Boku Wa Tomodachi Ga Sukunai:Jilid1 Sena Kashiwazaki

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Sena Kashiwazaki[edit]

Sehari setelah kami menempelkan poster recruitment, seusai sekolah-

Mikadzuki...Maksudku, Yozora dan aku tiba di ruang kegiatan Klub Tetangga.

Dengan arogan Yozora bersantai di sofa, tertawa sinting dan mengumumkan,

“Akhirnya hari ini kita akan memulai aktivitas klub kita.”

“Atau lebih tepatnya, kita akan menentukan aktivitas apa yang akan kita lakukan.”

Aku masih ga ngerti kegiatan macam apa yang dilakukan klub ini. Aku benar-benar ga punya bayangan sedikit pun.

...Malah, aku sendiri masih bingung kenapa aku mau bergabung.

“Untuk sekarang aku cuma butuh teman, jadi ga ada masalah asalkan kita bisa dapet anggota baru. Dan semua yang perlu dikerjakan sudah kita lakukan kemarin.”

“...Aku tetap ga yakin ada orang di sekolah ini yang melihat poster itu dan memutuskan buat bergabung.”

“Kamu masih ngomong kaya gitu? Sudah pasti poster itu akan menarik perhatian domba-domba tersesat, yang sampai sekarang, masih mencari teman di sekolah ini. Aku yakin itu.”

“Dari mana kamu bisa dapet kepercayaan diri sebesar itu?”

Aku benar-benar dibuat takjub olehnya.

Dan kemudian, saat itu juga.

---Tok Tok

Seseorang mengetuk pintu.

“---?!---!”

Terkejut, Yozora dan Aku melirik satu sama lain.

“Kelihatannya kita bakal punya anggota baru sebentar lagi.”

Kata Yozora penuh kemenangan.

“...Yang bener aja. Paling cuma penasihat klub atau semacamnya.”

Yozora dan aku berdiri dan membuka pintu.

Berdiri di depan kami, seorang murid perempuan berambut pirang dan bermata biru.

Badannya sangat langsing; dadanya, sangat montok. Dia punya tubuh yang indah layaknya seorang model. Meski matanya terlihat sedikit kejam, wajahnya sangat cantik. Ada aura elegan yang mengelilinginya.

Kalau kamu membandingkannya dengan Yozora, yang wajahnya juga cantik (dan hanya wajahnya), tapi selalu melankolis, dan selalu mengerjakan sesuatu dengan sembrono, perbedaan keanggunan mereka seperti malam dan siang. Dia benar-benar tipe bishoujo yang jarang terlihat.

Dilihat dari warna emblem dan seragamnya, dia juga murid tahun kedua sama seperti kami.

“Apa ini Klub Tetangga? Aku mau bergabung.”

Kata gadis itu.

“Bukan.”

BAM!

GACHAN!

Dalam satu rentetan aksi yang cepat, Yozora menjawab, menutup pintu, dan menguncinya.

“Eeeeeehhh?! Tunggu, Yozora?!”

Yozora kembali ke sofa seolah-olah tidak ada yang terjadi.

“Oke, ayo kita mulai kegiatan klub.”

“Tidak, tunggu dulu! Barusan ada orang yang datang dan minta bergabung?! Dan dia siswi tahun kedua! Bukannya dia orang yang tepat buat jadi temanmu?”

“Hahaha, omong kosong, dasar berandalan-kuning lumpur. Aku udah punya teman perempuan kok, ya kan Tomo-chan?”

Yozora, dengan senyum yang menawan, mulai ngobrol dengan teman udaranya.

“Hei hei...”

...Berandalan-kuning lumpur, maksudnya aku? Memang sih warna rambutku lebih mirip kuning lumpur daripada kuning emas.

Cewek tadi masih mengetuk pintu dari luar.

Meski kami bisa mendengar cewek di luar mengetuk pintu dengan keras, tapi isolasi suara di ruangan ini cukup bagus. Orang luar tidak bisa mendengar percakapan di dalam.

Dengan sebal Yozora berdiri lagi dan membuka pintu.

“Kenapa kamu tutup pintunya! Aku mau gabung dengan-”

“SEMUA ORANG NORMAL LEBIH BAIK PERGI KE NERAKA!”

BAM!

GACHAN!

Setelah dia mengatakan hal yang seharusnya tidak boleh diucapkan karakter perempuan utama, Yozora menutup pintunya lagi.

Sekilas aku sempat melihat ekspresi kaget di wajah cewek itu.

“......Eh, jangan jangan kamu kenal cewek tadi ya?”

Aku bertanya ke Yozora, yang kembali duduk di sofa.

“Aku ga kenal dia secara personal- Aku tahu nama dan wajahnya, tapi kita ga pernah bicara satu sama lain.”

Sambil bicara, Yozora mengeluarkan catatan kecil dari tasnya.

Dia melanjutkan dengan sebal.

“Kelas 2-3, Sena Kashiwazaki... putri tunggal dari kepala sekolah kita. Cowok-cowok selalu mengikutinya seperti anjing piaraan yang berusaha menyenangkan majikannya. Dan dia selalu bertingkah seperti tuan puteri, benar-benar orang yang menyebalkan.”

“...Ehh, jadi gitu ya...”

Meski kami belum pernah bertemu, orangtuaku dan kepala sekolah adalah teman baik. Aku ingat ayah pernah bilang kalau kepala sekolah punya anak perempuan yang seumuran denganku.

“...Setauku kepala sekolah punya nama Jepang, ga kusangka kalau anaknya bakalan berambut pirang.”

Waktu Yozora mendengarku menggumamkan itu ke diriku sendiri, dia menatapku dengan kesal.

“Terus kenapa kalau rambutnya pirang. Semua cowok sama aja, kalau ada cewek pirang berdada besar, air liurnya pasti kemana-mana. Dasar mesum.”

“Enggak, bukan itu maksudku...”

Yozora memotong argumenku.

“Bukan cuma kelewat cantik, nilai akademiknya juga luar biasa, dan dia juga atlit super. Dia selalu dapat peringkat pertama di semua ujian akhir sejak tahun pertama! Bagaimana bisa ada orang kaya gitu!? Kenapa dia ga mati aja!?”

Yozora menghantam meja dengan tangannya.

“Kenapa- kenapa kamu malah marah? Bukannya mestinya kamu bangga bisa satu sekolah sama cewek luar biasa kaya dia?”

“Ha? Kamu bercanda ya?”

“Oke, mungkin ‘bangga’ agak berlebihan, tapi seenggaknya kamu pasti terkesan.”

“Kalau kamu ngeliat remaja seumuran kita, yang punya kehidupan remaja yang sempurna, apa kamu ga ngerasa jijik tanpa alasan jelas?”

“Mati sana!”

Dia udah ga bisa ditolong lagi...

“Fuun, bagaimanapun juga, kenapa cewek sempurna kaya dia mau gabung dengan klub aneh ini? Aku yakin dia dateng ke sini mau menghina kita. Kudengar dia punya kepribadian yang buruk.”

“Barusan kamu bilang ‘klub aneh ini’...”

Kami hiraukan itu untuk sekarang.

“Oke, sementara kita abaikan pertanyaan apakah dia punya kepribadian buruk atau tidak. Apa kamu yakin dia sama sekali ga punya niat bergabung dengan klub?”

Perhatianku beralih ke pintu.

Sepertinya Sena Kashiwazaki sudah pergi; aku sudah tidak mendengat suara ketukan pintu.

Tapi saat itu juga.

Tiba-tiba kudengar suara benturan keras. Sesuatu membentur jendela di belakangku.

Yozora dan aku terkejut. Kami berdua melihat ke luar jendela.

Sena Kashiwazaki sedang menempelkan wajahnya ke jendela seperti zombie dalam film. Dia melihat langsung ke dalam ruangan.

Sayang banget, wajah cantiknya jadi kelihatan aneh.

“Ap-apa apaan nih...”

Hening sesaat, Yozora akhirnya mengalah dan membukakan jendela.

“Kenapa kamu jahat banget sih? Aku kan udah bilang aku mau gabung ke klub ini!”

Sena Kashiwazaki berteriak marah. Matanya agak berair seakan mau menangis. Yozora hanya membiarkan jendelanya setengah terbuka.

“Kalau kamu ke sini cuma buat ngetawain kita, pergi sana.”

Yozora hendak menutup jendela, tapi dengan cepat Kashiwazaki menahan jendelanya dan melanjutkan:

“Aku ga ke sini buat ngetawain siapapun! Aku ke sini karena aku ngeliat posternya!”

Saat itu, dahi kaku Yozora terlihat sedikit rileks; dia menjauhkan tangannya dari jendela.

Boku wa tomodachi ga sukunaiVol1 chp3.jpg

“AKU JUGA MAU PUNYA TEMAN!”

Dengan jendela yang terbuka lebar, Kashiwazaki berteriak kepada kami.

“......”

‘chi!’ Yozora mengecap bibirnya, tapi akhirnya dia membiarkan cewek tadi masuk.




“Lihat aku, aku sempurna kan?”

Seolah-olah kami bukan apa-apa dibanding dirinya, Kashiwazaki duduk di sofa dan mengatakan hal itu dengan sombong.

“.....”

Aku mulai mengerti apa yang Yozora bicarakan barusan.

“Pintar, atletis, dan seperti yang bisa kalian lihat, luar biasa cantik. Aku cuma bisa bilang kalau aku memang secara khusus diciptakan Tuhan sebagai makhluk paling sempurna, iya kan? Kalian orang-orang biasa boleh mengeluhkan ketidakadilan dunia ini sepuasnya.”

Kashiwazaki mengatakannya seolah-olah itulah kebenarannya.

Dia menyisir rambut keemasannya dengan tangan, dan berpose seakan-akan dia orang terkenal.

“Fuun, lebih mirip sapi perah.”

Kata Yozora, yang dari tadi menatap tajam wajah kashiwazaki.

“Ah, barusan si dada-kecil bilang apa?”

Bisa kurasakan nafsu membunuh dari mata Yozora.

“...Punyaku tidak benar-benar kecil.”

“Dengan dada ‘setengah-setengah’ kaya gitu, sama aja kaya ga punya sama sekali.”

“...Kalau kubunuh semua orang yang berdada lebih besar dariku, dadaku akan jadi yang paling besar. Kamu bisa jadi korban pertama untuk rencana hebatku.”

“Jangan.”

Aku menginterupsi, karena Yozora mungkin akan benar-benar melakukannya.

Aku tidak bisa memprediksi apa yang akan Yozora lakukan dengan energinya yang berlebihan.

“...Jadi,eeh... ayo kita bahas tentang keinginanmu untuk punya teman.”

Kashiwazaki mendengar ucapanku dan mengangguk cepat.

“...Bukannya kamu selalu dikelilingi cowok-cowok?”

Tanya Yozora sambil menatap Kashiwazaki.

“Kamu ga ngerti. Mereka cuma pelayanku. Yang aku mau itu teman. Kalau bisa teman perempuan. Contohnya, kalau kamu harus masak di kelas memasak, atau membentuk kelompok waktu karyawisata, waktu guru bilang ‘buat kelompok dengan teman kalian’, aku mau teman yang bisa ada di sampingku. ”

Mungkin dia kelihatan populer dan menakjubkan dari luar, tapi di dalam dia juga punya masalahnya sendiri.

“... ‘Kashiwazaki kan populer banget sama cowok-cowok, mestinya kamu bikin kelompok sama mereka gyahaha’ Aku ga mau mendengar hal-hal memuakkan kaya gitu lagi, jadi aku butuh teman...! Aku ga mau pergi karyawisata dimana aku diperlakukan kaya bagasi tambahan, dan ga bisa main bareng sama teman sekelas...”

Kashiwazaki menjelaskannya dengan sedih.

“...Emang bener sih. Kadang aku dengar kabar kalau ada cewek yang diasingkan sama teman sekelasnya gara-gara terlalu cantik atau pintar.”

“Fuun, ga kusangka berandalan kaya kamu bakal mengerti. Kalau gitu, cepat berlutut supaya aku bisa menginjakmu, atau kamu lebih suka menjilat sepatuku?”

Kashiwazaki mengatakan hal aneh ini sambil tersenyum.

Kenapa aku ditawari diinjak atau menjilat sepatunya?

Ketika dia melihat aku memandanginya, Kashiwazaki memiringkan kepalanya, tampak bingung.

“Cowok-cowok di kelasku, kalau kubilang aku akan menginjak mereka atau menyuruh mereka menjilat sepatuku, mereka melakukannya tanpa komplain.”

Dan kemudian, wajah Kashiwazaki tiba-tiba menjadi ketakutan.

“...Jangan bilang kamu mau melakukan hal yang lebih hardcore? Benar-benar berandalan... A- Aku ga akan memakai kaos kaki ku buat memperbudakmu! Dasar mesum!”

“Aku ga mesum dan aku bukan berandalan!”

Kuprotes dengan seluruh kekuatan paru-paruku.

...Alasan orang ini tidak punya teman, bukan karena dia terlalu luar biasa, atau karena dia terlalu populer dengan cowok-cowok... Tapi karena kepribadiannya mengerikan. Akhirnya aku menyadarinya.

“Fuu... Inilah yang bisa diharapkan dari orang yang bisa memecahkan maksud dibalik poster Yozora...”

“Rasanya barusan kamu menghinaku.”

“Cuma perasaanmu aja.”

Aku menghiraukan Yozora yang masih menggerutu dan melanjutkan,

“Hey, dengan kalian berdua disini, sekarang kita semua punya teman buat main bareng, ya kan?”

“Ha?”

“Maksudmu apa?”

Yozora dan Kashiwazaki tampak terkejut.

“...Aah, apa karena kalian ga sekelas, jadi kalian ga bisa sekelompok di kelas memasak dan karyawisata?”

“”Bukan itu!””

Mereka berteriak bersamaan.

“Kenapa aku harus berteman dengan orang kaya dia?”

“Aku ga mau jadi temannya.”

Mereka terus berdebat.

“......Apa maksudmu barusan, cewek susu?”

“......Harusnya aku yang bertanya, mata kecil.”

“Matamu juga kecil.”

“Mata kecilku imut; punyamu lebih mirip musang.”

“Ah, aduh, ada orang yang ga malu manggil dirinya sendiri imut.”

“Memangnya kenapa kalau kenyataannya begitu?”

“Eh? Kenapa kamu ga mati sana?”

“Ha? Bukannya kamu, manusia yang ga berharga sama sekali, yang mestinya hilang dari dunia ini?”

......

....Yozora pernah bilang kalau mereka belum pernah bicara satu sama lain...

“Bagaimana kalian bisa bertengkar kalau kalian belum pernah bertemu sebelumnya...”

Kashiwazaki menyibakkan rambutnya dengan gelisah.

“Orang ini punya kepribadian yang menyebalkan. Di depan orang sesempurna aku, mestinya dia berlutut layaknya seorang pelayan.”

“Kamu benar-benar idiot.”

“Fufufu, nilaiku yang paling tinggi di angakatanku!”

“Ya, ya, jadi si cewek-sapi tau caranya belajar. Lihat nilainya yang menakjubkan!”

Dengan ekspresi menghina, Yozora bertepuk tangan. Wajah Kashiwazaki menjadi merah dan dengan marah dia berkata,

“...Dasar kamu... Aku akan minta papa mengeluarkanmu dari sekolah!”

“Papa? Kamu udah bukan anak kecil lagi dan kamu masih manggil orangtua papa mama, kamu ga malu? Kamu kaya gadis kecil yang masih minum susu, wow. Bisa hidup pun kamu ga merasa malu?”

“....Agu.....Kenap--.....kepribadianmu menyebalkan......!”

Dia mengepalkan tangannya dalam kemarahan.

Bahkan ada air mata di wajahnya waktu kulihat dari dekat.

Mungkin dia terlihat arogan dari luar, tapi ternyata dia benar-benar rapuh.

“Po- pokoknya!”

Kalau ini berlanjut mungkin bakal ada kontak fisik, jadi kuinterupsi dengan paksa.

“Aah?”

Mereka berdua, seolah-olah aku menginterupsi fantasi-perempuan mereka, membelalak marah kepadaku. Menakutkan.

“Jadi, Kashiwazaki, kamu benar-benar mau bergabung dengan klub ini?”

Kalau kalian bakal bertengkar terus seperti ini, tolong jangan libatkan aku.

Tapi,

“Ya, aku mau gabung. Aku bahkan membawa aplikasi pendaftaran nya.”

“Chi...” Yozora sama sekali tidak berusaha menyembunyikan kekesalannya.

“........Ada yang mau kamu katakan?”

“Ya. Keluar. Ah, maaf bukan itu. Mati sana.”

“Aku ga mau menarik ucapanku soal bergabung dengan klub ini. Tapi ga kusangka bakal ada cewek yang se-mengerikan ini disini.”

Dan kemudian Kashiwazaki menepukkan tangannya.

“Oh iya, masalahnya beres kalau kamu keluar dari klub ini! Aku benar-benar pintar, ide yang hebat!”

“Klub ini punyaku!”

“Sejak kapan klub ini jadi punyamu?”

Bantahku pada Yozora sambil menatapnya.

“Dan untuk berandalan di sana!”

Kashiwazaki berbalik ke arahku. Udah kubilang, aku bukan berandalan.

“Mulai sekarang panggil aku Sena. Kamu kuberi izin untuk memanggil nama depanku.”

“...Untuk apa?”

“Kamu memanggil musang itu dengan nama depan, tapi kamu memanggil ku dengan nama belakang. Bukannya itu berarti di benakmu aku ada di bawah dia?”

“...Oke........Sena.”

Dengan enggan aku setuju.

Entah kenapa Yozora menatapku dengan murka. Apa maksudnya?...


Intinya, inilah yang terjadi: Di hari kedua sejak dibentuknya Klub Tetangga, kami mendapat anggota baru.

......Hasilnya kelihatan jauh lebih baik di atas kertas; Pada kenyataanya, sangat merepotkan.


Mundur ke Yozora Kembali ke Halaman Utama Maju ke Perburuan