Date A Live (Indonesia):Jilid 18 Fragmen 1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab Fragmen 1: Kenangan[edit]


"──Eh, Mio, kalau bisa, mungkin──"

Pada suatu hari, Takamiya Shinji menggumamkan beberapa kata yang membuat wajahnya memerah.

"Minggu besok, ayo pergi denganku, ke, ke, ke──"

Meskipun terbata-bata, ia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sebelum akhirnya membuka matanya.

"Ke... eh, maukah kau kencan denganku...!?"

Dengan mengumpulkan semua tenaga yang dimilikinya, ia mencoba yang sekuat tenaga untuk berbicara sambil menatap lawan bicaranya dengan wajah yang tenang.

Tetapi, orang yang berdiri di depannya tidak menjawab ajakannya.

Toh, itulah yang wajar terjadi. Di depannya, berdiri seorang anak laki-laki dengan wajah yang sama──tentu saja;yang berdiri di sana adalah Shinji sendiri.

Benar. Shinji sedang berada di kamarnya sendiri, berdiri di depan sebuah cermin untuk latihan bagaimana mengajak seorang gadis untuk pergi kencan.

".....Haah."

Bersamaan dengan keluhan nafasnya, Shinji akhirnya melemaskan bahunya.

......Walaupun ia sudah memikirkan ini tidak akan berjalan lancar, ini malah lebih buruk dari yang diperkirakan. Kalau ia sudah gugup ketika latihan di depan cermin begini, ada keraguan bisakah ia melakukannya ketika waktunya tiba.

Shinji, yang berumur tujuh belas tahun, baru saja menjadi murid kelas 2 SMA. Tetapi, mungkin karena sifat natural miliknya, ia tidak pernah hubungan yang dekat dengan gadis sebelumnya, apalagi mengungkapkan perasaannya ke seorang gadis.──Gampangnya, ia tidak memiliki pengalaman dalam hal seperti ini.

"........"

Bukan begitu──Shinji menggigit bibirnya.

Memang, Shinji belum pernah mengajak seorang gadis pergi berkencan. Tapi, perasaan yang memotivasinya sekarang ini bukan suatu efek dari tiba-tiba jatuh cinta.

Hanya dengan memikirkan wajahnya membuat hati Shinji melayang-layang.

Hanya dengan memanggil namanya membuat Shinji susah bernafas.

Kalau itu untuknya, Shinji merasa ia bisa melakukan apa saja.

Sebagai seorang siswa SMA yang normal, setidaknya ada satu atau dua gadis yang menarik perhatiannya. Bahkan ada saat-saat ketika ia merasa ingin memiliki Senpainya yang cantik atau hatinya berdegup kencang karena salah satu teman kelasnya.

Tapi jika memikirkan kembali, perasaan seperti itu tidak bisa dikatakan cinta.

"Ah──tapi ini pastinya, cinta."

Takamiya Shinji, di umurnya yang terlambat ini, menemukan cinta pertamanya.

Selagi ia mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri, ia memperbaiki sudut posisinya yang dipantulkan cermin.

"──O-oh, pagi Mio. Cuacanya bagus ya. Apa kau mau jalan-jalan sebentar denganku?"

Walaupun caranya berbicara lebih lancar dari sebelumnya, Shinji merasa ada yang salah.

Ini tidak ada bedanya dari ajakan biasanya untuk pergi berbelanja. Selain pergi berbelanja, ini bukan seperti Shinji dan Mio pernah pergi berduaan sebelumnya. ......Tidak, kalaupun ada yang menanyakan, Shinji juga tidak begitu tahu perbedaan antara kencan dan dua orang pergi bersama-sama. Tetapi ketika dihadapkan dengan contoh-contoh sebelumnya, Shinji berharap Mio merasa bahwa ini adalah sebuah 'kencan' dengan Shinji.

Walaupun itu memalukan, ia tidak bisa menghindari penggunaan kata 'kencan' lagi. Shinji mengatur nafasnya selagi ia menatap matanya sendiri di cermin.

"H-hei, Mio. Lain kali, maukah kau pergi ke.... ke-kencan denganku?"

Entah mengapa, bahkan dirinya sendiri tidak tahu mengapa, ia berbicara dengan menggunakan nada hormat. Shinji berdehem kecil sebelum kembali melanjutkan.

"Mio, maukan kau pergi kencan denganku?"

Mungkin, karena latihannya, Shinji perlahan-lahan terbiasa untuk mengajaknya. Terdorong karena kemajuannya ini, Shinji lanjut berbicara dengan ekspresi terus terang.

"Mio, ayo pergi kencan."

“──Un.”

Tiba-tiba.

Tepat ketika Shinji menyelesaikan kalimatnya, ia mendengar sebuah suara dari arah belakangnya.

Sesaat, karena terlalu serius latihan, Shinji merasa ia menciptakan seorang gadis dengan imajinasi di kepalanya. Tapi──suara tersebut dikenal olehnya dan terdengar jelas.

"....."

Shinji memutar tubuhnya secepat mungkin.

Lalu, di hadapannya berdiri seorang gadis yang sangat-sangat cantik, yang tampaknya telah berdiri di sana agak lama tanpa sepengetahuan Shinji.

"Mio....!"

"Un, ada apa, Shin."

Sambil bertanya, ia sedikit memiringkan kepalanya dengan mata penasarannya. Itu benar;dialah cinta pertamanya Shinji, gadis yang dipanggil Takamiya Mio.

"Su-sudah berapa lama kau berdiri di sana.....?"

"Baru saja──ngomong-ngomong, Shin, kapan kita pergi?"

"Eh......!? A-Apa maks....?

"Jadi, kapan kencannya?"

".....!"

Mendengar itu, Shinji menahan nafasnya.

Tapi, entah bagaimana ia masih bisa menggumamkan beberapa kata dari mulutnya.

"Ah, itu.....mi-minggu besok, bagaimana?"

"Baiklah. Aku menantikannya──ah, oh iya, Mana memanggilmu di bawah.'

Begitu Mio selesai berbicara, ia tersenyum senang sebelum meninggalkan kamar Shinji.

"............"

Sementara Shinji menatap dengan kosong punggung Mio dari kejauhan, ia jatuh dengan perlahan di tempat.