Chuuko Indo:Jilid 2 Bab 2

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 2 – Kenapa Semuanya Ada di Perpustakaan?[edit]

Waktu berlalu bagaikan hembusan angin pada hari Jumat yang lalu, dan aku benar-benar memutuskan hubunganku dengan Eve.

Aku tidak melihat Ayame di mana biasanya kami bertemu, jadi aku mengirim pesan padanya, lalu ..

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA (= ゜ ω ゜)"

Rupanya dia menjerit dengan menggunakan Emoji seperti itu .. Dia segera terbangun tepat setelah mendapatkan pesan teks dariku.

Yang berarti, dia memang kesiangan.

"Ini pertama kalinya kau membangunkanku!! (· V ·) "

Apakah kamu tahu bagaimana caranya menggunakan Emoji??

Ayame terengah-engah sembari berjalan ke kelas, lalu dia merobohkan diri ke mejanya, bahkan twintail-nya pun tampak lelah...

Hatsushiba mendekati Kotton dan menepuk punggungnya sambil bertanya "Kotton, ada apa?"

"Eh ..."

Saat dia mengangkat wajahnya, seluruh kelas mulai berdengung, seolah-olah ada gelembung yang pecah. [1]

Wajah Ayame tidak berbeda dari biasanya, dia pun tidak terlihat memakai make-up berlebihan, ataupun terdapat luka lebam di wajahnya.

Hanya saja, matanya basah, dan itu terlihat makin buruk ketika dia tidak pakai make-up sama sekali.

Oleh karena itu, dia sepertinya lebih mirip gangster yang baru saja menyelesaikan pertarungan antar-geng di pagi hari.

"Menakutkan ..." "Itu bukan dandanan, kan?" "Apa dia bertarung di pagi hari melawan seseorang?"

Mulai muncul beberapa rumor tak sedap, dan langsung menyebar di seluruh kelas.

Aku secara pasif membantunya menolak rumor tersebut, tapi posisiku yang rendah di kelas ini tidak memberikan dampak signifikan,

Walaupun aku mengatakan sesuatu, mereka hanya akan membalasnya dengan: "uh…oke deh." Dan mereka pun tidak akan membiarkan aku menyelesaikan kalimatku.

Jika mereka tiba-tiba penasaran lalu bertanya kepadaku "Mengapa kau tahu banyak tentang Ayame?"

Ini akan semakin berantakan.

"Sepertinya tidak seburuk itu deh." "Ya, seharusnya tidak terlalu serius." Aku dan Tozaki hanya bisa mencoba menekan menyebarnya rumor, dan menenangkan kelas dengan sabar, tapi sebenarnya kami tidak sanggup mempengaruhi siapa pun, karena perkataan kami hanya dianggap angin lewat oleh mereka.

Rumor biasanya semakin tertuju pada bagian yang paling menarik dari cerita tersebut. Fenomena ini bagaikan jungkat-jungkit yang akan selalu turun pada sisi yang lebih berat, dengan kata lain, semakin banyak bagian cerita yang menarik, maka akan semakin banyak pula yang percaya. Ironisnya, tidak banyak orang mengecek apakah bagian cerita yang menarik itu adalah suatu fakta.

Manusia hanya mempercayai sesuatu yang dianggapnya benar, meskipun apa yang dia anggap benar hanyalah sebatas rumor. Walaupun kita melihat melalui mata dewa yang hanya akan mengungkapkan kebenaran sejati, kemudian meyakinkan mereka akan kebenaran sejati tersebut, manusia hanya akan berpikiran berbeda dan tetap menganggap asumsinya sebagai yang paling benar. Itulah kenapa kebenaran selalu bervariasi di dunia ini.

Namun, apa sih yang sudah dilakukan Ayame, sampai-sampai matanya terlihat letih dan kendur seperti itu?

"Ahh! Aku terlambat C.I.U (talk) 07:34, 26 June 2017 (CEST)!”

Ada satu orang lagi yang memasuki ruangan, seakan-akan hampir terlambat. Seluruh kelas pun terkejut sekali lagi.

Aku berbalik untuk melihat, di sana aku mendapati Eve yang ekspresi wajahnya juga berubah. Waduh, bisa jadi masalah lagi nih….

DIA TIDAK MEMAKAI MAKE-UP HITAM LAGI!! Walaupun make-up-nya masih tebal seperti biasanya, tapi corak hitam sudah tidak lagi ada. Perubahan warna make-up sederhana seperti itu sudah menunjukkan perubahan yang begitu besar.

Chuuko Vol 2 p-083.jpg

Kulitnya yang sebelumnya berwarna madu, kini berubah menjadi warna cokelat seperti terbakar sinar matahari, yang membuatnya terlihat jauh lebih sehat.

Gimana ya bilangnya…. Dia terlihat seperti seorang gadis retro yang baru saja mengalami perubahan besar menjadi Gal modern.

"Eve, apakah kau mengubah make-up di wajahmu?" "Kau jadi terlihat lebih manis!" "Lain kali ajari aku bagaimana cara memakai make up seperti itu, ya?”

Beberapa anak buahnya mulai mengerubungi Eve.

Eve sendiri, setelah dia memberikan salam kepada teman-temannya. Wajahnya langsung menoleh ke arahku.

....... tunggu dulu, jangan bilang…….

"Make-up hitam ini adalah sesuatu yang tidak bisa aku pakai."

Apakah dia mengganti make-upnya karena aku? Ini semua bukan salahku, ‘kan?

Eve mulai mendekatiku.

"Seiichi ~ aku mencoba mengubah caraku ber-make-up, bukankah ini hebat?"

"... bertanyalah padaku, apakah kau semakin terlihat cantik, atau justru sebaliknya."

Aku hanya bisa mengatakan bahwa itu setidaknya lebih baik daripada make-up hitam. Tapi jawaban langsung seperti itu, hanya akan membuatku diadili oleh gadis-gadis sekelas lainnya, dan mereka akan mengatakan hal-hal seperti: "Jadi kau bilang penampilan Eve sebelumnya jelek?” atau semacamnya.

Tampaknya cara terbaik untuk menjawab adalah: "Sedikit lebih manis daripada sebelumnya", atau "Itu lebih cocok denganmu." Tapi, gadis ini adalah salah seorang yang tidak pernah ingin kupuji.

"Uh ... boleh juga ..."

"Sungguh!!? Aku merasa lega, terima kasih Seiichi!”

Mengapa dia mengganti make-upnya? Apakah dia mencoba membuatku frustrasi?

Sepertinya bukan itu alasannya, mungkin saja cara berpikirnya berubah atau semacamnya. Tidak mungkin jika akulah satu-satunya alasan mengapa dia tiba-tiba memutuskan untuk mengubah make up-nya kan? Dia tersenyum dengan puas, sebelum akhirnya kembali ke tempat duduknya.

Saat makan siang, kami duduk bersama untuk makan bento kami, bukan di ruang klub, tapi di kelas.

Inilah rencana kami untuk memberantas rumor buruk tentang Ayame. Kami bisa mewujudkannya dengan membiarkan dia melakukan hal-hal normal, seperti: pulang tidak larut malam, tetap di kelas dan mengikuti pelajaran dengan normal.

Hanya saja, kami tidak bisa melenyapkan semua rumor buruk Ayame hanya dengan hal-hal kecil seperti itu.

Tetap saja ... Semua pelajar di kelas masih akan takut padanya, lagipula jumlah pelajar di kelas kami tidaklah seberapa banyak, sehingga rumor-rumor buruk yang sudah terlanjur menyebar ke luar kelas tidak akan bisa diatasi.

Tapi kalau kami selalu makan dengan normal seperti ini setiap hari. Aku pikir orang akan mulai merasa bahwa Ayame bukanlah gadis yang suka menyebabkan masalah, atau mengatakan sesuatu yang kasar.

Kami barusan saja memulai semester baru selama sebulan, mungkin inilah saatnya untuk sabar.

Sementara kami sedang makan nasi, Ayame menjelaskan kepada kami mengapa matanya jadi mirip panda begitu.

"Oh, DN yang Aramiya berikan padaku sangat menyenangkan."

"Oh, kau sudah memainkannya?"

"Iya, sangat menyenangkan. Aku membelinya pada hari Jumat yang lalu, kemudian aku maraton main itu…”.

DN adalah kata singkatan dari 'Destiny Night', itu merupakan suatu genre dalam Eroge.

"Kau memerlukan waktu hingga 60 jam untuk menamatkan game itu, berarti Ayame, Kau ..."

"Ya, sejak Jumat, aku hampir tidak pernah tidur."

Aku pernah mengatakan kepadanya bahwa di kelas lebih baik kita tidak membicarakan Eroge, tapi dia sudah cukup mahir menggunakan nama inisial game, sehingga orang biasa tidak akan mengerti apa yang sedang kami bicarakan. Dia melakukannya pasti karena dia benar-benar menyukai game tersebut.

Tapi tunggu dulu, apakah dia bermain Eroge sejak pagi hari sekolah? Aku juga kadang-kadang melakukannya, tapi bukankah itu buruk? Akulah orang yang merekomendasikan game itu, mungkin aku perlu mengatakan ini… tapi, bukankah dia sudah cukup kecanduan? Itu sedikit membuatku takut.

"Hm? Apakah kalian berdua sedang membicarakan film?” "Menonton film sepanjang akhir pekan?”

Tozaki dan Hatsushiba bertanya, sepertinya mereka berniat nimbrung dalam obrolan kami.

"Tidak, coba tebak."

Mereka berdua memiringkan kepala bingung beberapa saat, sebelum menyadari bahwa kami berdua tidak menyebutkan kepanjangan DN secara lengkap. Mata Hatsushiba dan Tozaki semakin menyipit.

"... Eh, apakah Ayame akan-"

"Kotton, jangan bilang-"

Aku pun baru tahu bahwa ternyata mereka berdua belum menyadari hobi baru Ayame.

Salah satu alasannya adalah karena Ayame tidak pernah menyebut Eroge di depan keduanya.

"Alasan kau mengubah gaya rambutmu, dan melakukan hal-hal gila….hanya karena ini?"

Tozaki mengangguk pada dirinya sendiri, seakan puas dengan jawabannya.

Sebelum ini, Tozaki pernah diseret oleh Ayame untuk ditanyai tentang hal-hal yang kusukai. Kalau diingat-ingat, waktu itu seru juga.

Jika aku berbohong saat itu, dan bilang bahwa aku lebih suka film atau semacamnya, mungkin dia akan menekuni hobi yang berbeda. Tapi itu tidak masalah, toh sekarang aku mendapatkan teman baru yang juga sesama pecinta Eroge.

Tapi yang lebih penting adalah……….

"Orang itu sangat keren, ‘kan?

Aku mengatakannya dengan pelan, lantas wajah Ayame memerah.

"Aramiya juga berpikir begitu ya! Orang itu sangat keren, seperti saat dia membelakangi layarnya …..”

"Seperti saat dia mempertaruhkan seluruh hidupnya pada pedang."

"Ya! Dia tahu bahwa jika dia menggunakan kekuatannya, dia akan mati, tapi dia masih saja berjuang melawan para petingginya…."

Sudah kuduga.

Kami berbicara dengan bahasa yang sama!

Walaupun Hatsushiba dan Tozaki masih berekspresi: 'apa sih yang sebenarnya sedang terjadi', aku tidak lagi peduli!

"Oh, sekarang aku berpikir tentang bab kedua."

'Destiny Knight' mungkin memang Eroge, tapi aku lebih suka menyebutnya fantasi.

Memang benar bahwa ada gadis-gadis imut yang bermunculan dalam game tersebut. Namun game ini berbeda dengan game di mana kau hanya merasa lebih superior pada gadis-gadismu.

Itu sebabnya, menurutku game ini punya sesuatu yang unik yang menjadi ciri khasnya, bahkan popularitasnya terus meningkat.

Masalahnya adalah, teman Otaku-ku satu-satunya, yaitu Tozaki, tidak main game seperti ini.

"Aku tidak suka fantasi, aku lebih memilih komedi cinta sekolah."

Tozaki mengatakan hal itu sebelumnya, jadi tak ada seorang pun yang bisa kuajak bertukar pendapat.

Aku bisa saja buka browser, kemudian cari lawan debat di internet, tapi kita semua tahu bahwa semakin populer game-nya, maka akan semakin banyak pula hater-nya. Aku menemukan banyak orang yang mendramatisir game ini, aku pun enggan bicara dengan orang seperti itu. Aku juga tidak ingin bertoleransi dengan terus-terusan mendengarkan kefrustasian orang lain akan game tersebut. Aku ingin berbicara tanpa campur tangan siapa pun.

Namun, tak pernah kusangka bahwa lawan bicara terbaikku saat ini adalah Ayame!

"Ceritanya semakin seru pada bab tiga, aku sangat menyukai Heroine-nya."

"Tapi menurutku, karakter itu juga semakin gelap pada bab tiga."

"Memang itulah yang membuat ceritanya semakin seru! Sebelum itu dia sangat cacat!!"

Sangat menyenangkan berbicara dengannya.

Walaupun ini hanya terjadi sementara saat istirahat makan siang, aku tidak pernah mengira bahwa membicarakan Eroge bisa jadi semenarik ini. Akan tetapi, kami masih harus berpura-pura bahwa kami sedang membicarakan film.

Jujur, aku ingin menceritakan nama karakternya dan berbicara lebih banyak lagi, tapi mengingat lokasi kami saat ini, sepertinya itu cukup sulit dilakukan. Walaupun teman-teman sekelas kami berada jauh dari ruangan ini, dan mereka tidak akan bisa mendengarkan percakapan kami jika kami tidak gaduh.

"Tapi episode berikutnya hampir habis sekarang, lebih baik kau menyiapkan isi dompetmu."

"Sungguh? Aku benar-benar ingin memainkannya sekarang.”

Ayame mulai menjadi teman Otaku-ku yang bisa dipercaya.

Akan jauh lebih baik andaikan Ayama adalah seorang cowok. Bukannya aku suka mendiskriminasi, dan berpikir bahwa hanya laki-laki saja yang pantas memainkan game ini…. tapi saat berbicara dengan pria, aku lebih mudah membicarakan hal-hal cabul, daripada berbicara dengan gadis. Jadi, aku pun masih ragu membahas hal-hal mesum bersama Ayame.

Tapi jika itu Ayame, biarpun aku tidak bisa berbicara senyaman ketika bersama Tozaki, setidaknya aku tidak perlu begitu mengkhawatirkannya, karena toh Ayame juga sering minta diajari banyak hal tentang Eroge.

"Hei hei, apa yang sedang kalian bicarakan ~? Oh? Ayame-chi, kenapa matamu begitu gelap? Apakah sejak tadi pagi matamu sudah mirip seperti panda begitu?”

Suara manis terdengar tepat di telingaku.

Eve yang baru saja kembali dari membeli roti pada toko lokal, telah datang dan mengganggu kelompok kami

Tunggu, mata Ayame sudah seperti panda sejak pagi tadi, bukankah seharusnya dia sudah melihatnya karena tempat duduknya yang berdekatan?

"Apa?"

"Oh, sangat menakutkan ~ kamu terlihat seperti penjahat. Apakah kau pernah memiliki catatan kriminal?” Ayame tampaknya sangat frustrasi karena gangguan Eve, matanya melotot, dan wajahnya berubah menjadi seperti pemimpin geng motor. Bahkan aku pun ingin kabur.

Aku mengatakan kepadanya untuk tidak menampilkan wajah seseram itu, kenapa sih dia melihat semua orang yang datang dan menyapanya seperti melihat musuh?

"Kau punya urusan apa denganku? Aku hanya makan siang seperti biasa, pergilah kau.”

Ayame, mengapa kamu begitu bego, jangan memulai masalah dengan cewek paling populer di kelas. Orang-orang di sekitar kita sudah mulai saling berbisik, lho!

"Hei, Ayame."

"Tapi, tapi dia ...!"

Sepertinya Ayame juga punya alasan untuk tidak menyukai Eve. Jadi dia sama sekali tidak menyembunyikan kebenciannya.

"Yahh, sejak tadi pagi kau sudah emosian. Kau sangat suka menggunakan ototmu ya, Ayame-chi. Apakah kau selalu seperti ini?”

"Ha? Siapa yang memberimu izin untuk memanggilku Ayame-chi.”

"Eh, gak masalah, kan. Anggap saja itu lelucon. Kau boleh memanggilku Eve-nieng jika kamu mau.” [2]

"Ni-nieng? Apakah sel otakmu tidak berfungsi dengan baik? Tidak, aku tidak akan memanggilmu seperti itu!”

"Hm, Ayame-chi benar-benar pemalu. Aku mencoba bermain denganmu, lho!”

Tapi si jalang ini juga menyebalkan.

Meskipun tidak ada orang di kelas yang berani berurusan dengan Ayame, tapi wanita jalang ini sama sekali tidak takut.

"Sudah cukup, pergi sana."

"Eh, Seiichi, katakan sesuatu ~ Ayame sangat menakutkan ~ Dia akan membunuhku!"

"Jangan melibatkan aku, tenang saja… dia tidak akan membunuhmu."

"Huuu ... Apa boleh buat, pokoknya kalau terjadi sesuatu padaku, semuanya salahmu.”

Eve mengatakan itu, lantas dia pergi.

Cih, apa sih yang lacur itu inginkan? Tidak, yang terpenting adalah ..

"... Ayame, sudah kubilang jika ada seseorang di kelas, jangan ngomong seperti itu."

"Sepertinya dia merasa bersalah, tapi tabiatnya keluar begitu saja.”

Jika dia tidak memperbaiki perilaku ini, rumor buruk tentang dirinya tidak hanya akan menyebar lebih jauh, tapi juga semakin banyak.

Kemudian, sekolah pun selesai dalam sekejap.

Minggu ini adalah giliranku piket, jadi kami membagi pekerjaan untuk membersihkan sekolah. Sekelompok siswa akan membantuku, dan Tozaki masih membersihkan ruangannya. Hatsushiba dan Ayame pergi ke ruang klub

"..."

Sepertinya Tozaki ingin mengatakan sesuatu, tapi dia urung melakukannya. Aku tidak tahu apakah dia tidak yakin atau apa.

"Eh, apakah kamu ingin mengatakan sesuatu?"

Aku membuka percakapan sambil membawa 2 tong sampah ke tempat pembuangan bersama Tozaki.

"Oh ..."

"Kulihat dari tadi kau ingin mengungkapkan sesuatu, katakan saja apa yang ingin kau katakan."

"Yahh, ini tentang rumor Ayame. Sebenarnya ada yang baru….. tunggu sebentar ya.”

Tozaki tiba-tiba berhenti sesaat sebelum dia menuruni tangga, lalu menarikku ke balik dinding untuk bersembunyi. Dia meletakkan satu jari di bibirnya, dan tangan satunya menunjuk ke atas tangga. Aku memasang telinga baik-baik untuk menguping perbincangan 2 orang siswa di lantai atas.

"Jadi rumor bahwa Ayame main gila-gilaan di luar itu benar?" "Dia kan sudah lama melakukan pekerjaan sampingan itu, bukankah dia sudah sering mengulanginya?”

Rumor tanpa dasar lainnya.

Ayame tidak pernah melakukan prostitusi, tapi jujur saja, aku juga pernah mempercayainya.

Mereka terus saja membahas rumor ini, mungkin karena mereka bosan.

"Itulah yang terjadi… tapi ada rumor baru lagi lhooo."

"Apa tuh?"

"Yahh, ini lebih buruk dari sebelumnya. Tapi aku menganggapnya sebagai kelanjutan dari rumor sebelumnya."

Sejak saat itu, ketika kami membuang sampah, kami mendengar rumor lain.

"Kudengar dia memukuli wanita lain sampai babak belur, sehingga dia dirawat di rumah sakit." "Kudengar, korbannya masih dirawat di rumah sakit, bahkan sampai saat ini.”

"Beberapa orang bahkan mengatakan kalau dia masih koma."

Aku tak bisa menegur Ayame dengan paksaan, karena dia punya kekuatan yang cukup untuk menerbangkan seorang pria sampai 2-3 meter ke udara.

Sebelumnya, aku sudah sering mendengar bahwa Ayame menghajar sekumpulan cowok, namun baru kali ini aku dengar Ayame memukul cewek. Atau apakah rumor itu mulai memburuk, tapi toh aku juga belum pernah dengar dia membunuh seseorang. Korban Ayame memang pernah sampai dilarikan ke rumah sakit, tapi paling lama cuma dirawat sehari, setelah itu dibolehkan pulang.

"Kudengar, dia tidak menunjukkan belas kasihan kepada cewek maupun cowok ..." "Apa dia punya masalah dengan mereka?" "Tidak, maksudku tubuh bagian atasnya itu lho, dia akan melahap semuanya ...” [3]

Rumor terus berkembang.

Aku tidak bilang bahwa aku begitu mengenal Ayame, tapi baru kali ini aku dengar Ayame menganiaya gadis. Padahal dia menyukai Heroine dalam game Eroge. Hmm, mungkinkah dia memang lebih menyukai cewek ketimbang cowok?

Mengapa mereka harus memulai rumor seperti ini? Aku sungguh tak percaya.

"Kudengar dia masuk geng yakuza ..."

"Kudengar dia membentuk geng motor sendirian."

Itu jelas-jelas tuduhan palsu, bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi?

Jika aku membuat-buat cerita tentang Ayame yang berkelahi melawan 5 anggota gengster, mungkin setidaknya adik perempuanku mempercayainya. Tapi seharusnya itu adalah kasus Songo.

"Sungguh?" "Pembully hanya akan berakhir dengan dibully." "Kukira, setelah mewarnai rambutnya, dia tidak lagi garang."

Di sana juga ada sekelompok orang yang bersama-sama mendengarkan rumor itu, dan Eve juga bergabung dengan mereka.

"Woah benarkah? Bukankag itu buruk?”

"Ya, itu benar, Eve ~ Jika kau ditargetkan oleh gadis itu, Kau berada dalam masalah besar." "Lain kali kau akan terbunuh!” "Atau dia akan memukulmu begitu keras, sampai-sampai kau tidak akan bisa melahirkan!?” "Mungkin saja, atau bahkan lebih buruk dari itu ~ "

"Jangan khawatir, aku siap untuk semuanya!"

"Wow, Eve, kamu sangat berani!" "Kelompok Ayame agak terlalu sombong." "Hatsushiba juga akhir-akhir ini sangat menyebalkan.”

Tiba-tiba mereka bergosip tentang Hatsushiba.

"Semudah itukah mereka mempercayai rumor itu?"

Aku menduga bahwa ada seseorang yang sudah terlebih dahulu memulai rumor ini. Tapi tidak peduli apapun motifnya, bukankah ini sudah keterlaluan? Cobalah bertemu dengan orangnya, kemudian bicaralah setidaknya selama 5 detik dengannya. Maka kau akan tahu seperti apa kepribadiannya.

"Aramiya, seperti inilah semua orang memandang Ayame sekarang. Mungkin kau tidak mempercayainya, tapi orang yang baru saja mengenal Ayame mungkin akan segera mempercayainya. Ini seperti yang terjadi ketika SMP.”

Jawab Tozaki dengan lancar.

Inilah kenyataan yang kami dapati setelah membuang sampah. Beberapa orang saling bergossip, dan menyebarkannya layaknya kabar yang terpercaya. Walaupun kami mencoba menghentikannya, tapi rumor ini terlalu cepat. Lagipula, ada begitu banyak orang yang mempercayainya. Itu semakin memperburuk keadaan, bagaikan membubuhkan garam pada luka.

Jadi kesimpulannya, rumor yang sedang berkembang adalah:

  • Ayame main gila
  • Dia menghajar seorang gadis, bahkan sampai koma di rumah sakit.
  • Dia tidak pandang bulu, dan akan melahap baik cewek maupun cowok.
  • Dia adalah anggota geng Yakuza.

Rumor tentang Ayame ini mulai menyebar ke seluruh sekolah.

Tozaki dan aku menyelesaikan tugas piket, kemudian kembali ke ruang klub.

"Jika kita tidak menghentikan ini, semuanya akan semakin memburuk. Kita bahkan tidak bisa mengendalikan rumor tentang Ayame sebelumnya, Sekarang malah semakin buruk.”

"Jika rumor ini terus menyebar, semuanya akan tak terkendali ... Mampukah kita menghentikan bom waktu ini?"

Tozaki dan aku pergi ke ruang klub tanpa rasa percaya diri sedikit pun. Namun, kami dihadang oleh si Ketua OSIS kemaren, berserta 2 bawahannya.

"Halo Ara-apa-sih-terusannya…. Dan terserah-deh-Saki."

Bagaimana bisa dia hanya mengingat setengah nama kami?

"Aramiya dan Tozaki."

"Aku sama sekali tak minat pada cowok. Aku tidak ingin menyia-nyiakan memori otakku dengan informasi yang tidak berguna.”

"Oh, oke. Dan mengapa kalian datang ke ruang klub kami?”

"Ya, aku mau berbicara sebentar dengan mereka berdua."

"Hmm? Apa yang kalian bicarakan?"

"Aku tak punya alasan untuk memberitahumu ... Tadinya aku meminta dia untuk bantu-bantu di OSIS, namun dia menolak."

"Mengapa kau meminta bantuan lagi pada mereka, padahal kemaren juga sudah ditolak?"

"Mereka berdua sama menggemaskannya seperti Lily. Dan hubungan di antara mereka juga sangat manis. Apakah ada alasan selain itu?”

Dia menutup kipasnya bagaikan seorang putri yang berkelas. Lalu dia pasang wajah jengkel.

Kok bisa orang seperti ini jadi Ketua OSIS? Apakah dia nyogok? Kalau aku, tak peduli apapun alasannya, gak bakal kupilih orang kayak gini.

"Ngomong-ngomong, aku mendengar beberapa rumor yang melibatkan Ayame-san."

"... Ternyata kau peka juga."

"Aku adalah Ketua OSIS. Jika ada sesuatu yang terjadi pada para pelajar di sekolahan ini, tentu saja aku akan mengetahuinya.”

Jika kau bisa membantu kami melenyapkan rumor-rumor tersebut, maka ini akan sangat membantu.

"Kau tahu siapa orang yang menyebarluaskannya?"

"Sayang sekali, bahkan akupun tak tahu. Jika kalian yang menyebarluaskannya, maka itu akan lebih mudah. Aku akan mengirim perintah secepat kilat untuk menangkap kalian. Tapi, jikalau ada beberapa cewek yang menjadi tersangka, maka cukup sulit untuk memutuskannya.”

"Bercanda juga ada batasnya, lho."

Aku tersenyum kecut untuk berjaga-jaga jikalau dia memang berniat melucu, tapi sepertinya itu bukan lelucon.

"Aku, sebagai Ketua OSIS, punya rencana rahasia untuk menyelidiki kebenaran rumor tentang Nona Ayame. Aku pun kesal, hanya mendengarnya saja, hatiku sudah terasa begitu sakit.”

"Oh benarkah? Betapa mulia tindakanmu itu.”

"Ya, bagiku, wanita adalah sesuatu yang harus dilindungi dan diperhatikan. Aku ... punya misi lebih besar yang telah menungguku, aku jadi Ketua OSIS hanya untuk itu. Hihihihihihihihihihihihihihihi .........”

Dia tersenyum dengan menjijikan.

"Kalian tunggu saja wahai para gadisku, aku akan membangun surga untuk kalian semua nanti. HIHIHIHIHIHIHI ....”

"Ketua, hidungmu mimisan."

Salah satu bawahannya mengambil tisu dan menyeka hidung si Ketua OSIS.

... Akhirnya, aku sadar bahwa orang ini sudah tidak waras.

"Maaf karena aku terlalu girang. Aku mohon maaf ya, apa-sih-tadi-miya dan Toza-terserahlah.”

Oh, jadi dia sudah ingat setengah nama kami lainnya. Aku toh juga tidak berharap dia memanggil kami dengan nama lengkap, jadi biarkan saja seperti itu.

◆◆◆

"Berani juga kau berbicara langsung dengan ketua seperti itu."

"Kenapa aku harus takut berbicara pada kentang? Malahan terkadang aku merasa aneh ketika berbicara pada tanaman hidup.”

"Kau cukup kritis. Yah, harus kita akui bahwa dia adalah orang baik, karena dia mau repot-repot membantu seseorang yang ditakuti dan dibenci oleh kebanyakan siswa.”

Sepertinya Tozaki memiliki kesan positif pada Ketua OSIS.

Yah, bagaimanapun juga dia adalah tipenya Tozaki, yaitu cewek berdada kecil dan berambut hitam.

Seorang cowok tidak akan dengan mudah memandang negatif pada tipe cewek idamannya.

Tapi, belum tentu si ketua akan membalas kesan positif dari Tozaki.

"Saat ini, rumor semakin memburuk."

Kami kembali ke ruang klub tak lama setelah itu, kemudian membahas rumor baru yang beredar.

"Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mereka bisa mempercayainya semudah itu!?”

Sepertinya, Hatsushiba yang barusan mendengarnya juga menjadi frustrasi.

"Mau bagaimana lagi, ada yang bilang bahwa Ayame berantem 1 vs 5, dan menjalani pekerjaan sampingan tiap hari. Dengan hanya membayar 30.000 per malam, kau sudah bisa berkencan dengannya. Dan rumor terakhir mengatakan bahwa dia telah menghajar seseorang sampai koma.”

Mata Ayame terbelalak karena syok.

"P-pekerjaan sampingan? Setiap malam!? 30.000 per malam!? Apakah mereka benar-benar mempercayainya?”

Masih belum sadar juga!?

Aku melirik Tozaki, yang berlagak sok bodoh dan memalingkan mukanya. Dia adalah penyedia informasi bagiku, kenapa dia tidak memberitahu Ayame secara langsung?

Ayame melihat diriku yang sedang melirik Tozaki, lantas dia melototinya bagaikan binatang buas kelaparan.

"Tunggu, tunggu, aku sendiri mendengarnya dari orang lain, seperti Matoba! Dan dia bilang bahwa dia juga mendengarnya dari kelas lain! Sungguh, itu benar!”

"Tozaki, bisakah kamu menemukan sumbernya?"

"Menurutku, rumor itu menyebar terlalu cepat. Bahkan mungkin sudah mengalir kembali ke orang yang memulainya. Lagian, semuanya semakin rumit. Rumor ini tiba-tiba muncul secara acak para percakapan di manapun.”

Tubuh Hatsushiba gemetar.

"M-maafkan aku Kotton, hal ini terjadi salah satunya karena aku yang juga ikut-ikutan menyebarkan rumor sewaktu SMP. Aku tidak pernah menyangka bahwa akan jadi separah ini ...”

"Gak papa kok, Yuuka juga terpaksa melakukannya, kan?"

Sungguh persahabatan yang indah, aku bisa membayangkan bunga lili bermunculan di belakang mereka sebagai latar.

"Oke, jadi intinya, rumor tentang kerja sampingan tidaklah benar, tapi yang tentang 5 lawan 1…. Itu benar adanya, ‘kan?”

"Y-Ya, itu pernah terjadi sewaktu SMP."

Ketika mendengar itu, wajah Tozaki langsung memucat. ”Tunggu dulu, jadi dia benar-benar menghajar 5 orang?"

"Baiklah, mari kita temukan korelasi tentang rumor yang beredar dan apa yang sebenarnya kau lakukan. Di antara rumor-rumor tersebut, apakah ada yang benar-benar kau lakukan belakangan ini?”

"Tidak! Aku bahkan tidak tahu apa yang mereka bicarakan.”

"Oke, lalu tentang rumor yang pertama tadi, 'melakukan pekerjaan sampingan di sana-sini’."

"Apa-apa’an ini!?" Hatsushiba berteriak dengan frustrasi.

"Aku tidak tahu dari mana asal rumor ini. Tapi sumbernya sendiri tidaklah terpercaya. Aku pikir, sejak awal masalahnya adalah si penyebar berita hoax.”

"Saat menyebarkan rumor, mereka memelintir beritanya, sehingga semakin menarik untuk disimak dan dianggap fakta. Meskipun 9 dari 10 rumor tersebut adalah kebohongan, selama masih ada kebenaran di dalamnya, maka kau dapat dengan mudah membujuk yang lain mempercayaimu.”

Dia benar-benar seorang profesional di bidang ini. Hatsushiba pasti punya banyak pengalaman tentang hal ini.

Tapi jika dilihat dari ekspresi wajahnya, dia pasti merasa bersalah jauh di dalam hatinya.

"Kalau memang ini masalah penyebaran rumor, maka aku tak tahu bagaimana cara mengatasinya."

"Apakah kau pernah bergaul dengan kelompok aneh yang berisikan laki-laki dan perempuan, atau memasuki semacam restoran yang terkesan tidak menyenangkan?”

"Yah, beberapa kali aku menemukan masalahnya sendiri."

Mungkin dia menghadapi masalah ketika berusaha menolong orang lain, atau sejenisnya.

Kalau dipikir-pikir, menemukan sumbernya saja sudah cukup susah.

"Oke, lanjut berikutnya. Tentang memukuli seorang gadis sampai dia koma.”

"Aku tidak pernah menghajar orang lain sampai separah itu."

"Bagaimana dengan orang yang dipukuli sampai akhirnya dikirim ke rumah sakit?"

"... ah aku baru ingat, pernah ada seorang cewek yang mencoba menjahiliku, jadi aku mendorongnya sampai jatuh. Keesokan harinya, lengannya dibalut perban, sepertinya itu patah.”

Hatsushiba juga menambahkan;

"Ya, aku ingat itu pernah terjadi di SMP, namun aku tak ingat nama korbannya. Tapi sepertinya dia bisa menggunakan tangan kanannya lagi dengan normal setelah sembuh. Bahkan, sepertinya dia tidak terluka separah itu, dan hanya pura-pura memakai perban.”

Ayame yang malang, dia tidak hanya ditipu oleh Songo, namun juga beberapa orang lainnya.

Tapi, apakah insiden-insiden yang pernah terjadi di SMP harus diungkit-ungkit lagi sekarang? Kupikir mereka tidak perlu membahas lagi kejadian masa lalu. Atau, apakah rumor ini merupakan hasil berdebat sengit dengan seseorang?

Meski begitu, jika melihat betapa cepatnya rumor itu menyebar, aku rasa ada yang tidak beres.

"Yang berikutnya, melahap cowok dan cewek."

"Aku TIDAK MAKAN ORANG!!"

"Tidak, maksudku bukan memakan seperti itu, ummm, sesuatu yang lain ..."

Aku memberitahukan maknanya, dan wajah Ayame pun berubah merah.

"A-apa yang kamu bicarakan? Apakah ini pelecehan seksual!?”

"Tidak! Kenapa wawasanmu begitu dangkal!”

"Diam, bagaimana bisa kau mengharapkan aku tahu hal semacam itu?"

Ini tidak salah, tapi aku merasa seperti orang jahat ketika memberitahukan hal-hal semacam itu padanya!

"Oke, jadi ini tidak ada hubungannya denganmu."

"TENTU SAJA!"

"Oke, yang terakhir adalah, tentang dirimu yang memasuki tempat persembunyian Yakuza. Apakah kau pernah pergi ke suatu bangunan aneh? Bisa saja rumor ini dimulai dari situ?”

"Aku tidak ingat pernah masuk ke suatu bangunan yang aneh."

"Kalau begitu… apakah kau pernah memasuki suatu bangunan yang sebenarnya hanyalah bangunan biasa, namun ketika orang melihatnya, terkesan seperti markas para Yakuza?”

"Yakuza ... Geng .................................... .oh."

“Oh apa?"

"... Apakah ada bangunan yang mirip seperti itu?"

"Mau bagaimana lagi? Ayahku adalah direktur perusahaan konstruksi bangunan. Sampai sekarang pun, aku masih sering berkunjung ke sana.”

"Perusahaan konstruksi ... Jangan bilang….."

"Kau mungkin akan mengerti setelah aku memberikan fotonya padamu, gerbang depannya terlihat seperti ini.” Ayame mengambil smartphone-nya dan membuka foto itu. Pintu masuk gedung itu memang tampak menakutkan, nama perusahaan ditulis dengan brush font [4] yang megah. Di sana tertulis: 'Tanaka Group "

Aku mengerti sekarang.

Tidak peduli bagaimana pun kau melihatnya, bangunan itu memang terlihat seperti markas Yakuza. Sekarang aku tahu mengapa orang-orang berpikiran seperti itu.

Tidak peduli se-legal apapun perusahaan itu, tapi "Grup OO" memang terlihat seperti grup Yakuza. Aku tahu bahwa kata-kataku ini memang tidak sopan. Tapi ini saja sudah cukup untuk memicu rumor. Kalau tidak salah dengar, grup Yakuza pun mencoba agar tidak terlihat oleh publik.

"Oh sial ..."

Setidaknya, setiap rumor hanyalah efek dari beberapa insiden yang terjadi di masa lalu, dan tidak ada yang baru.

Ini tidak akan mudah, layaknya kesalahan ucapan yang bahkan sering terjadi di Eroge.

Kami belum bisa memikirkan rencana yang bagus untuk mengatasi ini semua, yang bisa kami lakukan hanyalah memecah keseluruhan rumor, agar bisa diteliti satu per satu. Kami pun kemudian menunda rapat. Sudah waktunya pulang, jadi kami keluar dari ruang klub sebelum bel berbunyi.

"Oh, bukankah itu ..."

Saat kami sampai di gerbang sekolah, Hatsushiba menatap jauh ke arah seseorang yang tampak menakutkan.

Aku mengikuti tatapannya kemudian kudapati Eve sedang berdiri di sana, dia tersenyum penuh percaya diri. Hatsushiba sungguh jeli.

Apa yang lacur itu lakukan di sana?”

"Yay ~"

Dia membuat tanda damai dengan jarinya, lantas mendekati kami. Dia sama sekali tidak merasakan aura kebencian kami padanya, orang macam apa sih dia nih?

"Ada apa, kalian semua tampak begitu sedih?"

"Oh, agak ..."

"Atau, apakah kalian sedang dipusingkan oleh rumor Ayame-chi? Ini cukup spektakuler ~ Jadi, apakah rumor itu benar? Sebenarnya aku juga penasaran lhoo.”

Ayame menunjukkan wajah penuh frustrasi. Dia pasti sedang memikirkan bagaimana membalas perkataan lacur ini.

Aku tidak tahu apakah yang aku katakan pada Ayame siang ini berdampak atau tidak. Setidaknya dia berhenti menunjukkan wajah menakutkan itu, dan itu merupakan pertanda bagus. Tapi, bukan berarti dia bersedia bergaul dengan Eve dan kelompoknya, mungkin dia tidak tahu bagaimana berurusan dengan Eve.

"Tak satupun dari rumor-rumor itu benar."

Hatsushiba berpura-pura tersenyum pada Eve (yang justru membuatnya semakin tampak mengerikan), lantas dia berbicara dengan nada sok akrab. Hatsushiba, kalau begini… kau sama menakutkannya seperti Ayame.

"Tapi Nona Eve, apakah kau tahu mengapa rumor palsu ini terus menyebar? Sepertinya kau tahu siapakah dalang di balik menyebarnya semua rumor ini?”

"Eh, bukankah aku baru saja pindah ke sekolahan ini? Bagaimana bisa aku tahu hal seperti itu?”

"Sungguh? Ahh…gak usah sungkan pada kami.”

"Sudah aku katakan bahwa aku tidak tahu. Aku bahkan tidak mengerti apa maksudnya rumor-rumor itu. Tapi, seperti yang pepatah kuno katakan, tidak ada telur jika tidak ada ayam? Bukankah begitu?"

Yang benar: 'Tidak ada asap jika tidak ada api', dasar bego.

Tapi, rumor tentang Yakuza itu, pantas saja orang-orang berpikiran demikian. Itu memancing kesalahpahaman publik, dan orang-orang akan semakin mempercayainya karena tingkah Ayame yang sesadis anggota geng Yakuza.

"Hmm .... Sungguh? Sungguuuhhhh C.I.U (talk) 07:34, 26 June 2017 (CEST) ...”

Hatsushiba terus menekan Eve dengan senyum palsu yang dipaksakan.

Bahkan Ayame pun tersentak ketika melihat ekspresi Hatsushiba yang berubah drastis, dan wajah Tozaki memucat bagaikan ayam yang barusan direbus. Meskipun Tozaki ngefans berat sama Hatsushiba, itu tetap saja menakutkan.

"Oke, Yuuka percaya padamu, tapi tetap saja, jika kamu melakukan sesuatu yang akan menyakiti Kotton, Yuuka tidak akan memaafkanmu."

Katanya dengan dingin.

Mungkin ini disebabkan oleh kemampuannya sebagai Seiyuu, hanya dengan mendengarkannya saja, kita sudah tahu bahwa dia mengatakannya dengan begitu serius.

... Kalau saja dia mengatakan ‘berhenti bicara pada Ayame’ dengan suara seperti itu, mungkin aku akan mengangguk tanpa banyak protes.

"Oh, santai saja. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku pun merasa merinding ketika melihat Ayame-chi melototiku seperti itu.”

Tapi Eve sepertinya tidak terpengaruh. Meskipun dia bilang ‘merinding’, tapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan.

Tidak hanya itu, dia mulai berjalan ke arahku tanpa melirik pada Hatsushiba.

"Walaupun kau beranggapan seperti itu, aku sebenarnya adalah orang yang sangat jujur, lho? Apakah kalian berharap agar aku membantu memecahkan masalah ini? Kita bisa bekerja sama untuk menghentikan menyebarnya rumor tersebut ~~ "

"Apakah tadi kau bilang ‘jujur’? Baiklah, terserah kau mau bilang apa…. Tapi, apakah barusan kau menawarkan bantuan pada kami?”

"Ya, apakah kalian bersedia?"

Wajah Eve tidak berubah sedikit pun. Kedua tangannya membentuk tanda damai yang mencurigakan. Tapi kemudian, dia menyilangkan jarinya seperti kepiting. [5]

Sepertinya ini cukup menguntungkan kami, jika Eve (yang terkenal sebagai musuhnya Ayame) membantu kami untuk melenyapkan rumornya, maka seharusnya itu akan berdampak positif.

"... apa imbalannya? Kau tidak akan melakukannya secara gratis, bukan?”

Tapi aku yakin dia melakukannya bukan tanpa pamrih.

Aku tidak percaya bahwa lacur ini membantu kami layaknya orang suci.

"Tentu saja gak gratis, imbalannya adalah… ketika di sekolah, Seichi harus mau melakukan apapun yang kuperintahkan. Gimana?”

Kata Eve sambil bersandar pada tubuhku.

"Tentu saja aku tidak hanya menyuruhmu untuk berada di sisiku, tapi aku juga akan menyuruhmu melakukan sesuatu yang membuatmu senang…. ♥ ♥.”

Dia juga menikamku dengan dadanya. Apa-apaan pentil sapi ini? Ini malah membuatku sakit!

Chuuko Vol 2 p-106.jpg

Walaupun dia sudah tidak memakai make-up hitam, aku masih bisa mencium aroma samar sintetis bahan kimia dari wajahnya, dan juga bau sampo dari rambutnya.

Dia bersandar padaku, dan itu sungguh membuatku tidak nyaman. Aku benar-benar ingin mendorongnya menjauh dari tubuhku

"Jangan mendekatiku, dasar lonthe tiga dimensi!" andaikan aku mampu, itulah yang ingin kusemprotkan padanya saat ini.

"Menjauh darinya!"

Ayame pun datang menyela, dia pisahkan kami berdua bagaikan merobek stiker yang menempel di dinding, kemudian dia berdiri di antara kami.

Wajahnya bahkan jauh lebih menyeramkan daripada yang biasa.

Dia sekarang memasuki mode gangster penuh, mirip seperti saat dia bertengkar dengan Songou. Aku pasti sudah kencing di celana jika melihatnya seperti ini pada malam hari, dan Tozaki pasti sudah memohon kasih sayanh Tuhan.

"Jika kau minta Aramiya menjadi budakmu, aku lebih suka rumor itu tetap menyebar, bergosiplah sesuka kalian, tapi kau tidak akan mendapatkannya!”

"Grrr ... .. kenapa aku harus minta ijin dari Ayame-chi untuk mendapatkan Seichi, bahkan kalian berdua bukan sepasang kekasih!!”

“T-Itu benar ... TAPI KAU JUGA BUKAN PACARNYA!!”

“Mungkin sekarang aku memang bukan pacarnya! Tapi sudah sejak dulu kami menghabiskan waktu bersama!!”

Ayame dan Hatsushiba langsung mengarahkan wajah mereka padaku. Ekspresi mereka menakutkan bagaikan malaikat pencabut nyawa.

“Apa maksudmu dengan menghabiskan waktu bersama! Berhentilah mengarang cerita, aku bahkan hampir lupa apa yang telah kita lakukan sewaktu SD!?”

Hubungan kami biasa-biasa saja, sampai insiden surat cinta itu terjadi… itu saja, tidak lebih. Kami tidaklah sedekat itu sampai-sampai dianggap berpacaran, tapi mungkin dia memandangku sebagai budaknya.

"..."

Alih-alih Eve cemberut, ia malah tampak kebingungan.

“Sepertinya itu aneh ...”

“Otakmu lah yang aneh.”

Aku mulai bosan bermain dengan aturan gadis ini.

“Pokoknya, kau tidak boleh mendekati Aramiya selamanya! Kau hanya akan mengganggunya!"

Ayame berdiri tegak di depanku seolah-olah berniat untuk melindungiku, seraya dia menatap tajam pada Eve.

“Ughh .... kenapa kau sok-sok’an melindunginya, toh kau juga bukan pacarnya.”

Bahkan setelah mengatakan itu, Eve sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Aku tidak tahu apakah dia keras kepala atau sangat berani.

Dia mengamati Ayame dengan begitu teliti, tanpa sedikit pun merasa terintimidasi.

Akan sempurna jika aku membayangkan efek kobaran api di antara mereka berdua.

“Jika kau masih saja bersikeras memperbudak Aramiya, maka aku tidak akan mengijinkanmu berdada di dekatnya. Jika kamu tidak menghentikannya sekarang juga, maka aku akan……“

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, dan hanya menutup mulutnya.

“Kalau begitu, aku tidak akan ambil peduli meskipun rumornya semakin buruk, oke? Jujur saja, jika melihat Ayame seperti ini, aku mulai percaya bahwa rumor itu benar adanya.”

"Apa…!"

“Kau sudah dicap buruk sebagai seorang gadis, dan kau tidak akan bisa semudah itu membersihkan namamu. Betapa menyedihkan.”

"Kau……!!!"

“Oh, aku takut, lebih baik aku melarikan diri sebelum terbunuh.”

Eve menyelesaikan kalimatnya, melambaikan tangan, kemudian pergi begitu saja.

Ayame masih berdiri di tempat yang sama, menggertakkan gigi, dan melotot tajam pada punggung musuhnya. Dia jelas-jelas menunjukkan hawa kebencian yang pekat terhadap Eve.

Pada malam hari, setelah aku selesai kerja paruh waktu, aku menenggelamkan diri pada bak mandi sembari mencoba untuk berpikir tentang, bagaimana caranya melenyapkan rumor buruk tentang Ayame.

Jika ini mudah, maka aku tidak perlu berjuang sampai sekeras ini ... ini bagaikan memotong rumput liar, tak peduli seberapa banyak kau memotongnya, selama akarnya tidak dicabut, tanaman liar tersebut akan tumbuh lagi dan lagi. Dan yang lebih buruknya lagi, benih-benih lain akan tersebar di tempat yang berbeda.

Sedangkan, kami tak punya sesuatu seperti bahan kimia pembunuh rumput liar ... hah, sungguh merepotkan.

Setelah mandi, aku pergi ke dapur, kemudian mulai menuangkan susu. Sementara itu, aku mendengar suara seseorang sedang menuruni tangga.

Itu Kiyomi, adikku. Dia menunjukkan wajah mengerikan sekali dia melihatku, serius deh, adikku sama sekali gak ada imut-imutnya.

Tanpa mengatakan apapun, dia meraih susu dari tanganku dan menuangkannya ke dalam gelasnya sendiri.

"…Apa yang kamu lihat? Ugh, menjijikkan, bagaimana jika aku hamil setelah kau menatapku seperti itu.”

“Apakah kau akan mati jika sekali saja kau tidak menghina tepat ketika kau melihat wajahku?”

“Menjadi adik si perjaka letoy saja sudah cukup mengerikan. Andaikan aku adalah seorang hacker super, maka aku akan meretas program rumah ini agar kau tidak dianggap sebagai kakakku selamanya.”

Andaikan aku juga menjadi hacker super, maka aku ingin menciptakan program super yang bisa menanamkan software eroge bergenre imouto [6] pada otakmu ...

“Ugh, kau menjijikkan, dasar perjaka letoy!”

Dia selalu saja seperti ini ketika di rumah, tapi sewaktu sudah berada di sekolah, kepribadiannya berubah begitu drastis, seakan-akan dia mengenakan topeng yang tebal.

Kadang-kadang sifat aslinya muncul, tapi tidak begitu parah sampai-sampai membuat rumor tak sedap.

Tapi dalam kasus Ayame, rumor yang awalnya sudah jelek, berubah menjadi lebih jelek lagi dalam waktu singkat.

“Oh, jadi kalian berdua ada di sini? Kulihat ujian akhir kalian sudah dekat, apakah ada masalah dengan palajarannya?”

Ibuku, yang tadinya duduk di depan TV pada ruang tamu, kini berjalan ke dapur.

“Tidak masalah, bu.”

Aku tidak semudah itu mendapatkan nilai burul, kalau cuma melewati rata-rata nilai kelas, itu bukan masalah bagiku. Meskipun aku punya kelemahan pada mata pelajaran Bahasa Inggris, tapi kukira itu tidak akan berdampak pada nilaiku secara keseluruhan.

Masalahnya adalah, ada seseorang yang akan marah padaku jika aku hanya mendapatkan nilai rata-rata kelas.

“Aku tak perlu belajar lagi, karena semuanya sudah kukendalikan.” kata Kiyomi dengan percaya diri. Yahh, ketika dia mengambil ujian masuk sekolah, nilainya cukup bagus, jadi harusnya dia tidak akan menghadapi banyak masalah.

Sebetulnya adikku adalah tipe pemalas, dan memilih SMA-nya hanya berdasarkan alasan dekat dengan tempat kami tinggal. Sebenarnya, aku lebih suka kalau dia mendapatkan SMA lebih bagus yang letaknya lebih jauh dari rumah kami.

Seperti ketika aku memutuskan untuk masuk SMA Mikage.

“Aku sudah berencana untuk bersekolah di sana! Sudahlah, kau pindah saja ke kota lain dan dapatkan sekolah yang lebih bermutu, sudah pergi sana! Pergilah ke tempat lain!”

Itulah reaksinya waktu itu ...

Memang seperti itulah adikku, tapi ketika di sekolah, dia sebisa mungkin menyembunyikan sifat aslinya. Kau boleh menyebutnya, gadis yang suka main aman.

Dia cukup licik, dan juga pintar. Seseorang tidak akan bisa mengetahui seperti apakah sifat asli bocah tengik ini.

“Hmm?”

Aku tiba-tiba menyadari sesuatu. Lantas, Kiyomi menoleh padaku, namun aku tak menghiraukannya.

Tetapi, berkat kau, aku sekarang punya ide.

“Kalau melihat kepercayaan diri kalian, ibu pikir tidak akan ada masalah berarti. Tapi jangan sombong ya, jika kalian tidak belajar, maka kalian akan lupa materinya.”

Kiyomi dan aku mendengarkan ceramah ibu sambil minum susu, sampai habis. Kami pun membersihkan gelasnya, kemudian kembali ke kamar masing-masing.

“... Aku mendengar beberapa rumor yang mencurigakan tentang Ayame.”

Aku pikir bocah ini akan segera kembali ke kamarnya tanpa banyak bacot, tapi ternyata dia hendak memulai suatu pembicaraan.

“Rumor itu tak berdasar dan benar-benar palsu, jadi abaikan saja.”

“Kalau begitu, lakukan sesuatu lah.”

“Aku sedang berusaha mencari jalan keluar, tapi berkatmu, akhirnya aku memikirkan sesuatu yang menarik.”

“Hah? Apa yang kamu bicarakan! Aku jadi pengen muntah.”

Kiyomi masuk ke kamarnya setelah memakiku sekali lagi.

Yang kupikirkan hanyalah, ‘adik kok gak ada imut-imutnya sedikit pun’.

◆◆◆

Sekarang adalah hari Selasa, langitnya cerah dan anginnya sejuk.

Setelah jam pelajaran keempat, kami berempat makan siang bersama di taman sekolah.

Aku merasa resah, kemaren kami bisa duduk-duduk dengan santai di ruangan klub, dan sekarang kami harus cari tempat lain seakan-akan menghindari rumor yang tengah beredar. Tetapi jika kami tidak melakukan ini, kami bisa terlihat oleh para siswa yang ada di dalam bangunan sekolah. Ini semua demi Ayame.

Kalau di sini, kami bisa berbicara tentang hal-hal yang biasanya tidak bisa kami bahas di dalam kelas.

“Hufff ... Sebentar lagi kita akan menempuh ujian tengah semester, ngomong-ngomong, tes pada jam pelajaran keempat tadi, kalian dapat berapa? Aku dapat 74.”

Sementara yang lainnya melahap bekal makan siang mereka dan roti, aku membuka percakapan.

“Apakah aku benar-benar harus menjawab?”

Tozaki mengatakan itu dengan putus asa.

"Ya… kalau mau."

“Aku dapat 68, tapi berapa nilai rata-rata di sini?”

“Aku mendengar Saki dapat 94, jika kita harus merata-rata, mungkin kau berada di bawah nilai rata-rata kelas.”

Saki adalah seorang siswa yang biasa mendapat nilai tinggi ketika rata-rata kelas tinggi, dan akan mendapatkan nilai rendah ketika rata-rata kelas rendah. Singkat kata, dia seperti barometer nilai kelas.

“Oh sial ... terserah lah. Selama aku tidak gagal ujian tengah semester, semuanya akan baik-baik saja.” Jawab Tozaki.

Aku pribadi, aku tidak terobsesi untuk mendapatkan nilai tinggi, namun jika nilaiku berada di bawah rata-rata kelas, maka dia akan melarang hobiku.

Karena Kiriko tahu semua nilaiku, maka tidak ada gunanya menyembunyikannya.

“Karena kau terus-terusan memainkan game porno itulah, nilaimu semakin turun.”

Seakan-akan, aku bisa mendengarkan kalimat itu melalui hembusan angin.

Tapi aku tak pernah setuju dengan pernyataan seperti itu.

Bermain Eroge akan berakibat dengan menurunnya nilai akademis, apakah logika itu cukup untuk mengkambing-hitamkan Eroge?

Tidak.

Siswa yang mendapat nilai rendah lah yang harus disalahkan, bukan Eroge-nya.

Orang tua cenderung lebih suka melimpahkan kesalahan pada sesuatu, daripada memahami pokok permasalahannya. Sehingga, mereka selalu beranggapan bahwa hobi anak-anaknya lah yang bertanggung jawab atas nilai akademis.

Tetapi, meskipun aku menjelaskan semuanya, mereka tidak akan menerimanya, dan tetap saja menuduhku sebagai pecandu game.

Dunia orang dewasa memang sangat menyebalkan.

Jika aku mendapatkan nilai yang lebih tinggi dari rata-rata kelas, mereka pun tidak akan membicarakan omong kosong itu.

Ya, bahkan mereka mungkin akan mengatakan : 'terima kasih Eroge, telah membantu memberikan nilai yang bagus.'

Tapi, kenyataannya adalah, meskipun aku mendapatkan nilai tinggi setelah memainkan Eroge, mereka tidak akan mengatakan ‘kami harus berterimakasih pada Eroge’. Bahkan dengan logika yang sama, mereka tidak akan mengakuinya ketika hasilnya berkebalikan.

Dunia ini tidak adil.

Tapi, ketika menghadapi masalah, beberapa orang justru akan termotivasi untuk menyelesaikannya. Jikalau semua orang berpikiran positif seperti itu, maka dunia ini akan menjadi semakin baik.

“Bagaimana denganmu, Hatsushiba?”

Ketika aku bertanya, Hatsushiba menunjukkan wajah bingung lantas menjawab dengan malu-malu.

“Yuuka dapat 82 ... bagaimana menurutmu, Aramiya-kun?”

“Kau terlihat normal, namun nilaimu cukup bagus. Padahal kau tidak selalu berada di kelas.”

"Hehe…. Aku hanya mengulang pelajarannya beberapa kali. Kadang-kadang aku meminjam buku catatan temanku untuk kubaca-baca. Mama juga mengatakan kepadaku, jikalau nilai akademisku memburuk, maka dia akan menghentikan segala aktifitasku yang berhubungan dengan Seiyuu ..”

Setelah melihat pengakuan itu, aku yakin Hatshushiba pasti mengalami banyak tekanan di rumahnya. Dia benar-benar mirip denganku.

Tapi, jika aku mengatakan bahwa pekerjaan Seiyuu-nya setara dengan hobi Eroge-ku, maka dia pasti akan marah besar.

"Oke, dan kamu?"

Aku memalingkan wajahku ke target terpenting di sini, Ayame.

Masalahnya adalah, nilai gadis ini ternyata……...

“U-Uh ... a-aku dapat 91.”

"Apa!? Lebih tinggi dariku!?"

Tunggu, awalnya kupikir gadis ini bermasalah dengan nilai akademisnya, bahkan dia sering bolos kelas….

“T-Tapi dibalik ...”

Apa sih yang dia katakan ...

“Kenapa kau harus membalik nilaimu, Kotton!”

“Eh, artinya kamu hanya dapat 16?”

Jawab Tozaki setelah memahami maksud Ayame. Jadi seperti itu, ya.

“Hei, rendah sekali!”

Tunggu, tunggu, nilai rata-rata kelas adalah sekitar 70 lebih ...

Dan kau hanya dapat 16!?

Ampun deh, ternyata kondisi Ayame jauh lebih buruk daripada yang kuduga sebelumnya. Kukira, meskipun Ayame terkenal bandel di kelas, setidaknya dia dapat 40an.

Bagaimana bisa kau mendapatkan nilai serendah itu?

“U-uh. Pada kelas 10, aku tidak belajar satu pelajaran pun, jadi ...”

“Meskipun begitu, kamu masih bisa naik kelas.”

Tapi di kelas 11, mukjizat yang sama tidak akan terjadi dua kali.

"Ini serius…"

Tozaki memasang wajah curiga kepadaku.

Mungkin karena selama ini aku tak pernah menanyakan: “hey, ualanganmu dapat berapa?".

“Aramiya, mengapa kau bertanya tentang nilai kita?”

“Itu hanya pembukaan, tapi sepertinya pembukaannya terlalu panjang ya, baiklah… sekarang aku akan memberitahu rencanaku untuk menyingkirkan rumor buruk tentang Ayame.”

Ayame menjulurkan lehernya ke arahku. Dari tadi aku sudah berbasa-basi, tapi sekarang akan kutunjukkan apa yang telah kurencanakan.

“Baiklah akan kuterangkan satu per satu. Jadi begini…. sejauh yang kutahu, pelajar yang memiliki nilai bagus tak pernah digosipkan macam-macam. Meskipun ada yang menggosipkan, pastilah orang-orang lainnya tak langsung percaya, bukankah begitu?”

“Ya, seperti ketua kelas kita Hosoe. Walaupun ada gosip tak sedap, tidak begitu banyak akan langsung percaya.”

Hosoe adalah gadis terpintar di kelas kami, setiap kali ia mengerjakan tes dia selalu mendapat nilai penuh. Aku pernah dengar bahwa waktu itu dia hendak mengikuti tes masuk suatu SMA bergengsi. Namun pada hari berlangsungnya tes, dia sakit. Maka dia pun gagal bersekolah di SMA pilihannya, dan berakhir di sini. Dia akhirnya dikenal sebagai gadis yang tidak beruntung. (Menurut Tozaki)

“Dan mengapa kau berpikiran begitu?”

Ketika aku bertanya, Tozaki bergumam balik padaku.

“Uh ... yahh ... karena bagaimanapun juga, orang yang kelihatannya pintar tidak akan melakukan hal buruk seperti itu, ‘kan?”

“Ya, tapi mengapa kita berpikir seperti itu? Siswa yang mendapatkan nilai bagus belum tentu dianggap pintar, dan orang pintar tidak akan melakukan hal sebodoh prostitusi. Orang pintar juga jauh dari kekerasan, bukannya mereka khawatir akan nama baik ortu atau masa depannya sendiri, mereka hanya tidak mau terlibat dalam kesulitan. Tentu saja hal seperti itu tidak selalu terjadi, tetapi citra orang pintar dipengaruhi oleh orang yang bersangkutan, dan orang-orang di sekitar yang mengamatinya.”

Wajah Ayame memucat.

“Apakah orang lain melihatku sebagai penjual tubuh murahan!?”

“Gak tau juga, tapi kau memang cukup bego. Kau bahkan mencari masalah dengan teman-teman sekelas. Dari dasarnya, kamu memang sudah bego.”

Tapi… yang benar saja…. Sesungguhnya Ayame adalah tipe orang yang gak mau ambil pusing terhadap rumor-rumor mengenai dirinya sendiri.

“U-uh, itu ...” Hatsushiba mencoba untuk membantu temannya, tapi dia tidak bisa berkata apapun.

“Mulai sekarang kau harus menganggap penting rumor apapun tentang dirimu sendiri!”

"…ya…"

Kata-kata Hatsushiba yang harusnya menenangkan, malah membuka luka semakin lebar dan perih.

Namun, sekarang bukanlah waktunya untuk menyesali masa lalu.

“Aku belum selesai, mulai sekarang jika Ayame meningkatkan nilai akademisnya, mungkin saja rumor itu akan berkurang. Mungkin saja mereka akan berkata, 'oh, jadi sebenarnya dia gak sebodoh itu…yah… mungkin saja rumor itu tidak benar', atau semacamnya."

“Tapi, apakah kita bisa melenyapkan rumor lama yang telah dia lakukan?”

“Untuk saat ini, mari kita membahas rumor-rumor baru saja.”

Aku juga pernah berpikir bahwa dia memang melakukannya, dan itu menyebabkan masalah besar bagiku.

“Untuk saat ini, rumor baru bermunculan bagaikan gulma. Pertama-tama kita perlu membangun pagar agar gulma tersebut tidak cepat menyebar. Dan pagar itu adalah nilai tengah semester Ayame. Itu bukanlah pagar yang tinggi, namun setidaknya itu merupakan tindakan pencegahan awal sebelum kita cabuti akar-akar gulmanya.”

Rumor tentang Ayame bagaikan gulma yang berakar sangat dalam.

Jika ingin mencabutnya, maka kita perlu berusaha selangkah demi selangkah, lagipula kita tak punya senjata kimia pembasmi gulma.

“Satu hal lagi, jika dilihat dari nilai ulanganmu barusan, maka tidaklah sulit memprediksi nilai apa yang akan kau peroleh di ujian tengah semester nanti. Tapi jika kau gagal di ujian akhir semester, itu akan menjadi masalah serius, karena kau akan mendapatkan kelas tambahan selama liburan musim panas untuk memperbaiki nilaimu.”

“Aku tidak begitu peduli akan hal apa yang bakal kulakukan selama liburan musim panas nanti, namun aku juga gak mau menghabiskan seluruh liburanku dengan mengikuti kelas tambahan. Mungkin aku berencana menghabiskan liburanku dengan makan es krim, dan seharian bermain game di depan AC.”

Tozaki mengangguk setuju.

Aku pun begitu, satu-satunya hal yang ingin kuhindari adalah pergi ke sekolah selama liburan berlangsung.

Liburan sekolah dimaksudkan untuk dihabiskan dengan bermain Eroge dari pagi sampai malam.

Liburan ini aku berencana untuk malas-malasan seharian di depan AC, makan es krim yang dingin sembari bermain game porno.

Ini adalah apa yang aku sebut sebagai: liburan seorang remaja sesungguhnya.

“Tapi… jikalau aku diharuskan bersekolah selama liburan musim panas, apakah Aramiya juga akan datang?”

"Tidak mungkin. Jika aku melakukannya, waktu nge-game ku akan hilang. Dengar, musim panas ini, game fantasy hebat seperti: 'Destiny Night / Zero' akan dijual. Jika aku harus datang ke sekolah selama musim panas untuk memperbaiki nilaiku, maka aku gak bakalan bisa nge-game mulai pagi.”

Aku mengatakan itu, lantas Ayame segera menanggapinya dengan ekspresi putus asa di wajahnya, dan dia pun menggebrak tempat duduknya karena kesal. Sudah berulang kali kuberitahu untuk tidak melakukan hal seperti itu, karena akan mengundang kesalahpahaman. Tapi karena taman ini tidak begitu ramai, sepertinya itu tidak masalah.

"Tunggu! Aku tidak pernah tahu bahwa untuk memperbaiki nilaimu, kau harus mengorbankan liburan musim panas!?”

“Dilihat dari reaksimu, aku yakin sekali bahwa kau tidak pernah mendengarkan ketika guru berbicara di kelas. Kau tidak akan bisa menghindar kali ini ...”

Tapi, jika Ayame tidak bisa memainkan game itu, aku juga akan dapat masalah karena ialah satu-satunya teman dikusiku saat ini.

Meskipun aku menyelesaian 'Destiny Night / Zero' , aku tidak bisa berbagi cerita dengan siapapun.

Aku bukanlah tipe gamer yang menyelesaikan sebuah game sendirian tanpa berbagi cerita dengan sesama Ayame adalah satu-satunya orang yang memainkan genre game sama denganku, dan mengerti apa yang kumaksudkan.

“Oh, jadi game itu dirilis musim panas ini? Itu sungguh menjijikkan.”

Tozaki berkata tanpa acuh. Yah, bagaimanapun juga dia bukanlah pecinta game ber-genre fantasy, jadi dia tidak akan paham perasaanku.

Aku sudah berusaha membujuknya untuk setidaknya mencoba game tersebut, tapi dia cukup keras kepala, jadi aku pun berhenti membujuknya. Semakin kau paksa seseorang, maka semakin kuat pula penolakannya.

“Jadi kesimpulannya, nilaimu adalah prioritas pertama kita. Tidak hanya rumormu yang kita pertaruhkan di sini, namun juga waktu liburan musim panasmu.”

Dan jadilah teman yang bisa kuajak berdiskusi tentang game bergenre fantasy.

"Siap!"

Ayame mengangguk, matanya memancarkan tekad yang kuat.

Kekuatan Eroge untuk memotivasi orang benar-benar menakjubkan.

“Dan bagaimana akan kita melakukan itu semua?”

Hatsushiba membungkukan lehernya dan bertanya.

Yahh, tidak ada banyak cara untuk meningkatkan ...

“Tidak ada jalan pintas, kita akan mulai dengan mengunjungi perpustakaan sepulang sekolah untuk belajar bersama-sama.”

Oh aku paham, ketika aku bersama Hatsushiba tempo hari, ada selembar kertas yang berisi kutukan diberikan padaku, yaahh saat-saat itu memang cukup berkesan ... meskipun itu baru saja terjadi sebulan yang lalu.

Lalu aku memasuki perpustakaan bersama Tozaki yang terlihat lesu, sedangkan Hatsushiba masih saja terlihat ceria dan Ayame tampak cemas.

Perpustakaan terletak di dalam gedung sekolahan, tepatnya di sebelah Gym, ruangan ini tampak benar-benar kedap suara, sehingga kami tidak akan bisa mendengarkan suara dari luar. Termasuk suara dari lapangan sekolah dan gema dari Gym…. semuanya tidak bisa kami dengar.

Ini adalah lingkungan yang sepertinya dirancang khusus agar para pelajar bisa berkosentrasi penuh.

“Apakah ada tempat yang bisa kita duduki berempat?”

Sementara Hatsushiba berbicara dengan suara pelan dan datar, ada seorang siswa yang menoleh ke arah kami.

Kemudian wajah cowok itu memucat seakan barusan melihat hantu, lantas dia mengemasi semua peralatan tulisnya, dan meninggalkan ruangan dengan panik ... apakah cowok itu baik-baik saja?

Mungkin dia berpikir bahwa kedatangan kami akan menyebabkan beberapa masalah, atau bahkan… jangan-jangan dia berpikir akan ada adegan 18+ di sini.

Apa pepatah yang mengatakan : Datang tampak muka, pergi tampak punggung. Sepertinya itulah yang dilakukan oleh cowok itu. Ketika masih tak acuh dulu, aku juga sering melakukannya sih.

“... Argh,”

Tampaknya Ayame menyadari sikap panik si cowok tadi, dan sepertinya dia cukup tersinggung.

“Jangan terlalu dipikirkan,”

"Baik…"

Aku berbicara cukup pelan supaya hanya Ayame yang bisa mendengarnya, kemudian kami menuju meja berisi 4 orang yang kosong.

Di sana juga ada sekelompok siswa yang menatap kami dengan curiga, seakan-akan mereka berkata, ‘apa-apa’an sih yang sedang mereka lakukan di sini’.

Aku juga merasa sedikit kesal, tapi aku masih bisa menyembunyikan ekspresi kekesalanku, kemudian kami pun duduk sembari ngobrol dengan gembira.

Tapi Tozaki, kenapa kau masih saja lesu, anggap saja orang-orang itu sedang memberikan senyum hampa padamu. Bukankah sekarang kau bisa belajar bersama pujaanmu, Hatshushiba?

“Baiklah, enaknya kita mulai dari mana?”

Aku berbicara dengan tenang dan Hatsushiba mengangkat tangannya sedikit.

“Yahh, mungkin kita perlu belajar literatur kontemporer terlebih dahulu? Kotton masih saja menggunakan bahasa yang aneh,”

Kemudian, tiba-tiba Ayame dengan begitu keras, seakan dia berusaha untuk menentang.

"SUNGGUH?"

"Ya!"

Hatsushiba mengangguk tanpa ragu.

Ini tidak biasa, namun aku sendiri juga berpikir bahwa Ayame menggunakan bahasa yang cukup aneh.

“Kau harus memahami terlebih dahulu inti dari pertanyaan yang akan kau kerjakan, tidak peduli apakah kau sedang mengerjakan soal-soal Bahasa Inggris atau Matematika.”

“Mulai dari memahami pertanyaan, ya ...”

“Meskipun kau hendak berjalan ribuan mil, tetap saja kau perlu langkah pertama, Kotton,”

Ya, anggap saja perjalanan ribuan mil.

Mungkin kami harus berbicara satu sama lain terlebih dahulu, agar Ayame tahu situasi macam apa yang sedang dihadapinya.

Aku dan Hatsushiba mencoba untuk mengambil soal pemahaman sastra kontemporer mulai dari kelas 7 sampai 10 dari rak buku di perpustakaan. Kemudian, kami minta Ayame untuk mengerjakannya semua.

Hasilnya, pemahamannya hanya sampai kelas 9.

Yahh, apapun itu, toh dia sudah diterima di SMA ini, lagian standar sekolahan ini juga tidak terlalu tinggi.

“Umm ... apa artinya ini?”

Ayame, yang baru saja menyelesaikan soal, bertenya pada Hatsushiba.

“Apa, jadi kau tidak mengerti apa artinya ini? Mengapa? Bagaimana bisa? Kau tidak paham tugas SMA macam ini?”

Hatsushiba memarahinya tanpa belas kasihan.

Di sisi lain, Tozaki siapa yang duduk di sebelah Hatsushiba lagi-lagi wajahnya memucat. Mungkin, dia tidak merasakan sensasi romantis ketika duduk di samping Hatsushiba yang sedang kesal.

Tapi aku mengerti mengapa Hatsushiba begitu kesal pada Ayame. Karena Ayame memiliki masalah dengan pemahaman dasar.

“Kalau begini caranya, kau tidak akan mampu mengerjakan soal-soal ujian tengah semester."

Setelah aku berkata demikian, semangat Ayame tampak semakin mengendur.

Tapi kami tidak datang ke sini untuk membuatnya merasa putus asa seperti itu. Alasan mengapa kami semua berada di sini adalah menyadari kelemahan sendiri, dan menetapkan target yang dapat diwujudkan dalam jangka pendek.

“Kalau kita hanya terfokus pada sastra kontemporer seperti ini, maka kita membutuhkan waktu yang sangat lama. Sedangkan untuk ujian tengah semester dan akhir semester, mata pelajaran yang akan diujikan adalah: sejarah dunia, sejarah Jepang, kesehatan, ilmu komputer, dan juga seni sebagai mata pelajaran pilihan, bukankah begitu? Akan lebih baik jika kau fokus pada mata pelajaran menghafal, sehingga kau bisa mengerjakan soal dengan efektif.”

“Menghafal? Aku tidak yakin bisa ...”

“Ini bukan masalah yakin-tak yakin, untuk menghafal kau hanya perlu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, sehingga semua materinya bisa terserap pada otakmu. Jika kau sudah terbiasa menghafal, bahkan matematika pun bisa kau kerjakan dengan mudah.”

Tapi, kau tidak akan menghafal banyak hal hanya dengan membaca materi.

“Gunakan mata, telinga, mulut, dan tangan untuk membantumu mengingat lebih kana. Metode ini mungkin agak sedikit ribet, tapi kupikir ini adalah cara paling efektif.”

Ayame mengangguk sembari menyatakan kesanggupannya. Tapi sebenarnya, metode yang barusan kuajarkan agak sulit dipraktekkan di perpustakaan yang tidak memperbolehkan keributan, padahal kau perlu mengucapkan hafalannya dengan lisan.

“Apakah kalian selalu menulis materi yang guru katakan ‘ini akan keluar di ujian’?”

“Oh, aku selalu melakukannya,”

“Yuuka juga selalu mencatat, namun ada kalanya Yuuka tidak masuk kelas, lantas Yuuka pinjam catatan teman untuk disalin. Tapi selalu saja ada bagian yang terlewat.”

“Aku tidak pernah melakukannya.”

Aku sudah tahu, Ayame.

Tetapi jika ada Tozaki dan Hatsushiba di sini, maka seharusnya tidak masalah. Mereka juga punya banyak teman di luar kelas.

“Untuk ujian tengah semester, Shido akan membuat soal-soal pelajaran sejarah dunia, Matsuda membuat soal-soal sejarah Jepang, Itsuki membuat soal-soal pendidikan kesehatan, Itsumi membuat soal-soal seni musik, dan Kahara membuat soal-soal ilmu komputer. Itsuki, Itsumi dan Kahara mengajar kelas kita, jadi tidak ada masalah, tapi Shido dan Matsuda tidak pernah mengajar kelas kita. Bisakah kau tanya teman lain untuk mengetahui soal macam apa yang biasa mereka buat?"

“... Oh,”

Mata Hatsushiba sedikit bersinar dan tampak terkejut.

Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?

“Ingat, kau hanya perlu menghafal bagian-bagian yang penting saja. Otakmu akan terbebani jika kau menghafal semua detail pelajaran, sedangkan kau tidak biasa menghafal. Oleh karena itu, kita akan harus membuat batasan sampai mana materi pelajaran yang perlu dihafal. Ketika kau sudah terbiasa mengerjakan Bahasa Inggris dan Matematika, maka kau juga akan bisa mengerjakan Fisika. Jika berhasil, ini berarti kau tidak hanya mempersiapkan ujian tengah semester, namun juga akhir semester.”

“Keren, jadi kau sudah benar-benar merencanakan ini jauh ke depan, tapi Yuuka pun tidak bisa memprediksi soal macam apa yang akan dikeluarkan oleh guru-guru itu,”

Hatsushiba mengatakannya dengan penuh semangat.

“Kau harus melakukannya dengan serius setelah kamu merencanakannya, Ayame juga perlu mencatat apapun yang ditulis oleh guru di papan tulis. Tadokoro yang mengajar matematika menghapus papannya dengan sangat cepat, jadi berhati-hatilah dengan guru itu. Aku tidak tahu mengapa dia melakukan hal seperti itu, tapi siapa tahu dia juga punya solusinya.”

Selanjutnya, untuk fisika, koordinatornya adalah Kiriko-senpai. Jika mungkin dia berniat membantu Ayame, maka dia bisa memberikan beberapa petunjuk tentang soal yang akan dikeluarkan.

Jika kami mendapatkan petunjuk, maka ingatlah saja soalnya dan cara penyelesaiannya, itu harusnya cukup untuk menjawab soal-soal fisika.

Untuk bahasa Inggris, kami mungkin perlu menunggu bantuan dari Ohara-sensei.

Oh orang ini, kalau saja dia mau membantu Ayame, mungkin dia bisa melakukan sesuatu.

Tapi untuk sastra kontemporer, sastra, dan matematika, koordinatornya adalah guru-guru killer. Untuk mata pelajaran ini, kami tidak bisa mengharapkan bantuan dari guru.

“Katakanlah, sekarang kita harus fokus pada menghafal pelajaran, suruh Tozaki membuka buku catatan dan buku tugas sejarah Jepang, kemudian dia akan mengajarkan poin-poin penting untuk dipelajari,”

Tozaki menunjukkan ekspresi yang seakan-akan berkata: 'Hah? Kok aku?', tetapi pada siapa lagi aku meminta bantuan kalau bukan dia. Hatsushiba beberapa kali tidak menghadiri kelas, jadi catatannya pasti tidak lengkap.

Sebenarnya, aku bisa saja meminjamkan catatanku pada mereka, tapi sekarang ada hal lain yang harus kudahulukan. Akan lebih baik jika kita bisa melihat buku milik pengajar.

“Kalau begitu, aku akan mencari buku-buku berisi kumpulan contoh soal terlebih dahulu.”

“Kuserahkan padamu… tidak… Tozaki-kun, kau tolong juga mencari.”

“Baiklah, kau boleh memanggil namaku saja, tanpa menambah -kun.”

Keduanya tampak canggung, tapi tentu saja Hatsushiba harus membantu.

Lalu aku berjalan ke rak buku yang berisi buku-buku kumpulan contoh soal. Aku akan mencari buku yang paling sesuai.

Pada saat itu, salah seorang siswa memasuki lorong buku yang sama denganku.

"Yahh…"

“Hmm?”

Awalnya kupikir dia hanya ingin mencari buku, tapi tampaknya dia sedang berusaha untuk menyapaku, aku pun menoleh padanya sembari memegang buku yang sudah kupilih.

Tingginya kira-kira hanya sepundakku, dan dia memancarkan aura perlindingan. Rambutnya jauh lebih halus daripada sutra, dan dibiarkan terurai sampai bahu. Kulitnya berkilau bagaikan lily putih yang mirip seperti kostum para peri. Wajahnya dihiasi dengan sepasang mata elok. Aku bisa bilang bahwa gadis ini sudah imut semenjak dia lahir, dan akan terus imut sampai akhir hayat kelak.

Meskipun aku tidak tertarik pada gadis-gadis 3D, melihat gadis ini beberapa detik saja sudah membuatku terpana. Gadis ini lebih imut jika dibandingkan dengan Heroine dalam Eroge, ‘kan?

Seragam sekolahnya terlihat tidak rapi, dan sangat longgar, sampai-sampai setengah tangannya dapat disembunyikan di balik bajunya. Dan daya pikat lain pada gadis ini juga membuatku tergoda.

Oh Tuhan, ada apa ini, apakah aku sudah takhluk di kaki gadis 3D!?

Kalau dilihat dari seragamnya, kelihatannya dia adalah adik kelasku. Jika dilihat ke bawah, sepatunya juga menunjukkan kalau dia juniorku.

Hmm? Hmmm? Hmmmm !?

“Umm… bolehkan aku menanyakah hal yang sedikit kurang sopan?”

“Eh, ya, apa?”

“Mengapa kau mengenakan seragam sekolah laki-laki? Apakah kau kalah taruhan?”

Gadis ini tidak memakai rok, dia justru mengenakan celana pendek, aku merasa sungguh aneh ketika melihatnya berpakaian begitu.

Kemudian setelah aku bertanya, dia menjadi agak malu.

“Eh, apa ... a-a-aku memang laki-laki ...”

Tanpa bisa kutahan, aku pun berteriak keras sampai suaraku terdengar di seluruh penjuru ruangan, kemudian cepat-cepat kugunakan tangan untuk membungkam mulutku.

K-k-k-k-k-k-kau benar-benar seorang pria? Makhluk imut di depanku yang kukira adalah gadis 3D paling sempurna di dunia ini, ternyata adalah seorang laki-laki? Makhluk manis yang memiliki daya tarik menawan sebagai gadis sejati ini, ternyata adalah seorang pria?

Apakah kau bercanda? Kalau memang itu faktanya, maka ini saaaangat janggal, bahkan kromosom jenis kelaminmu tampaknya telah tidak berfungsi. Apa yang kau lakukan dengan autosomal dominanmu? [7]

Kutatap matanya sekali lagi dengan serius.

Rambut cukup panjang, wajah kecil yang detail, mata bulat bercahaya yang disempurnakan oleh kurangnya rasa percaya diri, sehingga membuat aku begitu ingin melindunginya.

Kalau memang dia benar-benar seorang pria, maka dunia ini sudah gila, dan bahkan….. itu membuatku ingin punya adik laki-laki.

“Yah, i-i-ini ...”

“Ah, umm.”

Aku masih tertegun, sampai-sampai aku lupa mengapa dia menyapaku tadi?

Apakah aku melakukan sesuatu yang tidak pantas di perpustakaan ini? Sepertinya makhluk ini adalah petugas perpus…

Sementara aku masih penasaran, pria setengah wanita ini menundukkan kepalanya.

“Terima kasih banyak karena telah menyelamatkan aku waktu itu.”

Dari apa yang bisa kuingat, seumur hidup aku hanya pernah sekali menyelamatkan orang, yaitu Ayame.

Aku perlahan-lahan menelusuri kumpulan memori di otakku.

... Tidak ada, aku tidak ingat bahwa aku telah menyelamatkan pria setengah wanita ini. Kalau pun dia pernah di-bully, maka tanpa pikir panjang aku akan langsung menolongnya, tapi aku tidak ingat pernah melakukannya.

“Tidak… mungkin kau salah orang, aku tidak ingat pernah menyelamatkau kau sebelumnya.”

“Tidak, aku tidak mungkin salah orang, sebelumnya kau pernah menyelamatkan aku ketika aku dipalak ... kau masih tak ingat?"

Dia meletakkan tangannya di dada. Jari-jemarinya menelusuri kemeja, dan tampak rona wajah tersipu malu yang begitu menggemaskan.

Bukankah makhluk seimut ini seharusnya adalah perempuan? Sikapnya yang pemalu sungguh tidak pantas disebut lelaki, atau persepsiku saja yang sudah kacau??

... Hmm, dipalak?

“Atau, apakah kau adalah orang yang dipalak oleh dua siswa kelas XI sebelumnya?”

Setelah aku mengatakan itu, dia mengangguk dengan lembut.

“Ya, namaku adalah Ryoma Saitani, terima kasih banyak karena telah menyelamatkanku waktu itu.”

Wow namanya terdengar sangat maskulin.

Gadis ini (atau pria ini) menceritakan suatu insiden yang pernah Ayame ceritakan dengan sopan padaku.

Ayame benar-benar menyelamatkan dia ketika diperas uangnya oleh beberapa preman.

Aku bisa mengatakan bahwa pada waktu itu, dia cepat-cepat melarikan diri sampai aku hanya bisa melihat punggungnya. Sebenarnya, dia hanyalah petugas perpus ini.

Kenyataannya, mungkin dia berterimakasih pada orang yang salah.

“Berterimakasih lah pada Ayame, karena sebenarnya dia lah yang menolongmu."

“Tapi, aku takut ...”

“Ayolah, gadis itu bukan hewan buas atau semacamnya.”

Lihatlah, Ayame membuat anak ini menjadi tampak begitu polos ... ah, tidak juga, ini semua karena dia begitu takut pada Ayame.

“Sebenarnya aku tahu, aku pun sudah memberitahu anggota perpus lainnya agar tidak setakut itu pada Ayame-san, bahkan dia adalah orang yang baik karena telah menolongku.”

Dia mencoba sebisa mungkin untuk mengungkapkan perasaannya, dan itu semakin membuatnya imut bagaikan hewan kecil yang tak berdaya. Tapi sebenarnya, Ayame tidak pernah punya masalah dengan anggota perpus, jadi ini bukan karena sugesti Saitani atau semacamnya.

“Kalau begitu, aku harus bertemu dengannya secara langsung, dan sampaikan ucapan terimakasihmu.”

“Tetapi pada saat itu, aku sengaja lari ...”

Seseorang datang untuk menyelamatkannya, tapi dia malah lari tunggang-langgang seakan lepas tangan dari insiden itu. Yah, itu memang sedikit egois, seharusnya dia tetap berada di TKP untuk mensupport orang yang melindunginya.

Aku ingat bahwa pada saat itu, aku bersikeras bahwa ada seseorang yang akan membantu kami, namun dia malah lari.

Tapi, jikalau aku tahu bahwa korbannya adalah gadis (pria) seimut ini, maka aku tidak akan mempermasalahkannya ... tapi tunggu! Dia adalah pria, seorang pria! Kalau aku memaafkannya hanya karena dia cewek yang imut, berarti aku sungguh jahat, ‘kan? Ah, rasanya ingin kubenturkan buku ini ke jidatku!

Mari kita lupakan ini untuk sementara waktu, ini adalah kesempatan yang baik untuk membersihkan nama Ayame.

“Ayo bicara padanya.”

“Ah, apa ...”

“Gadis itu benar-benar menolongmu dengan ikhlas, jadi setidaknya kau perlu berterimakasih secara langsung, aku jamin dia tidak akan menyakitimu. Jangan khawatir, akan kutemani kau.”

“Kalau kau berkata begitu ...”

Aku melihat sekeliling.

Bagus, masih terdapat banyak siswa di dalam perpustakaan ini.

Lantas, aku pergi bersamanya untuk menemui Ayame.

“Hmm?”

Ayame sepertinya sudah tahu. Tapi Tozaki dan Hatshushiba terlihat bingung ketika aku membawa seorang gadis, eh pria.

Tozaki dan Hatsushiba tampak begitu terkejut ketika melihat cara Saitani berpakaian. Oke, ini tidaklah aneh, karena ini mirip seperti acara idola muda yang berinteraksi dengan sekawanan hewan. Bahkan tidaklah mengejutkan jika fotonya terpampang pada suatu majalah, sembari mengenakan pakaian pria.

Tapi, entah kenapa tiba-tiba Ayame memasang ekspresi kesal di wajahnya, dan mulai melihat kami dengan tatapan brutal. Jangan salah paham dulu, kasihan si kecil ini kalau kau memarahinya hanya karena kesalahpahaman kecil seperti ini.

“Mengapa kau mengenakan seragam sekolah laki-laki? Apakah kau dikerjai seseorang?”

Ternyata Hatsushiba bertanya persis seperti apa yang baru saja kutanyakan. Sepertinya dia bisa memahami situasinya hanya dengan sekali lihat.

“Tidak, aku tidak dikerjai siapapun ... tapi aku sungguh-sungguh seorang pria ...”

Selama beberapa detik, muncul tanda tanya besar di atas kepala Hatsushiba, Tozaki, dan juga Ayame. Ketika melihat mereka seperti itu, aku segera bisa memahami apa yang sedang mereka pikirkan. Karena beberapa saat lalu aku juga memikirkan hal yang sama, bahkan sampai sekarang aku tidak mempercayai fakta ini.

“Dia adalah adik kelas kita. Namanya Ryouma Saitani, awalnya aku tak percaya, namun dia benar-benar seorang pria.”

“Ha, aku tidak percaya padamu ... bolehkah aku mengamatinya dengan detail untuk memastikan bahwa dia adalah seorang pria?”

Tozaki mulai menawarkan hal yang aneh, aku penasaran apakah dia juga suka genre gender-bender.

“Jangan macam-macam, kalau ternyata dia cewek, kau mau apa??”

Saitani tampak kebingungan, tapi marilah kita abaikan hal itu sekarang.

“Kalau begitu ... bisakah Yuuka saja yang memeriksanya?”

Kali ini Hatsushiba mulai berbicara dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

“Bagaimana kalau dia pria sungguhan, dan ketika kau memeriksanya, benda itu akan keluar, apakah kau bisa mengatasinya?”

Setelah selesai berbicara, Hatsushiba kemudian mundur dengan sedikit rasa malu. Wajahnya mulai merona.

"Anu…"

Saitani terlihat ragu-ragu ketika dia ingin menyampaikan maksudnya.

“Apapun jenis kelaminnya, itu tidaklah penting. Biarkan saja itu tetap menjadi misteri selamanya."

“Tidak, itu bukan misteri! Aku benar-benar seorang pria!”

Dia mengatakannya sedikit terlalu keras, dan kemudian tiba-tiba dia menutupi mulutnya dengan kedua tangan, tampaknya dia baru sadar bahwa dirinya masih berada di dalam perpustakaan. Yahh, apapun itu, tingkah lakunya terlihat cukup manis.

“... apakah kau hendak mengatakan sesuatu?”

Lagi-lagi Ayame berbicara dengan kasar, yang berbeda dari perkataan Hatsushiba dan Tozaki. Padahal sudah berkali-kali kuberitahu untuk berhenti berbicara kasar ketika tidak diperlukan. Matamu masih normal, ‘kan? Lantas mengapa kau memicingkan matamu seperti itu…

Okelah, abaikan saja itu, sehingga kita bisa langsung menuju ke pokok permasalahan.

“Dia ingin mengatakan sesuatu, Ayame.”

“?”

Setelah aku mengatakan itu, Ayame miring lehernya dan menunjukkan ekspresi bingung.

Fiuh, akhirnya dia kembali ke wajah normal.

"Hei."

Setelah aku desak lagi, Saitani mengangkat kepalanya sembari tetap membungkukkan lehernya.

“Terima kasih banyak karena telah menyelamatkanku dari pemerasan para preman waktu itu.”

Setelah itu, dia mengumpulkan segenap keberaniannya, dia tatap wajah Ayame, sebelum akhirnya membungkuk lagi untuk menunjukkan ucapan terimakasihnya.

Dia mungkin berbicara sedikit terlalu keras, tapi tak seorang pun di perpus ini menegurnya.

Di sisi lain, reaksi Ayame adalah,

“Whoa !? ... Eh, ya, eh ... eh, eh ...”

Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan pada saat itu.

Matanya menatap ke langit-langit, lantas dia beralih menatapku seakan-akan ingin dibantu berbicara.

Rona merah wajahnya turun sampai leher. Kau ini ketel atau apa sih?

“Eh, umm ... ya…. Aku tidak… ya ...!”

Baru kali ini aku lihat Ayame begitu gugup di hadapan orang selain diriku.

Sebaliknya, para siswa di sekeliling kami menatap kami layaknya sedang melihat makhluk asing, mungkin ini pertama kalinya bagi mereka melihat Ayame yang panik

Ini bagus… sungguh bagus.

Penyebaran rumor bahwa Ayame bukanlah cewek kasar dan keras kepala dimulai dari sini. Mungkin dia memang suka memulai perkelahian, tapi setidaknya dia tidak memulai perkelahian tanpa alasan yang jelas.

Jika kami berhasil membuat orang melihat sisi positif Ayame, maka mereka mungkin akan berpikir kembali untuk mengecap Ayame sebagai gadis urakan.

“Maaf, aku hanya bisa melarikan diri pada waktu itu, sampai sekarang pun aku masih merasa bersalah.”

“Tidak, yahh… aku sendiri juga ...”

“Aku benar-benar senang bahwa kau berusaha untuk menyelamatkanku.”

Saitani yang sebelumnya tampak lembek, kini berhasil menyatakan ucapan terimakasihnya dengan tegas.

Yahh, dia hebat juga.

“Ayame.”

Aku berbisik ke telinganya, aku beritahu Ayame agar dia mengerti bagaimana harus membalas ucapan terimakasih ini.

Setelah menyampaikannya, Ayame pun menarik napas dalam-dalam.

“Ya, terimakasih kembali ...”

Lantas dia kembali tersipu.

Ketika dia menerima pujian dari seseorang, membalasnya dengan cara begitu terlihat hebat.

Hatsushiba yang dari tadi memperhatikan kami, akhirnya tampak lega, kemudian Tozaki juga sepertinya kelihatan cukup bangga.

Para siswa di sekitar kami mulai mengalihkan perhatian mereka dengan membahas hal-hal lain, karena mereka tidak membicarakan hal negatif pada kami, yahh setidaknya itu membuatku cukup lega.

“Selamat… memang beginilah seharusnya… ketika kau melakukan kebaikan, kau pasti akan mendapatkan balasan, walaupun hanya ucapan terimakasih.”

“Ah, ah, umm ...”

Sebelumnya, dia pasti tidak pernah memikirkan balasan, meskipun dia berjuang keras untuk menyelamatkan orang lain.

Orang-orang pun merasa bahwa Ayame berkelahi hanya karena merasa tersinggung, sehingga tak satu pun ungkapan terimakasih sampai ke telinganya.

Tentu saja, Ayame bukanlah binatang buas yang menghajar lawannya tanpa alasan yang kuat, dan dia pun tidak melakukan itu untuk mengharapkan sekedar ucapan terimakasih.

Oleh karena itu, ketika mendapatkan ucapan terimakasih yang ikhlas, itu sungguh berarti bagi Ayame.

Meskipun hanya ucapan terimakasih, setidaknya itu sudah sedikit merubah persepsi orang lain terhadapnya.

Jika dengan ucapan terimakasih ini kami bisa mengubah tabiat Ayame, maka itu akan lebih bagus lagi.

“Yah, aku puas setelah sanggup mengucapkan rasa terimakasihku pada seseorang.”

Kemudian Saitani tersenyum dengan begitu imut, seolah-olah ia berhasil melakukan sebuah misi rahasia.

“Ayame, perhatikan dia baik-baik, kau harus tahu bahwa seperti itulah seharusnya cara seorang gadis tersenyum.”

“Ya, senyumnya benar-benar indah ...”

Meskipun ia berkata seperti itu, Hatsushiba dan Tozaki tampaknya masih belum percaya bahwa sesungguhnya itu adalah senyuman seorang pria.

“Bahkan jika kau memasuki toilet wanita, aku tidak akan melihatnya sebagai hal yang aneh ...”

“Sebaliknya, jikalau aku menemukanmu di dalam toiler cowok, maka aku akan sangat terkejut. Jadi, biasanya kau menggunakan toilet mana?”

“Aku biasanya masuk toilet cowok ketika sepi ... karena semua orang pasti akan terkejut ketika melihatku berada di toilet cowok."

Yahh, bagaimanapun juga kau terlihat seperti cowok yang lemah-lembut, imut, dan begitu indah. Sampai-sampai aku ingin tanya, kau ini protagonis dari Eroge mana.

... Namun kenyataan memang kejam. Gadis ideal seperti dia ternyata adalah seorang cowok tulen. Seandainya aku adalah tokoh utama pada suatu anime dunia sihir, maka perlu episode tambahan, atau bahkan episode OVA untuk melanjutkan hubunganku dengannya. Kita juga bisa memilihnya sebagai karakter laki-laki atau perempuan. Kalau begitu, aku sendiri harus menguji apakah aku suka karakter itu atau tidak.

“Ngomong-ngomong, kalian semua ada di perpustakaan?”

Mungkin kami tidak bersikap layaknya pengunjung perpus pada umunya, sehingga Saitani pun terlihat cukup bingung. Tampaknya dia ingin bertanya tanpa sedikit pun niatan untuk membuat masalah.

“Karena ujian tengah semester semakin dekat, kami pun berniat untuk belajar di sini secara rutin sepulang sekolah.”

“Oh benar juga, kalau begitu, anggota perpus akan menyambut kalian dengan baik, jika kau ingin menanyakan sesuatu, maka tanyakan saja.”

“Tapi, kalau kami terlalu sering bertanya padamu, jangan-jangan ada yang marah…..”

“Tidak, jangan katakan itu, nanti aku benar-benar marah, lho ...!”

Ketika ngambek, wajahnya semakin imut. Oh Tuhan, mengapa dia begitu sempurna sebagai cewek?

◆◆◆

Keesokan paginya, langit sudah mendung sejak pagi. Mungkin karena semakin dekat ke musim hujan. Untuk jaga-jaga, aku membawa payung sembari pergi bersekolah.

Setelah Homeroon berakhir, jam pelajaran pertama sejarah Jepang pun dimulai.

Di sinilah sesuatu yang tidak terduga terjadi.

“Kalau begitu, ada pertanyaan yang ingin kulempar pada kalian ... Ayame-san, jawab.”

Kawada-sensei, yaitu guru sejarah Jepang yang mulai menua, melemparkan suatu pertanyaan pada Ayame.

“Eh!? Eh, ya, eh?”

“Kau tidak tahu jawabannya? Ayame-san, pertanyaan ini menanyakan tentang sistem garis keturunan.”

“A-Aku tahu, sensei.”

“Kalau begitu, berdirilah dan jawab.”

Aku bingung.

Tak kusangka ada guru yang berkenan menanyai Ayame, sebelumnya tidak ada seorang guru pun yang mau repot-repot menanyai Ayame, mereka bahkan mengabaikannya.

Kalaupun ditanya, Ayame biasanya hanya duduk tanpa menghiraukannya, jadi adalah suatu hal yang biasa ketika para guru mengabaikan keberadaan Ayame. Namun…. Kurasa tren itu sudah sedikit berubah.

“Sistem keturunan adalah sistem pemerintahan oleh kelompok Yamamoto ...”

Ayame menjawab begitu saja tanpa melihat buku diktat.

Mungkin metode penghafalan paksa kemaren sudah berfungsi.

Lebih dari setengah siswa di kelas tertegun ketika melihat Ayame bisa menjawabnya.

“Benar, bagian ini ... sangat penting.”

Kawada-sensei bukan orang yang membuat soal ujian. Guru yang menulis soal ujian untuk mata pelajaran sastra Jepang adalah Matsuda-sensei.

Oleh karena itu, dia tidak tahu persis apa yang akan muncul pada ujian nanti ... tapi, Kawada-sensei menyatakan dengan jelas bahwa bagian ini sangatlah penting, dan itu sedikit mencurigakan bagiku. Apakah dia benar-benar memberikan bonus untuk Ayame?

Pada akhir jam pelajaran, aku semakin penasaran lantas aku datang menghampiri Kawada-sensei.

“Hei, Aramiya-kun, apakah ada yang bisa kubantu?”

Guru ini terlihat seperti seorang bibi yang baik. Mungkin semasa mudanya dia memiliki paras yang manis.

“Oh, tidak ada yang penting Bu ... tapi, kenapa Anda menanyai Ayame sewaktu kelas berlangsung tadi?”

“Haha, kemaren kalian belajar di perpustakaan, ‘kan? Aku juga anggota perpus, lho?”

Aku tidak pernah tahu ini sebelumnya.

Tapi toh, aku tidak mungkin menghafal setiap posisi guru dalam keorganisasian sekolahan.

“Gurumu, Ohara-sensei, melaporkan kepadaku bahwa baru-baru ini Ayame sudah banyak berubah, lagipula Kotani-sensei juga banyak membela Ayame-san, itu membuatku penasaran, maka aku pun mengujinya dengan pertanyaanku tadi.”

“Dan bagaimana menurut Anda?”

“Mengapa kau perlu bertanya ketika kau sudah melihat hasilnya?”

Tidak, tidak perlu bertanya sama sekali.

Mungkin dia menjawab dengan ragu, namun itu masihlah benar, tidak kurang tidak lebih.

“Kalau dia mampu merubah sifatnya, kita semua juga akan senang. Tapi, perilaku buruknya di masa lalu masih akan dianggap jelek oleh Tadokoro-sensei yang mengajar matematika, atau Murakami-sensei yang mengajar sastra modern, sepertinya mereka bukanlah tipe guru sepertiku yang begitu mudahnya berpikiran positif kepada seorang siswa yang memiliki catatan buruk di masa lalu. Tolong beritahu Ayame untuk terus menjaga prestasinya.”

Kawada-sensei menceramahiku dengan wajah polosnya, kemudian dia pun meninggalkan ruangan.

Ya, persis seperti yang dia katakan.

Dia harus berusaha keras untuk berubah, karena ada begitu banyak orang yang memperhatikannya.

Masalahnya adalah, apakah Ayame bisa konsisten memperbaiki dirinya, atau justru sebaliknya.

Tapi, ketika ada teman, maka pasti ada musuh.

Hal ini berlaku terutama bagi Tadokoro-sensei yang mengajar matematika. Setelah ia menyadari bahwa belakangan ini Ayame semakin kalem, itu justru memberikan peluang baginya untuk memarahi Ayame habis-habisan.

◆◆◆

“Jadi kau tidak bisa menyelesaikan soal ini!!! Apa sih kerjamu selama ini!!”

“Ma’afkan aku sensei ...”

Seakan-akan dia melimpahkan semua kekesalannya selama ini pada Ayame yang menjadi sudah menjadi lebih penurut.

Sebelumnya, tidak aneh jika Ayame tidak mampu menjawab satu soal pun.

Karena kami tidak memprioritaskan pelajaran matematika, maka kami pun tidak punya persiapan yang matang untuk menjawab soalnya.

Oleh karena itu, dimarahi oleh guru adalah sesuatu yang tak terelakkan.

"Demi Tuhan!! Apakah aku harus mengajar semuanya dari awal, atau apa!!?? Ini semua salahmu karena pernah bolos beberapa kali!! Ya inilah hasilnya, dasar tolol!!!”

Tapi bagaimana bisa seorang guru membentak muridnya seperti itu ... ini seperti kombinasi antara penyiksaan dan umpatan-umpatan kotor, aku pun tidak tega melihat Ayame diperlakukan seperti itu.

Tidak bisakah dia memarahinya sedikit lebih normal daripada ini?

Tapi Ayame sama sekali tidak melakukan perlawan, malahan dia terkesan seperti menerima semua kesalahannya. Sekarang Ayame sedang mencoba sebisa mungkin untuk menjadi pelajar yang normal.

Kalau aku berada di posisinya, maka aku akan jengkel setengah mati pada guru yang membentak-bentakku seperti itu.

Sebelumnya, aku tidak pernah seserius ini dalam membantu Ayame. Namun ketika dia menunjukkan sikap positif untuk bertobat, maka akupun rela melakukan ini semua.

Ini adalah ujian dasar bagi Ayame untuk menahan emosinya.

Meskipun diriku yang dulu tidak pernah ambil pusing atas kasus semacam ini, namun sekarang aku tahu siapa yang harus kubela. Membiarkan ini semua bukanlah jawaban, jadi akupun memberanikan diriku untuk membelanya.

Aku mengangkat tanganku dan berdiri.

"Hmm? Ada apa, Aramiya!??”

“Maaf, tapi kami ingin segera mempelajari bab berikutnya, jadi bisakah Anda lanjutkan materinya? Ujian tengah semester semakin dekat, sensei.”

“... Ya kau benar juga, mari kita kembali belajar….. semuanya, silahkan buka halaman tiga puluh di buku diktat kalian."

Dengan begini, setidaknya Ayame berhenti dimarahi.

Aku melihat Ayame sekilas, dan dia mengisyaratkan kode: “terima kasih banyak” padaku, tapi hanya sejauh inilah yang bisa kubantu. Setelah ini, aku harus membantunya belajar matematika, atau tidak ada alasan lagi untuk dimarahi habis-habisan.

... Jika aku tidak bergegas, maka kami akan mendapat masalah.

“Aramiya, kamu ganteng banget sih!”

Setelah kelas selesai, sudah kuduga bahwa aku akan mendapat ejekan seperti itu.

Tidak hanya Tozaki saja yang melakukannya, tapi juga seisi kelas.

“Mengalahkan kemurkaan Todokoro adalah sesuatu yang luar biasa.” “Aramiya, kau berani sekali.” ‘Tadokoro memang sangat menjengkelkan.’ ‘Kami sangat berterimakasih.’ “Lain kali kumohon lakukan ini lagi.” ‘Hidup Aramiya!’ ‘Hore Aramiya!’

“Whoa! Cukup! Pergilah kalian, huss, huss!”

““““Whoa! Aramiya marah!”“““

Fiuh, aku dikelilingi oleh sekelompok orang gila dan koplak.

Kalian selalu saja suka bikin heboh bagaikan habis menang lotre, kelas pun jadi gaduh sampai Ohara-sensei merasa tertekan. Di samping itu, guru kelas lain juga marah. Jika prestasi kumulatifku untuk mendaftar universitas semakin memburuk, apa yang akan kulakukan.

“Te-terima kasih ...”

Dan ketika kehebohan sudah mereda, Ayame pun berterimakasih padaku.

“Tidak perlu berterima kasih padaku, mulai sekarang, aku akan memaksamu belajar matematika, maafkan aku tapi ini harus dilakukan.”

“Kau disiplin sekali padaku!”

Ayame menjawab dengan nada kasar. Kami masih perlu mengerjakan latihan lebih banyak.

◆◆◆

Dan setelah sekolah berakhir, kami pun mengunjungi perpustakaan seperti biasa.

Dalam perjalanan, Ayame ijin mau ke toilet sebentar, lantas Hatsushiba pun mengikutinya.

“Sepertinya gadis-gadis memang suka pergi ke toilet bersama-sama.”

"Aku tahu itu."

Aku menjawab Tozaki seolah-olah aku sudah berpengalaman tentang pertoiletan para gadis. Kemudian, aku menyiapkan buku apa yang perlu dipelajari terlebih dahulu, dan bagian mana pada catatan yang perlu dibahas duluan.

Tentu saja, kami berdua ngobrol sepelan mungkin agar tidak didengar oleh orang di sekitar, bagaimanapun juga kami sedang berada di dalam perpustakaan. Jika kami berisik, Saitani akan datang dan memperingatkan kami lagi, tapi toh aku tidak masalah dimarahi oleh Saitani.

“Sering-sering saja melakukan itu pada Todokoro, Aramiya. Kau bisa menolong seluruh penghuni kelas.”

“Sepertinya kau telah salah paham, aku melakukan ini untuk diriku sendiri, bukan untuk Ayame ataupun yang lainnya.”

“Otak dan mulutmu benar-benar tidak selaras.”

“Setidaknya kepribadianku masih cocok dengan mulutku.”

Biasanya, berkomunikasi dengan Ayame hanya akan membuatku jengkel, sedangkan orang lain pun berpikiran demikian. Namun, aku perlu seseorang untuk berbagi cerita tentang 'Destiny Night / Zero' , dan hanya Ayame lah yang bisa kuajak bertukar pendapat. Itu saja sih, tidak kurang, tidak lebih.

…. Aku pun tidak ingin repot-repot membahas hal lain bersamanya.

Tapi! Berbicara tentang Eroge adalah hal yang terpenting dalam hidupku! Taukah kalian seberapa cerewet diriku setelah memainkan 'Destiny Night / Zero' ?

“Yahh, itu sih tergantung orangnya, jika kau tidak mempermasalahkannya, maka aku bisa bilang apa?? Belakangan ini kau juga tampak lebih aneh.”

"Sungguh? Kupikir aku selalu bertingkah dewasa.”

“Terutama untuk Eroge.”

Aku tak bisa mendebatnya.

Tapi tunggu sebentar, apakah aku terlihat seaneh itu?

“Kalau kau gak menyadarinya, ya gak masalah. Tapi asal tahu saja Aramiya, belakangan ini kau cenderung lebih mudah didekati.”

“Aku merasa tidak pernah pilih-pilih teman tuh.”

“Jangan ngeles, jika dibandingkan dengan sebelumnya, kau yang sekarang jauh lebih mudah didekati.”

“Bagus lah kalau begitu, Tozaki, ayo kita main 'Destiny Night / Zero' bersamaku, supaya persahabatan kita jadi makin erat.”

"Tidak, terima kasih."

Sialan, cara berbicara membuatnya tampak seperti orang yang dingin.

“Ngomong-ngomong, Aramiya, aku tak tahu apakah kau sudah lupa atau belum, tapi bagaimana dengan anggota tambahan dan guru penasehat klub kita?”

“... Aku masih ingat kok.”

Tapi sebenarnya, aku hampir lupa sih.

“Untuk penasehat klub, kita akan memilih Kotani-sensei, sepertinya hanya kau yang tidak menyetujuinya."

“... Bukan begitu, aku pikir Kiyomi-san juga gak mau kalau dia yang jadi penasehat klub.”

“Meskipun adikku sependapat denganmu, perolehan suaranya masihlah 3 Vs 2, tapi… mari kita kesampingkan hal itu terlebih dahulu, yang lebih penting adalah mendapatkan 1 anggota klub tersisa.”

Ini sulit.

Perkara penasehat klub, kita bisa meminta Kiriko-senpai agar mengambil posisi itu, walaupun itu hanya sementara, toh tidak masalah.

Tapi untuk anggota klub, kalau kita tidak buru-buru mendapatkannya, maka ...

“Yah ... itu benar ... apa yang harus kita lakukan,”

“Seiichi, kenapa kau tampak begitu stress?”

“Klub kami kurang 1 anggota lagi - hey Eve !?”

“Halo, halo, Seiichi, apakah kau khawatir tentang masalah kecil ini? Kau sunggu tipe pekerja keras."

“Katakanlah sesukamu.”

Sejak kapan lonthe ini di sini.

“Ahh… galaknyaaaa, kenapa kau harus berkata seperti itu!”

“Sudah sejak dulu aku berkata seperti itu padamu,”

“...Seiichi, atau jangan-jangan mood-mu sedang buruk?”

Memang, gara-gara kau di sini.

“Hatimu sungguh kelam Seichi, yah apa boleh buat, kalau begitu aku pergi dulu,”

Fiuh, pergi sana!! Syukurlah dia tidak berlama-lama berada di sini.

Dan setelah aku berhasil mengusir Eve pergi, kemudian Saitani datang menghampiriku bagaikan tag team.

“Aramiya-senpai, Tozaki-senpai, apakah kalian harus seberisik itu ketika belajar??"

Dia menggembungkan pipinya sembari mengangkat jari telunjuk dan jempolnya, seolah berusaha mengatakan, “hey, jangan berisik”.

Chuuko Vol 2 p-146.jpg

Namun, kami justru bersyukur ketika mendengar suara teguran yang merdu itu. Setelah mendengarnya, aku merasa semakin bersemangat. Panggilan ‘senpai’ pun terdengar begitu nyaman di telinga kami. Lain kali aku memainkan Eroge, aku akan coba genre junior.

“Wow, suara Saitani benar-benar nyaman didengar... sayang sekali Tuhan berkehendak kau terlahir sebagai pria ...”

Tozaki meleleh. Ada yang salah dengan cowok ini. Kau boleh saja mengagumi keimutan Saitani, tapi jangan diucapkan keras-keras dong. Aku juga ikut-ikutan malu ketika mendengarnya, tapi sepertinya dia sudah tidak bisa kembali normal.

“Maafkan aku, Saitani, cowok ini memang sedikit gak waras,”

“Oh aku paham, aku benar-benar jengkel sama orang ini. Kalau begitu akan kukencangkan otot-ototku terlebih dahulu.”

“Boleh aku lihat otot-ototmu…?”

Aku mencoba meraih lengannya, lantas kuraba-raba seragam sekolah itu.

Sepertinya Saitani ingin menunjukkan sisi maskulinnya, sehingga dia menggeram sembari mengencangkan otot-otot lengannya.

“Ini yang kau sebut otot?”

“Au ..”

Tozaki memasang wajah yang menunjukkan bahwa dia benar-benar iri padaku.

“Oi Aramiya, itu tidak adil“

“Tozaki ... bukankah kau hanya suka Hatsushiba?”

"Hei! Itu cerita lain, oke?”

Saitani merasakan bahaya, sehingga gadis ini… eh, maksudku pria ini bersembunyi di balik badanku.

Tozaki ... beneran nih?

Sementara kami berbicara, Hatsushiba berlari ke arah kami bertiga.

“Aramiya !! Aramiya !! Kotton! Kotton dalam kesulitan !!”

"DIMANA?!"

“Di ujung lorong.”

Setelah itu, aku berlari dengan segenap kekuatanku bagaikan Usan Bolt ... [8]

“Aramiya, jangan berlarian di lorong!”

“Maaf sensei!!”

Wahh, itu Tadokoro-sensei si binatang buas.

Wah, aku pasti nanti dapat masalah.

Ohh sial!!!

“Maaf.. Mohon beri jalan ... MINGGIR!!”

Apa yang kulihat di sana adalah Ayame bersama 2 orang, salah satu dari mereka berdarah dan tangan kanan Ayame juga berdarah.

“Ayame ...“

"Oh! Seichii? Ayame bertengkar dengan gadis ini, dan dia benar-benar menghajarnya. Persis seperti yang rumor katakan.”

"Eve? Apa yang tadi kau lihat?"

“Aku hanya melihat setelah terjadi perkelahian, apakah kau juga terluka?”

Setelah itu, apa yang kudengar hanyalah kesalahpahaman dari setiap orang.

“C-Cepat panggil guru!!” “Cepat!”

“Aku pikir kita harus memanggil ambulans.” “T-Tapi mereka sampai berdarah-darah, bukankah lebih baik kita ke UKS terlebih dahulu”‘Ayame-san memang menakutkan’‘Ya!’

Oh sial, dengan begini rumor akan semakin memburuk.

“Minggir!!”

Aku berteriak.

Kumohon Ayame. Tolong katakan padaku kau tidak melakukan ini semua.

Bahkan ketika aku berhasil menembus kerumunan penonton, perkelahian itu masih berlangsung. Lawannya melayangkan tinju pada Ayame, namun dia hanya menghindarinya dengan acuh

Kemudian…. Ayame menatapku…. dengan tangan masih berlumuran darah.

“Aramiya ...”

Dia meminta bantuanku, tapi apa yang bisa kulakukan?

Bukankah kau yang memulai semua ini?

"...."

Bahkan lawannya masih coba memukul Ayame ketika dia menatapku.

Apa yang terjadi disini?

"CUKUP!!"

Aku meluncur ke belakang salah satu lawan Ayame, lalu kukunci lengannya.

“SIAPA SIH KAU? LEPASKAN AKU BAJINGAN!!”

“Diam!! Dan tenanglah!!”

Aku tak bisa lagi berbicara dengan tenang, sedangkan rumor semakin berkembang.

Kenapa aku harus melakukan ini?!

"LEPASKAN!!!"

Pria ini sungguh gila, namun kebetulan aku menyadari sesuatu..

“Apa yang terjadi di sini !!!”

“Oh Tuhan, itu si binatang buas!!!”

Seseorang meneriakkan itu, kemudian kerumunan orang pun segera membubarkan diri.

"Apa yang terjadi di sini?"

Tadokoro bertanya dengan suara yang bisa membuat anak-anak kecil menangis

“Tadokoro-Sensei! Tunggu sebentar!!!"

“Kamu diam Aramiya!! Aku akan mengurus semua kekacauan ini, dan jangan pikir aku lupa bahwa kau telah berlarian di lorong.”

Setelah itu, Ayame dan lawannya berdiri sembari berbaris ...

Salah satu dari mereka berdarah, tapi tampaknya tidak parah.

“Aku bertanya apa yang terjadi?”

“... Aku melihat mereka mencoba untuk memalak uang dari siswa lain.”

Ayame menjawab dengan cemas.

Tadokoro-sensei melihat kedua pria tersebut dan bertanya “Apakah kalian melakukannya?”

“T-Tidak sensei .... tidak mungkin kami melakukan hal seperti itu ..”

Keduanya membantah apa yang baru saja Ayame katakan.

“..namun aku tidak menemukan siapa korbannya ...”

Benar juga, mungkin dia sudah lari duluan, seperti yang dilakukan Saitani ...

“D-Dia datang begitu saja, lantas memukuli temanku!!”

“Y-Yeah !! Dia memukulku!”

“T-Tidak itu tidak benar, aku melihat korbannya, tapi ia lari duluan.”

Kemudian, seseorang mulai berkomentar, seperti……

“Ya… kemana perginya si korban?”

Tapi Tadokoro-Sensei masih tidak percaya.

“Ayame, apa yang kamu lakukan pada mereka berdua?”

"..."

"Aku bertanya padamu!!!"

“Ya sensei, aku memang memukuli mereka, tapi kalau aku tidak melakukannya, semuanya akan bertambah buruk.”

OH YA TUHAAAAAAAAANN!! Ayame, kau tidak perlu berterus terang seperti itu!!

“Kenapa kau melakukannya? Memeras uang memang tindakan buruk, namun situasi akan semakin buruk jika kau lakukan ini."

“Uang ... adalah hal yang sangat penting, karena dia mengorbankan semua waktu dan jeri payahnya untuk mendapatkan uang. Jadi aku tak bisa tinggal diam ketika uang seseorang dirampas.”

“Heh, betul juga.”

Tak bisa kupercaya, kali ini Tadokoro-Sensei tersenyum

“Huh, aku akan memaafkanmu kali ini, tapi kali ini saja!”

Puji Tuhan, bahkan Tadokoro-sensei mengatakan itu!

“Lain kali kalau ada masalah seperti ini, langsung saja panggil guru.”

“T-Tunggu dulu, apakah Anda melepaskannya begitu saja!!?”

Salah seorang pria itu protes pada Sensei.

“Kau bilang dia menghajarmu, ‘kan?”

“Y-Ya !!”

“Jangan coba-coba berbohong padaku, dasar bocah tengik!! Apakah kalian benar-benar berpikir aku bodoh?”

“A-Aku punya bukti!! L-Lihat, ada noda darah di tangannya!!!”

“Itu hanya noda darah. Jika dia benar-benar menghajarmu, maka seharusnya ada luka juga di tangannya.”

Tadokoro-Sensei menunjuk tangan Ayame.

“Aku kira kau mencoba untuk melawan balik, tapi gagal, lantas pukulanmu menghantam tembok, ‘kan? Lihat itu, masih ada noda darah di dinding."

“Hu-Huh ..”

“Aku tidak bodoh, kau tahu? Setelah kau rawat lukamu itu, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.”

Kemudian, dia menyeret kedua pria itu ke ruangannya.

"Ah! Aramiya!”

“I-Iya sensei!!”

“Jangan pikir aku lupa bahwa kau telah berlarian di lorong, kau perlu menulis surat permohonan maaf padaku besok.”

Lantas, dia pun meninggalkan lokasi kejadian.

Setelah semuanya selesai, kerumunan siswa pun membubarkan diri.

“Huff ~~”

Selesai sudah.

Betapa merepotkan hari ini, Tadokoro-Sensei sudah mengetahui kebenarannya, jadi mengapa aku masih khawatir ...

Aku juga melihat noda darah di dinding, tapi aku tidak berpikir sampai sejauh itu.

“A-Aramiya”

“Kenapa kau selalu saja terlibat dalam kesulitan? Astaga!”

“Sudah, jangan dibahas… pokoknya semuanya sudah berakhir.”

“T-Terima kasih atas bantuannya ..”

“Jangan dipikirkan, kau tahu aku benci terlibat dalam masalah.”

“Lagian, apa sih yang sebenarnya terjadi?”

“Aku hanya mencoba menolong pria itu ketika dia terjatuh, lantas aku menanyakan apakah dia baik-baik saja, namun dia langsung coba memukulku…"

Apes banget!

“Kotton !!” “Kau baik-baik saja?”

“Dari mana saja kalian?”

“Maaf Yuuka tidak bisa menembus kerumunan orang.”

“Apa pun itu, ayo kita kembali ke perpustakaan“

“Kita masih harus lanjut belajar?? !!”

Ayame bertanya kepadaku dengan suara gemetar

“Tentu saja, tapi basuh tanganmu terlebih dahulu!”

“Aramiya-Sensei begitu kejam!”

“Aramiya-kun memang seperti iblis.”

◆◆◆

"APA SIH YANG KALIAN LAKUKAN!!!"

“M-Maaf sensei”

“Apakah kau ingin mengulang satu tahun ??? !!”

Hari ini, tangan Ayame juga mendapat noda darah!

“Ayame juga, jika kau tidak belajar dengan benar, maka kau akan kesulitan di ujian tengah semester ~~”

“Uggh, a-aku tahu itu!”

“Ayame, tutup mulutmu, kau juga Suwama…. Apakah kalian ingin tidak naik kelas?!?!”

" Aku juga!? Kyaaa ~~ Maaf sensei!!”

“Kalau lain kali kalian masih tidak bisa mengerjakan soal ini, maka akan kuberikan Remidi!!”

Jika dia berkata begitu, maka bagian ini memanglah sangat penting.

Cara mengajarmu memang zuper…. Tadokoro-Sensei.

“Aramiya, kenapa senyum-senyum!?”

“T-Tidak sensei.”

"Mau mati ha??! Kita masih di kelas!!”

“I-Iya sensei”

  • Huff * setelah menulis surat permohonan maaf (yang ku-copas dari Eroge), sepertinya dia mulai membenciku…

Tentang dua pria yang mengganggu Ayame itu, mereka dapat skorsing selama 3 minggu, dan terancam akan dikeluarkan dari sekolah jika melakukan kesalahan serupa.

“Mereka yang mendapatkan nilai rendah, akan kutunjukkan seperti apa neraka yang sebenarnya.”

Akhirnya kelas selesai.

Seperti biasa, sepulang sekolah kami pergi ke perpus untuk mengajari Ayame.

“Untuk soal ini… cobalah mengerjakannya lebih lugas dan lebih simpel.”

“Aku akan pergi mengambil buku pelajaran berikutnya.”

Aku pergi untuk mencari lebih banyak buku pelajaran

“Kau perlu istirahat sedikit Aramiya-Senpai”

“O-Oh, Saitani terima kasih ..”

“Kenapa kau begitu terkejut?”

“Ah tidak…. hanya sedikit kaget.”

Siapa yang tidak terkejut, kalau tiba-tiba di belakangmu ada seorang gadis (pria) yang begitu imut sedang menegurmu ...

"Apa yang sedang kau cari?"

“Oh, aku sedang mencari beberapa buku pelajaran Matematika.”

“Ada di sana, kami sudah menyiapkannya untuk para siswa.“

“Terima kasih, Saitani memang selalu bisa diandalkan.”

“Terima kasih, hehehe”

Oh sial, kumohon jangan menunjukkan senyum yang begitu imut, sedangkan aku tahu kalau kau adalah seorang pria tulen!

“A-Apakah Ayame-Senpai mendapatkan masalah kemarin?”

“Sial, kabarnya menyebar dengan begitu cepat, ya, dia mencoba menolong seorang siswa yang dipalak.”

“Semua orang di sini membicarakan tentang insiden itu. Aku tahu bahwa Ayame-Senpai bukanlah tipe orang yang terlibat dalam suatu masalah tanpa alasan yang jelas.”

Pikiran positif macam apa itu!!… apakah dia malaikat??!

“Semuanya akan baik-baik saja, jika mereka tahu kebenarannya.”

“Ya, ini semua juga karena dirimu yang tidak percaya lagi pada rumor gak jelas itu!”

Yahh, kali ini rumornya mulai membaik, tapi masih ada banyak rumor lain yang belum bisa kami atasi ...

“Hmm ... ternyata tidak seburuk itu,”

Saitani pun mengangkat bahunya, seakan bicara : ‘yah, mau bagaimana lagi’… SIAAAALL…. KENAPA KAU HARUS DILAHIRKAN SEBAGAI SEORANG PRIA!!!!
  1. Gelembung yang pecah adalah metafora Jepang yang menggambarkan seseorang yang kembali tersadar. Biasanya, kiasan ini dipakai ketika seseorang ngantuk sekali, kemudian dikejutkan oleh temannya, lantas dia menjadi sigap seketika. Di saat itulah gelembung-gelembung yang melayang di dekat kepalanya pecah.
  2. Maksudnya ‘evening’, yang artinya ‘malam hari’. Eve menantang Ayame untuk meplesetkan namanya.
  3. Kami harap kalian tidak terlalu polos untuk memahami maksud kalimat di atas. Maksud kalimat tersebut adalah sesuatu semacam oral seks.
  4. Brush Font adalah model huruf seperti tulisan kuas. Model ini banyak digunakan untuk huruf Kanji karena seni kaligrafi Jepang memang menggunakan kuas untuk membentuk huruf-hurufnya.
  5. Menyilangkan jari mirip kepiting juga dikenal sebagai tanda kebohongan. Bentuknya seperti ini, tempelkan jari tengah dan telunjukmu, silangkan, kemudian tarik jarik tengah ke dalam.
  6. Eroge bergenre imouto umumnya bercerita tentang hubungan incest, dimana sang kakak akhirnya berhubungan intim dengan adiknya, tentu saja karakter adiknya dibuat semenarik mungkin.
  7. Autosomal adalah gen penentu sifat kelamin.
  8. Pelari tercepat di dunia.