Boku wa Tomodachi ga Sukunai:Jilid2 Percakapan Roman Tiga Kerajaan Kodaka

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Percakapan Roman Tiga Kerajaan Kodaka (Kobato masuk dalam Flag)[edit]

Sepulang sekolah.

Aku pergi ke perpustakaan untuk belajar ketimbang ke ruang klub.

Alasan lainnya aku ingin membuang image buruk yang kumiliki sepanjang sekolah,tapi selain itu aku hanya ingin menyelesaikan semua pekerjaanku di kelas.

Bukannya aku buruk dalam belajar,faktanya nilaiku cukup rata rata dalam tes,namun karena kepindahanku dan beberapa hal lainnya,ada sedikit celah diantara aku dan para siswa lainnya.

Di sekolahku sebelumnya kami mendapat pelajaran matematika yang lebih banyak,jadi mudah saja.

Buku cetak Bahasa Jepang dan Inggris disini sangat berbeda dari yang kugunakan sebelumnya,jadi perlu waktu untuk membiasakannya.

Biologi pada dasarnya sama dengan sekolahku yang dulu jadi tidak ada masalah.

Masalah utamanya adalah Sejarah Dunia.Karena ini adalah Sekolah Misionaris,kita diwajibkan belajar tentang banyak hal mengenai Zaman Pertengahan Eropa,namun level disini sungguh gila.Mereka mengharuskanku mengetahui rincian yang super spesifik tentang hal ini dan itu yang sebelumnya tak pernah disebut sama sekali di sekolahku yang dulu.

Dan bukan hanya sejarah.Hal yang sama terjadi sesekali dalam Teologi dan Pelajaran Agama juga,dan saat itu terjadi aku tak bisa memahami apa yang berlangsung di kelas sama sekali.

Sungguh gila mereka menyuruh kami mengingat nama setiap Paus yang pernah ada.

Juga bukan hanya terjadi di sekolah ini,tak ada dua Guru Sejarah yang serasi.Beberapa menghabiskan lebih dari tiga bulan membahas Zaman Jomon,beberapa tak berbuat apa apa selain membahas tentang Zaman Heian bahkan meski seharusnya kita berada di kelas Sejarah Dunia,beberapa seenaknya membahas hal paling terperinci dari “Roman dari Tiga Kerajaan” (Guru semacam ini yang paling umum),dan sisanya terus terusan membahas tentang Nazi Jerman.Memang tak semuanya membosankan,namun dipaksa mengikuti apapun yang Guru inginkan sangatlah menyebalkan.

Pokoknya,memprotes sebanyak mungkin takkan merubah apapun,karena itulah aku sesekali datang ke perpustakaan untuk mempelajari ilmu sejarah.

Aku memegang sebuah buku tebal yang isinya takkan pernah muncul dalam jutaan tahun di tes kami dan mulai membolak balik halamannya.

Akademi ini bekerja dengan sistem semester,sehingga ujian semester pertama kami diadakan bulan September.

Saat ini permulaan Juli.

Kalau aku belajar sedikit sesekali dari sekarang sampai akhir liburan musim panas aku pasti mampu mendapatkan nilai lumayan dalam ujian.

Saat aku memikirkan itu,aku mendengar ‘geh’ dari belakang dalam suara yang terdengar jijik.

Aku menoleh dan bertemu dengan Gadis muda berambut perak bermata biru dalam busana Suster.Ia adalah Maria Takayama.

“...Yo.”

Aku sedikit bingung bagaimana harus bicara padanya karena dia adalah Guru,namun bersikap formal pada Gadis berusia 10 tahun akan terasa aneh jadi aku menyapanya dengan kasual.

Yozora berbicara secara normal dengannya jadi kurasa tidak apa apa.

“Kenapa salah satu anak buah Yozora ada di perpustakaan.......”

Ujar Maria dengan nada penuh kekecewaan.

“Aku sedang belajar.”

“Belajar? Tidakkah menurutmu itu terlalu berlebihan untuk jeruk busuk sepertimu? Hahaha,tak peduli sekeras apapun sampah sia sia belajar akan tetap sebagai sampah sia sia.Lekas pergi dan keluar dari sekolah ini saja dasar potongan sampah tak berguna!”

Ternyata masih Suster kecil bermulut kasar yang sama.

“Ngomong ngomong,kenapa kamu ada disini,Maria?”

“Sudah jelas kan? Aku lagi membuang waktu selagi Yozora memakai ruanganku untuk klubnya.”

Balas Maria,sepertinya dengan nada tidak suka.

“Kenapa kamu tak berada di ruangan itu saja dengannya.....”

“Karena dia akan terus mempermainkan aku.”

Dia benar benar tak menyukaimu Yozora......sejak kemarin aku sudah menduga hal ini.

“Apa kamu selalu datang kesini sepulang sekolah?”

“Yep.”

“Rasanya aku belum pernah melihatmu datang kesini sebelumnya.......”

“Itu karena aku selalu bersembunyi jauh di kursi jauh didalam sana jadi tak ada yang menyadariku disini.”

“Kenapa harus bersembunyi? Aku ragu Yozora akan mengejarmu jauh jauh sampai kesini.”

Kemudian Maria membalas dengan arogan.

“Kamu bahkan nggak menyadari itu,idiot!? Itu karena kalau Suster lain menemukanku mereka akan membentakku ‘jangan bermalas malasan dan kembali bekerja!’”

“Berhenti bermalas malasan dan kembali bekerja!”

“Nggak mau.”

Ujar Maria sambil duduk di kursi berseberangan dariku,dan mulai membaca buku yang dia bawa sambil mengayunkan kakinya.

Buku yang dia baca adalah Jilid ke-47 dari versi manga Yaminibu Tatekawa dari “Roman dari Tiga Kerajaan” (Total ada 60 Jilid)

“’Roman dari Tiga Kerajaan’ Tatekawa ya? Jadi teringat masa lalu.”

Ujarku,yang dibalas oleh Maria,

“Apa kamu sudah membacanya,Kodaka?”

“Sudah nggak kehitung.Pergi ke sekolah manapun pasti bisa menemukan ‘Roman dari Tiga Kerajaan’ karya Tatekawa.”

Jumlah manga dan novel ringan dan hal hal semacamnya sangat beragam diantara tiap tiap sekolah,namun satu hal yang paling mencolok adalah keberadaan ‘Roman dari Tiga Kerajaan’ karya Tatekawa.

Aku memang bukan penggemar yang sulit membaca buku,jadi kapanpun aku berada di sekolah yang tak memiliki banyak manga,aku menghabiskan waktuku membaca dan membaca ulang ‘Roman dari Tiga Kerajaan.

“Begitu.Nggak buruk kalau kamu sudah membaca ‘Roman dari Tiga Kerajaan’ meski cuma karya yang payah.”

Ujar Maria dengan senang.

“Aku sudah banyak membacanya juga,sekitar 30 kali sekarang.”

“Kamu sudah membacanya sebanyak itu?”

“Ya,’Roman dari Tiga Kerajaan’ adalah satu satunya manga yang bisa kubaca tanpa dimarahi si Tua Bangka.”

“Tua Bangka?”

“Suster Kate.Dia seperti......bossku kurasa.Dia Tua Bangka yang super menyeramkan.”

Ujar Maria dengan nada yang terasa jauh.

Aku memang tak paham,tapi kurasa para Suster punya banyak aturan berbeda yang harus mereka taati dibandingkan Guru biasa atau pebisnis.

“Jadi itu artinya kamu menyukainya?”

“Ya,aku menyukainya.”

Ujar Maria senang dengan anggukan kecil.

“Oh sungguh.......ngomong ngomong siapa Komandan favoritmu?”

“Zhuge Liang!”

Jawab Maria,penuh energi.

“Ohh......Zhuge Liang ya.”

“Aku suka Zhuge Liang karena dia cerdas.Dia membantai semua musuh bodohnya dengan rencana briliannya.Dia sama jeniusnya dengan aku!”

Kalau harus kukatakan,Maria juga salah satu dari ‘musuh bodoh’ itu yang jatuh dalam jebakan Zhuge Liang,tapi hal itu hanya kukatakan dalam hati.

“Terus siapa yang kamu sukai,Kodaka?”

“Hmm.....banyak yang kusukai,tapi mungkin aku paling suka dengan Zhang Liao.”

“Haaa? Zhang~ Liao~?”

Maria tertawa oleh jawabanku sambil membuat wajah yang seolah mengatakan ‘Apa pria ini dungu?’

“Kamu nggak punya selera,bagaimana bisa kamu menyukai pria membosankan itu!? Zhang Liao bahkan tak melakukan apa apa selain adegan itu ketika dia berbincang dengan Guan Yu!”

Ugh......yang satu itu membuatku kesal.

“Ya,karena ‘Roman dari Tiga Kerajaan’ karya Tatekawa lebih terfokus di pihak Wei,banyak adegan Cao Cao dipotong sehingga Zhang Liao nggak banyak muncul,tapi dia memang hebat.Dalam adaptasi ‘Roman dari Tiga Kerajaan’ lain,dia memainkan peran yang lebih besar dan salah satu dari Komandan terbaik dan paling bijaksana yang pernah ada.”

“Ugh......aku belum baca versi yang lain.....Ja-Jadi siapa yang lebih kuat? Zhang Liao atau Zhuge Liang?”

“Zhang Liao biasanya muncul dalam peperangan bersama Wu,jadi dia nggak pernah bertarung berhadap hadapan dengan Zhuge Liang......tapi Zhang Liao memang luar biasa.Ketika Zhang Liao masih muda dia adalah salah satu bawahan Lu Bu,selain itu.......”

Aku mulai menceritakan Maria tentang kemampuan hebat Zhang dan anak buahnya.

...............................

....................

...........

15 menit kemudian.

“He.....Hebat! Zhang Liang sangat luar biasa!”

Ujar Maria usai aku selesai berbicara,yang matanya terlihat sangat berbinar binar.

“Zhang Liang begitu kuat dan keren! Dibandingkan Zhang Liao,Zhuge Liang hanya pecundang dan potongan tahi!”

“Apa iya?”

Memang,Zhuge Liang memiliki prestasinya sendiri,tapi aku tak bisa bilang kalau aku cukup menyukainya.

Aku hanya senang karena Maria menyukai Zhang Liao sekarang.

“Kodaka kamu tahu tentang banyak hal rupanya.Siapa lagi yang kamu sukai selain Zhang Liao?”

Tanya Maria,dengan mata masih berbinar binar.

“Favorit keduaku mungkin Wei Yan.”

“Ehhh~ Wei Yan~ !”

Maria membuat wajah seolah olah dia baru melihat hal menjijikkan oleh jawabanku.

“Wei Yan hanya pengkhianat menyedihkan yang membuat dirinya sendiri terbunuh.Zhuge Liang masih jauh lebih baik dari Wei Yan karena dia bahkan memprediksi pengkhianatan Wei Yan!”

Hmmm........kalau kamu hanya membaca versi Tatekawa berarti itulah bagaimana kamu melihatnya.

“Memang benar kalau Wei Yan dibenci di China,namun itu hanya image buruk yang mereka berikan untuk membuat Zhuge Liang terlihat hebat.Karena hubungan buruknya dengan Zhuge Liang yang membuatnya sangat dibenci.Dia sebenarnya hanya Komandan yang kurang beruntung.Kenyataannya,Liu Bei menaruh kepercayaan besar pada Wei Yan dan Wei Yan selalu membuktikan dirinya pantas dipercaya.Ada banyak karya akhir akhir ini yang berfokus pada tragedi Wei Yan dan kejatuhannya.”

Aku mulai menceritakan Maria tentang betapa setianya Wei Yan pada Liu Bei,dan bagaimana karena kurangnya keahlian memimpin yang akhirnya membuat ia menemui akhir yang tragis.

Tak mempercayai seseorang hanya karena “Dia mungkin akan mengkhianatimu” terasa tidak adil.

Kau dan aku ternyata sama,Wei Yan.......

......15 menit kemudian.

“W-Wei Yannnn!”

Aku menyelesaikan ceritaku,dan Maria sudah berurai air mata kesedihan pada Wei Yan.

“Uuu,Wei Yan yang malang! Wei Yan sudah berjuang baik! Dia memberi semua yang ia punya! Zhuge Liang yang terburuk! Orang brengsek itu seharusnya jatuh ke neraka dan tak pernah kembali lagi!”

Memang,Zhuge Liang bekerja keras dalam rencananya juga,namun aku tak bisa menyukainya atas perbuatannya terhadap Wei Yan.

“Baiklah Kodaka! Katakan padaku manga mana yang banyak menunjukkan Zhang Liao dan Wei Yan!”

“Hmm,begini.......”

Aku menyebutkan beberapa adaptasi manga ‘Roman dari Tiga Kerajaan’ yang lain.

Maria mengangguk dan menulis tiap tiap judul yang kusebutkan di tangannya dengan pen marker,kemudian.

“Oke,sekarang aku tinggal membujuk si Tua Bangka untuk membelikan ini semua!”

Maria melompat dari kursinya penuh energi,dan berlari keluar dari perpustakaan membuat suara langkah keras sepanjang ruangan.

.....Kemudian,setelah aku selesai belajar dan tengah berjalan ke ruang klub,aku melewati ruang pengakuan didalam kapel,dan melihat Maria tengah duduk di depannya dengan tanda disekitar lehernya yang terbaca “Aku tak melakukan pekerjaan yang harus kulakukan.Maafkan aku.”

Sepertinya bujukannya gagal.

“Dan seperti itulah aku membuat fan baru Zhang Liao dan Wei Yan hari ini.”

Aku bercerita pada Kobato tentang percakapanku dengan Maria malam itu selagi makan malam.

“......Aku nggak menganggap ‘Roman dari Tiga Kerajaan’ menyenangkan.Kanjinya terlalu susah dibaca.”

Ujar Kobato setelah menyelesaikan ceritaku,entah kenapa dengan wajah cemberut.

“Kupikir aku akan membawakan Maria beberapa manga ‘Roman dari Tiga Kerajaan’ besok.Aku penasaran yang mana yang harus aku bawa.”

“.......Kalau kamu punya waktu memikirkan hal semacam itu lebih baik pikirkan lagi tentang persembahanmu padaku.”

Ujar Kobato,jelas nampak sewot.

“Ah......”

Akhir akhir ini persembahanku........gimana bilangnya ya,dengan makan malam,waktuku tersita banyak jadi kualitas makanannya menurun dan variasinya juga tidak banyak akhir akhir ini.

Apa boleh buat karena ada kegiatan klub yang harus kuikuti,tapi aku ragu Kobato bisa menerima itu.

Mungkin karena itulah akhir akhir ini dia kelihatan terus bad mood.

Manusia adalah makhluk yang takkan bahagia kalau tak menerima makanan yang bagus,jadi aku bisa paham perasaannya.

“Baiklah,aku akan lebih berusaha lagi sebisaku.......”

Ujarku,mencoba menyelesaikan masalah untuk sekarang.


Mundur ke Busuk Kembali ke Halaman Utama Maju ke Romancing Saga