Boku wa Tomodachi ga Sukunai:Jilid7 Sesuatu yang telah ia ketahui sejak lama

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Sesuatu yang telah ia ketahui sejak lama

“ Ada acara penting yang datang tiba-tiba dan menghalangi kita, tapi mulai hari ini kita lanjutkan pembicaraan kita tentang apa yang akan dilakukan di festival sekolah (Tlnote, mungkin pensi leboh cocok).”

Saat itu setelah pulang sekolah didalam ruang organisasi.

Setelah masuk ruang klub, teman baikku dan ketua dari klub pertemanan, Yozora Mikadzuki, berkata pada kami.

Sena, Yukimura, Rika dan aku dan siswa SMA lainnya di klub kami juga beradad di dalam ruang klub. Yukimura mengenakan seragam kepala pelayan (Tlnote, buttler) berada di belakangku ketika aku duduk di sofa, di seberangku ada Sena dan Rika (kelihatannya Rika memakai seragam standar, tetapi roknya digulung 5cm lebih tinggi dari kemarin, tidak memakai jas lab, kacamata tanpa frame dan rambutnya tergerai dan berwarna pirang abu) duduk bersama.

Sekitar seminggu yang lalu, kai semua setuju untuk melakukan sesuatu untuk pensi tahun ini sebagai “latihan” saat kami punya teman nanti, tapi kami tunda sejenak untuk mengadakan pesta ulang tahun untuk Kobato.

“Kita hanya punya waktu satu bulan sampai pensi mulai. Mungkin harus segera berpikir.” Kata Rika sambil sekilas melihat kearahku saat ia menggunakan tangan kananya untuk membelai rambut di bagian belakan kepalanya.

Sekedar informasi, pensi diadakan di pertengahan November.

“Kamu benar. Setidaknya kita harus berpikir apa yang akan kita lakukan.”

Kataku setuju pada pernyataan Rika sebelumnya, ini menyebabkan Rika membuat bentuk :3 dengan mulutnya. (TLnote, mungkin seperti mulut kucing)

Yozora pun ikut menangguk tanda setuju.

“OK, ayo kita muli berpi----“

“Ah, tunggu sebentar, sebelum kita mulai,” kataku menyela Yozora.

“…Apa yan kamu mau, Kodaka?”

Yozora kelihatan sebal karena menyela perkataannya, karena itu aku mengisyaratkan dengan tanganku yang berarti “Hanya makan waktu sebentar,” dan melanjutkan,

“…Aku hanya ingin bilang, terima kasih untuk yang kemarin”

Aku bisa merasakan mukaku memerah saat mengucapkannya. Yozora, Sena, dan Rika kelihatan kebingungan.

“ Aku bicara tentang pesta ulang tahun Kobato.”

Aku bangun dari sofa dan berbalik pada Yukimura yang berdiri di belakangku. “ Kobato sepertinya sangat menyukai…jimat-jimat itu? Yang kau beri. Ia menggantungnya di kamar sesaat setelah kami pulang.”

“ Oh begitu…”

Nada bicara Yukimura agak bersemangat.

“Kenyataan bahwa adik anda sangat menyukainya ialah penghargaan terbesar untuk saya, Aniki.”

Pipi Yukimura sedikit tersipu saat ia tersenyum ramah.

Woah, dia benar-benar sangat manis…

Melihat iaberwajah seperti itu dan berada di dekatku membuat hatiku berdebar, dibandingkan dengan wajah tanpa ekspresi yang selalu ia perlihatkan.

“I-iya. A-aku juga berterimakasih padamu.”

Jawabku dengan nada sedikit agak tinggi dan berpaling melihat Yozora dan anggota lain.

“Mu…” “Muu~”

Aku meneruskan ucapan terimakasihku pada Yozora dan juga Rika, yang sedikit terlihat agak sebal entah kenapa.

“Adikku juga menyukai kado dari kalian. Ia menyimpan dengan baik lilin beraroma itu di rak, dan sepertinya ia juga mulai menggunakan sapu tangan pemberianmu.”

“O-oh…baguslah kalau begitu.” “M-mm…begitu ya.”

Baik Yozora dan Rika mulai tersipu-sipu seperti malu pada sesuatu dan mengalihkan pandangannya dariku pada saat yang bersamaan.

Saat mereka melakukannya.

“B-bagaimana dengan punyaku?!”

Tanya Sena, mata birunya berbinar-binar saat ia bergelantungan di sofa kegirangan.

Aku sedikit mundur oleh antusiasme-nya, tapi berusaha untuk menjawab,

“I-iya. Tentu dia juga sangat menyukai hadiah darimu.”

“Benar?!”

“I-iya…”

“Uehe…”

Wajah Sena terlihat sangat puas.

“Ehehe….Kobato makan daging dariku dan menyukainya…Ehehehe…”

“Kamu mungkin ingin memperjelasnya, kalau tidak kamu kedengaran seperti orang aneh…”

“Daging…Kau harus lebih berpikir lebih hati-hati tentang perkataan yang kau maksud sat kau bicara. Aku tidak bercanda. Aku sungguh-sungguh…”

Rika dan Yozora bicara bergantian, mundur sediki saat melihat seringai menjijikan yang Sena perlihatkan.

Sayangnya, Sena sperti tidak mendengarkan.

“Dapat dimakan oleh orang yang kamu dambakaan sungguh suatu kebahagiaan yang tak terhingga.”

…Aku pura-pura tak mendengar ide mengerikan yang iakatakan dibelakangku.

“Bagaimanapun juga, terima kasih semuanya, sungguh. Tentu, aku akan buat Kobato mengatakannya juga saat ia ada disini.”

Kataku, mencoba untuk mengembalikan pembicaraan pada topik semula,

“…Ummm,uhhh…bagaimana ya…Mengadakan pesta ulangtahun dengan orang lain selain keluargamu, sangat menyenangkan bukan…”

Aku benar-benar merasakannya dari dasar hatiku, terlebih saat aku ingat wajah tidur Kobato yang terlihat bahagia tadi malam dan pagi ini, walaupun itu bukan pestaku.

Aku dan Kobato telah banyak sekali berpindah tempat, dan kami tidak pernah merayakan ulang tahun kami dengan siapapun kecuali keluarga kami.

Sesungguhnya, ayah juga sibuk bekerja pada saat kami ulang tahun, jadi ulang tahun dengan keluarga pun sangat jarang.

Dapat merayakan pesta ulang tahun dengan banyak orang------Seperti yang kita lakukan kemarin dengan Klub Pertemanan, Maria dan Kate, adalah yang pertama bagiku.

Karena itu pula mengapa aku ingin mengucapkan terima kasih sebelum Kobato datang. Sesungguhnya ini cukup memalukan untuk dikatakan di depan adikku sendiri.

“Kobato sangat senang kemarin…dan, begitu juga aku…Itu pertama kalinya aku berada di pesta seperti itu…Aku sangat...sangat senang. Jadi, umm, aku benar-benar sungguh untuk mengatakan ini.”

Ah, sial, aku mulai ingin menagis.

“Terima kasih.”

Aku mengucapkan terimakasih sekali lagi, dan sediki membungkuk hormat.

“B-berhenti mengatakan hal-hal memalukan seperti itu, Kodaka!”

Kata Sena, pipinya memerah.

“J-jangan bilang memalukan!”

“Tapi itu benar! Maksudku, tentu itu memalukan untukmu untuk mengucapkannya, tapi ketika kamu berlaku formal seperti itu membuat kami juga menjadi malu!”

“B-baik, mungkin itu memang memalukan, tapi aku tetap ingin mengatakannya! Terlebih kepadamu, Sena. Kita hanya bisa melakukan semua ini hanya karena kamu bilang ingin mengadakan pesta ulang tahun untuk Kobato, kamu ingat? Terima kasih untuk itu semua.”

“A-aku tidak melakukan sesuatu yang khusus! Itu hanya sesuatu yang wajar untukku merayakan ulang tahun Kobato, karena aku adalah kakak perempuannya…”

Sena biasanya bisa langsung tepat sasaran tentang apapun itu, tapi anehnya, Sena yang sama sekarang tersipu-sipu saat ia bicara terbata-bata.

“…Aku tak tahu harus berapa kali aku katakan ini, kamu bukan kakaknya.”

Ini membosankan, tapi aku harus pasti memperbaiki setieap kali dia mengatakannya, karena aku takut itu menjadi kenyataan dengan suatu cara.

“Bagaimana pun juga, terima kasih. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.”
Aku mengatakan tiga kali berturut-turut secara cepat, sedikit dengan perasaan berontak.

“Kodaka-senpai sangat mencintai kita!”

“Terima kasih kepadamu bukan berarti mencintai kamu!”

Sanggahku pada Rika yang matanya terbuka lebar-lebar.

“Uu, ah…mmm, maksudku…”

Yozora memalingkan mukanya penuh rasa malu, dan berdehem “Ahem.” dalam upaya menyembunyikan hal tersebut sebelum mengalihkan perhatiannya padaku lagi.

“Aku setuju bahwa pesta itu sanga menyenangkan. Tetapi, ini berarti semua orang normal diluar sana pergi ke pesta ulang tahun entah sudah berapa kali dalam setahun! Ini benar-benar tidak bisa dimaafkan!”

…Ini parah Yozora. Kamu berhasil untuk mencela orang normal dalam pembicaraan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka. “D-dan oleh karena itu pula…”

Yozora mengatur nafasnya, memicingkan matana dan mengangkat sudut bibirnya menjadi bentuk senyum jahat, dan,


“Kita harus tetap berusaha untuk mencari teman yang akan ikut merayakan pesta ulang tahun!”


Dia membuat deklarasi sejara jelas.

“Ya…ya , kamu benar…!”

Aku turut mengangguk membenarkan.

“Itu menunjukkan p kepada kita betapa menyenangkannya punya teman banyak…! Mari kita berusaha sekeras mungkin, ini serius.”

“Heheh, aku sudah merencanakan itu sejak lama.”

Senyum meyakinkan tebentuk di wajah Sena.

“Seperti yang Anda katakan, Aniki.”

Kata Yukimura di belakangku dengan nada datar.

Rika turut masuk, dan----…Rika?

“…”

Rika hanya menatap wajahku dalam keheningan.

Wajahnya tidak sesuai dengan suasana optimis yang baru saja kami buat dalam memperbaharui keinginan kami untuk mencari teman. Ia terlihat bosan, murung---dan marah.

Matanya memperlihatkan sesuatu yang ingin ia katakan.

…Aku berpikir kenapa ia bertingkah seperti ini. Apa ia tersinggung karena aku mengacuhkan perubahan besar yang Ia buat hari ini?Itu sangat tidak masuk akal, aku melakukan itu setiap saat.

Secara cepat aka mengalihkan mataku dari pandangan Rika.

Saat aku melakukannya, Rika menghela nafas dan tersenyum sedikit.

“Aha! Mari kita pastikan untuk berusaha keras saat pensi, Senpai!”

Katanya denga senyum riang tetapi bodoh miliknya.

“Y-ya…ayo semangat.”

Aku rasa ada sesuatu yang janggal, tapi yang bisa aku lakukan hanya menganguk setuju kepadanya.


…Saat itu, aku masih “belum siap”.
Karena sejujurnya ---aku tahu persis apa yang Rika katakan.