Chuuko Indo:Jilid 2 Epilog

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Epilog[edit]

Eve diskors dari sekolah selama seminggu atas tuduhan mencuri kunci dan pelecehan seksual.

Tentu saja, aku meminta para guru untuk menjaga rahasia tentang kasus pelecehan seksual tersebut, karena terlalu memalukan. Jadi, para siswa hanya tahu bahwa Eve dijatuhi skorsing karena menyalahgunakan kunci ruang olahraga.

Namun, pendapat publik mulai bermunculan, seperti: 'Dia diskors hanya karena mencuri kunci? Bukankah itu telalu berlebihan?' Hanya orang-orang yang terlibat dalam insiden itu, yang tahu alasan sebenarnya.

Dan hari ini, adalah hari pertama Eve kembali bersekolah setelah skorsing.

“Halo semua ~”

Rambutnya masih berwarna emas seperti biasa, namun warna kulitnya yang gelap telah kembali normal seperti biasa.

Sekarang warna kulitnya yang kekuningan memucat, sehingga memberikan kesan baru pada suasana kelas.

Beberapa cowok sedikit bingung dan tersipu di belakangnya. Itu artinya, penampilan Eve cukup menawan.

“Maafkan aku karena telah membuat kalian khawatir, aku sedikit berlebihan.”

Cara bicaranya tidak berubah, masih dengan logat khas Gal seperti kemaren.

Setelah Homeroom, Hatsushiba dan Ayame langsung menghampiriku.

“Hey hey, bagaimana menurutmu?”

“Apakah dia merencanakan sesuatu lagi?”

“Aku tidak tahu ... aku sungguh tidak tahu.”

Meskipun dia berani melakukan sesuatu yang aneh lagi, harusnya saat ini dia masih belum merencanakan apa-apa. Setidaknya, pasti ada efek jera yang ditimbulkan hukuman skorsing kemaren.

Kami pun tidak lagi memiliki masalah.

Dan sekolah berlangsung normal sampai pulang.

Ayame, Tosaki, Hatsushiba dan aku menuju perpustakaan seperti biasa.

“Kotoko-san ~ Yuka-san ~!”

Sambil berjalan, Kiyomi bergabung dengan kelompok kami. Belakangan ini, iblis cilik ini sering datang kemari.

“Lihat apa kau!!? Aku hanya ingin bertemu dengan Kotoko-san dan Yuka-san.”

"Aku tahu."

Aku hanya menatapnya, tapi dia sudah menganggapnya sebagai pelecehan. Capek deh.

"Eh? Apakah ada seseorang di sana?”

Kiyomi menunjuk pintu masuk ruang klub, dan di sana berdiri seseorang.

"..."

Eve lah yang sedang berdiri di sana, sembari pasang wajah gelisah.

“U-uh.”

Ketika ia disambut dengan tatapan 5 orang sekaligus, dia pun semakin gelisah.

"…Ada perlu apa?"

"Jadi…"

Eve menatap kami, sembari mencoba untuk mengatakan sesuatu.

"Jadi….?"

Kemudian Eve melanjutkan kalimatnya….

“Seiichi, Ayame, aku minta maaf!”

Tiba-tiba dia membungkuk pada kami berdua.

“Aku sungguh bodoh ... Banyak hal buruk yang telah kulakukan, seperti… bahkan aku tidak mengerti mengapa ... Ketika aku diskors, aku menginstropeksi diri... Aku mungkin sudah banyak menyakiti Seiichi. Sungguh, maafkanlah aku."

Suaranya jelas terdengar gemetar.

Tingkahnya yang biasanya penuh percaya diri dan ceria sudah tidak lagi terlihat. Yang tersisa hanyalah kerendahan hati.

Seakan-akan kami tengah menghadapi seorang Eve yang tidak kami kenal.

…Tidak. Mungkinkah, memang seperti ini sikap asli gadis ini?

“Ah, t-tapi a-aku pun tidak berharap mendapatkan maaf sepenuhnya dari kalian ... t-tapi ... a-aku ingin mengatakan bahwa aku benar-benar minta maaf ... a-aku harus minta maaf tak peduli apakah kalian bersedia memaafkanku atau tidak ...”

Gadis ini seharusnya tidak memiliki niat buruk.

Tetapi meskipun dia tidak memiliki niat buruk, memaafkan dirinya adalah persoalan lain.

Meski begitu ... Aku lelah membenci dirinya. Sebut saja aku sudah malas bertikai dengan orang seperti ini.

Apapun itu, karena aku sudah berhasil melupakan luka lamaku, sepertinya aku sudah tidak punya alasan untuk membencinya.

“Aku .................................... sudah tidak lagi mempermasalahkan itu. Tapi, yang lebih penting adalah…. Ayame, bagaimana menurutmu?”

"Eh? A-Aku?”

Ayame hanya membalasnya dengan pertanyaan lainnya.

Ayame pun kehabisan kata untuk memberikan jawaban.

“T-tunggu! Aramiya-kun! Kotton juga! Kalau kita tiba-tiba memaafkannya, agaknya itu…..“

Hatsushiba tampaknya masih marah.

Mereka mulai memperdebatkan sesuatu, tapi saat itu juga…...

"Halo."

Ketua OSIS Yaotani Airi datang, dia tersenyum penuh aura membunuh, dan tentu saja dia datang bersama kedua ajudannya.

Seorang wakil Ketua OSIS dan sekretarisnya.

“Hari ini adalah deadline penyerahan daftar anggota klub ... Apakah kalian sudah melengkapi anggota klub ini, dan juga sudah menunjuk seorang guru pembimbing?”

Aku ingin mengatakan, ’jangan sekarang napa!' tetapi aku yakin dia tidak akan memberikan toleransi. Eve, Ayame, dan Hatsushiba yang tadinya saling berdebat, kini terdiam.

Terus terang, masalah klub begitu menggangguku, sehingga aku tak banyak memikirkannya.

Meskipun aku telah meminta Kiriko sebagai penasihat, aku masih tidak dapat menemukan anggota klub lainnya untuk melengkapi jumlah minimum yang diijinkan.

Bukan berarti aku tidak melakukan apa-apa. Tapi klub ini begitu rahasia, sampai-sampai tidak mungkin bagi kami merekrut teman sekelas, mereka hanya akan menolaknya. Aku mencoba merekrut Sitani, tapi dia terlalu sibuk dengan pekerjaan di perpustakaan, dan dia pun menolakku dengan sopan.

"Yahh…"

“Senyum bodoh di wajahmu tidak akan membantu apapun. Jadi, dimanakah anggota keenam kalian?”

Matanya melirik ke kiri-kanan untuk mencari anggota kami yang keenam, tampaknya dia sudah tidak mau dengar alasan apapun.

Sial, jadi dia sudah tahu.

“T-tunggu, akan kuberikan formulirnya nanti ...”

“Kalau begitu, tidak bisakah aku dengar nama anggota keenam ini sekarang?”

Membuat alasan tiba-tiba tidak akan berguna sekarang.

Haruskah aku sujud dan memohon tenggat waktu seminggu lagi?”

Sementara aku sedang mempertimbangkan berbagai alasan….

“Eh, keenam? Aku ada di sini, lho?”

Tiba-tiba Eve ikut nimbrung begitu saja.

Sepertinya Ketua OSIS tidak menduga itu, matanya pun terbelalak karena kaget.

“Kau ... Kau kah anggota klub baru itu? Jika ingatanku tidak salah, kau adalah Suwama Eve, yang barusan pindah itu, kan?”

“Eh, anggota klub baru ... Ah, jadi itu yang Seiichi bicarakan di perpustakaan! Ya! Sekarang aku boleh gabung, kan, Seiichi?”

Eve mengangguk dengan mantab, tampaknya dia sudah memahami kondisi yang tengah kami hadapi.

“... Hmm, begitu ya.”

Ketua OSIS mengamati Eve dari ujung kaki sampai ujung rambut, sebelum akhirnya mendesah dan meninggalkan ruangan.

“Aku mengerti, sepertinya ini cukup.”

Ketua OSIS pun berhenti menuntut kami.

Situasi berubah drastis dengan begitu cepat, sampai-sampai aku gagal memahaminya.

“Tapi, karena sekarang klubmu sudah resmi terbentuk ... maka jelaskan pada kami tujuan klub ini.”

“T-Tujuan?”

Aku berteriak dalam hati.

“Misalnya, jika ini adalah klub sepakbola, maka tujuannya adalah memenangkan kompetisi. Klub budaya juga bertujuan untuk memenangkan suatu kompetisi, atau mungkin mengikuti beberapa festival kebudayaan ... Kesimpulannya, kalian harus mempunyai tujuan, sehingga kami tidak percuma mengucurkan dana untuk perkembangan klub kalian.”

“... Hasil .... Hah."

“Jika kalian masih ingin klub ini berjalan, maka bekerja keraslah untuk mencapai tujuan itu. Pikirkan itu matang-matang, baiklah, aku pamit dulu.”

Dan Ketua OSIS pun pergi begitu saja meninggalkan kami.

Termasuk Eve ...

“Tunggu Aramiya-kun! Apa maksudmu membiarkan dia gabung ke klub kita!? Tidak, Yuka bahkan belum memaafkannya!”

“Um…. Perkara itu….”

Eve menyela begitu saja!

“Gadis ini menyebarkan rumor negatif tentang Kotton! Yuka tidak akan memaafkan dan mengijinkannya bergabung dengan klub kita!”

Itu benar.

“Apa maksudmu dengan menyebarkan rumor?”

Eve membuka mulutnya dengan kaget, sambil memiringkan kepalanya kebingungan.

“K-Kau menyebarkan rumor, ‘kan! Tentang Kotton suka main gila, atau putri seorang Yakuza!”

"Eh? Main gila? Main gila yang seperti itu? Jadi Ayame-chi benar-benar melakukan itu?”

Sepertinya dia masih kebingungan arti kalimat itu.

Tapi kurasa dia tidak berbohong. Bahkan gadis ini masih belum paham betul makna ‘main gila’…

“... Bagaimana denganmu Ayame, meskipun dia tidak mengaku telah menyebarkan rumor, namun dia telah melakukan banyak hal buruk padamu.”

“Aku tidak keberatan, aku juga tidak punya niatan untuk menghukumnya.”

“B-benar kah!? Seiichi, dan Ayame-chi juga……!”

“Meskipun begitu, aku tidak bilang telah memaafkan semua kesalahanmu.”

“Sepertinya dia sudah mengakui kesalahannya, bukankah seharusnya kita memaafkannya? Aku pun bisa tetap berada di sini, tidak lain karena kalian telah memaafkan semua kesalahanku sebelumnya.”

“T-terima kasih! Kalian berdua! Aku sangat senang!!!!”

Dia melompat padaku dan Ayame, lantas memberi kami pelukan.

Hah, betapa menyebalkan gadis ini.

Aku tak tahu harus bagaimana lagi.

“U-uh, Yuuka sepertinya masih ragu memaafkan dia atas perbuatan-perbuatannya tempo hari ... Tapi, apakah kau benar-benar mengijinkan dia bergabung dengan klub kita?”

Hatsushiba tampaknya tidak dapat secepat itu memaafkannya. Meskipun Hatsushiba tidak dirugikan secara langsung, tapi tampaknya ia enggan memaafkan apa yang Eve telah lakukan pada Ayame.

“... Eve, mengenai yang kau katakan tadi… apakah kau serius mau bergabung dengan klub kami?”

“Ya, karena aku tidak lagi ingin menjadi orang yang populer. Seperti apa yang Seiichi telah katakan padaku, kan?”

Dia menyatakan itu padaku, namun tampaknya ada suatu makna yang tersembunyi di balik kalimat tersebut.

Apapun itu, kalau nanti timbul masalah baru, kami tinggal mengeluarkannya saja.

“Eve, jika kau melakukan hal-hal yang aneh lagi, maka aku tak akan ragu mengeluarkanmu dari klub.”

“Ok, kau dapat memegang kata-kataku, Seiichi.”

Eve tersenyum dengan berseri-seri, sembari mengangguk mantab.

Hatsushiba tampaknya ingin mengatakan sesuatu, tapi setelah diyakinkan oleh Ayame, dia pun menyerah.

Chuuko Vol 2 p-296.jpg

“... Apapun itu, kita masih membutuhkan Eve untuk mencaritahu siapakah dalang di balik semua ini."

“Dalang di balik semua ini?”

Ayame membungkukan lehernya dengan bingung, seakan-akan dia mendengarkan sesuatu yang sama sekali tak terduga.

“Maksudku, tentang rumor-rumor itu…. tak peduli bagaimanapun kau melihatnya, itu tetap saja mencurigakan. Terutama, rumor yang menyebar begitu cepat. Tepat setelah Eve pindah ke sekolahan ini, rumor mulai menyebar bagaikan api yang melahap tumpukan rumput kering, maka kita pun tak punya pilihan selain mencurigai Eve sebagai dalangnya. Tapi, mungkin itu tidak menyebar secara normal, artinya ada seseorang yang sengaja mempercepat berkembangnya rumor-rumor tersebut.”

"..."

“Bagaimanapun juga, rumor itu mengakar terlalu kuat. Kurasa, alasan mengapa citra Ayame tidak kunjung membaik adalah karena ada seseorang yang sengaja memancing ikan pada kolam yang keruh. Sejak Hatsushiba masuk SMA, sebenarnya dia hampir tidak melakukan apapun, kan?”

Hatsushiba mengangguk ringan.

“Apakah ada kemungkinan Songo menyuruh orang lain untuk menyebarkan rumor tersebut?”

“Yuka juga tidak tahu ... Karena Yuka tidak hafal semua temannya.”

Yuka benar-benar tidak mengetahuinya. Meskipun ada tersangka lain, namun kemungkinannya terlalu luas, dan terlalu banyak orang yang bisa dicurigai.

“Ayo kita temukan dia, kalau kita tidak cabut gulma ini dari akarnya, maka akan terus berkembang."

“Tapi bagaimana caranya?”

Tozaki menanyakan suatu hal mendasar yang paling penting.

“Aku tidak tahu, namun perlahan-lahan kita harus menanyai setiap orang di sekolahan ini. Ah… benar juga…. Eve, dari manakah kau mendengar rumor buruk tentang Ayame?”

“Dari seseorang di kelas.”

“Siapakah dia?”

“... kalau gak salah sih Nishihara-chi? Oh bukan ... Maaf, aku tidak begitu ingat.”

Ah, biarlah… menebak dalangnya dengan tepat pada percobaan pertama adalah suatu hal yang kelewat beruntung.

“Jika kau dapat mengingat orangnya dengan jelas, segera katakan padaku. Untuk saat ini, yang bisa kita lakukan hanyalah melacak jejak si tersangka secara perlahan-lahan.”

“Jadi, sementara ini yang bisa kita lakukan hanyalah menginterogasi teman-teman sekelas satu per satu?”

Tozaki mendesah lelah.

“Mau bagaimana lagi, karena kita tak punya petunjuk sedikit pun.”

“Kalau begitu, saatnya membentuk badan khusus ‘Pelacak Rumor Buruk Ayame’.”

Hatsushiba mengatakan sesuatu yang aneh bukan karena dia sedang ngelantur, melainkan karena dia memang menyukainya ...

“Nama kelompoknya sih terserah. Tapi proyek berikutnya adalah, menemukan akar permasalahan dari semua rumor ini.”

“Aramiya benar-benar bertingkah tsundere pada Ayame-chi. Katakan saja kalau kau melakukan semua ini demi Ayame-chi.”

"TIDAK! Aku tidak melakukan ini untuk Ayame. Aku melakukan ini untuk diriku sendiri! Jangan seenak jidat memelintir perkataan orang lain.”

Tapi Hatsushiba dan Tozaki tersenyum dengan tulus, mereka menyumpali mulut dengan tangan mereka masing-masing, seakan menahan tawa.

“Apakah kau dengar itu? Tozaki-san.” ‘Yah, aku mendengarnya dengan jelas, Hatsushiba-san.’

Mereka sungguh menjengkelkan.

Meskipun demikian, mulai sekarang kami perlu bertanya berbagai hal pada Kiriko-sensei sebagai penasehat.

Sekarang aku sangat lelah.

“Ayolah, aku yakin ini semua akan berakhir dengan bahagia. Benar ‘kan, Aramiya.”

“Benar, sepertinya saat ini suasana akan aman-aman saja ...”

Ayame benar, kami telah melewati saat-saat sulit bersama klub ini.

“Hei, ngomong-ngomong Aramiya, tentang tujuan klub yang dibicarakan oleh Ketua OSIS barusan, bukankah kita perlu membicarakannya lebih lanjut? Jika klub ini tidak memiliki tujuan yang jelas, maka akan gawat.”

Tozaki mengatakan itu dengan ekspresi khawatir, sembari mendesah.

“Ya ampun ... masih ada aja masalah lainnya ..”

Menyangkal rumor, menemukan akar permasalahannya, dan memikirkan tujuan klub dengan jelas. Apa sih tujuan yang jelas dari sebuah klub penggemar eroge? Apakah aku harus menulis esai tentang mengapa protagonis eroge bisa populer di mata para heroine, meskipun kebanyakan dari mereka hanyalah cowok anti-sosial?

“Ini semua karena kau sembarangan memakai ruang kosong untuk main eroge.”

"Diam! Sejak awal, ruangan ini adalah singgahsanaku.”

Kiyomi mengatakan itu sembari sedikit menyindirku.

“Yahh, apa boleh buat.”

Ayame mendesah berat.

“Ayo kita pikirkan tentang apa yang bisa enam orang ini lakukan.”

Dia pun mengatakan itu dengan semangat.

“Itu benar, Kotton.”

“Ya, aku akan membantu!”

Meskipun masih ada beberapa masalah, tapi kami perlahan-lahan menyelesaikannya satu per satu.

Mulai dari sekarang, apakah ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan atau tidak, semuanya tergantung usaha kami.