Bagian 1: Si Nadir Dangkal

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search


SukaSuka Chapter 3.png


Apa aku ini? Seringkali Willem menanyakannya pada diri sendiri.

Dulu sekali, ia tinggal dalam sebuah panti, di mana ia bertemu dengan gurunya. Guru itu mengurusi dan mengajari segala yang ia butuhkan untuk bertahan hidup. Guru itupun merupakan orang yang buruk. Sebagai pengurus dari panti tersebut, wajarnya ia bertindak seperti orang tua pengganti bagi anak-anak di sana. Akan tetapi, ia menolak mentah-mentah kewajiban tersebut, sehingga Willem yang sedikit lebih tua dari anak-anak lain mengambil peran sebagai 'Ayah' mereka.

Si guru selalu mabuk dan menceritakan pengalaman yang dibuat-buat semasa ia dalam Regal Brave. Meski ia kuat, ahli berpedang, dan luas pengetahuannya, anak-anak semuanya berpendapat sama, kalau ia lebih seperti anti-hero ketimbang sebaliknya.

Masih banyak keburukan gurunya yang bisa disebutkan Willem, tapi kalau dihitung-hitung, saking banyaknya, bisa saja tidak akan berakhir-akhir. Ia bersiul dengan kurang ajar pada gadis-gadis di kota, membuat anak perempuan membaca buku aneh, tidak mau mencukur kumis-jenggotnya padahal sudah disuruh oleh orang lain ― tidak pernah ada di rumah di waktu-waktu penting. Terus saja, banyak sekali. Sehingga Willem yang kala itu masih muda bersumpah tidak mau menjadi orang dewasa yang seperti itu.

Di antara banyak perkataan gurunya, kalimat ini selalu teringat oleh Willem: "Jaga wanita. Pria tidak bisa lari dari mereka. Juga jagalah anak-anak. Orang dewasa tidak bisa menang melawan mereka. Kalau lawan perempuan, siap-siap saja. Apapun yang kita lakukan, kita bukan saingan mereka." Waktu si guru mengatakannya, Willem tidak begitu menganggapnya serius. Ia tidak mau memikirkan hal merepotkan begitu. Tapi sialnya, dari sekian banyak hal yang diajari si guru, hal itulah yang justru menuntunnya hingga sekarang.

Berkatnya, terkadang Willem disangka seorang pedofil ― tapi ia tidak mau repot memikirkannya.



Tidak melakukan apa-apa bukan hanya lebih dari tepat dalam menggambarkan pekerjaan yang Willem bayangkan, tapi juga lebih menyakitkan dari yang ia bayangkan. Coba saja, dalam tempo enam bulan, ia selalu dipaksa bekerja keras terus menerus, setelah satu kerjaan sulit dengan bayaran buruk selesai, datang lagi pekerjaan baru. Dari subuh hingga larut malam, atau bahkan sampai pagi lagi, ia bekerja sampai ia tidak bisa bekerja lagi. Untuk tidur saja, ia memilih untuk tidur di sela-sela waktu kerja, jam berapapun saat itu.

Jadi, bisa tidur nyenyak di atas kasur empuk dan bangun di hangatnya mentari itu merupakan suatu kenyamanan yang tiada tara bagi Willem. Namun ia sulit beradaptasi dengan situasi barunya, yang tidak mengharuskan banyak ini-itu, yang mengharuskannya tetap terjaga 24/7. Memanfaatkan kemerdekaan ini, ia kembali mengingat saat-saat ia lebih memilih tidak acuh pada hal lain selain memikirkan sesuatu yang tidak penting untuk dipikirkan.

Willem juga masih belum terbiasa dengan rumah barunya, rumah yang disebut gudang ini. Di dalamnya ada sekitar tiga puluh anak yang tinggal di dalamnya, semuanya perempuan, dengan umur antara 7 hingga 17 tahun. Juga, merka semua punya rambut yang terang warnanya. Pola warnanya hampir seperti dari lukisan abstrak, walau begitu, bagi Willem warna-warna itu tidak terasa dibuat-buat, mungkin karena memang warna pada rambut mereka bukan dari cat rambut.

Anak-anak di sini tidak pernah berurusan dengan orang dewasa, terutama laki-laki, jadi ada yang penasaran dengan Willem, dan ada juga yang menghindarinya. Menurutnya sekumpulan anak yang kemarin datang adalah pengecualiannya. Ya memang, bukan salah mereka juga. Mereka telah diurus dalam dunia kecil ini, yang mana hanya terisolasi dalam gudang. Wajar saja kalau pendatang baru bertampang aneh lagi besar sepertinya, tidak mendapat sambutan hangat.

Berjalan di lorong, ia selalu merasakan ada sejumlah presensi yang tersembunyi dalam bayangan. Tapi setiap kali ia berbalik, ia hanya bisa melihat anak-anak yang sedang lari menyelamatkan diri. Tak lama, Willem jadi merasa bersalah karena keluar dari kamarnya dan mondar-mandir menelusuri bangunan ini.

Ya tentunya, kalau ia hanya mengutu di dalam kamarnya terus, tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia tidak punya hobi, dan berlatih juga sudah tidak berguna lagi karena ia tidak perlu bertarung. Tidak masalah bagi Willem untuk sesekali duduk di dekat jendela sambil memandangi ke luar, tapi kalau sampai berbulan-bulan terus saja seperti itu, tidak akan baik baginya.

Ia memutuskan untuk merubah semua dengan mengunjungi kota-kota terdekat. Di sana berisikan sekitar seratus bangunan bata yang berjejer seperti terasering kecil yang mengelilingi desa, membentuk sebuah pemandangan indah, sangat berbeda dengan Pulau ke-28 yang suram.

Di saat ia sampai di jalanan, Willem langsung sadar tidak ada siapapun yang menganggapnya beda dan memberinya perlakuan khusus, padahal ia tidak mengenakan jubah untuk menutupi dirinya yang tak bertanda. Ia memutuskan untuk makan siang di restoran terdekat dan menanyakan si pemilik mengenai hal ini.

“Hmm…kurasa kami tidak begitu memikirkannya di sini." Jelas si manusia anjing dengan rambut coklat muda. "Membicarakan orang hanya karena tampang mereka mirip orang jahat berabad-abad lalu itu tidak ada gunanya... Kalau mau, bicarakan saja orang yang sedang berkelakuan buruk.

Dan yah, mungkin di tempat-tempat lain sangat banyak orang jahat di dalam masyarakatnya, sampai orang-orang di sana menyerah mengurusi mereka dan lebih memilih menyasar si yang tak bertanda. Akan lebih mudah begitu, karena mereka sudah didikriminasi dari sejak dulu. Tapi kita di sini tidak mau begitu, kita suka hidup dengan aman dan tentram. Tidak usah pikirkan hal itu di sini."

Jadi di sini seperti ini...

“Terus...mungkin kau tidak tahu karena bukan dari sini, di dekat sini, ada ribuan orang tak bertanda yang lebih menyeramkan daripada Emnetwyte di masa lalu. Siapapun yang melihat senyumannya akan lupa dengan kematian dan langsung bersyukur mereka masih hidup sekarang."

Hmm...

Sembari mendengar omongan sang koki dengan setengah hati dan menunggu makanannya, tiba-tiba saja Willem mendengar suara dari belakang.

“Hm? Oh, kamu…”

Wajah yang tak asing baginya menghampiri; wajah si gadis berambut biru langit.

“Hei, Kutori… dan…”

Dua gadis seumuran mengikutinya, yang mana jadi serangkai, tiga anak tertua yang tinggal di gudang.

"Ooh, si cowok ganteng yang lagi ramai dibicarakan!" Seorang gadis dengan rambut warna emas muda datang dengan berlari dan menempatkan wajahnya tepat di muka Willem. "Terus, kamu menyapa Kutori dengan nama depan? Hmm, sejak kapan kalian jadi dekat, nih?"

“Berisik."

“Siaaap." Balas dia terhadap respon dingin Kutori.

“Kami tidak punya hubungan apa-apa, kok… kebetulan saja aku bertemu dengannya lebih dulu dari yang lain, jadi aku sempat berkenalan dengannya lebih dulu… itu saja, kok."

“Hmm… terserah kamu, deh."

“Aku jujur, lho."

“Oke, oke. Jadi, Pak Teknisi Senjata Terkutuk, aku senang kalau kamu bisa mengingat nama kami juga… cewek berisik yang lagi bicara ini namanya Aiseia, dan itu--" Dia berbalik dan menunjuk pada perempuan ke tiga, yang sedang duduk di meja pojokkan dengan air muka yang kosong. "Si cewek yang lagi mikir sendiri di sana namanya Nephren. Senang kenalan denganmu."

“Baiklah, itu cara memperkenalkan orang yang kreatif… kau sudah tau namaku, 'kan?"

“Iya, dong! Terus, makanan kesukaanmu itu daging pedas, kamu juga tidak begitu pilih-pilih soal makanan, tapi kamu tidak suka makanan yang dihidangkan Reptrace untuk makan siang, dan kamu juga sukanya sama perempuan berhati emas yang lebih tua dari kamu… aku benar, 'kan?"

“Tunggu, Aiseia… Aku baru tahu, lho, informasi soal ini." Sepertinya Kutori tidak diberitaukan oleh anak-anak yang empat kemarin, dan dia mengarahkan matanya pada Aiseia dengan rasa curiga.

“Hehehe… barangsiapa menguasai informasi, maka ia menguasai pulau juga. Sedikit memata-matai saja bisa berguna banget, tahu… Coba cerita lagi, dong!”

Dengan penuh semangat saling tanggap-menanggapi perkataan, mereka berdua berpindah menuju ke tempat Nephren duduk.

“Tunggu, ada apa ini? Kau berteman dengan anak-anak dari gudang?" Si spesies berkepala anjing, Lucantrobos muda tadi, datang menyajikan pesanan makan siang Willem; kentang bakar, sayur-mayur, daging bakon, segenggam kecil roti, dan terakhir, semangkuk sup.

“Ya… aku baru pindah ke gudang untuk bekerja."

“Hmm? Tinggal… di gudang…” sontak saja warna coklat muda dari rambut si koki tadi memudar. "AHHH!!" Dengan kecepatan luar biasa, si pemuda tadi mundur merapat tembok sambil gemetar. "M-Maaf! Tolong jangan bunuh aku jangan makan aku aku masih punya keluarga untuk kunafkahi!"

Itu reaksi yang tak terkirakan, namun Willem mengerti kenapa terjadi kesalahpahaman di sini.

“Aku ini bukan troll…"

“Aku saja masih berhutang karena restoran ini jadi aku pasti rasanya tidak enak dan -- eh? Apa kau bilang?"

Si Lucantrobos menghentikan gerakkan memohon-mohonnya untuk sesaat dan tercilap-cilap.

“Aku bilang aku bukan troll… sulit memang untuk mencari perbedaan ras yang tak bertanda, tapi aku tidak akan memakanmu, jadi santai saja...”

“T-Tapi, aku yakin rasmu pasti sama dengan mereka karena kau tinggal seatap dengan si 'Perut Merah'."

“Tunggu… memangnya di kota ini pernah ada yang dimakan?" Melihat raut ketakutan si pemuda, Willem hanya bisa mengira kemungkinan yang begitu kelamnya. Kalau benar… buruk, pasti. Meski masing-masing pulau punya budaya yang variatif, mereka semua terikat oleh aturan yang sama. Dan berdasarkannya, setiap pembunuhan terhadap makhluk berakal merupakan kejahatan yang serius, bahan untuk troll kelaparan sekalipun.

"Itu… tidak pernah… tapi…” telinga anjing si pemuda jatuh. "Belakangan, ada organisasi Orc gelap di sini. Namanya 'Bulu Hitam'... organisasi ini--”

“Ah, cukup… aku sudah mengerti.”

Willem yakin organisaasi ini telah melakukan sesuatu pada perempuan-perempuan di sana, hingga Naigrat datang untuk memusnahkan mereka dan orang pun melihatnya tertawa seperti psikopat dengan berlumurkan darah. Tidak mengejutkan… sudah pasti dia akan melakukan hal yang seperti itu. Dan, yah… Naigrat pernah membantu Willem di masa lalu, dia adalah kenalan yang sekarang menjadi teman kerja, jadi ia rasa ia perlu coba membantunya.

“Naigrat tidak seenaknya memakan seseorang. Orang keliru menanggapinya… atau tepatnya takut karena saat itu sedang begitu, tapi dia hanyalah wanita biasa dengan watak baik. Dan begitulah, jika kau toleransikan ketidaksabarannya atau keinginannya untuk memakan orang… tidak ada yang perlu ditakutkan."

Biasanya, jika dia tersenyum dan bertanya "Boleh aku memakanmu?", 90% kemungkinan, itu adalah candaan... candaan yang menyeramkan. Tapi kau sendiri sadar kalau dia tidak berniat memakanmu, jadi tidak perlu takut. Willem memilih untuk tidak begitu menghiraukan yang 10%.

“Wah… kau hebat." Tidak tau kenapa, si koki menatap Willem dengan penuh rasa hormat di matanya.



Senjata terkuat. Berdasarkan sejarah, kapanpun dan di manapun, selalu saja wanita. Kalau kamu coba pikir, tentu wajar saja. Wanita adalah cara termudah dan terkuat untuk meningkatkan moral setiap tentara, itu merupakan fakta dari sejak zaman kuno.

Harga diri seorang lelaki tidak bisa dianggap remeh. Di medan perang, di tengah-tengah kekacauan dan pertarungan hidup-mati yang tiada henti, para tentara menyingkirkan semua bayang-bayang kemenangan, mimpi bisa berkuasa, hingga martabat mereka… namun hingga hembusan nafas terakhirnya, mereka tidak mau melakukan satu hal: mereka tidak mau terlihat jelek di hadapan wanita. Alasan sepele seperti itu saja bisa menanamkan semangat terbesar pada tentara yang sudah bobrok nan hanya mampu menunggu waktu kematiannya.

Setiap tentara hebat tau persis akan hal itu dan memastikan untuk tetap memasukkan beberapa wanita dalam garangnya medan perang. Unit penyuplai atau unit medis bisa memberikan efek tersebut, tapi mereka yang berposisi lebih dekat ke lini depan akan memberi efek yang lebih. Seorang ksatria wanita yang mengangkat pedangnya dengan cekatan di medan perang, misalnya. Contoh lain, wanita kaliber dari Regal Brave yang dipilih oleh Kaliyon. Atau juga seorang penyihir yang menyembunyikan sihir misterius dalam tubuh lembutnya.

Hanya dirumorkan saja kalau orang seperti itu ada di medan perang, para tentara dungu akan langsung semangat. Bahkan cerita seperti orang yang seperti itu dari masa lalu yang sangat sukar dipercaya bisa memberikan secercah harapan dalam situasi penuh keputusasaan.

Willem kenal seorang gadis yang pernah dipuja-puja sebagai pahlawan dan dianggap sebagai legenda di kalangan tentara-tentara. Tentunya, dia sangat kuat, tapi para lelaki menanggapi kekuatannya dengan hiperbol. Dia sendiri pasti hanya akan tertawa saat mendengar ceritanya yang tersebar di medan perang.

Kamu tidak perlu susah-susah memikirkannya. Sama seperti kedengarannya. Kami adalah senjata tersebut.

Kata-kata itu kembali tersiar di kepala Willem. Sepertinya anak-anak yang bermain di gudang sana dibedakan dari perempuan-perempuan lain. Tentu, seorang penyelamat yang dibuat untuk menaikkan moral para tentara haruslah dalam ras yang terkenal, bukan yang tak bertanda. Juga, dia harus memikat hati para pria yang penuh noda.

Ada yang salah dengan anak-anak itu, yang bukan hanya diasingkan dari massa, namun juga umur mereka yang masih belia. Keadaan mereka jelas sangat berbeda dari para petarung berkelamin perempuan yang Willem ketahui. Tapi apapun itu, ia tidak perlu memedulikan kenyataan di balik fakta bahwa mereka semua adalah senjata-senjata rahasia. Sebagai nadir dangkal, ia hanya perlu berdiam di gudang tanpa harus membuat masalah.

-- Begitulah yang Willem coba yakinkan pada dirinya. Setelah sekitar tiga hari berlalu, kesabarannya sudah sampai batas kendalinya. Perasaan ganda saat melihat anak-anak ketakutan dan sadar betul kalau ketakutannya berasal dari diri Willem sendiri memaksanya untuk bertindak.

“Hm? Ah, boleh… kurasa boleh saja...”

“Terima kasih banyak."

Willem meminta untuk membantu mengurusi makan malam hari itu dan mengisi sudut dapur sana. Telur, gula, susu, dan krim. Beberapa buah beri. Sebuah tulang ayam untuk diambil gelatinnya. Saat mengatur-ngatur setiap bahan-bahan penting di meja, Willem mengingat langkah-langkah akan resep kemahirannya dalam 'menjadi populer dengan anak-anak dan cara mudah memasak hidangan penutup'.

Saatnya bekerja. Ia mengenakan apron dan menghidupkan kompor kristal. Telinganya menerima bisikkan-bisikkan para mata-mata yang memenuhi kegelapan bayangan sana, yang mengintip masuk ke dapur.

"Apa yang ia lakukan?"

Masuk ke dapur di waktu tidak sedang bertugas memasak sangatlah dilarang, jadi kita hanya bisa mengintip saja dari kejauhan. Sambil memikul beban karena dilihat oleh banyak mata dari belakangnya, Willem terus bekerja.

Setelah tinggal berhari-hari, ia akhirnya berkesimpulan kalau setiap anak memiliki kegemarannya masing-masing. Tentunya, perbedaan jenis kelamin dan umur bisa memberikan preferensi yang berbeda, tapi ketidak selarasan ras sehingga fisik pun berbeda membuat semakin sukar semuanya.

Dulu, Willem pernah makan bersama seorang Borgle (ya… Grick). Pengalaman itu tertanam dalam diri Willem selamanya. Saat Willem mengatakan bahwa sesuatu itu enak, Grick malah mengeluhkannya karena rasanya busuk, dan waktu Grick mengatakan sesuatu itu enak, bagi Willem rasanya itu mendebarkan seperti mimpi buruk.

Mereka seharusnya berhenti sampai sana, tapi Grick memaksa kalau mereka harus menemukan sesuatu yang disukai oleh kedua belah pihak. Dan mulai dari sana, hari-hari mereka pun semakin mengerikan dan menyeramkan lagi, lebih menyeramkan dari mimpi buruk atau neraka manapun. Semua itu pun berakhir setelah mereka berdua dalam keadaan mengenaskan meneguk banyak air untuk mencuci mulut mereka, tangisan pun tak luput mengalir dari mata mereka, sambil dengan syahdu meneriakkan "enak! enak!".[1]

Tapi Willem menyadari kalau selera anak-anak lain tidak akan begitu berbeda, karena toh mereka bisa duduk bersandingan dan memakan makanan sama. Ia memanggil si perempuan yang mengurusi makanan hari ini untuk menyicipi makanannya. Dia menatap tajam sesendok penuh karamel seakan-akan dia baru saja melihat alien di jalan, hingga setelah keberaniannya memuncak, dia menutup kedua mata dan memasukkan ujung sendoknya ke dalam mulut. Setelah hening sesaat, si gadis perlahan membuka matanya dan menggumamkan "Enak!" Sorakan tak bersuara pun timbul dari para mata-mata.

Pada akhirnya masakannya berakhir dengan baik. Si anak-anak yang memesan 'hidangan penutup spesial' dari menu pun bereaksi sama. Mereka mengangkat sesendok penuh karamel tadi dengan tampang yang seperti mau menemui ajalnya. Setelah terdiam sesaat, kafeteria itu pun dipenuhi mata berminar-minar.

Willem yang sekarang mendapat giliran untuk bersembunyi dalam bayangan dan memata-matai yang lain, memasang pose kejayaan dari luar ruang makan. Dan begitulah, hanya butuh sedikit gula untuk Willem memikat perut anak-anak.

“... Kamu sedang apa?"

Ungkapan tak sehati keluar dari mulut Naigrat di belakang.

“Aku dapat resep ini langsung dari guruku. Aku benci mengakuinya, tapi ia sangat disukai oleh anak-anak… dan inilah buktinya. Dulu, aku berkali-kali jadi korban hidangan ini."

“Uh, bukan begitu. Meskipun kamu memutuskan untuk menambah kerjaanmu di sini, bayaranmu tetap segitu saja, lho."

“Bagiku tidak masalah." Willem menggarukkan wajahnya. "Aku merasa tidak enak saja mereka takut padaku. Kalau anak-anak ini senjata, maka sebagai pengurus mereka, aku tidak sepantasnya memberikan rasa stres s pada mereka. Jadi ini itu… bagaimana ya…”

Ia berusaha mencari kata-kata yang pas. Ia tidak yakin kalau kata-kata yang keluar dari mulutnya itu bisa dicerna. Tapi Willem merasa ia harus mengatakan sesuatu.

"Aku bukan mau memanjakan mereka. Ini hanya… kalau aku di sini mendapat respon negatif dari mereka, maka aku ingin mengembalikan respon tersebut ke nol lagi. Tidak mempengaruhi apapun juga termasuk pekerjaanku, 'kan?"

“Kalau begitu… ya sudah." Naigrat menyipitkan mata. "Tapi… anehnya kamu bilang begitu dengan cepat, seperti dibuat-buat, dan kamu kelihatan berusaha keras supaya kamu tidak kelihatan memalukan.... Tapi kalau kamu memang serius, ya aku tidak akan mengoceh lagi."

Kata-katanya tepat mengenai kenyataannya.

“Maaf, tolong jangan tanya lagi soal itu, aku mohon."

“Waktu aku pertama bertemu denganmu, aku kira kamu orangnya apatetis dan sinis begitu."

“Ah… yah…” Willem pun berpikiran begitu. Ia pernah memutuskan untuk hidup menjadi seseorang yang terisolasi dari orang-orang dan setiap kejadian di sekitarnya. Jadi ia sendiri terkejut akan tindakannya barusan. “Aku sedikit teledor… mulai sekarang aku akan lebih hati-hati."

“Selama anak-anak pun senang, tidak masalah bagiku… pun, itu bukan hal yang buruk. Terus juga...”

“Apa?"

“Sekarang kamu lebih enak harumnya daripada harum gula di sini."

"Mulai sekarang aku akan benar-benar berhati-hati…”

Willem mencatat pada pikirannya untuk selalu mandi setelah beres dari dapur.









Catatan Penerjemah[edit]

  1. Kalau kalian kurang paham dengan kalimatnya yang begini, intinya adalah: hanya air yang dirasa enak bagi keduanya. Jadi begitu reaksinya mereka. Suram...






Bab 2 Halaman Utama Bagian 2: Gadis-Gadis Gudang