Baka to Tesuto to Syokanju:Volume4 Soal Ketiga

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Soal Ketiga[edit]

'Silahkan bayangkan adegan dibawah ini lalu jawablah pertanyaanya.


‘Kamu pergi liburan dengan orang yang kamu suka. Saat sedang bersiap-siap naik pesawat, tiba-tiba kamu sadar bahwa kamu lupa membawa sesuatu. Apa sebenarnya yang kamu lupa bawa?”

Jawaban Himeji Mizuki:

Obat contohnya untuk pusing dan sakit perut.

Komentar Guru:

Ini sebenarnya adalah tes psychlogy tentang”apa yang kamu harapkan dari orang yang kamu suka”, benda yang terlupakan menyimbolkan apa yang kamu harapkan. Ketika kamu lupa membawa sesuatu untuk liburan dan kamu tidak menyadarinya, artinya kamu berharap pasanganmu akan mengingatkanya. Saya bisa melihat bahwa Himeji-san menginginkan sebuah perasaan nyaman dari orang yang kamu suka

Jawaban Kirishima Shouko:

Borgol.

Komentar Guru:

Sebelum berbicara tentang apa yang kamu lupa bawa, dari awal sudah terlihat bermasalah ketika kamu membawa sepasang borgol.


Jawaban Kudou Aiko:

Lupa memakai celana dalam.

Komentar Guru:

Apa sebenarnya yang kamu inginkan dari orang yang kamu suka?

BTS vol 07 237c.jpg



Ketika kesalahpahaman antara aku dan Minami selesai, aku masih harus menghabiskan beberapa waktu, dan sekarang akhirnya waktunya istirahat.

Ketika kesalahpahaman antara Minami dan aku berpacaran telah diketahui, persiapan untuk ujian perang pemanggil kelas D pun berakhir. Minami pergi dan berbagi meja dengan Himeji-san, Shimizu-san harusnya membiarkanya saja kan?

Kemarahan Shimizu-san mungkin saja sudah reda, tapi sekarang ada orang lain yang marah……

“Mizuki, kamu mau makan siang bersama?”

Aku mendengan Minami bertanya ke Himeji-san ketika lonceng istirahat telah berbunyi “Uh, Minami……”

Aku buru-buru memangil Minami yang berdiri dan bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat.

“Apa, Aki, ada apa memanggilku?”
“Uh, itu……tentang bekal yang kamu sebutkan tadi pagi…….”

Selagi aku masih berbicara, Minami mengangkat alisnya.

“Aki, apa yang kamu katakan?Kamu sudah membuatku sangat malu, dan kamu masih ingin aku memberikan bekal padamu?” 

Aku bisa merasakan niat membunuh yang tersembunyi didalam kata-kata Minami

“aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf dari hatiku yang paling dalam.”

Tampaknya Minama-sama masih dibutakan oleh kemarahanya.

Memang benar, hal seperti itu pasti akan terjadi, itu normal dia akan marah…….

“Benarkah, Aki kamu selalu tidak sadar!Mizuki, cuacanya hari ini cerah, ayo cari tempat yang nyaman tanpa si bodoh ini dan makan bekal makan siang 
 kita.”

Minami mengatakan itu kepada Himeji-san yang berdiri di sampingnya.

Tampaknya, mereka sudah memutuskan makan siang diluar.

“Ah, Minami-chan, tunggu aku. Setelah itu, telah diputuskan, Akihisa-kun sampai nanti.”

Himeji-san kemudian berlari pelan untuk menyusul dengan Minami yang melangkah pergi dengan tanpa melihat kebelakang.

It seems like she’s going to blow up with anger soon……Ever since going through that confession misunderstanding, Minami would only frown at me, I guess, she can still be considered gentle.

“Apa yang terjadi, Akihisa?Kamu tidak mendapat bekal yang Shimada buat sendiri?”

Melihat kepergianya, Yuuji mengeluarkan bekal ke tempat duduku seperti biasanya, Hideyoshi mengikutinya.

“Un, Minami kelihatanya dia masih marah padaku. Aku sebenarnya menantikan bekalnya itu…..”

“Lupakan saja tentang itu, begini, jika dia akan berbagi bekal buatanya denganmu, Shimizu mungkin hanya terburu-buru dan menyebabkan masalah. Menurut pandanganku, kamu harus menyerah.”
“Tampaknya kamu memang benar…….”

Namun, makanan yang Minami buat enak sekali, karena itu aku merasa sayang sekali……tidak tidak tidak, aku tidak mau dengan sengaja membandingkan dia dengan siapapun.

“Ngomong-ngomong, kemana perginya Muttsurini?Bagaimana mungkin aku tidak melihat dia dimanapun?”
“Dia tampaknya mendengar sebuah desas-desus, menurutku dia pasti pergi untuk memastikanya—Oh, dia kembali!”
“……Aku kembali.”

Muttsurini muncul keluar di depan kita tanpa bersuara sedikitpun. Hanya saja, sekarang waktunya makan siang yang menyenangkan, tapi dia terlihaat murung.

“Muttsurini, apa yang terjadi padamu?Apa ada sesuatu yang telah terjadi lagi?”
“……(menganguk)”
“Apakah tentang desas-desus yang baru saja kamu sebutkan?” 
“……Kondisinya jauh lebih buruk dari pada pagi ini.”

Selagi dia mengatakan itu, dia mengeluarkan perekam kecil yang selalu dia banggakan keatas meja.