eh ... hanya sepuluh menit. Bon ... itu terlalu kejam.”


“Tidak terima? Kalau begitu lima menit, Shima.”


“... aku mau ke toilet.”


Shima menahan air mata sedihnya, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan bersama Rin ke koridor untuk mengambil udara segar.


Karena asrama ini sudah cukup tua, sesekali terdengar decitan keras pada koridor. Shima dengan kikuk berlari di belakang Rin yang berbalik lesu.


“Hei, Shima ...”


“Okumura, ayo kita melarikan diri.” Shima berbisik kepada Rin dengan wajah penuh dengan semangat.


“Melarikan diri? Bagaimana caranya…..”


“Shh.” Shima dengan cepat mencoba untuk membungkam Rin, sambil menatap sekeliling.


“Karena Bon adalah pengawasnya, maka kita tidak akan pernah tahu kapankah istirahat selanjutnya. Jadi, sekarang adalah satu-satunya kesempatan kita.”


Shima berlagak bagaikan aktor dalam film mata-mata, tapi Rin menjawab dengan nada tertekan.


“Tapi, kata Yukio kalau kita lolos, Bariyon itu akan menimpa kita ...”


“Kalau begitu, ya jangan sampai tertangkap. Kalau mereka tidak bisa menemukan kita, bagaimana bisa kita dihukum?”


Setelah Shima berbicara, dia meletakkan kedua tangan bersamaan, dan berkata: “Ini terlalu aneh”


“Sekarang adalah musim panas. Biasanya musim panas harus diisi dengan banyak hal-hal yang membahagiakan, kita harus mendapatkan musim panas yang penuh dengan suka cita. Seharusnya kita melihat: gadis-gadis berpakaian renang, pakaian renang, pakaian renang, pakaian renang, pakaian renang, pakaian renang, pakaian renang, pakaian renang, dan pakaian renang,…. Tapi kenapa kita harus menderita dengan belajar di ruangan mirip sauna ini? Benar kan, Okumura?”


“Hei, dari tadi kau hanya ngomongin pakaian renang saja.”


“Satu-satunya hal yang sebanding dengan gadis-gadis berpakaian renang, adalah gadis-gadis di kamar setelah mandi.”


“Bukannya aku tidak mengerti perasaanmu ... Tapi kalo logika sederhana seperti itu, aku juga tahu.” Rin setuju.


Lantas, mereka berdua saling memandang satu sama lain, dan mengangguk tanpa kata. Satu-satunya hal yang berbeda adalah, ekspresi Shima jauh lebih bersemangat. Mereka berdua menuju ke gerbang asrama.


“BRUUUUUKK” bahu mereka tiba-tiba terhantam dengan keras, dan pada saat yang sama, tangan yang tebal muncul.


“….. Bolehkan aku bertanya mau kemanakah kalian berdua?”


Suaranya mantab dan kekuatan cengkramannya bahkan sebanding dengan gorila, itu langsung membuat jantung mereka berpacu kencang. Dengan wajah menghijau, mereka berbalik ketakutan.


Itu adalah pemandangan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya: Suguro tersenyum lebar.


“Su-Suguro ... H-hey ~ Bagaimana kabarmu? Meskipun kami bersama-sama ...”


“B-Bon... kau di sini???”


“Hawanya benar-benar panas, jadi aku ingin pergi ke luar untuk mencari angin sejuk. Tapi, toiletnya bukan di sana, Shima.” Suguro menjawab dengan senyum sementara tetesan keringat mulai mengalir di pelipis Shima.


“Ah, y-ya, toiletnya ada di sana yaa, aku sangat ceroboh ~~”


“Ha, hahaha ... Shima, kau seperti seorang idiot ~~ kau sudah sebesar ini tapi masih saja tersesat ~~”


Rin dengan cepat mencoba untuk menambahkan sesuatu agar mengakhiri situasi mengerikan ini.


“Kalian berdua mencoba melarikan diri, bukan?”


“!!”


Suguro bertanya dengan suara yang dalam, dengan senyum yang masih terpampang di wajahnya. Ekspresi mereka tiba-tiba membeku. “Whoa.”


“... Kau tampaknya tidak menyadari, demi siapakah kita repot-repot melakukan semua ini.”


Keduanya tidak dapat bergerak, bagaikan katak yang sedang diincar mangsanya. Senyum Suguro langsung berubah menjadi ekspresi yang bahkan dapat menakut-nakuti iblis dari neraka.


“Kembali ke kamarmu sekarang. Hukumannya hanyalah mengerjakan lebih banyak soal. Atau, aku punya rencana lainnya. Bagaimana? Mana yang lebih baik? Mana yang kau pilih.”


Suguro mengulurkan kedua lengannya yang bermunculan pembuluh-pembuluh darah tebal, sembari dia menggertakkan jari-jemarinya dengan keras.


“Baik”


“Kembali.”


Keduanya menjawab beruntun dengan suara mirip robot. Mereka terlihat bagaikan sapi yang dibawa ke tempat penjagalan.


Setelah musim panas tahun itu, sepertinya lagu sedih “Donna Donna” dapat terdengar dari suatu tempat. [29]


◆◆◆


….Ketika Yukio datang untuk mengirim bekal makan siang, tidak ada waktu istirahat dan mereka berdua dipaksa untuk menjawab soal non-stop, sampai Suguro mendengar melodi jam yang menunjukkan bahwa sekarang sudah pukul 05:00 sore.


“Baiklah, istirahat selama 30 menit.”


Ketika ia mengumumkan ini, Rin dan Shima sudah tidak memiliki kekuatan untuk melarikan diri.


Kedua orang itu beristirahat di lantai dengan lunglai, dan bersandar pada meja. Tidak ada yang memiliki sisa energi, bahkan mereka tak sanggup mengeluh bahwa 30 menit adalah waktu istirahat yang terlalu pendek.


Tanpa sadar, sinar matahari dari luar jendela telah menjadi merah tua, dan angin terasa lebih hangat.


“Betapa melelahkan ...” Izumo mengatakannya sembari mengatur rambutnya yang sedikit berantakan, kemudian mengikatnya model kuncir kuda. Shima yang biasanya menghidupkan suasana, kini hanya diam…. Tidak juga, ia berusaha yang terbaik untuk menjawab soal, tapi ia tak berdaya melawan kelelahannya ...


Melihat Shima, Konekomaru perlahan menempatkan Keisaku di atas meja, dan mengatakan: “Sepertinya kita tidak membutuhkan Keisaku ini lagi.”


“Konekomaru ... setelah kau terus-terusan menyedot hawa nafsu dariku, kau pikir apa lagi yang tersisa ...”


Shima yang tampak sekarat, seperti akan menangis darah.


Rin berbaring di lantai dengan posisi telentang, dan uap hangat bisa terlihat memancar dari kepalanya.


Suguro mendekati Izumo untuk bertanya: “Hei, Kamiki, bagaimana denganmu?”


“Dia berhasil menghafal tabel perkalian sampai 9x9 dengan bersusah payah.”


Izumo mengernyitkan alisnya saat ia menatap Rin yang masih rebahan di lantai.


Dengan seluruh wajahnya memerah dan hanya bagian putih matanya yang terlihat, Rin tampak berbicara sendiri dalam tidurnya, dan terus-terusan bergumam. “Empat kali dua sama dengan delapan, empat kali tiga sama dengan dua belas” Dia bahkan membuat kesalahan, dengan mengatakan bahwa empat kali lima sama dengan sepuluh.


“Tadi kan aku sudah bilang, hasilnya tak mungkin berkurang!” Izumo membentaknya dengan emosi, sebelum akhirnya dia melemaskan bahunya.


“... bagaimana bisa mereka menghadapi ujian dalam keadaan seperti ini?”


“Masa depannya terlihat suram.”


Suguro menekan pelipisnya.


Pada saat yang sama, Takara yang berada di seberang ruang mengatakan: “Cih ... berkat bocah-bocah ini, akupun jadi lelah.” boneka yang berada di tangannya pun merespon. “Kau memiliki saran?”


Suguro begitu marah, sampai-sampai dia bereaksi dengan berdiri.


“Kau hanya menonton! Lagi pula, apa yang kau kerjakan sejak awal!!”


“Lupakan saja.” Konekomaru segera menenangkan Suguro.


“Semuanya lelah. Okumura-sensei tadi bilang, bahwa dia akan membawa makan malam, jadi aku akan pergi untuk membeli beberapa es loli.”


“Oh, terima kasih.” Suguro mengucapkan terima kasih.


Di sampingnya, Rin bergumam tanpa nyawa: “Pop-es loli ...”


“Okumura-kun ingin es loli, kan?”


Konekomaru tersenyum sambil berjalan menuju pintu keluar. Ketika ia kesulitan membuka pintu, salah satu teman sekelas mereka, Moriyama Shiemi, muncul di depannya.


Dia selalu saja mengenakan Yukata ketika tidak bersekolah, hari ini ia mengenakan Yukata dengan motif yang imut. Dia juga membawa piring kayu besar, dengan kain bergambar burung.


“Ah, Miwa-kun.”


“Eh? Moriyama-san? Mengapa kamu di sini?”


“Oh, itu benar-benar Moriyama-san.”


“Shi-Shiemi ...?”


Pandangan semuanya tertuju pada suara Konekomaru berasal. Shiemi yang mudah gugup, mencoba sebisa mungkin untuk berbicara dengan wajah merona.


“Ah, Yuki-chan sudah menceritakan semuanya-”


Pada siang hari, Yukio pergi untuk mengunjungi mantan rumah Shiemi, yaotu Toko Exorcist yang khusus menjual perlengkapan Exorcist. Setelah mendengar tentang kejadian di asrama, dia meminta Yukio mengirim makan malam untuk semua orang.


“Karena aku tidak mengikuti kelas umum, jadi aku tidak bisa membantu kalian. Tapi jika aku ingin memasak ... harusnya aku masih bisa membantu ...”


Dia perlahan-lahan kehilangan kepercayaan dirinya, sampai suaranya hampir tidak terdengar. Tangannya yang memegang piring kayu juga gemetar tanpa henti.


Konekomaru mengambil piring dan menggunakan suara yang cukup keras untuk mengumumkan: “Hei semuanya, Moriyama-san akan membantu kita menyiapkan makan malam.”


Rin yang dari tadi roboh di lantai, dalam sekejap nyawanya langsung kembali ke raga.


“Yay, saatnya makan malam!”


“Shiemi-san memang hebat! Seorang gadis pemasak ... Kulihat semacam cahaya suci yang bersinar di belakangmu.” Shima menghadap Shiemi, sambil menyatukan kedua telapak tangannya dengan pose seperti berdoa.


Suguro tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


Melihat tanggapan semuanya, wajah Shiemi semakin merona, dan dia pun berkata: “I-Ini bukan apa-apa... meskipun tidak terlalu enak .... kuharap masakan hari ini berbeda dari hari biasanya.”


“Aku tak sabar memakannya.”


Konekomaru dengan lembut melepas kain dari piring kayu. Sesaat berikutnya, terdengar suara gemerisik dari piring kayu. Untungnya atau mungkin lebih tepat jika dikatakan sialnya, Konekomaru tidak pernah mendengar suara ini.


“Inikah yang akan kita makan?”


“Ya- Ini adalah biskuit vanilla dan sup herbal yangn cara memasaknya diajarkan oleh Nenek. I-ini adalah makanan terbaik yang pernah aku masak.” Jelas Shiemi.


“Akhirnya! sup dan biskuit buatan tangan seorang gadis! Oh ... ini bagaikan mimpi anak laki-laki!!”


Mendengar jawaban Shiemi, Shima begitu tersentuh sampai-sampai dia hampir menangis.


“... Sungguh, aku bersyukur telah diberi kesempatan hidup sampai saat ini.”


Bahkan setelah dihajar oleh Keisaku, nafsunya masih saja kembali.


“Ah, ada juga teh vanili. Aku membawanya dalam termos, jadi jangan minum berlebihan ya.”


“Oh-Meskipun aku tidak tahu apa itu, tetapi tampaknya lezat.”


Dari sisi lain meja, Rin sangat senang sampai-sampai ia meneteskan air liur. “Aku tidak tahu apa itu vanili, ahhh andaikan saja itu daging…” pikir Rin. Ekornya yang bersembunyi di balik pakaiannya hampir tidak bisa menahan goyang.


Di sampingnya, Suguro mengatakan: “Tampaknya baik untuk kesehatan tubuh.”


Dia juga merasa senang.


“Kalau begitu, aku akan meletakkannya di atas meja. Dapatkah kau membantuku menyingkirkan buku-bukunya terlebih dahulu?”


Konekomaru berjongkok dan menempatkan piring itu di sisi meja.


“Ah, Miwa-kun, aku juga akan membantu.”


“Apakah kita tidak perlu mengelap meja?”


Semuanya (tidak termasuk Takara) dengan senang hati membersihkan meja beserta benda-benda di atasnya. Hanya Izumo yang memperhatikan bahwa ada bau aneh dari balik kain itu, dan juga terdengar suara aneh ...


◆◆◆


“... Baiklah, laporannya akhirnya selesai.”


Yukio berhenti menatap kalkulator, lalu dia menggosok matanya yang cukup lelah. Setiap kali dia berkonsentrasi penuh pada tugas tertentu, dia akan keasyikan sampai lupa makan atau tidur. Ini adalah kebiasaan buruknya.


Langit di luar jendela sudah berwarna merah dan berawan.


Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan bahwa itu sudah melampaui pukul 17:00.


Yukio melakukan beberapa gerakan peregangan di kursinya. Bukan hanya matanya, bahkan bahu juga terasa begitu kaku.


“Aku penasaran, apa yang sedang dilakukan Nii-san dan yang lainnya?”


Sejak ia mengirim bento pada siang hari, ia tidak pernah menengok kelompok belajar itu lagi.


Karena Shiemi telah mengatakan bahwa dia akan membawakan makan malam untuk mereka, maka ia akan membeli beberapa minuman dan biskuit untuk melengkapinya. Itulah yang dipikirkan Yukio saat ia mengambil handphone dan dompetnya sebelum pergi.


Ruang di mana semuanya belajar adalah ruang 104 di lantai pertama. Meskipun bangunan itu sudah tua, keberisikan yang terjadi pada kamar mereka tidak akan mencapai Yukio yang berada di lantai enam.


Pada pintu utama asrama, Yukio mendengar suara gemuruh gembira. Shiemi tampaknya telah tiba, sehingga semuanya pasti sedang menikmati makan malam sekarang.


Dengan senyum lebar di wajahnya, Yukio berjalan keluar dari asrama.


Pada kompleks Akademi Ordo Salib yang diselimiti cahaya matahari senja, ia dengan santai melenggang ke supermarket terdekat. Panas terik pada siang hari, sekarang tergantikan oleh angin kering.


Meskipun ia mengkhawatirkan kelompok belajar itu, tapi ketika dia menengok mereka pada siang hari tadi, sepertinya kakaknya sedang belajar dengan serius. Sepertinya ‘belajar dengan tekun’ bukanlah kata yang tepat, itu lebih mirip ‘belajar terancam’ oleh sorotan mata Izumo dan Suguro yang mengerikan. Dia pun merasa bahwa tindakan kakaknya itu tidak wajar.


Tapi dengan begini, dia tidak perlu khawatir tentang Rin yang berusaha melarikan diri.


Entah kenapa, bahkan Shima juga mendapatkan kursus belajar singkat dari Suguro.


-Tampaknya tidak ada masalah serius. Rasa tanggung jawab Suguro sangatlah kuat, Konekomaru sangat pengertian, sementara Izumo adalah gadis yang serius dan pekerja keras.


Meskipun Yukio merencanakan ini dengan mendadak, namun tampaknya mengundang teman-teman sekelas untuk mengajari kakaknya belajar bukanlah ide buruk.


“Kau sungguh idiot! Bagaimana bisa penulis Genji Monogatari berubah menjadi Hikaru Genji?! Ini bukan otobiografi.” [30]


“Itu tidak salah, sepertinya aku pernah mendengar Kin-nii mengatakan ini sebelumnya ...”


“Kau dan Kinzou sama-sama bodoh !! Dan juga, penulis Houjouki


“Jangan marah, Bon. Dia hanya sedikit salah.”


“Sedikit?! Apanya yang sedikit!! Penulis “Genji Monogatari” adalah Murasaki Shikubu dan penulis “Houjouki” adalah Kamo no Choumei.”


“Whoa- betapa menakjubkan !! Suguro, otakmu benar-benar luar biasa.”


“Kau masih punya waktu untuk mengagumi orang lain! Mengapa jawaban ini memiliki dua desimal?”


“? Desimal ... apa itu?”


“-! Argh- Aku benci ini ...! Mengajar monyet lebih mudah daripada mengajarimu.”


“Ah-! Izumo, kata-katamu tadi yang: ‘-! Argh- Aku benci ini ...!’ terdengar sangat imut dan seksi! Katakan sekali lagi dong, biar aku bisa mendengarnya ~~ ♡”


“Hei…”


“Konekomaru, jangan berikan belas kasihan, pukul dia dengan kekuatan yang cukup untuk membuatnya pingsan.”


“Amida Butsu !!” [31]


“Eh ... T-tunggu, kau bahkan tidak memberiku isyarat, lantas main hajar begitu saja ... Ah, ah ah ah ah ~~ !!”


“Keke ......”

AnEv1i6.jpg

Yukio memilih jus buah yang akan dia beli sebagai ucapan terimakasih untuk kerja keras teman-temannya. Dia mengingat kembali percakapan-percakapan yang didengarnya siang tadi di dekat kamar, dan dia pun hanya bisa tertawa ketika membayangkan apa yang sedang terjadi di sana. Tak lama kemudian…


“Hei, apakabar, dasar pengecut bermata empat? Senyum-senyum sendirian di sana, sungguh menjijikkan. Akhirnya otakmu konslet juga ya.”


Di belakangnya, terdengar suara yang sangat tidak sopan.


Dia adalah mantan didikan almarhum ayah angkatnya, Fujimoto Shirou. Dan juga penjaga Rin, dia bahkan lebih superior daripada Yukio- nama wanita kasar itu adalah Kirigakure Syura. Asal tahu saja, dia berusia 18 tahun ♡ - Seperti itulah katanya, tapi sebenarnya- dia masih berusia 16 tahun. Meskipun ia memiliki lidah yang tajam, tetapi dia memiliki dada yang cukup montok, dan memakai pakaian terbuka yang membuat orang gagal fokus. Saat ini, ia mengenakan Kimono sepanjang paha. Harusnya begitu ... ah tidak, itu hanya pakaian tidur.


Semua pelanggan lain tercengang, dan bahkan mereka mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Tidak, itu karena…. Tunggu, apa yang kau maksud pengecut?”


Yukio dengan tenang menjawab. Jika dia menjawab dengan gegabah, maka julukan itu pasti akan terus tersemat pada dirinya.


“Syura-san, apa yang sedang kau lakukan di sini?”


“Tidur.”


Jadi itu memang pakaian tidur.


Syura yang mengantuk, menahan menguap sembari dia menaruh beberapa bir dan anggur bermerk Ordo Salib pada keranjang belanjaannya.


Ada 80% kemungkinan bahwa dia sengaja membeli minuman-minuman keras itu untuk diminum segera setelah bangun pagi, atau disimpan beberapa saat setelah makan. Dari penampilannya, mudah ditebak bahwa wanita ini suka meminum sejumlah besar alkohol, namun dia memiliki perut yang tidak cukup kuat. Siapa pun yang minum alkohol bersamanya, pasti akan hancur. Karena Yukio masih di bawah umur, dia tidak pernah minum bersama Syura. Tapi dia pernah terlibat dalam beberapa insiden yang disebabkan oleh Syura yang mabuk.


“Hari ini kau membeli banyak alkohol ya.”


“Daripada kau, sudah tua masih saja jadi pesuruh. Kau sungguh menyedihkan.”


Shura menatap keranjang Yukio dan tertawa sambil bertanya.


“Nggak. Apapun itu, satu-satunya orang yang memperlakukanku seperti seorang pesuruh adalah kau? Ini adalah hadiah untuk teman-temanku.”


“Hadiah?”


Shura memiringkan kepalanya dengan bingung. Yukio menceritakan semuanya tentang kelompok belajar itu.


“Mengajari dia bahkan lebih sulit daripada mengajari monyet.”


Shura mengacak-acak rambutnya yang tampak seperti orang barusan bangun. Dia lagi-lagi menahan menguap, kemudian bertanya pada Yukio: “Oh iya, mengapa tadi kau senyum-senyum sendirian?”


“Nggak kok ......”


Yukio ragu-ragu menjawabnya. Biasanya, dia hanya akan menanggapinya dengan senyuman, kemudian mengabaikannya. Tapi kali ini, entah kenapa dia lebih suka berterus-terang….


“... Jarang sekali aku melihat Nii-san bergaul baik dengan teman-teman sekelasnya.”


Ketika Rin masih di SMP, ia tidak bisa mengendalikan kekuatannya, dan sesekali kehilangan kendali. Karena itu, orang-orang di sekelilingnya takut padanya, sehingga dia pun sering dikucilkan.


Jangan tanya tentang upacara kenaikan atau perayaan sekolah, ia bahkan tidak hadir pada upacara kelulusan.


Karena Yukio selalu disibukkan dengan tugas Exorcist, ia tidak pernah tahu teman-teman sekelasnya dengan baik. Meskipun ia bisa bergaul baik dengan semua orang, ia tidak pernah punya kenangan khusus bersama siapapun.


Tapi, ia merasa bahwa kakaknya selalu ingin mengerti orang lain, dan ingin mendapatkan teman sebanyak mungkin.


“Jadi, andaikan Ayah bisa melihat bagaimana keadaan Nii-san seperti sekarang ini...”


Mungkin dia akan sangat senang… Yukio menelan kata-kata tersebut, dan tersenyum senyap.


Melihat Yukio seperti ini, Shura menunjukkan ekspresi bagaikan orang yang melihat harta langka. Akhirnya, Syura pun tersenyum sedikit, lantas dia menggunakan nada bicara yang biasa, dan mengetuk bagian belakang kepala Yukio dengan ringan.


“…. Ampun deh, jika kau cepat dewasa begini, tak lama lagi kau akan botak.”


◆◆◆


Setelah mengucapkan salam perpisahan kepada Syura yang pulang, Yukio kembali ke asrama tua. Sekarang sudah malam, sementara di langit masih terlihat beberapa cahaya.


Masih terlihat secercah bintang dengan samar-samar. Ketika melihat jam tangan, waktunya sudah menunjukkan pukul 05:50. Harusnya mereka sudah selesai bersantap malam.


Dia berjalan melalui koridor yang berderit, dan tiba di depan kamar 104. Setelah meletakkan semua barang belanjaan pada tangan kirinya, dia pun mengetuk pintu dengan tangan kanan, namun tidak ada respon.


Di sisi lain pintu, sama sekali tidak ada suara. Malahan, benar-benar senyap.


Apakah sedang ada perselisihan?


Karena merasakan ada yang aneh, Yukio pun membuka pintu. Dia disambut oleh bau menyengat. Wajah teman-temannya menghijau, dan beberapa orang duduk di dalam ruangan tersebut, seperti barusan bangun tidur. Rin dan Shima duduk di tengah, sementara yang lainnya roboh di lantai ataupun meja, dengam mata memutih. Mulut Shima dan yang lainnya berbusa, seolah-olah tak lama lagi nyawa mereka akan tercabut.


Dan juga, tidak terlihat dimanakah Shiemi berada.


“Ini…. Apa ini?”


Bahkan Yukio tidak mampu menduga apa yang sedang terjadi di sini, sehingga ia bertanya pada Konekomaru yang berada paling dekat dengannya.


“Miwa-san, apa yang terjadi? Nii-san-Apa yang terjadi dengan Okumura dan Shima-san?”


“Ah, Okumura-sensei ... kau kembali?”


Konekomaru berbalik dan mengatakan pada Yukio tentang apa yang terjadi, dengan ekspresi penuh rasa sakit.


“Moriyama-san membawa makanan bagi kami untuk dimakan, tapi-”


Masakan yang Shiemi bawa untuk meningkatkan kesehatan, tapi rasanya tidak bisa diterima oleh semuanya. (“Bagaimana ya cara menggambarkan rasanya ... pokoknya itu sangatlah unik.” kata Konekomaru dengan samar-samar.)


“Eh ... Tapi, semuanya sudah memakannya?”


“Ya ... itulah yang terjadi.”


Setelah mencium bau aneh, Izumo yang segera menyadari bahwa ada sesuatu yang salah, mengatakan: “A-Aku hanya akan mencicipi sedikit karena aku sedang diet.”


Dialah yang pertama kali bertindak, sedangkan Suguro yang bermental kuat berpikir: “-Selama aku menganggapnya sebagai latihan, maka tidak ada makanan apapun yang tidak bisa kumakan.”


Dengan pola pikir dan kepercayaan seperti itu “Aku tidak boleh membuat seorang gadis menangis karena menyia-nyiakan makanannya”, ia menahan rasa sakit, lantas mengunyah makanan itu tanpa suara. Konekomaru juga mengikutinya.


Takara menggunakan bonekanya untuk menyendok makanan tersbeut, lantas memakannya dengan ekspresi datar. Dia bahkan terlihat semakin aneh.


“Shima dan Okumura-san, pada awalnya mereka berjuang untuk mengatakan [32] ...”


Setelah gigitan pertama, wajah mereka mulai berubah menjadi hijau. Tetapi karena Shiemi sedang melihat mereka dengan mata gemerlapan, mereka tidak punya pilihan selain memaksakan diri untuk menyelesaikan hidangan tersebut.


“Di mataku, mereka benar-benar berani.”


“Begitukah? Sebegitu mengerikannya kah makanan itu ... tidak, maka apa yang terjadi pada Shiemi-san?”


“Moriyama-san, dia-”


Shiemi melihat semuanya….. tidak, sebenarnya hanya Rin dan Shima yang memakan semua hidangan itu dengan bahagia. Karena yang lainnya banyak meminum teh herbal untuk membantu menelan makanan gosong itu ke dalam perut mereka, maka dia pergi ke Toko Exorcist untuk membawa lebih banyak teh.


Menurut apa yang dikatakan Konekomaru, Rin dan Shima sungguh berani, karena mereka hanya kehilangan kesadaran setelah Shiemi pergi. Sebelum itu, mereka masih menyeringai dan menahannya dengan mengatakan:


“Ini l-lezat, Shiemi ...”


“... Aku t-tak bisa ... terlalu lezat ... ini ... Entah kenapa aku ingin menangis ...”


“Namun, karena mereka makan hidangan yang menyehatkan, setidaknya tidak akan ada risiko sakit perut. Mungkin kondisi mereka akan menjadi lebih baik?”


Bahkan Suguro hanya bisa bersimpati dengan mereka.


“Mereka makan lebih banyak daripada kita, ini juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rasa sakit. Karena hidangan ini adalah masakan seorang gadis ... jadi mereka terlalu berharap, namun ...”


“Semakin menyedihkan.” Konekomaru memandang mereka berdua dengan tatapan penuh simpati.


“... A-Aku tidak percaya ... masakan buatan gadis ... rasanya seperti ini ... ini bohong.”


Shima mengerang tanpa henti sambil berbaring di samping kakaknya (Yukio).


Dalam keadaan setengah sadar, air mata kesedihan dan kesusahan mengalir tanpa henti. Sepertinya pendapat Konekomaru tidak sepenuhnya salah.


Mereka bersandar di kaki meja dan lantai, dan mereka terkejang-kejang sambil berusaha menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi. Yukio menunjukkan ekspresi kebingungan, kemudian melihat mereka sembari bertanya:


“Suguro-san, Kamiki-san, bagaimana progres kelompok belajar ini?”


“-Kemajuannya sangat sedikit, kurang-lebih seperti jalan di tempat”.


Suguro mengatakan dengan ekspresi kesakitan, sembari dia memberikan laporannya.


Dengan menggunakan sapu tangan bermotif penuh bintang menutupi mulutnya, Izumo mengatakan: “Dia masih saja salah dalam menghitung perkalian sampai 9 x 9.”, itu berarti kondisi Rin masih parah.


Setelah mendengar semua itu, Yukio berjalan menuju mereka bedua yang sedang terkapar di lantai, dan satunya lgi duduk dalam posisi membungkuk. Seolah-olah hampir mati, mereka berdua mendongak kesakitan.


“Yu-Yukio ... a-aku tidak bisa ... M-makanan terakhirku ... A-aku ingin makan Sukiyaki sampai kenyang ...”


Mata Rin kembali memutih, sementara Shima yang bersandar pada meja mengatakan: “A-aku juga tidak tahan lagi ... aku ingin OOXX bersama gadis cantik sebelum aku ...”


Setelah itu, dia mengatakan beberapa hal yang perlu disensor.


“Masih menendang, ya.”


Suguro dan Kamiki berkata secara bersamaan, dengan ekspresi yang seakan berkata: “betapa menyedihkan”.


Yukio mendorong bagian tengah gagang kacamatanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kemudian dia menggunakan kata selembut mungkin untuk berbicara pada kedua cowok yang masih meringkuk itu:


“-Okumura-san, Shima-san. Mohon berdiri.”


“…Sukiyaki…?”


“Kau membawa gadis ... untukku ...?”


Rin dan Shima menatap dengan lesu.


“Bagaimana bisa?” Yukio tersenyum sebelum meletakkan tumpukan soal di hadapan mereka , lantas dengan santai melanjutkan:


“Kerjakan semuanya di sini sampai besok pagi, kerjakan semuanya sebelum siang, ditambah lagi dengan ini dan ini. Sebelum malam tiba, kalian harus menyelesaikan segala sesuatu, kemudian menghafalnya. Jika tidak, aku akan meminta Shiemi-san membawakan masakannya sebagai hadiah untuk kalian - Bagaimana?”


◆◆◆


“Wow, betapa langka pemandangan ini ☆”


Melihat pengumuman yang dipasang di seberang koridor Akademi Ordo Salib, sang Ketua, Mephistopheles berseru dengan keras.


“Jangankan Shima-san, bahkan Okumura-san tidak perlu mengulangi ujiannya ...”


Nama mereka tidak ada pada kertas yang berjudul “Siswa yang perlu mengulangi ujian akhir”.


Mereka hampir tidak lulus, namun akhirnya mereka lolos dari kegagalan.


“Sihir macam apa yang kau gunakan?”


Mephisto melirik Yukio yang ada di sampingnya.


“Tidak ada. Ini semua bukan karena usahaku, melainkan usaha Shiemi-san.”


“Oh ... gadis penjaga toko Exorcist? Apa maksudmu, Okumura-sensei?”


Dengan tatapan yang semakin memperbesar rasa keingintahuan, Yukio menutup mulutnya sambil menempelkan jari telunjuk.


Sisi mulutnya melengkung sedikit, kemudian matanya menyipit sampai seperti garis.


“Semuanya adalah rahasia dapur.”


Asal tahu saja, setelah mengadakan program belajar bersama kemaren, teman-temannya memberikan julukan baru padanya, seperti : “Pendiam Yang Menakutkan” ; “Iblis Berhati Dingin” ; “Iblis Berbulu Domba” ; “Berdarah Dingin”; “Munafik”, dan “tidak, dia benar-benar sesat”. Dengan julukan-julukan seperti itu, maka tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.

Bab 5: Hari Yang Indah Bagi Tuan Pheles[edit]

AnEv1i7.jpg

Halo semuanya, kita bertemu untuk pertama kalinya.


Namaku Mephisto Pheles. Aku suka Assiah, aku bahkan sangat mencintai Jepang. Namun aku jugalah seorang pria yang mengejar “kekosongan hati yang menenangkan”, “ jiwa prajurit” dan juga “moe”. [33]


Jangan melihat aku seperti ini, aku adalah seorang ksatria Ordo Salib yang terkenal, dengan kata lain…. Aku adalah seorang Exorcist. Aku menggunakan nama samaran Johann Faust Kelima, mengemban tanggung jawab sebagai Kepala Sekolah Akademi Ordo Salib ...... Oh, maaf, tentu saja aku juga kepala sekolah “kelas Exorcist” yang itu tuh.


Kadang-kadang, aku suka berubah menjadi anjing kecil yang lucu untuk mengamati kelas, karena tahun ini mahasiswa “unik” telah tiba. Dia adalah anak angkat temanku, dan juga seorang remaja yang sangat menarik…. Ah tidak juga, aku tadi ngelantur, maaf.


Hari ini, aku akan membiarkan semua orang melihat betapa mewah dan elegannya kehidupanku sehari-hari.


Ini adalah pertama kalinya ditampilkan di Assiah, jadi jangan lewatkan itu ......


Kalau begitu, 1, 2, 3 (eins, zwei, drei) ♪


7: 05 AM


Tempat tinggalku adalah lantai paling atas Akademi Ordo Salib. Pemandangan dari sini sangatlah indah, terutama pemandangan ketika sinar matahari mencapai jendela. Bagiku, itu cukup mencolok karena aku berasal dari Gehenna, tetapi keindahan matahari terbit yang bagaikan mimpi sungguh membuatku terkesima, bagaikan bayangan malam yang menyelimuti Assiah.


Ampun deh, aku ngelantur lagi-


Aku dengar, tidur yang cukup dapat meningkatkan kemampuan otak, dan membuat kulit berkilau. Kalau dipikir-pikir, aku hanya tidur selama sejam penuh, tapi hatiku terasa begitu hampa, dan itu berarti bahwa diriku tidak bahagia ☆


Mengapa demikian?


...... Ah, ketidaknyamanan ini pasti karena adikku, Amaimon, merusak video game kesukaanku kemaren. Ampun deh, tindakan kotornya benar-benar tak bisa ditolerir, game itu adalah hasil kerja keras orang-orang yang tekun! Meskipun orang bodoh tidak pernah bisa disalahkan, tapi pelanggaran semacam ini tidak bisa dimaafkan.


Ah, omong-omong, aku harus memakai mantel mandi ketika beristirahat di kamarku. Ini adalah inti dari Jepang yang sudah dipakai sejak jaman ksatria kuno. Kupikir, ini akan membantuku memahami rahasia negara ini. Setelah datang ke Jepang, aku segera meminta ratusan mantel mandi dengan pola yang berbeda. Sekarang, jumlahnya sudah tiga kali lipat. Salah satu yang kusukai adalah mantel bermotif langit berbintang. Dengan menggunakan “pink spesial Mephisto” sebagai latar, semuanya akan sempurnya, dan tentu saja produk khusus ini dirancang olehku sendiri, Mephisto. Maaf, ini tidak dijual dimanapun. “Pheles-sama, jika kau sudah bangun, aku akan mengirimkan sarapan.”


Oh, pelayanku yang setia segera menyadari bahwa aku telah terbangun.


“Apakah kau ingin sarapan bergaya Inggris atau Amerika? Atau apakah kau ingin sarapan dari restoran Tokyo yang diantar oleh pesawat supersonik?”


Hmm… kopi susu hangat (café au lait) yang diseduh dengan bijih kopi segar, disertai sup belut yang mewah, sayangnya aku sedang tak minat menyantap hidangan seperti itu hari ini. Sungguh menyebalkan. [34]


“Bagaimana dengan bubur Cina?”


Itu terlalu biasa, sehingga tidak merangsang seleraku.


“Pho Vietnam dan salad pepaya?”


Aku ingin mencoba sarapan berbeda yang bisa menyentuh hati sanubari manusia ...... dengan situasi seperti ini, aku biasanya memberikan perintah mutlak.


“Aku ingin makan “sarapan khusus Mephisto” hari ini.”


“Roger, aku akan menyiapkannya.”


Pelayanku membungkuk, sebelum akhirnya berbalik dan pergi, oh betapa baik dia. Seorang pelayan sejati harus tunduk dan mengikuti apapun permintaan tuannya. Itulah pelayan terbaik.


Tidak peduli apapun alasannya, dia tidak boleh seperti ibu-ibu, yang kerjanya hanya mengomel tentang nutrisi dan junk food.


Apapun itu, baru-baru ini aku melihat Amaimon menikmati “Menu khusus Ordo Salib • Bom Panggang”. Namun, dia berbeda denganku, yang merupakan penikmat mahakarya. Dia adalah hewan yang memakan apapun. Hmm ... makanan yang sudah berada di mulut orang lain adalah yang terbaik. Prinsip ini tetap berlaku tak peduli kau berada di Assiah, Gehenna, atau bahkan alam antara manusia dan iblis.


Ketika aku memanggil pelayanku yang luar biasa, dia sudah mendorong troli “pink spesial Mephisto” berisi hamburger, mi instan, dan aneka kue. Bahkan ada takoyaki di sana, ini sungguh sempurna. Aku sangat ceroboh, sampai-sampai aku lupa daftar kualitas penting pelayan yang handal ......


Itu penting, untuk mencegah tekanan yang tidak perlu.


“Kamu memanggilku?


“-Tidak, tidak.”


Si pelayan membungkuk setelah mendengar bahwa aku tidak membutuhkan apa-apa lagi, dia pun mulai menyiapkan hidangan.


Sinar matahari yang hangat melimpah tanpa henti di depan seluruh jendela. Meja makan bersinar ketika terterpa sinar mentari. Ketika melihat makanan favoritku mulai tertumpuk di meja, aku pun semakin gembira, ahhh betapa menyenangkan pagi ini.


“Tentang jadwal hari ini, pukul 1:00, ada pertemuan pada Markas Besar Ordo Salib di Vatikan.”


Setelah makan, ketika menungguku bersalin pakaian, si pelayan membacakan jadwal hari ini.


Asal tahu saja, pakaianku bukanlah seragam yang biasanya dipakai oleh orang-orang Ordo Salib, aku punya kostum yang khusus dibuatkan oleh penjahit. Modelnya adalah pink spesial Mephsito yang sungguh kusuka, bersama dengan scarf bermotif bintik-bintik putih ...... Dan juga, benik mantel dan celana ketat memiliki pola yang sama.


Ah, aku ngelantur lagi.


“Apakah ada pertemuan di Markas Vatikan?”


Pencuri tua menguasai Ordo… Oh, bagaimana bisa aku mengatakan hal yang begitu buruk dengan sengaja, ah tidak, menghadapi orang-orang tua yang terlalu demokrat, dan terus berpegang teguh pada kekuasaan, itu sungguh membosankan. Pagi hariku yang seharusnya menyenangkan, langsung rusak… ah, ini tidak baik.


“Katakan kepada mereka bahwa aku tiba-tiba menghadapi keadaan darurat.”


“Aku mendengar bahwa pertemuan hari ini meliputi hal-hal penting, dan juga pemilihan Paladin baru“.


“Setelah Fujimoto meninggal, jika ada yang akan dinobatkan menjadi Paladin, sepertinya Angel lah orangnya.”


Meskipun pria yang bagaikan bunga di dalam rumah kaca itu memiliki standart kemampuan yang mirip seperti Fujimoto, tapi menaklukkan Ordo di usia muda membuatnya mudah untuk dikendalikan. [35]


“Pertemuan itu hanyalah untuk formalitas, dan tidak terlalu penting.”


“Tapi……”


“Tapi, sepertinya orang-orang tua itu memanggilku untuk menyelidiki insiden itu , ahhh lalat-lalat merepotkan itu lebih baik dibiarkan saja.”


“Kau boleh pergi.” kataku. Pelayan itu memperhatikan wajahku lebih seksama, sebelum akhirnya menunjukkan ekspresi ketakutan, tapi kemudian wajah datarnya kembali tampak. Dia membungkuk rendah sebelum meninggalkan ruangan.


Ini membuatku senang.


Jika dia berbicara lebih banyak, ia akan menemui nasib yang sama seperti pendahulunya.


Setelah mulai terbiasa, mengganti pelayan baru akan sangat merepotkan. Aku tidak suka melihat sesuatu seperti ini terjadi.


….Jadi, pertemuan itu dibatalkan. Terus, bagaimana aku menghabiskan waktu luangku? Aku tidak merasa seperti bekerja.


Walaupun aku ketua, aku perlu istirahat sesekali ☆


Aku harus menemukan game yang Amaimon rusak kemarin.


◆◆◆


11: 30 am


Tidak ada……


Amazan ataupun Yahaa tidak ada! Itu berarti tidak ada lelang.


Aku meninggalkan pesan di Nixi-ku dan Witter untuk sementara waktu, kemudian menunggu orang untuk memberikan informasi.


Pokoknya, aku sekarang sedang bosan. Tapi di hadapanku ada dokumen dari Kantor Pusat yang menumpuk. Itu berati aku harus kembali bekerja.


Oh ya, kemarin, guru baru Okumura-sensei mengatakan bahwa “aku ingin menggunakan lab memasak di SMA pada siang hari”, untuk tujuan apakah itu?


Apa yang dia ingin lakukan di laboratorium memasak? Hmm ... Aku ingin tahu, dan rasa penasaranku lah yang membuatkan tidak bisa kosentrasi bekerja,


Ia adalah tipe guru yanh terlalu serius, sehingga harusnya dia tidak menimbulkan banyak masalah. Tapi aku harus tetap memeriksa situasinya sebagai guru senior.


Ah, percayalah ini bukan alasan untuk bolos kerja. Aku seorang pria yang patuh, lho.


Oh ya, sudah lama sejak terakhir kali aku mengunjungi kompleks sekolah. Jika aku bertemu utusan dari cabang pertama, situasinya akan semakin rumit. Aku harus berubah menjadi bentuk anjing agar bisa berjalan-jalan dnegan bebas.


Asal tahu saja, tidak semua Exorcist bisa berubah wujud. Jadi, aku adalah pengecualian.


Eh? Aku sangat imut, kan? Tentu saja ☆ Koperasi Akademi Ordo Salib dan toko-toko Mephisto Land menjual merchandise berupa anjing Mephisto yang modelnya mirip dengaku. Jujur, aku lebih merekomendasikan anjing plushies Mephisto. Ukuran yang tersedia adalah kecil, menengah, besar, ekstra besar dan super besar. Plushies super besar memiliki ukuran yang tertera di punggungnya ... Ampun deh, lagi-lagi aku ngelantur.


Huff ... Aku akhirnya mencapai kompleks laboratorium memasak.


Aku memang bisa berubah bentuk menjadi anjing lucu, tapi kaki pendek ini membuat aku kelelahan saat berjalan.


Oh? Bukankah gadis yang berjalan menyusuri koridor itu adalah Kamiki-san dari kelas Exorcist? Sungguh kebetulan bertemu dengannya di tempat semacam ini.


Kamiki-san adalah siswi yang jenius di kelas, dan juga memiliki bakat menjadi seorang ksatria dari kelas Exorcist. Menurut laporan, ia memiliki garis keturunan penyihir dan bisa memanggil dua rubah putih pada waktu bersamaan. Tahun ini, putri tertua dari cabang utama suatu kuil juga mulai masuk ke sekolahan ini. Tahun ini, terjadi hal-hal yang cukup langka dengan datangnya pelajar-pelajar bermasa depan cerah seperti itu, dan ini adalah sesuatu yang harus dirayakan oleh sekolah Exorcist yang kekurangan tenaga pendidik.


-Tapi, mengapa Kamiki-san menatapku dengan begitu tajam?


Alisnya menegang saat dia menatapku tanpa berkedip. Mungkinkah dia membenci hewan? Padahal kebanyakan wanita menyukai hewan-hewan yang imut. Sebagai seorang pria sejati, aku harus meninggalkannya, seolah-olah tidak terjadi apapun ... Saat aku memikirkan itu, ia terus mengikutiku sembari melihat sekeliling.


Sudah kuduga, aku tidak akan bisa mengerti sifat seseorang hanya dengan mengenalnya sekilas. Jadi, masih banyak sifat Kamiki-san yang tidak aku pahami.


Oh, dia berjalan ke arahku. Apa yang harus kulakukan? Ah, dia berjongkok.


“Ada apa? Hey anjing kecil, apakah kau tersesat?


......


“Jangan takut ♡ ! Nee-san akan membantumu menemukan pemilikmu ~~ ♡”


“Mmm-lembut dan halus, betapa manis ~~”


……Ah! Bagaimana bisa aku berhenti berpikir sejenak?


Jika dia merangkul erat diriku di dadanya, sebagai guru tingkat pertama, aku akan kehilangan banyak hal. Ini tidak dapat dibandingkan dengan duduk pada paha Okumura-kun.


“Ah, anjing kecil, kau mau pergi ke mana?”


Itu benar-benar dekat.


Wah, seharusnya tidak masalah jika aku segera meninggalkan tempat ini. Tapi jujur saja, aku benar-benar terkejut.


Kamiki-san itu ternyata orang seperti ini ......


Cewek memang sulit diprediksi. Aku pikir dia adalah seorang siswi yang dingin dan arogan, namun sepertinya aku telah melihat sisi “lembut”nya. Aku tidak pernah mengira bahwa ini akan terjadi di dunia 3 dimensi, sekarang aku benar-benar melihat sosok “tsundere” legendaris dengan mataku sendiri ...!


Tipe favoritku adalah “gadis karismatik” atau “gadis cantik dengan masa lalu yang menyedihkan”. Tapi setelah mengalami ini, aku berpikir bahwa “tsundere” juga cukup menarik. Tidak, “moe” lah yang terbaik, bahkan aku, Mephisto, menunduk hormat pada mereka.


Baiklah, aku telah mencapai laboratorium memasak, aku harus berubah kembali ke bentuk normal.


Oh, mengapa lab memasak ini sedikit ribut?


Tampaknya ada sebuah iklan di pintu, apa yang dikatakannya?


-Masakan rumahan. Okumura-ya. Menu spesial tiap hari seharga 500 yen.


Tulisan yang sungguh kuat dan artistik. Kanji “mura” dari Okumura-ya sungguh sempurna.


Tidak, ini salah. Apa ini?!


Ini adalah laboratorium memasak Departemen Sekolah Menengah Atas Akademi Ordo Salib milikku.


Mengapa sekarang berubah menjadi warung makan?


Dan juga, ada selembar kertas memo yang tampaknya dibuang karena tulisannya salah. Tidak boleh sembarangan membuang sampah di sekolah, berapa kali aku harus mengatakan ini, kenapa mereka tak paham juga? Ampun deh. Oh, secarik kertas ini ditulis dengan spidol hitam. Mari kita lihat…


-Makan siang seharga 500 yen.


...


......


.........


Ah! Karena syok, aku pun menegang, ini tidak boleh dibiarkan.


Tulisan ini sungguh berantakan, sehingga membuat makan siang tampak seperti makanan sapi. [36]


Akan tetapi, meskipun aku menggunakan dengkulku untuk berpikir, aku bisa menebak siapakah yang mencoret tulisan di kertas ini, dan itu membuatku merasakan nostalgia.


“Ah-terima kasih telah berkunjung! Salamat daaa-”


“Aku ingin satu paket khusus menu harian, dengan sup miso yang besar.”


Siswa kelas Exorcist yang begitu ketakutan, seolah-olah dia hendak makan kukunya adalah Moriyama-san. Aku tidak pernah mengira bahwa seorang gadis yang begitu tekun dan manis itu berada di tempat seperti ini. Betapa menyedihkan.


“Aku tidak ingat memberimu izin untuk menggunakan laboratorium sebagai tempat berbisnis?”


“…Maaf.”


Oh, sup miso ini dibuat dengan mengeringkan ikan, rasanya menakjubkan. Dan yang paling penting, sobekan daun mint ini membuat rasanya makin mantab.


“Setidaknya, berikan aku 5000 yen untuk uang saku sebulan!”


“Tidak mungkin.”


“Mengapa, bukankah kau orang baik?”


Makarel miso juga rasanya manis.


Menu lengkap ini tidak kalah dengan masakan restoran kelas atas.


“5000 yen sungguh membosankan ... 2000 yen malah lebih menarik.”


“Alasan macam apa itu?! Aku bahkan tidak bisa membayangkannya!!”


Sayuran juga digoreng dengan pas.


Jika aku mencicipi bawang cincang dan minyak wijen pedas mentaiko [37] ini secara bergantian, aku pasti akan habiskan semua nasinya.


“Jika kau tidak mau 2000 yen, bagaimana dengan 100 yen? Belakangan ini aku suka membeli barang-barang seharga 100 yen. Ah, sup miso lagi ~”


“Siapa yang peduli dengan kebiasaanmu ...!”


“Nii-san ...”


Oh ya, mengapa Okumura-kun begitu marah?


◆◆◆


02: 35 PM


Aku memeriksa ponselku. Ada berita tentang game yang dari witter ☆ ini sungguh teman terbaik untuk otaku yang kesepian.

Meffy: game favoritku telah dirusak oleh adikku (yang bodoh) ~ ▫ • ゜ • (/ Д) • ゜ • ▫


Uwaahahah, apakah aku masih berhasrat membelinya??? ('A'▫) Oh, jika kau menemukannya, bilanglah padaku ☆ (* '| `) ノ ° *: ..


Kumohon, dan terima kasih ..: "° * '" (' | `*) [3 jam yang lalu]


HetareGamer @meffy: Aku pernah melihat game yang kau inginkan di toko mainan, pada distrik belanja Ordo Salib ~ Lagian, mereknya cukup baru, menakjubkan bukan? [10 menit yang lalu]


Aku segera meluncurkan mobil tercintaku ke sana. Asal tahu saja, mobil limusin kesukaanku juga dilengkapi dengan pink spesial Mephisto, serta interior dengan segala macam anggur terkenal dari Assiah untuk kunikmati dalam perjalanan. Tentu saja, semua ini buatan tanganku. Ah, lagi-lagi ngelantur, maaf ya.


-Hampir sampai pada distrik perbelanjaan Ordo Salib Selatan. Berkunjung ke distrik belanja dengan mengendarai limusin adalah suatu tindakan yang tidak sopan, aku harus memarkirnya di suatu tempat, kemudian berjalan menuju distrik perbelanjaan.


Sebagai seorang pria, aku memiliki pengetahuan untuk hal-hal tersebut.


Oh ... ada toko game di sini. Beberapa pelajar SD yang sedang pulang sekolah berkumpul di depan Claw Crane, dan hadiah utamanya adalah plushie Usakichi-kun yang paling aku sukai. [38]


Tanganku merasa gatal-ah! Tidak, aku harus mengabaikannya dan langsung pergi ke toko mainan yang HetareGamer ceritakan.


“Achi, kau sungguh brilian! Kau ndewa, sekali tangkap bisa dapat 3.”


“Tepat sekali, kau adalah dewa mesin crane, kau bisa menangkap hadiah apapun, ‘kan?”


“Kalau begitu, aku minta satu kelinci itu!”


“Hah?! Ini terlalu mudah, aku bisa mendapatkannya bahkan dengan mata tertutup.”


“Achi, kau fantastis !!”


............


Ah, sepertinya, toleransiku yang sekuat besa dan sekeras berlian sudah mencapai batasnya.


“-Ah? Siapa sih pak tua berbaju pink ini?”


“Pak tua itu mau ngapaon? Tampaknya dia berbahaya?”


“Kami sedang bermain mesin crane, yo…”


“Tidak bisakah kau tidak mengganggu kami?”


Kekeke ... Anak-anakku, kalian akan melihat dewa mesin crane yang sesungguhnya.


-04: 10 PM


Ampun deh, tanpa sengaja aku menganggap serius anak-anak itu. Bagaimana bisa aku ... ah pokoknya, mereka mengidolakan aku sebagai “dewa!”. Dipuja-puja oleh anak-anak kecil tak berdosa itu tidaklah begitu buruk, meskipun sebenarnya aku adalah iblis ☆ hehe ☆


Dan juga, aku membeli banyak gmae di toko mainan, bahkan aku menangkap plushie Usakichi-kun super langka, jadi usahaku hari ini berakhir dengan baik.


Oh? Tampaknya ada seseorang di kamarku. Apakah itu Neuhaus? Jika dia berasal dari kantor cabangku, aku akan berpura-pura tidak ditempat.


“Nii-san, kau kembali.”


“... Ah, ternyata hanya kau, Amaimon.”


Aku memiliki terlalu banyak hal yang ingin kuceritakan padamu.


Aku memberinya pandangan yang sangat meremehkan, agar dia mengeluarkan controller PSR perlahan-lahan.


“Aku berlatih keras game fighting favorit Nii-san.”


“Oh! Bagus sekali.”


“Karena aku ingin bersaing dengan Nii-san.”


Hmmph. Adik sepertimu ingin menyaingiku? Baiklah.


Kalau begitu, akan kuperlihatkan jurus “ Moon Spirit Ancient Martial Arts Secret • Crescent Moon”.


“Heavy collision” Tabrak!


“Moon Spirit Ancient Martial Arts Secret • Crescent Moon” bunuh bunuh bunuh!!


“Wah ah ah!”


“KO !!”


“Bangkitlah, dan mulai lagi.”


“Nii-san memang menakjubkan-Hmm ~~”


Tentu saja, perbedaan antara pengalaman kita bagaikan langit dan bumi.”


“Sungguh lezat. Nyam nyam nyam.”


“Uwoh oh oh ?! Beraninya kau -? !! Kau memakan controller “pink spesial Mephisto”!!!


--07: 20 PM


“Nii-san, kau terlihat begitu sedih, bergembiralah.”


“... Kau tahu bahwa penyebab ini semua adalah dirimu, kan?”


Setelah pertandingan kemarin, bahkan controller favoritku dirusak…tidak, lebih tepatnya dimakan. Aku sungguh sedih, sampai-sampai merasa takut ketika memikirkannya. Sekarang emosiku sedang memuncak, dan kepalaku terus berpikir sampai kapankah kemalangan-kemalangan ini tercurahkan padaku ... Untuk menyembuhkan luka hatiku, hanya ada satu cara: yatu makan hidangan favoritku nomor tiga -”monjayaki keju babi” ☆ [39]


Oleh karena itu, aku pergi ke suatu restoran sepi di luar kompleks sekolahan, untuk makan malam.


Tentu saja, aku memesan monjayaki keju babi dan Ramune. [40]


Aku pernah punya kenangan buruk, ketika para siswa merayakan ujuan yang telah berakhir, monjayaki keju babi milikku dimakan oleh Okumura-kun. Sungguh tercela, anak Satan itu harusnya mati saja ... !! ….Hanya bercanda, aku tidak sekejam itu kok. Aku tidak membual, aku benar-benar orang yang baik, dan juga seorang kakak teladan.


Mari kita lihat, bukankah harusnya pesananku sudah siap?


“Nii-san, ini sangat lezat-nyam nyam nyam.”


“Jelas saja, karena monjayaki keju babi di sini adalah makanan terfavoritku nomor tiga.”


“Nii-san, ini super lezat-nyam, nyam, nyam.”


“Eh ... t-tunggu !! Seperti yang barusan kukatakan, ini adalah makan tervaforitku nomor 3 !! Dan jangan makan piring logamnya sekaligus!! Ah ~~! Monjayaki keju babi milikku !!!”


Anak Satan sialan ... !!


Beraninya dia merebut apa yang kusuka dariku. Sungguh malang memiliki adik seperti ini!!!

Nixi Meffy Diary Sedih ☆ “Terlihat oleh teman dari teman” XX / XX / 20XX Adik bodohku merusak controller PSR milikku, ia bahkan makan monjayaki keju babi favoritku ~ ▫▪ °° ▪ (≧ Д ≦) °° ▪▪▫ Bohoo! Sebelumnya, adiknya orang lain (yang juga idiot) juga memakannya. Sungguh menyebalkan menjadi seorang kakak ☆ (/ - ▫). Tapi karya yang menakjubkan sekarang ada di tanganku, aku merasa sedikit lebih bahagia ... (* '| `*) keke ♩ ♡ LIKE!

--00: 00 AM


Dalam sebuah bangunan besar Akademi Ordo Salib yang masih dalam proses pembangunan, binatang putih besar tampaknya sedang melihat ke bawah, pada dunia. Mephisto Pheles berdiri di salah satu perancah bagaikan bayangan, dia menunjukkan ekspresi yang sulit untuk digambarkan. Wajahnya menunjukkan senyum gelap yang sungguh bertentangan dengan senyumnya yang cerah seharian ini. Tak seorang pun tahu, apakah dia sedang marah, atau mungkin dia terlihat bingung, atau mungkin sedang mencibir.


“Betapa indah pemandangan malam ini.”


Dalam kegelapan, Mephisto Pheles (orang yang tidak suka cahaya) bergumam sendiri.


Pria itu mengerti rasa sakit yang dikuasai oleh Mephistopheles yang kuat. Tubuhnya kelelahan, dan di bawah matanya menggantung kantong mata yang lebar, sementara ia menatap pemandangan malam dengan lesu.


“Bagaimanapun juga, ini adalah dunia yang diberkahi setelah diciptakan oleh Tuhan selama enam hari.”


Tubuhnya berbicara dengan nada berat.


“Jadi, kau harus menghiburku…….”


Mulutnya melengkung tersenyum, kemudian kegelapan berpadu dengannya.


Dia mendorong kedua tangannya sejauh mungkin, bagaikan manusia karet yang menjulurkan bagian tubuhnya, dan dia juga tampak seperti anak kecil yang menatap mainan berwarna-warni di depan matanya.

AnEv1i8.jpg
  1. Sepertinya kutipan ini berasal dari perkataan Shura.
  2. Skelera adalah bagian mata yang biasanya berwarna putih.
  3. Yang dimaksud “wadah” di sini tentu saja adalah orang yang kesurupan iblis tersebut.
  4. Mantra ini didasarkan pada 7 dosa terlarang, dan lawannya adalah 7 kebajikan Tuhan. Maaf kalo salah, saya bukanlah seorang Nasrani.
  5. Mashou adalah kontrak dengan iblis, setelah melakukan kontrak, maka orang itu bisa melihat iblis sampai akhir hayatnya.
  6. Onigiri adalah nasi kepal.
  7. Sukiyaki adalah makanan berupa daging yang dilengkapi dengan sayur dan bumbu, ini merupakan makanan kesukaan Rin.
  8. Duckweed adalah tumbuhan air yang biasa hidup di permukaan air dalam jumlah besar. Biasanya kita menyebutnya dengan nama “Kiambang”.
  9. Parah, matematika biasa aja gak bisa.
  10. Pedang iblis Kurikara.
  11. 1800 Yen adalah sekitar 17 USD.
  12. Closterium adalah sejenis alga yang bisa berfotosintesis.
  13. Cat Sidhe atau yang biasa disebut Cat Sith, adalah makhluk magis dari mitologi Celtic, wujudnya adalah seekor kucing hitam dengan titik putih di dadanya. Dikatakan dalam legenda bahwa makhluk ini memiliki kemampuan mencuri roh orang mati sebelum terkirim ke akherat.
  14. Tsukkaima adalah makhluk peliharaan mirip hewan, atau biasa disebut Qodam.
  15. “ah, aku tidak begitu tertarik tuh”
  16. Matatabi atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Catnip’ adalah tanaman semak yang tumbuh liar di beberapa daerah seperti Eurasia dan Amerika Utara. Nama latin Matatabi adalah Nepeta cataria. Matatabi termasuk keluarga tumbuhan mint. Terlihat dari bau mint (menthol) yang disebarkannya. Ketika seekor kucing diberikan Matatabi, maka dia akan berguling-guling, bergairah, ceria, dan lari ke sana-sini. Tidak semua kucing terpengaruh Matatabi. Sekitar 20 % kucing tidak terpengaruh Matatabi. Ini berhubungan dengan genetik dan keturunan. Jika salah satu induk kucing (ibu atau bapaknya) terpengaruh matatabi, biasanya anaknya pun akan terpengaruh Matatabi. Sebagian kecil populasi kucing menjadi lebih agresif bila diberi matatabi. Hal ini biasanya terjadi pada kucing jantan. Matatabi mengandung senyawa kimia yang disebut nepetalactone. Senyawa ini terkonsentrasi di batang dan daun. Senyawa inilah yang bertanggung jawab terhadap perubahan tingkah laku kucing. Pengaruh matatabi pada kucing mirip dengan pengaruh ectasy pada manusia. Tetapi matatabi tidak menyebabkan ketergantungan pada kucing. Setelah efek matatabi berakhir kucing kembali seperti sedia kala tanpa ada tanda-tanda sakit. SUMBER : http://www.kucingkita.com/fakta-kucing/catnipi-si-pembuat-kucing-fly
  17. Tabi adalah sejenis alas kaki Jepang.
  18. Natsu adalah musim panas.
  19. Sankyuu di sini artinya 3 bukit.
  20. Brandy adalah minuman beralkohol kuat yang berasal dari fermentasi buah
  21. Bon adalah panggilan untuk anak orang terpandang, bisa juga diartikan Tuan Muda, namun ciu membiarkannya seperti itu supaya konsisten dengan animenya.
  22. Nama kursus memahat
  23. Jump SQ adalah singkatan dari Jump Square ジャンプスクエア yang merupakan majalah Manga mingguan terbitan Shueisha
  24. Meskipun huruf kanji Rin hanya terdiri dari 1 huruf, sedangkan Yukio 2, namun punya Rin lebih sulit ditulis.
  25. Boarding school adalah kata lain dari istilah yang mungkin sudah sering kalian dengar, yaitu ‘pesantren’
  26. Seharusnya ‘mysterious’ kan? Atau mungkin bahasa Inggris Shima juga buruk?
  27. Pada tes visi, desimal antara 0.1 s/d 2 digunakan untuk mengukur ketajaman visual, 1.0 diberikan untuk visi sempurna atau 20/20 menggunakan skala kaki. Skala 1.2 berarti seseorang dapat melihat sekeliling di atas skala 1.0, atau 20/20 merupakan penglihatan sempurna.
  28. Jika kau lupa, Yaozu adalah ayah Shima.
  29. Donna Donna adalah lagu yang sering diputar ketika anak-anak sapi hendak digiring ke tempat penjagalan.
  30. Hikaru GENJI (光GENJI) adalah nama grup idol Jepang. Namanya sama dengan Hikaru Genji (光源氏) [tapi beda Kanji], yang merupakan tokoh utama dari serial Genji Monogatari.
  31. Amida Butsu adalah pengucapan “Amitaba” dalam bahasa Jepang.
  32. Tambah lagi!! Tambah yang banyak!!
  33. Sebenarnya, maksud dari kata-kata tersebut adalah deskripsi bahwa Mephisto adalah seorang Otaku.
  34. Café au lait adalah minuman kopi yang diseduh dengan susu panas.
  35. ”Bunga di dalam rumah kaca” adalah ungkapan untuk “orang rumahan”. Ungkapan ini bernada negatif, karena ditujukan pada orang-orang yang sulit mengalami perkembangan karena lingkungan yang terlalu ketat.
  36. Sebetulnya, dalam bahasa Jepang, penulisan ‘makan siang’ dan ‘makanan sapi’ hampir mirip, jadi yang Memphisto maksudkan adalah, tulisan pada kertas tsb begitu hancur, sampai kedua kata itu tampak terbalik.
  37. Mentaiko adalah saus pedas yang terbuat dari telur ikan Pollack.
  38. Usakichi adalah tokoh dari manga karya Katou-sensei sebelumnya.
  39. Monjayaki adalah makanan Jepang berupa adonan yang digoreng garing.
  40. Ramune adalah minuman berkarbonasi dengan rasa lemon.