Baka to Tesuto to Syokanju:Volume5 Soal Ketiga

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Soal Ketiga[edit]

Berdasarkan pasal ke 76 dari Konstitusi Jepang 'Kemerdekaan Hakim', isilah bagian kosong berikut.

'Seluruh hakim akan melatih_______untuk melaksanakan_______secara_______dan akan terikat hanya oleh_______dan_______untuk menahan pidana.'


Jawaban Himeji Mizuki:

'Seluruh hakim akan melatih (Hati Nuraninya) untuk menjalankan (Kewenangannya) secara (Independen) dan akan terikat hanya oleh (Undang-Undang) dan (Hukum) untuk menahan pidana.'


Komentar Guru:

Jawaban bagus. Ini adalah pasal yang penting di Konstitusi Jepang. Saat para hakim melaksanakan haknya, konstitusi bisa memastika bahwa hakim tidak akan dihasut oleh kekuatan politik dan orang-orang berpangkat tinggi di pengadilan dan melaksanakan tugasnya secara independen. Termasuk juga dalam isinya, pemastian keamanan personal sang hakim. Saya harap kamu bisa mengingat pengetahuan kecil ini.


Jawaban Yoshii Akihisa:

'Seluruh hakim akan melatih (BLEEP) untuk melaksanakan (BLEEP) secara (BLEEP) dan akan terikat hanya oleh (BLEEP) dan (BLEEP) untuk menahan pidana.'


Komentar Guru:

Kalau begitu bukankah pasal 76 adalah sesuatu yang buruk?


Jawaban Tsuchiya Kouta:

'Seluruh hakim akan melatih (Instingnya) untuk melaksanakan (latihan pembukaan baju) secara (membuka baju) dan akan terikat hanya oleh (tangan sang polisi yang memegang pelaku) dan (borgol) untuk menahan pidana.'


Komentar Guru:

SAYA MINTA KAMU KIRIM SURAT PERMINTAAN MAAF KEPADA SELURUH ANGGOTA DEWAN HAKIM DENGAN TULUS!!


Suara bel pulang yang biasa berbunyi, dan akhirnya, saatnya pulang.

"Yuuji, bisa aku ngomong sebentar?"

Aku bertanya ke teman burukku yang sudah siap untuk mengemas tasnya dan pulang.

"Hm? Akihisa, kenape?"

"Buat hari ini, aku boleh nginep nggak? Ada banyak hal yang aku mau nanya di PR dan jenis-jenis soal yang akan ditanya di UAS."


−WASWESWOS


Sesaat setelah aku bicara, suara mendengung memenuhi kelas.

"Wei...kau dengar itu nggak...?"

"Iya weh. Bisa-bisanya aku dengar kalimat yang nggak bisa dipercaya seperti itu..."

"Bagaimana dua orang itu..."

"Iya, Yoshii dan Sakamoto...mereka..."

""Tahu tentang UAS...""


Aku hampir mau nyeletuk, tapi aku biarkan mereka hari ini. Heh, kalian berhasil menjaga nyawa kalian.

"Mau diajarin?"

"Um."

"Serius...bukannya kamu udah hafal tabel perkalian tujuh?"

"Tunggu! Aku nggak inget aku pernah bilang aku panik karena gak hafal tabel perkalian! Aku bahkan tau perkalian pecahan!"

"Hoo. Kalo gitu rumus luas segitiga apa?"

"Alas × Tinggi = Luas! Kau pikir aku se-bego itu?!"

"Iya deh iya, Akihisa. Jangan lupa itu hasilnya dibagi dua untuk mencari luas segitiga."

...

"Fuu, serius...kau jenius dalam hal pelit gini, Yuuji."

"Hebat! Jawabanmu lebih dari yang aku sangka!"

Bu-bukan! Aku njawab terlalu cepet makanya lupa. Kalo ada soal tentang luas segitiga aku pasti bisa jawab!

"Um, Akihisa-kun......"

Saat Yuuji dan aku sedang ngobrol nggak jelas, Himeji-san yang sedang membawa tas di tangannya sampai di depan kami. Ia mungkin berniat untuk langsung pulang hari ini.

"Ada apa, Himeji-san?"

"Aku harus beri tahu kamu kalau ada cara mengingat tabel perkalian dengan cepat."

"Aku bisa ingat! Bahkan aku tahu kalau sembilan kali sembilan hasilnya delapan satu!"

Himeji-san kelihatan cemas. Memangnya aku sebego itu di pikiran Himeji-san? Ini mengagetkanku.

"Tapi kenapa dikau tiba-tiba menjadi rajin? Kalau tidak ada alasan khusus, aku pikir dikau tidak harus belajar dengan giat."

Saat mendengar Hideyoshi, yang duduk didekat kami, berkata 'alasan khusus', Himeji-san menatapku dengan ekspresi yang lebih suram.

"Nggak, nggak gitu. Bukannya Yuuji sudah bilang ke semua? 'data sistem summoning akan diulang' dan 'kita harus menghadiri remedial musim panas kalau hasil UAS kita jelek'. Aku sih nggak mau membawa pedang kayu dan memakai seragam sekolah sampai lulus, dan aku mau menikmati liburan musim panas juga, jadi kupikir aku seharusnya bekerja keras."

"...nggak Akihisa banget."

"Iya,aku nggak habis pikir kenapa Aki mau mulai kerja keras karena alasan sepele begitu."

Muttsurini dan Minami mampir. Kenapa banyak orang ngumpul kalau aku bilang mau belajar?

"Kalau begitu, Akihisa-kun, kalau kamu tidak keberatan...bolehkah aku belajar bersamamu?"

Himeji-san menaikkan tangannya.dengan malu-malu. Serius, Himeji-san itu orangnya baik.

Dengan kondisi biasa, aku akan menerima tawaran ini dengan senang hati, tapi situasi hari ini beda. Kalau di rumah Yuuji sih mungkin saja, tapi—

"Aku nggak mungkin bisa menginap di rumah Himeji-san..."

"Eh? Akihisa-kun ingin menginap dirumahku?"

"Ah, nggak, maksudku bukan itu..."

"Ka-kalau begitu aku harus kembali kerumah dulu dan bilang kepada Ayah agar tidak minum-minum malam ini...emm...Maksudku jadi kalau Akihisa-kun ingin bicara tentang 'hal penting' dengan beliau, akan merepotkan kalau beliau mabuk..."

Himeji-san terlihat gelisah dan ngomong sesuatu yang aku nggak bisa mengerti. Hal penting apa yang aku ingin bicarakan dengan Ayah Himeji-san—

"Apa tentang pindahan? Aku akan meyakinkannya!"

Alas tatami tidak cukup ya? Kalau saja ada yang bisa bawa meja dan kursi biasa...

"Apakah kamu bicara tentang perpindahan agama? Bukankah kamu beragama Buddha? [1]

"Hoh? Ngomongin apa?"

"Tidak, umm, maksudku keluarga kita berbeda agama..."

"???"

Apa-apaan, kayaknya omongan kita nggak nyambung.

"Cara pikir Himeji memang mirip dengan Akihisa."

"Betul, jadi ini yang dimaksudkan dengan 'Menjadi sewarna dengan sahabat'[2]"

"...mirip banget."

Tiga teman burukku memelototiku, sepertinya sambil melirik ke satu sama lain dan berbisik.

Sebagai catatan, ada beberapa kalimat yang tidak dimengerti Minami, maka ada banyak tanda tanya bersarang di kepalanya saat ini.

"Ngomong-ngomong, aku penasaran dari pagi. Kenapa kau mau mampir ke rumahku, Akihisa? Rumahmu emang kenapa?"

"Ah...itu,...sebenernya..."

"Jangan coba bohong."

"Aku tiba-tiba mikir aku harus belajar—Akh, cepet amat, aku belom selesai ngomong!"

Benar sih, aku bohong.

"Yasudah lah ya, ini akan mempengaruhi perang summoning selanjutnya, jadi aku bisa ngajarin kamu."

"Eh?? Serius?"

"Tapi kita bakal kerumahmu. Gampangan ngurus ini itu disana."

Setelah ngomong itu, Yuuji menoleh dan berbisik "karena ada emak macam itu dirumahku..."

Emak macam itu? Aku belum pernah bertemu ibunya Yuuji sebelumnya. Ibu macam apa kira-kira ya?

"Eh? Rumahku nggak cocok! Agak...uh...susah hari ini!"

"Rumahmu susah hari ini? Ada apaan?"

"A, ah, itu, sebenernya, ada pekerja mau ngedekorasi rumahku."

"Jangan bohon. Aku mau main kerumahmu buat mainin game tinju itu. Yakali bisa ada pekerja disana!"

"Nggak! Kunciku hilang!"

"Rumahmu kan apartemen. Minta aja pengurusnya buat bukain."

"Nggak, sebenernya rumahku kebakaran!"

"Rumahmu kebakaaran dan kau masih bisa santai buat bekal dan nyetrika baju. Bego dah kamu."

"Ah—erm sebenernya...apa lagi...!"

"Udah deh. Kamu ngebohong parah banget aku bisa tau langsung."

"Ugh..."

Aku benar-benar banyak memikirkan tentang ini, tapi aku nggak bisa memikirkan alasan biar nggak pulang. Aduuh...

Yasudah deh. Kalau begitu, aku harus pulang dan lawan kakakku...

"Yasudah. Aku pulang saja deh..."

Aku membawa tasku dan berdiri dari tempat duduk. Tapi saat aku baru saja mau berputar dan pergi, Hideyoshi meraih pundakku

"Tunggu sedikit, Akihisa. Adakah yang dikau sembunyikan dari kami?"

"Ueehh?! Nggapapakok!"

"Aku nggak tau ada apa, tapi kalo ada rahasia yang pingin disembunyikan si bego ini segitu kerasnya...kayaknya seru."

Yuuji nyengir sambil menyipitkan matanya.

"Okeh! Ayo periksa!"

"Tu, tunggu, Yuuji! Kamu ngomong apa!?"

"Iya, mungkin kita bisa melihat sisi yang berbeda dari Aki."

"Aku juga tertarik."

"...saatnya menggeledah."

"Karena ekskul ditiadakan di saat Ujian, sepertinya saya juga akan ikut."

ANJIR! KENAPA SITUASINYA MAKIN NGGAK MENGUNTUNGKAN BUATKU!?

"Jangan! Kalian gak bisa kerumahku hari ini! Erm...rumahku berantakan!"

"Umm, kalau berantakan, aku bisa bantu kamu bersih-bersih. Kamu nggak bisa konsentrasi kalau berantakan."

Seperti yang bisa diharapkan dari Himeji-san...! Dia baik banget kaya malaikat~!

Tapi kalo ini berlanjut, Himeji-san bakalan mampir kerumahku dan ketemu dengan kakakku yang aneh itu. Aku harus apa ni—Oh iya! Aku tinggal harus sebut sesuatu yang para cewek nggak akan mau nyentuh!

"M,maksudku berantakan itu adalah 2000+ majalah bokep yang kupunya dirumah!"

"...Serahkan padaku (angkat jempol)"

"Sialan, malah menarik perhatian Muttsurini?! Ini beda dari prediksi awalku!!"

"Yasudah, karena semuanya sudah sepakat, ayo mampir ke rumah Akihisa!"

"""Ossu!!"""

"JANGAA~N!!!!"

Aku sudah mencoba sebisanya untuk melawan, tapi pada akhirnya, leherku dipelintir dan diseret kearah rumahku dengan yang lain. S,sekarang aku harus gimana...




"Ada apa ya kira-kira?"

"Akihisa berbeda dengan Muttsurini dalam artian tak ada yang biasanya ia sembunyikan. Bahkan saya tak sabar ingin lihat ada apa dirumahnya."

"...aku nggak nyembunyiin apa-apa."

"Muttsurini, kau tertarik sama daleman cewek nggak?"

"...yakali."

"Kata aku sih, Muttsurini, kamu udah terbiasa bohong sampai kamu bisa bohong tanpa berkedip."

"...(menggeleng dengan rusuh)!"

Di jalan pulang, semuanya kecuali aku sepertinya ngobrol dengan senangnya sambil berjalan.

"Tapi apa ya, hal yang mau disembunyikan Akihisa demi apapun..."

"Benar tuh. Ada keributan yang dia buat selama Study Camp. Sepertinya bukan masalah majalah porno."

"Iya...Akihisa bagaimana mungkin membawa bekal sendiri dan bahkan menyetrika bajunya. Tebakanku..."

"Mungkin dia akhirnya laku?"

"""...!?"""

Tapi kaliman sembarangan Yuuji membuat mata semua orang disini membelalak.

"A, Aki! Apa-apaan ini?! Jelasin!"

"H, Hmm...jadi Akihisa menemukan pasangan hidupnya...sebagai sahabat, saya akan memberikan restu, tetapi saya tidak tahu apakah saya harus merasa lega atau iri..."

"...pengkhianat!"

"A, Aku nggak bilang apa-apa!"

Kenapa imajinasi semua orang ini sangat kreatif?

"Semuanya, jangan khawatir. Bagaimana mungkin Akihisa-kun berpacaran dengan seseorang dan menyembunyikannya dari kita? Aku percaya pada Akihisa-kun."

Dari suara 4 orang disekitarku, Himeji-san adalah satu-satunya yang tetap tenang. Sudah kuduga, Himeji-san memang beda dari yang lainnya.

"Benar 'kan, Akihisa-kun? Kau tidak menyembunyikan seseorang dan merahasiakannya dari kami 'kan?"

Benar, dia beda dari yang lain—Senyumnya Himeji-san seram deh.

Sambil berlanjut mengobrol, geng kami sampai di depan bangunan tempatku tinggal.

"Yasudah lah ya, kebenaran akan terlihat begitu kita masuk rumahnya. Wei, Akihisa, buka kuncinya."

"Ogah."

Aku masih mencoba melawan.

"Akihisa...mau coba sakitnya cuma makai Y-shirt?"

"Eh? Tunggu! Kamu nggak ninggalin banyak tahap ditengah!?"

"...aku mau lihat Akihisa mendongak berlinang air mata."

"Muttsurini! Kau bahkan menentukan aku ngapain?! Kamu mau jual!? Buat alas duduk?! Sisi satunya gambar Hideyoshi, 'kan!?"

"Kenapa saya juga diikutkan?"

"Tsuchiya-kun, kalau bisa, aku harap dua kancing atasnya terbuka..."

"BAHKAN HIMEJI-SAN JUGA JADI ANEH SEKARANG! IYADEH AKU BUKA! AKU BUKA!!"

"...kancingnya?"

"PINTUNYAA!!"

Kalau sudah begini, sudah nggak guna untuk ngelawan bagaimanapun juga. Kalau begitu aku hanya bisa berdoa dengan diam dan berharap kakak sedang keluar...

Aku berdoa dengan rahasia kepada seluruh dewa di dunia ini, dan membuka pintu kedalam rumahku.

"Jangan bilang dia benar-benar punya pacar..."

"Aku gugup banget..."

"Jangan khawatir, pasti bukan sesuatu yang seperti itu."

Saat seluruhnya menelan ludah dan memantengiku, aku membuka pintu ke arah koridor.

Nee-san biasanya menaruh sepatunya disana—Nggak ada! Bagus! Dia lagi keluar!

Kalau nee-san nggak ada, aku nggak perlu khawatir. Tinggal biarkan mereka melihat-lihat didalam dan menyuruh mereka keluar.

"Oke, semua, silakan masuk."

Aku memanggil yang lainnya dan membuka pintu menuju ke arah ruang tamu.

Sesaat aku membuka pintu, yang kulihat adalah—

"""..."""


Benda yang nggantung disana—adalah sejenis daleman wanita yang biasa disebut Brassiere.

"KENAPA ADA BARANG BUKTI YANG NGGAK BISA AKU SEMBUNYIKAAAAN!!"

BENDA BEGINIAN HARUSNYA DIGANTUNG DI KAMAR MANDI! DASAR KAKAK BEGO!

Aku langsung lari dan melemparkan bra yang telah dicuci itu ke kamar mandi. Mereka lihat nggak? Mereka semua lihat nggak?

Aku memutar pelan-pelan untuk memeriksa respon yang lain.

"...yah, nggak ada bukti yang lebih solid dari itu."

"S, saya juga berpikir demikian..."

"...aku ngiri sampe aku mau bunuh kamu!"

Minami dan yang lain mengutarakan responnya.

"Eh, emm, ini..."

Anying...! Aku bahkan nggak bisa memperdaya mereka sekarang...!!!

Ditengah-tengah keputus-asaan, aku masih saja mencoba mencari cara untuk beralasan.

Sementara itu, Himeji-san adalah satu-satunya yang tetap kalem dan berjalan kearahku dengan senyuman.

"Akihisa-kun, kenapa kamu melakukan ini?"

"Eh? Apa?"

"Bra ini bukan ukuran Akihisa-kun, 'kan?

"""DIA NYANGKAL?!"""

Eh, Himeji-san, kamu pikir aku makai bra cewek? Dalam suatu pengartian, ini mengganggu lebih dari bocornya keberadaan kakakku!

"Himeji-san, ini bukan punyaku!"

"Arre~? Itu—"

Bahkan dengan kesalahpahaman segitu besar, aku coba untuk jelaskan, tapi pandangan Himeji-san sudah berpindah ke meja di ruang tamu. Apa sekarang? Ah, itu bantalan kapas yang dipakai nee-san untuk kosmetik—

"Itu kue ikan, 'kan?"

"""Kue ikan!?"""

S, sudah kuduga dari Himeji-san! Bantalan kapas aja disebut kue ikan! Dia benar-benar hidup di dimensi lain dari orang biasa...aku penasaran sekarang isi meja makan Himeji-san.

Saat aku melihat hal-hal ini, Himeji-san melihat jauh kedalam. Yang dilihat di meja—bukannya itu bekal yang paling disukai wanita!?

"Hi, Himeji-san...? Kenapa? Apa yang aneh sama bekal itu?"

"Hiks..."

"UEEEHH?! Kenapa tiba-tiba kamu nangis?"

"Aku tidak bisa menyangkal lagi..."

"TUNGGU DULU, KENAPA KALO BRA DAN KOSMETIK DIBIARIN TAPI GILIRAN BEKEL LANGSUNG BEGINI!?"

Jangan biilang bekal untuk wanita adalah bukti lebih serius daripada bra dan kosmetik?

"Haa...kalau sudah begini mau gimana lagi...Aku jujur deh sekarang. Kakakku baru pulang."

Karena semuanya sudah lihat, mau menyembunyikan apapun juga nggak ada gunanya. Akan lebih parah kalau aku terus coba sembunyikan ini itu dan membuat mereka salah sangka bahwa aku suka crossdressing.

Setelah mendengar pengakuanku, semuanya akhirnya kelihatan lega.

"B..benar, nggak mungkin Aki punya pacar."

"...kita kebanyakan mikir."

"Bahkan saya juga lega."

Semuanya meletakkan tangan mereka di dadanya masing-masing dan membuang napas lega.

Walaupun agak telat, aku bingung kenapa mereka nggak kepikiran tentang kakak, malahan tentang pacar langsung? Apa mereka tahu sesuatu?

"Begitu. Jadi kakak Akihisa-kun kembali. Bagus..."

Nggak bagus buat aku sih.

"Yaa karena keadaannya seperti itu, aku buat bekal sendiri dan menyetrika baju dengan benar. Ngerti sekarang?"

Oke, karena aku sudah menjelaskan semua, tolong pulang. Aku harus mengusir orang-orang bermasalah ini sebelum ada keraguan.

"Tunggu, Akihisa."

Argh, orang yang paling bermasalah sepertinya mengetahui sesuatu.

"K, kenapa, Yuuji?"

"Kami ngerti kamu punya kakak. Tapi kenapa kamu nggak sudi tinggal sama kakakmu?"

"Ah, benar."

"Bahkan saya juga berpikir ini aneh."

"...(ngangguk)"

"Apakah Akihisa-kun masih ada hal yang disembunyikan dari kami?"

Keraguan Yuuji membuat semuanya merasa curiga.

Guh...! Kalau saja aku tahu akan menjadi seperti ini, aku harusnya nggak bilang mau nginep dirumah Yuuji dan langsung pulang...

"Akihisa, lebih gampang kalau kamu jujur 'kan?"

Yuuji menepuk pundakku. Iya, aku sebenarnya sudah siap...

"Sebenarnya...kakakku...dia orangnya aneh...gimana ya, gak berakal sehat...kalau aku dengan dia, banyak hal-hal buruk bakal terjadi, dan poinkuy akan dikurangi kalau ada hal aneh nggak jelas, jadi aku nggak mau pulang..."

"B, bahkan Aki bilang dia nggak berakal sehat. Segitu seriusnya?"

"Hmm...bahkan, kalau itu seram, saya penasaran."

"...harus ketemu."

"Iya, aku ingin bertemu kakak Akihisa-kun sekali-kali."

Jadi akhirnya seperti ini...ini hampir seperti situasi terburuk yang bisa kubayangkan.

Saat aku pikir semuanya tertarik ingin bertemu nee-san,

"Ah~ apa-apaan, gimana ya, minatmu dengan masalah keluarga orang lain terlalu lembek. Bahkan orang lain juga punya kakak atau ibu yang nggak mau orang lain temui."

Tumben! Yuuji sekali-kali setuju denganku! Ada apaan nih?

"Yu, Yuuji...! Makasih—"

CKREK

Saat itu, suara pintu depan terbuka bisa terdengar.


"Arre...? Kau kembali saat aku belanja, Aki-kun?"


......Eh? Timing macam apa ini?! Ini emang semacam lawakan?!

"UWAAAAAH!!! D, DIA BALIK! SEMUANYA, CARI TEMPAT SEMBUNYI—"

"Itu kakak Akihisa-kun...? Aku gugup..."

"A, Aku bisa nyapa nggak ya..."

"ANJIR! KALIAN MALAH PINGIN KETEMU!!"

Saat yang lain terdiam di ruang tamu menunggu nee-san muncul, aku cuma bisa mendongak ke surga dan berdoa.

Karena sudah seperti ini, aku cuma punya satu harapan lagi. Nee-san! Aku nggak akan minta kamu untuk menyapa orang-orang ini dengan benar...! Jadi setidaknya, pake baju yang bener!

Saat yang tegang itu berlalu dengan cepat, dan pintunya dibuka.

"Ara, ada tamu? Selamat datang. Rumah ini agak kecil, tapi silahkan nyamankan diri."

Nee-san, yang mengatakan sesuatu yang normal, sedang memakai celana ¾ dan baju lengan pendek berkerah, dengan sebuah rompi. Pakaian ini normal!

"""M, maaf mengganggu..."""

tampang normal nee-san dengan pakaian, sikap, dan akal sehat yang normal membuat Yuuji dan lainnya kelihatan bingung.

"Maaf kalau belum memperkenalkan diri, Saya Yoshii Akira. Terima kasih semuanya untuk berteman dengan adikku yang bodoh dan tidak berguna ini."

Dia bahkan menunduk setelah mengatakannya! Ini terlalu sempurna! Dia kelihatan seperti kakak yang normal gimanapun juga! Kalau begitu...aku bisa mengibuli mereka 'kan?

"Ahh, hali, saya Sakamoto Yuuji, teman sekelas Akihisa."

Setelah pulih, Yuuji menundukkan kepala dan menyapa nee-san dengan terburu-buru.

"...saya Tsuchiya Kouta."

Muttsurini bicara selanjutnya.

"Halo, Yuuji-kun, Kouta-kun."

Nee-san tersenyum kembali pada mereka.

Ahh...suatu pemandangan yang luar biasa...

Saat aku sedang tersentuh dengan saat damai yang langka seperti ini, Yuuji berbisik.

"Woi, Akihisa, kakakmu normal noh. Sampe nyebut-nyebut aneh, salah kau! Dibanding aku, dibanding aku..."

"Ahaha...Dia normal 'kan? Kalo udahcukup liat, pulang sono!"

Saat aku berbisik pada Yuuji, teman kelasku yang lain terus mengobrol dengan nee-san. Kali ini, giliran Hideyoshi.

"Saya Kinoshita Hideyoshi. Salam kenal. Banyak orang sering salah saat melihat saya, tapi saya bukan perempuan−

"ehh, kamu laki-laki 'kan? Selamat datang dirumah saya, Hideyoshi-kun."

"!"

Saat mendengar kalimat itu, Hideyoshi terlihat kaget sambil melihat nee-san.

"Anda, anda adalah orang pertama yang bisa lihat bahwa saya laki-laki...!"

Aku nggak ngerti ada apa, tapi Hideyoshi kelihatan terharu.

"Pasti saya bisa tahu. Karena,"

Nee-san nyengir sambil berkata,

"Karena nggak mungkin adikku yang jelek bego dan nggak berguna itu punya teman perempuan."

Kepercayaan itu membuatku kesal

Saat aku baru mau nyeletuk balik, mata nee-san sekarang tertuju ke Himeji-san dan Minami.

"Jadi dua orang ini juga laki-laki 'kan?"

Dia membuat kesimpulan itu.

"TU, TUNGGU, NEE-SAN! JANGAN NGGAK SOPAN GITU DONG KALO BARU KETEMU! TIGA-TIGANYA CEWEK!"

"Akihisa! Saya laki-laki 'kan?"

Akal sehat orang ini sedangkal apa sampai dia ngelihat tiga orang ini laki-laki...

Setelah teriak, nee-san bereaksi dengan kalimatku dan pelan-pelan memelototiku.

"...'cewek', kau bilang? Aki-kun telah membawa pulang perempuan selama ini?"

GUAAAAHH!! Si, sialan, Nee-san kelihatan nggak senang karena aku bawa pulang cewek!

Nee-san sudah berpikir pegangan tangan adalah hubungan yang nggak pantas. Dia pasti kesal sekarang! Harus cari alasan yang bagus!

"Y, yaa...nee-san, dengerin! Ada banyak alasan—”

"...serius? Kalian, maaf karena menyebutkan hal-hal seperti itu."

"Bahkan...eh? Aneh?"

Saat mengabaikanku yang ingin menjelaskan, Nee-san membungkukkan kepalanya pada Himeji-san dan Minami dan tidak menunjukkan keinginan membunuh sama sekali. Nee-san benar-benar nggak marah ya?

"Ada apa, Aki-kun?"

"Ah, nggak... aku mikir apakah nee-san marah..."

"? Kamu ngomong apa sih? Kenapa nee-san akan marah kepadamu?"

Nee-san kelihatan kalem dan menjawab seakan dia benar-benar tidak marah.

A, aku kebanyakan mikir ya? Tapi bagus lah...benar. Ada teman yang mampir kerumah, hal ini normal. Nee-san tidak harus marah.

Sesaat aku merasa lega dan bisa menghela napas, nee-san nyengir dan bilang kepdadaku,

"Oh iya, Aki-kun."

"Nn? Kenapa?"

"Ada banyak tamu hari ini, jadi main dokter-dokteran yang Aki-kun suka harus ditunda sampai besok, ya?"

Ahhhh, ngerti. Orang ini mau ngirim aku ke kuburan...

"NE, NEE-SAN, KAMU NGOMONG APA!! KAU BILANG KAYAK KITA MAIN DOKTER-DOKTERAN DENGANMU TIAP HARI...BERHENTILAH NGOMONG SESUATU YANG MENYESATKAN KAYAK GITU! AKU NGGAK ADA NIAT MAIN KAYAK GITU SAMA NEE-SAN!"

SIALAN! DIA KESEL! NGGAK BISA APA DIA TINGGAL MAIN KASAR?! KENAPA DIA HARUS NYIKSA DENGAN CARA KEJAM BEGINI! ORANG INI KELEWATAN!

"A, Akihisa-kun...bermain dokter-dokteran dengan kakakmu sendiri..."

"Aki...melakukan itu dengan kakak kandungmu itu melanggar hukum..."

FUOOOOOOOHHH! NOH KAN, MEREKA SALAH PAHAM!!

"NEE-SAN! OMELIN AKU NTAR SEMAUNYA, BETULIN ITU TADI!"

"Aki-kun, kenapa kamu panik? Oh iya, seragam perawat yang nee-san berikan kemarin dimana?"

"JANGAN TANYA SEKARAAANG!"

NYOLOT! ORANG INI NYOLOT! KALO AKU TAU BAKAL JADI KAYA GINI AKU MENDINGAN CAMPING DILUAR!

"Dan juga, aku akan mengurangi 150 poin karena hubungan yang tak pantas."

"150? 150 KEBANYAKAN! AKU BAHKAN BELOM NGAPA-NGAPAIN!!"

"...'belum'?...aku kurangi lagi 200 poin."

"FUWAAAHHHHH!!! NEE-SAN BEGOOO!!"

200 POIN! KENAPA AKHIRNYA MASUK KE KONDISI YANG AKU NGGAK BISA PERBAIKI GIMANAPUN JUGA!

"...Sori, Akihisa...aku ambil balik kata-kataku..."

"Iya...makasih, Yuuji...ini pertama kali aku bisa ngerasa tersembukhan oleh Yuuji sejak aku lahir..."

Aku belum bisa menyiapkan mental karena pakaian dan sikap kakakku. AKU PADA DASARNYA MEMPERTARUHKAN NYAWA UNTUK BERANI-BERANINYA BERLAKU SEMBARANGAN DIDEPAN ORANG INI!

"Maaf telah keluar topik. Boleh saya tahu nama kalian?"

"Ah, iya, mohon maaf karena belum memperkenalkan diri. Saya Himeji Mizuki, teman sekelas Akihisa-kun."

"Saya Shimada Minami, dan−"

Minami tiba-tiba melirikku sesaat setengah selesai berbicara.

"−Aku berteman dengan Aki."

Hmm.


Notes[edit]

  1. Akihisa membicarakan tentang perpindahan sekolah Himeji, sementara Himeji menyalah artikannya menjadi "perpindahan agama" karena keduanya ditulis dalam bentuk furigana "Tenkou"
  2. Peribahasa Cina, dalam bahasa Inggris disebut “One Takes on the Color of One’s Company”. Artinya sesuatu/seseorang disekitar anda akan mempengaruhi anda.