Date A Live (Indonesia):JIlid 3 Bab 2

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 2: Undangan Seorang Spirit[edit]

Bagian 1[edit]

Pada saat Tama-chan-sensei meninggalkan kelas setelah homeroom pagi, seketika Shidou menarik keluar handphone-nya dari sakunya dan menelpon Kotori.

Kemudian, sebuah suara yang menandakan koneksinya berhasil berdering, suara Kotori datang dari handphone beberapa saat kemudian.

“Hallo—hallo, Onii-chan?”

Sebuah suara yang santai yang sepenuhnya berbeda dengan nada sarkatis itu sebelumnya. Itulah Kotori yang normal, bukan dalam mode komandan.

“Hei, Kotori.”

“Benarkah saat ini—mengapa kau menelpon pada waktu semacam ini? Jika teleponnya sudah berdering sepuluh detik yang lalu, kemungkinan akan disita guru tahu—”

“Kau seharusnya mengesetnya dengan baik menjadi mode diam pertama kali.”

“Aku pikir aku lupa melakukannya hari ini—”

Kotori mengatakannya dengan tidak senang.

“Lalu, apa ada masalah?”

“Ss, ah, itu benar. Sebenarnya….”

Saat Shidou melanjutkan bicaranya, dia melirik ke hadapan Kurumi.

Meskipun dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan seperti “Saya adalah seorang Spirit” ketika perkenalannya, Kurumi saat ini dipersoalkan seperti situasi di mana dia dikelilingi oleh lautan orang-orang dan pertanyaan-pertanyaan. Itu tidak seperti murid-murid dari Kelas Empat, atas perintah untuk menyembunyikannya pada rumor gadis pindahan yang cantik, bahkan murid-murid dari kelas yang lainnya telah dikumpulkan. Itu seperti hari pertama datangnya Tohka.

Pada titik ini, dia secara tidak sengaja membuat kontak mata dengan Kurumi. Kurumi berhadapan dengan arahnya dan sedikit tersenyum, seketika Shidou memerah dan menahan nafasnya.

“Onii-chan?”

“Aa, aaah…..Hari ini kelasku memiliki, seorang murid pindahan……..tapi orang itu, bilang.”

“Apa?”

“Saya adalah….Spirit.”

“…………”

Ketika Shidou selesai berbicara, Kotori tidak menjawab apapun.

Merespon dengan itu adalah suara dari pakaian yang berdesir. Itu seperti, suara pita yang diganti di rambutnya.

“——Katakan padaku detilnya.”

Kotori melanjutkan bicaranya dengan sebuah nada yang berbeda dari yang sekarang.

“Meskipun kau menginginkan aku mengatakan detilnya……..Itu seperti bagaimana aku bilang kepadamu. Ketika murid pindahan melakukan perkenalannya, dia bilang ‘Saya adalah Spirit……Meskipun di sana tidak ada dasarnya, tapi itu terasa seperti dia mengatakannya kepadaku.”

“Apa itu hanya imajinasimu?”

“…….”

“Yah, lupakanlah. Seseorang yang tahu semacam terminologi seperti Spirit itu sudah sangat tidak normal. Aku akan lebih menginvestigasinya.”

“Oh…Mohon lakukanlah.”

Bersamaan dengan Shidou mengakhiri panggilan teleponnya , bel yang menandakan mulainya pelajaran pertama berdering.

Bagian 2[edit]

Di sebuah sudut Markas Tenguu. Di dalam ruangan observasi yang mengumpulkan data pada panjang gelombang Spirit seluruhnya di kota-kota wilayah selatan Kanto.

“…..Tidak mungkin.”

Ketua team AST Kusakabe Ryoko, mengerutkan dahinya sebagaimana dia mengeluarkan sebuah erangan.

“Apa ada kesalahan? Ini.”

Orang itu yang saat ini mengoperasikan menara kontrol pusat——Ashimura Sersan Kelas Satu memutar wajahnya padanya, menggoyangkan wajahnya yang berkeringat pada saat bersamaan.

“Aku sungguh minta maaf. Tapi ketepatan dari mesin pengobservasi, meskipun di dalam negara ini, ini juga dianggap sebagai yang terbaik.”

“…..Jika memang begitu.”

Mengecek lagi angka-angka yang ditampilkan di layar, setelah merasa yakin bahwa tidak ada kesalahan, dengan paksanya mengeluarkan desahannya seolah-olah dia mencoba membuang rasa frustasinya.

Yang ditampilkan oleh layar adalah hasil yang menurut angka dari seorangmanusia tertentu.

Tidak, menggunakan kata manusia akan terasa bohong.

Lagi pula, angka-angka itu, menyindir pada sebuah bencana yang membunuh dunia ini.

“…..Spirit, dipindahkan ke SMA? Lelucon itu tidak akan pernah menghibur.”

Itu benar. Hari ini saat jam 9 di pagi hari, dia menerima pesan dari Origami ke markas.

Meminta untuk menginvestigasi, karena ada seorang murid pindahan yang memproklamirkan dirinya bahwa dia adalah seorang Spirit di kelasku——

Meskipun dia ragu-ragu, dia masih menjalankan scanner pada gadis itu, tetapi—&mdash

Ryoko menyeka dahinya. Keringat membasahi lengan bajunya. Di samping AC-nya dinyalakan, kulitnya perlahan-lahan telah menjadi basah.

Tentu saja ini ada alasannya. Untuk dipindahkan ke SMA, sebuah daftar keluarga dan alamat tempat tinggal adalah suatu keharusan, tapi masih ada dokumen lain yang dibutuhkan juga.

Sebuah makhluk yang mampu menghapuskan sebuah jalan secara keseluruhan hanya dengan satu jari, dia masih bisa kabur dari lapangan observasi ini, dan menguasai pengetahuan tentang cara hidup bermasyarakat bekerja dan tahu cara menggunakannya dengan efektif. Mustahil tidak merasa ngeri bila memikirkannya.

“Ketua? Apa yang kau lakukan?”

Pada titik ini, sebuah sambutan yang aneh dinyatakan di belakangnya.

Hanya seorang anggota yang akan menggunakan kata-kata semacam ini. Memutar kepalanya, Mana berdiri di sana seperti yang diharapkan.

“…….Nn?”

Mana menampilkan sebuah ekspresi yang serius, mengerutkan alisnya dalam ketidak senangan.

“——Dia….akhirnya muncul juga huh, <Nightmare>.”

“<Nightmare>?”

Ryoko bertanya dalam keterkejutan. Mana dengan paksa mengeluarkan desahan kecil dengan alisnya yang keduanya terkunci.

“Codename <Nightmare>. —— Salah satu yang kuburu, Spirit yang paling brutal.”

“Spirit paling….brutal?”

Ryoko menggigil sebagaimana dia mengulangi kata yang serius itu, “Nn”, Mana menganggukkan kepalanya.

“Spirit yang menyebabkan kematian sedikitnya sepuluh ribu saat ini. Jika kita menanggap para korban itu yang belum diidentifikasi menjaadi akun, angka-angka seharusnya menjadi beberapa kali lebih besar.”

“Se, sepuluh ribu…….!? Ti, tidak mungkin, mengapa di sana tidak ada panggilan evakuasi? Dan juga, sebuah spacequake yang skalanya——”

“Kau salah.”

Seolah-olah mencoba menginterupsi Ryoko, suara Mana keluar dengan nada sedih.

“Spacequake yang <Nightmare> sebabkan sebenarnya hanya yang Spirit yang biasa. Meskipun kita tidak bisa bilang bahwa tidak ada korban, jumlanya tidak akan mencapai ratusan.”

“L, lalu mengapa….”

“Alasannya sangat simpel.——langsung, membunuh dengan tangannya sendiri. Sepuluh ribu manusia itu.”

“………….”

Ryoko menahan nafasnya.

<Princess> dan <Hermit> yang sudah muncul di Kota Tenguu dahulu, meskipun merekalah yang menyebabkan spacequake yang hebat, mereka tidak aktif menyerang manusia.

Namun, jika seekor monster mampu menghancurkan bumi, pasti akan mulai membunuh orang-orang dengan kekuatannya sendiri.

Betapa mengerikannya itu. Sebagai seorang anggota AST, adegan semacam itu digambarkan dengan mudahnya.

“——Lalu, apa persiapan yang harus kita buat?”

“Eh?”

Mana ditanyai ketika dia meregang pelan-pelan, Ryoko bertanya dengan kering.

“Jika seorang Spirit muncul. Maka tidak ada hal yang harus dipertimbangkan selain membunuhnya.”

“Itu benar…….Tapi, tidak-kah kita butuh mengevakuasi para penduduk? Lagi pula situasi ini adalah——”

“Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Mohon tinggalkan saja kepadaku. ——Berhadapan dengan [itu], itulah hal terbaik yang kubisa.”

“Aa, tunggu, tahan dulu!”

Ryoko memegang lengan Mana saat dia mencoba pergi secepatnya.

“? Apa ada masalah. Bukankah lebih baik berhadapan dengannya secepatnya?”

“….Akan kubilang ini pertama-tama, pemimpin tim di sini adalah aku. Kau tidak diizinkan bertindak seorang diri.”

“……….”

Mana termenung untuk beberapa saat meskipun dia memikirkan sesuatu, kemudian dengan entengnya mengangkat tangannya.

“Dimengerti. Aku akan mengikuti perintahmu.”

Namun, dia kemudian memberikan Ryoko sebuah pandangan meskipun dia sedang memikirkan sesuatu.

“Tapi, tolong janganlah lupa. Aku ditugaskan di sini oleh [Assosiasi], mempunyai izin dari Jendral untuk mengambil tindakan yang independen.”

“……Aku paham.”

Ryoko membelitkan wajahnya dalam rasa bosan, melepaskan lengan Mana.

Bagian 3[edit]

Jarum jam berputar tiga kali, tergantung di atas papan tulis.

Dalam arah pandangan Shidou, pelajaran homeroom sebelum pulang telah dimulai. Beriringan dengan bel dan memasuki ruang kelas adalah Tama-chan-sensei, yang membuka buku absensi dan mulai menyampaikan beberapa informasi.

Pemandangan yang normal dan tidak menarik. Namun, saat ini, Shidou tersiksa oleh kepanikan yang aneh.

Memberikan alasan mengapa……

“…….”

Kurumi mengambil kesempatan saat guru sedang tidak fokus untuk menoleh ke arah Shidou, membuat kontak mata dan melambaikan tangannya dengan pelan.

“Itu, um.”

Merasakan tidak sopan untuk tak membalasnya, Shidou memberikan senyuman pahit dan melambaikan kembali.

“”…….””

Sepertinya Tohka dan Origami yang duduk di samping Shidou, tidak membuat candaan apapun, menggunakan tatapan yang tajam yang cukup untuk menyebabkan dermatitis[1] untuk menatap Shidou.

“…….A, apa yang harus kulakukan?”

Ketika Shidou mengeluh dalam keputus asaan. Tama-chan-sensei menutup buklet kehadirannya.

“Sekian untuk homeroom hari ini. ——Ah, satu hal lagi, baru-baru ini di daerah ini, nampaknya terjadi kasus orang hilang. Semuanya, tolonglah apabila kalian berjalan, kalian harus bersama-sama dalam kelompok. Ingatlah untuk pulang ke rumah sebelum gelap, oke?”

“………….Nn?”

Merespon pada kata-kata Tama-chan-sensei yang nampaknya ditunjukkan kepada siswa-siswi, alis matanya terangkat sedikit.

Ketika masalahnya dijelaskan, berita dipagi hari nampaknya juga telah melaporkan kasus serupa. Saat nama Kota Tenguu muncul, perhatiannya tertarik.

Tidak apa-apa jika itu Shidou, tapi untuk masalah Kotori itu bisa menjadi kekhawatiran.

…….Yah, jika itu adalah imouto-sama, suatu angka yang harus dicemaskan mungkin akan menjadi besar.

Seperti yang Shidou pikirkan tentang masalah itu, panggilan untuk bersiap pada satu perhatian telah disampaikan. Shidou berangkat dari kursinya dan membungkuk. Terlepas dari suara berisik yang dibuat oleh meja-meja dan kursi-kursi ketika mereka berangkat, percakapan antara murid-murid juga bisa didengar.

Setelah pulang sekolah. Tetapi ——Shidou masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukannya.

Shidou mengambi miniatur earphone dari sakunya, memakaikannya ke telinga kanan.

Dengan sangat cepat, suara yang menarik menggetarkan gendang telinganya.

“——Sudah waktunya. Apa kau siap, Shidou?”

Sebuah suara yang muda, memenuhi tekanan dalam jumlah besar. Itsuka Kotori, adik Shidou, mode komandan.

Meskipun tidak bisa dikonfirmasikan dari sini, tapi orang-orang hebat di kapal <Fraxinus>, harus bersiap sepenuhnya untuk menaklukkan Spirit.

“Aku tidak percaya, dia adalah Spirit sungguhan. ——Untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepadamu, Aku pikir itu hanyalah khayalanmu Shidou.”

“……Hey.”

Merespon ejekan Kotori, Shidou menyipitkan matanya.

Tapi tadi itu bukanlah tanpa alasan. Mengatakan hal yang sebenarnya, Shido sendiri ragu-ragu. Spirit yang dipindahkan ke sekolah sebagai murid pindahan dan lain-lain.

Hasil observasi Kotori terhadap Kurumi, dikirimkan ke handphone Shidou pada saat waktu makan siang.

Kesimpulannya——Kurumi adalah, Spirit sungguhan.

“——Hei, ini bisa dipertimbangkan sebagai sesuatu yang bagus. Party[2] yang lainnya telah mengirimkan sebuah undangan. Jika alaramnya tidak terdengar, AST tidak akan tahu seperti biasanya; bukankah itu hasil yang kita harapkan? Saat ini, tolong fokuslah pada peningkatkan perasaan party terhadap dirimu dan biarkan dia jatuh cinta.”

“…….Nn. Aku pikir…….kau benar.”

Ucap Shidou dengan setengah hati.

Seperti yang Kotori katakan. Namun, motif Kurumi masih tidak jelas hingga saat ini, hati Shidou terasa bersalah.

“Ada apa denganmu, itu seperti ucapan seorang pengecut. Pergi BERCIUMAN dengan Spirit yang lainnya, kau merasa bersalah?”

“……..Bu, bukan itu……Tapi, tidak, ini tidak seperti aku yang sedang bersalah di sini…..”

“Itu bagus. Sayangnya, nampaknya kita tidak punya waktu untuk berbicara lagi?”

“Eh?”

Saat Shidou mengeluarkan balasan yang bodoh, bahunya ditepuk beberapa kali oleh seseorang.

“Shidou-san, Shidou-san.”

“Uuooh…..!?”

Karena terlalu tiba-tiba, Shidou merasa panik.

“Maaf, apa aku menakutimu?”

Kurumi ——gadis yang berdiri di sana mengatakannya dengan pandangan menyesal.

“To, Tokisaki…..”

“Ufufu, tidak apa-apa, panggil saja aku Kurumi”

“Aa, aaah…. Lalu, Kurumi.”

Setelah Shidou mengatakannya,Kurumi melanjutkannya dengan wajah yang tersenyum.

“Bisakah kamu mengajakku berkeliling sekolah? Aku akan selalu di dalam pengawasanmu.”

“Oo, ooh.”

Shidou terlihat seolah-olah dia berusaha untuk menurunkan kecepatan detak jantungnya, meletakkan tangan di dadanya saat dia menggangguk.

……….Sebuah penampilan yang menakjubkan seperti buatan tangan manusia. Sikap yang memancarkan keanggunan. Gerakan-gerakan yang elegan. Melewati lima indra Shidou, menekan kuat-kuat kehadirannya.

Hampir saja seolah-olah bola mata dan otaknya menolak semua ketidak-sucian yang lain dari Kurumi, menempatkannya keluar pernyataannya.

“Ahem!”

“……!”

Akal sehatnya kembali oleh batuk yang palsu itu. Berbalik menuju suara itu, Tohka melotot dalam pandangannya sambil melipat tangannya.

“Ya, yang barusa ……”

Terlihat sepertinya dia tertangkap basah. Shidou membuat suara yang mencoba untuk menjelaskannya.

“Baiklah! Ayo cepat pergi. Fufu, aku sungguh senang.”

Namun, sebelum dia memiliki waktu untuk menyelesaikannya, Kurumi mulai berjalan ke depan koridor dengan langkah kaki yang ringan.

“Aa…..he, hey!”

“Uufufu, sebaiknya cepatlah Shidou-san.”

“——Shidou, saat ini Kurumi adalah prioritas utama kita. Cepatlah dan hampirilah dia. Status mental Tohka, masih belum mencapai titik kritis. Belilah sebuah roti kismis dengan kacang kuning untuknya ketika kau kembali ke rumah, itu harus disediakan.”

Pada saat ini, suara Kotori terdengar dari telinga kanannya.

Melihat ke arah kanannya, Tohka yang tidak senang memasuki arah pandangannya…..Tapi dia tidak punya pilihan yang lain. Shidou meninggalkan kata “Maaf!”, kemudian mengejar Kurumi setelah dia keluar dari koridor.

“Baiklah, mula-mula, mulai dari mana yang harus kita lihat?”

Kurumi, yang menunggu tidak jauh sekali dari ruang kelas, menundukkan kepalanya dan bertanya.

“Aa, aaah…..itu benar.”

Pada saat bersamaan, Shidou kehilangan suara Kotori, suara Kotori berbunyi di dalam telinga kanannya.

1500 meter di atas Tenguu Base.

Organisasi rahasia kapal udara <Ratatoskr>, <Fraxinus> yang saat ini sedang mengapung.

Terwujud secara acak, bentuk kehidupan berbahaya yang menyebabkan kehancuran pada dunia ini, [Spirits].

Membiarkannya jatuh cinta dan membuatnya tidak punya kekuatan, para anggota staff terbebani dengan tugas yang sulit dan sangat menghibur ini, sekarang saat ini sedang di dalam tengah-tengah pertempuran.

Di anjungan kapal yang terletak di pusat <Fraxinus>, tiga puluh anggota staff termasuk Kotori komandan mereka berkumpul sekarang. Setiap orang pergi ke stasiun kerja mereka, mengontrol menara komando dengan gerakan-gerakan yang berpengalaman.

“Kertertarikan 45.5. Tidak berubah sedikit pun.”

“Status mental, rata-rata hijau. Mental stabil.”

“Gelombang Spirit 150.0. Perbedaan dengan scan sebelumnya yang dapat diterima minimal 3.4.”

“——Umu, jadi semuanya baik-baik saja?”

Tanya Kotori, yang bersandar di kursi komandan <Fraxinus> yang terletak di tengah anjungan.

Pita-pita hitam terikat di rambutnya. Seragam militer berwarna maroon di bahunya. Tidak masalah bagaimanapun kau melihatnya, dia mirip seperti gadis cosplayer yang terpengaruh oleh film.

Namun, gadis yang terlihat manis secara keseluruhannya itu keluar dari anjungan kapal, setelah mensurvey subordinat-subordinatnya, menenangkan dirinya dan melihat ke layar.

Di layar raksasa tersebut, terlihatlah Spirit tersebut, gambar Tokisaki Kurumi.

Beragam faktor pada layar, melewati jendela-jendela komputer-komputer subordinat, setelah pengolahan melewati AI, tertandailah waktu sesungguhnya dalam bentuk kata.

Itu benar, itu hanya seperti gambar-gambar dalam galge.

Pada saat ini, di dalam layar Kurumi menggoyangkan kepalanya, bibirnya yang manis terangkat sedikit.

“Baiklah, ke mana kita harus pergi ?”

"Aa, aaah......Itu benar."

Diikuti oleh pertanyaan itu, melalui speaker, suara Shidou berbunyi.

Seseorang akan mengerti tanpa diminta. Itu adalah suara yang bermasalah untuk pertanyaan yang tiba-tiba. Kotori mendecih ketika dia menekan komunikatornya, membawa mikroponnya ke mulutnya.

"Tahan sebentar Shidou. Biarkan pihak kami melihat situasinya.”

Ucap Kotori dengan cepat, sebuah jendela baru muncul di layar utama.

Ini adalah peta mini SMA Raizen dimana Shidou berada saat itu. Beragam-ragam kelas dan fasilitas telah ditandai di atas, lokasi Shidou dan Kurumi telah ditandai dengan titik merah. Diikuti oleh itu, beragam-ragam rute ditunjukkan setelah mengkalkulasi jarak lokasi mereka saat ini dan rute-rute pergerakannya juga.

Tempat pertama untuk dikunjungi adalah ——

①Atap sekolah. ②Ruang kesehatan. ③Kafeteria, komisioner.

Yang mana yang harus dipilih.

"——Kesempatan besar.”

Sebuah suara, berbunyi dari belakang kursi komandan dimana Kotori duduk.

Melihat kebelakang, seorang pria muda tinggi berdiri dengan tangan di dagunya. Dia adalah wakil komandan <Fraxinus>, Kannazuki Kyouhei.

”Menakjubkan sekali meninggalkan pilihan urutan pergerakan kepada kita. Jika urutannya teratur secara tepat, bisa saja ini dapat membawa hasil yang bagus.”

“Yah, kau benar——Semuanya, pilih! Lima detik!”

Setelah Kotori selesai bicara, layar di tangannya menampilkan hasilnya dengan cepat.

"Umu, jadi atap adalah pilihan yang cukup populer ya?"

“Tentu saja, bisa dibilang atap sekolah adalah kunjungan yang terbaik untuk muda-mudi! Sebuah tempat yang penuh kebebasan dan pemandangan yang indah untuk dilihat! Tidak ada pilihan lain selain ini!”

Tepat ketika Kotori bergumam, di bawah anjungan, <Dimension Breaker> Nakatsugawa berteriak dengan keras.

“Tapi....Bicara secara normal, atap biasanya terkunci bukan? Karena itu terlalu berbahaya.”

Namun, disebelahnya, <On Probation>Minowa, memakai tangannya menopang dagunya saat dia berbicara.

"Eh......Be, benarkah?" Dengan hal tersebut, Nakatsugawa dengan cepat memprotes. Namun, Kotori mengeluarkan sebuah deheman sebelum berbicara.

“Tidak apa-apa. Saat ini sekolah sudah ada banyak penolong yang masuk, masih mungkin untuk membukanya dengan kunci sebelum Shidou dan Kurumi tiba.”

“I, itu benar! Jadi atap masih yang terbaik—&mdash”

“Tunggu sebentar!”

Pada saat ini, <Terlalu Cepat Loyo> Kawagoe terlihat dari kanan.

“Bagaimana bisa kau meninggalkan ruang kesehatan? Tempat tidur ditempatkan dengan sesuai, dan gorden untuk menghalangi pandangan orang-orang. Bukankah satu dari beberapa tempat yang membuat seseorang bergairah di sekolah?

“A,ada apa denganmu! Apa kau menjadi terlalu mesum! Atap adalah tempat yang bagus....!”

"Humph......menapa kau tidak membersihkan mimisanmu sebelum kau mulai memprotes, eh Nakatsugawa-kun?"

"Ha......!"

"Jika begitu?"

Mendengarkan pertempuran verbal antara faksi atap dan faksi ruang kesehatan, Kotori melihat ke arah gambar dengan tangannya sekali lagi.

“Berbicara mengenai pilihan, siapa yang memilih ③?”

Saat Kotori bertanya, dengan cepat sebuah tangan terangkat.

"......Itu saya."

Seorang wanita yang ngantuk berat, membuka matanya yang memiliki lingkaran gelap yang tebal, memutar pandangannya. Petugas Analisa <Fraxinus> yang dipercayai sepenuhnya oleh Kotori. Murasame Reine.

“Reine huh? Sungguh sebuah kejutan. Bisakah kau mengatakan alasannya?”

“......Aaah.. Itu bukan alasanyang mengejutkan. Hanya eliminasi yang simpel, itu saja.”

“Eliminasi? Apa atap dan ruang kesehatan tidak bisa?”

Dengan itu, Reine menganggukkan kepalanya.

"............Bukan seperti itu. Hanya saja, di ruang kesehatan sering ada seorang guru kesehatan di sana. Jika kita mau mengencegah kehancuran ruang kesehatan itu sendiri, kita setidaknya harus menunggu tiga puluh menit lainnya. ......Atap juga memiliki alasan yang sama. Jika kau bertanya mengapa, pemandangan matahari terbenam...... bukankah itu menakjubkan?”

Setelah mendengarkan kata-kata Reine, Kotori menaikkan ujung bibirnya dengan cepat.

“——Seperti yang kuduga, kau cukup romantis huh, Reine.”

Bersamaan dengan itu, dia mendekatkan mikrofon ke mulutnya.

“Shidou, kau dengar, ‘kan? Ajak dia ke kafeteria dan kantin.”

“......Dimengerti, baiklah, bisakah kita pergi ke kafeteria dan kantin untuk dilihat dahulu? Mungkin saja ada yang diperlukan suatu saat nanti.”

"Nn, tidak masalah."

Ketika Shidou selesai bicara, senyuman Kurumi yang manis terlihat ketika dia menganguk dengan pelan. D on, don, sepatu Kurumi membuat suara yang sama dengan lonceng, berjalah ke arah samping Shidou.

"Jika begitu, ayo berangkat."

"Oo, oh."

Dipenuhi oleh semangat Kurumi, setelah beberapa kesulitan dia mulai berjalan. Untuk mencapai kantin di lantai satu, mereka harus mencapai tangga di bangunan barat pertama. Keduanya berjalan menuruni koridor dengan langkah yang santai.

Pada saat ini, siswa-siswi yang sedang pulang, memandangi mereka. ——Wah—siapa gadis itu, dia sangat manis—Murid pindahan? Bukankah dia Itsuka-kun dari Kelas 4, pa yang terjadi?

Aaa, sepertinya dia sendiri ingin membawanya keliling sekolah. Eh, bukannya Itsuka itu suaminya Yatogami? Tapi aku pernah dengar bahkan Tobiichi ditaklukkan olehnya, berjanji sebagai kekasih atau lainnya.

Hey hey, tidak senang dengan dua berkah sekarang dia mau memakan murid pindahan itu? Rasanya Itsuka-kun sudah menjadi seorang playboy!

......Apapun yang orang-orang katakan.

Wajahnya berkedut saat bersamaan, dia berusaha keras untuk tidak memperdulikan kata-kata yang menyakitkan tersebut, mempercepat langkah kakinya.

Kemudian, sebuah suara yang berbeda dari yang lainnya, suara Kotori memasuki telinganya.

"Nnnn......?"

"Apa ada masalah, Kotori?"

“Tidak......Ada dua orang yang mengikuti pergerakanmu.......Ada kemungkinan kau akan menjadi sasarang oleh seseorang.”

"Eh, eh eh.....?"

Berhadapan dengan kemungkinan yang serius, Shidou hanya bisa menjerit.

“Diamlah. ......Pihak kita akan mengkonfirmasikannya. Pertama-tama berkonsentrasilah pada Kurumi. ——Dan juga, kau berjalan dengan seorang gadis, mengapa kau tidak bicara apapun, dasar bodoh.”

"Eh? ah......"

Dikarenakan sadar sepeduhnya oleh pandangan yang mengelilinginya dan juga kegugupan berjalan dengan seorang gadis, dia meninggalkan Kurumi sendirian.

"......Oh tidak."

Ketika bergumam, dia mengintip ke arah Kurumi.

Tiab-tiba——Shidou merasa jantungnya berdetak dengan kencang.

Tapi tentu saja ada alasan dibalik hal tersebut. Karena Kurumi menggunakan mata kanannya yang tidak ditutupi oleh rambutnya, untuk menatap tepat ke arah Shidou.

Alaminya, mata mereka bertemu. Saat bersamaan, Kurumi memberiakn senyum manis seolah-olah dia sangat senang dari lubuk hatinya.

Sepertinya dia menunggu Shidou melihat ke arahnya pada saat ini.

"Ku, Kurumi. Apa kau tidak apa-apa jika kau berjalan ketika tidak melihat ke depan?”

Shidou menanyainya dengan sebuah cegukan, Kurumi melebarkan matanya.

“Kau memperhatikannya? Dan kau bahkan memperhatikan saya, Shidou-san sangat baik.”

"Ti, tidak......itu bukan apa-apa!”

"Kumohon jangan merendah. Itu merupakan salah saya karena melihat arah sudut pandanganmu dan menjadi terpikat.”

“Me, melihat......!?"

Shidou merasakan pipinya yang memerah.&mdah;—A, apapapapaap yanag gadis ini katakan? Melihat? Tidak tidak, aku tak mengerti.

Tampilan yang biasa-biasa saja ini bahkan tidak terlihat bernilai sama sekali, kenyataan yang bahkan Shidou sadari sepenuhnya.

“Kenapa kau jadi lemah karena kata-katanya, Shidou.”

Mendengarkan suara Kotori yang mengeluh, bahu Shidou berguncang dengan keras

"Ma, maaf."

"......Tapi, ini jelas adalah tipe yang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Tidak hanya menyatukan dirinya dengan masyarakat——dia juga menguasai kemampuan untuk mendalami orang lain.”

Kotori mengeluarkan suara “Umu” ketika dia sedang merenung.

“Karena dia adalah eksistensi yang menarik, karena itulah kita butuh lebih banyak informasi...... Nah, kita tanyai dia saat menaikkan ketertarikannya. ——Sepertinya pilihannya baru saja datang. Tunggu sebentar.”

Layar di anjungan <Fraxinus>, sekali lagi menunjukan sebuah jendelah pilihan perkalian. ①”Sesuatu mengenai Spirits yang kau jelaskan pagi tadi, apa maksudnya?” ②"Kurumi, sekolah mana yang kau datangi dahulu ?" ③"Kurumi, celana dalam apa yang kau gunakan hari ini?"

"Semuanya, pilih!"

Mengiringi teriakan Kotori, anggota di bawah anjungan menekan tombol secara bersamaan.

Hasilnya ditampilkan pada monitor Kotori dengan cepat.

“Seperti yang diharapkan, sepertinya nomor ①."

Hasil yang dipilih oleh semuanya sama dengan dirinya, Kotori menaruh dagunya di tangannya.

“Pilihan yang tepat. Kurumi tidak akan tahu bahwa Shidou memiliki pengetahuan tentang Spirits. Ini akan jadi bagus untuk membuatnya ragu-ragu.”

Di belakang, Kannazuki berbicara demikian.

“Itu benar.——Di samping itu Kannazuki, yang mana yang kau pilih?” "Saya pilih ③."

“Pertama-tama mari dengarkan alasannya dahulu.”

Kotori memutar badanya dan mengatakannya.

“Pahanya yang dipisahkan oleh stoking berwarna hitam bisa dikatakan sebagai harta umat manusia. Haruskah kau bertanya mengapa?”

Kotori menjentikkan jarinya. Dengan cepat, dua raksasa yang sangat berotot memasuki anjungan, memegangi kedua tangan Kannazuki.

"Bawa dia jauh-jauh."

"Baik!"

Kedua orang itu menjawab secara bersamaan, menyeret Kannazuki bersama mereka.

"Ko, komandan! Ampuni aku! Ampuni akuuuuuuuuuu!!!!"

  • Pishuu* mengiringi suara ini, pintunya tertutup.

Di tengah-tengah anjungan kapal yang sunyi, Kotori mendecih sembari bicara.

“’Kurumi, celana dalam apa yang kau gunakan hari ini?’ ......Hey, apa yang kalian pikir tentang pilihan ini?”

“Y, yah, secara nyata kau tidak bisa menggunakan kalimat kotor untuk meningkatkan suasananya.”

Anggota staff di bagian bawah anjungan membalas dengan senyum pahit.

Pada saat ini, Kotori tiba-tiba mengedutkan alisnya.

"Ah!"

Pada saat bersamaan Kotori mengubah posisinya, sikunya menyentug tombol di mokrofonnya. Simpelnya, percakapan yang baru saja terdengar oleh Shidou——

"He, hey......Kurumi, celana dalam apa yang kau gunakan hari ini?”

Dalam gambar, Shidou yang menerimanya sebagai perintah, benar-benar mengikutinya menjadi pesannya.

“Celana dalam......ya?"

"......!"

Saat Kurumi bertanya kembali dalam kebingungan, Shidou akhirnya sadar dengan kalimat konyol macam apa yang baru saja dia katakan.

"Ah, tidak, itu hanya——"

Ketika ia melambaikan tangannya dengan cepat, ia menekan earphonenya seolah-olah memprotes.

“Bodoh, itu bukan instruksi saat ini! Pilihan yang benar adalah ①. “Sesuatu mengenai Spirits yang kau jelaskan pagi tadi, apa maksudnya?”

"Ha......Haa!?"

“Pertama sekali cobalah selesaikan kesalah pahamann ini! Saat ini itu hanya sebuah lelucon, kemudian mulailah menanyakan pertanyaan sebenarnya!”

"Oo, oh......" Shidou mengerang dengan lembut, memutar ke arah Kurumi.

“Me, mengenai hal itu, Kurumi."

Dia hanya bisa terdiam, bagaimanapun dia melihat ekspresi dan gerakan Kurumi.

Saat Kurumi menaikkan matanya untuk melihat ke arah Shidou, tiba-tiba dia mengangkat ujung lipatan rok-nya

"......Mau, melihatnya?"

"Eh!? T, tidak, itu hanya——"

Bagaimanapun dia tidak seperti terlihat dia tidak mau melihatnya, dia tidak bisa mengatakannya dengan jujur.

Hanya saja Shidou dalam keadaan kacau. Kurumi melihat sekelilingnya, kemudian sembunyi ke dalam bayangan lemari terdekat ynag digunakan untuk menyimpan alat kebersihan.

"Ku, Kurumi......?"

Shidou mengerutkan alis matanya sebagaireaksi terhadap gerakan Kurumi yang membingungkan. Dengan malu-malu Kurumi memerah, membuka mulutnya yang kecil.

"Tidak apa-apa...... kau tahu, jika itu Shidou-san.” Mengatakan demikian, tangan yang sedang memegang rok-nya, pelan-pelan diangkat.

"Eh......eh eh!?

Shidou, bereaksi pada peristiwa yang sepenuhnya tidak terduga seperti ini, melebarkan matanya.

Namun ketika Shidou sedang dalam keadaan kehilangan sesuatu yang harus dilakukan, Kurumi sudah mengangkat rok-nya. Pahanya terbungkus oleh celana panjang hitam pelan-pelan terlihat——bahkan zona segitiga terlarang sedikit demi sedikit terlihat. Melalui kain hitam yang direnggangkan pada kedua sisinya, celana dalam putih dapat terlihat secara cepat.

"——!!"

Seketika Shidou menutup matanya, memegang rok Kurumi dan menariknya kembali ke posisi semula

"Ara,ara."

Kurumi mengatakannya ketika menunjukkan tatapan ketidakpercayaan.

“Ada apa? Jika itu Shidou-san......aku tak apa-apa, tahu?”

“Tidak, itu sudah cukup! Sekarang! Ayo kita pergi!”

"Ufufu, Shidou-san pemalu~ Aaa, tapi, jika kita mau melanjutkannya, bisakah kamu melepaskan rok saya dahulu?"

"......!"

Teringat oleh kenyataan tersebut, mata Shidou terbuka sepenuhnya. ......Jika itu dilihat dari arah samping, Shidou yang saat ini, secara tidak diragukan lagi adalah orang yang sangat mesum ynag membawa gadis-gadis ke sudut yang gelap untuk mengangkat rok mereka.

"Ma, mamamamamamaaf......!"

Melepas tangannya dengan terburu-buru. Kurumi terkikih dengan sebuah ekspresi seolah-olah dia tidak memperdulikannya sama sekali.

“Shidou, jangan panik, pertama-tama aturlah postur tubuhmu.”

Pada saat ini, datanglah instruksi dari Kotori. Shidou pura-pura batu. Saat mereka melanjutkan perjalanan mereka, mengikuti instruksi sebelumnya dan menanyainya.

“Te, tentang itu, Kurumi.”

"Nn, apa itu?"

“Pagi tadi, bukankah kau bilang ‘Saya adalah Spirit’? Sebenarnya, apa itu Spirits?”

Setelah pertanyaan Shidou,Kurumi terdiam untuk beberapa saat——Tapi dengan sangat cepat, menunjukkan sedikit senyuman.

“—Ufufu, tolong jangan berpura-pura bodoh, Shidou-san. Bukannya kau tahu dengan jelas? Suatu isu, tentang Spirits?

"............"

Mengahadapi balasan Kurumi, Shidou menahan nafasnya.

“Apa-apaan, gadis ini.”

Kotori mengeluarkan suara keterkejutannya yang sama dengan Shidou.

“Meyakini bahwa Shidou tahu tentang Spirits......Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?”

Shidou tidak membutuhkan saran untuk mengerti, dan menanyakan pertanyaan pada saran Kotori.

“Ba,bagaimana kau tahu, tentang sesuatu yang kami ketahui.....?"

“Fufu, itu &dash;—rahasia.”

"Eh?"

“Alasan saya datang ke sekolah ini adalah hanya untuk bertemu Shidou-san. Karena saya tahu tentang Shidou-san,karena itulah saya ingin bertemu denganmu. Tiada hari tanpa memikirkan Shidou-san. Jadi—saat ini, saya merasa sangat senang.”

Menyelesaikan kata-katanya, pipi Kurumi berubah menjadi merah muda

"..................!!"

Shidou merasa pipinya menjadi hangat. Meskipun dia tidak bisa melihatnya, bisa jadi telinganya dipenuhi oleh uap saat ini. Mengapa. Mengapa begini. Apakah ini godaan atau seorang gadis yang sedang jatuh cinta, ini seluruhnya adalah dimensi yang berbeda. Ini seperti saat di sekolah menengah, perasaan yang seperti mabuk setelah menjilati whiskey yang ayahnya taruh di lemari kaca, seorang pemabuk berat yang mengantuk. Seolah-olah di akan roboh ke lantai dengan sentuhan terkecil.

“Hey, bukankah situasinya tidak berbalik seperti ini!”

"Ha......"

“Nah......ayo lanjutkan perjalannanya.”

Shidou mengambil napas dalam-dalam, berjalan ke depan ketika mencoba bersembunyi dari pandangan Kurumi. Alasannya adalah......setiap mereka semakin lama membuat kontak mata, dia merasa seolah-olah dia mengakar di tempat.

"......Keh, tidak akan jatuh semudah itu huh. Kita tidak punya pilihan lain, terus serangan——Aku tak peduli jika dia ketakutan sekalipun. Kita tidak bisa membiarkannya mengambil alih suasana.”

“Di, diamlah......"

“Yah...... rasanya memuakkan dikelilingi oleh paksaan. Ayo kita coba membuatnya ragu.” Setelah Kotori selesai berbicara, layar utama anjungan menampilkan berbagai pilihan.

①”Kurumi, rabutmu indah sekali.” Membelai rambutnya dengan lembut seakan tidak ada yang terjadi. ②”Ah, berbahaya!” Berpura-pura jalan dan jatuh ke arahnya. ③”Hey, ini jalannya.” Memegang tangannya dengan biasa-biasa saja.

Umu, Kotori mengangkat Chupa Chups yang ada di mulutnya.

Semua pilihannya adalah melakukan kontak tubuh secara tak sengaja. Ini sedikit berisiko... tapi sangat tepat karena status mentalnya stabil, itulah hasil dalam AI yang membuat pilihan tersebut. Itu sebenarnya adalam metode yang efektif untuk memperpendek jaraknya.

“——Semuanya,pilih!”

Setelah dia selesai bicara, dengan cepat dia melihat ke arah hasil voting di layar monitor disamping tangannya, Kotori mengangguk.

"③ huh? Yah itu yang paling mudah."

“Bisa dikatakan, ① nampaknya bisa terlalu dekat, sedangkan ② terlalu wajar.”

Pada saat ini, tidak diketahui kapan dia muncul kembali di samping Kotori, Kannazuki berbicara. Rambut emas dalam keadaan berantakan, dadanya terlihat sedikit demi sedikit, celana barat yang biasanya dia kenakan tidak terlihat sama sekali, yang menggantikannya adalah sepasang celana ketat dengan karakter yang tercetak pada celananya.

“Aea, kelihatannya kau kabur dengan selamat Kannazuki.”

“Sungguh tempat yang berbahaya. Siapa mereka sebenarnya?”

“Tentu saja untuk persiapan suatu keadaan ketika mereka dibutuhkan.”

“Lalu mengapa mereka mencoba membuka celana dalamku?”

“Itu hanya dirimu.”

"Sekarang apa, aku telah benar-benar sadar?”

Kannazuki mnegakhirinya dengan “Ha ha ha.”, menjadi serius dengan cepat sekali lagi.

“Namun......Mencoba untuk membuat kontak tubuh, ada metode yang lain ynag harus dilakukan.”

"Katakan saja."

“Ha. Pertama dahulu, buat Shidou-kun berbaring di koridor.”

"Kemudian?"

“Kemudian gunakan berbagai sudut untuk mengamati celana dalam Spiritnya yang berada di bawah paha itu.”

“Kau melakukannya lagi?”

Usaha Kotori menjentikkan jarinya sekali lagi dihentikan oleh Kannazuki yang ketakutan.

“Ma, masih ada lagi. Spirit itu akan merasa malu karena membiarkan celana dalamnya dilihat, kan?”

"Umu."

“Tentu saja, dia dengan paksa akan menginjak Shidou-kun yang terbaring di koridor! Dengan cara ini hubungan antara budak dengan majikan akan mendalam secara alami——”

Mengikuti suara jentikan jari Kotori, kedua raksasa sekali lagi muncul di anjungan, membawa Kannazuki dengan mereka.

"Ke, kenapa, Komandan!"

Mengacuhkan tangisan Kannazuki, Kotori mengambil mikrofonnya.

"Shidou, nomor ③, pergi dan gengam tangannya."

"Aku paham."

Shidou menganngukkan kepalanya sebagai tanggapan terhadap instruksi Kotori. ......Tapi sebelum instruksinya, dia merasa mendengar tangisan seseorang yang terasa mau mati. Dia tidak mengerti mengapa, tapi itu terasa seolah-olah dia tidak bisa bertanya terlalu banyak tentang ini.

"............"

Shidou menelan ludahnya dengan paksa, melihat jalan di depannya. Belok kiri pada pertigaan bisa jadi tangga gedung barat. Suatu kesempatan yang besar. Pada saat ini, berpura-pura memegang tangan Kurumi ketika dia bermaksud untuk melanjutkan perjalanannya,

“Aaah, lewat sini” menunjuk ke arah yang benar untuk dia, mengulangi kembali dirinya di otaknya berulang kali.

Namun——

"Hyii......!?"

Shidou melebarkan matanya dalam keterkejutan. Hanya saat mereka akan mencapai pertigaan, Kurumi tiba-tiba memegang tangan Shidou.

“Bagaimana ini bisa terjadi&mdah;—”

Kotori mengeluarkan teriakan keterkejutan, yang sama.

Tapi kejanggalan ynag Kotori rasakan tidak bisa dibandingkan dengan apa yang Shidou rasa saat ini. Telapak tangan kanannya, diselimuti dalam kelembutan, kerampingan dan jari-jari yang sedikit dingin, menggunakan menit-menit paksaan pada tangannya. Suatu khayalan yang tekanannya belum cukup kuat. Rasanya seolah-olah hidungnya akan mimisan jika dia menjadi tidak terlalu peduli.

"Ku, Kurumi......?"

Namun ini bukanlah CG tapi kenyataan, Shidou memutar kepalanya secara mekanis seperti robot, berbicara setelah banyak kesulitan

"Ap, apapapapapapapa yang harus kulakukan sekarang......?"

Memutar kepalanya untuk melihat, Kurumi yang sedang memegang tangan kanan Shidou, melihat kebawah dengan malu-malu, memutar wajahnya ke arah lain.

“Seperti yang saya duga......Saya menyusahkanmu, ya ,kan?”

"......!! Ti, tidak......sama......sekali."

Dengan kata-kata Shidou, Kurumi menenangkan bahunya yang terlihat ringan.

“Ternyata, Shidou-san benar-benar baik.”

Mengakhiri kalimatnya, Kurumi tersenyum dengan malu.

"T, tidak......"

——Ini terasa seperti, aku tak tahu harus melihat ke mana saat ini. Mata Shidou memenuhi sekelilingnya. Kesadarannya mulai kacau. Kau tak boleh. Kau tak boleh Kurumi. Kurumi-chan benar-benar seorang malaikat. Seolah-olah menyerang otaknya dengan terus-menerus.

"——Hey, Shidou-san."

Mulut kecil Kurumi membelah seikit

"Ada......apa?"

“Saya punya sebuah permintaan untuk ditanyakan pada Shidou-san. ......Maukah kamu mendengarnya?”

Perasaan yang aneh. Seolah-olah selama Kurumi memohonnya, dia akan menganggukkan kepalanya secara tidak sadar dan menyetujuinya.

"Aa, aah——”

Namun, pada saat itu.

"Nuwaaa......!"

"......Ss."

Bersamaan dengan teriakan itu, suara yang berisik berbunyi di belakang mereka. Kelihatannya seperti lemari alat-alat kebersihan yang ditempatkan di koridor telah terjatuh. Sapu dan pengki berserakan dimana-mana. Terlebih lagi, dua murid yang nampaknya menjadi pelakunya, terjatuh ke tanah dalam setumpuk.

"To, Tohka......Origami!?"

Shidou hanya bisa berteriak. Itu benar, tidak diragukan lagi mereka adalah Tohka dan Origami.

"Ara ara? Apa yang kalian berdua lakukan di sini?"

Ketika Kurumi memegang tangan Shidou, memiringkan kepalanya dalam keheranan. Melihat pemandangan tersebut, Tohka dan Origami berdiri.

“I, Ini tentang itu! Meskipun Shido mau membawa Kurumi keliling sekolah, itu......masih ada beberapa hal harus yang diselesaikan, pernahkah kau mendengarnya!”

“——Tokisaki Kurumi, berkeliling sekolah tentu tidak membutuhkan tindakan memegang tangan. Lepaskan sekarang.”

"! Ya, itu benar!"

Tohka dalam perbuatannya yang jarang setuju sepenuhnya dengan kata-kata Origami, menganggukkan kepalanya dengan kuat.

"Ah......"

Ketika seseorang sudah menunjukkannya, Shidou lalu menyadari bahwa tangannya masih dipegang. Mencoba melepaskannya dengan terburu-buru——Namun, Kurumi mengambil kesempatan untuk menambah kekuatan ke dalam jarinya, membuatnya mustahil untuk dilepaskan. Kurumi mengintip ke arah Shidou sebelum melihat ke arah kedua gadis tersebut, dan mulai berpura-pura.

“Sebenarnya saya telah, mengidap penyakit anemia berat. Kemudian Shidou-san yang baik ini memegang tangan saya. Saya mohon jangan salahkan Shidou-san.”

Setelah mendengarnya, Tohka dan Origami memutar pandangan mereka pada Shidou. “Benarkah itu?” terkirim bersama dengan pandangan mereka.

"Eh, eeeehh......Itu, yah, um......"

Dia tidak tahu mengapa, tapi dia merasa keadaan ini akan jadi yang terbaik untuknya terus bersembunyi dari mereka, Shidou menjawabnya dengan tidak jelas.

Dan setelah itu, tiba-tiba Origami jatuh berlutut di lantai.

"! Origami! Ada apa denganmu?"

Shidou terkejut dari kejadian yang tiba-tiba ini.

"Anemia."

"............"

Wajah Shidou berkedut, keringat mengalir dari keningnya.

"Saya tidak bisa jalan sendiri."

"............"

"Seorang yang baik."

"......Oo, oh."

Shidou, menahan tangan kirinya yang bebas.

“Ada apa dengan kalian berdua. Itu sangat lucu!”

Tohka melihat ke arah Kurumi dan Origami, memegangi kedua lengannya——

"——Ha!"

Menggunakan pandangan yang kedua ke arah lengan Shidou, ekspresinya tiba-tiba berubah.

"Shi, Shido! Aku juga mengidap anemia!"

"Benarkah......?"

"U,umu, sebenarnya, pantatku tidak memiliki banyak daging!"

"Tidak, sebenarnya itu bukan anemia......"

Ketika Shidou tersenyum pahit, Tohka memegangi lengannya ketika ia terlihat kacau.

"Ngo, ngomong, aku juga mau!"

Mengatakan itu, dia mencoba untuk memegang tangan Shidou.——Tapi, kedua tangannya telah diambil oleh Kurumi dan Origami.

"Guuuu......."

Tohka menunjukkan ekspresi seolah-olah dia akan menangis, berdiri tepat di depan Shidou, menurunkan pinggangnya seolah-olah dia ingin menerkam.

"Hey, hey——Jangan katakan——"

Pada saat ini, sebuah nada dering handphone berbunyi dari ketiadaan.

"——Halo."

Origami mengeluarkan handphone-nya dari sakunya, memulai percakapan. Meskipun Origami memberikan balasan yang tidak peduli, Shidou tidak mengerti mengapa Origami memandang tajam ke arah Kurumi.

"......Dimengerti.”

Dengan itu, dengan diam dia mengakhiri panggilan teleponnya.

“Ada sesuatu yang mendesak.”

Setelah Origami mengeratkan pegangannya pada tangan Shidou, dengan segan dia pergi. Seketika, Tohka mengambil tangan Shidou yang terbuka dengan erat.

"............"

Origami mengintip ke arah Tohka, kemudian menggunakan tatapan kebencian, melihat ke arah Kurumi dan melangkah pergi. Sebelum pergi, dia membisikkan sebuah kalimat ke dalam telinga Shidou “Hati-hati terhadap Tokisaki Kurumi.”.

"A, apa......?"

"Shidou-san? Apakah kita akan pergi?"

"Eh? Aa, aaaah......"

Atas saran Kurumi, Shidou meneruskan langkahnya dengan kedua tangannya masih dipegang. ......Tidak perlu dikatakan, pandangan dari sekitarnya telah meningkat.


Jam enam sore.

Shidou yang membawa Kurumi berkeliling sekolah untuk melihat fasilitas sekolah, dan juga Tohka yang setengah memaksa memaksa mereka untuk membiarkannya ikut pergi ke gerbang sekolah, berjalan di jalanan yang berwarna merah oleh matahri terbenam. ——Tentu saja, lengan Shidou sudah bebas.

“Yah, itulah semuanya. Apa kau paham?”

“Nn, terima kasih. ......Mulai sekarang, ini akan baik-baik saja jika hanya kita berdua.”

"Ha......haha."

Shidou memberikan senyum pahit kepada Kurumi ynag bercanda.

Bicara sebenarnya, Shidou sangat berterima kasih kepada Tohka. Dengan sebuah beban, itu membuat instruksi <Ratatoskr> lebih mudah, meskipun mereka masih pergi ke tempat kejadian seperti atap dan ruang kesehatan, tidak ada suasana romantis yang diciptakan.

Tidak, bahkan jika dia menaikkan ketertarikan Kurumi kepadanya, masih ada alasan yang harus dikhawatirkan...... Tapi bagaimana mengatakannya, jika dia dan Kurumi memasuki lokasi dengan suasana seperti itu, rasanya seperti dia akan dimakan.

Tentu saja Kurumi tidak membutuhkan ketertarikan khusus. Seperti——itu benar, seperti seekor karnivora, atau tumbuhan pemakan serangga.

"Tidak-tidak......"

Shidou menggoyangkan kepalanya pada pemikiran tersebut. Menggambarkan gadis-gadis seperti mereka adalah predator atau tumbuhan pemakan serangga, meskipun jika dia tidak mengatakan itu kuat-kuat itu terdengar kasar.

——Pada saat ini.

“Baiklah, Shidou-san, Tohka-san. Saya mau pulang dulu.”

Mendekati perempatan, Kurumi menunduk dan mengatakannya.

"Eh? Oo, oh......"

"Mu, bergitu ya? Yah sampai jumpa besok lagi ."

Saat Shidou dan Tohka melambaikan tangannya, Kurumi menghilang ke dalam matahari terbenam.

"——Aaah, aaah."

Setelah mengatakan selamat tinggal pada Shidou dan Tohka, Kurumi mengatakannya dengan kuat ketika melangkah di jalanan di bawah matahari terbenam.

”Saya masih belum bisa——dekat-dekat, saya tidak bisa menanggungnya. Butuh waktu lama bagi saya untuk menemukannya, saya masih mau menikmati kehidupan sekolah untuk beberapa lama lagi.”

Setelah bergumam pada dirinya sendiri, tubuhnya berputar dalam irama.

"......Ufufu, kesenangan ini, akan saya tinggalkan bagian terakhir untuk dinikmati nanti.”

Tiba-tiba——Kurumi yang sedang menari sepanjang jalan, menabrak sesuatu.

"——"

Memberikan tenagan ke kakinya, dia berusaha untuk tetap berdiri, melihat ke depannya. Terlihat sepertinya Kurumi telah menabrak punggung seorang pria. Pria yang terlihat jahat, mereka semuanya berkumpul di pinggir jalanan.

"Ara ara, saya minta maaf."

Kurumi menundukkan kepalanya dan mengatakannya, ketika mencoba untuk pergi. Namun,

“Hey. Tunggu sebentar, nona kecil. Itu salahmu karena tidak memperhatikan, jangan berpikir bahwa itu akan berakhir seperti ini.”

Seorang pria yang menabrak Kurumi memberikan senyuman jahat. Seperti sebuah tanggapan, teman-teman pria itu, berpencar dan mengelilingi Kurumi.

"Ara, ara?"

Kurumi menggoyangkan kepalanya dalam keheranan, salah satu dari pria itu bersiul.

“Hey hey, sepertinya dia tidak buruk. Tangkapan yang hebat?”

"Hey—hey—, siapa namamu? Aku mau berteman denganmu!” Seperti itulah, penjahat-penjahat tersebut terus melihat Kurumi secara keseluruhan, berbicara dan membual.

Aaah——Pada saat ini, Kurumi memahaminya.

"Onii-san——Jangan katakan, kamu mau melakukannya dengan saya?" Kurumi mengatakannya sementara tersenyum sedikit. Pria-pria itu terdiam selama beberapa saat, kemudian mulai tertawa dengan tangan mereka di dahi mereka

"Hey hey, dia bilang melakukannya. Berarti—. Ec——chi!"

“Tapi tidak apa-apa. Apa, kau juga suka tiper seperti ini?” “Nn. Sampai taraf tertentu. . ——Agar meninggalkan suanya yang kecil, bagaimana kalau kita mengganti lokasinya? Terlalu banya orang di sini.”

Kata-kata Kurumi menyebabkan mereka gempar, pria-pria tersebut memasuki sebuah lorong sambil mengelilingi Kurumi. Setelah memaksa Kurumi ke jalan buntu, pria yang telah Kurumi tabrak menunjukkan senyuman mesum dan mengulurkan tangannya.

“Baiklah......kalau begitu, aku tidak akan bersikap sopan sekarang.”

Tapi——Tangan yang diulurkan itu tidak menyentuh Kurumi, tapi berubah ke bawah sedikit demi sedikit.

"Ah? Apa yang kau lakukan. Jika kau tidak melakukannya, biarkan aku saja——"

Teman pria itu mengangkat bahunya dan mengatakannya. Tapi pria yang tidak menyentuh Kurumi, menghentikan kata-katanya dalam kepanikan.

“T, tidak! Tubuhku......!"

“Tubuhmu?”

Pada saat ini, teman-temannya juga memperhatikan.

Dari kaki Kurumi, bayanganya meluas dengan cepat, dan lengan putih yang tak terhitung jumlahnya tumbuh dari bayangannya——menarik tubuh pria itu ke dalam bayangan.

"......!? A, apa ini......!"

"U, uwaaaaaaa......!?" Semua orang mulai berteriak.

Namun, itu sudah terlambat.

"Ufufu, fufu."

Kurumi tersenyum simpul, saat bersamaan kaki semua orang ditangkap oleh lengan putih tersebut, tubuh mereka ditarik ke dalam bayangan sedikit demi sedikit.

“Yah, meskipun mereka adalah beberapa sampah yang biasanya tidak berharga untuk dimakan...... Tetapi sejak saya memiliki menu utama yang menunggu suatu saat nanti, kenapa tidak mencicipi sedikit untuk membuat lidahku terbiasa dengannya dahulu——Saya minta maaf.”

Kurumi meletakkan tangannya bersama dengan *Pa!*

Dengan cepat, teriakan-teriakan dari para pria tersebut menghilang seluruhnya. Kurumi menutup kelopak matanya seolah-olah dia menikmati sebuah makanan, merasakan perutnya dengan helaan.

——Saat bersamaan.

"......Ara?"

Berhadapan dengan perasaan mendadak yang menyerangnya, alis mata Kurumi berkedut.

Perasaan dari memegang seluruh tubuh seseorang yang terasa keseluruhan. Ditelan oleh seekor makhluk raksasa tanpa dikunyah sekalipun, kemungkinan itulah perasaannya saat ini.

Perasaan ini adalah bukan pertama kalinya ia merasakannya. Penghalang yang wizard modern gunakan dengan bantuan sebuah mesin yang disebut Personal Territory• Realizer. Meskipun diantara mereka orang ini adalah spesial. Itu benar, tidak mungkin kesalahan——Itu gadis itu.

"——Tch, terlambat satu langkah, huh?"

Seolah-olah mengkonfirmasi keragu-raguan Kurumi. Seorang gadis muda muncul di depan mata Kurumi.

Rambut diikat dalam setandan, gadis yang terlihat seperti siswa kelas menengah. Meskipun dia mengenaka pakaian kasual seperti jaket parka berwarna dan rok culotte. Keadaan udaranya, terasa berbahaya seperti binatang buas ganas yang mengejar mangsanya.

“Nampaknya kau makan dengan ganas lagi, <Nightmare>.”

"Ara ara, kau adalah......Takamiya Mana-san, benar?"

Kurumi memiringkan kepalanya sedikit dan mengatakannya, dengan tidak senang Mana mengeluarkan sebuah *Hump*.

“Meskipun itu patut dihargai untukmu karena mengingat namaku, kelakuanmu itu membuatku mau muntah.”

"Ara, Saya mohon maaf untuk itu."

Kurumi menundukkan kepalanya, meminta maaf dengan jujur.

“Namun, nama adalah sangat penting. Saya akan sangat tidak senang jika saya dipanggil <Nightmare> dan semacamnya. Bisa saya sarankan kau memanggil saya Tokisaki Kurumi?”

Saat Kurumi menyelesaikannya, Mana memiringkan alis matanya dalam jengkel.

“Karena itu sangat penting, karena itulah aku tidak berharap namaku disebut olehmu. Tepatnya karena ini penting sekali, karena itulah aku tidak mau memanggilmu dengan nama itu.”

"Itu terasa sulit."

"Diamlah, Spirit."

Pandangan Mana menajam.

Kulit Kurumi, terasa kaku.


Bagian 4[edit]

Setelah mengatakan selamta tinggal pada Kurumi, Shidou menemani Tohka ke supermarket terdekat untuk membeli bahan-bahan untuk mekan malam.

Tangan kanannya dipenuhi dengan tas plastik yang berat, mereka berjalan di jalanan ynag lebih gelap dari sebelumnya.

“Yah—kuyakin ini adalah hari bagus yang datang hari ini.”

Dengan wajarnya menujukkan senyuman. Itu benar. Hari ini mereka telah memasuki supermarket ketika dalam waktunya memberikan diskon, membeli daging dalam jumlah besar dengan 30% dari harga normalnya.

“Shido! Apa menu makan malamnya hari ini? Hamburger steak?

Beberapa minggu ini Tohka dipilih untuk memilih menunya. Ia dengan senangnya bicara dalam kesenangan

“Ah, aku memilih hamburger steak seperti biasa!”

Saat ini, suara Kotori datang dari transmitter yang masih dalam keadaan terhubung. Shidou, mengangkat bahunya dengan ringan, sudut mulutnya terangkat sedikit.

“Ah—Apa yang harus kulakukan?. Bukankah masih ada wortel rebus dengan serat ikan dan Sanshoku dunburi!”

“Mu, umu, meskipun menu itu tidak buruksama sekali, bisakah kita membuat hamburger steak?”

“Tunggu, apa yang kau bicarakan. Sejak kita menggunakan tangan kita pada adonan dagingnya, mari kita jangan bersungut-sungut dan menggunakan semuanya sekaligus!”

Saat Tohka mengatakannya dengan alis matanya mengerut bersamaan, suara Kotori datang dari transmitter tepat secara bersamaan. Di dpean, suara gesekan sepatu sport di aspal bisa terdengar. Shidou memutar kepalanya kehadapan arah tersebut.

"Nn?"

Di sana, dengan ikat ekor kuda dan sebuah tahi lalat sebagai pelengkapnya, seorang gadis yang seumuran dengan Kotori, berdiri di sana dengan mata melebar dalam keterkejutan.

Mengenakan jaket parka dan rok cullote. Sepatu sport putihnya, terlihat noda merah pada kedua sepatunya untuk beberapa alasan. ......Seperti, lumuran darah.

"......?"

Wajah yang tidak dikenal......mengira-ngira siapakah dirinya, Shidou memiringkan kepalanya.

Dia tidak mengerti mengapa, tapi ada yang sedikit dikenalnya......ini terasa seolah-olah mereka pernah bertemu di suatu tempat sebelumnnya.

Pada saat itu, Shidou memperhatikan bahwa gadis tersebut melihat tepat ke arahnya. Shidou hanya bisa memutar tubuhnya. Dia mungkin telah melihat sesuatu yang mengejutkan tepat di arah pandangannya.

Namun, tidak ada apapun di sana. Di samping dari jalanan yang ia gunakan untuk terus berjalan, ruang yang sama dengan tiang telepon juga tempat pembuangan sampah yang ditandai dengan jala.

Itu berarti, seseorang ynag gadis itu lihat, bisa jadi itu Shidou—

Pikiran Shidou berhebti pada poin ini.

"Nii"

Gadis itu membuka bibirnya yang bergetar.

"Nii?"

Shidou balik bertanya. Namun gadis itu tidak menjawab, malah dia berlari dan melompat ke arah dada Shidou.

"A......"

Layaknya seperti menggunakan tangannya untuk memeluk di sekitar bajunya, seolah-olah dia bergerak dalam-dalam, memeluknya dengan paksa.

Meskipun korbannya adalah Shidou dan penjahatnya adalah gadis itu, tidak ada sesuatu yang salah. ......Tidak, dalam keadaan semacam ini, mungkin saja sepenuhnya Shidou malah akan jadi seseorang yang ditangkap.

Namun, pikiran yang dibuat oleh Shidou, terganggu jadi beberapa jalur.

Gadis itu membenamkan kepalanya ke dalam dada Shidou, seraya berucap.

"——Nisama(Nii-sama)......!"

"Ha......Haaa!?"

Dengan cepat, jalanan juga anjungan <Fraxinus>, suara dari saudara kandung Itsuka dengan indahnya sama dengan satu sama lain


Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. penyakit kulit
  2. Bisa disebut kelompok(pernah bermain game online sejenis MMORPG contoh Dragon Nest)