Ero Manga Sensei (Bahasa Indonesia):Volume 3 Prolog

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Thumb

Prolog[edit]

12 September.

Novel terbaruku ‘‘Adik Perempuan Terimut di Dunia’’ sudah dijual selama dua hari.

Setelah dua hari – pendapat para pembaca mulai bermunculan di internet.

Seorang penulis baru akan menjadi gugup dan mencoba untuk melihat forum-forum di internet untuk mendengarkan setiap informasi tentang novelnya. Tapi tidak untuk seseorang yang sudah menyerah pada internet seperti Izumi Masamune. Butuh waktu untuk aku sampai mempedulikannya.

Aku meminta editorku untuk memilih beberapa pendapat yang bagus dari internet, dan aku menerima e-mail dari pembaca atau orang yang bercerita padaku – itulah bagaimana aku menjadi sadar atas pendapat pembacaku. Sekarang – bohong jika aku bilang aku tidak ingin tahu apa yang orang lain pikirkan tentang novelku, tapi aku tidak bisa menangggungnya.

Tetap saja, ada banyak tipe orang di dunia. Dari orang yang gila browsing di internet seperti Elf sampai orang yang tidak peduli sedikitpun tentang pembaca seperti Muramasa-senpai.

Ada sangat banyak tipe orang.

Pokoknnya, aku mendapat jalan.

Hari ini, aku tidak bermasalah karena aku tidak tahu apa yang para pembacaku pikirkan. Malahan, sekarang bukan waktunya bagiku untuk khawatir. Tidak jika sekarang juga ada masalah yang sangat besar ada didepanku.

Biarkan aku menjelaskannya:

Aku duduk di dalan kamar terlarang.

Bersama dengan dua penulis light novel cantik. Keduanya memakai bikini erotis dan bermain Twister.

“Tidak, tidak! Ini sangat memalukan! Pose seperti apa itu.....”

“Kukukuku....Apa kau merasa putus asa, Muramasa? Kan sudah kubilang – ini adalah syarat yang dibuat Eromanga-sensei supaya Masamune ikut dalam perjalanan itu! Jangan coba-coba kabur!”

“Aku tidak tau kalau aku harus memakai pakaian yang tak tahu malu ini untuk bermain Twister!”

“Tentu saja kau tidak tau. Aku menyembunyikannya supaya kau setuju.”

“Kamu! Jahat....!”

“Aku memakai ini juga, jadi semuanya seimbang, kan?”

“Tidak sama....! Tidak....kamu.....kamu mesum!”

Muramasa-senpai bermain bersama dengan Elf.

Di sisi lain, Sagiri berubah menjadi mode Eromanga-sensei dan secara total fokus untuk menggambar ilustrasi erotis. Biasanya, tidak mungkin dia akan membiarkan tiga orang masuk ke dalam. Tapi ketika dia berubah menjadi mode Eromanga-sensei....itu tidak menjadi masalah lagi.

Atau mungkin, ketika dia berubah ke mode itu, kalau bukan karena dia tidak bisa keluar, dia sama seperti gadis normal lainnya. Baginya, ada perbedaan besar antara “membiarkan seseorang masuk kemamarnya” dan “pergi keluar”.

*Shuushuush* masih menggambar, Eromanga-sensei terus menerus memberi perintah seperti seorang sutradara film:

“Muramasa-chan, tangan kanan ke warna merah! Elf-chan, tangan kiri ke warna kuning! Oh sialan – aku tidak bisa melihat apapun!”

Dari samping topeng, wajah imutnya terekspos.

Tidak seperti game biasa, kau akan membuat beberapa pose erotis jika kau mengikuti Eromanga-sensei.

Belum lagi.....

“Kuh.....Ma, Masamune-kun! Kenapa kau disini? Kau kelihatan seperti seseorang yang sedang duduk di tengah ruang ganti perempuan!”

“Berisik! Bukan berarti aku menyukainya! Tapi aku harus melakukannya! Jika Eromanga-sensei berubah liar, hanya aku yang bisa mengentikannya!”

“Kau hanya mencari-cari alasan! Kau ingin melihatku kan? Kenapa kau tidak menghentikannya sekarang?”

“Jangan salah paham! Lihat, aku sudah menutup mataku sejak dari awal!”

“Be, benarkah? Kau tidak diam-diam melihat?”

“Tidak! Aku tidak melihat apapun! Kalau ingin penjelasan yang bisa dipercaya, ‘’mataku sudah digembok sampai aku tidak bisa melihat apapun’’.”


Aku berbelok mengarahkan kepala ke arah suara itu – ke salah satu orang dengan bikini erotis, Muramasa-senpai dan dia menjawab.

“Ohhh....tapi....meskipun begitu....meski aku masih belum bisa tahan jika kamu melihati aku.....”

“Muramasa-chan, meskipun kau bilang begitu, kau sebenarnya ingin memperlihatkan sisi erotismu pada orang yang kau suka, Masamune, bukan?”

“O, omong kosong! Aku, aku bukan gadis tak tahu malu seperti itu.....!”

Sudah kuduga akan berakhir seperti ini ketika aku mendengar kami akan berkumpul di rumah kami.

“Baiklah Muramasa-chan, selanjutnya kaki kiri ke warna biru.”

“Baik....”

Eromanga-sensei dengan dinginnya melanjutkan.

Ngomong-ngomong, sekarang komputer di dalam sedang siaran ‘’live streaming’’. Menyadari ini, Muramasa-senpai panik:

“Ah! Mungkin, mungkinkah....semua.....semua orang melihat ini dalam live streamingnya?”

‘’Jika itu yang terjadi, aku yakin seseorang sudah mem-‘’ban’’ kami.’’

Eromanga-sensei menjawab sambil terus menggambar:

“Jangan khawatir. Itu hanya menayangkan rekaman sebelumnya.”

Sebelum dia memutuskan untuk menayangkan sesuatu, dia harus memeriksanya lagi dan memperbaiki apapun yang tidak sesuai dengan standarnya.

Gadis pekerja keras. Tapi memang begitu seharusnya. Soalnya, disamping menggambar, ‘’live streaming’’ adalah sesuatu yang benar-benar penting untuk Eromanga-sensei. Ini adalah cara adik hikikomoriku berinteraksi dengan penggemarnya.

Tapi melihat seberapa fokusnya dia, aku ragu dia tau sesuatu tentang dunia yang sekarang....seperti aku yang apabila punya ide baru.

“Bagus bagus! Buat ekspresi yang sangat malu!”

Dengan sebuah senyum ceria, Eromanga-sensei menyeka keningnya.

“Ehehe, kira-kira apa yang akan orang pikirkan jika kau menayangkan ini pada mereka?”

“Terserah.” “Jangan janganjangan! Aku akan mati! Seseorang akan dibunuh!”

Ketika semuanya berteriak ─

Tiba-tiba saja, komputernya *Brrr*.

“Eh?” “Apa itu rusak?” “Apa itu fungsi alarm?” “Apa kau menginstal sesuatu yang aneh?”

Kami punya pendapat yang berbeda-beda pada hal itu, jadi mata kami terfokus pada layar. Untuk beberapa saat, layar masih memperlihatkan Eromanga-sensei ─

*Biribiri* Lalu layar bergetar ─ *Brr!* Akhirnya, orang aneh muncul pada layar.

“!” “....Apa?” “Itu....”

Mata kami merekat pada ‘’Orang itu’’.

Ya, itu adalah orang aneh – seseorang yang aneh bahkan dalam situasi yang aneh ini.

Kalau harus aku jelaskan...

‘’Orang itu’’ memakai topeng anime, dengan jaket besar menutupi seluruh tubuhnya. Meskipun di sisi lain gelap, resolusi gambarnya jelek, tapi aku bisa yakin aku lebih besar darinya.

Terdengar familiar? Ya aku pun tahu. Tapi yah sudah pasti.

“.....Ini.....”

Karena semua orang di sini tahu orang itu.

“Persis seperti Eromanga-sensei!”

“Tidak, itu bukan aku!”

Sagiri menjawab dengan nada kuat. Jika dia di sini, maka orang itu tidak mungkin Eromanga-sensei. Bahkan jika itu rekaman, aku masih yakin.

Eromanga-sensei palsu dalam layar – meskipun terlihat sama dengan Eromanga-sensei, ada perbedaan. Dari jaket hingga topeng anime, keduanya hitam.

[Hei, apa kau sedang melihatnya─]

Orang itu mengeluarkan suara robotnya. Topengnya punya wajah tersenyum seperti halnya seorang antagonis. Suranya juga sama.

Dia tertawa seperti anak manja, dan berkata:

Thumb

[Apa kau melihatnya, palsu?]

“!?”

Aku melirik pada adikku. Ini dengan jelas diarahkan pada Eromanga-sensei. Mata Sagiri terbelalak.

“Palsu? Apa kamu...bicara tentangku?”

[Ya. Kau, orang yang mencuri namaku, kau Eromanga-sensei palsu.]

Aku tidak tahu itu kebetulan atau bukan, tapi orang itu melihat pada Sagiri:

[Dengar baik-baik, palsu!]

Dia menunjukan jarinya pada dirinya sendiri:

[Aku Eromanga-sensei yang asli!]








Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]



Bab 4 Halaman Utama