Chuuko Indo:Jilid 2 Bab 1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 1 : Perkembangan Semacam Ini Sudah Biasa Di Game[edit]

"Ah, Aramiya-kun. Setelah datang, kau langsung main R-18 ya.”

Aku hanya membuka notebook-ku, sialan. Yuka duduk di seberang meja panjang, sembari menggembungkan pipinya yang mungil.

Wajahnya mungil dan cantik, disempurnakan oleh sepasang mata yang lebar. Dia terlihat sungguh kekanak-kanakan, namun tetap imut. Tapi, tubuhnya terlihat kontras dengan wajah muda dan perawakannya yang pendek. Lekukan-lekukan pada tubuhnya sungguh menonjol, dan bagian tubuhnya yang seharusnya besar, memang benar-benar besar. Rambut hitamnya tergerai sampai pinggul, layaknya air terjun. Setiap helaian rambut panjangnya tampak berkilau, ditambah lagi dengan pita kecil di atas kepalanya. Saat dia mengenakannya, dia tampak kekanak-kanakan, tapi itu justru semakin menyempurnakan penampilannya, dan walaupun dia marah, tingkahnya sangat menggemaskan. Bahkan temanku yang ganjen sering membicarakan betapa besar pantat Hatsushiba.

"Aku baru saja membuka notebook-ku."

"Terakhir kali aku melihat kau melakukannya, aku pikir kau sedang rapat, tapi ternyata kau sedang bermain game. Jadi, kali ini Yuuka tidak akan tertipu! Sebenarnya, membawa game 18+ ke sekolah adalah tindakan yang cukup buruk, lho.”

Wanita ini gila, apakah dia ibuku!?

Tapi melihat dari bagaimana dia berkomentar "tindakan yang cukup buruk, lho…" berarti dia tidak terlalu percaya diri ketika menegurku.

Tindakan yang cukup buruk… harusnya, ini adalah tindakan yang SANGAT buruk, normalnya game 18+ tidak diperbolehkan bagi siapapun yang belum mencapai usia 18 tahun.

"Yahh, aku minta maaf."

Lantas aku menutup notebook-ku, dan menatap sekeliling ruangan klub untuk terakhir kalinya.

Ruangan itu berukuran sekitar "4,5 tikar Tatami" [1]. Di balik Ayame ada wadah stainless 4 lapis, di dalamnya ada kotak dokumen yang sebagian besar isinya adalah Eroge milikku.

Di luar jendela aku bisa mendengar seorang gadis berteriak "Fight-o Mikage!!", dan beberapa alunan musik yang terdengar dari klub musik.

"... ngomong-ngomong, sejak awal grup kita terbentuk dengan cara yang aneh."

Tozaki Keta yang duduk di sampingku sedang bergumam. Tozaki adalah pria biasa yang bisa kau jumpai dimanapun, dan salah satu teman Otaku-ku. Kau bisa menebak kepribadiannya yang gila hanya dengan melihat wajahnya.

"Walaupun kita berada di kelas yang sama, tapi Ayame dan Hatsushiba adalah dua orang yang biasanya tidak memiliki kesempatan bicara sama sekali.”

"Kotton sih orangnya gitu, kalo Yuka sih selalu nge-grup bareng temen-temen lainnya."

Aku menyuarakan pendapat aku, yang langsung ditanggapi oleh Hatsushiba. Jika kalian lupa, Kotton adalah panggilan Ayame.

"Bagiku, sungguh beruntung bisa ngobrol bersama-sama kalian."

Ayame, yang duduk di samping Hatsushiba menunjukkan wajah malu.

"Itu semua karena kau menolongnya."

"Jangan bilang gitu, lagian kamu juga sering membantuku, sehingga aku pun berhenti menjadi orang yang keras kepala."

"Kamu tidak perlu minder ketika jadi seorang Otaku, sedangkan aku hanyalah orang yang bisanya cuma diculik oleh gerombolan preman itu."

"Ayolah, masalah itu sudah selesai, ‘kan?"

"Aku lebih suka bermain Eroge semalaman."

Aku pun menghela napas. Tozaki dengan ekspresi penuh percaya dirinya, menampar pundakku.

"Tidak peduli berapa banyak kau mengeluh, waktu tetap saja akan terus berputar, dan waktu adalah hal yang paling kejam sekaligus ramah di alam semesta ini."

"Apakah kau baru saja meniru kutipan dari seorang dokter terkenal?"

Meski begitu, sejak aku membantu Ayame, hidupku di sekolah telah berubah drastis. Apalagi sepulang sekolah.

"Kalau begitu mari kita mulai ya? Ayo kita membahas usaha pelenyapan gosip-gosip miring tentang Kotton!”

Hatsushiba sungguh bersemangat. Aku pun hanya bisa tunduk dibuatnya, sudah kuduga, pengisi suara memang hebat. Suaranya terdengar bagaikan alunan musik yang merdu di telingaku. Sekarang, aku membayangkan bahwa alunan suara ini menyatakan cintanya padaku, walaupun hanya imajinasi, aku sudah merasa sedikit senang.

Sumpah, jika aku mendengar suara ini melalui loudspeaker setiap hari, aku tidak akan menjalani hidup ini dengan penuh keluhan.

"Hah, suaranya terasa sangat merdu ...."

Sampai-sampai Tozaki menunjukkan ekspresi wajah yang aneh, sehingga aku pun bingung, apakah dia sudah terhanyut dalam suara itu, ataukah belum.

"Melenyapkan gosip miring? Maaf, lagi-lagi aku merepotkan kalian.”

Ayame menunjukkan ekspresi bersalah dan dia sedikit memiringkan kepalanya.

"Yahh, gosip miring yang dituduhkan padamu sungguh jauh dari kenyataan. Mencoba mencoklatkan rambut, menindik telinga, ditambah lagi memodifikasi seragam sekolah… seperti itulah rumor-rumor tentangmu. Aku mulai khawatir, karena lama-kelamaan nama baikmu akan lenyap di balik kabar-kabar buruk itu, gimana tuh?”

"Kurang ajar mereka! Ikat tangan mereka, kemudian jotos satu per satu, kemudian lemparkan mereka sejauh mungkin! Tapi aku memang tidak pernah kepikiran untuk melakukan itu semua."

Sialan, gadis ini sungguh berbahaya. Dia bisa berjalan melewati kerumunan manusia tanpa terganggu sedikit pun.

"Tozaki-kun, menurutmu gosip apa yang beredar tentang Kotton?"

"A- uhh ... yang sering kudengar adalah, gosip bahwa dia adalah bekas orang."

"Itu hanya julukan, bukan rumor. Maksudku, gosip yang kau buat-buat ketika masih SD."

Setelah aku memprotes, dia mulai menggaruk kepalanya dengan bingung.

"Maaf ... apakah itu benar-benar pantas kita bahas di sini?"

Ayame dan Hatsushiba mengangguk.

"Yang paling santer adalah gosip tentang jual diri. Dan eh ... om-om mesum membayar sejumlah besar uang padanya, dan semua orang pun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Belakangan ini juga sering terdengar dia ber-cosplay untuk kerja sampingan, atau semacamnya.”

"Jadi, itu sudah menjadi legenda urban."

Hatsushiba menanggapinya sambil mendesah. Sembari mendengarkan detail rumor tentang dirinya, Ayami memasang wajah mengerikan sambil memelototi Tozaki, terlihat jelas bahwa dia sebisa mungkin sedang menahan amarahnya.

"U-uh tunggu! A-aku bukan orang yang menyebarkan rumor!?”

Tozaki dengan cepat memperbaiki reputasinya, itu normal, karena tatapan mata Ayame memang sungguh mengerikan.

"Ayame tidak pernah melakukan apapun. Tapi berita-berita itu menyebar bagaikan api yang liar ketika kami masih SMP, Ayame menjauhkan diri dari kehidupan sosial dan tidak pernah meluruskan gosip-gosip tersebut. Itulah alasan utama dari masalah kita.”

Aku mencoba menjelaskan situasinya, dan Ayame tersenyum lembut.

Wajahnya berkata "Selama dia mengerti, bagus lah", atau semacamnya.

"Alasan lainnya adalah, karena dia biasanya memiliki masalah dengan orang lain. Dia pun sudah terbiasa menerima bully-an ketika menolong orang lain.”

"I-Iya."

"Tapi kau benar-benar tidak bersekolah kala itu."

"Ugh ... aku tidak akan melakukannya lagi, oke?"

Karena mengetahui dia lebih baik sekarang, aku pun mulai memahami Ayame sebagai pribadi yang benar, dan aku juga sadar bahwa dia sungguh berbeda dari apa yang dikabarkan rumor-rumor negatif itu. Jauhnya kebenaran antara fakta dan rumor juga membuatku amat kesal. Karena itulah aku ingin cepat memberantas rumor-rumor palsu tersebut. Untuk alasan itulah, aku memperbolehkan mereka menggunakan ruangan yang sudah menjadi singgahsanaku ini, yaitu klub "Penelitian game digital".

"Yang pertama adalah, aku pikir kita perlu menghentikan orang-orang di kelas yang hendak menyebarkan rumor-rumor tersebut, setidaknya buat mereka percaya bahwa rumor itu tidak benar "

"Itu adalah permulaan yang bagus."

Tozaki setuju dengan ideku.

"Dan bagaimana cara kita melakukannya dengan praktis?"

Hatsushiba bertanya kepadaku, tapi kupikir, meyakinkan teman-teman sekelas kami adalah hal yang mudah. Aku menatap Hatsushiba, karena dia lah pemeran utama dalam upaya pembersihan nama ini.

"Aramiya-kun, ada apa?"

Pipinya berubah menjadi merah jambu, dan dia cepat-cepat memalingkan wajahnya.

Reaksi macam apa tuh, yahh, terserah lah. Aku tidak peduli

"Hatsushiba, jika kau berdiri di depan kelas dan membicarakan Ayame, teman sekelas pasti akan mempercayai apapun omonganmu."

Hatsushiba berada di puncak hirarki kelas, dan merupakan artis di kelas kami. Orang seperti Tozaki dan cowok-cowok lain tidak mungkin membencinya.

Jika Hatsushiba berbicara tentang Ayame, orang lain pasti akan langsung mempercayainya. Sepertinya ini bukanlah rencana yang buruk.

"Mungkin Yuka memang bisa meyakinkan banyak orang, tapi tidak semuanya begitu."

Hatsushiba menggeleng sembari menolak ideku.

"Bukankah jika kau berbicara, semua pria akan mempercayainya tanpa syarat?"

"Tidak, coba bayangkan ini. Yuka mengatakan bahwa Kotton bisa terbang, akankah Aramiya-kun mempercayaiku?”

"Tidak mungkin!"

Bagaimana mungkin manusia bisa terbang dengan kekuatan mereka sendiri. Selama tidak ada kekuatan supranatural di dunia ini, tidak mungkin manusia bisa terbang dengan sendirinya.

"... Tunggu, apa yang coba kau katakan……"

"Ya, rumor tentang Kotton telah sangat mengakar, sehingga perkataanku saja tidak akan cukup untuk mengatasinya, mungkin Yuka hanya mampu membuat mereka setengah yakin saja. Atau mungkin mereka hanya akan mengatakan: 'Oh-benarkah? Oke deh, aku percaya padamu.'"

"Itu karena rumornya sudah terlalu lama beredar. Jika saja rumor ini beredar hanya selama 75 hari saja, maka mungkin akan lain ceritanya. Tapi ini sudah berlangsung selama 1461 hari.”

"Dan juga, ada beberapa orang yang membenci Yuuka."

"Apakah ada orang seperti itu? Kupikir semua orang suka padamu. Mereka biasa mengatakan hal-hal seperti: 'Wow, Hatsushiba-san sungguh manis seperti biasanya!', bukankah begitu?"

Semua orang sungguh mencintaimu!!! Aku mungkin bukan pendengar nomor satu, tapi aku belum pernah sekalipun mendengarkan keluhan mengenai dirinya.

"Anak perempuan memiliki pribadi luar-dalam yang berbeda. Ketika mereka bilang aku imut, sebenarnya mereka tidak membicarakan tentang Yuka, melainkan orang-orang di sekitarku! Mereka hanya mencoba untuk menyebarkan info, seperti: 'lihat, sudah kubilang dia imut ‘kan, kau harus berterimakasih padaku karena telah menunjukkan dia padamu!'. Saat mereka kembali ke rumah, aku yakin mereka bergosip tentang diriku. Tentu saja mereka tidak akan mengatakannya secara langsung di hadapanku.”

"A-apakah kamu terlalu peka?"

Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, dia terlalu berlebihan dalam menanggapi perilaku orang-orang di sekitarnya.

"Seorang cewek tidak pernah mengungkapkan perasaannya dengan jelas!"

Tapi Hatsushiba masih menyangkal kata-kataku. Dan mengatakannya dengan wajah muram, yang membuatku sedikit takut.

"Tapi, yang bisa kita lakukan adalah menolak rumor tersebut dengan perlahan-lahan?"

Tozaki memutuskan untuk mengalah dengan pendapatnya.

"... Tozaki, kupikir aku sudah menyuruhmu pergi dan mencari tahu setidaknya sepuluh cara untuk mengatasi ini."

"T-tunggu! Aramiya, coba pikirkan baik-baik! Kau tidak bisa meng-google hal-hal semacam ini.”

"Kenapa yang kau punya hanyalah internet!!"

"Duh! Jika solusinya tertulis dengan rapih di buku, atau sejenisnya, maka sudah lama aku bisa menyelesaikan permasalahan ini! Kau harus menunggu dengan sabar untuk melenyapkan rumor-rumor negatif. Situasi serupa terjadi di internet tentang drama. Cara terbaik adalah dengan memposting pesan maaf sekali, kemudian tetaplah sabar untuk sementara waktu, sampai orang-orang berhenti memperdulikannya. Mungkin rinciannya berbeda dengan kasus yang kita hadapi sekarang, namun intinya sama saja.”

Jadi, tidak percuma dia sering berselancar di dunia maya. Mungkin pendapatnya kali ini benar adanya.

"Aku juga mencari info, dan menurutku akar masalahnya terletak pada sumber rumor tersebut."

"Sumber?"

Tozaki tampak bingung.

"Menurutmu, bagaimana rumor ini bisa menyebar begitu jauh? Itu karena rumornya bukan berasal dari si korban, melainkan dari orang lain yang cukup berpengaruh, sehingga orang-orang mempercayainya dengan mudah. Misalnya, jika aku menyebarkan rumor bahwa Tozaki adalah seorang lolicon, dan dia hanya terangsang oleh cabe-cabean berusia 10 tahun, menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya?”

"AKU TIDAK TERTARIK PADA GADIS SEMUDA ITU!!"

Tozaki hampir menangis, mungkin aku sedikit keterlaluan. Harusnya aku bilang usia maksimalnya adalah 12 tahun.

"Ini kan cuma misalnya! Ok, jika aku benar-benar melakukannya, rumor tentang Tozaki akan menyebar ke mana-mana, dan dia sendiri lah yang harus membersihkan nama baiknya.”

"TENTU SAJA!"

"Jika rumornya masih menyebar, tapi tidak ada bukti, akhirnya akan lenyap dengan sendirinya."

Masalahnya terletak di luar kelas, Tozaki tidak bisa mengungkapkan pembelaannya, dan rumor akan terus menyebar dengan cepat.

"Rumor tentang seorang pria yang mengidap lolicon tidak akan menjadi viral dengan begitu cepat, tapi bagaimana jika Tozaki sangat populer di sekolah? Ini akan memperkuat tingkat penyebaran rumor tersebut, kemudian orang-orang akan mencoba mengarang dan membumbui beberapa cerita lain. Sehingga, dengan sendirinya rumornya akan semakin pelik.”

"Itu tidak baik untuk didengarkan ..."

"Tapi jika ada seseorang yang akrab dengan Tozaki berpendapat bahwa, 'ah… dia hanya bercanda', rumor akhirnya akan lenyap dengan sendirinya, apalagi kalau ada teman yang bertanya padanya, 'apakah Tozaki beneran seorang lolicon?', maka itu juga membantu Tozaki untuk mengklarifikasi kasusnya."

Dengan cepat aku duduk dan mengambil suatu papan tulis kecil yang diletakkan dengan hati-hati di sudut ruangan.

"Jadi rumor ini memiliki dua masalah utama, Ayame adalah gadis yang populer, namun dia tidak bisa berkomunikasi dengan benar pada orang lain."

Aku menulis dua poin itu dengan sebuah spidol hitam.

"Ugh ..."

Ayame menunjukkan wajah canggung, dia pasti tidak bisa membela diri.

"Rumor-rumor tentang menyebabkan masalah di sekolah dan bolos kelas tidak bisa dilenyapkan saat ini juga. Jika mulai saat ini kamu berperilaku dengan baik dan sopan, maka rumor tersebut akan lenyap dengan sendirinya, meskipun itu tidak membutuhkan waktu yang sebentar.”

"Jadi masalah utamanya adalah 'ketidakmampuan berkomunikasi', kan?"

Hatsushiba mengangguk sambil mengelus dadanya. Bukannya aku tertarik dengan cewek 3D, tapi saat cewek mengelus dan menekan-nekan dadanya, hmm ... rasanya gimanaaa gitu…

"Saat Ayame ada di kelas, dia tidak pernah berbicara dengan siapapun, bahkan kondisinya saat ini sudah dianggap sebagai suatu kemajuan yang signifikan, karena dia mau berbicara denganku atau kadang-kadang berkomunikasi dengan Hatsushiba. Tapi kupikir, Ayame bisa mendapatkan lebih banyak teman sekelas.”

"Teman sekelas…"

Jika dilihat dari ekspresinya, Ayame tampak cemas.

"Tapi saat aku masuk dan menyapa, mereka semua panik lantas lari."

"Tidak perlu khawatir, mungkin….."

Aku mencoba bersikap optimis, tapi Ayame tetap cemas dengan hal itu.

"Bahkan kau pun hampir berlari juga, kau hanya menjawab, 'iya', 'aku mengerti', atau semacamnya."

"J-jadi apa yang harus kulakukan!!? Waktu itu, satu-satunya hal yang kupikirkan adalah selamat dari tinjuannya!”

"Kenapa dia melakukan itu !?"

"Sebab rumor mengatakan kepadaku bahwa dia adalah tipe cewek yang akan menghajarmu, meskipun kau tidak membuat masalah dengannya!"

Ayame menjatuhkan diri di atas mejanya, dan terlihat ekspresi bersalah di wajahnya.

"Sungguh kejam…"

Sekarang dia sedih. Bagaimana perasaan seseorang yang berubah dengan begitu cepat?

"Aku tidak menyuruhmu untuk menjadi seseorang yang murah senyum, atau merubah kepribadian dengan instan, tapi cobalah berbicara dengan teman-teman lainnya. Dan ketika berbicara pada guru, berusahalah untuk tidak berkata, ‘APA!? Aku tidak melakukan kesalahan apapun…'. Oh, iya… mengucapkan salam pada orang lain jugalah penting.”

"Yuuka pikir, kamu harus merubah sikapmu sehari-hari. Sikap adalah dasar untuk berkomunikasi dengan orang lain.”

Hatsushiba juga menyuarakan idenya.

"Yeah, aku akan mencoba."

"Itulah yang harus kau lakukan, sementara kami akan mencoba melenyapkan rumor-rumor yang tak berdasar itu."

Setelah kami mendapat jawaban atas masalahnya, kami pun menutup rapat ini ...

"Kembalikan ruang klubnya, SEKARANG !!"

Seorang gadis menerobos pintu ruang klub, tanpa memberikan salam sebelumnya.

Di sampingnya ada 2 gadis yang sepertinya merupakan pengikut setianya, mereka berdiri dalam keadaan siaga. Sepertinya, salah satu di antara kedua pengikut tersebut adalah cewek yang disiplin, sedangkan satunya adalah seorang petarung yang agresif.

Siapa sih mereka….

"K-Ketua OSIS!?"

Tozaki meratap dengan syok.

Apa? Ketua OSIS? Perempuan itu? Saat memilih Ketua OSIS aku tidak memperhatikannya, jadi aku tidak ingat sedikit pun seperti apa wujud Ketua OSIS sekolahan kami.

"Halo, aku mengerti bahwa makhluk rendahan seperti cowok-cowok di sekolah ini sepertinya tidak mengenalku, jadi aku akan menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan diri. Aku adalah Ketua OSIS SMA Mikage, namaku Yaotani Iri, sekarang aku duduk di bangku kelas tiga, sedangkan ini adalah sekretaris dan wakil Ketua OSIS-ku."

Aku menatapnya dengan kaget. Apakah seseorang seperti itu pernah ada di dunia ini? Aku mungkin pernah melihatnya di kampanye pemilihan Ketua OSIS, tapi aku sama sekali tidak bisa mengingat seorang pun dari mereka. Dalam kehidupan nyata, pemilihan Ketua OSIS lebih sering ditaggapi dengan: ‘Ah… terserahlah, siapapun yang menang gak masalah…’. Akan lain ceritanya jika ada pemilihan Ketua Game Porno, mungkin kami akan lebih bersemangat.

"Hmm ..."

Ketua OSIS melihat sekeliling tempat ini, seolah-olah mencoba menganalisis kelayakan ruang klub ini.

Rambutnya hitam, dengan wajah ganas dan tatapan dingin menusuk siapapun yang dipandangnya. Tangannya yang kecil berwarna putih seperti bunga lili. Kulit halus dan tubuh langsingnya terpadu dalam kombinasi yang begitu aneh, ditambah lagi aksesori berupa kipas yang bergemerlipan.

"Aku sudah meminta izin resmi untuk menggunakan ruangan ini. Jika kau meminta ruangan ini kembali, setidaknya lakukan dengan sah."

Kiriko-sensei sudah mengurusnya. Dia pun bilang bahwa dia sudah mengurus dokumen-dokumen untuk perijinan pemakaian ruangan ini.

"Apa fokus utama klub ini?"

"Bermain-game-digital-untuk-mempelajari-lebih-lanjut-tema-pada-mata-pelajaran-kita-dan-melihat-ke-arah-mana-berkembangnya-meneliti-cara-kerja-pikiran-kita-dan-pengaruh-psikologi-kemudian-menyimpulkan-keadaan-mental-seorang-siswa-remaja-melalui-teknologi-perkomputeran-gunakan-data-penelitian-untuk-lebih-mengembangkan-cara-hidup-yang-sempurna-di-SMA. Sesuatu seperti itu?"

Tozaki menampilkan ekspresi yang seolah-olah bertanya: "Dapat dari mana semua penjelasan itu". Aku tahu bahwa orang di bawah usia 18 tahun tidak boleh memainkan game ini, tapi masih banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari game ini.

"Aku tidak akan menyetujuinya….. tidak mungkin."

"Kau melarang kami menjalankan klub ini hanya karena kau tidak menyetujuinya. Dari mana kediktatoran ini berasal, atau apakah kau ingin menjadi Kim *** Un dan Sta*in?” [2]

"Aku tidak bilang aku memaksamu? Aku hanya ingin kau keluar dengan damai. Dan perlu kau tahu, aku tidak punya niat menjadi seorang diktator.”

"Ah, alasan."

"Gertakanmu juga cuma alasan."

Aduh, balasan yang sempurna.

Dia melipat kipasnya sekali lagi, sementara kedua gadis di belakangnya masih tak bergerak. Padahal, kedua pengawalnya itu tampak lebih mengerikan daripada si Ketua OSIS itu, kalian ini robot atau apa sih? Atau apakah kalian AI dalam game FPS? [3]

"Apa menurutmu klub ini dianggap sah hanya karena kalian sudah mengadakan pertemuan antar anggota klub? Tidakkah menurutmu itu keterlaluan?”

"Itu tergantung dari topik pertemuan. Kami pun tidak membicarakan hal-hal yang penting di sini.”

"Yahh, klub musik meminta tempat untuk menyimpan alat musik mereka."

"... Harusnya kau juga mendengarkan permintaan dari klub-klub lainnya."

"Menurutku, ruangan ini adalah tempat yang cocok untuk menyimpan sesuatu. Jadi, bisakah kalian cepat pergi dari sini?”

"Omong kosong, kami punya izin resmi. Jadi kami tidak akan pergi.”

"Sebenarnya, sekolah baru saja mengubah peraturannya baru-baru ini."

"Apa?"

"Sekedar pertemuan biasa tidak akan memenuhi syarat untuk memiliki ruang klub. Ditulis pada peraturan sekolah pasal 9 ayat 6.”

"Yahh, tapi menurut buku pedomanku, pasal yang kau sebutkan tadi menerangkan bahwa kau tidak boleh membawa lebih dari 3 pensil dalam 1 kotak."

"Oh maaf, pasti aku salah mengingat pasalnya. Anggap saja sekolah memaksa peraturan ini, jadi mohon dengan hormat keluarlah dari ruangan ini.”

Percuma saja ngomong sama betina satu ini, haruskah kita meminta bantuan Kiriko?

Sejujurnya Ketua OSIS tidak begitu berkuasa, ya… sepertinya begitu. Jadi kita hanya butuh otoritas yang lebih tinggi untuk menghentikan dia? Mungkin itu tidak akan menyelesaikan akar permasalahannya, tapi kita masih bisa menunda beberapa waktu.

"Tunggu!"

Saat itu juga, Hatsushiba yang tadinya duduk, sekarang langsung bangkit dari kursinya, sampai-sampai dia hampir jatuh ketika melakukan itu.

"Bukankah ini terlalu mendadak!?"

"Ya, setuju. Aku juga berpikir ini terlalu mendadak.”

Ekspresi wajah Ketua OSIS berubah suram, dan perubahan itu terjadi sangat tiba-tiba.

Sikapnya berbeda ketika berhadapan denganku. Siapa pun bisa melihat itu. Bahkan Hatsushiba terlihat sedikit merinding ketika melihat perubahan yang mendadak itu.

Ayame mendorong kursinya dan berdiri.

"A-Apa kau punya masalah dengan kami ...?"

Aku tidak tahu bagaimana dia bisa merubah sikapnya secepat itu, sepertinya pertemuan barusan memberikan efek cukup telak padanya, kini tidak terasa aura membunuh dan mengintimidasi dari Ayame.

Meski begitu, sikapnya saat berbicara tidak berubah, tapi terserah lah. Kita belum perlu banyak perubahan. Ayame tidak akan bisa menjadi pribadi yang baru dalam waktu singkat. Dia perlu waktu.

"Ya, Ayame-san. Aku sangat terganggu.”

Dia benar-benar tampak terganggu, sembari sedikit memiringkan tubuhnya, aura kebencian terpancar jelas dari tubuhnya.

Kali ini, giliran Tozaki yang memberanikan diri untuk berbicara, dia menunjukkan wajah serius lantas berdiri dengan paksa.

"Jika kau mau mendengarkan cerita kami, mungkin kau akan berubah pikiran."

Kali ini, mata Ketua OSIS memerah, kemudian dia tersentak mundur.

"Hei, murid tanpa nama ... kamu tidak punya hak untuk mengacungkan jarimu padaku, jadi tutup tuh mulut rapat-rapat."

"Oh, baiklah…"

Nyali Tozaki langsung menciut, dan dia pun kembali duduk ke kursinya. Ah….ayolah, jangan cemen gitu.

"Kumohon, Ketua OSIS…. Coba dengarkan cerita kami."

Hatsushiba kembali berbicara, dan lagi-lagi si Ketua OSIS merubah sikapnya dengan tiba-tiba, kali ini dia tampak sedikit lebih ramah.

Tunggu, reaksinya terhadap wanita dan pria terlalu berbeda. Sial, kayaknya dia punya kepribadian ganda ...

"Ya, aku coba mendengarkan. Tapi sebagai Ketua OSIS, aku tidak bisa banyak membantu. Aku sungguh minta maaf."

"Jadi kami hanya perlu memenuhi persyaratannya, kan?"

"Persyaratan?"

"Mengadakan pertemuan saja tidak cukup bagi kami untuk memiliki hak atas ruangan ini, tapi jikalau struktur organisasi klub kami jelas, maka kalian tidak akan mempermasalahkannya. Benar begitu?"

"Itu betul."

"Kalau begitu, aku meminta izin untuk mendirikan klub!"

"Hah! Tu-tunggu dulu…"

Aku hendak memprotes, tapi kalimatku berhenti di tengah-tengah. Sepertinya kepala Ketua OSIS ini lebih keras daripada berlian, jadi dia tidak mau mendengarkan alasan konyol dariku, tapi kalau kami bisa memenuhi persyaratan untuk mendirikan sebuah klub, maka kami bisa mengamankan ruangan ini. Sebenarnya jika kami membentuk klub, maka keadaannya akan semakin rumit, tapi kalau keadaan menjadi buruk, aku hanya perlu meninggalkan klub ini. Aku akan menemukan surga baru sebagai singgahsanaku.

"... ah tidak ada, lanjutkan saja….."

"Jadi, bagaimana menurutmu, wahai Ketua OSIS!"

Hatsushiba berteriak sekuat tenaga, kemudian si Ketua OSIS mulai berpikir dengan serius sembari menusuk pipinya sendiri dengan ujung kipas yang dia genggam.

Sambil mendesah, dia menatap Hatsushiba seolah-olah dia adalah anak nakal. Lantas dia menanggapinya dengan, ‘Baiklah… ah, terserah…. Dasar merepotkan.’

"Baiklah, aku berjanji jikalau kalian dapat memenuhi persyaratan untuk mendirikan sebuah klub, maka kalian boleh memiliki ruangan ini."

"Terima kasih!" "Terima kasih!"

Hatsushiba dan Ayame mengangguk dengan lega.

Tapi-

“Tapi kalian harus memenuhi setiap persyaratannya, oke? Setidaknya klub kalian harus beranggotakan 6 orang, dan juga memiliki guru pembimbing. Jika kalian memenuhinya, maka kalian bisa mendaftarkan klub ini secara resmi.”

Saat ini, hanya ada 4 anggota klub.

Kami masih perlu menambahkan 2 orang lagi, dan kami juga membutuhkan pembimbing.

“Dan batas waktunya, hmm ... 5 hari? Tidak, satu bulan. Ya, sebulan.”

"Sebulan…."

Dia cukup bermurah hati dengan memberikan deadline selama sebulan. Kalau saja Ketua OSIS tidak mengasihani kami, maka sejak awal kami tak akan punya peluang.

“Kalau sudah jelas, aku pamit dulu.”

Ketua OSIS berbalik untuk pergi.

“Oh ya, dan ..”

Sebelum menyentuh kenop pintu, ia tampaknya telah teringat sesuatu, lantas dia sekali lagi mengarahkan wajahnya pada kami.

“Hatsushiba dan Ayame, kalian berdua adalah perempuan. Jadi kalian berdua mempunyai hak untuk mengajukan diri sebagai anggota OSIS, jika kalian berkenan.”

Setelah menyelesaikan kalimat itu, dia meninggalkan ruangan. Yang tersisa hanyalah bau badannya yang samar.

Hatsushiba dan Ayame bingung karena tiba-tiba ditawari menjadi pengurus OSIS.

Uh, sehingga kesimpulannya adalah…. Ketua OSIS membenci cowok, dan hanya menyukai cewek? Itu cukup aneh.

Setelah Ketua OSIS meninggalkan ruangan, kami semua meregangkan tubuh yang tegang di kursi masing-masing.

“Terima kasih Hatsushiba, aku tidak menyangka bahwa kau akan berteriak seperti itu.”

Hatsushiba bergabung dengan klub ini, tidak hanya untuk bermain game.

Dia di sini untuk menghilangkan semua gosip miring tentang Ayame. Pada dasarnya, ia berada di sini hanya demi Ayame.

Yahh, melihat dia melindungi singgahsanaku yang keramat ini, aku pun sungguh terkesan.

“Apa yang kau bicarakan, Yuka melakukan ini untuk Aramiya-kun yang membantu Yuka. Ini bukan apa-apa, mulai sekarang kau bisa memanggilku kapanpun untuk meminta bantuan. Aku akan mencoba yang terbaik untuk menolong Aramiya-kun.”

“Eh, ok”

Mengapa aku merasakan hawa dingin yang mengalir di punggungku?

Benar, aku pernah membantunya untuk melepaskan diri dari cengkraman Songou.

Tapi bagiku, itu lebih mirip seperti: 'Aku ingin menolong Ayame, jadi aku terpaksa membantumu juga'.

Hatsushiba sungguh takut pada Songou, namun aku meyakinkannya bahwa aku juga akan menolongnya.

Hasilnya adalah, Songou ditangkap; Hatsushiba pun terselamatkan dari tangan iblis, tapi ...

Dia merasa berhutang budi padaku sampai pada tingkatan yang membuatku tidak nyaman. Aku merasakan aura balas budi yang selalu terpancar dari tubuhnya ...

Kuharap, aku hanya ke-geeran.

“Tapi maaf, Yuka memutuskan untuk membuat klub tanpa persetujuan dari kalian...”

“Sudahlah, lagian tidak ada solusi selain itu, jadi itu merupakan keputusan yang tepat.”

Aku tidak dapat menggunakan kekerasan. Sejak dilahirkan, lenganku tidak diberkahi dengan kekuatan yang luar biasa.

“Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita perlu merekrut 2 orang lagi, beserta 1 guru pembimbing.”

Tozaki menyilangkan lenganya dan menatapku dengan mata penuh harapan.

Tiba-tiba, sepertinya Ayame memikirkan suatu ide.

“Tentang guru pembimbing, bagaimana kalau Kotani-sensei saja?”

Nama asli Kotani-sensei adalah Kotani Kiriko, yang tak lain adalah sepupuku.

“Benar Kotani-sensei adalah pilihan yang baik. Sepertinya dia juga tidak sedang menjabat sebagai pembimbing klub lainnya.

Aku pun sudah banyak bercerita pada Tozaki bahwa beliau adalah sepupuku.

Maka aku pun memutuskan untuk menjelaskan hubunganku dengan Kosaki, pada Hatsushiba.

“O-oh, begitukah? Aku tidak pernah tahu sebelumnya ... Yuka sama sekali tidak tahu apapun tentang Aramiya-kun.”

Hatsushiba berbicara dengan nada sedih. Mungkin karena dia benci saat tidak menjadi pusat perhatian. Lantas mengapa dia sedih pada hal sepele seperti ini?

“Ok, kalau ada hal lain lagi yang perlu dibicarakan, hubungi saja aku segera.”

Hatsushiba pun menyelesaikan kalimatnya, lantas Ayame menanggapinya dengan menggerutu.”Jadi dia tidak memberitahuku terlebih dahulu ...” Aku sedikit ketakutan, maka aku pun pura-pura tidak mendengarnya.

“Mengapa kau begitu yakin Kiriko akan bergabung dengan kita? Aku tidak begitu berharap dia menjadi guru pembimbing klub kita.”

Aku ingin protes.

"Kenapa begitu?"

Ayame sepertinya terkejut dengan balasanku yang tiba-tiba.

“Jika ia menjadi pembimbing kita, maka semuanya akan berantakan.”

Tidak seorang pun tahu tentang kepribadian asli Kiriko. Walaupun dia terlihat ramah, namun dari perspektifku, dia ... sedikit gila.

Gadis itu terlalu mencampuri urusanku, dan sering memaksakan tanggung jawab padaku. Seperti itulah sepupuku.

Apa pun itu, di sekolah ini dia adalah guru yang cukup populer. Pantas saja Ayame dan Tozaki termakan muslihatnya. Hmm…. Permainanmu sungguh rapi, Kiriko, aku salut….

Kiyomi berlagak sok imut, sedangkan Kiriko berlagak sok polos. Mengapa kedua saudariku begitu suka berpura-pura? Yaa, aku juga sedang berpura-pura menjadi pria SMA biasa, padahal sebenarnya aku adalah seorang Otaku.

“Kalau begitu, apakah kau punya saran selain Kiriko sensei, Aramiya-kun?”

“Bagaimana dengan Ohara-sensei?”

Aku mencoba memikirkan beberapa guru secara acak, tapi Tozaki hanya mengayunkan kepalanya ke kiri-kanan. Ohara-sensei adalah wali kelas kami, dan dia mengajar bahasa Inggris.

“Ohara-sensei cukup seduktif. Hmm, dia pun sedikit genit.”

Jika kita tidak bisa meminta Ohara untuk jadi pembimbing, maka aku tidak punya saran lain.

"Lihat? Kotani-sensei adalah pilihan terbaik kita.”

Ayame berdiri dengan penuh kemenangan.

Tapi aku masih tidak ingin dia menjadi pembimbing kami.

Yahh, pilihannya hanyalah : kehilangan ruangan ini, atau menjadikan sepupuku sebagai pembimbing. Ya, ini pilihan yang setimpal. Tapi…

“... Baiklah, kita akan memintanya menjadi pembimbing setelah kita mendapatkan cukup anggota klub, apakah tidak masalah bagimu?"

Tiga orang mengangguk setuju.

... aku harus mencari kandidat lainnya untuk peran sebagai pembimbing kami. Namun mereka sudah setuju untuk memilih Kiriko. Lagipula kami tidak menemukan kandidat lainnya.

“Kupikir, masalah terberatnya adalah mengumpulkan anggota klub lainnya.”

Tozaki benar, itu adalah masalah sesugguhnya di sini.

“Apakah kau pikir Kiyomi akan bergabung dengan kita?”

Ayame menyebutkan nama adikku tanpa pikir panjang.

"Tidak mungkin."

Aku juga merupakan anggota klub ini, sedangkan imouto itu sungguh benci berada di dekatku.

Dia bahkan sampai mengabaikan aku, dan tidak sudi melihat ke arahku. Aku juga tidak sudi melihatnya. Lagian, aku tidak mau berada di dekatnya.

“Kalau begitu, tidak masalah. Tapi setidaknya, aku ingin agar kau coba mengajaknya.”

"Baik."

Kalau hanya coba mengajak sih gak masalah, toh dia juga akan menolaknya. Tidak mungkin dia mau bergabung bersama klubku. Aku tertawa diam-diam.

Namun, kepercayaan diriku ini justru membawaku pada salah satu bencana terparah abad ini.

“Kalau ada Kotoko, mau ikutian! Tampaknya menyenangkan.”

Setelah sekolah, aku melihat adikku sedang menonton TV sambil mengunyah beberapa keping keripik. Aku bertanya padanya tanpa pikir panjang, lantas dia memberik jawaban yang sungguh tak terduga. Mengapa kau malah memberikan jawaban seperti itu!?

“... Hmm, kalau begitu…. Gak jadi deh, lupakan saja tawaranku radi.”

"Apa!? Kau! # $$ !! Kau sendiri yang menawariku, lantas kenapa kau menarik kembali ajakanmu itu!”

“Karena kau memberikan jawaban yang tak pernah kuharapkan! Aku sungguh percaya bahwa kau akan menolaknya. Tapi sekarang masalahnya jadi semakin rumit!”

“Dasar kakak jahat! Karena sikapmu yang seperti inilah, sampai sekarang kau gak pernah dapat pacar!”

“Berisik! Gak mungkin aku membiarkanmu bergabung dengan klubku! Aku tidak akan membiarkan orang menyebalkan sepertimu ikutan klubku!”

“Aku gak peduli dengan omong kosong yang kau bualkan! Meskipun aku harus merengek pada Kotoko, aku tetap akan bergabung dengan klub itu!”

“Mengapa kau begitu gigih kali ini!”

“Jika itu membuatmu kesusahan, maka aku akan melakukan apa saja.”

“Hei, berhenti bertindak bodoh! Tidakkah kau merasa malu pada orang tua kita dan dunia ini, karena telah tumbuh menjadi cewek yang begitu menyebalkan!?”

“Harusnya aku yang berkata begitu padamu!!”

Setelah menyelesaikan kata-katanya, Kiyomi meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Kemudian dia mengetik sesuatu.

Sebelum aku punya kesempatan untuk membalasnya, semua sudah terlambat.

Si betina ini telah mengirimkan suatu pesan pada Ayame!

“ Aku akan bergabung dengan klubmu, terima kasih karena telah menawariku untuk bergabung, mohon bantuannya ya ~”

Dia menambahkan stiker bergambar seorang selebriti yang mengacungkan jempolnya.

“Ya ampun ...”

Semuanya sudah terlambat, tanda bahwa pesan itu sudah terbaca keluar di layar, menunjukkan bahwa Ayame telah melihat pesan tersebut.

“Benarkah? Terima kasih banyak, aku juga mohon bantuannya! Sampaikan salamku pada kakakmu.”

Ayame membalasnya, dan aku hanya bisa pasrah.

“Dia menyampaikan salam padamu!”

Ekspresi Kiyomi penuh dengan kemenangan, dia pun menunjukkan pesan di ponselnya padaku, dan mimpi burukku pun segera dimulai. Dia melompat-lompat keluar ruangan dengan senyum di wajahnya. Aku hanya bisa menggertakkan gigiku sebelum dia pergi.

Andaikan saja ada kursus ‘Bagaimana Menjadi Adik Perempuan Yang Baik’, aku pasti sudah mendaftarkan setan kecil ini ke sana, berapapun biayanya.

Setelah itu, tampaknya berita ini mengalir dari Ayame ke telinga Hatsushiba. Lantas aku pun juga memberitahu Kosaki.

“Adikku setuju untuk bergabung”

"Sungguh?"

“Maukah kau datang ke sini, terus menghajar adikku? Aku mengizinkannya.”

“Selalu saja seperti ini ketika kau membicarakan tentang adikmu. Cobalah lebih sayang padanya. Cobalah mendekati dia dengan cinta.”

“Tak ada secuil pun kebaikan pada adikku yang layak kucintai, mungkin aku masih bisa menenangkan diri dengan bermain game di depan monitor. Kupikir, 2D adalah prioritas pertama, kita akan bicarakan ini lagi nanti.”

“Tunggu dulu, kau tidak perlu mencintai adikmu sampai pada batas-batas yang tidak senonoh, aku hanya ingin agar kau tidak menjadikannya musuhmu."

“Adikku sering menghinaku. Bagaimana bisa aku mencintainya?”

“Wow, jadi sejak awal kau tak pernah mencintainya ...”

“Lidahnya bagaikan pisau, mirip sepertimu. Kalau di dunia 2D, dia mirip Ratu S.” [4]

“Mungkin ini adalah kesempatan yang baik. Cobalah untuk bersikap baik padanya, berkelahi dengannya tidak akan menutup jarak antara kamu dan adikmu.”

“Apakah-kau-dekat-dengannya?”

“... dewasa lah.”

Aku tidak pernah menyangka akan diceramahi oleh Tozaki. Tapi kalau setan cilik itu masih bertingkah seperti musuhku, aku tidak akan pernah berbuat baik padanya.

Tapi, terlepas dari itu semua, berarti aku hanya memerlukan seorang lagi untuk melengkapi anggota klubku.

Keesokan harinya, yaitu hari Jumat, beberapa teman di kelasku mulai menunjukkan ekspresi tidak nyaman. Terutama para cowok, mereka terlihat sibuk dengan ponselnya masing-masing, sepertinya mereka saling chatting via ponsel, dan mereka berkomentar seperti: 'tidak buruk ..', 'dia cukup seksi', 'dadanya manteb euy ...', dsb.

Dari reaksinya, sepertinya mereka sedang membahas tentang gambar 3D. Tentu saja mereka tidak akan membahas heroine dari Eroge, seperti yang biasa kulakukan dengan Tozaki. Mungkin mereka sedang mengomentari gambar seorang idol, atau sejenisnya.

“Hoho, tidak buruk ... tidak buruk ...”

Ternyata, Tozaki juga ikut-ikutan dan dia pun berkomentar demikian, itu membuatku semakin curiga. Tozaki hanya suka cewek berambut hitam. Tak peduli 2D ataupun 3D, Tozaki sangat menggemari cewek berambut hitam.

Rasa penasaran memaksaku untuk mengintip ponsel di tangannya.

“Tozaki, apakah gambar itu diam-diam diambil dari ruang istirahat guru?”

“Harusnya begitu, gambarnya sedikit tidak lengkap. Aku tidak bisa melihat latarnya dengan baik, tapi sepertinya aku tidak pernah melihat gadis ini sebelumnya di sekolahan ini.”

“Rambut pirang, telinga bertindik, dan banyak dekorasi pada kukunya ...”

“Dadanya cukup montok; bahkan dari sudut ini sudah jelas terlihat.”

Ukuran oppai-nya sekitar F-Cup, jadi dia bukanlah tipe yang disukai Tozaki. Mas ini lebih suka dada berukuran sedang, yaitu sekitar A-Cup dan paling besar B-Cup. Yang paling penting adalah, gadis ini mengenakan kemeja Gal ekstrim [5] . Bahkan aku sendiri tidak bisa menerimanya. Aku yakin wajahnya penuh dengan make-up. Aku tidak tahu mengapa gadis-gadis melakukan hal ini.

“Wah, ini bagus.”

Sayangnya kami tengah berada di kelas, sehingga kami tidak bisa bebas berkomentar mesum, nanti kami bisa kena masalah besar. Tidaklah pantas jika aku bertanya, 'Bagian mana yang tidak kau suka?' atau 'Mana yang jadi favoritmu?'. Aku pun tidak tahu selebriti mana yang mereka sukai.

Walaupun aku seorang Ota-Eroge, aku tahu bagaimana harus bersikap di depan umum, itulah yang menjadi teknik penting untuk menjadi pria normal dengan jiwa Otaku di dalamnya.

“Hoh, jadi Aramiya-kun juga suka tipe cewek seperti ini?”

“Aramiya, kau suka gadis ini?”

... sayangnya, seseorang mulai memaksaku untuk ikut serta.

“Kalian, tolong sedikit mengertilah posisiku.”

Aku mengatakan itu sembari mengoperkan ponsel di depan mejaku, lantas aku bertanya…..

“Jadi, intinya adalah?”

“Katanya, ada murid pindahan baru, dan dia adalah seorang cewek seksi.”

“Murid pindahan baru? Pada saat ini? Bukankah itu sedikit aneh?”

Tiba-tiba, Ayame kata

“Tapi dalam game, skenario ini sangat umum.”

Syukurlah, dia tidak menambahkan ‘Eroge’ di depan kata ‘game’, jika itu terjadi, maka seisi kelas bisa heboh dibuatnya.

“Tapi di dunia nyata, sangatlah jarang ada murid pindahan di saat-saat seperti ini, Ayame”

“Aramiya, apakah kau tidak memiliki hubungan khusus dengan murid pindahan ini?”

“Hubungan apa, aku bukanlah protagonis, mana mungkin aku mengalami hal-hal kebetulan macam itu.”

Aku tidak tahu apa yang dia khawatirkan ... Tetapi, kenapa dia tampak cemas?

Setelah beberapa saat, bel pun terdengar, menandakan kelas akan segera dimulai.

“Selamat pagi semua ~”

Semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing, dan Ohara-sensei, guru wali kelas kami datang bersamaan dengan bunyi bel. Dia datang dengan ekspresi lembut di wajahnya, dan rambutnya pun terikat dengan anggun. Hari inipun, sepertinya mood-nya sedang baik (seperti biasanya). Aku tidak pernah melihat guru ini dengan mood buruk sebelumnya.

“Ok, semuanyaa, hari ini sebelum homeroom, aku ingin memperkenalkan teman baru kalian yang baru saja pindah sekolah.”

Semuanya menjawab “Kami sudah tahu, bu.” Mereka menjawab dengan benar-benar serempak, sehingga sensei pun terkejut.

“Bagaimana kalian bisa tahu?” Jadi selama ini Bu Guru ketinggalan informasi ya.

“Kalau begitu, silahkan masuk…..”

Pintu terbuka lebar seakan menanggapi suara sensei yang lemah lembut. Diikuti oleh seorang gadis yang berjalan memasuki kelas.

Saat aku melihatnya, indera keenamku memperingatkan : 'BAHAYA, BAHAYA'

Otakku telah memasuki mode kritis.

Jantungku mulai berdetak 10 kali lebih cepat.

Instingku berteriak padaku bahwa gadis ini berbahaya.

Hal ini tidak sama seperti perbedaan Otaku dan Gal.

Ini berbahaya, aku merasakan sesuatu yang sama ketika pertama kali bertemu dengan Ayame, seakan-akan dia ingin menyentuh tempat-tempat yang tak ingin ku-ekspose.

“Kalau begitu, silahkan memperkenalkan dirimu.”

“Ya ~ Aku akan mulai memperkenalkan diri.”

Setelah berbicara dengan suara yang manis, ia mulai menulis namanya di papan.

Suwama Tennyo

Saat itu, batas antara kenyataan dan apa yang aku khawatirkan, mulai lenyap. Instingku benar lagi.

Nama ini, tidak salah lagi.

"Eve…"

Aku tidak sengaja mengatakan itu.

“Ya, itu ditulis Suwama, kemudian Tennyo, namun dibaca Eve ~ tapi aku sangat bangga dengan nama ini, aku mohon kerjasamanyaaaa! Hmm! Tunggu dulu?" [6]

... Sial, kenapa aku memanggil namanyaaaaaaaaa!? Apa sih yang kupikirkan!?

Tubuhku menggigil, tanpa sadar hawa dingin merangsek naik pada tubuhku.

Ini seperti ketika ditinggalkan mandi sendirian di tengah taman pada musim dingin.

“Ah-HA!? Bukankah itu Seiichi? Aramiya Seiichi? Oh ~ Sungguh kebetulan! Aku tidak pernah menyangka bisa sekelas sama Seiichi! Ini seperti keajaiban, kan?”

Gadis itu menoleh, lalu menatapku tepat di mata.

Belakangan ini, cukup jarang seorang gadis memiliki kulit gelap seperti dia. Seolah-olah dia sudah lama berjemur di bawah terik matahari, namun sebenarnya, warna gelap itu berasal dari make-up khusus yang dipakainya. Gaya kulit gelap seperti itu pernah populer beberapa waktu lalu.

Rambut pirangnya terlihat menggembung karena diikat dengan gaya twin-tail. Dia juga mengenakan lensa kontak berwarna. Kukunya diwarnai, dam telinganya ditindik. Penampilannya sungguh cocok dengan gaya Gal. Dia juga memancarkan aura mirip seorang pelancong yang gemar bepergian ke manapun.

Namun, auranya tidak berubah, sama sekali tidak berubah.

“L-Lama tak jumpa, Suwama.”

Aku tidak ingin berbicara padanya.

Mengatakan itu saja sudah membuat mulutku kaku.

"Benar! Kita tak pernah jumpa lagi sejak SD ~ Dan jangan panggil aku Suwama seperti orang yang baru kenal ~ Panggil aku Eve, seperti biasanya!”

“Oh, apakah dia kenalanmu, Aramiya-kun?”

Melihat Eve yang begitu akrab denganku, Bu guru pun mulai bereaksi. Ini buruk…

Perutku mulai mual, sepertinya aku akan mengalami sakit perut parah.

Chuuko Vol 2 p-053.jpg

“Um, aku cukup kenal dia.”

Aku menjawab sesingkat mungkin.

Haruskah aku cepat-cepat pergi ke toilet? Tidak, keluar kelas sekarang akan tampak mencurigakan.

Aku ingin cepat-cepat mengakhiri ini. Tapi Eve tampaknya tidak membiarkan aku pergi dengan mudah.

“Hoh ~ Sungguh kebetulan, kan?”

“Kau sudah mengatakan itu.”

"Apa? Oh, benar juga, hahahahahahahaha! Ah, terserah lah!”

Apa yang lucu, dasar gadis gila ...

Aku mencoba untuk tidak melihatnya, aku pun berusaha menundukkan pandanganku ke bawah, sedangkan dia terus memperkenalkan dirinya.

“Oke, perkenalkan dirimu dengan sesingkat mungkin.”

“Ha, aku sudah kehabisan waktu? Oh, cepat sekali… Apakah kalian punya pertanyaan untukku? Kalian boleh bertanya apa saja, dan aku akan menjawabnya dengan segera.”

Saat ini aku sedang tidak ingin mendengarkan apapun.

“Kalau tidak ada pertanyaan, maka aku akan memulai homeroon sekarang juga.”

Aku tidak sabar menunggu Ohara-sensei mengakhiri homeroom-nya, agar aku bisa cepat-cepat menyelinap pergi dari kelas ini tanpa seorang pun menyadari.

Aku senang bahwa teman-teman sekelasku tertarik pada Eve, jika kelas usai nanti, mereka akan segera mengerumuni Eve dan menanyakan berbagai hal, itulah kesempatanku untuk kabur dari sini. Kalau memang itu yang akan terjadi, maka sebaiknya aku tidak melakukan hal-hal konyol sekarang.

Kemudian aku langsung menuju ruang klub.

Harusnya aku kembali ke kelas untuk mengikuti jam pelajaran pertama, tetapi aku malah duduk di mejaku dan meratapi nasibku hari ini.

Aku tidak menyalakan lampu, aku hanya duduk di atas meja dan terdiam selama beberapa saat, kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan.

“Aramiya?”

Itu suara Ayame. Aku lega sambil mendesah. Andaikan itu adalah suara Eve, mungkin aku sudah kehilangan kesehatan jiwaku.

"…masuklah…."

“O-oh”

Ayame dengan lembut membuka pintu, dan memasuki ruangan dengan ragu-ragu.

Saat dia melihatku, matanya melebar.

“Aramiya, wajahmu ... mengapa begitu pucat?”

“Apakah wajahku sepucat itu?”

“Sejujurnya, kau seperti seorang pria yang baru saja keluar dari neraka.”

“Apakah seburuk itu ...” Aku bangkit, kemudian kutempelkan punggungku pada dinding, lalu aku perlahan-lahan mengangkat wajahku ke arah langit-langit.

Langit-langit terlihat gelap.

Karena tirainya belum kubuka, maka sekelilingku terlihat redup.

"Uh huh"

Ayame duduk di sisi lain meja tanpa menghidupkan lampu.

Aku melihat wajah khawatirnya, dan dia mencoba untuk menganalisis permasalahanku. Aku baru tahu dia bisa melakukan ini.

“Pasti ini karena gadis pindahan baru itu, kan?”

Dia pasti menyadarinya. Salahku sendiri menunjukkan ekspresi gelisah saat gadis itu memperkenalkan dirinya, tampaknya Ayame sudah menyadarinya sejak saat itu.

“Apa kau punya masalah dengannya? Sepertinya kalian pernah saling kenal.”

... Hmm, haruskah kuceritakan semuanya pada gadis ini?

“Sebetulnya aku pernah menceritakannya padamu. Gadis itu .... adalah perempuan pertama yang menipuku.”

Memang benar bahwa penampilannya berubah drastis, sebelumnya ia tidak pernah berkulit segelap ini. Dan dia juga tidak memakai make-up setebal itu. Dan yang paling dominan adalah perubahan ukuran Oppainya. Sebelumnya, Oppai-nya memang sudah cukup besar untuk menjadi pusat perhatian, namun sekarang semakin parah.

Tapi kepribadiannya tidak berubah sedikit pun. Dia selalu berada di kelompok orang yang baik. Tidak takut pada Zeus, berurusan dengan setiap orang dengan cara yang sama, dia adalah tipe orang yang tahu bahwa orang lain menyadari apa yang sedang dia pikirkan, apa yang dia suka adalah sama dengan yang orang lain sukai. Dia selalu berusaha menjadi pusat perhatian dunia.

Aku tak percaya bahwa diriku pernah menyukai perempuan seperti itu, seakan-akan aku ingin datang ke masa lalu dan kutebas diriku waktu itu!

Wahai diriku yang dulu, sadarlah! Andaikan saja aku bisa melakukan perjalanan waktu, sebisa mungkin akan kurubah masa laluku ...!

Tapi diriku di masa lalu menganggap bahwa betina seperti ini sangat imut! Sebenarnya apa sih yang kuinginkan waktu itu! Kumohon jangan salahkan seleraku di masa lalu!!

“Ok, aku akan mengurus wanita itu.”

Ayame berbicara dengan nada mengancam yang cukup pelan, lantas dia pun keluar ruang klub.

.........

................................. ..Hm? ”Mengurusnya”?


“TUNGGU DULUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!”

Teriakku sambil berlari keluar ruangan, Ayame menoleh padaku dengan terkejut.

"Hmm? Ada apa?"

“Tunggu tunggu tunggu tunggu tunggu! Kau tidak lupa tujuan klub kita, kan !?”

“Uh, untuk melenyapkan rumor buruk tentang diriku?”

Bagus, dia masih ingat, aku sempat berpikir dia benar-benar lupa, seperti ketika aku lupa tentang plot eroge setelah tidak bermain selama sebulan penuh.

“Jika kau berurusan dengan wanita itu, ini seperti menambahkan minyak ke kobaran api! TIDAK ADA KEKERASAN! PAHAM!?"

“Um, berbicaralah lebih jelas dong.”

"Apa!?"

“H-hanya bercanda ...”

“Tolong katakan padaku bahwa kau juga bercanda ketika bilang akan mengurus Eve.”

Setelah mendengar itu, Ayame memaksakan senyum pada wajahnya. Jadi, kau tidak bercanda ketika bilang akan mengurusnya.

“A- Aku mengerti. Maaf…"

“Kau selalu saja menggunakan kekerasan untuk memecahkan masalah.”

“... Ugh”

Seperti ketika berurusan dengan Songo, dia tidak mengatakan satu kata pun ketika bernegosiasi dengannya.

Menggunakan kekerasan adalah cara terbaik ketika semua pendekatan telah gagal diusahakan. Karena manusia adalah makhluk sosial, maka kita harus saling berkomunikasi terlebih dahulu, meskipun kadang-kadang kita tidak mengerti satu sama lain.

“Jadi ... haruskah kita kembali ke ruangan klub?”

Namun, melarikan diri bukanlah pilihan.

Pada dasarnya, kehadiran tiba-tiba Eve membuatku begitu panik. Tapi sekarang aku sudah mempersiapkan hatiku untuk menghadapi gadis itu.

"Sungguh? Jika kau ingin bolos kelas, aku bisa menemanimu.”

“Eh, jangan. Kan sudah kubilang bahwa rumor buruk tentangmu akan meroket jika kau masih saja suka bolos kelas.”

Meskipun aku sering kali membantah pendapatnya, aku merasa begitu lega setiap kali berbicara dengan Ayame.

Aku tidak tahu apa yang Eve pikirkan tentangku, namun jika aku bergaul dengannya secara nornal, kupikir aku masih bisa selamat.

Tenang, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Tenang saja, dan lakukan dengan santai.

Ketika aku kembali ke kelas bersama Ayame, sekelompok siswa telah membuat kegaduhan, mereka pun mengerubungi Eve. Jam pelajaran pertama belum dimulai, maka inilah saat yang tepat untuk menggelontori sejumlah pertanyaan pada gadis baru itu.

“Oh, jam pelajaran pertama sudah mulai.” “Jika kau tidak kembali ke kursimu, kau akan dapat masalah. Eve, kau juga harus kembali ke kursimu.” ‘Memikirkannya saja sudah membuatku takut’ ‘Kami akan bertanya lebih banyak ketika jam istirahat nanti!’

Sesi tanya-jawab berhenti seketika. Semuanya berusaha kembali ke tempat duduk masing-masing sebelum bel berdering, kursi Eve berada di dekat jendela pada barisan belakang. Diikuti oleh Ayame dan aku, aku pun merasa lega bahwa dia tidak duduk di dekatku.

Tapi, entah kenapa orang-orang yang tadi berbicara pada Eve, sekarang sedang melihatku dengan tatapan mata yang tidak menyenangkan.

Pasti dia telah menceritakan sesuatu. Aku tahu itu.

Bel sekolah pun berbunyi, dan pada saat itu juga, Tadokoro, sang guru matematika memasuki ruangan dengan wajah kejam dan gaya rambutnya yang kaku. Seperti semacam Yakuza atau opsir kepolisian.

Semuanya sudah berada pada tempat duduknya masing-masing; dan di meja hanya terdapat kotak pensil, buku diktat, dan buku catatan. Mereka menyatakan siap untuk menerima pelajaran.

"…kalau begitu…"

Tadokoro berdiri tepat di depan kelas, dia menatap tajam pada para siswa, dan mengangguk seperti biasanya.

Tadokoro adalah salah satu guru paling disiplin di sekolah ini. Jika seseorang tidak berada di kursinya saat jam pelajaran dimulai, maka dia tidak akan ragu-ragu menamparnya. Dia juga selalu berdiri di depan kelas, sehingga tak ada seorang siswa pun yang berani membungkukkan punggungnya, kebrutalan guru ini bahkan mirip seperti raja iblis.

“Hmm ...? Oh, ada murid pindahan baru rupanya.”

Tadokoro melirik Eve, sebelum mengambil daftar nama untuk mengabsen.

“Suwama Eve ... Aku akan ingat nama itu.”

“Yay! Mohon bantuannya, sensei!”

“Eh, baik..baik…”

Terlihat sedikit kerutan otot di pelipisnya.

Bahkan di hadapan guru dengan aura membunuh sekejam Tadokoro-sensei, Eve sama sekali tidak tertekan.

“Mengapa kulitmu gelap?”

“Aku sengaja menggelapkan kulitku, supaya lucu aja.”

“Dan apa yang terjadi dengan warna rambutmu?”

“Oh, bukankah pirang itu indah!?”

“... Terlihat agak ikal.”

“Yahh, aku membiarkan tukang cukur melakukan sesukanya? Aku sudah jarang ke salon sih.”

“Dan tubuhmu juga dipenuhi aseksoris, kenapa kau pakai tindik?”

“Oh, oh! Aku melakukannya untuk menambah pesonaku!”

Semakin Eve berbicara, Todokoro menggertakkan giginya semakin keras.

Aku tidak paham seberapa bego gadis ini, apa dia tidak bisa membaca ekspresi guru killer seperti Todokoro-sensei?

“... Jika kau terlalu banyak memakai aseksoris seperti itu, maka pelajaranmu akan terganggu.”

“Yah, seorang gadis harus tampak imut, paling tidak Anda juga menyukainya, ‘kan?”

"…cukup. Aku akan mulai kelasnya.”

Memang benar bahwa penampilan Even sungguh mencolok di kelas ini. Tapi sekolah ini tidak memiliki aturan tentang seragam ataupun penampilan, bahkan Ayame juga pernah berpenampilan nyeleneh.

“Baiklah, buka bukumu halaman 25.”

Jam pelajaran pertama adalah matematika, tulisan di papan tulis dihapus olehnya dengan segera.

Kami akan menerima pelajaran dari Todokoro-sensei sampai jam makan siang nanti.

Biasanya, ketika jam makan siang tiba, aku selalu menantikan bekal makanan dari Ayame dengan penuh antusias, sembari menuju ke ruang klub, tapi…..... “Seiiichii, sini… sini!”

Hari ini ada Eve, sehingga tampaknya ini akan jadi hari yang tidak biasa, dia menerobos masuk ke dalam ruangan sambil memanggil namaku di depan siswa lain yang duduk-duduk dengan tenang. Kapan aku pernah mengizinkannya memanggil namaku seperti itu, tapi kami memang sudah saling panggil nama depan semenjak SMP.

"Apa yang kamu inginkan?"

Aku berusaha menyembunyikan ekspresi jijikku di balik senyuman palsu, kemudian aku berbalik untuk menanggapinya. Sepertinya, orang-orang di sekitarku salut dengan kemampuan akting-ku, bahkan Hatsushiba pun akan mengakui akting-ku ini.

“Yah yah, sudah lama kita tidak berjumpa, dan akhirnya kesempatan itu datang juga. Maukah kau menemaniku jalan-jalan di sekitar sekolah untuk mengenalkanku dengan lingkungan ini? Diajak kemanapun aku mau, karena aku bebas selama jam makan siang, okeee ~?”

"Maaf, aku gak bisa. Kau harus meminta orang lain untuk menemanimu berkeliling.”

Ketika aku menolak permintaannya, dia menggembungkan pipinya, tampak sangat kecewa.

“Muuuuu ~ teganyaaa ~.”

“Aku ada urusan ke tempat lain sebentar."

Sebenarnya, aku tak ada urusan apapun.

“Kalau begitu, adakah yang mau menemaniku berkeliling sekolahan? Kalian akan kuceritakan kisah sewaktu Seichi masih………...”

"Tunggu!"

Tak mungkin kubiarkan cerita masa laluku yang kelam didengar oleh teman-teman sekelasku, sungguh tak mungkin kubiarkan!

“Ah, kalau dipikir-pikir lagi, urusanku masih bisa ditunda, baiklah, akan kutemani kau jalan-jalan keliling sekolahan.”

“Yaaay, terima kasih Seichii ~, aku benar-benar suka sikapmu yang seperti ini, sungguh suka!”

Kemudian aku melihat sesuatu ketika meninggalkan ruangan kelas bersama Eve. Aku terkejut ketika melihat Ayame berdiri di sana sembari menggenggam kotak bentou-nya. Maafkan aku Ayame, aku akan memakannya setelah kelas berakhir nanti ....

“Jadi, ke mana kita akan pergi? Setidaknya, aku ingin ke tempat yang menyenangkan, oke?”

Aku mengelilingi lingkungan sekolahan seakan-akan hendak mengirimkan sesuatu, dengan Eve berjalan tepat di sampingku, kemudian dia mengajakku membicarakan sesuatu yang menyenangkan.

“Sebelum kita jalan-jalan lebih jauh, aku ingin memberi roti untuk kita berdua, kuharap itu cukup.”

“Oh, boleh juga ~, mohon bantuannya ya ~?

Kami mengunjungi salah satu stand makanan, di mana aku sendiri yang membeli sepotong Roti Yakisoba [7]. Eve juga menuju ke kantin untuk membeli roti isi telur. Kami berkeliling sekolahan sembari mengunyah makanan yang barusan kami beli dari kantin.

Aku harus menjaga konsentrasiku sebelum aku kehilangan keseimbangan mental. Wajahku bisa berubah menjadi cemberut kapanpun. Kalau terus-terusan memaksakan wajah penuh senyuman seperti ini, lama-kelamaan otot wajahku bisa rusak.

“Tapi, aku tidak pernah mengira Seichii juga bersekolah di sini… ini cukup ajaib… sepertinya ini adalah takdir, atau semacamnya."

“Ini mungkin hanya kebetulan.”

“Muuu, kau tidak ingin lagi bermain denganku ~ kita begitu dekat ketika duduk di bangku SMP, seolah-olah kita hmmmm..aaah seperti pasangan yang sudah menikah, kan?”

Hanya dia yang benar-benar berpikir seperti itu. Dia mungkin tidak ingat bagaimana dia menipuku waktu itu, bahkan mungkin dia tidak menyadari telah menipuku. Ini jelas sesuatu seperti: “itu hanyalah guyonan seperti yang biasa kau lihat di TV”; gadis ini tidak pernah peduli pada perasaan korbannya.

“Hmm?”

Lalu tiba-tiba, aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku. Jadi aku menoleh ke kiri-kanan.

Seketika, aku melihat sekelebat bayangan yang menghindari tatapan mataku, lantas dia bersembunyi di balik tiang. Sepertinya ada 2 sosok bayangan di sana.

“Seperti itulah Aramiya semasa SMP, Argojini begitu ~”

“Itu benar."

Aku menjawab dengan tak acuh, sementara aku masih terfokus pada sosok bayangan yang membuntutiku. Aku bisa saja menduga siapakah mereka, tapi ... untuk saat ini lebih baik kubiarkan saja. Toh, aku tidak sedang melakukan sesuatu yang melanggar peraturan.

“Tapi mengapa kau pindah ke sini di waktu-waktu seperti ini, hm?”

“Ah ... hahaha, yahh, ada beberapa alasan”

Tampaknya dia menyembunyikan sesuatu? Apakah penyebab dia pindah sekolah adalah suatu hal yang sensitif untuk diceritakan?

Kalau begitu, apakah lebih baik kutanyakan padanya secara langsung!? Aku toh gak masalah jika dia membenciku!

“Beberapa alasan… maksudmu ..?”

"..."

Kulit berwarna madunya, meneteskan beberapa keringat ketika dia terdiam. Matanya terkulai turun, bibirnya gemetaran, dan ekspresi wajahnya sangat murung.

Sepertinya itu memang hal yang sangat sensitif.

“Ah, gak papa, lupakan saja pertanyaanku tadi.”

Aku memotong kalimatku sendiri, aku pun tak peduli jika dia tidak memberikan jawaban, karena aku juga tidak menanyakannya dengan serius. Dan aku juga tidak begitu peduli.

“Hahaha, m-mulai, ayo kita menjadi teman baik, Seichii ~! Janji ya!"

Aku menanggapinya sesopan mungkin, dan saat itu pula, aku merasakan kehadiran penguntit yang masih saja membuntuti kami.

Meskipun istirahat makan siang telah usai, Eve terus saja menempel padaku.

“Ayolaaaaaaahh, bantu aku belajar ~!”

“Sekolah sudah usai ~ ayo kita pulang dan bersenang-senang!”

(Ayolaaahhh ~ ayo kita pergi berbelanja bersama-sama !!)

Dia mulai sering menggangguku.

Aku mulai merasakankan jijik yang kuat, sampai-sampai aku merasa mual, tetapi jika dia mengungkapkan masa laluku selama SD, maka aku dalam masalah besar.

Yang lebih buruk lagi, ketika aku sedang berjalan menyusuri jalan setapak, Eve langsung datang ke arahku.

“Hei, hei? Ayo, kita jalan sama-sama!”

Dia memeluk erat lengan kananku sambil mengatakan itu.

“Hei, lepaskan!”

“Gak papa kan…...”

“Apanya yang gak papa!!?”

“Oooh, jangan-jangan Seiichi adalah tipe cowok yang selalu memikirkan yang tidak-tidak, seperti 'oh, dadanya menempel pada lenganku!', atau semacamnya? Ahh, jangan sungkan-sungkan.”

“Bukan itu masalahnya!”

“Gak papa kok, aku bahkan tidak keberatan.”

Lalu ia mulai mengangkat roknya ke atas

Aku bisa melihat sekilas benda putih di sana ... .. Sepertinya, sudah lama aku tidak melihat celana dalam di kehidupan nyata, tapi anehnya aku tidak merasa terangsang.

Iniku cukup empuk lho, kenapa kau tidak mencoba menyentuhnya, ayolah!”

Empuk? Apanya yang empuk? Selangkangannya? Otak lu tuh yang empuk!!

Apakah dia sudah melupakan lekukan vagina di dalam rahim ibunya?

"Lihat, lihat!"

Lagian, sepertinya dia hanya menggodaku. Aku tidak pernah merasa sefrustrasi ini.

“Tubuhku cukup seksi, ‘kan? Ayolah, sentuh saja.”

“Kubilang lepaskan!! Kau sebut ini seksi? Sebelum mengaku seksi, kenapa tidak kau kurangi dulu berat badanmu, sehingga ukuran pinggulmu kurang dari 60 cm. Hahahaha! Kau boleh mengatakan apa pun yang kau inginkan, tapi aku tidak pernah tergoda oleh lekukan tubuh para selebriti ataupun idol, lagian kebanyakan dari mereka operasi plastik!!”

“Aku tidak tahu apa-apa tentang selebriti”

Aku tidak membandingkan dia dengan beberapa selebriti terkenal atau heroine dari game Eroge.

Tapi, pinggang mereka tidak pernah melebihi ukuran 60 cm, bahkan dengan ukuran dada mereka yang luar biasa. Ukuran lingkar dadanya bisa mencapai 70 cm, atau bahkan 100 cm. Tapi, tentang ukuran pinggang, 9 dari 10 orang biasanya tidak memiliki ukuran melebihi 60. Puja lah dunia 2D yang ideal.

“Aku cukup percaya diri pada ukuran dadaku. Meskipun ukuran pinggangku melebihi 60 cm, tapi ini masih terbilang seksi, lho ~”

“Kau bicara terlalu banyak. Perutmu sudah seperti permukaan muffin tuh!!”

“Permukaan muffin? Apa maksudnya?"

“Artinya, jika kau memakai bra seperti itu, maka perut dan oppai-mu saling bergencetan.”

“Lalu kenapa kau menyebutnya seperti permukaan muffin?”

“Kau tahu roti manis yang disebut 'Muffin', ‘kan? Permukaan muffin selalu meluber di atas cup-nya, seperti itu jugalah permukaan perutmu!!”

“Oooh, jadi seperti itu ya? Seichii, kau baik sekali ~”

Aku cukup percaya diri dengan penghinaanku. Tapi kenapa dia malah tersanjung??

Apakah kepalanya benar-benar kosong? Kalau kuingat-ingat lagi, nilai akademisnya memang tidak begitu bagus semasa SMP.

“Kubilang lepaskan!”

“Tidak perlu malu-malu, kenapa sekarang kau begitu pemalu? Bukankah kita sudah sering bergaul seperti ini?”

Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau tak punya rasa malu. Sejak kapan kita sedekat ini?

... Aku cukup takut pada kedua orang yang menguntitku di belakang, dan aku tahu bahwa mereka sekarang sedang memelototiku. Aku tak habis pikir, kenapa ini terjadi padaku.

“Aramiya-kun! Apa artinya ini?"

Setelah kelas berakhir, aku berhasil melarikan diri ke ruang klub. Tampaknya aku sudah mencapai checkpoint, dan di sini menunggulah seorang Saint.

Hatsushiba berdiri di sana, menunggu dengan tangan bersedekap, bibirnya melengkung ke atas sampai-sampai berbentuk “^” , dan terpancarkan aura penuh frustrasi dari tubuhnya.

“Hei Tozaki, apa yang terjadi di sini?”

"..."

Aku tidak yakin apakah Tozaki tahu bahwa dirinya berada dalam bahaya saat ini. Dia berdiri di jendela ruangan tanpa sepatah kata pun, tatapan di matanya mengarah ke tempat yang gak jelas, seakan-akan nyawanya sudah tidak lagi berada di raganya. Bagaikan pertapa, dia seolah-olah hendak mengatakan: 'Oh sobat, bukankah tujuan hidup kita sudah terpenuhi?', sekarang aku pengen banget menghajar si brengsek ini, hoi… tolongin aku napa ~!!!

“Kau sudah dengan apa belum? Aramiya-kun!”

"Aku sudah dengar!"

“Baiklah, kalau begitu, siapa gadis itu? Mengapa kau terlihat begitu dekat dengannya? Kau terlihat senang ketika jalan bersamanya, dan dia terus-terusan menempel padamu!”

“Ya ampun, kau tidak perlu menghakimiku seperti itu! Dia hanyalah kenalanku sewaktu SD, tidak lebih!”

Hanya itu yang kutahu diantara kami berdua.

Jika aku lebih dekat dengan gadis itu, maka hidupku akan rusak, dia bisa menghentikan fungsi kerja otakku.

“Apa boleh buat, lagian dia bego banget. Mungkin aku dianggapnya sebagai hewa peliharaan, sehingga dia tidak punya rasa malu padaku.”

“Grrr ... ..”

Hatsushiba tampak tidak senang. Namun sepertinya dia tidak bisa menyangkal penjelasan sederhana dariku.

“T-tapi, mengapa Aramiya-kun harus menemaninya berkeliling sekolah!?”

"Ada alasan tertentu."

Sepertinya Ayame sudah memahami sesuatu. Tapi…

“Dan, apakah alasan tertentu itu?”

“Yahh, aku gak bisa bilang.”

“Beritahu aku alasannya!!”

Meskipun kau memaksaku ..

... Jika aku menjelaskan kepada Hatsushiba, akankah dia bisa menjaga rahasia?

Aku melirik Ayame, dia mengangguk, tampaknya Ayame sudah tahu apa yang akan kusampaikan.

“Yuuka bukan tipe orang yang suka menyepelekan berbagai hal. Kupikir, kau juga perlu menceritakan semuanya padanya.”

"Eh? Ugh? Eh, apa?”

Hatsushiba yang masih penasaran, memiringkan lehernya. Tozaki segera kembali ke tempat duduknya, tampaknya dia sadar bahwa aku akan menceritakan kisah yang seru, sehingga dia pun duduk manis untuk mendengarkan. Sungguh peka bocah ini kalo urusan gosip.

“Jika kalian menceritakan ini pada orang lain, maka aku akan memutuskan hubungan dengan kelian semua.”

Aku memperingatkan mereka, kemudian aku menjelaskan semua kisahku yang pernah ditipu oleh Eve sewaktu kecil.

“HAAAAAA !? Itu sungguh kejam!”

Hatsushiba meledak dengan kemarahan.

“Melakukan hal sekejam itu pada Aramiya-kun! Haruskah kita menyingkirkannya?”

Setelah mengatakan itu, Hatsushiba langsung melesat menuju pintu keluar.

"TAHAAAANN!! Apa-apa’an yang akan kau lakukan!?"

“Aku akan menyebarkan cerita ini ke seluruh sekolahan, biar semua orang tahu betapa busuk si wanita jalang itu!! Apakah aku juga perlu menyebarkan cerita ini pada orang-orang di luar sekolahan?"

“Jangan! Justru si cowok yang tertipu lah yang akan menjadi pusat perhatian. Aku tidak ingin berita ini semakin tidak terkendali. Ya ampun, ternyata kau sama berbahayanya seperti Ayame. Sikapmu benar-benar menyerupai Ayame. Apakah pola pikirmu sudah terbentuk seperti itu sejak SD?”

“Tapi… tapi… Yuuka tidak bisa membiarkan ini terus terjadi! Sesuatu seperti ini-!"

“Kebencian hanya akan menyebabkan lebih banyak kebencian lainnya. Kita hanya perlu bertenggang rasa.”

Kalau tidak salah, ini adalah kutipan terkenal dari “Pertempuran Yufemia”. (Eroge)

“Mengapa kau harus bertenggang rasa jika kau terus terdzolimi!!? Aku tahu bahwa permasalahan ini sudah lama terjadi! Menipu Aramiya-kun seperti itu, dia tidak layak hidup di planet ini!”

“Hatsushiba, tenang. Jangan mengatakan hal konyol seperti tadi.”

Apakah gadis ini terpancing emosinya? Tozaki pun menggigil ketakutan, mengapa kau bertingkah seakan-akan melihat bayi domba yang akan disembelih?

“Ujung-ujungnya dia juga akan bosan padaku, jadi tunggu saja sampai saat itu terjadi.”

“U, ok ...”

Hatsushiba dan Ayame menanggapiku dengan ekspresi khawatir pada raut wajahnya.

Meskipun Hatsushiba mirip dengan anjing Chihuahua kalo marah, itu masih membuatku tersenyum.

Ayame tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan itu malah membuatku ketakutan.

◆◆◆

Sepertinya aku telah membuat beberapa kesalahan besar.

Pertama, Eve terus saja menempel padaku, dan itu bukanlah tindakan yang normal, sehingga beberapa rumor pun mulai berkembang.

“Apa, kau selingkuh?” “Apakah kau meninggalkan pacar utamamu?” “Ara, Aramiya, kau playboy ya.”

Wow. Sejak awal aku memang tidak setuju dipasangkan dengan Ayame, tapi kali ini…..

"Tidak!!"

“A-A-Ada apa Seichii? ~!”

Tidak peduli kemanapun aku pergi, Eve selalu mengikutiku. Bahkan, dia tidak memberiku waktu luang.

“Lepaskan aku, aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu!

"Oh? Mau bagaimana lagi. Hey hey, Nishihara, ingin mendengarkan seperti apa Seichi waktu masih SD?”

“Tutup mulutmu.”

Ketika kami berdebat, beberapa teman sekelasku tampak cekikikan.

“Baik-baiklah sama teman masa kecilmu.” “Seorang teman masa kecil ya”

Aku mulai tidak bisa mengendalikannya, aku tidak ingin melihat gadis ini sebagai teman masa kecil aku. Tapi dia benar-benar tahu kisah masa kecilku.

Jika ini adalah dunia 2D, karakter utama dan heroine mungkin memiliki suatu rahasia yang sama-sama mereka jaga.

Dan akhirnya, itulah yang mempererat hubungan mereka.

Tapi di dunia 3D ini, rahasia justru digunakan untuk memanfaatkan orang lain.

"…(sial)"

Aku benar-benar salah perhitungan.

Wajah Ayame terlihat marah. Tatapan tajamnya sudah cukup untuk membuat anak kecil menangis ketakutan. Aura membunuhnya terasa di setiap sudut ruangan.

Sembari memasang wajah seperti itu, dia pun berbicara.

"Apa?"

Itu sudah cukup membuat orang bernyali ciut kencing di celana.

Mungkin aura membunuh itu cukup untuk mengintimidasi orang biasa, namun hebatnya, Eve sama sekali tidak terpengaruh.

“Hei, hei, kau tak takut, Eve?”

“Takut apa?”

“Uh ... itu.”

“Aku tak pernah takut pada apapun.”

“Itu sangat keren Eve!” “Kau bisa menahan tatapan itu!” “Kau memiliki selera fashion yang sempurna!”

Dan, seisi kelas yang ketakutan melihat Ayame, mulai menyambut Eve layaknya pahlawan.

"Nona. Eve, keren ...”

Kesalahan perhitungan terbesar adalah Nishihara, yakni seorang gadis pemalu biasa yang semakin mengagumi Eve. Dia pun mulai ikut-ikutan pakai make-up; aku tak paham, mantra macam apa yang Eve gunakan untuk menggaet pengikut.

“Ini sama sekali tidak aneh, kan? Gadis memang harusnya seperti ini ~”

Masalah yang lebih besar adalah, Eve perlahan-lahan merekrut para penggemarnya.

Si lacur ini memang sangat suka diagung-agungkan, mungkin dia pengen jadi Ratu atau semacamnya.

"Nona Eve memang kekinian.”‘Ya ya, Sepertinya kita sudah tertinggal jauh darinya.’‘Aku pengen sekali up-to-date seperti dia…’

"Up-to-date? Ahh… tidak perlu, berpenampilan apa adanya adalah yang terbaik…”

“Sungguh!?” “Wow, dia sungguh ramah.” “Aku tidak mungkin menyamainya ...” “Dia terlalu jauh di depan kita!”

“Kalau begitu, kalian harus cepat-cepat cari pacar! Mungkin awalnya kalian malu, tapi kalo kalian memang serius cari pacar, mungkin aku bisa membagi pengalamanku.”

“Sungguh!” “Lain kali ceritakan dengan detail ya.!” “Apakah berselingkuh dengan cowok lain itu gak papa ~?”

“Kita bisa jadikan sekolah ini sebagai ajang cari pacar sebanyak mungkin. Tapi, bagaimanapun juga, kalo menikah nanti, kalian harus pilih satu.”

“Enak kali ya, kalo bisa menikahi 3 cowok sekaligus. Bukankah begitu?” ‘Hahaha, itu bagus.’

Mengapa kalian semua berbicara tentang sesuatu yang begitu bodoh. Mendengarkan itu saja, sudah cukup untuk membunuh sel-sel syarafku. Kumohon jaga mulut kalian, setidaknya ngobrol lah di tempat yang lebih sepi, atau pelankan suara kalian.

“Hei Aramiya, tidak pernah ada sistem reverse-harem, kan?”

“Di Jepang, kau hanya bisa bermimpi dalam mimpi.”

“Jepang memiliki peraturan nomor 732 dan 184 tentang tidak memperbolehkan poligami atau poliandri.”

Kami membicarakan ini dengan begitu pelan. Aku ingat tentang game “Haremku tidak memiliki kelemahan.” Dan jika kita bisa menikah berkali-kali, maka kita harus pindah ke negara lain. Tapi, kalaupun kita pindah ke negara lain, mereka pun hanya memperbolehkan poligami, sedangkan poliandri juga dilarang.

“Seorang gadis harus hidup dengan bebas.”

Gadis adalah makhluk yang dipenuhi oleh keegoisan. Aku tidak akan pernah memahami mereka ...

Tapi tampaknya, teman-temanku sudah menempatkan Eve sangat tinggi dalam hirarki sosial. Aku tidak tahu mengapa dia bisa begitu populer.

“Huh ...” “Cih ...”

Ayame dan Hatusushiba memelototi Eve terus-menerus, kemanapun dia pergi ... Hey jangan pasang wajah seperti itu.

Bukankah kedatangan Eve membuat hirarki sosial kelas ini sedikit berubah?

“Hatsushiba-san. Meskipun dia seorang pengisi suara, dia sedikit terlalu sombong.” “Melihatnya begitu, sungguh membuatku puas.” ‘Ah, rasakan itu.’

Mulut-mulut jahil mulai bergosip tentang Hatsushiba, normalnya Hatsushiba adalah pemuncak posisi tertinggi dalam sistem hirarki dalam kelas ini, tapi semenjak menjadi teman Ayame, perlahan-lahan peringkatnya mulai turun.

“Yuuka melakukan semua ini hanya untuk Kotton. Jadi aku tidak benar-benar peduli.”

Hatsushiba tampaknya tidak benar-benar peduli, tapi Hatsushiba juga cukup banyak memiliki Haters. Kalau diingat-ingat, sepertinya dia pernah di-bully oleh para senior. Dia sendiri pernah menyebutkan bahwa dia punya banyak musuh di dalam kelas; mungkin dia bisa melihat kebencian di balik senyum mereka.

Masalah lain adalah ...

“Hei Nona Eve, apakah dia akan membunuh kami?” “Apakah dia akan membuang kami?” “Ye-yeah, melihat matanya, itu sungguh menakutkan” ‘Sepertinya pertarungan akhir semakin dekat’ ‘Apakah akan terjadi pertumpahan darah di kelas ini?’

Penghuni kelas mulai berpikir yang tidak-tidak karena Ayame terus mengumbar aura membunuhnya.

Kami mencoba untuk membuat sebuah klub untuk melenyapkan rumor negatif tentang dia, tetapi tampaknya keadaan justru semakin memburuk.

“Um, begini lho Ayame… Bisakah kau berhenti memasang wajah seperti itu?”

"Ma-Maaf."

Aku mengingatkannya beberapa kali, tapi setiap kali aku bersama Eve, dia selalu terlihat ingin mem-bully seseorang, bahkan sampai saat ini setelah rambutnya dimodel twin-tail.

Aku mungkin memang pernah berbuat kesalahan, tetapi tolong jangan tatap aku dengan pandangan seperti itu.

“... Eh, Aramiya, bukankah semuanya semakin tidak terkendali?”

"Ya."

Tanpa sengaja aku terpekik ketika menjawabnya, sehingga kedengarannya aneh.

Tozaki mengatakan itu saat aku berjalan menaiki tangga, aku hanya mampu menjawab sejauh itu.

“Menurutmu siapakah yang akan menang?” “Harusnya Ayame lah unggul, bukankah dia pernah menghancurkan seluruh geng pengganggu?” “Tapi geng Eve terlihat sangat santai. Mungkin mereka punya rencana.”‘Apakah Ayame akan mengambil alih sekolah?’“Apakah Eve akan menjadi penyelamat kita?”‘Menurutku, kemungkinan adalah 50-50’

Rumor buruk tanpa bukti lainnya mulai menyebar, bahkan di lorong-lorong dan kelas.

“Coba kau melihat tatapan iblis itu, pasti kau akan menggigil ketakutan. Melihat wajahnya saja sudah cukup untuk membuat seseorang masuk rumah sakit.”

“Jika aku tidak masuk kelompoknya Ayame, aku akan pura-pura sakit dan mendekam di rumah sampai semuanya selesai.”

“Cobalah untuk melakukan sesuatu, Aramiya.”

"Aku?"

“Ini semua salahmu, Ayame menunjukkan wajahnya yang mengerikan karena kamu.”

“Jika kau punya masalah, ya urus saja sendiri, aku tidak pernah mengira bahwa semuanya akan jadi seperti ini.”

“Apapun itu, kau tidak akan bisa membuat situasi ini kembali normal. Kau sekarang dalam status MC yang mengibarkan bendera seperti seorang idiot.”

“Ugh ...... aku bukan MC!”

Aku tidak peduli siapapun heroine-nya, karena aku tidak akan pernah mendekati perempuan 3D ...!

Jika aku ingin menenangkan Ayame, maka aku harus memisahkannya dari Eve.

Tidak, aku tidak boleh ikut permainannya Eve. Aku hanya tidak ingin orang-orang tahu akan masa laluki yang memalukan saat aku ditipu olehnya.

Tapi pada saat ini aku telah memutuskan, meskipun masa laluku diumbar ke publik, paling-paling aku hanya akan ditertawakan. Tidak masalah jika masa laluku diketahui banyak orang, asalkan rahasiaku sebagai Otaku tetap terjaga.

“Hah ...”

Belakangan ini aku lebih sering mendesar daripada biasanya.

Pada saat itu, Eve berlari mendekatiku. Seperti biasa, Tozaki menghilang seperti bayangan, apakah dia muridnya Hattori [8] atau semacamnya?

“Seiichi ~ ayo kita pergi ke kamar kecil!”

Si latjoer ini lagi-lagi mendekatiku.

“Apa kau tidak tahu konsep perbedaan jenis kelamin?”

“Jangan kasar seperti itu lah. Aku sungguh tak paham jika kau menggunakan konsep ataupun filosofi. Ayo laaah."

... Cukup sudah, saatnya untuk menghentikan kegilaan ini.

Aku sudah menyiapkan diri jikalau masa laluku yang memalukan disebarkan ke publik. Ancaman si latjoer ini bukanlah apa-apa bagiku.

Aku bersiap-siap, berusaha untuk menerima tekanan.

“Maaf, tapi aku tidak mau.”

Harusnya, menolak ajakan seorang cewek untuk ke toilet bersama adalah suatu hal yang wajar.

"Oh? Kalau begitu, aku akan memberitahu kisah Seiichi di masa lalu- “

"Lakukan apapun yang kau inginkan."

“... Eh? Apa?"

“Aku sudah tidak peduli dengan trikmu. Silahkan sebarkan cerita itu pada siapapun yang kau suka.”

Wajah Eve tampak sangat terkejut, bagaikan seorang tuan yang ditinggal anjingnya yang setia.

“S-Seiichi, tunggu! Kubilang tunggu!!!”

“Maaf, tapi aku tidak akan mendengarkan katamu, dan berhentilah mendekatiku.”

“Ti-tidak, mengapa kau melakukan ini !?”

Apa’an sih nih perempuan?

“Yahh, kau tahu… aku benci ketika kau mengancamku akan menyebarkan cerita masa laluku yang memalukan. Kau pastinya tahu bahwa aku tidak suka membahas tentang hal itu, namun kau masih saja menganggapnya main-main. Jadi, mengapa aku harus mengikuti permainanmu?”

“Eh, k-karena ... aku dan Seiichi ...”

“Oh iya, masker gelapmu itu sungguh menjijikkan. Bisakah kau menyingkirkan wajah yang membuatku pengen muntah itu? Ceritakan saja masa laluku pada siapapun yang kau mau, aku tidak peduli lagi!”

“T-tunggu! Seiichi, Kau salah paham!”

“Kaulah yang salah paham, sekarang lepaskan pelukanmu!”

Aku menegangkan lenganku dan menarik diri dari Eve. Kemudian aku menaiki tangga dengan cepat untuk kembali ke kelas.

Aku merasa lega. Seolah-olah ada beban seberat gunung yang diangkat dari bahuku.

Kalau aku tahu rasanya akan selega ini, harusnya aku sudah melakukannya lebih awal.

Sembari aku berjalan dengan perasaan lega, aku melihat Ayam sedang berdiri dari balik bayang-bayang.

"…Ah."

Ketika kami saling menatap, Ayame tampak gelisah, seakan-akan dia coba memikirkan suatu alasan. Kenapa dia di sini?

“Apakah kau tadi melihatnya?”

“Ugh m-maaf.”

“Jangan pikirkan dia lagi, dan hentikan tatapan matamu yang mengerikan itu. Jika kau terus melakukannya, reputasimu akan kembali memburuk.”

“Baiklah, eh, maaf ...”

“Tidak perlu. Aku melakukannya agar reputasimu yang sudah buruk, tidak semakin buruk lagi. Ayo, mari kita kembali ke kelas.”

“U, um, ok.”

Sekarang dia tersenyum.

Aku berharap bahwa rumor mengerikan ini akan segera menghilang.

Dari kejauhan, Eve melotot pada mereka berdua.

“Grrrrrrrrrrrr ...”

Dia melihat punggung kedua orang itu dengan wajah penuh kefrustasian.

“... Apa-apa’an cewek itu, sepertinya dia sangat dekat dengan Seiichi ...”

Dia menggigit kukunya, seolah-olah mainan favoritnya dibawa pergi.

Sebelumnya, dia pikir Seichi akan mematuhinya selama dia mengancam akan menyebarkan cerita masa lalunya. Tapi sekarang trik itu tidak berguna.

Dia harus melakukan sesuatu.

Dia tahu benar bahwa otaknya tidak cukup cerdas untuk membalas perlakuan Seichi, namun dia belum mau menyerah.

“Aku harus mencari cara untuk berurusan dengan gadis itu.”

Setelah menyelesaikan kalimat itu, dia menunjukkan suatu senyum polos di wajah hitamnya.

“Aku memiliki mantra yang bisa melakukan itu. Aku harus bisa melakukannya, jika aku berhasil melakukannya, Seiichi akhirnya akan tahu.”

Dia berbalik menjauh dari kedua orang yang membelakanginya.

Wajahnya menyembunyikan semangat yang berapi-api dan jiwa yang keras…
  1. Tatami adalah semacam tikar Jepang yang bentuknya berpetak-petak dengan ukuran tertentu. Panjang dan lebar Tatami berbeda-beda pada beberapa daerah di Jepang. Di Tokyo, Tatami berukuran 0,88 – 1,76 m, namun rasionya yang umum adalah 2:1.
  2. Maksudnya adalah Kim Joung Un (seorang diktator dari Korea Utara) dan Stalin (seorang diktator dari Rusia).
  3. AI adalah singkatan dari Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan), sedangkan FPS adalah singkatan dari First Person Shooter, yaitu game tembak-tembakan.
  4. S = Sadis.
  5. Gal adalah istilah untuk seseorang yang berdandan berlebihan, bahkan tidak sesuai dengan umurnya.
  6. Tennyo berarti ”Gadis langit”, dibaca Eve, itu adalah salah satu cara baru penulisan nama (tapi tidak terlalu populer sih). Dengan penamaan bahasa asing, dan memilih Kanji sebagai pengganti makna, tetapi menggunakan pengucapan yang sama sebagai bahasa asing.
  7. Roti Yakisoba adalah makanan yang kurang lumrah di Indonesia, karena itu adalah roti isi mie goreng, namun agaknya makanan ini sangat populer di Jepang
  8. Hattori di sini adalah nama klan ninja pada zaman Sengoku.