Destruction Flag Otome Indo:Jilid 1 Bab 15.5

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Cerita sampingan 1: Bekerja sebagai kepala tukang kebun keluarga Claes[edit]

Aku, Tom Wesley, telah melayani sebagai keala tukang kebun keluarga Claes untuk waktu yang sangat lama.

Aku terlahir di desa yang miskin, aku langsung melatih diriku ketika aku tumbuh dewasa, dan setelah itu aku hidup sambil berkelana kemanapun kehidupan ini membawaku. Secara alamiah, aku tidak pernah pandai berbicara, selain wajahku yang biasa-biasa saja, aku tidak bisa bekerja sama dengan orang lain kemanapun aku pergi, jadi aku selalu bekerja sendiri dalam keheningan.

Dan ketika aku menjadi pria muda, karena aku mahir dengan peralatan, dan aku memiliki jempol hijau, tanpa kusadari aku telah menjadi seorang tukang kebun, dan aku mulai bekerja untuk pedagang kaya dan para bangsawan.

Walaupun aku terus bertambah baik sebagai tukang kebun, aku masih belum bisa berinteraksi bersama orang lain dengan baik, yang menjadi penyebab buruk untukku yang mencoba untuk membuat kehidupan, orag-orang akan selalu mencari alasan untuk memecatku, keadaan dimana aku tidak bisa melakukan apapun soal itu juga sering terjadi.

Pada saat itulah, orang itu muncul di depanku untuk pertama kalinya.

“Apakah kamu orang yang merawat taman ini?”

Ketika aku bekerja di taman milik seorang bangsawan, setelah aku menyelesaikan pekerjaan yang sedang aku lakukan, tiba-tiba aku mendengar suara di sampingku dari seorang pria muda tampan yang terlihat berumur dekat dengan umurku. Dari apa yang dipakainya, aku mengerti bahwa dia memiliki status yang cukup tinggi, dan aku langsung menghormat, tapi......

“Tidak apa-apa. Jadi ngomong-ngomong, apakah kamu orang yang merawat taman ini?”

“.....Iya.”

Aku bekerja dengan sungguh-sungguh dan dengan baik seperti biasa, aku mengangguk kepadanya sambil kebingungan dengan khawatir apabila aku telah membuatnya merasa tidak puas karena suatu hal. Mata biru muda milik pria muda itu berkilauan dengan terang.

“Setiap kali aku berkunjung ke sini, aku selalu terkagum pada rasa berkebun yang buruk di sini, tapi tiba-tiba itu semua berubah. Kamu sangat berbakat!”

“.....Te, terima kasih banyak........”

Dia terlalu melihatku secara langsung, dan aku kebingungan.

“Ngomong-ngomong, apakah kamu seorang pelayan dari keluarga ini?”

“......Tidak. Aku baru diterima di sini beberapa waktu lalu.”

“Kalau begitu sedang bekerja di tempat lain sekarang?”

“.....Tidak, tidak ada di tempat lain.”

Karena aku tidak bisa berinteraksi bersama orang lain dengan baik, dan aku tidak pandai dalam embuat kehidupan untuk diriku sendiri, aku tidak pernah bisa tinggal di tempat kerja untuk waktu yang lama, dan aku sudah terbiasa pada cara hidup yang sering berganti pekerjaan.

“Kalau begitu, aku ingin kamu menjadi pelayanku dan jadi tukang kebunku.”

Matanya terus bersinar sambil mengatakan itu, dan Adipati Claes yang muda itu menyeretku dengan paksa ke rumahnya. Ternyata dia adalah kepala keluarga dari keturunan sebelumya, Adipati Claes.

Dengan begitu, walaupun aku ditarik kesini dengan paksa ditengah pekerjaanku oleh Adipati Claes, aku mendapati bahwa rumahnya adalah tempat yang nyaman untuk bekerja.

Semua pelayannya adalah orang yang ramah, aku akhirnya mamiliki pekerjaan tetap yang bahkan meliputi liburan, dan kepala keluarga yang telah merekrutku dengan paksa adalah orang yang sangat ramah dan mudah didekati.

Dia disukai oleh banyak pelayan. Bahkan mereka yang tidak pandai berinteraksi dengan orang lain, dan kepada pelayan lainnya dan bahkan kepadaku yang tidak bisa dekat pada orang lain dengan mudah, dia selalu memanggil kita dengan ramah, dan dia sering pergi ke luar untuk bermain di kota sambil menyembunyikan identitasnya.

Dengan seperti itu, suatu kali aku pergi bersamanya untuk bermain di kota sambil dia menyembunyikan identitasnya, dan kita benar-benar menjadi teman yang akrab, dan kita terus-terusan pergi bersama ke kota lagi seperti itu.

Dengan begitu, tanpa kusadari, walaupun dia seorang kepala keluarga dan seorang adipati, dan aku hanyalah seorang pelayan, dia memanggilku “teman”, awalnya aku sangat merendahkan diri tentang ini, tapi akhirnya aku terpengaruhi oleh perasaannya, dan akhirnya mulai berpikir tentangnya sebagai “teman” juga.

Karena aku tidak pandai berinteraksi dengan orang lain, dan tidak pernah tahu apa yang harus dikatakan pada orang-orang, dia adalah orang pertama yang benar-benar memanggilku seorang “teman.”

Ketika aku hidup di samping teman ini, dan melakukan yang terbaik di pekerjaanku, dan di waktu aku tiba-tiba menyadari bahwa aku telah menjadi kepala tukang kebun – Satu-satunya temanku telah meninggal tanpa pemberitahuan karena sakit.

Setelah itu, aku hanya menghabiskan hari-hariku dengan malas. Temanku yang selalu memanggilku dan memberitahuku bahwa tamanku “indah,” tidak ada lagi di sini. Aku tidak lagi pergi ke kota yang biasanya sering kita kunjungi bersama.

Aku penasaran apakan tidak lama lagi dia akan memanggilku, aku ingin pergi ke tempat dia berada secepat mungkin....... Aku ingin bertemu dengannya lagi.......

Ketika aku memikirkan tentang ini setiap hari, perempuan itu muncul.

“Aku ingin membuat ladang di taman!”

Cara dirinya terlihat ketika mata biru terangnya berkilauan, sangat mirip dengan hari dimana aku bertemu dengan ‘temanku’ untuk pertama kalinya.

Dengan begitu, perempuan itu mulai menemuiku setiap hari.

“Pak Tom, aku disini~”

Tanpa kusadari, perempuan itu selalu tersenyum kepadaku seperti seorang teman. Walaupun masih ada kenangan menyakitkan di mana-mana tentang temanku dalam kota, aku memaksa diriku untuk pergi ke kota untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membantu perempuan itu membuat ular mainan, dan tiba-tiba ini sudah menjadi wajar untuk pergi ke kota lagi.

Dengan begitu, ketika aku menghabiskan waktu dengan perempuan ini, perasaanku yang ingin bertemu dengan temanku secepat mungkin telah menghilang.

“Untuk temanku yang berharga. Aku minta maaf, sepertinya kamu harus menunggu lebih lama lagi. Sebagai gantinya, ketika aku bertemu kamu lagi, aku akan membawakanmu banyak sekali cerita yang menarik tentang cucumu.”