Chuuko Indo:Jilid 2 Bab 4

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 4 – Maafkan Aku[edit]

Hari ini juga, kami terus berpartisipasi dalam membantu berbagai tugas di sekolah.

Sebelumnya, saat-saat seperti ini hanya kuhabiskan dengan main eroge di ruang klub secara diam-diam, tapi saat ini kami sedang mengerjakan hal-hal terpuji untuk menghilangkan rumor buruk yang berkaitan dengan Ayame. Dengan demikian, kami memutuskan untuk membantu berbagai hal yang merepotkan para guru dan siswa-siswi lainnya.

Sebenarnya, semua ini kulakukan hanya untuk kembali pada kehidupanku yang damai sembari bermain eroga.

Itulah tujuanku yang paling utama. Yahh, ketika semua rumor buruk tentang Ayame sudah lenyap nanti, aku akan kembali menghabiskan hari-hariku dengan bermain eroge seperti biasanya.

Hari ini kami memutuskan untuk membantu departemen kebersihan, dengan memungut sampah di luar bangunan sekolah.

"Segala sesuatu di dunia ini dihubungkan oleh gaya magnet bumi, bukankah begitu?"

Tozaki berkata dengan canggung, sembari menggunakan tongkat untuk mengambil sampah yang disebarkan oleh orang-orang di sekitar.

"Kalau begitu, kita bisa menggunakan magnet untuk menarik semua logam secara mudah, dengan menggunakan gaya elektromagnetik atau semacamnya……"

"Sepertinya pikiranmu terlalu sempit, kalau begitu sekarang telanlah sebatang magnet, agar tubuhmu bisa menarik sampah-sampah itu…"

"... Argh, ini sangat melelahkan, tugas seperti ini sungguh menguras tenaga orang yang mengerjakannya…"

"Aku sudah merasakan itu sebelumnya,"

Biasanya, aku duduk diam di kursi sambil bermain eroge, tapi begitu aku harus melakukan kegiatan yang membuatku berdiri, atau membungkuk, maka aku akan merasa begitu lelah. Kakiku akan gemetar. Kalau aku bisa duduk sambil main eroge dan meluruskan tubuhku, maka itu terasa nyaman sekali.

Kami masing-masing membawa tongkat untuk mengambil sampah dan kantong. Kami memungut sampah yang berserakan di mana pun, kemudian memasukkannya ke dalam kantong.

Kantong sampah hampir terisi penuh. Di sekolah ini banyak sekali sampah yang nyelempit di tempat-tempat yang sulit dijangkau.

"Tapi itu bagus ... begitu kita lihat tempat ini semakin bersih, maka kita akan merasa melakukan suatu hal yang produktif, "

"Memang benar, Aramiya… tapi aku pun kaget kalau kau punya pemikiran seperti itu,"

Hei kampret, begini-begini aku juga punya rasa peduli terhadap keindahan dan kebersihan.

"Apakah kamu lelah, Aramiya?" "Bagaimana denganmu Tozaki-kun,"

Ayame dan Hatsushiba kembali dengan kantong penuh terisi sampah.

"Sepertinya ada banyak sampah yang tersembunyi di sana, pasti ada beberapa orang yang menyisakan jus, kemudian membuang kotaknya begitu saja,"

"Ada juga kosmetik bekas pakai, sekolah kita benar-benar luar biasa,"

Atau karena kurang ketatnya kedisiplinan, sehingga berdampak pada kebersihan sekolah.

Tapi, jika saja ada orang yang membuang eroge, kemudian mereka menemukannya di tempat sampah, maka itu akan menjadi bencana besar.

"Sampah yang kau kumpulkan banyak sekali, jadi kau benar-benar serius mengerjakan ini ya, Ayame?"

"Yahh begitulah, jika aku mengerjakan ini tanpa komitmen, maka hasilnya sia-sia saja. Lagipula, lingkungan yang terlihat bersih seperti ini membuatku merasa telah melakukan suatu hal yang besar."

Tozaki tersenyum misterius di sana,

"Wow, cara berbicaramu seperti Ayame, kalian pasti memiliki hubungan batin,"

"Bisakah kau hentikan senyum misteriusmu itu saat berbicara?"

Hatsushiba tertawa sadis, dan Ayame juga mulai tertawa.

"Demi Tuhan, ternyata Tozaki juga suka mengatakan sesuatu yang kotor juga ..."

"Apakah kau menyalahkanku!?"

"Ini memang salahmu,"

Dan saat kami saling bercanda, seorang siswi berjalan ke arah kami, dia adalah ketua departemen kebersihan

"Aku harus berterima kasih banyak kepada kalian, ketika aku datang untuk memohon bantuan pada kalian, jujur saja aku tak tahu-menahu apa yang akan terjadi, tapi dengan hasil seperti ini, kalian menjawab semua keraguanku."

"Yah, jangan bilang begitu ..."

Sebenarnya Ayame lah yang datang untuk memohon pada guru, dan Ayame jugalah yang memberitahu kami bahwa departemen kebersihan sedang membutuhkan tenaga.

Awalnya, ketua departemen kebersihan juga tercengang, tapi begitu kami terus-menerus memungut sampah, perlahan-lahan dia semakin baik pada kami.

"Dan aku juga harus berterima kasih kepada kalian bertiga. Untuk sisanya, serahkan saja pada kami. Kalian boleh pulang sekarang, sekali lagi terimakasih banyak."

Setelah selesai berbicara, kemudian ketua membawa tas sampah dengan dua tangannya, dan berjalan menuju anggota departemen kebersihan lainnya.

"Fiuh, terima kasih pada kalian bertiga."

Ayame pun menunduk sekali lagi pada kami, sebagai ungkapan rasa hormat.

"Ah, jangan terlalu dipikirkan, Yuuka melakukan ini semua semata-mata untuk Kotton, hari ini Yuuka tidak ada pekerjaan sama sekali. Lagian, memungut sampah ternyata menyenangkan juga."

"Terkadang kita merasa telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sekolah,"

Hatsushiba nampaknya sangat senang. Di sisi lain, Tozaki yang tampak lelah, juga menunjukkan aura kepuasan.

Aku tidak dapat mengatakan apapun karena malu, tapi aku merasa ini adalah kerja tim yang hebat.

"Kalau begitu ayo kita pulang,"

Lalu kita menuju kelas untuk mengambil sesuatu.

Pada saat berjalan menuju lantai atas,

"... Oh, kalau bicara tentang Ayame….."

Lalu aku mendengar beberapa suara orang berbicara dengan keras dari lantai atas,

Aku meletakkan jari di bibirku, sebagai kode agar Ayame tetap diam.

Begitu aku mulai menguping, aku bisa mendengar dengan jelas sekelompok wanita sedang ngobrol bersama-sama.

"Apa pendapatmu tentang Ayame sekarang?" "Umm, yahh aku pikir dia agak aneh," "Tidak biasanya, kan?”

Ini sudah waktunya pulang, dan mereka masih saja bergerombol di sana, sepertinya mereka adalah sekelompok orang yang suka bolos kelas.

"Itu lho, aku selalu melihat dia bersama seorang pria?" "Maksudmu Aramiya?" "Mungkinkah mereka ... berpacaran?”

Kemudian pada detik itu juga, mereka mulai berteriak "arghh !!" dengan keras.

... Yahh, memang benar Ayame naksir aku, tapi hanya saja aku masih belum bisa menerimanya.

Kapan pun ada seseorang yang membicarakan tentang hal ini, entah kenapa aku merasa tersipu.

Bagi Ayame ... sepertinya, dia tidak peduli sama sekali. Mungkin dia sudah terbiasa acuh pada rumor buruk yang dialamatkan pada dirinya, sehingga dia tenang-tenang saja mendengar pembicaraan seperti ini. Namun ironisnya, tingkahnya inilah yang justru menyebabkan rumor buruk semakin menumpuk.

"Kalau dibandingkan dengan gadis itu," "Yang mana? Oh, yang namanya Eve itu?" "Yahh, dia tampak mengerikan,"

Kemudian, topik pembicaraan berubah dengan cepat, kali ini yang mereka bahas adalah Eve.

"Aku sungguh tidak menyukai tampangnya Ayame…. tapi rasanya seperti…." "Jika kau berada di posisi Ayame, bukankah kau juga akan jengkel?” "Ah, benar juga,”

Eve datang untuk mengganggu dan mengolok-olok Ayame, yang masih berusaha mengubah dirinya. Itulah yang menyebabkan orang-orang mulai membenci Eve.

Hebatnya, Eve melakukan ini semua seakan-akan tanpa banyak berpikir, dan dia melakukannya begitu saja tanpa takut konsekuensi. Beberapa kali, Ayame terlihat begitu geram ketika dipanas-panasi oleh Eve, padahal biasanya dia tidak akan hilang kesabaran, meskipun orang-orang berbicara negatif tentang dirinya.

"Kalian, pulanglah sekarang,"

"Ya, sensei,"

Sepertinya, ada seorang guru yang menemukan mereka, kemudian menyuruhnya pulang, suara mereka pun terdengar semakin redup.

Kelompokku melanjutkan perjalanan ke lantai atas untuk kembali ke ruang grup.

"Sepertinya, perlahan-lahan rencana kita membuahkan hasil?"

Menurut Tozaki, kabar bahwa Ayame sering membantu pekerjaan orang lain, sudah semakin menyebar luas.

"Setidaknya, tak ada lagi rumor-rumor tentang Yakuza."

"Ya, seperti kata pepatah, rumor akan hilang dengan sendirinya selama tujuh puluh lima hari,"

Begitu aku mengatakan itu, lantas Hatsushiba mulai berbicara dengan riang.

"Tapi rumor-rumor buruk lainnya masih belum hilang, meskipun sudah beredar tujuh puluh lima hari lamannya,"

"Ya kau benar! Tapi kalau kita tidak melakukan apa-apa, maka situasinya masih tetap memburuk. Setidaknya, saat ini tidak ada rumor aneh-aneh lagi yang muncul, dan orang-orang mulai membicarakan sisi baik Ayame,”

Hatsushiba, sang pakar rumor, menegaskan demikian.

Di sisi lain, reputasi Eve semakin menurun.

"Gadis-gadis yang mengikuti Suwama mulai berkurang jumlahnya,"

Tapi, mengenai hal itu, Eve sendiri tampaknya tidak menyadarinya. Saat ini pun, gadis bernama Nishihara masih mau jalan bersama-sama Eve.

"Suwama-san nampaknya adalah orang yang menyebarkan rumor, kau tahu, itu sebabnya kapan pun dia mengatakan sesuatu, orang mulai tidak mempercayainya?” Ya, itu terjadi karena reputasi Ayame mulai membaik.

Kita bisa melihat perspektif itu.

Tapi jika kita memikirkannya dengan lebih teliti, apakah gadis sebodoh Eve bisa merencanakan suatu hal yang rumit, seperti menyebarkan rumor negatif? Aku masih sedikit ragu tentang itu, tapi Hatsushiba mungkin berpikir bahwa Eve lah orang yang ikut-ikutan menyebarkan rumor.

"Ya, aku juga sempat berpikir begitu, namun aku tak tahu apakah dia memang berniat jahat atau hanya sekedar bermain-main,"

Tozaki juga menyetujuinya.

Yahh, kalau dilihat dari tindakan Eve yang suka mempermainkan Ayame, sepertinya dugaan itu masuk akal juga.

"Tapi, saat ini kita punya kesempatan bagus,"

Hatsushiba tertawa "Huhuhu," dengan sedikit ekspresi licik di wajahnya.

"Kesempatan apa?"

Begitu Ayame memiringkan kepalanya dengan bingung, lantas Hatsushiba tersenyum padanya dengan manis.

"Yuuka minta maaf karena telah membuat Kotton menunggu cukup lama, tapi akhirnya kami siap,"

"Siap untuk apa?"

"Ayo kita mulai melenyapkan rumor yang berkaitan dengan Kotton, setidaknya mulai dari kelompok kita sendiri,"

Aku juga tidak tahu rencana apa yang dimaksud Hatsushiba, tapi dia telah menyatakan itu dengan cukup yakin.



Keesokan harinya,

"Semuanya… dengarkan! Hari ini Yuuka pengen mengatakan sesuatu,"

Setelah Homeroom selesai lebih awal dari biasanya, dan di saat teman-teman sekelas sedang asyik ngobrol di sela-sela pergantian jam pelajaran, tiba-tiba, Hatsushiba melangkah ke depan kelas.

Suaranya sih tidak begitu keras, tapi gemanya terdengar sampai ke sudut-sudut kelas.

Semua orang di kelas pun mengarahkan kepalanya pada Hatsushiba. Mereka pun menghentikan obrolannya seketika, sehingga kelas mendadak tenang. Bahkan, aku hanya bisa mendengarkan suara-suara dari kelas sebelah.

"Eh, apa yang terjadi, apakah kita akan segera melakukan sesuatu yang menyenangkan?"

Eve berniat mempermainkan Hatsushiba.

Tapi Hatsushiba tidak melihat ke matanya.

Dia masih terus menatap teman sekelasnya.

Dia terlihat sangat teguh.

Keningnya terlihat sedikit basah kuyup karena keringat, seakan-akan dia gugup.

"Aku pikir, semuanya sudah menyadari hal ini, tapi hari ini, Yuuka ingin membicarakan rumor tentang Kotton, yaitu Kotoko-san,”

Seluruh kelas kembali gaduh ketika Hatsushiba menyatakan itu.

Tapi begitu Hatsushiba terus berbicara, keheningan mulai menggelayuti atmosfer kelas ini.

Tidak ada rencana lain, Hatsushiba bermaksud menyampaikan semuanya secara langsung!

"Hampir setiap rumor yang kalian dengar hanyalah kebohongan, Ayame-san tidak pernah melakukan apapun, bahkan sekali pun. Rumor tentang Yakuza itu hanyalah dibuat-buat, dan sama sekali tidak berdasar. "

Begitu kami mendengar Hatsushiba menceritakan semuanya, seisi kelas mulai terlihat serius sembari menelan ludah. Bahkan ada beberapa orang yang menahan tawa sampai wajahnya terlihat merah padam.

Di tengah-tengah Hatsushiba menyampaikan ceritanya, seorang gadis mengangkat tangannya.

"Tapi, ada seseorang yang mengatakan bahwa Kotton terlihat sedang berjalan bersama seorang om-om pada pusat perbelanjaan…"

"Itu adalah ayahnya Kotton, apakah kalian pernah melihat ayahnya Kotton? Ayame-san selalu berjalan bersama om-om itu, yang tidak lain adalah ayah kandungnya."

Begitu dia menjelaskan itu, gadis yang bertanya tadi langsung diam.

Kemudian, ada orang lain yang juga mengajukan pertanyaan pada Hatsushiba.

"Tapi, aku melihat Ayame berjalan ke kantor Yakuza ..."

"Itu bukan kantor Yakuza, tapi ini adalah perusahaan desain bangunan yang disebut CV. Tanaka! Ayah Kotton adalah seorang perancang bangunan. Memang benar plat nama perusahaannya terkesan seperti sarang Yakuza, tapi itu sungguh berbeda!”

Setiap rumor yang beredar telah terungkap satu demi satu.

Sebelumnya, Hatsushiba sempat berkata bahwa, meski dia berdiri di depan kelas sembari menjelaskan semuanya, itu hanya akan berakhir dengan percuma. Namun, itu bukan karena kemalasannya, atau ketakutannya dibenci orang lain.

Dia bahkan tak pernah berpikiran begitu.

Selama ini, dia menunggu saat yang tepat untuk bisa berdiri di depan kelas seperti ini, dan meluruskan semua rumor tentang Ayame.

Kita akan menunggu sampai semuanya siap, sehingga orang akan percaya bahwa semua rumor buruk tentang Ayame hanyalah kebohongan belaka.

Dan setelah memikirkan segala macam pertimbangan, dia pun meneguhkan hati bahwa sekarang lah saatnya.

Kesempatan yang sudah dia nanti-nantikan sejak kemaren, adalah apa yang kita lihat hari ini. Sayang sekali dia tidak meminta pendapatku sebelumnya, mungkin aku masih bisa membantu sesuatu.

Saat itu, Ayame terlihat agak bingung, seolah tidak tahu harus berbuat apa.

Tapi setidaknya, aku sudah cukup tenang ketika melihat dia tidak ketakutan.

"Tempo hari, aku mengira bahwa orang-orang melihat Kotton hanya sebagai gadis kasar berotot. Yang pasti, menggunakan kekerasan bukanlah hal yang hebat. Tapi, Kotton menggunakan kekuatannya secara spontan karena tidak terima melihat ketidakadilan di depan matanya, seperti: ketika dia tanpa pikir panjang menyerang seseorang yang memeras orang lain. Intinya, dia tak pernah menggunakan kekuatannya tanpa alasan yang jelas! Karena itulah, Kotton belum pernah diskors sejak SMP dulu!”

"Paling tidak, kalian semua tahu bahwa dia tidak pernah memeras kita dengan menggunakan kekuatannya…."

Di sisi lain, Tozaki memberikan dukungan pada Hatsushiba dengan jelas, agar semua orang mendengar.

Jujur, aku baru sadar akan hal ini. Memang belum pernah ada kasus di mana Ayame memalak seseorang untuk dimintai uang. Seharusnya, ini bisa menjadi poin plus pada citra baik Ayame.

Tozaki juga merupakan orang baik.

"Memang benar bahwa Kotton sering membolos kelas, dan tidak bersedia berpartisipasi dalam kegiatan klub manapun. Tapi, jika kalian mempercayai rumor itu begitu saja tanpa bukti yang jelas, maka bagaimana bisa Ayame membuka diri pada kalian!”

Hatsushiba benar-benar mengatakan itu langsung dari hatinya.

"Ayame-san juga memiliki beberapa kelemahan! Tapi sekarang dia telah berubah, dan dia belajar lebih giat. Memang, dia pernah mengaku bahwa sebelumnya dia sama sekali tidak membantu pekerjaan sekolah, namun sekarang dia telah berubah! Sekarang, dia lebih terbuka pada kalian semua!”

Setelah itu, Hatsushiba menggebrak meja dengan kedua tangannya.

"Karena itu, mohon jangan percaya begitu saja pada rumor-rumor gak jelas itu!"

Hatsushiba mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca.

Sejak SMP, kebanyakan rumor buruk berasal dari Songou. Tapi sejak saat itu, Hatsushiba juga pernah menyebarkan rumor-rumor tersebut. Maka, dia merasa bertanggung jawab untuk menebus dosa-dosanya di masa lalu. Dia pun menunggu saat yang tepat untuk membeberkan semuanya hari ini, di sini.

Hatsushiba tahu bahwa dirinya adalah siswi yang cukup populer, maka dia memanfaatkan itu untuk melancarkan usahanya tersebut.

Ayame mungkin memang memiliki banyak musuh, tapi ada juga orang yang menaruh simpati padanya.

Maka,

Dengan memanfaatkan nama baik Hatsushiba, dia menyampaikan semua kebenaran ini agar semuanya percaya padanya.

"Baiklah ... maafkan aku Ayame-san, selama ini aku telah salah paham padamu,”

Seorang gadis meminta maaf kepada Ayame.

Dia adalah Hozoe, orang yang sebelumnya mendapatkan bantuan dari Ayame dengan membukakan lokernya.

Dan sekali seseorang meminta maaf, kata-kata maaf berikutnya mengalir tanpa henti bagaikan arus sungai.

"Aku juga menyesal!" "Selama ini aku hanya percaya pada rumor-rumor gak jelas!" "Setelah aku mendengar itu, aku pun meragukan semua yang pernah kudengar selama ini ... "

Semua teman sekelas terus meminta maaf pada Ayame.

"Tidak apa-apa ... dengan sikap seperti itu, wajar saja kalau kalian salah paham ... dan aku juga sering menyebabkan masalah pada kalian semua,”

Wajah Ayame benar-benar memerah, sebelum akhirnya dia membungkukkan kepalanya dengan ragu-ragu.

Sebelumnya, dia sering bolos kelas dan tidak mengikuti satu pun kegiatan klub, karena dia tahu bahwa semua orang merasa tak nyaman berada di dekatnya. Tapi, semenjak dia kembali bersekolah dan berhenti menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, dia telah berubah total.

"Jika kalian benar-benar ikhlas menerima orang sepertiku….. Jika kalian benar-benar bersedia menganggapku sebagai bagian dari kelas…, maka….., aku….."

Ayame menunjukkan wajah bahagia dan lega, seraya titik-titik air mata mulai terkumpul di sudut matanya. Semuanya tecengang melihat pemandangan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Aku akan sangat senang jika semuanya mau menerimaku sebagai teman."

Dia berbicara dengan malu-malu, sembari mencoba menekan emosinya. Di saat seperti ini dia terlihat seperti gadis remaja rapuh pada umumnya, tak ada sedikit pun bayang-bayang Ayame si preman pada dirinya saat ini. Meskipun rumor-rumor buruk telah beredar selama bertahun-tahun, dan telah mengakar pada cara pandang semua orang, meskipun dia tahu bahwa tidak mungkin teman-temannya bisa menerimanya dengan mudah begitu saja… dia tetap bahagia setelah mendengarkan semua ungkapan maaf itu.

Itu tak terelakkan.

Begitu pakaian putih ternoda, kau tidak bisa membersihkan noktah hitam itu, tidak peduli berapa kali pun kau menggosoknya.

Tapi…

Hatsushiba telah meletakkan batu pijakan untuk Ayame, maka untuk selanjutnya, semuanya terserah pada usaha Ayame. Jika dia bisa memanfaatkan ini dengan baik, maka bukanlah mustahil jika suatu saat nanti semua orang bisa menerimanya dengan lapang dada.

Kami mengadakan perayaan kecil saat makan siang, suasana hati kami sama baiknya dengan cuaca hari ini.

Yah, menu-nya hanyalah bekal makan siang dan cola sih ... tapi bagaimanapun juga, ini adalah suatu perayaan.

"Meski masih sedikit khawatir, tapi aku yakin itu berhasil!"

"Jangan begitu, Kotton! Bersenang-senanglah sekarang!”

Mereka berdua saling mengobrol dengan gembira seperti layaknya gadis SMA biasa, aku pun cukup senang melihat mereka begitu. Sedangkan bagi Tosaki, dia terlihat seperti benar-benar ingin bergabung, tapi Hatsushiba tidak menyadarinya. Sepertinya jalan yang ditempuh Tozaki untuk mendapatkan pujaan hatinya masihlah sangat jauh dan terjal.

"Kita tidak perlu khawatir lagi akan rumor yang mempengaruhi kelas kita."

Hatsushiba mengangguk penuh semangat setelah mendengar kata-kataku.

"Benar, benar…. Akan semakin baik kalau terus-terusan begini…"

Tapi sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, ada sesuatu yang mengganggunya.

"Hai, semuanya."

Ketua OSIS Yaotani Airi, dia masuk ke ruangan bersama wakil ketua dan sekretarisnya. Seperti biasa, dia mengayun-ayukan kipas anginnya sembari memancarkan aura penuh intimidasi.

"Apa yang kamu lakukan di sini? Kami masih punya waktu untuk melengkapi klub kami, kan?”

"Aku hanya ingin ngomong sebentar sama Ayame-san yang ada di sana."

Dia menutup mulutnya dengan kipas, sembari mengatakan itu dengan tenang.

Rumor seperti: "Dia suka main gila sama om-om" atau "Dia memiliki koneksi dengan Yakuza", seharusnya tidak lagi menyebar di sekolahan ini, karena aku sudah mengurusnya.

"T-Terima kasih."

Ayame yang kini sudah menjadi pribadi lebih baik, membungkukkan badannya dengan canggung untuk menyampaikan rasa terimakasih.

Ketua OSIS tersenyum dengan ramah, kemudian menjawab Ayame.

"Gak usah dipikirkan, aku melakukan ini demi kamu. Meskipun begitu, ada beberapa rumor lama yang masih beredar di sekolahan ini."

Lalu, Ketua OSIS tersenyum licik pada Hatsushiba. Saat Hatsushiba balas menatapnya, dia tertawa bagaikan melihat hewan mungil yang lucu.

"Tapi, aku pun penasaran… siapa ya yang menyebarkan rumor-rumor kejam itu."

Ketua OSIS melipat kipas, kemudian memukul-mukulkannya dengan ringan di pipi, sembari memasang ekspresi cemas di wajahnya.

"Kau tahu siapa orangnya?"

Aku mencoba untuk memeriksanya, tapi ekspresi wajahnya tetap tidak berubah.

"Aku tidak tahu ... atau… apakah kau pikir aku tahu siapa tersangkanya?"

"Yah, kupikir karena kau adalah Ketua OSIS, maka kau tahu semua tentang sekolah ini lebih baik daripada siapapun, kan?”

"Rumor adalah sesuatu yang menyebar dikarenakan beberapa syarat tertentu. Jika syarat itu terpenuhi, maka rumor tersebut akan terus berkembang dengan sendirinya. Percuma saja jika kalian terlalu terfokus untuk menemukan si tersangka penyebar rumor, malahan akan lebih baik jika kalian berusaha mencegah semakin menyebarnya kabar buruk itu."

"..."

"Oleh karena itu, metodemu tidaklah salah, Ara-apa-sih-terusannya-san."

"Mohon ingatlah namaku dengan benar."

"Ya, nanti kuingat-ingat kalau aku ingin. Daah, aku pamit dulu."

Lalu dia pergi begitu saja.

"... kenapa sih dia suka datang kemari? Kalau dipikir-pikir, bukankah dia datang untuk mencari kalian sebelumnya? Waktu itu tuh… waktu aku dan Tozaki tidak di sini….”

Ayame dan Hatsushiba mengangguk untuk membenarkan pertanyaanku.

"Dia datang untuk meminta kami bekerja sama dengan komite siswa eksternal atau semacamnya ..."

Hatsushiba terlihat bingung.

"Berbicara tentang komite eksternal, aku dengar bahwa si ketua OSIS sengaja menggunakan nama itu sebagai kedok untuk mengumpulkan orang, dan kabarnya dia hanya merekrut para siswi."

"Dari mana kau dapat info itu ..."

"Aku mendengarnya dari seseorang yang aku kenal. Aku bahkan tidak memeriksa kebenarannya, tapi aku jelas-jelas mendengar bahwa….. dia melahap setiap gadis manis yang ditemuinya. "

Melahap? HAHA, itu bagus.

Tapi ... memang benar aku merasakan sesuatu tentang ini.

"Aku menjadi Ketua OSIS karena ada misi yang harus kucapai." Kurang-lebih seperti itulah katanya kemaren.

Misi apakah itu? Mengumpulkan harem yuri?

"Tapi kurasa dia bukan orang jahat."

Ayame berbicara dengan tenang.

"Kenapa kau berpikiran begitu?"

"Jika dia ingin menghancurkan klub kita, maka dia sudah melakukannya sejak lama ... namun aku tak merasakan sedikit pun aura membunuh yang terpancar darinya."

"Aura membunuh? ... Jadi kamu bisa merasakan hal seperti itu?"

Kau pikir dia itu sapa? Seorang pembunuh dari sebuah game?

"Sulit menyembunyikan niat buruk, karena itu akan mempengaruhi caramu tersenyum ataupun berbicara. Lihatlah Suwama, terlihat jelas bahwa dia punya niatan buruk terhadap kita, tapi aku sama sekali tidak merasakan hal seperti itu pada Ketua OSIS. Namun, lain ceritanya kalau dia punya keahlian khusus menyembunyikan aura membunuh secara total, sehingga aku tidak bisa merasakannya."

Begitukah? ... mungkin, kesendiriannya selama ini membuat Ayame semakin peka.

"Meski begitu, niat baiknya itu mungkin malah membuat keadaan semakin buruk."

"Baiklah ... maksudmu, semakin dia coba membantu, maka itu justru akan semakin buruk?"

Ada pepatah yang mengatakan bahwa jalan menuju neraka justru terlihat begitu indah.

"Kita tidak boleh lengah, bahkan di hadapan orang yang terlihat baik."

Semuanya setuju dengan kata-kata Ayame.

Kita harus melindungi klub ini ...

Keesokan harinya, sikap semua orang pada Ayame sedikit berubah.

"P-pagi."

"Pagi, Ayame-san." "Oh, pagi." "Selamat pagi."

Semua orang membalas salamnya. Mungkin ini hanyalah perubahan yang kecil, tapi sangatlah signifikan.

Karena akhirnya semua orang terbuka padanya.

Meskipun semua orang sudah meminta maaf kepadanya, agaknya masih sulit menerima seorang bekas preman. Belum lagi, ada semacam trauma yang dialami orang-orang di kelas, sehingga mereka terkesan takut pada Ayame walaupun dia belum melakukan apapun.

Jika Ayame menahan diri untuk tidak melakukan tindak kekerasan, semua pikiran negatif tentang dirinya pasti akan memudar sedikit demi sedikit.

"Terima kasih, Aramiya. Semua ini karenamu."

"Jangan bercanda… kau lah yang mengusahakan semuanya."

"Tetap saja, aku harus berterima kasih padamu."

"Berterimakasihlah pada hal yang kuperkenalkan padamu."

Tentu saja yang kumaksud adalah eroge. Sepertinya Ayame juga memahaminya, karena dia memasang wajah kagum sekarang.

"Itu juga ..."

Dia berbicara pelan sembari tersenyum.

"Akhir-akhir ini kalian berdua tampak begitu akrab, apakah kalian pacaran?"

Aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku terhadap pertanyaan ini ... tapi, ketika aku hendak menolak pertanyaan itu….

"Itu tidak benar ~"

Seseorang mendahuluiku, dan itu adalah Eve.

Entah kenapa, Eve tersenyum gembira, seakan-akan dia terang-terangan ingin menghancurkan hubunganku dengan Ayame.

Tentu saja apa yang dia katakan adalah benar, tapi mengapa dia harus berbicara sekarang? Perlahan-lahan, keributan kelas sebelum Homeroom mulai mereda, dan semua orang menatap Eve, mereka menunggu kata-katanya selanjutnya darinya.

Eve menarikku, merangkulku, kemudian berkata…

"Karena Aramiya jatuh cinta padaku, kan?"

Pada saat itu juga, keributan meledak di dalam kelas.

Oy.

"Dia sudah jatuh cinta padaku semenjak SD."

Hentikan.

"Dia bahkan membalas surat cintaku."

Keributan seisi kelas semakin menjadi-jadi.

"..." "..." "..."

Aku begitu terpukul setelah mendengar itu, pikiranku kacau, bahkan aku tak lagi bisa mendengar kegaduhan di sekitarku.

Ya, dia benar. Dulu sewaktu SD, aku pernah menyukainya.

Mungkin dia sedikit kikuk, namun dia bisa membuat semua orang tersenyum.

"Benar ‘kan, Aramiya?"

Meskipun semua kegaduhan tak bisa kudengarkan, namun perkataan Eve menusuk tajam ke dalam telingaku.

Tidak.

Aku ingin mengatakan itu….

Tidak

Tidak

Tidak.

Aku ingin menjerit tapi mulutku tetap terbungkam.

Sejenak, aku melihat seringai penuh ejekan yang pernah ditunjukkan oleh teman-temanku dulu.

Wajah semua orang di ruangan ini tampak kabur dan terlihat seperti setan.

Jangan melihatku.

Diamlah.

Pergilah, kalian semua.

Tapi suara hatiku tidak bisa menembus bibirku yang terasa dingin es.

Hatiku berdegup kencang seperti genderang perang yang ditabuh dengan brutalnya. Aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Sama sekali tidak bisa.

Akan lebih baik jika aku pingsan saat ini. Tubuhku begitu mudah lumpuh karena rasa takut, benarkah mentalku serapuh ini?

Dengan percaya diri, kusuruh Ayame melakukan ini-itu, namun ketika luka lamaku terbuka kembali, aku bahkan tidak sanggup melakukan apapun.

Sial. Sialan kalian.

Aku tidak bisa berpikir, kakiku tidak mau bergerak, dan mulutku terjahit rapat.

Keringat dingin mulai menetes ke pipiku, seolah-olah ada yang menjilatinya, aku ingin menyekanya, namun tanganku tak bergerak se-inchi pun.

Tidak, itu karena Eve memegang lengan kananku.

Dunia serasa berguncang. Tubuhku pun berguncang.

Penglihatanku semakin kabur, dan semuanya jatuh ke bawah seakan-akan meleleh.

"Dan dia masih mencintaiku ..."

Eve membisikkan itu di sebelahku.

Tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya.

"..."

Ada seorang gadis yang berteriak marah pada Eve, tapi aku tidak tahu siapa dia, aku pun coba untuk melihatnya ... apakah itu Hatsushiba?

Seorang pria lain yang tidak bisa kukenali wajahnya sedang berbicara ... apakah itu kau, Tozaki?

Seharusnya bukan keduanya. Itu tidak mungkin.

Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

Tubuhku semakin dingin dan terasa berat. Aku kedinginan, gemetaran, aku hanya ingin pulang.

Kalau diingat-ingat lagi ...

Apakah ini rasa dingin yang pernah kurasakan saat itu? Rasa dingin yang menyiksa itu?

Penglihatanku mulai gelap. Sangat gelap.

Seseorang tolong, lepaskan aku dari kegelapan ini!

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa."

Tanganku terasa hangat.

Perlahan-lahan, aku merasakan kehangatan pada tangan kiriku yang tadinya mati rasa. Rasa hangat itu menyebar ke seluruh tubuhku. Pandanganku mulai terang, dan kesadaranku mulai kembali sedikit demi sedikit.

"Apa sih yang sedang kau bicarakan!? Kamu sama sekali tidak seperti tipenya Aramiya! Dan…"

"Memang benar aku bukan gadis idamannya, tapi sepertinya kau salah paham atas suatu hal..."

Kudengar Hatsushiba dan Tosaki berteriak marah pada Eve yang masih berdiri di sampingku, seakan-akan dia tidak melakukan kesalahan apapun.

"…Hah?"

Aku merasakan darah mengalir deras ke kepalaku, dan perlahan-lahan membersihkan pikiranku yang kacau.

"Apakah kau baik-baik saja, Aramiya?"

Dia datang… Ayame memegang tangan kiriku dari belakang, rupanya dia berusaha menopang tubuhku agar tidak jatuh.

Kehangatannya menarikku keluar dari kegelapan.

Aku harus tenang.

Sekarang aku bisa berpikir jernih lagi, dan aku tidak perlu takut.

Chuuko Vol 2 p-251.jpg

Aku hanya tertipu oleh bayang-bayang masa lalu.

Aku tidak berada dalam keadaan kelas waktu itu, semuanya sudah berubah, teman-temanku pun bukan lagi orang-orang dari masa lalu. Namun, tak peduli seberapa banyak Hatsushiba dan Tozaki membelaku, itu percuma saja.

Karena aku sendirilah yang harus mengatakannya.

Aku harus beranjak dari trauma itu!

"BUKAN SEPERTI ITUUUUU!"

Aku mengabaikan pertikaian antara Eve dan Hatsushiba.

Aku hanya perlu mengatakan apa yang kuinginkan.

"Aku hanya tertipu olehnya!"

Mulutku berhasil bergerak dan aku berhenti gemetar.

Kehangatan ini memberikan aku keberanian.

"Eh? Tertipu?”

Eve memiringkan kepalanya. Kenapa sih kau terlihat begitu bingung, hahh?

"Ceritanya panjang, tapi aku sempat bepikiran untuk berhenti sekolah, bahkan sampai bunuh diri! Tapi sekarang aku berbeda, aku sudah memilih jalan yang berbeda darimu, Eve. Aku tidak bilang bahwa jalan yang sekarang kupilih adalah jalan terbaik, tapi aku mendapatkan orang-orang yang menyayangiku, dan itulah yang membuatku bisa beranjak dari masa lalu yang kelam! Inilah yang membuatku berani berkata bahwa kau adalah orang yang PAAAAAAAAALIING KUBENCI di seluruh dunia! Waktu itu, kau buat aku menunggu di suatu taman yang gak jelas dimana tempatnya! Kau tahu, aku bahkan hampir mati membeku di sana!”

Seakan-akan pita suaraku putus ketika kuteriakkan kata-kata itu dengan segenap udara di paru-paruku.

Eve terdiam dengan mulut ternganga. Yahh, seluruh kelas juga sama.

Tapi aku merasa segar kembali.

Aku melepaskan diri dari rantai yang membelenggu tubuhku.

Dan aku sangat puas bisa melakukannya.

Seisi kelas terdiam. Yah, tentu saja begitu karena aku berteriak sekeras-kerasnya.

"Terima kasih, Ayame."

Aku berbicara padanya seolah berbisik, lantas kulepaskan tangannya, dan aku berjalan menuju pintu.

"Berteriak-teriak seperti ini membuatku haus, aku akan pergi membeli sesuatu untuk diminum. Kalian urus sisanya, aku sudah mengatakan apa yang perlu kuungkapkan.”

Aku meninggalkan teman-teman sekelasku yang masih kebingungan, lantas aku berjalan ke mesin penjual otomatis. Karena hari masih pagi, bahkan Homeroom pun belum berlangsung, koridor sekolah terlihat kosong, hanya terdengar suara-suara pelan dari kegaduhan kelas lain.

"T-tunggu, Seichi!"

Eve dengan panik mengejarku saat aku menuruni tangga, wajahnya lebih tampak seperti kebingungan daripada marah. Aku membalas dengan tatapan penuh amarah pada Eve yang melihatku dari lantai atas.

"Tak ada lagi yang perlu kukatakan padamu, Eve."

"T-tunggu! Apakah yang kuperbuat waktu itu menyebabkan dirimu hanya menaruh perhatian padaku!?”

"Hah!? Apa sih yang kau katakan!? Apa kau sudah gila!? Sejak saat itu, aku bahkan tidak pernah bersimpati lagi pada gadis 3D!”

"Jangan mendekatiku lagi, pelacur!"

"..."

Eve menundukkan kepalanya, dan bahunya gemetaran. Dia mencoba mengatakan sesuatu, tapi tak sepatah pun kata keluar dari mulutnya.

"Jangan pernah berani menggangguku lagi, pelacur!"

Aramiya, yang sedang berjalan ke mesin penjual otomatis terus membentak Eve yang mengikutinya, tapi tak lama berselang, dia pun berhenti. Eve tetap tidak bergerak selama beberapa saat, kemudian perlahan-lahan dia kembali tanpa menyadari kehadiran Ayame di dekatnya.

"Terima kasih, Ayame."

Bisikan Aramiya pada Ayame kembali terngiang dalam pikirannya, tapi Eve tidak bisa mengerti mengapa dia berterima kasih padanya, yang Ayame lakukan hanya memegang tangannya. Eve tak mengerti betapa pentingnya tindakan itu bagi Aramiya. Dan Ayame pun terlihat begitu bahagia ketika Aramiya berterimakasih padanya.

Tapi-

Mungkin Ayame merasakan suatu hal yang jauh lebih berharga daripada hanya sekedar kegembiraan.

"Aku ... aku hanya tertarik pada gadis 2D ..."

Jawaban Aramiya ketika ditembak seakan-akan menyatakan bahwa dia sudah memutuskan semua hubungan dengan dunia nyata.

Bahkan Ayame tidak pernah dianggapnya sebagai gadis yang layak dicintai.

Ayame bahkan tidak tahu apakah dia dianggap manusia oleh Aramiya, namun ketika pria itu menolak Eve berusan ... harusnya, dia akan mengatakan sesuatu seperti "Aku bahkan tidak menganggapmu sebagai wanita."

Atau…

"Meskipun kau terlihat seperti gadis idealku, aku tidak tertarik padamu."

Atau semacamnya.

Ini bukan masalah seberapa anggun atau cantik penampilan seorang gadis, dia menyatakan itu hanya karena menganggap bahwa gadis 3D tak pernah ada.

Tapi dia bilang-

"… paling kubenci diseluruh dunia!"

Kedengarannya seperti penolakan normal, tapi apa mungkin ...

Apa mungkin itu berarti dia masih membuka peluang untuk mencintai gadis 3D?

Ayame tak bisa berhenti memikirkannya.

Dia terus memikirkan bahwa, mungkinkah masih ada secercah harapan baginya?

Tentu saja, Aramiya mungkin tidak ingat apa yang telah dia katakan sebelumnya, bahkan akan mengatakan sebaliknya.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi ... apakah memang benar Aramiya masih membuka hati untuk gadis sungguhan. Ketika memikirkan itu, Ayame cemberut sembari menggembungkan pipinya.



"Apa ada yang salah, Kotton? Kau tampak bahagia."

Ketika mereka berdua kembali ke ruangan, Hatsushiba bertanya pada Ayame.

"Tidak, bukan apa-apa."

Ini adalah rahasianya sendiri, dan dia menyimpannya di dalam hatinya dengan aman.

Sejak saat itu, teman-teman sekelas (terutama cowok) begitu baik padaku, sampai-sampai aku menggigil dibuatnya.

Seperti pada jam pelajaran ke 4, yaitu Pendidikan Jasmani.

"Para gadis sungguh menakutkan, mereka selalu memakai topeng untuk menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya."

"Sangat sulit membedakan apa yang mereka nyatakan, dan apa yang tersimpan di dalam hati.."

"Terkadang mereka menanyakan hal-hal seperti: 'Aduh gimana nih, ponselku rusak!', setelah kita memberikan solusi, terkadang mereka hanya membalas: 'Huh, aku tidak peduli!', atau semacamnya."

Mikamoto dan Matoba berbicara dengan nada pahit. Sepertinya mereka punya pengalaman buruk sebelumnya.

Tapi mereka adalah orang-orang yang cukup bersimpati padaku, jadi aku pun bersyukur atas bantuannya.

Terkadang, anak-anak SD dan SMA terlihat sama dalam beberapa hal.

Saat itu, ada kelompok gadis yang mengikuti Eve dimanapun dia berada.

"Sudah waktunya sekarang! Letakkan itu kembali pada tempatnya, oke?”

Saat bel berbunyi, teman-teman langsung meninggalkan kelas bagaikan korban evakuasi bencana alam.

Aku lah yang terakhir kali menyentuh bola, jadi aku harus mengembalikannya kegudang. Menurutku, ini adalah suatu kesepakatan yang lebih mirip hukuman.

Mereka cukup bersimpati padaku sekarang, tapi kesepakatan adalah kesepakatan, dan semuanya harus menyetujuinya tanpa terkecuali.

"Ah biarlah… kalau aku mendapat pengecualian dari kesepakatan ini, malah terasa aneh."

Aku mengembalikan bola ke gudang, sebelum akhirnya menuju pintu keluar gedung olahraga.

Jika aku tidak cepat kembali, maka aku akan terlambat makan siang. Lagipula, aku juga punya janji makan siang bersama di kelas.

Ketika aku menaiki tangga, aku melihat seorang gadis duduk di balkon antara lantai 1 dan 2. Dia adalah Nishihara, yang juga sekelas denganku, dia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Mungkin dia sedang dalam perjalanan kembali ke kelas, karena dia masih mengenakan baju olahraga.

Yah, aku lagi tak punya urusan dengannya, maka aku pun melewatinya begitu saja ..., namun…

“A-Aramiya-kun. D-Dapatkah aku berbicara denganmu sebentar?”

Tidak biasanya dia menyapaku. Kurasa kami tidak begitu dekat.

Seperti biasa, dia pasang wajah tegang, bahkan dengan make up yang begitu tebal. Tapi dia masih sama.

“Ada apa?”

“U-um, s-sensei mengatakan bahwa para cowok harus merapihkan barang-barang olahraga di gudang.”

"Eh? Aku sudah melakukannya barusan.”

Kenyataannya, aku hanya mengembalikan bola ke tempatnya sih.

“B-Benarkah? T-Tapi, s-sensei b-baru saja m-menyuruhmu untuk membenahi keranjang bola ...”

Mungkin keranjang penyimpan bola sudah gak muat lagi.

“Tapi kupikir ... keranjanganya masih baik-baik saja tuh?”

“A-aku tidak tahu ... s-sensei hanya m-mengatakan itu p-padaku ...”

Kalau sensei memang berkata begitu, maka apa boleh buat, aku pun harus kembali ke gedung olahraga.

Toh aku juga perlu membangun reputasi sebagai siswa yang baik di mata guru, jadi kurasa ini bukan masalah.

“Oke, kalau begitu, bisakah kau beritahu Ayame dan yang lainnya bahwa aku akan terlambat makan siang?”

“U-um, o-oke. A-Aku a-akan memberitahu mereka.”

Aku mengganti sandalku dengan sepatu olahraga sebelum kembali ke gudang itu.

Tentu saja, tidak ada seorang pun siswa di sana ketika jam makan siang.

Aku membuka kenob pintu gudang, sebelum memasukinya.

Bola-bola ada di ... sana.

"Eh? Perasaan gak ada masalah deh….”

“Seii-chi, ma’afkan akuuuuuuuuu ~”

Saat aku merasakan ada seseorang di belakang, aku mendengar suara keras 'Brak', kemudian pandanganku menjadi gelap, dan kepalaku kosong.

Aku merasa seperti dipukul, atau mungkin ditusuk dari belakang. Tapi yang pasti, aku merasa sakit.

Aku tidak bisa mengumpulkan kekuatanku untuk bangkit.

Aku masih sadar, namun tidak memiliki kekuatan sama sekali.

Dan aku terjatuh di lantai.

Ketika aku terkapar, aku melihat ... Eve.

Dia memegang sesuatu yang terlihat seperti tongkat, disertai bunga api listrik yang menyala-nyala di ujungnya, bagaikan alat eksperimen ilmiah. Apakah itu Taser? [1]

“Nishihara, tolong ya ~.”

Dan pintu di belakangnya pun tertutup dengan suara *klik.

Aku tidak bisa bergerak.

Aku tidak bisa berbicara.

Ini mirip seperti yang kualami tadi pagi, namun kali ini benar-benar secara fisik.

“Yahh, Seii-chi. Tahan ya ~”

Dia menarik keluar lakban dari suatu tempat, kemudian merentangkannya.

“Hmm, gimana ya caranya… apakah begini???”

Dia mulai membalutkan lakban pada tubuhku yang bahkan tak bisa menggerakkan seujung jari sekalipun. Dia mengikatkan lakban berkali-kali pada tubuh dan pergelangan kakiku. Jadi, semisal kekuatanku kembali, aku hanya bisa menggeliat bagaikan ulat!?

“A-Apa yang kau…"

Aku coba sebisa mungkin untuk menyuarakan perlawanan.

Aku pun yakin bahwa gadis ini terlalu idiot untuk merencanakan suatu kejahatan.

Hufff*

Dia mendesah setelah selesai mengikat tubuhku dengan lakban, kemudian dia membaringkan tubuhku di atas matras.

Dia menatapku, sebelum akhirnya berkata:

“Ketika aku pindah ke sekolah ini, dan melihatmu… kupikir takdir lah yang mempertemukan kita.”

Aku tidak tahu apa yang dia katakan, tapi dia tampak sangat serius. Baru kali ini aku lihat dia seserius ini.

Disertai keringat yang bercucuran dari dahinya, dia mengatakan itu dengan panik. Kali ini dia tidak terlihat main-main.

"Kemudian…"

Kemudian dia menunggangiku.

A-Apa yang akan dilakukannya..

“Tapi Ayame-chii selalu berada di sisimu. Jadi, kupikir ... jika aku ingin berada di sampingmu, maka aku harus memisahkanmu dengannya ...”

“K ... Kenapa begitu?”

“Aku adalah seorang gadis yang menyukaimu sejak SD. Ketika kau mengambil surat cintaku ... aku merasa senang.”

“A-Apa ... yang kau ... bicarakan ...”

Bukankah itu hanyalah surat palsu untuk menipuku?

Bukankah itu hanyalah surat palsu untuk mempermainkanku?

Bukankah itu hanyalah surat palsu untuk mengerjaiku?

“Mengapa tadi pagi kau membentakku seperti itu!? Bukankah kita sudah sehati!?”

Aku tidak tahu lagi. Apakah aku berbicara dengan alien atau semacamnya?

Aku benar-benar tidak paham apa yang dia bicarakan.

Sudah sehati? Sedetik pun aku tidak pernah merasakan itu. Kupikir ini hanyalah cinta sepihak.

Kupikir dia dulu hanya bermain-main dengan perasaanku ...

“Aku ... pernah mengirimkan surat itu padamu, kan!? Kemudian kau pergi ke tempat yang sudah dijanjikan, kan!? Itu berarti mantranya sudah sempurna!”

“M-mantra?”

"Ya! Ago-chi mengatakan bahwa, jika kau memberikan surat cinta pada seseorang, kemudian berjanji akan ketemuan di suatu tempat, dan ternyata dia menurutinya, maka kalian sudah sehati. Dia juga yang menuliskan surat cinta itu untukku ...”

Ago-chi

Sudah lama aku tidak mendengar nama itu.

Itu adalah nama panggilan seseorang dari kelompoknya. Aku tak tahu dimanakah dia berada sekarang, tapi yang jelas dia adalah tipe wanita ‘lacur’ sama seperti Eve. Dan aku tak akan pernah melupakan kata-katanya itu.

“Bukankah kau hanya meniru ini semua dari suatu drama TV?”

“Kan sudah kubilang, dia lah yang menyuruhku melakukan semuanya, dan aku hanya menurutinya! Dia pun yang bilang bahwa inilah manta yang mengikat hubungan kita.”

“... Maksudmu, jika kau menulis surat untuk kekasihmu, kemudian dia menurutinya… yang itu, kan?"

"Ya!"

Mana ada mantra seperti itu! Kalau pun ada, bukankah itu merupakan suatu cinta yang dipaksakan!? Tapi… kalau kau berkata begitu…..

Berarti…. Eve juga ditipu olehnya?

Informasi yang kudapat sejak awal hanyalah suatu kebohongan?

Tentang: “Cobalah seperti yang kau tonton di TV.”

Tapi kesimpulannya, bukankah ini berarti dia melakukannya karena percaya pada perkataan orang lain?

Kalau begitu, akar semua permasalahan ini adalah ...

“Ago-chi mengatakan ini padaku: 'jika kau begitu mencintai Seii-chi, aku punya ide untukmu!'”

“Yang dimaksud ide ... adalah surat cinta itu?”

"Ya! ... Lalu aku melihatmu pergi ke tempat itu ... kau menanggapi surat cintaku ... jadi kupikir kau menanggapi perasaanku!"

“Setelah itu aku kedinginan ... dan juga mengalami pneumonia ...” [2]

“Ago-chi mengatakan bahwa itu adalah suatu hal yang bagus!”

“Tapi sejak saat itu ... bukankah aku tak pernah dekat lagi denganmu...?”

“Ago-chi mengatakan bahwa aku harus menunggu setahun. Selama itu, dia menyarankan agar aku tak banyak mengganggumu.”

“Setahun ... bukankah itu berarti kita sudah lulus ...?”

Ago-chi, Ago-chi, Ago-chi, dan terus saja Ago-chi ... kau sudah mentah-mentah ditipu olehnya!

... Tunggu, bukankah itu berarti?

Eve masih menganggapku sebagai kekasihnya sejak SD!?

Jadi, ketika dia datang ke sekolahan ini dan melihatku, dia berusaha mendapatkan diriku lagi, sampai-sampai menyebabkan semua masalah ini!?

“... dan dengan pemikiran seperti itu ...”

“Ago-chi mengatakan padaku untuk berdandan seperti ini. Dan aku sudah melakukannya sejak SMP! Begitu pun dengan mak-up ini! Sebenarnya aku tak pernah ingin berdandan seperti ini! Tapi, ketika Seii-chi tidak menyukai make-up ku, aku ...”

Jadi, kesimpulannya ...

Dia jauh lebih bodoh daripada yang kuduga sebelumnya.

Jadi kau sudah tertipu mulai sejak SD sampai sekarang ini!?

Kok bisa kau sebodoh itu?

Selama ini, aku menyimpan dendam pada orang yang salah ...

Dan ketika jadi seperti ini, maka apa yang harus kulakukan!?

“Aku ... sejak Ago-chi bersekolah di tempat lain ... Aku tidak punya teman ... Orang-orang juga mengataiku aneh ... Kemudian, aku pun tertekan dan memutuskan untuk pindah ke lingkungan yang baru. Itulah sebabnya aku ditransfer ke sekolahan ini, kemudian aku pun bertemu kembali denganmu, Seii-chi. Jadi, kupikir ini adalah suatu keajaiban. Tapi, ketika kusadari Seii-chi sudah punya gadis lain ...”

“Aku tidak pernah berpacaran dengan ... Ayame…. tapi ...”

Dan aku pun bukan bonekamu.

"Lupakan saja itu semua. Cepat lupakan aku ... Yang kau lakukan ini hanya berakhir dengan skorsing, tau?”

“Aku hanya bisa melakukan ini, agar semua orang di kelas dapat menerimaku!”

Dengarkan aku bicara, bangsat.

Tapi kurasa, dia masih termakan kata-kata Ago-chi. Dan setelah berpisah dengannya, tak ada seorang pun yang mau berteman ataupun mempercayai Eve?

Dan aku akhirnya menyadari alasan atau sesuatu yang membuat dia bicara seperti itu.

“Meskipun aku sendirian, aku masih ingin dicintai. Aku ingin membuat semua orang di kelas iri padaku, dan juga Seii-chi!”

Dia masih menunggangi tubuhku yang terikat dalam posisi telentang, kemudian dia mundur sedikit pada lututku. Kepalaku terasa mendidih.

GLEK*

Dia menelan ludah sebelum menempatkan tangannya pada celana olahragaku.

“H-Hei! T-Tunggu! A-Apa yang akan kau lakukan, bego!!”

Aku tidak bisa bergerak. Tubuhku masih lumpuh karena sengatan Taser tadi, terlebih lagi dia mengikatku berkali-kali dengan lakban itu, aku bahkan tidak bisa meronta-ronta.

Dengan wajah bagaikan orang kesurupan, dia mulai membuka celanaku.

“A-Apa sih yang ingin kau lakukan!?”

"Seks."

“A-APPAAAAAAAA!?”

Seakan-akan, ada bola api yang melaju dengan kecepatan 170 km / jam menghantam tepat ke wajahku.

“Aku akan menjadi satu dengan Seii-chi, sehingga kau harus tanggung jawab karena telah menodaiku! Dan aku pun bisa melangkah ke level selanjutnya, yaitu 'berpengalaman'!"

“A-Apakah kau ... m-masih perawan !?”

"Tidak! Aku sudah tidak perawan!”

“Apa ... ???”

Lalu apa yang kau maksud dengan ’berpengalaman’, bukankah itu artinya kau memang sudah pernah melakukannya?

“Aku sudah bertanya pada Ago-chi. 'Perawan' berarti wanita yang belum menikah, kan? Tapi aku sudah resmi terikat dengan Seii-chi! Melalui surat cinta itu!”

“ 'Perawan' memang memiliki makna seperti itu juga, tapi ...”

Sebenarnya maknanya jauh lebih luas daripada itu ...

Tidak, ini tidak benar. Surat cinta itu bukanlah surat lamaran. Apakah ini merupakan pernikahan yang dipaksakan?

“J-Jadi, itulah yang membuatmu berpikir bahwa kau sudah tidak lagi perawan?”

"Ya! Aku sudah tidak lagi perawan!”

Hanya dengan alasan itu dia pamer bahwa keperawanannya sudah hilang? [3]

“Aku akan memberikan keperawanan ini hanya untukmu seorang, Seii-chi. Sekarang aku merasakan sesuatu yang membuatku bergairah!”

“Kau hanya membuat orang lain bingung ... Yah ... kau tahu…. Perawan berarti seorang wanita yang belum pernah negsex sebelumnya ...”

Ketika aku mengatakan itu, dia menanggapinya dengan pasang wajah bingung.

“Ago-chi berbohong padamu ...”

“T-Tidak mungkin ...”

“Itu benar ... jadi ...”

Tangan yang sudah dia siapkan untuk melepas celanaku mulai gemetaran. Lepaskan aku sekarang juga, bego…

“Jadi, jika aku ngesex dengan Seii-chi, keperawananku akan hilang! Ketika aku sudah tidak perawan, maka teman-teman sekelas tidak akan mengejekku lagi! Ini seperti menangkap dua ekor ikan dalam sekali pancing!”

Yang benar, membunuh dua ekor burung sekali tembak, idiot!

Ini gawat, aku tidak bisa memprediksi apa yang akan dia lakukan!

Tidak, d-dia sungguh serius! Sangat-sangat serius!

“T-Tenanglah ...g-gadis seumuranmu terlalu dini untuk kehilangan keperawanannya!”

Aku tidak bisa mengucapkannya dengan benar, begitu sulit mengucapkan kalimat dengan lengkap.

Meskipun aku bisa berbicara normal, tampaknya orang ini tak lagi mendengarkanku, dia pun terus menjamah celanaku.

“Apa yang kau katakan, Seii-chi? Siswi kelas 2 SMA di Jepang sudah 92% kehilangan keperawanannya, lho [4]! Menyerah sajalah!”

Dia menarik celanaku ke bawah, sehingga celana dalamku kelihatan.

Uwaaaa! Sangat memalukan! Oh ini gawat!

Hei. Tunggu dulu. Apakah aku benar-benar akan kehilangan keperjakaanku!?

“S-Stop!”

Ini tidak lucu! Andaikan saja ini terjadi dalam dunia 2D, mungkin aku akan merasakan surga dunia. Tapi, aku sama sekali tidak pernah berharap ngesex sama seorang gadis yang tak kusuka di dalam gudang olahraga sekolahan! Sial!

"Tidak!"

Setelah jam olahraga berakhir, aku masih belum kembali ke kelas, jadi ponselku masih di sana!

Tidak ada pilihan bagiku untuk menghubungi Kiriko-nee.

Lagipula, aku sudah menyampaikan pesan bahwa aku akan terlambat makan siang!

Sementara aku sedang memikirkan itu semua, dia terus melucuti celanaku.

“K-Kalau aku mencopot sempak ini, maka ...”

Lagi-lagi dia menelan ludahnya karena tegang.

Wajahnya yang kekuningan berubah menjadi merah merona, mungkin karena dia terangsang.

Dia memang tampak seperti seorang gadis erotis, tapi sebenarnya dia sangat malu melakukan ini. Aku harap dia menghentikan ini sekarang juga, tapi jika dilihat dari sorot matanya, dia benar-benar akan memperkosa diriku, mungkin aku perlu membuatnya semakin panik.

“Berhenti, idiot ... Ini gawat ... Hukum pasal 117 mengatakan ...”

Aku coba menakut-nakutinya dengan pasal pelecehan seksual. Oh tidak! Bukankah pasal itu hanya berlaku bagi laki-laki yang memperkosa perempuan!?? Bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya!!? Apakah pasal itu masih berlaku??

Dalam situasi sebaliknya, hukum tidak dapat digunakan untuk melawannya! Mengapa dunia ini begitu tidak adil!

“Menyerahlah, Seii-chi! Ini akan terasa begitu nyaman! Cuma sakit sebentar kok.”

“Aku tidak tahu itu...”

“Bagaimanapun juga, kau tertarik pada wanita telanjang, ‘kan!? Jika kau menyerah, kau boleh melakukan apapun pada dadaku, pahaku, atau bahkan anuku!”

"Haa? Kalau ngesex sama pelacur sepertimu ... aku tidak akan merasakan apapun! Dasar begooooooo!!”

“Kau boleh berkata begitu, tapi menaramu tidak bisa dibohongi!? Lihatlah, dia berdiri begitu tegak!!”

Sempakku menyembul ke atas bagaikan tenda.

Tubuhku tidak bisa bergerak, tapi ituku masih saja berdiri tegak, dan aku tak bisa mengendalikannya. Wahai menaraku, mengapa kau doyan cewek lacur seperti dirinya! Dasar pengkhianat bajingan!

Tubuhku lumpuh, tapi mengapa bagian itu begitu aktif!?

“I-Itu hanya refleks syaraf ... n-naluriku tidak bisa kubendung ... ya, ampun… mengapa hanya ituku yang bisa bergerak...??”

Ya. Dalam hukum pelecehan seksual, seorang pria terdefinisi sebagai terdakwa ketika itunya masuk ke anunya wanita. Tapi jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka selama menaranya tidak berdiri tegak, maka si wanita tidak bisa memaksanya masuk ke anunya, tak peduli seberapa keras dia mencoba! Oh menaraku, mengapa kau justru mengkhianatiku di saat-saat krusial seperti ini!

Artinya, meskipun wanita memaksa untuk melakukannya, jika si pria tidak nafsu, maka hubungan sex tidak akan terjadi, kan? Jika menaranya berdiri tegak, maka artinya dia sudah bersedia melakukannya, kan? Kalau sudah sama-sama setuju, maka selamat tinggal keperjakaanku.

Hei, ini tidak adil! Ini aneh!

“Percayalah, biarkan aku menanganinya! Aku sudah menonton film semi untuk berlatih!”

“Berhenti kataku! Dalam kehidupan nyata, seorang pria dan gadis perawan tidak akan bisa melakukannya dengan benar!”

Dalam kehidupan nyata, mereka tidak akan bisa melakukan sex seahli karakter dalam eroge, hentai, atau sejenisnya!

“Aku tidak tahu tentang itu!”

Aku bisa merasakan tangannya gemetaran saat meraih celanaku.

Jika dia berhasil menarik turun sempakku, maka habislah semuanya.

Semuanya.

Meskipun hanya mulutku yang bisa bergerak, aku harus mengatakan sesuatu yang bisa membuat dia batal melakukan tindakan asusila ini!

"Tunggu."

"Tidak!"

“Tunggu sebentar kataku ... Kau sudah salah sejak awal ...”

"Apanya yang salah!?"

“Tentang 92% gadis kelas 2 SMA sudah tidak perawan. Itu tidak benar ... Itu hanyalah rumor yang beredar di internet.”

Dia mendengarkan ucapanku, dan menghentikan gerakan tangannya.

Mungkin ini adalah sesuatu yang sulit dipercaya olehnya.

“Itu hanyalah info dari gambar meme ... prosentasenya tidaklah sebanyak itu.”

“B-Benarkah?”

Dia termakan umpanku! Tapi aku serius, seharusnya prosentasenya tidak sebanyak itu!

“Asosiasi Pendidikan Sex Jepang telah mensurvei anak-anak SMA, dan menemukan bahwa hanya 15% laki-laki dan 24% perempuan yang telah memiliki pengalaman ngesex. Ago-chi hanya berbohong kepadamu, internet juga telah berbohong kepadamu."

Sebenarnya, aku bahkan tidak tahu apakah angka-angka ini benar.

Tapi, angka 92 % itu terlalu konyol untuk jadi kenyataan. Apakah keadaan mental mereka sudah rusak? Jika angka itu benar, maka masalah tentang rendahnya populasi penduduk Jepang sudah terpecahkan sejak sekian lama.

Dia perlahan-lahan menundukkan kepalanya dengan lemas.

“T-Tapi ... J-J-Jika tidak melakukan ini ... a-aku tidak akan diakui oleh siapapun ...”

Dia mengatakannya dengan nada sedih. Yah, berhentilah bicara begitu, dan lepaskan cengkramanmu pada celanaku terlebih dahulu.

Jadi, dia hanya ingin diakui.

Untuk mewujudkan itu, dia berusaha cari sensasi agar teman-teman sekelas memperhatikannya.

Hanya itu.

Kalau hanya itu masalahnya, maka aku punya cara untuk memberikan keyakinan padanya! Dan akhirnya, aku bisa berbicara dengan benar!

“Kau pasti akan diakui oleh mereka. Selama ini Ago-chi hanya membohongimu dengan kata-katanya. Tapi mulai sekarang, kau sudah mendapatkan orang-orang yang bersedia menerimamu.”

“Menerimaku?”

“Aku merasakan tanganmu yang gemetaran. Itu artinya, kau sendiri juga tidak rela melakukan ini semua. Lebih baik kau menjadi dirimu sendiri daripada berusaha mati-matian mencari popularitas. Aku lebih suka pribadimu yang dulu.”

Sewaktu SD, senyumnya benar-benar manis.

Senyuman itulah yang pernah membuatku jatuh hati padanya.

Oleh karena itu, aku pun menyimpulkan bahwa dia bisa terkenal dengan caranya sendiri, karena sebenernya cewek ini sudah punya modal berharga, yaitu senyumnya yang manis. Sejak insiden surat cinta, kupikir dia sudah beberapa kali pacaran dengan lelaki di grupnya ...

“S-Seii-chi ...”

Pipinya merona bagaikan terkena demam.

Warna merah ini bukanlah disebabkan nafsu yang barusan dia tunjukkan, melainkan disebabkan oleh suatu hal lain.

“A-Apakah aku benar-benar bisa…. m-menemukan orang yang mau menerimaku apa adanya?”

“Jika kau berjanji tidak melakukan hal-hal yang gila seperti ini ... itu hanya masalah waktu.”

“Kalau begitu, mau kah kau menjadi pacarku?”

“Tidak, aku tidak bisa mencintaimu lagi.”

Aku bisa membantumu mendapatkan teman, tapi jangan pacaran denganku, oke!

Aku suka gadis 2D perawan, oleh karena itu, aku sangat membenci pelacur 3D! Meskipun mereka perawan, lebih baik aku mati!

“Urk ...”

Kemudian, wajahnya berubah seperti hendak menangis.

“Kalau Sei-chi tidak mencintaiku ... maka aku tidak menginginkannya! Akan kubuat ini semakin besar dan tegak!”

“Hei, STOP! Aku masih ingin mempertahankan keperjakaanku!”

Melorot dah! Sempakku!

Pertahanan terakhirku!

“Aramiya! Apa kamu baik baik saja!?"

Pada saat itu, ada seseorang menggedor-gedor pintu dengan sangat keras.

“A-Ayame!?”

“Tozaki memberitahuku bahwa kau pergi ke gudang olahraga! Tapi Eve juga tidak ada di kelas! Perasaanku mulai gak enak, maka aku pun segera menuju ke sini!”

“D-Dapatkan kuncinya!”

Saat itu, Eve tertawa histeris.

“Heehehehehe! Semua kunci ada padaku! Satu-satunya yang tersisa dibawa oleh Nishihara!”

Dia mengeluarkan sekumpulan kunci dari sakunya.

Rencana yang hebat! Jadi dia masih bisa menggunakan otaknya untuk rencana busuk macam ini, ya!?

Tidak ada cara untuk masuk. Ayame tidak bisa mendobrak pintu itu sendirian. Di ruangan ini hanya terdapat jendela kecil untuk sirkulasi udara.

Jika dia berlari untuk minta bantuan, maka keperjakaanku akan hilang begitu dia kembali dengan bala bantuan!

“Ayamech-chi! Seii-chi adalah milikku! Aku akan mengambil keperjakaannya!”

"Tidak! Keperjakaannya adalah milikku!”

Ya Tuhan.

Betapa menyedihkan topik pembicaraan mereka.

Atau, apakah aku sedang berada di dunia eroge hentai 2D?

Dua orang gadis memperebutkan keperjakaanku, dialog macam apa ini!!? Ini adalah dialog eroge paling ampas yang pernah dimainkan! Andaikan saja ada penulis dialog seperti itu di dunia nyata, maka keluar lah sekarang juga, dan bertanggung jawablah padaku!

"Sial!"

Suara gedoran pintu itu semakin pelan.

Mungkin dia sudah menyerah untuk mendobrak masuk.

“Kau duduk manis saja di sana! Dan dengarkan desahan Seichi bersamaku!”

"TIDAAAAKK!! TIDAK ADA YANG BOLEH MENDESAH DI HADAPANKU!”

GAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!

Aku ingin menjaga keperjakaanku ini untuk gadis 2D idamanku!

Aku ingin terus menjaganya sampai seluruh umat manusia menjadi 2D!

Kau mau bilang aku sungguh pengecut bagaikan tentara yang tak berani maju di medan perang? Silahkan saja!! Meskipun begitu, gadis 2D tetaplah yang terbaik! Sungguh terbaik!

Tapi dalam situasi ini, aku mendapat masalah besar! Tidak ada cara untuk melawan, sempakku pun hampir lepas!

“Menyerah saja, dan bersantailah! Rasanya sungguh nyaman kok!”

“Jangan bicara seolah-olah kau pernah merasakannya!”

Yang benar saja!

Aku harus menyerahkan keperjakaanku pada si lacur ini!?

Oh… wahai dewa di atas sana yang mengatur segala nafsu, kumohon lemaskanlah menaraku sekarang juga!

Aku mencoba membayangkan pria telanjang, tapi entah mengapa justru Saitani yang muncul, sehingga nafsuku tak kunjung padam.

Aku pun coba membayangkannya lebih kecil, tapi tak berguna.

“Daripada keperjakaanku direnggut ... lebih baik mati.”

Aku sempat berpikir bunuh diri dengan menggigit lidahku. Ya, lebih baik begitu.

Daripada menyerahkan keperjakaanku pada pelacur 3D, lebih baik aku mati.

“Tunggu aku, Aramiya!”

Lalu aku mendengar suara *klik* dari pintu.

Eve pasti juga mendengarnya, maka dia pun menoleh ke pintu.

Tidak lama berselang, pintu yang terkunci pun terbuka.

“EH !? APA-APA’AN INI!?"

Dia kaget sampai matanya terbelalak. Dan ketika pintunya terbuka…..

“Ah, sudah kuduga, ini kunci pintu murahan….”

…. di sana berdirilah Ayame bagaikan sesosok raksasa yang tinggi.

Sepertinya aku melihat ilusi optik, bahwa Ayame diselimuti oleh aura hitam kelam.

Dia memegang pin yang pernah kuberikan padanya sebagai hadiah.

Dia menggunakan pin itu untuk membuka kunci, seperti yang pernah dia lakukan pada kasus loker kemaren.

Dia menggenggamnya dengan hati-hati, sebelum akhirnya dia simpan kembali pin itu pada sakunya.

“Oi ... kau berurusan dengan orang yang salah.”

Lalu ia melangkah masuk ke dalam gudang.

Eve coba bangkit dari tubuhku untuk melarikan diri.

Namun dalam gudang sempit ini, tidak ada tempat untuk lari.

Tak lama berselang, dia pun tersudut, sampai-sampai punggungnya membentur rak.

Ayame perlahan-lahan mendekati Eve bagaikan iblis yang menemukan mangsanya.

“A-Ada apa!? Kenapa kau menggangguku!? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah!? Aku hanya berusaha bersatu kembali dengan pacar kesayanganku!”

Eve mencoba menghentikan Ayame dengan kata-katanya, tapi itu tidak berpengaruh sama sekali.

Dia melihat Eve dengan tatapan penuh nafsu membunuh.

“EEEKKK!”

Ketika dia melihat Ayame seserius ini, dia pun jatuh ke lantai ketakutan.

Tapi Ayame tidak berhenti.

Dia jongkok di depan Eve, dan menatap langsung ke matanya.

“A-Apa!? Jika kau memukulku, aku akan melaporkannya pada….”

"DIAM."

Suara kerasnya membuat Eve gemetar.

Ia meraih kemeja Eve, kemudian mengangkatnya ke atas.

"A……. A…"

“H-Hei! Ayame! Apa yang sedang kau lakukan!? Jika kau memukulnya….”

“Kau, menyakiti Aramiya baik secara mental maupun fisik... Kau ... KAU!!!”

Dia mengangkat lengannya satunya.

Dengan tinjunya.

Eve hanya bisa memelototinya saat hendak dihajar oleh Ayame.

Dia akan segera mengamuk sejadi-jadinya.

Jika dia menghajar orang, maka dia pasti akan mendapat skorsing, dan semua usaha kami selama ini untuk memulihkan citranya berkahir dengan sia-sia. Tapi aku masih tidak bisa bergerak untuk menghentikannya.

AKU-

“Ayame! JANGAN!”

Aku berharap bahwa teriakanku ini dia dengar.

Lalu-

PLAKK!!*

Suara tamparan keras menggema di gudang ini.

“Jangan membuatnya semakin hilang kepercayaan pada wanita!”

Chuuko Vol 2 p-280.jpg

Kemudian, Ayame melanjutkan omelannya.

“Dia hampir membuka hatinya. Tapi ... gadis idiot sepertimu mengacaukan segalanya dengan melakukan hal-hal yang konyol!"

"A…"

“Kau pikir dia akan bahagia jika kau perlakukan seperti ini!? Apakah ini yang dia inginkan!? Sama sekali bukan!"

Sembari terus membentak, matanya berkaca-kaca.

Dia pun tak sanggup lagi menahan tangis, sehingga tetes-tetes air matanya berjatuhan di lantai.

“Kau bukan pacarnya! Juga bukan heroine-nya! Aku TIDAK AKAN PERNAH membiarkan wanita sepertimu mendekati Aramiya!”

Ketika dia melepaskan kata-kata penuh makian itu, Eve merosot di lantai.

“A ... Apa ...”

Kelopak mata Eve pun ikut membengkak.

"Ada apa denganmu!? Mengapa kau begitu dekat dengan Seii-chi DAN, mengapa Seii-chi mau repot-repot membantumu untuk memulihkan citramu!? Mengapa hanya kau yang mendapatkan semua kebaikan itu, sedangkan aku hanya mendapatkan ini!?”

Dia mencurahkan semua keluh kesahnya.

“Mengapa hanya aku yang disebut pelacur!? Setiap hari, orang-orang tertentu mengatakan ini padaku: ‘maukah kau main denganku?’. Aku menolak mereka mentah-mentah, tapi mereka tidak pernah MENDENGARKAN! Bahkan mereka tidak pernah PERCAYA! Kalau begini terus, aku tidak bisa bersekolah! ... Namun ... kau ... mengapa hanya kau yang mendapatkan semua dukungan itu!?”

Eve yang kelihatannya begitu periang, sebenarnya memendam rasa sakit yang sangat dalam.

Aku pun cukup prihatin mendengarnya.

Jadi itulah alasan dia pindah ke sekolahan ini ...

“Sekali citra itu melekat padamu, maka kau tak akan pernah lepas darinya.”

“Terus berjuanglah melawan rumor buruk, jangan pernah menyerah. Meskipun kau tidak bisa melepaskan diri dengan mudah dari citra buruk itu.”

“Citramu di mata orang lain tidak akan berubah. Membersihkan nama baik?? Ah, kau hanya membuang-buang waktu.”

Itulah yang mendasari Eve begitu iri pada Ayame.

Dia pun sempat salah sangka dengan mengira bahwa aku dan Ayame berpacaran. Tapi, yang paling membuat Eve iri padanya adalah, Ayame mendapatkan teman-teman yang siap membantunya kapan pun.

Ayame pun kembali berjongkok di depan Eve.

"…Eve. Aku bisa memahami kondisimu, karena aku pernah merasakannya. Aku tak peduli apa yang terjadi sebelumnya, tapi aku juga takut orang-orang menyebarkan rumor negatif tentangku yang menjadi pelacur, sehingga membuat Aramiya salah paham.”

Setelah Ayame mengatakan itu, Eve mendongakkan wajahnya.

“Tapi itu cerita lain.”

“Aku ... aku ...”

“Pikirkan tentang apa yang telah kau lakukan terhadapnya... dan apa yang hendak kau lakukan terhadapnya ... Pikirkan tentang hal itu, dan hadapilah. Jangan pernah lari dari masalah.”

"Berpikir…"

“Kau mungkin bisa melihat sesuatu.”

Ayame mengatakan itu. Kemudian tak lama berselang, Hatsushiba dan Tosaki, bersama sensei pun datang.

Aku dibebaskan dari ikatan lakban yang berlapis-lapis, kemudian kutarik celanaku kembali seperti semula

Akhirnya aku terselamatkan dari kehilangan keperjakaan.
  1. Taser adalah semacam alat penyengat listrik untuk melumpuhkan pelaku kriminal.
  2. Pneumonia atau dikenal juga dengan istilah paru-paru basah adalah infeksi yang memicu inflamasi pada kantong-kantong udara di salah satu atau kedua paru-paru. Pada pengidap pneumonia, sekumpulan kantong-kantong udara kecil di ujung saluran pernapasan dalam paru-paru akan membengkak dan dipenuhi cairan. Dikutip dari http://www.alodokter.com/pneumonia tanpa perubahan.
  3. Benarkan Ciu kalo aku salah, namun aku pernah baca beberapa artikel yang menyatakan bahwa di kalangan remaja Jepang, hilangnya keperawanan justru dianggap suatu hal yang keren. Karena jika kau masih perawan sampai tua, maka itu berarti kau tidaklah populer di kalangan lawan jenismu. Sungguh suatu keadaan pergaulan remaja yang sangat mengkhawatirkan. Maaf tidak disertai sumber, karena udah lupa.
  4. Tuh kan!!