Bab 3 – Eksekusi

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 3 – Eksekusi[edit]

"Aku bersyukur telah bertemu denganmu" (Volkov Galosh)

Malam sebelumnya[edit]

“Rencana kita sudah ditetapkan.”

Tengah malam pukul dua, di samping meja bundar seperti biasa, Lilith berkata dengan nada rendah dan serius.

Dalam dua hari ini, kami telah melakukan pertemuan teknis tiap malamnya.

Topiknya tentang rencana melarikan diri.

“Apakah kita...... benar-benar akan melakukanya besok?”

‘Hukuman mati’ terjadi siang kemarin, selagi kami menentukan untuk melarikan diri kemarin malam. Merencanakan pelarian untuk esoknya sepertinya adalah keputusan yang cukup terburu-buru.

Lilith berkata.

“Kita tidak bisa menunda-nunda lagi........ Karena, kita tidak akan tahu kapan ‘lain kali’ akan datang.”

“Itu tidak sepenuhnya salah.....”

Tapi perasaan tidak nyaman ini masih terus menggangguku.

“Apakah mobil itu pernah terlihat sebelumnya?”

“Aku tidak tahu.” Lilith menggelengkan kepalanya, “Aku baru melihatnya pertama kali kemarin. ...... apa kau juga sama, Volkov?”

Lilith menoleh padanya, dan saat itu juga Volkov mengangguk.

Aku bertanya lagi.

“Kenapa mereka tidak memilih untuk melakukan perawatan? Mereka tidak perlu membongkarnya secara langsung....”

“Biaya, biaya. Jika dibandingkan biaya untuk melakukan perawatan, membeli yang baru dari toko bekas akan jauh lebih murah.”

Lilith memberikan jawaban sederhana, dan mudah dimengerti. Aku hanya bisa menjawab: “....... Aku mengerti.”

“Ngomong-ngomong… Lilith mengulangi perkataanya, “Kita tidak bisa menunda-nunda lagi.”

Saat itu juga, Lilith menatapku sejenak, lalu melirik Volkov.

……Ah, jadi seperti itu.

Dia melakukan ini untuk Volkov dan diriku.

Diriku, yang dibuat dari barang bekas, dan Volkov, yang memiliki respon lambat. Jika akan dilakukan ‘hukuman mati’ untuk kedua kalinya, yang paling berada dalam bahaya tidak usah ditanyakan lagi. Karena kami lah jawabannya. Lilith tidak memikirkan keselamatanya sendiri, tapi lebih seperti, dia tidak ingin kami menghadapi resiko.

“Tentang rencana melarikan diri kita besok…. “

Lilith mengembalikan pembicaraan ke topik utama.

“Menurut pembahasan kita kemarin, pelarian ini membutuhkan dua syarat, yaitu ‘rute’ dan ‘timing’ ..... Pertama, rute pelarian.”

Lilith mengambil rongsokan di bawah, kemudian menempatkan papan besi bengkok dan beberapa sekrup ke atas meja.

“Ini lahan konstruksi. Sebelah sini ‘jeroan’, sementara sisi itu ‘usus’.”

Lilith menggerakan jarinya, membuat skema diagram lahan kontruksi yang sederhana.

“Terdapat arus bertekanan tinggi di sekeliling kawat besi, jadi rute ini tidak akan berhasil. Oleh karena itu, yang tersisa hanya dua rute pelarian. Pertama, yaitu melalui ‘jeroan’, dengan melarikan diri di sepanjang garis pantai; lainya melalui usus kemudian melarikan diri ke lahan utama. Kupikir kalian sudah tahu, tapi melarikan diri melalui jeroan terlalu berbahaya, tidak ada tempat bersembunyi sepanjang garis pantai, jadi kita akan tertembak senjata laser dengan cepat.”

Lilith menirukan bentuk senjata, dan mengarahkan itu pada bidaknya.

“Jadi, kita harus memilih rute ‘usus’ untuk melarikan diri. Metode untuk melakukan ini adalah dengan mencuri truk yang digunakan memindah material, kemudian melarikan diri ke kota, dan berbaur dengan kendaraan biasa.”

“Tunggu sebentar, siapa yang akan mengemudikan truk curian itu?”

“Bukankah itu sudah jelas.... akulah orangnya.”

“Eh? Lilith bisa mengemudi?”

“Sebelumnya, aku adalah supir di lahan konstruksi ini. Bahkan aku mengendarai ekskavator dan derek.”

“Lilith- tidak punya- SIM.”

“Volkov, diam.”

Setelah menyela Volkov, Lilith melanjutkan penjelasanya.

“Ini tahap-tahapnya....”

Lilith menjelaskan tahap-tahap pelarian kami satu per satu. Aku paham dengan ide miliknya. Itu merupakan rencana menantang yang tidak pernah robot pikirkan sebelumnya, sebuah rencana yang akan mempecundangi manusia.

Tetapi, aku masih memiliki pertanyaan terkait rencana yang dibuat Lilith.

“Bisakah....... kita semua melarikan diri bersama?”

“Hah?” Lilith terkejut.

“Maksudku, karena kita melarikan diri, kenapa tidak semuanya sekalian....?”

“Itu mustahil.”

Lilith tiba-tiba menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Apakah kau tahu ada lebih dari delapan puluh robot di sini? Dilihat dari segi manapun, tiga robot yang keluar bersamaan terlalu banyak. Dan juga, aku pikir mereka tidak akan mendengar instruksi kita.”

Lilith mengatakan itu dengan dingin.

Dia berkata menurut pengalamnya, sebuah rencana pelarian diri akan berhasil jika sedikit orang yang terlibat pada rencana tersebut, dan tidak pernah ada kasus sebelumnya di mana sejumlah besar robot berhasil melariakan diri bersamaan.

Tetapi, aku masih merasa ragu karena harus meninggalkan robot lain. Mungkin aku mulai bersimpati pada mereka karena selama tiga bulan terakhir kami selalu bersama. Yang mengerikan adalah, hukuman mati yang kejam itu masih bersemayam di pikiranku.

Setelah itu, aku teringat Profesor, yang selalu menolong robot di pinggir jalan. Benar juga, jika di sini ada Profesor, dia pasti akan.......

Oleh karena itu, aku mengutarakan isi pikiranku.

“Lilith.”

“Ada apa?”

“Setidaknya, kita bisa melakukan ini kan?”

Pendapatku sebenarnya merupakan sebuah ‘kompromi’. Setelah mendengar pendapatku, Lilith mengerang dengan ekspresi bingung di wajahnya.

Itu karena pendaptku terlalu kekanak-kanakan.

Hari Pelaksanaan[edit]

Dua hari setelah ‘hukuman mati’ dilakukan, atau hari ke delapan puluh lima sejak aku tiba di lahan konstruksi.

Tengah malam.

Sekejap saat truk terakhir yang memindah limbah material tiba di lahan konstruksi.

“Para robot!”

Lilith berteriak dengan keras, melalui sebuah pengeras suara kecil di tanganya.

“Dengarkan baik-baik!”

Suaranya bergema di lahan konstruksi. Itu karena aku secara sembunyi-sembunyi menyetel pengeras suara di punggung beberapa robot (Tentu saja, peralatannya didapat dari ‘rampasan perang’ yang kami dapat di limbah material.)

Dan juga, kami memiliki trik rahasia lainya.

“Mulai dari sekarang- semuanya- tinggalkan- tempat ini-!”

Lilith memberikan perintahnya… dengan menggunakan suara milik inspector yang terdengar dari pemutar suara.

Itu adalah kalimat familiar yang kita dengar tiap paginya.

“Ini perintah…..“

Efeknya bekerja dengan cepat.

Semuanya berlarian pada tanah yang berlumpur, beberapa lari ke jeroan, lainya lari ke arah usus.

Pelarian yang tiba-tiba ini membuat inspector panik.

“Apa yang kalian lakukan! Berhenti! Semuanya berhenti! Ini perintah!”

Lalu, robot yang melarikan diri menghentikan pergerakan mereka seketika.

Tetapi, kami sudah menduga akan terjadi hal ini.

“Mulai dari sekarang!- semuanya- tinggalkan- tempat ini! Ini perintah-!”

Keadaan kini dibalikan, karena menerima perintah baru, robot lari kesana kemari seolah-olah mereka terlepas dari kutukan. Kekacauan terjadi sekali lagi.

Rencana awal Lilith adala menggunakan robot lain sebagai umpan. Kami akan mengulangi perintah inspector yang diedit, sementara kami bertiga melarikan diri di tengah-tengah kekacauan tersebut.

Aku menambah…. “Kita cabut saja semua sirkuit pengaman mereka supaya dapat melarikan diri.”

Proses pencabutan cukup sederhana. Karena sirkuit pengaman robot adalah suku cadang murah dari toko diskon, kami hanya perlu mencabutnya secara paksa. Jadi, kemarin kami mencabut sirkuit pengaman dari delapan puluh lebih robot. Meski Lilith bergumam ‘Yakin nih, kita akan melakukan ini....?’, dia masih memberikan banyak bantuan.

Itulah bagaimana rencana kita berubah menjadi ‘Kekacauan Robot.’

“Darurat, berhenti! Darurat, berhenti!”

Suara sirene berbunyi keras, dan aku melihat inspector dengan kalut menekan tombol penghentian yang tergantung di sabuknya. Tetapi, perintah itu tidak bekerja pada robot yang telah kehilangan sirkuit pengamanya.

Hingga sekarang, semua berjalan sesuai rencana kami.

Dalam kekacauan, hanya Volkov yang tetap tidak berubah sembari mempertahankan pose sedang memindahkan material. Lututnya menekuk sedikit, terlihat seperti patung. Lilith tidak bisa mencabut sirkuit pengaman miliknya, jadi perintah dari tombol penghentian bisa mempengaruhinya.

“Pindahkan-nomor lima belas- ke sini!”

Lilith menyalakan pemutar suara, memerintah robot di dekatnya. Meski robot yang telah dicabut sirkuit pengamanya tidak harus mengikuti perintah, mereka masih berkumpul di sekitar Volkov karena rasa takut luar biasa yang terbentuk akibat setiap hari mematuhi perintah inspector.

Empat robot mengangkat Volkov yang tidak bergerak. Walaupun Volkov sangat besar, robot yang sudah terbiasa memindah limbah material dengan mudah mengangkat tubuh besarnya ke belakang truk.

“Ekk! Supir truk berlari dengan cepat. Lilith memutar kunci truk, menyalakan mesinya. Kelihatanya bagian paling krusial dari rencana ini… yaitu mendapatkan kendaraan telah berhasil.

“Mulai dari sekarang, semuanya- tinggalkan- tempat ini!"

Lilith menyalakan pemutar suara lagi, sementara robot yang mengangkat Volkov menyingkir seperti anak kecil yang sadar mereka telah tertipu. Beberapa dari mereka melambai dan berteriak: “Selamat tinggal!”, “Kalian benar-benar hebat!”

“Selamat- selamat tinggal! Aku harap semuanya berjalan lancar untuk kalian....”

Aku melambaikan tanganku dengan sekuat tenaga, mengucapkan salam perpisahan pada mereka. Kita mungkin tidak akan pernah melihat mereka lagi…aku memiliki perasaan itu di hatiku.

Suara sirene yang terus berbunyi, robot yang melarikan diri, teriakan marah inspector, perintah palsu inspector yang menggema di setiap tempat… kekacauan lahan konstruksi mencapai batasnya malam itu.

“Iris! Kita berangkat!”

Teriakan Lilith terdengar dari kursi supir. Suara mesin menekanku seperti ringkikan kuda.

“Ah, tung- tunggu!”

Aku tergesa-gesa lari menuju truk.

“Baiklah, tarik lenganku!”

Lilith mengulurkan tanganya, setelah mengerahkan begitu banyak kekuatan, Lilith menarik diriku yang tidak bisa naik ke atas truk dengan roda track ini. Saat itulah pertama kalinya aku merasakan kekuatan luar biasa miliknya.”

“Ayo pergi!”

Seolah-olah kami tidak benar-benar mengendarai sebuah truk, Lilith berteriak dengan riang.

Dia menginjak gas, kemudian mesin mengaum. Truk pelarian akhirnya memulai perjalanan dengan tiga kriminal di dalamnya.

baterai=04:50:36[edit]

Truk melaju. Aku melirik pada conveyor belt di area ‘usus’, lalu limbah material di atasnya jatuh berserakan ke tanah akibat tubrukan dengan truk.

Penghalang pertama adalah pos penjaga pada pintu keluar lahan konstruksi.

“Truk yang disana, berhenti!”

Pengeras suara mengeluarkan perintah pada kami untuk berhenti. Gerbang otomatis menurun, dan penghalang jalan berbentuk kerucut menghalangi kami.

“Siapa saja yang berada di depan kami akan kami buat gepeng.”

Lilith mengatakan kalimat yang berlebihan, terus melajukan truknya, dan mempercepat lajunya.

‘Uwaa, whoa!, kita menabrak mereka!”

Kami menabrak tepat pada saat aku berteriak. Beberapa penghalang jalan mental, tiang kayu pengangkat juga patah, dan itulah bagaimana truk secara langsung lolos dari penghalang pertama.

“Hmph, mudah sekali.” Kata Lilith. Sembari memegang setir, sebuah kilatan cahaya bersinar di matanya, dan senyuman menakutkan di bibirnya seakan-akan dia tampak seperti orang yang tidak kukenal. Sambil duduk di sebelahnya, aku hanya bisa berteriak ‘Ah, uwaaa....’, dan aku pun memasang sabuk pengamanku dengan panik. Truk berguncang keras, aku sudah menabrak atap truk tiga kali.

Truk melaju pada tanah berbatu dengan liar, lalu sampai di jalan biasa dengan cepat.

“Lilith!”

“Ada apa?”

“Apa menurutmu truk bisa terbang?”

“...Apa?”

“Penghalang kedua!”

Papan peringatan dengan tulisan ‘dilarang masuk’ muncul di depan kami, dan juga terdapat lubang yang besar dan dalam. Jika kami tetap memaksa melewatinya, kami pasti akan jatuh. “R- rem!” aku seketika memeluk kepalaku.

“Kita akan gagal jika berhenti!” Lilith kembali menambah kecepatan.

“Hey, Lilith?!”

Dalam sekejap, di saat aku berteriak, papan peringatan ‘dilarang masuk’ bertumbukan dengan truk, kami pun terperosok dalam lubang. Untungnya di sana ada gundukan tanah, kemudian Lilith menabraknya dengan kecepatan tinggi sehingga membuat truk kembali terpental ke atas. Lalu, truk mendarat dengan suara dentuman keras.

“Berhasil!”

Lilith berteriak riang setelah terbang dengan sempurna keluar dari lubang. Ini bahkan tidak layak disebut ‘mengemudi dengan ceroboh’.

“Iris, nyalakan radionya!”

“Aku tidak membawanya!”

“Bukan, radio yang ada di dalam truk! Tekan tombol itu!”

“I- ini?”

“Itu tombol lampu peringatan bahaya! Di bawahnya.... benar... yang itu!”

Aku dengan tergesa-gesa menekan tombol itu. Suara berfrekuensi tinggi mulai menggema dalam truk.

“Pilih saluran!”

“Tunggu sebentar!”

Dalam truk yang berguncang dengan keras, aku mengubah saluran. Tetapi, semua saluran memainkan musik atau lagu, tidak ada saluran yang menginformasikan tentang keadaan lalu lintas.

“Tidak ada informasi lalu lintas!”

“Tidak....aku ingin musik... musik!”

“Eh? Musik? Kenapa?”

Aku bertanya, sementara itu Lilith kembali berteriak sekuat tenaga.

“Tentu saja, untuk menghidupkan suasananya!!”

Setelah beberapa detik, suara musik rock meraung. Mengikuti perintah Lilith, aku mengeraskan volume hingga maksimal.

“E-rm!” aku berteriak selagi menutupi telinga.

“Ada apa, Iris!?” Lilith juga berteriak.

“Apakah tidak apa-apa!? Memainkan musik rock sekeras ini!”

“Tidak apa-apa! Musik ini! Terasa lebih baik!. .... Lihat penghalang ketiga!”

Kumpulan mobil berbaris di depan kami. Kelihatanya mereka menunggu lampu hijau… sebelum aku sempat berpikir, Lilith kembali menginjak gas untuk melesat ke depan. Penyanyi rock di radio sedang berteriak, tapi aku tidak yakin apa yang dia teriakan.

“Minggir minggir minggiiiiiiiiiiiiiiiiir!!”

Lilith dengan mulusnya memutar setir, menggerakan truk ke sisi kiri jalan. Dia ingin lewat di antara mobil-mobil dan pembatas, tapi ruangnya tidak cukup dilewati truk sebesar ini.

“Tuan Lilith memyuruh kalian untuk minggir!!”

Lilith membunyikan klakson beberapa kali. Pengemudi mobil di depan kebingungan, kemudian rasa takut terlihat di wajah mereka. Mobil-mobil itu seketika menyingkir.

Setelah itu, Lilith menabrakan sisi kanan truk dengan pembatas sembari menyasak kaca mobil di sisi kiri, dia pun melewati lima mobil yang menunggu lampu hijau dalam sekali tancap.

“Tunggu, Lilith, ada persimpangan!”

Tentu saja, persimpangan yang ramai dengan mobil menghadang di depan kami.

Tetapi, kata ‘rem’ tidak ada di pikiran Lilith. Dia membunyikan klakson berkali-kali seolah-olah dia menganggapnya mainan, dan terus melaju. Ditambah penyanyi rock sedang menyanyikan chorus ‘AYO! AYO! AYO!’.”

Truk yang tiba-tiba mengamuk di persimpangan membuat mobil lain berhenti, suara decitan roda yang mengiris hati berbunyi saat mobil-mobil itu mengerem mendadak, sementara kami mengebut melintasi jalan seperti peluru. Suara tabrakan terdengar di belakang kami, aku yakin itu tanpa harus memutar kepalaku untuk memastikanya.

Selagi berpikir bahwa aku masih hidup, tanpa diduga, penyanyi rock sedang menyanyikan sebuah ballada dengan teknik falsseto. Lilith perlahan menggumam bersamaan mengikuti alunan lagu.

“Lilith, bukankah sekarang sudah saatnya untuk melambat... sepertinya kita sudah aman…..”

“Permintaan ditolak!”

“Eh?”

“Dibelakangmu! Penghalang keempat sedang mendekat!”

Lewat jendela, aku melihat kebelakang. Tiga mobil dengan sirene mengejar kami.

Itu para polisi!

baterai=04:46:03[edit]

“Pada truk yang di depan! Segera berhenti!” Mobil polisi memberi perintah, “Pinggirkan truk ke kiri dan berhenti!”

“E-Erm! Polisi dibelakang kita” aku berteriak dengan panik.

“Polisi?!” Lilith berteriak dengan nada marah.

“Mereka menyuruh kita untuk berhenti!”

“Lalu!?”

“Eh, jadi..... apa yang harus kita lakukan?”

“Tentu saja kita harus menyingkirkan mereka!”

Lilith terus menginjak gas.

Mesin mengaum, dan truk yang melaju melebihi batas menabrak sisi jalan. Momentum menekan tubuhku ke pintu kiri.

“Bagaimana!? Seberapa jauh mereka?”

“Cukup jauh! Tapi mereka terus mengejar kita...... Ah!”

“Ada apa Iris!”

“S- Sesuatu datang!”

“Katakan lebih jelas!”

“Ada benda kecil sedang mengejar!”

Lilith mengeluarkan kepalanya dari jendela, “Apa itu!?” Rambutnya berkibar oleh angin dengan bebasnya.

“Whoa, bukankah itu ‘robot lalu lintas’?”

Beberapa robot mengejar kami dari belakang. Tubuh bagian atas mereka humanoid, sementara ada empat roda di tubuh bagian belakang… simpelnya, mereka adalah robot mobil. Sirine di kepala adalah bukti bahwa mereka juga mobil polisi.

“Robot lalu lintas?”

“Robot polisi yang mengatur lalu lintas! Mereka bagian dari satuan polisi yang bertugas mengejar mobil yang tidak mengindahkan batas kecepatan.”

“Me-Mereka semakin mendekat!”

“Aku tahu!”

Lilith kembali menginjak gas. Tetapi, kecepatan robot lalu lintas juga semakin tinggi. Jarak di antara kami perlahan-lahan memendek.

“Truk di depan! Segera berhenti! Atau aku akan hentikan truk kalian secara paksa. Truk di depan....”

Suara elektronik memberikan peringatan dari belakang. Suara itu terdengar sangat serius.

“Lilith, me-mereka memegang senjata!”

“Senjata apa!”

“Senjata api!”

“Mereka berencana memecahkan ban, hah..... Iris!”

“Aku memerintahkanmu untuk menyerang!”

“Ehhh?!”

“Mungkin ada kotak peralatan di dekat kakimu, ‘kan!”

Aku menurunkan kepalaku untuk melihat, kotak peralatan ada di bawah kursi. Lilith sebelumnya menggunakan itu untuk membuka kepalaku.

“Tabur peralatan di dalamnya ke jalan!”

“Eh? Kenapa!”

“Berhenti bertanya, cepatlah!”

Aku tidak mengerti alasan melakukanya, tapi karena robot lalu lintas mulai melepaskan tembakan, aku tidak punya waktu lagi untuk berpikir.

“Rasakan itu!”

Aku mengikuti perintah Lilith, menabur sekrup di dalam kotak peralatan ke jalan lewat jendela. Bunyi denting terdengar di jalanan malam saat sekrup tersebar di aspal.

Berikutnya, robot lalu lintas terpeleset setelah menginjak sekrup tadi.

“Lagi, lagi! Taburkan semuanya!”

“Me- mengerti!”

Aku memuntahkan kotak peralatan, menaburkan semua yang ada di dalamnya. Sekrup, baut, paku, mata rantai yang kusebar menggelinding di jalan dengan suara dentingan.

Dampaknya terjadi seketika. Robot lalu lintas menginjak itu lagi dan lagi, kemudian terpeleset dan meluncur di jalanan.

“Ini.... oli?”

Setelah melihat lebih dekat, aku menyadari ada noda hitam bekas oli pada kotak peralatan. Alasan kenapa robot lalu lintas jatuh dengan mudah mungkin karena oli tersebut.

“Bagaimana? Itulah yang namanya persiapan.” Lilith menyeringai, “Benar~ ayo kita pergi ke kota sebelah…….“

Di saat itu juga.

“Lilith di depanmu!”

Aku berteriak. Lilith pun tersentak “Sial.....!”, wajahnya terlihat kecewa. Sirene yang tak terhitung jumlahnya berada di depan kami, beberapa tank yang lebih besar dari truk memblokade jalan seperti dinding besi.

“Ini buruk!”

Lilith tiba-tiba mengerem, tapi sudah terlambat.

Kemudian tank menembakan pancaran cahaya, dalam sekejap pandangan kami memutih.

baterai=04:21:29[edit]

“Uuu......”

Ketika aku tersadar, aku sudah terlempar ke aspal yang dingin.

Saat itu hujan. Tidak, itu hanya karena kondisi penglihatanku yang buruk.

Truk terlihat berada di sisi kanan dari pandangan penglihatanku. Truk yang sudah terbalik, roda yang terus berputar sia-sia, dan trailer yang terbakar hebat. Di kegelapan, api yang membara menerangi langit malam.

Aku mencoba mengingat.

Laser tajam yang terlepas dari mobil polisi bersenjata yang tak terhitung jumlahnya, penglihatanku yang memutih…. jadi seperti itu… aku tertembak oleh senjata laser.

Aku akhirnya mengerti apa yang baru saja terjadi.

“Lilith!” dengan panik aku memanggil nama temanku, “Lilith, kau dimana!”

Aku menopang tubuhku dengan dua tangan di jalan, berdiri dan mengamati sekitar. ‘Hujan’ begitu deras, tapi kelihatanya penglihatanku masih baik-baik saja. Dalam pandangan hitam dan putih, aku mencari sosok Lilith.

…Ah!

Di bawah pembatas yang berada cukup jauh dari truk yang terbalik, aku melihat sebuah sosok.

Rambut panjang yang tersebar di tanah seperti kipas.

“Lilith! Apa kau baik-baik saja?! Lilith!”

Aku berteriak dengan panik. Tetapi Lilith hanya terkulai di tanah, tak bergerak.

….Tunggu aku, Lilith, aku akan segera menyelamatkanmu.

Aku menghindari kepingan truk yang tersebar di sekelilingnya, dan mendekati Lilith dengan roda track milikku.

Sebelum aku sampai kesisinya, Lilith mengerang kesakitan, dan kembali sadar. Dia perlahan mengangkat tubuh atasnya, melihat sekeliling, dan akhirnya tatapan mata kami bertemu.

“Lilith, apa kau baik-baik saja!”

“Mnn.......... sepertinya begitu. Kalau cuma segini sih gak masalah, tapi orang itu….”

Setelah dia mengatakan itu, Lilith kemudian memandang ke arah truk.

“Jangan bergerak!”

Teriakan bernada kasar terdengar, kemudian punggung Lilith ditendang, dan dia terbanting ke permukaan tanah yang keras.

“Ahhh.....!” setelah mengetahui penyerangan terhadapnya, tubuhku membeku karena rasa takut.

Seseorang yang barusan menendang Lilith berhelm besi dengan bentuk aneh, dan dilengkapi dengan zirah, memegang senjata laser yang juga mengeluarkan sinar abu-abu di tanganya.

Aku teringat akan sesuatu. Berita pada siang hari, di plaza, robot yang mengamuk, laser biru, unit khusus, dan….

Salah satu dari mereka menangkat kepala robot seperti piala.

“Jangan bergerak, ini perintah!” kata orang berhelm itu dengan nada dingin, “Letakan tangan kalian di belakang kepala!”

“Brengsek......!” Lilith seketika mengumpat. Tubuhnya meluncur seperti pegas, kepala bagian belakangnya ditabrakan ke pria yang barusan menekan dirinya. Pria itu meringis, sambil menutupi kepalanya.

“Iris, kita pergi dari sini!”

“Ba- baiklah!”

Selagi terkejut dengan aksi berani Lilith pada polisi, aku mengulurkan tangan kananku. Lilith juga mengulurkan tangan kananya.

Dalam sekejap, pancaran cahaya menyerangnya.

Tangan kanan Lilith tiba-tiba lepas, dan jatuh ke tanah di depanku.

Dia berteriak dengan keras, dengan suara yang melengking, kemudian dia duduk terkulai di aspal tanpa daya. Oli keluar dari tangan kananya yang terpotong, bahkan hingga mengenaiku. Seseorang yang menggunakan zirah sekejap bergegas menuju Lilith, mengarahkan senjata laser.

“Jangan terlalu bersemangat, nona.” Seseorang yang Lilith tabrak di kepala dengan kasar menjambak rambut dan mengangkatnya. Lilith mengerang, dia kesakitan.

“Berkat seranganmu tadi, salah satu gigiku copot. ......sekarang terimalah ini sebagai balasan.”

Cahaya kembali menusuk tubuhnya.

Telinga kiri dan wajah bagian kiri Lilith sepenuhnya terbakar. Dia bahkan berteriak lebih keras dari sebelumnya, lalu tergeletak begitu saja di jalan. Saat pria itu menekan wajah bagian kirinya, Lilith mengejang di tanah. Melihat pemandangan ini, pria itu mulai tertawa.

“Lilith! matikan sensor rasa sakitmu! Lili………”

Aku berteriak sekuat tenaga, tapi pria itu segera membungkamku dengan tendangannya.

“Lebih baik kita belah mereka, sehingga lebih mudah memindahkannya.” “Benar.” Selagi membicarakan itu, mereka mengarahkan senjata laser pada kepala Lilith. Wajahnya begitu ketakutan saat mereka menempatkan jarinya pada pelatuk. Melihat kejadian ini, tubuhku mulai sedikit bergetar.

“Uwaaaaa!”

Tanpa sadar, aku sudah berlari ke arah mereka dan berteriak.

“Apa!” pria itu segera kehilangan keseimbanganya. Dengan panik, aku meraih kakinya. “Lepaskan aku!”, Pria itu tidak sabar ingin segera menghempaskanku. Tapi aku tidak akan melepaskanya begitu saja dengan mudah.

“Iris!” Lilith meneriakan namaku.

“Lilith!, cepat pergi!” aku segera menjawab sembari ditendangi oleh pria itu.

Tetapi, aku tidak bisa bertahan lebih lama setelahnya.

Tubuhku diserang oleh ‘sesuatu yang panas’. Saat aku mencari tahu apa itu “Ah.....’, aku telah tergeletak di permukaan jalan, menatap kepingan-kepingan roda track miliku turun dari angkasa.

“Uuu....!” aku mengerang dengan keras, perlahan menatap tubuh bagian bawahku. Bagian itu tertembak, dan hilang tak berbekas. Bagian di bawah pinggang terbakar, beberapa pipa berceceran seperti jeroan, dengan percikan yang berteberangan.

“Hentikan!” Lilith berteriak tanpa daya. “Setidaknya lepaskan dia!”

Tetapi, mereka membalas permohonannya dengan kekerasan. Moncong senjata laser dimasukan ke dalam mulut Lilith, dan suara kokang keluar dari dalam tenggorokanya.

“Jangan khawatir....... kalian berdua akan menjadi lempengan logam.”

…..Lilith! Ah, Lilith!

Aku segera mengangkat tubuhku, tapi tidak ada yang bisa kulakukan setelah dihujani oleh pancaran cahaya itu. Aku bahkan tidak bisa berbicara.

……Tolong!

Aku meneriakan itu dalam hati, lalu mengunakan segenap kekuatanku untuk berteriak.

“….Uaaaaaaa – arr- gggh…….!!”

Aku mendengar sebuah suara. Sebuah auman yang sangat keras seperti raungan binatang.

Mereka saling melihat satu sama lain, dan bertanya: “Apa itu barusan?”

Kemudian, “UUAAAAAAARRRRRRGGGGHH!” auman keras membelah keheningan malam. Mereka berbalik ke arah datangnya suara. Dalam jarak pandang mereka, terlihat truk besar yang terbakar.

Lalu, sebuah lengan yang terbakar api…….

Muncul dari dalam truk.

Iord 206.jpg

baterai= 04:10:15[edit]

Lengan tiba-tiba muncul dari dalam truk yang terbakar itu, kemudian menjebol badan truk bagaikan karnivora yang memburu mangsanya. Oli pun berceceran kemana-mana, dan saat itu juga api mulai menjalar ke segala arah. Monster itu muncul dengan tubuh terselimuti api.

“UUAAAAAAARRRRRRGGGGHH!”

Si monster mengaum di langit malam. Udara di sekitarnya pun bergetar.

“A..... apa itu?”

Pria itu dengan cepat mengangkat senjatanya. Senjata yang berada dalam mulut Lilith juga dikeluarkan.

Setelah terhempas ke samping, Lilith menggerakan tubuhnya dengan lemas, dan bergumam:

“Vol......... Kov?”

Volkov…. ahh, itu memang dia… sosok mengerikan yang terselimuti api bergerak perlahan ke arah kami.

Cahaya terang terpancar oleh mata kotak miliknya, berjalan ke mari dengan suara berdentang. Kedua lenganya diangkat untuk mengusir orang yang berada di dekatnya, amarah bersinar di matanya.

Seorang pria berteriak: “Berhenti! Ini perintah!”

Meski dia ditodong dengan senjata laser, Volkov tidak berhenti. Setiap kali kaki kuatnya melangkah, sebuah lubang terbentuk di permukaan jalan beraspal, dan percikan api berhamburan di langit malam.

“Berhenti! Ini perintah!”

Pria itu kembali memerintah, tapi raksasa yang tertutup api tidak memiliki keinginan untuk mematuhi instruksi tersebut. Dia mendekati kami seolah-olah tidak mendengar perintah itu. Kekuatan luar biasa terpancar di matanya…. Ah, bukan, lebih tepatnya…. nafsu membunuh.

“Tembak!!”

Sekejap saat perintah diberikan, mereka menekan pelatuk. Sejumlah pancaran cahaya membentuk garis lengkung, melesat ke arah Volkov seolah-olah cahaya itu tersedot padanya. Pemandangan yang pernah aku lihat di berita teringat kembali di kepalaku.

Tetapi.

“Apa?!” mereka terdiam seribu bahasa.

Saat pancaran cahaya itu mencapai tubuh Volkov, cahaya terang tersebar seperti cipratan air pada dinding. Tembakan laser menyebar ke sekeliling jalan, asap hitam keluar seiring dengan suara percikan .

Pada tubuh raksasa yang dipenuhi bekas tembakan, cat miliknya meleleh seperti tetesan keringat, bagian logam yang menghitam seakan tertelan oleh malam. “UUAAAAAAARRRRRRGGGGHH!” dia kembali mengaum pada langit malam, seolah-olah berkata, ”Inilah aku!”.

“Z-zombie Mech Corp.....!?” seorang polisi bergumam ketakutan.

Serangan kedua mendapatkan hasil yang sama. Tembakan laser terhalang oleh zirah raksasa itu dan terpantul ke arah jalan beraspal, menciptakan lubang yang tak terhitung jumlahnya di sana. Serangan ketiga, keempat, dan kelima pun dilancarkan, dan perlahan-lahan wajah mereka kehilangan warnanya.

“Monster....”

Volkov memantulkan tembakan laser yang bahkan dapat memotong logam, mereka tidak pernah mengira akan melawan monster seperti itu. Senjata yang semestinya dapat diandalkan berubah menjadi onggokan logam, yang bisa mereka lakukan hanyalah mundur ke mobil berzirah. Melihat kejadian di hadapannya, raksasa itu perlahan menekuk lutunya seakan dia sedang mengejang.

Dalam sekejap, dia melompat ke angkasa. Sosok berselimutkan api tersebut melompat ke angkasa bagaikan matahari yang menyilaukan, kemudian mendarat di depan mobil berzirah dengan suara dentuman. Mereka dengan cepat melompat keluar dari mobil, selagi raksasa itu mengangkat mobil yang besarnya lima kali lipat dari tubuhnya menggunakan lengan kuat milknya.

“UUAAAAARRGGGHH!”

Setelah auman singkat itu, mobil berzirah dilempar kearah mobil lain. Setelah suara keras tabrakan terdengar, dua mobil yang bertabrakan sekejap tertelan oleh api yang menyala, dan meledak.

Lalu, dia bergerak maju ke arah mobil berzirah yang paling besar. Membengkokan bumper seperti kertas lipat, kemudian melepas zirah logam berat dengan lengan kuatnya, dan dengan keras memukul bagian yang tidak terlindungi menggunakan tangan kanan.

Itu adalah serangan yang sangat cepat seperti anak panah. Dalam sekejap tangan kananya memancarakan cahaya, menyalurkan energi seperti pijaran laser. Setelah itu, bagian tubuh mobil membesar seperti balon, lalu meledak menjadi bola pijar.

Tetapi, mereka tidak berhenti begitu saja.

Terdengar suara konstan bernada rendah berasal dari baling-baling helikopter yang berputar di udara, kemudian menjatuhkan sesuatu dari udara.

Itu bom, bom jatuh tepat di atas Volkov, potongan logam yang memancarkan pantulan cahaya mengerikan.

Lilith berteriak: “Volkov! Di atasmu! Lari”

Setelah mendengar teriakanya, Volkov mendongak ke atas dan melihat angkasa, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya.

Berikutnya, sebuah tembakan yang sama dengan tembakan yang meledakan mobil berzirah melesat dari tangannya. Bom meledak di angkasa seperti kembang api, berubah menjadi bubuk yang tersebar. Terhempas oleh gelombang kejut, tubuh Lilith terlempar ke sampingku.

Setelah ledakan mereda, Volkov masih tegap berdiri seolah-olah tidak terjadi apapun. Sebuah cahaya terang ditembakan dari tanganya. Tembakan itu bahkan lebih kuat dari sebelumnya, menenggelamkan sekelilingnya menuju dunia putih.

“Cukup, Volkov! Hentikan!”

Tetapi, kata-kata Lilith tidak diperhatikan olehnya.

Sebuah cahaya seperti laser ditembakan dari tangan kanannya…. cahaya itu mempunyai gabungan kekuatan sepuluh kali senjata laser… yang menerangi gelapnya malam. Helikopter yang sebelumnya membumbung tinggi di langit malam meledak, dan menghilang di udara. Beberapa pecahan berwarna hitam jatuh di permukaan jalan yang jauh dari sini, bagaikan gagak yang kehabisan tenaga, dan terbakar dalam api redup.

Tidak ada siapapun di sini selain kami.

Mobil yang terbakar hebat, mengeluakan asap hitam ke langit malam seperti pilar. Pecahan-pecahan yang terbakar tersebar menerangi setiap tempat.

Ini adalah medan perang. Sebuah medan perang yang penuh dengan kematian dan pembunuhan tanpa pandang bulu, dipenuhi dengan api dan kengerian.

Monster itu secara aneh melihat keadaan di sekelilingnya, kemudian berbalik menatap kami.

Lalu, dengan perlahan menuju ke arah kami.

Sosok miliknya yang terlihat di sisa mobil zirah yang terbakar bagaikan iblis yang baru saja bangkit dari dunia mitos. Mata tajam dan aneh miliknya bersinar di kegelapan malam seperti mercusuar.

Aku mengingat kata yang pernah dia ucapakan.

……Volkov- dulu- pernah – ikut – perang.

....Benar, seperti itu…

….Volkov- membunuh- banyak.

Dia adalah senjata. Sebuah mesin pembunuh yang menyembunyikan senjata mengerikan.

Akhirnya, raksasa itu berhenti di depan kami. Bayangan besar menutupi Lilith dan diriku.

“Vol......Kov?”

Lilith bergumam, sementara dia mengulurkan tangan kuat miliknya. Dia menggunakan tangan kanannya untuk menggendong Lilith. Api yang menutupinya sudah hilang.

“Tu- tunggu sebentar!”

Monster itu tidak menjawab Lilith, tapi justru mengulurkan tangan satunya ke arahku. Dalam sekejap aku sudah berada di tangan kirinya.

Dalam panas api yang membuat merinding dan bunyi kacau dari sirene, raksasa menekuk lutunya, dengan penuh tenaga melompat dari tanah, melesat ke langit malam.

Dengan itu, kami dibawa menuju kekegelapan olehnya.

baterai=03:58:01[edit]

Kau tidak akan pernah bisa membayangkan seperti apa Volkov yang lamban bisa berlari secepat ini.

Dia berlari kencang di jalanan, menuruni tangga dengan cepat, menabrakan dirinya ke pembatas, bergerak kesan-kemari di dalam kota. Lilith dan aku berbaring di tangan kuatnya seperti bayi, menatap dengan kosong pada pemandangan malam yang jauh membentang.

Setelah sekitar sepuluh menit, kami sampai di bawah jembatan besi di mana tidak ada satupun orang yang melintas. Sebuah sungai besar dengan lebar sekitar tiga puluh meter mengalir dalam kegelapan, di mana jembatan besi berada di atasnya. Aku sudah tidak lagi mendengar bunyi sirine, jadi sepertinya kami berada jauh dari tempat di mana kami bertarung dengan polisi.

Aku kehilangan tubuh bagian bawah, oleh karena itu, aku tidak bisa lagi duduk secara normal, aku hanya bisa bertumpu pada rangka bawah jembatan. Lilith berbaring di jalanan dengan lemas, menggunakan lengan kirinya untuk menekan bahu yang sekarang sudah hilang sebagian, doa menatap pada robot raksasa hitam pekat, yang berdiri di samping kami seperti patung penjaga.

“Kamu ini…. kenapa sih?”

Lilith bertanya dengan nada khawatir, tapi dia tidak menjawab, dan hanya menatap tanpa sekalipun berkedip pada kami.

“Volkov Galosh.” Lilith memanggil namanya dengan nada rendah, “Katakan sesuatu.”

“....” Raksasa hitam itu tidak menjawab.

Sebuah kereta perlahan melintas pada jembatan di atas kami. Rambut Lilith berkibar oleh angin, lalu jatuh kembali ke atas bahunya.

“........ Yang benar saja.” Lilith berdiri setelah menyangga dirinya pada permukaan tanah dengan tangan kiri.

“Lilith?”

“Aku harus membangunkan pria ini.”

Lilith mendekatinya, kemudian…..

Dia mengetuk pinggul Volkov.

“Hey! hey! Hey! hey! Ada orang di dalam!!? Ada orang di dalam!!?”

Lilith mengetuk pinggul Volkov dengan sekuat tenaga…. alih-alih menyebutnya mengetuk, bisa dikatakan dia memukulnya.

“Aku tahu ada orang di dalam!” dia berteriak mengancam, “Keluar sekarang juga!”

Pada saat itu juga.

Mata Volkov tiba-tiba menyala. Kemudian, lehernya bergerak dengan suara keretak. Volkov menatap gadis yang sedang memukuli tubuhnya.

Kemudian dia berkata dengan lambat seperti biasanya.

“Oh....... Volkov-ada- ada.”

“Lama sekali!” Lilith memukul lengannya tanpa ampun.

“Lilith- sangat- kejam.”

“Ini semua salahmu!” Lilith memukul Volkov lagi. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Lilith berbalik untuk melihatku, dan mengangkat bahu sambil berkata: “Yang benar saja, dia hanya membuat kita berada dalam masalah.” Meskipun dia berkata seperti itu, ekspresinya menunjukan bahwa dia sedikit lega.

“Mnn, yahh..... terima kasih untuk yang tadi.”

Lilith menatapnya sekilas dengan malu, menggumamkan: “...... terima kasih.”

“Lilith- malu.”

“Diam.”

Lilith memiringkan kepalanya ke samping, sementara Volkov menggaruk kepalanya. Melihat interaksi mereka sudah kembali normal, aku pun merasa lega. Sebuah kereta melintas pada jembatan besi sekali lagi, dan getaran datang dari belakang kami.

Setelah suara kereta berhenti, aku bertanya.

“Lilith, apa kau baik-baik saja?”

Wajah bagian kirinya terluka, dan terlihat sangat menyakitkan. Itu adalah bekas yang tertinggal setelah tertembak oleh senjata laser milik polisi. Dan juga, bagian tangan kirinya telah lenyap.

“.....” Lilith tidak menjawab

“Lilith?”

“Ahh, mnn, aku baik-baik saja. Hanya saja sistem pendengaranku rusak. Malah, aku yang harusnya bertanya, apa kau baik-baik saja?”

“Aku, yahh.......”

Aku menatap pada tubuh bagian bawah, kawat dan pipa berserakan seperti jeroan.

“Ahh, maaf, tidak mungkin kau baik-baik saja.”

“Bagian utama, yaitu sirkuitku masih berfungsi, jadi pada dasarnya aku baik-baik saja.”

“...... seperti itu ya.”

Sepertinya Lilith ingin mengatakan hal lain, tapi dihentikan. Mungkin, dia berpikir bahwa sia-sia memikirkan luka kami sekarang.

“Lalu...... apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”

“Mnn......”

Lilith kebingungan.

“Volkov, kau ada ide?”

Setiap berada dalam hal yang serius. Dia selalu menanyakan pendapat Volkov.

Raksasa itu perlahan menaikan kepalanya, membuat suara “Hmm...”

“Volkov- tidak- tahu.”

“Huh...” Lilith menekan tangan ke dahinya, menggumam, “Aku yang bodoh menanyakan hal ini padamu.”

Setelah itu, dia balik bertanya padaku.

“Bagaimana menurutnu, Iris?”

“Yahh.... ku pikir lebih baik kalau kita bersembunyi dulu.”

“Mnn, masih terlalu bahaya untuk kita melarikan diri ke kota sebelah. Perlu waktu lagi hingga semuanya aman, lalu kita pergi....”

Lilith mengatakan kata-kata yang hanya diucapkan seorang kriminal. Tidak, sekarang kami memanglah kriminal.

“Tapi, tetap tinggal di sini juga tidak baik. Ayo kita cari tempat yang lebih cocok untuk bersembunyi.”

“Yeah.”

“Volkov, gendong Iris.”

Volkov mengangguk, mengulurkan tanganya padaku.

baterai=03:45:32[edit]

Kami bertiga berjalan menyusuri sungai.

Setiap kali Volkov melangkahkan kakinya, kerikil yang berada di pinggiran sungai hancur. Suara kerikil yang hancur terus terdengar seiring berjalannya waktu, sementara itu aku melihat ke depan dengan mataku yang bergoyang kesana-kemari karena guncangan dari langkah Volkov.

Jalan berpasir seakan tanpa batas di depan kami, sementara di sebelah kiri terdapat sungai hitam. Tidak ada lampu jalan di dekat sungai, dan aku merasa seolah-olah kami berjalan di terowongan yang gelap.

Apa yang ada di depanmu? Kemana kita pergi? Kegelapan malam merasuk ke dalam tubuku, membuat diriku semakin mual.

Setelah kami beristirahat sebentar, suara gumaman Lilith terdengar dari samping. Rupanya dia sedang menggumamkan lagu. Nada tenang itu membuat sedikit rileks. Kalau aku berada di posisinya, mungkin aku sudah menangis dari tadi.

Setelah dia selesai menggumamkan lagu itu.

“Hey, Iris?” Lilith berjalan santai, menoleh untuk melihatku, “Bolehkah aku meminta bantuanmu?”

“Apa itu?” sembari masih berada di lengan Volkov, aku melihat ke arahnya.

“Lanjutkan ceritanya.”

“.....Hmm?”

“Third-Rate Demon God Visa Dark.”

“Tapi kita tidak punya bukunya.”

Lilith terdiam beberapa saat, lalu berkata: “Bukankah kau ingat isinya?”

“Eh?”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Bukankah kau sudah membaca dan mengingat semua isinya? Aku tahu kau sudah membaca keseluruhanya.”

“E-erm, yahh...” aku tiba-tiba tergagap.

“Apakah kondisi penglihatanmu begitu buruk?”

Mendengar pertanyaanya, aku meneguk. Hujan di depanku berhenti sesaat.

Lilith menunjukkan ekspresi bingung di wajahnya, menatapku tanpa berkedip di seberang hujan. Dia mengerutkan kedua alisnya, meski sebuah senyum terlukis di wajahnya.

“Aku tau itu, kita telah bersama dalam waktu yang lama. Kau terus menjatuhkan limbah material belakangan ini, dan berjalan tidak stabil.”

Dia benar.

Belakangan ini, penglihatanku semakin memburuk. Aku masih bisa melihat dalam ‘gerimis’, tapi jarak pandangku akan terhalang oleh garis vertikal putih saat ‘hujan’. Hujan itu terus turun setiap hari seakan tanpa akhir.

Itulah kenapa aku ingin menyelesaikan buku itu sebelum aku kehilangan penglihatan, aku tidak ingin pertemuan klub baca berakhir karena diriku.

“Maaf, buruknya kesehatanku membuatmu khawatir” aku meminta maaf. Rambut Lilith bergoyang saat dia menggelengkan kepalanya kekiri dan kanan.

“Kau tidak perlu meminta maaf. ...... kau sudah menyelesaikan bukunya?”

Aku mengangguk.

“Jadi, aku akan menanyakanmu sekali lagi. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada Darke.”

Lilith menaikan kepalanya dan melihatku. Nadanya cukup sopan untuk seorang Lilith.

“........ Baiklah, aku mengerti.”

Aku tidak yakin bisa bercerita dengan santai pada saat kritis seperti ini. Aku berpikir bahwa Lilith merasa tidak nyaman jika kami tidak melakukan sesuatu. Sama halnya denganku. Dan Volkov mungkin juga merasa seperti itu.

Dalam kegelapan, tanpa tujuan, tanpa tempat aman, dan tidak tahu kapan mereka akan mulai mengejar.

Kami membutuhkan cerita ini sekarang juga.

Cerita kenangan yang membahagiakan dari iblis berjubah hitam yang sering kali meninggalkan tugasnya tapi sangat perhatian, dan sebuah gelang perak yang serius tapi acuh.

Oleh karena itu, aku mulai membaca.

Pertemuan klub baca malam dimulai.

‘Tubuh Flo Snow gemetar karena kaget. Benar, Darke menyiapkan gelang baru hanya untuknya.’

Aku menceritakan bab ketujuh dari seri ‘Hadiah Raja Iblis.’

Cerita berlanjut, Lilith terus mengeluarkan suara-suara seperti ‘Ah’ ‘Uuu!...’ di sampingku. Sembari terus menggendongku, Volkov terkadang bergumam dengan nada rendah sembari memikirkan ceritanya.

Pada bab keenam sebelumnya, gelang sihir Flo Snow kehilangan kepercayaan dirinya, dan ‘kabur’ dari kastil raja iblis. Lalu, Darke menciptakan ‘gelang baru’ untuk menggantikan dirinya…. itu adalah setengah cerita pertama dari bab ketujuh.

Di bagian terakhir bab ketujuh, alasan Darke menciptakan gelang baru terungkap.

Gelang baru itu akan menjadi ‘tubuh baru’ Flo Snow. Flo Snow pada mulanya adalah ‘jiwa’ yang tertidur pada kuil di dunia iblis, kemudian dibangunkan menggunakan gelang sebagai perantara. Setelah bertahun-tahun melewati masa sulit, gelang yang digunakan sebagai perantara melemah, dan Darke membuat gelang baru untuk memindah Flo setelah dia mengetahui hal itu. Alasan kenapa dia meninggalkan kastil dalam waktu lama yaitu untuk mengumpulkan berbagai material yang diperlukan untuk wadah baru Flo Snow.

“Darke berkata dengan lembut: ‘Flo Snow yang aku cintai. Aku ingin memberimu hadiah hari ini.’ Setelah mengatakan itu, dia mengeluarkan gelang putih bersih. Gelang itu cantik dibuat dari kristal yang dibentuk menyerupai kepingan salju. ‘Sekarang, kau tidak akan bermasalah. Selamanya, sempurna sepanjang masa.’ Flo tidak tahu harus berkata apa. Tetapi pada saat ini….“

Setelah memindahkan jiwa Flo Snow ke gelang baru, hal aneh terjadi pada tubuh Darke. Demi membuat gelang baru, dia menggunakan seluru kekuatan sihirnya.

“Tubuh Darke perlahan- lahan berubah menjadi partikel cahaya, meleleh dalam udara. Flo dengan kosong menatap sosoknya: ‘Ahh, Darke kumohon jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendirian!’ Darke dengan lembut menggengam tanganya berkata: ‘Flo, maafkan aku. Juga, terima kasih atas semua yang sudah kau lakukan. Aku….‘ Darke berubah menjadi bola cahaya, tersenyum untuk terakhir kalinya, kemudian melanjutkan kalimatnya ‘…..mencintaimu sejak lama.’ Setelah mengatakan itu, Tubuh Darke seluruhnya berubah menjadi partikel cahaya, dan tersebar ke segala penjuru. Lalu, cahaya itu naik ke angkasa dan menghilang.”

Setelah membacakan itu, aku berhenti. Suara tangisan terdengar disampingku.

“Lilith?”

“Darke……” Lilith menggunakan tangan kiri untuk menghapus air matanya sendiri. Lalu, dia berbicara sesuatu yang sulit didengar. “Aku juga berpikir cerita itu akan memiliki akhir yang bahagia...”

Aku menghela setelah menyelesaikan bab ketujuh.

Sembari kami mengumpulkan bagian terbaik dari cerita ini, kami bertiga berjalan dalam hening selama beberapa saat.

“Terakhir, kita sampai di bab kedelapan. Bab terakhir…..“

Lilith mengangkat tanganya, “Tunggu sebentar, Iris. Membaca bab terkahirnya lain kali saja. Sia- sia mendengarkan keseluruhan ceritanya dalam sekali baca, dan juga...”

Mungkin karena dia mengingat bagian tertentu cerita tadi, Lilith menitikan air mata. Aku pun menjawab: “...... Mengerti.”

“Volkov apakah tidak apa-apa?”

Lilith bertanya. Volkov mengangguk.

Setelah pertemuan klub baca berakhir. Kami bertiga kembali berjalan. Seolah-olah kami berjalan dalam terowongan yang gelap gulita, kami berjalan ke dalam kegelapan, dan terus maju. Entah apa yang menunggu di depan, kami tidak tahu.

Hanya suara air mengalir dan suara hujan yang gemerisik.

baterai=02:14:17[edit]

Yang menemukan tempat itu adalah Lilith.

Saat menjelang fajar, kami mulai cemas menemukan tempat bersembunyi untuk satu hari.

“Bukankah ini tempat masuk menuju gorong-gorong.”

Lilith menunjuk pada pintu gorong-gorong di bawah jembatan besi. Tempat itu tertutup oleh semak-semak, dan pintu masuknya dipenuhi karat. Itu mengingatkanku pada raja iblis Darke yang biasa menggunakan pintu keluar yang ditutupi semak-semak saat dia keluar dari kastil secara diam-diam.

“Volkov, coba kau buka.”

Mendengar instruksi Lilith, Volkov menekuk lututnya, mengulurkan kedua tanganya pada pintu gorong-gorong. Suara gesekan antar logam berdentang, lalu pintu itu terbuka dengan suara klang.

Sebuah lubang di bawah penutup, menggoda kami untuk masuk ke dalam dunia bawah tanah yang gelap.

“Selanjutnya apa?”

Aku mengamati lubang itu dan bertanya: “Tidak ada pilihan selain masuk, sebentar lagi siang.”

“Tapi....” aku menatap Volkov.

“Ah, benar...”

Lilith sepertinya juga sudah memperkirakanya. Diameter lubang yang mengarah kedalam jalur air sekitar satu meter. Kecuali Lilith dan diriku, Volkov tidak akan bisa masuk.

Dia mendesah, sambil mengatakan: “Pada akhirnya, kita tidak punya pilihan. Ayo kita cari tempat lain.” Lilith membatalkan rencananya menggunakan gorong-gorong itu.

Di saat yang bersamaan, Volkov tiba-tiba berbicara.

“Volkov- tinggal.”

“Hmm?” Lilith mengambil beberapa langkah ke depan. Dia berbalik dan berkata, “Apa yang barusan kau katakan, Volkov?”

“Volkov- tinggal. ... Lilith- dan Iris- pergi-saja.”

“Eh? Kau maksudmu kita pergi duluan?”

Volkov mengangguk.

“Idiot, apa kau sedang berusaha sok keren atau semacamnya?”

Lilith menyentil lengan Volkov menggunakan jarinya. Tetapi, Volkov tidak menjawab, melainkan menempelkan tangan kanannya ke lengan Lilith.

“A- Apa maksudnya ini...?”

“Di sini.”

“Eh?”

“Mereka- di sini.”

Itu merupakan saat-saat paling gelap sebelum fajar.

Titik seperti bintang yang tak terhitung jumlahnya muncul di langit.

“Hey! Bukankah mereka unit militer!”

Titik-titik di langit membesar. Titik itu merupakan helikopter. Lampu sorot melintas di atas kepala kami.

“Lilith- cepat- pergi.”

“Apa yang kau katakan! Kita kabur bersama!”

Tetapi, Volkov dengan paksa menggengam bahu Lilith, mengulangi perkataanya barusan.

“Volkov- tinggal.”

Kemudian, dengan paksa menggendong Lilith, mendorongnya masuk kedalam lubang.

“Tunggu sebentar, Volkov! Lepaskan aku!” Lilith terus mengelak, tapi Volkov tidak berhenti.

“Unit militer- mengejar- Volkov.”

Volkov juga menggendongku, mendorongku masuk setelah Lilith.

Di saat itu juga, Volkov menatapku. Matanya menyiratkan bahwa dia memohon sesuatu. Itu mungkin artinya dia…

“Lilith, ayo pergi.”

Aku menarik Lilith.

“Tunggu, kenapa kau juga mengatakan itu!!”

“Kumohon pertimbangkan perasaan Volkov.”

“Aku……“

“Rusak. Volkov tiba-tiba mengatakan sesuatu, “Volkov- rusak.”

“...Eh?” Lilith menatap Volkov dengan khawatir.

Seolah-olah dia mengatakan hal itu tanpa khawatir sedikit pun, dia menjelaskan: “Volkov- terbakar- dalam- truk. Sirkuit- pengaman- rusak. Oleh karena itu- Volkov- menggunakan senjata........ itu- aktif.”

“Aktif.....?”

Lilith dengan hati-hati menanyakan itu seakan dia ketakutan mendengar responnya, sementara Volkov menjawabnya seperti biasa.

“Pengaturan- penghancur diri.”

Sekejap, Lilith tertegun.

Volkov tidak berbohong, tidak juga bercanda.

Tidak pernah sekali pun.

Aku menggenggam tangga gorong-gorong, melihat wajah Volkov sekali lagi. Tekad yang begitu tenang tapi kuat tersembunyi pada kedua mata kotak miliknya.

Aku mengerti. Volkov ketakutan. Volkov begitu ketakutan hingga berpikir dia akan menjadi masalah jika kabur bersama dengan sebuah robot militer.

Lilith perlahan menggelengkan kepalanya, bertanya.

“Kau bercanda, ‘kan? Penghancur diri dan semacamnya, itu cuma kebohongan yang kau karang sendiri, ‘kan Volkov?”

Lilith menatapku tidak percaya.

Volkov menjawab sederhana: “Itu sungguhan.”

“Oleh karena itu- selamat tinggal.”

Penutup pintu masuk ditutup. Wajah Volkov sedikit demi sedikit menghilang.

“Volkov, jangan! Jangan memutuskan sesuatu seenaknya! Kita harus melarikan diri bersama!”

Volkov tidak menjawab, tapi dia melihatku dan berkata.

“Iris, aku serahkan Lilith padamu.”

Aku mengangguk. Tekad kuat miliknya tidak bisa dihentikan. Juga, kami tidak bisa menghentikanya sendiri dengan kekuatan kami.

Tapi Lilith tidak menyerah, dia berteriak: “Apa yang kau lakukan, hentikan itu! Lepaskan aku!”, dia dengan panik mencoba melepaskan lengan Volkov menggunakan tangan kirinya. Volkov dengan kuat menggenggam tangan Lilith, mengunci pergerakanya. Lalu, dia menatap langsung ke mata Lilith.

“............... Volkov?” Lilith dengan khawatir menatap ke arah raksasa yang tiba-tiba berhenti. Volkov menatap Lilith tanpa suara. Seakan waktu berhenti mengalir, mereka berdua menatap satu sama lain.

“Lilith.”

Saat itu, kalimat Volkov tidak tersendat seperti biasanya, dia mengatakannya dengan lancar.

Kalimat itu terdengar seperti sebuah pengakuan.

“Aku bersyukur telah bertemu denganmu.”

Mata Lilith berlinang. Bibirnya gemetar, seakan dia ingin mengatakan sesuatu.

Tapi kemudian, Volkov mendorong Lilith.

“Ahh!” Lilith mengerang, jatuh kedalam gorong-gorong. Aku ikut jatuh bersamanya.

Di saat-saat terakhir sebelum kami jatuh, aku melihat pancaran sedih di mata Volkov. Walau begitu, pintu masuk dengan cepat tertutup, dan pancaran itu menghilang.

baterai=02:01:40[edit]

Kami jatuh kedalam gorong-gorong. Lilith dan diriku menciptakan sejumlah besar air, dan terseret arus.

“Uwaa!”

Aku mengapung kembali setelah tenggelam beberapa saat, dan dengan tidak berdaya aku terseret bersama arus. Aku mendayung menggunakan tanganku, tapi dengan tubuh hancur ini tidak banyak yang bisa kulakukan.

“Iris!”

Lilith keluar dari dalam air, dan menggenggam tanganku. Setelah itu, dia membawaku ke tepian beton.

Kami terseret sekitar ratusan meter. Dengan membawa diriku, Lilith keluar dari air.

“.......... Uhuuk, uhuuk!”

Dia memuntahkan sejumlah besar air selagi menahan tubuh dengan kaki kirinya. Setiap tangga yang ada di sini dibangun tepat disamping air yang mengalir.

“.......... Ampun deh, apa sih yang dia pikirkan!”

Lilith mengomel. ‘Ka, ka, ka....’ setelah mengeluarkan tawa aneh itu, aku berbicara.

“Li-Lilith....... ka ka......”

Sepertinya sirkuitku mengalami arus pendek setelah terendam air.

“Apakah kau baik-baik saja? Kau basah kuyup.”

Lilith mengangkat tubuhku seolah-olah dia sedang menggendong bayi, sekuat tenaga menggoncangkan tubuhku naik turun.

“Bukankah ini buruk!”

Lilith berteriak kalang kabut. Dia muram, menunjukan ekspresi marah.

Tetapi, aku tahu dia hanya berusaha memberanikan diri. Buktinya dia selalu menatap ke arah ‘hilir’ gorong-gorong dengan miris.

Itu adalah tempat dimana kami dan Volkov terpisah.

Aku menatap ke arah yang sama tanpa bersuara. Air mengalir begitu cepat ke arah hilir, dan jalur ini tidak terhubung dengan jalur yang mengarah ke hulu, jadi mustahil untuk berenang kembali.

Setelah berpikir dan merenung, dia mengangkat kepalanya.

“Ayo pergi, Iris.”

“........ Baiklah.”

Aku menjawab perlahan. Setelah itu, Lilith menggendongku di punggungnya.

baterai=01:49:52[edit]

Kami terdiam untuk waktu yang lama.

Meski tidak ada yang bisa kulakukan, aku masih ingin membantu…. Aku pun mengubah lampu di pengaturan penglihatan menjadi senter, menerangi jalan di depan kami.

Aku terus memikirkan Volkov sembari berjalan di belakang Lilith. Apa yang terjadi denganya setelah itu? Apa dia benar-benar melawan unit militer? Pengaturan penghancur diri… apa itu berfungsi?

Lilith tidak mengataan apapun. Dia pasti memikirkan hal yang sama.

Setelah sekitar sepuluh menit.

Lilith tiba-tiba berbicara: “Orang itu, benar-benar lambat. Penglihatan dan pendengaranya buruk. Dia juga tergagap saat berbicara.”

“Mnn...”

Apa sebenarnya maksud dari kata-kata Lilith?

“Semenjak bergabung dengan militer, dia sudah banyak mendapat masalah, tapi itu sama sekali bukan salahnya,”

Setelah mengatakan itu, nadanya merendah.

“…. Tapi, aku juga salah.”

“......... Kenapa?”

“Belakangan ini sih sudah jarang ditemukan, tapi dulu banyak sekali bom pada lahan konstruksi itu. Bahkan sudah hal yang biasa ketika 3 robot meledak gara-gara bom tiap harinya. .... setelah menyaksikan hal seperti itu, bukankah kebanyakan orang akan berhenti mengambil limbah material yang telihat seperti bom?”

Dia menyesuaikan posturnya, mendorongku sedikit ke atas. Aku memeluknya lagi.

Suara Lilith tiba-tiba bergetar. “Tapi orang itu tidak berhenti. Dia terus mengambil dan membawa material yang mirip seperti bom.”

“Kenapa? Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri?”

“Yep, bunuh diri. Tidak peduli setangguh apapun dirinya, dia akan tetap menjadi lempengan logam setelah berkali-kali terkena bom. Meski begitu, orang itu tetap saja membawa bom. Menurutmu kenapa dia melakukanya?”

Aku berhenti bicara. Lilith meneruskan dengan nada gemetaran.

“Dia melakukanya untukku.”

Dengan nada lemah, dia mengatakan kalimat itu dengan cepat dan gemetaran.

“Dia sungguh idiot!. DIa selalu mengatakan sesuatu seperti: ‘aku tidak akan hancur jika bom tiba-tiba meledak’, kemudian dia juga mengambil bagianku. Tapi dia hancur sedikit demi sedikit. Tidak bisa mendengar dengan baik, tidak bisa melihat dengan baik, dan cara bicaranya juga aneh. Meski begitu, dia tetap saja membawa bom. Setelah aku menyuruhnya berhenti, kau tahu apa yang dia katakan?”

Lilith mempercepat langkah kakinya, seolah-olah dia ingin membuat kami menabrak.

“Volkov- membawa- bom.”

Lilith meniru cara bicara Volkov.

“Lilith- aman.”

Suaranya berhenti dalam duka.

“Volkov- bahagia...”

Setelah mengatakan itu, dia terdiam.

“Sungguh......idiot.”

Cairan menetes ke tanganku yang berada di bahunya. Tetesan itu mengalir melalui tanganku dan jatuh ke bawah.

……….Volkov- tahu- cara- membunuh.

Kata-kata Volkov terngiang di kepalaku.

……..Tapi- tidak- tahu- cara- untuk- hidup.

Saat itu dia mengatakan bahwa tidak tahu bagaimana cara untuk hidup. Dia mengatakan itu dengan ekspresi penuh kesedihan.

Tapi kenyatanya tidak begitu. Dia telah menemukan alasanya.

Bertemu dengan Lilith, memindah bom demi Lilith, melawan polisi bahkan unit militer hanya untuk Lilith.

…….Aku bersyukur telah bertemu denganmu.

Dia mengatakan itu saat kami berpisah. Aku sungguh memahaminya sekarang.

Dia hidup untuk Lilith. Lilith adalah nyawa kedua milik Volkov setelah kekalahanya di medan pertempuran. Lilith adalah alasannya hidup.

Lilith masih menangis dengan lirih.

Aku tetap diam, tidak ada kekuatan lain yang terkumpul kecuali di lenganku.

Seperti yang biasa Profesor lakukan, aku memeluknya dengan lembut di punggung.

Itu adalah saat setelah suara ledakan yang memekikan telinga terdengar dari atas.

Mungkin itu adalah suara teman kami yang meledak berkeping-keping.

baterai=01:28:13[edit]

Terpaan angin dingin melintasi gorong-gorong. Angin itu tiba-tiba berhenti dalam sekejap.

Lilith berhenti bergerak.

Aku bertanya: “Lilith?”, lalu dia mengusap hidungnya, dan menoleh untuk melihatku dengan mata yang lembab.

“Apa kau mendengar sesuatu?”

Lilith menyimak sesuatu saat mengatakan itu. Aku menyesuaikan pengaturan suara hingga ke titik paling sensitif.

Aku bisa mendengar suara hujan, angin, air mengalir, dan…..

Langkah kaki manusia.

Langkah kaki milik banyak orang.

“Kelihatanya mereka masih mengejar kita.”

Lilith menggigit bibirnya.

Hanya melihat bahunya yang gemetaran saja sudah cukup untuk memberitahuku apa yang sedang dia pikirkan. Karena unit militer ada di sini, itu artinya hal yang menghalangi mereka sudah tidak ada. Tetapi, Lilith dan diriku tidak menyebutkan dia lagi. Jika kami menyebut dia, Lilith akan mulai menangis, dan itu juga akan menyakitiku.

Kami berjalan dengan cepat. Menggunakan sistem penerangan dari pengaturan penglihatan, kami terus berjalan pada jalur di dalam gorong-gorong. Terkadang, aku mendengar suara mereka yang bergema pada jalur ini.

“Lihat!”

Lilith mengatakan itu dengan nada rendah.

“Pintu keluarnya.”

Aku menatap pada langit-langit. Ada tangga pada dinding, dan sebuah lubang diatasnya. Itu adalah lubang yang mirip dengan lubang dimana kami masuk sebelumnya.

“Apakah kita sudah sampai di Kota Oval?”

“Yeah, kemungkinan kita sudah berada di kota sekarang.”

“Apa yang selanjutnya kita lakukan.”

“Yang bisa kita lakukan hanyalah keluar. ........ kita akan segera ketahuan jika terus berada di sini.”

Saat ini, suara dan langkah kaki mereka semakin keras.

“Pegangan yang kuat.”

Seraya menggendongku di punggungnya, Lilith meraih tangga pada dinding, memanjat keatas satu per satu. Setelah tiga puluh detik, penutup lubang berbentuk bulat muncul diatas kami. Penutup itu adalah jalan keluar dari gorong-gorong.

Demi membantu Lilith yang kehilangan lengan kirinya, aku mengeluarkan tanganku, dengan hati-hati mendorong penutup gorong-gorong. Cahaya sedikit demi sedikit masuk kedalam celah.

Ketika penutup terbuka sebagian, Lilith mengeluarkan kepalanya.

“Benar, kita beruntung!”

Dia membuka penutup sepenuhnya, mempersilahkanku untuk memanjat duluan, kemudian dia menyusul setelahnya.

Mungkin karena hari sudah siang, dunia bawah tanah terlihat begitu menyesakan. Tempat dimana kami keluar adalah gang yang terletak diantara gedung dengan sampah yang berserakan, dan air kotor ditanah. Apakah itu suara mesin yang terdengar dari jauh?

Lilith menaruh penutup ketempat asalnya, kemudian berteriak dengan sorakan kemenangan seakan sedang menyemangati dirinya sendiri.

“Benar, ini adalah tahap kedua dari operasi melarikan diri!”

Saat itu, aku berpikir akhirnya kami lolos dari kejaran unit mliter.

Tetapi, kami terlalu naif. Aku harusnya berpikir bahwa unit militer akan menempatkan beberapa orang didepan pintu masuk gorong-gorong.

“Ayo pergi, Iri……“

Kalimatnya terpotong sebelum dia selesai mengucapkanya.

Dua pancaran cahaya menusuk dirinya.

baterai=01:24:41[edit]

“Ah....!”

Seperti boneka yang kehilangan benangnya, tubuh Lilith terkulai, terbaring di bawah.

“Lilith!”

“Uuu...” Lilith menekan dadanya, dan meronta-ronta. Sejumlah besar oli terciprat keluar dari tubuhnya, menyebar di tanah seperti genangan darah.

“Jangan bergerak! Ini perintah!”

Suara teriakan mengaung pada gang kecil, dua orang yang menggunakan pakaian militer berlari ke arah kami. Senjata laser di tangan mereka.

“Apa? Ada satu lagi.”

Salah satu dari mereka sepertinya mengetahui keberadaanku.

“Apakah kita juga berurusan dengan yang ‘satu ini’? “Mnn, benar.”. mereka dengan santai memutuskan kematianku seperti sedang berdiskusi tentang menu makan siang.

Sebuah senjata diarahkan tepat di wajahku. Panas yang tersisa dari tembakan sebelumnya membuat asap keluar dari moncong senjata tersebut.

….Ahh, apakah aku sudah mati?

Aku menatap kosong pada senjata itu. Sama seperti saat aku dibongkar, aku tidak bisa merasakan kematian yang berada didepan mata, dan aku pun mulai lari dari kenyataan

Pada detik-detik itu.

“Kaaaaaa!”

Lilith berdiri sambil berteriak seperti hewan buas, menabrakan dirinya ke arah pria didepan. Pria itu segera kehilangan keseimbanganya.

Menggunakan kesempatan ini, Lilith menarik tananku, lari menjauh dengan cepat.

Sebuah kaliamat yang familiar ‘Berhenti! Ini perintah!’ terdengar dari belakang, tapi dia terus berlari dengan kencang.

Setelah berhasil keluar dari gang, kami sampai di jalan raya. Beberapa mobil melaju melalui jalan yang berada di depan kami.

Seorang wanita yang melintas berteriak setelah melihat Lilith dan diriku. Kerumunan manusia di sekitar kami mulai membuat keributan ketika melihatku yang hanya tersisa tubuh bagian atas, Lilith yang bertangan satu dan oli yang merembes dari dadanya.

Teriakan dari unit militer mendekat dari belakang. Setelah berpikir beberapa saat, Lilith lari ke arah jalan.

“Lilith, kemana kau per……“

“Kita akan naik itu.”

Itu merupakan truk kecil yang menunggu lampu merah. Di saat lampu berubah menjadi hijau, dan truk mulai bergerak, Lilith melemparku ke arah trailer dan masuk setelahnya.

Kemudian, truk itu pun melaju.

baterai=01:16:56[edit]

Suara sirene menggema di sekitar kami, tapi truk terus melaju melintasi kota.

“Lilith, Lilith kau baik-baik saja?”

Didalam trailer truk, aku dengan panik memanggil namanya.

Wajahnya begitu menderita. Terdapat lubang sebesar kepalan tangan di dada dan perutnya, pipa-pipa ang keluar menyemburkan oli ke mana-mana.

“Iris....”

“I- iya?”

Agar bisa medengarnya dengan jelas, aku pun mendekat.

Dia berkata dengan nada parau: “Turunlah dari truk setelah melewati jalan yang ramai.”

“Tapi...” aku menatap pada lukanya. Tidak usah ditanya lagi, dia terluka begitu parah…. bahkan sangat parah. Di sisi lain, aku tidak bisa bergerak karena kehilangan tubuh bagian bawahku. Sistemku yang menggunakan tiga sirkuit utama tidak tergores sedikit pun. Tetapi, Lilith berbeda. Sejumlah besar oli yang keluar menenunjukan sirkuit pentingnya telah rusak. Meski begitu, dia masih mencoba mengangkat tubuhnya. Kemudian, dia memuntahkan oli.

“Lilith!”

“Aku baik-baik saja.” Dia menggunakan tangan kirinya untuk menyeka oli yang keluar dari mulut. Sembari memaksakan tersenyum padaku, dia berkata, “Ini bukan apa-apa.”

Seakan bertolak belakang dengan perkataannya, cairan hitam terus mengalir keluar dari dada dan perutnya.

Setelah truk melaju sekitar lima menit, kami keluar dari pusat kota, dan sampai pada jalan pinggiran kota yang gersang.

Lilith memelukku. Aku mengutuk ketidakmampuanku dan aku pun salut dengan keberanianya.

Mengambil kesempatan saat truk menurunkan kecepatanya, Lilith meloncat keluar dari truk…. atau lebih tepatnya berguling-guling keluar dari truk. Pengemudi truk tidak meperhatikan kami, dan pergi begitu saja.

Lilith berdiri dengan begitu labil, kemudian dia melihat ke sekitar. Untung saja daerah ini sepi.

“Ah, ayo masuk.”

Sebuah rumah tua di depanya, nama agen dan kata ‘Dijual’ tertulis pada papan di depan rumah itu.

Lilith menggendongku di punggung sekali lagi, lalu berjalan menuju halaman belakang dengan langkah yang begitu labil. Yang bisa kulakukan hanyalah tergolek di punggung Lilith.

Kami masuk melalui gerbang dan berjalan ke halaman. Halaman itu tidak terawat dan dipenuhi rumput liar.

Dia berbaring di bawah kanopi. Selama tidak ada orang yang datang ke sini, maka tak seorang pun dapat melihat kami dari jalan.

“Lilith...”

Aku memanggil namanya sembari mendesah.

Tubuh Lilith tidak akan bisa bertahan lebih lama. Mungkin karena mendarat dengan keras setelah dia melompat berusan, beberapa filamen dan sirkuit keluar dari lubang dimana dia tertembak. Pipa yang mengeluarkan percikan bergerak-gerak seperti makhluk hidup, dan menyemburkan percikan beberapa kali.

…….Jika ini terus berlanjut, baterainya akan...

“Heh.. heh..... Ini sangat buruk.....” Lilith mengatakan itu dengan santai, menyentuh dadanya, sambil memposisikan diri. Dia ingin menutupi sirkuit yang terbuka dari tubuhnya, tapi itu sia-sia saja.

“Iris.”

“Iya?”

“Begini...”

Dia mengeluarkan kotak berbentuk persegi dari dalam dadanya.

Itu adalah kotak kartu kotor karena noda dari oli.

“Buka.”

Aku membuka kotak sesuai perkataanya, dan sebuah kertas plastik ada di dalamnya. Sebuah nama bank yang tidak asing tertulis di dalamnya.

“.......Kartu kredit?” aku menatap Lilith.

“Benar, kata sandinya adalah HRM019, nomor sertifikasiku.”

Aku sama sekali tidak tahu apa maksudnya. Kenapa dia menyerahkan kartu kredit padaku?

“Dan juga, di bagian bawahnya....” Lilith perlahan memberiku instruksi, “Ada kertas kan? Coba buka.”

Aku membuka kertas yang berada di bagian bawah kotak. Itu merupakan peta Kota Oval dan daerah sekitarnya. Hanya satu tempat yang dilingkari pensil.

“Itu adalah sebuah toko loak.”

Selagi mengatakan itu, oli mengalir keluar dari mulutnya.

“Ingat? Aku menyebutkan padamu sebelumnya. Sebuah robot bernama Lightning.”

Lightning…. itu sepetinya nama robot yang bekerja di toko loak yang pernah Lilith sebutkan. Robot yang mirip seperti Volkov.

“Pergi ke sana dan minta dia memperbaikimu.”

“Ba...... baiklah.”

“Hati-hati saat kau pergi. Kau harus segera bersembunyi setelahnya, aku sarankan kau bersembunyi di bawah mobil. Dan juga……”

Aku menyelanya, “Tu- Tunggu sebentar. Bukankah kau juga ikut?”

“Dasar bodoh...... tentu aku tidak bisa pergi dengan keadaan seperti ini.”

“Setelah aku sampai di toko loak itu. Aku akan meminta mereka untuk menolongmu. Jadi, tunggu saja hing……”

Kali ini, Lilith yang gantian menyela. “Iris, dengar.”

Nada bicaranya terdengar mantab, tapi tatapanya perlahan memudar. Cahaya dimatanya redup, menandakan baterainya dalam keadaan lemah.

“Aku tidak sanggup lagi.”

Mendengar itu, aku terkejut.

“Lilith, jangan katakan itu. Selama aku meminta bantuan seseorang di sana, kau akan....”

Lilith menggelengkan kepala, oli mengalir keluar dari lehernya. “Tidak, kau tidak akan bisa diperbaiki jika kau tidak mempunyai cukup uang. Jelas tidak bisa.”

“Lilith, aku tidak bisa begitu saja meninggalkanmu di sini.”

Aku memohon sambil menatapnya. Tetapi, Lilith menggelengkan kepalanya dan berkata: “Tidak apa-apa, cepatlah pergi.”

Meninggalkan Lilith dan melarikan diri sendirian. Aku tidak bisa dan tidak akan melakukan hal seperti itu.

Aku mengembalikan kertas itu kepadanya. “.......... Tidak, aku tidak akan melarikan diri sendirian. Itulah kenapa aku tidak bisa menerima ini.”

Dalam sekejap.

“Iris Rain Umbrella!” Lilith menggenggam bahuku dengan tangan kanannya, matanya melebar hingga terlihat menakutkan, “Jangan naif!”

Teriakanya membuatku ketakuatan. Seluruh tubuhku digetarkan oleh emosinya.

Iord 245.jpg

“Dengar, kau harus tetap hidup! Jika kau mempunyai kartu itu, kau bisa diperbaiki! Tapi aku sudah tidak sanggup lagi! Jadi hanya kau yang bisa diperbaiki!”

“Ta- tapi.”

“Jangan ragu! Kau harus berani tetap hidup meski kau sendirian! Dunia ini keras! Jika kau lemah, kau akan menjadi lempengan logam.”

Dia batuk dan menyemburkan oli dari mulutnya. Cairan hitam itu mengenai wajahku.

Meski begitu, dia terus melanjutkan.

“Cepatlah pergi!”

“Tapi, tapi!”

“Iris! Jangan membuatku terbebani lebih lama lagi!

Lilith menatapku dengan ekspresi muram. Sambil menggenggam tanganya, aku berkata seperti anak yang manja: “Tidak, aku tidak mau...”

Berlanjut seperti itu, aku terus menolaknya.

Senyuman lembut tiba-tiba terlukis di wajahnya.

Dia mengangkat tanganya, perlahan menyentuh wajahku. Tanganya kotor karena oli. “Iris, aku akan mengatakan sesuatu padamu...”

Lilith mengatakan itu seakan sedang mengajariku.

“Dunia ini........ tidak ada yang pasti di dunia ini dan kau tidak akan pernah bisa menduga apa yang akan terjadi besok. ....... Dunia ini dipenuhi dengan hal-hal yang sulit, selama kau bisa menemukan jalan, kau akan tetap hidup.”

Jari rampingnya menyentuhku, sementara aku hanya bisa menatap kosong pada sorot matanya yang memulai memudar.

“Gak masalah kan. Meski kau sendirian, kau masih bisa tetap hidup. .....Percayalah pada dirimu sendiri. Karena…. “

Dia melihat langsung ke arah mataku, berkata dengan suara parau.

“Kau adalah robot yang dicintai hingga detik terakhir.”

Setelah mengatakan itu, tangannya jatuh terkulai dari wajahku.

Aku tidak mengatakan apapun.

Apa yang Lilith katakan benar. Bandingakan denganku, yang tidak tahu apapun, dia yang hidup dengan kekuatanya sendiri mungkin benar.

Tetapi, meski begitu, aku tidak setuju denganya dalam beberapa hal.

Apa yang harus kulakukan? Jika Profesor di sini, apa yang akan dia lakukan?

Ah, benar juga, Profesor akan….

“Lilith, dengarkan aku”

Aku membuka penutup pada dadaku, mengeluarkan wadah rokok abu-abu. Itu adalah tempat penyimpan rokok kenang-kenangan antara Profesor dan diriku. Setelah aku membuka tutupnya, aku mengambil rokok bundar berbentuk 8 di dalamnya.

“Sebelumnya, Profesor mengatakan ini. Kita sama seperti rokok bundar berbentuk 8 ini. ..... Lihat, ini akan menjadi dua lingkaran jika kita memutuskanya.”

Aku memutuskan rokok bundar itu. Satu lingkaran akan digunakan untuk seseorang yang ingin berhenti merokok, dan bagian lainya digunakan sebagai asbak. Setelah itu, aku menempelkan kembali dua lingkaran itu.

“Lihat, ini akan menjadi 0 jika hanya ada satu, dan lingkaran satunya juga sama. Tapi, kau akan mendapatkan angka 8 jika menggabungkanya. Menggabungkanya akan membuatnya lebih kuat…. itulah angka 8 dan itulah kita.”

Itulah sudut pandang yang aku pelajari dari Profesor, sebuah kata-kata penutup yang biasa dia katakan dalam kuliah khususnya. Sembari menatap rokok bundar Profesor, aku mengingatnya.

Lilith menatap rokok bundar ditanganku, bergumam dengan suara yang hampir tidak bisa didengar: “Bukankah itu....sama saja membohongi dirimu sendiri....?” pancaran di matanya hampir redup sepenuhnya.

Aku tidak peduli jika itu sama seperti membohongi diri sendiri. Aku hanya tidak ingin melihatnya mati, tidak ingin dia kehilangan harapan. Jadi aku melanjutkan omonganku.

“Profesor dan diriku, Lilith dan Volkov, Lilith dan aku, semuanya sama seperti rokok berbentuk 8 ini, kita bisa bergabung. Ini tidak akan berfungsi jika salah satunya hilang. Jadi, Lilith…….”

Suara elektronik terdengar seperti suara asliku saat ini.

“Aku pasti akan menyelamatkanmu.”

Lilith tidak mengatakan apapun.

Dia hanya berkedip dan menutup matanya.

Saat ini, baterai miliknya habis.

baterai=00:58:34[edit]

Aku sesaat terpaku ketika menatap Lilith.

Walaupun aku mengatakan semua itu, aku masih merasa tidak nyaman. Sampai saat ini, Lilith lah yang memimpin kami semua, dan kami mendapat pertolongan dari Volkov saat kami dikejar. Tapi sekarang aku sendirian, tidak ada yang menolongku, dan kurasa tidak akan ada orang yang akan menyelamatkanku.

Tempat itu terletak dekat Plaza Venus Fountain. Dari situ, mungkin toko loak yang dimaksud Lilith adalah salah satu kios dari puluhan pertokoan di sana. Lokasiku sekarang yang jadi masalahnya, tapi mungkin akan lebih mudah jika aku melihatnya dari bangunan putih tertinggi di sekitar area ini… yaitu, dari Laboratorium Robotik Pertama Universitas Oval.

Setelah memutuskan akan ke sana, aku hendak memasukkan kembali peta tersebut ke dalam kotak, kemudian.

“Ahh....”

Aku menemukan foto kecil pada bagian dalam kotak.

Ada tiga orang di foto itu. Seseorang yang di tengah adalah Lilith yang mengenakan gaun imut, sementara dua orang lainnya terlihat seperti pasangan berusia sekitar tiga puluh tahun, mereka sedang tersenyum di sampingnya.

Di dalam foto itu Lilith juga tersenyum lebar, dan terlihat begitu bahagia. Senyumanya lembut dan polos, dan orang-orang ini mungkin tidak bisa membayangkan betapa hebatnya Lilith yang sekarang.

Aku mengingat kalimat yang pernah diucapkanya.

…..Kejam, ‘kan mereka. Menciptakan saat mereka dibutuhkan, meninggalkan mereka saat tidak dibutuhkan.

Dia kecewa saat itu, dan ekspresi dingin terlihat di wajahnya.

Aku kembali melihat foto itu, mereka bertiga adalah keluarga yang bahagia. Kebahagiaan indah seperti pemandangan yang melekat di dalam bingkai. Dia terlihat seperti malaikat yang tidak mengerti arti curiga, sebuah senyuman bahagia dan polos terlukis di wajahnya. Dia masih tidak tahu tentang peristiwa buruk yang akan datang setelahnya.

Dadaku terasa sakit. Sampai sekarang, sudah berapa kali dia melihat foto ini? Apa yang dia rasakan tentang masa lalunya, apakah dia bahagia?

Sampai detik ini pun, dia selalu menyembunyikan foto berharga ini di dadanya. Dia tetap menjaga sebuah foto orang tua yang telah membuang dirinya.

…..Percayalah pada dirimu sendiri. Kau adalah robot yang dicintai hingga detik terakhir....

“Lilith...”

Ekspresi muram menghilang dari wajah Lilith karena baterai yang terkuras habis, yang tersisa di wajahnya hanyalah ekspresi polos seperti anak-anak. Aku mengulurkan tanganku, dengan lembut menyentuh wajah kirinya yang terluka.

Oli menetes keluar dari mataku bagaikan air mata. Setetes demi setetes.

Aku bersumpah pada diriku.

“Aku pasti akan menyelamatkanmu.”

Pasti.

Setelah itu, aku memindah tubuh Lilith ke hutan terdekat, dan menyembunyikanya dengan hati-hati agar tidak ada yang menemukanya. Lalu, aku memasukan kotak kartu, dan wadah rokok milik Profesor ke dalam dadaku.

Kemudian, aku berpikir sejenak.

Jika aku keluar dengan keadaan seperti ini, orang pasti akan segera memanggil polisi. Jadi, itu bukanlah pilihan. Aku harus menemukan cara yang lebih efektif agar bisa sampai ke toko loak yang Lilith bicarakan. Tetapi, aku tidak mempunyai ponsel, dan mustahil menggunakan telepon umum dengan tubuh ini. Jadi, bagaimana caranya aku bisa pergi sampai ke toko loak dekat plaza Venus Fountain? Menurut perhitunganku, jaraknya sekitar dua kilometer antara Plaza dan tempat ini.

…….Plaza?

Plaza Venus Fountain. Kata-kata itu mengingatkanku akan sesuatu. Saat di mana Profesor dan diriku melintasi tempat itu setelah selesai nonton film di bioskop. Benar, Profesor menolong sebuah robot di trotoar saat itu. Dan bagaimana robot itu masuk ke plaza, aku mengingatnya….

Kata-kata Profesor terngiang dikepalaku.

“Anak ini…. Sepertinya telah melewati jalan yang gelap dan sempit ….”

“Gorong-gorong......”

baterai=00:43:08[edit]

Sebelum pergi, aku ‘memodifikasi’ tubuhku terlebih dahulu.

Aku menarik semua pipa dan kawat yang mencuat dari bagian yang dihancurkan oleh laser. Benda itu hanya mengganggu, dan akan mengeluarkan suara saat bersentuhan dengan aspal jalan. Lalu, mematikan pengaturan yang sudah tidak berfungsi lagi. Setelah mematikan sistem pengaturan pergerakan tubuh bagian bawah, tubuhku terasa lebih ringan.

Setelah modifikasi selesai, aku meninggalkan halaman rumah tua itu, hingga sampai ke jalan. Aku membuka penutup selokan terdekat saat sepi dan masuk kedalamnya. Selokan itu cukup sempit, jadi yang bisa kulakukan adalah mengorbankan tangan kiriku. Aku mengerahkan semua kekuatan pada bahuku, dan dengan mudah melepasnya. Tubuhku yang terdiri dari barang bekas berguna pada saat seperti ini. Aku memasukan tangan kiri itu ke selokan.

Lalu, pergi.

Selokan itu dipenuhi oleh lumut basah. Aku dengan cepat merakak maju dengan kepala, tangan kanan, dan tubuh yang tersisa. Seperti zombie dalam film, aku merangkak tanpa mempedulikan penampilanku.

Saat aku mencapai pojok selokan, tubuhku terasa nyeri. Aku meregangkan lengan, memutar kepala, menyesuaikan tubuhku sedikit demi sedikit, dan mulai berjalan perlahan. Aku memiringkan tubuhku secara diagonal, lalu melintas.

Bahkan diriku, harus bersusah-payah melakukan hal ini.

Sebuah penutup berbentuk persegi yang mirip seperti pagar besi mengelilingi selokan ini. Memiliki lebar sekitar tiga puluh meter dan panjang satu meter yang membentang sepanjang pinggir jalan. Beberapa lubang kecil yang menyerupai kasa terbuka (mungkin digunakan untuk mengarahkan air hujan agar mengalir ke sini), memudahkanku mengintip situasi di atas. Aku melihat ke atas sesekali, memastikan posisiku, lalu bergerak perlahan dengan lenganku.

Setelah bergerak sekitar tiga puluh menit, aku akhirnya sampai pada pusat perbelajaan depan stasiun Oval. Dari papan nama toko ikan, aku berasumsi bahwa sekarang aku berada di area timur jalan perbelanjaan, sekitar lima ratus meter dari air mancur plaza di mana patung dewi berdiri. Itu mengingatkanku saat di mana aku membeli seekor ikan besar tiga bulan lalu, untuk membuat sup La Bier untuk Profesor.

Aku hanya bisa merangkak menggunakan tangan kanan ini. Dibandingkan dengan menggunakan dua tangan, aku bisa bergerak jauh lebih cepat, hal ini cukup ironis. Mulai dari sekarang, tangan kiri dengan panjang yang tidak sama, tak akan pernah menyentuh lantai lagi.

Penglihatanku buruk… sepertinya lebih tepat kalau kau menyebutnya ‘hampir buta’. Mata kanan kehilangan penglihatanya, dan mata kiriku hanya bisa melihat melalui “jendela kecil” seolah-olah melihat dari pecahan kaca. Jika tempat ini bukan pusat perbelanjaan kota Oval, aku sudah menyerah sejak tadi. Benar, aku masih memiliki kesempatan. Sang dewi masih disampingku.

Orang-orang yang membeli barang di pusat perbelanjaan biasanya akan melewati selokan ini, dan aku akan menahan nafasku, lalu bergerak tanpa bersuara. Papan nama dari toko daging sudah terlihat. Benar. Aku juga membeli sesuatu dari sini tiga bulan lalu. Aku membeli beberapa daging di sini untuk membuat sup domba, dan membeli beberapa bawang di toko sembako. Sungguh nostalgia.

Aku pulang.

Setelah berbelok dari toko sembako, aku akhirnya sampai pada jalan utama, dan akan tiba di air mancur plaza Oval setelah terus bergerak lurus. Ada patung dewi yang mirip dengan Profesor di tengah air mancur. Lilith mengatakan toko loak berada disekitar jalan tersebut, jadi itu mungkin berada di samping jalan utama.

Lantas, hanya tersisa lima puluh meter lagi.

Aku bergerak lurus sekali lagi, sekuat tenaga merangkak dengan tangan kanan ini.

Di saat itu juga.

…….!

Tubuhku terasa semakin berat.

Ini gawat, bateraiku akan habis sebentar lagi.

Aku harus cepat.

Cepat. Lebih cepat.

Tinggal tiga puluh meter.

Sedikit lagi, sedikit lagi.

Tinggal dua puluh meter lagi.

Menggerakan tangan ini begitu berat dan sakit.

Sepuluh meter.

Lenganku sakit, suara keretak keluar dari tubuhku.

Bergeraklah, tubuhku. Hanya tinggal sedikit lagi, aku akan sampai sebentar lagi.

Lima meter. Tiga meter. .......

Akhirnya, aku sampai.

Aku membuka penutup selokan di atas, mengangkat tubuhku dengan tangan kanan, lalu keluar.

Aku terkejut dengan apa yang kudapati.

Sejak awal, aku tak pernah punya harapan.

“...... Eh?”

Toko loak itu tidak ada di sana.

Di antara toko yang tersusun dengan rapi di pusat perbelanjaan, hanya ada sebuah petak kosong tersisa bagaikan bagian depan gigi yang ompong.

……..Sekitar pukul satu siang.

Berita yang aku tonton……..

……..Di Plaza Venus Fountain yang terletak di Kota Oval.

Suara dari pembawa berita…..

Insiden robot yang mengamuk.

Semua itu menggema dalam pikiranku yang hampa.

Setelah menyadari kebenaranya, aku menatap kosong pada kehampaan itu.

….Kau bercanda, ‘kan?

Entah berapa kali aku menatap pada tempat itu, tempat kosong itu tidak berubah. Rumput liar tumbuh pada tanah datar itu. Bukan hanya itu.

….ini bohong, ‘kan?

Sebuah penatu berdiri di samping kanan, dan toko alat tulis di sisi kiri, kedua pintu itu tertutup rapat. Aku tidak lagi meragukannya, tempat kosong itu benar-benar tempat yang dilingkari pada peta.

Lalu, kata-kata dari pembawa suara tercampur dengan kata-kata miliku.

…..Robot berukuran besar yang bekerja di toko barang bekas terdekat

Toko barang bekas….. atau…….toko loak.

…..Mungkinkah.....

Sebuah kebenaran yang menyakitkan tersimpulkan dalam pikiranku.

‘Lightning’ yang Lilith bicarakan adalah robot yang muncul di berita. Dia menghancurkan seisi toko seakan mengamuk, lalu dihancurkan berkeping-keping menggunakan senjata laser di air mancur plaza. Robot besar itu adalah dia.

Kepala yang diangkat saat itu adalah Lightning.

baterai=00:05:36[edit]

Ditempat toko loak yang kosong, aku terdiam.

Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku mempertaruhkan nyawa, menyeret tubuh beratku ke sini susah-payah.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Hujan yang membuatku kesulitan menjadi kian parah. Garis putih yang menghalangi penglihatanku meningkat drastis, kepingan-kepingan penglihatan yang tersisa kini remuk.

Semakin terpojokan, aku menopang tubuhku di jalan menggunakan kepalaku.

Apa yang harus kulakukan? Lilith, apa yang harus kulakukan?

Haruskah aku kembali sekarang? Mustahil. Aku tidak punya tenaga lagi. Lagipula, jika bateraiku habis dalam perjalanan kembali, hanya kematian yang menungguku. Benar, baterai. Tidak peduli apa yang kulakukan, yang harus kupikirkan pertama adalah baterai……..

Tiba-tiba, tubuhku mengejang dengan hebat. Aku ingat sesuatu.

Benar, kediaman Umbrella. Aku bisa mengisi ulang asalkan aku bisa sampai di sana, dan melakukan perbaikan juga. Tiga bulan telah berlalu, apakah aku masih bisa bertahan? Sudahkan kediaman Umbrella dirubuhkan?

Untuk mematahkan semua keraguan, aku menggelengkan kepalaku. Ini bukan saatnya untuk berpikir berlarut-larut, itu satu-satunya tempat yang bisa kutuju. Aku harus, dan ingin pergi ke sana.

Mengabaikan tubuh lelah ini, aku mengunakan seluruh kekuatan untuk mengangkat lenganku.

Aku mengulurkan lenganku dan menapak pada permukaan jalan untuk harapan terakhir.

Tetapi.

……Peringatan!

Suara elektronik berdering di mental sirkuitku. Suara itu terdengar persis seperti suara elektrodiagram saat jantung berhenti berdetak.

Suara elektronik yang terus menerus berdering memberi peringtan yang mengerikan.

….Dalam lima menit, baterai akan habis. Segera lakukan pengisian daya.

Peringatan itu adalah deklarasi kematian. Diputuskan bahwa hanya ada lima menit waktu yang tersisa dalam hidupku, sebuah deklarasi yang kejam.

Ini tidak adil. Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Aku memukul jalan dengan lenganku. Rasa sakit dan frustasi menyulut kemarahan keluar dari tubuhku.

Meski begitu, aku terus mengulurkan tanganku. Seakan ingin meraih harapan terakhir, aku menyentuh aspal jalan, menarik tubuhku ke depan. Pipa keluar dari dalam tubuhku lagi. Saat pipa bersentuhan dengan jalan, keluar suara dentang yang sangat mengganggu. Meski begitu, aku terus mengulurkan tanganku, mengulurkan tangan lagi, lagi, lagi, dan lagi.

……Tiga menit tersisa, segera lakukan pengisian daya.

Waktu berlalu begitu saja, tanganku menjadi semakin berat, membuat tubuhku menjadi lebih sulit digerakan. Seakan-akan, ada udara bertekanan tinggi yang menggencet tubuhku. Meski begitu, aku menggunakan tangan yang tersisa ini untuk merangkak dengan sekuat tenaga.

……Dua menit tersisa, segera lakukan pengisian daya.

Hujan menjadi kian lebat. Bukan hujan lebat, melainkan hujan badai, hujan badai yang menyembunyikan segalanya. Pergerakanku terhenti, hanya waktu yang terus berjalan.

…..Satu menit tersisa, segera lakukan pengisian daya.

Api kekuatan dan stamina perlahan mati. Sumpahku pada Lilith bahwa aku akan menyelamatkanya, kini hanya menjadi kenangan lama, dan perlahan-lahan lenyap. Jiwa yang berada jauh dalam tubuhku terluka parah. Empat puluh detik tersisa, tiga puluh, ahhhh, dua puluh, sepul…..

…….Baterai habis. Sistem offline.

Detik itu, saat hatiku akan segera tenggelam ke dalam keputusasaan.

Sebuah suara tiba-tiba berbunyi.

…….Iris Rain Umbrella!

Itu adalah suara yang kuat dan megah.

……Jangan terlalu naif!”

Dia membuatku terkejut.

…..Cepatlah pergi!

“UWAAAAAAAAAAAAAA!!”

Aku berteriak. Suara yang keluar seperti auman hewan buas benar-benar berbeda dengan suaraku yang biasa.

Aku menggunakan kobaran semangat kecil yang tersisa untuk mengangkat tanganku.

Kemudian.

Seperti mobil yang berpindah gigi, sesuatu menggelora di dalam tubuhku. Sistem yang mati sebelumnya seketika menyala, sementara sirkuit mentalku memanas, membakar hingga ke titik hampir meleleh. Tenaga yang sangat besar keluar dari dalam tubuh, membuat diriku bergerak lincah.

Aku menaikan tanganku yang begitu ringan, lalu meninju jalan untuk maju ke depan. Seluruh tenaga yang ada ditubuhku terkonsentrasi dalam ujung jari, menyeret tubuhku ke depan.

…….Iris!

Kata-kata Lilith memotivasi diriku.

…..Jangan ragu!

Percikan bunga api bertebaran di permukaan jalan.

…….Kau harus berani untuk tetap hidup meski kau sendirian!

Benar! Janganlah ragu, Iris Rain Umbrella!

Aku mengangkat tanganku sekuat tenaga. Maju, maju, meski hanya sedikit, aku melontarkan tubuhku ke depan, menopang dengan tangan, sebuah masa depan, dan janji yang aku buat bersamanya.

…..Dunia ini keras!

Dalam badai, aku mengerahkan semuanya, mengulutkan tanganku ke arah masa depan.

…..Jika kau lemah, kau akan menjadi lempengan logam!

Pikiran dan data menjadi tidak teratur dalam tubuh yang terlalu panas ini. Kenangan-kenangan berubah menjadi foto yang sobek, serpihan-serpihan masa lalu menari-nari di udara. Serpihan kenangan yang sobek itu membagi hidupku menjadi beberapa bagian, kehidupan yang bahagia bersama Profesor, perpisahan yang mendadak, bagian tubuh yang terpotong-potong, perubahan wujudku, memindah limbah material, jeroan, usus, Lilith, Volkov, melarikan diri, sinar laser, raksasa berapi……semua itu mengangkat tubuhku dalam sekejap, dan mendorongku naik.

Tetapi, selanjutnya.

…..Eh?

Serpihan-serpihan kenangan itu mulai kehilangan warnanya, berputar, dan menusuku dengan kejamnya. Itu adalah kenangan yang terkunci dalam lubuk hatiku….rumah yang asing, keluarga yang asing, dipukul, ditendang, dibakar, melarikan diri, melarikan diri, ahhh, tanganku patah, kakiku patah, aku ditindih, dihimpit, hujan, aku sendirian, apa yang sebenarnya terjadi, ingatan-ingatan, aku, tidak, mengingat, sentuhan, rasa sakit, kesedihan, semua ini berputar dalam tubuhku, ditekan, menyembur, mengalir, ahhh, rasa benci, aku benci kekejaman, aku benci kesendirian, kenapa aku lupa, kenapa aku ingat, aku kabur, dari rumah, keluargaku menyiksaku, kabur, melarikan diri, menyeret tubuhku, menyeret, tertindas mobil, tapi terus menyeret tubuhku walaupun, benar, di hari itu, hari hujan itu, aku, aku, aku, orang itu orang itu orang itu.

Di saat itu juga.

Sekejap

Dalam sekejap.

Seakan hanya aku yang terpisah dari dunia ini, waktu berhenti berputar.

Hujan mulai turun.

baterai=00:00:00[edit]

Tapi Profesor, Profesorku benar-benar berdiri di sana, dia tersenyum padaku.

Aku kehilangan seluruh tenagaku, tapi aku lega. Sebuah perasaan merasuk ke dalam ragaku, dan aku memandang Profesor dengan termenung.

Ahhh, Profesor. Anda masih hidup. Kenapa anda tidak memeberitahuku sebelumnya.

Ngomong-ngomong, Profesor. Kenapa aku merasa bahwa anda terlihat agak berbeda saat ini?

Kenapa anda tidak memakai kacamata anda? Apakah ketinggalan di rumah?

Kenapa anda tidak mengenakan wadah rokok di leher anda? Ahhh, itu karena aku sedang memegangnya. Aku akan segera mengembalikannya.

Kenapa anda memakai gaun putih hari ini? Itu berbeda dari jas putih yang biasanya anda kenakan. Apa kita punya baju seperti itu di rumah?

Dan, dan, Profesor, Profesor---

Mengapa anda berdiri di tengah air mancur?

Iord 266.jpg