Chuuko Indo:Jilid 3

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Prolog[edit]

Suatu sensasi aneh membangunkanku dari tidur, aku pun melompat dari tempat tidur seolah-olah sedang mengalami mimpi buruk. Aku melihat ke sekeliling kamarku dengan panik, tidak ada yang aneh. Gak ada hantu, bahkan gak ada serangga.

Sinar matahari pagi menembus tirai, lantas menerangi partikel-partikel debu yang mengambang di udara. Sekarang bulan Juni, dan musim panas sudah dekat. Kamar kecilku yang tertutup terasa seperti oven.

Sangat panas.

Piyamaku basah oleh keringat.

"Jadi, aku terbangun karena panas ini?"

Aku beranjak dari tempat tidurku, kemudian kubuka jendela, angin sepoi-sepoi terbang melalui udara, kemudian memasuki ruanganku yang panas.

Sebenernya aku ingin pake AC, namun karena sekarang masih awal musim panas, jadi mendingan gak usah. Kalau panas segini aja gak tahan, aku ragu bisa melewati musim panas yang bakal lebih panas daripada ini.

Aku menyalakan kipas angin listrik di samping jendela, dan mengaturnya agar "memutar".

"Ini musim panas, ya?"

Aku terhanyut oleh angin sepoi-sepoi dari jendela, namun kedamaianku langsung sirna ketika suara gedoran pintu merusak segalanya.

Siapa?

Keluargaku tidak pernah mengetuk pintu kalau mau masuk ke kamarku, padahal sudah berulang kali kuperingatkan mereka. Aku benar-benar ingin memasang gembok pada pintu kamarku, sehingga aku bisa main Eroge dengan damai.

Beberapa saat berlalu, namun aku masih belum bisa menebak siapakah yang menggedor pintu, lantas pintu pun perlahan terbuka. Mungkin dia bukanlah salah satu dari keluargaku, karena sepertinya dia berusaha untuk tidak membuat keributan berlebih.

Dan yang masuk adalah………..

"Oh, kau sudah bangun rupanya?"

Itu adalah Ayame.

Teman sekelasku, Ayame Kotoko. Mata tajamnya terlihat lebih ramah dibandingkan yang sebelumnya,

Rambut twintail-nya sudah semakin panjang.

Terlihat sedikit kebingungan dan ketidakpuasan pada rona wajahnya, seolah-olah dia kecewa akan sesuatu.

"Selamat pagi, Aramiya."

"Ah, pagi, Ayame."

Aku membalas ucapan selamat paginya tanpa pikir panjang, namun ini bukan saatnya saling berbalas salam. Mengapa sekarang dia berada di rumahku, seakan-akan ini bukanlah hal yang janggal?

... Tidak, sebetulnya semuanya sudah jelas. Mungkin, adikku Kiyomi lah yang membiarkannya masuk.

"Tadinya aku harap bisa membangunkanmu ..."

"Sayang sekali."

Masuk ke kamarku, kemudian membangunkanku bagaikan adegan di Eroge? Jangan harap.

Tunggu dulu, apakah aku terbangun karena alam bawah sadarku mengantisipasi terjadinya hal ini? Tapi, hatiku yang lemah ini belum siap untuk melihat Ayame sebagai orang pertama yang kutemui pagi ini. Jam alarm adalah yang terbaik untuk membangunkanku, bukannya Ayame.

"Cih, kalau begitu, lain kali jawablah jika ada seseorang sedang mengetuk pintu."

Ya apa boleh buat, karena aku tak yakin siapakah yang mau repot-repot mengetuk pintu kamarku di pagi hari.

Tapi yang lebih penting adalah……..

"Ayame."

"Hmm?"

Tidak seperti seragam modifikasi sebelumnya, sekarang Ayame mengenakan seragam musim panas yang normal, dengan garis-garis merah di sekitar lengan dan kerahnya.

Ya, tentu saja begitu karena itu adalah seragam normal. Masalahnya adalah…..

"Kenapa kamu memakai celemek?"

Dia, entah kenapa, mengenakan apron putih imut dan berenda yang membalut seragamnya. Dia pun sedang memegang centong pada salah satu tangannya.

Ini bukan adegan ero, maka malu lah kau!

"..."

"Ah, ini? Karena aku sedang memasak sarapan.”

"Hah? Sarapan? Untuk siapa?"

"Tentu saja untukmu."

"Mengapa?"

"Ibumu ingin aku membantunya."

"..."

Tunggu sebentar.

Bukankah lelucon ini agak sedikit kejam? Ini bahkan lebih buruk daripada panggilan untuk bangun barusan.

"Seichi, sarapan sudah siap."

"Cepatlah, bajingan!"

Ibuku dan adikku, Kiyomi, mengintip ke kamarku. Ibu tersenyum licik sedangkan Kiyomi terlihat kesal.

"Mengapa kau menyuruhnya memasakkan sarapan untuk kita, Bu?"

"Masakannya enak sekali."

Aku tidak bertanya tentang rasanya! Dan aku sudah tahu itu!

"Memiliki seorang gadis cantik yang membuatkan sarapan untuknya, oh anakku sungguh beruntung."

"Kak Ayame tidak cocok untuk perjaka letoy itu. Oh, Tuhan memang tidak adil.”

"Tapi, meminta teman sekelasku untuk memasakkan sarapan buat kita, itu sungguh keterlaluan! Lagian, sejak kapan keluarga kita punya apron berenda itu!? Dari mana asalnya?”

Berapakah sih umurmu? Ngaca sana!

Itulah yang kupikirkan, tapi tak mungkin aku menyatakannya.

"Tapi aku tidak memaksa dia melakukannya, lho."

Ibuku berkata begitu sambil mengedipkan satu matanya, seperti wanita muda.

"A-Aku jamin rasanya enak."

Ayame berbicara sambil memegang centong itu untuk menutupi mulutnya. Kayaknya aku pernah lihat pose itu deh………

Chuuko Vol 3 f.png

Tunggu sebentar…. dia meniru eroge !? Tidak, tidak, itu ilustrasi dari game tersebut.

"Ayo cepat ganti pakaianmu, Seichi. Makanan sudah siap.”

"Kau sudah memiliki kehidupan yang indah, maka bersyukurlah dan cepat bangun dari tempat tidurmu…. jangan buat yang lainnya menunggu, dasar perjaka letoy!"

Mereka berdua menuruni tangga setelah memberikan pelecehan secara lisan padaku.

"A-Aku akan segera menyelesaikan persiapannya. Jadi, cepatlah turun, oke?”

"U ... un."

Kemudian Ayame pun keluar dari kamarku. Hanya aku yang tertinggal di kamar, dan sekali lagi kurasakan kedamaian.

Aku hanya bisa mendesah. Tak pernah kusangka bahwa keluargaku seceroboh ini. Sepertinya aku harus berbicara sama ayah untuk memulihkan kedamaian dan ketertiban pagi hariku.

Aku mengikuti mereka ke ruang makan setelah berganti pakaian.

"Ini lebih enak daripada masakan istriku. Dari mana kau belajar memasak?”

"D-Dari ibu dan kakak perempuanku."

"Sekarang, aku benar-benar menginginkanmu untuk menjadi menantuku."

Wajah Ayame menjadi merah seperti tomat, dan tampaknya ayahku sudah jatuh cinta pada masakannya.

"Oi, Yah. Kau ini bicara apa."

Aku mengatakannya dengan berbisik, sehingga orang lain tidak mendengarnya.

"Kenapa kau ragu-ragu? Lebih baik kau cepat-cepat dapat pasangan, atau kau akan berakhir sepertiku. Andaikan aku belum bertemu ibumu, entah berada di mana aku saat ini. Pacari dia.”

Haruskah aku memuji ayahku karena telah memuji ibu? Aku tidak bisa mengatakan "tolong hentikan mencarikan pacar untukku, aku hanya tertarik pada gadis 2D".

Jika aku melakukannya, akan ada neraka yang menungguku.

"B-bagaimana rasanya? Aku mencoba memasaknya sesuai dengan keinginanmu ...”

Ayame bertanya dengan wajah cemas.

Keluargaku menatapku seolah mengatakan "Jika kau mengatakan tidak, akan kubunuh kau".

Tolong hentikan. Aku mulai ketakutan.

"… sangat lezat. Sungguh."

"Syukurlah."

Katanya sambil tersenyum.

Aku malah merasa aneh kalau sarapan terasa lebih enak dari biasanya.

Apakah ini yang dirasakan Toyotomi Hideyori saat dikepung musuh? [1]

Bab 1 - Bisakah Kau Mendengarkan Aku Sebentar, Nona?[edit]

Sekarang adalah awal musim panas. Meskipun sekarang belum begitu panas, namun temperatur ruangan terus naik secara perlahan-lahan. Dan karena mereka tidak bersedia menggunakan AC, maka aku hanya bisa mengandalkan hembusan angin dari jendela.

"Beberapa kipas angin listrik harusnya bisa meredam hawa panas ini. Aku berharap mereka memasangnya di kelas kita."

Itulah kata Ayame saat kami berjalan melewati gerbang sekolah.

"Atau kipas ventilasi yang kuat. Tapi kipas macam apapun yang kita gunakan, itu hanya akan menerbangkan kertas-kertas, dan itu sungguh menyebalkan.”

Kalau rok para gadis terangkat akibat kipas angin, itu juga akan jadi masalah. Dan aku pun bertaruh bahwa para pria akan kegirangan, namun mereka pura-pura tak melihatnya dengan berdiam diri bagaikan robot.

"Kau hanya ingin AC, bukan?"

"Tunggu dulu, kemana kamu ngungsi saat musim panas tahun lalu? Seharusnya dimana-mana juga panas, kan?”

"Aku menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran di ruang UKS, karena AC di sana begitu nikmat bagaikan surga."

Ah, begitu ya? Tapi sepertinya aku tidak akan melakukannya sih.

"Bagaimana dengan perawatnya? Dia tidak mengatakan apapun padamu?”

"Aku sendiri juga gak paham sih, tapi setiap kali aku ngungsi ke sana, perawatnya hanya membiarkanku masuk begitu saja ..."

Atau mungkin dia terlalu takut mengusirmu.

"Tapi aku juga gak mengganggu siapapun, jadi setiap ada orang yang membutuhkan tempat tidurnya, maka aku akan menyingkir."

"Begitu ya…?"

Aku mendengarkan Ayame membicarakan pengalaman tahun pertamanya, sembari kami berjalan menaiki tangga. Kami mengganti sepatu kami dengan sepatu indoor, kemudian berjalan menuju kelas.

"Hahhh"

"Akhir-akhir ini, kau selalu terlihat stress saat mau masuk kelas."

"T-tapi ..."

"Masuk saja lah."

Aku mendesaknya. Dia membuka pintu dan masuk dengan wajah kaku.

"P-pagi ..."

Dia menyapa teman sekelas lainnya dengan suara lirih.

"Selamat pagi Ayame-san."

"Pagi, Ayame-san."

"Hai."

"Selamat pagi."

Nishihara, sang ketua kelas, dan gadis-gadis lain menyapa balik.

"Y-yo. Pagi."

"Hihi."

"Dia datang bersama Aramiya lagi, ya? Aku mulai terbiasa kok ...”

Sejak saat itu, Hatsubashi mengatakan semuanya di depan kelas (kejadian itu diam-diam dinamai "Hatsubashi on stage" oleh semuanya.) Semua orang mulai terbuka pada Ayame. Meski gadis itu sendiri masih merasa sedikit canggung dan beberapa orang masih berhati-hati, tapi semuanya berjalan dengan baik.

"Haha, memang terasa senang saat seseorang membalas salammu. Terima kasih, Aramiya.”

Dia berbisik padaku.

"Berterimakasihlah pada Hatsushiba. Aku tidak melakukan apapun.”

"Kaulah yang membantu Yuuka hanya melakukan apa yang dianggapnya benar. Untuk itu, aku juga ucapkan terima kasih padamu.”

Katanya, lantas dia berjalan ke tempat duduknya.

Yah, selama dia baik-baik saja dengan itu, kurasa tak masalah.

Matahari sudah tinggi di langit pada saat jam pelajaran ke-4 berakhir. Setengah penghuni kelas menuju ke kantin, sementara sisanya mengambil bento mereka, kemudian mulai makan bersama.

Langit biru bersih menjulang di atas tanpa segumpal pun awan. Langitnya begitu bersih, sampai-sampai mirip seperti background adegan Eroge.

Meskipun seharusnya hujan bisa turun kapan saja, namun hari ini cuaca tetap bersih dan cerah.

"Ahhh ~ ~ lezat ~ ☆"

Kudengar desahan penuh dengan kebahagiaan.

Dan orang yang mendesah itu adalah Suwama Eve. Saat ini, dia sedang menjejali wajahnya dengan bento yang berisikan bermacam-macam lauk, dan ekspresi bahagia terlihat jelas di wajahnya. Rambutnya bermodel twintail pirang yang mengembang, dan ada sepasang jepit rambut imut yang mengikatnya. Kukunya dicat dengan pola bintang, dan seragamnya penuh sesak dengan aseksoris. Andaikan dia bersekolah di tempat lain, pastilah semua guru akan kehilangan kesabaran ketika melihat penampilannya ini.

"Bukankah kalian terlalu dekat?"

Temanku, Tozaki, biasanya tidak membawa bento, namun siang ini dia bawa bekal makan siang. Dengan canggung, dia memegang sumpitnya sembari berbicara di hadapan Eve yang terlihat sangat senang dengan makan siangnya.

Di sebelahnya, Hatsushiba Yuuka, mengerutkan dahi dan ekspresi tidak senang jelas terlihat di wajahnya. Dia berbicara dengan nada kasar, sampai-sampai Tozaki merasa tidak nyaman.

Di sebelah Hatsushiba, ada Ayame yang juga sedang menikmati bento bikinannya sendiri. Kami semua mendempetkan beberapa meja, kemudian makan bersama-sama di sana.

... harusnya ini adalah acara makan siang yang damai, namun Hatsushiba jelas-jelas terlihat jengkel.

Yah, sejak awal dia sangat perhatian pada Ayame, mungkin saja dia masih jengkel pada Eve yang pernah berniat menyakitinya sebagai musuh. Aku ingat betul betapa terguncangnya Tozaki saat melihat kebencian Hatsushiba pada Eve, ketika dia berniat bergabung dengan klub kami. ”Jangan menunjukkan wajah seperti itu, Hatsushiba-cchi. Makanannya jadi gak enak, lho?"

"Jangan pedulikan Yuuka. Wajah Yuuka memang sudah begini sejak lahir.”

Dengan santai, Eve terus bercanda dengan Hatsushiba, Eve pun tidak peduli betapa bencinya Hatsushiba padanya, sedangkan dia terus saja menunjukkan wajah penuh permusuhan yang biasanya tidak nampak pada seorang Seiyuu. Apakah dia sedang berakting? Atau tidak? Memikirkannya saja sudah membuatku merinding.

"Tidak sama sekali ~ Hatsushiba-cchi sangat lucu ~"

"…Aku tidak lucu."

"Jangan seperti itu lah, mari berteman lebih akrab. Itu akan lebih menyenangkan, kan?

"..."

Jika ini adalah Eroge, pasti sudah muncul pembuluh darah tebal di pelipis Hatsushiba sekarang. Tozaki dan Ayame hanya terdiam tanpa kata.

Sedangkan aku, ketika para Heroine sedang berselisih, maka figuran macam aku hanya perlu diam tanpa ikut campur, kan?

"Benar kan, Seichi ~? Seichi juga harus mengatakan sesuatu.”

... tapi mengapa oh mengapa dia harus melibatkanku?

"Jangan melibatkanku."

"Ahh, teganyaaaa ~"

Ini bukan urusanku, jadi aku tak mau terlibat. Tapi makan siang di bawah atmosfer seperti ini memang buruk untuk citra Ayame. Meskipun teman-teman sekelas sudah tidak lagi takut pada Ayame, namun ada beberapa orang di sekolah ini yang masih takut. Itulah sebabnya, makan siang bersama seperti ini akan menghilangkan citra menakutkan Ayame, kalaupun ada teman dari kelas lain yang lewat, mereka juga akan mengira bahwa Ayame tidaklah seburuk yang dirumorkan.

Karena itu, jika ada orang lain yang melihat atmosfer makan siang yang kelam seperti ini, takutnya akan muncul rumor-rumor negatif lainnya.

"... Hei, Hatsushiba."

"... Apa, Aramiya-kun?"

Dia menjawab sembari memancarkan aura kelamnya ke arahku. Seharusnya aku tidak mengatakan apapun.

"Bisakah kau membantuku sedikit?" Aku bertanya padanya dengan sungkan.

"... Kalau begitu, Yuuka akan coba membantu."

"Kumohon, Yuuka."

"Apalagi kalau Kotton yang minta bantuan, pastilah aku tidak bisa menolaknya ..."

Wajahnya masih mengkerut, namun ekspresinya sudah sedikit melunak.

"Hatsushiba-cchi benar-benar lucu ~ ☆"

"Tidak, tidak ada yang lucu.”

Tapi Eve benar-benar merusak usaha kami.

Akhirnya kami menghabiskan makan siang dengan aura kelam yang terpancar ke seluruh sudut kelas.

"Aramiya-kun, bisakah aku berbicara denganmu sebentar?"

Hatsushiba berbisik padaku saat kami mengembalikan meja-meja ke posisi semula.

"Ah, tidak masalah. Lanjutkan."

Hatsushiba menyeretku ke tangga di sudut bangunan.

Bukankah aku pernah mengancam akan menciumnya di sini? Agak aneh kami kembali ke tempat ini.

"Yuuka tidak tahan membiarkan orang itu masuk ke dalam kelompok kita."

"Aku tahu."

Dia cemberut setelah mendengar kata-kataku. Dia terlihat seperti anak kecil, dan itu membuatku sedikit tersenyum.

"Lantas, mengapa kau membiarkannya masuk?"

"Sebenarnya, kau mungkin juga menyadarinya, tapi ... bukankah rumor kemaren sedikit aneh?"

Maksudku rumor yang mengatakan bahwa Ayame akan melahap siapapun, tak peduli pria maupun wanita. Rumor itu menyebar ke seluruh sekolah dengan kecepatan yang tidak wajar, dan beberapa orang benar-benar percaya akan berita itu

"Yuuka tahu, tapi bukan Eve yang melakukannya, kan? Tetap saja, kita tidak perlu memasukkan Eve ke dalam kelompok kita.”

"Kurasa, Eve juga berperan dalam menyebarnya rumor itu, namun dia sendiri pun tidak menyadarinya…."

"Maksudmu, Suwama hanyalah berperan sebagai perantara?"

"Itulah yang aku pikirkan. Ini seperti virus yang menyebar tak terkendali. Masalahnya, siapakah si pembuat virus pertama kali?”

"Maksudmu, seseorang yang dekat dengan Suwama membuat rumor tentang Kotton?"

"Besar kemungkinannya begitu. Tapi, dia sangat pandai menyembunyikan identitasnya, dan dia pun menggunakan Eve sebagai umpan."

"Kalau begitu, lebih baik kita tidak perlu memasukkannya dalam kelompok kita, kan? Kita hanya perlu mengawasinya.”

"Ayame bilang, kalau kita tidak membiarkan Eve dekat dengan kita, maka akan susah mengamati gerak-geriknya. Akan lebih aman bila kita membiarkan dia bergabung bersama kelompok kita. Kalau kita menjauhinya, kita justru tidak akan tahu apa yang sedang dilakukannya.”

"Hmm."

Meski dia menerima penjelasanku, dia tetap tidak bisa menerimanya. Sepertinya dia masih tidak bisa memaafkan kesalahan-kesalahan Eve, meskipun Ayame sudah tidak mempermasalahkannya. Terkadang, orang yang dekat dengan korban akan merasa lebih jengkel daripada korbannya sendiri, betul?

"…Hei."

Hatsushiba dengan tenang mulai bicara.

"Hmm?"

"Dia cinta pertamamu, bukan?"

Jangan membahas hal-hal yang tidak ingin kuingat, sialan.

"Itu benar ... tapi gadis itu memanggilku ke suatu tempat yang begitu jauh, lantas tak pernah menemuiku."

"Aku juga pernah mendengarnya ... tapi dia melakukan itu karena dia tertipu, bukan?"

"Yah, dia benar-benar bodoh dan melakukan segalanya tanpa pikir panjang."

Seseorang menyuruhnya untuk menipuku, kemudian kalau aku tidak berbicara lagi dengannya, maka itu justru artinya aku semakin mencintainya… orang bego macam apa yang percaya nasehat seperti itu. Apakah dia benar-benar percaya bahwa itu artinya: "hubungan semakin langgeng"?

Tapi dia benar-benar mempercayainya. Aku tak punya kata lain untuk mendeskripsikannya, selain "bodoh" ...

Tapi, jika kau melihatnya secara positif, maka kau boleh bilang bahwa dia tidaklah bersalah.

"Apakah kau masih ... mencintainya?"

"Haa?"

Apa yang dia katakan? Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, sampai-sampai aku tidak bisa mengikutinya.

"Yahh, siapa tahu saja… ketika kesalahpahaman itu berakhir, kau ingin kembali bersamanya ... atau semacamnya."

"Jangan konyol, sejak saat itu aku sudah tidak lagi merasakan cinta dengan gadis 3D."

"... benarkah?"

"Cemburu ya? Aku tidak menjalin hubungan dengannya sejak awal. Dia sendiri yang berbicara tentang pernikahan dan semacamnya.”

Singkatnya, kami merasakan hal yang sama tentang ini. Seperti kata pepatah, cinta pertama selalu gagal. Secara pribadi, aku tak lagi merasa tertarik pada Eve. Cinta anak SD hanyalah cinta monyet yang sering kali berakhir dengan kegagalan.

"Kalau begitu, okelah…..."

Hatsushiba menghela napas lega, namun dia langsung mengacungkan jarinya di hadapanku,

"Tapi kau jangan mengurangi waktumu untuk Kotton, oke?"

"Kenapa kita tiba-tiba membicarakan Ayame ..."

"Kau harus membuat Kotton jadi prioritas utama, kemudian aku, lalu Suwama-san, oke?"

"Apa yang kamu bicarakan ..."

Apakah dia salah mengerti akan sesuatu?

Mengapa aku merasa semua orang berusaha menyusahkanku? Jika aku lengah sebentar saja, mereka mungkin juga akan menyerang pertahanan batinku.

"Tapi, meskipun aku sudah mendengarkan alasanmu, aku tetap merasa bahwa kita tidak perlu mendekatinya ..."

"Sudahlah….."

"Tapi…."

Meski dia tidak mengerutkan keningnya lagi, dia masih saja cemberut. Baiklah, Tozaki akan mengatakan sesuatu seperti:

"Dia sungguh imut, bahkan dengan wajah seperti itu!" atau apalah.

"Seperti yang aku katakan, alasanku membiarkannya masuk klub adalah melengkapi jumlah anggota kita. Kalau Ayame dan Eve akur, maka itu juga akan mengurangi rumor buruk yang beredar di sekolah.”

Tapi, "mendekatkan Eve dengan kelompok kami" bukanlah satu-satunya alasan.

"Kalau pelakunya kembali menggunakan Eve sebagai bidak, maka kita bisa menangkap basah dia."

Hatsushiba menunjukkan wajah bingung.

Tapi, dia mungkin tidak akan bergerak dalam waktu dekat ini. Kita hanya perlu menunggu.

Ketika kami kembali ke kelas, Ayame dan Eve sedang asyik ngobrol.

"Kupikir, tren musim panas ini adalah gaun yang indah dan longgar ~"

"Apa yang kau maksud dengan 'tren musim panas'?"

"Itu lho… tren pakaian musim panas ~ "

"Kau tahu banyak ya."

"Tentu saja! Setiap gadis menyukai hal-hal yang imut, bukan?

"Tergantung orangnya, kan?"

"Selain gaun, ada qipao [2], blus berenda, atau gaun seperti boneka. Semuanya bagus ~"

"... apa itu?"

Meskipun begitu, Eve lah yang lebih sering ngoceh.

"Rambut Ayame-cchi benar-benar cantik, akan terlihat bagus jika kau mengenakan gaun ~"

"Jangan sentuh."

"Aw, sakit ~"

Ayame menampar tangan Eve saat dia mencoba menyentuh twintail-nya.

"Ayolah, aku kan hanya pengen megang."

"Yah, aku tidak menyukainya."

Mereka terlihat sangat dekat satu sama lain. Eve benar-benar supel, dan dia mudah bergaul dengan banyak orang. Gadis seperti Eve lah yang banyak disukai orang.

Meskipun telah terjadi banyak hal (seperti bagaimana masa laluku terekspose, atau insiden yang membuatnya diskors dari sekolah), reputasi Eve perlahan kembali pulih seperti sedia kala. Beberapa dari teman-teman di kelas mungkin sudah jatuh cinta padanya.

Kalau kasus mengenai Eve yang mencoba memperkosaku, orang-orang pasti akan syok kalo itu tersebar ke publik. Yah, mungkin saja ada beberapa orang yang malah menyukai hal semacam itu. Bagaimanapun juga, selera setiap orang berbeda-beda,

Lagipula. Aku tidak boleh mengkritik mereka.

"Ah, Seichi… kau sudah kembali rupanya."

"Kamu selesai berbicara dengan Yuuka?"

"Umm. Kalian berdua terlihat sangat akrab, ya?”

"Dia hanya ingin memulai percakapan."

Ayame terlihat kerepotan, tapi sepertinya dia tidak membencinya.

"Kau juga sangat dekat dengan Ayame, Eve."

"Itu karena aku sangat menyukai Ayame-cchi ~ dia bahkan bisa menjadi lebih manis jika dia memperbaiki penampilannya. Aku sangat iri padanya."

Memiliki seseorang yang menyukaimu juga bisa menjadi masalah, ya? Tapi kupikir Ayame tidak begitu membencinya. Kalaupun dia membencinya, pasti dia sudah memandangi Eve dengan tatapan mata setajam belati.

Meski keduanya tidak saling menyukai sebelumnya, setelah insiden itu berakhir, mereka pun jadi akrab. Yahh, pepatah berkata bahwa cinta dan benci itu seperti dua sisi koin yang sama, tapi kebalikan dari "cinta" bukanlah "benci", melainkan "acuh". Kutipan ini digunakan dalam banyak Eroge, tapi sebenarnya berasal dari Suster Teresa.

Jika keduanya rukun, itu sungguh baik.

"Cih."

Tapi Hatsushiba masih terlihat tidak senang. Sepertinya dia ingin berbicara empat mata dengan Ayame, mengenai betapa dia terlihat bahagia ketika ngobrol dengan Eve. Dia mungkin senang saat melihat Ayame punya teman baru, tapi masih merasa jengkel seperti ketika orang tua tahu anak mereka bergaul dengan preman.

Aku dan Ayame sudah meninggalkan masalah ini di masa lalu, jadi akan lebih baik bila Hatsushiba juga melakukan hal serupa.

"Pikiran seorang wanita sungguh sulit dimengerti."

Tozaki mengatakannya sambil mencoba bersikap dingin. Kau tidak punya hak untuk mengatakan itu, jangan mencoba bertindak seperti seorang playboy yang sudah kenyang pengalaman.

Tapi aku setuju bahwa mereka sangat sulit dimengerti, aku juga tidak tahu apa yang dipikirkan di kepala mereka.

Kami mengobrol sebentar, sebelum kelas sore yang membosankan dimulai,

"Sekain dulu pelajaran hari ini, aku kembalikan pada ketua kelas."

Ohara-sensei menyelesaikan Homeroom-nya, yang menandakan akhir dari pelajaran hari ini. Kelas menjadi berisik karena semuanya mulai membicarakan hal-hal seperti: "kemana kita pergi sepulang sekolah", "aku lagi males ikut aktivitas klub nih", atau "jika kau tidak bergegas, maka aku akan terlambat menghadiri les” dan sebagainya.

"Kalau begitu, ayo ke ruang klub."

"Yay ~", "Ummm…….."

"..."

Eve dan Hatsushiba segera membalas saat Ayame mengajaknya. Dan kemudian mereka mengarahkan pandangannya pada kami.

"Aku tahu, aku tahu. Tozaki, apa kamu ikut?”

"..."

"Oi, ToZaki?"

"Eh? Ah! Ke klub, kan? Ayo pergi."

Nanti aku akan bertanya padanya, apakah ada yang salah dengannya, karena tingkah Tozaki hari ini aneh sekali. Kalau mood-nya sedang bagus, dia akan menceritakan semuanya. Lantas, kami semua menuju ruang klub, karena tak satu pun dari kami mendapat giliran piket hari ini.

Sebenarnya, aku juga tak berniat melakukan apapun di ruang klub, mungkin aku hanya akan bersantai dan sesekali main Eroge. Untuk memulihkan pikiranku dari kegiatan sekolah yang penuh tekanan hari ini.

"Apa yang harus kita mainkan hari ini, Ayame-cchi ~?"

"Jangan menempel padaku! Hawanya semakin panas!"

Kami berjalan di sepanjang koridor, di hadapanku dan Tozaki adalah Eve dan Ayame yang masih saja ngobrol sejak keluar dari kelas. Sementara Hatsushiba akan menaikkan volume suaranya setiap kali keduanya terlalu dekat.

Kurasa, aku sudah terbiasa dengan adegan ini.

"... Hei Aramiya, apa aku bisa bicara?"

Tozaki berbicara kepadaku saat kita melangkah keluar dari gedung sekolah.

Ini lebih cepat dari perkiraanku sebelumnya.

"Ayo aja, ada apa emangnya?"

Tozaki mengangguk, kemudian melirik ketiga gadis itu seolah mengatakan sesuatu. Yah, aku bisa menebak apa yang coba dia sampaikan.

"... bisakah kalian berangkat ke ruang klub tanpa kami?"

"Kenapa ~? Apakah kalian berdua akan beradu siapa yang kencingnya paling jauh?” [3]

"Seorang gadis tidak boleh berbicara seperti itu, kalian duluan saja."

"Ayo, Suwame."

"Baiklah ~"

Ayame dan Eve berjalan ke gedung lain tempat rruang klub kami berada, sementara Hatsushiba mengikuti mereka dengan bingung.

Aku melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang di sekitar, sebelum akhirnya berbalik untuk berbicara dengan Tozaki.

"... Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? Pasti sesuatu yang tidak baik.”

"Ini tentu bukan hal yang baik ... yah, ini tidak terlalu penting sih, tapi ..."

Tozaki menggaruk kepalanya.

"Apakah tentang 'itu' lagi?"

"Ya itu'. Ada rumor lain tentang Ayame.”

"Apa lagi kali ini? Ayame adalah pembunuh bayaran atau Gadis Amazon?”

Tapi dia bilang, ini tidaklah terlalu penting ...

Ketika dia melihat aku melotot padanya, dia perlahan berbicara.

"Ayame dan Eve adalah pasangan Yuri [4] ..."

Yuri, juga dikenal sebagai bunga Lily, adalah bunga dengan aroma yang terlalu manis. Bunga Lily punya beberapa warna seperti putih, kuning, merah dan pink. Secara pribadi, aku suka bunga Lily putih.

Tapi bagi kaum Otaku, kata "Yuri" punya arti lain.

"... maksudmu Yuri yang berarti 'lesbian'? Seperti game 'Hitohane'."

"Yeah, itu. Tapi aku lebih suka 'Raspberry Panic'.”

Maksudmu anime dengan ungkapan populer "Ahh, muncraaat"? Mereka juga membuat game untuk seri itu, bukan?

"Jadi, mengapa mereka berpikir bahwa Ayame dan Eve adalah sepasang Yuri?"

"Mungkin karena mereka selalu saling menggoda?"

"Bukankah itu selalu dilakukan semua gadis?"

"Ya. Itu sebabnya aku bilang tidak penting.”

Aku hanya bisa mendesah. Tidak aneh Tozaki ragu kalau rumornya hanya sebatas ini.

"Seberapa jauh penyebarannya?"

"Cukup jauh ... ketika aku mengetahuinya, rumor itu sudah ada dimana-mana."

"Mendengarnya saja membuatku lelah ... apakah hanya ini?"

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika hanya ini.

Setidaknya, itu tidak terlalu merusak citra Ayame.

"Hanya itu sih ... tapi, gak masalah nih membiarkan rumor ini berkembang begitu saja?"

"Sepertinya gak masalah, mungkin akan hilang dengan sendirinya. Kedengarannya sih gak begitu buruk.”

"Bukankah rumor terakhir bilang kalau dia mau diajak tidur oleh siapapun?"

"Yuri seharusnya tidak seburuk itu, kan?"

"Kupikir hanya otaku yang berpikiran berpositif tentang Yuri."

"Mungkin. Tapi kita harus membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalah ini sendiri, karena rumor itu tidaklah begitu buruk. Paling-paling aku hanya akan memperingatkan Eve agar tidak terlalu dekat dengannya.”

Tozaki mengangguk setuju, kemudian kami pun lanjut menuju ruang klub. Jika kami datang terlalu telat, Hatsushiba akan marah lagi.

Sebenarnya, untuk apa sih klub ini? Harusnya ini adalah klub untuk mengatur rumor tentan Ayame, tapi ...

Tapi saat kami berjalan ke ruang klub ...

"H-hei, b-bolehkah aku bicara sebentar?"

Saat kami memasuki gedung, seorang pria yang tidak aku kenal memanggilku. Dia bertingkah sedikit gelisah. Dengan kata lain, mungkin dia adalah Otaku seperti kami. Yah, atau mungkin juga bukan… karena aku sama sekali tidak merasakan aura Otaku yang terpancar darinya.

Aku menoleh ke arah Tozaki, dia pun hanya bisa menggelengkan kepala. Jika dia tidak mengenalnya, lantas siapa?

"Mau bicara padaku?"

"Umm, ada sesuatu yang ingin kutanyakan ...."

Pria itu tampak malu.

Apakah dia ingin menembakku. Kumohon jangan…

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya dia membuka mulutnya. Tampangnya tampak seperti seorang prajurit yang akan menjalani pertempuran terakhir… lantas dia pun berkata…

"Apakah Ayame dan Suwama benar-benar lesbian?"

Apa-apa’an yang kamu katakan? Aku tahu bahwa rumor itu sedang berkembang, namun bertemu dengan salah seorang yang mempercayainya benar-benar menyebalkan.

"Tidak. Dari mana kau mendengarnya?”

"K-karena semuanya bilang begitu ..."

"Siapa yang kau maksud dengan ‘semuanya’?"

"Teman sekelasku dan yang lainnya ..."

"Itu hanya rumor tak berdasar. Bahkan jika mereka benar-benar lesbian, lantas kau mau apa?”

"T-Tidak kok! Maaf karena telah bertanya yang tidak-tidak, s-sampai jumpa!"

Dan dia pun bergegas pergi. Tozaki dan aku hanya bisa mengangkat bahu.

"Aku punya firasat buruk tentang ini."

"Jangan mengibarkan flag."

Setelah itu, kami menuju ke ruang klub seperti biasa. Kiyomi juga ada di sana. Tampaknya mereka sudah saling menyapa, dan sekarang mereka hanya duduk di kursi tanpa berbicara sedikit pun.

Tidak hanya itu…

"Oh, akhirnya kau datang juga."

Ada orang lain di sana.

"Kotani-sensei?"

Kata Tozaki dengan heran.

Kotani Kiriko, seorang guru fisika di sekolah kami yang langsung mengajar setelah lulus dari kampusnya. Dia telah bekerja di sini selama 2 tahun. Dan dia juga sepupuku.

Penampilannya seperti wanita kantoran, dia mudah bergaul dengan siapapun, dan para siswa pun melihatnya sebagai guru cantik dan keren. Hahh, kalian telah tertipu mentah-mentah.

"Ada apa Tozaki, apa kau keberatan aku di sini?"

"Tentu saja tidak! Anda diterima dengan baik di sini! Ha ha ha…"

"Kau juga, Aramiya. Ekspresi macam apa itu?”

"Ah, tidak apa-apa ... Tentu saja Anda boleh di sini, karena bagaimanapun juga Anda adalah penasehat klub, Kotani-sensei."

Aku biasanya memanggilnya Kiriko-nee saat di rumah, tapi kami sedang berada di sekolah saat ini.

"Dan.. apa yang membuat Anda mampir ke sini hari ini?"

"Aku adalah penasihat klub kalian, jadi aku boleh mampir kapanpun. Aku di sini memastikan kalian tidak melakukan sesuatu yang tidak senonoh.”

"Apa maksud Anda dengan 'tidak senonoh' ...?"

"Sesuatu seperti tindakan yang tidak pantas dilakukan di sekolah dan semacamnya."

Tidak ada yang seperti itu di sini.

"Aku akan memastikan di sini tidak ada siswa yang merokok, dan juga tidak ada aktivitas pembullyan. Guru-guru sangat sensitif akan hal itu, jika sesuatu terjadi di sini, maka reputasiku menjadi taruhannya.”

"Anda tidak perlu khawatir, karena di sini tidak pernah ada pelanggaran-pelanggaran seperti itu."

Meski kami bermain Eroge, tolong jangan berpikiran negatif dulu.

"Para guru selalu mendesakku dengan pertanyaan seperti: ‘klub macam apa yang kerjanya hanya main game saja’, atau semacamnya."

"Guru-guru itu sungguh ketinggalan jaman, mereka harus tahu bahwa belakangan ini juga banyak klub olahraga elektronik. Jika bisbol dan sepak bola bisa memiliki 2 klub yang terpisah, mengapa klub LOL dan StarCraft tidak bisa begitu?"

"..."

Meskipun begitu, klub kami tidak ada hubungannya dengan E-Sports sih...

"Jika klub ini benar-benar tentang olahraga elektronik, kalau begitu aku akan memberitahu mereka."

"..."

"Tapi…"

Kiriko-nee melihat ke sekeliling ruangan.

"Anggota klubmu tidak terlihat seperti gamers tuh."

Memang benar bahwa anggota klub kami tidak terlihat kompak ...

"Jadi, sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan di sini? Bukan hanya sekedar main game, kan?”

"Kami juga merencanakan berbagai hal untuk menepis rumor buruk tentang Kotton, maksudku Ayame."

Hatsushiba menjawab dengan kaku.

"Kalau dipikir-pikir, kau masih mengerjakan tugas yang kuberikan padamu, kan?"

"Ya. Karena hanya kelas kami yang sudah tidak mempermasalahkan rumor-rumor tak berdasar itu.”

"Begitu kah? Dapatkah aku memegang omonganmu?”

Begitu dia menyelesaikan kalimatnya, Ayame langsung mengangkat tangan.

"P-Percayalah pada kami!"

Kirigo-nee tersenyum. Sial!

"O-oi, Ayame?"

"Aramiya, karena Ayame sudah menyanggupinya, maka kau tidak perlu khawatir."

Dia tersenyum seperti malaikat, seolah mengatakan "kuserahkan semuanya pada kalian". Tapi aku tahu bahwa ada senyum iblis di balik topeng itu!

"Mohon bimbingannya!"

Ayame yang tidak tahu apa-apa, menyatakan kesanggupannya sekali lagi.

... apa yang akan dia lakukan sekarang? Membayangkannya saja sudah membuatku susah.

"Tapi, sepertinya tidak ada apa-apa pada semester pertama, jadi tunggulah sampai semester selanjutnya."

Menunggu apa? Kirigo-nee meninggalkan kami begitu saja setelah menyampaikan itu.

"Err, Aramiya ... apakah kita baru saja menggali kuburan kita sendiri?"

"Kau baru tahu!? Karena itulah aku menentangnya sejak dulu! "

"Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal!?"

"Aku sudah katakan kepadamu! Kaulah yang gagal memahaminya! "

Tapi saat aku bilang begitu, Ayame tiba-tiba angkat bicara.

"Dia mungkin tidak akan membiarkan kita melakukan sesuatu yang aneh."

"Betul ~ sensei terlihat seperti orang baik!"

Eve benar-benar setuju dengan Ayame, tapi apakah kau benar-benar yakin bahwa dia adalah orang yang baik, Eve?

Saat aku dikerjai Eve, dia bahkan berkata, "Aku akan menenggelamkan pelacur itu ke laut, tak peduli siapapun dia!”

"Mari lupakan dia sesaat, ada hal yang lebih penting untuk dibahas. Ini mengenai rumor baru tentang Ayame yang belakangan ini berkembang cukup pesat."

"Baiklah, baiklah."

Aku membiarkan Hatsushiba memimpin rapat, sedangkan aku hanya akan memberikan beberapa saran untuk melenyapkan rumor-rumor itu.

Yahh, kalau rumor ini tidak parah, maka seharusnya kami tidak akan terganggu. Namun sepertinya keadaan sudah berkembang ke arah negatif.

◇ ◇ ◇

Sewaktu pagi, sebelum Homeroom dimulai, aku dan Tozaki baru saja tiba di sekolah, tepatnya kami sedang berjalan di lorong gedung.

"Pagi, Tozaki. Hari ini kau agak telat ya?”

"Aku begadang kemarin untuk melihat pengumuman game baru."

Tentu saja kami sedang membicarakan Eroge

Game "War Blade: Princess of Lily" studio yang sama yang membuat "Princess • Weekday", itu merupakan game pertama Ayame.

"Aku terus memelototi situs web sampai-sampai mataku mau copot, ketika aku sadar, ternyata hari sudah pagi."

"Mereka bahkan belum mengumumkan tanggal rilisnya, kan?"

"Tapi kau masih bisa membayangkan bagaimana hasilnya, kan? Game garapan studio ini selalu membuatku senang."

Tidak ada yang boleh meremehkan ke-Otaku-an Tozaki.

Dia pernah meneliti sumber halaman teaser game sebelumnya, hanya untuk melihat apakah ada informasi tersembunyi padanya.

Ada baiknya game tersebut tidak dirilis pada musim panas ini, kalau tidak.. tanggalnya akan bersamaan dengan rilisnya "Destiny Zero", dan aku mungkin akan menyia-nyiakan sehari penuh, sebelum aku bisa memutuskan mana yang harus dimainkan terlebih dahulu.

"Game ini terlihat sangat menakjubkan bukan, Tozaki?"

"Betul kan? Bahkan ada rute lolinya segala… pokoknya kau tak akan kecewa deh."

"Itu sungguh menakjubkan, sampai-sampai aku tidak bisa mendeskripsikannya."

"Kita hanya bisa berfantasi tentang game itu, paling tidak sampai tanggal rilisnya tiba ..."

Kami berbicara pelan seperti mata-mata yang sedang berada di sarang musuh ...

Dan kami bertemu dengan seorang pria yang sudah menunggu kami sejak tadi.

"H-hei ..."

Orang asing lagi.

Dia bukanlah pria yang kemaren, namun auranya sama. Yang satu ini mungkin juga Otaku, tapi aku tidak bisa mengatakan dengan pasti.

Aku melirik Tozaki, dan dia menggelengkan kepalanya lagi. Siapakah pria ini?

"Ada apa?"

Cepat katakan, Homeroom akan segera dimulai.

"B-Bolehkah aku mendapatkan Ayame, Suwama atau Hatsushiba?"

"…Hah?"

"Gadis yang lain juga gak apap kok. Kalian punya banyak, kan?

Mungkin, orang ini adalah salah satu dari bangsa Sumeria [5] kuno, dan dia sedang berbicara dengan menggunakan bahasa langka yang tak seorang pun mengerti.

"Tunggu, apa yang sedang kamu bicarakan? Apakah kau ingin mereka membantu kegiatan klubmu, atau semacamnya?"

"Kau punya banyak cewek, kan? Tidak bisakah kamu memberiku satu?” [6]

Apakah yang dimaksudkan orang ini adalah cewek 2D? Kalau begitu, aku tidak hanya punya banyak, tapi aku bahkan bisa memenuhi kota ini dengan cewek 2D.

Tapi dia menyebutkan Ayame ...

"Apa, tidak! Dari mana kau mendengarnya?”

"Tapi semua orang bilang begitu ..."

Lagi? Apakah ada seseorang bernama "semua orang" di sekolah kita, atau apa?

Aku mendesah, lantas kuhadapi pria di depanku.

“Itu tidak benar, jadi beritahu pada temanmu yang namanya ‘semua orang’ itu.”

“A-Aku tidak bisa dapat satu saja? Apakah ada persyaratan tertentu yang harus kupenuhi...?”

“ITUUUU TIDAAAAAAAK BENAAAAAR… KAMPREEEEETT!!!”

Dia terdiam ketika aku membesarkan suara, tapi dia masih menunjukkan ekspresi tidak puas di wajahnya.

Kami biarkan dia lewat, sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke kelas

“Apa sih yang terjadi sejak kemaren?”

“Kau tahu, kau terlihat seperti bandar gadis.”

"…aungguh?"

"Hanya bercanda. Jika orang sepertimu bisa melakukan hal semacam itu, maka Mikato dan Co akan menjadi raja harem. Friendzone juga mentakitkan, kau tahu?”

Dia masuk akal juga, setiap kali aku melihat Mikato, dia selalu dikerubungi oleh gadis-gadis, tapi dia tidak pernah punya pacar. Itu sungguh aneh.

Sementara aku berpikir demikian, orang lain pun muncul. Lagi-lagi kami tak kenal.

“Bolehkah aku bicara padamu?”

"…lagi?"

“L-lagi?”

“Bicara saja… jadi, apa yang kau mau?”

Ketika aku bertanya, dia menarik keluar uang sepuluh ribu Yen dari dompetnya.

Sementara aku masih terjebak dalam kebingungan, ia menunjukkan uang sebanyak itu.

“Bisakah aku menonton keduanya melakukan itu?”

... ini diluar dugaanku dan Tozaki.

Siapa yang dia maksud dengan ‘keduanya’? Mengapa dia harus membayarku?

“Tunggu, aku tidak mengerti. Tolong jelaskan lebih simpel."

“Tapi… bukankah Ayame, Suwama dan Hatsushiba adalah pacar-pacarmu? Kudengar, kau menyuruh mereka saling melakukan itu supaya bisa kau pamerkan pada orang lain ...”

Ini gila.

Apakah ini berarti mereka semua berpikir bahwa aku “memanfaatkan gadis-gadis itu”… jangan main-main denganku!!

“A-Aku juga pengen melihatnya! Jika ini belum cukup, maka aku akan kembali lagi dengan jumlah yang lebih banyak!”

Wajahnya terlihat benar-benar serius.

“Tidak pernahkah kau berpikir bahwa rumor itu salah?”

“T-Tapi semua orang berkata begitu ...”

Lagi-lagi, siapa sih “semua orang” kampret ini!!?

Meskipun semua orang di seluruh dunia mengatakan hal yang sama, maka apakah itu bisa mengubah hitam menjadi putih!?

Ingin kuhajar orang ini, tapi aku sebisa mungkin menahan diri.

“Ceritakan apa yang kau dengar.”

Aku berusaha menekan kemarahanku, lalu kutanyai dia. Lantas dia menjawab dengan malu-malu.

“Mereka mengatakan bahwa kau menyuruh Ayama dan Eve melakukan itu untuk kesenanganmu sendiri.”

Ini sungguh gila. Ini tidak lagi pantas disebut rumor biasa.

"Omong kosong."

Kukatakan itu sembari kutampik tangannya, sehingga uang itu jatuh berserakan.

Dengan enggan, dia pungut kembali uangnya yang berserakan di lantai, lantas dia menjauh dari kami. Jika kau begitu ingin menonton adegan Yuri, maka bermainlah Eroge seperti: “S*no Hana*ira” atau “Hito*ane”, dan masih banyak lagi lainnya!

Aku berjalan dengan marah menyusuri terowongan, bersama Tozaki yang mengikutiku di belakang.

"Sial!!"

Aku tak pernah mengira bahwa rumornya juga akan melibatkan namaku.

Bagaimana cara Ayame menanggung semua omong kosong ini?

Rumor ini sungguh jauh dari kenyataan ... seharunya, orang-orang hanya mempercayai rumor yang masih masuk akal atau tidak hoax.

“Apakah rumor ini begitu nyata bagi mereka?”

“Dengan keadaan seperti ini, meungkin saja itu benar. Kau dekat dengan Hatsushiba juga, kan?”

“Kau juga.”

“Tapi, kau selalu bersama Ayame ketika dia merubah sikapnya, bahkan kau punya kisah masa lalu dengan Suwama.”

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa untuk itu. Sepertinya, orang-orang mulai menduga bahwa akulah alasan di balik berubahnya sang preman Ayame, dan juga si centil Eve.

Aku tahu bahwa kedua menghormatiku sampai batas tertentu.

Ketika seseorang yang begitu ditakuti berubah menjadi pribadi yang penurut, maka publik akan mencari tahu sosok di balik berubahnya orang itu.

Karena itu, aku yang hanyalah Otaku biasa, tiba-tiba menjadi pusat perhatian, padahal selama ini aku hanya berada di kasta tengah dari hierarki sosial.

“Ada juga rumor tentang Hatsushiba yang menjadi lesbian dengan mereka berdua, kan? Mungkin kau bisa menggabungkan kedua rumor itu bersamaan.”

Aku menyesal karena menyepelekan rumor ini kemaren. Ini semua salahku.

Aku terlalu menganggap remeh rumor tentang diriku sendiri.

Ketika sekolah berakhir, Kiyomi beserta kami berjalan menuju ruang klub bersama-sama. Aku merasa seperti ada orang yang mengawasi kami yang sedang berjalan di lorong sekolah.

Biasanya, hanya ada murid-murid anggota klub yang lalu-lalang di gedung ini, namun sekarang ada wajah-wajah baru di sekitar kami. Mereka melihat kelompok kami dengan curiga. Tidak bisakah kalian sedikit menyembunyikan keberadaan kalian?

Dan itu terjadi saat kami masuk ke ruangan klub.

“Apakah terjadi sesuatu?”

Ayame bertanya ingin tahu.

Ya. Sedang ada acara untuk merayakan anggota baru…. Tentu saja aku bercanda.

“Aku tak mendengar kabar apapun tentang hal ini, iya kan Ayame?”

“Aku juga. Kelas Homeroom pun tidak membahas apa-apa.”

Kiyomi dan Ayame berbicara pada saat bersamaan.

Aku berbalik untuk melihat Tozaki, sepertinya dia tahu sesuatu.

“Apakah kau tahu sesuatu tentang hal ini, Tozaki?”

“Yah, aku sempat bertanya-tanya saat makan siang ... sini, mendekatlah.”

Aku pun bergerak mendekat pada Tozaki, lantas kutempelkan telingaku pada mulutnya sembari mengabaikan keempat gadis yang sedang penasaran di sana.

“Kau ingat rumor pagi ini?”

“Mhmm. Dan……?"

Tentu saja aku ingat, bagaimana bisa aku melupakan hal yang begitu menyakitkan? Aku menyuruh mereka melakukan adegan Yuri untuk bersenang-senang? Yang benar saja!!

Betapa konyol.

“Yah ... mereka mengatakan bahwa kau akan merekam adegan Yuri di ruang klub secara langsung.”

Aku paham.

“Mereka berpikiran begitu karena ruangan klub kita selalu tertutup?”

“Kau bisa berjudi atau merokok di ruangan seperti itu tanpa diketahui siapapun, kan?”

Meskipun melakukannya secara diam-diam, pada akhirnya kau tetap akan tertangkap basah merokok karena bau nafas dan noda di baju tidak bisa hilang dengan mudah. Ibu pun selalu komplain pada ayah akan kebiasaannya merokok.

“Hanya karena itu ruangan tertutup, lantas kita bisa melakukan apapun sesuka hati ...?”

Ketika melibatkan tempat tersembunyi yang jauh dari pantauan publik, kabar murahan seperti : “Mungkinkah mereka sedang melakukan X di sana?” dapat memulai suatu rumor berantai yang terdengar masuk akal.

Ini gawat.

... Tapi, yang bisa kulakukan saat ini hanyalah bertahan seperti katak yang sedang berhibernasi selama musim dingin, sembari menunggu datangnya musim semi.

Aku hanya perlu menunggu selama 75 hari. Jika aku bisa bertahan sampai liburan musim panas, maka semua rumor akan hilang dengan sendirinya.

“... Sepertinya aku mendengar suara orang berjalan ke sini.”

Kata Ayame, dan Kiyomi menyambungnya dengan, “Ini benar-benar mencurigakan.” ,sembari mengerutkan kening.

Aku mencoba berkosentrasi, kemudian aku sadari bahwa itu bukanlah suara derap langkah seseorang saja, melainkan banyak orang. Mereka tidak bisa melihat ke dalam karena pintu terkunci dan kaca jendelanya buram.

Tapi, masihlah menyebalkan ketika mengetahui ada sekelompok orang yang mondar-mandir di luar.

Persetan. Jika kalian benar-benar ingin nonton adegan Yuri, maka akan kuberikan Eroge murahan pada kalian! Ambil saja, lalu pergilah yang jauh!

“Hei Aramiya, apakah menurutmu mereka juga termakan rumor itu?”

Tanya Tozaki.

"Pastinya…."

Aku harus mengakui bahwa rumor ini mulai menjadi penghalang bagi klub kami, dan juga mengusik kehidupan sekolah kami yang damai ...

Aku menjelaskan apa yang terjadi pada para gadis yang masih kebingungan tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Ayame dan Hatsushiba menunjukkan ekspresi yang seakan-akan berkata, “Lagi…..!?”, sementara Eve tidak begitu ambil pusing.

Kiyomi mengatakan, “itu benar-benar mengganggu” dengan nada simpatik untuk Ayame.

"Begitukah? Rumor macam apa yang sedang berkembang kali ini?”

“Ayame, kata mereka… kau dan Eve adalah sepasang lesbian.'”

Matanya melebar saat mendengar itu, kemudian Tozaki menjatuhkan bom lain tanpa membaca mood mereka, seperti “Rumor lain bahkan mengatakan bahwa kalian berdua juga main gila bersama Hatsushiba.”, dan itu semakin membuat mereka tertekan.

“Dan semua orang percaya begitu saja? Tozaki-kun!”

“Umm, setidaknya orang-orang di kelas kita tidak… tapi rumornya menyebar cukup pesat di luar kelas. Bahkan seorang adik kelas juga membicarakan tentang rumor itu.”

"Hmm ..."

Hatsushiba memasang ekspresi cemberut saat mendengar jawaban Tozaki.

“Mereka semakin bersemangat karena Ayame mulai terkenal di sekolahan ini, sedangkan Eve adalah murid pindahan. Ada juga beberapa orang yang iri akan prestasi Hatsushiba.”

Hatsushiba terlihat benar-benar lelah dengan semua omong kosong ini.

“Jika rumornya menyebar secepat ini, berarti memang ada seseorang yang sengaja menyiramkan minyak ke api. Masalahnya, kita sama sekali tak tahu siapakah orangnya. Dan apakah dia orang yang sama dengan si penyebar rumor tempo hari.”

Saat itulah Eve dengan penuh semangat mengangkat tangannya.

“Ngomong-ngomong, apa itu Yuri?”

Aku hampir jatuh terjungkal. Kau bahkan tidak tahu istilah itu!?

“Aku juga tidak mengerti. Jadi? Apa itu?"

Kiyomi juga tidak tahu. Yahh, istilah ini cukup spesifik bagi orang awam, jadi tidaklah aneh jika mereka tak paham.

“Aku tahu bahwa Yuri berarti bunga ... apakah berarti kami indah seperti bunga?”

Dia benar bahwa kata Yuri biasanya berarti “Bunga Lily” ...

“Bukan, Yuri sepasang lesbian. Dengan kata lain, orang-orang berpikir bahwa kau dan Ayame sedang menjalin kasih.”

“Aku dan Ayame-cchi? Tapi kami berdua hanya ngobrol biasa?”

“Itu karena kalian berdua selalu bersama-sama, sehingga orang-orang mulai berpikiran yang aneh-aneh.”

“Ehh ~ tapi bukannya gadi-gadis lain juga sering ngobrol bersama ~?”

... Perkataan Eve ada benarnya.

Meskipun dia cenderung terlalu akrab dengan Ayame, tetapi sesuatu seperti itu adalah hal yang wajar di kalangan para gadis. Kau dapat menemukan sepasang gadis yang terlihat begitu akrab di mana saja.

“Aku pribadi sih tidak ingin terlalu akrab dengannya.”

“Ehh ~ Ayame-cchi, teganyaaa ~”

“Sudah sering kali kubilang agar kau tidak terlalu dekat denganku.”

Memang benar bahwa Ayame tidak banyak tersenyum ketika ngobrol dengan Eve, tapi bukankah sejak awal dia memang pelit senyum?

“Yuuka benci setuju dengan Suwama-san, tapi rumor ini benar-benar aneh, karena seharusnya Yuuka terlihat lebih dekat dengan Kotton.”

Mengapa kau malah bangga? Apakah kalian sedang bersaing?

“Sebenarnya, mungkin itulah yang diperlukan rumor tersebut untuk menyebar lebih pesat.”

"Apa maksudmu?"

“Jika Ayame dekat dengan Hatsushiba, itu normal, kan? Tapi ketika dia mendekati Eve, semuanya jadi rancu.”

“T-tapi!”

“Aku tahu ini memanglah aneh.”

Tapi tampaknya Hatsushiba masih belum menyadarinya, jadi aku tak akan memberitahunya sekarang. Sebenarnya, ada rumor lain yang menyebutkan bahwa mereka terlibat cinta segitiga.

“Tapi kita masih tidak tahu siapakah pelaku di balik tersebarnya rumor ini ...”

Saat itulah Tozaki mengangkat tangannya.

“Tapi Aramiya, rumor tempo hari jelas dimaksudkan untuk merusak hubungan kita, sedangkan yang ini bukankah sedikit aneh? Seakan-akan, rumor ini tidaklah logis, dan tidak dimaksudkan untuk merusak hubungan kalian.”

"Kamu benar…"

Kiyomi berbicara, sementara aku masih berpikir dengan wajah khawatir.

“Banyak orang berkata bahwa Ayame dan Eve terlalu dekat, namun bagi mereka itu adalah suatu hal yang lumrah ...”

Yahh, hubungan sesama wanita tidak terlihat aneh bagi golongan tertentu, namun aku sangat menghindari hubungan sesama pria ...

“.... yang benar saja….”

Biasanya aku hanya akan mengabaikan rumor seperti ini, namun karena namaku juga ikut terbawa-bawa, maka aku tidak bisa tutup mata kali ini.

Di game juga ada rumor seperti ini, namun itu hanya seputar gadis-gadis yang dekat dengan MC, atau beberapa karakter yang menjalin hubungan rahasia dengannya. Sedangkan kabar angin ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu semua.

“... kita harus menemukan pelaku di balik menyebarnya rumor ini.”

“Sepertinya kau sendiri juga tidak yakin.”

“Itu karena namaku juga menjadi subyek rumornya, oke?”

Tozaki benar-benar tahu caranya menyinggung perasaanku. Bagaimanapun juga, aku tidak tahu apapun jika tak pernah melihatnya di game.

“Jadi, bagaimana caramu menemukan pelakunya?”

“Yah, pertama-tama, ayo kita contoh apa yang dilakukan para MC pada game-game detektif, kemudian ...”

Tapi sebelumku dapat meneruskan omonganku….

“Baru-baru ini, aku mendengar rumor yang sungguh aneh.”

Ketua OSIS tiba-tiba datang bersama dua bawahannya.

Chuuko Vol 3 g.png

“Kenapa kau terlihar kecewa begitu? Apakah kau tak suka aku berada di sini?”

"Ah, tidak juga. Lantas? Apa yang kau inginkan sekarang?"

“Aku di sini hanya untuk melihat wajah-wajah cantik Ayame-san, Hatsushiba-san, Suwama-san dan Aramiya Kiyomi-san, itu saja.”

Dia melirik keempat gadis anggota klub kami.

“Tapi sayangnya, aku ada urusan lain.”

Dia beralih melihatku, lalu dia memberiku isyarat untuk keluar ruangan klub. Jadi, kau ingin berbicara secara pribadi ya?

Aku menanggapinya, kemudian aku pun berdiri dari kursiku.

“Apa yang terjadi, Aramiya?”

“Ketua OSIS ingin berbicara denganku, maka akan kuturuti dia. Aku akan kembali dengan cepat.”

“Kalau begitu, aku juga ikut ...”

“Sebaiknya tidak. Ada banyak hal yang tidak bisa kusampaikan jika ada kau.”

Ayame terlihat benar-benar kecewa. Jangan membuat wajah seperti itu, aku jadi merasa bersalah.

“Kalau begitu, ayo kita pergi.”

Kami berjalan ke sudut bangunan yang sepi, sementara kedua bawahannya hanya berdiri menonton, sehingga tak seorang pun akan mengganggu kami.

“Aku hanya ingin mengonfirmasi langsung mengenai rumor yang menyatakan bahwa kau memanfaatkan gadis-gadis itu, apakah betul?”

Jadi, dia pun penasaran akan kebenaran rumor itu ...

“Aku heran kau percaya kabar gak jelas seperti itu.”

“Tentu saja aku tidak percaya.”

"Betul. Hanya orang idiot yang mempercayainya.”

"Tentu saja. Biasanya, tidak ada orang yang mempercayai kabar angin seperti itu, tapi semakin rumor berkembang, maka semakin realistis pula rumor tersebut. Jadi, jangan heran kalau nama baikmu akan tercemar nanti.”

“Betapa bijaksana dirimu.”

"Tentu saja. Terkadang, jika kau berjalan menentang arus, maka beberapa hal berhargamu akan lenyap, seperti cinta atau persahabatan.”

“Kalau cinta dan persahabatanku rusak hanya karena hal sepele seperti itu, maka lebih baik aku tidak menjalinnya sejak awal.”

“Ikatan yang sederhana pun akan semakin kuat seiring berjalannya waktu, namun jika ikatan itu lepas sebelum waktunya, maka kau akan kehilangan kesempatan untuk mencoba sekali lagi.”

“Jadi, kau tidak masalah dengan persahabatan macam itu?”

“Ikatan banyak jenisnya, bukan?”

Aku tidak tahu, dan aku pun tidak mau tahu.

“Aku gak paham dengan kata-kata filosofis seperti itu, jadi hentikan sekarang juga. Akan kutegaskan sekali lagi bahwa rumor itu tidaklah benar, itu saja.”

“Tentu saja aku tahu itu, aku hanya ingin memperingatkanmu bahwa rumor ini menyebar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan."

Jujur saja, aku mencurigai Ketua OSIS sebagai pelakunya.

Maksudku, sejak awal orang ini memang suka Yuri, kan.

"Tentu saja."

“Kau tidak menyangkal itu!?”

“Menurutku itu tidaklah istimewa. Bahkan banyak wanita yang memang menyukai Yuri, kan.”

... akan kupancing dia untuk mengakui dosanya. Sanggahan apa yang akan kau ucapkan?

“Biarkan aku bertanya satu hal padamu: menurutmu, mengapa hubungan sejenis begitu tabu di dunia ini?"

“Karena manusia tidak bisa bereproduksi dengan hubungan sejenis.”

Sebenarnya, aku pun merasa bahwa keturunan bukanlah satu-satunya alasan.

“Itu memang fakta yang tidak bisa disanggah, namun kita sedang mendekati suatu masa di mana kaum pria tidak lagi dibutuhkan. Tentu saja, masih ada masalah tentang moral publik.”

“Kenapa sih kita membicarakan ini?”

Hanya mendengarkannya saja sudah membuatku sakit kepala. Aku bahkan tidak ingin berbicara dengannya.

“Artinya, suatu saat nanti, ideologi tentang pasangan lawan jenis akan dibalik.”

“Masih terlalu dini untuk menyimpulkannya, dan apa yang coba kau sampaikan padaku saat ini?”

“Coba bayangkan bahwa gaya hidup seperti itu akan diterima masyarakat suatu saat nanti.”

Membayangkannya saja sulit, dan aku masih tak tahu apa yang coba dikatakan gadis ini padaku.

“Ketika waktunya datang nanti, meskipun kaum lelaki begitu ingin dapat wanita, apakah wanitanya masih tertarik pada lelaki itu?”

“Kupikir aku tidak akan bernasib begitu, dan aku pun juga gak peduli.”

“Ayo, gunakan imajinasimu lebih jauh. Hubungan antara laki-laki dan perempuan penuh dengan kesulitan, sedangkan para gadis perlahan-lahan dapat membangun hubungan mereka sendiri dengan hanya menghabiskan waktu bersama-sama, dan jika gagasan tentang lesbian menjadi umum, persahabatan ini pasti akan berubah menjadi cinta.”

Ini gawat. Aku tidak dapat memahami omongan gadis mesum ini ...

Atau mungkin, dia mengatakan sesuatu yang benar-benar dalam? Filosofi macam apa ini? Bantu aku, Plato-sensei!

“Dan idealisme-mu hanya akan berakhir menjadi debu. Kita masih berada di masa yang sama, kan?”

“Ayolah, jika kau sedikit memikirkannya lebih dalam, maka kau akan memahaminya. Jika para wanita tidak perlu bergantung lagi pada laki-laki dalam memenuhi keinginan mereka untuk berhubungan dan bereproduksi, maka akankah ada gadis yang sudi memilih makhluk barbar dan berpikiran kotor bernama laki-laki?”

Mungkin akan sia-sia jika aku membantah pemikirannya ini.

Orang ini berbicara seakan-akan semuanya sudah pasti. Dia pikir dia tahu semuanya.

Mungkin hanyalah buang-buang waktu jika aku mencoba meyakinkannya.

Andaikan ini dalam game, kau hanya perlu mengajarkan padanya tentang apa saja yang bisa dilakukan seorang pria ... bahkan karakter Yuri pun akan menjadi Heorine utama di akhir cerita. Namun, sejak awal aku bukanlah tipikal karakter yang bisa diajak kencan.

“Itulah kenapa aku bilang rumor ini bisa menjadi fakta jika terus berkembang .... Hm, kenapa wajahmu?”

“Ti-tidak.”

Mungkin dia lah si penyebar rumor, meskipun dia sendiri tidak menyadarinya. Atau apakah dia melakukan ini semua untuk mencoba memisahkanku dengan Ayame? Atau, dia ingin menjadikan Ayame anak buahnya?

“Kupikir, kau berniat membubarkan grup kami, atau semacamnya.”

"Ide bagus!"

Dia mengatakan itu dengan senyum samar.

Betapa hina cewek ini.

◆◆◆

“Jangan-jangan, Ketua OSIS sendiri yang menyebarkan rumor itu.”

Aku mengatakan itu setelah kembali ke ruang klub, dan Tozaki pun membalasnya dengan “Ah!”, sambil mengangguk setuju.

Tapi para gadis hanya bereaksi dengan pasang ekspresi bingung di wajah mereka. Tak peduli dilihat dari segi manapun, Ketua OSIS adalah musuh bagi kaum hawa, karena dia berusaha melenyapkan peran lelaki, tapi kenapa tak seorang pun menyadarinya? Mungkin bagi mereka Ketua OSIS tampak lemah?

“Dan mengapa Ketua OSIS melakukan itu?”

Kiyomi masih menganggap Ketua OSIS sebagai cewek biasa.

Haruskah aku mengatakan itu?

“Anggap saja yang akan kukatakan ini hanyalah rumor tak berdasar, oke?”

Dan aku menceritakan pada mereka tentang semua yang kutahu.

Tentang bagaimana dia merekrut gadis-gadis untuk menjadi komite eksternal siswa, dan bagaimana dia melakukan hal-hal mesum pada mereka tiap malam.

“Sungguh?”

“Sulit dipercaya ~”

“Ada juga cerita seperti itu?”

“... apakah itu benar?”

Keempat cewek itu menunjukkan sedikit ekspresi jijik di wajahnya.

“Sebenarnya ini hanyalah rumor, dan aku pun tidak melihatnya dengan mata-kepalaku sendiri."

Itulah kenapa aku ragu-ragu memberitahu mereka tentang cerita ini ...

“Yang kulakukan sama seperti si penebar rumor buruk Ayame, dan aku pun merasa bersalah dengan menambahkan sedikit garam pada cerita itu.”

“Menuduh seseorang tanpa bukti memanglah perbuatan tercela ~”

Eve berbicara dengan nada riang ... apakah ia benar-benar memahami apa yang sedang kita bahas?

“Yahh, gimana ya bilangnya, ketika seorang pria mengikutimu di malam hari, kau pasti akan merasa was-was, kan? Atau ketika kau naik lift sendirian bersama seorang pria. Oh iya, aku tidak bertanya padamu, Ayame.”

“Kalau aku… aku akan berjalan sedikit lebih cepat agar menjauh darinya, atau mempersilahkan dia melewatiku ~”

“Jika dia tampak mencurigakan, maka aku akan menghindarinya. Tetapi jika ternyata dia terbukti tidak melakukan apapun, akulah yang merasa bersalah.”

Itulah yang Eve dan Hatsushiba katakan, dan entah kenapa, mereka menoleh ke arah Tozaki.

“Hei, kenapa kalian menatapku seperti itu?”

“Aku mengerti perasaan kalian… maka dari itu, pilihan terbaik adalah mencurigai mereka terlebih dahulu, kemudian meminta maaf bila memang tidak terjadi apapun.”

Pada akhirnya, semuanya terserah kalian, dan kalian berhak waspada pada siapapun untuk menjaga diri ...

“U, umm ... kenapa kau tidak meminta pendapatku ...?”

Ayame mengangkat tangannya dan berbicara dengan sedikit kesal.

“Yahh, kalau kau sih bisa menghajar 2 pria sekaligus, kan?”

Dia berteriak “Ah ...” ketika aku menjelaskan itu padanya.

"Tapi! Tapi bagaimana jika aku diserang oleh seseorang yang lebih kuat dariku !?”

“Jangan bercanda, kau bahkan bisa menang lawan beruang dalam suatu pertandingan gulat, kan?”

"Tentu saja tidak! Jangan pernah meremehkan beruang!”

Aku tidak tahu mengapa dia harus marah, dan kenapa dia seakan tahu betapa kuatnya seekor beruang? Aku pernah mendengar berita tentang seorang gadis SMA yang sanggup mengalahkan beruang ... mungkinkah ...?

“Aku hanya ingin kau sedikit peduli padaku! Jika aku dikepung, maka tidak mungkin aku bisa menang!"

Kalau dipikir-pikir, dia memang pernah dikepung oleh gengnya Sougo saat kami pertama kali bertemu, kan?

Jadi, dia bukannya tak terkalahkan? Dan Kiyomi yang sejak tadi mendengarkan, mengatakan sesuatu seperti: “Terimakasih atas infonya…”, info mana yang kau maksud? Yang soal beruang tadi? Mau jadi pawang hewan kau?

◇ ◇ ◇

Sekarang adalah pertengahan Juni, dan hawanya semakin panas. Gumpalan awan mengambang jauh di atas kepalaku, namun itu sama sekali tak melindungiku dari sengatan terik matahari. Seragam sekolah mulai basah kuyup karena keringat, bahkan tanah pun seakan memancarkan radiasi panas.

Ketika aku melihat-lihat sekitar, semua siswa pada mengipas-ngipas dirinya sendiri dengan tangan, dan beberapa ada juga yang melucuti kancing baju kerahnya.

Matahari sih belum berada di puncaknya, tapi mendengarkan arahan Kepala Sekolah pada hawa seperti ini sungguhlah suatu bentuk siksaan.

“Dan yang terakhir, Ketua OSIS hendak menyampaikan sesuatu.”, lantas cewek itu pun berjalan menyusuri panggung, kemudian menaiki podium.

Aku masih tidak percaya bahwa gadis ini adalah Ketua OSIS sekolahan kami? Aku tidak pernah menaruh simpati padanya.

Suasana di aula berubah sedikit.

“Ada seseorang yang menyebarkan rumor tak berdasar di sekolahan kita…….”

Dengan hati-hati, aku melirik sekitar untuk melihat siswa lain, mereka tampaknya memperhatikan dengan fokus. Baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama terlihat bengong, bahkan beberapa diantaranya wajahnya memerah yang jelas bukan disebabkan oleh hawa panas.

“Anehnya, dia cukup populer.”

Tozaki yang berdiri di belakangku, membisikkan itu pada telingaku.

“Yaah, dia cukup cantik sih.” Untuk standar gadis 3D.

“Dia baik dan anggun pada para gadis ... tapi sikapnya bagaikan iblis bagi para pria.”

"Anggun…? Bagian mananya yang anggun?”

“Mungkin tidak kelihatan begitu, tapi dia sudah berusaha keras, lho? Meskipun pengaruhnya tidaklah sebesar para guru, namun dia beraksi di belakang layar untuk melindungi klub-klub yang memiliki sedikit anggota agar tidak bubar, asalkan klub itu masih memiliki semangat untuk mencapai targetnya.”

“... padahal dia nyaris membubarkan klub kita?”

“Apakah kau merasakan semangat pada klub kita?”

"… kamu benar juga."

Pantas saja klub yang tidak memiliki tujuan yang jelas perlu dibubarkan.

Mungkin dia adalah tipe orang yang hanya peduli pada mereka yang serius berusaha?

“Tapi… klub yang kau bicarakan tadi beranggotakan cewek semua, kan?”

"Bingo."

Bukankah itu sungguh rasis!

“Tapi, lihatlah dia, kurasa dia bukanlah tipe orang yang suka menyebar kabar hoax.”

“Kupikir, orang-orang di sekitarnya pun perlu dicurigai, dan ada juga kemungkinan rumor itu disebarluaskan tanpa sengaja.”

Dengan menyebarkan rumor bahwa Hatsushiba dan Ayame adalah pasangan lesbian, Ketua OSIS bisa mendapatkan mereka dengan mudah. Ini adalah pendekatan secara tidak langsung yang terbaik. Jika rumor tersebut terlalu lama beredar, maka Ayame dan Hatsushiba lama-lama akan terjerumus, bisa jadi mereka pun mencoba melakukan tindakan Yuri karena sudah terlalu stress dengan omongan orang-orang. Dan jika itu terjadi, maka Ketua OSIS lah yang menang.

Tapi anehnya, rumor yang mengatakan bahwa aku sengaja menyuruh mereka melakukan tindakan Yuri untuk bersenang-senang, sama sekali tidak menguntungkan Ketua OSIS. Meskipun dia berniat memisahkanku dengan Ayame, akan lebih baik bila dia menggunakan nama gadis lain sebagai bandarnya.

Sesuatu seperti: “Kau menyuruh XX melakukan itu ya!? Aku kecewa padamu!”, atau semacamnya. Tapi karena Ayame masih menjadi korban di sini, maka dia pasti yakin kalau kabar itu tidaklah benar. Atau ini semi rumor up karena rumor yuri? Atau… mungkinkah rumor ini sengaja dibuat untuk memancing para pria Otaku yang gemar menikmati adegan Yuri? Mereka pun akan melihatku sebagai pria hidung belang yang sanggup melakukan hal seperti itu.

Tidak mungkin.

Memang mungkin seorang MC berubah pikiran 180°, namun kebanyakan itu disebabkan oleh perubahan mendadak pada naskahnya, atau terjadi sesuatu.

"Hmmm…."

Aku tahu ada sesuatu yang masih janggal ... sesuatu yang menjijikkan seperti keringat lengket di dahiku.

Saat kelas berakhir, kami bermaksud untuk pergi ke ruang klub seperti biasa, namun banyak orang mulai mengikuti kami. Kalian pikir kami tak punya mata apa? Ah tidak, mungkin mereka berani melakukan itu karena rame-rame.

“Sepertinya kegiatan klub hari ini perlu ditiadakan.”

Hatsushiba mengangguk setuju.

“Mungkin lebih baik begitu. Haruskah kita pulang saja?”

“Tidak, tunggu.”

Aku melihat Ayame dan Eve yang tampaknya kebingungan.

“Ada suatu tempat yang harus kita tuju. Mumpung kita punya kesempatan, kita harus fokus padanya.”

"Fokus pada apa yang kau maksud?”

“Ujian akhir semester.”

Dua orang di antara kami wajahnya langsung menegang, tapi tak ada ampun, dan kami pun menyeret mereka ke perpustakaan.

“Kita tunggu beberapa saat sebelum kita kembali ke ruang klub.”

Kami berjalan melewati sekelompok siswa di perpustakaan, kemudian duduk di dalah satu meja kosong. Kalau kami belajar di ruang klub, itu hanya akan semakin memperburuk keadaan.

“Ayo terus belajar sampai hari ujian tiba. Ayame, nilai matematikamu pada ujuan terakhir sangatlah mengerikan, ya?”

“A-Aku hanya sedikit lengah ...”

Alasan yang sungguh memalukan.

“Itu karena kau tidak belajar. Alasan itu tidak akan merubah nilaimu, jadi hentikan saja.”

"…baik."

Ayame menunduk ke bawah.

Meskipun kau berhasil melewati ujian tengah semester, jika kau terus mempertahankan sistem kebut semalam, maka semua hafalanmu akan lenyap bagaikan debu yang ditiup angin. Meskipun Ayame hanya melakukan beberapa kesalahan kecil, namun ujian adalah suatu tes yang hanya dilakukan sekali, jika kau gagal maka kau harus mengulang.

“Ayame-cchi, bersemangatlah ~”

Sepertinya Eve lupa bahwa nilainya juga mengkhawatirkan.

“Kau tidak lebih baik darinya. Gimana sih kau bisa lolos ujian masuk?”

“Karena sebagian besar soalnya adalah pilihan ganda ~”

Jadi dia hanya asal memilihnya? Peluang menebak benar dalam soal pilihan ganda tidaklah begitu tinggi, lho?

“Sepertinya kau akan gagal. Yahh, kalau begitu, selamat menempuh kelas tambahan di liburan musim panas.”

"Eh? Barusan kau bilang apa?"

Wajahnya langsung berubah.

“Memang begitu peraturan sekolah kita.”

“Kalau aku tidak menghadirinya?”

“Kau tidak akan naik kelas.”

Sepertinya tidak sampai separah itu, karena Ayame pernah melewatkan banyak kelas, tapi dia masih naik kelas tuh. Tapi aku tidak yakin, karena Eve adalah murid pindahan.

“T-Tidak mungkin ~~ Seichi, bantu aku ~”

Dia mulai merengek.

“Dan kenapa harus aku?”

“Kau juga akan membantu Ayamea, kan? Aku tidak mau mengulang tahun depan ~”

“Bukankah itu bagus? Kau bisa main sepuas-puasmu.”

“Tapi aku ingin bersama kalian semua ...”

Dia melihat kami dengan sedih.

“Ayolah bung, bantulah dia juga.”

Kata Tozaki.

“Apa untungnya bagiku?”

“Kau tidak bisa mengawasinya jika dia ikut kelas tambahan, kan?”

“Aku toh juga tidak bisa mengawasinya ketika dia liburan musim panas.”

Kami pun tak berniat mengawasinya selama liburan.

Tapi, kalau dia berada di sekolahan selama liburan untuk mengikuti kelas tambahan, mungkin si pelaku akan kembali memanfaatkannya ...

“Seichi ~~”

“.... Baiklah."

Aku juga tidak ingin dia membuat keributan di perpustakaan. Yah, lagipula aku masih harus membantu Ayame belajar, jadi apa salahnya belajar bersama, kurasa itu tidak buruk.

“... Jadi, kau seperti ini ya, Aramiya-kun.”

Hatsushiba melihatku dengan ekspresi lelah di wajahnya.

"Apa?"

“Kau tidak sanggup menolak seorang gadis, bukan?”

“Tentu saja aku bisa, tapi aku juga harus sadar waktu dan tempat.”

“... Jika seorang gadis mohon dengan mata berkaca-kaca, kau mungkin akan melakukan apa pun.”

“Apa yang kau maksud dengan ‘apapun’…. hentikan itu.”

Aku tidaklah plin-plan seperti yang kau pikirkan ... iya kan? Aku bukanlah seperti karakter protagonis plin-plan yang omongan dan perbuatannya bertentangan.

“Kalau begitu, ayo kita mulai dengan matematika.”

Aku suruh mereka mengulang pelajaran lama, kemudian mengulas soal-soal yang sering mereka jawab salah. Dan waktu pun berlalu ketika kedua gadis itu coba memecahkan soal-soal matematika, sedangkan kami menyiapkan buku-buku yang akan kami pelajari nanti.

“Wow, senpai sekalian sedang belajar keras ya.”

Seorang gadis cantik datang menyambut kami dengan wajah yang berseri-seri (dalam imajinasiku.)

“Oh… ternyata kau, Saitani.”

Mengapa kau begitu mirip Heroine dalam game-game ero? Mengapa dia harus dilahirkan sebagai seorang pria? Saitani bisa menjadi sosok Heorine yang begitu pantas dalam Eroge ... tunggu dulu, kalau dia jadi Heroine, maka si MC akan jatuh cinta padanya, kan? Agak aneh.

“Apakah kami terlalu berisik? Aku sudah coba belajar setenang mungkin, tapi ...”

"Nggak kok. Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku, jadi aku ke sini sebentar untuk menyapa kalian.”

"Begitukah? Ujian hampir tiba, bagaimana dengan belajarmu?”

“Aku gak yakin sih, tapi aku benar-benar suka belajar.”

"Hah? Suka belajar?”

Suka belajar? Tidak mungkin. Tapi kupikir, orang macam dia tidaklah langka.

“Aku suka belajar karena bisa membuka wawasanku, atau aku bisa menemukan keterkaitan antara satu subyek dengan yang lainnya, itu sungguh menyenangkan bagiku.”

“Apakah ... begitu?”

Sungguh mengagumkan melihat dia belajar dengan tekun.

“Lantas, kenapa kau memilih sekolah ini? Mungkin aku tak pantas berkata begini, tapi faktanya sekolah ini bukanlah sekolah yang bonafit.”

“I-itu ...”

Saitani menundukkan kepalanya ke bawah dengan malu. Heroine macam apa dia? Dia benar-benar mirip karakter 2D. Tingkahnya dan keimutannya benar-benar persis seperti karakter 2D.

“Sebenarnya, sampai kelas 2 aku benar-benar benci belajar. Aku tidak hafal tabel perkalian [7], aku bahkan tidak bisa menuliskan namaku dengan huruf Kanji “ryou” dan “ma”, huruf itu benar-benar sulit ditulis.” [8]

“Eh? Sampai segitunya?”

Kami ini apa sih? Calon pemain bisbol terkenal kah?

“Tapi ketika aku naik kelas 3 SMP, terjadilah suatu hal yang menumbuhkan minatku dalam belajar. Sejak saat itu, aku sadar bahwa belajar sangatlah menyenangkan. Tapi aku sudah terlanjur bodoh dan ketinggalan banyak hal, itulah yang membuatku berakhir di sekolahan ini.”

Yah, masuk akal juga kalau masa lalunya seperti itu. Memang ada contoh beberapa orang yang bisa masuk Universitas favorit hanya dengan belajar selama setahun terkahir, namun kalau tabel perkalian saja kau tidak hafal, pastinya sulit mendapatkan perubahan prestasi yang signifikan.

“Menakjubkan ... berapa rata-rata nilaimu sebelum bersekolah di sini?”

“Sebelum aku suka belajar ... mungkin lebih rendah dari 30.”

Atau mungkin, dia melihat dirinya yang dahulu pada Ayame?

“Dan, apa yang membuat kau berubah begitu banyak?”

Dia melirik ke arah lain dengan malu-malu ketika kuajukan pertanyaan itu.

“S-seseorang yang kutemui di internet mengajariku ... hanya itu yang bisa kuceritakan, karena aku sangat malu.”

Mengapa trap ini begitu imut? Dia berdiri di situ saja sudah mirip seperti adegan Eroge.

Karakter seperti ini sungguh tak adil.

Namun, suasana perpustakaan yang damai ini segera berubah karena suatu hal. Aku penasaran apa yang sedang terjadi, kemudian aku merasakan aura kehadiran yang begitu pekat. Setelah kutemukan dari mana aura itu berasal, aku pun menoleh ke arahnya, dan di sana ada……

Ketua OSIS bersama dua bawahannya sedang melewati pintu masuk perpustakaan.

“Hai Ayame-san, hari ini kau sungguh cantik seperti biasanya. Hatsushiba-san dan Suwama-san juga seindah bunga. Aku jadi pengen menempatkan kalian dalam vas, kemudian kukagumi kalian setiap hari.”

Dia langsung memuji-muji ketiga gadis itu seketika dia membuka mulutnya.

“A-apakah kau ada urusan dengan kami?”

“Aku punya banyak hal yang ingin kubicarakan padamu, tapi sayangnya aku ada urusan lain hari ini."

Kemudian dia berbisik pada telingaku.

“Ara-ah apa sih lanjutannya, bolehkan aku minta waktumu sebentar?”

“Males. Apa sih yang kamu inginkan?"

“Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar.”

"… Baiklah kalau begitu, baik."

Kurasa dia hanya akan membicarakan omong kosong, tapi menolak ajakannya akan menyebabkan lebih banyak masalah. Kami berdua pun meninggalkan perpustakaan, tentu saja dengan dua bawahannya yang setia mengikuti.

Selain kelompok kami, para pengunjung perpustakaan hanyalah orang-orang biasa. Kalau kelompok pemburu hoax tidak mengikuti kami sampai ke sini, maka pengunjung perpustakaan hanyalah muka-muka lama.

Seperti biasa, si Ketua OSIS menempatkan kipas untuk menutupi mulutnya. Pose itu berarti ... ah, sepertinya tidak berarti apapun.

“Mari bicara langsung ke pokok permasalahan. Dapatkah aku meminjam Ayame-san sebentar?”

“... kenapa harus bertanya dulu padaku?”

“Karena ketika aku bertanya pada dirinya, dia menyuruhku untuk bertanya terlebih dahulu padamu.”

“Kalau diingat-ingat, kemaren kau juga berkunjung ke ruang klub kami, kan?”

"Ya. Tapi dia menolak dan mengatakan bahwa aku harus bertanya terlebih dahulu pada dirimu.”

“Kalau begitu, bilang saja langsung padanya.”

“Tapi katanya, dia tidak akan datang kalau tidak bersamamu, padahal aku hanya butuh Ayame-san, bukannya kau.”

Sungguh menjengkelkan…

“Kalau orangnya gak mau, ya sudah….”

“Aku benar-benar perlu berbicara dengan Ayame-san saja.”

“Apakah kau tidak mendengar perkataanku barusan?”

Aku bahkan tidak yakin kalau gadis ini niat berbicara denganku ... tapi setidaknya dia pasti ingin bernegosiasi.

“Oh aku tahu… kau tidak ingin memaksanya, karena Ayame bisa saja membencimu, iya kan?”

“Ah, akhirnya kau paham juga! Kau cukup peka untuk seukuran laki-laki.”

“Tidak sulit menyadarinya. Semua orang juga bisa berkesimpulan begitu.”

Ayame tidak akan pergi jika aku belum mengijinkannya. Itulah sebabnya dia mendekatiku meskipun dia benci lelaki.

“Itu benar, jika kau tidak memberikan lampu hijau, maka dia tidak akan menerima ajakanku. Karena itu, aku punya tawaran untukmu.”

“Tawaran apa? Apakah kau akan menandatangani permohonan dana untuk klub kami?”

“Tidak, kau adalah tipe orang yang tidak tertarik dengan uang. Jika kau mengijinkanku meminjam Ayame-san, maka aku bisa menangkap pelakunya, dan rumor itu pun bisa diluruskan. Kau tidak suka terus-terusan dikerumuni oleh para penguntit, kan?”

Tapi, kau lah tersangka utamanya.

“Apakah kau sudah merencanakan ini?”

“Apa yang kau katakan tadi?”

"Nggak. Nggak kok. Tapi bukankah imbalannya terlalu sedikit?”

“Kau masih ingin lebih? Kalau begitu, bagaimana jika aku menyelidiki rumor yang lama juga?”

"Kamu bisa melakukannya?"

“Sebagai Ketua OSIS, aku pasti bisa, namun aku pun tidak bisa melakukan semua yang kuinginkan dengan bebas, jadi jangan berharap banyak.”

... rumor tentang Ayame, ya?

Memang benar bahwa kami hampir menemui jalan buntu, tapi ...

“Kau tidak perlu terburu-buru, pikirkan saja selama liburan berlangsung.”

Ketua OSIS meninggalkanku dengan kalimat itu, kemudian dia pergi begitu saja bersama kedua anak buahnya.

... apakah kedua orang itu benar-benar manusia? Mereka hanya berdiri di sana tanpa bicara, sampai Ketua OSIS memerintahnya untuk pergi. Mereka bagaikan karakter pendukung yang hanya sesekali berkedip dan membuka mulutnya.

Tampaknya, para pegawai perpustakaan akan menata buku hari ini, sehingga pengunjung pun diminta untuk pulang lebih cepat. Saitani meminta maaf padaku atas ketidaknyamanan ini, entah kenapa aku merinding ketika melihat wajahnya yang menyesal ... ssstt, ini rahasia ya.

Masih ada beberapa saat sebelum sekolahan tutup, tapi tak ada lagi yang bisa kami kerjakan, lantas kami pun mengganti sepatu dan keluar.

“Hiks ... rumus-rumus itu masih menghantuiku ~”

“Itu hanya imajinasimu.”

“Hatsushiba-cchi, kau sungguh pelit ~”

“Sejak awal Yuuka tidak pernah bilang ingin menjadi orang baik. Dan Yuuka tidak pernah punya kewajiban mengajarimu, jadi pastikan untuk mengingat semua hal yang telah Yuuka ajari.”

Kedua masih saja bertengkar seperti biasa. Lagipula, Hatsushiba, kau memintaku untuk membantu orang lain dengan begitu mudah, tapi mengapa kau begitu enggan membantu Eve?

“Ada apa Aramiya-kun? Apakah kau ingin mengatakan sesuatu?”

"Tidak. Tidak ada."

"Mencurigakan."

Aku bilang tidak ada! Hatsushiba langsung mendekatkan wajahnya padaku, dan menatapku dengan curiga.

"Hawanya semakin panas sih. Kumohon menjauhlah."

“Kalau ada apa-apa, ngomong saja terus terang.”

Betapa keras kepala cewek ini.

Tapi aku kira, itu baik-baik saja ...

“Aku cuma ingin bilang bahwa kau seharusnya membantu orang lain juga tanpa pilih-pilih.”

“Aku bisa saja melakukannya, tapi tidak sebanyak yang kau kira.”

“Yahh, Kau selalu mengeluh tentang ini dan itu, tapi akhirnya kau juga menolongnya. Aku tidak bisa melakukan hal seperti itu.”

“Tapi, kurasa kau bisa ... dan kurasa seperti meninggalkannya sendirian.”

Itulah yang sering dikatakan oleh seseorang yang bersedia menolong sesama.

“Dan setelah menghabiskan waktu dengannya beberapa saat, aku pun berpikir bahwa dia bukanlah orang jahat.”

"Sungguh?"

“Entah dugaanku ini benar atau salah, tapi dia terlihat begitu polos.”

Yahh, Eve hanyalah tipe cewek yang mempercayai apapun yang didengarnya.

“Itu kenapa, kalau Yuuka dan yang lainnya tidak mengawasinya, maka dia akan dimanfaatkan orang lain lagi.”

"Itu benar…"

“Dan ketika dia melihat sekelompok orang bergosip tentang Ayame, dia akan menyela mereka, dan mengatakan hal-hal seperti 'Ayame-chhi adalah orang yang benar-benar baik!' atau sejenisnya."

Apakah dia benar-benar melakukan itu?

“Meskipun dia tidak pandai berbicara, dia masih mencoba untuk melindungi kita. Ketika Yuuka melihat itu, Yuuka merasa…"

"Aku paham."

Aku tidak tahu mengapa, tapi ...

Aku tiba-tiba teringat suatu kata yang bisa menggambarkan perasaan Hatsushiba, tetapi kalau mengungkapkannya, mungkin dia akan marah.

“Apakah kau sedang memikirkan sesuatu yang tidak sopan, Aramiya-kun?”

"Tidak, tidak sama sekali."

Bagaimana dia tahu? Apakah kelihatan dari ekspresi wajahku?

“Kali ini aku benar-benar akan marah, lho.”

“... Aku hanya berpikir bahwa kau terlihat seperti seorang ibu yang baik, itu saja.”

"Apa? Apakah aku terlihat setua itu?”

Jadi dia mempermasalahkan itu?

“Bukan penampilanmu yang kumaksud, tapi sikapmu.”

"Sungguh? Aku hanya melakukannya begitu saja.”

“Kau terlihat seperti seorang ibu disiplin yang memaksa anaknya ikut bimbingan belajar tambahan.”

"Ha ha ha. Kalau begitu, Aramiya-kun adalah ayahnya?”

Dia terlihat manis saat tersenyum tulus, sampai-sampai jantungku berdegup kencang. Kalau ini adegan di eroge, mungkin aku sudah men-screen shot wajahnya itu.

“Kau suka mengatakan hal-hal yang aneh, ya.”

“Kaulah yang memulainya.”

"Itu benar."

Baiklah…

“Aku tidak bilang bahwa kau harus berteman akrab dengan Eve, tapi setidaknya cobalah untuk menjadi temannya, oke?”

“Kalau kau berkata begitu, maka aku tidak bisa menolaknya ~”

Yahh, meskipun aku tidak memintanya, dia masih akan melakukan itu.

“Yuuka akan selalu ingat itu. Mungkin suatu saat nanti Yukka akan meminta sesuatu darimu.”

“... kapankah itu?”

"Yukka juga tidak tahu. Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun nanti?”

Kau benar-benar merencanakan masa depan ya.

“Aku tidak sabar sampai saat itu tiba ~”

Kami mendengar teriakan Eve yang menyedihkan.

“Gula ~ Aku ingin gula ~”

Dia langsung menuju ke mesin penjual otomatis, lantas membeli sekaleng jus apel. Dia membukanya, kemudian meminumnya sampai habis dalam sekali tegukan, dengan berpose begitu lincah bagaikan bintang iklan. Karena cuaca begitu panas, melihat seseorang minum seperti itu membuatku haus.

"Aku juga mau…"

Ayame juga mengikuti Eve ke mesin penjual otomatis seperti magnet yang ditarik, kemudian dia memesan cola.

“Yuuka juga mau, untuk memastikan Yuuka tidak terhidrasi.”

Kemudian, dia pun ikut mengantre di depan mesin penjual otomatis.

Tak lama berselang, aku pun mengikutinya, karena aku tak tahan dengan peson mesin penjual otomatis di hari yang panas seperti ini.

Aku membeli sekaleng teh oolong, lantas meminumnya di samping Tozaki.

“Ahhh, seger banget ...”

“Minuman ini terasa begitu nikmat saat diminum di hari yang panas. Aku bisa merasakan kesegarannya meresap ke seluruh tubuhku.”

Tozaki mengatakan itu seperti sedang minum bir. Dia hampir mirip ayahku ketika menikmati birnya setelah menjalani hari yang berat.

Tapi dia cuma minum cola sih.

“Hahhh ...”

Ayame juga terlihat puas. Apakah aku harus memberitahunya soal Ketua OSIS, ya.

“Ayame.”

Diam-diam aku memanggilnya.

"Ada apa?"

“Ketua OSIS semakin serius mendapatkanmu, jadi berhati-hatilah.”

Dia mengerutkan kening setelah mendengarkan perkataanku.

“Bagaimana kau tahu itu? Apakah dia membicarakanku?”

"Ya."

"Apa yang dia katakan? Bisakah kau menceritakannya padaku?"

“Gak begitu penting sih.”

“Kalau berdasarkan ceritamu pada kami, kurasa cukup aneh kalau dia mau berbicara denganmu, apa sih yang dia omongkan?”

Sialan, dia cukup tajam.

“Ayolah, ceritakan saja padaku.”

Dia menatapku dengan intens, sepertinya dia tidak akan melepaskanku sebelum kuceritakan semuanya ... okelah, apa boleh buat…

Aku akan menceritakannya secara ringkas.

“Dia mengatakan sesuatu seperti: 'Jika aku menyerahkanmu padanya, semua masalah ini akan diselesaikan.'”

Dia bersedia membantu kita membersihkan rumor, dan juga menangkap siapakah si penyebar rumor. Jika aku menyerahkan Ayame, dia akan menuntaskan semuanya.

Dan setelah kuceritakan semuanya secara singkat ...

“Kalau begitu, bawa aku padanya.”

“Oi, tunggu. Kamu…"

“Yang dimaksuid Yuri adalah 2 orang gadis yang menjalin hubungan dekat, kan? Bagaimanapun dia adalah Ketua OSIS, jadi kurasa dia tidak akan melakukan hal yang tidak senonoh."

Dia tidak mengerti.

Ketua OSIS jauh lebih parah daripada Yuri pada umumnya.

Dia sudah masuk ke ranah lesbian.

Aku punya perasaan bahwa jika aku membiarkannya pergi, maka kami akan kehilangan Ayame selamanya. Sepertinya aku sudah salah menceritakan ini semua padanya.

“Tidak, kau tidak boleh pergi. Jangan tanya mengapa. Pokoknya jangan menyerahkan dirimu pada Ketua OSIS.”

Ayame memiringkan kepalanya karena kebingungan.

"Mengapa?"

“Tidak ada jaminan situasi akan membaik meskipun kita menerima bantuannya. Lagian, rumor yang berkembang sekarang tidaklah begitu buruk. Mungkin kita akan kesulitan menggunakan ruang klub sampai akhir semester, tapi itu pun bukanlah masalah besar. Kalau situasinya semakin memburuk, kita bisa membahasnya nanti.”

Dia tersenyum sedikit.

"Baiklah. Aku aku percaya padamu.”

Lalu, senyumnya pun semakin lebar.

◆◆◆

“Maaf, kami menolak tawaranmu.”

"Begitukah…? Kalau begitu, suatu saat nanti jangan menyesali keputusanmu ini, oke?”

Kemudian, Aramiya pun kembali. Ketua OSIS Yaotani Airi menggigit kuku dengan ekspresi kecewa di wajahnya.

“Apakah kau baik-baik saja, Ketua OSIS?”

Wakil Ketua OSIS Segiguji Hana bertanya dengan cemas.

“Aku baik-baik, Hana. Jangan khawatir.”

Dia menjawab, sembari melihat rekannya dengan damai.

“... haruskah aku memberikan pelajaran pada pria itu?”

Sekretaris Harima Asuka bertanya sambil menatap dengan intens pada punggung Aramiya yang berjalan menjauh.

“Tidak perlu. Seperti yang O sudah katakan berkali-kali, kekerasan itu tidaklah baik.“

"Maaf."

“Kita harus sadar betapa mulianya tujuan kita, jadi jangan menyebabkan masalah.”

“... Aku bisa melakukannya diam-diam juga.”

“Jangan mengebulkan asap bila tidak terlihat apinya.”

Yaotani berbicara dengan lembut sambil mencolek wajah sekretarisnya ini.

“... mengerti.”

“Kalau kau mengerti…. baguslah.”

Kemudian dia tersenyum.

“Jangan khawatir, dia pasti akan datang dengan sendirinya padaku.”

Dan berkata begitu dengan penuh percaya diri.

Bab 2 - Bagaimana Kalau Kita Pergi Membeli Baju Renang?[edit]

Sejak hari itu, ruang klub tak lagi bisa dimasuki, maka kami lanjut mencari penyebab rumor tersebut, namun seperti yang sudah kami duga, penyebabnya tidaklah mudah ditemukan.

Sementara itu, rumornya semakin menjadi viral dan juga buruk.

"Mereka bilang keluarga Aramiya-kun sangat kaya, tapi meskipun begitu, cewek-cewek bukannya tidak bisa berbuat apa-apa, lho ...”

Hatsushiba membicarakan itu di dalam kelas. Seperti inilah rumornya berkembang, dan aku tahu itu.

"Kalau kamu bisa kaya raya hanya dengan bekerja paruh waktu, kemudian berkencan dengan siapapun yang kau inginkan, maka kota ini sudah hancur sejak dahulu. Apalagi ayahku hanyalah seorang pengusaha biasa. Kalau dia sedang bokek, dia selalu mengomel padaku seperti : Bulan ini aku tidak punya uang lagi untuk minum-minum!"

Terkadang, ayahku malah mengemis uang padaku, tapi akhirnya ibuku selalu menamparnya dengan keras untuk memberikan pelajaran.

"Rumor itu sudah beredar, namun urutan kejadiannya tidaklah begitu detail...”

"Saat ini rumor tersebut telah beredar di internet, bukankah ini berarti orang-orang juga membicarakannya melalui ponsel mereka masing-masing?”

"Maksudmu, mereka membicarakannya melalui media sosial?"

"Benar, itulah sebabnya aku menduga bahwa media yang mereka gunakan adalah ponsel. Ponsel yang terhubung ke internet bisa membuat mereka berkomunikasi dalam suatu grup di media sosial, dan grup itu beranggotakan ribuan orang, termasuk siswa-siswi SMA.”

Kau tidak boleh meremehkan ucapan orang yang terkenal. Ketika orang yang berpengaruh mengatakan sesuatu pada publik, ucapannya akan menyebar dengan sangat cepat ke mana-mana, meskipun hanya beberapa kata. Dan situasinya akan lebih buruk lagi jika ucapan orang tersebut tidak mempunyai dasar yang jelas.

Aku hampir tidak pernah memperhatikan kabar-kabar di media sosial, jadi aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi di dunia maya. Meskipun begitu, aku memang punya suatu akun twitter untuk mem-follow circle eroge, tapi aku sama sekali tidak pernah memposting satu pun kicauan.

"Jika kau benar-benar ingin tahu soal itu, kurasa kau harus memeriksa ponsel mereka.”

"Sepertinya aku tidak bisa melakukan itu ..."

Tidak peduli apapun alasannya, tidaklah sopan melihat isi ponsel orang lain.

Meskipun kami memiliki banyak bukti yang mendukung, polisi lah yang seharusnya berwenang mengambil tindakan, bukannya kami.

Tapi, aku hampir putus asa melanjutkan pencarian untuk membersihkan sumber rumor tentang Ayame.

Selain itu, ujian akhir semakin dekat, sehingga kami harus segera mempelajari ulang ujian-ujian terdahulu.

"Ini adalah rumus dasar, jadi ingatlah baik-baik."

Sekarang sedang berlangsung kelas matematika, dan seperti biasanya, sang master rumus Tadokoro-sensei sedang mengajar dengan begitu brutal.

Dia menghapus papan tulis yang berisikan penuh dengan rumus-rumus matematika, kemudian dia memperingatkan murid-muridnya sembari mengetuk-ngetuk papan tulis. Tatapan matanya setajam elang. Ketika melihatnya, kau akan langsung merasa takut.

Ayame sangat fokus mendengarkan penjelasan Sensei, jadi sepertinya kami tidak perlu menerangkannya lagi nanti.

"Kalau begitu aku akan bertanya ... Ayame, bisakah kau maju untuk menjawab pertanyaan ini di depan?"

"Ya pak!"

Anehnya, Ayame tampak gelisah, dia pun maju ke depan kelas dengan rambut twintail-nya yang bergidik.

Lalu dia mulai menulis di papan tulis dengan tulisan tangan berantakan, seolah-olah dia kurang percaya diri.

"Umm, itu benar, kali ini kau aman;"

Ayame mendesah lega.

"Aku sempat menduga bahwa kau akan menjawabnya dengan salah, kalau itu benar-benar terjadi, kau sudah kupaksa untuk keluar dari kelas ini, kemudian mengulangi ujian selama liburan musim panas. Tapi ternyata kau sanggup menjawabnya dengan benar, jadi aku tidak akan menghalangimu menempuh ujian akhir.”

Tadokoro menyeringai dan mengatakan itu dengan puas.

Sementara itu, Ayame benar-benar terlihat lega layaknya seseorang yang barusan dibebaskan atas tuduhan bersalah dalam suatu persidangan.

Setelah itu, Ayame kembali ke tempat duduknya dengan terlihat sangat letih.

"Kalau kau gagal mengerjakan tugas sepele seperti ini, maka kau tidak akan mendapatkan pekerjaan untuk bertahan hidup. Sebelum ujian akhir, aku akan memberimu tes pemahaman sekali lagi, jadi pelajari lagi materi-materi terdahulu.”

Kemudian, tiba-tiba terdengar suara "Apa?"

Tapi, begitu Tadokoro melotot tajam ke sekeliling ruangan, seluruh siswa di kelas ini membisu tanpa suara.

"Ha…"

Kemudian bel berdering yang diikuti oleh bunyi loudspeaker.

Setelah jam pelajaran berakhir, tampaknya teman-teman bisa sedikit melemaskan wajah mereka yang begitu tegang.

"Waktunya sudah habis, sekian untuk hari ini, jangan lupa pelajari lagi materi ini di rumah, jangan malas."

Tadokoro mengemasi semua barangnya di meja guru dan segera meninggalkan ruangan. Namun ketika aku berbalik, aku merasakan suatu tatapan tajam yang menusuk punggungku.

... Dia tidak sedang menatapku, kan?

"... Ah, aku hampir lupa, Aramiya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu… kemarilah."

"Apa…"

Tiba-tiba saja, dia memanggilku… untuk sepersekian detik, pikiranku kosong dan aku tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi sekarang.

Seluruh kelas menatapku dengan sinis. Bahkan, beberapa dari mereka melihatku dengan tatapan mata penuh belas kasihan. Dan beberapa lagi seakan ingin mengatakan : Apa sih yang barusan kau lakukan?, aku pun ingin segera menjawabnya dengan : Hey, aku tidak melakukan apa-apa!

"Kau dengar tidak?"

Semakin lama aku menatap Tadokoro, semakin dia memicingkan matanya. Lima detik lagi, aku yakin dia akan segera menghajarku. Aku tidak mungkin lolos, aku harus ke sana sekarang.

"Ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Ya? Apa itu…"

Aku keluar untuk berbicara dengan Tadokoro di koridor, jika dibandingkan dengan Ayame, aku merasakan ketegangan yang berbeda ketika berbicara dengannya.

Kelas baru saja selesai, jadi masih banyak siswa yang berlalu-lalang di sekitar kami, namun tak satu pun dari mereka berani menguping pembicaraan kami.

Kemudian Tadokoro berbicara dengan pelan, sehingga tidak ada seorang pun di sekitar kami yang bisa mendengarkannya.

"Aramiya, dari apa yang kudengar, kau berusaha mengumpulkan sejumlah gadis, kemudian kalian melakukan hal yang mengerikan di ruang klub, apakah itu benar?”

"Eh !?"

"Aku bertanya, apakah itu benar?”

Hei, mungkinkah Tadokoro ikut termakan rumor itu, atau apakah penampilanku terlihat begitu meyakinkan sebagai gigolo?... tunggu dulu…ah, tidak mungkin, bagaimana bisa ini terjadi… bukan itu saja… ini tidak masuk akal….

"Mengapa Anda bertanya seperti itu, sensei?"

"Aku mendengarnya saat rapat guru berlangsung."

... Tampaknya aku salah menilai para guru.

Tapi, itu berarti bahwa keadaannya sudah cukup gawat sekarang, fakta bahwa rumor ini telah menjadi topik pembicaraan viral di kalangan para guru membuktikan bahwa ini bukanlah lagi masalah kecil.

"Bagaimana mungkin aku melakukan hal seperti itu, aku mohon pada para guru sekalian untuk tidak mudah percaya pada rumor-rumor seperti itu, Aku sekarang semakin kesulitan.”

"Aku rasa juga begitu, tapi aku tetap harus menanyakannya padamu, untuk mendengarkan penyangkalan langsung darimu."

"Tunggu dulu? Tapi jika para guru membicarakannya pada saat rapat, maka seharusnya orang pertama yang datang padaku untuk mengonfirmasikannya adalah wali kelasku, kan?”

Kalau diingat-ingat lagi, Ohara-sensei tidak pernah menanyaiku terkait masalah ini, kan?

"Sejak awal Ohara-sensei sudah menolak kabar tersebut dengan berkata 'Aramiya-kun bukanlah siswa yang akan melakukan hal seperti itu', lagipula, dia berpendapat bahwa tidak pantas jika seorang guru menanyakan hal itu pada muridnya. Dia tidak begitu berpengalaman menghadapi permasalahan ini.”

Wow, dia memang pantas menjadi seorang sensei, aku sangat senang karena dia benar-benar percaya kepadaku.

"Kotani-sensei juga mengatakan bahwa rumor tersebut tidak benar."

Kiriko-senpai juga? Wow, aku senang mendengar ini, dia benar-benar layak menjadi sepupuku.

"Dia bilang: 'apakah menurutmu pria sepertinya berani melakukan hal seperti itu?’.'"

Aku menarik perkataanku ... ah tidak juga… yang dia katakan tidaklah salah, tapi itu masih membuatku kesal.

"Baiklah ... kalau Tadokoro-sensei…. apa Anda percaya akan rumor ini?"

"Sejujurnya, aku tidak tahu ... kenapa kau bertanya begitu, apakah ini begitu mengejutkanmu?"

"Jujur saja, menurutku Anda adalah seseorang yang saklek, Anda adalah tipe orang yang lebih baik tidak mempercayai suatu informasi sama sekali, daripada hanya mempercayainya setengah-setengah.”

Tadokoro mendesah dengan tenang.

"Meskipun aku telah melihat siswa dari berbagai generasi, aku masih belum dapat memprediksi pemikiran dan kepribadian seorang murid. Beberapa siswa sangat santun seakan-akan tanpa kekurangan, tapi setelah lulus, mereka menjadi orang yang begitu licik. Sebaliknya, ada beberapa siswa yang terlihat tidak begitu menonjol dan seolah-olah tidak berguna, tapi setelah lulus mereka berhasil mendirikan suatu bisnis yang menguntungkan banyak pihak. Dari segi mentalitas, kepribadian seseorang bisa berubah menjadi sesuatu yang bertolak belakang dengan keadaan saat ini. Jadi, kau tidak dapat menilai seseorang hanya dari penampilan fisiknya saja.”

Kata-katanya terdengar seperti orang yang benar-benar berpengalaman.

Dia bisa berkata demikian mungkin karena dia telah meluluskan begitu banyak siswa sampai saat ini.

"Kau dan Ayame juga tidak terkecuali."

"Apa, aku juga?"

"Ya, contohnya, aku tidak pernah menduga bahwa kau adalah tipe siswa yang berani berlari begitu kencang di koridor, tapi tempo hari kau benar-benar melakukannya ketika Ayame mendapatkan masalah."

"... Jika Anda tidak keberatan, bolehkah aku menanyakan sesuatu kepada Anda?... Menurut Anda, orang seperti apakah saya ini?"

"Kau adalah tipe orang yang bisa berkomitmen pada sesuatu kapanpun juga. Kau bisa sangat antusias dan terfokus pada suatu hal yang kau gemari. Tapi, jika kau tidak tertarik pada sesuatu, maka kau tidak akan menghabiskan waktu sedetik pun untuk memikirkannya. Dan kau tidak suka menjadi pusat perhatian, bukan?”

... Whoa, benar sekali, sepertinya dia bisa melihat kepribadianku dengan begitu akurat.

"Baiklah, saya rasa juga begitu ..."

"Ketika ada seseorang yang mengklaim bahwa dia memahami betul sifat orang lain, kurasa dia terlalu sombong dengan pernyataannya itu. Memang ada beberapa siswa yang kepribadiannya tercermin jelas pada penampilannya, namun selalu ada pengecualian.”

Tadokoro menceramahiku tentang pesan moral itu, awalnya aku berpikir bahwa beliau adalah tipe guru yang sok tahu segala sesuatu tentang muridnya.

Tapi ternyata aku salah paham. Dia mengakui bahwa masih banyak hal tentang muridnya yang tidak dia pahami.

Singkat kata, dia terus berusaha menjadi guru yang ideal tanpa berhenti sedetik pun, meskipun dia tahu itu sangatlah sulit.

"Oleh karena itu…."

Lalu Tadokoro menatapku dengan tatapan setajam belati, tolong jangan lakukan itu sensei, aku takut!

"Tentang kau yang mengumpulkan gadis-gadis di ruangan klub, aku tidak sepenuhnya yakin bahwa kau tidak akan melakukan itu, Dan aku menganggap kasusmu kali ini sebagai suatu pengecualian.”

"Tunggu sebentar ... sampai mati pun aku tidak akan melakukan hal seperti itu, Sensei ... aku adalah pria baik-baik sejak lahir!”

Aku sendiri masih ragu meskipun telah mengatakan itu, namun aku tidak pernah berniat membuat kekacauan yang ujung-ujungnya hanya akan membuatku kerepotan.

"Aku tidak percaya bahwa orang-orang seperti kita memiliki sifat alami untuk menjadi insan yang baik atau jahat. Sifat orang seperti kita sangat ditentukan oleh lingkungan sekitar. Kebaikan atau kejahatan berubah-rubah setiap generasi. Seperti yang sudah kucontohkan tadi, orang baik pun bisa menjadi penjahat terkejam jika sudah terbelit masalah ekonomi keluarga. Sebaliknya, orang tidak berguna sekalipun bisa menjadi pengusaha terkaya asalkan dia merubah diri dan terus berjuang. Berbagai kondisi lingkungan telah membuat orang-orang seperti kita menjadi makhluk yang baik atau jahat.”

"Jadi, maksud Anda, orang sepertiku bisa berubah suatu saat nanti?"

"Kalau kau mau berpikir optimis, maka kau harus yakin bahwa setiap orang memiliki potensi tersembunyi di dalam dirinya yang tidak terhingga. Namun jika dilihat dari kacamata pemikiran pesimis, maka kau juga harus tahu bahwa setiap manusia punya batasan-batasan yang tidak mungkin mereka lampaui……. Itu saja dariku, pikirkan sendiri setelahnya.”

Yahh, aku jadi ingat sewaktu aku kecil, kalau saja aku tidak menerima surat cinta dari Eve kala itu, mungkin aku tidak akan berkepribadian seperti ini.

"Sekarang aku masih mempercayai sanggahanmu tadi, tapi ingat baik-baik bahwa aku selalu mengawasimu, jadi perhatikan betul tindakanmu di sekolah. Tolong jangan mengkhianati kepercayaan yang diberikan Ohara-sensei padamu, itu saja yang kuminta.”

Dan akhirnya pembicaraan ini sampai pada ujungnya, Aku pun mendesah lega.

Berbicara dengan Tadokoro benar-benar melelahkan seolah-olah seperti berlari lebih dari seratus meter.

"Tapi aku mendapatkan informasi yang berguna, jadi sepertinya aku sedang beruntung."

Namun, kalau rumor sudah menyebar di kalangan para guru seperti ini, maka menghilangkannya dalam waktu dekat bukanlah perkara mudah.

"Tak peduli seberapa lama kau menyelidikinya, tampaknya kau masih belum bisa menemukan sumber rumor ini, Aramiya-kun?”

"Aku sempat menduga bahwa rumor ini akan berkembang menjadi kebohongan-kebohongan lainnya, namun sepertinya bukan begitu keadaannya, rumor ini tidaklah berbeda dengan berita viral yang sering beredar di dunia maya."

Setelah periode ketiga berakhir, aku dan Hatsushiba kembali ke kelas yang berbeda.

Kami pergi belajar musik di ruang audiovisual, tapi …. setiap kali Hatsushiba menghadiri kelas musik, dia selalu menunjukkan suaranya yang elegan, aku pun bisa merasakan betapa hebatnya kemampuan seorang Seiyuu profesional.

"Aku tidak habis pikir, apakah Hatsushiba pernah disibukkan oleh jam kerja yang begitu padat?"

"Kau tahu, kemampuan Yuuka berada di atas rata-rata, lho?"

"Pekerjaannya sungguh berat ya?"

Bahkan ketika Hatsushiba tengah menunjukkan kemarahannya, aku seakan melihat seorang artis yang sedang memamerkan betapa hebat kemampuan aktingnya.

Kurasa dia cocok memerankan tokoh Yandere yang mengejar-ngejar protagonis sampai akhir. Suaranya memang cukup menggemaskan, namun ketika dia marah, semuanya berubah.

"Apakah kau ingin mengatakan sesuatu, Aramiya-kun? Apakah kau sedang membicarakan tentang diriku?”

"Ah tidak, itu tidak benar..."

Kau ini esper atau apa?

"Sebenarnya, ada suatu serial anime musim dingin yang benar-benar ingin Yuuka perankan karakternya. Anime-nya masih belum resmi dirilis, namun sumber ceritanya masih berjalan, jadi jangan bilang siapa-siapa ya.”

"Anime musim dingin, berarti kita bisa melihatnya tahun depan, kan?"

"Kalau Aramiya setia menantikannya sampai tahun depan, Yuuka akan merasa senang, lho?"

"Kalau begitu, berusahalah yang terbaik, aku yakin kau pasti bisa memerankan karakternya dengan begitu baik, sehingga para penonton tidak akan drop setelah 3 episode [9]

"Kumohon tetaplah nantikan serial anime itu dan tonton semua episodenya, tak peduli apakah Yuuka berhasil menjadi Seiyuu-nya ataupun tidak.”

"Yahh, tapi sepertinya ..."

Aku tidak keberatan menonton seluruh episode anime sekaligus, tapi jika aku harus menonton tiap minggu…. Ada beberapa orang yang lebih suka maraton [10] anime, daripada menantikannya tiap minggu.

Aku adalah tipe penikmat anime yang selalu penasaran akan kelanjutan ceritanya, dan aku ragu bisa setia menantikan episode berikutnya tiap minggu. Apalagi kalau serialnya dipisah beberapa musim, aku bisa mati penasaran menunggu kelanjutannya.

Tapi kalau aku merekamnya, menunggu sampai serialnya berakhir, kemudian menontonnya suatu saat nanti, bisa-bisa aku ketinggalan tren yang sedang ramai dibicarakan. Jika kau selesai maraton suatu judul anime, kemudian membicarakannya bersama teman-temanmu, maka akan ada orang yang berkata : ”Hey, bukankah itu sudah lama tayang? Kemana saja kau…” Agaknya itu cukup menyakitkan jika kau mengaku seorang pecinta anime sejati.

Pada dasarnya, aku ingin menonton anime dengan cara yang paling sesuai dengan keinginanku. Kalau aku ingin menontonnya, ya aku tonton. Namun, saat inipun aku masih mencari-cari cara yang paling nyaman dalam menikmati suatu serial anime.

Tapi untuk eroge, terkadang ada kesalahan pada protagonis wanita di versi tutorialnya, sampai kita harus menunggu versi utamanya. Maka dari itu, “menunggu” bukan hanya terjadi pada anime, namun juga eroge.

"Oh omong-omong, sebenarnya sudah lama aku ingin membicarakan ini, tapi aku selalu lupa bertanya padamu, Hatsushiba, karena kau adalah seorang Seiyuu, maka kau sudah bekerja secara penuh, kan?”

"Ya, itu benar, jika kau menjadi penggemarku, maka suatu saat nanti mungkin Yuuka bisa memberimu hadiah, lho.”

"Umm, penggemar seperti apa maksudmu ...?"

"Tapi Aramiya-kun harus tetap menjadikan Kotton sebagai prioritas utama, ya."

"Bukan begitu… maksudku… jika kau memang menginginkan penggemar setia, maka Tozaki lah jawabannya. Ketika membicarakanmu, dia akan terus mengoceh bagaikan burung gagak, dia adalah tipe penggemar yang akan melakukan apapun permintaanmu, Hatsushiba.”

Dia akan melakukan segalanya untuk Hatsushiba, tak peduli apakah dia harus bertingkah seperti anjing sekalipun. Jika Hatsushiba menginginkan sesuatu, Tozaki pasti siap untuk mencarinya, tak peduli apakah dia harus melintasi gunung berapi, lautan, padang rumput, hutan, menggali ke dalam tanah, terbang ke awan-awan, atau bahkan mencarinya di dalam roknya cewek sekalipun. Andaikan dia jadi monster, maka manusia pertama yang akan dimintanya sebagai persembahan pastilah Hatsushiba.

"Hah? Kenapa tiba-tiba kau berbicara tentang Tozaki-kun?”

Tapi dia bertanya dengan serius. Jika dilihat dari wajah Hatsushiba, aku bisa tahu bahwa dia sama sekali tidak punya ketertarikan pada Tozaki. Dia hanya memiringkan lehernya, terlihat sangat ragu, dan menunjukkan kebingungan mendalam.

Tapi toh, selama belum sampai pelaminan, maka setiap pria masih punya peluang, jadi semoga sukses Tozaki. Meskipun kau selalu siap menjadi penggemarnya Hatsushiba, namun jangan terlalu berharap menerima hadiah darinya. Sementara kami terus ngobrol tanpa henti, ada seorang gadis yang berlari melewati orang-orang yang berlalu-lalang di koridor.

Dia berjalan ke arah yang berlawanan dengan kami, kemudian…..

"Hei ..."

"Oh….."

Kami bisa mendengar teriakan dengan suara melengking.

Tampaknya dia menabrak beberapa orang di sana, kemudian gadis yang barusan berpapasan dengan kami jatuh terjerembab.

"Wah ..."

"Jangn pernah berlarian di koridor, paham?"

"Ketua OSIS! Aku minta maaf sebesar-besarnya…"

Ketua OSIS itu berlutut dan meraih cangklongan tasnya.

"Apa kamu baik-baik saja? Apakah ada yang sakit? Wah, sepertinya lututmu memar!”

"Tidak, tidak apa-apa, aku tidak terluka-"

"Tidak, tidak, aku harus memeriksanya."

Dia mencoba mengobati luka si gadis yang barusan terjatuh, kemudian menempeli lukanya dengan plester.

Dia melakukannya dengan begitu tangkas dan lancar, bahkan si gadis tak punya kesempatan untuk menolak pertolongan Ketua OSIS. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.

"Terima kasih banyak!"

"Tidak perlu berterima kasih padaku, kalian semua adalah bunga yang tak ternilai di sekolah ini. Tak peduli sesibuk apapun dirimu, mohon perhatikan langkahmu.”

Siswi yang baru terjatuh lalu menjawab "Siap mbak!" kemudian dia berjalan menjauh dengan begitu senang.

Wajahnya memerah sampai ke leher. Aku tidak tahu apakah dia fansnya Ketua OSIS atau justru sebaliknya, tapi terlepas dari itu semua, setelah kejadian barusan, siswi itu setidaknya akan menaruh rasa hormat pada si Ketua OSIS.

Kemudian si Ketua OSIS melihat ke arah kami sembari tersenyum.

"Hei, bukankah kamu Hatsushiba-san, ... ada Ara-kun juga rupanya."

Dan saat dia melihatku, dia langsung mengerutkan kening. Kenapa kau menunjukkan ketidaksenanganmu begitu jelas padaku?

"Halo, Yaotani-san."

"Aku lebih suka kau menyebut namaku secara utuh…. Hatsushiba-san masih terlihat imut seperti biasa, dan juga, suaramu terdengar sangat menggemaskan seperti nyanyian burung di tengah hutan belantara, yah, aku ingin sekali merekam suaramu.”

Dia sepertinya mengabaikanku.

Pujian-pujiannya terhadap Hatsushiba mengingatkanku pada Tozaki, apakah kau juga seorang otaku?

"Terima kasih ... terus ...?"

"Kulitmu sangat halus dan indah, lain waktu, bolehkah kau membagi rahasia perawatan kulitmu padaku?”

"Ya, tidak masalah…"

Ketua OSIS mengusap pipi Hatsushiba dengan lembut.

Hatsushiba tersipu malu, sampai dia tidak tahu harus berbuat apa. Sepertinya mereka terlalu dekat satu sama lain, sehingga wajahnya memerah.

"Kalau begitu, aku pergi dulu…."

Begitu dia memuaskan hasratnya, Ketua OSIS pun pergi dengan kepuasan yang terlihat jelas di wajahnya.

... Lagian sejak awal, dia tak pernah sudi mau berkontakan mata denganku.

Tidak peduli seberapa besar dia membenci cowok, gak gini juga kalee. Bagaimana bisa Ketua OSIS ini mendapatkan suara dari para pria ketika pemilihan dulu? Harusnya jumlah siswa dan siswi di sekolahan ini merata.

Jikalau dia memperlakukan para pria dan wanita secara adil, maka dia pasti terlihat begitu berwibawa saat ini. Contohnya saja Tozaki, anak itu begitu keras kepala, maka tidak mungkin dia akan memilih pemimpin dengan watak seperti Ketua OSIS itu.

"Wah ... aku benar-benar tercengang."

Ketika Ketua OSIS sudah berjalan menjauh, Hatsushiba kemudian mendesah lega, kemudian dia meregangkan tubuhnya yang tegang secara perlahan-lahan.

"Aku bisa merasakan nafsu pada gadis itu yang seakan-akan terpancar tanpa henti."

"Tapi tindakannya barusan cukup terpuji kan? Dia menolong seorang gadis yang jelas-jelas menabraknya terlebih dahulu.”

"Tunggu saja sampai seorang cowok menabraknya, dia pasti akan mencelanya sampai menjadi jomblo selama berabad-abad, bahkan sampai dia merasa ingin dilahirkan kembali.”

Dia bahkan akan memaksanya sujud, kemudian menginjak-injak kepalanya. Dan sang Ketua OSIS akan sangat menikmatinya sembari tertawa sinis layaknya ratu bertangan besi.

"Tapi sepertinya dia tidak peduli pada para lelaki, sejauh yang kutahu, dia adalah seorang Yuri ...”

"Dia bukan hanya seorang Yuri ... tapi dia sudah masuk ranah lesbian."

"Batas antara kedunya cukup ambigu, setiap orang memiliki perspektifnya masing-masing.”

"Secara umum, Yuri berarti seorang cewek penyuka sesama jenis, namun dia tidak berpikir bahwa dirinya homoseksual, mereka pun tidak saling gerayangi tubuh pasangannya, dan tidak mengumbar kemesraan di depan publik. Sebaliknya, lesbian sadar betul bahwa dirinya adalah homoseksual, mereka juga saling menggerayangi tubuh pasangannya secara berani, bahkan di depan umum, seperti itulah perbedaannya.”

"Dari apa yang Yuuka tahu, teman Seiyuu Yuuka juga ada yang seperti itu."

Aku cukup terkejut ketika tahu Hatsushiba mengetahui hal-hal seperti ini dengan mendetail

Tapi, bagaimanapun juga, kalau diamati lagi, sepertinya Hatsushiba tumbuh dalam budaya Otaku yang cukup kental.

Mengetahui fakta-fakta tentang Yuri bukanlah hal yang aneh di kalangan remaja. Namun mengetahui rahasia Seiyuu lain, agaknya itu cukup aneh. Tanpa diketahui, tampaknya para Seiyuu sudah mempelajari hal-hal ini secara mendalam, itulah kenapa mereka langsung bisa memerankan karakter Yuri atau bahkan lesbian dengan begitu menjiwai.

"Yuuka pun setuju bila para Yuri cenderung menyembunyikan fetish-nya itu, sedangkan para lesbian melakukan yang sebaliknya.”

"Hmm ..."

"Namun, sebagai orang yang menyaksikan kelainan ini, aku bisa bilang bahwa mereka tidak selalu menjadi penyuka sesama jenis sejak awal, dan tidak sedikit pula dari mereka yang tobat, sehingga akhirnya menyukai lelaki secara normal. Perasaan menyukai sesama jenis tidaklah berbeda dengan kisah cinta yang dialami orang-orang lainnya. Meskipun begitu, mungkin ada sedikit perbedaan definisi antara suka dan cinta.”

"Bagaimanapun juga, ini hanya perkara menyukai sesama jenis, kan?"

Ketika membicarakan ini, aku jadi ingat apa yang dikatakan Ketua OSIS mesum itu.

"... Nah, Hatsushiba, bayangkan andaikan kau menjadi seorang penyuka sesama jenis, apakah kau akan serius menikahi pasanganmu itu?”

"Hah? Apa? Apa maksudmu…?"

Aku tidak tahu apakah dia merasa dilecehkan, namun wajahnya terlihat begitu tegang seakan-akan dia bisa menyerangku kapanpun.

"Tidak, itu hanyalah pertanyaan yang diajukan Ketua OSIS padaku! Bukan asli dariku!"

"Menurut Yuuka, seharusnya Aramiya-kun tidak mengajukan pertanyaan seperti ini ..."

Lalu aku menceritakan secara singkat apa yang dikatakan Ketua OSIS tentang Hatsushiba, dia terlihat sangat fokus ketika mendengarkan penjelasanku, bahkan beberapa kali dia mengangguk setuju.

"Bayangkan jika kau tidak diharuskan memilih pria sebagai pasangan hidupmu, apakah kau masih mau berpacaran dengan wanita? Begitu ya yang dia katakan, ummmmm, sepertinya Yuuka masih belum cukup dewasa untuk menentukan pasangan hidup, jadi Yuuka tidak begitu memahaminya. Tapi Yuuka pun tahu bahwa kasus homoseksualitas telah meningkat belakangan ini, sehingga jika setiap wanita kehilangan ketertarikan pada pria, kemudian memilih pasangan sejenis, Yuuka rasa itu akan menjadi suatu kejadian yang begitu luar biasa.”

"Tapi, ketika masih SD, cewek hanya melihat cowok sebagai bocah biasa, tidak lebih. Namun setelah itu, barulah terbentuk definisi cinta yang sebenarnya secara perlahan-lahan.”

"Memang seperti itu trennya, tapi menurut Yuuka, selama SD, percintaan hanyalah suatu persaingan, kita tak begitu tahu apa itu cinta ... Yahh, bukannya kita tidak bisa merasakan emosi yang disebut cinta, tapi kita tidak menganggapnya dengan begitu serius. Oleh karena itu, sewaktu kita kecil, rasa cinta tidak akan berkembang menjadi kasmaran.”

Sewaktu kecil, aku benar-benar pernah mencintai Eve, tapi sejujurnya, aku masih ragu apakah itu cinta atau bukan. Aku sudah pernah merenungkan tentang hal ini, namun hanya dasar-dasarnya saja.

Namun saat itu, rasa cintaku sudah cukup serius, buktinya… aku menyimpulkan bahwa diriku membenci wanita 3D.

"Bayangkan jika teman wanita Hatsushiba punya pacar, bagaimana menurut Hatsushiba?"

"Teman ... Kotton maksudmu?"

"... Siapa saja, tidak harus Ayame."

"Yuuka masih belum bisa membayangkannya, tapi ... Yuuka mungkin akan bertanya: ’kamu tidak akan menyesalinya suatu hari nanti, kan?’ Dan jika dia tidak menjawab, mungkin Yuuka akan menghiburnya? [11] Tapi, karena Yuuka belum pernah mengalami hal seperti itu, maka sejujurnya Yuuka tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaanmu.”

"Baiklah, aku minta maaf karena telah menanyakan hal yang sensitif padamu."

"Aku tahu, aku benar-benar terkejut tadi."

Ketua OSIS benar-benar menanyakan itu padaku, menurutku…. pertanyaan itu bukan hanya luar biasa, namun juga sulit dipercaya. Akan tetapi, aku cukup sadar saat itu, jadi aku yakin bahwa pertanyaan tersebut benar-benar terucap dari lisan si Ketua OSIS.

Begitu aku berbicara dengan Hatsushiba, aku merasa lebih percaya diri, lalu aku pun kembali ke kelas.

Karena kami tidak bisa ke ruang klub sepulang sekolah, maka kami pun memilih nongkrong di perpustakaan seperti biasa. Sepertinya belakangan ini kami cenderung sering mengunjungi perpustakaan.

Lantas kami memilih meja ternyaman, kemudian kami tumpuk buku-buku pelajaran di tengah dalam posisi terbuka.

"Yu ... Yuuka, bolehkah aku menanyakan bagian ini?"

"... Kotton, bukankah Yuuka barusaja mengajari yang itu?"

"Maafkan aku." Ayame terlihat sangat malu.

Hari ini, Hatsushiba terlihat punya tanduk yang mencuat dari dahinya, jikalau tempat ini bukan perpustakaan, mungkin dia sudah mengeluarkan cambuknya dan menyiksa kami semua bagaikan tante sadis, ahhh itu hanya imajinasiku sih.

"Aramiya-kun, apakah kau sedang membayangkan sesuatu yang jorok tentangku?"

"Ah, nggak kok..."

Sepertinya kesensitifannya sedang meningkat, aku pun jadi takut.

"Maafkan lelaki yang tak tahu malu ini."

"Oh, aku sih tidak masalah, jangan dipirkan ya ..."

Dan tiba-tiba, Kiyomi mengatakan itu, sehingga membuat Hatsushiba sedikit sungkan.

Aku mengirimkan pesan pada adikku untuk memberitahukan bahwa ruang klub sedang tidak bisa dipakai, dan kami menggunakan perpustakaan untuk belajar kelompok. Ternyata dia langsung berlari menuju perpustakaan ini, tadinya aku mengira dia hanya akan malas-malasan di rumah saja.

Kiyomi duduk di samping Ayame, dia melihat buku-buku itu, kemudian berkata tanpa sungkan, "Setiap mata pelajaran tampaknya cukup sulit, dan ini bukan untuk kelas 11.”

"Aku haus, hei Ryoma, bolehkah aku minta air?"

"Tapi, Kiyomi-chan ... ini bukan restoran, dan jangan minum di dalam perpustakaan ya ..."

"Tapi, perpustakaan di dekat rumahku memperbolehkan pengunjungnya membawa botol air ke dalam lho."

Bagaimana bisa kau membandingkan antara perpustakaan sekolah dan perpustakaan kota?

Bahkan, mengapa kalian saling ngobrol dengan begitu santainya, seakan-akan kalian diperbolehkan gaduh di sini?

"Kau juga kenal Saitan rupanya."

"Yahh, Ryoma memang orang yang sangat baik, itulah sebabnya aku tak pernah sungkan padanya."

Saitani mengedipkan matanya, kemudian memandangi kami secara bergantian. Tingkahnya yang pemalu sungguh imut.

"... Atau jangan-jangan, Kiyomi-chan adalah adik perempuanmu, senpai?"

"Bukankah nama keluarga mereka jelas-jelas sama?"

"Tidak, tidak, bukan begitu maksudku… Aku cukup yakin bahwa sebelumnya Kiyomi-chan pernah berkata bahwa dia tidak punya kakak laki-laki.”

"... Itu artinya, kalau sedang di sekolah, aku tidak punya kakak laki-laki seperti dia!"

Dan kemudian, Kiyomi melihat ke arah lain sambil membentak "Hah!"

"Huh…. Menjadi adik kandung orang ini sudah cukup membuatku merasa mual, mungkin akan lebih baik jika aku lahir dari kepala kubis ... Namun berapa kali pun aku melihat Kartu Keluarga kami, orang ini tidak pernah lenyap dari daftar nama keluargaku, ahh aku sudah tidak tahan lagi melihatnya.”

"Kau kira aku juga tahan menjadi kakakmu!? Kalau begitu, cepatlah pulang sana, tak ada gunanya kau berada di sini!”

"Aku di sini tidak untuk menemuimu, aku di sini hanya karena ingin bertemu dengan Ayame-san! Jangan sok bego di depanku!”

"Duuuhh…! Kiyomi-chan, tolong pelankan suaramu!”

Teriakan Kiyomi cukup keras sehingga membuat Saitani menegurnya.

Meskipun adik perempuanku sepertinya tidak punya tata krama, setidaknya dia punya akal sehat. Lantas dia pun menghentikan tindakannya yang keras kepala itu.

"Maafkan aku, Saitani, kakakku memang idiot."

"Apa!?"

"Kumohon jangan berisikkkkkkk!"

Setelah ditegur seperti itu, dia hanya menimpali dengan ekspresi cemberut di wajahnya.

Hahaha, aku sangat bersyukur ada Saitani di sini.

"Kau harus lebih dewasa, Aramiya ..."

Tozaki, yang duduk di sampingku, mengatakan itu dengan penuh percaya diri.

Hei, kalau dia tidak memulai, maka aku juga tidak akan membalasnya. Tapi kalau kau membiarkan adikku mengucapkan semuanya seenaknya, maka dia tidak akan pernah menunjukkan rasa hormatnya padaku.

"Jika kau seorang protagonis laki-laki sejati, tidak peduli seberapa kasar adik perempuanmu, kau tetap harus bersikap lembut padanya, bukankah begitu, Aramiya?”

Dia masih berdebat denganku dalam hal ini.

Tokoh protagonis pria dalam Eroge sangatlah hebat, dan mereka selalu menunjukkan kesantunan sampai akhir cerita.

Tapi, biar kuperjelas sekali lagi, aku bukanlah protagonis, dan aku tidak akan bisa menjadi seperti mereka.

"Aku minta maaf karena aku terlambat."

Dan pada saat itulah, Eve tiba.

Sebelum tiba di perpustakaan, kudengar dia bilang mau pergi ke toilet, sepertinya dia cukup niat mengikuti kegiatan belajar kelompok ini.

"Halo Eve-san."

"Oh, halo Kiyomin."

Kiyomi dan Eve sangat dekat satu sama lain. Kiyomi adalah tipe gadis peka yang menyadari terlebih dahulu ketika ada orang yang berniat dekat dengannya, ya…. sejak dulu dia selalu seperti itu. Ini juga terjadi ketika Ayame mulai dekat dengannya.

Namun, dalam kelompok ini ada seorang bibi yang selalu mengomel ketika ada anggota kelompok yang datang terlambat.

"... Kau terlambat, Suwama-san, sadarkah kau bahwa nilaimu jauh tertinggal dengan teman-teman lainnya?"

"Wah, kumohon jangan memandangiku dengan mata mengerikan seperti itu, Hatsushiba-chi! Ketua OSIS tadi memanggilku, dan karena itulah aku terlambat ...”

"Ketua OSIS?"

Begitu Hatsushiba bertanya dengan begitu penasaran, Eve pun mengangguk gugup.

"Dia memintaku untuk membantu pekerjaannya sebagai anggota OSIS, atau semacamnya! Meskipun aku mengatakan kepadanya bahwa aku sudah menjadi bagian dari klub lain, namun seakan-akan dia tidak mau mengerti, kemudian dia terus mengucapkan hal-hal yang tidak bisa kupahami. Tiba-tiba, dia berbicara tentang upah atau sejenisnya.”

Upah? Apakah maksudnya imbalan jasa? Sejumlah uang yang akan diberikan ketika kau selesai melakukan tugasmu ... tapi tugas apa?

"Jadi, dia menawari semua siswi untuk menjadi anggota OSIS?"

Aku pikir Tozaki ada benarnya.

Eve baru saja pindah ke sekolah ini, jadi seharusnya dia tidak ditawari begitu saja menjadi anggota OSIS.

"Bukankah kita harus meneruskan belajar kelompoknya?"

Aku ingin bertanya pada Eve, apakah ketua itu juga membicarakan yang lainnya. Namun Hatsushiba berubah menjadi mode iblis ketika aku membahas tentang Ketua OSIS barusan, jadi sebaiknya kita hindari itu. Eve pun langsung duduk, lantas dia mengeluarkan buku catatan, buku latihan, dan peralatan tulis dari tasnya.

Menanyakan sesuatu dalam situasi seperti ini agaknya cukup sulit. Kalau aku menanyakan sesuatu di luar pelajaran, maka Hatsushiba pasti akan memarahiku. Mungkin lain kali saja.

"Hah, langitnya sangat cerah, lantas kenapa kita harus menghabiskan waktu di ruangan ini dengan belajar?!"

"Jadi kau ingin tidak naik kelas tahun ini?! Kalau begitu, selesaikan soal ini sekarang juga! AC-nya sudah dingin bukan?”

Eve banyak mengeluh, dan Hatsushiba terus saja membentaknya, sementara Tozaki bersikap netral dengan berpura-pura tidak melihat apapun. Segalak apapun orangnya, Hatsushiba masihlah pujaan hati Tozaki.

Chuuko Vol 3 h.png

Hatsushiba mungkin terlihat galak saat mengajari Eve, namun inilah sikap normalnya ketika mengajari orang lain, bahkan ketika mengajari Ayame pun, dia selalu seperti itu. Mungkin kau bertanya-tanya, apakah ini berarti Hatsushiba semakin dekat dengan Eve…. Yahh, aku juga tidak paham, namun tampaknya mereka semakin akrab sedikit demi sedikit.

“Ketika Hatsushiba berubah menjadi mode S [12], dia sama sekali tidak terlihat menyeramkan.”

Tozaki adalah pemujanya, sehingga apapun yang Hatsushiba lakukan, dia pasti akan melihat sisi positifnya.

Sesekali aku dan Tozaki meliriknya yang sedang mengajari Eve dengan begitu sadis, namun ketika dia melihat kami, kami berdua langsung memalingkan tatapan kembali ke buku masing-masing.

Sedangkan, Kiyomi tampaknya tidak mau dipusingkan oleh semua kegiatan belajar-mengajar ini, yang dia lakukan sejak tadi hanyalah ngobrol bersama Saitani. Wow, dia cukup cuek ya, ahh suatu saat nanti aku juga ingin ngobrol ceria bersama Saitani.

“Ngomong-ngomong, Kiyomi-chan, kau tidak belajar untuk mempersiapkan ujianmu?”

“Jika kau bisa berkosentrasi penuh di kelas dan menyerap semua pelajarannya, maka mengapa kau perlu belajar lagi di rumah?!”

Wow, aku sangat meragukan itu.

Tetapi ketika kami di rumah, aku tidak pernah melihatnya belajar sekali pun.

“Kalau Kiyomi-chan bisa mencerna pelajaran di kelas dengan begitu hebatnya, maka kenapa kau tidak bersekolah saja di SMA yang jauh lebih favorit daripada SMA ini."

Pertanyaan Saitani tepat sasaran.

Itu benar, toh dia juga masih punya kesempatan bersekolah di SMA yang lebih baik, meskipun harus menempuh ujian masuk untuk pindah sekolah. Dan aku benar-benar ingin iblis kecil ini bersekolah di tempat yang jauh lebih baik!

“Bersekolah di SMA yang dekat dengan rumah sudah cukup bagiku, aku tidak ingin bersekolah di tempat yang begitu jauh, sehingga aku capek bolak-balik antara rumah dan sekolahan.”

“Ah um, mungkin kau benar, tapi ... Kiyomi-chan, jangan-jangan kau begitu ingin bersekolah di SMA yang sama dengan kakakmu?”

"APAAAA!!??"

“Kiyomi-chan, pelankan suaramu ...!”

Semua pelajar yang berada di perpustakaan ini menoleh ke arah Kiyomi, tentu saja, karena dia berteriak dengan begitu kencangnya.

Kiyomi langsung menyumpali mulutnya dengan tangannya sendiri, kemudian dia segera menunduk kepada mereka untuk meminta maaf.

“Ryoma, kumohon jangan mengatakan hal sekonyol itu.”

“Apakah aku mengatakan sesuatu yang begitu aneh?”

"Aku hampir pingsan!"

“Tapi aku masih penasaran mengapa Kiyomi-chan memilih SMA ini, padahal dia bisa saja bersekolah di tempat yang lebih prestisius…"

Aku tau.

Dia benar-benar bisa mendaftar di SMA yang jauh lebih baik daripada tempat ini. Kalau dia benar-benar membenciku, maka cari saja sekolahan lainnya, sehingga aku bisa menikmati masa-masa SMA-ku dengan begitu bebas.

Padahal, kalau dicari-cari lagi, ada beberapa sekolahan lain yang lebih baik dan letaknya tidak terlampau jauh dari rumah kami.

Atau mungkin juga… dia punya pacar yang belum pernah kuketahui sebelumnya, yang juga bersekolah di SMA ini. Ya, itulah alasan yang paling masuk akal saat ini.

“Aku benci membuang-buang waktu di jalan, jadi aku pilih tempat yang paling dekat dengan rumah, yaitu di sini, titik!!”

Pernyataan Kiyomi itu memaksa Saitani mengangguk setuju.

Kalau kau benci membuang-buang waktu, harusnya sejak awal kau tidak pernah memilih untuk bergabung dengan klub ini ... Sesungguhnya aku ingin mengatakan itu, tapi lebih baik aku tetap diam. Ada pepatah kuno yang mengatakan bahwa orang yang paling cerewetlah yang mati duluan.

Kemudian, kami pun meneruskan kegiatan belajar kelompok ini dengan sedikit ngobrol. Hanya suara lembaran kertas yang terdengar setelahnya.

“Hah, aku tidak tahan lagi ... aku akan mati ... aku benar-benar sekarat ...”

“Kau tidak akan mati, kau masih punya sepuluh pertanyaan lagi, jika kau tidak menyelesaikannya dalam sepuluh menit, Yuuka akan memaksamu untuk menjawab sepuluh pertanyaan ekstra lainnya. Jika kau tidak bisa menyelesaikan 1 pertanyaan dalam 1 menit, maka kau tidak akan bisa menyelesaikan ujiannya tepat waktu, lho.”

Sepertinya cara mengajar Hatsushiba makin sadis saja, dan Eve hanya bisa merengek di atas tumpukan soal yang dibebankan padanya.

“Huh, aku ingin berlibur sekarang!”

“Kalau kau ingin tidak naik kelas, ya pergi lah berlibur sana! Yuuka sama sekali tidak ambil pusing dengan nasibmu!”

“Tidak, b-b-bukan begitu ...”

Eve mulai menangis, kemudian dia kembali fokus pada bukunya…. Jangan menyerah Eve, semangatlah.

“Caramu mengajarkan membuatnya cepat jenuh, Hatsushiba.”

“Mungkin kau benar, namun kita tidak tahu metode belajar macam apa yang cocok dengannya, tapi kalau kita terus menjejalkan soal-soal ini, paling tidak dia akan mengingat beberapa darinya. Terlebih lagi, Suwama-san tertinggal banyak pelajaran.”

Aku masih penasaran bagaimana Eve bisa pindah ke sekolahan ini. Karena itu berarti dia sudah lolos dari ujian masuk sekolahan ini.

“Bagi mereka yang ngebut belajar sebelum ujian, satu-satunya cara agar berhasil adalah dengan memaksanya fokus pada pelajaran ... Orang yang cerdas bisa menyerap sebagian besar dari materi pelajaran, namun bagi mereka yang kurang cerdas, setidaknya ada beberapa persen yang bisa mereka tangkap. Bahkan dengan metode belajar yang mudah sekalipun, belum tentu orang yang kurang cerdas bisa menyerap pelajaran.”

“Jadi, kau berpikir bahwa menggunakan metode belajar mudah belum tentu berguna bagi orang yang kurang cerdas, oleh sebab itu, sekalian saja gunakan metode yang sulit…. Hmmm, mungkin kau benar.”

Tapi tetap saja, kami harus menemukan metode yang lebih mudah untuk mengingat materi pelajaran.

Namun kalo metode itu tak kunjung ditemukan, maka hafalkan saja semua materi pelajarannya sekaligus, pasti ada beberapa persen yang masuk ke otakmu ... yahh, mungkin itu adalah jalan pintas paling ekstrim bagi pelajar sebodoh Eve. Apakah itu akan berhasil atau tidak, semuanya tergantung kemampuanmu.

“Menurut Yuuka, daripada kita ngebut belajar selama 10 jam, lebih baik kita belajat sedikit-sedikit selama 1 jam saja. Namun itu adalah metode yang hanya bisa diterapkan pada pelajar yang rajin.”

Setiap murid memiliki batas kosentrasinya sendiri-sendiri, jika kau sudah mencapai batasmu, maka tak seorang pun bisa memaksamu untuk lanjut belajar. Otak yang terus dipaksa bekerja hanya akan berujung pada melemahnya kondisi kesehatan. Kalau aku sih, gak akan mau menyia-nyiakan kesehatanku hanya untuk belajar.

"..."

Ayame masih menatap buku-buku itu, namun dia mulai merasa jenuh dengan memutar-mutarkan pensilnya dan melipat lengannya, dan dia pun berhenti untuk beberapa saat. Sepertinya kosentrasinya mulai menurun dengan drastis.

Aku tahu dia sudah bosan, namun kondisi seperti itu tidak akan dibiarkan oleh Hatsushiba.

"…Kotton?"

“Ah… a-a-a-aku masih kuat kok ...!”

Suara dingin Hatsushiba membuat pundak Ayame bergidik dan tubuhnya mulai gemetaran.

Aneh juga melihat mantan preman ketakutan seperti itu.

"Hei!"

Tiba-tiba Kiyomi membisikkan sesuatu padaku dengan suara yang cukup pelan, sehingga hanya kami yang bisa mendengarkannya.

“Kau tidak memberinya hadiah?”

“Hadiah? Hadiah apa?”

“Ayame-san dan Eve-san sama-sama rajin belajar sampai titik darah penghabisan, lho!”

“Bukankah hadiah terbaik adalah mendapatkan nilai yang bagus setelah ujian!??”

“Itu adalah hasil kerja keras mereka, jangan samakan dengan hadiah! Jika kau memaksa mereka untuk bekerja keras, mereka akan kehilangan motivasi jika tidak kau beri hadiah.”

Tapi jika kau mengharapkan imbalan untuk setiap kerja keras yang kau usahakan, mungkin hasil yang kau dapat bisa melenceng dari tujuan awal. Mungkin saja mereka jadi terlalu mengharapkan imbalan, dan jika imbalan itu tidak diberikan, maka berhentilah kerja keras mereka.

Yahh, bukannya aku tidak pernah memberinya hadiah sih. Tempo hari aku memberikan pin yang merupakan hadiah stok terbatas dari suatu eroge. Dia pun terlihat begitu senang, dan sampai sekarang dia tempelkan pin itu di tasnya.

Itu artinya, tidak diperlukan imbalan yang mewah untuk mengganjar suatu kerja keras. Namun Kiyomi benar, setidaknya kami memerlukan refreshing setelah serangkaian kerja keras ini.

“Setelah ujian akhir, kita akan berlibur bersama-sama!”

Aku menyatakan itu tanpa berpikir dua kali, kemudian Ayame, Hatsushiba, dan Eve terlihat terkejut

“Berlibur ke mana?”

Ayame bertanya dengan antusias.

Sebenarnya aku ingin menjawab “Comiket”, tapi kalau dipikir-pikir lagi, akan lebih baik jika aku ke sana sendirian. Membawa banyak Otaku amatiran akan sangat merepotkan. Yahh, jika kami membantu dengan berkerja sebagai pengantar barang, mungkin kami bisa membeli beberapa komik berharga. Tapi bergantung pada orang-orang amatiran membuatku sedikit cemas. Selain itu, acara yang digelar di pertengahan musim panas membuatku serasa akan mencair meskipun hanya berdiri di sana tanpa melakukan apapun. Lagian, kami juga harus bangun sangat pagi.

Sehingga, aku pun membatalkan opsi Comiket.

"Aku tau…"

Bagaimana kalau eroge?

Setelah bekerja keras belajar untuk mempersiapkan ujian, dan setelah melalui minggu-minggu penuh ujian, paling enak kita berlibur ke suatu tempat.

Langit biru, pantai putih berkilau, dan laut berwarna zamrud, ditambah lagi pemandangan yang dihiasi cewek-cewek berbikini….. ah, sepertinya aku tahu kemana kita harus berlibur.

“Mungkin, berlibur ke pantai….?”

Aku berbicara tanpa banyak berpikir.

Sebenarnya, laut berwarna zamrud seperti yang ada di eroge, hanya bisa ditemukan di luar negeri. Laut di Jepang tidak ada yang berwarna seperti itu.

... Tapi tunggu sebentar, kalau dipikir-pikir lagi…. apakah pantai benar-benar pilihan yang tepat? Bukankah berlibur ke pantai terlalu merepotkan? Apakah berenang di pantai akan sangat menyenangkan? Kalau tenggelam bagaimana? Apakah cewek-cewek berbikini akan terlihat seimut karakter eroge?

Tapi-

"Pantai! Tidak buruk sama sekali!”

“Belakangan ini Yuuka jarang berlibur ke pantai, waah itu pasti menyenangkan!”

“Ya, bersenang-senang di pantai setelah ujian yang melelahkan adalah pilihan yang bagus!”

Baik Eve, Hatsushiba dan Ayame sama-sama menyambut positif ide tersebut.

Kiyomi terlihat terkejut, seakan dia hendak mengatakan, “... tak kusangka kau ingin berlibur ke pantai”, mungkin dia tidak pernah mengira bahwa Otaku pemalas sepertiku memilih pantai sebagai destinasi liburan.

“Ah, baiklah ...”

Tunggu teman-temanku, aku hanya berpikir bahwa para protagonis di eroge biasanya akan memilih pantai sebagai tempat liburan bersama harem-haremnya. Aku tidak benar-benar berniat pergi ke sana!

“Pakaian renang seperti apa ya yang akan kita pilih.”

“Tampaknya atasanku sudah kekecilan, mungkin aku harus membeli yang baru.”

“Pakaian renangku yang sekarang masih muat gak ya…..”

Semuanya seakan sudah merasa berada di pantai.

Apa yang harus aku lakukan.

Kalau aku batalkan ajakan ini sekarang, mungkin mereka akan kecewa.

“Para senior sekalian, kumohon pelankan suara kalian.”

Pipi Saitani sedikit mengembung, dan itu menunjukkan bahwa dia mulai jengkel.

Wow, dia semakin imut ketika ngambek.

“Bagaimana kalau kita pergi membeli pakaian renang?”

Kemudian Hatsushiba menanyakan itu seolah-olah dia tidak bisa lagi menahannya. Di mana mode iblisnya tadi? Sikapnya berubah secara drastis.

“Mari kita akhiri kegiatan belajar kelompok hari ini, kuharap kalian mulai merencanakan liburan nanti!”

Jika Hatsushiba dan yang lainnya akan pergi untuk membeli pakaian renang, maka aku pulang saja.

Tapi begitu aku mulai berkemas, dan siap untuk pergi,

“Jika kau tidak ikut mereka, maka apa gunanya mengajak!?”

Kiyomi tiba-tiba merenggut tasku.

“Hei apa yang kau lakukan, berikan kembali padaku!!”

“Kami harus pergi bersama-sama mereka, dasar otak spons, ...”

“Kenapa harus otak spons? Aku gak paham ejekanmu, lagian…. Mengapa aku harus ikut mereka beli pakaian renang?”

“Jika kau tidak pergi, maka apa gunanya… kusuruh kau untuk pergi, jadi cepatlah pergi sana! Aku juga akan ikut bersama Ryoma.”

"Eh? Aku juga?"

Mata Saitani terbelalak, sepertinya dia terkejut karena tiba-tiba terlibat dalam kegaduhan ini.

“Tugasmu sebagai pegawai perpustakaan hari ini akan segera berakhir, kan?"

“Ayolah, Kiyomi-chan, kau terlalu memaksaku, lho ...”

Jika aku pulang sekarang, pasti Saitani akan kerepotan menangani mereka.

Tak akan kubiarkan Saitani direpotkan oleh empat cewek tidak waras ini.

Ya, aku pun sedikit demi sedikit mulai menyadari bahwa Saitani benar-benar seorang pria. Meskipun begitu, dia tidak akan dicurigai ketika berjalan-jalan di sekitar toko pakaian dalam wanita.

“Baiklah, aku juga akan ikut dengan kalian!”

Apa boleh buat, aku juga akan ikut dengan kalian demi melindungi Saitani.

Kemudian, kami meninggalkan sekolah untuk membeli beberapa pakaian renang.

Namun tampaknya Tozaki sedang sibuk, dia pun terpaksa pulang dengan air mata bercucuran di pipinya bagaikan darah.

... Apakah dia benar-benar terluka secara batin?

Kami tidak menuju ke rumah masing-masing sepulang sekolah, kami malah menuju ke stasiun kereta untuk pergi ke departemen store.

Aku tidak tahu dimanakah tokonya, jadi aku ikut saja dengan mereka.

Kami berjalan bersama-sama dalam suatu grup, yang berada di barisan terdepan adalah Hatsushiba dan Ayame, diikuti oleh Saitani dan Kiyomi, dan tepat di belakang mereka adalah aku bersama Eve. Pasangan-pasangan ini terbentuk begitu saja tanpa kami rencanakan sebelumnya, dan mereka terlihat saling ngobrol satu sama lain. Dalam keadaan seperti ini, sangatlah jelas bagaimana hubungan masing-masing dari kelompok kami.

“Dulu kita pernah bersama-sama seperti ini ketika pulang ke rumah, kan?”

Eve yang berada tepat di sampingku, dengan lembut membungkukkan kepalanya ke bawah, lantas dia mengucapkan itu dengan ekspresi sedih di wajahnya yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Maksudmu ketika kita masih SD? Wah, aku sudah tak ingat lagi.”

Aku biasanya pulang sendirian, karena sekolahku toh dekat dengan rumah.

“Waktu itu, banyak cewek yang suka pada Seichi, namun mereka setuju untuk tidak menggoda Seichi ketika berjalan bersama, jika salah seorang melakukan itu, maka yang lainnya akan marah."

Apakah memang ada kejadian seperti itu? Ah, aku tidak mengingatnya lagi.

Oh aku paham, mungkin Ako lah yang menceritakan itu pada Eve. Orang bernama Ako itulah yang memprovokasi, bahkan menipu Eve sampai jadi seperti ini.

“... Ngomong-ngomong, kemanakah kelompok itu sekarang?”

“Maksudmu kelompok Ako-chi?”

“Ya, Ako, Mii, Kyoya, Hizumi ... dan yang lainnya.”

Kelima anak itu adalah kelompok paling solid di kelasku dulu ... Bahkan, mungkin mereka lah yang terkuat di sekolah kala itu.

Mereka suka mendominasi kelompok lain di kelas.

Namun aku tak pernah tunduk pada mereka. Aku bersaing dengan Kyoya, yaitu bocah yang begitu baik dalam olahraga, atau Hizumi yang begitu cerdas ... Tapi sekarang, itu semua hanya sebatas kenangan masa lalu.

“Aku pernah bertanya pada mereka tentang SMA manakah yang ingin mereka tuju ketika sudah besar nanti.”

"Lantas apa jawabnya?"

“... Umm ... SMA mana ya….?”

Ah sial.

“Maaf, aku sudah lupa ...”

“Oh Tuhan, mengapa kau dengan mudahnya melupakan itu…. mungkin mereka tidak bersekolah di SMA kita, kan?"

"…Mungkin tidak."

Tapi Eve memanglah gadis yang sangat lemot, jadi wajar saja dia melupakan hal yang sudah lama terjadi.

“Lupakan mereka untuk sementara, dan ... siapakah orang yang memberitahumu rumor tentang Ayame?”

“Bukankah semua orang juga membicarakan rumor itu ...?”

“Kalau itu, tentu saja aku tahu, itulah sebabnya aku ingin menyelidiki darimana rumor ini berkembang. Jadi, dari siapa kau pertama kali tahu tentang Ayame?”

“Ya ... aku memang dekat dengan beberapa orang di kelas, namun mungkin juga aku tidak sengaja mendengarnya dari cewek-cewek yang sedang asyik ngerumpi. Mungkin Nishiharajii yang pertama kali membicarakannya, atau Yamamoto-chi, atau bahkan mungkin Hozoe-chi yang merupakan ketua kelas ...”

Mungkin, aku perlu mencurigai beberapa cewek yang ikut menjebakku dalam insiden gudang olahraga waktu itu.

“Apakah kau pernah berteman dekat dengan Nishihara sebelumnya?”

“Ya, Nishihara-chi adalah murid yang baik, dia mungkin terlihat membosankan, tapi sebenarnya dia sedang berusaha memperbaiki sikapnya itu. Dia jauh lebih baik daripada diriku! Tapi harusnya dia juga mempedulikan rambut dan alisnya.”

Setelah mendengar ini, aku tidak tahu harus berbuat apa.

Aku tidak peduli apakah seseorang terlihat membosankan atau menarik.

Kalau di eroge sih, aku memang menyukai karakter seperti itu, termasuk tipe orang yang membosankan, kemudian berubah menjadi sosok yang manis. Tapi tipe orang seperti ini bagaikan gadis yang melepas kacamatanya [13]. Jadi menurutku, dia tidaklah berguna.

Cewek berkacamata haruslah tetap seperti itu. Bukannya aku seorang penggemar cewek berkacamata, tapi aku tidak bisa memaafkan seseorang yang mengorbankan jati dirinya hanya untuk tampil beda.

“Aku tidak yakin apakah memang benar dia pelakunya, lupakan saja dia sementara, tapi yang jelas, karena dia lah aku terlibat dalam suatu masalah yang merepotkan.”

"…Maafkan aku."

Tiba-tiba tubuhnya terkulai.

Kalau dia sudah mengaku bersalah, ya apa boleh buat.

Kalau dia berani mengakui kesalahannya, maka dia sudah menjadi lebih dewasa.

“Oh demi Tuhan ... kalian sangat pandai menjebak orang tak berdosa seperti Nishihara, kapan kalian merencanakan itu?”

“Aku sudah merencanakan itu sejak Seichi bersikap dingin padaku, dan tiba-tiba saja aku berpikiran seperti itu ... Nishihara pun memintaku untuk melakukan seperti yang biasa terjadi di Manga.”

“Manga apa?”

“Manga berjudul 'The Recipe of Theirs'.”

Otakku membeku beberapa saat setelah mendengar itu.

Bukankah itu judul eroge!?? Itu menceritakan tentang Werewolf legendaris, yang mana wanita memperkosa pria.

Tapi tunggu, apakah cerita itu juga diadaptasi menjadi Manga? Seingatku sih tidak ada ...

“Bolehkah aku bertanya? Manga yang kau sebutkan tadi, apakah satu jilidnya setebal ini?"

Aku menggunakan gestur tanganku untuk mengestimasi kira-kira setebal apakah Manga mingguan, tapi Eve hanya menggelengkan kepalanya.

Kemudian, aku menggunakan tanganku lagi untuk menunjukkan seberapa lebar ukuran kertas A5, tapi sepertinya juga tidak sebesar itu.

“... Kalau begitu, apakah ukurannya segini?” Aku mengubah lagi ukuran lebar kertasnya.

“Oh ya, tepat sekali!”

Setelah kurubah ukurannya menjadi kertas A4, Eve pun mengangguk dengan yakin.

“... Untuk ketebalannya, apakah segini?”

Kugerakkan jari telunjuk dan jempolku untuk memperkirakan ketebalan sekitar 5 mm.

“Ya, kira-kira setebal itu, tapi kukira, setidaknya tebal Manga adalah 1 cm. Ketika aku melihat buku itu, aku juga terkejut sih.”

Oh ya Tuhan, aku tidak percaya ini.

Komik seukuran kertas A4 dan setebal 5 mm, tidak salah lagi…. itu adalah Doujin [14].

Andaikan Nishihara berada di dalam kelompok ini, bukankah itu berarti aku bisa ngobrol dengan asyik bersamanya? Maksudku, itu berarti dia juga seorang Otaku, kan? Dia adalah Otaku cewek yang suka baca BL (Boy’s Love) ... Tunggu dulu, tapi mungkin saja aku salah.

Tak peduli hubungan mereka dekat atau tidak, faktanya Eve tidak pernah jalan bersama-sama Nishihara kan? ... Kurasa, hubungan mereka tidaklah begitu dekat, mungkin mereka hanyalah sepasang teman yang kebetulan ingin mengerjaiku.

... Haruskah aku meminta Eve untuk kembali mendekatinya?

“Kemudian, kami membicarakan tentang Manga apa yang akan dipakai sebagai referensi ... setelah menemukan referensi yang cocok, aku pun menyuruh Nishihara untuk menggiring Seichi ke gudang ...”

“Oh aku paham, pantas saja mereka bisa menggiringku ke gudang, rupanya mereka saling berkomunikasi lewat ponsel.”

"Eh?"

Kenapa sekarang kau terlihat begitu kaget? Dan mengapa mulutmu mengaga seperti itu, seakan-akan kau lupa caranya menutup mulutmu.

Ini tidak sesuai dengan apa yang aku perkirakan.

“Aku malah meminta pendapat Nishihara untuk mengeksekusi rencana tersebut, kemudian semuanya berlangsung begitu saja.”

Jadi, dia sendiri juga tidak tahu bagaimana detail rencananya.

Tapi, berdiskusi lebih lama dengan Eve tampaknya tidak akan membuahkan hasil apapun. Lebih baik aku segera memikirkan kesimpulan dari informasi ini, kemudian meminta Eve membantuku sesuai dengan kemampuannya.

Hatsushiba pasti akan sangat geram setelah mendengarkan informasi baru ini ... tampaknya itu hanya akan memperburuk suasana.

Pada saat itu, tampaknya Nishihara sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Kemudian aku melihat Eve menaruh ponsel kembali ke tas setelah menempelkannya di telinga untuk berkomunikasi dengan seseorang.

“Setelah Penjaskes berakhir, kalian menyuruh Nishihara untuk berhadapan denganku, kan?”

“Tidak, sungguh, aku mengatakan yang sebenarnya!”

"Oh ya ampun…"

Eve dengan cepat membuka layar smartphone untuk memberitahuku secara langsung.

Dia menunjukkan riwayat panggilan pada hari insiden itu berlangsung. Di sana tertera beberapa panggilan keluar, namun dia hanya menelpon keluarganya, tanpa ada panggilan keluar atau masuk dari siapapun selain keluarganya.

“Jadi kau tidak menelpon siapapun hari itu.”

"Kau lihat sendiri, kan?"

“Tapi, karena riwayat panggilan bisa dihapus ...”

"Oh, ya ampun!?"

Aku benar kan? Kau bisa menghapus riwayat panggilan manapun yang kau mau, sehingga daftar panggilan yang ditunjukkannya padaku bukanlah suatu bukti yang kuat ... Tapi sepertinya, Eve tidak bisa menghapus riwayat panggilan dalam ponselnya sendiri, oh betapa bodoh gadis ini.

“Lalu, siapakah yang Nishihara telpon pada hari itu?”

“Bagaimana aku bisa tahu? Apakah kau memintaku untuk menanyainya kalau kami bertemu lagi lain kali?”

“... Tentu saja, kumohon.”

Sepertinya tidak ada yang aneh sampai poin ini.

“Tapi, bersama Seiichi seperti ini, agaknya…….”

Ketika Eve hendak mengatakan sesuatu, aku baru sadar bahwa kami terpisah cukup jauh dengan kelompok kami di depan.

“Hei, Aramiya? Apa kau baik baik saja?"

Ayame dan yang lainnya menoleh pada kami, dan menunggu agar kami menyusul mereka.

“Ayo cepat, Eve.”

"Ya, tentu…"

Sepertinya Eve tidak berbohong, dan nampaknya dia ingin membicarakan hal lain, namun tidaklah masalah jika kita bicarakan itu nanti.

Kami memasuki pusat perbelanjaan di dalam stasiun kereta [15], kemudian berjalan melalui eskalator untuk mencapai lantai 3.

Toko perlengkapan baju renang terdapat jauh di dalam mall. Ada banyak model pakaian renang yang imut, mulai dari untuk anak-anak sampai dewasa.

Sebelumnya, ada sekelompok gadis-gadis SMA yang memilih baju renang masing-masing, kemudian membawanya dengan kereta belanja. Proses belanja seperti itu berlangsung berulang-ulang sampai giiran kami tiba. Keempat gadis itu mencari pakaian renang yang sesuai dengan selera masing-masing.

Sepertinya toko ini menerapkan gaya Amerika dalam melayani pelanggannya. Kau diperbolehkan memilih beberapa baju, kemudian mencobanya, dan kau juga boleh berlama-lama memilih baju renang lainnya, meskipun banyak orang yang mengantre. [16]

... Akibatnya, aku terjebak lebih lama di dalam toko ini.

“Hei senpai, kenapa kita harus berakhir di sini ...? Ini adalah toko pakaian renang untuk cewek, lho."

Saitani, yang berdiri di sampingku, berkata dengan suara super lembut, sampai-sampai aku ingin melindunginya.

Tapi, tampaknya tidaklah aneh ketika ada seorang pria yang menunggu cewek-cewek memilih pakaian renang, oleh karena itu… bertahanlah diriku!!.

“Yah, salahkan saja Kiyomi ... tapi sepertinya, akan lebih baik jika kita bisa bertahan sedikit lebih lama di sini, jadi berjuanglah Saitani.”

“Itu karena Kiyomi-chan sangat ngotot ...”

Maafkan adikku yang keras kepala.

“Kalau begitu, apakah sebaiknya kita juga lihat-lihat pakaian di toko untuk pria?”

Itu adalah saran yang benar-benar menarik, tapi aku penasaran, apakah orang-orang akan menganggap bahwa kami adalah sepasang kekasih.

... Tapi tunggu dulu, bagaimana kalau mereka salah paham seperti itu?

Ya, mereka mungkin akan berpikir bahwa aku adalah pacarnya Saitani yang hendak memilihkannya pakaian renang? Aku merasakan tatapan-tatapan mata yang mengarah padaku seakan mengatakan, “Whoa, apa yang dilakukan pria itu di sini?”

Mereka bisa saja menganggap Saitani cewek, karena di sekolahan kami, siswi-siswi juga diijinkan mengenakan celana panjang.

“Saitani ... Aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri ...”

“Eh, apa yang sedang kau katakan, senpai!”

“Jika kau pergi, aku benar-benar akan sendirian, dan orang-orang itu pasti akan menghujamku dengan tatapan mata setajam belati!”

“Sepertinya aku juga merasakan hal yang sama, senpai."

Kau salah paham Saitani, tatapan-tatapan tajam yang kau rasakan sebenarnya ditujukan padaku!

Misalnya, tatapan gadis yang di sana itu seakan mengatakan “ahh, cowoknya juga pemalu, manis sekali ya!”.

“Protagonis cowok dalam eroge benar-benar seorang ...”

Aku berbisik dengan pelan supaya tak seorang pun mendengarkanku.

Pada eroge, biasanya diceritakan seorang protagonis cowok dipaksa menuruti perkataan si harem untuk menemaninya membeli pakaian dalam.

Kemudian haremnya memamerkan bikini yang barusan saja dia pilih, sembari mengatakan……… ah, aku tidak bisa melanjutkannya…. Terlalu mengerikan jika hal seperti itu terjadi sekarang.

Namun, pada saat itu juga, aku mendengarkan…..

“Seiichi, Seiichi!”

"Apa?"

“Tadaa!”

Setelah aku menoleh, mataku melihat sosok Eve di sana.

Tubuh bagian atasnya yang montok terbalut bikini biru.

Itu sama sekali tidak buruk.

“Hei, kenapa kau mencobanya di sini!”

“Yahh, itu diperbolehkan di toko ini.”

Oh begitu ya! Baiklaaaaaaaaaahh….

Ah, tidak-tidak-tidak-tidak-tidak, maksudku….. mengapa dia harus memamerkannya padaku!!?

“Bagaimana, bagaimana?”

Dia terlihat begitu antusias.

Aku tidak yakin, baju renangnya yang terlalu kecil, atau tubuhnya yang terlalu besar. Yang pasti baju renang itu terlihat begitu ketat.

“Tidak, maksudku…. Mengapa kau harus menunjukkannya padaku di sini!!? Dan bukankah itu terlalu kecil !?”

“Yahh, baju renang ini terlihat cukup imut, tapi tidak ada ukuran yang lebih besar dari ini. Yahh, mau bagaimana lagi, kan?”

“Aku bilang hentikan itu! Bisakah kau berhenti mengapit payudaramu seperti itu! Bukankah aku hanya boleh menilai baju renangmu!?”

Dadanya cukup besar untuk dipantul-pantulkan, seakan-akan kedua buah dadanya bisa lepas dari bikini itu kapanpun! Sekarang aku mulai merinding!

Setiap kali Eve bergerak, payudaranya menonjol, jadi jangan heran kalau bikini itu bisa lepas kapanpun.

“Cepat ganti baju sana!”

“Umm, kalau kau tidak suka yang ini, kalau begitu akan kucoba model lain.”

Kemudian, Eve segera berjalan kembali ke ruang ganti.

Demi Tuhan, beberapa saat yang lalu wanita itu bilang ingin mencoba bikini lainnya, dan itu sudah cukup untuk membuatku terkena serangan jantung ... Hey, apakah dia salah paham? Bukankah sudah jelas bahwa aku tidak ingin melihat baju renangnya?

“Sialan, aku yakin dia akan kembali lagi dengan baju renang yang lain, Saitani, aku pikir kita harus mundur terlebih dahulu ... hey, Saitani?”

Barusan saja, Saitani masih berdiri di sampingku, namun sekarang dia sudah lenyap.

“Hei, jangan tinggalkan aku sendirian ... !?”

Aku tidak dapat menemukannya di manapun.

Cari dia! Tujuanmu ke sini adalah untuk melindunginya, kan ...!

Ketika Saitani tidak lagi di dekatku, tatapan mata orang-orang terasa semakin tajam. Kulitku pun mulai iritasi karena tatapan-tatapan tajam itu!

“Yah, mau bagaimana lagi, kalau begitu aku juga akan mundur!”

Tepat ketika aku mau melarikan diri dari neraka ini, tanganku diraih oleh seseorang.

“Aramiya-kun, menurutmu bagaimana pakaian renang ini?”

Aku yakin itu suara Hatsushiba.

Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk menebaknya.

“Maaf, Hatsushiba, aku tidak tahan lagi berada di sini, mungkin aku akan pergi ke toko pakaian laki-laki di lantai atas, aku benar-benar tidak memahami tempat ini.”

“... Kau tadi melihat bikini Suwama-san, mengapa kau tidak mau melihat pakaian renang pilihan Yuuka dan Kotton?”

Suaranya sangat dingin, seakan-akan kepalaku disirami seember air es. Seluruh tubuhku gemetar tanpa bisa bergerak sedikit pun.

“Hei bukan begitu, itu karena dia memaksaku tanpa memberikan kesempatan untuk menolaknya ...!”

“Bukankah ini terlalu tidak adil?”

Lenganku terkunci, aku tidak dapat melarikan diri. Kelembutan dan kehangatan ini membuatku mulai merasa tidak nyaman, dan pikiranku semakin liar.

“... Jika aku melihatnya, maukah kau melepaskanku?”

"Ya tentu saja!"

Setelah aku menoleh, aku melihat sesosok gadis yang begitu luar biasa.

Tubuh Hatsushiba sungguh indah, dia tidaklah terlalu tinggi, tapi wajahnya begitu imut, dan beberapa lekukan tubuhnya terlihat begitu empuk.

Dia mengenakan baju renang one-piece, yang terbuka di beberapa bagian, namun tidak terkesan dewasa. Baju renang itu justru memancarkan pesona Hatsushiba, dan begitu cocok dengannya.

“Itu terlihat sangat cocok denganmu?”

"Sungguh?"

Tatapan matanya kali ini sama sekali tidak kejam, malah justru membangkitkan nafsuku.

"Ya, aku serius!"

Aku memang terkesima dengan pakaian renang pilihannya, tapi tolong lepaskan aku terlebih dahulu.

Tapi…. yahhh ...

“Yahh, mungkin perkataanku ini sedikit tidak senonoh…. Tapi, bukankah ini terlalu ketat?”

Memang, terutama di bagian Oppai-nya ...

“Umm, tidak ada yang lebih besar dari ini, lho.”

…Jangan lagi! Hei, aku mengerti!? Aku sudah biasa beli barang obralan, tapi mohon jangan bilang bahwa model yang lebih besar sudah habis terjual.

“Kalau begitu, Yuuka akan mencari model baju renang lainnya ... jangan kemana-mana ya?!"

Sekarang dia mencoba untuk mengancamku, lho.

Hatsushiba terus mengulangi perkataannya itu sembari dia menuju ruang ganti.

Yah, aku tidak benar-benar takut akan ancamannya sih, dan aku ingin pergi dari sini secepatnya.

“Aramiya.”

Tapi sepertinya, Tuhan berkata lain.

Dia tidak menarik lenganku atau memaksaku seperti Hatsushiba atau Eve, sih ... tapi….

Dia juga memintaku berkomentar untuk pakaian renang yang dia pilih, dan aku merasa tidak enak kalo mengabaikannya begitu saja.

Aku mempersiapkan mentalku, lalu aku menoleh ke arahnya untuk melihat Ayame.

"Apa pendapatmu tentang ini?"

Dua helai baju renang yang mirip bikini.

Baju renang itu benar-benar membuat jantungku berdegup kencang.

Atasan Ayame juga kebesaran.

“Apakah terlihat cocok dan imut?”

Begitu dia menanyakan itu, aku kesulitan menjawabnya.

Kalau aku diam terus, sepertinya dia menganggap bahwa jawbannya : tidak.

“Umm, kalau begitu, haruskah aku memilih yang lainnya?”

Itulah yang dia putuskan sebelum akhirnya kembali ke ruang ganti.

Sial, mungkin lebih baik aku bilang saja imut, tapi paling tidak urusan dengan Ayame telah berakhir untuk sementara.

“Ini kesempatanku untuk kabur!”

“Seiichi.”

Apakah ini siklus lingkaran setan tanpa henti?

Hei, apa-apa’an kalian ini, bukankah ini mirip Jet Stream Attack, kalau aku gagal menghentikan salah satu dari kalian, maka akan repot jadinya?

Aku yakin Eve pasti akan mengejarku jika aku melarikan diri sekarang.

Kalau orang-orang melihat seorang wanita bertubuh molek yang hanya mengenakan bikini sedang mengejar pria SMA, maka aku akan masuk berita utama di koran besok pagi ...

"Apa-"

Aku menoleh untuk melihat Eve.

Aku hanya bisa melihat sepasang tali kutang yang menggantungkan kedua buah dadanya…. Ya, hanya itu.

Pakaian renang ini dinamakan Slingshot, yang mana sangatlah vulgar.

“Apa kau kekurangan kain!? Cepat cari lagi yang lebih sopan!”

“Apa? Benarkah?”

Eve mengatakan itu sembari menarik-narik tali kutang di bahunya.

Bagian kulit yang tersembunyi di balik Oppai-nya hampir terlihat, mengapa gadis ini benar-benar percaya diri memakai Slingshot di depan umum!? Kita tidak akan mengunjungi pantai telanjang seperti yang ada di Amerika, tau!?

“Lain kali kau memilih baju renang yang tidak senonoh lagi, maka akan kukeluarkan kartu merah untuk mengusirmu dari lapangan!”

“Oke, baiklah.”

Kemudian ia kembali ke ruang ganti.

Punggungnya bahkan terlihat lebih berbahaya, di sana hanya ada balutan pakaian yang terbuat dari karet tembus pandang, jadi aku bisa melihat setiap sisi dari punggungnya.

Aku segera memalingkan pandangan dan memegang kepalaku.

“Aramiya-kun.”

Tapi kemalanganku belum berakhir.

“... Bolehkah aku mati sekarang?”

“Bilang apa tadi?”

“Tidak, tidak ada, kali ini apa lagi, Hatsushiba?”

Sekarang giliran mengomentari baju renang Hatsushiba lagi.

Baju renang ini disebut Monokini, di mana bagian atas dan bawah dihubungkan dengan tiga cincin putih. Pada cincin tengah, kau bisa melihat pusarnya yang imut.

Tapi…

“Cukup tertutup.”

“Setidaknya ini lebih baik daripada Slingshot milik Suwama-san, kan?”

Yah itu benar, tapi rasanya seperti aku sedang ditipu oleh semacam sihir. Dan meskipun terlihat lebih baik daripada yang tadi, namun baju renang ini juga cukup ketat.

“Apakah tidak ada ukuran yang lebih besar dari ini ...”

“Sayangnya juga tidak ada, tapi ini tidak seketat yang kau lihat, lho.”

“Ampun deh ... bolehkah aku menanyakan sesuatu, apakah kau tidak malu sama sekali?”

“Tidak sama sekali, karena tidak ada orang lain di sini, toh gadis-gadis lain juga mengenakan pakaian renang, kan?”

“... Yah, setidaknya aku ingin kau mempertimbangkan perasaanku sebagai pria yang ditinggalkan di tengah-tengah para gadis yang mengenakan pakaian renang.”

“Bukankah…. Kau senang melihat gadis-gadis sungguhan yang mengenakan baju renang?"

“Aku lebih suka melihat gadis 2D yang mengenakannya, sih.”

Sementara kami membicarakan ini, ada seseorang yang mendekat.

“Aramiya, kalau yang ini bagaimana?”

“Oh bagus……..”

Kemudian aku menoleh ke arah Ayame. Dia sekarang mengenakan bikini, yang dilengkapi dengan beberapa celah, dan itu terlihat manis.

Baju renang itu tampak sedikit lebih dewasa, wow itu tidak buruk sama sekali, dan aku pernah melihat itu di game.

“Whoa, Kotton, kau benar-benar terlihat manis, sayang!”

"Sungguh? Bagaimana menurutmu, Aramiya?”

“Yah, itu juga bagus.”

Baju renang itu biasanya dipakai oleh Heroine pada eroge. Bahkan aku baru tahu bahwa baju renang seperti itu benar-benar ada di dunia nyata.

“Seichiii! Yang ini juga bagus, kan.”

Eve kembali lagi dengan balutan bikini lainnya di tubuhnya.

Kali ini terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, meskipun masih terlihat berbahaya.

Atau mungkin aku sudah terbiasa melihatnya setelah beberapa kali dikejutkan olehnya.

"Bagaimana?"

Dia membungkuk, dan menghimpitkan kedua Oppai-nya.

Aku sudah cukup muak melihat 2 semangka itu.

"Apa? Apakah kau sedang berpose seksi!? Harusnya seperti ini nih!”

Hatsushiba tidak menyerah juga, ia mengulurkan tangannya ke belakang kemudian mendorong dadanya ke depan.

Apakah kalian sudah lupa bahwa banyak orang yang sedang menyaksikan kalian? Dan mereka menatap kalian dengan pandangan aneh.

“Aku bisa bilang ...”

Dan kemudian Ayame berpose seadanya.

Dia berbalik pada kami, tangan kanannya meraih dada, dan tangan kirinya dia bentangkan, dengan mata yang mengarah padaku.

Ini adalah pose khas ilustrator terkenal. Gadis ini benar-benar konsisten.

“Hei, Ayame-chi, pose macam apa itu? Apakah kau yakin terlihat lebih seksi dengan pose seperti itu?”

"Apa? Jadi kau meragukan poseku? Mau cari ribut kau? Mau berantem nih?"

“Pose Suwama-san malah membosankan!”

Kemudian mereka mulai saling cela.

Katanya, kalau beberapa gadis jalan bersama, mereka cenderung akan bersaing, dan sepertinya itu benar.

"Ya Tuhan…"

Aku hanya bisa mendesah dengan napas dalam.

Bolehkah aku pergi sekarang? ... aku harus mencari Saitani, yang telah menghilang ke suatu tempat, entah dimana.

“Kiyomi-chan, hentikan! Jangan menarikku seperti itu ...!”

Pada saat itu, aku bisa mendengar suatu jeritan.

“Kembalikan seragam sekolahku! Kau bilang akan mengembalikannya setelah kupakai ini sekali saja ...”

“Hei, apa gunanya kalau aku tidak menunjukkan ini pada yang lainnya, lagian kau tidak akan celaka hanya karena mengenakan itu."

“Keadaan mentalku saat ini sedang buruk, tau!”

Kiyomi mengenakan baju renang one-piece sambil membawa seragam sekolah laki-laki pada lengannya. Hmm, baju renang itu membuatku terpana, karena aku sungguh menyukai gadis berdada datar. Tapi ketika melihatnya mengenakan baju renang seperti itu, satu-satunya hal yang bisa kupikirkan hanyalah “tepos”.

Tapi untuk saat ini, mari kita lupakan adikku itu, yang terpenting adalah makhluk yang dia seret bersamanya. Aku juga mendengar suara jeritan dari sana.

"Ini dia!"

Kemudian, kulihat seorang gadis muda sedang mengenakan pakaian renang di belakangnya. Seperti yang sudah kuduga, “gadis” itu adalah Saitani, dia mengenakan bikini berwarna kuning segar, dan bagian bawahnya adalah beachwear tembus pandang.

Dengan pakaian seperti itu, dia terlihat paling mencolok di antara kami.

Dia berpose dengan menangkapkan kedua telapak tangannya di depan dada bagaikan orang yang sedang berdoa, kemudian dia memutar tubuhnya dengan malu-malu. Dia sungguh menakjubkan, namun itu saja masih belum cukup untuk mendeskripsikan betapa anggun penampilannya.

“‘‘...’’”

Ayame, Hatsushiba dan Eve membisu tanpa suara.

“Aku menyerah ...”

“Benar, pemenangnya sudah jelas ...”

“Kok bisa dia terlihat begitu feminim???"

Ketiga cewek itu menyerah kalah.

Gak papa nih dikalahkan oleh seorang pria?

"Kalian lihat!!? Sangat imut, bukan!?? Yahh, mungkin aku ada bakat sebagai perancang busana, atau mungkin suatu saat nanti aku akan meniti karir sebagai perancang busana!?”, kata Kiyomi.

“Ini gila, kau baru saja memaksa Saitani memakai baju renang dan juga memaksanya berpose imut. Itu saja yang kau lakukan dan kau sudah berani bilang bahwa kau punya bakat sebagai perancang busana?? Oh, itu sungguh lucu!!”

"Apa!? Jadi kau punya cara untuk membuatnya semakin imut!??”

“Itu adalah persoalan gampang!! Ayo Saitani, mari kita lakukan!”

“Aramiya-senpai, tunggu dulu! Kumohon sadarlah!”

“Jangan khawatir, di tanganku, kau pasti bisa lebih imut daripada ini.”

“Aku tidak ingin berpose seperti wanita ...!”

“Baiklah, kalau begitu, biarkan aku memilih baju renang lainnya untukmu ...”

“Ke mana perginya senpai yang santun itu ... jangan kehilangan akal sehatmu, senpai!”

“Jangan khawatir ... akal sehatku tidak kemana-mana kok!”

Akhirnya, aku membutuhkan sekitar 30 menit untuk mendapatkan kembali akal sehatku.

“Senpai ...”

“Maaf, aku benar-benar minta maaf ...”

Aku terus membungkuk padanya. Maaf Saitani, wajahnya jelas terlihat cemberut.

Aku bahkan bekerjasama dengan Kiyomi untuk memakaikan sampai dengan 5 setel baju renang pada Saitani, sampai akhirnya akal sehatku kembali. Sekarang sudah terlambat untuk meminta maaf.

Aku harus membuat Kiyomi membayar semua ini.

“Tidak masalah, tidak perlu meminta maaf.”

Saitani mendesah pelan, kemudian tersenyum seakan pasrah atas apa yang telah terjadi.

"Kau tidak marah?"

“Yah, aku tidak begitu menikmatinya sih! Tapi ... ternyata menyenangkan juga .... maksudku sedikit menyenangkan."

Pipinya yang merona benar-benar membuatnya tampak seperti seorang gadis yang imut. Aku hampir saja memeluknya.

Oh, apakah dua orang pria yang saling peluk bisa dianggap sebagai LBGT?

... Bahkan, itu akan membuat Saitani tampak mesum, jadi hentikan itu.

“Tapi, kalau lain kali kalian memaksaku lagi untuk mengenakan pakaian cewek, maka aku tidak akan mau berteman lagi dengan kalian!”

“Oke, aku mengerti, mulai sekarang aku berjanji tidak akan memaksamu mengenakan pakaian cewek.”

Aku tidak akan melakukannya, karena Kiyomi lah yang akan melakukannya untukku, hehe.

Tapi bagaimanapun juga, mari kita hentikan lelucon kotor ini, aku cukup senang ketika Saitani memaafkanku. Aku tidak mau Saitani cuek padaku, setiap kali aku mengunjungi perpustakaan. Yahh, aku tidak se-maso Tozaki yang malah merasa senang jika dicuekin.

Saitani memintaku untuk menghapus foto di ponselku yang bergambar dirinya sedang mengenakan pakaian renang cewek, lantas aku pun melakukannya..Tapi untungnya, file-nya sudah kuupload ke internet, jadi aku bisa mengunduhnya kapanpun, hehe.

“Hei Kiyomi, kau harus minta maaf juga!”

“Aku sudah keterlaluan, maafkan aku, Ryoma!”

Kemudian Kiyomi melotot tajam ke arahku.

“Tunggu dulu, bukankah kau yang memaksanya mengenakan 5 setel pakaian renang cewek!??”

"Apa? Itu karena kau sok-sok’an mau jadi perancang busana, jadi….”

"Kalian berdua harus minta maaf!"

Ketika kami berdebat seperti biasa, Saitani pun menyela kami.

Sepertinya Saitani mulai marah, karena aku merasakan aura yang berbeda padanya sekarang. Aku pun merasa bersalah.

“Ayolaahh, kalian kan saudara kandung, harusnya kalian saling menyayangi.”

“Yahh, aku mengerti apa yang kau katakan, tapi ...”

“Sejak awal aku sangat penasaran, mengapa Kiyomi-chan begitu membenci kakaknya.”

Kiyomi tiba-tiba terpelatuk.

“Itu karena perjaka letoy ini sangat menyedihkan!”

“Apanya yang menyedihkan? Dia bahkan membantu Ayame-senpai dan banyak orang lainnya, dia adalah kakak yang hebat, lho. Aku juga ingin punya kakak seperti dia, kau terlalu kejam kalau menyebutnya menyedihkan, tau!”

Kerja bagus, terus sudutkan dia, Saitani!

Fiuh, ketika ada orang yang membelamu, aku merasa sangat senang, terlebih lagi kalau Saitani yang membelaku, aku merasakan kebahagiaan ekstra.

Tapi, kalau Saitani memanggilku Onii-chan… pasti aku akan mimisan dibuatnya! Atau panggil saja senpai, aku gak keberatan kok, tapi agak sedikit memalukan kalau dia memanggil senpai-ku-sayang.

Bolehkah aku memintanya untuk jadi adik angkatku.

“Ini bukan urusan Ryoma, tau ...”

Kiyomi dimarahi oleh Saitani sampai ia merajuk dan memalingkan wajahnya. Itu adalah ekspresi wajah yang jarang kulihat.

Mungkin dia mengaku salah, sehingga tidak bisa membalasnya.

“Ngomong-ngomong, apakah kau punya saudara lain, Saitani?”

Setelah kutanya itu, dia pun membalasnya dengan malas sambil mendesah panjang.

“Aku memiliki tiga kakak perempuan ...:”

Oh, jadi itu sebabnya.

Sepertinya, dia sudah berkali-kali dipaksa berpakaian layaknya cewek, sungguh kasihan kau nak ...

Lantas, aku pun menunggu mereka membayar baju-baju itu di luar toko.

Kalau hanya melihatnya dari luar sih, aku tidak akan gemetaran. Ataukah karena aku sudah terbiasa melihat daleman, sehingga aku bisa sesantai ini?

“Seiichi, maaf karena telah membuatmu menunggu.”

Eve lah yang pertama kali meninggalkan kasir.

Dia memamerkan tasnya yang berisi pakaian renang baru, kemudian dia menempelkan tubuhnya padaku dengan manja.

“Tidak masalah…..”

“Pegawai toko itu cukup kikuk, aku kira Hatsushiba-chi dan Ayame-chi akan membutuhkan waktu lebih lama.”

“Wah, kalau begitu, bisa gawat nih!”

“Ah, teganya!”

Eve mengatakan itu sambil tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum?”

“Ah tidak…. hanya saja… ngobrol bersama Seichi seperti ini sudah membuatku puas.”

Eve sedikit menyipitkan matanya, dan pipinya mulai merona. Tiba-tiba disuguhi pemandangan seperti ini, aku pun terkejut.

…Ada apa sih.

Meskipun insiden kemaren sudah tuntas, entah kenapa aku jadi teringat-ingat kembali.

“Seiichi, kau baik-baik saja?”

“Ya, aku baik-baik saja.”

"Ha ha ha!!"

“... Kau tampak semangat tiap hari, Eve!”

Tanpa sengaja, aku mengatakan apa yang ada di pikiranku dengan keras, dan Eve membalasnya tanpa ragu dengan “ya!”.

“Ini menyenangkan, aku senang sekali bisa berteman dengan Seiichi, Ayame-chi dan Hatsushiba-chi, kalian pun begitu memperhatikan aku.”

“Menurutmu begitukah?”

“Yahh, ketika berteman dengan Ako-chi, aku tidak merasakan kehangatan seperti ini.”

Artinya, ketika masih bersama Ako, dia hanya memiliki sedikit teman, kan.

Gadis ini lebih kikuk daripada gadis-gadis lain pada umumnya ... sikapnya yang polos mungkin saja membuat teman-temannya kesal dan marah padanya ...

“Dan selama SMP, apa sih yang kau lakukan?”

“Umm, biasanya Ako-chi akan meneleponku dan membelikan minuman untuk semuanya, kemudian menyediakan tempat duduk, atau bahkan melepaskan kemeja sehingga membuat mereka tertawa terbahak-bahak.”

"…Tunggu dulu…. kau.."

"Ada apa?"

"Apa yang baru saja kau…"

Apakah kau tidak menyadarinya sama sekali?

Bukankah itu mirip aksi pembullyan ...

“Dan kalian jalan bersama-sama?”

“Ya, terkadang kami jalan bersama-sama, dan aku lah yang membawakan barang-barangnya, itu membuatku semakin kuat, lho.”

Bukan hanya dibully, namun dia juga disuruh-suruh, tapi dia mendefinisikannya sebagai suatu kebahagiaan karena tidak memahaminya.

….. yahh, tapi kalau tidak ada orang yang melihatnya, sepertinya…...

Membayangkannya saja sudah membuatku kesal. Itu sungguh tidak adil, bagaimana bisa dia memanfaatkan temannya seperti itu.

Aku mulai membenci orang bernama Ako itu.

Dia jahat.

“Mungkin tidaklah sopan membicarakan Ako-chi seperti ini, namun aku benar-benar senang bisa berteman dengannya. Tiap hari aku bahagia.”

Aku mulai bingung, apakah aku harus ikut senang atau justru marah.

Tapi gadis ini berhak untuk diarahkan ke jalan yang benar. Kami harus membuat Eve lebih peka dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya sendiri…

“Oleh karena itu, Seiichi ...”

"Hah?"

“Aku benar-benar minta maaf atas apa yang telah terjadi saat kita masih kecil.”

Eve membungkuk kepalanya sembari tiba-tiba mengatakan itu.

"Hei…"

Dia mengatakan hal yang sungguh tak terduga, sampai-sampai aku bingung harus berkata apa.

Chuuko Vol 3 i.png

“Aku pun juga merasakan sesuatu yang janggal, namun aku hanya memikirkan Ako-chi tanpa mempedulikan posisiku sendiri... Apakah kau merasa kesal Seichi?”

“Umm ...”

“Kurasa, permintaan maaf tidak akan cukup… Kurasa, aku harus membayar sesuatu yang jauh lebih mahal daripada itu ... namun, aku tetap saja ingin mengucapkan maaf, tak peduli berapa kali pun aku harus melakukannya…"

"..."

“Oleh karena itu, jika kau memaafkanku, maka aku akan sangat bahagia."

Kondisinya telah berubah, cara bicaranya benar-benar berubah, sampai-sampai aku tidak yakin bahwa gadis yang sedang kuhadapi saat ini adalah Eve.

Eve lebih cocok berpenampilan layaknya gadis kikuk, karena jika dia serius seperti ini, aku tak tahu harus melakukan apa.

“... Kau tidak perlu sampai segitunya memohon maaf padaku, oke?”

“Seiichi?”

“Tentang surat cinta itu, berkat itulah aku menemukan jalan hidupku yang baru, dan aku juga tidak mau mengungkit-ungkit permasalahan itu lagi sekarang ... lantas apa yang harus kau lakukan? Tidak ada…. Kau hanya perlu menikmati kehidupan sekolahmu sampai akhir.”

Ini juga berlaku untuk Ayame.

Dia juga memiliki hak untuk menikmati kehidupan sekolahnya.

Tapi jika ada rumor tentang teman-temannya yang menipunya karena dia terlalu polos, maka itu sangatlah menyedihkan.

Ini juga berlaku untuk Ayame, dia berhak mendapatkan hidup yang baru meskipun telah melakukan banyak hal buruk di masa lalu. Kalau pun itu tidak terjadi, maka dunia ini sudah dipenuhi oleh ketidakadilan.

“Baiklah terima kasih Seiichi, aku benar-benar mencintaimu sejak masih kecil! Perasaanku yang sekarang pun tidak akan berubah!”

“Apa kau tidak malu mengatakan hal seperti itu!?? Aku tegaskan sekali lagi bahwa aku tidak akan berpacaran dengan gadis 3D!"

“Wow Seiichi, kau memerah!”

“Siapa yang memerah!??”

“Kau masih belum mengakuinya?”

“Hey, jangan menjawil pipiku!”

Meskipun aku menolaknya mentah-mentah, senyum bahagia masih saja menghiasi wajahnya.

... Aku tidak mengerti, tapi selama dia bahagia, kukira tidak masalah.

Akhirnya, kami berjalan kembali ke rumah masing-masing.

Hampir jam 6 sore, tapi karena sekarang adalah awal musim panas, maka langit masih terlihat cerah dan biru.

Ayame, Kiyomi, dan aku, berpisah dengan Eve, Hatsushiba dan juga Saitani, kemudian kami bertiga berjalan bersama-sama menuju rumah.

“Apakah menurutmu ini akan berhasil?”

“Umm, aku ingin merencanakan sesuatu yang lebih detail daripada ini.”

Sambil berjalan, aku melihat kedua gadis itu saling membicarakan sesuatu di hadapanku. Kedua gadis ini, tempo hari mereka memberiku masalah di kamar mandi.

Dan tiba-tiba saja, bayangan Ayame mengenakan pakaian renang muncul di kepalaku.

Apa-apa’an ini, sebelumnya aku selalu memikirkan gadis 2D, tapi belakangan ini, mengapa aku selalu terlibat dalam urusan makhluk-makhluk 3D? Apakah ini kutukan atau semacamnya?

“Akan ku-SMS nanti.”

“Oh baiklah…. gak papa nih?”

Tapi bagaimanapun juga, sepertinya mereka tidak akan merencanakan hal buruk itu lagi padaku.

Mungkin Kiyomi hanya meminta nasehat padanya, atau membicarakan tentang ekskul sekolah.

“Baiklah, biarkan Kiyomi mengurus semuanya!”

Kiyomi mengatakan itu, kemudian dia memeluk lengan Ayame. Kemudian Ayame menanggapi dengan beberapa kali mengelus kepalanya.

“Haha, ya… akan kuserahkan semuanya padamu, Kiyomi.”

Hubungan mereka begitu erat layaknya saudara kandung.

Kalau Ayame masih menjadi preman seperti yang dulu, aku tidak bisa membayangkan hubungannya dengan Kiyomi.

... Tapi, kalau orang lain melihat dua gadis yang begitu dekat satu sama lain, mungkin mereka akan menganggapnya Yuri.

Dan aku tak ingin rumor tentang Ayame yang menjadi Yuri semakin berkembang. Chuuko Indo:Jilid 3 Bab 3 Chuuko Indo:Jilid 3 Bab 4 Chuuko Indo:Jilid 3 Epilog

Chuuko Indo:Jilid 3 Kata Penutup
  1. Menurut sejarah, Toyotomi Hideyori melakukan bunuh diri bersama ibunya saat dikepung musuh. Dia seakan tidak punya pilihan lain, padahal saat itu usianya masihlah sangat muda, yaitu 23 tahun. Itu terjadi saat Istana Osaka dibakar habis oleh Tokugawa, dan peperangan itulah yang juga menjadi penanda musnahnya Klan Toyotomi. Ref: Wikipedia.
  2. Congsam (penulisan lain: cheongsam atau céongsam), atau dikenal dengan sebutan lain qipao, adalah salah satu jenis kostum tradisional perempuan Cina. Pakaian dicirikan oleh kerah berdiri, membuka sisi kanan, pas pinggang dan tergelincir bawah, yang sepenuhnya dapat memicu keindahan bentuk tubuh perempuan. Cheongsam berasal dari chèuhngsāam (Simp/Trad Cina:.. 长衫 / 長衫, 'kemeja panjang / baju'), pengucapan Kanton dari zǎnze jangka Shanghai atau zansae, di mana bentuk ketat asli pertama kali dikenal. Nama Shanghai agak kontras dengan penggunaan dalam bahasa Mandarin dan dialek Cina lainnya, di mana Changshan (Mandarin pengucapan 長衫) mengacu pada gaun eksklusif laki-laki dan versi perempuan dikenal sebagai qipao. Dikutip dari Wikipedia Indonesia tanpa perubahan.
  3. Ini memang terdengar konyol, tapi adu jauh-jauhan kencing cukup populer di kalangan pria tolol di Jepang.
  4. Lesbian.
  5. Sumeria merupakan sebuah peradaban kuno di Mesopotamia selatan, pada masa kini di selatan Irak, selama masa Chalcolithic dan Abad Perunggu Awal. Meskipun spesimen-spesimen terawal di daerah ini tidak lebih jauh dari sekitaran tahun 2500 SM, sejarahwan-sejarahwan modern berpendapat bahwa Sumer ditinggali secara permanen dari sekitaran tahun 5500 hingga 4000 SM oleh orang orang non Semit yang berkomunikasi menggunakan Bahasa Sumeria (yang menggunakan nama kota-kota, sungai-sungai, pekerjaan, dsb. sebagai bukti). Dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.
  6. Jadi, nampaknya pria ini mengira bahwa Aramiya dan Tozaki adalah mafia penjual gadis sebagai bahas prostitusi.
  7. Entah anak sekarang masih pakai cara ini atau tidak, yang jelas Ciu dulu sempat pakai tabel perkalian. Itu adalah suatu daftar yang berisikan perkalian dari 1x1 sampai 9x9. Semuanya harus dihapal di luar kepala. Dan ternyata pelajar Jepang juga masih pakai lho.
  8. Nama lengkapnya adalah Saitani Ryouma, maka dia biasa memperkenalkan dirinya dengan nama Ryou Ma (龍馬).
  9. Aturan tiga episode, yaitu batas ketika seseorang memutuskan apakah akan melanjutkan menonton serial anime tersebut ataukah tidak, sehingga beberapa anine sengaja mengelurakan adegan-adegan terbaiknya pada 3 episode pertama. Salah satu contohnya adalah anime Fate Kaleid Prisma Illya pada musim pertamanya. Pada episode ketiga, munculah adegan-adegan pertarungan yang begitu epik, sehingga banyak pecinta anime semakin penasaran dengan kelanjutannya, yahh ini cuma salah satu contoh saja sih, anime lain juga banyak yang memakai teknik ini.
  10. Menonton sekaligus setelah penayangannya berakhir.
  11. Ketika orang Jepang tidak menjawab pertanyaanmu, maka itu berarti sangat-sangat gawat
  12. Sadis
  13. Gadis berkacamata biasanya adalah tipe gadis yang polos, namun jika dia ingin berubah menjadi sosok yang lebih modis, maka dia akan melepas kacamatanya untuk berdandan lebih berani. Ini seperti gadis desa yang mendadak sok kekinian dengan merombak penampilannya
  14. Biasanya Doujin mengadaptasi suatu cerita yang belum rilis secara resmi versi Manga-nya
  15. Ya, beberapa departemen store di Jepang langsung menjadi satu dengan stasiun kereta, bahkan beberapa di antaranya berada di dalam tanah (Subway).
  16. Di Jepang, ketika ada toko yang ramai pengunjung, bahkan sampai antre, para pelanggan tidak boleh berlama-lama dalam toko tersebut, sehingga pelanggan yang mengantre bisa segera dilayani. Kebiasaan seperti ini juga sering kita lihat pada warung-warung terkenal, terutama Ramen. Jadi, Aramiya menyebutnya “bergaya Amerika” karena toko ini tidak menerapkan budaya tersebut.