Ao no Exorcist Indo: Jilid 1 Bab 4

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 4: Tim Penyelamat Okumura Rin[edit]

AnEv1i5.jpg

(... Benar-benar berantakan.)


Okumura Yukio menghela napas sembari memegang lembar jawaban ujian di tangannya. Pada lembar jawaban, di samping coretan nama yang mirip cacing kepanasan, nilai 2.5 (bukan 25 lho) tertulis di sana dengan angka besar. Tentu saja kertas itu bukanlah lembar jawaban ujian miliknya.


Pemilik lembar jawaban itu adalah kakak kembarnya, Okumura Rin. Dia sedang berbaring di tempat tidurnya sambil membaca, dan berulang kali mengusap air matanya karena terharu oleh cerita Jump SQ [1] yang Yukio telah beli. Sesekali dia mendengus keras karena ingusnya mulai menetes, dan itu semakin membuat jengkel orang yang melihatnya.


Singkatnya, ia merusak pemandangan.


“Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa terjadi sesuatu yang begitu tragis di dunia ini ... Ohh.” Suatu bencana sudah dekat. Namun bencana yang dia maksud adalah cerita di dalam manga, dan dia begitu tenggelam dalam karakter manga tersebut. Akan tetapi, dia belum tentu menyukai acara drama TV menyedihkan, atau kisah-kisah cengeng lainnya. Sedangkan Yukio lebih selektif dalam menikmati plot suatu cerita.


(….Otak Nii-san lah yang lebih tragis.)


Setelah mengeluh kepada dirinya sendiri, ia melihat lagi lembar jawaban ujian kakaknya di atas meja, dan merasa bahwa sakit kepalanya kembali datang.


Skor terbaiknya hanyalah 2,5. Hanya hantu yang tidak merasakan sakit kepala ketika melihat lembar jawaban seperti itu. Pada lembar jawaban lainnya, nilai yang dia peroleh adalah 0.3, 1.2, dll… orang lain pasti akan kesulitan membedakan apakah kertas itu layak disebut lembar jawaban ujian ataukah bukan.


Sebenarnya, Nii-san bahkan tidak akan masuk SMA Akademi Ordo Salib jika dia melalui tes normal. Agar dia mengikuti kelas Exorcist di sekolah, Mephistopheles menggunakan otoritasnya sebagai Ketua untuk meloloskannya. Dengan kata lain, dia tidak melalui apa yang disebut sebagai ujian-masuk-super-sulit, sehingga walaupun mengerjakan ujian biasa, nilainya tidak akan bisa bersaing dengan siswa lainnya.


Meski begitu, ini terlalu mengerikan.


Jika ia tidak mendapatkan nilai yang bagus pada ujian akhir pekan depan, ia bisa dikeluarkan.


Yukio masih memegang lembar jawaban itu, berdiri dari kursinya, kemudian dia berjalan perlahan ke kakaknya yang tidur sambil membaca Jump SQ.


“Ah, hey kau… kembalikan SQ itu padaku.”


“Sejak awal, ini adalah punyaku. Pokoknya, nii-san, kau harus tahu bahwa ini bukanlah saatnya untuk bermalas-malasan sambil baca Manga.”


Rin memprotes keras meskipun majalah itu bukan miliknya. Yukio menjejalkan tumpukan kertas ujian berisikan banyak tanda silang di depan Rin, kemudian dia bersedekap dan menyipitkan matanya.


“Nilainya hanya 0,8. Dan yang ini 1,7 ... Dan kau bahkan salah menulis namamu di sini.”


“Aku, apa yang bisa aku lakukan? Namamu “雪 男” (Yukio) sangat sederhana, dan aku adalah “燐” (Rin). Itu adalah Kanji yang sangat sulit untuk ditulis!” [2]


“Baik, kalau begitu akan kubiarkan kau kembali ke pelajaran SD, sehingga kau boleh menulisnya dalam Hiragana. Jika kau menulis seperti ini, bunyinya bukanlah “Okumura Rin” karena akan menjadi “Okumura Ryuu”. Siapa Okumura Ryuu?”


“…Huu huu.”


“Aku belum selesai. Bahkan lembar jawaban pelajaran Bahasa Inggrismu tertulis “RIM OKIMVRA”. Kapan kau menjadi orang asing?”


“......”


“Aku benar-benar khawatir tentang masa depan Nii-san.”


Yukio mendesah sambil mendorong kacamatanya.


Rin duduk di tempat tidurnya dan bersiul dengan suara mendesing. Dia berencana untuk mengabaikan ini, dan di wajahnya tidak ada sedikitpun raut penyesalan. Dan juga, siulannya memiliki melodi dan setelah ia menemukan kesempatan, dia mencoba untuk merebut SQ kembali dari Yukio.


Yukio benar-benar merasa sangat khawatir tentang masa depan kakaknya.


Selama Mephisto masih menjadi ketua, ia bisa membuat atasan untuk pura-pura mengabaikannya. Tetapi sebagai adik, dia masih berharap bahwa Rin bisa melewati semester ini dengan nilai yang lebih normal.


Hari ini adalah hari Jum’at, yang berarti hanya jeda 2 hari sampai ujian sesungguhnya di hari Senin. Jika metode wayangan dikerjakan selama sisa 2 hari ini, dan dia mendapatkan sedikit keberuntungan, maka mungkin saja kakaknya bisa lulus.


Namun, ada suatu lubang menganga dalam rencana ini.


Tentu saja orang yang mengajar Rin adalah Yukio. Tapi, ada gunungan dokumen yang harus diselesaikan pada akhir periode mendatang. Dan juga, dia adalah salah satu siswa di kelas berbakat SMA Akademi Ordo Salib, sehingga bersamaan dengan pekerjaan sebagai guru di kelas Exorcist-nya, ia memiliki kesibukan yang tiada habisnya. Senin depan, selain mempersiapkan ujiannya sendiri, ia juga harus mengatur soal-soal ujian akhir untuk kelas Exorcist. Selain itu, ia juga harus menyampaikan laporan untuk hal-hal seperti: pengajuan permohonan izin untuk mengadakan kelas ekstra remidi selama liburan musim panas.


Bahkan, mungkin saja ada misi Exorcist di menit-menit terakhir.


Dia benar-benar tidak punya waktu luang yang dihabiskan untuk mengajari kakaknya.


Kemungkinan terbaiknya adalah, Nii-san segera mulai belajar dengan tenang, tapi melihat situasi saat ini, itu tidak mungkin terjadi. Dia kemungkinan besar akan terus membaca manga-nya dan mulai tidur ketika sudah merasa lelah. Dia mungkin akan menghabiskan esok hari dengan aktivitas serupa.


(Aku tidak punya pilihan……)


Yukio kembali ke mejanya dan mengangkat teleponnya. Dia membuka kontak berisikan kelompok kelas Exorcist, lantas menekan salah satu nomor.


Orang yang ditelponnya menanggapi setelah tiga kali bunyi deringan.


Wajah Yukio yang semula cemas dan depresi, langsung menjadi lebih tenang, dan ia menggunakan suara lembut untuk berbicara.


“….Ah, apakah ini Suguro-san? Aku Okumura-sensei. Maaf karena telah mengganggumu semalam ini. Bagaimana persiapan ujianmu? Apakah lancar? Ah, aku paham ... Suguro-san memang hebat, aku benar-benar menginginkan Nii-san belajar darimu. Sebenarnya alasan kenapa aku menelponmu, ada suatu permintaan pribadi…”


Beberapa menit telah berlalu. Ketika Yukio menutup telepon, kakaknya sudah menyambar kembali SQ, dan sekali lagi berbaring di tempat tidur sembari terisak-isak dengan keras.


◆◆◆


-Pada keesokan harinya, asrama laki-laki Akademi Ordo Salib terasa lebih ramai daripada biasanya.


Akademi Ordo Salib adalah suatu boarding school [3], sehingga hampir semua siswa tinggal di asrama. Namun, siswa tinggal di blok yang baru dibangun, dan hanya Okumura bersaudara yang menggunakan blok ini. Penampilannya begitu tua, mirip hotel berhantu.


-Salah satu kamar di blok tua- unit 104 berbeda dari unit 602 yang biasanya digunakan oleh mereka.


Hari ini, semua yang berkumpul di sini adalah Suguro Ryuuji, Shima Renzou, Miwa Konekomaru, Kamiki Izumo ... hampir semua siswa kelas satu Exorcist datang, dan semua orang membawa ransel olahraga, seperti ketika mereka hendak menginap bersama.


“... Dengan kata lain, kita hanya perlu mengajar Okumura, bagaimana caranya belajar dengan baik?” Suguro mewakili kelompok itu untuk bertanya.


Tanpa furnitur, ruang asrama tampak sangat luas ... atau lebih tepatnya, sepi. Pada tengah-tengah ruangan, ada meja panjang yang sering terlihat pada asrama-asrama umumnya. Rin yang tampak tak bahagia dipaksa duduk di depan meja, sedangkan Yukio berdiri di sampingnya dan berbicara dengan suara lembut, seolah-olah mereka sedang berada di kelas:


“Aku sungguh minta maaf kepada kalian semua, karena telah mengambil waktu berharga kalian sebelum ujian. Kupikir, ini akan lebih mudah daripada mengajari seekor monyet, jadi semuanya…. Tolong bantu kakakku ya. Aku berada di ruang sebelan, jadi kalau ada apa-apa, langsung saja panggil aku… aku akan segera kembali untuk melihat.”


Setelah ia membungkuk pada semuanya untuk memohon pertolongan, dia berbalik menghadap kakaknya yang berteriak: “SIAPA YANG KAU SEBUT MONYET?”


“Nii-san, jika kau berani melarikan diri, aku akan membuatmu duduk tegak sambil menahan Bariyon sepanjang malam. Lebih baik kau berperilaku baik.”


Yukio tersenyum saat berbicara, kemudian ia berjalan keluar dari pintu setelahnya. Asal tahu saja, Bariyon adalah iblis yang merasuki batu atau karang. Iblis itu mengeluarkan suara-suara aneh, namun tidak berbahaya. Tapi dia sangat berat, jadi jika ditempatkan pada lutut saat duduk tegak, itu akan mirip seperti metode penyiksaan pada zaman Edo.


“Dia memang sudah menjadi iblis.” kata Shima. “Iblis berekspresi cerah.”


“Aku benar-benar merepotkan kalian semua ... karena telah mengganggu waktu istirahat kalian yang berharga.”


Setelah menatap pintu yang baru saja dilalui Yukio dengan kesal, Rin meminta maaf kepada teman-teman sekelasnya yang berjalan ke dalam ruangan sambil menggaruk-garuk kepala.


“Lagi-lagi aku merepotkan orang lain.”


“…Memang, betapa merepotkan.”


Izumo mengerutkan bibirnya sambil mengeluh. Dia mengambil setumpuk buku diktat dari ranselnya, kemudian meletakkan itu di atas meja.


“... M-maaf.”


Mendengar Izumo mengatakan itu, Rin merasa sangat bersalah.


“Ketika ada yang menghadapi kesulitan, kita harus saling membantu, Okumura-kun.”


Konekomaru segera menghibur, kemudian ia menoleh pada Suguro yang ada di belakangnya.


“Benar, ‘kan? Bon.”


“Apa pun itu, dia sudah tenggelam sampai sejauh ini, jadi kami harus membantu.”


Suguro menjawab, kemudian menempatkan rensel terbesar di antara ransel-rensel yang dibawa teman-temannya di sudut ruangan. Selain banyak buku diktat, buku tugas, dan catatan, ada sesuatu yang tampak seperti tiang kayu yang mencuat keluar dari ransel olahraganya.


Jantung Rin berdegup kencang.


(A-apa itu? Itu terlihat seperti pedang kayu datar ... Apa yang akan dia lakukan dengan itu ...)


Dia begitu ingin menanyakan keingin tahuannya, tapi ia juga tidak mau membodohi dirinya sendiri. Selain membuat orang lian curiga, dia berpikir bahwa mungkin saja hantu akan keluar dari benda itu.


Pada Rin yang gelisah, Suguro bertanya: “Oh iya, mata pelajaran apa yang paling tidak kau mengerti? Bahasa Jepang Modern? Bahasa Jepang Klasik? Matematika? Ekonomi?”


“Inggris. Tampak Okumura-kun paling takut sama bahasa Inggris.”


Shima menyela sembari menempatkan ranselnya di dinding ruangan.


“Kemaren, ia bahkan mengatakan bahwa dia adalah seorang “Mistake man”, harusnya “Mystic”, kan?” [4]


“Ya, memang bahasa Inggris. Tapi, lebih baik jangan belajar terlalu banyak. Fokuskan saja pada mata pelajaran yang paling sulit… Apakah ada pelajaran lain yang menjadi kelemahanmu?” 


“Hmm, pelajaran lain yang menjadi kelemahanku adalah ......” Rin memutar otak sambil menurunkan suaranya. “Semuanya…”


Suguro segera tercengang setelah mendengar itu.


“Semuanya? Semuanya katamu ... Hanya tersisa dua hari lagi, bagaimana mungkin kau bisa menguasainya hanya dalam dua hari ini!!”


“Jika setiap orang bertanggung jawab atas mata pelajaran yang berbeda, lantas mengajarinya, maka sepertinya masalah ini teratasi.”


Melihat Suguro yang gelisah, Konekomaru dengan cepat menenangkannya. Di samping mereka, Shima membuka amplop berwarna seperti kopi.


“Oh, barusan saja Okumura-sensei menyerahkan ini kepadaku sebelum pergi.”


Adakah soal-soal ujian di dalam sini? ... Shima berpikir begitu sambil membuka amplop yang Yukio berikan. Akhirnya, munculah tumpukan lembar jawaban ujian yang suram dari dalam amplop tersebut ...


Semua orang terdiam.


“1.2 ... ?!”


“Apa itu, hasil untuk tes visi?” [5]


“Ini bukan sesuatu yang dapat diselesaikan hanya dalam waktu 2 hari.”


Semuanya saling memandang. Bahkan Konekomaru yang biasanya menjadi penengah, kini tak bisa berkata apapun. Rin semakin meringkuk.


“-Baiklah, jangan khawatir, Okumura-kun.”


Shima yang tanpa sengaja membuat suasana semakin muram beberapa derajat, tiba-tiba menggunakan nada cerah untuk berbicara.


“Izumo adalah peraih nilai terbaik di kelas, Bon memiliki bakat untuk menjadi cabul… bukan, bukan, maksudku jenius. Konekomaru baik dalam mengajari orang lain, dan Takara-kun ......”


Ketika ia menyebutkan nama itu, dia pun melempar tatapan matanya ke arah lain. Takara, siswa paling misterius dan tenang di kelas ini hanya mengutak-atik bonekanya, dan mengeluarkan suara perut tanpa peduli pada situasi di sekitarnya.


Lagipula, mengapa dia bisa datang ke sini, itu masih menjadi misteri.


“Aku pikir dia cukup pintar.”


Shima dengan paksa mengacungkan ibu jarinya, dan memperbaiki pernyataannya.


“Kita akan bisa menyebrangi jempatan sepanjang apapun asalkan bersama, dan jangan pernah percaya adanya malam tak berujung.”


“Oh!”


Rin hanya bisa bertepuk tangan dengan sorakan terpaksa mirip seperti yang biasa terdengar di iklan-iklan. Namun, Suguro memelototi Shima dengan curiga.


“Ada apa denganmu, berbicara begitu penuh semangat tapi kau bahkan tidak menyertakan dirimu sendiri. Apakah kau punya hak untuk mengajari yang lainnya?”


Shima dengan bangga menertawakan pertanyaan Suguro. “Kekeke, Bon, jangan memandang rendah diriku. Selama 3 tahun aku bersekolah, nilai pendidikan jasmaniku selalu mendapatkan 120. Kamiki, aku menakjubkan, bukan ♡?”


“Eh ... Tapi pendidikan jasmani tidak diujikan dalam tes akhir besok.”


Karena tiba-tiba dimintai persetujuan, Izumo mengangkat kepalanya untuk menatap Shima sambil melangkah mundur. Dia juga menjaga jarak dari Shima yang selalu tampak mesum.


“Pendidikan jasmani tidak penting. Bagaimana tentang mata pelajaran lain? Jangan-jangan nilaimu tak berbeda jauh dari Okumura.”


“Hahaha, aku tidak seburuk itu. Rata-rataku untuk semua mata pelajaran masihlah bernilai 15.”


Shima mengumumkanya dengan dingin, sementara seluruh ruangan tenggelam dalam keheningan lagi.


Hanya Rin yang memberikan tatapan kagum.


“15 adalah berkali-kali lipat dari nilai rata-rataku. Betapa menakjubkan, Shima, sebenarnya kau sungguh memiliki otak.”


“Aku benar, kan? Semua orang mengatakan bahwa aku adalah pria yang akan berusaha secara total.”


Setelah mendengar pujian Rin, Shima juga membusungkan dadanya dengan bangga.


“Tidak, aku sakit kepala.” Suguro mencengkeram kepalanya.


….Akhirnya, Shima dan Rin harus dibimbing langsung oleh siswa lain.


Rin dan Shima duduk berdampingan sambil menghadap jendela. Di hadapan mereka adalah Suguro, Konekomaru dan Izumo. Paku duduk di samping Izumo, tapi ia tampaknya kurang tertarik.


“Akan lebih baik jika Shima dan Okumura duduk terpisah.” saran Suguro.


“Bagi semuanya menjadi 2 kelompok, yang satu untuk mengajar Shima dan satunya lagi mengajar Okumura-kun, kan?” Konekomaru menjawab saran Suguro, kemudian dia dengan cepat berkata: “Atau mungkin dibagi per mata pelajaran?”


Dengan pendengaran yang baik, Shima segera berbicara setelah mendengar itu: “Kalau begitu, dapatkah aku memiliki Izumo sebagai pembimbingku ~~?”


Dia tiba-tiba menjadi sangat antusias, dan bahkan membungkuk ke depan untuk lebih dekat dengan Izumo yang duduk di seberangnya.


“Ajari aku dengan lembut, oke? Kau begitu manis dan cantik hari ini, dan bintang-bintang pada kemejamu begitu cocok denganmu ♡”


Shima-benar menunjukkan keinginannya, sehingga Suguro menjambak rambut merah mudanya dan menariknya mundur.


“Kau dengan aku.”


“Eh ... Bon!”


“Aku akan melakukannya empat mata denganmu.”


Ketika ditatap oleh mata yang tampak seperti setan, Shima pun mengempis bagaikan balon.


Dia menatap Konekomaru yang berada di sebelah Suguro, kemudian melihatnya dengan ekspresi memelas.


“Lebih baik Shima menjaga hawa nafsunya.”


“Bahkan Konekomaru juga ...”


Di depan Shima yang mendesah dan menundukkan kepalanya, Suguro tanpa ampun menumpuk buku-buku pertanyaan sampai setinggi gunung. Setelah itu, ia dengan cepat melingkari halaman-halaman tertentu, dan memberinya tanda.


“Dalam waktu satu jam, selesaikan semua pertanyaan itu, kemudian berikan kembali padaku. Dengarkan dengan seksama ketika aku menjelaskan. Jika kau gagal, aku tak akan bisa menghadap Yaozou.” [6]


“Ini terlalu berlebihan ... Saat ini, seharusnya ada seorang gadis yang mengajarku dengan lembut dan tepat, kemudian muncul benih-benih cinta diantara kami ... Ini harusnya berakhir dengan asmara, tapi kenapa malah jadi seperti ini?”


Hampir nangis, Shima masih menatap Izumo dengan getol.


Melihat Shima yang masih saja mengumbar nafsunya meskipun dia seorang biarawan, pembuluh darah pada pelipis Suguro pun menebal.


“Konekomaru, ambilkan Keisaku dan pukul dia dengan keras.”


Dia memberikan perintah, dan ekspresi Konekomaru berubah jadi serius, ia pun mengangguk sebelum mengambil tongkat kayu panjang dari ransel olahraga milik Suguro.


Keisaku biasa digunakan untuk meningkatkan konsentrasi seseorang selama meditasi di kuil. Tampkanya, tongkat itu sudah sering digunakan untuk waktu yang lama.


Konekomaru berdiri di belakang Shima dan mengangkat Keisaku yang hampir setinggi tubuhnya, sementara wajah Shima berubah menjadi hijau segera setelah melihatnya.


“... Tidak, tidak mungkin, kau tidak akan mungkin melakukannya, kan? Kau hanya berpura-pura, ‘kan? Ko-konekomaru?”


“Shima, kau bersalah.”


Konekomaru menutup kedua matanya dan berkata dengan nada menyakitkan, tapi setelah melepaskan teriakan keras, dia menunjukkan keyakinan pada raut wajahnya sambil menyiapkan tongkat tersebut dengan mantab. Di saat berikutnya ...


BRAAAKKK……


Suara berat seperti ketika merobek daging, terdengar di ruangan itu.


“AH C.I.U (talk) 05:36, 25 April 2017 (CEST) !!”


Langsung saja, Shima melepaskan jeritan melengking, seolah-olah dia melihat kawanan serangga yang bergemerisik.


Matanya putih, dan dia rebahan di meja.


Suguro hanya melihat jam tangan, seolah-olah tidak ada yang terjadi.


“Lima puluh tujuh menit tersisa.”


Dengan tenang, dia menghitung mundur waktu yang tersisa.


“B-begitu menakutkan ...”


Adegan tragis di depan Rin membuat sekujur tubuhnya menggigil, kemudian dia dengan cemas menjaga jarak dari tiga orang itu.


Meskipun ia bisa bersimpati terhadap Shima, ia merasa beruntung bahwa tongkat panjang itu tidak digunakan padanya.


Tidak lama setelah tenang, ia langsung disambar oleh Izumo yang menunggunya.


“Kamu denganku.”


“Wh-whoa!”


Di hadapan tatapan mata Izumo yang penuh amarah, dan alisnya yang berkerut, Rin duduk di ujung meja yang berlawanan dengannya. Izumo mengambil catatannya, kemudian membuangnya di hadapan Rin.


“Dengarkan! Untuk matematika, kau hanya perlu mengingat rumus sehingga kau bisa mendapatkan nilai yang memuaskan. Setelah itu, kau harus memahami poin pentingnya…….”


“Wow, sungguh indah, tulisanmu super indah.”


Tulisannya tampak seperti koreksi yang biasa guru tulis, dan langkah-langkah pengerjaan soal terlihat seperti yang ada di buku diktat. Tanda stabilo terlihat di mana-mana, dan kadang-kadang ada penjelasan bergambar. Itu adalah catatan seorang gadis yang begitu presisi: mudah dibaca dan sangat sederhana untuk mengerti.


Melihat catatan yang jauh berbeda dari miliknya, Rin pun sangat tersentuh, dia memuji Izumo dari lubuk hatinya yang terdalam: “Aku baru tahu bahwa ternyata kau sepintar ini.”


“I ... I-ini bukan apa-apa! Aneh rasanya jika melihat dirimu yang kerjanya hanya tidur selama kelas berlangsung, dan bahkan tidak menyalin catatan apapun. Buat apa kau pergi ke sekolah!”


Dengan telinganya yang memerah, Izumo lagi-lagi mengangkat alisnya sambil menatap Rin. Aku masih dimarahi, padahal aku sedang memuji seseorang, pikir Rin.


(Betapa menakutkan ...) Dia menjadi begitu gugup sampai-sampai seluruh tubuhnya mengaku.


“Aku akan mulai dari pertanyaan ini, oke? Mengapa kau masih bengong? Cepatlah dan keluarkan pensil mekanikmu!”


“…Oh baiklah.”


Seperti binatang peliharaan, Rin dengan patuh mengikuti perintahnya, lantas dia mengeluarkan pensil mekanik miliknya.


Seiring dengan omelan Izumo, dia mulai memecahkan soal-soal matematika


Namun, kepalanya hanya berkibas ke kiri dan kanan, dia sama sekali tidak ada kemajuan dalam menyelesaikan soal itu.


Guratan demi guratan otot muncul di dahi Izumo dengan perlahan-lahan.


Lantas, dia dengan cemas bertanya:


“... Jangan bilang bahwa kau bahkan tidak tahu berapakah jawaban sembilan kali sembilan ...”


“Nah, aku tahu. Dua kali dua adalah empat, dua kali tiga adalah enam”


“Delapan kali sembilan…….”


“Empat puluh dua.”


Rin dengan girang menjawab pertanyaan Izumo.


Sambil memejamkan kedua matanya, Izumo menggebrakkan kedua tangannya di meja.


Meja tua itu mulai mengeluarkan suara mendecit.


“... Delapan kali sembilan adalah tujuh puluh dua.”


“Eh? Tujuh puluh dua? Bukankah aku tadi mengatakan itu?”


Rin mengacak-acak rambutnya yang berantakan, dan dia ingin menyelesaikan ini hanya dengan menggunakan senyuman. Izumo memelototi dia dengan tajam dan berkata: “Tadi kau jelas-jelas mengatakan empat puluh dua, empat puluh dua! Jawaban yang benar adalah tujuh puluh dua! Mengapa ketika delapan kali delapan sama dengan enam puluh empat, hasilnya delapan kali sembilan justru lebih kecil dari itu?? Mengapa justru lebih kecil??!!!!”


“Jangan mempermasalahkan hal-hal sepele seperti itu, itu hanyalah angka, jadi bedanya tidak terlalu jauh.”


“Tentu saja aku mempermasalahkannya! Apa kau tidak tahu? Perkalian hingga sembilan kali sembilan sudah diajarkan sejak SD kelas 2, bagaimana caranya merubahmu menjadi siswa sekolah menengah hanya dalam waktu 2 hari?!”


“Jangan marah, berusahalah dengan sebaik-baiknya ya, mbak alis tebal.”


“Satu-satunya orang yang harus berusaha sebaik-baiknya di sini adalah kau!! Dan jangan panggil aku mbak alis tebal!!”


Seolah-olah tidak ada yang terjadi, Rin menepuk bahu Izumo dan itu semakin membuatnya geram. Tentu saja, masih belum ada kemajuan pada soal yang dia kerjakan.


“Hebat bener ... Okumura-kun bisa bertengkar dengan Izumo bagaikan sepasang kekasih.”


Shima yang juga dipaksa untuk mengerjakan soal latihan, melihat mereka dan bergumam dengan iri.


Matanya penuh dengan hasrat, dan air mata yang tak terbendung bahkan mengalir di kelopak matanya.


“Shima.”


Sampai segitunya Shima menginginkan seorang gadis, dan Konekomaru hanya bisa menunjukkan ekspresi: “apa boleh buat lah….”.


Sembari duduk berlawanan dengan Shima, Suguro yang sedang bersedekap tiba-tiba menghadapkan wajah iblisnya pada Shima, dan mengatakan: “Kau begitu menginginkan pertengkaran antar kekasih karena otakmu hanya dipenuhi oleh hawa nafsu. Konekomaru, lakukan lagi!!” Suguro menoleh pada Konekomaru, lantas dia dengan ringan menganggukkan kepalanya.


Ketika Shima menyadari, Keisaku di belakangnya sudah terangkat tinggi ke udara.


“Eh, eh ... T-tunggu!”


“Hawa nafsu, pergilah!! HAARGH !!”


“Waahhhh ~~ !!”


Sekali lagi, sebagian nyawa Shima lepas dari mulutnya, kemudian lenyap di udara. Lagi-lagi, Shima rebahan di meja dengan mata putih.


“Shima, jangan mati! Aku tidak akan mengijinkan kau mati!!”


“Cepat selesaikan soalmu!!”


Di sudut dinding, Takara yang matanya tidak jelas sedang tertutup atau terbuka, menatap mereka dan berkata:


“Hmph ... betapa berisik sekumpulan bocah ini.” Dengan menggunakan suara perut, boneka kelinci putih di tangannya berbicara.


Asal tahu saja, tak seorang pun pernah mendengar suara bocah ini.


◆◆◆


Sejak jam setengah sembilan pagi sampai sekarang (jam 12 siang lebih), Shima dan Rin masih saja mengeluh.


“Tidak mungkin! Aku tidak bisa melakukan ini! Hawanya terlalu panas, sampai-sampai aku tidak bisa berpikir! Otakku mencair !!”


“Aku juga ... Aku tidak bisa melakukannya ... jika aku tidak bisa mendapatkan udara segar ... aku akan mati.”


Sekarang, sudah pertengahan Juli. Dengan matahari yang bersinar terik, asrama tua tanpa AC itu terasa bagaikan sauna.


Selain dua orang yang dipaksa untuk mengerjakan soal, bahkan teman-temannya yang bertanggung jawab sebagai pengajar juga mulai kelelahan. Hanya Takara yang tidak melakukan apa-apa yang masih energik. Tuhan tahu tubuhnya terbuat dari apa, melihat itu dalam hawa panas yang memusingkan seperti ini, dia sama sekali tak terpengaruh.


“…Aku mulai menyerah mengajarimu. Baiklah, istirahat sepuluh menit dulu.” kata Suguro sambil menggunakan handuk untuk menyeka keringatnya.


Izumo menghela napas panjang sambil mengipasi dirinya sendiri, rambutnya yang berantakan menempel lengket pada lehernya yang pucat.


Konekomaru juga akhirnya meletakkan Keisaku itu.


“Eh ... hanya sepuluh menit. Bon ... itu terlalu kejam.”


“Tidak terima? Kalau begitu lima menit, Shima.”


“... aku mau ke toilet.”


Shima menahan air mata sedihnya, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan bersama Rin ke koridor untuk mengambil udara segar.


Karena asrama ini sudah cukup tua, sesekali terdengar decitan keras pada koridor. Shima dengan kikuk berlari di belakang Rin yang berbalik lesu.


“Hei, Shima ...”


“Okumura, ayo kita melarikan diri.” Shima berbisik kepada Rin dengan wajah penuh dengan semangat.


“Melarikan diri? Bagaimana caranya…..”


“Shh.” Shima dengan cepat mencoba untuk membungkam Rin, sambil menatap sekeliling.


“Karena Bon adalah pengawasnya, maka kita tidak akan pernah tahu kapankah istirahat selanjutnya. Jadi, sekarang adalah satu-satunya kesempatan kita.”


Shima berlagak bagaikan aktor dalam film mata-mata, tapi Rin menjawab dengan nada tertekan.


“Tapi, kata Yukio kalau kita lolos, Bariyon itu akan menimpa kita ...”


“Kalau begitu, ya jangan sampai tertangkap. Kalau mereka tidak bisa menemukan kita, bagaimana bisa kita dihukum?”


Setelah Shima berbicara, dia meletakkan kedua tangan bersamaan, dan berkata: “Ini terlalu aneh”


“Sekarang adalah musim panas. Biasanya musim panas harus diisi dengan banyak hal-hal yang membahagiakan, kita harus mendapatkan musim panas yang penuh dengan suka cita. Seharusnya kita melihat: gadis-gadis berpakaian renang, pakaian renang, pakaian renang, pakaian renang, pakaian renang, pakaian renang, pakaian renang, pakaian renang, dan pakaian renang,…. Tapi kenapa kita harus menderita dengan belajar di ruangan mirip sauna ini? Benar kan, Okumura?”


“Hei, dari tadi kau hanya ngomongin pakaian renang saja.”


“Satu-satunya hal yang sebanding dengan gadis-gadis berpakaian renang, adalah gadis-gadis di kamar setelah mandi.”


“Bukannya aku tidak mengerti perasaanmu ... Tapi kalo logika sederhana seperti itu, aku juga tahu.” Rin setuju.


Lantas, mereka berdua saling memandang satu sama lain, dan mengangguk tanpa kata. Satu-satunya hal yang berbeda adalah, ekspresi Shima jauh lebih bersemangat. Mereka berdua menuju ke gerbang asrama.


“BRUUUUUKK” bahu mereka tiba-tiba terhantam dengan keras, dan pada saat yang sama, tangan yang tebal muncul.


“….. Bolehkan aku bertanya mau kemanakah kalian berdua?”


Suaranya mantab dan kekuatan cengkramannya bahkan sebanding dengan gorila, itu langsung membuat jantung mereka berpacu kencang. Dengan wajah menghijau, mereka berbalik ketakutan.


Itu adalah pemandangan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya: Suguro tersenyum lebar.


“Su-Suguro ... H-hey ~ Bagaimana kabarmu? Meskipun kami bersama-sama ...”


“B-Bon... kau di sini???”


“Hawanya benar-benar panas, jadi aku ingin pergi ke luar untuk mencari angin sejuk. Tapi, toiletnya bukan di sana, Shima.” Suguro menjawab dengan senyum sementara tetesan keringat mulai mengalir di pelipis Shima.


“Ah, y-ya, toiletnya ada di sana yaa, aku sangat ceroboh ~~”


“Ha, hahaha ... Shima, kau seperti seorang idiot ~~ kau sudah sebesar ini tapi masih saja tersesat ~~”


Rin dengan cepat mencoba untuk menambahkan sesuatu agar mengakhiri situasi mengerikan ini.


“Kalian berdua mencoba melarikan diri, bukan?”


“!!”


Suguro bertanya dengan suara yang dalam, dengan senyum yang masih terpampang di wajahnya. Ekspresi mereka tiba-tiba membeku. “Whoa.”


“... Kau tampaknya tidak menyadari, demi siapakah kita repot-repot melakukan semua ini.”


Keduanya tidak dapat bergerak, bagaikan katak yang sedang diincar mangsanya. Senyum Suguro langsung berubah menjadi ekspresi yang bahkan dapat menakut-nakuti iblis dari neraka.


“Kembali ke kamarmu sekarang. Hukumannya hanyalah mengerjakan lebih banyak soal. Atau, aku punya rencana lainnya. Bagaimana? Mana yang lebih baik? Mana yang kau pilih.”


Suguro mengulurkan kedua lengannya yang bermunculan pembuluh-pembuluh darah tebal, sembari dia menggertakkan jari-jemarinya dengan keras.


“Baik”


“Kembali.”


Keduanya menjawab beruntun dengan suara mirip robot. Mereka terlihat bagaikan sapi yang dibawa ke tempat penjagalan.


Setelah musim panas tahun itu, sepertinya lagu sedih “Donna Donna” dapat terdengar dari suatu tempat. [7]


◆◆◆


….Ketika Yukio datang untuk mengirim bekal makan siang, tidak ada waktu istirahat dan mereka berdua dipaksa untuk menjawab soal non-stop, sampai Suguro mendengar melodi jam yang menunjukkan bahwa sekarang sudah pukul 05:00 sore.


“Baiklah, istirahat selama 30 menit.”


Ketika ia mengumumkan ini, Rin dan Shima sudah tidak memiliki kekuatan untuk melarikan diri.


Kedua orang itu beristirahat di lantai dengan lunglai, dan bersandar pada meja. Tidak ada yang memiliki sisa energi, bahkan mereka tak sanggup mengeluh bahwa 30 menit adalah waktu istirahat yang terlalu pendek.


Tanpa sadar, sinar matahari dari luar jendela telah menjadi merah tua, dan angin terasa lebih hangat.


“Betapa melelahkan ...” Izumo mengatakannya sembari mengatur rambutnya yang sedikit berantakan, kemudian mengikatnya model kuncir kuda. Shima yang biasanya menghidupkan suasana, kini hanya diam…. Tidak juga, ia berusaha yang terbaik untuk menjawab soal, tapi ia tak berdaya melawan kelelahannya ...


Melihat Shima, Konekomaru perlahan menempatkan Keisaku di atas meja, dan mengatakan: “Sepertinya kita tidak membutuhkan Keisaku ini lagi.”


“Konekomaru ... setelah kau terus-terusan menyedot hawa nafsu dariku, kau pikir apa lagi yang tersisa ...”


Shima yang tampak sekarat, seperti akan menangis darah.


Rin berbaring di lantai dengan posisi telentang, dan uap hangat bisa terlihat memancar dari kepalanya.


Suguro mendekati Izumo untuk bertanya: “Hei, Kamiki, bagaimana denganmu?”


“Dia berhasil menghafal tabel perkalian sampai 9x9 dengan bersusah payah.”


Izumo mengernyitkan alisnya saat ia menatap Rin yang masih rebahan di lantai.


Dengan seluruh wajahnya memerah dan hanya bagian putih matanya yang terlihat, Rin tampak berbicara sendiri dalam tidurnya, dan terus-terusan bergumam. “Empat kali dua sama dengan delapan, empat kali tiga sama dengan dua belas” Dia bahkan membuat kesalahan, dengan mengatakan bahwa empat kali lima sama dengan sepuluh.


“Tadi kan aku sudah bilang, hasilnya tak mungkin berkurang!” Izumo membentaknya dengan emosi, sebelum akhirnya dia melemaskan bahunya.


“... bagaimana bisa mereka menghadapi ujian dalam keadaan seperti ini?”


“Masa depannya terlihat suram.”


Suguro menekan pelipisnya.


Pada saat yang sama, Takara yang berada di seberang ruang mengatakan: “Cih ... berkat bocah-bocah ini, akupun jadi lelah.” boneka yang berada di tangannya pun merespon. “Kau memiliki saran?”


Suguro begitu marah, sampai-sampai dia bereaksi dengan berdiri.


“Kau hanya menonton! Lagi pula, apa yang kau kerjakan sejak awal!!”


“Lupakan saja.” Konekomaru segera menenangkan Suguro.


“Semuanya lelah. Okumura-sensei tadi bilang, bahwa dia akan membawa makan malam, jadi aku akan pergi untuk membeli beberapa es loli.”


“Oh, terima kasih.” Suguro mengucapkan terima kasih.


Di sampingnya, Rin bergumam tanpa nyawa: “Pop-es loli ...”


“Okumura-kun ingin es loli, kan?”


Konekomaru tersenyum sambil berjalan menuju pintu keluar. Ketika ia kesulitan membuka pintu, salah satu teman sekelas mereka, Moriyama Shiemi, muncul di depannya.


Dia selalu saja mengenakan Yukata ketika tidak bersekolah, hari ini ia mengenakan Yukata dengan motif yang imut. Dia juga membawa piring kayu besar, dengan kain bergambar burung.


“Ah, Miwa-kun.”


“Eh? Moriyama-san? Mengapa kamu di sini?”


“Oh, itu benar-benar Moriyama-san.”


“Shi-Shiemi ...?”


Pandangan semuanya tertuju pada suara Konekomaru berasal. Shiemi yang mudah gugup, mencoba sebisa mungkin untuk berbicara dengan wajah merona.


“Ah, Yuki-chan sudah menceritakan semuanya-”


Pada siang hari, Yukio pergi untuk mengunjungi mantan rumah Shiemi, yaotu Toko Exorcist yang khusus menjual perlengkapan Exorcist. Setelah mendengar tentang kejadian di asrama, dia meminta Yukio mengirim makan malam untuk semua orang.


“Karena aku tidak mengikuti kelas umum, jadi aku tidak bisa membantu kalian. Tapi jika aku ingin memasak ... harusnya aku masih bisa membantu ...”


Dia perlahan-lahan kehilangan kepercayaan dirinya, sampai suaranya hampir tidak terdengar. Tangannya yang memegang piring kayu juga gemetar tanpa henti.


Konekomaru mengambil piring dan menggunakan suara yang cukup keras untuk mengumumkan: “Hei semuanya, Moriyama-san akan membantu kita menyiapkan makan malam.”


Rin yang dari tadi roboh di lantai, dalam sekejap nyawanya langsung kembali ke raga.


“Yay, saatnya makan malam!”


“Shiemi-san memang hebat! Seorang gadis pemasak ... Kulihat semacam cahaya suci yang bersinar di belakangmu.” Shima menghadap Shiemi, sambil menyatukan kedua telapak tangannya dengan pose seperti berdoa.


Suguro tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


Melihat tanggapan semuanya, wajah Shiemi semakin merona, dan dia pun berkata: “I-Ini bukan apa-apa... meskipun tidak terlalu enak .... kuharap masakan hari ini berbeda dari hari biasanya.”


“Aku tak sabar memakannya.”


Konekomaru dengan lembut melepas kain dari piring kayu. Sesaat berikutnya, terdengar suara gemerisik dari piring kayu. Untungnya atau mungkin lebih tepat jika dikatakan sialnya, Konekomaru tidak pernah mendengar suara ini.


“Inikah yang akan kita makan?”


“Ya- Ini adalah biskuit vanilla dan sup herbal yangn cara memasaknya diajarkan oleh Nenek. I-ini adalah makanan terbaik yang pernah aku masak.” Jelas Shiemi.


“Akhirnya! sup dan biskuit buatan tangan seorang gadis! Oh ... ini bagaikan mimpi anak laki-laki!!”


Mendengar jawaban Shiemi, Shima begitu tersentuh sampai-sampai dia hampir menangis.


“... Sungguh, aku bersyukur telah diberi kesempatan hidup sampai saat ini.”


Bahkan setelah dihajar oleh Keisaku, nafsunya masih saja kembali.


“Ah, ada juga teh vanili. Aku membawanya dalam termos, jadi jangan minum berlebihan ya.”


“Oh-Meskipun aku tidak tahu apa itu, tetapi tampaknya lezat.”


Dari sisi lain meja, Rin sangat senang sampai-sampai ia meneteskan air liur. “Aku tidak tahu apa itu vanili, ahhh andaikan saja itu daging…” pikir Rin. Ekornya yang bersembunyi di balik pakaiannya hampir tidak bisa menahan goyang.


Di sampingnya, Suguro mengatakan: “Tampaknya baik untuk kesehatan tubuh.”


Dia juga merasa senang.


“Kalau begitu, aku akan meletakkannya di atas meja. Dapatkah kau membantuku menyingkirkan buku-bukunya terlebih dahulu?”


Konekomaru berjongkok dan menempatkan piring itu di sisi meja.


“Ah, Miwa-kun, aku juga akan membantu.”


“Apakah kita tidak perlu mengelap meja?”


Semuanya (tidak termasuk Takara) dengan senang hati membersihkan meja beserta benda-benda di atasnya. Hanya Izumo yang memperhatikan bahwa ada bau aneh dari balik kain itu, dan juga terdengar suara aneh ...


◆◆◆


“... Baiklah, laporannya akhirnya selesai.”


Yukio berhenti menatap kalkulator, lalu dia menggosok matanya yang cukup lelah. Setiap kali dia berkonsentrasi penuh pada tugas tertentu, dia akan keasyikan sampai lupa makan atau tidur. Ini adalah kebiasaan buruknya.


Langit di luar jendela sudah berwarna merah dan berawan.


Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan bahwa itu sudah melampaui pukul 17:00.


Yukio melakukan beberapa gerakan peregangan di kursinya. Bukan hanya matanya, bahkan bahu juga terasa begitu kaku.


“Aku penasaran, apa yang sedang dilakukan Nii-san dan yang lainnya?”


Sejak ia mengirim bento pada siang hari, ia tidak pernah menengok kelompok belajar itu lagi.


Karena Shiemi telah mengatakan bahwa dia akan membawakan makan malam untuk mereka, maka ia akan membeli beberapa minuman dan biskuit untuk melengkapinya. Itulah yang dipikirkan Yukio saat ia mengambil handphone dan dompetnya sebelum pergi.


Ruang di mana semuanya belajar adalah ruang 104 di lantai pertama. Meskipun bangunan itu sudah tua, keberisikan yang terjadi pada kamar mereka tidak akan mencapai Yukio yang berada di lantai enam.


Pada pintu utama asrama, Yukio mendengar suara gemuruh gembira. Shiemi tampaknya telah tiba, sehingga semuanya pasti sedang menikmati makan malam sekarang.


Dengan senyum lebar di wajahnya, Yukio berjalan keluar dari asrama.


Pada kompleks Akademi Ordo Salib yang diselimiti cahaya matahari senja, ia dengan santai melenggang ke supermarket terdekat. Panas terik pada siang hari, sekarang tergantikan oleh angin kering.


Meskipun ia mengkhawatirkan kelompok belajar itu, tapi ketika dia menengok mereka pada siang hari tadi, sepertinya kakaknya sedang belajar dengan serius. Sepertinya ‘belajar dengan tekun’ bukanlah kata yang tepat, itu lebih mirip ‘belajar terancam’ oleh sorotan mata Izumo dan Suguro yang mengerikan. Dia pun merasa bahwa tindakan kakaknya itu tidak wajar.


Tapi dengan begini, dia tidak perlu khawatir tentang Rin yang berusaha melarikan diri.


Entah kenapa, bahkan Shima juga mendapatkan kursus belajar singkat dari Suguro.


-Tampaknya tidak ada masalah serius. Rasa tanggung jawab Suguro sangatlah kuat, Konekomaru sangat pengertian, sementara Izumo adalah gadis yang serius dan pekerja keras.


Meskipun Yukio merencanakan ini dengan mendadak, namun tampaknya mengundang teman-teman sekelas untuk mengajari kakaknya belajar bukanlah ide buruk.


“Kau sungguh idiot! Bagaimana bisa penulis Genji Monogatari berubah menjadi Hikaru Genji?! Ini bukan otobiografi.” [8]


“Itu tidak salah, sepertinya aku pernah mendengar Kin-nii mengatakan ini sebelumnya ...”


“Kau dan Kinzou sama-sama bodoh !! Dan juga, penulis Houjouki


“Jangan marah, Bon. Dia hanya sedikit salah.”


“Sedikit?! Apanya yang sedikit!! Penulis “Genji Monogatari” adalah Murasaki Shikubu dan penulis “Houjouki” adalah Kamo no Choumei.”


“Whoa- betapa menakjubkan !! Suguro, otakmu benar-benar luar biasa.”


“Kau masih punya waktu untuk mengagumi orang lain! Mengapa jawaban ini memiliki dua desimal?”


“? Desimal ... apa itu?”


“-! Argh- Aku benci ini ...! Mengajar monyet lebih mudah daripada mengajarimu.”


“Ah-! Izumo, kata-katamu tadi yang: ‘-! Argh- Aku benci ini ...!’ terdengar sangat imut dan seksi! Katakan sekali lagi dong, biar aku bisa mendengarnya ~~ ♡”


“Hei…”


“Konekomaru, jangan berikan belas kasihan, pukul dia dengan kekuatan yang cukup untuk membuatnya pingsan.”


“Amida Butsu !!” [9]


“Eh ... T-tunggu, kau bahkan tidak memberiku isyarat, lantas main hajar begitu saja ... Ah, ah ah ah ah ~~ !!”


“Keke ......”

AnEv1i6.jpg

Yukio memilih jus buah yang akan dia beli sebagai ucapan terimakasih untuk kerja keras teman-temannya. Dia mengingat kembali percakapan-percakapan yang didengarnya siang tadi di dekat kamar, dan dia pun hanya bisa tertawa ketika membayangkan apa yang sedang terjadi di sana. Tak lama kemudian…


“Hei, apakabar, dasar pengecut bermata empat? Senyum-senyum sendirian di sana, sungguh menjijikkan. Akhirnya otakmu konslet juga ya.”


Di belakangnya, terdengar suara yang sangat tidak sopan.


Dia adalah mantan didikan almarhum ayah angkatnya, Fujimoto Shirou. Dan juga penjaga Rin, dia bahkan lebih superior daripada Yukio- nama wanita kasar itu adalah Kirigakure Syura. Asal tahu saja, dia berusia 18 tahun ♡ - Seperti itulah katanya, tapi sebenarnya- dia masih berusia 16 tahun. Meskipun ia memiliki lidah yang tajam, tetapi dia memiliki dada yang cukup montok, dan memakai pakaian terbuka yang membuat orang gagal fokus. Saat ini, ia mengenakan Kimono sepanjang paha. Harusnya begitu ... ah tidak, itu hanya pakaian tidur.


Semua pelanggan lain tercengang, dan bahkan mereka mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Tidak, itu karena…. Tunggu, apa yang kau maksud pengecut?”


Yukio dengan tenang menjawab. Jika dia menjawab dengan gegabah, maka julukan itu pasti akan terus tersemat pada dirinya.


“Syura-san, apa yang sedang kau lakukan di sini?”


“Tidur.”


Jadi itu memang pakaian tidur.


Syura yang mengantuk, menahan menguap sembari dia menaruh beberapa bir dan anggur bermerk Ordo Salib pada keranjang belanjaannya.


Ada 80% kemungkinan bahwa dia sengaja membeli minuman-minuman keras itu untuk diminum segera setelah bangun pagi, atau disimpan beberapa saat setelah makan. Dari penampilannya, mudah ditebak bahwa wanita ini suka meminum sejumlah besar alkohol, namun dia memiliki perut yang tidak cukup kuat. Siapa pun yang minum alkohol bersamanya, pasti akan hancur. Karena Yukio masih di bawah umur, dia tidak pernah minum bersama Syura. Tapi dia pernah terlibat dalam beberapa insiden yang disebabkan oleh Syura yang mabuk.


“Hari ini kau membeli banyak alkohol ya.”


“Daripada kau, sudah tua masih saja jadi pesuruh. Kau sungguh menyedihkan.”


Shura menatap keranjang Yukio dan tertawa sambil bertanya.


“Nggak. Apapun itu, satu-satunya orang yang memperlakukanku seperti seorang pesuruh adalah kau? Ini adalah hadiah untuk teman-temanku.”


“Hadiah?”


Shura memiringkan kepalanya dengan bingung. Yukio menceritakan semuanya tentang kelompok belajar itu.


“Mengajari dia bahkan lebih sulit daripada mengajari monyet.”


Shura mengacak-acak rambutnya yang tampak seperti orang barusan bangun. Dia lagi-lagi menahan menguap, kemudian bertanya pada Yukio: “Oh iya, mengapa tadi kau senyum-senyum sendirian?”


“Nggak kok ......”


Yukio ragu-ragu menjawabnya. Biasanya, dia hanya akan menanggapinya dengan senyuman, kemudian mengabaikannya. Tapi kali ini, entah kenapa dia lebih suka berterus-terang….


“... Jarang sekali aku melihat Nii-san bergaul baik dengan teman-teman sekelasnya.”


Ketika Rin masih di SMP, ia tidak bisa mengendalikan kekuatannya, dan sesekali kehilangan kendali. Karena itu, orang-orang di sekelilingnya takut padanya, sehingga dia pun sering dikucilkan.


Jangan tanya tentang upacara kenaikan atau perayaan sekolah, ia bahkan tidak hadir pada upacara kelulusan.


Karena Yukio selalu disibukkan dengan tugas Exorcist, ia tidak pernah tahu teman-teman sekelasnya dengan baik. Meskipun ia bisa bergaul baik dengan semua orang, ia tidak pernah punya kenangan khusus bersama siapapun.


Tapi, ia merasa bahwa kakaknya selalu ingin mengerti orang lain, dan ingin mendapatkan teman sebanyak mungkin.


“Jadi, andaikan Ayah bisa melihat bagaimana keadaan Nii-san seperti sekarang ini...”


Mungkin dia akan sangat senang… Yukio menelan kata-kata tersebut, dan tersenyum senyap.


Melihat Yukio seperti ini, Shura menunjukkan ekspresi bagaikan orang yang melihat harta langka. Akhirnya, Syura pun tersenyum sedikit, lantas dia menggunakan nada bicara yang biasa, dan mengetuk bagian belakang kepala Yukio dengan ringan.


“…. Ampun deh, jika kau cepat dewasa begini, tak lama lagi kau akan botak.”


◆◆◆


Setelah mengucapkan salam perpisahan kepada Syura yang pulang, Yukio kembali ke asrama tua. Sekarang sudah malam, sementara di langit masih terlihat beberapa cahaya.


Masih terlihat secercah bintang dengan samar-samar. Ketika melihat jam tangan, waktunya sudah menunjukkan pukul 05:50. Harusnya mereka sudah selesai bersantap malam.


Dia berjalan melalui koridor yang berderit, dan tiba di depan kamar 104. Setelah meletakkan semua barang belanjaan pada tangan kirinya, dia pun mengetuk pintu dengan tangan kanan, namun tidak ada respon.


Di sisi lain pintu, sama sekali tidak ada suara. Malahan, benar-benar senyap.


Apakah sedang ada perselisihan?


Karena merasakan ada yang aneh, Yukio pun membuka pintu. Dia disambut oleh bau menyengat. Wajah teman-temannya menghijau, dan beberapa orang duduk di dalam ruangan tersebut, seperti barusan bangun tidur. Rin dan Shima duduk di tengah, sementara yang lainnya roboh di lantai ataupun meja, dengam mata memutih. Mulut Shima dan yang lainnya berbusa, seolah-olah tak lama lagi nyawa mereka akan tercabut.


Dan juga, tidak terlihat dimanakah Shiemi berada.


“Ini…. Apa ini?”


Bahkan Yukio tidak mampu menduga apa yang sedang terjadi di sini, sehingga ia bertanya pada Konekomaru yang berada paling dekat dengannya.


“Miwa-san, apa yang terjadi? Nii-san-Apa yang terjadi dengan Okumura dan Shima-san?”


“Ah, Okumura-sensei ... kau kembali?”


Konekomaru berbalik dan mengatakan pada Yukio tentang apa yang terjadi, dengan ekspresi penuh rasa sakit.


“Moriyama-san membawa makanan bagi kami untuk dimakan, tapi-”


Masakan yang Shiemi bawa untuk meningkatkan kesehatan, tapi rasanya tidak bisa diterima oleh semuanya. (“Bagaimana ya cara menggambarkan rasanya ... pokoknya itu sangatlah unik.” kata Konekomaru dengan samar-samar.)


“Eh ... Tapi, semuanya sudah memakannya?”


“Ya ... itulah yang terjadi.”


Setelah mencium bau aneh, Izumo yang segera menyadari bahwa ada sesuatu yang salah, mengatakan: “A-Aku hanya akan mencicipi sedikit karena aku sedang diet.”


Dialah yang pertama kali bertindak, sedangkan Suguro yang bermental kuat berpikir: “-Selama aku menganggapnya sebagai latihan, maka tidak ada makanan apapun yang tidak bisa kumakan.”


Dengan pola pikir dan kepercayaan seperti itu “Aku tidak boleh membuat seorang gadis menangis karena menyia-nyiakan makanannya”, ia menahan rasa sakit, lantas mengunyah makanan itu tanpa suara. Konekomaru juga mengikutinya.


Takara menggunakan bonekanya untuk menyendok makanan tersbeut, lantas memakannya dengan ekspresi datar. Dia bahkan terlihat semakin aneh.


“Shima dan Okumura-san, pada awalnya mereka berjuang untuk mengatakan [10] ...”


Setelah gigitan pertama, wajah mereka mulai berubah menjadi hijau. Tetapi karena Shiemi sedang melihat mereka dengan mata gemerlapan, mereka tidak punya pilihan selain memaksakan diri untuk menyelesaikan hidangan tersebut.


“Di mataku, mereka benar-benar berani.”


“Begitukah? Sebegitu mengerikannya kah makanan itu ... tidak, maka apa yang terjadi pada Shiemi-san?”


“Moriyama-san, dia-”


Shiemi melihat semuanya….. tidak, sebenarnya hanya Rin dan Shima yang memakan semua hidangan itu dengan bahagia. Karena yang lainnya banyak meminum teh herbal untuk membantu menelan makanan gosong itu ke dalam perut mereka, maka dia pergi ke Toko Exorcist untuk membawa lebih banyak teh.


Menurut apa yang dikatakan Konekomaru, Rin dan Shima sungguh berani, karena mereka hanya kehilangan kesadaran setelah Shiemi pergi. Sebelum itu, mereka masih menyeringai dan menahannya dengan mengatakan:


“Ini l-lezat, Shiemi ...”


“... Aku t-tak bisa ... terlalu lezat ... ini ... Entah kenapa aku ingin menangis ...”


“Namun, karena mereka makan hidangan yang menyehatkan, setidaknya tidak akan ada risiko sakit perut. Mungkin kondisi mereka akan menjadi lebih baik?”


Bahkan Suguro hanya bisa bersimpati dengan mereka.


“Mereka makan lebih banyak daripada kita, ini juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rasa sakit. Karena hidangan ini adalah masakan seorang gadis ... jadi mereka terlalu berharap, namun ...”


“Semakin menyedihkan.” Konekomaru memandang mereka berdua dengan tatapan penuh simpati.


“... A-Aku tidak percaya ... masakan buatan gadis ... rasanya seperti ini ... ini bohong.”


Shima mengerang tanpa henti sambil berbaring di samping kakaknya (Yukio).


Dalam keadaan setengah sadar, air mata kesedihan dan kesusahan mengalir tanpa henti. Sepertinya pendapat Konekomaru tidak sepenuhnya salah.


Mereka bersandar di kaki meja dan lantai, dan mereka terkejang-kejang sambil berusaha menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi. Yukio menunjukkan ekspresi kebingungan, kemudian melihat mereka sembari bertanya:


“Suguro-san, Kamiki-san, bagaimana progres kelompok belajar ini?”


“-Kemajuannya sangat sedikit, kurang-lebih seperti jalan di tempat”.


Suguro mengatakan dengan ekspresi kesakitan, sembari dia memberikan laporannya.


Dengan menggunakan sapu tangan bermotif penuh bintang menutupi mulutnya, Izumo mengatakan: “Dia masih saja salah dalam menghitung perkalian sampai 9 x 9.”, itu berarti kondisi Rin masih parah.


Setelah mendengar semua itu, Yukio berjalan menuju mereka bedua yang sedang terkapar di lantai, dan satunya lgi duduk dalam posisi membungkuk. Seolah-olah hampir mati, mereka berdua mendongak kesakitan.


“Yu-Yukio ... a-aku tidak bisa ... M-makanan terakhirku ... A-aku ingin makan Sukiyaki sampai kenyang ...”


Mata Rin kembali memutih, sementara Shima yang bersandar pada meja mengatakan: “A-aku juga tidak tahan lagi ... aku ingin OOXX bersama gadis cantik sebelum aku ...”


Setelah itu, dia mengatakan beberapa hal yang perlu disensor.


“Masih menendang, ya.”


Suguro dan Kamiki berkata secara bersamaan, dengan ekspresi yang seakan berkata: “betapa menyedihkan”.


Yukio mendorong bagian tengah gagang kacamatanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kemudian dia menggunakan kata selembut mungkin untuk berbicara pada kedua cowok yang masih meringkuk itu:


“-Okumura-san, Shima-san. Mohon berdiri.”


“…Sukiyaki…?”


“Kau membawa gadis ... untukku ...?”


Rin dan Shima menatap dengan lesu.


“Bagaimana bisa?” Yukio tersenyum sebelum meletakkan tumpukan soal di hadapan mereka , lantas dengan santai melanjutkan:


“Kerjakan semuanya di sini sampai besok pagi, kerjakan semuanya sebelum siang, ditambah lagi dengan ini dan ini. Sebelum malam tiba, kalian harus menyelesaikan segala sesuatu, kemudian menghafalnya. Jika tidak, aku akan meminta Shiemi-san membawakan masakannya sebagai hadiah untuk kalian - Bagaimana?”


◆◆◆


“Wow, betapa langka pemandangan ini ☆”


Melihat pengumuman yang dipasang di seberang koridor Akademi Ordo Salib, sang Ketua, Mephistopheles berseru dengan keras.


“Jangankan Shima-san, bahkan Okumura-san tidak perlu mengulangi ujiannya ...”


Nama mereka tidak ada pada kertas yang berjudul “Siswa yang perlu mengulangi ujian akhir”.


Mereka hampir tidak lulus, namun akhirnya mereka lolos dari kegagalan.


“Sihir macam apa yang kau gunakan?”


Mephisto melirik Yukio yang ada di sampingnya.


“Tidak ada. Ini semua bukan karena usahaku, melainkan usaha Shiemi-san.”


“Oh ... gadis penjaga toko Exorcist? Apa maksudmu, Okumura-sensei?”


Dengan tatapan yang semakin memperbesar rasa keingintahuan, Yukio menutup mulutnya sambil menempelkan jari telunjuk.


Sisi mulutnya melengkung sedikit, kemudian matanya menyipit sampai seperti garis.


“Semuanya adalah rahasia dapur.”


Asal tahu saja, setelah mengadakan program belajar bersama kemaren, teman-temannya memberikan julukan baru padanya, seperti : “Pendiam Yang Menakutkan” ; “Iblis Berhati Dingin” ; “Iblis Berbulu Domba” ; “Berdarah Dingin”; “Munafik”, dan “tidak, dia benar-benar sesat”. Dengan julukan-julukan seperti itu, maka tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.
  1. Jump SQ adalah singkatan dari Jump Square ジャンプスクエア yang merupakan majalah Manga mingguan terbitan Shueisha
  2. Meskipun huruf kanji Rin hanya terdiri dari 1 huruf, sedangkan Yukio 2, namun punya Rin lebih sulit ditulis.
  3. Boarding school adalah kata lain dari istilah yang mungkin sudah sering kalian dengar, yaitu ‘pesantren’
  4. Seharusnya ‘mysterious’ kan? Atau mungkin bahasa Inggris Shima juga buruk?
  5. Pada tes visi, desimal antara 0.1 s/d 2 digunakan untuk mengukur ketajaman visual, 1.0 diberikan untuk visi sempurna atau 20/20 menggunakan skala kaki. Skala 1.2 berarti seseorang dapat melihat sekeliling di atas skala 1.0, atau 20/20 merupakan penglihatan sempurna.
  6. Jika kau lupa, Yaozu adalah ayah Shima.
  7. Donna Donna adalah lagu yang sering diputar ketika anak-anak sapi hendak digiring ke tempat penjagalan.
  8. Hikaru GENJI (光GENJI) adalah nama grup idol Jepang. Namanya sama dengan Hikaru Genji (光源氏) [tapi beda Kanji], yang merupakan tokoh utama dari serial Genji Monogatari.
  9. Amida Butsu adalah pengucapan “Amitaba” dalam bahasa Jepang.
  10. Tambah lagi!! Tambah yang banyak!!