Boku wa Tomodachi ga Sukunai:Jilid2 Takayama Maria

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Takayama Maria (& Kobato bergabung di Flag)[edit]

Sepulang sekolah.

Saat memasuki ruang klub tetangga, terdapat gadis kecil yang tengah tertidur lelap di sofa.

Rambut perak dengan kulit seputih salju—orang luar negeri.

Kuu, kuu, dengkuran kecil imut terdengar dari wajah lugunya.

Dari tinggi dan penampilan wajahnya, dia terlihat seperti anak Sekolah Dasar.

........Kenapa ada gadis kecil asing di ruang klub?

Aku memiringkan kepalaku,

“Hei.......”

Pokoknya, aku harus membangunkannya, dan mencoba menyentil pipinya dengan jariku.

Woah, lembut.

Sentil,sentil.

“Uhn.......”

Meskipun si gadis kecil sedikit menggeliat, dia masih tak bangun.

Sentil sentil sentil sentil.

Aku terus menerus menyentilnya.

Entah kenapa, rasanya seperti berubah jadi kebiasaan.

“Uuhn.........”

Setelah melepaskan rintihan lembut, ia kembali ke tidur panjangnya.

Dan pada saat itu, aku baru menyadari kalau dia mengenakan pakaian Suster.

Berarti, apa maksudnya gadis kecil ini adalah Suster?

Di sekolah misionaris Katolik Saint Kuronika, ada sejumlah Suster yang dikirim dari Gereja untuk mengajarkan Teologi dan Moral.

Meski begitu, sampai ada anak kecil segala—

Pikirku seraya terus menyentil pipinya.

.......(Buka)

Saat mendengar suara terbuka, aku menoleh dengan takut takut, dan berdiri di pintu masuk ruang klub, terdapat Yozora, Sena, dan Yukimura.

Di tangan Yozora terdapat sebuah ponsel.

“.........Aku baru mengambil foto seorang Yankee tengah mempermainkan gadis kecil yang tertidur........”

“Kodaka...........apa kamu lolicon?”

Wajah Yozora dan Sena tampak masam.

Mempermainkan gadis kecil yang tidur—tidak, memang kata kata itu tak memiliki makna yang mendalam namun, entah kenapa, aku merasakan ada nada tidak senonoh muncul dari kata kata itu!

“Bukan, bukan itu! Aku nggak punya niat semacam itu!.......”

“Itu akan dinilai oleh orang orang yang melihat foto ini........yang penting sekarang, aku akan menguploadnya ke gambar tema di papan buletin sekolah.”

Cukup menyeramkan mendengar nada serius Yozora dalam mengucapkan itu.

“Seperti yang saya duga dari Aniki. Bahkan anak kecil tak mampu lolos dari jangkauan anda.”

“Aku nggak berbuat apa apa padanya!”

Aku berteriak pada Yukimura yang melihatku dengan tatapan hormat dan baru mengatakan hal hal diluar pikiran.

Aku merasa situasi akan makin gawat kalau aku tak segera membetulkan pandangannya tentang bagaimana seharusnya menjadi ‘lelaki sejati’...........

Hmph, sepertinya agak kesal, Yozora mencibir melalui hidungnya.

“Oke, mengupload foto itu hanya lelucon. Namun, nggak lucu kalau ada anggota klub melakukan hal hal tidak senonoh yang bisa merusak nama baik klub. Selera mesum Kodaka adalah rahasia diantara kita........”

“Sudah kubilang, itu nggak benar!”

Dan, pada saat itu.

“Hn........Hwah!?..........”

Mata si gadis kecil terbuka, mungkin karena mendengar keributan ini.

Mata kami bertemu.

“Siapa, siapa kamu?”

Memiliki sepasang mata indah yang terbuka lebar karena kaget, rambut perak si gadis kecil tergerai seiring ia mencoba berdiri.

Tak lama kemudian, saat ia melihat ke arah Yozora dan anggota lainnya, ekspresinya berubah menjadi ketakutan.

“Gyaaaa! Mi-Mikazuki Yozora........!”

“Lama tak jumpa, Maria. Selamat datang di ruang klubku.”

Ujar Yozora.

Maria.......? sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya.

“Fugugugug......” dengan sepasang mata tajam mirip seekor kucing yang baru saja diprovokasi, si gadis kecil Maria melotot pada Yozora.

“Apa, apanya yang ‘ruang klubku’! sejak awal, ini adalah tempat tidur siangku dan kamulah orang yang mencurinya dariku dengan kelicikanmu!”

“Mencuri dengan kelicikan terdengar buruk sekali. Bukankah aku mendapat ruang ini sebagai ruang klub dengan metode baik baik melalui persetujuanmu?”

Ujar Yozora dengan senyum jahat tipis yang menampakkan isi hati terdalamnya.

“.......Hei, Yozora. Apa kamu kenal gadis kecil ini?”

Aku bertanya penasaran,

“Sudah kukatakan sebelumnya kan? Takayama Maria. Suster yang mengajar di sekolah ini, pembina dari Klub Tetangga.”

“Pembina? Gadis kecil ini?”

Bereaksi pada ucapanku, Maria menggembungkan pipinya dalam kemarahan.

“Jangan, jangan panggil aku kecil! Aku ini Guru yang sudah terkualifikasi tahu!”

“Tidak, tapi kamu kecil..........selain itu, berapa usiamu?”

Tanyaku sambil menahan segala kemungkinan, seperti karakter dalam novel dan manga, bisa jadi dia adalah dewasa yang memiliki penampilan anak kecil.

“Sepuluh tahun!”

“Berarti penampilanmu sesuai usiamu, hei!”

Maria membusungkan dada ratanya dengan bangga.

“Namun karena kecerdasan tinggiku, aku bisa menjadi Guru di usia sepuluh tahun. Aku lebih hebat dari orang macam kalian, yang hanya sekumpulan jeruk mandarin gede dan busuk, tahu! Membungkuk dan berilah pujian padaku, dasar kalian sampah!”

Gadis kecil dengan mulut yang sangat kasar.

Bichi.

Yozora mendekati Maria.........sensei? dan menusukkan jarinya ke dahi gadis kecil itu.

“Ouch!”

Mata si Gadis kecil berambut perak itu jadi berkaca kaca.

“Uwuu......, sampai kamu berani macam macam pada Guru, dasar berandalan! Sampah masyarakat! Feses! Otak burung!”

“Woah, sebagai Guru, tidakkah kau tahu? Berikut ini tertulis dalam Aturan Saint Kronika bagian 1 aturan 37, ’Orang yang lebih tua diizinkan memberi hukuman sepantasnya dalam tujuan menyediakan bantuan edukasi pada orang yang lebih muda, meskipun orang itu adalah Guru atau Suster’.”

“Eh, masa sih?”

Maria yang berkaca kaca bertanya balik.

Usai mendengar itu, Sena mendesah.

“...........Nggak mungkin aturan bodoh macam itu itu ada kan? Jangan seenaknya mengatakan hal tak bertanggung jawab seperti itu.”

“Mi-Mikazuki Yozora, ahh.........lagi lagi kamu menipuku!”

Ujar Maria penuh kebencian.

“........lagi?” tanyaku.

“Saat aku diminta jadi Pembina! Wanita ini tiba tiba muncul di hadapanku dan menuntut aku menyerahkan ruangan ini untuk jadi ruang klubnya, dan kalau aku menolak, dia akan, dia akan menampar pipiku!”

“Sungguh tak beralasan........”

“Dan, dan lalu, Tuhan bersabda, Kalau pipi kiri ditampar, berikanlah pipi kananmu juga—dan sehingga, pipi kiri harus ditampar juga!, dan usai dia mengatakan itu, pipi kiriku ditampar........itu sangat sakit! Padahal aku belum memberikannya! Padahal aku belum memberikan pipi kiriku!”

Mikazuki Yozora..............eksistensi bengis yang bahkan tak takut pada Tuhan.

“Dan lalu, selain itu, Tuhan bersabda lebih jauh. Setelah pipi kiri ditampar, hal selanjutnya adalah menyerahkan ruanganmu. Setelah itu, engkau harus menandatangani formulir pembentukan klub dan membubuhkan segel, katanya. Dan karena aku Pelayan Tuhan, kata kata Tuhan itu absolut bagiku, jadi aku nggak punya pilihan selain menjadi Pembina sampai harus menyiapkan ruangannya segala! Setelah itu, aku melihat dalam Injil, ternyata hal semacam itu nggak pernah ada; semua itu bohong! Dasar maling! Feses!”

“Nggak, seharusnya kamu nggak tertipu seperti itu.........”

Dengan mata keprihatinan, aku menasehatinya.

“Ku, kupikir itu aneh! Ta, tapi aku betul betul ketakutan........kalau aku menolak, aku mungkin ditampar lagi.........hiks........sniff.......”

“Ah............aku paham, itu memang hal mengerikan.”

Aku menepuk nepuk kepala Maria yang mulai menangis.

Sejak awal memakai tenaga besar untuk menekan hasrat perlawanan, lalu membuat tuntutan tak masuk akal.

Seperti kebiasaan orang orang Yakuza.

“Maria, Tuhan juga bersabda—Yang bersalah adalah orang yang dikelabui.”

“Bohong, Penipu!”

Namun, dengan wajah serius, ia berujar seenaknya.

“Aku nggak bohong. Itu tertulis dalam ayat ke-enam belas Gospel dari Ru-su-pu-i-re[1]. Karena berasal dari Apocrypha, kau takkan bisa menemukannya dalam Injil.”

“A, apa iya?”

“Iya. Sudah kuduga, Apocrypha itu masih terlalu sulit dipahami bagi Suster Jenius sekalipun, bukan?”

“Muu........”

Maria merintih tanda kekalahan.

“Apa kamu mengatakan hal hal ngawur lagi........”

“Eh? Apa aku ditipu lagi!”

Setelah mendengar ucapan Sena, setidaknya, Maria sadar kalau dia ditipu lagi.

“Dasar orang terkutuk yang meniru kata kata Tuhan!”

“Karena Tuhan sendiri adalah produk tiruan, tak masalah kalau aku meniru ucapan Tuhan, kan? Kalau begitu,anggap saja aku ini Tuhan[2].”

“Kamu, kamu..........kenapa sejak awal kamu bersekolah disini!?”

“Karena dekat dari rumahku dan biayanya murah.”

Yozora membalas seenaknya pada Maria yang mulai gemetar ketakutan.

.........Meskipun ini adalah sekolah misionaris besar, kamu tak harus beragama Kristen untuk bisa diterima di sekolah ini.

Aku sendiri tak punya Agama, dan mungkin lebih dari setengah siswa disini bukan orang Kristen.

Biarpun begitu, ada sedikit yang mengaku ngaku sebagai Tuhan, kurasa.

Dan dua dari sedikit itu, secara menyedihkan, ada di klub kami.

“Hah, itu berarti, kupikir sangat tidak baik kalau Tuhan sampai memukul anak kecil.”

Usai aku mengatakan itu.

“Santai saja, Kodaka. Sebagai orang baik, aku sudah pastikan tak memakai kekerasan yang akan meninggalkan luka fisik atau luka batin pada anak kecil.”

“Sikap pembenaran diri untuk meniru kata ‘Bersikap baik pada Bumi’ ya.......”

Ujar Sena dengan sindiran tajam.

“Uwuu ~ .Sial! Sial! Sial! Jatuhlah ke neraka, dasar tak berguna, Yozora!”

“Sudah, tenanglah. Orang suci tak boleh mengatakan itu.”

“Mu.........Hwah........”

Usai aku menepuk kepalanya untuk menenangkannya, Maria mulai agak tenang.

Dan kemudian dia melihat ke arahku.

“Ngomong ngomong, siapa kalian? Cewek rambut pirang itu adalah Putri Pak Kepala sekolah, kalau kuingat baik baik.”

“Aku Hasegawa Kodaka. Orang itu adalah Kusunoki Yukimura.”

“...........Apa kalian semua anggota klub ini?”

“Iya, betul.”

Sambil mengangguk, dengan merengut, Maria menjauh dariku dan merintih seperti kucing.

“Uwuu. Sudah kuduga, kalian semua jadi bidaknya Yozora......”

Dia berakting seperti tokoh antagonis.

“Kasar amat. Aku bukan bidak orang semacam itu!”

Ujar Sena dengan kesal, dan,

“Ah,benar sekali, cuilan daging ini sama sekali nggak ada hubungan denganku, faktanya, dia bukan anggota klub tapi orang nyasar.......ah-reh, siapa kamu? Kenapa kamu disini?”

“Eeeh!? Aku ini anggota klub juga!”

Saat ia merasa seperti ditelantarkan, Sena membalas dengan panik.

“Eeeh, terserah!”

Maria membentak.

“Pokoknya, ruangan ini punyaku! Sofa adalah tempat terbaik untuk tidur siang! Aku mundur dari posisi nggak jelas bernama Pembina Klub! Kalian semua minggat sana!”

“Hanya karena kamu yang berkuasa bukan berarti ruangan ini begitu saja jadi punyamu........”

Maria sepertinya tak mendengar protes dari Sena.

Dan kemudian,


“........hm, pada akhirnya,beban ini terlalu berat untuk anak kecil ya..........”


Ujar Yozora sambil mendesah dalam.

“Apa, apa yang kamu........!”

Maria bertanya penuh tantangan.

Yozora memandang ke arahnya dan terus mendesah.

“Haah.........sudah kuduga, memang mustahil menjadikan anak kecil sebagai Pembina Klub. Meski disayangkan, kita harus serahkan ruang klub ini. Aku yang salah karena menyerahkan tanggung jawab Pembina Klub pada anak kecil. Aku harusnya meminta izin dari Guru dewasa yang lebih pengalaman. Kalau Pembinanya orang dewasa, dia takkan melakukan hal tak bertanggung jawab seperti mengabaikan tugas yang diberikan padanya.........”

Usai mendengar ucapan Yozora, ”Gunuuuuuu.......”, Maria menggeram.

“Aku, aku ini orang dewasa tahu!”

“Jangan paksakan dirimu, gadis kecil. Kamu bebas memakai ruang ini untuk tidur siang. Serahkan tugas sulit Pembina Klub pada orang dewasa........hm, tapi kupikir sang Genius Suster Maria-sensei akan bisa memikulnya...........apa aku terlalu berharap..........Ahh, abaikan ucapanku tadi. Karena ini hanya akibat aku kelewat berpikir kalau Maria-sensei yang membawa malu pada orang dewasa akan punya waktu sebagai Pembina.”

"AR --------- GH ------ H!!"

Maria meraung.

“Me, menjadi Pembina itu sama mudahnya berjalan jalan di taman bagiku! Selain itu, aku ini orang dewasa jadi aku takkan mengabaikan tugas yang diserahkan padaku! Barusan itu..........aku cuma salah ngomong!”

“Kamu tak perlu memaksakan diri,tahu?”

“A, aku nggak memaksakan diri!”

Ujar Maria sambil berubah serius tanpa menyadari kalau Yozora sedang memperalatnya.

“Aku sudah tahu tentang itu, tahu? Sebenarnya kamu tak ingin menjadi Pembina kan?”

“A, aku ingin melakukannya!”

“Hm...........jadi, kamu akan terus menjadi Pembina kami?”

“Te, tentu saja!”

“Kalau begitu bungkukkan kepalamu dan memohonlah padaku untuk mengizinkanmu menjadi Pembina!”

“Mohon izinkan aku menjadi Pembina.”

Maria membungkukkan kepalanya penuh semangat.

“Kalau begitu ruang ini kupakai karena aku rasa cocok.”

“Ya!”

.........Ada apa dengan “Aku”?

“Maukah kamu bersumpah pada Tuhan?”

“Aku bersumpah!”

Dia bersumpah...........

“Kalau kamu berniat meninggalkan tugas sebagai Pembina lagi, kamu takkan keberatan pergi telanjang dan fotomu diambil lalu disebarkan di internet kan?”

“Aku nggak keberatan!”

Apa kau Iblis!?

“Agar tidak menggangu aktivitas Klub, kamu tinggal duduk di sudut dengan tenang, paham!?”

“Paham!”

Kau begitu kejam!!

“Begitu. Maka kamu adalah Pembina dari Klub Tetangga. Berterima kasihlah, Takayama Maria.”

“Uhn, Terima kasih Yozora..........eh,ah-reh............? Eehh!? Ah-reh, ah-reh?”

Menyadari kalau ada ketidakberesan, Maria yang kebingungan menggaruk garuk kepalanya.

“Kalau begitu mari tepuk tangan atas kembalinya Maria-sensei sebagai Pembina kita. Kami akan terus mengandalkanmu untuk mengurus ruang klub ini. Tugas utamamu adalah membersihkan ruangan setelah kami pulang. Itu tanggung jawab besar tapi aku merasa tenang karena ada sensei yang bisa diandalkan.”

Usai Yozora mengatakan itu, ia mulai bertepuk tangan.

“Hei, kalian semua juga.”

“Ah, ahh........”

Disuruh seperti itu, Sena, Yukimura, dan aku memberikan tepuk tangan pada Maria juga.

Plok Plok Plok Plok Plok..........

“Eh, eh hehe..........aku jadi malu ~ ”

Maria tersenyum malu malu.

“Oke, oke, serahkan semuanya padaku, kalian sampah! Ahahahahaha,ahahahahaha!”

“Baiklah, kebetulan, aku sedikit haus, jadi tolong bawakan teh.”

“Aku paham!”

............Anak yang bego.

Dan itulah bagaimana si gadis kecil Suster Maria menjadi Pembina sekaligus pesuruh dalam Klub Tetangga. Apa ini hal yang bagus, atau hal yang buruk, entahlah.



Pada malam itu.

Setelah pulang ke rumah, aku tengah bersantap malam dengan adik perempuanku Kobato, aku menceritakannya tentang kejadian di sekolah hari ini.

“........Jadi, ternyata ada Guru berusia sepuluh tahun. Itu perkara yang cukup besar.”

Usai mentalnya tetap anak sepuluh tahun sih,

“...........Bukannya An-chan akhir akhir ini lebih banyak terlibat di kegiatan klub?”

Kobato menggumamkan sesuatu dalam suara sangat kecil.

“Hn? Kamu tadi bicara apa?”

“Hm,bukan hal penting.........kukuku.........sampai menimbulkan keresahan pada hati Leysis Vi Felicity Sumeragi...........mustahil..........”

Kobato menjawab dengan kata kata dramatis nan aneh.

Hasegawa Kobato—Siswi kelas dua SMP.

Rambut pirang, mata biru, Bishojo, selalu mengenakan busana Gothic Lolita.

Karena pengaruh anime tertentu, entah kenapa, dia jadi meniru gaya bicara dan pola kepribadian yang membuatnya tampak mengasihani lawan bicaranya.

“........Namun Suster.........Pekerja Suci.........Bawahan dari Gereja..........musuh abadiku.......eksistensi terlarang. Kukuku..........separuh lainku...........sangat disesalkan bagi engkau melibatkan diri dengan orang semacam itu..........”

“Iya iya.”

Aku menjawab dengan balasan seadanya sambil menggali makananku.

“Mu—“

Kobato menggembungkan pipinya dengan ekspresi agak cemberut.

Notes[edit]

  1. Ru-su-pu-i-re: Baca dari belakang dan hasilnya jadi Reipu-suru, yang berarti "memperkosa". Ini adalah salah satu kata favorit Yozora, pertamakali muncul di bab 10 dari jilid 1.
  2. Sialan Lo Yozora........!


Mundur ke (LOL) Kembali ke Halaman Utama Maju ke Shiguma Rika