Hai to Gensou no Grimgar (Indonesia):Volume 7

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Punggung Bukit Yang Samar[edit]

Teriakan Gremlin terdengar saling saut-menyaut di sekeliling mereka.

"Nafushuperah, toburoh, furagurashurah, purapurapuryoh."

"Anabushoh, fakanakanah, barauarafurenyoh, kurakoshoh."

"Kachabyuryohoh, kyabashah, chapah, ryubaryaburyah, hokoshoh."

Cahaya biru terpancar dari setiap lubang di dinding gua. Berapa banyak Gremlin yang tinggal di sarang ini? Ratusan? Ribuan? Puluhan ribu mungkin?

Pada dasarnya, makhluk-makhluk yang tampak seperti gabungan kelelawar dan Goblin ini tidaklah berbahaya. Sekalipun tahu itu, mereka sedikit menakutkan. Jika ada yang tidak beres kemudian mereka menyerang, maka sekelompok Party pun tidak akan punya kesempatan menang melawan mereka.

Setelah mereka berhasil melewati sarang Gremlin, mereka sampai di tempat penyimpanan telur.

Tata letak tempat ini tidaklah rumit. Ada satu jalur yang melewati serangkaian ruangan persegi di mana Gremlin meletakkan telur-telurnya. Mereka tidak tertarik dengan telur-telur itu, maka mereka terus menyusuri jalan dan mengabaikan apapun yang ada di dalam ruangan tersebut.

Kita bisa terus berjalan, kan? pikir Haruhiro.

Haruhiro menatap Ranta, Kuzaku, Yume, Shihoru, Mary lagi dan lagi, dia ingin meyakinkan bahwa anggota timnya masih di sana, dia pun bertanya pada dirinya sendiri apakah mereka harus lanjut atau kembali. Namun tak peduli berapa kalipun dia bertanya, jawabannya tak pernah muncul. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Lala si wanita dominan, dan pelayannya, Nono, berada di depan, mereka bergerak dengan hati-hati tapi penuh percaya diri. Nono membawa sebuah lentera, cahayanya menerangi Lala yang berani dengan penampilan extrem.

Jujur saja, sebenarnya Lala tidak perlu berpenampilan seperti itu, dia tidak perlu membuka bagian tubuhnya sevulgar itu. Hanya bagian paling vital yang tidak dia buka, dan tentu saja dia tidak boleh memamerkan begian itu di depan publik. Bukannya Haruhiro ingin melihat bagian paling vital itu. Tapi ... dia tidak kuasa menahan matanya. Apakah wanita itu memang suka pamer? Mungkin dia ingin melihat reaksi setiap orang yang bernafsu melihat “itunya”.

Nono, si pria berambut putih dan mengenakan topeng hitam yang menutupi bagian bawah mukanya, hanya diam saja. Sebenarnya, Haruhiro hampir tidak pernah mendengarnya berbicara. Kapan pun mereka beristirahat, pria itu selalu merelakan tubuhnya untuk menjadi kursi Lala. Itu agaknya, yah ...

Singkatnya, mereka pasangan yang aneh.

Tapi mereka cukup mahir. Mereka juga sangat handal. Tapi, apakah tidak masalah mengandalkan mereka? Entah kenapa, mereka susah dipercaya. Seolah-olah, kalau Party Haruhiro terlalu mengandalkan mereka, tampaknya mereka akan memanfaatkan Haruhiro dan yang lainnya sampai menderita.

Akhirnya kelompok tersebut sampai di ujung penyimpanan telur. Mulai dari situ, hanya ada satu jalan tunggal. Jalannya melengkung dengan smooth ke kanan, sebelum akhirnya belok tajam ke arah lain.

Dan setelahnya, mereka dihadang oleh persimpangan berbentuk T.

Haruhiro merasakan déjà vu. Kondisi ini hampir identik dengan pintu masuk ke penyimpanan telur di Wonder Hole. Lagi-lagi mereka dihadapkan dengan persimpangan berbentuk T, yang memaksamu harus memilih ke kiri ataukah ke kanan, dan Wonder Hole ada di sisi lainnya.

Bisakah kita melaluinya untuk kembali?

Untuk beberapa saat, dia berpikir begitu. Tapi tentu saja, bukan itu masalahnya.

Lala dan Nono mengambil jalan ke kanan pada persimpangan T tersebut. Setelah melewati jalan melengkung lainnya…. seperti yang sudah diduga, jalannya mulai terbelah. Mereka berbelok ke kanan, lalu menyusuri jalan yang panjang. Lorong yang sempit, berliku-liku, dengan langit-langit yang rendah… terus terbentang di hadapan mereka seakan-akan tanpa ujung.

Kedua jalur itu serupa, tapi ini tidak seperti pintu masuk Wonder Hole. Ke manakah mereka dibawa keluar? Bisakah Haruhiro dan yang lainnya kembali ke rumah?

"Kita sudah dekat dengan pintu keluar," kata Lala dengan berbisik.

Yang dia katakan ada benarnya, karena terasa sedikit hembusan angin. Suhunya pun turun sedikit. Saat Nono menutupi lenteranya, tiba-tiba lorong ini menjadi gelap gulita. Tidak ada tanda-tanda cahaya di depan sana.

"Apakah sekarang sudah malam ...?" Bisik Ranta sambil meneguk ludahnya sendiri.

Yang terdengar hanyalah suara seseorang yang mendesah, langkah kaki, gemerisik pakaian, dentang armor, dan hembusan nafas.

Nono masih menutupi lenteranya dengan semacam pembungkus. Ada sedikit cahaya yang terpancar dari celah-celah pembungkus itu.

Lala berhenti, lalu dia memberi isyarat pada Nono. Haruhiro dan Party-nya juga berhenti. Sepertinya Lala bermaksud agar Nono menyelidiki situasinya terlebih dahulu.

Nono tahu cara menggunakan Sneaking. Sebagai sesama Thief, Haruhiro bisa mengenali skill itu. Nono juga menggunakan teknik itu dengan level yang cukup tinggi

Nono mengoperkan lenteranya pada Lala, lalu dia menghilang dalam kegelapan di depan. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara, kemudian segera lenyap dari pandangan mereka. Mungkin sekitar lima menit kemudian, Nono pun kembali.

Nono mendekati Lala, mungkin untuk membisikkan sesuatu di telinganya, tapi Haruhiro juga tidak bisa mendengar bisikan itu, Lala mengangguk sekali, kemudian memberikan kembali lenteranya pada Nono dan mulai berjalan. Haruhiro dan yang lainnya tidak punya pilihan selain mengikuti mereka berdua.

Lentera masih terbungkus, dan suasananya masih gelap gulita seperti sebelumnya. Tapi, mereka jelas-jelas sedang menuju ujung dari gua ini.

Sedikit lagi, kata Haruhiro pada dirinya sendiri. Kita hampir sampai.

"Mrrowr ..." Yume mengeluarkan suara aneh.

Bagian luarnya lembab, terbungkus dalam kegelapan yang dingin. Ada suara-suara, tapi dari apa?

Ou, ou, ou ...

Suara itu terus berulang… apakah itu lolongan binatang? Ada juga suara bernada tinggi yang terus-terusan terdengar. Apakah itu suara dengungan sayap serangga?

Ada suara lain yang terdengar seperti decakan lidah seseorang. Ini sungguh menyeramkan, dan membuat Haruhiro tidak nyaman.

"Dimana tempat ini ...?" Kuzaku berbisik lemah.

Seseorang sedang terisak-isak. Itu pasti Shihoru.

"Tidak apa-apa," kata Mary, sembari mencoba menyemangatinya, tapi suaranya juga gemetar.

"Malam ..." Haruhiro tiba-tiba berpikir. "Mungkinkah ini tempatnya? Night Realm?"

Lala dan Nono adalah orang-orang yang telah menemukan sarang Gremlin yang dapat diakses dari Wonder Hole terhubung ke dunia lain, yaitu Dusk Realm. Tidak ada pagi atau malam pada Dusk Realm, tapi di dunia lain yang ini, adanya hanya malam hari; tanpa pernah ada siang hari. Itulah mengapa disebut Night Realm.

"Tunggu, kalau itu benar ..." Ranta menari sedikit. "... kita bisa kembali pulang, bukankah begitu?!"

"Mungkin," Lala mendengus. "Mungkin juga tidak. Tempat itu juga berbahaya. Kami pun tidak banyak mengeksplorasinya. Karena terlalu berbahaya."

Haruhiro mengusap perutnya. Perutnya sakit. Sungguh sakit. Bahkan Ranta yang gembira pun kembali diam.

Bahkan pada saat ini, beberapa makhluk tak dikenal bisa saja muncul dari kegelapan untuk menyerang mereka

"Jadi, ingat itu baik-baik dalam kepala kalian… ayo, kita pergi," kata Lala dengan cepat.

Lalu Lala dan Nono menjauh dari mereka. Haruhiro butuh waktu untuk memahami perkataan dan tingkah mereka berdua.

"…Hah?! Itu-whoa, whoa, whoa, tunggu…?!" dia tergagap.

"Apa?" Tanya Lala.

"Tidak, kau akan pergi-ya? Apa artinya itu ... ya? Hah…? Hanya kalian berdua ... berduaan?" Dia tergagap.

"Bagaimanapun juga, kami sama sekali tidak tahu apa yang ada di depan," katanya.

"Tidak, kami juga tidak tahu, tapi ... Tapi, tetap saja ..."

"Ketika berada di tempat yang tidak kami kenal, pengalaman mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengeksplorasinya adalah kami berdua bergerak sendirian. Begitulah cara kami bekerja saat bertualang ke manapun, dan aku tidak ingin merubahnya."

"Tidak, t-tapi ..."

"Jangan ...!" Ranta sujud dan melakukan Kowtow. "Jangan tinggalkan aku! Kumohon, kumohon! Aku serius, aku serius! Aku memohon padamu! Jangan tinggalkan aku di sini!”

Bahkan Haruhiro, yang cukup memahami berbagai tipe manusia di dunia ini, sangat terkejut melihat tingkah si kampret Ranta. Atau mungkin, dia masih belum memahami apapun.

Bagaimana bisa dia tidak malu melakukan itu? Itu bahkan terlalu menjijikkan. Tunggu dulu, apa yang dia maksud dengan ‘jangan tinggalkan aku’? Ampun deh, selama ini dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Aku sih gak heran, tapi tetap saja itu sungguh mengerikan dan menjengkelkan ...

"Da-dah." Sepertinya Lala melambaikan tangan padanya, atau mungkin juga tidak. Apapun itu, mereka pergi begitu saja.

Si wanita dominan dan pelayannya sudah pergi.

"S….Sekarang…b…bagaimana?" Tanya Kuzaku dengan berbisik.

Oh sial. Ini gawat, pikir Haruhiro. Aku tidak percaya betapa gelapnya terowongan ini. Aku tidak bisa melihat apa pun. Semuanya gelap gulita.

Haruhiro terjebak dalam alam tanpa cahaya. Dia tidak bisa bergerak, dan tidak bisa keluar dari sini. Ini adalah akhir.

……Tidak, itu tidak benar. Semua ini hanyalah ilusi.

"B…Baiklah…pertama-tama kita butuh cahaya ..." Haruhiro mengaduk-aduk isi tasnya dan mengeluarkan lentera. Begitu dinyalakan, ia merasa sedikit lebih tenang.

Yume juga mengeluarkan lenteranya sendiri, dan dia pun coba menyalakannya.

Tapi Haruhiro menghentikannya. "Kita hanya butuh satu penerangan. Biar aku saja. Kita harus menghemat minyaknya."

"Ohhh. Ya, itu masuk akal, ya ... "

"Sialan wanita itu." Ranta menghantam tanah sambil menggertakkan giginya. "Aku tidak akan pernah maafkan dia."

"Jangan menangis, bung ..." kata Haruhiro.

"A-aku tidak menangis! Dasar bego, bego, Haruhiro bego! Urgh ... "

Mary memeluk Shihoru erat-erat. Kalau dia tidak melakukan itu, mungkin Shihoru sudah roboh sejak tadi.

Haruhiro menarik napas panjang, dan memaksa dirinya untuk rileks. Aku harus tetap fokus. Bagaimanapun juga, akulah pemimpinnya. Aku harus mendukung semua timku. Aku harus mengarahkan mereka. Tak akan kubuarkan seorang pun mati. Kita akan bertahan. Kita semua bisa melewati ini hidup-hidup.

"Ayo jalan," katanya. "Melangkahlah sedikit demi sedikit. Kita pasti bisa melewati ini. Atau setidaknya, aku akan berusaha untuk mewujudkannya. Umm…. Atau lebih tepatnya, kita semua akan berusaha mewujudkannya. Hati-hati, jangan buat banyak suara. Jika kalian merasakan ada sesuatu yang datang, beri tahu aku segera. Kita akan melakukannya dengan sangat hati-hati dan…….. Yah, pokoknya begitu. Oke, ayo pergi."

Aku hanya berbasa-basi. Aku sendiri tahu itu. Apa sih yang sedang kupikirkan? Apa yang seharusnya aku pikirkan? Aku sendiri tidak tahu. Tapi, kita harus secepatnya keluar dari sini, kan? Atau mungkin, akunya saja yang tidak ingin berlama-lama di sini? Mungkin aku hanya ketakutan mendekam di sini. Tapi, maksudku, Lala dan Nono sudah pergi duluan. Ya. Kita tak punya alasan untuk tetap di sini.

Haruhiro dan yang lainnya memunggungi dinding batu. Lubang yang menuju ke penyimpanan telur menganga pada dinding batu itu.

Lala dan Nono telah pergi ke jalur sebelah kiri. Di depan mereka, jalurnya semakin menurun ke bawah.

Tanahnya tidak rata dan berbatu. Apakah dia harus berbelok, atau lurus saja?

Dia segera menetapkan pilihannya. Haruhiro memutuskan untuk mengejar Lala dan Nono. Mereka mungkin tidak bisa menyusul kedua petualang senior itu, tapi keduanya telah pergi. Lebih baik dia mengikuti jalur yang dipilih kedua seniornya itu, daripada berbelok ke kanan…. Bukankah begitu?

Sambil memeriksa pijakannya, mereka berjalan dengan hati-hati di sepanjang dinding berbatu, kemudian mereka mengambil jalur ke kiri.

Mereka berjalan seolah-olah sedang melintasi jembatan yang sempit.

Apakah kami berjalan terlalu lambat? Haruskah kami bergegas? Apa gunanya terburu-buru? Kalau tak kunjung ada cahaya di ujung sana, maka ini semua percuma. Apakah ada pagi hari di dunia ini?

Shihoru masih menangis tersedu-sedu.

"Hoi… sudahlah!" kata Ranta sambil mendecakkan lidahnya. " - Ow!"

"Diam, kau bodoh!" sepertinya Yume baru saja menjitak Ranta.

Jika aku membuka mulut, sepertinya aku akan mulai merengek, pikir Haruhiro. Waktu….. Sudah berapa lama kami di sini? Aku bahkan tidak bisa membayangkannya. Berapa lama kami harus berjalan? Haruskah kami beristirahat? Apakah teman-temanku lelah? Haruskah aku bertanya pada mereka? Apakah mereka lapar? Haus? Kami membutuhkan air dan juga makanan. Apa yang harus kami lakukan? Bagaimana kami bisa mendapatkan makanan dan minuman? Apakah semuanya bisa bertahan? Dalam situasi seperti ini, apakah itu tujuan yang realistis?

Akhirnya, Shihoru berhenti menangis. Sebelunya dinding batu berdiri tegak 90°, tapi sekarang terasa lebih miring. Sepertinya dia bisa memanjatnya, tapi dia tidak yakin bisa memanjatnya.

Di sebelah kanan hanya ada kegelapan, kegelapan, kegelapan yang tak ada habisnya. Meskipun dia arahkan lenteranya ke sana, dia masih tidak bisa melihat apapun.

Terdengar suara pekikan hewan, kepakan sayap, decakan ... Secara berkala, Haruhiro bisa mendengar suara-suara hewan yang datang dari sini dan sana.

Tiba-tiba, angin bertiup menerpa mereka.

"Tunggu sebentar." Haruhiro mengangkat satu tangan agar rekan-rekannya berhenti seketika.

Dia maju perlahan. Tiba-tiba, dia tidak bisa lagi memijak tanah. Itu adalah tebing. Ada tebing di sana.

Seberapa tinggi tebing ini? Sambil meringkuk, dia menurunkan lenteranya sejauh yang dia bisa. Namun dia tidak bisa melihat dasar tebing ini, karena terlalu dalam.

Dia mendengarkannya dengan saksama. Apakah itu ... suara air? Apakah ada sungai di sana?

Air. Jika ada sungai, maka ada air. Namun, itu berarti mereka tidak bisa menuruni tebing. Mereka juga tidak bisa melompat.

Dia mengambil sebuah batu dan membuangnya. Segera terdengar suara cipratan. Sepertinya kedalamannya tidak lebih dari 10 m.

"Ada air di sana," kata Haruhiro.

Tapi tak seorang pun bereaksi. Bahkan Ranta hanya diam saja. Semua rekannya pasti sudah kelelahan, baik secara fisik maupun psikis.

"Kalau kita menyusuri tebing ini, kemudian mencari jalan turun," kata Haruhiro. "Jika kita bisa mendapatkan air ..."

"... Ya," jawab Kuzaku singkat.

"Shihoru, kamu baik-baik saja?" Tanya Haruhiro, dan Shihoru hanya membalasnya dengan anggukan tanpa berkata sedikit pun.

Dia tidak tampak baik-baik saja. Haruhiro mengkhawatirkannya, tapi kalau mereka bisa mendapatkan air minum, setidaknya Shihoru akan merasa sedikit lebih baik. Tapi, apakah air sungai itu bisa diminum? Mungkin juga tidak. Tapi, jika mereka merebusnya…. Ah, benar juga….. dengan menyalakan api……..

Mereka juga harus berhati-hati agar tidak terperosok pada tebing ini. Sebenarnya, dia tidak sebodoh itu, tapi untuk berjaga-jaga…..

Ada angin kencang dan menderu di sepanjang tebing yang terasa begitu dingin. Jika tidak menghangatkan diri, mereka akan kedinginan dan tubuh pun mulai menggigil.

Akhirnya, kabut juga muncul. Tanahnya tidak lagi berbatu. Rasanya seperti ada tumbuhan semacam rumput yang tumbuh di tanah. Tapi rumputnya tidak berwarna hijau, melainkan putih. Apakah itu benar-benar rumput?

"Wah!" Ranta tiba-tiba melompat. "Wha, wha, wha ...!"

"Ada apa?" Tanya Haruhiro.

"Aku barusan menginjak sesuatu! Aku yakin itu bukan makhluk hidup, tapi….. Ahh!” Ranta meraihnya. Itu adalah benda berwarna putih. "Lihat ini! Tulang!

Shihoru menjerit.

"Buat apa kau ambil benda seperti itu?" Tanya Yume.

"Parah nih orang ..." gumam Mary.

Begitu diserang oleh para gadis sekaligus, Ranta mulai membela dirinya dengan melambai-lambaikan benda itu. "Kenapa kalian takut pada tulang bodoh seperti ini? Dasar cewek bego! Apanya yang harus ditakuti? Aku baik-baik saja kok. Beginilah aku!”

"Tulang apa itu?" Tanya Haruhiro sambil menyipitkan matanya.

Rangka tangan, ya. Benda itu tampak seperti kerangka tangan. Kalau tidak diayun-ayunkan oleh Ranta, pasti masih ada daging atau kulit kering yang menempel padanya.

"Hmm?" Ranta mendekatkan wajahnya pada tulang itu, lantas memeriksanya. "Ukurannya sedang-sedang saja, bisa jadi ini rangka manusia ... tapi jarinya terlalu panjang Ya, terlalu panjang. Tunggu dulu, jarinya terlalu banyak. Sepertinya ada delapan? Hmm?”

Kuzaku berjongkok di sebelah Ranta. Sisa tulang lainnya ternyata ada di sana, tersembunyi dibalik tumbuhan seperti rumput putih yang panjang.

"... Ya, tidak terlihat seperti tulang manusia," Kuzaku menyetujuinya. "Kurasa ini adalah rangka makhluk lain."

Yume, Shihoru, dan Mary mulai mundur selangkah. Haruhiro mendekati Ranta dan Kuzaku, kemudian dia ikut berjongkok.

Tidak diragukan lagi, ini memang rangka, tidak hanya sepotong saja, melainkan lengkap satu badan. Jasadnya memakai semacam armor logam. Ada dua lengan, dua kaki. Bahkan ada ekornya, jadi ini pasti bukan jasad manusia. Anehnya, aku tidak menemukan kepala di sekitar sini. Atau mungkin makhluk ini memang tidak punya kepala? Atau jangan-jangan sudah dimakan makhluk lain? Sepertinya makhluk ini mati dalam posisi telungkup. Benda panjang dan tipis itu seperti pedang. Sedangkan yang bulat itu perisai, mungkin? Tumbuhan seperti rumput putih ini melilit di sekitarnya.

Kuzaku meraih ujung perisai dan menariknya. Rumput-rumput putih itu tercabut saat dia melakukannya. "Kurasa, aku bisa menggunakan ini?"

"Paladin tanpa perisai sama saja dengan belatung," Ranta menyetujuinya. "Ambillah." Ranta menyingkirkan kerangka tangan yang masih menempel pada pedang itu, kemudian mengambilnya. "Pedang ini sudah jelek, berkarat, dan tidak layak."

Haruhiro melirik sekilas pada rangka tangan yang baru saja Ranta lempar, lalu melihat ke bawah pada jasad yang sudah tidak utuh itu. Dari struktur tubuhnya, bisa jadi ini jasad wanita, bukannya pria, tapi Haruhiro lebih suka menganggapnya jasad laki-laki.

Lelaki ini dipersenjatai lengkap, jadi mungkin saja dia adalah makhluk dari dunia ini. Berapa lama waktu berlalu sejak dia mati? Sepertinya tidak mungkin dia mati kemaren sore. Beberapa bulan yang lalu? Tahun? Beberapa tahun tepatnya? Atau puluhan tahun, mungkin?

"Ranta, telentangkan jasad itu," perintah Haruhiro.

"Idih!! Ogah!! Kenapa aku harus mengikuti semua perintahmu? Matilah kau."

"Biar aku saja." Kuzaku mengangkat jasad itu dan membalikkan tubuhnya. "Ini dia ..."

Haruhiro memeriksa seksama jasad dengan posisi telentang itu. Yang jelas, kepalanya sudah terpenggal oleh sesuatu. Haruhiro bisa mengetahuinya dari kerangka leher yang terpotong secara tidak wajar.

Ada wadah berbentuk kotak yang dipasang di sabuk pria itu. Haruhiro membukanya dan mengeluarkan isinya. Ada benda gelap, keras, dan bulat yang keluar ... Apakah itu koin? Ada juga benda-benda lain yang tampak seperti biji dan belati berkarat. Ada semacam rantai yang menggantung dari leher pria malang ini. Tunggu dulu, bukankah ada kunci pada rantai itu? Atau semacam alat lainnya?

Itu rantai yang cantik, pikir Haruhiro. Sepertinya terbuat dari emas. Namun bukan emas murni.

Saat dia menyeka kotoran pada bagian depan armor, dia mendapati semacam tulisan atau pola yang terukir di sana. Mungkin lebih tepat kalau disebut tulisan. Huruf yang sama juga terukir pada benda seperti koin hitam yang ada di kantongnya.

Kebetulan, sewaktu menjalankan misi di Grimgar, dia pernah mendengar bahwa bangsa Orc memiliki bahasanya sendiri yang unik, sedangkan para Undead menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Elf, Dwarf, dan manusia. Mungkin lebih baik mereka mengasumsi bahwa jasad ini berasal dari bangsa yang sama cerdasnya dengan manusia, atau setidaknya mendekati.

"Haru-kun." Yume menarik jubah Haruhiro. "... Anu, sepertinya Yume baru saja mendengar suara gemerisik."

Ranta mulai bereaksi dengan melihat area sekelilingnya. Mary dan Shihoru meringkuk bersamaan, sambil menahan napas. Kuzaku bersiap-siap memegang perisai jasad itu, lalu dia berjongkok dengan satu lutut seraya mencengkram pedang panjangnya.

Haruhiro dengan cepat memasukkan semua barang jasad itu pada tasnya sendiri. Lantas, dia mendengarkan dengan saksama.

…sreeek, sreeek, sreeek, sreeek, sreeek, sreeek, sreeek, sreeek, …

Dia yakin mendengar sesuatu. Dari arah yang berlawanan dari tebing. Apakah dia harus memeriksanya? Atau kabur saja? Haruhiro langsung membuat keputusan. Dia mengambil jalan tengah. Dia akan kabur, sembari melihat makhluk apakah yang sedang mendekat itu.

"Ayo pergi, tapi jangan lengah sedetik pun," perintahnya. "Ranta, Kuzaku…" Dia melambaikan tangannya sebagai sinyal agar kedua rekannya itu membentuk formasi.

Haruhiro pun memerintahkan, Mary, Yume, dan Shihoru untuk membentuk baris satu lajur di belakangnya, sementara Ranta dan Kuzaku berada di samping mereka, pada sisi seberang tebing. Apakah cahaya lentera yang mengundang makhluk itu ke sini? Tapi, jika tanpa lentera, mereka tidak akan bisa melihat apapun di sini. Mereka juga beresiko jatuh dari tebing.

Haruhiro dan yang lainnya mulai bergerak.

…sreeek, sreeek, sreeek, sreeek, sreeek, sreeek, sreeek, sreeek, …

Dia masih bisa mendengar suara itu. Apakah makhluk itu memang mendekati mereka? Sepertinya tidak jauh. Bahkkan, cukup dekat. Mungkinkah jaraknya 10 meter…. Tidak… lebih dekat dari itu.

Makhluk apapun itu, dia harus melihat dengan mata-kepalanya sendiri. Bukankah itu ide yang bagus? Atau mungkin tidak? Dia tidak pernah tahu mana yang benar.

Sambil tetap berhati-hati jalan pada tebing, dia terus mendengarkan suara itu dengan seksama, dan mendengarkan setiap perubahan pada suara tersebut ...

Ini membuatku gila. Aku tidak ingin melakukannya lagi, pikirnya berulang kali. Beberapa menit sekali, dia memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

Dia ingin lari tanpa mempedulikan apapun lagi. Lari? Lari kemana…?

Api lentera semakin melemah. Saat itu juga, lenteranya mati.

"Whaaaaa…..?! Parupiro! Aku tidak bisa melihatmu, dasar tolol! Dasar sampah!” Ranta menjerit panik.

"Minyaknya habis, oke? Uh, nah, kalau begitu, kita gunakan punya Yume….."

"Tunggu sebentar," kata Mary dengan suara tertegun. "Langitnya…"

Haruhiro melihat ke kejauhan, di luar tebing. Dia benar. Langitnya terlihat berbeda.

"Apakah itu ... pagi?" tanya Haruhiro dengan pelan.

Terlihat punggung bukit di kejauhan yang bersinar samar-samar. Cahayanya merah, atau mungkin agak oranye. Itu aneh. Biasanya, saat matahari terbit di pagi hari, kegelapan perlahan memudar dari tepi cakrawala. Biasanya langit akan berubah menjadi biru atau ungu, kemudian semakin memerah. Namun sekarang, langitnya seakan-akan terbakar, Haruhiro tidak pernah melihat fenomena alam seperti ini.

Dia tahu adanya dunia lain seaneh Dusk Realm. Oleh karena itu, jika langit dunia ini berubah dengan cara yang aneh, dia tidak akan begitu terkejut dibuatnya.

Tapi, setidak-tidaknya, dunia yang akan kami tuju itu bukanlah Grimgar ataupun Dusk Realm. Fakta itu begitu membuatnya terpukul.

"Hah…?"

Haruhiro menjulurkan lehernya. Dia tidak mendengar suara gemeresik lagi. Apakah makhluk itu sudah tertinggal jauh? Ataukah suaranya hanya memelan? Apapun itu, akan lebih baik jika dia berlari sejauh mungkin selagi ada kesempatan. Haruhiro memberi isyarat agar kelompoknya segera kembali bergerak.

Saat itulah terjadi sesuatu.

"Mrrow!" Yume membuat suara aneh lagi, kemudian dia ambruk. Tidak. Dia tidak ambruk. Lebih tepatnya, dia dijatuhkan oleh sesuatu. Ada sesuatu di atas Yume. "Sesuatu"…. Ya, hanya itulah kata yang pantas untuk mendeskripsikannya. Karena dia masih belum bisa melihat wujudnya.

"Ohhhhhh?!" Ranta mencoba menarik sesuatu itu dari Yume.

"Sialan, terlalu gelap!" Teriak Kuzaku.

"Yume! Yume! Yume ...!” Haruhiro meneriakkan nama rekannya itu sembari dia bergegas melepaskan benda itu. Karena dia bingung, dia hampir kehilangan kosentrasi dan terjatuh dari tebing. Dia sangat panik.

Dia bisa mendengar suara tinjuan dan pukulan. Yume menangis dan menjerit.

"Aku berhasil melepasnya!" teriak Ranta.

Ada cahaya. Dari sebuah lilin. Sebuah lilin batangan portabel, ya. Itu milik Shihoru.

Shihoru duduk di samping Yume bersama lilinnya. "Yume! Bertahanlah!"

"Musuh! Bajingan itu! Dimana dia?! Sialan!” Ranta mengayun-ayunkan pedangnya ke segala arah.

"Apa itu tadi?!" Kuzaku memegang perisainya dengan siap, namun dia terengah-engah dan nafasnya berat.

Yume terjatuh, sambil mencengkeram tenggorokannya. Darah. Darah. Lehernya. Makhluk itu mencekik lehernya. Darah. Begitu banyak darah.

Kuh. Fuh. Fuh. Hah. Kuh. Fuh. Hah. Napas Yume terdengar berat, pendek, dan kasar.

Haruhiro tercengang. Tidak mungkin. Jangan lakukan ini padaku. Jangan bercanda denganku. Apa-apaan ini? Ini pasti bohong, seseorang tolong katakan in itidak benar. Tidak. Ini tidak benar. Ini bohong. Ini tidak nyata, kan? Maksudku, ini tidak masuk akal. Ini tidak masuk akal.

"Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!" Teriak Haruhiro.

Kewarasannya. Tanggung jawabnya. Penguasaan dirinya. Alasannya. Kemampuannya berpikir. Semuanya kacau.

Haruhiro bahkan tidak membantu Yume. Dia hanya berdiri di sana dan menjerit. Yang dia tahu hanyalah: dia tidak sanggup lagi menanggung semua ini. Dia benar-benar hampir gila.

Ini sudah berakhir. Biarkan saja berakhir. Tidak, aku tidak bisa membiarkannya berakhir, tapi apa yang bisa kulakukan? Maksudku, aku tak sanggup melakukan apa-apa, kan? Tidak ada harapan, bukan? Yume akan mati, bukan?

"O cahaya ...!" Mary menyentuhkan kelima jarinya pada dahi Yume, membuat pentagram, kemudian dia sentuhkan jari tengahnya ke alis Yume untuk melengkapi simbol tersebut menjadi heksagram. Lalu, dia cepat-cepat meletakkan telapak tangannya pada leher Yume. " di bawah naungan Dewa Luminous! SACRAMENT!!"

….Apa? dalam keadaan mati rasa, Haruhiro masih bisa mempertanyakan apa yang sedang terjadi. Apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau sudah gila? Itu tidak ada gunanya. Maksudku , sihir cahaya tidak berfungsi di Dusk Realm! Mungkin ini bukan Dusk Realm, tapi yang jelas kita belum berada di Grimgar, jadi kekuatan Luminous seharusnya tidak sampai ke sini, dan…….

Tidak diragukan lagi, Mary paham betul akan hal itu. Meskipun mengetahui fakta itu, apakah dia menyerah untuk berbuat sesuatu? Apakah dia bertaruh pada peluang setipis benang?

"... Ahh ... Hah ..." Yume berkedip berulang kali. "Hah…?"

Tubuhnya terbungkus oleh cahaya redup.

Mary mengertakkan giginya. Bahunya, lengan, tangan, dan seluruh tubuhnya gemetar.

Ini tidak nyata, bukan? pikir Haruhiro dengan tertegun. Sungguh? Tidak bohong?

"... luka-lukamu!" Mata Shihoru melebar. "Yume! Luka-lukamu sudah tertutup!”

Ranta berhenti mengayunkan pedangnya, dan ia berdiri sembari menatap kosong pada Yume.

"Haha!" Kuzaku tertawa seperti orang gila. "Ahaha! Hahahahaha! Wahahaha!”

Haruhiro juga ingin tertawa. Tidak ada alasan untuk menahan tawa. Apa yang bisa dia lakukan selain tertawa? Tapi, entah mengapa, dia malah menangis.

Yume masih belum siuman. Penyembuhan Mary masih belum tuntas. Sakramen adalah skill yang seharusnya bisa menyembuhkan luka fatal dalam sekejap mata. Namun anehnya, prosesnya kali ini sangatlah lama.

Haruhiro jatuh lunglai, kemudian dia merangkak ke samping Yume yang masih terbaring. Mary akhirnya menarik tangannya kembali, kemudian dia pun terjatuh ke belakang seakan kehabisan tenaga. Napasnya berat. Dia tampak begitu letih.

Akhirnya Yume membuka mata, menatapnya, lalu tersenyum pelan. "Terima kasih, Mary-chan. Hah? Haru-kun, kenapa kok kamu menangis…."

"Yume!" tanpa pikir panjang, Haruhiro langsung saja memeluk Yume. "Syukurlah! Terima kasih Tuhan. Ya ampun, Yume! Terima kasih Tuhan ... Maafkan aku! Kau tadi sama sekali tidak bergerak, jadi kupikir kau sudah ..........!”

"Ohhh," kata Yume. "Kalau kau merangkul Yume sekeras itu, Haru-kun, darah Yume akan membasahimu, lho?”

"Siapa yang peduli?!" teriaknya.

"Baiklah kalau begitu. Tapi, tetap saja, kalau kau merangkul Yume sekeras itu…. Yume sih senang saja…. tapi rasanya sakit, lho?”

"M-m-m-m-m-m-maaf!" Ketika Haruhiro cepat-cepat melepaskan pelukannya dengan melompat mundur, seseorang memukulnya dengan keras di bagian belakang kepala. "…..Ow?! Hah?! R-Ranta?! Kenapa kau tiba-tiba……?!"

"Tidak ada apa-apa, sialan!" Ranta melotot padanya dan mencoba mengintimidasinya.

Ya ampun, kenapa sih? Apakah dia bego? Si kampret ini benar-benar bego?

"Maaf mengganggu, tapi ..." Kuzaku berkata dengan ragu-ragu. "... bukankah lebih baik kita segera menjauh dari tempat ini? Maksudku, kalau saja makhluk itu punya teman ... "

"Ah!" Haruhiro menyeka wajah dengan kedua tangannya. Oh, benar. Dia benar. Aku benar-benar terlena. Aku harus menganalisis hal ini dengan serius nanti, tapi untuk saat ini, aku harus melakukan apa yang disarankan Kuzaku.

"Y-Yume, apa kamu bisa berdiri?!" tanya Haruhiro dengan panik. "Mary, bagaimana denganmu? Oh, benar, seseorang, tolong ambilkan lentera! Baiklah, sekarang, ayo pergi!”

Sebelum mereka berangkat, dia sekali lagi melihat ke punggung bukit yang seakan terbakar dengan warna oranye.

Apakah itu cahaya dari matahari terbit?

Dia tidak bisa membayangkannya.

Kumohon[edit]

Kemungkinan besar, penyerang mereka yang tidak dikenal telah menuruni tebing untuk menyerang Yume. Haruhiro dan Party-nya menjaga jarak dari tebing sembari mereka terus melangkah maju.

Setidaknya mereka sekarang tahu bahwa sihir cahaya bisa berfungsi di sini, dan artinya kekuatan Dewa Luminous meluas sampai ke dunia ini. Namun, dari apa yang Mary katakan pada mereka, saat dia menggunakan Sakramen, tenaganya terkuras berkali-kali lipat daripada biasanya. Proses penyembuhan Yume juga berlangsung jauh lebih lama. Bagi Haruhiro, kedua hal itu sangatlah aneh. Harusnya, Sakramen adalah mantra yang bisa langsung menyembuhkan semua luka dalam sekejap.

Mereka coba menyuruh Ranta memanggil iblisnya untuk melihat apa yang akan terjadi, dan hasilnya pun tidak wajar. Kali ini iblisnya tampak seperti orang dengan lembaran ungu di atas kepalanya, dua mata seperti lubang, dan di bawahnya ada mulut yang berbentuk seperti sobekan luka. Makhluk itu memegang pedang yang berbentuk seperti pisau pada tangan kanannya, dan senjata mirip pentung di tangan kirinya. Dia memiliki kaki, namun sepertinya dia tidak memijak tanah. Itulah iblis Ranta, Zodiac-kun ... tapi ukurannya sepertiga dari ukurannya yang biasa.

Jadi, kekuatan Dewa Kegelapan Skullhell juga bisa digunakan di sini. Namun, karena masalah jarak, atau mungkin karena sebab lainnya, Dewa Cahaya Luminous dan Dewa Kegelapan Skullhell hanya bisa memberikan sekitar sepertiga dari kekuatan normalnya.

Yahh, terlepas dari sepertiga atau bahkan seperempatnya, itu lebih baik daripada nol. Berkat itu, Yume selamat. Terimakasih Dewa Luminous.

Meskipun bisa menggunakan sihir cahaya, mereka tidak bisa santai sekarang. Haruhiro memperhatikan dengan seksama apapun di sekitarnya. Tentu, ini sangat melelahkan. Namun, setiap kali Haruhiro stress sampai-sampai kepalanya serasa mau pecah, dia teringat kembali saat-saat dimana Yume sekarat. Dia tidak pernah ingin melihatnya lagi. Apalah arti kesusahan ini jika dibandingkan dengan kepahitan akan kehilangan temannya? Dia hanya perlu menahannya. Jika dia masih bisa mengatasinya, itu berarti dia belum mencapai batas.

Tidak peduli berapa lama waktu berlalu, langit tak kunjung terang. Seakan-akan, matahari di dunia ini sangatlah pemalu. Pada akhirnya, matahari tidak pernah terbit, yang ada hanyalah cahaya oranye mirip kobaran api yang tampak secara remang-remang di punggung bukit. Saat malam tiba, semuanya gelap gulita, dia pun sadar bahwa di siang hari relatif sedikit lebih cerah dibandingkan malam.

Semuanya terdiam. Sesekali Ranta mengatakan sesuatu yang bodoh, namun tak seorang pun menanggapinya dengan serius, sehingga tak pernah terjadi percakapan di antara mereka. Setiap kali seseorang berhenti berjalan, maka seluruh Party ikut istirahat.

Akhirnya datanglah pagi hari yang sebenarnya tidak layak disebut “pagi”. Ketika malam tiba, kegelapannya sudah melampaui definisi “malam”. Pagi hari normal yang diharapkan oleh Haruhiro tak pernah datang. Setiap kali warna oranye di punggung bukit meredup, dadanya dipenuhi dengan kegalauan.

Meskipun tidak begitu terampil, mereka semua tetaplah pasukan relawan, jadi mereka harus membawa bekal cadangan dan air ke manapun mereka pergi. Namun, di medan sesulit ini, persediaan mereka cepat habis.

Ranta sesekali memanggil Zodiac-kun dan mengobrol dengan iblisnya. Dia mungkin berusaha mengusir penat, karena tak seorang pun dari rekannya mau membalas omong kosongnya. Haruhiro mulai meragukan kewarasan dirinya sendiri. Meskipun dia melihat cahaya di depan, dia selalu menganggapnya ilusi atau fatamorgana. Seakan-akan dia tidak melihat sesuatu yang nyata. Itu pasti ilusi.

Ada cahaya seperti api unggun yang berkedip-kedip di sana-sini. Sepertinya itu bukanlah fenomena alam. Jika bukan ilusi, mungkin cahaya itu dinyalakan oleh beberapa makhluk hidup lain, yang bisa saja sama cerdasnya dengan manusia. Apakah ada hubungan antara makhluk-makhluk cerdas itu dan makhluk yang hampir membunuh Yume? Dia tidak pernah tahu.

Medannya sedikit landai. Seberapa jauh cahaya itu? Satu kilometer…. Atau mungkin lebih?

Saat mereka mendekati cahaya itu, perlahan-lahan Haruhiro memahami situasi yang sedang dia hadapi sekarang. Cahaya itu bukanlah ilusi. Dengan jelas, dia bisa melihat sejumlah bangunan di sana. Dia bisa memastikan di sana ada bangunan yang tampak seperti menara pengawas. Cahaya itu sepertinya berasal dari api unggun atau lampu. Ada kobaran api yang tergantung pada atap bangunan, dan di atas menara pengawas. Mungkin ada dua puluh titik-titik api.

Itu tidak cukup besar untuk disebut kota. Mungkin lebih tepat jika kita sebut desa kecil.

Persoalannya adalah penghuni desa itu. Mungkin kau bisa menyebutnya “penduduk desa”, namun mereka jelas-jelas bukan manusia.

"A ... apa yang harus kita lakukan?" Tanya Haruhiro ragu-ragu.

"Oh bung, apa maksudmu dengan 'apa'?" Ranta mendesah. "…Apa yang akan kita lakukan?"

"Keehe ... jangan tanya, dasar Ranta kampret ... Khawatirlah dan resahlah ... sampai kamu mati ... Ehehehe. "

"Meskipun kau hanya bercanda, kumohon jangan berbicara begitu, Zodiac-kun," kata Ranta. "Jangan sekarang. Aku merasa tertekan. Perkataanmu sungguh keterlaluan ... "

"Jangan khawatir ... Kehe ... Kehehe ..."

"Baiklah, baiklah aku mengerti…." Ranta membela dirinya sendiri. "Aku mengerti, aku mengerti… aku anggap itu sebagai selera humormu yang buruk, oke?”

"Ehehehe ... Ehe ... Jangan salah paham ... Zodiac-kun tidak pernah bercanda ... Ehe ..."

"Tidak mungkin?! Sungguh?! Dan tunggu dulu, kenapa kau mengatakan itu dengan begitu serius?!"

"Ranta-kun sungguh energik, ya," gumam Kuzaku.

Yang mana itu berarti, "Jika kau masih punya energi sebesar itu, maka berhentilah memakainya untuk hal-hal yang tidak berguna!” Menurut Haruhiro, ada banyak hal yang tidak bisa kau lakukan meskipun kau punya energi yang besar. Tapi tanpa adanya energi, lebih banyak lagi hal yang tidak bisa kau lakukan. Jadi, bukanlah kabar buruk jika Ranta punya energi sebesar itu. Namun kenapa, dia masih saja sangat berisik dan menyebalkan.

"Kita seharusnya tidak mendekati mereka dengan ceroboh ..." kata Shihoru ragu-ragu.

"Dia benar." Mary setuju. "Kita sama sekali tidak tahu apa yang sedang menunggu di sana."

"Tapi, itu malah membuatmu ingin mencari tahu apa yang terjadi di sana." perut Yume mengerang keras saat dia mengatakan itu. "... Uh. Oof. Yume lapar ... "

Ya ... tentu saja, pikir Haruhiro.

Jujur saja, rasa lapar dan haus mereka sudah mencapai batas yang membahayakan. Mereka perlu mendapatkan lebih banyak air dan persediaan makanan segera, atau mereka akan mati.

"Aku akan pergi mencarinya," kata Haruhiro. "Kalian semua tinggal di sini dulu."

"Kami mengandalkanmu, maling." Ranta menepuk bahu Haruhiro.

Itu membuatnya kesal, tapi Haruhiro hanya bisa bersabar. Dia mendekatkan mulutnya pada telinga Ranta, kemudian berbisik, "Jika terjadi sesuatu, aku mengandalkanmu untuk mengurus semuanya."

"T-Tentu. ... Y-Yahh, kalau memang terjadi suatu hal yang buruk, c-c-cepatlah kembali, oke? Kembalilah dengan selamat."

"Jangan bilang begitu, kau malah membuatku ketakutan," gumam Haruhiro.

Haruhiro langsung merencanakan sesuatu. Pertama, dia akan menyembunyikan eksistensinya dengan skill - Hide. Kedua, dalam keadaan seperti itu, dia akan terus bergerak dengan skill -Swing. Ketiga, dia akan memanfaatkan semua inderanya untuk mendeteksi kehadiran makhluk lain di sekitarnya, dengan skill - Sense.

Dengan kata lain, dia menggunakan skill gabungan - Stealth.

Dia membayangkan dirinya sendiri bergulir di sepanjang permukaan tanah tanpa suara, seolah-olah berubah menjadi tikus tanah. Pada saat yang sama, ia akan menempelkan mata dan telinganya pada permukaan tanah untuk merasakan pergerakan dari apapun di sekitarnya.

Dia mendengar suara.

Klang-klang-klang! Itu adalah suara dentangan benda yang keras.

Cahaya yang terdekat adalah api unggun di atas menara pengawas. Ada parit di sekitar menara pengawas setinggi 25 meter tersebut. Lebar parit itu adalah sekitar 2 meter atau lebih. Namun, tak seorang pun mengetahui dalamnya parit itu. Yang pasti, tidak dangkal.

Ada makhluk humanoid yang duduk di menara pengawas. Anehnya, tubuh makhluk itu begitu besar, namun kepalanya kecil. Kepalanya yang kecil dibungkus oleh semacam kain. Apakah yang tergantung di punggungnya adalah panah dan busur? Makhluk itu bertugas sebagai pengintai, ya…. tidak diragukan lagi. Desa ini melindungi kawasannya dengan menggali parit di sekitar menara pengawas, bahkan mereka menugaskan pengintai yang berjaga-jaga di sana. Bagaimanapun juga, tak ada cara untuk memasukinya.

Ah tidak…. terlalu cepat untuk berkesimpulan seperti itu. Haruhiro berbelok ke kiri, lantas dia melaju ke daerah yang tampak seperti sungai. Dia segera berlari ke tebing.

Dia menyebutnya tebing, tapi dalamnya mungkin hanya 2 atau 3 meter. Tidak mustahil jika seseorang meluncur ke bawah. Ada sungai di bawah sana. Sungai itu mengalir melewati lembah. Sepertinya, air dari parit juga berasal dari sungai tersebut.

Ketika ia melihat dari dekat parit, ada menara lain. Ada juga api unggun yang menyala di atasnya, dan ada juga pengintai di sana. Tapi pengintai yang ini jauh lebih kecil daripada yang pertama. Ini memiliki tubuh bulat-dempal, postur tubuhnya hanya sebesar anak manusia. Namun, kepalanya juga dibungkus dengan kain, seperti yang pertama. Dalam hal persenjataan, dia juga diperlengkapi dengan panah dan busur.

Haruhiro memutuskan untuk menamai ini sebagai Menara Pengawas B, dan yang pertama tadi sebagai Menara Pengawas A. Dia berbalik kembali ke Menara Pengawas A, kemudian terus bergerak ke arah yang berlawanan.

Jalur parit mulai berkelok. Dia bisa melihat sejumlah bangunan dengan jelas. Semua bangunan tersebut hanyalah satu lantai, dan jumlahnya sekitar 10 bangunan. Akhirnya ia tiba pada menara lain, yaitu Menara C. Menara C tampak besar dan kokoh. Rupanya, itu adalah gerbang. Menara C dibangun sebagai bagian dari suatu gerbang. Ada sebuah jembatan yang membentang dari gerbang yang terbuka itu. Jembatannya terbuat dari kayu, dan cukup kokoh. Jembatan yang melintasi parit itu terlihat cukup kokoh untuk dilewati kereta kuda.

Ada juga pengintai di Menara Pengawas C. Yang satu ini tidak duduk. Dia terus berdiri dan waspada. Berbeda dengan pengintai dari Menara Pengawas A atau B, anehnya yang satu ini memiliki perawakan yang jangkung dan kurus.

Ada sesuatu yang aneh pada lengan-lengannya. Bukankah terlalu banyak sendi pada lengan itu? Sepertinya dia memiliki dua atau tiga siku? Seperti pengintai lainnya, kepala makhluk yang satu ini dibungkus dengan kain, tetapi bagian ujungnya menonjol keluar. Selain itu, dia juga mempunyai ekor. Pengintai di Menara Pengawas C memiliki ekor.

Paling tidak, Haruhiro tahu bahwa pengintai di Menara Pengawas A, B, dan C berasal dari ras yang berbeda. Jika Haruhiro menggunakan akal sehatnya, hanya itu kesimpulan yang bisa dia pikirkan.

Apakah pengintai di Menara Pengawas C berasal dari ras yang jasadnya Ranta temukan barusan? Dia memiliki ekor. Jasad itu juga memiliki delapan jari. Bagaimana dengan si pengintai? Tidak bisa terlihat. Dari jarak sejauh ini, mustahil bagi Haruhiro bisa melihat jumlah jari makhluk itu.

Pengintai dari Menara Pengawas C tiba-tiba berjalan.

Apakah aku ketahuan? Haruhiro menahan napas dan tetap diam. Jika dia panik dan mencoba melarikan diri, itu hanya akan memperburuk situasi.

Pengintai itu mengambil busur yang telah tergantung di punggungnya, dan mulai menarik anak panah. Dia pun menarik tali busurnya ke belakang.

Oh, sial, pikirnya. Aku ingin lari. Aku harus lari. Tidak ... Tunggu dulu. Belum tentu dia membidikkan panah itu padaku. Lagipula…. Kalau hanya panah… aku masih bisa menghindar bahkan saat dia melepaskannya…. Mungkin saja….

Si pengintai mengendurkan kembali tali busurnya. Lantas dia lepas panahnya. Dia urung menembakkan anak panah itu, lalu dia memiringkan kepalanya ke samping seakan berkata, ”Ahh, mungkin hanya imajinasiku saja….”

Ya itu benar. Yakinlah itu cuma imajinasimu ... oke? Haruhiro menarik napas pendek, kemudian ia mulai bergerak.

Pengintai itu adalah rintangan yang cukup menyusahkan. Dia tajam. Apakah Haruhiro membuat suara tanpa disadari? Haruhiro pikir dia tidak melakukan kesalahan apapun. Lagipula, ada suara dentangan logam yang konstan, maka seharusnya tidak masalah jika dia membuat suara sedikit saja. Namun, pengintai dari Menara Pengawas C telah mendeteksi sesuatu. Maka, lebih baik dia semakin berhati-hati.

Ia melanjutkan pengintaiannya. Dia melintasi jembatan, kemudian menyusuri parit yang berkelok. Setelah melihat adanya Menara Pengawas D dan E, ia sampai pada tebing awal. Di bawahnya terdapat aliran sungai.

Dengan kata lain, desa ini dikelilingi oleh sungai dan parit pemisah.

Untuk memasuki desa, mereka juga harus menyeberangi jembatan, menyebrang parit, atau berenang melalui sungai untuk mencapai dasar sungai di sisi desa.

Sepertinya berenang melalui sungai dalam kegelapan cukup berbahaya. Kemungkinan besar mereka bisa tenggelam. Mereka mungkin sanggup berenang menyeberangi parit, namun masih ada dinding tinggi yang menghadang setelah melewati parit.

Itu berarti, pada dasarnya, melintasi jembatan adalah satu-satunya pilihan. Tentu saja jika ia berjalan melintasi jembatan begitu saja, para pengintai akan segera menyerangnya. Bisakah mereka mengalahkan para pengintai dengan panah Yume atau sihir Shihoru? Lalu apa yang akan terjadi setelahnya? Memaksa masuk? Mereka berenam? Setidaknya ada 4 pengintai lainnya yang bersenjatakan panah, dan tidak menutup kemungkinan ada pengintai tambahan yang belum Haruhiro lihat keberadaannya.

Bisakah mereka menang? Atau lebih tepatnya, apakah ini merupakan situasi hidup atau mati? Sepertinya tidak begitu. Saat ini, tujuan paling realistis Haruhiro dengan Party-nya adalah mendapatkan air dan makanan…. sudah, itu saja. Jika Party-nya bisa menunjukkan bahwa mereka bukanlah musuh, mungkinkah makhluk-makhluk itu membiarkan mereka masuk? Kemudian, bisakah Haruhiro dan Party-nya membelanjakan uang mereka di dunia ini, atau melakukan barter? Apakah makanan dan minuman makhluk-makhluk itu bisa dikonsumsi oleh ras manusia? Apakah itu mungkin? Ataukah tidak ...?

Haruhiro menelusuri jalan yang sama saat dia menuju ke sini, dan dia terus mengamati desa itu sembari menyusuri parit.

Ia melihat sejumlah warga desa. Dia terkejut. Mereka bukanlah manusia. Namun ... ada beberapa yang bukan humanoid. “Bukan homanoid”, mungkin hanya itulah kata yang tepat untuk menggambarkan makhluk itu.

Yang terlihat paling mencolok adalah makhluk seperti serangga dengan enam lengan, tubuh bagian bawahnya seperti bola bulu, dan kepalanya juga terbungkus oleh sesuatu. Itu berarti, penghuni desa itu terdiri dari berbagai macam ras ...?

Haruhiro kembali ke tempat rekan-rekannya berada, kemudian dia menjelaskan secara singkat apapun yang sudah dia lihat, Ranta memukul dadanya, lalu mendengus penuh semangat. "Serahkan padaku. Aku punya ide."

“Kehe ... Aku punya perasaan bagus nih ... Kehehehe ... Sepertinya Ranta sedang menuju pada kematian ...”

“Hey, mananya yang kau sebut perasaan bagus?” Ranta balik membentaknya. “Aku juga sudah pernah mengatakan ini sebelumnya, tapi kalau aku mati, maka kau pun akan ikut lenyap, apakah kau paham, Zodiac-kun?”

“Oh, Dark Knight ... Ehe ... Kalau begitu, kita akan berada di bawah naungan Dewa Skullhell bersama-sama ... Ehehe ...”

“M-menurutku, masih terlalu awal untuk itu, ya? Dengar, umm, masih ada banyak hal yang ingin kulakukan ... seperti bermain-main dengan dadanya cewek, dan…. Tunggu dulu… kenapa kau membuatku mengatakan hal seperti itu?!”

“Dia tidak menyuruhmu mengatakan apapun ...” Haruhiro memijat kening dengan jari-jarinya.

“Kau saja yang pengen berkata begitu…” kata Yume, dan Haruhiro menyetujuinya.

“Kaulah yang terburuk.” Mary langsung menyemburkan umpatan padanya.

Shihoru mengatakan sesuatu yang sangat mengerikan dengan nada pelan. “Aku setuju denganmu, Zodiac-kun ... mudah-mudahan kalian segera kembali ke dewa kalian ...”

“Hmph!” Ranta tidak terpengaruh. “Jangan kira orang-orang lemah seperti kalian bisa menyakitiku dengan hujatan murahan seperti itu. Yahh, lihat saja nanti. Tak lama lagi, kalian akan bersujud padaku untuk minta pengampunan, aku yakin itu. Lalu, akan kupermainkan dadamu sepuas-puasnya. Tidak boleh protes. Oh…. Hampir lupa…. Tentu saja maksudku tadi dada perempuan…. Dadamu tidak termasuk, Parupiro.”

“... Kau memang orang yang tabah, Ranta-kun,” kata Kuzaku.

“Tentu saja, Kuzacky!! Hatiku ini terbuat dari berlian yang kokoh, oke? Sekarang, kalian semua ikuti aku. Akan kuajarkan cara yang benar untuk keluar dari sini.”

Haruhiro pun tak punya ide alternatif. Kalau dia gagal, semuanya akan percuma saja. Dia memutuskan untuk membiarkan Ranta menanganinya. Maka, mereka semua pun bergerak mendekati jembatan.

Ranta memakai helm, menurunkan penutup matanya, dan kemudian mengatakan sesuatu pada Haruhiro dan yang lainnya, “Kalian tunggu saja di sini,”dengan nada sok penting.

“Apa yang akan kau lakukan?” Tentu, Haruhiro lah yang terlebih dahulu menanyakan itu.

“Sstttt…. diamlah. Kalau tidak salah, ini…….”

“Kehe ... kalau Ranta sih ... selalu saja salah ... Kehe ... Kehehe ...”

“Kita lihat saja, oke?” Kata Ranta, kemudian dia mulai berjalan.

Tidak mungkin, pikir Haruhiro. Untuk jaga-jaga, dia mengisyaratkan teman-temannya untuk bersiap-siap melarikan diri. Kau akan melewati jembatan itu begitu saja? Kau sudah gila? Apakah kau sudah stress?

Tapi Ranta terus berjalan dengan begitu percaya diri. Dia bahkan mulai bersenandung sembari terus berjalan. Jadi, dia sudah benar-benar gila?

Haruhiro dan yang lainnya hanya bisa menahan nafas mereka, dan mengawasinya dalam keheningan.

Ranta sudah semakin dekat dengan jembatan. Pengintai dari Menara Pengawas C mulai memperhatikan kedatangan Ranta, dia pun menarik busurnya, dan memasang anak panah. Tak peduli sebodoh apapun Ranta, harusnya dia menggigil ketakutan saat melihat panah-panah itu.

Dia meringis, tapi tidak menghentikan langkahnya. Dia terus berjalan.

Serius nih? pikir Haruhiro. Hoi bego! Mereka sedang membidikkan panahnya padamu!! Mereka akan segera menembakkannya!

“Oke, oke.” tidak jelas apa yang sedang dipikirkannya, tapi Ranta mengatakan itu sembari melambaikan tangannya.

Dia akan segera melintasi jembatan. Dia pun akhirnya menginjak papan kayu jembatan.

Namun, si pengintai segera menurunkan bidikan panahnya.

“... Tidak mungkin!!” kata Haruhiro dengan mulut menganga.

“Selamat datang, selamat datang.” Ranta menyeberangi jembatan sambil tertawa.

Apa gunanya mengatakan ‘selamat datang’ pada mereka? Lagian, kau lah tamunya!! pikir Haruhiro dengan emosi. Tapi, mengapa dia begitu percaya diri? Aku tidak mengerti.

Ranta berhasil menyebrang jembatan itu tanpa terluka sedikit pun, lalu dia mendongak ke pengintai dari Menara Pengawas C.

“Ohh. Apa? Mereka? Ah, mereka adalah teman-temanku… kami datang ke sini bersama-sama… bolehkah aku membawanya masuk? Boleh kah?"

Si pengintai memiringkan kepalanya ke samping. Sepertinya makhluk itu tidak memahami apapun. Ya, tentu saja tidak paham.

“Baik….baik” Meskipun demikian, Ranta mengacungkan jempol padanya. "Baik. Temanku. Bersama-sama. Masuk. Oke? Oke?"

Setelah meninggalkan si pengintai yang masih terlihat bingung, Ranta kembali ke Haruhiro dan yang lainnya dengan begitu semangat.

"Bagaimana? Kalian lihat kan? Aku benar, kan! Sujudlah padaku! Pujalah aku! Dan untuk kalian para cewek, persiapkan dada kalian masing-masing!”

“Tidak akan pernah kubiarkan kau menyentuhnya ...” kata Shihoru, sambil menutupi badannya dengan kedua tangan.

“Ranta, kau bisa menyakiti Shihoru bila kau lakukan itu.” kata Yume. Mungkin Yume hanya gagal paham, namun sesekali dia mengatakan sesuatu yang cukup aneh. Haruhiro berharap agar Yume sedikit lebih peka, namun sepertinya sulit mengajari gadis selemot Yume.

“Tapi ...” Mary memiringkan kepalanya ke samping. "Mengapa? Padahal terlihat jelas bahwa mereka cukup waspada mengawasi pendatang dari luar.”

“Ini memang aneh.” Kuzaku tampaknya masih tidak bisa menerimanya.

“Jangan-jangan…….” ketika Haruhiro hendak menyimpulkan sesuatu, Ranta memotongnya.

"Bodoh kalian! Biar aku yang menerangkannya! Aku adalah sumber inspirasi! Jadi, jangan mendahuluiku, Parupirorin!”

“Ehe ... Wajahmu ... Kau tadi menutupi wajahmu dengan helm ... Itu sebabnya mereka membiarkanmu lewat ... Ehehe ...”

“Zodiac-kun?! Jangan diberitahu dulu?! Hei?! Biarkan aku yang menerangkan itu?!” teriak Ranta.

Selain lima pengintai, Haruhiro juga melihat bahwa para warga desa itu menggunakan kain penutup kepala yang serupa dengan mereka. Itu sempat menarik perhatiannya, dan dia pun menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh.

Dia pun berteori, “Menutupi wajah adalah syarat untuk memasuki desa.” Itu adalah ide yang brilian, namun agaknya terlalu sembrono jika dia mempertaruhkan nyawa rekan-rekannya untuk menguji kebenaran teori tersebut.

Apakah dia harus mengabaikan kekhawatirannya karena Ranta telah membuktikan bahwa dia bisa kembali dengan selamat? Sebagai pemimpin, dia selalu mengkhawatirkan resiko terkecil sekalipun. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia punya ide.

“Ranta.” Haruhiro menatap si kampret dengan serius. “Tampaknya idemu boleh juga. Tetapi tetap saja, resiko bahayanya terlalu besar. Kalau penyamaranmu terbuka bagaimana? Apa yang akan terjadi? Apakah kau sudah mempertimbangkannya berulang kali?”

"Hah? Aku tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan hal-hal seperti itu, dasar tolol. Asal tahu saja, Ranta-sama tidak pernah salah.”

“Kau harus tahu bahwa kau bisa saja terjebak dalam kondisi yang sangat berbahaya.”

“H-Hei, ini hidupku, aku boleh melakukan apapun yang kuinginkan, bukan? Aku adalah orang yang bebas, kau tahu ...”

“Jangan katakan itu di depan teman-teman,” kata Haruhiro. “Jika terjadi sesuatu padamu… kami semua… bahkan aku… tidak akan bisa menerimanya.”

“Diaaaammmmmmm! Hentikaaaaan ocehanmu, kau membuatku malu! A-a-a-aku paham kok?!”

“Kalau begitu, mulai sekarang berjanjilah untuk lebih berhati-hati.”

“B-Baiklah, aku hanya perlu melakukannya dengan lebih hati-hati, kan? A-a-aku janji! Sudah cukup, jangan sudutkan aku lagi!"

“Kau tidak akan mengulanginya lagi, kan?” Tanya Haruhiro.

“T-t-t-tidak akan!”

“Baiklah kalau begitu.” Haruhiro langsung berpaling dari Ranta.

Jangan tertawa, Katanya pada dirinya sendiri. Aku harus tegas. Aku hanya berusaha menjadi “Pemimpin yang bersemangat”. Tapi, anehnya kali ini Ranta cukup mudah diatur. Ini menggelikan. Tidak, tidak, itu tidak baik. Jika aku mulai membayangkan sesuatu yang menggelikan, aku bisa saja tertawa. Aku harus tegas. Tidak boleh cengengesan.

Haruhiro berdehem, kemudian dia meminta rekan-rekannya untuk menutupi wajah dengan sesuatu. Yume sedang melihat ke angkasa, sementara Mary dan Kuzaku menatap Haruhiro dwngan ragu, dan Shihoru hanya menundukkan kepalanya, sepertinya dia berusaha menahan tawa atas ide konyol ini. Sepertinya Shihoru tidak cukup optimis dengan rencana ini.

Kuzaku, menutupi wajahnya dengan helm seperti Ranta. Haruhiro menutupi kepalanya dengan jubah. Jubahnya sudah usang dan penuh lubang, jadi dia bisa melihat apapun di hadapannya dengan jelas jika dia memposisikannya dengan benar. Yume, Shihoru, dan Mary menutupi wajahnya dengan handuk dan sejenis topeng. Untuk Zodiak-kun, yahh, bagi iblis seperti dia, wajahnya sudah mirip seperti topeng. Tapi, tak seorang pun tahu bagaimana perspektif para pengintai di Menara Pengawas. Tidak ada cara untuk memastikannya, jadi lebih baik Ranta melenyapkan iblisnya itu untuk sementara.

Sekarang, kelompok yang tampak aneh ini mulai bergerak. Apakah benar-benar tidak akan ada masalah? Haruhiro sangat tidak percaya diri, akan tetapi nyatanya, si pengintai di Menara Pengawas C membiarkan Party-nya lewat, bahkan tanpa mengacungkan busurnya pada mereka. Sepertinya mereka benar-benar akan membiarkan siapapun masuk ke desa, asalkan kepalanya ditutupi oleh sesuatu.

Ada empat belas bangunan pada desa tersebut. Bangunan-bangunan tersebut terdiri dari berbagai ukuran, tetapi semuanya hanya setinggi satu lantai. Ada alun-alun di pusat desa, dan di sana ada semacam sumur. Makhluk humanoid besar yang duduk di sebelah sumur itu harusnya adalah seorang penjaga. Dia memegang palu yang begitu besar, bersama busur dan anak panah yang terikat di punggungnya. Wajahnya tidak bisa terlihat karena dia mengenakan helm.

Akhirnya Haruhiro menemukan sumber suara dentangan itu. Ada lima bangunan yang menghadap ke pusat alun-alun. Salah satunya memiliki kanopi begitu lebar yang disangga pilar. Di bawah kanopi itu ada batu bara, atau sesuatu yang terbakar merah, dan juga benda besar berbentuk seperti oven.

Rupanya, itu adalah tungku. Ada juga sebuah tatahan. Di sana ada sesosok makhluk hummanoid bertelanjang dada, punggungnya lebar dan bungkuk, pantatnya montok, dan kakinya pendek. Dia sedang memukul-mukul sebatang besi berpijar di atas tatahan. Dari situlah sumber bunyi dentangan itu.

“Di sini ada pandai besi ...” gumam Haruhiro.

Ada banyak senjata dan armor yang sedang diperbaiki oleh pandai besi aneh itu. Beberapa pekerjaannya yang sudah selesai dia pajang di dinding, dan sebagiannya dia geletakkan begitu saja.

Ada semacam perban yang melilit di kepala pandai besi itu. Namun perban itu tidak begitu rapat, sehingga terlihat sekilas bentuk wajahnya. Matanya merah menyala bagaikan nangis darah, mulutnya terlihat kaku, giginya bagaikan beton dan tersusun rapih tanpa celah sedikit pun.

Kalau diperhatikan lagi, tempat ini bukan hanya sekedar bengkel pandai besi. Pada empat bangunan lain yang menghadap ke alun-alun, terdapat sejumlah besar barang jualan yang beraneka ragam, bahkan di dalam bangunan maupun di atapnya.

Bangunan di sebelah bengkel menjajakan barang-barang seperti pakaian dan tas. Barang-barang yang sudah selesai dikerjakan dipajang di rak-rak atau ditumpuk di atas meja. Pada kursi di depan meja, ada suatu benda berbentuk seperti telur pipih. Ada dua lengan (?) yang mencuat darinya, dan juga ada topi di atasnya, jadi mungkin itu adalah makhluk hidup. Mungkin saja, dia lah pemilik toko pakaian dan tas ini.

Tepat di depan bengkel itu, di sisi lain dari alun-alun, ada bangunan lain yang lebih mirip gudang. Dinding pada gudang itu yang menghadap alun-alun sudah dilepas, atau mungkin sejak awal tidak ada dinding di sana. Pokoknya, bagian dalam gudang itu bisa terlihat jelas.

Ada begitu banyak tas berlubang yang menutupi dinding gudang tersebut. Ada juga topeng dan tudung, yang terlihat seperti helm. Di tengah gudang, duduk makhluk humanoid yang ramping dan kurus-kering seperti pohon mati. Sepertinya dia adalah pemilik gudang tersebut, makhluk itu mempunyai enam lengan, dan dia memiliki lebih dari 30 jari yang saling terjalin dalam pola yang rumit. Dia mengenakan helm keemasan yang keren, bagaikan hasil mahakarya.

Di sebelah toko topeng, bangunan-bangunan di seberang toko pakaian dan tas dibangun identik. Namun, ukurannya dua kali lebih besar. Sekilas, sudah jelas toko apakah itu.

Itu adalah toko kelontong. Daging hewan berkaki empat dan burung yang sudah dikuliti tergantung pada langit-langit, sementara bundelan beberapa macam tanaman masih tersisa di rak, bersama dengan buah-buahan yang tampak seperti buah berry. Roti-rotian yang sudah dimasak dan sate goreng menarik perhatian Haruhiro.

Di depan toko itu, ada makhluk yang paling cocok jika kau deskripsikan sebagai kepiting seukuran manusia. Dengan sendoknya, dia sedang mengaduk-aduk isi panci yang dipanaskan di atas kompor. Kepiting raksasa yang tampak seperti pemilik toko itu juga mengenakan topeng, tapi dua matanya mencuat dari balik topeng, sehingga agaknya topeng itu tidak ada gunanya.

Bangunan di sebelah toko kelontong berisikan aneka barang yang tersebar secara acak, dan berbagai variasi barang dijajakan secara berbeda. Mungkin itu adalah toko umum. Haruhiro tidak melihat makhluk pemilik toko tersebut. Pasti dia sedang dalam.

“Bagaimana menurutmu?” Ranta mendengus, sambil membusungkan dadanya dengan bangga. “Desa banget, kan?”

“... Apa sih yang kau banggakan?” Shihoru melotot pada Ranta dengan tatapan penuh kebencian. Meskipun dia masih mengenakan penutup kepala, namun mudah saja menebak seperti apa ekspresi wajah Shihoru saat ini.

“Pasti karena dia bego,” kata Yume, sambil mendesah dengan kesal.

Mary melihat sekeliling dengan gelisah. “Mereka mengabaikan kita ...?”

“Um ...” Kuzaku melambaikan tangan kepada penjaga yang duduk di samping sumur. “H-Hai.”

Penjaga bertubuh raksasa itu membenarkan cengkeramannya pada palu raksasa. Kuzaku menelan ludah dan mengambil setengah langkah mundur, tapi hanya itu reaksinya. Sepertinya, responnya barusan tidak ditujukan pada Kuzaku, bahkan dia tidak melihat ke arah Kuzaku.

Diabaikan.

Bahkan, ada beberapa warga yang melewati mereka dengan santai, tetapi mereka sama sekali tidak melirik pada Haruhiro dan teman-temannya. Mereka benar-benar diabaikan.

Haruhiro bersedekap, “Hmm ...” dia mengerang. Apa yang harus dilakukannya?

“Jangan hanya mengeluh dalam hati.” Ranta menendang tanah dengan tumitnya. "Lakukan sesuatu, wahai pemimpin. Jangan lupa, aku sudah mempercayakan posisi pemimpin pada pecundang sepertimu, jadi jangan kecewakan aku.”

“Kau pikir aku bisa mendapatkan ide brilian jika kau terus menuntutku seperti itu, Ranta?”

“Kalau kau tidak suka, maka lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk membungkamku.”

Hm, Backstab atau Spider? Kau mau dibungkam dengan skill-ku yang mana?

Untuk sesaat, Haruhiro benar-benar serius mempertimbangkan jawaban dari pertanyaan itu, tapi dia langsung tersadar bahwa ada hal yang lebih penting daripada meladeni si kampret ini. Ternyata desa ini memiliki makanan dan minuman yang bisa dikonsumsi oleh manusia. Tak peduli bagaimanapun caranya, mereka harus mendapatkannya.

Haruhiro berdehem, kemudian mencoba mendekati sumur. Penjaga sumur tidak bergerak sedikit pun. Tapi, tubuhnya yang begitu besar masihlah mengintimidasi. Bahkan dalam posisi duduk dia masih lebih tinggi daripada Kuzaku, padahal Kuzaku berpostur 190 cm. Dia benar-benar menakutkan.

Meski begitu, Haruhiro berusaha sebisa mungkin memberanikan diri, sembari dia melangkah maju. Mereka terpisah sekitar 5 m… 4 m…. 3 m. Sebentar lagi, dia akan berada di dalam jangkauan si penjaga bertubuh raksasa itu. Jika penjaga itu mau, dia bisa membunuh Haruhiro kapanpun dengan sekali sabet.

Terasa sesak. Seakan-akan isi perutnya terpompa keluar dari mulutnya. Yahh, dia harus berusaha keras untuk menahannya, atau penjaga itu akan terkejut.

Ketika ia berusaha sekuat mungkin mengenyahkan ketakutan dan keragu-raguannya, sembari terus melangkah maju, sang penjaga tiba-tiba hendak bangkit dari duduknya.

“Eek!”

“Meowha?!”

"...!"

Terdengar teriakan, tetapi bukan dari Haruhiro, melainkan dari para gadis. Haruhiro begitu ketakutan, sampai-sampai seluruh tubuhnya kaku, dan dia bahkan tidak bisa mengeluarkan sedikit pun suara.

Oh ... oh ... oooo-oh, sialll! A-a-a-a-apakah aku akan dibunuhnya ...?

“A-a-a-a-aku mungkin berjanji akan menguburmu dengan layak, Parupiro?” Bisik Ranta.

“Apa yang kau maksud dengan mungkin, dia adalah pemimpinmu lho ...” jawab Kuzaku dengan ketus.

Tunggu, tunggu, tunggu? Sebelum kau menguburku, bukankah ada sesuatu yang harus kau lakukan terlebih dahulu ...?

“K-Kumohon.” Haruhiro tiba-tiba mengangkat tangannya. Tubuhnya berhasil bergerak. Suaranya berhasil keluar dari tenggorokannya.

Apakah aku harus merengek dan memohon? Aku bukan Ranta!!

Dalam keadaan hampir menangis, Haruhiro berulang kali menunjuk tenggorokannya dan sumur itu. Dia berharap bahasa isyarat sederhana itu cukup bisa dimengerti bahwa dia sangat-amat haus. “A-Air. A-a-a-aku ingin minum. A-a-air. Tenggorokanku, kering. Um, kami hanyalah pengunjung. Air, ingin ...air… kau ... mengerti? Air, air! B-b-b-b-bolehkan aku…. minum air? Air. Air dari sumur!"

Penjaga masih belum berdiri sepenuhnya, bahkan dia tidak bergerak.

Itu adalah sumur timba. Ada dua pos di kedua sisi sumur tersebut, dan ada balok penghubung di antaranya. Ada katrol pada balok, dan ember tergantung dari tali yang terlilit pada katrol.

Cahaya api dari obor menyinari penjaga yang tampak seperti monster itu secara remang-remang. "Seperti"? Apanya yang seperti?? Dilihat dari manapun, dia memang benar-benar monster!! Lengannya saja sudah lebih besar daripada tubuh manusia dewasa. Bahkan terlalu besar…. Gila, ini terlalu gila….

“B-bolehkah… kami… minum sedikit ...” Haruhiro mengertakkan gigi dan menggeleng. Jangan menyerah. Aku tidak boleh menyerah. Nyawa rekan-rekanku dipertaruhkan di sini. "Air! Kumohon beri kami air!! Kami haus sekali, oke?? Bukankah setiap makhluk hidup membutuhkan air!!?”

Penjaga itu menggerakkan tangan kirinya. Seketika, Haruhiro mempersiapkan diri untuk menerima kemungkinan terburuk. Tapi, monster itu tidak menggerakkan tangan kanannya yang memegang palu. Dia malah menjulurkan tangan kirinya pada Haruhiro. Seolah-olah dia sedang meminta sesuatu.

“U……!” Teriak Ranta. “Uang, Haruhiro! Uang! Cepat bayar dia!”

Oh, tutup mulutmu, dasar Ranta tolol, tak kau beritahu pun aku sudah mengerti! Haruhiro segera mengeluarkan sejumlah uang perak. Dia begitu ketakutan sampai-sampai jantungnya mau copot, namun dia berhasil memaksa tubuhnya bergerak mendekati si penjaga, kemudian meletakkan koin perak pada tangannya. Penjaga itu mendekatkan tangan kirinya ke wajah, kemudian meneliti koin perak itu dari dekat. Sayangnya, dia segera membuang koin itu seakan-akan tidak berharga.

Haruhiro hampir pingsan.

Kali ini, dia pasti akan menghabisiku, pikirnya. Aku sudah melakukan kesalahan. Ini adalah kesalahan terburuk yang pernah kubuat. Namun bodohnya, aku tidak tahu apa kesalahan yang telah kuperbuat!

“Yang hitam ...!” Shihoru berteriak, dan Haruhiro langsung paham apa yang gadis itu maksudkan, kali ini dia boleh berbangga diri pada otaknya yang cukup encer. Namun, Shihoru lah yang perlu diberi penghargaan, karena dia bisa menyimpulkan sesuatu yang begitu penting dalam saat-saat genting seperti ini.

“I-i-i-i-ini!” Haruhiro mengeluarkan koin hitam yang dia jarah dari jasad tanpa kepala di goa tadi, lalu dia langsung memberikan itu pada si penjaga. “Ini!! Kau menginginkan ini, kan!! Kau mencari ini, kan?!”

Penjaga itu mengulurkan tangan kirinya sekali lagi. Dengan tangan gemetar, Haruhiro meletakkan koin hitam pada telapak tangan kirinya.

Ketika penjaga mencengkeram koin hitam itu, dia memberi isyarat pada Haruhiro dengan menggerakkan dagunya, lalu dia mengatakan sesuatu yang terdengar seperti, “Ua, goh.”

Apa artinya? Ua, Goh? Uagoh ...?

Kenapa dia menggerakkan dagunya?

Apakah ada yang salah? Apakah aku melakukan kesalahan lagi ...?

“Yahoo!” Ranta bergegas ke sumur dan menurunkan ember. “Air, air!”

“Tidak, jangan dulu ...” Haruhiro merasakan darah terkuras dari wajahnya saat ia menatap si penjaga.

Dia ... tidak marah? Jadi, kita boleh mengambil airnya ...? Ternyata, begitu ya. Haruhiro merasakan kelegaan dan kegembiraan yang tak bisa terungkap oleh kata-kata. Setelah itu, dia tidak ingat apa-apa lagi selain menengguk air langsung dari ember.

“Airnya mantaaaaaaaaaaaaaaaabbbbbb ...” dia mengerang.

Tentu saja. Itu adalah tegukan air terbaik seumur hidupnya. Dia tak pernah menyangka air bisa terasa sesegar ini. Betapa bahagia dirinya. Pada saat-saat seperti inilah dia merasa begitu bersyukur telah dilahirkan. Dan tentu saja, bersyukur masih diberi kesempatan hidup sampai detik ini.

Mereka masing-masing bergantian minum air dari ember. Tanpa terasa, mereka sudah bergantian sebanyak 3 atau 4 kali, namun tak seorang pun merasa cukup. Mereka boleh minum sebanyak yang mereka inginkan.

Yahh, mungkin fasilitas ini ada batasnya, jadi Shihoru, kemudian Mary, Haruhiro, Kuzaku, Yume, dan Ranta berhenti minum secara berurutan.

Ranta menjatuhkan diri ke tanah, kemudian dia berguling telentang. “I-Ini menyakitkan. Aku minum terlalu banyak…"

“Ohh,” Yume berjongkok, lalu menggosok perutnya. “Yume tak pernah minum air sebanyak ini sebelumnya. Perut Yume kembung ...”

“Itu karena perutmu terlalu penuh berisi air.” Kuzaku memegang mulutnya dengan tangan.

Kalau dipikir-pikir lagi, Ranta dan Kuzaku sama-sama mengangkat penutup mata pada helmnya. Wajah mereka terlihat. Apakah itu baik-baik saja? Penjaga itu tidak mengatakan apa-apa, jadi sepertinya tidak masalah, tapi itu membuat Haruhiro gelisah.

“Mungkin, jika kita memiliki uang yang ...” Shihoru melirik ke arah toko kelontong.

“Maksudmu koin hitam itu?” Mary menggosok-gosok punggung Yume yang tersiksa karena terlalu banyak minum.

Haruhiro melihat bengkel pandai besi, toko pakaian, toko tas, toko topeng, toko kelontong, dan toko umum secara berurutan. Jika itu benar, maka mereka hanya perlu mencari cara untuk mendapatkan lebih banyak koin hitam itu. Dengan begitu, setidaknya mereka bisa bertahan hidup lebih lama di dunia antah-berantah ini.

Pemandian Terlarang[edit]

Ketika mereka berenam mengumpulkan semua uang yang mereka punyai, totalnya adalah 1 emas, 87 perak, dan 64 tembaga. Selain harta benda, yang mereka miliki hanyalah skill.

Mereka menunjukkan semua yang mereka punya pada para pemilik toko pakaian, tas, topeng, dan toko kelontong, tapi tak satu pun menunjukkan minatnya.

Si pandai besi masih bekerja, sehingga mereka tidak ingin mengganggunya, atau lebih tepatnya mereka takut dibunuh oleh monster kekar itu.

Mereka pikir si pemilik toko umum masih di dalam, sehingga mereka pun mengetuk pintu untuk bertemu dengannya. Mereka mengetuk tiga kali dan tidak mendapat respon sama sekali, sehingga akhirnya mereka pun menyerah.

Sepertinya akan sulit untuk mendapatkan lebih banyak koin hitam di dalam pemukiman ini. Tidak semudah itu bertahan hidup di dunia baru ini. Perut mereka tidak bisa ditipu, meskipun sudah diisi dengan berliter-liter air, tetap saja mereka lapar jika tidak memakan apapun, dan sekali lagi mereka merasakan kenestapaan. Meskipun hanya sekeping atau dua keping, mereka harus mencari lebih banyak koin hitam di luar desa.

Haruhiro mencengkeram perut kosongnya sembari meninggalkan desa. Tentu saja, tujuan mereka adalah menemukan koin hitam. Mereka mulai membahas rencana perburuan.

Situasinya berbahaya, atau lebih tepatnya mereka tidak tahu apakah berbahaya ataukah tidak, sehingga mereka tidak akan pergi terlalu jauh. Sementara membuat peta mental [1] area ini, dengan desa sebagai pusatnya, mereka memperluas jangkauan operasi sedikit demi sedikit.

Pertama, mereka menyeberangi jembatan dan mencoba bergerak lurus ke depan. Mereka bertemu hutan setelah berjalan sekitar seratus meter. Hutan itu penuh dengan tumbuhan aneh, tinggi, dan berwarna putih, mungkin saja itu pohon. Sepertinya tidaklah mudah menembus hutan putih ini. Mereka tidak bisa melanjutkan perburuannya.

Mereka akhirnya kembali, kemudian mengelilingi parit dan menuruni tebing rendah. Di bawah tebing ada sungai, yang banyak terdapat pasir di dasarnya, dan anehnya airnya hangat.

Haruhiro dan yang lainnya pergi ke tepi sungai. Sungai tampak dalam, dan saat ini arusnya cukup cepat.

Haruhiro dengan ragu-ragu mencelupkan tangannya ke dalam air hitam kelam. Dia membuka matanya lebar-lebar dengan terkejut. “... Sungai ini…. airnya hangat!”

“Serius?” Ranta melepas sepatu dan kaus kakinya, lantas mencelupkan kakinya begitu saja.

“Whoa! Kau benar! Airnya tidak terlalu panas, bahkan airnya hangat! Kita bisa menggunakan ini sebagai tempat pemandian!"

“Mandi ...” Shihoru bergumam dengan nada datar. “Aku ingin ... mandi ...”

“Itu benar ...” Mary mendongak ke langit dan mendesah. "Mandi…"

Yume tertawa konyol. “Enak banget kalau bisa mandi, ya.”

“Ya ...” Kuzaku mengangguk. “Bau badan kita sudah cukup mengerikan. Tentu saja, termasuk aku.”

“Ayo nyebur!” kata Ranta sambil mengacungkan jempolnya. “Ayo nyebur bareng-bareng! Maksudku, gak papa kan kalau sekali-kali kita mandi bersama? Kata orang-orang, persahabatan tidak akan terbentuk selama kalian belum telanjang bersama! Maksudku, dunia ini kan gelap banget! Jadi, aku tidak akan melihat tubuh kalian dengan jelas! Gehehehehehehehe!”

“Aku yakin bukan itu maksudmu.” Haruhiro begitu ingin menghajar Ranta, tapi dia tidak ingin sia-sia buang stamina. “Maaf, tapi kita akan melakukannya nanti saja. Kita harus mengumpulkan koin hitam terlebih dahulu untuk beli makanan. Kau boleh mandi setelahnya. Nanti kita cek lagi apakah sungai ini memang benar-benar aman, dan pria – wanita akan mandi secara terpisah.”

“Sialan, Haruhiro! Aku tidak setuju! Gak setuju, gak setuju, gak setuju! Gaaaaaaak setujuu!” Ranta mulai membuat kegaduhan, tapi yang lainnya setuju pada Haruhiro.

“….Whuh?” Yume masih bermain air di tepi sungai, tampaknya dia enggan meninggalkan sungai itu. Tapi, tampaknya dia menemukan sesuatu. "Oh? Apa ini? Ini terbenam di dasar ... pasir? Bentuknya bulat… dan…..”

Haruhiro mengambil benda itu dari Yume. “... Ini koin hitam.”

“Pasti ada lebih banyak lagi di dalam, kan?!” Ranta merangkak dan mulai mencari koin hitam dengan penuh semangat, seakan-akan dia hendak menyelam ke dalam sungai itu karena telah mendapatkan potongan harta karun. "Kalian semua, mulailah mencari! Seperti yang orang-orang katakan… milik kalian adalah milikku dan milikku…. Tentu saja adalah milikku sendiri!”

“Jangan mengigau di sini, bung.” Bahkan sembari ia menggerutu, Haruhiro mulai merasakan adanya koin-koin hitam di sekitarnya.

Semuanya mulai serius mencarinya…. Atau mungkin lebih tepatnya, ’sangat serius mencarinya’.

Akhirnya, cahaya oranye dari punggung bukit sudah lenyap sepenuhnya, dan area ini terbungkus dalam kegelapan sempurna. Mereka berada tidak jauh dari desa, dan mereka masih mendengar dentingan suara dari pandai besi yang bekerja beberapa saat lalu, namun sekarang tak terdengar apa-apa lagi di sana.

Malam sudah tiba. Berapa lama mereka telah mencari koin hitam? Haruhiro tidak begitu yakin, tapi apapun itu, sekarang sudah malam.

“Cukup sudah! Kita tidak bisa menemukannya lagi!” kata Ranta dengan sebal sembari menghantam air.

“Sepertinya tidak semudah itu ...” Kuzaku duduk di dasar sungai.

“P-Pokoknya ...” Shihoru memeras air dari ujung jubahnya yang basah untuk mengeringkannya. "Kita harus kembali ke desa, dan kita akan lihat nanti apakah bisa mendapatkan makanan dari koin itu ...”

“Itu benar.” Yume merengek, seakan-akan hampir menangis. “Yume semakin lapar nih, dan itu membuat Yume tambah sedih ...”

“Mungkin kita bisa membeli lebih banyak dengan koin itu.” Mary mencoba menghibur mereka, namun tidak biasanya dia melakukan itu.

“Ya, kau benar ...” Ranta menunduk. Energinya sudah banyak terkuras, dan itu bukan salahnya.

“Kalau begitu, ayo pergi ... atau... mungkin tidak” kata Haruhiro dengan lesu, kemudian dia mengatakan kepada dirinya sendiri, Tidak, tidak, ini gawat. Seorang pemimpin tidak boleh terlihat lesu seperti itu. “A-Ayo pergi teman-teman! Semangat!”

Namun, memanjat tebing dua meter untuk kembali saja sudah terasa begitu berat. Akhirnya, mereka berhasil kembali ke jembatan dengan kaki gemetaran karena lelah, lalu mereka dikejutkan oleh apa yang mereka lihat di sana.

Di seberang jembatan, Menara Pengawas C seharusnya berfungsi sebagai gerbang masuk ke desa. Jika mereka tidak bisa melewati gerbang itu, mereka tidak akan bisa masuk ke desa. Namun, gerbang yang sebelumnya terbuka lebar, entah kenapa sekarang sudah tertutup rapat-rapat.

“K... Kenapa?” Haruhiro menempelkan kepalan tangan pada dahinya. “Apakah karena sudah malam?”

“Peduli setan!” Ranta menurunkan penutup mata pada helmnya, kemudian dia mulai berlari melintasi jembatan.

“H-Hei!” Haruhiro bahkan tidak perlu menghentikannya.

Pengintai di Menara Pengawas C mulai membidikkan panah padanya. Ketika si pengintai hendak melepaskan anak panahnya, Ranta tidak hanya berhenti tiba-tiba, namun dia juga langsung melakukan Kowtow saat itu juga.

"Maaf!!! Jangan tembak, jangan tembak!!! Aku mohon, tolong, jangan tembak aku!!”

Mungkin Haruhiro harus berterimakasih pada pengintai itu karena telah menghentikan si kampret. Pengintai masih saja mengangkat busurnya, namun dia tak kunjung menembak. Ranta pun mundur dengan kepala masih tertunduk, akhirnya dia kembali ke tempat Haruhiro dan teman-teman lainnya berada.

“Dasar bego! Dasar tolol! Aku hampir mati, tau!”

“Lah, kok marahnya ke aku ...” Haruhiro merasa pusing. Dia merasa begitu lemah karena perut yang kosong, sampai-sampai dia kesulitan ngomong. “Kita harus menunggu sampai gerbang itu kembali terbuka ... ya, sepertinya begitu. Atau…. Daripada hanya menunggu, bukankah lebih baik kita lanjutkan mencari koin hitam? Ah tidak, kurasa tidak ... tak satu pun dari kita sanggup melakukan itu ...”

Mereka kehabisan asa untuk bergerak. Atau lebih tepatnya, stamina. Haruhiro dan yang lainnya langsung duduk, atau berbaring di tempat itu juga. Bahkan saat mereka rebahan, rasa lapar tak kunjung berhenti menyerang mereka. Namun, mereka tidak sanggup melakukan apa-apa selain duduk di sana dan menahan rasa lapar tersebut. Meskipun mereka mulai ngantuk, rasa lapar yang menyiksa akan kembali membangunkan mereka.

Itu membuat mereka semakin tertekan, sehingga muncul keinginan untuk menghajar seseorang. Sementara mereka melawan tekanan itu, kesadarn mereka semakin memudar. Begitu mereka memejamkan mata dan berusaha tidur, rasa lapar itu akan segera membangunkan mereka.

Yume, Shihoru, Mary saling rangkul, mereka coba tidur, namun kembali terjaga.

Yume mengusap kepala Shihoru. “Lapar banget ...” gumamnya. “Hei, Shihoru, bolehkah Yume sedikit memakanmu?”

“Jika kau tidak keberatan, aku juga ingin memakanmu ...”

“Ohhhhh,” Yume mengerang. “Kalau Yume boleh makan Shihoru sedikit, sepertinya Yume tidak keberatan ...”

“Boleh saling makan, nih ...?” gumam Shihoru.

“Sepertinya itu ide bagus ... Shihoru, bagaimanapun juga… kau terlihat begitu lezat ...”

“Um, bolehkah aku ikutan makan kalian ...?” Mary menyela mereka.

“Kalau begitu, kami juga akan makan Mary, boleh?” kata Yume.

“Tentu saja boleh ... Makanlah aku ... saat ini, aku akan melakukan apapun asalkan aku dapat makanan ...”

“….Hah.” Ranta menggulung tubuhnya menjadi bola, yang tampak seperti semacam belatung mati. “Dasar cewek-cewek bego, kalian sedang ngomong apa sih? Sialan ... Aku jadi iri ... Benar-benar iri ...”

Kuzaku berbaring terkapar dengan tangan dan kaki telentang, dia malah menggumamkan sesuatu.

“Kelapa diparut, kepala digaruk, kelapa diparut, kepala digaruk, kelapa diparut, kepala digaruk ... Kuku kaki kakak kakak ku kayak kuku kaki kakek kakek ku... Satu ribu, dua biru, tiga ribu, empat biru, lima ribu, enam biru, tujuh ribu, delapan biru, sembilan ribu, sepuluh biru ...” [2]

“Yah, rupanya kau masih semangat aja, bung ...” Haruhiro tersenyum lemah. “Biar kucoba… Buaya, biawak, buaian, buaya, biawak, buaian, buaya, biawak, buaian, ... buwak...buwak...buwak.... heheheh.”

Di dunia dengan kegelapan tak berujung ini, sulit dipercaya bahwa pagi akan datang lagi, namun itu benar-benar terjadi.

Bahkan sebelum cahaya mengintip dari balik punggung bukit, terdengarlah suara auman mengerikan, kemudian pengintai pada Menara Pengawas C membuka pintu gerbang dari dalam. Segera setelah itu, punggung bukit mulai menyala.

Haruhiro dan yang lainnya langsung bangkit serentak, lantas mereka bergegas untuk berlomba-lomba melintasi jembatan. Si pandai besi masih belum bekerja, tapi sudah tercium aroma rebusan makanan pada suatu panci di toko kelontong. Haruhiro memberikan koin hitam pada pemilik toko yang berwujud kepiting raksasa. Dia sedang mengaduk-aduk isi panci tersebut dengan sendok. Dengan matanya yang mencuat dari balik topeng, kepiting raksasa bolak-balik melihat antara koin hitam dan Haruhiro beserta Party-nya.

“Beri kami sesuatu untuk dimakan!” Haruhiro segera memohon. “Kami hampir terkena busung lapar! Kami akan memakan apa pun, serius, apapun, asalkan layak dimakan!”

Kepiting raksasa mengeluarkan enam mangkuk yang terbuat dari kayu atau semacamnya, dan meraup rebusan dari panci tersebut.

Haruhiro dan yang lainnya mengucapkan terima kasih padanya, kemudian mengambil mangkuk mereka masing-masing. Akan lebih sopan kalau mereka makan menggunakan sendok, tapi saat ini mereka tidak membutuhkannya.

Rebusan itu berwarna kehitaman, kental, dan panas… dan Haruhiro pun langsung menyesapnya. Dia tidak begitu memahami rasanya. Tapi, itu sungguh enak setengah mati. Ketika ia melihat sekeliling, rekan-rekannya dengan lahap memakan rebusan itu.

Kami sangat senang, Haruhiro mensyukurinya dengan sepenuh hati. Kami senang. Kami senang, bahkan terlalu senang. Seakan mati rasa. Seakan-akan setiap kegembiraan meluap dari pori-pori tubuh kami. Kami sangat senang.

Tak butuh waktu lama, dia mengeringkan isi mangkuk itu. Namun, masih ada yang tersisa. Masih ada semacam padatan yang tertinggal di sana. Haruhiro menyentuh-nyentuh makanan yang tersisa di dasar mangkuknya itu.

“Ih?!” dia berteriak kaget.

Padatan itu, jelas-jelas tampak seperti kelabang. Ini adalah ... serangga ... ‘kan?

Grimgar V7 006.png

“Gahahah! Bagi seorang pria, makanan adalah kastil!” Ranta mengucapkan sesuatu yang susah dimengerti, tanpa ragu dia masukkan serangga itu ke mulut kemudian mengunyahnya. “….Guwaaeh?! Eughhhh?!”

Sepertinya rasanya pahit. Ranta meludahkan serangga tersebut. Jelas saja dia meludahkannya. Serangga-serangga itu tampak cukup menjijikkan. Mungkin lebih baik tidak memakannya. Tapi ... Sup saja tidak cukup. Jujur saja, makanan ini sama sekali tidak membuat mereka kenyang.

Haruhiro melihat kepiting raksasa. Saat itu, kepiting raksasa menawarinya semacam sate daging goreng. Seakan-akan, Haruhiro mulai menjadi seorang yang beriman, dan tuhannya adalah sang kepiting raksasa, yang tidak lain adalah pemilik toko.

Sambil terisak-isak, Haruhiro mengambil sate daging dengan banyak bersyukur, dia benar-benar bersyukur kali ini. Dia langsung mengunyahnya tanpa banyak berpikir, Apakah daging ini aman? Sayangnya daging itu dingin dan keras, dan tampaknya daging ini dimasak dengan cara diasapi, bukannya digoreng. Tidak buruk…. Sama sekali tidak buruk. Dagingnya kering dan sulit untuk ditelan, tapi ketika dikunyah, cita rasa yang nikmat terus merembes keluar dari daging itu. Perutnya terasa kenyang untuk sementara waktu.

Kepiting raksasa juga memberikan sate daging asap kepada masing-masing Party-nya. Itu artinya, sekeping koin logam kira-kira seharga 6 mangkuk sup kelabang, dan 6 tusuk sate daging misterius.

Setelah rasa lapar terobati, sekarang mereka ingin air. Namun, mereka mungkin akan membutuhkan koin hitam lainnya untuk membeli air dari sumur. Kalau begitu, sekarang yang harus mereka lakukan adalah merebus air sungai agar layak diminum. Ketika Haruhiro masih memikirkan cara lain untuk mendapat air gratis, si bodoh Ranta tiba-tiba menuju sumur, lalu dia menurunkan ember, menimba air, dan meminumnya dengan rakus. Namun anehnya si penjaga sumur tidak bereaksi.

Hah? Gak papa nih?

Ketika Ranta menyelesaikan minumnya, Haruhiro juga minum air dari sumur yang sama dengan ragu-ragu. Si penjaga sumur benar-benar tidak melakukan sesuatu pun padanya. Apakah karena mereka kemaren sudah bayar? Jika satu koin hitam bisa membeli enam mangkuk kelabang rebus dan enam tusuk daging asap, maka satu koin hitam sudah lebih dari cukup untuk membeli air bagi enam orang. Jadi, itu sebabnya dia membiarkan mereka minum lagi hari ini ... mungkinkah begitu?

Apapun masalahnya, setelah dehidrasi mereka reda, akhirnya mereka merasa kembali normal. Tidak, belum.

“Um, Haruhiro-kun ...” Shihoru mengangkat tangannya. “Aku ingin mandi sekarang ...”

Dia tidak bisa memaksa dirinya untuk mengatakan Ada masalah yang lebih penting daripada hanya sekedar mandi.

Yahh, Haruhiro hanya dapat berpikiran positif seperti, Sembari mandi, mungkin kita bisa memikirkan cara untuk mendapatkan koin hitam lebih banyak. Aku yakin kita bisa. Setelah kita merasa segar, pikiran pun kembali normal. Ya. Mandi. Ayo mandi.

Haruhiro dan Party-nya meninggalkan desa, kemudian mereka buru-buru menuju sungai di kaki bukit. Mungkin mereka tidak perlu terburu-buru, tetapi mereka sudah tidak tahan lagi ingin membasuh diri.

Pertama-tama, mereka harus menggali lubang di dekat sungai. Kemudian, menghubungkan lubang tersebut ke sungai dengan saluran. Setelah lubang diisi dengan air sungai, mereka menutup saluran itu. Disepakati bahwa gadis-gadis akan mandi terlebih dahulu, kemudian barulah cowok-cowok. Sementara para gadis mandi, para pria menunggu dari kejauhan.

Lubang yang mereka gunakan sebagai bak berukuran 1,5 m, dengan kedalaman sekitar 1 m. Temperatur air sungai mirip dengan suhu tubuh, tapi itu jauh lebih baik daripada mandi air dingin. Mereka mengulurkan lenteranya pada air sungai, tampaknya air tersebut tidaklah keruh ataupun berbau. Pekerjaan mereka berjalan sesuai rencana, dan tanpa gangguan, kemudian selesailah pemandian sederhana ala Party Haruhiro.

“Yah, kalian duluan, kami akan menunggu di sana,” kata Haruhiro pada para gadis.

Haruhiro, Ranta, dan Kuzaku meninggalkan Yume, Shihoru, dan Mary, lantas mereka menjauh sekitar 20 m dari pemandian dadakan itu. Tepat di sebelah tebing. Bahkan ketika matahari naik, atau lebih tepatnya apinya naik, dunia ini masih gelap. Tidak mungkin mereka mengintip para gadis dengan kegelapan seperti ini, jadi jarak 20 m agaknya cukup adil.

Namun, anehnya, Ranta cukup tenang.

Ah tidak, mana mungkin dia tenang kalau ada peluang emas di depan matanya.

“Yahh, bukankah sudah saatnya memulai operasi?” tanya Ranta.

“Aku pikir begitu ...” Haruhiro mendesah. Sekarang, bagaimana caranya menghentikan si kampret?

Untungnya, Haruhiro tidak perlu melakukan apapun. Itu karena Kuzaku tiba-tiba menahannya.

“Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu.”

“Ow! Ow ow! Tunggu, sialan, Kuzacky! Apa yang kamu lakukan?! Tidak… owowow, sendiku… sakit tahu…. Sendiku!!! Sakit, bego! Lepaskan aku, dasar raksasa bego!”

“Wah, ternyata kau cukup kuat, Ranta-kun. Kalau aku tidak menghentikanmu dengan serius, kau pasti akan lolos.”

“Kau bisa mematahkan lenganku! Dan juga bahuku! Kau bisa membuat organ-organku cacat! Kalau aku mati, bagaimana?! Bodoh kau!"

“Kau tidak akan mati semudah itu, Ranta-kun. Kau akan baik-baik saja.”

“Gawat, gawat, gawat, gawat, gawat, gawat, gawat. Sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit. Mati aku, mati aku, mati aku, mati aku, mati aku, mati aku. Lepaskan, lepaskan, lepaskan, lepaskan, lepaskan, lepaskan.”

“Jangan lebay begitu. Seakan-akan akulah yang jahat!”

“... Sialan, dasar raksasa sialan, Kuzacky! Tidak bisakah kau lebih menghormati seniormu?!"

"Aku memang menghormatimu. Percayalah, bahwa aku mengagumimu sebagai seorang senior.”

“Kalau begitu lepaskan aku! BUUUGIIILLLLL! Aku pengen lihat cewek BUGILLLL! Oppai! Aku punya penyakit aneh yang akan membunuhku kalau aku tidak lihat Oppai! Serius, bung, aku benar-benar gak bohong!”

“... Yah, inilah caraku menghormatimu,” kata Kuzaku padanya. “Aku akan menghentikanmu dari kebodohanmu yang keterlaluan.”

Ranta bukanlah orang yang layak dihormati sebagai apapun, dengan cara apapun, jadi kurasa gak masalah sih, pikir Haruhiro. Namun, Kuzaku benar-benar cepat bertindak kali ini. Ada apa gerangan? Apakah ini ada hubungannya dengan Mary? Pasti ada. Dia tidak ingin Ranta mengintipnya. Karena Mary adalah ... siapanya ya? Pacarnya? Kekasihnya? Atau hanya teman biasa? Atau teman spesial? Tak seorang pria pun rela orang lain melihat kekasihnya dalam keadaan telanjang. Itulah alasannya. Mungkin saja. Memang wajar dia merasa begitu.

Bahkan Haruhiro cukup memahaminya.

Aku masih perjaka, lho? Lantas bagaimana dengan Kuzaku? Apakah mereka berdua sudah…. sudah melakukannya ...? Melakukan itu lho…. Yang itu….?

Haruhiro duduk di tanah dan menutupi wajah dengan tangannya. Apa-apaan yang sedang dia pikirkan? Itu sangatlah bodoh. Apakah itu penting? Dia tidak punya waktu untuk ini.

Betul. Dia tidak punya waktu untuk memikirkan perasaan sentimentil seperti ini.

Koin hitam. Bagaimana caranya mengumpulkannya? Dari mayat, dan dari dasar sungai. Keduanya hanyalah keberuntungan saja. Apakah ada cara yang lebih pasti? Jika mereka harus mendapatkan uang, mereka bisa bekerja? Seperti, menjual jasa bagi penduduk desa? Apakah itu bisa dilakukan? Tanpa memahami bahasa mereka? Sepertinya sulit

Uang. Uang, ya. Koin-koin hitam itu adalah uang. Apakah itu merupakan mata uang yang dipakai di desa ini? Kalau begitu, ada sistem pembayaran tunai di desa ini…. tapi, apakah sistem pembayaran tunai efektif dilakukan di desa sekecil ini? Paling tidak, penghuni desa ini hanyalah 50 jiwa. Sedangkan, tiap toko menjajakan barang yang begitu bervariasi. Bukankah itu terlalu banyak buat desa berpenduduk hanya 50 jiwa? Apakah mereka memiliki pelanggan dari tempat lainnya?

Lainnya…. Artinya para pengunjung sering datang ke sini…. seperti ... Party Haruhiro?

“Eek!” Mereka mendengar suara seseorang.

Bukan hanya suara. Namun itu adalah teriakan.

“Hei!” Ranta segera melepaskan diri dari kuncian Kuzaku.

Kuzaku dengan cepat melompat berdiri. “Mary ... san ?!”

Haruhiro mulai berlari secepat yang dia bisa. "Mary?! Yume?! Shihoru ?!”

“Nu-Chah ...!”

Itu teriakan Yume ketika bertarung. Apakah dia benar-benar sedang bertarung? Melawan apa? Musuh?

Ada perkelahian di sana.

“Wah ...!”

Bukankah itu suara Shihoru? Sepertinya dia coba melepaskan diri, namun jatuh kembali ke sungai… atau apa?

“Hah!”

Kali ini suara Mary. Suara Mary. Sepertinya dia juga sedang bertarung.

“Y-y-y-yaaahh, berusahalah tidak melihat apapun di sana nanti!” Haruhiro menghunus belati dan Sap-nya. Tapi, yeah, dia tahu benar bahwa ini bukanlah saatnya mengkhawatirkan melihat sesuatu atau tidak.

Dia berlari secepat mungkin. Dia sudah mendapatkan gambaran apa yang terjadi di sana. Tampaknya Yume dan Mary bertarung dengan menggunakan senjata mereka. Mereka keluar dari bak mandi. Lantas di mana Shihoru? Di sungai? Siapakah musuh yang mereka hadapi?

Pada awalnya, Haruhiro pikir mereka sedang melawan kadal atau sejenisnya. Posturnya rendah dan dia merangkak dengan cepat. Dia pun melompat dengan tangkas ke kiri dan kanan, untuk menghindari serangan Yume dan Mary. Mungkin saja ukuran kadal ini sebesar manusia dewasa.

Haruhiro terus bergerak tanpa merencanakan apapun. Akhirnya dia sampai ke TKP. Dia ringkus musuhnya dari belakang. Itu adalah laba-laba.

Ternyata bukan kadal. Makhluk ini berbulu. Ah, terserah. Dia langsung menancapkan belatinya pada leher si monster, tetapi musuh meronta-ronta dengan liar.

Dia melompat. Boing, Dia melompat begitu tinggi secara diagonal.

“Whoa ...!” Haruhiro menjerit, namun secara refleks dia sudah menempelkan dirinya pada tubuh musuh.

Oh sial. Musuh membungkuk ke belakang ketika masih melayang di udara. Jika diprediksi dari cara geraknya, sepertinya si laba-laba ingin mendarat ke tanah dengan menghantamkan punggungnya terlebih dahulu. Karena Haruhiro sedang menempel di punggungnya, maka dia akan tergencit di tanah, kan?

Ketika ia mencoba untuk melepaskan diri, musuh malah gantian membelitnya. Lantas mereka pun meluncur bebas ke tanah. Terdengar suara yang mengerikan ketika mereka bertumbukan dengan bumi. Dampaknya terasa di sekujur tubuh Haruhiro. Dia tidak bisa bernapas. Kepalanya berputar-putar.

Setelah itu, musuh langsung melompat menjauh dari Haruhiro, seakan-akan tubrukan tadi tidak berdampak apapun baginya. Kemudian lawannya segera menyerang. Haruhiro berusaha melindungi leher dan wajahnya dengan kedua lengan. Harusnya dia tidak langsung mati jika kepala dan lehernya selamat.

“Gahhh!” Kuzaku menerjang, dan mencoba untuk menyabet musuh dengan pedangnya.

Musuh melompat lurus ke belakang, kemudian berlari.

“Kena kau!” Ranta berlari, lantas menebas musuh.

Kerjasama tim yang bagus, pikir Haruhiro, tapi dia pun ragu apakah ini saat yang tepat untuk memuji kinerja timnya.

Ia mencoba bangkit. Gawat. Sedikit gerakan saja sudah membuat sekujur tubuhnya sakit.

Mual…. rasanya pengen muntah. Ini menyedihkan. Aku sangat ceroboh. Aku kehilangan fokusku . Mengapa aku tidak bisa tenang di saat sekrusial ini? Ini sungguh menyebalkan. Betapa memalukan. Apa aku ini?…. Pemula? Aku selalu saja melakukan kesalahan mendasar bagaikan seorang pemula. Tidak ada alasan untuk itu. Ini menyakitkan…

Kuzaku dan Ranta mengejar musuh. Mary dan Yume bergegas menghampirinya.

“Haru ?!” teriak Mary.

“Haru-kun!” Teriak Yume.

Ahh, tidak….. hmm, lumayan juga…TIDAK, maksudku…. Eh, kalian berdua telanjang, kan? Terlalu gelap, dia tidak bisa melihat apapun, tapi dia masihlah merasa berdosa. Haruhiro menutup matanya, tapi setidaknya dia masih bisa membayangkannya.

“Di mana ... Shihoru ...?” tanyanya dengan suara serak.

"Nyaa?! Betul! Shihoru! Di manakah kau, Shihoru?! Apa kau baik-baik saja?!"

“A-a-a-a-aku gak papa kok ...” akhirnya Shihoru memberikan jawaban, yang mana itu sangat membuat Haruhiro merasa lega.

Tapi, masih terlalu dini untuk bersantai, bukan? Dan ini bukanlah saatnya untuk bersantai.

“Haru! Aku akan menggunakan sihirku sekarang!” Teriak Mary.

“Tidak, kau tidak boleh melakukan itu ... Maksudku, sihir cahaya ... mengeluarkan cahaya ... sebelum kau melakukan itu ... pakailah sesuatu terlebih dahulu ...”

“Apakah ini saatnya untuk mempermasalahkan pakaian?!” Mary marah padanya.

Maafkan aku. Aku sangat-sangat menyesal.

“Mary-san, ini, pakaianmu!” Kuzaku kembali, kemudian melemparkan pakaian itu pada Mary.

“Aku tidak peduli!” bentak Mary, tapi dia masih berusaha mengenakan pakaian-pakaiannya sesempatnya. Kemudian dia mulai menyembuhkan Haruhiro.

“Siaaaaaaaaalll!” Teriak Ranta. “Dia berhasil lari, dasar idiot!”

“Ranta bego, jangan ke sini!” teriak Yume.

"Oh, diamlah! Mana mungkin aku sudi melihat pentilmu yang mini itu!”

“Shihoru juga di sini, tahu!”

“Nah, itu baru mantap! Biarkan aku melihatnyaaaaaaaa! Gwehehehehe!”

“Jess, yeen, Sark, kart, fram ...”

“Whoa, whoa, whoa, tahan, tahan, Shihoru! Jangan pake sihir segala! Itu tadi mantra Thunderstorm, ‘kan?! Kalau aku terkena halilintarmu, pasti aku akan gosong!”

Haruhiro mencoba sebisa mungkin memejamkan matanya rapat-rapat.

Kalau aku membuka mataku, aku bisa melihat semuanya, kan. Maksudku, Mary sangatlah dekat saat ini. Dia cukup dekat, sampai-sampai aku bisa merasakan bagian tubuhnya yang menempel padaku. Namun, aku tidak akan mengintip. Aku bersumpah tidak akan mengintip, oke? Aku merasa begitu malu pada diriku sendiri atas semua yang terjadi, aku ingin menangis.

Namun, tidak bisakah kami mandi dengan damai? Ohh, ini sulit ...

U Naa[edit]

Sihir cahaya dan kegelapan sama-sama dapat digunakan. Namun, efek dan durasinya terpangkas sampai dengan sepertiga dari biasanya, tidak hanya itu…. energi sang pengguna pun terkuras dua kali lebih banyak dari biasanya, sehingga menggunakan sihir akan menyebabkan penggunanya mengalami kelelahan baik fisik maupun psikis.

Oleh karena itu, skill Protection menjadi tidak efisien, dan praktis tidak bisa digunakan. Mantra penyembuh pun, seperti melakukan tujuh kali Cure, empat kali Heal, atau bahkan sekali Sacramen akan menguras Mana Mary sepenuhnya.

Mereka memutuskan untuk meminta Ranta menggunakan Demon Call guna memanggil Zodiac-kun sesering mungkin. Namun, Ranta adalah Dark Knight menyedihkan yang tidak terlalu mahir menggunakan sihirnya sendiri. Selain itu, Zodiac-kun cukup berguna ketika bersama mereka.

Haruhiro dan Party-nya menamai desa yang dikelilingi parit itu dengan nama Desa Sumur, dan sungai tempat mereka mandi dinamai Sungai Hangat. Arah mata angin tidak jelas di dunia ini, tetapi mereka menduga bahwa Sungai Hangat mengalir dari utara ke selatan, mereka pun memutuskan bahwa hulu berada di utara, sedangkan hilir berada di selatan. Pada siang hari, cahaya seperti kobaran api di punggung bukit itu akan semakin naik, dan langit di sebelah timur akan sedikit lebih cerah. Sepertinya mereka belum mampu menyebrangi Sungai Hangat, sehingga untuk saat ini, mereka harus menyusuri ke barat.

Ada hutan yang membentang di sebelah barat Desa Sumur. Bagaimana dengan sebelah selatan? Tampaknya ada banyak monster agresif di dasar sungai, sehingga mereka memutuskan untuk mendaki tebing dan mencoba pergi ke selatan dari sana.

“Kita….. menurutmu sudah berapa jauh kita meninggalkan Desa Sumur?” Kuzaku berbalik dan melihat.

“Satu kilometer?” Yume mengeluarkan suara ‘mnngh’ aneh saat ia memikirkan itu. “Mungkin sekitar itu?”

“Cih.” Ranta mendecakkan lidahnya dan menghentakkan kakinya beberapa kali. “Sialan, medannya sulit dilalui. Ini sangat licin! Apa sih yang kita pijak ini?! Berani nantang aku ya?!”

“Ehehe ... Ranta ... anak kecil pun berani menantangmu ... Ehe ... Eehehehe ...”

“Hei, Zodiac-kun, apa maksudmu?!”

“T-Tapi, cukup melelahkan berjalan di sini ...” Shihoru menggunakan tongkatnya untuk menyangga dirinya sendiri saat dia berjalan.

“Kamu baik-baik saja?” Tanya Mary. “Shihoru, kalau perlu, aku bisa menopangmu."

“Terima kasih, Mary ... Tapi kalau aku tersandung, kau bisa ikutan jatuh ...”

“Kalau memang harus terjatuh, ya jatuh aja.” Sepertinya Mary sedikit tersenyum, hanya sedikit.

Haruhiro juga tersenyum sedikit.

Ah tidak, seorang pemimpin tidak berharga yang hanya bisa mengacaukan segalanya tidak punya hak untuk tersenyum. Namun, sepertinya Mary, Shihoru, dan Yume cukup akrab akhir-akhir ini. Aku sangat senang melihat itu.

<i>Mary sedikit apatis ketika kami pertama kali bertemu, tapi aku dengar bahwa di masa lalu dia adalah gadis ceria dengan kepribadian yang menyenangkan. Dia diberkati paras yang cantik, serius menjalani perannya sebagai Priest, memiliki kepribadian yang baik…. Betapa sempurna wanita ini. Aku sungguh bersyukur bisa mengenalnya sebagai rekan ataupun teman. Dia sungguh ideal. Sebagai seorang pemimpin, aku senang memiliki anggota seperti dia. Tapi, aku yakin Kuzaku jauh lebih berbahagia karena memilikinya sebagai seorang kekasih ...

“Sebelah selatan Desa Sumur adalah rawa, ya.” Haruhiro hampir saja mendesah pasrah namun dia berhasil menahannya, sambil menyipitkan mata. “Sepertinya, untuk sementara waktu hanya ini yang bisa kita lakukan ...”

“Berjalan di sini benar-benar sulit, tapi masih lumayan, kan?” Kata Yume. "Permukaan tanah ini menghasilkan suara ketika kau injak. Suaranya, ngiiik, ngiiik, ngiiik. Jadi, jika ada sesuatu yang mendekat, kau akan segera mengetahuinya, iya kan?”

“Sialan, Yume,” Ranta mengeluh. “Aku tahu pentilmu kecil, tapi setidaknya ngomonglah sesuatu yang berguna!”

“Berhenti menyebutnya kecil!” Yume berteriak.

Yume ada benarnya, pikir Haruhiro. Sangat mudah untuk waspada di lingkungan seperti ini. Untuk saat ini, aku ingin memperluas jangkauan daerah yang telah kami jelajahi, jadi… ayo mengeksplorasi sedikit lebih jauh.

Dengan begitu, mereka sepakat untuk berjalan 300 m lagi, atau bahkan lebih jauh, tapi pada saat itu tanah tidak hanya berlumpur, namun juga ada genangan air. Sepertinya kaki mereka akan sering terperosok ke dalam kubangan-kubangan lumpur tersebut. Kubangan lumpur hanya sedalam 5 cm, tapi ada bagian yang lembek dan bagian yang keras di dasar kubangannya, dan itu sungguh buruk. Sebenarnya…

“Hei, bukankah ada sesuatu yang terkubur di sini?” Tanya Haruhiro.

“Harta karun, kah!?” Ranta segera berjongkok dan merogohkan tangannya ke dalam lumpur. “... Oh? Benar juga. Ada sesuatu di sini. Ini adalah…….."

“Haruskah kita sinari biar jelas?” Yume bertanya, dan Haruhiro pun mengangguk. “Oof.” Yume mengeluarkan lentera, kemudian menyalakannya.

“Ini….” Ranta menyodorkan benda yang baru saja ditariknya keluar pada lentera Yume agar mendapatkan penerangan. Itu adalah suatu benda berbentuk batang, berwarna putih.

Haruhiro segera mengetahui benda apakah itu, karena cukup jelas.

"Sebuah tulang…?"

“Masih banyak lainnya,” kata Ranta. “Apakah kau pikir jasad-jasad ini tersebar di seluruh tempat?”

Zodiak-kun tertawa. “Uhe ... Ranta ... Kau juga akan membusuk jadi tulang di sini ... Uhehe ... Uhehehehe ...”

“Jangan mengatakan hal mengerikan seperti itu! Sialan, Zodiac-kun!”

“Mari kita lihat.” Haruhiro mengangguk dan memutuskan untuk mengamatinya lebih dekat. “Yah, aku tidak begitu tertarik dengan tulang, tapi mungkin tidak hanya tulang yang bisa kita temukan di sini…. mungkin barang-barang milik makhluk naas ini bisa juga kita dapatkan. Sapa tahu ada koin hitam. Sekarang, itulah yang sangat kita perlukan.”

Semuanya setuju. Berbeda dengan air di Sungai Hangat, air pada kubangan di sini lebih dingin. Ketika mereka mengobok-obok kubangan tersebut untuk mencari benda lain di dalamnya, airnya terasa dingin. Ini bukanlah pekerjaan yang mudah, tapi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kelaparan dan dehidrasi.

Akhirnya…

“Ah ...!” Shihoru menelan ludah saat dia mengangkat sesuatu. “Sebuah koin hitam!”

“Oh, ho!” Ranta menampar punggung Shihoru. "Bagus! Kerja bagus, Shihoru!”

“... Jangan cari-cari kesempatan untuk menyentuhku!”

"Apanya yang cari-cari kesempatan?! Apa kau marah padaku?! Beneran nih?! Ini bukan waktunya untuk berdebat?! Apakah kau tidak senang?!”

“Kehehe ... Ranta ... eksistensimu mengacaukan segalanya ... Kehehehehe ...”

“Kalau memang eksistensiku yang salah, maka tidak ada yang bisa memperbaikinya, tau?!” teriak Ranta.

Setelah itu, mereka terus menemukan benda-benda lain. Tidak hanya koin hitam di sana. Mereka menemukan dua bilah pedang pendek yang masih tidak berkarat, satu pedang panjang, satu benda seperti topeng logam, serta empat koin hitam.

“Hmm ...” Ranta mengamati pedang panjang tersebut sebelum menyerahkannya kepada Kuzaku. “Pegang ini, Kuzacky. Kondisinya masih baik, dan kita bisa menggunakannya setelah beberapa kali diasah, tapi aku tidak terlalu tertarik pada pedang ini. Menurutku ini terlalu panjang. Lagipula, efek sengatan Pedang Petir Lumba-lumba milikku belum habis.”

"…Terima kasih."

“Dua pedang pendek ini milikmu, Haruhiro,” lanjut Ranta.

“Kehe ... Ranta sok penting ... matilah kau, dasar pembual ... Kehehe ...”

“Hei, Zodiac-kun?! Kau terus saja menghinaku seolah-olah itu hal yang wajar, bisakah kau berhenti sekarang juga!?"

“Hmm,” kata Haruhiro, sambil mengamati pedang pendek tersebut. “Yahh, kurasa ini cukup untukku. Bagaimana kalau kau ambil pedang yang lainnya, Yume? Yang besar itu ukurannya hampir mirip dengan golokmu.”

"Nyaa. Betul juga, ya? Kalau begitu, Yume akan mengambilnya.”

“Bagaimana dengan topengnya?” Mary mencoba memakainya. “Oh. Pas sekali.”

Topeng itu dibuat menyerupai suatu makhluk tertentu, yang pasti bukan manusia. Nampaknya Haruhiro belum pernah melihat makhluk dengan wajah seperti itu, tapi kalau dia harus mendeskripsikannya, itu mirip seperti ... kera, mungkin? Topeng itu tampak konyol, dan bentuknya pun terlihat lucu.

“I-itu memang cocok denganmu ... sungguh,” kata Shihoru, sambil berusaha sebisa mungkin menjaga nada bicaranya.

“Bwah!” Ranta tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk Mary. “Cocok, cocok! Cocok banget! Inilah yang disebut mahakarya! Mahakarya untuk Mary!”

“G-g-gak jadi deh!” Mary langsung melepaskan topeng itu dan menyerahkannya pada yang lainnya, tetapi sayangnya tak seorang pun tertarik dengan benda itu. “Aku tidak benar-benar menginginkannya, oke ?! Tadi aku hanya nyobain aja kok!”

Entah kenapa, Haruhiro ingin melihat ekspresi Kuzaku.

Dia pasti sangat malu. Kuzaku… oh bung, kau tidak ingin membantunya? Tentu saja ini aneh bagiku. Ketika hal seperti ini terjadi, bukankah seharusnya kau membantunya… karena kalian sudah…..

Kuzaku hanya menunduk, sepertinya dia juga merasa malu.

Mengapa? Ohh. Aku paham. Mereka belum menyatakan hubungannya secara resmi pada anggota Party lain. Karena mereka menyembunyikannya? Jadi itu alsannya, bahkan pada saat-saat seperti ini, dia ragu untuk membela kekasihnya secara terang-terangan.

Tidak apa-apa. Tidak perlu menyembunyikannya. Mengapa tidak kalian beberkan saja hubungan kalian? Entah kenapa aku merasa kesal. Entah kenapa aku pun merasa lega jika kalian belum mengumumkan hubungan kalian secara terang-terangan.

Tapi, sekarag bukanlah saat yang tepat untuk membahas masalah hubungan pribadi sesama anggota Party.Kalau mereka tiba-tiba mengatakan, “Hei teman-teman, kami berdua ingin mengatakan sesuatu nih….” Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka.

Ketika Haruhiro masih tenggelam di dalam prasangka pribadinya, akhirnya Yume meminta topeng itu dari Mary.

“Kalau begitu, bolehkah Yume memilikinya? Akan lebih mudah jika kita memakai topeng seperti itu ketika kembali ke Desa Sumur, kan. Topeng ini tidak imut, tapi kalau Yume sudah biasa memakainya, mungkin lama-lama akan terlihat imut.”

“Um ... tentang koin-koin hitam ini ...” Shihoru mengambil salah satu koin hitam, menempatkannya pada telapak tangan, kemudian membandingkannya dengan ketiga koin lainnya. “Ada sedikit perbedaan pada ukuran mereka. Yang ini lebih besar, sedangkan ketiga koin lainnya jauh lebih kecil. Lagipula, ada beberapa huruf yang tertulis padanya, dan bentuknya sedikit berbeda dengan koin lainnya ...”

“Whoo.” Yume mendekatkan lenteranya pada koin-koin itu. "Kamu benar. Yang ini memang jauh lebih besar, ya.”

Haruhiro membandingkan salah satu koin yang Shihoru pegang, dengan ketiga koin lain yang berada di telapak tangannya. "Menurutmu nilainya berbeda-beda? Seperti koin tembaga dan perak Altana? Tapi bahan dasarnya sama. Kalau begitu, bagaiman dengan kedua koin yang sebelumnya telah kita temukan? Hmm, aku tidak begitu ingat ...”

“Ayolah, harusnya kau masih ingat, kan kau sendiri yang membelanjakannya.” Ranta mendengus. “Yah, kalau aku sih gak ingat sama sekali!”

“Kehehe ... dasar dungu ... Kehe ... Kehehe ... kau akan segera kembali ke naungan Dewa Skullhell ...” Zodiac-kun tiba-tiba memelankan suaranya. “Tak lama lagi ... Kehehehehe ...”

“Hei, Haruhiro.” Ranta memberinya isyarat dengan menggerakkan dagunya.

“... Ya.” Haruhiro mulai menekuk lututnya, dan berjongkok. "Aku tahu."

Apakah setiap iblisnya Dark Knight selalu seperti ini? Haruhiro yang notabene seorang Thief saja tidak menyadarinya, tapi Zodiac-kun bisa berubah-ubah sesuai kondisi lingkungan di sekitar. Sehingga mereka tidak bisa sepenuhnya bergantung pada iblis itu. Dia hanya berguna ketika bahaya sudah mendekat. Terkadang-kadang, dia akan memperingatkan mereka dengan cara yang begitu halus.

Haruhiro tidak perlu memberikan perintah pada rekan-rekannya untuk waspada. Dia ragu-ragu sejenak. Haruskah ia menyuruh Yume memadamkan lentera? Tidak, jika dia memadamkannya sekarang, mereka hampir tidak melihat apapun sampai mata mereka berakomodasi maksimum untuk menyesuaikan dengan kegelapan area di sekitarnya. Itu bukanlah pilihan yang baik.

Dia mendengarkan suara apapun dengan seksama. Dia mulai mendengarkan sesuatu. Sebuah suara. Itu adalah suara percikan. Dari barat. Clup, clup, clup. Suara itu makin keras. Sesuatu sedang berjalan melalui air.

Dia mendekat.

Haruhiro melirik Kuzaku, dan memintanya untuk bergerak ke barat. Kuzaku mengangguk, lalu menurunkan penutup mata helmnya. Dia berbalik menghadap ke arah barat.

Segera setelahnya, terjadi sesuatu.

Makhluk itu mulai berlari. Yume mengarahkan lentera ke arahnya.

Mereka melihatnya. Seekor binatang buas berwarna hitam. Besar. Matanya ada empat, menyala, dan berwarna kuning.

Apakah itu anjing? Ataukah seekor serigala? Tidak, tidak mirip seperti itu. Hewan itu cukup besar seukuran harimau atau singa. Bahkan mungkin lebih besar.

Dia mulai menyerang. Kuzaku mencoba untuk menghentikan terkaman hewan itu dengan perisai, tetapi tidak ada gunanya. Ia mental.

“Gwah ...!”

“Bukankah ini gawat!?” Ranta muali mengayunkan Pedang Petir Lumba-lumba warisan para Cultist. Binatang itu tidak menghindar. Hebatnya, dia membelokkan tebasan pedang Ranta hanya dengan menggunakan dahinya.

Sepertinya dia tersengat sebentar karena efek pedang Ranta, namun dia segera menggoyang-goyangkan tubuhnya untuk menghilangkan efek sengatan itu.

Ranta melompat mundur. “Sialan, dahinya keras! Seberapa keras kepala makhluk ini?!”

“Ohm, rel, dll, del, brem, darsh.” Shihoru membungkus dirinya dalam sebuah Armor Shadow. Sihir itu akan meniadakan semua serangan, atau setidaknya mengurangi dampaknya. Shihoru semakin dewasa ketika bertarung, dan itu adalah keputusan yang dia pikirkan dengan tenang. Shihoru bukan lagi gadis cengeng yang hanya bisa merengek ketika bertarung.

“Kuzaku ?!” Mary menjerit, tapi si jangkung segera membalasnya dengan, “Gak papa kok!” Diikuti oleh suara percikan air. Rupanya dia tercebur dalam kubangan, kemudian segera bangkit. Sepertinya Kuzaku tidak mendapatkan masalah serius.

Dengan lunglai, binatang itu menggerakkan kepalanya untuk melihat semua Party Haruhiro satu per satu. Bahunya kira-kira setinggi 1-2 m dari permukaan tanah. Batang tubuhnya mungkin sepanjang 3 m. Dia sangatlah besar, dan begitu mengintimidasi. Namun lawan mereka kali ini tidaklah sebesar raksasa putih yang mereka hadapi bersama Tokkis di dunia sebelumnya.

Namun rahangnya cukup mengerikan. Jika rahang itu menggigit mereka, sepertinya tangan, kaki, atau bahkan leher akan terputus seketika. Kuzaku masih beruntung tidak kehilangan satu pun anggota badannya setelah diserang oleh makhluk itu.

Yume berjongkok dengan terengah-engah. Dia menghunuskan golok di tangan kirinya, tapi dia belum menyiapkan busunya. Panahnya memang tidak begitu berguna ketika melawan musuh seperti ini. Bagaimanapun juiga, ini adalah pertempuran jarak dekat. Bahkan terlalu dekat. Jika mereka berbalik untuk lari, tentu saja binatang itu akan segera menerkam mereka. Dan semuanya akan berakhir dalam sekejap mata.

Binatang itu belum mengaum. Setiap kali ia mendengar suara ekornya menepis permukaan air, jantung Haruhiro seakan mau copot. Kalau sampai hewan buas itu mengaum, mungkin jantungnya benar-benar akan copot.

Mengerikan…

Makhluk apa sih itu? Apakah area ini adalah wilayahnya, dan dia mencoba menyerang Haruhiro dan Party-nya untuk mengusir mereka? Tapi, kalau memang itu alasannya, setidaknya dia akan mengintimidasi mereka terlebih dahulu sebagai peringatan, kan? Apakah mereka dianggap sebagai mangsa oleh makhluk ini? Apakah binatang itu mencoba untuk memburu mereka? Untuk memuaskan nafsu makannya? Benarkah begitu ...?

Dia ingin melarikan diri. Tapi tanah di sini tidak stabil, gelap, dan makhluk itu terlihat lebih cepat daripada mereka, sehingga agaknya susah melarikan diri tanpa terluka sama sekali. Kita harus melawannya ... ‘kan?.

Jika dia memang benar-benar sedang mencari mangsa, maka yang perlu Haruhiro lakukan hanyalah memberikan luka kecil padanya. Itu akan membuat hewan tersebut berpikir, ”mereka tangguh juga”, sehingga lebih baik dia mundur daripada terluka lebih parah.

Setidaknya, itulah yang kuduga. Tapi tak ada jaminan itu benar.

“Kita akan melawannya!” Haruhiro mulai memompa semangatnya, kemudian dia meneriakkan itu sekeras-kerasnya. “Jangan bergerombol! Kepung dia, tapi jangan berada tepat di hadapannya!”

Ketika Haruhiro dan Party-nya mulai bergerak, begitu pula dengan binatang itu. Dia berbadan besar, tapi gerakan kakinya begitu ringan.

Ranta. Tampaknya binatang itu mengincar Ranta terlebih dahulu.

“Whoa!”

Sepertinya Ranta tidak membiarkan dirinya lengah. Apakah ia mencoba untuk menghindar sambil memperdaya lawannya dengan gerakan kakinya yang aneh? Itulah salah satu skill bertarung sebagai Dark Knight, yaitu Missing.

Pada tanah yang lebih padat, mungkin skill-nya itu bisa berhasil. Namun sayangnya, medan ini tidak mendukung. Ranta berusaha memperlebar jarak dengan si binatang buas, namun dia terjatuh pada suatu kubangan lumpur.

“Gwah ?!”

“Semangat terus, Ranta ... Kehe ... Fwehehe ...”

“Ranta-kun!” Kuzaku mencoba untuk menghantam lawannya dengan Punishment. Punishment adalah skill Paladin yang mirip dengan Rago Blow dari Warrior, bedanya adalah, mereka memperkuat pertahanannya dengan perisai, sembari menebaskan pedang. Skill itu membuat Kuzaku tetap terlindung. Binatang itu mengelak dengan sangat cepat, kemudian dia mengayunkan kaki depannya.

Dia melayangkan sebuah pukulan, atau lebih tepatnya hook. Entah bagaimana caranya, akhirnya Kuzaku berhasil menahan itu dengan perisainya, tapi dia tak kuasa menahan tumbukan itu, kemudian terjatuh.

“Jess, yeen, Sark, kart, fram, dart!” Shihoru menembakkan mantra Thunderstorm pada si hewan. Beberapa sambaran petir tipis menerpa binatang itu. Dia mengerang, seluruh tubuhnya gemetar, tetapi dia belum roboh. Setelah mengguncangkan kepalanya agar kembali sadar, dia memutarkan tubuhnya ke arah Shihoru.

“Chuwang!” Yume menjerit aneh sembari dia menyerang pada lawannya.

Mary juga berusaha mengusir binatang itu dengan mengayun-ayunkan tongkatnya.

Binatang itu meraung, kemudian dia mengibaskan badannya. Namun itu sudah cukup untuk mementalkan Mary dan Yume. Lantas keduanya mendarat di kubangan air.

“Sialan, jangan meremehkanku! O kegelapan, O Dewa Vice!” Ranta berlutut dengan satu kaki, kemudian mengarahkan ujung pedang pada lawannya. “Blood Venom!”

Sihir kegelapan Ranta tidak pernah menghasilkan sesuatu yang baik. Suatu aura aneh mulai muncul dari tubuh Ranta, kemudian membungkus hewan itu, namun Haruhiro tidak merasakan apa-apa selain kekhawatiran atas apa yang akan terjadi selanjutnya. Sejak awal mereka sudah paham betul bahwa efektivitas sihir kegelapan sudah berkurang di duni aini. Lantas mengapa si kampret susah-susah menggunakannya?

Namun, untuk sesaat, binatang itu terpaku. Dia lagsung saja memulihkan diri, tapi jelas-jelas ada yang salah dengan pergerakannya kali ini.

Blood Venom. Itu adalah mantra yang menggunakan racun Skullhell untuk melemahkan tubuh targetnya, atau setidaknya itulah yang Haruhiro ingat. Tentu saja, tiba-tiba binatang itu terlihat seperti pesakitan atau semacamnya.

Berkat itu, mereka mempunyai kesempatan untuk menyerangnya. Dia boleh memuji Ranta nanti atas kerja kerasnya. Atau lebih tepatnya, sebaiknya Haruhiro tidak memuji Ranta, karena si kampret adalah orang yang akan semakin besar kepala ketika dipuji.

Haruhiro cukup takut memulai serangan pada lawan sebesar dan sebuas itu. Tapi dia yakin kali ini akan berhasil. Tidak peduli seberapa buas lawannya, toh dia hanyalah hewan berkaki empat.

Seperti biasa, dia melompati lawannya dari belakang untuk menempel pada punggungnya. Dia membenamkan belati pada leher lawannya, kemudian menusuknya dengan sekuat tenaga. Lantas dia congkel belatinya, kemudian menusukkannya lagi.

Tentu saja, binatang itu meronta-ronta kesakitan. Dia bergerak kesetanan ke segala arah untuk melemparkan Haruhiro dari punggungnya. Tapi karena dia adalah hewan berkaki empat, maka bentuk tubuhnya membuat dia kesulitan meraih benda apapun yang menempel di punggungnya. Atau bahkan tidak bisa. Sialnya, salah satu cakar si hewan berhasil merobek paha kanan Haruhiro.

“Gwah ?!”

Rasa sakit yang menyiksa membuat Haruhiro tak kuasa bertahan di punggung lawannya. Lebih parahnya lagi, ia melepaskan belati andalannya yang masih tertusuk pada leher si hewan. Haruhiro jatuh nyungsep ke dalam kubangan air, sehingga membuatnya tidak bisa melihat apapun. Dia juga tidak bisa bernapas.

Ini gawat, kan? Mungkin saja, aku akan mati ...?

“Jess, yeen, Sark, fram, dart!”

Andaikan Shihoru tidak melepaskan sihir halilintarnya, mungkin saja Haruhiro sudah menjadi mangsa pertama hewan itu.

“Nngahh!” seragan itu pasti telah melukai hewan tersebut. Dia mengeluarkan suara yang terdengar seperti rengekan, kemudian tubuh besarnya berguling ke samping, dan sejumlah besar lumpur terciprat saat dia roboh. Haruhiro tidak bisa melihatnya, namun dia mendengarnya dengan jelas.

Belati. Karena belati itu ya.

Belati yang masih tertancap di leher si monster, itulah yang dibidik Shihoru dengan sihir halilintarnya.

“Ehe ... Sekarang ... Ehehehe ...” Zodiac-kun mendorongnya.

“Kau tidak perlu memberitahuku lagi!” teriak Ranta.

“Ya!” Teriak Kuzaku.

Setelah tahu bahwa ini adalah saat terbaik untuk melancarkan serangan brutal, Ranta dan Kuzaku langsung menyerbu hewan itu. Ketika Haruhiro bangkit dan mengusap wajahnya, dia mulai yakin, Kita bisa melakukan ini.

Namun binatang itu segera bangkit dan melarikan diri begitu saja. Dia lolos.

Cepat sekali.

Yah, dunia ini memang kejam. Jika seseorang terlambat sedetik saja, maka dia akan kehilangan semuanya. Ketika kau tidak bisa memutuskan sesuatu dengan cepat, maka kau tidak akan pernah bisa bertahan hidup. Si hewan buas benar-benar lenyap dalam sekejap mata

“Adakah yang terluka……?” Tanya Haruhiro, sambil mengangkat tangannya. “…..Selain aku?”

“Aku….” kata Kuzaku, “punggungku sakit sekali… sudah, itu saja.”

“Yume sudah melakukan yang terbaik.”

“Aku juga,” kata Shihoru. "Terima kasih semuanya…"

“Bagaimanapun juga, aku benar-benar tak terkalahkan!” bual Ranta.

“Jangan khawatir ... Kehe ... Akan terjadi sesuatu besok ... dan kau akan mati seketika ... Kehehe ...”

“Sekarang, dengarkan aku Zodiac-kun! Aku mulai capek dengan bualanmu, bisakah kau berhenti mengocehkan ramalan-ramalan omong kosongmu itu?!”

“Haru, biarkan aku melihat lukamu.” Mary bergegas mendekat, kemudian berjongkok di sampingnya. Dia meletakkan kaki Haruhiro yang robek pada pangkuannya. “Ini sangat buruk. Jangan terlalu ceroboh.”

“... Um, ah tidak, aku sama sekali tidak berniat ceroboh. Aku bahkan tidak mengira akan terluka seburuk ini. Kau boleh bilang, aku hanya terlelu optimis. Aku sungguh-sungguh minta maaf karena telah merepotkanmu.”

“Apakah kau mencoba menebus kesalahanmu sebelumya?” Mary bertanya dengan berbisik.

Itu ... jujur saja, mungkin itu ada benarnya. Ketika mereka diserang di sungai kemaren, Yume hampir terbunuh, sehingga Mary pun mencoba sekuat tenaga untuk menyembuhkannya. Haruhiro menganggap bahwa insiden itu terjadi sebagian karena kesalahannya, sehingga hari ini dia berusaha bertindak sendiri agar tak seorang pun terluka.

Apakah dia yakin bisa melakukannya seorang diri? Mungkin, ada sebagian dari hati kecil Haruhiro yang memaksanya untuk menanggung semua ini.

Namun, ia adalah pemimpin. Sayangnya, dia adalah seorang Thief yang payah. Dia bukanlah orang yang bisa membuat timnya semakin kuat dengan memamerkan kekuatannya sendiri, dan dia juga tidak bisa mempengaruhi orang lain dengan karismanya, tapi ... sekali-sekali… dia ingin membuat rekan-rekannya berpikir: ‘Hey, hari ini Haruhiro lebih hebat daripada biasanya’

Bagaimanapun juga, kalau orang serendah Ranta mulai meremehkannya, maka itu akan menjadi masalah besar. Dan itu sangat membuatnya marah.

Tidak hanya terbatas pada Ranta, namun itu juga berlaku pada rekan-rekan lainnya. Dia ingin lebih dihormati, daripada direndahkan

Haruhiro menjawab sambil memalingkan mukanya, “Mungkin…. sedikit” dengan suara yang tenang.

“Aku selalu menghormatimu Haru, dan aku selalu bersyukur kau masih ada di sini sampai detik ini,” kata Mary dengan suara yang bahkan lebih tenang daripada Haruhiro. “Begitupun dengan teman-teman lainnya. Kau harus memahami itu.”

“Ya…. sepertinya… aku paham.”

“Yah, sukurlah kalau kau paham. Sekarang, biarkan aku menyembuhkanmu.”

“Baiklah ...” Haruhiro menutup matanya.

Sebenarnya, aku tidak ingin melihat Mary sedekat ini, pikirnya. Aku tidak ingin dikasihani olehnya. Sebenarnya aku senang dirawat seperti ini.. Tapi tetap saja itu menyakitkan… ah, mungkin juga tidak… yang jelas, aku benar-benar berterimakasih padanya.

Haruhiro telah terluka cukup parah, dan Mary pun menyembuhkannya. Sayangnya, dia sudah kehilangan belati kesayangannya yang masih tertancap pada leher si hewan yang telah melarikan diri entah kemana. Dan pedang pendek yang dia temukan di kubangan tidak bisa dia gunakan layaknya belati. Bukannya tidak bisa ditajamkan, hanya saja dia tidak punya batu asah. Jika memungkinkan, dia ingin menyuruh pandai besi yang bagus untuk memperbaikinya.

Mereka memutuskan untuk menamai kubangan yang terdapat banyak tulang-benulang ini dengan sebutan Rawa Mayat.

Rasa-rasanya, masih banyak koin hitam yang tersisa di dalam Rawa Mayat, tapi ada ancaman dari hewan buas berkaki empat yang bisa menyerang kapanpun. Jika mereka mau melanjutkan perburuan mendulang koin hitam, maka mereka harus ekstra hati-hati terhadap hewan tersebut. Jika mereka lengah sedikit saja, maka mereka akan berakhir sebagai mangsa empuk. Mereka harus mempertimbangkan ini baik-baik.

Apapun itu, mereka telah mendapatkan 1 koin hitam besar dan 3 koin kecil pada perburuan hari ini, lalu mereka pun memutuskan untuk kembali ke Desa Sumur. Bukan hanya karena suhu di Rawa Mayat semakin dingin, namun mereka juga sudah basah kuyup. Hawa dinginnya menusuk sampai ke dalam tulang. Mereka ingin menghangatkan diri dengan api unggun atau semacamnya. Mereka juga ingin makan dan minum.

Haruhiro dan Party-nya menyembunyikan wajah mereka, kemudian mereka mulai menyeberangi jembatan. Setelah mereka berada di Desa Sumur, mereka merasa sangat lega. Meskipun mereka merasa lega, suramnya keadaan desa dan keanehan para warganya yang tidak bisa berbahasa manusia membuat mereka cukup tertekan.

Terlalu banyak hambatan. Apakah mereka bisa bertahan hidup di desa dunia lain ini? Bisakah mereka tinggal di sini? Layakkah hidup di sini untuk sementara waktu? Jujur, mereka lebih suka pulang ke Altana. Mereka ingin pulang ke Grimgar. Apakah ada cara kembali? Jika tidak ada ...

Bagaimana kalau kita tidak akan pernah bisa pulang? Lalu bagaimana? Apa yang harus kami lakukan?

“Hey ...” Ranta menunjuk pada pandai besi. "Lihat. Ada ... seseorang di sana, ya?”

Pandai besi bertubuh raksasa dan bermata merah bagai darah itu masih saja menempa dengan palunya.

“Seseorang, ya, tapi ...” Kuzaku menggeleng. “... Yahh, kau boleh menyebutnya seseorang.”

Apakah ada pelanggan? Mungkin pelanggannya adalah salah seorang warga Desa Sumur, tapi Haruhiro tidak mengenalinya. Jika Haruhiro pernah melihatnya, dia pasti mengingatnya.

Dia tinggi. Pasti dua kali lebih tinggi daripada Haruhiro. Yahh, kira-kira dia seperti orang-orangan sawah. Atau lebih tepatnya, menyerupai orang-orangan sawah. Jika tidak bergerak dengan melangkahkan kakinya seperti manusia pada umumnya, dia sesekali berjongkok, yang dia sedang lakukan sekarang adalah mengamati produk-produk lain dari sang pandai besi. Andaikan dia tidak bergerak, orang lain pasti akan berpikir: ’Sedang apa orang-orangan sawah di sini?’

Tapi karena dia masih bergerak, maka dia bukanlah orang-orangan sawah. Lagian, dia memiliki sepasang lengan yang panjang dan ramping. Ada telapak tangan di ujung lengannya, namun jari-jemarinya terlihat seperti kawat. Dia mengenakan semacam tudung jas hujan untuk menutupi kepalanya. Dia juga mengenakan semacam topeng untuk menutupi wajahnya.

“Kau pikir dia pelanggan?” Tanya Yume dengan tenang.

“Pelanggan ...” ulang Shihoru gemetaran. “Hey, bukankah dia sedang menyeret sesuatu?”

“Mayat ...?” Mary menutupi mulut dengan tangannya.

Haruhiro menghela napas dalam-dalam. Mari kita tenang terlebih dahulu. Baiklah. Tenanglah, bung. Berpikirlah dengan jernih. Tidak masalah.

Yahh, seharusnya Dewa Sumur adalah zona aman, kan? Karena penjagaannya cukup ketat. Dia berpikir begitu. Meskipun mereka bertemu dengan makhluk yang tampak berbahaya di sini, jika mereka menanggapinya dengan santai sembari menyapa: ’Oh, halo bung,’ atau mengabaikannya, maka seharusnya mereka tidak akan mendapatkan masalah apapun ... atau mungkin tidak? Apakah Haruhiro punya bukti bahwa tempat ini benar-benar aman? Dia bisa saja salah kapanpun….

Mayat. Seperti yang Mary katakan, itu mungkin mayat. Tuan orang-orangan sawah (nama sementara) sedang menyeret mayat seseorang yang tampak seperti makhluk humanoid. Kalau diamati lebih dekat, bukankah yang dia kalungkan di pundaknya itu adalah bangkai binatang?

Tuan orang-orangan sawah tiba-tiba mengambil pedang besar dan menghadap si pandai besi sembari mengatakan, “U naa?”

Ah tidak, apakah dia benar-benar mengatakan “u naa”? Suaranya sungguh serak, jadi sulit untuk mendengarnya. Haruhiro tidak begitu yakin, namun seperti itulah yang didengarnya.

Pandai besi berhenti menempa, lantas dia mengangkat tiga jari di tangan kiri, kemudian melengkapinya menjadi delapan. Dia pun mengatakan. “Son zaa.”

Ya. pandai besi tidak memiliki lima jari pada setiap tangan, melainkan delapan.

“Ouun daa,” kata Tuan orang-orangan sawah, sambil menggelengkan kepalanya.

“Bowna dee,” pandai besi membalasnya lagi.

“Giha,” Tuan orang-orangan sawah mengembalikan pedang itu ke tempatnya.

“Zeh naa.”

Pandai besi tampak kecewa, kemudian dia melambaikan tangan kiri, dan kembali menempa dengan palunya. Tuan orang-orangan sawah telah mencoba untuk membeli pedang itu, tapi mereka tidak mencapai kata sepakat soal harganya. Tuan orang-orangan sawah meninggalkan pandai besi, sekarang menuju ke toko kelontong.

“U naa?” Kata Yume, sambil memiringkan kepalanya ke samping dengan bingung. Dia saat ini mengenakan topeng mirip kera. “Apakah itu berarti 'Harganya berapa' atau semacamnya?”

“Hey, jangan meniru apa yang akan kukatakan, dasar pentil cilik!” Teriak Ranta.

“Jangan menyebutnya kecil, Ranta bego!”

“Kalau memang begitu ...” Shihoru mengangguk sedikit, “... itu bisa memudahkan kita belanja ...”

“U naa.” Mary mengulanginya pada dirinya sendiri beberapa kali. “Kurasa, itu layak dicoba.”

“Kedengarannya bagus,” kata Kuzaku.

Haruhiro menyetujuinya tanpa banyak omong. Itu bagus, Mary. “U naa.”. Manis juga…. eh, ah, uh… maksduku… oh sial, aku harus berhenti membayangkan yang aneh-aneh tentang Mary. Kalau begini terus, aku tidak bisa fokus pada apapun.

Sepertinya, Tuan orang-orangan sawah telah membeli semangkuk sup kelabang. Dia menempelkan mulutnya ke mangkuk, kemudian meneguknya. Dengan penuh semangat, dia mengeringkan mangkuk berisi sup kelabang itu dalam sekali teguk.

“Apakah kita sudah kalah dari orang itu?” Haruhiro berkata dengan suara keras. “Apakah aku terlalu takut mencoba menu baru?”

Kesulitan Di Mana-mana[edit]

“U naa?” = “Berapa harganya?”

“Faa noo” = “Hallo” / “Zee naa” = “Sampai jumpa.”

A = 1

Muu = 2

Son = 3

Jo = 4

Do = 5

Kua = 6

Shi = 7

Zaa = 8

Zama = 9

Zamu = 10

Zan = 11

Zaji = 12

Yume dan Ranta telah mencoba berbicara berbagai macam kata pada pandai besi dan kepiting raksasa pemilik toko kelontong, dan akhirnya mereka meyakini makna kata-kata di atas.

Kata nominal sedikit rumit. Haruhiro dan yang lainnya sudah terbiasa menghitung sampai 10, mungkin karena, sebagai manusia, mereka hanya memiliki sepuluh jari. Sedangkan, penduduk Desa Sumur memiliki jumlah jari yang berbeda-beda pada satu telapak tangan. Makhluk berjari 8 biasa menghitung sampai 8, dan mereka yang memiliki 12 jari pun terbiasa menghitung sampai 12. Seperti itulah peraturannya. Jika mereka menunjuk suatu benda sambil mengatakan “U naa?” penjaga toko akan mengangkat beberapa jarinya untuk menunjukkan harga barang tersebut. Namun, jika mereka tidak tahu berapa banyak jumlah jari si pemilik toko, maka itu akan berujung pada kesalahpahaman.

Ada tiga ukuran koin hitam. Haruhiro dan Party-nya menyimpulkan bahwa ada 3 jenis ukuran koin hitam, yaitu besar, medium, dan kecil. Yang terkecil hanya beda tipis dengan ukuran lainnya. Si pemilik toko kelontong cukup berbaik hati dengan menunjukkan pada mereka seperti apa bentuk koin hitam besar. Sekilas saja, mereka tahu bahwa koin itu memang lebih besar daripada yang medium, lebih tebal, dan juga ada garis berwarna perak yang mengelilinginya.

Koin besar disebut Rou, koin medium disebut Ruma, dan koion kecil disebut Wen. Tampaknya Rou cukup berharga, sehingga hanya Ruma dan Wen yang umumnya digunakan dalam perdagangan. Jadi, 1 Ruma senilai berapa Wen? Ini juga merepotkan, karena tampaknya tidak ada harga pasti.

Nah, dalam kasus pandai besi dan toko kelontong, 8 Wen sama dengan 1 Ruma. Namun, di toko pakaian dan tas, 12 Wen sama dengan 1 Ruma, dan pada toko topeng, 5 Wen sama dengan 1 Ruma. Nilainya berbeda-beda tiap toko, atau lebih tepatnya tiap orang punya penafsiran yang berbeda terhadap nilai konversi kedua jenis koin tersebut.

Itulah yang terjadi, ketika pandai besi berkata, “Son zaa,” si pandai besi pertamanya mengangkat tiga jari, kemudian 8 jari, itu berarti tiga kali delapan, yaitu 24 Wen, atau setara dengan 3 Ruma.

Di toko pakaian dan tas, mereka mengatakan “Jo Zaji,” yang berarti empat diikuti dengan dua belas, maka 4 x 12 = 48, atau setara dengan 4 Ruma.

Sekarang mari kita simpulkan, toko pandai besi minta 3 Ruma, sedangkan toko pakaian dan tas minta 4 Ruma. Itu berarti selisihnya hanya 1 Ruma. Tapi tunggu dulu…. Bagaimana kalo kita bandingkan dalam Wen. Pandai besi minta 24 Wen, tokok pakaian dan tas minta 48 Wen. Itu adalah jumlah yang mengerikan. Bagaimana bisa perbedaan 1 Ruma saja bisa setara dengan dua kali lipatnya ketika dikonversi menjadi Wen. Tapi sepertinya, kondisi ini adalah suatu hal yang lumrah di Desa Sumur.

Koin yang Haruhiro dan Party-nya temukan di jasad dan kubangan air, adalah koin medium. Untungnya si kepiting tidak begitu pelit, ketika Haruhiro hanya membayar 1 Ruma, dia memperbolehkan anggota Party lainnya makan tanpa minta duit ekstra. Adapun untuk air sumur, ternyata harganya adalah 1 Ruma, namun setelah kau membayarnya, si penjaga tidak akan minta uang lagi sampai kapanpun. Sepertinya mereka pake sistem: bayar-sekali-pakai-seterusnya.

Ah, itu juga sangatlah tidak masuk akal. Umumnya, manusia menggunakan standart angka yang bisa dipakai di manapun. Namun, mereka menggunakan standar jari, yang mana itu berbeda-beda setiap spesies makhluk.

Mereka memberanikan diri untuk bertanya pada pandai besi, berapakah harga yang perlu mereka bayar untuk menajamkan pedang pendek yang tadi mereka temukan di kubangan air. Si pandai besi pun mematok harga 3 Wen. Ranta berusaha sebisa mungkin untuk menawarnya, tapi itu tidak berguna. Tanpa memiliki pilihan lain, akhirnya mereka mengabaikan Ranta yang kesal, dan terpaksa membayar 3 Wen pada si pandai besi.

Sampai hari ini, jumlah total harta Party Haruhiro adalah 1 Ruma. Itu hanya cukup untuk makan semua anggota Party selama sehari. Mereka bernegosiasi dengan om kepiting, dengan 1 Ruma, mereka meminta makanan sebanyak yang bisa mereka beli (kecuali sup kelabang). Kemudian mereka pun makan sampai kenyang.

Sementara itu, pandai besi selesai mengasah pedang pendek. Hasil kerjanya moncer juga, tapi malam telah datang dan pintu gerbang sekarang ditutup. Dengan ditutupnya gerbang, mereka tidak bisa keluar untuk mencari koin hitam lagi.

Sayangnya, mereka tidak bisa menemukan tempat nyaman untuk tidur, sehingga mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Desa Sumur. Kebetulan, Tuan orang-orangan sawah juga belum meninggalkan desa ini, dia berbaring di dekat Menara Pengawas A.

Selain bengkel pandai besi, toko pakaian dan tas, toko topeng, toko kelontong, dan toko umum yang semuaya berpusat di alun-alun, desa ini memiliki sembilan bangunan lainnya. Mereka bisa melihat bangunan terbesar yang terletak di sini lain alun-alun. Bangunan itu terbuat dari tumpukan batu, hebatnya bangunan itu memiliki jendela kaca, meskipun sedikit buram. Ada cahaya yang terpancar melalui jendela, sepertinya ada seseorang yang tinggal di dalamnya, tetapi mereka tidak berniat untuk bertamu.

Adapun bangunan lainnya terletak di sebelah kiri alun-alun, dan sebelah utara alun-alun, semuanya berjumlah empat bangunan. Di seberang bangunan itu, di sebelah selatan, ada juga empat bangunan lainnya. Semuanya berbentuk gubuk yang terbuat kayu atau lempung, yang dilengkapi dengan jerami sebagai atapnya. Kalau mereka punya materialnya, harusnya mereka bisa meniru model bangunan itu untuk setidaknya mendirikan gubuk yang layak huni.

Mereka melewati sejumlah warga. Beberapa di antaranya berwujud humanoid, namun sebagiannya tidak. Namun mereka semua menyembunyikan kepalanya. Party ini mencoba menyapa mereka dengan “Faa noo,” untuk melihat apa yang akan terjadi, tapi mereka hanya mengabaikannya.

Ada semacam dermaga yang dibuat di tepi sungai. Namun sudah termakan umur dan beberapa bagiannya juga sudah membusuk. Lagipula, sepertinya tidak ada kapal yang akan ditambatkan di situ.

Mungkin mereka bisa mandi dengan aman di sungai dekat desa ini. Desa Sumur. Haruhiro dan yang lainnya ingin membuat bak dari galian tanah seperti yang mereka lakukan sebelum diserang hewan buas, namun belum tentu orang-orang di sini mengijinkannya. Bagaimanapun juga, mereka hanyalah pendatang baru dan orang luar. Mereka tidak ingin melakukan suatu hal bodoh yang dapat menyebabkan masalah dengan warga asli desa ini. Kalau pun mereka benar-benar melakukan itu, setidaknya mereka harus memilih saat yang lebih tepat.

Mereka memutuskan untuk berkemah di tanah kosong yang tidak ada bangunan, agar tidak mengganggu aktivitas warga. Hawanya begitu dingin, tetapi jika mereka membungkus diri dengan jubah, mestinya mereka masih bisa tidur.

Gadis-gadis saling meringkuk berdekatan untuk menghangatkan tubuh mereka. Jujur saja, para pria iri melihatnya, tapi tidak mungkin mereka meniru cara gadis-gadis itu. Bagi pria sejati, lebih baik mereka menahan dingin daripada saling berpelukan seperti itu. Dengan tetap memegang teguh prinsip itu, mereka akhirnya bisa mendapatkan posisi nyaman untuk bersiap tidur.

Tak lama kemudian, Ranta mulai mendengkur keras. Gadis-gadis juga saling berbisik, entah apa yang sedang mereka bicarakan, nampaknya mereka belum tidur. Ketika Haruhiro melihat Kuzaku, dia sedang berguling ke kiri-kanan, sepertinya dia juga belum bisa tidur. Yah, tentu saja dia tidak bisa tidur, semuanya kesulitan tidur di tempat seperti ini. Tapi Ranta adalah pengecualian, dia memang hebat.

Haruhiro mendekati Kuzaku untuk mengajaknya ngoborl beberapa kali, namun entah kenapa percakapan mereka kerap terhenti di tengah jalan. Akhirnya gadis-gadis mulai tenang, dan Kuzaku berhenti berguling-guling.

Aku harus tidur, dan aku yakin akan segera tertidur, ayolah….mulai tidur.Haruhiro mencoba meyakinkan dirinya untuk tidur, tapi semakin dia meyakinkan diri, semakin sulit dia merasa ngantuk. Dia tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal yang tidak penting, dan dia selalu dihantui oleh betapa sulit kondisinya saat ini, semuanya serba tidak menentu, seakan-akan tidak ada harapan lagi di hari esok.

Ini gawat, pikirnya. Aku harus membuat pilihan. Namun, selalu ada hal-hal yang bisa kulakukan dan tidak bisa kulakukan. Instropeksi apa yang telah kami kerjakan hari ini. Catat hal apapun yang telah kupelajari. Kemudian, pikirlah apa yang bisa dilakukan besok. Sampai esok hari datang. Lebih baik lupakan segala sesuatu di luar itu. Maksudku, aku tidak akan bisa mengetahui apapun yang terjadi esok hari, tak peduli seberapa keras aku memprediksinya. Ah tidak juga…. sepertinya aku sudah bisa menebak beberapa hal yang pasti akan terjadi…..

Kita semua akan mati…..

Karena kematian adalah suatu kepastian bagi setiap makhluk hidup. Yap, pasti kami akan mati suatu saat nanti. Tidak peduli apapun yang terjadi. Kalau begitu…..

Apakah semua jeri payah ini sia-sia saja?

Toh, akhirnya juga akan mati. Aku dan semua teman-temanku akan mati. Aku penasaran bagaimana ya rasanya mati. Apakah sakit? Apakah menakutkan?

Manato. Mogzo. Bagaimana rasanya ketika kalian mati? Apakah kalian berpikir, “Tidak, aku tidak ingin mati,”atau sesuatu semacamnya? Apakah aku bisa mati dengan puas, dan tanpa penyesalan?Namun jika aku mati sekarang, aku pasti akan menyesal. Saat ini, aku masih belum ingin mati. Aku tidak ingin lagi melihat teman-temanku mati. Lebih baik jangan memikirkan hal seperti itu. Itu terlalu mengerikan. Apa yang telah kita lakukan kemarin dan hari ini? Apa yang akan kita lakukan besok? Kalau aku hanya terfokus pada hal-hal seperti itu, maka waktu akan terus berlalu, dan ...

“Boweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh!”

“Whuh ... ?!” Haruhiro langsung terbangun, kemudian dia melihat sekelilingnya.

Sepertinya yang lainnya juga sudah terbangun karena suara itu

Yume mengusap matanya. “Yume bisa jantungan nih,” katanya.

“Apakah itu suara ayam ...?” Shihoru memegang dadanya.

“Itu mengejutkanku ...” bisik Mary.

“Nngh ...!” Ranta hanya mendesah sambil meregangkan tubuhnya. “Yah, itu suara yang cukup keras untuk membangunkan orang tidur!”

“Ada apa?” gerutu Kuzaku.

Aku sih setuju aja sama kalian, pikir Haruhiro.

Setelah melihat sekitar, mereka menemukan sesuatu pada balok penyangga katrol di sumur minum. Di sana ada makhluk yang bentuknya mirip ayam berwarna kecoklatan…. Tapi, mungkin itu bukan ayam. Bagaimanapun juga, dia terlalu besar untuk seukuran ayam.

“Boweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh!”

Rupanya, suara pekikan mengerikan itu berasal dari makhluk tersebut. Betapa mengerikan cara ayam itu membangunkan orang tidur.

“Aw, seluruh tubuhku masih pegal-pegal ...” kata Kuzaki sembari meringkuk, rupanya dia kurang tidur.

“Yahh, hari ini ayo berusaha lagi sebaik mungkin.” Haruhiro mencoba untuk membangkitkan semangat rekan-rekannya, namun suaranya sendiri terdengar lemah.

“Tapi kita akan pergi bekerja tanpa sarapan!” kata Ranta sambil terkekeh-kekeh.

“Gak masalah sih,” kata Yume, sambil menggembungkan pipinya di balik topeng. “Anggap saja diet.”

“Oh, gitu? Kalau dietmu itu mengurangi lagi volume Oppai-mu, bagaimana?” tanya Ranta.

“Dada Yume tidak akan banyak berubah hanya karena diet!”

“Begitu ya… kalau begitu, biar aku periksa dulu dengan meremas-remasnya!”

“Kau ini blak-blak’an banget, ya…” Kuzaku tampak merinding. “Nafsumu, hasratmu ... jaga sedikit lah!”

“Apa pedulimu!?? Lantas kenapa kalau aku mengumbar nafsuku!!?? Aku kelaparan sekarang!” Ranta berteriak pada Kuzaku. “Kalau tidak ada makanan, maka biarlah aku meremas Oppai cewek untuk memuaskan nafsuku! Aku hanya ingin memeras sesuatu! Hidup ini sudah susah, tiap hari kita menghadapi bahaya, aku begitu lelah setiap pulang berburu, dan itulah yang membuat gairah sex-ku semakin meningkat! Ohhhhhhhhhhhhhhh! Aku ingin nge-seeeeeeeeeeexxxx!”

“Kau terlalu berbahaya, bung ...” Haruhiro semakin khawatir pada Ranta.

“Andaikan saja dia mati ...” kata Shihoru. Setidaknya dia setengah-serius mengatakan itu.

“Karena sudah pagi ...?” Tidak jelas apa yang akan Mary katakan. Sepertinya dia masih setengah tertidur.

“Ranta.” Yume merangkak mundur. “Kau sungguh mengerikan.”

Kali ini, Yume mengatakannya dengan begitu sinis, dan itu terlihat sangat mengerikan, sampai-sampai si kampret pun merasa tersakiti oleh perkataan itu.

Kemudian Ranta mengibaskan tangannya ke samping, seakan melepaskan sesuatu. “Ahhh, sudahlah… berhenti bercanda, ayo kita kerja.”

“Kau anggap itu candaan?” Shihoru masih belum puas mencercanya.

“Ya! Memangnya kenapa!? Ada masalah!?”

“Sudahlah Shihoru, segala ucapan si bego jangan diambil hati.” Haruhiro mendesah. “Yang jelas, bekerja tanpa sarapan terlebih dahulu memang sulit. Jadi, setidaknya hari ini kita harus mendapatkan 3 Ruma agar ini tidak terjadi lagi."

“Oke, Parupiro, kalau kau punya ide cemerlang agar kita tidak sengsara di pagi hari seperti ini, maka katakanlah! Aku ingin mendengarkannya sekarang juga!.”

Bukannya Haruhiro punya rencana cemerlang atau apa. “Seperti biasa, kita akan mencari barang-barang berharga di Rawa Mayat. Tapi tetaplah waspada pada serangan hewan buas dan makhluk lainnya.” Sudah, itu saja.

Ranta berteriak, “Membosankaaaaaaaaaannn!” dia pun menentangnya terang-terangan, namun anggota Party lain tidak mempermasalahkannya. Mereka meninggalkan Desa Sumur dan menuju Rawa Mayat.

Ngomong memang mudah, namun apakah mereka benar-benar bisa waspada ketika hewan buas bermata empat itu kembali menyerang? Mungkin, masih banyak hambatan lain yang belum mereka ketahui. Bisakah mereka menghadapi semuanya? Semuanya pasti cemas, namun sampai hari ini pun hanya inilah cara yang paling menjanjikan untuk mendapatkan uang. Mereka harus melakukannya.



Hari itu mereka menemukan 1 Ruma, 5 Wen, pedang berkarat, dan ujung tombak. Untungnya, hewan buas bermata empat itu tak lagi muncul.

Ketika mereka kembali ke Desa Sumur, mereka menjual pedang berkarat, ujung tombak, dan barang jarahan mereka kemaren pada si pandai besi, yaitu pedang pendek Yume dan pedang Kuzaku. Si pandai besi mengangkat empat jari. Tampaknya, dia menghargai 4 Wen untuk semua senjata bekas tersebut. Kemungkinan besar, dia menganggap senjata-senjata temuan itu hanya sebagai besi tua. Itulah sebabnya dia hanya mau membayar 4 Wen, atau 1 Wen untuk setiap barang.

Mereka sedikit berargumen untuk meningkatkan harganya, namun sepertinya si pandai besi tidak suka tawar-menawar. Sedangkan, jika Party Haruhiro tetap menyimpan senjata-senjata itu, hanya akan memperberat barang bawaan saja. Akhirnya mereka menyepakati harga yang sudah dipatok oleh si pandai besi, sehingga mereka mendapatkan tambahan 4 Wen. Secara keseluruhan, hari ini mereka memperoleh 1 Ruma dan 9 Wen. Hanya dengan 1 Ruma, tau mungkin 8 Wen, mereka sudah bisa makan sampai kenyang di warungnya om kepiting. Jadi, dengan harta sebanyak itu, mereka setidaknya bisa makan 2 kali, yaitu makan malam dan tentu saja sarapan. Dengan kata lain, mereka tidak perlu lagi merana di pagi hari ketika hendak pergi berburu.

Terasa lebih nyaman ketika kau memulai aktivitas dengan perut penuuh. Lapar hanya memperburuk keadaan.

Hari ini, kita harus mendapat lebih banyak daripada kemarin, pikir Haruhiro. Target kami adalah 3 Ruma.



Binatang buas bermata empat itu memang menakutkan, namun Haruhiro tidak lagi merasakan kehadirannya. Yume, Mary, dan Haruhiro menemukan 1 koin berukuran medium, 2 koin kecil, dan dua bilah pedang secara hampir bersamaan. Semuanya berjalan cukup lancar.

“Hm?” Ranta menarik suatu benda panjang dari dalam kubangan air. "Apa ini?"

“Myeeeek!” Yume langsung melompat mundur. “Benda itu menggeliat!”

“Ohh?! K-kau benar! Dia bergerak, ya ?!” Ranta langsung membuangnya. Namun, benda itu melilit tangan Ranta, dia tidak bisa melepaskannya. “A-A-A-Apa ?! A-a-a-a-apakah ini ular?!”

“Ah ...” Kuzaku menunduk. “A-A-ada juga di kakiku ...”

Ketika mereka menoleh pada Kuzaku, memang terlihat sesuatu yang melingkar di kakinya.

Seekor ular? Makhluk apa lagi ini? Apakah ini berbahaya? Beracun? Bagaimana bisa mereka mengetahuinya?

“J-Jangan bergerak, Kuzaku,” Haruhiro tergagap. “Ah tidak, mungkin kau malah harus bergerak ...?”

“Yang benar yang mana?”

“Gwahhhhhhhhhhhh!” Ranta berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari makhluk itu, tapi sepertinya percuma. “Apa-apa’an ini, apa-apa’an ini, apa-apa’an ini, apa-apa’an ini, apa-apa’an ini, apa-apa’an ini, apa-apa’an ini?! Menakutkan, menakutkan, menakutkaaaan!”

“Ah ...!” Shihoru membeku. “D-d-d-d-d-di bawah kita, ada banyaaaaak ...”

“Hah ...?” Mary kesusahan mengangkat tongkatnya, seolah-olah itu begitu berat. Kenapa begitu?

Karena tongkatnya juga dililit oleh makhluk panjang mirip ular itu.

“T-t-t-t-t-tenanglah.” Haruhiro mengambil napas dalam-dalam. “S-s-s-s-s-sepertinya mereka tidak bermaksud menyerang kita. Mungkin mereka mengincar sesuatu. Tapi…. mungkin juga tidak."

“Kehe ...” beberapa saat yang lalu Zodiac-kun berada di dekat Ranta, namun entah kenapa dia sekarang menjauh. “Mempercayai sesuatu tanpa bukti yang jelas ... adalah kebodohan ... Kehehe ...”

“Zodiac-kun mencoba lari dariku?! Itu sungguh pertanda yang buruk!” Ranta mencoba menarik makhluk seperti ular itu dengan tangan kirinya. Namun, sepertina tak kunjung lepas. “Nnnngh! T-t-t-t-tolong akuuu! Seseorang, tolong aku! Hoi, selamatkan aku, dasar idiot!”

“Tidaaaaaaaakkk!” Mary mengayun-ayunkan tongkatnya dengan liar. Bahkan setelah meronta-ronta, makhluk seperti ular itu tidak kunjung melepaskan lilitannya.

“Uwahhhhhhhhhhhh.” Kuzaku tersandung.

Apa? Bukan hanya kaki kirinya? Makhluk itu juga melilit kaki kanannya? Bahkan, ada dua-tiga-empat ekor lagi yang merayap pada kaki Kuzaku, mereka mencoba menjeratnya?

“O-Ohm, rel, ect, del, brem, darsh ...” Shihoru merapalkan mantra Armor Shadow untuk melindungi tubuhnya dengan elemental bayangan. Mungkin itu adalah hal paling masuk akal yang bisa dia lakukan saat ini. Namun, jujur saja, Haruhiro tidak begitu setuju dengan apa yang dilakukannya.

Grimgar V7 007.png

“H-Haru-kun ?!” Yume segera menoleh ke arah Haruhiro.

Tidak, jangan tanya apapun padaku dia ingin sekali mengatakan itu, namun dia tidak bisa. Bagaimanapun juga, Haruhiro adalah pemimpin.

Benar. Aku adalah pemimpin. Namun, tak peduli menjadi pemimpin atau tidak, aku tetap saja tidak bisa berbuat apapun, dan aku tidak tahu apapun. Tapi tentu saja, jika aku tidak melakukan apapaun, semuanya akan semakin memburuk, iya kan?

“A-Ayo cepat-cepat keluar dari air!” seru Haruhiro. “Sepertinya sulit sekali menangani mereka di sini!”

Yume dan Shihoru segera mentas. Ranta dan Mary mengikuti setelahnya. Ranta terus menggerakkan lengannya untuk mengenyahkan makhluk-makhluk itu, sedangkan Mary tak berhenti mengayunkan tongkatnya. Haruhiro menarik lengan Kuzaku sembari dia berlari.

Sementara mereka sibuk melepaskan diri, Ranta berteriak. Sepertinya dia digigit oleh sesuatu, entah bagian mananya yang digigit.

“K-Kau baik-baik saja, Ranta ?!” teriak Haruhiro.

"Dasar bego! Apa aku terlihat baik-baik saja!?? Matilah! Sialan, ini sakit sekali!”

Meskipun menjerit seperti itu, dia masih mampu berlari, sepertinya dia masih sehat-sehat saja, pikir Haruhiro

Untungnya, setelah mereka keluar dari Rawa Mayat, makhluk-makhluk seperti ular itu tak lagi mengejar. Namun, mereka hanya bisa menghela nafas sebentar, karena Ranta itba-tiba mulai roboh dan kejang-kejang.

“Gweh ... guhguhguhguhguhguhguhguhguh, oughhhhhhhh, gurbbbbbbbb ...”

“Ranta?!” Yume melepaskan helm Ranta “Yikes?!”

Meskipun kau hanya melihatnya sekilas, kau sudah yakin kalau dia berada dalam kondisi yang sangat buruk. Mulut Ranta mulai berbusa. Racun. Makhluk mirip ular itu pastilah beracun.

Mary langsung mengaktifkan Purify untuk menghilangkan racun, tapi Ranta masih terbaring lemas di sana.

“Urgh ... Aku tidak percaya ini. Aku hampir terbunuh di sana. Sialan ...”

“Ehehe ... Kenapa kau tidak ... merelakan saja nyawamu pada Skullhell ... Ehe ... Ehehe ...”

“Oh ayolah, Zodiac-kun, kalau di saat-saat seperti ini kau masih saja mem-bully Ranta, maka Yume tidak akan ragu untuk melumatkanmu!” terjadi pemandangan langka dimana Yume membela Ranta.

Sebenarnya, Haruhiro tidak yakin kapan atau bagaimana itu terjadi, tapi Yume membiarkan Ranta merebahkan kepala di pangkuannya. Sampai-sampai, dia tak mempercayai apa yang sedang dilihatnya, karena kejadian ini sungguh luar biasa.

“Tunggu ... Apakah racunnya sudah hilang? Sepertinya aku akan segera mati ... Maaf, Yume ... biarkan aku beristirahat seperti ini sedikit lebih lama lagi ...” keluh Ranta.

"Hah? Yahh, Yume gak keberatan sih.”

“Satu jam lagi deh ...”

“Lama amat?”

“Baiklah, kalau begitu, setengah jam saja ...”

"Nyaaaaa…"

“Geh heh ... Kau terjebak ... Ranta telah menipumu ... Geh heh heh ...”

"Hah? Benarkah?"

“T-t-tidak!” Teriak Ranta. “Apa yang kau bicarakan, Zodiac-kun? A-aku benar-benar sekarat! Aku merasa mual, kepala pusing, perut sakit, oke? Aku tidak mengada-ngada!”

“Kau bohong! Lihat, sekarang kau cukup bertenaga!” jerit Yume.

Tentu saja, Yume langsung mengenyahkan Ranta secara paksa dari pangkuannya.

Sekarang mereka menghadapi masalah yang lebih serius. Satu-satunya tempat untuk mendulang koin hitam, yaitu Rawa Mayat, tidak lagi aman. Ancaman tidak hanya datang dari hewan buas bermata empat, namun juga ular rawa beracun. Sudah hampir pasti, mereka tidak dapat lagi mengandalkan tempat itu untuk mencari uang.

"Lalu? Sekarang apa yang harus kau lakukan, Parupiro?”

Ketika Ranta bertanya kepadanya dengan nada sewot, Haruhiro hampir emosi.

Apa maksudmu dengan, “Sekarang apa yang harus kau lakukan?” kau membebankan semua ini padaku? Paling tidak tanyalah, “Apa yang kita lakukan?” Tentu saja kita harus bersama-sama mendiskusikannya terlebih dahulu!

Haruhiro berusaha sebisa mungkin mengenyahkan perkataan Ranta dari kepalanya, dan itu membuatnya tenang perlahan-lahan. Tak ada gunanya marah pada si kampret-dungu-mesum seperti Ranta, orang seperti dia tidak akan berubah sampai kapanpun. Jika Haruhiro membentaknya, yang dia dapatkan hanyalah capek. Buang-buang tenaga saja meladeni orang seperti Ranta.

“Mungkin kita bisa mencoba pergi ke hutan ...” Haruhiro mulai berdiskusi.

Ketika ia mengusulkan ide itu, anehnya tak seorang pun dari anggota Party-nya menyuarakan protes.

Gak papa nih? dia bertanya-tanya. Atau…. Apakah mereka tidak begitu mempedulikan keputusanku? Haruhiro mulai berprasangka buruk, tapi mungkin karena dia sudah lelah. Sebenarnya, kadang-kadang Haruhiro juga merasakan hal yang sama. Ini bukanlah komunikasi yang baik antar tim. Ketika semua anggota tim langsung menyetujui keputusan pemimpinnya tanpa banyak protes, maka itu akan menimbulkan masalah suatu saat nanti. Seakan-akan, keputusan pemimpin adalah mutlak, padahal Haruhiro mengharapkan diskusi dua arah, dimana mereka saling mengoreksi satu sama lain. Kalau begini terus, justru Haruhiro lah yang harus menanggung beban lebih banyak. Karena dia tidak bisa membuat keputusan yang salah. Haruhiro bukanlah seorang pemimpin yang begitu percaya diri atas kebijakan yang dia buat, dia selalu membutuhkan masukan dari anggota lainnya.

Untuk saat ini, mereka memutuskan untuk pergi ke hutan di dekat jembatan Desa Sumur. Namun, ternyata tidaklah semudah itu. Di sana banyak pohon keputihan yang tumbuh begitu lebat. Sampai-sampai, mereka kesulitan menemukan celah di antara pohon-pohon itu untuk dapat dilewati. Apakah mereka harus menebangnya untuk membuat jalan setapak?

Kuzaku mengatakan sesuatu yang cukup menjanjikan. “Kalau hutannya selebat ini, sepertinya tidak ada hewan raksasa di dalamnya.”

Namun, Shihoru segera memupuskan harapan itu. “Tapi, mungkin saja banyak ular besar di dalam sana ...”

“Shihoru…..” Haruhiro mulai berkata, lalu menggeleng.

"Hah? Ada apa?"

“T-Tidak… mungkin kau benar... sepertinya ada banyak ular di dalam sana ... ular-uar yang berbisa ...”

“B-Bagaimana kalau kita kembali saja?” Ranta mulai takut.

Itu ada benarnya, pikir Haruhiro. Haruhiro sudah kapok berurusan dengan ular-ular itu. Dia tidak mau digigit seperti Ranta.

“Hati-hati,” Mary memperingatkan mereka. “Aku hanya bisa mengaktifkan Purify sebanyak aku menggunakan Heal."

Yume mengatakan, “Hei, hei,” sambil menunjuk ke arah barat. “Lihat itu…. jaaaaaaaauuuuuuuuuuuuuuhhh di sana…. Bukankah ada sesuatu yang bersinar?”

“Bersinar ...” Haruhiro menyipitkan matanya dan melihat ke arah itu. “Hei, kau benar juga."

Apa itu, dia tidak tahu pasti, tapi di antara pepohonan itu benar-benar ada sesuatu yang bersinar. Atau setidaknya tampak seperti itu.

“Mau mengecek ke sana?” Tanya Kuzaku dengan berbisik. “Kita harus menyusuri jalan ke sana sebelum malam datang, kan?”

“Tapi, sulit untuk memprediksi seberapa jauh tempat itu ...” tak seperti biasanya, kali ini Ranta sedikit penakut.

Kebetulan, Zodiac-kun tidak mengikuti mereka masuk ke hutan. Sepertinya iblis itu kesulitan terbang melewati pohon-pohon dan dahan yang tebal, jadi dia menolak untuk ikut. Jika tidak bersama Zodiac-kun, Ranta hanyalah ampas, atau bahkan lebih hina daripada ampas.

Shihoru menyarankan sesuatu dengan ragu-ragu, “Haruskah kita kembali?”

Haruhiro memandang Kuzaku, Yume, dan Mary. Namun, tak satu pun dari mereka angkat bicara, mereka sama sekali tidak menggunakan haknya untuk berpendapat.

“Ya ...” kata Ranta, rupanya hanya dia yang menyatakan kesetujuannya dengan pendapat Shihoru.

Ini tidak baik. Suasana seperti ini sungguh gawat. Dia ingin mengubahnya, tapi bagaimana caranya? Haruhiro tidak tahu.

Untuk saat ini, setidaknya, ia ingin waktu untuk berpikir ... atau mungkin tidak? Tetapi meskipun dia berpikir keras, akankah dia menemukan jawabannya? Dia ingin waktu lebih lama ... Ah tidak, bukan itu yang dia mau, sebenarnya dia hanya ingin melarikan diri dari kenyataan ini, bukankah begitu? Sepertinya bukan hanya Haruhiro yang berpikiran begitu, melainkan semua anggota Party.

Ya, ini gawat, pikir Haruhiro. Ini tidak akan berhasil. Tidak akan…. Namun….

“Untuk saat ini, bagaimana kalau kita kembali saja?” usul Haruhiro.

Dia langsung mengutarakan maksudnya pada teman-temannya. Sebagai pemimpin, ia harus tegas. Ada saatnya dia harus berkata tegas pada rekan-rekannya, atau bahkan memberikan mereka dorongan. Dia tahu benar bahwa itu adalah tugas seorang peminpin, namun dia tidak pernah sanggup melakukannya. Dia sungguh menyedihkan. Dia adalah pemimpin yang loyo.

Dengan keadaan seperti ini, apakah kita bisa terus bertahan…..?

Apa Itu Hidup?[edit]

Bisa lanjut atau tidak, mereka tak punya pilihan selain mencoba.

Selain 1 Wen yang sudah mereka miliki, hanya ada 1 Ruma dan 2 Wen yang telah mereka dapatkan dari Rawa Mayat, ditambah lagi 2 Wen hasil menjual ”besi-besi rongsokan” pada si pandai besi, jadi totalnya 1 Ruma dan 5 Wen. Setidaknya mereka membutuhkan 2 Ruma untuk dapat makan 2 x sehari, tapi mereka sudah nego dengan om kepiting si pemilik warung untuk memberikan makanan apapun yang layak dengan uang hanya segitu. Jadi, yaaa, uangnya cukup lah sampai besok. Si pemilik toko kelontong itu memang baik, tapi apakah dia benar-benar “om” kepiting, atau mungkin “tante” kepiting? Haruhiro tak pernah tahu, mungkin saja dia benar-benar orang baik, mereka hanya bisa berharap demikian.

Haruhiro tidak bisa menentukan waktu di dunia ini, yang bisa dia lakukan hanyalah mengamati kobaran cahaya mirip api di punggung bukit, kalau cahaya itu semakin redup, maka malam pun akan segera tiba. Selain itu, dia hanya bisa mengandalkan perut dan intuisinya. Perut adalah jam alami yang cukup akurat, ketika kau lapar, berarti sudah waktunya pagi hari, siang hari, atau malam hari, namun sayang sekali uangnya hanya cukup untuk makan 2x. Lantas, bagaimana cara orang-orang dari Dewa Sumur menentukan waktu? Mereka mungkin saja memberitahunya jika Haruhiro bertanya, namun pertanyaan seperti itu tidak bisa kau sampaikan hanya menggunakan gestur tubuh dan gerakan tangan, bahkan kosakata yang Haruhiro kuasai sangatlah terbatas.

Meskipun mereka sudah makan, rasanya seperti masih ada jeda waktu sebelum malam tiba. Jika mereka hanya duduk-duduk di tanah dalam keheningan, lama-kelamaan mereka akan jenuh. Shihoru masih saja tenang tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan ia ingin melakukan sesuatu untuknya, tapi ia tidak tahu harus bagaimana.

“Bingoooo!” Yume tiba-tiba mengeluarkan teriakan aneh dan melompat. “Dengar, Yume punya ide. Bagaimana kalau menyalakan api unggun?”

Itulah rencana Yume. Seakan-akan hutan itu mencegah mereka memasukinya, dan masuk ke sana memanglah tidak mudah, tapi mereka setidaknya bisa menemukan kayu kering di sana. Mereka akan mengumpulkannya, dan membuat api unggun tepat di luar Desa Sumur. Itu akan menghangatkan mereka. Ketika malam mulai datang, mereka bisa bergegas kembali ke desa. Kalau pun tidak boleh masuk ke desa, mereka masih bisa tidur di dekat api unggun, karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari desa, maka seharusnya aman-aman saja.

Mereka telah menyepakati ide itu, Ayo kita lakukan.

Mereka meninggalkan desa, kemudian mengumpulkan ranting-ranting pohon kering di tepi hutan. Yume memilih ranting-ranting yang benar-benar kering, dan menyendirikan ranting-ranting yang basah.

Mereka mengambil tempat di dekat jembatan kayu. Mereka menumpuk ranting-ranting besar di dasar, kemudian menumpuk yang lebih kecil di atasnya. Ranting yang lebih besar akan terbakar sampai menjadi arang di dasar api unggun.

Yume cukup pandai membuat api unggun. Memang itulah yang diharapkan dari seorang Hunter. Setelah Yume menyalakan api, dia terus menjaganya sampai nyala api menjadi stabil. Dia melemparkan ranting-ranting pohon lainnya, dan meniupnya untuk memperbesar nyala api. Mereka pun menempatkan ranting basah di dekat api unggung, karena lama-kelamaan akan mengering, sehingga mereka bisa menggunakannya untuk memperbesar nyala api.

“Hangatnya ...” Ranta duduk sembari menempelkan lutut pada dadanya, kemudian dia dekatkan tangannya pada api unggun. “Serius, ini hangat banget ... Ini sungguh menenangkan ... Inilah api terbaik ... dalam sejarah umat manusia ... Oh, inilah yang disebut kemudahan peradaban ...”

“Um, Ranta.” Kuzaku sedang duduk bersila. "Barusan kau menangis ya?"

"Tidak. Ini bukan air mata, ini ingus ...”

“Ingus kok keluar dari mata ...” Shihoru sedang duduk terlalu dekat dengan api. "Menjijikkan…"

"Diamlah! Ketika seorang pria sedang menikmati suasana, jangan pernah mengganggunya, itu hanya akan merusak saat-saat berharga ini, dasar bego!"

Mary berjongkok, mendekatkan telapak tangannya pada api, dan menutup matanya. Bibirnya sedikit melonggar, tampaknya dia juga menikmati kenyamanan api unggun ini.

“Kalau saja kita bisa menangkap ikan ...” Yume duduk di antara Shihoru dan Mary dengan mekangkang. Sembari menatap api unggun itu, dia pun melanjutkan omongannya, “Kita bisa memasaknya, dan memakannya.”

“Memancing, ya ...” Haruhiro juga duduk di depan api seperti yang lainnya. “Kau pikir ada ikan di Sungai Hangat? Maksudku, apakah ikan bisa hidup di sana ...”

“Yah, kalau pun ada… pastilah ikan yang aneh,” kata Ranta sambil mendengus. “Seperti, ikan pemakan manusia contohnya. Bukankah begitu?”

“Kalau kita menyalakan api unggun di pinggiran sungai,” Mary mulai berkata, “Mungkin itu akan membuat musuh menjauhi kita, jadi kita bisa mandi dengan tenang, kan?”

“Jangan…. Nanti bisa kelihatan.” Entah kenapa Kuzaku mengatakan itu sambil menunduk. "Jadi tidak nyaman, kan?”

“Oh.” Mary juga ikutan menundukkan kepalanya. "…Betul juga."

“Aku sih tidak keberatan.” Ranta mengembangkan lubang hidungnya. “Meskipun kelihatan. Aku sih gak masalah terlihat telanjang. Lagian, kenapa sih kalian mengkhawatirkan itu? Kelihatan atau tidak… tidak ada masalah. Kalau kau mau mandi, maka bersiap-siaplah menanggung resiko dan konsekuensinya. Bahkan, kalaupun aku harus memamerkan tubuhku pada kalian, aku sih gak peduli. Jadi, kalian semua boleh melihatku. Itu cukup adil. Tidak ada masalah. Kalau begitu… kalian semua setuju denganku, kan…. Ayo kita lakukan.”

“Kenapa tidak kau lakukan saja sendiri?” Kata Shihoru dengan nada dingin.

Tapi aku juga ingin mandi, pikir Haruhiro. Seperti yang Kuzaku katakan, api unggun akan menerangi semuanya, itu tidak baik, tapi apakah tidak ada cara untuk mengatasinya? Mungkin kita harus mempertimbangkan untuk menggali lubang sebagai bak mandi di dekat sungai Desa Sumur. Maksudku, warga desa pasti tidak keberatan kalau kita menggunakan pinggir sungai. Mereka mungkin hanya mengabaikannya saja. Mereka bahkan mungkin tidak peduli. Sepertinya aku akan coba bertanya pada om kepiting di toko kelontong, , atau mungkin si pandai besi, atau si penjaga sumur juga tidak masalah. Kurasa aku akan kesulitan menjelaskan pada mereka apa itu mandi…..

Haruhiro masih saja mengantuk, dan dia tidak berusaha mengusir rasa kantuk tersebut. Dia berbaring di tanah, kemudian tidur. Bagaimana jika binatang buas menyerang mereka? Dia akan mengurusnya nanti. Itu adalah cara berpikir yang berbahaya, tapi ia lelah, dan tiduran di dekat api unggun cukup hangat dan nyaman.

Kumohon… hari ini saja….hari ini saja jangan….

“... ro-kun ... ruhiro-kun ... Hey ... Haruhiro-kun ...”

Seseorang mengguncang tubuhnya untuk membangunkannya.

Shihoru. Itu Shihoru.

"Hah…? Ada apa? ”Haruhiro langsung duduk, kemudian dia memandang ke arah punggung bukit di kejauhan. "Hah? Apakah sudah malam?”

“Lihat.” Shihoru menunjuk ke arah jembatan.

“... Um, oh.” tidak jelas apakah Haruhiro terkejut atau masih ngantuk. “Apaaaaa…..?!”

Di sana. Ada sesuatu di sana. Ada sesuatu di depan jembatan.

Kuda? Apakah itu seekor kuda? Bukankah makhluk itu terlalu berbulu dan terlalu besar untuk seukuran kuda? Makhluk seperti kuda itu sedang menarik sebuah kereta. Apakah itu benar-benar kereta? Ketera kuda. Itu terlalu besar. Apa sih yang dimuat di dalamnya? Ada sesuatu yang menutupinya, jadi dia tak akan tahu apa yang ada di dalamnya.

Ada makhluk humanoid yang sedang berjongkok di samping kereta. Makhluk itu, mengingatkanku pada seseorang, pikir Haruhiro. Tubuh bagian atasnya begitu berotot dan menakutkan, tetapi kakinya sangat pendek.

Oh iya, si pandai besi. Dia memiliki postur tubuh yang sama persis seperti pandai besi. Mungkin mereka berasal dari ras yang sama?

Orang ini memakai kerudung pendek di atas matanya, dan menghisap benda seperti pipa yang mengepulkan asap. Dia sedang merokok tembakau, rupanya.

Semuanya masih tertidur, kecuali Haruhiro dan Shihoru. Api unggun pun telah padam. Ada semacam lentera yang tergantung dari kereta itu, jadi sedikit terang di sana.

“... Sejak kapan dia berada di sana?” Haruhiro bertanya pada Shihoru dengan berbisik.

“Um ... er ...” Shihoru sedikit menyandarkan tubuhnya pada Haruhiro. Dia pasti ketakutan. "Aku terbangun karena suara kereta itu yang mendekat ... Sepertinya dia barusan keluar dari hutan ...”

“Keluar dari hutan? Kereta sebesar itu mampu melewati hutan yang lebat?”

“Nan jauh di sana ...” Shihoru menunjuk ke arah barat laut dengan dagunya. “Sepertinya ada jalan. Dan kereta itu datang dari sana ...”

“Hmm ... Sebuah jalan, ya. ….Begitukah? Sejak kapan dia melewati jalan itu?”

“Aku tidak tahu ... Awlanya, aku kira aku sedang mimpi ...”

“Ohhh. ... Ya, itu masuk akal. Aku mengerti. Tidak mungkin kereta sebesar itu muncul begitu saja.”

“Lantas, kereta itu berhenti di sana. Orang itu pun ... keluar. Kemudian, tak lama berselang, aku membangunkanmu.”

“Menurutmu, siapakah dia?”

Akhirnya, ayam raksasa Desa Sumur menjerit, Boweeeeeeeeeeeeeeeeh, dan yang lainnya pun terbangun. Mereka semua meributkan tentang kehadiran kereta itu, namun itu membuat si pemilik kereta melihat ke arah mereka. Mereka langsung menutup mulut dengan tubuh menegang.

“M-m-m-mau berantem nih, bung?” Kata Ranta dengan suara sangat kecil.

Mungkin orang itu mendengarnya. Ketika pemilik kereta berdiri, Ranta langsung melakukan Kowotw.

Kalau dia benar-benar datang ke sini untuk berkelahi, maka akan kutumbalkan Ranta, pikir Haruhiro. Ya, ayo lakukan itu.

Sayangnya itu tak perlu terjadi. Ketika pengintai dari Menara Pengawas C membuka gerbang, pemilik kereta itu langsung kembali ke dalam kereta. Kuda berbulu menggelengkan kepalanya, kemudian mulai menarik kereta untuk bergerak maju.

Mungkinkah dia bisa menyeberangi jembatan itu? Dengan ukuran kereta sebesar itu, hampir saja dia tidak bisa melewatinya. Bukan hanya masalah ukuran, beratnya pun sepertinya tidak bisa ditahan oleh jembatan kayu, dan setiap kali roda kereta menggelinding, papan kayu jembatan mengeluarkan suara deritan yang mengerikan. Jembatannya baik-baik saja, kan ...?

Ketika kereta berhasil menyeberang jembatan dengan aman, itu membuat Haruhiro ingin memberikan tepuk tangan yang meriah. Tapi dia tak ingin cari gara-gara lagi.

Haruhiro dan yang lainnya menyembunyikan wajah mereka, kemudian mengikuti kereta itu masuk ke Desa Sumur. Kereta berhenti di depan bengkel pandai besi. Seperti yang sudah diduga, mereka berdua tampaknya adalah kerabat, dan mereka ngobrol dengan akrab.

“Kedua om itu bersaudara, kan?” Ranta mulai panik sendiri, dia pun mulai merepotkan Haruhiro dan yang lainnya dengan ocehannya. “A-aku tadi hanya keceplosan! A-Aku tidak bermaksud kurang ajar! Asal kalian tahu, aku sungguh menghormati mereka! Aku serius!”

“Bodo amat ...” Haruhiro mendesah. “Tapi, mereka benar-benar terlihat seperti saudara, atau setidaknya kerabat, ya. Apakah kalian pikir kereta itu berisikan benda-benda yang dibutuhkan si pandai besi?”

“Mereka mulai membongkar isi kereta itu,” kata Kuzaku.

Si pandai besi juga membantunya membongkar muatan kereta. Mereka melepas penutupnya. Si pemilik kereta bergerak menuju ke bagian belakang kereta, kemudian memberikan semacam kotak pada si pandai besi. Lantas si pandai besi membawanya masuk ke bengkel, kemudian meletakkannya begitu saja di lantai.

“Hei, teman-teman.” Ranta mengangkat jempolnya dan menunjuk ke toko pandai besi. “Bagaimana kalau kita membantu mereka? Mungkin lain kali kita bisa dapat diskon, lho?”

“Ikhlas sedikit napa ...” sepertinya Yume mulai jengkel, tapi kali ini omongannya Ranta ada benarnya juga.

“Oke.” Haruhiro mengangguk. “Ayo kita bantu mereka. Hanya ada tiga pria dalam kelompok kita. Kalau kita tidak berhati-hati, mungkin mereka akan marah kemudian menghajar kita sampai mati. Kalau begitu… Yume, Shihoru, dan Mary, kalian tinggalah di sini.”

Ketakutan Haruhiro hampir saja menjadi kenyataan. Si pandai besi mengangkat palu, rupanya dia mencoba menakuti-nakuti dan mengusir mereka, tapi ketika Ranta melakukan Kowtow dan mencoba sebisa mungkin menjelaskan, pandai besi itu tampaknya mengerti. Meskipun pandai besi memandang mereka dengan ragu-ragu, akhirnya ia membiarkan mereka membantu membongkar barang bawaan kerabatnya itu.

Isi kotak itu adalah arang. Sewaktu masih di Altana, Haruhiro pernah mendengar bahwa seorang pandai besi memerlukan kokas atau arang untuk bekerja. Sepengetahuannya, kokas harus diproses dengan batubara, sedangkan arang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan suhu tinggi. Arang juga bisa digunakan untuk memurnikan air.

Tampaknya si pemilik kereta tidak hanya mengangkutnya ke sini, tetapi ia juga memproduksi arang tersebut. Ada sejumlah kapak yang tampak keras dalam kereta itu, dan Haruhiro berpikiran positif bahwa kapak-kapak itu hanya digunakan untuk memotong pohon, jadi si pemilik kereta juga berprofesi sebagai penebang kayu, dan juga pembuat arang tentunya.

Ketika pembongkaran selesai, pemilik kereta (mulai sekarang sebut saja si pembuat arang) itu mulai membantu si pandai besi. Pembuat arang tampaknya benar-benar menikmati pekerjaannya itu, tapi si pandai besi terus saja memprotes apapun yang dia lakukan. Kalau dilihat kedekatannya sih, sepertinya dia adalah adik si pandai besi? Mungkin si adik bercita-cita menjadi seorang pandai besi seperti kakaknya, namun dia tidak begitu berbakat, maka dia pun beralih profesi menjadi pembuat arang untuk membantu kakaknya itu. Yahh, ini hanya imajinasi Haruhiro, jadi itu belum tentu benar.

Sebagai upah karena telah membantu, si pandai besi bersedia untuk melihat senjata Party Haruhiro, kemudian membetulkannya. Dia bekerja bersama-sama adiknya untuk membetulkannya. Dan Haruhiro sangat berterimakasih untuk itu.

Kemudian pandai besi menarik sebilah pedang. Itu adalah pedang besar indah yang bersinar kebiruan, ada ukiran rumit pada bilah pedangnya, dan detail pegangannya juga sangat bagus. Si pandai besi meminta Kuzaku untuk memegangnya.

Ketika dia memegangnya ...

“Oh ...!” Kuzaku berteriak kaget.

Benar-benar ringan. Dia pasang kuda-kuda, mengayunkannya sekali, dan Kuzaku terlihat begitu gembira, sampai-sampai tubuhnya gemetaran.

“Ini gila. Ini benar-benar gila. Aku gak percaya. Aku bukanlah ahli pedang, tapi aku yakin benar bahwa ini barang bagus. Ini adalah pedang yang luar biasa ...”

Pandai besi mengambil kembali pedang itu dari Kuzaku, menunjukkan koin besar pada mereka, lantas mengangkat lima jari, diikuti oleh delapan jari. Empat puluh koin besar ... dengan kata lain, pandai besi ingin memberitahu mereka bahwa pedang itu harganya 40 Rou. Haruhiro tidak bisa membayangkan berapa banyak itu, tapi kalau dianalogikan dengan standar mata uang Grimgar, mungkin sekitar 40 koin emas? Koin besar benar-benar berharga, jadi mungkin lebih dari itu. Yang jelas itu cukup mahal untuk membuat mata seorang pembeli melotot keheranan. Mungkin itu adalah produk paling berharga dari si pandai besi, atau semacamnya.

Kemudian, ketika Haruhiro dan yang lainnya sedang makan makanan seadanya di toko kelontong, si pembuat arang mulai pergi bersama keretanya. Mereka pergi dengan cukup pelan seperti orang yang sedan berjalan. Haruhiro dan yang lainnya mencoba mengikutinya. Mereka bersiap-siap lari kalau si pembuat arang itu marah ketika diikuti, namun sepertinya dia tidak keberatan.

Ketika kereta melintasi jembatan, ia pergi ke utara beberapa saat, kemudian berbelok ke barat. Shihoru memang benar. Di sana ada sebuah jalan. Ada jalan melalui hutan. Pohon-pohon telah dibersihkan dari jalan itu, dan ada bekas jejak kereta di tanah. Roda kereta pun cocok dengan jejak itu.

Kereta masih melaju dengan pelan. Jalannya sih sedikit berkelok-kelok, namun secara keseluruhan cukup lurus.

Mereka mendengar burung, atau hewan lainnya. Sepanjang jalan, Yume menyadari bahwa ada suara-suara aneh terdengar dari kereta tersebut. Ada benda mirip lonceng tergantung pada kursi kusir, dimana si homanoid pembuat arang duduk. Lonceng itu berdentang dengan suara pelan. Apakah ada maksudnya? Seperti… untuk menghalau binatang?

Mereka akhirnya sampai pada suatu area terbuka. Ada sebuah gubuk kecil yang mirip seperti pondok-pondok yang biasa terlihat di pegunungan. Di sampingnya, ada tempat pembakaran beratap dan gudang arang. Bangunan itu terlihat cukup kokoh. Ada sejumlah besar kayu yang menumpuk di sana. Sepertinya dia memproduksi arang di tempat itu.

Si pembuat arang memarkir keretanya, kemudian dia pergi ke gubuk.

Haruhiro dan yang lainnya berjalan-jalan di sekitar lokasi tersebut, kemudian mereka mencoba masuk ke hutan. Di daerah ini banyak pohon-pohon yang telah ditebang, sehingga cukup mudah untuk dilewati.

Selain jalan ke Desa Sumur, ada juga jalan lain yang menuju ke beberapa arah. Di sana juga terlihat jejak roda kereta si pembuat arang yang tertanam dalam di tanah. Mengarah kemanakah jalan-jalan ini?

Apakah terdapat banyak desa di ujung sana, selain Desa Sumur?

Ketika mereka kembali ke tempat pembakaran arang, si humanoid sedang duduk di depan gubuknya sambil merokok. Sepertinya dia sedang santai-santai. Dia bahkan tidak melihat Haruhiro dan yang lainnya.

Kuda berbulu telah dilepaskan, dan dia sedang makan rumput sekarang. Kalau kuda sebesar itu menendang mereka, pasti akan langsung mati. Disabet oleh ekornya saja pasti bisa mengalami luka serius. Mungkin lebih baik mereka tidak sembarangan mendekati hewan itu.

“Rasanya seperti, dunia kita sedikit melebar ... iya, kan?” Kata Shihoru.

“Ya.” Kuzaku mengangguk setuju.

“Bukan berarti kita bisa mendapat uang di sini.” Ranta berjongkok, mencabut beberapa lembar rumput, dan memelintirnya dengan jari-jarinya. “Oh, ya, aku lupa memanggil Zodiac-kun. Oh, baiklahhh…"

“Selalu ada yang lebih baik daripada uang, bukan?” Yume menundukkan kepalanya. “... Tapi, Yume lapar.”

“Ingin kembali?” Mary menyarankan dengan ragu-ragu.

Haruhiro tetap saja mensyukurinya. Mereka tiba-tiba bisa menjelajah hutan sampai sejauh ini, tetapi hampir tidak memperoleh apapun. Sebenarnya dia tidak ingin mengakui bahwa Party-nya hampir tidak mendapatkan apapun setelah datang ke sini, tetapi itulah kenyataannya. Dia tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Tapi apa lagi yang bisa mereka lakukan?

“Ayo kita kembali!” Haruhiro mencoba untuk menyemangati timnya dengan berseru kencang, tapi teman-temannya justru menganggapnya aneh, jadi dia menambahkan “... atau tidak?” dan mencoba untuk menarik kata-katanya barusan.

Betapa memalukan ... pikirnya.

Ya, dia benar-benar memalukan. Dia selalu mencoba untuk menjadi keren, tapi belakangan ini dia merasa begitu menyedihkan. Manato adalah sosok yang bisa memimpin timnya dengan lebih baik dan lebih cerdas. Tokimune adalah sosok yang sanggup memimpin timnya dengan begitu santai.

Bagaimana dengan Haruhiro? Dia hanya bisa melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri. Lantas, apakah yang dimaksud dengan ‘caranya sendiri’? Yang seperti apa? Apa yang harus dia lakukan? Sekarang mereka sudah terjebak dalam situasi konyol seperti ini. Kecacatannya sebagai seorang pemimpin semakin terlihat jelas tiap harinya. Ia begitu payah. Jujur saja, Haruhiro sendiri pun tertekan, dan dia tidak tahu harus berbuat apa.

Dia ingin memiliki seseorang yang bisa diandalkan. Dia lebih cocok menjadi seorang pengikut daripada pemimpin. Tapi dia tidak bisa mengabaikan begitu saja tugas yang diembannya saat ini. Dia tahu betul akan hal itu, namun jujur saja, dia ingin mengabaikan semuanya. Dia ingin membuang semuanya, kemudian melarikan diri ke tempat yang jauh.



Haruhiro dan Party-nya menyusuri jalan kembali ke Desa Sumur.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa yang harus dia perhatikan, dan apa yang harus dia lakukan? Haruhiro perlu memikirkan semua itu. Sebenarnya dia sudah berpikir, tapi ... pikirannya hanya dipenuhi oleh ketidakpuasan, kekecewaan, kebencian, kegelisahan, ketakutan, dan tentu saja… keputus asaan.

Mungkin ia harus jujur dan mengatakan itu semua pada timnya? Bagaimana jika dia berkata, Aku ingin bicara jujur… begini… aku ngerti benar bahwa akulah pemimpin kalian, tapi sepertinya aku tidak pantas memimpin kalian, maaf ya… dan meminta maaf seperti itu? Jika ia melakukannya, ia mungkin akan merasa lebih baik.

Atau lebih tepatnya, Haruhiro sendiri lah yang akan merasa lebih baik. Lantas, apa yang akan dipikirkan oleh teman-temannya? Ranta pasti akan membentaknya.

Tapi siapa yang peduli dengan Ranta.

Akankah para gadis bersimpati padanya? Dia memang perlu dikasihani. Dia ingin mereka sedikit memanjakannya. Dia ingin dibebaskan dari ketegangan ini, dan tekanan ini.

Jalannya cukup lebar, jadi mereka bisa melewatinya tanpa harus berbaris satu-satu, tapi hampir tidak ada cahaya di sini, sehingga Yume menyalakan lenteranya. Haruhiro menoleh dan melihat wajah Yume, kemudian ia melihat Shihoru yang sedang berjalan di sampingnya. Ketika melihat si gadis penyihir, tanpa sengaja matanya tertuju pada salah satu bagian tubuh Shihoru. Tapi dia langsung memalingkan pandangannya.

Oh sial. Dia baru saja memikirkan hal yang tidak-tidak. Atau lebih tepatnya, itu adalah nafsunya. Haruhiro mulai merasa malu sekarang. Dia bahkan merasa jijik dengan dirinya sendiri.

Dia merasakan nafsu yang tiba-tiba datang, dan entah kenapa dia memilih Shihoru untuk ’mencuci matanya’. Mungkin karena Oppai-nya Shihoru terlalu mencolok, sehingga menyebabkan gairah seksnya meningkat tiba-tiba? Tidak, ini bukan masalah Oppai. Nafsu Haruhiro lah yang harus disalahkan. Terlebih lagi, sekarang dia mulai merasakan sesuatu yang tegang dari dalam celananya.

Oh, tidak, oh, tidak, oh, tidak, oh, tidak, oh, tidak, oh, tidak ...

Haruhiro hanyalah pria normal, tentu saja dia punya gairah seks. Namun, ia merasa nafsunya tidaklah sekuat itu, dan dia lebih suka mengendalikan nafsu itu. Dia yakin sudah menahannya dengan baik. Aku adalah seorang pria normal yang sehat jasmani, jadi apa boleh buat…. itulah pembenaran yang dia pikirkan.

Aku adalah seorang pria normal yang sehat jasmani, jadi apa boleh buat ...

Dia tidak pernah ingin memikirkan itu, namun kali ini hanya itulah yang bisa membenarkan kesalahannya barusan. Bukan berarti aku membenarkan tindakanku, oke? Apa yang salah denganmu, Haruhiro? Kau mulai gila, Haruhiro. Kau lelah, Haruhiro. Jangan bilang kau berubah menjadi binatang yang gila-seks? Di saat seperti ini memikirkan seks? Hentikaaaaaaaaaaan ...

Dia ingin sekali meremas-remas kepalanya dan berteriak sekencang mungkin, namun dia berusaha keras menahannya ...

“….Nyaa?” Yume membuat suara aneh. “Mungkin saja… mungkin saja ada sesuatu di luar sana?”

"Sesuatu? Apa maksudmu?” Ranta mulai menelan ludah. "Apa itu?"

“B-b-berhenti.” Haruhiro cepat-cepat mengangkat tangannya sebagai kode agar semuanya menghentikan langkah, tapi teman-temannya sudah berhenti bahkan sebelum dia melakukan itu.

“Yume, di mana?”

“Mungkin di arah itu?” Yume menunjuk sebelah kanan-belakang. “Ada suara. Mungkin ada sesuatu di sana?”

Kuzaku menghela napas dalam-dalam, menghunus pedangnya, dan menyiapkan perisainya. “Haruskah aku berbalik?"

“Um-eh” Haruhiro menggelengkan kepala untuk membersihkan kembali semua pikiran negatif. “Yah ... Mari kita lihat. Kuzaku, pergilah ke arah yang ditunjuk Yume. Ranta, kau akan ... berada di sebelah kiri Kuzaku. Aku akan berada di sebelah kanannya. Mary, lindungi Shihoru. Yume, dan jaga bagian belakang kalian.”

Dalam waktu singkat, teman-temannya langsung membentuk formasi. Dialah yang satu-satunya agak terlambat. Haruhiro merasa begitu. Keputusannya dan tindakannya… semuanya sangatlah lambat.

Sudah gak tegang lagi, kan? Dia masih frustasi dengan sesuatu yang menegang di dalam celananya. Apakah aku bodoh? Ini bukan waktunya memikirkan hal seperti itu, kan?

Untuk saat ini, ia menahan napas dan tetap diam. Tidak ada yang terjadi. Dia juga tidak mendengar apapun.

“Jangan-jangan, cuma halusinasimu saja?” tanya Ranta dengan tenang.

“Mungkin juuuuugaa?” Yume tidak menyangkal kemungkinan itu.

“Untuk saat ini, kita akan tetap waspada..” Haruhiro memandang apapun di sekelilingnya. Tidak ada apa-apa di sini, pikirnya. “Baiklah…. Ayo kembali ke Desa Sumur ...”

Ada serangkaian suara yang terdengar seperti “koohh”, dan sesuatu yang tampak berkedip di sana-sini. Mereka mendekat.

Makhluk apa itu? Tidak begitu besar sih. Jumlahnya lebih dari satu atau dua. Mereka berlima, atau mungkin berenam? Atau lebih banyak?

Kohh. Kohh. Kohh.

Apakah itu suara gonggongan? Atau lolongan?

“Mereka datang!” Haruhiro berteriak untuk mengatakan sesuatu yang semuanya sudah ketahui.

Segera, Kuzaku menggunakan Bash dan mementalkan mereka dengan perisainya.

“Monyet?!” Ranta mengayunkan Pedang Petir Lumba-lumba. Tapi tak satupun sabetannya kena sasaran.

Monyet. Mereka benar-benar mirip monyet. Tubuh mereka tertutupi oleh bulu berwarna hitam atau coklat, dan mereka punya ekor. Mereka menghentak tanah dengan kaki depan dan belakang untuk melompat, tetapi mereka tidak berjalan seperti binatang berkaki empat pada umumnya. Mereka meraih batang-batang pohon dengan kaki depan, dan juga menyibak cabang-cabang pohon dengan kaki depannya. Tapi wajah mereka kurang begitu menyerupai monyet, malahan lebih mirip seperti anjing. Mungkin mereka bisa disebut Inuzaru. [3]

Haruhiro menghantam Inuzaru dengan Sap di tangan kanannya, kemudian mencoba untuk menendang satu lagi, tapi dia berhasil menghindar. Meskipun ia berhasil menghantam yang pertama, sebenarnya itu hanyalah pukulan lemah. Inuzaru itu melompat lagi ke arahnya. Dia menunduk, kemudian ia keluarkan pedang pendeknya, tapi lagi-lagi lawannya berhasil menghindar.

“Pengacau-pengacau kecil ini cepat juga! Exhaust!” Ranta meluncur maju, kemudian menebaskan Pedang Petir Lumba-lumba dengan bentuk angka 8. “Slice!”

Inuzaru yang teriris skill Ranta meneriakkan Kohhhh ... dan roboh.

Ranta mengangkat Pedang Petir Lumba-lumba tinggi-tinggi. "Bagaimana?! Aku keren, kan!”

Ya, ya, ya, ya, aku tahu, aku tahu, sekarang berhenti membuang-buang waktu dan terus bertarung, oke? itulah yang ingin Haruhiro katakan, tapi sebelum dia bisa, Inuzaru lainnya melolong kohh, kohh, kohh, dan mulai mundur.

“Kau pikir kau bisa lari, ya ?!” Ranta berniat mengejar mereka, tapi segera berhenti. “Yah, anggap saja mereka takut padaku, bagaimanapun juga akulah sang Dark Knight terkuat, Ranta! Ngomong-ngomong, yang kumaksud terkuat adalah kegelapanku, bukannya kekuatan fisikku. Ah biar kuralat, kekuatan fisikku juga kuat, sih! Gahahahaha!”

“... A-Apakah semuanya baik-baik saja?” Haruhiro melihat setiap rekan-rekannya. “Tidak ada yang terluka, kan?”

“Yap.” Kuzaku menurunkan pedangnya.

“Nyaa.” Seperti biasa, jawaban Yume sulit dimengerti, tapi sepertinya dia baik-baik saja.

“Mereka mengejutkanku ...” Shihoru mendesah dalam-dalam.

“Apakah ada lagi yang datang?” Mary masih siaga dengan tongkatnya.

Untuk saat ini, tampaknya tidak ada yang terluka.

Ranta berjalan menuju mayat salah seekor Inuzaru. Tidak, dia belum mati. Dia memang tersayat, tapi tubuhnya masih gemetaran. Nampaknya dia sekarat, dan hendak menghembuskan napas terakhirnya. Tanpa ragu sedikit pun, Ranta menginjak bagian belakang leher Inuzaru dan menghancurkannya, sehingga hewan itu pun mati seketika.

Pikir Haruhiro, Hei, gak papa tuh? Tapi daripada melihatnya tersiksa seperti itu, memang lebih baik dibunuh sekalian.

Ranta berjongkok, mengamati mayat Inuzaru itu, kemudian dia menoleh pada Haruhiro. "Jadi, apakah menurut kalian hewan ini bisa dimakan?”

Tadi Ranta bilang bahwa dirinya memiliki kegelapan terkuat, yahh sepertinya itu bukan tanpa alasan. Sebenarnya dia hanya ngaku-ngaku saja, namun pikiran pria ini memang penuh kegelapan.

Tentu saja, teman-temannya tidak memberikan tanggapan positif. Membunuh makhluk hidup, kemudian memakannya. Mungkin itu terlihat mengerikan, namun apapun bisa terjadi di alam liar. Akan tetapi, kalau pun mereka membunuh Goblin, mereka pasti tidak akan mempertimbangkan untuk memakannya. Inuzaru adalah hewan berbentuk monyet, yang mana tidak umum dikonsumsi, jadi itu terasa tabu. Namun, mereka juga lapar, dan mereka tidak punya uang yang bisa digunakan untuk membeli makanan.

“Mungkin kau bisa membedahnya?” Haruhiro bertanya, dengan niatan tertentu di dalam hatinya.

“Unngh ...” Yume tampak sangat tidak setuju dengan ide itu. “Bukannya tidak mungkin sih, tapi Yume tidak begitu ingin melakukan itu ...”

“Mengulitinya, kemudian mengambil organ-organnya, ya kan?” Ranta merangkul bahu Yume dengan tingkah sok akrab. “Memang agak berat, ya. Yume, aku tahu kau bisa melakukannya! Lakukan!”

“Lepaskan tanganmu, bego!” Yume menampik tangan Ranta. “Apapun alasannya, Yume tidak mau melakukannya!"

“Aku tidak nafsu memakannya ...” Shihoru berkata dengan ragu-ragu, kemudian dia meringkuk.

“Ya ...” Mary menutupi mulut dengan tangannya.

“Jika kau memintaku untuk memakannya, ya bisa saja kumakan ...” kata Kuzaku dengan ragu-ragu.

Kuzaku, kau memang pria baik.

Ya, itu benar. Bagaimanapun juga, itu bukanlah daging manusia. Itu hanya hewan berwujud seperti monyet. Meskipun terlihat tidak layak makan, tapi mereka kelaparan. Jika mereka punya kesempatan untuk memakan sesuatu, ya makanlah.

“Yume, aku akan membantu.” Haruhiro menatap langsung pada mata Yume. "Setidaknya, bisakah kau mencobanya untukku? Kalau kau memang benar-benar tidak sanggup, beritahu aku cara melakukannya, biar aku saja.”

Pada akhirnya, Yume tidak menolak.

Haruhiro mengangkut mayat Inuzaru itu, kemudian dia menyiapkan api unggun di samping jembatan Desa Sumur. Ketika api sudah siap, mereka memulai pekerjaan membedah hewan itu. Setelah Yume menyanggupinya, dia pun membedahnya dengan begitu tangkas. Haruhiro hanya bisa mengangkat, membalik, dan menahan mayat hewan itu, ketika Yume mulai bekerja. Yume melakukan semua pekerjaan yang penting. Yume mempersembahkan sebagian mayatnya pada Dewa Putih Eldritch, kemudian dia mulai memasak dagingnya. Dia tusuk potongan-potongan daging itu dengan sangat rapih seperti sate, kemudian dia memanggangnya pada api unggun.

Ketika sudah matang, mereka semua pun memakannya.

Setelah mengunyah dan menelannya, Ranta menggerakkan kepalanya ke kiri-kanan.

“Yahh, rasanya cukup normal. Lumayanlah. Mungkin akan lebih enak jika ditambahkan sedikit garam…"

“Murrgh ...” Yume mengerutkan kening. “Yume rasa tidak begitu enak ...”

Proyek Masa Depan[edit]

Menjijikkan atau tidak, setidaknya bisa dimakan.

Yume telah mempelajari skill berburu Pit Trap. Ada skill perangkap lainnya seperti Foothold Trap dan Snare Trap, tapi Yume tidak paham keduanya. Selain itu, Foothold Trap memerlukan peralatan khusus. Meski begitu, Master-nya pernah sekali menunjukkan skill Snare Trap padanya, dan dia mengira bisa mempelajarinya sendiri, kemudian dia pun memutuskan untuk mencobanya. Kalau dia menaruh sejumlah perangkap sepanjang jalan menuju tempat pembakaran arang, mungkin mereka bisa menjebak beberapa ekor Inuzaru.

Ular rawa beracun itu memang menakutkan. Binatang buas bermata empat juga perlu diwaspadai. Tapi, untuk saat ini, Rawa Mayat adalah satu-satunya tempat bagi mereka untuk mendulang pendapatan.

Jika ada ular, mereka akan segera berpindah ke tempat lain, dan jika mereka mendengar langkah kaki hewan buas bermata empat, mereka akan segera lari. Setelah menyepakati keputusan itu, Haruhiro dan yang lainnya memutuskan untuk terus mencari koin hitam di Rawa Mayat.

Haruhiro tidak boleh lagi berputus asa dan bermuram diri, meskipun berkali-kali dia menghadapi situasi yang membuatnya frustasi. Dia selalu membenci dirinya sendiri yang tidak mampu berbuat apapun.

Tidak ada gunanya. Selalu saja seperti itu, jadi dia sudah cukup terbiasa. Sebenarnya Haruhiro sudah menemukan cara untuk memulihkan kefrustasiannya. Jika dia menyerah dan mengikhlaskan segalanya, maka dia bisa menerima kenyataan.

Haruhiro selalu teringat bahwa dia tidak punya bakat sebagai pemimpin. Dia pun tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi pemimpin. Tapi dia harus menjadi pemimpin, dan dia tidak punya pilihan selain menerima posisi itu, maka jadilah dia pemimpin karena keadaan menuntutnya. Karena itulah dia selalu berada di bawah tekanan, dan stressnya terus meningkat.

Haruhiro bukanlah orang suci, dia hanyalah pria normal yang bisa kau temukan di mana saja. Itulah kenapa terkadang dia bertingkah aneh pada rekan-rekannya, bahkan nafsu.

Bukannya dia tidak berusaha memperbaiki dirinya sendiri. Dia selalu ingin menjadi pemimpin yang lebih baik untuk rekan-rekannya, bahkan dirinya sendiri. Kalau saja dia bisa. Tapi tidaklah semudah itu. Memang ada kemajuan, namun masih tidak stabil. Ini seperti 1 langkah maju, 2 langkah mundur, selangkah lagi maju, selangkah lagi mundur. “Tidak masalah”, itulah kata yang sering Haruhiro ucapkan pada dirinya sendiri untuk terus melangkah maju.



Suatu hari, ketika mereka pergi ke Rawa Mayat, ada beberapa binatang bermata empat yang mengintai, dan mereka tidak punya pilihan selain kembali.

Pada hari lainnya, mereka berganti-ganti tempat beberapa kali, tapi yang mereka dapati hanyalah gangguan dari ular-ular berbisa. Akhirnya, Kuzaku dan Yume terkena gigitan, mereka pun mengalami saat-saat sulit.

Bahkan saat Inuzaru terjebak dalam perangkap, sering kali mereka mampu melepaskan diri dan kabur. Namun, Yume semakin jago dalam membuat jebakan, karena beberapa ekor berhasil tertangkap. Mereka juga mencari cara lain untuk memasaknya. Kalau mereka mengeluarkan darahnya, kemudian membumbuinya dengan garam dan rempah-rempah yang kuat, maka rasanya juga cukup enak.

Toko kelontong om kepiting menjual garam, tapi sekantong kecil garam harganya sudah 1 Ruma. Itu cukup mahal, jadi mereka menggunakannya dengan irit.

Di Desa Sumur, sering datang para pengunjung dari berbagai tempat, meskipun itu tidak terjadi setiap hari. Mereka berasal dari berbagai ras, tapi semuanya menutupi wajahnya, jadi mereka memahami peraturan untuk memasuki desa ini. Mungkin itu bukanlah peraturan yang hanya diterapkan di Desa Sumur, melainkan peraturan yang dianut oleh dunia ini.

Umumnya para pengunjung itu datang untuk berdagang. Ada yang menjual, ada yang membeli, bahkan beberapa orang melakukan keduanya. Bahan-bahan yang tersedia di toko kelontong berasal dari berbagai orang di Desa Sumur, atau dibawa oleh pemburu seperti Tuan orang-orangan sawah.

Penduduk yang tinggal di dalam bangunan batu masih belum menunjukkan dirinya. Kurang-lebih, Haruhiro dan Party-nya sudah mengenali hampir semua penduduk di desa ini, kecuali si penghuni bangunan batu.

Ada makhluk humanoid yang bekerja sebagai pengintai di kelima menara, ada juga si penjaga sumur yang bekerja bergantian, sejauh yang Haruhiro tahu, mereka semua total berjumlah 9. Mereka rupanya diizinkan untuk makan di toko kelontong tanpa membayar.

Selain sembilan orang tersebut, pandai besi dan orang-orang lainnya diwajibkan membayar ketika ingin makan. Penduduk Desa Sumur hanya makan sekali atau dua kali sehari.

Yahh, karena permasalahan finansial, Haruhiro dan Party-nya melakukan hal yang sama.

Mereka masih belum bisa berbicara lancar dengan penduduk desa lainnya. Itulah sebabnya mereka kesulitan mendapatkan izin untuk melakukan berbagai hal. Memang diperlukan keberanian untuk mencoba berkomunikasi dengan mereka, tapi setidaknya mereka sudah diperbolehkan mandi di tepi sungai Desa Sumur. Mereka pernah mencoba membuat api unggun di dekat sungai, namun tiba-tiba si penjaga sumur datang, kemudian memadamkan apinya begitu saja tanpa banyak omong, jadi sepertinya menyalakan api unggun di dekat sungai adalah suatu tindakan yang melanggar peraturan.

Tanpa adanya api unggun, mereka tidak bisa tidur dengan nyaman, dan kedinginan. Jadi, lebih baik mereka tidur di dekat jembatan seperti yang mereka lakukan tempo hari, nampaknya di tempat itu boleh menyalakan api unggun.

Jadi, pada saat mereka menghabiskan malam kesembilan belas di dunia ini, harta mereka sudah mencapai lebih dari 4 Ruma, dan mereka mulai terbiasa hidup di dunia ini.

4 Ruma hanya bisa dipakai untuk 4 x makan, artinya mereka bisa makan selama 2 hari penuh. Itu tidaklah banyak, tapi mereka bisa mendapatkan kenyamanan dengan menabung sedikit demi sedikit. Untuk saat ini, Haruhiro lah yang memegang semua koin hitam itu, dan mereka pun saling berbagi peralatan. Namun, ketika mereka bisa menabung lebih banyak, setiap orang boleh memegang uangnya masing-masing.

Sehingga mereka bisa beli ini-itu, dan sedikit impian mereka pun bisa terpenuhi.

"Tapi, bung," kata Ranta sambil berguling-guling di tanah, "kita tidak bisa begini terus selamanya. Maksudku, aku bosan mengobok-obok kubangan lumpur. "

"Apa peduli kami ...?" Shihoru sedang berkerumun bersama Mary dan Yume di depan api unggun.

Mereka bertiga sudah mandi sebelum gerbang Desa Sumur tertutup, jadi…. mungkin itulah sebabnya mereka tampak berseri-seri, dan Haruhiro tidak tahan melihat mereka secara langsung. Lucunya, saat dia menatap para gadis terlalu lama, akan terasa sesuatu yang tegang di dalam celananya. Tapi, Haruhiro cukup ahli dalam urusan menahan diri, mungkin karena Ranta sudah sering ‘melatihnya’.

Ya. Mungkin tidak? Mungkin tidak…

Bagaimana cara Ranta dan Kuzaku menangani nafsunya? Apakah Kuzaku sesekali ambil kesempatan untuk melakukan itu bersama Mary? Padahal, kalau itu benar-benar terjadi, Haruhiro pasti sudah mengetahuinya. Yah, mungkin juga tidak. Apakah mereka sanggup menahan diri? Sebenarnya mereka tak perlu menahan diri. Sesekali mengumbar nafsumu tidak apa-apa, kan. Karena itu memang penting sebagai seorang pria yang sehat jasmani.

Dia ingin sekali menepuk pundak Kuzaku, kemudian mengatakan, “sudaaah…. Lakukan saja… sesekali gak papa kan…”, tapi dia tahu itu tidaklah benar. Dan Haruhiro tidak pernah membicarakan hal memalukan seperti itu pada temannya.

Sambil berbaring telentang, Kuzaku beberapa kali menyedot ingusnya. Rupanya dia sedikit flu. "... Sepertinya kinerja kita sedang menurun. Yahh, mungkin hanya perasaanku saja sih. Kita belum membersihkan Rawa Mayat, tapi sepertinya kita harus masuk ke daerah yang dipenuhi ular berbisa… atau tempat yang biasa dihuni oleh si hewan bermata empat ... "

"Bagaimana kalau kita menjelajah lebih jauh lagi nanti?" Yume menempelkan pipinya pada dada Shihoru, sembari memeluk Mary.

Sial, Haruhiro iri banget ... Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak.

"Ada jalan melewati tempat pembakaran arang." Mary tampak sedikit lelah. Dia tampak mengantuk.

"Aku juga penasaran dengan jalan itu." Haruhiro menatap api. Dia pun berdoa di depan api unggun, Oh api, jangan biarkan nafsuku mengambil alih kewarasanku. Lantas dia melanjutkan, "Apakah ada desa lain di seberang sana, atau semacamnya? Atau mungkin kota yang lebih besar? Meskipun ada, aku tidak yakin kita bisa bertahan di sana."

"Apapun itu, kita perlu mencobanya terlebih dahulu," Ranta menyatakan itu sambil mendecakkan lidahnya. "Selain itu, kita bisa menyeberangi Rawa Mayat dan menuju ke selatan. Ada juga pilihan menuju ke hilir Sungai Hangat. Aku yakin ada sesuatu di sana, entah apa itui."

Haruhiro terus menatap api, tanpa menoleh sedikit pun. "Tapi kita tak punya modal untuk melanjutkan perjalanan ini.”

"Apa kau tolol, Parupiro?" Ranta mencemoohnya. "Ini adalah dunia baru, sialan. Tentu saja kita tak punya modal di sini."

"Ya… aku tahu itu… tapi sepertinya kau tidak berpikir panjang."

"Kau boleh menyebutku nekat atau apalah, terserah!" seru Ranta. "Yah, kau tahu sendiri lah. Kita memang harus merencanakan segala sesuatu. Tapi ada hal yang jauh lebih penting, kan? Bahkan sangat penting."

"Aku tidak ingin mendengarnya." Shihoru menyumbat telinganya. "Tidak ada yang bagus dari omonganmu."

Haruhiro menoleh ke arah Shihoru, namun dia segera menyesalinya. Yume membenamkan wajahnya pada dada Shihoru, sementara Mary masih bersandar pada Yume, dengan mata setengah tertutup. Hei, bagikan sedikit kehangatan itu padaku., lantas Haruhiro segera tersadar. Lagi-lagi dia berpikir mesum tanpa sadar, dan dia ingin sekali menghukum dirinya sendiri atas kelalaiannya itu.

"Aku hanya tidak mau hidup di sini selamanya!!" Ranta membalasnya dengan nada serius, kali ini dia terlihat berbeda dari biasanya. "Mungkin kedengarannya konyol… tapi itu bisa saja terjadi, kan!?"

"Hei, sudahlah ..." Haruhiro berusaha mencari jawaban. "Sebenarnya apa sih maumu? Kok tiba-tiba serius begitu."

"Memang begitulah faktanya…." jawab Ranta. "Aku tidak salah, bukan?"

"Kita masih punya…….."

"…..masih punya harapan? Kau mau bilang kita masih punya harapan, kan!!? Oh, ayolah, Parupirorin. Omonganmu itu terlalu optimis. Kayak jagoan saja!! Hadapilah kenyataannya! Bisa jadi kita tak pernah kembali ke rumah…. Bisa jadi kita tinggal di sini selamanya, sampai mati!!"

Mary menghela napas dalam-dalam, menahannya, lalu dengan lembut mengembuskan udara. Dengan tatapan mata hampa, dia terus melihat kobaran api unggun.

Shihoru mulai membuka mulutnya, tapi tidak ada kata yang keluar.

Yume hanya mengeluarkan erangan aneh.

"Kau bilang, kita mungkin tidak pernah bisa kembali ke rumah." Kuzaku duduk tegak. "Tapi di manakah rumah kita? Grimgar?”

"Hah?" Ranta memiringkan alis dan melotot pada Kuzaku. "Apa maksudmu, Kuzacky?”

"Yahh, aku baru sadar…… tampaknya, kita semua bukanlah berasal dari Grimgar."

"Kalau itu aku juga sudah tahu… tapi kita tak punya ingatan apa yang terjadi sebelumnya," kata Ranta.

"Yah begitulah…"

"Jangan bicara yang tidak-tidak," balas Ranta. "Lagi pula, masalah yang kubicarakan sekarang tidak ada hubungannya dengan itu. Pakai otakmu sedikit. Bego banget sih ... "

"Gak perlu berkata sekasar itu."

"Hah?! Mau berantem, bung?! Maju sini!”

"Hentikan." Mary berusaha melerai mereka.

Biasanya Haruhiro lah yang bertugas melerai mereka, tapi kali ini dia hanya bengong.

"Kami sedang mencari cara untuk kembali ke dunia asli kami" bisikan Shima kembali terngiang di kepalanya.

Kembali, pikir Haruhiro. Kembali ke dunia asli kami. Apa artinya itu?

Haruhiro menyentuh Receiver yang tergantung di lehernya dengan pakaiannya. Setelah semua yang terjadi, tidak aneh kalau Soma menghubungi mereka. Diam-diam, Haruhiro berharap Receiver-nya kembali berbunyi. Tapi Receiver itu sama sekali tidak menunjukkan tanda getaran apapun. Apakah benda itu tidak bisa menerima panggilan dari dunia lain?

Haruhiro menggeleng. Tidak ada gunanya berharap pada sesuatu yang tak pasti. Dia dan rekan-rekannya berada di dunia ini. Sedangkan Soma berada entah dimana. Mereka berada di dunia lain, bukan Grimgar, ataupun Dusk Realm.

Mungkin saja mereka akan menghabiskan sisa umur mereka di dunia ini. Kemungkinan itu memang ada, dan sesekali terlintas di pikirannya.

"Ranta," kata Haruhiro, "Tak perlu kau katakan lagi, aku sudah tahu kok. Memang…. Sangat mungkin itu terjadi. Aku tahu betul akan hal itu. Tapi, memangnya kenapa? Meskipun kita sudah bersiap diri untuk menerima kenyataan pahit itu, tapi itu tak akan merubah keadaan. Tujuan kita pun tidak akan berubah. Hanya itu yang bisa kita lakukan."

"Bodoh. Seberapa bodohnya sih kau itu? Tidak mungkin sama saja." Ranta bangkit, kemudian dia menghantamkan tinju kanannya pada telapak tangan kiri. "Kalau memang kita harus hidup di sini selamanya… maka ada tujuan lain yang harus kita penuhi, yaitu berkembang biak… paham gak? Dengan kata lain, membuat anak…. Mem-bu-at-a-nak!”

"Apppaaaaaaaaa ..." Shihoru memeluk Yume dengan erat.

"K-k-k-k-kau……" Haruhiro kehabisan kata-kata.

Mary menggelengkan kepalanya seolah mengatakan, Luar biasa.

Yume tampak tercengang.

"Masalahnya adalah…. Tak peduli di dunia manapun….," gumam Kuzaku, "…..Ranta tetaplah Ranta"

"Kalau begitu, kita sudah sepakat ya!" Ranta melompat berdiri, kemudian memandangi semua teman di sekelilingnya. "Ayo kita putuskan pasangannya! Kebetulan sekali, kelompok kita terdiri dari 3 gadis dan 3 lelaki! Dengan tiga pasangan ini, kalau kalian bisa beranak masing-masing 10 orang, maka populasi manusia di dunia ini akan berkembang menjadi 36 orang! Gimana?! Kalau aku sih…. Ah, kau tahu, demi masa depan umat manusia di dunia ini, aku gak akan pilih-pilih kok…. Tapi, yahhh, jika aku harus memilih… aku ingin…. hmmmm... "

"Aku menolak." Shihoru mengangkat tangannya.

Tanpa ragu, Mary juga melakukan hal yang sama. "Aku juga."

Yume menjulurkan lidahnya. "Yume gak mauuuuuuuuuu!"

"Heeey, ayolaaaaahh." Ranta menempelkan tangan kirinya pada pinggul, kemudian menggoyang-goyangkan jari telunjuk kanannya pada para gadis. "Ini bukan saatnya pilih-pilih. Ini adalah sebuah proyek untuk masa depan spesies kita, jadi jangan egois. Bayi tidak bisa lahir begitu saja, jadi harus ada kerjasama antara pria dan wanita. Ini adalah tugas mulia, sialan! Jadi kalian mau ikutan apa nggak!?"

"Jangan coba-coba memaksakan proyek ini, Bung ..." gumam Haruhiro.

"Diam, Parupyuronosuke. Aku melakukan ini karena kau begitu payah. Oh, aku ngerti, aku ngerti! Jadi kalian membenciku, ya? Jadi aku tidak populer di mata kalian, ya? Yahh, apa boleh buat. Kalau begitu, aku sisanya aja deh. Oke, pertama, Kuzacky. "

"…Hah? Aku? Apa?"

"Mana yang kau suka? Pilih salah satu dari mereka bertiga!!”

"Whaa…" Kuzaku memegang bagian belakang kepalanya dengan tangannya yang besar itu, dan dia hanya menunduk. "Uh ..."

Itu adalah pertanyaan yang tidak perlu dia jawab. Tapi, jujur saja, Haruhiro cukup tertarik mendengar jawabannya. Dia tahu bagaimana perasaan Kuzaku, tapi bagaimana dia mengungkapkannya di depan rekan-rekan lainnya? Mungkin dia tidak akan mengungkapkannya. Atau, apakah dia mencoba ngelantur untuk menghindari pertanyaan itu?

"Woi, ada apa? Cepatlah!” Ranta menyemburnya, sampai ludahnya muncrat kemana-mana. "Cepatlah! Putuskan dengan cepat! Cepat! Cepat! Cepaaaaattt!”

"Hmm ..." Kuzaku menyilangkan lengannya dan memejamkan mata.

Bukankah dia terlalu lama? Haruhiro melirik Mary untuk melihat ekspresi wajahnya.

Hah? Aku tidak menyangkanya, pikir Haruhiro.

Dia mengira Mary akan salah tingkah, atau menunggu jawaban Kuzaku dengan cemas. Tapi ternyata tidak begitu. Dia malah memegangi lutut erat-erat dengan kedua tangannya. Dan ekspresi wajahnya seakan-akan mengatakan bahwa dia ingin meminta maaf. Apa-apa’an itu? Apakah dia coba mengatakan, ’Maaf karena telah membuatmu terpojok, Kuzaku.’, atau semacamnya?

Yah, mungkin saja begitu, tapi entah kenapa itu terkesan aneh. Seperti bukan Mary yang biasanya. "Bukan Mary yang biasanya"? Sejak kapan Haruhiro memahami Mary sepenuhnya? Sejak kapan Haruhiro bisa menebak siapakah pria yang disukainya atau dibencinya? Kenyataannya, Haruhiro tidak pernah memahami perasaan Mary ...

"Kau sangat plin-plan!" Ranta menghentakkan kakinya. "Cepatlah! Untuk ukuran Oppai, pilih saja Shihoru! Untuk wajah, pilihlah Mary! Tapi kalau kau suka cewek aneh, pilihlah Yume! Itu saja, gampang kan?!"

"... Bisakah kita mengubur orang ini?" tanya Shihoru dengan nada yang sangat kejam, sehingga membuat siapapun yang mendengarnya merinding. "Ayo kita kubur rame-rame."

"Aku sih setuju saja." Mary berdiri, dan ekspresi wajahnya kembali dingin seperti biasa.

"Yume mau bersiap-siap untuk memakamkan seseorang." Yume tersenyum lebar, sambil menarik goloknya.

"Tunggu dulu, apa yang akan kalian lakukan?!" Ranta jatuh terjerembab, lalu dia merangkak mundur. "Berhentilah berbicara tentang menguburku, mendingan kalian membahas proyek masa depan ini, oke?! Oke?! Mari kita hentikan ini! Kumohon?! Aku mengerti, aku akan berhenti! Biaklah?! Lain kali aku akan lebih berhati-hati kalau ngomong! Maksudku, ini semua cuma lelucon, oke?! Kalian tidak perlu menganggapnya terlalu serius, kan?! Aku hanya bercanda, jadi maafkan aku, aku memohon pada kalian! Aku serius, aku serius ...!”

Setelah Ranta melakukan Kowtow, maka topik ini pun resmi ditutup, dan semuanya pergi tidur. Haruhiro malah susah tidur. Kepalanya masih memikirkan banyak hal.

Bagaimana dengan Kuzaku dan Mary? Dia masih saja penasaran. Apakah hubungan menereka berjalan dengan baik? Maksudku, dalam keadaan seperti ini, mereka tidak punya waktu untuk pacaran, kan? Tapi kalau itu benar-benar terjadi, aku ingin mereka bahagia bersama ...

Dia mencoba berpura-pura menjadi orang baik, tapi itu hanya membuat dadanya semakin sesak.

Lagi pula, apa sih makna kebahagiaan itu? Aku bahkan tidak tahu ...

Mereka tidur, kemudian terbangun ketika pekikan ayam raksasa menandakan datangnya pagi. Sebuah hari baru telah dimulai.

Sekarang, mereka melintasi jembatan menuju Desa Sumur untuk minum air dari sumur. Setelah mereka membasuh wajah dengan air sungai, tiba saatnya untuk sarapan yang menyenangkan.

Begitulah rencananya, tapi ada seseorang di toko kelontong langganan mereka. Tentu saja tidak aneh kalau ada pelanggan, tapi yang satu ini menarik perhatian mereka.

"... orang itu." Ranta menunjuk pada si pelanggan. "Bukankah wujudnya terlalu mirip manusia?"

Pelanggan yang baru saja menerima semangkuk sup kelabang dari toko kelontong om kepiting itu memiliki dua lengan, dua kaki, hanya satu kepala, tanpa ekor. Posturnya setinggi 180 cm. Dia lebih tinggi daripada Haruhiro, dan lebih pendek daripada Kuzaku. Dia memakai topi caping, atau lebih tepatnya, topi caping yang terbuat dari tenunan rumput kering, serta syal yang menutupi bagian bawah wajahnya, dan mantel yang panjangnya sampai lutut. Selain senjata mirip kapak yang dia selipkan di pinggulnya, ia membawa ransel besar yang dipenuhi pedang, panah, dan senjata-senjata lainnya yang terikat di sana. Dia bagaikan gudang senjata berjalan.

Pelanggan itu menggeser syalnya, kemudian mendekatkan mangkuk sup ke mulutnya. Dia berusaha sesedikit mungkin mendongak ketika menyesap sup itu. Saat kuahnya habis, dia mengangkat benda padat yang tertinggal di dasar mangkung (sebut saja kelabang), kemudian melemparkannya ke dalam mulut. Dia kunyah serangga itu dengan penuh nafsu sebelum dia telan.

Tidak mungkin dia manusia, Haruhiro berpikir sebentar, tapi tidak aneh juga kalau manusia menyukai hidangan dari serangga.

Pelanggan mengatakan "Ruo keh," dan mengembalikan mangkuknya ke toko kelontong om kepiting, kemudian dia berbalik menghadap Party Haruhiro.

"Oh ?!" Ranta melompat mundur, dia pun sudah bersiap-siap melakukan Kowtow kalau diperlukan. Si kampret ini harusnya berhenti menyebut dirinya Dark Knight, karena dia lebih mirip seperti Kowtow Knight.

Namun, memang benar bahwa sosok si pelanggan itu begitu mengintimidasi. Bahkan dengan begitu banyak persenjataan berat yang dia bawa, dia masih bisa berdiri tegak seakan tidak membawa apa-apa. Cara dia berdiri begitu stabil. Dia bisa bergerak cepat ke arah mana pun yang dia sukai. Pergerakannya begitu luwes dan ringan. Kau boleh bilang, dia tak punya celah.

Sepertinya, orang ini jago juga ...

Kuzaku meletakkan tangannya pada gagang pedang, lalu perlahan-lahan melepaskannya sambil menarik napas pelan.

"Apakah ..." kata Shihoru.

Apakah apa? Haruhiro ingin bertanya, tapi dia tidak bisa.

Atmosfernya terlalu berat.

Yume mengerang, dan Mary mencoba mengatakan sesuatu. Namun, tiba-tiba…...

"Hey kalian……" Si pelanggan berbicara. "……jangan-jangan kalian manusia?"

Senior Mereka Dalam Kehidupan[edit]

"Namaku Unjo," kata pria itu dalam bahasa yang sama dengan Haruhiro dan yang lainnya.

Yang mengejutkan adalah, orang ini, Unjo-san, menjelaskan bahwa "malam telah tiba ribuan kali" sejak dia tersesat ke dunia ini.

Apakah hari-hari di sini sama panjangnya dengan yang ada di dunia lain, ataukah berbeda? Tak seorang pun tahu, tapi kalau boleh berhipotesis bahwa durasi waktu per hari sama saja, maka 2000 hari kira-kira sama dengan 5 tahun setengah, kalau 3000 hari, maka Unjo-san sudah berada di dunia ini selama lebih dari 8 tahun. Dan dia terus bertahan selama itu.

"Sulit dipercaya…." kata Unjo dengan suara serak, sepertinya dia mengatakan itu sembari sedikit tertawa garing. "… hari ini aku melihat ... manusia. Sudah lama sekali. Sangat, sangat, sangat lama sejak terakhir kali aku melihat manusia hidup. Aku tidak pernah menyangka bakal bertemu manusia lagi. Tapi, sekarang, inilah kenyataannya."

Haruhiro mengerti kata-kata Unjo. Namun, logatnya aneh, dan susunan katanya juga aneh. Mungkin sudah lama dia tidak bicara bahasa manusia.

Begitu mengetahui bahwa Unjo-san adalah manusia biasa, seperti mereka, Ranta memberondongnya dengan pertanyaan beruntun "Senior, Senior, Senior, tolong ajari kami! Apakah kau juga berasal dari Altana, senior?! Apakah kau juga seorang pasukan relawan?! Bagaimana bisa kau sampai ke dunia ini?! Ada apa dengan dunia ini?!

"Altana ..." Unjo-san berbisik pada dirinya sendiri, lalu terdiam cukup lama.

Sementara Ranta terus mengomel, "Ya, ya, Alnerta, itu benar, Analta! Tidak, Atarna! Tidak, Altana Ohh, aku ingin kembali ke Altana! Bagiku, Altana adalah rumah yang kucintai, tapi bagaimana denganmu, senior?! Jika kau bisa kembali, maukah kau mengajari caranya padaku?! Apakah ada jalan kembali?! Jika ada, kau pasti sudah pernah melewatinya, kan?! Tidak, tapi, kau tahu, jika kau punya petunjuk atau apapun itu, bisakah kamu memberi tahu kami, oke?! Bagaimana dengan itu?!”

Ranta terus bertele-tele.

Ohh, berhentilah tolol, pikir Haruhiro, dan dia mencoba menghentikannya, tapi, seperti biasanya, Ranta membentaknya saat dia memotong omongannya.

"Hahh?! Aku tidak berbicara denganmu, bung! Aku sedang bertanya pada senior kita ini! Tutup mulutmu dan pergilah tidur sana, bego! Matamu selalu mengantuk, maka tidurlah selamanya, dasar idiot! Mudah-mudahan kau cepat botak!”

"Um." Haruhiro mengabaikan si kampret dan dia menundukkan kepalanya untuk minta maaf pada Unjo-san. "Maafkan aku. Si kampret ini pasti telah membuatmu tidak nyaman."

"Dasar sampah! Haruhiroooo! Pergilah ke neraka!” Teriak Ranta.

"Dia banyak bicara." Unjo-san tiba-tiba mengulurkan tangan dan meraih kepala Ranta.

"Nwah ?!" Ranta membeku.

Ranta si kampret memakai helmnya untuk menyembunyikan wajahnya, tapi telapak tangan Unjo-san begitu lebar, sehingga dia bisa memegang helm dan seluruh bagian kepala Ranta. Dia tidak setinggi Kuzaku, tapi tangannya begitu besar.

"Altana ..." Unjo-san membisikkan kata itu sekali lagi, sembari dia menekankan tangannya pada kepala Ranta, seakan-akan ingin menghancurkannya. "Aku sudah lupa Altana. Ya. Karena aku tidak pernah bisa kembali. "

"Ow, ow, owww ... k-k-k-kumohon maafkanlah aku, senior ..."

"Le…..!" Yume maju selangkah, sambil menelan ludah. "Lepaskan dia! Ranta tidak bermaksud membuatmu tersinggung…. Oke, mungkin saja dia sengaja menyinggungmu, tapi Ranta tetaplah temannya Yume ... "

"Teman ..." Unjo-san berdeham dengan suara serak, lalu melepaskan Ranta. "Teman, ya. Aku tidak pernah mempunyai teman, bahkan seorang pun."

"Apaaaaaaa!" Ranta berbalik, kemudian menjauh beberapa langkah dari Unjo-san. "A-a-a-a-a-a-aku telah selamat ... kan?! A-a-a-a-aku tidak mati?”

"Sayangnya kau belum mati," kata Mary tanpa emosi.

"A-a-apakah Anda datang jauh-jauh ke sini…." Shihoru bertanya dengan suara serak, sambil mencengkeram tongkatnya dengan erat, "…s-s-s-s-sendirian ...?"

Unjo-san tidak menjawab, lantas dia menarik syalnya untuk menutupi bagian bawah wajahnya. "Aku tidak bisa kembali. Kau juga tidak bisa. Ini adalah kuburan. Untukku dan untuk kalian."

"Serius?" Kuzaku sedikit menghela napas,

Haruhiro ingin tertunduk lesu, namun sebisa mungkin dia mengangkat kepalanya tetap tegak. Kalau dia menunduk sekarang, dia tidak akan pernah pulih. Dia harus mengatasi keputusasaannya. Dia harus mengatakan sesuatu pada Unjo-san secara khusus, dan pada timnya secara umum.

"Tapi, Unjo-san, kau masih hidup, ‘kan?"

Unjo-san menoleh pada Haruhiro, kemudian dia sedikit mengangkat topi capingnya. Haruhiro melihat mata Unjo-san.

Dia manusia, pikir Haruhiro sekali lagi. Dia benar-benar manusia. Mungkin dia jauh lebih tua, atau secara harfiah, dia adalah senior mereka, tapi dia manusia sungguhan, sama seperti mereka. Dia hidup sendirian di dunia ini, dan bertahan sendirian. Seberapa sulit hidup di dunia ini selama bertahun-tahun?

Pasti sulit. Pasti dia kesepian. Tapi, tetap saja, Unjo-san masih hidup.

Unjo-san mungkin tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa, namun keberadaannya di sini adalah suatu bukti.

Tempat ini bukan kuburan.

Mungkin suatu saat nanti tempat ini benar-benar berubah menjadi kuburan, namun semua orang pasti akan mati dengan sendirinya. Dengan demikian, tak peduli di manapun orang mati, maka di situlah kuburannya. Tapi sekarang mereka masih hidup. Semuanya tergantung dari usaha Haruhiro dan yang lainnya, kalau mereka bisa melakukannya dengan benar, maka mereka bisa bertahan hidup di sini, seperti halnya Unjo-san.

"Merupakan kehormatan bisa bertemu denganmu," kata Haruhiro. "Jika kau tidak keberatan, aku ingin bertemu denganmu lagi suatu saat nanti, dan mempelajari segala sesuatu darimu."

"Palajaran. Dariku." Bahu Unjo bergoyang naik-turun sekali. "Kalian semua."

"Kami sama sekali tidak tahu apa-apa," kata Haruhiro padanya.

"Hilir." Unjo-san menunjuk ke arah aliran Sungai Hangat. "Mereka ada di sana. Yang mati. Ada kota. Reruntuhan. Mereka belum mati. Namun, ada yang mati." Bahasa orang ini masih saja tidak jelas, namun dia benar-benar mengucapkan kosakata bahasa manusia.

"... ada apa di sana?" tanya Haruhiro.

Grimgar V7 008.png

"Kota orang-orang mati. Reruntuhan. Kau adalah pasukan relawan." Unjo-san berpaling pergi dari Haruhiro dan yang lainnya. "Cocok sekali. Untuk kalian ... "

Haruhiro ingin mengejar Unjo-san yang mulai meninggalkan tempat ini, kemudian bertanya kepadanya dua atau tiga pertanyaan lagi. Namun, dia tidak bisa. Unjo benar-benar sudah mengabaikan Haruhiro dan yang lainnya.

Tinggalkan aku. Seolah-olah itulah yang coba dia katakan, dan Haruhiro pun paham dia harus berhenti mengejarnya.

Pertemuan ini mungkin berdampak banyak pada Unjo-san, begitu pun dengan mereka. Bahkan, mungkin saja Unjo-san jauh lebih terkejut dengan pertemuan ini, mengingat dia sudah begitu lama tidak bersua dengan manusia. Kalau benar demikian, maka dia pasti kebingungan, atau setidaknya merasa galau.

Unjo-san memasuki bangunan yang terbuat dari tumpukan batu. Ada cahaya yang terpancar dari jendela, jadi pasti ada penghuni lain di dalam sana. Unjo-san mungkin mengenal mereka.

"Kota! Orang-orang mati!” Ranta tiba-tiba bersemangat, lantas dia tertawa jahat. "Tak seorang pun menduga ini akan terjadi! Ah tidak juga! Kalau aku sih, sudah memperkirakannya! Jalan kita telah terbuka! Yahoooo! Aku memang luar biasa!"

"Tidak masuk akal?!" Yume menyikut Ranta. "Ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, Ranta! Ini semua berkat Kampyo-san!”

"Maksudmu Unjo-san," Haruhiro mengoreksinya, kemudian mendesah. "Kota orang mati, Hah…"

"... Kedengarannya menakutkan." Shihoru menunduk, sambil memeluk tongkatnya.

"Orang mati, ya ..." Kuzaku sedang melihat bangunan batu itu.

"Tapi tadi dia bilang, ‘mereka tidak mati’." Mary memiringkan kepalanya ke samping dengan bingung. "Apa yang dia maksud? Padahal dia menyebutnya kota orang-orang mati, apakah itu berarti ada makhluk yang sudah mati namun masih bisa bergerak, semacam Undead?"

Ranta begitu bersemangat, namun itu membuat Haruhiro ragu, tapi ... Unjo-san juga menyebutkan nama pasukan relawan. Masa lalu Unjo-san tetaplah misteri, tapi mungkin dia benar-benar pernah menjadi seorang pasukan relawan. Unjo-san mungkin telah memperlakukan Haruhiro dan yang lainnya sebagai junior, dengan memberikan sedikit petunjuk. Dia bilang itu cocok sekali untuk mereka.

Itu adalah tempat yang cocok untuk pasukan relawan.

Kota orang-orang mati.

Haruhiro hanya bisa berpikir, Aku tak tahu apapun tentang ini. Tapi, entah kenapa, jantungnya juga berdebar kencang. Dia bukan Ranta, jadi hal-hal seperti ini tidak cukup untuk membuatnya bersemangat. Hanya saja, dia sedikit gembira. Dia tidak bisa menyangkalnya.

Kami tersesat pada dunia penuh omong kosong ini tanpa bisa pulang, dan tidak tahu apa yang akan terjadi keesokan harinya, apakah kami masih dianggap sebagai pasukan relawan? pikir Haruhiro. Apakah status sebagai pasukan relawan akan kami sandang sampai mati? Tidak, aku tidak menyukainya. Yang benar saja. Meskipun Haruhiro berpikir seperti itu, dia langsung menetapkan sebuah keputusan.

"Ayo kita memeriksanya."

Haruhiro tidak sendiri. Tentu saja Ranta ingin pergi ke sana, begitu pula dengan Yume, Shihoru, Mary, dan Kuzaku. Tampaknya, pada akhirnya, cara hidup pasukan relawan telah meresap sampai ke dalam jiwa mereka.

Beberapa dari mereka proaktif, namun yang lainnya pasif. Mereka masing-masing memiliki perbedaan tersendiri dalam sikap dan kecenderungan, tapi semuanya memiliki kesimpulan yang sama. Tak satu pun dari mereka menyatakan keberatan atas rencana ini.

Mendulang barang peninggalan mayat di kubangan lumpur bukanlah pekerjaan terbaik mereka sebagai pasukan relawan. Kota orang mati. Mengapa tidak pergi ke sana dan memeriksanya?

Haruhiro dan yang lainnya sarapan terlebih dahulu, lalu meninggalkan Desa Sumur. Tempat yang mereka tuju berada di hilir Sungai Hangat, tapi mereka memutuskan untuk mengikuti aliran sungai tanpa turun ke tepi sungai. Ada binatang-binatang buas yang biasanya lewat sana, sehingga mereka mungkin saja menyelinap dan menyerang tanpa suara. Mereka tidak tahu makhluk-makhluk apa lagi yang ada di sana, dan darimana mereka menyerang.

Setelah mereka melakukan perjalanan, cahaya kemerahan yang berada di punggung bukit terlihat semakin samar, sehingga mereka tidak bisa memastikan kapankah datangnya malam atau pagi hari. Kalau cahaya itu semakin melemah, maka suasananya semakin gelap, dan ketika pagi hari datang, cahayanya tidaklah begitu terang. Cahaya semakin sedikit, namun entah kenapa mereka mulai terbiasa dengan suasana seperti ini. Kepekaan mereka akan kegelapan semakin tajam. Hampir tidak ada cahaya, namun begi mereka ini tidaklah terlalu gelap. Kegelapan di siang hari sudah tidak begitu sulit bagi Haruhiro.

Dia juga merasakan bahwa pendengarannya semakin membaik. Dia bisa merasakan dengan jelas apapun yang bergerak melalui udara, dan indra penciumannya pun semakin tajam. Bahkan tanpa melihat, dia bisa menentukan posisi rekan-rekannya, langkah kaki mereka, dan samar-samar merasakan betapa lelah mereka.

Akhirnya, sebuah kabut melayang dari Sungai Hangat, kemudian menutupi seluruh area tersebut.

"Kehe ... Kehehe ... Kehehehehehehe ... Kehe ..." Zodiac-kun, yang belum mengatakan apapun sejak Ranta memanggilnya di Desa Sumur, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

"A-ada apa? Zodiac-kun?” Ranta jelas ketakutan.

"Ehe ... tidak ada apa-apa ... Ehehe ... sungguh ... tidak ada apa-apa ... Ehehehe ..."

"Sekarang kau benar-benar khawatir!"

"Kehe ... jangan khawatir ... Ranta ... bukan apa-apa ... Kehehe ... tak ada yang perlu kau khawatirkan…"

"Tidak…. bukan begitu. Aku khawatir karena kau tertawa aneh seperti itu, ini semua salahmu. Entah kenapa, aku jadi agak takut, bisakah kamu menghentikannya? Oke? Hei, Zodiac-kun? Hah? Kenapa kau tiba-tiba diam lagi? Jawab aku. Oke? Zodiac-kun ...?”

"Kamu juga diamlah sebentar, Ranta." Haruhiro mencoba merasakan kehadiran makhluk-makhluk di sekitarnya dalam kabut yang cukup mengganggu ini. "Zodiac-kun sedang mencoba mengatakan sesuatu pada kita. Coba carilah petunjuk apa yang dia maksudkan."

"Yeah, bukankah aku sedang berusaha menanyakan apa yang dia maksudkan?" tuntut Ranta.

"Kehehe ... Mana mungkin aku memberitahumu ... Kehehehe ..."

"Dengar, Zodiac-kun!" Ranta berteriak. "Apakah kau sudah lupa peranmu di sini?! Aku adalah Dark Knight, aku adalah tuanmu, dan kau adalah pelayanku, paham?!”

"Nuh-eh ..." kata Shihoru.

"Kelihatannya kebalik deh," tambah Mary.

Yume langsung menyela, "Itu bisa saja terjadi… andaikan saja kau 500 kali lebih imut daripada dirimu saat ini, maka kau sama imutnya dengan Zodiac-kun. "

"Ranta-kun yang imut, hah ..." Kuzaku merenung, lalu sedikit mendesah.

"Heyyyyyyyyyy!" Ranta melolong. "Jangan bicara seenaknya padaku, teman! Jika kalian tidak menghentikannya sekarang juga, aku benar-benar akan menghajar kalian! Aku sungguh serius! Akan kutunjukkan betapa mengerikannya diriku ketika serius, kemudian….." Saat Haruhiro berhenti dan mengangkat satu tangan, Ranta segera menutup mulutnya.

Semuanya berhenti bergerak dan menahan napas.

Sekarang apa yang harus mereka lakukan? Haruhiro tidak yakin akan hal itu. Karena tertutupi oleh kabut, dia tidak tahu apakah yang sedang mendekat itu, tapi suatu hal yang pasti, ada sesuatu di depan sana. Mungkin itu sebuah bangunan.

Haruskah mereka mendekatinya dan memeriksanya bersama? Atau haruskah Haruhiro pergi sendirian? Sebagai Thief, dia lebih leluasa ketika bergerak sendirian. Itu lebih mudah, ya, tapi juga menyeramkan.

"... Aku akan segera kembali," kata Haruhiro, ketakutannya membuatnya berbicara dengan nada yang lebih polos daripada biasanya.

"Hati-hati," kata Mary padanya. "Jangan lakukan sesuatu yang ceroboh."

Terima kasih, pikirnya. Entah kenapa, itu memberiku kekuatan untuk mencoba. Dan juga, maafkan aku, Kuzaku. Yahh, sebenarnya aku tidak perlu meminta maaf begini. Yakinlah bahwa Mary hanya mengkhawatirkanku sebagai teman. Itu sudah pasti. Meskipun begitu, aku benar-benar merasakan semangat ketika dia mengatakan itu padaku. Tidak apa-apa, kan? Aku tidak bersalah, kan?

Haruhiro menjauh dari rekan-rekannya, dia menggunakan Sneaking untuk maju menuju bangunan yang terlihat cukup jelas di sana.

Apakah ada makhluk lain yang bergerak selain diriku? Kurasa tidak…. Untuk saat ini, tidak.

Arah aliran kabut, udara, dan angin pun telah berubah. Ada sesuatu yang menghalangi laju angin dan menyebabkannya berubah arah.

Haruhiro mendekat. Akhirnya di sana terlihat suatu bangunan.

Itu adalah bangunan yang terbuat dari tumpukan batu. Tapi sudah runtuh. Mungkin saja dahulunya bangunan itu berbentuk seperti kotak, tapi hanya dua pertiganya yang masih tersisa sekarang.

Dia tidak melihat atapnya. Apakah sudah roboh? Itu adalah bangunan yang sudah hancur.

Tidak hanya ada satu bangunan hancur di sana. Ada beberapa lagi. Tidak, bahkan lebih banyak lagi. Di sini, di sana, dan di mana-mana. Banyak sekali.

Unjo-san telah menyebutkan reruntuhan. Mungkin inilah tempatnya. Kota orang mati. Jadi, memang tempat inilah tujuan mereka. Dan itu berarti…

... Haruhiro harus bersiap-siap, bahwa ”mereka” ada di sini. Di tempat yang belum pernah mereka ketahui ini, ada makhluk-makhluk yang ”sudah mati namun belum mati”.

Haruhiro menekankan telapak tangannya pada dinding luar bangunan yang pertama. Dia mencoba mendorongnya. Namun dinding itu tak bergerak sedikit pun. Setelah mengeceknya, dia menyandarkan punggungnya ke dinding. Dia menarik napas.

Pertama-tama, aku akan sekali mengelilingi bangunan yang sudah hancur ini. Kalau memungkinkan bisa dimasuki ... apakah aku harus masuk? Apakah aku harus mencoba? Apakah tidak masalah? Apapun itu, aku harus mengelilingi bangunan ini terlebih dahulu.

Dia melihat sekeliling, mendengarkan dengan seksama, mencari orang-orang mati itu, dan ketika dia sudah menyelesaikan setengah kali putaran, dia menemukan suatu pintu.

Sebuah pintu masuk? Apakah tadinya ada pintu di sini? Tapi sekarang tidak lagi.

Dia menjulurkan kepalanya setengah masuk. Di dalamnya terlalu gelap, tapi ada semacam puing-puing yang tersebar di sana-sini. Tidak ada tempat untuk melangkah. Tampaknya berbahaya kalau dia masuk ke dalam.

Orang-orang mati yang dia maksud tidak ada di sini, kan….?

Berikutnya. Haruhiro menuju ke bangunan hancur lainnya. Dia pun memasuki bangunan terdekat. Bangunan kedua ini sedikit lebih besar daripada yang pertama. Setengah atapnya pun sudah hancur. Lagi-lagi, tidak ada pintu pada suatu celah di bangunan tersebut.

Dia memiliki firasat buruk. Tidak, bukan hanya perasaan. Ada suara. Dia bisa mendengar sesuatu.

Suara apakah itu?

Ngiik. Bruk. Jleb. Bruk. Hahh. Nnngh. Sluurp. Nyam. Nyam. Glek. Bruk. Huff.

Dia bisa mengira suara apakah itu, namun dia tidak begitu yakin. Satu-satunya cara adalah membuktikannya, meskipun Haruhiro lebih memilih untuk tidak melakukan itu.

Hallo… Tuan Undead, apakah kau di sana?, dia memberi salam dalam hati, dia berusaha bepikiran sepositif mungkin ketika melihat isi bangunan tersebut melalui celah.

Ada sesuatu di sana. Dia telah menemukannya. Tidak begitu jauh. Di sana ada makhluk humanoid berekor, dia sedang memakan sesuatu sembari membungkuk.

Apakah itu Undead-nya? Sepertinya hanya makhluk humanoid biasa. Nah sekarang, apa yang sedang dilakukan Tuan Undead berekor itu?

Haruhiro semakin tertarik memeriksanya. Tapi, apakah lebih baik dia mundur sekarang? Haruhiro sebisa mungkin coba berhati-hati, tapi entah kenapa si Tuan Undead berekor itu menoleh ke arahnya, kemudian mengerang ...

Apakah ia telah ketahuan?

Pada saat seperti ini, berteriak dan lari adalah pilihan yang buruk. Pertama-tama, ia harus melihat bagaimana reaksi lawannya. Haruhiro harus memastikan bahwa dirinya siap secara mental dan fisik, sehingga ia bisa bereaksi dengan cepat jika lawannya menyerang. Hei, tapi belum tentu humanoid itu adalah musuhnya, kan? Bisa jadi dia teman? Yahh, mungkin juga tidak?

Si Undead berekor itu tiba-tiba mengambil sebuah benda mirip senjata, kemudian dia pun berdiri. Benda mirip senjata? Tidak, itu benar-benar senjata. Dia sedang menggenggam pedang tebal yang melengkung, kemudian si Undead berekor mulai mendekatinya.

Dia datang. Dia mendekat. Dengan langkah lambat. Undead berekor itu mengenakan semacam armor pada tubuhnya, namun pelindung bahunya hanya dia pasang di sebelah kanan, dan dia juga memakai sarung tangan beserta pelindung kaki. Dia memakai helm, tapi wajahnya tidak tertutupi.

Mata ... ada apa dengan mata itu? Warnanya putih. Matanya tidak bersinar menakutkan, namun berwarna putih bersih. Mulutnya begitu besar dan basah oleh semacam cairan kental berlendir.

Haruhiro melirik tempat di mana si humanoid itu berjongkok tadi. Dia tak terkejut. Tubuhnya pun tidak gemetaran. Karena Haruhiro sudah menduganya. Dia benar.

Di sana ada makhluk lainnya. Mungkin bentuk tubuhnya juga seperti humanoid, namun 80-90% dia sudah jadi bangkai. Haruhiro tidak melihatnya lama-lama, lagian dia juga tidak bisa melihat dengan baik dalam kegelapan. Sebenarnya itu adalah pemandangan yang tidak ingin dia lihat, namun tak apalah, toh dia sudah terlanjur melihatnya.

Oh, ya ampun, Tuan Undead berekor, apakah Anda sedang makan? Apakah aku mengganggumu? pikir Haruhiro. Kalau saja si Undead berekor mau menerima permohonan maaf Haruhiro, maka semuanya akan lebih mudah, tapi si Undead semakin menambah kecepatannya ketika melangkah ke arah Haruhiro. Ini bukanlah waktu untuk minta maaf.

Haruhiro cepat-cepat menarik kepalanya kembali, kemudian dia berlari untuk bersembunyi di balik bangunan terdekat. Meskipun ia berhasil melarikan diri, dia harus melakukannya dengan sangat pelan.

“Shaah!” Undead berekor itu mendesis.

“Ke mana dia pergi?!” Apakah itu arti kata “Shaah!” yang baru saja diucapkannya?

Haruhiro bisa mendengar dengan jelas langkah kaki humaniod itu. Kemudian dia segera berpindah ketika derap langkah kaki itu semakin mendekat.

Apakah aku harus mundur sekarang juga? Kemudian menggiringnya ke tempat teman-teman berada? Apakah itu layak dicoba?

Ini adalah kota orang-orang mati. Artinya, kalau humanoid berekor itulah yang disebut ‘orang-orang mati’, maka dia pasti tidak sendirian. Mungkin ada yang lainnya. Tapi, Haruhiro hanya merasakan kehadiran makhluk itu saja. Untuk saat ini, dia tidak merasakan adanya makhluk lainnya.

Haruhiro sudah ketahuan, dan sebagai seorang pasukan relawan, Haruhiro dan kelompoknya tidak datang ke sini untuk jalan-jalan dan berwisata. Mereka memiliki tujuan di sini, yaitu berburu. Mereka datang untuk berburu Undead, dan memang itulah tugas mereka sebagai pasukan relawan.

Undead berekor.

Mungkin lebih baik Haruhiro menguji seberapa kuat lawannya.

Haruhiro pun berhenti berlari. Si Undead berekor mendekat. Dia muncul dari suatu sudut bangunan.

Ketika mata putihnya melihat sosok Haruhiro, dia membuka mulut lebar-lebar, kemudian berteriak, “Kaah!”

Dia melesat ke arahnya.

Bagus, pikir Haruhiro. Dia datang.

Dia berlari menuju tempat di mana teman-temannya menunggu. Dia mengingat arahnya, dan dia tahu kira-kira seberapa jauhkah jarak menuju ke sana. Dia tidak akan mengacaukannya. Haruhiro menuju ke arah di mana teman-temannya menunggu, kemudian dia berlari. Musuh cukup cepat, tapi jika Haruhiro berlari dengan kecepatan terbaiknya, maka dia tidak akan bisa terkejar.

“Haru-kun?!” Dia mendengar suara Yume.

“Ada musuh!” Teriak Haruhiro. “Dia sedang mengejarku!” Kemudian dia menambahkan, "Cuma satu!"

“Serahkan saja kepada kami!” Kuzaku menanggapinya.

Di sana. Dia bisa melihatnya. Kuzaku sudah menyiapkan perisainya.

“Kuserahkan padamu!” Haruhiro berlari menuju Kuzaku.

Segera setelah mereka saling berpapasan, Kuzaku menggunakan Blok untuk menahan tebasan pedang melengkung milik si Undead berekor, kemudian dia menyerang dengan Thrust. Undead berekor terus menusukkan pedangnya, seakan tidak peduli dengan serangan balik Kuzaku. Sedangkan Kuzaku juga tidak mundur. Mereka pun akhirnya bentrok.

“Leap Out!” Ranta dengan cepat melompat ke samping lawannya, kemudian dia mengayunkan pedangnya dengan gerakan seperti angka 8, “Diikuti dengan Slice!!”

Efek Pedang Petir Lumba-lumba telah habis, dan mereka akan menjualnya ke pandai besi, sehingga Ranta menggunakan pedangnya yang lama, yaitu Betrayer Mk. II. Si Undead berekor menghindar dengan gerakan seperti menjatuhkan diri, tapi pedang Ranta masih sempat menebasnya.

Tapi dia tidak bisa memotong tubuh lawannya, karena menggunakan armor.

Ketika Undead berekor roboh dan berusaha bangkit kembali, Kuzaku pun mendekat. "Ini dia!" Dia membantingkan pedang padanya. Kuzaku telah mengambil pedang tersebut di Rawa Mayat, dan telah diperbaiki oleh pandai besi.

Undead berekor terkena tebasan keras di helmnya, lantas dia mengerang, “Nguoh!” tapi dia belum roboh. Tanpa ragu, dia mengangkat pedangnya yang melengkung tinggi-tinggi, kemudian melancarkan serangan balik.

Sekarang, Kuzaku lah yang tertekan. “Aww, sialan! Aku sangat lemah!"

“Jangan panik!” Haruhiro berteriak pada Kuzaku, sambil mengincar posisi bagus di punggung Undead berekor.

Yume dan Mary siap siaga melindungi Shihoru. Musuhnya hanya satu, jadi formasi 3 penyerang dan 3 bertahan sudah cukup. Tapi, tidak menututp kemungkinan datangnya bala bantuan musuh.

Jika itu terjadi, Haruhiro ingin Yume dan Shihoru segera merespon. Bagaimanapun juga, prioritas terbesar Mary adalah melindungi Shihoru. Semuanya tahu apa yang harus mereka lakukan dalam tim ini.

“Ehe ...” Zodiac-kun hanya mengambang di udara. “Ranta ... kerjamu tidak sehebat bualanmu ... Ehehe ... Selesai sudah ... Ehehehehe ...”

“Tidak perlu kau beritahu!” Ranta meluncurkan serangan bengisnya pada Undead berekor. Itu adalah skill Hatred, diikuti oleh combo dua kali serangan, yaitu tebasan secara diagonal dari kanan atas dan kiri atas.

Saat Betrayer Mk. II berbenturan dengan pedang melengkung Undead berekor, ia menggunakan Reject. Skill-skill Dark Knight bekerja efektif saat dia tidak menghadapi musuh secara langsung. Seorang Warrior lebih suka saling kunci-mengunci pedang dengan musuhnya dari jarak dekat, namun tidak demikian dengan Dark Knight. Dia lebih suka mendorong mundur musuhnya agar sedikit menjauh, atau membelokkan serangan lawan.

Kali ini, Ranta mampu mendorong mundur musuhnya dengan begitu terampil. Kemudian, pada saat yang sama, ia mundur beberapa langkah ke belakang. Dia mundur dengan kecepatan yang luar biasa.

"Exhaust!"

Undead berekor sedikit kehilangan keseimbangan tubuhnya, tapi dia berhasil menyetabilkannya sekali lagi. Ranta menghentak tanah, kemudian dia melesat maju.

Dia pun meluncur dengan kecepatan yang bahkan lebih tinggi.

"Terima ini! LEAP OUT!"

Ranta menyerang langsung ke arah Undead berekor. Dengan serangan secepat itu, mustahil lawannya bisa menghindar.

Betrayer Mk. II meluncur tepat ke ulu hati Undead berekor, menembusnya, kemudian…. ah, sepertinya tidak. Ranta berada pada posisi yang cukup menguntungkan untuk mendorong lawannya, namun dia justru melompat mundur di saat-saat terakhir.

“Sialan!”

“Hashaah!” Undead berekor melompat dengan kakinya, sembari mengayunkan pedang melengkungnya. Tampaknya dia lebih bertenaga daripada sebelumnya.

Kuzaku membelokkan tebasan pedang melengkung dengan suara dentangan keras, kemudian dia menjegal kaki lawannya sambil berteriak keras. Lawannya jatuh jungkir balik, namun masih bisa bangkit.

“Shih! Hyahhh!”

“Ya ampun, makhluk apa sih itu?!” teriak Yume.

Ya, tak seorang pun tahu.

“Apakah ini yang disebut ‘orang-orang mati’ itu?!” Ranta mendecakkan lidahnya. “Apanya yang mati, dia malah terlihat begitu hidup!”

Mungkin serangan mereka tidak bekerja dengan baik? Undead berekor itu memiliki noda hitam pada perutnya. Rupanya itu adalah hasil tebasan Betrayer Mk. II yang mengenai armor-nya, sehingga membuat makhluk humanoid itu terluka. Dia pun telah menerima tebasan pedang Kuzaku, bahkan jegalan darinya, namun dia masih tampak sehat-sehat saja.

Bukankah itu sakit? Apakah dia tidak lagi merasakan sakit? Kenapa dia begitu energik? Atau dia tidak menghiraukan apapun? Apapun masalahnya, mungkin lebih baik mereka menganggap musuhnya kali ini tidak bisa merasakan sakit.

Pertama, mereka harus merusak kuda-kudanya. Kemudian, hajr dia sampai tidak bisa lagi bergerak.

Tempo hari, Haruhiro dan yang lainnya pernah pergi ke Kota Tua Damrow, untuk berburu Goblin yang tampaknya lebih lemah daripada mereka. Strategi mengeroyok musuh dan membantainya membuat mereka dijuluki Pembasmi Goblin. Sekarang, mereka hanya perlu mengulanginya di sini.

Haruhiro kebetulan berada di belakang si humanoid. Dia terlalu terpaku pada Kuzaku dan Ranta, sehingga lupa keberadaan Haruhiro.

Itu bukan suatu kebetulan. Haruhiro telah bergerak diam-diam untuk memastikan lawannya melupakan keberadaannya.

Backstab? Spider? Tidak, Haruhiro memilih skill lain. Dia berlari sembari berusaha melangkah sepelan mungkin. Lawannya masih belum memperhatikannya, bahkan dia tidak menoleh ke arah Haruhiro.

Kemudian, sembari mengatakan Bagus, dalam hati Haruhiro menghentak tanah dengan keras. Dia lompak, kemudian melepaskan tendangan. Dia menendang punggung Undead berekor dengan kedua kakinya.

“Fungoh!” Undead berekor terdorong ke depan.

“Sekarang!” Teriak Haruhiro, tapi Ranta sudah bergerak saat dia menyerukan itu. Kuzaku berada tidak jauh di belakangnya. Lantas Haruhiro juga bergabung.

Jangan biarkan dia berdiri. Enyahkan senjata dari tangannya. Jangan biarkan dia melakukan perlawanan. Jangan gunakan senjata kalian untuk menebas, menusuk, menikam, atau apapun itu. Hajar saja dengan tangan kosong, keroyok dia sampai kewalahan.

Dari mereka bertiga, Ranta lah yang paling terbiasa melakukan ini. Dia menggunakan ujung pedangnya untuk mencongkel helm dari kepala si humanoid.

Hancurkan kepalanya. Hatam terus sampai berdarah, sampai becek penuh dengan darah. Masih bisa bergerak ya. Hentikan saja. Kalau kau masih ngeyel, kami gak punya pilihan selain menghajarmu habis-habisan.

Kuzaku menyematkan perisainya pada monster itu. “Ahhhhh!”

“Rarrrrrrrrrrrrrrgh!” Ranta menusukkan Betrayer Mk. II ke lehernya. Kemudian dia putar gagang pedangnya, dan menariknya dengan begitu brutal, akhirnya dia pun berhenti bergerak.

Setelah menghirup napas dalam-dalam, Haruhiro mundur, dan melihat sekeliling. Ia melihat Yume, Shihoru, dan Mary. Mary membuat tanda heksagram, memejamkan mata sejenak, lalu mengangguk. Sepertinya semua baik-baik saja.

“Yeahhhhhhhhh!” Ranta mengangkat Betrayer Mk. II tinggi-tinggi, kemudian meneriakkan kemenangannya. Tak lama berselang, ia langsung melompat untuk menunggangi mayat monster itu. “Harta karun, harta karun! Punyaku, punyaku, punyakuuuuuuuu! Awas saja kalau kau tidak memberiku benda berharga, dasar mayat murahan! Akan kubunuh kau sekali lagi!”

“... Oh, ayolah bung.” Haruhiro ingin mengatakan sesuatu, tapi dia menyadari bahwa dia tidak benar-benar memiliki hak untuk mengatakannya.

Namun, teknik Ranta melucuti armor makhluk itu sungguh menakjubkan. Haruhiro bahkan bisa menyebutnya brilian, tapi dia tidak ingin memuji si kampret.

“Hm?” Ranta mengambil sesuatu di antara jari-jarinya. “Hey, hey, hey, hey, Heyyyyy ?!”

Kuzaku mengangkat penutup mata pada helmnya, kemudian mendesah. "Apa? Apakah kau menemukan sesuatu yang bagus?”

“Ta-dah!” Ranta dengan bangga memamerkannya. “Bukan hanya sesuatu!”

Jujur, jantung Haruhiro serasa berhenti berdetak.

Mungkin ini yang namanya rejek, pikirnya.

Ranta menggenggam beberapa benda. Bentuknya hitam, dan bulat ...

“Wow ...” mulut Yume menganga.

“... Hah?” Shihoru masih setengah meragukan apa yang dilihatnya.

“Apa itu?” Mary memiringkan kepalanya ke samping.

“Koin hitam, bego! Oh, dan ...!” wajah Ranta tak pernah lebih berseri-seri daripada yang dia tunjukkan saat ini. "Empat! Coba hitunglah! Benar-benar ada empat! Terima kasih!"

Haruhiro hampir tersenyum, tapi ia menghentikannya. Sebelum mereka merayakan hasil jarahan ini, ada suatu hal yang harus dilakukan terlebih dahulu. Dia bisa saja bersantai dan bersenang-senang bersama teman-temannya, namun dia lebih memilih untuk memikirkannya.

Hanya empat koin hitam, ya? pikirnya. Kalau dilihat dari bentuknya yang tidak cukup besar, harganya pasti 4 Ruma.

Haruhiro tidak ingin begitu optimis.

Konstan. Lambat, namun mantap, katanya pada diri sendiri. Gunakan metode yang memberikan kepastian.

Dia tidak ingin begitu bersuka-cita tanpa alasan yang jelas. Dia tidak ingin berharap terlalu tinggi, kemudian jatuh terjungkal. Ia harus ‘berteman’ dengan sisi lemahnya, dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik.

Etika Pengakuan Cinta[edit]

Meskipun disebut Undead, mereka memiliki bentuk yang berbeda-beda.

Kuzaku menikam wajah Undead itu dengan menggunakan skill Bash. Kepalanya memantul ke belakang, tapi dia masih saja mengulurkan keempat tangannya untuk meraih Kuzaku.

Ranta datang dari kanan, dan Yume dari kiri, keduanya sama-sama menyerang Undead tersebut.

Betrayer Mk. II dan golok Yume sama-sama tertusuk ke sisi tubuhnya.

Undead itu terbatuk dan mendesis, namun setelah itu, dia melirik tajam dengan kedua mata putihnya, kemudian memuntahkan cairan mirip lendir coklat dari mulutnya yang seakan sobek seperti luka, Haruhiro mendekapnya dari belakang, lantas menikamkan pedang pendeknya pada leher makhluk itu.

Tebasan seperti itu belum cukup untuk membunuh Undead, bahkan belum cukup untuk menghentikannya. Undead itu tidak akan berhenti sampai dia benar-benar mati.

Sembari berteriak dengan sepenuh tenaganya, Haruhiro menggorok leher Undead sekali putaran sambil memelintirnya. Dia menggerakkan pedangnya ke depan-belakang, kiri-kanan, dengan begitu brutal. Makhluk itu tersentak. Atau lebih tepatnya, melemah. Tiba-tiba Undead itu kehabisan kekuatan, lantas roboh ke belakang.

Haruhiro buru-buru melepaskan diri darinya, namun sempat kehilangan keseimbangan, sampai akhirnya jatuh terjerembab. Dia hendak membuang kepala Undead yang sudah terkoyak itu, tapi akhirnya dia berpikir bahwa lebih baik meletakkannya di tanah dengan terhormat.

“Aww, yeah! Saatnya penjarahan!” Ranta tanpa sungkan menjarah apapun yang ada di jasad lawannya.

Haruhiro selalu prihatin akan hal ini, tapi tidak bisakah dia membiarkannya begitu saja? Kenapa dia harus mengkhawatirkan musuh yang sudah mati?

“Haruhiro-kun!” Shihoru menunjuk ke dalam kabut dengan tongkatnya.

Mary dengan cepat memposisikan diri di samping Shihoru, sambil menyiapkan tongkatnya.

Dengan napas kasar, Kuzaku menyiapkan perisainya sekali lagi, dia juga memutar-mutarkan lengan kanannya yang memegang pedang untuk sedikit melakukan latihan.

Satu lagi, ya, pikir Haruhiro, sambil menghela napas dan berdiri sekali lagi. “Ranta, dapat apa?”

“Tunggu sebentar, sialan!” balas Ranta sembari sedikit tertawa vulgar. “Oke, kita dapat dua koin medium, dan satu koin kecil! Ini cuma 2 Ruma dan 1 Wen! Menurutku, ini lumayan lah!"

“Jika kau sudah selesai di sana, cepat bantu kami!” Yume menendang punggung Ranta dengan lututnya.

“Hei, jangan menendangku, dasar pentil mini!”

“Kehe ...” Zodiac-kun menyela. “Terserah… yang penting cepatlah ... dasar makhluk rendahan ... Kehehe ...”

“Zodiac-kun! Aku adalah tuanmu, dan kau adalah pelayanku, jadi siapa yang kau sebut rendahan?!” jerit Ranta.

“Sebutan itu cocok untukmu ...” Haruhiro menyipitkan matanya.

Dia datang. Mata putih. Itu adalah salah satu Undead. Dia berlari ke arah mereka. Entah kenapa, Undead yang satu ini berbentuk mirip kepiting. Dia mengingatkan mereka pada si pemilik toko kelontong langganan. Mereka jadi ragu melawan makhluk yang terlihat seperti om kepiting yang tiap hari memberi mereka makan, tapi apa boleh buat.

“Yang ini sepertinya tangguh, jadi hati-hatilah!” sebut Haruhiro.

Wujud Undead begitu bervariasi. Tapi mereka semua memiliki beberapa kesamaan. Dari segi tampilan, semuanya memiliki mata putih. Tidak berarti mereka tidak memiliki iris mata atau semacamnya, namun ada semacam selaput cairan putih yang menutupi bola mata mereka. Ketika mereka mati, mata mereka kembali normal, jadi tampaknya mata putih itu adalah sebagian dari proses yang membuat mereka menjadi Undead.

Dan juga, sepertinya semua Undead itu tidak merasakan sakit. Oleh karena itu, ketika Haruhiro dan yang lainnya menghancurkan jantung, otak, atau memotong kepalanya, mereka masih bisa menyerang balik.

Salah satu kesamaannya adalah, mereka semua kanibal. Undead tidak bergerak dalam kelompok. Tampaknya, mereka melihat sesama Undead sebagai musuh, atau mangsa.

Sudah tujuh hari berlalu sejak Haruhiro dan yang lainnya berangkat menuju Kota Orang-orang Mati. Sejak saat itu, mereka beberapa kali menyaksikan Undead sedang makan, dan mereka selalu mendapati mereka memakan sesama Undead.

Para Undead menyerang satu sama lain, dan pemenangnya berhak melakukan apapun pada yang kalah, seperti: memakan daging atau jerohannya, bahkan mencuri peralatan yang masih dapat digunakan. Sedangkan bagi Party Haruhiro, yang mereka butuhkan setelah mengalahkan Undead hanyalah koin-koin hitam saja. Mau tidak mau, mereka harus mengakui bahwa tindakan itu mirip seperti yang dilakukan Undead lainnya. Mereka pun belum menemui satu pun Undead yang bertingkah berbeda.

Kalau semua Undead seperti ini, maka Kota Orang-orang Mati adalah ladang berburu yang stategis bagi Haruhiro dan Party-nya, yang terpaksa melanjutkan hidup dengan gaya pasukan relawan, bahkan setelah mereka datang ke dunia baru yang suram dan berbahaya ini.

Ada berbagai jenis Undead. Yang berarti, kemampuan bertempur mereka pun bervariasi. Mungkin ada beberapa Undead yang begitu kuat, sehingga jangan harap Haruhiro dan teman-temannya mampu mengalahkannya, dan sangat mungkin mereka akan segera berhadapan dengan Undead seperti itu suatu hari nanti ... ah tidak, mungkin hari ini pun mereka akan menemuinya.

Namun, paling tidak mereka tidak perlu rencana untuk menghadapi sekumpulan Undead. Karena, mereka selalu beraksi secara individual, bahkan menganggap kawannya sebagai mangsa.

Anehnya, kalau ada seekor Undead bertemu Party Haruhiro dan Undead lainnya secara bersamaan, maka dia lebih memilih menyerang sesama Undead, sehingga itu sangat menguntungkan bagi Haruhiro dan yang lainnya. Tentu saja itu tidak adil, dan mereka terkesan seperti pengecut, namun para pasukan relawan memang identik dengan pekerjaan kotor, dan mereka tidak pernah mempertimbangkan etika. Pekerjaan para pasukan relawan bukanlah pekerjaan bagi mereka yang menganggap dirinya orang baik.

Bagaimanapun keadaannya, semua jenis Undead akan mengabaikan Haruhiro dan Party-nya jika ada Undead lain di dekatnya, sepertinya mereka hanya terfokus pada mengalahkan dan memakan sesama jenis. Itulah yang terjadi, sehingga Haruhiro dan yang lainnya hanya perlu menonton mereka saling bunuh, kemudian menyerang setelah salah satunya mati.

Meskipun ini memalukan dan tak pantas ditiru, namun hampir setiap pasukan relawan akan mengatakan: “Terima kasih untuk makanan gratisnya.”

Kebetulan, orang-orang seperti Haruhiro begitu sensitif atas apa yang mereka lakukan, meskipun itu adalah tindakan seorang pengecut, namun Haruhiro masih membenarkannya. Bukannya dia setuju dan tidak merasa bersalah, namun dia berpikir bahwa, Aku harus melakukan ini untuk bertahan hidup,. Mereka mengatakan itu untuk memaafkan dosanya sendiri, sampai akhirnya mereka terbiasa dengan pekerjaan kotor ini. Ketika mereka tersadar atas apa yang telah mereka lakukan, sesekali Haruhiro juga merasa jijik dengan dirinya sendiri, namun suatu saat nanti mungkin dia akan melupakannya.

Setelah menyelesaikan hari ketujuh berburu di Kota Orang Mati, akhirnya mereka kembali ke Desa Sumur.

Hari ini mereka telah mengumpulkan 9 Ruma dan 11 Wen. Peralatan dan senjata-senjata Undead itu begitu buruk, mungkin hanya dihargai 1 Wen oleh si pandai besi, jadi mereka tidak mau repot-repot membawanya kembali ke desa, kecuali jika ada barang yang masih bagus.

Harta mereka telah melebihi 20 Ruma, itu sudah cukup banyak, sehingga tiga hari yang lalu mereka memutuskan untuk membagi beberapa koin pada masing-masing anggota Party sebagai uang pribadi. Uang makan masih sebesar 1 Ruma untuk enam orang, sehingga mereka membelanjakan 2 Ruma untuk makan sehari, itu berarti mereka saldo pengeluaran yang cukup banyak.

Hari ini, sementara gadis-gadis mandi, Ranta minum-minum di toko kelontong.

Betul. Toko itu menjual alkohol.

Ada berbagai jenis alkohol yang dikemas di dalam kendi, yang paling murah harganya 1 Wen. Haruhiro sih tidak terlalu mementingkan rasa, tapi Ranta adalah penggemar alkohol sejati, dan belakangan ini dia minum cukup banyak. Kemungkinan besar, sebagian besar uang pribadi Ranta telah dia belanjakan untuk minum-minum.

Itulah yang terjadi, Haruhiro dan Kuzaku memutuskan untuk meninggalkan Ranta yang lagi mabuk, kemudian mereka mandi setelah para gadis selesai.

Mereka telah menggali lubang untuk bak mandi di pinggir sungai, pada tempat yang sekiranya tidak dilihat oleh para penduduk Desa Sumur. Waktu pertama kali mandi, mereka cukup deg-degan, karena mereka harus membuka penutup wajah ketika mandi. Untuk jaga-jaga, mereka menaruh helm, kain, atau apapun yang bisa dipakai untuk menutupi wajah di dekat bak mandi, sehingga mereka bisa cepat-cepat memakainya. Selama ini sih gak masalah, jadi harusnya tidak apa-apa.

Mereka berdua tidak mempermasalahkan telanjang bersama saat mandi. Meskipun mata mereka sudah mulai terbiasa dengan kegelapan ini, namun masihlah sulit untuk melihat dengan jelas. Jadi, mereka tetaplah tidak melihat apapun, kecuali berusaha melotot dengan serius.

Pertama-tama, mereka mencuci tangan dan wajah di Sungai Hangat. Entah kenapa, ada toko yang menyediakan sabun di dunia ini, jadi itu cukup praktis. Mereka juga menggosok tubuh mereka dengan cepat. Akhirnya, mereka pun berendam di dalam bak.

Suhu air di Sungai Hangat sedikit lebih rendah daripada suhu tubuh mereka; jadi terasa cukup hangat seperti namanya. Kalau ada, mereka lebih suka berendam di kolam air hangat, namun kalau mereka terus mencari kemewahan seperti itu, maka percuma saja, karena keinginan manusia tidak akan pernah berakhir.

“Wah ...” Haruhiro perlahan-lahan menoleh ke kiri-kanan. Dia memijat bahunya sendiri. Kalau dia duduk sampai pantatnya menyentuh dasar bak mandi, maka permukaan airnya bisa mencapai pundak Haruhiro. Dia juga bisa merentangkan kakinya. Namun, bagi pria setinggi Kuzaku, kolam ini tidaklah begitu besar. Ada kalanya orang berpostur tinggi tidak diuntungkan. Meski begitu, Haruhiro masih sedikit iri padanya.

“Owhhh.” Kuzaku mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Kau tahu, hari ini agak ... Yahh, begitulah. Hari ini cukup melelahkan, ya ...”

“Tentu saja,” Haruhiro menyetujuinya. “Kau melakukan pekerjaan yang baik. Kau pasti lelah."

“Oh, tidak, kau pasti jauh lebih lelah. Setidaknya… jika dibandingkan denganku.”

“Kaulah yang melawan musuh pada barisan paling depan, Kuzaku. Kau tahu…. Aku hanya menyelinap dari belakang.”

“Kau menggunakan kepalamu,” Kuzaku menyangkalnya. “Itu lebih susah, bukan? Sedangkan aku hanya melakukan apapun perintahmu. Selama aku mematuhimu, semuanya pasti beres. Seakan-akan, semuanya sudah kau rencanakan dengan matang, sehingga kita bisa sampai sejauh ini, iya kan?”

“Itu karena kau menjalankan peranmu sebagai perisai tim dengan baik.”

"Kamu serius? Aku telah melakukan peranku dengan baik?”

“Tentu saja, bung.”

“Yahh, aku masih perlu banyak waktu untuk belajar. Aku tidak sehebat itu, kok.”

“Aku tidak asal memujimu, lho,” kata Haruhiro. "Kau terlalu merendah.”

“Mungkin iya juga ...” Kuzaku tiba-tiba berhenti bicara. Ada jeda waktu yang terasa aneh sebelum ia berbicara lagi. “... Umm, kesempatan seperti ini jarang sekali kudapatkan…. Maksudku, kesempatan untuk bicara denganmu secara pribadi… bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

"Hah? Oh, tentu,” kata Haruhiro. “... A-Apa?”

“Ini tentang Mogzo.”

“... Mogzo?”

Oh, jadi tentang Mogzo, pikir Haruhiro, tapi kemudian dia semakin skeptis,Kalau bukan tentang “itu”, lalu apa yang akan dia bicarakan padaku?

Yang pasti, dia tak pernah menyangka bahwa Kuzaku akan menanyakan itu. Dia pun tak pernah mengira nama Mogzo akan keluar dari mulut Kuzaku.

“Tentu, aku tidak keberatan. Tentu saja tidak. Tapi, Kuzaku, um ... kau tidak pernah berurusan dengan Mogzo secara langsung, kan?”

“Yah, tidak. Tapi aku mengenalnya.”

“... Apa yang ingin kau tanyakan tentangnya?” Tanya Haruhiro.

“Begini… aku jarang sekali mendengar kalian membicarakan tentang Mogzo. Kau pun tak pernah membanding-bandingkan aku dengannya, kan? Paling tidak, kau tidak pernah memberitahuku tentang itu.”

“Tentu saja aku…. tidak akan melakukannya.”

“Tapi, aku juga memikirkan hal itu, lho. Aku mengerti bahwa kau bukanlah tipe orang yang suka membanding-bandingkan seseorang dengan yang lainnya. Tapi, aku selalu penasaran, ‘Apakah kinerjaku sudah sebaik Mogzo?’ atau ‘Apakah aku sudah layak sebagai pengganti Mogzo?’…. Maafkan aku karena sudah berpikir yang tidak perlu begini."

“Tidak ... Kau tidak perlu tiba-tiba minta maaf seperti itu.”

“Tidak, aku hanya berpikir, aku tidak pantas bertanya apakah aku layak menggantikannya. Lubang yang ditinggalkan Mogzo dalam tim ini, bukanlah hal yang bisa diisi oleh seseorang sepertiku. Memang seperti itulah ikatan di antara rekan setim, kan? Setelah bersama kalian, akhirnya aku merasakannya. Kalau boleh aku menggambarkannya, kukira kata yang tepat adalah “Tak Tergantikan”. Yeah, memang seperti itulah rekan setim. Itulah kata terbaik untuk menyebutnya. Hanya karena dia meninggal, maka tak berarti seseorang bisa menggantikannya. Ikatan di antara kalian tidaklah sesederhana itu. Meskipun kau memaksaku untuk menggantikannya, entah kenapa itu tetap saja terasa salah bagiku. Aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya. Seolah-olah, aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Mogzo. Tapi di sisi lain, aku ingin mencari cara untuk melindungi kalian semua, dengan cara yang berbeda dari apa yang telah dilakukan Mogzo. Aku adalah seorang Paladin. Aku tahu benar bahwa aku bukanlah Paladin yang kuat, namun tetap saja aku ingin melindungi kalian semua.”

"…ohhh, bung…"

Oh, ini gawat, pikir Haruhiro. Dia memercikkan air di wajahnya. Apa-apa’an sih yang dikatakan orang ini? Hentikan saja. Kau malah membingungkanku. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak pandai menghadapi hal seperti ini.

Bukannya Kuzaku sudah terbiasa menjalani peran itu, dan berkembang menjadi perisai tim. Dia menyadari adanya sosok yang tidak akan bisa dia tandingi bernama Mogzo, namun dia telah menghadapi semua musuh dan juga egonya sendiri, dan dia bertarung dengan apapun yang dia punya. Dia memiliki tujuan yang jelas, dia rela menumpahkan darah untuk rekan-rekannya, dan dia berkembang menjadi lebih baik selangkah demi selangkah dengan upaya tak kenal lelah.

Pernahkah Haruhiro melihat itu semua?

Pernahkah Haruhiro memahami upaya keras yang diusahakan Kuzaku?

Tidak mungkin dia bisa melihat hal seperti itu. Karena pikirannya selalu disibukkan oleh hal lain. Haruhiro bahkan tidak sempat mengurusi dirinya sendiri, karena dia terlalu banyak memikirkan timnya. Meskipun begitu, itu adalah alasan yang bagus. Tapi masalahnya adalah, Haruhiro seakan-akan tidak pernah menghargai segala kerja keras yang telah diusahakan oleh Kuzaku.

Maafkan aku karena telah menjadi seorang pemimpin yang begitu menyedihkan, dan maafkan aku karena memiliki banyak cacat di berbagai hal. Haruhiro berpikir tanpa semangat.

Harusnya dia menundukkan kepala sembari meminta maaf. Tapi, apa gunanya meminta maaf pada Kuzaku? Haruhiro mungkin akan merasa lebih baik jika dia menunduk dan minta maaf, namun nampaknya seperti ini saja sudah cukup. Meskipun itu hanyalah egonya.

“Mogzo ...” Haruhiro mencubit hidungnya dan bernapas melalui mulut.

Oh sial. Sepertinya aku akan menangis. Tidak, aku baik-baik saja. Aku bisa menahannya.

“Dia adalah seorang kawan yang penting bagiku. Ya. Aku pun berpikir bahwa dia tiada duanya. Kami masih tidak bisa melupakannya, dan kami tidak akan pernah melupakannya. Tapi tetap saja ... Dia sudah meninggal. Dia sudah pergi. Mogzo sekarang sudah tiada. Bukanlah karena itu kami terus mengenang Mogzo, tapi sekarang…. Kuzaku, kau lah perisai Party ini, dan aku pikir kau lah satu-satunya orang yang bisa mengambil peran itu.”

“... Whoa.”

"Hah?"

“Ha ha ...” Kuzaku menutupi wajah dengan tangannya yang besar. “Aku jadi sedih. Betapa konyol…"

“Aku tidak akan menertawakanmu, lho ...”

“Jujur saja, kupikir lebih baik jika kau menertawakanku,” kata Kuzaku. “Oh, ini memalukan.”

“Tidak, tidak.”

“Bisakah kau tidak menceritakan pembicaraan kita ini pada siapapun? Terutama pada Ranta-kun.”

“... Kau pikir aku akan menceritakannya pada si sampah itu?”

“Yahh, tidak juga. Hanya untuk jaga-jaga sih.”

“Aku tidak akan menceritakannya pada siapapun kok.” Karena tidak ada alasan yang kuat untuk melakukan hal seperti itu. Haruhiro menggunakan jarinya untuk mencipratkan air pada Kuzaku.

“Hei!” Kuzaku membalasnya. “Apa-apa’an ini? Kau seperti anak kecil!”

“Tidak…. kau lah yang seperti anak kecil.”

"Kau yang memulainya."

“Aku tidak akan melakukannya lagi, oke?”

“Janji?”

“Aku berjanji…,” kata Haruhiro, kemudian dia segera meraup air dengan kedua telapak tangannya, kemudian mengguyurkannya pada kepala Kuzaku.

“Aku tahu kau akan melakukan itu!” Kuzaku segera membalas.

Apa sih yang sedang kami lakukan ...? Haruhiro mulai merasa konyol, dan memutuskan untuk menghentikan adu cipratan air ini, tapi masih butuh beberapa saat sebelum itu terjadi. Ampun deh, sebenarnya apa sih yang sedang mereka lakukan?

Tapi itu menyenangkan. Itu sangat bodoh, dia tidak bisa menahan tawa. Saat ini, sepertinya saat yang tepat untuk membahas tentang hal “itu”.

Aku harus bertanya kepadanya tentang hal itu secara langsung, pikir Haruhiro. Dia harus memperjelas semuanya.

Ini memang aneh, tapi sejujurnya, dia ingin Kuzaku bahagia.

Apakah itu berlebihan? Tidak, menurutnya tidaklah begitu. Untuk saat ini, Haruhiro dan yang lainnya sedang terjebak di dunia ini. Bagaimana kalau mereka terus terjebak di dunia ini selama setahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan lebih dari itu? Mereka tidak bisa menjadi pasukan relawan selamanya, yang mereka lakukan saat ini hanyalah berburu, makan, dan tidur. Mereka harus menjalani hidup selain itu. Mereka bisa mendapatkan izin dari warga Desa Sumur untuk membangun rumah pribadi di dalam desa, misalnya. Atau, di masa depan mereka bisa menemukan pekerjaan selain berburu.

Jika para gadis menyetujuinya, mereka bisa menjadi pasangan, bahkan menikah. Jika mereka berhasil melahirkan anak, mereka bisa saling melindungi dan berjuang bersama-sama, mungkin itu akan menjadi motivasi bagi mereka.

Saat ini, semua itu terasa seperti khayalan dan imajinasi yang indah. Tapi tidaklah aneh jika suatu saat nanti itu benar-benar terjadi.

“Dengar, Kuzaku,” kata Haruhiro. “Sekarang giliranku, bolehkah aku juga menanyakan sesuatu padamu….?”

"Bolehlah. Apa?"

“Tapi ini cukup pribadi.”

“Silahkan saja. Kau dan aku adalah sahabat, bung….Ah, tidak juga… mungkin aku hanya terbawa suasana. Lagi-lagi aku bertingkah konyol ...”

“Sebenarnya tidak mudah bagiku menanyakan hal ini ...”

“Tapi kau tahu bahwa aku bisa menjawabnya, kan?” Kata Kuzaku. "Maaf. Oh, tapi…. jangan ragu untuk menanyaiku apapun. Kurasa aku tidak pernah menyembunyikan apapun darimu.”

“Y-yahhh, kalau begitu……… ehm.” Haruhiro berdehem.

Apa ini? Kenapa telingaku berdengung? Kenapa harus terjadi di saat-saat seperti ini? Aku sungguh tegang. Bagaimana cara mengatakannya? Aku tidak pandai bicara tentang hal seperti ini. Tapi, bukankah aku memang bodoh dalam segala hal? Gak juga sih…. Tapi, yahhhh, aku tak punya apapun yang bisa dibanggakan. Baiklah. Tidak apa-apa menjadi orang yang normal. Aku akan bertanya padanya secata langsung. Itulah satu-satunya cara.

“B-b-b-b-b-b-bagaim-m-m-m-m-mana….. d-d-d-d-d-dengan…. M-m-m-m-mary?”

Dia tergagap. Tergagap seperti orang gila. Ia ingin melakukannya secara halus, seperti percakapan biasa. Tapi dia tidak bisa. Itu mustahil. Hanya ini yang bisa Haruhiro lakukan.

“Uhh ...” Kuzaku menggigit bibir atas dengan gigi bawahnya. Bagi Haruhiro, dia tidak pernah melihat orang menggigit bibirnya seaneh ini. “Apa maksudmu, ‘bagaimana dengan’….?”

“Hah?” perkataan Haruhiro tersendat. "Tapi. Kamu kan, um ... Apa? Hah? Maksudku, kamu kan…….? Kuzaku dan Mary kan ...... Yah, kau, um ...”

“Ada apa dengan Mary…….-san dan aku?”

“H-Hah? A-a-a-apakah kau ... marah?” Tanya Haruhiro.

“Tidak, aku tidak marah.”

“Tidak, tapi, entah kenapa, sepertinya kau sedang kesal ...”

“Tidak, bung… aku tidak kesal, oke?”

Grimgar V7 009.png

“Tidak, tidak, tadi kau benar-benar marah, kan? Maksudku, kau benar-benar tampak tidak senang tadi.”

“Bukan begitu ... Ngahh.” Kuzaku mulai memukul-mukul kepalanya sendiri dengan kedua tangan. “Guhh. Gimana jelasinnya ya? Bukan begitu, aku serius. Aku tidak marah. Lagian, ada apa antara Mary dan akuuuuuu? Maksudmu apaaaa? Aghhhh.”

“Wh-Whoa, Kuzaku, tenang, bung.”

“Jangan menyuruhku tenang,” bentak Kuzaku.

"Oke, oke, aku tahu. Tapi, kau jelas-jelas tidak tenang. Sepertinya kau mulai marah. Hah? M-Mengapa? Maksudku, bukannya kau dan Mary sudah….”

"Aku mengerti sekarang! Kalau begitu, akan kuceritakan semuanya, oke?” Kuzaku langsung menyela, tampaknya dia sangat gregetan. “Dengar, banyak hal yang terjadi antara Mary ... -san dan aku. Ah, tidak… tidak juga. Kuakui dia adalah gadis yang cukup hebat. Jujur saja, kau pun tahu bagaimana kelanjutannya. Memang pernah terjadi sesuatu di antara kami.”

"…Ya."

“Maksudku, dia tidak hanya cantik, namun juga lucu. Ah, sebenarnya aku gak begitu tahu juga sih…. dia memang terlihat serius, namun ada suatu hal yang membuatnya terlihat rapuh. Rapuh? Tidak, bukan itu. Gimana ya ngomongnya? Yang pasti dia manis."

“... Oh, ya ... aku kira juga begitu.”

“Sama,” kata Kuzaku. “Jadi, yahhh…. Baiklah, kuakui bahwa aku suka padanya. Aku pernah punya kesempatan untuk bicara empat mata dengannya, jadi aku memberikan semacam petunjuk bahwa aku suka dia.”

“... Seperti saat kita berada di Post Lonesome Field?”

"Hah? Jadi kau sudah tahu? Kau menyadarinya?”

“... Ya, sepertinya begitu.”

“Yah, aku tidak tahu lagi harus berkata apa,” kata Kuzaku. “Kau tahu, mungkin dia adalah tipe gadis yang akan menyerah pada lelaki jika sedikit kau beri sedikit dorongan. Itulah kenapa aku tadi menyebutnya, ‘rapuh’. Jadi, aku bilang pada Mary-san bahwa aku ingin mendengar nasehatnya atas suatu hal yang membuatku galau, dan dia pun bersedia mendengarkan kisahku. Juga, aku dan Mary…... -san, kami berdua sama-sama junior di Party ini. Itulah kesamaan kami, dan itulah yang menjadi bahan pembicaraan kami.”

"…Aku paham."

“Sepertinya, pendekatanku akan berjalan lancar. Sepertinya, dia tahu kelemahanku, kemudian kasihan padaku. Sepertinya akan lancar-lancar saja, iya kan? Setidaknya begitulah yang kupikirkan."

“... Jadi itu yang kau pikirkan.”

"Benar! Itulah yang aku pikirkan. Jadi, tentu saja, aku punya kesempatan untuk melakukannya.”

“... Melakukan apa?”

“Tentu saja menyatakan cintaku. Maksudku, ‘menembaknya’….”

“... Kau akan menembaknya?”

“Ya, aku akan mengungkapkan perasaanku sejujur-jujurnya,” kata Kuzaku dengan tegas. “Maksudku, aku tidak ingin selamanya menjadi pemuja rahasia Mary-san. Itu tidaklah baik untukku, dan untuk kami berdua.”

“... J-jadi…. begitu ya?”

“Okelah, mungkin tidak semua orang berpikiran sama sepertiku,” kata Kuzaku. “Tapi bagiku… jika ada kesempatan dan aku merasa sekarang lah saatnya…. Maka aku akan melakukannya saat itu juga.”

“Apakah waktu itu…. kau membawa Mary untuk mengungkapkan segalanya?” tanya Haruhiro.

“Ya, karena aku akan menceritakan banyak hal padanya. Di Pos Lonesome Field.”

“... Waktu kita hendak kembali ke Altana, kan?”

"Ya. Hah? Jadi, kau juga sudah mengetahuinya? Oh iya, waktu itu kau tidak berada di tenda ya. Jadi kau melihat kami berdua?”

“... Yaah, cuma melihat sekilas sih.”

“Urgh. Kau melihatnya, ya. Betapa memalukan. Ya, tepat setelah itu. Aku pun menembak Mary ... -san. Aku pikir dia akan menerima perasaanku. Namun dia segera menjawabnya.”

“... Segera?” Tanya Haruhiro.

“Sebelumnya, kurasa semuanya baik-baik saja…. namun ternyata…. Ketika sampai pada masalah asmara, dia begitu tegas tanpa sedikit pun kompromi. Dia berusaha menjaga jarak di antara kami berdua. Kau bisa bilang… akulah yang salah sangka tentang Mary-san, atau mungkin akulah yang terlalu optimis. Kurasa, suasana hatinya sedang baik, jadi dia akan menerimaku begitu saja."

"…Dan?"

“Dia mengatakan ini padaku…..” Kuzaku mencubit dagunya, kemudian sedikit menggelengkan kepala kiri dan kanan. "'Tidak.'"

“... Apakah barusan kau meniru gerakan Mary?” Tanya Haruhiro.

"Ya. Persis seperti yang dia lakukan saat itu. Bagaimanapun juga, itu hanyalah jawaban sekata. Namun, dia memberikan penjelasan padaku setelahnya. Kurang-lebih seperti: karena kita adalah rekan, maka dia hanya bisa menganggapku sebagai teman, tidak lebih dari itu. Dia tidak tertarik untuk menjalani hubungan seperti itu. Dia tidak ingin terpecah kosentrasinya. Mary ... -san, dia pun minta maaf, aku jadi merasa bersalah karena telah menempatkannya pada posisi yang sulit. Aku pun membalas, 'Maafkan aku atas kejadian yang memalukan ini. Mulai sekarang, mari berteman lagi seperti sedia kala.' Dan kami sepakat untuk melupakannya.”

“... Jadi ...” kata Haruhiro perlahan. Dia menyimpulkannya dalam hati: ... Mereka berdua tidak pacaran? Itu saja? Mungkin…?

Haruhiro dengan sengaja menenggelamkan dirinya dalam bak mandi, sampai air mencapai dagunya. Kemudian dia terus berendam sampai air mencapai mulut, dan hidungnya. Hei, kau akan tenggelam, lantas ia memperingatkan dirinya sendiri.

“Haruhiro ...?” Tanya Kuzaku dengan khawatir.

“Ahh!” Haruhiro buru-buru mendorong dirinya keluar dari air. Kalau tenggelam di sini, dia bisa mati konyol. “Jadi begitu ya. Oh ... aku ... aku paham. Oh, aku kira ... aku kira kalian menyembunyikan hubungan itu, atau semacamnya... aku ... salah, ya?”

“Kalau pun aku diterima, aku berencana mengumumkan hubungan kami pada kalian semua,” kata Kuzaku. “Aku akan merasa canggung jika merahasiakan hal sebesar itu. Kalau ada seseorang yang diam-diam memergoki hubungan kami, bukankah itu sangat memalukan?”

“Aku juga akan merasa kesal jika itu terjadi padaku ...” kata Haruhiro. "Kamu benar."

“Sayang sekali aku gagal menyatakan cintaku.”

"…Yah, begitulah."

“Oh, kau mencoba untuk menghiburku?”

"…Sepertinya begitu?"

“Tidak apa-apa, bung. Itu semua sudah berlalu. Maksudku, aku masih mencintainya sampai saat ini, dan tentu saja penolakan itu masih menggangguku bahkan sampai sekarang. Tapi kita punya masalah lebih besar yang harus kita hadapi.”

“Ya ...” gumam Haruhiro.

“Aku sanggup menjalani ini semua tanpa asmara. Setidaknya untuk saat ini. Aku akan menyerahkannya pada Ranta-kun. Meskipun, mungkin dia mencari sesuatu yang berbeda.”

“Kalau dia sih, lebih primitif, dan hampir kekanak-kanakan ...”

“Dia hanya bertingkah apa adanya,” kata Kuzaku. “Itulah yang kusuka darinya.”

“Kalau aku sih tidak begitu menyukainya.”

Kuzaku tertawa, lalu menggosok wajah beberapa kali dengan tangannya yang besar. Sepertinya dia tidak terlalu terpukul setelah ditolak oleh Mary. Itulah yang Haruhiro pikirkan. Itu berarti, Haruhiro tidak perlu menghiburnya. Kuzaku adalah orang yang optimis.

Bagaimana kalau dibandingkan dengan Haruhiro?

Dia berpikir tentang hal itu. Aku tidak begitu memahaminya, tapi, untuk saat ini, mungkin aku merasa sedikit lega ...? Mengapa aku merasa begitu lega?

Kelebihan Dan Kekurangan[edit]

Tidak hanya Kota Orang Mati lebih besar daripada Desa Sumur, bahkan mungkin itu lebih besar deripada Altana. Sebelum berubah menjadi reruntuhan, itu pastilah kota yang begitu besar. Tentu saja, banyak orang pernah tinggal di sana. Pasti lebih dari beberapa ribu jiwa pernah mendiaminya. Atau bahkan puluhan ribu orang pernah tinggal di sana.

Ada bangunan besar menyerupai kastil di pusat kota. Haruhiro menganggapnya mirip kastil, tapi mungkin itu benar-benar sebuah kastil ketika masih berdiri kokoh. Dari strukturnya, kastil itu terdiri dari menara utama yang dikelilingi oleh delapan menara lainnya, tapi tiga diantaranya sudah benar-benar runtuh, sedangkan dua lainnya masih setengah runtuh. Menara utama hampir tidak rusak sama sekali, tapi diperlukan keberanian ekstra untuk membuka pintu logam berkarat pada kastil tersebut, kemudian menginjakkan kaki di dalamnya. Lagian, bagaimana cara mereka membuka pintu logam yang tidak bergeming sedikit pun meskipun mereka sudah mendorong atau menariknya dengan sekuat tenaga?

Ketika mereka mengelilingi benteng, mereka menemukan dua pintu masuk di belakang, tapi mereka masih masih ragu untuk masuk ke dalam. Itu terlalu mengerikan.

Ada tiga jalan terbuat dari batu yang mengarah keluar dari benteng menuju utara, selatan, dan barat. Masing-masingnya memiliki plaza di tengah jalan. Anehnya, jalan utama dan plaza tersebut begitu sepi, dan mereka jarang melihat Undead di dekat mereka. Boleh dibilang, jalan utama dan plaza itu adalah tempat yang relatif aman bagi mereka.

Di sisi utara kota, ada banyak bangunan yang sudah setengah hancur, ataupun hancur total. Selain itu, semakin mereka dekat dengan Sungai Hangat, maka semakin hancur bangunan-bangunan di sana.

Di sebelah selatan benteng, sebagian besar jalan-jalan masih utuh. Pada kwartal sebelah barat daya, ada tempat yang sepertinya masih layak huni, itupun kalau tidak ada Undead di sekitarnya. Tapi nyatanya, Party mana pun tidak akan mau nginap di sana. Kalaupun mereka menemui bangunan yang masih kokoh, kemungkinan besar ada Undead di dalamnya. Tampaknya, makhluk-makhluk itu juga butuh istirahat, sehingga Party Haruhiro sesekali menemui Undead sedang tidur di gang-gang atau di belakang reruntuhan. Namun, Undead selalu terbangun ketika merasakan sedikit saja gangguan, jadi sangatlah sulit menyerang mereka ketika masih tertidur.

Apa yang Undead lakukan di dalam bangunan-bangunan tersebut? Mereka tidak pernah tahu, tapi meskipun mereka terlelap, sedikit saja gangguan akan membangunkannya. Kemudian mereka akan menyerang para pengganggu dengan brutal. Jika Party Haruhiro tidak ingin mendapatkan kejutan yang mengerikan dari makhluk-makhluk itu, lebih baik mereka menjauhi bangunan-bangunan Kota Orang Mati.

Kabut dari Sungai Hangat menyelimuti bagian timur kota, membuat jarak pandang semakin terbatas. Itulah sebabnya Haruhiro dan yang lainnya mengintai di sekitar setengah bagian barat kota, untuk memburu Undead.

Khususnya, sisa-sisa pasar terdapat pada kwartal sebelah barat laut, atau distrik pergudangan, di mana ada sisa-sisa deretan bangunan besar yang tampak seperti gudang, itu semua merupakan tempat yang bagus untuk berburu.

Tampaknya ada sistem kelas, atau lebih tepatnya semacam ranking, di antara para Undead. Kwartal timur laut hanya berisikan Undead lemah, kemudian mereka semakin kuat seiring bergesernya tempat ke kwartal barat laut, tenggara, dan akhirnya barat daya. Jumlah mereka mengikuti tren yang berlawanan, Undead paling banyak terletak di kwartal barat daya, kemudian jumlahnya semakin sedikit seiring bergesernya tempat ke kwartal tenggara, barat daya, dan akhirnya timur laut.

Bagi para kanibal seperti Undead, daerah yang lebih padat penghuninya mempermudah perburuan mangsa. Itu berarti terjadi banyak kompetisi di antara mereka. Hukum rimba pun berlaku, sehingga yang bertahan hidup adalah yang terkuat.

Namun yang lemah juga punya cara mereka sendiri untuk bertarung. Jika mereka tahu batas kemampuannya, mereka akan pergi untuk mencari mangsa yang lebih lemah, yaitu Undead pada kasta terbawah yang menghuni kwartal sebelah timur laut. Di sana mereka hanya akan menemukan Undead yang kemampuannya sama lemahnya dengan mereka. Saat mereka makan dan melahap yang lemah, mereka akan tumbuh menjadi lebih kuat. Kalau masih belum puas melahap mangsa, mereka akan menuju ke arah barat laut. Jika mereka bisa bertahan hidup di sana, maka berikutnya akan pindah ke sebelah tenggara. Pada akhirnya, mereka akan pergi ke kwartal barat daya, di mana hanya berkumpul Undead berpengalaman, kemudian mereka akan saling bertarung dan saling memangsa.

Haruhiro dan yang lainnya sebisa mungkin menghindari kwartal barat daya. Karena di sana dipenuhi dengan Undead yang kekuatannya begitu mengerikan, mereka pun bertarung dengan bengis dan ekstrim. Undead-undead itu menggunakan apapun yang bisa mereka pegang sebagai senjata untuk melempar lawannya, dan mereka suka melakukan serangan gerilya. Mereka akan mencoba menghabisimu dengan sekali serang, kemudian melarikan diri jika gagal. Undead penghuni kwartal barat daya begitu licik dan cerdik.

Tentu saja, ada beberapa Undead yang sangat kuat, sehingga penampilannya begitu mencolok.

Suatu ketika, dari kejauhan mereka pernah melihat salah satu Undead terkuat sedang makan. Itu benar-benar gila. Wujudnya tampak seperti singa, dan kaki belakangnya juga mirip seperti singa. Postur tubuhnya setinggi 3 – 4 meter. Dia menjotos Undead lainnya yang berwujud seperti beruang dan jauh lebih besar darinya, kemudian dia beri 2x tendangan beruntun, dan dengan mudah mengangkat tubuh lawannya yang masif.

Sesaat berikutnya, Haruhiro hampir tidak percaya apa yang dia lihat. Si singa merobek tubuh si beruang sampai terbelah dua. Seberapa kuatnya sih makhluk itu?

Darah si beruang muncrat bagaikan pancuran, dan si singa tertawa bengis sembari bermandikan darah lawannya. Kata ‘menakutkan’ tidak cukup untuk menggambarkan makhluk itu. Jika mereka mendekatinya, mereka akan dibunuh dalam sekejap. Bagi makhluk sekuat itu, Party Haruhiro hanyalah makanan ringan.

Itulah yang terjadi, kwartal barat daya terlalu berbahaya. Undead di kwartal tenggara juga sama berbahayanya. Mereka akan menyelinap dari kabut yang tebal untuk menghabisimu, dan itulah yang membuat mereka sulit dihadapi. Namun, jumlah Undead di kwartal timur laut terlalu sedikit. Oleh karena itu, mereka memutuskan bahwa kwartal barat laut adalah pilihan yang paling logis untuk berburu.

Jujur saja, dengan kemampuan Party mereka saat ini, kwartal barat laut adalah lahan berburu paling sempurnya. Cukup adil untuk menyebutnya lahan berburu paling ideal.

Pertama, Haruhiro melenyapkan auranya dengan skill Hide. Kedua, dalam keadaan seperti itu ia bergerak dengan skill Swing. Ketiga, ia menggunakan semua indera untuk mendeteksi kehadiran lawannya dengan skill Sense.

Dengan memanfaatkan Stealth sepenuh-penuhnya, Haruhiro bergerak maju bagaikan bayangan.

Sementara ia menggunakan Stealth, lutut dan siku Haruhiro tidak pernah bergerak denga kaku. Keduanya menekuk dengan lemas. Dia merendahkan pinggulnya, melengkungkan tubuhnya ke belakang, dan melemaskan otot-otot lehernya. Dia sudah siap untuk menerima segala jenis kejutan setiap saat. Dia mempertahankan postur tubuh ideal yang memungkinkan dia untuk bernapas dengan lancar, kemudian dia melangkahkan kakinya untuk maju tanpa ragu.

Alih-alih memfokuskan perhatiannya pada satu titik, Haruhiro melihat hampir ke segala arah. Seakan-akan ada mata di balik kepalanya. Untuk memperluas jangkauan penglihatannya, dia menggerakkan bola matanya ke segala arah sembari sedikit menolehkan kepalanya. Jika teknik ini dilakukan dengan benar, ia bahkan bisa melihat titik buta di belakang kepala yang seharusnya tidak bisa dia jangkau.

Dia tidak hanya mendengarkan suara dengan telinga saja. Dia merasakan datangnya getaran suara dengan seluruh permukaan tubuhnya. Dia merubah seluruh tubuhnya menjadi sensor, dan dengan begitu, bukan hanya suara saja yang bisa dia rasakan, melainkan segala jenis stimulus dan juga gerakan kecil di sekitarnya.

Haruhiro melihat seekor Undead sedang menjulurkan kepalanya keluar dari puing-puing bangunan di distrik pergudangan, dia pun sedang melihat kiri dan kanan.

Haruskah kita semua menyerang bersama-sama? Haruhiro bertanya-tanya.

Biasanya Undead di kwartal barat laut akan lari secepat mungkin setelah merasakan datangnya ancaman. Terutama untuk Undead seperti ini, yang ukuran tubuhnya hanya sebesar Ranta. Dia mengenakan helm dan armor ringan, memegang senjata yang berbentuk seperti tombak pendek, tapi monster yang satu ini tampak ragu-ragu dan ketakutan. Sepertinya sih tidak begitu kuat.

Namun itu juga tidak menjamin bahwa makhluk ini lemah, sepertinya dia akan segera melarikan diri, sehingga Haruhiro memutuskan untuk menyerangnya dari belakang. Jika ia mampu menghabisinya, maka itu akan lebih baik. Kalau dia tidak bisa melakukan itu, maka dia akan menggiringnya ke tempat teman-temannya berada.

Ranta adalah satu-satunya yang menentang rencana ini. Namun suara terbanyak adalah mutlak.

Jadi, sekarang, Haruhiro sedang mendekati si Undead untuk mengincar punggungnya.

Jaraknya kurang dari sepuluh meter, dan semakin mendekat. Delapan meter. Tidak, bahkan saat ia sedang memikirkan semua ini, Haruhiro masih bergerak, sehingga jaraknya sekarang sekitar tujuh meter. Enam meter.

Kalau dia bilang tidak tegang pada saat-saat seperti ini, maka itu adalah suatu kebohongan besar. Tapi ketika sasarannya sudah ada di depan mata, anehnya dia tidak lagi merasa tegang. Mungkin ini adalah salah satu sifatnya sebagai seorang Thief. Atau mungkin, Haruhiro saja yang merasa nerves. Dia sudah sering melihat punggung lawannya, karena memang begitulah cara Haruhiro bertarung. Meskipun saat berada dalam suasana tegang, dimana dia tidak bisa mengamati lawan-lawannya dengan tenang, entah kenapa Haruhiro bisa membaca banyak informasi hanya dengan melihat punggung lawannya.

Dia bisa memahami apakah mereka pembohong atau tidak, apakah mereka jujur atau licik, apakah mereka apa adanya atau penuh siasat, apakah mereka dapat dipercaya atau tidak.

Sedangkan… Undead ini adalah pembohong dan tidak jujur, dia adalah jenis seorang pendusta yang gemar menggiring lawannya ke dalam jebakan. Haruhiro bisa merasakannya dari gerak-gerik Undead ini. Namun, makhluk ini juga polos. Dia terang-terangan mengungkapkan kebohongannya. Dia mengandalkan hidungnya untuk mengendus mangsa bodoh yang masih saja tertipu oleh akal bulusnya. Kalau dia merasakan peluang menang yang kecil, maka dia tidak akan ragu-ragu untuk melarikan diri.

Maaf, pikir Haruhiro, tapi aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu.

Tanpa suara, Haruhiro menarik pedang pendeknya. Sarung pedangnya sudah dilumasi dan dirawat dengan baik.

Masih 1 – 2 langkah untuk mencapai lawannya. Namun, dia tidak boleh berpikir bahwa 1 – 2 langkah lagi dia benar-benar bisa mendapatkan mangsanya, karena selalu ada langkah ke 3 atau ke 4 yang tidak pernah terduga sebelumnya. Dan targetnya pun akan merasakan bahaya ketika dia semakin mendekat. Ketika kau semakin optimis akan mendapatkan mangsamu pada langkah-langkah terakhir, di situlah si mangsa biasa kabur, karena auramu berubah ketika semakin bernafsu mendapatkan sesuatu.

Ini dia triknya, Barbara-sensei pernah mengatakan kepadanya. Dalam hal bersembunyi, mencuri, atau membunuh, lakukan semuanya dengan cara yang sama. Di dunia manapun, caranya sama saja. Kau tidak boleh berpikir bahwa hal-hal tersebut menarik, atau bahkan membosankan. Kau akan melakukannya dengan cara yang sama, tanpa adanya tambahan dan pengurangan apapun.

Tapi, aku tidak bisa melakukan itu, Barbara-sensei, keluhnya, tapi anehnya, ketika semuanya berjalan dengan lancar, terkadang Haruhiro bisa melakukan hal-hal tersebut dengan sama.

Haruhiro mendekati Undead dari belakang bagaikan seorang pria yang hendak memberikan kejutan pada pacarnya dengan pelukan tiba-tiba, kemudian dia melingkarkan lengan kirinya pada kepala lawannya. Dengan pegangan backhanded, ia menikam pedang pendek pada leher si Undead, kemudian mencungkilnya, dan memutarnya untuk mematahkan batang leher monster itu.

Dia bisa saja mendesah lega sekarang, karena sepertinya semuanya berjalan dengan lancar, namun Barbara-sensei pasti akan memarahinya. Tidak…. dia tidak hanya marah padanya, namun juga menjegalnya, menguncinya, dan membuatnya kesakitan sampai pingsan. “Lakukan dengan cara yang sama! Berapa kali aku harus memberitahumu, kenapa kau tidak paham juga, dasar kucing tua?!”

Ini adalah saat-saat genting. Ini bagaikan bukit yang curam di mana, jika dia lengah sedikit saja, dia akan tergelincir jatuh ke jurang tanpa dasar. Dia tidak tahu apakah dia bisa melihat Barbara-sensei lagi, tapi ajaran Masternya selalu membekas dalam diri Haruhiro.

Ya, itu pasti. Karena sampai sekarang pun, Haruhiro masih setia melewati jalan yang curam dan sempit ini….

Yaitu, jalannya sebagai seorang Thief!

“Heyyyy. Aku berhasiiiiiiiiiiiiiilllll,” seru Haruhiro.

Ketika ia memanggil teman-temannya, Haruhiro merasa bahwa dia sedikit bertingkah aneh. Aku sedikit terbawa suasana, mungkin? Mungkin karena perburuan Undead di kwartal barat laut berlangsung dengan lancar. Perburuan ini terlalu menguntungkan. Aku bisa bekerja keras sebagai pemimpin Party, sementara memegang teguh prinsipku sebagai seorang Thief, dan aku melakukan itu semua dengan cara yang sama. Aku bisa menganggapnya begitu. Bahkan, aku melakukan semuanya dengan cara yang sama. Tapi, entah kenapa ... Aku merasa sediki takut. Semuanya berjalan terlalu lancar. Tidak biasanya hidupku semudah ini, kan?

“Hei, Parupirorinnosuke!” Ranta melompat dan mulai menjarah apapun yang ada pada jasad Undead itu. “Mengalahkan seekor Undead sendirian adalah pekerjaan yang terlalu berat untuk kutu sepertimu!”

“Kehe ...” Zodiac-kun tiba-tiba menyela. “Sedangkan kau lebih buruk daripada kutu, Ranta ... Kehe ...”

“Tidak, Zodiac-kun, aku ini manusia sungguhan, oke?! Maksudku, aku adalah manusia terhormat, oke?!”

Menyusul Ranta dan Zodiac-kun.…Yume, Shihoru, Mary, dan Kuzaku pun tiba di TKP. Mereka semua tiba-tiba berhenti, kemudian sedikit mundur darinya.

“Hah?” Ranta melihat Yume dan yang lainnya. “Ada apa, teman? Apa ada yang salah? Apakah auraku sebagai manusia terhormat dan dewasa membuat kalian terintimidasi?”

“...Dewasa?” Shihoru mengejek istilah konyol itu. "…Apanya yang dewasa?"

“Terhormat?” Yume mengerutkan dahi, menjulurkan bibir bawah, dan mengangkat bahunya. "Apanya yang terhormat?"

Mary menggeleng. “Bahkan kalau kau menyebutnya kekanak-kanakan, aku jadi merasa berdosa pada semua anak di dunia ini.”

“Kalian semua kompak, ya?! Kompak sekali! Tiga cewek ini kok bisa kompak banget!?? Sudah biasa ngelakuin threesome, mbak?!” Ranta berteriak pada mereka sembari ia mengaduk-aduk barang Undead itu. “Yah, baiklah! Ngomonglah semau kalian! Karena aku juga punya teman setia, yaitu Zodiac-kun! Hah…?"

“Baru saja…..” Kuzaku menunjuk ke atas kepala Ranta. “…. Dia lenyap bung.”

Haruhiro terkejut dengan itu. “... Wow, Zodiac-kun. Rupanya dia belajar trik baru untuk membuat Ranta malu.”

“T-tidaaak!” Ranta langsung berdiri dan memberondong Haruhiro dengan sejumlah alasan. “K-Kalian semua tak paham, oke?! Zodiak-kun tidak melakukan itu untuk membuatku malu, atau semacamnya! Malahan, bocah itu melakukan itu untuk menunjukkan perhatiannya padaku!”

“Apa maksudmu dengan 'bocah itu'?” [4] Tanya Haruhiro. “Kalian berdua tampaknya tidak sedekat itu.”

“T-t-t-tidaaak! Kami berdua cukup dekat. Aku dan Zodiac-kun adalah sahabat baik. Kami saling cintaaaaaaaa. Dasar kalian bego, bego, begooo!”

“Ya, ya, ya, ya, aku mengerti, sekarang, cepatlah jarah barang-barang Undead itu, oke? Kau suka melakukannya, kan?"

"Tidak! Aku benci, benci, benci sekali melakukan ini! Kau saja yang melakukannya, dasar tolol!”

"Oh begitukah? Yahh, apa boleh buat, kalau begitu aku saja yang melakukannya.”

"Dasar tolol! Sudah jelas-jelas aku bersedia melakukannya! Jangan harap aku membiarkanmu menjarah barang-barang milik jasad ini, Parupiro! Aku akan melakukan semuanya! Hanya aku! Camkan itu di kepalamu, Paruparu!”

“Apa itu Paruparu ...?”

“Paaaruparuparuparuparuuuu,” Ranta tertawa. “Ehehehehe!”

Ada saat-saat dimana Haruhiro ingin sekali membunuh si kampret ini. Namun, tentu saja dia tidak akan melakukannya.

Ranta kembali bekerja, lantas dia menemukan dua koin medium dan tiga koin kecil. Ada juga cincin di tangan kiri Undead. Mereka pikir bisa menjualnya, sehingga mereka memutuskan untuk mengambilnya juga. Nanti akan datang Undead lain yang membersihkan sisa-sisa jasad itu dengan memakannya. Oleh karena itu, mereka tidak perlu repot-repot mengubur jasad itu.

“Kita cari lagi,” kata Haruhiro. Ketika pekerjaan mereka selesai pada suatu tempat, lebih baik mereka berpindah ke tempat lain.

Rekan-rekannya juga sudah tahu akan hal itu, bahkan Ranta tidak banyak protes. Mereka bergegas pergi untuk menemukan target berikutnya. Mereka harus kembali ke Desa Sumur sebelum cahaya di punggung bukit semakin meredup, jadi mereka tidak boleh berlama-lama di sini.

Kami hampir tidak membuang waktu sedetik pun, pikir Haruhiro. Ketika segalanya berjalan dengan lancar, seakan-akan semuanya berpihak pada kita. Tapi aku tahu betul bahwa kemudahan ini tidak akan berlangsung selamanya.

Jadi, jangan terlalu lengah, tiap hari, Haruhiro harus mengingatkan hal itu pada dirinya sendiri. Harus terus waspada. Pasti banyak perangkap yang menunggu kami dimana-mana. Ini hanya kebetulan. Kemudahan seperti ini tidak akan terjadi tiap hari. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Tidak, bahkan hari ini pun, kita tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya, kemalangan bisa datang kapan saja pada kita. Seseorang di Party ini, atau bahkan mungkin aku sendiri, bisa membuat kesalahan mengerikan kapanpun.

Lalu, tatapan mata Haruhiro dan Mary saling bertemu.

Entah kenapa, Mary tersenyum padanya.

Tidak ada hubungan spesial di antara kalian, kan? Pikir Haruhiro. Tidak, tidak, tidak? Apa sih yang sedang kupikirkan? Tidak, tidak, tidak. Aku sungguh tidak sengaja. Aku harus mengeluarkan Mary dari pikiranku. Aku tidak pernah berniat untuk memikirkannya.

Tapi kenapa aku tidak bisa melupakan Mary saat sedang bekerja seperti ini? Ini semua salah Kuzaku. Tapi sebenarnya, dia tidak melakukan kesalahan apapun. Maksudku, aku terus memikirkan obrolanku dengan Kuzaku tempo hari. Itulah yang membuatku semakin galau.</i>

Semua orang tahu bahwa Haruhiro adalah pemimpin Party ini, apakah salah jika seorang ketua tim jatuh cinta pada salah satu anggota timnya, seperti Mary misalnya. Mungkin saja itu tidaklah baik untuk tim.

….seperti inikah rasanya? Ya, itu sudah pasti….

Tapi Akira-san dan Miho akhirnya menikah, ia mengingatkan dirinya sendiri. Itu berarti, tumbuh asmara di antara anggota Party, kan. Gogh dan Kayo juga. Kedua bahkan memiliki anak angkat.

Kalau dipikir-pikir lagi, ketika sekelompok orang selalu bersama ketika melewati bahaya, wajar saja tumbuh perasaan suka di antara mereka, dan itulah yang akan menumbuhkan ikatan kuat di antara mereka. Lagian, kalau dia berhubungan dengan seseorang di luar Party-nya, itu justru tidak realistis. Sangat-sangat tidak realistis. Memang ada wanita seperti Mimorin yang mencintainya begitu saja tanpa alasan yang jelas, namun Haruhiro tidak merasakan sesuatu yang spesial pada sosok wanita itu, bahkan mereka mungkin tidak akan pernah bertemu kembali.

Kalau begitu, boleh dong aku….tidak, tidak, tidak, apa sih yang aku pikirkan? Tidak ada yang namanya “kalau begitu”! Mungkin aku sudah terlalu pening dengan semua ini? Aku harus benar-benar fokus pada pekerjaanku sebagai seorang pemimpin. Ini terasa sangat canggung.

Jujur, aku tidak pandai dalam hal seperti ini. Melakukan ini-dan-itu pada saat yang sama…. Itu semua berada di luar jangkauanku. Jika aku tidak fokus hanya pada satu hal, kepalaku rasanya mau pecah.

Haruhiro berhenti pada jalan sempit di distrik pergudangan.

Haruhiro si Thief mengambil suatu titik. Kuzaku siap untuk maju jika diperlukan. Di belakang mereka ada Yume. Mary berada di dekat Shihoru, sehingga dia bisa melindunginya kapanpun, dan Ranta menjaga barisan belakang. Seperti inilah formasi Party mereka ketika mengeksplorasi Kota Orang Mati.

“... Haruhiro?” Kuzaku menyiapkan pedang panjang dan perisainya.

“Nyaa?” Yume mengeluarkan suara aneh, sambil melihat sekeliling.

“Hahhhh? Apaaaaa?” Ranta berbalik untuk melihat belakangnya.

Shihoru mengambil napas dalam-dalam, dan seperti biasanya, dia mulai meringkuk takut.

Mary segera memposisikan diri untuk melindungi Shihoru, dan memasang kuda-kuda. Pada saat seperti ini, Mary terlihat begitu gagah. Haruhiro tidak bisa menyangkalnya, tapi dia tidak punya waktu untuk memuja si gadis putih pada saat-saat seperti ini.

Wajah Haruhiro langsung memucat. Dia bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Namun, yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah melompat ke depan. Sebelum ia bisa menggulingkan diri, ia mendengar suara benda besar yang menumbuk tanah tepat di belakangnya, dan dia merasakan gelombang kejut yang cukup kuat.

“LARI!” Haruhiro berteriak tanpa memeriksa benda apakah yang jatuh itu. Dari mana jatuhnya? Dari langit? Yahh, bangunan-bangunan di sini relatif masih utuh. Mungkin seseorang sengaja menjatuhkannya dari atas suatu bangunan, untuk melukai Party Haruhiro.

Ingin melukai Party Haruhiro, atau Haruhiro saja?

Dia datang. Dia melesat padanya dengan kecepatan yang mengerikan!

Haruhiro berlari. Dia berlari dengan kecepatan tinggi, kemudian berbelok pada suatu sudut gang. Satu-satunya hal yang dia tahu, musuhnya adalah Undead, namun sosoknya cukup besar. Dengan sosok sebesar itu, Haruhiro pikir musuhnya tidak bisa berbelok dengan tajam pada sudut gang. Itulah harapannya.

Untungnya, dugaanya benar, makhluk itu tidak bisa berbelok tiba-tiba, sehingga jarak mereka semakin lebar. Sekarang Haruhiro bisa melihat seperti apakah makhluk yang mengejarnya, meskipun tidak begitu jelas.

Ohhh, pikirnya. Dia sungguh mirip seperti singa. Tapi yang ini lebih kecil, dan dia berdiri dengan menggunakan kaki belakangnya.

Dia jauh lebih kecil daripada Undead singa yang membantai Undead beruang tempo hari, kan? Atau apakah itu hanya asumsiku saja? Ah tidak, dia memang lebih kecil.

Kalau dia adalah Undead singa sakti yang pernah dilihat Haruhiro saat itu, pastilah sekarang Haruhiro sudah tidak bernyawa. Dia sungguh menakutkan. Sampai-sampai jantungnya mau copot, karena dia begitu menyeramkan. Tapi, meskipun lawannya kali ini bukanlah Undead singa yang waktu itu, Haruhiro tak boleh sedikit pun meremehkannya. Kalau saja dia berhadapan dengan Undead singa yang waktu itu, pastilah dia sudah dimangsa hidup-hidup. Segila itulah makhluk itu. Namun, yang satu ini tidaklah begitu buruk.

Haruhiro menuju ke sebuah gang, kemudian melompat ke dalam bangunan melalui dinding yang sudah runtuh. Bagaimana dengan rekan-rekan lainnya? Apakah mereka berhasil lolos? Haruhiro yakin teman-temannya tidak setega itu meninggalkan dirinya.

Kupikir mereka tidak akan meninggalkanku. Mereka mungkin tidak lari jauh-jauh. Mereka tidak akan meninggalkanku, aku yakin akan hal itu.

Undead singa yang tampaknya lebih lemah itu mengejar Haruhiro dengan sabar.

Haruhiro meninggalkan bangunan itu melalui pintu masuk. Singa Undead mencegatnya. Sehingga dia tidak bisa keluar. Makhluk itu pasti lebih cepat daripada dirinya.

“Haruhiroooo ...!” Dia mendengar suara Ranta.

Tapi, aku masih tidak percaya aku bisa menghindari serangan pertama singa itu , Haruhiro berpikir sembari dia berpindah ke bangunan lain melalui suatu celah.

Bangunan ini terdiri dari 2 tingkat. Ada tangga yang menghubungkan antar tingkat. Dia menaikinya dengan cepat. Itu adalah tangga kayu dan cukup rapuh. Bahkan kaki Haruhiro hampir terperosok ketika menaikinya. Dia tidak peduli. Dia menaiki 2 anak tangga sekaligus, dan terus bergerak ke atas.

Singa Undead juga mencoba naik, namun dia menghancurkan tangga tersebut, kemudian dia hanya bisa meraung.

Haruhiro berhasil sampai ke lantai dua. Ada sebuah jendela. Dia bisa melihat ke luar melalui jendela itu. Ranta ada di sana. Kuzaku juga ada di sana. Yume, Shihoru, dan Mary, semuanya lengkap. Mereka berlari ke sini. Namun tak satu pun dari mereka menyadari bahwa Haruhiro berada di lantai 2.

Haruhiro menjulurkan kepalanya keluar jendela. "Larilah! Jangan ke sini!!”

“Apaaaa ... ?!” Ranta menatap Haruhiro, kemudian segera melambaikan tangan padanya. “Bung, segera turunlah! Dia juga di dalam, kan?!”

Haruhiro tidak punya pilihan lain. Singa Undead masih berusaha untuk naik ke lantai dua. Meskipun tangganya sudah runtuh, namun mudah saja bagi makhluk seperti itu untuk naik ke lantai dua, jadi omongan Ranta kali ini ada benarnya juga.

Tapi Haruhiro tidak berani melompat ke luar jendela, kemudian mendarat di lantai 1, karena dia bukanlah jagoan seberani itu. Dia mengangkangi bingkai jendela, mencengkramnya dengan tangan, kemudian menjuntaikan tubuhnya ke bawah. Dengan posisi seperti itu, kemudian dia lepaskan pegangannya. Metode itu membuatnya tidak begitu kesakitan ketika mendarat di tanah, hanya saja kakinya sedikit mati rasa.

“Ayo pergi dari sini, dasar kalian lemot!” Ranta sudah mulai berlari.

“Siapa yang kau maksud dengan lembut!” teriak Yume padanya sambil berlari.

“Aku tidak bilang begitu, dasar pentil mini! Hey kalian para gadis, kalau kalian dekat-dekat dengan monster itu, dada kalian akan mengerut, dan akhirnya mengecil seperti dia!”

“... Kaulah yang terburuk, kau bahkan lebih buruk daripada monster,” Shihoru bergumam sembari berlari menyusul Yume.

“Kalau aku yang terburuk, itu berarti aku nomor satu! Hore! Hore! Gahahaha!”

“Aku menghargai itu ...” Kuzaku berlari dengan armornya yang berdentang.

“Pujalah aku setinggi-tingginya, karena aku bisa menularkan kejeniusanku pada kalian! Kau bisa menjadi seribu kali lebih mesum daripada diriku! Gwahehehehehe!”

“Itu bukanlah kejeniusan, itu adalah kutukan yang tidak bisa lepas darimu ...” Haruhiro memaksakan kakinya yang masih sedikit mati rasa, untuk berlari bersama teman-temannya.

“Haru!” Mary berteriak padanya.

"Y-Ya?!"

“Yang…… barusan itu!”

“B-Barusan?”

Tiba-tiba Mary menghentikan kalimatnya di tengah. Entah kenapa, Haruhiro merasakan sesuatu yang dramatis, meskipun sebenarnya Mary hanya terlambat ngomong.

Sembari mereka saling mengolok-olok Ranta, singa Undead menjulurkan kepalanya keluar dari jendela, dan dia hanya bisa meraung melihat mangsanya lari.

Haruhiro memaksakan kakinya untuk menyusul Mary, kemudian mereka berbelok di sudut gang. Pada saat itu, si gadis Priest menampar bahunya dengan keras, sehingga dia pun terkejut.

“Boleh juga kau… sial!!”

“Apaaaaaa ... ?!”

Apa artinya itu? Sepertinya Haruhiro memahaminya, sepertinya juga tidak.

Mary mengatakan itu tanpa melihat matanya. Apakah dia marah? Atau dia malu?

Atau mungkin keduanya.

Perkembangan Kerja[edit]

Di manapun berada mereka bisa menemui saat-saat kritis yang mempertaruhkan hidup dan mati. Jika mereka membuat satu kesalahan pun, maka akan terjadi bencana. Itulah kenyataannya, dan sudah tak terhitung berapa kali itu terjadi. Bahkan, kau sudah pantas menyebutnya kejadian sehari-hari. Tiada hari tanpa saat-saat kritis seperti itu.

Haruhiro berbaring, sambil menatap ke api unggun. Dia membungkus dirinya dengan selimut yang terbuat dari bahan misterius yang dibelinya dari makhluk berwujud telur pipih, si pemilik toko tas dan pakaian. Dengan menggunakan tasnya sebagai bantal, maka Haruhiro cukup nyaman untuk memulai tidurnya.

Dia mulai terhanyut dalam alam mimpinya, namun belum sepenuhnya tidur. Dia setengah terjaga-setengah tidur, namun itu cukup nyaman. Itu adalah salah satu kemewahan yang bisa dia nikmati. Namun, saat-saat seperti itu tidak akan bisa dia nikmati kalau keamanannya tidak terjamin.

Rekan-rekannya semua sudah tidur. Sementara ia mendengarkan teman-temannya yang bernapas pelan dan mendengkur, ia mulai berpikir sendirian, Kami semua berhasil bertahan sampai hari ini. Itu bagus. Sungguh luar biasa bisa menikmati hari esok, meskipun masih banyak pekerjaan rumah yang harus kami selesaikan.

Yume dan Mary sedang tidur, seraya saling rangkul. Kalau Yume tidur, sepertinya dia punya kebiasaan meringkuk pada siapapun di dekatnya. Mungkin dia merindukan kehangatan seseorang? Mary pun tampaknya tidak keberatan. Namun, malam ini Shihoru tidur sedikit menjauh dari mereka berdua.

Tiba-tiba, Shihoru bangun. “Haruhiro-kun? Apakah kamu masih terbangun?"

“... Whuh?” Haruhiro sedikit tersentak, kemudian dia tahan dagunya dengan tangan. “Uh, yeah.”

“Ada sesuatu yang ingin aku ... bicarakan denganmu. Gak papa nih?"

"…Kamu ingin bicara denganku? Boleh saja. Silahkan mau ngomong apa.”

Akan sedikit canggung kalau ngobrol di sini, lantas mereka pun berjalan di sepanjang parit Desa Sumur. Setelah menemukan tempat yang enak, mereka berjongkok berduaan.

“Jadi, ada apa?” Tanya Haruhiro. “Berjongkok seperti ini… agak aneh, ya ...”

"…Ya. Mungkin. Eh ... Ada dua hal. Yang pertama adalah tentang apa yang terjadi siang tadi ...” lantas Shihoru menghentikan kalimatnya, seolah-olah ada sesuatu yang sulit diunggkapkan. “Mungkin aku tidak berhak mengatakan ini ... tapi, kau tahu... hal ini benar-benar menggangguku ...”

“... katakan saja,” kata Haruhiro. “Aku akan mendengar semua ceritamu. Katakan saja semuanya, gak usah malu-malu."

“Haruhiro ... Menurutku, kau kurang menghargai dirimu sendiri.”

“Begitukah…..? Hah? Apakah terlihat begitu?”

“Benar,” kata Shihoru. “Terkadang, kau mencoba mengorbankan dirimu sendiri ... benar kan?”

"Mungkin? Hmm. Tapi aku tidak bermaksud begitu, lho?”

“Kuharap kau hentikan itu semua.” Shihoru melihat ke bawah dengan bahu gemetar. "Maafkan aku, aku bahkan tidak yakin harus mengatakan ini ... tapi tindakanmu itu mengingatkanku pada Manato. Aku tidak ingin……… kau mati untuk kami.”

“... Ya.” Haruhiro mengusap dahinya. “Yah, aku sendiri tidak ingin mati kok. Serius deh."

“Kalau begitu ... kumohon lebih berhati-hatilah.”

“Sebenarnya… bukannya aku tidak menghargai diriku sendiri ...” kata Haruhiro sambil memijit sela-sela kedua matanya. Dia harus memijitnya dengan keras agar sedikit mengurangi pusing di kepalanya. “Mungkin aku terlalu mementingkan nyawa orang lain daripada nyawaku sendiri. Maksudku, tanpa kalian, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin, ini seperti motivasi untuk terus hidup? Aku bukanlah orang yang pandai memotivasi diriku sendiri, itulah sebabnya, jika aku harus memilih manakah yang harus kuselamatkan, apakah diriku sendiri atau kau… maka aku akan lebih memilih menyelamatkan hidupmu. Bukan pula berarti aku sengaja menyelamatkan hidupmu. Kurasa itu hanya…. semacam insting. Itu mirip suatu keputusan yang kuambil secara refleks.”

“Padahal…. kalau hanya salah satu dari kita berdua harus bertahan hidup, aku lebih memilih menyelamatkanmu, Haruhiro-kun.”

“Ini memang pilihan yang sulit, ya,” kata Haruhiro.

“Bagaimana kalau kau dan Ranta-kun? Jika hanya salah satu di antara kalian berdua yang bisa bertahan hidup, maka siapakah yang kau pilih?”

“Ranta,” Haruhiro menjawab tanpa ragu-ragu, kemudian dia terkejut dengan jawabannya sendiri. “... Whoa. Serius nih? Maksudmu Ranta yang itu? Kenapa aku meragukan jawabanku sendiri ...”

"…Aku bersyukur."

"Hah? K-kenapa?”

“Karena kau adalah ... pemimpin kami,” kata Shihoru. “Kau adalah rekan kami. ... dan juga kawan kami.”

“... Ah, sekarang kau berhasil membuatku malu, sampai-sampai aku ingin mencebur ke dalam parit.”

Shihoru tertawa, sehingga Haruhiro pun juga tertawa. Dia senang bahwa Shihoru adalah rekannya sekaligus temannya. Dia juga bersyukur dengan lubuk hatinya yang terdalam.

“Jadi, yang satunya apa?” Tanya Haruhiro.

“Yang kedua adalah ...” Shihoru menutup matanya, menempatkan tangan di dadanya, dan mengambil napas dalam-dalam. Apa yang coba dia lakukan? Shihoru berusaha untuk melakukan sesuatu. Setidaknya, Haruhiro tahu bahwa ini adalah suatu hal yang penting.

Suasananya menjadi tegang. Haruhiro menahan napas dan menunggu.

Shihoru membuka matanya. “Elemental ... datanglah ...”

“Whoa!” Haruhiro terjerembab karena terkejut.

Tepat di depan wajah Shihoru, muncul semacam pusaran berukuran kecil. Mungkin tidak sebesar kacang, tapi sebesar ibu jari. Bentuknya berubah-ubah. Ada pusaran yang berputar-putar di sana, jadi Haruhiro tahu ada sesuatu di dalamnya.

Shihoru mengulurkan tangan kanannya. Dia membiarkan pusaran itu menempel di telapak tangannya.

“Mengambang,” perintah Shihoru, dan elemental itu pun melayang-layang. “Jatuh,” katanya, dan benda itu mendarat kembali di telapak tangannya.

Shihoru menaikkan dan menurunkan benda itu berulang-ulang, sampai pada tingkatan kosentrasi yang aneh.

Mungkin tidak berlebihan kalau menyebutnya “kesurupan”. Shihoru benar-benar berkosentrasi penuh tanpa sekalipun mengedipkan matanya, dan giginya pun bergemelatukan ketika melakukan itu. Rambutnya bergoyang-goyang dengan gelisah. Haruhiro sampai merinding ketika melihat gadis itu.

“... Lepaskan,” kata Shihoru dengan paksa.

Pusaran itu tiba-tiba mengeluarkan suara-suara aneh dan mulai berubah. Seakan-akan seperti ada yang membukanya dari dalam….. kemudian ada sesuatu yang keluar. Ada zat berwarna ungu kegelapan yang tampak seperti perpaduan antara cahaya dan bayangan. Seakan-akan, benda itu berjuang keras untuk menampakkan dirinya.

Dia berusaha keras untuk dilahirkan. Seperti itulah tampaknya. Tergantung bagaimana kau melihatnya, kau boleh bilang benda itu berbentuk seperti bintang, atau bahkan berbentuk seperti janin manusia yang meronta-ronta dengan menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Tapi kemudian, tiba-tiba dia kehabisan kekuatan ... dan menghilang bersama bunyi “Pooof”.

“... payah deh.” Shihoru tampak kecewa dengan bahu terkulai. “Aku sudah mencoba itu beberapa kali, tapi ... aku masih belum berhasil membuatnya bekerja.”

"Bekerja? Apa….” Haruhiro mengusap tenggorokannya. Dia berusaha menelan ludah, tetapi mulutnya kering. "…Apa yang barusan kau lakukan? Shihoru ... Apakah itu sihir? Tidak, tapi kau sama sekali tidak mengucapkan mantra ... Kau bahkan tidak menggambar simbol elemental seperti biasanya ...”

“Apakah kau masih ingat…. apa yang Gogh-san katakan? Dia mengatakan, 'Kami menetapkan elemental, kemudian mengaktifkan kekuatan alternatif. Mereka tidak akan mengajarimu teknik seperti ini di Guild'...”

“Ohh,” kata Haruhiro. “... lupa-lupa-ingat, sih.”

“Sejak dia mengatakan itu, aku selalu memikirkannya,” kata Shihoru. “Di Guild, kami diajari bahwa ada beberapa elemental di dunia ini, yaitu makhluk gaib yang tidak bisa kau lihat dengan kedua matamu. Kau boleh bilang, bahwa para Mage sepertiku mempelajari cara menjinakkan elemental tersebut, kemudian…. dengan mengendalikan elemental sesuai apa yang kami inginkan, maka kami bisa menghasilkan sihir.”

“Aku ragu apakah aku bisa memahami penjelasanmu, tapi lanjutkan saja….”

“Saat ini, ada suatu hal yang membuatku ragu.”

“Err, apa itu?”

“Bahkan dalam cuaca panas terik sekalipun, kau dapat memanggil elemental es, dan menggunakan sihir Kanon Ice,” kata Shihoru. “Bahkan di tengah hari yang terang benderang sekalipun, kau bisa menggunakan Darsh sihir bayangan tanpa sedikit pun melemahkan efeknya.”

“Jadi, elemental dan materi dunia nyata adalah dua hal yang berbeda? Mereka bisa menghasilkan panas tanpa terpengaruh suhu luar? Begitupun dengan cahaya, bayangan, dan banyak elemen lainnya? Mereka tidak berinteraksi langsung dengan lingkungan di dunia nyata ... Apakah begitu?”

“Tapi masalahnya, dengan sihir kau dapat membekukan sesuatu, meledakkan sesuatu, dan masih banyak lagi,” kata Shihoru. “Jadi, aku pun penasaran, apakah elemental benar-benar tidak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya .... Menurutku itu aneh.”

“Eh, maaf? Aku tidak yakin bisa mengikuti penjelasanmu… tapi, apakah maksudmu, benda yang barusan kau keluarkan tadi bukan sihir? Benar kah?”

“Selama ini aku hanya mengikuti kata Master-ku, yang berteori bahwa elemental tidak terpengaruh oleh dunia nyata,” kata Shihoru. “Arve, Kanon, Falz, Darsh ... Kupikir, tipe-tipe sihir itu hanyalah mantra yang diciptakan oleh manusia, dan bukan berasal dari kekuatan elemental yang sebenarnya. Namun, justru itulah yang paling mendekati dugaanku.”

“Sihir yang tidak diajarkan di Guild, ya ...”

“Aku ingin semakin mahir menggunakan sihir,” kata Shihoru. “Kalian semua selalu melindungiku, jadi aku pun ingin meminjamkan kekuatanku untuk membantu kalian.”

“Ah, itu tidak benar… kau sudah cukup kuat, lho?”

“... Tidak, kurasa ini semua masihlah belum cukup. Tapi, bukankah tidak ada Guild di dunia ini?”

“Ya ... tidak ada satu pun,” kata Haruhiro. “Tidak mungkin ada.”

“Kalau aku hanya mengandalkan sihir baru yang diajarkan oleh Guild, maka aku tidak akan pernah berkembang secara mandiri. Jadi, aku harus mencari jalan keluarnya sendiri.”

Kau sungguh menakjubkan, Shihoru. hanya itulah yang bisa Haruhiro ungkapkan pada gadis penuh tekad di sebelahnya itu. Shihoru benar-benar menakjubkan. Haruhiro terenyuh.

Jika Barbara-sensei tidak ada di sini, maka aku harus menemukan cara sendiri untuk menjadi lebih kuat.

Apakah Haruhiro pernah memikirkan hal seperti itu sebelumnya? Sejujurnya, terlintas di kepala pun tidak pernah.

“Tapi ...” Shihoru menundukkan kepalanya sambil mengerutkan kening. “Masih ada suatu hal yang membuatku khawatir. Kau boleh mengatakan, itulah yang membuatku merasa tidak nyaman. Di satu sisi, seolah-olah teknik ini ... menyalahi semua metode yang selama ini kugunakan untuk mengaktifkan sihir. Mungkin, itu karena ajaran Guild sudah begitu membekas dalam pikiranku.”

“Um, jadi ... singkatnya, kau masih belum bisa menemukan cara untuk menjadi lebih kuat ... bukankah begitu?”

"…Betul."

“Tidak masalah kok,” ia meyakinkan si gadis.

Maksudku, aku sih gak tahu apa-apa, tapi ...

Haruhiro bukanlah seorang Mage. Dia tidak yakin bisa mengatakan suatu hal yang pasti pada Shihoru. Mungkin dia pun tidak punya hak untuk menenangkan kegalauan gadis itu. Namun, setidaknya dia ingin memberikan dorongan padanya. Dia ingin mendukung Shihoru, yang telah berusaha begitu keras. Haruhiro pikir, dia harus melakukannya, tapi bukan berarti dia tidak mampu melakukan sesuatu.

“Dengar, jika ada yang tidak beres, aku akan selalu ada untuk mendukungmu,” kata Haruhiro. “Ah, tidak… bukan hanya aku saja, melainkan kami semua pasti akan mendukungmu. Semuanya akan baik-baik saja. Maksudku, kau akan terus termotivasi jika punya tujuan yang jelas. Aku yakin, pada akhirnya nanti kau pasti akan menemukan sesuatu, yaitu sihir khusus yang asli diciptakan olehmu, iya ‘kan? Aku ingin melihatnya. Ya, aku yakin itu juga akan menjadi kabar baik bagi Party kita.”

"…Terima kasih."

"Tidak, tidak, tidak. Akulah yang harus berterima kasih. Sekarang energiku serasa terisi kembali. Aku tidak tahu apa-apa tentang sihir, tapi mulai sekarang, kalau terjadi sesuatu, jangan pernah ragu untuk membicarakannya bersamaku, oke? Kalau kau bersedia membagi ceritamu padaku, aku akan selalu mendengarkannya dengan setia.”

“Ya,” kata Shihoru. “Tentu saja.”

"Benarkah? Sihir yang tidak diajarkan di Guild, ya? Aku berani bertaruh, itu tidak hanya terbatas pada sihir. Aku pun akan meniru caramu ini untuk menemukan kemampuan terbaruku yang tidak pernah diajarkan Barbara-sensei sebelumnya.”

“Kau seorang pemimpin yang baik,” kata Shihoru.

"Hah?"

“Kau…. Haruhiro-kun.” Shihoru memberikan senyum seperti biasanya. "Kau adalah pemimpin terbaik yang bisa kami miliki ... kau tahu itu?”

“... Heh heh.” Haruhiro hanya bisa tersenyum, kemudian dia pun menutup mulutnya dengan tangan karena malu. “H-hentikan itu, oke? Kau hanya salah orang, aku tidaklah sehebat itu."

“Tidak… hanya kau lah yang pantas menjadi pemimpin kami, Haruhiro-kun.”

Grimgar V7 013.png

"Begitukah? Aku tidak pernah tahu ... Aku selalu menganggap bahwa diriku bukanlah pemimpin yang layak. Jujur saja, aku selalu berhati-hati dengan status seperti itu. Karena aku pernah sesekali terbawa suasana, dan itu sangat berbahaya.”

“Itu sebabnya kami dapat mempercayaimu.”

“Jangan terus memujiku seperti itu, kau ingin aku mati kege-eran?” Tanya Haruhiro. “Kau tahu, rasanya cukup menggelikan ketika mendengarkan pujian seperti itu ...”

“Maaf.” Shihoru melihat ke parit, kemudian mengambil napas pendek. “Aku hanya ... ingin memberitahumu apa yang sedang kupikirkan. Aku harus menyampaikan semuanya, sebanyak yang kubisa. Aku tidak ingin ... terjebak dalam penyesalan sekali lagi.”

Haruhiro tiba-tiba kehabisan kata. Dia ingin menyetujuinya, namun dia hanya bisa mengangguk.

Selama beberapa menit, mereka duduk bersebelahan di dekat parit dalam kesenyapan.

Ini cukup aneh, pikirnya. Keheningan ini sama sekali tidak membuatku merasa canggung. Mungkin karena Shihoru lah yang berada di sebelahku…. Kalau Mary…. Gak tau lagi deh.

Kemudian, si gadis menanyakan sesuatu yang sama sekali tidak dia duga sebelumnya.

“Haruhiro-kun ... kau suka Mary, kan?”

“Hahhhh ... ?!” Dia tersentak ke depan sampai hampir tercebur ke parit.

Setelah itu, jelas saja Haruhiro berusaha keras membantah kecurigaannya. Shihoru tidak punya cukup alasan untuk mempercayai sanggahannya, namun nampaknya akhirnya gadis itu menerima ribuan alasan yang bertubi-tubi dikatakan oleh Haruhiro. Mulai sekarang, Haruhiro harus lebih berhati-hati menjaga sikapnya, agar kesalahpahaman ini tidak semakin berlarut-larut.

Kesalahpahaman? pikirnya. Benarkah ini suatu kesalahpahaman? Aku pun penasaran…

Kinuko-sama[edit]

“Aku mau mati! Ah, sakit sekali!” Ranta teriak sambil menggunakan Leap Out untuk memposisikan diri kembali di depan musuh. “Kita jelas-jelas mendapatkan kutukan di hari ke-49 di dunia ini!”

Musuh mencoba untuk berbelok pada Ranta. Namun, dengan waktu yang sangat baik, Kuzaku melindungi Ranta dengan perisai yang barusan dia dapat, sehingga serangan lawan dapat diblok.

“Grahhh!” Teriak Kuzaku.

“Ngh ...!” Ranta mengayunkan pedang hitam yang dibelinya dari pandai besi, pada pinggul musuh. “Tentu saja, kau juga kena kutuk, bung!”

Sementara Undead singa terbatuk dan memuntahkan darah dari rahangnya yang menakutkan, ia melingkarkan lengan kirinya pada Ranta. Kuzaku memberikan gangguan pada lengan kanannya, sehingga makhluk itu tidak bisa bergerak sesuai yang dia inginkan. Kuzaku tidak hanya mengganggu gerakannya; dia juga berteriak dan menusukkan pedangnya pada perut lawannya.

Yume melepaskan tali busurnya, sehingga panahnya melesat. Dan panah itu tepat menghujam dahi Undead.

Tembakan bagus, Haruhiro ingin mengucapkan selamat padanya, tapi Yume berteriak, “Nyaarrww!” sepertinya ada sesuatu yang membuatnya tidak puas. Dia pasti membidik mata lawan, tapi tembakannya luput. Tapi, toh tidak melenceng jauh.

Haruhiro mulai mencari celah untuk menempel pada punggung Undead, kemudian dia menikamkan pedang pendeknya pada leher lawannya. Bulu tengkuk yang tebal dan kaku si singa menghalangi pedangnya. Dia menarik kembali pedangnya, dan menusukkan sekali lagi….. Tidak…. Ia merasakan sesuatu. Tubuhnya dipenuhi oleh kekuatan yang tidak biasa.

Haruhiro melepaskan diri dari punggung Undead singa dan melompat jauh. “Menjauh darinya sekarang juga!”

“Okeh!” Teriak Kuzaku.

“Sialan!” Teriak Ranta.

Kuzaku dan Ranta segera mengikuti perintah Haruhiro dan mundur dari lawannya. Pada saat itu, Undead singa mengeluarkan suara gemuruh yang benar-benar membuat beku hati siapapun yang mendengarnya. Itu adalah suara keras yang membuat ciut nyali siapapun yang mendengarnya, dan itu membuat mereka jadi kacau. Meskipun mereka sudah bersiap, sangatlah sulit berkonsentrasi dalam keadaan seperti ini. Itu membuat mereka ingin menutup telinga dan menjerit: Tolong, hentikan! Haruhiro, Kuzaku, Ranta, dan Yume meringis kesakitan ketika mendengar auman itu. Bahkan Zodiak-kun, yang hanya iseng-iseng terbang di sekitar mereka juga tersiksa. Mary pun demikian. Satu-satunya orang yang tidak terganggu adalah Shihoru, dia malah sedang berkosentrasi penuh untuk mengaktifkan sihirnya.

“Dark!” Teriak Shihoru.

Ketika Shihoru menyebut nama itu, sesuatu muncul seolah-olah dari pintu yang terbuka dari dunia lain. Ada semacam benang panjang dan gelap yang terpelintir menjadi spiral dan membentuk suatu wujud tertentu. Wujudnya mirip manusia, hanya saja seukuran telapak tangan. Makhluk gelap seukuran telapak tangan manusia itu adalah elemental.

Setelah banyak mencoba, Shihoru telah berhasil menetapkan wujudnya. Tapi kalau kau bertanya padanya, Shihoru hanya akan menjawab bahwa dia masih dalam proses berlatih. Makhluk itu masih bisa berkembang menjadi wujud sebenarnya yang lebih layak.

Apapun itu, Dark telah berkembang dan kini menempel pada Shihoru. Seperti itulah Haruhiro melihatnya. Dark muncul di dekat wajah Shihoru ini, kemudian dia duduk di bahunya. Tapi mungkin, itu tidak cukup untuk mendeskripsikan apa yang sedang terjadi.

"Majulah!"

Ketika Shihoru memberi perintah, Dark langsung mematuhinya. Dia terbang dari bahu Shihoru dengan bunyi desingan yang aneh, atau mungkin itu hanya suara biasa, kemudian ia meluncur menuju Undead singa.

Dark menghujam tepat di dada Undead singa. Namun tidak terjadi apa-apa. Dia tersedot ke dalam tubuh si singa. Apakah itu menyebabkan sesuatu? Apa yang akan dilakukan Dark? Masih belum jelas. Tapi, bagaimanapun juga, Undead singa mengerang dan meringkuk kesakitan, seakan-akan dia menerima pukulan keras ke ulu hati, kemudian dia jatuh berlutut. Dark telah melakukan sesuatu padanya.

Sebelum Haruhiro bisa berteriak “Sekarang!” Ranta sudah menyerang dengan Leap Out-nya. Dia menebaskan pedangnya dengan bentuk angka delapan…… ah tidak juga.

Itu lebih mirip simbol tidak terhingga. [5]

“Infinite ... Black Purgatory Dance!”

Pertama-tama dia membentuk simbol tak terhingga, kemudian angka delapan. Setelah angka delapan, dia membentuk simbol tak terhingga sekali lagi. Dia melakukan itu berulang-ulang.

Undead singa hampir tidak mengenakan armor keras, tetapi tubuhnya dilindungi oleh bulu lebat dan kaku, lemak yang bisa meredam tumbukan, dan otot yang tebal. Berkat itu, tebasan pedang tidak begitu efektif terhadapnya. Namun, tebasan Ranta masih mengenai targetnya. Meskipun serangannya tidak efektif, Ranta terus menebaskan pedangnya bagaikan orang gila. Akhirnya dia kehabisan nafas, kemudian mundur dari lawannya.

“Gimana tuh ...” Kuzaku menikamkan pedang pada perut Undead singa, tepat pada titik yang dia tusuk sebelumnya, kemudian dia putar pedang itu. “... katanya tak terhingga?!”

“Nguhhhhhhh!” singa Undead menggeliat dan memuntahkan darah.

“Ranta gitu loh!” Yume menembakkan panah satu per satu.

Dia menggunakan Rapid Fire. Tiga kali tembakan. Tembakan pertama meleset, tapi yang kedua menusuk sempurna di mata kanan Undead singa, dan tembakan ketiga malah meleset tepat di sisi helm Kuzaku.

“Whoa!” Kuzaku mendengking.

"Nyaa?! M-maafkan aku!”

“Bwahah!” Ranta langsung membalasnya. “Yume gitu loh!”

“Diam, Ranta bego!”

“Ehe ... Memang benar, kau terlalu berisik ... Diamlah, Ranta… selamanya ... Ehehe ...”

“Zodiac-kun! Pada dasarnya, kau menyuruhku untuk mati di sini, kan?!” Ranta menjerit padanya.

“Auugh ...!” Undead singa mencoba untuk mendorong Kuzaku.

Kuzaku memperkokoh kuda-kudanya agar terus bertahan. Dia menusukkan pedangnya semakin dalam kemudian memelintirnya. “Rahhh!”

Haruhiro melompat pada Undead singa satu dari belakang, lantas menusukkan pedang pendek pada punggungnya. Dia merobek lapisan bulu, daging, dan lemak. Pedangnya menusuk di sela-sela tulang rusuk…. Namun, itu belum cukup. Pedangnya tidak menusuk sampai organ monster itu.

“Haru!” Mary memanggilnya, sehingga Haruhiro memutuskan untuk menjauhkan diri dari si monster diam-diam. Ketika melawan musuh sekuat ini, biasanya para Thief seperti Haruhiro jarang sekali bisa memberikan serangan fatal pada lawannya. Itulah asumsi paling aman saat ini. Tapi, jika dia berhasil melihat garis tipis itu, maka akan lain ceritanya. Namun garis itu bukanlah sesuatu yang bisa muncul, meskipun dia telah bekerja keras mencari peluang untuk menyerang.

Dengan suara gemuruh, Undead singa mencoba menggunakan kedua tangan dan kedua kaki untuk mendorong Kuzaku agar menjauh darinya. Kuzaku masih berkelit, tapi kalau adu kekuatan fisik, dia jelas kalah.

“Matilah!” dengan keras, Ranta menebas kepala Undead singa dengan pedang hitamnya, namun dia belum berhasil memotongnya.

Undead singa akhirnya menendang Kuzaku, dan berhasil merobohkannya.

“Guh!”

Undead singa segera berbalik dan berlari.

“Kau pikir bisa lolos?!” teriak Ranta sambil mengejarnya. Ah tidak, dia hanya menggertaknya. Ranta berlari 2 – 3 langkah memburu makhluk itu, namun dia segera berhenti, kemudian mendecakkan lidahnya. “Kita melewatkan kesempatan untuk membunuhnya! Itu karena kalian semua menyedihkan, tau! Andaikan saja ada orang lain sepertiku di tim ini, kita bisa menghabisi lawan seperti itu!”

“... Ya, terus saja berbicara.” Haruhiro melihat ke kiri-kanan, dia memeriksa apakah masih ada Undead lainnya yang mengancam, kemudian dia mengambil napas dalam-dalam.

“Kehehe ... Jika ada dua Ranta ... dunia ini akan menjadi mimpi buruk ... Kehe ... Kehehehe ...” Zodiac-kun tertawa.

“Muaksudmu apa?!” teriak Ranta.

“Persis seperti yang dia omongkan,” gumam Shihoru.

“Zodiac-kun baik banget ya.” Mary tersenyum dingin. “Itu adalah pendapat yang tulus."

“Dasar kaliaaaaaaann. Apakah aku pernah menyusahkan kaliaaaaaaaannn?!”

“Kau menyusahkan kami setiap saat.” Yume menggembungkan pipinya sambil memetik tali pada busurnya. “Nyaaww. Hampir saja ... iya kan?”

“Gak yakin juga.” Kuzaku mengangkat penutup mata pada helmnya, dan membungkuk lehernya. “Kurasa aku bisa mendorongnya, namun ternyata aku tidak sanggup. Seakan-akan, ada suatu hal penting yang kita lewatkan? Mungkin?"

“Tapi sihir Shihoru cukup efektif.” Haruhiro mengangkat jempolnya pada Shihoru.

“Menurutmu begitu?” Shihoru mengangkat pundak dan menundukkan kepalanya karena malu. "Kuharap begitu, sih….”

“Kau memang hebat.” Mary menepuk punggung Shihoru. “Menciptakan sihir dengan gayamu sendiri. Aku bisa mencontohmu suatu saat nanti.”

“... Eh heh,” Shihoru terkikik sendiri.

“Berterimakasihlah padaku!” Ranta membusungkan dadanya. “Karena aku selalu menunjukkan gaya bertarungku yang simpel! Dan itulah yang mempengaruhi kinerja tim! Itu sudah jelas!"

“Kehe ...”

“A-Ada apa, Zodiac-kun? Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, maka katakan saja. Kita kan teman. Tidak perlu sungkan-sungkan….. tunggu dulu… kenapa aku malah menghilang?! Tahan, Zodiak-kun, kembalilah ke sisiku, oke?! Jika kau meninggalkanku seperti ini, maka aku akan merasa malu jika memanggilmu lagi, kau tahu?!”

Undead singa adalah musuh merepotkan yang kadang-kadang muncul di kwartal barat laut Kota Orang Mati. Sampai beberapa saat yang lalu, mereka tidak punya pilihan selain lari saat makhluk itu menyerang, tapi sekarang mereka bisa melawannya, bahkan bertahan. Mereka telah melawannya beberapa kali, jadi mereka mulai terbiasa. Kalau dilihat dari banyaknya pertarungan yang telah mereka alami, mungkin kau bolah bilang bahwa Party Haruhiro sudah semakin kuat.

Bahkan, peralatan mereka juga semakin baik. Kuzaku teleah mendapatkan perisai berbentuk trapesium dengan permukaan cembung…. Menurut pandai besi di Desa Sumur, rupanya senjata itu disebut Gushtat…. dan, dia juga mendapatkan sepasang sarung tangan kokoh yang cukup ringan. Ranta mengganti armornya dengan bahan yang lebih ringan dan tampak menakutkan. Dia menamainya Death Armor [6]. Betapa konyol nama itu, biasanya armor digunakan untuk bertahan, lalu kenapa disebut armor kematian. Apakah armor tersebut begitu tidak aman, sehingga siapapun yang menggunakannya akan mati? Hanya Ranta yang bisa memahaminya.

Adapun bagi Haruhiro, jubahnya, baju kulit, sarung tangan, celana, dan segala sesuatu yang menempel di badannya sudah begitu usang, compang-camping, dan tidak bisa lagi diperbaiki. Maka dia pun membeli gantinya yang berwarna lebih gelap dari toko pakaian dan tas di Desa Sumur. Untuk pelindung dada dan beberapa pelindung lainnya, dia menggantinya dari bahan yang tampaknya terbuat dari kulit ular. Dia cukup menyukai satu set pakaian barunya. Untuk sarung tangan, karena di dunia ini jarang ada makhluk yang berjari 5, maka dia harus mengganti sarung tangan miliknya dengan sarung tangan berjari 7. Meskipun cukup unik, namun dia sudah terbiasa menggunakan itu, menurutnya itu cukup mudah dipakai.

Tampaknya, Yume telah memutuskan untuk mengenakan pakaian yang bisa meningkatkan pertahanan dirinya, namun tidak mengganggunya ketika memanah. Dia mengenakan sejumlah pelindung yang berbeda di sana-sini. Sepertinya pelindung-pelindung itu terbuat dari tulang hewan yang terbungkus oleh semacam getah damar, tapi material itu sangatlah ringan.

Topi dan jubah Shihoru yang lama juga telah usang, maka para gadis pergi bersama-sama untuk membeli penggantinya yang cocok dari toko tas dan pakaian. Dia telah membeli pakaian baru, namun sepertinya bagian dadanya terlalu ketat. Mungkin, selama ini dia mengenakan pakaian yang cukup longgar.

Ranta diam-diam berbisik pada Haruhiro, sehingga Shihoru tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, “Kau lihat apa yang berusaha dia sembunyikan? Sepasang Oppai segedhe torpedo!! Maksudku… oh bung… ternyata dia lebih montok daripada yang kuduga sebelumnya.”

Jujur, Haruhiro menyetujuinya, tapi ia masih merasakan keinginan untuk membunuh si kampret ini ketika meledek Shihoru.

Sebagai seorang Priest, Mary sebenarnya masih ragu, namuan akhirnya dia membuang jubahnya yang sudah rusak parah. Dia mencari jas putih sebagai pengganti, tapi tidak ada model seperti itu, lantas dia pun memilih jas biru. Jubah itu begitu cocok dengan ukuran tubuhnya, dan dia terlihat manis ketika mengenakannya. Mary juga mengganti tongkatnya, ada benjolan di ujung tongkat itu yang sepertinya akan terasa cukup sakit kalau dihantam dengannya, namun tongkat itu adalah barang jarahan, jadi dia tidak membelinya.

Kebetulan, mereka semua membeli topeng atau penutup wajah dari toko topeng, dan itu akan membuat mereka lebih nyaman berlama-lama di Desa Sumur. Mereka juga membeli kebutuhan sehari-hari yang semakin banyak. Dengan begini, mereka merasa lebih berkecukupan dalam meneruskan petualangan ini.

Selain itu, perkembangan paling penting adalah sihir baru Shihoru. Dia telah berhasil memberikan wujud pada elemental bernama Dark, yang sudah bisa dia kendalikan.

Wujud Dark menyerupai elemental bayangan, mungkin itu karena Shihoru sudah cukup mahir menggunakan sihir Darsh. Elemental memakan Mana seorang Mage untuk membentuk wujudnya, dan untuk mengerahkan kekuatan mereka. Oleh karena itu, Mage dan elemental saling mempengaruhi satu sama lain secara langsung. Karena Haruhiro hanyalah seorang Thief, maka dia tidak begitu memahaminya, namun sepertinya itu mirip dengan iblis milik Dark Knight.

Pokoknya, sihir baru Shihoru bernama Dark, baru saja dibuat dan masih dalam proses perkembangan, jadi potensi penuhnya masih belum muncul.

Shihoru telah memilih sihir Darsh sebagai keahliannya, yang memiliki spesialisasi dalam mantra pendukung dan pengganggu, namun dia juga berusaha mempelajari Falz yang memiliki efek penghancur. Dia juga telah mencoba-coba sihir Kanon. Dia telah mengalami berbagai hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Namun, sepertinya Shihoru tidak pernah menginginkan berganti-ganti keahlian seperti itu. Sebenarnya Shihoru adalah tipe gadis setia yang akan mengejar suatu hal dengan bersungguh-sungguh, selama dia bisa menggapainya.

Apakah Dark bisa menjadi sihir original andalan Shihoru? Haruhiro juga berharap demikian.



Hari ke-49 di dunia ini pun telah berlalu, dan datanglah hari ke-50.

Ketika mereka kembali ke Desa Sumur untuk mencuci wajah mereka dan sarapan, Haruhiro dan yang lainnya bertemu dia lagi.

“Oh ho!” Ranta melompat ke udara. “Unjo-san!”

Dengan menggunakan topi capingnya, pria yang bagaikan gudang senjata berjalan itu membawa kapak, pedang, busur, dan senjata-senjata lain yang tergantung pada pinggul dan ranselnya. Rupanya dia sedang makan sup kelabang spesial bikinan om kepiting. Ini adalah kedua kalinya mereka bertemu Unjo-san, namun mereka bisa langsung mengenalnya karena sosoknya yang begitu mencolok.

Ketika Unjo-san selesai minum kaldunya, ia menarik keluar kelabang dengan jari-jarinya, kemudian memakannya begitu saja. Setelah mengosongkan mangkuk itu, dia berkata, “Ruo keh,” dan mengembalikan mangkuk kepada om kepiting, sebelum akhirnya menoleh pada Haruhiro dan yang lainnya.

“Kalian lagi, hah. Pasukan relawan. Kalian masih hidup, ya?”

“Kuucapkan terimakasih padamu!” Ranta bergegas bersalaman padanya. “Maksudku, terimakasih telah menunjukkan Kota Orang Mati itu! Itu benar-benar membantu kami! Sejak saat itu, pendapatan kami meningkat, dan kualitas hidup kami juga meningkat! Kaulah yang terbaik, Unjo-san! Mudah-mudahan Unjo-san bisa jadi bos! Bos…? Mungkin lebih baik jadi raja? Yahh, terserah lah. Ehehehehehe. Apakah kau menyukainya, Yang Mulia?! Apakah kau menginginkannya, Yang Mulia?! Pokoknya Unjo-san paling pantas menjadi pemimpin”

“Bung, kau malah mengganggunya ...” Haruhiro menahan pusing karena sikap berlebihan Ranta, kemudian dia mendorongnya ke samping, dan membungkuk untuk meminta maaf pada Unjo-san. “Ijinkanlah aku meminta maaf atas kebodohan si kampret kami ini ...”

Unjo-san meraih pinggiran topi caping dan menariknya ke bawah. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun.

Apa artinya itu? Mungkinkah dia marah ...?

Terdengar suara Ranta sedang menelan ludahnya, kemudian dia menyiku Haruhiro. “D-dasar tolol. S-semua ini salahmu!"

"Mengapa…?"

“Karena kau lah pemimpinnya, sialan! Itu berarti semuanya adalah tanggung jawabmu, dasar culun!”

Setelah melirik Haruhiro yang cukup sabar terhadap ejekan temannya, Unjo-san pun mulai berjalan.

Ke mana dia akan pergi? Ke toko umum yang berada di samping toko kelontong? Yah, mereka menyebutnya toko umum, tapi sebagian besar barang yang dijajakan toko itu hanyalah sampah. Penjaga tokonya tampak kurus dengan pakaian serba gelap, dan dia jarang sekali menampakkan diri, mungkin toko itu sudah tidak lagi berjualan.

Pemiliknya tidak ada di sana saat ini. Pintu tokonya pun masih tertutup.

Sebelumnya, Ranta pernah melakukan uji nyali konyol dengan menggedor pintu itu, namun tak ada balasan apapun dari dalam.

Toko umum adalah toko paling misterius di Desa Sumur. Sebutan ‘toko umum’ hanyalah nama yang diberikan oleh Haruhiro dan teman-temannya, padahal belum tentu bangunan itu adalah sebuah toko.

Unjo-san tidak mengetuk pintu toko umum tersebut. Tiba-tiba ia membukanya. Itu merupakan pintu geser. Unjo-san diam-diam masuk.

…Tunggu dulu…. Ah…. pikir Haruhiro dengan kaget. Gak papa tuh nyelonong begitu?

“A-Apa yang harus kita lakukan?” entah sejak kapan, tiba-tiba saja Ranta berlindung di balik badan Haruhiro.

“... Apa maksudmu dengan 'apa'? Untuk saat ini, menjauhlah dariku.”

“Hei, bung, aku tidak menempel padamu seperti ini karena aku ingin. Jangan salah paham, tolol.”

“Hmm.” Kuzaku menggertakkan lehernya. “Kau tahu…. Sebenarnya aku cukup tertarik."

“Ya,” kata Yume dengan tak acuh. “Ayo kita coba masuk ke dalam.”

Yahh, kita kan masih di dalam Desa Sumur. Di sini toh cukup aman, jadi bukannya kita akan terbunuh atau apa, Haruhiro mencoba beralasan. Mungkin saja…..

Pintu toko umum masih terbuka. Pertama-tama, Haruhiro coba mengintip ke dalam. Dia pun sedikit terkejut.

Tidak ada satu pun jendela, dan ada cahaya remang-remang yang menyinari dinding gelap. Sepertinya ada sesuatu pada permukaan dinding itu… Apakah itu semacam prasasti? Prasasti terbuat dari lempung yang mengeras, atau mungkin juga terbuat dari batu? Apapun itu, Haruhiro melihat banyak lempengan prasasti berbentuk persegi di sana. Ada yang besar dan ada pula yang kecil. Pada permukaan prasasti itu, terukir simbol-simbol dan gambar-gambar. Simbol apakah itu, bahkan gambarnya pun diwarnai.

Ada sesosok makhluk yang duduk pada kursi di belakang, itu adalah si pemilik toko yang tubuhnya panjang dan ramping. Unjo-san meletakkan ransel besarnya pada lantai. Sepertinya dia hendak mengambil sesuatu dari dalam ranselnya. Ternyata itu adalah prasasti batu.

“Wowie ...” Yume berjongkok di dekat pintu. “Apa sih itu? Sungguh menakjubkan….”

Ranta mengangkat penutup mata pada helmnya, kemudian menatap apapun di sekelilingnya. “Harta karun, kah ...?”

“Apakah ini semua adalah harta karun?” Shihoru melihat sekeliling ruangan, lalu menghela napas. “Kayaknya sih begitu ...”

“Ini mungkin bukan toko biasa,” kata Mary dengan tenang. “Bisa jadi, ini adalah sebuah museum, iya kan?"

“Bagiku, barang-barang ini terlihat cukup tua.” Kuzaku berjalan-jalan di dalam toko. Dia coba mengulurkan tangannya untuk menyentuh salah satu prasasti batu, tapi kemudian segera menariknya kembali. “Mungkin menyentuhnya adalah ide yang buruk.”

Pemilik toko kurus itu menerima prasasti batu dari Unjo-san, menempatkannya di meja, kemudian meletakkan kedua tangan di atasnya.

Haruhiro sedikit merinding. Ia melihat sesuatu yang cukup menakutkan, yaitu tangan si penjaga toko kurus. Tangannya memiliki 5 jari, namun tidak ada telapak tangan… Haruhiro sempat mengira bahwa dia sedang mengigau, namun akhirnya dia yakin bahwa pada tangan makhluk itu terdapat mata. Lantas dia menggunakan tangan bermata itu untuk meneliti prasasti tersebut.

Unjo-san menoleh pada Haruhiro. “Di sini, tidak ada buku. Tidak ada kertas. Tapi ada catatan. Pada batu, pada lempung. Pada prasasti. Pertapa tangan bermata, Oubu, adalah seorang peneliti. Dia mengumpulkan prasasti. Kalau kau bisa menemukan prasasti bagus, maka dia akan membayarmu.”

Pertapa tangan bermata, Oubu, mungkin dia lah yang selama ini Haruhiro sebut dengan penjaga toko kurus. Ketika tangan pertapa Oubu berpindah pada prasasti lainnya, dia merogoh ke dalam laci meja dan mengeluarkan beberapa koin hitam. Itu adalah koin besar. Bukan yang medium, apalagi yang kecil. Itu benar-benar koin hitam besar yang berharga. Tidak hanya satu, tapi 2 keping.

Dua koin besar, berarti 2 Rou. Harganya bisa berkisar dari 20 - 50 Ruma, tergantung pada toko mana kau membelanjakannya. Dia sungguh beruntung.

Setelah mengambil dua koin itu dari pertapa Oubu, Unjo-san memasukkannya begitu saja ke dalam ransel, kemudian berkata, “Ruo keh.”

“Avaruu seha,” pertapa Oubu menjawab, kemudian tangannya kembali meneliti prasasti batu di meja. Dengan tangan bermata itu, ia memeriksa dengan seksama prasasti yang baru diperoleh.

“Luminous dan Skullhell.” Unjo-san tiba-tiba menyebutkan dua nama yang tak terduga, sembari ia menunjuk salah satu prasasti batu. “Tergambarkan pertempuran antara 2 dewa.”

“Ohh ...!” Ranta bergegas mendekat, kemudian menekankan wajahnya pada prasasti batu. “Dia benar! Pria di sebelah kanan ini, wajahnya mirip seperti simbol Dewa Skullhell yang selama ini kupuja!”

“Kalau Dewa Luminous sih wajahnya tidak pernah digambar, namun hanya diwakilkan dengan simbol heksagram” Mary tampak tertarik juga, lalu dia menyipitkan mata saat melihat prasasti itu. “Wanita di sebelah kiri, itukah Luminous ...?”

Prasasti batu ini berbentuk lonjong dan persegi panjang. Di sisi kanan adalah seorang pria dengan wajah seperti tengkorak, dan di sebelah kiri adalah seorang wanita berambut panjang. Pria itu memegang sabit besar di tangan kanannya, pedang di tangan kirinya, dan dia hanya punya satu kaki. Wanita itu telanjang, dengan bola besar di tangan kanannya dan bola kecil di tangan kirinya. Ada semacam pelangi yang melingkar di belakang tubuhnya.

Latar pada setengah bagian kanan dari prasasti itu menggambarkan malam hari, sedangkan sebelah kirinya adalah siang hari. Ada banyak makhluk kecil yang tergambar di bagian bawah prasasti tersebut. Mereka masing-masing berdiri sejajar dengan pria dan wanita itu, dan mereka bertarung satu sama lain. Mereka saling menyerbu dengan menggunakan pedang, dan ada juga gambar panah yang saling berhamburan, dan beberapa makhluk sudah tumbang. Rupanya, prasasti itu sedang menceritakan suatu pertempuran berdarah.

“Itu terjadi di sini,” kata Unjo-san dengan suara rendah. “Luminous dan Skullhell ada di sini. Di sini, di Darunggar.”

“Darung ... gar?” Tanya Haruhiro saat ia melihat prasasti batu dan lempung lainnya.

“Seperti itulah mereka menyebut tempat ini.”

“Dewa Cahaya, Luminous, dan Dewa Kegelapan, Skullhell, bertarung di sini, di Darunggar ...” kata Shihoru dengan hati-hati. “Dahulu kala, orang-orang Darunggar ada yang memihak Luminous, dan ada juga yang memihak Skullhell, kemudian mereka saling bertarung ... Bukankah begitu?”

“Siapa yang menang ... Aku ingin tahu?” Kuzaku mengusap heksagram yang terukir pada senjatanya sendiri.

“Hei, bung.” Ranta mendengus. “Lihatlah betapa gelap dunia ini, maka jelaslah Dewa Skullhell pemenangnya, iya kan?”

“Tapi sihir cahaya juga bekerja di sini, kan?” Mary segera membantahnya. “Jika Luminous kalah, bukankah aneh jika kekuatannya masih mencapai dunia ini?”

“Kalau kau berkata begitu, maka sihir kegelapan juga sama, kan? Yahh, meskipun begitu, keefektifannya seakan berkurang sampai setengahnya, sih.”

“Nah, kalau begitu….” Yume sedang melihat prasasti batu lainnya. “Maka hasilnya imbang, kan?”

“Kemudian, mereka berdua berpindah ke Grimgar?” Haruhiro memiringkan kepalanya ke samping. "…Tunggu sebentar, bagaimana kalian menyebut sekumpulan dewa? Grup dewa? Party dewa? Kelompok dewa? Ah tidak, mungkin lebih tepat para dewa saja…”

“Jalannya pertempuran masih belum diketahui.” Unjo-san memanggul ransel. "Si pertapa Oubu mengatakan bahwa dia tidak tahu. Dia sedang menyelidiki itu. Pokoknya, Luminous dan Skullhell meninggalkan Darunggar. Darunggar adalah dunia tanpa dewa.”

“Mereka meninggalkan ...” Haruhiro menggaruk rambut di tengkuknya. “…Tunggu dulu, memangnya mereka berasal dari mana?”

Shihoru menelan ludah. “Jangan-jangan… ada semacam jalan penghubung antar dunia, di suatu tempat? Tanpa adanya jalan penghubung Darunggar dan Grimgar, mereka tidak bisa berpindah ... kan?”

“Itu artinya………!” Teriak Ranta. “Kita bisa pulang, kan ?!”

Kuzaku melirik Unjo-san. “Jika kita bisa pulang, bukankah seharusnya dia sudah tidak berada di sini?"

“Oh, iya ya.” Yume menghela napas dalam-dalam. “Dengan Konjo-san yang masih berada di sini, mungkin pendapatmu itu ada benarnya ...”

“Maksudmu Unjo-san, oke?” Haruhiro membenarkan perkataan si gadis Hunter, kemudian mulai berpikir.

Haruhiro tidak begitu terkejut atas fakta ini karena belakangan ini dia mulai berpikir: Aku ingin pulang ke rumah. Enak banget kalau bisa begitu. Ah… tapi kalau pun sudah tidak mungkin kembali, hidup di sini juga gak papa.

Kalau mereka tidak mampu menemukan jalan kembali pulang dalam 100 atau 200 hari kemudian, mereka akan mulai berasumsi bahwa mereka harus menghabiskan sisa umurnya di dunia ini. Mereka akan menetap di Darunggar. Dengan memulai sebuah keluarga, misalnya? Tentu saja, kalau itu benar-benar terjadi, mereka harus mulai berpikir soal keturunan. Itu mungkin suatu hal yang penting. Haruhiro tak boleh beralasan dengan berkata, ’akulah pemimpinnya’. Kalau ada apa-apa, pemimpinlah yang harus terlebih dahulu mengambil inisiatif.

Namun, tak ada jaminan dia akan mengungkapkan perasaannya pada gadis yang dia suka.

Tidak, itu tidak mungkin terjadi, kan? Aku tidak bisa melakukannya, kan? Lagian, apa sih pengakuan cinta itu? Apa yang akan kuakui? Kepada siapa? Aku sama sekali tidak paham apa yang kumaksudkan.

Sementara Haruhiro menanyakan pertanyaan-pertanyaan tak berarti itu pada dirinya sendiri, Unjo-san meninggalkan ruang penelitian pertapa Oubu, yang ternyata sama sekali bukan toko. Harusnya dia mengatakan sesuatu sebelum pamit, tapi memang begitulah tabiat Unjo-san, yahh apa mau dikata.

Haruhiro dan yang lainnya juga meninggalkan ruang penelitian itu, lantas mereka melihat Unjo-san sedang menuju ke arah bangunan yang berbeda. Itu adalah bangunan terbesar di Desa Sumur, terbuat dari tumpukan batu, dilengkapi dengan jendela kaca. Sepengetahuan Haruhiro, selalu ada cahaya yang terpancar keluar dari jendela tersebut. Jadi, mungkin saja ada seseorang yang tinggal di sana, namun dia tidak pernah melihat siapapun di sana.

Waktu itu, Unjo-san juga memasuki bangunan batu tersebut. Haruhiro masih mengingatnya. Ia tidak melihat orang lain masuk atau keluar dari sana.

Unjo-san membuka pintu, lalu melirik pada Haruhiro dan yang lainnya. Seolah-olah dia hendak mengatakan, Ikuti aku. Setelah menafsirkannya begitu, Haruhiro dan yang lainnya mengikuti Unjo-san masuk ke dalam bangunan.

Haruhiro merinding. Itu adalah perasaan yang sangat aneh.

Di mana ini? Haruhiro penasaran.

Dunia yang disebut Darunggar. Desa Sumur. Seakan-akan Haruhiro tidak sedang berada di kedua tempat tersebut, karena bangunan ini begitu berbeda.

Berbeda dengan bangunan lain di Desa Sumur, yang satu ini memiliki lantai yang layak, bahkan dilapisi karpet. Ada rak, satu meja, lima kursi. Sepertinya ada ruangan lain di belakang sana. Di kedua sisi jendela kaca terdapat tirai. Ada lilin yang terletak di sana, dan semuanya menyala. Empat kursi ditempatkan di sekeliling meja. Hanya ada satu di tengah-tengah ruangan.

Dan di kursi tersebut, duduklah seorang wanita.

Dia adalah manusia. Mengenakan gaun merah, kaus kaki putih, sepatu hitam, pita merah, rambut pirang, dan mata biru. Dia tampak seperti seorang gadis muda dengan kulit pucat.

Setidaknya, itulah persepsi Haruhiro, namun ternyata dia salah besar.

“... Boneka?” Haruhiro berkedip dan melihat sekali lagi dengan seksama.

Mengapa tadinya dia mengira bahwa boneka itu adalah manusia? Mungkin karena bentuknya begitu mirip dengan aslinya, tapi boneka itu jelas-jelas sudah tua, bahkan ada retakan di sana-sini. Matanya dibiarkan terbuka lebar. Tapi rambutnya tampaknya sudah disisir, dan warna pakaiannya sudah agak pudar, namun bajunya masih bagus dan tidak berantakan.

“Tunggu ...” Ranta berkata.

Bukan hanya boneka dan perabotan, ruangan ini dipenuhi dengan banyak hal unik dan berbeda. Rak, bagian atas meja, dan bahkan lantai, semuanya aneh… namun tidak hanya itu saja…

Ini, itu, di sana, di sini, entah kenapa….. sepertinya aku mengenal semua benda ini.

Ada gambar berbingkai yang bersandar di dinding. Ada juga benda bundar yang tergeletak di meja. Ada lagi benda tebal yang berbentuk persegi panjang. Di sana ada 2 benda seperti cakram yang terhubung dengan semacam pita. Yang satunya berbentuk kotak tipis, seukuran telapak tangan Haruhiro. Ada lagi benda berbentuk papan yang dilengkapi banyak tombol pada permukaannya. Ada juga benda yang bagian depannya terbuat dari gelas, dengan bentuk persegi dan sisinya melengkung.

Mungkin…..aku pernah melihat benda-benda ini sebelumnya.

Dia tahu bahwa dia pernah melihatnya. Namun keyakinan itu semakin goyah. Ingatannya tentang benda-benda itu seakan-akan segera dilenyapkan oleh sesuatu. Dia pernah melihatnya sebelumnya? Sungguh? Bagaimana bisa dia mengucapkan itu dengan begitu yakin?

Dia bahkan tidak tahu. Dia tidak bisa mengingat nama-nama benda ini, atau kapan dan di mana dia pernah melihatnya. Ia tidak ingat, tapi ... bagaimana bisa dia merasa pernah tahu benda-benda tersebut? Apa buktinya?

Namun, masih ada beberapa benda yang bisa dia kenali dengan pasti. Ada beberapa pasang kacamata. Salah satunya berbingkai hitam, satunya lagi berbingkai logam, dan yang lainnya memiliki pinggiran yang terbuat dari semacam tempurung kura-kura. Lensanya sudah rusak, atau hilang entah kemana, tapi benda itu jelas-jelas adalah kacamata.

Ada juga banyak buku di rak. Namun dia tidak pernah melihat buku seperti itu di Grimgar. Buku itu lebih tipis, dan lebih kecil. Ada juga kaleng, dan wadah yang bening. Meskipun terlihat bening, tapi itu jelas bukan terbuat dari kaca.

Unjo-san meletakkan ranselnya di lantai dan mengeluarkan sesuatu dari dalam. Benda itu berbentuk bola putih. Ketika Unjo-san meletakkannya di atas meja, terdengar suara keras.

Bola putih itu tidak bergulir. Tampaknya permukaannya bergelombang.

“Ap ... Apa itu?” Tanya Kuzaku. “T-tunggu dulu, sepertinya aku mengenal benda itu, tapi….. apa sih itu?"

“Aku juga tidak tahu.” Unjo-san perlahan melihat ke sekeliling ruangan. Dia mungkin memeriksa seberapa lama lagi lilin-lilin itu akan habis terbakar. "Tapi aku sangat yakin bahwa benda-benda di ruangan ini berbeda dari apa yang biasa aku temui.”

“... berbeda.” Shihoru menggelengkan kepalanya. "Aku merasakan hal yang sama. Benda-benda itu berbeda dari yang biasanya.”

Mary menempelkan tangan di dadanya. “Apakah Anda mengumpulkan semua ini?”

“Tidak,” jawab Unjo-san segera. “Ketika aku pertama kali datang, semuanya sudah begini.”

“Nyaa ...” Yume mengambil benda berbentu persegi panjang tipis di atas meja. Ketika dia membelai dengan jarinya, dan menyeka debu yang tertempel padanya, dia merasakan permukaan benda itu yang sungguh halus. Yume memiringkan kepalanya ke samping dan melihatnya dengan gembira. “... Nwuh?”

“Apakah para penduduk desa yang mengumpulkan ini semua?” Ranta memandang boneka itu dengan merinding. “Apakah tidak ada seorang pun yang hidup di rumah ini, selain gadis ini?”

Unjo-san menunjuk ke arah boneka dengan dagunya. “Jangan sentuh Kinuko.”

“Kinu ... ko ... Tunggu dulu, maksudmu boneka ini?”

“Semua orang memanggilnya dengan nama itu.”

“Hmm,” kata Ranta. “Yah, menurutku sih, Kinuko bukanlah nama yang cocok, lebih pantas Nancy atau sejenisnya."

“Nancy juga tidak cocok,” Shihoru tidak setuju. “Sama sekali gak cocok.”

“Wah!! Kalau begitu yang cocok apa?? Beritahu aku, wahai nona oppai torpedo!!”

“Torp ...” Shihoru menutupi payudaranya dengan kedua lengan. “... M-Mungkin Alice? Atau semacamnya…"

“Alice, ya? Hmm.” Ranta bersedekap. “Apapun itu, yang jelas mereka sudah menamainya Kinuko.”

“Para dewa telah meninggalkan Darunggar.” Unjo mengangkat ranselnya. “Dia adalah penggantinya. Di desa ini, Kinuko disembah. Dia datang dari dunia lain ... begitulah kata mereka."

“Benar ...” Haruhiro mengangguk. “Dia tidak terlihat seperti benda dari dunia ini. Ya. Namun, jika seseorang bertanya padaku, apakah dia berasal dari Grimgar…..”

“Tidak mungkin.” Yume masih mengutak-atik benda tipis berbentuk persegi panjang itu. "Kalian tahu, Yume merasakan sesuatu yang misterius pada benda itu. Entah kenapa, benda itu mengingatkanku pada masa lalu. Meskipun Yume tidak tahu benda apakah itu, namun Yume merasa pernah mengenalnya. Aneh, kan…"

“Benda asing juga disembah,” kata Unjo. “Jika kau menemukan sesuatu yang bagus di luar sana, bawalah kemari. Kemudian persembahkan pada Kinuko.”

“Maksudmu, um ...” Ranta selalu saja berbicara blak-blakan tanpa rasa sungkan. "Secara cuma-cuma?"

Unjo-san hanya mendengus pelan dan tidak menjawab pertanyaan itu.

Haruhiro menundukkan kepalanya sedikit. “... Maafkan dia, kumohon….”

"Hah? Kenapa kau minta maaf, Parupiroooo? Kau ini tolol atau apa? Iya sih, kamu kan memang tolol.” Ranta seakan tidak tahu siapakah yang salah di sini. “Yah, kurasa seperti itulah cara kerjanya. Meskipun tidak ada uang di sini, dia bilang bahwa Kinuko adalah dewa. Tapi, bisakah kita mendapatkan semacam berkah darinya? Itu akan membuatku semangat memberikan persembahan padanya. Ya. Jika kita menemukan sesuatu, ayo kita bawa ke sini."

“... Tapi tetap saja…..” Kuzaku berjongkok di depan benda yang bergambar dan berbingkai. “Mengapa semua benda ini ada di sini? Atau mungkin, lebih baik kurubah pertanyaanku dari ‘mengapa’ menjadi ‘apa’…. Sebenarnya bangunan apa sih ini? Aku sama sekali tidak paham, dan bukankah ini semua aneh?”

Haruhiro bisa memahami apa yang ingin dikatakan Kuzaku. Ia mengerti, tapi tidak bisa mendeskripsikannya dalam rangkaian kata-kata yang baik. Itu cukup membuatnya frustasi, dan dia pikir itu memang aneh.

“Kami sedang mencari cara kembali ke dunia asli kami.” perkataan Shima kembali terngiang di kepalanya.

Cara kembali. Ke dunia asli mereka.

Kepala Haruhiro mulai pusing. Di dalam pelipisnya… ah, tidak, jauh lebih dalam daripada itu… ia merasakan sesuatu yang begitu berat, namun rasanya tajam menusuk. Ada sesuatu di dalam ingatannya. Dia hanya bisa menyebutnya: ”Ada sesuatu”, tidak lebih. Tapi dia tidak pernah bisa mencapai “sesuatu” itu. Karena letaknya jauh di dalam kepalanya. Tak mungkin dia bisa mengobok-obok otaknya untuk mencari “sesuatu” itu. Oh, andaikan saja dia bisa melakukan itu!

“Unjo-san,” kata Haruhiro.

"Apa?"

“Unjo-san, apakah Anda pernah berpikir untuk pulang ke dunia asalmu, atau semacamnya?”

“Dunia asal.” Unjo-san mengulangi perkataan Haruhiro sekali, kemudian terdiam.

“Tunggu ...” Mary menatap Haruhiro dari balik topengnya. “Yang kau maksud dengan ‘dunia asal’ bukanlah Grimgar, kan?”

“... Hah?” Shihoru menutupi mulutnya. “Bukan Grimgar…….”

Yume mendongak ke langit-langit. “... Fwhuh?”

“Dunia asal…..” Kuzaku tenggelam dalam pikirannya. “dunia asal ...”

“Hey, hey, hey. Apa maksudmu dengan dunia asal?” Ranta mencoba tertawa, tapi akhirnya mulutnya terbungkam dengan sendirinya. “... Apa? Dunia tempat kita berasal sebelum tiba di Grimgar ... Apakah itu maksudmu?”

“Kalau bukan dari Grimgar, maka darimana kita semua berasal?” tanya Mary dengan nada yang begitu memaksa, dan itu membuatnya tidak terlihat seperti Mary yang biasa. “Aku tidak ingat apa-apa dari sebelumnya, tapi…… aku pun yakin bahwa kita semua berasal dari suatu tempat. Tidak mungkin kita lahir sudah dalam wujud seperti ini.”

“Dari mana sih kita semua berasal?” Suara Shihoru mulai sedikit gemetar. “…. maksudku ... dalam ingatanku… sepertinya aku pernah bertanya pada Haruhiro-kun : ’Di manakah tempat ini?’"

"Jadi ... di manakah ini?" Seorang gadis mungil yang tampak pemalu dengan gugup bertanya dari balik tubuh pria berambut perak.

"Tidak ada gunanya bertanya padaku, karena aku pun tak tahu," jawab pria itu.

"Ah, maaf. Apakah ada yang tahu? Di mana kita?" [7]

Haruhiro masih ingat betul percakapan itu. Rupanya, gadis mungil pemalu yang berbicara saat itu adalah Shihoru.

“Kemudian, kita semua melihat pada Tuan Bulan.” Yume menepukkan tangannya bersamaan. “Dan ternyata, dia berwarna merah…. sungguh mengejutkan.”

"Apa……." Si gadis berkepang tampaknya juga sudah menyadarinya. Dia berkedip beberapa kali lalu terkekeh-kekeh dengan pelan. "Ohh wahai bulan yang besar, kau kelihatan merah sekali. Indah banget." [8]

Yume. Yang mengatakan itu adalah Yume. Dia juga bisa mengingatnya dengan cukup jelas. Pada saat itu, mereka melihat bulan. Warnanya merah delima, dan wujudnya berada di antara bulan sabit dan bulan setengah utuh.

Mengapa warnanya harus merah? pikirnya. Bukankah bulan berwarna merah sangat aneh.

Mengapa aneh? Sejak kapan aneh? Seharusnya, seperti apakah warna bulan?

“... Bukit?” Gumam Haruhiro.

Kala itu, mereka berada di puncak bukit sebelah Kota Altana. Ada deretan kuburan, yang juga merupakan peristirahatan terkahir Manato dan Mogzo. Dan juga……. Choco.

Choco…. Choco ...? Dia adalah rekan Kuzaku. Dia juga seorang Thief sama seperti Haruhiro. Dia adalah seorang pasukan relawan junior. Dia gugur dalam pertarungan di Benteng Capomorti.

Apakah hanya itu yang dia tahu tentang Choco? Dia sendiri juga tidak yakin. Ada sesuatu yang mengganggu dirinya. Apakah dia sudah lupa akan sesuatu yang jauh lebih penting…?

Mata yang besar, dibalik poni panjang. Bibir cemberut. Seorang gadis dengan model rambut Bob.

Namanya adalah Choco.

Mantan rekan Kuzaku ... Dia telah meninggal. Dia tidak pernah melihatnya lagi.

“Kita semua berada di atas bukit.” Haruhiro melihat rekan-rekannya. “... Itu benar, bukan? Setidaknya, Shihoru, Yume, Ranta-dan Manato dan Mogzo juga ada di sana. Kikkawa. Renji. Ron. Sassa. Adachi. Chibi-chan, juga. Mereka ada di sana. Di bukit itu. Kita melihat bulan merah. Kuzaku, Mary, bagaimana dengan kalian?”

“Bukit ...” Mary bergumam pada dirinya sendiri tanpa sadar. "…Aku mengingatnya. Tapi, tidak begitu jelas. Kurasa, suatu hal yang kuingat dengan benar adalah bukit di sebelah Altana.”

“Kurasa juga begitu.” Kuzaku mengangguk. “Agaknya ... Oh, ya, aku memang pernah berada di sana bersama mereka. Tapi aku tak ingat apa yang kami bicarakan saat itu ...”

“Kebetulan sekali…..” Bahkan Unjo-san ikut menimpali, sambil sedikit tersenyum. “Aku juga ingat pernah melihat bulan merah dari bukit itu. Waktu itu aku berpikir: ‘Bulan merah…. Betapa menyeramkan’ ...”

“... Bukankah itu aneh?” Haruhiro menarik salah satu kursi di dekat meja, lantas duduk pada kursi tersebut. “Kita semua muncul pada bukit yang sama. Maksudku ... bukankah itu aneh?? Benar-benar aneh. Sebelum tiba di Grimgar, tak peduli darimanapun kalian berasal… kalian akan memulainya dari suatu tempat mirip seperti lorong… kemudian kalian harus melewati lorong itu…. dan muncul pada suatu bukit….”

“Ada juga sebuah menara.” Unjo-san tiba-tiba melepas topi capingnya. Rambutnya sudah setengah memutih, dengan potongan cepak. Meskipun bagian bawah wajahnya tersembunyi oleh syal, setengah wajahnya ke atas bisa terlihat dengan jelas. Ia memiliki dahi nonong, dan sepertinya dia berumur sekitar 40an atau 50an tahun. Setelah menempatkan topi capingnya di atas meja, Unjo-san juga mengambil tempat duduk. “Kalau tidak salah, itulah yang dinamakan 'Menara Terlarang'.”

“Menara tanpa pintu masuk atau keluar ...” seluruh tubuh Shihoru mulai menggigil. “Aku tidak pernah tahu untuk apa tempat seperti itu dibangun ... Menurutku itu aneh....”

“Mungkinkah……” Ranta duduk di lantai. “Mungkin kita semua keluar dari menara itu?”

“Bukankah tidak ada pintu masuk dan keluar?” Tanya Mary dengan ragu-ragu.

“Hmm ...” Ranta mengetuk kepalanya sendiri. "Itu dia. Itulah masalahnya. Tapi, aneh juga kalau tidak ada pintu masuk atau keluarnya. Ini berarti. Ada semacam pintu yang tersembunyi di suatu tempat, kan?”

“Kalau begitu, Hiyomu mungkin tahu dong?” kata Yume. “Hiyomu lah yang membawa kita dari bukit, menuju tempat Bri-chan di Altana, lho.”

“Itu juga terjadi padaku.” Mary mengangguk.

“Ya.” Kuzaku mengangkat tangannya sedikit. "Aku juga."

“Kalau aku…” Unjo-san menekan keningnya. “Kurasa, aku dituntun oleh seorang pria. ... 'Panggil aku Saa,' katanya saat itu. Dan, siapakah Bri-chan itu?”

“Dia adalah……” jawab Haruhiro. “….dia adalah komandan Crimson Moon, dan dia mengepalai suatu batalyon yang disebut Pasukan Cadangan Perbatasan Altana. Nama lengkapnya adalah Brittany.”

“Brittany.” Mata Unjo-san melebar. “... Apakah dia adalah seorang pria yang dandanannya mirip wanita? Dengan mata berwarna biru muda.”

"…Anda kenal dia?"

"Aku tahu dia. Nama aslinya adalah Shibutori.”

“Shibutori?!” seru Ranta. “Nama Bri-chan sebenarnya adalah Shibutori?!”

“Shibutori berasal dari angkatan setelahku,” kata Unjo-san. “Jadi dia sekarang menjabat sebagai komandan?”

“Um, Unjo-san,” Haruhiro bertanya dengan ragu-ragu. “Maafkan aku karena menanyakan hal ini lagi, tapi….. sudah berapa lama sejak Anda datang ke Darunggar ini?”

“5676 kali….” kata Unjo-san dengan tatapan bengong. “Itulah angka yang kuingat, sejak aku mulai menghitung. Angka itu adalah banyaknya cahaya merah dari balik punggung bukit mulai bersinar.”

“... Lima ribu enam ratus tujuh puluh enam kali….”

Apakah lama durasi 1 hari di Darunggar sama dengan 1 hari di Grimgar? Ataukah berbeda? Masih tidak jelas bahkan sampai saat ini, tapi kalau sama…. Berarti Unjo-san sudah menghabiskan 15 tahun penuh, ditambah 201 hari di Darunggar ini.

“Apakah sebelumnya Anda pernah melihat manusia seperti kami?” Haruhiro melanjutkan.

“Tidak ada. Ini adalah pertama kalinya aku melihat manusia hidup. Jadi, kalian lah yang pertama.”

“Serius ...?” Bahkan Ranta mengatakannya dengan nada sedih. “P-p-pasti berat bagimu, ya ...”

“Aku sudah terbiasa.” Unjo-san menunduk ke meja. “... Aku telah terbiasa. Namun aku tidak pernah kembali pulang. Aku sudah lama menyerah untuk pulang. Hidup di sini tidak begitu buruk. Rumah seseorang adalah istananya. Hal-hal yang aneh menjadi normal. Lama-kelamaan, kau juga bisa berbicara dengan bahasa mereka. Aku memiliki banyak kenalan di sini. Bahkan bahasa kalian, hampir terdengar asing di telingaku. Aku sudah melupakan lebih dari setengah kosakata bahasa kalian. Tapi ketika berbicara dengan kalian, aku kembali mengingatnya satu per satu. Seperti yang kita lakukan saat ini. Tapi, apapun itu… aku tidak pernah berhasil menemukan jalan kembali pulang. Kalian juga harus siap-siap bernasib sama sepertiku. Bukit itu. Menara terlarang itu. Tak penting lagi bagiku. Pintu tersembunyi. Meskipun ada pintu seperti itu, kau tidak akan dapat menemukannya. Kau juga tidak punya bukti adanya pintu itu. Tinggalah di sini. Itu adalah satu-satunya pilihan. Hiduplah sampai umur kalian habis dengan sendirinya. Tidak peduli di mana pun kau berada, semuanya sama saja. Kalian bisa memanfaatkan apapun di dunia ini untuk menyambung hidup."

“Bukan hanya kami….” Shihoru memaksakan perkataannya. “Lala dan Nono ... Sepasang petualang yang jauh lebih berpengalaman dan terampil daripada kami, juga datang ke Darunggar. Lagipula, kami tidak datang ke sini secara langsung dari Grimgar.”

“Dari mana kalian datang?” Unjo-san menusukkan jari kanannya ke dalam meja. “Dari mana kalian memasuki Darunggar?”

Haruhiro tidak begitu mengingatnya. Dia tidak begitu mengingat jarak dan arah ketika dia memasuki dunia ini. Meski begitu, Haruhiro menjelaskannya secara rinci, sebanyak yang dia ingat. Tanpa berbelit-belit, Haruhiro menceritakan bahwa mereka datang ke dunia ini dari dunia lainnya yang bernama Dusk Realm, kemudian mereka pun menemukan Desa Sumur.

“Hulu ...” Unjo-san tertawa, seakan takjub. “Kalian sungguh beruntung. Kalian masih selamat adalah suatu keajaiban.”

Kata Unjo-san, hutan sebelah utara Desa Sumur merupakan sarang bagi Yegyorn, yang menurut Unjo-san, bisa diartikan sebagai “kabut ngengat”, yaitu spesies ngengat beracun. Racunnya sungguh intens dan kuat, dan hanya butuh waktu sekejap untuk membuat sebagian besar makhluk hidup pingsan kesakitan. Namun, ada pengecualian untuk semacam makhluk seperti musang yang disebut Getaguna. Hewan itu memiliki ketahanan terhadap racun Yegyorn, dan para Yegyorn tidak mau repot-repot menyerang mereka.

Yegyorn biasa berburu dengan mengepung mangsa mereka kemudian membuatnya tidak sadarkan diri, namun Getaguna akan buru-buru merebut mangsa mereka dan memakan jerohannya. Yegyorn meminum darah mangsa mereka, kemudian bertelur di dalam dagingnya. Setelah beberapa waktu, telur-telur tersebut akan menetas. Daging yang sudah membusuk akan memberikan larva-larva ngengat tersebut nutrisi untuk tumbuh, sampai akhirnya munculah ngengat kecil yang sudah siap beterbangan.

Yegyorn kecil hanya seukuran ujung jari telunjuk manusia. Pada dasarnya, mustahil bagimu menghindari mereka di hutan Darunggar yang gelap, saat kau menyadarinya, kau sudah terkena gigitan mereka.

Bahkan, Unjo-san mengatakan bahwa dosis racun ngengat kecil masihlah lemah, namun jika ada ratusan ngengat di sekitarmu, maka akan beda ceritanya. Racunnya akan bekerja ratusan kali lebih cepat jika mereka semua menggigitmu.

Ada juga Yegyorn di sungai utara. Selain itu, di sepanjang sungai ada juga Tobachi (yang dapat diartikan “jahat,” atau “sulit ditangani”), mereka adalah sekawanan hewan yang mahir dalam melakukan serangan gerilya dan bersembunyi di mana pun, jadi berhati-hatilah dengan kelompok ini. Ada banyak jenis Tobachi, bahkan itu adalah nama umum bagi hewan karnivora ganas yang hidup di sepanjang sungai.

Tentu saja, Tobachi sering menjadi mangsa bagi Yegyorn dan Getaguna.

Selain itu, ada hewan mirip monyet yang disebut Gaugai… mungkin hewan itulah yang Party Haruhiro namai dengan Inuzaru… dan mereka tersebar di wilayah yang luas. Mereka adalah omnivora, tapi makanan favorit mereka adalah Getaguna.

Hutan ngengat bernama Adunyeg, yang terletak di sebelah utara Desa Sumur, adalah tempat yang sangat berbahaya, dan orang yang masih berakal sehat tidak akan mau pergi ke sana.

Menurut Unjo-san, jika mereka berencana untuk menyeberangi Adunyeg agar kembali ke Dusk Realm, maka mereka harus bersiap-siap mati. Entah butuh waktu tiga hari, dua hari, atau satu hari, Unjo-san mengatakan bahwa siapapun yang melintasi Adunyeg, pasti akan berhadapan dengan sekawanan Yegyorn. Dan jika mereka menemuinya, maka berakhirlah sudah. Ada kalanya, seekor atau dua ekor Yegyorn beterbangan ke Desa Sumur, dan ketika itu terjadi, para warga pun akan panik.

“Y-Yah, untung saja kita tidak coba menjelajahi hutan itu, iya kan?” Ranta menelan ludah. “Yaahh, bukan berarti kembali ke Dusk Realm adalah pilihan terbaik. Di sana juga banyak bahaya. Namun, aku berani bertaruh bahwa Lala dan Nono tidaklah seberuntung kita. Mereka pasti sudah mati. Mereka hanya memanfaatkan kita, kemudian meninggalkan kita begitu saja, jadi kurasa itu adalah balasan yang pantas bagi mereka ...”

“Namun, mereka tidak pernah datang ke Desa Sumur, kan?” Kata Kuzaku.

“Mungkin tidak.” bahasa Unjo-san mulai kembali fasih. “…. Karena masih banyak desa-desa atau kota-kota lainnya yang bisa mereka singgahi.”

Tentu saja tidak masuk akal bila di dunia ini hanya ada satu desa. Aneh sekali jika Desa Sumur hanyalah satu-satunya desa yang tersisa dari pertarungan besar antara Dewa Luminous dan Skullhell.

Tapi Haruhiro terkejut.

“Whaa…..” Haruhiro kehilangan kata-kata. Dia saling memandang teman-temannya.

“Mrrr.” Yume menekan tangan terhadap kedua pipinya. “Jadi, masih banyak kota lainnya ya ...”

“D-d-d-dimanakah kota-kota itu?!” Ranta mengulangi pertanyaannya. “K-k-k-kumohon… Bisakah Anda memberitahu kami lokasi kota-kota itu?!”

“... kumohon?” Suara Shihoru dipenuhi kebencian.

“Gak masalah sih.” Unjo-san mengenakan topi capingnya lagi. “Alasan mengapa kita tidak bisa kembali ke Grimgar. Akan kujelaskan itu sembari kubawa kalian ke Kota Herbesit. Itu pun kalau kalian mau.”

Mencengangkan[edit]

Sebelum berangkat, Haruhiro dan yang lainnya mendengarkan saran Unjo-san, atau lebih tepatnya…. instruksi, kemudian mereka mempersiapkan semuanya secara menyeluruh.

Kota Herbesit berada di sebelah barat Desa Sumur, untuk sampai ke sana diperlukan waktu 3 hari dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, mereka harus berkemah di hutan. Unjo-san sudah bilang bahwa ada beberapa kawanan Yegyorn pada barat hutan, tapi ada juga koloni Gaugais (Inuzaru) di daerah itu. Sedangkan, ada juga sejumlah karnivora ganas yang berbeda-beda, omnivora, serta Durzoi (secara harfiah diartikan “si tua”, atau semacamnya), yaitu makhluk humanoid berlengan empat.

Menurut Unjo-san, Durzoi adalah pemburu yang ulung, dia sering bekerja sendirian untuk memburu binatang karnivora besar yang disebut Vaguls. Jika ada pihak yang mencuri mangsa Durzoi, mereka akan berubah menjadi lawan yang berbahaya dan pendendam, tapi selama kepentingan mereka tidak dirugikan, mereka tidak akan mengganggu. Namun, Party Haruhiro masih perlu mewaspadai Vaguls, serta binatang lainnya termasuk Siddas, Wepongs, dan Gaugais. Binatang-binatang buas itu menggunakan taktik yang berbeda-beda saat berburu, dan mereka cukup lihai memanfaatkan kelengahan mangsanya.

Ada satu cara yang bisa membuat mereka terhindar dari serangan hewan-hewan buas, yaitu membunyikan lonceng seperti yang pernah mereka lihat pada kereta si pembuat arang.

Mereka bisa membeli lonceng pengusir binatang pada si pandai besi. Tapi harganya tidaklah murah, yaitu tidak kurang dari 20 Ruma, tapi tampaknya mereka wajib memiliki lonceng tersebut agar bisa melintasi hutan dengan aman, jadi mereka layak membelinya.

Di hutan barat, mereka harus membunyikan lonceng pengusir bintang sepanjang waktu. Unjo-san tentu saja juga memiliki lonceng seperti itu, tapi dia mengatakan bahwa melintasi hutan sendirian bukanlah perkara mudah. Akan lebih mudah jika kau melintasi hutan berbahaya tersebut bersama rekan-rekanmu. Ketika sebagian anggota Party istirahat, yang lainnya bisa membunyikan lonceng itu sembari berjaga-jaga.

Meskipun tidak sebanyak Yegyorn, hutan ini juga merupakan rumah bagi serangga beracun dan ular berbisa, jadi lebih baik mereka menutupi setiap jengkal kulit mereka saat tidur.

Haruhiro dan yang lainnya membeli beberapa helai kain tebal dari toko pakaian dan tas untuk membuat tenda. Mereka juga membuat pakaian baru dari kain yang terasa nyaman saat dipakai. Mereka juga mendapatkan makanan yang diawetkan dan lilin di toko kelontong. Mereka pun telah membeli minyak yang terbuat dari beberapa tanaman.

Haruhiro dan yang lainnya pernah menganggap tempat penelitian Pertapa Oubu sebagai “toko umum”, tetapi ternyata yang dimaksud dengan toko umum di Desa Sumur adalah toko kelontong milik om kepiting raksasa.

Setelah semuanya siap, Party Haruhiro mengikuti Unjo-san dan berangkat dari Desa Sumur.

Pertama-tama, mereka mengikuti jalan yang terdapat jejak roda kereta, menuju ke tempat pembuatan arang. Jalur itu tidak berakhir di sana. Haruhiro dan yang lainnya telah menduga hal itu sebelumnya. Jika mereka terus menyusuri jalur itu, maka kemanakah mereka akan menuju? Menurut Unjo-san, jalur tersebut akan berakhir pada suatu pertigaan berbentuk garpu.

Unjo-san memimpin jalan, bersama lonceng pengusir hewan yang tergantung pada ranselnya, jadi untuk saat ini, yang perlu Haruhiro lakukan hanyalah mengikutinya. Selama mereka memiliki lonceng Unjo-san, mungkin mereka tidak perlu memiliki lonceng sendiri. Pikiran itu terlintas di benak mereka, tapi jangan terlalu bergantung pada orang yang baru kemaren kenal.

Si pembuat arang, yang tampak identik dengan pandai besi di Desa Sumur, sedang bekerja dengan tungkunya. Unjo-san tampaknya juga sudah berkenalan dengan si pembuat arang. Mereka asyik ngobrol, sebelum akhirnya Unjo-san meminta Haruhiro dan Party-nya untuk beristirahat sejenak di sini.

“Tidak ada tempat yang lebih aman di hutan ini, selain tempat pembakaran arang ini,” kata Unjo-san pada mereka. “Setelah kita melewati tempat ini, maka jangan harap menemukan orang yang lebih ramah daripada si pembuat arang. Pahamilah itu, kemudian sisanya serahkan pada instingmu.”

Dari cara Unjo-san berbicara, sepertinya orang-orang di Kota Herbesit tidak begitu ramah.

99% hati Haruhiro dipenuhi oleh kegelisahan, tapi 1% sisanya adalah harapan yang membuatnya tidak menyerah. Haruhiro dan yang lainnya tahu betul. Bukan hanya mendengarnya dari Unjo-san, namun mereka sudah paham betul. Kepercayaan berasal dari pengalaman. Ada banyak hal yang tidak mereka percayai, sampai mereka melihatnya dengan mata-kepala sendiri. Adalah suatu kesalahan besar, bila mereka bertindak hanya berdasarkan informasi yang mereka dengar dari orang lain. Mereka harus menyimpulkan sendiri suatu keputusan yang akan berpengaruh pada masa depan mereka.

Setelah mereka tidur siang singkat, Unjo-san meminta mereka untuk segera berangkat. Setelah melewati si pembuat arang, Haruhiro tidak pernah tahu apapun yang akan menanti mereka. Mereka tegang, tapi Unjo-san berjalan dengan cukup cepat, dan tidak ada yang terjadi. Sepertinya lonceng pengusir hewan itu cukup ampuh.

Sementara mereka berada di hutan, mereka tidak bisa melihat punggung bukit yang jauh. Meskipun begitu, langit masih tampak sedikit cerah, sehingga mereka bisa membedakan siang dan malam.

Party ini tiba di pertigaan mirip garpu hari itu juga. Unjo-san memilih jalan yang mengarah ke barat daya. Dia mengatakan jika mereka pergi ke arah barat laut, mereka akan menemui pegunungan yang curam. Mereka bisa melihat garis pegunungan tersebut dari kejauhan.

Ternyata… jejak roda pada jalan itu bukanlah ditinggalkan oleh si pembuat arang. Rupanya, jejak roda itu sudah ada sejak lama. Di sana ada pembuat arang lainnya, jadi si saudara pandai besi itu bukanlah satu-satunya pembuat arang di hutan ini.

Menurut prasasti batu dan lempung, bahkan setelah Luminous dan Skullhell meninggalkan dunia ini, perang masih berlanjut di Darunggar antara para pengikut Dewi Cahaya dan Dewa Kegelapan. Dengan kata lain, itu adalah perang antara pasukan kegelapan dan cahaya. Darunggar terbelah menjadi 2 kelompok besar, namun mereka tidak berhasil meninggalkan dunia ini bersama dewa-dewanya.

Hebatnya, konflik tragis itu masih berdampak bahkan sampai hari ini. Misalnya, Undead adalah keturunan penyembah Skullhell, mereka membunuh dan melahap makhluk lainnya, dan mengharapkan kehancuran bagi semuanya. Sedangkan, makhluk-makhluk lain yang berkumpul di Desa Sumur adalah keturunan dari para pengikut Luminous, mereka diwarisi cerita bahwa suatu hari nanti Luminous akan kembali dan membawa cahaya ke Darunggar yang gelap. Di sisi lain, mereka pikir itu hanyalah legenda, seperti prediksi bahwa dunia akan berakhir dalam kegelapan. Namun ada juga kepercayaan lain, seperti menyembah Kinuko-sama, yang mereka yakini sebagai benda dari dunia lain. Itu adalah hasil dari pemikiran mereka yang menyimpang.

Menurut Unjo-san, setelah pertapa itu memecahkan petunjuk yang terukir di prasasti, dia mendapatkan informasi lain bahwa ras tertentu telah membangun suatu kerajaan, bahkan fraksi kegelapan dan cahaya pernah berdamai di masa lalu, kemudian berbagi tempat untuk hidup. Namun, kerajaan yang lebih besar daripada kota atau desa itu telah runtuh karena permasalahan internal atau eksternal. Para raja menggunakan kekuasaaannya untuk membangun suatu kerajaan, namun ketika dia meninggal atau terbunuh, maka kerajaan itu akan segera dilahap dalam perang antar saudara, dan semuanya pun musnah.

Darunggar tampaknya bisa diartikan secara harfiah sebagai “tanah keputusasaan”. Namun, dunia ini tidak pernah dikenal dengan nama seperti itu. Awalnya, dunia ini pernah dinamai Fanangar (yang berarti surga), dan diperintah oleh Enos (si dewa tunggal). Ketika Enos terpecah dalam konflik antara Luminous dan Skullhell, dunia ini berubah nama menjadi Jidgar (yang berarti medan perang). Ketika dunia telah ditinggalkan oleh kedua dewa, langit dan bumi pun diselimuti oleh keputusasaan.



Mereka terus mengikuti jejak roda kereta sembari menyusuri hutan lebih dalam. Masih belum ada tanda-tanda gangguan dari binatang apapun. Ini semua berkat lonceng penghalau binatang itu. Saat malam tiba, Haruhiro merasakan seseorang menatapnya. Ketika ia memberitahu Unjo-san, dia mengatakan bahwa itu adalah ulah Durzoi.

“Itu sering kali terjadi di hutan ini,” kata Unjo-san pada mereka. “Jangan mencoba untuk mencari mereka. Kau tidak akan pernah menemukan mereka. Jika mereka mulai menganggapmu sebagai musuh, maka mereka akan mengincarmu. Tnetu saja, kau akan mendapatkan masalah setelahnya.”

Haruhiro hanya perlu menuruti apa yang Unjo-san katakan, dan mengabaikan makhluk itu begitu saja. Tapi, jujur saja, ia masih penasaran.

Ini sudah larut malam, sehingga mereka memasang tenda, kemudian tidur secara bergantian, beberapa orang ditugaskan untuk terus membunyikan lonceng penghalau hewan. Ketika berada di dalam tenda, Haruhiro tidak begitu merasa gelisah, namun ketika tiba giliran jaga sambil membunyikan lonceng, dia merasa sangat gelisah.

Terkadang, monster-monster itu membuat suara-suara aneh. Itu pasti disengaja. Durzoi adalah makhluk pemburu, mereka sengaja membuat kegaduhan untuk melihat apa yang akan dilakukan Haruhiro. Jika Haruhiro merasa terganggu, kemudian berusaha mengusirnya, maka mereka akan menganggapnya sebagai musuh, bahkan mereka akan segera menyerang Haruhiro dan yang lainnya. Durzoi itu mungkin lebih dekat daripada yang dia bayangkan. Kalau Haruhiro merasa penasaran, kemudian mencarinya, mungkin saat itulah dia akan kehilangan nyawanya. Kemungkinan terburuk seperti itu selalu ada.

Atau mungkin mereka memang senang mengintimidasi orang asing, agar membuatnya tetap terjaga.

Haruhiro bisa tidur dengan cukup lelap, tapi ketika pagi menyingsing, dia tidak lagi merasakan keberadaan Durzoi.

Mereka sudah pergi, ya, pikirnya. Tidak…. tidak mungkin aku bisa memastikan itu. AKu tidak boleh lengah. Atau… mungkinkah aku terlalu memikirkannya?

“Kalau kau terus-terusan khawatir seperti itu, maka kau akan cepat botak, bung.” Ranta tertawa mengejek.

Itu cukup membuat Haruhiro kesal, namun meladeni Ranta hanya akan memperparah keadaan, “Ya, ya ...” dan dia pun membiarkannya. Tapi kemudian, si Ranta kampret mulai mendekat, menyenderkan dirinya, dan berbisik, “B – O – T – A – K, ngerti?”

Kalau boleh ditukar, aku lebih baik setim dengan Durzoi daripada si kampret ini.

Sementara ia berpikir begitu, ia rasa takut dan khawatirnya terhadap Durzoi mulai mereda. Mungkin dia harus berterimakasih pada si kampret yang terkadang berguna ini.



Suatu hari, terjadilah insiden ketika langit mulai gelap. Di sana ada sesuatu yang menghalangi jalan di depan mereka. Yang lebih parah lagi, “sesuatu” itu bergerak. Ah tidak, mungkin lebih tepat dibilang “menggeliat”.

Makhluk itu bertubuh tipis dan panjang. Jumlahnya pun sangat banyak.

Kalau dilihat sekilas, mereka tampak seperti ... seperti jeroan. Usus, mungkin? Kalau dideskripsikan lebih logis, mereka tampak seperti cacing. Makhluk itu setebal pergelangan tangan. Jumlah mereka begitu banyak, sehingga menutupi jalan.

“... Apa itu?” Tanya Kuzaku dengan suara serak.

Anehnya, Unjo-san menggeleng. "Mana kutahu."

“Eek ...” Shihoru menjerit pelan, dan bergerak mundur. Tentu saja si gadis penyihir bereaksi seperti itu.

“I-Ini akan baik-baik saja, oke?” Yume memandang Haruhiro. “...akan baik-baik saja, kan?”

Jangan tanya aku, dia ingin mengatakan itu, tapi ia menahannya. “... Y-Yah, aku tak tahu.”

“Parupiro!” Ranta menampar punggung Haruhiro. "Pergilah! Lompati mereka! Jika kau melakukan itu, kita bisa tahu apakah mereka berbahaya ataukah tidak. Lakukan! Kau kan pemimpinnya! Ayolah!"

“Tidak… jangan begitu.” tiba-tiba Mary pasang wajah mengerikan. “Mengapa tidak kau saja yang melompat? Kita semua akan berada dalam kesulitan jika sesuatu terjadi pada Haru.”

“Apa… jadi kau tidak peduli apa yang akan terjadi padaku?! Kalian akan menyesal kalau aku mati! Pikir dulu sebelum ngomong?! Apakah kau mengerti betapa hebatnya aku, betapa spesialnya aku, betapa besar kontribusiku, dan potensiku di masa depan?!”

“Oh, ya, kau memang spesial, Ranta-kun,” kata Kuzaku.

“Kuzacky! Bagus bagus bagus! Kupikir kau mengerti! Ternyata kau bukan sekedar tiang listrik! Mungkin, kau adalah tiang listrik level 2, atau semacamnya! Ah tidak, mungkin kau level 3?!”

“Kenapa aku tidak gembira mendengarkan pujianmu ...”

“Aku sedang menyanjungmu. Tidakkah kau mengerti, dasar tolol? Ampun deh, apakah tubuh setinggi itu tidak dilengkapi dengan otak? Itu sebabnya kau mirip tiang listrik, ya? Ahaha! Masuk akal!"

“Hei.” Unjo-san tiba-tiba meraih kerah baju Ranta dan mulai menyeretnya.

“….Whuh?! A-Ada apa?! Apa yang sedang terjadi?! Whoa, Unjo-san?! Maksudku, Unjo-sama?! A-Ada apa?! H-Hentikan?! Whoa! Itu, wahh….”

Unjo-san sungguh kuat. Dia begitu mudah menyeret Ranta hanya dengan satu tangan, lalu melemparkannya ke tengah-tengah kerumunan cacing raksasa sebesar pergelangan tangan manusia itu.

“Tidaaaaaaaaaaaaakkkk ...!” Ranta mendarat punggungnya terlebih dahulu di tengah-tengah kawanan cacing. “Gwahhhhhhhhhhhhhhh ...”

Itu hanya terjadi dalam sekejap. Ranta ditelan oleh cacing raksasa yang tampak seperti usus bergerak, sampai akhirnya lenyap. Jika Zodiac-kun ada di sini, seperti apa komentar yang akan dia katakan? Tidak… sekarang bukanlah waktunya untuk memikirkan itu ...

Mungkin? Kukira begitu…?

“R-Ranta ...?” Haruhiro memanggilnya dengan ragu-ragu.

“Bwahhhhhhhhhhhh ?!” Ranta melompat keluar dari tengah-tengah kumpulan cacing. Masih ada cacing yang melilit lehernya, lengan, kaki, dan dada, mereka mencoba menariknya kembali. Ranta meronta-ronta. “Mati aku! Mati aku, selamatkan aku! Aku akan mati! Selamatkan aaaaaakkkuuuuuu!”

“Mungkin kita harus ...” Kuzaku bergumam, kemudian menjulurkan lengannya untuk meraih Ranta.

Itu adalah tindakan seorang pria yang begitu jantan. Haruhiro pun terkesan. Tapi, tidakkah itu berbahaya? Ketika Haruhiro mulai mengkhawatirkannya, cacing-cacing itu mulai melilit Kuzaku bersama Ranta.

“Wah! Oh, sial!” Teriak Kuzaku.

“Dark!” Shihoru memanggil elementalnya yang bernama Dark, kemudian dia menyusup ke dalam kawanan cacing. Elemental itu berhasil menyibak puluhan bahkan ribuan cacing.

Kalau hanya Ranta, Haruhiro mungkin bisa mengabaikannya, tapi Kuzaku juga ikut tertangkap, jadi dia tidak punya pilihan selain menyelamatkan mereka berdua. Pada akhirnya, semuanya membantu menarik cacing satu per satu yang melilit Kuzaku dan Ranta, keculai Unjo-san. Akhirnya mereka bisa melintasi jalan itu setelah menunggu cukup lama sampai cacing-cacing tersebut lewat. Setelah pagi kembali menyingsing, makhluk-makhluk mirip guratan usus itu sudah sepenuhnya pergi.

Makhluk apa sih itu?

Tak peduli sekeras apapun dia berpikir, dia tidak akan menemukan jawabannya. Sembari tetap berhati-hati dengan kemunculan makhluk sejenis, mereka meneruskan perjalanan sampai seperempat hari berlalu, kemudian mereka pun berhasil keluar dari hutan.

Jejak roda kereta masih berlanjut, dan perlahan-lahan menurun. Ada sebuah kota yang terhampar di hadapan mereka. Meskipun kotanya sudah setengah hancur, masih ada tembok pertahanan yang mengelilinginya. Sepintas, kira-kira kota itu lebarnya 1 kilometer ... ah tidak, lebih dari itu. Sepertinya panjangnya 1 ½ kilometer dari ujung ke ujung.

Kota itu terlihat bersinar karena banyaknya lampu di sana. Tanpa diragukan lagi, ada ratusan, atau bahkan mungkin ribuan orang yang tinggal di kota ini. Mereka bisa melihat dengan jelas sejumlah sosok yang berjalan naik dan turun jalan-jalan utama. Sepertinya ada banyak bangunan batu di sana. Bangunan-bangunan itu setinggi satu lantai, dua lantai, tiga lantai, dan bahkan lebih tinggi. Ada juga menara-menara yang menjulang tinggi ke langit.

Angin tiba-tiba bertiup, dan pohon-pohon di hutan bergemerisik. Tak lama setelah itu, mereka mendengar suara lonceng. Suara lonceng itu berbeda dengan lonceng pengusir hewan yang dimiliki oleh Unjo-san dan Party Haruhiro. Lonceng itu lebih besar, lebih berat, dan entah kenapa suara itu terkesan menyedihkan. Sepertinya lonceng itu terletak di suatu menara, kemudian bunyi karena tertiup angin. Salah satu dari menara-menara tinggi itu mungkin adalah menara lonceng.

“Ini adalah kota Herbesit.” Unjo-san, yang memimpin kelompok ini melepaskan topi capingnya. “Jangan menyembunyikan wajahmu di Herbesit. Tapi jangan melakukan kontak mata dengan siapa pun. Itu akan dianggap sebagai tantangan. Jika kau diprovokasi, abaikan saja. Orang-orang di kota ini suka berkelahi. Jika kau tidak ingin mendapatkan masalah, teruslah menunduk, dan tetap tenang. Tapi, lain lagi ceritanya kalau kau ingin bertarung sampai mati. Lakukan sesukamu.”

Haruhiro dan yang lainnya mulai merinding.

Seberapa berbahayanya sih tempat ini ...?

Ternyata, kota ini sangat berbahaya. Ketika mereka mencapai ujung jalan, kemudian memasuki kota, ada sepasang makhluk humanoid yang tubuhnya sangat bungkik, namun masihlah lebih tinggi daripada Kuzaku. Mereka datang, dan langsung mengajak berkelahi.

Mereka tidak tahu apa yang pasangan itu katakan, tapi jelas-jelas mereka sedang menuduhkan sesuatu pada Haruhiro dan Party-nya. Salah satunya melompat-lompat di hadapan Unjo-san, dan dia mengejeknya dengan menepuk-nepukkan tangan. Yang satunya terus menjulurkan wajahnya di dekat Shihoru, sembari mengatakan, hee-haw, hee-haw dengan nada tinggi.

Shihoru langsung merengek. Haruhiro ingin membantu, tetapi jika ia memelototi mereka sembari mengatakan, Hei, hentikan itu, perkelahian pasti akan pecah saat itu juga. Shihoru harus sabar, dan yang lainnya pun juga harus menjaga emosi.

Akhirnya, setelah kedua makhluk humanoid itu sudah bosan dan meninggalkan mereka, Yume menjerit aneh. “Yow!” ketika Haruhiro menoleh ke arahnya, Yume sedang menggosok bagian belakang kepalanya. Seseorang telah melemparkan sebongkah batu padanya.

“Yume?! Kau baik-baik saja?!” Ranta melihat ke kiri-kanan. "Sial! Siapa yang melakukan itu?!"

“Hentikan!” Mary segera memukul bahu Ranta dengan ujung tongkatnya. “Sudah jelas itu provokasi. Jangan termakan provokasi mereka begitu mudah.”

“Mary, kau yakin tidak sedang memprovokasiku saat ini?” balas Ranta. “Ujung tongkatmu itu cukup sakit kalau kena ...”

“Oh, begitukah?” Mary mengusap-usap bahu Ranta perlahan. “Yume. Aku tahu itu sakit, tapi untuk sementara ini tahanlah, nanti akan kusembuhkan.”

“Nyaaa. Terima kasih. Benda itu melesat begitu saja dari sana, itu cukup mengejutkanku. Sedikit berdarah sih, tapi Yume baik-baik saja.”

“Kau sedikit berdarah?!” Ranta berteriak sambil masih menundukkan kepalanya, dia pun hanya bisa mendecakkan lidahnya. “Bajingan-bajingan itu kira bisa berbuat seenaknya pada kita. Aku kusobek-sobek jerohan mereka nanti. Aku serius ...”

“Dia tidak pernah belajar ...” Kuzaku sedikit menunjukkan senyum kecut.

Shihoru tertawa dingin. "Tentu saja tidak pernah…. Karena memang begitulah Ranta.”

“Kalau iya, memangnya kenapa?! Nah, nona pentil torpedo?! Aku akan meremas-remas torpedomu nanti! Ah, biarkan kuremas-remas sekarang juga!”

“Ohh ...” Haruhiro mulai mengatakan sesuatu, tapi dia akhirnya menutup mulutnya karena berurusan dengan Ranta adalah suatu kebodohan.

Setelah itu, para warga semakin sering memprovokasi mereka. Mereka membuntuti, menghina, melempari, menghalang-halangi, dan masih banyak lagi. Beberapa orang menyandung mereka, bahkan ada yang terang-terangan menjegal mereka. Tidak peduli sebanyak apapun mereka mengabaikannya, mengelak, dan menghindar, para pengganggu terus saja bermunculan. Kondisi fisik dan mental mereka semakin lelah.

Kalau Unjo-san tidak bersama mereka, mungkin mereka sudah melarikan diri dari kota ini, atau bahkan terlibat perkelahian.

Apakah semua perlakuan buruk itu karena Haruhiro dan yang lainnya adalah orang luar? Mungkin juga tidak. Karena di sana-sini juga banyak sekali terjadi perkelahian, entah itu perorangan, ataupun kelompok. Mereka bahkan mendengarkan jeritan kematian beberapa kali. Ini sulit dipercaya, atau setidaknya mereka tidak ingin mempercayainya. Para penduduk kota ini tidak hanya berkelahi sampai cidera, namun juga ada yang sampai mati. Apa-apa’an kota ini?

Perkelahian di jalanan adalah sesuatu yang wajar di kota ini, dan para penonton pun tidak berusaha melerai mereka, dan malah bertaruh siapakah yang bakal menang.

Unjo-san menjauh dari jalan-jalan utama, dan mengarahkan Haruhiro dan yang lainnya ke gang-gang di belakang bangunan. Di sana, keadaannya sedikit membaik. Di kedua sisi jalan, yang agak sempit (kira-kira hanya berukuran selebar 2 m), ada berbagai macam makhluk dari berbagai ras sedang duduk berjongkok. Mereka mengatakan sesuatu dengan nada menyedihkan, sambil menjulurkan tangan mereka. Kalau Haruhiro sedikit lengah, mungkin mereka akan menarik-narik jubahnya. Dari apa yang dia lihat, kebanyakan dari mereka terluka. Mungkin mereka adalah para pengemis. Mereka terlihat suram, menyedihkan, dan itu membuatnya muak, tapi di sini lebih baik daripada jalan-jalan utama, di mana semua orang saling baku hantam dengan gembira, dan juga kematian di mana-mana.

Namun, meskipun begitu, bisakah mereka hidup dalam keadaan seperti ini? Bahkan ada beberapa orang yang jelas-jelas berada dalam ambang kematian, atau malah tidak bergerak sama sekali. Bau busuk pun memperburuk suasana. Sepertinya, beberapa dari mereka tidak tahan hidup seperti ini, kemudian dibiarkan mati begitu saja.

“Jangan menyentuh apa pun di kota ini yang tidak kau perlukan. Dan jangan biarkan orang lain menyentuhmu.” Unjo-san menghindari sentuhan tangan pengemis seraya ia mengatakan itu. “Kalau kau tidak ingin terjangkit sesuatu, maka jangan biarkan siapapun menyentuhmu. Penyakit menular adalah hal yang umum di sini.”

“Astaga ...” Ranta bergumam. Bahkan kutu busuk seperti Ranta, juga takut kena penyakit.

Tentu, Haruhiro juga takut terjangkit penyakit. Mary sudah mempelajari Purify, yaitu mantra untuk menetralkan racun, dan juga menyembuhkan beberapa penyakit. Ingat, hanya ”beberapa”. Namun, penyakit umum seperti pilek atau flu tidak bisa disembuhkan oleh sihir. Mereka perlu meminum obat untuk meredakannya, kondisi tubuh dan mental yang baik juga membantu mereka untuk sembuh. Haruhiro sadar betul bahwa tubuhnya tidak sebaik itu, dan mentalnya juga tidak bisa dibilang tangguh. Sehingga, ketika dia sakit, penyembuhnya hanyalah obat.

Sembari menghindari gangguan-gangguan dari para pengemis di jalan-jalan belakang bangunan, mereka menuju langsung ke sebuah menara yang tidak terlalu tinggi (tingginya hanya sekitar 5 m). Unjo-san menggunakan semacam logam yang tertempel di pintu untuk mengetuknya. Tidak lama setelah itu, pintu pun terbuka.

Seorang wanita berjubah coklat dengan kulit begitu putih, sampai hampir transparan, keluar dari sana. Rambut klimisnya berwarna abu-abu. Apakah dia manusia? Tidak, bukan manusia. Dia memang hampir menyerupai manusia, tapi matanya tidak ada bagian yang berwarna putih. Seakan-akan seseorang telah menekankan bola kaca pada rongga matanya. Selain itu, dia memiliki tiga celah pada kedua pipinya, yang membuka dan menutup. Itu hampir mirip seperti insang.

“Unjo,” kata wanita itu sebelum melihat Haruhiro dan yang lainnya dengan matanya yang mirip kaca. “Akuaba?”

“Moa worute.” Unjo-san memberi isyarat dengan dagunya, seolah berkata, Ayo masuk ke dalam. Wanita itu membiarkan masuk Unjo-san dan yang lainnya ke dalam menara.

Langit-langitnya begitu tinggi. Apakah tembus sampai atap? Dinding ruangan ini hampir dipenuhi oleh rak buku. Pada rak-rak itu, juga terdapat prasasti batu dan lempung, armor, beberapa jenis peralatan, barang-barang yang tampak aneh, pot tanaman, dan masih banyak lagi. Ada juga lampu yang diletakkan di sana-sini, serta tangga dan bangku.

“Namanya Rubicia,” Unjo-san memperkenalkannya.

Wanita itu menekankan tangannya di depan dada, dan membungkuk kepada mereka. Mungkin seperti itulah cara mereka menyapa tamu.

“H-Halo.” Haruhiro mencoba meniru Rubicia. “Aku Haruhiro.”

“Aku Ranta.” Ranta menyilangkan lengannya dengan angkuh. “Mereka memanggilku Ranta-sama!”

“Kuzaku.” Kuzaku menundukkan kepalanya sedikit.

“Yoo-Mei!” Kata Yume dengan suara keras dan jelas, kemudian dia tersenyum. “Ehehe.”

“... Aku Shihoru.” Sama seperti Haruhiro, dia meniru gerakan Rubicia.

“Aku Mary.” Mary membungkuk sopan. “Senang bertemu denganmu, Rubicia-san.”

Rubicia mengangguk pelan, kemudian dia bertukar beberapa kata dengan Unjo-san sebelum akhirnya menuruni tangga pada dinding. Sepertinya ada ruangan bawah tanah.

“Kita aman di sini.” Unjo-san meletakkan ranselnya di lantai. “Jika kau ingin beristirahat, ya beristirahat lah. Rubicia akan segera membawakan air untuk kalian. Jangan khawatir, airnya tidak terkontaminasi apapun. "

“Siplah!” Ranta segera duduk. “Unjo-saaaan, kenapa kau baru bilang sekarang kalau punya tempat sebagus ini. Ngomong-ngomong, siapa sih Rubicia-san ituuuu?? Apakah “anu”-mu… kau tau lah apa maksudku… eheheh ...”

“Ya,” Unjo-san membalasnya. “Rubicia adalah istriku.”

Haruhiro hanya bisa menanggapinya dengan berbisik, “Wow ...”

Ketergantungan[edit]

Cinta adalah suatu hal yang dalam.

Mungkin.

Yahh, meskipun sudah dewasa, tidak berarti Haruhiro memahaminya begitu saja.

Status, strata, ras… cinta tidak ada hubungannya dengan itu semua ... bukankah begitu? Meskipun begitu, bisa dipertanyakan apakah Unjo-san dan Rubicia benar-benar mencintai satu sama lain layaknya suami - istri. Unjo-san mungkin hanya kesepian, karena dia hanyalah satu-satunya ras asing di dunia yang asing ini, kemudian dia mencari kebahagiaan bersama wanita yang baru saja dia temui. Wanita itu mungkin saja memanjakan dia karena kasihan atau semacamnya. Haruhiro tidak pernah tahu apakah alasan yang sebenarnya, tapi hal seperti itu bisa saja terjadi ... kan? Kalau begitu, apakah itu termasuk cinta? Mungkinkah bisa disebut cinta? Hmm? Dia sungguh penasaran ...

Fakta bahwa Unjo-san dan Rubicia tidak begitu dekat memberikan kesan aneh pada hubungan kedua insan beda ras ini. Apakah karena Haruhiro dan yang lainnya ada di sana, sehingga mereka enggan menunjukkan kemesraan? Mungkinkah mereka malu? Apakah mereka saling goda bila tidak ada orang lain? Atau, memang seperti inilah hubungan suami – istri yang wajar di Darunggar? Haruhiro sulit membayangkan hubungan suami – istri yang romantis di kota segila Herbesit. Mereka tidak saling bunuh, lalu apakah itu yang disebut ‘berhubungan baik’? Tapi Rubicia tampak seperti seorang wanita yang intelek dan pendiam… dia bukanlah manusia, namun Haruhiro ingin menganggapnya sebagai manusia pada umumnya…. Yang jelas, Rubicia-san sungguh berbeda dari penghuni Herbesit lain yang ganas. Ataukah memang ada beberapa makhluk yang kalem di kota ini?

Dengan menjadikan menara Rubicia sebagai markas operasi, mereka mempelajari beberapa hal yang ditunjukkan Unjo-san. Keesokan harinya seniornya itu mengajak mereka berkeliling kota sekali lagi.

Sebagian besar kehidupan di Herbesit adalah, provokasi, kekerasan, dan perampokan yang terus berlanjut seakan tanpa akhir. Bahkan jalanan yang tampaknya kosong, terkadang merupakan wilayah gerombolan perampok, jadi mereka wajib berhati-hati. Menara lonceng di pusat kota itu dikendalikan oleh sebuah faksi bernama Garafan (yang secara harfiah berarti "cakar tajam") dan itu merupakan daerah yang sangat berbahaya. Bahkan Unjo-san sekalipun tidak pernah mendekati menara lonceng tersebut.

Di kota Herbesit, ada beberapa geng lain yang bernama Jagma (artinya badai besar), dan Skullhellgs (artinya anak-anak Skullhell), dan tentu saja mereka kerap berseteru satu sama lain. Wilayah Garafan terbetang luas di bangian tengan Kota Herbesit, sedangkan sebelah barat adalah milik Jagma, dan sebelah timur adalah milik Skullhellgs. Jika mereka bertarung dengan ketiga kelompok ini, mereka akan menghadapi masalah.

Di Kota Tua Herbesit, ada saluran air bawah tanah yang jarang bekerja lagi, dan begitu mirip seperti kuburan. Kelompok yang memerintah di bawah tanah sini adalah Zeran (artinya cendikiawan), mereka adalah kelompok yang sedikit berbeda dengan kelompok lainnya, karena mereka tidak menggunakan kekerasan. Tapi mereka tidak menolak menggunakan kekuatan fisik untuk membuat pertempuran tetap terkontrol. Jadi, jika terjadi perkelahian di bawah tanah, tunggu saja sampai para Zeran menghukumnya. Mereka tahu segalanya tentang saluran bawah tanah yang rumit ini, dan anggota kelompoknya tidak bisa dibilang sedikit, maka Zeran sama sekali tidak lemah. Bahkan, merekalah yang terkuat di dalam saluran bawah tanah. Garafan, Jagma, dan Skullhellgs, yaitu tiga geng terbesar Herbesit, akan berpikir dua kali untuk merambah wilayah bawah tanah.

Nah, kalau begitu, mungkin kau mengira bahwa wilayah bawah tanah Herbesit adalah tempat yang damai bagaikan surga, sehingga makhluk-makhluk lemah bisa berdiam di sini, namun ada beberapa alasan yang menolak logika itu. Zeran bukanlah orang-orang berpikiran sempit yang menolak kedatangan warga baru, tapi mereka adalah elitis, dan tidak akan membiarkan orang luar menetap di bawah tanah. Lagipula, ada distrik yang tersegel di dalam tanah, dan yang boleh memasukinya adalah para Zeran. Untuk menjadi anggota Zeran, seseorang harus mengerti doktrin mereka dan menjalani serangkaian pelatihan.

Kebetulan, Rubicia adalah mantan anggota Zeran, dan dia pernah tinggal di bawah tanah sebelumnya, tapi dia telah pindah ke permukaan karena alasan tertentu. Meskipun masih memiliki koneksi di bawah tanah, pada dasarnya dia sudah diperlakukan seperti orang luar.

Maka, Haruhiro dan yang lainnya mencoba mengunjungi wilayah bawah tanah. Ada pasar di sana, dan mereka bisa berbelanja dengan koin hitam. Ada beragam toko, mulai dari pandai besi, grosir, toko pakaian, dan masih lebih banyak lagi. Pilihan barangnya juga lebih baik daripada toko-toko yang ada di Desa Sumur. Namun, harganya 2 – 3 kali lipat dari harga pasaran di Desa Sumur, dan tentunya itu cukup mahal bagi orang-orang miskin seperti Party Haruhiro. Perbedaan lainya adalah, perhitungan mereka berdasar angka 10.

Party Haruhiro juga merasakan betapa para Zeran meremehkan orang luar. Atau lebih tepatnya, menurut Unjo-san, saat orang luar berbelanja di bawah tanah, mereka menaikkan harga sampai 2x lipat jika dibandingkan dengan pelanggan dari anggota Zeran sendiri. Orang luar bisa saja protes seperti: Hey, ini tidak adil, tapi mereka selalu menimpali dengan, Kalau tidak suka, ya keluarlah, dan jangan pernah kembali lagi,, dan semuanya pun berakhir. Ada juga sejumlah pasar di permukaan, namun ketiga geng besar tersebut selalu campur tangan, sehingga tidak menciptakan suatu kondisi dimana para pelanggan bisa berbelanja dengan damai dan tenang. Kalau mereka ingin menghindari masalah, maka tidak ada pilihan selain menggunakan pasar bawah tanah.

Selanjutnya, di ruang bawah tanah menara Rubicia, ada tungku pembakar yang cerobongnya menjulang sampai atap. Di sana ada juga dapur, sumur yang sangat dalam, dan pipa drainase yang menuju saluran pembuangan; itulah yang mereka butuhkan untuk melanjutkan hidup. Sebagai tambahan, meskipun awalnya mereka tidak memperhatikannya, namun ada dua lantai mezzanine kecil [9], dan ruang tidur Unjo-san dan Rubicia ada di sana.

Mereka sudah menikah, tapi mereka tidur di kamar yang terpisah ...? Haruhiro ingin sekali menanyakan itu, namun dia tidak bisa. Mereka sudah menunjukkan kamar pribadinya pada Haruhiro, jadi dia tidak berhak bertanya lebih jauh.

Pada hari ketiga, ketika mereka telah belajar sedikit-banyak tentang Herbesit dan mulai membetahkan diri tinggal di kota ini, Unjo-san bilang bahwa mereka akan meninggalkan kota.

"Aku akan menunjukkan jalan keluarnya kepada kalian. Atau lebih tepatnya, gerbang pintu keluar. Aku tiba di Darunggar lewat sana. Rekan-rekanku semuanya meninggal. Hanya akulah yang masih hidup. Aku tidak lagi punya niat untuk kembali ke rumah. Namun, jalan kembalinya memang ada. Sayangnya aku terlalu menyayangi nyawaku, sehingga aku tidak mencoba untuk melewatinya. Satu-satunya keinginanku saat ini hanyalah melanjutkan hidup, dan aku sudah mendapatkannya di dunia ini."

Sebelum mereka berangkat, Rubicia memegang tangan kanan Unjo-san dengan kedua tangannya, kemudian dia angkat tangan itu, dan menekankannya pada pipinya sebentar. Dia melakukan kontak itu tanpa berbicara sepatah kata pun, seakan-akan itu adalah ritual.

Unjo-san mengatakan bahwa dia tidak lagi berniat kembali ke rumah. Apakah Rubicia alasannya? Mungkinkah? Setelah bertemu dengannya, mungkin Unjo-san sudah menemukan alasan untuk menetap di sini.

Ketika mereka keluar dari menara Rubicia dan meninggalkan kota Herbesit, mereka pun menuju ke barat, yaitu arah berlawanan dengan punggung pegunungan dengan nyala cahaya kemerahan.

Sebelah barat Herbesit adalah area berbukit, di sana ada sejumlah peternakan berukuran besar dan kecil yang dikelilingi pagar. Pada peternakan tersebut ada makhluk-makhluk yang tubuhnya seukuran anak kecil, mereka sedang menggali tanah, ataupun menarik tangkai berwarna abu-abu gelap yang tampak seperti rumput liar. Beberapa kali, sekelompok Gaugais (Inuzaru) di luar pagar menyalak pada mereka.

"Jangan masuk pagar," Unjo dengan tegas memerintahkan itu pada mereka. "Itu akan menimbulkan masalah."

Harusnya dia tidak perlu mengatakan itu, karena tak seorang pun dari Party Haruhiro berniat masuk ke sana. Tidak hanya makhluk kecil yang tampak seperti budak dan Gaugais, peternakan ini juga memiliki singa yang berdiri tegak dengan dua kaki belakangnya, dan ada juga humanoid berotot dengan kepala mirip banteng. Mereka bersenjata. Mereka terus mengawasi pekerjaan makhluk mirip buruh, dan juga memastikan bahwa tidak ada penyusup yang masuk ke peternakan. Jika mereka melewati pembatas, meskipun para penjaga tidak melihat mereka secara langsung, para Gaugais akan menyalak seperti kesetanan, untuk memperingatkan para penjaga.

Begitu mereka melewati peternakan, ada benda-benda putih yang tersebar pada daratan yang bergelombang. Mereka tidak perlu mengambil benda putih itu untuk memeriksanya. Karena benda-benda putih itu sudah jelas tulang.

Lapangan Tulang, Zetesidona. Menurut Unjo-san, itu adalah medan tempur kuno, dimana pasukan Luminous dan Skullhell pernah melakukan pertempuran sengit, dan kekuatan dahsyat mereka telah menyebabkan puluhan ribu nyawa melayang. Mayatnya telah membusuk, barang-barangnya telah dijarah, dan yang tersisa hanyalah tulang belulang. Dia mengatakan bahwa sebagian tulang-belulang itu telah digiling, kemudian disebarkan di ladang. Rupanya tulang-tulang itu cukup efektif digunakan sebagai pupuk. Begitu banyak tumpukan tulang di Zetesidona, sehingga sisanya masih banyak, meskipun sebagian besar tulang sudah dimanfaatkan seperti itu.

Ketika mereka menginjak tempat di mana tulang-tulang itu tertimbun begitu dalam, mereka bisa saja terjatuh, kemudian terkubur di dalamnya. Kalau dilihat lebih dekat, di sela-sela tulang ada tanah, itu adalah tanda bahwa tumpukan tulang tersebut aman diinjak karena hanya melapisi tipis di atas tanah.

Mereka harus melihat pijakan mereka saat melintasi Lapangan Tulang. Tapi kalau mereka terus menunduk untuk mengamati pijakan mereka, itu juga bisa berbahaya.

Ada burung yang disebut Skard di sini. Burung bangkai ini tampak seperti gagak besar, tapi mereka tidak bisa terbang jauh, karena badannya terlalu berat. Sebagai gantinya, kekuatan kaki mereka berkembang cukup baik. Sangatlah mengerikan kalau ada seekor Skard yang membidikmu dari kejauhan, kemudian melesat ke arahmu, dan menendangmu.

Jika Haruhiro dan Party-nya dipentalkan oleh tendangan burung itu, mereka bisa jatuh ke kubangan tulang, dan itu adalah berita buruk. Rupanya begitulah para Skard berburu. Mereka menjatuhkan mangsanya ke dalam tumpukan tulang yang dalam, sehingga mereka tidak bisa bergerak, lalu menghabisinya dengan injakan maut dan memakannya. Mereka adalah burung pemangsa yang ganas.

Pada saat mereka sampai di sungai berwarna coklat kemerahan bernama Dendoro, hari sudah malam. Dendoro bukanlah sungai yang besar, dengan ukuran hanya 10 m dari tepi ke tepi, tapi Arusnya sangat cepat, dan juga cukup dalam. Mereka tidak bisa berjalan atau berenang untuk melintasi sungai itu. Rupanya, ada jembatan di hulu, tapi jaraknya jauh, jadi mereka memutuskan untuk berkemah di tepi sungai.

Saat cahaya kemerahan di punggung gunung semakin redup, burung bangkai Lapangan Tulang mengaok denga suara yang mengerikan. Mereka bisa mendengarnya dengan jelas dari tepi sungai, sehingga itu membuat mereka susah tidur.

Saat Skard berhenti mengaok, cahaya di punggung gunung kembali terang. Itu berarti, malam ini Haruhiro tidak pernah dapat kesempatan memejamkan mata, tapi itu bukan hal baru baginya. Itu pun bukan masalah baginya.

Mereka berjalan di sepanjang sungai, dan jembatan itu mulai terlihat setelah berjalan selama kurang-lebih seperempat hari. Haruhiro punya firasat buruk tentang ini. Saat mereka mendekat, jelaslah bagaimana kondisi jembatan tersebut. Penambat jembatan masih utuh, begitu pula dengan balok-baloknya, tapi papan pijakannya sudah hilang, dan itu membuatnya tidak lebih baik daripada jembatan kayu biasa. Mungkin itu tidak terlalu masalah bagi Haruhiro, karena dia toh seorang Thief, tapi Kuzaku yang mengenakan armor berat pasti akan kesulitan, begitupun dengan Shihoru yang tidak terlalu lincah. Namun, Unjo-san berkata, "Ini adalah satu-satunya jembatan."

Jadi ini adalah persimpangan antara lanjut terus atau kembali, ya pikir Haruhiro.

Butuh waktu lama bagi Shihoru untuk bergerak, dan beberapa kali Kuzaku terlihat akan jatuh ke sungai, tapi akhirnya mereka berhasil melewati jembatan tersebut. Tentu saja Unjo-san, Haruhiro, dan anggota Party lainnya bisa melewatinya tanpa masalah.

Ada reruntuhan di seberang jembatan. Haruhiro menyebutnya reruntuhan, namun tidak seperti Kota Orang Mati yang berisi Undead. Karena reruntuhan ini jauh lebih parah. Mungkin akan lebih tepat kalau disebut “ampasnya reruntuhan”. Tapi ampas reruntuhan itu meliputi lahan yang begitu luas

"Pernah ada sebuah kota bernama Alluja di sini," Unjo-san menjelaskan. "Jika kau mencari, maka sesekali kau akan menemukan prasasti di sini."

"Hah?!" Ranta melompat, lalu menunjuk ke kejauhan. "H-H-H-H-H-Hei, disana, ada sesuatu di sana?!”

"Mungkin hanya pilar atau semacamnya ..." Haruhiro meletakkan tangan pada gagang pedangnya untuk berjaga-jaga, kemudian dia menyipitkan matanya pada arah yang ditunjuk Ranta. Namun, benda yang ditunjuk Ranta itu tidak bergerak seinchi pun. Bayangannya sih memang berbentuk seperti manusia, tapi kemungkinan besar itu hanyalah reruntuhan bangunan….. Atau mungkin tidak?

Haruhiro memasang kuda-kuda dan menarik pedang pendek. "Mungkinkah, dia baru saja bergerak? Benda itu, baru saja ... "

"Lihat!" Ranta juga bersiap-siap menarik pedang hitamnya, namun dia melakukannya sembari bersembunyi di belakang Unjo-san. "H-Habisi dia, Unjo-san! Aku akan mendukungmu dari belakang! Akan kudukung kau habis-habisan!"

"Yeah, aku yakin kamu benar-benar akan mendukungnya ..." Kuzaku mempersiapkan pedang dan perisainya, sehingga dia bisa menggunakannya kapan saja. "Yang itu, kan? Memang ada sesuatu di sana."

"Logok," kata Unjo. "Manusia pohon, mereka terpanggil oleh sesuatu." Dia menarik kapak dari pinggulnya.

Benda yang tampak seperti reruntuhan bangunan itu sedang berjalan menuju mereka dengan sempoyongan. Perlahan-lahan, kecepatannya semakin bertambah. Dia akan datang. Akhirnya dia berlari ke arah mereka. Logok, atau manusia pohon. Dia memang terlihat seperti pohon. Bentuk badannya seperti batang pohon, kaki dan lengannya terlihat seperti dahan…. Ataukah mungkin dahan yang terlihat seperti kaki dan tangan? Pokoknya, gerakannya tidak stabil, namun tidak juga pelan.

Kuzaku siap untuk menghadapinya, tapi Unjo-san mendahuluinya dengan melemparkan kapak. Kapak itu berputar-putar di udara, lalu memotong salah satu kaki si Logok. Logok kehilangan keseimbangan dan tumbang.

"Logok itu belum mati," Unjo-san dengan tenang menjelaskan. "Hancurkan dia, dan jangan biarkan bergerak."

"Siap bos!" Ranta melompat pada makhluk berbentuk kayu gelondongan itu dan memotongnya dengan pedang hitam. "Ohohohoho! Guampang bos! Gahahahahahaha!”

"Dengar, bung ..." Haruhiro begitu jijik dengan tingkah Ranta, sampai-sampai dia merasa ngeri.

"Nyaa!" Yume mengeluarkan jeritan aneh. "Masih ada lagi!"

Haruhiro sudah menduga. Yahh…. Tidak aneh sih, kalau jumlah mereka lebih dari satu. Sembari memeriksa sekeliling, aku bisa melihat sosok humanoid lain telah muncul. Muncul? Mungkin itu bukan kata yang tepat. Sepertinya mereka juga Logok. Mereka ada… lima, enam, atau mungkin lebih?

"Mereka tidak kuat," kata Unjo sambil menarik senjata lain dari ranselnya. "Namun, jumlahnya banyak, dan merepotkan."

"Aku akan mengawasi Shihoru!" Mary memegangi ujung tongkatnya, dan berdiri tepat di hadapan Shihoru.

Shihoru mengangguk, seolah mengatakan, Ada Mary di dekatku, jadi kalian tidak lagi perlu mengkhawatirkanku.

Mereka banyak dan merepotkan, pikir Haruhiro, dia teringat apa yang baru saja Unjo-san katakan. Memang benar, mereka ada banyak. Hanya sekejap mereka beristirahat, jumlah lawannya saat ini sudah mencapai kurang-lebih 40…. Ah tidak, mungkin 50…

Ranta berusaha keras menumbangkan 4 Logok. "A-Apakah jumlahnya tidak ada habis-habisnya ...?”

"Tidak. Aku akan menggunakan ini." Unjo-san mengambil sebuah cabang kering yang terlihat seperti lengan atau kaki Logok. Dia pun menyalakan cabang itu dengan api, kemudian asap putih mengepul dari sana, dan melepaskan bau pahit. Baunya sungguh menggangu, dan tidak bisa ditolelir.

"... Um, apakah bau busuk itu bisa mengusir Logok?" Tanya Haruhiro, sembari berusaha tidak bernafas melalui hidungnya.

"Yap." Unjo-san melihat sekelilingnya. "Untuk amannya, habisi sebanyak mungkin."

"Yack," Ranta mengeluh, sambil menendangi potongan-potongan Logok. "Benda ini berbau busuk. Menjijikan….Bwuh?!” Unjo-san menendang pantatnya. "A-a-aku minta maaf! B-b-baunya sedap kok?! Harum kok?! Oke, waktunya untuk menghabisi mereka sebanyak yang aku bisa!”

Yahh, Haruhiro tak yakin Unjo-san tega menendangi anggota Party-nya selain Ranta, tapi dia tidak mau Logok mengerumuni mereka di mana-mana, jadi mereka semua bekerja keras untuk mengumpulkan potongan-potongan Logok. Ini terjadi setelah berapa lama mereka berjalan ya?

Haruhiro berbalik. Apakah dia membayangkannya? Dia menghadap ke depan lagi, dan berjalan.

…Hah? Tidak….. ada sesuatu yang aneh.

Haruhiro mengangkat tangannya, menyuruh semuanya berhenti. "Um, Unjo-san?"

"Apa?"

"Kita tidak sedang diikuti ... ‘kan?"

"Mungkin saja," kata Unjo dengan begitu tenang. "Bau Logok itu mengusir para Logok lainnya. Namun, itu juga menarik perhatian Nivles."

"Nipple?" Yume memiringkan kepalanya ke samping. "Apa itu?"

Unjo-san menarik topi capingnya ke bawah. "... Aku tadi bilang Nivles. "

"Dasar tolol." Ranta menunjuk dadanya sendiri. "Nipple itu artinya putting susu, bahkan kau punya sepasang. Kenapa bawa-bawa puting susu segala? Apa kau terobsesi dengan puting susu, Yume?”

"... Jadi, apa itu nivle?" Shihoru mengabaikan Ranta dan bertanya.

"Kadal," Unjo-san langsung membalasnya. "Panjangnya sekitar empat meter."

"Empat meter!" Kuzaku tertawa singkat dan aneh. "... C-c-cukup besar, ya?"

"Tentu saja ..." Mary melihat sekeliling. "... sama sekali tidak kecil."

Unjo menarik kapak di pinggulnya. "Menurutku, mereka kurang pantas disebut kadal, karena lebih mirip seperti naga."

"Oh, ayolaaah ..." Haruhiro tersungkur ke depan. Perutnya sakit. "Jujur saja, aku tidak mau bertemu naga manapun ... Tidak di sini ... Tidak dimanapun ... "

"Y-Y-Yeah, k-k-k-k-kalau aku sih gak masalah ketemu naga!" Ranta bergumam.

"Kau mengatakan itu, Ranta, tapi suaramu gemetaran."

"Y-Y-Y-Yume! Kenapa kamu sangat tenang?! Ini naga, sialan! Kau tahu gak sih, apa itu naga?!"

"Bukankah mereka imut?"

"Apanya yang imut, dasar bego!"

"Yume tidak bego!"

"I-i-i-i-i-itu dia ...!" Haruhiro mengembuskan napas dengan kuat.

Panjang makhluk itu sekitar lima meter dari ujung depan sampai belakang. Dia mengintip dari pojok reruntuhan bangunan Tingginya kurang dari satu meter, tapi untuk seukuran makluk berkaki 4, dia cukup besar. Bahkan sangat besar. Warnanya hijau tua… bukankah dia lebih mirip buaya? Tidak, dia naga? Di atas kepalanya ada semacam onggokan daging.

"Apakah kita harus... lari?" Haruhiro dengan ragu meminta saran pada Unjo-san.

"Mereka keras kepala," katanya. "Mereka akan mengejar kita bahkan selama berhari-hari. Kita harus menghabisinya sekarang juga. Dia beracun. Jika kau digigit, kau akan mendapati luka serius. Jadi berati-hatilah."

"Ya, pak ..." Haruhiro menanggapi seperti anak kecil yang patuh.

Ini gawat. Aku harus tetap kosentrasi. Mungkin aku sedikit lengah karena kita bersama Unjo-san yang bisa diandalkan. Tapi akulah pemimpinnya, kata Haruhiro pada dirinya sendiri. Bila ada orang yang bisa diandalkan disisiku, aku akan bergantung padanya. Aku memang orang yang lemah. Selalu saja seperti itu, dan aku membenci kebiasaanku itu. Ya. Aku lemah. Aku benar-benar lemah, tapi setidaknya aku tidak boleh lengah.

Nivle terus berjalan menuju mereka. Langkah kakinya praktis tidak terdengar. Sepertinya dia penasaran, apakah gerakannya terdengar. Jika tidak, mungkin saja dia akan segera memangsa lawannya. Nivle adalah hewan yang keras kepala, meskipun mereka berhasil lari dan menjauh, mungkin dia akan tetap membuntuti mereka sampai kapanpun.

Unjo-san benar. Mereka harus menghabisinya di sini juga.

"Kuzaku, aku mengandalkanmu," kata Haruhiro. "Tangani kepalanya. Yume dan Ranta, tangani sisi kiri dan kanan tubuhnya. Mary, tetaplah bersama Shihoru. Shihoru, dukung kami dengan Dark. Berusahalah menyerang setepat mungkin.Unjo-san, kalau kami dalam bahaya, bantu kami."

"Baiklah," jawab Unjo-san dengan cukup santai.

Mata Haruhiro sekarang sepertinya kelihatan ngantuk.

"... baiklah," katanya. "Ayo lakukan."

Karena Dia Punya Alasan[edit]

Alluja dulunya adalah kota yang besar. Bahkan ada teori yang mengatakan bahwa kota itu makmur sebelum konflik antara Luminous dan Skullhell dimulai.

Butuh satu hari penuh untuk menyeberangi reruntuhan Kota Agung Alluja. Selama waktu itu, mereka istirahat beberapa kali, dan beberapa dari mereka sanggup tidur siang, tapi biarpun mereka tidak lagi takut akan serangan Logok, mereka cukup khawatir pada Nivle.

Ternyata, makanan utama Nivle adalah Logok, tapi nampaknya daging manusia lebih membangkitkan selera. Jika mereka melihat, mendengar, atau mendeteksi adanya manusia, mereka benar-benar akan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia. Tidak hanya itu, mereka tidak hanya menyerang secara membabi buta; mereka juga lihai melihat kesempatan ketika mangsanya lengah.

Unjo mengatakan panjangnya empat meter, tapi ukurannya bervariasi menurut spesiesnya masing-masing. Ukuran mereka yang sebenarnya berkisar dari tiga meter sampai mendekati lima meter untuk yang terbesar. Yang jantan berjambul, sedangkan betina tidak. Semakin besar dan mencolok jambulnya, maka semakin kejam pejantan itu, dan mereka akan menyerang mangsanya secara langsung dan penuh percaya diri. Untungnya, serangan terang-terangan seperti itu lebih mudah ditangani. Anehnya, betina yang tampak lebih tenang, justru lebih berbahaya. Si betina lebih perhitungan dan juga cepat. Mereka adalah lawan yang menakutkan.

Haruhiro dan yang lainnya menakhlukkan tujuh Nivle saat mereka melintasi kota yang hancur itu. Empat pejantan, dan tiga betina. Semuanya mati. Mereka hanya beruntung para Nivle tidak berburu dalam kelompok. Jika mereka harus menghadapi lebih dari satu ekor pada saat bersamaan, mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk menang.

Kulit Nivle rupanya dijual dengan harga yang bagus, namun kulit hewan itu tidaklah ringan, jadi tidaklah efektif jika mereka membawa kulitnya ke mana-mana. Mereka mencoba memasak dan memakan daging si kadal raksasa, dan ternyata itu tidak membuat mereka muntah atau semacamnya.

Ketika mereka sampai di ujung reruntuhan kota, ada lereng yang menurun. Lerengnya tidak begitu curam, tapi cukup jauh. Rasanya seperti sedang menuju ke pusat bumi. Lereng tersebut sangatlah panjang, bahkan di siang hari, dasarnya terlihat gelap, sehingga mereka tidak tahu apa yang sedang menanti di depan.

Jika mereka tidak membawa Unjo-san ke sana untuk membimbing mereka, mereka tidak akan berani turun. Bagaimanapun juga, itu sungguh menakutkan.

"Um, biasanya makhluk macam apa yang lewat sini ...?" Haruhiro berusaha keras untuk bertanya.

"Orc," jawab Unjo-san, dengan nada tak acuh seperti biasanya.

"Ngok?" Ulang Yume.

Duh, bukan, Yume, pikir Haruhiro, apa yang kau maksud dengan ‘ngok’? Apakah itu semacam suara babi?

"Tunggu ..." Mary ingin menanyakan sesuatu, "Orc, maksudmu ...?"

"Setidaknya, bentuknya mirip," kata Unjo-san sembari ia menuruni lereng selangkah demi selangkah. "Lagipula, di Darunggar mereka juga disebut Orc."

"Wah!" Ranta bergidik. "Sial. Sekarang aku jadi merinding. Kau tahu…. di dunia kami, Orc adalah musuh, tapi di sini, aku hampir merasakan kedekatan dengan mereka ... Yahh, tidak juga sih, tapi ... "

Unjo mendengus. "Mereka juga musuh di sini."

"Orc," kata Shihoru dengan suara hampa bagaikan dengungan nyamuk, "Mungkinkah mereka datang dari Grimgar ...?”

"Gerbang untuk keluar ..." Kuzaku berbisik sendiri.

Unjo-san hanya berkata, "Mana kutahu?" Kemudian, sepertinya dia sedang mengingat-ingat sesuatu… setelah lama terdiam, akhirnya dia pun berkata, "Atau mungkin…. Dari sinilah asal mula mereka."

Bukit itu berbatu, tapi diliputi kerikil halus seperti pasir. Oleh karena itu, mereka harus hati-hati atau kaki mereka akan tergelincir.

Sepertinya tidak ada Nivle di lereng ini. Mungkin karena makanan utama mereka, yaitu Logok, kebanyakan hidup di Alluja.

Di sana-sini, ada lubang berdiameter sekitar satu meter. Unjo-san pun menghindarinya sembari terus berjalan. Ketika ditanya mengapa di sini ada banyak lubang, dia menjawab, "Karena ada Guji."

Menurutnya, Guji adalah makhluk yang wujudnya mirip perpaduan antara monyet dan beruang, dan mereka akan bertarung sampai mati untuk mempertahankan sarang mereka. Jika kau menusuk sarang mereka sedikit saja, maka akan muncul lebih dari 10 Guji yang menyerangmu, dan itu adalah masalah besar. Jika kau bisa menangkap mereka, maka kau bisa memakan Guji, tapi mereka berotot dan dagingnya sangat alot, bahkan sulit dimasak. Jika kau merebusnya sampai lunak, harusnya sih kaldunya akan terasa sedap. Namun mereka tidak berniat menangkap ataupun merebusnya.

Akhirnya, mereka mulai melihat cahaya merah di sana-sini. Suhu pun juga naik. Mulai agak panas. Ada uap yang menyembul dari seluruh penjuru. Kata "kawah" melintas pada pikiran Haruhiro Mungkinkah cahaya itu adalah lahar?

Tak lama berselang, akhirnya mereka melewatinya. Penuh uap dan gelembung-gelembung. Serius deh, itu benar-benar tampak seperti lahar. Jika mereka tergelincir dan jatuh, jasad mereka akan menjadi lebih buruk daripada arang.

Mereka juga menemukan sungai. Dalamnya bahkan tidak sampai selutut, dan airnya cukup panas. Tapi kepanasannya masih bisa ditolelir.

"Air panas?" Mary bertanya.

"Mandi bareng yuk!" Seru Ranta.

"Gak mungkin lah!" Yume memukul ubun-ubun kepala Ranta.

"Airnya juga bisa diminum," kata Unjo sambil menunjuk ke sungai air panas dengan dagunya. "Rasanya memang sedikit aneh, tapi tidak akan menyebabkan gangguan pencernaan. Kita akan beristirahat disini."

Party ini tidak akan pernah mandi campur, sehingga mereka menggali lubang sebagai bak mandi di sisi sungai, kemudian setiap anggota Party akan mandi bergantian. Untungnya, Unjo-san bersedia jaga dengan sukarela.



"Entah apa yang harus kukatakan ..." kata Kuzaku begitu dia menenggelamkan bahunya. "Bukankah ini membuatmu bersyukur masih hidup sampai sekarang? Apa hanya aku yang berpikiran begitu? Ahh, kalau mati sekarang pun aku sudah puas. Yahh, tidak berarti aku benar-benar ingin mati sih. Pokoknya, pemandian ini sangat nyaman…"

"Aku tahu bagaimana perasaanmu ..." Haruhiro meraup sebagian air di tangannya, dan dengan lembut mencuci wajahnya "Ini memang nyaman. Maksudku, ahh, inilah yang terbaik ... "

"Apa sih maksudmu?" Ranta menyilangkan lengannya. "Aku kecewa dengan kalian berdua! Kita benar-benar tidak bisa mandi bareng mereka. Kalau kalian setuju denganku, mungkin mereka akan pasrah dan mengatakan: 'Yahh, sepertinya kali ini kami tidak punya pilihan lain… ayo aja deh…' Kalian ini bego atau apa sih? Kampret banget gak sih?”

"... Aku cukup penasaran dengan alasan apa yang mendasarimu berpikir bahwa mereka mau kita ajak mandi bareng?” tanya Haruhiro.

"Hah? Ini semua tentang perasaan, bung, perasaan. Kata orang, saat kau bepergian bersama teman-temanmu, maka jangan pernah sungkan melakukan segala sesuatu, iya kan? Kalau kalian semua setuju denganku, maka mereka pasti kalah, bukankah begitu? Maksudku, gadis-gadis itu tidak bodoh. "

"Yahh, Yume, Shihoru, dan Mary memang tidak bodoh sepertimu, jadi mereka tidak akan berpikir begitu."

"Oh, diamlah! Pokoknya aku pengen mandi bareng! Aku ingin mandi bersama cewek-cewek! Pokoknya pengeeeeeeenn!”

"Kau bisa mengajak Zodiac-kun mandi bersama, kan?" Kuzaku mendesah dalam-dalam. "Ohh, nyaman bangettt ... "

Mungkin karena pemandian air panas ini begitu nyaman, atau karena kurang tidur, Haruhiro akhirnya terlelap. Yume pun membangunkannya untuk gantian mandi, dan Haruhiro sungguh malu dibuatnya.

Unjo-san mengatakan kepada mereka bahwa dia pernah bertahan hidup dengan menggunakan Sungai Mata Air Panas ini. Dia menggunakannya untuk memasak daging Guji.

Begitu mereka menyeberangi Sungai Mata Air Panas dan terus berjalan, tanahnya semakin menanjak. Begitu mereka menyadarinya, tebing yang curam sudah muncul di hadapan mereka. Itu bukan jalan buntu, karena ada celah di tebing tersebut.

Retakan yang sempit dan berkelok-kelok. Mereka tidak bisa melihat bahkan semeter pun di depan mereka, dan itu membuat mereka kurang nyaman. Apakah Unjo-san menemukan jalan ini dan melaluinya sendirian?

Jika Haruhiro berada di posisi Unjo-san ... dia tidak mungkin melakukannya. Dia bahkan tidak perlu memikirkannya. Itu adalah suatu hal yang mustahil baginya. Dia tidak memiliki kemampuan atau kemauan untuk berjuang melewati jalan sesulit itu.

Tapi, ketika berjuang untuk teman-temannya, dia bisa berusaha dengan cukup keras. Sayangnya, ketika memperjuangkan dirinya sendiri, dia begitu menyedihkan. Dia tidak tahan menanggung rasa sakit, penderitaan, atau bahkan keputusasaan. Sungkatnya, Haruhiro hanyalah manusia biasa.

Bagaimana dengan teman-temannya? Kuzaku, Yume, Shihoru, dan Mary memiliki sifat yang cukup mirip dengan Haruhiro, dalam artian, mereka semakin kuat ketika melindungi teman-temannya. Jadi, mereka memerlukan orang yang begitu egois untuk tugas ini, dan hanyalah Ranta orang yang cocok melakukannya.

Mungkin, inilah kekuatan Party mereka, sekaligus kelemahannya. Mereka cukup kompak, dengan satu pengecualian, yaitu Ranta. Akan tetapi, kalau dilihat dari perspektif negatif, kekompakan itu bisa menjadi bumerang, karena secara individial mereka sangat lemah. Memang benar bahwa suatu Party harus bekerjasama dalam melakukan segala hal, namun ada kalanya kemampuan individu dibutuhkan, dan mereka sangat kurang dalam hal itu. Jika salah satu dari mereka meninggal, mereka mungkin akan kehilangan hasrat untuk melanjutkan perjuangan. Sebetulnya Haruhiro tidak ingin memikirkan kelemahan seperti ini, namun dia harus mencari jalan keluarnya, karena dia lah sang pemimpin. Dan sekarang, mereka berada di wilayah musuh.

"Whoaaaaaa ..." Ranta menarik napas.

Dia terkesan seperti orang idiot. Tapi, yah, kau boleh bilang bahwa ini adalah suatu hal yang luar biasa.

Pada ujung celah berkelok-kelok itu, terlihat pemandangan yang begitu menakjubkan.

Mereka bisa melihat ratusan, mungkin ribuan, aliran lahar yang menyembur naik dan turun. Ada perbukitan di sana. Ada juga pegunungan. Ada batu-batu besar. Ada bangunan besar dan kecil.

Ya.

Sebagian besar diukir dari batu-batuan besar, tapi struktur itu jelas-jelas suatu bangunan. Bangunan-bangunan itu diperkuat dan dihiasi dengan penopang besi, dan ada bangunan yang terlihat seperti semacam tempat suci atau mungkin juga kuil. Ada juga menara. Beberapa di antaranya, ada bangunan tinggi, meskipun tidak menjulang ke langit.

Yang terjepit di antara dua arus lahar sempit itu adalah….. yahh, apa lagi kalau bukan jalan…. Atau lebih tepatnya, jalan perkotaan, yang membentang ke berbagai tempat. Ada bangunan besar yang menghadap ke jalan-jalan lebar, dan deretan bangunan kecil mungil menghadap ke jalanan yang lebih sempit.

Langit sudah gelap. Saat itu malam. Tapi berkat lava, seakan-akan tidak pernah ada malam hari di kota ini.

Kota.

Ini adalah sebuah kota.

"... Tidak mungkin." Suara Kuzaku terdengar serak saat dia berbicara.

"A-Apakah….." Haruhiro tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena kehabisan kata.

"Apakah itu ..." tanya Shihoru dengan suara serak kecil. "Kota Orc? Semua itu…?"

"Wah," kata Yume. "Kota ini besar banget, ya?"

Yume berkata dengan enteng, bahkan terlalu enteng.

"Apakah itu?" Mary menanyakan pertanyaan yang diinginkan Haruhiro. "Gerbang ke luar?"

"Ya." entah kenapa Unjo-san mengatakan itu sambil sedikit tertawa. "Itu adalah gerbang keluar. Aku tiba ke dunia ini pun melalui pintu itu, Waluandin. "

"Mereka musuh kita, ya?" Kuzaku mengusap pinggangnya. "Orc ..."

"Jelas," kata Unjo. "Orc tidak akan membiarkan siapa pun lewat, kecuali kawannya sendiri. Akan tetapi, lain ceritanya untuk hewan ternak. "

“B-b-biarkan saja mereka membesarkan kita… M-m-mungkin itu jauh lebih mudah daripada melewatinya secara paksa…" Ranta memandang yang lainnya, lalu berdeham. "A-a-aku hanya bercanda, bego. Mana mungkin kita pura-pura jadi hewan ternak.”

"Sepertinya itu saran yang bagus." Unjo-san membelai janggutnya. "Setidaknya, itu lebih realistis daripada berlari melintasi kota itu.”

"A-a-a-a-aku benar kan…. Heheheheheheheheheh ... "

"Kau itu sedang diejek sama Unjo-san ..." Haruhiro menghela napas. "Masa gak tahu sih."

"Diam! Aku tahu itu. Aku kan cuma pura-pura bego, dasar tolol!” bentak Ranta.

"Jadi ..." Yume mengisap pipinya dan menunjuk ke arah kota Waluandin. "Bagaimana sekarang? Kita sudah jauh-jauh datang ke sini, lho. Alangkah baiknya kalau kita coba mendekat."

"Yume-san memang bernyali ..." Kuzaku menganggap serius apa yang Yume sanrankan.

"Yahh… kalau tidak berbahaya sih, lebih baik kita coba saja.." Kata Yume. "Tapi kalau terlalu berbahaya, Yume pikir, lebih baik kita kembali saja. "

"Itu pasti berbahaya!" Ranta menghentakkan kakinya. "Masa gak paham sih!"

"Tapi kalau tidak terlalu berbahaya, lebih baik kita coba!"

"Mungkin tidak ..." Shihoru tampak memucat, seakan-akan dia bisa pingsan kapanpun.

"D-d-darimana ..." Haruhiro menekan tenggorokannya. Dia harus berani. Mungkin dia akan terkejut, namun dia sudah mempersiapkan diri mendengarkan apapun jawabannya. "D-d-darimana kau datang, Unjo-san. Maksudku, kau masuk dari sebelah mana?”

"Aku tidak ingat. Saat itu, aku sungguh tertekan." Unjo-san perlahan meletakkan ranselnya, kemudian berjongkok di sampingnya. "Satu hal yang aku ingat dengan pasti adalah, dua rekanku meninggal di Waluandin, yaitu Iehata dan Akina. Mereka dibunuh oleh Orc, dan aku berhasil lolos. Sendirian."

Setelah itu, Unjo-san menceritakan bahwa Party-nya mengalami kesulitan di perbatasan bekas kerajaan Nananka dan Ishmal.

Bekas wilayah Kerajaan Nananka dikuasai Orc, dan bekas Kerajaan Ishmal adalah wilayah Undead. Waktu itu, Unjo-san dan kawan-kawannya masih muda dan penuh semangat, mereka dengan berani menyerbu ke basis utama musuh dan bertempur melawan Undead yang kuat. Namun, suatu hari, mereka tertangkap oleh serangan mendadak, dan salah satu rekan mereka, Katsumi si Thief, meninggal.

Sementara mereka berlarian di wilayah musuh, mereka terjebak di dalam daerah berkabut, kemudian mereka pun tersesat. Mereka melewati sebuah gua dan keluar ke pegunungan yang gelap. Di sana ada sungai lahar, dan mereka berpikir bahwa keadaannya sudah aman. Meski begitu, saat mereka melihat kadal yang berenang dengan santai di sungai-sungai itu, mereka merasakan ada yang tidak beres.

Untungnya, kadal-kadal itu (yang mereka putuskan untuk menyebutnya salamander), tidak menyerang mereka, tapi naga yang mengerikan telah memakan salamander itu. Party Unjo-san dikejar-kejar oleh naga berwarna merah tua, yaitu naga api.

Dua rekan Unjo-san, Ukita (Paladin) dan Matsuro (Mage) rupanya telah dimakan oleh naga api itu. Sementara mereka sedang dilahap, Unjo (Hunter), Iehata (Warrior), dan Akina (Priest) telah melarikan diri secepat yang mereka bisa.

Kemudian, mereka pun sampai di Waluandin. Yang menanti mereka adalah ribuan, bahkan puluhan ribu Orc.

Haruhiro mencoba menyusun kembali informasi-informasi di kepalanya

Ada saat dua cara keluar dari Darunggar.

Pilihan pertama adalah mengambil rute yang mereka lewati ketika sampai di dunia ini. Mereka akan kembali ke Desa Sumur, kemudian melakukan perjalanan melalui sarang para Gremlin untuk kembali ke Dusk Realm. Namun, hutan utara penuh dengan ngengat kabut yang disebut Yegyorn. Yah, buktinya mereka bisa melewatinya dengan selamat, jadi mereka mungkin bisa kembali dengan selamat pula ... tapi Haruhiro cukup pesimis akan hal itu. Adalah suatu keajaiban mereka bisa menemukan Desa Sumur tanpa menemui seekor Yegyorn pun. Dia tidak bisa mengharapkan datangnya keajaiban untuk yang kedua kalinya.

Jika mereka mengandalkan keajaiban untuk kembali ke Dusk Realm, maka itu sama saja seperti perjudian besar. Meskipun mereka bisa kembali ke Dusk Realm, siapa yang bisa menjamin keselamatan mereka di sana? Harapan sih selalu ada, namun mereka harus mencari bala bantuan sembari kembali menghadapi para Cultist, raksasa putih, bahkan Hydra. Sepertinya itu tidaklah mudah. Bahkan, sangat-sangat sulit.

Pilihan kedua adalah melewati Pegunungan Naga Api, entah bagaimana caranya. Pegunungan itu terletak di sebelah Kota Waluandin, kemudian menuju tempat berkabut seperti yang diceritakan Unjo-san. Itu adalah wilayah musuh yang berbahaya. Meskipun mereka tidak mendapat gangguan dari musuh, Kota Waluandin itu sendiri sudah berbahaya. Apakah tidak ada cara untuk mencapai Pegunungan Naga Api tanpa melalui Waluandin, yang penuh dengan Orc? Meskipun mereka menemukan cara lain, di sana masihlah menunggu naga-naga api yang mengerikan.

Yeah, tidak ada cara lain.

Kali ini tidak ada kesempatan. Peluangnya benar-benar nol. Terlalu banyak rintangan yang menghambat mereka.

Lalu bagaimana?

Mungkin sudah saatnya untuk menerima takdir. Saat ini, lupakan saja Grimgar, kemudian menetap di sini, di Darunggar. Kalau kesempatan untuk pulang tidak kunjung datang, mungkin mereka harus berpikir untuk tinggal di dunia ini sampai akhir hayat.

Apa yang harus mereka lakukan untuk bisa hidup di dunia ini dengan layak? Mereka harus bersama-sama berbagi pengetahuan, pekerjaan, dan membangun dasar yang kuat untuk melanjutkan hidup. Selangkah demi selangkah. Mereka bisa bergerak maju sesuai kemampuan masing-masing, tanpa terburu-buru.

Mungkinkah mereka bisa hidup di dunia asing ini tanpa banyak menghadapi masalah? Mereka memiliki Unjo-san sebagai bukti bahwa manusia juga bisa bertahan hidup di sini, bahkan sampai bertahun-tahun. Tubuh Unjo-san sangatlah pucat, mungkin itu karena tubuhnya jarang terkena sinar matahari, tapi ia tampak cukup sehat. Mereka bisa hidup selama satu atau dua dekade, persis seperti Unjo-san.

Dengan fakta seperti itu, akhirnya Haruhiro menetapkan keputusannya.

Hei, tidak buruk juga, kan? Bahkan di tempat seperti ini, seorang manusia terbukti bisa hidup sampai puluhan tahun. Maksudku, aku cukup yakin bahwa Grimgar juga bukanlah kampung halaman kami. Kebetulan saja, kami dibangkitkan di Grimgar. Bahkan, kami terpaksa tinggal di sana. Tidak lebih.

Dunia ini gelap. Bahkan terlalu gelap, dan itu membuatnya merasa suram. Dia juga tidak lancar menggunakan bahasa dunia ini. Selain itu, pada dasarnya tidak ada manusia di sini. Bahaya mengintai di manapun. Ada banyak hal yang dia khawatirkan di tempat ini, tetapi mereka mungkin bisa mengatasinya seiring waktu berjalan.

Pada akhirnya nanti, mereka akan terbiasa.

Lagipula, berbeda dengan keadaan Unjo-san sebelumnya, kini Haruhiro masih bersama rekan-rekannya. Dia tidaklah sendiri. Bisa dikatakan, nasibnya tidaklah seburuk Unjo-san ketika terdampar di dunia ini.

Bahkan, tidak biasanya Haruhiro berpikiran optimis seperti ini. Sepertinya baru kali ini Haruhiro bisa berpikir optimis akan masa depannya.

Grimgar telah menajdi bab pertama dalam kisah hidup mereka. Sekarang, bab kedua telah dimulai di Darunggar. Mungkin akan ada bab ketiga dan keempat suatu saat nanti. Setidaknya, dia berharap hidupnya terus berjalan.

Bab kehidupan barunya mungkin adalah Darunggar, atau bisa jadi di tempat lain. Dia tidak pernah bisa memprediksi ke mana hidupnya akan tertuju. Nasib adalah suatu misteri besar di mana tak seorang pun tahu kelanjutannya. Haruhiro tahu bahwa nasibnya tidak selalu baik, namun juga tidak selalu buruk. Jika ada masalah, pasti ada kegembiraan yang bisa dia temukan. Bahkan di Darunggar yang suram, kegelapan tidak meliputi mereka setiap hari. Pasti juga ada cahaya.

“Yah.” Unjo-san berdiri dan memanggul ranselnya. “Aku pikir, kalian memahaminya sekarang. Bahwa tidak ada cara kembali ke Grimgar. Sekarang kalian lihat alasannya. Aku akan kembali ke Herbesit. Terserah, kalian mau melakukan apa.”

Haruhiro menutup matanya dan mengangguk. Dia tidak bisa membiarkan Party-nya ditinggalkan di sini. Mereka akan kembali juga. Tidak benar kalau mereka terus mengandalkan kebaikan Unjo-san, dan Haruhiro tetap ingin menjaga hubungan baik dengannya. Bagaimanapun juga, mereka adalah sesama manusia, dan juga sama-sama pasukan relawan….. ah, bukan… mantan pasukan relawan tepatnya. Unjo-san adalah senior mereka dalam hal itu. Haruhiro ingin mendapatkan lebih banyak saran dan nasehat dari Unjo-san untuk ke depannya.

Untuk saat ini, pikir Haruhiro, ayo kita ikuti Unjo-san, kita harus melakukan yang terbaik untuk tidak terlalu membebaninya, atau bahkan membuatnya jengkel. Ayo lakukan itu.

“Kami…….” Haruhiro mulai berkata, tapi kemudian matanya melebar. “... yang benar saja?”

Dia merogoh ke dalam saku bajunya, dan menarik benda itu.

Pada saat seperti ini? Beneran nih?

Itu adalah benda mirip batu pipih hitam. Tapi itu sungguh bukan batu. Itu bergetar, dan ujung bawahnya bersinar hijau.

“Receiver-nya ...” bisik Shihoru.

“Apa itu?” Unjo-san mendorong pinggiran topi capingnya, dan dia tampak begitu tertarik dengan benda itu. "Apakah itu benda dari dunia lain?”

“Haruhiro,” terdengar suara dari Receiver tersebut.

“... Soma-san.” Tangan Haruhiro dan juga suaranya bahkan lebih gemetaran daripada Receiver itu.

Rekan-rekan lainnya langsung mengerubungi Haruhiro, mereka sangat penasaran apa yang akan terdengar dari alat itu.

“Apakah kau dengar?” Kata suara Soma. “Haruhiro. Kau tahu berapa kali aku menghubungimu? Kami sudah berada di Grimgar. Akira, Tokimune dan kelompok mereka juga baik-baik saja.”

“Oh… ...” Ranta setengah menangis. “Ya, tentu saja ... Tentu saja mereka selamat. Sialan, mereka baik-baik saja, tadinya kukira apa. Ohh...a-a-aku sangat senang. Ya. Kami berada di tempat yang buruk, tapi aku senang…"

“Haruhiro. Ranta. Yume. Shihoru. Mary. Kuzaku,” kata suara Soma. “Aku tahu kalian masih di dunia lain, jadi tolong dengarkan ini. Aku percaya pada kalian."

“... Sialan.” Kuzaku memegang kepalanya. “Soma-san memanggil namaku ...”

“Berapa kali…..” Mary menundukkan kepalanya.

Berapa kali dia menghubungi kami? mungkin gadis itu ingin menanyakan itu.

“Kami nantikan kedatangan kalian,” kata Soma. “Bukan hanya aku… tapi kami semua menantikannya.”

“Wah ...” Yume jatuh terjerembab.

“Kemuri,” tambah Soma.

“Hmm,” kata suara Kemuri. "Bagaimana kabarmu?"

“Shima.”

“Ya,” kata suara Shima. “... Haruhiro. Apakah kau ingat apa yang pernah kukatakan? Lain kali, ayo kita bicarakan lagi tentang hal itu.”

“Hm? Kalian ngomong apa?” Tanya Soma.

"Astaga. Apakah itu membuatmu penasaran, Soma?”

"Yah. Cukup penasaran sih. Ini, Lilia.”

“Aku tidak mau bicara pada sekelompok anak yang belum dewasa,” kata Lilia. “Hanya saja ... tetaplah berhati-hati. Percaya pada diri sendiri, dan kawan-kawanmu. Kau harus selalu melihat dan mendengarkan apapun yang penting, dan menuntun hatimu ke jalan cahaya, bukannya kegelapan. Jika kau tidak pernah berhenti berjalan, akhirnya kau akan menemukan jalan. Sekarang, dengarkan aku. Jika kau menyerah, aku tidak akan pernah memaafkanmu. I-Itu saja!”

“Katanya gak mau bicara…. Tapi itu cukup panjang woy?!” Ranta terisak. “Ohhh, Lilia-san manis bangeeeet! Aku ingin melihatmu lagi ...”

“Pingo?” Kata Soma.

“Matikan saja. Uheheheh ... Hei, Soma ... Kau coba membuat Zenmai bicara, tetapi tidak ada gunanya. Dasar tolol ... Uheheheh ...”

“Oh, begitu,” kata Soma. “Yah, toh bukan hanya kami. Akira-san, Miho-san, Gogh-san, Kayo-san, Branken, dan Taro, juga, mereka semua mengkhawatirkanmu. Lalu ada Rock, Kajita, Moyugi, Kuro, Sakanami, Tsuga, Io, Katazu, Tasukete, Jam, Tonbe, dan Gomi…. Eh… bukannya kau belum pernah bertemu dengan mereka ya…. Ah, pokoknya aku sudah menceritakan tentangmu pada mereka. Dan semuaya tertarik padamu."

“Squad Rocks dan Io-sama!” Ranta sedikit menggeliat. “Tunggu dulu, nama macam apa Tasukete dan Gomi itu [10]? Seakan-akan mereka mengatakan, ’Tolong aku, sampah!!’ Ah, terserahlah… yang penting, aku pernah mendengat bahwa Io-sama adalah seorang wanita yang luar biasa seksi. Sial, aku ingin melihatnya ...”

“Dia tidak pernah berubah ...” kata Shihoru dingin. "Tapi…."

“Haruhiro.” Soma memanggil nama mereka satu-per-satu sekali lagi. “Ranta. Yume. Shihoru. Mary. Kuzaku. Kami akan menunggu kepulangan kalian. Sampai jumpa."

Receiver itu pun berhenti bergetar, dan cahaya di ujung bawah mati.

Haruhiro masih memegang Receiver tersebut, bahkan dia tidak bisa bernapas dengan benar.

“Akira, katanya?” Unjo-san tiba-tiba tertawa pelan. “Dan Gogh? Ah, tidak mungkin. Itu sungguh tidak mungkin…"

“... Anda kenal mereka?” Kuzaku bertanya dengan ragu-ragu.

“Aku kenal mereka….” Unjo-san berhenti sejenak dan mendesah. “Mereka belum tentu orang yang sama. Mungkin mereka adalah orang lain, namun hanya namanya saja yang sama. Sepertinya begitu…"

Usia Akira dan Gogh kurang-lebih sama, dan mereka berdua telah menjadi prajurit relawan selama lebih dari 20 tahun. Haruhiro tidak tahu usia mereka tepatnya, tapi sepertinya sih umurnya 40-an. Seharusnya, usia Unjo-san juga sekitar itu. Tidak aneh jika mereka saling kenal.

Haruhiro mengambil napas dalam-dalam. Pikirannya masih kacau. “Aku pikir, mereka adalah Akira-san dan Gogh-san yang Anda kenal.”

“Soman bilang dia sudah berkali-kali menghubungi kita, kan,” Yume mengatakan itu dengan nada seperti orang ngantuk. “Jadi… kenapa kita tidak pernah mendengarnya?”

“Tunggu, Soman…” Haruhiro mulai mengoreksinya, tetapi akhirnya dia urungkan niatnya.

Yahh, salah sedikit gak papa lah, pikirnya. Atau mungkin tidak? Ah sudahlah, aku tak ingin memikirkannya.

“Mungkin ...” Mary melihat Kota Waluandin. “... karena kita berada dekat dengan kota ini?”

“Itu dia!” Ranta menunjuk Mary. “Mary-chan, kau sungguh pintar! Sebenarnya aku juga sudah menduganya, hanya saja aku telat ngomong!”

"-chan? Hah? Apa?” Tanya Mary. “Kau sudah bosan kusembuhkan?”

"…Ah! Maaf, a-a-aku terlalu ceroboh. Aku harus lebih sopan, nyonya. Ini salahku. Tidak… aku serius, serius. Aku janji ini tidak akan terjadi lagi. Jadi, maafkan aku! Kumwohon!”

“Menyebalkan sekali ...” gumam Shihoru.

Haruhiro setuju.

Tapi, abaikan saja si kampret saat ini...

“Kita sudah dekat, ya?” Haruhiro menatap Receiver di tangannya. "Aku paham. Jadi kita sudah dekat. Kita dekat dengan Grimgar.”

Yume menggenggam tangannya erat-erat pada pusat dadanya. “Yume ingin pulang ke rumah. Yume juga ingin bertemu Master. Yume akan sedih kalau tidak bisa melihat Master lagi.”

“Ya ...” Kuzaku mendongak ke langit gelap. “Aku setuju.”

Hentikan, pikir Haruhiro. Kumohon hentikan itu… jangan katakan fakta itu padaku.

Tak peduli berapa kali-pun kau mengatakannya… yang tidak mungkin tetaplah tidak mungkin terjadi… kalau kau tanya, apakah aku ingin pulang… ya, aku juga ingin pulang…. Maksudku, tidaklah lucu kalau kita tinggal di dunia ini selamanya. Tapi… apakah kita punya pilihan? Jika kita mencoba untuk kembali, nyawa kita akan dipertaruhkan. Kalau suatu hal buruk terjadi pada kalian, aku tak yakin bisa menerimanya lagi. Aku bahkan tidak bisa membayangkannya….

Aku bukanlah orang yang suka mengambil resiko. Dan aku pun tidak akan membiarkan kalian mengambil resiko. Aku tidak ingin kehilangan siapa pun. Aku tidak akan membiarkan siapapun mati lagi. Kita akan terus hidup. Kita semua. Itulah pilihan terbaik.

“Jika kau menyerah, aku tidak akan pernah memaafkanmu,” itulah yang dikatakan Lilia. Apa sih artinya? Kalau mereka tidak boleh menyerah, maka mereka harus bertarung, dan bertahan? Atau…

“Kami akan menunggu kepulangan kalian,” Soma juga berkata begitu.

“Sampai jumpa,” tambahnya.

“Kita tidak bisa mengambil risiko,” kata Haruhiro dengan jelas. “Kalau resikonya sebesar itu, maka kita tidak bisa mencobanya. Tapi, yang bisa kita lakukan saat ini adalah mengambil jalan paling aman, sembari mencari cara yang lebih masuk akal.”

“Hah?” Ranta menyilangkan lengannya dan memiringkan kepalanya ke samping. "Apa maksudmu?”

“... Hah?” Tanya Kuzaku. “Apakah kau ini bodoh?”

“Kuzacky! Kau mengejek seniormu! Dasar kampret, dasar brengsek!”

“Kampret? Ya ampun!” Yume cemberut. “Maksudmu, kampret yang terbang itu kan… astaga?"

“Kau juga gak paham!” Teriak Ranta.

“Sebisa mungkin, kita harus menghindari bahaya, dan tetap waspada,” kata Shihoru dengan tegas. “Kita akan terus melakukan pengamatan, dan suatu hari nanti, kita akan temukan caranya…..”

“….untuk bisa kembali….” Mary menyelesaikan kalimat Shihoru. Lantas, dia menggigit bibir. “….ke Grimgar.”

“Itu tujuannya, kan?” Kata Ranta, sambil membusungkan dadanya dengan angkuh. "Aku tahu itu, dasar bego."

Setelah memikul ranselnya kembali, Unjo-san berbalik untuk pergi. “Lakukan saja sesuka kalian.”

Meskipun dia bisa kembali, namun Unjo-san tetap saja tidak tertarik. Alasan dia tetap tinggal di Darunggar tidaklah sesederhana: “Aku sudah memiliki Rubicia,”.

Yahh, lain orang, lain pula pemikirannya.

Haruhiro menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Umm ... terima kasih banyak, Unjo-san. Terimakasih banyak atas segalanya!! Kami sungguh berterimakasih!"

Unjo-san berhenti. Namun dia tidak menoleh. “... Jangan mati, juniorku.”

Hari Yang Bagus Untuk Menanti Hari Yang Lebih Baik[edit]

Ada begitu banyak hal yang perlu dipertimbangkan, dan juga sangat banyak hal yang perlu dilakukan.

Untuk permulaan, Haruhiro memutuskan untuk menguji seberapa dekat dia bisa mengintai Waluandin. Dia tidak perlu mengajak rekan-rekannya untuk melakukan itu. Atau lebih tepatnya, Haruhiro lebih baik melakukannya sendiri. Mengajak rekannya untuk mengintai justru akan membebaninya.

Haruhiro memanfaatkan Stealth, yang Barbara-sensei telah ajarkan, kemudian dia menuju Waluandin sendirian.

Waluandin tampaknya dibangun di kaki Pegunungan Naga Api. Ada suatu lembah di kaki gunung. Haruhiro coba melintasi lembah itu untuk mencapai Waluandin, namun sayangnya lembah itu bukanlah hamparan tanah kosong. Ada pedesaan yang mengelilingi tepi lembah tersebut.

Desa-desa itu berisi sepuluh sampai ratusan bangunan yang bentuknya menyerupai Iglo, dan ada juga sumber air panas yang memancar di berbagai tempat. Meskipun mengamatinya dari kejauhan, ia berhasil melihat beberapa warga yang mendiami pedesaan itu.

Mereka adalah makhluk humanoid dan berkulit hijau, hidung pesek, taring besar mencuat dari mulut mereka. Postur tubuhnya dempal, dan tinggi. Tak peduli kau lihat dari sudut manapun, mereka benar-benar Orc. Tak ada makhluk lain yang berbentuk seperti itu. Mereka hanya mengenakan celana pendek, dan bertelanjang dada. Suhu di lingkungan ini cukup panas, mungkin itu alasannya mereka tidak pakai baju atau semacamnya. Seluruh tubuh mereka halus. Apakah mereka telah mencukur semua rambut yang tumbuh pada tubuh mereka, ataukah mereka memang tidak punya rambut?

Kebetulan, ada juga Orc perempuan, dan mereka mengenakan kain yang membungkus dada sampai kepala.

Orc di pedesaan itu sedang menggali tanah, dan melakukan beberapa jenis pekerjaan di semacam papan. Haruhiro mengamati mereka sedang menaikkan makhluk seperti ulat besar ke dalam kandang. Makhluk itu terlihat seperti babi-cacing yang pernah Haruhiro temui di Tambang Siren. Mungkinkah mereka akan memakannya?

Ada lubang yang digali di tanah, dan beberapa Orc melakukan pekerjaan lain di dalam lubang tersebut. Ini adalah desa pertanian, sepertinya mereka bertugas menyediakan bahan makanan untuk Waluandin.

Orc petani memiliki fisik yang kekar, sehingga Haruhiro mulai khawatir. Ah, jangan khawatir, mereka adalah petani, wajar saja kalau tubuh mereka kekar, karena mereka melakukan pekerjaan berat setiap hari. Itulah sebabnya mereka memiliki tubuh yang berotot. Setidaknya, itulah yang Haruhiro yakinkan pada dirinya sendiri.

Terlepas dari jantan atau betina, bukankah tubuh mereka lebih besar daripada Orc yang pernah kami lawan di Benteng Capomorti? pikirnya. Apakah memang benar begitu?

Para penduduk desa Orc sibuk bekerja, sehingga mereka tidak menyadari kedatangan Haruhiro. Untung saja dia sendirian, kalau misalnya rekan-rekannya ikut bagaimana? Dia pasti akan lebih kesulitan. Tapi kalau dia memperhatikan setiap pergerakan mereka, harusnya tidak masalah. Lagipula, sepertinya Orc tidak bekerja seharian penuh. Karena adanya semburan lava, sulit untuk mengetahui apakah sekarang sudah malam atau belum, karena suasananya terus terang. Tapi… akhirnya Haruhiro tahu batas siang dan malam, karena para Orc menyudahi pekerjaannya, kemudian kembali ke rumah untuk tidur.

Apapun itu, Haruhiro mampu menyelinap melewati desa-desa Orc tanpa kesulitan. Dan tentu saja, dia memerlukan waktu yang tidak sebentar. Kalau dikira-kira, sepertinya dia menghabiskan 3 jam penuh untuk pengintaian ini. Kalau dia sudah menghafal rutenya, sepertinya dia bisa menghabiskan waktu 1 ½ jam lebih cepat. Masalahnya adalah, dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya setelah melewati lembah tersebut.

Setelah melewati pedesaan, ada sebuah sungai lava yang mengalir. Setelah menyeberangi sungai tersebut, dia akan sampai di jalan-jalan kota Waluandin. Lebar sungai lahar ini kurang dari satu meter, dan ada banyak jembatan yang menghubungkan kedua sisinya. Bahkan, Haruhiro mungkin bisa melompati sungai lahar ini tanpa melewati jembatan. Ini adalah pembatas yang tidak begitu menyusahkan untuk dilewati.

Ada banyak bangunan berbentuk persegi yang berjajar di sepanjang jalan perkotaan. Berdasarkan tata letak jendelanya, kebanyakan bangunan tersebut bertingkat dua, tapi anehnya strukturnya tidak begitu tinggi. Seakan-akan, setengah tingkat pertama terbenam di bawah tanah. Sepertinya mereka sengaja menempatkan pintu rumah jauh dari sungai lahar.

Haruhiro melihat sejumlah Orc duduk di jendela dengan kaki bergelantungan. Untuk seukuran Orc, mereka cukup kecil. Sepertinya mereka adalah Orc anak-anak.

Sanggupkah dia menyeberangi sungai tanpa terlihat oleh anak-anak Orc itu, dan berhasil memasuki kota? Haruhiro hanyalah seorang pengecut, jadi dia tidak yakin bisa melakukannya. Yang dia yakini adalah, memasuki Waluandin dari depan sama saja dengan bunuh diri.

Haruhiro mengikuti sungai magma ke kiri, dan terus menyusurinya. Akhirnya, ia mulai mendengar suara yang tak asing lagi. Itu adalah suara palu. Pada sebuah bengkel besar, yang hanya terbangun dari sekelompok tiang dan atap, ada beberapa Orc berotot kekar yang memainkan palunya.

Bengkel pandai besi Waluandin memanfaatkan lahar untuk bekerja. Mereka tidak perlu menyalakan api, mereka hanya perlu menuangkan lahar bersuhu tinggi pada tungku. Mungkin tempat ini bukan hanya sekedar bengkel, para penduduk Waluandin juga memanfaatkannya untuk kebutuhan bahan bakar. Akan sangat berbahaya jika mereka mengacaukan tempat ini.

Distrik bengkel di kota ini cukup luas. Orc Waluandin mengolah logam, dan memproduksi berbagai macam produk dalam jumlah besar. Tentu saja, itu berarti mereka membutuhkan bahan baku.

Ketika Haruhiro mencapai ujung distrik bengkel, sungai lava itu pun terputus, dan ada dinding batu di sana. Sepertinya tidak ada cara memanjat dinding batu itu, namun ada beberapa lubang di sana, dan lubang-lubang itu cukup besar.

Para Orc masuk dan keluar melewatinya. Mereka mendorong kereta penuh dengan suatu benda. Harusnya itu bijih besi. Di sana juga terlihat ada tumpukan biji besi. Tempat ini pastilah tambang.

Dia juga melihat Orc yang tampaknya berperan sebagai mandor. Orc yang memakai pelindung bahu dan pinggul itu membawa alat yang memancarkan cahaya redup, dia juga membawa tongkat panjang, dan bertindak seolah-olah dia orang penting. Dan terlihat sekali bahwa ukuran tubuhnya lebih besar daripada Orc lain.

Mungkin ini hanyalah pengamatan Haruhiro, tapi Orc di desa-desa pertanian tampaknya memiliki postur tubuh setinggi 2,3 meter? Orc yang bekerja di bengkel terlihat lebih pendek, tetapi mereka punya bahu yang lebih luas dan juga lebih dempal. Kalau Orc penambang, mungkin ukuran tubuhnya mirip seperti Orc petani? Si Orc mandor, dilihat sekilas saja, Haruhiro cukup yakin bahwa tingginya mencapai 3 meter.

Ada satu hal lagi.

Awalnya Haruhiro mengira bahwa Orc besar itu bertugas seperti seorang mandor. Tapi ternyata tidak begitu.

Ada beberapa Orc lagi yang lebih besar. Jumlahnya sih tidak banyak, mungkin di antara 10 Orc penambang, si besar itu hanya ada satu. Kemungkinan besar, Orc bertubuh lebih besar itu memiliki kasta yang lebih tinggi.

Pokoknya, kalau tubuhnya tegap dan berarmor, pastilah dia tangguh. Tambang itu tampaknya berbahaya.

Ketika ia menyelesaikan penyelidikannya di Waluandin, Haruhiro menuju kembali ke tempat kawan-kawannya berada.

Ranta bertanya, “Yah? Bagaimana? Hah? Hah? Hah?” dan itu membuatnya semakin muak. Sembari Haruhiro makan beberapa makanan diawetkan yang terlihat kurang lezat, dia menceritakan dengan ringkas segala hal yang dilihatnya. Dia sedikit ... ah tidak…. sangat-sangat lelah, maka dia pun rebahan, kemudian terlelap.

Ketika Haruhiro tertidur, rekan-rekannya giliran mengamati desa para Orc. Dan setelah dia terbangun, teman-temannya menyampaikan beberapa informasi tambahan.

Yume yang pertama. “Di malam hari, para Orc juga tidur seperti kita.”

Yume mengatakan “Orc” dengan begitu manis, seolah-olah mereka adalah makhluk yang imut, namun tentu saja kenyataannya tidak demikian.

“Tapi untuk Waluandin, kurasa….. tidak banyak perubahan saat malam tiba?” Shihoru tampaknya tidak begitu percaya diri ketika melaporkan. “Tapi, aku yakin bahwa penduduk desa itu sedang tertidur sampai beberapa saat yang lalu.”

“Ketika aku keluar, aku hanya melihat cahaya tanpa ada seorang pun, ngerti kalian?” lapor Ranta dengan angkuhnya.

“Kenapa nada bicaramu begitu sombong?” tampaknya Mary benar-benar bingung. "Apa ada yang salah dengan kepalamu? Apakah hatimu begitu busuk? Hei, mengapa? Bisakah kau ceritakan padaku?"

“Sorry yaaaaaa,” ejek Ranta. “Kenapa belakangan ini kau selalu saja sensi padaku? Ngomong sopan dikit ngapa?”

“Kalau aku sih gak pernah paham sama orang itu ...” gumam Kuzaku.

“Hei, Kuzacky! Kau itu bawahanku! Jangan sok pintar ya!”

Hari ini, Party Haruhiro memutuskan untuk mencoba menyelinap melewati desa-desa bersama-sama. Sebenarnya dia ingin meninggalkan Ranta sendirian, tapi dia tidak bisa melakukan itu sebagai seorang pemimpin.

Meskipun Haruhiro sudah mengetahui rutenya setelah pengintaian kemaren, dia sudah menduga akan terjadi berbagai macam kesulitan. Ketika mereka menyelinap bersama-sama, itu berarti ada 6 orang yang bergerombol, dan itu meningkatkan resiko ketahuan oleh para Orc tersebut. Meskipun ada beberapa tempat yang bisa dimanfaatkan untuk tiarap dan mengintai, namun agaknya tempat-tempat tersebut terlalu sempit untuk 6 orang. Dia mencoba mengikuti rute yang telah dia lewati sebelumnya, namun beberapa kali mereka hampir ketahuan oleh Orc petani. Butuh banyak usaha dan waktu yang lama untuk bergerak maju sedikit demi sedikit, dan itu membuat Haruhiro beberapa kali ingin menyerah dan kembali saja ke tempat sebelumnya yang lebih aman.

Semua rekan-rekannya begitu koorporatif dan mengikuti setiap instruksi Haruhiro, kecuali si kampret Ranta. Namun itu sudah menjadi pemandangan yang biasa di Party ini. Jika Haruhiro belum memberikan arahannya untuk maju ke sini dan ke sana, tak seorang pun dari mereka berani bergerak. Mungkin itu sebenarnya karena mereka tidak mampu melakukan apapun. Mereka tidak punya pilihan lain. Haruhiro sudah paham betul kondisi timnya yang menyedihkan itu, namun entah kenapa dia masih saja merasa kesal.

Ada saat-saat ketika ia merasa ingin sekali ngamuk. Dan ketika dia tidak lagi sanggup menahan emosi, ia mengambil napas dalam-dalam dan terus bersabar. Tentu saja dia emosian, situasi seperti ini begitu membuatnya frustasi. Namun dia harus tetap memastikan bahwa emosi tidak menguasai pikirannya. Sebenarnya, kalau dia membiarkan emosinya meledak-ledak, dia hanya akan kelelahan, dan itu bisa berujung pada kesalahan fatal.

Dia tidak bisa memperkirakan waktu dengan pasti, namun sepertinya butuh 4 – 5 jam untuk mencapai Waluandin. Meskipun mereka mengulangi rute ini berulang-ulang, sepertinya waktu yang dibutuhkan hampir sama, atau lebih tepatnya…. tidak ada perbedaan waktu yang signifikan. Kalau Haruhiro bergerak sendirian, sepertinya dia hanya membutuhkan waktu selama 1,5 jam saja. Artinya, waktunya menjadi 3 kali lebih lama jika mereka bergerak bersama-sama. Mereka akan menghabiskan sepertiga hari hanya untuk pergi ke sana dan kembali.

Menyembunyikan diri di dekat sungai lava, di depan Waluandin, tidak mudah dilakukan berenam. Haruhiro adalah Thief, jadi tanpa objek untuk bersembunyi pun, dia masih bisa ngumpet dengan berbaring, berjongkok, ataupun menggunakan skill Stealth-nya jika dibutuhkan. Namun beda cerita untuk teman-temannya. Jika mereka berdiam diri di suatu tempat, maka mereka akan mudah ditemukan. Mereka harus terus bergerak.

Pandai besi berada di sebelah kiri, dan tambang ada di sebelah sana. Haruhiro dan yang lainnya pun memilih untuk pergi ke kanan. Terkadang, ada anak-anak Orc yang duduk di jendela berbentuk persegi, pada bangunan-bangunan yang terletak di seberang sungai lava. Mereka suka mengamati apapun di sekelilingnya, jadi Party Haruhiro harus berhati-hati.

“Orc-orc kecil itu lucu banget,” Yume berbisik pelan.

“Apanya?” sembur Ranta. “Apanya yang kecil coba? Toh badan mereka masih lebih besar daripada kita berdua…"

“Gak ada hubungannya dengan ukuran.”

“Ya ada hubungannya lah!! Lihatlah, tatapan mata mereka terlihat begitu kejam ...”

“Mereka melihat ke sini hanya karena bosan,” kata Yume. “Ranta, kau melihatnya mengerikan hanya karena kau takut.”

“Aku tidak takut,” balas Ranta. “Dalam medan laga, kita tidak boleh meremehkan lawan kita. Kalau kau pikir aku bohong, aku siap saja membuktikannya. Maksudku, aku tidak takut. Aku sungguh tidak takut.”

Berkat idiot ini (atau si kampret), keringat dingin Haruhiro mulai bercucuran, dia sangat khawatir bahwa anak-anak Orc itu segera mengetahui keberadaan mereka, tapi untungnya tidak terjadi apa-apa. Namun, mereka menemui suatu jalan buntu.

Ketika mereka sampai di tepi bangunan 2 lantai berbentuk persegi, ada semacam pintu yang terbuka di sana. Namun sayangnya bangunan itu tidaklah kosong. Ada begitu banyak Orc di dalamnya. Mereka sangat berisik. Tampaknya mereka sedang membentak satu sama lain. Ada beberapa barang yang diletakkan di lantai, apakah berarti mereka sedang jual-beli? Apakah itu sebuah toko? Ada juga kereta di sana. Ia melihat Orc berdiri atau duduk sambil makan dan minum. Tempat ini nampaknya adalah perpaduan antara pasar dan taman hiburan. Sepertinya di dalam cukup kacau. Ada beberapa Orc yang terlihat melompati sungai lava dengan begitu riang gembira, dan Haruhiro pun tak paham apa asyiknya melakukan olahraga seperti itu.

Yang jelas, berbahaya jika mendekati mereka. Party Haruhiro pasti akan ketahuan. Salah satu cara yang paling masuk akal adalah mengambil jalan memutar yang cukup panjang, namun mereka harus kembali melewati pedesaan Orc jika melakukan itu.

Setelah pertimbangan berbagai faktor, Haruhiro memutuskan untuk kembali. Setidaknya, untuk saat ini, mereka setuju untuk kembali ke Herbesit.

Mereka harus mengamati dan menyelidiki Waluandin dengan perlahan-lahan dan ekstra hati-hati. Itu bukan sesuatu yang bisa mereka lakukan dalam satu atau dua hari. Itu membutuhkan begitu banyak persiapan. Terlebih lagi soal makanan. Mereka tidak bisa mendapatkan makanan di daerah para Orc, sehingga satu-satunya cara adalah kembali ke Herbesit.

Untuk kembali ke kota, mereka hanya perlu mengulangi jalan yang mereka lalui ketika berangkat, namun tanpa adanya Unjo-san, Haruhiro sadar betul bahwa ini akan sulit. Setelah mereka beristirahat si dekat Sungai Mata Air Panas, tidak ada lagi kesempatan untuk lengah. Jantungnya berdebar kencang setiap kali menemui kadal berjambul yang dikenal dengan Nivle di reruntuhan Alluja.

Mereka menyeberangi jembatan di atas Sungai Dendoro yang berwarna coklat kemerahan, dan berulang kali menghadapi Skards di Lapangan Tulang, Zetesidona.

Ketika peternakan sebelah barat Herbesit mulai terlihat, ketegangan Haruhiro mulai lenyap. Dia berusaha keras menahan tangis, namun akhirnya air matanya menetes juga. Apakah ia masih berniat kembali lagi ke Waluandin? Mungkin juga tidak. Dia tidak lagi ingin pergi ke Zetesidona atau Alluja. Dia sudah muak melihat Orc-orc itu. Lantas, bukankah itu artinya dia memilih untuk tinggal di Darunggar selamanya? Tidak…?

Yahh, Herbesit juga bukanlah kota yang aman, jadi dia kembali meluruskan pola pikirnya. Kemudian, mereka menuju saluran bawah tanah. Setelah mereka selesai berbelanja beberapa kebutuhan, Haruhiro bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Unjo-san sudah mengucapkan salam perpisahan, maka rasanya aneh kalau mereka kembali mengunjungi menara Rubicia. Haruhiro dan yang lainnya bukanlah anggota Zeran, sehingga mereka tidak bisa tinggal di bawah tanaha. Sedangkan orang-orang di permukaan kota Herbesit begitu beringas dan menakutkan.

Apa sekarang? Apa yang sebaiknya mereka lakukan?

“Hei, meskipun orang-orang di permukaan pada bangsat, namun aku yakin ada beberapa yang baik, misalnya saja Unjo-san,” Ranta berpendapat. "Mungkin, ada semacam penginapan di sana, di mana mereka akan membiarkan kita tinggal jika kita punya cukup uang, bukankah begitu? Kalau kita mencarinya, pasti ada satu-dua tempat yang bagus, kan? Maksudku…… ah… Kuzacky. Kau pergilah ke permukaan, dan carikan kami tempat menginap yang bagus, secepat mungkin. Kami akan menunggu di sini. Aku akan menunggumu dengan tenang, oke?”

“Pinter banget kalau nyuruh, apa kau akan memberiku imbalan? Tunggu dulu, kenapa pula harus aku?” keluh Kuzaku.

“Duh, karena pangkatmu yang paling rendah di sini! Maksudku, kau adalah pesuruhku, kan? Kau adalah pelayanku, jadi kau harus melakukan apapun yang kumau, paham?”

“Kau sedang ngomong apa sih, gak paham aku.”

"Oh? Jadi sekarang berani ngelawan ya? Oke… oke…. Akan kuladeni kapanpun kau mau. Akan kuhajar kau. Mau kuhajar, hah!!?"

“... Inilah pertama kalinya aku ingin membakar rambutmu yang acak-acakan itu, Ranta-kun!!”

"Apa? Kau sebut apa rambutku yang indah ini? Acak-acakan?? Rambutmu itu yang acak-acakan!"

“Di Party ini hanya rambutnya yang acak-acakan, kan?” Kata Mary dengan dingin.

“... memang.” Shihoru juga mendukungnya.

“Setuju…” Dan juga Yume.

“Dasar sampah! Justru rambut kalian lah yang acak-acakan!! Kalian, kalian, kalian, kalian, kalian, kalian, kalian, pokoknya kaliaaaaaaaaaaannn!!!”

“Hei, rambutmu tidak berdosa, yang tidak beres adalah otakmu… jadi jangan salahkan dia, dasar rambut acak-acakan ...” kata Haruhiro.

Dia mendesah sambil melihat sekeliling. Bawah tanah Herbesit ini awalnya adalah saluran air dan kuburan, sehingga hanya air yang mengalir di beberapa tempat, dan sebagian besarnya adalah terowongan. Hawanya lembap, tapi ada bau menyegarkan di udara. Orang-orang di sini mungkin mencampur minyak mint dengan bahan bakar untuk lampu yang dinyalakan di sana-sini. Mungkin sebagiannya berkat aroma itu, pelanggan yang datang untuk berbelanja di pasar bawah tanah menjadi tenang, dan kalem. Ketika Party Haruhiro membuat keributan seperti ini, para anggota Zeran yang membuka toko di kedua sisi terowongan benar-benat tampak terganggu oleh kegaduhan mereka. Sepertinya akan lebih baik jika mereka membungkam Ranta, atau mendiamkannya secara permanen, kemudian segera menyingkir sebelum mereka ditendang keluar.

Setelah memikirkan beberapa pilihan, Haruhiro dan yang lain memutuskan untuk kembali ke ”rumah”, yaitu Desa Sumur.

Mereka menggunakan Herbesit sebagai basis operasi mereka, sementara mencari prasasti di reruntuhan Alluja yang bisa dijual dengan harga tinggi. Tapi sangat susah untuk hidup di kota sekeras Herbesit.

Mereka menyiapkan lonceng pengusir hewan, melintasi hutan, dan menuju tempat pembakaran arang.

Sebenarnya si pembuat arang tidak menyambut mereka dengan ramah, namun dia juga tidak berusaha mengusir Party Haruhiro. Mereka beristirahat di sudut tempatnya selama semalam, dan ketika mereka terbangun, si pembuat arang sedang bersiap untuk mengeluarkan keretanya.

Ketika mereka mengisyaratkan bahwa mereka bersedia untuk membantunya, si pembuat arang pun tidak menolak, sehingga mereka membantu memuat barang-barang ke kereta. Mereka mendampingi kereta tersebut berjalan ke Desa Sumur. Sebenarnya mereka tak punya tempat hunian di Desa Sumur, tapi entah kenapa rasanya seperti pulang ke rumah setelah sampai di sana.

Penduduk Desa Sumur semuanya pendiam, tapi si om kepiting selalu tersenyum dan berbicara dengan riang, dia bahkan senang melihat Haruhiro dan kelompoknya kembali lagi. Sebenarnya, cukup sulit membaca ekspresi seekor kepiting raksasa, tapi setidaknya Haruhiro merasakan senyuman hangat darinya, dan suaranya pun terdengar bahagia. Begitulah kira-kira.

Mereka berbicara tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya sambil makan di depan toko kelontong, namun tak satu pun dari mereka menyebut nama Waluandin. Haruskah Haruhiro yang terlebih dahulu membahasnya? Di dalam hati, dia berdebat dengan dirinya sendiri apakah harus menyebut nama Waluandin pada saat-saat seperti ini, namun akhirnya dia memutuskan untuk tidak mengatakannya.

Tak ada gunanya tergesa-gesa. Sekarang adalah waktunya untuk bersabar. Mari kita menunggu saat yang lebih baik. Dia bisa memikirkan sejumlah alasan, tetapi, pada akhirnya, ia hanya memutuskan untuk menunggu datangnya hari yang lebih baik.

Melaju Untuk Kemaren, Hari Ini, Dan Esok[edit]

Setelah menghabiskan sepuluh hari berburu di Kota Orang Mati, Haruhiro mulai bertanya-tanya, apakah lebih baik dia menjalani hidupnya dengan cara seperti ini. Bukan hanya dia yang berpikiran seperti itu, melainkan semua rekannya.

Ketika berburu di Kota Orang Mati, ada saat-saat ketika mereka tidak terfokus pada tugas mereka dengan benar. Tentu saja, ketika menghadapi Undead, mereka bertarung dengan sungguh-sungguh, karena nyawa taruhannya, tapi mereka cukup kesulitan melaluinya. Haruhiro juga begitu, sehingga dia mengerti betul kondisi apa yang sedang dialami tim ini.

Butuh keberanian, tetapi sebagai pemimpin, ia menyarankan bahwa mungkin sudah waktunya bagi mereka untuk kembali. Dan ternyata, tak seorang pun menyangkalnya.

Kali ini, mereka berencana untuk melakukan 15 hari perjalanan. Mungkin kenyataannya nanti, mereka menghabiskan lebih dari 15 hari, atau bahkan kurang…. Itu semua tergantung dari situasi dan kondisi, sehingga mereka mempersiapkan segalanya dengan matang sebelum melakukan perjalanan panjang ini. Namun, akhirnya mereka sepakat untuk tidak berlama-lama di sana, saat itu pun Haruhiro termotivasi.

Benar juga, pikirnya. Tidak ada gunanya berlama-lama di sana. Lebih baik kita fokus pada perjalanan jangka pendek.

Perjalanan kedua mereka untuk mengamati Waluandin berjalan cukup lancar, meskipun mereka tidak lagi ditemani Unjo-san.

Kami sudah terbiasa dengan kehidupan di Darunggar, pemikiran seperti itulah yang harus Haruhiro hindari. Pemikiran seperti itu hanya akan menjebaknya untuk tinggal lebih lama di dunia ini. Lebih baik mereka maju sedikit demi sedikit, meskipun itu menyakitkan.

Haruhiro sendiri lah yang mengarahkan Party-nya dalam menyelidiki Waluandin. Itu jauh lebih efisien, dan relatif lebih aman.

Setelah melewati distrik hiburan, ia menemukan sebuah daerah yang padat berisikan rumah-rumah seperti Iglo, dia pernah melihat pemandangan serupa di desa waktu itu. Rupanya, di area inilah hidup para Orc kelas rendah. Kau boleh bilang bahwa daerah ini cukup kumuh. Bahkan, mereka juga membangun Iglo di bukit-bukit yang begitu curam, sampai-sampai terlihat seperti terjepit di sana. Dia harus mengakui bahwa teknik konstruksi itu sungguh menakjubkan.

Pegunungan Naga Api berada di sebelah Waluandin. Ada jalan di sana, yang konon katanya menghubungkan dunia ini dengan Grimgar.

Secara teknis, ada dua cara untuk mencapai Pegunungan Naga Api. Salah satunya adalah melewati Waluandin. Cara lain adalah mengitari Waluandin, kemudian sampai pada pegunungan tersebut.

Jika mereka akan melintasi pegunungan, mereka harus melewati area luar tambang atau daerah kumuh. Kedua wilayah tersebut cukup berbahaya, sehingga mereka membutuhkan perlengkapan khusus untuk menjalankan misi ini.

Sayangnya, kalau Haruhiro ditanyai peralatan khusus macam apa yang mereka perlukan, dia tidak tahu jawabannya. Bagaimanapun juga, dia bukanlah ahli dalam hal seperti itu. Yume si Hunter harusnya memiliki kemampuan khusus dalam mendaki gunung, namun dia tidak punya pengalaman melakukannya. Jika mereka akan mencoba menyeberangi pegunungan, maka mereka memerlukan persiapan yang matang. Meskipun mereka berhasil melewati pegunungan tersebut, masihlah belum jelas bahaya apa yang menanti mereka setelahnya.

Jika mereka coba melintasi Waluandin tanpa mengambil rute memutar, mereka harus melakukannya di saat para Orc tidak sedang aktif bekerja, dan mereka juga harus melintasi tempat-tempat yang jarang dilewati para Orc.

Mereka tahu bahwa Orc di pedesaan akan tidur saat malam tiba, dengan logika yang sama, mereka menduga bahwa Orc di Waluandin juga melakukan hal serupa. Dengan menggunakan skill Stealth miliknya, Haruhiro mencari tahu apakah dugaan itu benar. Meskipun hanya sekilas, akhirnya dia tahu bahwa para Orc di kota Waluandin (Waluandin Orc, disingkat Waluo) mengalami perubahan aktivtas yang cukup signifikan ketika malam tiba.

Distrik hiburan ramai dengan Waluo setiap saat. Namun, tampaknya tempat itu lebih ramai dikunjungi Waluo ketika sore dan malam hari, sedangkan untuk pagi dan siang hari, jumlah pengunjungnya sedikit. Untuk distrik bengkel dan tambang, tak ada satu pun Orc bekerja ketika malam tiba. Sedangkan daerah kumuh selalu saja ramai, tak peduli siang dan malam.

Kemudian, Haruhiro menyadari suatu fakta bahwa sungai lava itu merupakan pembatas kota. Meskipun mereka bisa menyelinap melewati distrik tambang dan bengkel di malam hari, namun masih ada kemungkinan datangnya hambatan yang mengganggu mereka.

Sebenarnya, Haruhiro ingin menyelinap lebih dalam di Kota Waluandin dan mengumpulkan lebih banyak informasi, namun dia tidak bisa membawa teman-temannya saat melakukan itu. Kalau boleh berkata terus terang, keberadaan teman-temannya hanya menghambatnya melakukan pengintaian. Haruhiro ingin mengerjakan misi ini sendirian saja.



Tak terasa, ekspedisi 15 hari telah berlalu. Kali ini Haruhiro tidak ingin serakah, sehingga dia memutuskan untuk segera pulang setelah ekspedisi tersebut berakhir. Party itu pun kembali ke Desa Sumur. Mereka menghabiskan hari berikutnya dengan berburu di Kota Orang Mati untuk cari rezeki.

Untuk hari berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya… mereka masih saja berburu Undead di Kota Orang Mati.

Berburu adalah pekerjaan bagi prajurit relawan, tetapi mereka tidak boleh melakukannya terlalu rutin. Haruhiro dan Party-nya pernah mendapat julukan Pembasmi Goblin, jadi mereka sudah terbiasa memburu makhluk yang sama berulang-ulang-ulang-ulang kali… sampai mereka mahir melakukannya… tapi mereka juga takut terlalu terbiasa melakukan sesuatu.

“Urgh!” Kuzaku berusaha keras menahan serangan Undead singa.

Bukan hanya dengan perisai. Dia juga menggunakan pedangnya untuk bertahan. Dia memasag kuda-kuda sembari menjaga keseimbangan tubuh, dan terus bertahan pada posisi seperti itu.

Dia terus jaga jarak dari Undead singa. Kuzaku menyesuaikan posisinya dengan baik, berdasar pada pergerakan musuh. Dia cukup baik menjaga jarak dengan musuhnya, dan Undead singa terlihat kesulitan menghadapinya. Dengan pertarungan satu lawan satu, Kuzaku bisa menyibukkan Undead singa itu. Levelnya sudah naik, sekarang dia tidak begitu kesulitan melawan musuh sekelas Undead singa.

Yang lainnya pun sudah mengakui bahwa kemampuan Kuzaku sebagai perisai tim sudah semakin baik. Mereka percaya padanya. Itulah sebabnya Mary berani ikut ambil bagian dengan menyerang musuh dengan tongkatnya.

Kuzaku tidak akan membiarkan Undead singa pergi. Itulah yang dipikirkan Mary, sehingga dia memberanikan diri meninggalkan posnya menjaga Shihoru.

Sesekali, Mary menunjukkan kemampuan menyerang yang cukup baik, tapi sebenarnya, kemampuan bertarung seorang Priest dimaksudkan untuk melindungi dirinya sendiri, bukannya untuk melancarkan serangan. Dengan kata lain, kemampuan menyerang Mary adalah teknik yang dia kembangkan sendiri. Dengan memanfaatkan gaya sentrifugal, atau semacamnya, dia memperkuat serangannya untuk memberikan hantaman pada lawan. Jika serangan tongkat Mary kena sasaran, bisa jadi dampaknya lebih kuat daripada serangan Ranta.

Undead singa tersandung, kemudian roboh. Kuzaku dengan cepat melompat ke atasnya ... oh, ternyata bukan dia yang melakukan itu.

“Gwahaha!” Ranta mengambil kesempatan dalam kesempitan, kemudian dia menggunakan Leap Out untuk melompat dan menikam Undead singa. Kemampuannya dalam memanfaatkan kesempatan sekecil mungkin patut diapresiasi. Pedang hitamnya tertanam dalam pada bola mata kanan Undead singa. "Rasakan ini!"

“Mundur!” Teriak Haruhiro.

Ranta melompat mundur dan menjauh, bahkan sebelum dia mendengar kata pemimpinnya. Pedang hitamnya masih tertancap di bola mata makhluk itu. Bahkan saat dia menggeliat kesakitan, dia masih saja berusaha untuk “memeluk mesra” Ranta. Tampaknya Ranta menyadari cinta palsu itu, kemudian dia pun melompat sejauh mungkin agar tulang-tulangnya tidak diremukkan oleh pelukan singa jadi-jadian itu.

“Eheh ... Biarlah kau kena kutukan ...” Zodiac-kun, yang mengambang di dekatnya, mengatakan sesuatu yang mengerikan.

Undead singa bangkit. Yume melepaskan panah, tapi si singa berhasil berkelit untuk menghindarinya. Tak lama berselang, Shihoru menjerit, “Dark” dan melepaskan elemental barunya.

Elemental berbentuk mirip manusia (atau mungkin berbentuk mirip bintang) terbenam pada dada Undead singa tersebut. Dia langsung kejang-kejang, dan jatuh berlutut.

“Hah!” Kuzaku menebaskan pedangnya selebar mungkin pada sisi kepala makhluk itu, kemudian diikuti dengan menghantamkan perisainya pada dagu si singa.

“Yeah!” Mary membantingkan tongkatnya pada leher si singa.

“Sekarang!” Ranta melompati lawannya, mencabut pedangnya yang masih tertancap, kemudian memangkasnya sekali lagi. Meskipun tebasan itu masih belum cukup untuk memotong Undead singa, namun dia terus mengayunkan pedangnya seperti orang gila. Setiap kali Ranta menghentikan serangan beruntunnya untuk mengambil napas, Kuzaku dan Mary melanjutkan dengan 1 – 2 serangan, kemudian Ranta kembali melancarkan serangan membabi-butanya.

Haruhiro mengawasi rekan-rekannya yang sedang bertempur, sambil mengamati apapun di sekitarnya. Yume, yang berada di sebelah Shihoru, sudah menyiapkan panahnya dan terus waspada.

Haruhiro dan yang lainnya telah memindahkan lahan perburuan mereka pada kwartal barat laut Kota Orang Mati, di mana sisa-sisa pasar dan distrik pergudangan berada, sampai pada kwartal barat daya. Kalau mereka terus menjalankan langkah ini, kwartal tenggara akan menjadi lahan berburu berikutnya, setelah kwartal barat laut, tapi sebagian besar area timur tertutupi kabut.

Undead dari kwartal barat daya lebih cerdas dan kejam, tapi Haruhiro dan yang lainnya telah mengetahui bahwa di daerah yang paling dekat dengan kwartal barat laut, Undead lebih mudah dihabisi, dan sering juga menampakkan diri.

Kebanyakan Undead yang muncul adalah selevel dengan Undead singa yang sedang mereka hadapi sekarang. Tentu saja masih banyak musuh yang lebih hebat. Meski begitu, jika mereka memfokuskan upaya mereka dengan benar, pastilah mereka akan sampai pada level yang lebih tinggi, dan suatu saat nanti, bukannya tidak mungkin lawan yang lebih kuat bisa mereka kalahkan.

Musuh pada tingkatan seperti ini sudah cukup baik. Meskipun mereka ingin bersantai, mereka tidak punya waktu melakukannya. Bukannya tidak mungkin mengambil waktu untuk istirahat sejenak, namun mereka tidak ingin dikalahkan ketika lengah. Dalam kondisi seperti ini, mereka lebih memilih untuk terus bertarung di level tertinggi. Mereka harus memperbaiki diri dan berkembang hari demi hari, atau mereka tidak akan pernah bertahan hidup. Tapi selama mereka melakukan semuanya dengan benar, mereka pasti bisa bertahan.

“Haru-kun.” dengan dagunya, Yume menunjuk ke sebuah bangunan di sebelah selatan.

“Hm?” Haruhiro menyipitkan mata pada bangunan tersebut.

Ada sesuatu yang menjulurkan kepalanya dari lantai dua bangunan yang telah runtuh sebagian. Ah tidak, mungkin hanya mirip saja.

Haruhiro menggeleng. "Ah tidak. Tidak ada apa-apa."

“Yume kayaknya salah lihat, ya. Maaf deh."

“Gak papa kok.”

"Rasakan itu! Biarkan Skullhell menaungimu!” Ranta mendaratkan pukulan terakhir pada Undead singa. “Bwahahahaha! Malam ini bisa minum-minum sampai puas!”

“Kamu ini kayak preman saja…” Haruhiro bergumam sambil menghela napas. Haruhiro adalah seorang Thief, itu adalah profesi yang kotor secara harfiah. Namun dia tidak ingin disamakan dengan Ranta.

Mereka berburu di Kota Orang Mati selama sepuluh hari, kemudian mereka kembali melakukan ekspedisi ke tempat para Orc selama kurang-lebih 15 hari. Dengan progres seperti ini, mereka tetap bisa optimis menatap hari esok.

Tidak baik terlalu banyak berpikir tentang masa depan, tapi kalau hanya memikirkan hal-hal yang mereka miliki sekarang, lama-lama akan terasa menyesakkan. Harus ada keseimbangan di antara keduanya. Kalau angan-angan mereka terlalu tinggi, mereka akan lalai dengan kondisi mereka saat ini, dan itu sangatlah membahayakan. Begitupun sebaliknya, kalau mereka terlalu menyesali kondisi mereka saat ini, maka mereka tidak akan punya asa untuk melangkah menuju masa depan.

Mereka tidak boleh terus-terusan terjebak dalam masa sulit, dan ketika kemudahan datang, itu pun tidak akan berlangsung selamanya. Hal terbaik adalah menangis ketika merasa ingin menangis, dan sesekali tersenyum bahkan saat mereka tidak ingin tersenyum.

Di tengah ekspedisi ketiga mereka, Haruhiro pergi sendirian untuk investigasi lapangan, kemudian dia mendengarkan kabar bahwa Ranta dan yang lainnya diserang oleh Orc. Ada dua Orc, meskipun mereka berhasil membunuhnya, Kuzaku dan Yume sama-sama terluka dan mereka pun kembali mengalami saat-saat sulit.

Kedua orang Orc tampak kurus, dan muda. Mereka tidak mengenakan armor apapun, tetapi bersenjatakan busur, anak panah, pedang, dan pisau. Peralatan mereka mirip seorang Hunter. Mungkin saja mereka keluar untuk berburu, kemudian kebetulan bertemu Ranta dan yang lainnya.

Setelah kejadian ini, praktis keberadaan Haruhiro dan Party-nya mulai tercium oleh para Orc, karena dua rekannya telah terbunuh secara tidak wajar. Itulah sebabnya, Party Haruhiro mengubah lokasi ekspedisi ke Sungai Mata Air Panas. Ketika melakukan ekspedisi keempat, 5 orang berjaga-jaga, dan hanya seorang yang beroperasi. Haruhiro menyuruh Ranta dan yang lainnya berburu Guji, yang wujudnya seperti luak, sementara ia mengeksplorasi Waluandin untuk yang keempat kalinya. Kali ini, dia berusaha menyelinap di malam hari, dia cukup percaya diri karena dia bergerak sendirian.

Ketika menjalani ekspedisi kelima, mereka menemukan sebuah prasasti batu kecil di reruntuhan Alluja. Saat mereka kembali ke Desa Sumur dan menunjukkan itu kepada Oubu sang pertapa, dia menghargainya 1 koin besar, yaitu 1 Rou.

Ketika mereka berkemah di luar desa, tiba-tiba Ranta berkata, “Kalian tahu ...” dan mulai berbicara dengan blak-blakan. “Kayaknya aku bisa memahami mengapa orang-orang di sini memuja Skullhell. Ketika hari semakin gelap, orang-orang semakin ingin berada di bawah naungan Skullhell.”

“Kalau aku sih lebih mudah memahami mengapa mereka memuja Luminous,” balas Mary. “Karena dalam keadaan gelap seperti ini, mereka lebih mudah menemukan cahaya.”

“Mungkin bagimu itu normal-normal saja,” balas Ranta. “Tapi, kau coba dengarkan ini, definisi kata normal berbeda-beda untuk setiap orang, tau?”

'Tau'?” Ulang Mary dengan nada bicara yang mulai sinis.

“... ah, okelah, maafkan aku deh,” kata Ranta tanpa emosi. “Mary-san, tolong, maafkan aku.”

“Dia sama sekali tidak menyesal ...” kata Shihoru.

Kemudian Ranta menunduk dan melakukan kowtow. “Aku sangat menyesallll! Akulah yang syalah! Maaphhkan aku!”

“Kowtow-mu adalah permintaan maaf paling tidak berharga di dunia ini,” kata Haruhiro sambil tersenyum kecut, dan menyodok bara api dengan tongkatnya. “... Dewa, ya. Kurasa mereka tidak nyata. Maksudku, aku sih masih percaya adanya dewa di atas sana. Mereka memang ada. Tapi entah kenapa, aku merasa bahwa dewa-dewa yang kalian sembah sebagai Priest atau Dark Knight hanyalah cerita fiktif atau semacamnya…"

“Jika mereka tidak nyata, maka aku tidak akan pernah bisa menggunakan sihir cahaya.” Mary menunjukkan telapak tangannya pada Haruhiro. “Tapi, sebelum sampai ke dunia ini, aku pun tidak begitu mempercayai keberadaan mereka.”

“Oh, ya.” Kuzaku mengangguk. “Aku bisa memahaminya. Dewa seperti contoh bagi kita, kau tahu. Atau panutan? Atau alasan? Atau dasar? Sesuatu seperti itu. Kalau seseorang percaya bahwa Luminous benar-benar ada, maka dia akan selalu berbuat baik karena percaya bahwa dewa selalu melihat semua tindakannya?”

“Eldritch-chan Sang Dewa Putih benar-benar ada.” Yume merebahkan kepalanya di pangkuan Shihoru, kemudian Mary juga melakukan itu pada kakinya. “Eldritch-chan pernah muncul di dalam mimpi Yume. Yume pun berharap bisa bertemu Eldritch-chan lagi ...”

“Kalau begitu, ayo sekarang kita bicara serius.” Ranta menonaktifkan mode kowtow-nya, lantas dia duduk bersila, dan menyilangkan lengannya dengan genit. “Ampun deh, kalian ini memang takut mati atau semacamnya, ya? Karena kita masih hidup, kita tidak ingin mati. Tetapi tetap saja, suatu saat nanti kita pasti akan mati. Yakin lah akan hal itu, dan kita tak akan bisa mengelak. Bahkan kau boleh mengatakan bahwa mati adalah kesimpulan akhir dari hidup kita. Kalau dipikir-pikir lagi, aku sendiri juga tidak memahaminya ... tapi, di situlah menariknya, iya kan? Mungkin kita akan susah menerimanya.”

“... Bahkan bagimu?” Tanya Haruhiro dengan heran.

Ranta mendengus dan tertawa. Entah kenapa, tawa itu terkesan dipaksa.

“Aku bicara secara umum… bung… secara umum. Aku adalah ahlinya dalam hal seperti ini. Lagipula, kematian hanya sebagian dari hidupku, kan? Meskipun kematian orang lain terasa, yaaahh ... kau tahu lah… bagaimana rasanya jika temanmu mati. Kau harus menerima kematianmu sendiri, atau kau tidak akan pernah merasa hidup. Kau lahir, kemudian mati… itulah yang dinamakan hidup. Pada dasarnya, itu adalah suatu siklus… bung… siklus.” Ranta memutarkan jari telunjuknya di dalam lingkaran. “Aku yakin kalian tidak memahaminya, tapi ajaran Skullhell meliputi perspektif tentang kehidupan dan kematian seperti itu.”

“Tentu saja, ajaran Dewa Luminous juga meliputi hal itu,” kata Mary dengan pelan sambil mengusap paha Yume. “Pada awalnya, ada cahaya. Semua kehidupan lahir dari cahaya itu, dan akan kembali ke sana. Itu sebabnya kita melihat cahaya ketika kita mati.”

“Ketika kita mati, yang jelas kita jatuh ke dalam kegelapan,” Ranta mendengus.

“Tidak, tidak begitu. Kegelapan hanya efek samping yang dihasilkan oleh cahaya tidak bersinar. Jika kau menghalangi matamu dari cahaya, maka kau akan tenggelam dalam kegelapan. Itu saja."

"Kau salah. Kegelapan lah yang pertama kali ada, kemudian barulah cahaya. Aku bilang, akar dari segala hal di dunia ini adalah kegelapan.”

“Ini lah kenapa aku tidak pernah bisa akur dengan Dark Knight yang mengikuti ajaran Skullhell dangan taklit,” gumam Mary.

“Aku juga tidak perlu akur denganmu! Aku tidak ingin berhubungan dengan pengecut yang bisanya hanya percaya pada Luminous!”

“Jangan memperdebatkan omong kosong itu.” Haruhiro mencoba untuk menengahi sebagai seorang pemimpin, tapi Mary dan Ranta malah menatap tajam ke arahnya.

"Omong kosong?!"

“Muaksyudmu omong kosong apa?!” teriak Ranta.

“A…aku minta maaf.”

“Keduanya ...” Shihoru coba membantu pemimpinnya. “Tidak bisakah keduanya saja? Jadi, cahaya dan kegelapan sama-sama sudah ada sejak awal. Menurutku, kedua elemen itu saling bertentangan, namun juga saling melengkapi ...”

“Seperti semua orang di sini, ya.” Yume mengusap-usapkan pipinya pada pangkuan Shihoru, sembari mengatakan itu dengan nada santai. “Karena kalian semua lah, Yume masih bisa menghembuskan napas sampai saat ini, lho.”

Semuanya pun terdiam

Yahh, beginilah persahabatan, terkadang-kadang memang muncul percakapan seperti ini. Para pria sering membicarakan hal-hal yang bodoh, lantas bagaimana dengan para cewek? Mungkinkah mereka juga berbicara tentang cinta dan asmara? Atau mungkin tidak? Meskipun Haruhiro penasaran, tidak mungkin dia menanyai mereka secara langsung, sehingga misteri tetaplah akan menjadi misteri selama-lamanya bagi Haruhiro.



Ranta menggunakan 10 Rou penuh yang telah dia simpan untuk membeli pedang ganda dari si pandai besi Desa Sumur. Karena itu adalah pedang ganda, maka gagangnya cukup panjang, tapi mata pedangnya tidaklah begitu besar, dan itulah yang membuatnya terasa ringan ketika diayunkan.

Kebanyakan pedang memiliki bagian yang tidak terasah tepat di atas pangkal pedang, dan bagian tersebut sering dinamakan Ricasso. Ricasso pada pedang yang telah Ranta beli begitu panjang, dan memiliki semacam tonjolan di atasnya. Ketika ia menggunakannya untuk mendaratkan serangan pamungkas, dia bisa dengan mudah menggenggam Ricasso-nya tanpa takut terluka, dan sepertinya ada kegunaan selain itu. Lagipula, Ranta adalah seorang petarung yang suka mencoba-coba berbagai macam gerakan.

Dia menamai pedang barunya RIPer, dan dia juga membeli sarung tangan lapis baja sehingga ia bisa menggenggam Ricasso-nya dengan erat. Ngomong-ngomong, dia membeli sarung tangan baru itu dengan uang pinjaman dari teman-temannya.

Pedang hitamnya masih keras dan dapat digunakan, jadi dia memberikannya pada Kuzaku, kemudian dia melakukan ritual Paladin dengan menggambar heksagram pada pedang tersebut, dan menandainya dengan darah sebagai bukti. Dengan melakukan itu, ia bisa menggunakan sihir cahaya mantra Saber untuk menyalurkan berkah Luminous pada pedang tersebut.

Party ini memperoleh helm yang bentuknya seperti kepala elang di Kota Ones Mati, dan kebetulan sekali helm Kuzaku sudah benar-benar rusak saat itu, jadi dia mengganti helmnya tanpa pikir panjang. Ranta menamakannya Hawk Helm, tapi Kuzaku benar-benar tidak suka nama itu.

Yume telah mendapat pedang melengkung yang dia pungut di Kota Orang Mati, yang panjangnya hampir sama seperti goloknya, dan senjata sependek itu adalah favoritnya. Haruhiro terus menyebutnya Wantou, itu merupakan kata berarti mata pisau melengkung, sehingga Yume memutuskan untuk menamainya Wan-chan. Tapi sayangnya kata itu lebih cocok untuk seekor anjing [11]. Haruhiro pun merasa bahwa nama itu begitu salah.

Ujung kepala tongkat Mary pecah, jadi dia tongkat baru dengan ujung menyerupai palu dari si pandai besi. Mungkin itu dia lakukan karena belakangan ini dia lebih sering terlibat dalam pertarungan jarak dekat. Tentu saja, dia memilih senjata seperti itu dengan maksud melukai lawannya.

Meskipun Shihoru tidak mengganti peralatannya, Dark miliknya perlahan-lahan menjadi semakin kuat. Semakin Shihoru mengandalkan Dark-nya, maka pertumbuhan elemental itu semakin cepat, dan juga ... wujudnya semakin imut. Terlebih lagi, dia sekarang bisa menghasilkan efek mirip dengan Sleepy Shadow, Shadow Complex, dan Shadow Bond, meskipun tidak terlalu kuat. Shihoru pun hanya bisa mengaktifkan satu efek, seperti membingungkan targetnya, menidurkan, atau menghentikan gerakan…. Tapi itu masihlah mengesankan.

Menurut Shihoru, akhirnya dia dapat mencampur dan menyesuaikan beberapa efek yang berbeda. Kalau begitu, ia akan bisa menghentikan pergerakan musuh sembari melukainya, atau melemahkan musuh sembari melukainya, dan masih banyak kombinasi lain yang mungkin terjadi. Itu bahkan lebih menakjubkan.

Haruhiro akhirnya mendapatkan Stiletto [12] yang akan digunakan untuk menusuk dengan tangan kanannya. Dia juga mendapatkan pisau baru dengan pelindung gagang untuk menyikat, memotong, dan menusuk dengan tangan kirinya. Stiletto itu dia temukan di saluran bawah tanah Herbesit, sedangkan pisau itu dia jarah dari Undead.

Mereka tidak lagi melihat Unjo-san. Seharusnya dia masih sesekali mengunjungi Desa Sumur, tapi Haruhiro dan yang lainnya cenderung menghabiskan banyak waktu untuk berekspedisi ke tempat para Orc, mungkin itulah yang menyebabkan mereka jarang berjumpa.

Setiap kali mereka mengunjungi Herbesit, menara Rubicia terlintas dalam pikiran Haruhiro. Dia selalu ingin bertamu di sana, tapi tidak pernah terlaksana.

Suatu hari, Ranta mengundangnya ke toko kelontong di Desa Sumur, untuk minum sebanyak-banyaknya sampai teler. Bukan hanya Haruhiro, semuanya boleh minum sebanyak apapun yang mereka bisa. Tidak hanya Party Haruhiro, dia juga menjamu pandai besi, om telur pipih, si penjaga sumur yang sedang tidak giliran jaga, bahkan om kepiting raksasa. Ranta, Haruhiro, dan Kuzaku bahkan tanding panco dengan pandai besi, dan semuanya kalah telak. Karena belum menyerah, ketiga ras manusia itu akhirnya menantang si pandai besi secara bersamaan. Namun hasilnya sama saja meskipun tiga lengan lawan satu.

Dengan samar-sama, Haruhiro mengingat sesuatu.

Dia dan semua rekannya sudah mabuk payah, tapi Haruhiro ingat bahwa dia sedang duduk di samping Mary dan mereka membicarakan sesuatu. Apa yang mereka bicarakan? Dia merasa bahwa percakapan itu cukup menyenangkan, namun dia sama sekali tidak ingat apa yang telah dia ucapkan pada si gadis Priest.

Yahh, selama dia tidak mengatakan sesuatu yang aneh, sepertinya semuanya akan baik-baik saja. Keesokan harinya, tidak ada yang aneh pada tingkah Mary, jadi sepertinya tidak ada masalah di antara mereka berdua.

Tidak apa-apa, kan? ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Sejak terakhir kali bergetar, Receiver itu tidak pernah lagi bergetar. Tak seorang pun mengomentari itu, namun sepertinya waktunya saja yang kurang tepat.

Mungkin saja begitu. Itulah yang Haruhiro yakini.

Sebelum Festival[edit]

“... Oh. Dua ratus, ya,” kata Haruhiro.

Sementara menyusup ke dalam Waluandin, ia menyadari bahwa ini adalah hari ke-200 sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di Darunggar. Semestinya itu bukanlah hal yang penting… Ah, bukan ‘semestinya’, tapi ‘memanglah’… ya, itu memanglah bukan hal yang penting. Tak peduli ini hari ke-200, ke-300, ke-666… sama sekali tidak ada perbedaan pada dunia ini.

Namun, ada sesuatu yang aneh dengan Waluandin malam ini. Atau lebih tepatnya, desa-desa di luar kota pun juga tampak aneh.

Orc desa memiliki kecenderungan untuk tidur lebih awal, kemudian bangun pagi. Mereka bangun lebih awal dari para Orc di Waluandin, atau yang disingkat ‘Waluo’. Haruhiro biasanya menyelinap melalui desa-desa di saat penghuninya masih terlelap tidur, kemudian masuk Waluandin melalui distrik bengkel, di saat Orc pandai besi telah meninggalkan tempat kerjanya. Ada banyak tempat untuk bersembunyi di distrik bengkel, sehingga meskipun ada Waluo di sana, dia bisa melewati mereka dengan cukup mudah.

Namun, malam ini, Orc desa masih terbangun sampai larut malam. Ada pancaran cahaya yang keluar dari dalam rumah Iglo, dan juga ia mendengar suara Orc saling berbicara. Dia bahkan melihat beberapa Orc di luar rumah Iglo melakukan suatu hal lainnya. Dengan mengaktifkan skill Stealth, Haruhiro tak perlu khawatir ketahuan oleh mereka, namun itu jelas mengganggunya.

Di distrik bengkel Waluandin, ketika jam kerja sudah berlalu, biasanya sih area itu menjadi sunyi. Namun, semuanya berbeda hari ini.

Di luar distrik bengkel ada sebuah distrik perumahan campuran. Tidak banyak orang… ah bukan, lebih tepatnya: tidak banyak Waluo…. yang berjalan-jalan di sana pada malam hari. Harusnya sih begitu, setidaknya sampai kemaren. Namun hari ini, Waluo memenuhi area ini, mereka seliweran di sini, di sana, dan di mana-mana. Terlihat cahaya yang menyala di setiap rumah.

Beberapa Waluo berada di dalam rumah mereka, dan tampak sibuk, sementara yang lainnya asyik ngobrol di luar. Mungkin ini terjadi tidak hanya di area perumahan. Seluruh area Waluandin dipenuhi dengan aktivitas. Tidak cukup meriah sih, tapi sepertinya mereka sedang mempersiapkan suatu festival atau semacamnya.

Ada cukup banyak Waluo yang berkeliaran sekitar, sehingga situasinya cukup berbahaya. Namun, berdasarkan pengalaman masa lalu, sepertinya para Orc ini tidak begitu waspada terhadap ancaman dari luar. Ada semacam tempat mirip Koloseum di kuartal hiburan, dan mereka sering bertaruh pada perkelahian di sana. Haruhiro telah menyaksikan suatu pertarungan yang sengaja dipertontonkan secara umum. Para Waluo suka menonton adu kekuatan, namun anehnya kota ini tidak memiliki pertahanan yang memadai.

Mungkin mereka tidak pernah mempertimbangkan adanya serangan dari pihak luar. Mereka tidak pernah membayangkan adanya Paty manusia yang menyusup di dalam kota ini. Selama Haruhiro berhati-hati, dan tidak melakukan apa pun yang menarik perhatian, ia hampir pasti tidak akan ketahuan.

Karena dia hanyalah seorang pengecut, Haruhiro pun merasa takut, tapi ia masih tetap tenang sembari terus mengamati area perumahan. Pada malam ke-200 mereka di Darunggar, Waluandin jelas-jelas terlihat berbeda. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dia ingin mengetahuinya secara detail. Apakah mereka sedang bersiap-siap untuk mengadakan festival? Mengapa Haruhiro punya feeling seperti itu? Dia menyusup melalui gang demi gang, dan sesekali bergerak di atap-atap rumah sembari mengawasi apapun di bawahnya. Sedikit demi sedikit, dia pun mengumpulkan beberapa informasi.

Karena lava pijar yang mengalir di dekat kota ini, Waluandin hampir tidak pernah tersentuh gelapnya malam. Meski begitu, malam ini Waluandin bahkan lebih terang daripada biasanya, para Waluo tampaknya sedang membangun sesuatu…. Ah, bukan ‘sesuatu’, lebih tepatnya : ‘banyak hal’.

Kebetulan, pada umumnya jendela rumah mereka tidak memiliki tralis, jadi Haruhiro bisa melihat ke dalam rumah, selama ada cahaya yang cukup terang. Kemudian, yang dia lihat adalah banyak Waluo perempuan sedang bekerja dengan alat tenun. Mengapa mereka harus menenun pada larut malam seperti ini? Mereka bisa saja melakukannya pada siang hari. Satu hal yang pasti, Haruhiro belum pernah melihat aktivitas ini pada malam-malam sebelumnya.

Ada banyak Waluo lelaki menghias bagian depan rumah mereka dengan tongkat. Mereka sedang mengobrol dengan tetangga mereka, sembari memakan sesuatu, tetapi mungkin mereka tidak hanya melakukannya untuk bersenang-senang. Dia tidak pernah melihat Waluo melakukan hal ini sebelumnya.

Haruhiro tidak tahu apa kegunaan tongkat-tongkat itu, tetapi pasti ada alasan yang kuat mengapa mereka menghiasi rumahnya dengan tongkat-tongkat tersebut. Alasan itulah yang membuat mereka masih beraktivitas bahkan sampai larut malam, namun Haruhiro masih belum tahu dengan pasti.

Waluo anak-anak berkumpul dan bermain-main dengan suatu benda mirip kandang. Waluo lebih tua memberikan arahan kepada para Waluo kecil tersebut, dan menyuruh mereka membantu pekerjaan yang lainnya.

Persiapan. Jelas-jelas para Waluo sedang mempersiapkan sesuatu. Mereka semua sedang membuat kostum dan dekorasi, kemudian mereka memasangnya, menggunakannya, dan melakukan hal-hal lainnya. Pasti akan menjadi event besar di kota ini. Suatu ritual? Perayaan? Atraksi? Apa pun itu, Waluandin diselimuti dalam suasana yang berbeda dengan rutinitas harian mereka.

Pusat Waluandin didominasi oleh satu bangunan sangat besar yang menyerupai naga berjongkok. Tidak jelas apakah Waluo memiliki seorang raja atau tidak, tapi Haruhiro telah memutuskan untuk menyebut tempat itu “istana”, supaya lebih mudah diingat.

Istana ini dikelilingi oleh jalan-jalan lebar dan sejumlah sungai lava kecil, dengan salah satu jalan utama membentang menuju Pegunungan Naga Api. Dan juga, ada banyak bangunan mengesankan di sekitar istana. Banyak Waluo sering masuk dan keluar bangunan itu, baik siang hari ataupun malam hari. Selain itu, ada Waluo bersenjata berpatroli di daerah ini bahkan sampai larut malam. Itulah yang terjadi, itu adalah semacam daerah yang sulit didekati, tapi malam ini Haruhiro memutuskan untuk seberani mungkin mencoba menyelinap ke dalamnya.

Tentu saja dia sudah memperhitungkan resikonya. Karena malam ini adalah malam yang spesial, maka aturan di distrik istana tidak bekerja dengan semestinya, para Waluo di sana pun sedang bekerja keras mempersiapkan sesuatu. Ini adalah sebuah distrik dimana para Waluo sering berjalan-jalan keluar sembari menikmati suasana malam hari, namun tidak demikian pada malam ini. Sebagian besar Waluo disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing, maka…. jika Haruhiro mengaktifkan Stealth dengan baik, dia tidak akan ketahuan dengan mudah.

Tapi ... tentu saja ada yang dia ragukan.

Mereka benar-benar menjalani kehidupan berbudaya di Waluandin ini. Dibandingkan dengan tempat ini, Desa Sumur jauh lebih tertinggal, dan Herbesit terlalu barbar karena hampir tidak ada hukum di sana. Di kota ini, semuanya teratur. Waluo tidak saling merampok. Mereka bekerja sama dalam berbagai hal, mereka bekerja untuk mendapatkan penghasilan, dan mereka menjalani hidup dengan gembira. Mereka tidak hanya makan, bekerja, dan tidur. Mereka juga memiliki waktu luang. Itu adalah sistem tatanan masyarakat yang sangat bervariasi, namun lebih dari setengahnya bisa hidup makmur ... ah tidak… lebih dari setengah para Waluo bisa hidup dengan makmur…. Bahkan, jauh lebih makmur daripada kehidupan Haruhiro dan teman-temannya.

“Sebuah altar ...?” Gumamnya pada dirinya sendiri.

Saat berada di sebuah atap salah satu bangunan yang menghadap ke alun-alun depan istana, Haruhiro berusaha menenangkan tubuhnya yang tegang. Ini adalah pertama kalinya dia menyusup ke kota ini begitu dalam. Namun, ia pernah melihat alun-alun ini dari kejauhan sebelumnya. Ada sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada di sana.

Di sana ada panggung yang kira-kira luasnya dua meter persegi, dan tingginya tiga meter. Ada panggung lain di atasnya… pada panggung tersebut ada kandang. Ya, itu adalah kandang ... atau mungkin juga bukan. Kandang itu dibingkai, dihiasi, sehingga terlihat benar-benar mencolok. Biasanya, kandang digunakan untuk menahan sesuatu, entah itu binatang, atau bahkan pencuri, tapi nampaknya kandang ini tidak dimaksudkan untuk tujuan seperti itu.

Ada sesosok Waluo wanita gemuk di dalam kandang, dan dia tidak terlihat seperti tahanan. Ada kain yang membungkus kepala dan dadanya, dan ada juga rok yang dipakaikan pada pinggulnya. Dandanan seperti itu adalah fashion Waluo wanita pada umumnya, tapi pakaian yang dikenakannya sekarang jelas-jelas berkualitas tinggi. Pakaiannya dibordir dengan pola yang meriah, dan juga banyak ornamen kelap-kelip. Bahkan, ornamen kelap-kelip itu nampaknya adalah batu permata. Baju itu seolah-olah membuat kulit mulus hijaunya ikutan bersinar, dan… dia juga memakai make up?

Kalau dilihat dari cara Waluo perempuan berbaju mewah itu bertingkah, agaknya kurang tepat kalai dia disebut tahanan. Dia tenang, dan juga elegan.

Lagipula, meskipun ia berada di kandang, dia tidak sendirian. Banyak Waluo berdatangan ke panggung, satu demi satu untuk menyambutnya. Mereka berbicara satu sama lain melalui jeruji kandang, dan sesekali mereka juga memegang tangannya, jadi mungkin para pengunjung itu adalah kenalan si Orc berbaju mewah. Tetapi yang jelas, cara berpakaian Orc di dalam kandang jauh lebih baik daripada mereka.

Haruhiro melihat lebih dekat pada kandang itu. Dekorasi pada keempat sudutnya berbentuk…. naga? Di sekitar panggung juga diberi dekorasi berbentuk naga. Pakaian si Waluo wanita juga demikian. Pola bordir di roknya juga berbentuk naga, kan? Pada kepalanya yang terbungkus kain, dia juga mengenakan mahkota berbentuk… naga juga kan?

Kalau diingat-ingat lagi, dekorasi dari tongkat pada rumah-rumah Waluo juga bernuansa naga, kan? Naga. Semuanya bertemakan naga. Ah…. betul juga, istana ini juga menyerupai naga. Mengapa ia tidak memperhatikannya sebelumnya? Waluandin adalah kota dengan disain berdasarkan sosok naga. Ada naga di mana-mana.

Haruhiro menoleh ke arah Pegunungan Naga Api, yang seakan-akan siap meletus kapan saja. Persis seperti namanya, setidaknya ada seekor naga di sana. Seekor naga api.

Para Waluo telah membangun kota mereka dan tinggal di kaki gunung itu. Naga api memakan salamander, dan juga teman-teman Unjo-san. Mungkinkah daging Orc rasanya tidak enak? Sulit untuk dibayangkan. Tapi yang jelas, naga api adalah makhluk yang berbahaya. Haruhiro tidak begitu yakin, tapi entah kenapa, Waluo bisa hidup dengan damai di dekat makhluk berbahaya seperti itu. Apakah terlalu berlebihan jika Haruhiro mengatakan bahwa mereka hidup dengan makmur?

Para Waluo mungkin juga menyembah naga api yang mengerikan itu. Naga api mungkin seperti dewa bagi mereka. Ah, bukannya ‘mungkin’, namun ‘benar-benar’ dewa bagi mereka.

Sekarang, mereka sedang mendekorasi kota ini dengan ornamen-ornamen naga, dan mempersiapkan sesuatu. Mungkin acara ini adalah semacam festival yang dibarengi dengan ritual upacara. Lalu, untuk apa Orc wanita di kandang itu?

“Dia bukan tumbal ... , ‘kan?” Gumam Haruhiro.

Para Waluo lainnya terus berdatangan mengunjungi Orc wanita di kandang. Tampaknya mereka sedang mengucapkan selamat tinggal padanya. Sama sekali tidak terasa suasana berkabung di sini, mungkin saja pengorbanan pada naga adalah suatu hal yang membanggakan. Ah, tidak juga…… semua itu hanyalah dugaan Haruhiro…. Belum ada bukti yang jelas apakah mereka benar-benar menyembah naga api, dan apakah Orc wanita dalam kandang itu benar-benar tumbal. Apakah imajinasi Haruhiro terlalu tinggi ...?

Dia memikirkan banyak sekali kemungkinan yang bisa menjelaskan fenomena malam yang spesial di Waluandin ini, tetapi jika ia berspekulasi terlalu banyak, maka peluang untuk salah juga semakin besar. Apapun itu, dia harus meninggalkan tempat ini ketika malam sudah berakhir. Ini adalah kesempatan yang bagus, maka dia pun melakukannya.

Untuk kembali, ia meninggalkan distrik bengkel, seperti yang sudah dia rencanakan sebelumnya. Saat perjalanan kembali, ia terus memikirkan: ”menyusup ke dalam sih mudah, tapi kembalinya yang mengerikan”. Kemungkinan besar dia akan tergesa-gesa, kemudian lengah, dan melakukan kesalahan fatal. Lebih baik dia kendalikan kepanikannya.

Ketika ia menyeberang ke distrik bengkel, ia merasakan bulu kuduknya berdiri. Haruhiro segera bersembunyi di balik suatu bengkel di dekatnya. Dia merasakan sesuatu, meskipun ia tidak bisa memastikan apakah itu. Haruskah ia terus bersembunyi di sini dan melihat apa yang sedang terjadi?

Tidak ... ia memutuskan untuk terus bergerak.

Haruhiro menunduk dan berjalan sambil mengaktifkan skill Stealth-nya. Dia tidak bisa mendengar langkah kakinya sendiri, gemerisik pakaiannya, atau bahkan napasnya. Seolah-olah Haruhiro tidak ada. Apakah ada orang selain dia yang bergerak? Dia tidak melihat siapapun. Apakah hanya perasaannya saja? Apakah ini hanyalah suatu kekhawatiran yang tak berdasar?

Dia bisa terfokus. Dia sudah menyusup dengan benar.

Namun, dia merasakan sesuatu.

Apakah ada seseorang, atau sesuatu, di sana? Apakah aku sedang diawasi?

Yahh, terserahlah, ia pun memutuskan untuk mengabaikannya.

Jika orang tak dikenal ini hanya menonton, maka biarkanlah dia menonton. Jika dia akan datang, maka biarkanlah datang. Jika dia semakin dekat, Haruhiro pasti akan segera mengetahuinya. Dia bisa bereaksi. Dia telah banyak berlatih selama menjalani ekspedisi sendiri ini. Ini bukan hanya untuk pamer.

Jangan sombong, ia segera memperingatkan dirinya sendiri. Jangan mudah terbawa suasana. Jangan berpikir bahwa kau telah melakukan yang terbaik. Tapi, berpikirlah bahwa kau harus terus berusaha lebih baik. Selalu totalitas dalam melakukan apapun.

Haruhiro sudah yakin. Ada sesuatu di sana, dia sedang mengawasi Haruhiro, dan mengikutinya dari kejauhan. Saat ini, Haruhiro hanya bisa menyebutnya “sesuatu”, tapi dia benar-benar merasakan kehadirannya. Dia terus mengawasinya.

Tidak hanya satu, setidaknya jumlah mereka ada dua. Ada sesuatu yang menguntitnya dari belakang, namun sesekali ada sosok lain di sebelah kiri atau kanan. Namun, sosok yang terus menguntitnya dari belakang masih tetap di sana. Dia terus mengawasi Haruhiro dari jarak yang konstan. Sosok lainnya, kadang-kadang mendekat, berpindah, atau juga menghilang, tapi akhirnya kembali lagi.

Haruhiro cukup terganggu dengan kehadiran mereka, bahkan dia juga ketakutan. Namun, mereka masih belum menyerangnya. Kalau sudah sampai sejauh ini, maka tidak ada gunanya menyerah pada ketakutan. Dia tahu benar akan hal itu, jadi dia menjaga dirinya agar tetap tenang.

Dia melompati sungai lava pada distrik gudang, kemudian dia berhasil meninggalkan Waluandin. Dia berhenti sebentar, kemudian berbalik ke belakang.

Sosok-sosok itu telah lenyap. Apakah mereka pergi begitu saja? Tidak, ia masih belum bisa memastikan apapun. Haruhiro berhenti bergerak, sehingga mereka pun juga melakukan hal yang sama. Dalam keadaan seperti ini, Haruhiro justru lebih susah mendeteksi mereka. Masih terlalu dini untuk merasa lega.

Saat ini, akhirnya para penduduk desa sudah terlelap, dia pun ambil resiko, kemudian meluncur ke arah desa.

Siapakah para pengejar itu? Waluo? Sangat mungkin merekalah pelakunya. Manusia bisa mempelajari skill Thief seperti Haruhiro, sehingga tidaklah aneh kalau para Orc mempelajari skill serupa. Thief Waluo itu mendeteksi penyusup, yaitu Haruhiro, sehingga mereka memutuskan untuk menguntitnya agar mengetahui motif dan identitas si penyusup? Yahh, mungkin saja begitu.

Ini sungguh memalukan. Sebenarnya Haruhiro sudah mengkhawatirkan hal ini, karena Party-nya pernah memburu dua Waluo pemburu tempo hari, tapi untungnya para Waluo lain tidak pernah melacak jejak mereka. Tetapi jika Waluo menyadari keberadaan Haruhiro, mereka mungkin akan lebih berhati-hati. Jika mereka memperketat keamanan kota, maka dia tidak bisa bebas keluar-masuk Waluandin seperti yang dia lakukan sampai saat ini.

Cara terbaik adalah berasumsi bahwa para Waluo bisa menyiapkan diri terhadap serangan dari luar. Ini juga pernah terjadi pada Orc di Grimgar kala itu, tapi para Waluo memiliki kecerdasan setingkat dengan manusia. Orc dan manusia begitu berbeda, dan ada banyak hal yang tidak bisa mereka terima satu sama lain, namun tidaklah jelas siapa yang lebih superior ataupun lebih inferior. Di Grimgar, manusia telah dikalahkan oleh Aliansi Raja, termasuk para Orc, dan terpaksa menjauh ke selatan Pegunungan Tenryu untuk sementara waktu. Bagi manusia, Orc adalah musuh yang setara, atau bahkan lebih tinggi daripada mereka.

Sebisa mungkin, Haruhiro tidak memasuki kawasan desa. Tanah di sana cukup gembur, sehingga dia tidak memiliki pijakan yang stabil, maka Haruhiro pun harus memperlambat pergerakannya di kawasan desa. Itu membuatnya sulit untuk merespon dengan cepat. Dia segera menuruni jalan setapak yang telah dibuat di antara sawah.

Dalam perjalanan, ia lagi-lagi merasakan kehadiran para pengejar. Seperti yang sudah diduga. Nampaknya mereka tidak berniat membiarkan Haruhiro pergi begitu saja.

Dia masih belum memikirkan detailnya, namun dia sudah mendapatkan rencana untuk menangani para pengejar itu. Pertama, ia akan menganalisis makhluk macam apakah yang sedang membuntutinya, sembari berusaha keluar dari desa ini secepat yang dia bisa. Jika mereka menyerang, dia harus segera melarikan diri. Bisakah ia lolos dari serangan mereka? Jujur saja, tingkat ketidakpastian masihlah terlalu tinggi, dan semuanya masih belum jelas sampai dia benar-benar mencobanya. Tapi, dia tetap harus melakukannya.

Ohh, ini menakutkan.

Dia melihat bayangan bergerak dua kali. Dia tidak lagi merasakan kehadiran mereka setelah ia memasuki jalan berkelok melalui celah, tapi lebih baik dia tidak beranggapan bahwa para pengejar itu sudah menyerah. Sangatlah sulit menjaga pikiran tetap tenang dalam keadaan seperti ini.

Namun, entah kenapa, ia berhasil menjaga pikirannya tidak panik. Lumayan, kan? Dia ingin memuji dirinya sendiri. Yah, tapi itu tidak ada gunanya, karena dia masihlah belum aman. Dia baru boleh memuji dirinya sendiri, setelah meloloskan diri sepenuhnya dari para pengejar ini.

Dia keluar dari celah, kemudian sampai pada area yang tanahnya lebih datar. Dia hampir kembali ke titik temu di Sungai Mata Air Panas.

Malam belum berakhir. Rekan-rekannya mungkin sudah tidur, namun pasti ada salah seorang yang jaga. Jika sudah siang, mereka akan keluar untuk berburu Guji, atau mungkin menuju ke Alluja. Itu akan membuatnya kesulitan bertemu kembali dengan kelompoknya, jadi mungkin saja penentunya adalah keberuntungan atau kesialan.

Apakah itu?

Perutku sakit, pikir Haruhiro. Tapi ini sudah biasa. Mungkin aku terkena maag? Kalau memang begitu, mungkin Mary bisa menyembuhkannya dengan sihir cahaya. Apakah penyembuhan Priest berlaku untuk penyakit dalam seperti itu? Aku tidak tahu. Aku harus bertanya pada Mary ketika ada kesempatan nanti.

Dia malah memikirkan hal-hal yang tidak penting. Itu adalah bukti bahwa konsentrasinya semakin pudar.

Haruhiro kembali memfokuskan konsentrasinya terhadap tugas yang saat ini sedang dia emban. Dia bisa melihat tempat di mana rekan-rekannya yang lain sedang menunggu.

Siapakah yang giliran jaga? Shihoru, tampaknya. Yang lainnya sedang berbaring. Shihoru adalah satu-satunya yang duduk.

Gawat. Kumohon, jangan Shihoru.

Keringat dingin Haruhiro mulai bercucuran, ada semacam perasaan tidak menyenangkan yang muncul di dadanya. Apakah ia mulai kebingungan?

Tentu saja, itu berarti dia menggiring si pengejar ke tempat teman-temannya berada. Mungkin, saat-saat inilah yang justru dinantikan oleh para pengejar itu. Mereka telah menemukan seseorang yang mencurigakan, yaitu Haruhiro, tapi mereka sudah yakin bahwa dia tidak sendirian, pasti dia membawa teman yang sedang menunggunya di suatu tempat, entah dimana. Jadi, untuk meringkus mereka sekaligus, atau untuk membantai mereka semuanya, mereka membuntuti Haruhiro. Itulah sebabnya mereka sengaja tidak menyerang Haruhiro meskipun mereka memiliki kesempatan melakukannya.

Mereka sengaja mempersilahkan Haruhiro melakukan apapun sesukanya. Sekarang, musuh mungkin akan menghabisi semua anggota Party, dan menyisakan Haruhiro untuk santapan terakhir, termasuk Shihoru.

Kalau begitu, apa yang harus dia lakukan untuk mencegahnya? Apa yang akan dia lakukan? Tidak ada waktu untuk ragu-ragu. Haruhiro melesat ke depan.

“Shihoru! Bangunkan semuanya! Dan cepatlah melarikan diri!"

“Huh ... Haruhiro-kun?! Ah!” dengan terburu-buru, Shihoru memukul kepala Ranta dengan tongkat penyihirnya. “B-Bangun ...!”

“Ngahh ?!” Ranta melompat. “A-A-Apa?! Apa yang sedang kamu lakukan?!"

“... Whuh?” Yume mengusap matanya sembari dia berusaha duduk.

“Gah ?!” teriak Kuzaku ketika dia terbangun tiba-tiba.

“Ayo cep…” Mary langsung berusaha berlari seketika dia terbangun, tapi dia tersandung. “….Wah!”

Oalah, pikir Haruhiro dengan panik. Nona… kau semakin membuat jantungku berdebar kencang. Tidak, sekarang bukan saatnya mengagumi betapa imutnya Mary yang tersandung. Jujur, aku punya kekhawatiran yang lebih besar. Aku sungguh-sungguh. Ada hal lain yang lebih kukhawatirkan.

Haruhiro melihat ke segala arah, kemudian dua berlari sambil berteriak, “Sepertinya ada musuh yang membuntutiku! Lari! Jangan terpisah!”

“Yoink!” Yume menarik Mary berdiri, lalu dia langsung memanggul ranselnya.

Mary mengatakan, “Terima kasih,” kemudian dia mengambil peralatan miliknya sendiri. Shihoru sudah keluar dari sana.

Kuzaku kabur duluan, sementara Ranta sudah siap menghunuskan RIPer-nya.

“Musuh?! Dimana? Akan kuhadapi mereka….” Ranta mulai mengomel.

Sebelum Haruhiro bisa berteriak apa pun….

“Tunggu!” Ia mendengar suara yang tidak asing di telinganya.

“No ...” Haruhiro langsung berhenti begitu mendengar seruan itu, kemudian dia menoleh ke arah suara itu berasal.

No…? Apanya yang “No”? Tunggu dulu…. Suara itu kukenal…. Tapi suara siapa ya…Pada dasarnya ...

Dia datang dari belakang, kemudian berhenti di sebelah kanan Haruhiro. Wanita yang keluar dari kegelapan itu mengenakan jubah hitam dan topi bertepi lebar. Entah kenapa, wanita ini langsung melempar jubah dan topinya, sehingga sosoknya kelihatan dengan jelas…dan dia adalah…. Si wanita dominan?

Ya, dia adalah si wanita yang berpakaian begitu vulgar. Sebenarnya, kenapa sih cewek ini sedikit sekali menutupi organ kewanitaannya? Ketika dia membusungkan dadanya, pria manapun akan sulit memalingkan pandangan.

Bukan “No”…. yang ini…. yang ini sih “La”.

“... Lala-san?” Kata Haruhiro perlahan.

“Lama tidak bertemu,” kata Lala dengan senyum nakal, sambil menjilati bibirnya. "Aku terkejut melihat kalian masih hidup.”

“Jadi….. yang membuntutiku dari Waluandin ... adalah kau dan Nono-san?”

“Yahh, gitu deh,” kata Lala. “Tapi aku tidak menyangka kau bisa menyadari gerakanku…. Nono!"

Pria itu muncul dari arah celah perbukitan. Dia berambut putih, dengan topeng hitam yang menutupi bagian bawah wajahnya.

Nono berhenti di samping Lala dengan posisi merangkak. Lalu, Lala duduk di punggung Nono, kemudian menyilangkan kakinya.

"Lalu? Apa yang kalian lakukan di kota Orc sehari sebelum Festival Naga Api?”

“Fetish ...?” Yume memiringkan kepalanya ke samping kebingungan.

“T-Tunggu dulu!” Ranta hampir saja menyarungkan kembali pedangnya, namun dia menyiapkan pedangnya sekali lagi. “Haruhiro, berarti mereka adalah musuh kita, ‘kan?! Hanya karena mereka manusia, dan kita mengenalnya, bukan berarti mereka ada di pihak kita! Orang-orang ini pernah meninggalkan kita sebelumnya!"

“Meninggalkan kalian?” Lala mendengus. “Apakah kami pernah melakukan itu?”

“Y-Y-Yeah! Kau meninggalkan kami, lalu nyelonong pergi begitu saja, iya ‘kan?! Aku masih mengingatnya dengan jelas!"

“Kami sih tidak berniat begitu, tetapi…. kenapa kau mengungkit-ungkitnya lagi sekarang? Dasar pendendam. Aku bahkan tidak berniat melatih dan mengembangkan kemampuan kalian.”

“M-Mengembangkan ...” Shihoru tergagap.

Um, Shihoru, pikir Haruhiro. Mengapa hanya dia yang bereaksi terhadap perkataan Lala?

“Diam!” Ranta merengek. “Dengar, kami mengalami banyak kesulitan sejak saat itu! Kami sudah melalui banyak hal! Kami tersesat, tidak tahu kanan-kiri, dan hidup kami susah!”

“Kami juga begitu, lho” kata Lala.

“T-Tapi! A-aku paham apa yang kalian katakan… t-tapi…!”

“... Ranta-kun,” Kuzaku berbisik kepadanya. “Sopanlah…. Bicara padanya dengan sopan.”

“Jangan ngelantur, dasar tolol! Bego! Badan aja besar, otak kosong, sialan!”

Mary melihat Haruhiro, seolah-olah ingin bertanya: Apa yang harus kita lakukan sekarang?.

Haruhiro mengusap pinggangnya, kemudian dia perlahan-lahan menempatkan jari pada gagang Stiletto-nya. "Kurasa, kalian memang tidak meninggalkan kami. Ah tidak, bukan hanya aku yang berpikiran begitu ... teman-temanku lainnya pasti juga berpikiran begitu. Kecuali si idiot itu. Akhirnya kita semua dipertemukan lagi, kurasa itu telah ditakdirkan. Kalau begitu, aku ingin bertukar informasi dengan kalian."

Tentu saja, jika Lala dan Nono mencoba untuk merugikan Haruhiro dan Party-nya, atau berniat memanfaatkan mereka, ia akan menghentikan kerjasama ini saat itu juga.

“Tentu saja aku setuju.” Lala menyipitkan matanya, sembari memainkan bibir dengan jari-jarinya. “Kau adalah orang yang aneh. Namamu Haruhiro, kan? Kau punya wajah yang lumayan.”

“Tapi mereka selalu menyebutku si mata mengantuk.” Haruhiro harus berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tidak berubah. Dia benar-benar sedang mengamatiku. “Jadi, apa itu Festival Naga Api?"

“Kau sudah melihat mereka sedang mempersiapkan sesuatu, kan?” Tanya Lala. “Kami tidak tahu seberapa sering mereka merayakannya, namun kayaknya sih cukup sering. Festival itu adalah ritual besar, di mana mereka mempersembahkan korban kepada naga api. Seluruh kota merayakannya. Ngomong-ngomong, Festival Naga Api hanyalah nama karangan kami. Tapi nama itu tidak terlalu buruk, kan? Toh kami juga tidak bisa berteman dengan Orc.”

“Pengorbanan dan ritual katamu ...?” Ranta menyarungkan pedangnya, kemudian duduk. Sepertinya, dia sudah bersiap-siap melakukan Kowtow bila diperlukan. Apa-apa’an sih si kampret ini?

“... Jadi, eh ... pada dasarnya, mereka…. ummm….” kata Haruhiro. “Mereka mempersembahkan korban kepada naga api? Serius nih?”

“... Menurut dia sih begitu,” kata Shihoru dengan suara rendah setengah jijik.

Bukannya tidak setuju sih, pikir Haruhiro.

Jadi, dugaannya benar? Festival Naga Api. Tumbah. Jalan-jalan penuh dengan suka cita.

Mungkinkah…. Mungkinkah tebakanku kali ini tepat sasaran?”

Mungkinkah…. Mungkinkah…. Kesempatan mereka akhirnya datang? Tapi, kesempatan untuk apa?

Sudah jelas. Jika mereka memanfaatkan kesempatan ini… mungkin….mungkin saja….

Mungkin saja…. mereka semua bisa melewati Waluandin dan mencapai Pegunungan Naga Api. Kalau saja mereka berhasil menemukan gua yang pertama kali dilewati Unjo-san ketika terdampar ke dunia ini, bukankah itu berarti……….

“Sepertinya kalian juga mempunyai beberapa informasi yang berguna.” Lala menampilkan senyum sensual di wajahnya, kemudian… dengan jarinya, dia mengisyaratkan Haruhiro untuk lebih mendekat padanya. “Katakan semuanya pada Lala-sama. Kau bisa mendapatkan hadiah yang manis dariku, lho?”

Di Balik Pelangi[edit]

Si Orc perempuan dalam sangkar yang mengenakan pakaian mewah itu diikat di atas bahunya dan tubuhnya dicat dengan warna merah dan hitam. Orc pria dan wanita, tua dan muda, semuanya tumpah ruah di Waluandin.

Ada Orc yang menabuh drum. Ada Orc yang bermain alat musik petik. Ada Orc yang meniup seruling. Dan banyak Orc lainnya, termasuk anak-anak, bertepuk tangan, menghentakkan kaki, dan bernyanyi secara kompak.

Orc yang membawa tongkat dengan desain naga tidak ikutan bernyanyi, mereka malah mengatakan sesuatu dengan suara keras. Mereka berbicara dengan suatu irama tertentu, tangan dan tubuh mereka juga bergoyang sesuai dengan irama tertentu. Sepertinya mereka sedang memberikan pidato, atau memberikan arahan pada para pemain instrumen dan penyanyi.

Mereka sangat ramai, dan meskipun mereka terlihat berbeda satu sama lain, namun mereka bersatu padu dalam acara ini. Mereka terlihat seperti sekumpulan hewan liar, namun tak satu pun melakukan kekerasan pada siapapun. Bahkan, gerakan mereka terlihat begitu halus dan indah. Nyanyian mereka pun terdengar luar biasa.

Tidak, pikir Haruhiro, sambil menggelengkan kepalanya di balik bayangan pagar kandang ulat raksasa. Jangan mendengarkan mereka. Tentu saja, festival ini begitu luar biasa. Aku pun tahu bahwa nyanyian mereka juga begitu hebat. Seakan-akan, aku harus mendengarkan nyanyian mereka, tapi aku tidak boleh melakukannya. Ini bukan waktunya terpikat oleh lagu-lagu mereka.

Haruhiro menjulurkan kepalanya dari balik pagar untuk melihat para Orc merayakan festival di pusat alun-alun desa. Ini sebenarnya masih siang, tapi Orc dewasa sudah minum-minum, dan anak-anak juga terlihat begitu antusias. Jarak antara tempat Haruhiro berada dan alun-alun hanyalah sekitar 20 meter. Di siang hari sebelumnya, dia tidak akan pernah sedekat ini dengan para Orc. Namun tak satu pun dari mereka menyadari keberadaan Haruhiro.

Haruhiro melambaikan tangannya, untuk memberikan kode pada Ranta dan yang lainnya di belakang. Kemudian ia juga memberikan sinyal pada Lala dan Nono. Ada sedikit masalah di mana Yume memukul kepala Ranta, yang terlihat bengong, kemudian si kampret malah protes pada Yume. Mary pun ikutan menyiksa Ranta dengan memukulnya menggunakan tongkatnya. Namun, keributan kecil itu hampir tidak menghasilkan suara. Kemudian, mereka semua bergerak ke tempat Haruhiro bersamaan.

Sedangkan bagi Kuzaku, senjatanya berdentang cukup keras saat ia bergerak. Tapi suara riuhnya festival jauh lebih keras, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Haruhiro mengangguk, kemudian bergerak ke titik berikutnya. Dia menegaskan bahwa kondisi di sana sudah aman, lalu dia panggil teman-temannya untuk mendekat, tentu saja bersama Lala dan Nono. Itu adalah pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang dan membosankan, jadi dia sedikit terkejut bahwa teman-temannya (kecuali si kampret) dan Lala & Nono mau mengikutinya dengan patuh tanpa mengeluh sedikit pun. Toh, mereka juga tidak punya pilihan selain meng-iyakan instruksi Haruhiro.

Lala memiliki sebuah jam saku, sehingga mereka mengetahui waktu dengan cukup presisi. Festival riuh ini sudah dimulai tiga jam setelah cahaya di punggung bukit meredup. Haruhiro dan yang lainnya telah memasuki wilayah desa satu jam kemudian, lalu menghabiskan satu jam setengah untuk bergerak menuju Waluandin.

Kebetulan, menurut Lala-sama, waktu dari matahari terbit (lebih tepatnya cahaya di punggung bukit semakin terang) sampai waktu matahari terbenam (lebih tepatnya cahaya di punggung bukit meredup) kira-kira adalah 10 – 15 jam, dan malam hari juga berlangsung selama 10 – 15 jam. Jadi, di dunia ini siang dan malam juga berlangsung pada waktu yang relatif sama. Sebenarnya rentang waktu siang dan malam tidaklah selalu sama, tetapi jika kau jumlah secara keseluruhan, 1 hari = 25 jam di Darunggar, yang mana itu lebih lama 1 jam daripada 1 hari di Grimgar.

Apapun itu, satu setengah jam lagi mereka akan segera keluar dari kawasan pedesaan ... itu pun kalau tidak ada insiden lain yang mengganggu.

Oh, sial, pikir Haruhiro, Lagi-lagi naga.

Mereka akan disambut naga di Waluandin!

Atau lebih tepatnya…. repilka naga ... huh ...

Tingginya lebih dari 3 meter, dan panjangnya lebih dari 10 meter. Itu cukup besar. Itu dicat dengan warna merah dan hitam seperti tubuh si Orc yang akan dijadikan tumbal. Dua rongga mata berisikan permata kuning berkilau, atau semacamnya. Leher, rahang, tubuh, ekor, dan keempat kakinya…. Semuanya digerakkan oleh lebih dari 30 Orc berkostum hitam. Mereka menggerakkannya dengan tongkat yang disambungkan pada bagian-bagian tubuh naga buatan tersebut.

Ketika naga buatan itu datang, Orc desa langsung bersorak-sorai dengan semangat. Itu mungkin bagian lain dari Festival Naga Api. Ada yang bernyanyi dan ada juga yang bermain instrumen. Para Orc yang mengendalikan naga buatan berteriak semakin keras, dan itu membuat anak-anak Orc berlari ketakutan. Naga buatan mengejar-ngejar anak-anak Orc yang berlarian, beberapa anak bahkan sampai menangis dan terisak-isak. Para wanita yang mungkin merupakan ibu mereka menenangkannya sembari tertawa santai.

Ranta gatal untuk bergabung dengan perayaan tersebut, tapi itu jelas-jelas mustahil. Haruhiro terus bergerak mendekati Waluandin. Kalau suasananya seramai ini, maka mereka tidak mungkin ketahuan. Itulah tujuan mereka, dan itulah kenapa mereka menunggu sampai festival ini digelar.

Kemanapun mereka berlari, wilayah desa begitu ramai dan riuh, namun semua keramaian itu terpusat pada tempat-tempat tertentu. Semua Orc petani dari seluruh desa berkumpul di daerah alun-alun bersama keluarga mereka. Mereka bernyanyi, bermain instrumen, menikmati atraksi naga buatan, dan mereka terlihat begitu antusias. Di tempat lainnya kosong, tak ada satu pun Orc terlihiat di sana. Meski begitu, Haruhiro belum bisa santai. Dia memastikan untuk tidak terburu-buru, dia mengambil langkah yang tepat sebelum bergerak maju. Dia mempersiapkan semuanya dengan begitu teliti, bahkan terlalu teliti, sampai-sampai dia jengkel dengan dirinya sendiri.

Warga Waluandin larut dalam suka-cita festival. Nampaknya ini adalah hari libur nasional, sehingga tidak ada tanda-tanda kehadiran Waluo di distrik bengkel atau pertambangan. Para pandai besi memiliki gudang di sana-sini. Akhirnya Haruhiro menemukan suatu gudang yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, kemudian dia menjebol gemboknya, dan masuk ke dalam. Dia memutuskan untuk menggunakan tempat itu sebagai pos sementara.

Ranta, Shihoru, Yume, Mary, Kuzaku, dan Lala mulai siaga. Ketika Haruhiro dan Nono berpencar untuk mengintai, mereka mendapati bahwa situasi di Kota Waluandin kurang-lebih sama seperti situasi di desa. Waluo memenuhi jalan-jalan utama, mereka bernyanyi, menari-nari, dan membuat kegaduhan. Setiap Waluo mengenakan kain penuh hiasan dan tubuh mereka diwarnai dan digambar. Pada setiap 20 – 30 Waluo, ada seseorang yang membawa tongkat naga dan mengenakan pakaian yang hiasannya begitu meriah. Ada makanan dan minuman yang ditata di mana-mana, dan Waluo mana pun tampak bebas mengambil semua makanan tersebut.

Haruhiro kembali ke tempat rekan-rekannya bersembunyi, sembari menandai rute perjalanan yang telah dilaluinya, kemudian dia berjalan menyusuri lorong-lorong belakang distrik perumahan. Tidak ada siapapun di sana. Tidak ada satu pun Orc yang berjalan di manapun. Setiap rumah kosong. Namun, masih ada beberapa Waluo yang tinggal di dalam rumahnya karena suatu alasan yang tidak jelas. Sehingga, dia tidak boleh lengah sedikit pun. Haruhiro memastikan itu sembari dia menyusuri gang-gang di belakang perumahan.

Dia menelan ludah karena gugup.

Akhirnya, Haruhiro menemui Waluo yang masih sangat kecil, dan dia sedang meringkuk di sana. Waluo itu memegang kepalanya dengan kedua tangan. Tubuhnya juga diwarnai, tapi dia sudah melepas pakaiannya, dan itu membelit kakinya.

Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Haruhiro bertanya pada dirinya sendiri sampai dengan 10x dalam hitungan detik. Akhirnya dia menemukan jawabannya, lantas dia memutuskan untuk kembali diam-diam. Pada saat itulah si Orc melihat ke arahnya.

Waluo itu mengambil nafas dalam-dalam, dan mencoba berteriak. Tubuh Haruhiro bergerak sendiri, kemudian dia melompat begitu saja ke arah Orc kecil itu. Dia menjatuhkannya ke tanah dan mencekiknya.

Kalau dia melakukan itu sambil berdiri, ada kemungkinan bahwa ia akan mendapatkan serangan pada kepalanya, atau tubuhnya terbentur dinding karena Orc itu terus meronta-ronta. Kalau lawannya disematkan ke tanah, maka dia relatif lebih aman dari serangan balasan musuhnya. Lengan kanan Haruhiro melilit erat pada leher Waluo kecil itu. Dia pegang pergelangan lengan kanan dengan tangan kirinya, kemudian dia tarik itu untuk semakin menguatkan cengkraman lengan kanan, sehingga tidak mudah bagi musuhnya untuk membebaskan diri.

Waluo mencoba untuk menggaruk wajah Haruhiro dengan kedua tangan, tapi entah bagaimana caranya, Haruhiro berhasil bertahan.

Aku bisa melakukan ini, kata Haruhiro pada dirinya sendiri. Sepertinya tidak akan ada hambatan berarti. Baiklah. …Dia pingsan.

Waluo itu pingsan dengan mulut menganga. Akibatnya, tenaga Haruhiro terkuras cukup besar. Tidak salah lagi, ini bukanlah sandiwara. Lawannya sudah benar-benar tidak sadarkan diri.

Haruhiro berguling, kemudian bangkit. Dia hendak pergi, tapi ...

Tidak, tidak, tidak ... Haruhiro menggeleng. Bukankah ini gawat? Maksudku, dia memang sudah pingsan. Tapi, nanti juga sadar. Aku tidak bisa meninggalkan dia seperti ini, kan? Aku harus melakukan sesuatu. Sesuatu? Membuatnya tidak bisa bergerak? Ikat dia? Atau ... buat dia pingsan selamanya? Seperti, menghabisi nyawanya?

“... Sialan.” Haruhiro menepuk jidatnya.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku kacau. Aku ragu-ragu. Waluo kecil ini sendirian, meskipun yang lainnya sedang asyik merayakan Festival Naga Api. Mengapa ia sendirian di tempat seperti ini? Apakah dia tidak punya teman? Penyendiri? Mungkin dia sedang di-bully? Mungkin itulah alasannya. Tapi itu semua bukan urusanku. Yang jelas, dia telah melihatku. Berbahaya jika kubiarkan dia tetap hidup. Aku akan membunuhnya. Sudah, cepat tusuk saja. Waktunya untuk menghabisi nyawa si kecil ini.

Setelah menyelesaikannya, Haruhiro langsung meninggalkan gang itu dan bergegas kembali ke tempat persembunyian.

Sudah, jangan dipikirkan lagi. Stealth, Stealth. Konsentrasi. Kalau sudah terjadi sekali, maka bisa saja terjadi lagi. Mungkin aku akan bertemu dengan Waluo lainnya. Tidak apa-apa. Akan kutangani mereka dengan cepat. Tidak masalah. Tidak masalah. Astaga. Ternyata hal seperti ini masih bisa terjadi… aku benar-benar terkejut. Aku harus lebih berhati-hati. Tentu saja. Aku akan berhati-hati, oke? Aku akan sangat-sangat-sangat berhati-hati. Tentu saja. Gak usah ditanya lagi. Ya ampun ...

Haruhiro berbalik dan melihat ke belakang. Di sana ada Nono yang sedang berdiri bagaikan mayat. Tidak, mayat tidak pernah berdiri. Haruhiro sering dikatai matanya mirip orang ngantuk, tapi mata Nono lebih mirip seperti mata orang mati. Dia sedang melihat Haruhiro, atau yang lainnya? Tak seorang pun tahu.

Haruhiro membungkuk kepadanya, dan sedikit mengangkat satu tangan. “... Hey, bung.”

Kepala Nono memutar ke kanan, kemudian perlahan-lahan kembali ke kiri. Ekspresinya tidak berubah sama sekali. Atau mungkin, karena dia mengenakan topeng, ekspresi wajahnya selalu terlihat sama. Haruhiro benar-benar tidak bisa membaca raut wajahnya.

Um, kau agak menakutkan ...?

“Erm ... apakah kau ingin ... kembali?” Ketika Haruhiro menunjuk ke tempat persembunyian dengan ragu-ragu, Nono pun mengangguk. Dia tahu pria itu tidak banyak berbicara, tapi Haruhiro hanya bisa berpikir: Ayolah, katakan sesuatu! Mungkin topeng mirip masker anjing itu membuatnya kesulitan bicara.

Haruhiro pun kembali bersama Nono, dan dia merasakan suatu ketegangan yang aneh. Kapan Nono berada di belakangnya? Apakah Haruhiro menoleh karena merasakan keberadaan Nono? Atau dia merasakannya secara samar-samar? Dia tidak bisa memastikannya.

Mereka akhirnya mencapai tempat persembunyian di gudang milik pandai besi. Gudang itu tampak biasa. Ketika mereka memasuki gudang, Ranta, yang duduk di sudut ruangan, melompat dan mengatakan, “Hey!”

Tiba-tiba, terjadi sesuatu.

Nono tiba-tiba mencengkeram leher Haruhiro.

Sungguh mengejutkan, Haruhiro tidak pernah melihat datangnya serangan itu, sehingga ia tidak bisa menghindar. Tapi, meskipun Haruhiro sudah berada dalam kondisi siap, dia tidak yakin bisa menghentikannya.

Nono menekankan mulut bertopengnya pada telinga Haruhiro. Tentu saja suaranya teredam tidak jelas. Hanya terdengar seperti erangan. Benar-benar sulit memahami apa yang sedang dia katakan, namun entah kenapa Haruhiro tahu apa yang orang ini maksudkan.

Grimgar V7 010.png

Ketika Haruhiro menjawab, “... oke, aku paham,” Nono pun melepaskannya.

Nono berjalan ke Lala dan langsung memposisikan diri dalam pose merangkak. Dia baru saja kembali dari tugasnya, namun dia segera mengerjakan tugas lainnya yaitu berperan sebagai kursi. Lala sama sekali tidak memberi ucapan terimakasih atau semacamnya. Dia malah duduk dengan santainya di punggung Nono, seolah-olah itu adalah hal yang wajar dilakukan, lalu dia menyilangkan kakinya. Dia tampak puas.

Haruhiro berjalan ke Ranta dan yang lainnya, sambil menyeret kakinya seperti mayat.

“A-Apa yang ...?” Tanya Shihoru dengan cemas.

“... Yahh.” Haruhiro menggeleng. “Gak papa kok… sungguh.”

“Dia mengatakan sesuatu kepadamu?” Ranta menunjuk ke arah Nono dengan tatapan mata sekilas. “... Tunggu dulu, jadi orang itu benar-benar bisa bicara ya?... Yahh, seharusnya memang bisa sih.”

“Jangan panggil dia 'orang itu,'” dengan lemas, Haruhiro mengoreksi omongan si kampret. “Panggil Nono-san, oke?”

“B-Baiklah,” kata Ranta. “Tunggu dulu, bung, yakin nih kau baik-baik saja? Tingkahmu sedikit aneh, lho? Apakah telah terjadi sesuatu?”

“Ha ha ... kalau kau sampai khawatir padaku, mungkin aku sudah ...”

“Kau ini gak sopan banget ya?” Bentak Ranta. “Mungkin aku terlihat kasar, tapi sebenarnya hatiku ini penuh dengan kasih sayang, tau? Aku adalah Dark Knight of Love, mengerti?”

“Kau sayang Haruhiro?” Tanya Mary dengan nada kesal.

“D-d-d-dasar tolol, tentu saja tidak! Aku tidak bilang begitu!”

“Bukan sembarang sayang, tapi cinta yang romantis, kan?” cibir Yume.

“Aku tidak mencintainya, dalam artian romantis atau apapun itu, sialan! Itu sudah jelas, dasar tolol! Sialan!"

Kuzaku tertawa singkat. “Kalau kau mati-matian menyangkalnya, itu justru terkesan semakin mencurigakan.”

“Akan kucincang kau, Kuzacky! Aku serius, serius! Jangan menganggap remeh Dark Knight!”

“Hei,” Lala-sama mulai berbicara. “Kau, monyet yang di sana. Kau menjengkelkan ya. Diamlah."

Ranta langsung berdiri tegak dan memberi hormat padanya. Mulutnya bergerak, tetapi tidak terdengar suara apapun. ”Ya, Bu!” Sepertinya itulah yang ingin dia katakan. Lala tampaknya sedang melatih bocah ini.

Sungguh mengerikan.

Jujur saja, wanita itu memang menakutkan. Haruhiro pun merinding. Bukan hanya Lala-sama. Nono juga tak kalah menakutkan jika dibandingkan dengannya. Beberapa menit yang lalu, dia mengatakan sesuatu yang sangat-sangat mengerikan. Inilah yang Nono katakan pada Haruhiro barusan:

“Kalau Lala-sama sampai lecet-lecet karena ulah kalian, maka akan kubunuh kalian semua tanpa kusisakan satu pun.”

Itu saja.

Mungkin ancaman itu bukanlah omong kosong. Nono sungguh serius. Lagian, orang itu tidak terlihat normal. Dia sungguh kompeten. Kalau Nono ingin membunuh mereka, mungkin dia bisa melakukannya secepat kilat, sampai-sampai mereka tak punya kesempatan sedikit pun untuk bertahan.

Pertanyaannya adalah, mengapa Nono memilih saat itu untuk memberikan ancaman pada Haruhiro? Tentu saja dia tidak tahu alasannya, dan dia juga tak mau repot-repot memikirkannya. Tak peduli selama apapun Haruhiro memikirkannya, itu tidak ada gunanya. Dia memutuskan untuk melupakan masalah ini begitu saja sekarang. Masih banyak hal lainnya yang perlu dia pikirkan. Bahkan begitu banyaaaaaaak.

Haruhiro dan yang lainnya meninggalkan gudang. Mereka keluar dari distrik bengkel, dan melewati daerah perumahan. Haruhiro memandu mereka, sembari memeriksa apakah semuanya sudah aman, kemudian barulah dia panggil rekan-rekannya untuk bergerak, sama seperti metode sebelumnya. Mereka menghindari area yang ramai karena digelarnya festival, sehingga tidak banyak Waluo yang lewat di sana. Namun, dia harus tetap waspada adanya Waluo yang ”nyasar” seperti si kecil yang beberapa saat lalu dihabisi oleh Haruhiro. Tempat ini boleh sepi, namun tidak berarti kosong melompong. Akan tetapi, kalau dia terlalu ragu, maka timnya akan kehabisan waktu. Jika mereka ketahuan, atau jika mereka tanpa sengaja bertemu dengan Waluo, mereka hanya perlu menghabisinya segera. Dia harus menerima kenyataan ini, karena tidak ada yang sempurna di dunia.

…Benar, kan?

Perutnya sakit. Keringat mengalir deras di dahinya. Tenggorokannya kering. Berikutnya, dia disambut oleh jalanan yang lapang. Ketika mereka memandu teman-temannya sebelumnya, sepertinya mereka bisa melewatinya dengan mudah.

Dia sedikit menjulurkan kepalanya keluar untuk memeriksa keadaan. Tidak ada Waluo. Dia memberi sinyal, kemudian melintasi jalan terlebih dahlu, kemudan rekan-rekannya menyusul bersama Lala dan Nono.

Mereka masih di daerah perumahan, tetapi tiba-tiba ada lereng curam yang menghadangnya. Lereng itu cukup curam untuk didaki. Mungkin tidak akan terlihat apa-apa dari bawah, tapi dari atas pemandangannya cukup bagus. Dia harus terus menyembunyikan diri sembari bergerak maju.

Perutnya benar-benar terasa sakit. Setiap detik terasa begitu lama, seolah-olah sedetik terasa seperti setahun. Dia hanya bisa merasakan seperti itu.

Alih-alih langsung menuju Pegunungan Naga Api, ia sebanyak mungkin memilih melewati jalan pinggiran. Tapi, tak peduli jalan macam apakah itu, dia selalu mengamatinya dengan begitu menyeluruh sebelum melewatinya. Dia tahu bahwa dia tidak pernah bisa mengamatinya dengan sempurnya, namun dia pastikan untuk tidak hilang kosentrasi.

Dia berusaha begitu keras, dan terlalu memaksakan tubuhnya.

Jangan terlalu memaksakan diri, katanya pada dirinya sendiri. Tetap tenang, tetap tenang.

Tidak… tidak bisa begitu. Seakan-akan, hatinya sudah siap untuk hancur menjadi ribuan keping. Dia hampir kehilangan akal sehatnya. Tapi dia masih bisa bertahan berkat nyali, keuletan, dan semacamnya. Seperti itulah keadaan mentalnya, tapi dari luar, Haruhiro hanya tampak seperti seorang pria bermata ngantuk yang sama sekali tidak tertarik dengan pekerjaan yang sedang dia lakukan. Dia tidak pernah tahu manakah keputusan yang benar atau salah, namun dia masih belum mencapai batasnya.

Aku masih bisa bertahan.

Sejak terakhir kali bertemu dengan si kecil itu, dia hampir tidak pernah lagi bertemu dengan Waluo. Mungkinkah mereka berhasil melewati Waluandin dengan cara seperti ini? Setiap kali dia berpikir bahwa semuanya akan berakhir dengan mudah, di sanalah masalah muncul. Yahh, hal yang paling dia khawatirkan selalu menjadi kenyataan, jadi… mungkin lebih baik dia tidak meremehkan sesuatu, dan tidak juga terlalu khawatir. Yang sedang-sedang saja.

“Suara drum ... Bukankah suara itu cukup dekat?” Komentar Ranta.

Bahkan sebelum Ranta mengatakan itu, Haruhiro sudah melihatnya. Dan sebelum Ranta menyadarinya, Lala dan Nono sudah terlebih dahulu waspada. Namun mereka tidak pernah mengatakan apapun.

Sekali lagi, Haruhiro ingat bahwa dia tidak boleh mempercayai kedua orang itu sepenuhnya. Dia tidak tahu apakah mereka jahat atau tidak, tapi Lala dan Nono hanyalah kelompok yang memikirkan dirinya sendiri. Mereka hanya mengikuti Haruhiro dan rekan-rekannya, karena pada saat itu, mereka berguna bagi Lala & Nono. Jika keadaan sudah berubah, mereka tidak akan segan meninggalkan Party Haruhiro begitu saja. Bahkan jika perlu, mereka akan menggunakannya sebagai bidak yang dikorbankan. Mereka bahkan tidak akan merasa bersalah telah melakukannya.

Itu berarti, Haruhiro dan rekan-rekannya juga bekerjasama dengan mereka karena ada maunya. Dengan kata lain, mereka impas. Namun, Haruhiro bukanlah orang sejahat itu. Jika dia memiliki kesempatan untuk meninggalkan Lala & Nono, belum tentu dia tega melakukannya. Dia bahkan akan kesulitan mengambil keputusan. Bukankah itu yang namanya…. naif? Ya, mungkin dia adalah orang yang naif.

Haruhiro meminta ketujuh rekannya menunggu, sementara ia naik ke atas bangunan terdekat. Ketika ia bisa melihat dengan jelas dari atas bangunan, dia menyaksikan barisan cahaya berjalan yang sejatinya merupakan massa Orc sedang membawa obor, mereka berjalan-jalan di Waluandin. Barisan cahaya itu panjangnya kurang dari 100 meter. Dan mereka cukup dekat.

Apa yang harus kita lakukan?

Haruhiro turun dari atap. Bagaimana ia harus menjelaskannya? Otaknya saat ini tidak bisa bekerja dengan benar.

Dia hanya berdiri termangu di sana, dan saat itupun Ranta membentaknya. “Untuk apa kau melihat ke angkasa?! Ada apa, bung?! Apa yang sedang terjadi?! Haruhiro! Aku sedang bertanya padamu, maka katakanlah sesuatu, dasar botak bego!”

“... Mungkin kita berada dalam masalah.”

“Dalam masalah bagaimana?!”

“Mereka mungkin mencari ... kita.”

“Mencari… kita ... Tunggu dulu… apaaaaaaaaaaaaa?!”

“Mungkin karena bicara Ranta terlalu keras,” kata Yume.

“Diamlah pentil minil! Tutup mulutmu! Kita sedang membicarakan masalah serius sekarang!”

“Mengapa mereka mencari kita?” Tanya Shihoru.

Itu pertanyaan yang sungguh masuk akal. Jelas saja teman-temannya tidak tahu. Namun, Haruhiro sudah tahu segalanya…. Ah, tidak juga, sebenarnya dia hanyalah menduga-duga. Dia tidak ingin dugaannya menjadi kenyataan, namun dalam keadaan seperti ini, memang lebih baik berasumsi kemungkinan yang terburuk.

“Pertama, kita harus terus lari,” Mary seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri, lalu menatap kawan-kawannya. “Apapun alasannya, kita tidak boleh berdiam diri di sini.”

“Sepertinya benar juga.” Kuzaku mengangguk. “Kita harus lari sebelum mereka menemukan kita.”

“Mau lari ke mana?!” teriak Ranta. “Kita sudah masuk cukup jauh ke dalam Waluandin, tau?! Kau pikir ke mana kita harus lari kalau sudah berada di tengah-tengah kota seperti ini?!”

“Tidak perlu lari.” Lala menjilat bibir merahnya, lalu menunjuk ke arah Pegunungan Naga Merah. "Bagi para Orc penghuni Waluandin, Pegunungan Naga Api adalah tempat keramat. Itu artinya, mereka tidak akan mengejar kita sampai sana, kan?”

Nono terus menatap Haruhiro dengan pandangan penuh penghinaan.

... M-menakutkan, pikir Haruhiro. Tatapan itu, dia benar-benar marah. Sialan.

Setidaknya, Nono tahu apa yang telah dia lakukan pada si Orc kecil, sehingga mengundang kemarahan para Orc lainnya.

Ya. Itu benar. Mungkin saja ini adalah kesalahan Haruhiro. Yahh, atau lebih tepatnya, hampir pasti kesalahannya. Kalau boleh dihitung, mungkin peluangnya adalah 80 – 90% .

Tapi dia tidak pernah membunuh Orc kecil itu. Dia tidak mampu melakukan dosa seperti itu. Setidaknya, dia akan sangat ragu-ragu kalau diharuskan membunuh makhluk sekecil itu. Yang dia lakukan hanyalah membelenggu tangan dan kakinya, menyumpal mulutnya, kemudian meninggalkannya begitu saja di sana.

Apakah aku harus memberitahu mereka? Haruhiro kebingungan. Tapi mereka tidak punya banyak waktu, kan? Mungkin jangan sekarang? Namun, mengapa Nono tidak mencelanya? Tak peduli dilihat dari manapun, ini adalah saat yang tepat untuk mencela Haruhiro. Lala juga berada dalam bahaya. Jadi kenapa? Karena Nono tidak ingin bicara? Dia lebih suka membunuhnya terlebih dahulu, kemudian menyalahkannya nanti? Dia menunggu datangnya kesempatan seperti itu?

Apa pun itu, mereka harus segera bertindak.

Mary benar. Alasan mengapa terjadinya insiden ini bisa dijelaskan nanti.

"Ayo pergi! Ke Pegunungan Naga Api!” Haruhiro mulai mengarahkan rekan-rekannya.

Waluo menabuh drum mereka, mengayunkan obor, dan berteriak selagi mereka mencari Haruhiro dan yang lainnya. Tidak jelas berapa jumlahnya, namun ada begitu banyak obor di sana. Pasti jumlahnya adalah ratusan. Lagian, tidak semua Orc membawa obor, jadi jumlah pengejar mereka pastilah lebih banyak daripada obor-obor itu. Mungkin saja setiap 10 Orc, satu di antaranya membawa obor, dan itu adalah jumlah yang begitu mengerikan.

Anggap saja para pengejar sebanyak 10 kali dari jumlah obor-obor tersebut. Padahal, ada ratusan obor di sana, sehingga jumlahnya pasti mendekati 1000 Orc, atau bahkan mungkin saja ada ribuan Orc lain yang mengejar Haruhiro dan Party-nya.

Haruhiro melakukan yang terbaik untuk memimpin kelompok ini, tapi Nono pergi mendahuluinya. Dia terpaksa harus mengikuti seniornya itu. Dia pun tidak bisa mengatakan, ”Hey, serahkan saja ini padaku”. Jika Haruhiro mengatakan itu, mungkin Nono akan menghabisinya saat itu juga. Lagipula, Haruhiro tidak terlalu percaya diri dengan kemampuannya memimpin, mungkin saja dia akan mengacaukan semuanya lagi.

Lebih baik sekarang dia lupakan apa yang terjadi pada Waluo kecil itu. Tapi dia tidak bisa melupakannya begitu saja. Jujur, Haruhiro tidak yakin harus mengambil keputusan seperti apa untuk mengarahkan timnya saat ini. Saat ini? Hanya saat ini? Bagaimana dengan esok? Apakah suatu saat nanti dia cukup percaya diri untuk mengatakan, ”Oke, feeling-ku sedang baik sekarang, maka dengarkan semua instruksiku…” Dia pun tidak yakin bisa mengatakan hal seperti itu.

Nono terus melaju dengan lancar, dia berlari tanpa sedikit pun ragu-ragu, namun kadang-kadang dia berputar, dan terkadang memilih jalan di antara gang-gang sempit. Bagaimana ia bisa terus berlari tanpa ragu-ragu seperti itu? Sesekali, Lala memanggilnya dari belakang, dan mengatakan, kanan, kiri,</i> atau lurus. Apakah semua itu berkat Lala? Jika ia hendak melakukan kesalahan, Lala akan segera membetulkannya. Meskipun Nono mengacaukan segalanya, Lala akan selalu membantunya, apakah hanya itu rahasia mereka? Setinggi itukah kepercayaan di antara mereka? Karena dia tidak sendirian? Karena mereka adalah pasangan? Bagaimana dengan Haruhiro? Apakah dia percaya pada rekan-rekannya? Sebetulnya, bukan karena dia tidak percaya pada mereka… hanya saja……

“Stop!” Lala berteriak, dan Nono akhirnya menyadari ada sekawanan Waluo muncul di depan mereka.

Waluo dengan tinggi lebih dari dua meter dan memakai cat tubuh. Melihat mereka saja, sudah begitu menakutkan. Jantung Haruhiro lompat naik dan turun, dan itu menyebabkan rasa sakit dan nyeri di dadanya.

Nono menyerang sang Waluo pemimpin kelompok itu. Kuzaku menyiapkan perisai dan mulai ikutan menyerang. Ranta pun segera membantu.

Dalam sekejap mata, Nono menggunakan pisau di tangan kanannya untuk membedah leher Waluo pertama, kemudian dia melompat pada Waluo lainnya. Kuzaku menabrak salah satu lawan dengan perisainya, mungkin dia bermaksud merobohkannya, tapi lawannya lebih besar, dan dia mampu mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Ranta menebas salah satu Waluo yang membawa obor, tetapi meskipun ia berhasil mendorong lawannya mundur, Waluo itu sama sekali tidak mengalami luka serius.

Haruhiro meraih gagang Stiletto-nya, membenarkan cengkeramannya, kemudian memegangnya erat-erat.

Oh sial. Oh sial. Ini gawat. Dia berdiri begitu tegak, bahkan kakinya seperti tonggak.

Apa yang harus dia lakukan? Tidak ada. Haruhiro tidak melakukan apa-apa.

Dia melihat ke sekeliling, kemudian berpikir. Atau lebih tepatnya, dia pura-pura berpikir. Sebenarnya, ia tidak bisa memikirkan apapun.

“Sebelah sini!” Teriak Lala.

Saat ia mendengar Lala berteriak, ia sangat lega. Si wanita dominan menunjuk ke arah gang yang berada di dekat gang yang mereka lalui barusan.

Haruhiro mempersilahkan Yume, Shihoru, dan Mary bergerak terlebih dahulu, kemudian menunggu Ranta, yang segera meninggalkan lawannya dan menuju gang itu, dan Kuzaku, yang perlahan-lahan mundur sembari menggunakan perisainya untuk menahan tendangan Waluo itu. Nono tidak hanya cepat, namun dia menggunakan teknik bertarung dengan kecepatan yang bervariasi. Dia mengombinasikannya dengan keterampilan menggunakan pisau, dan itu adalah perpaduan yang begitu sempurna. Dia sedang menyibukkan Waluo. Tubuh Nono tidaklah begitu besar, bahkan pisaunya cukup pendek, namun dia sangatlah lincah. Ia berlari mengelilingi Waluo itu. Bagaimana bisa dia menggunakan trik seperti itu?

Sekarang bukan waktunya untuk tercengang akan kehebatan seniornya itu.

Ranta masuk ke gang. Kuzaku masih belum menyusul. Masih ada Waluo yang mengganggunya.

Aku harus melakukan sesuatu padanya, pikir Haruhiro. Ah, benar juga. Setidaknya aku harus melakukan itu….

Haruhiro berlari melewati Kuzaku dan Waluo yang menjadi lawannya, kemudian tiba-tiba dia berbelok dan memberikan Backstab pada Waluo itu. Haruhiro bertujuan untuk menikam ginjal makhluk itu, namun tampaknya meleset.

Waluo pun menoleh ke arahnya.

Kuzaku memukul rahangnya dengan menggunakan Bash, kemudian diikuti dengan Thrust menggunakan pedang hitamnya. Mereka tak perlu mengatakan: ”Ayo pergi sekarang!!” karena keduanya sudah tahu. Mereka menuju gang bersama-sama. Nono akhirnya juga mengikuti mereka.

Menuju gang.

Menuju gang.

Itu adalah gang yang sempit, mungkin karena lebarnya hanya 1 meter. Lala ada di sana, kemudian dia menunjuk ke kanan dengan gaya elegan. Lala masih bersama mereka, dan dia tidak meninggalkan mereka seperti saat itu? Sebenarnya, apa yang sedang direncanakan Lala & Nono?

Tidak. Itu tidaklah penting. Tidak untuk sekarang. Dia hanya perlu diam dan melaksanakan semua instruksi Lala. Hanya itu pilihannya. Itulah pilihan terbaik saat ini. Bagaimanapun juga, Haruhiro tidak mampu menangani semua ini sendirian. Dia tidak memiliki rencana untuk keluar dari semua masalah ini. Ia hanya bisa berlari ke manapun tanpa tujuan yang jelas.

Lala berbeda. Dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda panik. Nono juga demikian. Mereka berdua sungguh tenang, seperti biasanya.

Aku harus menjadi seperti itu, pikir Haruhiro. Dia ingin menjadi seperti mereka, tapi bisakah dia melakukannya? Cukup diragukan. Mungkin saja tidak. Atau lebih tepatnya, tidak mungkin. Dia boleh berusaha sekeras mungkin, namun dia tidak akan menjadi seperti Lala % Nono.

Ketika mereka keluar ke jalan batu yang lebar, mereka mendapat tempat yang bagus untuk bisa melihat Waluandin secara keseluruhan. Mereka berada di tempat yang cukup tinggi. Tempat tersebut berada di tepi kota Waluandin. Para Waluo masih saja mengejar mereka dari ujung jalan yang jauh di sana.

“Aha!” Lala tertawa. “Mereka semua lamban! Kita lah yang menang!”

Begitukah? Apakah dia hanya berbohong? Lala membawa mereka meninggalkan jauh para pengejar, dan mereka sekarang berada pada jalan yang lebar di atas bukit.

Ranta berteriak, “Ini keren banget cuy!”

Namun, para Waluo masih saja memburu Haruhiro dan yang lainnya. Jalan besar ini tampaknya terhubung pada distrik istana. Jalan ini berkelok-kelok sedikit, dan menuju langsung ke Pegunungan Naga Api. Bagaimana Haruhiro bisa mengetahuinya? Karena dia dapat melihatnya dari kejauhan. Obor-obor itu menerangi jalan jalan dengan jelas.

Luar biasa. Jumlah Waluo di sana tidaklah main-main.

Andaikan Kikkawa bersama mereka di sini, ia mungkin sudah berseru “Kweeren bwanget hoyy.” Yeah, atau mungkin tidak.

Ohh, Haruhiro kangen Kikkawa. Seharusnya dia baik-baik saja, jadi akankan mereka berdua dapat bertemu lagi? Peluangnya cukup kecil. Dengan situasi seperti ini, hanya itulah yang bisa dia rasakan.

Bagaikan aliran lumpur. Tubuhnya dicat dan mereka mengenakan pakaian penuh hiasan bagaikan selempang. Para Waluo itu mengayunkan-ayunkan naga dengan tongkat mereka. Sedangkan para Waluo yang membawa obor terlihat bagaikan aliran lumpur dari kejauhan, seakan-akan mereka bisa menelan Haruhiro dan rekan-rekannya kapanpun. Sangat sulit memperkirakan berapa meter kah jarak antara Nono dan kerumunan Orc itu, tapi yang jelas sekarang jaraknya semakin berkurang. Kira-kira mereka hanya terpisah sejauh kurang dari 10 meter.

Nono mungkin bisa merepotkan mereka jika dia bertarung dengan serius. Tapi Shihoru dan Kuzaku pasti akan kesulitan, dan Mary sepertinya juga akan kesulitan. Sepertinya, hanya masalah waktu sampai kerumunan Waluo itu menelan mereka.

Bukankah mereka tidak lagi punya pilihan? Bukankah ini akhirnya?

Ini semua salah Haruhiro. Dia lah yang mengakhiri semua ini.

Maaf. Maafkan aku. Maaf, teman-teman. Aku sangat menyesal. Ini semua kesalahanku. Kalian pantas menyalahkanku. Apa lagi yang bisa kulakukan agar kalian memaafkanku? Ya… tentu saja tidak ada. Maksudku… ini adalah kesalahanku yang paling buruk! Tidak ada orang lain yang patut disalahkan selain diriku. Ini semua salahku!

Haruhiro berlari secepat yang dia bisa, berteriak, dan menjerit. Dia tidak berbalik. Dia hanya memandang lurus ke depan. Dia takut. Dia tidak ingin melihat apapun lagi, dan tidak ingin mengetahui apapun lagi.

Cukup. Semuanya sudah berakhir. Karena kesalahan yang Haruhiro buat, semuanya berakhir. Mereka semua akan mati. Mereka akan dihajar sampai hancur, dan dibunuh dengan brutal.



Tapi… anehnya… waktu sudah lama berlalu, namun mereka masih hidup. Seharusnya sekarang mereka sudah jadi bangkai, namun Haruhiro masih bernapas.

Dia melewati dua pilar batu bermotif naga. Dia akhirnya meninggalkan kota. Jalan batu curam itu berlanjut, tapi tidak ada lagi bangunan di sekitarnya. Malahan, di kiri dan kanannya terbentang gunung berbatu. Tidak banyak pohon yang tumbuh di sini. Yang ada hanyalah semburan lahar bagaikan pembuluh vena yang berdenyut, dan ada pula kepulan asap.

“Mereka tidak lagi bisa memburu kita!” jerit Yume, dengan suara penuh keceriaan.

Ah… betul juga… sekarang aku paham. Haruhiro menyeka keringat, air mata, ingus, dan air liur dari wajahnya sembari dia berbalik ke belakang. Para Waluo masih ada di sana. Mereka tidak lagi mengejar Haruhiro dan yang lainnya. Tapi mereka berhenti di pilar batu. Seolah-olah ada semacam penghalang yang menahan mereka.

Tanah suci. Pegunungan Naga Api adalah tanah suci bagi kaum Orc dari Waluandin, jadi mereka tidak akan mengejarnya sampai wilayah ini. Lala sudah membaca situasinya, dan dia juga pernah mengatakannya dengan sangat jelas. Pada akhirnya, itulah yang menyelamatkan mereka.

Ini adalah kemenangan terencana yang telah didapatkan Lala. Tidak hanya Nono, tapi Ranta, Yume, Shihoru, Mary, dan Kuzaku…. semua memiliki harapan hidup sekarang. Namun, tidak begitu dengan Haruhiro.

Haruhiro masih sendirian di dalam keputusasaan yang menyedihkan.

Dia sangat panik sampai-sampai kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Dia merasa malu… sangat malu. Dia ingin lenyap begitu saja dari dunia ini. Dia tidak ingin hidup dalam rasa malu seperti ini.

Perlahan-lahan, jalannya berubah menjadi tangga batu. Itu sangat curam itu, bahkan tidak layak disebut tangga, seakan-akan mereka bisa jatuh kapanpun. Ketika mereka berhasil melewati suatu tanjakan, akhirnya mereka menemui permukaan yang datar, dan jalannya tiba-tiba berakhir.

“Oofwhah ..!” Ranta mengeluarkan seruan aneh. "Di sana! Mereka di sana! Salamander-salamander itu, kan ?! Tunggu, bagaimana bisa mereka berenang di dalam lahar cair?!”

Mulai dari sana, lereng gunung tampak bergelombang, dimana-mana mengalir sungai lahar, ada juga semburan lava di berbagai tempat. Para salamander mengapung, berenang, dan melompat-lompat pada sungai lava.

Sebenarnya, kalau Haruhiro harus mendeskripsikannya, makhluk itu begitu mirip seperti gumpalan lahar berbentuk kadal. Ketika mereka tidak bergerak, mereka tampak serupa dengan lava. Itulah sebabnya, Haruhiro tidak tahu berapa banyak salamander di sungai itu. Mungkin saja, semua lava yang mengalir di sana adalah salamander itu sendiri. Yahh, mungkin itu tidak benar, tapi siapa tahu….

“Mulai sekarang, kalian harus lebih berhati-hati,” kata Lala dengan tenang, seolah-olah baru sekarang lah mereka waspada, sedangkan semua pertarungan sebelumnya hanyalah permainan.

Bagaimana dia bisa tenang dalam keadaan setegang ini, sebetulnya terbuat dari apa jantung wanita ini? Apakah terbuat dari baja? Tidak mungkin lah…

Nono berdiri di depan, dia memeriksa pijakan di bawah kakinya sembari terus bergerk maju. Lala berada di belakangnya, kemudian mengikuti: Ranta, Kuzaku, Mary, Shihoru, Yume, dan yang terakhir Haruhiro. Mereka tidak merencanakan urutan tersebut, kebetulan saja mereka memposisikan diri seperti itu. Mungkin karena Haruhiro tidak memberikan instruksi atau semacamnya, sehingga rekan-rekannya menganggap bahwa dia ingin berada di belakang sambil mengawasi sekitarnya.

Sebetulnya Haruhiro belum merencanakan apapun, tapi dia pun tidak protes dengan urutan tersebut. Bahkan, dia cukup senang dengan posisinya saat ini. Dia senang berada di belakang; itu adalah posisi yang nyaman baginya. Karena dengan berada di barisan paling belakang, dia tidak merasakan tatapan mata siapapun. Dengan begini, seakan-akan dia tidak mengambil peran sebagai pemimpin.

“Alasan kami mengawasi tempat ini adalah….” Lala mulai memberikan penjelasan tanpa diminta oleh siapapun, “….karena kehadiran Orc. Mereka juga ada di Grimgar. Logikanya, jika ada dua ras yang serupa tinggal di dunia yang berbeda, maka kau boleh bilang bahwa kedua dunia itu berhubungan satu sama lain. Berdasarkan pengalaman kami, jika suatu ras telah berdiam di suatu tempat, bahkan berkembang biak di tempat tersebut, maka ada suatu jalur penghubung di sana. Namun, karena suatu alasan tertentu, mereka tidak bisa kembali ke tempat asalnya dengan mudah.”

“Karena ada naga api di sini ...” Shihoru menurunkan topi penyihirnya, sembari dia dengan ketakutan melompati sungai lahar yang sempit.

Segera setelah dia melakukan itu, seekor salamander melompat keluar, dan hampir menyentuh kaki Shihoru.

“... Ohhh!”

“Menurutmu, di sini benar-benar ada naga api?” Yume melompat dengan enteng, dan tentu saja salamander itu ikutan melompat lagi sesudahnya. Namun Yume dengan mudah bisa menghindari sungai lahar dan salamander itu. “Bagaimanapun juga, di sini terlalu tenang.”

Haruhiro berlari dan melompat setinggi yang dia bisa, dia berusaha untuk tidak melihat aliran lahar atau salamander tersebut. Dia harus mengatakan sesuatu. Aneh jadinya kalau dia tetap tenang seperti ini. Tapi, apa yang harus dia bahas? Dia tidak punya topik yang perlu dibahas dengan rekan-rekannya. Toh kalau pun ada, seperti apakah respon teman-temannya? Dia tidak tahu. Dia tidak ingin membayangkannya.

“Menurutmu, apakah naganya ada di puncak sana?” Kuzaku menunjuk secara diagonal ke sebelah kiri-depan.

Di arah itu, tampak jelas suatu sosok pegunungan gelap. Seberapa jauh jarak ke sana? Beberapa ratus meter mungkin? Atau lebih?

“Tunggu ...” Ranta berhenti mendadak. “Haruhiro. Bukankah tadi kau telah mengatakan sesuatu, bung? Waktu masih di Waluandin. Dan juga ... kamu menjerit ketakutan. Atau… hanya perasaanku saja?”

Haruhiro hanya menggeleng. Dia tidak menjawab. Ketika ia terus berjalan, Ranta melewati teman-teman lainnya, kemudian dia mendekat pada Haruhiro.

“Kau mengatakan sesuatu kan… seperti: ’Ini semua adalah kesalahanku’, atau semacamnya? Apa sih maksudnya? Kenapa kau harus menyalahkan dirimu sendiri? Kau juga bertingkah aneh, lho? Maksudku, aku tahu betul bahwa kau memanglah orang yang aneh. Matamu selalu terlihat mengantuk. Tapi, meskipun demikian, hari ini kau tidak bertingkah normal. Bung, ada apa denganmu?”

“... nanti saja,” bisik Haruhiro.

“Hahhhh?”

"Aku akan memberitahumu nanti. Aku janji. Untuk saat ini ... jangan membahas itu.”

“Tentu saja akan kubahas.” Ranta meraih kerah baju Haruhiro. “Itu menggangguku! Jangan ucapkan omong kosong itu padaku! Dengarkan ini bung, aku paling benci masalah yang gak jelas seperti ini!”

“Kan sudah kubilang akan kuceritakan nanti!! Lihat dulu situasinya!”

“Situasi apa? Jangan coba menghindar dariku! Kalau aku ingin mengetahuinya sekarang… ya sekarang! Akan kuungkap semuanya, tak peduli apapun akibatnya!”

“Ranta! Hentikan!” Yume mencoba menyela di antara Haruhiro dan Ranta.

Dan itu membuat Haruhiro terdorong mundur. “Ah ...!” Dia kehilangan keseimbangannya, dan jatuh ke arah kolam lava. Untungnya dia bisa memijak sesuatu, sehingga tubuhnya kembali seimbang, namun tumitnya sedikit terkena permukaan kolam lava. Ujung sepatunya terbakar, dan terdengar suara mendesis. “Urgh ...!”

“H-Haru-kun ?!” teriak Yume.

“... Tidak apa-apa, aku ... baik-baik ...?” Haruhiro berjongkok dan mengusap tumitnya. Dia segera menarik kakinya, seharusnya sih tidak ada luka serius. Semoga saja begitu. Dia meraba-raba pinggiran sepatu dengan tangannya. Bagaimana? Apakah tumitnya ikut meleleh? Ataukah hanya sepatunya saja? Bagaimana kondisi kakinya di dalam sepatu? Apakah sakit, apakah panas ...?

“I-itu bukan salahku, dan a-aku tidak akan meminta maaf padamu!” Kata Ranta dengan angkuh. “I-itu salah Yume, ya… semua ini salahmu! Aku sama sekali tidak salah!”

“Kau juga salah ...” gumam Shihoru.

"Hah?! Kau ngomong apa, nona pentil kendor?!”

“K-k-kendor ... ?!”

“Haru! Biarkan aku lihat!” Mary menyela melalui Shihoru, Yume, dan Ranta, kemudian dia jongkok di samping Haruhiro.

Lala hanya menanggapinya dengan mengangkat bahu, sembari melihat mereka dengan heran. Nono mendekatkan mukanya pada Lala dan membisikkan sesuatu di telinganya. Mungkin Nono sedang menuntut Lala untuk segera membuat pilihan, misalnya: “Bukankah saatnya kita meninggalkan mereka?”

Ini gawat. Sungguh gawat. Party Haruhiro masih membutuhkan bantuan Lala & Nono untuk keluar dari sini, kalau mereka meninggalkannya, maka Party Haruhiro berada dalam masalah besar.

“Whoa, tunggu dulu…..” Haruhiro mendorong Mary ke samping saat gadis itu berusaha menyembuhkannya, kemudian dia langsung berdiri. Rasa sakit menyengat tumit kanannya, dan itu membuatnya sedikit menjerit kesakitan.

“Hah?” Kuzaku mengatakan sesuatu yang sangat aneh. “Puncaknya berpindah?”

“Gunung tidak mungkin bergerak,” kata Lala dengan nada gembira, entah apa yang membuatnya senang. “Dengan kata lain, itu bukanlah puncak gunung, kan?”

“K-Kalau tidak ...” Ranta berbalik dan menatap puncak itu…. ah, bukan… lebih tepatnya, sesuatu yang mereka pikir puncak gunung. “A-A-A-Apa ... itu ...?”

Sosok itu menggoyangkan badannya ke kiri dan kanan…. Ah, tidak, tidak hanya itu. Dia juga mengeluarkan suara. Dia bergetar. Atau lebih tepatnya…. tanah yang bergetar. Sosok itu terus mendekat.

“Lari!” Teriak Haruhiro secara refleks.

“L-lari ke mana?!” Ranta berteriak balik padanya.

“Aku tidak tahu ke….”

Lari ke mana? Apakah ada jalan? Apakah mereka harus kembali? Melalui jalan sebelumnya? Berapa jauh? Bisakah mereka menuruni gunung dengan selamat? Tapi mereka tidak bisa kembali ke Waluandin. Itu sudah jelas, karena di sana menunggu para Orc yang siap membantai mereka. Apa yang harus mereka lakukan? Apakah dia tahu solusinya? Haruhiro hanya bisa menyerahkan semuanya pada Lala & Nono.

Mereka berdua sudah pergi.

Beberapa saat yang lalu mereka masih di sini. Tidak. Mereka telah benar-benar lenyap. Mereka pergi entah kemana. Haruhiro kehilangan dua orang itu, saat sosok bayangan besar menghalangi pandangannya. Ternyata, mereka berdua sudah lari duluan sejauh 50 meter di depan.

“K-kejar mereka! Ikuti mereka berdua! Cepat!”

"Sial! Pelakor itu!” teriak Ranta.

“Shihoru, larilah duluan!” jerit Yume. “Yume akan selalu berada di belakangmu!”

“Y-Ya! Mengerti!"

“Mary-san, kau juga duluan!”

"Baik! Haru, kau bisa lari?!”

“B-b-bisa! Sekarang cepatlah! Kuzaku, kau juga!”

“'Kay!”

Guncangan semakin besar dan ganas. Haruhiro berusaha keras mengejar Kuzaku dari belakang. Ketika tumit kanannya menghentak tanah, rasa sakit menyengat sampai ubun-ubun kepalanya. Yang bisa dia lakukan dalam keadaan terluka seperti ini hanyalah, berusaha tidak menghentakkan tumit kanannya pada tanah. Itu sungguh tidak mudah, karena dia harus berlari secepat mungkin.

Kalau barang bawaan mereka diperhitungkan (seperti senjata dan armor), maka Haruhiro adalah pelari tercepat di Party ini, atau mungkin tercepat kedua, sedangkan Kuzaku adalah yang terlambat karena barang bawaannya begitu berat, termasuk armor dan perisai. Namun, lain lagi ceritanya kalau dia sedang terluka seperti saat ini. Gerakan Haruhiro sungguh lambat, bahkan dia tidak bisa mengejar Kuzaku, dan tetap tertinggal di posisi paling buncit.

Kuzaku sesekali melihat ke belakang, dia memperlambat gerakannya, dan menunggu Haruhiro. Dia begitu senang bisa menangis, karena itu sedikit mengurangi rasa sakitnya, namun bukan itu solusinya. Ketika jarak di antara mereka semakin mendekat, secepat itu pula jaraknya kembali menjauh, dan bahkan semakin jauh.

Akhirnya, dia tidak lagi melihat sosok Kuzaku di depannya, karena dia sudah tertinggal begitu jauh. Apakah dia sudah menyerah? Tidak… tidak boleh begitu. Dia melewati celah sempit di antara dua batu, kemudian keluar ke tempat yang lebih terbuka.

Bukan hanya Kuzaku. Semuanya sudah ada di sana. Bahkan Lala dan Nono berada di sana, namun mereka berdua terpisah cukup jauh dari Party Haruhiro.

Kuzaku berbalik, melihat Haruhiro… dan sesuatu yang lebih jauh di atasnya.

“...!” Kuzaku menjerit tanpa suara, dan ekspresi wajahnya terlihat begitu suram.

Mungkin ini sedikit berlebihan, tapi seakan-akan Kuzaku memberitahu pada Haruhiro bahwa kiamat akan datang.

Haruhiro tidak tahu harus berbuat apa. Apakah dia harus melihat apa yang Kuzaku lihat dengan kedua matanya sendiri, ataukah lebih baik tidak melihat? Sebelum dia bisa memutuskannya, tanpa sengaja matanya mengarah pada sosok itu. Dia tidak berharap bisa melihatnya, dan dia menyesal telah melihatnya. Dia hanya bisa tercengang.

Dia pikir, dia telah melihat seluruh bagian dari makhluk itu. Seperti dewa raksasa di Dusk Realm. Yahh, mungkin kau boleh berdebat apakah ada makhluk seperti itu, namun yang jelas, ukurannya luar biasa besar.

Tidak lebih besar dari dewa raksasa putih sih, tapi ada sesuatu pada mata makhluk itu yang membuat Haruhiro merasakan suatu emosi yang tidak biasa. Matanya tidaklah cantik atau indah. Kalau boleh dideskripsikan dalam satu kata…. Dia akan mengatakan…

Mengerikan.

Mungkin itu adalah kata tunggal yang cocok untuk menggambarkan mata makhluk itu, namun kata itu tidak menjelaskan semuanya.

Seluruh tubuhnya ditutupi oleh sisik kemerahan, atau lebih tepatnya… sisik hitam dengan kilau kemerahan. Dengan begitu, dia lebih mirip seperti repstil. Bahkan, mungkin cukup adil untuk menyebutnya kadal raksasa, tapi itu benar-benar berbeda. Dia berjalan dengan empat kaki, tapi dua kaki depannya tampaknya bisa mencengkram sesuatu. Daripada “kaki depan”, mungkin kau lebih pantas menyebutnya “tangan”, dan kedua tangan itu tampak begitu tangkas. Lehernya cukup panjang, dan kepalanya agak kecil. Meskipun kecil, sepertinya mulut itu bisa melahap satu manusia dewasa utuh. Itu hanyalah perbandingan ukuran yang relatif.

Dia tidak gemuk. Dia tidak terlihat lamban, dan tampaknya bisa bergerak cepat dengan tubuhnya sebesar itu. Kedua kaki belakangnya tampak cukup kekar, sehingga dia pasti bisa berlari begitu cepat dengan memanfaatkan otot-ototnya. Dia mengangkat ekor panjangnya, dan merentangkannya.

Itulah sang naga api.

Kemungkinan besar begitu, meskipun mereka tidak tahu apakah naga benar-benar ada, namun ketika pertama kali melihat, siapapun pasti akan setuju bahwa kadal ini bukanlah makhluk biasa. Kalau seseorang diberitahu bahwa makhluk ini adalah naga, mungkin dia akan segera menyetujuinya. Meskipun mereka tidak tahu seperti apakah wujud naga yang sesungguhnya, mereka tidak akan ragu berpikir: “Oh, sekarang aku paham… jadi itu ya yang namanya naga.” Semua orang pasti akan mengira bahwa makhluk ini adalah naga.

Grimgar V7 011.png

Akhirnya Haruhiro sedikit memahami mengapa Orc dari Waluandin menyembah makhluk ini. Dia juga segera paham mengapa mereka memberikan tumbal pada makhluk ini.

Tentu saja, Haruhiro gemetaran. Ketakutan ini bukanlah ketakutan biasa. Namun, hanya itulah yang bisa dia rasakan.

Naga ini sungguh mengagumkan.

Jujur saja, makhluk itu keren. Makhluk seperti ini benar-benar ada. Dia sungguh sempurna. Mungkin masihlah belum jelas makhluk macam apa ini, namun dia benar-benar keren.

Naga.

Naga api itu membuka rahangnya, memutar leher, dan menarik napas. Apakah dia sedang mengambil napas dalam-dalam? Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi Haruhiro mengamatinya dengan begitu seksama. Atau lebih tepatnya, dia terpesona pada kegagahan makhluk itu. Ada juga cahaya kecil yang berkedip-kedip di belakang tenggorokan naga api.

Apa itu? dia bertanya-tanya. Hanya itu yang bisa dia pikirkan.

“Uwahhhhhhhhhhhhhhh!” Ketika ia mendengar jeritan Ranta, ia mulai sadar bahwa dia sedang berada di tengah-tengah situasi yang gawat darurat. Dari kejauhan, dia bisa melihat teman-temannya lari tunggang langgang. Mereka seperti hewan herbivora yang melarikan diri untuk menjauh dari sang serigala. Tentu saja, Ranta dan yang lainnya bukanlah hewan herbivora, dan tidak ada serigala di gunung ini. Yang ada hanyalah salamander dan naga api. Sepertinya Ranta dan yang lainnya mencoba menjauh dari naga api.

Yahh, tentu saja mereka lari ketakutan.

Mengapa Haruhiro hanya berdiri di sana? Itu sungguh aneh.

Naga api itu menghirup, dan menghirup, dan menghirup…. akhirnya mengembuskan napas. Tidak, yang keluar bukan hanya napas. Atau… apakah memang seperti itu napas seekor naga api?

Haruhiro segera berguling ke belakang. Massa panas yang menyerangnya membuat Haruhiro tidak mampu berdiri.

Api. Naga api telah memuntahkan api. Dia pikir, dia sudah terbakar hangus, namun nampaknya dia masih beruntung. Api yang dihembuskannya cukup panas, jangan heran kalau api itu bisa melelehkan tubuhnya. Itulah yang dia rasakan.

Berapa banyak waktu telah berlalu? Berapa detik? Berapa menit? Lebih dari itu? Dia tidak tahu.

Haruhiro berbaring ke samping seperti ulat yang mengering. Dia benar-benar mengering. Uap putih mengepul dari seluruh tubuhnya. Dia sudah garing dan renyah. Matanya, hidungnya, dan mulutnya… semua kering. Kulitnya seakan-akan bisa pecah kapanpun. Bahkan dia takut mengedipkan matanya. Tapi kalau dia tidak berkedip dan membasahi bola matanya dengan air mata, sesuatu yang mengerikan akan terjadi pada matanya. Hal yang sama terjadi pada hidung, mulut, dan tenggorokannya. Tubuhnya membutuhkan semua air yang tersisa untuk menjaga kelembapan, kalau tidak… dia akan mendapati masalah serius.

Tampaknya, dia tidak terbakar. Napas api itu belum membakarnya. Yahh, mungkin itu karena dia tidak terkena semburan secara langsung. Haruhiro hanya terserempet oleh semburan itu. Tapi itu sudah cukup untuk mengeringkan dia sampai garing. Kalau dia menerima semburan itu secara langsung, dia pasti sudah berubah jadi abu.

Itu berarti, naga api tidak membidik Haruhiro dengan semburannya. Kalau begitu, kemanakah semburannya diarahkan? Siapa targetnya?

Dia bisa mendengar getaran bumi saat naga api itu melangkah. Dia bisa merasakannya. Naga api itu pun mulai bergerak ke suatu arah.

“Ranta dan ... yang lainnya ... Mary ... Yume ... Shihoru ... Kuzaku ...” ia tahu siapakah target makhluk itu.

Rekan-rekannya mencoba untuk melarikan diri. Mungkinkah naga api itu mengarahkan semburannya pada mereka? Bukan pada Haruhiro, tapi pada rekan-rekannya? Itulah sebabnya Haruhiro berhasil terhindar dari kematian? Karena kawan-kawannya? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

“Aku harus ... mencari mereka ...”

Itu benar. Tidak penting apa yang telah terjadi padanya. Pertama-tama, dia harus menemukan rekan-rekannya.

Haruhiro menggunakan tonjolan batu pada sisi tebing untuk membantunya berdiri. Lutut kanannya terluka begitu parah, rasanya seperti remuk. Namun, rasa sakit itulah yang justru menyelamatkannya. Dia bersyukur karena itu. Dia berharap rasa sakit itu bisa membuatnya pingsan. Mungkin tidak terlalu buruk kalau dia mati nantinya dalam keadaan pingsan. Ah, lupakan pikiran konyol semacam itu!! Dia harus mencari teman-temannya.

Ketika ia bergerak menuju rekan-rekannya yang telah melarikan diri, ia melihat ke belakang. Semburan sang naga api mendarat di tanah, mengakibatkan bebatuan di sana mencair, dan terbentuk semacam kawah di sana. Itu segera membuat Haruhiro memahami betapa hebat semburan sang naga. Kalau dia terkena semburan itu, mungkin jasadnya akan lebih buruk daripada abu. Bahkan, mungkin tidak ada secuil pun jasad yang tertinggal.

Hal yang sama akan terjadi pada rekan-rekannya. Sehingga, dia bahkan tidak akan menemukan jasad teman-temannya.

Jangan berpikir seperti itu, katanya pada diri sendiri. Jangan memikirkan hal-hal yang bodoh. Bergeraklah. Berusahalah untuk bergerak. Gerakkan tubuhmu. Semuanya dimulai dengan itu.

Dia ingin mengikuti sang naga tepat di belakangnya, namun dia tidak yakin akan melakukan itu. Terlalu berbahaya. Haruhiro memutuskan untuk mengambil jalan memutar. Naga api sepertinya mencari sesuatu. Mungkin rekan-rekannya sudah pergi, sehingga naga api mengejar ke manapun mereka pergi. Jika dia bergerak bersamaan sang naga, mungkin dia akan bertemu dengan rekan-rekannya nanti.

Benar juga. Masih ada harapan, walaupun sangat kecil.

Sembari mengawasi sang naga, dan menjaga jarak agar tidak terlalu dekat atau terlalu jauh darinya, Haruhiro terus mencari teman-temannya. Kali ini, hambatannya adalah medan pegunungan. Medannya terlalu kasar, dan terlalu bergelombang. Lava merembes keluar dari tempat-tempat yang cekung, seakan-akan mencari jalur untuk dialiri. Di dalam lava itu, selalu ada salamander yang berendam.

Ketika ia kehilangan sang naga api, tiba-tiba dia mulai panik. Dia pun bergerak dengan tergesa-gesa, sehingga dia terkena cipratan lava di sana-sini.

Rasanya ingin melompat ke dalam lahar dan mengakhiri semua ini. Tanpa disadari, dia sering berpikir ingin bunuh diri untuk mengakhiri semua ini lebih cepat. Tapi dia tidak bisa melakukannya.

Ketika ia melihat sekilas naga api di kejauhan, keberanian muncul di dadanya. Sang naga api ada di sana. Lega rasanya, dan dia hanya bisa tertawa.

“... Mereka masih hidup, kan? Mereka semua masih….” gumamnya pada diri sendiri.

Jangan ragu. Jika kau ragu, kau telah kalah. Kalah? Kalah pada siapa?

Mungkin… kalah pada diriku sendiri.

Kalah pada kelemahan di dalam hatiku.

Dia tidak pernah menganggap dirinya kuat, tapi apakah selama ini dia selemah ini? Dia tidak tahu seberapa jauh dia telah berkembang, tapi mengapa dia begitu menyedihkan? Itu sungguh mengerikan.

Apakah aku menganggap diriku sudah berkembang? Apakah aku menganggap diriku bisa melakukannya? Apakah aku benar-benar sudah berkembang? Apakah aku mengharapkan sesuatu dari diriku sendiri? Betapa bodohnya. Padahal, aku hanyalah seekor lalat kecil. Aku tidak memiliki apapun. Maksudku, aku tidak memiliki bakat apapun. Aku bekerja keras karena tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain berusaha. Kurasa, aku telah melakukan apapun yang kubisa. Apakah itu tidak cukup? Mungkin ini bukan perkara cukup atau tidak cukup. Karena aku tidak pernah punya harapan. Tidak peduli seberapa keras aku mencoba dan memberikan yang terbaik, tidak peduli apapun yang kulakukan, selalu saja ada batas yang menghentikanku.

Apa…. Apakah aku pernah berpikir bahwa aku bisa melakukan sesuatu? Mungkinkah begitu? Lucu sekali. Lihatlah kenyataannya. Aku sudah tahu sejak awal. Aku tidak pernah bisa menjadi seperti orang lain. Aku tidak pernah bisa melebihi kemampuanku sendiri. Aku… ya aku…bukanlah orang lain. Aku hanya orang lemah, rapuh, dan aku tidak akan pernah berubah menjadi siapapun yang lebih baik dariku. Pada akhirnya, semua itu tidak dapat dirubah. Aku tidak mungkin berubah.

Aku hanya seorang pria kecil yang menyedihkan, dan selalu bergantung pada orang lain. Meskipun aku masih hidup sampai saat ini, aku yakin umurku tidak akan bertahan lama.

Seperti itulah aku.

Aku sudah muak, saatnya menghentikan semua ini.

Lihatlah, naga api itu masihlah begitu jauh. Mau mendahuluinya? Mana bisa. Sakit sekali. Bukan hanya tumit kananku yang sakit. Seluruh tubuhku sakit. Aku tidak ingin berjalan. Aku tidak bisa bergerak.

Aku akan berhenti di sini.

Duduk, dan terdiam di sini.

Dia pun berhenti berlari, duduk, dan merangkul kakinya untuk beberapa saat.

“Ohh, aku hanyalah manusia biasa ...” gumamnya.

Betapa menggelikan. Ampun deh, kalau aku menyerah di sini, mengapa tidak sekalian menyerah selamanya? Aku tidak boleh melakukan itu? Kenapa tidak boleh? Aku tidaklah sehebat mereka. Hanya inilah yang bisa kulakukan. Aku hanyalah orang yang biasa-biasa saja, dan itulah yang membuatku benci pada diri sendiri.

Aku ingin menjadi seseorang yang istimewa. Beneran, lho? Aku berharap aku bisa melakukannya. Menjadi orang yang jenius, aku sungguh mengagumi orang-orang jenius seperti mereka. Misalnya, Soma dan Kemuri, atau Akira-san dan Miho, atau bahkan Tokimune dan timnya, ada juga Renji. Mereka sungguh luar biasa. Itu membuatku berpikir, “Kalau saja aku bisa seperti mereka.” Aku hanya bisa membayangkannya. Karena itu tidak mungkin terjadi. Bukankah perbedaan kami terlalu besar? Tak ada yang bisa kulakukan. Aku sudah tahu semuanya, namun aku hanya akan mati sebagai orang normal. Memangnya kenapa kalau hidupku seperti itu? Yaahh…. Gak papa sih…. Tapi, rasanya sungguh sepi dan menyedihkan. Tapi, aku sih gak masalah dengan itu.

Tak peduli hidup macam apa yang kau jalani…. Itu adalah hidupmu sendiri … dan pasti berbeda dengan kehidupan orang lain… itulah kenapa kehidupan setiap insan selalu spesial dan tidak tergantikan, bukankah begitu?

Tidak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain. Jika kau membanding-bandingkannya, tentu saja orang lain selalu lebih baik. Karena kita cenderung suka mencari kelemahan diri sendiri.

Sepertinya, aku sudah tahu bagaimana akhir hidupku nantinya, meskipun aku bukanlah peramal. Nampaknya, semuanya akan tamat… sehingga…. setidaknya, aku harus memanfaatkan hidupku yang tidak berarti ini.

“... Mana bisa kau melakukannya, dasar bego,” gumamnya pada diri sendiri.

Aku ingin menjalani hidup yang bisa kubanggakan pada orang lain. Aku ingin menjadi seseorang yang membanggakan. Aku tumbuh menjadi orang yang pemalu karena aku selalu berpikir bahwa aku tidak bisa melakukan apapun, dan itulah yang menyebabkan aku berakhir menjadi orang seperti ini. Tapi, aku gunakan itu sebagai alasan, dan mengaku seolah-olah aku telah melakukan yang terbaik. Aku pun mencoba untuk puas atas segala sesuatu yang kumiliki, tapi pada akhirnya, semuanya hanya berakhir dengan menyedihkan. Sebenarnya, aku belum pernah berusaha semaksimal mungkin, aku hanya melakukannya setengah-setengah, dan hasilnya pun sangat menyesakkan. Aku tidak pernah merasa puas atas segala jeri payahku, bahkan sampai aku mendekati ajal.

“Aku akan berusaha semaksimal mungkin”… tidak… dia tidak pernah berusaha semaksimal mungkin. Dia selalu menjadi dirinya sendiri, namun itu sangat menyakitkan. Selama ini, dia berusaha bukan karena tekad, melainkan karena dia tidak punya pilihan lain. Itulah kenyataannya.



Indra Haruhiro tidaklah begitu peka, namun dia bisa merasakan sesuatu yang datang padanya. Tanpa menoleh, ia berguling ke depan. Sesuatu jatuh tepat di belakangnya.

Karena tumit kanannya masih terluka parah, maka dia menggunakan kaki kiri sebagai poros untuk memutar tubuhnya, dia pun menarik Stiletto ketika melakukan itu. Musuhnya memiliki senjata seperti golok panjang, yang dia ayunkan pada Haruhiro.

Meskipun Haruhiro tidak menghindar, sepertinya serangan itu tidak akan mengenainya. Namun, tubuhnya bereaksi dengan sendirinya. Haruhiro membalas serangan tersebut dengan tikaman ke bagian bawah tubuh lawan.

Ketika ia mencoba untuk menusuk musuh dengan Stiletto-nya, musuhnya melompat ke belakang, dan menghindar. Haruhiro terus menekan, namun kepalanya memikirkan banyak pertanyaan, seperti : siapakah si musuh, dan mengapa ini bisa terjadi. Tanpa dia sadari, ternyata ia sudah memegang bukan hanya Stiletto, tapi juga pisau dengan penjaga gagang yang berada di tangan kirinya.

Tumit kanannya masih terluka. Tentu saja dia merasakan sakit yang intens, tapi dia tidak membiarkan rasa sakit itu mengganggunya. Ia menyerang.

Menyerang.

Dia menyerang.

Golok musuh berukuran sekitar 1,2 meter, artinya senjata itu memiliki jangkauan yang lebih jauh daripada senjata milik Haruhiro, badan musuhnya juga jauh lebih besar daripada posturnya, jadi dia tidak bisa hanya mengandalkan Swat untuk menangkis serangan lawannya. Haruhiro tidak menganalisis situasi ini, dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan; namun dia bergerak secara naluriah. Dia harus lebih mendekat pada musuh, sehingga musuh kesulitan menggunakan senjatanya yang panjang.

Satu-satunya yang musuh lakukan hanyalah mengitarinya. Dia memang memiliki senjata, tapi ia setengah telanjang. Dari penampilannya, sepertinya dia adalah Orc. Namun, dia lebih ramping jika dibandingkan dengan Orc Waluandin pada umumnya. Mungkin dia tidak hanya ramping. Tubuhnya bagaikan tali busur yang ditarik sampai batasnya. Kulitnya tidak begitu berwarna hijau dan tidak pula mulus. Beberapa bagian tubuhnya tampak besar, dan sangat aneh.

Kulitnya yang tampak aneh itu mungkin adalah bekas luka bakar. Tidak hanya sebagian, namun seluruh tubuhnya berwarna aneh. Matanya pun tampak tidak normal. Kedua bola matanya tampak buram dan putih.

Apakah dia bisa melihat ataukah tidak, bahkan ketika ia mundur, ia tidak pernah mendekati lava. Gerakannya cukup elegan. Dia bagaikan ahli silat. Haruhiro terus menekannya dengan serangan-serangan lainnya, dan Orc itu terpaksa bertahan. Namun, bukan berarti Haruhiro berhasil memojokkannya. Begitu banyak celah yang terbuka pada pertahanan si Orc, namun Haruhiro masih belum bisa menumbangkan musuhnya.

Mungkin, Haruhiro sengaja dipaksa untuk menyerang. Jika dia tidak menyerang, musuh lah yang akan menyerangnya. Kalau Haruhiro mendapatkan serangan, hampir tidak mungkin dia bisa bertahan. Andaikan tumit kanannya tidak terluka, mungkin dia masih berani mengambil resiko dengan melarikan diri, tapi rencana itu tidak akan berjalan baik dengan kondisi fisik seperti itu. Dia berharap bisa mengajak kompromi lawannya, namun itu terlalu mustahil. Meskipun dia merasa bahwa peluang menangnya tipis, dia tetap harus melawannya.

Pada akhirnya, hanya ada satu kemungkinan, yaitu dibunuh atau membunuh.

Ini bukan waktunya untuk menghitung peluang menang, namun kepalanya dipenuhi oleh berbagai macam pikiran yang berputar-putar dengan begitu cepat.

Cara berdiri musuhnya sangatlah unik. Dia berdiri dengan berjinjit. Bahkan kakinya nampak seperti tenggelam ke dalam tanah.

Tubuhnya sangat fleksibel. Dia memainkan golok hanya dengan menggunakan tangan kanannya. Tangan kirinya bahkan tidak menyentuh golok itu.

Sedangkan golok Orc itu, sepertinya tidak terbuat dari logam. Apakah itu dari batu? Tampaknya seperti batu yang telah diukir dan dibentuk menjadi sebilah golok. Golok panjang dari batu itu mungkin adalah buatan tangan.

Apakah dia tinggal di sini? Bagaimana dia makan dan minum? Apakah ini lingkungan yang layak huni? Dia akan segera menyerang.

Dia datang….

Orc itu memutar tubuhnya dan melakukan tebasan secara diagonal. Kemudian dia menusukkan golok batu miliknya.

Haruhiro tidak mundur. Dia tidak bisa menghindarinya. Dia memusatkan semua kekuatannya untuk melakukan Swat dengan pisau di tangan kirinya. Kalau musuhnya melancarkan serangan beruntun, maka habislah dia, tapi kalau cuma satu serangan……….....

Berat sekali.

Kekuatan Orc itu sungguh besar…. Namun Haruhiro berhasil menangkisnya. Setelah itu, dia segera melancarkan serangan balik, tapi si Orc berhasil mengelak dengan bergerak ke belakang, sembari mengerutkan wajahnya.

Apakah dia tersenyum? Baiklah. Senyumlah. Haruhiro tidak akan tersenyum. Dia akan menyerang.

Haruhiro mendekat, dan menikam dengan Stiletto-nya. Dia selalu membidik dengan pisaunya. Dia tahu…. Dia tahu bahwa dia tidak perlu memikirkannya. Si Orc menikmati pertarungan ini. Mungkin, Orc itu melihat Haruhiro sebagai orang gila. Ia menikmati pertarungan ini, dan mencoba untuk bermain-main dengannya.

Orc itu mungkin bermaksud memaksa Haruhiro untuk mengeluarkan segala kemampuannya, setelah dia puas melihat semua itu, maka dia akan segera membunuhnya. Itulah yang terjadi, dan peluang menang Haruhiro sangatlah tipis.

Lagipula, Haruhiro memang sudah mengeluarkan segala kemampuannya. Dia tidak bisa bergerak lebih cepat lagi, atau mengayunkan Stiletto-nya lebih keras lagi. Sampai sinilah batasnya, kalau dia terus memaksakan diri, dia hanya akan semakin kelelahan, dan staminanya terus menurun. Dia tidak bisa habis-habisan dalam pertarungan ini. Semakin lama pertarungan ini berlangsung, maka semakin sedikit peluangnya melancarkan serangan. Orc mungkin juga tahu akan hal itu. Kalau mereka bertarung, dan bertarung, dan bertarung, dan bertarung, dan terus bertarung, maka kemampuan si lemah akan terus menurun, dan akhirnya yang terkuatlah keluar sebagai pemenang.

Tentu saja, dalam pertarungan ini, yang terkuat bukanlah Haruhiro, melainkan si Orc.

Itulah sebabnya, sebelum sampai ke ronde terakhir, Haruhiro harus mempertaruhkan semua kemampuannya untuk menjadi suatu serangan pamungkas. Tentu saja, Orc sudah mengetahui hal itu. Ia berusaha untuk terus menghasut Haruhiro.

Majulah, berikan semua yang kau punya padaku… seolah-olah itulah yang hendak dikatakan si Orc.

Ayolah, tidak perlu sungkan-sungkan, seolah-olah itulah yang hendak dikatakan si Orc.

Garis itu tak kunjung terlihat. Kemudian, Haruhiro melihat jembatan sempit dan samar yang membentang di hadapannya, lawannya langsung menyeberangi jembatan itu dan menunggunya di ujung, ia pun tidak punya pilihan selain menyeberangi jembatan tersebut. Dia tahu Haruhiro datang, dan Orc itu dengan sabar menunggu kesempatan untuk mencelakai Haruhiro. Dia bisa saja memutuskan tali jembatan itu ketika Haruhiro menyeberang. Meski begitu, Haruhiro tetap akan menyeberangi jembatan tersebut.

Karena dia tidak punya pilihan? Karena ia harus melakukannya?

Tidak.

Bukan itu.

Itu karena…aku ingin hidup. Aku tidak ingin mati. Aku tidak bisa membiarkan diriku mati. Aku akan membunuhnya, dan tetap hidup. Hidup. Hidup. Hiduplah yang layak. Aku akan mengalahkan dia. Aku akan memenangkan pertarungan ini. Sekarang, aku harus menyeberangi jembatan itu.

Serang.

Dia pikir, dia sudah mengerahkan semua kemampuannya sebelumnya… dia pikir, dia sudah kehabisan stamina dan tenaga… namun, sepertinya dia salah. Haruhiro pun terkejut. Dia tidak percaya tubuhnya bisa bergerak secepat ini.

Berkat itu, pada kesempatan yang langka ini, tampaknya dia bisa melampaui prediksi lawannya. Haruhiro dengan mudah mendekati lawannya. Kemudian, yang perlu dia lakukan selanjutnya hanyalah menusukkan Stiletto-nya seperti orang gila, dan menebaskan pisau di tangan kirinya sebanyak mungkin.

Orc dengan cepat menutup lututnya dalam pose bertahan. Haruhiro menikamkan senjatanya sekeras mungkin, kemudian menebasnya, dan mendorongnya.

Orc mengulurkan tangan kirinya. Dia mencoba memeluk Haruhiro dan menghentikan serangannya.

Itu tidak membuatnya khawatir, dia melanjutkan serangan dengan menusukkan Stiletto-nya sampai menembus perut Orc, kemudian mencongkelnya. Sedangkan pisau di tangan kirinya ditebaskan pada ketiak kanan Orc. Dia berada di posisi yang tepat untuk merobohkan Orc.

Orc melingkarkan kedua kakinya pada tubuh Haruhiro kemudian memerasnya, lalu dia juga menjambak rambut Haruhiro dengan tangan kiri. Tidak hanya itu, Orc juga membantingkan gagang golok batu pada kepala Haruhiro.

Meski begitu, Haruhiro terus memutar Stiletto-nya agar masuk lebih dalam ke perut Orc. Dia pun menebaskan pisaunya berkali-kali pada bahu Orc, untuk memutuskan tangannya. Bahkan, Haruhiro memberikan serangan ekstra dengan menggigit leher Orc. Dia merobek kulit, daging, dan pembuluh darahnya. Darah Orc pun muncrat. Anehnya, darah itu tidak terasa hangat, melainkan sangat panas.

Haruhiro menggigit luka yang sudah terbuka pada tubuh Orc, kemudian merobeknya lebih lebar. Orc itu menjerit. Haruhiro mendengus, kemudian dia melanjutkan serangan brutalnya.

Hancurkan, hancurkan, aku akan menghancurkanmu, menghancurkanmu, menghancurkanmu, sampai kau tidak bisa bergerak. Hidup, hidup, aku akan hidup, aku akan terus hidup. Menang, menang, aku akan menang dan tetap hidup, aku akan bertahan. Dibunuh atau membunuh, hidup atau mati… bukan aku yang akan mati…. tapi kau lah yang akan mati.

Oh, tunggu dulu, mungkin aku bisa berhenti sekarang ...?

Tidak, belum. Dia harus terus melakukannya. Haruhiro tidak akan berhenti sampai menguras semua darah Orc, dan tubuhnya mengaku. Ketika dia sudah benar-benar yakin lawannya mati, semua tenaganya pun telah habis terkuras, lantas ia menangis. Dia menangis tersedu-sedu.

Dia menang. Haruhiro telah menang.

Lawannya memang kuat. Dalam hal kekuatan fisik, mungkin dia lebih kuat daripada Haruhiro. Bahkan jauh lebih kuat.

Mengapa Haruhiro bisa menang?

Lawannya tidaklah sesumbar. Orc itu tidak pernah lengah. Namun, satu-satunya kesalahan si Orc adalah… dia meremehkan Haruhiro. Misalkan kekuatan si Orc adalah 10, dia menganggap kekuatan Haruhiro adalah 5, atau bahkan 4. Jujur saja, Haruhiro juga merasakan hal yang sama. Tapi pada saat terakhir, dia bisa sedikit meningkatkan kekuatannya yang hanya bernilai 5 itu. Perbedaan kecil itulah yang bisa mengubah jalannya pertarungan. Memang, Haruhiro benar-benar berjudi dalam pertarungan ini. Namun dia sudah merencanakannya. Oleh karena itu, kemenangan ini adalah kemenangan yang sempurna. Si lemah sanggup mengalahkan yang kuar. Dia mengalahkan Orc itu sendirian, dengan kekuatannya sendiri, dengan kemampuannya sendiri, dan akhirnya dia berhak memperoleh kemenangan ini.

Haruhiro menatap jasad Orc yang telah dikalahkannya. Dia ingin mempelajari sesuatu dari musuhnya itu.

Mungkin tinggi Orc itu sekitar 2,2 meter. Haruhiro tak tahu berapa bobot badannya, tapi pastilah lebih dari seratus kilogram. Atau bahkan 200 – 300 Kg. Dia sungguh besar. Meskipun tubuhnya ramping, dia masih tampak besar bagi Haruhiro. Ada bekas-bekas luka bakar yang menutupi sekujur tubuhnya. Bahkan bekas luka tersebut menjalar sampai ujung jari-jari kakinya. Pasti luka-luka tersebut bukanlah luka yang tak disengaja. Dia pasti membakar dirinya sendiri. Bentuk taringnya cukup unik, dan berbeda dengan Orc pada umumnya. Bahkan ada semacam ukiran naga pada taringnya.

Haruhiro menjarah semua barang bawaan Orc tersebut. Dia mendapatkan sabuk, kantong berisi benda-benda, dan juga sarung pedang. Dia juga mendapatkan sesuatu yang tampak seperti cincin emas, empat benda seperti sisik kehitaman, dan pisau kecil. Haruhiro pun mengambil semuanya.

Mata Orc itu masih terbuka, maka Haruhiro menutupnya untuk memberikan penghormatan terakhir, kemudian dia juga membenarkan posisi tangan jasad itu agar posenya tidak terlihat aneh. Haruhiro sendiri menyadari bahwa penghormatan semacam itu tidak umum diberikan pada lawan yang baru saja dia bunuh, tapi anehnya… Haruhiro merasa berhutang budi pada Orc ini. Andaikan Orc ini tidak bertarung dengannya, mungkin Haruhiro sudah kehilangan semangat untuk tetap hidup. Ya… seperti itulah yang dia pikirkan.

Sekujur tubuh Haruhiro babak belur, dan dia berada pada kondisi yang begitu buruk. Hampir seluruh bagian tubuhnya terasa nyeri. Sepertinya, semangatnya untuk hidup kembali luntur. Meski begitu, dia masih hidup. Karena ia masih hidup, ada hal yang perlu dia lakukan, atau lebih tepatnya…. ada hal yang benar-benar ingin dia lakukan. Dia pun tidak punya pilihan selain melakukannya.

Dia ingin melihat rekan-rekannya.

Dia tidak ingin berpikir: ”Aku yakin mereka semua baik-baik saja,” atau, ”Aku yakin kita semua akan bertemu lagi,” dia sama sekali tidak mengharapkan keajaiban seperti itu terjadi. Jadi, dia memutuskan untuk terus mencari, dan melihat dengan mata-kepalanya sendiri apakah mereka masih hidup. Selama dia masih bernafas, dia akan terus mencari.

Setelah berpisah dengan jasad Orc itu, Haruhiro pun pergi. Setelah beberapa langkah, lalu dia menoleh untuk melihat Orc itu yang terakhir kalinya, dan mayatnya sudah dikerumuni oleh banyak salamander. Tanpa sedikit pun niatan mengejek, Haruhiro pikir itu adalah akhir yang pantas bagi Orc tersebut. Sedangkan untuk Haruhiro sendiri, mungkin akhir yang pantas baginya adalah bertarung melawan naga api, kemudian mati terbakar oleh semburannya, atau mati dilahap oleh taring-taring naga itu. Tapi dia tidak setuju.

Kali ini, Haruhiro sendirian. Tak ada seorang pun yang bisa memandunya. Dan dia tidak tahu harus pergi ke mana.

Setelah berlari beberapa saat, akhirnya dia bisa melihat naga itu dari kejauhan. Keberanian mulai muncul di dadanya, dan dia pun tersenyum hampa.

Ketika rasa sakit dan kelelahan memaksanya untuk berhenti, ia pun menerimanya dengan duduk dan beristirahat. Terkadang-kadang, dia juga berbaring. Kalau misalnya dia tak sanggup bangkit kembali, maka dia hanya akan menerimanya… ”Ya sudahlah…”, itulah yang dia pikirkan. Namun, itu tidak boleh terjadi. Jika ia kehilangan kesadaran, maka semuanya akan berakhir. Selama ajal belum menjemputnya, keinginannya tidak akan memudar.

Aku ingin melihat teman-temanku.

Aku telah melalui banyak hal, dan itu bukanlah hal yang menyedihkan.

Sungguh, aku tidak ingin ditinggal sendirian. Aku tidak ingin kesepian.

Beberapa kali dia hampir pingsan. Namun, ketika dia kembali terjaga, dia sungguh bersyukur.

Ia masih hidup. Dia masih sanggup meneruskan pencarian ini.

Kau tahu…. Rasanya seperti, aku telah pergi kemana-mana. Kapan ya terakhir kali aku merasa begitu?

Aku sedang naik sepeda……. Sepeda ...?

Apa itu sepeda? Aku tidak tahu, tapi kenapa aku memikirkannya? Sepertinya, aku bisa pergi kemanapun dengan benda itu.

Aku merasa seperti, aku bisa kemana-mana. Lalu, apa yang kutemui di luar sana? Oh, benar. Ada sesuatu yang selalu ingin kulihat setiap kali aku keluar rumah. Pelangi. Setelah hujan reda, aku ingin melihat pelangi. Dari mana pelangi itu berasal, dan ke mana pelangi itu berakhir? Kurasa, aku ingin mencarinya. Aku bersumpah, aku akan menemukannya suatu hari nanti.

Aku pernah menyerah di tengah jalan. Tapi sekarang, aku tidak akan menyerah. Akan kulakukan apapun yang kubisa, dan meskipun pelangi itu menghilang, aku hanya perlu menunggunya sampai muncul kembali.

Ketika aku menutup mataku , ah ... aku bisa melihatnya dengan jelas.

Pelangi.

Lengkungan tujuh warna di angkasa.

Aku akan menuju ke arah pelangi itu berada. Aku akan menuju pelangi, dan tidak pernah berhenti mencarinya.

Dia merasakan getaran, dan ketika dia membuka matanya, naga api itu sudah berada cukup dekat. Naga itu cukup dekat, sampai-sampai dia bisa melihatnya dengan jelas. Dia ingin menjulurkan tangannya untuk menyentuh naga itu, namun dia langsung berhenti.

Dia memutuskan untuk berdiam diri. Kalau dia menyentuhnya, mungkin dia akan diinjak. Dan kalau itu terjadi…. Maka semuanya akan berakhir.

Dia memejamkan mata, dan melihat pelangi.

Setelah beberapa saat, naga itu pun pergi.

Dia masih hidup. Masih hidup. Tapi tubuhnya benar-benar terasa berat. Berat, atau lebih tepatnya lamban.

Sepertinya… aku bisa beristirahat sekarang. Ya. Aku akan beristirahat.

Dia menemukan tempat yang nyaman. Sungguh menyesakkan. Entah kenapa, rasanya sedikit dingin. Sedikit? Tidak, ini benar-benar dingin. Aneh sekali… kenapa tanah terasa dingin di pegunungan berapi seperti ini. Harusnya semua area di sini terasa panas.

Haruhiro perlahan-lahan menyadari bahwa dia sedang merangkak. Dia benar-benar kesulitan berjalan. Merangkak bukanlah perkara mudah, namun dalam kondisi terluka, itu lebih baik daripada berjalan.

Sudah berapa lama dia mengalami depresi seperti ini? Tampaknya sudah cukup lama. Tapi, mungkin di sinilah tempat paling nyaman. Ya… nyaman sekali di sini.

Tiba-tiba, ia ditelan oleh kegelapan total.

Dengan samar-samar, dia bepikir, “Mungkin, inilah akhirnya.” Namun… matanya kembali terbuka sekali lagi.

Sepertinya dia masih hidup… Sungguh keras kepala, ya.

Hidup untuk menolak kematian.

Dia hanya bisa menggerakkan jari-jarinya. Bahkan bernapas pun sulit. Cukup lama dia menghabiskan waktu dalam kondisi seperti itu, dan sepertinya tidak ada harapan untuk pulih, tapi tiba-tiba, dia merasa sanggup bangun, kau tidak akan tahu sampai kau mencobanya, jadi dia pun berusaha bangun, dan dia bisa melakukannya.

Mungkin, akhir hayatnya bukanlah sekarang. Apakah dia harus terus hidup sampai ajalnya tiba? Yahh, kalau begitu, hiduplah selagi kau bisa.

Namun, ketika ia duduk dengan punggung menempel pada batu, semua otot dalam tubuhnya serasa meregang, dan seakan-akan seluruh ketegangan lenyap dari dirinya.

Aku tidak bisa melihat pelangi.

Pasti karena kegelapan ini. Ya, tempat ini begitu gelap.

Tunggu, di manakah aku berada sekarang ...?

Depresi.

Depresi yang terasa dingin?

Dia berbalik untuk melihatnya.

Itu….adalah….lubang, kan?

“... beneran nih?” Bisiknya.

Lubang itu gelap dan pandangannya mulai kabur, jadi dia tidak bisa melihat dengan baik, tapi dia tahu bahwa dia sedang menghadapi suatu lubang. Masih dalam keadaan depresi, dia melihat lubang yang lebarnya sekitar 2 meter. Lubangnya tidak vertikal; melainkan miring secara diagonal. Dia pikir, itu hanyalah suatu gua tua. Namun terasa cukup sejuk di sana.

Itu tidak masuk akal. Bagaimanapun juga, dia sedang berada di puncak gunung berapi. Tapi Haruhiro berada tepat di depan lubang tersebut.

Itu pastilah suatu terowongan.

Lubang yang mengarah menuju Grimgar.

“Gak mungkin lah ...” bisiknya.

Dia bisa kembali……..

………ke Grimgar.

“Ini adalah ... pelangi itu ...”

Sebuah erangan lepas dari tenggorokannya.

…Apakah…….

……Apakah ini awal pelangi? Ataukah akhir pelangi? Tidak ada pelangi di dunia ini. Tidak pernah ada. Ini hanyalah ilusi.

Itu adalah hal yang mustahil. Maksudku, bahkan saat ini pun, aku tidak bisa bergerak lagi. Lagipula, apa gunanya kembali ke Grimgar sendirian? Itu tidak baik. Aku butuh teman-temanku.

Meskipun aku sampai pada tempat yang selama ini kami cari, tapi kalau sendirian, apa gunanya?

Apakah ini takdir yang telah menungguku?

Seperti inikah akhirnya?

Sungguh percuma.

Tapi, andaikan saja semua tenagaku kembali, dan aku bisa berjalan lagi, maka aku tetap akan mencari teman-temanku terlebih dahulu. Aku tak ingin mati seorang diri. Meskipun itu sia-sia, menyakitkan, dan menyesakkan, aku akan terus hidup sampai ajalku menjemput. Aku akan terus hidup.

Aku masih tidak tahu apakah aku sanggup bangkit lagi ataukah tidak. Aku tidak berharap bisa bangkit lagi, namun jika aku benar-benar bisa bangkit, aku akan melanjutkan perjuanganku.

Untuk saat ini, lebih baik aku tidur saja.

Aku berharap, ada seseorang yang menyanyikan lagu pengantar tidur padaku.

Aku tidak suka sendirian.

Aku ingin seseorang bersamaku.

Seseorang.

…Kumohon.

Aku hanya menginginkanmu ada di sisiku.


◆◆◆


◆◆◆


"Awaken."


◆◆◆


◆◆◆


Mimpi. Itu pasti mimpi.

Suara itu. Ia pernah mendengar itu sebelumnya.

Itu adalah suara seorang pria. Siapakah dia? Tapi, bukan kali ini saja dia mendengarnya. Itulah sebabnya, dia pasti sedang bermimpi.

Matanya tertutup rapat oleh lendir mata atau semacamnya. Dia berusaha keras untuk membuka kelopak matanya. Apakah dia sedang berpikir: ”Jadi, aku masih hidup?” Tidak mengherankan kalau dia berpikiran seperti itu. Tapi… apakah dia benar-benar masih hidup? Dia tidak sedang berada pada alam kematian, kan? Dia cukup ragu.

Dia mendengar sesuatu. Kalau telinganya tidak salah dengar, itu adalah suara derap langkah kaki. Bagaimanapun juga, dia masihlah seorang Thief, meskipun bukan Thief yang hebat sih, jadi dia sudah terbiasa mendengar derap langkah kaki seperti itu.

Langkah itu semakin mendekat. Ada beberapa orang. Mungkin lima orang.

"Ah…"

Dia mendengar suara. Yang bisa dia lakukan hanyalah memaksa mengangkat kepalanya, dan menoleh pada arah suara itu berasal.

Aku hidup.

“Haru ...!” Mary datang dengan berlari. Dia memeluk Haruhiro, dan menyentuh seluruh wajahnya.

Mary. Dia sungguh cantik, ya. Entah berapa kali aku menyadarinya. Ya. Sudah tak terhitung lagi. Apa yang bisa kukatakan? Aku tak tahu harus berkata apa.

Haruhiro mencoba tersenyum. Dia tidak yakin apakah dia berhasil mengangkat sudut-sudut mulutnya. Dia tidak percaya diri.

“Haru-kun, Haru-kun!” Teriak Yume.

“Haruhiro-kun ...!” Itu Shihoru.

“Haruhiro!” Teriak Mary.

“Tidak mungkin…… sialan! Ini benar-benar kau… dasar brengsek ...”

Grimgar V7 012.png

Jangan panggil aku begitu, kampret, pikir Haruhiro. Ah, terserah lah, aku tak keberatan.

Ah tidak… sebenarnya aku keberatan…

Ah, tidak juga.

“Aku akan menyembuhkanmu sekarang juga! Haru! Bisakah kamu mendengarku?! Tetaplah bertahan! Semuanya akan baik-baik saja! Semuanya ada di sini!”

Haruhiro mengangguk, lalu menutup matanya.

Dia bisa melihat pelangi sekarang.

Kata Penutup[edit]

Aku tidak pandai memainkan game action. Alasannya adalah, aku tidak sanggup melakukan hal yang sama berulang-ulang.

Sembari aku bermain, aku mulai menyadari: Oh, inilah yang harus aku lakukan di sini., kalau cuma sekali-dua kali sih gak masalah, tapi kalau berulang-ulang, lama-lama akan menjadi masalah. Aku mulai merasa bosan, dan ingin melakukan sesuatu yang berbeda.

Tidak, kau mungkin akan berpikir: itu karena kau kurang latihan, dan aku bisa melakukannya dengan benar jika aku terus bermain lagi dan lagi. Yahh, mungkin itu benar, tetapi kenyataannya adalah, aku bahkan tidak pandai melipat baju cucianku, dan entah kenapa, aku tidak pernah bisa melipat bajuku dengan cara yang sama. Kecuali aku benar-benar fokus untuk melipat semuanya dengan seragam, dan memusatkan kosentrasiku padanya.... Hah, itu aneh, aku punya 10 kaos yang sama, namun setelah kulipat, semuanya tampak berbeda, Itulah yang terjadi.

Karena semua kaos itu tampak berbeda setelah kulipat, maka aku kesulitan ketika memasukkannya ke dalam lemari. Hal yang sama terjadi pada kaos kaki dan pakaian dalamku. Hasilnya, isi lemariku selalu berantakan.

Sekarang, aku pikir ini adalah masalah kepribadian, atau cara otakku bekerja. Entah kenapa, seperti itulah cara kerja otakku. Aku suka game RPG action, tapi aku sangat payah ketika memainkannya. Sungguh menyedihkan.

Ketika aku menulis Kata Penutup ini, masih ada sedikit waktu antara 24 November dan tanggal penayangan anime Hai to Gensou no Grimgar, tapi jeda waktunya tidaklah begitu lama. Suatu hari, aku bisa duduk pada sesi dubbing [13]. Ini akan menjadi anime yang menakjubkan, dan aku tidak sabar menantikannya. Aku pun akan mendapatkan pengalaman yang berharga.

Versi manga dari Hai to Gensou no Grimgar yang telah diserialisasikan oleh Mutsumi Okubashi-san melalui Gangan Joker juga mengikuti alur yang sama dengan novel, namun rincian dan rasanya sedikit berbeda, namun itu semakin memberikan stimulus bagiku

Aku harus bekerja lebih keras sebagai novelis. Bagaimanapun juga, Grimgar baru saja dimulai.

Haruhiro dan yang lainnya tidak pernah maju lebih jauh daripada selangkah demi selangkah. Kalau begitu caranya, aku pun tidak yakin mereka akan sanggup terus melangkah maju. Namun, dimanapun mereka berada, asalkan mereka tidak berhenti melangkah, maka pasti ada jalan.

Sepertinya aku punya ide di kepalaku, kemanakah jalan cerita selanjutnya akan berakhir. Sekarang, semuanya terserah pada mereka, mungkin mereka akan tiba di suatu tempat yang benar-benar berbeda, tapi jika itu terjadi, maka terjadilah. Bagi mereka yang belum punya kesempatan untuk menunjukkan dirinya, aku berencana memberikan mereka peran sedikit demi sedikit, jadi nantikan saja kisah selanjutnya

Aku sudah kehabisan halaman.

Untuk editorku, K, untuk Eiri Shirai-san, untuk disainer KOMEWORKS semuanya, untuk siapapun yang terlibat dalam produksi dan penjualan buku ini, dan akhirnya… untuk semua orang yang sedang memegang buku ini, aku persembahkan apresiasiku sepenuh hati, dan juga seluruh kasih sayangku. Sekarang, saatnya meletakkan penaku untuk hari ini.

Aku harap kita akan bertemu lagi.

Ao Jyumonji.
  1. Peta mental adalah peta yang digambar berdasarkan persepsi semata. Peta mental biasanya digunakan untuk mendeskripsikan tempat yang sudah pernah seseorang singgahi, namun dia tidak tahu detail lokasi tersebut. Peta ini penuh dengan asumsi-asumsi pribadi yang belum tentu kebenarannya
  2. Ini namanya ‘tounge twist’, yaitu kalimat yang sengaja dibuat untuk membelit lidah kalian, tapi bukannya tanpa makna
  3. Inu adalah bahasa Jepang yang berarti anjing, sedangkan Saru berarti kera. Jadi Inuzaru = Anjing-kera.
  4. ”Bocah itu” adalah panggilan yang biasa diberikan pada seseorang yang sudah cukup akrab denganmu. Seperti halnya, ketika seseorang bertanya padamu tentang si A, kemudian kau bilang, “Ah, anak itu sih malesan…”. Jawaban tersebut mengindikasikan bahwa kau sudah cukup dekat, atau setidaknya mengenal si A tersebut.
  5. Diartikan Armor/zirah kematian
  6. Ini adalah percakapan dari jilid 1, bab pertama.
  7. Ini adalah percakapan dari jilid 1, bab pertama.
  8. Yang dimaksud dengan mezzanine adalah suatu tempat atau ruang tambahan yang letaknya berada di antara lantai dan plafon atau lantai satu dengan lantai dua jika bangunan tersebut bertingkat. Kata mezzanine sendiri berasal dari bahasa Italia yaitu mezzo yang punya arti bagian tengah atau ditengah. Dikutip dari : http://imagebali.net/detail-artikel/332-pengertian-mezzanine-dan-teknik-membuatnya.php
  9. Dalam bahasa Jepang, Tatsukete berarti “Tolong aku!”, sedangkan Gomi berarti “Sampah!”.
  10. ”Wan” adalah bahasa Jepang dari “Guk”, yang tidak lain adalah gonggongan anjing.
  11. Stiletto adalah semacam belati yang memiliki bentuk tipis dan runcing. Bentuknya hampir menyerupai salib.
  12. Menurut informasi yang Ciu dapat, pengarang Light Novel hadir ketika anime diproduksi, terutama saat pengisian suara. Kalau tidak salah, nama sesi itu adalah After Record. Aku pernah membacanya pada salah satu LN yang kuterjemahkan, yaitu ”judulnya terlalu panjang”.