Date A Live (Indonesia):Jilid 2 Bab 4

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 4: Berbagai Permintaan di Kediaman Tobiichi[edit]

Bagian 1[edit]

“Di sini... tempat bertemunya kan?”

Shidou sedang memegang kantong kertas berisi kue-kue dengan tangan kirinya, sementara dengan tangan kanannya, sebuah peta yang tergambar di kertas memo. Setelah mengeluh dengan wajah murung ia mendongak ke gedung apartemen bertingkat tinggi itu.

Untuk menenangkan diri dari kegugupan ia menepuk dada, “Ini pekerjaan, jadi mau gimana lagi.”, seraya mengambil nafas dalam-dalam.

… namun, bagaimanapun juga.

“Kenapa aku jadi seperti pencuri begini…?”

「Tidak ada pilihan lain. Cuma Shidou satu-satunya orang yang bisa diundang masuk ke kediaman Tobiichi.」

Saat Shidou komplain, dari intercom telinga kanannya ia mendengar suara Kotori.

Benar—Shidou baru saja tiba di rumah Tobiichi Origami, di sebuah apartemen.

Dari foto-foto waktu Yoshino lostmenghilang yang telah diperiksa sedemikian teliti—mereka berhasil mengetahui bahwa sebelum Origami kembali ke markas, dia memungut boneka itu dan membawanya pulang.

Satu-satunya cara untuk mendapatkannya kembali adalah, dengan berkata “Tobiichi, boleh aku bermain ke rumahmu?”

Ia menanyakan ini padanya beberapa hari lalu, dengan begitu ia diundang datang ke rumahnya.

“... ngomong-ngomong, pada dasarnya apa perlu aku diundang ke sini? Kalau cuma mengambil kembali satu boneka, seharusnya itu pekerjaan yang mudah bagi <Ratatoskr>—”

「... kami sudah mencobanya dari awal」

“Eh?”

Mendengar kalimat bercampur keluhan tersebut, Shidou memiringkan kepala.

「Yang mau kukatakan, walaupun kami sudah mencoba menyusup tiga kali beberapa hari yang lalu, semuanya berakhir dengan kegagalan—di kamarnya terdapat sinar laser infrared, semprotan gas air mata, bahkan di sudut-sudut penting kamarnya terpasang sentry gun[1]... enam anggota dari divisi ahli mesin kami dibuat masuk ke rumah sakit. Yang benar saja, gadis macam apa yang sedang kita hadapi ini?」

“Ha, haa…”

「Tentu mungkin saja kita dapat mengambilnya dengan memaksa masuk lewat jalan kekerasan tapi—kalau kita mendapat kehormatan untuk diundang… maka itu pilihan yang lebih baik, bukan?」

“... aku mengerti.”

Bagi Shidou yang pada dasarnya seorang pemalu, hal semacam ini sangat enggan dilakukannya, tapi … ketika ia melihat kegelisahan Yoshinon, ia tidak dapat berkata-kata.

Tambah lagi—bagi Shidou sendiri, ada hal yang ingin ia diskusikan dengan Origami.

Dan, ada satu hal lagi yang menggelisahkan Shidou—Shidou bertanya pada Kotori.

“Ngomong-ngomong… bagaimana Tohka?”

「Sama saja. Dia masih mengunci diri di kamar.」

“... begitu ya.”

Shidou menggaruk pipinya dengan gelisah.

Beberapa hari lalu, setelah melihat Yoshino yang diundangnya ke rumah, kondisi Tohka masih aneh.

Tidak, bukan berarti dia terus menerus mengunci diri di kamar seperti pada terakhir kali; dia menghadiri sekolah seperti biasa namun entah kenapa Shidou merasa Tohka menghindarinya.

Kemudian setelah ia menyuarakan pertanyaan itu, ia mengendalikan diri.

Itu memang masalah yang bisa membuat sakit perut tapi yang satu ini lebih penting untuk sekarang.

“—Baiklah.”

Shidou memantapkan diri, menghadap pintu apartemen ia-pun melangkah maju.

Pintu otomatis terbuka, dan di mesin yang terpasang dekat pintu masuk, ia mengetikkan nomor rumah Origami.

Setelah itu, ia langsung mendengar suara Origami.

“Siapa.”

“A-ah… ini aku, Itsuka Shidou.”

“Masuk.”

Segera setelah berkata demikian, pintu otomatis di jalan masuk dalam gedung-pun terbuka.

Shidou dengan ragu-ragu memasuki apartemen, dan menaiki lift enam lantai ke atas, dengan begitu ia sampai di nomor kamar yang ditujunya.

“... nah, sesuai rencana.”

「Ya, serahkan pada kami.」

Setelah ia berkata, Kotori menjawab dengan kalimat tersebut.

Sekarang ini, melayang di dekat Shidou, sebuah kamera <Ratatoskr> berukuran sangat kecil, sebesar seekor serangga.

Rencana mereka adalah—selagi Shidou mengalihkan perhatian Origami, kamera tersebut akan berlalu-lalang melakukan pencarian.

“... fuu.”

Dan setelah menarik nafas dalam sekali lagi, ia membunyikan bel.

Maka, dengan segera—seolah Origami sudah menunggunya dari dalam, pintu tersebut terbuka.

“H-hai Tobiichi. Maaf aku mendadak begini—”

Shidou dengan ringan mengangkat tangan untuk menyapa—dan membeku. Ia menjatuhkan kantong berisikan kue-kue yang dibawanya di tangan kiri, *plak*, suara yang mengikuti umpama menandakan kue tersebut tidak lagi bisa dinikmati kelezatannya seperti yang sudah selayaknya.

Alasannya sederhana—pakaian Origami.

Memang di kediaman Tobiichi, adalah kebebasannya untuk mengenakan apapun yang diinginkannya. Itu bukanlah hal yang bisa dibantah oleh Shidou.

Hanya saja yang ini—di luar dugaannya.

Sebuah one piece berwarna biru tua dengan celemek berumbai terpasang. Dan di kepalanya terdapat sebuah hiasan kepala yang lucu.

Ya, dari kepala sampai lutut, dia mengenakan kostum maid komplit.

Dari semua orang, dia, si jenius nomor satu sekolah. Sang es abadi, Miss Tobiichi Cocytus[2] Origami.

“E-Errr… T.o.b.i.i.c.h.i.-s.a.n…?”

“Iya?”

Butiran-butiran peluh mulai bermunculan di wajah Shidou sementara ia berkata, namun Origami hanya menelengkan kepalanya sedikit. Mimik mukanya, seperti biasa, tanpa ekspresi layaknya sebuah boneka.

Begitulah kondisi Origami sekarang ini.

Sejujurnya, dalam hati Shidou menaruh harapan pada skenario fana semacam “Saya saudara kembar Origami, pecinta cosplay Irogami-chan!”, namun harapannya hancur seutuhnya.

“Ti-tidak… pakaian macam… apa itu?”

Origami memandang ke bawah, ke pakaiannya dengan penasaran, dan setelah itu, memiringkan kepalanya sekali lagi.

“Tidak suka?”

“Bukan… bukan itu maksudku…”

Daripada dibilang tidak suka, sebenarnya ia menginginkannya lebih dari itu, tapi ia malu mengutarakannya dengan kata-kata.

…entah mengapa, ia tidak mampu melihatnya secara langsung lagi. Dengan muka memerah, matanya jelalatan ke sana-sini agar menghindar memandangnya.

“Masuk.”

Tanpa memperlihatkan tanda-tanda peduli dengan hal itu, Origami mempersilakan Shidou masuk ke dalam.

“Ma-maaf mengganggu…”

Shidou memungut kantong kertas yang terjatuh di lantai, lalu menutup pintu dengan jari-jari yang sedikit gemetar memegang kenop.

“...?”

Kemudian, Shidou mengernyit. Tiba-tiba dari intercom terdengar static-noise.

Seraya ingin menanyakan Kotori apabila ada yang aneh, ia mengetuk intercom. Dengan begitu, ia mendengar sedikit suara Kotori yang bercampur dengan static.

Ku…h, jangan-jan——jamming——Shi—, tidak bis——connec——, bagaima——

Sampai situlah ia mendengarnya kemudian, *pok*, suara tersebut menyela, dan ia tidak lagi dapat mendengar apapun.

“...!? O-oi…”

“Ada apa?”

Selagi dia sedang bertanya ke arah intercom tersebut, Origami di hadapannya membalikkan badan.

“Ah… ti-tidak… bukan apa-apa.”

“Oh.”

Origami berbalik kembali ke arah semula, Shidou melepas keluhan dalam-dalam.

Ia tidak tahu kenapa, kelihatannya transmisinya tidak tembus sampai sini. Kalau seperti itu jadinya, mungkin kameranya juga tidak berfungsi.

Tidak… andaikan secara kebetulan kamera itu tetap berfungsi, situasinya sama saja mengingat mereka tidak dapat mengirimkan kembali informasi apapun pada Shidou.

Intinya—sekarang ia tidak punya pilihan selain dengan sukses menyelesaikan misi ini seorang diri.

“... oi oi, yang benar saja”

Setelah Shidou menggerutu dengan volume suara yang tidak terdengar oleh Origami, ia menggaruk poninya.

Tapi walaupun ia menyatakan ketidaksenangannya, hal itu tidak akan merubah apapun. Untuk memantapkan determinasinya, Shidou menelan ludah lalu mengikuti Origami.

Kemudian, Origami maju memasuki ruang tamu.

“...nn? Bau ini…”

Dan, di saat ia memasuki ruang tamu, ia mencium aroma manis semerbak.

Walaupun, sepertinya itu bukan bau makanan. Dengan kata lain, ini adalah—

“Tobiichi? Kau pakai pewangi ruangan?”

“Ya.”

“He, heee…”

Bagaimana ya, ini agak diluar dugaan. Mungkin ini cuma kesan yang dibuat-buat, tapi Tobiichi Origami tidak terlihat seperti tipe orang yang tertarik dengan hal-hal atau kenikmatan semacam ini.

Shidou merasa telah melihat sisi lain yang belum pernah Origami perlihatkan ke teman sekelasnya sebelumnya, ini membuatnya agak segan.

… tapi, ia bertanya-tanya.

Aroma ini, ketika ia menciumnya sedikit, kepalanya sedikit melayang-layang, seolah apabila ia kehilangan konsentrasi, seluruh kesadarannya akan lenyap… ya, benar-benar produk yang manjur untuk menciptakan suasana santai.

“Duduk.”

“Ah, aah…”

Setelah disuruh, ia duduk di depan sebuah meja kopi yang ditaruh di tengah-tengah ruang tamu.

“………”

Kemudian, setelah melihat Shidou duduk, Origami duduk pula.

Tepat di samping Shidou.

“Eh…?”

Normalnya, ia pikir Origami seharusnya duduk di seberangnya, namun di kediaman Tobiichi mungkin ini adalah hal yang biasa.

Melihat wajah segar Origami, ia mulai bertanya-tanya apabila akal sehatnya benar atau salah, Shidou mulai ragu-ragu dengan hal itu.

“Err…”

“………”

“Ini…”

“………”

Beberapa saat pun berlalu. Shidou mengangguk-angguk setuju.

—un, begitu rupanya. Kelihatannya, bagi keluarga Tobiichi, posisi ini adalah posisi yang wajar. Tidak ada peluh yang mengaliri pipinya. Karena hal ini adalah hal yang sudah sewajarnya.

Tapi apa mau dikata, dengan segera situasi menjadi canggung, setelah merasa kalau ialah yang perlu memulai percakapan, Shidou membuka mulut.

“To-Tobiichi?”

“Ada apa?”

“Tidak, cuma satu pertanyaan simpel… Tobiichi, kau tinggal di sini sendirian?”

Origami, membuat isyarat kecil untuk membenarkannya.

“... be-begitu ya.”

Mungkin begitu… sesuai dengan yang ia pikirkan sebelumnya, tapi setelah hal tersebut dibenarkan, fakta bahwa ia datang ke rumah seorang gadis, gadis yang tinggal sendirian, jantungnya mulai berdegup dengan kencangnya.

“Se-sejak kapan kau hidup sendirian?”

Ketika Shidou bertanya, seraya menambahkan Origami berkata.

“Segera setelah orang-tua saya meninggal 5 tahun lalu, saya tinggal bersama nenek untuk sementara tapi dekat-dekat masuk SMA, saya pindah ke sini sendirian.”

“Hidup sendirian sejak SMA ya… apa tidak masalah?”

“Tidak juga.”

Dia berkata dengan gerakan otot muka yang minim sambil terus-menerus menatap wajah Shidou. Dan kau tahu, jarak mereka dekat sekali.

… entah mengapa, walaupun mereka hanya bercakap-cakap biasa, ada atmosfir aneh yang timbul.

Shidou mencoba menyembunyikan rasa malunya dari Origami, ia menggaruk bagian belakang kepalanya secara berlebihan.

“Tidak, haha, ha… tapi sudah kuduga kau memang hebat. Cepat atau lambat aku pun akan mulai hidup sendiri juga tapi, kalau aku tinggal sendiri, baik tentang makanan maupun bersih-bersih sepertinya akan jadi masalah.”

“Tidak masalah.”

“Eh?”

Pada Origami yang terang menyatakan itu, ia mengarahkan wajah padanya dengan bertanya-tanya.

“Saya yang akan melakukannya.”

Tubuh Shidou pun membeku dalam sekejap.

“Uh…!? Err… itu artinya…”

Namun, lebih cepat dari Shidou berbicara, Origami berdiri dari tempatnya.

“Eh…?”

“Tunggu sebentar.”

Dan begitu saja tanpa suara langkah kaki, dia berjalan menuju dapur.

Kelihatannya dia pergi ke dapur untuk menyiapkan teh.

Shidou termenung memandang punggung Origami yang sedang berdiri di dapur… kemudian seraya menghela nafas, “haaa”, Shidou menggelengkan kepala sambil bergumam.

“... oh ya, bonekanya…”

Ia bergumam pelan, lalu menjatuhkan pandangannya ke seisi ruangan.

Perangkat mebel lengkap nan sederhana berwarna cerah dengan manis tersusun rapi di dalam ruangan.

Jangankan kecewek-cewekan, ia malah tidak merasakan bahwa ruangan ini dipakai untuk sehari-hari. Ruangan ini mirip dengan desain interior model rumah.

“... nn.”

Setelah memindai sekilas, ia tidak mendapati apapun yang mirip dengan boneka.

‘Apapun’ sendiri terbatas jumlahnya di ruangan ini, padahal ruang dalam struktur rumah ini luas, untuk menemukannya akan bermasalah.

Tambah lagi, masalahnya adalah bagaimana mengecoh mata Origami. Mungkin memang sepertinya ia perlu mulai mencari dengan seksama selagi Origami membawa keluar penampannya. Tidak, justru kebalikkannya; Shidou harus berpura-pura mengambil penampannya keluar lalu—

Dan dengan begitu, Origami kembali membawa penampan dengan piring kecil dan cangkir teh berikut gula dan susu.

Tanpa berkata, dia menyusun semuanya di atas meja.

“Silakan.”

Berkata demikian, seraya mendekati Shidou dan sekali lagi duduk di sampingnya… ia bertanya-tanya mengapa, dibandingkan dengan sebelumnya, jarak di antara mereka jauh lebih dekat kali ini.

“Ah, aah. Terima kasih.”

Bau yang berbeda dari pewangi, samar-samar harum shampoo Origami memasuki rongga hidungnya.

Setelah menyeka keringat yang mulai bermunculan sendirinya menggunakan lengan bajunya, ia mengulurkan tangan ke cangkir teh.

“...!?”

Hanya saja, sebelum ia menyentuh cangkir itu, ia mengernyitkan alis secara naluriah.

Isi cangkir teh Origami dan Shidou, jelas sekali berbeda.

Melihat cangkir Origami, isinya jernih, coklat kemerahan transparan.

Dan yang satu lagi yakni milik Shidou, ia tidak dapat menebak apa yang ada di dalam cangkir itu sampai akhirnya mengendap, cairan yang serupa dengan lumpur.

Ia tadinya mengira sesaat itu merupakan kopi namun… ia salah.

Untuk mencoba mencari tahu apa cairan ini, ia menurunkan wajah untuk mendekatinya, pada saat ia sudah dekat, bau kuat menyengat yang setara dengan senjata biologis atau limbah nuklir, memulai serangan di dalam rongga hidung Shidou.

“—Enfrt!?”

Secara naluriah, badannya melenting kebelakang layaknya sebuah busur.

“Ada apa?”

“Ad-ada apa… ini, ini apaan!?”

“Teh, dari luar negeri.”

“Ke-kelihatannya negeri yang luar biasa ya…”

Shidou mengernyit sambil menjepit hidung dan melirik cangkir itu lagi. Nalurinya untuk bertahan hidup bersikeras memberitahunya untuk menolak minuman tersebut—Bisa jadi, kalau ia meminumnya ia akan diakui sebagai seorang dewasa, bisa jadi seperti itu.

“Ah… Tobiichi? Aku tidak enak sudah membuatmu menyiapkan sesuatu seberharga ini. Aku, sepertinya tidak bisa meminum—

Namun, walaupun Shidou menahan diri, Origami memajukan cangkir teh tersebut lebih mendekati Shidou.

“Tidak… Tobiichi?”

“Silakan.”

“Tidak-tidak...”

“Silakan.”

“Err, ini”

“Silakan.”

“........................ itadakimasu.”

Entah kenapa, ia kesal dengan dirinya sendiri. Pada akhirnya tanpa menolak, Shidou menghadap cangkir itu lagi.

“.........”

Tapi, ia pikir kalau ia meminumnya begitu saja, rasanya akan aneh.

Walaupun cuma sedikit, Shidou ingin membuat rasanya lebih ringan. Ia mengambil susu di atas meja dengan tangan satu lagi, kemudian menuangkannya ke dalam cangkir berisikan cairan tersebut.

… hasilnya, tidak larut.

Kedua cairan itu bersibak, dengan susu mengambang di permukaan teh — bagaikan minyak pekat yang dituangkan ke atas permukaan samudra. Kebalikan dari yang ia harapkan, ia merasa situasi ini justru semakin parah.

“... eei, apa yang terjadilah!”

Sesudah Shidou membulatkan tekad, ia mengangkat cangkir, membiarkan cairan tersebut mengalir ke kedalaman kerongkongannya.

“—Obufuuu…h!?”

Ia tahan dengan aromanya, akan tetapi rasa yang menyengat itu menyiksa bintil pengecapnya.

Mungkin kesempatan berikutnya ia mencoba ini kembali dengan mulutnya tidak akan pernah datang, tapi apabila ia meminum asam klorida, rasanya bisa saja sama, seperti itulah yang ia kecap sekarang. Tidak pahit ataupun pedas, namun menyakitkan semata.

“A…, air…!”

Sayangnya, tidak ada air sejauh tangannya menjangkau.

“............!”

Shidou dengan segera merobek kotak kue yang dibawanya, kemudian menjejalkan beberapa kue kering berbentuk manusia yang sudah pecah, dari [Tenguu Meika][3], ke mulutnya.

Rasa manis yang menyenangkan melebur di dalam mulutnya. … Shidou kehilangan seluruh tenaganya dan jatuh terlentang ke belakang, sebelum akhirnya menarik nafas.

“Haa…, haa…”

Dan—

“… ah?”

Shidou menekan dadanya.

Entah mengapa, badannya panas sekali, rasanya seperti terbakar. … ia bertanya-tanya apakah suhu udara hari ini sedemikian tingginya.

Tambah lagi.

“.........”

Entah dengan alasan apa, Origami menaruh tangan di samping wajah Shidou yang menghadap ke atas karena terjatuh tadi. Tubuhnya menduduki bagian perut Shidou—dia membuat posisi menunggang.

“.........!? To, Tobiichi!?”

“Apa?”

Seolah-olah Shidou-lah yang berbicara aneh, dia menjawab dengan sikap yang tenang.

“Ti-tidak, apa yang…”

“Tidak boleh?”

“Ku-kurasa… tidak boleh.”

Selagi Shidou mencegah kepalanya dipeluk, entah bagaimana ia berhasil mengeluarkan kata-kata tersebut.

Entah bobot Origami yang sekadarnya, aroma yang hanya dimiliki anak gadis, sentuhan yang lembut, atau bunyi kersak pakaian maid-nya, situasi ini sudah gawat tanpa semua itu tergabung menjadi satu. Kalau Shidou rileks sedikit saja, mungkin Origami akan mengaktifkan Trap Card[4] padanya.

“Oh”

Sembari mengatakan itu, Origami mengedipkan mata.

“Kalau begitu, ayo barter.”

“Hah…?”

“Sebagai ganti saya menyingkir, cukup satu permintaan. Saya mau kamu menelannya tanpa syarat.”

“A-apa itu…?”

Setelah ia menelan ludah, Shidou bertanya.

Maka, Origami, jarang-jarang mengambil waktu sementara untuk ragu-ragu, melantunkan suara lembutnya.

“Yatogami Tohka, kamu memanggilnya ‘Tohka’.”

“Heh…? Aah… i-iya betul.”

Shidou menggangguk pelan. Memang benar.

Tidak, karena dari awal nama ‘Tohka’ adalah pemberian Shidou, itu sudah sewajarnya. Kalau membicarakan nama keluarga yang dibuatkan untuknya, itu ulah Reine.
DAL v02 215.jpg

“Tapi, kamu memanggil saya ‘Tobiichi’.”

“Ah, aah…”

“Tidak adil.”

Mengatakan itu, *pui* Origami memalingkan muka.

“He…? Itu, err…”

Shidou menimbang-nimbang tujuan Origami, tanda-tanda tanya berterbangan di kepalanya.

“Jadi maksudnya…? Apa aku harus memanggil Tohka dengan ‘Yatogami’ mulai dari sekarang? Aku tidak bisa membiasakan diri dengan hal itu…”

“.........”

Origami tanpa berkata apapun, mengencangkan tunggangannya, menambah bobot di perut Shidou.

Bobot seukuran seorang gadis biasa. Tidak benar-benar berat.

Tapi tetap saja, pertanyaannya bukanlah di situ. Merasakan uap panas yang hampir meletus dari telinganya, Shidou mengecam.

“Kalau… kalau begitu kau mau menyuruhku berbuat apa…!?”

Setelah Origami mengendurkan tunggangannya kembali, sembari memalingkan wajahnya sedikit, dia berucap.

“Saya mau, kamu memanggil saya ‘Origami’.”

“Err…”

“Tidak bisa?”

Origami berkata padanya.

Meskipun itu adalah suara vokal tanpa aksen seperti biasanya—walaupun sedikit, ia merasakan gaung kegelisahan yang tersimpan pada suara tersebut.

“Bukan… bukannya tidak bisa… kupikir.”

“Oh”

“………”

“………”

Kembali untuk beberapa saat, keheningan pun mengalir.

Situasi ini, Shidou sekalipun mengerti yang harus dia lakukan. … setelah batuk dan berdeham, ia menyuarakan.

“Errr… O-Origami.”

“………”

Setelah Shidou memanggilnya begitu, Origami mengangkat pinggangnya dari perut Shidou tanpa berkata apa-apa, kemudian berdiri di tempat.

Lalu tanpa ekspresi, *hop*, dia melompat.

“Hee…?”

Karena pemandangan yang surealis tersebut, Shidou yang turut berdiri, memandangnya dengan heran.

Namun Origami tidak menunjukkan kepeduliannya terhadap hal tersebut, dia sedikit membuka bibirnya.

“—Shidou.”

“…!”

Kalau diingat-ingat, mungkin ini pertama kalinya Origami memanggilnya demikian. … biasanya dia dipanggil dengan nama lengkapnya, ‘Itsuka Shidou’.

“O, ou.”

Entah kenapa ia merasa gatal ketika menjawab, dan sesudah demikian Origami *hop* melompat sekali lagi, dan tentu saja mimik mukanya tidak bergeming sedikitpun.

… kelihatannya, dia gembira.

Kemudian untuk beberapa detik, Origami menunduk seraya menutup mata, seolah tenggelam dalam pikirannya setelah mendengar namanya disebut, lalu perlahan dia menghela nafas.

Kemudian—

“Tunggulah.”

Entah dengan alasan apa tiba-tiba dia berkata seraya membalikkan badan.

“O… oi, Tobi—”

“………”

“…Origami, kau mau ke mana?”

Shower

Origami berbalik melihat Shidou sepintas, mengatakan itu saja sebelum meninggalkan ruang tamu.

“Huh…?”

Shidou yang ditinggal sendirian di ruang tamu, setelah bingung sejenak, akhirnya mengerti situasi tersebut, “Haafu” ia mengambil nafas dalam. Dengan begitu, sekali lagi ia rebah dengan punggungnya.

“Ah—”

Ia menaruh tangan di dada.

Jantungnya berdetak kencangnya bukan main.

Akan tetapi, ia tidak boleh begitu terus. Setelah beberapa detik, ia segera bangkit.

“Oh iya…! Ini kesempatan bagus untuk mencari boneka itu”

Oleh sebab pengalaman menggairahkan yang datang bertubi-tubi, ia hampir melupakan tujuannya hari ini, menemukan boneka itu.

Inilah celah yang dinantikannya—kesempatan sekali seumur hidup.

“Tapi kenapa dia… tiba-tiba shower?”

Ia memelintirkan lehernya, apa Origami keringatan atau semacamnya?

… tapi benar deh dia kurang berhati-hati. Kalau saja Shidou lebih berani, mungkin saja ia akan mengintip kamar mandi. Begitulah kelakuannya barusan, sepertinya Origami tidak terlalu peduli dengan hal-hal kecil semacam itu.

“... yah, tidak merubah kenyataan kalau aku terselamatkan.”

Shidou bangkit berdiri dan ia mulai memeriksa ruang tamu lebih teliti lagi dibandingkan dengan survey kilat sebelumnya.

“Tempat-tempat yang gampang terlihat jelas… tidak ada.”

Ia bergumam, seraya memelankan langkah kakinya, ia juga memeriksa isi lemari.

Kenyataannya, mungkin lebih efektif seandainya ia mencari dengan cara menghamburkan semua barang dari dalam, layaknya penggerebekan rumah pencuri, tapi… jelas sekali ia tidak dapat melakukan hal semacam itu di sini.

Tujuan mutlaknya kali ini adalah mengambil kembali boneka Yoshino, akan tetapi jangan sampai Origami menyadari tujuannya sebisa mungkin.

“... ternyata susah ya mencari sambil merapikan kembali semuanya ke posisi semula…”

Karena isi semua laci tersebut tersusun sedemikian cermat, kalau susunan ulangnya terlihat janggal sedikit saja Origami akan menyadarinya dengan segera.

Tapi, kalau ia selalu memperhitungkan hal itu ia tidak akan menyelesaikan apapun. Dengan menyusun kembali ke tempatnya sedapat mungkin, ia melanjutkan pencariannya.

“Sepertinya bukan di ruang tamu… artinya…”

Shidou mengalihkan pandangan ke dapur di seberang meja makan.

Ia kira kemungkinan adanya di sana rendah, tapi kemungkinan boneka tersebut digunakan sebagai cempal tidak nol. Mungkin ide bagus untuk melihat-lihat sekilas, siapa tahu.

“Err…?”

Saat ia tiba di dapur, ia mencari secara sistematis mulai dari lemari sampai ke bawah wastafel, semuanya ia cek.

“Nn… ini?”

Dan, alis Shidou berkedut.

Di dalam tempat sampah pada bagian terdalam dapur, ia mendapati beberapa botol kosong.

“Apaan ini…?”

Ia memiringkan kepala, dengan tangan mengambil botol-botol itu.

Deadly Red Viper

Besar Tiada Bandingan。Kuro Tengu

Suppon Gold 1000

Maka no Maryoku

Etc., etc…

Jejeran minuman berenergi[5] kualitas tinggi, entah berapa ribu yen harga seluruhnya.

Dilihat bagaimanapun, semua ini bukanlah produk yang layak dikonsumsi gadis SMA sebagai pengganti nutrisi.

Shidou menggaruk pipi.

… yah, memang mustahil tapi, ia membayangkan, jika semua ini dituangkan ke dalam sebuah panci dan direbus, mungkin akan menghasilkan cairan dengan rasa yang luar biasa menyengat.

Sambil lalu, apabila diberikan pada seorang pria untuk diminum, itu tidak hanya membuat seluruh tubuhnya bersinar keemasan memasuki hyper mode, bagian bawah tertentu dari tubuhnya mungkin akan memerah akibat panas yang ditimbulkan.

“Ya-yah, ikut campur dalam selera orang lain itu melanggar privasi.”

Yah, melakukan penggerebekan rumah seorang gadis juga sebenarnya merupakan pelanggaran privasi tingkat tinggi, jadi Shidou tetap tidak terdengar meyakinkan sama sekali andaipun ia mengatakan sesuatu tentang hal itu.

“Sudah kuduga, bukan di dapur. Berarti tempat selanjutnya—”

Shidou menaruh kembali botol-botol obat itu ke tempat sampah, lalu mulai berjalan, sambil memusatkan perhatian pada jalan masuk ke ruang tamu.

Ia yakin bahwa di koridor, saat memasuki rumah namun sebelum ruang tamu, ada sebuah pintu, satu-satunya pintu di sebelah kiri.

Sudah lebih dari lima belas menit semenjak Origami pergi ke kamar shower. Merasa perlu mempercepat diri, Shidou bergegas menuju koridor.

Dan berjalan ke pintu terakhir tanpa berhenti—

“... uh.”

Baru setengah jalan, ia berhenti melangkah.

Tepat di depan pintu terakhir, terdapat sebuah pintu yang terhubung dengan kamar mandi, dari sana ia mendengar suara air shower memancur.

Detak jantungnya yang sudah memelan sedikit, segera mengencang kembali.

“... tenang, tenang.”

Ia mengambil waktu untuk menuliskan kata ‘人’ di telapak tangannya tiga kali dan menelannya[6], ia mencoba membayangkan Origami yang berkepala kentang, ia mencoba pula untuk menghitung bilangan prima untuk menenangkan diri

… sejujurnya, ia tidak sekalem itu.

Karena alasan tertentu hari ini, Berserker[7] di dalam kepala Shidou sedang liarnya. Apa sebenarnya sebabnya? Rasanya seperti terpacu karena minum bermacam-macam minuman berenergi.

Kalau ia tinggal di sini terus, ada kemungkinan ia akan melakukan hal yang gila.

Dengan tidak sabar Shidou menaruh tangan di pintu terakhir dan membukanya.

“... ini… kamar tidurnya.”

Di ruang enam tatami itu, tersusun tempat tidur dan lemari pakaian.

“... nn?”

Dan, segera setelah memasuki ruangan, Shidou bersuara ragu-ragu sambil menyipitkan mata.

… entah mengapa, ia merasakan sesuatu yang ganjil.

Apa karena ruangan ini terasa sempit…? Bukan, tapi—

“... anak itu, tidur di ranjang sebesar ini.”

Ya. Entah mengapa ranjang itu double-size. Berkat itu, ruangan ini kelihatan agak sempit.

Dan misterius sekali, dibandingkan dengan perabot lain tempat tidur ini masih terlihat baru. Yang dimaksud baru, sepertinya ini adalah produk yang baru saja dikeluarkan dari kemasannya belakangan hari ini.

“Apa dia belum lama membeli baru…? Tapi, tetap saja…”

Setelah berkata demikian ia bergerak menuju sisi bantal ranjang—kemudian memelintirkan kepalanya lagi.

Ranjang itu dapat disetarakan dengan penataan tempat tidur di hotel-hotel, di atas selimut yang terentang dengan indahnya, terdapat dua bantal yang disusun menyamping.

Tambah lagi, di sarung bantal tersebut, bordiran pesan ‘Tidak apa-apa’[8].

“.........”

Ia membalikkannya.

Di bagian belakang, tertulis ‘boleh saja’[9].

Tidak ada ruang untuk pilihan.

“........................”

Setelah kesunyian yang lebih panjang dibandingkan sebelumnya.

“Ja-jadi… di mana boneka itu…”

Karena ia tidak dapat mengerti tidak peduli seberapa jauh ia berpikir—pada akhirnya, Shidou berhenti memikirkannya.

Dan—di sana.

“Ah.”

Shidou dengan wajah menengadah bersuara pelan.

Di atas lemari pakaian tinggi yang terletak di sisi ruangan, terpajang sebuah siluet yang agak dikenalnya.

Sebuah boneka berbentuk kelinci dengan desain yang komikal—tidak salah lagi, boneka Yoshino.

“Jadi kau ada di tempat seperti itu ya…”

Dengan begini, sekarang ia dapat menyelamatkan Yoshino. Shidou menghela nafas sejenak.

Namun, di momen Shidou mengambil satu langkah menuju arah lemari tersebut, saat itu.

“...”

Dari luar ruangan, *klak*, ia mendengar suara semacam itu.

Itu bukan suara pintu biasa. Kemungkinan besar, suara pintu kamar shower yang dibuka.

Sepertinya, Origami sudah selesai shower.

“Gawat…”

Shidou dengan cepat mengambil boneka di atas lemari, menjejalkannya ke saku, kemudian memelankan suara langkah kakinya dan kembali ke ruang tamu.

Nyaris saja. Ia sampai pada waktunya. Perlahan Shidou menghela nafas lega.

Yang perlu dilakukannya setelah ini hanyalah menjaga terus boneka itu, dan menyingkir dengan aman.

Ia pikir… hal terakhir yang perlu dilakukannya itu… ia pikir tinggi sekali tingkat kesulitannya, ia berharap itu cuma imajinasinya.

“Ah… benar.”

Tiba-tiba, ia mengucapkan kalimat yang kedengarannya adalah monolognya dalam hati.

Tujuan terpentingnya dalam mengunjungi kediaman Tobiichi, ia berhasil melakukannya.

Namun Shidou, masih punya satu tujuan pribadi.

Dari awal ia diundang masuk ke dalam sampai sekarang semuanya mengikuti cara main Origami, dan ia-pun tidak berhasil mengendalikan alur percakapan… tapi tidak ada kesempatan selain sekarang.

Sekali lagi—ia ingin mencoba berbicara dengan Origami.

Mengenai para Spirit.

Dan, begitulah, seolah menyela jalan pikirannya, Shidou membuka pintu ruang tamu. Kelihatannya Origami sudah kembali.

Shidou menelan ludah, *glek* sambil berkata ia menghadap Origami.

“H-hei Origami. Ada hal yang mau kutanyakan pa—”

Akan tetapi.

“da… uh!?”

Shidou menaruh pandangan pada Origami, dan tatapannya berhenti pada tubuhnya.

Kondisi Origami di ruang tamu saat ini, bukan mengenakan pakaian maid sebelumnya—sekarang tubuhnya telanjang terbalut handuk.

Tambah lagi, berhubung dia baru selesai mandi, handuk itu dengan anggunnya melekat pada badan, membuat lekukan tubuhnya tampak dengan jelas. Terlihat kecantikan yang sangat memikat.

“A, a-a-a…”

Tidak peduli ini rumahnya sendiri atau bukan, ini masih jam kunjungan, tambah lagi ada seorang pemuda sebaya di rumahnya, siapapun akan mengatakan, bahwa penampilannya ini terlalu abnormal.

“Apa?”

Namun ketika Origami berkata seolah itu hal yang sangat normal, dia memiringkan kepalanya, bertanya-tanya mengapa Shidou membeku.

“... uh! Aah, kau lupa mengambil baju gantimu? Ah, hahaha… kau ceroboh juga ya.”

Sementara Shidou tertawa datar, layaknya mesin yang belum diberi oli, ia berbicara melantur ke mana-mana.

“.........”

Namun tetap terdiam, Origami mendekati Shidou tanpa membunyikan langkah kaki—sama seperti sebelumnya, Origami berlutut dekat sekali dengan dirinya, Shidou kemudian merasakan hawa hangat dari situ.

“—!?”

Shidou pun terkejut dan menyentakkan bahu, ia lalu membuat jarak dengan Origami seraya melompat.

“...?”

Origami menelengkan kepalanya kebingungan.

“Ada apa?”

“Ke..., kenapa…”

Sambil berkata, Origami dengan mantap mendekatkan diri.

Shidou mati-matian berpikir—kemudian dengan segera ia berucap.

“O-Origami! Err—ada sesuatu yang mau kutanyakan padamu!”

Origami, berhenti setengah jalan.

“Apa?”

“Ah… aah, itu…”

Sekadar memastikan, Shidou mengetuk intercom-nya.

Tidak ada suara yang terdengar. Jalur komunikasi mereka terputus sepenuhnya.

Kalau sekarang, apapun yang ia katakan, tidak akan terkirim pada Kotori dan yang lainnya.

Setelah memantapkan keteguhan hatinya, Shidou membuka mulut.

“Mengenai itu… Origami. Kau—benci, para Spirit… iya kan?”

“………”

Saat Shidou berkata demikian, ia dapat merasakan perubahan suasana hati Origami.

Dia memiringkan kepalanya sedikit, sepertinya meragukan Shidou yang mengangkat topik tersebut.

“Kenapa?”

Origami menatap langsung mata Shidou dan bertanya.

Tentu saja. Sebenarnya yang Shidou katakan berada di luar konteks. Kalau saja koneksinya dengan <Fraxinus> terhubung, pasti ia sudah diomeli karena membuat Origami curiga karena topik yang sembarangan itu, karena ia bisa jadi malah membocorkan berbagai informasi.

Tetapi Shidou, tidak lagi dapat menahan diri untuk tidak bertanya.

Bagi Origami, Spirit adalah alasan dirinya kehilangan orang tua—dan sekarang, gadis ini menghunuskan pedangnya pada mereka.

“..., tidak, err—mengenai itu. Ba-bahkan ada orang-orang baik, di antara Spirit sekalipun… begitulah.”

“Mustahil.”

Tanpa berpikir sekalipun, hal tersebut disangkal.

“Hanya dengan kemunculannya saja, para Spirit merusak dunia. Hanya dengan ‘hadir’ mereka menghancurkan dunia. Itu kejahatan. Itu malapetaka. Mereka adalah musuh seluruh makhluk hidup.”

“Ya… yang kau katakan itu agak—”

“—saya, tidak akan pernah lupa.”

Kata-kata Shidou terputus di tengah.

Mimik mukanya, dan nada bicaranya, tidak berubah sedikitpun… namun ia bertanya-tanya, kenapa ia merasakan hawa dingin mengintimidasi dari Origami.

“Lima tahun lalu, Spirit yang merebut orang tua saya.”

“Lima... tahun lalu?”

Ketika Shidou memasang tampang kebingungan, Origami mengangguk kecil dan melanjutkan.

“Lima tahun lalu, di blok perumahan di Selatan Kota Tenguu, terjadi kebakaran skala besar.”

“Eh…?”

Shidou mengangkat alis. Dulu ia juga pernah tinggal di sana.

Oleh sebab kebakaran itu rumahnya terbakar habis, dan rumahnya yang sekarang adalah rumah setelah ia pindah.

“Perkara itu ditutup-tutupi secara resmi tapi… kebakaran itu—dimulai oleh seorang Spirit.”

“Ap…?”

Terkejut, Shidou terbelalak lebar-lebar.

Spirit yang terbalut kobaran api merah murni. Saya—kehilangan segalanya karena Spirit itu. Saya tidak akan memaafkannya. Saya tidak akan membiarkan orang lain merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan sebelumnya.”

Walaupun dia mengucapkannya dengan lembut, Shidou dapat merasakan tekad bulatnya, Origami mengepalkan tangannya erat-erat.

“Dan, tentu saja—Yatogami Tohka bukan pengecualian.”

“Eh…?”

Mendengar nama Tohka tiba-tiba muncul dalam percakapan mereka, Shidou menatapnya penuh pertanyaan.

“Sekarang ini dia… belum dipastikan sebagai seorang Spirit. Tapi, saya tidak bisa membiarkan keberadaannya.”

“... te, ta-tapi, Tohka yang sekarang tidak menyebabkan Spacequake lagi, dia tidak akan mengamuk. Kalau begitu—dia tidak ada bedanya dengan gadis biasa kan?”

Namun, tanpa menunjukkan sedikitpun keraguan atau kebimbangan Origami menggelengkan kepalanya.

“Memang benar sinyal Spirit dari dalam dirinya sudah lenyap. Namun, karena alasan dibaliknya masih belum jelas, sudah sepantasnya bersiap-siap kalau-kalau terjadi kasus terburuk.”

“... i, itu ter—”

Shidou jadi waswas.

Yang Origami katakan ada benarnya. Hal itu karena, dia tidak tahu bahwa kekuatan Tohka sudah disegel oleh kemampuan Shidou.

“Tapi… kalaupun Spacequake terjadi, itu bukan karena keinginan mereka kan!? Biarpun begitu—”

“—?”

Ketika Shidou berkata seperti itu, Origami memiringkan kepalanya dengan penasaran.

“Bagaimana… kamu bisa tahu hal semacam itu?”

“... uh, tidak, itu—”

Ia terlalu banyak bicara. Shidou mencari-cari jawaban untuk mengelak sementara pandangannya terbang ke mana-mana.

Tetapi, Origami melanjutkan dengan suara monoton.

“Berhubung ini kesempatan bagus, ada hal yang ingin saya tanyakan juga padamu.”

“A-apa…?”

“21 April. Saya melihatmu saat tengah menjalankan operasi.”

“... uh.”

Ketika dia mengucapkan tanggal itu, punggung Shidou membeku.

Tanggal itu—hari di mana Tohka datang ke dunia ini tanpa peringatan.

Artinya— pada saat itulah, hari di mana kekuatan Tohka tersegel karena ciuman Shidou.

“Kamu ini, sebenarnya apa?”

Memandang Shidou dengan tenang, Origami mengatakan itu.

“Yah, err, itu…”

Ia tidak bisa membocorkan informasi mengenai <Ratatoskr>. Shidou kalang kabut—

“.........”

Maka, ia menggigit bibir bawahnya dan mengambil nafas untuk menenangkan diri.

“... Tobiichi. Kau mungkin tidak akan percaya tapi—walaupun cuma sedikit, bisa kau dengar apa yang perlu kukatakan?”

Tanpa keraguan sedikitpun, Origami menganggukkan kepala ke depan.

“Nn… err, begini. Walaupun aku tidak bisa bilang secara tegasnya… sebenarnya, aku sudah bertemu dengan para Spirit berkali-kali, juga berbicara pada mereka—Bukan cuma Tohka… Yoshino juga.”

“Yoshino?”

“Ya—Spirit yang kalian sebut <Hermit>.”

Walaupun mimik muka Origami tidak bergerak sama sekali, saat Shidou mengutarakan hal tersebut, *haah*, pernafasannya terasa sedikit lebih cepat.

“Berbahaya sekali. Sebaiknya kamu berhenti.”

Dengan suara tanpa aksen, dia melerai Shidou.

Namun Shidou menggelengkan kepalanya.

“—Tobiichi. Kau, apa kau pernah mencoba sekali saja berbicara pada Yoshino…? Tidak—mungkin tidak pernah. Mengingat kau bahkan tidak tahu namanya.”

Ia menghadapkan seluruh tubuhnya pada Origami, dan melanjutkan.

“Aku mohon. Walaupun cuma sedikit, sedikit juga tidak masalah. Kalau Yoshino muncul dari dunia sana lain kali, cobalah berbicara dengannya—Seperti yang kau bilang, mungkin ada Spirit jahat di luar sana. Tapi, Tohka dan Yoshino—Aku tidak tahu bagaimana harus bilang ini tapi… mereka orang-orang… yang sangat baik…! Mereka benar-benar baik hati, saking baiknya sampai-sampai jarang sekali menemukan orang seperti itu di antara manusia sekalipun…!”

“.........”

Tanpa mengatakan apapun, Origami memandang Shidou, dengan sangat tenang.

Hening. Namun ia tidak lagi dapat merasakan hawa dingin nan misterius itu, melainkan sebuah tatapan aneh sebagai gantinya.

“………”

—Ah, begitu ya. Shidou akhirnya menyadarinya.

Ia tahu Origami tidak punya hak memutuskan kiri-kanan untuk AST.

Tapi tetap saja, alasan kenapa ia secara khusus mengambil resiko membocorkan informasi hanya untuk berbicara pada Origami mengenai masalah ini—semata-mata karena ia memang harus melakukannya.

Tentu saja, alasan terbesarnya adalah untuk menyelamatkan Yoshino, namun tidak hanya itu saja alasan yang ia miliki.

Mengenai itu, ia rasa ia akhirnya dapat mengerti setelah mengalaminya langsung.

“Begitu—ya, aku…”

Shidou, sekali lagi, menghadapkan tatapan matanya pada Origami.

“Aku… aku mau melakukan sesuatu mengenai Yoshino—aku mau menyelamatkannya, dan aku mau kau menerima Tohka juga. Tapi, sama seperti sebagaimana aku mengharapkan hal-hal itu. Kau, Tobiichi— aku tidak mau kau… membunuh orang-orang baik itu…!”

“.........”

“Aku tahu kalau, kau juga orang baik…! Walaupun masih SMA, tapi kau bertarung untuk melindungi dunia! Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan semua orang. Aku menghargaimu karena hal tersebut.”

Benar. Shidou tidak punya hak untuk bilang kalau Origami salah.

Lima tahun lalu, dia kehilangan orang tuanya karena ulah Spirit—dan dia tidak mau lagi ada korban lain yang sama sepertinya, dialah sang gadis berakhlak yang mengangkat senjata demi melindungi sesamanya.

Terhadap keteguhan hati itu, kata-kata murahan Shidou mustahil menodainya.

Walaupun demikian—

“Kenapa… kenapa jadi seperti ini… tidak ada—tidak ada yang jahat sama sekali. Tohka, Yoshino, dan Tobiichi, kau juga, kalian semua orang baik.”

“Itu—”

Origami mulai berbicara, setelah menelan ludah diapun melanjutkan.

“Itu, adalah hal yang tidak terelakkan.”

“... uh.”

“Untuk sementara ini, yang kau bilang memang benar, <Hermit> tidak ingin ada konflik dengan kami—Tapi, kenyataannya, dia itu Spirit. Maka dari itu ancaman terjadinya Spacequake tetap ada. Kami tidak bisa mengabaikan bahaya yang mengancam orang banyak ini, hanya demi gadis itu seorang.”

Pernyataan yang sangat akurat. Kotori juga mengatakan hal yang sama.

Tentu saja, kalau ada pihak yang salah bisa jadi Shidou orangnya.

Shidou, menaruh pandangannya ke tangan yang berkeringat, sambil mencoba menyembunyikan ekspresinya ia menggertakkan gerahamnya.

Dalam kepalanya, ia dapat mengerti yang baru saja dikatakan Origami. Hanya saja ia tidak dapat setuju dengannya, tidak peduli bagaimanapun ia mencoba.

“—ada satu hal terakhir yang mau kupastikan.”

Saat ia berkata, Origami memiringkan kepala penuh penasaran.

“Seandainya kalian tidak bisa menemukan kekuatan Spirit, seperti kasus Tohka—tidak akan ada alasan untuk menyerang Spirit itu lagi kan?”

Ya. Yang Shidou katakan adalah pikiran idealistiknya. Terlalu tidak masuk akal.

—Akan tetapi, masih tersisa kemungkinan di tangan Shidou, hal yang mustahil tersebut dapat menjadi nyata.

“………”

Origami tetap terdiam sementara sebelum menjawab.

“Sebenarnya, bukan itu mau saya. Cuma karena sinyalnya menghilang, tetap terlalu berbahaya membiarkan Spirit itu begitu saja.”

“... uh, itu—”

“—tapi. Bagi atasan, selama tidak ada kepastian keberadaan sinyal Spirit, kami tidak punya pilihan selain menganggapnya sebagai seorang manusia. Saya tidak bisa menyerangnya hanya berdasarkan pertimbangan pribadi.”

“A-artinya?”

“Jawaban atas pertanyaanmu, positif”

Origami berkata sementara tetap bersikap tenang.

Shidou, tanpa sadar menelan ludah, dan mengepalkan tangannya erat-erat.

“—Terima kasih. Aku sudah mendengarnya jadi, sudah cukup.”

“Oh.”

Setelah Origami menjawab dengan kalimat pendek.

“—Apa itu alasanmu bilang… kamu mau datang ke sini hari ini?”

Hanya sedikit, alis matanya turun hanya sedikit, sembari dia mengucapkan kata-kata itu.

Walaupun tidak ada perubahan di suaranya yang tanpa aksen tersebut, entah mengapa ia dapat merasakan ketidaksenangan Origami.

“Uh, bukan… bu-bukan hal semacam itu. Alasan aku datang ke sini hari ini, adalah untuk berbicara pada Tobiichi…”

Sepertinya, ia memang tidak bisa berkata apa-apa perihal boneka itu, maka ia pun berbohong.

Karena intercom-nya mati, sudah menjadi tugas Shidou-lah untuk melakukan pencarian itu—Awalnya, selagi kamera melakukan pencarian, tugas Shidou yang seharusnya adalah mengalihkan perhatian Origami lewat percakapan dan mencegah kecurigaannya.

“.........”

Segera setelah Origami mendengar jawaban Shidou, atmosfir yang sedikit menusuk barusan menghilang dalam sekejap.

Kemudian, dengan mantap dia mendekati Shidou untuk yang kedua kali.

Namun, saat itulah.



*UUUUUUUUUUUUuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu—*

Alarm Spacequake berkumandang dari luar.

“A-Alarm-nya…?”

“.........”

Origami terdiam untuk beberapa saat. Sebelum berdiri dia mengambil nafas.

“Origami…?”

“—Saya berangkat tugas. Kamu pergilah ke shelter secepatnya.”

Hanya mengatakan itu, Origami keluar ke koridor.

Segera setelah Shidou ditinggal sendiri dan tercengang sebentar.

“... jangan-jangan, Yoshino—?”

Ia mengangkat alis mendengar bunyi peringatan yang menghantam gendang telinganya—dengan erat menggenggam boneka di dalam sakunya.


Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. Senjata api berat yang akan membidik dan menembak secara otomatis apabila mendeteksi musuh lewat sensornya.
  2. Cocytus pada karya literatur The Divine Comedy ciptaan Dante Alighieri adalah daerah terbawah dari The Underworld (dunia kematian). Namun alih-alih berisi bara api abadi, Cocytus digambarkan sebagai sebuah danau es. Hal ini menggambarkan betapa ‘dingin’-nya sikap Origami terhadap sekitarnya.
  3. Toko Manisan Tenguu.
  4. Merujuk pada permainan Yu Gi Oh, Trap Card = kartu jebakan
  5. TL Note: atau lebih tepatnya, semua ini merk ‘obat kuat’ atau minuman-minuman semacam itu.
  6. Kanji ‘人’ berarti ‘orang’. Penjelasan mengenai kalimat ini bermula dari pepatah Jepang yang berbunyi "人をのむ hito wo nomu" (lit. menelan orang), pepatah ini sering digunakan sebagai semacam sugesti untuk menghilangkan rasa gugup (khususnya gugup panggung di hadapan para penonton). Gagasan dibalik sugesti dan pepatah tersebut adalah untuk menguasai audiens dan jangan biarkan audiens yang menguasaimu.
  7. Berserker - sebutan untuk orang-orang dengan gaya bertarung yang serupa dengan amukan, tidak terkendali.
  8. Bantalan-bantalan seperti ini, di bagian depan dan belakangnya biasa tertulis ‘Yes’ dan ‘No’. Tujuannya untuk membantu pasangan-pasangan muda yang masih malu-malu pada malam pertama mereka.
  9. TL Note: kalau seperti ini, berarti depan-belakang sama-sama pilihan ‘yes’ bukan? :v