Chuuko Indo:Jilid 3 Prolog

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Prolog[edit]

Suatu sensasi aneh membangunkanku dari tidur, aku pun melompat dari tempat tidur seolah-olah sedang mengalami mimpi buruk. Aku melihat ke sekeliling kamarku dengan panik, tidak ada yang aneh. Gak ada hantu, bahkan gak ada serangga.

Sinar matahari pagi menembus tirai, lantas menerangi partikel-partikel debu yang mengambang di udara. Sekarang bulan Juni, dan musim panas sudah dekat. Kamar kecilku yang tertutup terasa seperti oven.

Sangat panas.

Piyamaku basah oleh keringat.

"Jadi, aku terbangun karena panas ini?"

Aku beranjak dari tempat tidurku, kemudian kubuka jendela, angin sepoi-sepoi terbang melalui udara, kemudian memasuki ruanganku yang panas.

Sebenernya aku ingin pake AC, namun karena sekarang masih awal musim panas, jadi mendingan gak usah. Kalau panas segini aja gak tahan, aku ragu bisa melewati musim panas yang bakal lebih panas daripada ini.

Aku menyalakan kipas angin listrik di samping jendela, dan mengaturnya agar "memutar".

"Ini musim panas, ya?"

Aku terhanyut oleh angin sepoi-sepoi dari jendela, namun kedamaianku langsung sirna ketika suara gedoran pintu merusak segalanya.

Siapa?

Keluargaku tidak pernah mengetuk pintu kalau mau masuk ke kamarku, padahal sudah berulang kali kuperingatkan mereka. Aku benar-benar ingin memasang gembok pada pintu kamarku, sehingga aku bisa main Eroge dengan damai.

Beberapa saat berlalu, namun aku masih belum bisa menebak siapakah yang menggedor pintu, lantas pintu pun perlahan terbuka. Mungkin dia bukanlah salah satu dari keluargaku, karena sepertinya dia berusaha untuk tidak membuat keributan berlebih.

Dan yang masuk adalah………..

"Oh, kau sudah bangun rupanya?"

Itu adalah Ayame.

Teman sekelasku, Ayame Kotoko. Mata tajamnya terlihat lebih ramah dibandingkan yang sebelumnya,

Rambut twintail-nya sudah semakin panjang.

Terlihat sedikit kebingungan dan ketidakpuasan pada rona wajahnya, seolah-olah dia kecewa akan sesuatu.

"Selamat pagi, Aramiya."

"Ah, pagi, Ayame."

Aku membalas ucapan selamat paginya tanpa pikir panjang, namun ini bukan saatnya saling berbalas salam. Mengapa sekarang dia berada di rumahku, seakan-akan ini bukanlah hal yang janggal?

... Tidak, sebetulnya semuanya sudah jelas. Mungkin, adikku Kiyomi lah yang membiarkannya masuk.

"Tadinya aku harap bisa membangunkanmu ..."

"Sayang sekali."

Masuk ke kamarku, kemudian membangunkanku bagaikan adegan di Eroge? Jangan harap.

Tunggu dulu, apakah aku terbangun karena alam bawah sadarku mengantisipasi terjadinya hal ini? Tapi, hatiku yang lemah ini belum siap untuk melihat Ayame sebagai orang pertama yang kutemui pagi ini. Jam alarm adalah yang terbaik untuk membangunkanku, bukannya Ayame.

"Cih, kalau begitu, lain kali jawablah jika ada seseorang sedang mengetuk pintu."

Ya apa boleh buat, karena aku tak yakin siapakah yang mau repot-repot mengetuk pintu kamarku di pagi hari.

Tapi yang lebih penting adalah……..

"Ayame."

"Hmm?"

Tidak seperti seragam modifikasi sebelumnya, sekarang Ayame mengenakan seragam musim panas yang normal, dengan garis-garis merah di sekitar lengan dan kerahnya.

Ya, tentu saja begitu karena itu adalah seragam normal. Masalahnya adalah…..

"Kenapa kamu memakai celemek?"

Dia, entah kenapa, mengenakan apron putih imut dan berenda yang membalut seragamnya. Dia pun sedang memegang centong pada salah satu tangannya.

Ini bukan adegan ero, maka malu lah kau!

"..."

"Ah, ini? Karena aku sedang memasak sarapan.”

"Hah? Sarapan? Untuk siapa?"

"Tentu saja untukmu."

"Mengapa?"

"Ibumu ingin aku membantunya."

"..."

Tunggu sebentar.

Bukankah lelucon ini agak sedikit kejam? Ini bahkan lebih buruk daripada panggilan untuk bangun barusan.

"Seichi, sarapan sudah siap."

"Cepatlah, bajingan!"

Ibuku dan adikku, Kiyomi, mengintip ke kamarku. Ibu tersenyum licik sedangkan Kiyomi terlihat kesal.

"Mengapa kau menyuruhnya memasakkan sarapan untuk kita, Bu?"

"Masakannya enak sekali."

Aku tidak bertanya tentang rasanya! Dan aku sudah tahu itu!

"Memiliki seorang gadis cantik yang membuatkan sarapan untuknya, oh anakku sungguh beruntung."

"Kak Ayame tidak cocok untuk perjaka letoy itu. Oh, Tuhan memang tidak adil.”

"Tapi, meminta teman sekelasku untuk memasakkan sarapan buat kita, itu sungguh keterlaluan! Lagian, sejak kapan keluarga kita punya apron berenda itu!? Dari mana asalnya?”

Berapakah sih umurmu? Ngaca sana!

Itulah yang kupikirkan, tapi tak mungkin aku menyatakannya.

"Tapi aku tidak memaksa dia melakukannya, lho."

Ibuku berkata begitu sambil mengedipkan satu matanya, seperti wanita muda.

"A-Aku jamin rasanya enak."

Ayame berbicara sambil memegang centong itu untuk menutupi mulutnya. Kayaknya aku pernah lihat pose itu deh………

Chuuko Vol 3 f.png

Tunggu sebentar…. dia meniru eroge !? Tidak, tidak, itu ilustrasi dari game tersebut.

"Ayo cepat ganti pakaianmu, Seichi. Makanan sudah siap.”

"Kau sudah memiliki kehidupan yang indah, maka bersyukurlah dan cepat bangun dari tempat tidurmu…. jangan buat yang lainnya menunggu, dasar perjaka letoy!"

Mereka berdua menuruni tangga setelah memberikan pelecehan secara lisan padaku.

"A-Aku akan segera menyelesaikan persiapannya. Jadi, cepatlah turun, oke?”

"U ... un."

Kemudian Ayame pun keluar dari kamarku. Hanya aku yang tertinggal di kamar, dan sekali lagi kurasakan kedamaian.

Aku hanya bisa mendesah. Tak pernah kusangka bahwa keluargaku seceroboh ini. Sepertinya aku harus berbicara sama ayah untuk memulihkan kedamaian dan ketertiban pagi hariku.

Aku mengikuti mereka ke ruang makan setelah berganti pakaian.

"Ini lebih enak daripada masakan istriku. Dari mana kau belajar memasak?”

"D-Dari ibu dan kakak perempuanku."

"Sekarang, aku benar-benar menginginkanmu untuk menjadi menantuku."

Wajah Ayame menjadi merah seperti tomat, dan tampaknya ayahku sudah jatuh cinta pada masakannya.

"Oi, Yah. Kau ini bicara apa."

Aku mengatakannya dengan berbisik, sehingga orang lain tidak mendengarnya.

"Kenapa kau ragu-ragu? Lebih baik kau cepat-cepat dapat pasangan, atau kau akan berakhir sepertiku. Andaikan aku belum bertemu ibumu, entah berada di mana aku saat ini. Pacari dia.”

Haruskah aku memuji ayahku karena telah memuji ibu? Aku tidak bisa mengatakan "tolong hentikan mencarikan pacar untukku, aku hanya tertarik pada gadis 2D".

Jika aku melakukannya, akan ada neraka yang menungguku.

"B-bagaimana rasanya? Aku mencoba memasaknya sesuai dengan keinginanmu ...”

Ayame bertanya dengan wajah cemas.

Keluargaku menatapku seolah mengatakan "Jika kau mengatakan tidak, akan kubunuh kau".

Tolong hentikan. Aku mulai ketakutan.

"… sangat lezat. Sungguh."

"Syukurlah."

Katanya sambil tersenyum.

Aku malah merasa aneh kalau sarapan terasa lebih enak dari biasanya.

Apakah ini yang dirasakan Toyotomi Hideyori saat dikepung musuh? [1]
  1. Menurut sejarah, Toyotomi Hideyori melakukan bunuh diri bersama ibunya saat dikepung musuh. Dia seakan tidak punya pilihan lain, padahal saat itu usianya masihlah sangat muda, yaitu 23 tahun. Itu terjadi saat Istana Osaka dibakar habis oleh Tokugawa, dan peperangan itulah yang juga menjadi penanda musnahnya Klan Toyotomi. Ref: Wikipedia.