Baka to Tesuto to Syokanju:Volume2 Soal Keempat

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Soal Keempat[edit]

Jawablah pertanyaan di bawah ini:

'Tuliskan kepanjangan PKO dan fungsinya.'



Jawaban Himeji Mizuki:

'Peace Keeping Operation. Merupakan anggota PBB yang bertugas menjaga perdamaian di bawah perintah PBB.'

Komentar guru:

'Jawaban benar. Sekadar tambahan, itu disebut juga sebagai United Nations Peacekeeping Operation. Kalau ada waktu cobalah menghafalnya.'


Jawaban Tsuchiya Kouta:

'Pantsu, koshi-tsuki,oppai. Standar internasional untuk mengukur ukuran badan dari asosiasi produsen lingerie.' [1]

Komentar guru:

BTS vol 02 109.jpg

‘Kamu anggap apa perdamaian dunia?’


Jawaban Yoshii Akihisa:

'Powell, Kanemoto, Okada.'[2]


Komentar guru:

'Mereka adalah pemain yang menjaga perdamaian Liga Pasifik.'



“Aku kembali...eh, tidak ada pelanggan...”

Walaupun kami sudah punya meja baru, sepertinya tidak ada pelanggan di kedai teh kami.

“Oh, kalian sudah kembali.”

Karena dia tidak ada kerjaan, Hideyoshi yang bekerja sebagai pelayan kelihatan agak bosan.

“Kami menang.”

“Baguslah. Ah, kau lihat Yuuji?”

“Hm, katanya dia ke toilet.”

Walaupun katanya dia cemas dengan keadaan kedai teh kami, kenyataannya dia cukup santai menghadapinya.

“Ngomong-ngomong Hideyoshi, apa yang terjadi? Kok tidak ada pelanggan satupun?”

“...Uu. Aku di sini terus, tapi sejak kejadian tadi, tidak ada seorangpun yang datang.”

Hideyoshi memiringkan kepalanya dan melihatku dengan bingung.

“Dengan kata lain, sesuatu sedang terjadi di luar kelas, kan?”

“Mungkin.”

Baru saja kami memikirkan ini—

“Kak, aku minta maaf.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, jadi tidak usah dipikirkan, dik.”

“Bukan ‘dik’, namaku Hazuki.”

Terdengar suara Yuuji dan seorang gadis.

“Ah, hm, sepertinya begitu.”

Eh, Hazuki...suara itu, sepertinya pernah dengar...?

Ka-chang. Pintu kelas terbuka. Yuuji terlihat diluar. Orang yang sedang

bicara dengannya itu kecil, jadi dia terhalang oleh Yuuji.

“Oh, Sakamoto. Adikmu?”

“Imut sekali~eh. Apa kau mau kencan dengan kakak lima tahun lagi?”

“Aku mau kencan denganmu sekarang.”

Dalam sekejap keduanya dikelilingi cowok-cowok busuk dari kelas kami.

Mungkin semua orang panik karena tidak ada kerjaan.

“Hm... dia kakak idiot.”

Sifat yang cukup jelas.

“Benarkah?”

Dari sela-sela keramaian aku bisa melihat Yuuji memutar kepala mencoba mencari orang itu.

“...Tapi ada cukup banyak orang seperti itu disini.”

Aku tidak bisa menyalahkannya.

“Eh, bukan seperti ini...”

“Hm? Ada sifat-sifat lainnya?”

“Dia kakak yang benar-benar idiot!”

‘’’’Yoshii,kan?’’’’

Jahatnya! Aku tidak menangis!

“Kasar sekali! Aku sama sekali tidak kenal anak ini! Pasti ada kesalah---“

“Ah! Itu dia si kakak idiot!”

Tiba-tiba aku dipeluk oleh gadis yang melaju ke arahku.

“...en, bukan hal yang buruk juga, ya...”

Separah-parahnya, semua orang sudah memperlakukanku seperti seorang idiot sampai-sampai aku sendiri sudah mulai merasa begitu.

“Jadi, kau siapa? Kau seharusnya masih SD, tapi aku tidak ingat pernah ketemu anak seumurmu!”

Aku harus menjauhkannya dariku untuk melihat wajahnya lebih baik.

“Eh? Kakak...kau tidak mengenalku...kau sangat...”

Gadis kecil itu cemberut. Ah, gawat, apa aku sudah membuatnya menangis?

“Kakak bodoh memang bodoh sekali! Hazuki mencari-cari kakak bodoh, sampai bertanya ‘apa kau kenal kakak bodoh?’ dan jauh-jauh datang ke sini...”

Apa? Rasanya aku juga mau menangis mendengarnya.

“Akihisa—tidak, kakak bodoh ini memang bodoh sekali.Aku minta maaf.”

“Benar. Si bodoh yang benar-benar bodoh. Bisakah kau memaafkannya?”

Harusnya sih tidak banyak orang yang dibilang bodoh sampai sejauh ini.

“Tapi, tapi, kakak bodoh sudah berjanji akan menikahi Hazuki---“

“Mizuki!”

“Minami!”

‘’’’”BUNUH DIA!!!”

“ACK!!”

LEHERKU TIBA-TIBA SAKIT SEKALI! APA! APA YANG SEDANG TERJADI?

“Oh, Himeji dan Shimada. Kelihatannya kalian menang.”

Yuuji berkata dengan santainya.

“Mizuki, tarik lehernya ke arah lain. Aku akan memutar lututnya dari sana.”

“Be, beginikah?”

Tidak bagus. Aku akan terbunuh.

“Tunggu sebentar! Aku bahkan tidak ingat perjanjian pernikahan macam apa yang kita---“

“Uuu! Keterlaluan sekali! Aku bahkan memberi ciuman pertamaku padamu---“

“Sakamoto, ambil pisau daging. Lima harusnya cukup.”

“Yoshii-kun, kau menggunakan mulut ini untuk melakukan hal seburuk itu?”

“Ko savva (Kau salah)! Viaka ak jowas (Biarkan aku jelaskan)!”

Bahkan si lembut Himeji-san jadi gila! Walaupun dia akan dipaksa pindah sekolah kalau ada orang jahat yang menyakiti gadis-gadis, ini berlebihan!

“Apa boleh buat. Kalau begitu, kami akan menusukmu dengan dua pisau sebelum mendengar penjelasanmu, jadi bersabarlah.”

“Eh, Minami. Pisau daging cukup untuk menyebabkan luka fatal, kan?”

Aku merasa Minami tidak hanya kurang di kemampuan berbahasa Jepang saja.

“Ah, kakak. Aku datang bermain kesini!”

Anak itu berhenti menangis begitu melihat Minami.

Kakak...Hazuki...ciuman pertama...

“Ahh! Kau gadis boneka itu!”


Aku ingat! Dulu ada anak perempuan yang ingin membelikan hadiah untuk kakaknya tapi tidak punya cukup uang. Aku kasihan padanya dan membantunya. Kalau tidak salah, aku memberinya boneka besar waktu itu. Setelah itu aku ditunjuk jadi inspektur hukuman dan segala macam hal aneh terjadi, jadi aku benar-benar lupa soal dia.

“Aku bukan gadis boneka! Aku Hazuki!”

Anak itu menggelembungkan pipinya dengan marah.

“Oh iya, namamu Hazuki. Lama tidak ketemu, apa kabarmu?”

“Aku baik-baik saja!”

“Hmmm, baguslah. Dipikir-pikir, gimana caranya kau menemukan sekolahku?”

“Karena kakak memakai seragam sekolah ini.”

Hazuki mulai menarik-narik seragamku begitu dia selesai mengatakannya.

“Eh, Hazuki dan Aki saling kenal?”

Melihat keadaan ini, Minami memiringkan kepalanya dengan wajah bingung.

“Mn, tahun lalu. Kau kenal Hazuki juga?”

“Jangankan kenal. Kami akrab sekali. Dia adikku.”

“Eh?”

Aku menatap wajah Hazuki. Setelah dia bilang begitu, mereka memang nampak mirip. Luar biasa bersemangat, dan memiliki mata yang menunjukkan tekad kuat untuk menang.

“Yoshii-kun licik sekali...bagaimana bisa kau tahu keluarga Minami? Aku bahkan belum ketemu orangtuanya...jangan bilang kau sudah jadi adik iparnya...”

Apa sih yang sedang dikatakan Himeji? Akhir-akhir ini sepertinya dia kadang-kadang jadi aneh. Pasti gara-gara lingkungan kelas ini.

“Ah! Itu si kakak cantik! Terima kasih atas bonekanya!”

Hazuki membungkuk ketika mengatakannya. Anak yang sopan, tidak seperti si kepala sekolah.

“Apa kabar, Hazuki? Kau suka?”

“Tentu! Aku tidur dengannya setiap hari!”

Boneka? Setiap hari? Boneka macam apa yang diberikan Himeji-san pada Hazuki? Dia adik Minami, dan Himeji-san pasti pernah ke rumah Minami, berarti mereka memang saling kenal.

“Baguslah~ kau menyukainya.”

Setelah mengatakan ini Himeji tersenyum bahagia. Kenapa aku merasa banyak sekali orang di sekitarku yang menyukai anak-anak? Walaupun aku tidak membenci mereka, aku tidak tahu bagaimana bersikap dengan mereka, jadi aku agak iri melihat situasi seperti ini.

“Oh iya, kok pelanggan kita sedikit sekali?”

Yuuji mengamati kelas dan mengatakannya. Kalau dipikir-pikir, aku tadi juga berpikir begitu. Karena Hazuki aku jadi lupa.

“Hazuki dengar banyak hal waktu datang ke sini.”

“Eh? Hal seperti apa?”

Yuuji berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Hazuki.

“Mmm, seperti soal kedai teh Cina yang sangat kotor sehingga orang-orang sebaiknya tidak kesana.”

Kata-kata Hazuki membuatku menggeram.

Daerah di bawah meja memang agak kotor tadi, tapi kamu sudah membereskannya. Walaupun begitu, komentar negatif masih juga beredar. Kenapa mereka harus menyebarkannya seluas ini?

“Wu...orang-orang yang tadi mengganggu bisnis kita. Aku seharusnya menghajar mereka sampai babak belur.”

Yuuji meletakkan tangannya dekat mulutnya dan dengan yakin membuat kesimpulan ini.

“Orang itu maksudmu si grup Toko-Natsu? Bagaimana bisa? Apa mereka punya waktu luang sebanyak itu?”

Biar bagaimanapun, kami akan menghajar senior-senior itu. Tidak kusangka mereka berani berbuat hal seperti itu pada kami.

“Yah, siapa tahu? Kita harus mengecek situasi.”

“Ya, benar. Setidaknya kita harus tahu sudah sampai mana gosip ini tersebar.”

Bahkan Hazuki kecil sudah mendengarnya. Mungkin gosipnya memang sudah tersebar luas sekali.

“Kakak, ayo keluar dan bermain bersama Hazuki.”

Hazuki memegang tanganku erat. Gawat, kalau saja ini hari biasa dan kami boleh fokus bersenang-senang di festival sekolah, aku bisa keluar bermain dengannya.

“Maaf Hazuki, kakak harus menyukseskan kedai teh ini bagaimanapun caranya, jadi aku tidak punya cukup waktu bermain denganmu.

Aku mengatakannya sambil menepuk kepalanya.

“Humph~ Hazuki sengaja datang ke sini untuk mencarimu~~”

Dia menggelembungkan pipinya, tidak senang.

Tetapi kedai teh ini sangat penting untuk menentukan apakah Himeji-san bisa tetap disini atau tidak. Aku berharap melakukan yang terbaik agar tidak ada yang disesali nanti.

“Kalau begitu bawa saja anak itu bersamamu. Kita harus mengecek kelas lain yang juga menjual makanan.”

Ucap Yuuji. Dia benar. Mengecek situasi adalah strategi dasar.

“Hm~ benarkah? Kalau begitu pergi makan siang, yuk!”

“Mn.”

Ekspresi cemberutnya segera menjadi senyum. Dia memang punya banyak ekspresi menarik. Oh, yang namanya kepolosan merujuk pada anak-anak seperti ini!

“Kalau begitu Hazuki, kakak juga akan ikut bersamamu.”

Nada suara Minami benar-benar berbeda dari biasanya. Terhadap adiknya, Minami pasti kakak yang lembut.

“Wu, kalau begitu Himeji pergi bersama Yuuji. Kalian harus mengikuti turnamen summon, jadi lebih baik kalian segera bereskan ini.”

“Benarkah? Maaf merepotkanmu, Hideyoshi.”

“Bisakah kami? Terima kasih banyak, Kinoshita-san.”

Dengan begitu, Yuuji dan Himeji-san bergabung dengan kami. Untuk bergerak di tengah keramaian festival sekolah ini, lima orang tidak terlalu sedikit.

“Jadi nak, di mana kau dengar kata-kata itu? Bisakah kau beritahu aku?”

“Hmmm...di toko yang ada banyak kakak-kakak cantik memakai rok pendek---“

“Apa kaubilang!? Yuuji, kita harus kesana!”

“Ayo, Akihisa! Demi kesuksesan kelas kita, kita harus mengamati dengan teliti!”

Mendengarnya, kami bergegas maju.

Kedai teh ini adalah hal penting untuk mencegah Himeji-san pindah sekolah. Aku berharap melakukan yang terbaik agar tidak ada penyesalan nanti.

“Aki memang paling parah.”

“Yoshii-kun jahat sekali...”

“Kakak bodoh sekali!”

Tidak memedulikan komentar kejam di belakangku, hatiku mulai berdebar.


“Akihisa, lebih baik kita menyerah saja soal tempat ini.”

“Apa maksudmu? Kita sudah jauh-jauh ke sini! Cepat masuk saja!”

“TOLONG! DI SINI SAJA! CUMA INI KELAS YANG TIDAK INGIN KUMASUKI!!”

Sumbernya berasal dari musuh bebuyutan kami, kelas A, saat ini dikenal dengan <Maid cafe ‘Biarkan kami memanggilmu tuan’’!> menurut papan nama yang muncul di depan kami.

“Oh begitu. Jadi ini kelasnya Kirishima-san yang sangat kau sukai.” “Sakamoto, kau tidak bisa lari dari cewek, tahu?”

Baru saja Yuuji akan memprotes dengan cara paling konyol, tiga orang gadis muncul dari belakang.

“Yuuji, kita di sini untuk penyelidikan. Tidak ada hubungannya dengan keinginan pribadi---“

“............! (klik klik klik)”

Aku berbalik untuk melihat seorang cowok menekan tombol kamera secepat kilat.

“Muttsuriini?”

“.....Kau salah orang.”

Cowok yang bertugas di dapur itu memegang kamera di satu tangan sementara tangan lainnya membuat tanda untuk menolak tuduhan itu. “Dilihat darimanapun kau Tsuchiya. Ngapain kau disini?”

“...Memata-matai musuh.”

Datang memata-matai di sini kelihatannya artinya dia mengambil foto cewek-cewek dari sudut pandang rendah.

“Muttsuriini. Kau tidak bisa begini. Kalau kau mengambil foto-foto cewek itu tanpa sepengetahuan mereka, bukannya mereka---“

“...Satu seratus yen.”

“Aku ambil dua lusin---kasihan sekali?”

“Aki, kau baru saja memesannya dengan begitu alami.”

EH! Kapan!?

“......Kalau sudah waktunya aku bertugas aku akan kembali.”

Muttsuriini memberikan foto-foto itu padaku sebelum bergerak kembali ke kelas. Dia sampai sempat mencetak foto-foto ini, benar-benar orang yang membingungkan.

“Benar-benar deh. Muttsuriini ini bikin sakit kepala.”

Aku membatuk selagi memasukkan foto-foto itu ke kantongku dengan tenang.

“Yoshii-kun, apa yang akan kau lakukan dengan foto-foto ini?”

Ah, maksudku terbaca.

“Ya, menyebalkan sekali~ Tentu saja aku akan menghancurkannya! Lupakan mereka, ayo masuk! Aku lapar sekali.”

Walaupun sebenarnya aku tidak benar-benar lapar, aku menekan perutku dan berusaha terlihat seperti orang kelaparan.

“Ahh, benar. Ayo masuk.”

Himeji-san benar-benar anak baik, bisa mempercayai akting seburuk itu.

“Mmm, memang harus memata-matai saingan---kaki cowok? Ah, si brengsek itu!”

“Kau sedang melihat foto-foto tadi!”

“Ah, aku tedak! Aku tedak! Brenti mencobit molutkoh!”

Wajahku ditarik dengan kuat, dan Hazuki, yang sedang berada di sebelahku, mencubit pahaku sekuat tenaga.

“Kalau begitu aku masuk dulu. Permisi---“

Minami adalah yang pertama melewati pintu.

“...Selamat datang kembali, Nona.”

Yang datang menyambut kami adalah maid cantik dan pintar dengan aura sangat dingin---Kirishima Shouko-san.

“Wa, cantik sekali...”

Himeji-san tanpa sadar mendesah. Kirishima memang sangat cantik. Rambut hitam panjang dan celemek putihnya saling melengkapi, dan stocking hitamnya menonjolkan pahanya. Ini adalah kecantikan yang bahkan diakui orang dengan jenis kelamin sama. Sialan, aku benci sekali pada Yuuji dari dasar hatiku!!

“Kalau begitu kami permisi.”

“Kami masuk.”

“Kakak cantik sekali!”

Himeji-san membawa Hazuki masuk. Saat ini, seperti saat Minami disambut—

“...Selamat datang kembali, tuan dan nona.”

---Kirishima menyambut kami.

“..cheh.”

Yuuji akhirnya masuk dengan terpaksa. Kirishima menyambutnya dengan cara yang sama seperti---

“...Selamat datang. Aku tidak akan membiarkanmu pulang ke rumah malam ini, sayang.”

---menyambut kami.

“Kirishima-san berani sekali...”

“Aku ingin jadi seperti dia...” [kata Minami]

“Apa maksudnya kakak itu tidak akan tidur dan akan menemani kita bermain?” [saat Kirishima mengatakan dia tidak akan membiarkan Yuuji pulang malam ini]

Tiga orang. Tiga reaksi berbeda. Cuma, aku bingung apa maksud Minami waktu dia bilang ‘ingin seperti dia.’

“Izinkan aku memandu kalian.”

Kami mengikuti Kirishima menuju bagian dalam toko.

“Eh, kakak. Di sini banyak sekali pembelinya~~ Hazuki menarik lenganku beberapa kali.

Seperti kata Hazuki, ruang kelas A yang sangat luas dipenuhi pelanggan. Walaupun kupikir cuma cowok yang bakal mengunjungi maid cafe, ternyata ada beberapa cewek juga.

“Sekarang, ini menunya.”

Kirishima-san memberikan kami menu istimewa ini. Mengerikan, sepertinya kelas terbaik pun harus melakukan segala sesuatu dengan sempurna.

“Aku mau ‘chiffon cake empuk’.”

“Ah, kalau begitu aku juga.”

“Hazuki juga!”

Ketiga gadis itu berpikiran sama ketika memesan chiffon cake.

“Aku mau ‘air putih’. Lebih baik jika kau bisa menambahkan sedikit garam.”

“Kalau begitu, aku mau—“

“...Kuulangi pesanannya, tiga ‘chiffon cake empuk’, segelas ‘air putih’, dan satu ‘formulir pendaftaran pernikahan dengan maid.’ Apa sudah semuanya?”

“JANGAN MIMPI!!!”

Yuuji berteriak kaget. Cara dia mengejai Yuuji benar-benar aneh, jadi aku akan duduk saja dan melihat Yuuji dikerjai.

“...Kalau begitu aku akan mempersiapkan peralatan makannya.”

Kirishima-san meletakkan garpu di depan para gadis, garam di depanku, dan sebuah stempel merah di depan Yuuji.

“Sho, Shouko! Itu stempel keluargaku, kan?! Gimana caramu mendapatkannya!?”[3]

“...Silahkan bayangkan kehidupan pengantin barumu dengan maid ini sementara menunggu.”

Kirishima membungkuk hormat sebelum kembali ke dapur.

“...Akihisa. Aku harus menang turnamen apapun yang terjadi...!”

“Ah, ya, sama denganku.”

Aku bisa melihat tekad dalam mata Yuuji. Walaupun aku senang dia punya motivasi, ini tetap saja mengerikan.

“Terus Hazuki, ini tempat yang kaubilang, kan?”

“Nn. Di sana. Ada dua kakak menyebalkan yang meneriakkannya!”

Hazuki mengangguk dengan semangat.

Dua cowok menyebalkan. Sudah pasti itu mereka.

“Selamat datang, tuan-tuan.”

“Oh, dua orang. Ada kursi dekat tengah, tidak?”

Pada saat ini kami bisa mendengar suara-suara para pelanggan baru.

Sepertinya kami sudah pernah mendengar suara kelas rendah itu sebelumnya.

“Ah, itu mereka. Yang bilang ‘kedai teh itu kotor sekali’!”

Pemilik suara itu tak lain adalah grup Toko-Natsu yang berusaha merusak pekerjaan kami. Kalau kata-kata itu tadi terdengar dari sini, berarti mereka bolak-balik?

“DIPIKIR-PIKIR, KEDAI TEH INI BAGUS SEKALI!!”

“IYA, KEDAI TEH CINA DI KELAS 2-F JELEK SEKALI!”

“MEJANYA KOTAK KARDUS BOBROK, MALAHAN ADA TIKUS BERKELIARAN DI SANA!!”

Di tengah kedai teh yang begitu ramai, berteriak begitu keras. Pantas saja reputasi buruk kami tersebar sementara mereka melakukan ini!

“Tunggu, Akihisa!

Baru saja aku akan pergi menghajar mereka, Yuuji menghentikanku.

“Yuuji, kenapa kau menghentikanku? Kalau kau tidak menghentikan mereka...!”

“Tenang dulu. Reputasi kita malah akan tambah jelek kalau kita berkelahi dengan mereka di sini.”

Yuuji memandang mereka dengan tajam.

Benar memang kalau kami menghajar mereka di tempat seramai ini, orang-orang akan mendapat kesan bahwa kelas F adalah tempat bekumpulnya anak-anak nakal dan bermasalah. Bukan Cuma bisnis kedai teh kami yang terancam, kalau sampai ini terdengar oleh ayah Himeji, dia pasti akan dipindahkan.

“Tapi kalau kita cuma gigit jari di sini...”

Sekarangpun, gosip itu terus tersebar. Biarpun kami tahu, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Mengesalkan sekali!

“Tidak, kalau kita mau melakukan ini, kita harus pakai otak—oi, Shouko!”

“....apa?”

Kirishima-san langsung muncul begitu dipanggil. Jangan-jangan dia memang terus berada di sekitar Yuuji, makanya dia bisa datang begitu cepat.

“Apakah ini pertama kalinya mereka datang kesini?”

Yuuji mengarahkan dagunya ke pasangan itu. Pada saat yang sama Kirishima mengangguk ringan.

“...Mereka keluar masuk terus-menerus. Apa yang mereka bilang itu-itu terus. Mereka terus mengatakan hal yang sama.”

Wajah Kirishima yang biasanya datar agak mengerut. Sepertinya mereka juga bukan tamu yang disukainya.

“Benar-benar...oke. Sekarang, pinjamkan aku seragam maid.”

Yuuji menanyakan pertanyaan bermasalah tanpa ekspresi malu di wajahnya. Cowok ini,apa dia tidak punya keraguan atau rasa malu?

“...Aku mengerti.”

Ini juga merupakan jawaban tanpa keraguan. Sepertinya mereka akan jadi pasangan yang cocok—eh, tunggu!

“Ki,Kirishima-san!? Kau tidak bisa melepas bajumu disini!”

“Ya, ada banyak hewan liar disini!”

“Wa~. Dada kakak besar sekali~”

Himeji-san dan Minami menghentikan Kirishima-san dengan panik, yang saat ini sedang melepaskan seragam maidnya. Tadi benar-benar berbahaya—Aku tak yakin aku seharusnya mengatakan ini, tapi untuk beberapa alasan, rasanya sayang juga.

“...Karena Yuuji bilang dia menginginkannya.”

Kirishima-san, yang sudah terhenti, memberikan ekspresi campur-aduk.

Orang ini akan melakukan apapun sepanjang Yuuji memintanya? Benar-benar orang yang berbahaya.

“Se, sejak kapan aku bilang aku mau memakai seragam maidmu? Aku, maksudku aku mau minta seragam maid cadangan!”

Yuuji memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Walaupun Kirishima-san orang yang berbahaya, karena Yuuji sedang seperti ini aku yakin dia tidak akan melakukan hal yang buruk terhadap Kirishima-san. Benar-benar melegakan.

“...Akan kuambil sekarang.”

Kirishima-san merapikan pakaiannya sebelum meninggalkan kami. Kami menyadari bahwa meja kami sudah jadi pusat perhatian semua orang. Sekarang jadi makin sulit menghukum duo Toko-Natsu.

“MAKANAN YANG MEREKA BERIKAN BENAR-BENAR TIDAK ENAK, KAN?”

“JANGAN BILANG BEGITU! AKU TIDAK MAU KERACUNAN MAKANAN!”

“KALIAN HATI-HATI TERHADAP KELAS 2-F!”

Sialan! Kenapa sih mereka harus bilang begitu? Rasanya aku ingin menghajar mereka sekarang juga!

“Yuuji! Gimana kita akan mengurus mereka?”

“Oke, tunggu sebentar saja. Himeji, Shimada, punya sisir?”

“? Ya, punya sih...”

“Pinjam sebentar. Oh, aku juga mau pinjam semua peralatan yang biasa dipakai untuk perawatan penampilan.”

“Ah...”

Himehi-san mengeluarkan sebuah tas kecil dari kantong kemejanya.

Seperti yang bisa diperkirakan dari gadis seusianya.

“Maaf. Akan kukembalikan nanti.”

Yuuji menerima tas kecil itu. Hanya saja, untuk panjang rambutnya, kurasa dia bahkan tidak butuh sisir.

“...Yuuji, ini.”

Pada saat ini, Kirishima-san membawakan sebuah seragam maid.

“Oh, maaf soal ini.”

“...Kau berhutang padaku.”

“Ah, iya. Tuh, Akihisa.”

“Aku mengerti. Lain kali kau boleh menggunakan Yuuji seharian.”

“...Terima kasih. Yoshii cowok yang baik.”

“OI, TUNGGU SEBENTAR! KOK AKU?”

Tidak peduli bagaimanapun Yuuji berusaha menjelaskan, sia-sia saja. Kirishima-san nampak begitu bahagia ketika dia meninggalkan kami.

“Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan itu?”

Seragam maid di sebelah kami tidak bisa jadi senjata bagaimanapun aku berpikir.

“...pakailah.”

Yuuji menatapku dengan kebencian. Dia harus mendengar semua perintah Kirishima-san karena kami kalah di pertarungan summoning. Benar-benar cowok tidak berguna.

“Pakai saja, Himeji-san.”

“Eh? A, aku yang pakai?”

Himeji-san membelalakkan matanya. Menurutku dia pantas memakainya.

“Berhenti bicara konyol. Himeji-san tidak bisa menyerang mereka kalaupun dia yang pakai itu, kan?”

“Kalau begitu, Minami? Tapi bukannya itu bakal longgar di sekitar dada------ACKKK!”

“AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU SEMUDAH ITU LAIN KALI!”

Benar-benar aura yang mengerikan.

“Bukan Minami juga. Mereka pasti langsung sadar jika kita melakukannya.”

“...Begitukah?”

Bukan Himeji-san atau Minami, dan Hazuki terlalu kecil dan tidak bisa memakainya. Jadi, yang tersisa tinggal...

“Kau yang akan memakainya.”

“TTTTTTTTTTIIIIIIIIIIIIIIIIIIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKK!!!”

Aku! Walaupun ada kemungkinan identitasku tidak akan ketahuan kalau memakainya...!

“Tidak bisakah Yuuji saja yang pakai? Kau masih bisa pakai kalau dipaksa sedikit!”

“Oh, keras kepala sekali. Bagaimana kalau kita ke suatu tempat dan suit?”

Ini dia, ide Yuuji. Aku sudah ditipu entah sebanyak apa.

Biarpun begitu, percuma menolakknya. Aku sudah bisa membaca pikirannya. Ah, yang penting sekarang adalah membuatnya memakai seragam maid itu.

“Baiklah, kuterima.”

“Kalau begitu ayo mulai. Jan-ken—“

“Pon (kertas).”

Aku pilih kertas. Yuuji pilih gunting. Aku kalah.

“Lihat—“

Yuuji mengeluarkan jari telunjuknya dan menngarahkannya padaku.

Tipuannya adalah---itu! Teknik rahasia dimana kalau aku memalingkan wajah untuk menghindari jarinya, dia akan menunjuk ke arah itu sehingga dia menang!

“Aku tidak akan tertipu lagi!”

Tidak melihat kemanapun, aku terus menatap jari Yuuji. Aku takkan kalah!

“Apakah---“

Poof.

Ah, sungguh suara yang memuakkan.

“AHHHHHHHHHHHHHHH! MATAKU, MAAATAAAAKUUUU!”

Aku melindungi wajahku dan berjalan mundur. Bukankah wajarnya jari itu berhenti di depan mata!?

“Ha!...Oh. Aku menang.”

Mendengar Yuuji mendeklarasikan kemenangannya, aku membuka mataku yang berair. Yuuji menunjuk ke arah yang sedang kulihat.

“Jadi, Yoshii-kun, kau baik-baik saja?”

Himeji-san memberikanku saputangan. Ah, aroma yang begitu manis...

“Ah,hahaha......tentu tidak masalah.”

“Kau benar. Tentu ini tidak dihitung karena kau menggunakan tipuan yang begitu kurang a---“

“Menurutku Yoshii-kun akan terlihat imut memakainya!”

Kurasa, bukan itu masalahnya.

“A,aku belum pernah dipermalukan seperti ini sebelumnya...!”

“Akihisa, tidak disangka kau cocok sekali memakai ini.”

Hideyoshi, yang datang setelah dipanggil Yuuji, hanya menghabiskan waktu beberapa menit membantuku ganti baju dan merias wajah di toilet laki-laki. Benar-benar hebat, walaupun aku tidak berterimakasih sedikitpun.

“Kalau begitu aku kembali ke kedai. Hajar preman-preman itu.”

“Nn, mengerti.”

Setelah berpisah dari Hideyoshi, aku masuk kembali ke kelas 2-A. Demi apa, rasanya ada banyak orang yang melihatku.

“YANG JELAS, KELAS ITU KOTOR SEKALI.”

“MN, KELASNYA TERLETAK DI GEDUNG LAMA, TENTU SAJA KOTOR. ITU SUDAH BISA DIPERKIRAKAN.”

Orang ini masih saja ngomong begitu. Mereka hanya memilih tempat untuk mengomel. Bagiku, yang sudah bertaruh pada kedai teh demi nasib teman sekelasku, ini tidak bisa dimaafkan.

“Permisi.”

Aku diam-diam bergerak sambil berusaha terdengar seperti pelayan.

Orang-orang itu, aku akan menghajar mereka habis-habisan.

“Apa?---Ah, rupanya ada cewek seperti ini disini.”

“Lumayan imut.”

Mereka mengelilingiku, seolah mereka ingin menjilatku. Rasanya menjijikkan.

“Permisi, para tamu, karena aku harus menyapu bagian itu, bisakah tolong berdiri?”

“Sapu? Cepat bereskan, ya?”

Keduanya berdiri dari tempat mereka.

“Terima kasih. Kalau begitu kami akan---“

“Hm? Kenapa kau memeluk pinggangku? Jangan-jangan kau suka aku?”

“Pergilah ke neraka!”

“GYAAAHHH!!”

Bantingannya sukses. Ini kedua kalinya dalam hari ini si senior botak dihajar kepalanya.

“Kau, kau Akihisa dari kelas F...! Ternyata kau punya hobi memakai baju perem---“

Cheh! Masih hidup! Tidak ada pilihan lain, aku butuh bantuan.

“Cowok ini, dia, DIA MENYENTUH DADAKU!!”

“Tunggu! Aku melakukannya karena kau membantingku. Lagi pula kau kan cow---GYYAAHH!!”

“Melakukan hal seperti itu di siang bolong. Dasar tidak tahu malu!”

Yuuji memakai alasan mengejar orang mesum untuk ikut terlibat.

“Apa yang kalian lihat? Bukannya jelas kami korbannya!?”

Mengambil alih si senior botak di lantai, senior Mohawk menghentikan Yuuji.

“Diam! Tadi, cowok itu menyentuh dada si pelayan, kan? AKU TIDAK BUTA!!”

Nggak, sebenarnya, menurutku kau buta.

“Pelayan, kau urus cowok di lantai itu.”

“Eh,Ah, oke. Baiklah.”

Oh iya, aku sekarang pelayan.

Hm~. Si botak ini, apa yang harus kulakukan dengannya? Kurasa aku akan meletakkan bra yang diberikan Hideyoshi ke kepalanya, mungkin dengan sedikit lem cepat kering.

“Jadi, untuk menyelidiki kelakuan mesumnya, bisakah kau ikut dengan kami?”

Yuuji menjentikkan jarinya sementara dia mendekati senior Mohawk. Dia berkata dia akan membawa mereka, tapi kenapa rasanya menyebalkan sekali? Kemungkinan dia akan menginterogasi mereka di kelas.

“Cheh! Ayo, Natsukawa!”

Melihat keadaan ini si senior Mohawk memutuskan untuk pergi.

“Ini, ini, LEPASKAN! MAKHLUK RENDAH! AKU AKAN MEMBUATMU MENGINGATNYA, MESUM!!”

Si senuor botak berlari keluar kelas masih dengan bra di kepalanya.

“BERHENTI DISITU! Ayo kejar mereka, nona Aki.”

“Oke! Tapi tolong jangan panggil aku begitu!”

Yuuji dan aku bergegas ke koridor mengejar mereka.

“Kalau dipikir, Yuuji, gimana caranya kita mengurus bon di sana?”

“Kita kan tidak pesan apa-apa! Biar Himeji-san dan yang lain saja yang urus!!”

Karena Yuuji bilang begitu ya sudah.

“...Untuk tagihannya, yang mana yang kalian mau, Natsume Souseki [4] atau Sakamoto Yuuji?”

“Sakamoto Yuuji.”

“...Terima kasih atas kedatangannya,”

Benarkah tidak apa-apa? Kau baru saja kehilangan 1000 yen.

“Akihisa! Mereka berlari ke lantai 4!”

Yuuji berteriak di tengah koridor penuh orang.

“Maaf! Panggil aku nona Aki saja! Pandangan mereka membunuhku!”

Aku harap aku tidak bertemu seorangpun yang kukenal.

“Baiklah! Akihisa Yoshii---koreksi, nona maid Aki!”

“Brengsek! Kau sengaja, kan!”

Aku terus mendaki tangga sambil memperhatikan kibasan rokku dengan hati-hati. Kelas di lantai 4 adalah kelas 3 semua. Kami bisa ditendang keluar kalau kami tertangkap berbuat macam-macam, jadi kami mesti hati-hati.

Yuuji bergegas ke kelas terdekat. Pintu masuk kelas 3-A, yang tertutup tirai hitam, bertanda ‘Labirin Rumah Hantu’.

“Selamat datang. Dua orang?”

“Bukan, empat. Orang di belakang kami yang akan membayarkan.”

Hebat. Kau meneruskan tagihan ke orang di belakangmu tanpa ragu-ragu.

“Oke, silahkan nikmati dunia menakutkan ini.”

Senior yang berperan sebagai pengurus membuka pintu tanpa ragu.

Yuuji dan aku segera masuk agar kebohongan kami tidak ketahuan.

“Yuuji, di sini gelap. Kalau kita bergerak dengan ceroboh...”

“Ya. Kita tidak tahu perangkap macam apa yang mereka pasang.”

Kami terus berjalan di jalan sempit yang dibuat dari kardus. Untuk sumber cahaya, hanya ada lampu kecil dekat kaki kami. Lupakan menangkap mereka. Kemungkinan kami yang akan mereka serang dari belakang.

“Hati-hati, maid palsu yang suka berpakaian cewek.”

“Mn,mn. Kalau tidak hati-hati...kalau tidak hati-hati...kalau tidak hati-hati...”

Kami merasakan atmosfir sekitar kami sambil bergerak maju.

Sialan. Gara-gara roknya aku sulit bergerak. Haruskah aku angkat dan ikat di sekeliling pinggangku?

“Kalau tidak hati-hati---“

PAM!

Saat ini, sesuatu muncul di hadapan kami. Itulah monster yang tidak pernah kami lihat sebelumnya. Mengenakan seragam laki-laki, botak, badan sedang-sedang—dan mengenakan bra di kepala.

‘’’ME, MESUM!!’’’

“Kalian berdua sama.”

Kasar sekali. Aku hanya memakai pakaian maid karena situasinya. Aku harap aku tidak dikaitkan dengan seseorang yang senang memakai bra di kepalanya.

“Mereka mengejar kita sampai ke sini, benar-benar orang mengesalkan!” Senior botak berlari masuk lebih dalam. Sepertinya bukan serangan tiba-tiba; dia memang tidak sengaja bertemu kami.

“BERHENTI BERLARI! MAKANLAH SERANGAN LEDAKAN MAUT NONA AKI-KU!”

“YUUJI, BERHENTI MENGGUNAKAN NAMA ITU! KORBAN PERTAMA YANG BISA KUPIKIR ADALAH AKU!”

Aku memprotes habis-habisan pada Yuuji yang secara acak menggenggam leherku. Ini seharusnya di lantai empat. Setidaknya kalau aku tidak terkilir, segalanya akan langsung berakhir.

“SEKARANG! DORONG DINDINGNYA DAN KURUNG MEREKA!”

Suara senior Mohawk datang entah dari mana. Sialan! Kalau kami tidak bisa bergerak...

“Cheh! Hindari! Nona Aki!”

“Kelihatannya kami hanya bisa melakukan ini!”

Menyerah mengejar mereka, kami berlari kembali ke pintu masuk.

“...Oh? Dindingnya tidak runtuh.”

“Mereka menipu kita!? Si Mohawk itu...!”

Kami tidak bisa melihat senior botak lagi. Kelihatannya kami takkan bisa menangkap mereka.

“Yuuji, pertarungan ketiga akan segera dimulai.”

“Apa? Pada saat seperti ini?...Tidak ada pilihan. Walaupun sayang, ayo kita kembali.”

Dengan kejadian terjadi satu demi satu, kami tidak bisa fokus pada turnamen summoning. Benar-benar orang-orang menyusahkan.

“Ya, kita hampir didiskualifikasi gara-gara mereka.”

Karena kami tidak usah khawatir terkurung di dalam lagi, kami berjalan ke arah pintu keluar.

“...AH! Pengunjung yang tidak bayar tadi!”

“Lari, nona Aki!”

“AH~ Astaga! Kenapa sih hal seperti ini selalu terjadi?”

Bukannya berjalan, kami berlari sampai ke kelas.


Notes[edit]

  1. pantsu=celana dalam, koshi-tsuki=pinggang,oppai=dada
  2. Ketiganya pemain tim baseball Jepang, Hanshin Tigers
  3. di Jepang, tiap keluarga punya stempel khusus untuk mengesahkan sura-surat resmi seperti pernikahan
  4. Novelis Jepang yang fotonya pernah dipakai di mata uang Jepang senilai 1000 Yen