Hai to Gensou no Grimgar (Indonesia):Volume 6

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Seperempat Hari[edit]

"Huff ... Hahh ... Huff ... Hahh ..."

Haruhiro berlari. Dia berlari dengan terengah-engah.

Dia melirik ke belakang. Mereka ada di sana.

Di sana.

Di sana.

Di sana.

Mengejarnya

Mereka memakai kostum seperti seprei putih besar yang dilengkapi dengan suatu lubang mata di kepalanya. Yahh, itu membuat mereka terlihat seperti poncho panjang. Mereka memiliki badan, kepala, dua lengan, dan dua kaki. Kau boleh bilang bahwa sosok makhluk tersebut menyerupai manusia. Akan tetapi, hanya terdapat satu lubang pada penutup kepala mereka untuk melihat.

Bukan hanya satu sosok makhluk seperti itu, melainkan ada beberapa.

Haruhiro bahkan tidak perlu menghitung mereka. Karena dia sudah tahu jumlahnya. Mereka ada enam. Lima membawa tombak, dan satu lagi membawa pedang dan perisai. Tombak itu tidak terlihat mencolok, tapi setiap pedang yang mereka genggam memancarkan cahaya keunguan tipis, dan perisai yang mereka bawa tampak seperti cermin. Entah kenapa, pedang itu dinamai Pedang Petir Lumba-lumba, sedangkan perisainya dinamai Perisai Cermin, karena wujudnya memang seperti itu.

Seseorang menamainya Cultist… ah, tidak… bukan seorang, melainkan mereka lah yang menamainya seperti itu.

Para pembawa tombak adalah Cultist biasa, dan mereka disebut Pansuke. Sedangkan para pembawa pedang adalah Cultist elit, yang mana mereka dijuluki Tori-san. Nama-nama itu sungguh payah.

"Sialan, aku lelah ..." gumam Haruhiro.

Bahkan saat dia menggerutu, Haruhiro terus berlari tanpa berhenti sedetik pun. Jika dia tidak berlari dengan kecepatan penuh, Pansuke dan Tori-san akan menangkapnya. Bagaimanapun juga, Haruhiro hanyalah seorang Thief, maka jika tertangkap, dia akan dikeroyok, dihajar, dianiaya, dan hampir dipastikan dia akan terbunuh. Jadi, dia harus terus berlari.

Lari, pikirnya. Untuk saat ini,berlari saja. Berlari seperti orang gila. Ini adalah satu-satunya pilihan.

Di bawah langit berwarna biru tua, yang juga dihiasi dengan warna-warna lain, seperti: kemerahan, ungu, oranye, dan kuning di antaranya…. Haruhiro berlari sekencang mungkin melintasi kota putih.

Kota.

Ya. Ini adalah kota, atau paling tidak tempat semacam itu. Di kedua sisi jalanan yang terbuat dari paving batu putih, terdapat bangunan mirip seperti kotak, yang juga terbuat dari batu putih. Tidak mungkin kerapihan semacam ini tercipta dengan sendirinya. Pasti pernah ada makhluk-makhluk cerdas yang telah membuatnya.

"Augh! Cukup!” teriak Haruhiro.

Keringat masuk ke mata kanannya sehingga terasa perih. Dia ingin sekali melihat ke belakang, tapi dia menahan rasa penasaran itu. Tanpa melakukan hal-hal yang tidak perlu, ia terus berlari. Dengan satu mata tertutup, ia masih bisa berlari.

"Hah ... Hahh ... Hah ... Hah, hah ...!"

Sudut itu. Belok di sana!

Dia langsung membanting tubuhnya ke kiri ketika sampai pada suatu sudut, lalu terus berlari melewati jalan yang sedikit sempit.

Derap langkah Cultist terdengar semakin mendekat. Perutnya terasa sakit, seolah-olah diperas dengan begitu keras.

Haruhiro berteriak sekeras mungkin. Atau lebih tepatnya, dia tidak bisa menahan teriakan yang muncul dari dalam tenggorokannya, sehingga suaranya keluar dengan sendirinya. Bagian atas tubuhnya terasa begitu kaku, sampai-sampai dia merasa akan terjungkal ke belakang.

Dia melemaskan tangannya. Dia berusaha sebisa mungkin melemaskan tubuhnya yang masih tegang.

Haruskah aku mengangkat pahaku lebih tinggi? Atau apakah itu hanya membuatku semakin lelah? Oh, aku tidak tahu lagi. Ini menyakitkan. Seharusnya aku tidak ikut dengannya, harusnya aku tidak ikut dengan rencana bodoh ini.

"Crown Break!" teriak Tada.

Itu dia…. Mereka akhirnya datang..

Tanpa bisa beristirahat lebih lama, Haruhiro kembali menatap lawannya. Dari suatu bangunan di sebelah kanannya, ada seorang pria berkacamata dan berpakaian Priest telah melompat turun, kemudian menyerang para Cultist tanpa ampun. Lawannya adalah Tori-san, sedangkan pria berkacamata dan berpakaian Priest itu membawa palu yang terlihat luar biasa berat, dan dia mengayunkannya ke segala arah. Terdengar suara hantaman yang mantap ketika palu itu tepat mengenai tengkorak Cultist Tori-san.

Tori-san adalah pendekar pedang berteknik tinggi, kemampuannya jauh melebihi Pansuke, tapi sayangnya dia sama sekali tidak menduga kedatangan si pria berkacamata. Sehingga serangannya kena telak di kepala lawan.

Tentu saja, dia tidak baik-baik saja setelah menerima hantaman palu sekeras itu ke kepalanya. Kain putih mirip seprei yang menyelimuti para Cultist cukup tahan terhadap serangan benda tajam, dan bisa meredam hantaman sampai pada tingkatan tertentu, tapi sepertinya itu semua tidak berguna saat ini. Tori-san roboh dengan kepalanya yang terlihat penyok.

Karena pemimpinnya tiba-tiba tumbang, para Pansuke pun panik.

"Dan ini!" terdengar suara merdu yang biasa diucapkan oleh seorang pria tampan.

Penyergapan belum selesai.

Seorang pria yang mengenakan armor berukir heksagram melompat ke udara, seakan mengikuti gerakan pria berkacamata tadi.

"Hah?" hanya itu yang Haruhiro ucapkan, namun sebenarnya dia ingin sekali berkata: Mengapa? Mengapa dia harus melompat? Tidak bisakah langsung turun saja?

Tapi Haruhiro sudah tahu jawabannya. Dia bukanlah pria yang mendasari semua tindakannya dengan suatu alasan yang jelas. Haruhiro tahu betul akan hal itu, namun dia masih merasa ngeri ketika melihatnya melompat ke udara seperti itu.

"Di sinilah aku akan mengakhiri semuanya dengan elegan!"

Tokimune, sang Paladin yang memimpin Tokkis, memamerkan gigi putihnya sekilas saat dia mencapai puncak lompatannya, kemudian dia terus meluncur ke bawah.

Mereka bisa saja membuat para Pansuke kebingungan, tapi dia menyia-nyiakannya. Pansuke menusukkan tombak mereka ke arah Tokimune.

Ah, sial ini gawat. Dia akan tertusuk, pikir Haruhiro. Tapi itu tidak pernah terjadi.

"Menari seperti macan kumbang!" Tokimune memutar seluruh tubuh bersama dengan pedang dan perisainya, sehingga gerakan itu menangkis tusukan tombak Pansuke. "Dan menyengat seperti ikan paus!"

Sambil menginjak kepala Pansuke A, dia menendang dan menyikut Pansuke B, lalu mendarat di tanah dengan satu mata tertutup.

"Aku menyelesaikannya, kan," kata Tokimune sambil menyeringai.

"Yahh, tapi ini berlum berakhir," balas Haruhiro, dengan gurauan.

Tada, pria yang mengenakan pakaian Priest, membanting palunya ke tubuh Pansuke C, kemudian mementalkan lawannya. "Tidak ada apa-apanya!"

"Ck, ck, ck, ck." Tokimune dengan tenang mendecakkan lidah, sambil menggelengkan kepalanya. "Pertarungannya sudah berakhir, lho?”

"Heh!" di sana ada seorang pria paruh baya bergaya rambut kuncir kuda, mengenakan penutup mata dan jumpsuit kulit, itu merupakan kombinasi yang mengerikan. Dia melompat keluar dari suatu gang, kemudian membenamkan pedang bermata tunggal miliknya pada mata Pansuke D.

Tak lama berselang, keluar seorang wanita yang jika dilihat dari dandanannya, dia tampak seperti Mage, namun tubuhnya jauh lebih besar daripada siapapun di Party-nya. Dia menyerang dengan menggunakan senjata ganda, yaitu tongkat dan pedang. Panggilannya adalah Nona Raksasa. Nama aslinya adalah Mimori, yang juga dikenal sebagai Mimorin. Pertama-tama dia menyerang Pansuke E di sebelahnya dengan menggunakan tongkat, kemudian…. tanpa menunggu sedetik pun, dia menikamkan pedang pada mata lawannya.

"Semangat, ya! Kill them all!” seorang gadis mungil berambut pirang dan bermata biru muncul begitu saja dari sisi gang untuk menyemangati rekan-rekannya dengan bahasa Jepang setengah Inggris.

Anna-san memang berani menampakkan dirinya, tapi dia tidak akan terlibat langsung dalam pertempuran ini. Pada dasarnya, dia adalah seorang pemandu sorak.

"Yahoo! Aku juga mau ikutan!” teriak Kikkawa. Seorang Warrior aneh dan periang muncul dari atas atap, sepertinya dia sedang meniru gerakan Tokimune. Itu tidak masalah, asalkan dia tidak terjungkal setelah menari-nari di udara.

Yahh, gak papa sih. Itu sama sekali tidak ada gunanya.

Kikkawa si Warrior periang mencoba menerkam Pansuke A, yaitu Cultist yang telah dihantam oleh Tokimune ketika mendarat, dan keseimbangannya pun terganggu. Yahh, setidaknya begitulah tampaknya, tapi saat dia sedang berpose, Tada mendengus dan mengayunkan palunya. Hantaman itu membuat Pansuke A terbang sampai terbanting ke dinding bangunan, dan akhirnya pedang Kikkawa hanya menebas udara tanpa mengenai apapun.

"Ahaha, Tadacchi! Kau mencuri mangsaku!” teriak Kikkawa.

"Wahahahahahh!" teriak Tokimune.

Kemudian, seorang bocah tak tahu malu melompat menuju Pansuke B, yang telah dirobohkan oleh Tokimune dengan sikutannya, namun dia masih berusaha bangkit.

"Milikku, milikku, milikku!" itulah kata si bocah tak tahu malu yang suka memanfaatkan keadaan. Dia menendang Pansuke B untuk merobohkannya sekali lagi, lalu menahannya dan memberikan serangan penutup. "Untuk Dewa Skullhell!"

"Minggir…!!" Tada menendang bocah itu yang menghalanginya, lalu tanpa ampun dia menghujamkan palunya pada kepala Pansuke B, sehingga tengkorak makhluk itu hancur berserakan di dalam ponchonya

"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk!" si bocah tak tahu malu berambut acak-acakan duduk terkulai lemas sambil meratapi mangsanya yang diserobot orang lain.

Yah, setidaknya dia tidak menangis.

"Apa-apa’an itu?" Ranta pun menjerit. "Yang tadi itu bagianku! Dasar tolol!”

"Hah…???" Tada menekan jari telunjuk kiri pada palunya yang bersimbah darah. "Dasar tolol katamu?? Maksudmu aku??”

"... Bukan, bukan," kata Ranta. "Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh minta maaf. M-maksudku bukan kau, sungguh….. Tidak ... M-maafkan aku!” si bocah jabrik tak berguna sekarang sedang bersujud sembari meminta maaf sebesar-besarnya. "Memang begitulah yang terjadi, iya kan! Aku hanya keceplosan! Aku sungguh tidak serius!”

"Bagus sekali. Kali ini, masih kubiarkan." Tada memeluk palunya. "Lain kali, akan kuhabisi kau."

"B-Baik oooommm! T-t-t-terima kasih!” kata Ranta tergagap.

Apakah dia bodoh Haruhiro bertanya-tanya, tapi kalau pun Tada menebaskan palunya pada Ranta, tentu saja dia tidak bisa tinggal diam. Meminta maaf mungkin adalah penyelesaian masalah yang paing tepat saat ini. Bagaimanapun juga, Tokkis lebih unggul dalam berbagai hal.

"Wow ..." Yume, yang sejak tadi bersembunyi, akhirnya keluar juga dengan mata terbelalak. "Sudah selesai ya. Cepat sekali…."

"Tentu saja." Shihoru keluar dari belakang Yume, sambil melirik sekelilingnya.

"Kita tidak dapat bagian sama sekali ..." si jangkung Kuzaku juga keluar dari balik suatu gang.

"Terlalu cepat," kata Mary sambil menghela napas. Dia berdiri di samping-belakang Kuzaku.

"Yahh, giliran kami yang kerja… lawannya justru selemah ini, iya kan?" Tokimune memamerkan gigi putihnya sekilas, sambil mengacungkan jari jempol. "Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai, benar kan, Haruhiro?”

"Benar." kata Haruhiro sambil menendang punggung Ranta. "Ayo, bersiaplah."

"Ow! Hei! Kau hanya seorang Haruhiro, beraninya kau menendang- "

"Nyaa!" teriak Yume. "Dia datang!"

Kegaduhan. Terdengar suara kegaduhan yang keras. Dari arah belokan yang baru saja dilewati Haruhiro. Dia datang.

Dia lebih tinggi dari Mimorin si Raksasa, lebih tinggi dari Kuzaku berbadan 190 cm. Bahkan mungkin dua kali postur mereka. Tingginya hampir empat meter. Dia punya kepala mirip singa, tapi hanya ada satu mata di kepalanya.

"Bwahaha! Waktunya bagiku untuk menunjukkan kemampuanku yang sebenarnya!” Ranta mengambil Pedang Petir Lumba-lumba milik Tori-san. "Ini diaaaa! Rasakan strategi sengatanku!”

"Nama itu ..." sepertinya nama itu sama sekali tidak membuat Shihoru terkesan.

"Whoop!" panah yang Yume lepaskan meluncur ke arah raksasa putih bermata satu setinggi empat meter, lantas…...... panah itu sama sekali tidak mengenainya, dan hanya menyerempet sisi wajahnya. "Ahhh! Hampir saja!”

Haruhiro menarik napas dalam-dalam, untuk melepaskan ketegangan dalam dirinya, lalu dia melirik ke arah Tokimune. "Baiklah, ayo lakukan seperti biasa."

"Haha!" Tokimune tertawa ramah, kemudian menampar punggung Haruhiro. "Baik, baik. Ayo lakukan ini seperti yang biasanya."

"Delm, hel, en," Mimorin mulai merapalkan suatu mantra, sembari menggambar simbol elementalis dengan tongkatnya. Tongkat sihir di tangan kanan, dan pedang yang sudah terhunus di tangan kiri. "Ig, arve."

Dia pernah menjadi Warrior, dan sepertinya dia masih terbiasa bertarung jarak dekat, namun apapun itu… dia sekarang adalah seorang Mage. Ini adalah mantra paling dasar pada sihir Arve, yaitu Fireball. Sihir elemental membentuk bola api yang lebih besar dari tinju pria dewasa, lalu bola api tersebut melesat menuju raksasa putih. Raksasa putih itu tidak berusaha menghindarinya. Bola api menghantamnya tepat di dada, dan ... lenyap.

"Jangan lengah!" meskipun Haruhiro tidak meneriakkan itu, rekan-rekannya sudah tahu betul, lalu dia menatap Kuzaku. "Kuzaku, kau maju ke depan. Dan juga, Tokkis, kuminta kalian juga maju ke garis depan. "

"Siap!" Tokimune mengetok perisainya dengan kepalan tangan kanan, sembari masih menggenggam pedangnya. "Kikkawa, Inui, Tada, ayo selesaikan ini secepat mungkin!"

"Okhee!" seru Kikkawa.

"Heh ... siap!" tambah Inui.

"Yeah," Tada membalas. "Aku akan menunjukkan bahwa akulah yang terkuat."

Tokimune maju, diikuti oleh Kikkawa, Inui, Tada, dan Kuzaku yang pendiam.

Haruhiro mengangkat pinggulnya ke atas dan ke bawah untuk melakukan pemanasan. Dia tidak berubah posisi. Yume, Shihoru, dan Mary mengambil posisi tepat di belakang Haruhiro. Anna-san dan Mimorin juga bersiap di sampingnya.

Aku yakin, sekarang mataku terlihat mengantuk pikirnya. Napasnya tidak terengah-engah, dan dia merasa cukup tenang, yahh kurang lebih begitu lah.

Tokimune, Kikkawa, Inui, Tada, dan Kuzaku telah membentuk garis horizontal dengan jarak yang cukup lebar di antara mereka. Tapi tidaklah selebar jalanan kota, mungkin hanya selebar 3 meteran.

Haruskah kami memilih cara lain? Haruhiro bertanya-tanya. Tapi jika mereka punya pilihan lain, maka itu pun tidak akan berhasil mengalahkan para Cultist dengan begitu cepat.

Kali ini, para Cultist telah membentuk suatu kelompok bersama raksasa putih, jadi… kalau boleh terus terang… sekarang hanya ada dua pilihan, yaitu menjalankan rencana ini, atau mengibarkan bendera putih.

Andaikan saja Haruhiro dan Party-nya berada dalam situasi seperti ini, mereka pasti sudah memilih opsi kedua. Ranta (yang tak berguna) boleh saja protes sebanyak mungkin, tapi Haruhiro akan menggunakan semua otoritasnya sebagai pemimpin agar Party-nya mundur.

Tapi, faktanya adalah, sekarang mereka bersama Tokkis, sehingga tidak mudah bagi Haruhiro untuk mengatakan, Hei, ini berbahaya, lebih baik kita mundur saja ya… Tokis bukanlah tipe kelompok yang mau mendengarkan usulnya, kemudian mundur perlahan-lahan.

Pada akhirnya, mereka memikirkan rencana dimana Haruhiro bertindak sebagai umpan, kemudian dia berlarian di sekitar kota putih untuk memisahkan Cultist dari si raksasa singa bermata satu. Begitu para Cultist berhasil dihabisi, maka mereka tinggal menghadapi si raksasa.

Yah, aku sudah terbiasa dengan ini semua kok, pikir Haruhiro. Sebulan telah berlalu sejak mereka menemukan area baru ini, dan mereka pun menamainya Dusk Realm.

Banyak yang terjadi pada waktu itu, pikirnya. Terlalu banyak, sungguh. Ah…. atau mungkin tidak ya?

Tidak kan? Yah… sepertinya begitu.

Paling tidak, menurut Haruhiro, banyak hal penting yang terjadi bulan ini. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa Tokkis mengambil peran besar atas penemuan ini.

Lagi pula, mereka telah menemukan tempat ini bersama-sama. Sebenarnya, Haruhiro dan Party-nya lah yang menemukan pintu masuk pertama kali, tapi karena perbedaan reputasi, Tokkis lah yang dianggap penemu daerah ini, sedangkan Party Haruhiro yang hanya dijuluki Pembasmi Goblin, cuma nunut nama. Tapi sejak saat itu, banyak hal telah terjadi yang membuat kedua Party semakin dekat. Party Haruhiro selalu ragu untuk memulai eksplorasi di area baru ini, oleh karena itulah mereka bersama Tokkis mencoba menjelajah Dusk Realm, meskipun sebenarnya mereka tidak pernah membicarakan rencana terlebih dahulu.

Sudah banyak hal terjadi. Setiap hari, atau bahkan beberapa kali dalam sehari, mereka mengalami sesuatu bersama-sama. Yahh bagaimanapun juga, Tokkis adalah sekelompok orang gila.

Hanya Haruhiro yang mengandalkan akal sehatnya…. Kalau begitu, apakah itu berarti Haruhiro lah yang gila? Sedangkan, para Tokkis normal? Dia sempat berpikir akan hal itu, tapi itu sungguhlah konyol.

Tokkis adalah sekumpulan orang gila. Haruhiro waras. Seakan-akan ada jurang pemisah antara Party Haruhiro (kecuali Ranta) dengan para Tokkis. Itu adalah jurang pemisah yang seakan tanpa dasar. Mereka tidak dapat bersatu. Tidak mungkin…. Ketika Haruhiro berpikir begitu, entah kenapa itu sedikit membuatnya lega. Meskipun hanya sedikit.

Kalau jurang pemisah itu begitu dalam, maka dia tidak perlu melintasinya. Percuma saja.

Kalau dia mencoba untuk tidak berpikir, mengapa jadi seperti ini?… ujung-ujungnya dia malah kepikiran terus, tapi Haruhiro tidak akan membiarkan dirinya menderita karena itu. Yahh, mau bagaimana lagi. Memang watak mereka seperti itu, dan tak seorang pun bisa merubahnya. Kalau dia bisa memahaminya, dia pasti bisa menerimanya.

Kalau Haruhiro bisa menerima keanehan mereka, maka dia tidak akan terkejut jika Tokkis menunjukkan kegilaan mereka saat beraksi melawan musuh.

Lagipula, mereka bukanlah sekumpulan pecundang, malahan mereka sangat hebat, jadi Party Haruhiro bisa mengandalkan mereka. Tokkis adalah tipe Party yang tidak pikir panjang ketika menyerang lawan, namun itu merupakan bukti bahwa mereka begitu kuat di medan laga. Khususnya, Tokimune dan Tada, mereka adalah ujung tombak Tokkis. Tokimune adalah seorang Paladin, jadi dia tidak perlu dikhawatirkan, namun Tada adalah seorang Priest saat ini… yahh, awalnya sih dia memang Warrior. Harusnya, seorang Priest tidak boleh sembrono dalam pertempuran, karena nyawa mereka begitu berharga bagi Party.

Bagaimanapun juga, jika mereka bisa menyesuaikan diri dengan Tokkis, mereka bisa melakukan berbagai hal yang tidak bisa dilakukan Haruhiro dan Party-nya. Jika bisa bekerjasama dengan baik, bukan tidak mungkin mereka sanggup melewati saat-saat kritis bersama.

Dan juga, yang paling penting adalah, mereka bisa menghasilkan uang bersama. Bahkan membagi pendapatan mereka dengan Tokkis. Haruhiro dan Party-nya bisa mendapatkan hasil yang lebih efisien jika mereka bisa bekerjasama dengan mereka secara perlahan-lahan, namun mantap.

"Jess, yeen, sark, kart, fram, dart!" Shihoru merapalkan Thunder, dan secercah kilat menerpa raksasa putih itu.

Terdengar gemuruh yang begitu luar biasa, dan seluruh tubuh raksasa putih itu diselimuti oleh kabut. Langkah kakinya berhenti. Tentu saja, tak lama lagi dia akan mulai bergerak, dan kalaupun dia hanya berjalan, langkah raksasa putih itu sangat lebar, karena kakinya panjang, sehingga dia tidak membutuhkan waktu lama untuk mendekat.

"Hei, hei, heeeey!" Tokimune memukuli perisainya untuk memprovokasi lawan. "Ayo ayo, ke siniiiiiiii!”

"Go go go go go!" raksasa putih itu mengayunkan tinjunya ke arah Tokimune.

"Dasar lamban!" Tokimune melompat mundur dan menjauh.

"Go go go go go go!" raksasa putih itu mengayunkan tinjunya sekali lagi.

"Berputar-putar!" Tokimune menari-nari sembari terus menjauh.

"Goooooooo!" raksasa putih itu mengulurkan kedua tangannya untuk meraih Tokimune.

"Weeeeekk!" Tokimune melakukan backflip untuk menjauh lagi.

"Rahh!" Tada segera membantingkan palunya pada lengan raksasa putih.

"Go go go go go ..." raksasa putih itu menarik kembali lengannya, lalu menatap Tada dengan matanya yang hanya satu.

Tada, mengistirahatkan palunya di bahu, kemudian dia mengacungkan jari tengah pada si raksasa. Mungkin dia berniat mengatakan, tangkaplah aku, bajingan! Tidak jelas apakah raksasa putih itu memahaminya. Tidak seorang pun tahu, tapi sekarang raksasa putih itu menekuk lutut dan merendahkan pinggulnya. Dia bersiap-siap untuk melompat.

"Mundur!" Teriak Haruhiro.

Mungkin dia tak perlu mengatakan itu, karena semuanya pasti sudah mengerti, namun Haruhiro tetap memutuskan untuk meneriakkannya.

"Ya, semuanya pasti sudah tahu! Diam lah! Kau tidak perlu mengatakannya!” Aku tidak ingin mereka berpikir seperti itu, atau “Kami juga sudah tahu, bego,” tapi ... meskipun Haruhiro disebut idiot, dia masih harus melakukannya. Itulah keputusan Haruhiro.

"Baiklah!" jawab Tokimune.

Barisan garda depan, termasuk Tokimune, Tada, Kikkawa, Inui, dan Kuzaku… semuanya bersama-sama mundur. Pada waktu yang hampir bersamaan, raksasa putih itu berhasil melompat jauh.

"Paraoh?!" seru Kikkawa dengan kata-kata yang aneh.

Apanya yang pharaoh?? pikir Haruhiro.

Raksasa putih itu melompat tujuh, atau mungkin delapan meter, lalu mendarat dengan suatu hentakan. Tidak ada yang hancur, tapi jika mereka sedikit terlambat untuk mundur, mungkin nyawa sudah melayang.

Sekarang. Haruhiro bahkan tidak perlu menyatakan perintah.

"Yeahhhhhhhhhhhhhhhhh!" Ranta, yang telah bersembunyi di balik gang, mengangkat Pedang Petir Lumba-lumba tinggi-tinggi, lantas dia menghujamkannya pada raksasa itu.

Ranta tidak mengayunkan pedangnya dengan begitu keras. Dia hanya menargetkan kaki kanan si raksasa putih.

"Hah, hah, hah, hah, hah, hah, hah!” tanpa berhenti untuk mengambil napas, Ranta terus menyabetnya lagi, lagi, lagi, dan lagi.

Setiap kali ditebas oleh pedangnya, tubuh raksasa putih yang bagaikan patung itu mengejang, walaupun hanya sedikit.

Ini dia: strategi sengatan super. Sungguh nama yang mengerikan.

Terlepas dari namanya yang mengerikan, taktik ini sangat efektif, dan dengan menghentikan gerakannya seperti ini, mereka memiliki peluang untuk merobohkan raksasa itu. Meskipun hanya kesempatan yang tipis, namun mulai saat ini, pemenang pertarungan ini akan ditentukan oleh siapapun yang memberikan serangan lebih kuat.

"Tada-san!" seru Haruhiro.

Tada menjilat bibirnya dan menjawabnya. "Jangan bilang apa-apa lagi. Lihat saja kekuatanku yang bisa mengirimmu ke surga."

Tidak, bukan aku yang harus kau kirim ke surga, Haruhiro ingin bergumam seperti itu, tapi ia berhasil menahannya. Jika dia menganggap serius setiap lelucon yang diucapkan Tokis, maka dia tidak akan bisa bertahan sebagai rekan mereka.

"Sekarang, serangan pembunuhku…….." Tada berlari, kemudian meluncur ke depan dengan berjungkir balik, lantas dia membantingkan palunya dengan genggaman ganda pada lutut kiri raksasa putih itu. "Bom Somersault!"

Tetapi……, oh sial…. Tada-san memang sungguh menakjubkan, pikir Haruhiro.

Palu itu terbenam ke lutut kiri raksasa putih, sehingga banyak pecahan berhamburan.

"Rasakan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan ini, dan iniiiiiii!” Ranta masih di sana, dan dia terus-menerus menebaskan pedangnya. Dia terus mengayunkan Pedang Petir Lumba-lumba, sehingga lawannya semakin tersengat.

Tada menarik napas sekali, menyesuaikan posisi kacamatanya, lalu dengan kalem dia memperlebar jaraknya dengan lawan.

"Whoa, whoa, whoa, whoa, whoa, whoa, whoa!" teriak Ranta sambil menatap Tada dan terus menebaskan Pedang Petir Lumba-lumba terhadap kaki si raksas. "Cepatlah bung! Ini sangat sulit, sial! Gwahhhhhhhhhh!”

Tada memiringkan kepalanya ke samping, kemudian mengayunkan palu di sisinya. "Apakah barusan kau mengumpatku?”

"Tidak, tuan, aku tidak melakukannya! Kau hanya mendengar angin lewat, tuan! Hanya angin lewat!! Nwahhhhhhhhh!”

"Begitukah? Jadi, kau sedang kesulitan ya?”

"Ini super-super-super sulit, bung! Cepatlah! Cepat habisi diaaaaaa!"

"Bodo amat," kata Tada.

"Huhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ?!"

"Kalau kau kesulitan, maka itu masalahmu sendiri, aku sih gak ada hubungannya."

"Heyyyyyyyyyy, dasar keledai!"

"Keledai katamu???" ulang Tada.

"Tidak, maksudku……. Tada-san! Tada-sama! Tada sang Dewa!”

"Hanya bercanda." Tada menyeringai, kemudian bergegas ke arahnya.

Yeah, pikir Haruhiro. Aku tidak mengerti. Lelucon Tada selalu tidak bisa dimengerti.

"Ahaha! Keren banget! Aku suka lelucon kasar Taddachi!” teriak Kikkawa.

Karena satu-satunya yang tertawa adalah Kikkawa, maka dia memiliki toleransi yang begitu tinggi. Itu artinya, bahkan anggota Tokkis yang lain pun tidak paham lelucon Tada, pikir Haruhiro. Aku jadi merasa sedikit lega. Jika saja mereka semua terbahak-bahak karena lelucon Tada, maka sepertinya aku sudah tidak mungkin lagi memahami pemikiran para Tokkis.

"Kwahhhh! Kwahhh! Kwahhh! Kwahhhhh! Kwahhhhh! Uwahhhh!” Ranta seakan-akan melepaskan jeritan kematiannya, dan dia menguras semua kekuatannya untuk terus menebas kaki kanan raksasa putih.

"Aku baru sadar….." Tada melakukan jungkir balik ke depan dan melepaskan Bom Somersault sekali lagi "…….serangan pamungkasku sama sekali tidak membunuhnya, kan?!"

Kali ini dia mengincar lutut kanan. Terdengar suara retakan yang keras.

Tada melirik ke samping, di sebelahnya dia melihat Ranta masih bekerja keras, kemudian dia melepaskan 2 – 3 hantaman berikutnya.

"Yume!" Teriak Haruhiro, kemudian dia pun menerima jawaban, "Nyaaa!" kemudian si gadis linglung langsung melepaskan panah.

Itu adalah skill memanah, Rapid Fire. Penyerang garda depan membuat sedikit celah di antara barisan mereka, sehingga panah Yume bisa melesat melaluinya tanpa melukai siapapun. Dia melepaskan tembakan, lagi dan lagi.

Inui juga seorang Hunter, dan dia punya busur, tapi sepertinya aku belum pernah melihat dia menggunakannya. Tiba-tiba Haruhiro memikirkan hal seperti itu. Mungkin aku harus bertanya padanya kalau ada kesempatan nanti. "Mengapa kau tidak pernah menggunakan busurmu?" atau mungkin…. "Apakah kau tidak bisa memanah?” Mungkin Inui akan tersinggung setelah mendengar pertanyaan bodohku itu. Tapi kalau pun dia tidak bisa memanah, mungkin itulah alasan mengapa dia berusaha lebih keras dalam pertarungan jarak dekat. Begitu, kan… Inui-san? Bagaimanapun juga, dia tetaplah seorang Inui yang begitu kuat.

Yume melepaskan enam tembakan dengan cepat, dua di antaranya mengenai mata raksasa putih tersebut.

Itu adalah usaha yang bagus dari Yume, meskipun menjadi seorang Hunter, dia adalah pemanah yang payah.

"Gwah!" Ranta tersandung, kemudian terjerembab ke belakang. "Aku sudah tidak kuat lagi!"

“Good job, Ranta! Kau memiliki lubang pantat yang bagus, ya!” dorongan semangat dari Anna-san cukup efektif. Pantas saja Tokkis menganggapnya sebagai maskot dan idola mereka. Namun, kau harus mempertanyakan mengapa dia memuji lubang pantatnya Ranta. [1]

"Baiklah! Serahkan padaku!” suara Tokimune terdengar dari atas-

Tunggu, sejak kapan dia sampai di sana?

Harusnya dia masih berada di sekitar jalan, tapi sekarang Tokimune sudah berada pada puncak bangunan di depan Haruhiro.

"Hahhh!" teriak Tokimune. Dia melompat dari gedung sambil berseru.

Atau lebih tepatnya, dia melompat dari sana ke suatu tempat lain. Lantas, dia mendarat di bahu raksasa putih.

Ranta telah kehabisan tenaga, dan efek sengatan pedangnya telah melemah.

"Gu, ga, ga, go!" raksasa putih itu mencoba meneriakkan sesuatu.

Sebelum dia bisa melakukannya, Tokimune membenamkan pedangnya pada mata si raksasa. Tokimune tidak hanya menancapkan pedangnya, namun dia juga memutar-mutar gagang pedang itu.

"Itu ada! Skill mematikan Tokimune-san, Saint Arpeggio!” teriak Kikkawa.

Kikkawa sedang mengatakan sesuatu, tapi jika Haruhiro bertanya mengapa nama skill-nya Saint Arpeggio, mungkin dia tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini karena jawaban Kikkawa pasti hanya akan membuatnya semakin kebingungan, jadi dia membiarkan itu begitu saja.

Tidak, tapi…. serius deh, mengapa namanya Saint arpeggio? Apakah itu semacam musik? [2]

"Hah!" Tokimune segera melompat menjauh dari raksasa putih, untuk kembali ke atap bangunan.

Karena tembakan panah Yume dan Saint Arpeggio milik Tokimune (atau apa lah namanya) raksasa putih itu telah terluka serius karena mata satunya terkena berkali-kali.

"Mundur lagi!" teriak Haruhiro saat ia bergegas mundur.

Yume dan gadis-gadis lainnya, Ranta, dan semua orang di garis depan (kecuali Tokimune) memperlebar jarak dari si raksasa. Hanya Tokimune yang tidak melakukannya. Di atas bangunan itu, dia benar-benar meihat lawannya menggeliat kesakitan.

"Go go go!" raksasa putih mengayunkan kedua lengannya, dengan kaki yang tidak stabil. Mungkin dia berusaha sekeras mungkin menyerang Haruhiro dan yang lainnya, namun matanya sudah terluka, sehingga penglihatannya kacau. Terlebih lagi, kedua lututnya sudah hancur. Raksasa putih itu jatuh ke suatu bangunan di sebelah kanan, di depan tempat Tokimune berada. Dia menabrak dinding, meskipun dinding itu tidak roboh, namun kerusakannya bisa terlihat jelas.

"Go go go!" raksasa putih itu mencoba menenangkan diri, tapi dia tidak bisa lagi mengayunkan kakinya, sehingga dia tidak bergerak seinchi pun. Sepertinya dia sudah berakhir.

"Sera…." Haruhiro mulai berteriak, lalu di saat itu juga dia menghentikan kalimatnya. Tada sudah meluncur pada mangsanya.

Raksasa putih itu tidak sepenuhnya terkapar di tanah, melainkan dia masih menopang tubuhnya dengan satu lutut. Tada melompat ke arah lutut itu, dan dengan jungkir balik, lalu dia ...

"Bom Somersault!"

Itu adalah serangan penutup… ah tidak, lebih tepatnya ledakan penutup. Setelah terkena Somersault Bom yang kedua, lutut kirinya setengah hancur. Mungkin dia tidak akan bisa kembali berdiri seperti sedia kala.

"Goooooo!" raksasa putih itu mengulurkan tangan untuk meraih Tada, tapi bahkan menyentuh pun tidak.

"Yeah, begitulah hebatnya aku!" teriak Tada. Sambil mengagung-agungkan dirinya sendiri, dia terus berlari, kemudian mendaratkan hataman keras pada lengan kanan si raksasa dengan palunya.

Setelah mengetahui posisi Tada, raksasa putih mencoba menjangkau dengan mengulurkan tangan kiri. Tapi Tada juga menghantam tangan itu dengan palunya.

"Kalau kau berpikir bisa mengalahkanku, maka coba saja lagi sejuta tahun kemudian!" teriak Tada.

"Tidak ada hubungannya ..." gumam Kuzaku.

Oh, apakah kamu yakin tentang itu? Haruhiro menoleh untuk melihat belakangnya. Beberapa hal terjadi dengan tiba-tiba, sehingga dia tidak boleh lengah sedtik pun. Dan benar saja, dari sisi lain jalan, sejumlah Pansuke berlari sembari mengacungkan tombaknya.

"Bala bantuan musuh dataaang!" teriaknya. "Pansuke, semuanya ada tiga! Kuzaku, Kikkawa, Inui-san!”

"Siap!" jawab Kuzaku.

"Okie-dokie!" teriak Kikkawa.

"Heh ... aku harus ngapain?" Inui malah balik bertanya.

Kuzaku, Kikkawa, dan Inui langsung beranjak dari garis depan, mereka berlari melewati Haruhiro dan gadis-gadis di lini belakang untuk menghadapi bala bantuan musuh. Dengan cepat Mary langsung melirik ke arah datangnya musuh, tapi secepat itu pula dia kembalikan tatapannya ke arah si raksasa yang masih meronta-ronta. Kekuatan Dewa Cahaya Luminous tidak berfungsi di Dusk Realm, jadi dia tidak bisa gunakan sihir cahaya di sini. Namun, meskipun dia tidak bisa melindungi Shihoru seperti biasanya, dia tidak pernah lengah.

Bukan itu yang aku khawatirkan, pikir Haruhiro. Sifat Mary memang selalu serius. Karena itu, begitu dia melakukan apa yang seharusnya dia lakukan, dia cenderung berpikir, "Adakah ini cukup baik?” dan "Apakah tidak ada hal lain yang bisa kulakukan?” Aku harus terus berhati-hati, dan menjaganya. Tentu saja, menjaganya sebagai anak buahku, tidak lebih dari itu. Tidak boleh ada perasaan lain. Oke? Hanya sebagai rekanku, paham?

"Sekarang, berikan serangan terakhir pada mereka, ya! Fight on! Ya!” lagi-lagi Anna-san menyemangati rekan-rekannya.

"Delm, hel, en, rig, arve!" Mimorin merapalkan mantra sambil menggambar simbol elemental dengan tongkatnya.

Fire Pillar. Itu adalah mantra terkuat yang dimiliki mantan Warrior Mimorin. Suatu tiang api menyala di kaki raksasa putih itu. Namun, pilar api itu bahkan lebih kecil daripada tubuh Mimorin, atau mungkin agak mungil. Dan benar saja, serangan unyu-unyu itu tidak memberikan dampak apapun pada si raksasa.

Jika dia berniat menggunakan sihir Arve, bukankah sebaiknya dia melepaskan sihir ledakan? pikir Haruhiro. Namun seorang Thief, dan bahkan anggota Party lainnya tidak berhak memberikan saran seperti itu, karena hanya Mimorin lah yang tahu sihirnya sendiri. Lagipula, Haruhiro masih sulit berkomunikasi dengan Mimorin, jadi dia tak pernah mengungkapkan pendapatnya itu. Meskipun dia begitu ingin mengungkapkannya, dia tak pernah bisa.

"Ohm, rel, dll, el, vel, darsh!" Shihoru menggunakan mantra Shadow Echo untuk meluncurkan tiga elemental bayangan, kemudian bola kegelapan itu pun menabrak si raksasa. Tampaknya serangan itu tidak begitu mumpuni, tapi sihir itu memang bukan dimaksudkan untuk merusak, melainkan hanya memberi dukungan.

"... Wah." Ranta muncul di samping Haruhiro dan berjongkok.

"Kerja bagus," Haruhiro memuji rekan bodohnya sembari tetap mengawasi keadaan sekitar.

Sementara ia melakukannya, Haruhiro menekuk lutut sehingga ia pun siap bergerak kapan saja. Haruhiro sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan tangan yang menggantung lemas di kedua sisi tubuhnya, dia memang terlihat santai, namun matanya terus mengawasi apapun di sekeliling. Jikalau ada orang yang tidak mengenalnya melihat Haruhiro dalam posisi seperti ini, mungkin dia akan berpikir, Apakah pria itu masih waras?

Haruhiro sadar bahwa gestur tubuhnya saat ini tidaklah bagus, tapi ini merupakan kuda-kuda yang mantab sehingga dia bisa meluncur kapanpun ke arah yang dia kehendaki, namun dia tak punya banyak pilihan. Dia sudah berhenti sok keren. Untuk saat ini, ia harus fokus pada keefektifan tim. Haruhiro tidak akan pernah bisa menjadi seperti Tokimune.

Berbicara tentang Tokimune, sekarang dia sedang disibukkan oleh musuh lainnya yang seharusnya menjadi lawan Kikkawa. "Teknik membunuh di udara!”

Dia melompat dari atap ke atap, meluncur turun, kemudian mendarat dengan tendangan indah di kepala Pansuke F. Setelah mementalkan Pansuke F dengan tendangannya, dia pun mendarat dengan elegan. Di saat itu juga, dia menghempaskan tombak Pansuke G dengan perisainya, lalu menusukkan pedang pada Cultist bermata satu itu. Tanpa ragu, dia meluncur untuk mendekati Pansuke H, kemudian menghantam lawannya dengan skill Bash dan Double Thrust. Pansuke H berhasil memutar tubuhnya untuk menghindari pukulan mematikan yang tertuju pada mata satu di kepalanya, tapi serangan Tokimune membuat dia sempoyongan. Ketika Kuzaku dan dua lainnya berhasil menumbangkan musuh, maka mereka sudah memenangkan pertarungan ini.

Tokimune sangat kuat. Dia sangat kuat ketika terbawa suasana, dan akan semakin kuat ketika terdesak. Sejak awal, dia memang sudah kuat. Dia juga punya karisma, dan kepribadian yang baik.

Kalau pun ada kekurangannya, mungkin itu adalah tindakan semau gue tanpa dasar yang jelas, dan dia juga suka melakukan semuanya sendirian. Tapi itu adalah tindakan yang umum di antara para Tokkis.

Biasanya, ketika ada sekumpulan orang berwatak sama, mereka akan saling berselisih satu sama lain, namun itu tidak terjadi di Tokkis. Semuanya tampak akrab dan bersenang-senang bersama, jadi tidak pernah ada perselisihan di antara mereka.

"Go go go go!" raksasa putih itu pasti sedang mengukur sesuatu, karena dia membanting tubuhnya ke sisi bangunan sambil meraba-raba dengan gerakan merangkak. Ah tidak juga, dia tidak bisa melihat, jadi dia tidak bisa mengukur apapun.

"Dasar makhluk tolol!" teriak Tada.

Seakan-akan sudah menantikan saat ini, Tada mendaratkan beberapa serangan pada siku raksasa putih itu, sehingga tangannya setengah hancur. Sekarang, kedua kaki dan siku makhluk itu telah rusak parah. Kemudian, dengan membidik kaki kanan raksasa putih itu, Tada menghujani pukulan pada pergelangan kaki, kemudian tumitnya. Lutut kanannya juga sudah terkena serangan fatal, sehingga pergerakan si raksasa semakin terbatas.

Haruhiro mengangguk. "Ranta. Sekali lagi, giliranmu datang. "

"Heh." Ranta bangkit dan menggelengkan kepalanya ke kiri-kanan, memutar bahunya dan menarik napas panjang. "Baiklah, jika kau memaksaku. Aku akan melakukannya!"

"Tada-san!" teriak Haruhiro.

Saat Haruhiro memberi isyarat, Tada mundur dan Ranta melangkah untuk bertukar peran dengannya.

Tada masuk ke suatu gang. Dia mungkin ingin naik ke atap seperti apa yang dilakukan Tokimune.

“Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!” Ranta memukul lagi-lagi menyiksa lawannya dengan Pedang Petir Lumba-lumba. Dia menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya, dan menebasnya.

Sepertinya Tokimune dan yang lainnya sudah menyapu bersih semua bala bantuan musuh. Mereka pun kembali fokus pada si raksasa putih.

Tada melakukan salto dari atap.

Namun, aku kagum dia bisa melakukan sesuatu yang berbahaya seperti itu tanpa pikir panjang, pikir Haruhiro. Sebetulnya dia sudah tidak lagi terkejut karena sudah mulai terbiasa dengan kegilaan Tokkis, namun itu masihlah mengesankan.

“Ultra! Somersault! Booooomb!” palu Tada menumbuk begitu keras pada tengkuk si raksasa malang.

Mereka telah mencoba banyak hal yang berbeda, tetapi titik lemah raksasa putih tampaknya adalah satu mata dan tengkuknya. Atau lebih tepatnya, kulit di kedua bagian itu lebih tipis daripada kulit tubuhnya secara keseluruhan. Bukan hanya itu, tampaknya tengkuk makhluk putih itu seperti organ tubuh manusia, dimana terdapat sumsum tulang belakang, sehingga itu adalah titik vital yang bisa menyebabkan luka fatal. Cukup sulit mendaratkan serangan di titik itu, namun ketika kena, itu sangatlah efektif.

“Itu cukup, Ranta!” panggil Haruhiro.

“Ya, aku tahu, duh!” Ranta menjauh dari raksasa.

Sementara Tada mendarat di tanah setelah melepaskan skill-nya barusan, seeprtinya dia telah mendarat dengan baik.

Raksasa putih tersungkur lemas di tanah, dan pada saat ini, Haruhiro tak perlu memberikan perintah apapun.

"Baiklah! Party time! Yeah?!” justru Anna-san yang memulai.

Seketika Anna-san meneriakkannya, Mimorin lah yang pertama kali memanjat punggung si raksasa. Tokimune dengan cepat menyusulnya di depan, kemudian Kikkawa dan Inui mengikuti di belakang. Kuzaku mengikuti beberapa saat kemudian. Ranta dan Tada juga tak mau ketinggalan, sembari mereka terus memberikan serangan pada si raksasa.

Haruhiro merasa ingin bergabung juga, tapi ia menahan diri. Dia tidak perlu melakukan itu, lebih baik dia mengawasi kalau-kalau ada gerombolan Cultist lain yang muncul. Bahkan, mungkin saja ada raksasa putih kedua yang sedang menuju kemari.

Haruhiro, Yume, Shihoru, dan Mary hanya menonton pesta ini, dan mereka tidak mengambil bagian sama sekali. Mereka hanya ikut memberikan sorakan bersama Anna-san.

Aku harus tetap berpikir jernih pada saat-saat seperti ini, pikir Haruhiro. Tentu saja, pasti akan tiba saat dimana aku harus berjudi. Ketika saat-saat itu datang, aku sudah tidak bisa lagi berpikir jernih, maka satu-satunya pilihan adalah mempercayakan semuanya pada insting dan keserakahanku, kemudian aku yakin bahwa kelincahanku akan menuntun tubuhku bergerak dengan sendirinya. Tapi aku akan sebisa mungkin menghindari saat-saat seperti itu, dan untuk menghindarinya, aku benar-benar harus mencoba tetap tenang.

Kau membosankan, kau sendiri sudah menyadari itu, Ranta sering mengatakan itu kepadanya. Haruhiro pun tidak pernah menganggapnya serius. Malahan, dia bisa menerima jika seseorang menyebutnya membosankan.

Kepribadianku begitu polos. Wajahku biasa-biasa saja. Tubuhku tidak tinggi, bahkan cenderung pendek. Aku bukanlah orang yang cerdas, dan aku tidak terlahir dengan bakat yang mumpuni, aku pun tidak pernah memamerkan skill yang kukuasai. Jika ada seseorang yang bertanya orang macam apakah aku ini… maka satu-satunya jawaban yang bisa kuberikan adalah: Aku orang normal.

Sebenarnya, aku tidak pernah mempermasalahkan keadaanku yang sekarang. Aku adalah tipe orang yang sudah puas ketika mengatakan, “Aku memang orang normal,” dan aku pun tidak pernah kecewa atas fakta tersebut.

Aku normal, dan aku yakin akan tetap menjadi orang normal sampai kapanpun juga. Aku tidak bisa berubah menjadi sosok yang spesial, bahkan aku tidak berusaha merubahnya. Namun, lucunya aku juga tidak puas dengan keadaanku yang seperti sekarang ini.

Mungkin, aku masih mau berusaha untuk menjadi yang lebih baik, namun kalau itu terlalu sulit, yahhhh setengah baik juga gak papa lah. Kalau setengah baik juga tidak bisa, yahhhh seperempat baik juga gak papa lah. Namun, meskipun aku hanya bisa maju seperempat langkah, meskipun kami tidak banyak perkembangan dari hari ke hari, setidaknya aku masih punya kemauan untuk menjadi lebih baik.

Lucunya… entah kenapa… aku benar-benar merasa bahwa kami sedang berkembang untuk menjadi yang lebih baik.

Mungkin itulah kenapa, sampai sekarang pun aku tidak membenci diriku sendiri yang menyedihkan ini.

Aku sudah melakukan semampuku, kan? Terlebih lagi, ada sedikit hasil yang nampak pada perubahan kami, itu berarti usahaku selama ini tidak sia-sia, kan? Buah manis dari suatu usaha bukanlah hal yang buruk, kan? Meskipun buahnya sangat kecil. Itu berarti aku cukup beruntung, bukan? Dengan begini, aku bisa mengangkat wajahku dengan tegak ke langit, kemudian kulaporkan perkembangan ini pada Manato dan Mogzo yang sudah tak mungkin lagi aku temui, “Hai, Manato….. Mogzo….. kami di sini masih berusaha lho….” Bukankah itu menakjubkan?

Kurasa begitu…..

Sembari melihat sekumpulan hewan buas yang mencabik-cabik mangsanya dengan mata mengantuk, Haruhiro mengawasi sekitarnya untuk memastikan tidak ada musuh lain yang mendekat. Tidak peduli seberapa menguntungkan situasi mereka saat ini, meskipun pertempuran ini sudah jelas siapakah pemenangnya….. hal yang buruk bisa terjadi kapanpun, sehingga merubah hasilnya 180°. Kalau memang itu yang harus terjadi… ya terjadilah, dan mereka hanya harus menerima kenyataan dan terus beranjak dari masa lalu. Tapi, sebisa mungkin dia ingin menghindari terulangnya pengalaman pahit itu.

Grimgar V6 006.png

Tengkuk raksasa putih dan bagian belakang kepalanya kira-kira sudah hancur, dan makhluk itu telah berhenti bergerak. Tampaknya dia mati.

Namun ada suatu hal yang belum kami lakukan pada mayat raksasa berukuran 4 meter ini. Ini adalah pekerjaan yang merepotkan dan memakan banyak waktu, namun bayarannya juga lumayan.

Awalnya, mereka melihat makhluk raksasa tersebut sebagai momok yang mengerikan, dan tak peduli di manapun kau bertemu dengannya, satu-satunya pilihan yang masuk akal adalah lari tunggang langgang. Namun, Shinohara dari Klan Orion telah menemukan bahwa raksasa putih memiliki sejumlah organ yang mengandung kosentrasi logam asing. Setelah seseorang menyebarkan berita penemuan itu, raksasa putih menjadi makhluk buruan yang paling dicari oleh pasukan relawan.

Ngomong-ngomong, ini bukanlah perkembangan baru. Kira-kira sudah ditemukan sekitar sebulan yang lalu.

“Aku dapat piroksen pelangi! [3]” teriak Ranta seperti orang idiot, dia memegang semacam bola dengan diameter sekitar 15 cm yang bersinar dengan warna pelangi, seperti namanya.

Sejauh yang Haruhiro tahu, organ-organ berwarna piroksen pelangi ini berasal dari raksasa putih, dan paling besar ukurannya hanya sekepalan tangan orang dewasa, sehingga yang dimiliki si idiot ini cukuplah besar.

“Yahoo! Aku juga! Aku juga! Aku juga! Aku juga punya satu!” Kikkawa mengangkat tinggi-tinggi piroksen pelangi lainnya, sembari mengedipkan satu matanya dan menjulurkan lidah. Sedangkan yang ini mungkin berdiameter sekitar 10 cm. Namun, itu tetaplah tidak kecil.

Setelah membedah buruannya, mereka hanya dapat 2 bongkah piroksen pelangi dari jasad raksasa putih. Namun, ketika mereka melucuti poncho Cultist, kemudian membedah jasadnya, mereka mampu menemukan sejumlah bahan dengan potongan-potongan kecil piroksen pelangi yang tertanam di dalam. Potongan-potongan piroksen kecil itu bisa dicabut, kemudian diasah, sehingga nilai jualnya di pasaran meningkat.

“Yah, bisa dibilang kita mendapat sekitar enam potong piroksen,” kata Tokimune dari atas sisa-sisa jasad raksasa, sembari dia memamerkan giginya yang kinclong.

Sembari berpikir, Wow, boleh juga nih, Haruhiro memiringkan kepalanya ke samping, kemudian dia berkata, “Yahh ... Menurutku, kita dapat sekitar 5 mungkin?”

“Hanya segitu menurutmu?” tanya Tokimune.

"Mungkin."

Lima koin emas. Dibagi sama rata dengan Tokkis, itu berarti Party Haruhiro mendapat 2 keping emas, dan 50 keping perak. Kemudian dibagi lagi dengan 6 anggota Party, sehingga masing-masing mendapatkan 41 keping perak. Lumayan juga. Atau lebih tepatnya, beberapa bulan yang lalu mereka tidak pernah menyangka akan mendapat rejeki sebanyak ini.

Aku belum terbiasa dengan ini semua, pikirnya. Boleh kubilang, pendapatan sebanyak ini adalah anugerah dari langit.

Sisa-sisa jasad raksasa putih dibiarkan begitu saja, tapi setidaknya mayat-mayat Cultist harus dipinggirkan ke sisi jalan sebelum Party Haruhiro dan Tokkis pulang.

Tak lama berselang, mereka bertemu dengan sesuatu. Bukan Cultist, ataupun raksasa putih lainnya, melainkan segerombolan manusia.

Atau lebih tepatnya, segerombolan pasukan relawan.

“Oh.” pemimpin Party itu adalah seorang Hunter, tapi entah kenapa dia terkesan tidak ramah. Dia mengenakan pakaian penyamaran, dilengkapi dengan topi dan bulu di atasnya, ada juga busur dan selongsong anak panah yang disembunyikan di balik punggung. Dia mungkin sedikit lebih tua dari Haruhiro dan yang lainnya. Dia memiliki mata seperti rubah dan mulut yang bengkok. “Lihat, mereka adalah si pembasmi Goblin dan para pelawak.”

“Halo, Raghill-san.” Haruhiro sedikit menundukkan kepalanya.

Di antara semua pasukan relawan senior, ada beberapa orang yang Haruhiro tidak senang memanggilnya dengan akhiran -san. Dan pria ini adalah salah satunya. Haruhiro pun jarang berinteraksi dengannya, tapi dia memang memiliki dendam terhadap orang ini. Ketika mereka baru saja tiba di Grimgar, Raghill meminta Mogzo untuk bergabung Party-nya, namun ajakan itu hanya berakhir dengan penipuan. Uang Mogzo dicuri, dan dia dibuang.

“Cih ...” Ranta mendecakkan lidahnya dengan ekspresi jijik.

Raghill menyipitkan mata dan mencoba untuk mengintimidasi mereka dengan “Huhhh ...?”

Party Raghill terdiri dari Warrior, Thief, Mage, Priest, dan Dark Knight. Ada seseorang yang seakan-akan ingin berkata, Mereka lagi, mereka lagi ..., sementara yang lainnya hanya berekspresi datar, namun ada seseorang yang tampak senang. Masing-masing dari lima orang itu menunjukkan rekasinya sendiri-sendiri, namun tidak satupun kelihatan ramah.

“Mengapa, halo, halo, Raghill-saaaan,” Kikkawa menyela, lantas dia menampar bahu Raghill dengan lagak sok kenal. “Lama tak jumpa ya. Kau sehat-sehat saja kan, Raghill-saaaan? Bagaimana kabarmu saat ini?”

“Sialan, jangan sentuh aku, Kikuk-kawa!” teriak Raghill.

"Hah? Apa itu? Apakah itu berarti aku lucu seperti orang kikuk? Aku sih memang selalu berpikir begitu.”

“Aku tidak mengatakan itu, dasar tolol!”

“Tidak, tidak, tidak, tidak perlu malu-malu, Rag-upil. Ups, maaf, maksudku Raghil! Soz, soz! Aku mengaku salah kok!”

“Mana mungkin kau mengaku salah!” Raghill berteriak.

"Ya! Memang sebenarnya tidak! Tee hee!"

“Kau membuatku kesal, kau tahu itu?” Raghill geram. “Minggirlah, atau kubunuh kau! Aku benar-benar akan membunuhmu!"

“Itu tidak mungkin,” kata Tokimune dengan senyum ramah. “Aku tidak begitu kenal dengan kalian, tapi aku tahu benar bahwa aku lebih kuat darimu. Mau coba nih?”

“T-tidak perlu!” Raghill mendorong Kikkawa ke samping.

“Ayo pergi!” ia memerintahkan rekan-rekannya untuk meninggalkan tempat ini, dan mereka pun pergi serempak. Bahkan saat dia pergi, dia masih menggumamkan umpatan-umpatan pada kami.

“Orang itu.” Ranta menendang tanah. “Dengan kepribadian sebusuk itu, aku heran dia bisa menjadi pemimpin Party. Aku tidak percaya dia.”

“Ya ...” Haruhiro mengusap bagian belakang lehernya. “Tapi kau juga berkepribadian busuk…...”

Cintaku Selalu Seperti Ini[edit]

Tidak ada matahari yang terbit maupun terbenam di Dusk Realm, sehingga tidak ada siang atau malam di sini. Kompas tidak berfungsi di sini, jadi tak seorang pun tahu arah mata angin. Semuanya serba tidak pasti, seperti itulah keterangan Shinohara dari Klan Orion.

Ketika kau memasuki Dusk Realm dari suatu bukit (sebutlah bukit awal), kemudian melihat ke kejauhan, kau akan disuguhi pemandangan berupa hamparan pilar putih yang menjulang ke langit. Bentuk dan ukurannya tampak aneh, tapi kau akan menduga bahwa pilar-pilar itu pernah dibuat oleh suatu makhluk hidup penghuni tempat ini. Dia menyarankan bahwa, itu semua selalu mengarah ke utara. Dan semua orang pun menyetujui saran itu tanpa sanggahan sedikit pun.

Di sebelah timur bukit awal, sepasang petualang yang biasa dipanggil Lala dan Nono telah menemukan lembah di mana tanaman tumbuh, dan juga air mancur yang terdapat genangan air jernih di bawahnya. Kebetulan, Lala dan Nono yang tiba lima hari setelah Haruhiro dan yang lainnya menemukan lubang yang muncul di Lorong Tambang Grimble pada Wonder Hole.

Dan yang lebih penting, Lala dan Nono telah menamakan makhluk berwujud seperti kelelawar dengan sebutan “Gremlin.” Sehingga nama “ri-komo” tidak lagi digunakan. Bahkan Haruhiro dan yang lainnya sekarang memanggil makhluk itu juga dengan sebutan Gremlin.

Lala dan Nono menamai daerah yang sepertinya digunakan para Gremlin untuk menaruh telur-telurnya dengan nama Area Penyimpanan Telur, dan area sebelumnya disebut Sarang Gremlin. Tentu, Haruhiro dan yang lainnya juga akan menggunakan nama itu mulai dari sekarang. Lala dan Nono memang berbakat memulai bisnis, dan mereka mendapatkan sejumlah uang dengan mengundang Orion, Iron Knuckle, dan klan berpengaruh lainnya untuk menjelajah Dusk Realm. Lantas mereka pun mengenalkan daerah-daerah yang mereka temukan.

Lala dan Nono tampaknya sangat rajin dan teliti. Mereka menjelajahi setiap sudut dan celah Sarang Gremlin, kemudian menemukan pintu masuk ke dunia lain, yang berbeda dari Dusk Realm. Dunia baru ini sangatlah berbeda dengan Dusk Realm, di mana matahari tidak pernah terbit dan malam terjadi sepanjang waktu, sehingga dunia ini disebut Night Realm.

Tak banyak orang mengeksplorasi Night Realm. Karena bagaimanapun juga, sepanjang hari tidak pernah ada sinar matahari, dan ada rumor bahwa pasukan relawan yang mencoba menjelajahinya tidak pernah bisa kembali pulang.

Tampaknya tempat itu sangatlah berbahaya, tapi ada juga rumor bahwa Lala dan Nono diam-diam terus menyelidiki tempat itu.

Belakangan ini, rumor tentang Dusk Realm semakin santer terdengar kebenarannya, sehingga tempat itu menjadi lahan berburu favorit bagi para pasukan relawan. Banyak sekali Party yang mengeksplorasinya setiap hari.

Haruhiro berdiri di depan tenda, sambil meneguk air dari botolnya. Dia mendesah. “Memang sungguh menakjubkan ...”

Di daerah antara lembah yang Lala dan Nono temukan, dan di sebelah timur bukit awal, tidak hanya ada satu-dua tenda yang didirikan, akan tetapi puluhan tenda yang berjajar.

Kebanyakan dari mereka milik pasukan relawan, seperti halnya Haruhiro dan Tokkis, mereka sengaja berdiam diri di Dusk Realm untuk mengeksplorasi. Sisanya adalah para pedagang yang buka lapak karena ada begitu banyak pasukan relawan yang berkumpul di sini. Mereka menjalankan bisnis musiman seperti: kantin keliling, bar keliling, bengkel pandai besi dadakan, pemandian, agen reseller, bahkan cabang Bank Yorozu ada di sini. Yang lebih parah lagi…. ada juga orang-orang yang menjual “kekerabatan”. Mereka mendirikan tenda di dekat lembah, sedangkan tenda milik para pasukan relawan juga didirikan di sana, sehingga mereka bergabung untuk membentuk semacam desa kecil.

Desa kecil tersebut biasa dinamai Pemukiman Satuan Pasukan Cadangan Dusk Realm.

Ah tidak… tidak juga. Hampir tidak ada orang yang menyebutnya seperti ini. Kebanyakan orang hanya menyebutnya “pemukiman” saja.

Tidak ada malam hari di dunia ini.

Di luar, mungkin sekarang sedang tengah malam, tapi karena matahari terus bersinar di sini, maka seakan-akan tidak ada batas waktu. Anna-san memiliki jam mekanik, sehingga Haruhiro dan yang lainnya mengandalkan benda itu untuk bangun di pagi hari, aktif di siang hari, kemudian tidur sebanyak mungkin di malam hari.

Haruhiro benar-benar ingin melakukan rutinitas itu, tapi ia menderita sedikit insomnia. Itulah mengapa sekarang dia sedang meringkuk sendirian di luar tenda.

Dia bisa mendengar dengkuran Ranta dari sana.

Tidak mungkin aku bisa tidur sepulas itu, pikirnya.

Suara-suara dari pasukan relawan di bar keliling terdengar sangat gaduh.

Sepertinya aku tidak bisa tidur sama sekali hari ini, pikirnya.

“Matahari yang tak pernah terbenam di sini…. mulai menggangguku,” gumam Haruhiro.

Apakah itu membuatku gugup? dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Aku bukanlah orang sebebal Ranta, tapi kurasa aku juga bukanlah orang yang terlalu sensitif.

“Aku ingin hidup sendiri ... suatu hari nanti ...” gumamnya.

Ada suatu keinginan tak tertahankan untuk memiliki pendamping yang selalu ada di sisimu. Keinginan seperti itu sungguh membuatku semakin sengsara. Sebenarnya aku cukup sering merasakannya. Mungkin keinginanku ini terlalu mewah, tapi aku ingin sekali menyewa suatu kamar pribadi.

“Ugh, aku benci ini, benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… benci… aku tidak bisa menahannya lagi ...” dia membenamkan kepalanya sembari terhanyut dalam pikirannya. Dia terus bergumam pada dirinya sendiri selama beberaa saat. Sepertinya itu cukup membuatnya merasa lebih baik.

Ayo bersikap lebih realistis. Maksudku, meskipun aku akan menyewa kamar pribadi, kami tetap tidak bisa pulang ke Altana selama beberapa saat. Kami tetap saja akan tinggal di tenda, tak peduli itu di Post Lonesome Field ataupun pemukiman ini. Sedikit tenda akan lebih baik untuk mobilisasi. Aturan seperti sekarang ini, di mana tenda para lelaki dan perempuan dibedakan, mungkin merupakan pilihan yang terbaik. Aku tahu itu, jadi mengapa aku kadang-kadang memiliki keinginan untuk tinggal sendirian?

Aku tak tahu alasannya.

Mungkin sebagiannya karena aku adalah seorang pemimpin, sehingga aku menginginkan sesuatu yang eksklusif, meskipun sebenarnya peran itu tidak cocok untukku ... sebenarnya, aku juga mencoba mempertimbangkan privasi orang lain.

Tapi, tidak apalah seperti ini ketika kami sedang kerja. Ada banyak hal lain yang perlu kupikirkan, ada banyak hal lain yang perlu kukerjakan, jadi lebih baik aku tidak perlu fokus pada hal yang tidak berguna. Tapi ketika jam kerja selesai, aku bebas dari tugas apapun, aku menanggung beban yang begitu berat selama bekerja, sampai-sampai nafasku sesak.

Apun tidak pernah berpikiran untuk melepas semua beban itu begitu saja. Aku tidak pernah berencana untuk melarikan diri dari itu.

Hanya saja, itu sangatlah sulit.

Aku tidak boleh membuang tanggung jawab apa pun, dan aku tidak punya niat untuk melakukan itu, tapi sekali lagi…….. itu sungguh sulit. Aku melampaui batasku, dan aku masih saja merasa kurang atas segala yang kumiliki. Tapi tetap saja, aku harus melakukannya.

Aku tidak boleh mengeluh tentang hal itu. Aku tidak ingin membuat kawan-kawanku khawatir, dan aku tidak ingin menghancurkan keharmonisan yang telah susah payah kami jalin. Itu dapat mempengaruhi kinerja kami.

Pokoknya, aku selalu saja memikirkan perasaan mereka. Baik perasaan teman-temanku, maupun para Tokkis. Aku tidak punya pilihan lain. Beban emosional itu semakin membuatku rapuh.

Aku ingin sendiri.

“Yah, sekarang pun aku sudah sendiri toh,” gumamnya. "Sendirian..."

Betul juga. Setidaknya keinginanku untuk sendiri sudah terkabulkan saat ini. Haruhiro bangkit. Aku akan pergi untuk berjalan-jalan.

Dia meninggalkan tenda dan menuju ke lembah. Tidak ada siang atau malam di sini, adanya senja, jadi kantin dan bar keliling selalu ramai. Ada banyak pasukan relawan yang berlalu-lalang, tapi Haruhiro bergerak diam-diam untuk menghindari mereka.

Ada sejumlah besar pasukan relawan berkumpul di pemukiman. Tapi, sepertinya jumlahnya tidak melampaui 300 orang. Setidaknya Haruhiro punya kenalan banyak pasukan relawan, tapi sebagian besar adalah seniornya, dan sering kali mereka hanya menjadikan Party Haruhiro sebagai bahan ejekan. Jika salah satu dari mereka memanggilnya, maka Haruhiro harus datang menghampirinya, kemudian mereka terlibat dalam suatu obrolan yang sia-sia, itu sungguh saat-saat yang menyebalkan. Lagian, Haruhiro adalah orang yang lebih suka sendirian.

Para anggota Iron Knuckle sedang pesta di bar keliling. Secara teknis mereka adalah Klan, tapi entah mengapa mereka menyebut dirinya sendiri ‘keluarga’, dan mereka pun menganggap sesama anggota sebagai keluarga. Di tengah-tengah kelompok itu, ada seorang pria dengan potongan rambut cepak dan badannya tidak begitu besar, dia memiliki wajah imut, tapi bahkan dari kejauhan dia memancarkan aura yang cukup mengintimidasi, namanya adalah “Titan” Max. Pria berjenggot pendek yang duduk di sampingnya adalah tangan kanannya, yaitu Aidan.

Ternyata nama sebenarnya Max adalah Masafumi dan Aidan adalah Eisuke, tapi siapapun memanggil nama itu di hadapannya, maka dia pasti akan dihajar sampai jadi bubur. Bukan hanya Max dan Aidan; sebagian besar saudara-saudara mereka memiliki julukan serupa.

"Kami! Adalah! Iron! Knuckle! Yeahhhhh!” teriak saudaranya.

Haruhiro sering kali mendengar seruan seperti itu dari mereka. Saudara-saudara itu sangat bersemangat ketika meneriakkan nama keluarganya sekeras-kerasnya. Haruhiro sungguh tak paham dengan kebiasaan seperti itu.

Iron Knuckle adalah klan kedua yang menginvasi Dusk Realm setelah Orion, dan mereka segera menunjukkan bertapa garang anggota klannya.

Orion adalah cerminan dari sifat Shinohara, dan kebanyakan anggotanya juga bersikap begitu sopan dan elegan, mereka adalah grup penjelajah berskala besar, tapi Max dan rekan-rekannya benar-benar berbeda. Watak mereka ugal-ugalan, dan mereka adalah sekelompok petarung yang menakutkan.

Mereka membunuh makhluk-makhluk itu. Setiap Cultist yang mengganggu, akan mereka habisi. Itu merupakan pembantaian massal.

Ada kota-kota berisikan Cultist yang tersebar di seluruh wilayah Dusk Realm. Sebelum Orion datang, Haruhiro dan yang lainnya telah menemukan setidaknya dua kota. Namun, mereka tidak pernah mendekati kota-kota tersebut, karena ada banyak Cultist di sana. Tempat itu jelas-jelas berbahaya.

Namun, Iron Knuckle telah menyerbu salah satu dari dua kota itu tanpa pikir panjang. Dari apa yang telah didengar oleh Haruhiro, mereka sudah menghabiskan sehari penuh, bahkan lebih dari 24 jam tinggal di kota itu, dan membantai banyak Cultist. Akhirnya, para Cultist yang masih bertahan hidup melarikan diri dari kota, dan Iron Knuckle pun menguasai kota itu sembari menyanyikan lagu-lagu kebanggaannya.

Mereka telah menduduki kota. Ah tidak, mungkin lebih tepat kalau bilang mereka telah menghancurkannya.

Bahkan, pembantaian itu terus berlanjut ke kota yang Haruhiro dan kawan-kawannya gunakan sebagai lahan berburu.

Setelah itu, Iron Knuckle tidak lantas menduduki kota tersebut; tapi mereka sudah merencanakan pembantaian-pembantaian berikutnya. Apakah mereka langsung menghabiskan penghasilannya hari itu juga? Tidak, bukan itu. Yang pasti, hanya tersisa sedikit Cultist yang kembali ke kotanya, tetapi mereka hanya membersihkan mayat-mayat rekannya yang telah terbantai oleh monster biadab bernama manusia. Sesekali mereka hanya berpatroli, tapi tidak ada tanda-tanda mereka akan melanjutkan hidup di kota itu.

Selain itu, raksasa putih biasanya terlihat di area-area dimana Cultist biasa berkumpul, bukannya di kota-kota terbuka. Dari apa yang biasa mereka lihat, itulah kenyataannya.

Tidak seperti para Cultist, raksasa putih bukanlah makhluk yang suka menunjukkan dirinya di sembarangan tempat. Mereka biasanya terlihat di reruntuhan kuil dewa-dewa raksasa, yang pernah Tokkis gunakan sebagai tempat melarikan diri pada hari keduanya mengeksplorasi Dusk Realm, atau pada lembah di barat daya bukit awal, yang disebut Dewa-dewa Agung Cauldron. Di tempat-tempat itulah biasanya terlihat raksasa putih.

Namun, sejak Iron Knuckle membumi hanguskan tempat-tempat berkumpulnya Cultist, para putih raksasa mulai berkeliaran di sekitar. Kadang-kadang, mereka bahkan terlihat berkumpul bersama gerombolan Cultist.

Oleh karena itu, sekarang tidaklah sulit memburu para Cultist sekalian raksasa putih, pada tempat-tempat yang telah dihancurkan oleh Iron Knuckle. Para pasukan relawan pun semakin dimudahkan. Di antara pasukan relawan, mereka menyebutnya “yang pertama.”

Kenapa harus disebut “yang pertama”? Apakah maksudnya kota pertama yang berhasil dihancurkan manusia, atau mungkin lahan berburu yang pertama bagi mereka? Atau mungkin keduanya benar? Haruhiro tidak pernah tahu bahkan sampai saat ini.

“Yah, bagaimanapun juga, kita harus banyak berterimakasih pada Iron Knuckle, itu sudah pasti ...” gumamnya.

Mereka adalah orang-orang yang mengerikan. Tidak mudah untuk melupakan kebrutalan mereka. Tapi, karena Haruhiro dan yang lainnya hidup dari sisa-sisa pembantaian Iron Knuckle, maka bisa disimpulkan bahwa mereka begitu lemah dan kecil. Sehingga, mereka tidak berhak untuk mengkritik klan itu.

Haruhiro menggunakan skill-nya sebagai Thief, untuk mencapai tepi lembah tanpa menarik perhatian seorang pun. Dia menikmati secuil rejeki dari pencapaian orang lain.

Kami begitu sepele jika dibandingkan mereka, pikirnya. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Menjadi ‘wong cilik’ tidaklah seburuk itu. Dan aku berniat menjadi seperti ini selamanya. Tapi jujur saja, aku tidak ingin menjadi seorang pemimpin yang disepelekan orang lain, dan benar-benar terasa menyakitkan ketika aku menyadari bahwa aku tidak memiliki pilihan lain.

Ketika tempat ini pertama kali ditemukan, kondisinya begitu hijau dan asri, tapi sekarang semakin gersang. Semua pohon telah ditebang, sampai tidak ada satu pun tersisa. Masih ada beberapa semak-semak di sana-sini, tapi hanya tinggal itu yang tersisa.

Air mancur di dasar lembah digunakan sebagai sumber air. Haruhiro mengambil air yang telah direbus daru mata air tersebut. Airnya bersih dan jernih, tetapi jika kau meminumnya langsung, pasti kau akan sakit perut. Sayangnya… para prajurit relawan tidak sungkan-sungkan dalam menggunakan air, sehingga suatu saat nanti mata air itu bisa saja mengering, tapi sekarang masih baik-baik saja.

Ketika dia melihat mata air itu, entah kenapa, hatinya menjadi tenang. Dengan begini, pikirannya bisa kembali tenang. Sesimpel itulah pria yang bernama Haruhiro ini, dia tak memerlukan refreshing yang mewah untuk meringankan stressnya. Dia senang menjadi orang yang sederhana dan gak neko-neko. Kalau Haruhiro tidak sesimpel ini, pasti dia akan tersiksa oleh betapa berat stress yang ditanggugnnya.

Dia mulai merasa mengantuk, jadi Haruhiro memutuskan untuk kembali ke tenda. “Sepertinya hanya ini yang kuperlukan ...”

Saat ia berjalan, ia tertawa sendiri. Hari demi hari, dia selalu memikirkan hal yang sama dan terus berulang-ulang, itu selalu membebani pikirannya, sampai-sampai dia tidak lagi memperdulikannya. Dia sudah terbiasa dengan kalimat: “Yahh, besok pagi harus kerja keras lagi deh”

“Kau boleh bilang, aku tidak menunjukkan progres yang nyata ... tapi, itu juga tidak buruk. Bagaimanapun juga, aku bukanlah orang penting, jadi wajar saja kalau progresku lambat ...”

Secara keseluruhan, Party-ku membuat progres yang konstan, dan kami barhasil mendapatkan sejumlah keuntungan, jadi itu bukanlah hasil yang buruk, kan? pikirnya. Ya. Tidak apa-apa. Aku hanya harus menerima itu. Itulah yang akan aku lakukan.

Aku akan segera sampai ke tenda kesayanganku. Tapi bukan berarti ada orang yang kusayangi di sana.

Hei tunggu dulu.

Seseorang keluar dari tenda. Tidak, bukan seseorang, karena Haruhiro cukup mengenalinya…. Bisa jadi itu Ranta atau mungkin Kuzaku.

Itu Kuzaku, Haruhiro akhirnya meyakininya. Seperti biasa, aku langsung mengenalinya karena tubuhnya begitu tinggi, meskipun posturnya tidak sebagus itu. Mudah dikenali. Tidak ada anggota Party-ku yang setinggi itu, kecuali Kuzaku.

Sepertinya tidak ada masalah yang berarti, tapi…….. Oh, kenapa dia terbangun, bukankah sekarang saatnya tidur, hmm?……tapi….. yang jadi masalah adalah, ada orang lain yang juga keluar dari tendanya. Dan dia adalah Mary.

Kuzaku dan Mary keluar dari tendanya masing-masing secara hampir bersamaan. Mungkinkah itu hanya kebetulan? Atau mungkinkah mereka punya semacam chemistri? Tak seorang pun tahu.

“... Tanya saja langsung pada mereka ...” Haruhiro bersembunyi di balik tenda terdekat. Secara refleks, tiba-tiba dia menyembunyikan dirinya, padahal dia tidak berniat melakukan itu.

Apakah aku salah dengan bersembunyi seperti ini? Tidak kan? Tapi memang seharusnya tidak perlu kulakukan sih.

Dia menjuurkan kepalanya untuk mengintai mereka berdua.

Mengapa aku harus melakukan ini? Seakan-akan aku seperti penguntit. Ini tidak baik. Ini benar-benar tidak baik. Tetapi tetap saja. Harus kuakui, aku cukup penasaran. Tentu saja. Maksudku… aku pemimpin, kan? Tidak masalah kan jika aku mengawasi anak buahku sendiri? Lagian, mereka adalah anggota Party-ku, kan? Dan aku adalah pemimpinnya, jadi aku boleh kepo sedikit, dong? Aku tidak tahu. Mungkin tidak boleh ya?

Mereka mengatakan sesuatu. Mary sedikit menundukkan kepalanya.

Apa’an sih yang sedang mereka bicarakan?? Sial!! Aku sama sekali tidak bisa mendengarnya!!”

“Oh ...” akhirnya Haruhiro mengeluarkan erangan yang aneh.

Kuzaku meraih lengan Mary… bukan, lebih tepatnya lengan bajunya. Sembari melakukan itu, mereka berjalan bersama. Mary sama sekali tidak memberikan perlawanan. Dia mengikuti Kuzaku, sambil tetap menundukkan kepalanya.

Ohh. Jadi dia pergi….pergi bersama dengannya. Ohh. Aku paham. Jadi begitu ya ...

“Aku paham,” gumam Haruhiro.

Yahh, terserah lah.

Betul.

Aku sih oke-oke saja.

Bukan berarti aku tidak pernah menyangka bahwa ini tidak akan terjadi. Ya. aku sudah menduga ini akan terjadi jauh hari sebelumnya, kan? Tentu saja ini akan terjadi. Sudah seberapa jauh hubungan mereka? Aku tidak yakin sih, dan aku tidak punya niatan untuk mencari tahu, tapi aku yakin benar bahwa telah terjadi sesuatu di antara mereka. Setidaknya, aku tahu bahwa mereka telah menjalin hubungan spesial. Jadi, silahkan lanjutkan saja.

Lakukan apapun yang kalian inginkan!

Ya!

Aku sudah tidak peduli lagi!

Maksudku, aku sudah merestui kalian?!! Sadarkah kalian bahwa aku sudah merestuinya!??

Tapi, jika kalian bersedia mengatakan sesuatu padaku…….

Aku ingin kalian menyatakannya sejujur mungkin ...

Aku lebih tenang jika kalian menyatakan hubungan itu dengan jelas ...

“Hahhhh ...” Haruhiro menghela napas dalam-dalam, kemudian dia duduk di tanah sembari memegang dadanya. Dia merasa ingin menangis.

Ini mengejutkan.

Mengapa? Mengapa aku begitu terkejut dengan hal ini? Karena mereka merahasiakannya? Katakan padaku! Katakan sesuatu! Apakah kalian tidak percaya padaku?! Itu saja? Kurasa bukan itu masalahnya!! Aku lebih suka kalian tidak menyembunyikannya!! Aku tahu bahwa itu bukanlah hal yang bisa dinyatakan dengan mudah!! Tapi aku pun juga tidak yakin…..

“Sebenarnya, kami berdua sudah pacaran!”

Tapi Kuzaku bukanlah orang yang bisa mengatakan hal semacam itu secara langsung, dan Mary pun begitu. Kau tahu, bukan hanya kepribadian mereka yang menyebabkan sulit menyatakan itu. Namun, lambat laun hubungan mereka akan semakin dalam. Mungkin tidak ada definisi yang jelas untuk mendeskripsikan hubungan mereka. Mungkin mereka berdua sungkan menyatakan hubungan itu pada rekan-rekan setim, dan mereka tidak punya keberanian untuk menyatakan itu. Mungkin juga mereka tidak tahu bagaimana cara menyatakannya yang baik. Mungkin banyak hal telah terjadi. Ya…. pasti begitu.

Lagipula…. Apakah mereka sama-sama suka?

“Urghhhh ...”

Dadaku serasa sesak. Aku sungguh menderita. Apa ini? Yahh, apapun itu, jika mereka…. apa tadi? Bagaimana aku tadi menyebutnya? Saling mencintai? Saling mengasihi? Hubungan romantis? Sesuatu seperti itu?.... Ah terserah apa namanya…. Tapi kalau itu benar, maka mereka berhak melakukan apapun.

Mereka benar-benar bebas melakukan apapun. Tak seorang pun berhak mengganggu mereka. Siapapun yang mengganggu hubungan suci itu, pantas mati!!!

Itulah yang dipikirkan Haruhiro. Itulah kata hatinya yang sebenarnya.

Lantas………… Mengapa……..

Lantas mengapa aku harus menguntit mereka seperti ini?

Dia masih sulit menerimanya, bahkan ia tidak ingin menerimanya. Tapi dia begitu ingin mengikhlaskannya, meskipun itu berarti dia membohongi dirinya sendiri.

Tidak peduli berapa kali pun dia menyanggahnya, Haruhiro mencintai Mary. Jika diungkapkan dalam frasa yang sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat sederhana…. itu adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Harusnya, aku tidak pernah berharap bahwa Mary akan membalas cintaku. Aku tidak punya harapan untuk itu. Itu sudah pasti. Itulah sebabnya aku tidak pernah ingin menghayal bahwa aku jatuh cinta pada Mary. Aku berusaha keras untuk melupakannya. Tapi, kenapa rasanya begitu hampa dan sepi.

Meski begitu, ia masih mencintainya.

Jika dia menguntit mereka, mungkin dia bisa memastikan sesuatu.

Ambilah contoh Yume dan Shihoru, mereka berdua adalah gadis yang juga rekan satu tim, sama halnya seperti Mary. Jika Haruhiro mendapati mereka berdua jalan dengan cowok lain, apakah dadanya akan merasa sesak seperti ketika melihat Kuzaku pergi bersama Mary?

Mungkin tidak.

Shihoru dan Ranta, kalau mereka berdua akhirnya berpacaran, maka itu sungguh mengejutkan. Tapi itu hanyalah kejutan biasa, bahkan Haruhiro lebih mengkhawatirkan apa yang akan terjadi pada hubungan mereka di masa depan, sudah… hanya itu. Sama halnya jika Yume dan Ranta berpacaran. Kalau Yume dan Kuzaku? Atau Shihoru dan Kuzaku? Itu memang benar-benar tak terduga, tapi……. Oh, aku paham, aku harap hubungan kalian langgeng untuk seterusnya, dan jangan sampai putus, oke? Akan sangat merepotkan jika salah satu di antara kalian patah hati, mungkin hanya seperti itulah reaksinya.

Tapi itu tidak berlaku untuk Mary.

Tak peduli apakah Kuzaku atau pria lain yang berpacaran dengannya, Haruhiro tidak hanya merasakan keterkejutan yang biasa. Dadanya akan sesak, matanya akan berair, dan pikirannya akan kacau. Itu karena dia begitu mencintai Mary.

“Aku paham ... Jadi begitu ya ...” Haruhiro menatap kosong pada langit yang berwarna-warni.

Suatu lubang besar menganga di dadanya, dan itu menyiksanya dengan rasa sakit yang tak terhingga. Lubang itu begitu hampa, dan hanya ada angin yang menerpanya.

Haruhiro patah hati.

Dan tidak bisa disembuhkan untuk sementara waktu.

Dengan Segenap Hatiku[edit]

…Dan? Bagaimana jika begitu? Apakah ada maksud lain?

Tidak. Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi.

Perasaan hati Haruhiro tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaannya sehari-hari. Itu benar-benar tidak berhubungan.

Sekarang dia telah meyakininya, atau bisa dibilang, dia sudah memahaminya. Bahkan, sekarang semua kefrustasiannya telah menguap. Dia bahkan tidak peduli lagi tentang apa yang terjadi di antara Mary dan Kuzaku.

Yah, dia tidak perlu memusingkan hubungan orang lain, aku mengharapkan yang terbaik untuk mereka, tapi…. Tentu saja, kalian boleh melakukan apapun yang kalian inginkan. Oh, ngomong-ngomong, kalian boleh saja menyembunyikannya, tapi aku sudah tahu semuanya…

Mungkin?

Ya, jujur saja, ia juga tidak begitu yakin.

Mereka pikir hubungan mereka masih rahasia, tapi Haruhiro tahu. Apa yang bisa ia lakukan untuk menanggung beban ini? Apakah dia perlu mengonfirmasi hubungan mereka? Dia sendiri tidak yakin.

Ini begitu canggung.

Kemudian, dia memikirkan ide: Ayo kembali ke Altana sebentar, dan sepertinya itu cukup membantu.

Dia sudah mendapatkan sejumlah uang, sehingga sudah waktunya bagi dia untuk setidaknya mempelajari skill baru, dan dia juga ingin belanja beberapa barang.

Dia juga ingin meyakinkan dirinya sendiri. Dengan kata lain, dia butuh beberapa waktu. Menata kembali niatnya, dan memantapkan lagi berbagai hal, itu sungguh tidak mudah!

Sekitar dua hari lamanya, mereka melakukan perjalanan dari Pemukiman Dusk Realm, melewati Post Lonesome Field, kemudian melintasi Dataran Quickwind, untuk akhirnya kembali ke Altana.

Party itu pun berpisah ketika sudah sampai di Altana. Haruhiro pergi ke Guild Thief, di mana ia menghabiskan tujuh hari belajar skill Stealth, yaitu skill utama untuk seorang Thief. Dia telah kebingungan, apakah harus mempelajari skill Throw Air sebagai teknik membunuh dan bertarung. Tetapi sebagai tulang punggung Party, sekaligus sebagai pemimpin yang membosankan dan juga pengintai, Haruhiro lebih memilih untuk memperdalam skill yang bisa membuat dirinya semakin baik dalam menyelinap.

Dia membayar 20 koin emas pada Guild untuk mempelajari skill baru. Itu tidak murah, malahan cukup mahal, tetapi jika dia tidak mempelajari skill baru dengan benar, ia tidak akan pernah berkembang. Selain itu, guru Haruhiro, yaitu Barbara, terkenal sangat disiplin, sehingga dia tidak bisa main-main.

“Aku pikir aku akan mati ...” keluh Haruhiro.

Kali ini, tanpa bercanda atau berlebihan, ia disuruh mati. Mati menjadi mayat.

Skill Stealth dibagi lagi menjadi tiga skill lain:

Pertama, meniadakan aura keberadaanmu - Hide.

Kedua, bergerak sembari mengaktifkan Hide – ini disebut Swing.

Ketiga, memanfaatkan semua indramu untuk merasakan keberadaan orang lain - Sense.

Ketika ia mulai dengan Hide, tahap pertama, Barbara sudah mengatakan Die!! pada Haruhiro, dan dia menghukumnya tanpa ampun ketika tidak berlatih dengan benar. Dia mematahkan dua atau mungkin tiga tulang, kemudian memaksanya berlatih dengan menggunakan Hide sampai benar.

Di Guild Thief, ada seseorang dengan latar belakang yang cukup aneh, dia adalah mantan Thief, namun sekarang menjadi Priest. Ketika seseorang terluka di Guild Thief, dia akan datang untuk menyembuhkannya. Mungkin itulah kenapa Barbara tak pernah khawatir untuk melatih murid-muridnya dengan kasar, bahkan terkadang sampai sekarat. Meskipun mereka punya penyembuh, itu masihlah sangat kejam.

Seperti yang Barbara-sensei katakan, jika dia tidak melatih Haruhiro dengan kondisi yang ekstrim, maka dia tidak akan bisa belajar dengan benar. Dia melakukan semua ini untuk muridnya. Harusnya Haruhiro sangat bersyukur punya guru seperti itu, atau lebih tepatnya, bersyukur karena masih diijinkan hidup.

Ini adalah latihan yang tidak akan dapat Haruhiro lewati tanpa air mata kenestapaan. Haruhiro pun sadar bahwa apa yang Barbara ajarkan adalah suatu hal yang benar. Namun, jika ia membuat kesalahan sedikit saja, nyawanya bisa melayang. Itu sungguh menakutkan.

Namun, latihan keras itu bukanlah tanpa hasil. Sekarang, tubuh Haruhiro sudah terbiasa dengan teknik-teknik dasar Stealth, dan hasil latihan yang keras akan membekas selamanya. Latihan itu begitu membekas pada gerakan tubuh Haruhiro, bahkan ketika dia berjalan-jalan santai mengelilingi Altana di malam hari, dia pun tanpa sadar mengaktifkan skill Hide dan Swing. Kalau boleh jujur, itu memang sedikit berlebihan dan mengerikan.

Kau punya bakat melakukan itu, kata Barbara, dan itu adalah pujian yang jarang terdengar dari gurunya. Kau benar-benar cocok dengan pekerjaan ini.

“Yah ...” Haruhiro sedikit tersenyum, sembari ia masuk dalam kerumunan manusia di pasar. "Aku cukup senang mendengar itu ...”

Cocok menjadi seorang Thief? Sejujurnya, bukankah itu lebih mirip ejekan? pikirnya. Thief adalah seorang pencuri, yang biasanya merampas barang-barang kan….

Rupanya, Guild Thief memiliki asal-usul dari sebuah komunitas rahasia para Thief, yang biasa disebut Black Widow, mereka bekerja di belakang layar Kerajaan Arabakia. Ketika Arabakia menyerang perbatasan, Black Widow menawarkan jasa untuk membantu pasukan kerajaan, tetapi sebagai imbalannya, mereka ingin rekan-rekannya yang sudah ditangkap pihak kerajaan dibebaskan. Tawaran ini pun disetujui, kemudian beberapa tahanan yang sebenarnya sudah dijatuhi hukuman mati pun akhirnya dibebaskan, mereka menjadi pengintai untuk pasukan kerajaan, kemudian mereka pun semakin memperbesar komunitasnya dengan mendirikan Guild.

Memang kisah yang cukup heroik, pikir Haruhiro. Rupanya mereka pernah terlibat dalam peperangan antar kerajaan, apakah karena alasan itulah mereka kasar-kasar? Atau memang Barbara-sensei lah yang sadis?

Apapun alasannya, pencuri tetaplah pencuri. Beberapa dari mereka menyalahgunakan skill yang diperoleh dari Guild untuk mencuri sejumlah harta, kemudian hidup berfoya-foya dengan menghabiskannya. Sebelum menjadi Thief, Haruhiro tak pernah membayangkan hal seperti itu, atau lebih tepatnya, ia sama sekali tak tahu pekerjaan macam apa yang dia ambil. Tapi ketika ia berkata, aku adalah seorang Thief, itu membuat beberapa orang mengerutkan alis mereka. Terutama bagi mereka yang menjalani kehidupan normal di Altana.

Itu hanyalah prasangka mereka, ia coba membenarkan tindakannya. Sebagian besar Thief di Guild adalah pasukan relawan, dan mereka tidak mencuri apapun. Tapi, beberapa skill yang diajarkan di Guild memang bisa digunakan untuk merampok, mencuri, bahkan mencopet, semua kejahatan itu sangatlah cocok bagi mereka. Jika seorang Thief ingin menjadi perampok, maka dia bisa banting setir kapanpun. Maka, orang-orang yang memandang sinis para Thief tidaklah bisa disalahkan.

“Kurasa ini memanglah bukan pekerjaan yang terhormat,” gumam Haruhiro. Dia memang menyukai bersembunyi dan melakukan pengintaian. Itu cocok dengannya, sampai-sampai dia mengira bahwa pekerjaan ini adalah panggilan jiwanya.

Tapi……. pencuri, ya ...

“Mungkin mereka harus mengubah nama itu ...”

Ketika Guild dibentuk, mereka tidak harus menyebut diri mereka Thief. Mereka harus memikirkan suatu istilah yang lain. Atau, apakah para pendahulu kami sengaja membentuk Guild itu untuk memberikan rasa bangga para setiap pencuri? Ah tidak juga, tapi…. apakah Thief merupakan suatu pekerjaan yang benar-benar bisa dibanggakan? Dari segi apanya?

“Guild Thief tidak memiliki kode, sehingga seseorang bahkan bisa membentuk Guild lain ... Tapi, tentu saja aku tidak bisa melakukan hal seperti itu,” gumamnya. “Lalu, apakah ada orang lain yang bisa melakukannya untukku?”

Jika seseorang Thief hendak membentuk Guild baru, maka Haruhiro pasti akan bergabung dengan Guild itu tanpa pikir panjang.

Mungkin aku akan sedikit sedih karena sudah tidak lagi menjadi muridnya Barbara-sensei? Atau mungkin malah senang? Maksudku, sensei sungguh menakutkan.

Yah, dia pun tidak mempertimbangkannya dengan serius. Dia masih bisa menerima kondisinya saat ini.

Ranta bilang bahwa dia akan menghabiskan enam hari untuk belajar skill bertarung, yang bernama Missing. Shihoru juga bilang bahwa dia akan menghabiskan lima hari untuk mempelajari Shadow Pond, yang merupakan skill utama Sihir Darsh. Kemudian dia akan menghabiskan dua hari lagi untuk mencoba mempelajari sihir tembakan, Ice Globe. Sepertinya Yume juga punya rencana sendiri, dia ingin menghabiskan total tujuh hari untuk mempelajari skill Hunter seperti, melacak, membuat perangkap lubang, ataupun perangkap beruang.

Karena Mary tidak bisa menggunakan sihir cahaya di Dusk Realm, dia lebih memilih menghabiskan lima hari untuk mempelajari skill bela diri yang disebut Revenge, sementara Kuzaku telah memutuskan menghabiskan enam hari untuk belajar teknik ilmu pedang bertahan, yaitu Guard dan War Tug.

Haruhiro, Shihoru, dan Yume telah menghabiskan tujuh hari pelatihan, Ranta dan Kuzaku enam hari, dan Mary lima hari. Adapun Tokkis, Anna-san dan Tada akhirnya belajar Sakramen. Semuanya bekerja keras melatih skill-nya masing-masing, jika ada sisa waktu, mereka bisa menggunakannya untuk melakukan apapun yang mereka inginkan. Besok, semuanya akan bertemu kembali.

Sekarang Ranta mungkin sedang main perempuan di Gang Celestial. Haruhiro tidak tahu banyak tentang tempat seperti itu, tapi cukup banyak terdapat rumah bordil di Altana ... Atau, kau punya sebutan lain untuk tempat seperti itu? Pokoknya, itu adalah tempat di mana kau menghabiskan uangmu untuk menyewa perempuan yang bisa kau main-mainkan, dan mereka tak pernah sepi pelanggan.

Bahkan, Ranta pernah sekali mengajak Haruhiro untuk mengunjungi tempat itu. Ketika dia menolak, Ranta malah mengejeknya. Tapi lucunya, kelihatannya Ranta tidak cukup berani pergi ke tempat seperti itu sendirian, sehingga dia mengajak Haruhiro. Kalau memang niat melacur, ya pergilah ke sana sendirian dengan menegakkan kepala dan membusungkan dada. Namun, Ranta tidak cukup berani untuk menghadapi cewek-cewek profesional di sana, dan sampai kapan pun dia tidak akan berani. Kalaupun dia benar-benar pergi ke sana, paling-paling dia hanya menyuruh perempuan-perempuan itu menuangkan miras untuknya, sembari dia meratapi nasib malangnya, atau mungkin dia hanya berani menggombal.

Mary dan Kuzaku sedang………

Yah, sudah jelas kan? Mereka mungkin pergi ke suatu tempat bersama-sama. Tentu saja mereka akan melakukannya! Mereka pasti sedang kencan, tapi… maksudku… kencan seperti apa ya yang sedang mereka lakukan? Apakah mereka sedang melakukan “itu”? Kumohon, buatlah keluarga yang bahagia, dan jangan ganggu aku lagi! Atau, apakah pikiranku saja yang sudah kacau? Yahh, bagaimanapun juga, hal-hal seperti itu bisa saja terjadi. Bukankah itu hal yang baik untuk sepasang kekasih? Mungkin?”

Lonceng mulai berdentang, menunjukkan pukul enam sore. Lonceng di Altana berdentang setiap dua jam sekali, mulai pukul enam pagi. Sedangkan mulai pukul enam petang, loncengnya akan berdentang tujuh kali untuk menginformasikan pada semua orang bahwa hari mulai gelap, kemudian lonceng akan berhenti berdentang sampai besok pagi. Toko-toko di pasar mulai tutup, sementara Gang Celestial akan menjadi lebih hidup.

Haruhiro berhenti di depan Bank Yorozu. "Hei."

“Kau terlambat, yeah!” kata Anna-san, sembari menggembungkan pipinya dan marah-marah. “Mungkin tidak, yeah?! Karena kamu gak terlambat amat, yeah?! Tapi, untuk kencan, pria harus datang lebih awal?! Yeah!"

Haruhiro menundukkan kepalanya. "Maafkan aku."

“Kau tidak meminta maaf dengan lurus, yeah?!”

“... Maksudmu meminta maaf dengan tulus?”

“Dengan tulus, yeah!”

“Oh, aku mengerti,” kata Haruhiro. Jadi dia salah bilang “tulus” menjadi “lurus”. Itu adalah suatu kesalahan yang cukup memalukan untuk seseorang yang biasa mencampur-adukkan bahasa Jepang dan Inggris.

Haruhiro dengan ragu-ragu menatap gadis jangkung yang menjulang tinggi di atas Anna-san. "...Hei."

“Ya.” Mimorin membalasnya dengan senyuman…. mungkin? Ekspresinya selalu saja datar, jadi sangat sulit untuk membaca mood-nya. “Aku ingin bertemu denganmu.”

Kata-katanya cukup blak-blakan, jadi Haruhiro tidak mungkin salah paham. Kejujurannya sampai membuat perut Haruhiro sakit.

“... Aku tahu,” gumamnya.

“Kau, Haruhiro kan?” tanyanya.

“Hah, aku?”

“Apakah kau juga ingin bertemu denganku?”

“Um ...”

Haruhiro hanya menunduk. Dia ingin menjawabnya secara diplomatis. Kalau bisa begitu, tidak akan terjadi salah paham di antara mereka. Setidaknya begitu untuk saat ini. Tapi ia tidak bisa melakukannya.

Haruhiro mengangkat wajahnya, kemudian menatap Mimorin tepat di mata. “Gak begitu ingin sih…...”

“Hiks,” katanya.

“Jangan berkata begitu dengan eskpresi datar ...”

“Hatiku sangat sakit. Hatiku hancur."

“Sini, sini, yeah.” Anna-san menggosok punggung Mimorin, atau lebih tepatnya pantatnya. Haruhiro bisa melihat air mata menggenang di mata Mimorin, bahkan dia sangat terkejut dengan pemandangan itu. Bagaimana bisa air mata bercucuran pada ekspresi wajah yang begitu datar.

“Tidak, t-t-t-t-t-tunggu dulu….? D-D-D-Dimana Kikkawa? Dia seharusnya juga berada di sini hari ini kan…”

“Mungkin ada palu?” kata Anna-san, sembari terus menggosok pantat Mimorin dan mengangkat bahunya. “ Oh! No!! Maksudku ada perlu! Itu sebabnya Kikkawa tidak ada di sini, yeah.”

“Kalau ada Kikkawa di sini, suasan pasti akan lebih meriah. Itulah mengapa aku mencarinya sekarang ...”

“Dalam kehidupan, pasti ada naik, dan ada surut! Yeah?” kata Anna-san.

“Apa hubungannya ...”

“Bullshit, yang kau perlukan sekarang bukanlah Kikkawa… yang kau perlukan sekarang adalah memahami perasaan seorang gadis! Yeah!"

“Tidak apa-apa.” Mimorin menyeka air matanya menggunakan kedua jari telunjuk. “Ini belum cukup untuk membuatku menyerah.”

Menyerahlah…. Kumohon… pikir Haruhiro.

Haruhiro ingin sekali mengucapkan itu, namun hati Mimorin pasti akan semakin terluka. Jika memungkinkan, dia ingin menolak Mimorin sehalus-halusnya.

Mungkin dia memang bukan rekan setim, tapi dia masihlah sekutu Party-nya, jadi Haruhiro masih ingin berteman dengannya. Paling tidak, dia tidak ingin hubungan kedua Party menegang hanya karena masalah ini. Dia tidak ingin diperlakukan spesial oleh temannya sendiri, dia hanya ingin dianggap sebagai orang biasa. Namun, Mimorin entah kenapa Mimorin masih saja melihat Haruhiro sebagai pria yang spesial, bahkan Haruhiro sudah berkali-kali mendapatkan ajakan untuk berkencan melalui Anna-san.

Awalnya, Mimorin mengajaknya berbicara empat mata. Yahh, pada dasarnya itu mirip kencan. Tapi, meskipun ada Anna-san di sini, pastilah dia tidak akan menggangu kecan mereka berdua, namun Haruhiro menolaknya dengan santun.

Itu masih belum membuat Mimorin menyerah, dan kisah percintaan yang semrawut ini semakin membuat Anna-san jengkel, karena dia sudah menawarkan kencan pada Haruhiro berkali-kali. Bahkan sang pemimpin Tokkis, Tokimune, sampai turun tangan untuk meminta Haruhiro berkencan dengan Mimorin. Kumohon berkencanlah dengannya, meski hanya sekali saja .

Jika dia terus menolaknya, bisa-bisa orang lain salah paham, dan mengira bahwa Haruhiro bukanlah pria sejati. Tapi dalam keadaan seperti ini, Haruhiro juga bisa sangat keras kepala. Dia punya alasannya sendiri.

Pertemuan empat mata sudah tidak lagi efektif. Karena dia sudah jelas-jelas menolaknya. Mungkin kalau ada orang lain yang ikutan, Haruhiro mau diajak pergi karena formatnya sudah bukan lagi kencan, melainkan jalan-jalan biasa bersama teman. Oleh karena itu, Anna-san, Mimorin, Haruhiro, dan Kikkawa sepakat bertemu hari ini untuk jalan-jalan ataupun makan bersama. Lagipula, ini adalah kesempatan mereka kembali ke Altana setelah sekian lama menjelajahi dunia lain.

Jujur, Haruhiro masih merasa sedikit ragu-ragu. Tapi dia tidak bisa menyangkal bahwa rasa kekerabatan mulai terjalin di antara mereka, meskipun sedikit samar, jadi mungkin dia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mempererat persahabatan.

Mungkin itu adalah alasan yang naif. Mungkin saja Haruhiro telah jatuh ke perangkap mereka.

Yang pasti, dia tidak begitu senang.

Namun, dia juga tidak kesal. Marah hanya akan membuat dia semakin lelah.

“Yah, kalau begitu, bagaimana kalau kita langsung saja mencari sesuatu yang bisa dimakan?” tanya Haruhiro.

“Aku akan makan apapun yang kau mau.” Mimorin mengangguk dengan mantap.

Whoa, pikir Haruhiro. Mata Mimorin terlihat berkilau. Apakah dia sedang bahagia? Ketika temanmu bahagia, kau tidak boleh mengecewakannya. Tapi… yahh, aku juga tidak membencinya kan? Tapi sebagai seorang wanita, aku benar-benar merasa bahwa dia sungguh aneh. Dia terlalu tinggi, yang berarti aku harus berusaha keras mendongak ketika berbicara dengannya, sampai leherku sakit, tapi itu bukan masalah sih.

Mereka bertiga menuju ke tempat yang Anna-san rekomendasikan. Anehnya, si koki yang juga pemilik restoran, adalah seorang Elf. Restoran ini populer dengan menu andalannya daging pedas dan berbagai macam sayuran.

Restorannya panjang dan sempit, tapi juga ramai, dan entah bagaimana caranya, akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam. Ada suatu meja kecil di belakang, dengan empat kursi yang mengelilinginya. Anna-san dan Mimorin duduk di satu sisi, sementara Haruhiro duduk di hadapan mereka. Semua pesanan diatur oleh Anna-san, sepertinya dia sangat menikmati saat-saat seperti ini.

Mereka menyajikan bir herbal, yang lebih ringan daripada bir biasa. Setiap hidangan memberikan aroma yang menggugah selera, dan rasanya juga cukup enak.

Ketika makan, Mimorin tidak mengatakan apapun. Tapi Anna-san banyak bicara, yahh… dimana-mana dia juga begitu, memang dasar ceweret orangnya. Mimorin hanya duduk tegak, hampir tanpa membuat sedikit pun suara. Cara dia makan sangat rapi.

Sedangkan Anna-san makan dengan banyak bersuara. Terus terang, gadis ini terkesan kurang sopan. Sebenarnya, Haruhiro tidak tahan melihat orang-orang yang makan dengan berceceran, muncrat-muncrat, dan bahkan mengecap makanannya dengan suara keras. Haruhiro tidak berusaha menegurnya, bahkan dia pun tidak mengerutkan kening untuk menunjukkan dia sedang terganggu, namun dia benar-benar berharap bahwa gadis itu tahu diri.

Pada saat seperti ini, dia melihat sisi baik Mimorin. Jujur, dia tidak pernah membenci wanita itu.

“Jadi?” Anna-san, yang tampaknya sedikit mabuk karena alkohol, memusatkan tatapannya pada Haruhiro, kemudian dia bersendawa yang berbau herbal kuat. “Apa yang membuatmu tidak suka pada Mimorin? Kau hanya Haruhiro bodoh. What the hell, cherry boy!”

“Apa maksudmu ...” Haruhiro melirik ke atas melihat ekspresi Mimorin.

Tatapan mata mereka bertemu. Mimorin menatapnya dengan tajam.

“Tunggu, bukankah aku sudah menjelaskannya? Aku hanya ingin kita menjadi teman, tidak lebih dari itu ...”

“Mungkin tidak masalah bagimu, tapi Mimorin masih tidak rela, yeah!” teriak Anna. “Sadarilah itu, bego! Understand?”

“No understand,” balas Haruhiro dengan datar.

"Kenapa tidak?! Dead or death?!”

“Kalau hanya itu pilihannya, ya jelas saja aku akan mati ...”

“Jangan mempermainkanku! Jawablah dengan serius!” Anna-san menggedor meja. "Apa yang salah dengan Mimorin, yeah?! Jika kau tidak memiliki alasan yang logis, maka aku tidak memaafkanmu, yeah?!”

“Anna-san, t-tenang dulu,” gumam Haruhiro.

“Bagaimana aku bisa tenang, yeah?!”

“Yah, setidaknya dinginkan kepalamu ...”

“Why, mengapa kau begitu tenang?! Fuck, kau membuatku kesal!”

“Aku tidak tahu harus berkata apa untukmu.”

Restoran semakin senyap ketika Anna-san semakin meradang. Suasananya benar-benar canggung.

Haruhiro berdeham dengan keras, kemudian memijit dahinya. Sebenarnya dia tidak ingin mengatakan ini, tetapi jika ia tidak memberikan jawaban yang serius, Anna-san tidak akan berhenti.

“Yah ... Aku sendiri juga tak tahu,” kata Haruhiro. “Bukannya dia tidak menarik atau apa… bukannya aku tidak menyukainya atau apa…. Kau tahu, ini cukup sulit diungkapkan.”

“Lalu,” tanya Mimorin, kemudian dia melanjutkan dengan, “apa?”

“Hmm ...” Haruhiro menutup matanya, sembari memijit sela-sela alis di antara kedua matanya. “Aku tidak yakin bisa menjelaskannya dengan baik. Aku hanya merasa ... kurang berpengalaman dalam hal seperti ini.”

“Aku juga begitu,” kata Mimorin.

“Dan Anna-san juga, yeah?!”

“... A-Aku paham. Erm, j-jadi, begini lho…. Ini bukan hal yang logis, kan? Cinta bukanlah hal yang memerlukan logika, kan? Memang ada hal-hal teknis seperti ketika kau menyukai seseorang dari wajahnya, atau ketika dia selalu berbuat baik padamu, dan semacamnya. Tapi sebagian besar cinta tidak bisa didasari oleh alasan seperti itu. Pada dasarnya, seseorang mulai jatuh cinta pada lawan jenisnya karena… karena… karena… mungkin karena ada suatu dorongan ya? Dalam beberapa kasus, mungkin itulah yang terjadi.... Atau mungkin tidak ya?"

“Aku mencintaimu, Haruhiro,” kata Mimorin. “Kau benar, aku tidak perlu alasan yang logis untuk mencintaimu.”

“Tidak… bukan begitu…. dengarkan aku dulu…..”

Dia hampir mengatakan, Terima kasih, tapi ia memaksa dirinya sendiri untuk berhenti. Dia selalu merasa terganggu ketika wanita raksasa itu terus-terusan mengungkapkan perasaannya. Jika dia mengucapkan terima kasih, itu akan menjadi suatu kebohongan.

“Ya,” kata Haruhiro. “Entah kenapa… eh… eh ... sebenarnya…. eh … eh… bukannya kau tidak memiliki sisi yang menarik bagiku sih…. Hanya akunya saja yang tidak punya perasaan padamu. Mungkin tidak sopan jika aku mengatakan ini secara terus-terang, atau mungkin tidak ya?”

“Tentu saja tidak sopan, yeaahhh?!!!! Si bodoh ini hanya ngomong ke kiri-kanan-atas-bawah tanpa kesimpulan yang jelas!!! Ohhh aku tidak tahan lagiiiiiiii, Mimoriiiin, Mimoriiiin ... ”

Anna-san kehilangan kesabarannya, dia berusaha memeluk bahu Mimorin, tapi mengingat ukuran tubuhnya yang begitu mungil jika dibandingkan nona raksasa, dia tidak mungkin mencapai bahunya. Itu adalah hal yang mustahil.

Terus berusahalah, Anna-san, pikiran Haruhiro. Mimorin masih menangis tuh. Tetapi… ohhh…. dia sungguh terlihat menderita. Ketika aku melihatnya, dadaku juga terasa sesak. Tapi bukannya aku berbagi emosi yang sama dengannya.

Grimgar V6 007.png

Akhirnya Anna-san juga mulai menangis, dan ketika dia memelototi Haruhiro dengan mata berkaca-kaca dan semerah tomat , jujur saja Haruhiro begitu ingin melarikan diri. “Haruhiro sungguh tak berperasaan! Hatimu sungguh dingin, yeah?!”

“Oh, tentu,” katanya. “Aku tidak akan protes kalau kau menyebutku seperti itu.”

“Dasar biji jagung?!”

"Hah? Biji jagung ...? Oh, memangnya aku sekecil itu?” tanya Haruhiro.

"Ya!! Akhirnya kau sendiri yang mengakuinya!! Itu sungguh luar biasa!!"

“Yah, kan sudah kubilang aku gak akan protes, tapi.....”

“Tidaaaaaaaaaakkk!!! Bukan itu masalahnyaaaaaaa!!!” Anna-san semakin meraung.

“Lantas apaaaaaaa ...”

“Tidak,” kata Mimorin dengan tersedu. “Haruhiro tidak berhati dingin.”

“Whaaaaaaaattt?!” teriak Anna-san.

“Haruhiro tidak berhati dingin,” kata Mimorin. “Dia hanya tidak bisa membohongi dirinya sendiri.”

“Nghhh.” Anna mengerang, sambil memegangi kepalanya. “Tidak bisa membohongi dirinya sendiri? Tapi..."

Kau mulai bertingkah seperti nenek-nenek, Anna-san, pikir Haruhiro.

“Dia hanya tidak sanggup mengatakan hal-hal yang tidak sesuai dengan kata hatinya.” Lanjut Mimorin sambil menggigit bibirnya keras. “Dia tidak memberiku harapan sama sekali.”

“Gwahhhhhhhhhhh.” Anna-san mulai menjambak rambutnya sendiri, kemudian dia berbicara dengan suara seserak orang batuk darah. “Mimoriiiiiiiiiin, kau tidak perlu mengatakan semua ituuuuu, yeah?!”

"Aku mengerti."

“Taaaaaaaapiiiiiii……”

“Aku juga mencintai sikap jujurnya itu.”

“Ohhhhhhhh!”

“Aku mencintaimu.” Mimorin menatap Haruhiro dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. "Kalau begitu, kumohon… jadilah hewan peliharaanku…. Ah tidak… jadilah kekasihku."

"Maafkan aku."

“Ya, aku sudah tahu jawabannya.”

Haruhiro melanjutkan dengan ragu-ragu. “Yah, kau tahu ... meskipun kau ingin menjadikan aku hewan peliharaan, tapi aku tahu bahwa kau serius akan cintamu padaku, yahhh, aku bisa mengerti itu, tapi ... meskipun aku memahaminya dengan caraku sendiri ... tapi, aku sungguh merasa berdosa padamu ... Ah, pokoknya aku tidak bisa mengungkapkan alasannya dengan jelas, bahkan mungkin aku sendiri tidak tahu alasan tersebut ...”

“You idiot!” bentak Anna-san, sembari menunjukkan jarinya pada Haruhiro. "Kau ini bodoh atau apa?! Pria seumuranmu pasti ingin melakukannya setiap saat! Tak peduli siang atau malam, otakmu pasti memikirkan hal-hal jorok seperti itu! Itu karena kau masih muda! Kalau begitu, mengapa kau tidak memacarinya kemudian melakukan itu sepuasmu? Kau bisa ngaceng, kan? Kau sedang hot-hotnya kan!? Yeah!"

“Kau mulai berbicara tidak senonoh, Anna-san,” kata Haruhiro.

“Diam, yeah! Kamu punya mata gak sih! Kau bisa ukur betapa besar Oppai-nya Mimorin!? Lihat ini! Boing! Boing! Dia memiliki tubuh yang super seksi! Tidakkah kau ingin menggigit benda selembut ini?!”

“Tidak, aku tidak akan melakukan itu,” kata Haruhiro. “Aku bukan Ranta. Yah, tapi dia juga omongnya aja yang besar, jadi aku ragu dia berani melakukan hal seperti itu pada seorang gadis.”

“Mimorin selalu memijatmu!”

“Maksudmu ‘memujamu’? ...”

“Dengan teksex dan staminanya yang kuat, dia bisa melayanimu sampai pagi!!”

“... Teksex? Apa itu?”

“Teknik sex, disingkat teksex, yeah?! Special technique! You know?!”

“Ya ... Sepertinya begitu. Ha!? Tidak, tidak, tidak, tidak ... lagian kau jangan mengatakan hal seperti itu keras-keras.”

“Terlebih lagi, dia masih perawan! Virgin! Bahkan dia belum fist kiss!”

“Itu benar.” entah kenapa, Mimorin menegaskan hal ini dengan wajah serius.

Mungkin itu salah satu daya tariknya? Haruhiro tidak benar-benar mengerti, tapi ada satu hal yang aneh jika itu benar.

"Hah? ... Lalu, bagaimana dengan special ... technique?”

“Aku akan mempelajarinya.” Mimorin mengangguk lagi dengan mantap. "Tak masalah."

“Serahkan saja pada Anna-san, yeah?!” Anna-san menepukkan salah satu tangan pada dadanya, yang tentu saja tidak selebar dada Mimorin. “Anna-san akan mengajarkan setiap teknik rahasianya padamu!”

“Rupanya kau banyak pengalaman ...?” tanya Haruhiro dengan ragu-ragu.

“Jangan konyol, biji jagung cabul! Aku masih rapet, yeah?!”

“Tidak, tapi......... “

“Heh heh,” Anna-san menunjukkan senyum nakal sembari mencubit daun telinganya sendiri. “Anna-san tahu begitu banyak tentang seks. Aku adalah tipe cewek yang lahir sekali dalam seratus tahun, lho? Itu gampang saja."

"...Aku paham."

“Dalam imajinasiku, aku sudah membuat jutaan pria muncrat, lho?”

“Mungkin kau terlalu banyak menghayal.”

“Itu jelas-jelas lelucon, yeah?! Karena Anna-san adalah, perawan suci yang terhormat!”

"Oke, baiklah. Terserah..."

Haruhiro meneguk bir herbal sembari kembali menundukkan pandangannya. Restoran kembali ramai seperti sedia kala, tapi Haruhiro dan yang lainnya masih menjadi pusat perhatian, dan ada beberapa pelanggan yang mendengarkan pembicaraan mereka. Anna-san benar-benar menyukai lelucon kotor. Bukannya Haruhiro membencinya, dia hanya tidak suka terlalu banyak mendengarkan lelucon seperti itu.

“Jadi, bagaimana?!” kata Anna-san sebelum meneguk bir herbal beberapa kali, lalu dia mengeluarkan desahan puas. “Untuk saat ini, kau mau mencoba pacaran dengannya? Cobalah? Tidak buruk, yeah? Karena, nice body-nya, kau bisa melakukan hal-hal jorok itu padanya every day?”

“Tidak, terimakasih.”

“Fuck you!” kata Anna-san sampil mengacungkan jari tengahnya.

Apapun yang Anna-san katakan, dia tidak akan tergoda. Terlebih lagi karena sekarang mereka adalah rekan, sehingga Haruhiro tidak akan membiarkan perasaan pribadi bercampur dengan urusan kerja, tapi kalau pun mereka bukan sekutu, sepertinya keputusan Haruhiro tidak akan berubah. Dia tidak akan pacaran dengan orang yang tidak dicintainya. Atau lebih tepatnya, Haruhiro merasa dirinya tidak mungkin melakukan itu. Meskipun dia dibayar, dia tetap akan menolaknya. Kalaupun dia disuap, itu justru akan semakin buruk.

Mungkin aku keras kepala? pikirnya. Aku tidak dapat menyangkal kemungkinan itu, tapi intinya, ya beginilah aku ini.

“Apakah ...” Mimorin memulai sesuatu, air matanya pun kembali menetes, namun dia segera menyekanya dengan tangan. "Maafkan aku. Aku terus menangis.”

“... Tidak apa-apa,” gumamnya. Dia tidak tahu kenapa, tapi jantungnya berdegup kencang ketika melihat nona raksasa itu menangis. Ada apa gerangan? Mengapa jantungnya berdegup kencang? Haruhiro sendiri tidak pernah mengerti. “K-Kau tidak perlu meminta maaf. Erm, tapi memang lebih baik kau berhenti menangis. Seakan-akan aku lah yang salah, padahal aku sama sekali tidak ingin melihatmu menangis ...”

“Ini adalah pertama kali bagiku,” kata Mimorin. “Aku sangat sedih, rasanya sakit.”

"...Maaf."

“Jangan minta maaf. Ini bukan salahmu, Haruhiro. Aku lah yang salah karena begitu egois mencintaimu."

“Er, yaaa… bukan begitu… tapi ...”

“Dapatkah aku melanjutkan pertanyaanku?” tanya Mimorin.

“Oh, silakan.”

“Apakah aku masih punya peluang?”

"...Peluang apa?"

“Maksudku, meskipun kau menolakku sekarang, apakah suatu saat nanti ...”

“Um, maksudmu apakah aku masih mungkin mencintaimu suatu saat nanti?” tanyanya.

"Ya."

“Hrm ...”

Haruhiro merasa ingin menggeliat, tapi sebisa mungkin dia menahannya.

Aku tidak yakin. Itu benar-benar pilihan yang sulit. Aku bingung.

Mungkin dia harus mengatakan: kau tak perlu menunggu, karena aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu. Bagaimanapun, Haruhiro masih berpendapat bahwa perempuan seperti Mimorin yang jatuh cinta padanya adalah suatu kesalahan sejak awal. Waktu ada batasnya. Bahkan sekarang, jam sedang berdetak. Haruhiro lebih menginginkan Mimorin berhenti berharap darinya, dan segera menemukan pria lain yang jauh lebih menarik….Tapi….

Apakah itu yang Haruhiro telah putuskan? Tapi Mimorin telah menemukan suatu hal yang menarik pada diri Haruhiro. Itulah sebabnya dia jatuh cinta padanya. Apakah Haruhiro punya hak untuk menolak perasaan itu?

Setelah bekerja sama dengan Tokkis, kurang-lebih dia tahu orang seperti apakah Mimorin. Benar, dia memang aneh. Dia adalah Mage, tapi dia masih tidak bisa meninggalkan kebiasaannya sebagai Warrior. Haruhiro cukup ngeri ketika melihat dia maju ke barisan depan sambil mengayun-ayunkan pedangnya. Namun, dia memang kuat, dan dia juga jago dalam memainkan pedang. Dia juga sangat peduli pada rekan-rekannya.

Kadang-kadang, dia cukup menawan.

Sebagai seorang wanita, sejujurnya Haruhiro tidaklah membencinya, bahkan mungkin saja dia bisa tertarik padanya.

Adapun hal lain yang membuat Haruhiro takut adalah, cara bicara Mimorin yang blak-blakan dalam mengungkapkan perasaannya. Kalau saja dia lebih anggun dalam menjaga perasaannya, maka tidak ada alasan bagi Haruhiro untuk membencinya.

Dia bahkan memandang positif kepribadian Mimorin. Setidaknya, Haruhiro masih berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat Mimorin terluka.

Haruhiro tidak tahu bagaimana cara menyikapi kasih sayang dan cinta yang Mimorin berikan padanya, kalau saja kita hanya berteman, maka semuanya akan jauh lebih mudah,… apakah bijak jika Haruhiro berusaha menjadi pria yang dibencinya agar Mimorin tidak lagi berusaha mendekatinya? Namun Haruhiro bukanlah orang yang tega melukai hati rekannya.

Kalau saja dia menyatakan bahwa suatu saat nanti bisa saja tumbuh rasa cinta di antara mereka berdua, bukankah itu berarti suatu kebohongan? Tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bahkan tidak ada yang menjamin mereka masih hidup esok hari.

Kalau begitu, apakah sebaiknya dia mengucapkan suatu kebohongan?

Atau apakah dia harus menyampaikan kejujuran yang pahit?

Mana yang benar? Apa yang harus ia lakukan untuk Mimorin? Untuk Mimorin? Apakah Haruhiro benar-benar memikirkan Mimorin? Bukankah dia hanya berpura-pura peduli padanya? Bukankah itu artinya dia munafik?

“Bolehkah aku berterus terang padamu?” akhirnya Haruhiro menyampaikan pertanyaannya. “Yahh, aku tidak tahu mana yang pasti. Aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Semua orang juga begitu. Jujur, menurutku kau adalah wanita yang menarik. Aku cukup senang ketika bertemu denganmu, dan aku tidak keberatan berbagi cerita apapun denganmu, tapi aku tidak dapat menganggapmu sebagai kekasihku. Aku ingin kita menjadi teman saja. Aku hanya bisa menganggapmu sebagai teman, tidak lebih. Mungkin, beberapa tahun ke depan, aku bisa menyukaimu, tapi aku lebih memilih untuk tidak memikirkan hal yang belum pasti terjadi. Kita tidak pernah tahu masa depan. Bahkan, jika aku benar-benar menyukaimu suatu saat nanti, mungkin saja kau sudah punya pria lain yang jauh lebih baik dariku, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ini soal waktu, kau tahu. Aku hanya bisa membicarakan hal yang saat ini terjadi, jadi sekali lagi maaf. Aku lebih suka menghadapi apa yang sudah pasti di depan mataku.”

Mimorin menatap tajam ke mata Haruhiro, sembari mendengarkan dari dekat. Haruhiro merasakan aura intimidasi yang begitu pekat, tapi dia berusaha keras untuk tidak memalingkan wajahnya. Dia merasa seakan-akan kekuatannya tersedot keluar.

Sekarang pasti mataku terlihat sangat ngantuk, pikirnya. Sebenarnya dia tidak mengantuk, tapi dia kelelahan.

“Aku mengerti,” kata Mimorin, dengan wajah kaku. Dia menyipitkan matanya, dan menekuk bibirnya, mungkin inilah ekspresi tersenyum Mimorin.

Dia mengerti. Syukurlah.Haruhiro menutup matanya dan mendesah. Bebanku terasa sedikit ringan.

Kau tahu, tubuhku tidaklah begitu besar, dan perutku juga demikian, jadi kapasitasku sangatlah terbatas. Aku hanya dapat bertanggung jawab atas beberapa tugas, seperti memimpin Party, dan melakukan pekerjaanku sebagai Thief. Itulah batasku. Aku tidak punya waktu untuk berpikir atau melakukan hal-hal lainnya.

Bahkan aku tidak punya waktu untuk berpacaran. Aku tidak punya waktu untuk hal seperti itu. Itu juga berlaku untuk Mary. Kalau aku punya waktu untuk mengurusi itu, pasti sudah kukatakan sesuatu padanya. Ah, mungkin juga tidak. Tidak mungkin. Itu tidak akan terjadi. Tak akan pernah. Aku tidak bisa melakukannya.

Namun semua keterbatasanku ini adalah suatu hal yang perlu disyukuri, ia pun menyadarinya. Meskipun dia banyak kekurangan, Mimorin tetap jatuh cinta padanya. Keberuntungan seperti itu mungkin tidak sering terjadi pada Haruhiro. Atau bahkan, tidak pernah datang lagi. Bisa jadi ini adalah kesempatan terakhirnya untuk dicintai oleh seseorang. Menolak cinta Mimorin bisa jadi suatu kesalahan fatal.

Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan? Memang benar sekarang dia tidak punya rasa pada wanita itu. Dan Haruhiro tidak bisa membohongi dirinya atas rasa itu. Dia tidak ingin menipu dirinya sendiri, atau untuk menipu Mimorin. Dia tidak bisa.

“Yahh, sudahlah kalau begitu….” katanya.

"Tapi aku masih mencintaimu."

“... Ha?” tanyanya.

Ketika ia membuka matanya, Mimorin menatap Haruhiro. Tanpa setitik pun keraguan, mata Mimorin menatap serius padanya.

“Sekarang, aku mencintaimu. Aku suka padamu, Haruhiro. Apakah itu salah?"

“Wah ...” Anna-san bersiul, mengangkat bahu setinggi-tingginya sampai menyentuh sisi kepala. “Mimorin memang bandel. Dia keras seperti batu, yeah? Atau bahkan mungkin seperti baja?”

Haruhiro hanya bisa menundukkan kepala dan menggaruk bagian belakang kepalanya. Tidak ... Apakah ada yang salah? Mungkin aku tidak pantas mempertanyakan itu. Ini bukan soal siapa yang salah atau siapa yang benar. Aku tidak punya hak untuk melarangnya menyukaiku. Itu semua terserah pada Mimorin. Aku lah yang harus menghormati keputusannya.

Kalau dia mengatakan, Terima kasih atas pengertiannya, kita berteman saja ya, maka semuanya akan berakhir dengan damai. Apakah Mimorin mau menerimanya atau tidak, itu semua terserah padanya.

Haruhiro juga mempunyai hak yang sama, apakah dia mau menerima cinta Mimorin atau tidak, itu semua terserah padanya. tapi Haruhiro tidak bisa mengubah perasaan Mimorin saat ini. Hanya Mimorin yang bisa merubah perasaannya sendiri.

“Itu tidak salah,” kata pria itu.

Persimpangan Jalan di Bawah Langit yang Berbeda[edit]

Ketika semuanya kembali berkumpul, mereka memutuskan untuk pergi berbelanja. Kuzaku membeli perisai baru dan helm untuk menggantikan miliknya sebelumnya yang sudah lusuh. Mary membeli tongkat baru yang lebih baik untuk digunakan menyerang. Adapun Ranta membeli pedang baru yang dinamakan Betrayer Mk. II …. tentu saja itu merupakan nama bodoh yang dia berikan untuk pedangnya sendiri … dia pun menawarnya dengan harga serendah mungkin. Sedangkan yang lainnya, mereka hanya membeli kebutuhan sehari-hari.

Itu jauh lebih menyenangkan daripada yang mereka duga sebelumnya. Sebetulnya di Post Lonesome Field juga menyediakan berbagai barang kebutuhan, sehingga mereka bisa mendapatkannya kapanpun mereka ingin, tapi ada banyak pilihan yang lebih bagus di Altana. Melihat barang-barang saja sudah membuat mereka ingin membelinya.

Haruhiro selalu dikritik karena dia membosankan, murung, lembek, dan pelit ...... namun dia cukup bersemangat ketika mencari barang-barang bagus, dan sepertinya dia akan terpancing untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dia butuhkan, tapi ia sangat menahan keinginan untuk membelanjakan hartanya yang begitu berharga.

Ketika mereka meninggalkan Altana, ada sedikit rasa kangen pada kotanya itu.

Mereka menuju ke barat untuk melintasi Dataran Quickwind. Sepanjang jalan, mereka berkemah sekali, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh kira-kira 35 kilometer untuk mencapai Post Lonesome Field sekitar pukul dua siang. Jika mereka memasuki Dusk Realm, kemudian tiba di pemukiman hari ini, maka esok harinya mereka sudah bisa berburu. Tentu saja Party Haruhiro dan para Tokkis berniat untuk melakukan itu, tapi ...

Di Post Lonesome Field, mereka bertemu dengan Shinohara.

“Hei, Haruhiro….” kata pria itu. “……. Dan juga kau, Tokimune.”

Shinohara tidak berubah sedikit pun sejak pertama kali bertemu dengan Haruhiro. Ekspresi wajahnya tampak kalem dan lembut, sedangkan sifatnya selalu ramah. Hari ini pun dia mengenakan jubah putih. Terdapat lambang 7 bintang berbentuk X pada jubahnya. Itu merupakan lambang Klan Orion.

Haruhiro juga melihat para pria dan wanita lain mengenakan jubah putih Orion yang tersebar di sekitar Post Lonesome Field. Shinohara tidak sendirian; ia bersama Hayashi, yaitu seorang Warrior berambut pendek dan bermata sipit, ada juga seseorang berkacamata dan berambut cepak.

Hayashi mengangguk ke Mary, lantas dia pun membalasnya dengan anggukan kecil dan senyuman.

Hayashi tampak terkejut.

“... Hm?” Haruhiro terkejut, tapi dia senang melihat Mary menyapa rekan lamanya dengan senyuman. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak, namun sebisa mungkin dia lenyapkan gangguan itu, Yahh, mungkin ini semua juga berkat dia, pikir Haruhiro sambil menggaruk pipi dengan ujung jarinya. “Shinohara, apakah kalian semua juga berencana berburu di Dusk Realm?”

“Sebenarnya, kami masih tidak begitu yakin,” kata pria itu.

"Hah?! Hah?! Hahhhh?!” mata Kikkawa melebar. Dia melompat ke udara dan melambai-lambaikan tangannya. "Apa, apa? Apakah terjadi sesuatu? Apa yang jadi-ter?!"

“Apa itu jadi-ter?” pria berambut cepak dan kacamata bertanya.

“Wow, jadi kau tertarik dengan perkataanku?! Sungguh?! Beneran nih?!” teriak Kikkawa.

“Kikkawa, kau menyebalkan, yeah!” bentak Anna-san sambil menampar kepala Kikkawa.

“Erm, yahh ...” Haruhiro tahu bahwa itu cukup menyakitkan, tapi setidaknya dia harus membenarkan perkataan itu, karena Haruhiro memang sudah terbiasa menjadi seorang pengoreksi.

“Maksudnya adalah ter-jadi ... Dia memang suka membuat istilah-istilah yang aneh ...”

“Ohh.” si pria berpotongan cepak tiba-tiba membalasnya dengan tawa. “Aku mengerti, aku mengerti.”

Dia pikir itu lucu? Menurutku malah menyebalkan.

“Dan?” tanya Tokimune, sambil memamerkan gigi putihnya sekilas. “Apakah benar-benar terjadi sesuatu, Sheeno?”

“ 'Sheeno'?” Shihoru mengulangi sebutan itu dengan pelan.

“Karena dia Shinohara!” si orang gak penting berambut acak-acak memberikan klarifikasi tanpa diminta. “Itu sebabnya dia memanggilnya Sheeno, hah!”

“Setidaknya berikan akhiran -san pada namanya, dia pantas dipanggil begitu,” Haruhiro menambahkan.

Ranta, si pembela yang kuat dan memusuhi yang lemah, tiba-tiba bersujud sambil mengatkan: "Maafkan aku! Aku tak luput dari kesalahan! Kau tahu, itu hanya cara kami bercanda, jadi kami terbiasa mempermainkan nama orang lain! Kami tidak terbiasa memanggil orang lain dengan sebutan kehormatan! Kami memang hina!”

“Aku sih tidak masalah.” seperti itulah balasan dari Shinohara, dia selalu memaklumi setiap kesalahan yang dibuat temannya.

“Heh ...” tiba-tiba satu mata Inui bersinar dengan menakutkan… yahh, bukan berarti dia hanya punya satu mata sih, dia hanya mengenakan penutup mata pada salah satu matanya. “Namanya memang Shinohara, tapi apa salahnya dipanggil Sheeno ...”

Whoa, Inui, kau bahkan lebih lancang daripada Ranta, lho? pikir Haruhiro.

“Aku belum pernah mendengar itu sebelumnya,” kata Mimorin sembari berkedip.

Hah? Bahkan rekan setimnya baru mendengar panggilan itu?

“Memang baru kali ini aku memanggilnya begitu,” kata Tokimune dengan mengedipkan mata dan mengacungkan jempol. "Itu adalah panggilan yang sangat cocok untuknya, iya kan?”

“Tidak ada yang protes kan, bahkan dia sendiri menerimanya, yeah?!” Anna-san tersenyum berseri-seri dan juga mengacungkan jempolnya.

“Setidaknya, itu jauh lebih baik daripada Shinoharadon dan Shinoharacchom.” Yume menambahi omong kosong ini, sembari dia bersedekap dan mengangguk-angguk.

“Apa?” Tada mengerutkan kening. “Apakah kalian semua bodoh? Kalian semua bodoh ya? Shinoharaiden jauh lebih baik menurutku."

Kuzaku dan Mary saling pandang dengan senyum canggung, kemudian mereka cepat-cepat memalingkan muka.

Apa apa apa? Kenapa sungkan? Silakan, teruskan saja sampai pagi, aku tidak keberatan. Nikmati saja waktu kalian sebaik-baiknya! Malu? Karena banyak orang di sini? Oh gitu ya… Aku sih gak peduli lagi.

“Aku tidak masalah kalian panggil apapun, sungguh,” kata Shinohara. Bahkan setelah mendengar semua omong kosong itu, dia masih saja bertingkah dewasa, kemudian dia pun tertawa dengan senyum yang ikhlas di wajahnya. “Nah, sebenarnya ... Ya, memang telah terjadi sesuatu. Singkatnya, Dusk Realm semakin tidak menarik bagi kemi.”

“Izinkan aku untuk meneruskan penjelasannya,” pria berambut cepak dan berkacamata menyela.

Tunggu dulu, siapa sih orang ini? Aku pernah melihat dia sebelumnya, kan? Tapi aku tidak pernah tahu namanya.

Sementara Haruhiro mengamati orang itu sembari memiringkan kepalanya dengan bingung, dia pun menoleh ke arah Haruhiro sambil menyeringai. “Aku minta maaf karena terlambat memperkenalkan diri. Namaku Kimura dari Orion.”

“... Oh.” Haruhiro segera membungkuk. "Terima kasih. Senang berkenalan denganmu.”

“Aku tahu siapa kau,” kata Kimura. “Kau adalah Haruhiro-san kan. Kemudian kau adalah Ranta-san. Yume-san. Mary-san. Shihoru-san. Kuzaku-san. Tokimune-san .Tada-san. Inui-san. Anna-san. Mimori-san. dan Kikkawa-san. Apakah aku benar?"

Dia sungguh suka menambahkan -san pada nama orang lain, tapi Anna-san memang sudah biasa dipanggil -san. Kurasa Kimura ini bukanlah orang biasa, pikir Haruhiro.

“Kimura-san dan Shinohara-san adalah sahabat kental,” jelas Hayashi.

“Sahabat kentang?” tanya Yume.

Yume, itu salah.

“Dasar bodoh, dia jelas-jelas bilang sahabat kenyal!” teriak si rambut acak-acakan.

Ranta, itu juga salah.

“Sahabat kepal ya ... Heh ...” Inui juga salah.

“Mereka adalah sahabat lengket, ya ?!” Anna-san juga punya istilahnya sendiri.

“Whoa?! Jadi mereka tidak bisa terpisahkan oleh suatu cairan lengket dan gurih?!” Kikkawa heboh sendiri dengan kesalah pahamannya.

Kenapa Kikkawa begitu bersemangat?

“Gyudon [4] juga gurih,” Mimorin mengangguk.

Di Altana memang dijual Gyudon, tapi entah kenapa tidak pakai daging sapi.

“Sahabat kental ...” tampaknya Mary berpikir cukup seirus. "Apa maksudnya?"

“Oh, um ...” Kuzaku tampaknya juga tidak tahu.

Sahabat kental, ya. Itu memang agak sulit didefinisikan. Karena kau biasanya lebih sering menggunakan istilah ‘sahabat karib’ daripada ‘sahabat kental’. Pantas saja beberapa dari mereka tidak tahu.

Kebetulan, Haruhiro pernah mendengar itu sebelumnya, sehingga dia bisa menebak maknanya. Artinya, mereka adalah sahabat dekat, kan? Atau juga bisa dibilang, mereka saling percaya satu sama lain, atau semacamnya? Shinohara dan Kimura adalah sahabat karib? Harusnya sih tidak ada yang aneh tentang hubungan itu.

“Heh heh heh.” Kimura tertawa misterius sehingga menyebabkan bahunya bergetar. “Aku adalah sahabat kentalnya Shinohara? Ah, kalian terlalu membesar-besarkan. Kami hanya teman biasa. Tentu saja kami tidak melakukan hal yang tidak-tidak. Bukankah begitu, Shinohara?”

“Ya.” Shinohara masih saja membalasnya dengan ramah. “Kami bukan penyuka sesama jenis atau BL, itu sungguh menjijikkan.”

“Uwah ha ha ha!” Kimura tertawa begitu keras, sampai-sampai dia memegangi perutnya.

“BL adalah singkatan dari Boys Love,” Hayashi dengan cepat menjelaskan.

“Aku sudah tahu itu, bodoh!” Anna-san berteriak padanya.

Kacau, kacau, pikir Haruhiro. Percakapan ini semakin gak jelas ...

Ah tidak, lebih tepatnya, percakapan ini memang sudah gak jelas sejak awal. Setelah tertawa beberapa saat, Kimura akhirnya menjelaskan secara singkat dan padat tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Diduga, ini semua bermula ketika lima hari yang lalu Iron Knuckle menyerang kota-kota Cultist lainnya, dan melakukan pembantaian di sana.

Seperti biasa, penyerangan itu sukses, tapi dua hari kemudian, atau tiga hari yang lalu, telah terjadi perubahan pada Dusk Realm.

Munculah suatu makhluk humanoid raksasa bagaikan dewa yang begitu tinggi, seakan-akan menyentuh langit. Dia muncul begitu saja, kemudian ganti memburu manusia di manapun mereka berada.

Kau bisa melihat dewa raksasa ini dari kejauhan. Haruhiro dan yang lainnya pun pernah melihat makhluk ini beberapa kali sebelumnya. Namun, dewa raksasa tidak pernah mendekati mereka, dan dia pun berada cukup jauh dari bukit awal.

Mereka pernah mendengar bahwa terdapat suatu lembah yang terletak cukup jauh dari arah barat daya lembah awal. Dewa Agung Cauldron, dan dewa raksasa berkeliaran di daerah itu. Mereka juga pernah mendengar bahwa yang memberikan nama itu adalah Lala dan Nono.

Dewa raksasa itu begitu besar, seakan-akan dia merupakan makhluk dari negeri dongeng, dan tentu saja bermain-main dengannya sama dengan mengundang kematian. Itulah sebabnya, tak seorang pun cukup bodoh untuk melawannya. Namun sang dewa raksasa juga pasif, meskipun dia melihat ada manusia, dia tidak akan melakukan apapun. Sehingga, selama ini orang-orang tidak pernah menganggapnya sebagai suatu ancaman.

Namun, rupanya tiba-tiba terjadi perubahan.

Sepertinya, ada seseorang yang mulai bosan dengan lawan lemah, kemudian cari gara-gara dengan sang dewa. Itulah mengapa, makhluk yang tenang pun akhirnya berubah sifat.

Sulit membayangkan ada orang yang cukup nekad, atau lebih tepatnya cukup bodoh, yang menantang makhluk sebesar itu. Saat mereka menyadari, Oh, sialan, dia benar-benar melawan, kemudian semuanya pun lari. Akhirnya mereka mendapatkan jarak cukup jauh dengan sang dewa, namun bagi makhluk sebesar itu, jarak adalah suatu hal yang relatif. Mereka pun tidak bisa terus-terusan mewaspadai kejaran sang dewa, karena itu hanya akan membuat mereka semakin kewalahan berburu Cultist dan raksasa putih.

Oh, ini semakin buruk, sehingga, Orion pun memutuskan untuk meninggalkan Dusk Realm sementara.

Situasi ini mungkin saja akan berubah, jadi tidaklah permanen. Mereka memutuskan untuk meninggalkan hanya satu Party di Dusk Realm, kemudian yang lainnya pergi berburu di tempat lain.

“Ulah Iron Knuckle, lagi?!” teriak Ranta dengan keras. “Mereka bajingan! Pernahkan mereka berpikir bahwa tindakan mereka merepotkan pekerjaan orang lain?! Ini sungguh merepotkan, sialan!!”

“Kau juga sering merepotkan pekerjaan orang lain,” gumam Haruhiro.

“Haahhh ?! Apa yang barusan kau katakan, Parupiroooo ?!”

“Ah ...” Shihoru menunjuk ke suatu arah di kejauhan. “Ada seseorang dari Iron Knuckle ...”

“Ma-maafkan aku ommmmm!” Ranta langsung melompat ke udara dan melakukan kowtow ketika mendarat. “Tadi aku hanya bercanda. Sungguh, sungguh… aku tidak pernah mengataimu, Haruhiro lah yang berkata begitu...!"

“Nah kan…. Jadi nyalahin aku,” gumam Haruhiro.

“Apaaaaaa?!” Ranta menjerit. “Mana Iron Knuckle?! Tidak ada Iron Knuckles! Shihoru, kau menipuku! Dasar bongkahan pentil lembek!”

“Jangan memanggilku dengan nama yang aneh-aneh!”

“Diam, payudara kendor! Untuk menebus dosamu, kuperintahkan kau untuk berganti pakaian di depan umum!”

“Heh ...” Inui menunjukkan senyum jahat pada wajah tuanya. “Aku juga ingin melihatnya melakukan itu ... Namun, aku sendiri saja yang melihatnya!”

“Tak ada seorang pun yang boleh melihatnya!” Shihoru memeluk tubuhnya sendiri, seraya memelototi Inui, seakan-akan dia melihat sesuatu yang kotor.

“Kalian sungguh ramai.” Shinohara hanya tersenyum.

“Mereka hanya mengganggu.” kata Tada sambil menyesuaikan posisi kacamata dengan jari telunjuknya. “Mereka hanya sekumpulan kotoran kumbang.”

Kotoran kumbang adalah hinaan yang sedikit parah, tapi Haruhiro setuju sekali.

“Dewa raksasa, ya ...” Tokimune melihat Haruhiro. "Apa yang ingin kamu lakukan?"

Apakah mereka bisa melakukan sesuatu?

Dalam kamus hidup pasukan relawan, mereka tidak akan mendapatkan apapun jika tidak berani mengambil resiko. Namun bagi Haruhiro, ia ingin sebisa mungkin menghindari resiko yang berbahaya. Secara teknis, mereka adalah penemu Dusk Realm, maka sangatlah mengecewakan jika mereka tidak bisa berburu di teman yang mereka temukan, tapi…. mungkin akan lebih baik jika mereka mempertimbangkan pilihan lain.

Itu pendapatnya, dan dia pun mengemukakannya.

Kemudian, setelah mendapatkan respon dari rekan-rekannya, inilah yang terjadi.

◆◆◆◆◆

“Whewwwww!” di atas bukit awal, Ranta mengeluarkan jeritan aneh, dengan mata yang terbelalak.

Pada waktu normal, seharusnya sekarang matahari sudah terbenam, tapi di Dusk Realm, tidak ada pagi dan tidak ada malam. Semuanya selalu sama, dan langit berwarna-warni terhampar sejauh mata memandang.

Di bawah langit dunia lain yang begitu aneh, namun juga elok, sesosok makhluk sebesar dewa sedang berjalan-jalan dengan santai.

“Menurutmu, seberapa jauh posisi makhluk itu dari tempat kita?” Kuzaku bertanya sambil menghela napas. "Sangat sulit mengukur jarak dengan monster sebesar itu.”

“Hrmm.” Anna-san naik di bahu Tokimune. “Mungkin delapan puluh kilometer? Atau sekitarnya?”

“Tidak mungkin sejauh itu,” Haruhiro hanya bisa mengoreksi.

“Lima kilometer ... mungkin?” Yume menyipitkan mata sembari melihat sang dewa raksasa. "Sepuluh kilometer, mungkin? Dua puluh, mungkin? Yume juga kesulitan mengukur jaraknya. Whoooo. Dari sini kelihatan kecil, tapi sebenarnya sangat besar!”

“Ukurannya bertentangan dengan apa yang kita lihat sekarang, namun memang begitulah adanya,” kata Shihoru dengan anggukan, gadis itu selalu saja berdiri di samping Yume.

Ya, yang bener aja.

Anggaplah Yume benar, jadi jarak yang memisahkan mereka adalah sekitar 20 km, dan itu cukup jauh. Dengan jarak sejauh itu, bahkan makhluk setinggi 200 m akan terlihat begitu kecil dari tempat mereka berada. Meskipun jika raksasa itu tidak begitu besar, mereka masih bisa melihat posisinya dari sini.

Tapi dia sangatlah besar. Seharusnya tidak ada makhluk hidup berukuran sebesar itu. Dia lebih mirip gunung. Bukan bukit, melainkan gunung.

Haruhiro ingat pertama kalinya mereka melihat dewa raksasa. Yaitu ketika mereka kembali setelah menyelamatkan Tokkis, yang mendahului kelompok Haruhiro dalam mengeksplorasi Dusk Realm.

Pada saat itu pun, Haruhiro sudah menduga bahwa makhluk itu begitu besar, meskipun jarak mereka terpisah beberapa ratus meter.

Beberapa ratus meter?

Mungkin saja tidak. Waktu itu, paling tidak jaraknya sejauh sekarang ini.

Atau mungkin lebih jauh?

Seperti yang Kuzaku katakan. Dewa raksasa begitu besar, sehingga tak seorang pun bisa mengukur jarak di antara mereka.

“Dia cukup cepat, ya,” gumam Tada.

“Kakinya begitu paaaaaaaaaanjang ...” entah kenapa, sepertinya Kikkawa terkesan. "Hebatnya, dengan kaki sepanjang itu, gerakannya juga cekatan. Wow, wow ...”

Dewa raksasa berada di sebelah selatan bukit awal, kemudian bergerak dari timur ke barat. Bagi Haruhiro, gerakannya tidaklah begitu cekatan, tapi mereka bisa melihat pergerakan kakinya dari jarak sejauh ini, jadi tidaklah mungkin dia bergerak dengan lambat.

“Ah!” Mimorin menarik napas, sambil menunjuk ke arah tenggara. "Ada sesuatu di sana."

“Apa itu?” wajah Mary mulai terlihat suram.

Kuzaku melihat Mary dari samping.

“Sepertinya itu juga besar.” kata Tokimune sambil menjilat bibirnya.

“Yah, sepertinya begitu,” kata Haruhiro. Memang besar.

Haruhiro mengusap perutnya. Perutnya sakit sedikit.

Para Tokkis tampaknya tidak terganggu sama sekali, dan kenapa Tokimune terlihat begitu senang? Kenapa hanya dia yang bersemangat?

Bukankah jawabannya sudah jelas? Dia kegirangan karena memang begitulah sifatnya. Kami pun juga begitu. Ah, bukan ‘kami’, maksudku Ranta.

Ya. Kalau dipikir-pikir, berkat Ranta lah mereka bisa bergaul dengan Tokkis sampai sejauh ini. Karena mereka hampir sama gilanya. Kalau bukan karena Ranta, berkomunikasi dengan Tokkis pun akan sulit.

Sifat buruk Ranta tak pernah berguna seperti ini sebelumnya. Ada pepatah yang mengatakan: Jika seseorang memiliki sifat negatif, maka dia juga punya sifat positif, dan sepertinya itu benar. Tidak mungkin ada bayangan tanpa cahaya.

Namun, pepatah itu juga bisa terbalik. Jadi, meskipun saat ini Ranta memberikan dampak positif yang membuat mereka bisa berkomunikasi dengan Tokkis, maka tinggal tunggu waktu sampai dia mengacaukan segalanya dan membuat masalah yang lebih besar.

Itulah kesimpulan Haruhiro, pada akhirnya, Ranta hanyalah wabah dalam Party ini. Dan wabah, tetaplah wabah sampai kapan pun juga.

Dari tempat mereka berada, terlihat sesuatu yang berwarna putih dan menggeliat. Mungkin itu tidaklah sebesar dewa raksasa, tapi lumayan besar juga. Makhluk apakah itu? Itu bukanlah humanoid. Setidaknya, dia bisa memastikan itu.

Apakah itu gurita ... atau sesuatu semacamnya? Meskipun aku belum pernah ke laut di dunia Grimgar, aku tahu seperti apakah bentuknya gurita. Sebenarnya…. tidak tepat juga kalau disebut gurita. Tapi, entah kenapa, aku melihat benda-benda yang mirip seperti tentakel, dan sepertinya makhluk itu bergerak dengan tentakel-tentakelnya, atau mungkinkah makhluk itu perwujudan dari sekumpulan tentakel?

Dari jarak sejauh ini, sulit untuk mengetahuinya. Tapi dia lebih dekat daripada sang dewa raksasa. Mungkin jaraknya hanya dua atau tiga kilometer. Atau bahkan hanya satu kilometer?

“Itu menggemaskan ...” Mimorin menatap dengan penuh semangat ke arah makhluk itu.

Haruhiro, Shihoru, Yume, Mary, Kuzaku, dan bahkan Ranta terkejut, tetapi para Tokkis benar-benar tampak santai.

Ada masalah dengan kepala Mimorin ...

“Um ...” Haruhiro dengan ragu-ragu mengangkat tangannya.

Tokimune pun melihat ke arahnya, “Hm?”

Sekarang, mereka melihatnya, dengan mata-kepala mereka sendiri. Para Tokkis pun setuju pada Haruhiro. Atau lebih tepatnya, mereka memiliki pendapat yang sama sepertinya.

“Mengapa kita tidak kembali saja?” saran Haruhiro. “Tak peduli dilihat dari segi manapun, makhluk-makhluk itu adalah berita buruk bagi kita."

“Dasar tolol!” umpat Ranta. “Kau menyebut dirimu seorang pria? Apakah kau benar-benar memiliki sepasang bola yang menggantung di selangkanganmu?! Tidak punya ya!? Dasar banci!!”

“Apakah monster-monster itu ada hubungannya dengan kemaluanku?” tanya Haruhiro. “Kalaupun aku wanita, monster itu tetap saja akan membunuhku!"

"Tentu saja ada hubungannya! Bukankah begitu, Tokimune-san ?!”

“Aku tak tahu.” kata Tokimune sambil memiringkan kepalanya ke samping karena kebingungan. "Mungkin tidak?"

“Tentu saja tidak!” Ranta dengan cepat berubah pikiran. "Ha ha ha! Tentu saja tidak ada hubungannya, kan? Itulah mengapa aku bilang begitu, Panpirorin! Tidak masalah jika kau laki-laki, atau perempuan, atau jika kau memiliki bola kelamin atau tidak! Kau benar-benar orang tak berguna yang tidak paham apapun, kan?”

“Bola, bola, bola…. hentikan candaan vulgar itu, yeah!” Anna-san membentak Ranta sembari masih menempel pada pundak Tokimune. “Kau terlalu vulgar, yeah?! Di sini ada banyak gadis polos, tau!”

“Kau tidak pantas mengataiku vulgar! Bahkan kau jauh lebih cabul daripada diriku!”

“Do you know?! Ouch! Tidak, tunggu, apa maksudmu barusan?! Dasar pria berk*ntol kecil!”

“Um, pokoknya…. Ayo kita pergi dari sini ...” kata Haruhiro, sambil menyeka ludah Anna-san yang tersemprot ke wajahnya. “Bisakah kita kembali? Kalau kita pergi sekarang, kita bisa sampai di Post Lonesome Field hari ini juga. Setelah sampai di sana, kita bisa bicarakan langkah apa yang akan kita ambil besok ...”

“Huh?” Tokimune berkedip. "Mengapa?"

“Hei, Haruhiro.” Tada meletakkan tangannya di dahi Haruhiro. “Sepertinya kau tidak sedang demam.”

“Memang tidak.” Haruhiro menepik tangan Tada. “Mungkin kalian lah yang demam ...” gumamnya pelan. Sebetulnya dia tidak berniat berkata begitu.

“Heh ...” entah kenapa, Inui tertawa terbahak-bahak. “Heh heh heh heh ... Ah ha ha ha ha ha ha!"

Tunggu, dia tertawa terpingkal-pingkal. Apa yang salah dengan orang ini? Apakah ia bahkan manusia?

Mungkin dia memang bukan manusia? Dia membuatku takut.

Dia benar-benar membuatku takut.

“Dengar, Haruhiro,” kata Tokimune, sambil meletakkan tangan di bahu Haruhiro, sementara Anna-san masih menempel di pundaknya. “Lucunya, aku punya harapan tinggi padamu. Kalau aku bilang lucunya, apakah kau tersinggung?”

“Yah, aku sih gak masalah. Terserah kau mau bilang apa.”

“Yah, bagaimanapun juga, kau adalah orang yang membosankan, dan kau tidak pernah menunjukkan semangat ataupun gairah dalam berusaha, tapi kau sungguh tenang. Kau punya kemampuan untuk membuat keputusan yang cukup baik, sehingga aku tak salah pilih menjadikanmu sekutu kami. Hebatnya, kau punya sesuatu yang tidak kami punyai.”

“Sanjungan seperti itu tidak akan mempengaruhiku, lho ...”

“Kau sedang bercanda, kan?” tanya Tokimune.

"Tidak, aku serius."

“Yah, aku tidak pernah membenci sifatmu yang seperti itu.”

“Begitu, ya.”

Meskipun begitu, aku senang mendengarnya, lho? Semua orang juga pasti akan senang ketika dipuji.

Mungkin wajah Haruhiro masih terlihat datar-datar saja, tapi dia punya caranya sendiri menikmati pujian yang dialamatkan padanya. Namun, dalam keadaan seperti ini, keputusannya tidak akan berubah meskipun seseorang memujinya berkali-kali.

“Jadi, bagaimana?” tanya Haruhiro.

“Aku memuji kemampuanmu, dan aku cukup menyukaimu … Tapi, terkadang-kadang tampaknya kau cukup kesulitan mengikuti kemauan kami…'”

Bukannya terkadang-kadang, tapi setiap saat kalian memang membuatku kerepotan. Kalau dia mengatakan itu secara terus-terang, pasti nanti jadi runyam, sehingga dia menelan bulat-bulat kekesalannya itu.

Seperti biasa, Tokimune memamerkan gigi putihnya sekilas, kemudian dia berkata. “Tujuan kita sudah jelas, kan? Jadi, apa yang kau maksud dengan kembali? Sepertinya aku tidak bisa memahaminya.”

“Tujuan kita?” ulang Haruhiro.

"Ya."

"Apa maksudmu?"

“Tujuan adalah sesuatu yang berusaha kita capai, dan coba kita penuhi dalam pekerjaan, bukankah begitu?"

“Bukan…. Kalau cuma itu sih aku tahu. Aku tahu benar arti dari kata ‘tujuan’.”

“Yahh, kalau begitu, apa lagi yang kau bingungkan?” tanya Tokimune.

“Aku tidak paham ketika kau bilang tujuan kita sudah jelas ...”

“Bukankah sudah jelas?” Tokimune memberikan isyarat dengan dagunya. “Kita harus menakhlukan monster itu, kan?"

“... Apaaaaaa?” Haruhiro terhuyung-huyung.

Apa yang orang ini katakan? Ah, kenapa aku sangat terkejut seperti ini, bukankah sifat mereka memang selalu begini? Tapi tetap saja, ini adalah suatu hal yang mustahil. Dia sudah gila, benar-benar gila. Pemikiran macam apa yang membuatnya optimis dapat mengalahkan monster segedhe gunung?

Shihoru, Mary, dan Kuzaku, semuanya gemetar. Hanya Yume yang memandang mereka dengan tatapan kosong; sepertinya dia masih tidak paham apa yang sedang terjadi di sini. Ranta hanyalah si bodoh yang tak lagi punya harapan, tapi entah kenapa sekarang dia terlihat bersemangat. Bahkan di hadapan makhluk sebesar itu, Tokkis tidak gentar. Kikkawa malah menari-nari bersama Ranta.

Apakah mereka menganggap ini semacam festival? Mereka sungguh bebal. Maksudku, oh ayolaaaaaaah ... apakah kalian benar-benar akan menantang bosnya raksasa?

Bahkan sekarang ada 2 makhluk aneh di hadapan kita. Yang satunya sebesar gunung, yang satunya seperti gumpalan tentakel. Kalian mau menghadapi mereka berdua? Kalian waras?

Tak peduli bagaimanapun kalian mempertimbangkannya, ini tetaplah tidak masuk akal, kan? Ini jelas-jelas mustahil, kan? Jika otak seseorang masih sehat, maka dia tidak perlu berpikir dua kali untuk mundur, kan? Harusnya sih begitu.

Haruhiro benar. Kali ini dia tidak mungkin salah. Jadi bagaimana sekarang?

Akhirnya, tiba waktunya untuk membuat keputusan.

Dia tahu cepat atau lambat, dia harus membuat keputusan. Dia tidak menginginkan ini, dan dia berharap tidak pernah membuat keputusan seperti ini.

Tokkis adalah sekelompok orang gila yang berantakan, tapi mereka cukup baik sebagai rekan kerja. Alasan mengapa Haruhiro mau bekerjasama dengan mereka sampai saat ini adalah, karena mereka begitu kuat dan bisa diandalkan. Tak seorang pun dari Tokkis mementingkan imbalan saat berburu, dan mereka hanya ingin menjadi kuat dengan mengalahkan musuh yang lebih kuat. Mereka tidak pernah perhitungan dalam menolong sesama, karena mereka menikmati setiap pertarungan ketika menghadapi lawan. Bukan berarti Haruhiro bisa mempercayakan segala hal pada mereka, tapi yakin lah bahwa Tokkis tidak akan pernah mengkhianati rekan-rekannya. Mereka bukanlah tipe orang yang dengan mudah menyalahi prinsip yang sudah mereka pegang teguh. Namun, mungkin akan ada saatnya dimana Haruhiro dan Tokkis harus berpisah.

Haruhiro khawatir bahwa saat-saat seperti itu akan datang.

Ia sudah ikhlas jika Tokkis menyebabkan Party-nya terjebak dalam keadaan yang menyulitkan. Bagaimanapun juga, begitulah sifat Tokkis yang tidak pernah pikir panjang dalam mengambil resiko. Kalau dia tidak menerima sifat Tokkis yang seperti itu, maka kedua Party ini tidak akan bekerjasama dengan lancar.

Tapi, segala sesuatu pasti ada batasnya. Ketika resiko yang dipertaruhkan terlalu besar, maka sudah saatnya berpikir dua kali untuk menuruti kemauan mereka.

Kali ini, jika Haruhiro menuruti kemauan para Tokkis, maka dia harus bersiap-siap menerima resiko yang lebih buruk lagi. Bukan hanya cidera, namun juga kematian.

Beda lagi ceritanya jika Haruhiro tidak punya pilihan selain menghadapi monster-monster itu. Namun kali ini dia punya pilihan untuk mundur. Terlalu berbahaya jika dia memaksakan diri melawan monster yang jauh lebih besar daripada lawannya sebelumnya.

Kalau dia mendiskusikan ini dengan rekan-rekan setimnya, maka mungkin saja ada beberapa orang yang berbeda paham dengannya. Oleh karena itulah, lebih baik Haruhiro menggunakan otoritasnya sebagai pemimpin di saat seperti ini. Keputusan sepenuhnya ada di tangan Haruhiro, ini memang sedikit otoriter, namun ini demi keselamatan bersama. Dia sudah memutuskan. Mereka akan berpisah dengan Tokkis di sini.

Dia bisa saja mengataka suatu hal yang naif seperti, Mari kita bekerja sama lagi, jika ada kesempatan lain.Tapi itu sama saja dengan keinginan egois, seperti: Jangan ajak kami jika resiko bahayanya terlalu besar. Tapi jika relatif lebih aman, bolehlah kalian mengajak kami. Itulah yang Haruhiro inginkan dari mereka. Terkadang bekerjasama, namun terkadang tidak.

Dia menatap lurus ke mata Tokimunea. Maaf, itulah yang hendak dia katakan…..

Tiba-tiba, dari balik pakaiannya, bergetarlah suatu benda yang selama ini dia simpan. “Whoa ...”

Dalam keadaan masih terkejut, Haruhiro benar-benar lupa apa yang barusan dia hendak katakan. Mau bilang apa sih tadi? Ah, lebih baik dia mengecek benda yang bergetar itu terlebih dahulu.

Benda itu tergantung pada lehernya dengan rantai, seperti liontin. Ketika dia merogoh ke dalam kerah bajunya, kemudian menariknya keluar, dia melihat suatu benda yang ujung bawahnya bersinar dengan warna kehijauan. Benda itu berbentuk seperti batu pipih hitam. Tapi itu bukanlah batu biasa.

“Apa itu?” Tokimune mengangkat alisnya penasaran.

“Eh, um, ini ...”

Sementara Haruhiro ragu-ragu apakah dia akan menerangkannya atau tidak, benda yang disebut Receiver itu mulai bergetar dan menghasilkan suara.

“Untuk para anggota Day Breakers, apakah kalian bisa mendengarkan suara ini? Ini adalah Soma.”

“Haeeee ?!” sembari masih menempel di pundak Tokimune, Anna-san menjerit dengan suara aneh dan mata terbelalak.

“Apakah dia barusan menyebut nama 'Soma'?” kata Tada sambil menyesuaikan posisi kacamatanya.

“Soma? Maksudnya Soma yang itu, kan?!” tanya Kikkawa dengan posisi seakan siap menari.

“Somatik [5] ...” Mimorin menggumamkan sesuatu yang tidak relevan.

“Heh ...” entah kenapa, Inui mulai menghunus pedang dan mengayun-ayunkannya.

Haruhiro hanya menaggapinya dengan bertukar pandang dengan Ranta, Shihoru, Yume, Mary, dan Kuzaku.

Mereka belum pernah menceritakan pada Tokkis bahwa mereka adalah cecumuk di anggota Day Breakers. Sebenarnya Ranta ingin memamerkan status mereka sebagai rekan Day Breaker, tapi Haruhiro selalu membungkamnya.

Aku tidak tahu. Jujur saja, masih sulit untuk mempercayai bahwa kami sudah resmi jadi anggota Day Breaker. Kami memiliki Receiver ini sebagai bukti, jadi ini bukanlah mimpi. Tapi tetap saja, aku tidak pernah paham mengapa Day Breaker mau memasukkan Party lemah seperti kami dalam keanggotaannya. Ini masih saja terasa seperti mimpi. Maksudku, Soma tidak pernah menghubungi kami. Aku juga tidak begitu tahu tentang Day Breaker. Meskipun kalian memaksaku untuk mempercayai fakta ini, aku masih sulit untuk menganggapnya sebagai suatu kenyataan.

Ini sungguh sulit dipercaya.

“Kami berencana untuk kembali ke Post Lonesome Field besok malam,” kata suara Soma.

Suara itu benar-benar mirip seperti suara Soma, namun dia belum juga bisa mempercayainya. Tapi, dia harus menerima kenyataan ini.

"Aku ulangi. Kami berencana untuk kembali ke Post Lonesome Field besok malam. Jika kalian bisa menuju post tersebut besok malam, maka datanglah. Aku ingin bertemu dengan kalian. Lilia, apakah kau ingin mengatakan sesuatu sebagai tambahan?"

“K-Kenapa kau bertanya padaku?!” teriak suara itu.

“Ya, mungkin saja kau ingin menambahkan sesuatu, kan?”

“A-Aku belum siap...!”

"Aku paham. Jadi, tidak ada tambahan ya.”

“T-Tunggu dulu! Berikan Sender itu padaku.”

“Tentu,” kata Soma.

Kemudian, terdengar suara Lilia berdehem untuk membersihkan tenggorokannya. “S-Sebenarnya tidak ada yang khusus sih, t-tapi sudah lama kami tidak bertemu dengan beberapa dari kalian. Jadi, bagi kalian yang jarang mengadakan pertemuan dengan kami, dan kebetulan sedang berada di sekitar daerah Post Lonesome Field, maka tidak ada salahnya jika kita bertemu di sana… K-Kami tidak pernah memaksa, jadi silahkan datang jika kalian tidak berhalangan. Sudah, itu saja tambahan dariku."

Receiver berhenti bergetar dan cahaya hijau pun lenyap.

Haruhiro mendesah, kemudian dia memandang Tokimune untuk melihat reaksinya. Tokimune terlihat sedang merenung. Apa sih yang sedang dia pikirkan? Haruhiro tidak bisa membayangkannya. Bahkan, sangat jarang dia melihat Tokimune berpikir seperti ini.

“Erm ... M-mengenai ini ...” Haruhiro berpikir untuk memilih kata yang tepat. “Yahh, gimana ya bilangnya ...?”

“Kalau kita hendak melawan dewa raksasa, mengapa kita tidak mengajak Soma sekalian?” tanya Tokimune.

"Hah?"

“Berburu dewa raksasa bersama-sama.”

"...Bisa ulangi sekali lagi?"

“Soma mungkin akan tertarik jika kita mengajaknya memburu monster sebesar gunung itu,” kata Tokimune.

“Apa? Hah? Tunggu, tunggu dulu ... Kau dan Soma-san sudah saling kenal ...?”

“Kami mendaftar sebagai pasukan relawan pada waktu yang sama, jadi… kau boleh bilang bahwa kami saling kenal. Kami juga pernah minum bersama beberapa kali.”

“Tidak, tapi ...” Haruhiro kehabisan kata-kata.

Tapi, apa? Ada apa ini?

Apa yang harus aku lakukan?

Bukankah barusan kami ingin mundur?

Kenapa sekarang jadi terlibat semakin jauh?

Apa yang sedang terjadi di sini?

Sifatku yang Sebenarnya[edit]

Apapun permasalahannya, Haruhiro sudah lama ingin bertemu dengan Soma. Yah, sebenarnya tidak begitu ingin sih, tapi itu hanya alasannya karena dia merasa tidak pantas bertemu seorang prajurit sehebat Soma.

Soma, yang terkenal sebagai prajurit relawan terkuat yang pernah ada. Kemuri, yang murah hati dan kuat. Lilia, sang penari pedang cantik dari bangsa Elf. Shima, sang Shaman super sexy yang biasa dipanggil “Onee-san”. Pingo, sang Necromancer menyeramkan yang biasa dipanggil “Anak Iblis” karena wajahnya yang imut. Dan Zenmai, yaitu seonggok Golem yang Pingo ciptakan…. Tak seorang pun dari mereka layak disebut normal. Masing-masing memiliki aura yang luar biasa, dan tentu saja kemampuan mereka jauh di atas para prajurit relawan pada umumnya.

Bahkan dari kejauhan, kau tidak akan bisa melewatkan eksistensi mereka. Mungkin ini sedikit lebay, tapi kau bisa bilang bahwa Soma dan Party-nya adalah legenda hidup. Mereka hendak mengadakan pertemuan, artinya ini bukan hanya kesempatan untuk melihat mereka, namun juga berbicara dengan mereka.

Tidak, tidak “mungkin.” Tidak mungkin Party kampungan seperti kelompoknya Haruhiro menjadi bagian dari sekumpulan legenda hidup.

Tapi dia perlu memikirkannya lagi dengan kepala dingin.

Tapi… oh, inilah kesempatan yang langka untuk bertemu Soma yang terkenal itu. Oh, sial, apakah yang seharusnya mereka lakukan? Apa yang harus mereka bicarakan ketika bertemu Soma nanti? Bagaimana sebaiknya mereka menyambutnya? Bagaimana jika Soma sudah melupakan mereka? Ya, itu mungkin tidak akan terjadi, tapi tetap saja, kau tidak pernah tahu. Penampilannya memang elegan, namun sebenarnya ketika berinteraksi dengan orang lain, Soma adalah sosok pria yang cukup lemot. Sehingga, mungkin saja dia sudah melupakan Haruhiro dan Party-nya.

Tentu saja Haruhiro punya firasat buruk seperti itu.

Tokimune berencana untuk berburu dewa raksasa dan ingin mengajak Soma. Itu adalah sesuatu yang Haruhiro tidak bisa abaikan begitu saja. Dia harus melakukan sesuatu, tapi pertama-tama mereka harus kembali ke Post Lonesome Field. Ketika sampai nanti, barulah dia bisa membicarakan rencana perburuan dewa itu bersama Soma. Belum tentu juga sang Soma mau menerima ajakan itu, karena mungkin saja dia ke sini untuk melaksanakan misi yang lebih penting.

Haruhiro akan mengajak Soma berburu monster sebesar gunung itu kan? Serius nih? Yakin nih? Mungkin juga tidak….

Dan, setelah berhasil kembali ke Post Lonesome Field dengan selamat, mereka pun memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Lantas mereka mencari makan di gang-gang belakang benteng.

Sementara Haruhiro mengantri untuk membeli makanan di suatu kios, dia pun berpikir, Oke, aku akan mengatakan sesuatu, aku akan membahasnya, pasti,, lantas tiba-tiba seorang pria asing berbicara kepadanya.

“Kau Haruhiro-kun, kan?”

"...Ya, kenapa?"

Dia tidak pernah mengenal orang tua itu. Tampaknya pria tua itu berumur 40-an tahun atau bahkan lebih. Menurut Haruhiro, dia hanyalah seorang pria paruh baya, tidak lebih. Namun entah kenapa, dia terlihat cukup hebat.

Tubuhnya tegap. Tingginya pasti lebih dari 180 cm. Namun, dia tidak hanya tinggi, melainkan bertubuh kekar juga.

Dia memiliki ekspresi wajah yang lembut, ketika dia tersenyum kerutan-kerutan terlihat sampai matanya, dan dia juga terkesan kalem. Suaranya yang pelan memberikan kesan sopan, tapi entah kenapa, auranya cukup mengancam. Kalau dilihat dari senjata dan perisai yang dia bawa, mungkin ia adalah seorang Paladin.

Orang tua itu bersama Party-nya.

Salah satu temannya bertubuh pendek dan ramping, anehnya dia adalah seorang pria, umurnya mungkin juga sekitar 40-an. Dia tampak seperti seorang seniman atau semacamnya, dan dia mengenakan baju Priest.

Berikutnya, ada Mage yang nampaknya berusia 30-an tahun. Dia lebih tua dari Haruhiro, tetapi sepertinya dia tidak pantas dipanggil Bu. Dia sungguh cantik jelita.

Grimgar V6 008.png

Kemudian, ada lagi wanita yang berdiri di sebelahnya, dan dia juga luar biasa cantik. Dia mengingatkan Haruhiro pada Kajiko dari Wild Angels, hanya saja ia lebih tua daripada Kajiko. Mungkin usianya juga 30-an. Dia memiliki pedang besar yang ikat di punggungnya. Dia adalah seorang Warrior, tidak salah lagi.

Ada sisa dua orang lagi pada Party itu, dan ketika Haruhiro melihatnya, matanya pun terbelalak.

Mereka bukan manusia.

Mereka berdua adalah laki-laki, namun sosoknya begitu berbeda.

Salah satunya bertubuh pendek, seperti tong. Tapi dia tidak gemuk. Dia bertubuh dempal karena otot-ototnya begitu kekar, tanpa lemak sedikit pun. Lebih tepatnya, dia adalah seseorang bertubuh dempal dan berjenggot lebat. Dia membawa kapak yang ukurannya bahkan lebih besar daripada tubuh dan jenggotnya yang lebat.

Dia adalah seorang Dwarf.

Yang satunya adalah ras yang berbeda 180° dari Dwarf. Sosoknya ramping. Dia sama tingginya dengan Haruhiro, atau mungkin sedikit lebih tinggi. Dia tampak seperti pria muda yang cantik dan berkulit mulus. Warna tubuhnya sangat pucat, rambutnya tampak tidak begitu terang dan tipis. Sorot matanya cukup tajam, dan sepertinya wataknya keras kepala. Dia membawa busur dan selongsong anak panah, jadi mungkin dia adalah seorang pemanah.

Salah satu penampilannya yang menyita perhatian adalah telinganya.

Panjang dan runcing.

Dia adalah seorang Elf.

“Whoaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?!” Kikkawa tiba-tiba menjerit aneh. “Seorang Paladin tua, Priest, Mage, Warrior perempuan, dan Dwarf, apakah itu kauuuuuuuuuu?! Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakira-san, kaaaaaaaaaaannnnnnn?!”

"Tunggu! Akira?” Ranta berbisik, kemudian dia segera bersujud. “M-m-m-m-m-m-m-m-m-maafkan aku, aku sangat menyesal! Betapa bodohnya aku! Tanpa sengaja aku memanggilmu 'Akira' saja! Aku sangat-sangat menyesal, Akira-san! Tolong, tolong, maafkan kesalahanku ini!”

“Betapa lucu anak ini,” kata wanita super cantik berusia 30-an tahun, sembari dia tertawa.

Pipi Ranta sedikit merona. “Heh heh. Jadi, aku lucu ya. Heh heh heh.”

“Akira-san ...” Haruhiro menutup mulut dengan tangannya. “Tunggu, maksudmu, Akira-san yang itu?”

Soma dan kelompoknya adalah legenda hidup. Atau lebih tepatnya, legenda berjalan, karena mereka sering bertualang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Artinya, mereka adalah legenda yang benar-benar masih eksis, jika kau beruntung, mungkin kau akan berpapasan dengannya di suatu tempat. Bahkan, sebelum Haruhiro dan Party-nya bergabung dengan Day Breakers, secara kebetulan, mereka pernah ditraktir minum sekali oleh Kemuri di Kedai Sherry. [6]

Tapi Akira-san berbeda.

Kalau ada prajurit relawan yang tidak tahu nama Akira-san, pastilah dia hidup di dalam gua. Ia sangat terkenal, tapi Akira-san jauh lebih senior daripada Soma dan kelompoknya.

Dari apa yang Haruhiro pernah dengar, sebelum nama Soma terkenal, Akira-san sudah digadang-gadang sebagai pasukan relawan terkuat.

Ketika Soma dan Party-nya muncul, semua orang sudah mengakui kemampuan Akira-san, dan mereka pun menganggapnya sebagai yang terkuat. Reputasinya sudah jauh melegenda sebelum Soma.

Artinya, reputasi Soma sama sekali tidak mengurangi besarnya nama Akira-san.

Di luar sana masih banyak orang yang membual, “Aku bisa mengambil Soma dalam pertarungan satu lawan satu.” Dengan kata lain, masih ada beberapa pasukan relawan yang berpikir bahwa mereka setara dengan Soma, meskipun belum tentu mereka mengklaimnya dengan terang-terangan. Klan berpengaruh seperti Iron Knuckle dan Berserkers tidak pernah merasa berada di bawah Soma. Jadi, meskipun banyak orang yang sudah mengakui nama besar Soma, akan tetapi posisinya tidaklah mutlak.

Itulah perbedaan antara dia dan Akira-san. Tidak ada seorang pasukan relawan pun yang berani membanding-bandingkan dirinya dengan Akira-san. Kalau ada seorang pun yang menyebut dirinya lebih kuat ataupun sedikit lebih lemah dari Akira-san, maka semua orang akan langsung menganggapnya sebagai omong kosong.

Kalau boleh menggunakan perbandingan yang sedikit lebih ekstrim, ini seperti menyamakan dirimu dengan gunung. Tak ada seorang manusia pun yang bisa melawan alam, dan sangatlah aneh jika kau berani menantang gunung. Akira-san benar-benar berada di level yang berbeda.

Akira-san hanya tertawa, kemudian mengatakan, “Aku sudah tua,” dia pun mengakui bahwa Soma dan Party-nya bisa saja melampauinya suatu saat nanti. Kemudian, dia akan mengakhiri karirnya dengan bertualang bersama Party-nya ke suatu tempat tanpa pernah kembali lagi. Maka, sudah pantaslah mereka disebut sebagai legenda yang tiada duanya. Cerita semacam itulah yang pernah didengar Haruhiro.

Namun…. saat ini, di tempat ini, di hadapan Haruhiro, mucul seseorang yang mengaku bernama Akira-san? Orang tua ini?

“Ah ...” Tokimune berkedip. “Ya ampun, dia benar-benar Akira-san.”

“Aku sudah bertemu dengannya sebelumnya,” kata Akira-san, atau orang tua yang konon adalah Akira-san. Tokimune hanya membalasnya dengan senyuman gigi putihnya yang indah. Kemudian si pak tua melanjutkan, “Tokimune-kun. Tada-kun dan Inui-kun. Aku sudah pernah bertemu kalian sebelumnya, tapi sepertinya baru kali ini aku melihat pria muda dan kedua gadis itu.”

“Hei,” kata Tada. Pria yang tampak sombong itu pun menundukkan kepalanya.

“Heh.” Inui ... menyeringai. “Ini suatu kehormatan ...”

“N-n-n-n-n-namaku adalah K-k-k-k-kikkawa, pak! Sungguh suatu kehormatan dapat bertemu denganmu ... Tidak, bukan itu! Ini adalah kesempatan yang tidak datang dua kali!!"

“N-n-namaku A-Anna-san, yeah! T-Tapi Anda boleh memanggilku Anna saja!”

“Aku ... Mimori.”

Oh wow. Haruhiro tertegun. Baru kali ini dia melihat Tokkis tidak slengek’an di hadapan seseorang.

Sebaliknya, Shihoru, Yume, Mary, Kuzaku, dan bahkan Ranta, yang masih saja bersujud… mereka semua tampak gugup dan syok. Yume bukanlah tipe orang yang mudah terpengaruh dengan nama besar seseorang, namun kali ini dia seakan melihat dewa yang turun dari langit, dia pasti merasakan sesuatu yang berbeda dari Akira-san dan kelompoknya.

Siapapun juga pasti akan merasakan aura yang intens jika bertemu dengan legenda sebesar Akira-san.

Ini seperti, Mereka jauh lebih matang, atau semacamnya? Akira-san cukup tua untuk menjadi ayah mereka, sehingga mereka merasa seakan-akan menjadi anaknya. Tapi itu bukan hanya karena perbedaan usia. Faktor pengalaman lah yang mempengaruhinya. Mereka telah mengalami banyak hal sebagai pasukan relawan. Perbedaan mereka dengan sang legenda terlalu jauh. Mereka bisa meraskaan itu dengan jelas, bahkan jika mereka tidak pernah mengenal Akira-san.

Akira-san selalu tampil apa adanya. Namun itu justru membuatnya semakin luar biasa.

“Sebetulnya cukup memalukan memperkenalkan namaku seperti ini di depan kalian ...” kata Akira-san, lantas dia mengulurkan tangan kanannya, “Aku Akira.”

“Oh ... eh ... ya.” Haruhiro mengusap tangan kanannya dengan jubah, menyekanya, menyekanya lagi, kemudian menjabat tangan Akira-san. “S-s-s-s-s-s-s-senang bertemu denganmu. A-a-a-a-a-a-a-a-a-aku Haruhiro.”

“Senang bertemu denganmu juga,” kata Akira-san, sembari mengayunkan tangannya.

Jabat tangan. Aku berjabat tangan dengan Akira-san. Tangannya besar, hangat, kering, kuat, dan lembut. Bisakah aku memamerkan ini pada orang lain nanti? Tapi, dipamerkan pada siapa ya….

Tidak, tunggu.

Masih ada hal lebih penting yang perlu dipertanyakan.

“Tunggudulu… Mengapa orang sepenting dirimu mencariku?” tanya Haruhiro.

“Aku sudah mendengar tentangmu dari Soma,” Akira-san dengan enteng menjelaskannya, seakan-akan itu adalah suatu hal yang lumrah.

“Dari Soma-san?”

"Ya. Kalian semua datang ke sini untuk bertemu dengan Soma juga, kan?”

"Hah? Oh, ya, benar ... Kau benar. Hah? Tunggu dulu ... jangan-jangan maksudmu….”

“Namaku Gogh.” pria pendek dalam pakaian seorang Priest mengeluarkan batu persegi panjang berwarna hitam dari sakunya. “Sebetulnya ini cukup merepotkan, tapi kita semua perlu bukti keanggotaan dari Soma, kan?”

“Itu ...” Shihoru tersentak.

“Itu Receiver!” Yume menjerit, sambil menepukkan tangan di samping pipinya.

“Kalau begitu…. artinya ...?” tanya Kuzaku sambil melihat ke arah Mary.

“Gak mungkin……” Mary memegang dadanya sendiri untuk menenangkan diri.

“Ya,” kata seorang Warrior yang juga seorang legenda. “Itu berarti kita semua adalah rekan. Oh, ngomong-ngomong, namaku adalah Kayo. Gogh adalah suamiku.”

“Suamimu ...” entah kenapa Haruhiro merasa pusing, sampai-sampai dia ingin pingsan.

“Ya, begitulah.” Gogh mungkin merasa sedikit malu, karena ia memalingkan muka ke arah lain. “Memang benar, Kayo adalah istriku. Dan inilah anak kami.”

“Aku Taro,” seorang bocah Elf memperkenalkan dirinya dengan kurang sopan.

“Tunggu, tapi ...” juga dengan tidak sopan, Ranta melihat bolak-balik antara Gogh, Kayo, dan Taro.

“Seperti yang kalian duga, aku bukanlah anak kandung mereka.” kata Taro sambil memelototi Ranta. "Tapi aku mengakui mereka sebagai orang tuaku. Apakah kau ingin mengatakan sesuatu tentang hal itu?”

"Nggak! Bukan begitu! Tidak, tidak, tidak, tidak!” Ranta tertawa, sambil mengayun-ngayunkan telapak tangannya. “Jangan berpikiran begitu! Geheheh! Aku tidak bermaksud apa-apa, lho? Maksudku, hubungan darah itu tidaklah penting! Kalau ada yang mempermasalahkan itu, biar aku sendiri yang akan menendang pantatnya! Gahahaha! N-Ngomong-ngomong, um ... Siapakah nama wanita itu?”

“Maksudmu aku?” seorang wanita cantik lain menunjuk dirinya sendiri. “Apakah kau ingin mengenalku?”

“Tidak, um, maksudku tidak juga…. Tapi kalau kau tidak keberatan…. ehehe ...”

“Aku lebih tua darimu, lho.” kata si cantik itu. “Usiaku sekarang 37 tahun.”

“Tiga puluh tujuh?!” Ranta berteriak tak percaya. “Kau tidak terlihat setua itu! Sama sekali tidak! Tidak mungkin! Ini adalah kejutan terbesar dalam hidupku! Lagian, siapa yang peduli berapa usiamu?! Kecantikanmu tidak akan dibatasi oleh umur!”

"Terima kasih. Aku Miho.”

“Miho-saaaan! M-m-m-m-m-m-menikahlah dengankuuuuuuu!”

“Maafkan aku,” kata Miho, sambil menempatkan tangannya di lengan Akira-san. “Aku berniat mengabdikan seluruh hidupku hanya untuk orang ini.”

“Gwarrrrrrghhhh! Aku langsung ditolaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk!”

“Apakah orang-orang ini akan ada gunanya?” kata si Dwarf sambil mendengus. “Aku tidak percaya Soma memilih mereka.”

Itu tidak salah, pikir Haruhiro. Terutama Ranta. Maksudku, aku belum pernah dibuat semalu ini oleh Ranta. Kuharap aku bisa membunuhmu, kemudian membunuh diriku sendiri.

“Branken.” Akira-san memberikan teguran singkat pada Dwarf itu, sebelum akhirnya dia kembali menunjukkan tatapan ramahnya (atau setidaknya begitu) pada Haruhiro. “Aku telah menanti pertemuan dengan kalian semua. Bagaimanapun juga, aku sudah tahu Rock, Io, dan kelompoknya sebelum mereka bergabung, tapi kalian, aku baru pertama kali mendengar dari Soma.”

“Ya, aku tidak pernah membayangkan bisa bertemu denganmu,” kata Haruhiro. “Um, aku tak tahu apa yang harus kukatakan, tapi kami belum lama menggeluti dunia pasukan relawan, dan kami sama sekali tidak memiliki prestasi yang bisa dibanggakan..."

“Kau mengalahkan Death Spots seorang diri, kan?” tanya Akira-san. “Aku juga sudah mendengar bahwa kalian berjuang dengan sangat baik di Benteng Capomorti.”

“Y-Yahh, bisa dibilang begitu!” Ranta membusungkan dada dengan bangga. “Kami adalah para pemuda pendatang baru! Seperti itulah kami! Tidak dipungkiri lagi bahwa kami punya masa depan yang cerah di depan sana!”

“Oalah ...” Haruhiro ingin sekali membungkam mulut besar Ranta dengan bogemnya yang terkeras, tapi dia pikir itu hanya akan menghabiskan energi saja.

“Hmm.” Tokimune melihat bolak-balik antara Haruhiro dan Akira-san. “Day Breakers, ya. Aku terkejut ketika mendengar Haruhiro adalah bagian dari mereka, tetapi aku juga baru tahu bahwa Akira-san juga demikian. Tapi sepertinya, aku pernah dengar dari Kikkawa bahwa Rock dan Io juga sudah bergabung dengan Soma."

“Mereka, sungguh kuat!” Kikkawa menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan dia tidak kuat menahan sesuatu. “Kereeen! Mereka juga seorang legenda… legenda yang sebenarnya… Typhoon, Rocks, dan tim Io-sama! Ini, seperti, tim impian, atau semacamnya?! Ah tidak, mungkin ini lebih mirip seperti mimpi menjadi nyata?! Seperti, mimpi dalam mimpi?!”

"Oh. Iya.” Tada berjalan, kemudian melihat Akira-san dengan penasaran. "Hey, om. Er, maksudku, Akira-san.”

Whoa. Haruhiro terkejut. Apakah barusan kau memanggilnya om? Hah? Bukankah kau tadi sudah tenang dan tidak banyak polah? Kikkawa juga tampaknya sudah kembali ke mode konyolnya. Apaaaaaa ...?

“Kau tahu tentang Dusk Realm?” Tada bahkan tidak berusaha menunjukkan kesopanan.

“Kami belum ke sana.” Akira-san tampaknya tidak terganggu dengan cara bicara Tada yang kurang sopan. “Tapi kami sudah mendengar tentang hal itu.”

“Ada monster-monster gila di sana,” kata Tada. “Begitu gila, sampai-sampai membuatku semakin bersemangat ingin memburunya. Di sana ada dewa raksasa.”

"Oh?"

“Kami berencana untuk mengajak Soma dan yang lainnya berburu di sana, dan apakah kau tertarik beraksi bersama kami?” tanya Tada.

Dia bahkan mengajak Akira-san. Dia benar-benar mengajak mereka.

Haruhiro mulai merasa pening, lantas dia pun memijit batang hidungnya. Dia seakan mau menangis.

Apa? Ada apa sih dengan Tada? Jangan bicara omong kosong seperti itu. Dia adalah Akira-san, lho? Kau mengajak Akira-san ikut beraksi melawan monster segedhe gunung itu? Kau ini apa? Tukang jilat yang tidak punya tata krama? Jika kau benar-benar ingin mengajaknya, maka gunakanlah cara yang lebih sopan. Yahh, Tada-san memanglah bukan orang normal. Aku tahu betul akan hal itu, namun bukankah ini terlalu ekstrim?

“Biarkan aku mempertimbangkannya,” kata Akira-san.

Oalah. Kau memang pria sejati, Akira-san. Kau sama sekali tidak terpengaruh dengan lagaknya yang tidak sopan. Kamu bahkan tidak marah pada seorang junior yang tidak tahu tata krama. Sikapmu itu memang layak disebut legenda. Haruhiro tersentuh dengan sikap Akira-san.

“Hah?” bentak Tada.

Jadi, mengapa malah Tada yang emosi? Bukankah itu aneh? Mungkin dia sudah gila? Dia jelas tidak normal, kan? Maksudku, itu benar-benar aneh, kan? Seharusnya kau tidak boleh membentak seniormu, kan? Dia tidak berhak marah, kan?

“Jawaban macam apa itu?” Tada mulai geram. “Sepertinya kau coba menghindari pertanyaanku. Aku benci orang yang melakukan itu. Kau ini mau ikut atau tidak? Yang tegas napa."

Oh, jadi itu yang membuatnya kesal? Pikir Haruhiro. Aku mengerti apa yang dia katakan. Aku paham, tapi gak perlu emosian juga kalee.

Haruhiro, Party-nya, dan bahkan para Tokkis dibuatnya tercengang. Haruhiro pun tidak berani melihat reaksi Gogh, Kayo, Miho, Branken, dan Taro.

“Hmm.” wajah Akira-san menegang. Atau lebih tepatnya, ia mulai pasang ekspresi serius. Akhirnya, Akira-san sedikit mengangguk.

Apakah barusan dia mengangguk?

"Maafkan aku. Kau benar, aku tidak serius menanggapi ajakanmu."

“Ya.” Tada mengacak-acak rambutnya sendiri. “Jadi, apa keputusanmu?”

“Kedengarannya menarik, tapi aku tidak bisa memutuskannya saat ini juga.”

“Kenapa begitu?” tanya Tada.

“Ada dua alasan. Pertama, aku tidak memiliki informasi tentang dewa raksasa ini.”

“Bukankah justru itu yang membuat menarik?” Tada membentak balik.

“Kau ada benarnya juga.” Akira-san menunjukkan senyum yang aneh, kekanak-kanakan, nakal, dan terkesan sedikit jahat. “Dan yang kedua adalah, kami sudah berencana bertemu Soma besok.”

“Kalau begitu, ya kita akan pergi ke Dusk Realm setelahnya. Kenapa harus repot?”

“Justru itulah masalahnya,” kata Akira-san. “Barusan kau tadi bilang ingin mengajak Soma, kan?”

"Ya."

“Kalau begitu, biarkan aku berbicara dengan Soma tentang hal itu.”

“Aku butuh jawaban yang lebih pasti,” kata Tada.

“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang.” Akira-san masih tersenyum. “Tapi inginnya sih, aku juga ikut. Sepertinya bertarung bersama orang sepertimu akan menyenangkan.”

“Akan kujamin itu.” Tada menyeringai dan menyodorkan tinjunya. “Aku hanya mengetahui kehebatanmu dari kabar yang pernah kudengar, jadi aku ingin melihatnya dengan mata-kepalaku sendiri.”

Lantas Akira-san membalas dengan membenturkan tinjunya pada Tada. “Pastikan kita juga akan membawa Soma. Bertarung bersamanya sungguh menyenangkan.”

“Ha ha ha.” Tada menepuk bahu Akira-san.

“Ohoh!” Ranta melompat.

“Yahooey!” Kikkawa melompat ke udara juga, dan menjerit aneh.

“Ini semakin menarik, yeah!” Anna-san membuat tanda V dengan kedua jarinya, sambil berputar-putar.

Entah kenapa, Mimorin mulai menatap Branken. Mungkin dia menganggapnya imut.

“Sepertinya kita berhasil, ya, Haruhiro?” Tokimune menyiku badan kecil Haruhiro, sambil memamerkan gigi putihnya sekilas.

Haruhiro tidak mengatakan apa-apa. Untuk saat ini, dia hanya ingin mendekam. Dia ingin duduk meringkuk. Dia ingin tidur. Ia ingin tidur untuk waktu yang lama.

Jadi kau tidak bisa memutuskannya sekarang juga? Tak peduli apapun alasanmu, jika kau sudah tertarik, dan bahkan kau juga berniat mengajak Soma-san, maka itu artinya kau sudah 90% menyetujuinya, kan? Aku benci ini ...

Aku benci ini ...

Aku tidak pernah bisa memahami orang-orang abnormal, aku benci ini ...

Prioritas Dalam Hidup[edit]

Huruf Kanji favorit Haruhiro adalah “tanah.” Sebenarnya hanya suka sebagian saja sih, tapi dia sungguh menyukai perkataan dan ekspresi yang muncul di kalimat: “Memijakkan kaki yang kuat di tanah,”.

Sebagai manusia, dia lebih mirip “tanah” daripada “langit”. Dia lebih suka menjadi serangga yang merangkak di tanah, daripada burung yang beterbangan di langit. Sebenarnya dia juga jijik dengan serangga (bahkan cenderung membencinya), tapi serangga akan tetap bertahan hidup meskipun orang-orang memakinya dengan kalimat-kalimat seperti: “Dasar kotor,” atau “Serangga menyebalkan,” atau “Jangan ke sini,” atau “Mati sana,”. Haruhiro sangat menyukai semangat hidup seekor serangga. Itulah kemiripannya dengan serangga.

Di bawah langit Dusk Realm yang berwarna-warni, Haruhiro memegang sekop dengan erat. Semua orang sudah tahu bahwa sekop adalah alat untuk menggali lubang dan memindahkan tanah. Dia bisa mendapatkan alat-alat seperti itu di Post Lonesome Field.

Haruhiro pikir alat ini sungguh cocok dengannya. Penampilannya begitu cocok dengan sekop. Dia terlihat keren ketika membawa sekop. Ah tidak, mungkin juga tidak. Dia tidak perlu terlihat keren.

“Delm, hel, en-” Mimorin merapalkan mantra sembari menggunakan tongkatnya untuk menggambar segel elemental. “Balk, zel, arve.”

Ketika ia melakukannya, tanah di bawah kakinya langsung meledak, sehingga tanah dan pasir berhamburan ke segala arah, dan terciptalah lubang berdiameter sekitar 1,5 m.

Itu adalah Sihir Arve, Blast. Mungkin karena dia baru saja belajar teknik itu, sehingga kekuatannya tidak seperti yang mereka harapkan. Itu ada hubungannya dengan skill dasar seorang Mage, serta penguasaannya, dan itu berbeda-beda di setiap sekolah sihir.

“Mimorin, satu tembakan lagi! Yeah!” seperti biasa, Anna-san berteriak untuk menyemangatinya.

Seiring dengan dukungan dari Anna-san, Mimorin mengeluarkan dengusan aneh “Mnngh,” kemudian dia mulai merapalkan mantra berikutnya. “Delm, hel, en, balk, zel, arve.”

Dungh.

“Delm, hel, en, balk, zel, arve.”

Zongh.

“Delm, hel, en, balk, zel, arve.”

Bognh,

“Delm, hel, en, balk, zel, arve.”

Bugoom.

“Delm, hel, en ...” di tengah-tengah merapalkan mantra, Mimorin akhirnya membungkuk dan menyandarkan tubuhnya pada tongkat yang dia tancapkan di tanah. "...Lelah."

“Kamu sudah bekerja keras!” Tokimune mengedipkan mata sambil memamerkan senyum putihnya sekilas, lantas dia pun mengangkat sekop miliknya. “Oke, mari kita menggali!”

Ada 5 lubang yang telah Mimorin buat dengan sihir ledakannya. Jaraknya satu sama lain kira-kira adalah 5 m, dan semuanya tersebar ke segala arah. Haruhiro, Party-nya, dan semua Tokkis (kecuali Mimorin dan Anna-san)… jadi semuanya berjumlah 10 orang, masing-masing dari mereka mengambil sekop, dan mulai bekerja untuk memperlebar lubang-lubang tersebut. Mereka melebar dan menghubungkan kelima lubang, untuk menciptakan satu lubang yang jauh lebih besar.

Jika kau bertanya, apa sih yang sedang mereka lakukan? Bukankah sudah jelas?

“Zwoooooooooooreeeeeeeeee!” teriak Ranta.

“... Ranta,” kata Haruhiro. “Kau terlalu berisik. Tidak bisakah kau bekerja tanpa banyak omong?”

“Tidak bisa! Jika aku diam, semangatku akan semakin menurun!”

“Biarkan saja dia ...” Kuzaku bergumam sambil mengayunkan sekop.

“Apa yang kau katakan?! Kuzacky, ngomong apa akuuuuuu?!” jerit Ranta.

“Kau benar-benar berisik,” kata Mary dengan dingin, sembari dia menyeka rambutnya ke belakang telinga.

“Oke, aku memang saaaaaaaaaangat berisikkkk!! Maaf deeeeeeeeehhh? Baiklaaaaaaahh. Aku memang sudah biasa dikritik seperti ini. Tapi aku tak pernah memperdulikan sedikit pun tentang apa yang kalian omongkan padaku. Hyuk, hyuk, hyuk, hyuk.”

“Kau yang terburuk,” sembur Shihoru padanya.

“Yayyyy! Aku lah yang terburuk! Aku adalah manusia terburuk yang pernah ada! Bugabugaboo!”

“Ranta bego! Kenapa gak kau tutup mulutmu, dan menggerakkan tanganmu saja, hah?” bentak Yume.

“Aku sedang menggerakkan tanganku. Lihatlah inii! Lihat, lihat, lihat, lihat!”

Semakin keras Ranta mengomel, semakin cepat juga gerakan sekopnya. Itu sungguh menyeramkan. Ranta sungguh berbahaya, dan mulutnya beracun.

Haruskah aku katakan padanya untuk diam? Haruhiro memikirkan itu selama 3 detik. Yahh. Biarkan saja lah.

Bagaimanapun juga, dia adalah Ranta si bocah berambut acak-acakan yang tak berguna. Dia akan selalu menyangkal apapun yang Haruhiro katakan. Dia tidak akan jera, bahkan efeknya akan sebaliknya. Cara terbaik dalam menghadapi Ranta adalah membiarkannya.

Aku sudah cukup kerepotan menggali, Haruhiro mengingatkan dirinya sendiri.

Itu adalah pekerjaan berat, tapi sedikit demi sedikit, lubang itu terus melebar. Semakin dia menggali, hasilnya semakin kelihatan. Sebenarnya, dia tidak terlalu memikirkan pekerjaan seperti ini.

Tapi, kenapa sih kita melakukan ini?

“Yahh, kau tahu lahh ...” Tada melemparkan sekop, kemudian mengambil palunya, yang telah dia letakkan di dekatnya. “Kalau hanya menggali seperti ini, pekerjaannya tidak akan selesai-selesai. Ayo sedikit mempercepatnya.”

“Whoa, bung!” teriak Kikkawa. “Tadacchi, kau akan melakukan itu?!”

Apa? Kikkawa, apa yang kau maksudkan dengan ‘itu’? pikir Haruhiro. Yah, pastilah suatu hal yang buruk, aku tahu itu.

“Heh ...” Inui pun duduk. "Aku bosan."

“Jangan bilang kau bosan, yeah!” tegur Anna-san sambil mengetok kepala rekannya.

Bukan itu masalahnya, tapi Anna-san benar-benar tidak ikut ambil bagian ketika teman-temannya bekerja keras, kan? pikir Haruhiro.

“Ini dia!” Tada berlari, kemudian mengakhirinya dengan salto jungkir balik. “Somersault Bomb ...!”

Boom ... palu Tada meledakkan tanah, kemudian tertinggal cekungan besar di sana.

“Sepertinya kita perlu membuat cekungan yang lebih besar daripada itu,” kata Tokimune menggoda.

“Cih ...” Tada mendecakkan lidahnya, kemudian bersiap-siap melepaskan tekniknya yang lain. "Akan kulakukan ini sebanyak apapun! Somersault Bomb!”

Baiklaah, lakukan saja apa yang kalian inginkan, pikir Haruhiro. Tapi, sebenarnya apa sih yang sedang kita lakukan ...?

◆◆◆

Mengapa?

Tentu saja dia mengerti. Dia tidak akan menggali jika tidak tahu alasannya. Menggali adalah suatu pekerjaan yang cocok untuk Haruhiro, tapi itu bukanlah hobinya.

Setelah pukul enam, pada hari ketika mereka pertama kali bertemu Akira-san, Gogh, Kayo, Miho, Branken, dan Taro, Haruhiro dan yang lainnya juga bertemu dengan Soma di Post Lonesome Field.

Sebenarnya Soma agak sibuk. Bagaimanapun juga, dia adalah orang penting, jadi pekerjaannya tidaklah hanya seputar pasukan relawan. Tidak hanya pasukan perbatasan yang mengenal Soma, melainkan juga pedagang-pedagang pinggir jalan, Hei, itu Soma, lho. Itu benar-benar Soma. Aku yakin dia Soma! Soma sudah datang! Whoa, itu beneran Soma ... Teriakan semacam itulah yang terdengar ketika sang jagoan datang.

Suasana semakin riuh dengan kedatangan Akira-san beserta Party-nya. Sampai-sampai, para penghuni Post Lonesome Field membuat semacam pawai yang besar.

Mereka memutuskan untuk makan dan minum di beberapa kedai belakang gang, tapi Haruhiro dan rekan-rekannya merasa begitu tegang, bahkan mereka tidak bisa mengatakan apa-apa. Semua orang bersorak-sorai atas kedatangan duo-legend itu, namun Ranta tak mengucapkan sepatah kata pun.

Sementara itu, rekan-rekan Soma dan Akira-san saling beramah-tamah untuk merayakan pertemuan mereka, sehingga suasana pun semakin akrab. Ke mana saja kau? Dari mana saja kau? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang saling mereka katakan untuk memulai cerita.

Sampai akhirnya, para Tokkis menyela pembicaraan mereka.

“Hei, Soma.” Tokimune memulai dengan santai.

“Yo.” seperti biasa, Tada menyapanya dengan kasar.

“Heh ...” Inui tetap terlihat bego.

“Anna-san di sini, yeah!” seperti biasa, Anna-san menyambut mereka dengan lebay.

“Hei.” Mimorin melambaikan satu tangan.

“H-Heya, heya, heeeeya!” Kikkawa adalah satu-satunya anggota Tokkis yang tergagap.

Ketika Tokkis datang dan membuat suasana semakin gaduh, Akira-san tampak senang. Ia mengatakan, “Oh, iya, ngomong-ngomong….” Kemudian dia pun membahas topik itu. “…..aku dengar ada suatu hal yang menarik terjadi di Dusk Realm. Haruhiro-kun dan Tokimune-kun telah menemukannya sebelum datang kemari.”

Soma hanya mengunyah daging untuk beberapa saat, kemudian menelannya. “Sesuatu yang menarik?” dia pun menanggapinya. “Aku ingin mendengar apa itu.”

“Bagaimana?” tanya Akira-san. “Kenapa kita tidak pergi dan memeriksanya bersama-sama?”

“Ayo….”

“Cepat banget ...” tanpa sengaja, Haruhiro bergumam dengan pelan.

“Hm?” mata Soma terbuka lebar karena terkejut melihat tanggapan Haruhiro. "Apanya yang cepat?”

“Tidak kok,” kata Haruhiro dengan bingung. “Uhh, maksudku, cepat sekali kau membuat keputusan..."

“Itulah yang menyebalkan dari Soma,” kata Lilia dengan ekspresi kesal pada wajahnya yang kelewat cantik. “Aku tahu aku sudah terlalu sering mengatakan ini, tapi tolong, pertimbangkanlah posisimu saat ini, dan bertindaklah dengan hati-hati, Soma. Kau terlalu spontan memutuskan sesuatu.”

“Ooh, dia marah.” Shima menunjukkan tawa kecil nan sexy di wajahnya.

“Yahh….” Kemuri hanya mengusap pipinya. Terakhir kali mereka bertemu, dia sudah mencukur bersih jenggotnya, tapi sekarang tumbuh lagi sedikit. Jenggotnya sungguh cocok dengan model rambutnya yang gimbal. "Tapi, terkadang-kadang keputusan spontan itulah yang tepat bagi tim.”

“Itu karena dia seorang idiot,” kata Pingo, sambil menyipitkan mata dengan ekspresi yang tidak cocok dengan wajahnya yang kekanak-kanakan. “Uheheh ... Orang yang menyedihkan akan berpikir menyedihkan, dan orang yang bodoh akan berpikir bodoh ... Dia hanyalah seorang idiot, jadi percuma saja kita ingatkan. Tidak ada obat untuk menyembuhkan kebodohan ...”

“Aku berharap ada obatnya.” Soma melihat ke bawah, seolah-olah dia tenggelam dalam pikirannya, kemudian kepalanya tersentak dan tiba-tiba dia menyadari sesuatu. “Aku idiot??”

“Kau pikir kau pintar?” tanya Pingo. “Uheheheh ...”

“Pingo.” Lilia meliriknya. “Kau sudah keterlaluan. Para Elf punya suatu prinsip: berlakulah sopan bahkan pada teman dekatmu, dan…..”

“Yah, biarkan saja, Lilia,” kata Soma dengan santai.

Lantas, pipi Lilia merona karena marah. “Kau pikir, untuk siapa aku repot-repot memperingatkan dia!!??”

"Untuk siapa?"

"Hah...? U-u-u-u-u-u-untuk ... s-s-s-s-s-siapa yaaa ...”

Lilia kehabisan kalimat, dan itu terlihat begitu menggemaskan. Pemandangan seperti itu sungguh menyejukkan, tetapi tidak cukup untuk menghibur hati Haruhiro saat ini. Karena sepertinya, rencana Tokimune akan berhasil. Akan berhasil? Tidak, lebih tepatnya, sudah berhasil. Soma, Akira-san, dan Day Breakers…. semuanya akan menyerang Dusk Realm.

Rumor ini berkembang dengan cepat pada Post Lonesome Field, dan menyebar dengan kecepatan yang luar biasa.

Aku juga sudah mendengarnya…. Aku juga…. Aku juga… orang-orang saling menyambung lidah.

Hebatnya, pada pengunjung malam, utusan “One-on-One” Max dari Iron Knuckle, dan “Red Devil” Ducky dari Berserkers pun tiba. Pada keesokan harinya, ketika mereka bersiap-siap untuk berangkat, Shinohara dari Orion datang untuk bertemu dengan Soma secara langsung.

Sekarang, ini bukan lagi masalah kecil, Yahh, tadinya kupikir kami bisa melewatkan kesempatan ini…. Haruhiro tidak berani mengungkapkan keluh kesahnya itu. Bagaimanapun juga, Soma dari Day Breakers telah mengatakan bahwa dia akan ikut. Sedangkan, Haruhiro adalah bagian dari Day Breakers juga, yaitu klan yang telah Soma dirikan. Meskipun mereka berada di kasta paling bawah, mereka adalah rekannya.

Dia tidak bisa mengatakan ini: Tidak mungkin kita bisa mengalahkan mereka. Itu akan sangat menyedihkan, memalukan, dan mengecewakan yang lainnya. Dia tidak ingin mereka memandang rendah dirinya.

Kalau kita mengesampingkan Tokkis sementara, jika kelompok Soma, Party Akira-san, Iron Knuckle, Berserker, dan Orion ambil bagian, mungkin resiko bahaya akan semakin mengecil. Haruhiro pun menyadari fakta ini.

Yah, sebenarnya aku juga penasaran. Jika aku mengatakan sama sekali tidak peduli dengan misi ini, maka itu adalah suatu kebohongan.

Tidak hanya dua prajurit relawan legendaris, tapi juga beberapa klan berpengaruh ikut serta, apa yang akan terjadi? Bagaimana mereka akan melawan sang dewa? Seperti apa pertempuran di sana nantinya? Seberapa hebatkah cara mereka bertarung?

Ya, aku ingin melihat itu semua. Jujur, aku lebih senang menjadi penonton yang duduk manis di depan panggung. Sayang sekali kalo tontonan ini dilewatkan.

Namun, kebetulan sekali Haruhiro dan yang lainnya sudah resmi menjadi anggota Day Breakers. Mereka tidak bisa hanya menjadi penonton yang budiman. Mereka harus ikut melakukan sesuatu. Tak peduli sebesar apapun keinginan mereka untuk duduk manis sambil menikmati tontonan seru ini, mereka tidak akan ditinggalkan begitu saja hanya karena mereka lemah.

Tapi, apa yang bisa kami lakukan?

◆◆◆

Pada pukul sepuluh pagi, total 24 orang memasuki Dusk Realm, yang terdiri dari: 18 anggota Day Breakers (termasuk Party Soma, Akira-san, dan Haruhiro, ditambah Tokkis). Sambil berdiri di bukit awal untuk menemukan posisi sang dewa raksasa dan makhluk misterius bertentakel, Haruhiro memikirkan situasi saat ini.

Ah tidak juga, sepertinya dia memikirkan hal yang lain.

Tak lama kemudian, Iron Knuckle, Berserker, dan Orion akan menyusul mereka. Ketika itu terjadi, orang-orang haus darah itu mungkin akan segera memulai pertarungan.

Salah satu skill berburu Yume telah memberikan petunjuk yang mereka butuhkan.

Pit Trap.

“U-Um.” Haruhiro mengumpulkan segenap keberaniannya, seakan-akan dia hendak melompat dari panggung Kiyomizu [7] Uh? Apa sih Kiyomizu? dia malah bingung dengan istilahnya sendiri, namun akhirnya dia berhasil menyuarakan suatu ide, “B-Bagaimana kalau kita memasang jebakan? Apakah itu ide yang bagus ... mungkin? Kurasa seperti ... seperti…. ummm…. pokoknya…. daripada melawan makhluk itu secara frontal, bukankah sebaiknya kita menggunakan apapun yang kita bisa untuk mengurangi kekuatan mereka ...?”

Rencana yang dipikirkan Haruhiro membuatnya cukup berani melompat dari panggung Kiyomizu, bahkan dia berhasil membuat rekan-rekannya berdebat.

Tapi itu hanyalah perdebatan kecil. Mereka mulai bertukar pendapat tentang jebakan macam apakah yang pantas untuk sang dewa? Atau, seberapa besarkah ukuran makhluk itu yang sebenarnya, kalau itu sudah diprediksi, maka mereka bisa menentukan seberapa besarkah ukuran jebakan yang hendak mereka pasang.

Party Soma dan Akira-san dengan semangat membahas topik ini, kecuali Zenmai yang hanya seonggok Golem.

Mereka begitu berbeda dengan kita, Haruhiro cukup kecewa ketika menyadari hal ini. Tidak ada yang bertindak tidak acuh. Diskusi begitu hidup, seakan-akan ini adalah masalah bersama yang harus dipecahkan, dan mereka pun saling mempersilahkan anggota lainnya untuk membuat keputusan. Meskipun beberapa orang masih saja membuat lelucon, mengejek ide-ide orang lain, atau mengkritik dengan pedas, diskusi ini tidak pernah berhenti, dan semuanya berjalan dengan cepat.

Ini membuat Party Haruhiro dan para Tokkis tersisihkan. Haruhiro tidak bisa membayangkan perasaan para Tokkis dan Ranta ketika tahu mereka dikacangi. Tapi, tidaklah sopan jika mereka menyela dan menyatakan kekecewaannya, jadi lebih baik sekarang mereka diam dan mendengarkan dengan seksama.

Anehnya, Haruhiro juga merasa frustasi ketika dikesampingkan, padahal dia sadar betul bahwa dia hanyalah pemeran figuran. Haruhiro hanyalah bawahan di sini. Dia sadar bahwa posisinya berada pada urutan terendah dari yang terendah. Wajar saja mereka dikacangi oleh Party Soma dan Akira-san. Mereka benar-benar berada di level yang jauh berbeda.

Dia frustrasi? Hah? Kenapa dia begitu serius? Sungguh lucu. Kalau dia sudah sadar atas posisinya sebagai bawahan, yang bisa dia lakukan hanyalah duduk manis di pojok, sembari mengangguk-angguk atas keputusan apapun yang mereka katakan. Dia hanya perlu menjauh dari orang-orang yang luar biasa ini. Dia benar-benar merasa seperti itu. Mereka berbeda. Sejak lahir, mereka sudah berbeda. Haruhiro boleh berjuang sekeras apapun yang dia mau, tapi dia tidak akan pernah bisa menyamai prestasi Soma maupun Akira-san.

Benar, kan?

Ya ... Itu benar.

Bisakah dia menerimanya? Kalau tidak, apakah itu berarti dia belum menyerah? Bukan berarti, kelompoknya punya kemampuan yang mumpuni untuk menyamai mereka. Tapi setidaknya, mereka tidaklah nol besar. Itukah yang Haruhiro pikirkan? Itukah yang Haruhiro yakini? Apakah ini perwujudan kemauan dari seseorang yang lebih rendah daripada yang terendah? Apakah ini yang disebut rasa tanggung jawab sebagai pemimpin?

Apa pun itu, ia benar-benar merasa frustrasi, dan ia tidak ingin tetap seperti itu. Lantas, Haruhiro berusaha sebisa mungkin untuk terlibat dalam diskusi itu. Dia tidak berhasil mengatakan apapun, tapi dia benar-benar telah memikirkan suatu perangkap.

Keputusannya adalah, Party Haruhiro dan para Tokkis akan menggali satu lubang perangkap, kemudian Iron Knuckle, Berserker, dan Orion, yang tiba di bukit awal satu per satu sekitar jam 10 pagi, juga akan menggali masing-masing satu lubang. Lokasinya telah diputuskan sebelumnya berdasarkan kesepakatan bersama.

Saat perangkapnya selesai dibuat, Soma, Akira-san, dan Party mereka akan bertindak sebagai umpan, kemudian mengarahkan kedua raksasa itu ke perangkap yang sudah disediakan, seraya mengamati mereka.

Dari Iron Knuckle, total ada 18 anggota di bawah komando “One-on-One” Max, dan Aidan juga akan berpartisipasi. Berserkers memiliki jumlah anggota lebih dari 30 personel, tapi 17 orang di antaranya berada di bawah komando “Red Devil” Ducky dan Komandan kedua, bernama Saga.

Orion juga memiliki lebih dari 30 anggota. Mereka menyumbangkan empat Party, dengan total mencapai 24 orang termasuk Shinohara, Kimura, dan Hayashi.

Day Breakers memiliki 18 personel, termasuk Soma, Akira-san, dan tak ketinggalan Party Haruhiro.

Sedangkan Tokkis punya 6 anggota.

Selain itu, ada 5 Party lain yang ikut ambil bagian, mereka tidak terafiliasi dengan Klan mana pun, dan jumlah mereka mencapai 25 personel. Sudah termasuk duo Lala dan Nono.

Luar biasa, gagasan Tokimune telah menghasilkan sebuah operasi besar-besaran yang melibatkan sampai 108 pasukan.

Dan, Haruhiro di sini masih mengayunkan sekopnya untuk menggali lubang.

Kebetulan, Lala dan Nono dengan cerdik bergabung dengan tim pengalihan, sedangkan 23 pasukan relawan yang tidak ikut menggali, sedang bersiap siaga di pemukiman. Tempat perkemahan dadakan itu sekarang semakin sepi setelah lebih dari setengah pedagang di sana angkat koper.

“Tapi, ...” Haruhiro menyeka keringat dari keningnya. Dia melihat lubang yang sedang digalinya. "Ini tidak semudah yang kuduga sebelumnya ...”

Berkat ledakan sihir Mimorin, mereka berhasil setidaknya membuat lubang yang berdiameter sekitar 10 m. Namun, kedalamannya paling-paling hanyalah 1 ½ m. Kalau pun manusia yang jatuh ke perangkap ini, paling-paling mereka hanya keseleo, atau pantatnya linu-linu. Bagaimana mungkin perangkap cupu itu menjebak sang dewa raksasa yang tingginya bagaikan gunung.

“Aku baru tahu, ternyata menggali lubang bukanlah pekerjaan gampang.” Haruhiro bergumam sendiri.

Bahkan Ranta dan Tokkis pun tampaknya sudah malas bercanda. Mereka terus menggali tanpa membuat lelucon-lelucon konyol lainnya.

Ah tidak juga…. tidak untuk Ranta. Dia menggaruk-garuk punggungnya, berjongkok, berputar-putar, pokoknya si bodoh itu sedang membuang waktu. Bahkan Anna-san, si pemandu sorak, akhirnya turut membantu mereka untuk menggali, namun hanya satu-dua sekop tanah.

“Aku akan melakukannya.” Mimorin, yang sejak tadi berlutut dan bermeditasi dengan mata tertutup, akhirnya berdiri. Kemudian, Haruhiro dan yang lainnya keluar dari lubang sejenak.

“Mimorin, fokuskan pada satu tempat,” kata Haruhiro.

Mimorin mengangguk dan mulai merapalkan mantra sembari menggambar segel elemental dengan tongkatnya. “Delm, hel, en, balk, zel, arve.”

Blast. Mimorin mengarahkan sihirnya ke pusat lubang.

“Delm, hel, en, balk, zel, arve. Delm, hel, en, balk, zel, arve. Delm, hel, en, balk, zel, arve. Delm, hel, en, balk, zel, arve.”

Lima tembakan, dengan cukup beruntun. Seperti yang Haruhiro katakan padanya, Mimorin mengarahkan hampir semua ledakan ke titik yang sama. Berkat itu, titik tersebut sekarang cekungannya semakin dalam.

Mimorin roboh, namun dia berhasil menopang tubuhnya dengan tongkat yang dia tancapkan ke tanah. Mimorin, tidak cukup pandai menggunakan sihir, meskipun dia adalah seorang Mage. Tampaknya, menembakkan lima kali Blast secara beruntun sudah banyak menguras staminanya.

“Andaikan saja aku juga bisa menggunakan Blast ...” Shihoru menunduk sambil bergumam. “Bukannya Ice Globe, harusnya aku lebih memilih mempelajari Sihir Arve ...”

“Heh ...” Inui mengecupkan sebuah ciuman padanya. “Kalau kau mau, aku bisa kok jadi Blast-mu.”

“Tidak, terima kasih,” Shihoru menjawab dengan tegas dan segera. “Kau mau menjadi Blast-ku? Itu tidak masuk akal. Itu sungguh menyeramkan ...”

“Nyaaaaaaa!” Yume meregangkan otot-ototnya. “Yahh, waktunya untuk kembali menggali.”

“Tunggu dulu, apakah kita benar-benar bisa menyelesaikan lubang ini?” Ranta mulai merengek. Si bodoh ini bekerja paling sedikit, tapi mengeluh sebanyak-banyaknya. Dia cepat sekali kehilangan motivasi.

“Punggungku sakit ...” Kuzaku menghela napas, sambil meletakkan tangan pada punggungnya.

“Kamu baik-baik saja?” Mary mengalihkan perhatian padanya.

"Oh. Uh, yeah. Aku gak papa kok."

"Baiklah kalau begitu."

Tanpa bermaksud apapun, Haruhiro membayangkan Haiku [8] di kepalanya.

Oh, dekat sekali kalian,

Sungguh luar biasa kalian

Pastinya.

- Haruhiro

Tapi hitungan suku katanya tidak pas.

Ah, gawat nih. Hati di dalam rongga dadanya serasa membusuk. Haruhiro tidak boleh kehilangan kosentrasi, karena bagaimanapun juga, dialah penggagas ide ini.

“A-Ayo berusaha lagi sebaik-baiknya, kawan-kawan…” katanya. Karena hatinya sedang galau, dia pun mulai kehilangan motivasi dalam menggali.

“Yeahhhh ...” seperti biasa, Kikkawa hanya meresponnya dengan antusias.

“Aku tidak bakat melakukan pekerjaan berat seperti ini, yeah ...” kata Anna-san.

“Anna-san, beristirahat lah.” Tokimune mengatakan itu sembari memamerkan gigi putihnya sekilas, namun kali ini dia tidak begitu bersemangat melakukan itu, karena tenaganya sudah terkuras.

“Ini aneh.” di sisi lain, Tada mulai tampak emosian. “Harusnya tidak begini. Mengapa aku harus menggali lubang?”

Yaaa, memang aku yang salah… baiklah, baiklah, aku mengakuinya.. Haruhiro ingin minta maaf, tapi apa gunanya meminta maaf pada orang yang emosian? Mungkin itu akan sedikit membantu karena dia lah kambing hitamnya? Lalu apa? Apa yang akan terjadi setelah itu? Sekarang keadaannya serba salah. Mereka tidak bisa berhenti begitu saja setelah membuat lubang sebesar itu. Tapi kalau pun dilanjutkan, masih begitu banyak tanah yang harus digali.

Haruhiro mengumpulkan tekadnya sekali lagi, kemudian lanjut menggali, lantas dia menusukkan sekopnya lagi dan lagi ke tanah. Dengan segenap tenaganya, dia terus menggali untuk membuat semacam jalur.

Jalur itu dia gali secara melingkar, sampai akhirnya bertemu di suatu titik, maka terbentuklah lingkaran besar berdiameter sekitar 25 m. Lubang yang mereka gali tepat berada di tengah-tengah lingkaran itu.

“Ukuran musuh sangat-sangat besar, dan tentu saja dia begitu kuat! Meskipun aku mulai ragu kita bisa menjebaknya dengan lubang seperti ini, tapi kumohon teruslah menggali!” kata Haruhiro. “Teruslah menggali lubang perangkap ini! Seperti yang sedang kulakukan! Aku ingin kalian semua mengikutiku! Ini pasti berguna ... a-a-atau mungkin… ahhh!! PASTI BERGUNA! J-jadi ...”

“Gali.” Mimorin menjatuhkan tongkatnya, lantas mengambil sekop. “Aku akan menggali.”

“Yume akan berusaha sekeras-kerasnya!” Yume meneriakkan itu dengan segenap napasnya, sembari dia menusukkan sekop ke tanah.

Shihoru menggigit bibirnya. “Mungkin, aku masih bisa memanfaatkan Shadow Echo dan Thunder Storm untuk membuat lubang...... itu semua tergantung bagaimana caraku menggunakannya."

Mary terus mengayunkan sekop tanpa bicara sedikit pun.

“Ah!! Aku dilahirkan setinggi ini bukan tanpa alasan!!” Kuzaku juga terus menggali lubang.

“Bah! Kalau hanya ini pilihannya……!” Ranta memanggul sekopnya dengan sombong, lalu dia terus menggali.

“Aww, yeah!” teriak Kikkawa. Kau selalu bisa mengandalkan Kikkawa di saat seperti ini. “Aku membara! Terbakar! Menyala!”

“Aku hanya harus bersabar sampai saatnya untuk melawan.” Tada menyesuaikan posisi kacamata dengan jari telunjuk kiri. “Sampai saat itu tiba, kurasa aku akan terus menggali untuk menjaga semangatku.”

“Heh ...” Inui membuka matanya lebar-lebar yang tidak tertutup oleh penutup mata. "Sampai waktunya tiba bagiku, akan kusimpan Sayap Hitam ini ...!”

Seperti biasa, dia membuat lelucon yang gak nyambung.

“Ayo kita bersabar dan terus melakukannya.” Tokimune mengacungkan jempolnya pada mereka semua. “Menggali lubang memang penting, tapi kalau kita kelelahan dan kehabisan tenaga, maka tujuan utama kita untuk bertarung tidak akan terwujud.”

"Ya. Kau benar.” Haruhiro menunduk.

Keseimbangan. Sangat penting untuk menjaga keseimbangan, pikirnya.

Dia lah orang yang mengusulkan ide membuat lubang, jadi dia harus bertanggung jawab menjaga ide itu sampai akhir. Apapun yang terjadi, lubang perangkap itu harus dibuat.

Lantas, apakah yang lebih penting sekarang? Membuat lubang, atau bertarung melawan sang dewa raksasa? Dia harus memegang teguh tujuan awal itu….. Ah, benar juga, yang terpenting saat ini adalah mengalahkan dewa raksasa itu.

Untuk mengalahkan dewa raksasa.

Tidak lebih.

Begitu kan? dia bertanya-tanya.

Bukankah itu yang paling penting bagi Haruhiro dan yang lainnya?

"Hah? Kalian tahu, sebenarnya aku sendiri juga tidak yakin ...” gumamnya.

Disposisi[edit]

Tapi, yahh, kau tahu?

Bukannya Party Haruhiro dan Tokkis tidak melakukan apapun selain menggali lubang selama tiga hari tiga malam. Tidak ada malam di Dusk Realm, jadi kalimat tersebut sedikit aneh ... mungkin? Iya kan? Pokoknya, dalam tiga hari, kurang dari tiga puluh enam jam mereka habiskan untuk menggali lubang. Kalau ditotal, mungkin sekitar 24 jam mereka bekerja, selebihnya mereka gunakan untuk tidur.

Tidak, tidak, itu tidak benar. Tentu saja, mereka beristirahat, dan juga tidur, bahkan kembali ke pemukiman untuk mandi, tetapi mereka juga melakukan hal-hal lainnya.

Taro menemui mereka, kemudian menyarankan untuk melihat sang dewa raksasa dan makhluk bertentakel itu dengan mata-kepala mereka sendiri. Ternyata, bagian tubuh yang menggeliat pada makhluk itu bukanlah tentakel seluruhnya, melainkan beberapa batang leher. Ayah Taro, Gogh, menamai makhluk ini dengan sebutan Hydra. Hydra itu pun berwarna putih seperti makhluk-makhluk lain penghuni dunia ini.

“Itu nama yang bagus.” sesosok bocah laki-laki yang terkesan cantik, Taro, berbisik pada dirinya sendiri, dan wajahnya penuh dengan kebahagiaan yang terlihat jelas. “Hydra. Nama itu memang keren. Ayah sungguh hebat. Begitulah ayahku.”

Taro terlihat begitu menyayangi ayahnya, dan sepertinya ibunya juga. Di belakang Taro, Party Haruhiro dan para Tokkis mengikuti untuk menyaksikan Hydra dan dewa raksasa secara langsung.

Dewa raksasa dan Hydra sama-sama sedang bergerak, mereka mengecar tim pengalihan. Paling tidak, tim pengalihan harus jaga jarak sejauh 50 m dari kedua monster tersebut. Sebenarnya jarak itu cukup jauh, namun masihlah berbahaya bagi mereka.

Terutama sang dewa raksasa, ukurannya bisa dikatakan tidak masuk akal sehat, dan menurut Taro, tingginya sekitar 300 m. Itu sudah cukup membuat mereka tercengang.

Tinggi Haruhiro adalah sekitar 170 cm, sehingga 300 meter kira-kira sama dengan 176,5 kali tinggi badannya. Bahkan dibandingkan dengan Kuzaku yang berpostur 190 cm, perbandingannya masihlah 156,25 kali lipat. Sia-sia saja mereka membandingkan tinggi tubuh manusia dengan monster itu.

Mengalahkan makhluk setinggi itu? Tidak mungkin. Mustahil. Lelucon macam apa itu? Mereka tidak bisa melakukan apapun. Tidak mungkin ada cara mengalahkannya.

Itulah sebabnya, menurut Taro, tim pengalihan tidak begitu yakin upayanya menggiring keluar monster itu akan membuahkan hasil.

Duh.

“Menggiring keluar”? Menggiring keluar ke mana? Jangan bilang mereka ingin mengeluarkan makhluk itu dari Dusk Realm? Kalau pun sudah keluar dari Dusk Realm, lantas mau apa? Apakah mereka yakin bisa mengalahkannya di dunia kita? Apakah mereka bodoh? Ataukah mereka justru luar biasa? Apakah orang-orang yang luar biasa harus bertindak sekonyol itu?

Apapun itu, hal ini merupakan kabar baik bagi Haruhiro, karena dewa raksasa itu bukan lagi tanggung jawabnya setelah keluar dari Dusk Realm.

Coba lihat lagi perbedaannya. Kaki Haruhiro hanya sepanjang 25,5 cm. Kalau panjang itu dikalikan sebanyak 176,5 kali, maka hasilnya menjadi 4,500.75 cm. Atau lebih dari 45 m. Berarti, kaki sepanjang itu tidak akan terperosok ke dalam lubang yang hanya selebar 30 m. Tinggi totalnya adalah 300 m, anggap saja tubuhnya dibagi menjadi 3 bagian, yaitu kepala, badan, dan kaki. Kemudian, pukul rata masing-masing 100 m, itu berarti tinggi badan dan kepalanya adalah sekitar 200 m. Meskipun monster itu terjerembab ke dalam lubang, dia hanya perlu mengayunkan kaki satunya untuk keluar dari jebakan itu tanpa kesulitan sedikit pun.

Ini tidak mungkin.

Meskipun mereka berhasil menyelesaikan lubangnya, tidak mungkin dewa raksasa itu bisa dijebak.

Jika dilihat dari penampilannya, makhluk itu masihlah menyerupai manusia, karena dia adalah humanoid, namun jika dilihat dari kejauhan, dia lebih mirip seperti bangunan bertingkat yang bergerak. Hanya orang gila yang percaya bisa membunuh makhluk setinggi itu. Paling tidak, yang bisa mereka lakukan hanyalah menghancurkan secuil bagian dari monster itu.

Kalau pun ingin memberikan kehancuran yang lebih besar, Haruhiro berpikir setidaknya mereka harus mempunyai senjata kelas berat. Kalau pun mereka punya senjata berat, monster itu tidak akan tinggal diam dan mempersilahkan lawan-lawannya menghancurkan tubuhnya. Dia pasti akan memberikan perlawanan, dan ketika sang dewa raksasa menyerang, pastilah akan jatuh korban jiwa di antara mereka. Yahh, ini hanya pemikiran Haruhiro sih, namun dia benar, kan?

Sekarang, untuk si Hydra ...

Jika dibandingkan dengan sang dewa raksasa, makhluk ini memang cenderung lebih kecil. Namun ini seperti ketika membandingkan danau dan lautan. Memang sekilas orang bisa menyimpulkan bahwa laut jauh lebih dalam daripada danau. Tapi, yakinkah kau tidak akan mati jika tenggelam di dalam danau?

Sepintas, ukuran makhluk itu hanya setinggi bangunan 2 lantai. Ah tidak, mungkin sedikit lebih besar. Dan juga lebih panjang.

Wujud Hydra adalah makhluk berkepala banyak. Masing-masing kepalanya terlihat seperti ular putih dengan tebal leher sekitar 2 – 3 m.

Totalnya ada sembilan kepala yang menyerupai ular, tapi anehnya, semuanya tanpa mata. Kebanyakan penghuni Dusk Realm hanya mempunyai satu mata, jadi harusnya Hydra ini juga setidaknya memiliki satu mata, namun nyatanya tidak begitu. Mungkin juga, kepalanya yang asli masih tersembunyi, jadi kesembilan kepala tersebut hanyalah aseksoris mirip tentakel.

Hydra bergerak dengan menggeliatkan beberapa lehernya. Tampaknya, empat lehernya digunakan untuk bergerak. Sedangkan, lima sisanya menggeliat di udara, seakan-akan mencari sesuatu. Mungkin fungsinya seperti antena atau semacamnya.

“Kita bisa mengalahkannya dengan mudah,” kata Tada dengan tertawa pelan.

Aku tidak yakin kita bisa mengalahkannya dengan mudah, tapi pastinya lebih mudah dikalahkan daripada dewa raksasa itu, dan……. Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak ... Haruhiro menggeleng. Tunggu, tunggu. Makhluk itu tetap saja lebih besar daripada tubuhmu, oke? Kalau aku tersabet salah satu lehernya saja, mungkin aku akan tewas seketika.

Hydra berjarak sekitar 50 m di depan Haruhiro dan yang lainnya, dia sedang menuju ke barat, tapi… bukankah itu berarti dia sudah dekat? Apakah dia sudah terlalu dekat? Saat ini, lima leher yang tidak digunakan untuk bergerak, sedang ditujukan ke arah lain. Dengan kata lain, Hiydra tidak memperhatikan posisi Haruiro dan rekan-rekannya, dan juga tidak memperdulikannya.

Tapi bagaimana jika dia pura-pura tidak memperhatikan? Apa yang akan terjadi kemudian? Bukankah ini buruk?

“Um, bukankah seharusnya kita menjauh dari tempat ini ...?” Haruhiro menawarkan suatu ide.

Taro melihat ke belakang pada Haruhiro, sambil terus berjalan. "Tidak apa-apa. jarak ini masih aman kok. Mungkin."

"'Mungkin'?"

“Ayahku selalu berkata bahwa di dunia ini tidak ada kepastian 100%.”

“Yah, itu mungkin benar, tapi ...”

“Bukannya 'mungkin',” kata Taro dengan percaya diri. “Kata-kata ayah adalah mutlak.”

Hah? Bukankah 100 % itu sendiri adalah suatu kemungkinan?

Apakah pria cantik ini akan marah jika Haruhiro mempermainkan kata ayahnya seperti itu? Haruhiro sendiri juga penasaran akan hal itu. Ah tidak juga, tapi dia tidak ingin mencobanya, dan Haruhiro pun tidak ingin Taro marah. Sepertinya itu akan menakutkan.

Haruhiro dan rekan-rekannya malah memutuskan untuk mengikuti Hydra itu dengan berjogging. Tokimune menggendong Anna-san di punggungnya, karena sepertinya Anna-san akan kesulitan mengikuti mereka, tetapi menurut Haruhiro, dia terlalu memanjakan maskot kelompoknya itu.

“Siapa yang berperan sebagai umpan?” tanya Ranta.

Mungkin Taro tidak mendengar, karena ia tidak menjawab.

“Hei, siapa? Hei? Siapa umpannya? Hei? Hei? Hei? Hei, kenapa kau begitu tenang? Aku sedang berbicara denganmu, lho? Heeeey. Hey, hey, heeeey. Bisakah kamu mendengarku? aku bertanya padamu, bisakah kau mendengarku? Hei!"

“Aku mendengarmu.” Taro bahkan tidak melirik ke arah Ranta. “Tapi aku tidak mau repot-repot menjawabmu. Ibuku bilang, 'hidup terlalu singkat, jadi jangan sekali-kali kau buang waktumu dengan berbicara pada orang bodoh.'”

“Apa? Jadi sekarang aku yang bodoh?!” Ranta berteriak.

“Ya, kau memang sudah bodoh sejak lahir.” Haruhiro hanya bisa menyetujuinya.

“Kau memang bodoh,” Yume sependapat.

“Lebih buruk daripada orang bodoh ...” tampaknya Shihoru punya opininya sendiri tentang seberapa bodoh si Ranta.

“Memang benar kalau dia bodoh,” kata Mary dengan dingin.

“Yah ...” Kuzaku, yang menahan diri untuk tidak mengatakan apapun, akhirnya mengeluarkan satu kata singkat itu.

“Ahaha!” Kikkawa menepuk bahu Ranta. “Yah, aku suka dirimu yang begitu tolol! Sampah yang kau buang adalah harta bagi para pemulung, kan?!”

“Pergilah!” teriak Ranta. “Kau menyebalkan, Kikkawa! Aku bukan sampah! Jika mereka ingin membuangku seperti sampah, akulah yang akan membuang mereka terlebih dahulu!”

“Kami tidak keberatan kalau harus membuangmu, lho?” kata Haruhiro.

Ranta mulai panik. “D-d-dasar tolol! Kau tidak boleh mengatakan itu padaku! Kau harusnya mengatakan: 'Jangan katakan itu!', atau ‘Jangan pergi’! Laranglah aku untuk tidak mengatakan hal-hal seperti itu!”

“Ranta!” Tokimune memamerkan gigi putihnya sekilas. "Kamu sangat sabar!"

“Tokimune-san?! Kau tahu, pujianmu itu sama sekali tidak menghiburku!”

“Ini bukan pujian, yeah?!” Anna-san mengacungkan jari tengahnya, sembari masih menempel pada pundak Tokimune. “Kau ini lahir dari pantatnya babi hutan yang mana sih, dasar kont*l kotor?!”

“Heh ...” Inui menunjukkan senyum jahat. “Jatuhlah ke sampah, dasar anjing kampung ...”

“Anjing?” Mimorin melihat sekeliling.

Aku tidak melihat anjing di sini ... pikir Haruhiro.

“Siapa umpannya?” tanya Tada, tanpa menghiraukan apapun.

Kali ini, Taro memberinya jawaban yang tepat. “Hydra digiring oleh Golem Pingo bernama Zenmai. Sedangkan dewa raksasa diarahkan oleh Lala dan Nono. Aku yakin merekalah yang melakukannya, karena mereka ke sini dengan menunggani Naga-kuda.”

Naga-kuda adalah sejenis naga kecil yang berjalan dengan kedua kaki belakangnya. Seekor Dragonet lahir dari telur, dan bisa dilatih untuk menjadi tunggangan manusia, layaknya kuda. Setelah sering kali melihat mereka di Post Lonesome Field, Haruhiro mungkin akan mencoba menungganginya suatu saat nanti. Namun, niatnya itu langsung pupus ketika tahu bahwa sayap Naga-kuda sengaja dipotong ketika mereka masih kecil, agar lebih enak ditunggangi oleh manusia.

“Aku paham.” Tada mengangguk dan berhenti berjalan dengan sentakan tiba-tiba. “Heeeey, dasar Hydra bodoh! Lihat aku! Ya, aku! Aku di sini! Di sini!"

Apakah manusia mampu berteriak sekeras itu? Bagaimana bisa dia berteriak sekeras itu? Bukankah dia sudah melampaui batas-batas tubuh manusia?

Haruhiro pun berhenti berjalan karena merasakan suatu ketakutan. Yang lainnya juga melakukan hal yang sama. Bahkan Tokimune dan para Tokkis pun terperanjat.

“Tung-” Taro juga berhenti, dengan mata terbelalak. "Apa yang barusan kau...?"

"Datanglah kepadaku! Heyyyy!” Tada mengacungkan palunya pada Hydra. “Aku bilang, datanglah padaku, dasar pengecut! Apakah kau memang benar-benar pengecut?! Apakah kau sadar bahwa kau tidak bisa mengalahkanku ?! Kau hanyalah makhluk lemah bertubuh bongsor!”

Kemudian, terjadilah sesuatu.

Hydra tidak berhenti. Dengan ukuran sebesar itu, tidak mungkin dia berhenti tiba-tiba. Namun, kecepatannya jelas melambat.

Salah satu leher, yang bentuknya seperti ular itu berbalik ke arah mereka.

Akhirnya, Hydra berhenti bergerak maju.

Sedetik kemudian, leher ketiga juga berpindah, dan kepala tanpa matanya menoleh ke arah Haruhiro dan teman-temannya.

“Heh ...” Tada memanggul palunya, sembari menyesuaikan posisi kacamata dengan jari telunjuk kirinya. “Akhirnya melihat aku, ya. Lama sekali. Terlalu lama."

Tada, pikir Haruhiro. Apa maksudmu dengan, “Heh”? Tada! Tadaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!

Meskipun ia menjerit seperti itu, itu akan tidak berpengaruh. Karena Haruhiro hanya menjerit di dalam batinnya. Tada adalah anggota Tokkis paling emosian, bahkan percakapan biasa pun bisa berujung dengan perselisihan dengannya. Yahh, kalau begitu, apa yang harus dia lakukan?

“Oh, demi…....!” Haruhiro tergagap. Dia akan mengatakannya.

Akhirnya Haruhiro meraih kerah pakaian Priest Tada.

“-Gweh!” Tada menjerit.

Mungkin Haruhiro tidak sengaja mencekiknya, tapi dia tidak peduli lagi. Memang begitulah Tada. Cekikan seperti itu tidak akan berdampak apa-apa.

“Semuanya, lari!” teriak Haruhiro.

Dia langsung lari tunggang langgang. Untungnya, Tokkis mengikutinya karena sepertinya menyenangkan, jadi mereka semua melarikan diri tanpa seorang pun tertinggal. Kekhawatiran terbesar adalah, Hydra yang mulai mengalihkan perhatiannya.

Kalau dia benar-benar mengejar mereka, akankah mereka bisa lolos? Apa yang akan terjadi jika mereka tertangkap? Apakah mereka harus melawan? Atau lebih tepatnya, apakah hanya kematian yang menanti mereka? Memikirkannya saja sudah begitu mengerikan, akan tetapi Hydra ternyata tidak melaju ke arah mereka.

Apakah mereka beruntung? Tidak, Zenmai si umpan pasti telah melakukan sesuatu untuk memprovokasi monster itu. Mereka harus banyak berterimakasih kepada Zenmai.

Begitu mereka telah memisahkan diri kira-kira sejauh 200 meter dari Hydra, Haruhiro melepaskan Tada. Dia berkeringat sangat banyak. Karena itu tadi sangat menakutkan.

“Bung!” Tada memegang tenggorokannya, kemudian mendekati Haruhiro. “Itu menyakitkan, kau tahu, Haruhiro!”

Mereka saling membenturkan dahi, tapi Haruhiro entah bagaimana berhasil meredakan emosinya. Dia hanya mengatakan, “Ow!”

Mata Tada sudah memerah. Dia sangat menakutkan. Tetapi jika Haruhiro mundur sekarang, mungkin itu hanya akan membuatnya terbunuh. Dia tidak pernah memahami Tada, dan dia ragu bisa memahami orang seperti Tada. Tapi memang begitulah perasaannya pada Tada.

“A-Apa yang barusan kau lakukan!!” teriak Haruhiro. “Itu berbahaya, kau tahu?! Aku tidak pernah tahu apa yang ada di kepalamu, dan aku juga tidak ingin tahu, tapi tolong, jangan melakukan hal konyol seperti itu!”

"Diam! Kaulah yang harus diam!”

“Aku tidak salah, jadi aku tidak akan diam!”

“Apa yang kau katakan ?!”

“Aku tidak akan diam! K-Kau lah yang harus diam!”

Ohh, gak apa-apa nih seperti ini? Bukankah ini berbahaya? Dia tidak tahu. Tapi kalau dia tidak tegas, Tada akan terus menekannya, atau bahkan Haruhiro akan diremehkan. Mungkin sesekali dia perlu bertindak tegas dan menunjukkan jiwa kepemimpinannya.

“Pikirkan tindakanmu, Tada!” Haruhiro berteriak. “Kau tidak boleh membahayakan nyawa rekan-rekanmu hanya karena tindakan egois seperti itu!”

Grimgar V6 009.png

“Ha ha!” Tada tertawa sembari membenturkan dahinya sekali lagi pada dahi Haruhiro.

Haruhiro tidak mundur. Dia tidak boleh. Dia tidak boleh mundur pada saat seperti ini. Setelah mengatakan semua itu, jika dia mundur dan meminta maaf, maka dia akan terlihat seperti orang bodoh. Dia hampir menangis, tapi dia tidak akan menangis.

“Seorang pemula sepertimu, mencoba untuk memberitahuku ...!” Tada menggerak-gerakkan kepalanya ke depan dan belakang. Dahi mereka terus berbenturan.

Seseorang, tolong selamatkanlah aku, Haruhiro memohon dalam hati. Seseorang, hentikan dia. Tokimune lakukan sesuatu.

Namun, begitu dia memalingkan muka dari Tada untuk meminta bantuan kepada orang lain, saat itulah dia akan kalah. Itulah yang dia rasakan.

“M-Meskipun aku adalah seorang pemula ...”

“Meskipun kau seorang pemula, maka apa ?!” tantang Tada.

“... Aku tahu mana yang benar dan mana yang salah lebih baik daripadamu!” Haruhiro akhirnya menyelesaikan kalimatnya. "Jika kau bertingkah seperti anak kecil yang tidak bisa membedakan mana yang benar atau mana yang salah, maka sepertinya aku perlu mengikatmu dengan tali, lalu kutuntun kau ke mana pun!”

“Oh, ho.” Tada tiba-tiba menarik kembali kepalanya, lantas menyesuaikan posisi kacamata dengan jari telunjuk kirinya.

Haruhiro hampir jatuh ke depan.

"Tidak buruk juga."

... Apakah dia barusan tersenyum? Kenapa dia tampak senang? Haruhiro tertegun. Aku sama sekali tidak paham orang ini... Tapi sepertinya aku selamat ya? pikirnya dengan ragu. Setidaknya, dia mengurungkan niatnya untuk menghajarku sampai mati. Ah tidak, jika aku lengah, mungkin dia akan langsung menerjangku dengan palinya? Untuk amannya, mungkin aku tidak boleh lengah?

“Haruhiro.” Tokimune mengacungkan jempol padanya sambil memamerkan gigi putihnya sekilas. "Perjuangan yang bagus."

Oh, tutup mulutmu, pikir Haruhiro, tapi dia terlalu malu untuk marah. “Terima kasih,” katanya, sambil sedikit membungkukan kepalanya.

“Pft ...” Taro tertawa terbahak-bahak, lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Heheheheheh! Ahahahahaha! Kalian aneh! Kalian semua sangat aneh! Bwahahahahahahaha! Gwahahahahahahahah!”

Dia tertawa. Tertawa seperti orang gila. Tertawa begitu keras, sampai-sampai dia akan terjungkir. Haruhiro begitu terkejut ketika melihat bocah Elf cantik itu tertawa terbahak-bahak.

Taro tetap seperti itu selama beberapa saat, lalu tiba-tiba dia berdeham dan memasang ekspresi serius di wajahnya. Tapi wajahnya berubah merona. Bahkan telinga panjangnya ikut merona. Dia mungkin malu.

“Ayah pernah berkata, 'Tertawa adalah obat terbaik,'” kata Taro dengan sungguh-sungguh.

Yahh, baiklah, pikir Haruhiro. Betapa aneh Elf ini.

Mengesampingkan apapun yang terjadi, Party Haruhiro dan para Tokkis sudah menghabiskan total 72 jam untuk menggali lubang berdiameter sekitar 30 m, dan kira-kira sedalam 3 m. Mereka memberikan beberapa batang penopang di dalam lubang tersebut, dan juga menempatkan jaring yang mereka beli dari para pedagang yang masih tersisa di pemukiman. Lantas, mereka pun menyamarkan lubang itu dengan menutupinya rumput, sehingga terlihat seperti perangkap sungguhan.

Perangkap itu sangat kelihatan dari dekat, maka itu jauh dari kata sempurna. Namun, jika mereka menggiring makhluk raksasa seperti Hydra ke atasnya, mungkin dia akan jatuh? Mungkinkah? Jujur saja, tak satu pun dari mereka mengetahui jawabannya sebelum mencoba.

Mereka sudah sepakat sebelumnya untuk berkumpul kembali di bukit awal setelah menyelesaikan perangkap. Bukit awal ada di sebelah barat pemukiman.

Haruhiro dan yang lainnya telah memasang perangkap mereka sekitar lima kilometer ke arah selatan pemukiman. Mereka pun memutuskan untuk mampir di pemukiman ketika melewatinya. Akhirnya mereka terbiasa bekerja sebagai pasukan relawan, sehingga tak seorang pun minta hak khusus seperti pemandian yang mewah, tetapi mereka ingin air segar untuk diminum.

Bahkan sebelum mereka mencapai pemukiman, semuanya berpikir ada sesuatu yang aneh. Atau lebih tepatnya, mereka punya firasat buruk.

Dewa raksasa itu terlihat jauh ke arah barat. Jika dia masih bergerak, maka tidaklah masalah.

Tapi, dia sedang berhenti. Dia hanya berdiri di sana tanpa bergerak sedikit pun.

Tepat sebelum mereka mencapai pemukiman, Anna-san berkata dengan iseng, “Itu ... ke arah bukit awal, ya ...?”

Ya, pikir Haruhiro.

Daerah pemukiman cukup berisik. Meskipun sebagian besar pedagang telah berkemas dan pergi, masih ada sekitar 70-80 pasukan relawan yang berkumpul di sana.

Ah tidak juga, suasananya tidak akan seberisik ini meskipun mereka sedang berkumpul.

“Ada apa, brengsek?! Kau ingin berkelahi?!” ‘One-on-One’ Max dari Iron Knuckle sedang mendekati seorang pria dengan rambut merah menyala, dan tampaknya dia siap untuk mencengkramnya kapan pun.

Mereka dikelilingi oleh beberapa orang, yang saling mencemooh, berteriak, dan dari situlah keberisikan ini berasal.

“Apakah aku ingin berkelahi?!” pria berambut merah itu tidak hanya tinggi, tapi juga memiliki mata besar, hidung besar, dan mulut yang juga besar, dia berteriak pada Max tanpa berniat mundur sedikit pun. “Kau betul sekali, aku memang sedang ingin berkelahi, cebol!”

“Siapa yang kau bilang cebol?! Aku tidak cebol, kau saja yang terlalu besar!” teriak Max.

“Jangan menyalahkan orang lain, dan akui saja kalau kau memang cebol!”

“Cebol, cebol, cebol'-apakah hanya itu yang bisa kau katakan, dasar gembrot?!”

“Siapa yang kau sebut gembrot, cebol?! Aku selalu menjaga prosentase lemak tubuhku sekecil mungkin, jadi jangan meremehkan tubuhku, dasar cebol bangsat!”

“Bagaimana bisa orang sepertimu menjaga prosentase lemak tubuh?! Jangan berlagak sok berani hanya karena rambutmu berwarna merah, dasar gembrot!”

“Sekarang kau mulai menyalahkan warna rambut! Setelah ini apa?!!”

“Terserah aku mau ngomong apapun, dasar rambut merah sialan! Apa kau ingin dibakar?!"

“Kalau begitu, aku juga bebas ngomong dong?! Kalau kau kira bisa membakarku, maka bakarlah, dasar monyet!”

“Siapa yang kau panggil monyet, kau sendiri?!”

“Tak seorang pun kubiarkan hidup setelah memanggilku monyet! Bahkan sebelumnya tak seorang pun berani mengataiku begitu, oke?!"

“Aku akan memanggilmu monyet sebanyak yang kuinginkan! Monyet, monyet, monyet, monyet, monyet, monyet, monyet, monyet, monyet, monyet, monyet, monyet, mooooonyet!”

"Kau...!"

Tinjuan si rambut merah menderu melalui udara. Max ... tidak menghindar. Mungkin dia sengaja tidak menghindar. Tanpa menghindari pukulan, ia menurunkan pinggangnya dan menerima pukulan itu dengan pipi kirinya.

Max tersentak sejenak, tapi dia benar-benar menahannya. “Pukulan bancimu tidak melukaiku, bahkan tidak terasa gatal sedikit pun!”

“Oh, ya ?!” kali ini si rambut merah menyerang lutut Max dengan tendangannya. “Lalu bagaimana dengan ini?!"

“Ugwahhhh!”

Tendangan yang luar biasa. Tidak hanya cepat, dan kuat, namun juga tajam. Seakan-akan kedua kaki Max patah. Namun Max masih berdiri. Sambil tersenyum.

“Gyahyahyahya! Tendangan seperti itu tidak akan bisa merobohkanku!”

“Kau hanya berlagak kuat!” si rambut merah meninju wajah Max berkali-kali, bahkan semakin keras. “Jadi ini bagian terkuatmu, dasar monyet! Rasakan ini!"

“Ini ….sama…..sekali….tidak….menyakitkan…sialan!!”

“Kuh ?!” si rambut merah menarik kembali tinjunya yang sekeras batu, setelah berkali-kali menghujankannya pada Max.

Kepalanya. Dia meninju Max tepat di kepala. Ah tidak, mungkin saja Max membiarkan dia memukul kepalanya? Tengkoraknya cukup keras rupanya. Jika terhantam pada sudut yang tepat, pedang baja pun bisa bengkok. Namun, Max masih berlumuran darah.

Bukankah itu sakit? Apakah dia benar-benar tidak merasakannya? hanya itu yang bisa Haruhiro pikirkan.

Max segera bergulat dengan si rambut merah. Dia mencengkram bagian bawah tubuh lawannya. Kemudian, dia segera mendorongnya ke bawah. Dia mengangkanginya, lalu menghujani pukulan serupa pada si rambut merah.

“Oorah! Rah! Rah! Rah! Rah! Rah! Rah! Rah! Rah!”

Si rambut merah melindungi wajahnya dengan kedua lengan, atau setidaknya begitulah kelihatannya, tapi Max melancarkan serangannya dengan begitu intens.

Tidak mungkin dia bisa membalasnya ... pikir Haruhiro saat itu, lalu si rambut merah menyodorkan tinjunya dari bawah.

Jika itu menghantam dagunya, Max pasti akan roboh. Tak diragukan lagi, serangan itu cukup membuat lawannya tak sadarkan diri.

Tapi Max memutar tubuhnya ke samping, dan berhasil menghindari pukulan yang hampir menumbangkannya, tapi bukan hanya itu yang dia lakukan……. Tanpa ragu, ia menyambar lengan si rambut merah. Dia meringkuk, lalu mengunci tangan lawannya.

Namun, si rambut merah juga bereaksi dengan cepat. Dia berdiri, kemudian menarik Max yang mengunci lengannya.

“Uwahahahaha!” si rambut merah segera mengayunkan lengannya ke bawah, untuk berusaha membanting Max ke permukaan tanah.

Haruhiro membayangkan adegan di mana Max hancur berkeping-keping setelah dibanting, namun itu tak pernah terjadi. sebelum dia hancur, Max melepaskan lengan kanan si rambut merah. Dengan fleksibilitas dan kegesitan yang membuatnya terlihat seperti invertebrata, dia berputar sekali dan kembali mendapatkan keseimbangannya.

“Tak ada gunanya kau melakukan itu padaku, Ducky! Bagaimanapun juga, kau sudah melakukan itu dua kali padaku!”

“Sepertinya itu tidak akan terjadi! Aku masih tidak bisa melupakan bagaimana rasanya menghancurkanmu saat itu! Aku ingin merasakannya lagi!”

“Ah, bukankah itu suatu kebetulan? Waktu itu aku juga bermimpi pernah menghancurkanmu!”

“Uwahahaha!”

Si rambut merah tiba-tiba menyudahi perlawanannya, kemudian menyodorkan tangan kanan pada Max. Max menyeringai, lalu meraih tangan si rambut merah.

Para pria di sekitar mereka menyorakinya dengan tepuk tangan yang meriah.

“Max! Maaaax!”

“Ducky adalah yang terbaik!”

“Max sungguh kuat!”

“Dasar tolol, Ducky jelas lebih kuat, tau!!?”

“Kalau mereka bertarung sungguhan, Ducky lah yang duluan mati!”

“Diam, dasar silit!”

“Kau sendiri yang bilang, dasar pengamuk bodoh!”

Beberapa orang mulai menghina satu sama lain, tapi sepertinya tidak akan terjadi pertumpahan darah di sini. Mungkin tidak cocok kalau dibilang mereka sedang bercanda-tawa, namun tampaknya mereka benar-benar menyukai ini.

“ 'Silit'?” Yume memiringkan kepalanya ke samping dengan tanda tanya besar di atas kepalanya.

“Mungkin itu hanya suatu makian,” kata Haruhiro, berusaha untuk menjaga keadaan setenang mungkin.

“Lagi pula, kau tidak harus mengatakan kata itu.”

“Siliiiiittt?” Yume menatapnya dengan bingung. "Mengapa?"

“Tidak, mungkin tidak apa-apa kok,” gumam Haruhiro. “Atau… lebih baik jangan kau katakan ...”

“Sekarang dengarkan, Yume,” kata Ranta sambil menghela napas, dan meletakkan tangannya di bahu Yume. “Biarkan aku memberitahumu tentang masalah persilitan ini. Agaknya sulit untuk menerangkan ini dengan kata-kata, jadi aku akan menunjukkan dimana posisinya berada. Kau punya pantat, kan? Nah, di dalam pantatmu itu ada…….”

“... jijik,” Shihoru bergumam pada dirinya sendiri.

“Cedas sekali!” seru Kikkawa sambil menunjuk Shihoru.

Shihoru pun meringkuk. “A ...a-aku tidak mencoba untuk membuat lelucon.”

Grimgar V6 010.png

“ 'One-on-One' Max dan 'Red Devil' Ducky, ya.” Tada mendorong kacamatanya dengan jari telunjuk kiri. “Ya, mereka bukan tandinganku.”

“Mereka berdua selalu seperti itu.” Tokimune melihat mereka berdua dengan bangga, layaknya seorang ayah melihat kedua anaknya yang berprestasi. “Sepertinya, hal yang ingin mereka sampaikan adalah……. Semakin kau sering berkelahi, maka kau akan semakin akrab.”

“Aku tidak dapat memahami itu ...” Mary hanya menggeleng.

“Mereka suka darah ...” Kuzaku tampaknya juga sedikit merasakan keanehan pada otak mereka.

“Heh ...” kata Inui.

Aku berharap Inui tetap tenang, pikir Haruhiro.

“Jangan-jangan mereka akan memulai ritual itu tanpaku ....” lanjut Inui.

Karena dia lah anggota Tokkis yang paling tidak kupahami omongannya.

“Oh, stupid fucker! Ada hal lain yang perlu dilakukan terlebih dahulu, yeah?!” Anna-san melompat sambil menggembungkan pipinya. "Hal lain? Apa ya, shit? Apa itu? Apa?"

Jujur saja, aku tak tahu hal apakah yang perlu mereka lakukan terlebih dahulu, Haruhiro menutup matanya, lalu mengambil napas dalam-dalam. Orang seperti dia harus banyak-banyak bersabar ketika berada di lingkungan yang isinya orang gila semua. Haruhiro pun sadar, bahwa level toleransinya sudah mencapai batas yang tidak normal.

Ketika ia membuka matanya, ia melihat Shinohara mendekat bersama sekelompok laki-laki dan wanita berjubah putih. Bila dibandingkan dengan Max dari Iron Knuckle dan Ducky dari Berserkers, (dan juga orang-orang lain yang tidak pernah dia pahami jalan pikirannya) Shinohara tampak seperti seorang penyelamat. Dia bahkan memiliki lingkaran cahaya di kepalanya. Apakah dia malaikat? Atau apakah itu hanya ilusi?

Yah, tentu saja itu hanyalah ilusi. Tidak mungkin malaikat turun ke bumi.

“Urkh ...” Mimorin meringis sedikit dan menyipitkan mata.

Apakah aura Shinohara terlalu cemerlang untuknya? Tidak mungkin ... ataukah Mimorin juga bisa melihat lingkaran cahaya itu?

Haruhiro berkedip untuk meyakinkan dirinya sendiri. Tidak, sehebat apapun Shinohara, tidak mungkin dia punya lingkaran cahaya di atas kepalanya layaknya sesosok malaikat.

“Hei, Haruhiro, Tokimune,” Shinohara menyapa mereka. “Sepertinya kita sudah mengalami situasi yang buruk, ya.”

“Halo,” Haruhiro mengangguk, dan memandang Shinohara dengan mata penasaran, “Situasi yang buruk? Apa yang kau maksud dengan….."

“Izinkan diriku, Kimura dari Orion, untuk menjelaskan,” pria berkacamata itu pun menyela.

Orang ini lagi.

“Kami melihat bahwa dewa raksasa telah berhenti bergerak, kira-kira dua jam yang lalu. Jebakan lubang kami sudah selesai, jadi kami memutuskan untuk melihat lokasi dewa raksasa saat ini. Sebenarnya itu bukanlah tugas yang sulit. Jika kau mendekati dewa raksasa, lokasinya pasti sudah bisa kau prediksi karena wujudnya yang begitu mencolok. Kemudian, kami pun mencarinya. Dewa raksasa terlihat menjulang tinggi di bukit awal. Oh, betapa mengerikan! Bukankah hanya itu jalan kita pulang! Sekarang, dengan dihalanginya jalan menuju bukit awal, maka kita tidak akan bisa keluar dari Dusk Realm!”

A-Apa yang barusan kau katakan? Haruhiro hampir mengatakan itu dengan suara yang benar-benar monoton, tapi dia berhasil menghentikan mulutnya. Dia tidaklah begitu terkejut.

Dia tidak pernah memikirkan situasi ini sebelumnya, namun inilah yang terjadi, sehingga dia merasa cukup tertekan. Namun, belum ada bahaya yang benar-benar mengancam.

Namun, ini cukup untuk membuat Shihoru, Mary, dan Kuzaku kehilangan semangatnya.

Yume tampaknya sedang memikirkan sesuatu. Kemudian, sepertinya dia sudah menyimpulkan sesuatu. "...Ah! Jika kita tidak bisa kembali, apakah artinya kita tidak punya jalan lain untuk keluar dari dunia ini?!”

“Bukankah dia tadi sudah bilang begitu!!?? Selemot apa sih otakmu itu??!!” Ranta berteriak padanya.

“Yume tidak lemot,” dia membela dirinya sendiri. “Orang yang menyebut orang lain lemot, maka dia lah yang paling lemot di dunia ini.”

“Nah! Dengan logika yang sama, apakah orang yang menyebut orang lain jenius, maka berarti dia lah yang paling jenius?!” bentak Ranta.

“Hmm. Mungkin, saja?”

“Kau jenius! Kau jenius! Yume, adalah si cantik jenius!”

"Oh? Sungguh? Ranta, jadi selama ini begitu ya perasaanmu pada Yume,” entah kenapa, dia mulai berseri-seri. “Yume jadi malu.”

“D-D-Dasar bodoh! Bukan itu yang kumaksud! Bukan begitu, oke ?!”

“Wajahmu merah semua ...” Shihoru melirik Ranta dengan pandangan jijik. "Dasar jorok..."

“S-s-s-s-s-s-s-s-s-s-s-s-s-s-siapa yang memerah, sialan ?! Dan apa yang kau maksud dengan jorok?!"

“Hmm.” dengan elegan, Kimura menyesuaikan posisi kacamatanya, sembari dia melihat Yume dan Ranta secara bergantian. “Aku minta maaf kalau pertanyaanku ini menyinggung hal yang sensitif, tetapi apakah kalian berdua sedang menjalin hubungan yang romantis? Singkatnya, apakah kalian berdua sepasang kekasih?”

“A-a-a-a-apaaaaa?!” Ranta terjungkal dengan gerakan menari. “A-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-apa yang barusan kau katakan, idiot ?! J-j-j-j-j-j-j-j-j-j-j-j-jangan membuatku tertawa!”

“Nuh uh.” Yume dengan cepat menyangkalnya. "Kau salah."

“YYYY-Yeah! K-k-k-k-k-k-k-k-k-k-k-kau salah besar! J-j-j-j-j-j-j-j-j-j-j-jangan salah paham! Perempuan sepertinya tidak akan pernah membuatku puas! Maksudku, lihatlah dadanya yang kecil!”

“Jangan menyebutnya kecil!”

“Apa yang salah dengan payudara kecil?!” Kimura tiba-tiba sangat marah. “Dada yang datar adalah suatu keadilan! Manusia belum bisa menemukan cara untuk memperbesar payudara! Dan tidak akan pernah bisa!"

“Kimura, tenang.” Shinohara tampak agak kerepotan karena ia menepuk bahu Kimura.

“Oh, maafkan aku.” Kimura tertawa. “Aku kehilangan ketenanganku ketika mendengar itu. Namun, izinkan aku untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Filosofi pribadiku adalah, dada rata merupakan anugerah dari Yang Kuasa, dan aku paham betul bahwa dada bukanlah satu-satunya nilai dari seorang wanita. Tentu saja, aku juga tertarik dengan payudara besar! Sebenarnya, aku tidak pernah membeda-bedakan ukuran payudara seorang wanita!"

“Kau semangat sekali!” Kikkawa menjabat tangan Kimura. “Kau bersemangat sekali, Kimuracchi! Aku paham, aku paham! Aku juga begitu, bung! Aku menerima semua ukuran Oppai, yeah!”

"Ya!"

Kimura dan Kikkawa saling berjabat tangan. Tampaknya persahabatan penuh gairah telah terjalin di antara mereka berdua.

Bahkan Orion memiliki orang aneh seperti ini, ya. Entah kenapa, itu terasa seperti kenyataan yang sangat mengharukan.

“Um, yeah ...” Anna-san mengangkat bahunya dan melihat mereka dengan tatapan penuh kekecewaan. “Setiap kali kau membuka mulutmu, yang kau katakan selalu oppai, oppai, oppai! Itu namanya pelecehan seksual, yeah! Bagaimana kalau Anna-san dan wanita lainnya membicarakan tentang ukuran kont*l di hadapanmu? Pikirkan itu, dasar pecundang berkont*l kecil!”

Mary mengerutkan alisnya. “Hayashi? Ada apa ini?"

Setelah tolah-toleh beberapa detik, Hayashi pun akhirnya berjongkok dan meringkuk. "...Tidak. Tidak ada apa-apa kok. Tidak ada yang salah. Sungguh, tidak ada ...”

“Oh, my God!”Anna-san menutupi mulutnya. “Konto*lmu benar-benar kecil? Tapi jangan khawatir, yeah? Teori mengatakan, meskipun itu kecil, yang penting masih berfungsi, no problem ...”

“Teori mengatakan,” kata Mimorin tanpa ekspresi.

Mengapa dia mengulanginya?

Hayashi hampir menangis. Pria malang. Tapi kalau pun ada seseorang yang menghiburnya, dia justru akan semakin malu. Haruhiro tak pernah tahu ukuran itunya Hayashi yang sebenarnya, jadi dia tidak berhak mengasihani pria itu. Dalam situasi seperti ini, dia tidak perlu mengasihani orang lain, bahkan dia tidak perlu banyak bicara. Tak seorang pun bisa berbuat apa-apa pada situasi seperti ini, jadi dia hanya perlu diam?

“Hmph ...” Tada menjilat bibirnya. “Pada dasarnya, kita harus bertarung. Aku tidak punya cara lain.”

Tada-san memang bisa dipercaya. Baginya, semua hal bisa diselesaikan dengan bertarung. Tada tidak memperdulikan hal selain bertarung. Itu sebabnya ia mengabaikannya. Itulah cara Tada menyelesaikan masalahnya. Dalam hal seperti ini, Haruhiro bersyukur punya rekan seperti Tada.

Tidak? Aku bersyukur? Hah?”Kita harus bertarung”? Tunggu sebentar.

“Apa yang kau maksud……” Haruhiro ingin menanyakan sesuatu, namun dia lupa apa itu. Atau lebih tepatnya, dia tidak sengaja menanyakan sesuatu yang seharusnya dia tahan di dalam pikirannya.

Tiba-tiba……. Di tengah semua candaan itu………..

Nnnnnnnooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooonnnnnggggg!!

Dia merasakan sesuatu yang bergema.

Suatu suara? Tidak, itu lebih mirip getaran daripada suara. Padahal, suara jugalah termasuk getaran, jadi aku kira keduanya sama saja. Jenis suara macam apa itu? Haruhiro tidak yakin, tapi itu cukup keras. Seluruh tubuhnya bergetar bagaikan gendang telinga yang besar. Seluruh tubuhnya bergetar oleh suara itu.

Tak ada waktu baginya untuk terkejut, dan suara itu benar-benar menguasainya. Baru pertama kali dia mengalami hal seperti ini. Dari mana suara itu berasal? Di mana sumbernya, dan sejauh apa sumbernya? Dia tidak yakin seberapa luas Dusk Realm ini, tapi pastilah alam ini tidak kecil. Apakah suara itu menggema sampai ke setiap penjuru dunia ini?

Haruhiro melihat suara tersebut. Mengakibatkan dunia terguncang dan terdistorsi. Distorsi yang terlihat mata.

Haruhiro mencengkeram dadanya. Jantungnya berdegup kencang seakan mau lepas. Akhirnya suara itu berlalu beberapa saat kemudian. Namun, dadanya masih gemetaran. Getaran ini bukan denyut nadi. Atau, apakah dia mengalami mati rasa? Rasanya seperti itu.

Dia melihat ke sekeliling. Ada yang tidak beres. Harusnya semua orang juga mendengar suara itu. Shihoru sedang meringkuk di tanah sembari memeluk kepalanya sendiri.

“Apakah kau baik-baik saja?” Mary membantu Shihoru kembali berdiri.

Shihoru mengangguk, tapi tampaknya dia masih tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Air matanya pun mulai menetes.

“Menurutmu……itu………tadi……..apa?” Haruhiro mencoba bertanya pada Shinohara, tapi sepertinya Shinohara pun tak tahu suara macam apa yang barusan bergema itu.

Dan benar saja, Shinohara hanya menggeleng. Tak seperti biasa, kini tatapan matanya tampak begitu tajam. “Entahlah ... tapi aku ragu itu pertanda baik.”

“Begitukah?” Tokimune menghela napas dalam-dalam, kemudian memamerkan gigi putihnya sekilas. "Tapi, ini membuatku semakin bersemangat.”

Ah ... Ujung-ujungnya gak enak nih, pikir Haruhiro. Dari pengalaman, aku tahu bahwa ketika Tokimune mengatakan itu, ujung-ujungnya pasti gak enak. Ini adalah yang terburuk. Aku tak tahan lagi. Bagaimana bisa semuanya berakhir seperti ini? Salah siapa ini? Apa-apa’an ini? Tolong hentikan. Sial. Sial. Sial.

Haruhiro melepaskan semua keluh kesah yang sudah memuncak. Namun sayangnya, dia hanya bisa melakukan itu di dalam batinnya saja.

Aku ingin lari. Tapi aku tidak bisa.

Aku sudah siap untuk menghadapi ini… tapi aku tak yakin bisa bertahan. Itu tidak mungkin. Tapi aku harus menguatkan diri. Tidak peduli apapun yang terjadi, yang bisa kulakukan hanyalah menghadapinya. Hanya itu?

Apa sih yang sedang terjadi di sini?

Aku tidak tahu.

Mana bisa aku mengetahuinya.

Iron Knuckle dan Berserkers telah mengumpulkan masing-masing kelompok untuk membicarakan serangan ini. Orion melakukan hal yang sama. Beberapa Party independen yang tak terafiliasi oleh Klan mana pun juga sudah saling berkumpul untuk rapat. Entah kenapa, Party Haruhiro dan para Tokkis tiba-tiba bergabung dengan Klan Orion, padahal mereka tak pernah merencanakannya.

Mereka membahas berbagai hal.

Di manakah Party-nya Soma? Dimana Akira-san dan kelompoknya? Suara apa yang barusan menggema itu? Apa yang harus kita lakukan? Apa yang bisa kita lakukan untuk saat ini? Kita harus pulang. Meskipun kita harus kembali ke rumah, masalahnya adalah, jalan satu-satunya untuk pulang telah diblokir oleh monster itu. Nah, kalau begini, apa yang bisa kita lakukan? Kita harus keluar dari sini. Mengapa kita harus pindah dari pemukiman? Apapun yang harus kita lakukan, kita perlu memutuskannya secara umum. Akan lebih baik jika kita tidak berpencar. Akan lebih baik kalau kita tetap bersama-sama. Ah tidak, sepertinya lebih baik kita berpencar saja deh, dan fokus pada kelompok masing-masing? Kalau kita berkumpul bersama-sama seperti ini, bukankah ada kemungkinan kita terbantai bersama? Terbantai? Apa maksudmu dengan terbantai? Kita tak tahu apa-apa, kan? Ah, mungkin saja tidak akan terjadi apa-apa. Dimana Soma dan Party-nya? Bukankah rencananya kita harus berkumpul di bukit awal? Sekarang kita tidak bisa melakukannya; itu sebabnya Orion datang ke pemukiman. Mungkin ini juga terjadi pada yang lainnya. Jadi, di manakah Soma dan kelompoknya? Di manakah Akira-san dan kelompoknya? Apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana caraku keluar dari semua ini?

Dia terjebak dalam lingkaran keputusasaan. Mereka tidak bisa menemukan jawaban. Iron Knuckle dan Berserker juga tidak bergerak.

Akhirnya, Shinohara dan Kimura bergabung ke dalam diskusi itu. Sepertinya, keputusan Orion berada di tangan mereka berdua.

Pasukan relawan yang tersebar di sekitar juga saling membicarakan ini dan itu. Sungguh berisik. Terasa aura kegelisahan yang pekat di udara.

Haruhiro harus mengatakan sesuatu. Dia harus berbicara dengan rekan-rekannya. Karena Haruhiro adalah pemimpin. Dia harus memutuskan sesuatu. Itulah yang dia rasakan, tapi ia tidak bisa berpikir jernih.

Bahkan dia tidak bisa memikirkan suatu hal pun.

Ini gawat. Dia tidak bisa terus begini. Jujur, tidak banyak hal yang Haruhiro ketahui. Dia bahkan tidak berani menatap mata rekan-rekannya, yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah menundukkan kepala.

Gawat. Ini sungguh gawat. Ini benar-benar gawat. Dia merasa sakit. Nafasku sesak. Rasanya sungguh menyakitkan. Sudahkah aku bersiap untuk menerima kemungkinan terburuk? Betapa menyedihkan. Ya itu benar. Aku orang yang sangat menyedihkan. Aku tahu itu. Aku tidak dapat memutuskan apapun, meskipun aku begitu ingin melakukannya. Maksudku, ini bukanlah diriku yang sebenarnya.

“Dengar,” kata Kuzaku. “Aku akan terus mengikutimu. Tidak peduli apapun yang akan terjadi, aku akan selalu mengikutimu, Haruhiro. Setidaknya, aku ingin mengatakan itu.”

“A-aky juga,” Shihoru mengangkat tangannya sedikit. “Haruhiro-kun, kau sudah berkali-kali menyelamatkanku. Aku juga ingin mengatakan itu ...”

“Memang begitulah Haru-kun, lho,” kata Yume dengan tawa.

“Aku yakin padamu,” Mary tersenyum. “Jika kau tidak di sini, Haru, sesuatu yang mengerikan pasti sudah terjadi. Maksudku, sesuatu yang mengerikan dalam berbagai hal. Berkat dirimu lah aku masih ada di sini.”

Suara-suara temannya bergaung dalam telinga Haruhiro.

Kalimat-kalimat itu memiliki banyak makna baginya.

Terutama, perkataan Mary.

Jadi begitu, ya?

Mungkin kalimat ini tidak tepat, namun dia benar-benar merasakan ada suatu hal berharga yang diambil dari dirinya.

Kalau saja ia menyadarinya lebih cepat. Bahwa dia benar-benar mencintai Mary.

Ah, meskipun dia menyadarinya lebih awal, toh dia hanyalah seorang Haruhiro. Tentunya orang macam dia tidak akan pernah bisa melakukan apapun. Dengan kata lain, semuanya sama saja, tak peduli apakah dia menyadarinya lebih awal, ataukah terlambat.

Ya. Sama saja. Semuanya berakhir seperti ini karena memang inilah yang harus terjadi.

“Heh.” Ranta mendengus dengan eskpresi mengejek di wajahnya. “Kalian sangat cengeng. Apakah kalian memang ingin mati? Kalian semua memang bodoh, sungguh-sungguh bodoh.”

Memang begitulah Ranta. Kalau dia tidak bertingkah layaknya Ranta yang biasanya, itu malah akan membingungkan Haruhiro.

Haruhiro mengayun-ayunkan bahunya untuk melakukan peregangan. Setidaknya itu bisa sedikit mengurangi ketegangannya. Dia tidak akan bisa berpikir jernih kalau otot-otot di tubuhnya menegang,

“Tidak akan ada seorang pun yang mati, bung.” mungkin mata Haruhiro terlihat sangat mengantuk sekarang. Tentu saja, itu bukan karena dia lelah. “Atau setidaknya, aku tidak akan membiarkan siapapun mati.”

Saat ia mengatakan itu, ia mulai berpikir hal-hal seperti, Yah, itulah harapannya, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk mencegah terjadinya kemungkinan terburuk, itulah yang kukatakan. Aku memang tidak pernah tahu berapakah kemungkinan kami bisa selamat dari ini semua…. Tapi……….

Inilah Haruhiro. Dia tidak bisa merubah karakternya secara tiba-tiba. Namun, setidaknya dia bisa berpura-pura merubah sifatnya.

“Ducky, kita akan ikut!” “One-on-One” Max memimpin pergerakan Iron Knuckle. Sepertinya mereka akan menuju bukit awal.

"Lakukan apa yang kamu inginkan! Berserkers akan tinggal di sini untuk bersiap-siaga!” ‘Red Devil’ Ducky membalasnya juga dengan teriakan. Sepertinya para Berserkers akan tetap tinggal di pemukiman.

Max dan Ducky punya perawakan yang berbeda, tapi tipe mereka sama. Karena mereka adalah pemimpin, atau lebih tepatnya bos. Iron Knuckle dan Berserkers pun memiliki aura yang sama. Mereka sangat agresif dan mencolok.

Iron Knuckle suka menggunakan warna biru dan hitam sebagai identitas, sedangkan Berserkers biasa menggunakan warna merah, dan masing-masing anggota menampilkan warna-warna itu pada peralatannya. Sepertinya mereka juga punya simbol Klan. Iron Knuckle bersimbol kepalan tangan, sementara Berserkers menggunakan tengkorak dengan pedang salib dan kapak. Namun, meskipun mereka sama, Iron Knuckle terkesan lebih slengek’an dan nakal, mereka memiliki semangat jiwa muda. Sedangkan Berserkers terkesan lebih bermartabat, namun licik.

Iron Knuckle akan menyerang, sedangkan Berserkers bertahan. Shinohara dan Kimura masih berdiskusi. Lalu apa yang akan Tokkis lakukan? Haruhiro melihat Tokimune untuk memprediksi keputusan apa yang akan dia ambil.

Hah? Apakah ada yang aneh? pikirnya tiba-tiba. Maksudku….suara ini….suara ini.

Haruhiro melihat ke timur. Kemudian, ke selatan.

Dia datang. Semakin dekat. Raksasa putih. Langkah kaki, hah. Betul. Gemuruh ini ... Ini adalah suara langkah kaki raksasa putih. Tidak, tapi ini ... Tapi tunggu dulu? Raksasa putih, jumlah mereka...

Ini bukan hanya satu atau dua ekor saja, kan? Berapa banyak? Aku tidak tahu. Mungkin mereka masih jauh?

Mereka datang dari sana, dan dari sana juga?

Aku tidak bisa menghitungnya dengan benar. Mereka terlalu banyak. Aku tidak punya waktu untuk duduk di sini dan menghitung.

“A-Ada segerombolan raksasa putih!” suara Haruhiro terdengar seperti sesuatu yang retak.

“Whoa ...” bahkan Tokimune terkejut. “Mereka datang dari seluruh penjuru, ya.”

Tada tertawa, sambil mengayun-ayunkan palunya. “Begini dong….!!”

“Heh ...” Inui membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. “Angin kehancuran, berhembus dan tebas siapa pun juga!”

“Perkataanmu itu terdengar seperti pertanda buruk, yeah?!” kata Anna-san sambil memukul Inui.

“A-a-aku akan jaga-men Anna-san dengan segenap waku-ji!” Kikkawa mengacungkan jempolnya pada dirinya sendiri.

“Jaga-men ... Waku-ji?” Haruhiro bergumam pada dirinya sendiri. Mungkin itu adalah bentuk beberapa kosakata khusus Kikkawa yang dibolak-balik, namun dia bahkan tidak bisa menerka maknanya, dan dia tidak punya waktu untuk melakukan itu.

“Kwahh,” Mimorin mengeluarkan suara aneh saat ia menarik pedangnya.

“Sepertinya tidak ada pilihan selain bertarung, sialan.” Ranta menurunkan penutup mata pada helmnya.

“Tetapi meskipun kita akan bertarung ...” Kuzaku menyesuaikan helm dan menyiapkan perisainya. “... kita bisa melakukannya, kan?”

Yume, Shihoru, dan Mary hanya diam. Ekspresi mereka kaku dan muram.

Bahkan Yume hanya bisa meringis.

Jujur saja, Haruhiro ingin melarikan diri. Tapi pertanyaannya adalah, mau lari ke mana? Ya, saat ini tidak ada jalan keluar. Karena dewa raksasa berada di bukit awal.

Apakah suara luar biasa tadi dibuat oleh sang dewa raksasa? itulah yang dia pikirkan. Kemudian keadaan berubah menjadi seperti ini? Mereka bilang dewa akan tetap tenang, tapi sepertinya kami lah yang membuat sang dewa marah?

Tidak masalah. Bukan itulah yang harus dia pikirkan saat ini.

“Hei, Shinohara!” teriak Ducky, sambil melambai kepada mereka. “Saat ini, bantulah kami melawan mereka! Jangan berpencar!”

“Kalau begi, kita panggil kembali Iron Knuckle juga.” Shinohara mengangguk. “Ini adalah saat dimana kita perlu bekerja sama, dan mengesampingkan semua perbedaan! Orion akan melakukan apa yang selalu kami lakukan!”

“Dengar, jangan pernah takut atau melarikan diri dari musuh!” Ducky meraung. “Jika kau kabur, maka kau pantas mati! Lebih baik kau mati dengan melawan musuh!”

“Mengapa si rambut merah itu mengatakan sesuatu yang sudah jelas?” Tada tertawa mengejek.

Apakah pria ini tidak punya rasa takut?

Haruhiro takut. Dia bisa merasakan lutut dan bagian bawah perutnya gemetaran.

Iron Knuckle berbalik dan kembali, dipimpin oleh Max.

“Mereka di sini, mereka di sini, mereka ada di sini!” Tokimune memukul perisai dengan pedangnya.

Oh, aku tidak ingin melihatnya- tapi Haruhiro harus melihat. Raksasa putih. Mereka masih berada jauh di selatan. Sedangkan raksasa putih di sebelah timur cukup dekat. Dari apa yang aku lihat, ada sekitar sepuluh ekor, mungkin? Mungkin juga ada lebih banyak di balik mereka.

Masing-masing raksasa putih tidaklah sama, secara kasar mereka bisa dikategorikan menjadi 3 kelompok. Yaitu raksasa yang setinggi 4 meter’an, 6 meter’an, dan 8 meter’an. Tidak banyak raksasa yang setinggi 8 m, dan Haruhiro tak pernah melihatnya sebelumnya.

Dalam kawanan raksasa putih yang sedang menyerbu ke arah mereka, tampaknya ada 2 ekor yang setinggi 8 m, seekor yang setinggi 6 m, dan sisanya setinggi 4 m.

Haruhiro tidak bisa berpikir dengan jernih pada saat seperti ini. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan sekarang adalah berlagak seperti pemimpin yang gagah berani. Entah bagaimana caranya, dia harus memerankan sosok pemberani.

Shihoru. Yume. Ranta. Mary. Kuzaku. Dia melihat masing-masing wajah rekannya. Aku punya teman-teman, dan aku tidak ingin salah satu dari mereka mati. Itu sebabnya kita harus menghadapi ini bersama-sama.

“Jika kau mengantuk, pergi tidur sana,” Ranta tertawa.

“Berapa kali aku harus memberitahumu? Aku terlahir dengan mata seperti ini.” Haruhiro menepuk dadanya dengan satu kepalan tangan. "-Baiklah. Mari kita tuntaskan pekerjaan ini. Kemudian tidur pulas setelah semuanya selesai."

Menyeberangi Batas.[edit]

Aku tahu. Pikir Haruhiro. Aku seharusnya membuat kata-kata yang lebih bagus, kata-kata yang penuh dengan energi.

Haruhiro tentu akan dengan senang hati melakukannya, tapi tak satupun hal seperti itu terlintas di pikirannya, jadi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Lagipula, kali ini, hal iti tidaklah perlu.

"O, o, o, o, o, o, o, o, o, o, o, o, o....!"

"Apa yang kau lakukan!?" Haruhiro menarik tangan Ranta yang hanya diam di sana dan mulai berlari. Sambil berlari, dia berteriak, "Menyingkir! Jangan berdiri tepat di depan anjing-anjing itu, menyingkir!"

Bahkan tanpa desakan Haruhiro pun, Kuzaku, Yume, Shihoru, dan Mary semuanya sudah lari. Dan bukan hanya Haruhiro dan party-nya. Para pasukan relawan lain juga sudah pergi ke kiri, kanan, dan belakang, tersebar ke segala arah.

Ducky bilang agar mereka tidak berbalik, tapi itu bukanlah suatu pilihan. Ada raksasa putih setinggi empat meter yang mengejar mereka. Jika mereka terkena hantaman raksasa itu, mereka pasti akan terluka. Baik itu karena terinjak ataupun terlempar. Kalau mereka mencoba menghadapinya langsung, seperti yang tadi Ranta lakukan, itu malah akan lebih buruk. Ketika mereka sedang sibuk menyiapkan diri, para raksasa itu putih akan semakin mendekat, dan ketika mereka masih sibuk berpikir, Oh, sial sial, apa yang harus kulakukan? dan panik, mereka akan terinjak sampai mati.

Tapi meskipun mereka terus berlari....

"Ha-Ha-Haruhiro!" Teriak Ranta. "Me-mereka datang! Salah satu dari mereka menuju ke sini!"

"Yeah, aku sudah tahu!"

Salah satu raksasa putih itu mengejar Haruhiro dan Ranta. Haruhiro melepaskan lengan Ranta dan mempercepat larinya. Tapi di depan sana ada raksasa putih lain. Di mana yang lainnya? Dia tidak punya waktu untuk melihatnya.

Ada satu raksasa putih di belakangku. Satunya lagi ada di depan. Apa aku harus pergi ke kiri? Atau kanan?

Gawat. Aku tidak bisa pergi ke kanan ataupun kiri. Hanya intuisiku sih... tidak, itu sudah pasti.

"Maju dan lewati dia!" Teriaknya.

"Huh? Serius ini?" Balas Ranta.

"Serius!" Haruhiro berlari menuju raksasa putih yang ada di depannya.

Tangan. Tangannya akan datang lebih dulu. Kedua tangannya akan mencoba mencengkeramku. Mereka tidak begitu cepat.... benar, kan? Pergi ke sisi kanan. Lewati tangan kiri raksasa putih dari sisi luar. Ayo. Aku harus melakukannya. Ayo. Aku bisa melakukannya. Hindari!

".....Yuh!"

Memutar tubuhnya ke samping, Haruhiro berhasil melewati tangan kiri raksasa putih dengan nyaris. Tapi apa-apaan 'Yuh' tadi? Haruhiro sendiri tidak tahu.

"Ranta!?" Teriaknya.

"Yeah!"

Ranta entah bagaimana bisa melewati tangan kanan si raksasa dan berhasil menyelinap ke belakangnya. Ini bukan sesuatu yang mereka lakukan dengan sengaja, tapi mereka bisa mendengar dua raksasa putih itu saling bertabrakan satu sama lain di belakang.

"Ha! Rasakan itu!" Teriak Ranta.

Haruhiro tidak bisa sesenang Ranta. Apapun itu, dia sebenarnya ingin menyingkirkan rasa frustasinya.

"Aw, sial! Mereka, juga!?" Pekik Haruhiro.

Tentu saja, yang dia lihat di awal tadi belumlah semuanya. Masih ada raksasa putih lain yang datang. Dan itu bukan hanya raksasa putih saja. Sesuatu berbaur dengan para raksasa putih itu... atau lebih tepatnya, raksasa putih lah yang berbaur dengan mereka. Bagaimanapun juga, jelas-jelas jumlah mereka lebih banyak.

Tidak, jika dia tidak bilang kalau jumlah mereka jauh lebih banyak, maka itu adalah sebuah kebohongan. Ya ampun, bukankah para cultist bermata satu dan memakai poncho putih ini sedang menyerbu ke arah mereka?

Haruhiro ingin berkumpul kembali dengan teman-temannya. Tapi pertama-tama, dia ingin memeriksa apakah mereka baik-baik saja. Dia memeriksa, dan....

Bagaimana? Dia ingin berteriak.

"Ranta, jangan sampai terpisah!"

"Hey, heeeeey!" Ranta berteriak balik. "Kau tahu, ini sangat konyol!"

Ranta bahkan tidak mendengar ucapan Haruhiro. Perhatian Ranta sepenuhnya terfokus pada para cultist. Yah, sulit untuk menyalahkannya. Bagaimanapun juga, sekumpulan cultist normal sedang menuju ke arah mereka dengan tombak terangkat.

Apa yang harus kami lakukan? pikir Haruhiro dengan panik.

Tak ada waktu untuk berpikir. Waktu mereka sangatlah terbatas. Jika mereka berhenti, semuanya akan berakhir. Mereka harus menekan ke depan. Ke arah mana? Ke mana mereka harus pergi?

Haruhiro mendengar suara. Suara orang. Suara. Keberadaan. Napas. Napasnya sendiri. Di depan mereka, ada 10 atau lebih cultist normal, Pansuke. Ada juga dua Tori-san, cultist elit yang memegang Pedang Petir Lumba-Lumba dan Perisai Cermin, mungkin tiga? Ada lebih banyak lagi cultist selain mereka, tapi hanya mereka lah yang harus Haruhiro perhatikan. Ada juga seekor raksasa putih, kelas empat meter.

Di belakang mereka terdapat sisa para raksasa putih. Dua raksasa yang tadi bertabrakan kini telah bangkit kembali. Ada pula sejumlah raksasa putih yang berhenti... atau dipaksa berhenti? Apa mereka sedang bertarung? Apa ada pasukan relawan yang bertarung dengan para raksasa putih itu?

Ya. Ada. Di sana.

"Ikut aku, Ranta!" Teriak Haruhiro.

"Nwah!?"

Bahkan saat dia berlari, Haruhiro tidak pernah berhenti mengawasi. Ranta terus mengikutinya.

Itu para Berserkers. Pikirnya. Tak bisa dipercaya. Bahkan di situasi seperti ini, mereka sudah menumbangkan seekor raksasa putih. Tidak, tidak hanya satu. Bahkan dua.

Ducky dan para Berserkers kini sedang melawan raksasa yang ketiga. Mereka menggunakan suatu alat untuk melawan mereka. Itu adalah tali. Dengan pemberat di ujungnya, mungkin.

Mereka melempar tali-tali itu. Mengikatnya di sekitar leher si raksasa. Kemudian, mereka menariknya bersama-sama dan menjatuhkan si raksasa ke tanah. Menjelaskannya memang mudah, tapi melempar tali itu dan mengarahkannya ke tempat yang kau mau itu sangat sulit. Menumbangkan satu raksasa saja sudah butuh kekuatan yang besar. Timing mereka juga harus sinkron.

Terlepas dari nama klan mereka yang akan membuatmu berpikir kalau Berserkers akan menyerang tanpa rasa takut akan adanya serangan balasan, mereka nyatanya bertarung dengan kecerdikan dan teknik.

Di samping para Berserkers dengan 3 party dan 17 orangnya yang bergerak sebagai satu kelompok, Haruhiro menemukan Yume. Entah apakah dia takjub melihat Berserkers atau sedang melamun, dia hanya diam berdiri di sana.

Bahkan saat dia berlari menuju ke arah Yume, Haruhiro terus mengawasi sekitar. Rupanya tidak hanya Berserkers yang melawan balik. Di jarak yang sedikit jauh dari mereka, terdapat sekumpulan pasukan relawan yang mengepung seekor raksasa putih kelas 8 meter. Di sana ada seseorang yang tak kenal rasa takut dan sembrono sedang mendaki pundak raksasa itu dan menghantam wajahnya.

Max. Itu adalah 'One-on-One' Max.

Max memang memiliki tubuh yang pendek, tapi dia membawa sebuah pedang tebal di masing-masing tangannya, dia menebas, atau lebih tepatnya menghantam si raksasa putih dengan pedang tersebut. Dia menghujani makhluk itu dengan hantaman pedangnya.

Iron Knuckle sedang berusaha menumbangkan seekor raksasa kelas 8 meter.

Dia juga melihat mantel putih milik Orion. Mereka berpencar menjadi beberapa party. Kelihatannya mereka tidak aktif melancarkan serangan. Tapi mereka juga tidak lari kebingungan.

Tokkis.

Tokimune berdiri tepat di depan seekor raksasa putih, dengan Tada yang menyerangnya dari samping.

Kikkawa dan Mimorin juga ada di sana. Begitupun Inui dan Anna-san.

Mary ada di samping Anna-san. Pikir Haruhiro. Kuzaku juga ada di sana. Kita urus Yume duluan.

"Gadis itu!" Sepertinya Ranta menyadari keberadaan Yume. "Hey, Yume! Jangan hanya berdiri saja!"

Yume menoleh ke arah mereka. ".... Wha?"

"Sini!" Haruhiro memanggilnya.

Yume pun mengangguk dan mulai berlari ke arah mereka. Para cultist akan segera tiba, dan tempat ini mungkin akan jadi sangat kacau.

"Mary! Kuzaku!" Haruhiro berteriak.

Haruhiro berbalik dan berlari menuju ke arah Tokkis. Para cultist telah tiba.

Kuzaku dan Mary menyadari Haruhiro dan yang lainnya.

"Di mana Shihoru?" Teriaknya.

"Maafkan aku!" Mary mengernyitkan dahinya sambil menggelengkan kepala.

"Kita tidak punya waktu!" Teriak Ranta.

"Dia adalah prioritas utama kita!" Haruhiro berteriak balik.

Sembari berpikir, Haruhiro mengawasi keadaan. Dia mengamati area sekitar sambil berusaha membuat keputusan. Melihat sekeliling, Haruhiro menentukan strateginya.

Yah, kalau harus kubilang, kami akan jadi parasit. Aku merasa tidak enak, tapi kami akan bertindak seperti parasit pada para petarung yang lebih kuat ketika mencari Shihoru. Anehnya, kok aku bisa tenang gini, ya? Mungkin aku hanya tidak punya ruang untuk panik?

"Shihoru menghilang!" Teriaknya. "Anna-san, berhati-hatilah!"

Usai mengatakan hal tersebut pada Tokkis, Haruhiro berganti tujuan dan menuju ke arah Iron Knuckle. Rekan-rekannya ada di belakangnya. Ranta, Yume, Mary, dengan Kuzaku menjaga sisi belakang.

Shihoru. Pikirnya. Di mana dia? Shihoru. Di mana kau?

Sejenak, Haruhiro takut dengan adanya kemungkinan terburuk. Tapi dia langsung melupakan pemikiran tersebut. Para cultist telah bergabung ke dalam pertarungan antara pasukan relawan dan raksasa putih. Hal itu akan semakin mempersulit mereka mencari Shihoru.

Meski aku tidak bisa menemukan apapun, aku akan terus mencari. Aku akan mencari. Mencari. Mencarinya. Mencari Shihoru.

"Kenapa, kau....!! Aku akan melawannya!" Ranta hendak menyerang seekor Pansuke terdekat.

"Tidak boleh!" Haruhiro menghentikan Ranta, tapi dia tidak berhenti bergerak.

"Aku bisa menangani makhluk ini sendiri!" Teriak Max sambil berpegang pada wajah si raksasa putih kelas 8 meter, ia menusukkan pedangnya ke dalam mata makhluk tersebut. "Bantai para cultist, wahai saudara-saudaraku!"

Dia bisa mengatasi makhluk itu sendiri? Apa sih yang dia bicarakan? Tapi orang-orang Iron Knuckle itu menuruti apa yang dia katakan. Serius ini?

Semua anggota Iron Knuckle terkecuali Max meninggalkan si raksasa putih kelas 8 meter dan mulai menyerang para cultist.

Ada seorang pria yang sangat mencolok. Dia tidak memiliki banyak perlengkapan, tanpa helm, dan memiliki jenggot pendek. Dia adalah tangan kanan Max, Aidan. Dia membawa sebuah tombak. Sangat tidak biasa bagi seorang pasukan relawan. Dia menjatuhkan seekor cultist dengan tongkat di tombaknya dan menusuk mata si cultist dengan ujung tajamnya. Selain itu, dia juga menggunakan berbagai jenis tendangan untuk menjatuhkan para cultist. Dia tidak terlihat seperti seorang prajurit dan justru terlihat seperti seorang ahli seni bela diri. Ketiadaan armornya mungkin adalah tanda dari kepercayaan dirinya. Hal itu tidak terlihat salah tempat. Bahkan seekor Tori-san dengan pedang dan perisai siap siaga pun, tumbang oleh tendangan terbang dan sebuah tusukan dari tombak Aidan. Dia benar-benar luar biasa.

Para anggota yang lain juga ikut andil menumbangkan para cultist. Iron Knuckle telah menghancurkan dua markas cultist. Mereka tahu musuh mereka. Sepertinya mereka berpikir kalau para cultist saja tidak akan bisa mengalahkan mereka. Mereka terlihat seperti tidak akan kalah.

Haruhiro benar-benar bertingkah seperti parasit. Dia bergabung dengan Iron Knuckle, melihat sekitar sambil berhati-hati agar tidak menghalangi mereka. Dia mencari Shihoru.

"Shihoruuuu!!" Ratap Yume.

Para cultist dan raksasa putih terus berdatangan. Apa mereka berasal dari seluruh Dusk Realm?

Bukankah berdiam di sini dan bertarung adalah sebuah kesalahan? Sekarang mereka memang masih bisa mengatasinya, tapi pada akhirnya para pasukan relawan pasti akan kehabisan tenaga. Ketika hal itu terjadi, maka itu adalah skakmat. Semuanya akan tamat.

Tapi sang dewa raksasa saat ini berada di bukit awal. Bisakah mereka melewati sang dewa raksasa dan kembali ke sarang Ri-komo... tidak, Sarang Gremlin?

Shihoru. Tapi sebelum itu, dia harus memikirkan Shihoru.

Shihoru.

“Dia pasti ada di sini!” Teriak Mary.

Itu benar. Dia ada di sini. Dia harusnya ada di sini. Dia ada di suatu tempat. Haruhiro hanya tidak biusa melihatnya.

Dia tidak bisa melihatnya/

Dia berada di tempat yang tidak bisa kulihat..?

“Lembah!” Haruhiro berteriak.

Dia bisa saja salah, tapi hal itu masih mungkin.

Pemukiman pasukan relawan di Dusk Realm dibangun di sekitar sebuah lembah dengan mata air di dasarnya. Itu bukan lembah yang dalam, juga bukan lembah yang dangkal. Paling tidak, dia tidak bisa melihat dasarnya dari sini. Tidak sama sekali. Jika Shihoru terpisah dari rekan-rekannya, melarikan diri dan mencoba bersembunyi di suatu tempat, bukankah tempat seperti itu yang akan dia pilih?

Dasar dari lembah itu adalah jalan buntu. Di sana belum tentu aman. Jika musuh menemukannya, dia pasti akan langsung berada dalam bahaya. Tapi jika dia tertekan sehingga harus membuat sebuah kebutuhan, dia takkan memikirkan hal tersebut.

Sembari menuju ke arah lembah, Haruhiro terus mengawasi. Melirik ke sana sini, dia mengamati situasi rekan-rekannya sebisa mungkin. Rasanya itulah tugas Haruhiro di sini. Melihat dan menelaah apa yang terjadi memang mengerikan. Bersikap masa bodoh tentu lebih mudah, tapi itu juga menakutkan dengan caranya sendiri.

Akankah dia mati dengan mata tertutup, atau terbuka? Yang manapun itu, kematian sangatlah menakutkan. Akan tetapi, jika matanya terbuka, dia mungkin bisa menemukan suatu cara untuk menghindari kematian yang hendak mendatanginya. Jika matanya tertutup, dia bahkan tidak akan bisa melawan.

Di belakang kelompok mereka, Kuzaku diserang oleh seekor cultist. Itu adalah Pansuke. Hanya satu Pansuke.

Haruhiro langsung menoleh. “Kuzaku, hentikan dia!”

“Oke!”

Kuzaku menangkis tombak Pansuke dengan perisainya, lantas menggunakan THRUST. Dengan pedang panjang Kuzaku yang menusuk dadanya, meski tidak berhasil menembusnya berkat poncho-nya, si Pansuke terhuyung-huyung. Di sini, Haruhiro sudah berlari ke samping Pansuke.

Tiba-tiba berhenti, Haruhiro langsung bergerak ke belakang Pansuke. Dia memeganginya, dan menusukkan belatinya ke mata Pansuke dengan pegangan backhand. Dia mengoyaknya dan langsung kembali menuju lembah.

“Dasar berengsek!” Teriak Ranta.

Diamlah, Ranta.

“Biarkan aku menganganinya

“Lain kali!” Jawab Haruhiro.

Jika kau bisa menanganinya dengan baik dan cepat, silakan saja. Yah, terserah. Kita sudah sampai. Ini dia lembahnya.

“Itu dia!” Teriak Haruhiro. “Shihoru!”

Shihoru kini sedang meringkuk di tepian mata air. Dia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Haruhiro.

“Ma-maafkan aku! A.... aku tidak bisa menemukan satupun dari kalian, dan aku sangat takut!'

“Yaah, siapa yang bisa menyalahkanmu!” Ranta terkekeh. “Aku akan melupakannya kali ini, jadi biarkan aku meremas payudaramu!”

“Wow....” Kuzaku nampak terkejut.

“Kau memang yang terburuk. Benar-benar rendahan.” Ucap Mary, dan Haruhiro harus menyetujuinya.

“Dasar tolol!” Ranta tertawa terbahak-bahak. “Aku memang rendahan! Karena menjadi yang terendah dari yang terendah lah yang membuatku menjadi yang terburuk! Dasar bodoh!”

Ada masalah dengan kepalanya.

“Shihoru!” Yume bergegas menuruni lembah, seolah sedang berguling.

Haruhiro hendak mengikutinya, tapi kemudian dia berbalik dan melihat sekitar. Untunglah dia melakukannya. “Yume! Bawa Shihoru ke atas sini!”

“Bainya!”

Apa itu tadi maksudnya 'baiklah'? Pokoknya, aku mengandalkanmu. Kami punya sesuatu yang harus kami tangani Musuh. Para cultist berdatangan. Lima Pansuke. Satu Tori-san. Itu jumlah yang cukup banyak. Tapi jika mereka menyusul kami ketika kami berada di bawah lembah, kami pasti akan kesulitan karena mereka berada di posisi yang lebih tinggi. Kami akan melawan mereka di sini.

Sampai Yume dan Shihoru berhasil berkumpul kembali dengan Haruhiro dkk, mereka punya empat orang. Yaitu, Haruhiro, Ranta, Kuzaku, dan Mary.

“Kuzaku, lakukan apa yang kau bisa!” Perintah Haruhiro.

“Aku mengerti!” Aku akan menarik perhatian mereka!”

“Ranta, gunakan serangan cepat!”

“Kau tak perlu memberitahuku!”

“Mary, jangan paksakan dirimu!”

“Aku baik-baik saja!”

“Raaaaahhhhhhhh!” Dengan teriakan yang tidak sesuai dengan sifatnya, Kuzaku meyerbu ke arah para cultist. Para Pansuke mengangkat tombaknya mencoba menyambut serbuan tersebut.

Kuzaku menggunakan perisainya untuk menahan... tidak, tapi menangkis tombak mereka. Dia tidak BLOCK. Itu adalah skill BASH. Ditambah lagi, dia juga membuat ayunan besar dengan pedang dan perisainya.

“Ngaahhh! Raahhhh! Yaaaah!”

Pedang panjang dan perisai Kuzaku hanya menangkis tombak milik para Pansuke ataupun menyerempet poncho mereka. Dia tidak menyebabkan kerusakan apapun. Tapi para Pansuke tidak bisa bergerak maju. Kuzaku berhasil menahan kelima Pansuke tersebut. Tapi tentu saja, dia tidak akan bisa menahannya terlalu lama. Lagipula, ada juga makhluk itu. Menepikan para Pansuke, Tori-san bergerak maju. Tori-san mendorong pedang panjang Kuzaku dengan Perisai Cerminnya, dan langsung menebas Kuzaku dengan Pedang Petir Lumba-Lumba.

"LEAP OUT!" Sebuah suara terdengar.

Itu adalah Ranta. Dia melompat dari samping dengan kecepatan yang luar biasa, menyarangkan sebuah tendangan di Perisai Cermin milik Tori-san. Bahkan saat Tori-san kehilangan keseimbangan, dia masih sempat mengarahkan Pedang Petir Lumba-Lumbanya ke arah Ranta. Ranta mencoba menyerangnya, tapi akan sangat gawat jika dia terkena sabetan senjata itu. Satu goresan saja bisa membuatnya ter-stun. Ranta menarik kembali Betrayer MK II. Sosoknya nampak berkedip dengan menakutkan.

"Meleset!"

Serangan Tori-san nampak menjadi tumpul. Dia sepertinya kagum dengan gerakan misterius Ranta. Ranta dengan mudah berhasil menghindari Pedang Petir Lumba-Lumba dan membuat jarak di antara mereka.

"Ha! Sial! Aku keren sekali!" Ranta tertawa.

"Tidak juga!" Balas Haruhiro.

Haruhiro menyerang dari sisi kanan musuh, membidik tombak milik para Pansuke dengan belati dan sap-nya. Mary juga mengambil posisi di belakang Kuzaku secara diagonal dan sedang menggunakan tongkat pendenknya untuk menahan tombak musuh.

"Dahhhh! Taahhh! Nwaahhh!" Kuzaku mengayunkan perisai dan pedang panjangnya dengan membabi buta saat dia menekan para Pansuke. Para Pansuke mulai kewalahan, tapi Tori-san datang dan menghantam pedang panjang Kuzaku dengan Pedang Petir Lumba-Lumbanya.

"Ngh!" Seluruh tubuh Kuzaku gemetar. Tori-san hendak melancarkan serangan berikutnya. Kuzaku mungkin memiliki armor paling kuat di dalam party, dia juga memakai helm, tapi bahkan dia pun tidak akan bisa lolos tanpa cedera jika dia menerima tusukan telak dari Pedang Petir Lumba-Lumba. Di Dusk Realm di mana sihir cahaya tidak bisa bekerja, sebuah luka fatal bisa menjadi ancaman yang membahayakan nyawa.

"Hah!" Pekik Mary.

Jika Mary tidak mengayunkan tongkat pendeknya secara diagonal dan menghantam Pedang Petir Lumba-Lumba dengan skill KNOCK OFF, situasinya mungkin sudah menjadi sangat gawat.

Mary berteriak "Augh!", dan jatuh ke belakang, merasa tersengat, tapi Tori-san juga hampir menjatuhkan senjatanya. Pada akhirnya, Tori-san tidak benar-benar menjatuhkannya, tapi Kuzaku mampu memanfaatkan kesempatan untuk memilihkan diri.

"Hampir saja!" Kuzaku menangkis tombak para Pansuke dengan pedang dan perisainya. "Perjalananku masih panjang!"

"Kau melakukannya dengan hebat!" Puji Haruhiro.

Haruhiro mencoba bergerak ke belakang para Pansuke. Datanglah padaku. Bagus. Ini bekerja. Kuzaku berhasil mengurangi jumlah Pansuke yang dihadapi Kuzaku. "Ranta, tunjukan pada kami nyalimu!"

"Jangan membuatnya...." Kuzaku kembali menyerbu, mendekat ke salah satu Pansuke, ".... terdengar seolah itu sangat mudah, sialan! Aku tidak mau!"

Si pansuke mengangkat tombaknya. Ranta menangkisnya dengan Betrayer Mk. II dan langsung mundur. Si Pansuke pun terpengaruh oleh gerakan tersebut dan mencoba mengejar Ranta.

"AVOID!" Ranta berteriak.

Ketika musuhnya mencoba untuk merapat, Ranta langsung memberikan sebuah tusukan ke area vitalnya sembari mundur. Skillnya bersarang dengan sempurna. Betrayer Mk. II berhasil menusuk mata si pansuke, makhluk itu pun roboh.

"Tapi aku sih akan melakukannya dengan mudah!" Teriak Ranta. "Maksudku, gue gitu loh!"

"Sombong sekali!" Balas Haruhiro.

Haruhiro melakukan SWAT pada dua tombak Pansuke, SWAT, SWAT, dan SWAT. Ranta telah menumbangkan satu Pansuke, dan kini dia terlihat sedang melawan musuh lainnya. Dengan begini, Kuzaku sekarang hanya perlu menghadapi satu Pansuke dan Tori-san. Tapi Tori-san benar-benar sebuah masalah.

Kuzaku menggunakan BASH untuk menangkis tombak si Pansuke, kemudian dengan cepat mencoba merapatkan jarak di antara mereka, tapi Tori-san mengayunkan Pedang Petir Lumba-Lumbanya. Hal itu memaksa Kuzaku unfuk melompat mundur.

"Akan kuhadapi salah satu dari mereka!" Teriak Mary.

Setelah pulih dari efek mati rasa yang diakibatkan Pedang Petir Lumba-Lumba, Mary pun mencoba membuat si Pansuke menghadapinya. Akan tetapi, bahkan dalam pertarungan satu lawan satu pun, Tori-san adalah musuh yang sangat kuat. Pedang Petir Lumba-Lumbanya terlalu berbahaya. Yang bisa Kuzaku lakukan adalah menjaga jarak di antara mereka dan lari.

"Sialan! Sungguh menyedihkan!" Pekik Kuzaku.

"Jangan tergesa-gesa!" Teriak Haruhiro sambil menggunakan SWAT pada tombak yang terus datang ke arahnya. Dia mengatakan hal tersebut pada Kuzaku, sekaligus pada dirinya sendiri.

Yeah, aku tidak boleh terburu-buru. Lihat. Lihat baik-baik. Apa ada bala bantuan musuh? Sekarang belum ada. Tapi tidak akan aneh jika mereka datang kapan saja. Kalau hal itu terjadi, aku tidak bisa hanya mulai panik seperti, 'Oh sial, sial, kami berada dalam masalah serius!'

Kuzaku sepenuhnya fokus untuk menghindari Pedang Petir Lumba-Lumba. Mary lebih memilih bermain aman dan fokus pada pertahanan, sementara itu, Ranta tidak bisa mendaratkan serangan penentuan. Apa dia sedang menunggu kesempatan untuk melakukannya dalam sekali pukul? Haruhiro hanya melakukan Swat. Mereka tidak melakukan apapun selain bertahan, dan pada akhirnya mereka mungkin akan kalah jika harus terus seperti ini, tapi ini tidak akan bertahan lama.

Lihat?

Anak panah meluncur. Panah tersebut akan mengenai sasarannya. Panah itu akan mengenai tepat di wajah Tori-san. Tidak, Tori-san melompat ke samping untuk menghindarinya.

Haruhiro melirik ke belakang. Yume. Dia keluar dari lembah. Dia sudah menyiapkan panah keduanya. Dia menembak. Dan di saat yang sama....

"Ohm, rel, ect, nemun, darsh!"

Tepat di belakang Yume, Shihoru merapal mantra dan menggambar segel sihir elemental dengan tongkatnya.

Tembakan kedua Yume juga meleset. Tori-san menghindarinya. Namun, ketika Tori-san menghindari panah tersebut, sebuah elemental bayangan menempel di tanah tempat dia akan berpijak.

SHADOW BOND.

Kaki Tori-san terperangkap oleh elemental bayangan tersebut, dan dia tidak bisa bergerak. Tori-san benar-benar bingung. Di situlah Kuzaku datang untuk menghabisinya.

"Raaaaahhhh!"

PUNISHMENT. Pada dasarnya skill itu sama seperti keahlian khusus Mogzo, skill seorang warrior, RAGE BLOW alias “Makasih”. Dia mengayunkan pedangnya secara diagonal dengan sekuat tenaga.

Namun, untuk versi paladin, saat dia mengayunkan pedangnya, Kuzaku juga akan melindungi dirinya dengan perisai.

Seperti biasa.

Kuzaku mengayunkan pedangnya dengan begitu kuat sehingga nampak seolah dia akan menjatuhkan perisainya, meskipun, dia tidak benar-benar menjatuhkannya. Dia menghantamkan pedang panjangnya ke Pedang Petir Lumba-Lumba milik Tori-san dengan sekuat tenaga. Tentu saja, ketika dia menyentuh senjata itu, dia akan tersengat.

"Ah!"

Tubuh Kuzaku mengejang, dan berakhir terduduk. Dia pasti sudah tahu kalau hal ini akan terjadi. Meski begitu, dia tetap mengambil resiko ini.

Rencana Kuzaku adalah menjatuhkan senjata dari tangan Tori-san. Dan itu berhasil.

Tori-san berjongkok dan berusaha meraih senjatanya yang terjatuh. Namun dia tidak bisa menggapainya, berkat SHADOW BOND.

Meski begitu, Tori-san terus berusaha meregangkan tubuhnya untuk meraih Pedang Petir Lumba-Lumba. Dia pasti akan berhasil jika tidak ada orang yang menganggu. Dia pasti akan berhasil jika Mary tidak memukul pegangan pedang itu dengan tongkat pendeknya dan menjauhkannya.

"Kau memang yang terbaik!" Kuzaku bangkit berdiri dan mengangkat pedang panjangnya ke atas kepala. Tori-san mencoba menutupi kepalanya dengan Perisai Cermin. Namun, Kuzaku tidak mengayunkan pedangnya ke bawah. Itu adalah tipuan.

"Raahhh!!"

Kuzaku menendang Perisai Cermin dan menghantamkan pedang panjangnya ke kepala Tori-san yang kini tanpa pertahanan. Dan itu tidak hanya sekali. Dua kali, tiga kali, empat kali, dia menghantamkan pedangnya ke kepala Tori-san. Meskipun Kuzaku tidak bisa memotong kepala itu dikarenakan poncho-nya, pukulan itu sudah lebih dari apa yang bisa ditahan Tori-san. Bahkan ketika Tori-san sudah jatuh dan berbaring di tanah, Kuzaku terus memukulnya dua, tiga kali lagi, memastikan kalau dia sudah mati.

“EXHAUST! EXHAUST! EXHAAAUUUST! Gwahahaa!” Sementara itu, Ranta melesar dengan gerakan mundurnya yang menjijikkan untuk mengambil Pedang Petir Lumba-Lumba milik Tori-san. Dengan Betrayer Mk. II di tangan kirinya dan Pedang Petir Lumba-Lumba di tangan kanannya, dia menggunakan kedua pedang.....

Tunggu, mempertimbangkan kekuatan Ranta, Pedang Petir Lumba-Lumba itu seharusnya sangat panjang dan berat. Apa ini tak apa...?

“Ini dia! Ha! Rasakan itu!”

Seperti yang Haruhiro duga, tak peduli seberapa kuat Ranta mencoba mengayunkan Pedang Petir Lumba-Lumba dan Betrayer Mk. II, dia tidak akan bisa mengenai targetnya. Para Pansuke dengan mudah bisa menghindarinya. Dia memang bodoh. Benar-benar bodoh.

“Pilih salah satu saja!” Teriak Haruhiro padanya.

Haruhiro masih sibuk menggunakan SWAT pada kedua tombak yang tertuju ke arahnya. Dia ingin bilang pada Ranta kalau dia tidak memiliki waktu untuk bertingkah bodoh seperti itu.

Maksudku, aku harus melakukan hal itu sambil mengawasi sekitar . Ini sangat sulit. Aku nyaris tidak bisa melakukannya. Habisi musuhmu dan cepat bantu, bung. Yah, sebenarnya tak masalah sih.

“Yah!”

Paling tidak, ada seseorang yang datang.

Itu adalah Yume. Yume menyerbu dengan sangat ganas. Dengan sebuah jungkir balik, dia melepaskan sebuah serangan dengan parangnya. Salah satu dari dua Pansuke yang menyerang Haruhiro terkena serangan tersebut tepat di bahunya, dan meski dia tidak tumbang, kepala Pansuke itu pasti kesakitan.

RAGING TIGER. Itu adalah skill bertarung dengan parang.

“Tau! Tau! Tauuu!” Dengan rangkaian teriakan yang aneh, Yume melakukan combo BRUSH CLEARER-DIAGONAL CROSS,-BRUSH CLEARER dan berhasil memojokkan si Pansuke.

Dia sungguh berani. Keberanian seperti itu biasanya dimiliki oleh seorang tank. Tidak, hanya berbekal armor yang tipis, dia bahkan lebih berani daripada seorang tank. Menakutkan sekali melihatnya seperti itu. Aku harus membantunya.

Di saat yang sama ketika Haruhiro melakukan SWAT pada tombak berikutnya, dia menendang lutut si Pansuke. SHATTER berhasil menghentikan gerakan musuhnya sesaat, yang kemudian dimanfaatkan Haruhiro untuk mendekat dan memukul dagu si Pansuke dengan sap-nya.

Skill HITTER awalnya dimaksudkan agar kau bisa memukul dagu lawan dengan telapak tanganmu setelah melakukan SWAT, tapi Haruhiro belajar menggunakannya seperti yang barusan. Haruhiro sedari tadi hanya bertahan, jadi mungkin itu membuat si Pansuke tidak bisa menyesuaikan diri dengan serangannya yang tiba-tiba. Tentu saja, itu juga bagian dari perhitungan Haruhiro, itulah kenapa dia melakukan serangan balasan penuh sekarang.

Begitu dia dengan telak mendaratkan SWAT, SHATTER, dan HITTER, menyapu kaki lawan dan menjatuhkannya tidaklah sulit. Itulah yang Haruhiro lakukan. Haruhiro kemudian naik ke atas si Pansuke yang terjatuh, menusukkan belatinya ke mata cultist tersebut. Ketika dia memutar dan mencungkil belatinya, tak lama cultist itu berhenti bergerak.

"Haruhiro-kun!" Teriak Shihoru untuk memperingatkannya.

Begitu ia menoleh, empat ekor Pansuke dan seekor Tori-san lain datang menuju ke arah mereka.

Haruhiro menghela napas dalam, lantas menarik belatinya dan berdiri.

Saat ini, Ranta dan Yume masing-masing sedang menghadapi seekor Pansuke. Kuzaku dan Mary juga sibuk menghadapi Pansuke lain. Total ada 5 bala bantuan musuh, dan salah satu dari mereka adalah Tori-san. Saat ini yang bebas bergerak hanyalah Haruhiro dan Shihoru. Shihoru tidak bisa melakukan pertarungan jarak dekat, dan apa yang bisa Haruhiro lakukan paling banyak adalah menangkis dua serangan Pansuke dengan SWAT.

"Ohm, rel, ect, el, krom, darsh!"

Tapi Shihoru masih punya serangan itu. Elemental layaknya sebuah kabut hitam bertiup ke arah bala bantuan musuh. SHADOW MIST. Itu adalah versi lebih tinggi dari SLEEPY SHADOW, yang menyebabkan targetnya menjadi sangat ngantuk.

Normalnya, entah dia menggunakan SHADOW MIST ataupun SLEEPY SHADOW, itu tidak akan bekerja jika sihir itu diarahkan langsung kepada musuh yang mendekat seperti mereka. Itu adalah sihir yang hanya bekerja jika musuh tidak menyadarinya. Namun, Shihoru tahu kalau Sihir Darsh sangat efektif terhadap para cultist.

Ketika elemental bayangan itu menyelimuti mereka, para cultist pun mulai berjatuhan seperti lalat.

Shihoru berhasil menidurkan seluruh Pansuke, tapi si Tori-san hanya sedikit terhuyung-huyung.

Dia bisa menahannya, ya.

Tori-san menendang Pansuke yang terjatuh di atas kakinya. Sepertinya dia mencoba membangunkan mereka.

"Ohm, rel, ect, el, vel, darsh!" Shihoru langsung mempersiapkan SHADOW ECHO. vwong. vwong. vwong. Dengan suara khas tersebut, tiga elemental bayangan yang terlihat seperti bola rumput laut hitam terbang ke arah Tori-san. Akan tetapi, meski bola-bola itu mengenainya, Tori-san mungkin tidak akan tumbang.

Haruhiro kemudian berteriak sambil berlari, "Kuzaku!"

"Baik!"

Kuzaku menyerahkan Pansuke yang dia hadapi pada Mary dan mengejar Haruhiro. Dua dari tiga elemental bayangan mengenai Tori-san dan nampak beberapa sedikit kerusakan, tapi itu jauh dari kata fatal. Selain itu, Pansuke yang barusan ditendang Tori-san kini telah bangun.

Jika musuh datang lagi, kami pasti akan tamat. Itulah yang terlintas di pikiran Haruhiro. Yaah, bukan berarti dia punya waktu untuk khawatir soal itu. Fokus. Aku harus fokus. Fokus. Fokus. Fokus.

Haruhiro mengulangi kata-kata itu pada dirinya sendiri saat ia berlari ke arah si Pansuke dan Tori-san. Alasan dia tidak begitu takut adalah karena dia tidak berniat untuk bertarung. Melawan mereka dengan baik bukanlah apa yang bisa dia lakukan.

Si Pansuke menusukkan tombaknya, Haruhiro pun melompat ke samping kiri, dan kali ini giliran Tori-san yang menyerangnya.

Aku masih berada di luar jangkauan mereka, jadi aku aman, pikirnya. Bahkan jika Tori-san menebasnya dengan Pedang Petir Lumba-Lumba, itu tidak akan biaa mencapai Haruhiro. Mungkin.

"Ayo, ayo, ayo!!" Teriak Haruhiro, bukan untuk memprovokasi lawannya melainkan lebih ke menyemangati dirinnya sendiri saat dia menghindari Pedang Petir Lumba-Lumba milik Tori-san dan tombak si Pansuke.

Tak lama, Kuzaku pun tiba dan menggunakan BASH pada tombak si Pansuke. Ketika dia melakukannya, Haruhiro memprediksi kalau Tori-san akan menyerang Kuzaku. Atau lebih tepatnya, dia berharap hal itu akan terjadi, tapi kenyataannya tidaklah demikian. Ketika Kuzaku menyerang si Pansuke dengan THRUST, Tori-san mulai menendang Pansuke lain yang masih tertidur.

Gawat. Pikir Haruhiro.

Kalau begini, ketiga Pansuke itu pasti akan terbangun. Tapi jika Haruhiro ingin menghentikannya, maka dia harus menyerang Tori-san. Jika dia mencoba melawan Tori-san secara langsung, nyawa lah taruhannya. Apa saat ini adalah waktu yang tepat untuk bertaruh seperti itu?

Saat dia berhenti untuk berpikir, Haruhiro telah melewatkan kesempatannya untuk membuat pilihan. Itu sudah terlambat. Para Pansuke telah terbangun dan mulai bangkit berdiri. Dan karena rekan dan musuh saling bercampur baur di sana, mereka pun tidak bisa mengandalkan sihir Shihoru.

"Zeaaaahhh!!" Kuzaku berhasil menjatuhkan seekor Pansuke, tapi dia tidak bisa menyarangkan serangan pamungkasnya. Itu karena dia diganggu oleh Tori-san. Kuzaku pun tidak punya pilihan selain menghindari Pedang Petir Lumba-Lumba milik Tori-san.

Di mana Ranta? Yume? Mary? Haruhiro mencoba mengamati sekeliling. Aku tidak bisa melihat mereka.

Para Pansuke yang dibangunkan oleh Tori-san kini mulai menyerbu ke arah Haruhiro. Detak jantungnya pun menjadi semakin cepat dan napasnya menjadi tegang. Tekanannya begitu kuat. Dia merasa panik. Meskipun yah, jika dia masih bisa menyadari hal tersebut, itu mungkin tidak terlalu buruk. Bidang pandangannya menjadi sangat sempit.

Tombak-tombak itu. Mereka datang. SWAT. SWAT. SWAT. Tidak, aku tidak bisa. Rasanya aku akan mengacaukannya. Aku tidak sanggup menerima luka-lukanya nanti. Ahh..

Uwaahh...

Haruhiro melompat ke belakang tanpa melakukan satu SWAT pun. Dia tidak bisa melakukan SWAT dengan keadaan mental seperti ini. Dia pasti akan gagal.

Seekor raksasa putih. Itu bukan raksasa kelas 4 meter. Tapi lebih besar dari itu. Ada seekor raksasa kelas 6 meter yang mendekat. Apa yang akan kami lakukan?

Tombak menuju ke arahnya satu demi satu. Bisakah dia menghindar? Dia harus menghindar. Tapi dia tidak bisa melakukannya dengan baik.

Haruhiro pun melemparkan dirinya ke tanah dan berguling.

"Apa yang kau lakukan?" Ranta melompat. Dia menangkis dua tombak bersamaan dengan Pedang Petir Lumba-Lumbanya. Tentu saja dua Pansuke yang memegang tombak itu terjatuh dan tersentak. Ranta kini telah menyarungkan Betrayer Mk. II dan memegang Pedang Petir Lumba-Lumba dengan kedua tangannya.

"Kan sudah kubilang padamu untuk melakukan itu sejak awal!" Teriak Haruhiro.

Haruhiro melakukan SWAT pada tombak Pansuke lain, lantas mengikutinya dengan SHATTER dan SLAP. Belati dan sap adalah senjata dengan jangkauan yang pendek, jadi mengenai tangan musuh dengan mereka sangatlah sulit.

SLAP bukanlah skill yang sering dia gunakan, tapi skill itu bisa tereksekusi dengan baik. Para Pansuke memegang tombak mereka dengan kedua tangan. Ketika Haruhiro memukul salah satu tangan kanan Pansuke dengan sap-nya, si Pansuke itu pun menjatuhkan tombaknya. Tanpa menunggu lama, Haruhiro langsung menggunakan ujung pegangan belatinya untuk memukul dagu si Pansuke dengan HITTER. Begitu kaki si Pansuke tak bisa menjaga keseimbangan dan jatuh, Haruhiro dengan cepat memutarinya, memegangnya erat-erat dan melakukan SPIDER. Belatinya pun menikam mata Pansuke tersebut.

"Diam! Dasar Parupirori tak berguna!" Ranta hendak menghabisi seekor Pansuke yang telah dia hentikan pergerakannya, dia mengangkat Pedang Petir Lumba-Lumba tinggi di atas kepalanya. Di situlah tangannya berhenti. "Tunggu, ada raksasa putih yang datang ke siniiiii!"

"Ranta!" Teriak Haruhiro.

"Ap...!?" Ranta menggunakan EXHAUST untuk melompat melompat ke belakang. Si Pansuke yang sebelumnya dia hentikan pergerakannya pun menusukkan tombaknya.

Kuzaku sedang berlarian menghindari Tori-san dan seekor Pansuke. Mary dan Yume masing-masing sedang menghadapi seekor Pansuke, dan mereka tidak bisa bergerak.

Shihoru menyadari kedatangan raksasa tersebut, dan nampak sedang memikirkan apa yang bisa dia lakukan dengan sihirnya. Tapi sayangnya, mungkin tak ada satupun yang bisa dia lakukan. Jika lawannya adalah seekor raksasa putih berukuran 6 meter, menghentikan pergerakanya dengan sihir Shihoru adalah mustahil.

Para Pansuke yang tadi gagal menusuk Ranta kini mengganti targetnya pada Haruhiro. Sambil melakukan SWAT pada tombak mereka, Haruhiro merasa terkejut dengan bagaimana dia mencoba lari dari kenyataan hanya dengan menggunakan SWAT. Tapi dia tidak bisa memikirkan satu hal pun yang bisa dia lakukan, dia juga merasa tidak bisa berpikir lagi.

Mencoba bertarung adalah hal yang sangat gila. Mereka tak punya kesempatan untuk menang.

Lalu apa? Apa mereka harus berlari? Mereka bisa saja terbunuh saat mereka membelakangi musuh. Yah paling tidak beberapa dari mereka. Mereka terekepung.

Itulah kenapa Haruhiro terus melakukan SWAT, SWAT, dan SWAT.

Apa ini tak masalah?

Mana mungkin. Dia harus membuat keputusan.

Jika mereka bersikeras dan terus melanjutkan pertarungan, mereka semua dijamin pasti akan mati. Jika mereka lari, beberapa dari mereka mungkin akan selamat.

Tentu saja, Haruhiro akan tetap tinggal sampai saat terakhir, berusaha memastikan rekannya bisa kabur sebanyak mungkin. Bagaimanapun dia adalah pemimpin. Dia harus melakukan hal itu.

Yeah, dia mungkin akan mati. Bukan berarti dia ingin mati. Dia tidak bisa melakukan hal yang mengagumkan dan bilang kalau dia sudah siap, tapi dia akan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.

Dia tidak peduli apa yang terjadi pada dirinya. Jika nyawa Haruhiro bisa menyelamatkan rekan-rekannya, dia sama sekali tak keberatan. Tapi bukan begitu cara dunia ini bekerja.

Pasti akan lebih dari satu orang yang menjadi korban. Hal itu akan terlihat sangat buruk bagi Shihoru.

Selain itu, meskipun mereka berhasil kabur dari sini, mereka akan..... tidak, dia harus fokus apa yang ada saat ini. Apa yang sebaiknya dilakukan sekarang? Jika dia mulai berpikir apa yang akan datang selanjutnya, dia tidak akan bisa memutuskan apapun. Meskipun hanya satu dari mereka yang berhasil kabur, dia ingin orang itu agar bertahan hidup.

Si raksasa putih mendekat di jarak 10 meter jauhnya. Haruhiro sudah tidak punya waktu lagi.

Sembari menggunakan SWAT, Haruhiro berteriak, "La....."

Lebih tepatnya, dia baru mulai berteriak, tapi dia langsung menutup mulutnya.

Tidak mungkin. Keren sekali. Haruhiro melakukan SWAT pada tombak yang tertuju ke arahnya, dan berteriak. Kali ini, sebuah nama, "Tada-san!"

"TORNADO SLAM!" Tada mendekat dengan kecepatan yang luar biasa, berputar secara horizontal dan menghantamkan palunya pada pergelangan kaki kiri si raksasa. Pukulan itu membuat si raksasa berhenti dan menatap ke arah Tada.

"Go, go.....!" Ucap si raksasa.

"Hey, cecunguk kecil!" Tada memikul palunya di pundak, lantas mengacungkan jari tengah dari tangan kanannya. "Aku akan menghadapimu, majulah!"

"Ohm, rel, ect, nemun, darsh!" Teriak Shihoru.

Shadow Bond. Shihoru menyematkan elemental bayangan di tanah, sehingga menghentikan Tori-san yang mengarahkan para Pansuke-nya untuk menekan Kuzaku.

“Haaaa!” Kuzaku langsung memisahkan Pansuke dari Tori-san, kemudian menanganinya. Dia menggunakan Block pada tombak-tombak Pansuke. Kemudian, merangsek dengan menggunakan Thrust, dia pun menggunakan Bash untuk menghantam wajah Pansuke dengan perisainya. Lantas dia menyematkannya di tanah, dan menghujamkan pedangnya pada mata satu Pansuke.

“Ranta, tangani Tori-san!” panggil Haruhiro.

Saat itu pun, Ranta membalasnya dengan, “Matilah!”

Siapa yang kau sebut ‘mati’?

Meskipun begitu, Ranta mulai menyilangkan pedangnya dengan Tori-san. Ketika Pedang Petir Lumba-lumba berbenturan dengan sesama Pedang Petir Lumba-lumba, tak satu pun menimbulkan efek sengatan. Tori-san juga memiliki Perisai Cermin, jadi Ranta tidak akan dapat menembus pertahanannya dengan begitu mudah, namun orang idiot seperti Ranta pun bisa berguna dengan mengulur waktu. Tanpa perlu dikomando lagi oleh Haruhiro, Kuzaku pergi ke arah Yume dan Mary untuk membantu mereka.

Haruhiro melakukan Swat, Swat, dan Swat lagi untuk mempertahankan diri dari hujaman tombak dua Pansuke di depannya.

Raksasa putih enam meter mengejar Tada, membantingkan tinju padanya, dan mencoba menginjak-injaknya, dengan tumbukan yang keras, tapi ternyata semua usahanya itu belum berhasil. Tada masih punya palu yang dia pikul di bahunya, dan dengan santai dia menghindari serangan raksasa putih seakan tanpa kesulitan. Dia tidak terlalu gesit, namun anehnya gerakan tubuhnya begitu ringan. Apakah Tada begitu yakin dia tidak akan dikalahkan, atau semacamnya? Dia bergerak dengan penuh percaya diri. Meskipun serangan monster itu berhasil mengenainya, belum tentu itu cukup untuk merobohkan Tada.

Tidak lama kemudian, Tokimune tiba, sambil memamerkan giginya yang putih bersinar.

"Kamu masih hidup, ya?" Panggil Tokimune.

Kikkawa juga ada di sana. Inui, Mimorin, dan Anna-san juga. Tada dan Tokimune menghadapi raksasa putih dari sisi yang berlawanan, mereka memprovokasinya secara bergantian, dan menggiringnya dengan begitu lancar.

"Yahoo, Ranchicchi! Aku tiba dengan elegan!” kata Kikkawa, sambil berayun ke arah Tori-san.

"Dasar bego! Siapa yang kamu panggil Ranchicchi?!” balas Ranta sambil terus melanjutkan serangan. "Aku tidak ingin berhutang apapun pada orang lain!"

"Tidak bisakah kau tunjukkan rasa terimakasihmu, Ranchicchi! Kau jadi tsun, tsun, dere, dere, oh betapa imutnya dirimu!”

"Tutup mulutmu!" Teriak Ranta. "Aku akan membunuhmu, Kikkawa!"

"Diam dan bunuh mereka semua! Ya?!"

Entah mengapa, mata Inui yang tidak ditutupi terlihat berkilau.

"Heh ..." dia tertawa sendiri, sambil mondar-mandir di sana.

Apa yang kau lakukan, bung? Haruhiro begitu tercengang, dia pun tergelincir dan hampir luput melakukan Swat-nya.

"Ah!"

"Hahh!" Mimorin berteriak.

Jika Mimorin tidak mengayunkan tongkatnya dengan segenap kekuatan, kemudian menghantam Pansuke dari belakang dengan suara yang begitu keras, hampir pasti Haruhiro terluka, atau bahkan lebih parah lagi.

Setelah mengayunkan tongkatnya, pedang Mimorin memberikan sentuhan terakhir dengan menghujam ke kepala Pansuke

Dengan memanfaatkan fisiknya yang begitu besar, teknik pedang Mimorin sangatlah kuat, bahkan dia tidak hanya menggunakan pedang, melainkan juga tongkat. Sebenarnya teknik Mimorin tidaklah rumit, dia hanya mengayunkan senjatanya dengan sekuat mungkin, sehingga terdapat banyak celah pada pertahanannya. Namun, saat serangannya sukses mengenai lawan, bisa dijamin lawan menderita luka serius.

Kebetulan, teknik Mage yang disebut elemental yang tidak bisa dilihat oleh mata normal, sangat membenci logam, oleh sebab itulah Mage harus menghindari penggunaan besi dan tembaga pada peralatannya. Namun, jika mereka menggunakan lapisan khusus pada senjatanya yang disebut elemental coating, nampaknya tidak masalah. Pedang Mimorin pun memiliki elemental coating, dan itu seharusnya sangat mahal. Meskipun begitu, dia tidak terlalu merawat senjatanya itu.

Mimorin menendang Pansuke yang barusan saja dia beri combo 2x hantaman ke tanah, sembari berkata "Hmph!", kemudian dia mengayunkan tongkat dan pedangnya pada Pansuke lain.

"Kalian mengganggu Haruhiro!" bentak Mimorin. "Kau tidak boleh melakukan itu! Benar-benar tidak boleh!"

Mungkinkah Mimorin ... marah? tanya Haruhiro. Sepertinya begitu.

Meski tanpa ekspresi, wajahnya terlihat merah padam. Meski Pansuke mencoba mengayunkan dan menusuknya dengan tombak, Mimorin mengabaikan mereka, lantas lagi-lagi dia menghantam mereka dengan tongkat dan pedang. Dia pun mementalkan lawan-lawannya entah ke mana. Sungguh mengerikan betapa keras hantaman wanita raksasa ini.

Akhirnya, Pansuke bahkan tidak bisa berdiri, dan terjatuh ke tanah di tempat itu juga, tapi Mimorin belu selesai, dia masih memukulnya, dan memukulnya, dan memukulnya sampai lumat ke dalam tanah. Mungkin Pansuke itu masih sekarat.

Mimorin berbalik menghadap Haruhiro. "Aku mengkhawatirkanmu."

"... Itu, eh ... yah ... M-m-ma ... af ...?"

"Tidak apa-apa." Mimorin menggelengkan kepalanya. "Aku senang bisa bertemu lagi denganmu dalam keadaan selamat."

"...Aku juga."

"Ya. Itu bagus."

Haruhiro mulai panik. "Uh, uhhhhh, tunggu dulu, masih ada musuh!"

"Ya."

"Kita harus membunuh mereka."

"Aku akan membunuh mereka."

"A-ayo kita lakukan," kata Haruhiro.

"Aku akan melakukannya."

"T-Tapi ..." Haruhiro melihat ke sekeliling.

Kuzaku, Mary, dan Yume bekerja sama melawan dua Pansuk. Ranta dan Kikkawa melawan Tori-san dengan gagah berani. Kalau begini terus, cepat atau lambat mereka pasti bisa meringkus semua musuh-musuhnya.

Inui masih berputar-putar tanpa tujuan.

Ampun deh, apa sih yang kau lakukan, Bung?

Abaikan saka om-om nyeleneh yang satu itu, ada halangan lebih besar yang harus dia hadapai, tentu saja si raksasa putih.

"Ayo!" Tokimune mendentangkan pedang pada perisainya.

"Go, go!" Raksasa putih itu menundukkan tubuhnya dan mengayunkan lengan kanannya.

"Itu dia!" Tokimune tergelincir di bawah lengan kanan raksasa itu, dan menghindari serangannya dengan gerakan yang memukau.

"Di sini!" Tada memanggil raksasa putih itu.

Raksasa putih pun terpancing untuk mencari Tada, dan menemukannya. Bukannya menggunakan tangan, ia malah menggunakan kaki untuk menyerang. Raksasa putih itu mencoba menendang Tada. Dia sangat dekat. Tada merobohkan diri ke kiri, untuk menghindari kaki kanan raksasa putih itu.

Hal pertama yang dilakukan Tada adalah membanting palunya ke tangan kanan raksasa putih. Meskipun jelas terlihat lekukan pada tangan si raksasa, gerakannya masih begitu sehat seakan tanpa luka sedikit pun.

"Bunuh! Bunuh saja, yeah?!” teriak Anna-san. Anna-san bisa berteriak dan menyemangati rekan-rekannya sampai suaranya serak, tapi agaknya sulit untuk mengalahkan makhluk satu ini.

Shihoru mencengkeram tongkatnya, sambil melihat sekeliling dengan gelisah. Sepertinya tidak ada yang bisa dia lakukan, dan tidak ada mantra yang bisa dia rapalkan.

Kalau saja lawannya adalah raksasa putih 4 meter, mungkin dia bisa melakukan sesuatu, tapi kalau lawannya raksasa putih 6 meter, ini akan sangat sulit. Andaikan saja ada banyak puing bangunan, atau sesuatu yang bisa digunakannya untuk bertahan, dia mungkin bisa mengusahakan sesuatu ... mungkin saja? Apapun itu, dalam situasi saat ini, dia bahkan tidak bisa temukan cara untuk menyerang

"Haru ?!" Mary meneriakkan namanya. Rekan-rekannya mulai menanayakan apa yang seharusnya dilakukan.

Jangan tanya aku. Dia merasa frustrasi. Tenanglah, tenanglah, tenanglah. Lihat dan berpikirlah…. Ah, betul……. Aku harus melihat dengan kepala dingin.

Tubuhnya tiba-tiba melayang.

Tidak.

Bukan berarti Haruhiro benar-benar mengambang di udara. Itu sudah jelas. Dia bukanlah burung yang bisa terbang dengan bebas di langit. Bisa dibilang, mentalnya yang melayang. Jiwa Haruhiro meninggalkan tubuhnya, mungkin ini seperti alam bawah sadar? Dia belum pernah mengalami ini sebelumnya, jadi dia tidak bisa mengatakan dengan pasti bagaimanakah rasanya sensasi ini, tapi Haruhiro melihat banyak hal yang tidak mungkin dia lihat dalam keadaan normal.

Itu hanya berlangsung seketika.

Mungkinkah ini hanya halusinasi. Ini benar-benar halusinasi, kan? Tapi ... aku bisa melihatnya. Atau, setidak-tidaknya, aku merasa bisa melakukannya.

Pada saat itu juga, Haruhiro melihat ke bawah pada raksasa putih setinggi enam meter. Di sana banyak cultist, raksasa, dan pasukan sukarelawan lainnya. Dia bisa melihat area secara keseluruhan.

Penglihatan itu cukup aneh. Pandangannya tidaklah jelas, namun juga tidak kabur. Itu seperti gambar, atau suatu diagram yang rinci Apa pun itu, berkat penglihatannya itu, ada sekilas ide yang muncul di kepalanya.

Ide itu membuatnya berpikir, mengapa ini tidak terjadi lebih awal? Ya apa boleh buat.

"Baiklah, kau tahu, aku hanyalah orang biasa," gumam Haruhiro.

"Kamu spesial, Haruhiro," kata Mimorin dengan ekspresi cemberut. "Bagiku kau spesial."

"...Terima kasih."

Aku berterimakasih padanya, lantas aku pergi begitu saja. Kurasa itu kurang sopan. Setidaknya aku harus mengucapkan salam perpisahan yang hangat padanya. Baiklah… lain kali pasti lebih baik. Untuk sekarang, aku harus fokus melakukan apa yang perlu dilakukan. Ya…..

"Kita akan menjatuhkannya ke lembah," kata Haruhiro, dan Mimorin mengangguk setuju, namun dia masih tampak kebingungan karena dia memiringkan kepalanya ke samping.

"Bagaimana caranya?"

"Ya. Memang itulah masalahnya ... "

"Kau pasti bisa melakukannya jika kau mencobanya," dia menyemangati Haruhiro. Sebenarnya Mimorin jarang menyemangati orang lain, namun kali ini dia melakukannya dengan begitu alami, dan anehnya perkataan itu terasa hangat di hati Haruhiro.

Ketika Haruhiro dan Mimorin bergerak, Kuzaku, Mary, dan Yume mengikuti mereka. Ranta dan Kikkawa sepertinya masih butuh waktu untuk mengalahkan Tori-san. Anna-san telah telah berada di samping Shihoru, entah sejak kapan. Inui juga ada di sana.

Haruhiro menatap mata Tokimune. "Ke lembah!" Haruhiro mencoba memberitahukan itu pada rekannya, hanya dengan beberapa kata dan gestur.

Tokimune menyeringai padanya, jadi dia pasti mengerti, kan? Sepertinya tidak masalah.

"Ayo, ayo, ayo!" Tokimune membenturkan perisainya dan mencoba menarik perhatian raksasa putih itu. Dia selalu melakukan itu untuk menggiring lawannya, namun kali ini, dia arahkan si raksasa ke lembah pemukiman.

Tada memang nyentrik, tapi dia sama sekali tidak lamban, jadi dia pasti akan menyusul nanti.

"Mimorin, lindungi Anna-san!" Haruhiro memerintahkan itu padanya, kemudian dia melesat. Dia perlu mendahului rekan-rekannya untuk menentukan tempat-tempat yang strategis. Dia punya ide.

Di lembah yang dilengkapi mata air itu, ada beberapa lereng yang tidak terlalu laindai dan mudah didaki, tapi ada juga beberapa tebing yang curam. Pertama, mereka harus mengarahkan si raksasa ke tebing. Bisakah dia melakukannya ...? Yahh, setidaknya menurut Mimorin, dia bisa kalau dia mencoba. Dia akan melakukannya.

Dia menjelajahi lokasi tebing sendirian untuk menentukan tempat-tempat yang strategis. Dalamnya mungkin sekitar 10 m. Itu cukup dalam. Nah, itu tempat yang cukup bagus.

Raksasa putih itu semakin dekat, sedangkan Tokimune dan Tada terus menggiringnya. Ranta dan Kikkawa sepertinya juga telah menumbangkan Tori-san yang terus mengganggu.

Ada tujuh atau delapan cultist dan raksasa putih setinggi 4 meter yang menuju ke arah mereka. Haruhiro tidak terkejut akan datangnya gangguan ekstra ini, dan para Tokkis masih ada di sini untuk membantu.

Sekali lagi, Haruhiro sadar bahwa kekuatan Party-nya saja tidak akan cukup. Perbedaan mereka dengan para Tokkis bukanlah sesuatu yang kecil.

Tentu saja dia sudah menyadarinya. Namun, apakah dia memahaminya dengan benar? Jika terjadi sesuatu, tidak ada jaminan Tokkis selalu ada di sisi mereka untuk memberikan bantuan Bahkan, beberapa saat yang lalu, mereka hampir berada di ambang kekalahan. Kebetulan saja Tokkis datang. Itulah sebabnya mereka masih bisa bertahan. Mereka hanya beruntung. Atau, sebaliknya, andaikan saja nasib mereka sedang sial, mungkin salah satu dari Party-nya sudah meragang nyawa.

Perbedaan antara hidup dan mati bagaikan setipis kertas. Satu kesalahan, atau bahkan sedikit kesialan saja, mereka akan jatuh di antara tebing-tebing kenestapaan.

Itulah yang terjadi pada Manato dan Mogzo yang telah meninggalkan mereka untuk selamanya. Mereka telah pergi jauh, ke tempat dimana Haruhiro dan Party-nya tidak bisa mencapainya.

Bukannya tidak mungkin salah satu dari mereka mengikuti teman-temannya yang sudah tiada itu. Sebelum mencapai titik ini, mereka telah menemui banyak persimpangan. Kebetulan saja, pilihan jalan yang mereka ambil di antara persimpangan itu selalu mengarahkan mereka pada “kehidupan”, sehingga Haruhiro dan Party-nya masih di sini. Itulah yang terjadi sampai saat ini.

Jika mereka menemui kesialan, atau tidak sengaja memilih jalan "kematian," maka tidak ada jalan kembali.

Itu sungguh mengerikan. Dia tidak mau melakukan ini lagi. Dia ingin hidup secara damai. Mungkin Mimorin benar, bahwa semuanya bisa terjadi asalkan dia berani mencoba. Mereka mendapatkan pekerjaan di Altana, kemudian menghasilkan sejumlah uang. Haruhiro sudah banyak berubah semenjak pertama kali bergabung dengan pasukan relawan. Jika dia mencobanya sekarang, pasti masih ada peluang.

Aku akan memikirkannya dengan serius.

Tentu saja…. nanti….

Jika aku berhasil keluar dari ini krisis ini dengan selamat…..

"Haruhiro!" Tokimune mendekatinya. "Menjauhlah dari sana! Serahkan ini padaku!"

"Baiklah!" Haruhiro berlari ke kanan. Sementara ia memotong tenda yang telah ditinggalkan para pedagang, dia terus mengawasi Tokimune, yang hampir mendekati tepi tebing.

"Go, go, go!" Raksasa putih itu mengejar Tokimune.

Tokimune tiba-tiba berhenti, kemudian berbalik menghadap raksasa putih itu. Saat ini, tebing berada tepat di belakangnya. "Heeeey! Tangkaplah aku kalau kau bisaaaaaaaa!”

"Goooooo ..." Namun raksasa putih itu berhenti.

Ah ... Kenapa berhenti?

"Dasar tolol, itu terlalu jelas!" Ranta mencemooh Haruhiro.

Kalau orang lain yang mengatakan itu, Haruhiro masih bisa menerimanya, tapi kalau si kampret yang bilang, rasanya sakit sekali di hati. Atau lebih tepatnya, Haruhiro syok.

Tapi ini belum berakhir.

"Rencanakan B!" Seseorang berteriak.

Ya. Dia juga ada di sana. Priest yang dulunya adalah seorang Warrior, yang sampai sekarang pun lebih cocok jika disebut Warrior. Seorang pria bersenjatakan palu berat. Dia lah yang tidak kenal takut, 'Tuan Perusak’ dari Tokkis.

Tada.

Tada menyerang raksasa putih itu dari belakang, kemudian dia melakukan jungkir balik. "Somersault Boooooooooomb!”

Palunya meledakkan tendon tumit raksasa putih (atau jangan-jangan raksasa putih tidak mempunyai tendon tumit) sehingga dagingnya beterbangan, atau mungkin dia tidak punya daging? Yahh, terserahlah, yang jelas serpihan-serpihan tubuhnya beterbangan karena serangan Tada.

Rencana B.

Tunggu dulu, apa itu rencana B? Haruhiro berpikir sembari tertegun beberapa saat.

Jika dia boleh menebak, menggiring raksasa putih ke tepi tebing adalah rencana A, dan mendorongnya melewati tepi tebing itu adalah rencana B. Jujur saja, Haruhiro hanya memikirkan rencana A. Namun, dengan kekuatan Tada ...

"Go, go!" Raksasa putih itu mencoba melakukan sesuatu saat ia tersandung. Dan saat itu juga.

"Delm, hel, en, balk, zel, arve!" rapal Mimorin.

"Jess, yeen, sark, kart, fram, dart!" tambah Shihoru.

Grimgar V6 011.png

Ada kilatan cahaya dan semburan asap di dada raksasa putih itu, sementara sejumlah sambaran petir melanda wajah dan bahunya. Blast dan Thunderstorm. Apakah mereka saling memberi isyarat, atau hanya kebetulan saja mereka melakukannya bersamaan? Mimorin dan Shihoru telah meluncurkan serangan sihir mereka secara bersamaan. Bahkan raksasa putih 6 meter sekalipun terpaksa membungkuk setelah terhantam serangan tersebut.

Oh, benar juga, Haruhiro sadar. Itu masuk akal. Jika satu mantra tidak cukup, maka mereka hanya perlu menggabungkan keduanya. Jadi begitu ya..

"Ya ampun!" Seru Yume. Dia menggunakan Rapid Fire, sehingga kehabisan sejumlah panah dengan cepat, untuk mengincar mata raksasa putih tersebut. Mungkin ini hampir mustahil terjadi, tapi Inui mengikuti Yume dengan menembakkan panahnya sendiri.

"Aieeeeeeee!" Anna-san menjerit dan melompat ke udara. "Fuck off!”

"Tokimune-san!" Haruhiro memulai.

Tanpa Haruhiro perlu berkata lagi, Tokimune menjauh dari tepi jurang.

"Delm, hel, en, balk, zel, arve!"

"Jess, yeen, sark, kart, fram, dart!"

Satu tembakan lagi. Tidak, dua tembakan. Blast and Thunderstorm milik Mimorin dan Shihoru memberikan dorongan terakhir, sehingga memaksa raksasa putih itu semakin membungkuk. Dalam keadaan seperti ini dia tidak lagi bisa menahannya. Dia tidak lagi dapat berdiri tegak.

Raksasa putih itu tahu bahwa posisinya sudah mendekati tebing, namun dia masih sanggup menggerakkan kakinya untuk menopang tubuh besarnya. Namun, tidak ada tanah di sana. Bagaimanapun juga, itu adalah tebing.

Jatuh. Raksasa putih itu jatuh.

"Bagus!" Kuzaku mengangkat lengannya.

Mary meletakkan tangan di atas dadanya, menatap langit, dan menarik napas lega yang panjang.

"Yeah!" Yume tersenyum.

"Lihat, aku kan sudah bilang!" Ranta menjerit. Dia sangat gembira, sambil terus mengocehkan omong kosong.

"Selamat Tahun Baru! Wow!” perkataan Kikkawa yang paling tidak masuk akal.

Kenapa tiba-tiba tahun baru?

Haruhiro tidak ingin merusak pesta mereka, tapi ini bukan akhir dari segalanya. Dia pun mengambil napas pendek sebelum mengatakan sesuatu.

"Berikutnya! Enam Pansuke, dua Tori-san, satu raksasa empat meter! Mereka datang!”

"Hahahahaha!" Tada tertawa sambil ia mengangkat kacamata dengan jari telunjuk kirinya. "Senang rasanya tidak kehabisan stok musuh yang harus dihancurkan."

"Sekarang kita bisa menghabisi mereka dengan gembira, ya!" Tokimune sepertinya benar-benar menikmati ini. "Ayo kita lakukan ini, kawan! Anna-san, kami mengandalkanmu untuk memberikan sorak-sorai penyemangat!”

"Serahkan saja semuanya padaku, yeah!" Anna-san membusungkan dadanya dengan bangga, kemudian mendorong kepalan tangannya ke depan. "Selama matahari masih di langit dan Anna-san berada di bumi, kemenangan akan menjadi milikmu! Everybody, berjuanglah untuk Anna-san!”

Apa? Jadi sekarang kita melakukan semua ini hanya untuk Anna-san? Haruhiro tidak yakin dia kecewa dengan itu, tapi semangat rekan-rekan lainnya sudah meledak-ledak, tampaknya sorakan Anna-san benar-benar mengangkat mental mereka, jadi…. yah, biarkan saja seperti itu.

"Ranta, hadapi salah satu Tori-san!" serunya. "Kuzaku, hadapi sebanyak mungkin Pansuke semampumu!”

"Aku akan melakukannya, jadi sebaiknya kau nanti memberiku penghormatan yang layak, Parupiro!" teriak Ranta.

"Oke!" seru Kuzaku.

"Mary, Yume, Shihoru, kalian harus tetap bersama saat ini!"

"Mengerti!"

"Nyaa!"

"...Baik!"

"Tada!" Tokimune melesat. "Kita akan merobohkan raksasa putih itu!"

"Aku bisa melakukannya sendiri," bual Tada.

"Aku juga akan membantu! Pis, pis! Yay, yay, yay!” Teriak Kikkawa.

Tada dan Kikkawa mengikuti Tokimune. Sepertinya Mimorin akan menjaga Anna-san. Sementara itu, Inui berkeliaran tanpa tujuan di dekat Shihoru.

Tidak…. yang benar saja, ada apa sih dengan om itu?

Kuzaku bisa menghadapi tiga Pansuke, sementara Haruhiro, Mary, Yume, dan Shihoru dengan cepat akan mengurus sisanya. Salah satu Tori-san akan dihadapi oleh Ranta, tapi bagaimana dengan yang lainnya?

Haruhiro mungkin bisa mengandalkan Tokimune, Tada, dan Kikkawa untuk menangani raksasa putih. Dia melirik ke arah lembah. Mereka tidak benar-benar menghabisi raksasa enam meter, jadi dia pasti akan berusaha menaiki tebing sekali lagi. Mereka perlu mengalahkan semua bala bantuan sebelum itu terjadi, kemudian melarikan diri dari sini secepatnya.

Cepat. Tapi jangan terburu-buru.

Tada menerjang ke arah raksasa putih itu.

Bung, aku kagum kau bisa melakukannya tanpa takut.

Kuzaku dengan berani menggunakan Bash pada tombak Pansuke, kemudian menyapu lawan-lawan di sampingnya dengan menggunakan pedangnya. Paladin di Party Haruhiro bukanlah orang gila seperti Tada. Namun, justru itulah yang membuat Haruhiro berpikir, Sial, Kuzaku sungguh luar biasa. Dia sungguh mengagumkan. Mungkin aku perlu meminta Mary mengucapkan banyak terimakasih padanya nanti. Ya, kurasa dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan gadis yang dia cintai.

Apapun itu, dia tidak akan membiarkan kerja keras Kuzaku sia-sia.

Dia bisa melihat garis itu.

Garis kabur itu.

Garisnya tidaklah begitu lurus. Bentuknya bengkok dan berliku-liku. Itulah wujud kepekaan alam bawah sadarnya yang muncul dari pengamatan, dan dikombinasikan dengan prediksi berdasarkan banyak pengalaman.

Hei, jika aku melakukan teknik itu sekarang, bukankah aku pasti akan berhasil mengalahkan lawanku? duganya. Jika dia menundanya bahkan sepersepuluh detik saja, garis itu akan menghilang, dan dia kembali menjadi Haruhiro yang lemah. Untungnya, setelah berkali-kali berhasil mengalahkan musuhnya setelah melihat kemunculan garis tersebut, Haruhiro tidak pernah ragu menyerang ketika garis itu bisa dia lihat, atau lebih tepatnya, tubuhnya otomatis bergerak setelah garis itu muncul.

Dengan langkah halus, dia bergegas melewati salah satu Pansuke, sembari membenamkan belatinya pada mata satu si musuh.

Setelah menarik senjatanya, dia melakukan Shatter pada Pansuke di sebelah, kemudian dia langsung menggunakan Sap di tangan kiri untuk melakukan Hitter pada rahang Pansuke lainnya.

Sebagai penutup, dia mendaratkan Shatter di Pansuke itu sekali lagi. Lalu, dia mundur.

"Ohhhhhhhh!" Kuzaku mengoyak tubuh Pansuke dengan serangan pedang dan perisainya. Satu Pansuke mati, dan tiga lainnya pun tumbang setelah Haruhiro menikamnya dengan tiba-tiba, sehingga mereka tidak bisa menghentikan langkah Kuzaku.

Apakah kami sudah menghabisi mereka semua? Belum ya?, pikir Haruhiro.

"Ah!" Kuzaku mundur. Seseorang mengayunkan Pedang Petir Lumba-lumba padanya, dan yang bisa dia lakukan hanyalah menghindarinya.

Itu adalah Tori-san. Mereka ada dua. Apa sih yang dilakukan Ranta?

"Exhaust!"

Itu dia. Tepat waktu sekali!

Ranta melompat dan menyerang salah satu dari Tori-san di sampingnya. Terdengar suara dentangan dua bilah Pedang Petir Lumba-lumba yang saling berbenturan. Mereka saling dorong dalam keadaan pedang saling bersilangan, lantas Ranta memenangkannya, sehingga membuat keseimbangan tubuh Tori-san terganggu. Tapi Tori-san itu tidak sendirian, mereka ada dua. Yang lainnya menusukkan pedangnya pada Ranta.

"Exhaust!" Ranta meluncur lurus ke belakang dengan kecepatan yang luar biasa.

Jika Tori-san mengejarnya, maka mereka akan terjebak dalam permainan Ranta. Sayangnya, mereka tidak melakukannya. Tori-san sama-sama memfokuskan serangan mereka pada Kuzaku.

"Oh sial! Aku tidak bisa menangani mereka berdua!” Kuzaku terpaksa mundur.

Pansuke menggunakan kesempatan ini untuk berkumpul kembali dengan rekan-rekan lainnya.

"Rantaaaa!" dia tahu bahwa rekannya yang bodoh itu tidak dalam masalah, namun dia masih saja meneriakkan namanya.

"Aku baru saja mulai, oke?" Ranta memutar tubuhnya, dan membentuk pose yang aneh dengan mengesampingkan Pedang Petir Lumba-lumbanya. "O kegelapan! Dewa Vice! Dread Wave!”

Sepertinya pose itu tidak hanya menarik perhatian Haruhiro saja, melainkan juga para Tori-san dan Pansuke.

Yah, sepertinya tidak akan terjadi apa-apa.

Itu sudah jelas. Bukan hanya Dewa Cahaya Luminous, yang kekuatannya tidak bisa mencapai Dusk Realm, namun Dewa Kegelapan Skullhell tidaklah terkecuali.

"Hah?" Haruhiro menatapnya dengan heran dan cemas. "Apa? Hah? Kenapa kau lakukan itu?"

"Hmph ..." Ranta menunduk menatap tanah. "Iya juga…. aku benar-benar lupa kalau tidak bisa menggunakannya di sini."

"Rantaaaa bodooooooooooohhh!" teriak Yume.

Ranta benar-benar idiot, tidak berguna, dan tak bisa diandalkan, tapi setidaknya posenya itu berhasil membuat musuh berhenti sejenak. Meskipun ini hanyalah kebetulan yang lahir dari kebodohan Ranta, mereka harus memanfaatkannya sebisa mungkin.

"Ohm, rel, dll, el, nemun, darsh!"

Shadow Pond dari Shihoru membuat elemental bayangan tersemat di tanah, tepat di bawah Tori-san berdiri. Mereka tidak akan bergerak dari tempat itu untuk sementara waktu.

"Habisi Pansuke itu!" Haruhiro segera memberikan perintah, dan Kuzaku pun menerjang mereka tanpa menunggu lama.

"Zeeah! Rahhh! Oryahhhhh!” Teriaknya.

Haruhiro berputar mengelilingi Pansuke. Yume menarik parangnya, kemudian mengayunkannya pada mereka. Sedangkan Mary masih berada di sisi Shihoru.

Meski Haruhiro tidak melihat garis itu, tiba-tiba dia merasa yakin bahwa dia bisa menumbangkan salah satu lawannya. Sekarang, aku yakin bisa membunuh mereka, pikirnya. Oke, sekarang saatnya ...

Tapi saat dia berniat menggunakan Backstab, seseorang tiba-tiba mencuri bajunya.

"Heh!" Itu Inui. Inui yang nyeleneh itu mendaratkan tendangan di punggung Pansuke, dia berhasil menjatuhkannya, kemudian dia injak-injak rahang cultist itu.

KRAK. Ada suara yang terdengar mengerikan, dan leher lawannya tertekuk ke arah yang tidak semestinya.

"Aku Inui! Yang akan membawa kehancuran dari langit!”

Bung, itu sungguh hebat. Tapi entah kenapa, kau membuatku ketakutan.

Inui menoleh ke arah Shihoru sambil mengedipkan mata yang tidak ditutupi. "Wahai gadis yang sudah ditakdirkan jadi istriku, mari bantai mereka semua bersamaku!"

"Gak mau." Cukup cepat balasannya, dan dengan nada bicara yang cukup kuat bagi seorang Shihoru. Tentu… tentu saja gak mau.

"Heh ..." Inui berbalik dan melangkah ke arah lain. "Untuk saat ini, aku mengucapkan selamat tinggal padamu ..."

Tunggu, hah? Kamu mau pergi ke mana sih?

Tidak jelas dia mau pergi ke mana, tapi dia terus berlari menjauh.

Yah ... Kurasa, biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan? Maksudku, dia tidak harus kembali jika dia tidak mau. Kami sudah cukup sibuk di sini.

Tokimune, Tada, dan Kikkawa mengepung raksasa putih itu ketika mereka menyerangnya. Sepertinya Tokimune dan Kikkawa sedang memancingnya dan bertindak sebagai umpan, sementara Tada bertugas memberikan pukulan berat pada si monster. Raksasa putih itu sudah mendapati kerusakan pada keduanya kakinya. Kalau dilihat sampai sejauh ini sih, sepertinya mereka bertiga bisa menumbangkan raksasa itu, namun tidak akan berlangsung dengan cepat.

Masih ada waktu sebelum Tori-san melepaskan diri dari Shadow Pond, atau efek sihirnya melemah. Pada saat itu, jika kita bisa menangani empat Pansuke….

Tapi sementara Haruhiro memikirkan itu ...

"Delm, hel, en, balk, zel, arve!"

... Tori-san meledak. Itu adalah mantra Blast.

Mereka terhempas ke tanah, kemudian berguling-guling sebentar, namun mereka masih bisa bangun. Sepertinya mereka terluka, namun bukan luka yang serius.

Miiiimoriiiin, Haruhiro mengerang dalam hati. Sial, ponco itu benar-benar tahan lama.

"Oh, baiklah." seraya sedikit menyinggung dirinya sendiri, Haruhiro memutuskan untuk merubah rencananya. Dia tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Kuzaku, Haruhiro, Ranta, Yume, Mary, Shihoru, dan Mimorin setidaknya telah mengalahkan dua Tori-san dan empat Pansuke.

Kami bahkan menyuruh Anna-san terus menyorakkan semangat, jadi saat ini kami menang jumlah, Kau tahu….. Kita bisa melakukan ini. Kita harus bisa. Aku yakin. Atau…. mungkin saja yakin.

Kuzaku menyibukkan tiga Pansuke, sementara Yume berurusan dengan yang lain. Ranta tampak seperti sedang mencari Tori-san. Dia memang ditugaskan untuk cari masalah dengan Tori-san, jika tidak, maka Haruhiro lah yang akan mencari masalah dengannya.

Sambil mengawasi Tori-san, pertama-tama mereka harus segera mengurangi jumlah Pansuke, kemudian……

Haruhiro melirik ke arah lembah. Hanya untuk berjaga-jaga.

Dia melihat ke bawah untuk memeriksa kondis terakhir raksasa putih 6 meter.

"...Sudah sampai sana?"

Ini mengerikan.

Bukankah raksasa putih 6 meter itu sedang memanjat lembah?

Sungguh mengejutkan, tapi Haruhiro tidak akan panik hanya karena ini. Sebetulnya, ini sudah berada jauh di luar dugaannya. Namun, dia disibukkan oleh lawan-lawan lainnya yang terus berdatangan. Inilah faktanya, dan mereka harus menerimanya.

Pasukan relawan mundur.

Mereka mundur?

Ke mana mereka akan lari?

Dan mengapa?

"Jadi karena itu, ya ..." akhirnya dia menyadari sebabnya. Kali ini, dia tidak bisa lagi menahan kepanikannya.

Dari selatan.

Ada sesuatu yang datang.

Besar, putih, dan menggeliat.

Baiklah, tentu saja. Tentu saja mereka lari. Aku juga ingin lari. Tidak ada pilihan selain lari dari makhluk itu.

Dia tidak begitu tinggi, tapi tetap saja terlihat lebih besar dari raksasa putih enam meter. Masalahnya adalah panjangnya. Panjangnya dua puluh meter, atau mungkin dua puluh lima meter. Bahkan mungkin sudah mencapai tiga puluh meter. Atau lebih.

Hydra

Itu adalah makhluk raksasa yang bentuknya begitu buruk, dia terlihat seperti sembilan ular berdiameter antara 2 – 3 meter, yang memadat menjadi satu. Jika makhluk itu menyerang mereka, apa yang akan mereka lakukan?

Kalau Haruhiro sih, tentu saja dia akan lari sampai ke ujung dunia. Itu adalah respon yang normal baginya ketika bertemu dengan makhluk seperti itu.

Sepertinya Iron Knuckle, Berserker, dan Orion… semuanya setuju dengan cara Haruhiro. Mereka juga manusia. Untunglah. Apakah itu bagus? Atau tidak? Itu tidaklah penting.

Haruhiro tidak sempat memikirkan apa yang harus dia lakukan. "Tokimune, itu Hydra! Kita harus lari!”

"Wah ...!" Tokimune segera mengambil keputusan. "Baiklah, semuanya…. Larilah! Lindungi Anna-san!”

"Baru saja kita hampir selesai di sini. Sialan." Meski diiringi dengan keluhan, Tada memanggul palunya dan segera lari.

"Lari, lari, lariiiiii! Ya! Lari!” Kikkawa masih saja ceria bahkan dalam keadaan seperti ini.

Meskipun Anna-san seharusnya hanyalah pemandu sorak dalam kelompok itu, dia terlihat sangat kesal dengan menggertakkan giginya. "Sudah saatnya strategi mundur, yeah, sial! Tidak ada pilihan lain, yeah?!"

"Ayo pergi." Mimorin meraih tengkuk Anna-san, kemudian menyeretnya menjauh.

"Nyaaa ...!" Yume berbalik dan lari.

"Kenapa ini harus terjadi tepat saat aku akan menunjukkan betapa hebatnya diriku!" Ranta juga pergi.

Mary masih ragu-ragu.

"Aku akan baik-baik saja, jadi pergilah terlebih dahulu!" Kuzaku masih belum menyerah. Atau lebih tepatnya, dia tidak bisa lari. Jika dia mencoba kabur, para Pansuke akan mengeroyoknya dan menghajarnya sampai hancur.

"Haruhiro-kun ...?!" Shihoru menatap Haruhiro.

"Pergilah, Shihoru! Kau juga, Mary!” Haruhiro berlari secepat mungkin, dalam hati dia mengatakan munculah…..munculah!. Dia begitu menantikan munculnya garis itu dalam saat-saat seperti ini.

Tapi, tentu saja, garis itu bukanlah sesuatu yang keluar setiap saat Haruhiro membutuhkan.

Haruhiro bukan pahlawan. Dia hanya seorang pemimpin. Karena itulah, sebagai pemimpin, dia tidak punya kemampuan untuk memilih “melakukan apa yang dia bisa” dan “melakukan apa yang seharusnya dia bisa”.

"Kuzaku, antarkan mereka ke neraka!" serunya.

"Siap! Ruahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!” Kuzaku menggunakan pedangnya untuk menyapu tombak-tombak Pansuke, lalu menggunakan Bash pada Pansuke di depannya. "Dahhhhh! Gahhseahhh! Rahh! Nwahhhhhhhh!”

Tanpa henti, Kuzaku mengayunkan pedangnya sambil melindungi dirinya sendiri dengan perisai, dan dia pun terus maju. Bahkan saat tombak Pansuke menikam armornya, dia mengabaikannya, dan terus bergerak maju.

Kuzaku memakai armor plat yang cukup kokoh. Namun, saat mendapatkan serangan keras pada armornya, itu masih terasa sakit, atau setidaknya dia akan mengalami memar-memear.

Bertahanlah. Tunggu di sana, kumohon, Kuzaku.

"Ini dia!" Haruhiro bergulat dengan salah satu Pansuke, bukan dari belakang, tapi dari samping, Kemudian dia mencekiknya dengan menggunakan lengan kiri sembari dia menikamkan belati pada mata satu cultist.

Itu cukup maksa, kan? Kalau aku luput sedikit saja, aku pasti berada dalam bahaya sekarang. Mengerikan...!

Dia bisa merasakan hawa dingin yang membuatnya merinding. Tapi, memangnya kenapa? Apa bedanya?

Haruhiro mendekati Pansuke yang lain, lantas dia melepaskan sebuah combo dengan Shatter dan Hitter. Namun, Pansuke lain berusaha menusuknya dengan tombak, tapi dia berhasil melompak untuk menghindar. Dia terus menggunakan Swat untuk menangkis tombak-tombak itu, namun pada saat itu juga, dia masih sempat berata dalam hati: Oh, sial, oh, sial, ini sangat berbahaya.

Sambil menjerit dalam hati: Ampun deh, cukup sudah, yang benar saja, augh! , dia merangsek dan menggunakan Arrest untuk menebas lengan Pansuke, diikuti dengan sapuan kaki untuk menjauhkan lawannya.

"Assuh!" Kuzaku meneriakkan suara yang aneh, lalu dia menggunakan Bash untuk mementalkan salah satu Pansuke.

Sekarang, ayo lari, pikir Haruhiro.

Dia tidak perlu mengatakan apapun untuk menyampaikan pesan itu. Haruhiro dan Kuzaku melesat berlari secara bersamaan.

"Ha ha!" Kuzaku tertawa saat berlari. "Ini luar biasa! Ha ha ha! Menakjubkan!"

Tidak, sobat, sekarang bukan saatnya tertawa. Yahh, aku paham kok kalau pertarungan tadi cukup memuaskan. Kuzaku pasti juga sangat ketakutan. Sekarang, setelah bebas dari para Pansuke, dia merasa lega. Tapi, apakah itu saja? Dia begitu menikmati saat-saat mengerikan ini, sampai hanya bisa tertawa. Mungkinkah itu bagian darinya? Sensasi menegangkan itu memang membuatmu ketagihan. Kalau aku sih, hanya ingin hidup dengan damai. Begitulah perasaanku, tapi kalau aku boleh bertanya….. Seperti apakah rasanya hidup dalam kengerian seperti ini ...? Apakah tidak begitu membosankan?

Pansuke, Tori-san, dan raksasa putih empat meter mengejar mereka. Di belakang mereka ada pasukan sukarelawan, cultist, raksasa putih, dan bahkan Hydra.

Yang mereka tuju adalah lembah dan raksasa putih enam meter itu akan segera merangkak keluar dari sana.

Ini gawat sekali. Aku merasa kacau. Aku berharap ini semua hanya mimpi. Dapatkah seseorang menggantikanku? Kumohon, seseorang tolong aku… Aku tidak bercanda. Jika ada seseorang yang bisa menyelamatkan kami, dan juga menjamin keselamatan rekan-rekan setimku, maka aku akan melakukan apapun untuknya. Aku tidak bohong. Akan kulakukan apapun untuknya, sungguh..

Aku sudah tidak kuat lagi. Ini sangat mengerikan, kau tahu? Oh, aku sudah muak dengan semua ini, sunnguh. Aku muak. Ini sangat menyesakkan.

Kupikir, mungkin kami akan mati. Atau mungkin, kali ini kami tidak lagi seberuntung sebelumnya. Apa yang akan terjadi kalau kami mati? Apakah akan pergi ke surga? Atau neraka mungkin? Apakah keberadaan kami akan dihapus dari dunia ini? Kembali ke kekosongan?

Aku tidak ingin mati. Aku takut mati. Aku tidak mau, tidak, tidak, tidak, aku tidak menginginkan ini.

Ya. Aku tahu. Aku tidak butuh ini. Situasi seperti ini. Aku tidak masalah jika harus bertarung dengan mengerikan seperti yang kulakukan bersama Kuzaku barusan, namun aku tidak mau berada dalam situasi di antara hidup – mati seperti ini. Haruhiro merasakannya dengan sangat tajam. Aku ingin hidup dengan damai!

Tokimune dan yang lainnya yang berada di depan, tampaknya akan mengambil rute memutar di sekitar lembah untuk mencapai bukit awal.

Apakah mereka bisa menghindari raksasa enam meter dengan cara itu? pikir Haruhiro. Atau mungkin tidak? Aku tak tahu, mungkinkah rencana mereka bisa berjalan dengan baik?

Sepertinya para pengejar tidak akan dapat menyusul mereka dalam waktu dekat.

Meskipun rute itu belum terjamin aman, mereka harus mengambilnya.

Raksasa enam meter sudah keluar dari lembah sampai ke pinggangnya. Dia menopang tubuhnya dengan lengan kiri, kemudian mengayunkan lengan kanannya untuk bergerak naik.

"Go, go, go, go, go!" seru raksasa itu.

Ia mencoba membanting Tokimune dan Tada dengan tangan kanannya.

"Menghindar!" Teriak Haruhiro.

Mereka tidak butuh seruan Haruhiro itu. Tokimune, Tada, dan bahkan Kikkawa menjatuhkan diri ke tanah untuk menghindari jangkauan tangan kanan sang raksasa.

Lantas, raksasa putih itu menopang tubuhnya dengan kedua tangan, kemudian mengangkat tubuhnya ke atas. Sementara si raksasa berusaha naik, Mimorin dan Anna-san, Ranta, Yume, Shihoru, dan Mary… semuanya lewat di depannya.

Inui hilang. Tapi siapa yang peduli dengannya?

Haruhiro dan Kuzaku tertinggal di sana, tak mampu bergerak.

"Whoaaaaaaaaaa ?!" teriak Haruhiro.

"Wha ... Wh-Wh-Wh-Wha ...?!" Kuzaku tergagap.

Raksasa putih setinggi 6 meter bangkit tepat di depan mata mereka. Atau lebih tepatnya, raksasa itu baru saja keluar dari lembah, jadi dia masih dalam posisi berlutut, namun itu masihlah sangat besar. Saaaaaaangat besar. Tetapi jika mereka berhenti di sini, musuh-musuh di belakang akan segera menyusul. Sepertinya, satu-satunya hal yang bisa dikatakan Haruhiro adalah: ”Tuan raksasa, kumohon tetaplah seperti itu, dan jangan coba untuk menyerang kami”.

Haruhiro menampar punggung Kuzaku. Ini adalah pertaruhan hidup atau mati. “A-Ayo pergi! Kita harus melaluinya!"

“Guhsuh!”

Apa maksudnya “guhsuh”?

Perkataannya mulai gak jelas, tapi Kuzaku terus berlari. Cara berjalannya sedikit canggung. Bukan berarti Haruhiro berjalan dengan lebih baik darinya.

Sepertinya kita bisa berlari dengan lancar sekarang!

"Go, go...!"

Raksasa putih mencoba untuk menghantam Kuzaku dan Haruhiro, dalam posisi masih berlutut. Mungkin dia sedang berusaha mencengkram mereka, kemudian menghancurkannya.

“Bwuh ...!” Kuzaku menundukkan kepalanya ke tanah, untuk menghindari tangan kanan raksasa putih.

“Ah ...!” Haruhiro berguling untuk menghindarinya.

"Go, go, go!"

Berikutnya, tangan kiri sang raksasa yang dihempaskan ke arah mereka.

“Uwahhhhhhhhhhh ?!” Kuzaku melemparkan perisainya dan terus merangkak ke depan. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Tentu saja, yang Haruhiro bisa lakukan hanyalah melesat bagaikan orang gila yang pantatnya terbakar.

“Nnnnngh!” Ia menggerutu.

Apakah aku akan terkena hantaman tangan itu? Apakah aku akan terkena? Apakah tubuhku akan hancur dibuatnya?

Ketika tangan raksasa itu menghujam tanah dengan guncangan yang hebat, ia mengeluarkan jeritan yang terdengar sedikit aneh. Tapi nampaknya, dia selamat.

“P-P-P-perisaiku!” Kuzaku tersentak.

“L-l-l-l-l-l-l-lebih berharga nyawamu, kan?!” teriak Haruhiro.

Akhirnya dia berdiri!

Raksasa putih itu sudah bangkit sepenuhnya!

"Go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go!” Raksasa putih setinggi 6 meter telah bangkait, dan anehnya dia terlihat seperti sedang menari. Ah tidak, mungkin itu bukan tarian, akan tetapi caranya berjalan mendekati Kuzaku dan Haruhiro terlihat seperti langkah-langkah tarian.

Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi lagi. Semuanya sudah gak jelas. Lagian, kita hanya perlu menghindari kakinya. Hanya itulah yang bisa kita lakukan. Kita perlu menyusul teman-teman lainnya. Aku berharap bisa melakukannya, dan kami semakin menjauh dari lembah yang tadi, tapi…. ke arah mana mereka pergi? Tidak, sepertinya aku telah salah….

“Somersault Booooooooomb!”

Hah?

Raksasa putih berhenti bergerak. Atau lebih tepatnya, dia tersandung. Itu karena seseorang telah membantingkan palunya pada pergelangan kaki kiri sang monster, yaitu kaki yang menopang berat tubuhnya.

Tada.

Mengapa Tada di sini?

Bukan hanya Tada.

“Hah ...!” seru Tokimune.

Ketika Tada membantingkan skill Somersault Bomb-nya, Tokimune melanjutkan dengan Bash. Yahh, itu bukan Bash biasa sih. Kau tidak bisa menggunakan Bash biasa pada monster setinggi 6 meter, kan? Itu bahkan tidak cukup untuk menggoyahkan lawannya. Namun, skill Tada berhasil membuatnya tersandung, sehingga serangan kombinasi itu agaknya cukup membuat sang monster kerepotan. Kemudian, tak sampai di situ saja ...

“Del, hel, en, balk, zel, arve!”

Ada kilatan cahaya, kemudian… entah kenapa, terjadi ledakan di dekat selangkangan raksasa putih. Itu adalah skill Blast dari Mimorin.

Itu cukup membuat keseimbangan raksasa terganggu, dia pun tersentak ke belakang satu atau dua langkah.

“Haruhiro!” Tokimune menoleh padanya sembari memamerkan gigi putihnya sekilas. “Kami berutang padamu sekali! Jadi, kami tak akan membiarkanmu mati di sini!”

“Berhenti bicara!” Tada salto satu lingkaran penuh di udara, kemudian membantingkan palunya dengan keras pada tulang kering kiri raksasa putih. “Serangan saja! Tornado Slaaaaaaaaaam!”

“Gohhhhh ?!” Raksasa putih terguncang lagi. Sungguh kekuatan yang dahsyat.

“Sialan, dia keren,” bisik Kuzaku.

Haruhiro juga berpendapat demikian, namun dia berharap anggota timnya tidak ada yang ingin menjadi seperti Tada. Jika anggota Party-nya mulai meniru aksi-aksi Tada, maka setiap hari dia akan menderita stress berat. Dia akan terkena serangan jantung, karena manusia hanya punya satu jantung, maka umurnya pasti tidak akan lama lagi. Meskipun Kuzaku dan Haruhiro lagi-lagi diselamatkan oleh para Tokkis, apakah ini tidak masalah?

Bukan hanya Tokimune dan Tada. Ada juga Mimorin, yang telah merapalkan mantra sebelumnya, dan Anna-san. Kikkawa juga kembali. Mary, Yume, Shihoru dan Ranta, yang tadinya sudah cukup aman, kini kembali lagi ke lembah yang berbahaya. Bagaimana dengan Inui? Haruhiro tidak peduli tentang dia, tetapi yang jelas, mereka telah kehilangan kesempatan untuk melarikan diri.

Cultist dan raksasa putih empat meter akan segera menyusul mereka. Pasukan relawan dan Hydra juga. Mereka semua akan berkumpul di suatu tempat, sehingga terjadi kekacauan. Mereka semua akan terjebak dalam suatu keributan.

Tidak ada jaminan keadaan akan semakin membaik ketika mereka semua berkumpul. Namun, ada perbedaan besar antara tetap di sini, dan berusaha menuju ke tempat berikutnya. Jika mereka terperangkap dalam keributan antara lawan dan kawan, mereka pasti akan habis. Hanya itu yang bisa dia pikirkan.

Sepertinya ini adalah akhir. Aku bisa merasakan kekuatanku sudah habis terkuras. Yahh, tentu saja. Ini sulit. Bagaimana bisa aku membalikkan keadaan ini? Maksudku, meskipun aku berhasil membawa timku ke tempat yang aman, lalu apa yang harus aku lakukan? Aku yakin bahaya masih akan mengincar kami.

Kuharap, aku bisa menyerah.

GAME OVER

Ada teks yang melintas di pikirannya.

<i>Apa itu tadi?

Pernahkah aku melihat ini sebelumnya ...?

GAME OVER

GAME OVER

-- GAME OVER --

Game Over. Continue? Or Not?

Will you continue? Y / N

GAME OVER…. RETRY?

Game Over.

GAME OVER

GAME OVER

Sebuah permainan, ya? Pikir Haruhiro. Tapi ini bukanlah permainan.

“Ini bukan game, kan? Manato, Mogzo?” Gumamnya.

Itu sebabnya aku tidak boleh menyerah. Tidak boleh menyerah sampai akhir. Menyerah bukanlah jawabannya.

Pertama-tama, aku harus melihat keadaan sekitar. Betul. Melihat. Melihat dengan jelas, dan melihat.

Iron Knuckle dan Berserkers hampir bergerak bersamaan sebagai suatu kelompok. Orion lebih menyebar, tapi tak ada seorang anggota pun yang terpencar. Mereka tampaknya bergerak suatu Party.

Ada puluhan… ah tidak, lebih tepatnya ratusan cultist. Ratusan. Adapun raksasa putih, sekilas ada sekitar sepuluh raksasa putih empat meter, dua raksasa putih enam meter, dan satu raksasa yang begitu besar, nampaknya ukurannya mencapai delapan meter. Lalu, masih ada Hydra. Itulah kabar buruknya. Sungguh.

“Kuzaku, kau sudah kehilangan perisaimu, jadi jangan melakukan hal gila,” Haruhiro memperingatkannya.

“Oke, lagian aku tidak yakin bisa melakukan hal yang gila.”

"Ikut denganku!"

Haruhiro membawa Kuzaku agar bergabung dengan Ranta, Yume, Shihoru, dan Mary. Kikkawa, Anna-san, dan Mimorin juga bersama mereka. Tepat setelah itu, sekawanan cultist menghadang mereka.

“Kikkawa, aku mengandalkanmu sebagai perisai utama tim!” seru Haruhiro.

“Woke! Serahkan saja padaku!”

“Semuanya, jangan sampai berpisah!”

Mereka pun meresponnya, tetapi Haruhiro lebih memfokuskan penglihatannya daripada pendengarannya, sehingga dia tidak bisa mendengarkan apa yang rekan-rekannya katakan. Itulah yang harus dia lakukan saat ini

Kikkawa mengayunkan pedangnya, dan menarik musuh kepadanya. Punggung Kuzaku dan Ranta saling berhadapan untuk melindngi satu sama lain, seraya terus memberikan serangan pada musuh di hadapannya. Jika ada musuh yang tidak bisa mereka bertiga hentikan, maka Yume, Mary, Mimorin, dan yang terakhir Haruhiro akan memberikan bantuan. Bahkan Anna-san punya semacam senjata mirip tongkat yang sudah dia persiapkan, namun tugas utama gadis ini tetaplah memberikan sorakan penyemangat.

Napas Shihoru sudah terengah-engah. Akhirnya, dia menarik napas panjang untuk menenangkan diri, dan mencari waktu yang tepat untuk menembakkan sihirnya. Para pasukan relawan lainnya juga berhenti bergerak di tempat Haruhiro dan yang lainnya berada.

Hydra masih mengejar. Akhirnya, dia pun sudah berada di bagian paling belakang kawanan pasukan relawan yang melarikan diri.

Rambut merah Ducky bergidik dengan kencang saat dia meneriakkan sesuatu. Salah seorang Berserkers dihantam oleh raksasa putih, sampai mental ke udara.

Oh, Haruhiro menyadari serangan itu. Ya, orang itu pasti sudah mati. Tapi sekarang bukan waktunya untuk mengkhawatirkan orang lain.

“Augh!” Yume berteriak, dan tubuhnya menggigil. Itu karena senjata Tori-san. Dia berhasil menangkis Pedang Petir Lumba-lumba milik Tori-san dengan parangnya, namun efek senjata tersebut masih terasa.

Tori-san melangkah dan mencoba untuk membelah Yume.

Dia akan membunuhnya. Membunuh Yume. Tidak, aku tidak akan membiarkan dia melakukan itu.

Haruhiro melesat ke arah Yume…. Bukannya menempatkan diri di antara Yume dan Tori-san, Haruhiro malah mengincar pinggul lawannya. Dia menggunakan Sap untuk menghantam tangan Tori-san yang memegang Pedang Petir Lumba-lumba.

Bagaimana dengan itu?

Tapi Tori-san tidak menjatuhkan pedangnya. Dia hanya menariknya kembali.

Yang lebih parah lagi, ia membanting Perisai Cermin padanya.

Oh sial. Gawat. Aku tidak bisa menghindarinya.

“Urgh!” Haruhiro menerima hantaman perisai itu secara langsung, sehingga membuatnya terjungkir.

Apakah aku akan mati? pikirnya sejenak.

“Di sana!” seru Mimorin.

“Rasakan ini!” Teriak Mary.

Berkat rekan-rekannya, ia tidak harus mati. Namun, hampir saja dia meregang nyawa. Mimorin dan Mary bekerjasama memberikan serangan, sehingga memaksa Tori-san mundur. Sementara itu, Yume membantu Haruhiro berdiri.

“Maaf, Haru-kun!” Katanya.

“Tidak apa-apa!” Jawabnya.

Pasti terjadi kesalahan. Tidak mungkin bertarung dengan musuh sebanyak ini tanpa melakukan kesalahan sedikit pun. Yang penting adalah, ketika seseorang melakukan kesalahan, maka rekan-rekan lainnya memberikan bantuan, sehingga menghindari luka serius, dan mereka mampu bertahan hidup lebih lama. Ketika lubang mulai terbuka, mereka harus menambal dan menutupnya, sehingga tak seorang pun menyadari bahwa ada cacat di sana. Jika mereka bisa mengulangi metode ini dengan konsisten, maka mereka bisa keluar dari sini hidup-hidup, entah bagaimana caranya. Itulah yang mereka butuhkan. Meskipun pemimpin mereka hanyalah bocah pendek yang suram, setidaknya dia mau berusaha keras.

Namun, semuanya pasti ada batasnya.

Tokimune dan Tada masih berurusan dengan raksasa enam meter. Kikkawa, Kuzaku, dan Ranta masih berusaha keras di garis depan, dan Haruhiro, Yume, Mary, dan Mimorin bertarung dengan cukup stabil di lini beakang. Itu artinya, Anna-san dan Shihoru tidak perlu melakukan apa pun. Dengan formasi seperti ini, mereka bisa mengandalkan tembakan sihir Shihoru kapanpun mereka membutuhkan. Untuk sekarang, biarkan formasi seperti ini bekerja.

Kelihatannya, Iron Knuckle, Berserker, Orion, dan pasukan relawan lainnya telah membentuk formasi masing-masing, dan mereka pun berhasil mengalahkan lawan-lawannya dengan kerja kelompok.

Andaikan musuh hanyalah sekumpulan raksasa enam meter, bukannya tidak mungkin mereka bisa mengalahkannya, karena mereka unggul jumlah. Masalahnya adalah, di antara para musuh, ada raksasa putih delapan meter, dan juga seekor Hydra.

Gerakan raksasa delapan meter tampak lamban, bahkan lebih lambat jika dibandingkan dengan raksasa putih lainnya. Namun raksasa setinggi itu cukup mengganggu, dan seorang pun tidak akan dapat lewat ketika dihadang olehnya. Tentu saja, itu merupakan ancaman yang menyusahkan.

Hydra itu mengayunkan kelima lehernya untuk menyerang pasukan relawan, sementara empat leher lainnya merayap untuk mendorong tubuhnya maju ke depan.

Ketika raksasa putih 8 meter dan Hydra menyerang, pasukan relawan tidak bisa melakukan apapun. Itulah kesempatan bagi para cultist dan raksasa putih yang lebih pendek untuk melancarkan serangan. Mereka mampu memporak-porandakan medan pertempuran ini.

Strategi untuk mengalahkan mereka cukup sederhana. Kalau pasukan relawan dapat melakukan sesuatu pada raksasa 8 meter dan Hydra, maka kemenangan bisa diraih. Itupun, “kalau” mereka dapat melakukan sesuatu padanya.

Namun, itu bukanlah tugas untuk orang-orang lemah macam Haruhiro dan Party-nya. Bahkan para Tokkis pasti akan mengalami kesulitan jika harus melawan kedua makhluk raksasa itu. Atau bahkan, mustahil. Adapun Iron Knuckle, Berserker, dan Orion, jika mereka bisa melakukan sesuatu pada kedua monster itu, pastilah mereka sudah melakukannya sejak tadi. Namun, situasi seperti ini adalah bukti bahwa mereka tidak bisa melakukan apa-apa.

Namun, mereka belum menyerah. Setiap kali pasukan relawan dihempaskan oleh serangan leher-leher Hydra, atau dipentalkan oleh serangan raksasa 8 meter, pasukan relawan lainnya akan segera masuk untuk memberi dukungan. “One-on-One” Max, “Red Devil” Ducky, dan Shinohara sibuk kesana-kemari untuk memberikan bantuan pada rekan-rekannya.

Melalui siksaan rasa sakit yang hebat, pasukan relawan terus mempertahankan barisan mereka, dan perlahan-lahan mundur ketika keadaan sudah tidak memungkinkan untuk menyerang. Haruhiro dan Party-nya juga masih berusaha. Mereka harus mundur secara perlahan.

Bahkan saat mereka ditekan habis-habisan, mereka akan berusaha sekuat mungkin untuk bertahan.

Namun, lama-kelamaan, pertahanan mereka pasti dibobol oleh serangan musuh.

Mereka tidak akan sanggup terus-terusan menahan gelombang serangan lawan, dan pada akhirnya nanti, mereka akan tumbang.

Tapi anehnya….. Meskipun stamina mereka semakin menipis, pasukan relawan senior tampak tak gentar, dan mereka terus melakukan yang terbaik. Tak seorang pun menyerah, dan tak seorang pun menunjukkan tanda-tanda putus asa.

Apakah mereka membersihkan pikiran dari hal-hal yang tidak perlu, sehingga mereka begitu fokus dalam bertarung?

Namun pada akhirnya nanti, manusia hanya bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan batasnya masing-masing. Mereka hanya bisa memberikan yang terbaik. Untuk selebihnya, manusia hanya bisa berharap. Meskipun mereka sudah berusaha sekeras mungkin, dan berdoa sekhidmad mungkin, pada akhirnya hanyalah takdir yang menentukan segalanya.

"Fokus. Fokus. Fokus..."

Sembari membisikkan itu pada dirinya sendiri, Haruhiro melihat sekelilingnya. Dia sudah memahami situasi saat ini. Dia terus melakukan Swat pada tombak Pansuke yang berdatangan padanya.

Ada jarak yang terbentuk antara garis depan dan lini belakang, sehingga ia harus mendekatkan kedua lini agar lebih rapat. Ada Pansuke lain yang muncul dari belakang, sehingga ia harus menempatkan Yume dan Mary di belakang Anna-san dan Shihoru.

Kuzaku cukup kelelahan. Haruhiro ingin membiarkan dia beristirahat, tapi itu bukan pilihan yang bagus.

“Terus berjuang!” Ia berteriak kepadanya.

Dia terus melakukan Swat pada tombak Pansuke. Dia ingin mengombinasikannya dengan Shatter, tapi kenyataannya tidaklah semudah itu. Dia ragu bisa melakukan kombinasi sulit pada saat-saat seperti ini. Dia harus menahan diri.

Raksasa putih 8 meter masih belum juga mendekat, tapi Hydra sudah. Apakah Tokimune dan Tada, yang masih saja disibukkan oleh raksasa 6 meter, baik-baik saja?

“Hydra datang!” seru Haruhiro.

Setidaknya, dia harus memperingatkan rekan-rekannya, sambil terus melakukan Swat pada tombak-tombak Pansuke. Dia memerintahkan Kikkawa, Ranta, dan Kuzaku menggeser posisi mereka ke kiri dua kali.

Swat, Swat, Swat.

Dia sekali lagi mengamati area di sekitarnya. Dia menuju ke barat, pikirnya. Mereka sedang menuju barat. Menuju bukit awal. Dewa raksasa ada di sana.

Dengan kata lain, kalau begini terus, mereka akan terjepit di antara Dewa Raksasa dan Hydra. Itupun kalau mereka masih hidup.

Tidak, tidak. Jangan berpikir tentang hal buruk seperti itu. Jangan terganggu oleh firasat buruk. Fokus, fokus, fokus, fokus, fokus.

“Gahhh!” Kikkawa tidak sengaja terkena Pedang Petir Lumba-lumba, sehingga tubuhnya menggigil.

“Dasar tolol!” Ranta menangkis pedang tersebut dengan pedang sejenis, untuk melindungi Kikkawa.

Formasi garis depan mulai berantakan, dan sepertinya para cultist akan segera menekan mereka.

Untuk sesaat, Haruhiro merasa takut, tapi dia yakin rekan-rekannya bisa melalui ini. “Kikkawa, terus serang dan sesekali bertukarlah posisi dengan Ranta! Mimorin, lindungi Kikkawa!”

“Woke!” Kikkawa menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan sisa-sisa sengatan Pedang Petir Lumba-lumba, kemudian dia langsung berganti posisi dengan Ranta.

“Aye!” Mimorin mengambil posisi di belakang Kikkawa secara diagonal, sambil menangkis tombak-tombak Pansuke yang mengganggunya.

Aku tahu ada Tori-san lainnya di sekitar sini, pikir Haruhiro, sambil mengamati sekelilingnya. Di sana! Dia berputar-putar di belakang kami.

"Mary!"

Segera bereaksi setelah dipanggil namanya, Mary memelintir gerakan tubuhnya untuk menghindari Pedang Petir Lumba-lumba.

“Ohm, rel, dll, el vel, darsh!”

Shihoru menggunakan Shadow Echo. Tiga elemental bayangan terbang menuju Tori-san. Jaraknya cukup dekat.

Itu akan mengenainya. Ah tidak, Tori-san telah menangkis dua elemental dengan Perisai Cerminnya. Tapi satu sisanya tepat mengenai wajahnya.

Kepala Tori-san terpental ke belakang seperti habis ditinju. Mary menusukkan tongkatnya pada Perisai Cermin, sehingga membuat Tori-san itu semakin terpental mundur. Namun, dia tidak boleh hanya fokus pada Tori-san saja.

Mary dan Yume terus berusaha menyibukkan para Pansuke. Kalau Tori-san datang mengganggu, maka ini semakin sulit. Meskipun Anna-san bergabung, bantuannya tidak akan banyak berpengaruh, dan itu terlalu lambat, sedangkan Shihoru tidak mampu bertarung jarak dekat.

Haruhiro sendiri sedang sibuk melakukan Swat pada tombak-tombak Pansuke yang terus datang menghujaninya.

Apakah aku perlu menarik mundur Mimorin? dia bertanya pada dirinya sendiri. Atau apakah aku harus mengambil seseorang dari garis depan, kemudian mengirimkannya ke lini belakang? Putuskan. Sekarang juga!

“Kuzaku, pergi ke belakang!”

“'Siap!” Kuzaku segera menarik diri.

Kuzaku mungkin sangat mengkhawatirkan Mary. Dia akan merasa lebih tenang berada di sisinya, itu pasti. Sekarang, bagaimana mengisi celah yang Kuzaku tinggalkan?

Ranta sepenuhnya disibukkan oleh Tori-san di hadapannya, sementara Kikkawa juga menghadapi sejumlah musuh. Mimorin hanya menghadapi satu Pansuke saat ini. Jika Haruhiro menanganinya, dan membebaskan Mimorin ...

Fokus. Aku harus fokus. Fokus, fokus.

Hydra.

Sudah dekat.

Semakin dekat. Atau masih jauh? Aku tidak tahu. Tapi ... rasanya cukup dekat.

“Whoa!” Tokimune bergelantungan pada pedangnya yang dia tancapkan pada daerah sekitar pinggang raksasa putih, dan sepertinya tidak lama lagi dia akan jatuh.

Apa sih yang dia lakukan? Raksasa putih punya tubuh yang begitu keras, sungguh luar biasa dia bisa menancapkan pedangnya seperti itu, kan?

Ini gawat. Tenang. Aku harus tetap tenang. Swat, Swat.

“Haaaaaze!” Tada berteriak.

Tada mengayunkan palu ke atas secara diagonal, lalu membantingnya ke tulang kering kiri raksasa putih. Tubuh besar raksasa putih pun bergetar. Tulang kering kiri. Kalau dipikir-pikir lagi, Tada selalu ngotot memusatkan serangannya pada suatu titik. Dia serius. Tada benar-benar berniat untuk menjatuhkan raksasa putih. Bersama dengan Tokimune, sepertinya itu bukanlah hal yang mustahil.

Jika mereka punya lebih banyak waktu, bukan tidak mungkin kedua orang itu mengalahkan raksasa putih enam meter. Pada saat itu, pasti akan terjadi sesuatu, tapi Haruhiro tidak sepenuhnya yakin. Atau lebih tepatnya, mengapa dan apa yang akan terjadi? Dan apakah itu mungkin?

Dia meragukan penglihatan matanya sendiri.

Kepala raksasa enam meter tiba-tiba meledak. Seperti semangka yang dipecahkan oleh pentungan. Semua orang sudah sering melihat semangka dipecahkan, namun kalau kepala raksasa putih, sepertinya itu adalah pemandangan yang jarang terjadi. Bukankah aneh melihat kepala sekeras dan sebesar itu hancur berantakan, dengan isinya yang berserakan ke mana-mana? Itu aneh, bukan? Atau, hanya Haruhiro yang berpikir bahwa itu aneh?

“Apaaaaaaaaaaaaaaa?!” Tada meraung. “Itu mangsaku! Siapa yang melakukan itu?!"

Betul. Ini tidak mungkin fenomena alam, pastilah ini ulah seseorang. Apakah itu sihir? Siapa yang melakukannya?

Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui jawabannya.

“Ohhhhh ?!” Ranta melompat mundur.

Ya, tentu saja dia melompat mundur, karena dia pasti terkejut.

Kepala Tori-san juga lepas.

Kapak. Ada kapak di sana. Dipegang oleh sesosok makhluk yang pendek dan dempal. Dwarf berjenggot tebal barusan saja menyerang Tori-san dari belakang, lalu dia memenggal kepalanya dengan kapak.

Tidak mungkin, pikir Haruhiro. Seharusnya ponco mereka tidak bisa tertembus benda tajam. Apakah itu tidak berlaku pada Branken?

“Gwahahahaaaaaah!” Branken mengeluarkan tawa serak dan parau, sembari dia menyerang beberapa cultist, kemudian dia potong-potong lawannya dengan kapak yang mengerikan itu. Dia memotong ponco itu seakan-akan terbuat dari tisu.

Sebenarnya ini adalah pertanyaan sederhana, tapi aku sungguh penasaran, apakah kapak itu ringan? Kelihatannya sih berat, kan? Bagaimana Branken bisa mengayunkan benda seberat itu dengan begitu mudahnya? Apakah karena dia sangat kuat? Seperti itukah?

Haruhiro hanya bisa melongo melihat aksi Branken, sehingga perhatiannya teralihkan sejenak, namun bukan hanya si Dwarf yang datang. Tidak jauh dari sana, ada seorang wanita besar mengayunkan pedangnya yang masif, dan tentu saja, pedang itu juga menebang cultist satu per satu. Seakan-akan ponco para cultist tidak ada gunanya ketika tersayat oleh senjata-senjata mereka. Itu adalah Kayo.

Beberapa cultist juga berjatuhan secara misterius bagaikan lalat, namun badannya tidak terpotong-potong. Haruhiro penasaran apakah penyebabnya, dan jawabannya segera ketahuan. Itu adalah panah. Mata satu mereka ditembaki panah secara akurat.

Dari mana anak-anak panah ini berasal? dia bertanya-tanya. Dari barat kah…

Sepertinya datang dari barat. Ketika Haruhiro melihat ke sana, dia pun menemukannya. Bocah elf cantik yang sudah mempersiapkan busurnya. Itu adalah Taro.

Mantan penyihir pendek, Gogh, dan seorang Mage jelita, Miho, berdiri di belakang Taro dengan aura yang tenang. Sepertinya Gogh sudah melepaskan suatu sihir. Atau mungkin Miho yang melakukannya.

Lalu...

"Maaf. Kami sudah terlambat.”

Ada seorang pria berjalan mendekat. Dia menghunuskan pedangnya, dia adalah mantan prajurit relawan terkuat, dan juga seorang legenda yang tak perlu diragukan lagi.

“Orang itu punya aura yang begitu pekat ...” kata Ranta sembari mengerang penuh kekaguman.

Aku setuju, pikir Haruhiro.

Banyak orang sering membicarakan sosok hebat yang memiliki aura kuat, namun sepertinya inilah “aura kuat” dalam arti yang sebenarnya.

“Akira-san!” Seseorang memanggil namanya.

“Itu Akira-san!”

“Akira-san ada di sini!”

“Akira-san!”

"Wooo! Akira-san!”

“Akira-san bersama kita!”

Suasana berubah dalam sekejap. Akira-san. Itu Akira-san. Namanya dielu-elukan dari segala penjuru! Semua orang diselimuti oleh kepekatan auranya!

Branken, Kayo, dan Taro menghabisi para cultist sekali sabet, sehingga mereka pun panik.

Oh, oh? Apa yang dilakukan raksasa putih empat meter itu? Dia sedang menuju ke arah Akira-san, bukan?

Badan Akira-san cukup besar, namun perbandingan tubuhnya dengan si raksasa putih bahkan lebih jauh daripada anak kecil dan orang dewasa. Meski begitu…. oh sial…. Akira-san terkesan jauh lebih agung daripada lawannya. Entah kenapa, dia seakan-akan lebih besar daripada si raksasa putih.

Wah, itu keputusan yang sembrono, pikir Haruhiro.

Raksasa putih bodoh mengayunkan lengannya pada Akira-san. Tentu saja, dia tidak pernah punya kesempatan untuk mengenai sang legenda. Akira-san berbalik dan menghindar dengan gerakan yang begitu mudah bagaikan anak kecil yang mengejar kupu-kupu di taman, membiarkan tangan kanan raksasa putih terbang melewatinya. Dengan sedikit gerakan, entah bagaimana caranya, dia berhasil menempatkan dirinya di belakang si raksasa malang.

“Dan ... di sana!” Akira-san menaiki raksasa putih. Dia tidak memanjatnya. Lebih tepatnya, dia berjalan. Akira-san mencapai bahu raksasa putih tepat di depan mata satunya.

Haruhiro melihat seluruh aksi Akira-san, namun dia tidak bisa memahami bagaimana dia dapat melakukan itu. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa memanjat bagaikan sedang berjalan? Mungkin sudut kemiringannya tidak begitu curam, namun itu masihlah hebat.

“Istirahatlah dengan tenang, oke?” Akira-san menusukkan pedangnya dalam-dalam pada mata satu raksasa putih. Dalam cara yang agak kurang sopan, juga. Seakan-akan dia ingin mengatakan, Hei, setidaknya lawanalah aku.

Tapi si raksasa juga tidak akan mengerti ucapannya meskipun Akira-san terang-terangan menyatakan itu. Semuanya sudah terlambat.

Raksasa putih itu pun roboh.

Tepat sebelum punggung raksasa putih menyentuh tanah, Akira-san salto ke udara, kemudian mendarat di tanah dengan anggun.

“Yah, bukankah mereka saja cukup untuk mengalahkan semuanya….” Tokimune tertawa dengan takjub. “Dia seakan-akan berasal dari dimensi lain, ya?”

Dimensi lain ya, Haruhiro setuju. Seberapa besarkah perbedaannya dengan kita?

“Memangnya kenapa?!” Tada mendorong kacamata dengan jari telunjuk kirinya, kemudian meluncur dan mengayunkan palunya pada Tori-san terdekat. “Kalau begitu, aku akan menciptakan dimensiku sendiri!”

Tori-san mencoba melindungi kepalanya dengan Perisai Cermin, namun sialnya perisai bersama kepalanya hancur bersamaan, kemudian makhluk malang itu pun roboh ke tanah.

“Yahoo!” Kikkawa melonjak kegirangan. “Bukan hanya dimensi lain, tapi juga dimensi baru, Hah?!"

Setelah melihat kemenangan mudah Akira-san, para pasukan relawan seakan terpompa semangatnya, dan tanpa disuruh lagi, mereka langsung melancarkan serangan balik. Namun, agaknya kurang tepat jika disebut serangan balik biasa. Lebih tepatnya, itu disebut pembantaian balasan.

Bagaimanapun juga, tim legendaris Akira-san, Branken, Kayo, Taro, Gogh, dan Miho membantai para cultist dan raksasa putih, seakan mereka memangkas gulma di taman. Respon raksasa-raksasa putih agak kurang jelas, karena pada dasarnya mereka terlihat datar tanpa emosi, namun kepanikan dan kalang kabut terlihat jelas pada para cultist. Cultists siap-siap mencari celah untuk melarikan diri. Para pasukan relawan semakin berani karena kedatangan Akira-san, sehingga keadaan pun sudah berbalik, kali ini mereka lah yang memburu para cultist.

Tombak para Pansuke hancur satu demi satu. Pedang Petir Lumba-lumba pun tidak lagi menakutkan ketika beberapa pasukan relawan mengeroyok Tori-san secara bersamaan. Senjata mereka rusak, dan Perisai Cermin diinjak-injak. Raksasa putih 4 meter dan 6 meter pun ditebang satu per satu.

Haruhiro dan yang lainnya juga telah meringkus beberapa cultist. Ranta dan Kikkawa ikut terbawa suasana, sehingga mereka menjadi liar.

Pertarungan sulit dan penuh keputusasaan yang barusan terjadi, seakan lenyap tanpa bekas. Haruhiro sekarang yakin bahwa musuh bukanlah sesuatu yang mengerikan. Hanya dengan suatu perubahan saja, semua fakta diputar-balikkan. Namun, kalau mereka lengah, logika sebaliknya juga bisa berlaku. Mungkin saja keadaan berubah sekali lagi, sehingga Haruhiro dan yang lainnya terjebak dalam suatu masalah yang tidak mungkin bisa mereka selesaiakan, sehingga tamatlah semuanya.

Apakah ini ... benar-benar tidak apa-apa? Haruhiro belum mampu mencerna perubahan situasi yang begitu drastis ini, dan dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yahh ... Kurasa tidak masalah, ya? Mungkin aku hanya perlu mengikuti perubahan ini selama tidak berujung pada sesuatu yang buruk.

“Kau masih sehat-sehat saja, Haruhiro-kun,” kata sebuah suara.

Haruhiro terkejut mendapati Akira-san tiba-tiba berada tepat di sampingnya. Akira-san kembali menyarungkan pedangnya, kemudian dia bersedekap sambil pasang ekspresi keren di wajahnya.

“Oh, eh, y-y-ya… kurasa aku baik-baik saja,” Haruhiro tergagap. “Yahh, setidaknya Party-ku..."

“Kamu sudah mencoba beberapa cara bersama Soma dan kelompoknya, untuk mencaritahu kelemahan Dewa Raksasa.”

“Oh, ya?” Tanya Haruhiro. "….Dan hasilnya?"

Akira-san menggeleng. “Semenjak dia memposisikan dirinya di tengah-tengah bukit awal, dia tidak lagi bergerak. Makhluk itu sangat kokoh.”

“Bahkan kalian tidak mampu berbuat sesuatu?”

“Sehebat apapun kami, kami adalah pasukan relawan, tidak berbeda dengan kalian. Hanya saja, aku sudah makan asam garam lebih banyak daripada kalian. Ketika kau hidup lebih lama, kau akan memiliki pengalaman yang membuatmu lebih baik daripada yang lainnya.”

“Begitukah?”

“Tentu saja.” Akira-san tersenyum dan mengangguk.

Beberapa saat yang lalu, kemunculan orang ini memberikan aura yang bisa memutar-balikkan keadaan dalam sekejap, tapi sekarang ia hanya tampak seperti orang tua yang normal. Tentu saja, orang ini bukan hanya sekedar pak tua yang bisa kau temui di manapun.

“Aku hanya seorang pria tua,” kata Akira-san. “Karena umurku sudah tua, aku suka mencampuri urusan anak muda agar aku merasa kembali muda…. Kuzaku-kun, lihat ini sebentar.”

Akira-san memanggil Kuzaku, kemudian dia menyiapkan perisai dan menghunuskan pedangnya. Dia bergerak maju, sambil menutupi setengah dari tubuhnya dengan perisai, kemudian mengayunkan pedang ke bawah secara diagonal pada Pansuke di dekatnya. Bahkan Haruhiro tahu apa yang sedang dia lakukan. Itu adalah salah satu skill Paladin, yaitu Punishment. Tapi Akira-san sengaja menghentikan pedangnya di tengah-tengah, kemudian kembali menariknya. Pansuke itu meringkuk, seakan membeku.

"Apakah kamu lihat itu? Setelah kau lakukan itu berulang-ulang kali, kau bisa juga melakukannya seperti ini…,” kata Akira-san.

“Benar ...” Kuzaku berdiri tegak sembari mengamatinya dari dekat.

Aku sendiri tidak yakin bisa melakukan sebaik itu, pikir Haruhiro.

Akira-san menggunakan skill Punishment pada Pansuke sekali lagi, hanya saja kali ini ia membiarkan lawannya menyerang. Setidaknya, Haruhiro tahu bahwa skill itu adalah Punishment, namun sangat berbeda.

Aku tak tahu, seakan-akan dia melakukannya dengan sekali gerakan.

Bertahan dengan perisai, maju, dan mengayunkan pedangnya ke bawah. Ketiga gerakan dasar yang berbeda itu dia gabungkan menjadi kesatuan yang padu.

Pedang Akira-san dengan rapih memotong bahu kiri Pansuke sampai pinggul kanan. Teknik memotong itu sama hebatnya dengan serangan Branken, Kayo, atau Akira-san, yang membuat ponco para cultist seakan tidak berarti apa-apa. Apakah teknik setinggi ini benar-benar bisa mereka peroleh setelah berulang-ulang kali melakukannya? Sulit untuk menerimanya mentah-mentah, tapi Akira-san bukanlah tipe senior yang suka mengatakan omong kosong pada para juniornya yang kurang berpengalaman.

“Intinya adalah seberapa banyak pengalaman yang kau dapatkan.” Akira-san kembali menyarungkan pedangnya sekali lagi. “Ini soal pengalaman. Rasakan semuanya dengan instingmu, kemudian akumulasikan pengalaman itu. Kalau kau hanya berlatih dan berlatih terus tanpa mengakumulasikan pengalamanmu, maka skill-mu tidak akan berkembang. Memang benar kau akan dapat skill baru, namun skill-mu yang lama akan stagnan. Kalau kau bertanya, bagaimanakah caranya merasakan pengalaman itu, maka satu-satunya jawaban adalah: praktekkan skill-mu di medan pertempuran sebanyak-banyaknya.”

“Hmm,” Gogh mendengus. “Jangan sok keren ketika mengajari juniormu, Akira-san.”

Mage cantik Miho juga berdiri di sana. Meskipun keadaan sudah berpihak pada mereka, namun kekacauan belum usai, jadi bagaimana bisa senior-senior ini beritngkah begitu tenang, seakan-akan mereka sedang berjalan-jalan di kebun sendiri?

“Kau tidak pantas jadi guru yang mengajarkan banyak hal pada juniornya, Akira-san,” kata Gogh. “Kau bahkan bukan tipe orang yang suka mengikuti prosedur dan teori. Kalau kau mulai suka mengajari orang-orang muda itu, maka itulah bukti bahwa kau sudah semakin tua.”

“Yahh, mungkin kau benar,” Akira-san mengangkat bahu. “Aku sendiri sudah menyadarinya, kok.”

“Dia masih muda,” kata Miho sambil tertawa.

“Bwuh!” Ranta mungkin saja sedang membayangkan sesuatu yang aneh.

“S-Sihir!” Shihoru membungkuk, sambil mencengkeram tongkatnya dengan erat. “B-Bolehkah kau mengajariku sihir?… a-atau setidaknya berikan aku saran seperti yang barusan dikatakan Akira-san!” minta Shihoru pada Gogh.

“Aku juga ingin tahu.” Mimorin mengangguk.

“Hei, tunggu.” Anna-san melihat sekeliling dengan gelisah. “Gak papa nih ngobrol di sini? Di sekeliling kita masih banyak musuh berkeliaran, yeah!”

“Yahh, kalau begitu, mari kita kembali bekerja sebentar,” kata Gogh dengan melihat ke arah Shihoru dan Mimorin. “Sementara itu, aku juga akan menjawab pertanyaan darimu. Jika kau sudah mempelajari semua simbol elemental setelah membayar sejumlah uang pada Guild, maka sebenarnya kau masih berada di titik awal sebagai seorang Mage. Untuk selanjutnya, semuanya terserah padamu… Bukankah begitu, Miho?”

"Yang dia katakan benar."

Gogh dan Miho berjalan menjauh. Akira-san mengikuti mereka dengan tenang. Jika ada musuh menyerang mereka berdua, Akira-san akan segera menebangnya.

Tak lama berselang, ketiganya berhenti. Mereka melihat ke arah raksasa putih setinggi 8 meter.

Gogh dan Miho mulai menggambar suatu simbol sihir dengan ujung tongkat mereka masing-masing.

“De, dia, lu, en, ba, zea, ruv, dag, na, mitoh, la, kita, swa, va.”

“Ne, sudah, lu, Syiah, rass, fe, de, ge, hi, mina, Sheh, kweh, du, il.”

“Aku tidak pernah melihat itu sebelumnya,” bisik Shihoru.

Itu benar. Haruhiro tidak pernah melihat simbol seperti itu sebelumnya, dan mantranya juga terdengar asing di telinga. Mungkin itu intonasi yang berbeda dari mantra yang biasanya Shihoru atau Mimorin rapalkan.

Raksasa putih 8 meter, rupanya sudah menyadari bahaya dari Gogh dan Miho, sehingga dia pun menatap mereka. Tepat setelah itu, terdengar suara thuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuun, suara itu merupakan kombinasi dari nada rendah dan tinggi, begitu si raksasa mendengarnya, kepalanya langsung meledak.

“... Hanya sekali serang??” Mary mengatakan itu sambil melongo.

“Nyaa ...” Yume berkedip berulang kali, seakan-akan dia tidak percaya apa yang sedang dilihatnya.

“Yahh, tidak hanya kepalanya saja, aku juga bisa melakukan itu pada bagian tubuh lainnya, tapi ...” Gogh menoleh ke arah mereka, sembari menyisir rambutnya ke belakang telinganya. “Bahkan setelah beralih profesi sebagai Priest, aku bisa melakukan itu setelah banyak belajar. Meskipun begitu, aku tidak bisa melakukan teknik itu seorang diri. Kami menetapkan sebuah elemental, kemudian mengaktifkan kekuatan alternatif. Mereka tidak akan mengajarkanmu teknik seperti ini di Guild. Kamu harus mempelajarinya sendiri, membuat inovasimu sendiri, dan mempertajam skill-mu. ... Wah, aku kelelahan.”

Gogh tiba-tiba menunduk dan menekankan tangan ke dahinya. Dia tampak begitu lelah, seakan-akan bisa roboh kapanpun.

“Oh, ya ampun….” Miho menyipitkan mata, sambil menutupi mulut dengan tangannya.

“Kami berdua semakin tua.” Akira-san mencoba menopang Gogh. “Padahal, sejak awal tubuhmu memang sudah lemah.”

“... Oh, tutup mulutmu,” gerutu Gogh. “Tinggalkan aku sendiri…."

“Sayaaaaaaaaaaang ...!” Kayo tiba-tiba muncul dari kabut darah tipis di udara. "Ada apa ini?! Apakah kamu baik-baik saja?! Sayang?! Tak akan kumaafkan kau jika mati sebelum aku!”

"Ayah?! Apakah sesuatu terjadi padamu, Ayah?! Jangan mati!” Taro juga bergegas ke arahnya, wajahnya tampak begitu khawatir.

"Dengar! Aku tidak akan mati semudah itu!” Gogh berteriak pada mereka, tapi suara itu tertelan oleh gemuruh dahsyat dari raksasa 8 meter yang ambruk ke tanah.

Haruhiro tak pernah menyangka bahwa raksasa 8 meter yang sudah merepotkan banyak pasukan relawan, dibunuh dengan cara sesimpel itu.

Para pasukan relawan pun bersorak-sorai atas robohnya si raksasa.

“Gwah, hah, hah, hah, hah!” Dengan tertawa menakutkan, Branken mengarahkan kapaknya pada lawan-lawan lainnya. “Sekarang, giliran kalian! Bersiaplah untuk mati!”

Haruhiro berusaha menelan ludah, tapi mulutnya kering, sehingga jakunnya hanya naik-turun.

Hydra pasti merasakan sesuatu, sehingga dia melaju menuju mereka, dengan leher-lehernya yang menggeliat. Tidak, bukan hanya menggeliat. Leher-leher itu melebar, seakan-akan membuat tubuhnya menjadi semakin besar.

“Yahh… kalau begitu, sekarang….” Akira-san berjalan menjauh dari Gogh dan menghunuskan pedangnya lagi. “Pertama-tama, mari kita tes kemampuan monster ini.”

Iron Knuckle. Berserkers. Orion. Mereka semua adalah klan-klan paling tersohor di antara para pasukan relawan, namun mereka tidak bergerak, atau tidak bisa bergerak. Hanya Akira-san, Kayo, dan Branken yang berani mendekari Hydra.

Kelima leher mereka bersiap untuk melancarkan serangan. Tiga leher sekaligus mengarah pada Akira-san, dan masing-masing satu leher mengarah pada Kayo dan Branken.

Dia sungguh cepat. Bahkan dengan ukuran sebesar itu, pergerakannya juga cepat?

Bagi Haruhiro, pergerakan Hydra selincah seseorang yang mengayunkan pedang. Tidak mungkin kami bisa menghindarinya, pikirnya sejenak.

Tapi Akira-san hanya mengambil 2 langkah cepat, Kayo meluncur maju, dan Branken berguling ke samping, masing-masing dari mereka menghindari serangan leher dengan cara mereka sendiri.

Akira-san menuju sebelah kanan Hydra, sementara Branken menuju ke kiri. Hanya Kayo yang menyerang langsung dari depan.

Hydra mengayunkan lehernya. Tampaknya, leher-leher itu mempunyai 2 tipe serangan, yaitu sabetan dan tikaman.

Tikaman tampaknya masih bisa dihindari, karena dia memusatkan serangannya pada suatu titik, namun sabetan leher dengan diameter setebal itu, nampaknya lebih sulit dihindari. Diameter lehernya lebih dari 2 meter. Jika leher setebal itu, dan sepanjang itu, menyabet dengan kecepatan tinggi, maka kemanakah mereka bisa menghindar? Namun, mengapa Akira-san dan kelompoknya bisa menghindari sabetan leher Hydra? Haruhiro bahkan tidak bisa membayangkan.

Mungkin mereka bisa memprediksinya, pikirnya. Mereka pasti tahu seberapa jauh leher itu bisa menjangkau lawannya. Mungkin. Tapi bagaimana cara mereka mengetahuinya? Itu masih misteri. Terlalu banyak misteri. Bukankah mustahil melakukan hal seperti itu tanpa pengamatan yang lama?

“Gampang saja, asalkan kau adalah orang jenius yang lahir beberapa ratus tahun sekali di dunia ini,” kata Gogh, seakan-akan dia tahu apa yang sedang dipikirkan Haruhiro. “Pada akhirnya, pengalaman lah yang menentukan segalanya. Ketika kita menghadapi musuh yang belum pernah kita lihat sebelumnya, tentu saja kita tidak akan tahu teknik mereka. Namun, selalu ada beberapa kesamaan dengan lawan-lawan sebelumnya. Apa yang sama? Apa yang sama? Kau tidak akan bisa menghadapinya jika kau sudah takut terlebih dahulu. Apa yang harus aku lakukan di sini? Bagaimana aku mendapatkan peluang terbaik untuk menyerangnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan dijawab oleh tubuhmu sendiri secara refleks, meskpun kau masih ragu untuk menyerang lawanmu.”

“I-itu berarti ...” Ranta mengerang. “Mereka sudah berkali-kali melawan makhluk seperti itu, kan? Itu sebabnya mereka mampu melawan dengan begitu mudah?”

“Firasatku mengatakan bahwa ini cukup sulit.” Gogh mengangkat bahunya. “Mereka akan kesulitan menghadapinya. Tanpa adanya sihir cahaya, mereka akan ragu-ragu bertaruh.”

“Bukankah kau sendiri yang bertanggung jawab soal sihir cahaya?” Miho mengerutkan dahi. Sepertinya mereka berada dalam masalah, karena di Dusk Realm, sihir cahaya tidak dapat digunakan, namun di mata Haruhiro, mereka terlihat seperti sedang bersenang-senang.

“Aku tidak bisa menemukan titik yang bisa kubidik dengan panahku.” Taro menurunkan busurnya, wajah cantiknya terlihat cemberut. “Aku benci musuh besar. Aku berharap bisa membantu Ibu ...”

Taro tampak lebih muda daripada Haruhiro dan anggota Party-nya, tetapi ia pasti memiliki pengalaman yang cukup banyak. Karena dia adalah salah satu anggota Party Akira-san, maka itu wajar saja.

“Keberatan kalau aku bertanya?” Tanya Kuzaku ragu-ragu.

Gogh melirik Kuzaku, dengan ekspresi ramah, seolah-olah mempersilahkannya untuk bertanya.

“Kau tadi bilang 'orang yang terlahir jenius', tapi ...” Kuzaku menanyakan hal yang ingin juga diketahui oleh Haruhiro. “Bukankah Akira-san dan anggota Party-nya tidak pantas untuk disebut tidak jenius?”

Mungkin Branken dan Kayo memandang Akira-san sebagai orang biasa, tapi mereka berdua juga orang hebat, bahkan itu sulit dipercaya setelah melihat semua prestasi Akira-san selama ini.

Sejak tadi dia berusaha menghindari serangan leher, tapi sekarang dia mulai melakukan sesuatu. Setelah menghindar, ia melancarkan serangan balik dengan pedangnya. Terlebih lagi, bukankah dia semakin mendekati Hydra perlahan-lahan? Mungkin begitu. Ah, tidak…. bukannya mungkin…. Dia jelas-jelas semakin dekat dengan Hydra.

“Akira tidak jenius,” kata Gogh dengan pasti, sembari tertawa jahat.

Dia pasti hanya bercanda, pikir Haruhiro. Apakah itu hanya lelucon karena dia sudah begitu akrab dengan Akira-san?

“Kau benar,” kata Miho secara langsung.

Haruhiro mulai berpikir bahwa mungkin saja mereka mengatakan yang sesungguhnya.

Dia melanjutkannya, “Ketika kami pertama kali bertemu, orang itu hanyalah pengecut suram.”

“Sampai sekarang pun dia masih pemalu, tau?” Gogh menyetujuinya.

“Kau mungkin benar.”

“Bahkan di generasi kami, ada banyak orang yang lebih kuat daripadanya.”

“Menurutku, Kayo jauh lebih berani.”

“Sekarang tidak lagi.”

“Ibuku adalah wanita paling pemberani di dunia, dan ayahku adalah pria paling bijaksana di dunia,” Taro menyatakan itu dengan tatapan mata yang begitu serius dan menakutkan. “Dan aku…. Aku adalah anak yang paling beruntung.”

“Kau sangat mencintai kedua orang tuamu, ya,” kata Yume dengan sungguh-sungguh.

“Tentu saja!” Teriak Taro, sambil melebarkan matanya. “Kecintaanku pada ibu dan ayah tidak akan kalah dari apapun! Tak akan! Selamanya!"

“Sepertinya ini bukan masalah menang dan kalah.” Gogh menepuk kepala Taro sambil tertawa kecut. “Suatu hal yang bisa kupastikan adalah, Akira bukan orang jenius. Tapi dia bisa bertahan bahkan sampai sekarang. Itu berkat aku, Kayo, Branken, Taro, dan banyak rekan-rekan lainnya yang telah meninggal selama kami berpetualang. Banyak Warrior berbakat dan Paladin yang jauh lebih baik darinya, tapi mereka jatuh, sementara ia tetap bertahan. Dia tidak bertahan karena dia kuat. Lantas, apa yang membuat dia bertahan? Kalau boleh kuringkas dalam satu kata, kurasa itu adalah keberuntungan. Karena ia beruntung, ia bertahan, dan mampu menjadi kuat.”

Bukan hanya keberuntungan sehari-dua hari, namun keberuntungan selama 20 tahun penuh. Itulah yang telah menciptakan Akira-san.

Seberapa beruntungnya dia? Jika sekali saja keberuntungan tidak berpihak padamu, maka nyawa taruhannya, dan itulah yang terjadi pada Manato dan Mogzo.

Sementara itu, jika Manato atau Mogzo masih hidup sampai saat ini, maka mereka punya kesempatan untuk menjadi seperti Akira-san. Bahkan, Manato dan Mogzo memiliki bakat yang lebih menjanjikan daripada Haruhiro. Namun ternyata, bakat saja tidak menjamin kesuksesan seseorang. Jika seorang pasukan relawan mendapatkan sedikit saja nasib buruk, maka mereka akan kehilangan segalanya. Mereka akan mati.

Dengan demikian, Akira-san adalah salah satu orang terpilih yang dikaruniai keberuntungan.

“... aku tidak seperti itu,” gumam Haruhiro.

Akira-san, Branken, dan Kayo hampir mendekati Hydra. Lima leher tampaknya belum cukup untuk menangkap mereka.

Kemudian, tiba-tiba empat leher yang sebelumnya digunakan untuk berjalan, kini menyerang Akira-san dan lainnya. Sementara itu, Akira-san dan rekan-rekannya sepertinya sudah menduga bahwa ini akan terjadi, namun Haruhiro hanya bisa terkejut. Mereka menghindar dan bergerak berkelok-kelok di antara leher-leher itu, Branken dan Kayo mundur, tapi ... Akira-san terus maju, kemudian dia berhasil menusukkan pedangnya pada pangkal leher Hydra.

Pedang yang tertancap dia gunakan sebagai pijakan, kemudian dia naik ke atas. Itu adalah gerakan memanjat sama seperti ketika dia mengalahkan raksasa putih barusan. Lantas dia berlari sampai mencapai ujung leher.

“Ohh.” Gogh menjentikkan jari. “Ada satu kekuatan yang selalu Akira miliki. Yaitu, keseimbangan. Keseimbangan tubuhnya lebih baik daripada kebanyakan orang.”

“Dia juga menyukai tempat-tempat yang tinggi,” Miho tertawa.

“Dia pasti idiot.” Sudut-sudut bibir Gogh melengkung ke atas karena dia juga tertawa. “Sudah hampir saatnya, Hah."

"Ya. Kamu benar."

Hampir saatnya untuk apa?

Leher-leher Hydra berusaha menjatuhkan Akira-san. Dia melompat. Dia menggebrak beberapa leher lainnya. Kemudian, Akira-san menghilang di balik leher-leher tersebut.

“A-a-a-a-a-apakah dia akan baik-baik saja ?!” teriak Kikkawa.

Kemudian, seluruh tubuh Hydra berguncang.

“Gyahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!” monster itu mengeluarkan jeritan yang luar biasa.

Andaikan ada wanita bertubuh lebih dari 10 meter menjerit, mungkin suaranya akan terdengar seperti itu. Suara itu dilepaskan dari bagian bawah badan Hydra bersama dengan hembusan udara. Dia memelintirkan lehernya, dan mencambukkannya ke segala arah.

Kemudian, Akira-san meluncur keluar dari celah-celah di antara leher.

Gogh dan Miho menggambar simbol elemental dengan tongkat mereka dan meneriakkan mantra.

“Ea, zu, fa, nwe, meu, hoa, rahi, kweh, ba, ju, sai, le, cthu.”

“Ni, fau, shin, dza, wao, iki, le, vu, duma, gis, qua, zu.”

“Panas?!” Haruhiro menutupi wajahnya tanpa sengaja, sambil menekuk lutut. Ada suatu hembusan angin panas yang menerpa tubuhnya. Atau lebih tepatnya, menyapu tubuhnya.

Hydra berada di pusat hawa panas itu. Hydra pun terbakar… ah tidak juga… karena tidak ada api yang menyala di sana. Tapi hawanya benar-benar panas. Terbentuk pusaran angin panas yang menyiksa leher Hydra. Dan pusaran itu pun terus bergerak menuju pangkal dari semua leher Hydra. Haruhiro dan yang lainnya hanya tersapu oleh jejak pusaran tersebut. Meski begitu, terasa sangat panas dan menakutkan.

Apa yang sedang terjadi? Apa yang akan terjadi di sini? Tiba-tiba, arah pusaran angin berubah. Anginnya tidak lagi berhembus ke segala penjuru, melainkan terhisap pada suatu titik.

Mereka terhisap.

“Uwahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ?!” Ranta berteriak.

“Yahooooooooooooooooooooooooooo ?!” Kikkawa menjerit.

Ranta, Kikkawa, tutup mulut kalian!

Tapi, aku paham perasaan kalian.

“Eeeeeeeeeeek ?!” Shihoru menjerit.

“Funyooooooooooooooo ?!” teriak Yume.

“Yahhhhhhh ?!” teriak Mary.

Shihoru, Yume, dan Mary berpelukan satu sama lain.

“Apa-apa’an ini?!” Kuzaku merangkak di tanah.

“What the heeeeeeeeeeeelllllll?!”Anna-san berteriak.

Mimorin berpegangan pada Anna-san yang tengah panik, dan entah mengapa, dia juga memegang Haruhiro dengan kencang.

“Aku gak papa kok…” kata Haruhiro padanya.

"Hanya untuk berjaga-jaga!"

Aku benar-benar gak papa, malahan… aku akan kesulitan kalau kau pegang erat seperti ini. Kalau dipikir-pikir, apakah Tokimune dan Tada baik-baik saja? Lagian, di mana Inui?

"Oh!"

Angin berubah arah lagi. Kali ini, tidak mendorong atau menarik mereka. Anginnya malah bertiup ke bawah dari atas. Massa udara panas menekan dan menghancurkan mereka.

Haruhiro dan Party-nya tertekan oleh udara panas sampai membuat mereka merangkak di tanah , tapi Hydra yang berada di tengah pusaran, mengalami hal yang jauh lebih buruk.

Yang benar saja…..

Hydra sedang dihancurkan oleh udara panas itu.

Sembilan leher tertekan rata pada tanah, sehingga bagian tengah tubuhnya kelihatan…. Mungkinkah itu tubuh utamanya? Atau batang tubuh? Apa pun itu, bagian itu tampak seperti tanaman besar putih, dan bagian atasnya semakin tertekan dan tertarik setiap detiknya.

Sihir macam apa ini? Sihir Arve? Tidak mungkin Sihir Kanon, kan? Sepertinya ini bukan Sihir Falz atau Sihir Darsh. Kalau begitu apa? Aku ingat Gogh mengatakan sesuatu tentang melepaskan elemental, kemudian mengaktifkan kekuatan Altanatif. Apakah itu yang menyebabkan pusaran angin panas penghancur ini?

Akhirnya angin panas mereda.

Tubuh Hydra yang tampak seperti tumbuhan raksasa itu mengecil sampai setengahnya. Sebenarnya agak sulit menilainya dari jarak sejauh ini, tapi yang pasti tubuhnya sudah mengalami kerusakan parah.

Hydra tidak bergerak sama sekali.

“Apakah dia ... mati?” Ranta rebahan telentang, tampaknya dia masih belum fokus.

“Aku lelah ...” Gogh terhuyung-huyung.

"Ayah! Ke sini lah!” Taro memindahkan busur dan anak panah ke bawah lengannya, lalu berjongkok di depan Gogh dan memberikan punggungnya.

“Sekarang, dengarkan ... aku adalah ayahmu, kan?” meskipun mengatakan komplain seperti itu, Gogh masihlah merebahkan dirinya pada punggung Taro. Dia pasti kepayahan.

“Hee hee.” Miho hanya tersenyum, sepertinya dia tidak mendapat banyak masalah. Apakah ketangguhannya setara dengan kecantikannya? Ataukah Gogh yang terlalu lemah?

“Apakah sudah ... berakhir ...?” Shihoru menempel pada Yume, dengan gemetar.

“Mungkin?” Yume mengusap punggung Shihoru untuk meyakinkannya.

“Aku harap begitu.” Mary bergabung dengan Yume untuk menepuk-nepuk Shihoru.

“Wah ...” Kuzaku mendongak dengan ragu-ragu.

“Apakah aman sekarang?” Tanya Mimorin.

Anna-san, membenamkan dirinya pada dada Mimorin yang besar dan empuk, kemudian dia memiringkan kepalanya kebingungan.

Gak papa tuh berlindung di “situ”? Haruhiro penasaran. Bukan berarti dia cemburu atau apa. “T-Tidak ada hubungannya denganku ...”

Beneran nih gak ada hubungannya?

Haruhiro tidak yakin, tapi dia lebih senang jika Mimorin tidak memeganginya erat-erat seperti tadi. Sepertinya dia juga merasakan dada Mimorin ketika menempel padanya, apakah itu yang membuatnya tidak nyaman?

Tada pun mulai berteriak.

“Tidak, ini tidak lucu! Aku tidak terima ini! Aku bahkan belum melakukan apa-apa! Jangan mati begitu mudah, kembalilah hidup!”

Gyahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!

“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek!” Mimorin meneriakkan pekikan yang jarang terdengar darinya, lalu dia merangkul Haruhiro dan Anna-san erat-erat. Atau lebih tepatnya, ia mencekiknya. Haruhiro tidak bisa bernapas.

Selamatkan aku, Haruhiro memohon dalam hati. Tapi, yahh, apa boleh buat… sepertinya Mimorin terkejut akan sesuatu. Haruhiro sendiri juga terkejut.

Hydra yang diduga sudah mati, tiba-tiba mengeluarkan suara ledakan dari tengah tubuhnya, yang tampak seperti tumbuhan putih. Kali ini, suaranya lebih keras dan lebih tinggi daripada yang sebelumnya. Kemudian leher-lehernya mulai berayun ke segala arah dengan liar.

Akira-san, Branken, dan Kayo mundur ke belakang. Yahh, tentu saja, karena keadaan tampaknya semakin berbahaya, kan? Para pasukan relawan lainnya pun ikutan panik, seperti Haruhiro dan kelompoknya.

“Hahahahahahahahaha!” meskipun, begitu Tada tampak senang. "Bagus! Memang inilah yang kuinginkan! Hibur aku lagi!”

"Bagus! Di sinilah mulai babak kedua, ya!” Tokimune tampaknya juga menikmati keadaan ini.

Apakah mereka bodoh ...?

“Kwa, do, roh, wo, su, eck, lue, hura, va, le.” Sementara itu, Miho merapal sebuah mantra.

Kalau dideskripsikan dengan warna, itu adalah ungu. Benda ungu itu bukanlah api ataupun petir, namun wujudnya semakin membengkak, kemudian benda itu menghantam tubuh utama Hydra yang terlihat seperti tumbuhan. Tubuh Hydra robek dan terpotong-potong, daerah di sekitarnya pun basah oleh cairan-cairan seperti lendir. Hydra mulai kejang-kejang, tapi sepertinya dia belum berakhir. Namun, Miho tetap percaya diri, bahkan dia maju untuk mendekati Hydra.

“Ah, lua, de, muo, su, vi, gwa, pa, le, tu, kia.”

Kali ini, muncul cahaya berwarna hijau kehitaman. Cahaya itu berkelip berulang kali, lantas menghantam tubuh utama Hydra, menembusnya, dan mencabiknya. Leher-lehernya menggeliat. Lendir muncrat ke mana-mana, dan kemudian ...

“Ta, tu, rua, fa, yek, nie, dia, la, stoa, ryu, kweh, wana.”

Hah? Masih ada? Berapa banyak sihir yang kalian punya?

Sebuah titik berwarna merah muda terbentuk di atas tubuh utama Hydra, kemudian jatuh.

Shishishishishishishishishishishishishishishishishishishishishi ...

Tunggu, suara macam apa itu? Apa itu? Tidak jelas, tapi tampaknya suara itu berasal dari titik merah muda yang berkontakan dengan tubuh utama Hydra. Apa sih sebenarnya titik merah muda itu? Wujudnya pun semakin membesar.

Wujudnya tidak lagi berbentuk titik. Sekarang sudah menyerupai bola. Semakin besar dan besar. Leher Hydra mencambuk ke segala arah dengan liar. Ujung lehernya menampar tanah. Seakan-akan dia ingin berkata: Tunggu, tunggu, kumohon tunggu dulu dan mencoba untuk meminta belas kasihan.

Tentu, para prajurit relawan tidak akan memberikan sedikit pun belas kasihan. Bukan seperti itu logika mereka dalam medan laga.

Bola merah muda itu menghancurkan tubuh utama Hydra, seperti mencairkannya. Akhirnya, bola itu tenggelam ke dalam tubuhnya.

Sembilan leher Hydra lemas. Tubuh utamanya juga menjadi lemas.

Miho berhenti, mendesah, kemudian dia tertawa. “Dia keras kepala dan nakal, jadi aku sedikit menghukumnya.”

Haruhiro terkejut, lalu dia menempel pada Mimorin tanpa sengaja. Apakah dia seorang sadis?

“Oh, ayolaaaaaaajjj!”Tada berteriak tepat di hadapan Miho. “Hampir saja aku bersenang-senang, tapi sekarang kau merusak semuanya!”

"Oh ya ampun. Maafkan aku."

“Tidak ada gunanya minta maaf! Sekarang, dengarkan aku…. Murgh ?!”

... Whoa. Haruhiro bukanlah orang yang sering dikejutkan oleh hal-hal yang kecil, namun ini cukup mencengangkan.

Leher Hydra tiba-tiba kembali menggeliat penuh dengan kekuatan. Sembilan leher menghentak tanah, dan Hydra melompat ke udara.

Itu melompat.

Hah, makhluk itu bisa melompat ?!

"Oh sial! Mundur!” Teriak Akira-san.

Ini adalah pertama kalinya Akira-san panik. Akira-san, Branken, Kayo, Miho, dan Taro, yang masih menggendong Gogh…. Mereka semua tidak ragu-ragu untuk melarikan diri. Sungguh mencengangkan melihat sekumpulan legenda melarikan diri seperti itu.

Hydra melompat. Terbang ke udara, sambil mengayun-ayunkan lehernya.

Tokimune dan Tada juga mundur.

“Mimorin, lepaskan!” Haruhiro melepaskan diri dari dekapan Mimorin. “K-k-k-k-k-k-kita juga harus lari dari sini segera!”

“Memang, yeah!” Teriak Anna-san.

“Yep!” Mimorin membawa Anna-san dengan susah payah.

Rekan-rekan lainnya juga melarikan diri. Ini seperti sebuah kompetisi untuk menentukan siapakah yang lebih cepat ketika melarikan diri. Mereka harus lari sejauh mungkin dari Hydra.

Oh, ya ampun. Tidak mungkin dia bisa bangkit setelah menerima serangan seperti itu. Haruhiro terus berlari sembari mengumpat dalam hati. Ranta, Mary, Kuzaku, Yume, Shihoru. Mereka semua baik-baik saja. Kikkawa, Tokimune, dan Tada juga. Inui masih hilang, tapi siapa yang peduli? Bagaimana dengan Iron Knuckle, Berserker, dan Orion? Sepertinya mereka tersebar?

Haruhiro, masih mengikuti ke mana Akira-san dan Party-nya pergi. Apakah ini keputusan yang tepat, atau tidak? Dia tidak tahu. Dia tidak bisa memutuskannya sekarang.

Tiba-tiba, Hydra berhenti melompat-lompat.

Dia datang.

Setelah membanting kesembilan lehernya ke tanah dengan keras, dia melesat ke depan bagaikan sedang mengamuk.

“Wawawawawawawawaaaaa ?!” Haruhiro terus berlari sembari mengoceh gak jelas.

Apakah ini buruk? Ini benar-benar buruk, kan? Hah? Apakah aku sudah mengacaukannya? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Sepertinya Hydra sedang menuju ke sini. Apakah dia mengincar Akira-san dan kelompoknya? Jika memang begitu, haruskah aku berpisah dari kelompoknya? Mungkin?

“De, dia, lu, en, ba, zea, ruv, ah, tu, la!” Gogh berbalik sementara masih digending oleh Taro, kemudian dia mulai merapalkan mantra sambil menggambar simbol dengan tongkatnya.

Boooooooooom!

Ada ledakan langsung di bawah Hydra, sehingga menyebabkan sejumlah besar tanah dan rumput beterbangan ke udara.

Hydra kehilangan keseimbangannya. Itu karena pijakannya telah dihancurkan oleh sihir Gogh. Yang harus mereka lakukan sekarang adalah memperlebar jarak sejauh-jauhnya. Tapi seberapa jauh? Apa yang akan terjadi? Apakah Hydra itu akan menyusul mereka? Apa yang akan mereka lakukan jika itu terjadi?

Untuk saat ini, yang bisa kami lakukan hanyalah berlari secepat mungkin, pikir Haruhiro. Jika Hydra ini benar-benar mengincar Akira-san dan kelompoknya, maka itu gawat. Aku tak tahu bagaimana mengatakannya, tapi aku yakin ada cara yang lebih baik dalam menangani ini. Kalau aku harus mempertimbangkan keselamatan Party-ku sebagai prioritas utama, maka hanya ada satu cara…...

Kalau Haruhiro boleh berkata jujur, maka cara terbaik untuk menghindari kejaran Hydra adalah berpisah dari kelompok Akira-san. Yang sekarang mereka lakukan adalah berada di antara kelompok Akira-san dan Hydra, itulah mengapa keadaan mereka sangat berbahaya. Mungkin pilihan terbaik adalah mengubah arah, dan memisahkan diri dari mereka.

Namun, aku merasa berdosa melakukan hal seperti itu. Lagian, aku tidak benar-benar yakin bahwa Akira-san adalah targetnya. Bagaimana kalau bukan? Kalau kami memisahkan diri dari Akira-san, kemudian ternyata monster itu memang mengincar kami, maka tamatlah sudah. Akira-san dan Party-nya tidak akan dapat membantu, dan…. yah, itu akan menjadi akhir dari Party-ku.

Tapi, aku cukup yakin Hydra itu sedang mengincar Akira-san dan Party-nya…

Apakah aku harus bertaruh?

Bukannya itu pertaruhan yang buruk, tapi aku tidaklah begitu yakin. Aku harus memutuskan lebih cepat. Jujur saja, aku sangat ragu-ragu. Aku benci ini.

Bukankah pada akhirnya nanti Akira-san dan Party-nya pasti bisa menangani Hydra itu? Itulah yang kupikirkan? Kalau melihat betapa tangguhnya monster itu, ada juga kemungkinan Akira-san akan direpotkan olehnya. Itu hanya akan menambah masalah bagiku, kan? Aku pikir ada sesuatu yang salah dengan itu. Apakah tidak masalah? Aku sungguh bimbang….

Bahkan dalam kebimbangan, ia terus menghentakkan kakinya untuk terus melaju. Kemudian, dia menyadari bahwa ada sesuatu yang datang dari arah lain.

“Huh?” Haruhiro menyadarinya. Arah lain…….?

Ya. Tidak salah lagi. Sesuatu sedang berlari padanya dari arah lain, kemudian melintasi Haruhiro.

Haruhiro berbalik dan melihat.

Sesuatu yang mengenakan armor hitam.

Armor yang ketat, kelihatan ringan, dan warna keseluruhannya adalah hitam, namun ada beberapa garis oranye yang membujur di beberapa tempat. Bagaimana bisa? Dia memegang pedang melengkung pendek pada pinggulnya, atau lebih tepatnya disebut Katana, sedangkan pada punggungnya, terdapat Katana yang lebih panjang. Dia meraih gagang Katana panjang di punggungnya dengan satu tangan, sembari terus berlari dan melesat lurus ke arah Hydra.

“Soma ...” Haruhiro sengaja menyebut namanya tanpa tambahan “-san”.

Dia berdiri di sana dalam keadaan linglung.

Soma.

Itu Soma.

Hydra itu melesat ke arah mereka, dan Soma justru menghampirinya, jadi mereka berdua pasti akan berbentrokan.

Apakah dia ... akan baik-baik saja?

Sejujurnya, dia cukup khawatir, tapi entah kenapa, Haruhiro tidak bisa membayangkan Soma terbunuh oleh makhluk itu.

Hydra mengangkat tubuh besarnya dengan leher, kemudian mementalkan dirinya pada Soma.

Soma tidak berhenti, bahkan tidak memperlambat langkahnya.

Dia menarik Katana-nya.

Haruhiro mampu melihat segala sesuatu sampai saat itu. Tapi, apa yang dilakukan Soma setelahnya begitu cepat, sampai-sampai mata normal tidak akan mampu mengikutinya.

Mata Haruhiro terbuka lebar dan ia melihatnya dari dekat, tapi tetap saja, dia gagal paham atas apa yang sedang terjadi.

Dia hanya tahu 2 leher Hydra terpotong, kemudian tubuhnya terpental ke udara.

Hydra mendarat dengan bunyi gedebuk… lantas, bagaimana dengan Soma?

Haruhiro mulai khawatir. Apakah Soma masih bertahan hidup?

Leher-leher Hydra tiba-tiba merubah arahnya, kemudian tubuhnya berputar 180° ke arah yang berbeda. Apakah dia memburu Soma? Apakah Soma melewatinya? Apakah ia menyelinap di bawah Hydra? Atau semacamnya?

Sementara Haruhiro masih dalam ketegangan, dan tidak dapat memastikan apa yang telah terjadi, sang Hydra pun melompat ke kiri.

Di sana.

Itu Soma.

Dia mengayunkan Katana panjang itu. Mengapa Katana itu terlihat lebih panjang daripada yang tadi tergantung di punggungnya?

Apapun itu, sabetan Soma membuat Hydra ragu bergerak. Soma menghadapi makhluk itu satu-lawan-satu dari jarak begitu dekat, dan yang lebih hebat, dia lah yang memaksa makhluk itu mundur.

Ini aneh. Ini tidak benar. Apa yang sedang terjadi?

“Sekarang, lihatlah, kalau kau ingin tahu siapakah yang 'jenius.'” Tiba-tiba, Gogh sudah berada di sampingnya, masih digendong Taro. “Pria itulah yang layak kau sebut jenius. Masa baktinya sebagai prajurit relawan hanya seperlima dari masa bakti kami. Namun dia sudah bisa melakukan hal seperti itu. Bakat adalah sesuatu yang kejam dan mengerikan.”

Luar biasa, pikir Haruhiro. Rumor tentang dirinya bukanlah hanya isapan jempol belaka. Sebelumnya, Soma juiga pernah menyelamatkan nyawa Haruhiro dan kelompoknya. Dia disebut terkuat bukan tanpa sebab.

Haruhiro tahu itu. Atau setidaknya, itulah yang dia pikirkan. Tapi dia tidak memahaminya secara penuh, sampai pada hari ini, ketika dia melihat kekuatan Soma yang sesungguhnya.

Mungkin Katana itu bukanlah pedang biasa. Senjata itu tampaknya menyembunyikan suatu kekuatan rahasia yang melampaui nalar manusia. Meski begitu, Soma hanyalah manusia yang terdiri dari daging dan darah.

Tapi, apakah dia manusia biasa? Itu sulit dipercaya.

Soma menunggangi bagian belakang Hydra bersama Katana-nya. Bagaimana bisa dia dengan begitu mudah memotong leher Hydra yang setebal 2 meter itu? Haruhiro tidak tahu. Itu jelas mustahil. Tapi Soma benar-benar melakukannya.

Haruhiro tidak berhalusinasi, jadi ini adalah kenyataan. Ini adalah kenyataan yang melampaui pemahaman dan imajinasi Haruhiro. Atau lebih tepatnya, dia tidak pernah membayangkan ada manusia seperti itu.

Semisal dia mengatakan: Suatu hari nanti, aku akan mengayunkan pedang untuk menebas monster setinggi bangunan 2 tingkat, orang-orang hanya akan tertawa padanya. Hal yang sama juga berlaku pada Haruhiro, ketika dia mendengarkan seseorang mengatakan itu padanya, dia pasti akan langsung berpikir: Sungguh idiot dirimu…

Orang-orang seperti Soma, yang membuat angan-angan konyol menjadi kenyataan, pantas disebut sebagai jenius sejati?

Gogh benar… bakat memang kejam. Tak mungkin ada orang normal yang bisa menyamainya. Itu seperti perbedaan antara bulan dan kura-kura. Keduanya sama-sama berbentuk bulat, namun membandingkannya adalah suatu pekerjaan sia-sia. Keduanya terlalu berbeda.

Grimgar V6 012.png

Dia tidak akan mampu seperti Soma, bahkan membayangkannya pun tidak pernah. Haruhiro selalu sadar bahwa dirinya adalah orang normal, jadi dia sama sekali tidak pusing memikirkan itu, tapi entah kenapa, dia selalu merasa hampa ketika menyadari fakta sederhana ini. Jika ia berpikir ia memiliki potensi untuk menjadi seseorang yang kuat, dia pasti sudah berusaha keras untuk menjadi yang teratas, dan dia tidak akan terperanga ketika bertemu orang sehebat Soma.

Namun, dia juga senang dianggap orang biasa oleh semua rekannya. Tentu saja, dia akan merasa minder jika berhadapan dengan orang yang jauh lebih baik daripada dirinya.

“Soma!” teriak sesosok wanita dengan kecantikan luar biasa yang melampaui manusia, seraya dia melewati Haruhiro.

Wajar saja kecantikannya melampaui manusia, karena sama sekali bukan manuisa.

Dia adalah Elf. Yahh, Taro juga merupakan cowok yang cantik. Mungkin hanya terdapat orang cantik dan tampan pada ras Elf? Apapun itu, kecantikannya memang luar biasa. Kulit seindah itu tidak akan pernah dimiliki oleh manusia manapun. Rambutnya pun berwarna perak. Matanya berbinar-binar persis seperti batu permata. Kalau dilihat perawakannya, otot dan fisiknya jauh lebih sempurna daripada manusia biasa. Misalnya kepalanya…. kepalanya begituuuuuuuu kecil. Caranya berjalan juga berbeda. Langkahnya jauh lebih ringan daripada kami. Dia tidak terlihat memijak tanah, melainkan meluncur melalui tanah.

“Lagi-lagi kau bertindak sendirian!” Lilia menarik pedang tipis yang begitu cocok dengannya, lantas dia ikut serta menyerang Hydra.

Dia adalah seorang penari pedang. Dia benar-benar terlihat seperti menari ketika sedang bermain pedang. Lilia berputar mengitari leher Hydra, sambil menari-narikan pedangnya. Dia menyayat leher-leher Hydra itu dengan gerakan sangat lembut. Meskipun tidak memotong leher-leher Hydra seperti yang Soma lakukan, namun serangannya pasti menyebabkan luka serius bagi Hydra. Tentu saja, tak satu pun leher Hydra bisa mendekatinya, dan dia tidak akan membiarkan apapun mendekat.

Sementara itu, Haruhiro hanya bisa menahan napas saat menyaksikan teknik pedang Elf yang begitu lembut dan kalem, kemudian ia mendengar seseorang mendesah yang terdengar seperti menguap. Ketika ia menoleh, pria besar dengan rambut gimbal melewati Haruhiro dengan santai, tapi langkah kakinya begitu lebar.

Kemuri adalah Paladin seperti Akira-san, Tokimune, atau Kuzaku. Tentu saja, dia memiliki perisai di punggungnya, tapi yang pertama kali menarik perhatian Haruhiro adalah pedang teramat panjang yang dia sarungkan secara diagonal pada punggungnya.

Sembari pelan-pelan menghunuskan pedang itu dengan kedua tangannya, Kemuri mendekati Hydra.

Tidak peduli seberapa hebat dia, bukankah itu sedikit sembrono?

Salah satu leher menyerang Kemuri. Lantas dia mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah secara diagonal.

“Hooo…” Kemuri tidak menghindar. Dia pun menebas leher Hydra dengan mata pedangnya. “…yaaaaaaaakk!”

Setelah ditebas, leher itupun terbelah dua. Bagaimana bisa? Dia baru saja memotong leher setebal 2 meter dengan tebasan berkekuatan penuh.

“Jika dia melakukan gerakan-gerakan seperti itu, aku kagum punggungnya tidak sakit.” Akira-san membelai dagunya, sembari menonton aksi juniornya itu.

Apakah itu masalahnya?

“Bagaimanapun juga, punggungmu lah yang biasanya sakit.” Miho mengusap punggung Akira-san.

"Hmph! Aku bisa melakukannya juga ...” Branken memanggul kapak dan tampaknya dia juga sedang beristirahat.

“Aku sih gak ikut-ikutan, terima kasih.” Kayo berjalan ke arah Gogh, menyambar suaminya, dan menggendongnya di depan bagaikan seorang putri. “Kau sudah bekerja keras. Kau pasti lelah setelah menggunakan semua sihir itu, iya kan sayang?”

“... Tidak begitu lelah sih, jadi turunkan aku sekarang juga.”

“Usiamu sudah uzur, malu lah sedikit….” kata Kayo.

“Justru karena usiaku sudah setua inilah yang membuatku malu. Turunkan aku!”

“Tidak akan.”

“Sialan!”

Itu hanyalah pertengkaran suami-istri yang penuh gurauan, dan siapapun yang melihatnya pasti malu, namun anak Elf mereka melihatnya dengan senyum besar di wajah.

"Astaga. Itu Shima-chan,” kata Miho sembari melihat ke suatu arah, dan ketika Haruhiro menolehkan kepalanya ke arah itu, dia melihat seorang wanita seksi yang lebih dewasa, sedang berjalan mendekat.

“Hei,” kata Shima sambil menundukkan kepalanya. “Bagaimana situasinya di sini?”

“Ini lebih sulit daripada yang kami duga sebelumnya.” Akira-san sedikit memiringkan kepalanya ke samping. "Sepertinya kami gagal menemukan titik lemahnya, dan menghabisinya dengan cepat. Kita harus menguras stamina monster itu. Di manakah Pingo-kun?”

“Dia berada di dekat Dewa Raksasa. Zenmai, juga. Dia selalu bersama Pingo. Dia kembali setelah gagal mengarahkan Hydra.”

“Apakah menurutmu Lala dan Nono melarikan diri?” Tanya Akira-san.

“Aku tak tahu,” kata Shima. “Mereka berdua susah diprediksi.”

“Sepertinya kita harus menyingkirkan Hydra terlebih dahulu.”

“Jika terjadi sesuatu, aku akan menyembuhkanmu,” kata Shima. “Tapi, aku sendiri tidak yakin bisa melakukannya.”

“Tidak, aku akan selalu mengandalkanmu. Maksudku, aku sudah sangat tua, jadi aku bisa membuat kecerobohan kapanpun."

“Baiklah.”

"Aku serius….. Branken, Kayo, waktunya kembali bekerja.”

“Baiklah.” Branken membelai jenggotnya, dan matanya terlihat berapi-api.

“Sayang, jangan tinggalkan aku, oke?” Kayo menurunkan Gogh, kemudian dia memutar-mutarkan lengannya untuk melakukan pemanasan.

“Aku akan membantu, juga!” Taro menyiapkan busurnya.

Oh. Mereka benar-benar akan mengalahkannya. Yahh, aku harap begitu. Maksudku, Soma, Lilia, dan Kemuri pasti sanggup mengalahkan monster itu jika menyerangnya bersamaan, pikir Haruhiro. Dia dan Party-nya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, jadi dia hanya akan berdiri di sini dan menonton pertarungan senior-seniornya sampai selesai. Ya, hanya itulah yang bisa mereka lakukan untuk saat ini.

Tada berbicara. “Kita akan mencuri mangsa mereka, Tokimune.”

“Ayo kita lakukan itu, Tada!”

Tada dan Tokimune pergi dengan penuh kegembiraan. Iron Knuckle, Berserker, dan Orion sepertinya menganggap momentum ini sebagai saat yang tepat untuk membalikkan keadaan, tetapi Haruhiro tidak ingin ikut campur.

Meskipun demikian, Ranta mulai membual, “O-o-o-o-o-oke, aku juga ikut!” dengan suara gemetar. Dia sungguh tak berguna.

“Ya, prgi sana,” kata Haruhiro.

“….t-t-tunggu, kau tidak menghentikanku?! Dasar sialan kau, mata ngantuk!”

“Mataku tidak ada hubungannya dengan ini semua ...”

“Ada lah, dasar tolol!” Teriak Ranta. “Melihat matamu yang seperti itu membuatku muak!”

“Akira-san dan yang lainnya sudah pergi tuh,” kata Haruhiro.

“Whoa, kau benar! Aku terlambat deh! Siaaaaal, aku terlambat. Sayang sekali, ya. Tidak bisa pergi bersama mereka. Ini semua salahmu, Parupiro.”

“Kesalahanku, ya ...”

Haruhiro berkata dalam hati, Oh bung, kalau kau memang niat bertarung, ya serang saja Hydra itu sendirian, Haruhiro melihat keadaan di sekitarnya. Tidak mungkin dia bisa melawan Hydra, tapi masih ada kemungkinan serangan susulan dari para cultist dan raksasa putih lainnya. Jika perlu, Haruhiro dan Party-nya bisa menangani sebagian dari mereka.

Betul juga. Aku masih harus berjuang. Orang-orang biasa seperti kami, hanya perlu mengerjakan tugas yang biasa-biasa saja. Atau lebih tepatnya, hanya inilah yang bisa kami lakukan. Meskipun kami hanyalah orang normal, tapi kami tidak hanya berpangku tangan, lho? Maksudku, jika kami tidak mengasah kemampuan kami, maka kami lebih buruk daripada orang-orang biasa.

"...Tunggu? Apakah itu-Hah ...? Tunggu ... Yume?”

“Nyaaa?” Tanya Yume.

“Hei, di sana ...” Haruhiro menunjuk ke selatan. “Maksudku, bisa saja aku sedang berhalusinasi, tapi ...”

"Hah? Whewie. Ada sesuatu di sana,” Yume menyetujuinya. “Tidak yakin sih, tapi mungkinkah itu Hydra?”

“Ya, aku pikir juga begitu. Itulah kenapa aku………..” Haruhiro mulai panik, kemdian dia lihat sekali lagi untuk meyakinkan matanya sendiri. “I-i-i-i-i-itu terlihat seperti Hydra, kan?! Iya, kan!??"

“Masih ada yang lain?!” Mary meringis.

“Tidak mungkin ...” Shihoru gemetar.

"Hah? Bukankah itu buruk?” Mungkin karena kelelahan, tubuh tinggi Kuzaku seakan mengkerut.

“Kau pasti bercanda ...” sementara masih terselip di ketiak Mimorin, Anna-san membentuk teropong dengan satu tangannya, kemudian dia melihat ke kejauhan. “What the fuck?! No way!”

“Oh, ayolaaaaaaaaaahhhhhhhhh!” Ranta mengacungkan Pedang Petir Lumba-lumba miliknya ke arah Haruhiro. “Ini semua salahmu, bung! Salahmu!"

“Apa-apa’an itu?” Kata Mimorin dengan suara datar, sembari dia memukul belakang kepala Ranta dengan menggunakan tongkatnya.

“Urgh ...” Ranta berjongkok kesakitan.

“Ohhhh!” entah kenapa, Kikkawa mencoba bercanda. “Bukankah satu saja sudah merepotkan? Yang bisa kulakukan hanyalah merengek ketakutan pada pamanku! Tunggu, apakah aku benar-benar memiliki paman?!”

“Hm ...” Gogh tampaknya berpikir serius tentang hal ini.

“Yah, ini membingungkan.” Nada bicara Miho terkesan tidak serius meskipun situasi ini cukup gawat.

Kenapa begitu santai? Apakah karena dia terlalu cantik? Haruhiro penasaran, Atau apakah tidak ada hubungannya dengan kecantikan?

“Masih ada yang lainnya, ya.” Sima mengatakan itu sambil mengerutkan alisnya, dan itu tampak begitu menggoda.

Tunggu dulu, mengapa mereka tidak begitu panik? Apakah karena mereka sudah terlalu berpengalaman dalam menghadapi hal seperti ini? Masalah seperti ini tidak ada apa-apanya bagi mereka? Mungkinkah mereka berpikir bahwa pada akhirnya nanti mereka akan menemukan jalan keluar, entah bagaimana caranya?

“AA-Akira-san!” Haruhiro berlari ke arahnya.

Akira-san hendak menyerang Hydra yang pertama. Namun, begitu melihat Haruhiro mendekat, dia berhenti dan berbalik padanya.

“Ada apa, Haruhiro-kun?”

“I-i-i-i-i-ini gawat! Ada Hydra lainnya!” Haruhiro menunjuk ke arah selatan, kemudian mengarahkan matanya ke timur dan barat.

Dia hampir kehabisan kata-kata.

Tidak, aku tidak boleh kehabisan kata-kata dalam keadaan seperti ini, aku harus menyampaikan segalanya.

Bukan hanya di sebelah selatan, namun juga di barat dan timur. Bukankah ini konyol? Tapi fakta adalah fakta.

“T-t-t-t-t-t-t-ternyata tidak hanya satu! Aku melihat satu, dua, tiga atau empat Hydra?! Kira-kira sebanyak itu!"

“Apa yang sedang kau katakan?” Bahkan Akira-san terkejut setelah mendengar kabar ini, namun tidak sampai panik. Dia mengamati daerah di sekitarnya sekilas, kemudian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. “Miho, Gogh, terus berikan informasi padaku tentang situasi terkini. Beritahu pada setiap pasukan relawan yang kau yakini punya kemampuan mumpuni untuk mengikutiku dan Soma! Jangan tinggal diam! Kemenangan adalah milik orang-orang yang bernyali!”

Setelah sang legenda menyatakan itu, para pasukan relawan di sekitarnya tersulut dengan api semangat.

Hah? pikir Haruhiro dengan tertegun. Gak papa nih..?

Kali ini, Haruhiro benar-benar kehabisan kata, dan hanya bisa berdiri di sana dalam syok.

Gawat ... Jika itu yang Akira-san katakan ... maka, itulah jawabannya kurasa….

Hydra pertama telah didorong ke tepi jurang oleh Soma dan yang lainnya, hanya tiga leher yang masih utuh, lainnya sudah terpangkas habis. Dia pun menggunakan leher yang tersisa untuk melompat dan berlari. Setelah ketiga leher tersebut dicincang, maka dia hanyalah seonggok daging yang tak mampu melakukan apapun.

Hydra yang pertama akan segera dikalahkan. Namun, beberapa Hydra lainnya akan segera datang, itulah faktanya. Mereka hanya bisa mengalahkan monster itu satu per satu. Akira-san tahu benar akan hal itu. Jika dia mendapatkan bantuan dari Soma dan pasukan relawan lainnya, maka mereka pasti bisa mengalahkannya. Itulah keputusan yang dia buat setelah berhitung secara matang.

Haruhiro menggunakan punggung tangannya untuk menyeka daerah sekitar mulut, kemudian dia mengawasi sekitarnya.

Beberapa Hydra.

Ada satu di sebelah selatan, satu di timur, dan satu di barat daya. Totalnya, ada 3 Hydra yang dia lihat sedang mendekat. Tapi dia tidak tahu pasti apakah ada monster serupa lainnya yang sedang mendekat. Dan tentu saja, para Hydra itu tidak sendirian. Dia melihat raksasa putih, dan juga para cultist yang terdiri dari Pansuke dan Tori-san. Beberapa dari mereka pasti akan mengganggu pasukan relawan ketika menghadapi Hydra, itu tidak diragukan lagi.

Apakah para Hydra itu memang berencana memanfaatkan cultist dan raksasa putih untuk melindungi dirinya? tiba-tiba Haruhiro memikirkan hal itu.

Party Soma dan Akira-san saja sudah cukup untuk mengalahkan Hydra. Sebenarnya mereka tidak memerlukan bantuan pasukan relawan lainnya. Meskipun demikian, Akira-san telah meyakinkan mereka untuk ikut bertarung. Kalau para cultist dan raksasa putih ikut campur dalam pertarungan ini, maka akan semakin runyam. Apakah Akira-san memang berencana menggunakan pasukan relawan untuk mengalahkan kroco-kroco itu?

Tidak, tidak, Akira-san bukanlah tipe senior yang suka memanfaatkan juniornya. Setidaknya, itulah yang Haruhiro yakini. Akira-san adalah pemmimpin hebat, dan orang yang baik. Dia tidak akan menggunakan orang lain sebagai bidak sekali pakai. Dia selalu menerima dan memperhatikan orang lain, ia benar-benar sempurna……..

Benarkah begitu?

Menurut kabar, dia pernah menjadi seorang pengecut. Itulah yang dikatakan Miho. Tapi, dia sama sekali tidak terlihat seperti itu.

Akira-san tampak begitu baik. Dia kuat, dapat diandalkan, dan jika sesuatu terjadi pada juniornya, sepertinya dia akan berjuang keras untuk menolongnya, dia bagaikan seorang ayah yang siap berkorban untuk anak-anaknya, tapi……… benarkah demikian?

Akira-san bukan tipe orang jenius. Banyak orang yang lebih berbakat daripada dia, tapi mereka semua sudah mati. Akira-san selamat dan terus tumbuh menjadi orang yang kuat. Itulah Gogh katakan.

Lantas…….. selama ini, bagaimana cara Akira-san lolos dari bahaya? Bukankah terkadang dia terpaksa membuat keputusan yang menguntungkan dirinya sendiri? Bukankah itu yang membuatnya selalu selamat dari mara bahaya, sehingga dia bisa terus tumbuh menjadi orang yang kuat?

Haruhiro berbalik, kemudian dia berusaha sebisa mungkin membuat ekspresi santai di wajahnya, lantas dia pun bertanya pada Gogh, “Menurutmu, apakah kemungkinan terburuknya?”

“Oh, jadi kau tipe orang seperti itu, ya.” Gogh mengangkat satu alisnya. “Aku tak menyangka….”

"Apa maksudmu?"

“Tadinya, kukira kau adalah tipe orang emosional. Aku sih tidak terlalu mengenalmu, jadi itu hanyalah kesanku terhadapmu. Kalau kau selalu mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada kelompokmu, maka menurutku kau lebih cocok jadi komandan.”

“... Kau masih belum menjawab pertanyaanku.”

“Semuanya memang tergantung peruntungan kita.” Gogh memutar jari telunjuknya dalam lingkaran. “Jika peruntungan kita sedang buruk, kita bisa saja mati. Begitulah faktanya. Namun, kau tidak akan pernah tahu seberapa banyak orang yang akan mati. Tentu saja aku sendiri tidak mau mati di sini. Jika kau masih ingin hidup, maka kusarankan agar kalian tidak jauh-jauh dari kelompok kami."

“Celaka nih,” kata Haruhiro.

"Hah?"

“Celaka…..” Haruhiro mendesah.

Rasanya emosiku memuncak. Tahan, tahan…. Bukannya aku marah. Hanya saja…, pikirnya.

“Kau boleh saja bilang bahwa keberuntungan lah yang selama ini menyelamatkan kalian,” ujar Haruhiro. “Tapi sebenarnya, banyak faktor lain yang mempengaruhi, kan? Bagaimana dengan bidak-bidak yang hanya digunakan sebagai pijakan? Apakah kau juga menyebutnya sebagai salah satu faktor keberuntungan? Menurutku tidak begitu. Aku pernah mengalami sesuatu yang membuatku berpikir, 'Aku selamat karena dia,' atau, 'Aku pasti sudah mati jika dia tidak berkorban untukku.' Itu bukan keberuntungan. Itu adalah hasil kerja keras dan pengorbanan seseorang!"

“Lantas?” Gogh tersenyum sedikit. “Apa yang coba kau katakan?”

“Aku tidak bisa menyampaikannya dengan baik, tapi ...”

“Sampaikan saja secara langsung. Aku benci berbelit-belit.”

“K-Kurasa…. Bukankah lebih baik kita mengurangi sebanyak mungkin orang yang akan menjadi korban? Ya, aku yakin bahwa orang-orang yang kuat akan bertahan hidup lebih lama. Itulah yang disebut: yang terkuatlah yang bertahan. Tetapi meskipun mereka lemah, atau kurang beruntung, bukan mereka masihlah berhak hidup?”

“Mengapa kita harus repot-repot mengurusi orang yang lemah dan kurang beruntung?” tanya Gogh.

“Aku pun tidak berpikir untuk mengurusi mereka ...”

"Benar sekali. Kita bukanlah orang dermawan, dan kita di sini tidak sedang mengadakan suatu kegiatan amal.”

“T-tetapi, m-masih ada yang bisa kau lakukan untuk menyelamatkan mereka.”

“Untuk apa menyelamatkan mereka?” Tanya Gogh.

“Maksudku, jika mereka mati, semuanya akan berakhir!”

Haruhiro menggigit bibirnya sendiri dan menggeleng. Jika dia cerdas, mungkin dia bisa bersilat lidah untuk membujuk dan meyakinkan Gogh? Atau, apakah Haruhiro hanya berpikir tanpa arah yang jelas?

“Setelah kau mati, maka semuanya akan tamat,” jelasnya. “Bagi orang yang kurang beruntung seperti itu, segala kemungkinan sudah tertutup. Jadi, apakah aneh jika sebisa mungkin aku ingin menekan jumlah orang yang akan dikorbankan? Jika tidak ada cara lain, maka apa boleh buat… yang sudah ditakdirkan mati, biarlah mati…. Tapi jika kau punya kemampuan untuk mencegah itu terjadi, mengapa kau tidak melakukannya? Bukankah membiarkan orang lain mati sebagai bidak yang dikorbankan adalah cara murahan?”

“Jadi kau ingin kami mengambil cara yang lebih terpuji?” Tanya Gogh.

“Kurasa, akan lebih baik begitu.”

“Kau masih polos.” Shima tertawa. “Tapi aku setuju saja, sih.”

“Tapi Haruhiro-kun.” Miho menatap Haruhiro tepat di matanya. "Apa yang bisa kau lakukan? Kamu tidak ingin orang mati sia-sia. Itu bagus, tapi apa yang dapat kau lakukan untuk mewujudkan itu?”

“A-Aku…....”

Itu tatapan yang intens. Haruhiro hampir menundukkan kepalanya karena tidak tahan dengan tatapan mata sekuat itu, namun dia berhasil mengangkat kepalanya. Sembari menatap langit, dia bertahan dari tatapan mata Miho yang begitu intens. Sebisa mungkin dia bertahan.

“Tidak ... tidak ada yang bisa kulakukan. Tapi…. andaikan aku punya kekuatan untuk mewujudkannya, maka aku pasti akan melakukannya. Itulah kenapa aku memohon pada Gogh-san.”

“Oh ya ampun.” Mata Miho sedikit terbelalak.

“Kau tidak masuk akal.” Gogh mengerutkan kening dan mengangkat bahu. “Kurasa kejujuranmu bukanlah suatu kebajikan. Sama sekali bukan. Tapi terus terang saja, itulah yang tidak kami punyai. Mungkin ada baiknya kalau sesekali kami menginstropeksi diri.”

“Naluri Soma mungkin ada benarnya, lho.” Sembari mengucapkan kata-kata misterius itu, Shima menyandarkan dirinya di dekat Haruhiro. Aroma Elf itu sangat wangi.

Tunggu…tunggu… bukankah ini terlalu dekat??

“Kami sedang mencari cara untuk kembali ke dunia asli kami.” Suaranya hampir seperti bisikan.

Haruhiro langsung memegang telinganya, kemudian mundur beberapa langkah. "...Hah? Asli? Apa maksudmu dengan cara untuk kembali ...?”

“Untuk saat ini, lupakan saja perkataanku tadi.” Shima menempelkan jari telunjuk pada mulutnya yang mengerucut. "Kita akan membicarakan itu lain kali. Pertama, kita harus keluar dari Dusk Realm, kan?”

“Inilah idemu,” kata Gogh, sambil menekankan jarinya pada dahi Haruhiro. “Meskipun kau begitu ingin menyelamatkan mereka, kalau yang kau kerjakan hanyalah lari kesana-kemari gak jelas, maka kau tidak akan pernah merubah keadaaan. Maka, pergilah bersama kami, setidaknya kau bisa melakukan beberapa hal nanti.”

“Baiklah….”

Dia akan menyetujuinya begitu saja, namun tiba-tiba Haruhiro tersadar. Bukan Haruhiro saja yang menghadapi masalah ini. Party-nya juga akan ikut, karena Haruhiro adalah pemimpin Party.

Ketika dia berbalik, Ranta tertawa dan melihatnya dengan tatapan pahit. “Untung saja kau mengatakan itu, karena akulah yang akan melakukannya jika kau ragu.”

“Tiiiiiiiddddaaaaaaaaaaak mungkin Ranta berani mengatakan hal seperti itu.” Yume menggembungkan salah satu pipinya.

“Aku sudah memutuskan untuk selalu mengikutimu.” Kata Kuzaku dengan patuh, layaknya anjing besar yang jinak.

“Aku juga.” Mary tersenyum dan mengangguk.

“... Aku sih gak masalah.” Shihoru memberinya senyum canggung.

“Umm, umm, lantas bagaimana dengan kita?!” Kikkawa melirik pada Mimorin dan Anna-san, kemudian melihat sekeliling dengan gelisah. “Whaaaa?! Di mana Inuicchi?!”

“Si mata satu itu sudah laaaaaamaaaaaaa menghilang, yeah?!” teriak Anna-san.

“Serius?! Kok aku gak sadar ya,” kata Kikkawa. “Yah, terserah lah! Dia mungkin masih hidup! Yahh, kurasa biarkan Tokimune yang memutuskannya?”

“Sedihnya,” Mimorin mengangguk.

“Oh, baiklaaahh. Betapa merepotkan kalian.” Gogh melihat Haruhiro dan yang lainnya sekilas. Ekspresinya tampak seperti sedang jenuh, tapi ada semangat di mata Gogh yang sebelumnya tidak pernah dilihat Haruhiro. “Sekarang, kau lah yang akan memandu, Miho, Shima, dan aku. Jangan jauh-jauh dari kami, dan lakukan apapun yang kuperintahkan. Akan kutunjukkan padamu betapa kejamnya dunia ini. Mulai sekarang, sebisa mungkin kita akan cegah kematian rekan-rekan kita. Entah bagaimana caranya, kita akan melewati Dewa Raksasa, dan keluar hidup-hidup dari Dusk Realm.”

Jika Ada Cahaya di Sana[edit]

Haruhiro dan yang lainnya hampir tidak melakukan apa-apa. Mereka hanya mengikuti Gogh dan rekan-rekannya. Namun, tetap saja, itu adalah pengalaman yang mengerikan.

Setelah Gogh menerima apa yang dikatakan Haruhiro, Akira-san segera menarik kembali semua perintahnya. Prioritas pun berubah, dari menyerang lawan habis-habisan, menjadi berusaha kembali ke bukit awal.

Tapi Akira-san, Soma, dan kelompok mereka tidak melarikan diri. Mereka tidak bisa melakukan itu. Semua leher Hydra pertama sudah ditebang, sehingga dia tidak lagi bisa berbuat apapun, tapi tiga Hydra lainnya baru saja tiba, disertai kawanan cultist dan raksasa putih. Mereka tetap harus melarikan diri, namun sembari memberikan perlawanan pada monster-monster itu.

Mereka akan menggunakan pasukan relawan sebagai dinding dan perisai, sementara mereka menghadapi musuh berbahaya. Setelah situasinya cukup aman, mereka pun akan mundur. Mungkin seperti itulah strategi Akira-san. Namun, sekarang semuanya berubah 180°, dimana Akira-san dan Soma lah yang akan bertindak sebagai perisai, sedangkan semua pasukan relawan diprioritaskan untuk meninggalkan tempat terlebih dahulu.

Semua itu karena Haruhiro tidak setuju akan rencana awal, kalau bukan karena dia, Akisa-san tidak akan pernah merubah rencana tersebut. Dengan kata lain, sanggahan dari Haruhiro cukup merepotkan bagi Akira-san dan Soma.

Akira-san, Branken, Kayo, Taro, Soma, Lilia, dan Kemuri… tak satu pun dari mereka keberatan karena perubahan rencana tersebut. Mereka memukul mundur musuh, kemudian mundur sedikit demi sedikit, dan mereka melakukan taktik seperti itu berulang-ulang kali. Miho dan Gogh melepaskan mantra untuk menghancurleburkan kawanan musuh, tapi mereka hanya melakukannya beberapa kali saja. Mereka lebih suka menghemat kekuatan, untuk berjaga-jaga jikalau pertempuran ini berlangsung lebih lama.

Tokimune dan Tada terus membantu mereka dengan penuh semangat, tetapi Party Haruhiro, Mimorin, Anna-san, dan Kikkawa, hanya berguna membantuk blokade pagar hidup di depan Gogh, Miho, dan Shima.

Haruhiro tidak hanya merasa frustrasi, tapi dia juga sangat menyesal karena telah merepotkan semua orang. Baru kali ini keputusannya berdampak pada begitu banyak orang.

Dan juga, ia takut.

Mereka diburu oleh 3 Hydra, setidaknya 10 raksasa putih, dan puluhan cultist, atau bahkan lebih. Monster-monster itu menyerang mereka secara bergelombang.

Kalau hanya para cultist sih, Akira-san, Soma, dan anggota Party mereka bisa memberantasnya dengan menggunakan tebasan Katana, penggalan kapak, atau tembakan busur. Tapi ketika raksasa putih ikut campur, jelas keadaannya bertambah sulit. Hydra pun tidak hanya menyerang mereka secara langsung dengan leher-lehernya; mereka juga akan membanting lehernya ke tanah sehingga terbentuk cekungan yang mengerikan. Gerakan Hydra juga mengakibatkan tanah-tanah berhamburan, sehingga mengganggu pergerakan mereka. Itu cukup licik.

Meskipun sudah memberikan perlawanan sengit sembari terus mundur, Akira-san dan yang lainnya tidak akan membiarkan musuh-musuh mendekati mereka. Berkat itu, setidaknya untuk saat ini, Haruhiro dan Party-nya belum tersentuh oleh musuh. Namun, mereka mendapati banyak kesulitan, seperti : matanya kelilipan oleh tanah yang beterbangan, tersandung batu sehingga hampir terjungkal, dll. Di saat senior-seniornya bertarung dengan sengit, dia justru mendapatkan masalah-masalah konyol seperti itu, dan itulah yang membuat Haruhiro semakin merasa tidak berguna.

“Aku mulai kelelahan,” Akira-san bergumam sambil menghindar dari pukulan raksasa putih dan sebatan tombak Pansuke dari kedua sisi. “Ini tidak mudah bagi orang tua sepertiku.”

“Hah?” Soma memotong leher Hydra, kemudian dia berbalik menghadap Akira-san. Sepertinya dia heran. “Apakah kau sudah setua itu, Akira-san?”

“Sadarkah kau kalau dia hanya membuat lelucon berlebihan untuk mencairkan suasana?!” Lilia membentak Soma sembari menebang dua atau tiga cultist.

“Gwahahaha!” Branken mengayunkan kapaknya untuk menghantam lutut kiri raksasa putih empat meter. “Seperti itulah Elf! Mereka tampak sopan, tapi sebenarnya cukup liar!”

“Aku tidak ingin mendengar itu dari makhluk kerdil berbulu!” Teriaknya.

“Jangan berdebat dengannya, Lilia!” Soma memotong leher Hydra lainnya seraya ia menegur rekannya itu. "Dwarf memang sudah seharusnya berjenggot.”

“Ohh. Omonganmu masuk akal juga…” secara menakjubkan, Kemuri berhasil menahan jotosan raksasa putih enam meter dengan menggunakan pedang besarnya. “Dwarf memang harus berjenggot!”

“Kalian kok kelihatannya nyante banget ya!!” Kayo tidak terlalu sering mengayunkan pedangnya. Malahan, dia bergerak berkelok-kelok di antara lawan-lawannya, sehingga menyebabkan mereka saling beradu. "Kalau aku sih, gak punya banyak energi untuk ngobrol seperti kalian!”

“Ibu, kumohon istirahatlah sebentar!” Taro menembakkan panah satu per satu, yang tepat mengenai mata satu cultist. “Serahkan saja semuanya padaku!”

“Bung, musuhnya terus bermunculan!” kata Tokimune sambil memamerkan gigi putihnya sekilas, tapi dia bahkan tampak lebih lelah daripada Kayo. “Tapi, ini sangat menyenangkan!”

“Jangan menyiksa diri!” Tada malah sebaliknya. Semakin banyak musuh yang dia hancurkan dengan palunya, semakin tajam gerakannya. "Biar aku saja yang menghabisi mereka! Hahahaha! Aku akan membantai cecumuk-cecumuk ini! Akan kuhancurkan setiap potong tubuh mereka!”

Sudah lama Haruhrio tidak mengomentari mereka. Dia pun merasa tidak perlu mengucapkan sesuatu pada mereka. Dia merasa seperti orang mabuk, perutnya terasa kacau, dan tubuhnya juga terasa berat.

Mengapa? Mengapa Akira-san dan yang lainnya harus setuju dengan sanggahan Haruhiro? Mereka tidak perlu mendengarkan pendapat orang gak penting sepertinya. Haruhiro pun tidak terlalu berharap pendapatnya didengar. Kalau saja waktu itu Gogh mengatakan: ”Apa sih yang kau bicarakan?” dan menolaknya, Haruhiro akan segera mengatakan, ”Oh, maafkan keegoisanku ini,” kemudian dia hanya perlu meminta maaf, lantas pergi.

Itu akan lebih baik, mungkin? Atau mungkin tidak? Dia tidak benar-benar tahu, tapi apapun itu, kondisi emosionalnya sedang terbebani. Dia sedang berada di sini, tapi nyawanya seakan entah pergi ke mana. Secara teknis, Haruhiro adalah orang yang bertanggung jawab atas ini semua.

Ahhhhhhhhhhhhhhhhhh, rasanya ingin kuserang mereka!! pikirnya. Kalau dia bisa menyarang pada musuh, kemudian terbunuh, mungkin itu lebih baik. Tentu saja dia tidak akan melakukan itu, tapi Haruhiro berharap dari dalam lubuk hatinya untuk menjadi seseorang yang sedikit lebih bebal. Hampir setiap detik, dia bertanya pada dirinya sendiri, mengapa dia ada di sini.

Jika seseorang mati karena keputusannya ini, dia tidak punya pilihan selain melakukan Seppuku [9]. Jangankan mati, ketika salah seorang saja terluka, dia begitu ingin menusuk perut sendiri dengan belatinya.

“Ada apa, nak?” Gogh tiba-tiba menangkap bagian belakang lehernya. “Dari tadi kau terlihat cemas. Apakah ada yang salah denganmu?”

Tidak, itulah yang ingin dia jawab, tapi dia tak yakin suaranya bisa keluar.

“Augh!” Ranta menggedor helmnya sendiri dengan frustrasi. “Jangan terlalu loyo, Parupiro! Aku jadi ikutan gak semangat!”

“M-maafkan aku!”

“Minta maaflah dengan layak padaku!!” teriak Ranta. “Kau harus ingat bahwa kita adalah anggota resmi Daybreakers, mengerti?! J-j-j-j-j-j-j-j-jadi, janganlah ragu-ragu untuk menyerang mereka, dasar bego!"

“Kau sendiri, sepertinya cukup ragu, bung ...” kata Haruhiro.

“Itu karena aku adalah orang yang super rendah hati, tidak seperti orang munafik macam kau!"

“Anggota resmi, ya ....” Yume bergumam.

“I-Iya toh?!” Ranta melirik ke arah Miho dan Shima. "Benar, kan...?!"

Miho dan Shima hanya tertawa dan tidak menjawab. Yahh, mungkin mereka sengaja melakukan itu. Mereka sedang menggodanya, tapi Ranta menjawab balik dengan tawa mesum. Dia sungguh idiot, dan tawa mesumnya sungguh horor saat itu.

Anggota, ya, pikir Haruhiro. Yahh, mungkin itu benar, tapi ...

Kami tidak cocok untuk sebutan seperti itu, Haruhiro akhirnya menyimpulkannya. Kami terlalu polos, kami lemah, dan tidaklah cocok jika kami menyebut diri sebagai rekan Soma atau Akira-san. Bahkan di masa depan sekalipun, kami tidak akan setara dengan para legenda itu. Mungkinkah perasaan rendah diri ini tidak akan lenyap?

Meskipun ia harus membual dan memaksakan dirinya sendiri, apakah layak jika mereka mengaku sebagai anggota Daybreaker? Tidak peduli ke manapun dia pergi, Haruhiro tetaplah seorang Haruhiro, jadi… apakah dia punya pilihan lain untuk menjadi sosok yang berbeda?

Perutnya sakit. Rasanya seperti diperas-peras. Rasanya seperti pengen muntah.

Cara bertarung Soma dan Akira-san sungguh hidup, liar, dan ganas. Itu sangat luar biasa dan begitu mirip dengan seni, yang mana sangat menyakitkan ketika ditonton oleh orang-orang seperti Haruhiro. Dia tidak ingin melihatnya, tapi ia tidak punya pilihan selain mempelajarinya. Dia ingin berteriak, Aku sudah bosan dengan semua ini!!

Bosan? Dari apa? Haruhiro tidak tahu. Ah, tidak juga…. Pada dasarnya, ia hanya ingin lari dari kenyataan. Dia ingin melarikan diri dari situasi ini. Dia tidak ingin berada di sini. Dia tidak ingin berada di sini sedetik pun. Segala sesuatu di sini tidak membuatnya nyaman.

Tidak seperti Soma, Akira-san, Tada, Tokimune, dan yang lainnya, Haruhiro bukanlah orang yang suka melawan bahaya. Dan itulah yang membuatnya terpukul.

“Ketika kau hanya bisa menonton dari belakang, itu sangat menyebalkan, bukan?” Gogh bertanya sambil tertawa serak. “Sebagai seorang Mage, aku sangatlah lemah, dan itu tidak berubah semenjak aku menjadi Priest.”

Haruhiro terkejut.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Mary dan Shihoru juga selalu berpikiran demikian. Mereka yang hanya bisa berada di belakang dan dilindungi oleh orang lain, akan merasa stress ketika melihat pelindungnya bertarung mempertaruhkan nyawa di lini depan. Haruhiro tidak pernah berpikir dari sudut pandang ini sebelumnya, karena dia cukup sering maju ke lini depan untuk bertarung. Sampai akhirnya, hari ini dia merasakan sendiri betapa frustasinya dilindungi oleh orang lain. Seperti itulah keadaannya.

Itulah kenapa sangat dibutuhkan pengalaman dalam bertarung. Itu akan membuka wawasanmu. Itu adalah suatu hal yang positif. Ya, aku hanya perlu berpikir positif di sini. Akan menyenangkan jika aku bisa berpikir positif seperti itu.

“... Aku tidak bisa,” gumamnya.

Untuk saat ini, hal terbaik yang bisa dilakukannya hanyalah mengikuti apa kata seniornya. Dia harus menahannya, dan waktu pun terus berlalu. Bukit awal semakin dekat. Tempat yang menjadi tujuan mereka sudah terlihat, dan harusnya itu semakin mendorong semangatnya, dia harus yakin bahwa penderitaan ini pasti akan berakhir. Itu adalah salah satu harapannya. Dia ingin semuanya bertahan sampai ini benar-benar berakhir. Nanti dia bisa menyesali keegoisannya dan meminta maaf.

Tentu saja, dia tidak lupa bahwa batu karang terbesar masih menghalangi di bukit awal, yaitu Sang Dewa Raksasa. Dia tahu betul akan hal itu, namun sebisa mungkin dia tidak memikirkannya agar tidak frustasi.

Setelah sekian lama mengabaikannya, Haruhiro akhirnya melihat bukit awal selama beberapa saat, kemudian dia menatap ke arah langit.

Tidak, sebenarnya bukan langit yang dia lihat, melainkan makhluk agung yang tingginya menjulang sampai langit.

“Dewa raksasa!”

Tinggi total makhluk itu diperkirakan 300 meter. Bukan hanya menjulang tinggi ke langit, seakan-akan monster itu menutupi langit.

Berapa jauh lagi mencapai bukit awal? Satu kilometer, sekitar itu? Sepertinya lebih dekat daripada yang dia bayangkan. Sebelum dia bisa memperkirakan jarak yang tepat, bukit awal sudah sangat dekat.

Dewa raksasa tepat berada di depannya. Tidak hanya berdiri di sana, dia bergerak. Dia benar-benar bergerak, lho? Atu lebih tepatnya berjalab. Dia berjalan dengan gerakan seperti orang menginjak semut, namun getarannya sudah terasa mengerikan.

Bagi dewa raksasa, manusia mungkin tampak seperti semut.

Para pasukan relawan yang tiba terlebih dahulu, langsung berceceran kesana-kemari untuk menghindari injakan sang dewa. Sepertinya ada beberapa pasukan relawan yang beruntung bisa melewati sang dewa, kemudian keluar dari Dusk Realm dengan melewati bukit awal. Atau mungkin tidak. Dalam keadaan kacau seperti ini, sulit untuk memastikan apakah ada yang selamat atau tidak, tapi tanpa mengambil rute memutar atau melewati kaki-kakinya, mencapai bukit awal adalah suatu hal yang mustahil. Apapun itu, mereka harus melakukannya.

Party Soma, Party Akira, Party Haruhiro, para Tokkis, dan beberapa pasukan relawan yang bertugas menjaga lini belakang… tugas mereka semakin berat karena mereka harus melawan serangan musuh sembari mencari celah untuk melewati sang dewa. Satu-satunya kesempatan adalah, sesaat setelah mereka memukul mundur musuh.

Apakah mereka memiliki harapan untuk berhasil? Atau tidak? Tak seorang pun tahu ...

“Akira-san!” Teriak Soma sambil menghempaskan beberapa lawannya dengan sekali ayun Katana.

“Ketika aku memberi sinyal, pergilah terlebih dahulu!”

"Mengerti! Akan kuterima tawaran baikmu!”

“Tokimune, Haruhiro!” Teriak Soma. “Kalian juga!”

“Roger!” seru Tokimune.

Tada mendecakkan lidahnya dan membantingkan palunya pada kepala cultist. "Kau sudah merebut hidangan utamaku, dan sekarang hidangan penutup juga mau kau rebut?! Kau serakah sekali!”

“Kau tidak pernah puas, yeah?! Fucking Tada! Anna-san sudah lelah berat!”

“Yahh, kalau Anna-san berkata begitu, baiklah! Aku juga akan mundur sekarang!”

Haruhiro sama sekali tidak menanggapi mereka. Tentu saja, dia ingin keluar dari dunia ini jika dia bisa, tapi apakah itu tidak masalah? Gogh mengatakan untuk tetap bersamanya sampai akhir. Dia ingin menuruti perkataan seniornya itu, namun bukankah akan lebih baik jika dia menuruti perintah Soma sekarang? ... Mana yang lebih diprioritaskan?

Sementara ia kebingungan, waktu untuk memilih semakin tipis, dan akhirnya tiba saatnya untuk menyatakan pilihan

“Sekarang!! Pergilah!” Soma sedikit menunduk, kemudian dia pasang kuda-kuda dengan menempelkan sisi datar Katana-nya pada pundak. Ada semacam kekuatan aneh yang mengalir pada tubuhnya. Sepertinya, garis-garis oranye pada armornya menyala. “Hahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!”

Dia mengayunkan Katana-nya, dan lawan-lawannya hanya terserempet sabetan pedang, namun seluruh bagian tubuh, darah, sampai jerohannya semburat tersebar ke segala penjuru. Itulah kekuatan Soma. Tidak diragukan lagi, ini adalah salah satu skill Soma. Bukankah Katana itu hampir tidak mengenai lawannya? Harusnya sih kena. Tapi itu lebih mirip menyerempetkan pedangnya, ketimbang menebas. Orang biasa tidak mungkin melakukan hal seperti itu.

Tapi, sabetan pedang Soma itu sudah cukup untuk membuat musuh-musuhnya mati dalam keadaan paling mengenaskan. Dengan satu serangan, Soma telah membuat celah besar pada barisan musuh yang berusaha mengejar mereka.

Lilia dan Kemuri tidak melewatkan kesempatan ini, lantas mereka pun melebarkan celah itu, dengan membantai para cultist di sekitarnya. Tidak, bukan hanya Lilia dan Kemuri yang melawan, Shima juga. Bahkan Shima menerjang barisan musuh, dan mengayun-ayunkan senjatanya yang tampak seperti cambuk logam. Mengapa wanita tua seksi seperti dirinya harus bertarung dengan pakaian yang begitu menggoda?

Lalu, ada satu lagi. Pria bertopeng dengan lengan yang teramat panjang, dan juga mengenakan armor aneh. Dia melesat melewati Shima, menuju ke tengah-tengah barisan musuh.

Zenmai si golem. Dia tidak punya senjata. Atau lebih tepatnya, kedua lengan berlapis logam itu bisa dia gunakan sebagai pedang atau palu.

“Uhuhuhuh ... Kenapa kau tidak ikutan melarikan diri, sampah?”

Suara menakutkan terdengar dari sampingnya. Haruhiro menoleh untuk melihatnya, kemudian dia begitu kaget. Yang ada di sana adalah makhluk berfisik seperti anak kecil, dan wajah seperti bocah, namun tatapan matanya begitu menakutkan bagaikan rawa yang dalamnya tak terhingga. Dia adalah Necromancer, yang keberadaannya menyebarkan semacam racun.

“Kau menghalangiku ... minggir ...” kata Pingo.

“B-b-b-b-b-baiklah! M-m-m-m-m-maafkan aku!” Haruhiro mendengking.

Benar… Jika Soma memerintahkan untuk lari, maka aku harus lari sekarang juga. Kalau aku terlambat, maka aku akan ketinggalan jauh. Soma memang luar biasa. Tidak, sekarang bukan waktunya untuk beralasan.

“A-a-a-a-a-ayo lari teman-teman!”

Oh sial. Aku sangat panik. Aku bahkan tidak tahu dimana rekan-rekanku, bahkan aku tidak mendengarkan balasan dari mereka. Tapi kita harus terus berlari. Apakah tidak ada yang tertinggal? Sepertinya tidak ada. Ranta, Yume, Shihoru, Mary, Kuzaku. Bagaimana dengan Tokkis?

Akira-san dan kelompoknya? Aku bisa melihat punggung mereka di depan. Mereka sudah berlari cukup jauh rupanya. Kami benar-benar telah tertinggal jauh di belakang. Apa sih yang aku lakukan?

Mimorin berbalik dan meneriakkan sesuatu.

Dewa raksasa. Dia sangat dekat. Aku terus melihat ke atas. Dia mengangkat kaki kanannya. Apakah dia mencoba untuk menginjak-injak kami? Lebih baik menghindarinya. Berarti aku harus lari sekencang-kencangnya. Lari dengan kekuatan penuh. Lari dengan kecepatan tinggi. Tak peduli lari ke manapun, pokoknya lari, agar aku tidak terinjak.

Itulah yang dipikirkannya sambil lari. Tanah berguncang dengan dahsyatnya, dan Haruhiro hampir tersandung. Tapi setidaknya dia tahu kalau tubuhnya tidak gepeng terinjak monster agung itu. Kalau dia sudah gepeng terinjak, maka dia tidak akan tersandung, bukankah begitu?

Sekarang, dia bisa melihat mengapa pasukan relawan berlarian kesana-kemari. Mereka harus menuju ke lubang di bukit awal. Mereka tahu itu, tapi melakukannya tidaklah semudah itu.

Lawannya adalah dewa raksasa. Dewa raksasa yang menakutkan. Mereka harus lari dari itu. Lari…. Lari…. Lari, hanya itulah yang mereka pikirkan. Tubuh mereka bergerak secara otomatis untuk bertahan hidup.

Lagipula, jarak pandang cukup buruk. Setiap kali dewa raksasa menginjak tanah, kepulan debu dan hamburan tanah melonjak tinggi ke angkasa. Terjadilah hujan tanah dan pasir. Dan yang paling parah, mereka tidak bisa melihat lebih dari beberapa meter di depan mereka.

Ke arah mana mereka harus pergi? Di manakah letak bukit awal? Haruhiro kehilangan posisi Party Akira-san dan para Tokkis. Itu berarti, tidak ada lagi yang memandunya. Dia hampir berhenti. Tapi ia tidak boleh hanya diam di sana. Jika ia berhenti, ia akan pasti akan terinjak. Jika dia terinjak, dia pasti sudah jadi peyek sebelum sempat berpikir: ”Aku akan mati”.

“Semuanya ...?!” Teriak seseorang.

Yah…. Siapa itu? Haruhiro sudah begitu muak dengan ini semua, seakan-akan dia ingin muntah darah, namun dia tidak bisa mengabaikan suara itu. Lagian, siapa yang pertama punya ide untuk coba mengalahkan Dewa Raksasa?

Yah, awalnya itu adalah ide Tokimune. Tapi sekarang, ide itu seakan tidak berguna. Tidak berguna sama sekali.

“…… semuanya di sini, kan?!” teriaknya sambil menyeka tanah dari mulutnya.

“Ya!” Dia mendengar suara Ranta.

“Aku di sini!” Yume mengikuti.

Kuzaku mengatakan, “Yep!”

Mary mengatakan, “Aku baik-baik!”

Tapi dia tidak mendengar suara Shihoru.

Dimana Shihoru…? Jangan-jangan dia…… tidak mungkin!! Kumohon jangan dia!

“Shihoru? Shihoru ?!”

“... Ya!” Serunya.

Oh bagus. Dia disini. Untunglah. Mataku sakit. Cipratan-cipratan tanah ini menyebalkan. Bernapas juga sulit. Dan aku masih harus berlari.

Dia tidak punya pilihan selain berlari. Dia berlari dengan membabi-buta, tapi hanya itu pilihannya. Dia tidak tahu secara pasti dimanakah posisi sang dewa berada. Dia bisa mendengar suara: zushing, zushing, jadi… harusnya dia tidak berada jauh dari sini, kurang-lebih dia yakin bahwa sang dewa raksasa cukup dekat dengan posisinya saat ini.

Banyak tanjakan dan pilar-pilar putih di sekitar mereka, sepertinya mereka sedang mendaki bukit? Jika iya, maka untunglah. Ini bukanlah hasil kerja keras mereka, melainkan hanya murni keberuntungan. Dengan keberuntungan, mereka mungkin melarikan diri dari Dusk Realm.

“Ada lubang!” Kata Yume.

Dia benar. Hujan tanah dan pasir sudah cukup reda, sehingga mereka bisa melihat suatu gua di sana. Ada juga beberapa pasukan relawan yang masuk ke dalamnya.

Itu dia lubangnya. Lubang. Jalan keluar.

Tiba-tiba, suatu keberanian memuncak di dalam dirinya,dan…. Kami terselamatkan, pikirnya. Sekarang, kami akan keluar. Kami tidak harus mati. Kami bisa terus hidup.

Haruhiro mencoba untuk mempercepat langkahnya. Menurutnya, dia sudah berlari secepat yang dia bisa. Mungkinkah dia bisa berlari lebih cepat lagi? Sepertinya dia bia melakukannya. Apakah ini karena adrenalin yang semakin meningkat? Manusia memang menakjubkan.

“Oh, sial!” Teriak Ranta.

Tiba-tiba, seseorang menarik belakang jubahnya, sehingga Haruhiro tidak bisa semakin mempercepat langkahnya. Itu adalah Ranta. Ini semua salah Ranta. Karena Ranta lah, Haruhiro tersandung dan jatuh.

Ternyata………

Ranta tidak melakukan kesalahan apapun……..

Dia justru menyelamatkannya…...

Ranta baru saja menyelamatkan hidup Haruhiro.

Jika dia terus berlari ke arah itu, maka suatu hal yang buruk akan terjadi padanya. Haruhiro sama sekali tidak menyadarinya. Fokusnya telah dikuasai oleh emosi bahwa dirinya akan segera selamat dan keluar dari dunia menakutkan ini. Dia sama sekali tidak melihat apa yang ada di hadapannya.

Itu adalah dewa raksasa. Lebih tepatnya, kaki kanan dewa raksasa, atau mungkin kaki kirinya? Dia menghentakkan kakinya tepat di depan mulut lubang itu, sehingga pintu keluarnya tertutupi.

“Tidaaaaaaaaaaakkk!” Shihoru menjerit.

“Itu….” Mary bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Whoa ...” Kuzaku menjatuhkan diri ke belakang.

“Sekarang, tidak ada lagi jalan pulang ...” dengan takjub dan bengong, Yume mengatakan sesuatu yang tepat sasaran. Ya, tepat sasaran, mungkin karena dia adalah seorang pemanah.

... Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak.

“K-k-k-k-k-k-kita harus lari!” Ranta hendak berlari entah ke mana, kemudian bahunya lemas. Tunggu dulu… k-k-k-kemana kita akan pergi?”

“Yang penting, berlarilah dulu!” Haruhiro segera menjawab pertanyaan itu.

Berlari? Kemana? Aku tidak tahu Kita dalam masalah. Yang penting aku harus menghentakkan kakiku untuk berlari… entah kemana… ataukah…. Tak peduli kemanapun aku berlari, hasilnya akan sama saja? Tapi, aku harus melakukan sesuatu…. Ataukah..... hasilnya akan sama saja tak peduli apapun yang kuusahakan? Hanya jalan buntu yang bisa kulihat di depan sana. Oh, aku ingin menangis rasanya.

Sekali lagi, tanah dan pasir berhamburan di udara. Dia tidak bisa melihat apa-apa. Untuk saat ini, yang bisa dia lakukan hanyalah menuruni bukit.

Pijakan di bawah kakinya tidak stabil. Sangat buruk. Sungguh buruk. Kakinya terjebak. Kemudian dia tersandung, dan jatuh. Dia bergegas untuk bangkit dan terus berlari.

Kalau dia menemukan salah satu rekannya ketika berlari, dia akan langsung meraihnya, membawanya, dan berlari bersamanya. Mereka saling mendukung secara bergantian, dan saling dorong dari belakang. Ketika salah satu kaki dewa raksasa mendarat di dekatnya, mereka akan saling memanggil nama rekannya, dan memeriksa apakah semuanya baik-baik saja.

Prioritas pertama adalah menjauhkan diri dari radius hujan pasir dan tanah, akibat hendakan kaki dewa. Dia tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, dan ia tidak perlu melakukannya.

Dewa raksasa tampaknya tidak memiliki niatan untuk meninggalkan bukit awal, dan itulah yang menyebabkan resikonya semakin berbahaya. Haruhiro dan Party-nya sebenarnya sudah mencapai tujuannya, yaitu gerbang masuk di bukit awal. Namun, saat itu juga, masalah lain datang, yaitu sang dewa menutupi lubang tersebut dengan kakinya yang begitu agung.

Musuh.

Ketika berlari, mereka dicegat oleh para cultist, dan dipaksa untuk memutuskan apakah akan melawan atau melarikan diri.

Kalau hanya 1-2 cultist sih, mereka akan segera mengeroyoknya dan membunuhnya. Tapi semua cultist dan raksasa putih dari seluruh Dusk Realm bergerak menuju dewa raksasa. Dengan kata lain, baik musuh maupun sekutu…. Semuanya akan berkumpul pada bukit awal.

Di sisi lain, Haruhiro dan Party-nya mencoba untuk menjauh dari bukit. Itu berarti mereka pasti akan bertemu musuh, dan jika mereka berhenti untuk melawan, musuh akan datang satu demi satu sampai mereka kalah jumlah.

Haruhiro memutuskan untuk melarikan diri. Dia berlari ke arah, di mana tidak ada musuh.

Namun, dia segera menyesali keputusannya itu. Jumlah cultist yang mengejar mereka semakin bertambah, dan tak lama lagi, lebih dari 10 cultist akan memburu mereka. Mungkin saja, di sinilah akhir mereka, dengan keadaan separah ini, mereka sudah tidak mungkin lagi melawan, dan satu-satunya takdir yang menanti mereka adalah kematian di tangan kawanan cultist.

Ini salahku sendiri, pikir Haruhiro. Karena Haruhiro telah membuat pilihan yang salah, semua rekannya akan mati, di tempat yang mengerikan ini.

Di mana sih ini? Dia bisa melihat dewa raksasa akan segera mengamuk dengan menghentakkan kakinya lagi, sehingga hujan tanah dan pasir segera terjadi, dan jarak pandang menipis. Haruhiro pun tidak tahu dimana dia berada. Namun, dia masih bisa memprediksinya secara umum. Di Dusk Realm, tidak banyak terdapat bangunan ataupun fitur alam yang bisa digunakan sebagai titik tengara, sehingga sulit untuk menentukan lokasi dimana mereka berada. Meskipun sulit, dia masih bisa menebaknya.

Ranta berada paling belakang pada kelompok ini, atau lebih tepatnya, dia berada di belakang Shihoru, dan nampaknya gadis itu sudah benar-benar kehabisan napas. Ranta menyadarinya, sehingga dia pasang badan untuk melindungi Shihoru. Oh, ternyata sampah itu bisa diandalkan juga, ya.

Haruhiro berada paling depan, diikuti oleh Yume, Kuzaku, dan Mary di belakangnya secara berurutan. Ini bukanlah urutan yang sudah direncanakan, melainkan…. Kebetulan saja formasi mereka terbentuk seperti itu.

Cultist masih belum menyusul mereka. Seakan-akan, mereka ragu-ragu mengejar Haruhiro dan Party-nya. Andaikan saja mereka masih punya cukup tenaga, mereka pasti akan melibas musuh-musuhnya, sehingga tidak lagi mengejar.

Berkat keragu-raguan para cultist, mereka bisa menjaga jarak dengan musuh-musuhnya. Setidaknya, sampai dektik ini.

Namun, hanya perkara waktu sampai para cultist itu menyusul. Shihoru sudah tidak tahan lagi. Kalau salah satu saja dari Party berhenti berlari, maka mereka semua harus berhenti, sehingga satu-satunya pilihan adalah melawan para cultist yang terus mengejar. Dan kalaupun harus bertarung, peluang kemenangan mereka hanyalah 10-20%.

Sebenarnya, dia punya satu rencana lain. Namun, lagi-lagi dia tidak yakin itu akan berhasil. Peluang berhasilnya cukup rendah, dan dia harus mengakui itu.

Ketika ia melihat kebelakang, jumlah pengejar terus bertambah. Apakah ada limabelas? Atau enam belas, mungkin?

Kalau saja Kuzaku masih memiliki perisainya. Ah tidak, itu tidak akan banyak membantu. Dalam keadaan seperti ini, dia ingin menyemangati rekan-rekannya.

Namun, apakah dia bisa melakukan hal seperti itu? Apa yang akan dia katakan? Apakah kata-katanya bisa menenangkan rekan-rekannya yang sudah cukup putus asa? Jika Haruhiro, Kuzaku, dan Ranta bekerja bersama-sama, akankah mereka bisa menahan musuh untuk beberapa menit? Sementara mereka bertahan, Yume, Shihoru, dan Mary akan melarikan diri terlebih dahulu…. Tapi, selanjutnya bagaimana? Akankah dia mencoba peruntungan dengan mengalahkan kawanan cultist itu? Dalam keadaan selelah ini? Apakah kepalanya masih bisa berpikir dengan jernih?

Enam belas melawan enam. Pada kawanan cultist itu, bukan hanya ada Pansuke, namun juga Tori-san yang berbaur. Tidak mungkin bisa mengalahkan mereka semua, kan? Itu tidak mungkin, kan? Mungkin, peluang menangnya hanya 1%? Bisakah dia bertaruh dengan peluang menang hanya 1%? Apakah mereka akan mati di sini?

Kalau boleh memilih cara mati, sepertinya diinjak dewa raksasa lebih enak deh, karena dia akan mati seketika tanpa mendapatkan banyak siksaan.

“Hei!” seru suara seorang wanita. Itu bukan suara Yume, Shihoru, atau Mary.

Darimana asal suara itu? Haruhiro menoleh ke kiri-kanan.

Ada sesuatu di sebelah kirinya. Seseorang melompat keluar dari kiri. Atau lebih tepatnya, dua orang. Seorang pria dan seorang wanita. Wanita itu tinggi. Pakaian mereka sungguh luar biasa. Atau lebih tepatnya…. Cukup gila… terutama pakaian si wanita.

Sebenarnya pakaiannya cukup tertutup sih, namun masih ada beberapa bagian yang terbuka. Masalahnya adalah, bagian yang terbuka itu cukup eksotis. Ketika melihat pakaian wanita seperti itu, orang-orang pasti akan berpikiran: ”Waduh, serius nih? Dia memamerkan bagian itu?? Apakah dia melakukannya secara sengaja??”

Wanita itu… payudaranya, pantatnya, pahanya ... cukup montok. Badannya juga cukup seksi dengan lengan dan kaki yang panjang dan ramping. Rambutnya berombak dan indah. Dengan penampilan seperti itu, dia sungguh mencolok. Matanya lebar dan tajam. Bibirnya merah menawan.

Dia adalah tipe wanita dominan. Itulah satu-satunya kata yang cocok untuk mendeskripsikannya.

“Kami akan menyelamatkanmu, jadi ulurkan tanganku!” kata wanita dominan itu.

Sedangkan si pria, dia melesat melewati Haruhiro. Dia memiliki rambut putih, dan bagian bawah wajahnya ditutupi oleh topeng. Dia mengenakan pakaian hitam ketat, atau mungkin lebih mirip armor, itu tidak begitu jelas…. dia berlari dengan merangkak seperti anjing.

Lagian, mengapa dia memakai pengikat leher? Bukankah itu semakin membuatnya terlihat seperti anjing?

Seorang pria dan wanita yang tidak begitu Haruhiro kenal... sebenarnya Haruhiro pernah melihat mereka sih, tapi dia tak pernah berbicara dengan mereka. Mereka adalah pasangan yang cukup tersohor karena Dusk Realm ini.

Mereka adalah Lala dan Nono.

Si wanita dominan itu adalah Lala, dan pria berambut putih mengenakan ikat leher dan topeng itu, tidak lain adalah Nono.

Mengapa mereka ada di sini? Tak seorang pun mengetahui itu.

Nono segera melewati Ranta, kemudian menyerang cultist yang mengejarnya. Cara dia menyerang lawan-lawannya begitu mirip anjing. Nono menyelinap di bawah tusukan tombak para cultist, kemudian menggigit tenggorokan salah satu Pansuke… atau setidaknya, begitulah kelihatannya. Tapi mulut Nono ditutupi oleh topeng. Harusnya dia tidak bisa menggigit sesuatu, dan ia bukan anjing, dia adalah seorang manusia. Rupanya, dia tidak menggigit Pansuke itu. Dia menarik pisau dari pinggulnya sebelum dia melompat, kemudian menusukkannya ke wajah cultist.

Konon katanya, kau tidak akan mendapatkan sesuatu tanpa resiko. Yahh, Nono adalah salah seorang yang bisa membuktikan itu. Tak perlu ditanya lagi, menerjang ke tengah kawanan musuh adalah tindakan berbahaya, tetapi rupanya lawan-lawannya juga kesulitan menghadapi Nono.

Terutama, karena tombak Pansuke terlalu panjang. Jika Nono menyerangnya dari jarak yang begitu dekat, maka mereka akan kesulitan memberikan perlawanan. Terlebih lagi, Nono begitu gesit layaknya kucing, bukan anjing. Dia segera mendekati lawannya dan menyerangnya, kemudian memberikan sentuhan akhir dengan pisau di tangan kanannya.

Sesekali, dia memvariasi serangannya dengan pukulan menggunakan tangan kiri. Dia lingkarkan lengan pada leher lawan-lawannya, kemudian dia meremasnya. Dia menggunakan salah satu Pansuke yang sudah dilumpuhkan sebagai perisai terhadap serangan Pedang Petir Lumba-lumba dari Tori-san. Kemudian dia hempaskan Pansuke malang itu pada Tori-san, sehingga mereka saling bertubrukan, lantas dia langsung menyerang Pansuke lainnya.

“Jangan hanya berdiri di sana dan melongo!” seru Lala.

Sementara Haruhiro dan teman-temannya terfokus pada Nono, beberapa musuh datang menyerang Lala. Wanita dominan itu bukanlah petarung jalanan seperti Nono. Dia menggunakan busur yang cukup pendek. Dia pasang panah pendek pada busur itu, kemudian dia tembakkan.

Pasang, tembak.

Pasang, tembak.

Yume bisa menggunakan Rapid Fire, tapi tidak seperti ini. Ini lebih cepat, bahkan terlalu cepat. Lagipula, Lala menembak dari jarak yang begitu dekat. Dia menembak dengan menggila.

“Oh?! Ohh?! Ohhhh?!” Ranta mengangkat Pedang Petir Lumba-lumba miliknya, lantas dia tebaskan pada musuh.

“Uh ...?” Kuzaku melihat Haruhiro, menunggu perintah.

“S-Serang mereka! Pergilah!” Haruhiro mengangguk, kemudian dia ikut menyerang setelah Ranta.

Itu sedikit ceroboh, tetapi mereka tidak bisa membiarkan kesempatan ini pergi begitu saja. Musuh jelas-jelas mulai panik. Jika mereka tidak menyerang sekarang, maka kapan lagi?

Tekan mereka. Kita harus terus menekan mereka, tentu saja kita kelelahan, tapi kita akan memeras kekuatan kita sampai kering, dan menekan mereka dengan menggila.

Enam belas cultist, Nono mungkin menghadapi empat atau lima dari mereka, dan Lala menembakkan panahnya sebanyak mungkin. Sisanya ditangani oleh Haruhiro dan rekan-rekannya. Sebelum Lala kehabisan anak panah, Nono sudah mengunpulkan panah-panah yang tercecer.

Ketika beberapa musuh sudah tumbang, Lala kembali mendapatkan anak-anak panahnya dari Nono, kemudian segera memerintahkan mereka semua untuk, “Lari!”

Sepertinya mereka juga tidak punya banyak pilihan. Jika Haruhiro tidak menuruti perintahnya, sesuatu yang mengerikan pasti akan terjadi. Cultist bukanlah lawan yang bisa dibunuh hanya dengan beberapa kali serangan, beberapa dari mereka pasti akan bangkit lagi.

“M-Mengapa ?!” tanya Haruhiro seraya mengejar Lala dan Nono.

“Apanya yang mengapa?” Lala menjawab tanpa berbalik.

“T-Tidak… hanya saja… Akira-san bilang bahwa kalian berdua mungkin sudah kabur duluan ...”

“Kenapa seakan-akan kami seperti orang jahat?” kata Lala. “Kuda-naga kami tumbang, jadi kami tidak punya pilihan selain menyelinap.”

Lala dan Nono menunggangi kuda-naga dari Grimgar menuju Dusk Realm. Sekarang mereka hanya jalan kaki. Mungkin benar bahwa kuda-naga mereka telah tumbang, atau meninggalkan mereka, atau bahkan dibunuh oleh musuh.

“Err, um ... Dimana kita sekarang ?!” Haruhiro mendengking.

“Aku juga gak tahu,” kata Lala. “Tapi kalau kau tidak sanggup mengikuti kami, kami tidak ragu meninggalkanmu. Nono, bawa gadis penyihir itu, dia sudah tidak kuat lari.”

Nono mengangguk tanpa kata, lalu dia bergegas mendekati Shihoru. Dengan cepat dia menggendong Shihoru yang sudah kehabisan napas di punggungnya, lalu menyusul Lala dalam sekejap mata. Lala terkesan jutek, namun… bukankah dia orang yang baik? Tapi, mungkin saja dia berencana mengorbankan Haruhiro dan Party-nya jika saatnya tepat. Apapun itu, mereka berdua telah menyelamatkan Haruhiro, jadi untuk saat ini…. dia tidak bisa banyak mengeluh.

Grimgar v6 013.png

Itu benar. Mereka telah diselamatkan. Setidaknya, untuk saat ini.

Aku punya ide, Lala telah mengatakannya. Jika itu benar, maka setidaknya mereka memiliki harapan.

Haruhiro memandangi setiap rekannya, satu per satu tanpa terkecuali, wajah mereka begitu kacau penuh dengan keringat dan ingus, tercoreng tanah dan debu, dan tampak begitu kelelahan. Sulit dipercaya bahwa mereka masih hidup sampai saat ini, bahkan tidak terluka parah. Dia begitu lega, sampai-sampai tubuhnya terasa lemas.

Tidak. Jangan biarkan kau lengah. Belum. Ini belum selesai. Kami baru saja mulai. Kami harus tetap hidup. Bertahan. Kami semua akan bertahan hidup bersama-sama. Apa yang bisa kulakukan untuk mewujudkannya? Apa yang bisa kuusahakan? Ikuti Lala dan Nono. Aku tidak punya rencana lain, hanya itulah yang bisa kulakukan saat ini. Tapi aku harus tetap berhati-hati, jangan lakukan apapun yang tidak perlu, dan sebisa mungkin hemat staminamu. Kami sekarang bisa berlari lebih cepat daripada sebelumnya, karena Nono bersedia menggendong Shihoru.

Lala sesekali berhenti dan berjongkok, itu merupakan tanda bahwa yang lainnya harus sedikit berjongkok. Tentu saja, Nono segera melaksanakan itu, tidak terkecuali Haruhiro bersama Party-nya.

Lala sungguh memiliki mata yang tajam, dan begitu peka akan datangnya bahaya. Bahkan ketika posisi musuh masih jauh, dia sudah bisa mendeteksinya, sehingga mereka bisa menghindar. Agar musuh tidak bisa dengan mudah menemukan mereka, mereka menghindari medan yang lebih tinggi. Dataran yang lebih rendah adalah pilihan utama untuk terus berlari. Setelah Shihoru mampu berjalan sendiri lagi, mereka mulai menyergap kelompok cultist dan menghabisinya setiap kali mereka menang jumlah.

Tak seorang pun ngobrol tak berguna. Ketika mereka berhasil melewati dataran rendah, mereka dicegat oleh sekawanan cultist dan raksasa putih, Ranta lah yang terlebih dulu membuka mulutnya sambil berteriak: “Whoa!”.

Lala lebih memilih melarikan diri tanpa memberikan perlawanan. Itu cukup logis, meskipun kawanan musuh hanya terdiri kurang dari 10 cultist, namun ada sesosok raksasa putih di sana, dan itulah ancaman terbesar, meskipun tingginya hanya 4 meter.

Lala dan Nono terus melangkah. Apakah mereka berencana untuk menggunakan Party Haruhiro sebagai umpan, sehingga memperlancar jalan mereka? Haruhiro bahkan tidak bisa komplain akan hal itu. Tampaknya, bagi Lala dan Nono, Party Haruhiro hanyalah bidak yang siap dikorbankan ketika keadaan bertambah buruk. Sejak awal, dia sudah berpikiran begitu.

Namun, Haruhiro tidak mau pasrah pada keadaan ini. Bagaimanapun juga, dia dan Party-nya bukanlah mainan orang lain.

“Lala-san, aku punya ide!” Serunya.

Seketika, Lala menoleh padanya. Tapi, tidak ada tanggapan.

Kalau kalian mau pergi sendirian, pikirnya. Aku tidak keberatan. Setidaknya, dia harus berterima kasih kepada Lala dan Nono. Berkat mereka berdua, Party Haruhiro mendapatkan kesempatan untuk beristirahat sebentar. Meskipun mereka berdua akhirnya akan meninggalkan Haruhiro, mereka masih bisa bertahan. Paling tidak, mereka akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Sekarang, dia sudah cukup pulih untuk bisa melanjutkan perjuangan.

"Ke sini! Ayo!” seru Haruhiro. “Semuanya, ikuti aku! Jangan menyerah!"

Ketika Haruhiro mengubah arah, Lala berbalik lagi. Sepertinya dia kebingungan.

Lakukan saja semau kalian, pikirnya. Dia sudah mengamati jalan menuju tempat ini. Jika Haruhiro tidak salah, harusnya inilah tempatnya.

“Sialan mereka berdua!” sembur Ranta.

Lala dan Nono pergi ke arah lain, kemudan mereka lenyap entah kemana. Mereka benar-benar telah pergi, ya? Tapi, Haruhiro memang sudah menduga bahwa ini akan terjadi.

“Jangan hiraukan mereka!” seru Haruhiro. "Tidak masalah, ikuti saja aku!"

“Ini sama sekali tidak mirip dirimu yang biasa, Parupiro! Kau tidak pernah mengatakan hal-hal seperti itu!”

Oh, diamlah. Aku juga tahu. Dia membuatku kesal. Tapi, yah, itulah Ranta. Dia selalu saja begitu. Aku hanya perlu mengabaikannya, seperti biasa. Fokus lah pada hal yang lebih penting. Berikan yang terbaik. Aku akan tetap hidup. Di sini, di saat ini.

Berlarilah pada jalur yang lebih mudah, meskipun permukaan tanahnya tidak terlalu rata, dan jangan sampai salah arah. Semuanya, teruslah berusaha. Shihoru tampaknya begitu kesulitan. Kumohon, bertahanlah Shihoru!!. Kita sudah hampir sampai. Kita cukup beruntung kali ini. Tidak jauh lagi.

“Aku paham sekarang!” tepat di sisi kiri mereka, pada dataran yang lebih tinggi seperti tanggul, Lala dan Nono tiba-tiba muncul. “Jadi, ini yang coba kau lakukan! Jika berhasil, aku akan memujimu!”

Jadi, mereka tidak benar-benar meninggalkan Haruhiro dan Party-nya? Haruhiro menyeringai pada Lala.

Mereka berlari sekuat tenaga, cultist dan raksasa putih mengikuti di belakang. Ada banyak tanjakan dan turunan di sini, sehingga mereka tidak bisa melihat jauh ke depan.

“Whaa ...?!” Teriak Yume. Sepertinya dia menyadari sesuatu.

Beberapa meter ke depan, tanah mulai rata, sehingga penglihatan mereka semakin jelas.

Haruhiro membuka lengannya lebar-lebar, kemudian bergerak ke kiri. "Menyebar! Jangan menginjak rumput!”

Ada jaring yang dipasang di balik tumpukan rumput, jika kau melihatnya dari dekat, tidak butuh waktu lama untuk menyadarinya. Jebakan itu jauh dari kata sempurna, tapi jika kau jarang melihat jebakan seperti ini, tidaklah mengherankan jika kau tertangkap.

Tak lama berselang, terdengar suara gedebruk di belakang. Ketika ia melihat ke belakang, salah satu cultist telah terperangkap. Ada lubang yang cukup dalam di balik jaring itu, dan ketika cultist terjebak, rumput-rumput yang menutupinya berhamburan ke udara.

Haruhiro, Kuzaku, dan Mary berlari di sisi kiri lubang, sementara Ranta, Yume, dan Shihoru berada di sebelah kanan. Satu Cultist lainnya meluncur begitu saja tanpa memperhatikan apa yang sedang dipijaknya, kemudian dia pun jatuh ke dalam lubang. Beberapa cultist lainnya hanya berdiri di sana, tidak bisa bergerak. Raksasa putih itu mungkin mencoba untuk berhenti, tapi sudah terlambat, dia pun ikut terperosok.

Lubang itu tidaklah berguna dalam menghadapi Hydra dan dewa raksasa, namun mereka bersyukur telah susah payah menggalinya. Tentu saja, mereka hanya beruntung karena kebetulan berada di dekat lubang itu, sehingga akhirnya jerih payah mereka terbayar.

Terkadang, kesialan dan keberuntungan dapat menentukan kematian atau keselamatan. Haruhiro dan Party-nya masih bisa bernapas sampai saat ini, karena perbedaan tipis itu.

Cultist yang berada di tepi lubang tampak kebingungan memutuskan apakah mereka harus terus mengejar Haruhiro, ataukah tidak. Sementara itu, Haruhiro dan yang lainnya berlari secepat yang mereka bisa, tanpa ragu-ragu. Mereka mencoba sebisa mungkin memperlebar jarak dengan para pengejar.

Saat para cultist tidak lagi terlihat, Lala dan Nono berada di depan Haruhiro. Mereka sungguh luar biasa. Tapi Lala mengatakan dia punya ide. Lala dan Nono berencana memanfaatkan Haruhiro, sehingga Haruhiro pun punya niatan serupa.

“Bukankah tadi kau berjanji akan memujiku?!” seru Haruhiro.

“Terlalu cepat seratus tahun, anak muda!” Teriak Lala.

Jadi cuma bualan ya. Lala sungguh seorang wanita dominan yang tidak mau kalah dari siapa pun. Dia sungguh luar biasa.

Apapun itu, lubang perangkap lainnya masih jauh, sehingga mereka tidak bisa menggunakan trik yang sama. Akhirnya Haruhiro merasa mual sekali lagi. Meskipun jumlah musuh semakin berkurang, dia tidak bisa lengah. Ranta mulai membual omong kosong, dan itu sungguh menyebalkan, sehingga Haruhiro semakin stress.

Ketika Lala beristirahat, Nono pun membungkuk seperti anjing, kemdian wanita itu menggunakannya sebagai kursi. Ketika duduk di punggung Nono, dia menyilangkan kakinya dan membusungkan dadanya, sehingga terlihat begitu menggoda. Bukannya Haruhiro ingin melihatnya, tapi… yahh apa boleh buat?

Sebenarnya, apa sih hubungan Lala dan Nono ...? Majikan dan babu?

Dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya, lagian ada hal lain yang ingin dia tanyakan terlebih dahulu. Seperti, ke mana kah mereka akan pergi?

Akhirnya, Haruhiro pun memberanikan diri untuk bertanya, tapi Lala tidak memberitahukan jawabannya. Sepertinya dia harus tetap tenang dan mengikuti apapun maunya.

Dia pun bersedia mengikuti perintahnya sembari bersiap-siap akan kemungkinan terburuk. Saat ini, Lala dan Nono masih belum lanjut berlari. Mereka hanya berjalan, berjalan, berjalan, dan terus berjalan dengan tenang.

Haruhiro dan Party-nya sama sekali tidak memiliki penunjuk waktu. Beberapa kali, Lala mencabut jam sakunya ketika beristirahat. Ketika Haruhiro bertanya jam berapakah ini, ia selalu menjawab, “Apa sih gunanya kalian mengetahui sekarang jam berapa?” Jadi, untuk saat ini mereka tidak tahu jam berapakah sekarang. Dia menduga bahwa dia sudah menghabiskan waktu seharian penuh dengan berlari.

Mereka berada di tempat yang mirip dengan lembah di mana para pasukan relawan pernah membangun pemukiman sementara. Namun, tidak ada mata air di dasar lembah. Dan juga tidak ada tanaman. Mereka sedang berada di lembah kecil dan gersang.

“Kami sudah cukup lama menjelajahi Dusk Realm,” kata Lala sembari berdendang dan menuruni lereng. “Kami telah menemukan berbagai hal yang berbeda. Kami menjual sebagian besar informasi yang kami dapatkan, tapi kami belum memberitahu siapa pun tentang tempat ini. Penemuan yang benar-benar menarik akan kami simpan sendiri, lho. Jadi, hanya kami di dunia ini yang mengetahuinya, bukankah itu keren?”

Setiap rambut di tubuh Haruhiro ini berdiri. Bisa saja Lala dan Nono tiba-tiba menunjukkan taring iblisnya, kemudian menghabisi Party Haruhiro di tempat ini juga. Itulah yang dia rasakan. Apakah itu hanya kekhawatiran tidak berdasar?

Lala dan Nono turun ke lembah, tampaknya mereka sama sekali tidak peduli. Namun, tak ada salahnya untuk tetap waspada.

Ketika Haruhiro memperlambat langkahnya, rekan-rekannya menyadari itu, sehingga akhirnya mereka menyesuaikan langkah. Tapi, ketika mereka mencapai dasar lembah dan melihat apa yang ada di sana, semuanya terkejut.

Di bawah lembah, ada sebuah bebatuan yang mencuat ke permukaan tanah, dan bentuknya menggantung seperti kanopi. Karena tertutup oleh kanopi bebatuan, bagian terdasar dari lembah jadi tidak tampak. Namun, di situlah rahasianya.

Ada lubang di sana.

Aku yakin itu bukan sembarang gua. Tapi, mengapa aku berpikiran seperti itu?

Haruhiro langsung menemukan jawabannya. Itu adalah bukit awal.

Lembah tertutup ini memiliki penampilan dan suasana yang mirip seperti bukit awal… tidak, lebih tepatnya, lembah ini pernah menjadi bukit awal dulu. Namun karena perubahan geografis, semuanya tidak lagi sama. Akan tetapi, lubang ini sungguh mirip pintu keluar.

Lala dan Nono langsung saja memasuki lubang itu, tanpa berhenti sedetik pun.

Haruhiro dan Ranta saling menatap satu sama lain. Ranta tampak tercengang.

Tentu saja, Haruhiro masih terlihat ngantuk seperti biasanya.

“... Kau tahu apa yang kupikirkan?” Tanya Ranta.

“Tidak, aku tidak tahu,” kata Haruhiro segera. “Aku tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi di dalam kepalamu. Meskipun aku tahu, aku yakin itu adalah kabar buruk buatku.”

"Maksudnya apa?!"

“Persis seperti yang dia katakan ...” Shihoru mengambil napas dalam-dalam. “Apakah kau pikir lubang ini menuju jalan pulang?”

“Fweh ?!” mata Yume melebar dan dia menjerit aneh. “Curryru ?! Mau ke mana kita?!"

“Apa sih yang kau maksud!!?” Ranta berteriak. “Carryru?? Apa sih Carryru itu??!”

“Jika kau mengatakan Curryru, maksudnya pasti curry, kan?” Kata Yume. "Hah? Apa sih curry itu….?”

“Makanan pedas ...” Mary memiringkan kepalanya ke samping sambil berpikir. "...kan? Aku cukup yakin, bahwa curry adalah semacam makanan pedas, iya kan?"

“Oh, ya.” Kuzaku bergumam. “Memang ada makanan seperti itu, kan? Waranya ... coklat, kan?”

“... Ya.” Haruhiro mengangguk. Entah kenapa, air liurnya mulai menetes ketika mendengar nama masakan itu. Dia teringat kembali perkataan yang Shima bisikkan padanya tadi.

“Kami sedang mencari cara untuk kembali ke dunia asli kami”

Dunia asli.

Dia melihat ke dalam lubang, kemudian mendongak pada langit yang berwarna-warni.

Kita harus kembali.

Haruhiro melihat rekan-rekannya di sekelilingnya. Wajah mereka semua kotor. Itu cukup konyol.

“Ayo kita pergi,” katanya.

Tak seorang pun keberatan.

Mereka berjalan ke dalam lubang yang ukurannya hanya selebar 1 orang, termasuk Haruhiro, Kuzaku, Mary, Yume, Shihoru, dan Ranta secara berurutan. Di dalamnya gelap gulita. Tapi ada semacam cahaya di depan sana.

Lala dan Nono sedang menunggu mereka. Sumber cahaya itu adalah lentera yang Nono bawa. Lala hanya tersenyum sedikit, sembari terus berjalan maju tanpa kata. Jalannya cukup berkelok-kelok. Guanya miring ke bawah, namun tidak curam. Mereka bisa merasakan hembusan angin di dalam gua tersebut. Angin itu merupakan udara yang mengalir dari lembah tadi.

Gua ini serupa dengan gua di bukit awal, pikir Haruhiro. Tidak hanya serupa, namun sama.

Jalurnya semakin lurus, dan tidak lagi miring ke bawah. Semuanya rata.

“Kami menemukan Gremlin tahun yang lalu,” Lala tiba-tiba berkata sambil berdendang. "Namun, kami tetap merahasiakannya. Tapi, akhirnya kalian menemukannya juga, kami sih gak masalah. Tempat itu, bukanlah tempat pertama kami menemukan Gremlin.”

“Hah ...?” Haruhiro berhenti berjalan seketika. “Tidak hanya di situ?”

“Benar,” katanya. “Mereka adalah makhluk yang sangat lemah. Mereka berkembang biak dengan cukup cepat, tetapi tidak agresif, dan mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan predator. Tapi, mereka memiliki kekuatan atau sifat yang aneh. Mereka adalah pejuang yang keras kepala. Setidaknya, itulah dugaan kami sementara.”

Lala dan Nono tidak berhenti berjalan. Haruhiro buru-buru menyusul mereka berdua.

Jalannya terus berlanjut. Ada cahaya remang-remang di depan. Dia bisa mendengar suara gemerisik.

“Mereka memiliki kekuatan untuk menyeberang dari satu dunia ke dunia lain,” kata Lala. “Atau kekuatan untuk menemukan celah antara kedua dunia. Apapun itu, mereka memanfaatkan kelebihannya itu untuk berpindah ke dunia lain.”

Di sana. Mereka ada di sana. Di dinding batu, ada banyak lubang besar dan kecil, dan cahaya kebiruan bersinar dari dalam lubang-lubang itu. Mereka berada di dalam lubang-lubang, atau menggantung pada tepinya, sembari membuat keributan yang seakan tidak pernah berhenti.

Sarang. Ini adalah rumah mereka. Ri-komo… bukan…. Maksudnya, Gremlin.

“Tapi, hanya inilah…….” Lala berbalik dan membusungkan dadanya dengan bangga. “…hanya inilah sarang terjauh yang berhasil kami eksplorasi.”

“Hah?” Haruhiro mundur beberapa langkah ketika Lala membusungkan dadanya. “K-k-kalau begitu, apakah kau tahu gua ini menuju ke dunia mana...?"

“Tidak tahu,” kata Lala dengan senyum lebar di wajahnya. “Semuanya masih misteri.”

Kata Penutup[edit]

Pada kata penutup di setiap jilid Hai to Gensou no Grimgar, aku biasanya menulis tentang video game, tapi kupikir, aku akan melakukan sesuatu yang berbeda kali ini.

Sebagaimana telah diumumkan, novel ini akan menerima adaptasi anime. [10]

Aku sama sekali tidak menduga hal ini, dan jujur saja, ketika editorku, Mr. K, pertama kali mengatakan padaku bahwa adaptasi itu mungkin saja terjadi, aku pun menertawakannya karena kuanggap itu tidak mungkin terjadi. Aku yakin bahwa proyek ini hanya akan naik ke permukaan, kemudian lenyap begitu saja. Bahkan setelah bertemu Direktur Ryosuke Nakamura, serta Mieko Hosoi-san, dan semua produsen, aku masih setengah ragu.

Ketika aku membaca naskahnya, itu sangat menarik, dan aku mengagumi apa yang mereka lakukan. “Mengapa, cerita Hai to Gensou no Grimgar ini begitu mengesankan. Aku penasaran, siapa sih penulis aslinya. Oh, bukankah itu aku? Yakin nih?” kira-kira seperti itulah perasaanku atas semua ini. Ini masihlah tidak terasa nyata bagiku.

Mr. K dan Mr. H dari departemen editing lah yang berhubungan langsung dengan staf produksi anime, seakan-akan semuanya terjadi pada suatu tempat yang jauh, sehingga aku tidak begitu menyadarinya. Ini sulit dipercaya. Sebenarnya ada banyak pekerjaan yang melibatkanku, termasuk pemeriksaan dan penyesuaian cerita, serta mereka meminta pendapatku tentang berbagai hal. Meskipun aku tidak pernah tenang, aku masih bisa memikirkan semuanya dengan jernih. Tapi, kau tahu, sampai sekarang pun aku masih belum bisa tenang.

Proyek ini muncul karena seseorang menyukai novel ini, sehingga ingin mengadaptasinya menjadi anime, maka tentu saja aku bersyukur akan hal itu. Selama proses pertemuan tim produksi secara langsung, dan berbicara dengan mereka beberapa kali, aku melihat semangat dan keseriusan yang mereka curahkan dalam pekerjaan ini. Aku terkejut dan takjub oleh seberapa dalam dan seberapa detail mereka memikirkan berbagai hal yang terkait proyek ini, dan aku sungguh-sungguh senang dengan fakta bahwa mereka mengerjakan ini semua berdasarkan karya asliku.

Ada banyak orang yang terlibat dalam produksi anime, dan juga jumlah uang yang tidak sedikit. Skalanya sungguh berbeda dengan novel. Jelas, mereka tidak hanya melakukan semua ini untuk kepentingan mereka sendiri, jadi aku mengharapkan mereka bisa meraih kesuksesan.

Ini semua hanyalah masalah mentalitasku sendiri, tapi suatu hari, aku melihat diriku sendiri sedang menonton anime Hai to Gensou no Grimgar dari sudut pandang yang obyektif.

Mengapa demikian? Aku juga penasaran. Tapi, aku segera menemukan jawabannya.

Pada dasarnya, meskipun berbagai hal tidak berjalan sesuai rencana, atau aku merasakan sakit dan kesepian, aku masih bisa merasa bahagia, selama kutulis novelku. Aku pikir, menjadi novelis benar-benar panggilan hidupku. Tapi, apakah memang harus novel? Sejujurnya, aku tidak berpikir demikian.

Sebetulnya, hal yang kunikmati adalah membayangkan ini-dan-itu di kepalaku, kemudian merangkainya dalam suatu bentuk. Tak peduli apakah itu berwujud manga, film, gambar, musik, atau apapun juga.

Namun, jika kau memiliki pena dan kertas, atau bahkan hanya PC, kau sudah dapat menulis. Terlebih lagi, kau dapat melakukannya seorang diri, dan kau tidak perlu bantuan dari orang lain. Itulah poin pentingnya.

Aku ingin melakukan semuanya sendiri. Aku ingin membuat sesuatu yang murni berasal dari diriku sendiri.

Yahh, aku yakin para Mangaka pun bisa melakukan semuanya sendirian, namun tidak semudah novel. Adapun dengan gambar, jika itu bisa memberiku dorongan untuk bekerja, aku mungkin sudah menjadi Mangaka. Aku pernah mencoba musik, atau lebih tepatnya lagu-lagu, tapi ternyata aku membenci suaraku sendiri. Dengan suara seperti ini, lagu-lagu bagus itu tidak akan berubah menjadi apa yang aku inginkan. Mau bagaimana lagi.

Karena berbagai faktor, akhirnya aku memilih novel, yang bisa kumulai dan kuselesaikan seorang diri. Ngomong-ngomong, bahkan dengan adanya novel, ketika kita membicarakan penerbitan serial, masih ada beberapa pihak yang turut ambil bagian, seperti editor, desainer, proofreader, dan ilustrator juga. Namun, naskah pertama, sepenuhnya dipercayakan pada pihak penulis.

Itulah sebabnya, aku mengubah sesedikit mungkin naskah awalku. Satu-satunya kesempatan aku mengubah tulisanku adalah ketika editor atau proofreader mencatat kesalahan atau sesuatu yang bertentangan dengan konsep, dan aku pun menganggap itu perubahan yang penting. Novelku adalah milikku sendiri, dan itulah mengapa aku senang menjadi novelis.

Karena itu, aku sangat berterima kasih kepada mereka yang berupaya menerbitkan serial ini. Aku sangat menghargai jeri payah kalian semua.

Memang benar bahwa anime Hai to Gensou no Grimgar didasarkan pada novelku, tapi sejatinya, itu bukanlah semata-mata milikku. Anime itu adalah hasil kerja keras Direktur Nakamura dan banyak pihak lainnya yang bersama-sama menciptakannya. Itu benar-benar bukan milikku. Jika adaptasi animenya sukses besar, maka prestasi itu dimiliki oleh semua pihak yang telah bersusah payah menciptakannya. Aku hanya menyediakan bahan sumber aslinya. Anime adalah sepenuhnya pekerjaan mereka.

Aku berada pada suatu posisi di mana aku bisa melihat secara langsung maupun tak langsung kerja keras yang mereka tanamkan, keterampilan yang mereka kembangkan, dan selera unik yang mereka berikan sepenuhnya dalam menciptakan anime. Aku lah orang yang memiliki harapan terbesar pada anime Hai to Gensou no Grimgar, dan aku tak sabar untuk menantikannya.

Jika novelku bukanlah karya asli, aku tidak akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan tawaran yang istimewa ini. Itulah faktanya. Dalam makna yang lebih luas, ini semua mungkin dikarenakan bahwa akulah sang penciptanya. Jika ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membuat anime sukses, aku akan dengan senang hati melakukannya. Tapi, sungguh, aku hanyalah seorang novelis, dan anime itu bukanlah novelku. Kedua hal tersebut begitu berbeda, dan aku camkan itu baik-baik dalam pikiranku. Namun, apapun itu, aku tetap setia menunggu anime Hai to Gensou no Grimgar dengan harapan tinggi, dan sekali lagi aku katakan bahwa aku tidak sabar untuk menyaksikannya.

Ini adalah pengalaman pertama bagiku, dan aku mengalami kesulitan membuat pikiranku tetap tenang, tetapi sepertinya, aku akan menjadi salah satu penonton beruntung dari anime Hai to Gensou no Grimgar. Karena posisiku, aku sudah menyaksikan sekilas bagaimana proses produksinya (yang mana, itu sangat menyenangkan… naskah, storyboard, konsepan, semuanya sangat luar biasa), sehingga, aku bisa mengatakan dengan sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat pasti bahwa ini akan menjadi anime yang menakjubkan!

Aku sudah kehabisan halaman.

Untuk editorku, K-san, untuk Eiri Shirai-san, untuk para perancang KOMEWORKS lainnya, untuk semua orang yang terlibat dalam produksi dan penjualan buku ini, dan akhirnya untuk semua orang yang sekarang memegang buku ini, aku berikan semua apresiasiku yang tulus dari dalam lubuk hati, dan semua cintaku. Sekarang, aku akan meletakkan penaku untuk hari ini.

Aku harap kita akan bertemu lagi.

Ao Jyumonji
  1. Mungkin kalimat itu berasal dari suatu ungkapan dalam bahasa Inggris yang berarti: orang payah yang masih bisa berguna.
  2. Arpeggio adalah nada-nada akord (chord) yang dimainkan satu persatu. jadi, misalkan kita memegang kunci D, lalu nada-nadanya dimainkan satu persatu. Denagn catatan nadanya harus berbunyi satu persatu atau nadanya tidak boleh berbunyi dlm waktu yg sama. Karena kalau dua nada berbunyi bersamaan, maka yang kamu mainkan adalah chord, bukan arpeggio. Sumber : http://belajardasargitar.blogspot.co.id/2015/09/apa-itu-arpeggio.html.
  3. Piroksen adalah sebuah kelompok mineral inosilikat yang banyak ditemukan pada batuan beku dan batuan metamorf. Strukturnya terdiri dari rantai tunggal silika tetrahedral dan mengkristal monoklinik dan ortorombik. Piroksen mempunyai rumus kimia umum XY(Si,Al)2O6 (X adalah kalsium, natrium, besi+2, magnesium dan sedikit seng, mangan, dan litium. Sedangkan Y adalah ion kromium, aluminium, besi+3, magnesium, mangan, skandium, titanium, vanadium dan besi+2). Dikutip dari Wikipedia Indonesia tanpa perubahan.
  4. Gyūdon (牛丼, sapi, mangkuk) atau beef bowl adalah makanan Jepang jenis Donburi berupa semangkuk nasi putih yang di atasnya diletakkan irisan daging sapi bagian perut dan bawang bombay yang sudah dimasak dengan kecap asin dan gula. Sebagai penyedap, di atasnya sering ditambahkan asinan jahe (benishōga), campuran rempah dan cabai yang disebut shichimi, atau telur ayam mentah sesuai selera. Gyūdon berasal dari makanan yang disebut Sukiyakidon (sukiyaki donburi), sehingga sering dijumpai gyudon yang memakai shirataki seperti halnya sukiyaki. Dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.
  5. Sel somatik adalah semua jenis sel yang membentuk suatu organisme, kecuali sel gamet organisme tersebut. Kata somatik berasal dari bahasa Yunani sōma yang berarti tubuh. Pada manusia, sel somatik memiliki 46 kromosom yang terbagi menjadi 23 pasang genom. Sedang sel gamet memiliki setengah jumlah kromosom sel somatik. Dikutip dari Wikipedia Indonesia tanpa perubahan.
  6. Baca jilid 1 akhir.
  7. Oke, Ciu akan menerangkan salah satu istilah asing pada kalimat ini. Kiyomizu terdiri dari 2 kata, yaitu “Kiyo” yang berarti murni, dan “Mizu” yang berarti air. Jadi, kurang-lebih Kiyomizu berarti “air yang murni”. Namun bukan itu masalahnya, Kiyomizu sebenarnya adalah nama suatu kuil Buddha terkenal di Jepang, tepatnya di daerah Kyoto. Kuil ini begitu unik karena dibangun di daerah perbukitan yang tinggi. Dan di sana terdapat bangunan yang bernama Panggung Kiyomizu, yaitu panggung dengan tinggi lebih dari 13 m. Panggung inilah yang dimaksud Haruhiro. “Melompat dari panggung Kiyomizu” adalah suatu ungkapan yang bisa diartikan “uji nyali”, karena panggung tersebut begitu tinggi. Kalo ada kurang-lebihnya mohon maaf, dan jangan ragu untuk mengoreksi saya, kalau Anda tahu makna yang lebih benar.
  8. Haiku adalah puisi pendek khas Jepang, disajikan dalam tiga larik (triplet), masing-masing larik berisi 5, 7 dan 5 suku kata, total 17 suku kata. Sumber : https://www.kompasiana.com/eddyroesdiono/haiku-bekal-baru-guru-bahasa
  9. Seppuku (切腹, arti harfiah: "potong perut") adalah suatu bentuk ritual bunuh diri yang dilakukan oleh samurai di Jepang dengan cara merobek perut dan mengeluarkan usus untuk memulihkan nama baik setelah kegagalan saat melaksanakan tugas dan/atau kesalahan untuk kepentingan rakyat. Dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.
  10. Jilid 6 ini terbit di Jepang tanggal 25 Oktober 2015, sedangkan animenya tayang Januari 2016. Sayangnya sumber Inggris-nya baru muncul sekitar bulan November 2017.