Bagian 3: Gudang Peri

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Kutori tidak pernah menyukai dia. Dia selalu menyebut dan menganggap Kutori sebagai adiknya. Tentunya, peri, yang mana tidak lahir dari rahim seorang ibu, tidak akan memiliki adik atau saudara sekalipun. Namun bagi dia, alasan hubungan adik-kakak itu dikarenakan mereka berasal dari hutan yang sama di pulau melayang yang sama pula, atau alasan lainnya adalah karena dia sudah ada lima tahun lebih dulu dari Kutori. Membawa-bawa bukti-bukti nyata ini hanya akan membuat Kutori makin tersinggung.

Dia juga berkemampuan hebat dalam mengendalikan Senjata Galian, yang mana merupakan hal lain yang Kutori tidak sukai. Kutori pernah melihat dia terbang untuk bertarung hingga menampakkan pedang agungnya, lalu kembali pulang dengan senyum lebar pada mukanya. Saat pulang, dia akan menerobos masuk ke ruang makan dan langsung menyantap kue mentega yang merupakan salah satu menu ketika itu dengan muka yang penuh kebahagiaan.

Pernah di satu waktu, Kutori, si muda nan lugu, menanyakan sesuatu padanya.

“Kenapa kamu selalu memakai bros itu? Padahal itu, kan, tidak cocok untukmu."

“Ahaha kamu terlalu jujur, Kutori. Kakakmu ini bisa menangis, tahu."

“Kamu bukan kakakku..."

“Ehh? Ya aku pun tidak bisa dianggap adikmu."

“Maksudku, kita ini bukan saudara."

Setelah mereka saling bercanda seperti biasa, dia akhirnya kehilangan senyumnya.

“Aku pernah punya kakak juga. Aku ambil bros ini darinya."

"Kamu ambil? Tidak dia kasih?"

“Ini, kan, benda berharga punya dia. Dia selalu memakai dan menjaganya dengan baik, jad kalau aku minta dia, dia tidak akan mau kasih." Kini Kutori menganggap dia malah lebih jahat dari sebelumnya, mencuri benda penting dari seseorang, tapi seperti biasa, dia hanya tertawa melihat tatapan Kutori yang seakan menyalahkan dia. "Aku mau menantang dia demi mendapat bros ini. Seperti tanding nilai dalam latihan, atau kontes makan, atau main kartu. Aku selalu kalah. Tapi, aku terus menantang dia karena seru rasanya."

Kutori bisa menerawang akhir cerita ini. Jika Kutori tidak mengenal kakak dari orang yang menganggap dirinya kakak Kutori, ini berarti dia sudah pergi dari saat Kutori sudah ada. Kutori terdiam, tidak ingin menanyakannya, tapi ekspresinya sudah menyatakannya.

Si 'kakak' menepuk punggung Kutori. “Yah, akhirnya, sih, aku mendapatkannya. Di satu hari, dia pergi menuju pertempuran tanpa brosnya. Dia taruh saja di meja kamarnya, dan sekarang jadi punyaku." Dia tertawa, meskipun Kutori tidak mengerti apa lucunya cerita itu. "Memang jelek, sih, jadinya kalau aku yang pakai… tapi aku merasa aku harus memakainya."

Sekali lagi, Kutori tidak pernah menyukainya. Tapi jika dilihat lagi, dia mungkin tidak begitu buruk. Jadi di hari dia tidak kembali pulang dari medan tempur, Kutori menuju kamarnya. Di balik kamar yang tak terkunci, terhimpun pakaian dalam, kartu-kartu untuk bermain, dan benda-benda lain yang teracak-acak. Di tengah-tengah kekacauan itu, hanya mejanya saja yang bersih rapi. Sebuah bros perak berada tepat di tengah-tengahnya.

Dari beberapa hari kemarin, Willem tidak bertemu dengan beberapa peri. Kutori, Aiseia, dan Nephren. Semua peri-peri yang sudah berumur tampaknya menghilang ke suatu tempat. Setelah sedikit memikirkannya, ia yakin kalau pasti ada suatu rutinitas khusus yang terjadi dan memilih untuk tidak begitu memikirkannya. Tanpa banyak cakap lagi, ia menerima keadaan ini.

Tanahnya masih basah karena hujan pagi tadi. Tim merah, yang mana telah berjuang keras di setengah pertandingan pertama, sekarang mulai bermain menyerang. Berkibar semangat mereka dan berkeputusan langsung men-smash bola langsung ke muka kapten tim putih di setengah laga sisa.

Angin kuat tiba-tiba berhembus ketika bola masih di udara, mengarahkannya menuju semak belukar. Si anak yang mengejar merupakan orang yang pantang menyerah dan yang tidak mempedulikan kakinya ketika melihat langit. Hanya ada satu kemungkinan dengan adanya semua hal itu. Karena bertekad kuat untuk menangkap targetnya, si anak berakhir jatuh dengan kepala lebih dulu ke dalamnya.

“Hei! Kau tidak apa-apa!?"

“Aduh awal... gagal."

Jatuhnya tadi cukup parah sampai ada luka serius pun tidak akan mengejutkan, jadi ketika si anak langsung tertawa ketika berdiri, Willem langsung mendesah lega. Sesaat kemudian, ia terdiam ketakutan. Luka sobek yang dalam tampak di paha kiri si gadis, dan lengan kanannya tertusuk oleh ranting tipis. Beruntungnya, ditilik dari jumlah darah yang keluar, tidak ada urat nadi yang putus, tapi itu bukan luka ringan yang biasa didapat seorang anak perempuan.

“Ini kelihatan parah. Kita harus mengobatinya sekarang."

"Ehh? Aku enggak apa-apaaa," jawab acuh-tak acuh si gadis. "Ya, ayo main lagi! Kita hampir bisa membalas mereka!"

Willem tidak bisa percaya dengan apa yang baru ia dengar. Mungkin lukanya tidak seserius kelihatannya. Tapi betapapun ia memeriksanya, ia hanya yakin kalau luka-luka itu harus segera disembuhkan, atau hidup anak ini dalam bahaya.

“... Tidak sakit?"

“Sakit. Tapi kami lagi semangat-semangatnya!" Dengan semangat sambil senyum dia berkata begitu, dan memberi isyarat pada Willem untuk kembali bermain.

Akhirnya ia mengerti. Seperti yang dia katakan, sakit memang, dan mungkin sangat sakit. Anak ini ― dan yang lain, yang tidak merasa aneh dengan sikapnya ― tidak acuh pada luka. Merinding. Ia merasa seakan sedang dikerumuni oleh makhluk misterius nan asing. Atau bukan, bukan hanya merasa, tapi memang kenyataannya, kenyataan yang baru ia mengerti sekarang.

"Permainannya berakhir."

Suara-suara keluhan keluar dari mulutnya, tapi Willem tidak peduli dan langsung menuju ke dalam gudang dengan si anak itu di tangannya.

"... Kenapa yang muram di sini bukannya si yang luka, tapi malah yang membawanya?" Dengan pakaian biasa yang ditutupi oleh gaun putih, Naigrat bertanya begitu pada Willem.

Anak itu berbaring di kasur yang ada dengan bekas lukanya ditutupi oleh perban sambil berkomat-kamit mengenai serunya permainan tadi.

Dengan postur sama, ia tanya Naigrat dengan harap mungkin bisa mengetahui sesuatu. “Aku baru menyadarinya sekarang… anak-anak ini tidak peduli dengan nyawanya sendiri, ya?"

“Hmm, mungkin. Mereka memang begitu."

"Aneh… sebenarnya mereka ini apa?"

Naigrat diam sesaat dan mendesah, kemudian menanya balik. "Kamu serius ingin tahu?"

Akhirnya Willem mengangkat kepoalanya.

“Kamu pengurus mereka, walau memang itu mungkin hanya sebatas gelar. Kalau kamu butuh informasi tentang mereka, maka aku pun tidak bisa menolak." Suaranya berubah lebih serius. "Jujur, aku tidak ingin memberitahukanmu. Setelah mendengar ini, sikapmu terhadap anak-anak akan berubah. Awalnya aku mengira kamu ini menyeramkan, tapi sekarang aku senang kamu bisa sangat akrab dengan mereka. Kalau memungkinkan, aku ingin semua tetap seperti ini meski hanya sebentar.”

“... tolong ceritakan."

“Ya sudah. Baiklah…” Pundak Naigrat jatuh. "Tubuh mereka tidak takut mati karena mereka memang tidak hidup. Bisa dikatakan, anak-anak ini tidak punya jiwa. Pikiran mereka sangat jauh berbeda, namun jika masih belia begitu, mereka hanya akan mengikuti insting mereka hingga bisa saja jadi acuh-tak acuh."

“Maaf... aku sama sekali tidak mengerti."

Tidak hidup? Maksudnya apa? Bagaimana bisa anak-anak yang sembrono, berisik, dan penuh semangat yang ia lihat setiap hari dikatakan tidak hidup...?

"Hmm... aku sendiri tidak bisa percaya waktu pertama kali dengar," Ungkap Naigrat dengan lembut.

Dia berjalan keluar ruangan dan memberi isyarat pada Willem untuk ikut.

"Sini. Ada yang ingin aku tunjukkan." Willem berdiri pelan-pelan dan mengikuti di belakangnya, masih kebingungan.

"Emnetwyte. Aku yakin kamu sangat mengenal spesies ini? 'kan?"

"... setahu seperti yang lain."

"Jangan merendah begitu." Kilihnya. "Spesies legendaris yang menguasai tanah bawah hingga lima ratus tahun lalu. Dan mereka tidak dianugerahi talenta apapun..."

Dikatakan bahwa Emnetwyte kalah ukurannya dengan spesies-spesies yang besar. Mereka tidak punya sihir seperti Elf. Kemampuan membangun mereka tidak bisa menyaingi cepatnya Moleian. Tingkat kelahiran mereka tidak bisa mengalahkan Orc. Dan tentunya, mereka juga tidak memilki kemampuan sekuat naga. Meski lemah tanpa talenta apapun, Emnetwyte menguasai tanah bawah untuk waktu yang sangat lama, mereka telah menghalau setiap serangan dari hampir setiap ras-ras lain.

“Ah… aku mengerti.”

“Dan satu hal lagi: rasa daging mereka jauh lebih enak daripada ras yang lain. Hal itu sudah diturunkan ke generasi-generasi penerus kami para Troll. "

Legenda yang ini harus secepatnya lenyap. Serius.

"Yang jadi alasan kekuatan mereka adalah senjata yang kini dinamai dengan Senjata Galian."

"... aku pernah dengar soal itu. Anaala pernah memberitahuku kalau sekalinya mendapat Senjata Galian yang berfungsi, maka tidak perlu lagi memikirkan biaya untuk perburuan selanjutnya."

“Mhm. Perusahaan Perdagangan itu mau membelinya dengan harga terendah 200,000 Bradal. Aku rasa harga tertinggi yang pernah ditawarkan sampai 8,000,000 Bradal.

Delapan juta. Itu cukup untuk membayar hutang Willem lima puluh kali dan masih tetap akan menyisakan banyak.

“Dan… semua Senjata Galian milik mereka …”

Naigrat berhenti berjalan sesampainya di depan pintu aneh nan nampak kokoh. Selembar baja tebal melapisi keseluruhannya, ditambah paku-paku tajam menembus ujung-ujungnya. Sistem kuncinya lebih rumit dari yang biasa, juga kenop pintunya terasa begitu padat dan berat. Dalam 'gudang' yang penuh dengan kehidupan ini, pintu yang tidak wajar ini seakan mengingatkan bahwa ini adalah fasilitas militer.

"... ada di dalam sini."

Naigrat membuka kunci ruangan itu dengan perlahan-lahan dan mendorong pintunya. Suara berat seperti suara perut lapar menggema di lorong. Kelapukan di dalam ditambah debu yang ada menimbulkan bau tak sedap yang langsung menusuk indera penciuman Willem.

Ini hampir seperti reruntuhan. Seperti tempat di mana raja di masa lalu dikuburkan bersama harta bendanya, dan pencuri yang teledor akan sengaja mengambilnya sehingga berakhir terkutuk. Willem belum pernah melihathya secara langsung, tapi ia ingat pernah mendengar cerita yang seperti itu. Yah, entah masih adakah reruntuhan yang seperti itu di bawah sana, ia tidak tahu.

Ruangan ini tidak ada pencahayaannya. Ia yakin kalau ada sesuatu yang tersembunyi dalam kegelapan sana, namun ia tidak tahu.

"Sangat ketat, ya, keamanannya?"

"Yah, banyak benda berbahaya di sini." Mereka masih terdiam berdiri di sana, menunggu hingga mata mereka beradaptasi dengan kegelapan yang ada.

"Senjata dari masa lalu yang cara pembuatannya, perbaikannya dan penggunaannya lenyap selamanya. Senjata yang dibuat oleh ras terlemah untuk mengalahkan Naga yang perkasa dan para Pendatang. Senjata yang melambangkan tekad untuk bertahan hidup dan kekuatan untuk bertarung. Senjata yang meski hanya dibawa oleh satu individu, bisa mengubah hasil akhir perang secara keseluruhan."

Isi ruangan redup itu kini mulai menampakkan wujudnya.

"Haha..." Willem tertawa dengan gugup.

Tersandar pada sebuah tembok sejajar pedang. Meski ia belum melihatnya secara jelas, pedang-pedang ini tentunya lebih besar dari pedang panjang yang biasanya dipakai untuk hal macam upacara, atau yang biasa digunakan untuk kepentingan sendiri. Panjangnya berbeda-beda, namun bisa sampai setinggi orang dewasa, atau sedikit saja lebih pendek darinya. Panjang hulu pedang yang proporsional ini mengindikasikan bahawa pedang ini digunakan dengan kedua tangan.

Yang membuatnya jauh berbeda dengan pedang biasanya adalah struktur bilahnya. Willem perhatikan dengan seksama dari dekat, ia bisa lihat ada retakkan yang khas pada tubuhnya. Jika dilihat lebih rinci lagi, bisa dilihat bilah di sisi lainnya memiliki warna beda, yang mana mengindikasikan bahwa itu bukanlah retakkan, tapi corak.

Sebuah pedang dibuat dengan sebongkah logam yang ditempa. Tapi pedang-pedang ini berasal dari potongan-potongan baja yang besarnya seukuran tinju orang dewasa yang disatukan seperti puzzle dan dibentuk jadi pedang.

Kaliyon…”

“Jadi, dulu itu disebut begitu, ya?”

Sontak Willem merasakan sakit di dada ketika Willem lebih memerhatikan ruangan ini. Kenal ia dengan beberapa pedang itu. Kaliyon Seri Parcival yang diproduksi massal. Pedang-pedang itu telah berhasil melindunginya ketika ia masih seorang Quasi Brave awam tanpa punya senjata yang pas dengannya. Senjata seri itu tidak memiliki keistimewaannya sendiri, tapi pedang itu dibuat dengan bahan dasar yang kualitas dan fleksibilitasnya luar biasa — meski dalam medan perang, Willem bisa melakukan perbaikan darurat. Ia belum pernah bisa dapat kesempatan untuk menggunakan generasi penerus pedang itu, Seri Dindrane, tapi Seri Dindrane sangat diapresiasi oleh anggota Quasi Brave lain karena memiliki stabilitas yang lebih baik.

Locus Solus. Itu Senjata favorit seorang Quasi Brave, yang namanya tidak bisa ia ingat, yang bertarung bersama Willem di kala ia melawan para Naga di selatan. Pedang ini memiliki keistimewaan untuk menstimulasikan otot, tapi otot penggunannya akan selalu jadi luar biasa sakit usai penggunaan — Willem pernah dengar rekannya yang mengeluhkan hal itu.

Lalu di sampingnya ada Mulusmaurea. Seorang rekan dari Quasi Brave pernah membawanya ke dalam pertarungan ketika mereka dipanggil untuk menjadi bala bantuan di kota Listiru. Ia belum pernah melihat Keistimewaan senjata itu saat pertarungan, tapi ia dengar kabar bahwa senjata itu bisa mencegah kematian untuk sesaat.

"Heh..."

Rasanya seperti reuni kelas yang begitu aneh. Ia langsung duduk di tempat ia berdiri, tanpa peduli bajunya akan kotor. Tanpa peduli sakit di kepala yang ia rasakan, Willem berkonsentrasi dan menyalakan Venenum dengan perlahan untuk melihat sihir cabang. Seperti yang ia kira, pedang-pedang itu dalam kondisi buruk. Garis mantra yang ada telah terpisah, putus, dan teracak dengan sedemikian rupa.

Mereka masih tetap bertarung meskipun pedangnya sudah buruk begini?

"Aku ingin tanya."

"Semua Kaliyon dibuat oleh dan untuk Emnetwyte, dan merupakan suatu keajaiban yang dibuat seorang makhluk. Hanya Brave terpilih dengan ras sama saja yang bisa menggunakannya. Sekarang senjata-senjata ini hanya sekedar jadi barang antik saja. Lalu kenapa masih harus mengumpulkan semua ini? Bagaimana caramu bertarung menggunakannya?"

"Kamu sendiri sudah tahu jawabannya, 'kan?"

Karena... kami juga anggota Brave?

Mengabaikan suara anak kecil itu yang sontak muncul dalam benaknya, Willem kembali bertanya. "Tolong jelaskan."

"Jika para Emnetwyte tidak di ada lagi di sini, kami hanya perlu penggantinya. Anak-anak itu adalah Leprechaun. Ras ini adalah satu-satunya yang bisa menggantikan Emnetwyte secara utuh. Itu jawabannya."

"Jadi begitu..."

Jauh dari dalam hati, sebenarnya Willem sudah mengetahuinya. Ia kembali berdiri, menyeka debu dan kotoran dari celananya, lalu mengarahkan matanya pada Kaliyon yang berjejeran.

"Anak-anak itu kini jadi partner kalian, ya?"

Dengan mimik wajah yang menampakkan rasa sepi, sedih dan bangga, Willem mengatakan kata-kata itu.

Aku ini apa? Pikir Willem. Beberapa penjelasan pun menghampirinya. Adalah seseorang yang pernah berkeinginan untuk menjadi Regular Brave. Adalah seseorang yang pernah memakai Kaliyon ketika menjadi Quasi Brave. Dan terakhir, adalah seseorang yang sudah tidak jadi seperti itu dan kini hanya hidup dalam cangkang kosong.

Untuk menjadi Regular Brave, dibutuhkan latar belakang yang memadai. Seperti, kamu harus keturunan dewa. Atau kamu merupakan keturunan Brave. Atau kamu harus merupakan anak ajaib yang lahir di malam yang telah diramalkan. Atau kampung halamanmu pernah dihancurkan oleh Naga. Atau ayahmu mewarisi teknik berpedang yang rahasia. Atau di dalam tubuhmu tersegel sebuah kekuatan iblis yang maha kuat.

Setiap anggota Brave yang sesungguhnya merupakan seseorang yang memiliki latar belakang kehidupan yang seperti itu. Hanya orang-orang yang diyakini oleh semua orang dapat mengendalikan kekuatan yang dahsyat itulah yang bisa menjadi Regular Brave.

Karena itu, Willem tidak bisa menjadi Regular Brave. Betapapun ambisinya, ia tetaplah tidak memenuhi syarat. Kedua orang tuanya hidup sederhana dengan berjualan kapas. Ia tumbuh di sebuah panti tua, yang mana ia hidup tidak senang maupun sedih. Dan mengikuti hukum alam, latar belakang kehidupan yang seperti itu hanya menjadikannya seseorang dengan kekuatan yang biasa. Ia hanya bisa pasrah. Mungkin akan lebih baik jika setidaknya ia lahir bersebelahan dengan sekolah khusus berpedang atau semacamnya, namun sayang, dunia tidak memenuhi kebutuhan Willem.

"Kamu tidak punya bakat." Pernah sekali, gurunya berkata begitu. "Sistem Brave ini mesti elit secara mendasar. Pahlawan legendaris... orang-orang yang mengalir dalam tubuhnya darah dewa... sistem itu ditujukan agar kekuatan orang-orang seperti itu dapat dikeluarkan. Mereka sudah beda lagi dari kita yang hanya prajurit kecil yang berjuang demi kemenangan berskala kecil. Mereka menopang dunia ini di atas punggungnya."

Si guru menggelengkan kepalanya. "Manusia biasa tidak akan bisa melakukannya. Meskipun kau memaksa, akhirnya pun kau akan hancur... karena itu, tidak bisa bertarung lagi pun bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan. Dan Willem, sayangnya, kau hanyalah manusia biasa."

Kemudian keheningan pun mengisi saat itu. Si guru menghela nafas panjang dan mengakhiri nasihatnya. "Jangan murung... aku tidak sedang menghancurkan mimpimu. Aku hanya mengatakan kebenaran― realita yang perlu kamu hadapi. Hanya itu."

Waktu ia dengar kata-katanya itu, Willem langsung menolaknya. Dengan cerobohnya ia hanya terus menolak untuk menyerah. Dulu mungkin seperti kekanak-kanakan. Namun saat itu, ia benar-benar serius. Ia memilih untuk menolak kata-kata gurunya hingga akhir yang pahit.

Willem ingat seseorang di Regular Brave generasi ke-20 yang dipilih oleh Gereja. bukan hanya ia mewarisi darah seorang Regular Brave perdana, namun ia juga lahir sebagai pangeran dari sebuah kerajaan. Ketika ia hanya berumur sembilan tahun, tentara dari Elf Geliga menyerang kerajaan itu, mengakar habis setiap yang ia sangat ingin lindungi hingga habis; kedua orang tuanya, temannya, juga kampung halamannya. Ketika kastilnya terbakar, ia berhasil lari ke hutan yang cukup jauh, di mana ia mempelajari teknik pedang lama yang telah hilang dari seorang jenderal tua.

Pertama kali Willem dengar cerita orang itu, Willem hanya bisa bertekuk lutut dan mendesah. Karena ternyata menjadi Regular Brave pun perlu rasa sakit. Ketika orang baru itu menerima senjata yang digemari oleh Regular Brave ke-18, Seniolis, salah satu dari lima pedang suci terbaik di dunia, ia sudah tidak bisa merasa iri atau benci lagi. Ia sudah angkat tangan. Semua itu ia rasa sudah beda lagi dari dunianya. Terus memikirkan hal itu hanya akan membuat dirinya semakin menderita.

Waktu pun berlalu, dan Willem pun tersadar. Orang itu punya alasan sehingga bisa bertarung. Ia punya alasan untuk bertarung. Ia punya alasan yang membuatnya harus bertarung. Itu kenapa semua orang, termasuk Willem tidak menyadarinya. Tidak ada seorang pun yang memikirkan kemungkinan itu.

Ia. Seorang Regular Brave ke-20. Lahir dengan kekuatan yang bisa mengalahkan iblis, memikul rasa sakit dari kehilangan orang tua dan kampung halamannya, juga memiliki teknik rahasia dari masa lampau, menggunakan pedang yang berkilau, yang dapat mengalahkan para Pendatang. Ia.

Tidak pernah ia berkeinginan untuk bertarung. Ia jauh ke dalam jurang balas dendam karena ia tidak punya pilihan lain. Ia menantang para Naga dan dewa-dewa karena ia harus bisa diharapkan oleh orang lain. Ia bukanlah apa-apa melainkan sebuah boneka yang dikendalikan oleh kekuatannya sendiri dan oleh orang-orang yang mau memanfaatkannya.

Saat Willem sadari itu, ia mulai membencinya. Ia tidak bisa memaafkannya. Dan sebenarnya, masih ada rasa itu di hati Willem hingga sekarang.

Ketika mentari sedang ditelan oleh horizon, gerimis terjadi.

"Harusnya aku bawa payung..." gumamnya pelan, namun begitu, ia tidak merasa perlu berteduh atau ingin cepat kembali ke kamarnya.

Pulau ke-68, bagian distrik pelabuhan. Pesisir pulau itu diisikan semua fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk pendaratan juga lepas landas kapal terbang. Ia berdiri di tempat terbuka yang dekat ke ujung pelabuhan, dirinya pun tak bisa luput dari rintikan hujan. Beberapa awan yang seperti sobekan kapas melayang di bawahnya. Dan jika lebih jauh lagi di bawah sana terdapat hamparan tanah luas yang menyebar ke segala penjuru. Tidak terlihat hijau-birunya hutan dan laut, maupun kuningnya padang pasir. Sejauh mata memandang hanyalah bentangan pasir abu aneh yang seperti lumpur.

Ia datang ke pelabuhan sini hanya demi melihat pemandangan itu. Ia ingin memastikan hal yang telah lenyap darinya, yang takkan mungkin bisa kembali. Tak lama pun, tanah sepi itu kini kian meleleh ke dalam gelapnya malam.

Ada beberapa hal yang bisa ia terima. Misalnya, penggunaan Venenum. Venenum adalah sesuatu yang seperti api kecil. Pertama harus dipercikkan terlebih dahulu dalam tubuh, besarkan apinya, lalu keluarkan kekuatan itu tubuh.

Tapi panas ini akan membebani tubuh penggunanya. Jika api yang dibuat melebihi batas kemampuan, maka jiwamu sendiri yang akan menahannya. Mekanisme ini menjadikan esensi batas jumlah Venenum yang bisa dikuasai oleh ras tertentu.

Jadi jika ada suatu bentuk kehidupan mengerikan yang raganya tidak hidup, maka jumlah Venenum yang bisa dihasilkannya jauh lebih besar dari yang ras lain dapat miliki. Kekuatan itu, yang kemungkinan besar takkan mampu terkendali, akan menjadi liar dan menyebabkan ledakkan yang maha dahsyat yang akan menghempas si pengguna juga musuhnya, hanya menyisakan sebuah lubang dengan Kaliyon jadi pusatnya. Senjata terkuat. Mungkin tidak akan begitu efisien karena hanya sekali pakai, tapi bisa memiliki itu saja sebagai tenaga tambahan bisa sangat membantu.

Satu hal lagi yang bisa ia terima: mereka sangatlah kuat. Mereka ras yang lahir untuk berperang. Umur mereka hanya dipakai untuk menang. Membawa takdir yang sedemikian rupa sudah membuat anak-anak itu jadi layak. Layak untuk menjadi penerus Regular Brave. Mereka bisa menjadi hal yang sangat diusahakan Willem yang tetapi tak kunjung ia dapat. Kalau begitu, ia semestinya senang atas mereka. Ia harus merasa bersyukur. Wah, mantap! Aku serahkan semuanya pada kalian! Semoga beruntung!

"... Aku ingin mati..."

Tentunya, ia sadar. Pikirannya yang kacaulah yang telah membuat pemikiran begitu untuk menghibur dirinya. Berdiri di sini dengan hanya sendirian telah membuat pikirannya menggila. Mungkin akan lebih baik kalau ia mengatakannya langsung pada anak-anak itu. Tapi, apalah dayanya? Orang luar yang tidak ada urusannya tidak berhak ikut campur dengan para Brave.

“― Hm?”

Di atas kepalanya, cahaya mentari bersinar menyilaukan, juga membelah lautan awan-awan nan tebal. Sebuah kapal terbang pun datang. Ia tidak bisa melihat dengan jelas siluetnya karena cahaya itu, tapi ia tahu betul kalau itu bukanlah kapal terbang patroli biasa atau pun kapal feri. Bentuknya agak kecil, namun itu nampak seperti kapal transportasi tentara.

Suara berat logam-logam yang saling bersinggungan terdengar jelas dalam lembabnya udara di pelabuhan sana ketika kapal menepi. Bunyi nyaring keluar dari shock absorber kapalnya. Tiga jangkar menahan bagian belakang, tengah, dan depan kapal ke dermaga. Kedua rotor dimatikan. Sihir reaktor pembakar perlahan mati, sehingga suara bising yang menggelegar pun semakin tersamar.

Pintu utama kapal itu terbuka, dan keluar dua insan dari sana.

"Kalian..."

Willem langsung mengenal kedua Leprechaun itu: Kutori dan Aiseia. Mereka memakai seragam tentara wanita informal, seragam yang belum pernah lihat dari mereka. Ada yang aneh. Aiseia dengan roman yang kusut berjalan bersama Kutori yang pincang, yang dibantu jalannya oleh pundak Aiseia.

"Hei, hei, Willem, Pak Teknisi Senjata Terkutuk. Malam." Sapanya dengan sikap ramah. "Kebetulan sekali ketemu di tempat begini, ya? Lagi jalan-jalan?"

Mungkin Aiseia berkata begitu sebagai gurauan, atau tebakan yang jawabannya sengaja tidak tepat, agar tidak membicarakan kondisi mereka sekarang. Namun memang begitu adanya. Yah, tidak begitu jadi masalah.

Willem tidak langsung membiarkan mereka menghindari permasalahannya.

"Kalian kenapa?"

"Hmm... sama sepertimu. Hanya jalan-jalan keluar dari pulau... bisa tolong terima jawaban itu?"

"Tentu tidak. Ini sepertinya..." Ia terhenti. Ia tidak tau apa boleh ia menanyakannya lebih jauh lagi, tau ia mesti melakukannya. "Kalian baru saja bertarung, 'kan? Dengan '17 Makhluk Buas'."

"Ahaha, kenapa kamu bisa tau?"

Kutori tidak mengatakan apapun sedari mereka turun dari kapal terbang. Demi melihat seberapa parah lukanya, Willem berjalan mendekatinya.

"Ah ― dia baik-baik saja. Kamu tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Tapi kalaupun mau bantu, mungkin kamu bisa tolong urusi itu."

Dengan matanya, Aiseia menunjukkan raksasa yang berdiri di belakang mereka. Sisik berwarna putih susu melapisi sekujur tubuh si raksasa, yang mana juga ditutupi oleh seragam militer. Merunduk untuk melewati pintunya, raksasa itu mulai meninggalkan kapal. Dekat puncak si raksasa terdapat sepasang mata yang terbuka dan mengunci pada Willem ― Raksasa itu adalah Reptrace yang pernah ditemui Willem."

"Seragam itu... kau Willem?" Suaranya sangat menyeramkan seperti ular yang mendesis. Karena struktur tenggorokan mereka yang berbeda, para Reptrace selalu memiliki pengucapan kata yang agak aneh, meskipun hanya mengatakan sesuatu yang lumrah bagi lidah para penduduk.

"Ya... Dan kau?"

"Bawa ini," perintah si Reptrace, langsung mengabaikan pertanyaan Willem, dan menyerahkan, atau tepatnya melemparkan dua buah benda yang panjang lagi tipis.

Secara insting, Willem langsung menggapainya. Tapi bungkusan yang tidak lebih besar dari tubuh besar si Reptrace itu hampir melampaui besar tubuh Willem. Seperti yang telah dijelaskan tadi, meski si Reptrace dapat membawa atau melemparnya tanpa perlu pakai tenaga, bagi otot manusia biasa, itu terlalu berat. Ia gagal menangkapnya dan benda itu pun jatuh dan mengeluarkan bunyi gemerincing logam.

"Ini..."

Benda yang diselimuti oleh kain putih ini adalah dua pedang yang ukurannya sangat besar.

"Ini pedang mereka. Bawakan lagi ini ke gudang." Si Reptrace mengucap perintahnya dan mulai bergerak kembali ke dalam kapal terbang.

"H-Hei!"

"Kau tidak berhak berkomentar apapun. Seseorang yang bukan pejuang tidak pantas masuk ke tempat berdirinya seorang pejuang." Kemudian, pintu pun ditutup, menyembunyikan punggung si Reptrace yang bagai batu besar.

"Ah, jangan khawatirkan ia. Pak Kadal memang begitu," jelas Aiseia dengan riang. "Terus, makasih banget kalau kamu bisa bawa pedangnya. Lihat sendiri, kan, aku sudah bawa Kutori."

"Dia terluka?"

"Tidak, dia cuma sedikit berlebihan, jadi dia sedikit lemas. Setelah ke klinik pasti dia langsung sembuh."

"Baiklah."

Willem mengangkat salah satu pedang yang tergeletak. Meskipun ada kain tebal yang meliputinya, ia rasakan tekstur yang terasa tak asing. Dan meski pencahayaan pun kurang, ia bisa mengenal bentuk yang khas darinya.

"Seniolis..."

"Ohh, kamu kenal pedangnya."

Tentu saja ia tahu. Tidak ada seorangpun anggota Quasi Brave saat itu yang tidak tahu namanya. Ayunkan ke kanan dan bunuh naga. Ayunkan ke kiri dan taklukkan dewa. Salah satu Kaliyon yang pertama kali ditempa. Si Pembunuh Naga Cokelat. Si Pembunuh Dewa. Si Pedang Rahasia Bersarung Putih. Senjata ini punya beberapa sebutan karena saking bersejarahnya, juga banyak pencapaiannya yang berhasil dibukukan. Kaliyon diantara Kaliyon-Kaliyon lain. Partner para Regular Brave generasi ke 18 dan 20, simbol kepahlawanan.

"Ini punyamu?"

"Bukan, itu punya Kutori. Punyaku yang satu lagi."

“Valgalis.”

“Mhmm. Kamu kelihatannya kok tahu banyak. Habis baca daftar alat-alat kami, ya?"

"Tidak..." ia menggelengkan kepalanya. "Kebetulan saja aku tahu pedang-pedang ini."

"Ah, aku kurang ngerti, tapi, oke." kata Aiseia dengan kepala yang dimiringkan.

"Aku akan bawa ini juga."

"Eh? Sebentar..."

Willem mengangkat Kutori yang lemas dan menggendongnya. Di belakang mereka, sebuah suara logam yang nyaring menandakan keberangkatan kapal terbang dari dermaga.

"... kamu lebih kuat dari yang aku kira," kata Aiseia, yang sudah tidak membawa apa-apa lagi.

"Yah, memang sudah tugasku untuk membantu kalian."

"Ohh, lagi sok keren, ya?"

Willem mengambil langkah pertama untuk kembali, diikuti Aiseia setengah langkah dibelakang.

"Jadi, soal kami. Kamu sudah tahu sampai mana?"

"... belum banyak. Aku tahu kalian ini peri, dan kalian bertarung untuk melindungi pulau ini dengan Kaliyon... atau Senjata Galian. Hanya itu."

"Hmm... gitu." Aiseia menatap langit. "Jijik, kan? Hidup seperti di-recycle. Memakai pusaka Emnetwyte yang sudah punah. Menurutku ini setting yang kelewat jijik."

"Bukan setting... kau bukan seorang karakter dari sebuah cerita." Tapi dia memang benar. Setting sempurna yang dia katakan tadi sangat cocok dengan yang dibutuhkan oleh Brave. Semakin menyedihkan, semakin tragis, maka semakin baik. Nasib dan takdir mereka selalu dalam setting itu, yang mana akan menetapkan kekuatan pada mereka untuk terus dapat menggunakan artifak pusaka Emnetwyte itu. Entah mereka menginginkannya atau tidak.

"Dulu sekali... aku kenal seseorang yang mirip seperti kalian."

"Ooh, ini cerita jaman dulu?"

"Tidak begitu panjang untuk disebut cerita. Aku sangat berhutang pada dia, dan aku belum pernah bisa membalas kebaikan-kebaikannya. Jadi ketika aku dengar cerita tentang kalian, aku jadi merasa aku harus melakukan sesuatu untuk membantu kalian. Begitulah."

"Wah... pendek banget."

"Sudah kubilang..."

Aiseia menendang sebuah batu yang tergeletak di jalan dengan tampang bosan di mukanya.

"Hmm... bukannya ini bagian kamu jadi terbuka sama aku dan jadi saling cinta-cintaan? Lagian kita lagi berdua."

"Kau lupa kalau masih ada orang di punggungku?"

"Kamu tahu sendiri, kan, yang bangun itu Kutori? Bagus, dong, jadi ada cinta segitiga berbumbu cemburu."

"Kau ini habis baca apa?"

"Segitiga yang Rusak."

Willem pernah mendengar judul itu. Setting tempat itu berada di pulau melayang, di mana karakternya terus menerus selingkuh dan perzinaan, dengan berkata bahwa mereka sedang mencari cinta sejati.

Yah, karena mereka hampir menghabiskan waktu hidup mereka di sebuah hutan yang sama dengan hanya perempuan-perempuan lain (dan Naigrat), mereka masih perlu belajar mengenai kehidupan bermasyarakat. Dan rupanya, mereka mendapat informasi itu dengan hal yang seperti ini, yang mana bisa dibilang, kurang akurat.

"Aku paling suka bukunya yang ke-3. Menurut aku itu luar biasa."

"Tolong ingatkan aku untuk menyitanya setelah kita sampai nanti. Anak-anak tidak boleh membaca buku seperti itu."

"Ini penindasan! Siapa yang kau sebut anak-anak, hah?? Dan, kok kamu bisa tahu semuanya dari judulnya doang!?"

Banyak bentuk hiburan dan kesenangan mengalir ramai di Pulau ke-28 yang terbelakang. Bisa menyicip pekerjaan demi pekerjaan telah membuat Willem mendengar gosip-gosip mengenai hal yang sedang tenar baru-baru ini. Kembali ke pembicaraan, Willem memutuskan untuk mengabaikan pertanyaan-pertanyaan Aiseia.

"Kecilkan suaramu... orang ini bisa bangun."

Punggungnya sedikit bergetar, ditambah dengan desahan pelan.













Bagian 2: Gadis-Gadis Gudang Halaman Utama Bagian 4: Si Pemberani dan Penerusnya