Chuuko Indo:Jilid 1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Prolog[edit]

"Dasar bajingaaaaaaaaaaaaaaaaaaannn!"

「Aku benar-benar minta maaf .... 」

A-a-ada apa ini? Apa-apaan ini?

Apa sebenarnya ini ...?! Kenapa dia setega ini?

"Bagaimana bisa ...?! Fujiaki Shiori, jadi kamu pernah punya kekasih ...?!"

Dengan kalimat tadi, si gadis benar-benar membuat sang protagonis mati berdiri.

Fujiaki Shiori adalah gadis yang mungkin saja bakal jadi gadis impianku ...!

「Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, Seiichi. 」

Namaku terucap dari RVS* yang keluar dari mulut si gadis melalui pengeras suara. Si gadis yang berada di layar monitor menampakkan wajah kesusahan.

(*Real Voice System)

Meski dengan ekspresi seperti itu, dia masih terlihat begitu manis. Syukurlah aku membeli 'game' ini.

Tapi ini sudah jadi 'game' yang di dalamnya ada bekas orang, produk haram dan enggak layak dimainkan!

「Tapi hal itu sudah lama berlalu. 」

Bibir 2D-nya bergerak sewaktu dia berbicara. Saat mendengarkannya, suaranya enggak sejelas sewaktu dia masih mengaku enggak punya pacar.

Itu karena dia sudah jadi bekas orang!

「Ya sudah, hal itu jangan terlalu dipikirkan, ya? 」

"Gila apa?! Kamu ini sudah pernah 'dipakai', tahu?!"

Aku meneriakinya di depan layar, namun enggak ada sama sekali tanggapan darinya.

Bukan hal aneh, bahkan sosok yang ada di layar 'game' 18 tahun ke atas, atau yang biasa disebut 'eroge' ini, justru bicara begini.

「Aku saja sudah tidak mau memikirkannya lagi. Jadi tidak usah khawatir, ya. 」

Lalu sang tokoh utama wanita dengan polosnya berkata dalam kotak dialog, sebuah perkataan yang enggak pernah kuduga sedikit pun sebelumnya.

「Kamu pun harus begitu, Tn. Protagonis! 」

Kurasa bakal ada orang selain diriku yang juga ikut merasa kalau ternyata dirinya diam-diam sudah di-NTR dari belakang.

"Berengseeeeeeeeeeeeekkk!"

Kuambil ancang-ancang lalu kutendang komputerku.

Komputer tersebut langsung berhenti beroperasi serta terus mengeluarkan BGM yang enggak enak didengar.

Mungkin karena saking kerasnya, makanya 'disk tray' komputerku sampai mengeluarkan decitan keras sewaktu terbuka.

Dan di dalamnya ada DVD 'eroge' bersampul gambar Fujiaki Shiori yang tersenyum ceria.

Bersama dengan 'disk tray'-nya, DVD tersebut sudah terbelah dua di bagian tengah.

"Asem! Kampret!"

Di layar tersebut juga terpampang sebuah iklan, 'Gerakkan dan arahkan gadis muda ini, lalu jadilah anggota batalion tentara'.

Aku akan mengajukan gugatan ini ke pengadilan! Ini sudah masuk tindakan perselingkuhan! Gadis ini sudah pernah punya pacar, mana mungkin masih suci! Jangan asal beriklan di depanku, berengsek!

Aku sudah membeli beberapa 'game' yang seharusnya belum dirilis. Kini DVD-DVD 'game' itu ada di kamarku, dan kuhancurkan semuanya berkeping-keping. Dengan sikut dan lutut, kuhancurkan semuanya hingga menjadi serpihan, lalu kutendang berkali-kali sampai benar-benar enggak berbentuk.

"Wah! Jadi berserakan, 'gini!"

Akal sehatku memperingatkan kalau yang kulakukan ini adalah sebuah tindakan perusakkan, tapi aku enggak tahu cara menghentikannya.

'Waifu'-ku sampai di-NTR orang! Siapa yang tahan!

"Haaah …! Haaah …!"

Waktu pun berlalu, kuambil sebuah boks lalu membersihkan dan mengangkut serpihan-serpihan tadi ke dalamnya.

Aku sempat berniat mengirim boks ini sendiri ke pengembang 'game'-nya, namun akal sehatku menyarankan sesuatu yang lebih baik. Jadi melalui pencarian di internet, kuhubungi jasa logistik untuk mengambil dan mengantar boks ini.

"Jasa Pengiriman Musashi. Ada yang bisa kami bantu?"

Aku menunggu selama lima menit hingga akhirnya salah satu kurir jasa itu tiba di rumahku.

"Ini boksnya."

"Baik," jawab sang kurir dengan ragu-ragu. "Silakan tanda tangan dulu di sini."

Setelahnya, kurir tersebut lalu mengambil boks berisi sampah itu keluar dari rumahku. Barang-barang itu terlalu riskan untuk berada di kamar ini. Setelahnya, aku pun bisa bernapas lega, namun masih ada sedikit kesedihan yang kurasakan, dan itu enggak bisa hilang.

"Gadis yang sudah enggak suci lagi itu apa masih ada harganya ...?"

Enggak ada yang menjawab karena enggak ada orang di rumah. Tapi kalau yang tadi sampai didengar adikku, dia pasti langsung loncat dan memakiku, "Diam kamu, Jejaka Letoi!"

Soal kejadian ini enggak bakal ada yang tahu selain diriku seorang.

Masalahnya, orang sepertiku ini serasa sudah dikutuk untuk tetap perjaka. Biarpun begitu, aku sudah menerima apa adanya diriku dalam pergaulan di dunia ini.

"Ya sudah, mending aku tidur saja."

Dengan hati yang hancur dan terkhianati ini, semoga aku bisa mati dalam tidurku nanti.

Sesaat rasa kantuk itu datang bersama dengan mimpi-mimpi yang mungkin bisa menyembuhkanku dari nestapa dan derita ini.

Akan tetapi ..., sebuah senyuman muncul di pikiranku, diiringi nada-nada merdu, disertai kenangan-kenangan manis yang terekam sewaktu berada di depan layar monitor.

Kenapa Shiori harus berkhianat di belakangku? Sewaktu dia berbincang dengan temannya di kamar, yang merupakan tokoh pendukung, yang pernah berkata padaku, "Dia tidak pernah berpacaran sebelumnya, kok". Itu justru kelihatan seolah mereka ingin menyembunyikan kebenaran, 'kan?

Kira-kira, apa ada juga orang yang mencampuradukkan dunia 2D dengan kehidupan nyatanya seperti diriku ini, ya? Aku jadi penasaran.

Enggak gampang menemukan tokoh wanita idaman seperti Shiori di dunia 2D yang dulu. Kalau soal alur cerita, memang enggak sesuai dengan yang kuharapkan, sih.

Karena itu aku terbangun dengan rasa putus asa mendalam. Mataku terasa berat, tapi aku enggak bisa tidur. Terus mau bagaimana lagi?


♦♦♦


「Malam ini Ibu pulang telat, sebaiknya kamu cari makan di luar, terus pulangnya hati-hati, ya. Nanti Ibu kasih tambahan uang jajan, deh. 」

Setelah melihat SMS yang dikirim ibuku itu, aku keluar rumah untuk mencari makan. Aku berjalan sampai di depan stasiun kereta. Setelah selesai makan, aku harusnya pulang ke rumah, tapi bukan itu tujuan utamaku.

Bagiku sekarang, yang terpenting dan yang menjadi tujuan utamaku adalah membeli beberapa 'eroge' baru. Di Minggu malamku yang dipenuhi rasa depresi ini, aku harus menghukum Fujiaki Shiori karena pengkhianatannya. Pikiranku sudah dipenuhi oleh kegelapan.

Aku enggak yakin kalau beberapa 'game' baru yang kubeli ini akan menghadirkan 'waifu' idamanku, namun dari ulasan para pemain profesional, 'game-game' tersebut bakal populer. Bagiku, yang penting tokoh-tokohnya bukan bekas orang.

Hingga hari ini sudah ada 20 tokoh totalnya. Omong-omong, selama perjalanan aku belum melihat satu gadis pun. Yang tampak hanya beberapa penduduk lokal yang sudah tua. Gadis-gadisnya ada di mana, ya? Biar begitu, 'game' baru masih lebih baik daripada 'game' bekas orang.

Memangnya ada orang yang enggak merasa malu ketika memakan cokelat yang khusus dibuat seseorang untuk dirinya sampai berlepotan ke sana sini? Jelas cuma orang gila saja yang melakukan itu.

Yah, orang lain mungkin menganggapnya sebagai barang bekas jika sudah 'dipakai' sang protagonis. Tapi karena di dalam dunia 2D, hal tersebut enggak berlaku. Lagi pula, sang protagonis itu kita sendiri. Mungkin dia hebat dalam bertarung, punya pergaulan yang bagus atau apa pun itu, semuanya ada di tingkatan yang tinggi termasuk juga persoalan di dalamnya. Biar begitu, jiwa yang bersemayam dalam sang protagonis tersebut adalah diriku.

Untuk pertama kalinya, aku enggak mengeluh soal ini.

Malaikat (perawan), Tuhan memberkati! Iblis (bekas orang), enyah!

... tapi untuk para gadis 3D, aku enggak ada ketertarikan maupun keinginan berbuat sesuatu pada mereka.

"Hmm? Ada yang menetes. Wah, hujan, ya?"

Ada tetesan air di wajahku. Ketika kutengadahkan tangan, hujan pun turun dengan derasnya.

Aku harus cepat pulang .... Lebih baik, ambil jalan pintas.

Aku berbelok arah ke pojok, menerobos gerbang lahan pribadi dan menyelinap ke dalam gang kecil.

Kalau aku berjalan melewati gedung ini, aku bisa sampai rumah lebih cepat. Tapi sekarang sepertinya sudah terlambat, karena gedung itu kemungkinan ditutup.

Kuikuti jalan yang disinari rembulan ini hingga ....

"Jangan mendekat—ueehk, hiiikk!"

Kemudian kudengar suara gaduh. Apa ada yang menerobos gedung ini sama sepertiku?

"Awas kali—hiiik ...."

"Akhirnya kamu diam juga .... Oke, kalian ikat lengan dan kakinya!"

"Siap!"

"Oke, Bos!"

"Hmmph ... Hmmph ...!"

"Mati kamu! Kebanyakan melawan sampai mukaku kena cakar, jangan harap kamu bisa lolos!"

"Hmmmmmrrrf!"

"Gedung ini memang dipenuhi kuli-kuli yang tiap hari mandi keringat di sana-sini. Tapi sekarang mereka sudah pulang. Teriak saja sesukamu. Enggak bakal ada yang datang dan menyelamatkanmu. Oi, siapa saja, tarik sempak sundal ini, terus sumpalkan ke mulutnya!"

"Hmmmmmrrrf!"

"Kalau saja kamu mau menurut, mungkin saat ini sudah kuberi servis memuaskan di ranjang. Tapi karena kamu macam-macam begitu, ya kuladeni saja."

Aku terguncang. Apa aku sedang berada di dalam sebuah 'eroge'?

Di sini gelap banget sampai enggak kelihatan apa-apa. Tapi jika diperhatikan lagi, situasi ini mirip adegan 18 tahun ke atas.

Kurasa aku telah melihat adegan semacam ini di 'game' 'Cara bercinta dengan Hondo'. Yah, kalau bukan, mungkin saja 'game' lain.

Tapi tunggu! Bagaimana bisa diriku berada di dalam 'eroge'? Jika itu benar, berarti gawat.

Atau mungkin, 'eroge' sudah menjadi kenyataan!

Tunggu! Hal ini sudah cukup gila!

Hujan yang turun makin bertambah dingin, dan suasana di sini pun makin enggak realistis.

"Aargh, cepat tarik sempaknya!"

"Hmmmmmph!"

"Uh, dia menggeliat terus, Bos."

"Oi, kamu itu sudah enggak perawan lagi! Pasrah saja dan jangan menggeliat!"

Kudengar suara lantai yang terhentak bersama suara orang-orang yang saling berdebat. Kegaduhan di tempat itu makin terasa.

Tampaknya aku telah menemukan pemandangan yang sangat menarik.

Pelan-pelan aku mengamati, dan kulihat di tengah kegelapan ada lima lelaki mengerumuni seorang gadis yang histeris. Lelaki yang paling besar menyumpal mulut sang gadis agar dia tetap diam.

Kuharap adegan ini difilmkan untuk sebuah 'eroge', tapi sejauh yang kulihat, enggak ada satu pun kamera. Rambut dari lelaki yang paling besar tadi ikal dan benar-benar berantakan, tapi itu enggak sampai menutupi wajahnya.

Mungkin dia menyimpan pisau lipat di dalam sakunya. Duh, sekarang aku jadi takut.

Untuk si gadis .... Aku enggak bisa melihat wajahnya, tapi bisa kulihat mantel dan celana jinnya yang sudah robek bersama dengan telinga yang tersingkap dari rambut coklatnya.

Tampak seolah sang gadis akan mengalami pengalaman cinta satu malam.

Sadar bahwa akan menjadi seperti itu, si gadis justru berontak. Aku jadi enggak begitu merasa prihatin.

Lebih baik aku menyingkir sebelum mereka melihatku. Layaknya pemeran pembantu yang enggak seharusnya ikut campur.

Dan layaknya sang protagonis dalam eroge yang akan berkata begini setelah merasakan kehadiran seseorang.

"Hei, siapa di sana?!"

Sial, aku ketahuan.

"Kampret! Kita bisa kedapatan massa! Cepat tangkap dia!"

Enggak ada alasan bagiku untuk tetap diam sekarang.

Seorang lelaki berlari ke arahku. Aku langsung berbalik dan menutupi wajahku.

Kuambil ponsel lipatku dalam saku kaos, lalu mengetik angka 1 sebanyak dua kali diikuti angka 0 setelahnya, kemudian kuhubungi nomor tersebut*.

(*110 = polisi)

"Kamu telepon siapa?!"

"Halo, Polisi, ada gadis yang mau diperkosa beramai-ramai, Pak! Posisi saya ada di gedung sebelah barat pusat alun-alun sekitar Stasiun Yonnomiya, tepatnya di pintu keluar gedung."

Aku bicara cukup keras agar lelaki itu mendengar kalau aku sedang menelepon polisi. Aku sudah terbiasa hampir terbunuh di masa lalu karena jati diri 'otaku'-ku ini. Karena itu, saatnya memanggil keadilan di situasi seperti ini.

"Tolong segera kemari dan tangkap mereka, Pak!"

Bisa kurasakan lelaki tersebut mulai panik ketakutan, dan di saat yang sama, bisa kudengar suara sirene mobil polisi bergema di sekitar sini.

"Dasar anggota enggak becus! Padahal kamu sudah dari tadi di situ .... Oi, ayo pergi!"

Lelaki yang mengejarku tadi langsung berbalik dan kabur bersama gerombolannya.

"[Apa Anda sudah ada mendengar petugas kami yang datang? Kami baru saja mengirim unit patroli ke sana untuk menangkap mereka. Bisa Anda jelaskan seperti apa detailnya ...?]"

"... maaf, mereka sudah kabur duluan."

"[Benarkah? Kalau begitu, saya akan menanyakan beberapa hal pada An—]"

Gadis itu sudah dikasari, tapi tampaknya enggak sampai parah.

Aku sudah enggak punya urusan lagi di sini, jadi kututup ponsel-ku. Lagi pula, polisi juga enggak bakal tahu kalau aku yang menelepon.

Suara sirene polisi tadi sebenarnya berasal dari ponsel cerdasku yang satunya, dan bukan dari ponsel lipatku yang barusan. Jika ini siang hari, gerombolan yang mau memerkosa gadis tadi enggak bakal tertipu semudah itu. Tapi jika di malam hari, apalagi di gedung kosong begini, satu suara sirene yang pelan saja sudah bisa memperdaya mereka.

Atau mungkin karena efek hujan juga. Biar begitu, syukurlah semua baik-baik saja.

"...."

Jangan, jika dilihati begitu, bisa apes aku.

... jika dipikir baik-baik, kenapa aku harus masuk ke dalam marabahaya di situasi seperti tadi?

Hujan makin dan makin bertambah deras saja. Bungkus plastik berisi DVD-DVD 'eroge' yang kubeli sebelumnya juga ikut basah.

"Aarghh ...."

Sesaat aku mendesah, si gadis yang terikat tadi sudah berhasil melepaskan diri.

Karena digerayangi oleh banyak lelaki, pakaian gadis tersebut jadi compang-camping. Rambutnya berantakan ..., dan sepertinya dia belum sadar kalau celana dalamnya sudah melorot sampai ke lutut.

Dia lalu menoleh menghadap ke arahku.

"... ah ..., eh? Kamu ...."

Oke, karena aku sudah enggak ada urusan lagi di sini, kuambil jalan pintas dan meninggalkannya. Polisi mungkin akan datang lagi kalau aku tetap di sini. Mungkin keadaan bisa lebih kacau lagi.

"Eh .... Tunggu! Hei! Kenapa kamu lari?! Tung-tunggu ..., tunggu sebentar!"

Aku berlari ke arah tempat aku datang sebelumnya tanpa menghiraukan panggilan gadis itu.

Dengan bertambah parahnya situasi, aku pun melarikan diri bersama gaya hidupku yang enggak lepas dari 'eroge' dan semacamnya ini.

Bab 1 - Aku Akan Menjadi Gadis Yang Kamu Impikan[edit]

Karena semalam aku memainkan 'eroge' sampai larut, tidurku jadi enggak cukup, padahal tahu kalau besoknya hari Senin.

Meski kemarin aku sempat berada di lokasi terjadinya pemerkosaan yang berujung kegagalan, aku masih bisa pulang dengan selamat dan memainkan 'eroge' seperti biasanya. Yah, walau harus mengganti pemutar DVD komputerku yang rusak terlebih dahulu.

Kini komputernya sudah bisa dipakai lagi. Aku menyesal karena marah tanpa alasan yang jelas.

Tapi aku harus menyalahkan semua ini pada Fujiaki Shiori, gadis yang sudah ternodai .... Aaargh! Kenapa semuanya jadi begini? Kalau tahu begini, mending aku terlahir jadi pohon atau rumput saja. Kenapa wanita jalang itu harus menghancurkan dunia impianku?

"Hoaammmh ...."

Aku sudah sampai di sekolah. Kukeluarkan buku pelajaran untuk jam pertama.

Dan kulihat kegaduhan di sekitar kelas sebelum 'homeroom' dimulai sambil kembali menguap.

"Mukamu kelihatan mengantuk begitu, Aramiya."

Sapa Tozaki Keita, anak yang duduk di belakangku. Aku menoleh hanya untuk melihat seorang pemuda berpostur rata-rata. Dari segi tampang, dia enggak jauh berbeda dariku, terkecuali bekas jerawat yang ada di hidungnya.

"Aku main 'game' semalaman, tahu."

"'Game' yang ada tokoh wanita impianmu itu, ya?"

"... enggak usah bahas itu. Maksudku 'game' yang satunya."

"Yang satunya?"

"Nanti kujelaskan detailnya, juga alasan kenapa 'game' itu ampas. Pelajaran sudah mau dimulai."

"Uuugh."

Intinya, aku ini seorang 'otaku', dan semua anak di kelas sudah tahu soal itu. Yang mereka tahu, aku hanya menonton 'anime', membaca 'manga' dan sedikit paham mengenai komputer. Tapi soal aku memainkan 'eroge', itu enggak kuceritakan ke siapa-siapa.

Yah, enggak tepat rasanya membicarakan soal 'eroge' di dalam kelas saat pelajaran begini. Biar begitu, sekolah negeri seperti SMA Mikage ini adalah sekolah biasa, tanpa ada yang istimewa layaknya sekolah unggulan, di mana ada pembatasan mengenai perilaku nakal maupun hal-hal berbau 18 tahun ke atas.

Jadi di sekolah ini kami harus selalu berkelakuan baik. Termasuk aku dan Tozaki paham sekali soal itu.

Hal-hal seperti 'eroge' ini harus tetap dirahasiakan dan enggak boleh dibahas terang-terangan.

Aku juga enggak tahan kalau ada yang dengan nyaringnya membahas gadis 2D, onani ataupun hal semacamnya. Aku juga enggak mau dianggap sebagai salah satu dari mereka yang dijadikan objek penindasan. Menjadi seorang otaku akan dicap sebagai orang yang mengidap penyakit sehingga enggak boleh ada di dunia ini.

"Ya sudah, nanti ceritakan, ya."

Seusai berbincang dengannya, bel tanda masuk sekolah pun berbunyi.

Tozaki mulai melihat-lihat sekitar kelas.

"... hmm, Hatsushiba belum datang, toh. Sayang sekali."

"Kayaknya kamu suka sama dia, ya?"

Hatsushiba adalah salah satu teman sekelas kami, kalau enggak salah, nama lengkapnya Hatsushiba Yuuka. Kalau dikategorikan, dia masuk dalam kategori gadis manis. Tapi itu cuma satu dari sekian alasan kenapa anak ini menyukainya.

"Kalau belum mendengar 'Pagi~?' darinya, rasanya hari ini ada yang kurang."

Gadis tersebut adalah seorang pengisi suara, namun peran yang didapatnya masih seputar figuran maupun pemeran pembantu saja. Ah, bicara soal itu, dia menjadi pengisi suara pemeran pembantu dalam sebuah 'anime'. Kalau diingat lagi, jenis suaranya seperti yang sering terdengar di berbagai 'eroge'.

Karena pekerjaannya itu, dia sering absen sekolah.

"Tozaki, mending kamu menyerah saja."

"Kamu ini! Aku cuma mau dengar suaranya saja, kok! Cih. Lain kali kalau ketemu dia, aku bakal minta izin buat merekam suaranya."

"... hmm, sobat. Enggak masalah kalau kamu suka seseorang dan merahasiakannya. Tapi ...."

Meski dia seorang pengisi suara, aku enggak akan kuasa mendengar suara aslinya. Kalau lewat pengeras suara, sih, enggak masalah.

Selagi kami berbicara, pintu ruang kelas pun terbuka.

Biasanya guru wali kelas kami datang bersamaan dengan terdengarnya bel sekolah. Tapi yang barusan datang ternyata bukanlah seorang guru.

Rupanya yang datang adalah seorang gadis berambut panjang yang dicat coklat dengan pandangan menusuk yang mampu mengintimidasi orang-orang. Biarpun begitu, paras yang dimilikinya masih tergolong cantik, meski hal itu enggak perlu dijelaskan.

Chuuko Vol 1 p017.jpg

Kulirik sebentar dirinya tanpa melihat ke arah matanya sambil menjauhkan wajahku.

Kupraktikan hal yang biasa kulakukan, berusaha menghindari masalah secara langsung.

Gadis ini terkenal berandal di ke— bukan, tapi di seluruh sekolah.

Gadis yang bisa membuat anak-anak menjerit dan menangis, dialah Ayame Kotoko.

Dengan semua penjelasan di pikiranku itu, gadis tersebut berjalan masuk ke tengah kelas sambil memanggul tasnya.

Dia lalu berjalan melewati meja— eh, dia tiba-tiba berhenti di depan mejaku kemudian menatapku.

Hal itu langsung menciptakan kecanggungan di dalam kelas. Orang-orang di sekitarku pun memberi pandangan iba, seolah berkata, 'Apes kamu!'Apa-apaan itu?! Aku ini belum diapa-apakan, tahu?!

... tapi kenapa harus di depanku?! Dia mau apa dariku?!

"He ... hei ...."

Dia bicara sambil terbata, wajahnya sedikit memerah. Dan dia memang bicara padaku.

Seisi kelas pun terguncang.

"... kalian lihat apa? Siapa yang bolehkan kalian lihat-lihat?!"

Tapi ketika dia memelototkan matanya, seluruh penghuni kelas langsung hening.

Dia lalu menuju kursinya dan duduk dengan wajah marah.

"Hei, kawan. Kamu cari gara-gara apa ke dia?"

Tozaki bertanya dengan nada kebingungan.

"Eng-enggak ada! Aku enggak melakukan apa-apa!"

Meski baru di kelas dua ini aku sekelas dengannya, aku enggak pernah sekali pun cari masalah sama dia.

Legenda mengenai dirinya sudah menyebar sampai ke kelas lain. Jadi jika aku macam-macam padanya, maka itu hal yang mustahil. Dekat-dekat dia saja aku enggak berani.

Terus kenapa dia .... Eh, tunggu!

Kalau enggak salah ingat, dia mirip dengan gadis yang hampir diperkosa kemarin. Suaranya juga agak-agak mirip .... Tapi enggak mungkin, ah. Pasti itu orang lain yang kebetulan mirip.

Kalau pun itu dia, tetap saja aku enggak punya masalah apa pun padanya.

Perasaanku jadi enggak enak, makanya aku menoleh— ke Ayame.

Sembari mengira-ngira, aku enggak tahu kenapa tadi dia menatapku. Bisa kurasakan bulu kudukku merinding.

"Wah, kamu apes banget, sampai diincar sama gadis preman itu."

Jangan berbisik mengasihaniku, berengsek!

"Dia sering buat onar, lo."

Dia tetap lanjut berbicara. Aku sudah tahu dan paham kalau ini situasi yang sulit. Aku juga mengiyakan hal tersebut.

Dari yang kudengar, tindakan dan perilaku yang dimiliki gadis itu memang cukup meresahkan.

"Sering berkelahi, bolos pelajaran dan berbuat semaunya dia."

Sebenarnya aku enggak pernah melihat dirinya terlibat perkelahian. Kalau bolos pelajaran, sih, pernah.

Tapi dari yang kulihat kemarin, rasanya pas saja jika diperhatikan dari kelakuannya waktu itu.

Meski ujung-ujungnya dia dikepung, sih. Tapi dia masih bisa melawan. Kalau itu aku, mungkin hanya bisa pasrah saja.

Yang bisa kulakukan hanya memohon sambil berlutut dengan menyodorkan sejumlah uang. Asal masalahnya kelar, biar berapa pun uang yang kukeluarkan, itu tetap sepadan. Walau diam-diam kufoto mereka, lalu melaporkannya pada polisi sehingga uangku tadi bisa kembali.

"Mungkin kamu belum tahu soal ini, tapi kudengar dia punya pekerjaan sampingan, lo. Kayak temannya temanku pernah bilang, dia sempat jual diri demi tiga ribu yen."

'Temannya temanku'? Apa itu seperti legenda urban? Tapi kalau rumor tersebut benar, itu bukan hal yang mengejutkan. Soalnya lihat saja, rambutnya dicat coklat, bagian atas seragam sekolahnya enggak dikancing, dasinya enggak dipakai, lengan blusnya digulung ke atas. Jika sang perancang seragam tersebut sampai melihatnya, beliau pasti akan menyumpah. Aksesorisnya ada di mana-mana, sehingga sudah enggak lagi kelihatan seperti murid sekolah pada umumnya. Ditambah, roknya dia panjangkan sampai ke bawah lutut dengan dihiasi rantai perak di sampingnya.

"Jual diri demi tiga ribu yen .... Malah sayang duitnya ...."

Aku benar-benar merasa begitu. Dengan uang sebanyak itu aku bisa membeli tiga sampai empat buah 'eroge'.

Tapi mengeluarkan tiga ribu yen untuk gadis seperti Ayame .... Wajahnya, sih, lumayan, proporsi tubuhnya juga— payudaranya cukup besar, walau memakai seragam tapi masih kelihatan besar. Jenjang kakinya juga seperti seorang model .... Tapi karena dia gadis 3D ....

"Aramiya, cara pikirmu itu ..., terserahlah. Lagi pula dia sudah dijuluki 'bekas orang'"

"Julukan seperti itu benar-benar ada?"

"Dia sudah dijuluki begitu semenjak SD. Cih. Tetap saja dia beda level sama Hatsushiba."

"Aku enggak tahu alasanmu membandingkannya dengan dia, tapi ... kenapa Ayame dulu mau-maunya kerja begitu, ya? Terus, kamu tahu soal itu dari mana?"

"Yah, soalnya dulu aku satu SD sama dia."

Serius?! Terserahlah, meskipun sewaktu SD, segalanya bisa cepat menyebar.

Hahahahahahaha! Bodoh apa? Siapa juga yang peduli sama—

... ah, setop. Aku jadi teringat kembali tentang hal-hal buruk yang dulu terjadi. Aku harus berhenti melanjutkannya.

"Biar begitu, tiga ribu yen demi bekas orang tetap saja enggak masuk akal ...."

Ketika aku mengatakannya, bel berbunyi dan kami berhenti mengobrol. Ohara-sensei lalu masuk ke dalam kelas.

"Siap untuk 'homeroom', Anak-Anak?

Dan 'homeroom' pun dimulai dengan suara menggemaskan yang kayaknya enggak cocok untuk seorang guru berumur dua puluh tahun.


♦♦♦


Seusai pelajaran keempat yang kupilih sebagai pelajaran musik, aku pun kembali ke kelas. Rencananya aku akan makan siang dengan Tozaki seperti biasa, tapi saat ini dia enggak ada di kelas.

"Maksudmu dia? Tadi dia dibawa pergi sama Ayame."

Begitu kata teman sekelasku. Namun yang dikatakannya cukup aneh, aku masih enggak paham.

"Dibawa pergi .... Memangnya dia salah apa?"

"Entahlah. Sewaktu kembali dari pelajaran seni rupa, tiba-tiba dia dibawa pergi."

"Apa? Kalau begitu aku harus menemukan jenazahnya, nih .... Kamu tahu dia pergi ke mana?"

"Oi, dia itu belum mati. Aku enggak tahu pastinya, tapi yang jelas, mereka pergi ke arah yang berlawanan dari kelas."

"Oh, terima kasih infonya. Biarpun begitu, jasa-jasa beliau pasti akan selalu kita kenang."

Firasatku mengatakan kalau dia enggak sedang disekap. Atau mungkin ... gadis itu mendengar percakapan kami sebelum 'homeroom' tadi, ya?

Enggak, pembicaraan kami saja enggak sampai terdengar ke kursi sebelah. Mana mungkin dia mendengarnya.

Dicegat terus dipukuli tanpa sebab, kurasa enggak .... Semoga saja begitu.

Dan hingga jam istirahat berakhir, Tozaki akhirnya kembali.

Dia tampak kelelahan, tapi enggak ada luka yang terlihat. Aku sedikit merasa lega.

"Oi, kudengar kamu tadi dibawa pergi. Kamu enggak kenapa-kenapa, 'kan?"

"Oh, untungnya tubuhku masih utuh."

Dia mengatakan hal yang aneh sambil melihatku dengan pandangan kesal. Ada apa memangnya?

"Hah? Kamu bicara apa tadi? Aku enggak paham."

"Sama, aku juga. Pokoknya nanti kamu tahu sendiri, deh. Yang penting, setelah ini akan ada persembahan yang kukirim ke hadapanmu."

Rasanya aku enggak tahu mana yang nyata dan mana yang bukan sekarang.

"Jangan-jangan omongan kita yang tadi itu kedengaran, ya?"

"Enggak mungkin! Aku enggak tahu nanti bakal jadi bagaimana, pokoknya jangan dendam ke aku lo, ya."

Ujung-ujungnya aku masih enggak paham.

Selepas siang ini kurasa Ayame membolos pelajaran, makanya aku enggak melihat keberadaannya sampai sepulang sekolah.


♦♦♦


Keesokan paginya, aku masuk sekolah seperti biasa. Aku duduk dan mengambil buku pelajaranku.

Kulakukan hal yang biasanya juga dilakukan teman-teman sekelasku, seperti mengobrol bareng teman atau membaca buku sebelum pelajaran dimulai.

Belakangan ini sering turun hujan, tapi hari ini cuaca tampak cerah.

Kemudian, pintu kelas pun dibuka seseorang.

'*Braak!*'

Bukan berarti aku peduli akan hal itu.

"Eh?" "Apa?" "Itu— apa mataku ini sedang memperdayaiku?" "Ini pasti bercanda."

Tapi ketika seisi kelas tercengang seolah habis melihat monster masuk ke dalam kelas, aku pun kalah oleh rasa penasaran ini, hingga perhatianku tertuju pada pintu yang terbuka itu.

"Hah?"

Aku mengeluarkan suara aneh. Di saat yang sama aku enggak tahu itu siapa.

Tapi ketika kufokuskan pandanganku, aku seperti mengenalnya.

Sepasang mata itu, wajah itu. Ada beberapa bagian yang enggak berubah. Ditambah, cara memanggul tasnya yang khas itu ....

Enggak salah lagi. Itu Ayame.

Namun bedanya, dia telah mengubah gaya rambutnya, menghitamkannya dan mengembalikan model seragamnya sesuai model aslinya, tanpa tambahan rantai.

"'Twintail'?"

Kuucapkan itu tanpa memperhatikan keadaan.

Seperti yang kubilang, dia mengubah gaya rambut terurainya menjadi kuciran di kiri dan kanan yang diikat pita merah — 'twintail' yang sering terlihat dalam 'anime' dan 'manga'.

Dan rambut coklatnya kini menjadi hitam pekat.

Jika diperhatikan baik-baik, dia enggak memakai anting-anting lagi.

Perubahan penampilannya ikut mengubah suasana di kelas menjadi canggung.

....

Tatapan matanya menyilaukan seluruh penghuni kelas. Ekspresi wajahnya seolah berkata, 'Jangan lihat aku'.

... saat menyaksikan hal ini, aku yakin kalau itu betul Ayame.

Semuanya langsung mengalihkan pandangan dan bersikap seolah enggak ada apa-apa. Dengan kakunya, sebagian murid di kelas pura-pura mengobrol seperti, "Hari ini cuacanya bagus, ya?" Sementara sisanya ada yang bolak-balik membuka lembar buku pelajarannya. Tampak seisi kelas bingung mau berbuat apa.

"O ... oi! Aramiya!"

Tozaki menarik dan membalikkan badanku.

... sepertinya aku ketularan bingung, sampai lupa membalikkan badan.

Dia mendominasi semua penghuni kelas hanya dengan tatapannya. Dan setelahnya, dia pun masuk ke dalam kelas.

Sampai akhirnya dia berhenti di depan mejaku dan memandangiku seperti kemarin.

Ke ... kenapa lagi?!

"Ha ... hai ...."

sepatah kata itu keluar begitu saja hingga otakku belum sempat mencernanya. Dia menyapaku. Aku pasti sudah salah mengerti. Kutengadahkan pandanganku, dan ternyata dia memang bicara kepadaku.

"Ah .... Se ... selamat pagi."

Aku menjawab dengan nada sesopan mungkin. Normalnya, ketika ada yang menyapa, kita pun harus menyapa balik. Dan pada situasi semacam ini, kalau kita mengabaikan dirinya, maka posisi kita sudah selangkah lagi dekat dengan alam ba— bukan, tapi separuh diri kita sudah ada di alam baka.

Meski begitu, wajahnya menampakkan keraguan.

Aku harus bersikap seperti apa?! Apa yang sebenarnya terjadi, sih?!

"Bu ... bu ... bukan berarti aku sula sama kamu, dasar bodong!"

Dia benar-benar bicara begitu padaku. Aku enggak paham, benar-benar enggak paham. Lagi pula, apa lidahnya terbelit waktu dia bicara tadi?!

Dia langsung cepat-cepat ke kursinya kemudian duduk tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab.

Teman-teman sekelasku yang lain berlagak seakan mereka enggak mendengar apa-apa.

Pada akhirnya, aku masih dalam kebingungan.

Tozaki menatapku seolah berkata, 'Jawab saja,' dan aku balas menatap, 'Kamu gila, ya?!'.

Kini seisi kelas menjadi hening hingga suara dari kelas sebelah pun terdengar. Semuanya berlagak tenang yang justru makin membuat suasana terasa aneh.

"Oi, Tozaki."

Aku memelankan suaraku hingga hanya bisa didengar oleh kami berdua saja. Di situasi seperti ini, hanya anak inilah yang tahu kenapa semua jadi begini.

"A ... ada apa?"

Dia berusaha memalingkan pandangannya. Walau dia ingin menutupinya, wajahnya jelas terlihat ragu-ragu seperti ingin menyampaikan, 'Bagaimana menjelaskannya ke kamu, ya ...?'.

"Apa saja ... yang kamu ... katakan ... ke Ayame?"

"A ... aku enggak mengatakan apa-apa."

"Kalau memang enggak, terus kenapa kemarin kamu ada bilang, 'Jangan dendam ke aku lo, ya,' atau 'Ada persembahan yang kukirim ke hadapanmu,' hah?"

Kini wajahnya seakan berkata, 'Aku enggak bisa menutupinya lagi,' dilanjutkan desahan panjang lalu dia mulai berbicara.

"Kemarin aku dibawa pergi lalu ditanya-tanyai soal apa kesukaanmu, gaya rambut kesenanganmu atau hobi yang kamu gandrungi."

"Ke ... kenapa dia tanya-tanya itu? Ah, itu nanti saja, terus kamu jawab apa?"

"Kujawab saja kalau kamu suka 'twintail', nonton 'anime' dan main 'game' .... Tepatnya, game 18 tahun ke atas."

"Hah?!"

Aku hampir berteriak, tapi untungnya aku bisa kembali memelankan suaraku.

"Bego! Kenapa malah diberi tahu?!"

"Terus aku harus bagaimana?! Kalau aku enggak jujur aku bisa mati!"

"Jujur juga enggak sebegitunya, 'kali! Memangnya kamu enggak pernah dengar pepatah, 'Terlalu jujur nanti hidupmu bakal susah'?!

"Tapi kalau aku enggak jujur, hidupku yang bakal susah!"

Apa dia sedang berusaha membuat pepatah tandingan? Enggak, sama sekali enggak pas!

"Biar kujelaskan! Aku enggak begitu mengerti apa yang terjadi kemarin! Termasuk ditanya-tanyai soal dirimu! Yang pasti, kurasa aku mungkin bakal tahu tentang yang sudah kamu lakukan padanya!"

Yah, itu masuk akal, sih. Kalau aku yang dibawa pergi oleh gadis itu, terus dipelototi sambil ditanya, 'Beri tahu aku semuanya tentang Tozaki, dan awas kalau bohong!' mungkin aku bakal melakukan hal sama.

Makanya Tozaki enggak bisa disalahkan di sini .... Tapi tetap saja aku jengkel.

"Jadi, ini soal apa? Soalnya kemarin kamu enggak ada cerita apa-apa, sih."

"Aku enggak begitu ingat."

Ada hubungan apa aku sama Ayame? Tunggu, jangan-jangan ... gadis yang mau diperkosa hari Minggu kemarin itu memang dia, ya?

Aku mengira-ngira apa itu benar. Tapi waktu itu aku enggak melihat jelas wajahnya.

"Kamu benar-benar enggak ingat?"

"Mungkin sedikit, tapi aku enggak begitu yakin. Aku memang enggak punya bukti tapi aku enggak melakukan apa-apa yang bisa membuatnya dendam padaku, kok."

"Cuma itu? Berarti aku memang bakal ketularan apes kalau dekat kamu?"

"Sumpah demi dewa 'eroge', aku memang enggak yakin."

"Dewa 'eroge'? Maksudmu Eros*? Setop, bukan itu masalahnya."

(*Dewa cinta)

Dia masih saja bisa bercanda di situasi begini.

"Kalau kamu bilang begitu, yah, mungkin kamu benar."

"Ya, 'kan? Ya, 'kan?"

Merupakan hal yang baik jika ada orang yang seiya sekata denganmu.

"Aramiya, Tozaki, kapan kalian mau berhenti bisik-bisik?"

Aku terkejut dan melihat ke sumber suara yang ternyata adalah Ohara-sensei. Beliau sudah berdiri di podium yang berada di depan papan tulis dengan ekspresi terganggu. Apa aku terlalu asyik mengobrol sampai-sampai enggak mendengar bel masuk dan melihat kehadiran guru.

"Maaf ...." "Maaf ...."

Aku dan Tozaki memohon maaf yang lalu dibalas beliau, "Bagus," sambil tersenyum.

Sebelum membacakan absensi kelas, beliau terlebih dulu memeriksa keadaan murid-muridnya.

"Wah, Ayame. Rupanya kamu menghitamkan kembali rambutmu, ya? Senang melihatnya."

"Hah? Ini bukan buat situ."

"Oh, maaf!"

Beliau langsung terperanjat. Yah, beliau cuma seorang guru. Seorang guru yang begitu muda dan harus menghadapi murid seperti Ayame — mungkin beliau dipaksa melakukannya — aku jadi kasihan.

"Ba ... ba ... baiklah, ki ... kita mulai 'homeroom'-nya."

'Homeroom' pun dimulai dengan suara yang terbata-bata.


♦♦♦


Selama pelajaran berlangsung, suasana aneh itu masih terasa, dan mulai berangsur hilang hingga jam istirahat siang.

Meski semua anak di kelas sudah mulai lupa soal tadi, aku masih enggak merasa kalau yang kudengar itu adalah halusinasiku saja. Ayame tadi berkata seperti, "Bu ... bu ... bukan berarti aku suka sama kamu, dasar bodoh!" rasanya seperti tokoh 'tsundere' yang dibuat-buat.

Satu istilah, 'tsundere', yang kini punya banyak makna dan tergantung seperti apa orang memaknainya. Sudah lama istilah itu enggak kudengar, hingga perlahan istilah tersebut berubah menjadi sesuatu yang orisinil.

Tapi kurasa Ayame tadi menirukan ucapan seorang 'tsundere'. Padahal dia bukan orang di kalangan 'otaku' dan mungkin hanya menebak-nebak seperti apa 'tsundere' itu kemudian menirukannya. Sayangnya, sewaktu bicara tadi lidahnya terbelit, makanya dia enggak bisa menirukannya dengan sempurna.

Terserahlah, setiap orang punya pemaknaannya sendiri. Jadi terserah orang lain mau seperti apa menanggapinya.

"Tozaki, cari makanan, yuk."

"Ah, oke. Semua pembicaraan tadi bikin perutku lapar. Hari ini menunya apa, ya?"

Biasanya kami berdua makan siang di kantin. Soal rasa, makanan di kantin, sih, biasa-biasa saja, tapi karena di sana murah, jadi kami maklum saja.

Lagi pula, sejak aku mulai bekerja paruh waktu, orang tuaku enggak lagi memberikanku uang saku. Jadi, asal enggak bikin sakit perut, beli yang murah saja. Kalau enggak begitu, siang nanti aku enggak bakal kuat belajar.

"Jadi, mau makan apa, nih? Ayo putuskan, nanti keburu—"

"He ... hei."

Tepat saat kami hendak pergi, kudengar suara tertahan dari belakang.

Dan suasana aneh itu pun kembali melanda.

Sekeliling kami perlahan mulai meredam suaranya.

Seperti halnya dalam 'game', suara musik latar memelan ketika terjadi sebuah pembicaraan.

Aku dan Tozaki pelan-pelan membalikkan badan.

Dan di sana ada Ayame.

Aku yakin itu dia, aku kenal suaranya.

Namun ketika mengubah gaya rambutnya menjadi 'twintail', dirinya juga banyak berubah, meskipun aku lebih memilih jika rambut hitamnya itu digerai.

... tunggu, kenapa aku malah memikirkan gadis 3D? Lagi pula, dia itu bekas orang.

Kini aku harus menghindar dari gadis yang tampaknya sedang berusaha menyelidiki dan mengejarku ini. Dalam 'game' aku diajari agar memperhatikan ucapan maupun kelakuan dari seseorang. Ditambah, aku harus waspada akan segala hal, meski itu detail yang kecil.

"Hari ini kamu mau makan di kantin, ya?"

"Eh? Maksudmu aku?"

"Bukan kamu, Tozaki. Menyingkir sana."

"Sudah kuduga .... Ya sudah, aku duluan."

Dia pun langsung pergi seolah sudah menyiapkannya.

Dasar Tozaki, kenapa wajahnya seolah berkata, 'Sukses, ya, sobat!' kepadaku?! Aaargh, bisa-bisanya dia selamat?!

Kubalas dia dengan tatapan, 'Sukses gundulmu!' yang entah dia mengerti apa enggak.

Perlahan aku menoleh ke Ayame layaknya robot yang hampir rusak. Kulihat wajahnya sudah merengut, bukan karena marah atau apa, tapi lebih seperti sedang gugup.

"Maksudmu aku?"

Aku takut-takut bertanya, yang kemudian dia balas dengan anggukan.

"Kamu jadi ke kantin atau enggak?"

"Ja ... jadi, Mbak ...."

Enggak sengaja kutanggapi dirinya dengan sopan, padahal dia teman sekelasku. Mau bagaimana lagi? Aku ketakutan.

Aku takut siapa tahu tinjunya bakal melayang ke arahku. Setiap pergerakan dan tindakannya tampak seperti kuda-kuda yang akan melancarkan serangan. Bahkan tatapan matanya seolah menyiratkan, 'Aku siap bertarung kapan pun denganmu'.

Aku bagaikan pemburu yang kehilangan senapannya di tengah alam liar dan ada hewan buas di depanku.

"Ka ... kalau begitu, ni ... nih!"

Ucap Ayame sembari mengeluarkan tin— eh, tas bungkusan dari kain?

Besarnya bungkusan itu cukup pas untuk diisi kotak bekal .... Eh, kotak bekal?

"I ... itu ... kotak bekal?"

"A ... ah, eng ..., iya. Aku ya ... yang buat."

Dibuatkan bekal oleh seorang gadis merupakan hal yang diimpikan hampir setiap anak lelaki.

Bukannya senang, aku justru merasa ragu sekaligus takut.

Karena aku enggak tahu alasan dia membuat dan memberikannya padaku!

Sebentar .... Bagaimana jika gadis yang kuselamatkan hari Minggu kemarin benar Ayame.

Meskipun aku yang membantunya lolos dari kejadian waktu itu, tapi sebenarnya aku enggak sengaja menolongnya. Aku tiba-tiba terlibat dalam situasi berbahaya, makanya kuputuskan untuk berbuat sesuatu.

Di dunia nyata, hal semacam 'flag' yang bisa mengubah situasi itu enggak ada. Situasi semacam 'kita menjatuhkan sapu tangan lalu ada seorang gadis yang mengambil dan mengembalikannya pada kita' atau 'teman sedari kecil' atau bahkan 'adik perempuan yang mengagumi kakak laki-lakinya', itu ... semua ... mustahil! Yang ada justru adik perempuanku melaporkanku pada guru kalau aku enggak bisa bangun pagi.

Itu sebabnya, menyelamatkan seorang gadis enggak akan memberi 'flag' apa pun pada kita! Bukan, orang sepertiku sampai melakukan hal seperti itu yang sungguh enggak ada gunanya!

"Bu ... buatku? Kenapa?"

"Su ... sudah, terima saja! Mau atau enggak?!"

Tolong arahkan aku ke halaman wiki yang punya petunjuk main untuk 'game' ini.

[Tolak] >> [Mati]

Aku sudah menerawang ke masa depan dan tahu apa yang terjadi jika menolaknya. Aku sadar kalau itu cuma imajinasiku saja, tapi ....

Saat ini hanya tersisa pilihan [Terima] yang jika dipilih akan memunculkan tiga pilihan lagi, [Telan], [Kunyah saja], [Buang]. Tapi tetap saja ujung-ujungnya harus memilih satu.

"Ba ... baiklah, a ... aku terima, ya?"

"Ah ..., Te ... terima kasih."

Kuterima bungkusan kain berwarna hijau muda itu darinya, yang ternyata cukup berat.

"Se ... sela ...."

Dia bergumam seakan ingin mengatakan sesuatu.

"Eng ... enggak jadi!"

Ucapnya sebelum berlari pergi.

Aku masih berdiri di sini, di tengah tatapan tajam teman-teman sekelasku yang terasa begitu menusuk.

Yang benar saja, haruskah ini kubuang?

Tapi makanan ini enggak salah apa-apa. Haruskah aku berbuat jahat untuk membela diri? Yah, bisa jadi.

"Dia ini sebenarnya mau apa, sih?"

Aku jadi bicara sendiri. Suaraku pun hilang bersama angin.

Aku lalu pergi sambil membawa bungkusan kain itu ke suatu pojok di luar gedung sekolah. Soalnya kalau sampai ada yang lihat, mereka pasti bakal bertanya macam-macam. Yah, yang penting ini masih awal musim semi, udara di luar lumayan segar. Apalagi kalau dibawa makan siang di luar, sesuatu banget. Aku bisa menghabiskan bekal ini tanpa khawatir ada yang melihat.

"Coba lihat dulu isinya ...."

Sambil menduduki rumput, kubuka bungkusan itu dan terlihatlah kotak bekal dua lapis.

Kubuka tutupnya. Beraneka lauk terjajar rapi. Ada dadar gulung, sosis, perkedel daging, salad kentang, bahkan sayur rebung.

"Wah, kelihatannya enak."

Aku langsung memujinya tanpa sadar.

Bahkan setelah kubuka lapis pertamanya, nasi yang dibumbui tersaji memenuhi lapis kedua.

Ini kayaknya enak juga, mungkin orang tuanya yang buat? Eh ..., tapi tunggu.

'A ... ah, eng ..., iya. Aku ya ... yang buat.'

Dia yang buat? Dia yang masak? Ayame? Semua makanan ini?

"A ... aku benar-benar enggak paham."

Walau dadar gulung ini sengaja dibuat agak gosong supaya terasa renyah, tapi warna kuning keemasannya sungguh sedap dipandang.

"Cicipi dulu 'kali, ya? Semoga saja enggak dicampur racun."

Kuambil sumpit yang juga sudah disediakan berbarengan kotak bekal itu.

"Ma ... mari makan ...."

Kuangkat satu dadar gulungnya, kumakan segigitan kecil dengan perasaan cemas mengenai seperti apa rasanya.

"Eh?"

Bahkan walau cuma segigitan kecil, rasanya sungguh enak dan ternyata enggak ada racun apa pun di dalamnya. Secara keseluruhan, dadar gulungnya lezat! Bahkan lebih enak dibandingkan buatan ibuku.

Kemudian aku beralih ke masakan selanjutnya, dan ternyata kesemuanya enak. Enggak ada hal baru atau ciri khas khusus di masakannya, cuma masakan biasa dengan rasa yang menggugah selera. Terutama sayur rebungnya, rasanya sangat-sangat enak. Komposisi bumbunya pas, sesuai dengan seleraku. Ada sedikit rasa kaldu ikan dan 'mirin'* dalam kecapnya. Semuanya sangat pas dan rasa dari rebungnya 'pecah' di mulut.

(*Bumbu masak asal Jepang yang merupakan campuran dari gula dan alkohol)

Setelah lima menit semuanya ludes enggak bersisa.

... biar kotaknya kucuci dulu sebelum kukembalikan.

Sewaktu kembali ke kelas, aku bertemu gadis itu di depan pintu kelas.

"Ha ... hai ...."

Dia takut-takut menyapa.

"O ... oh, terima kasih buat bekalnya. Enak, lo."

Saat aku mengatakannya, dia tampak terkejut.

"Su ... sungguh? Te ... terima kasih pujiannya .... Kamu paling suka yang mana?"

"Sayur rebungnya."

"I ... itu masakan andalanku. Syukurlah ...."

Dia lalu menghela napas. Apa dia benar-benar membuatkannya untukku?

"Ka ... kamu memberiku bekal makan siangmu, memangnya enggak apa-apa?"

"Ah, eng, jangan khawatir. Aku juga buat lagi satu."

Jadi dia buat dua ...? Tahan ..., jangan berpikir lebih dari ini.

"Kalau begitu biar kucuci dulu sebelum kukembalikan ...."

"Ja ... jangan! Enggak usah!"

Dia langsung merebut pembungkus kain itu dariku.

"Ya ... ya sudah, sampai ketemu lagi!"

Ucapnya sebelum kembali berlari menjauh.

Padahal kelasnya bukan ke arah sana. Apa mungkin dia mau membolos?

... ternyata benar bolos.


♦♦♦


Jam pelajaran selepas siang pun berakhir dengan lancar.

Waktu sekolah sudah usai. Entah mungkin karena enggak adanya gadis itu, tapi suasana dalam kelas tadi menjadi normal. Semua anak masih memandangku dengan rasa kasihan serta penasaran, aku jadi enggak bisa duduk tenang.

"Bagi yang tidak punya kegiatan ekskul sepulang sekolah, segeralah pulang, jangan berkeliaran. Baiklah, kalau begitu sampai jumpa besok!"

Sepulang sekolah murid-murid mulai berpencar, ada yang ke tempat ekskul masing-masing, pulang ke rumah, mengerjakan tugas piket ataupun rapat OSIS.

Hari ini aku enggak ada pekerjaan paruh waktu, jadi pilihannya adalah pergi ke ruang ekskul — tepatnya Ekskul Game — atau langsung pulang ke rumah. Tapi karena aku belum menamatkan 'game' yang kemarin, mending pulang saja, deh.

"Aku pulang duluan, ya."

"Oh, sampai ketemu besok, ya."

Kuucapkan salam perpisahan sebelum mengemas barangku dan pulang.

Namun ketika aku sudah hendak di depan pintu— aku bertemu gadis itu lagi.

"He ... hei, Aramiya."

Aku lagi?! Mau berapa kali— bukan, dia masih di sekolah?!

... tapi tunggu, kalau diperhatikan lagi, tasnya memang masih ada di mejanya, sih ....

Enggak, enggak, enggak, lupakan itu dulu! Apa sebenarnya yang dia mau dariku? Wahai indera keenamku, tolong aku dari bahaya yang akan datang ini.

"A ... apa yang sebenarnya kamu mau dariku?"

Aku mengatakannya kembali sesopan mungkin.

"I ... ikut aku sebentar!"

Dia lalu menarik tanganku. Wah!

Dengan kuat dicengkeramnya tanganku hingga enggak mampu aku mengelak.

Para murid yang sebelumnya hendak pulang mulai melihat ke arah kami, namun gadis ini memelototi balik sambil berseru, "Ada apa?!" Mereka langsung memalingkan pandangan dan menyingkir untuk memberi jalan. Memangnya dia Nabi Musa?

Banyak patung dari tokoh-tokoh pahlawan yang berdiri di depan tembok.

... tapi tetap saja enggak ada pahlawan yang akan menolongku. Kejamnya dunia.

Tapi aku sudah memprediksi hal ini. Andaikan bukan aku yang jadi targetnya, aku akan berbuat sama.

Kalau aku melawan, bakal ada tinju yang bersarang di wajahku. Karena itu aku pasrah saja.

Meskipun kami sudah sampai di tempat tujuan, enggak menghilangkan kemungkinan kalau aku bakal dipukuli. Tapi kuharap ini bisa selesai lebih cepat, aku rela memberi apa saja untuk itu.

"... kita sampai."

Aku dibawa ke belakang gedung sekolah, di mana jarang sekali ada orang yang lewat sana.

Haruskah aku menjerit kalau terjadi apa-apa? Berapa banyak pukulan yang bakal kuterima sampai bantuan tiba?

... dan untuk apa aku memikirkannya kalau ujung-ujungnya juga tetap dipukuli?

Meski begitu, aku tetap enggak tahu jawabannya.

Apa ini karena rasa takutku yang berasal dari paksaan gadis ini?

... aku berusaha mencari tahu maksud dari semua ini.

Bahkan aku enggak tahu apa sebenarnya ini.

Apa ini karena rasa takutku yang berasal dari paksaan seorang Ayame di depanku ini?

"Ma-maaf sudah membawamu ke sini ...."

"Eng-enggak apa-apa, kok ..., Mbak."

"Sudah, enggak usah bicara sok sopan lagi! Kita ini lagi enggak di kelas, tahu?!"

"Ma-maaf, M ... ah, eh, eng ... maaf."

Aku hampir keceplosan lagi.

Dia sudah susah payah membawaku ke sini, kurasa aku bakal dipukuli sampai babak belur.

Tapi jika benar demikian, aku mungkin harus jaga-jaga agar enggak terlalu banyak menerima pukulan ....

"...."

Namun kami berdua mendadak terdiam. Sialan, ayo cepat ...!

"Begini ...."

Akhirnya Ayame bicara.

"Ah, anu ...."

Mulutku tetap terkunci, hingga enggak ada suara yang keluar.

"Kamu sudah punya pacar, enggak?"

"Haaah?!"

Gadis ini bicara apa? Jika aku bilang punya, mungkinkah dia akan ikut membawa orang yang apes itu juga kemari?

"Eng-eng-enggak punya."

Aku menjawabnya dengan begitu ketakutan. Begitu takutnya sampai-sampai aku enggak tahu alasanku untuk takut.

... tapi kenapa aku harus takut padanya?

Sewaktu gerombolan preman hendak memerkosanya Minggu kemarin, aku jauh lebih ketakutan dibanding ini.

Apa karena gadis ini lebih menakutkan daripada gerombolan preman itu?

Saat ini, aku berpikir apa yang bakal lebih menakutkan dari ini? Memangnya apa ...? Ada-ada saja.

"Benar kamu enggak punya pacar?"

"Ah, eng ...."

Tenang dulu, aku masih belum yakin jika itu yang ingin dia tanyakan. Jika dia belum membicarakannya dan aku langsung mengasumsikan begitu, aku bisa malu sendiri. Kuharap hal-hal yang bisa membawa kembali trauma masa laluku itu enggak akan selamanya menghantuiku.

Namun setelah semua pemikiran tadi, otakku kembali kosong.

"Baik, langsung intinya saja, ya."

Ayame berlagak malu, tapi ada sesuatu yang mau dikatakannya.

"Aku mau jadi pacarmu."

....

.......

..........

"Hah?"

"Berapa kali lagi harus kuulangi?! Ku-kubilang, 'Aku mau jadi pacarmu!"

"Ke-kenapa?"

Aku langsung menanyakan alasannya. Soalnya aku enggak bisa menerima apa yang kini sedang terjadi.

"Ka-ka-kamu waktu itu sudah menyelamatkanku .... Itu alasannya!"

"Ap- eh .... Ja-jadi gadis yang kemarin diserang itu ..."

"Ka-kamu benar enggak tahu?! Ya-yah, aku juga enggak menyangka, sih! Karena pertolonganmu, aku jadi bisa menyelamatkan diri! Kamu datang saat kupikir enggak bakal lagi selamat. Dan inilah aku sekarang!"

Begitulah penjelasan— tapi tunggu dulu ...!

"Cuma gara-gara itu?"

Yang kulakukan cuma menyelamatkannya dari upaya pemerkosaan dan dia langsung jatuh cinta padaku?! Itu terlalu naif!

"Memangnya salah? A-a-aku sangat senang ka-kamu menyelamatkanku ...!"

Wajah Ayame memerah, apa dia memang serius?

"A-aku sungguh-sungguh. Sejak saat itu aku ingin berterima kasih padamu. Ini pertama kalinya aku merasakan yang seperti ini. Aku enggak mengerti dan ini mengusikku ..."

Setelah selesai bicara, Ayame lalu mengatupkan bibirnya. Aku mulai merasa tenang.

"Be-begitu, deh ...! Jadi itulah ceritanya!

Dia berusaha mendapatkan jawaban dariku, tapi aku sudah punya jawaban sebelumnya.

"Ma-maaf, aku enggak bisa."

Setelah menjawabnya, wajah Ayame yang tadinya merah berangsur berubah pucat.

... dari keadaannya sekarang, aku sadar kalau ada yang salah.

"... bisa beri tahu alasannya?"

Dia berbicara dengan nada pelan .... Duh, mungkin aku bakal dipukuli setelah ini.

Tapi aku punya pilihan yang harus kubela!

"Aku .... Aku hanya tertarik gadis 2D ...."

"Eh .... Gadis 2D ...?"

"Biar kuperjelas .... Aku hanya tertarik dengan gadis yang ada di 'game' 18 tahun ke atas ...."

Kenapa aku harus menjelaskan ini padanya? Bukankah dia sudah tahu?

"Ha-haaah? Jadi kamu lebih tertarik gadis yang ada di 'game' daripada aku?!"

"I-iya! Memangnya itu salah?"

"Soalnya itu enggak nyata!"

"Terus kenapa?! Yang penting gadis impianku itu tetap ada di layar monitor!"

"Aku sudah susah payah mengubah diriku! Mulai dari hobi, gaya rambut, bahkan cara bicaraku!"

Pasti dia mengetahui hal tersebut dari Tozaki! Dia benar, aku memang suka gadis berambut hitam yang di-'twintail'!

Tapi gadis ini terlalu berlebihan menanggapinya, dan dia melakukan hal tersebut agar perasaannya bisa tersampaikan padaku. Biar begitu, aku tetap enggak punya ketertarikan dengan gadis 3D.

Namun tampaknya ada yang belum diberi tahu Tozaki padanya, seperti aku enggak suka barang buangan, haram, cacat ataupun bekas orang.

Kenapa pula aku sampai membeberkan ketertarikan dan hobiku pada gadis itu? Padahal itu bukanlah hobinya ...!

Jika gadis ini adalah salah satu tokoh dalam 'game' atau bukan 3D, mungkin dia sudah kukejar-kejar!

Untuk saat ini kemungkinan aku bakal dihabisi entah secara fisik ataupun secara verbal — walau sebenarnya aku enggak mau dibegitukan!

"Kamu ...."

Ah, sial. Tampaknya dia murka.

"Baiklah ...."

Chuuko Vol 1 p043.jpg

Dia mencengkeram sampai ke kerah kemejaku. Aduh, kumohon jangan pukul keras-keras!

"Oke ...!"

Hiii ...! Aku enggak bisa selamat lagi! Siapa saja tolong aku!

"Yang penting aku harus jadi gadis yang lebih manis dari yang kamu lihat di 'anime' dan 'game' itu, 'kan?! Maumu seperti itu, 'kan?"

Ayame baru saja mengatakan hal di luar nalar yang sekaligus membuatku enggak bisa berpikir jernih.

"Aku akan menjadi gadis yang kamu impikan! Aku akan menjadi gadis itu, lihat saja!"

Enggak mungkin! Kenapa dia enggak menyerah saja?!

"Tung-, hati-hati, a-ada jurang gelap di antara dunia 2D dan 3D!"

"Enggak masalah! Aku enggak akan kalah!"

Ayame lalu melepaskan cengkeramannya.

"Bersiaplah, aku akan menjadi gadis yang kamu impikan, lihat saja!"

Dia serukan keputusannya itu dengan lantang. Setelah itu dia pun pergi, meninggalkanku sendiri.

"Dia ingin menjadi gadis impianku? Serius ...? Tapi bagaimana caranya dia menjadi sesuai dengan yang aku mau ...?"

Dia benar-benar serius atau dia memang bisa mengubah dirinya menjadi objek 2D?

Yah, setidaknya aku enggak dipukuli. Beruntung, deh.

Meski begitu, aku juga harus melakukan sesuatu sebisa mungkin agar gadis itu enggak melukaiku sedikit pun.

Namun jika membayangkan yang bakal terjadi nanti, bisa saja ujung-ujungnya aku dihabisi. Jadi sebisa mungkin pula aku membiarkan dan merelakan ini apa adanya ....

Itu sebabnya, sementara ini kurasa aku bisa untuk menjadi target dari Ayame.

Bab 2 - Pernyataan Cinta Itu Memang Selalu Tiba-Tiba[edit]

"Aku mencintaimu Seiichi. Di dunia ini hanya kamu yang paling kucintai."

Tokoh wanita impianku menyatakan cintanya padaku. Tubuhnya ramping dan indah dipandang. Benakku berkata kalau dia memang gadis impianku, hingga aku tersadar kalau sebenarnya kategori gadis impianku jauh lebih baik dari ini.

"Apa aku sudah menjadi gadis impianmu, Seiichi?"

Ingin aku mengangguk, tapi kenapa aku malah menggelengkan kepala? Padahal dia sudah seperti gadis impianku.

"Kalau begitu ...."

Gambaran dirinya makin lama makin jelas terlihat dan makin tampak cantik, rambut hitamnya di-'twintail', tatapan matanya tajam, wajahnya—

Bagaikan seorang aktris—

"Itu artinya, kamu akan memilihku, 'kan?!"

Ternyata itu Ayame.

"Enggak! Aku enggak mau!"

Aku bangun dengan terkejut lalu melihat ke sekitar, dan ternyata aku masih di kamarku. Lalu Ayame— dia enggak ada di sini. Enggak mungkin dia ada di sini. Lagi pula bagaimana caranya dia ke sini? Kalau benar ada, semuanya bakal tambah mengerikan.

"Cuma mimpi ...."

Huh, ternyata mimpi, toh ....

Aku memikirkannya kembali dan seharusnya tahu kalau saat itu aku sedang di dalam mimpi, tapi semuanya terasa begitu nyata. Syukur, deh, itu cuma mimpi. Aku pernah mengalami mimpi terbunuh, tapi itu enggak sampai berkeringat dingin begini.

Namun—

'Bersiaplah, aku akan menjadi gadis yang kamu impikan, lihat saja!'

Enggak kusangka hal seperti itu terjadi kemarin ....

Apa yang ada di pikiran gadis itu sampai menyukai 'otaku' penggila 'eroge' sepertiku ini? Aku berusaha memikirkannya, tapi tetap saja itu sulit dipercaya. Ini rasanya seperti cacar air yang tiba-tiba muncul di kulit dan membuatku sakit, namun setelah beberapa lama, cacar itu hilang dengan sendirinya. Entah bagaimana caranya, sosok Ayame tiba-tiba muncul di hadapanku. Dan perlu beberapa waktu pula hingga hal itu menghilang dengan sendirinya.

... rasanya aku ingin mengurung diri di kamar sampai hal tersebut enggak membekas lagi di otakku. Tapi orang tuaku enggak mungkin bakal mengizinkan.

"Oi, Jejaka Letoi, mana nasiku?! Jangan mimpi basah terus! Turun sini!"

Teriak adik perempuanku dari lantai bawah, yang suaranya menggema sampai ke kamarku. Cara bicaranya kasar, makanya aku enggak yakin kalau dia satu tahun lebih muda daripada aku. Kurasa orang tuaku sudah salah dalam membesarkannya. Itu pasti. Aku jadi ingin mengemas data-data 2D lalu menyumpalkan itu ke dalam mulutnya!

"Uugggh ...."

Kutarik dan kuhela napas panjang sampai kondisi emosiku mulai membaik.


♦♦♦


Aku tiba di sekolah lebih pagi dari biasanya untuk berjaga-jaga karena teman-teman sekelasku belum banyak yang datang. Tozaki juga rupanya belum datang. Sebelum Ayame tiba di sekolah pas bel berbunyi, aku bisa menggunakan waktuku ini untuk bersiap menghadapi yang bakal terjadi antara aku dan dirinya nanti.

Baiklah, sebaiknya aku mulai berlatih sekarang. Jadi, sewaktu nanti pintu kelas dibuka dengan kerasnya, Ayame masuk ke kelas dan menuju ke mejaku lalu menyapa, 'Pagi, Aramiya,' jika seperti itu, maka yang akan kulakukan adalah—

"Astaga, dia keburu datang!"

"Se-selamat ... pa-pagi. Ha-hari ini tumben datang cepat ...?"

Aku bagaikan prajurit yang belum terlatih namun sudah diterjunkan ke medan perang. Waduh, aku masih belum siap! Pandangan teman-teman sekelasku sudah tertuju padaku sekarang.

"Eh, eng, anu, ada yang mau kutanyakan ke kamu."

"I-iya?"

"Tokoh yang namanya Ridi di 'game' 'Princess?Weekdays', bagaimana caranya supaya dia jatuh cinta padaku agar aku bisa menamatkan 'game'-nya?"

....

Hah?!

"Oi, Aramiya, Kamu dengar, enggak? Aku mau tanya soal tokoh yang namanya Ridi—"

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"

Kemarin Ayame masih menjadi anak nakal yang pemalas, tapi kini semua sudah berubah.

Aku berdiri dari kursi lalu menarik tangannya.

"Hei!"

Aku membawa dirinya keluar dari kelas tanpa menghiraukan keterkejutannya. Kubawa dia sampai ke persimpangan anak tangga di mana jarang ada yang lewat sana. Setelah sampai, aku langsung memeriksa apakah ada orang lain di sekitar kami, kemudian—

"Ka-ka-ka-ka-ka-ka-ka-ka-ka-kamu ini!"

"Ke-kenapa ..., kenapa kamu marah padaku?! Aku benar-benar enggak paham."

Ayame tampak kebingungan.

"Soalnya 'Princess?Weekdays' itu 'game' 18 tahun ke atas! Masalahnya, orang yang belum berumur 18 tahun itu enggak boleh membelinya!"

"Aku sudah tahu, soalnya saat permainan mau dimulai juga ada peringatannya. Enggak usah panik begitu, guru belum datang, kok."

"Itu malah lebih parah! Jangan pernah bahas 'game' 18 tahun ke atas di dalam kelas! Kamu harus berhati-hati kalau bicara!"

"A-apa? Aku enggak boleh membahasnya denganmu? Padahal karena kamu 'otaku', kupikir bakal enggak apa-apa. Jadi apa masalahnya ...?"

"Kamu tanya 'masalahnya'?! Kalau kamu hanya menonton 'anime' atau main 'game' sampai larut malam, orang enggak akan peduli! Tapi kalau kamu main 'game' yang banyak tokoh wanitanya, orang akan menganggapmu aneh. Aku memang 'otaku' yang terbuka, tapi aku masih ingin menikmati masa SMA-ku dengan damai! Aku enggak mau orang-orang memandangku sebagai 'otaku' kelas berat!"

Apa saat ini ada 'otaku' lain di luar sana yang bisa hidup damai sepertiku? Yah, memang ada juga 'otaku' yang bodoh. Enggak hanya memainkan 'eroge' sepertiku ini, namun ada juga 'otaku' yang saking candunya sampai rela melek tengah malam demi menonton 'anime' berisikan tokoh-tokoh 'moe'. Orang lain masih bisa menerima mereka yang menonton 'anime' bergenre remaja atau 'anime' keluaran studio terkenal, tapi dunia masih belum bisa semudah itu menerima mereka yang masuk kalangan 'deep otaku' .... Yah, walau itu hanya dari sudut pandangku saja.

Setelah aku menjelaskan dengan ocehan panjang lebar tadi, Ayame tampak mulai sedikit mengerti.

"... ma-maaf, aku enggak tahu soalnya."

Ayame meminta maaf padaku. Dan saat itu aku tiba-tiba sadar kalau Ayame adalah seorang berandal yang ditakuti di sekolah. Mendadak aku mulai gemetaran.

"Ta-tapi!"

"I-iya?!"

Dia mulai mendekat ke hadapanku. Aku pasti mau dihajar!

"Menurutku 'game' semacam itu enggak seharusnya menjadi hal yang membuatmu merasa malu ...."

"Eh ...?"

"Kini aku merasa lega. Awalnya kupikir, 'Astaga, itu hanya 'game',' tapi kemudian aku tersadar ketika memainkannya, aku sampai lupa waktu. Aku bisa melihat banyak gadis manis di dalamnya, dan sang protagonisnya pun tampak keren. Akhirnya aku mulai mengerti apa sebenarnya maksud dari 'gadis impian' bagi Aramiya."

Be-benarkah? 'Princess?Weekdays' memang sebuah karya hebat yang terjual entah sudah berapa juta DVD. Tapi tetap saja aku enggak menyangka kalau berandal seperti Ayame bisa sampai sesuka itu pada 'game' ini ....

"Bagiku, itu seperti menonton film yang menarik. Kuharap kamu paham yang kurasakan ini ...."

"Ta-tapi di dalamnya ... ada adegan yang enggak pantas dilihat ...."

Wajah Ayame memerah setelah aku menerangkan itu padanya. Remaja yang belum berumur 18 tahun seharusnya memang enggak boleh menonton adegan seperti itu.

Kurasa sebagian besar gadis pasti bakal menghindari hal tersebut ....

"O ... oh itu! Bu ... bukan hal aneh kalau mereka saling cinta, 'kan?"

Dia malu-malu mengatakannya dengan terbata. Ya, dalam kenyataannya, melakukan hal itu sudah merupakan urusan pribadi masing-masing, entah mereka sudah di atas 18 tahun ke atas ataupun belum.

Terutama bagi anak SMA sepertiku ini, aku enggak bisa mengeluhkannya. Namun bagi para anak lelaki, yang nafsunya sedang menggebu-gebunya, meski enggak punya pacar, mereka masih bisa memuaskan diri dengan cara menyedihkan setiap harinya.

Kalau saja mereka punya pacar, lalu suasananya mendukung, yah, hal demikian bisa saja terjadi. Tapi kalau ujung-ujungnya cuma pegangan tangan atau cium pipi kiri kanan ..., ya sama saja bohong.

... tapi hal-hal yang terjadi di dunia nyata tadi enggak ada artinya bagiku yang sudah mendedikasikan diri pada dunia 2D.

"Ta ... tapi berbuat begitu tanpa memakai 'itu' juga cukup berisiko ...."

"Me ... memakai apa?"

"Oh, enggak, enggak! Lupakan saja!"

Aku hampir lupa. Hal-hal erotis di dalam 'eroge' enggak pernah memedulikan hal semacam itu, jadi aku sedikit bingung juga. Mungkin dia paham soal yang seperti ini atau dia sudah terbiasa karena pekerjaan sampingannya.

Atau mungkin aku yang bodoh sampai enggak tahu soal itu.

"Omong-omong, aku cukup terkesan, lo. Aku terus memainkannya sampai terhenti di Ridi. Aku begitu terbawa permainan, tapi mendadak dia naik pesawat antariksa lalu pergi. Dia mengucapkan salam perpisahan dan permainan berakhir diiringi catatan sedih. Dan aku tetap mendapat akhir yang sama walau sudah mencoba pilihan yang berbeda ...."

Tampaknya dia enggak berhasil dan memainkannya berulang kali. Terhenti sampai di adegan itu, aku juga pernah mengalaminya ....

"Kamu memainkannya dari data simpanan permainan sebelumnya?"

"Ah, eng, iya. Aku main dari data simpanan permainan di rute sebelumnya, tapi tetap saja berakhir sama ...."

"Oh, pantas saja. Kamu harus memainkannya dari awal sekali. Kalau enggak, 'flag'-nya enggak bakal dapat."

"'Flag'?"

"Kalau kujelaskan, bisa panjang nanti. Intinya, harus ada misi yang dituntaskan dulu. Kamu sudah menyelesaikan rute semua tokoh selain Ridi, 'kan?"

"Eng, iya ...."

"Nah, harusnya kamu memencet tombol 'start' pada saat muncul menu pemilihan tokoh yang akan dimainkan selain Ridi. Setelahnya akan ada 'flag' yang akan memicu pilihan 'mulai dari awal'. Begitu."

"...?"

Dilihat dari ekspresi wajah Ayame, bisa kubilang kalau dia sama sekali enggak mengerti. Yah, aku juga enggak merasa bakal dengan mudah menjelaskan soal ini. Untuk orang lain, ini merupakan hal yang rumit. Perlakuan masing-masing tokoh memang berbeda tergantung 'game' ataupun perusahaan pengembangnya.

"Begini, soal itu jangan terlalu dipikirkan dulu. Yang penting kamu main saja dari awal. Oke?"

"O-oke, nanti kucoba."

Bel tanda dimulainya 'homeroom' pun lalu berbunyi.

"A-Aramiya, ba-balik ke kelas, yuk."

"Ah, i-iya ...."

Akhirnya kami sama-sama kembali ke kelas.

... lebih dari yang kukira, obrolanku dengan Ayame begitu mengalir. Itu karena yang kami bahas sekarang adalah topik yang sangat kukuasai. Sampai bisa seperti ini, aku benar-benar enggak menyangka Ayame bakal tertarik dengan 'eroge'. Enggak, aku enggak pernah berpikir bakal bisa bermain berdua dengannya. Pernah kubaca di internet, antara para berandal dengan para 'otaku' itu enggak mungkin bisa akur. Intinya, apa hal yang kualami ini benar nyata?

"A-anu, Ayame, kenapa kamu mulai bermain 'eroge' ...?

"...."

"A-Ayame?"

"... pertama, aku mesti tahu seperti apa musuhku. Aku ingin tahu seperti apa gadis 2D yang kamu maksud itu .... Jadi sebelum membeli, aku mencari infonya dulu di internet. Kulihat ada 'game' 18 tahun ke atas yang direkomendasikan untuk pemula ...."

"Oh ...."

"Kemarin kubilang kalau aku akan menjadi gadis impianmu, 'kan?"

Dia masih serius soal itu?

"Selain itu, aku ingin melakukan hobi yang sama denganmu ...."

Ujarnya sambil malu-malu seolah sedang merasa enggak nyaman.

"Eng ...."

O-o-o-oi, ini gawat, dalam diriku seperti ingin berteriak, jantungku juga mulai berdetak kencang. Enggak mungkin, enggak mungkin ini karena ada orang lain yang juga merasakan hal sama denganku.

"Jadi selain Ridi, siapa lagi tokoh yang kamu suka?"

Karena panik, aku jadi asal bertanya. Duh, tanya apa, sih, aku ini?

"Eh, biar kupikir dulu .... Sildie, si teman semasa kecil .... Aku suka saat dia menunggu sang protagonis atau ketika dia mau melakukan apa saja untuknya, itu terasa manis dan apa adanya."

Jika dilihat sekilas, mungkin dirinya adalah tipe yang seperti itu. Bukan hal aneh jika orang lain bisa salah paham kalau—

"Tapi yang enggak kusuka dari 'game' itu adalah cara penyampaian ceritanya. Terlepas dari sang protagonis yang menjaganya, gadis itu akan terus berjuang walau itu sulit, seakan itu bukanlah masalah baginya. Meski perawakannya kurus dan cenderung kikuk, namun karakternya cukup kuat."

"...!"

"Aramiya?"

"Ah, iya, iya. Begitu, toh. Terima kasih sudah dijawab!"

Sebagai salah satu tokoh yang patut dipilih, Sildie adalah tokoh yang ramah dan kekanak-kanakan, dan enggak ada yang salah dengan itu. Setiap orang yang memainkan rutenya kadang salah paham mengenai dirinya, tapi Ayame bisa melihat sisi asli tokoh tersebut.

Ayame benar-benar menikmati 'game' itu.

Yah, aku cukup senang kalau dia menghayatinya.

"Aramiya, kalau aku masih saja terhenti di bagian itu, tolong bantu lagi, ya?"

Oi, Ayame itu seorang berandal, bekas orang, dan yang paling parah dia itu jual diri. Tapi jika dia seantusias itu saat bermain 'game', maka ....

"Karena kamu teman sehobiku, enggak masalah."

... kucoba untuk sedikit menggodanya.


♦♦♦


"Hei, Aramiya. Kamu pacaran sama Ayame, ya?"

Kopi kalengan yang kuminum ini mendadak tersembur keluar dari mulutku karena kaget.

"Ih, jorok!"

"Tozaki, kamu bicara apa tadi?!"

Sesi 'homeroom' kami baru saja berakhir, dan aku sudah bersiap untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Namun Tozaki enggak bisa memelankan suaranya hingga aku terbawa obrolan dengannya.

"Yah, kudengar kabar kalau kamu membawa pergi Ayame sebelum 'homeroom' dimulai, lalu setelahnya kalian balik ke kelas bareng."

"Cuma gara-gara itu kamu jadi menganggap kami pacaran?! Bisa-bisanya kamu segampang itu percaya dan langsung ambil kesimpulan?!"

"Gampang disimpulkan?!"

"Hei, kawan, kamu ini budek, ya?!"

Kurasa adu argumen yang tampak bodoh ini harus segera dihentikan sebelum terdengar siapa-siapa.

"Enggak ada apa-apa antara aku dan Ayame, sumpah!"

"Terus pagi-pagi tadi itu apa, dong?"

"Ceritanya panjang."

Aku enggak bisa memberitahunya tentang Ayame yang tadi pagi bertanya soal 'eroge' padaku. Kalau orang-orang sampai mengetahui hal tersebut, mereka pasti akan menjadikannya bahan gosip. Itu memang enggak ada hubungannya denganku, sih, tapi ....

Aku akan memberitahunya kalau itu memang harus, namun aku mesti terlebih dahulu memikirkan cerita yang enggak bakal memojokkanku sendiri.

Karena saat itu Ayame berkata, 'Aku akan menjadi gadis yang kamu impikan,' mana mungkin aku memberitahukannya segampang itu.

"Ayolah, kalau memang benar, aku mau dengar ceritanya."

"... sudah, jangan ganggu aku!"

Aku lalu menyiapkan buku untuk pelajaran selanjutnya. Dan sebelum aku menyandarkan kepalaku di atas meja untuk tidur, tiba-tiba—

"Hei, Aramiya."

Suara itu berasal dari Ayame. Caranya memanggilku terdengar sedikit dilembutkan, atau kira-kira kurasa seperti itu.

"Ada apa?"

Sejak obrolan kami tadi pagi, aku kini merasa lebih santai berada di dekat Ayame. Padahal dulu aku sering merasa tersentak dan gelagapan, bahkan seluruh tubuhku pernah sampai terasa kaku.

"Aku mau minta tolong sesuatu ke kamu."

"Boleh, apa itu betul-betul mendesak?"

"Enggak juga, sih. Habis pelajaran ini saja 'kali, ya."

"... bagaimana kalau pas makan siang?"

"Hmm, boleh. Ingatkan aku, ya."

Seusai percakapan itu, Ayame lalu kembali ke kursinya.

Kupandangi dia sewaktu kembali ke kursi dan duduk dengan sopan, aku pun berdesah panjang, "Fiuh,". Di saat itu, Tozaki tersenyum main-main padaku.

"Aramiya ..., ternyata kalian benar pacaran, 'kan?! Iya, 'kan?!"

"Terserah kamu bicara apa!"


♦♦♦


Semenjak lahir, inilah pertama kalinya aku ingin agar pelajaran cepat dimulai. Waktu pun berlalu, jam pelajaran pagi berakhir dan kini berlanjut ke istirahat makan siang. Kuajak Ayame ke sebuah ruangan di mana kami janji bertemu.

"Tempat apa ini?"

"Oh, ini semacam ruang ekskul."

Ini sebenarnya adalah ruang yang digunakan untuk menyimpan berbagai macam 'game', dan kesemuanya sudah disusun rapi.

Di ruang ini terdapat dua meja belajar yang di atasnya terpasang monitor yang sudah tersambung ke sebuah CPU. Kutemukan ruang ini demi mendirikan sebuah komunitasku sendiri, yaitu Ekskul 'Game'.

... pernah ada keberatan dari pihak OSIS yang ketuanya merupakan gadis manis dengan anggota perempuan yang ucapannya sepedas cabe 'hanabero' beserta anggota lelaki yang berupaya membubarkan ekskul ini .... Apa aku begitu saja membiarkannya? Akan kulakukan sebisa mungkin untuk mendapatkan hak atas ruangan ini.

"Enggak ada yang bakal kemari, jadi aman kalau bicara di sini. Oh, iya, tadi kamu mau minta tolong apa?"

"Ah, sebelum itu, nih ...."

Ayame lalu mendekat dan menyodorkan sebuah bungkusan kain. Aku jadi bertanya-tanya karena apa dia sampai menyiapkan bungkusan itu untukku.

"Ko-kotak bekal lagi?"

"Ah, eng ..., aku sudah membuatmu susah tadi pagi. Jadi ini sebagai permintaan maafku."

Ini permintaan maafnya atas kejadian tadi pagi? Ini aneh, bukannya kotak bekal itu sudah disiapkan sebelum kejadian tadi pagi?

Tapi sementara ini aku sebaiknya jangan terlalu mempersoalkannya.

"Hmm, mari makan!"

Bekal yang dia bawa sangat lezat, jadi enggak ada alasan untukku menolakknya.

"Wah, hari ini aku makan bareng sama Aramiya."

"Eh?"

"Eng ..., kemarin itu, sebenarnya aku mau makan siang bareng sama kamu .... Tapi ternyata situasinya enggak memungkinkan ...."

Bagiku, kemarin terlihat seperti kalau enggak menghabiskan bekal buatannya, aku bakal menerima pukulannya. Tapi nyatanya dia cuma ingin makan bareng denganku.

Oi, oi, ini gawat! Apa ini? Aku mulai merasakan debaran jantungku berdetak lebih kencang. Kenapa ini?

"Ta-tapi itu enggak masalah! Kamu makan saja dulu. Nah, selagi makan, aku ingin minta tolong padamu."

Ayame mengutarakan keinginannya, dan itu tampak seolah dia berusaha agar terdengar seperti malu-malu. Dia kemudian duduk di kursi yang saling berhadapan denganku. Kami membuka kotak bekal masing-masing dan mengucap, "Mari makan," lalu mulai mengambil satu-persatu makanan dengan sumpit.

"O-oke, kamu mau minta tolong apa?"

"Ah ..., aku mau minta rekomendasi 'game' darimu."

"Rekomendasi?"

"Terakhir kali, aku membeli 'game' untuk pemula atas rujukan orang-orang di internet. Kalau bisa, aku mau memainkan 'game' yang kamu rekomendasikan."

Aku hampir mengatakan kalau hal yang disampaikan Ayame itu keliru, namun setelah kupikir lagi, kuurungkan niatku. Meski kepribadian Ayame begitu bertolak belakang, tapi aku bukanlah tipe yang menghentikan kawan sehobiku untuk berkembang.

"Hmm .... Ada 'Fate Arterial', 'Azure cross sun shine', 'MarsJupiter -JupiterMars', terus ada juga yang ceritanya kelam kayak, 'Yustistear The Heaven’s Wing', atau kalau mau yang agak lawas kayak, 'Canon' atau 'From Heart', dan juga kamu bisa coba, 'Can’t Find Any Good Things In This Love' atau 'Give Me Choco, the Love Conqueror'.”

"Tung-tung-tunggu sebentar! Biar kucatat dulu."

Ayame lalu mengeluarkan buku catatan murid dan pulpennya.

Sial, aku terlalu berlebihan. Bagaimana kalau kertasnya enggak cukup buat menulis penjelasan sebanyak itu? Apa menulis di buku catatan itu hal yang bagus? Hmm ..., terserahlah. Aku enggak mau ambil pusing.

"Ah ..., itu bakal makan banyak biaya, lo. Kamu sanggup belinya?"

Untuk ukuran anak SMA, biaya untuk membeli 'eroge' itu sangat mahal, karena per 'game'-nya berkisar 10.000 yen. Jadi, biasanya rata-rata uang saku anak SMA itu enggak cukup untuk membelinya.

"Uangku banyak terpakai untuk membeli 'Princess?Weekdays' kemarin .... Apa 'game-game' yang kamu sebutkan tadi harganya juga berkisar se'gitu?"

"Hmm .... Ada beberapa 'game' keluaran lama yang tadi kusebutkan. Nah, biasanya itu lebih murah, tapi yang lainnya kebanyakan memang mahal."

"Begitu .... Jadi aku masih belum bisa beli, dong. Uangku enggak banyak, sih."

Tiba-tiba dalam hatiku mau bertanya, 'Kenapa enggak pakai uang hasil pekerjaan sampinganmu?' Tapi aku takut untuk menanyakannya karena itu kurang pantas dan enggak sopan di situasi seperti ini. Meski sebenarnya aku enggak setuju jika dia melakukan itu.

"Sepertinya uangmu banyak, sampai bisa punya itu semua ...?"

Gumam Ayame dengan ekspresi terkesan.

"Yah, aku bekerja paruh waktu supaya punya uang untuk membelinya."

"Sungguh? Kerja apa?"

"Kasir sif malam di minimarket."

"Gila."

Ayame berkomentar sambil berdesah, tapi bukan seperti dia ingin mengumpatku. Karena dia mendengar kalau aku berkerja paruh waktu supaya mendapatkan uang untuk membeli 'game' — tepatnya eroge — mungkin dia juga berpikir akan melakukan hal yang sama.

"Hari ini harusnya aku gajian, mungkin aku bisa membeli tiga buah 'game'."

Kucoba sedikit menggodanya.

"Boros banget. Hmm, pasti papamu memberi uang yang banyak juga."

Apa mungkin 'papa' yang dia maksud itu seseorang dari pekerjaan jual dirinya? Memangnya aku berani bertanya soal itu?

"Yang penting, nanti jangan diumbar cuma-cuma, ya."

Aku enggak berani membahas topik yang bisa menyerempet pekerjan sampingannya itu, mungkin aku harus mengganti pembahasan.

"Di-diumbar?"

"Salinan DVD-nya."

"Maksudmu 'burn' salinan DVD-nya terus dibagi-bagikan ke orang-orang, begitu?"

"Ya, betul, yang penting jangan disalin terus dijual, ya."

Rasanya konyol bagi seseorang yang belum berumur 18 tahun tapi memainkan 'game' 18 tahun ke atas, malah sekarang dia sedang asyik membicarakannya.

Tapi bagiku, aku merasa punya hak untuk melakukan apa pun yang kumau dan enggak ada yang berhak menyuruhku berhenti. Untuk kasus menyalin DVD, aku enggak sepenuhnya menyetujui. Aku paham kalau bermain 'game' tanpa mengeluarkan biaya adalah hal yang bagus. Aku dulu suka melakukannya. Tapi ketika tokoh wanita dalam 'game' itu juga gratis dimainkan orang-orang, aku mulai merasa jadi malu sendiri.

"Menyalin DVD itu bukannya sama saja seperti mencuri ...?"

"Betul. Karena sekali saja seseorang mulai menyalin data digital, mereka akan keterusan dan lupa kalau itu sama saja dengan mencuri. Bahkan sekarang sudah banyak yang seperti itu. Makanya, meminjamimu DVD milikku kurasa bukanlah ide yang bagus, malah bisa dianggap salah."

"Aku enggak akan berbuat begitu. Aku bukan orang yang suka mencuri ...."

Dia mengatakannya lugas dengan nada cukup berat. Jika dia berkata seolah sedang terkejut, berarti dia tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa memikirkan konsekuensinya. Tapi jika dia berkata lugas seperti tadi, berarti dia sudah paham betul kalau menyalin DVD itu enggak baik.

"Lagi pula, kalaupun aku mau menyalin DVD, aku juga enggak tahu caranya. Soalnya aku juga enggak begitu paham soal komputer."

"Begitukah? Bagus, deh, kalau begitu."

Aku lalu lanjut menghabiskan seluruh makanan yang ada dalam kotak bekalku.

"[Perhatian, perhatian. Aramiya Seiichi dari kelas 2-4, Aramiya Seiichi dari kelas 2-4. Dimohon ke ruang guru untuk menemui Kotani Kiriko-sensei. Sekian, terima kasih.]"

Pengumuman itu disampaikan lewat pengeras suara di seluruh sekolah.

"Aramiya, kali ini kamu sudah berbuat apa?"

"Enggak ada. Aku enggak ada berbuat apa-apa. Tapi kalau mendengar pengumuman tadi, mungkin saja ada urusan yang melibatkanku."

Kini aku dan Ayame hendak meninggalkan ruang ekskul untuk menuju ke ruang guru.

"Apa kamu dipanggil karena aku? Kamu jadi sering kesusahan, 'gini," ujarnya lalu melanjutkan, "Kalau benar begitu, biar aku juga ikut ke ruang guru."

Ayame memutuskan untuk ikut denganku. Setelah dia mengatakannya, kami lalu keluar ruangan bersama.

"Kira-kira urusan apa sampai melibatkanmu begitu?"

"Yah, sepertinya ini nanti bakal rumit."


♦♦♦


Aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku dipanggil bukan karena masalah apa-apa, dan aku memang enggak ada berbuat salah apa-apa. Aku terus terpikir soal ini, dan aku enggak bisa mengabaikannya.

Seharusnya untuk memanggil seorang murid enggak boleh seenaknya memakai pengeras suara begitu. Kalau mau memanggilku, toh, tinggal datangi saja, 'kan?

Kami pun tiba di depan ruang guru yang posisinya berada di antara gedung untuk murid kelas satu dan gedung untuk murid kelas dua, di mana lorongnya sering dilintasi murid-murid yang berlalu-lalang. Namun ketika aku berjalan di sana, murid-murid tersebut seakan langsung minggir untuk memberi jalan padaku.

"Sebaiknya kamu balik ke kelas saja."

"... aku mau tetap di sini. Kalau balik ke kelas, aku juga enggak punya kerjaan lain. Makanya aku menunggu kamu saja di sini."

Karenanya aku jadi menganggap serius situasiku yang sekarang.

Kubuka pintu ruang guru, lalu kumasuki tanpa mengucapkan apa pun pada Ayame.

"Permisi, saya Aramiya Seiichi dari kelas 2-4."

Kupersiapkan diri dan bersikap sewajarnya, kemudian segera kumasuki ruang guru lebih ke dalam.

Di siang hari begini, ruang guru dipenuhi oleh orang-orang yang tampak sangat sibuk dan juga yang sedang menikmati makan siangnya dengan santai. Urusanku adalah dengan guru yang duduk di pojok paling kanan dari ruangan ini. Jujur aku enggak tahu kenapa wali kelasku, Ohara-sensei, juga ada di sana.

"Kotani-sensei, saya sudah datang."

"Oh, Seiichi. Sini, sini."

Orang yang memanggilku — Kotani Kiriko-sensei — tadi langsung membalikkan kursinya menghadapku.

"Jangan panggil pakai 'sensei', dong. Aku ini 'senpai'-mu dan kamu itu 'kouhai'-ku, jadi jangan terlalu formal dan sopan begitu, ah. Santai saja. Kalau boleh, panggilnya Kiriko-senpai saja, ya."

"Tapi kalau saya memanggil seperti itu, rasanya Sensei seperti enggak saya anggap guru lagi."

Rambut hitam yang beliau miliki itu dikucirkannya cukup tinggi di belakang. Meski mengenakan setelan blazer, namun penampilan beliau tampak santai untuk diajak mengobrol. Beliau duduk bersender di kursinya sambil menyilangkan kaki dengan kedua tangan berada di belakang menahan kepalanya. Dari penampilan dan perilaku yang ditampakkan beliau, bisa dikatakan kalau beliau orang yang santai dan cenderung malas. Apa yang seperti itu bisa dibilang senpai-ku? Beliau lebih mirip seperti seorang kakak perempuan dibanding seorang ibu, yang sering datang ke rumah dan menolongku di banyak hal. Sejujurnya, sampai sekarang aku masih enggak menyangka kalau beliau seorang guru di sekolah ini.

"Hahaha, yah, kalau di sekolah, kita memang guru dan murid. Aku memanggilmu ke sini hanya ingin tahu apa kamu sudah belajar betul-betul."

Seperti tadi, beliau cuma ingin menggangguku. Yah, beliau memang selalu begitu.

"Lalu ada urusan apa sampai wali kelas saya, Ohara-sensei juga ada di sini?"

"Hmmm, hal yang sama, Sensei juga ingin tahu apa yang mau dilakukan Mbak Kiriko."

Ohara-sensei dan Kiriko-senpai bisa dikatakan terlihat begitu akrab. Mungkin karena mereka berdua satu kolega.

"Ehem, jam makan siang sebentar lagi selesai, jadi langsung ke intinya saja."

Kiriko-senpai kini meluruskan kakinya kemudian duduk dengan sopan sambil tersenyum ceria.

"Seiichi, kabarnya kamu sekarang berpacaran dengan Ayame, apa itu betul?"

"Sensei dapat kabar dari mana ...?"

"Aku mendengarnya dari Ohara-sensei. Dan sejak masuk sekolah pagi tadi, kulihat kalian berdua sering sekali bersama."

... Ohara-sensei, kenapa dia malah memberitahukan hal itu?

"Lalu kutanyakan hal ini pada Tozaki, dan dia bilang kalau dia tahu semuanya."

Apa?! Keparat! Sudah kubilang kalau enggak ada apa-apa, tapi dia malah membeberkan semuanya pada guru! Kenapa aku sampai punya teman seperti itu?!

"Ketika kamu kemari, aku juga melihat ada Ayame di luar."

"... eh? Sensei melihatnya?"

Apa beliau ingin mengujiku supaya aku menoleh ke belakang dan memeriksanya? Kalau hal tersebut kulakukan, itu tambah memberi keyakinan kalau dia memang pacarku.

"Itu sebabnya, kalau bisa, aku ingin kamu membantu dan memperbaiki dirinya."

"... hah?"

"Tolong perbaiki dirinya. Kumohon, ubahlah perilaku malas dan berandalnya itu."

"Sen-Sensei ini bicara apa? Dan kenapa harus saya? Kalau Sensei menyerahkannya pada saya, bisa-bisa nanti jadi masalah besar. Lagi pula, enggak ada kemungkinan juga itu bakal berhasil."

"Aku belum pernah melihat dia sedekat itu dengan seseorang selain kamu."

"Gara-gara itu makanya Sensei ingin saya yang melakukannya?!"

Saat itu aku sudah enggak bisa berkata apa-apa lagi, harusnya beliau enggak perlu mengingatkan hal itu kembali. Sial!

"Benar, inilah satu-satunya kesempatan untuk mengubah hidupnya! Kalau kamu mengabaikannya, dia mungkin akan menjadi orang yang tidak berperikemanusiaan! Anak seperti dia tidak akan mau mendengarkan orang lain. Kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa, jadi ...."

"Anu, bolehkah Sensei nanti dibantu juga? Bukan bermaksud untuk menambah bebanmu, tapi Sensei juga akan berusaha semampunya ....

"Eng, Ohara-sensei? Saya ingat Sensei pernah diintimidasi olehnya sampai enggak bisa bicara apa-apa."

"Hmm, yang kamu katakan memang benar .... Ta-tapi Sensei juga tidak mau kehilangan kesempatan ini. Rasanya memang tidak benar menjadikanmu sebagai alat, namun setidaknya itu menjadi motivasi baginya untuk berubah meskipun sedikit."

Sampai memohon seperti itu, wali kelasku pasti serius soal ini.

"Tentu saja kami tidak menyuruhmu menghalalkan segala cara supaya tujuan itu tercapai."

"Jadi, sesuatu yang bisa mengubahnya itu ...."

"Yah, kamu bisa mengajak dirinya untuk belajar bareng, begitu."

"Gi-gila apa? Sensei jangan asal bicara! Saya enggak melihat manfaat apa pun dari saran Sensei tadi!"

"Jangan malu begitu. Soalnya mulai sekarang semua itu tergantung pilihanmu.

"... lalu kalau saya enggak mau, bagaimana?"

Saat aku bertanya demikian, Kiriko-senpai langsung bangkit dari kursi lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik ...

"Seperti yang tadi kulakukan lewat pengeras suara, akan aku umumkan ke seluruh sekolah mengenai hobimu."

"Hah ...!"

"Termasuk juga soal kamu yang memainkan 'eroge' di ruang ekskul."

Sial, makanya aku paling enggak suka kalau punya anggota keluarga yang tahu soal luar-dalamku! Rasanya seperti ada orang asing yang tiba-tiba masuk tanpa izin ke kamar kita.

"Apa, tunggu, tunggu ..., 'eroge'? Kamu belum 18 tahun, 'kan? Bukannya itu tidak boleh?"

Apa-apaan ini ...?!

"Sensei, yang tadi itu enggak sungguh-sungguh, 'kan? Tolong jangan desak saya melakukan itu."

Harus seperti apa aku agar bisa keluar dari situasi ini?! Aku cukup payah jika harus melawan beliau! Aku enggak menyangka pemanggilanku kemari ternyata akan jadi seperti ini ....

Beliau pasti mau berkata, 'Akan kubongkar rahasiamu supaya satu sekolah tahu seperti apa hobimu!'. Ya, sesuatu yang seperti itu ...!

"Oke, oke! Akan saya lakukan, sudah senang sekarang? Cih!"

Seusai kami berkompromi, Kiriko-senpai lalu menyilakanku duduk di kursi.

"Tolong pahami kalau dia ..., wah, Sensei senang sekali."

Ohara-sensei yang duduk di sebelahku kembali lanjut berkomentar.

"Mbak Kiriko, jangan terlalu memaksanya, ya."

Namun Kiriko-senpai malah tertawa dan menjawab, "Tidak ada yang memaksanya, kok."

Enggak kusangka, sekarang beliau berlagak seolah enggak berdosa. Aku enggak bisa berkata apa-apa lagi.

"Begini saja, mengenai ini hanya di antara kita saja yang tahu. Tidak pernah ada yang peduli soal nilai buruk di berbagai pelajaran anak itu, tapi jika diteruskan, mau tidak mau dia harus tinggal kelas!"

"Rasanya aneh membicarakan soal ini, tapi ... itukah masalahnya?"

"Dari apa yang kami tahu sekarang, ada gosip kurang mengenakkan tentang dirinya. Karena kami belum bisa memastikan kebenarannya, jadi kamu tidak harus percaya."

Jika maksud beliau adalah agar aku menghentikannya supaya dia enggak melakukan pekerjaan sampingannya lagi, maka aku menyerah.

"Kalau begitu, jangan terlalu berharap pada saya."

"Sebaliknya, aku sangat berharap padamu. Baiklah, Seiichi, itu saja yang mau kami sampaikan di sini."

"Kami mengandalkanmu, Aramiya."

Setelah menerima tugas dari mereka berdua, aku lalu beranjak. Kiriko-sensei kemudian menyeletuk.

"Eng- oh, iya, Seiichi."

Aku pun menoleh ke belakang.

"Baik ponsel lipat maupun ponsel cerdasmu itu, GPS di keduanya sama-sama aktif, 'kan?"

"Aktif, memangnya kenapa? Kalau enggak percaya, periksa saja apa masih aktif atau enggak."

"Bukan apa-apa, soalnya kalau kamu hilang, aku yang sedih."

"... Mbak Kiriko cerewet juga, ya."

Tiba-tiba beliau sok perhatian, entah apa karena dia sedang menggodaku.

"Betul itu. Malah kalau sampai diawasi sebegitunya, rasanya tambah enggak nyaman, tahu."

"Eh, yang bayar biaya ponselmu itu aku, jadi jangan mengeluh! Aku ini peduli sama kamu."

"Jadi saya harus percaya ... kalau Sensei memang peduli, begitu?"

Bisa kukatakan kalau Kiriko-senpai enggak akan begitu saja melepasku.

Namun beliaulah yang diberi izin oleh orang tuaku atas penggunaan kedua ponsel-ku.

Beliau pula yang dahulu mencariku saat aku tersesat sewaktu kecil dulu.

"Yang penting kamu harus aktifkan dulu kalau mau ke luar rumah."

"Iya, iya, terima kasih banyak."

Kini aku sudah keluar dari ruang guru di mana Ayame masih berdiri menungguku.

"Sudah selesai? Terus bagaimana?"

"Oh, cuma urusan pribadi saja."

"Lalu, Aramiya, kenapa kamu sampai dibawa ke ruang guru?"

Duh, berisik banget. Nanti juga kuceritakan, kok.

"... biasanya aku enggak mau menceritakan ini, tapi Kotani-sensei adalah kakak sepupuku."

"Eh? Jadi beliau itu sepupumu? Sepupumu guru di sini? Wah, kalau begitu beliau pasti sangat membantu, dong."

"Kalau hal ini sampai menyebar ke seluruh sekolah, orang-orang pasti menggosipkan yang enggak-enggak. Aku sangat menghargai kalau kamu enggak menceritakannya ke siapa-siapa."

"Aku mengerti. Ini bukan hal yang harus diceritakan ke orang lain."

Dengan pengertiannya saja itu sudah cukup membantu.

... baiklah, meski aku enggak mau melakukannya, aku enggak punya pilihan lagi selain berbuat sesuatu ke Ayame.

"Ayame, apa kegiatanmu di jam pelajaran siang nanti?"

"Eh? Ya, masuk kelas, lah."

Hah? Kupikir dia mau bolos seperti biasanya.

"... kamu enggak bolos?"

"Kalau kamu bolos, ya, aku ikut bolos."

"Eh? Kamu mau mengikutiku?"

"Iya, dong."

Apa?

"... soalnya aku ingin bersamamu selama mungkin. Asalkan bisa lebih dekat denganmu, apa pun enggak masalah."

Aku enggak tahu apakah ini bakal berhasil seperti keinginan Kiriko-senpai agar aku mau menangani gadis ini .... Apa ini bakal berjalan lancar, ya?


♦♦♦


Ketika Ayame mengikuti jam pelajaran siang bersamaku, seisi kelas langsung terperanjat.

Guru jam pelajaran kelima kami ini pun sampai terbelalak saat melihatnya, bukan karena apa, melainkan karena terkejut akan hal tersebut. Nah, masalahnya, teman-teman sekelasku sudah memusatkan pandangan mereka padaku dan Ayame, seolah ada yang ingin mereka tanyakan pada kami.

Tozaki yang duduk di belakangku, mencolekku lalu menyerahkan secarik kertas padaku.

Di kertas itu tertulis, "<Jadi soal hubunganmu dengan Ayame itu ternyata benar, 'kan?>"

... aku berdesah lalu menulis balik, "<Enggak!>" kemudian mengembalikan secarik kertas itu ke meja Tozaki. Dia pura-pura mengabaikannya supaya guru kami enggak melihatnya. Sial, kalau soal begini saja, kayaknya dia senang banget!

"Jadi setelah mengetahui nilai X ini, maka kita bisa menghitung—"

Sambil menjelaskan, guru kami tetap menulis materi pelajaran di papan tulis. Beberapa saat kemudian, Tozaki mencolekku lagi dari belakang. Aku merasa terganggu, tapi meski enggan, secarik kertas itu pun kuambil dan di situ tertulis,

"<Hebat! Kamu bisa membuat Ayame jadi pengikutmu, itu luar biasa! — Matoba>" "<Kapan kalian mulai pacaran? — Uchida>" "<Semoga kalian bahagia! — Sakai>" "<Jaga Ayame baik-baik, ya. — Mikamoto>"

Ada beberapa tulisan orang lain di sana. Tozaki berengsek, dia membiarkan kertas itu tersebar ke anak-anak lain! Ternyata secarik kertas tadi sudah dioper ke hampir seluruh kelas layaknya absensi yang harus ditandatangani seluruh murid.

Aku pun menulis balik, "<Banyak bacot! — Aramiya>" lalu mengembalikannya.

Kemudian setelah beberapa saat berlalu.

"Aaaaaah ...!"

Ada yang tiba-tiba berteriak begitu keras di deretan kursi belakang. Guru kami pun sampai menoleh ke belakang, ke arah sumber suara itu. Begitu pun aku. Entah bagaimana caranya, secarik kertas tadi sampai di tangan Ayame, dan dia enggak melepas pandangannya dari kertas itu ..., kemudian merobek-robeknya. Dia lalu memukul keras mejanya hingga suaranya menggema ke seluruh ruangan. Dari situ aku bisa menebak seperti apa perasaannya sekarang.

Wajah semua penghuni ruangan ini menjadi pucat dan penuh ketakutan. Bahkan guru kami pun sampai ikut gemetaran.

Menjadikan orang lain sebagai bahan candaan, tentu saja mereka yang melakukannya mau enggak mau harus menerima konsekuensinya. Lambat laun situasi tegang itu berlalu dan seolah enggak ada sesuatu yang terjadi hingga pelajaran berakhir. Ayame sendiri duduk dan mendengarkan pelajaran dengan saksama, hingga membuat guru kami jadi kebingungan. Tapi memang enggak ada hal-hal lain yang terjadi setelah itu. Teman-teman sekelasku memandangi Ayame dan tampak bersiap untuk melindungi diri, namun Ayame malah tampak murung. Tapi ketika aku melihat ke arahnya, dia langsung mengubah ekspresi murammya itu menjadi senyum yang ceria. Kelihatannya dia sangat ingin mengikuti pelajaran bersamaku.

... tampaknya tugas yang diberikan Kiriko-senpai padaku ini bisa kulalui dengan mulus.


♦♦♦


"Oh, Aramiya, kita pulangnya bareng, yuk?"

Tiba-tiba sebuah ajakan halus terdengar di telingaku. Aku pun langsung melihat ke arah suara itu. Rupanya itu Ayame yang sudah berada di depanku. Aku pun melihat ke sekeliling, dan ternyata enggak ada orang lagi selain dia yang bertanya.

"Ka-kamu mau, 'kan?"

Enggak diragukan lagi itu memang Ayame. Aku enggak bisa berpura-pura enggak mengenalnya. Siapa sangka Ayame yang bicaranya kasar kini bisa bicara selembut itu.

"Eng, bo-boleh, ayo kita pulang!"

Aku spontan menjawabnya kemudian berjalan keluar dari kelas. Ayame pun melihat dan mengikutiku keluar dari kelas.

"A-anu, Ayame, kok tiba-tiba kamu mengajakku pulang bareng? Terus, cara bicaramu tumben jadi begitu?"

"Eng-enggak kenapa-kenapa, sih. Sewaktu pelajaran siang tadi, aku teringat kalau tokoh wanita dalam 'game' itu enggak pernah bicara kasar seperti aku dulu ...."

Betul. Dalam 'Princess?Weekdays', enggak ada satu pun tokoh wanita yang bicaranya kasar seperti Ayame.

"Dan para tokoh wanita di 'game' itu bicaranya selalu sopan ... seperti aku sekarang ini."

"... begitukah? Jadi sekarang kamu lagi berusaha menyesuaikan diri agar mirip dengan gadis impianku, begitu?"

"... iya."

Dia jelas sedang berusaha memalsukan kepribadiannya, karena enggak mungkin dia bisa mengubahnya hanya dalam waktu semalam.

Namun aku dibingungkan dengan caranya mengubah diri agar sesuai dengan gadis yang impianku.

"Ja-jadi, bagaimana menurutmu ...?"

Dia terdengar seperti berusaha untuk meniru. Lebih baik aku memberitahunya sekarang.

"Masih belum sempurna."

Tiba-tiba dia mengubah cara bicaranya kembali sesuai dengan kepribadiannya.

"Oh, begitu? Masih belum pas, ya? Nanti kuusahakan lagi ...."

Tapi bukannya marah, dia justru lebih termotivasi untuk melanjutkan. Jika seseorang sampai mengubah dirinya agar bisa dekat dengan orang lain, maka pada umumnya orang tersebut akan jatuh cinta dengannya. Sayangnya, yang dihadapi Ayame adalah orang sepertiku yang cuma terpikat dengan gadis yang polos. Jadi kuharap dia segera menyerah saja. Aku enggak bisa mendukungnya untuk hal seperti ini.

Kami lanjut mengobrol hingga menuju pintu keluar gedung sekolah, yang kemudian terdengar ....

"Kumohon, aku benar-benar enggak punya uang."

"Toh, biasanya kamu mau saja kalau uangmu kupinjam. Bagi-bagi sini, lah."

"Ta ... tapi, u ... uang yang kamu pinjam kemarin ... belum kamu kembalikan ...."

Saat mendengarnya, aku tahu kalau itu sebuah pemalakan dengan cara halus tanpa memberi kesempatan bagi korban untuk menolak. Ketika melihatnya secara langsung, aku merasa itu sedikit konyol. Dua murid yang berpostur lebih besar berdiri di depan dan mencegat si korban supaya enggak kabur. Lalu anak yang menjadi korban tadi tampak lebih kecil hingga wajahnya enggak bisa kulihat karena tertutupi. Yang kutahu, anak itu memakai seragam laki-laki. Kelihatannya, hal seperti ini sudah sering dia alami, makanya aku enggak mau ikut cam—

"Oi, sedang apa kalian?!"

"Eh? Ayame?"

Dia berjalan mendekat pada kumpulan itu dan langsung mencengkeram kerah kedua anak tersebut. Di dalam ucapannya seakan ada niat untuk membunuh, dan kini dia sedang memelototi mereka.

"Memangnya kalian enggak malu apa, memalak orang di tengah jalan?"

"A ... apa?!"

"Kami cuma mau minta bantuannya sedikit, kok. Pergi, sana!"

"Ah, alasan yang dibuat-buat! Mendengarnya saja aku mau muntah!"

"A ... anak ini junior kami waktu SMP!"

"Betul, dia sudah lama jadi anggota geng kami!"

Sewaktu mereka mulai memberi alasan bertele-tele, Ayame berdesah keras, seakan berkata, 'Sudah selesai? Capek dengarnya'.

Dan naluriku berkata kalau sebentar lagi dia akan melepas cengkeramannya lalu bersiap untuk mengambil ancang-ancang.

"Cukup!"

Aku berteriak dan langsung bergegas merangkulnya dari belakang dengan kedua tangan. Tampak dia seakan sudah bersiap untuk memukul mereka berdua. Untunglah aku sempat menghentikannya.

"A ... Aramiya?!"

Astaga, kenapa aku berusaha menghentikannya?!

Melibatkan diri begini sudah bukan seperti diriku lagi.

Aku enggak tahu kenapa atau bagaimana menjelaskannya, tapi ... mungkin aku enggak mau melihat dirinya terlibat perkelahian. Mungkin karena kini dia sedang berusaha berperilaku sopan. Jadi kupikir— kalau dia saja bisa menanganinya, berarti aku juga bisa. Meskipun soal perilaku sopan tadi sudah enggak berlaku lagi!

"Wah, wah, apa itu?" "Ada apa, nih?" "Ada yang berkelahi?"

Dan para murid lain yang hendak meninggalkan sekolah mulai berdatangan di sekitar kami.

"Cih .... Ayo pergi ...."

"Dasar! Awas kalian, ya! Jangan suka ganggu urusan orang!"

Mereka berdua lalu pergi dengan cuek, dan anak yang dipalak tadi juga sudah buru-buru pergi tanpa memberiku kesempatan untuk melihat wajahnya. Bahkan kerumunan para murid yang berdatangan tadi pun sudah berpencar masing-masing seolah enggak ada apa-apa. Mungkin itu hal yang baik.

Harusnya anak tadi seenggaknya berterima kasih dulu sebelum kabur begitu, atau ... mungkinkah dia takut dengan Ayame?

Saat diriku sudah hampir tenang, Ayame justru menggeliat seperti sedang kegelian.

"A ... Aramiya .... Ta ... tanganmu ...."

Suaranya makin pelan dan pelan. Eh? Tangan? Kucoba untuk sedikit meremas dan ternyata rasanya lumayan empuk.

Kalau kini aku sedang merangkulnya dari belakang ..., itu berarti ....

Chuuko Vol 1 p079.jpg

"Wuaaah!"

Akhirnya aku tersadar sebelum buru-buru melepaskan rangkulanku dan menjauh darinya. Dia meringkuk sambil menyilangkan tangan menutupi bagian dada lalu memalingkan wajahnya dariku. Wajahnya memerah menampakkan sedikit ekspresi geram.

"Ma ... maaf! Aku enggak bermaksud begitu!"

Meski aku berkata demikian, sensasi yang ada di tanganku ini enggak mau hilang. Meski ada seragam, kaos dalam, bahkan beha yang melapisinya, namun sensasi tadi berubah menjadi keanehan yang nyata, dan ini enggak bisa aku dapatkan dari dunia 2D. Pikiranku terbawa semakin dalam.

Karena kejadian tersebut, kerumunan yang sudah berpencar tadi terdiam dan memandangi kami, hingga sebuah teriakan keras menggelegar.

"Kalian lihat apa?! Siapa yang bolehkan kalian lihat-lihat?! Pergi sana!"

Ayame benar-benar murka dan membentak ke arah mereka. Lalu dalam hitungan detik, keheningan pun menyebar. Para murid di sekitar kami langsung menuju rak sepatu dan buru-buru pergi meninggalkan gedung sekolah.

"Sudah enggak ada orang lain lagi di sini."

Ayame memeriksa keberadaan murid-murid lain di sekitar sebelum akhirnya berdiri.

"Ah, anu ...."

Saat aku hendak meminta maaf, Ayame menggelengkan kepalanya.

"Kalau itu kamu, aku enggak keberatan, kok. Tadi aku cuma kaget saja."

... jadi dia enggak keberatan mengenai hal tadi?! Aku hampir saja mau meminta izin melakukannya lagi, tapi itu enggak mungkin, jadi kuurungkan niatku. Soalnya dia sudah keburu memicingkan mata.

"Tapi, Aramiya, saat itu ..., apa kamu suka sewaktu meremasnya?"

"Ten-tentu saja enggak! Aku enggak suka!"

Apa betul tadi aku memang meremasnya? Terus benda bulat di tanganku tadi apa, dong? Eh, tunggu! Aku benar-benar menyesal!

"Be-begitukah ...?"

Wajah Ayame pun mulai tampak sedih, seakan dia mengerti maksud perkataanku.

"Sepertinya aku enggak bisa bertahan lama menjaga kelakuan baikku tadi. Tapi ini yang terakhir kalinya aku berbuat begitu."

Sewaktu dirinya maju untuk menghentikan pemalakan tadi, citra berperilaku baik yang sudah dijaganya itu seketika hancur. Jujur, aku enggak menyangka Ayame lebih mengutamakan untuk menghentikan upaya pemalakan tadi.

Kupikir dia sudah enggak mau kembali berkelakuan baik lagi, tapi rupanya aku salah.

"A-aku akan terus berusaha dan bicara dengan sopan lagi. Aku enggak akan menyerah."

Dia berkata dengan malu-malu. Pikiranku pun sampai teralihkan karena hal itu.

"Kalau itu yang harus kulakukan agar bisa menjadi gadis yang kamu impikan, meski banyak yang harus kulalui, maka aku—"

"Bukan begitu."

Kusela omongan Ayame, karena dia tetap ingin membangun citra perilaku baiknya yang dia anggap bagus untuknya itu.

"Justru aku suka gadis yang bersikap sesuai dengan kepribadiannya."

Menurutku yang paling penting adalah dengan menjadi diri sendiri. Kenyataannya, aku enggak pernah ingin gadis impianku selalu bicara dengan sopan padaku.

"Kamu enggak perlu memaksa diri dengan bicara sangat sopan begitu. Itu malah enggak guna."

Aku merasa enggak bakal ada pengaruhnya menjelaskan itu padanya. Cih. Aku ini sedang apa, sih? Bahkan dari dulu aku enggak pernah menyelesaikan masalahku sendiri.

"Be-begitukah? Hmm, kalau begitu, aku akan bersikap seperti biasanya lagi."

Ayame justru mendengarkanku lalu tersenyum lega dan tampak senang.

Entah bagaimana menjelaskannya, tapi dia yang seperti ini lebih cocok di dirinya. Bisa dipastikan kalau Ayame enggak begitu paham arti dari berperilaku baik.

Aku lalu berpisah jalan dengan Ayame, kemudian menuju ke rumah untuk bersiap bekerja paruh waktu di sebuah minimarket.


♦♦♦


"Jadi semuanya 1580 yen. Uangnya 2080 yen, jadi kembaliannya 500 yen, ya, Pak. Butuh struknya? Terima kasih sudah berbelanja di sini."

Aku melayani pembeli seperti yang biasa kulakukan di minimarket tempatku bekerja ini — yang pernah kuceritakan pada Ayame — selama lima hari dalam seminggu. Di pukul tujuh malam begini, banyaknya pengunjung yang datang mulai berkurang, karena letak minimarket ini berada di area sekitar pusat perbelanjaan.

Aku mulai bekerja paruh waktu di sini semenjak tahun lalu sebagai orang yang bertugas menyusun barang di rak belanjaan. Kini aku sudah merasa nyaman bekerja di tempat ini. Karena ada tokoh wanita dalam 'game' yang sedang kukejar, makanya aku jadi bersemangat dalam bekerja. Tanpa terasa, jam kini sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

"Cukup untuk hari ini, Aramiya."

Sif kerjaku sudah berakhir.

"Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu."

Aku segera berganti pakaian ke seragam sekolah kemudian pergi dari tempat kerjaku.

Ya ampun, padahal ini sudah musim semi, tapi hawa malam ini masih terasa dingin. Kucepatkan langkahku agar bisa pulang ke rumah secepatnya. Karena merasa bosan, kuperiksa layar ponsel cerdasku, dan kulihat ada beberapa pesan masuk di sana.

"Dari Tozaki sama dari Kiriko-senpai ...."

Kucoba untuk membaca pesan dari Tozaki terlebih dulu.

「Benar kamu memerkosa Ayame di pintu keluar gedung sekolah? 」

Kalau saja aku punya kekuatan untuk meremukkan sebuah apel dalam genggamanku, pasti hal yang sama sudah aku lakukan terhadap ponsel cerdasku sekarang. Berengsek, dia sudah keterlaluan. Apa maksudnya tadi? Aku bahkan enggak melakukan pelecehan seksual tadi.

... tapi memang benar. Aku sudah merasakan payudaranya di tanganku ini. Hmm ....

Ayame kelihatannya memang enggak suka diperlakukan begitu. Tapi dari sudut pandang mana situasi itu dianggap sebagai tindak pemerkosaan? Apa pun itu, semuanya jelas-jelas cuma salah paham.

"Kubunuh kamuuuuuuuuuuuuuuu! Jangan asal menyimpulkan, kubunuh kamuuuuuuuuuuuuuuu!"

Yah, sebaiknya aku menjernihkan dulu kesalahpahaman ini dari sumber awal penyebarannya.

「Kamu dapat kabar dari mana? Terus apa lagi yang sudah kamu dengar? 」

Mungkin lebih baik aku mengiriminya SMS yang seperti itu. Setelah kukirim, aku lalu membuka SMS dari Kiriko-senpai.

「Kudengar kamu berhasil memaksa Ayame menghadiri jam pelajaran siang, ya? Wah, tetap jaga prestasimu, ya. 'I love you'. Mmmuach! 」

"... hah?!"

Aku lalu berdesah. Rasanya belakangan ini aku banyak sekali mendesah.

「Syukurlah semuanya lancar. Tapi aku enggak yakin bagaimana ke depannya, dan aku juga enggak peduli soal pernikahan antar sepupu. 」

Kujawab seperti itu.

Setelah kukirim, SMS balasan dari Tozaki pun masuk.

「Jangan mengada-ada! Kudengar dari Mikamoto kalau dia melihat kamu melakukannya di pintu keluar gedung sekolah. 'Dengar apa lagi' itu maksudmu apa? 」

Sebenarnya aku enggak peduli dia mendengarnya dari mana .... Tapi masalahnya, aku enggak suka saat orang-orang malah lebih tertarik hal lain dan melupakan hal baik seperti pencegahan pemalakan dari kejadian tadi. Meski Kiriko-senpai tahu yang sebenarnya, namun bagian tadi juga harus diketahui orang-orang.

Pada akhirnya, mereka hanya percaya pada yang mereka yakini saja dan menjadikan rumor tersebut sebagai bahan candaan bagi sesama.

Kini aku sedang berada di tengah pusat perbelanjaan. Karena kerumunan orang-orang di sini semakin ramai saja, kumasukkan kembali ponsel-ku ke saku.

"Eh?"

Dan di saat itu kulihat sebuah siluet dari orang yang kukenal di antara kerumunan orang-orang. Itu Ayame.

Kini dia sudah enggak mengenakan celana jin robek lagi, melainkan sebuah rok berwarna putih dengan kaos kaki panjang sampai ke paha dipadu kardigan berwarna krem. Rambut hitamnya masih di-'twintail'.

Kupandangi dia dari belakang, dan rupanya dia sedang memakai pakaian perempuan pada umumnya. Aku berpikir, 'Memangnya kenapa? Dia di sini juga enggak ada urusannya denganku,'. Tapi yang membuat aku jadi penasaran adalah siapa lelaki di sampingnya itu. Enggak seperti lelaki kebanyakan, tapi itu seorang pria setengah baya yang memakai setelan jas. Meski enggak saling bermesraan, tapi mereka terlihat begitu dekat.

'Hari ini harusnya aku gajian, mungkin aku bisa membeli tiga buah 'game'.'

'Boros banget. Hmm, pasti papamu memberi uang yang banyak juga.'

Aku jadi teringat pembicaraanku dengan Ayame saat istirahat makan siang tadi.

... apa berarti, seperti inikah pekerjaan sampingannya?!

Oke, sekarang sudah lewat pukul sembilan malam. Tampaknya ini waktu yang pas untuk hal-hal seperti itu terjadi. Aku enggak tahu seperti apa prosedur transaksinya, yang pasti aku harus pergi ke tempat yang semestinya kutuju. Aku merasa yakin ke mana situasi tersebut akan berlanjut, di mana dua orang sedang berjalan menuju ke arah sebuah motel.

"... hmm."

Jika ini sebuah 'eroge', pasti ini adalah adegan yang menjurus ke sebuah kesalahpahaman atau sesuatu yang harus kucegah.

... tapi ini dunia nyata. Dan aku enggak punya kewajiban untuk mencegah agar hal itu enggak terjadi.

"Rasanya ini enggak benar ...."

Padahal dia bilang kalau dia ingin menjadi pacarku. Tapi dia malah menjajakan tubuhnya pada lelaki lain. Jika dilihat dari sudut pandang seperti ini, ternyata dia memang melakukannya demi uang. Kini perasaanku jadi bercampur aduk. Aku jadi enggak mau lagi berurusan dengannya. Dalam hatiku bergejolak ingin memastikan apa dia memang seorang pelacur.

"Wali kelasku dan Kiriko-senpai pasti sudah salah soal ini ...."

Yah, kami memang enggak sedekat itu, sedikit pun enggak. Sebaiknya hal pertama yang akan kulakukan jika bertemu dengannya nanti adalah menegur perbuatannya dulu.

Aku sudah membeberkan soal kesukaanku akan 'eroge' padanya, dan aku kini merasa jengkel sewaktu mengingat dirinya yang antusias ingin ikut memainkannya.

"Tapi, hmm ...."

Kenapa aku merasa enggak bisa menerima hal ini. Perasaan ini begitu aneh. Bukan karena aku memikirkan Ayame, tapi lebih karena ada yang harus kuperbuat semenjak dia ingin mengubah perilakunya itu.

Aku sudah enggak peduli lagi, aku cuma ingin ke kamarku yang berada di lantai dua itu dan menyiapkan seragam olah raga ke dalam tasku.


♦♦♦


"Seiichi! Ada tamu untukmu."

Di pagi ini kudengar ibuku memanggil dari lantai bawah.

Ada siapa? Tamu? Maksudnya petugas jasa pengiriman? Padahal aku enggak pernah ada memesan 'eroge', kok.

... firasatku buruk soal ini, jadi kutenteng tas di bahu lalu turun ke lantai bawah.

Tiba-tiba ada seseorang yang mondar-mandir di sekitar rak sepatu rumahku dengan wajah cemas lalu menyapa.

"Ha-hai ..., Aramiya ...."

Itu Ayame! Astaga, kenapa dia ke sini?!

"Ada gadis yang mendatangi Seiichi?" "Eh?! Ada gadis yang mendatangi si ampas?!"

Ayah dan adikku melihat kami dari ruang tengah. Eh, apa?! Ampas?! Anak ini kejam sekali sama kakaknya!

"Sana, sana! Bikin malu. Balik ke ruang tengah saja sana!"

"Wah, wah, Ibu senang sekali hari ini. Ibu akan masak beras merah buatmu." "Ayah tidak sangka, Seiichi bisa didatangi seorang gadis selama hidupnya." "Wah, dia cantik banget, Jejaka Letoi!"

"Dibilang, bikin malu! Cih, aku berangkat dulu!"

Kuhentikan usahaku untuk mendorong mereka ke ruang tengah dan bergegas keluar dari rumah. Kami pun berjalan ke sekolah seperti biasa.

"Apa aku sudah menyusahkanmu?"

Dia bertanya dengan cemas, namun kurasa keluargakulah yang sebenarnya membuat masalah.

"Maaf, orang-orang di rumahku memang sedikit aneh ...."

"Ah, enggak apa-apa."

Terlepas dari itu, aku punya hal yang lebih penting untuk ditanyakan padanya.

"Kenapa kamu repot-repot ke rumahku?"

Sebenarnya aku sudah tahu akan seperti apa jawabannya. Dia pun menjawab.

"Tokoh wanita di 'Azure Cross Sunshine' juga melakukannya, makanya aku ..."

Sudah kuduga, dia melakukannya karena terinspirasi oleh eroge yang mungkin kemarin dibelinya.

Ternyata kemampuan memprediksiku ini lumayan juga. Tapi ketimbang bergadang untuk memainkan 'eroge', harusnya dia tidur saja. Terlihat sekali kalau dia sedang mengantuk.

"... aku memeriksanya dari daftar kontak murid dibantu aplikasi peta di ponsel, ternyata alamatmu enggak jauh dari tempatku ...."

Daftar kontak murid sampai memuat alamat rumahku?

"Kamu enggak suka, ya? Apa aku harus menjadi teman semasa kecilmu dulu, baru aku boleh melakukannya ...?"

"Eng ... enggak usah."

Ah, kesampingkan itu dulu.

Kalau ditanya apa aku enggak suka, aku justru lebih merasa kaget. Pada kenyataannya, orang yang normal akan senang jika ada seorang gadis yang mendatanginya. Tapi bukan berarti aku jadi merasa sangat senang, aku enggak bisa membohongi perasaanku walau di hati ini ada sedikit rasa senang ....

"Ah, aku sampai lupa bilang, selamat pagi, Aramiya."

"Se ... selamat pagi."

Aku hampir saja lupa membalas salamnya. Dan sebenarnya ada sesuatu yang hampir lupa kutanyakan.

Kemarin aku melihat Ayame berada di pusat perbelanjaan. Tapi kini saat kuperhatikan dirinya betul-betul, enggak ada apa-apa, enggak ada tanda-tanda seolah dia habis melakukan pekerjaan jual dirinya itu.

... rasanya aneh ....

Apa setelah melakukan pekerjaan sampingannya, dia pulang dan lanjut bermain eroge kemudian tidur sebentar lalu bangun pagi-pagi begini? Bukankah itu terlalu menyiksa diri? Dari tampangnya sekarang, dia memang kelihatan mengantuk seperti habis bergadang, sih. Fiuh. Dia benar-benar memaksakan diri.

"Aramiya, kenapa kamu enggak bersemangat?"

... jaga emosi dan tetap tenang. Argh! Rasanya aku ingin meledak! Aku harus menyelesaikannya sekarang juga!

"Anu, Ayame. Semalam kamu ada di pusat perbelanjaan, ya?"

"Eh? Oh, iya, aku semalam di sana. Kok tahu?"

"Soalnya aku lihat ...."

"Yang benar? Kenapa enggak menyapa?"

... lo, kok dia setenang itu? Bukannya dia pergi ke motel bersama pelanggannya semalam? Apa jangan-jangan saat itu aku juga boleh ikut dengannya dan kami bisa melakukan 'threesome'? Argh! Itu gila! Tenang dulu, ini bukan waktunya berpikir seolah aku sedang berada dalam 'eroge'.

"Eng, soalnya kamu sedang bersama seseorang, sih ...."

"Oh, harusnya kamu enggak usah sungkan. Itu cuma papa aku."

"Papamu ...."

"Iya, papa aku. Ayah, ayah. Mencari beliau itu enggak sulit, biasanya aku sering bertemu di parkiran dengannya."

"Ayahmu?"

Berarti, aku sudah benar-benar salah paham, dong?

Fakta kalau orang-orang menggosipkan dirinya menjual diri adalah sebuah kesimpulan tanpa dasar. Dan caranya memanggil ayah dengan sebutan 'papa' justru disalahartikan layaknya seorang 'mucikari'. Padahal sebutan 'papa' harfiahnya adalah memang 'ayah', 'kan?

... aku merasa hina.

Aku sudah memandang Ayame dengan sudut pandang yang salah.

Aku enggak punya hak untuk mengkritik seseorang seenaknya, menyebarkan gosip yang enggak benar dan menjadikannya sebuah candaan agar itu terasa benar. Aku sebenarnya sama seperti dirinya. Aku memang orang yang hina.

Ayame lanjut berbicara tanpa tahu kalau aku sedang begitu merasa bersalah padanya.

"Rasanya malas kalau cuma bisa bertemu sebulan sekali saja. Biarpun begitu, aku enggak benci papa, kok. Malah, beliau sering memberiku uang saku."

"Sebulan sekali? Apa sampai sesibuk itu?"

"Yah ..., orang tuaku sudah bercerai dan aku memilih tinggal bersama ibuku, sedangkan, kakak perempuanku tinggal dengan ayahku. Mungkin sebelumnya sudah ada kesepakatan bersama dari ayah dan ibuku soal hak asuh anak."

Dia mengatakannya seolah itu bukan hal besar, tapi bagiku itu hal yang sangat berat.

"Aku minta maaf ...."

"Lo, enggak usah minta maaf. Rasanya memang sedih, sih, saat mereka bercerai. Aku pun dulu sempat menjadi anak yang liar. Tapi sekarang sudah enggak apa-apa."

"Enggak! Aku harus tetap minta maaf."

Aku merasa bersalah karena sudah melihatnya dari sudut pandang yang keliru.

'Dari apa yang kami tahu sekarang, ada gosip kurang mengenakkan tentang dirinya. Karena kami belum bisa memastikan kebenarannya, jadi kamu tidak harus percaya.'

Seperti yang dikatakan Kiriko-senpai, aku harusnya enggak boleh sampai salah paham karena gosip yang disematkan pada dirinya itu.

Namun aku juga enggak bisa yakin begitu saja karena masih ada kemungkinan kalau dia pernah melakukannya. Jadi aku pun belum bisa memastikan kalau dirinya belum pernah melakukan itu.

"Sudah, jangan dibikin serius. Ketimbang meminta maaf dariku, kenapa enggak terima saja aku jadi pacarmu. Aku pasti senang."

"... soal itu, aku harus bilang enggak."

"Cih."

"Kamu barusan berdecak, ya?!"

"Hahaha, bercanda, bercanda."

Pada akhirnya, aku merasa kecewa karena sudah bertanya seperti tadi. Itu karena aku sama sekali enggak tahu tentang latar belakang dirinya, enggak sedikit pun. Tapi Ayame yang kukenal sekarang bukanlah seorang gadis yang begitu saja ingin jadi pacarku.

Yah, kalau kupikir lagi, jika bukan karena dia mewarnai rambutnya, Ayame yang dulu pasti sudah sering berada dalam bahaya.


♦♦♦


"Halo, Seiichi! Oh, Ayame juga! Halo!"

"Selamat pagi, Kotani-sensei."

"... selamat pagi ...."

Saat aku dan Ayame memberi salam, Kiriko-senpai tersenyum senang.

"Wah, pertama kalinya Ayame memberi salam pada Sensei. Senangnya."

"Aku cuma meniru yang dilakukan Aramiya."

Apa aku benar-benar dijadikan sebuah standar? Kali ini bukan hanya tanggung jawab saja yang bertambah, tapi rasa malu juga ikut bertambah lebih dari yang kukira.

"Begini saja. Sensei sebenarnya tidak begitu berharap kamu mengubah cara bicara maupun perilakumu. Jujur, jika kamu tidak ingin memberi salam, itu tidak apa-apa, asalkan kamu tidak menyusahkan yang lain, Sensei tidak akan ambil pusing."

"...."

"Sensei dapat kabar kalau kemarin kamu menghentikan aksi pemalakan dengan memakai kekerasan. Mungkin ini terdengar sok mengatur, tapi menghentikan aksi pemalakan seperti kemarin bukanlah hal yang buruk asal tidak memakai kekerasan."

"Alasan aku enggak memukul mereka saat itu karena Aramiya menghentikanku."

"Sungguh? Itu berarti, memiliki teman ternyata hal yang bagus, 'kan?"

"Teman?"

Aku merasa sedang dipuji dengan cara yang aneh hingga ingin bersorak tapi enggak bisa mengekspresikannya.

"Ayame, ayo!"

"Oke."

"Hahaha, kamu memang kejam."

Enggak, aku enggak tahu caranya kabur dari pembicaraan itu, makanya aku mengajak Ayame berjalan masuk melewati gerbang sekolah dengan rasa sungkan.

Sesampainya kami di kelas, teman-teman sekelas kami enggak menunjukkan reaksi apa-apa atas kedatangan kami berdua. Tampaknya mereka sudah mulai terbiasa melihat kami bersama, yang mana itu merupakan pertanda bagus. Kami pun berpisah dan duduk di kursi masing-masing.

"Halo, Tozaki."

"Halo, Aramiya. Hari ini kalian berangkat bareng sudah kayak pasangan saja."

Tozaki yang sudah duluan datang ke kelas mulai berkelakar padaku.

"Sudah kubilang kalau enggak ada apa-apa di antara kami, yang kemarin itu cuma salah paham saja."

"Aku enggak lagi membahas itu, kok. Oh, iya, nih! Aku menemukannya sewaktu beres-beres kamar kemarin. Ini buatmu saja."

Tozaki menyerahkan sebuah bungkusan kertas besar berisi sesuatu padaku. Saat pertama melihatnya, kupikir di dalamnya berisi sebuah buku besar, namun ternyata itu adalah DVD 'eroge' legendaris yang selama ini kucari.

"Sungguh? Aku sudah lama mencari ini. Terima kasih, ya. Kalau sudah tamat nanti kukembalikan."

"Santai saja. Oh, iya, sebelumnya kuberi tahu dulu ke kamu, di 'game' ini enggak ada tokoh wanita yang semanis Ayame, lo."

"Oh, dasar!"

Bisikku sambil segera memasukkan DVD tadi ke dalam tas.

Normalnya, meminjam 'eroge' dari seseorang dan memainkannya adalah tindakan yang dilarang. Tapi untuk 'game' ini ada sebuah pengecualian.

'Game' ini dirilis setahun yang lalu, diproduksi dalam jumlah terbatas dan kini sudah enggak diproduksi lagi.

Ditambah, sehari sebelum rilis, perusahaan pembuat 'game' ini mengalami kebangkrutan yang dari dulu sudah terlihat tanda-tandanya. Biarpun begitu, 'game' ini tetap laku di pasaran dan mendapat sambutan baik. Tokoh utama wanita di dalamnya pun tampil mengesankan.

Aku sempat berupaya memesannya via internet, tapi rupanya aku kalah cepat. Jawaban yang kudapat adalah, 'Barang sudah tidak tersedia dikarenakan produksi yang terbatas'. Itu sebabnya aku enggak lagi membeli barang via internet, dan sekarang beralih untuk membelinya langsung dari toko. Namun yang mengejutkan, 'game' itu terjual habis dalam hitungan hari di berbagai daerah. Meski sudah enggak ada lagi yang menjualnya sejak setahun lalu, sampai sekarang belum ada seorang pun yang juga bersedia melelangnya.

Aku yang kecewa saat itu pernah enggak sengaja bercerita soal ini pada Tozaki karena tahu kalau dia berhasil mendapatkan 'game' tersebut. Karena itu aku memohon padanya agar mau meminjamkannya padaku.

Walau sampai harus menunggu selama ini karena dia beralasan, 'Maaf aku lupa sembunyikan di mana waktu itu,' namun karena kini sudah ketemu dan dia meminjamkannya padaku, maka ini adalah hadiah yang sangat berharga.

Tapi bukannya meminjamkan 'game' yang sudah enggak diproduksi lagi adalah tindakan ilegal?

Aku sadar kalau hal ini terasa ambigu. Entah yang mana yang benar, tapi aku sangat ingin memainkannya.

Hak distribusi penjualannya enggak sampai mencakup ke ranah perangkat lunak. Di satu sisi, izin untuk menjual kembali ataupun pinjam-meminjam di antara kalangan sendiri masih tergolong legal. Namun bukan perkara yang sama lagi jika sudah masuk ke bentuk program komputer ataupun data digital. Kalau mau aman, ya harus sabar. Tapi, enggak bisa memainkan 'game' yang sangat ingin kumainkan adalah sesuatu yang enggak bisa kutoleransi. Kenapa juga perusahaannya harus bangkrut?

"Selamat pagi! Lama tidak jumpa, teman-teman!"

Chuuko Vol 1 p097.jpg

Dan suasana di dalam kelas seketika berubah saat ada seorang gadis dengan suara imutnya masuk ke dalam kelas.

Rambut panjang yang dia ikat dengan sesimpul pita itu terlihat menarik dan menggemaskan layaknya sinar mentari pagi hari yang bersinar menembus jendela dan tampak berkilau. Saat melihatnya, aku merasa dia sudah merawat rambutnya itu dengan baik. Wajahnya terlihat sangat muda, hingga beberapa orang pernah salah menerka kalau dirinya masih SMP.

Jika perawakannya dibandingkan dengan ibu muda yang sedang menyusui, dia masuk di jajaran kelas atas. Dilihat dari sudut mana pun, dia tampak begitu semok dan montok dengan cara yang proporsional.

Tozaki pernah bilang padaku kalau nafsunya langsung naik cuma karena melihat pahanya yang sintal. Dasar! Pikirannya itu selalu enggak jauh-jauh dari selangkangan.

"Selamat pagi, Hatsushiba!" "Sudah seminggu ini aku enggak melihatmu, Yuuka." "Kamu sibuk banget, ya?" "Pasti capek, ya, jadi pengisi suara?" "Tenggorokanmu pernah sempat sakit, enggak?"

Semua anak di kelas langsung menyerbu untuk menyapa Hatsushiba.

"Iya, Yuuka baik-baik saja! Kerjaan ini kadang memang bikin stres! Tapi Yuuka tetap semangat!"

Semua orang suka padanya, dan itulah alasan kenapa dia berada di posisi atas dalam pergaulan.

Suaranya ceria layaknya seorang anak kecil dan sikapnya begitu periang hingga mampu menggaet perhatian banyak lelaki. Meski kini dia belum begitu terkenal, tapi dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Mungkin saja sebentar lagi dia bakal populer. Aku malah jadi memikirkan hal yang enggak berguna.

Jika mendengarkan suaranya yang ada di dalam 'game', bakal jatuh cinta dengan tokoh yang disulihsuarakannya bukanlah sesuatu yang aneh.

Biar bagaimanapun, hal itu juga enggak ada hubungannya denganku. Enggak peduli seberapa bagus suaranya, selama dia berwujud 3D, aku tetap enggak tertarik

"Hmm ...?"

Tiba-tiba gadis itu riuh dengan sesamanya sambil tatapannya mengarah ke Ayame. Baru kemarin lusa Ayame mengganti gaya rambutnya.

Bagi Hatsushiba yang enggak tahu soal perubahan itu, merasa terkejut adalah sesuatu yang normal.

Setelah itu mulai terdengar bisik-bisik di antara para gadis. Aku enggak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi mungkin Hatsushiba bertanya tentang yang sudah terjadi belakangan ini. Mereka terlihat seperti sedang bergosip.

Sembari bergosip, mereka kadang melihat ke arahku.

Yah, akulah alasan kenapa Ayame sampai berubah. Apa boleh buat, ya, 'kan?

Sial, kurasa menjadi perhatian orang-orang kini sudah merupakan makanan sehari-hariku. Aku enggak mau terlihat mencolok, karena seseorang yang mencolok akan dijadikan sasaran bagi orang lain. Ditambah, terlihat mencolok bisa membuat sisi buruk kita terungkap. Ini berarti, hobiku pun bisa terungkap.

Hatsushiba yang merupakan idola di kelasku terus menatapku hingga aku jadi gelagapan.

Bukan berarti ada yang istimewa dari diriku. Lagi pula, sejak dulu dia bukanlah orang yang bisa membawa kesusahan. Enggak masalah, enggak masalah. Kucoba untuk meyakini hal itu.

"Eh?"

Tunggu, kenapa dia mengedipkan matanya padaku?

Pasti yang tadi itu cuma kebetulan, makanya aku mencoba bersikap seolah enggak tahu apa-apa. Tapi kalau dilihat dari keadaannya ....

Kenapa aku jadi merasa enggak enak begini, ya?


♦♦♦


Setelah jam pelajaran ketiga yang merupakan pelajaran musik berakhir, aku yang berada di ruang audiovisual ini hendak kembali ke kelas.

"Hei, Aramiya, apa kamu sibuk?"

Hatsushiba yang sama-sama mengikuti pelajaran musik denganku, mendekat lalu menanyakan itu.

Mendengarkan suaranya tadi terasa seakan dia adalah tokoh wanita dalam 'eroge' yang sedang menyapaku.

Ayame dan Tozaki enggak ada di sini karena mereka mengikuti pelajaran seni rupa.

"Enggak, aku lagi enggak sibuk ...."

"Kabarnya kamu pacaran sama Ayame, ya? Apa itu benar?"

Tanpa perlu berpikir lama, aku sudah punya jawaban untuknya.

"Enggak, itu semua salah paham."

"Sungguh? Tapi semua orang bilang kalau Ayame mulai berperilaku baik karena sudah menjadi pacarmu."

"Yah, soal dia berperilaku baik karena diriku itu memang benar, tapi kami enggak pacaran. Cuma Tozaki dan semua anak di kelas ini saja yang tahu soal ini."

"Eh? Aramiya ternyata bisa membuat Ayame benar-benar berubah."

Ugh, sulit berhadapan dengan dirinya yang tampak begitu tertarik soal ini.

"Kenapa kamu jadi penasaran begitu? Padahal ini juga bukan urusanmu, Hatsushiba."

"Hehehe, Ayame memang menakutkan, dan dia bisa saja membunuhmu. Makanya semua orang ingin tahu apa yang sudah kamu perbuat hingga dia jadi seperti itu."

Dilihat dari caranya menjawab, maka enggak mungkin aku bisa menanggapinya. Jika pembicaraan itu terus berlanjut, bisa-bisa ini bakal mengarah ke hal yang menyinggung soal 'eroge'.

"Huh, Aramiya pelit."

"Jangan salah sangka dulu. Lagi pula aku punya hak untuk enggak memberi tahu itu padamu."

"Baiklah, suatu saat nanti kamu harus menjelaskan pada Yuuka, ya, bagaimana caramu mengubah Ayame yang sudah berbahaya semenjak SD itu. Soalnya ini sudah jadi bahan perbicangan satu sekolah, lo."

"Eh? Semenjak SD? Hatsushiba, apa kamu satu SD sama Ayame?"

"Iya, Yuuka dulu satu SD dengannya. Bahkan hingga SMP pun kami masih sering bermain bersama."

Itu berarti dia juga tinggal di lingkungan yang sama dengan Tozaki, di mana Hatsushiba dan Ayame ternyata sama-sama satu SD.

Mungkin aku merasa harus tahu kebenarannya, maka dari itu aku langsung bertanya soal Ayame padanya.

"... apa anak itu sudah begitu dari sejak SD?"

Setelah aku menanyakan itu, Hatsushiba lalu menampakkan wajah main-main seolah gembira kemudian menempelkan jempol dengan telunjuknya dan saling menggosokkan keduanya.

"... jadi harus bayar dulu, nih?"

"Hahaha, Yuuka tidak mau uangmu, tapi biar impas, harus ada yang kamu berikan juga pada Yuuka."

"Kamu cuma mau tahu kenapa sekarang Ayame berperilaku baik, 'kan?"

"Tepat sekali. Pintar, deh."

Argh, apa lagi ini .... Tunggu, kurasa mungkin aku harus memberi tahu Tozaki soal ini.

"Bercanda, bercanda. Soalnya, kabar yang diketahui teman-teman sekarang hanya itu-itu saja."

Dia lalu tersenyum licik seolah ingin menggodaku dan mau memberi tahu kalau itu cuma-cuma.

"Jadi begini. Saat di kelas 5 SD, Ayame menjadi pribadi yang pasif, dia benar-benar berubah dari dirinya yang sebelumnya."

"Jadi dia dari dulu sudah pemalas?"

"Bukan begitu. Awalnya dia kelihatan selalu murung, lalu lama-kelamaan dia menjadi semakin malas, sehingga tidak ada lagi yang bisa dilakukan terhadapnya."

"Oh, jadi pemurung begitu maksudnya ...."

"... eh? Dia tidak bercerita soal dirinya ke kamu?"

"Memangnya dia bakal mau cerita?"

"Kupikir kamu sudah tahu. Nah, kalau memang belum, sebaiknya kamu tidak perlu tahu."

Jadi itu hal yang enggak seharusnya kuketahui, tapi kalau itu berasal dari gosip yang bererdar, kurasa itu bukan sesuatu yang seratus persen benar.

"Kalau boleh menebak, apa ini ada hubungannya dengan permasalahan antara ayah dan ibunya?"

"Eh, dia sudah cerita padamu soal itu? Benar, ini ada hubungannya dengan ayah dan ibu Ayame."

Hmm .... Ketika tahu kalau orang tuanya sudah bercerai, aku jadi prihatin dengan rumor yang tersebar tentang dia. Aku pun sempat ikut merasa marah di hati, tapi semua itu sudah keburu terjadi.

Ayame sudah menceritakan soal orang tuanya padaku. Apa alasan dia jadi seorang yang pemalas juga dikarenakan hal itu?

"Dulu, dia sering sekali memakai kekerasan terhadap orang lain, entah apa itu karena dia atau orang lain yang memulainya, dan itu terjadi sewaktu dia SMP."

"Kemudian hal itu berlanjut sampai dia SMA?"

"Betul, tapi selang tidak berapa lama dia masuk ke SMP—"

Pada saat itu juga, sewaktu Hatsushiba sedang menjelaskan sebuah hal padaku, bel pun berbunyi.

Hei, apa yang terjadi sewaktu dia baru masuk SMP?

"Oh, kalau tidak lekas, kita bakal telat masuk kelas, lo!"

Sambil berkata demikian, dia mengajakku untuk mengikutinya.

"Ah, hei, tunggu dulu, Hatsushiba! Setelah itu .... Apa yang terjadi setelah itu?"

"Kalau ada kesempatan nanti Yuuka ceritakan lagi!"

Setelahnya, Hatsushiba enggak menjelaskan apa-apa lagi. Tapi ketika dia hendak pergi, dia berbalik menghadapku dan berkata.

"Tapi lebih baik kamu bersama Ayame sekarang! Mungkin yang mereka katakan tentang kalian itu memang benar!"

Seusai mengatakannya, dia pun lari menjauh.

Jika mereka berharap gosip itu jadi kenyataan, maka biarlah tetap begitu. Aku sudah enggak lagi memedulikan yang terjadi di masa lalu, karena kini aku harus menghadapi apa yang terjadi di masa sekarang.


♦♦♦


Akhirnya aku sampai di kelas, dan seisi ruangan sudah memberi tatapan aneh padaku.

Aku hampir saja bertanya, 'Ada apa?' tapi kuurungkan dan lebih memilih bersiap untuk pelajaran selanjutnya di jam pelajaran keempat.

Bel pun berbunyi, tanda dimulainya pelajaran—

Tiba-tiba Tozaki mencolekku dari belakang dan menyerahkan secarik kertas. Apa lagi ini?

"<Hatsushiba itu milik kami. — Tozaki>" "<Kami enggak keberatan kamu dengan Ayame, tapi kami enggak ikhlas lahir batin kalau kamu dengan Hatsushiba. — Matoba>" "<Kamu pikir kami senang sama kelakukanmu? — Uchida>" "<Jadi kamu ingin memonopoli Hatsushiba juga, hah? — Sakai>" "<Kamu enggak bakal berumur panjang. — Mikamoto>"

Ya ampun! Sebegitunya mereka cemburu?!

Tulisan di kertas itu ditulis dengan tinta merah. Entah itu memang tinta atau sebenarnya darah. Cuma dengan melihatnya saja aku sudah merasa ngeri.

... ada apa dengan mereka yang menginginkanku mati ini? Kurobek selembar kertas dari buku catatan muridku, dan menulis balasannya di sana.

"<Kalian ini bicara apa, sih? Kok aku jadi kayak tersangka begini? — Aramiya>"

Setelah menulisnya, aku langsung memberikannya pada Tozaki. Beberapa saat kemudian, kertas lainnya sampai padaku.

"<Saat Hatsushiba datang sebelum 'homeroom' pagi tadi, dia begitu riang dan mengobrol bersama anak-anak lain. Tapi tanpa sepengetahuan kami, kamu malah enak-enaknya mengobrol berdua saja dengan dia. — Tozaki>"

... bukannya mereka yang menanggapinya terlalu berlebihan? Kutulis balasannya di kertas itu lalu mengirimkannya kembali padanya.

"<Cuma gara-gara aku mengobrol berdua dengannya, kamu jadi berkesimpulan begitu? Lagi pula, yang kami bahas tadi juga soal Ayame! — Aramiya>"

"<Ketika Hatsushiba kelihatan senang saat bersama kamu, maka itu sebuah keresahan bagi kami. — Tozaki>"

"<Aku enggak tahu kalau Hatsushiba merasa senang saat bersamaku. — Aramiya>"

"<Entahlah. Tapi kalian berdua kelihatan begitu dekat. Aku enggak bisa membiarkannya. — Tozaki>"

"<Oi, kamu sudah salah paham, pembicaraan ini jadi melenceng dari intinya. Enggak ada apa-apa antara aku dan Hatsushiba. Tanya saja dia kalau enggak percaya. Pikir baik-baik, memangnya aku punya kesempatan untuk mendekatinya, hah? — Aramiya>"

"<Betul juga. Tapi tadi kamu enggak berbuat apa-apa sama dia, 'kan? — Tozaki>"

"<Enggak, sama sekali enggak. — Aramiya>"

Kami saling bertukar pesan, dan Tozaki mulai sedikit paham yang sebenarnya terjadi. Yang penting, dia sudah enggak marah lagi padaku. Tapi, dari mana dia tahu soal itu?

Kemungkinan saat Hatsushiba dan aku berbincang tadi, ada beberapa murid yang satu pelajaran dengan kami melihatnya. Kurasa mereka langsung menyebarkannya begitu pertama kali melihat kejadian itu. Kenapa juga Hatsushiba harus bicara dengan orang sepertiku? Aku memikirkannya sembari memandang Hatsushiba yang duduk di kursi depan, yang baru saja selesai menyalin catatan pelajaran dari temannya.

Aku memandanginya dan berpikir, dia begitu manis dan seorang pengisi suara yang handal, dan dia juga cukup populer di kelas. Dan karena alasan-alasan tersebut, maka enggak seharusnya dia berhubungan dengan 'otaku' sepertiku.

Anggaplah kalau memang ada hubungan spesial antara aku dengan dirinya, pasti nanti bakal ada petir yang menyambar hingga semua yang ada di bawahnya terbakar sampai habis. Itu sebabnya, lebih baik aku segera mematikan sekering ini terlebih dahulu.


♦♦♦


Saat istirahat makan siang tiba, terasa ada beberapa tatapan tajam menusuk ke arahku. Begitu melelahkan, dan ini semua karena aku berhubungan dengan Hatsushiba. Aku pun bergegas keluar dari kelas dan menuju ke ruang ekskul. Kalau saja pembicaraanku dengannya tadi berlangsung lebih lama lagi, bukan cuma kecemburuan yang bakal kudapat, tapi sesuatu yang lebih buruk dari itu.

Dan sewaktu aku sudah berada di dalam ruang ekskul, terdengar suara ketukan dari pintu. Itu cukup membuatku takut.

"I-ini aku, A-Ayame ...."

Saat tahu kalau itu dia, aku jadi lega.

"Masuk saja, enggak dikunci."

Setelah mengatakannya, dia pun menggeser pintu dengan pelan lalu masuk ke dalam.

... sampai dengan minggu lalu, aku enggak pernah terpikir bisa merasa selega ini sewaktu melihat Ayame. Aku pun menghela napas sembari melihatnya.

"Aku melihatmu keluar dari kelas, kupikir kamu enggak mau melihatku lagi."

Sambil mendengarnya bicara, aku tersadar kalau ini sudah siang, dan seperti sebuah keharusan untukku makan siang berdua dengannya.

Seharusnya aku enggak terlalu memikirkan itu sekarang.

"Ada gosip yang sedang menyebar ke seluruh sekolah, dan kurasa aku bakal aman kalau menghindarinya."

"... maksudmu gosip tentang kamu dan Hatsushiba?"

"Padahal kami cuma mengobrol sebentar saja."

"Yang benar?"

Kenapa dia memandangku penuh ragu begitu?

"Memangnya apa lagi?"

"Ka-kamu dan Hatsushiba .... Aku rasa kalian berdua tampak serasi .... Seorang 'otaku' sepertimu menyukai seorang pengisi suara seperti dia .... Ja-jadi kamu ingin pacaran dengannya ...?

"Bukannya sudah kubilang kalau aku enggak suka dengan gadis 3D. Terserah dia seorang idola ataupun seorang pengisi suara, tetap saja dia itu gadis 3D."

Saat aku mengatakan itu, Ayame menghela napas lega.

"... begitu. Ternyata kamu belum berubah."

"Soal gosip tentang aku dan Hatsushiba, itu biar kuurus sendiri. Ah, omong-omong, kelihatannya hari ini kamu bawa bekal."

Dia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kain berisi bekal makan siang.

Tanpa sadar aku pun meneguk liurku. Yah, soalnya bekal yang dia bawa itu sangat enak. Mana mungkin aku bisa menahan diri?

"Mari makan!"

Kucoba meraih bungkusan kain itu, namun dia enggak mengizinkannya. Dia lalu membuka bungkusan tersebut dan mengeluarkan kotak bekal di dalamnya. Sesaat aku merasa kebingungan sewaktu dia membuka sendiri tutup kotaknya.

Kemudian dengan sumpit dia mengambil salah satu lauk di dalamnya dan berkata.

"Ayo buka dulu mulutnya, aaaaa ...."

Chuuko Vol 1 p107.jpg

Aku mengelak, namun Ayame tetap menyodorkan sumpit itu ke depan mulutku.

Dia memegang sumpit dengan gemetar. Bisa kulihat kalau makanan di sumpit itu sudah mau jatuh. Jelas aku enggak mau kalau sampai makanan itu jatuh ke lantai, karena itu aku langsung menyambarnya dengan mulutku. Oh, jadi menu hari ini kubis gulung isi. Kubisnya terasa segar, dan di dalamnya diisi daging. Rasa dari bumbunya benar-benar pas.

Setelahnya, Ayame tanpa berkata apa-apa lagi langsung mengambil lauk lain dengan sumpitnya.

"Tung-tunggu sebentar! Jangan tersinggung dulu, tapi ini kayaknya berlebihan ...."

"Oh, kamu enggak suka, ya? Soalnya ini sering kulihat di 'Indigo Light' ....?"

Hah? 'Indigo Light'? Maksudnya 'game'?!

"Yah, sebenarnya aku enggak masalah, sih, cuma kaget saja tiba-tiba dibegitukan."

"Oh, kalau begitu aku minta maaf, akan kuhentikan, deh."

"Maksudku, biasanya yang begini itu dilakukan oleh sebuah pasangan."

"Eh? Tapi di dalam 'game', teman sedari kecil juga melakukannya, kok."

"Fiuh. Jadi begini, kamu itu seharusnya enggak boleh mencampuradukkan antara yang ada di 'game' dengan dunia nyata!"

"... mendengar itu dari Aramiya, rasanya jadi ragu."

Dia berhasil membuatku menelan kata-kata sendiri.

"Oke, anggap saja kalau aku malu dibegitukan, dan itu karena kita enggak punya hubungan spesial seperti yang digosipkan."

"Iya, kamu benar. Aku minta maaf."

Kurasa tadi aku sudah seperti mengasingkan dirinya, hingga terlihat jelas kalau dia sedang terisak.

Biarpun begitu, dia tetap menyerahkan kotak bekalnya padaku tanpa ragu.

"Ka-kalau begitu, bekalnya tolong dihabiskan, ya? Aku membuatnya khusus untukmu ...."

Duh, malah jadi enggak enak begini. Kenapa aku sampai membuatnya sedih? Jika ini di dalam 'eroge', hal seperti ini enggak akan kubiarkan terjadi.

Tanpa Kiriko-senpai perlu menyuruhku pun, Ayame sendirilah yang menginginkan dirinya untuk menjadi pacarku dan membuatkan bekal makan siang untukku. Aku sendiri masih tetap menerimanya.

Dan aku menyuruhnya agar jangan berlebihan. Pasti sikapku tadi sudah terkesan kejam.

Dia lalu mengambil salah satu lauk dari dalam kotak dan memakannya sendiri. Bekal yang dibuatnya itu sangat enak, dan bagiku yang sudah diberi bekal tersebut, perlakuanku padanya tadi mungkin terasa cukup kasar.

Oleh karena itu, mungkin aku harus menebus kesalahanku dan membalas kebaikannya atas makan siang lezat ini.

"Ma-masalahnya adalah karena kamu menyuapiku, dan aku enggak bisa melakukan itu denganmu."

Kujelaskan terlebih dulu pada Ayame inti permasalahannya, kemudian lanjut berkata.

"Tapi ..., mau enggak nanti kamu ke rumahku? Soalnya ada yang ingin kutunjukkan ke kamu, semoga saja itu bisa membantu."

"Ah, eng, ah, eng, me-memangnya kamu enggak apa-apa?"

Waduh, apa enggak apa-apa aku bertanya begitu? Kurasa enggak. Aku mengajaknya ke rumah bukan karena mau macam-macam, kok. Justru aku lebih khawatir dengan orang-orang di rumahku.

Aku bakal senang kalau saat itu rumahku sedang enggak ada orang. Aku enggak tahu kapan persisnya mereka datang, karena bagi seorang lelaki sampai mengajak seorang gadis ke rumah, hal tersebut pasti mengundang kecurigaan. Aku malah bakal kesusahan kalau mereka ada di rumah.

"Eng-enggak apa-apa. Ini sebagai terima kasihku karena sudah dibuatkan bekal yang sangat enak tadi."

"Ah, hmm, boleh, aku mau!"

Ayame menyetujuinya dengan penuh semangat.

"Si-sip."

... akhirnya aku menerima reaksi positif darinya, atau bisa dibilang, akhirnya aku mampu menangani Ayame.


♦♦♦


Sepulang sekolah, aku dan Ayame berjalan keluar dari gedung sekolah bersama. Ternyata dia tinggal di salah satu dari jajaran rumah sekitar sini. Dia menyuruhku untuk menunggu sebentar. Setelah itu dia masuk ke rumah, dan enggak sampai lima menit dia pun keluar.

Dia mengenakan pakaian yang santai. Sebuah blus putih dibalut dengan kardigan ungu, celana panjang model 'chino' berwarna krem dipadu sepatu kets putih, itu semua tampak cocok dengan gaya rambutnya. Penampilannya sungguh berbeda sewaktu dia diserang kemarin. Kini dia terlihat seperti gadis muda pada umumnya.

"Kalau saja aku punya pakaian seperti tokoh wanita dalam 'game' itu, pasti akan kupakai. Sayangnya aku enggak punya ...."

"Enggak apa-apa, begini saja cukup."

"Begitukah?"

Jika dia ber-'cosplay' di depan umum, aku yang susah."

"Wah, ini bakal berat."

Rasanya aku perlu terlebih dahulu mengajarkannya soal tata krama dalam kehidupan sosial dibanding memainkan 'eroge'. Walau sebenarnya mengenakan 'cosplay' itu bukanlah hal yang salah. Kalau mau ya, tinggal kenakan saja. Tapi mengenakannya di depan umum begini cukup membuatku malu juga.

Di saat kami dalam perjalanan menuju rumahku, terlihat segerombolan lelaki berjumlah sekitar tujuh atau delapan orang sedang tertawa keras seolah melihat hal yang lucu.

Dilihat dari potongan rambut, pakaian dan cara berbicara mereka, bisa dikatakan kalau mereka itu preman. Yah, kalau aku tetap tenang dan berjalan menjauh, mereka enggak bakal macam-macam.

Kukeluarkan ponsel lipatku untuk berjaga-jaga sebelum berpapasan dengan mereka.

"Hei, Ayame. Rupanya ini, toh, pacar barumu yang sering dibicarakan itu? Ternyata sama culunnya seperti yang dibicarakan."

"Lo, ini Ayame, toh?" "Aku sempat pangling!" "Yang kamu pakai itu benar-benar enggak cocok, tahu!" "Mau sok jadi anak baik, ya?" "Hahahahaha! Lucu banget!"

Cerewetnya! Apa mereka ini teman-teman Ayame? Kenapa aku sampai terbawa di situasi begini?! Apa mereka selalu bersikap begini ke semua orang? Sepertinya gawat, nih.

Tunggu, apa maksud mereka dengan 'pacar baru' tadi? Mendadak bulu kudukku merinding. Dari mana mereka tahu soal gosip itu? Apa mereka punya jaringan yang tersebar di mana-mana? Menakutkan.

"Bukan urusanmu, Songou. Pergi sana!"

Ayame menunjukkan sikap perlawanan dengan menaikkan alisnya. Saat dia dalam kondisi seperti ini, tampangnya cukup menakutkan.

Mereka kemudian membentuk lingkaran mengelilingi kami. Mau apa mereka?

"Kalian mau apa? Menyerang kami? Kita ini lagi di tengah kota!"

Kuserukan itu keras-keras, namun mereka enggak menghiraukannya.

"Bagaimana kalau kita lanjutkan yang belum kelar kemarin? Saat itu kita terganggu ulah seorang bocah, kan?"

"Lanjutkan apanya?! Jangan macam-macam, pergi sana!"

"Lagi pula, bisa-bisanya kamu pacaran sama bocah kayak begitu?"

Seorang lelaki bertubuh besar yang kemungkinan pemimpin gerombolan itu, mendekat. Ternyata dia banyak bicara juga.

"Eh, suara dan wajah ini. Rasanya aku pernah lihat."

Lo, jangan-jangan ...

"Oh! Hei! Ini bocah yang kemarin mengganggu kita!"

Salah satu pesuruh dari gerombolan itu berseru. Tampaknya dia juga sadar di saat yang bersamaan denganku.

Ini benar-benar gawat. Tanpa pikir panjang aku langsung berteriak pada ponsel di tanganku.

"Tolong!"

Meski Ayame terbelalak saat melihatku, aku masih tetap melanjutkannya.

"Tolong, saya sedang diserang segerombolan preman, Pak! Posisi saya ada di persimpangan Nagata-cho blok 7-12!"

Aku enggak lagi merasa malu ataupun kehilangan harga diri. Jika aku merasa sedang dalam bahaya, aku akan langsung menghubungi nomor panggilan darurat.

Tepatnya, aku sudah menghubungi nomor tersebut sewaktu mereka menyapa kami. Bakal telat jika menunggu hingga mereka mulai menggunakan tindakan fisik.

"Tangkap dia!"

Seperti waktu itu, si pemimpin berteriak sambil menunjuk ke arahku.

Akan tetapi—

"Panggilan darurat tadi menandai lokasiku pada polisi melalui GPS! Kalau kalian enggak mau dipenjara, sebaiknya segera angkat kaki dari sini!"

Setelah aku menjelaskan itu, dia pun memberi aba-aba untuk mundur. Selamat, selamat! Panggilan darurat dengan fitur pelacak benar-benar membantu!

"Sejak kapan di—"

"Tindak hukum pidana pasal 106! Pelajari itu di internet!"

Itu adalah pasal yang mengatur tentang ancaman penyerangan terhadap orang lain oleh sekumpulan orang. Yah, ini memang enggak membuktikan apa-apa, tapi akan kugunakan segala yang kupunya ketika dalam bahaya.

Jika mereka memerhatikan gerak-gerikku sebelumnya, situasinya pasti bakal kacau. Untungnya mereka enggak sadar, jadi aku bisa dengan mudah diam-diam menelepon polisi. Ini cara terbaik untuk memberi tahu keadaan tanpa disadari oleh mereka. Nomor ini disiapkan untuk kondisi di mana sang penelepon enggak bisa bicara ataupun bersuara sehingga polisi enggak bakal menutupnya sampai terdengar tanda-tanda bahaya, dan segera bertindak untuk menolong sang penelepon.

"Bocah ini enggak malu memanggil polisi!"

"Untuk menangani berandal seperti kalian, buat apa malu?!"

Kulihat mereka sudah bakal hendak kabur, dan di saat itu juga aku memotret mereka. Kini aku punya bukti untuk diserahkan pada polisi.

Sewaktu mereka ragu-ragu ingin bertindak, suara sirene terdengar makin mendekat.

Ini suara sirene yang asli dan bukan suara buatan dari ponsel-ku seperti waktu itu. Kali ini polisi sudah melakukan tugasnya dengan baik.

"Awas kamu, ya! Lain kali hati-hati kamu kalau berjalan di luar!"

Mereka pergi setelah mengatakan itu, mirip seperti yang ada di acara-acara TV — mereka berlagak mengubah sikap saat berbalik pergi.

Setelah itu, aku segera memberi kesaksian laporan mengenai yang terjadi pada polisi sebelum pulang ke rumah.

Ayame menampakkan ekspresi khawatir sambil berkata, "Maaf sudah membuatmu susah," tapi saat kujawab, "Enggak apa-apa, aku sudah terbiasa kalau soal begini," dia pun jadi tampak lega.

Aku berpikir kalau dia sampai punya musuh seperti gerombolan preman tadi, berarti hidupnya itu penuh dengan bahaya. Tapi janji tetaplah janji. Aku jadi merasa enggak enak kalau meninggalkannya di sini. Lagi pula, ayahku masih kerja, ibuku belum balik dari pekerjaan paruh waktunya, dan adikku, si anak kurang ajar itu, mungkin sedang jalan-jalan sama temannya.


♦♦♦


"Per-permisi."

Dengan hati-hati dia melepaskan sepatunya. Dari cara meletakkan sepatunya itu, tampak kalau dia tipe orang yang rapi.

"Enggak usah sungkan, rumahku ini sama seperti rumah orang kebanyakan."

"Sudah cukup lama aku enggak pernah berkunjung ke rumah orang lain."

Aku jadi berpikir, apa mungkin dia seorang penyendiri. Aku enggak pernah melihatnya bergaul bersama orang lain.

Dan aku pun berpikir, mereka yang disebut preman biasanya berkumpul dalam satu kelompok sesuai kalangannya. Mungkin di titik ini, antara preman dan 'otaku' memiliki sebuah kesamaan. Aku memikirkan hal yang konyol, karena pada akhirnya, itu semua tergantung dari pikiran masing-masing.

"Yah, selamat datang di kamarku."

Kubukakan pintu untuknya supaya dia bisa masuk.

Kalau dipikir lagi, ini pertama kalinya aku membolehkan seorang gadis masuk ke kamarku, terkecuali adik perempuanku.

Sekitar tahun lalu adikku pernah kemari dan berkomentar, "Kamarmu bau! Dasar Jejaka Letoi!" setelah itu dia enggak pernah lagi ke sini bahkan setelah aku rutin menyemprot kamar ini dengan pengharum ruangan. Sepertinya dia cuma ingin berkata kasar padaku saja.

"Wah, kudengar kalau kamar lelaki itu biasanya berantakan, tapi kamarmu ini rapi juga, ya."

Aku memang selalu menjaga kebersihan dan kerapian kamarku sendiri. Kusimpan baik-baik segala poster, sarung bantal, dan gulungan hiasan dinding di dalam lemari agar warnanya enggak pudar.

"Anggap saja kamar sendiri, ya. Aku ambil minum dulu."

"O-oke."

Aku beranjak turun ke ruang tengah.

Dan saat itu aku sempat terpikir, haruskah aku menyembunyikan sepatu Ayame ke dalam kamar agar enggak menimbulkan pertanyaan dari keluargaku? Tapi bagaimana kalau mereka sampai tahu? Mungkin lebih baik kubiarkan saja.

Kuambil sebotol teh herbal dan dua buah gelas sebelum kembali ke kamar.

Saat aku masuk, kulihat dirinya duduk bersimpuh dan tampak tegang.

"Nih."

"Te-terima kasih."

Kuserahkan terlebih dulu minuman itu padanya sebelum aku menyalakan PC. Layar monitor berkedip kemudian muncullah tampilan awal komputer.

"Sebentar, ya."

Aku lalu membuka sebuah program.

"Nah, ayo sini."

Setelah dia mendekat lalu duduk, jendela program pun terbuka.

Anjuran peringatan muncul sebelum tampak tampilan judul berlatar belakang pemandangan sekolah dengan logo, 'My Heart Will Go On (Till Tomorrow)'.

Kuakui kalau aku kini sedang membuka sebuah 'eroge'.

Sebelumnya, 'game' ini masih berada di dalam rak, dan aku mulai kesulitan saat mencarinya.

Ditambah, 'game' ini hanya bisa terdaftar pada satu PC saja, dan enggak bisa dipasang pada PC lain karena itu bakal melanggar regulasi. Karena itu aku mengajaknya kemari untuk memainkannya langsung. Walau sebenarnya aku merasa sedikit sungkan.

"Aku? Memainkan ini?"

"Iya. Beberapa tokoh wanita di 'game' ini ada yang masuk kategori gadis impianku."

"Wuahahahaha."

Dia tertawa terbahak-bahak saat aku menjawab demikian.

"Kamu mengajak seorang gadis untuk memainkan 'eroge'? Wuahahahaha. Kayaknya ada yang salah denganmu! Hahahahaha."

Sepertinya aku sudah melihat sebuah pemandangan langka. Dia enggak pernah tersenyum seperti ini sebelumnya.

"Enggak perlu ketawa sekeras itu juga, 'kali."

Yang dia katakan tadi membuatku berpikir kalau aku memang punya masalah yang enggak pernah kuberitahukan pada siapa-siapa.

Sampai dengan sekarang, aku belum pernah memainkan 'eroge' yang bercerita tentang sang protagonis yang mengajak tokoh wanitanya untuk memainkan 'eroge' di kamarnya. Kalaupun ada, mungkin seperti ini gambarannya. Kurasa bagi seorang gadis, ini sudah seperti sebuah tindak pelecehan.

Anehnya, dia enggak begitu mempermasalahkannya, yang ada, dia malah menertawainya.

"Fiuh. Sudah lama aku enggak ketawa sekeras ini. Kamu memang beda."

"Baru tahu, ya?"

"Yah, hari ini aku juga memakai pakaian dalam andal—" tiba-tiba dia berhenti sejenak, kemudian langsung berkata, "Bu-bukan apa-apa!" sambil menjauhkan diriku. Wajahnya tampak memerah.

"Jadi kamu mau aku memainkannya?"

Dia berusaha menenangkan diri dan menanyakan itu.

"Iya. Mulai dari awal terus simpan di tempat simpanan data yang kosong, ya."

"Siap."

Dia pun mulai memainkan 'game' itu. Sang protagonis mulai bernarasi dan para tokoh wanitanya mulai bermunculan. Narasi yang diiringi musik latar tersebut terdengar lewat pengeras suara.

Setelah beberapa klik ....

"Hmm, eng, rasanya malu kalau main sambil dilihat begini."

Kalau dipikir lagi, aku memang enggak pernah memaksa siapa pun untuk memainkan 'eroge' sebelumnya. Jika aku ada di posisinya sekarang, pasti aku merasakan hal yang sama.

"Oh, ya sudah, aku main laptop di pojok sana saja, ya? Kalau ada yang bingung, jangan sungkan bertanya."

"Oke."

Kukeluarkan sebuah 'headphone' lalu kucolokkan kabelnya ke CPU kemudian kuserahkan itu padanya.

"Nih, biar suaranya enggak terdengar keluar."

"O-oke, ta-tapi jangan lihat ke sini kalau enggak kupanggil, ya?!"

"Iya, iya."

Kuambil laptopku yang ada di atas meja kemudian berbalik.

Yak, saatnya memainkan 'game' yang dipinjamkan Tozaki padaku.

Untuk seorang gadis dan lelaki duduk bersama dalam satu ruangan sambil memainkan 'eroge', ini situasi yang cukup canggung.

Sekitar lima jam berlalu, dan langit di luar sudah gelap. Gila! 'Game' legendaris yang dipinjamkan Tozaki ini seru banget!

Aku baru menyelesaikan satu rute, tapi tokoh utama wanitanya benar-benar bagus.

Dan tepat di saat aku sedang mencari info untuk menghilangkan rasa penasaranku akan game ini, tiba-tiba ada yang mencolekku dari belakang. Kubuka 'headphone'-ku lalu menoleh.

"Aku enggak bisa menamatkannya."

Ucap Ayame dengan nada tertekan.

Kulihat ke arah monitor dan di layar sudah menampakkan daftar kredit yang diiringi dengan alunan musik sedih.

Ini bukanlah 'game' sulit. Jika kita bisa fokus terhadap satu karakter, maka menamatkannya adalah perkara mudah seperti halnya 'game' yang lain.

Terkecuali untuk tokoh wanita ini.

Di setiap akhir rute, akan ada beberapa pilihan yang masing-masing berujung pada adegan akhir yang berbeda. Namun untuk tokoh ini, adegan akhir bisa menjadi baik atau buruk setelah melalui adegan .... Anggap saja adegan itu membutuhkan pantauan orang tua.

Rasanya bakal canggung kalau aku menanyakan soal ini padanya. Tapi karena ini demi kepentingannya, kurasa aku harus menanyakannya.

"Hmm, adegannya berakhir di sini. Oh, iya, kamu tadi memilih apa? Di-di dalam atau di lu-luar?"

Aku merasa malu hingga bicaraku jadi terbata-bata.

Bahkan jika ada orang yang enggak tahu soal itu, mereka pasti masih bisa membayangkannya.

"Adegan yang itu, ya?"

Awalnya dia tampak bingung, namun setelah akhirnya dia sadar, seluruh wajah hingga lehernya menjadi merah.

"E-eh?! Ke-kenapa kamu tanya itu?! Mau bahas yang jorok-jorok padaku, ya?!"

"Bu-bukan!"

Jika dia menganggap aku bakal mau berbuat mesum padanya, pasti sedari tadi aku sudah dibunuhnya saat kuundang dia ke rumahku.

"Kamu harus memilih 'di dalam'! Kalau kamu memilih yang lain, ya enggak bakal tamat!"

"Ma-ma-ma-mana mungkin aku memilih itu?! Ka-ka-ka-ka-kalau di-di-di-di dalam, nan-nan-nanti bi-bisa ha-ha-ha-hamil, 'ka-kan?"

Saat berbicara, suaranya makin lama makin memelan.

Jika aku tipe protagonis yang sadis, aku pasti akan menjawab, 'Memangnya kenapa kalau hamil?' dan membuat wajahnya makin memerah. Tapi aku enggak mau dia begitu, lagi pula aku juga bukan orang yang seperti itu. Dialog macam tadi mungkin saja sering digunakan di kehidupan nyata.

"Ma-mau bagaimana lagi? Nanti kamu bakal tahu sendiri."

Setelah berkata begitu, dia pun bergumam, "Di dalam?! Di dalam?!" lalu berbalik kembali menghadap meja.

Aku pun kembali fokus pada laptop, dan selang berapa lama.

"Yak!"

Dia berseru dan pada layar terpampang tulisan, 'True End'.

"Aku enggak menyangka kalau dia harus hamil duluan sebelum menikah supaya rutenya selesai."

Tokoh yang dia pilih itu dari awal sudah diatur oleh pengembang 'game'-nya agar ceritanya seperti itu. Jadi mau bagaimana lagi?

"Bo-boleh tanya, enggak? Kalau kamu yang ada di situasi itu, kamu bakal memilih 'di luar', ya?"

"Ya-ya, iya lah! Memangnya apa lagi?!"

"Ya-ya, enggak apa-apa, sih."

"Aku benar-benar khawatir soal itu! Melakukannya tanpa pengaman itu enggak baik!"

Ujarnya dengan sedikit tegas. Tampaknya aku perlu menyudahi ini sebelum nanti bakal ke mana-mana.

"Aku paham. Kita sudahi saja, ya?"

"Jangan! Karena sudah sejauh ini, banyak yang ingin kutanyakan! Aku penasaran soal hal-hal semacam tadi!"

Gawat, dia tampak menggebu-gebu sekarang.

"Ke-kenapa punya dia itu enggak ada bulu-bulu halusnya?! Apa ada kelainan pada tubuhnya?!"

Astaga! Dia mulai menanyakan yang aneh-aneh!

"Oh, itu sudah jadi hal 'mainstream' sekarang!"

Aku kesulitan mencari jawaban yang pas, hingga akhirnya aku menggunakan jawaban yang enggak semestinya kuucapkan.

"Kok bisa begitu, ya?"

Beberapa ada yang bilang kalau terlihat berantakan bakal menurunkan nafsu. Aku enggak tahu seperti apa detailnya.

Bagiku, itu terlihat bersih di mataku.

Memangnya di kehidupan nyata enggak seperti itu? Ah, aku enggak peduli! Mana mungkin aku tertarik dengan hal-hal 3D?!

"Terus, bukankah di dalam 'game' tadi terlalu banyak perawannya?! Oh, enggak, malah semua tokohnya itu perawan!"

Jleb.

"Ka-karena itu sudah 'mainstream' juga!"

Yah, bukan berarti semua orang senang yang seperti itu. Tapi ada satu insiden ketika aku bertemu tokoh yang sudah enggak perawan, ujung-ujungnya aku menendang komputerku. Bisa dibilang, kalau aku sudah termakan iklan. Mereka bilang kalau itu game tentang pasukan tentara yang semuanya berisikan gadis perawan. Jika dari awal aku tahu kalau itu bohong, enggak mungkin bakal kubeli.

"Kok bisa, ya? Katanya, mencari perawan itu sulit, 'kan?!"

"En-entahlah! Mungkin saja karena khawatir kalau nanti protagonisnya dibanding-bandingkan dengan pacar dari tokoh wanita sebelumnya! Atau bisa saja tokoh wanitanya ingin merasakan pengalaman pertamanya dengan orang yang juga belum merasakan. Yah, itu memang belum bisa menjelaskan semuanya. Alasan orang-orang yang tertarik dengan tema keperawanan sepertiku ini sebenarnya karena mereka dipenuhi dengan kasih sayang yang tulus. Dan yang membuat itu terasa berat adalah perasaan ingin bersama seseorang yang belum merasakan pengalaman pertama itu juga."

Aku tahu kalau kata-kataku tadi terdengar menyedihkan. Aku pun tahu kalau orang-orang sepertiku adalah mereka yang ditolak dari pergaulan. Dikatai belum dewasa, dikatai enggak punya keberanian. Bahkan di zaman sekarang dianggap bermasalah dalam komunikasi, enggak bisa membedakan dunia nyata dan 2D, suka berkhayal dan semacamnya. Biarkan orang lain berkata sesukanya. Yang penting aku ingin menemukan gadis impianku, meski itu hanya ada di dunia 2D.

"Jadi kamu lebih suka yang perawan?"

Dia menanyakan itu sambil menatap mataku. Aku tahu jawabanku ini bakal memengaruhi masa depanku, namun aku harus menjawabnya.

"Ya, aku suka."

"Begitu."

Ucapnya ketika mendengar jawabanku. Dia tiba-tiba tenang seolah semangatnya tadi sirna.

"Eh?"

Kalau dia ternyata enggak perawan, berarti sama saja aku berkata kalau aku enggak tertarik padanya. Atau mungkin dia yakin bisa memiliki pesona gadis 2D, tapi enggak yakin kalau orang yang sudah enggak perawan bisa kembali perawan lagi.

Apa dia terkejut soal ini? Atau mungkin dia—

"Aku pulaaaaang! Lo, sepatu ini? Oi, Jejaka Letoi! Kamu menculik seorang gadis, ya?"

Adikku baru saja pulang. Kenapa harus sekarang?!

"Ini aku bawakan teh! Lo, bukankah ini gadis yang kemarin ke sini itu?!

"Berisik, kembali ke kamarmu sana!"

"Wah, wah, jangan-jangan dia ini tokoh wanita yang keluar dari 'game'-mu, ya? Cantik banget!"

"Bukan! Makanya lihat yang betul! Mana poligonnya? Dia ini manusia betulan!"

Dengan penuh ketertarikan, Ayame memandangi kami yang sedang berdebat. Itu membuatku enggak nyaman, karena itu aku mengalah.

"Ugh, biar kuperkenalkan. Ini adik perempuanku, masih kelas satu. Namanya Kiyomi."

"Aramiya Kiyomi, kelas satu SMA! Salam kenal!"

Bertingkah sok manis dan ceria seperti itu membuatku ingin menamparnya.

"Ini Ayame, Ayame Kotoko."

"Ayame? Eh, bukannya itu nama gadis yang kabarnya pernah melawan para preman dan geng motor sendirian, ya?"

Jadi gosip tentang dirinya sudah menyebar sejauh itu? Dan ini pertama kalinya kudengar kalau ada geng motor di sekolah.

"Eng-enggak, soal geng motornya itu enggak benar."

"Terus kalau soal melawan lima premannya?"

"Anak kelas satu sampai tahu soal itu? Yah, mungkin sebagiannya benar."

"Sungguh?! Melawan lima preman seorang diri itu bakal jadi legenda urban!"

"Hebat! Terus kenapa orang sepertimu bisa bergaul dengan nih ampas?!"

"Jangan menunjukku! Enggak sopan! Dan 'ampas' tadi maksudmu apa?!"

"Eh, kenapa kamu marah? Bahkan bakteri ataupun kumbang kotoran saja enggak semarah itu."

Argh! Kalau saja dia terlahir sebagai lelaki, dengan senang hati aku menghajarnya.

"Di-dia sudah menyelamatkanku dan mengajariku banyak hal. Jadi dia bukanlah kakak yang buruk."

"Sungguh? Padahal menyelamatkan seseorang itu bukan hal yang biasa dia lakukan."

"Dia benar-benar menyelamatkanku dari ulah orang-orang jahat."

"Dia melakukan itu?!"

Dia terkejut sampai rahangnya tampak hampir mau terlepas.

Walau sebenarnya, yang bisa kulakukan cuma menelepon polisi. Tapi demi harga diri seorang kakak, aku harus menutup mulut anak ini.

"Ah, paling-paling dia cuma bisa memanggil polisi saja. Iya, 'kan?"

Cih. Dia sampai bisa tahu hal itu. Terserahlah, aku dan Ayame enggak ingin membahasnya. Biarkan kejadian sebenarnya enggak ada satu pun yang tahu.

"Anak ini bakal menyia-nyiakan waktumu. Harusnya kamu mencari lelaki yang lebih baik dari dia."

"Enggak, aku yang harusnya menjadi gadis yang cukup pantas buat dia."

Ekspresi wajah Kiyomi kini terlihat seperti habis tersambar petir.

"Eh?! Ini bedanya seperti surga dan neraka, lo!"

"Aku enggak keberatan jika ada di neraka."

"Pasti otakmu sudah dicuci! Oi, buka matamu!"

Sekarang dia yang jadi kesal sendiri.

"Oke, terima kasih sudah membawakan kami teh! Sudah cukup, ayo keluar!"

Kutarik Kiyomi dan menyeretnya keluar dari kamarku.

"Hei! Jangan menyentuhku, dasar maniak!"

"Berisik, pergi dari sini!"

Ketika adikku enggak lagi di kamar, keadaan menjadi lebih tenang. Yang tadi sungguh menghabiskan energiku. Aku merasa kalau masih banyak yang ingin ditanyakan Ayame, tapi lupakan saja itu dulu. Lagi pula, suasananya juga sudah enggak mendukung. Karena itu dia pun pamit kembali pulang ke rumahnya.


♦♦♦


Esoknya, selagi aku dalam perjalanan menuju ke sekolah seperti biasa, kulihat Ayame sudah menunggu di dekat persimpangan tiga jalan.

Jika dia yang menjemput dari rumahku, keluarga pasti bakal heboh lagi. Aku juga enggak tega membiarkannya memutar jalan untuk sampai ke rumahku. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah enggak melakukan apa-apa selain berangkat sendiri-sendiri. Tapi dia tetap memaksa, hingga akhirnya aku berkata, "Nanti biar aku saja yang jemput,".

Jadi rencananya adalah, kalau dia tetap ingin pergi bareng denganku, maka dia harus menunggu di satu titik yang sudah ditentukan.

Dan sewaktu aku mengutarakan pendapatku itu, dia lalu berkata, "Wah, sama seperti 'game' yang kumainkan kemarin, dong!". Sebuah reaksi yang mirip seperti di dalam 'anime' edukasi. Jujur, sebenarnya aku enggak menginginkan ini terjadi, tapi ... begitulah.

"Pagi, Aramiya. Aku sudah memainkan 'Fate Arterial' dan ...."

Dia langsung memulai percakapan dengan pembahasan 'eroge'. Kurasa dia sudah terlalu dalam masuk ke dunia itu, tapi semua itu karena aku. Karena itu aku enggak boleh mengeluhkannya.

"Oh, kalau untuk tokoh itu, kamu harus mulai dari ...."

Kami berbincang seputar 'game' khusus dewasa ini sepanjang perjalanan menuju ke sekolah.

"Wah, wah."

Kudengar suara yang mirip seperti anak-anak itu dari sebelahku. Aku tahu siapa pemilik suara itu. Aku menoleh dan melihat Hatsushiba berlari menghampiri kami.

"Pagi~. Tampaknya kalian makin akrab saja, ya?"

"Aku enggak mau komentar."

Semua yang diucapkannya mengandung umpan untuk menggoda orang lain. Jadi sebaiknya aku enggak perlu menghiraukannya. Namun ketika Hatsushiba mendengar jawabanku tadi, dia mendadak murung. Aku enggak tahu kenapa dia sampai begitu, yang pasti, aku enggak menyangkanya.

"Sayang sekali kalau begitu ...."

Ucapnya sebelum masuk melewati gerbang sekolah. Ada apa dengan ucapannya tadi?

"Aramiya, apa gosip tentang kamu dan Hatsushiba itu ternyata benar ...?"

"Ke-kenapa kamu memandangiku begitu?"

Ayame pun kini tampak menakutkan.


♦♦♦


Seusai pelajaran olah raga, kami semua kembali ke kelas. Aku menuju kursiku sambil menggenggam 'benda itu' dan bersiap untuk pelajaran selanjutnya. Kukeluarkan semua buku dari dalam tas ke atas meja dan mengambil buku matematika, kemudian kumasukkan kembali sisanya ke dalam tasku. Kutenangkan diriku sebelum kembali menggenggam 'benda itu'.

Aku bisa merasakan wujud 'benda itu' di tangan ini, tapi aku enggak menyangka kalau benda tersebut ternyata 'benda itu'.

Tubuhku mulai berkeringat, jantungku mulai berdebar-debar, tanganku mulai gemetaran. Seluruh sistem otomatis diriku enggak berfungsi sebagaimana mestinya. Cepat-cepat kumasukkan 'benda itu' ke dalam saku kemejaku lalu perlahan berdiri.

"Eh? Kamu mau ke mana?"

Tozaki bertanya padaku.

"Toilet."

"Kenapa enggak pas sekalian balik ke kelas saja tadi?"

"Sudah, ah. Aku sudah kebelet."

"Astaga, kayak anak-anak saja. Payah."

Kubiarkan Tozaki bicara sesukanya lalu pergi dari kelas.

Aku menuju ke toilet terdekat lalu memeriksa keberadaan orang lain di sekitar kemudian masuk ke dalam.

"Cih ...."

Detak jantungku masih melaju kencang, dan keringat mengucur deras di sekujur tubuhku.

Kuambil 'benda itu' dari dalam saku lalu memandanginya. 'Benda itu' adalah amplop berwarna merah muda dengan dihiasi pita di atasnya. Kuperhatikan lagi, kupandangi lagi, itu pasti surat cinta.

... oke. Kita lihat, apa ini cuma ulah jahil seseorang saja.

Sesuatu yang sudah berdebu di dalam hatiku ini mulai mengembang, tapi .... Cukup, jangan pakai hati.

Sambil gemetaran, kuputuskan untuk membuka amplop itu.

Di dalamnya berisi selembar kertas berukuran kecil dengan gambar animasi hewan yang menggemaskan. Kertas yang ditulis tangan itu berisi pesan.

"<Ada yang mau Yuuka bicarakan denganmu. Nanti sepulang sekolah, datang, ya, ke ruang kosong di lantai tiga gedung ketiga. Yuuka tunggu, lo.>"

Isi surat ini memang terasa seperti sebuah surat cinta. Hal yang diikuti petunjuk semacam ini pun belum pernah kujumpai bahkan selama aku bermain 'game'.

Namun masalahnya adalah ... nama pengirimnya.

"<— Hatsushiba Yuuka>"

"... eh, apa? Bercanda, nih?"


♦♦♦


Ada apa dengan diriku ini?

Sepulang sekolah, Ayame mengajakku untuk pulang bareng, namun kutolak dengan alasan kalau ada urusan yang mau kuselesaikan dulu dan menyuruhnya pulang duluan.

Sambil harap-harap cemas, aku pun menunggu di perpustakaan. Tapi tetap saja aku enggak bisa duduk dengan tenang.

Padahal ini hari Jumat yang setelahnya adalah libur akhir pekan, dan saat itu aku bisa sepuasnya bermain 'game', namun sayangnya, dia malah membuat janji bertemu di sekolah. Tunggu! Bagaimana jika ini mungkin adalah jebakan.

"Wah! Kena juga orang bodoh satu ini!" "Beloon banget!" "Wuahahahahahahahaha!"

Ada keyakinan kalau firasatku itu mungkin tepat. Tapi kalau yang dikatakan di surat ini ternyata sungguhan ...., maka aku harus menemuinya.

Soalnya di situ tertulis, "<Yuuka tunggu, lo.>".

....

"<Yuuka tunggu, lo.>"

Kata-kata itu terus terngiang di otakku seperti sebuah kutukan. Aku membayangkan kalau ini seperti sebuah janjian untuk menyatakan cinta, namun sayangnya, di situ tertulis kalau dia cuma ingin bicara padaku. Hatsushiba yang menyatakan cinta padaku adalah hal yang mustahil. Dari awal itu sudah merupakan hal yang enggak mungkin terjadi. Tapi dari satu dibanding sejuta kemungkinan, bisa saja dia menyatakan cintanya padaku. Kalaupun itu benar, maka aku harus menolaknya. Tapi aku harus menggunakan kata-kata yang seperti apa?

"Yah, aku ... hanya tertarik gadis 2D saja."

Itu mungkin berhasil pada Ayame yang enggak pernah bergaul dengan sesamanya, tapi jika pada Hatsushiba ..., pengakuanku tadi bisa tersebar ke seluruh kelas bahkan ke seluruh sekolah. Mereka berdua berada di jangkauan yang sangat berbeda.

"Cih."

Aku terus saja berpikir dan berpikir hingga waktu yang dijanjikan itu tiba. Kusiapkan diriku ini sebelum berjalan menuju ke tempat kami bakal bertemu.

Kuiintip keadaan dalam ruangan, dan dia sudah menunggu di sana sambil duduk di atas meja, bukannya kursi. Ruangan itu bermandikan sinar mentari senja musim semi yang terasa begitu cocok dengan suasana saat ini.

Jika ini di dalam 'game', pasti ini adalah sebuah adegan penting layaknya klip video garapan Makoto Shinkai.

"Wah, datang juga~."

Dia menyapa seperti biasanya.

"Yuuka sempat berpikir kalau kamu tidak datang, Yuuka harus bagaimana?"

"Aku malah berpikir kalau jangan-jangan ini jebakan."

"Hahaha! Kejam banget! Padahal yang mau Yuuka katakan ini adalah hal yang sangat penting."

Saat aku mendengar cara dan nada bicaranya itu, bisa kurasakan ada sesuatu dalam perutku yang hendak keluar sebelum dia kembali lanjut berbicara.

"Yuuka suka ...."

Dia berkata seperti sedang kerasukan sesuatu, itu tampak seperti main-main.

"Yuuka suka kamu, Aramiya."

Hah?! Yang disebutnya tadi adalah namaku, dan entah kenapa, aku langsung merasa seperti terjerat olehnya.

Mungkin bakal lebih baik jika dia berkata, 'Yuuka sebenarnya menyukai Tozaki, bagaimana ini?'.

Suaranya yang manis hampir membuatku salah mengira kalau yang bicara itu adalah tokoh wanita dalam 'game'. Kini aku mengerti alasan kenapa Tozaki begitu ingin merekam suaranya.

"... bukannya ini terlalu tiba-tiba?"

"Memang selalu tiba-tiba. Yuuka juga sering tiba-tiba mendapat pernyataan cinta dari orang lain, kok."

"Jangan samakan aku dengan orang sepertimu."

Dia pun terkikik.

"Tahu, enggak? Yuuka itu sudah lama menyukaimu."

"... enggak, aku enggak tahu."

Argh. Mungkin saja ada beberapa kamera di ruangan ini. Biarpun begitu ..., aku harus memberinya sebuah jawaban.

"Maaf, tapi a—"

"Tunggu!"

Tepat di saat aku hampir menolaknya, dia langsung memotong.

Dia sedikit mengalihkan wajahnya, pipinya pun memerah lalu berkata.

"Yuuka tahu ... kalau kamu suka dengan 'game' semacam itu."

Saat mendengarnya, bicaraku langsung tergagap.

"Tung-tunggu, tunggu, tunggu! A-apa maksudmu?! A-aku memang suka menonton 'anime' dan main 'game' tapi soal—"

"Yuuka tahu dari Tozaki."

Tooooooooo-zaaaaaaaaaa-kiiiiiiiii!

Anak itu memang burung beo! Apa mulutnya itu sudah sebegitu embernya?! Semoga dia masuk neraka jahanam!

"Yuuka tidak menyangka juga, sih. Tapi karena Yuuka seorang pengisi suara, jadi senang rasanya kalau kamu menyukai suara Yuuka."

"So ... soal tadi ..., kamu enggak cerita ... ke siapa-siapa, 'kan?"

"Yuuka tidak cerita ke siapa-siapa, kok. Ini tetap Yuuka simpan dalam hati."

Dia lalu mengepalkan kedua tangannya di depan dada seolah itu hal yang sangat berharga.

"A-apa sudah lama kamu tahu soal ini?"

Gawat, ini gawat! Aku jadi bingung. Kini rasanya seolah aku yang membenarkan sendiri kenyataan soal diriku yang menyenangi hal tersebut! Diawali dengan pernyataan cinta seperti ini, 'eroge' zaman sekarang enggak pernah menceritakan hal semacam ini. Makanya aku enggak mengerti cara menanganinya.

"Kira-kira sekitar setahun yang lalu. Yuuka mulai mengikutimu sejak saat itu."

"A-aku baru tahu."

"Hmm, kamu memang bodoh."

Enggak pernah kusangka bakal mendengar suara tokoh wanita dalam 'eroge' yang mengatai aku bodoh ....

Enggak, hentikan pikiran itu! Ini masih terasa aneh! Aku enggak tahu kenapa jadi begini! Untuk kasus Ayame, masih bisa dijelaskan kalau dia menyukaiku karena aku menyelamatkan dirinya. Tapi untuk kasus Hatsushiba, sama sekali enggak ada alasan maupun kejadian khusus yang melibatkan diriku dengan dirinya. Meski yang namanya masa depan itu kadang enggak bisa diprediksi, tapi yang ini benar-benar keterlaluan. Jika di dalam 'game', semua orang pasti bakal marah kalau plot sebuah serial kesukaannya, ternyata diobrak-abrik. Aku sendiri pun bakal terbawa emosi sampai di kehidupan nyata.

"Tapi aku kok bisa enggak sadar, ya ...."

"Hmm ..., Yuuka dari dulu pandai berakting. Yuuka juga takut kalau nanti kamu tolak. Jadi Yuuka merahasiakannya dan berharap kamu sendiri yang akan datang menyatakan cinta .... Yuuka memang pengecut. Hehehe."

Kami memang berada dalam satu kelas di tahun kemarin, biarpun begitu, apa kami pernah sekali pun saling berbicara? Apa yang sudah kuperbuat hingga dia menyukaiku? Aku pun enggak ingat jika pernah melakukan hal kecil seperti mengoper kertas ujian padanya.

"Tapi~"

Dia kemudian turun dari meja lalu berjalan mendekatiku. Aku pun tanpa sadar berjalan mundur ke belakang hingga akhirnya terpojok. Aura dominasi ini begitu menjengkelkan!

"Saat Yuuka melihat Aramiya bersama Ayame, keberanian Yuuka sedikit muncul. Apalagi setelah pagi tadi melihat kalian berjalan seperti sebuah pasangan."

"Uh, sudah kubilang kalau enggak ada apa-apa di antara aku dan Ayame."

"Lalu kenapa kamu tetap bersama dia?"

Setelah kupikir lagi, memang iya, kenapa aku mau saja terus bersama dia? Apa karena tugas dari Kiriko-senpai agar aku mengubah dirinya itu? Bukan. Itu karena dia yang selalu menempel padaku, dan ingin menjadi gadis yang aku impikan. Setelahnya, dia pun jadi menyenangi 'eroge', karena itu aku membantunya—

"Hei."

Hatsushiba mencolek wajahku dan membuyarkan pemikiranku.

Tercium aroma wangi jeruk dari rambutnya. Aroma yang enggak ada di dunia 2D ini mengacaukan pikiranku bagaikan butiran-butiran jagung yang sedang dibuat menjadi 'pop corn'.

"Kalau memang tidak ada apa-apa antara kamu dengan Ayame, kenapa tidak pacaran dengan Yuuka saja?"

"Eng ... Eng-enggak. Aku enggak tertarik dengan gadis 3D ...."

Semampunya, kufokuskan seluruh kesadaranku yang tersisa untuk menolaknya. Aku tersudut hingga hampir saja mengatakan yang enggak ingin kukatakan. Jika dia membeberkan soal hobiku ke seluruh kelas, reputasi yang selama ini kujaga bakal hancur. Cuma karena menolaknya saja, seluruh kehidupan sekolahku bakal terguncang. Tapi untukku yang memacari gadis sungguhan ..., aku benar-benar enggak bisa.

Namun ternyata ... Hatsushiba melakukan sesuatu yang enggak kuduga. Dia lalu tersenyum dan berkata.

"Yuuka sudah duga kalau kamu akan bilang begitu. Tapi asal kamu tahu~, ada yang tidak bisa dilakukan oleh gadis 2D, lo~"

"Me-memangnya kenapa? Lagi pula berpacaran dengan 'otaku' sepertiku ini enggak ada bagusnya buatmu."

"Yah~, mungkin akan lebih mudah kalau cinta itu bisa dijelaskan dengan kata-kata. Karena itu Yuuka akan mengajarimu hal-hal seru yang bisa dilakukan gadis 3D selagi kamu mengajari Yuuka tentang 'game' itu~."

Sumpah, aku benar-benar enggak tahu cara keluar dari situasi macam begini.

"Jangan-jangan~ kamu tipe yang hanya suka dengan perawan, ya?"

"Hah?!"

Chuuko Vol 1 p137.jpg

"Yuuka sudah sering sering mengisi suara berbagai tokoh. Jadi Yuuka tahu bermacam tipe orang. Tapi jangan khawatir, Yuuka masih perawan, kok. Tidak seperti Ayame yang digosipkan itu."

"O-oi, tunggu, tunggu, tunggu!"

Apa pekerjaannya bisa membuat dirinya jadi seperti itu?! Dia sampai tahu hal sedetail itu.

Aku enggak menyangka dia tahu kalau aku adalah tipe yang menyukai perawan.

"Kumohon, hentikan saja!"

Setelah aku memohon dengan sangat, dia pun berbalik.

"Maaf, tapi Yuuka tidak akan menyerah."

Dia lalu menoleh dan berkedip padaku.

"Dadah, Aramiya. Setelah ini Yuuka akan lebih agresif lagi, lo. Karena itu, bersiaplah!"

Itulah yang dia ucapkan sebelum keluar dari ruangan dengan wajah berseri.

Bab 3 - Keyakinan Terhadap 2D Memang Menyakitkan[edit]

"Hatsushiba menyatakan cintanya padamu ...?"

Jari-jemari Tozaki mendadak kaku hingga kentang goreng yang dipegangnya terjatuh.

"Maksud perkataanmu tadi itu apa, Aramiya?!"

Tozaki berteriak sampai air liurnya muncrat ke mana-mana mengenai meja yang di atasnya sudah tersaji paket 'burger' untuk kami berdua. Ya ampun, enggak hanya jorok, air liurnya itu sampai mengganggu pengunjung lain.

"Aku juga mau tanya soal itu, makanya aku memintamu datang ke sini."

Sekitar sejam yang lalu, Hatsushiba tiba-tiba menyatakan cintanya padaku. Itu membuatku berdiri terpaku untuk beberapa sesaat hingga kesadaranku kembali dan segera menelepon Tozaki untuk menanyakan beberapa hal padanya. Karenanya, malam ini kami berdua ada di sini.

"Tozaki, menurutmu apa yang bisa membuat Hatsushiba jadi jatuh cinta padaku?"

"... hmm, apa, ya? Tampangmu ..., penampilanmu biasa saja. Kepribadianmu juga enggak istimewa. Setiap kali aku mengobrol denganmu rasanya juga enggak nyaman-nyaman amat."

Dia memang blakblakan kalau bicara, tapi yang dikatakannya tadi benar ....

Seperti itulah diriku, makanya aku enggak begitu merasa sakit hati. Aku bukanlah seorang protagonis dalam sebuah 'eroge'.

"Aku ini sadar diri, dilihat dari mana pun, aku memang enggak cocok sama Hatsushiba. Makanya kupikir kalau itu mustahil."

"Ini bukan karena kamu sedang berhalusinasi, 'kan?"

"Kalaupun aku sedang berhalusinasi, pasti sedari tadi aku enggak merasa sebingung ini."

Aku masih menyimpan amplop itu. Amplop yang diselipkan Hatsushiba di dalam lokerku.

Setiap kali menyentuhnya, diriku bakal teringat kalau hal ini nyata adanya. Itu sebabnya aku enggak bisa kabur dari kenyataan ini.

"Lagi pula, kalau pikiranku sedang terganggu berarti yang kulihat harusnya gadis 2D. Tapi kenapa yang ada malah Hatsushiba?"

"Yah, dilihat dari hobimu, harusnya sih begitu."

"Hobimu itu juga sama denganku."

Biar bagaimanapun, aku dan Tozaki sama-sama memiliki hobi layaknya seorang 'otaku'.

Terutama seputar 'eroge'. Andai saja cuma kami berdua di ruangan ini, kami pasti sudah membahasnya.

"Sewaktu kita kelas satu dulu, kamu itu sekelas denganku, 'kan? Apa pernah ada kejadian enggak sengaja yang membuat seorang gadis bisa jadi suka padaku?"

"Kamu lagi mimpi, ya? Ya enggak ada, lah!"

"Aku enggak lagi mimpi! Aku cuma masih gagal paham kenapa Hatsushiba bisa suka dengan orang sepertiku. Itu sebabnya sekarang aku menanyakan hal ini padamu!"

"Kampret! Enggak mungkin karena kamu seorang 'otaku', 'kan? Pasti ada hal lain. Sudah, mending kamu ambil bom terus ledakkan diri sana!"

"Kamu sendiri juga sering mengajakku membahas soal hobimu! Kalau saja aku bisa bertukar tempat, pasti dari tadi sudah kulakukan!"

"... sifat 'otaku'-mu memang sudah mendarah daging. Jika itu aku, meski Ayame yang sekarang mungkin memikirkan hal yang enggak kita ketahui, tapi kalau soal Hatsushiba yang menyatakan cintanya padaku, jantungku pasti langsung berdebar enggak keruan."

Tozaki sebenarnya enggak menggilai gadis perawan dan memuja gadis 2D seperti diriku.

"Aku juga enggak begitu tahu bagaimana cara orang menentukan kriterianya atau ketika melihat seseorang dan itu dianggap sebagai cinta pandangan pertama."

"Memangnya cinta pandangan pertama itu benar ada?"

"Eh? Bahkan dari dulu sudah banyak kok, lagu yang liriknya berisi, 'Ketika pertama kali melihatmu, aku langsung jatuh hati,' atau yang semacam itu."

"Lirik seperti itu benar-benar ada?"

"Karena memang ada, makanya orang-orang ikut menyanyikannya dan menikmati lagu-lagu itu."

Yah, hal itu bisa langsung jelas terlihat.

Tapi secara pribadi, aku masih yakin kalau ada sesuatu di balik pernyataan cinta Hatsushiba itu.

Di satu sisi, aku berpikir kalau dia adalah gadis lugu yang enggak punya banyak pengalaman soal pacaran, tapi di sisi lain, dia adalah seorang pengisi suara, yang mana merupakan hal mudah baginya untuk bersilat lidah.

"Jadi kamu meneleponku cuma untuk mendengarkan celotehanmu tadi? Mengajakku kemari cuma untuk mendengarkan perbedaan perlakuan yang sudah kamu dapatkan?"

"Kalau memang cuma itu, berarti aku ini teman yang buruk, dong," inti permasalahan sebenarnya adalah ini, "Apa kamu ada cerita soal hobiku pada Hatsushiba?"

Saat aku menanyakannya, Tozaki langsung terdiam membatu.

Dahinya sudah penuh dengan keringat, pandangan matanya pun mengarah ke sana kemari. Sangat mudah untuk menangkap basah dirinya.

"Ka-ka-kamu bi-bicara apa, sih?"

"Kalau bicara itu yang jelas."

Kulemparkan sebuah candaan padanya. Tozaki lalu berdesah kemudian menampakkan wajah seriusnya.

"Aku sudah berkata jujur. Memangnya apa lagi?!"

"Kok kamu yang marah?!"

"... oke, oke, aku yang salah. Saat itu aku benar-benar enggak berdaya."

Dia memelaskan wajahnya seolah menyesali kesalahannya.

"'Saat itu', apa yang terjadi?"

"Kejadiannya sewaktu aku satu pelajaran dengan Hatsushiba, ketika aku membawa bungkusan kertas berisi 'eroge' ke sekolah tempo hari. Celakanya, bungkusan itu jatuh saat aku berjalan di lorong, dan DVD di dalamnya berhamburan keluar."

Aku sudah bertemu seorang maniak di sini. Harusnya aku merekam dirinya saat itu.

"Ketika aku berpikir bahwa betapa beruntungnya aku karena enggak ada yang melihat hal tersebut, ternyata ada seseorang di sana yang sudah melihatnya dari awal."

"Hatsushiba?"

"Tepat di saat itu, aku merasa harus mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan SMA-ku yang damai ..., sebuah lagu tiba-tiba terdengar, lagu dari Kazumasa Oda yang dimainkan dari bagian refrein."

Aku kurang paham maksud dari bagian terakhir tadi. Yang pasti, kehidupan SMA Tozaki masih belum berakhir.

"Asal kamu tahu, kupikir aku bakal diejek dengan betapa hinanya diriku atau disumpahi agar aku mati saja. Yah, semacam itu. Tapi enggak kusangka dia malah berkata, 'Oh, Tozaki suka yang begini juga, toh?'."

"Begitu."

"Dia juga bertanya padaku, 'Apa ada anak lain yang memainkan ini juga? Aramiya, yang sering kamu ajak bicara, memainkan ini juga, 'kan?'"

"Aku paham sekarang."

"Karena itu aku mengangguk dan menjawab, 'Benar, Mbak.'"

"Kamu wajib minta maaf padaku."

Lalu kumakan dua potong 'nugget' ayam yang ada di atas piring Tozaki. Dia enggak berkomentar apa-apa seperti perkiraanku.

"Tapi dari yang dia bilang padaku, dia memang sudah menyukaiku sejak kelas satu."

Kurasa tanpa bertanya pun, Hatsushiba juga sudah tahu lebih banyak.

Tapi karena yang memberitahukan hal itu adalah Tozaki, jadinya, ya seperti itu ....

"Kampret! Orang sepertimu harusnya meledak saja bersama Hatsushiba—"

"Orang yang harusnya mati itu kamu! Padahal kamu sudah berjanji enggak bakal membeberkan hobi kita pada orang lain!"

"Hei, aku sudah mengakui salahku! Ayolah, kamu bisa ambil lagi 'nugget'-ku! Lagi pula, hobi kita enggak sampai terdengar oleh teman-teman sekelas kita yang lain, 'kan? Soalnya Hatsushiba itu seorang malaikat, sih!"

"Memangnya aku peduli?"

Kuterima 'nugget' itu sembari berpikir kalau sebenarnya Hatsushiba itu cukup keras kepala sewaktu di sekolah.

"Aku minta maaf ...."

Oke, kita sudahi hal itu sampai di sini saja.

"Kalau begitu, sebagai permintaan maaf, boleh aku bertanya soal Ayame padamu?"

"Silakan, kamu boleh menanyakan apa saja padaku."

Wah, anak ini langsung besar kepala. Tampak dia merasa di atas angin.

"Tozaki, kudengar kalau kamu dan Ayame itu satu SD. Apa kamu juga satu SMP dengannya?"

"Ya, aku satu SMP dengannya."

Rumahku dengan Ayame ternyata lebih dekat dari yang kukira, biarpun begitu, kami berada di distrik yang berbeda.

Kami berada di rayon sekolah yang berbeda sewaktu SD dan SMP. Di antara rumahku dan rumah Ayame terbentang sehamparan jalan raya yang memisahkan kedua distrik.

"Lalu, apa Ayame dari dulu sudah sekasar itu? Dan apa sudah dari dulu kabar soal dirinya yang melakukan praktik jual diri itu berkembang?"

"Yah, dia memang kasar dan suka memukuli, terutama pada orang-orang yang menyebarkan gosip jual dirinya itu, yang tanpa sadar gosip itu jadi menyebar ke mana-mana."

"Soal memukuli tadi, apa memang Ayame duluan yang memulai atau karena ada yang cari gara-gara? Oh, iya, terus setelah kejadian itu, apa mereka pernah diberi hukuman, yah, semacam skors dari sekolah, begitu?"

"Tanyanya satu-satu, dong. Aku kurang tahu pastinya, tapi Ayame memang pernah diskors. Lalu setelah masa hukumannya itu berakhir, dia pun kembali bersekolah seperti biasanya, dan pihak sekolah sendiri tampak seolah sudah melupakan ulahnya. Nah, aku baru ingat, karena hal tersebut, sepertinya beredar gosip kalau dia juga melakukan transaksi jual dirinya itu dengan guru di sekolah."

Gosipnya sampai berkembang seperti itu?

"Memangnya ada yang pernah melihat langsung dia melakukan transaksi jual dirinya itu?"

"Aku sudah sering dengar dari teman-temanku kalau mereka pernah melihat Ayame jalan-jalan bersama pria separuh baya di sekitar pusat perbelanjaan."

Bisa saja itu ayahnya Ayame, 'kan?

Walau aku menceritakan hal tersebut pada Tozaki, dia juga enggak akan paham, jadi lebih baik aku lanjut mendengarkan.

"Terlepas dari itu, gosip yang beredar makin berkembang seperti, tarif sekali pakainya sejumlah tiga ribu yen atau ada teman dari temannya memakai jasa Ayame untuk melepas keperjakaannya atau ada juga yang sampai meninggal di ranjang gara-gara bayarannya kurang dan semacamnya."

Cuma mendengarkannya saja cukup membuatku merinding. Kalau dipikir lagi, ada beberapa hal yang enggak masuk akal dari cerita tadi.

"Dan kalian semua percaya gosip itu?"

"Soalnya kabar mengenai Ayame yang bersama pria separuh baya itu terus berlanjut. Ayame sendiri enggak merasa risih saat melakukan hal itu. Ditambah, dia enggak pernah sekali pun mengelak. Yang dia lakukan hanya duduk dan membiarkan orang bicara apa."

Ayame enggak mengelak sedikit pun?

Apa karena gosip itu benar atau karena dia merasa enggak ada gunanya mendebatkan itu?

Namun semua gosip yang sudah kepalang basah menyebar itu enggak bakal bisa diapa-apakan lagi.

"Setelah mendengar ini, Aramiya, pasti kamu sudah enggak lagi merasa tertarik sama Ayame, 'kan?"

"... aku jadi ragu."

"Ragu? Ragu soal apa?"

"Meski gadis itu bicaranya kasar dan gampang tersulut emosi, tapi nyatanya, gosip tersebut enggak sesuai dengan apa yang kuketahui soal dirinya sekarang."

"Soalnya situasi sekarang berbeda sewaktu masih SMP dulu. Ditambah, dia kini menyukaimu. Mungkin kalau dulunya dia suka sama seseorang, perilakunya juga beru—"

Terlihat jelas kalau Tozaki tiba-tiba menghentikan perkataannya.

"Apa?"

"Ah, enggak, bukan apa-apa."

"Kalau memang bukan apa-apa, ya ceritakan saja."

"Janji, kalau kuceritakan, kamu enggak bakal mengamuk, ya."

"Saat ini pun sebenarnya aku bisa mengamuk kapan saja aku mau, jadi enggak usah khawatir."

Tozaki masih ragu hingga akhirnya dia mau bercerita padaku.

"Dulu dia pernah punya pacar."

"Pa-pacar? Gadis itu?"

"Iya, dulu sewaktu aku baru masuk SMP. Seorang lelaki bertubuh besar dengan suara yang berat, berkoar, 'Sekarang Ayame adalah pacarku. Siapa yang berani macam-macam, lawan aku dulu!'. Seingatku dia orang yang benar-benar menjengkelkan."

Jangan-jangan yang dimaksud itu pria yang kutemui tempo hari. Tubuhnya besar dan suaranya juga berat.

"Biarpun begitu, Ayame tetap enggak berubah."

Ayame pernah punya pacar? Mungkin inilah yang hampir mau diceritakan Hatsushiba waktu itu.

'Betul, tapi selang tidak berapa lama dia masuk ke SMP—'

Pada akhirnya, aku tetap enggak paham maksudnya.

"... terus kenapa kamu mengira aku bakal mengamuk setelah mendengar cerita itu?"

"Eh, kamu suka berpikir yang jorok-jorok, 'kan? Kalau misalnya ada yang menceritakan soal mantannya, terus terpikir apa saja yang sudah pernah dilakukannya, orang itu pasti bakal marah, 'kan?"

"Oke, walau sebenarnya aku enggak pernah membayangkan yang aneh-aneh pada dirinya."

Untuk sesaat, kenyataan itu tiba-tiba terkuak di depanku, tapi hal tersebut harus aku kesampingkan dulu.

"Pertanyaan terakhir. Apa sedari SMP dulu, Ayame selalu menyendiri?"

"Hmm, itu betul. Jarang sekali kulihat dia bergaul dengan yang lain."

"Tapi dia akhirnya punya pacar, 'kan?"

"Itu beda cerita lagi. Aku memang enggak begitu tahu soal itu, tapi kurasa dia akhirnya juga putus dengannya."

"Kamu tahu itu dari mana?"

"Soalnya lelaki itu enggak sama-sama Ayame lagi, dan kabar itu juga cepat berlalu."

"Mereka putus pasti ada penyebabnya, 'kan?"

"Lelaki itu kalau berbicara seperti orang kesetanan. Dia selalu membanggakan hal-hal semacam mencuri di toko ataupun menindas anak-anak. Sewaktu di SMP-nya, konon kalau ada yang menegurnya, maka dia akan mengamuk dan menghajar si penegur itu. Pokoknya susah, deh. Untunglah kita enggak satu SMA dengannya."

"Cuma mendengarkannya saja sudah membuatku enggak mau mendekatinya ...."

"Kudengar orang tuanya itu pengusaha ternama atau semacamnya. Dia tetap berkata kalau dia bisa dengan mudah keluar dari sel tahanan jika tertangkap melakukan tindakan kriminal. Tapi sebagian orang tahu kalau dia cuma membual."

"Apa ada buktinya kalau dia membual?"

"sewaktu dia pamer mau mencuri di sebuah toko, ada seseorang yang berani mengikutinya, lalu dari situ orang tersebut tahu kalau dia sebenarnya membeli barang di toko itu dan bukannya mencuri. Meski begitu, dia tetap saja pamer akan hal tersebut."

"Astaga, ternyata dia pengecut juga."

Kenapa dia harus berbohong begitu? Apa dia enggak punya otak? Astaga, aku lupa kalau dia memang enggak punya.

"Ketika kudengar kabar kalau dia berpacaran dengan Ayame, enggak ada satu pun yang percaya kalau dia cuma membual. Pada saat itu juga aku berpikir bahwa sang naga sudah berjabat tangan dengan sang harimau. Kenyataannya, kabar soal dirinya yang hebat dalam berkelahi ternyata bukan sekadar isapan jempol. Hal itu membuatnya semakin ditakuti."

Jujur, aku enggak begitu ingin tahu informasi soal dirinya yang berpacaran dengan Ayame .... Sungguh .... Atau kurasa begitu.

Lebih baik cerita di balik alasan Hatsushiba menyatakan cinta padaku tadi kukesampingkan dulu. Meski aku ingin tahu apa yang membuatnya suka padaku atau apa latar belakang dia melakukan itu. Informasi yang Tozaki ceritakan ini belum bisa ditarik kesimpulannya.

Persoalan terbesarnya adalah gosip tentang Ayame yang sudah menyebar sejak dia SMP. Menurutku, jika gosip tersebut lebih ditelaah lagi, maka bisa diketahui kalau gosip itu enggak bisa dipercaya.

"Kamu pernah bilang kalau julukan 'bekas orang' yang ditujukan padanya sudah ada sejak dia SD, 'kan? Apa itu juga ada hubungannya dengan pekerjaan jual dirinya itu?

"Oh, kalau soal itu aku enggak tahu. Ceritanya sudah lama sekali, makanya aku enggak begitu ingat. Saat itu saja aku masih belum paham apa arti jual diri."

Betul. Bakal mengerikan kalau sampai ada anak SD yang tahu arti dari kata jual diri itu.

"Oh, iya. Sebelumnya kamu juga pernah bilang kalau kamu mendengar kabar bahwa aku sudah memerkosa Ayame. Apa kamu tahu kalau sebenarnya saat itu Ayame sedang mencegah tindak pemalakan?"

Saat mengatakannya, wajah Tozaki tampak seperti burung merpati yang kepalanya habis ditembak. Itu berarti dia enggak pernah menyangka kalau kejadiannya ternyata seperti itu.


♦♦♦


Kini sudah larut malam, tapi pikiranku masih saja belum tenang. Aku masih syok terhadap kenyataan bahwa Hatsushiba menyatakan cinta padaku. Ini membuatku enggak bisa tidur.

Aku bahkan enggak tahu harus berbuat apa.

Aku pun tahu kalau aku enggak bisa mengandalkan Tozaki. Mencari solusi di internet juga enggak ada gunanya. Semakin aku mengira-ngira, semakin enggak ada manfaatnya. Kalau sudah begini, aku harus meminta saran dari ... sudut pandang perempuan.

Karena aku enggak bisa menceritakan soal ini pada Ayame, berarti aku harus mencari seseorang yang sama sekali enggak ada hubungannya dengan Hatsushiba .... Dengan kata lain ....

"Jangan masuk ke kamarku, Jejaka Letoi! Kutularkan flu burung, baru tahu rasa!"

"Gadis yang menjadikan flu burung sebagai candaan itu juga berdosa, bodoh!"

Aku cuma punya seorang adik perempuan di sini. Sial, aku enggak menyangka kalau punya sedikit teman itu bakal berdampak seperti ini.

Kami lalu pindah ke ruang tengah, di mana enggak ada orang tua kami di sana. Kami saling bertukar pandang di antara meja.

"Ada apa, kamu mau konsultasi soal masalah hidupmu? Kalau kamu memberiku lembaran bergambar Yukichi*, aku bersedia mendengarkan."

(*Uang 10.000 yen memuat gambar tokoh Yukichi Fukuzawa)

"Yang mau kuceritakan ini juga bukan masalah besar, lagi pula, kalau disuruh memberimu lembaran bergambar Yukichi, aku lebih ikhlas kalau membelikanmu buku 'Mengembangkan Minat Belajar'."

Lalu kuceritakanlah soal yang terjadi termasuk tentang Hatsushiba yang menyatakan cinta padaku dan seperti apa aku menolaknya.

"Kamu itu ya, padahal sendirinya sadar kalau perjaka, tapi sok hebat banget bilang kalau ada gadis yang menyatakan cinta ke kamu! Gila apa?! Mati saja jadi kodok sana!"

"Oi, minta maaf dulu sana sama seluruh perjaka di muka bumi ini! Biarpun perjaka, tapi kalau ke depannya enggak bisa sama perempuan, umat manusia juga bisa punah!"

Mungkin aku enggak begitu banyak membantu. Tapi tetaplah berjuang, wahai rekan-rekan perjakaku!

Namun jika di masa depan nanti para ahli bisa menyediakan para wanita untuk dijadikan keluarga via monitor, aku tetap enggak keberatan.

"Yang kumaksud itu kamu! Dasar bodoh! Jangan samakan dirimu dengan perjaka lain pada umumnya!"

"Memangnya aku ini beda sama perjaka lain apa?!"

"Jelas beda, lah. Itu ibarat beli makanan untuk dibawa pulang dengan beli makanan untuk dimakan di tempat!"

Terus hubungannya apa? Terserahlah, dia yang salah pakai perumpamaan, harusnya dia yang malu.

"Kamu dengar yang kuceritakan tadi, enggak? Kubilang kalau aku mau supaya gadis itu melepaskanku."

"Terong bakar enggak mungkin bisa mendapatkan perempuan. Itu sama saja dengan matahari yang mati kemudian menjadi lubang hitam."

Kenapa aku memilih anak ini untuk jadi teman diskusi, ya? Kalau jadinya kayak begini, mending tadi cari di internet saja.

"Kenapa kamu enggak ke dimensi lain saja sana?! Ini dunia nyata, Jejaka Letoi!"

"Aku tahu! Kalau ini dimensi lain, pasti kamu sudah jadi adik perempuan yang mengagumi kakaknya!"

"Apa?! Ih! Mengagumimu sebagai kakak?! Sepercaya itukah kamu kalau ada adik yang jatuh cinta sama kakaknya?! Biar kamu kasih aku satu miliar yen, tetap kutolak! Sebenarnya masalah ini ada di orang yang menganggap hal itu nyata. Sudah, sana! Sterilkan dirimu dulu sana!"

"Oi, jaga itu mulut! Memangnya aku juga mau sama kamu! Sana, lelang dirimu di forum barang-barang antik sana! Bilang, kalau enggak puas, uang kembali!

"Ah, banyak bacot! Kamu perjaka enggak laku! Hati-hati saja kamu kalau buat Mbak Ayame marah!"

Saat mengatakannya, ekspresi wajah Kiyomi yang tadinya bosan berubah jadi jengkel.

"Saranku, lebih baik kamu ceritakan saja ke dia apa adanya, seperti tadi!"

"Kalau kulakukan itu, aku enggak mungkin lagi bisa sekolah dengan tenang. Apalagi gadis yang satunya itu sudah seperti idola di kelas."

"Enggak peduli siapa orangnya, terlepas dari kamu yang membiarkan gadis itu membuang waktumu, menjalani sekolah tanpa ingin repot itu terlihat enggak jantan."

Jika aku seorang protagonis dalam 'eroge', aku pasti sudah melakukan kata-katanya.

Tapi aku cuma seorang pemeran pembantu, dan bukanlah protagonis dalam cerita ini. Aku ingin menjalani kehidupanku yang tenang layaknya seorang pemeran pembantu.

... sebenarnya kata-katanya tadi itu terdengar masuk akal, atau mungkin aku yang kurang percaya diri.

Intinya, aku enggak mau berkorban apa-apa, entah itu diriku sendiri ataupun hal lain di dalam diriku. Asal pikiranku masih waras, waktu bakal tetap terus berjalan.


♦♦♦


Senin pagi di pekan yang baru pun tiba selepas pernyataan cinta yang dilakukan Hatsushiba tempo hari.

Konsultasiku dengan beberapa orang di akhir pekan kemarin pun enggak menghasilkan apa-apa. Enggak ada kegiatan berguna yang kulakukan untuk mengisi waktu luangku di hari libur kemarin. Bahkan sewaktu memainkan 'eroge', aku tetap enggak bisa berkonsentrasi sama sekali.

... dan di hari ini, kurasa aku harus menghadapi semua yang bakal terjadi, meski pikiranku sendiri kini sudah bercabang ke mana-mana.

"Halo."

Di perjalanan menuju sekolah, kutemui Ayame sedang berdiri menungguku di persimpangan jalan seperti biasanya.

Namun di wajahnya tampak sebuah ekspresi yang penuh kecurigaan.

"... a-ada apa? Kamu terlihat resah begitu."

"Hari Jumat kemarin ..., kamu enggak mau pulang bareng denganku, jadi ..., kupikir kamu membenciku."

Gawat, apa aura 'yandere' yang kurasakan ini berasal dari dirinya?

Enggak mungkin, tipe 'yandere' itu langka di dunia nyata.

Masalah sebenarnya adalah pikiranku kini sedang bercampur aduk antara dunia nyata dengan dimensi lain.

"Kita enggak perlu selalu bersama, dan kita juga enggak harus selalu bertemu, 'kan? Kalau memang aku membencimu, dari dulu aku sudah menyuruhmu untuk berhenti mengikutiku."

"Begitu, ya? Betul juga. Fiuh."

Ekspresi wajah Ayame terlihat lebih tenang. Kenapa rasanya gampang sekali menebak dirinya cuma lewat ekspresi wajah?

... belakangan ini aku mulai lupa kalau Ayame dulunya adalah berandal.

Dan selagi aku berjalan bersamanya sambil memikirkan hal itu, aku merasa kalau ada yang aneh pada jas seragamku.

Saat kuperiksa, ternyata Ayame sedang memegang lengan jasku dengan ujung jari-jarinya.

"...."

Kami berdua mendadak terdiam.

Enggak, sebenarnya aku tahu kalau perlakuan semacam ini berasal dari adegan di dalam 'eroge'.

"A-ada apa? Kamu enggak suka, ya?"

Tatapan matanya tertuju ke arahku .... Ini enggak adil.

Lagi pula jika kutolak, dia bakal kembali menampakkan ekspresi curiganya tadi.

"Sam-sampai dekat sekolah saja, ya ...."

"A-ah, terima kasih ...."

Akhir-akhir ini kurasa aku sudah terlalu membiarkan Ayame.

Enggak, sebenarnya Ayame yang sudah terlalu banyak berubah sehingga dia tampak seperti orang yang sangat berbeda.

Entah apa itu karena 'eroge' yang kusarankan padanya tempo hari punya efek yang sangat besar atau itu karena tekad Ayame yang begitu kuat.

"Eh?"

Kudengar sebuah suara menggemaskan dari belakangku. Tanpa melihat, aku sudah tahu kalau itu suara Hatsushiba.

Dia enggak merasa terganggu meski ada Ayame di sampingku. Hatsushiba lalu mendekatiku ke sisi yang berlawanan dari Ayame.

"Pagi, Aramiya. Pagi, Ayame. Wah, kalian berdua terlihat akrab sekali, ya."

"... se-selamat pa-pagi ..., Hatsushiba."

Aku menjawab sebisaku dengan terbata-bata.

"...."

Namun Ayame tetap hening. Dia hanya sedikit mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dia kini terlihat cemas.

"Kalau begitu, Yuuka ikutan, ah."

Aku benar-benar enggak paham maksud dari kata 'ikutan' yang diucapkannya tadi. Yang pasti, setelah itu dia langsung memegang lengan jasku yang satunya.

Suaranya tetap terdengar menggemaskan tanpa dibuat-buat. Enggak peduli seberapa sering mendengarnya, suaranya tetap terdengar merdu. Mungkin itu sudah pembawaannya sejak lahir.

"Jangan."

"Kenapa? Ayame saja boleh, kok."

"... tapi aku enggak ada bilang boleh, 'kan?"

"Ayolah, kumohon."

Hatsushiba enggak berhenti merengek dengan suara menggemaskannya itu, mirip seperti seekor kucing yang sedang menempel padaku.

"Hei, kamu enggak bisa lihat, ya?! Aramiya itu enggak suka dibegitukan!"

Belum sempat aku menyuruhnya untuk berhenti, Ayame sudah terlebih dulu meninggikan suaranya pada Hatsushiba.

Namun Hatsushiba enggak gentar.

"Ayame, memangnya kamu pacarnya Aramiya?"

"Bu-bukan, sih, tapi ...."

Ayame gelagapan seketika menerima serangan balik dari Hatsushiba.

"Kalau kalian tidak pacaran, kenapa kamu jalan sambil memegang jasnya? Jadi, Yuuka boleh, dong, ikutan memegang jasnya juga."

"... Hatsushiba, kamu sebenarnya mau apa, sih? Dari SD dulu—"

"Yuuka juga sudah menyatakan cinta pada Aramiya. Jadi Yuuka tidak ada bedanya dengan Ayame."

Sela Hatsushiba memotong pertanyaan Ayame.

Ayame terkejut dan menatapku seolah berkata, 'Apa itu benar?!'.

"... yang dikatakannya memang benar, tapi aku menolaknya."

"Lalu ...?!"

"Ayame saja, meski ditolak, tapi masih tetap berkeras mengikuti Aramiya. Yuuka hanya mau ikutan, kenapa tidak boleh?"

Saat Yuuka mengatakannya dengan nada serius, Ayame langsung terdiam.

"... kalau kalian ingin berdebat, lepaskan tanganku dulu."

"Baiklah, Yuuka tidak akan berdebat. Memegang lengan jas jauh lebih menyenangkan."

"Aku juga lebih memilih memegang lengan jas ...."

... kalau begini, rasanya malah enggak ada bedanya dengan terlilit jaring laba-laba.

Kami pun berjalan bersama dengan cara yang aneh itu hingga hampir sampai di depan gerbang sekolah.

Saat aku berhenti berjalan, mereka berdua — yang memegangi lengan jasku — ikut menghentikan langkahnya.

Sebelumnya sudah pernah kukatakan pada Ayame jika kami sudah sampai di sekolah aku harus meninggalkannya untuk masuk ke kelas duluan, soalnya aku bisa malu kalau sampai ada yang melihat kami berangkat bersama. Dia harus bersabar sampai semua orang sudah terbiasa melihat kami berdua.

Biarpun begitu, walau sudah ada pagar sekolah yang melindungi kami, tetap saja ada kemungkinan kalau guru melihat hal ini.

"Sudah, lepaskan."

"Yuuka tidak mau yang duluan melepaskan Aramiya."

Jawab Hatsushiba setelah aku menyuruhnya untuk melepaskanku.

Saat aku menoleh ke Ayame, ekspresi wajahnya menyiratkan hal yang sama seperti Hatsushiba.

"... situ lepas duluan, baru aku mau lepas."

"Lo, kenapa?"

"So-soalnya ..., a-aku yang ..., duluan menyatakan cinta."

"Begitukah? Tapi Yuuka yang lebih dulu suka padanya sejak tahun kemarin."

Tanpa suara, percikan api terasa di hadapan diriku yang berdiri di antara kedua gadis ini.

Meski Ayame berusaha berbicara sesopan mungkin, tapi wajahnya sudah memasuki modus berandal.

Dia benar-benar memancarkan aura menekan pada Hatsushiba. Tatap matanya tajam mengarah pada gadis itu.

Namun ekspresi wajah yang bisa membuat orang terkencing di celana itu enggak berdampak apa-apa terhadap Hatsushiba. Seorang pengisi suara mungkin harus memiliki keberanian seperti ini ketika berada di atas panggung.

Biar bagaimanapun, aku ingin mereka menghentikannya.

Aku sudah enggak tahan lagi .... Bagaimana bisa aku menangani situasi semacam ini?!

Aku enggak pernah mengalami hal semacam ini sewaktu bermain 'eroge'.

"Hei!"

Akhirnya kutemukan kesempatan untuk menghentikan perdebatan mereka dengan cara menarik kedua lenganku.

Kemudian segera kuambil langkah seribu menuju gerbang sekolah.

Yang bisa kulakukan saat ini cuma kabur dari mereka berdua. Itu karena aku adalah 'otaku' yang cuma memainkan 'eroge' biasa, yang enggak perlu berpikir susah-susah ketika menjadi protagonis.


♦♦♦


Entah bagaimana caranya, gosip soal kejadian tadi sudah menyebar di dalam kelas. Soalnya sewaktu aku hendak memasuki ruangan,

"Apa?! Hatsushiba dan Aramiya?!" "Mereka berpegangan tangan sewaktu berangkat tadi?!" "Hatsushiba itu milik kami!" "Anak itu enggak berhak atas Hatsushiba!" "Enggak mungkin! Itu pasti mustahil!" "Aku pasti sedang berhalusinasi!"

"Yuuka bersama Aramiya?!" "Eh? Kok aku bisa tidak tahu?!" "Dia tidak pernah ada cerita, lo." "Apa yang dia suka dari Aramiya, ya?" "Tidak mungkin, ah!"

Bisa kudengar suara-suara itu sewaktu masih di lorong. Mentalku enggak cukup kuat untuk masuk ke kelas tanpa gemetaran begini. Anggap saja aku orang yang payah, dan aku memang seorang pengecut yang bakal ragu menegur mereka yang sudah menyindirku, sehingga membuat mereka merasa di atas angin. Enggak peduli seberapa buruknya diri kita, kita tetap masih bisa mengejek protagonis yang pengecut kapan pun kita mau.

Namun ketika situasi tersebut menimpa diri sendiri, enggak seorang pun bisa mengatasinya.

Silakan cari ke seluruh penjuru negeri, lihat berapa banyak murid SMA yang bisa bertahan di situasi semacam ini.

Sambil mempermasalahkan keluhan yang kubuat sendiri itu, aku pun berjalan menjauhi kelas menuju anak tangga yang sepi.

"Fiuh ...."

Gadis itu memang tipe orang yang justru senang jika dijadikan bahan gosip banyak orang.

Saat menyangkut Ayame, gosip yang beredar enggak sebegitu hebohnya, tapi sewaktu menyangkut Hatsushiba, semua seakan enggak terima.

"... eh?"

Sebenarnya ini bukanlah hal yang aneh. Bisa kukatakan kalau hal demikian wajar sampai terjadi.

Tapi masalahnya adalah aku bergandengan tangan, eh, bukan, aku berjalan bersama Ayame dan Hatsushiba, di mana aku diapit di tengahnya.

Bisa dibilang, kondisi yang kualami saat itu adalah aku yang dikelilingi gadis-gadis. Kalau begitu, yang harusnya jadi pembicaraan adalah soal kami bertiga. Tapi dari yang kudengar tadi, enggak ada satu pun yang menyinggung Ayame.

"Lagi-lagi ...."

Mungkin saja ini cuma kebetulan, atau mungkin saja orang-orang sudah bosan dengan gosip seputar Ayame. Lagi pula, status Ayame dengan Hatsushiba di kelas itu berbeda.

Atau mungkin saja enggak ada yang berani membicarakan Ayame karena takut berurusan dengannya.

Di sisi lain, saat menyangkut Hatsushiba, orang-orang enggak peduli mau seheboh apa gosip yang beredar, mereka tetap membicarakannya.

Apa pun itu, mungkin aku bakal merasa lebih panik dari biasanya untuk beberapa hari ke depan. Dan mungkin saja kepanikan itu bisa berkurang.

Jika aku berkata, "Jangan main-main denganku, dasar gadis 3D!" mungkinkah mereka bakal berhenti?

Walau Hatsushiba akhirnya melepaskanku, murid-murid lain di kelas tetap enggak akan semudah itu melepaskanku.

Aku merasa kehidupan SMA-ku yang damai ini sedikit demi sedikit mulai jauh dari harapan.

Seketika itu bel berbunyi dan aku langsung bergegas menuju kelas. Seluruh tatapan penghuni ruangan tertuju ke arahku saat aku masuk ke dalam kelas.

Sedangkan wali kelasku, Ohara-sensei, yang ternyata sudah berada di dalam ruangan, berkata,

"Aramiya, kamu hampir telat. Lain kali berangkatlah lebih awal."

Tanpa menghiraukan suasana yang ada di dalam kelas, aku pun duduk di kursiku sambil memegang perutku yang terasa mual ini. Bisa kurasakan tatapan-tatapan tajam yang menembus kulitku layaknya sebuah gigitan, seakan itu menunjukkan bahwa tatapan tersebut diarahkan dengan sekuat tenaga.

Aku lalu menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diriku yang sedang gemetaran.

Wali kelasku kemudian menerangkan sesuatu selama 'homeroom' berlangsung, tapi enggak ada satu pun yang menyangkut di telingaku.

Di saat itu, Tozaki malah mencolekku dengan pelan dari belakang dan menyerahkan secarik kertas padaku.

Siapa pula yang mengirim ini padaku? Apa harus ada interogasi lagi supaya mereka yakin?

Tozaki seakan menjawabnya dengan ayunan jari yang membentuk nama 'Ha-tsu-shi-ba'. Mungkin orang yang mengirimkan kertas ini adalah Hatsushiba.

Kemudian kubuka secarik kertas yang terlipat itu dengan jari yang masih gemetaran.

"<Maaf sudah membuatmu kesusahan. Yuuka sudah menjelaskan yang sebenarnya pada teman-teman yang lain. Jangan khawatir, Yuuka yang akan menangani kehebohan ini. — Yuuka>"

Saat kubaca tulisan di kertas tersebut, diriku langsung merasa tenang.

Sial, aku memang seorang pengecut layaknya protagonis dalam sebuah cerita, di mana dia malah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan pilihan yang sudah diberikan padanya ....


♦♦♦


Di sela waktu setelah berakhirnya jam pelajaran kedua, enggak ada satu pun kehebohan yang terjadi. Murid-murid lain yang blakblakan bertanya bermacam hal dengan sesamanya pun enggak terlihat.

Hatsushiba mungkin memang sudah menangani teman-teman sekelas kami sesuai yang dia tulis di kertas tadi.

Tapi bagian mana yang dia jelaskan pada teman-teman?

Apa soal pernyataan cintanya yang kutolak kemarin? Atau soal dia yang enggak mau menyerah untuk mengejarku? Apa pun itu, yang pasti, dia sudah banyak membantuku.

Tatapan mata gadis itu masih menampakkan rasa penasaran padaku. Kalau itu saja, sih, mungkin aku cuma perlu menahan diri.

"... eh?"

Apa aku sudah terlalu lengah? Soalnya keadaan sekarang enggak seheboh pagi tadi. Dan itu membuatku berpikir kalau aku cuma perlu tenang dan bersabar. Apakah ini yang disebut dengan 'kedok', suatu metode dalam membujuk seseorang dengan ilmu psikologi? Namun jika terlebih dahulu dihadapkan pada persoalan ditolak saat menyatakan cinta, kemudian beralih ke persoalan yang enggak terlalu berpengaruh, orang-orang bakal memilih persoalan yang lebih mudah diatasi. Rasanya aku pernah tahu hal semacam ini dari 'eroge'.

Andai saja Hatsushiba berhenti mengejarku, persoalan ini pasti sudah selesai sejak lama.

... tapi karena dia enggak mau menyerah, maka ini enggak ada bedanya dari yang sudah-sudah.

"Sei-i-chi!"

Bisa kudengar suara menggemaskan layaknya burung kenari sedang memanggil namaku. Ditambah, memanggilku dengan nama depan seperti cara tokoh wanita memanggil sang protagonis dalam 'eroge' tadi mampu membuat seseorang tergoda untuk menjadikannya seorang kekasih.

Satu-satunya di sekolah ini yang memanggilku dengan nama depan begitu cuma Kiriko-senpai seorang.

"Setelah ini pelajaran musik, lo. Pergi bareng denganku, yuk."

Hatsushiba mendekat lalu menggandeng lenganku. Teman-teman sekelasku cuma bisa terdiam sambil menatap kami tanpa berkedip.

"Hei, kamu enggak lihat kalau Aramiya itu enggak suka dibegitukan?!"

"Eh? ini juga bukan urusanmu, Ayame. Lebih baik kamu sama Tozaki segera ke kelas pelajaran seni rupa saja sana!

Wajah Tozaki memucat seolah ingin protes, 'Kenapa aku sampai diikut-ikutkan segala?!' Aku jadi mulai kasihan padanya.

"Sudah, hentikan!"

Sial, aku enggak mau nantinya bakal jadi pusat perhatian orang begini ...!

"Aku bisa pergi sendiri! Lalu Hatsushiba, jangan asal memanggil dengan nama depanku. Rasanya risih."

Saat aku melantangkan pernyataan itu, seisi kelas mendadak mulai riuh.

"Wah, padahal Hatsushiba yang mengajaknya tapi ditolak." "Kok bisa, ya?" "Jangan-jangan dia memang pacaran dengan Ayame." "Eh, tapi katanya itu cuma salah paham saja ...." ""Hatsushiba itu milik kami!" "Anak itu enggak berhak atas Hatsushiba!"

Meski mereka enggak berbicara dengan suara keras, aku masih bisa mendengar mereka yang sedang asyik bergosip.

Segera kuambil buku tulis dan buku pelajaran musikku lalu dengan cepat bergegas keluar kelas.

Apa ada yang bisa memberitahuku cara mengatasi masalah ini agar aku bisa menikmati masa SMA-ku dengan tenang?

Jika ada yang tahu jawabannya, maka orang itu pasti bisa menyelesaikan masalahku ini dengan mudah. Dan aku bakal benar-benar menghormati orang tersebut.

Aku ingin memainkan seorang protagonis yang benar-benar berbeda, yang bukan sekadar tokoh yang bisa dimainkan berulang-ulang dari data simpanan sebelumnya.

Selama pelajaran musik berlangsung, kami ditugasi untuk berlatih memainkan 'taiko'*. Rasanya payah banget.

(*Genderang tradisional khas Negara Jepang)

Satu per satu murid diberi kesempatan untuk memainkannya di depan kelas. Yang perlu kulakukan adalah menabuhnya mengikuti irama musik. Namun untuk hari ini tingkat kepayahanku lebih parah dari yang biasanya.

Aku memang sudah payah dari sananya, tapi hari ini dua kali lipat payahnya. Mau berapa kali pun aku mencoba, tabuhanku selalu lari dari irama.

Namun murid lain, termasuk Hatsushiba di dalamnya, bisa melakukannya dengan lancar. Tabuhannya begitu selaras dengan irama.

Aku suka caranya yang selalu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan suatu hal, tapi ....

"Bagaimana menurutmu, Seiichi?"

Setelah selesai memainkannya, dia menanyakan pendapatku dengan suaranya yang lembut lalu duduk di sampingku. Mungkin karena enggak ada yang bakal menghentikannya, makanya dia jadi berani mendekatiku. Kenyataannya, saat pelajaran musik begini, para murid yang bebas mau duduk di mana saja juga sudah merupakan masalah tersendiri.

Karena saat itu masih ada giliran murid lain untuk maju ke depan kelas, makanya guru kami enggak memerhatikan dan menegur dirinya.

"Kenapa kamu harus duduk di sampingku ...? Dan sudah kubilang kalau jangan memanggilku dengan nama depan."

Aku memperingatkannya dengan pelan. Suara tabuhan yang dimainkan di depan kelas ini memang terdengar nyaring, biar begitu, kami masih bisa berkomunikasi dengan lancar.

"Hmm, sayang sekali. Kalau begitu Yuuka panggil seperti biasa saja, ya? Alasan Yuuka duduk di sampingmu itu karena Yuuka ingin Aramiya memandang langsung wajah Yuuka."

"... biarpun kamu menggodaku seperti itu, aku tetap enggak akan berubah pikiran. Jadi hentikan saja."

"Kenapa kamu setakut itu, sih?"

"Karena sudah cukup Ayame saja yang mengejarku. Aku bukan tipe laki-laki yang gampang menerima perasaan orang lain. Aku enggak bisa menangani dua orang gadis yang menyatakan cintanya padaku sekaligus."

"Kalau terhadap Ayame, kamu setuju-setuju saja, tapi kalau terhadap Yuuka, perlakuanmu berbeda. Rasanya sakit, tahu? Memangnya ada apa dengan Ayame? Padahal kamu sendiri yang bilang kalau dia bukan pacarmu."

"... yah, soalnya ada cerita tersendiri."

Seenggaknya itu adalah salah satu tugas yang diberikan oleh Kiriko-senpai. Tapi sepertinya hal tersebut enggak patut untuk kuceritakan padanya.

"Maksudnya?"

"Aku enggak bisa menceritakannya. Aku juga enggak punya keinginan untuk menjadi pacar Ayame. Dan aku pun ingin agar dia enggak lagi terus mengikutiku. Bahkan, suatu saat nanti kuharap dia bakal bosan padaku."

Sewaktu aku menjelaskan itu, Hatsushiba menggumam, "Hmm ...." seolah belum yakin kemudian mengangguk dengan penuh ragu.

"Apa dia mengancam akan membeberkan rahasiamu?"

"Enggak, dia enggak pernah melakukan itu."

"Hmm, aneh ...."

Padahal yang dia lakukan sekarang pun sama anehnya. Ingin kuungkapkan hal tersebut, namun suaraku enggak mampu keluar.

"Kalau begitu, apa karena ada orang yang menyuruhmu?"

"... ya enggak, lah."

Aku tahu kalau dia terus menebak karena enggak bisa menghentikan rasa penasarannya. Entah kenapa, aku merasa kalau alasanku ini suatu saat bisa ditebak.

Namun setelah kupikir lagi, dengan sikapku ini, lama-lama aku bisa keceplosan untuk menceritakannya.

Aku sendiri enggak bisa benar-benar menjelaskan hubungan macam apa yang sedang kujalani bersama Ayame ini.

Bakal berlebihan rasanya kalau menganggap kami sangat akrab satu sama lain. Begitu juga jika ditanya apa kedekatan kami sudah lebih dari sekadar teman, maka jawabannya pasti 'enggak'.

Mungkin lebih terasa pas jika disebut rekan sehobi.

"Hmm, kira-kira kenapa, ya?"

Gumam Hatsushiba sambil tersenyum centil.

Tanpa sengaja aku berpikir kalau senyumannya itu sungguh manis. Huh, terasa menyedihkan saat aku berpikir demikian.


♦♦♦


Sekembalinya dari pelajaran musik, aku bertemu dengan Tozaki di anak tangga menuju kelasku.

"... wajahmu kelihatan lesu begitu, kayak mau mati saja."

"Dasar! Ya, aku memang benar-benar capek. Rasanya aku mau kabur ke dunia 2D saja."

Mungkin kucoba untuk meminta saran darinya ....

"Tozaki, ada yang mau kubicarakan padamu sebentar. Kamu sibuk, enggak?"

"Eh? Enggak, aku lagi enggak sibuk."

Lalu kuajak Tozaki ke anak tangga di ujung gedung yang sepi.

Terlebih dahulu kuperiksa keberadaan orang lain di sekitar anak tangga, kemudian aku bicara dengan suara pelan.

"Aku harus apa supaya Hatsushiba enggak suka lagi denganku?"

"Kalau itu maumu, kamu bisa memeluk kuat-kuat balon besar sampai itu meledak lalu kamu tewas."

"Ayolah, jawab yang betul-betul saja, kampret! Aku ini sudah tanya serius!"

Kini aku paham bagaimana rasanya diumpat dengan perumpamaan meledak oleh orang lain.

Soalnya bukanlah keinginanku sampai aku jadi begini! Kenapa pula aku harus tewas dengan cara meledak?!

"Kamu itu jadi orang enggak mau bersyukur, sih— oh, iya, aku lupa kalau kamu enggak tertarik dengan gadis 3D."

"Iya, aku tahu. Masalahnya, Hatsushiba ini enggak mau berhenti mengejarku."

"Ah, aku masih belum habis pikir, apa sebenarnya yang membuat dia tertarik padamu?"

"Itu juga yang mau kucari tahu. Yang penting sekarang, aku ingin supaya gadis ini kehilangan minatnya lagi padaku. Makanya aku mau ambil jalan tengah."

Setelahnya, Tozaki pun mulai serius. Enggak percuma anak ini kujadikan teman.

"Apa sebaiknya kamu umumkan ke semua orang kalau kamu lagi enggak mau punya pacar?"

"Aku sempat memikirkan cara itu, tapi menurutmu apa yang bakal terjadi setelah aku melakukan saranmu tadi?"

"Yang bakal terjadi setelahnya, ya ...."

"Teman-teman Hatsushiba bakal mencecarku dengan ucapan, 'Kamu ini memang orang yang enggak bersyukur,' sama seperti yang kamu ucapkan padaku tadi."

"Hmm, bisa jadi, sih ...."

Tozaki mengangguk mengiyakan. Yang tadi itu memang imajinasiku saja, tapi jika dilihat dari perlakuan orang-orang di sekitar Hatsushiba, maka bukan sesuatu yang aneh kalau hal tersebut bakal terjadi.

Bahkan jika Hatsushiba sendiri yang turun tangan meredakan keadaan, orang-orang itu akan tetap mendatangiku seolah meminta pertanggungjawaban.

"Sampai dengan saat itu, kehidupan SMA-ku benar-benar hancur."

"Mau bagaimana lagi?"

"Bagaimana kalau kuumumkan, 'Aku cuma tertarik dengan gadis 2D,' kira-kira apa yang bakal terjadi?"

"... para anak gadis akan bersatu padu untuk mengabaikanmu, dan para anak lelaki akan memandang hina dirimu."

"Lalu, bagaimana kalau kuumumkan, 'Ini urusanku, memangnya masalah buat kalian?!' kira-kira apa yang bakal terjadi?"

"Mereka bakal bilang, 'Hah?! Hatsushiba itu sahabat kami, masalah yang dihadapinya juga merupakan masalah kami!'"

"Dan kalau kubilang, 'Aku enggak peduli soal asmara!' kira-kira bagaimana?"

"Mereka bakal bilang, 'Sombong banget!', 'Anak ini kerasukan apa, ya?', 'Bisa-bisanya dia menolak Hatsushiba,'."

"Nah, 'kan?!"

Yang dikatakan Tozaki tadi memang belum sepenuhnya bakal jadi kenyataan, tapi untuk sekarang, kehidupan SMA-ku sudah di ambang bahaya.

Skenario terburuknya adalah jika aku menolak Hatsushiba secara terang-terangan di depan semua orang, maka kehidupan SMA-ku bakal benar-benar hancur.

Oke, mungkin aku sudah berlebihan memikirkannya, namun kenyataannya, aku sendiri masih tetap cemas.

Andai sekarang aku sudah kelas tiga SMA, aku bisa saja memakai alasan kalau sedang sibuk belajar untuk persiapan ujian masuk kuliah. Namun kali ini, meski aku memakai cara sebagus apa pun untuk menolaknya, tetap saja itu bakal memprovokasi orang-orang di sekitarnya. Aku masih belum tahu cara yang seperti apa agar aku bisa keluar dari situasi ini.

Dari dulu aku sudah berusaha menjalani hidup dengan berhati-hati agar bisa tenang .... Aku cuma ingin sebisa mungkin menjalani kehidupan SMA-ku yang tenang hingga lulus nanti.

"... aku paham, berarti kamu harus mengambil langkah dengan cermat."

"Terima kasih sudah mau mengerti posisiku."

"Hmm, rasanya aku punya ide bagus."

Tozaki berlagak keren saat mengatakan kalau dia mendapat ide bagus. Aku seperti ingin melemparkan beberapa candaan padanya, namun kini aku harus bersabar dulu.

Anggap saja aku seperti orang yang hampir tenggelam dan kini sedang berpegang pada tumpukan jerami yang mengambang. Cukup terima saja. Kalau aku terlalu banyak mengganggu Tozaki, nanti tumpukan jeraminya yang bakal lepas duluan.

"Ide apa?"

"Ini mudah sekali, ditambah kamu juga ada di sini. Sekali ini berhasil, maka setelahnya, hidupmu enggak bakal susah lagi."

"Benarkah? Cara seperti benar-benar ada?! Wah, kamu memang genius."

"Kamu bisa menyebutku Zhuge Liang."

"Oh, Zhuge Liang, terserah kamu mau nanti kupanggil apa, entah itu sang angsa pengasih atau sang naga tidur, yang penting, idemu itu seperti apa?"

"Hmm."

Tozaki berusaha menahan diri dengan berlagak keren kemudian lanjut berbicara.

"Kamu umumkan saja kalau kamu suka Ayame."

"Oh, aku pulang duluan."

Kampret! Jeraminya memang enggak bisa diandalkan! Baru dipegang saja, sudah berhamburan keluar dari ikatannya.

"Dengar sampai selesai dulu, dong, jangan langsung main pergi begitu! Lagi pula, cara ini enggak bakal berpengaruh karena kamu enggak punya hubungan apa-apa dengan Ayame, 'kan?"

"Ya, aku tahu itu! Aku bingung menjelaskannya, tapi aku sedang berusaha memikirkan sebuah cara! Perasaanku saat ini agak mirip seperti tokoh pendukung dalam game 'Making The Sky Pink', tahu?!"

"Berarti aku yang jadi ilmuwan gilanya, dong?! Repot banget!"

Saat aku menggunakan 'eroge' sebagai perumpamaan, dia dengan gampangnya mengikutiku. Entah kenapa, ada kepuasan tersendiri dalam pembicaraan aneh semacam tadi.

Aku dan Tozaki lalu saling berpandangan, dan kami pun sama-sama menghela napas panjang.

"Aku tahu kalau hal itu sudah membuatmu susah, tapi apa boleh buat, soalnya yang punya masalah itu kamu."

"Ya, aku sadar itu ..., tapi aku juga perlu seseorang yang bisa mengembangkan perangkat 'game' untuk sebuah situs."

"Keyakinan terhadap 2D memang menyakitkan."

"Agama-agama yang lain juga menekan para penganutnya seperti ini."

"Yah, aku bakal memberitahumu kalau aku mendapat ide bagus lagi. Sebenarnya aku mendukungmu, tapi untuk beberapa kasus, mungkin aku enggak bisa membantu."

"Ya, aku tahu."

Sejujurnya, aku merasa lebih baik sekarang.

Siapa pun itu, orang-orang bakal cenderung mementingkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Tozaki pun enggak seharusnya ikut memikirkan diriku sampai mengorbankan dirinya pula.

Andai aku enggak sengaja bertemu dengannya tadi, pastinya aku bakal lebih stres lagi.

"Kalau begitu, aku balik ke kelas duluan, ya. setelah ini kamu mau apa?"

"Aku di sini saja dulu, mau menenangkan diri sebentar."

"Oke, sampai ketemu lagi. Panggil saja aku kalau kamu butuh teman ke kantin."

"Terima kasih."

Tozaki lalu pergi menuju kelas. Anak ini kadang-kadang bisa jadi orang yang baik, yah, kadang-kadang saja, sih.

Aku pun menatap ke arah langit-langit dengan pikiran kosong. Lingkungan sekolah ini sendiri sudah cukup kejam bagi orang-orang yang berkeyakinan terhadap 2D.

... enggak, sebenarnya lingkungan luarlah yang jauh lebih kejam.

"Eh ...."

Seketika itu kudengar suara langkah kaki berderap mendekatiku.

"Aramiya."

Ayame sudah berdiri di anak tangga bagian atas gedung sekolah. Rupanya tadi dia hendak turun menuju ke lapangan.

"Ya, ada apa?"

"Kulihat kalau kamu belum kembali ke kelas, jadi aku mencarimu. Aku merasa kalau mungkin kamu bakal ada di sini."

Ini tempat saat aku dulu membawanya pergi dari kelas ketika dia tiba-tiba menanyakan soal 'eroge' padaku tempo hari. Saat itu dia mungkin berpikir kalau aku ini benar-benar gila.

"Nih."

Ucap Ayame sambil menyodorkanku sebuah minuman jus berkemasan kotak yang kini sedang laku di pasaran.

"... kenapa kamu memilihkanku jus pisang?"

"I-itu, ya? Soalnya aku suka. Mengkonsumsi jus pisang juga bisa membuatmu lebih kuat, lo."

Apa jangan-jangan dia mengkhawatirkanku?

"Begitu, ya? Te-terima kasih."

"Kuperhatikan kamu jadi tampak lesu begitu. Jadi aku berpikir, mungkin saja itu gara-gara aku."

Dia lalu menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum malu. Sebenarnya, yang membuatku lesu begini itu gara-gara Hatsushiba.

"Ya, sudah. Aku ke kelas duluan, ya. Awas, jangan sampai telat."

Ayame kemudian pergi setelah urusannya denganku selesai. Dia berjalan ke atas lalu menghilang dari pandangan.

... enggak pernah kusangka kalau Ayame bakal mengingatkanku supaya enggak telat masuk kelas.

Enggak, sebenarnya semenjak saat itu dia tampak memerhatikanku di berbagai macam hal.

Sebagai ucapan terima kasih karena sudah memerhatikanku, kutusukkan sedotan ke dalam kotak kemasan jus pisang ini lalu pelan-pelan aku meminumnya.

"Uh, manis banget."

Namun setelah itu, tubuh dan pikiranku jadi terasa lebih segar.


♦♦♦


Saat istirahat makan siang tiba, sesuai rutinitas yang kulakukan beberapa hari ini, aku dan Ayame biasanya pergi ke ruang ekskul untuk makan siang bersama.

Awalnya aku mengira hari ini akan sama seperti hari-hari biasanya, tapi ternyata ....

"Aramiya, Yuuka sudah membuatkan bekal untukmu! Makan bareng, yuk!"

Hatsushiba tanpa ragu berseru dengan nyaringnya seakan ingin agar seluruh kelas mendengarnya.

Suaranya sangat lembut, terkesan begitu akrab seolah kami teman sedari kecil. Jenis suara yang dimilikinya terdengar manis dan menggemaskan hingga membuatku berangan-angan. Sayang sekali suara itu enggak terdengar lewat pengeras suara.

Seisi kelas langsung bereaksi atas kejadian itu, namun aku enggak boleh terpengaruh akan komentar-komentar mereka.

Sepertinya Tozaki sudah kabur duluan untuk membeli roti di kantin yang sangat diperebutkan oleh murid-murid sekolah ini.

Anak itu sungguh tahu caranya lepas dari keributan.

"Uh."

Dengan lihai, Hatsushiba lalu menyusun dua buah kotak bekalnya itu di atas meja Tozaki.

"Anu, Hatsushiba, ini ...."

"... kamu enggak mau makan?"

Dia membesarkan volume suaranya dengan nada cemas sambil menengadah menatapku. Cukup dengan mendengarkannya saja sudah membuatku merasa bersalah.

Jujur, keadaan bakal lebih buruk jika aku menerima tawarannya, karena itu aku enggak begitu ingin memakannya. Lagi pula, orang-orang di sekitar kami juga sedang melihat ke arah kami.

Bahkan, seluruh penghuni kelas ini sedang menyaksikan kami.

Aku bisa malu kalau sampai ada gosip soal kami makan bareng begini .... Tapi sekarang bukan saatnya aku memikirkan itu lagi.

Karena jika kutolak, kira-kira apa yang bakal terjadi dengan kotak bekalnya?

Aku yakin dia enggak bakal memberikannya ke anak lelaki lain.

Paling-paling dia membagikannya ke teman-teman perempuan di grupnya.

Tapi rasanya sayang sekali kalau membuang kesempatan seperti ini. Lagi pula, makanan itu enggak salah apa-apa. Aku sudah banyak dapat pelajaran berharga dari 'game' 'Indigo Light' kalau enggak ada kejadian yang lebih menyedihkan dan mengecewakan dibanding ditolak saat memberikan kotak bekal.

"... baiklah, aku makan."

"Hore!"

Hatsushiba pun tersenyum lega dan bersorak.

"Biarpun begitu, aku masih punya janji."

Aku lalu memandang ke arah Ayame.

Sudah kuduga, dia sedang memeluk sebuah bungkusan kain sambil menundukkan kepala dengan tatapan sedih. Bagi orang awam, mungkin kini dia terlihat seperti seorang gadis posesif yang bakal membuat takut seisi sekolah.

"Aku mau makan asal Ayame juga ikut duduk di sini."

Seluruh penghuni kelas langsung bergemuruh. Ayame pun langsung menoleh saat mendengar yang kukatakan tadi.

Seakan sulit percaya dengan situasi ini, dia memelototkan matanya hingga sebesar telur angsa.

Hatsushiba pun tampak kebingungan. Mungkin dia enggak menyangka soal ini, makanya enggak sedikit pun dia bersuara.

... hmm, rasanya aku juga terlalu berani menyarankan hal gila seperti tadi.

Anggap saja ini upaya untuk menunda timbulnya masalah baru. Yang jelas, kali ini bisa saja aku bakal disumpah-sumpahi oleh teman-teman sekelasku.

"Kita semua teman, 'kan? Jadi enggak ada masalah, 'kan?"

Kukatakan itu dengan tegas agar semua bisa mendengarnya.

Kenyataannya, kami enggak punya hubungan spesial apa-apa, seenggaknya hal itu bisa kutegaskan pada mereka semua yang ada di sini.

Hatsushiba sedikit merengut lalu mendadak tersenyum manis.

"Yah, kalau Aramiya memang maunya begitu, Yuuka sih tidak masalah."

Hatsushiba setuju, kalau begitu, aku harus memanggil Ayame untuk bergabung kemari.

"Ayame, ayo kita makan bareng."

"Eh, ah, eng ..., benar enggak apa-apa?"

Ayame mendekat ke arahku. Dia masih sedikit ragu, namun aku menyuruhnya untuk duduk di dekatku.

"Enggak apa-apa."

Aku lalu memindahkan meja di samping meja Tozaki agar kami bisa saling berjejer. Ayame kemudian duduk dengan sedikit ragu-ragu.

... jika kuperhatikan lagi, apa situasi semacam ini ada dalam 'eroge'? Sudah jelas ..., tapi itu pun jika aku harus terpaksa untuk menikmati situasi yang belum pernah kulihat sebelumnya ini. Aku masih bertanya-tanya, harus apa aku di situasi begini?

"Lebih baik kita duduk dan makan bareng, yuk, Ayame?"

Hatsushiba tersenyum pada Ayame tanpa ragu.

"Ah, eng, maaf kalau nantinya merepotkan, sudah cukup lama aku enggak pernah makan bareng di kelas begini ...."

Sekarang justru Ayame yang tampak tegang. Jika dia memang belum pernah melakukan hal ini untuk waktu yang lama, maka wajar saja dia jadi begitu.

Hatsushiba lalu lanjut berkomentar dengan cerianya, "Oh, begitu,".

Sebenarnya aku juga merasa tegang, tapi karena Ayame terus melihat ke arahku, maka aku enggak boleh menampakkan sikap tersebut di depannya. Di samping itu, alasanku jadi tegang begini adalah karena keberadaan Hatsushiba.

Aku lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

Masalahnya adalah tatapan mata dari teman-teman sekelas kami yang membuat Ayame jadi enggak nyaman.

"Ada apa, nih?" "Makan bertiga?" "Aku masih enggak percaya walau sudah melihat langsung ...."

Bisa kudengar samar-samar suara-suara yang sedang membicarakan dari pojok ruangan.

Entah mungkin karena Ayame mendengar pembicaraan tersebut, makanya dia langsung menoleh dan menampakkan wajah marah.

"Awas kali—"

"Ayame, jangan!"

Kupegang tangannya untuk mencegah dia bertindak lebih jauh.

"A-Aramiya ...."

"Aku tahu niatmu, tapi lebih baik biarkan saja."

Pasti tadi dia ingin mengancam mereka, biarpun begitu, hal tersebut jelas enggak ada gunanya.

Berbuat seperti itu cuma bakal memperburuk citra Ayame saat ini. Meski sedikit, seenggaknya aku ingin mencoba memperbaiki kesalahpahaman orang-orang terhadap Ayame. Dan enggak perlu lagi dia menambah gosip buruk tentang dirinya.

Aku berbuat begini bukan untuk Ayame, melainkan untuk diriku sendiri. Aku khawatir jika sosok asli Ayame bakal saling bergesekan dengan gosip yang berkembang. Karenanya, kehadiran Hatsushiba di sini mungkin tanpa sengaja bisa membuat keadaan jadi lebih baik.

Aku merasa enggak enak karena sudah memanfaatkan Hatsushiba begini, tapi ini salahnya sendiri karena enggak mau melepaskanku .... Di satu sisi aku harus bertahan, sedang di sisi lainnya aku merasa bersalah.

"Oke, mari makan, Ayame, Hatsushiba."

"Ah, oke."

"Oke, ayo kita saling menyantap bekal masing-masing."

Seluruh penghuni kelas sudah meninggalkan ruangan terkecuali kami bertiga.

"Ba-baiklah ...."

Ayame mengeluarkan kotak bekalnya ke atas meja.

Saat ini di meja sudah tersaji masing-masing dua kotak bekal dari Hatsushiba dan Ayame.

"Wuih."

Aku sampai mengeluarkan suara aneh. Lain kali, aku harus berpikir masak-masak dulu sebelum mengambil tindakan semacam tadi.

Kuambil masing-masing kotak bekal dari mereka berdua. Rupanya kedua kotak bekal tersebut sama-sama berisi dua lapis.

"Eh, kalau enggak kuat, enggak usah dihabiskan, ya."

"Kalau semuanya dimakan, nanti bisa sakit perut, lo."

Mereka berdua sama-sama menasihatiku, tapi kenyataannya, mana mungkin makanan-makanan ini enggak kuhabiskan.

Meski nasihat tersebut ada benarnya, namun aku enggak mau mengecewakan niat baik mereka berdua.

Lagi pula, dalam kamus 'eroge'-ku, enggak ada yang namanya 'sudah cukup'.

"Tenang saja, aku sanggup, kok."

Kubuka kedua kotak bekal itu secara bersamaan, enggak peduli mau seperti apa isinya, cuma dengan melihatnya saja sudah membuatku takjub.

Kotak bekal dari Ayame tampak sedap dan menggiurkan, jaminan mutu dari masakan rumahan.

Namun kotak bekal dari Hatsushiba tampak beraneka warna. Aku merasa kalau hal seperti ini sudah diperhitungkannya.

"... kalau begitu, aku mulai dari pemberian Hatsushiba dulu, ya."

Ayame terlihat sedikit kecewa. Kuharap dia memaafkanku karena ini sebagai pengganti persetujuan Hatsushiba atas keputusanku tadi.

"Mari makan."

Dengan sumpit pemberian Ayame, kuambil sejumput nasi dari kotak bekal Hatsushiba.

Lalu kucicipi bakso daging yang dilumuri kecap manis itu dengan sendok.

....

... kenapa gadis-gadis ini pandai sekali dalam urusan memasak?

Mereka ini masih SMA, 'kan? Apa saat di rumah, orang tua mereka yang mengajarinya? Atau jangan-jangan mereka ikut kursus untuk menjadi pelayan*?

(*Maid)

Meski rasa di dalamnya cukup kuat, tapi masih terasa enak di lidah.

Hatsushiba pun tersenyum senang padaku. Aku benar-benar enggak mengerti kenapa dia sampai menyukaiku.

"Selanjutnya, giliran pemberian Ayame."

"Ah, eng, silakan dicicipi."

Kucoba mencicipi perkedel ayam dari kotak bekal Ayame. Daging ayam digiling ini terasa sangat lembut. Begitu pula dengan rasa dan aroma prem yang meresap di dalamnya. Kesemuanya itu dalam komposisi yang amat pas.

Aku begitu menghargai ambisi yang ditampilkan dari masakan mereka berdua. Harus kukatakan kalau sebuah anugerah telah diturunkan kepadaku.

... terlepas dari fakta soal hubungan yang sedang kami jalani ini, sekarang aku harus mencari cara untuk membalas kebaikan mereka, karena kalau enggak, aku bisa dianggap sebagai orang yang cuma mau enaknya saja.

Aku harus berkonsentrasi. Aku harus memikirkan balasan yang pantas bagi mereka berdua."

"Aramiya, silakan ambil semua yang kamu mau."

"Aramiya, yang ini khusus Yuuka buatkan untukmu."

Satu demi satu kulahap masing-masing makanan yang mereka sarankan. Apa pun itu, makanan-makanan yang tersaji di kotak bekal mereka sangatlah lezat. Aku pun sampai kesulitan mengambilnya dengan sumpit.

"Yang ini campuran rasanya benar-benar pas, lo."

"Yang ini juga rasanya enak."

Perlahan tapi pasti, seluruh isi dari kotak bekal mereka mulai berpindah tempat ke dalam perutku.

Namun ternyata, perutku sendiri sudah mencapai kapasitas maksimal.

Aku bukan tipe orang yang bisa banyak makan. Perutku kini sudah mulai meronta-ronta.

Meski saat aku sudah SMA begini nafsu makanku sudah mulai meningkat, namun aku merasa makanan dalam perut ini hampir mau keluar dan ini terasa begitu menyesakkan.

Walau sudah penuh, tetap bakal kumasukkan semua makanan ini ke dalam mulutku.

Aku ingin mencicipi semua rasa makanan ini tanpa harus terlihat kesusahan.

Karena adalah tugasku untuk membuat senang hati orang-orang yang sudah memasakkan makanan ini untukku.

Dan saat waktu istirahat makan siang hampir berakhir,

"Selesai .... Semuanya sudah kumakan ...."

Aku sudah menyapu bersih segala makanan di kotak bekal mereka berdua.

"Wah, Aramiya, kelihatannya kamu sakit perut, ya?"

Setelahnya, rasa sakit di perutku ini sudah enggak tertahankan lagi hingga aku harus pergi ke UKS secepatnya. Mungkin perutku ini enggak sekuat perut seorang protagonis 'eroge'.


♦♦♦


Selama jam pelajaran keenam berlangsung, rasa melilit pada perutku ini perlahan mulai berkurang.

Aku enggak perlu meringkukkan tubuhku lagi. Petugas UKS pun sudah meninggalkan ruangan ini.

Dan kali ini, yang menemani di sebelahku adalah Kiriko-senpai. Untuk jam pelajaran sekarang, beliau sedang enggak ada tugas mengajar, dan kini sedang duduk di sini menemaniku seakan menggantikan tugas perawat.

Ditambah, beliau berbicara layaknya sang raja dalam 'game'. Sewaktu mendengarkannya, beliau terdengar seperti orang yang mudah tersentuh.

"Seiichi, saat kudengar kalau kamu sakit perut sampai harus pergi ke UKS, jangtungku rasanya mau copot."

"Bercanda, ya?"

"Perutmu mau minta ditinju, ya?"

"Eh, jangan, dong! Nanti isi perutku bisa keluar semua."

Saat itu, Kiriko-senpai dengan tergesa-gesa berlari menuju ke ruang UKS.

Lalu beliau membuka pintu dengan keras dan berteriak, "Seiichi, kamu tidak apa-apa, 'kan?!".

Aku pun hampir ikut berteriak karena kaget dengan suara yang tiba-tiba itu. Dan bisa ditebak, Kiriko-senpai pun langsung ditegur oleh perawat UKS.

"Tapi kalau dipikir lagi, hanya karena menghabiskan dua kotak bekal dari para gadis, kamu malah berakhir di tempat ini? Payah sekali."

"Oke, oke, aku memang payah ...."

Aku benar-benar menderita saat harus menghabiskan satu kilogram nasi di Restoran Kari GoGo dulu.

"Begitulah, Sensei. Lagi pula, saya juga masih belum yakin alasan Sensei kemari apa karena reaksi yang berlebihan atau karena Sensei sangat mencemaskanku?"

"Yah, biarpun begitu, makan siang bertiga dengan Ayame dan Hatsushiba sepertinya menyenangkan, ya?"

"Karena Sensei menyuruhku untuk menemani Ayame, dan Hatsushiba juga enggak mau melepaskan diriku, ya mau bagaimana lagi? Bukan, sebenarnya Ayame juga yang enggak mau mengalah."

"Astaga. Aku jadi heran tentang yang terjadi dengan sepupuku ini."

"Selama beberapa hari ini saya juga sudah sering mengobrol dengan orang-orang, bahkan rasanya seperti saya sedang mencari tahu sesuatu."

Terutama pada Hastsuhiba.

"Kalau terus dibiarkan begini, kamu bisa disakiti lagi oleh gadis yang kamu suka seperti waktu SD dulu, lo."

"Tolong jangan bahas masa-masa kelam saya yang dulu. Saya mohon, Sensei"

Bisa kukatakan jika di masa-masa tersebut aku masih menjadi seseorang yang mudah bergaul dengan orang lain. Tapi itu bukan berarti aku ingin kembali ke masa lalu dan memperbaikinya.

"Jangan khawatir, aku sudah memperhitungkan kalau hal itu tidak mungkin akan terjadi lagi."

Biarpun begitu, aku butuh kondisi di mana aku menjalani kehidupan sekolahku tanpa perlu pingsan seperti ini lagi.

"Kamu sudah banyak membantuku dalam menangani Ayame, dan hingga saat ini, tidak ada satu pun permasalahan yang berhubungan dengan dirinya.

Ujar Kiriko-senpai sambil tersenyum.

"Anu, Sensei, soal Ayame yang memakai kekerasan fisik seperti kejadian sebelum ini, apa dia seperti itu karena ada penyebabnya?"

"... kenapa kamu berpikir begitu?"

"Soalnya saya enggak tahu apa-apa soal Ayame sebelumnya. Yang saya tahu, dia bukanlah seseorang yang begitu saja memakai kekerasan tanpa alasan yang benar."

"Begitu."

Dengan wajah tenang, Kiriko-senpai pun melanjutkan,

"Gadis itu memang memakai kekerasan jika berhadapan dengan suatu alasan yang serius. Contohnya, ketika ada orang yang sedang ditindas, dijahili ataupun dipalak. Kalau bukan itu, berarti ada pihak lain yang mulai mencari gara-gara terlebih dulu."

"...."

"Namun, meski itu bukan kesalahan dia, memakai kekerasan fisik tidaklah dibenarkan. Gadis itu tampaknya punya kendala dalam menahan emosi. Dia anak yang gampang naik pitam."

"Sepertinya dia anak yang angkuh ...."

"Karena itu aku akan membimbingmu supaya kamu mengerti. Buat saja dia seperti, hmm ..., apa ya namanya? Yah, semacam budak cinta milikmu, begitu."

"Enggak, enggak, enggak ...! Lagi pula, seorang guru yang mengajarkan soal 'budak cinta' itu enggak wajar."

Saat kami membahas itu, bel pun berbunyi penanda berakhirnya jam pelajaran keenam.

"Ada kelas yang mau kuiisi 'homeroom' dulu, jadi aku pergi sebentar, nanti balik ke sini lagi. Kalau kondisimu masih tidak memungkinkan, lebih baik tidur saja. Nanti biar aku yang bilang ke wali kelasmu. Pokoknya, jangan terlalu memaksakan diri, ya."

Ucap Kiriko-senpai yang kemudian meninggalkan ruang UKS.

Setelahnya, bel penanda berakhirnya 'homeroom' pun berbunyi.

Meski begitu, perutku masih terasa melilit. Mungkin aku harus istirahat sedikit lebih lama lagi.

Hari ini ada acara promosi khusus. Tapi, meski acaranya sudah dimulai, waktu yang tersisa juga masih banyak.

"Aramiya, kamu tidak apa-apa?" "Aramiya, kamu enggak apa-apa?"

Terdengar dua orang gadis memasuki ruang UKS. Sudah pasti mereka adalah Ayame dan Hatsushiba.

Mereka berdua masing-masing memengang ujung tali tasku di sisi kiri dan kanan.

"... terima kasih sekali sudah membawakan tasku, tapi apa enggak cukup satu orang saja yang membawanya ...?"

Mereka berdua saling menatap satu sama lain.

"Soalnya Hatsushiba enggak mau melepaskannya." "Soalnya Ayame tidak mau melepaskannya."

Mereka berdua pun saling klaim satu sama lain.

Karena itu aku bertanya pada mereka kenapa bisa sampai jadi begitu. Rupanya ceritanya seperti ini,

Awalnya mereka berdua hendak mengunjungiku ke ruang UKS, namun terjadilah kekisruhan di antara mereka soal siapa yang membawakan tasku yang masih tertinggal di kelas.

Dan selagi mereka meributkan soal tas tersebut,

"Ah, eng ..., kenapa enggak kalian bawa sama-sama saja? Kalau berebutan begitu, nanti tasnya bisa robek dan isinya bisa berhamburan ke mana-mana, 'kan?"

Ucap Tozaki memberi saran pada mereka berdua.

Akhirnya, mereka berdua sepakat untuk membawa tasku bersama-sama. Kerja bagus, Tozaki. Akan kutambahkan poin kasih sayang untukmu.

"Sekali lagi, terima kasih untuk kalian berdua."

Aku sudah mengucapkan terima kasih, namun mereka segera menampakkan wajah sedih.

"Gara-gara aku terus memaksamu makan, kamu jadi begini ...."

"Yuuka minta maaf. Padahal Yuuka tahu kalau Ayame sudah membuatkanmu bekal, tapi Yuuka tetap tidak mau mengalah."

Mereka seolah menunjukkan kalau kehebohan sewaktu istirahat siang tadi cuma sebuah sandiwara.

"Akulah yang memutuskan untuk makan. Lagi pula, semua yang kumakan tadi sangatlah lezat. Karena itu, kalian enggak perlu meminta maaf. Akulah yang harusnya meminta maaf karena sudah membuat kalian kesusahan."

Aku benar-benar ingin membawakan kotoran kuku mereka dan merebusnya supaya dimakan oleh adik perempuanku. Perempuan macam apa yang bahkan membuat telur dadar saja rasanya enggak ada enak-enaknya? Genius dari mananya? Sampai aku selesai makan pun, dia tetap enggak memberi tahu bahan apa saja yang dia campurkan dalam telur dadar itu. Yang pasti, untuk sementara waktu, lidahku mengalami kerusakan .... Sebenarnya, cuma berpikir untuk membandingkannya dengan masakan mereka saja sudah enggak rasional.

"Kamu masih belum bisa bergerak?"

Tanya Ayame penuh perhatian. Argh ..., kalau sudah begini, aku jadi bingung mesti berbuat apa.

"Kalau kupaksakan sedikit, masih bisa, kok."

"Oh, jangan, jangan dipaksa. Aku ..., aku akan tetap di sini sampai kamu mendingan."

... gadis ini tampaknya mengatakan hal yang bisa membuatku tersipu.

Sial. Wajahku mulai memerah.

"Ayame, kamu mendadak berubah dari yang biasanya ...."

Seketika itu Hatsushiba berkata dengan wajah datar.

Sebenarnya, ketimbang disebut wajah datar, aku lebih merasa kalau suaranya itu tersembunyi oleh emosi datar yang kompleks.

"Hatsushiba ...."

Tanpa sengaja Ayame membuat suara penuh ragu.

"Tapi Yuuka tidak akan menyerah, Yuuka tidak ingin begitu saja kalah."

Hatsushiba lalu tersenyum manis. Suaranya kembali seperti biasanya.

Suara itu enggak terdengar seperti tadi lagi. Jadi ada apa dengan itu?

"... enggak ada yang bakal menang ataupun kalah. Soalnya kalian berdua bukanlah tipeku."

"Aramiya, kamu memang kejam."

Hatsushiba lalu tertawa kecil dengan suara menggemaskan seolah mencoba mengabaikan perkataanku tadi.

"Aku ..., aku juga sudah memutuskan akan terus berusaha menjadi gadis impianmu sampai perhatianmu tertuju padaku."

Ayame pun menyerukan upayanya tanpa maksud ingin menyerah.

Ada apa dengan gadis-gadis ini? Kumohon, kembali ke monitor saja sana!

"Sudah kubilang, aku enggak bakal tertarik pada kalian berdua."

"Hahaha, Aramiya ini memang suka bercanda, ya?"

"Begitukah? Kalau begitu aku enggak akan main-main padamu, Aramiya."

"Biarpun begitu, Yuuka tetap suka padamu."

"Enggak, akulah yang suka padamu, Aramiya."

"Terserah kalian!"

"Sepertinya Aramiya sedang tidak ingin Yuuka gombal, ya?"

"Kelihatannya sih, begitu. Syukur, deh."

"Sudah, sudah! Jangan berisik!"

Kenapa kali ini mereka berdua terdengar seperti saling bersahutan?! Bukankah ini tambah mempertegas kalau mereka sebenarnya akrab satu sama lain?!

"Ya ampun ...."

Selagi aku memikirkan hal itu, tiba-tiba kudengar suara menggema yang enggak asing di ruang UKS ini.

"Ah."

Hatsushiba segera mengambil ponsel-nya dan memandang ke arah layarnya. Dia pun langsung termenung.

"Maaf, Yuuka permisi sebentar."

Ucap Hatsushiba sembari berjalan ke luar ruangan.

Aku enggak sengaja menguping dan mendengar dia berkata, "Yuuka masih di sekolah," juga, "... masih belum selesai,".

Apa dia enggak bisa lebih tenang sewaktu menelepon?

"Hatsushiba mungkin masih sibuk dengan profesi pengisi suaranya."

Terang Ayame.

Oh, itu memang benar.

"Barusan kulihat kalau wajahnya itu tampak kesusahan. Apa pekerjaannya itu enggak punya toleransi?"

"Bukan, bukan begitu. Sejak SD dulu, dia sendirilah yang bilang kalau dia ingin menjadi seorang pengisi suara."

"Eh, sejak SD dulu?"

"Yang kutahu, ayahnya dulu pernah memuji kalau dia punya suara yang bagus, dan sejak saat itulah dia berkeinginan menjadi pengisi suara. Begitu katanya padaku dulu sambil tersenyum."

Ekspresi wajah Ayame berubah jadi lembut.

Kini aku berpikir bahwa ternyata kedua gadis ini sebenarnya adalah teman dekat. Tapi apa benar demikian ...?

"... sepertinya kamu kenal baik dengan Hatsushiba, ya?"

"Iya, kami berteman sejak kami satu kelas sewaktu SD dulu. Bahkan, kami sering bermain bersama."

Sewaktu mendengarnya, aku jadi teringat yang dikatakan Hatsushiba waktu itu.

'Iya, Yuuka dulu satu SD dengannya. Bahkan hingga SMP pun kami masih sering bermain bersama.'

Kira-kira seperti itu yang diucapkannya.

Tapi untuk ukuran orang yang sudah saling kenal sedari SD ..., mereka berdua tampak seperti menjaga jarak satu sama lain.

Atau itu karena waktu yang sudah terlalu lama berlalu, sehingga mereka menjadi seperti ini?

"Anu ...."

Hatsushiba kembali masuk ke dalam ruang UKS. Sambil mengeluarkan suara kelelahan yang enggak cocok untuk ukuran seorang pengisi suara, dia pun menunjukkan wajah cemas.

"Maaf, Yuuka sedang ada pekerjaan mengisi suara, jadi Yuuka pulang duluan, ya."

"Sampai ketemu lagi, Hatsushiba. Makan siang hari ini benar-benar enak."

"Terima kasih pujiannya, Aramiya. Jangan macam-macam sama Ayame, ya!"

"Enggak mungkin, lah. Sudah, buruan pulang sana!"

"Kamu memang kejam. Ya sudah, Yuuka pulang dulu. Ayame, jangan ambil kesempatan saat Yuuka tidak ada, ya!"

Ayame enggak mengatakan apa-apa setelah diberi peringatan tersebut.

Hatsushiba kemudian pergi dari ruang UKS sambil membawa tasnya sendiri.

Yang tersisa di ruangan ini tinggal aku dan Ayame saja. Wajah Ayame tampak sedikit termangu.

"Apa dia begini ... karena kejadian waktu itu?"

Dengan ekspresi murung, dia mengatakan hal itu sambil meletakkan kedua tangannya di dada.

"Memangnya ada apa?"

"Ah, eng ..., yah ..., aku pernah membahayakan seseorang yang berharga baginya .... Eh, maaf. Bisakah kamu berpura-pura enggak pernah mendengar hal ini?"

Dalam hati aku merasa ragu, namun kupikir kalau Ayame enggak mungkin bakal mau menceritakannya.

Aku bisa terima kalau dia memang ingin seterusnya memendam hal tersebut, tapi karena aku sedang enggak ada kerjaan, aku bakal terus menanyainya.

"Baiklah, kalau begitu, aku mau tanya soal ini, apa dulu kamu sering bermain bersama Hatsushiba?"

"Oh, hmm, iya ..., tapi itu saat kami masih kecil."

"Apa saja yang kalian mainkan bersama?"

"Kami biasanya bermain di taman umum atau terkadang bergantian di rumah masing-masing."

Wah, seperti yang dikatakannya tadi, mereka memang terdengar seperti teman dekat.

"Namun setelah kami mulai masuk SMP, kami mulai menjauh satu sama lain."

Seperti yang diduga, dia lalu menampakkan ekspresi sedih. Apa sejak saat itu dia mulai sering menyendiri?

Tapi hal itu sudah lama berlalu, jadi enggak mungkin aku menanyakan itu lagi padanya.

"... yah, aku enggak bakal menanyakan hal yang bisa menyinggungmu, tapi jika ada yang mau kamu ceritakan, maka ceritakan saja. Kamu sudah membuatkanku bekal, karena itu, kalau ada yang mau kamu keluhkan atau mintai saran, maka dengan senang hati kudengarkan. Hal yang bagus jika kamu mau berbagi denganku."

Ayame tampak kebingungan.

"... kenapa hari ini sikapmu baik sekali?"

Bisa dikatakan kalau dia belum memercayaiku sepenuhnya.

"Karena sebuah kewajiban bagiku untuk membalas kebaikanmu. Biar bagaimanapun, dari luar aku ini tetap manusia biasa, walau ada sisi diriku yang enggak peduli dengan dunia 3D."

"... berkata seperti tadi, maksudnya apa? Lalu, 'dari luar' itu ...."

"Lupakan saja."

Saat aku mengatakan hal tadi, wajah Ayame tampak sedikit lebih cerah.

"Hmm, baiklah."

Jawabnya lirih namun terasa tulus.

"... omong-omong, apa enggak sebaiknya kamu pulang duluan saja?"

"Enggak. Biarpun di rumah, enggak ada yang bisa kulakukan juga."

Saat mengatakannya, Ayame menarik sebuah kursi supaya bisa duduk di dekatku.

... awalnya kupikir kalau saat ini dia sedang mengepalkan tangannya dan bersiap untuk memukul, karena itu aku cuma bisa pasrah saja.

Namun bisa kukatakan jika di dalam 'eroge', ruang UKS ini bisa diibaratkan sebagai hotel melati kedua di dalam sekolah ....

Sedangkan hotel melati pertamanya adalah gudang di dalam gedung olahraga. Di sana ada bermacam fasilitas penunjang seperti matras, peti lompat dan beberapa perlengkapan lainnya.

... dia enggak akan macam-macam denganku, 'kan? Kalau satu lawan satu begini, aku enggak bakal bisa menang melawan Ayame.

Takdir yang menyedihkan bagi seseorang yang senantiasa mengurung diri di kamarnya sendiri seperti diriku ini.

"Bagaimana perutmu?"

"Masih belum mendingan."

"Oh, begitu."

Ketika dia mengatakannya, dia langsung pindah duduk ke pinggir ranjangku. Lalu diletakkannya tangannya itu ke atas selimut yang menutupi perutku.

"Eh?"

Chuuko Vol 1 p189.jpg

Ayame kemudian tanpa ragu menggosok-gosokkan tangannya di tempat tadi hingga membuatku salah tingkah.

... ah .... Aku merasa nyaman. Rasanya lebih nyaman ketimbang melakukannya sendiri.

Sensasi yang enggak bisa kurasakan dalam dunia 2D ini lumayan juga.

"Kamu suka?"

"Hmm, enaknya."

"Ini pengalaman pertamaku. Jadi aku kurang percaya diri soal ini."

"Aku suka, kok."

"Benarkah ...? Aku juga bisa merasakan reaksimu saat kamu suka kubeginikan."

Gadis ini suka sekali mengatakan hal yang bisa membuatku tersipu.

Perutku dengan senangnya mengembang dan mengempis menyesuaikan irama. Tampaknya Ayame juga diam-diam menikmati pergerakan perutku ini.

Namun ketika semua terasa sedikit lebih baik, mendadak isi dalam perutku serasa berbarengan bergerak ke bawah.

"Aduh ..., maaf, tiba-tiba mau keluar!"

Musuh menyerang.

"Eh, tunggu, jangan dikeluarkan dulu!"

"Maaf, aku sudah enggak tahan!"

Argh, aku harus segera ke toilet.

Dan tepat di saat aku baru mengangkat separuh tubuhku—

"Kalian ...! Apa yang kalian lakukan di ruang UKS yang sakral ini, hah?!

Mendadak pintu ruang UKS dibuka dengan sekuat tenaga oleh Kiriko-senpai yang kemudian bergegas masuk ke dalam.

Beliau datang dengan wajah murka ..., lalu ekspresi itu segera berganti setelahnya.

Entah kesalahpahaman macam apa yang beliau pikirkan. Meski begitu, aku enggak peduli lagi. Aku harus buru-buru ke toilet.

"Fiuh ...."

Leganya .... Mengeluarkan sebanyak ini membawa rasa nyaman tersendiri.

Omong-omong, Kiriko-senpai tadi salah paham soal apa, ya?

Kucoba mengingat lagi pembicaraanku dengan Ayame tadi.

"Hmm, enaknya," "Ini pengalaman pertamaku. Jadi aku kurang percaya diri soal ini," "Aku juga bisa merasakan reaksimu saat kamu suka kubeginikan," "... maaf, tiba-tiba mau keluar!" "... aku sudah enggak tahan!"

... hmm, memang rasanya janggal, sih, kalau pembicaraan itu didengarkan dari luar. Kesalahpahaman barusan pasti gara-gara pembicaraan tersebut.

Itu sebabnya aku harus meminta orang-orang supaya bisa membedakan cara bicara mereka padaku di depan yang lainnya.

... hal-hal yang berbau 18 tahun ke atas itu sangat sensitif bagi Kiriko-senpai. Sembari memikirkannya, aku berjalan kembali ke ruang UKS. Tiba-tiba,

"Tolong jangan lagi mengatakan hal-hal aneh di ruang UKS yang bisa membuat orang salah paham!"

Bagian atas kepalaku dipukul ke bawah oleh Kiriko-senpai yang wajahnya sudah memerah. Kenapa dunia ini tampak enggak adil padaku?


♦♦♦


Rasa sakit di perutku sudah mereda, jadi aku bisa melakukan kerja paruh waktuku dengan lebih efisien.

Sepulangnya dari bekerja, aku mampir dulu ke sebuah kedai nasi daging. Aku ingin mengisi perutku terlebih dahulu. Walau siang tadi aku sudah makan terlalu banyak, tapi setelah bekerja begini, rasanya lapar juga. Bahan bakar untuk mesin tubuhku ini cepat terkuras.

Biasanya kalau sepulang bekerja begini, aku bakal makan malam di rumah, tapi karena ibuku tadi mengirim SMS, 「Hari ini kamu makan malamnya di luar saja,? 」 makanya, mau enggak mau harus keluar uang juga.

Saat harus menyisihkan pendapatan kerja paruh waktuku untuk hal semacam ini, aku jadi merasa sedih. Biar bagaimanapun, karena hal ini hidupku serasa seperti enggak ada gunanya. Aku punya ponsel lipat dan ponsel cerdas yang bisa kugunakan untuk ber-internet. Kiriko-senpai-lah yang menanggung biaya dari kedua perangkat tersebut. Ponsel cerdasku ini memakai paket internet tanpa batas, tapi pernah suatu kali, aku meminta rincian bulanan biaya pemakaian total keduanya yang ternyata seluruhnya berjumlah lebih dari sepuluh ribu yen.

Jumlah sebesar itu cukup untuk membeli sebuah 'eroge'. Karena itu aku pernah meminta beliau supaya aku enggak usah lagi memakai kedua ponsel tersebut dan meminta ganti biaya sepuluh ribu yen itu. Namun ideku pun ditolak dengan ucapan, "Jangan mimpi!".

"Eh ...."

Awalnya aku berencana untuk langsung pulang setelah meninggalkan kedai, namun enggak disangka aku melihat seseorang yang kukenal.

Kali ini bukanlah Ayame, melainkan Hatsushiba. Terlihat jika dia enggak sedang memakai seragam sekolah. Yang dia kenakan adalah gaun malam yang dipadukan dengan kardigan dan rok mini. Penampilannya seperti seorang wanita dewasa.

Apa dia baru selesai dari pekerjaannya sebagai pengisi suara? Dia kini sedang bersama seorang lelaki, tapi lelaki itu enggak terlihat seperti manajernya.

Jika dilihat, tampaknya mereka dalam suasana yang kurang bagus. Mungkin bukanlah hal yang baik jika melihat mereka dalam keadaan begini.

Lelaki itu tampak sedang mengatakan sesuatu pada Hatsushiba, sedangkan Hatsushiba sendiri terlihat mendengarkan dan tampak seolah ketakutan.

Itu karena jika Hatsushiba menampakkan sikap cerianya, maka ingatan tentang ekspresi wajahnya itu bakal semakin tergambar di dalam pikiran.

... tapi sepertinya bukan karena itu. Jika diperhatikan lagi, sepertinya aku tahu siapa lelaki di dekatnya itu.

Bukankah dia orang yang dulu pernah hampir memerkosa Ayame dan menyerangku sebelumnya?

Kalau enggak salah namanya itu ....

'Bukan urusanmu, Songou. Pergi sana!'

Itu dia, Ayame memanggilnya Songou. Apa Hatsushiba juga kenal dia?

... aku punya firasat kalau ada suatu masalah yang sedang terjadi.

Diam-diam aku jadi penasaran tentang apa yang sedang mereka bicarakan. Biarpun begitu, aku enggak bisa mendengarnya.

Berusaha mendekatkan posisiku pada mereka bisa berujung pada perubahan situasi saat ini, dan situasi tersebut bisa mendatangkan masalah padaku.

Setelahnya, mereka pun selesai berbicara, dan si lelaki berbalik pergi dari Hatsushiba— namun tampaknya Hatsushiba menarik bagian belakang baju lelaki tersebut hingga seolah tergambar adegan seorang gadis yang baru dicampakkan yang ingin meminta penjelasan dari sang lelaki.

Wajah Hatsushiba menjadi pucat. Dia mencoba ingin mengatakan sesuatu untuk membujuk lelaki tersebut, namun sang lelaki mengibaskan tangannya dan melepas genggaman tangan Hatsushiba. Lelaki itu kemudian lenyap dalam ramainya pusat perbelanjaan.

Yang tertinggal kini cuma Hatsushiba seorang. Kepalanya menunduk ke bawah disertai tatapan sedih. Dia tampak begitu terpukul.

"Fiuh ...."

Aku berdesah. Biasanya dalam sebuah 'eroge', sang protagonis bakal disarankan agar jangan mencampuri urusan orang lain ..., tapi karena saat ini keadaannya sudah seperti hendak menuju ke sebuah adegan penting, aku merasa jadi ingin ikut campur. Soalnya kalau enggak, bisa-bisa ini berujung pada akhir yang buruk.

Lagi pula, aku masih khawatir soal alasan kenapa Hatsushiba sampai menampakkan ekspresi seperti tadi. Begitu juga soal dirinya bisa berhubungan dengan lelaki yang dulu hampir memerkosa Ayame. Yah, ini bukan karena aku peduli dengan Hatsushiba, sih.

... tetap saja aku harus membalas kebaikannya saat memberiku bekal siang tadi. Meski kecil, kebaikan semacam itu sulit untuk dilupakan.

Aku berjalan mendekat pada Hatsushiba kemudian menyapanya. Dia pun terkejut lalu menoleh ke arahku.

Tampak sebuah ekspresi ketakutan tergambar di wajahnya, namun ketika tahu kalau yang menyapa adalah aku, dia langsung bernapas lega.

"Ya ampun, Aramiya .... Bikin kaget saja. Syukurlah ternyata itu kamu."

"Malam sudah larut begini, kenapa kamu masih ada di luar? Apa jangan-jangan kamu punya hubungan dengan pelaku kriminal di jalanan, ya?"

"Untuk apa juga Yuuka harus berbuat seperti itu? Aramiya sendiri, kenapa selarut ini masih ada di jalanan?"

"Aku baru selesai kerja paruh waktu."

"Eh, Aramiya juga punya kerjaan sampingan, toh."

"... lo, kamu baru tahu?"

Rasanya hampir seluruh teman sekelasku tahu soal itu, deh.

Sewaktu aku baru masuk kerja, teman-teman sekelasku — terutama yang lelaki — mendatangiku dan meminta untuk ditraktir makan, walau sebenarnya uang sanguku hanya bisa untuk membeli lima botol air mineral saja.

Padahal waktu itu dia bilang kalau dia sudah menyukaiku sejak kelas satu, jadi kupikir kalau dia sudah tahu .... Tapi terserahlah, aku enggak peduli.

"Aku bekerja paruh waktu di sebuah mini market buat mengumpulkan uang agar bisa membeli DVD 'game'."

"Sepertinya kamu hobi sekali dengan 'game'."

"Iya lah. Aku suka sekali dunia 2D"

"... memangnya kamu tidak suka gadis sungguhan?"

"Sama sekali enggak."

Sewaktu Hatsushiba menanyakan soal itu, wajahnya tampak penasaran dan terlihat sedikit kesepian.

"Apa dulu ada sesuatu terjadi padamu hingga kamu jadi seperti ini?"

"Hmm ..., pernah ada suatu kejadian saat aku SD dulu. Yah, seperti terus dikhianati sampai seenggaknya tiga kali, dan itu membuatku trauma."

Dengan lirih, Hatsushiba kembali bertanya,

"Lalu, apa sekarang kamu sudah mampu memaafkannya?"

Itu sebuah pertanyaan yang enggak perlu lagi aku berpikir untuk menjawabnya.

"Enggak bakal .... Tapi bagaimanapun juga, karena kejadian itu pulalah aku jadi mulai menggandrungi 'game'. Jika demikian, mungkin aku masih bisa memaafkan. Aku cuma marah dengan diriku sendiri bukan karena kejadian tersebut."

"Bukan malah kebalikannya?"

Dia menanggapi dingin jawabanku tadi.

"Hatsushiba, apa kamu juga punya sesuatu yang enggak bisa kamu maafkan?"

"Bukan soal dimaafkan atau tidaknya, sih. Tapi ini masalah yang sedikit rumit."

Mungkin karena kejadian yang dialami sebelumnya tadi, kini dia terlihat rapuh. Kucoba untuk mengungkit soal 'itu' sedikit.

"Apa jangan-jangan itu—"

Belum sempat aku menyinggung soal Ayame, Hatsushiba langsung memotong perkataanku.

"Hahaha, kalian para lelaki memang suka ingin tahu masa lalu orang, ya? Perempuan itu tidak suka dibegitukan, tahu?"

Ternyata dia masih pandai menyembunyikan kartunya.

"Oh, maaf. Aku enggak bakal tanya lagi."

Kalau begitu aku harus mengganti topik yang enggak terlalu menyinggungnya. Soalnya, kapan lagi ada kesempatan menanyainya seperti ini?

"Hatsushiba, apa kamu lelah dengan pekerjaanmu sebagai pengisi suara?"

"Tidak, kok ...."

"Lelaki yang kulihat bersamamu tadi enggak terlihat seperti manajermu."

"Eh, kamu sempat melihatnya?"

"Aku melihatnya ketika dia baru mau pergi."

Aku sedikit berbohong agar Hatsushiba enggak terlalu waspada kepadaku.

Biarpun begitu, aku juga enggak tahu yang mereka bicarakan tadi. Jadi enggak bedanya juga.

"Kami sudah berteman sedari kecil. Orang tua kami juga sudah saling akrab satu sama lain. Bahkan rumah kami pun berdekatan."

"Hmm ...."

"Cemburu, ya?"

"Enggak."

"Ternyata seperti ini rasanya dicemburui .... Ini pertama kalinya Yuuka mengalami yang seperti ini."

Tatap mata Hatsushiba memandangku dengan tenang.

"'Berteman sedari kecil', berarti lelaki tadi juga satu SD denganmu, ya?"

"Saat itu dia masuk ke SD swasta, jadi kami tidak satu SD. Tapi dulu kami sempat satu SMP."

Aku sempat mengira kalau mereka satu SD. Ayame, Tozaki juga Hatsushiba mungkin dulu bersekolah di SD negeri. Itu berarti lelaki tadi bersekolah di SD swasta lalu lulus dan masuk ke SMP Negeri.

Harus kuakui kalau hal itu terdengar aneh, soalnya tempat kami tinggal ini punya beberapa rayon sekolah. Jadi sebenarnya hal yang enggak perlu jika tahu-tahu pindah dari sekolah swasta ke sekolah negeri. Menurutku, kebanyakan orang yang dari awal memilih masuk ke sekolah swasta bakal melanjutkan jenjang pendidikannya ke sekolah swasta juga.

... yah, mungkin ini cuma pendapat sinisku saja. Mungkin saat itu dia enggak berhasil lulus ujian masuk sekolah swasta.

"Baiklah, Yuuka pulang dulu, ya? Walau Yuuka sebenarnya ingin pulangnya diantar olehmu, Aramiya."

"Hmm, ada yang mau kubeli dulu sebelum pulang."

"Memangnya mau beli apa? Yuuka ikut, dong."

"'Eroge'"

"... wah, Yuuka lewat saja, deh. Tapi kapan-kapan Yuuka mungkin mau."

Justru lebih bahaya kalau dia ikut. Lain kali aku harus punya alasan tepat supaya dia enggak mau ikut.

"Yah, terpaksa pulang sendirian, nih. Tidak apa-apa, besok Yuuka juga masih bisa ketemu. Dadah, Aramiya."

"Dah, sampai ketemu besok dan jangan galau, ya."

"... kok tahu kalau Yuuka sedang galau?"

"Yah, asal tebak saja, sih."

"Tidak mungkin kamu bisa tahu kalau kamu tidak suka sama Yuuka. Ya, 'kan?"

"Mau melawak, ya? Sudah, pulang sana!"

"Hahaha. Dadah."

Sambil melambaikan tangan, dia ucapkan salam perpisahan itu kemudian pulang.

Mumpung aku masih berada di luar, kuarahkan langkahku ini menuju toko yang menjual 'eroge'.

Semoga saja toko yang mau kudatangi ini masih buka.


♦♦♦


Aku melewati area perkakas elektrik untuk menuju area yang menjual 'game' 18 tahun ke atas di toko grosir ini.

Masing-masing area dipisahkan oleh sebuah sekat. Pintu masuk area yang kudatangi ini ditutupi oleh kain bergantung agar pemandangan di dalam enggak sampai kelihatan dari luar. Tanpa ragu, aku memasuki area tersebut. Aku berusaha berbaur dengan para pengunjung di sini yang tampaknya merupakan orang-orang yang sudah bekerja.

... aku sadar kalau yang kulakukan ini bukanlah hal baik.

"Eh ...."

Meski begitu, aku lebih enggak menyangka bertemu orang yang kukenal di sini.

"... ah, Ara ... miya?"

Itu Ayame. Walau dia sedang memakai topi untuk menutupi matanya ditambah dengan sebuah syal, aku masih bisa mengenalinya. Dan meski dia mengenakan celana jins dipadu dengan kaos berlengan panjang yang enggak mencolok, wajahnya dan gaya rambutnya tetap terlalu menarik perhatian.

Selain itu, di tangannya sedang menenteng kotak berisi 'eroge'. Biar bagaimanapun, gadis ini pasti terlihat mencurigakan.

'Game' yang sedang dibawanya itu berjudul .... Ah, sudahlah.

Yah, aku benar-benar enggak menyangka kalau dia bisa ada di sini.

Tapi perawakan tubuhnya itu enggak terlihat seperti anak di bawah umur juga, sih. Jadi kayaknya sulit untuk ketahuan.

"...."

Kami berdua langsung terdiam, oh, bukan, tepatnya, mau enggak mau kami harus saling diam.

Menurutku, saat bertemu dengan orang yang kita kenal di dalam toko 'eroge' atau semacamnya, hal yang sudah dipahami oleh masing-masing orang kalau kita enggak boleh saling sapa. Begitulah, walau sebenarnya aku juga enggak yakin.

Itu sebabnya aku cuma bisa memeriksa keadaan untuk berjaga kalau-kalau ada orang lain lagi yang kukenal.

"...!"

Namun dia segera menggaet erat lenganku dan membawaku pergi.

Aku lalu menatapnya seolah ingin berkata, 'Jangan!'.

Tapi dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ampun ...!

Alhasil, kami pun keluar dari toko dengan diriku yang belum membeli apa-apa.

"Sedang apa kamu di sini?"

Saat aku menanyakannya, wajah Ayame langsung memerah.

"Yah, aku baru saja menamatkan salah satu 'game', jadi aku mau beli 'game' lanjutannya ...."

"Maksudmu 'game' yang 'itu'?"

Itu adalah 'game' yang membuatku malu sendiri saat menyebutkan judulnya.

"Bukan, bukan, bukan! Ini baru saja aku pilih dan kebetulan Aramiya datang di saat bersamaan ...! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan!"

"Iya, iya."

"Percayalah padaku ...."

Ayame tertegun sambil berlinangan air mata. Baru pertama kali ini aku melihat dirinya sampai tertekan seperti ini. Soalnya selama ini aku sudah terlalu sering melihat dirinya yang dalam keadaan marah.

"Tenang saja, aku belum menyebarkan hal ini ke siapa-siapa, kok."

Aku bukanlah orang yang punya pikiran jahat. Itu karena aku sendiri memiliki koleksi 'eroge' dan enggak ingin sampai ada orang lain tahu."

"Aku enggak mau kalau kamu sampai berpikiran yang aneh tentangku."

"Iya, iya, aku cuma bercanda. Lagi pula, kamu enggak terlihat seperti orang yang hobi dengan 'game' semacam itu."

"Eh, kamu cuma bercanda? Jahatnya!"

Ucap Ayame sembari tersenyum lega. Keadaannya kini sudah lebih baik, syukurlah. Gadis ini memang penuh dengan berbagai emosi.

Ketika di dalam toko tadi, bisa kulihat kalau dirinya tampak bosan, dan kini, dengan ekspresi yang sekarang, ini merupakan hal yang baru bagiku.

Kami terus berjalan hingga sampai di persimpangan.

"Aku duluan, ya, Aramiya."

"Oke, selamat beristirahat, ya, Ayame."

Saat aku mengatakan itu, Ayame terlihat sedikit terkejut, dan dengan wajah yang tampak senang itu dia membalas,

"Selamat beristirahat juga, ya, Aramiya."

Sosok Ayame pun perlahan menghilang dalam sunyinya malam yang sudah larut ini.

Aku sempat merasa kalau tetap berada di sini, aku bakal bertemu lagi hal-hal buruk yang enggak kuinginkan, karena itu aku bergegas untuk pulang ke rumah.


♦♦♦


Hari ini enggak bakal ada permasalahan lagi seperti kemarin. Aku enggak bakal menanggapi lagi setiap pandangan ataupun gosip yang beredar hingga 'homeroom' di jam terakhir.

Aku bersiap untuk menghadapi jam pelajaran hari ini dengan pikiran damai. Mungkin aku sudah terbiasa dalam menghadapi berbagai macam pandangan orang di sekitar. Kalau memang begitu, maka hal lainnya bukanlah masalah. Yang kuinginkan saat ini cuma ketenangan.

"Kakak sayang~! Sudah punya sapu tangan atau tisu belum? Kalau belum, Yuuka kasih, ya."

Darah tiba-tiba mengucur dari hidungku. Kenapa bisa begini?! Kenapa masa-masa damai yang mau kubangun ini sebegitu rapuhnya?!

"Hatsushiba, cukup!"

Cara bicaranya yang begitu menggemaskan membuatku sampai di titik jengkel jika aku mendengarkannya lagi. Ini sudah melebihi batas dari sebuah keimutan. Meskipun begitu, aku masih belum mampu menghadapi Hatsushiba dengan baik hingga sulit untukku membencinya. Hmm, jika aku harus mendengarkannya disertai dengan iringan musik, bagaimana jadinya, ya?

"Kakak, padahal kamu senang kalau dipanggil seperti ini, 'kan~?"

Jika suara menggemaskan itu kembali menyapaku, orang-orang bisa salah paham nanti.

Adik perempuanku memang bersekolah di sini, tapi dia enggak pernah memanggilku dengan cara semenggemaskan itu. Makanya, cuma segelintir orang saja yang tahu soal tersebut.

Teman-teman sekelasku yang lain masih belum menyadari tentang yang terjadi sekarang ini. Bahkan di kumpulan para gadis, cuma Ayame saja yang bersikap seolah hal ini cuma sebuah candaan.

"Ini bukan soal aku suka atau enggak."

"Kalau begitu, bukan masalah dong, Kak? Yuuka akan selalu memerhatikan Kakak."

Lama-lama aku capek menanggapinya.

Segera kubawa Hatsushiba keluar dari kelas menuju ke anak tangga yang jarang dilewati orang.

Meski itu sudah jadi tempat keramat bagiku untuk menenangkan diri, tapi belakangan, sepinya tempat ini mulai terlihat seperti peninggalan purbakala.

"Tolong jangan memanggilku seperti itu lagi saat banyak orang di kelas!"

"Lo, kenapa?"

"Karena aku dikenal sebagai 'otaku' di kelas!"

Namun harus kuakui kalau sudah lama aku enggak pernah dipanggil 'kakak' lagi. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku dipanggil begitu.

Dua tahun terakhir ini, adik perempuanku sering memanggilku dengan sebutan jejaka letoi. Bahkan sebelum itu dia pernah memanggilku berengsek, walau sebelumnya lagi dia juga pernah memanggilku kakak. Kenangan sewaktu dia memanggilku kakak itu sudah lama berlalu. Saat mengingatnya, aku merasa sedih sekali.

"Begini saja, jangan panggil lagi aku dengan sebutan kakak lagi, paham?"

"Kalau Yuuka panggil abang, boleh? Atau mas, begitu?

"Itu sama saja! Sudah, berhenti bahas kakak-kakakan lagi!"

"Kakanda?"

"Itu malah lebih parah!

"Ya sudah, Jejaka Letoi!"

"Hei! Memangnya kamu adikku?!

Dia pun sempat menambahkan hal-hal yang begitu mengejek diriku. Dia memang layak menjadi seorang pengisi suara.

"Hahaha, bercanda, bercanda."

Tiba-tiba dia kembali ke cara bicaranya yang semula.

"'Hatsushiba, sepertinya kamu senang mempermainkanku, ya?'"

Dia mengatakannya seolah memerankan diriku yang hendak memprotesnya. Tapi kalau kupikir lagi, kelakuannya tadi cukup aneh 'kan? Apa ada yang salah di otaknya?

Awalnya kupikir kalau dia bakal menjadi orang yang lebih baik dari ini, namun nyatanya, dia lebih gila dari yang kukira.

Apa mungkin dia orang yang naif? ... seenggaknya ini lebih baik daripada sikap sedihnya kemarin.

"Jadi, itu benar? Soal kamu yang disuruh oleh guru untuk menemani Ayame itu ternyata benar?"

Hatsushiba lalu menanyakan hal itu tanpa aku sempat mengalihkan ke pembahasan utama.

"... kamu dengar dari mana?"

Saat aku bereaksi seperti itu, senyum di Hatsushiba semakin mengembang.

"Yuuka hanya asal tebak, kok. Tapi sikapmu tadi sudah membuktikan kalau itu ternyata benar."

"... kenapa kamu berpikir begitu?"

"Soalnya sewaktu pelajaran musik kemarin, saat Yuuka bertanya, 'Apa ada orang yang menyuruhmu?' wajahmu tampak sedikit ragu. Jadi Yuuka pikir, mungkin saja itu alasannya."

Dia bisa melihat keraguan dalam diriku saat itu juga? Matanya benar-benar jeli.

"Boleh Yuuka minta penjelasan? Apa Yuuka perlu tanya soal ini pada murid lain?

"Jangan! Oke, pertama-tama, itu bukanlah satu-satunya alasan kenapa aku menemani Ayame."

"... sungguh? Lalu karena apa lagi?"

"Yah, bagaimana menjelaskannya, ya?"

"Apa jangan-jangan kamu memang suka dengan Ayame?"

"Jangan bercanda. Enggak usah bawa-bawa urusan para makhluk 3D di depanku."

Aku enggak merasa kalau ini yang namanya cinta. Jika perasaan ini kualami sewaktu aku SD dulu, mungkin aku bisa menganggapnya cinta.

"Hmm, kalau Yuuka tidak tahu alasannya, bisa-bisa Yuuka stres sendiri."

"Kalau perasaanmu hancur, aku justru lebih senang."

"Maksudmu Yuuka? Itu tidak mungkin."

"Walau kamu bisa mengatakannya sambil tersenyum, itu enggak bakal membantu."

Kalau kupikir-pikir lagi, sepertinya gadis ini perhatian banget soal Ayame.

Apa dia takut kalau aku dan Ayame bakal benar berpacaran? Aku bisa paham, sih, tapi—

... baiklah, biar kucoba.

"Boleh kutanya, apa yang membuatmu sampai suka padaku?"

"Kalau ditanya seperti itu, rasanya susah untuk disembunyikan lagi. Entah sejak kapan, mata Yuuka selalu saja tertuju padamu."

"Maksudnya seperti cinta pada pandangan pertama, begitu?"

"Wah, jadi Aramiya suka nuansa yang seperti itu, ya?"

Hah? Aku enggak pernah tahu yang begitu-begituan.

Baiklah, mulai sekarang aku perlu semacam keberanian dan keahlian berakting, yang ketika orang-orang melihatnya, mereka bakal berkata, 'Ayo, kamu bisa!' hal semacam ini membuatku teringat akan 'eroge' yang merupakan makananku sehari-hari. Aku cuma perlu bersikap seperti sang protagonis yang suka menggoda.

Apa aku mampu mengecoh Hatsushiba ...? Tapi, meski aku ketahuan sekalipun, itu enggak akan jadi masalah.

"Kalau begitu ...."

"Hmm?"

"Aku boleh menciummu, 'kan?"

"Eh?"

Aku maju satu langkah mendekati Hatsushiba.

"Yah, rupanya aku jadi sedikit tertarik."

Aku lalu memegang kedua lengan Hatsushiba agar dia enggak bisa pergi.

"Aku jadi sedikit tertarik dengan gadis sungguhan. Lagi pula, kamu juga menyukaiku, 'kan?"

"Eh? Yuuka pikir kamu tidak suka dengan gadis 3D ...."

"Hatsushiba, kuakui kalau awalnya aku memang enggak suka. Tapi ternyata aku salah."

Aku mengatakannya seolah ini semua terjadi gara-gara Hatsushiba.

"Ka, kamu bercanda, ya? Ini pasti bohong ...! Yuuka tahu kalau kamu cuma main-main ...!"

"Biarkan aku menciummu supaya kamu tahu kalau aku serius."

Kueratkan pegangan tanganku di kedua lengan Hatsushiba, kupojokkan dia ke dinding lalu kumajukan kepalaku mendekatinya.

Tepat di saat itu,

"Tidak! Hentikan! Jangan dekat—"

Hatsushiba menolak dengan ekspresi ketakutan di wajahnya. Dia mendorongku dengan kuat seolah menunjukkan keengganannya.

Kulepaskan lengannya dan bergerak menjauh dari Hatsushiba.

"Ah ..., maaf, bu, bukan Yuuka merasa jijik, tapi itu terlalu tiba-tiba, dan Yuuka ingin melakukannya saat kita berdua sudah benar-benar saling cinta ...."

Hatsushiba kembali tersenyum sambil berbicara pelan.

Dia kembali bersikap seperti biasanya setelah sempat menunjukkan reaksi penolakannya terhadapku beberapa saat lalu.

Malah kini dia bersikap seolah menutupi pandangan hinanya yang ditunjukkannya padaku tadi.

Aku cuma menguji apa dia benar-benar menyukaiku atau enggak. Tapi yang kudapatkan ini lebih dari perkiraanku.

... lagi pula, itu bukan alasan yang cukup kuat baginya untuk bersikap begitu padaku. Berkata kalau dia ingin melakukannya saat kami berdua sudah benar-benar saling cinta — walau terlihat wajar, tapi apa itu benar-benar wajar?

Tapi kalau memang dia mau menolak, harusnya dia bisa memakai cara yang lebih baik, 'kan?

"Ara ... miya ...?"

Tiba-tiba kudengar suara yang enggak asing di telingaku dan langsung berbalik untuk memeriksanya.

Dalam keadaan yang tampak linglung, Ayame rupanya sedang berdiri di sana .... Apa sudah sejak tadi dia melihatku melakukan ini?

"...!"

Ayame lalu berlari tanpa mengatakan apa pun. Sial, kelihatannya dia benar-benar salah paham.

"Maaf, Hatsushiba. Mulai sekarang aku enggak bakal lagi melakukan apa pun untuk membuktikan perasaanmu!"

Aku membungkuk di depan Hatsushiba untuk meminta maaf lalu setelahnya segera berlari sekuat tenaga untuk mengejar Ayame.

Ayame berlari dengan sangat kencang. Jangankan menangkapnya, sosoknya sendiri sudah keburu hilang dari pandangan.

Aku cuma sempat melihatnya melewati kelas kami. Apa jangan-jangan dia enggak bakal masuk ke kelas?

Beberapa saat kemudian, bel pun berbunyi.

"Hah .... Hah .... Sial! Bel jam pertama sudah berbunyi ...."

Aku harus bagaimana? Kalau aku membiarkannya salah paham, bisa-bisa dia makin menjauh dariku. Yah, walau sebenarnya itulah yang kuharapkan.

Tapi aku merasa bertanggung jawab kalau sampai seperti itu. Kenapa sekarang aku mengejarnya? Ini sudah di luar dari tugas yang diberikan Kiriko-senpai padaku. Aku enggak menyangka bila akhirnya aku merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh sang protagonis ketika mengejar sang tokoh wanita dalam 'eroge'.

Astaga, apa aku sudah benar-benar gila?!

"Mungkin sesekali aku harus bolos ...."

Aku sudah memutuskannya. Sial, ini pertama kalinya aku bolos pelajaran!

Lagi pula, gadis itu bolos ke mana?

Di sekolah ini para gurunya punya jadwal tugas untuk berpatroli di sekitar area sekolah. Jadi kemungkinan untuk dia tertangkap juga cukup tinggi.

Kalau begitu, apa ada tempat di sekolah ini yang berada di luar jangkauan patroli guru?

Kalau di ruang rapat ...? Rasanya enggak mungkin Ayame mau ke sana.

Bagaimana kalau di lapangan yang sepi itu, bisa saja—

"Ketemu."

Ayame sedang duduk dan tampak murung.

"Ara ... miya ...."

Di sini, tepat di belakang gedung sekolah yang jarang dilewati murid-murid, yang juga merupakan tempat Ayame menyatakan perasaannya padaku dulu.

Jika ditanya soal tempat yang paling jarang disinggahi murid bahkan guru di sekolah ini, aku pasti langsung menyebut tempat ini.

Ayame terlihat kelelahan, apa dia sudah kehabisan tenaga untuk berlari.

"Aku harus menjelaskan padamu kalau yang kamu lihat tadi itu cuma salah paham."

"A-apa kamu bilang?! Bu-bukannya tadi kamu mau menciumnya?!"

"Kelihatannya memang seperti itu, tapi dari awal aku enggak ada niat untuk melakukannya!"

"Lalu maksudnya apa?!"

Kemudian kuceritakan segalanya hingga detail kalau sebenarnya aku cuma menguji apa benar Hatsushiba memang menyukai diriku.

"Begitu rupanya."

Ayame lalu menghela napas lega.

Namun setelahnya, dia tiba-tiba tampak marah lalu berdiri mendekatiku dan suara '*plak*' bergema di udara. Pipiku terasa sakit.

Aku ditampar Ayame.

"Tapi kamu memang jahat .... Apa kamu enggak memikirkan bagaimana perasaan seorang gadis ...? Apa kamu enggak memikirkan bagaimana perasaan Hatsushiba?"

... yang dikatakannya memang benar, perlakuanku terhadap Hatsushiba saat itu bagi seorang lelaki ..., bukan, tapi bagi seorang manusia sudah terasa amat kejam.

Aku enggak punya alasan untuk membantah. Aku sudah kelewatan.

Hal yang sudah terjadi ini, bahkan dengan alasan yang kubuat-buat ini, memang enggak pantas untuk dilakukan.

Ekspresi wajah Ayame saat menamparku tadi tampak dipenuhi amarah, namun sekaligus menunjukkan sebuah hal rumit yang enggak bisa dijelaskan. Kurasa ada cerita tersendiri tentang kenapa Ayame marah saat aku berbuat begitu pada Hatsushiba.

Ayame mungkin sedang mengingatkanku.

Soalnya saat dia menamparku tadi, mataku akhirnya terbuka. Ditambah, ketika ada seseorang memberitahuku sesuatu yang beralasan, aku merasa jadi lebih lega.

"Iya, aku sadar, aku salah. Aku harus meminta maaf padanya."

"... bagus."

"Nanti aku bakal meminta maaf langsung padanya."

Setelah itu, wajah Ayame tampak lebih tenang.

"Maaf sudah menamparmu. Sakit, enggak?"

"Enggak apa-apa."

Dia lalu menempelkan tangannya untuk mengelus-elus wajahku. Aku merasa lebih nyaman.

Cuaca pun ikut menjadi lebih cerah saat itu juga, karena itu kami berdua memutuskan untuk bolos bareng.

Walau aku cemas kalau Kiriko-senpai sampai tahu soal ini, tapi sekali-sekali juga enggak apa-apa, 'kan?

Ini pertama kalinya aku membolos pelajaran, itu sebabnya dalam hati aku masih merasa was-was.

Kami berdua duduk sambil bersenderan di tembok gedung belakang sekolah, dalam keadaan membolos pelajaran.

"Anu, Ayame. Ada yang mau kutanyakan."

"Hmm?"

"Apa Hatsushiba memang benar suka padaku?"

Dia lalu menampakkan ekspresi seperti hendak berkata, 'Eh ...?'.

"Bukankah dia sudah menyatakan cintanya padamu?"

"Benar, sih. Tapi atas dasar apa dia bisa suka padaku? Dia bilang kalau dia mulai suka sejak tahun lalu. Tapi aku enggak pernah sekali pun bicara padanya, dan aku enggak yakin kalau penampilanku juga bisa menarik hatinya."

Ditambah, jika menilai dari kejadian percobaan mencium Hatsushiba tadi, aku enggak merasa kalau dia memang suka padaku.

"Be, begitukah? Tapi kurasa kamu cukup keren, kok."

Menarik atau enggaknya seseorang itu tergantung yang melihat, 'kan?

"Jangan menilai dari sudut pandang pribadi, dan enggak perlu juga berusaha membesarkan hatiku."

"Aku enggak berusaha membesarkan hatimu, kok ...."

Gumamnya.

"Apa kamu pernah menyelamatkannya seperti kamu menyelamatkanku waktu itu?"

"Aku yakin kalau enggak pernah ada kejadian seperti itu."

"Atau mungkin kamu saja yang lupa?"

"... entahlah."

Jika ternyata memang karena itu, aku masih bisa maklum.

Orang-orang sepertiku ini enggaklah menonjol dalam hal akademik, olahraga maupun penampilan dan perilaku. Jadi, sebuah hal yang enggak wajar jika tiba-tiba ada orang yang jatuh cinta padaku, terkecuali orang itu sudah kenal lama denganku.

"Kalau begitu aku enggak tahu kenapa dia suka padamu."

"Itulah yang buat aku bingung. Apa Hatsushiba orang yang gampang tertarik pada orang lain? Atau mungkin dia suka dengan tipe-tipe 'otaku'?"

Saat aku menanyakan hal itu, Ayame mulai berpikir sejenak kemudian berseru, "Ah!"

"Apa ada yang lain?"

"Dulu saat SD, sepertinya dia sering membanggakan soal dirinya yang sering dipuji oleh ayahnya. Saat teman-teman menggodanya, dia langsung bilang, 'Iya, dong. Yuuka memang father-con, kok!'"

Rupanya Hatsushiba seorang father-con. Jika seperti itu, berarti dia adalah tipikal orang yang bergantung pada orang lain. Yah, semalam saat aku pulang kerja dan melihat dirinya bersama Songou, sikapnya begitu terkekang seperti seseorang yang takut dicampakkan, sih .... Waduh, mulai ke mana-mana, jangan dipikirkan lagi, deh.

"Bukan, bukan itu maksudku .... Hal lain yang bukan mengenai obsesi Hatsushiba."

"Hmm, maksudmu yang seperti dia menyukai 'otaku', begitu? Entahlah, tapi kalau maksudnya itu teman lelaki sedari kecil, dia punya seseorang yang rumah dan orang tuanya saling dekat. Aku ingat kalau ayah mereka juga bekerja di perusahaan yang sama."

Oh, cerita ini sudah pernah kudengar dari Hatsushiba sendiri. Tapi soal ayah mereka yang bekerja di perusahaan yang sama, baru kali ini kudengar.

Ayame lalu melanjutkan penjelasannya dengan nada pelan.

"Waktu SD dulu, anak itu bersekolah di sekolah yang berbeda dengan kami. Itu sebabnya, Hatsushiba juga sering bercerita tentang anak itu .... Aku pun sempat berpikir kalau dia mungkin suka dengan anak itu. Yah, itu cuma pikiranku saja, sih."

"Begitu .... Apa anak itu yang bernama Songou, yang mendatangi kita kemarin?"

Saat aku mengucapkan nama itu, mata Ayame terbelalak hingga terlihat seperti telur angsa.

"Ke-kenapa kamu bisa tahu?"

"Aku pernah melihat dia bicara berdua dengan Hatsushiba. Dan aku juga sudah bertanya soal itu pada Hatsushiba untuk memastikannya sendiri."

Lelaki yang dulu hendak memerkosa Ayame itu ternyata teman sedari kecil Hatsushiba. Badannya besar dan suaranya berat, persis seperti yang dikatakan Tozaki. Dan meski cuma sebentar, lelaki itu kabarnya pernah menjadi pacar Ayame.

"Lalu apa Songou itu—"

Baru saja hendak kutanyakan soal kebenaran dirinya yang pernah berpacaran dengan Songou, tiba-tiba terdengar teriakan—

"Seichiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii! Berani-beraninya kamu boloooooooooooooooooooos!"

Teriak Kiriko-senpai dari kejauhan disertai pemandangan dirinya yang berlari kencang ke arahku. Wajahnya tampak seperti seorang raksasa.

Bagaimana beliau bisa tahu aku di sini? Oh, pasti gara-gara GPS.

Sial, GPS di sini sangat akurat .... Harusnya kutinggalkan saja ponsel-ku di kelas sebelum pergi tadi.

Akhirnya, aku dan Ayame diseret ke ruangan konseling saat itu juga.

Kami pun dipaksa mendengarkan ceramah yang begitu panjang sampai akhirnya dilepaskan.


♦♦♦

Kurenggangkan tubuhku setelah sekian lama berada di dalam ruang konseling .... Saat kami diceramahi tadi, Ayame bersikeras kalau itu kesalahannya seorang sehingga membuat durasi ceramah tersebut bertambah semakin panjang. Tapi ada yang masih belum bisa kuceritakan pada Kiriko-senpai, sebuah kebenaran yang masih belum bisa kuutarakan.

"Maaf, ya, Aramiya ...."

"Eh, maaf untuk apa?"

"Yah, gara-gara mengejarku, kamu jadi seperti ini."

Oh, maksudnya soal membolos pelajaran?

"Enggak juga, hmm, gara-garanya lebih karena kesalahpahaman saja."

Kalau saja aku enggak menguji Hatsushiba, hal ini enggak bakal terjadi.

"... tapi kenapa kamu malah mengejarku?"

Aku ditanya mengenai sesuatu yang sudah tanpa sadar kulakukan.

"Jika dipikir lagi, kalau kamu membiarkanku salah paham, bukannya itu lebih baik buatmu ...?"

Bagaimana ini? Harus seperti apa aku menjawabnya?

... ah, enggak, kenapa aku seresah ini? Jawab saja apa adanya.

"Membiarkanmu salah paham justru membuat pikiranku enggak tenang."

"... cara pikirmu itu rasanya sulit dimengerti, ya?"

"Enggak sesulit cara pikirmu."

"Apa kesempatanku untuk menjadi pacarmu kini sudah semakin terbuka lebar?"

Diam-diam dia terus memandangi wajahku.

"Enggak."

"...."

Ayame menyipitkan matanya karena enggak puas.

"Kalau begitu, jelaskan lagi seperti apa gadis impianmu itu."

"Buat apa aku harus menjelaskannya ke kamu?"

"Hmm, apa ada contohnya di dunia nyata?"

"Ya, enggak ada, lah."

"Sungguh? Padahal aku enggak masalah kalau bisa melihat seperti apa contoh gadis impianmu."

... yang benar saja?

"... berarti kamu enggak bakal lari dariku atau membuatku kecewa, 'kan ...?"

Tapi kalau dipikir lagi, kriteria gadis impianku sebenarnya masih agak samar.

Tentu jika akhirnya aku bisa menemukannya, pasti itu akan terasa menyenangkan, tapi ....

"Enggak mungkin aku lari darimu atau membuatmu kecewa."

"... yah, aku masih belum terlalu yakin kalau kamu bisa sesetia itu."

Para manusia itu punya kecenderungan untuk berubah pikiran. Beda sekali dengan para tokoh 2D dalam 'game'.

Jika ada episode baru yang dirilis, itu bakal menyajikan sebuah cerita yang berbeda, meski begitu, cerita sebelumnya tetap ada di dalam satu dunia. Karena alur cerita yang dipilih untuk sebuah 'game' adalah alur yang memiliki cerita paling menarik.

Aku enggak tertarik dengan cerita sang protagonis yang akhirnya menikah dengan sang tokoh wanita dan hidup bahagia sampai lima puluh tahun ke depan. Sulit untuk memenuhi gaya hidup seperti itu.

Andai aku akhirnya harus mengakhiri masa lajangku, aku enggak bakal memilih jalan hidup seperti itu.

... ah, aku baru ingat.

Kalau gosip tentang pekerjaan jual dirinya itu ternyata cuma cerita bohong, berarti Ayame masih perawan, dong.

Sampai dengan saat ini, belum ada bukti kalau dia pernah melakukannya. Biarpun begitu, cerita sesungguhnya tentang masa lalunya itu masih menjadi misteri.

Sebenarnya terserah, sih, kalau dia pernah pacaran atau enggak, lagi pula, enggak bakal ada lelaki yang berani mendekatinya.

Tapi hal tersebut masih mengganjal di pikiranku ....

"...."

Kuperiksa keadaan sekitar, dan rupanya enggak ada siapa-siapa di sini. Jika aku harus bertanya, inilah saat yang tepat.

"Anu, Ayame, boleh aku menanyakan sesuatu yang agak sensitif padamu?"

"Kamu ini kenapa? Kayaknya gigih sekali belakangan ini ...."

"Begini, apa kamu pernah melakukan pekerjaan jual diri seperti yang digosipkan orang-orang itu?"

Seusai menanyakannya, Ayame lalu tersenyum dan menjawab,

"Kamu mau ditampar lagi, ya? Atau sekalian saja kubuat babak belur?"

Sudah kuduga. Dia pun kini sedang mengepalkan tangannya. Pikiranku berkata kalau seharusnya aku enggak boleh menanyakan hal tadi.

Dari aku lahir, inilah pertama kalinya aku melihat langsung seorang gadis yang tersenyum dengan begitu menakutkannya.

"Tunggu, tunggu! Maaf kalau sudah menyinggungmu."

"Bukan, bukan karena aku tersinggung, aku hanya terkejut kalau ternyata kamu juga berpikiran seperti itu terhadapku. Aku sudah tahu dari dulu kalau orang-orang menggosipkanku seperti itu. Tapi siapa yang mau percaya ...?"

Wajahnya tampak jadi sedih.

Aku mungkin beruntung karena enggak sampai dipukuli.

Aku harus berterima kasih atas kepercayaannya terhadapku yang sudah terkumpul hingga sekarang.

"Yah, mau bagaimana lagi? Sudah banyak sekali orang yang menyebarkan gosip itu. Meski begitu, aku masih punya keyakinan kalau kamu enggak pernah melakukannya. Iya, 'kan?"

Saat aku mengatakannya, Ayame lalu menghela napas panjang.

"Biar dulu maupun sekarang, aku enggak pernah melakukannya. Sekali pun enggak pernah. Kamu puas?"

Ujarnya sambil menampakkan wajah serius.

"Begitu."

"Orang-orang yang jual diri itu melakukannya demi uang, 'kan? Aku enggak sebegitunya menginginkan uang banyak. Kalaupun aku benar-benar butuh, aku enggak akan sampai melakukannya."

Mungkin karena waktu itu ayahnya khawatir dan memberikan Ayame uang yang banyak, hingga orang-orang menganggap dia melakukan hal itu.

"Be-begitu rupanya."

Aku lalu menghela napas lega ... eh?

"Hmm? Apa kamu merasa lega?"

"Ya?"

"Apa kamu jadi lega karena aku enggak pernah berbuat begitu?"

"Eng, enggak, kok."

"Terus kenapa kamu tadi menghela napas?"

"Aku seperti itu karena merasa bersyukur enggak sampai dipukuli."

"Kamu berkata begitu padahal maksud sebenarnya lain begitu. 'Tsundere', ya?"

Enggak pernah kusangka seorang gadis preman menyebutku 'tsundere'.

"Kok bisa 'tsundere'?"

"Soalnya kelihatan banget, kok. Saat kamu sebenarnya mau bersikap lembut, aku jadi ikut merasa senang, lo."

"Enggak, itu cuma khayalanmu saja!"

Walau sesungguhnya ada benarnya juga.

"Ya, sudah."

Sial, sejak dia bermain 'eroge' sepertinya dia menjadi semakin hebat dalam hal kepekaan.

Jika dia benar enggak pernah melakukan pekerjaan jual diri itu, berarti dia memang masih perawan.

Lalu soal dirinya sewaktu awal masuk SMP yang sempat berpacaran itu ..., eh, bukannya itu saat kami masih kelas satu? Apa enggak terlalu dini untuk berpacaran di usia tersebut?

Sebenarnya kalau dipikir lagi, anak-anak zaman sekarang lebih cepat dewasa sebelum waktunya. Ditambah mereka lebih gampang mencerna informasi-informasi yang enggak sesuai umurnya.

"...?"

Tampak emosi Ayame tadi sempat melonjak. Rupanya itu bukan waktu yang tepat untuk menanyakan soal dia masih perawan atau enggak.

Bahkan sampai menanyakan kebenaran pekerjaan jual dirinya itu. Jelas saja dia marah.

"Huhuhu ...."

Sepertinya kini dirinya terlihat senang. Mendadak aku pun jadi tercengang.

Kenapa aku harus mencemaskan soal dirinya yang masih perawan atau enggak, ya ...?


♦♦♦


Waktu sekolah pun berakhir dan aku sudah di tempat kerja paruh waktuku. Hari ini, pengunjung yang datang ke toko ini sedikit sekali, sampai-sampai bisa dihitung dengan jari.

Soal aku yang bolos pelajaran, Kiriko-senpai tetap merahasiakannya dari orang tuaku. Kurasa, beliau bakal menggunakan hal tersebut sebagai ancaman untuk memaksaku melakukan sesuatu yang gila lagi. Harus kuakui itu.

Beliau mengatakannya saat enggak ada Ayame di dekatku.

"Ini bukan karena kamu mencegah kelakuan Ayame, 'kan?"

Tiba-tiba aku mengelak.

Omong-omong, seusainya aku dari ruang konseling tadi, aku berencana meminta maaf pada Hatsushiba, tapi ternyata dia pulang duluan karena urusan pekerjaannya. Tozaki lalu menyerahkan kotak bekal berukuran separuh dari yang kemarin disertai sebuah kertas yang berisi tulisan,

"<Yuuka minta maaf.>"

Itu membuatku terduduk dan memikirkan tentang alasannya meminta maaf padaku.

Apa itu karena penolakannya tadi?

... cuma itu saja alasan yang bisa kupikirkan sekarang.

Aku sendiri bingung. Namun belakangan ini, setiap kejadian yang menimpaku, rasanya saling berkaitan satu sama lain.

Ayame, Hatsushiba dan Tozaki dulunya satu SD.

Selain itu, Songou dan mereka rupanya sempat satu SMP.

Ayame dan Hatsushiba juga tampaknya berteman akrab sewaktu SD.

Hatsushiba dan Songou ternyata teman sedari kecil. Di sisi lain, Ayame dan Songou pernah berpacaran dari kelas satu SMP.

Sedikit demi sedikit, bisa mulai kulihat apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.

Namun pemikiranku buyar seketika saat sebuah keranjang diletakkan dengan kasarnya ke meja kasir hingga terdengar bunyi '*brak*' yang keras. Orang macam apa yang enggak tahu sopan santun ini?

Kutengadahkan kepalaku.

"Eh?"

Rupanya itu Ayame .... Sudah berapa kali gadis ini kutemui dalam sehari ini, ya?

Akhirnya dia mengunjungi tempat kerja paruh waktuku. Tunggu, kapan dia masuk ke toko?

Yah, aku memang sempat beberapa menit enggak memerhatikan pengunjung yang datang, sih.

"Kenapa kamu di sini?!"

"Kotani-sensei yang menyuruhku."

Lagi-lagi Kiriko-senpai selalu ingin ikut campur urusan orang ....

"Memangnya kenapa? Aku ini juga pelanggan, 'kan?"

Ucapnya padaku sambil menyeringai. Apa-apaan itu? Memangnya dia iblis?

Tapi hari ini aku sudah bertanya yang aneh-aneh padanya sampai membuatnya marah. Jadi aku enggak boleh protes.

"Seratus tiga puluh yen per satuannya, kalau beli dua, harga spesial dua ratus tiga puluh dua yen—"

"Bagaimana dengan 'sushi'-nya?"

"Eh?"

"Apa nanti kamu akan menghangatkannya untukku?"

"... ah, apa ini mau dihangatkan dulu?"

"Oh, enggak, terima kasih."

Kalau begitu enggak usah pakai tanya! Ditambah, Ayame masih saja menampakkan seringainya. Sial, apa sebegitu bahagianya dia karena sudah menemukanku yang sedang bekerja paruh waktu? Apa mungkin ini pembalasannya atas perbuatanku sewaktu di sekolah tadi?

"Omong-omong, kapan kamu selesai bekerja?"

"Toko ini punya aturan ketat. Para karyawannya enggak boleh keluar saat jam kerja. Jadi, cepat bayar dan segeralah pergi."

"Iya, iya, maaf. Biasa saja, dong, bicaranya."

Ya, ampun.

"Lima belas menit lagi sif kerjaku berakhir."

"Ya, sudah, aku tunggu."

"Lo, buat apa?"

"Bukan apa-apa. Aku lagi enggak ada kerjaan. Aku mau duduk dan mengobrol apa saja."

Di samping naif, gadis ini juga terlalu berani. Kalau saja dia sosok 2D, aku enggak bakal protes.

"Total semuanya, delapan ratus tujuh puluh empat yen."

"Oh, aku bayarnya pakai NANACO-CHAN saja."

"Kalau begitu, silakan masukkan kartunya di sini."

... setelah proses transaksi selesai, kuserahkan barang belanjaan tersebut pada sang pelanggan.

Tepat di saat itu, tampak seorang pelanggan remaja keluar melewati pintu otomatis toko tanpa membeli apa pun.

Dalam hati aku berkata, 'Terserahlah,' lagi pula, semua orang juga berhak keluar dari toko tanpa membeli apa-apa.

"Hei, kamu! Apa yang ada di sakumu itu?! Cepat keluarkan!"

Ayame berteriak ke arah pelanggan remaja tadi dan langsung mengejarnya.

Pelanggan tersebut pun terkejut hingga menoleh ke arah suara Ayame. Tampaknya dia juga masih anak SMA sama seperti kami. Wajahnya tampak tercengang.

Ayame lalu berjalan mendekat dengan langkah yang panjang dan menarik baju pelanggan itu. Wah, kasar sekali.

"Kubilang, cepat keluarkan!"

"Iya, iya!"

Rupanya benda yang disembunyikan dalam saku pelanggan tadi adalah bermacam makanan ringan dalam kemasan. Wah, ternyata dia memang pencuri.

"Hei, kamu tahu, enggak, susahnya cari uang? Apa kamu enggak malu, seenaknya saja mencuri yang bukan milikmu?

... ini bukan waktunya untuk bersikap plin-plan.

Aku meminta tolong rekan kerjaku untuk memeriksa keadaan lalu menghubungi pemilik toko.

"Bos, ada masalah."

Aku harus segera berterima kasih dulu pada Ayame atas jasanya menangkap pencuri itu sebelum terjadi hal yang lebih buruk lagi.


♦♦♦


"Nih. Ini ucapan terima kasih buat yang tadi."

Setelah selesai bekerja, aku keluar dari toko untuk menemui Ayame yang sedang duduk menungguku dan menyodorkannya sekaleng kopi.

"Terima kasih."

Dengan kedua tangannya, dia pegang kaleng itu dengan hati-hati.

"Aku sendiri enggak menyangka kalau ada pencuri."

"Aku bisa tahu tanpa perlu tanda-tanda yang jelas. Lagi pula, mencuri itu enggak bisa dibenarkan, apalagi mencurinya di tempat kerja Aramiya."

"Sepertinya kamu paham betul soal ini. Kalau dibiarkan pencuri itu mungkin bakal menjadi berandalan."

"... eng, aku dulu menjadi seorang berandal bukan karena keinginanku."

"Terus kenapa kamu bisa menjadi berandal?"

"Hari ini kamu banyak tanya, ya?"

"... itu perasaanmu saja."

Aku sudah bertanya soal pekerjaan jual dirinya hingga soal Hatsushiba. Sepertinya hari ini aku memang tampak begitu penasaran akan banyak hal ....

Padahal dalam hidupku ini harusnya sudah cukup rasa penasaranku tertuju cuma pada tokoh wanita saja.

"Akhirnya, kamu mulai tertarik juga padaku, 'kan?"

Ucapnya riang.

"Enggak, aku cuma ingin tahu saja."

"Kamu memang enggak peka."

Dia menyipitkan matanya, menatapku. Sepertinya hari ini pun dia sudah terlalu sering menatapku.

"Kalau kamu sepenasaran itu, harus ada bayarannya. Aku juga punya sesuatu yang ingin kutanyakan padamu. Kamu harus jawab dulu, baru gantian aku yang jawab."

Yah, sepertinya ide itu masih bisa diterima.

"Baiklah, aku bakal jawab pertanyaanmu."

"Oke, berarti ini janji, ya."

Ayame pun membuka kopi kalengan itu lalu menyeruputnya sebelum menoleh ke arahku.

"Bagaimana ceritanya Aramiya sampai sebegitu tertariknya dengan dunia 2D?"

Dia memulainya dengan pertanyaan semacam ini.

"Hmm, apa kamu bermaksud menanyakan soal kecanduanku terhadap 'eroge', begitu?"

"Tepat sekali."

Penyebabnya adalah hal yang enggak bisa kuceritakan ke sembarang orang. Ditambah, menceritakannya sendiri terasa seperti menunjukkan betapa apesnya diriku dulu.

Meski begitu, mungkin bukanlah masalah jika kuceritakan soal ini pada Ayame.

"Oh, iya. Kamu sudah tahu kalau aku enggak percaya dengan gadis 3D, 'kan?"

"Hmm, yah, begitulah ...."

Ayame dengan ragu mengangguk.

"Dari awal aku juga enggak suka dengan mereka."

"Apa jangan-jangan kamu sudah tertarik dengan 'eroge' sejak kamu masih SD, ya ...."

Aku enggak sampai berpikir seperti itu. Kalaupun itu benar, aku juga masih enggak boleh membeli 'eroge' di umur itu.

"Ini cerita semacam diriku yang pernah diperdaya oleh perempuan sewaktu SD dulu."

"Diperdaya? Maksudnya ...."

"Dulu aku pernah menerima surat cinta dari anak yang kusukai."

"Eh ...?!"

Oi, biasa saja, 'kali.

"Di surat itu tertulis, 'Datang, ya. Aku menunggumu,' saat itu aku merasa senang sekali, dan enggak pernah menyangka kalau itu ternyata jebakan."

Itu sebabnya, aku jadi begitu waspada saat menanggapi surat cinta dari Hatsushiba.

Kalau saja tempat janjiannya bukan di sekolah, aku pasti enggak bakal datang.

"... jadi kamu menunggu hal yang sia-sia?"

"Kalau cuma itu saja, sih, enggak apa-apa, tapi tempat janjian kami itu sebuah tempat di sekitar halte bus. Aku menunggu dirinya sampai malam, dan saat itu sedang musim dingin, hawa di luar rasanya dingin banget."

Sampai sekarang aku masih bisa merasakan betapa mati rasanya tanganku waktu itu.

"Hingga malam mulai larut, aku pun memutuskan untuk pulang saja, tapi sesampainya di halte, rupanya bus terakhir sudah keburu berangkat, jadi aku enggak punya transportasi lagi untuk pulang. Aku baru pertama kali berada di sekitar situ. Keadaan saat itu sangat gelap, dan karena merasa khawatir, aku terus berjalan mengikuti jalur yang sering dilewati kendaraan. Aku yakin kalau aku memang tersesat. Aku enggak menemukan satu pun pos polisi sepanjang perjalanan. Karena menggunakan bus sebagai transportasi, jadi aku cuma membawa uang elektronik saja tanpa membawa sedikit pun uang tunai. Itu sebabnya aku juga enggak bisa menggunakan telepon umum. Intinya, saat itu aku benar-benar enggak bisa meminta pertolongan pada siapa pun."

Kalau kupikir lagi, saat itu aku memang apes, sih, tapi itu rasanya lebih seperti aku sedang dikerjai. Ketika itu, yang bisa kupikirkan cuma terus berjalan untuk menemukan jalan pulang.

Nyatanya, kalau saat itu akhirnya bisa menemukan seseorang untuk dimintai tolong, kejadiannya enggak bakal berakhir seperti itu.

"Lalu apa yang terjadi ...?"

"Sayangnya, enggak ada satu pun polisi yang bisa menemukan dan membawaku pulang. Orang tuaku sudah membuat laporan kehilangan orang pada kepolisian, dan enggak terpikir kalau aku ternyata berada di tempat semacam itu. Saat itu aku masih memegang suratnya. Bahkan si pengirim dan anak-anak yang memperdayaiku itu tampaknya enggak tahu aku ada di mana. Akhirnya aku pun tertidur sampai pagi di bangku taman dan ditemukan polisi. Kalau dipikir lagi, beruntung bagiku enggak sampai mati kedinginan, walau rasanya aku seperti terkena radang paru-paru."

Ayame terlihat mengepalkan tangannya dengan ekspresi wajah geram.

Bisa kurasakan amarah yang hebat pada tatapannya seakan dirinya ingin mengamuk ....

"Apa setelahnya kamu dimarahi gara-gara hal itu?"

"Aku cuma dapat teguran saja, sih. Surat itu akhirnya kuserahkan pada guru, namun anak perempuan itu mengelak kalau dia enggak bermaksud mengirimkannya untukku dan enggak ada niat untuk menjahiliku. Ditambah, anak lain yang sebenarnya terlibat itu juga ikut membelanya."

Jika kuingat lagi, saat itu aku begitu membanggakan diri akan berbagai hal sampai membuat orang lain jengkel padaku.

Setelahnya, kudengar bisik-bisik orang di sekitarku yang mengatakan kalau anak lelaki yang dekat dengan perempuan itu yang memaksanya berbuat begitu padaku.

"Sebenarnya bukan cuma itu,"

Di satu sisi, cerita selanjutnya ini yang membuatku berubah.

"Eh, masih ada lagi?"

"Setelah itu aku masih terpedaya lagi dengan cara yang sama sampai dua kali sewaktu SD."

"Hah?!"

"Hei, enggak usah kaget begitu! Soalnya saat itu aku masih polos!"

"Enggak, enggak, aku enggak bermasud begitu ...."

"Saat pertama kali ditipu, aku menganggap kalau anak perempuan itu memang iblis. Tapi ketika aku ditipu lagi oleh anak perempuan lain dengan cara yang sama, aku berkesimpulan kalau siapa pun mereka, jika mereka bersekongkol, berarti mereka semua iblis."

Sewaktu aku terpedaya untuk ketiga kalinya, orang tuaku sudah angkat tangan terhadapku, cuma Kiriko-senpai saja yang tetap khawatir padaku. Beliau memberikanku ponsel untuk dibawa dan mengaktifkan GPS pada perangkat tersebut. Jadi kapan pun aku tersesat lagi, beliau bisa menjemputku sesegera mungkin.

Mungkin itu karena Kiriko-senpai merasa bersalah ketika tahu kalau aku menerima surat cinta dan beliau enggak sanggup memberi tahu kalau itu sebuah jebakan sehingga enggak sempat menghentikanku.

"Setelah kejadian itu, aku mulai melakukan hal-hal yang kurasa bisa membuatku senang. Aku pun jadi kecanduan dengan 'game' dan 'manga'. Lebih tepatnya, kecanduan dengan hal-hal yang di dalamnya ada tokoh wanita yang bersikap lembut dan enggak bakal mengkhianatiku. Secara enggak langsung, aku pun bisa mendapatkan pengalaman di bidang asmara dengan merasakan cinta sejati dari tokoh-tokoh tersebut."

Itu sebabnya, sedikit demi sedikit ketertarikan terhadap perempuan sungguhan perlahan mulai berkurang.

Soalnya semua tokoh wanita dalam 'game' punya daya tarik yang lebih baik dibanding gadis 3D di segala sisi.

Aku pun mulai mencari gadis polos nan ceria layaknya seorang malaikat.

Aku enggak mau berurusan dengan para iblis itu lagi.

"Berlanjut saat SMP, aku mulai memainkan 'galge' dan cukup menikmatinya. Tokoh-tokoh wanita di dalamnya begitu manis dipandang, dan saat aku mencari informasi soal 'game' tersebut, rupanya ada versi yang menyediakan konten untuk usia 18 tahun ke atas. Jadi, kupalsukan umurku dan memesan 'game' tersebut. Ternyata, aku malah ketagihan dengan jenis 'game' itu."

Saat itu uang saku yang kupunya sangat memprihatinkan.

Bahkan sampai sekarang pun rasanya aku masih kesulitan. Tapi dibandingkan dengan waktu aku kecil dulu, perbedaannya sudah seperti langit dan bumi.

"Oh, jadi itu sebabnya ...?"

"Untuk saat ini, aku enggak begitu membenci para perempuan seperti yang dulu. Walau begitu, aku sudah memutuskan kalau aku masih belum bisa berhubungan dengan mereka."

Kenyataannya, rasa benciku kini jauh lebih berkurang bukan karena aku bisa memaafkan mereka, melainkan karena ketertarikanku akan perempuan sungguhan juga lebih berkurang.

Dalam dunia 2D sendiri ada juga tokoh wanita yang saling memperdaya satu sama lainnya. Biarpun begitu, pada akhirnya mereka pun saling terbuka mengenai alasan mereka berbuat begitu dan kembali berteman. Kalau enggak, mereka akan terus melakukannya hingga ada tokoh lain yang mendamaikannya.

Namun dalam kehidupan nyata, para perempuan yang memperdayaiku itu enggak bakal mengakui kesalahannya apalagi meminta maaf padaku.

Jadi aku pun sudah menetapkan bahwa kriteria gadis yang kuimpikan itu adalah seorang perempuan polos yang masih perawan dan enggak pernah memiliki hubungan khusus dengan siapa pun.

Bisa kubilang kalau ini bukanlah hal yang aneh hingga aku tanpa ragu memilih mereka yang masih polos.

"Yah, itu adalah cerita yang selama ini kurahasiakan. Nah, kalau begitu sekarang giliranmu, Ayame."

"Ah, anu, sebelumnya ...."

"Hmm? Jangan bilang kalau kamu enggak jadi cerita."

"Bukan begitu."

Ayame lalu meletakkan kopi kalengannya di tanah lalu tiba-tiba memelukku. Kepalanya kini tepat menempel di dadaku.

Chuuko Vol 1 p231.jpg

"He-hei ...?!"

"Jika ada orang yang melakukan hal semacam itu juga padaku, aku pasti akan merasa sakit hati"

Apa dia bermaksud mau mencoba menyamakan perasaannya?

"Enggak apa-apa. Lagi pula, aku enggak perlu seperti dikasihani begini ...."

"Maaf. Soalnya saat kudengar cerita itu darimu, tiba-tiba aku merasa marah."

"Kamu enggak salah ...."

"Iya, tapi biar bagaimanapun, harus ada seseorang yang bisa menghiburmu."

... benar, rasanya begitu hangat. Kalau aku enggak mendapat pelukan seperti ini, mungkin aku masih sulit untuk mengikhlaskannya.

Apa sebuah pelukan itu memang terasa sehangat ini ...?

Pikiran itu melayang-layang di kepalaku. Waduh, aku malah jadi malu begini.

Ayame lalu melepaskan pelukannya dan tersenyum senang.

Aku pun jadi sangat tersipu hingga harus mengalihkannya dengan memaksa Ayame untuk bercerita untuk mengurangi debaran jantungku.

"Baiklah, sekarang giliranku. Tapi ini hanyalah cerita biasa."

Ayame kemudian mulai bercerita dengan ragu-ragu.

"Aku pernah cerita kalau kedua orang tuaku sudah bercerai, 'kan?"

"Ya, terus?"

"Sebelum itu terjadi, mereka berdua tampak begitu mesra. Kalau enggak salah, mungkin mereka sengaja menampakkan kemesraan mereka pada dunia luar, soalnya tiba-tiba saja, suatu hari mereka ingin bercerai. Aku terpisah dari ayah dan kakakku. Saat itu aku masih SD, dan rasanya benar-benar menyakitkan."

Ayame menampakkan ekspresi sedih seolah mengenang masa lalu selagi bercerita.

"Aku sama sekali enggak paham soal pembagian hak asuh. Ibuku pun selalu pulang larut malam. Itu sebabnya rumah selalu sepi setiap aku pulang sekolah. Sejak itu, karena suatu sebab yang enggak pasti, perlahan diriku mulai berubah."

"Sebab yang enggak pasti itu maksudnya ...."

"Aku malu kalau harus menjelaskannya. Yah, mungkin karena aku merasa enggak punya siapa-siapa lagi. Kenyataannya, aku memang jarang bertemu dengan ibuku. Suatu ketika, aku pernah memecahkan kaca jendela sekolah seakan aku ingin berbuat onar. Dan karena hal itu, ibuku dipanggil ke sekolah."

"...."

"Jadi karena saat itu aku masih naif, kupikir jika melakukan kenakalan aku akan bisa bertemu dengan ibuku. Itu benar-benar pikiran yang bodoh. Aku jadi sering bolos pelajaran dan terlibat perkelahian .... Aku begitu ingin bertemu ibuku hingga dengan sengaja melakukan kenakalan itu."

Meskipun bisa dimaklumi, tapi yang dilakukannya itu enggak lucu.

"Saat diriku masuk SMP, aku benar-benar menjadi seorang berandalan. Terlepas dari liarnya kelakuanku saat itu, aku pun sempat berpikir untuk mencuri sesuatu dari toko. Aku pergi ke pusat perbelanjaan dan melihat apakah rencanaku itu bisa berhasil, tapi ternyata, aku melihat ibuku yang saat itu sedang sakit, bekerja keras sampai bercucuran keringat demi mendapat sedikit upah untuk menghidupiku. Saat itu semuanya jadi terlihat jelas bagiku."

"Jadi, akhirnya kamu berencana membuka lembaran baru ..., begitu?"

"Ya, hal seperti itu terlintas di benakku. Aku merasa menyesal atas semua kebodohan yang sudah kulakukan. Ibuku pun sudah mulai saling berkomunikasi dengan ayahku. Karena itu aku bisa menemui kembali ayah dan kakakku. Ketika itu aku merasa kalau keadaan akhirnya mulai sedikit membaik."

Walau dia berkata ingin membuka lembaran baru ..., kenapa Ayame masih terlihat seperti berandalan hingga SMA?

Ayame lalu menjelaskan seolah menjawab pertanyaan dalam pikiranku tadi.

"Tapi ternyata ..., semuanya sudah terlambat. Berbagai dosa akibat diriku yang menjadi berandalan itu sudah terlanjur membekas. Aku juga sudah banyak membawa masalah bagi orang lain. Jadi kurasa, ini mungkin hukuman setimpal bagiku."

"...."

"Meski aku sudah mencoba memperbaiki pandangan orang-orang terhadapku, tetap saja enggak ada yang mau berhubungan denganku. Yang ada justru beberapa orang bodoh malah mulai mencari gara-gara denganku. Akibatnya, aku kembali menjadi sosok berandal tanpa bisa berhenti melawan. Karena itu aku mulai memakai anting-anting dan berpenampilan seperti berandal sungguhan, meski sebenarnya aku enggak mau .... Emosi dalam diriku pun ikut membuatku berkelakuan seperti berandalan liar."

"Karena itu kamu jadi bergerombol bersama berandal lainnya ...? Apa itu bisa meredam omongan orang lain terhadapmu?"

"Seenggaknya mereka yang mau cari gara-gara denganku benar-benar berkurang."

"... sejak saat itu?"

"Hmm?"

"Biasanya kamu bermasalah dengan orang lain itu karena sebuah alasan yang benar, 'kan? Contohnya karena mau melindungi orang, begitu."

"... kalau kamu berpikiran begitu, aku jadi senang mendengarnya. Sebenarnya, sih, enggak selalu seperti itu. Walau aku memang jengkel kalau melihat yang seperti itu, tapi aku memakai alasan tersebut hanya untuk meredakan emosiku saja."

"Yang benar?!"

"Kamu keras kepala juga, ya. Terserahlah, aku akan menganggap itu pujian kalau kamu memang berpikir begitu. Mulai sekarang aku akan lebih ikhlas lagi dalam menolong orang."

"Oh, aku bukan bermaksud menyuruhmu berbuat begitu."

"Iya, aku tahu. Soalnya sewaktu bersamamu, aku sadar jika tetap menjadi diriku yang dulu, aku akan kesusahan sendiri nantinya."

Entah apa itu alasan Ayame yang sebenarnya atau enggak. Aku sama sekali enggak tahu.

"Yah, begitu, deh."

Saat Ayame hendak membuka omongan kembali, lampu jalanan menyinari dirinya hingga membuatku melihat rona merah pada pipinya.

"Seperti itulah cerita sebenarnya. Akan tetapi, aku jadi kehilangan teman-temanku, termasuk Hatsushiba ...."

"...."

"Saat SMP, aku serasa diasingkan oleh orang sekitarku. Bahkan saat SMA pun aku tetap diperlakukan begitu. Enggak ada yang mau mendekatiku. Aku juga sadar kalau enggak ada gunanya tetap bersekolah. Satu-satunya alasanku tetap datang adalah karena ibuku selalu menyuruhku untuk ke sekolah. Seperti kamu tahu sendiri, aku masuk sekolah malah hanya menimbulkan masalah saja ... atau membolos seperti yang kulakukan tadi. Sekeras apa pun aku bertahan untuk bersekolah, tetap saja rasanya enggak pernah menyenangkan."

Selama bersekolah di SMA ini, aku memang enggak pernah melihat Ayame akrab dengan orang lain.

Kupikir, mungkin saja saat SMP dia mengalami hal yang sama seperti sekarang.

"Dan suatu hari seseorang datang menyelamatkanku."

"Eh?"

"Saat itu ada segerombolan orang bodoh mengejarku. Aku berlari sampai ke celah sempit hingga terkepung oleh mereka. Aku sempat merasa pasrah karena tampaknya sangat sulit bagiku untuk melepaskan diri. Sudah saatnya karma itu datang padaku. Hingga di saat itu aku tetap sendirian, dan berpikir andai saja ada seseorang yang datang menyelamatkanku .... Aku memikirkannya dan ternyata ...."

... tunggu, jangan-jangan maksudnya itu ....

"Tiba-tiba saja ada seseorang yang muncul dan menelepon polisi untuk menyelamatkanku. Saat itu, entah bagaimana menjelaskannya. Aku memang enggak terlalu percaya akan adanya pertolongan Tuhan, tapi aku benar-benar yakin kalau inilah yang namanya takdir."

Yang dia maksud memang diriku— tapi Ayame sudah salah paham.

"Saat itu aku enggak bermaksud untuk menolongmu. Itu kulakukan demi keselamatanku sendiri."

Kukatakan yang sejujurnya pada gadis itu. Jika dia masih saja salah paham, aku harus segera menjelaskannya.

"Iya, aku tahu. Kalau kamu memang berniat menolongku, kamu enggak akan kabur ketika aku masih belum meminta tolong, 'kan? Tapi kamu malah kabur duluan tanpa sempat melihat keadaanku."

... Ayame .... Ternyata dia sudah tahu.

"Lalu kenapa?"

"Meskipun begitu, aku tetap tertolong."

"Itu benar, tapi ...."

"Hingga sekarang aku merasa selalu diasingkan oleh orang-orang, tapi kamu datang menyelamatkanku. Aku enggak terlalu peduli meski kamu berkata enggak sengaja melakukannya."

... aku mencoba bertanya pada diriku sendiri, dan aku hanya bisa membayangkannya saja, karena aku enggak pernah berada pada posisi seperti itu sebelumnya.

Dia mungkin merasakan hal yang sama seperti saat aku tersesat dan enggak ada siapa-siapa yang bisa menolongku.

Aku mulai bisa mengerti kenapa dia sampai rela melabuhkan hatinya untuk orang sepertiku ....

"Setelah itu pikiranku jadi enggak tenang dan selalu teralihkan, sampai-sampai aku bingung bagaimana menjelaskannya. Itu sebabnya kucoba untuk menyatakan cinta padamu ..., tapi ternyata, kamu hanya tertarik dengan gadis 2D saja. Sejak saat itu aku mulai berjuang mendapatkan hatimu."

Ayame kemudian berbalik menghadapku dengan wajah yang tampak tenang.

"Ketika itu mungkin aku masih bimbang dengan perasaanku."

Dia lalu menatap mataku.

"Tapi kalau boleh kuutarakan perasaanku yang sejujurnya sekarang ...."

Bibirnya tampak sedikit terbuka.

"Aku menyukaimu, Aramiya."

Ucapnya sederhana dan tegas dengan suara jelas yang disertai kesan kuat.

Kata-kata tersebut mengalir lewat suara yang membuat detak jantungku enggak keruan.

Ayame kali ini enggak meniru perilaku salah satu tokoh dalam 'eroge', melainkan menampakkan isi hatinya yang sesungguhnya.

Enggak boleh, aku enggak boleh bimbang.

"Ah, eng ...."

"Tentu saja kamu enggak harus menjawabnya saat ini juga. Jujur, aku sama sekali belum merasa menjadi seperti gadis impianmu. Itu sebabnya, aku akan berusaha mendekatimu, lebih dan lebih lagi."

Aku enggak mampu berkata apa-apa. Aku takut, jika dalam diriku nanti, aku bakal selalu merasa bangga karena dirinya yang selalu mengejarku, dan kelak suatu hari, dia pun bakal bosan denganku.

Namun kini, untuk pertama kalinya, isi hatinya yang sesungguhnya sudah tersampaikan langsung ke dalam hatiku.

Sial, jantungku berdetak semakin cepat.

Aku harus mengatakan sesuatu—

"Wah, ada Ayame."

Sebuah suara besar tiba-tiba menyela dari tempat yang enggak diduga. Aku dan Ayame segera menoleh ke arah sumber suara.

"Songou ...."

Erang Ayame.

Anak lelaki itu sedang berdiri sendirian di sana. Dia datang di saat yang enggak tepat.

Sepertinya dia sedang enggak bersama gerombolannya sekarang. Meski begitu, sebaiknya aku tetap menghubungi 110 untuk berjaga-jaga.

Aku sudah bersiap untuk menekan tombol ponselku.

"Kalian berdua sepertinya lagi bersenang-senang, ya? Baguslah."

"Kalau enggak ada urusannya denganmu, pergi sana!"

"Jelas ada, lah. Biasanya kamu pulang bareng sama aku, 'kan."

Ucapnya dengan ekspresi biasa. Rupanya lelaki ini memang pernah pacaran dengan Ayame.

Tapi di sisi lain, perlakuan Ayame terasa begitu kasar padanya. Apa karena dia mantan pacarnya sehingga dia bersikap sekasar itu.

"Pulang bareng, dengkulmu?! Aku enggak merasa pernah jadi pacarmu. Kamu saja yang tiba-tiba mendekatiku."

"Sudahlah, enggak usah malu."

Balas lelaki itu, kemudian melanjutkan,

"Lagi pula, kita sudah pernah saling buka-bukaan, 'kan?"

Ucapnya masih dengan ekspresi wajah seolah itu adalah hal biasa.

Pandanganku lalu tertuju pada Ayame.

"Itu bohooooooooooooooooooooooooooonnng!"

Wajahnya penuh dengan kemurkaan yang enggak pernah kulihat sebelumnya.

Tatapan matanya sangat tajam hingga bisa kurasakan nafsu membunuh dari dirinya.

Di sekitar tubuhnya seolah terpancar aura beringas yang siap untuk menerjang kapan saja.

... eh, tunggu dulu, itu artinya ... kabar soal keperawanannya itu ...

"Itu benar, kok. Biarpun kamu menyangkalnya, bagian tubuhmu itu enggak akan kembali."

"Dasar gila! Harusnya kamu malu sama orang tuamu! Itu salahmu karena memakai cara licik itu padaku ...!"

"Terserah apa pun caranya, yang penting kamu dan aku bakal terus bersama."

"Enggak, enggak! Aku enggak terima!"

Ayame langsung berbalik seolah terdesak .... Apa maksudnya ini?

"Yah, harus kuakui kalau keahlianku masih payah. Soalnya saat itu kita masih belum cukup umur dan itu pengalaman pertama kita. Makanya aku menunggu sampai kamu tidur dulu. Habisnya nanti kamu marah, sih. Aku ini sudah lama suka sama kamu."

"... tutup mulutmu! Kalau enggak, kubunuh kamu!"

Songou yang sedari tadi memandang Ayame kini mengarahkan tatapannya ke arahku.

"Hei, kamu! Anak cupu yang di sana ...."

Tiba-tiba dia memanggilku dengan sebutan pengecut. Yah, aku memang pengecut, tapi memanggil polisi jauh lebih aman ketimbang sok berani.

"... ya?"

"Ada hubungan apa kamu sama Ayame?"

"... masalah buatmu?! Dasar preman kampung!"

"... oi! Siapa yang kamu maksud preman kampung?! 'Otakimoi' kayak kamu itu enggak ada harganya .... Atau jangan-jangan kamu mau menguik lagi sama polisi?"

Lelaki itu masih saja berlagak seperti preman di depanku.

"Tunggu."

"Apa?"

"Kamu cuma menggertak saja, 'kan? Soalnya itu terlihat dari cara bicaramu."

"... oi, kamu jangan sok hebat, ya! Kalau mau, aku bisa menghajarmu sampai enggak punya selera makan lagi seumur hidupmu! Biarpun kamu memanggil polisi, hanya dengan satu kalimat saja, ayahku bisa membebaskanku dari segala tuduhan kriminal."

"Terus, kenapa kamu takut kalau aku memanggil polisi? Enggak hanya tadi, bahkan sebelumnya saja kamu lari."

"...."

Songou mengerutkan keningnya lalu berjalan menjauh, mengabaikan kata-kataku, entah karena enggak ingin berdebat atau memang dirinya tersindir. Tapi yang jelas, gaya lelaki ini memang sok mendramatisasi.

Sosok Songou perlahan menghilang dalam gelapnya malam.

"A-Aramiya!"

Ayame tiba-tiba masuk ke dalam pandanganku.

"I-iya?"

"Enggak, aku enggak melakukannya ...!"

"Eng, kamu enggak perlu sebegitunya menegaskan itu ...."

Aku juga sebenarnya enggak terlalu peduli. Iya, 'kan?

Entah kenapa, cuma karena memikirkan tentang lelaki macam itu pernah berpacaran dengan Ayame, bisa membuatku terganggu begini.

"Aku enggak melakukannya, aku enggak melakukannya, aku enggak melakukannya! Saat aku bangun pakaianku masih utuh dan aku enggak merasakan sakit apa-apa!"

Saat bangun? Apa artinya itu mereka tidur bersama?

Enggak, firasatku bilang kalau ceritanya enggak seperti itu ....

... tapi jika dilihat dari pembicaraan antara Songou dan Ayame tadi, sepertinya hal itu memang pernah terjadi. Atau aku cuma memaksakan perasaanku saja?

Dan ketika aku memikirkan itu ....

"Ah ...."

Ayame lalu melihatku dengan tatapan sedih, kemudian dia berlari menjauh dariku.

... aku sudah meninggalkan segala perasaan yang kubawa sejak dari toko tempatku bekerja paruh waktu tadi.

Perasaan seorang lelaki yang telah mendengarkan pernyataan cinta tulus dari seorang gadis, yang akhirnya itu hilang terbawa oleh angin lalu.

Bab 4 - Yang Mungkin Menjadi Gadis Impianku[edit]

Hari ini Ayame enggak menampakkan dirinya di kelas. Kurasa itu mungkin karena kejadian kemarin.

"Hatsushiba sedang ada pekerjaan mengisi suara, jadi dia absen ke sekolah hari ini. Sial!"

Setelah sesi 'homeroom' berakhir, Tozaki mendatangiku untuk mengobrol.

"Memangnya itu ada hubungannya denganmu?"

Aku enggak perlu lagi panik ataupun gelagapan pada berbagai hal. Sudah cukup lama aku enggak merasa sedamai ini.

"Tozaki, cari makan siang, yuk?"

"Hmm, ayo!"

Sekarang sudah saatnya istirahat makan siang. Tozaki dan aku pergi ke kantin untuk mencari makan.

"Rasanya sudah lama banget aku enggak makan siang bareng kamu lagi, Aramiya."

"Ya, kamu benar juga."

Setelah memesan makanan, kami pun duduk saling berseberangan di antara meja kantin. Kulahap potongan dari 'sashimi' yang sudah kupesan tadi.

Di sisi lain, Tozaki sedang menikmati 'karaage' ayamnya.

Belakangan ini, yang kumakan saat istirahat makan siang adalah bekal buatan Ayame dan Hatsushiba, sehingga membuat lidah dan mulutku masih belum begitu selera pada makanan yang lain.

"Jadi bagaimana perkembangannya sekarang?"

"Entahlah, masih belum ada lagi."

Aku sudah menemukan fakta bahwa Ayame benar-benar enggak melakukan praktik jual diri seperti yang digosipkan. Lagi pula, biarpun kuceritakan soal itu, dia enggak bakal percaya.

Gosip yang beredar itu sudah terlalu meresap di ingatan seluruh penghuni sekolah.

"Aku mau tanya sesuatu padamu, Tozaki."

"Hmm?"

"Hatsushiba dan Ayame dulunya berteman, 'kan? Sebelum Ayame punya pacar?"

Tozaki yang sedang duduk sambil mengunyah 'karaage' ayamnya, mengacungkan sumpitnya ke atas.

"... yah, bisa dibilang begitu, sih. Mereka tampak selalu akrab sejak SD. Walaupun kini Ayame terlihat seolah jengkel, tapi Hatsushiba selalu ingin mengejarnya."

... betul. Akhirnya aku mulai mendapatkan sedikit gambaran.

"Apa karena lelaki yang mengaku berpacaran dengan Ayame itu menggembar-gemborkan hubungannya, makanya sejak saat itu mereka berselisih?"

"Hmm, aku enggak begitu yakin, tapi sepertinya bukan itu masalahnya. Mereka sebelumnya memang terlihat sangat akrab, dan entah kenapa suatu hari mereka sudah enggak begitu dekat lagi. Bisa jadi karena hadirnya lelaki itu di antara mereka, akhirnya baik Ayame dan Hatsushiba jadi enggak saling bertegur sapa lagi."

Berarti Tozaki enggak tahu pasti soal pertengkaran antara Ayame dan Hatsushiba.

Aku sempat berpikir kalau sebenarnya Hatsushiba menyukai Songou berdasarkan cerita Ayame tempo hari. Tapi ceritanya malah berbalik ke Ayame yang berpacaran dengan Songou. Itu sebabnya mereka mungkin berselisih ... atau sesuatu semacam itu. Namun mungkin saja karena hal itu, Ayame akhirnya putus dengan Songou. Andai ini masuk kategori cinta segitiga, maka soal Ayame yang mau saja berpacaran dengan Songou itu justru terasa janggal.

Enggak, hal itu mungkin bagian rumitnya. Tapi semuanya sudah keburu terjadi.

Terlebih, saat-saat menyebarnya gosip soal status Ayame itu juga cukup janggal. Itu pasti menyebar dari mulut ke mulut.

"Hei, apa benar, gosip soal Ayame yang dijuluki 'bekas orang' itu sudah beredar sejak SD?"

"Ya, aku yakin sekali soal itu. Karena saat itu aku sudah sering mendengarnya."

Tozaki tampak sangat yakin meski dia enggak pernah tahu kebenarannya. Dan meski Ayame pernah melakukannya dengan Songou, itu enggak bakal mungkin terjadi saat mereka SD.

"Bagaimana ceritanya dia sampai mendapat julukan seperti itu saat SD?"

"Eh? Aku juga enggak begitu ingat, yang kutahu, saat itu dia sudah dijuluki begitu."

Apa karena dia menjadi berandal, orang-orang jadi mulai merendahkannya? Meski berpikir keras mencari jawabannya, aku tetap enggak bakal tahu.

"Oh, satu lagi, apa lelaki yang bernama Songou itu pernah berusaha mendaftar di SMA ini juga?"

"Ya, dia memang pernah mau masuk SMA ini. Hmm, sepertinya hari ini kamu penasaran sekali, ya?"

Padahal aku cuma asal menebak, tapi ternyata tepat sasaran.

"Awalnya dia memang bersekolah di SD swasta, tapi hasil ujian akhir yang didapatnya ternyata buruk, sehingga dia cuma bisa masuk ke SMP negeri sama sepertiku. Saat aku tahu kalau dia ikut mendaftar di SMA yang sama denganku, aku jadi frustasi. Meski dia mengambil jalur ujian masuk, aku masih belum bisa tenang. Padahal dia tahu kalau dia sendiri enggak lolos seleksi masuk, tapi dia tetap bersikeras mau mengambil jalur ujian masuk."

Standar nilai ujian akhir yang diterima oleh sekolah ini sebenarnya enggak tinggi-tinggi amat. Itu artinya, intelijensi lelaki itu benar-benar parah.


♦♦♦


Setelah selesai makan dengan Tozaki, aku lalu pergi ke ruang ekskul untuk mengambil 'flashdisk'.

Masih ada waktu tersisa sebelum istirahat makan siang berakhir. Aku masuk ke dalam gedung di mana ruang ekskul—

"Wah, sombong sekali." "Memangnya kamu siapa?"

Bisa kudengar suara kebencian dari suatu tempat, yang membuat perhatianku teralihkan ke asal suara tersebut.

Ada sekitar empat atau lima orang sedang mengelilingi seorang gadis.

Di sisi lain, gadis yang dikelilingi tersebut cuma bisa terdiam.

Enggak ada siapa-siapa lagi di sini. Terlepas dari hal itu, orang-orang yang sedang beristirahat juga enggak bakal mungkin kemari, karena di gedung ini, ruang yang dipakai cuma ruangan untuk kelas seni rupa saja. Harus menunggu hingga sekolah usai jika ingin melihat orang-orang lewat di sini.

Gadis yang dikelilingi itu sudah enggak mungkin bakal tertolong.

... cuma saja, jangan menghalangi jalan orang begini.

Kalau si gadis itu enggak mau bicara, lebih baik selesaikan di lain waktu saja.

"Jangan bisanya hanya diam! Kamu itu sudah merebut pacar orang, tapi masih saja berlagak!"

"Yuuka tidak ada maksud begitu. Dianya saja yang menyatakan cintanya pada Yuuka ...."

Akhirnya si gadis tersebut bicara. Aku pun tahu siapa gadis itu.

... yah, aku juga enggak bisa berbuat banyak. Sebenarnya aku enggak mau ikut campur, tapi kalau dibiarkan begini, aku juga enggak bisa masuk ke ruang ekskul.

Lagi pula, aku masih belum membalas bekal yang dia buatkan untukku. Ditambah, aku masih belum meminta maaf soal kejadian kemarin. Karena itu aku langsung mengirim sebuah pesan kepada seseorang yang bisa kuandalkan.

Enggak lama berselang, orang yang kumaksud itu pun datang.

"Hei, sedang apa kalian di sini?"

"Eh, kenapa si Kotani bisa kemari ...?"

"Oi! Apa kalian enggak pernah diajari memanggil nama guru dengan sopan, hah?! Apa kalian memang mau dibawa ke ruang konseling?!"

"Jangan, jangan! Ya sudah kalau begitu."

Mereka yang tadi mengelilingi gadis itu langsung segera keluar dari gedung. Kiriko-senpai memang hebat.

"Hatsushiba, kalau kamu enggak ada urusan lagi di sini, lebih baik balik ke kelas sekarang. Kamu juga, Seiichi."

Kiriko-senpai ikut memanggilku yang sedang bersembunyi di sela-sela gedung.

Harusnya beliau enggak perlu menyebut namaku segala. Hatsushiba jadi mendatangiku tanpa ragu.

"Aramiya?"

"Oh, rupanya pekerjaanmu sudah selesai? Kalau begitu aku pergi dulu."

Kuangkat tanganku dan tepat di saat aku hendak pergi, dia dengan cepat menangkap ikat pinggangku hingga mengeluarkan bunyi '*snap*'.

"Kamu kemari untuk menolong Yuuka, 'kan?"

"... kurang kerjaan banget kalau aku sampai begitu."

"Aramiya .... Kamu memang payah kalau berbohong."

"Sudah, jangan main-main. Yang penting kamu enggak merebut pacar orang, 'kan?"

"Yuuka tidak merebutnya, kok. Bahkan Yuuka tidak pernah cari perhatian sama dia. Tiba-tiba saja dia datang dan menyatakan cinta pada Yuuka .... Kalau boleh jujur, Yuuka sendiri tidak tahu nama lelaki itu."

Begitulah kalau punya wajah menarik. Bahkan orang enggak dikenal saja bisa tahu-tahu menyatakan cinta ....

Kami terus berbicara, tapi tangannya tetap enggak mau lepas dari ikat pinggangku.

"Oh, iya. Sekalian aku mau minta maaf atas kejadian kemarin."

"Maksudnya soal kamu yang mau mencium Yuuka itu? Tidak usah dipikirkan lagi, lebih baik kita tunggu sampai suasana yang pas datang dengan sendirinya. Bagaimana?"

'Bagaimana'? Padahal aku enggak punya niat melakukan itu lagi.

"Bisa lepaskan aku?"

"Kalau begitu, biarkan Yuuka berterima kasih dulu."

"Sudah kubilang, aku enggak bermaksud menolongmu."

"Terserah apa pun alasannya, yang pasti kamu sudah menyelamatkan Yuuka."

"Kenapa bicaramu seperti Ayame?"

"Eh? Ayame juga pernah seperti ini?"

Lagi-lagi aku keceplosan.

"Anggap saja aku enggak pernah mengatakannya."

"Jangan pura-pura, katakan saja yang sejujurnya. Yuuka ingin tahu."

Waduh, gadis ini merepotkan sekali. Ya sudah, aku menyerah.

Aku lalu menempelkan jempol dengan telunjukku dan saling menggosokkan keduanya, kemudian menunjukkan itu tepat di depan Hatsushiba.

"Kamu mau minta bayaran?"

"Kamu juga pernah melakukan ini. Aku enggak mau uangmu, tapi aku mau menanyakan sesuatu sebagai gantinya."

"... soal apa?"

"Soal masa lalu. Kalau kamu enggak mau menceritakannya juga enggak apa-apa, sih."

Hatsushiba tampak sejenak berpikir kemudian mengangguk setuju.

"Baiklah, mau cerita di mana?"

"Di sekitar sini ada ruang ekskul. Kita ke sana saja."


♦♦♦


Kami lalu masuk ke dalam ruang ekskul. Sambil kuceritakan soal sejarah ruangan ini, kami pun mengambil kursi untuk duduk.

"Oke. Sebenarnya kamu mau menanyakan soal Ayame, 'kan?"

Kemudian kujelaskan padanya soal aku yang menyelamatkan Ayame dari percobaan pemerkosaan di malam itu. Lalu soal bingungnya diriku atas ketertarikannya padaku hingga dia menyatakan cintanya padaku. Juga soal beberapa guru yang memohon pertolonganku untuk mengubah perilaku berandalnya. Namun hal-hal yang berhubungan dengan 'eroge' masih tetap kurahasiakan.

"Oh, begitu. Jadi kalian sungguh tidak pacaran."

"Sudah berapa kali kubilang kalau aku enggak punya hubungan spesial dengannya. Jadi, sekarang kamu sudah percaya?"

"Baiklah. Rupanya dia hanya berusaha mendekatimu saja. Syukurlah."

Baguslah kalau dia mengerti. Tapi aku masih belum tahu kenapa dia sampai bersyukur begitu.

"Bersyukur untuk apa?"

"Soalnya Yuuka sering lihat kalau kalian selalu bersama, jadi Yuuka pikir kalian benar-benar pacaran."

... makanya jangan berpikir terlalu jauh.

"Sekarang giliranmu, Hatsushiba."

"Tanyanya jangan susah-susah, ya."

"Tolong jangan heboh dulu. Apa Songou adalah penyebab dirimu dan Ayame saling berselisih?"

Mata Hatsushiba terbelalak seakan enggak percaya dengan yang kukatakan. Itu lebih dari sekadar terkejut.

... eh. Apa aku salah bertanya?

"Anu, kamu tahu dari mana nama itu? Padahal kalian tidak pernah satu sekolah, 'kan?"

"Tozaki sudah banyak bercerita padaku. Aku juga sudah mendengar soal Ayame darinya. Bahkan aku bertemu Songou kemarin."

"... kamu sudah bertemu dengan Naosumi?"

Punya teman satu angkatan memang bakal terasa menyenangkan sampai hal itu menjadi kurang mengenakkan. Apa dia enggak merasa sungkan?

"Tapi ..., Yuuka dan Kotton ... tidak saling berselisih."

"Eh, Kotton?"

Nama macam apa yang mirip sekali dengan bahan kain dari suatu tempat itu?

"Itu nama panggilan Ayame yang dibuat oleh Yuuka dan teman-teman supaya dia tidak sedih. Karena nama depannya Kotoko, jadi kami memanggilnya Kotton*. Dan dia juga sewaktu kecil suka sekali mengenakan pakaian berbahan katun."

(*Kotton (コットン) bisa berarti kapas atau katun)

Dia punya panggilan seperti itu? Alasan supaya dia tidak sedih itu pasti menyangkut soal perceraian orang tuanya.

Tapi kesampingkan dulu hal itu. Saat ini itu bukanlah hal yang terpenting.

"Hatsushiba, dari kata-katamu tadi, sepertinya ada hal yang cukup rumit. Ini bukan karena kamu menyukai Songou terus cemburu begitu, 'kan?"

Hatsushiba lalu sedikit menghela napas seolah kini ingin menjelaskan yang sesungguhnya.

"Begini, Aramiya, Yuuka dan Naosumi sama sekali tidak punya hubungan spesial."

"... apa kamu punya perasaan padanya?"

"Kami sudah sering bersama sejak pertama kali kenal. Yuuka juga suka membanggakannya, tapi itu tidak seperti Yuuka jatuh cinta dengan dia. Hmm ..., bagaimana menjelaskannya, ya? Itu lebih seperti dia adalah orang yang berada di atas jangkauan Yuuka, mana mungkin Yuuka bisa punya perasaan padanya."

"...."

'Aku pun sempat berpikir kalau dia mungkin suka dengan anak itu. Yah, itu cuma pikiranku saja, sih.'

Ternyata Ayame pun bisa salah mengira. Orang-orang seperti kami ini memang enggak pandai soal menebak perasaan. Apalagi aku.

Tapi rasanya cukup aneh saat dia berkata, 'Mana mungkin Yuuka bisa punya perasaan padanya'.

"Saat Naosumi SMP, dia juga sering berbuat onar, berkelahi, bahkan pernah sampai hampir dikeroyok lima orang. Untungnya aku berhasil mencegahnya sebelum itu terjadi."

"Lalu apa lagi?"

"Naosumi kerap berkata kalau dia jatuh cinta dengan Kotton, tapi Kotton menolaknya. Dan saat itulah hubungan di antara kami bertiga mulai merenggang .... Ya, kira-kira setelah itu."

"Kalau ini memang bukan cinta segitiga dan ternyata enggak ada kecocokan di antara keduanya, lalu apa yang terjadi pada mereka?"

"Yuuka tidak bisa menceritakannya .... Yang sudah Yuuka lakukan saat itu tidak bisa dimaafkan .... Hal-hal kejam itu, Yuuka yang melakukannya."

Setelah itu Hatsushiba enggak mengatakan apa-apa lagi.

Kurasa Hatsushiba begini karena dia disuruh oleh Songou.

Sewaktu aku terbaring di UKS saat itu, ada seseorang yang meneleponnya atau ketika aku baru selesai pulang kerja malam itu, tampak dia sedang menerima perintah dari Songou — atau begitulah yang kurasa. Kurasa aku enggak bakal salah ....

Tapi jika itu benar, kenapa Hatsushiba mau saja menurutinya? Inilah yang enggak kumengerti.

Secara pribadi, kupikir kalau dia memang menyukainya makanya dia mau menurut. Tapi kalau dilihat dari reaksinya tadi, sepertinya dia sungguh-sungguh. Enggak, dia mungkin sudah mengaturnya supaya aku terpedaya. Yang jadi masalah ternyata bukan Songou saja.

"... anu, kalau memang enggak ada apa-apa lagi sekarang, bukankah ini sudah saatnya kamu bicara jujur pada Ayame? Kalian berdua masih bisa untuk berdamai, 'kan?"

Tampaknya luka yang membekas di antara Ayame dan Hatsushiba itu cukup dalam.

Tapi bukan enggak mungkin untuk berdamai kembali, 'kan .... Itulah yang kupikirkan.

"...."

Jangankan menjawab, Hatsushiba sama-sekali enggak mau membuka mulutnya.

... omong-omong, kenapa pula aku harus ikut campur urusan mereka berdua.

Kurasa sejak Ayame menenangkan diriku, aku malah jadi cukup menyimpang.

Namun sampai di titik ini, aku ingin berbuat sesuatu terhadap gosip seputar Ayame.

"Hmm .... Setidaknya tolong jangan sebarkan lagi gosip soal Ayame. Sepertinya ada gadis yang enggak suka padanya dan menyebarkan gosip yang enggak benar tentangnya. Ya, 'kan?"

"... kenapa kamu sampai berpikir begitu?"

"Dari pengamatanku, sepertinya gadis itu memang ingin mengerjai Ayame."

Aku berusaha menyimpulkan dengan menyisihkan beberapa pilihan. Ini seperti mengukur kedalaman sungai dengan melemparkan batu ke dalamnya. Kepastian hasil ini bergantung pada reaksi Hatsushiba sendiri ....

"...."

Tidak ada reaksi. Kalau begitu aku tetap lanjut menekannya.

"Terlebih, setelah dia menyatakan cinta padaku, gosip antara diriku dengannya sudah tersebar ke mana-mana. Tapi gosip seputar Ayame yang dulu perlahan mulai enggak terdengar."

Soalnya gosip yang tersebar itu enggak berisi ajakan untuk lebih rajin bersekolah ataupun soal aku yang dikelilingi gadis-gadis.

"Tentang itu .... Sebenarnya Yuuka yang melakukannya dulu. Tapi yang Yuuka katakan itu hanya hal yang sebenarnya saja. Yuuka tidak pernah mengajak orang-orang agar menjauhi Kotton. Mereka mengatakan yang mereka anggap menarik untuk disebarkan saja. Yuuka melakukannya hanya karena ada sesuatu."

"Sesuatu?"

"Tapi Yuuka tidak pernah melakukan itu lagi saat SMA. Dan gosip yang beredar sekarang juga bukan dari Yuuka. Yuuka tidak tahu siapa orangnya. Sejak masuk SMA Yuuka lebih banyak menyendiri."

"... maksudnya?"

Masa, sih? Kalau Hatsushiba berkata jujur, berarti aku sudah berpikir terlalu jauh.

Hatsushiba menegaskannya sendiri kalau dia bukan sumber asal gosip tersebut. Entah benar atau bohong, aku enggak bisa memastikannya kalau cuma melihat ekspresinya saja ....

Bel penanda berakhirnya jam istirahat makan siang pun bergema dengan nyaringnya di segala penjuru sekolah.

"Yuuka harus balik ke kelas dulu."

Hatsushiba pun segera keluar dari ruang ekskul ketika enggak ada lagi pembicaraan di antara kami .... Ada apa ini?

Tinggal sedikit lagi aku bakal mengerti tentang persoalan yang sebenarnya. Jika benar, berarti ada seseorang di balik layar yang terus saja menyebarkan gosip tentang Ayame. Dan sejak Hatsushiba mendekatiku, bukankah Ayame tetap terasingkan? Atau masih ada seseorang lagi yang belum kuketahui? Apa orang tersebut diktator yang sebenarnya, yang bisa jadi itu Tozaki .... Rasanya enggak mungkin.

Kalau bisa disimpulkan, segalanya sudah mulai mengalir dengan lancar, namun ternyata masih ada saja yang menghalanginya.


♦♦♦


Sepulang sekolah, aku enggak langsung berangkat ke tempat kerja paruh waktuku karena sudah bertukar jadwal dengan teman. Itu sebabnya aku pergi ke rumah Ayame. Aku pernah melewati area sekitaran ini sebelumnya, dan alamat rumahnya tercantum di daftar kontakku. Cuma dengan menyentuh layar ponsel, pencarian bisa langsung dilakukan.

"Oh, di sini rupanya."

Di hadapanku kini ada sebuah rumah bergaya lawas yang kemungkinan dibangun sekitar empat puluh tahun yang lalu.

Aku lalu memeriksa papan nama dan nomor rumahnya. Di situ tertulis 'Ayame', yang berarti ini tempat yang benar-benar mau kutuju.

Aku memikirkan alasan kenapa aku ke sini — sebelum terlalu banyak memikirkan yang enggak ada gunanya, kutetapkan hatiku untuk memencet bel hingga kudengar suara dari balik pintu rumah ini.

"Iya, sebentar."

Bisa kudengar suara yang enggak kukenal saat pintu hendak dibuka. Rupanya itu seorang wanita paruh baya.

Wajahnya tampak mirip dengan Ayame. Apa wanita ini ibunya?

"Saya Aramiya, teman sekelas Kotoko. Apa Kotoko ada di rumah?"

"Wah, teman sekelas, ya? Dia sekarang sedang di luar membeli sesuatu, tapi sebentar lagi juga balik. Masuk dulu, tunggunya di dalam saja, ya?"

"Ah, oh, iya."

Ibu Ayame lalu menggaet lenganku dan berusaha membawaku masuk ke dalam. Biarkan saja, deh. Kalau kutolak rasanya juga enggak sopan.

"A-Aramiya?!"

Tepat di saat itu, Ayame datang dengan membawa sebungkus kantong plastik belanjaan. Dia mengenakan parka dipadukan dengan rok panjang. Tampaknya dia sudah biasa berpenampilan seperti itu. Dan mungkin saja di rumah dia juga berpakaian seperti ini.

"Ibu?! Ibu ini sedang apa?"

"Sudah lama tidak ada teman sekelasmu yang main ke rumah, toh? Wajar kalau diperlakukan sebaik mungkin."

"Jangan, enggak usah sampai begitu. Kalau Ibu masih sakit, jangan sampai dipaksakan begitu."

"Ibu enggak sakit, kok."

"Ibu kadang enggak sadar kalau kecapekan."

Mereka berdua memang sama-sama cerewet, namun pada akhirnya si ibu pun mengalah.

"Baiklah, Ibu tidur dulu."

"Ya, begitu lebih bagus."

Si ibu kembali masuk ke dalam rumah, dan tinggal Ayame saja yang berada di luar.

"Jangan hanya berdiri di luar saja, ayo masuk! Lagi pula, enggak mungkin kamu sampai pergi keluar kalau enggak ada sesuatu, 'kan?"

"Oke."

Aku kemudian masuk ke dalam rumahnya. Bagian dalam rumahnya tampak amat rapi. Sesuatu yang enggak bisa dipastikan kalau cuma melihat dari luar rumahnya saja.

Rumahnya juga luas, di dalamnya terdapat dua kamar tidur, yang mungkin di setiap kamar juga ada dapurnya masing-masing.

"Masuk saja dulu."

Ayame mempersilakanku masuk ke dalam kamarnya. Ada sebuah kasur, rak buku beserta meja belajar di dalamnya. Pada meja belajar tersebut terdapat layar monitor di atasnya. Kamar ini memang enggak begitu terlihat seperti kamar seorang gadis, tapi tampak rapi.

"Silakan duduk di mana saja kamu mau."

Kugeletakkan tasku lalu duduk sesuai dengan arahannya tadi.

"Sudah lama enggak ada yang berkunjung ke kamarku, jadi maaf, aku enggak bisa menyediakan alas duduk."

"Enggak apa-apa."

Ayame pun lalu ikut duduk.

"Hari ini kamu enggak masuk sekolah."

"... kamu khawatir, ya?"

"Itu .... Soalnya kemarin aku juga sudah bikin kacau."

"... jangan bilang kalau kamu ke sini hanya untuk menyerahkan catatan pelajaran terus langsung pulang."

"Di 'eroge', situasi seperti ini juga sering terjadi, kok."

Saat aku mengatakan itu, Ayame lalu tersenyum senang.

"Aramiya, sepertinya kamu lebih sering tersipu akhir-akhir ini."

"Enggak, ah!"

Lagi-lagi!

Tapi melihat dia sesenang ini seperti ada kelegaan tersendiri. Yang membuatku sempat khawatir tadi adalah karena dia tiba-tiba enggak masuk sekolah.

"Maaf, aku enggak masuk bukan karena kejadian kemarin."

"Apa itu karena kesehatan ibumu?"

Ayame lalu mengangguk saat aku menanyakan itu.

"Ibuku sebenarnya menyuruhku untuk sekolah, tapi diam-diam aku khawatir. Karena kebodohanku, ibuku jadi sering susah. Itu sebabnya aku ingin sesekali berterima kasih pada beliau."

"Jadi dalam beberapa hari ini kamu bakal bolos, begitu?"

"Enggak. Soalnya besok kakakku datang ke sini untuk menjenguk. Dia sudah bekerja, dan sewaktu kuberi tahu kalau ibuku sakit, dia langsung minta izin enggak masuk kerja. Jadi besok aku mungkin bisa masuk seperti biasanya."

"Begitu."

Setelahnya, kami berdua sama-sama terdiam. Yah, sesudah tahu alasan kenapa dirinya enggak masuk sekolah dan memastikannya baik-baik saja, maka urusanku di sini sudah selesai. Yang tertinggal cuma suasana di sekitar kami yang berubah jadi canggung.

"Hei."

"Eh ...."

"Begini ...."

"Ya?"

Sambil menggenggam roknya dengan malu-malu, Ayame sedikit mengalihkan pandangannya dariku.

Eh? Ada apa ini?

"... begini, apa kamu tahu caranya memastikan kalau orang itu sudah 'pernah' atau enggak?"

"'*Uhuk* *uhuk* *uhuk*!'"

Aku pun sampai meneguk liurku sendiri. Astaga, dia ini maksudnya apa, sih?

"So-soal kemarin itu .... Dengar dan pahami perkataanku dulu!"

"Yah ..., entah kenapa bisa jadi begini?"

Ayame pun langsung tampak murung.

"... aku hanya enggak begitu yakin."

"Eh?"

"Aku enggak pernah tidur dengan lelaki itu .... Aku juga enggak pernah punya niat melakukannya ...."

Ayame mencengkeram lengannya sendiri seakan dia sedang terluka. Dia terus mencengkeramnya sampai kukunya tampak menancap ke kulitnya.

"Jadi apa yang sebenarnya terjadi saat itu?"

"Aku diberi obat tidur ...."

"Hah?!"

Jadi cerita sebenarnya itu ....

"Aku enggak langsung tertidur seperti drama di TV begitu. Tubuhku perlahan-lahan mengantuk dan lama-kelamaan mulai enggak sadarkan diri. Saat bangun, aku tersadar kalau sedang berada di belakang gedung sekolah ..., dan Songou juga ada di situ. Aku merasa kalau hanya tertidur sekitar dua puluh menitan saja ...."

Ayame kemudian melanjutkan ceritanya meski dengan suara terbata dan gemetaran.

"Tapi selama dua puluh menitan itu aku benar-benar enggak sadar. Saat itu aku juga enggak bisa tahu jika ada seseorang yang berbuat sesuatu padaku .... Seragam sekolahku sudah robek di mana-mana .... Aku langsung memeriksa seluruh tubuhku, tapi aku masih belum sepenuhnya yakin .... Aku enggak bisa mengingat ataupun mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."

Suasana di kamar ini semakin terasa menekan, dan Ayame mendekatkan wajahnya ke hadapanku.

"I-itu sebabnya .... Kalau kamu tahu cara memastikannya, tolong bantu aku!"

"Da-da-da-da-dasar bodoh! Mana mungkin aku tahu!"

"Ko-kok bisa?! Ka-kamu sudah sering memainkan 'game'-nya, 'kan?!"

"Mana aku tahu kalau disensor begitu!"

"Nah, itu, ka-kamu sudah sering melihatnya, 'kan?! Ka-kalau begitu, ban-bantu aku me-me-memeriksanya ...."

Apa gadis ini baru saja mengatakan hal yang berlebihan?!

"Maaf, maaf, maaf .... Aku sudah keterlaluan ...."

Ayame lalu menarik napas dalam-dalam kemudian menenangkan diri.

"... apa soal ini sudah kamu tanyakan pada ibumu?"

"Mana mungkin, lah! Memangnya aku enggak tahu malu, apa?!"

Bukankah menanyakan hal tersebut pada seorang lelaki justru lebih memalukan lagi?

"Tapi kalau enggak diperiksa, aku belum yakin ...."

Ayame lalu menundukkan kepala. Sewaktu melihatnya, aku enggak bisa menebak seperti apa ekspresi wajahnya sekarang. Namun kupikir itu pasti terasa menyakitkan.

... huh, apa boleh buat?

"Mungkin saja kamu masih perawan, Ayame."

"Eh ...."

Ayame langsung mengangkat kepalanya setelah aku mengatakan itu. Yah, aku memang belum punya bukti yang jelas, dan aku juga enggak bermaksud untuk menghibur hatinya.

"Aku enggak akan mengulanginya lagi. Berkata seperti tadi membuatku malu sendiri."

"Aramiya ...."

Ucap Ayame, kemudian lanjut berkata,

"Syukurlah."

Ujarnya singkat dan tenang.

Sewaktu aku melihat wajahnya yang tampak lega, rasa resah di dadaku ini pun ikut menghilang.

Sebenarnya pemeriksaan fisik itu enggak bisa dijadikan alat bukti sepenuhnya, tapi ....

Kalau kejadian itu memang sudah terjadi, maka sikap dari pelaku yang berbuat hal tersebut bisa jelas kelihatan setelahnya.

Aku masih perlu mengetahui lebih detail lagi soal kejadian sebenarnya yang mendasari gosip soal pekerjaan jual diri Ayame itu.

Petunjuk yang kudapatkan masih sedikit, tapi jika gosip tersebut masih terus menyebar, bisa-bisa dia bakal menerima dampak yang lebih parah.

Meski alasanku untuk menyelidiki ini patut dipertanyakan.

Setidaknya aku ingin menghilangkan gosip yang kini sedang berkembang. Aku dan Ayame mungkin cuma bisa menyangkalnya sedikit demi sedikit saja.

Rasanya memang melelahkan, sih .... eh, tunggu!

Tanpa kusadari, kenapa aku mau bekerja sama dengan Ayame ...?

"Hal yang bagus, sih, kalau ada yang seiya sekata denganku."

Saat aku berkata begitu untuk meredakan keteganganku,

"Asal kamu enggak jadi orang yang selalu ingin tahu, aku sudah puas, kok."

Dia menjawabnya dengan kalimat yang amat menyinggungku.

Setelah dirasa cukup, aku lalu pamit dari rumah Ayame kemudian pulang.


♦♦♦


Aku membaringkan tubuh sejenak sesampainya di rumah, namun tiba-tiba telepon rumahku berbunyi.

"Siapa pula yang menelepon?"

Di rumahku sekarang cuma ada aku sendiri, karena itu aku harus bangun dan menjawab teleponnya.

Kenapa harus pakai telepon rumah segala? Kalau memang ada urusan, bukankah lebih baik lewat ponsel pribadi saja?

"Halo, ini Hatsushiba. Apa Aramiya Seiichi ada di rumah?"

"... Hatsushiba? Ada perlu apa?"

Enggak kusangka kalau dia menghubungiku lewat telepon rumah.

Yah, Hatsushiba juga sepertinya enggak tahu nomor ponsel-ku.

"A-Aramiya, toh. Syukurlah. Ada yang mau Yuuka bicarakan padamu."

Bukankah kita sudah banyak mengobrol hari ini? Apa lagi yang mau dibicarakan? Aku jadi curiga.

"Bicara soal apa?"

"... soal gosip itu."

Wah, kebetulan. Aku juga mau membahas soal itu.

"Yang benar? Yah, sebenarnya aku juga mau membicarakan soal itu."

"Kamu bisa keluar rumah, tidak? Kita bicarakan ini di tempat lain."

"Bisa, sih, tapi kenapa harus di luar?"

"Yuuka tidak mau bicara lama-lama di telepon."

"Ya sudah. Besok saja.

"... eh, harus sekarang!"

... mencurigakan. Mungkin bagi dia, ini seperti kalau ingin mencari anak singa, maka harus berani juga masuk ke kandang singa.

Namun menurutku, kalau memang enggak perlu, ya enggak usah ambil resiko. Lagi pula, aku juga enggak buru-buru ingin tahu.

"Maaf, besok saja 'kali, ya? Besok terserah kamu mau bicara sampai kapan."

Ujarku sambil hendak menutup telepon.

Akan tetapi,

"Ya sudah. Yuuka akan sebar gosip soal Aramiya yang hanya suka dengan gadis 2D ke seluruh sekolah, ya?"

"... kamu mau mengancamku?"

Gadis ini memang enggak tanggung-tanggung.

Kalau sudah begini, apa aku harus mengeluarkan kartu asku untuk balik mengancam? Enggak, itu terlalu cepat.

"Yuuka hanya mau menyebar gosip, bukan mau mengancam."

Terlepas soal fakta dia ingin berbicara denganku di luar rumah, rasanya juga enggak buruk-buruk amat ....

Namun aku merasa Hatsushiba terdengar cukup tertekan dari cara bicaranya tadi.

Suaranya seolah terdengar kebingungan ..., tapi kalau ini adalah salah satu trik pengisi suara, aku enggak bisa berbuat apa-apa lagi.

Di satu sisi aku sedikit ragu soal ini, tapi di sisi lain aku enggak punya pilihan.

"Aku dan kamu, cuma kita berdua, 'kan?"

"Eh ..., ah, ah, hmm ...."

"Ya, ada apa ...."

Setelah itu, kudengarkan penjelasannya mengenai tempat dan waktu janji pertemuan kami, aku pun segera mengenakan mantel dan segera menuju tempat yang dimaksud.

Ditambah, kukirim SMS pada orang rumah dan Kiriko-senpai yang mengabarkan kalau aku mau keluar rumah dulu.


♦♦♦


Hatsushiba terlihat sedang duduk di bangku taman enggak jauh dari stasiun kereta.

Saat melihat kedatanganku, dia langsung berdiri dan berlari ke arahku.

"Halo Aramiya."

"Ha-halo ...."

"Tidak usah pasang tampang curiga begitu."

Tentu saja aku curiga, soalnya untuk apa aku disuruh ke taman kota malam-malam begini?

Ditambah, Hatsushiba juga tampak seperti orang panik. Apa dia masih khawatir? Atau masih ada yang dia ragukan?

"Jadi, apa yang mau kamu bahas di sini?"

"Aramiya saja dulu."

Aku bergegas memaksanya, tapi dia justru berkata begitu .... Baiklah.

"Aku mau membahas tentang siapa yang menyebarkan gosip itu"

"Eh ...."

"Walau belum seratus persen, tapi aku masih punya keyakinan kalau itu Songou."

Sewaktu aku mengatakan itu, Hatsushiba tercengang hingga tubuhnya gemetaran.

"Tidak, tidak mungkin ...."

Hatsushiba ternyata juga enggak terlalu tahu soal itu. Makanya dia berbicara dengan suara pelan.

Seenggaknya situasi ini bukan seperti 'flag' gadis populer yang berhasil kupicu. Lagi pula, kalau enggak menanyakannya, aku juga enggak bakal tahu seperti apa kelanjutannya.

Tapi kurasa hal seperti ini memang bakal terjadi.

Hatsushiba menundukkan kepalanya ....

"Meski aku membiarkan dia berkata sesukanya, tapi aku enggak pernah percaya sama omongannya. Ini bukan soal kelakuan atau penampilannya, tapi dari yang kudengar soal gosip itu, dia memberi obat tidur pada Ayame untuk melakukan niat jahatnya. Kurasa apa pun pembelaannya, dia tetap salah."

"Eh ...!"

Seru Hatsushiba seolah enggak percaya dengan yang baru saja didengarnya. Dan beberapa detik kemudian—

Suara hantaman keras tiba-tiba terdengar seiring kepalaku yang mulai terasa sakit.

"Argh!"

Baru kusadari beberapa saat kemudian kalau aku telah dihantam dengan sesuatu yang keras.

"Na-Naosumi?! Apa yang kamu lakukan ...?! Sudah Yuuka bilang, Yuuka bisa menanganinya ....!"

Mendengar asal suara itu, aku sudah tahu siapa yang datang. Ditambah, terdengar suara berisik dari gerombolan orang dengan hentakan kaki mereka yang berlebihan.

Ya Tuhan, rasanya sakit sekali sampai-sampai aku enggak kuat lagi untuk berteriak.

Bergegas kuraih ponsel lipatku dari saku kemeja.

"Harusnya kamu lebih hati-hati!"

Songou meninggikan suaranya dan sesuatu yang keras menghantam lenganku.

"Argh ...!"

Ponsel-ku terjatuh.

Kutarik kakiku lalu menendang ponsel lipat yang terjatuh tadi ke arah taman bunga yang tumbuh lebat itu.

"Sudah kubilang, lain kali kamu harus hati-hati kalau berjalan di luar."

Berjalan di luar apanya?! Ini taman kota!

Kemudian aku kembali mendapat hantaman di kepala. Kesadaranku perlahan berangsur memudar.

Aku enggak tahan lagi. Aku pun jatuh tersungkur di tanah.

Sial .... Ini benar jebakan? Harusnya tadi aku pakai helm saja.

Seenggaknya kalau aku mau janjian bertemu seseorang, harusnya itu pun di tempat yang cukup ramai, tapi nyatanya ....

"Yuuka, terima kasih sudah membawanya ke sini."

"Naosumi, ini— apa ini?! Ini— seharusnya bukan seperti ini! Lalu ...."

Aku masih bisa mendengar sedikit perbincangan antara Songou dan Hatsushiba hingga akhirnya kesadaranku benar-benar hilang dan pingsan.


♦♦♦


"Hah!"

Aku dibangunkan paksa berbarengan dengan suara '*byur*'.

Pelan-pelan kubuka mataku dan melihat Songou sedang membawa sebuah ember.

"Sudah bangun, hah?!"

Rupanya dia menyimburkan seember air padaku tadi.

Kuamati sekeliling dan kusadari kalau aku sedang berada dalam sebuah ruangan yang luasnya sama dengan ruang kelas meski tanpa jendela. Yang ada hanya sebuah pintu yang digunakan sebagai jalur keluar masuk. Kulihat ada sekitar enam orang berkumpul di ruang ini.

Hatsushiba ada di pojok ruangan. Dia tampak sangat enggak nyaman.

"Ini di mana ...."

"Ini tempat rahasia kami. Kamu tahu gedung usang di sekitar area perbelanjaan, 'kan? Tempat ini ada di lantai bawah tanah."

Rupanya ini tempat terasing di ruang bawah tanah dari gedung usang. Sinyal enggak bakal sampai ke sini, jadi GPS enggak bakal berguna sekarang.

"Kenapa aku enggak bisa bergerak?"

Akhirnya kusadari kalau aku sedang duduk terikat di atas kursi.

"Sampai berbuat kriminal begini, sebenarnya apa maumu?!"

Aku mungkin sudah mengira bakal terjadi sesuatu, tapi enggak sampai separah ini. Bukan, aku pun sebenarnya sudah tahu kalau dia berusaha sekali ingin memerkosa Ayame sampai pernah memberi obat tidur padanya. Harusnya aku lebih waspada lagi.

"Jaga bicaramu, Otaku menjijikkan!"

"Kamu menyekapku begini pasti agar Ayame mau datang ke sini, 'kan?"

"... kamu benar."

Raut wajahnya langsung berubah setelah kusela tadi hingga dia enggak melanjutkan bualannya lagi. Tampak kalau dia sedang frustasi. Kenapa dia enggak sampai berpikir kalau aku bisa tahu niatnya? Barangkali benar yang dikatakan Tozaki kalau Songou orang yang gampang terbawa emosi."

Ingin aku lari, tapi tubuhku sekarang sedang terikat. Ditambah, pintu keluarnya cuma ada satu.

Sebuah keajaiban jika tali pengikat ini bakal longgar dan aku bisa kabur melalui pintu itu .... Mungkin aku harus berdoa agar keajaiban itu turun padaku.

"Kalau pikirmu bisa lolos, maka itu percuma. Aku sudah menyuruh orang untuk berjaga di luar pintu masuk gedung usang ini."

Pikiranku terbaca, meski begitu, dalam hati kecilku aku ingin agar Ayame enggak datang kemari.

Aku pernah melihat adegan semacam ini dalam 'eroge'. Kalau enggak salah, sang protagonis akan mengencangkan ototnya saat diikat tali, kemudian dia melonggarkan ototnya supaya gampang melepaskan diri dari ikatan tersebut. Bisa dibilang, sang protagonis tersebut mampu lolos dengan anggunnya.

Tapi untuk kasusku, aku sudah terlanjur dipukuli sampai pingsan hingga aku enggak bisa menemukan celah sedikit pun. Di samping itu, aku punya otot yang lembek. Meski dikencangkan sedemikian rupa, tetap enggak ada gunanya. Biarpun begitu, aku cuma bisa berharap agar Tuhan memberiku kekuatan seekor banteng supaya bisa melibas semua orang di sini.

"Songou, gadis itu sudah datang."

Lelaki yang berdiri di depan pintu masuk lalu membuka pintunya.

Ayame pun masuk ke dalam. Dia mungkin bergegas kemari karena baju yang dipakainya belum ada berubah sejak sore tadi.

"Aramiya!"

Untuk melambaikan tangan saja aku enggak mampu.

Ayame mencoba berlari ke arahku namun dihadang oleh lelaki yang berada di dekat pintu.

"Oi, jangan seenaknya saja kamu—"

Ucapan lelaki itu berhenti seiring tubuhnya terlempar karena pukulan Ayame.

Dari pengamatanku, lelaki tersebut terlempar kira-kira sekitar dua atau tiga meter jauhnya .... Lelaki itu pun enggak sadarkan diri.

"Apa kalian enggak kapok kupukuli, hah?! Kalian berani macam-macam dengan hal yang sudah di luar batas!"

Dia menatap Songou dengan pandangan menusuk, penuh hawa membunuh seakan dia bukan seorang murid SMA.

Songou lalu melesakkan tinjunya ke kepalaku.

"Argh ...!"

Ayame menggigit bibirnya dengan rasa amarah. Sial, aku benar-benar jengkel kalau enggak bisa berbuat apa-apa begini.

"... apa maumu?"

Ayame menurunkan tinjunya dan berbicara pelan.

"Kamu bakal tahu sendiri. Hei, kalian, cepat!"

Empat orang anak buah Songou kemudian mengepung lalu mengunci tubuh Ayame.

Setelahnya, mereka menjatuhkan gadis itu ke tanah.

"Telanjangi dia!"

"Apa ...?!"

"Hahaha. Melawan saja sesukamu! Aku di sini bakal menontonmu sampai telanjang bulat."

Lelaki ini benar-benar licik.

"Na-Naosumi! Kenapa begini?!"

Hatsushiba, yang sebelumnya cuma diam, kini berseru keras.

"Kamu berisik sekali, Yuuka! Diam dan turuti saja perintahku! Nantinya ini juga bakal ada untungnya buat keluargamu."

"Kenapa harus sampai begini? Bukankah kamu bilang hanya mau memisahkan Aramiya dan Kotton saja, 'kan?"

"Hah?! Ini semua gara-gara dia. Salah sendiri, kenapa dia masih mau saja dekat dengan Ayame. Biar dia rasakan sendiri akibatnya."

Hatsushiba kembali terdiam. Bagaimana bisa sampah masyarakat macam dirinya bisa berteman dengan Hatsushiba sedari kecil?

Tepatnya, kenapa Hatsushiba mau menurutinya seolah enggak bisa sedikit pun menentang.

"Ayo, cepat buka bajunya!"

Keempat orang itu pun mulai berusaha melucuti pakaian Ayame.

"Hentikan ...!"

Ayame melawan sekuat tenaga.

Dia memiringkan tubuhnya ke bagian yang cukup senggang. Sesaat, dia tampak bakal bisa meloloskan diri, tapi ....

"Yak, melawan seperti ini jauh lebih bagus. Lebih menegangkan."

Songou melihatnya seolah itu hal yang menyenangkan.

Sial, apa memang sudah enggak ada kesempatan untuk selamat ....

Aku berusaha menggerakkan dan menendang-nendang dengan kuat ke seluruh arah. Ikatan di kaki kananku rasanya mulai longgar.

"...!"

Sepatuku copot tapi itu membuat kaki kananku bisa bergerak sekarang!

Aku memaksa diri untuk bangkit sambil terikat pada kursi ini. Aku cuma bisa menggerakkan kaki kanan sehingga aku masih belum bisa berjalan dengan normal. Aku pun cuma bisa mendekat sedikit demi sedikit yang lambatnya masih kalah sama kura-kura.

Sementara itu, Songou rupanya sadar dan melihat ke arahku.

"Jangan sok ikut campur!"

Dia lalu menendang kakiku dan meninju perutku.

Aku terlempar bersama kursi lalu terguling di tanah dan menjauh dari posisi Ayame.

"Jangan ganggu Aramiya!"

Parka Ayame sudah hampir tersingkap semuanya, tapi dia masih mencemaskanku.

Sial, menyedihkan sekali aku ini.

"Kamu sebegitu sukanya pada anak ini sampai mengubah rambutmu jadi 'twintail', hah? Tapi rasanya aku lebih suka 'ponytail', deh. Hei, lepas dua ikatan rambutnya itu terus ikat kembali jadi satu."

Mungkin dia melakukan ini dalam rangka memamerkan kekuasaannya yang mampu melucuti Ayame.

Salah seorang anak buah Songou melepaskan dua ikatan rambut Ayame lalu mengikatnya kembali menjadi satu ikatan.

Rambutnya kini menjadi gaya 'ponytail' berbarengan dengan hampir terlepasnya parka yang dikenakannya tadi.

"Sudah cukup! Kalau memang aku sudah enggak perawan, kenapa kalian masih mengincarku ...?!"

"Sudah kubilang kalau kamu ini sudah enggak perawan. Terima saja kenyataannya."

Ayame mulai patah semangat. Enggak cuma itu, dia pun harus menerima fakta mengenai diriku yang terobsesi dengan gadis perawan saja.

Andai saja aku enggak terikat, aku bakal ....

Enggak, dengan lengan dan kaki yang tertindih sepenuhnya, meski Ayame sekalipun, dia enggak akan mampu melawan.

Ya Tuhan, aku mohon.

Gadis itu enggak salah apa-apa. Meski dia pernah menyebabkan bermacam persoalan, tapi dia melakukannya karena ada alasan tersendiri.

Dia enggak layak kehilangan kesuciannya dengan cara seperti ini.

Karena itu aku mohon, siapa saja, tolonglah dia, entah itu Buddha ataupun hewan buas.

Siapa saja ....

"... sial."

... apa yang kupikirkan?

Hanya berdoa saja enggak akan banyak membantu!

Kalau aku enggak melakukannya sendiri, pertolongan itu enggak bakal pernah ada! Bukankah seorang protagonis dalam 'eroge' pernah bicara begitu?

"Yuuka, sini, ikat kaki kanan anak ini!"

Perintah Songou seolah dia sadar akan hal itu. Dia pun kembali berpaling memusatkan perhatiannya pada Ayame.

Hatsushiba perlahan mendekat ke arahku tanpa ragu.

"... maaf, Yuuka tidak menyangka akan jadi seperti ini."

Ucapnya dengan suara pelan.

"Biar bagaimanapun, aku jadi bisa tahu yang sebenarnya."

Jawabku lirih agar enggak terdengar Songou.

Mereka masih belum berhenti tertawa. Mungkin mereka enggak bakal mendengar pembicaraan kami.

"Tapi ...."

"Ada apa?"

Eh ....

Tetap saja ada sesuatu yang janggal dari sikapnya. Ini sudah masuk ranah kriminal, meski begitu, gadis ini bukanlah orang yang tega berbuat kejam. Lalu kenapa dia ikut melakukan hal ini.

Sejak aku terbangun dari pingsan tadi, kulihat wajahnya selalu tampak seolah merasa bersalah. Eh, bukan, justru itu sejak kemarin malam.

Jelas ini bukanlah kepura-puraan. Kalau sejak awal Hatsushiba tahu soal ini, ekspresi wajahnya enggak bakal seperti itu.

Aku harus membuka mata Hatsushiba dan bergerak bebas, terlepas dari ikatan ini.

Ayo berpikir ...!

"Hatsushiba, kumohon, lepaskan ikatanku."

"Eh .... Yuuka tidak bisa .... Kalau Naosumi sampai marah, Yuuka tidak akan punya apa-apa lagi ..."

Aku dari dulu penasaran kenapa diam-diam dia menggantungkan dirinya pada orang lain. Tapi apa benar seperti itu yang kupikirkan?

Apa itu memang keinginannya sendiri untuk bergantung pada orang yang berani berbuat kejahatan seperti Songou? Apa yang ada di pikirannya .... Enggak, bisa jadi ini salah satu jenis Stockholm Syndrome. Sebelumnya mereka memang sudah sangat dekat sedari kecil.

Jika enggak menurut, Songou akan mengancamnya. Tapi lain cerita jika dia bekerja sama dengannya. Dia memilih opsi tersebut dikarenakan tingginya peluang untuk selamat. Naluri manusia memang seperti itu adanya.

Tapi saat ini hal tersebut kurang kuat untuk dijadikan alasan! Fakta soal Hatsushiba yang begitu penurut terhadap Songou ini pasti didasari oleh suatu alasan yang lebih kompleks. Itu pasti ...!

"Kalau terus begini, Ayame bakal benar-benar kehilangan hal paling berharga miliknya! Apa kamu enggak merasa bersalah?!"

"Itu .... Sebenarnya Yuuka juga tidak mau seperti ini ...."

"Songou enggak bakal bisa kembali seperti yang dulu lagi! Begitu pun kamu!"

"Tidak, Yuuka tidak bisa menentang Naosumi ...! Lagi pula, jika Yuuka tidak menurutinya, papa bisa dipecat dari pekerjaannya ...!"

Aku sempat mengira kalau mungkin saja dia tidak bisa lepas dari ketergantungannya pada orang lain, tapi kenyataannya benar-benar enggak bisa ditebak!

"Yuuka ingat pernah cerita kalau rumah kami bersebelahan dan kedua orang tua kami sudah saling akrab. Sebenarnya ayah Yuuka juga bekerja di perusahaan yang sama dengan ayahnya."

Kalau enggak salah, Ayame juga pernah cerita soal ini.

"Apa kamu diancam?"

Dengan ragu, Hatsushiba pun mengangguk.

"Setelah Naousumi dan Kotton putus, gosip negatif tentang Kotton mulai menyebar luas .... Kemudian Naosumi menyuruh Yuuka untuk ikut menyebarkan gosip itu .... Jika itu belum cukup menjauhkanmu darinya, maka Yuuka harus mengganggu kalian agar kamu tidak bisa dekat dengannya .... Kalau Yuuka tidak menurut, Naosumi sendiri yang akan turun tangan untuk menyerang Aramiya ..., dan papa akan dipecat dari perusahaan."

"Sekarang aku paham. Setelah Songou dan Ayame putus, kamu jadi mulai menjauh darinya, 'kan?"

"Benar. Karena Yuuka sudah ikut menyebarkan gosip buruk tentang Kotton, mana mungkin Yuuka bisa tenang saat bicara dengannya. Yuuka pun sebenarnya ... sama sekali tidak mau melakukannya! Yuuka sudah berbuat hal yang sangat kejam ...! Tapi Yuuka juga tidak bisa menentang Naosumi ...!"

Itu sebabnya dia enggak mau cerita.

"Ini bukan soal bisa dimaafkan atau tidak, namun ini hal yang rumit."

Ayame dan Hatsushiba sama sekali enggak sedang berkonflik. Hatsushiba cuma merasa bersalah, hingga dia pun menjaga jarak dengan Ayame. Di sisi lain, Ayame salah mengira kalau dirinya dijauhi karena sudah mencampakkan Songou.

Jadi bisa disimpulkan kalau ini kesalahpahaman belaka. Dan setelah semuanya terungkap, ternyata hal tersebut enggaklah sebegitu rumitnya.

Ketika misteri ini terselesaikan dan semuanya bakal pulih dengan sendirinya, maka aku enggak perlu lagi kesusahan begini.

"Hatsushiba, sekali lagi kuulangi, tolong lepaskan ikatanku!"

"Tapi, tapi ...."

Hatsushiba kali ini tampak gemetaran.

Sudah tentu dia merasa kalau Ayame enggak pantas diperlakukan begini.

Namun karena suatu hal yang cukup rumit, dia pun terpaksa melakukannya. Tinggal sedikit dorongan lagi agar aku bisa meyakinkannya. Tapi bagaimana?

"Lagi pula, kalaupun aku melepas ikatan Aramiya, itu tidak akan mengubah apa pun ...."

"Aku akan menolong Ayame. Meski cuma aku sendiri, aku masih bisa mengulur waktu."

Cuma itu yang bisa kulakukan.

Tapi jika aku melakukannya agar Ayame bisa mendapat sedikit waktu menghadapi situasi terburuknya ....

Mungkin ... aku bakal punya kesempatan untuk kabur.

Itu cuma sekadar rencana. Soalnya Ayame saja enggak bisa melawan dan aku pun masih terikat.

"Tapi ...."

Sampai di saat itu, Hatsushiba belum mau setuju.

Saat ini aku sudah enggak punya waktu untuk mengatakan hal yang sama berulang kali. Mungkin ini saatnya aku membuka kartunya.

"Kalau kamu enggak mau, bakal kusebar ke seluruh sekolah kalau kamu yang mengisi suara tokoh wanita dalam 'eroge' yang berjudul 'Appeal Time'!"

Mata Hatsushiba langsung berkaca-kaca. Dia tampak mulai ragu.

"Eh, tung-tunggu .... Ko-kok Aramiya bisa tahu?"

'Game' yang kusebut tadi sebenarnya dijual terbatas. Ditambah, tanpa orang-orang tahu, pengembangnya sempat melakukan perubahan di bagian pengisi suara. Meski begitu, anggap saja kalau fakta ini ternyata benar.

"Bisa kubilang, untuk ukuran anak SMA, membuat suara rintihan seperti itu, cukup lumayan juga. Kalau enggak salah ingat kamu mengisi suara saat bagian, 'Keluarkan semuanya di dalam, Master~!' atau semacam itu."

"Tidaaaaaaaaaaak! Yuuka mohon, jangan sebarkan! Yuuka hanya disuruh sutradaranya saja! Dan Yuuka pikir hanya Tozaki saja yang tahu soal ini."

Hatsushiba semakin tampak kebingungan. Aku bisa saja melanjutkannya lagi, tapi— sial.

Enggak bisa, meski aku menggunakan cara seperti itu, tetap saja enggak bakal berhasil!

Aku harus melepaskan ikatanku dulu!

"Kamu seorang pengisi suara, 'kan?! Kamu bangga pada pekerjaanmu, 'kan?! Dan kamu menggunakan bakat itu untuk membantu para kriminal melakukan kejahatannya?! Aku cuma bisa tertawa mendengar fakta semacam itu!"

"A-Aramiya .... Tapi ..., ayahku bisa ...!"

"Kamu juga tahu, untuk menjadi seorang pengisi suara dibutuhkan banyak biaya, mulai dari biaya kursus, perawatan diri dan sebagainya. Ayahmu pasti punya kemampuan hebat hingga bisa mengusahakannya supaya hal itu tercapai. Apa kamu pikir dia bisa dipecat dari perusahaannya dengan segampang itu? Apa kamu pikir perusahaannya bakal memberhentikan orang yang punya potensi besar? Perusahaan tersebut bakal merugi kalau sampai melakukannya."

Baik itu tekanan dari pihak internal maupun sisi bisnis, ancaman dari Songou itu cuma bualan belaka.

Tozaki juga bilang kalau Songou adalah orang yang suka membual.

"Dan kamu masih melupakan hal terpenting. Antara dipecat dari perusahaan atau anak perempuannya terlibat persoalan kriminal, mana yang bakal lebih disesali oleh ayahmu?!"

"... yang lebih disesali ...?"

"Dengarkan ini, kalau kamu melepaskan ikatanku sekarang, aku pasti bisa menyelesaikan permasalahan ini."

"Caranya? Bagaimana caranya?"

"Aku enggak ada waktu menjelaskannya! Anggap saja ketimbang menuruti perintah Songou dan hidupmu berantakan, lebih baik yakin padaku dan berjuang untuk menikmati masa SMA yang lebih nyaman. Bukankah itu seratus kali lebih baik?!"

"A-Aramiya ...."

"Kukatakan untuk terakhir kalinya, hadapi ini bersamaku, Hatsushiba! Aku bisa menolong dirimu dan Ayame, itu pasti!"

"...."

Kulihat Hatsushiba tampak lebih ragu sepersekian detik.

Tapi sepersekian detik pun rasanya terlalu lama.

Kumohon, aku bukanlah seorang protagonis ataupun atlet. Bahkan aku enggak bisa memutus seutas tali dengan tenagaku sendiri.

Aku cuma perlu tali yang mengikat ini dilepaskan agar aku bisa menyelesaikan persoalan ini.

Aku berdoa sembari menunggu jawaban dari Hatsushiba.

Kemudian — ekspresi wajah Hatsushiba mendadak berubah.

"Apa Yuuka bisa memegang janjimu?"

"Ya! Kamu bisa memercayaiku! Biar kutunjukkan padamu sisi diriku yang seenggaknya bisa dipercaya!"

Sepasang mata yang dulunya suram kini penuh dengan cahaya keadilan .... Hmm, sepertinya yang tadi itu cukup berlebihan.

Kalau memang begitu, berarti kini Hatsushiba enggak bakal ragu lagi.

"Terima kasih Aramiya. Mata Yuuka sekarang sudah benar-benar terbuka!"

Jika harus mengaku, sebenarnya ucapan tadi terilhami dari percakapan salah satu 'eroge' yang kumainkan. Mungkin Hatsushiba jadi terkesan.

Tapi kutipan ini diambil entah dari 'eroge' yang berjudul apa.

Bagaimana lengkapnya atau dari perangkat 'game' apa, yang kuingat cuma, 'Jika kamu mampu memandu para makhluk astral ke tempat semestinya ...,' potongan kalimat itu sendiri juga penuh akan kebanggaan,

"Akan kulepas ikatanmu sekarang ...!"

Hatsushiba mulai mencoba melepaskan ikatan talinya.

"Cepat ...!"

Saat memeriksa sekitar, kulihat parka Ayame akhirnya terlepas seluruhnya dari badannya.

Tubuh bagian atas Ayame cuma menyisakan kaos lengan panjang yang itu pun sudah tersingkap sampai ke bahu hingga memperlihatkan behanya. Sedangkan, rok panjang yang dikenakannya sudah terangkat sampai ke bagian atas paha. Tinggal sedikit lagi, Ayame bakal telanjang sepenuhnya ...!

Chuuko Vol 1 p281.jpg

"Ah, sedikit lagi ...."

Mereka masih belum menyadari pergerakanku.

Mereka masih terus terfokus untuk melepas pakaian Ayame seluruhnya. Songou sendiri sedang asyik menonton adegan itu sambil tersenyum mesum.

"Yak, lepas!"

Akhirnya kini aku bisa mendapatkan lagi kendali atas tubuhku.

"Terima kasih, Hatsushiba! Kamu pasti bakal menjadi dewi di antara para pengisi suara! Aku jamin itu!"

Kuperiksa saku bajuku, ponsel cerdasku masih berfungsi dengan baik.

Mulai sekarang, ini akan menjadi tindakan terhebat dalam hidupku.

Jangan cemas, bersikaplah dengan gagah berani layaknya seorang protagonis saat adegan klimaks dalam sebuah 'eroge'. Itu saja sudah cukup.

Di saat-saat terakhir, cuma dengan sedikit pergerakan saja sudah cukup untuk menyelesaikan permasalahan. Kejadian buruk semacam ini mestinya enggak perlu dilanjutkan sampai akhir.

"Kalian semua, jangan bergerak!"

Teriakku nyaring hingga bergema ke seluruh ruangan. Semua orang langsung terdiam, lalu melirik ke arahku.

Songou mengerutkan dahinya saat melihat ikatanku yang sudah terlepas. Hatsushiba lalu dipandanginya sampai gadis itu pun menjadi ketakutan.

Namun aku mengabaikannya dan lanjut bicara,

"Kalau tidak ingin ditangkap polisi, cepat lepaskan dia!"

Kuacungkan ponsel cerdasku dari dalam saku baju.

Akan tetapi ....

"Hahaha, Hahaha, Hahaha!"

Mereka tertawa terbahak-bahak hingga leher mereka terdongak ke belakang.

"Kita ini ada di bawah tanah! Lihat saja ponsel-mu! Sinyal saja enggak menjangkau ke sini, bagaimana kamu bisa memanggil polisi, hah?!"

Bual Songou dengan angkuhnya. Enggak cuma itu, dia pun menampakkan wajah mengejek seperti seekor anjing. Ingin rasanya kupukul dia.

"Kalian semua memang bodoh. Dari dulu aku sudah mengira kebodohan kalian itu. Bawah tanah? Memangnya kenapa?"

Setelah kuucapkan penjelasan itu dengan menyisipkan ejekan, wajah mereka mendadak berubah meringis.

"Ponsel cerdas punya fungsi sebagai 'transceiver'. Apa kalian tahu itu? 'Transceiver' adalah sebuah fungsi nirkabel untuk berkomunikasi via ponsel tanpa memerlukan jaringan."

"Bagaimana bisa ka—"

"Kalau boleh bertanya, apa kalian tahu di mana ponsel lipatku? sepertinya itu tertinggal saat di taman kota tadi. Hmm, sekali aku mengaktifkan fungsi ini, maka aku bisa seolah menelepon di lokasi ponsel lipatku itu berada."

Saat itu juga mereka mulai terlihat panas dingin. Songou menatapku dengan pandangan ganas.

"Setelah memanggil polisi dengan ponsel lipat tersebut, itu artinya semua ini bakal berakhir. Aku enggak sembarangan menendang ponselku waktu itu. Aku cuma memindahkannya ke taman bunga tanpa terlalu menarik perhatian kalian."

... terlepas dari niatku menendang ponsel itu, pada kenyataannya itu cuma gurauan semata.

Cuma perangkat PCT dan beberapa merek ponsel saja yang di dalamnya terpasang fungsi 'transceiver'. Sebenarnya merek ponsel cerdasku ini enggak memiliki fungsi tersebut. Meski ada cara lain yaitu menggunakan 'bluetooth', namun jarak antara taman kota dengan tempat ini terlalu jauh. Sinyal komunikasi dengan 'bluetooth' cuma bisa menjangkau radius sekitar seratus meter saja. Sama sekali mustahil bisa menjangkau taman kota dari tempat ini.

Dengan kata lain, yang kulakukan kini cuma untuk mengulur waktu saja. Sepuluh detik, atau bahkan sedetik pun waktu yang terulur, itu masih lebih baik.

"Hmm, sudah selesai omong kosongnya? Silakan saja telepon kalau bisa!"

Rencanaku rupanya enggak berhasil. Ternyata dia enggak bisa ditipu dengan cara ini.

Dia benar. Kalau memang aku bisa menelepon polisi, pasti itu sudah kulakukan sedari tadi.

"Dasar 'otaku' menjijikkan, kamu fetis gadis perawan, 'kan?! Kenapa kamu mau saja didekati sama Ayame yang sudah enggak perawan?!"

Sambil menggelengkan kepala, kujawab pertanyaan Songou,

"Itu karena Ayame masih perawan."

"Hah?! Apa maksudmu itu hatinya yang masih perawan, hah? Hahaha!"

Songou cekikikan seolah geregetan. Yang benar saja, kalau hatinya masih perawan, itu justru bahaya. Mendengar dia mengoceh barusan membuatku enggak tahan.

"Akui saja, Songou."

"Apa?"

"Kamu sendiri masih perjaka, 'kan? Kamu cuma membual agar orang lain segan padamu, 'kan?"

Songou langsung mengernyitkan alisnya, menyinggung hal ini seperti ada kepuasan tersendiri.

"Dari mana kamu mendengar itu?"

"Aku sendiri ragu, apa kamu memang pernah berpacaran atau enggak. Yang pasti, di mana saja kamu selalu berkoar kalau kamu adalah pacar Ayame. Iya. 'kan?"

Kabar ini memang tepat, Tozaki ternyata tidak berbohong.

'Lelaki itu kalau berbicara seperti orang kesetanan. Dia selalu membanggakan hal-hal semacam mencuri di toko ataupun menindas anak-anak. Sewaktu di SMA-nya, konon kalau ada yang menegurnya, maka dia akan mengamuk dan menghajar si penegur itu. Pokoknya susah, deh. Untunglah kita enggak satu SMA dengannya.'

Meski mungkin ada semacam kesalahpahaman ataupun kisah yang kurang lengkap, tapi saat kubeberkan hal barusan, dia jadi tampak jengkel. Berarti itu memang benar.

"Seperti itulah kepribadianmu, itu sebabnya kamu memamerkan hubunganmu dengan Ayame. Dan karena kalian sudah putus, kamu jadi enggak bisa membualkannya lagi."

"...."

"Cuma ada satu alasan yang membuatmu bersikap begitu, yaitu karena kamu enggak punya nyali. Bukan, yang namanya unggas saja enggak berkokok seperti ini. Kamu lebih rendah dari seekor pengerat, atau mungkin kupanggil saja kamu si otot lembek?"

"Kamu ...!"

"Karena enggak mampu melepas keperjakaanmu, makanya kamu tersiksa. Lalu dengan mengatai orang lain sudah enggak perawan, perasaanmu bakal terobati. Terlebih, Ayame memiliki sifat yang seperti itu, dia menanggapi hal ini dengan serius. Setiap kali ada yang mendekatinya, orang-orang bakal menganggap itu sebuah transaksi jual diri. Jika ada orang yang mempersoalkan hal tersebut, Ayame sendiri yang bakal menghajarnya. Bagimu itu mungkin seperti 'sekali dayung dua-tiga pulau terlewati'. Yak, Ayame memang belum kehilangan kesuciannya! Orang yang terobsesi dengan gadis perawan sebenarnya adalah kamu, Songou! Dan karena ulahmu, seorang gadis menjadi terasingkan!"

Aku enggak begitu tahu seberapa bodoh daya pikir orang-orang ini, tapi lebih baik kukatakan saja semuanya.

"Karena otakmu setara dengan hewan berkaki empat, rencanamu untuk satu SMA dengan Ayame pun gagal. Itu sebabnya kamu menyuruh Hatsushiba untuk menyebar gosip buruk tentang Ayame dan merencanakan semuanya. Ckckck! Kamu memang bodoh! Jangan-jangan kamu enggak hapal perkalian sembilan, ya?! Bisa jadi kamu mengira kalau Eropa itu sebuah negara. Iya, 'kan?! Dasar bocah!"

Berulang kali kutegaskan kata 'bodoh' hingga Songou tampak murka.

Anggap saja kalau ternyata ucapanku itu benar adanya. Wah, gampang sekali ditebak. Perutku sampai sakit menahan tawa.

"Diam kamu, 'otaku' menjijikkan!"

"Aku enggak bakal diam. Nikmati saja sampai selesai."

"Kubilang, diam, 'otaku' menjijikkan!"

Dia melontarkan kalimat intimidatif itu padaku.

Ya ampun, aku sempat ketakutan sampai bingung harus berbuat apa. Kakiku masih belum berhenti gemetaran.

Namun ini sebuah tindakan hebat, jadi mana mungkin aku membuang kesempatan ini. 'Eroge' enggak mengajarkanku untuk menjadi pengecut di saat adegan utamanya sedang terfokus padaku.

"Kalau aku perjaka memangnya kenapa?! Bukankah kamu juga sama?! Kenapa kamu mau saja dekat dengan Ayame?!"

'Mau saja dekat', yang benar saja?

Ya, itu benar, aku memang mau dekat dengan Ayame.

Semenjak aku sering diperdaya oleh beberapa gadis, aku enggak pernah lagi tertarik dengan gadis sungguhan. Ketertarikanku beralih cuma pada gadis 2D saja.

Penyebabnya bukan karena aku bisa membahas 'eroge' dengan gadis itu ataupun aku mulai bisa menerima gadis 3D.

Tapi cuma ada satu alasan yang membuatku mengerti.

"... karena Ayame-lah yang mungkin menjadi gadis impianku."

Sebelumnya aku terus saja mencari alasan untuk mengelak.

Tapi kalau boleh menyimpulkannya dalam satu kalimat, alasan kenapa aku mau saja dekat dengan Ayame adalah karena itu.

"Aramiya ...."

Ayame mengatakannya dengan tenang dalam situasi seperti ini. Wajahnya sepintas terlihat sedikit senang.

Huh, reaksi yang enggak jelek-jelek amat, sih.

"Gadis impianmu?! Payah banget!"

"Ya, itu memang terdengar payah jika kamu menganggapnya cerita khayalan ataupun menjadikan Ayame sebagai objek 2D. Tapi yang pasti, jika aku mengabaikannya, maka kelak suatu saat aku bakal menyesalinya."

Walau itu mustahil, tapi aku secara enggak sadar bisa tertarik pada Ayame hingga membuatku berkata seperti tadi. Sebenarnya aku masih merasa risih terhadap pendekatan yang dilakukan oleh gadis sungguhan, tapi untuk gadis ini, aku enggak yakin bakal bisa seperti itu.

"Dan untukmu, Songou, sekalipun itu dalam bentuk 2D, kamu adalah orang yang berusaha merebut kesucian Ayame yang berhak menjadi gadis impianku. Itu sebabnya kamu adalah musuhku, dan itu juga yang menjadi alasanku untuk menolong Ayame."

Walau pada akhirnya nanti aku mengharapkan yang terbaik, entah itu Ayame yang berhasil menjadi gadis yang kuimpikan atau enggak.

"Ini sebabnya aku benci 'otaku' menjijikkan. Selalu membicarakan omong kosong setiap saat."

Ucap Songou seakan muak mendengar perkataanku.

Baiklah, mungkin ini waktu yang tepat.

Aku sebaiknya memulai dengan hal-hal yang menyinggungnya sebelum kuungkapkan semua.

"Itu karena mereka enggak suka jika ada yang ikut-ikutan seperti mereka."

"... hah?"

"Kamu berusaha menyembunyikannya, tapi kamu sendiri enggak pandai menjaga bicaramu. Cuma dengan melihatnya saja, aku sudah bisa merasakan aroma-aroma 'otaku' dalam dirimu."

"Bicara apa kamu?! Mana buktinya?!"

"Yah, beberapa perilakumu sendiri sudah mencerminkan pribadi seorang 'otaku', termasuk cara yang kamu pakai agar enggak ada orang yang mendekati Ayame, itu bersumber dari salah satu 'eroge'. Gaya bualanmu bahkan cara menjebak dan suasana yang kamu bangun kini juga menunjukkan sisi 'otaku'-mu."

Termasuk saat dia memberi obat tidur pada Ayame dulu.

"Cuma karena itu saja, terus kamu bilang—"

"Bukan cuma itu, kamu juga terkadang keceplosan menyebut istilah yang enggak banyak diketahui semua orang, seperti fetis, anak cupu, 'otaku' menjijikkan maupun menguik. Bahkan istilah preman kampung saja kamu bisa tahu. Wah, anak berandal zaman sekarang yang tahu kosakata itu benar-benar langka."

"...!"

"Dan yang paling telak adalah saat kamu bilang 'twintail' tadi. Cuma mereka yang 'otaku' saja yang bisa langsung paham istilah itu. Bahkan kamu pun sempat menjelaskan tentang 'ponytail'. Padahal 'otaku' zaman sekarang saja sudah mulai mengurangi penggunaan istilah itu. Bisa-bisanya kamu keceplosan omong?"

Sebenarnya masih ada sedikit keraguan saat aku menjelaskannya, tapi kalau kenyataannya memang benar begitu, maka semuanya bakal segera terungkap.

Aku lalu terhempas jatuh menimpa kursi dan membuatku tubuh bagian belakangku kesakitan. Belum habis perih yang kurasa, Songou kemudian menarik tubuhku lagi ke atas.

"Berhenti! Jangan sakiti Aramiya lagi!"

"Kalau begitu turuti kata-kataku, Ayame. Kamu sudah memukuliku dan para anak buahku, jadi aku bakal membalasnya lewat anak ini. Cukup adil, 'kan?"

"Kamu memang jahat!"

Songou lalu memukuliku lagi. Berengsek, sakit ...!

"Hati-hati kalau bicara!"

Istilah-istilah langka yang kusebut tadi kini sudah enggak dibantahnya lagi.

"Mati kamuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!"

Meski begitu, aku akhirnya bisa mengalihkan perhatian orang bodoh seperti dia.

Songou mungkin terkena pukulan telak di lubuk hatinya. Wajahnya kini penuh dengan amarah. Orang macam apa yang sama sekali enggak pandai menutupi rahasia macam begini?

"Akui saja, 'otaku' terselubung! 'Eroge' macam apa yang terakhir kamu beli?! Pelecehan seksual di kereta atau yang bergenre 'lolicon'? Lain kali aku bakal merekomendasikanmu 'game' yang protagonisnya sudah hampir menang tapi ujung-ujungnya jadi pengecut. Bagaimana, tertarik?"

Wajah Songou kini tampak makin terfokus disertai dengan niat untuk membunuh.

Kemudian segera kuambil kesempatan ini.

"Yak!"

Kutinju wajah Songou.

"Argh!"

Tangan kananku tepat mengarah ke dagunya. Dia mungkin mengira kalau tinjuku bakal meleset, itu sebabnya dia enggak berusaha menangkis. Aku sedikit bersyukur saat melihatnya sedikit kesakitan.

Tapi tangan kananku juga ikut sakit. Dagu manusia itu ternyata keras juga.

Setelahnya, wajah Songou kembali terlihat murka.

"Kalian semua! Mau sampai kapan mengurusi Ayame?!"

"Eh! tapi ...."

"Diam! Jangan komentar! Kalau ingin selamat, cepat pegangi anak ini supaya enggak bisa bergerak!

Anak buah Songou langsung beranjak dan bergegas ke arahku, lalu mengunci kaki dan lenganku.

Padahal sudah kuberitahu soal menyimpangnya Songou, tapi anak buahnya ini masih saja mau menurut. Mungkin statistik kepemimpinannya cukup tinggi.

"Coba katakan, 'Dufufukopo ofudopufo fokanupou'*, wahai Songou si 'otaku'!"

(*フォカヌポウ/ デュフフコポォ オウフドプフォ フォカヌポウ adalah rangkaian kata tanpa makna yang sering digunakan di kalangan otaku dunia maya yang menunjukkan kalau si penulis sedang 'tertawa terbahak-bahak'. Jika dalam dunia internet Indonesia, kira-kira seperti 'aowkaowkaowk'.)

Setiap kali aku memprovokasinya, wajah Songou perlahan memerah. Dia lalu meninju perutku.

"Ugh ...! Uhuk, uhuk, uhuk .... Haha, hah, haha ...."

Aku enggak boleh mengalah pada rasa sakit ini. Aku harus membuangnya. Katakan saja semuanya. Yang penting fokusnya sekarang tertuju padaku.

"Bajingan! Apa yang kamu tertawakan?!"

"Apa ini mengenai titik lemah mentalmu? Santai saja. Jadi kamu memang benar 'otaku terselubung'. Ayo kita duduk bareng dan bahas apa bedanya stoking dengan kaos kaki panjang? Kamu tahu kalau otot bakal menciut jika dipakaikan baju ketat, 'kan?"

"Diam!"

Dia kembali memukuliku. Dia memukulkannya di tempat yang sudah terasa sakit.

Tubuhku kini mulai mati rasa.

"Pukul saja sesukamu kalau itu bisa menghilangkan sakit hatimu, dasar perjaka!"

"Hah, hah ...."

"Oh! Kamu sudah capek? Dasar lemah!"

Setelah mengatakan itu, Songou lalu memalingkan pandangannya dariku dan menoleh ke para anak buahnya.

"Hei, kamu! Kalau enggak salah, kamu pernah bilang kalau sembarang saja enggak apa-apa, 'kan?"

"Ya."

"Jadi, bagaimana kalau lelaki yang itu saja?"

"Dia agak kurus, tapi sepertinya boleh juga."

... mereka ini sedang membicarakan apa? Apa itu pembicaraan normal orang Jepang?

Songou lalu tersenyum licik.

"Akan kuajak seseorang untuk bersenang-senang denganmu. Aku di sini cukup memotretnya saja dan menyebarkannya ke internet."

"Eh, tunggu! Apa-apaan ini?! Jangan!"

Ada tiga orang yang menahanku tiarap ke tanah, dan orang keempat mulai merangkak di atas punggungku.

Ketiga orang lainnya yang menahanku tiarap tadi berusaha menarik celanaku.

"Hen-hentikan! Aku serius, hentikan!"

"Eh? Sudah sejauh ini, buat apa malu? Aku bakal memberikan tontonan yang begitu diidamkan para monyet busuk, jadi enggak usah cemas!"

Bagaimana enggak cemas?! Harusnya mereka cari orang yang lebih tampan dan gampang didekati — bukan 'otaku' atau berandalan begini! Jelas beda selera!

"Oiiiiiiii! Menyingkiiiiiiiir!"

"Kamu mau menyelamatkan keperawanan seorang gadis, tapi kamu sendiri bakal kehilangan keperjakaanmu! Sudah gila, ya?!"

"Hentikan! Jangan tarik celanaku!"

Dipukuli, aku masih bisa menahannya.

Ditusuk, aku sudah mempersiapkan diri.

Tapi disodomi, aku enggak menyangka sebelumnya! Dan aku enggak mau disodomi!

Bisa kudengar suara resleting celana yang sedang dibuka.

"Hentikan! Jangan, ini sudah enggak lucu lagi! Jangan tarik celana dalamku!"

Orang yang membuka resletingnya tadi beranjak ke belakangku.

"Ini bagianku, kamu menyingkir sana, kampreeeeeeeeeeet!"

Bersamaan dengan itu, orang yang sedari tadi berada di belakangku ditendangnya.

Enggak berhenti di situ, orang-orang lain di sekitarnya juga ikut ditendang.

"Argh!" "Huk!" "Ugh!"

Sesaat tubuhku sedikit bisa bergerak, bergegas kupakai kembali celanaku dan langsung berdiri.

Kulihat Ayame— yang sudah lepas dari pegangan orang-orang tadi, akhirnya bisa kembali berdiri.

Parkanya pun sudah dikenakannya lagi sehingga pemandangan dirinya yang cuma mengenakan bra sudah enggak terlihat lagi.

"Keperjakaan Aramiya, baik yang di depan maupun yang di belakang, semuanya itu punyaku!"

....

... tunggu, kalau yang di depan masih bisa kumaklumi.

"... apa kamu juga mau merebut keperjakaan bagian belakangku juga, hah?!"

Bokong mendadak terasa ngilu.

"Ah, eh, aku salah bicara. Maksudku, semua yang ada di dirimu itu adalah punyaku ...."

Belakangan ini dia memang sering salah bicara. Sepertinya sikapnya kali ini sudah lumayan bagus.

"Kalian ...."

Wajah Songou langsung tertekuk. Andai saja ada lomba aneh-anehan wajah, aku yakin kalau dia pasti dapat posisi juara.

"Akan kubunuh kalian berdua!"

"Bunuh saja kalau kamu bisa, Songou. Biar kamu tahu sudah seberapa kuat aku sekarang."

Kalau enggak salah, alasan dia membenciku adalah karena aku menyelamatkan Ayame, 'kan?

Ayame tampak tenang dan kalem. Setelah tahu kalau aku sudah terbebas dari ikatan, ekspresinya jadi lebih bersemangat.

Lelaki ini begitu marahnya padaku hingga membiarkan semua anak buahnya beralih dari Ayame. Songou benar-benar enggak berpikir matang saat dia menyuruh anak buahnya. Meski akulah orang yang memancing emosinya, tapi enggak kusangka bisa seefektif ini.

"Enggak bakal ada yang datang menyelamatkan kalian. Biar kulihat sampai kapan harapan kalian bisa bertahan!"

Songou pun melancarkan tinjunya ke Ayame, namun gadis itu berhasil mengelak dan mendaratkan sebuah pukulan ke perutnya.

Songou terlihat mampu bertahan dari sebuah pukulan yang bisa menumbangkan seorang pemeran pembantu .... Meski begitu, ekspresi wajahnya tampak sedang kesakitan.

"Kalian semua! Jangan cuma diam saja!"

Para anak buah Songou kemudian berdiri sambil gelagapan.

Di saat yang sama, Ayame sendiri sudah cukup kuat untuk menghadapi ancaman yang bakal datang. Dia mampu menghindar dari berbagai serangan dan membalasnya hingga mereka terpental. Dan aku sendiri, aku cuma perlu lari menjauh agar enggak ditangkap kembali.

"Sial! Sial! Kenapa?! Kenapa semuanya berantakan?! Sejak dia lepas dariku, semuanya jadi kacau! Berengsek!"

Songou tampak sangat murka. Akhirnya dia mengeluarkan sebilah pisau lipat.

"Sepertinya kamu jadi liar hingga harus mengeluarkan benda itu?"

"Liar ...? Berisik ...!"

Sewaktu mereka bersitegang, aku langsung memosisikan diriku di depan Ayame.

"A-Aramiya?"

"Ditusuk itu sudah jadi kewajiban seorang pria."

Aku mungkin enggak bakal sanggup menyaksikan seorang gadis terluka parah demi melindungiku.

Hal seperti ini, baik itu 2D maupun 3D, rasanya sama saja.

Protagonis dalam 'eroge' ... mungkin mesti melakukan hal seperti ini, dan aku juga bakal melakukan hal yang sama.

"Kalau begitu kamu duluan yang kutusuk!"

Kupejamkan mata dan bersiap.

"Ayo! Meski aku mati—"

Dan saat itu juga, pintu terbuka dengan kerasnya.

"Semuanya, jangan bergerak!"

Polisi dalam jumlah yang cukup banyak, sambil membawa pentungan, menerobos masuk ke dalam dengan suara yang sangat gaduh.

"Po-po-polisi ...?! Bagaimana bisa ...?!"

Songou tampak enggak percaya dengan yang dilihatnya. Dia pun langsung ditangkap dan pisau yang dipegangnya segera diamankan sebelum para polisi itu meniarapkannya ke tanah.

"Ba-bagaimana polisi bisa sampai kemari ...?!"

Teriak Songou tanpa memedulikan polisi yang sudah menyuruhnya untuk diam.

"Apa ini ulahmu?!"

Songou menatapku dalam kebingungan. Meski begitu, aku sendiri pun kebingungan.

"Entahlah."

Ucapku sambil mengangkat bahu. Hal ini enggak perlu kujelaskan. Sebaiknya aku diam saja.

"Berengseeeeeeeeeeeeeek! Arghhhhhhhhhhhhhhh!"

Songou berteriak saat digiring keluar ruangan. Para anak buah Songou juga mendapat perlakuan yang sama.

Jika cakupan garis polisi itu memang luas, melakukan hal yang salah bakal dianggap salah. Mereka semua enggak bakal bisa lari dari polisi lagi.

"Apa kita sudah selamat?"

Ucap Ayame penuh kebingungan.

"Ya."

Kujawab sambil mengangguk.

Lalu salah seorang polisi mendatangi kami.

"Kalian berdua ikut saya."

Karena disuruh begitu, maka kami pun mengikuti polisi tersebut.

Anggota polisi lainnya menyarankan agar kami diinterogasi terlebih dulu.

Huh, bikin capek saja.

Dan sewaktu aku keluar dari gedung usang bersama Ayame dan lainnya—

"Seiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiichiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!"

Seru Kiriko-senpai sambil berlari kencang ke arahku. Beliau pun langsung memelukku tanpa ragu.

"Syukurlaaaaaaaaaaaaaaah!"

"Iya, sudah, jangan dipeluk begini! Aku malu!"

Lagi pula, seluruh tubuhku masih terasa sakit!

Terlebih, Ayame masih terlihat jengkel.

"Ta-tapi, tapi!"

Kiriko-senpai kini sedang dalam modus hilang rasa malu. Matanya penuh dengan air mata.

Namun kali ini, orang yang sebenarnya menyelamatkanku adalah Kiriko-senpai. Biarpun begitu, aku harusnya bersikap baik padanya.

Pertama-tama, alasan polisi mau menindak laporan ternyata sangat sederhana.

"Kulihat posisimu di GPS terpisah di dua titik yang berbeda. Itu membuatku sangat cemas tentang keadaanmu."

Jika ponsel lipat dan ponsel cerdasku, yang harusnya berada di tempat yang sama, malah terpisah satu sama lain, Kiriko-senpai yang melihat posisiku di GPS pasti bakal menyadari kejanggalan ini. Beliau pasti bertanya-tanya tentang yang sedang terjadi padaku.

Sewaktu menjatuhkan ponsel lipatku tadi, aku segera menendangnya agar mereka enggak sempat mengambilnya. Membiarkan dua ponsel di tempat yang berbeda di saat yang bersamaan ternyata justru menguntungkanku.

"Terima kasih sudah memanggil polisi, Kiriko-senpai."

"Oke .... Aku sebenarnya berharap agar tidak ada sesuatu yang buruk menimpamu. Aku jadi merasa bersalah."

Dan alasan kenapa beliau bisa tahu kalau aku berada di lantai bawah tanah, rupanya juga cukup sederhana.

Memang benar, sinyal ponsel enggak sampai menjangkau lantai bawah tanah gedung, tapi ini masih di sekitar area pusat perbelanjaan.

GPS dari ponsel rupanya masih bisa memetakan diriku yang berada di lokasi tersebut, dan Kiriko-senpai langsung mengetahuinya.

Selain itu, GPS mampu menjangkau tempat yang enggak bisa diraih oleh sinyal ponsel.

Oleh karenanya, lokasi bawah tanah di bawah gedung ini pun terlacak. Aku yakin polisi bakal datang menolong, dan aku sangat memercayai Kiriko-senpai.

Saat ini, mungkin aku perlu menolong Ayame terlebih dulu. Jujur saja, jika Ayame enggak datang tadi, entah sudah jadi apa aku ini. Mungkin hal mengerikan bisa terjadi.

"Maaf, silakan masuk ke dalam mobil."

Petugas polisi lalu mempersilakan aku, Ayame dan Hatsushiba agar masuk ke dalam mobil polisi.

Sudah lama aku enggak berada di dalam mobil sejak terakhir kali aku terlantar di pinggir jalan dulu.

Pemandangan akan kejadian di malam yang panjang ini pun bakal mendekati akhirnya.

Epilog[edit]

Seiring waktu berlalu, interogasi pun berakhir. Rupanya fajar sudah menyingsing.

Mentari hampir sepenuhnya naik melintasi ufuk timur, bersinar amat terang hingga menyilaukan mataku. Barangkali enggak apa-apa kalau hari ini aku bolos sekolah.

Sekarang, kami sedang berada di luar kantor polisi. Para orang tua dan wali kami yang juga buru-buru ikut dipanggil masih dimintai keterangan oleh pihak berwajib. Karena itu aku harus menunggu.

Biar bagaimanapun, aku masih punya keinginan untuk cepat-cepat naik kendaraan umum dan pulang ke rumah. Orang-orang seperti kami yang ingin menghirup udara segar begini malah harus duduk menunggu di luar.

"Maaf, ya, Aramiya."

"Sudah, enggak usah dipikirkan."

Seluruh tubuhku masih terasa nyeri, namun Ayame terus saja berusaha menenangkan hatiku. Terlebih, sewaktu kami tiba di kantor polisi tadi, Ayame mengikat kembali rambutnya menjadi 'twintail'. Padahal di-'ponytail' juga cukup lumayan, kok.

"Yuuka sungguh minta maaf ..., Aramiya ... juga Ayame."

Hatsushiba juga sudah keluar dari kantor polisi. Awalnya dia disangkakan bekerja sama dengan Songou, tapi aku dan Ayame membantah sangkaan tersebut. Alhasil, dia akhirnya dilepaskan dan keluar dari kantor polisi bersama kami.

Meski Songou enggak mengira apa yang bakal menimpanya, sepertinya dia juga menampik sangkaan bahwa Hatsushiba bekerja sama dengannya.

Berkat itu, menolong Hatsushiba pun menjadi lebih mudah.

"Yuuka sudah berbuat hal yang tidak bisa dimaafkan."

Namun tampaknya dia masih belum bisa menerimanya.

Mungkin dia sulit percaya kalau dirinya itu enggak bersalah.

"Selama ini Yuuka sudah mengabaikan Kotton ..., tapi Yuuka tidak menyangka kalau Naosumi akan menggunakan obat tidur, termasuk menyebarkan gosip buruk itu .... Yuuka justru menjauhi Kotton dan tidak sedikit pun berniat untuk menolong .... Bahkan Yuuka ikut menyeret Aramiya dalam situasi berbahaya ...!"

Hampir sepenuhnya benar kalau Hatsushiba dijadikan alat untuk membantu rencana Songou. Dia dipaksa untuk ikut menyebarkan gosip yang dibuat lelaki itu agar citra Ayame semakin memburuk. Karena pekerjaan ayahnya yang dijadikan ancaman, Hatsushiba pun terpaksa menuruti kemauan Songou. Waktu semakin berlalu, hingga membuat persoalan ini kian sulit untuk diselesaikan. Ditambah, gosip yang sudah terlanjur tersebar kini berkembang menjadi sebuah gosip baru. Sepertinya Songou juga turut andil dalam penyebaran gosip itu.

Dan sewaktu dibukanya penerimaan murid SMA untuk tahun ajaran baru, Songou mendaftar di sekolah yang sama dengan Ayame. Di sisi lain, Hatsushiba juga mengikuti jejak mereka berdua.

Namun ternyata Songou enggak diterima dan itu menjadi masalah buatnya. Karena itu dia menyuruh Hatsushiba untuk mengawasi Ayame dan mencegah setiap orang yang mau mendekatinya. Jadi sewaktu berhembus kabar tentang hubungan antara diriku dengan Ayame, Hatsushiba mulai berusaha memisahkan kami sembari melaporkannya pada Songou layaknya seorang mata-mata.

Saat Songou mengetahui hal tersebut, dia jadi kalap hingga insiden seperti ini pun terjadi.

Jika benar ayah Songou adalah seseorang yang terbiasa menggunakan kekuasaannya, maka hal ini bisa menjadi rumit. Namun tampaknya ayahnya itu orang baik-baik.

Pernyataannya soal berkuasa terhadap nasib pekerjaan ayah Hatsushiba ataupun dengan mudah lepas dari jeratan hukum itu sepertinya cuma isapan jempol belaka.

"Maaf ...."

Yah, menurutku Songou memang harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya dan enggak ada yang boleh menghalanginya.

Meski begitu, yang sudah dilakukan Hatsushiba selama ini tetap enggak bisa dimaafkan. Seenggaknya dia bisa menemukan cara untuk menyelamatkan diri, walau sebenarnya aku enggak mengeluhkan hal itu.

"Hatsushiba, jangan salah sangka dulu. Terlepas dari niat baikmu, aku memang enggak berencana menolongmu. Tapi itu cuma karena memang harus dilakukan."

Hatsushiba melihatku sambil kebingungan.

"Dekat denganmu bakal lebih mudah menghilangkan semua gosip buruk tentang Ayame yang sudah menyebar ke seluruh sekolah."

"Menghilangkan semua gosip ...."

"Aku ingin menjernihkan semua kesalahpahaman orang-orang terhadap Ayame."

Di satu sisi, ini terasa seperti aku ikut campur tanpa alasan yang jelas, di sisi lain, aku ingin Ayame bisa bergaul dengan para murid di sekolah secara wajar.

Jika sekolah terasa enggak mengenakkan, maklum saja kalau dia sering bolos. Membuat suasana sekolah menjadi menyenangkan bakal cukup untuk membuat dia betah bersekolah.

Itu sebabnya, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menghilangkan semua gosip buruk mengenai Ayame. Gadis ini bukanlah jenis orang yang bakal menjadi berandalan ataupun terlibat pada praktik jual diri. Kalau dikenal lebih dekat, dia merupakan pribadi yang menarik.

"Aramiya, ternyata itu yang kamu pikirkan sekarang?"

Tanya Ayame padaku dengan ekspresi terkejut.

"Kebetulan saja, mumpung ingat."

Lagi pula, kalau gosip-gosip tersebut sudah hilang, aku bakal lebih nyaman berada di dekatnya.

"Hatsushiba, ini masih belum terlambat. Mulai sekarang, kamu harus mengakui kesalahanmu dan menebus segala yang sudah kamu perbuat pada Ayame, paham?"

Berbuat begini mungkin terlihat berlebihan, tapi bukan berarti aku marah terhadap gadis ini. Aku justru merasa kasihan padanya.

"Aramiya ..., kamu memang hebat. Kamu mudah memaafkan orang lain."

"Ah, enggak juga."

"Meski kamu bicara begitu, Yuuka tetap menganggapmu hebat."

Selain itu, kupikir kehadiran Hatsushiba kini diperlukan untuk berada di sisi Ayame dalam kehidupan sekolahnya.

Itu sebabnya, meski kurasa kalau hukuman buatnya itu terlalu ringan, namun itu lebih menguntungkan bagi Ayame jika dia dan Hatsushiba bisa sama-sama melupakan kenangan buruk yang sudah terjadi. Dan sekaligus bisa lebih saling memahami dengan saling mengikhlaskan.

"... tapi."

"Bagaimana menurutmu, Ayame?"

Dan Ayame pun menjawab,

"... kalau Hatsushiba, bukan, kalau Yuuka mau memaafkanku ..., maka aku juga ... mau berbaikan lagi."

Ucapnya malu-malu.

Yah, lagi pula kedua gadis ini awalnya memang dekat.

Keduanya lalu perlahan menjaga jarak dan kehilangan alasan untuk kembali berbaikan.

"Kotton, kamu tidak perlu minta maaf! Yuuka .... Yuuka-lah yang sudah menjauhimu dan menyebarkan gosip buruk tentangmu ...! Maaf .... Yuuka sungguh minta maaf, Kotton ...."

"Saat aku jadi anak yang liar dulu, Yuuka tetap mau membantuku. Tapi, semuanya berubah dan aku enggak menyangka kalau kamu merasa seperti itu .... Maafkan aku ...."

Mereka berdua pun lalu saling berpelukan. Yah, sebenarnya sih, yang seperti ini terlihat wajar, tapi entah kenapa, bagiku ini seperti adegan 'yuri'.

"Yuuka sudah sering membuat Kotton terasingkan. Yuuka akan menebusnya dua kali lebih banyak saat bersamamu .... Dan tentang gosip-gosip itu ..., Yuuka sendiri yang akan memperbaiki semuanya ...."

"Aku juga akan kembali bersikap normal seperti dulu lagi .... Karena itu mulai sekarang, tetaplah jadi sahabatku seperti dulu ...."

Mereka saling berpelukan sejenak seakan berusaha mengisi celah kosong yang sudah bertahun-tahun ada sebelum menyesal karena terpisah satu sama lain.

Setelahnya, Hatsushiba berbalik menghadap ke arahku lagi.

"Terima kasih, Aramiya. Sekarang Yuuka sudah benar-benar tersadar."

"Syukurlah kalau kamu sudah sadar. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah menepati kata-katamu tadi."

"Jangan khawatir. Yuuka sekarang akan mengikuti Aramiya. Yuuka tidak akan membangkang seperti seekor anjing yang tidak akan menggigit tuannya. Segala perintah Aramiya akan Yuuka turuti. Katakan saja apa keinginanmu, Yuuka akan melakukannya."

"Ba-baiklah ...."

Kata-kata manis darinya berisi sebuah janji yang akan menuruti keinginanku, tapi entah kenapa, bulu kudukku merinding saat mendengarnya.

Baiklah, lagi pula, karena Hatsushiba kini sudah lebih bersemangat, bertindak di luar jalur bukanlah hal yang patut dilakukan.

"Kalau begitu, apa yang sudah terjadi enggak perlu lagi dipermasalahkan."

Ucap Ayame dengan ekspresi lega.

"Enggak, masih belum."

Saat aku mengatakan itu, Ayame dan Hatsushiba langsung menoleh ke arahku sambil berkata, "Eh?"

"Masih ada satu gosip tentang Ayame yang belum terselesaikan."

"Gosip yang mana?"

Hatsushiba memiringkan kepalanya karena bingung.

"Soal julukan 'bekas orang' yang ditujukan pada Ayame sejak dia SMP. Julukan itu masih disematkan padanya sampai sekarang, tapi penyebabnya juga masih belum jelas."

Tepat saat aku menjelaskannya,

"Hahaha."

Hatsushiba tertawa terbahak.

Sementara itu, Ayame menundukkan wajah dan memperlihatkan wajahnya yang sangat malu. Ditekannya bibirnya itu hingga membentuk garis datar.

"Eh, kenapa kamu tertawa?"

"Ah, eng, Aramiya, soal itu enggak usah begitu dipikirkan, ya."

Ayame sendiri sampai melambaikan tangannya seolah enggak ingin ada yang mengorek masa lalunya. Kenapa perilakunya sampai seperti itu?

"Tidak apa-apa, 'kan? Ceritakan saja. Lambat laun, orang seperti Aramiya juga nantinya akan tahu."

Di sisi lain, Hatsushiba mencoba meyakinkannya dengan wajah riang.

Ayame lalu menghela napas dan mulai menjelaskannya dengan wajah datar.

"Ceritanya bermula saat SD dulu, sewaktu aku memakai baju bekas dari saudariku ...."

"Eh, yang benar?!"

Kalau cuma karena itu, enggak mungkin ....

"Ya, enggak, lah! Itu semua gara-gara namaku."

"Nama?"

Ayame menggaruk pipinya pelan untuk mengurangi rasa malunya.

"Begini, aku sudah cerita kalau orang tuaku bercerai, 'kan? Ayame itu adalah marga ibuku."

Oh .... Eh, jadi ....

"Sebaliknya, marga ayahku adalah Tanaka."

Begitu.

"Jadi namamu saat itu adalah Tanaka Kotoko. Begitu, 'kan?"

Saat menyimpulkannya, Hatsushiba tampak sedang menahan tawa.

Ayame lalu lanjut menjelaskan seakan sedang mengungkapkan sebuah kebenaran.

"Orang-orang lalu mulai menyambungkan kata 'naka' dari Tanaka dan 'ko' dari Kotoko, yang kalau digabungkan bisa berarti 'bekas orang'* ...."

(*? (naka) dari ?? (tanaka) dan ? (ko) dari 古都子 (kotoko) jika digabungkan menjadi ?? (chuuko) yang berarti 'bekas orang)

Waduh,

... boleh aku minta waktu sebentar sebelum berkomentar?

"Apa-apaan ituuuuuuuuuuuu?!"

Teriakku nyaring hingga terdengar sampai ke angkasa.

Aku sungguh enggak bisa menahan teriakanku. Jadi begitu ceritanya?! Siapa pula yang bisa menyangka hal semacam itu?!

"Supaya aku enggak sedih, makanya dulu para anak gadis di kelasku mulai memanggilku dengan nama Kotton."

"Oh, begitu ...."

Yah, Hatsushiba juga pernah cerita, 'Itu nama panggilan Ayame yang dibuat oleh Yuuka dan teman-teman supaya dia tidak sedih,' yang kupikir kalau itu dilatarbelakangi rasa kasihan atas perceraian orang tua Ayame. Ternyata selama ini aku sudah salah mengira. Enggak kusangka kalau itu berkaitan dengan sebutan 'bekas orang' itu ....

"Orang bodoh macam apa yang sampai tega membuat julukan aneh dan kejam begitu pada seorang gadis?"

Rasanya asal-usul julukan itu sebelumnya juga pernah disinggung oleh—


♦♦♦


"Rupanya itu ulahmu!"

"Eh, maksudmu apa?!"

Aku sudah mengorbankan rasa kantukku untuk datang pagi-pagi ke sekolah supaya bisa menanyakan soal ini langsung pada Tozaki.

Awalnya aku berniat untuk bolos sekolah, tapi setelah kuketahui kebenarannya, aku jadi enggak punya niat untuk bolos hari ini.

Bisa dibilang, anak ini adalah akar masalah sebenarnya! Kalau ini sebuah 'eroge', yang seperti ini biasanya disebut, 'menyembunyikan petunjuk sebaik mungkin'.

Kami bertiga lalu menggiring Tozaki ke anak tangga gedung sekolah yang jarang dilalui orang.

"Julukan 'bekas orang' yang ditujukan ke Ayame itu gara-gara kamu, 'kan?!"

"Eh ..., hah? Kok bisa aku?"

Apa dia masih berlagak pura-pura enggak tahu?

Hatsushiba pun ikut memicingkan matanya dan menatap tajam ke arah Tozaki."

"Ya, itu memang kamu, Tozaki. Kamu dulu sering bernyanyi, 'Naka dari tanaka, dan ko dari kotoko, digabung menjadi bekas orang (chuuko), bekas orang, gadis bekas orang—' begitu, bukan?"

Lirik lagunya payah banget. Jauh lebih payah dibanding saat aku menyanyikan lagu 'Mendadak Hatiku Tergerak'.

Sesaat setelah Hatsushiba bicara, Tozaki tiba-tiba menepukkan tangannya dengan nyaring.

"Oh, aku ingat! Itu memang aku."

Dia sudah enggak lupa lagi sekarang. Biasanya pelaku penindasan terhadap orang lain itu enggak bakal merenungi dampak hasil perbuatannya pada sang korban. Meski begitu, perbuatannya tersebut tetaplah jahat.

"Yah, soalnya kupikir itu ... lucu ..., Mbak ...."

Ayame lalu memancarkan aura berandalnya dan menatap bengis ke arah Tozaki sambil tersenyum kejam.

Auranya sampai terpancar deras ke sekitar meski dia enggak mengatakan apa-apa.

"Eh, eh, eh, eh, eh, eh, eh, eh, eh ...."

Aku mendekat pada Tozaki dan mengunci kedua lengannya dari belakang.

"Ayame, lakukan ala kadarnya saja. Enggak usah sampai membuat gosip baru."

"Ala kadarnya itu maksudnya apa?! A-ayolah, kumohon! Am-am-ampuni aku!"

Tozaki meraung hingga bergema ke seluruh sudut anak tangga.

Kemudian kulepaskan kuncianku dari Tozaki yang kini terlihat sedang menderita.

"Kalau kamu mau bekerja sama membantu kami, kamu akan dilepaskan."

"Sungguh?! Aramiya sang juru selamat! Hamba siap menerima perintah!"

"Hmm? Barusan kamu bilang kalau siap menerima perintah, 'kan? Baiklah."

Sambil memandang Tozaki yang tampak sedang memohon pertolongan dewa, aku berkata,

"Kamu harus membantu kami menghilangkan semua gosip buruk yang ditujukan pada Ayame."

"Perkataan Baginda adalah titah bagi hamba! Eh .... Meng-menghilangkan semua gosip?"

"Benar, menghilangkan semua gosip yang sudah terlanjur menyebar ke seluruh sekolah. Termasuk gosip soal 'bekas orang' dan praktik jual diri itu. Gosip-gosip tersebut enggak punya sumber yang valid."

"Oh, jadi sumbernya enggak valid, toh? Tapi gosip tersebut sekarang sudah dianggap seperti cerita sungguhan. Jadi sulit rasa—"

"Ayame, kamu masih mau memukulnya?"

"Setop! Tolong jangan pakai kekerasan! Oke, oke! Meski menyelam ke dasar lautan ataupun melintasi kobaran api, bakal kulakukan!"

Tegasnya seolah anjing yang sedang dikandangkan. Baiklah, ini artinya dia setuju.

"Syukurlah kalau kamu bisa mengerti. Tapi kalau sampai berkhianat, kamu tahu sendiri akibatnya, 'kan?"

"Baik, Mas! Baik, Mbak!"

Anak ini sepertinya mulai berlebihan, tapi enggak apa-apa, deh. Seenggaknya aku bisa melepaskan kuncianku pada lengannya.

"Tadi kamu bilang kalau mau menghilangkan semua gosip buruk Ayame. Lalu bagaimana caranya? Apa berkeliling sekolah sambil mengumumkan yang sebenarnya ke semua orang, begitu?"

Tozaki menoleh menghadapku dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

"Hmm .... Berkeliling sekolah sambil memberi pengumuman .... Cara seperti itu bisa menimbulkan masalah. Lagi pula, orang-orang juga enggak bakal begitu percaya."

"Ya sudah, bagaimana kalau kita diskusikan ini di kelas saja?"

"Kita mungkin perlu membuat perencanaannya sekarang. Tapi kalau mendiskusikannya di dalam kelas, takutnya nanti kita dianggap sedang merencanakan sesuatu yang buruk. Saranku, lebih baik kita diskusikan di tempat yang lebih punya privasi."

"Memangnya di mana lagi? Apa ada tempat di mana kita bisa duduk dengan nyaman bersama?"

Di saat itu, Ayame mulai bicara tanpa pikir panjang.

"Bagaimana kalau di ruang ekskul yang sering dipakai Aramiya?"

"Eh, tunggu, ruangan itu—"

Bisa-bisanya mengajukan ruangan itu?! Itu adalah surgaku! Seenaknya mau merebut tempat itu dari—

"Oh, boleh juga. Lagi pula, ruangan itu cukup luas."

"Hei, tunggu, Hatsushiba."

"Benarkah itu, Aramiya? Jadi kamu punya ruang ekskul, toh. Ya sudah, di situ saja."

"Tunggu, Tozaki! Apa kamu mau coba balas dendam soal tadi, hah?! Apa mau kutinju perutmu?!"

"Lo, bukankah niatmu itu mau menolong Ayame? Jangan setengah-setengah dong."

Ternyata dia masih punya nyali untuk berkoar. Rasanya ingin kutampar saja wajahnya itu.

Di sisi lain, Ayame langsung memalingkan pandangan karena merasa bersalah. Dia mungkin jadi enggak enak hati karena sudah bicara tanpa berpikir dulu. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Karena dia sampai bersikap begitu, aku pun cuma bisa terima saja ....

"... astaga ..., oke, baiklah .... Tapi awas saja kamu kalau masalah ini sudah kelar."

Aku sudah banyak berkorban. Memberi izin pada orang lain untuk memasuki wilayah keramatku adalah hal yang harus mereka syukuri.

"Siap! Jadi mulai sekarang kita akan menghilangkan gosip buruk mengenai Kotton. Apa boleh misi ini kita namakan 'Gossip Sweeper'?"

Entah dia barusan sedang mengigau atau apa, yang jelas kini dia tampak senang sekali. Apa enggak ada lagi nama yang enggak terlalu mencolok seperti tadi?

"Aku juga enggak tahu mesti berbuat apa ..., tapi karena yang dijuluki 'bekas orang' itu aku, maka aku akan berusaha sebaik-baiknya."

"Bagus, kita mulai misi ini besok. Hari ini cukup kita isi dengan hal menyenangkan saja. Tozaki, besok tolong siapkan seenggaknya sepuluh rencana, ya?"

"Se-sepuluh?! Oi, itu kebanyakan—"

"Ayame, aku baru saja menemukan samsak daging."

"Waduh! Oke, oke! Itu biar aku yang urus! Memakai kekerasan itu enggak keren, tahu?!"

Sementara ini, lebih baik menjadikan Ayame sebagai tameng supaya Tozaki mau mendengarkan. Ternyata itu cukup ampuh.

Meski lama-kelamaan aku jadi kasihan padanya, tapi anggap saja itu karma buatnya karena sudah membuat julukan sekejam itu pada seorang gadis. Biarkan saja, deh.

"Kita bakal adakan rapat untuk mencari cara menghilangkan gosip buruk seputar Ayame termasuk soal praktik jual dirinya. Selain itu, kita juga bakal membahas cara agar dia bisa menjalani masa SMA-nya tanpa ada orang bodoh yang mencari gara-gara padanya. Kalau misi utama kita belum terlaksana, hidup Ayame bakal sama saja seperti sebelumnya. Kita bakal atasi ini sebelum liburan musim panas dimulai. Mulai sekarang ini semua adalah tujuan kita."

Soalnya saat musim panas, banyak 'game-game' bagus yang dirilis. Itu sebabnya misi ini harus tuntas sebelum musim panas dimulai.

"Siap. Tunggu saja, Kotton. Akan kupastikan masa-masa SMA-mu bakal menyenangkan hingga kita lulus nanti!"

Pipi Ayame perlahan semakin memerah karena malu.

"Teman-teman, maaf sampai membuat kalian bersusah payah demi aku ...."

"Enggak usah terlalu dipikirkan, Ayame. Sebenarnya ini bukan cuma demi kamu. Aku cuma enggak suka gosip yang beredar tentangmu itu sangat jauh dari kebenaran."

Setelah selesai mengatakannya, baik Hatsushiba maupun Tozaki sama-sama memandangku layaknya seorang gadis 'tsundere'.

"Kenapa kalian melihatku seperti itu?!"

Sebaliknya, Ayame justru tersenyum seolah sedang melihal hal jenaka.

Bisa dibilang kalau selama di sekolah ini waktuku banyak kuhabiskan dengan tidur di kelas, tapi anggap saja kalau masa-masa itu sudah berlalu.


♦♦♦


Setelah pelajaran berakhir, aku pun pulang bareng Ayame.

Hari ini aku benar-benar capek sampai-sampai harus meninggalkan kegiatan ekskul-ku. Hatsushiba juga harus segera pulang karena ada pekerjaan mengisi suara yang sedang menunggunya.

"Tolong jaga Kotton, ya."

Dia mengingatkanku. Rasanya perih juga saat dia berkata begitu.

"Sudah, sudah. Jangan terlalu berlebihan."

"Iya, betul."

Aku setuju dengan Ayame.

"Aramiya, habis ini kamu mau apa?"

"Aku cuma mau pulang terus tidur. Rasanya capek banget ...."

"Iya, aku juga merasa mengantuk."

Ini bukan pertama kalinya aku bergadang semalaman. Aku bahkan sering enggak sengaja tertidur selama pelajaran. Tapi untuk kali ini, aku merasa seperti habis-habisan.

Bagian di mana aku dipukuli ini masih terasa sakit.

... tapi yang paling parah adalah saat aku hampir disodomi .... Jujur, aku masih syok. Entah, mungkin kalau saat itu aku enggak sadarkan diri ..., apa kesucianku sudah terenggut? Mungkin seperti inilah yang dirasakan Ayame dulu. Dia mungkin jauh lebih terguncang dibandingkan aku.

"Hei."

Tegur Ayame tanpa memberiku kesempatan untuk sadar secara penuh.

"Hmm?"

"Bagaimana kalau ...."

Ayame lalu menundukkan kepalanya. Dia tampak khawatir ingin berbicara.

"Bagaimana kalau aku memang enggak perawan, apa kamu masih mau menolongku?"

"... jangan tanya yang aneh-aneh."

"Ayolah. Aku benar-benar penasaran."

Oh, aku paham maksudnya.

Kalau melihat ada seorang gadis yang sedang terancam di hadapan kita, kita pasti bakal segera berusaha menyelamatkannya.

Enggak peduli dia masih perawan atau enggak.

Kalau dipikir lagi, penyebab aku membenci gadis yang sudah enggak perawan adalah karena mereka yang memperdayaiku. Tapi saat aku mulai duduk di bangku SMP, pikiranku pun sudah mulai dewasa. Kalau bukan itu penyebabnya, berarti itu karena gadis jalang yang ternyata sudah punya pacar itu yang terus saja membuat alasan padaku.*

(*Fujiaki Shiori, tokoh wanita dalam 'eroge' yang dimainkan Seiichi sebelumnya.)

Yah, aku yang dulu memang angkuh dan bodoh. Selama ini aku mencari gadis perawan seakan itu harapan terakhirku. Mungkin selama ini aku begitu mengharap seorang perawan datang dan membuatku bahagia.

Tapi aku malah bertemu dengan tipe yang kubenci dan mulai melakukan banyak hal bersamanya. Meski begitu, sisi dalam diriku sudah berubah hingga enggak bisa kugambarkan dengan pasti.

"Memangnya ada yang sudi menolong?"

Sebenarnya aku enggak sanggup menjawabnya, karena itu aku asal bicara saja.

"Oh, yang benar?"

Meski aku menjawab seperti tadi pun, Ayame masih terlihat senang.

Kurasa gadis ini sudah begitu bersemangat.

"Ya sudah. Boleh aku minta satu hal padamu?"

Ucapnya ragu-ragu padaku.

... yah, untuk hari ini saja, aku bakal menuruti keinginannya karena dia sudah menolongku.

"Yah, kalau itu enggak memberatkanku, enggak masalah."

"Ka-kalau begitu ...."

Memangnya dia mau minta apa?

Memintaku untuk jadi pacarnya? Memintaku untuk membelikannya 'eroge'? Atau memintaku kencan dengannya?

Asal itu enggak di luar kemampuanku, aku, sih, siap saja ....

"Boleh aku minta nomor ponsel dan alamat surel-mu?"

Ternyata dia meminta hal yang biasa-biasa saja.

"Eh? Nomor ponsel dan alamat surel ...?"

"I-iya. Enggak boleh, ya?"

"Bukan, bukannya enggak boleh, tapi .... Baiklah, nih."

"Syukurlah ...."

Dia langsung tersenyum bahagia.

Melihatnya tersenyum begini membuat hatiku terenyuh. Padahal yang dimintanya itu cuma hal kecil.

Itu sesuatu yang bisa didapatkannya kapan pun dia minta.

Kebetulan saja, kami belum pernah saling bertukar nomor ponsel. Kenapa hal semacam ini malah sebegitunya dia minta?

"Dengan ini, aku bisa menghubungimu kapan pun, Aramiya. Aku pun bisa mengirim SMS padamu."

"Apa kamu sesenang itu?"

"Ya, aku senang."

Dia memencet tombol-tombol di ponsel-nya itu dengan wajah bahagia. Setelahnya, dia menyambungkan ponsel-nya dengan ponsel-ku via 'infrared'.

Setelah tersambung, dengan kedua tangannya, dia pegang ponsel-nya tersebut dengan hati-hati.

Sial, setiap gerak-gerik maupun ekspresinya itu terlihat menggemaskan.

"...."

Sampai saat ini aku masih berkutat pada idealisme 2D yang kuanut.

Enggak kusangka bisa sampai sedekat ini dengan gadis 3D.

Akan tetapi, saat memandang Ayame, 'harapan itu' perlahan semakin membesar.

Yah ....

Suatu hari, bakal ada masanya di mana aku bisa akrab dengan dunia 3D.

Bakal ada masanya di mana Ayame mampu melintasi batas antara dunia 2D dengan dunia 3D, dan menjadi gadis yang kuimpikan.

Entah seperti apa masa depan yang bakal menghampiriku ....

"Sesampainya di rumah, aku SMS, ya!"

"Oke."

"Dibalas, lo."

"Iya, kalau aku enggak tidur."

Meski begitu ....

Hubungan kami ini sedikit demi sedikit mungkin bakal maju selangkah lebih jauh.

Dan meski kami enggak bisa mencapai garis finisnya ....

Atau entah apa garis finis itu memang ada ....

Tapi untuk saat ini kurasa itu bukanlah masalah.

Karena sewaktu kuhabiskan waktuku bersamanya, aku merasa segalanya jadi menyenangkan.

"Soalnya aku perlu memberitahumu kalau kini aku sedang jatuh cinta!"

Ayame pun lalu tersenyum ceria di hadapanku.

Chuuko Vol 1 p316.jpg

Kata Penutup[edit]

Halo, semuanya! Salam kenal buat kalian para pembaca GA Bunko. Saya Ota Gakutada, ralat, Tao Noritake.

Light Novel ini semula diterbitkan pada sebuah situs jejaring bernama "Syosetsuka ni Narou" sekitar sepuluh tahun silam. Namun kini akhirnya telah dibukukan. Kala itu saya berpikir bahwa tidak mungkin karya ini akan dicetak dalam bentuk buku. Akan tetapi dikarenakan begitu besarnya hasrat untuk menulis, saya pun tidak sabar lagi hingga menggunakan nama samaran untuk mengunggah karya saya di internet. Lalu ketika GA Bunko menawari saya untuk menjadikan karya ini sebagai sebuah buku, saya girang bukan main. Tampaknya mereka benar-benar berani.

Oleh sebab itu, saya rasa perlu untuk mengucapkan terima kasih pada setiap pihak yang turut andil di dalamnya. Satu hal yang begitu saya banggakan dalam karya ini adalah ilustrasinya. Ilustrasi yang digambar oleh ReDrop-san terasa sangat mewakili sekali! Ah, versi Ayame terdahulu benar-benar buruk. Kalau saja Ayame itu nyata, saya akan benar-benar menyembunyikan gambar itu dari dia. (Gemetaran)

Saya juga berterima kasih kepada M-san karena kesediaannya mau menjadi asisten. Terima kasih atas beragam opini yang telah disampaikan. Setiap halaman dalam buku ini mungkin perlu diperiksa lagi. Mohon dengan sangat bantuannya.

Masih dalam kesempatan ini, saya juga berterima kasih pada Awamaru Akamatsu-sensei yang sudah beberapa kali membantu saya.

Juga terima kasih setinggi-tingginya kepada semua orang yang berperan dalam terbitnya buku ini.

Semua orang yang telah berbagi pendapatnya di Syosetsu menjadi motivasi saya dalam berkarya.

Dan terakhir, saya berterima kasih pada setiap orang yang tidak bisa saya sebut semua, yang telah membaca buku karya saya ini.

30 Januari 2015