Chronicle Legion (Indonesia):Volume 1 Chapter 2

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 2 - Penyerbuan Legion (2)[edit]

Bagian 1[edit]

"Omong-omong, Yang Mulia Shiori membuat langkah yang sungguh berani."

Akigase Rikka mengungkapkan reaksi sepenuh hatinya.

Pertengahan bulan Oktober, hari jumat di siang yang cerah.

Rikka mengunjungi balai kota Suruga, yang bertempat kira-kira sepuluh menit dengan berjalan jauh dari Stasiun Suruga. Bangunan ini berusia lebih dari tujuh puluh tahun dan meliputi lapisan ubin berwarna merah yang didirikan berikutnya pada tempat bersejarah dari Istana Sunpu di mana Tokugawa Ieyasu pernah tinggal.

Rikka datang ke kantor walikota di balai kota yang megah, dengan kata lain, ruangan dengan wewenang tertinggi di kota.

"Meskipun itu acara lokal, tak disangka kalau putri keluarga kerajaan nekat muncul di depan umum di televisi..."

Rikka tersenyum. Dia bukannya tidak menyukai tingkah keberanian sang putri.

Tanggapannya adalah untuk walikota, pria yang dipuji dalam enam puluh tahun sebelumnya, mengenakan pakaian haori dan hakama tradisional Jepang. Di sisi lain, Akigase Rikka satu-satunya yang berumur tujuh belas tahun—

Rambut indah hitamnya mencapai panjang pinggangnya dan dia seorang gadis dengan wajah cantik dan bermatabat.

Namun, bibirnya membentuk senyum gembira. Pakaiannya juga berbeda dari siswi SMA di kota. Seragam militer hitamnya adalah salah satu yang dikenakan oleh petugas tingkat atas di Pasukan Kerajaan dan dia mempunyai pedang Jepang di pinggangnya.

Kebetulan, sosok sempurnanya nampak sampai di balik seragam militernya.

Dada besarnya membengkak dengan baik sementara lekukan di sekitar pahanya juga menandai kepantasan yang menggairahkan.

ChronicleLegion 01 BW04.jpg

"Apa anda menonton wawancaranya?"

Meski Rikka yang cukup muda untuk menjadi cucunya, walikota berbicara padanya dengan kesopanan yang tidak biasa dalam nadanya.

Seseorang akan dengan sulit menyalahkannya. Rikka menduduki dua posisi. Pertama, dia adalah putri tertua Gubernur Jenderal Tōkaidō yang menguasai tiga prefektur yakni Aichi, Shizuoka dan Yamanashi. Kedua, dia adalah Chevalier dari propinsi Tōkaidō—

Salah satu dari posisi tersebut akan bertingkat di atas walikota atau gubernur wilayah.

Menghadapi seseorang yang berada dalam komando pemerintahan Kota Suruga pada kepentingan ayahnya, Rikka membalas, "Ya, aku menontonnya. Yang Mulia pastinya melepas kebosanan dengan sikapnya yang melakukan sesuatu. Aku tentu senang sebagai bagian Twelve Houses yang melayani keluarga kerajaan. Selain itu, ini sangat membuat penasaran. Jika pelayan-pelayan wanita itu yang melayani kaisar wanita mengetahui tentang acara televisi, aku pastinya akan menyakiti hati mereka terus."

Membayangkan sebuah pemandangan, Rikka tertawa lagi.

"Jika Yang Mulia Shiori bukan hanya seorang putri penurut... Lalu akan nampak kalau penonton yang menyaksikannya tidak akan menjadi bosan bertemu atau menghabiskan waktu. Ini pastinya perayaan yang berharga."

"...Akigase-sama."

Walikota tua itu tersenyum secara tidak nyaman dan dengan baik memperingatkan Rikka.

Melihat karena dia adalah anggota salah satu Twelve Houses dan juga putri Chevalier Akigase, ini sangat jarang bagi siapapun untuk berani menasehati padanya. Sebagian orang menghujaninya dengan cercaan.

Berterima kasih untuk perhatian baik walikota itu, Rikka tersenyum dengan miring dan menelan sisa perkataan tidak sopannya.

Sejak akhir Perang Dunia Kedua dan Jepang menerima perlindungan Raja Tenryuu...

Kepulauan Jepang telah terbagi menjadi dua belas provinsi, masing-masing dikuasai oleh Gubernur Jenderal. Menyatakannya dengan terus terang, itu kembali pada sistem klan feodal di jaman Edo.

Dua belas Gubernur Jenderal wilayah masing-masing memiliki pasukan dan Chevalier sendiri, sehingga diberikan nama Dua Belas Wilayah.

Wilayah Hokkaidō. Wilayah Ōshū. Wilayah Hokuriku. Wilayah Kantō. Wilayah Tōsandō. Wilayah Tōkaidō.

Wilayah Kinai. Wilayah Ōsaka. Wilayah Chūgoku. Wilayah Shikoku. Wilayah Kyūshū. Wilayah Okinawa.

Rikka adalah putri tertua dari keluarga Akigase yang menguasai Tōkaidō.

"Seperti yang aku ingat, besok adalah waktu ketika kamu akan mengunjungi putri, apa itu benar?"

"Betul, aku ingin jalan-jalan menuju benteng pertahanan jika waktu mengijinkan, hingga bertemu dengan Sakuya. Kondisinya sangat buruk untuk beberapa bulan belakangan. Nampak kalau menolak kebaikannya yang mungkin bahkan lebih sulit dari putri."

Setelah pembicaraan menyenangkan itu, Rikka meletakkan ekspresi serius dan mengatakan, "Namun... aku harus berbicara dulu pada laki-laki itu hari ini."

"Apa anda menunjuk pada Kawazoe-dono? Penjaga istana dari benteng pertahanan Suruga—Atau mungkin, mantan penjaga istana. Ini seperti rasa malu yang dia minta dengan menghadapi secara diam-diam," walikota mengatakan dengan penuh rasa sakit.

Rikka mengangkat bahu dan mengatakan, "Dia adalah lelaki yang serakah awalnya, jadi menyuapnya tidak mengejutkan sama sekali. Masalah sebenarnya adalah fakta apa yang dia hubungi dengan perwakilan Kerajaan Inggris."

Chevalier yang melayani sebagai penjaga benteng pertahanan Suruga telah ditahan oleh polisi militer dua hari lalu karena dugaan korupsi. Dilaporkan, dia telah menerima suap dari seseorang dalam bisnis pembangunan yang mencari-cari keuntungan—

Selama penyelidikan kasus ini yang kejahatan keduanya tidak terbongkar.

"Tak disangka kalau Pihak Britania muncul di Tōkaidō kita, dan bahkan seorang Chevalier juga," walikota mendesah dengan cemas.

Kerajaan Romawi Timur dan Jepang "mengajukan perserikatan" selama sepuluh tahun sekarang.

Tetapi dalam tahun-tahun belakangan ini, politik melanda terus, sebagian besar di Jepang barat, menyokong perserikatan dengan "kekuatan walikota lain" termasuk di Asia, demi membersihkan Jepang dari pengaruh Roma.

Ini dipanggil "Pihak Britania," yang memiliki banyak pengikut dalam wilayah Kyūshū, Chūgoku dan Shikoku.

"Wilayah di barat dibangun erat kaitannya dengan Inggris sejak era Bakumatsu—semenjak perserikatan Satchō—tapi tidak bisa disamakan untuk Tōkaidō," kata Rikka dengan mengangguk.

"Ini bukan hanya tempat di mana Raja Tokugawa Ieyasu lahir dan dibesarkan tapi juga aset markas operasi jangka panjang, juga di mana dia pensiun setelah mengundurkan diri sebagai shogun. Demi menghormati peninggalan Tokugawa, kita harus menjunjung kesetiaan mutlak pada keluarga kerajaan dan menunjukkan keberanian tak pantang mundur sebagai keluarga samurai."

Setelah mengekspresikan pendiriannya sebagai keturunan samurai, Rikka tersenyum secara ironis.

"Sangat disayangkan, semua keluarga kerajaan saat ini yang mempercayai adalah bukan kita tetapi Kerajaan Romawi yang kuat."

"Akigakise-sama..."

"Oh, maaf. Ini waktunya bagiku pergi melihat Kawazoe-sama."

Walikota memperingati Rikka lagi dan dia dengan tergesa-gesa pergi.

Rikka adalah Chevalier yang menjawab langsung pada Gubernur Jenderal Tōkaidō dan normalnya melayani di Nagoya.

Dia datang ke Kota Suruga untuk bertemu atas kepentingan ayahnya. Setelah itu, dia dijadwalkan menyertai penonton bersama putri yang dikabarkan, Fujinomiya Shiori.

Bagian 2[edit]

Sepulang sekolah, Masatsugu meninggalkan SMA Rinzai bersama Hatsune secepatnya.

Menumpangi truk militer yang datang menjemput mereka, mereka pergi ke benteng pertahanan Suruga.

Kumpulan kendaraan pergi menuju bagian pegunungan yang dibentuk dari dua perbatasan bukit yang tingginya 300m. Di atas puncak Gunung Udo di sisi utara adalah dataran tinggi yang sedikit miring yang dikenal sebagai "Nihondaira." Dibangun di atas daratan dan hutan belantara ini yang direntangkan sejauh mata memandang adalah benteng pertahanan, sesuatu yang dapat digambarkan sebagai "benteng" modern.

Truk akhirnya berhenti menanjaki gunung dan tiba di benteng pertahanan Suruga.

"Jadi ini tempatnya ya," gumam Masatsugu pada dirinya.

Benteng pertahanan Suruga menduduki kira-kira lima kali area stadion Tokyo Dome di ibu kota kerajaan.

Dinding-dinding pertahanan mengepung area luas ini yang sekitar tujuh meter tingginya.

Dari pemandangan di atas kepala, dinding tersebut membentuk bintang tirus lima, bentuk yang sama seperti benteng pertahanan Hakodate yang terkenal dengan mengemban nama Benteng Goryōkaku. Kenyataannya, dinding pertahanan benar-benar berguna dalam pertempuran melawan Legion terbang.

Yang paling meyakinkan adalah... Bangunan sebuah benteng dalam bentuk bintang menawan yang bsa menyombongkan kekuatan militer.

"Ayo pergi, Onii-sama."

Meninggalkan truk militer, Hatsune menyegerakan Masatsugu.

Dia masih berpakaian sebagai murid dengan gaya manga Haikara-san.

Masatsugu mengenakan kerah rapat seragam laki-laki SMA Rinzai. Pasukan Kerajaan dan pasukan provinsi yang dipimpin oleh keseluruh Twelve Houses menggunakan seragam militer kerah rapat yang tidak berbeda dari seragam SMA. Konsekuensinya, ia tidak terlalu diperhatikan dari tempat yang dikelilingi oleh tentara di sini meski menjadi seorang murid.

Sebaliknya, Hatsune sangat mencolok dengan meisen kimono, hakama dan sepatu bot-nya.

Dua murid itu berjalan untuk sementara dan tiba di gerbang di dinding. Masatsugu didorong untuk benar-benar melihat.

Berdiri di kedua sisi gerbang adalah dua raksasa biru.

Mereka delapan meter tingginya dan dilengkapi dengan armor dan seragam militer biru. Masing-masing di antara mereka memiliki topeng putih pada wajah mereka yang tampak seperti susunan porselin. Fisik rapi mereka terlihat benar-benar tangkas dengan sosok luar biasa juga.

Kedua raksasa dilengkapi dengan "senapan bayonet."

Itu adalah senjata yang terdiri atas senapan militer yang disesuaikan dengan pedang runcing, hingga menawarkan fungsi sebagai senapan dan tombak. Raksasa tersebut berdiri dengan senapan mereka dalam posisi tegak lurus.

Mereka tiba-tiba menggerakkan leher mereka, mengarahkan wajah dan tatapan mereka sedikit kebawah.

Dari belakang topeng mereka—matanya bisa dilihat dari lobang mata itu, menatap dengan kejam pada Masatsugu dan Hatsune yang menghampiri.

Ini berarti kalau mereka hidup, tetap aktif bersiaga dari sekitar mereka sebagai penjaga pintu!

"Jadi itu Legion Jepang... Jenis yang dikenal sebagai 'Kamuy,' benar?"

Hari ini merupakan pertama kali Masatsugu melihat Legion secara langsung.

Tinggi Masatsugu adalah 175cm, kira-kira jarak dari kaki raksasa sampai ke lutut. Ia betul-betul terkesan oleh tubuh biru yang berdiri hampir delapan meter.

"Itu benar. Penjaga istana mungkin menempatkan mereka di sini. Orang yang suka bersembunyi atau menjaga penampilan yang biasanya melakukan hal semacam ini."

"Menjaga penampilan?"

"Memikirkan tentang itu. Anggota dan tamu yang belum berpengalaman semuanya akan bereaksi sepertimu, Onii-sama."

Masatsugu mengerti maksud penting yang Hatsune sampaikan padanya.

Dalam dunia modern, Legion merupakan senjata utama dan menentukan. Seseorang akan langsung menyimpulkan dari pemikiran singkat yang menggunakan sesuatu seperti ini pada penjaga gerbang yang akan menjadi sia-sia. Namun, pastinya terlihat sangat keren.

Hatsune nampak sudah terbiasa. Bisa diduga dari seorang gadis yang mengikuti pelatihan di istana kerajaan.

"Apa Legion itu hanya mengikuti perintah penjaga istana?"

"Sebenarnya, ya. Namun, jika Chevalier melayani sebagai penjaga istana yang membawa upacara untuk mengutus jin dan pengendali spiritual, mereka juga bisa mengeluarkan perintah biasa."

Ada juga tentara manusia yang ditempatkan di sebelah gerbang samping sebagai penjaga.

Hatsune memberikan informasi kepunyaannya dan berbicara dengan riang bersamanya. Pada waktu itu, Masatsugu menengadah pada tubuh raksasa kedua Legion.

Armor biru Kamuy mereka sangat bersih, mengkilap di bawah sinar matahari.

Mereka tidak hanya luar biasa dalam penampilan tetapi juga membangkitkan getaran perasaan hormat berpengalaman. Kenyataannya, setiap Legion tidak cuma tinggi dan mengesankan tapi juga menguasai martial art dan keahlian menembak.

Dengan menarik pelatuk, mereka bisa dengan mudah menjatuhkan dan membunuh target beberapa kilometer jauhnya.

Tachibana Masatsugu seorang musuh tentara yang menyerang benteng pertahanan, ia mungkin akan "langsung dibantai" dalam sekejap—

Di waktu itu, pikiran aneh mengambang dalam pikiran Masatsugu.

Tidak dapat dimengerti, Masatsugu ragu-ragu. Akankah ia sebenarnya bisa "langsung dibantai"? Legion Kamuy di depannya pastinya kuat tapi seenggaknya, ia tidak berpikir akan kalah.

Tanpa gentar, Masatsugu percaya... Jika perlu, ia harusnya memiliki kemampuan untuk mengalahkan tentara raksasa itu.

Ada apa dengan ini? Sementara Masatsugu berseteru dengan pemikiran kebingungannya, Hatsune memberitahu padanya, "Kesini, Onii-sama."

"...Oke."

Melewati gerbang samping, keduanya memasuki benteng pertahanan Suruga.

Di dalam sisi dinding itu begitu luas. Tanah yang melebar dengan halaman rerumputan, membuat Masatsugu terasa seperti ia mengunjungi lapangan golf. Namun, mengejutkannya terdapat beberapa bangunan.

Masatsugu mengingat salah satu penjelasan yang ia tangkap. Semenjak pertempuran antar Legion mungkin mengambil tempat dalam benteng pertahanan, fasilitas penting sebagian besar dibangun di bawah tanah untuk mengurangi jumlah korban...

Dari susunan di atas tanah, tidak ada yang lebih menjulang dari "menara" pusat itu.

Sebuah menara yang dibangun dengan batu bata, sekitar empat puluh meter tingginya. Ada sesuatu yang besar di sekitar jam di paling atas, mengingatkan sebuah menara jam—Bukan.

"Bukankah itu apa yang orang sebut lingkaran fengshui?"

Benda di atas menara bukan jam raksasa.

Magnet yang terpasang di tengah, dikelilingi oleh lingkaran konsentris berlipat. Garis tajam digunakan untuk membagi masing-masing lingkaran kedalam bagian area yang sama, menghasilkan dalam lingkaran yang dikemasi dengan karakter, simbol dan istilah, seperti rentetean bagua "qian, dui, li, zhen, xun, kan, gen, kun," cabang surgawi "jia, yi, bing, ding, wu, ji. geng, xin" dan cabang bumi "zi, chou, yin, mao, chen, si, wu, wei, shen, you, xu, hai."

"Aku tidak tahu rinciannya tapi benteng pertahanan rupanya perlu menjadi tempat perlindungan di mana roh dan gelombang aura bisa berkumpul dengan mudah sebagai tambahan kegunaan sebagai markas militer. Itulah mengapa mereka memasang sesuatu seperti itu."

"Ini pastinya benar-benar sulit dipahami."

Melihat pada menara dengan lingkaran fengshui, keduanya melanjutkan.

"Omong-omong, Hatsune, ini waktunya kamu memberitahu kenapa putri memanggilku kesini... aku belum menemukan petunjuk sedikitpun."

"Tidak, Onii-sama, kau akan tahu ketika kamu melihat putri."

Selain itu, kenapa seorang penonton berada di fasilitas militer?

Akhirnya, Masatsugu masuk kedalam suatu bangunan. Bangunan tingkat satu yang dirancang dari baja, mungkin mirip seperti bagian administratif dan akuntasi kerja. Pekerja militer berjalan melewati mereka dalam lorong yang nampak lebih mirip seperti pemerintahan resmi daripada "tentara."

Mereka berdua tiba di tempat apa yang disebut ruang resepsi.

Terdapat sofa kulit dan meja kerja yang indah dan kursi kantor yang akan sekiranya digunakan oleh kantor militer biasa. Seorang gadis cantik dengan rambut pirang putih duduk di sana.

Fujinomiya Shiori, putri Kerajaan Jepang.

Berpakaian dalam seragam perempuan SMA Rinzai, putri menyapa Masatsugu dengan senyum, "Terima kasih untuk repot-repot datang kemari. Aku mendengar banyak tentangmu dari Hatsune dan Paman Tachibana."

"Apa keluargaku menyebutkanku sesuatu?"

Masatsugu tak sengaja membalas pada berita baru yang mengejutkan ini, tapi ia begitu menyesalinya.

Ini penting demi menjaga perilaku ketika berbicara dengan bangsawan dan cara yang tepat harusnya berbicara melalui pelayan pribadi yaitu Hatsune.

Walau Masatsugu terganggu dengan mulut gegabahnya, Shiori secara langsung menjawab, "Apa kamu tidak tahu? Klan Tachibana dari Suruga telah melayani Kediaman Fujinomiya semenjak generasi ibuku."

"Itu pertama kali aku mendengarnya."

Tatapan mereka bertemu. Shiori melihat kembali pada Masatsygu dengan senyum lembut. Rambut pirang putih menawannya tanpa diragukan sewarna dengan Raja Tenryuu yang diperlihatkan di televisi.

"Boleh aku bertanya kenapa kamu ingin bertemu denganku di markas militer?"

"Ada masalah yang tidak bisa dibicarakan di dalam kota. Ijinkan aku menjelaskannya nanti," Shiori membalas dengan anggun, lalu menarik lonceng dan membunyikannya perlahan.

Tentara wanita segera tiba dari lorong dan memasuki pintu.

Dia mendorong sebuah troli yang membawa segala macam teh. Putri tampaknya menjamu Masatsugu untuk minum teh. Berdiri di samping, Hatsune memberi gerak-isyarat pada Masatsugu untuk duduk di atas sofa.

"Onii-sama, silahkan duduk."

Masatsugu ragu-ragu sebentar, ingin tahu jika ia harus menolak, kemudian mengangkat bahu.

Setelah berpikir matang-matang, Masatsugu duduk dengan biasa. Kalau begini, tidak mungkin bisa berlaku sopan. Di atas itu, penghubung-penghubung akan melintasi ketika ia mendapatkannya. Ia akan menemukan sebuah solusi setidaknya. Memutuskan hal itu, Masatsugu duduk menghadap putri yang berada di belakang meja kerja.

Di depan Masatsugu adalah meja kaca yang tipis.

Tentara gadis menaruh cangkir teh di sana dan menuangkan teh hitam. Lalu berjalan menuju meja putri dan juga menuangkan teh cangkir.

...Pada waktu yang sangat singkat itu, Masatsugu dihantam oleh perasaan kejanggalan.

Meskipun ia adalah tamu undangan, logika seperti apa yang ada di sana dengan menjamu murid SMA di depan putri? Konsekuensinya, Masatsugu dapat bereaksi untuk masalah yang datang padanya secara langsung tanpa peringatan. Cangkir teh yang tentara wanita itu letakkan di atas meja—

Shiori mengambilnya dan melemparkannya dengan kuat.

Targetnya adalah Tachibana Masatsugu, yang duduk di atas sofa beberapa meter jauhnya!

"!"

Melebarkan matanya, Masatsugu melihat kalau cangkir teh tanpa diragukan diarahkan menuju wajahnya.

Namun, tubuh Masatsugu bereaksi secara refleks seperti biasa. Kepalanya dimiringkan ke samping sekitar 10cm, menghindari cangkir terbang dengan cepat.

Cangkir teh melewati di mana wajahnya tadi.

Cangkir yang dilempar dengan tenaga seperti itu menggelinding turun dari sofa dan menuju karpet di depan Masatsugu yang bisa melihatnya jatuh.

Tubuhnya bergerak secara refleks sesaat ia merasakan bahaya di belakangnya.

Memang, seseorang diam-diam menyusup di belakang punggung Masatsugu untuk menyerangnya dengan pedang kayu!

Kepala Masatsugu akan terbelah jika ia menghindari sedetik kemudian. Dengan gerakan berubah-ubah, Masatsugu berdiri dengan cepat.

Ia berbalik pada wajah penyerang di belakang sofa dan melihat identitasnya dengan jelas.

"Ini kau, Hatsune!"

"Mengesankan seperti biasa, Onii-sama!"

Menggenggam pedang kayu, Hatsune berdiri di belakang sofa.

Enam belas tahun, Tachibana Hatsune adalah gadis dengan postur ramping. Saat ini, dia memancarkan aura pengendalian. Menahan sikap berdiri seigan tingkat menegah, dia mengarahkan lurus ujung pedangnya kearah wajah Masatsugu.

Dengan keseimbangan kaki yang luar biasa, Hatsune dengan segera mendekat padanya.

Menyerang dari depan, dia mengayunkan pedang kayu dengan suara tajam dari irisan angin. Masatsugu dengan tergesa-gesa pindah ke kanan dan menghindari tebasan kilat.

"Bersiaplah!"

Hatsune melakukan serangan kuat menuju wajah Masatsugu.

Masatsugu memiringkan kepalanya untuk menghindar namun tikaman cepat dengan langsung mengarah ke tenggorokannya. Masatsugu mengambil lompatan mundur yang jauh, menjauhkan dirinya dari pendekar pedang muda sepupu jauhnya.

Hatsune menggunakan kesempatan itu untuk mengambil langkah besar ke depan dan melepaskan tebasan diagonal ke bawah.

Masatsugu menghindari tebasan dengan cekatan. Melewati targetnya, pedang kayu itu melanjutkan bersama tebasan diagonal ke atas dan serangan kombinasi yang berubah-ubah. Gaya berpedang Hatsune tajam dan cepat seperti angin.

Pedang kayu yang digunakan oleh Hatsune sangat pendek, bisa dibandingkan pada kodachi panjangnya.

Mengayun pedang besar seperti dalam drama bersejarah akan langsung menyebabkan kerusakan pada langit-langit atau dinding. Karena itu, Hatsune memilih kodachi yang ringan dan sesuai.

Terkesan dengan perhatian tanpa celah untuk seluk beluk seseorang yang tidak akan diperkirakan dari seorang gadis, Masatsugu berjuang untuk menahan serangan-serangan itu.

...Juga, tentara wanita yang menjamu teh sudah pergi. Terlihat kalau dia mengetahui perkembangan ini akan terjadi.

Sementara itu, Hatsune memasuki jarak tingkat menengah lain dan tertawa dengan gila.

"Fufufufu, kamu tidak bisa menang jika semua yang kamu lakukan adalah lari, Onii-sama!"

"Apa maksud sandiwara ini untuk menguji kemampuanku?"

"Benar, pemimpin klan Tachibana memutuskan memilih dari dua pengawal generasi termuda untuk putri. Onii-sama, kamu dipilih."

"Kenapa aku?"

"Onii-sama, satu-satunya pemuda yang tersisa di klan kita adalah kamu dan aku."

Masatsugu menerima alasan jelas dan mudah ini. Memikirkannya lagi, semua keluarga yang ia temui selama dua tahun lalu semuanya orang dewasa yang sekitar empat puluh tahunan.

"Omong-omong, aku benar-benar tidak tahu kamu sehebat ini."

"Kebanggaan klan Tachibana sendiri sebagian besar berada pada kekuatan dan keberanian. Aku berlatih dengan martial art sejak kecil, mengingat terlibat dalam masalah kecil dianggap sebagai bagian latihan prajurit, jadi kemampuan tingkat ini satu-satunya yang diperkirakan."

"Mendengar pada pengakuanmu, aku benar-benar ingin tahu tentang bagaimana serius masalah yang kau dapat..."

"Apa kamu cukup pemanasannya? Oke, ayo mulai serius. Kita akan putuskan siapa Tachibana muda yang terkuat!"

Masatsugu sungguh cemas untuk melihat sepupu manisnya mendesaknya.

"Sekarang itu menempatkanku dalam sebuah dilema. Aku benar-benar tidak ingin menyakitimu."

"Ah, itu benar-benar mengagumkan, Onii-sama. Terasa seperti saingan yang ditakdirkan akan melepaskan kekuatannya, getaran yang bagus. Serangan dengan semangat semacam ini!"

"Aku tidak ingin melakukan seperti yang kau mau... Tapi seperti yang aku katakan sebelumnya, aku tidak memiliki sedikitpun ingatan masa laluku."

Sikap Hatsune sembrono tetapi kemampuannya adalah sesuatu yang nyata.

Masatsugu berbicara dengan jelas, "Ini benar kalau aku menggunakan martial art ketika terserang bahaya. Aku mengira harus berlatih dengan martial art di masa mudaku, hingga mendarah daging kedalam tubuhku. Tapi..."

Tachibana Masatsugu rupanya mempelajari pertarungan tak bersenjata dan pendekar pedang sejak kecil. Setidaknya, inilah apa yang keluarganya beritahu. Namun, selama dua tahun lalu sejak kehilangan ingatannya, ia tidak berlatih sama sekali.

Luar biasanya, ia tidak merasakan dorongan untuk latihan.

Karena itu, ia tidak ingat apapun yang mungkin dianggap sebuah gerakan atau kemampuan dalam pendekar pedang atau pertarungan tanpa senjata.

Ia bisa lebih hebat daripada menguasai dirinya jika hanya menahan serangan lawan, namun...

"Ketika aku menyerang—Cenderung menjadi sedikit berbahaya."

"Kamu semakin hebat, Onii-sama! Apa yang kamu katakan terdengar lebih seperti 'Menjauhlah dari pandanganku kecuali kau ingin mati. Tenanglah, tangan kiriku...!'"

Mata Hatsune mendapati tertarik untuk suatu alasan.

Masatsugu mengangguk dan mengatakan, "Yah, lebih khususnya, 'Aku akan mengambil teko itu di sana untuk menghangatkanmu dengan air mendidih, lalu mengaduk-aduk wajahmu dengan bubur.' Itulah gaya pertarunganku, mungkin?"

"...Eh? Benarkah?"

"Martial art yang aku pelajari sebelumnya nampak menjadi gaya yang benar-benar terfokus pada pertarungan sungguhan. Setiap serangan yang kejam tanpa menahan apapun. Jika ada botol bir di dekat sini, aku akan mengambilnya lalu memukulkannya pada orang. Ketika lawan mencoba meremehkanku, aku tiba-tiba akan menanduknya, dan memukulnya langsung."

Kembali ketika mereka memasuki SMA pertama kali, Masatsugu dan Taisei kebetulan bertemu di pusat keramaian kota pada malam hari.

Sayangnya, mereka berjumpa tujuh atau delapan preman dan ditarik menuju gang belakang yang sepi. Inilah kenapa Masatsugu menunjukkan betapa kotornya seorang petarung yang ia miliki.

Setelah itu, Masatsugu terjerumus kedalam masalah yang serupa beberapa kali...

"Tidak bisakah kau bertarung dengan lebih baik seperti di manga shounen?"

"Aku setuju, tapi kamu tidak memiliki dasar moral untuk mengatakan itu ketika kau menyerangku dengan pedang kayu."

"Sebandingnya, semua laki-laki di klan Tachibana kita dengan luar biasanya terlatih. Mereka tidak pernah merasa terganggu oleh tipuan kecil semacam ini. Bukankah kau hidup dan semangat saat ini? Se-Selain itu, a-aku tidak punya pilihan!"

Hatsune tersenyum dengan bersalah sembari berbicara.

"Setelah berbicara dengan putri, aku memutuskan 'ini akan lebih menarik,' kau tahu? Putri mengijinkannya juga, jadi..."

"...Putri yang mengijinkan lelucon ini?"

Masatsugu mengerut pada penyampaian kebenaran yang tak terduga.

Namun, dipikir-pikirkan lagi, ia mengingat kalau Putri Shiori adalah orang pertama yang tepat untuk membuat pergerakan. Lagi pula, dia menyerang dengan tenaga penuh. Masatsugu melirik pada karakter merepotkan tersebut.

"Secara teknis, ini adalah ujian untuk ketangkasan pengawal."

Putri cantik itu tersenyum dengan lembut kearah Masatsugu.

Senyum bermatabatnya membawa keelokan yang berbicara dari seluruh Suruga.

"Ujian yang selesai dengan mudah akan tak berguna. Oleh sebab itu, kita memutuskan untuk menggantinya sedikit."

Jelasnya, putri tidak mendekati "penurut" seperti penampilannya yang akan menyatakan—

Ini adalah pandangan pertama Masatsugu pada kebenaran diri Fujinomiya Shiori. Dia adalah putri bangsawan, kepintaran dan kecantikan yang menawan, belum lagi di dalam persembunyiannya terdapat segala macam aspek rahasia...

Shiori melanjutkan berbicara pada Masatsugu yang termenung-menung, "Mengatakan itu, ujian ini berlangsung cukup lama. Tachibana-sama, kamu memenuhi banyak syarat untuk melayani sebagai pengawalku. persyaratan terakhir adalah persetujuanmu."

"Aku mengerti."

Diberikan hak untuk memutuskan, Masatsugu benar-benar setuju dengan siap.

"Semenjak melayani Yang Mulia adalah persoalan klanku, aku tidak keberatan..."

Masatsugu tidak merasakan kesetiaan pada keluarga kerajaan tapi ia berhutang pada klannya. Selain itu, ia mempunyai beberapa bakat karena membantu Hatsune dalam pekerjaannya tidak harus jadi masalah... Seperti yang ia putuskan, dugaan tertentu melintasi pikirannya. Mungkin ini adalah kesempatan baik untuk memecahkan "suatu persoalan" juga.

Masatsugu memutuskan kalau ia perlu meninjau masalahnya dengan baik, tapi sayangnya, ia tidak mempunyai waktu berharga di kala ini.

Tak disangka, bunyi sirene dalam pemandangan untuk sinyal situasi darurat.

Bagian 3[edit]

Sirene tiba-tiba menggema menembus benteng pertahanan Suruga.

Fujinomiya Shiori dengan segera meninggalkan ruang resepsi dan keluar dari bangunan. Membawa Tachibana Hatsune dan bawahan barunya, Tachibana Masatsugu, dia menuntun arah jalannya.

"Kemana kita pergi, Putri?"

"Menara pusat. Di mana informasi terkumpul. Kita akan pergi ke sana untuk menemukan apa yang pastinya terjadi," balas Shiori pada Hatsune yang mengikuti di belakangnya.

"Tapi apakah mereka akan mau memberitahu orang luar seperti kita...?"

"Jangan khawatir. Masalah seperti itu mudah untuk diselesaikan dengan mengandalkan kekuasaanku—Tidak, aku pastinya akan melakukannya."

"Seperti yang diduga dari putri. Senyum gembira yang dipasangkan dengan kekejaman, ini pastinya bagus."

Perkataan dan sikap Shiori tidak terlihat seperti putri yang suka bersembunyi.

Sudah terbiasa dengan hal itu, Hatsune bercanda untuk menghidupkan suasana, dan mengikuti Shiori dengan patuh dan hormat.

Sebaliknya, Tachibana Masatsugu mengikuti terakhir, yang tampak tidak begitu terganggu. Inisiatif penampilan tiba-tiba Shiori tidak meningkatkan banyak keraguaannya.

Tidak ada yang mengetahui jika ini karena ia memiliki kepribadian yang tenang atau biasa dalam melakukan sesuatu. Atau mungkin keduanya?

Pemandangan sebelumnya menunjukkan kalau Masatsugu bukanlah orang biasa, tapi itu tidak cukup. Ia harus terbangun menjadi salah satu pahlawan terhebat untuk menyemarakkan catatan sejarah sepanjang waktu.

Ini juga tujuan Shiori dengan memanggilnya ke benteng pertahanan.

Untuk membiarkannya menghirup udara yang terhubung menuju medan pertempuran. Yang mungkin akan menawarkannya suatu pendorong, pemicu perubahan baru di dalam Tachibana Masatsugu—

Shiori melakukan ini dengan harapan seperti itu.

Setidaknya, Shiori menuntun mereka dengan cepat dan tiba di jantung benteng pertahanan setelah lima menit. Ini adalah menara berbatu bata yang berdiri di tengah tempat ini, menara pusat.

Menara yang kira-kira empat puluh meter tingginya dengan lingkaran fengshui raksasa yang terpasang di atas.

Fasilitasnya sendiri telah dibangun beberapa puluh tahun lalu dan coraknya sangat tua. Shiori memasuki lantai atas ruangan dengan langsung.

Jalan-jalan masuk seluruhnya terbuka, menyediakan jalan masuk bebas ke lantai bawah.

Terdapat empat belas atau lima belas tentara dari pasukan provinsi Tōkaidō di ruangan. Menyadari putri berambut pirang putih, setengah tentara hormat dan melemparkan tatapan kejutan padanya satu demi satu.

Shiori awalnya ingin meminta untuk salah satu petugas tapi kemudian terpikir padanya kalau seharusnya ada seseorang yang peringkatnya lebih tinggi di tempat.

"Chevalier Kamamoto, boleh minta waktunya sebentar?"

"Tentu, Putri, saya bersedia melayani anda."

Chevalier tua yang melayani sebagai penjaga istana sementara diikuti oleh beberapa bawahannya.

Bawahan itu melangkah mundur demi memberikan jalan bagi Shiori sesaat mereka melihatnya mendekati, mengikuti kelompoknya untuk mencapai pak tua itu yang dalam seragam petugas hitam.

"Apa penyebab sirene sebelumnya? Jelaskan padaku sebisa mungkin."

"Bajak laut... sepertinya. Naga-naga di Teluk Suruga saat ini sedang mengatasi mereka."

"Dengan kata lain, kapal-kapal bersenjata sedang mendekati Kota Suruga."

"Masih belum ada konfirmasi mengenai kapal, tapi ini sangat mungkin."

Shiori sudah menghubungi pak tua itu beberapa jam sebelumnya untuk meminjam ruangan di benteng pertahanan.

Sebagai bagian kelas istimewa, Chevalier sering berubah menjadi pak tua yang keras kepala dan sombong dengan bertambahnya usia mereka. Namun, Pak tua Kamamoto adalah pak tua yang alaminya baik.

Nada pria itu ramah, kemungkinan mencoba untuk menenangkan hati Putri Shiori.

"Serahkan saja pada saya. Saya tidak percaya ini akan berkembang menjadi kejadian besar. Tolong kembalilah dengan selamat ke kota, Putri."

Tiga hari sebelumnya, benteng pertahanan Suruga kehilangan petugasnya yang bertindak sebagai penjaga istana. Penjaga istana sebelumnya ditangkap atas tuntutan korupsi dan sekarang ditahan di markas besar polisi militer luar kota.

Mengambil alih kewajibannya adalah Chevalier Kamamoto yang pensiun selama hampir tujuh tahun lebih.

Kecuali terdapat kekurangan tenaga, penjaga istana benteng pertahanan harusnya jadi Chevalier—Karena ini aturan yang tak tertulis, seorang pak tua pensiunan mengingat untuk mengambil alih peran sementara waktu.

"Bajak laut, apa itu...?" gumam Shiori pada dirinya.

Sepuluh tahun lalu, ketika Kerajaan Jepang menjadi jajahan sekutu Romawi Timur...

Beberapa tentara menjadi pembelot, memutuskan untuk menentang Romawi sampai akhir. Ada juga radikal yang melancarkan serangan teror, mengerahkan sikap pengabaian Romawi terhadap Jepang. Orang-orang tersebut akan menyewa perompak demi kesempatan ketika mereka menghadapi kekurangan dalam mengumpulkan dana.

Kapal-kapal bajak laut semacam ini semuanya akan dilengkapi dengan senjata api dan amunisi—

Penjaga pesisir menyebarkan naga laut binatang penlayan' di dekat air untuk mendeteksi bau serbuk mesiu seawal mungkin. Apa naga laut yang meningkatkan bunyi alarm kali ini juga?

Namun, apa musuh-musuh itu benar-benar bajak laut? Sama halnya Shiori memenungkan diri...

Suara menirukan lonceng bergema di tengah udara.

Kekuatan mistik yang menghasilkan suara ini tidak besar. Shiori menyaksikan rubah putih, sekitar ukuran telapak tangan, di atas bahu Pak Tua Kamamoto.

Ini adalah pipe fox, binatang pelayan kecil yang digunakan oleh Pasukan Kerajaan.

"Oh."

Pak Tua Kamamoto melebarkan matanya dan pipe fox melompat dari bahunya.

Pipe fox itu berlari dengan imut ke dinding di mana terdapat sebuah kursi berayun yang kosong.

Lalu setelah pipe fox berlari di bawah kursi, seorang gadis muncul dari udara sempit dan menduduki kursi tersebut.

Berpakaian sebagai gadis kuil, gadis itu mempunyai poni yang mencapai alis matanya dan hitam, rambutnya sepanjang bahu. Sangat manis, gadis yang menyerupai boneka Ichimatsu dan nampak berumur delapan atau sembilan tahun.

"Sakuya, apa kamu punya sesuatu yang mau diberitahukan?"

Pak Tua Kamamoto bertanya dan gadis bernama Sakuya mengalihkan kepalanya padanya.

Sosok rampingnya dan garis tubuh gadis kuilnya sedikit kabur. Daripada disebut seorang manusia sungguhan, dia merupakan gambaran yang diproyeksikan oleh roh, berarti pengganti untuk sebuah tiruan.

Dia mungkin roh spiritual yang melindungi benteng pertahanan Suruga.

"Penyerbuan... Le... gion... Musuh, peringatan..."

Sakuya melaporkan situasi pertempuran yang berubah dan memancarkan gelombang spiritual.

Pemandangan yang diproyeksikan oleh gelombang spiritual menutupi langit-langit dari lorong lantai tanah menara pusat. Seperti layar raksasa di bioskop.

Pemandangan di atas menunjukkan situasi di laut.

Terdapat tiga tubuh mengambang di permukaan laut, menyerupai naga laut yang panjangnya sepuluh meter. Namun, tubuh matinya memiliki sisik-sisik keemasan, yang berarti mereka adalah naga laut yang digunakan oleh penjaga pesisir. Leher ketiganya terpenggal, mungkin diserang oleh musuh.

...Pemandangan itu berganti menuju pemandangan baru.

Ini adalah permukaan laut yang jauh, beberapa meter jauhnya dari pesisir. Ada tujuh atau delapan kepala yang muncul keatas dan kebawah, berenang kearah pantai sementara menapaki air.

Namun, sosok-sosok "humanoid" itu bukanlah manusia.

Berdiri delapan meter tingginya, bayangan mereka yang besar menyerupai Legion.

Selain itu, tubuh mereka melepaskan uap hitam, menghalangi pemandangan jelas untuk memperkuat penampilan mereka...

"Saat ini, banyak Legion yang membunuh tiga naga laut... dan bergerak menuju benteng pertahanan Suruga. Musuh dengan diam-diam menggunakan penyamaran spiritual, tipe dan gabungan yang tak diketahui. Juga, video ini didapat melalui teknik spiritual... dari seseorang dengan wyvern penjaga pesisir, yang menyaksikan suasana..."

Gambaran Sakuya yang duduk di atas kursi goyang sembari memberikan laporannya.

Suaranya sangat tenang dan pelan, agak sulit dimengerti karena terkejut. Bagi telinga Shiori, terdengar seperti grim reaper yang berkunjung dengan tak menyenangkan.

Dinding pertahanan dan parit tidak bisa menghentikan Legion Terbang.

Namun, benteng pertahanan mempunyai pelindung modern untuk melakukan perkerjaan sebagai gantinya. Pipe fox, mereka adalah roh yang diciptakan oleh Raja Tenryuu, dan berperingkat tinggi.

"Roh, Seiryuu..."

Ketika gambaran Sakuya menyebut nama ini, lingkaran sihir raksasa muncul di langit.

Sebuah lingkaran cahaya biru, tujuh puluh meter diameternya, yang memuat dalam seluruh benteng pertahanan. Terdapat pola dan karakter Bahasa rumit di dalamnya.

Di belakang lingkaran sihir itu, naga raksasa sederajat terbentuk.

Lebih tepatnya, ini adalah "gambaran naga raksasa."

Tubuh ramping dan menyerupai ular tertutupi oleh sisik biru kelam.

Naga raksasa itu juga memiliki dua tanduk dan empat anggota tubuh yang pendek—Keagungan suci dan bentuk nyatanya tanpa diragukan termasuk pada simbol Raja orang timur, binatang suci yang dikenal sebagai "naga." Tubuh transparan yang menandai ini adalah gambaran yang diproyeksikan.

Benteng pertahanan Suruga tidak berada di ketinggian yang tinggi, tapi ini terletak di atas puncak gunung setidaknya.

Melingkupi area kota yang bisa melihat gambaran Seiryuu juga. Area kota yang mendekati benteng pertahanan sudah membunyikan alarm untuk menyatakan hukum darurat perang.

"Kelompok Legion yang tidak diketahui bergerak menuju benteng pertahanan? Siapa yang pastinya berperan sebagai bajak laut...?" penjaga istana sementara Suruga, Chevalier Kamamoto, dengan pelan bergumam.

Sekarang, dia menunggangi wyvern biru dan terbang melintasi benteng pertahanan. wyvern identik dengan kadal dalam penampilan kecuali dengan sayap yang menyebar dari bahunya daripada anggota tubuh bagian depan.

Wyvern lebih dari dua kali sebesar kuda asli, binatang penjaga menengah yang kira-kira empat meter panjangnya.

Menunggangi di atas pelana, Chevalier Kamamoto mengatakan, "Dengan nama Zuihou, Gelar yang diberikan pada kami para prajurit Kerajaan Jepang—Berkumpullah."

Lingkaran cermin muncul di tangan kanan kesatria pak tua itu.

Lingkaran cermin terang nampak menjadi warna mengkilap dan seukuran telapak tangan. Ini adalah Zuihou, segel Chevalier untuk memanggil Legion Kerajaan Jepang, Kamuy, juga sebagai lencana keberanian yang agung.

Melonjak sementara menunggangi di atas wyvern-nya, pak tua itu melepaskan sejumlah gelombang aura besar.

Gelombang aura dengan segera dibentuk, berubah menjadi pasukan Legion terbang.

Total dua puluh tujuh Kamuy, yang dilengkapi dengan armor dan seragam berwarna bersama "samurai biru" tekenal dunia. Semua pasukan dengan senapan bayonet tingkat standard, Legion tersebut mengikuti pak tua Kamamoto menuju pertempuran.

Chevalier tua menyadari musuh mendekati dari selatan—Teluk Suruga.

"Berikutnya?"

Pemandangan yang benar-benar meluap-luap dari benteng pertahanan Suruga di atas dataran tinggi.

Teluk Suruga sampai selatan, Pelabuhan Shimizu sampai timur sementara timur laut menyajikan pemandangan megah puncak suci, Gunung Fuji. Tidak seperti perkotaan atau tempat biasa yang dikelilingi pegunungan, geografis di sini sangat bermacam-macam.

Di dalam pemandangan kelas atas, tanda-tanda pasukan musuh yang tak diketahui sedang bersembunyi.

Ada sekitar tiga puluh "sosok manusia" yang terbang dari sepanjang Teluk Suruga, pasukan musuh bersembunyi di balik teknik spiritual secara diam-diam. Setelah ditemukan oleh naga laut, mereka terbang menuju udara langsung.

Tanpa mengorganisir diri mereka, "sosok manusia" terbang dalam formasi terpencar.

Laut dan pemandangan kota Suruga secara berangsur-angsur diwarnai merah oleh matahari terbenam. Ini hampir waktu terbenamnya matahari.

Lebih dekat terhitung tiga puluh empat musuh. Chevalier Kamamoto memiliki dua puluh tujuh Kamuy di bawah perintahnya. Musuh menahan keunggulan jumlah tetapi kubu pertahanan mempunyai dukungan dari roh, Seiryuu.

Gambaran naga biru langit raksasa, dengan lingkaran sihir di belakang punggungnya, mengisi udara seluruh benteng pertahanan.

Menuju selatan, Chevalier Kamamoto memimpin dua puluh tujuh Kamuy, yang berdiri di tengah udara.

Beberapa menit kemudian, "sosok manusia" musuh mencapai tepi laut. Hanya beberapa kilometer berdiri di antara mereka di benteng pertahanan Suruga. Pada saat ini, Seiryuu membuat pergerakan.

Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh...

Seiryuu melepaskan auman nyaring dari rahang raksasanya.

Kemudian langit menjadi gelap dengan berkumpulnya badai awan. Cahaya mulai turun dari atas.

Boom! Boom! Boom! Boom! Boom! Boom! Boom!

Angin gelap terus melancarkan halilintar tanpa henti. Seiryuu dapat mengubah cuaca—Ini adalah kekuatan spiritual untuk mengendalikan fenomena cuaca, yang diberikan oleh binatang suci yakni Raja Tenryuu.

Disambar oleh halilintar, "sosok manusia" tersebut dihempaskan menjauh.

Namun, raksasa yang diselubungi dalam uap tidak terkena luka yang parah. Hanya saja halilintar itu tidak cukup untuk memusnahkan Legion.

Halilintar berubah menjadi serangan bertubi-tubi untuk menghalangi gerakan musuh. Ini adalah tujuan mengubah cuaca sebagai senjata.

Di tengah-tengah langit yang dipenuhi dengan turunnya halilintar, satu-satunya "sosok manusia" berteriak.

Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!

Ini munngkin suatu perintah.

Tiga puluhan "sosok manusia" mulai melaju, bergerak terpisah dari satu sama lain. Menjaga penyebaran formasi, mereka menyerbu dengan kecepatan tinggi.

Dengan tepat, musuh mendesak pada pasukan Kamuy yang dipimpin oleh Chevalier Kamamoto.

"Hmm!?"

Chevalier Kamamoto terkejut. Sesaat mereka bergerak, musuh melepaskan penyamaran mereka. Terbang dengan cepat tanpa rasa takut dengan tembakan halilintar, mereka bukan lagi "sosok manusia" prajurit.

"Crusade..!"

Crusade lebih besar tubuhnya daripada Kamuy.

Mereka juga mengenakan armor yang lebih tebal. Putih segar dalam keseluruhan warna, mereka dihiasi dengan garis-garis merah di berbagai tempat. Penampilan ini mestinya milik Crusade, Legion utama Angkatan Kerajaan Inggris.

"Jadi kesatria Inggris datang untuk menyerbu!?"

Ini sebenarnya bisa dimengerti. Kerajaan Jepang berserikat dengan Romawi Timur. Jika siapapun akan berani menyerang benteng pertahanan Jepang, "kerajaan lain" di Asia satu-satunya kandidat yang masuk akal.

Mengatakan begitu, Chevalier Kamamoto mendecahkan lidahnya.

"Apa benteng pertahanan masih belum menyebarkan pelindung gelombang aura...? Benar, Sakuya menyebutkan kondisi buruknya."

Musuh melancarkan serangan ganas dengan mencoba untuk menaklukan benteng pertahanan Suruga.

Seolah mereka mengingatnya di waktu lampau, "pertempuran yang berlarut-larut" akan dimulai. Dengan perintah pertahanan, roh Seiryuu melanjutkan untuk menghujani halilintar dalam perlawanan, sepadan untuk panah dan peluru sebagai "tembakan anti udara."

Permasalahannya adalah bahwa tanpa "dinding," tidak akan ada benteng

Sementara itu Crusade terus terbang dengan cepat, tak terganggu oleh sambaran halilintar dari langit.

Mereka serdadu di atas kekejaman bahkan ketika kawan mereka pun terserang dengan langsung. Bergerak dalam garis lurus, Legion Inggris mulai menggunakan senapan bayonet mereka untuk menembak secara membabi buta. Bukan peluru melainkan sinar panas yang dikeluarkan dari laras.

Puluhan cahaya terbang menembus udara seperti panah sihir, mencapai dua puluh tujuh Kamuy Kerajaan Jepang.

"Kerahkan pelindung!"

Kamuy dengan segera melaksanakan perintah Chevalier Kamamoto.

Cahaya-cahaya kecil berkelap kelip seperti zat partikulat, menutup di sekitar udara dari dua puluh tujuh Kamuy.

Cahaya jenis ini memiliki pengaruh untuk membangkitkan tembakan musuh. Sebagai hasilnya, walaupun menahan beberapa kerusakan, Kamuy Kamamoto dapat menandingi serbuan tiga puluh empat Crusade tanpa kehilangan jumlah.

Pertempuran huru hara membentang di tengah udara.

Senapa bayonet yang digunakan oleh kedua belah pihak berfungsi sebagai "tombak," membentrok dalam pertarungan melewati tikaman dan tebasan.

Seperti manusia, kepala, dada dan perut Legion adalah bagian vital. Legion yang terluka dalam bagian itu akan kehilangan kemampuan terbang dan roboh.

"Tekanan... melawan sisiku huh?"

Crusade unggul pada Kamuy dalam bidang fisik dan kekuatan.

Satu-satunya cara bagi Kamuy untuk melawan Crusade adalah menggunakan kelincahan mereka dengan taktik memukul dan berlari. Tapi sekali kedua sisi bertemu dalam pertarungan jarak dekat dengan pasukan yang dicampur bersama keporak porandaan, sisi dengan kekuatan unggul akan menahan keuntungan mutlak.

Tanpa tergesa-gesa pak tua Chevalier itu berbicara dari Crusade yang ditikam oleh Kamuy dengan wajah dan bayonetnya kemudian menarik pelatuk secara langsung.

ChronicleLegion 01 BW05.jpg

Senapan bayonet adalah senjata yang terdiri atas senapan militer dengan pisau yang disesuiakan di ujung depan larasnya.

Normalnya, sinar yang ditembakkan dari moncongnya menyebabkan kepala Kamuy meledak.

Selanjutnya, sinar yang melesat terus dalam garis lurus, menembus target baru. Sayangnya, tunggangan wyvern Chevalier Kamamoto tertembak.

"Ohhhhhh!?"

Cahaya itu mengoyak salah satu sayap wyvern.

Kehilangan keseimbangan untuk terbang, wyvern tersebut jatuh, membawa penunggangnya bersama dengannya. Bobot jatuhnya sekitar enam puluh atau tujuh puluh meter.

Chevalier Kamamoto menghantam menuju bukit hijau. Beruntungnya, tubuh raksasa wyvern menjadi bantalan jatuh, sehingga ia selamat dengan hanya beberapa tulang patah dan memar.

Namun—

Raksasa yang turun di depan Chevalier Kamamoto selamat.

Sesosok Crusade, berniat untuk membunuh Chevalier Kamamoto. Pendaratan Legion Inggris menyebabkan tanah bergetar dan bergemuruh. Lebih dekat, terlihat sebesar tiga atau empat bangunan kuno.

Senapan bayonet di tangan raksasa itu kira-kira empat meter panjangnya.

Lebih dari dua kali berat pak tua itu.

Salah satu bayonet disesuaikan pada senapan atau cahaya dari moncong yang bisa dengan mudah menghancurkan Chevalier Kamamoto berkeping-keping. Menjunjung kebanggaannya sebagai tentara Pasukan Kerajaan, pak tua Kamamoto menahan tubuh terlukanya untuk berdiri secepat mungkin. Pada waktu yang sama, ia menarik pistol setengah otomatis 9mm dari sarung di pinggangnya.

Namun, hal semacam ini tidak bisa menghentikan Legion raksasa.

Tanpa menggunakan senapan bayonetnya, Crusade mengayunkan kaki kirinya seolah menendang batu kerikil.

Pergerakan kecil ini menghantam Chevalier Kamamoto dengan keras, menyepaknya menuju udara. Seperti ia akan kehilangan kesadaran, ia dengan putus asa memerintahkan Kamuy di bawah perintahnya.

Dia menyuruh Kamuy untuk mempertahankan benteng pertahanan sampai akhir atas namanya. Pemikiran ini menjadi dinding dan surat wasiat akhir pak tua.

Bagian 4[edit]

Di dalam lorong lantai bawah menara pusat, Masatsugu mendesah.

Mengapung di tengah udara, jendela raksasa muncul sebagai layar, yang memainkan suatu video.

Ini menunjukkan jalannya pertempuran antara Legion di dekat langit benteng Suruga—Bentrokan kuat antara pasukan Kamuy yang dipimpin oleh Chevalier Kamamoto melawan pasukan Inggris Crusade.

"Unggul telak..." keluh Masatsugu.

Setelah kematian Chevalier Kamamoto di pertarungan, Kamuy dengan jelas menjadi lebih rapuh.

Kapanpun Crusade mendekat, Kamuy akan mengayunkan senapan bayonetnya untuk melawan. Sayangnya, mereka terlalu lambat, benar-benar gagal untuk menghindar atau menangkis serangan musuh. Sebaliknya semua serangan Kamuy tidak berhasil.

Seperti ini, mustahil untuk menandingi pasukan Inggris dengan keunggulan kekuatan mereka.

Meski begitu, dua puluh tujuh Kamuy tidak menyerah bertempur. Walau serangan mereka sering meleset. Mereka tetap menembakkan senapan mereka pada Crusade dan menusuk dengan bayonet.

Biasanya, ketika Chevalier mati, Legion di bawah perintahnya akan menghilang.

"Apa itu kehendak terakhir Chevalier...?" Masatsugu berbisik pada dirinya. Tidak dapat dijelaskan, dia merasakan perasaan tertentu.

Kadang kali, Legion akan membawa perintah terakhir masternya seolah untuk menguatkan harapan akhir mereka. Ini terutama benar untuk Legion utama Jepang, Kamuy, mereka setia pada perintah istimewa.

Segera ia menyadari alasan kenapa Kamuy bertarung secara pantang menyerah, Masatsugu merasa gelisah.

Tachibana Masatsugu adalah murid yang tidak tahu apapun tentang Legion. Ia tidak bisa mengerti kenapa ia tahu hal tersebut dengan pasti.

Sementara itu, unsur yang tidak bagus lainnya muncul di atas medan pertempuran.

"Naganya menghilang...?"

Masatsugu meragukan matanya. Gambaran dragonoid dewa penjaga Seiryuu lenyap tanpa peringatan dari udara seluruh benteng pertahanan yang ditempati sampai sekarang.

Para tentara di dalam lorong menara pusat juga dituntut di antara mereka sendiri, tidak bisa menyembunyikan kehilangan ketenangan.

Salah satu petugas berlari ke sudut lorong, menuju di mana gambaran Sakuya duduk di atas kursi berayun.

"Sakuya sama? Apa yang terjadi padamu, Sakuya-sama!?"

Gambaran gadis kuil itu menghilang, terhapus dari pemandangan pada waktu yang sama seperti Seiryuu.

Sesudah itu, orang-orang mulai berbicara tiba-tiba. Seseorang menyarankan untuk menemukan pengendali spiritual sembari yang lainnya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada naga. Kondisi Chevalier Kamamoto juga berada pada diskusi utama. Pemandangan yang dipenuhi dengan teriakan dan perintah kemarahan.

Keputusasaan untuk mematahkan keadaan sulit yang menjangkiti setiap petugas dan tentara di bawah mereka. Namun, tanpa Chevalier penting, ini adalah terkaan bagi siapapun untuk seberapa banyak usaha yang mereka dapat capai—

"...Masatsugu- sama dan Hatsune, kemarilah."

Putri tiba-tiba memanggil Masatsugu dan Hatsune.

Shiori berjalan dengan cepat dari lorong di dalam menara pusat dan Hatsune mengikuti secara langsung. Masatsugu pun melakukan hal yang sama.

Sejujurnya, ini bukan seorang pemimpin yang akan diperkirakan dari putri rumahan.

Semenjak sirene berbunyi, Shiori mengeluarkan berbagai perintah yang tepat. Sifat penurutnya semata-mata merupakan bagian luar arti untuk kerumitan dunia.

Segera mereka meninggalkan menara, binatang kecil muncul di atas bahu Shiori.

Seekor rubah putih seukuran hamster, dengan julukan binatang pelayan kecil yang disebut pipe fox. Roh yang dinamai Sakuya yang digunakan binatang sejenisnya.

Masatsugu mengatakan, "Binatang pelayan... Hari ini adalah pertama kaliku melihat langsung."

"Ini sesuatu yang aku minta pada ayah Hatsune. Menjaga seseorang benar-benar berguna."

Binatang putih kecil di bahu Shiori bernapas melalui kedua lubang hidungnya.

Raja Tenryuu memberikan banyak binatang pelayan pada Kerajaan Jepang dan pipe fox adalah salah satu jenisnya. Menggunakan kekuatan spiritual sejak lahir, mereka dapat menuntun umat manusia dengan mengundang keajaiban kecil.

Seperti senjata api, binatang pelayan merupakan salah satu yang diperbolehkan untuk digunakan oleh petugas militer dan polisi sebagai bagian dari asas dasar.

Terdapat rumor binatang pelayan ilegal di dalam masyarakat...

Shiori berbicara pada binatang misteriusnya, "Roh spiritual benteng pertahanan ini... apa itu yang disebutkan Sakuya, ya? Aku perlu berbicara padanya, jadi tolong cari dia. Kamu harusnya bisa menemukannya di genangan air bawah tanah."

Pipe fox meringkuk dan menghilang seperti itu.

Segera menuruti perintah, meninggalkan dengan tiba-tiba sesampainya.

"Putri, bisakah kamu memanggilnya dari tempat di mana kita tadi?"

"Tidak di depan orang lain. Aku perlu bicara padanya dengan rahasia," balas Shiori langsung pada pertanyaan Hatsune.

"Roh spiritual itu—terlihat sedikit aneh."

Ada perasaan tertentu di dalam nada suara putri.

"Yang disebut roh spiritual adalah dinding sebuah roh, sesuatu yang sama untuk avatar. Aku percaya kalau dia dan Seiryuu tidak bisa mempertahankan wujud mereka karena ketidakstabilan spiritual."

"Bagaimana kau bisa yakin?" Masatsugu tidak dapat dapat melakukan apa-apa tetapi menyisipkan diri. Ia sangat penasaran dengan nada yang Shiori ucapkan.

Atas kepentingan master-nya, Hatsune yang adalah pelayan pribadi menggembungkan dadanya dengan bangga dan mengatakan, "Ingat ini ya Onii-sama, putri kita tidak hanya pintar tapi juga diberkati dengan bakat spiritual. Dia benar-benar merupakan lambang kepintaran dan kecantikan, orang yang patut dicontoh dari teladan Yamato Nadeshiko!"

Bakat spiritual menunjuk pada kemampuan untuk merasakan dan mengirim gelombang spiritual.

Julukan pengendali spiritual diberikan pada mereka yang bekerja keras untuk memperoleh bagian sertifikasi. Dibandingkan pada manusia biasa, mereka adalah orang yang lebih bisa berkomunikasi dengan roh dan binatang pelayan, yang juga terampil dalam kendali spiritual.

Hatsune nampak begitu puas, tapi Shiori mengatakan dengan biasa, "Seperti rambutku, kemampuan semacam ini langsung barasal dari garis keturunan kakekku. Banyak putri mewarisi darah binatang suci yang memiliki bakat untuk ilmu mistik, itulah sifatku yang terkuat."

"Hebat."

Pujian biasa Masatsugu yang membisiki Shiori untuk mengangkat bahu dan mengatakan, "Begitu ya? Kaisar wanita saat ini yang mempunyai darah naga sedikit... Yang mana adalah mengapa pendukung terdekatnya selalu memandangku dengan permusuhan. Mereka mempercayainya sebagai hinaan besar bagiku untuk menanggung kemiripan pada kakekku meski termasuk pada saudara muda. Pada hakekatnya, keadaan merugikan lebih banyak."

Rambut pirang putih menawan putri berasal dari garis keturunan Raja Tenryuu.

Namun, Kaisar wanita saat ini, Yang Mulia Teruhime memiliki rambut hitam yang sama seperti orang Jepang. Masatsugu sekarang mengerti alasannya.

Shiori melanjutkan, "Tolong jaga rahasia ini yang aku beritahukan pada orang-orang yang dekat untukku."

"Seperti yang anda perintahkan."

"Selain dari masalah spiritual, aku juga menjaga banyak rahasia lain. Ini termasuk kepribadian asli juga fakta kalau aku lebih pintar dari sebagian orang yang salah mengira tentangku."

"...Pintar, ya?"

"Betul, dengan berbagai hal, aku tidak pernah kalah pada siapapun."

Ekspresi nyata putri membuatnya terdengar seperti menjadi pintar adalah suatu keharusan. Kata pintar yang sangat tidak sopan datang ke pikiran Masatsugu.

Pada saat itu, suara lonceng terdengar.

Pipe fox yang berada di atas bahu Shiori sebelumnya muncul dari udara tipis. Binatang pelayan kecil kembali.

"Bagaimana hasilnya?"

Pipe fox mengganggukkan kepalanya sedikit.

Nona muda mendesah dan mengatakan dengan jengkel, "Roh yang bernama Sakuya... aku tidak percaya dia menutup hatinya dan menolak untuk mendengar pada siapapun. Dalam hubungan manusia, dia nampak menjadi anak yang begitu malu. Jika dia berjanji untuk menjaga rahasia, aku akan rela membantunya..."

Di tengah keputusannya, putri tidak bisa lagi mendengar.

Dentaman tiba-tiba membanjiri suaranya. Sesuatu yang keras dan berat runtuh, yang diselingi oleh ledakan. Ini adalah apa yang mereka dengar.

Dinding pertahanan Suruga yang berbentuk bintang—Telah diterobos pada satu titik.

Tak diragukan lagi, Crusade musuh pastinya yang bertanggung jawab.

Dua Crusade tetap menembakkan senapan bayonet mereka dari udara. Menembus Kamuy yang ditugasi dengan harapan terakhir pak tua Kamamoto, mereka menyerbu kedalam area dekat benteng pertahanan.

Setelah itu, dua Crusade mendarat di dalam benteng pertahanan.

Dampak berat mengguncang tanah. Salah satu Crusade mendarat di atas atap bangunan kuno berukir baja.

Legion Inggris berdiri delapan meter tingginya.

Beratnya diperkirakan beberapa ratus ton yang langsung menghancurkan susunan beton yang diperkuat.

Siapapun di dalam akan mati tentunya. Berikutnya, dua Crusade mulai untuk memberondongi dengan tembakan.

Tembakan cahaya dari moncong dengan deras mengalir, meledakkan bagian dalam benteng pertahanan.

Crusade tidak mengarahkannya secara khusus. menembak pada tingkatan sepuluh tembakan per detik, tidak perlu membidik.

Berbagai susunan dalam benteng pertahanan—bangunan, markas militer, dll semuanya dibangun dari beton yang diperkuat, belum lagi mereka ditembus oleh cahaya seperti kotak kardus. Roboh. Hancur. Terbakar. Meleleh. Meledak.

Cahaya panas tajam meleleh dan mengiris melewati logam baja dan beton.

Itulah kekuatan senapan bayonet.

Hatsune berteriak dengan panik, "Putri! Kita harus buru-buru dan menemukan tempat perlindungan!"

"...Tidak, akan lebih aman untuk tetap tinggal."

Shiori melihat pada suatu bangunan. Menara pusat yang baru saja mereka tinggali.

"Menara ini adalah inti dari benteng pertahanan. Menganggapnya memiliki informasi tersembunyi di dalam dan di bawah tanah, pengendali roh atau kuil air harusnya muncul. Pihak musuh perlu untuk mengambil alih fasilitas untuk mereka gunakan sendiri... Oleh sebah itu Crusade pastinya tidak akan menyerang posisi kita."

Shiori benar.

Dua Crusade tidak berhenti menembak tetapi senapan mereka tidak pernah ditujukan dalam arah tiga orang di menara pusat.

Hatsune tersenyum dan Shiori menghela napas dalam kelegaan. Terlepas membicarakan untuk meyakinkan semua orang dengan keselamatan mereka, dia hanya dapat merasa gugup di dalam.

Berikutnya, putri menengadah dengan serius.

"Ayo ambil kesempatan ini untuk memanggil bala bantuan."

Sekujur tubuh Shiori berpijar putih. Sebuah cahaya berkekuatan spiritual.

Orang biasa pada dasarnya tidak bisa merasakan gelombang spiritual, tapi gelombang spiritual kuat akan melepaskan cahaya, menghasilkan sinar yang siapapun bisa lihat—

Menyaksikan fenomena yang dirumorkan ini, Masatsugu sangat terkesan.

"Pahlawan O yang kehilangan kekuatan, semoga keteguhan kalian dikaruniai oleh keagungan. Angkatlah keteguhan kalian."

Putri kerajaan berbicara dengan tenang di tengah-tengah cahaya putih gelombang aura.

Ingin tahu, Hatsune bertanya pada Shiori, "Putri, apa yang kamu lakukan?"

"Kamuy itu melanjutkan bertarung secara kejam dengan menghormati harapan terakhir Kamamoto-sama—aku mengumpulkan mereka untuk mempertahankan benteng pertahanan yang akan jatuh pada musuh. Namun, aku tidak tahu berapa banyak Kamuy yang akan menyerbu di sana..." gumam Shiori dengan khawatir.

Benar, Kamuy saat ini bertarung dengan berani melawan Crusade di luar benteng pertahanan juga. Tebakan siapapun dengan berapa banyak Kamuy yang masih utuh dan apakah mereka memiliki sisa untuk mengalihkan beberapa jumlah mereka kembali ke benteng pertahanan.

Dengan mengejutkan, bala bantuan tiba segera.

Menembakkan senapan bayonet mereka, dua Kamuy memasuki tempat ini dari sisi gerbang benteng pertahanan.

"Mereka yang menjaga gerbang!"

Masatsugu menyadari kalau mereka adalah dua Kamuy yang ditempatkan di sisi gerbang untuk tujuan penting. Mematuhi harapan terakhir pemimpin mereka, mereka juga masih belum menghilang dari medan pertempuran.

Bagian 5[edit]

Kuil air yang berlokasi di antara seratus sampai dua ratus meter di bawah menara pusat.

Dibandingkan lorong lantai bawah menara pusat yang berada di atas permukaan, kuil air sepuluh kali lebih luas. Seseorang bisa menyebutnya ruang yang terlalu luas. Mudahnya, adalah "ruang terbuka lebar yang tertutupi dalam batu," bangunan yang seluruhnya terbuat dari marmer putih.


Langit-langitnya sangat tinggi, setidaknya dua puluh meter.

Puluhan tiang anak tangga yang terbagi secara rata di dalam, setiap tiang ukurannya sama dengan diameter enam atau tujuh meter. Coraknya mengingatkan pada kuil Yunani kuno.

Tidak ada tanda-tanda manusia dalam lingkungan sunyi ini.

Sebaliknya, terdapat jumlah besar "air biru" di atas tanah.

Sejauh mata memandang, sebuah permukaan laut yang biru, mirip dengan warna untuk laut selatan yang indah. Itu tidak luas tetapi orang-orang dapat berjalan di atasnya.

Tempat ini, dipenuhi dengan air suci biru, kuil air suci.

Terdapat satu sudut yang terhubung pada jalanan ini dari seluruh permukaan air biru.

Seorang gadis berpakaian sebagai gadis kuil berdiri di sana, tidak bergerak. Sebuah gambaran roh spiritual Sakuya. Namun, sosoknya agak lebih kabur dari sebelumnya.

Kondisinya saat ini sangat lemah, tidak bisa melanjutkan proyeksinya.

(Penyerbuan, Le, gion... Seiryuu, melanjutkan, gagal—)

Sakuya memenungkan diri dengan kosong.

Di samping penampilan mudanya, Sakuya sebenarnya adalah roh spiritual yang hidup hampir sampai seabad. Jiwanya menghimpun banyak kelelahan. Kepribadiannya juga "pemalu" dan "berhati-hati."

Bagi gadis yang lembut sepertinya, penyerbuan Legion telah menjadi percobaan yang menyakitkan.

Mendapat kontak di jarak dekat dengan gelombang spiritual dari pertempuran roh, semangat dan melancarkan serangan sungguh-sungguh dari dua Chevalier dan banyak Legion yang mendapati jiwa Sakuya menerima luka hebat, seolah dia secara fisik diserang.

Hubungan dengan dunia luar sekarang adalah beban berat untuknya.

Baru saja, dia mengusir pipe fox yang tak diundang. Dengan hal itu, dia masih ingin memenuhi kewajibannya.

(Mencoba memanggil ulang Seiryuu... gagal. Memanggil bala bantuan... Mencoba hubungan spiritual—)

Sakuya dengan patuh menautkan dengan beberapa tugas secara lambat.

Prosesnya selambat kura-kura. Dia dengan sabar menunggu untuk tugasnya selesai. Dia menyadari tugas utama selesai, statusnya dengan baik memaksa dibuktikan.

(Chevalier Kamamoto... Gugur dalam tugas. Namun, pertempuran berlanjut...)

Biasanya, ketika pemimpin Chevalier mati di pertempuran, Legion-nya juga akan lenyap tanpa sisa.

Namun, Kamuy mematuhi harapan terakhir pak tua pada kesempatan ini dan menolak untuk menyerah bertarung.

Legion Kerajaan Jepang, Kamuy, terkenal akan kesetiaan penuh pada tuan mereka. Rahasia untuk cerita inspirasi saat ini mungkin dibendung dari ikatan panjang berpuluh tahun Kamuy dengan kesatria tetua sebagai tambahan untuk penempatan kesetiaan mereka.

Tetapi, kenyataan begitu keras. Pasukan yang kehilangan pemimpinnya tidak mungkin berada dalam posisi yang kuat.

Kamuy dengan berani melawan lebih dari tiga puluh Crusade musuh tetapi itu adalah batasnya. Sebagian besar, dalam beberapa menit lagi, pasukan Kamuy akan disapu bersih. Atau mungkin pengaruh kehendak terakhirnya akan melemah dan mereka akan menghilang dengan sendirinya.

Selama beberapa menit tersebut...

Situasi berubah. Dua Crusade membobol garis pertahanan, membebaskan diri mereka dari Kamuy yang menghalangi, dan behasil menyerbu benteng pertahanan.

Bersama dengan Putri Shiori dan sepupu jauhnya Hatsune, Masatsugu berada di dalam tempat benteng pertahanan ini.

Dua Legion Inggris, Crusade, akhirnya turun dari langit. Kamuy menjaga gerbang samping dengan buru-buru untuk menghadang musuh.

Dua samurai biru Kerajaan Jepang menembak secara berurutan selagi mendekati Crusade.

Biasanya kekuatan Inggris akan terpukul mundur. Kedua pihak merentangkan pelindung sambil bertukar tembakan. Dalam segi jumlah, mereka seimbang dua lawan dua.

Namun, kehilangan pemimpin mereka, Kamuy bergerak lambat dan dengan mudah tertembak serta terbunuh oleh Crusade.

Ditusuk oleh cahaya ke dalam perut, mereka menghilang seperti kabut pagi.

"Putri!? Kedua penjaga gerbang langsung terbunuh oleh musuh!" Hatsune menjerit dengan peringatan, tapi ada juga orang lain yang bertempur melawan Legion Inggris.

Bukan Chevalier ataupun Legion, mereka adalah tentara dari benteng pertahanan Suruga.

Mengemudikan sejumlah kendaraan berlapis baja yang ringan, mereka menghampiri dua Crusade. Salah satu tentara membuka pintu lubang palka dan menampilkan bagian tubuh atasnya. Dia membawa peluncur roket anti-tank di atas bahunya.

Senjata ini menembak 110mm granat pendorong roket, terutama untuk menandingi berat armor tank.

Selain itu, ada sebuah truk militer kecil yang membawa landasan peluncuran misil dari permukaan tanah.

Menggunakan senjata yang bertenaga konvensional, mereka mencoba melawan Legion.

Lebih dari sepuluh granat dan misil menembak secara berturut-turut kearah Crusade yang menyerbu.

Setiap proyektil mengambil tanda sasarannya. Ledakan dan getaran gelombang menghasilkan badai angin untuk membinasakan dua Legion Inggris. Sayangnya, armor putih mereka tidak menderita kerusakan sama sekali.

Menyaksikan pemandangan ini, Shiori mendesah, "Serangan tanpa kekuatan spiritual mempunyai kesempatan 90% tak berpengaruh. Inilah sesuatu yang dibagi oleh seluruh Legion. Tanpa serangan beruntung berskala raksasa, mustahil untuk mengalahkan mereka menggunakan persenjataan konvensional..."

Setelah itu, suara baling-baling datang munuju tempat kejadian.

Dua helikopter tempur terbang ke arah Crusade dengan serangan mengepung.

Peluncur misil anti tank menggantung di bawah helikopter, tentu saja, pilot yang meluncurkannya, tapi ini meleset.

Dua Crusade menembak tanpa pandang bulu dengan ganti tanpa belas kasih.

Kendaraan berlapis baja, truk dan helikopter semuanya tertembak dan meledak. Tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan divisi tank dengan armor berat dan kekuatan tembak tinggi tidak akan bisa mengatasi satu Legion...

"Ya ampun!"

Hatsune menghembuskan napas. Beruntungnya, tentara-tentara itu tidak mengorbankan diri mereka dengan sia-sia. Sembari mereka menarik perhatian Crusade, empat Kamuy lain tiba dari langit.

Merasakan gelombang spiritual Shiori sebelumnya, Kamuy segera membantu di dalam benteng pertahanan.

Samurai biru dan dua Crusade tidak lebih dari sepuluh meter jauhnya. Ini adalah jarak di mana bagian bayonet dari senjatanya akan memainkan peran mereka, ikut serta dalam pertempuran di kawasan dekat dengan menyilangkan pedang.

...Namun, dua Crusade lebih cerdas dari empat Kamuy.

Kapanpun Crusade mengayunkan senapan mereka, pedang keji menyesuaikan pada ujung yang akan berlinang menembus armor dan seragam biru Kamuy, memercikkan darah biru.

Benar, darah menjalari melewati urat dari Legion biru. Lebih penting, harusnya disebut cairan ectoplasmic.

Cairan biru ini adalah sumber segala macam kekuatan mistik, untuk sesuatu sekecil automaton yang dimiliki oleh roh atau sebesar Legion ataupun kuil air. Hal itu adalah tujuan dari cairan ectoplasmic.

"Putri, Onii-sama! Lihat!" Hatsune menunjuk pada salah satu Crusade dan berteriak.

Tentara raksasa bersayap putih menahan sesosok Kamuy bersama leher dengan tangan kanannya. Kamuy itu terangkat dan terlempar menjauh.

Kelelahan dan tubuh besar Kamuy terhempas di tengah udara di bawah sinar matahari senja.

Mengikuti lintasan parabola, tubuh delapan meter itu akan jatuh di atas kelompok Masatsugu...

"Cepat dan lari! Segera!"

Shiori mengeluarkan perintah langsung. Hatsune dan Masatsugu bereaksi dengan cepat.

Hatsune berlari secepat seekor rusa dan pertama yang kabur dari tempat jatuhnya yang kemungkinan Legion.Tentu saja, Masatsugu tidak jauh tertinggal di belakang.

Sebagai anggota termuda klan Tachibana, Masatsugu baru saja akan mempertunjukkan laju cepatnya ketika...

"Kyah...!"

Tidak diperkirakan, gadis yang di sampingnya roboh. Tanah yang jelas persis dengan tanpa halangan di dekatnya, belum lagi gadis itu tersandung sambil berlari, jatuh tepat di atas halaman hijau rerumputan.

Masatsugu terhenti sambil ia akan berlari pendek.

Ia dengan paksa memotong larinya. Kamuy raksasa akan menubruk kurang lebih dari lima detik.

Ia tidak punya cukup waktu untuk menarik gadis yang jatuh dan kabur dengan kecepatan tinggi.

"......!"

Baru saja ditunjuk sebagai pengawal gadis tersebut, Masatsugu merasakan kecenderungan untuk menyelamatkannya. Meski ia bukan pengawal, tidak mungkin ia akan meninggalkan seorang gadis demi kepentingannya senidri dengan menghadap kematian sebentar lagi.

Didasari pada pemikiran itu, tubuhnya melaksanakan suatu tindakan, tapi pastinya bukan dari kecerobohan belaka.

Ia percaya dengan pasti kalau ia dapat menyelamatkan gadis tersebut dengan cara ini dan kalau ia sendiri pastinya akan selamat.

"Masatsugu-sama!?"

Masatsugu melempar dirinya di atas kebingungan Shiori.

Ia mendukung dirinya pada lengan dan kakinya seolah melakukan push-up untuk menghindari menyandarkan berat pada putri. Hingga, Shiori ditempatkan dalam ruang kecil di antara Masatsugu dan tanahnya.

Secara langsung, dampak kuat menghantam punggung Masatsugu.

"Guhhhhhhhhhh!"

Kamuy ditimbang beberapa ratus ton.

Masatsugu menggertakkan giginya, selama dampak dan berat jatuh Legion. Ia menahannya, dengan menyakitkan, dengan luar biasa... Satu sampai dua menit berlalu. Sikap push-up nya tidak goyah.

Menimbang pada punggung Masatsugu adalah wilayah dada raksasa itu.

Kamuy yang jatuh terbaring menghadap ke bawah.

"Masatsugu-sama, Masatsugu-sama!?"

Mendengar putri yang berteriak dengan gelisah di bawahnya, Masatsugu menghela napas lega.

Kenyataannya jika Shiori masih bisa berbicara berarti kalau dia tidak terluka. Ia menyadari keterkejutan Fujinomiya Shiori itu tetapi wajah cantiknya berada di depan matanya, sangat dekat padanya.

Sekarang kalau ia memikirkan tentang itu, sikap tubuhnya ini seperti sedang menindihi putri ke bawah yang searah dengannya.

Alaminya, mereka tidak merangkul satu sama lain. Namun ia merasakan kelembutan seorang wanita. Meskipun begitu, karena mereka berada dalam jarak dekat, Masatsugu menyadari sesuatu.

Terlepas dari sosok ramping putri, dia benar-benar dewasa dan menggiurkan sebagai wanita.

Lekukan dada dan pahanya sungguh menggairahkan. Jika dia dan Hatsune berdiri bersebelahan dengan baju renang mereka, pastinya akan menjadi kompetisi yang ketat.

"Masatsugu-sama... Masatsugu-sama! A-Apa kamu terluka!?"

"Aku baik-baik saja. Omong-omong, Yang Mulia, boleh aku menanyakan sesuatu?"

"Y-Ya silahkan."

"Kau tersandung sesaat kita mulai berlari... Apa kamu sangat buruk pada olahraga ya?"

"I-Ini adalah salah satu rahasiaku dan salah satu yang penting. Aku tidak bisa memberitahumu semudah itu!"

"Karena mempengaruhi pekerjaanku sebagai pengawal, aku harus memastikannya. Tetapi..."

Ditekan ke bawah tubuh besar Legion, Masatsugu menyender di atas putri kerajaan. Satu jam sebelumnya, tak pernah dalam mimpi anehnya akan mengharapkan ini terjadi. Namun, Masatsugu cukup tenang untuk tidak percaya.

Memang, situasi sepele ini tidaklah genting.

"Tidak perlu menjawab pertanyaan. Aku sudah mengerti dari balasanmu baru saja."

"Apa!? Oh, omong-omong, Masatsugu-sama, kekuatanmu ini—"

Masatsugu tidak menunggu untuk putri selesai berbicara.

Mengumpulkan seluruh kekuatannya, ia perlahan mengangkat dirinya.

"Gu... uhh... G—Uhhhhhhhhh!"

Menggunakan punggungnya, Masatsugu secara perlahan mengangkat Kamuy yang beberapa ratus ton dan mencoba untuk berdiri dari tanah.

Ia akhirnya mengatur posisi setengah membungkuk. Saat ini, Masatsugu bertindak seperti pendongkrak manusia, menaikkan berat beberapa ratus ton dada Kamuy dengan tinggi delapan puluh sampai sembilan puluh centimeter.

Selanjutnya, ia menyelesaikannya dalam sekali hentakan.

"Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhh!"

Ditemani dengan teriakan keras, Masatsugu meluruskan sikapnya, berdiri dengan bentuk mengesankan.

Akhirnya, ia menekan Kamuy di luar kepalanya seakan melemparkan kue di atas sebuah wajan. Kekuatan hebat ini benar-benar gila.

Memutar setengah lingkaran, raksasa biru jatuh di atas tanah lagi.

Sebelumnya, Kamuy terbaring menghadap ke bawah, tapi kali ini, punggungnya menghantam tanah, menghasilkan pengaruh berat di tempat kejadian.

Berdiri di sebelah Kamuy, Masatsugu mengendurkan bahunya dengan biasa.

Ia mengeluarkan luka di suatu tempat di atas kepalanya dan darah mengalir ke bawah dahinya. Masatsugu merasakan kesan mendalam. Untuk memikirkan kalau ia hanya menerima luka kecil ini. Manusia biasa tidak mungkin jadi sekuat dan sehebat ini.


Berkat kekuatan ini, ia melindungi putri. Yang terbaring di atas tanah, putri melihat padanya dengan hampa.

Sebaliknya di arah samping, Hatsune membeku di tempat. Dia menanyakan Masatsugu dengan keheranan, "Onii-sama... Un-Untunglah kau baik-baik saja. Tidak tunggu, apa yang kau lakukan tadi!?"

Membalikkan punggungnya pada kedua gadis itu, Masatsugu melangkah maju. Pembicaraan lebih rinci harus menunggu sampai hal ini selesai.

Ia perlahan menghampiri dua Crusade. Dari Kamuy yang bertarung, satu-satunya yang tersisa adalah semua yang terbaring di atas tanah sebagai mayat. (Sebagai catatan, yang selamat adalah Kamuy yang terbaring di atas Masatsugu dan Shiori tadi.)

Crusade putih Inggris tidak lagi memiliki lawan untuk bertarung sementara.

Namun, mereka terhenti secara bersamaan.

Menatap pada makhluk hidup yang kecil, mereka bersiap seolah bertemu musuh yang mengerikan.

Crusade menaikkan senapannya dan mengarahkan pada Masatsugu yang di atas tanah.

Masatsugu sendiri berjalan tanpa buru-buru ke arah Crusade dan mengeluarkan perintah sederhana. Melawan ikan kecil seperti itu, tidak perlu baginya mendapati tangannya kotor.

"Habisi mereka."

Kamuy yang terbaring di atas tanah di belakang Masatsugu bereaksi setelah hampir menghancurkan putri dan Masatsugu sampai mati sebelumnya. Matanya bercahaya, samurai yang maju perlahan bangkit pada kakinya dengan gerakan berubah-ubah.

Cara Kamuy bangun mengingatkan pada kecepatan dan kelincahan binatang buas—

Kamuy kemudian terbang di atas kepala Masatsugu, menyerang pada dua Crusade seperti macan tutul.

Mendorong senapan bayonetnya dengan kecepatan cahaya, Kamuy menusuk tajam Legion Inggris menuju dadanya dengan pedang. Namun, serangannya jauh dari berakhir.

Menarik senapan bayonet, Kamuy memotong ke atas pada kemiringan.

Potongan ini menebas pembuluh nadi kepala Crusade.

Pertarungan berakhir. Laju serangan Kamuy memotong bagian vital dengan tepat, dan langsung mengiris dua Crusade.

"Merah keunguan...?" gumam Masatsugu pada dirinya.

Kamuy mengikuti perintahnya dan dengan diam berganti warna.

Awalnya biru, armor dan seragam militernya berubah "bayangan ungu bercampur dengan warna darah." Tidak biasa ataupun menarik, benar-benar gabungan merah keunguan, tetapi.

...Pada waktu itu, suara ribut pisau baling-baling menggema di udara seluruh benteng pertahanan.

Helikopter militer terbang dari arah barat, dikawal oleh lebih dari sepuluh Kamuy biru. Bala bantuan akhirnya datang.

"Itu harusnya Rikka-sama dari Kediaman Akigase. Serahkan sisanya padanya."

Dengan waktu Masatsugu menyadari, Shiori mendekat ke sampingnya.

"Masatsugu-sama... Apa kamu akhirnya terbangun? legatus legionis terakhir—Chevalier sebenarnya."

Putri mengatakan perkataan yang tak asing.

Putri Kerajaan jepang menatap wajah Masatsugu.


Balik ke Chapter 1 Kembali ke Halaman Utama Lanjut ke Chapter 3