Boku Wa Tomodachi Ga Sukunai:Jilid1 Untuk Kesedihan yang Ternodai

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Untuk Kesedihan yang Ternodai[edit]

Suatu hari ketika Yozora dan aku tiba di ruang klub seusai sekolah, kami mendapati Sena sudah tiba lebih dulu.

“Yo.”

Aku menyapanya, tapi tidak ada balasan.

Dengan satu tangan memegang mouse komputer di meja, Sena memusatkan seluruh perhatian ke laptop di depannya.

Karena dia memakai headphone, kami tidak bisa mendengar apa yang sedang dimainkan di komputer.

“Berani-beraninya Daging itu mengabaikanku!”

Kata Yozora kesal.

“...... Kan aku yang menyapa dia. Lagian dia ga mengabaikan kita- dia cuma ga dengar......”

Aku mencoba mengoreksinya, dan seperti biasa Yozora mengabaikannya. Dia mengendap-ngendap mendekati Sena. Mungkin kebenciannya pada Sena lagi-lagi mendorongnya melakukan semacam rencana jahat.

Ba-chi

Tiba-tiba Yozora mencabut steker headphone dari jack-nya.

“Ap?!”

Sena berbalik dan akhirnya menyadari kehadiran kami; ekspresi tidak percaya muncul di wajahnya. Di saat yang sama, komputer mulai memainkan suara semacam ini.

Tidaaaaaaaaaaaaaak! Kalau kamu mulai bergerak sekencang ini xxx ku akan robek uuu, ah, ah, ah, rasanya enaaaaaak sekali! Pen*s besar Lucas menakjubkaaaaan! Pen*s mu menyeruduk tepat ke vag**a ku, astaga! Astaga astaga astaga! Aku merasa ada yang aneh! Ah, ada yang mau keluar, ah, ya, aha, Aku keluar, keluar, Aku keluuuuuuuuaaaaaaaar~~~~~~~~!!”

“Ahwawa!”

Panik, cepat-cepat Sena mematikan volume suaranya.

“Ngapain kamu idiot!”

Protes Sena, yang wajahnya merah padam dan berlinang air mata.

“Itu, mestinya aku yang ngomong gitu!”

Yozora juga, dengan warna merah padam yang jarang terlihat di wajahnya, membentak balik.

“Di, di ruang klub yang suci ini, berani-beraninya kamu melakukan tindakan memalukan kaya gini......!”

Diam-diam aku melirik ke layar komputer.

......Di layar ada gambar bergaya anime dimana seorang......seorang perempuan dan seorang laki-laki tampil tanpa busana; Mereka, mereka sedang......katakanlah mereka sedang menjadi satu.

“Sena......kamu......”

“Hei, jangan lihat!”

Cepat-cepat Sena membanting tutup laptopnya.

“Ja, jangan salah sangka dulu?! Ini adalah ‘Bintang Hitam Suci’[1]. Game ini akan diadaptasi menjadi anime jadi ini adalah galgame terpopuler saat ini. Game ini mengisahkan tentang petualangan fantasi dan roman yang dilalui Lucas si pandai besi dan kawan-kawannya! Adegan yang kalian lihat tadi terjadi setelah mereka berhasil menaklukkan semua rintangan dan akhirnya mengalahkan dewa kehancuran yang terakhir, Valniball, dan kemudian karakter utama, Lucas dan Cecillia, menyatakan cinta mereka satu sama lain dalam adegan yang sangat menyentuh; ini bukan adegan mesum seperti yang kalian pikirkan!”

......Cara Sena mencoba membenarkan perbuatannya, gimana ngomongnya ya...menurutku terlihat lucu.

“......Ga perduli kamu ngomong apa, fakta kalau kamu bermain eroge di ruang klub......”

Sena, mendengar balasanku, wajahnya mulai merona lagi.

“Aku, aku ga tahu!...Aku ga tahu kalau...game ini bakal punya adegan kaya gini. Setelah aku menamatkan ‘Tokimeki Memorial’ aku pergi membeli lima game lain dengan genre yang sama, tapi ga ada yang sebagus ‘Tokimeki Memorial’. Jadi aku membuka situs ‘Yafoo! Answers’ dan memposting pertanyaan “Mencari rekomendasi game yang sejenis dengan ‘Tokimeki Memorial’ dimana kita bisa berteman dengan karakter perempuannya.” Beberapa orang menjawab kalau inilah game paling populer saat ini...”

“Mungkin memang benar, tapi bukannya di sampul kotaknya ditulis, dengan sangat jelas, kalau game ini untuk 18 tahun ke atas?!”

“Iya, memang ada tulisan ‘Khusus Dewasa’ di kotaknya, tapi kukira artinya kualitas game ini sangat tinggi jadi cuma orang dewasa yang bisa menikmatinya......”

“Tafsiran baru macam apa itu?! Memang ga ada yang nanya umurmu waktu kamu beli game ini?”

“Aku cuma bertanya ke cowok-cowok di kelasku siapa yang punya ‘Bintang Hitam Suci’, dan berikan padaku kalau ada yang punya. Ga lama kemudian ada yang ngasih. Tentu aja aku ga cuma mengambil gamenya; sebagai hadiah kubiarkan dia menjadi pijakan kakiku selama istirahat makan siang. Dan kemudian aku memainkan game ini semalaman. Karena belum selesai kumainkan, akhirnya kubawa ke sekolah.”

“Dan kemudian ga sengaja kami menginterupsimu waktu lagi memainkan game ini, dan kebetulan adegan itulah yang lagi ditampilkan......”

“Tepat sekali!”

Tegas Sena kesal.

Tapi Yozora tidak menggubris penjelasan Sena sama sekali.

 

“Dasar hentai.”

 

Cemooh Yozora dengan nada yang penuh rasa jijik dan kebencian.

“Sialan! Ka, kamu ga denger apa yang aku bilang barusan?!”

Seperti ada seseorang yang menusuk dirinya tepat di jantung, wajah Sena mengernyit mendengar hinaan Yozora. Yozora juga tidak memberi ampun dan meneruskan serangannya.

“Diam kamu pelacur. Maniak seks. Perek. Lonte. Sundal. Wanita Jalang. Perempuan cabul. Boneka seks hidup. Toilet umum berjalan. Siapapun yang melakukan kontak denganmu bakal hamil.”

“Aku kan cuma memainkan game ini, kenapa aku harus dihina sampai seperti itu dasar idiot!”

Interupsi Sena.

“Ma, maksudku memang betul game ini mengandung konten dewasa! Tapi itu cuma sebagian kecil! Tema game ini sangat mendalam sampai-sampai orang yang ga punya fondasi literatur yang kuat, ga akan bisa menangkap esensi ceritanya! Ini itu seni! Meskipun kamu belum pernah memainkannya, tapi kamu mencemooh game ini hanya berdasarkan prasangka burukmu saja! Ini sama saja seperti melihat ‘La nascita di Venere’ milik Botticelli atau ‘Naked Maja’ milik Goya dan mengklaim kalau karya mereka adalah lukisan vulgar- itu benar-benar hal yang bodoh!”

Yozora mencibir dan membalas,

“Terus kenapa. Bahkan kalau memang benar game itu adalah seni- kamu, yang dengan wajah mesum menatapi adegan cabul itu, sama sekali ga punya dasar ataupun kredibilitas sebagi pijakan. Aku tidak mencemooh gamenya; Aku hanya menyebut orang yang dikenal sebagai daging, adalah seorang hentai! Hentai seperti kamu mencoba membawa-bawa nama karya seni sebagai tameng untuk mengelabui fakta kalau kamu bermain eroge di ruang klub. Ini penistaan bagi seni!”

“Kuuu......”

Air mata mulai turun ke wajah Sena.

......Seperti biasa, Yozora menyampaikan ejekan ganasnya yang berlebihan dengan tenang. Dan kemudian, kepada orang yang dikenal sebagai daging, dia berkata,

“Jadi akui saja. Akui kalau kamu memang hentai. Akui kalau sebenarnya kamu ga perduli tentang nilai seni dan tema yang mendalam- kamu cuma pelacur yang terangsang dengan konten erotis di game itu. Akui!”

Cela Yozora dengan girang.

“Engga, engga......! Aku cuma ingin berteman baik dengan Cecilia......! Hubunganku dengan Cecilia itu tulus! Kami ga merasakan emosi vulgar semacam itu! Bahkan pada adegan ini sekalipun!”

Sena membuka laptopnya lagi. Gambar yang sebagian mosaik namun sebagian besarnya lagi gambar telanjang muncul di depan Yozora.

Wajah Yozora langsung merah padam.

“Aku bukan hentai! Kamu mengerti? Bahkan waktu melihat gambar ini pun aku ga menganggap kalau gambar ini senonoh! Aku paham kalau kita harus melihat karya seni sebagai sebuah karya seni; Yang hentai itu kamu! Kamu cuma bisa melihat adegan indah ini sebagai adegan mesum. Fakta kalau kamu ga punya kepekaan terhadap nilai seni adalah sebuah tragedi! Orang-orang seperti kamu ini yang nantinya akan tumbuh menjadi seperti Agnen Chaso atau Satoyo Damimikuchiuko [2], dan mengatakan hal-hal yang ga masuk akal seperti kita harus memaksakan ideologi kepada masyarakat modern atau bakar semua buku-buku!”

......Tidak. Mengklaim kalau adegan hentai dari game erotis itu tidak erotis sama sekali- justru itu yang ga masuk akal.

“O, oke Daging, kalau gitu kamu baca keras-keras dialog dari adegan ini!”

Saran Yozora, sambil menghindari menatap langsung layar komputer.

“Apa......?!”

Yozora, yang menyadari kalau dia menemukan titik lemah Sena, menyeringai pada Sena dan berkata,

“Kalau memang adegan ini murni seni dan bukan adegan mesum, pastinya kamu ga akan malu membacanya keras-keras, karena ini adalah karya seni, ya kan? Oh, atau kamu mau bilang kalau game ini cuma game cabul murahan dan tidak punya nilai seni sama sekali?”

“Itu, itu ga benar!”

Sena menyangkal tudingan Yozora.

“Baiklah. Baca kalo begitu.”

“Me, meskipun ini bukan game cabul, tapi tetep aja aku malu kalo harus membaca hal memalukan kaya gini keras-keras! Dan itu bukan karena konten nya memalukan- tapi karena aku malu kalau harus membacakannya di depan orang lain!”

“......Begitu ya, kalau gitu aku juga akan membacakan sesuatu.”

“Ha?”

Sena, mendengar kompromi yang tak terduga dari Yozora, menjadi terkejut.

“Aku bilang aku juga akan membacakan sesuatu, supaya kamu juga akan membacakan dialog adegan itu untukku. Ini kulakukan supaya kamu ga membaca sendirian. Kalau aku juga ikut membaca, kamu ga bakalan malu. Ini sama aja seperti waktu semua murid bergantian membacakan paragraf di kelas literatur.”

“Itu, itu......memang masuk akal.”

......Masa sih?

“Aku udah murah hati memberikan kompromi; kalau setelah ini kamu masih mau lari, tindakanmu membuktikan kalau game ini bukan seni yang sesungguhnya, dan kamu hanyalah seonggok daging mesum, dan paling-paling karakter utama perempuan di game ini cuma pelacur murahan yang bisa dipakai siapa saja dengan harga 10 ribu yen.”

“Aku ga akan membiarkan siapapun menghina Cecilia seperti ini! Ga perduli apapun yang terjadi pada Cecilia, dia selalu berpegang teguh pada keyakinannya. Aku sangat menghargainya! Jadi aku akan hidup seperti dia dan tidak akan melarikan diri! Kalau cuma ini yang bisa kamu katakan, maka aku akan membacakannya! Lebih baik kamu tidak melarikan diri!”

Ahhh, dia termakan provokasi Yozora.

“Bagus! Kalau begitu kamu akan membacakan adegan dari game itu. Sementara aku......Aku akan membacakan salah satu puisi milik Chuya Nakahara dari buku literatur. Ahh memalukan sekali memalukan sekali. Aku akan membacakan puisi.”

“Hah?! Tu, tunggu sebentar!”

Cepat-cepat Sena menyela Yozora.

“Apa ada masalah? Aku akan membacakan karya seni dari buku literatur, kamu daging akan membacakan paragraf artistik dari game milikmu itu. Sama saja kan. Maksudku, kita berdua akan membacakan karya seni kita masing-masing, ya kan?”

“……! ~~~~~~~~~!”

Sena, akhirnya sadar kalau dia sudah jatuh ke perangkap Yozora; bibirnya mulai gemetar. Dengan berlinang air mata, dia menatap Yozora.

“O, oke kalo gitu! Aku akan membacakannya! Paragraf artistik dari ‘Bintang Hitam Suci’! Jangan sampai kamu menangis karena terharu!”

Pasrah pada nasibnya, dengan putus asa Sena berbalik ke komputernya. Dia memutar balik gamenya sampai ke adegan erotis tadi.

“A, aku akan mulai membaca......”

“......Mulai”

Kata Yozora yang terlihat sedikit gugup.

“......Lu......Lucas......cepat......ke, ke Valniball ku yang basah......”

“Lebih keras!”

“Gu......ke, ke Valniball ku yang basah! Gunakan pedang hitam suci mu yang bersinar, keras dan tebal, dan tusukkan ke dalam......”

Dengan gemetar Sena membaca satu per satu kata-kata yang ada di layar.

“Kamu sudah sangat basah, padahal aku baru menggunakan jariku. Kamu benar-benar...na, nakal jadi, jad......hah”

Barusan adalah dialog karakter utamanya, Lucas.

Karakter utama macam apa si Lucas ini?! Tadi itu kan termasuk pelecehan seksual.

“’Jangan......jangan ngomong begitu Lucas......”Fu, wajahmu sudah bernafsu sekali, dasar pe......babi pelacur! Kamu lihat, kalau kamu menginginkannya, kamu harus memohon dengan lebih tulus!’......Uuuu......”

......Ngomong-ngomong, ‘uuuu’-nya tadi bukan berasal dari paragraf.

“’......Ku,kumohon......tu,tuan......Pedang, pedang sucimu......tusukkan ke dalam bagian lembutku di sini......kumohon.”Fufufu, namanya bukan pedang suci. Sebut nama aslinya. Jadi kamu ingin aku menusukkan apa ke mana? Hah?’......uuu......hikku......!”

Seshiriya......Maksudku, Sena membacanya sambil berlinang air mata.

“Fufu......Cepat, baca. Cecilia ingin apa ditusukkan ke bagian yang mana?”

Kata Yozora.

Pipi Yozora merah membara; matanya penuh dengan ketamakan.

......Kemungkinan besar Lucas juga punya ekspresi yang sama di wajahnya.

“~......Pe,pe,pe......pen, pen milik Lucas.....ke, ke, ke dalam va......va,va......... vagi……MANA MUNGKIN AKU BISA MEMBACANYA KERAS-KERAS IDIOT

AHHHHHHHHHHHHHHH-------------!!”


Tidak bisa lagi menahan emosinya, Cecilia, eh bukan maksudku Sena akhirnya lepas kendali. Bagaikan kelinci, dengan cepat dia berlari keluar dari ruang klub.

Dan kemudian dia berbalik ke Yozora, yang sedang berdiri di depan jendela yang terbuka, dan berteriak,


“DASAR YOZORA TOLOL AKU HARAP KAMU MATI-------------!!”

Seperti bocah SD, dia mengumpat, menangis, dan pergi.

Dalam keheningan, aku dan Yozora berbalik dari pintu ke jendela yang terbuka.

“......Hei, kayanya kali ini kamu agak kelewatan?”

“......Aku sudah mulai merefleksikan perbuatanku barusan.”

Setelah mendengar pertanyaanku, untuk pertama kalinya Yozora mengakui kalau perbuatannya memang agak kelewatan.

“......Kamu tahu, waktu Daging membacakan paragraf tadi, sebenarnya aku merekamnya. Hasil karya yang langka ini harus kuunggah ke NicoNico[3]. Judulnya adalah ‘Siswi SMA Bermain Eroge dan Mengerang di Saat yang Bersamaan.’”

“Kamu ini setan ya?”

“Cuma bercanda.”

Dan kemudian kami berdua mengalihkan pandangan kami jauh keluar jendela.

Untuk kesedihan yang ternodai, hari ini juga salju turun.

Untuk kesedihan yang ternodai, hari ini juga angin bertiup kencang.[4]

Dan Yozora, sesuai janjinya, dengan lembut membacakan puisi dari Chuya Nakahara.


Translation Notes[edit]

  1. Parodi untuk 'The Sacred Blacksmith' (Seiken no Burakkusumisu).
  2. Parodi untuk Agnes Chan dan Noda Seiko. Dikenal karena menentang anime dan manga yang mengandung unsur loli
  3. Sebutan untuk NicoNicoDouga. Situs web terkenal di Jepang yang sejenis dengan Youtube.
  4. Dalam bahasa Jepang, puisi ini berjudul ‘Yogorechimatta Kanashimi ni’ yang kemudian di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘To the Tainted Sadness’ dan dalam versi manga nya menjadi ‘Upon the Dirtied Sorrow’. Dan kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi ‘Untuk Kesedihan yang Ternodai’. Judul bab diambil dari judul puisi ini.


Mundur ke Kondisi Rumah Tangga Keluarga Hasegawa Kembali ke Halaman Utama Maju ke Legenda Momotaro