Difference between revisions of "Hai to Gensou no Grimgar (Indonesia): Jilid 14 Bab 18"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
(Created page with "==Bab 18 : Terkadang Kau Harus Kejam [the_cruel].== Pertanyaannya adalah bagaimana mendekati sang raja. Bukan hanya mereka tidak tahu seberapa kuat sang raja, namun juga sih...")
 
m
 
Line 363: Line 363:
 
Ya… Enba masih berdiri tegak di lift mirip <i>roller coaster</i>.
 
Ya… Enba masih berdiri tegak di lift mirip <i>roller coaster</i>.
   
“E-Enba! A-apa yang terjadi denganmu? Ayo, cepat ke sini ... ” dengan panik Setora segera memerintahnya. Dari caranya bicara, sepertinya Setora sudah memberikan perintah sebelumnya, tapi kenapa dia tidak merespon.
+
“E-Enba! A-apa yang terjadi denganmu? Ayo, cepat ke sini ... ” dengan panik Setora segera memerintahnya. Dari caranya bicara, sepertinya Setora sudah memberikan perintah sebelumnya, tapi kenapa dia tidak merespon.
   
 
Akhirnya, dia bergerak perlahan-lahan. Jika dilihat dari caranya berjalan, jelas ada yang salah padanya.
 
Akhirnya, dia bergerak perlahan-lahan. Jika dilihat dari caranya berjalan, jelas ada yang salah padanya.

Latest revision as of 13:24, 14 July 2019

Bab 18 : Terkadang Kau Harus Kejam [the_cruel].[edit]

Pertanyaannya adalah bagaimana mendekati sang raja.

Bukan hanya mereka tidak tahu seberapa kuat sang raja, namun juga sihir yang dia gunakan masih menjadi misteri.

Apakah sihirnya Narci, Doppel, atau Philia? Tampaknya tidak mungkin raja memiliki sihir Resonance seperti Haruhiro, pokoknya tipenya belum diketahui.

Untuk saat ini, yang mereka ketahui hanyalah, raja bisa melumatkan siapapun yang dia kehendaki sampai menjadi bayangan. Menurut Io, kawannya, yaitu seorang Warrior bernama Katazu, telah dibuatnya menjadi bayangan sejak pertama kali bertemu.

Katazu adalah pria yang bahkan lebih tinggi daripada Kuzaku, dan tubuhnya pun lebih kekar. Tapi raja melumatkannya semudah menginjak serangga. Jika itu benar, maka seharusnya raja adalah raksasa berukuran lebih dari 4 meter, atau setidaknya dua kali lebih besar daripada Katazu.

Alice dan Ahiru mengatakan bahwa raja memang besar, tapi tidak sebesar itu. Namun, saat raja sedang melumatkan korbannya, tingginya tidak hanya menjadi 4 meter, melainkan mencapai 10 meter. Pasti itu karena efek sihirnya.

Selain bisa melumatkan manusia, raja juga bisa membantai monster mimpi tak peduli berapapun banyaknya. Saat membunuh monster-monster mimpi itu, dia meninjunya, menendangnya, memelintirnya, menariknya dan merobeknya. Maka jelaslah, kekuatan fisik raja begitu dahsyat.

Apakah itu berarti raja menggunakan sihir yang sama seperti Kuzaku atau Gomi dari Party Io-sama? Mereka berdua menggunakan sihir Narci yang bisa memperkuat dirinya sendiri. Ah tidak juga, sihir Narci tidak bisa merubah manusia jadi bayangan.

Alice dan Ahiru juga tidak pernah melihat benda yang selalu disimpan sang raja. Tidakkah itu berarti sihirnya bukan Philia? Maka, artinya sihirnya adalah Doppel?

Haruhiro dan yang lainnya kembali ke Menara Besi Langit, lalu berjalan terus menuju Hutan Merah.

Biasanya, bayangan-bayangan itu berpatroli ke luar istana untuk mencari musuh-musuh raja, tapi sepertinya mereka tidak bisa melewati Menara Besi Langit. Ahiru dan Party Io juga telah menyingkirkan bayangan yang mengikutinya. Jadi, mereka tidak perlu khawatir diikuti bayangan, setidaknya sampai kembali ke istana. Mereka pun berjalan bersama-sama. Jika ada banyak pengguna sihir kuat yang berkumpul bersama-sama, monster mimpi juga tidak berani mendekat.

Haruhiro berpikir. "Kalau kita bicara tentang sihir Doppel, maka para penggunanya adalah Suzuki-san, dan…"

"Aku." Mary mengangkat kepala tongkatnya untuk menarik perhatian mereka.

"Aku hampir tidak pernah melihatmu menggunakan sihir untuk mengalahkan monster mimpi," Setora menanggapinya.

Dengan dingin, Setora mengatakan itu pada Mary, dia sedang menunggangi Kiichi bersama Enba. Kedua gadis itu memang tidak pernah akur, namun tampaknya mereka terus bersama semenjak berpisah dengan Party-nya di Parano. Apakah itu membuat mereka sedikit lebih akrab, atau malah semakin bermusuhan?

Sesekali Mary tersenyum pada Setora, namun senyum itu begitu tipis.

"Yahh…. aku tidak perlu sering-sering menggunakan sihirku karena kau, Enba dan Kiichi selalu melindungiku.” katanya sambil tersenyum.

"Kau tidak boleh mengandalkan Enba lagi," kata Setora.

"Tidak masalah. Kita semua sudah berkumpul sekarang.” tiba-tiba Mary menoleh pada Haruhiro sembari mengatakan, “Benar, kan?” dan masih tersenyum.

"Uh ... Yahh, uhhh ... kurasa begitu….” Haruhiro jadi bingung.

Melihat itu, Kuzaku hanya nyengir di sampingnya. Haruhiro ingin meninju pundaknya, tapi dia urung melakukannya.

Tapi….. Mary benar-benar telah berubah, kan?

Terkadang dia menyendiri, namun terkadang begitu ramah. Pasti ada yang tidak beres dengannya.

“Oh iya, Bossari….” Io bersama Tonbe dan Gomi berada agak jauh dari mereka. Dia mulai berbicara pada Kuzaku sembari menarik rambutnya di belakang telinga.

Rupanya, Kuzaku dia panggil dengan nama Bossari. Sebelum menjadi se-macho itu, tampaknya penampilan Kuzaku begitu berantakan. Tapi…. agaknya Bossari itu…

"Kenapa kau tidak mendekat ke sisi tuanmu ini? Kau malah bersama usura-boke [1] yang terlihat mengantuk itu?” desak Io.

"... Tunggu dulu…. bisakah kau tidak menyebut ketua Party kami dungu?" kata Kuzaku.

“Bagiku, dia terlihat seperti urusa-boke. Jadi, aku akan memanggilnya urusa-boke. Tidak masalah, kan!?"

“Tidak masalah katamu? Maksudmu, ‘jangan pernah mempermasalahkan itu’, kan? Kau ini tanya apa memerintah? Ampun deh cewek ini.”

“Heyyyyy, Bossari! Kau memprotes Io-sama! Itu tindakan tak termaafkan! Tak termaafkan!” bentak Tonbe.

"Dia benar! Kau sudah bosan hidup, Bossari?!” jerit Gomi.

Tonbe dan Gomi tidak hanya berteriak, sepertinya mereka siap menyerang Kuzaku kapanpun mereka mau. Sungguh merepotkan.

"Tidak bisakah kalian tenang?" tanya Haruhiro dengan letih. “Lihatlah…. ada masalah lebih besar yang harus kita selesaikan."

"Diam!" Tonbe berteriak. "Aku tidak peduli kau Harumaki, Halo Miki, atau apalah itu…. yang jelas kami siap menghajarmu bersama Bossari! Paham!?”

"Jangan main-main dengan Pasukan Io-sama!" Gomi menambahkan.

"Baiklah, baiklah, kau boleh memanggilku Harumaki, Halo Miki, terserah…. tapi….”

"Jangan biarkan mereka mengejekmu, Haruhiro! Mereka harus memanggil namamu dengan benar, oke!?”

"... Kuzaku, kau tidak perlu emosi," Haruhiro menghela nafas. "Itu hanya akan membuat masalah ini semakin rumit."

"Ah, maafkan aku! Aku tidak bermaksud menyulitkanmu, Haruhiro!” Kuzaku tampak menyesal.

"Kalian bodoh sekali, tapi aku hampir saja ikutan menyiram minyak pada kobaran api.” kata Alice sembari terkekeh-kekeh.

Suasana sudah panas tanpa ditambahkan minyak, jadi Haruhiro berharap Alice tidak melakukan itu.

Haruhiro memandang Ahiru dan Setora, yang terus berjalan tanpa mengatakan apapun, seolah-olah mereka tidak mau sedikit pun terlibat dalam masalah ini. Sebenarnya itu pilihan bagus.

Ya, keduanya memang tidak pernah menghiraukan masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Lalu, bagaimana dengan Mary? Dia berjalan di samping Kiichi, yang membawa Setora dan Enba di punggungnya, tanpa sedikit pun melihat ke arah Haruhiro. Dia tampak begitu dingin.

Jelas, ada yang tidak beres dengan gadis itu. Tapi, Haruhiro tidak tahu apa itu.

Yahh, apapun itu…..

"... Oh iya," kata Haruhiro. “Io ... -san….. apa sihirmu?”

"Kau tidak tahu?"

"Tidak ... kurasa aku tidak pernah menanyakannya.... "

"Lihatlah betapa indahnya diriku," katanya. "Bukankah sudah jelas?"

"Ahh, maaf, aku sama sekali tidak mengerti ..."

"Matamu tidak hanya mengantuk, tapi juga busuk, ya?”

"Y…..yahh… setidaknya aku tahu kau gadis yang cantik, Io….san….”

"Salah. Aku bukanlah gadis cantik, tapi aku gadis tercantik sepanjang sejarah umat manusia. Jangan salah sebut!”

"O-ohhh, baiklah ..." tungkas Haruhiro dengan nada datar. "Apakah itu karena efek sihir?"

"Mungkin saja sihirnya Narci, karena jenis itu bisa merubah penampilan seseorang, iya kan?” tiba-tiba saja Alice menyela. Jarang sekali dia mau terlibat dalam pembicaraan orang lain. “Hal yang sama terjadi pada temanmu yang jangkung bernama Kuzaku…. atau Bossari? Bentuk fisiknya berubah karena sihir itu. Adapun, kemungkinan lainnya adalah Doppel. Tipe Doppel bisa menyalin wujud penggunanya.”

"Seperti Suzuki-san, kan?" tanya Haruhiro.

"Ya. Wujud Doppel-nya seperti burung parkit. Dia selalu takut berhadapan dengan orang lain, sehingga dia terus bersembunyi di suatu tempat, entah dimana.”

"Jadi ... tubuh asli Io……san….. berada di…….” Haruhiro mengatakan itu sembari menoleh ke kiri-kanan.

Mereka sedang berada di daerah mirip rawa dangkal yang banyak ditumbuhi jamur dan tanaman. Beberapa jamur bentuknya seperti sendok perak, yang mencuat dari air kotor berwarna ungu.

Di sekitarnya ada Ahiru, Setora, Enba, Kiichi, Mary, Io, Tonbe, Gomi, dia sendiri, Kuzaku, dan yang terakhir Alice. Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain.

"Di mana ya……"

"Aku ini tidak ada duanya, tau!” Io mendengus dengan jengkel, lalu memalingkan wajahnya.

Tonbe dan Gomi menyetujuinya dengan berlebihan.

"Sihir gadis itu….." kata Alice sembari menunjuk ke arah Io dengan sekopnya. “…… cukup menarik. Aku menduga, ada juga sihir Doppel yang tidak menyembunyikan tubuh aslinya di tempat yang jauh. Bisa saja, tubuh aslinya menjadi satu dengan salinannya. Jadi, dia seperti memakai kostum ganda.”

"T-tidak mungkin!" tiba-tiba Io mempercepat langkahnya.

Io terus berjalan melintasi air berwarna keunguan, kemudian Tonbe dan Gomi mengejarnya sambil merengek, “Io-sama! Io-sama!"

"Oh! Kalau dipikir-pikir — ” Kuzaku mulai berkata.

Kuzaku menjelaskan bahwa Tonbe pernah menceritakan dengan detail segala hal yang terjadi saat pertama kali bertemu Io. Tonbe bilang, Io itu mungil namun seindah dewi atau semacamnya.

“Menurutku, Io-san tidak begitu mungil. Aku cukup terkejut saat pertama kali melihatnya. Namun, Tonbe terus saja mengoceh, maka aku pun mengabaikannya.”

Haruhiro coba menyimpulkan. "Semisal sihir raja adalah Doppel, mungkin wujudnya yang asli berada dalam salinannya, seperti yang terjadi pada Io-san.”

"Mungkin saja," kata Alice, lalu dia mengungkap fakta lain tentang raja dengan nada kesal, “Asal tahu saja, si bajingan itu tampak seperti orang yang sudah tua, lho.”

"Ya," kata Kuzaku. "Aku hanya melihatnya sekali, tapi pakaiannya begitu mewah, dan auranya terasa negatif.”

"Dia mengklaim dirinya sebagai raja, dan bebas melakukan apapun," tambah Alice. "Jika kau menjadi orang yang berkuasa seperti dia, kau akan meminta satu atau dua orang harem, kan?"

"Ya," kata Kuzaku. "Aku juga menginginkannya…. Uhh, uhhmm…. Uhuk…. Uhuk… Yahh, muuuuuungkin saja… jika aku menjadi raja seperti dia, aku akan kehilangan kendali.”

"Kau memang jujur, Kuzaku ..."

"Apa gunanya berbohong, Haruhiro? Aku ingin berkata sejujur mungkin di depanmu, Haruhiro.”

"Tolong, jangan terlalu banyak memanggil namaku ..."

"Hah, kenapa, Haruhiro? Kau benar-benar Haruhiro, kan?”

"Itu agak memalukan ..."

"Kau cukup tenar, ya," Alice menggodanya. Tidak…. lebih tepatnya mengejeknya. “Tapi, sepertinya si raja bajingan itu tidak tertarik dengan wanita. Dia tidak pernah segan membunuh pria ataupun wanita, tapi aku tidak pernah tahu dia memperkosa wanita. Jika dia benar-benar pengguna sihir Doppel, mungkin wujud aslinya berkepribadian sebaliknya.”

Haruhiro mengangguk. "Berarti…. jika penampilan Doppel-nya mirip orang tua…. maka wujud sebenarnya adalah anak kecil?”

"Anak kecil, ya?" Alice berbisik, lalu terdiam. Mungkin dia berpikir, Bisa jadi dia benar.

Jika wujud asli raja benar-benar anak kecil yang berhasil selamat di Parano, maka ada beberapa hal yang aneh pada tingkahnya. Misalnya, pintu surga itu. Wajar saja bila orang tua menjaga harta berharganya dengan sabar. Namun, anak muda biasanya dipenuhi dengan rasa penasaran. Maka, harusnya dia mencoba membuka pintu itu, lalu bermain-main di tempat yang disebut surga itu selama beberapa saat.

Lalu, apakah itu berarti dia benar-benar orang tua? Haruhiro menduga, awalnya raja adalah pak tua yang tersesat di Parano, kemudian dia berhasil bertahan hidup, dan menjadi kuat dengan menguasai sihir Doppel, lalu dia pun menjadi raja. Setelah mencapai kedudukan itu, apakah dia masih berniat kembali ke dunia sebelumnya? Jika dia menetap di Parano, mungkin dia akan menjadi raja selamanya.

Grimgar punya aturan sendiri, dan Darunggar juga punya aturan sendiri. Tak terkecuali Parano.

Aturan di dunia ini adalah, semuanya bisa menggunakan sihir. Mungkin itu aneh bagi Haruhiro, yang berasal dari Grimgar.

Tapi bagaimana jika aturan Parano tidak berlaku di dunia lain? Jika surga yang berada di balik pintu itu adalah dunia lain yang membuat semua kaidah Parano tidak berlaku, maka raja akan kehilangan semua kekuasaannya.

Belum pasti apakah raja adalah anak kecil atau orang tua. Dia punya alasan untuk tetap tinggal di Parano, yaitu kekuasaan. Jika dia menetap di dunia ini, dia bisa berkuasa selama yang dia mau.

Perjalanan mereka semakin dekat dengan Reruntuhan No. 7.

Dari kejauhan, Haruhiro bisa melihat lubang-lubang mirip sarang lebah. Dia merasa risih saat melihat pemandangan itu.

Tikus Pelangi, dia lah yang telah menggali semua lubang ini di Reruntuhan No.7, lalu membuat sarang di tempat yang sama. Biasanya dia tidak menunjukkan diri di depan orang lain, namun tanpa diragukan lagi dia adalah salah satu pengikut raja yang setia. Melawannya tidaklah

"Setora ... bagaimana dengan Enba?" tanya Haruhiro.

"Sepertinya tidak ada masalah," Setora segera menjawab, sembari menekan telinganya ke dada Enba. Dia berdiam diri dalam posisi seperti itu selama beberapa saat.

"Aku merasa tidak nyaman dengan kesunyian ini."

Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Untuk mengalahkan raja, mereka perlu sedikit bersandiwara. Haruhiro hanya bisa berdoa agar tidak terjadi apapun.

Haruhiro, Kuzaku, Mary, Setora, Kiichi, dan Shihoru yang berada di dalam Enba akan berpura-pura menjadi pengikut baru yang telah Io kumpulkan dari berbagai tempat. Sebelumnya, Io telah menghadap raja untuk memperkenalkan Kuzaku, jadi sepertinya tidak masalah jika dia melakukannya lagi dengan membawa lebih banyak pengikut baru.

Kemudian Ahiru akan membawa Alice kepada raja — ya, tentu saja itu hanya sandiwara. Setidaknya itu lebih baik daripada menyeret Alice pada raja dalam keadaan babak belur. Bagaimanapun juga, Ahiru lah yang diperintahkan langsung oleh sang raja untuk membawa Alice padanya.

Haruhiro sempat sedikit berbincang dengan Io, dan dia mendapati fakta bahwa Io juga menemukan Kamp Leslie, kemudian tersesat di Parano setelah memasuki suatu pintu. Rekan-rekan lainnya juga mengikuti Io, seperti Tonbe, Gomi, Katazu, Tasukete, dan Jam.

Jam adalah seorang Mage, tapi dia sudah terseret oleh monster mimpi, kemudian berubah menjadi setengah monster mimpi seperti Kejiman. Io dan Party-nya tidak punya pilihan selain menghabisi Jam.

Katazu si Warrior telah dirubah menjadi bayangan oleh raja.

Tasukete si Thief telah ditangkap oleh raja dan dijebloskan ke penjara.

Mungkin sudah terlambat bagi mereka menyelamatkan Katazu yang berubah menjadi bayangan, tapi mereka masih ingin mengusahakannya. Io menamai pria itu Tasukete [2], mungkin karena dia selalu menjerit, “Tolong aku!”

Penjara berada di tingkat bawah Istana Gajah. Raja selalu memperlakukan Alice layaknya badut penghibur. Tapi Alice terlalu sering melawan kehendaknya, sehingga dia dijebloskan ke dalam penjara, sebelum hukuman mati dijatuhkan.

Lalu, bagaimana bisa dia kabur?

Yahh, salah satu alasannya adalah raja terlalu meremehkan kemampuan Alice. Selama ini Alice hanya dianggapnya putri yang tidak berdaya. Dia hanya sok kuat di depan raja. Oleh karena itulah, raja hanya menganggap Alice sebagai putri pemberani yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia pun mengurung Alice bersama sekopnya.

Alasan lainnya adalah, ternyata raja tidak bisa melihat ke ruang bawah tanah, yaitu tempat penjara berada. Seandainya raja melihatnya, Alice tidak mungkin bisa kabur, tak peduli selemah apapun penjagaan penjara bawah tanah.

Selain itu, dulu istana raja tidaklah begitu besar jika dibandingkan dengan yang sekarang. Bahkan, Hutan Merah pun tidak begitu besar. Itulah kenapa Alice bisa kabur sampai keluar dari Hutan Merah yang dipenuhi monster ganas.

Setelah insiden itu, penjara dipindahkan ke ruang singgahsana raja, agar dia bisa mengawasi para tahanan kapanpun. Istana juga berkembang menjadi begitu berbeda dengan apa yang pernah diingat Alice sebelumnya. Hutan Merah pun semakin meluas dengan monster yang bertambah banyak. Jika mereka tidak melewati Reruntuhan No.7 dan Sarang Tikus Pelangi, mustahil bagi mereka tiba di Istana Gajah.

Dengan dipimpin Io dan yang lainnya, mereka tiba di Sarang Tikus Pelangi.

Sarang itu berbentuk lubang dengan diameter sekitar 3 m. Di dalamnya penuh dengan tanjakan, turunan, dan kelokan. Tidak ada permukaan rata sedikit pun.

Menurut Io, lubang-lubang di dalam sarang itu tidak teratur. Hanya Tikus Pelangi yang tahu ke mana arah lubang-lubang itu tertuju. Jika kau tahu arahnya, maka kau bisa menuju langsung ke istana dengan melewati lubang-lubang itu, namun jika tidak, maka kau hanya akan berputar-putar di sana selamanya.

Tapi, mereka tidak perlu khawatir. Ada Ahiru dan Io yang tahu jalan yang benar menuju istana.

"Io ... -san, bagaimana bisa kau bertemu raja?" tanya Haruhiro.

"Bukannya pria bernama Ahiru itu yang membawaku ke raja, melainkan salah seorang pengikut lainnya. Katazu dan Tasukete tidak mau tunduk di hadapan raja, itulah sebabnya mereka dihukum. Si pengikut yang membawa mereka ke raja juga kena marah. Dia pun dilumatkannya sampai menjadi bayangan. Asal tahu saja ya…. cara bertahan hidup di dunia ini adalah membuat raja tertarik padamu. Hanya itu peluang kita, paham?”

Mereka tidak tahu apakah Tikus Pelangi sedang mengawasi mereka, jadi sebaiknya bersandiwara menjadi pengikut raja.

Tapi…. masalahnya adalah…..

Siapa yang bersandiwara di sini?

Apakah Io bersandiwara untuk menipu raja…. ataukah dia berpura-pura bersekutu dengan Haruhiro untuk membantu raja?

Apakah dia akan mengkhianati Haruhiro dan yang lainnya di detik-detik terakhir, kemudian menyerahkan semuanya pada raja?

Haruhiro baru saja bertemu Io, harusnya dia tidak boleh mempercayai gadis itu sepenuhnya.

Tapi…. apakah dia punya pilihan lain?

Selain Io, Ahiru juga mencurigakan. Jika dia mengungkap semua rencana ini pada raja, mungkin Yonaki Uguisu akan dibebaskan sebagai imbalan. Apakah Ahiru sedang berusaha menipu Haruhiro dan Alice untuk menyelamatkan wanita tercintanya itu?

Tidak akan ada habisnya jika dia terus mencurigai orang lain. Jadi, tak peduli apapun yang terjadi, hanya satu hal yang perlu Haruhiro lakukan.

Setelah keluar dari terowongan panjang, mereka sampai pada suatu aula yang langit-langitnya begitu tinggi di atas. Lantainya terbuat dari marmer atau semacamnya. Lantainya pun dipoles sampai bersinar, bahkan bayangan Haruhiro dan yang lainnya tercermin pada lantai tersebut. Beberapa bayangan mulai berkumpul mendekati mereka.

Apakah bayangan-bayangan itu hanya berkumpul, atau sedang mengarah ke suatu tempat? Tidak jelas. Namun, ada satu bayangan yang mengikuti Haruhiro dan yang lainnya.

Io menoleh pada bayangan itu sekali. Mungkin itu adalah mantan rekannya, Katazu.

Kami akan baik-baik saja, pikir Haruhiro saat melihat sorot mata Io. Haruhiro coba berpikir positif bahwa gadis itu tidak akan mengkhianati mereka. Karena, jika inilah satu-satunya kesempatan mengalahkan raja, maka Io tidak akan melewatkannya. Io pasti memendam dendam pada raja setelah apa yang dia lakukan pada rekan-rekannya.

Aula ini cukup besar sebagai ruang pertemuan, tapi tampaknya hanya koridor. Di depan sana ada panggung berbentuk bundar. Tapi, ada juga bangunan berbentuk pilar yang menjulang tinggi di sana. Tidak ada kursi-kursi penonton, jadi ini bukanlah gedung teater.

Pilar itu berdiri tepat di tengah-tengah panggung berbentuk bundar.

Di dalam pilar itu terdapat lift. Setelah memasuki lift itu, entah kenapa Haruhiro bisa melihat pemandangan lebih luas.

Lift itu cukup besar dan lapang. Semuanya muat di dalam lift, termasuk Enba (bersama Shihoru di dalamnya), Kiichi, Setora, Mary, Kuzaku, Io, Tonbe, Gomi, dan yang terakhir, Haruhiro. Meskipun semuanya sudah masuk, masih ada tempat yang tersisa di dalam lift tersebut.

Liftnya mulai bergerak, dan naik lurus ke atas dengan begitu cepat.

"Istana ini dipenuhi bayangan, ya ..." Haruhiro berkomentar.

"Sebagian besar dari mereka adalah pengikut raja." Io menjawab dengan tak acuh.

Raja pasti telah menguasai semua wilayah Parano. Setidaknya, tidak ada penguasa lain yang sebanding dengannya. Namun, sebenarnya apa yang diinginkan raja dengan menguasai Parano? Bukankah dunia ini hanya berisi monster mimpi dan bayangan-bayangan ciptaannya?

Setelah naik cukup tinggi, lift itu mulai berubah haluan. Mereka pun bergerak ke berbagai arah dengan belokan-belokan yang tajam. Itu sungguh mengejutkan, sampai-sampai Haruhiro hampir terjungkal, tapi Kuzaku menahannya.

"... Terima kasih," kata Haruhiro.

"Tidak masalah! Toh, aku sudah pernah menggunakan lift ini!”

"Kalau begitu, bilang dong ..."

“Yahh, ada beberapa hal yang lebih baik tidak dikatakan….”

"Apa maksudmu…?"

Haruhiro mencuri pandang pada Mary, Gadis itu hanya bersandar pada dinding lift yang transparan. Kali ini, dia tidak berekspresi sama sekali. Seolah-olah, dia mengenakan topeng yang begitu mirip dengan wajah aslinya.

Haruhiro mulai berpikir itu bukan Mary yang dia kenal.

Hal seperti itu mungkin saja terjadi, karena bagaimanapun juga, mereka sedang berada di Parano.

Bisakah dia menerima kenyataan bahwa Mary itu palsu?

Haruhiro tidak yakin… tapi, harus kemana lagi dia mencari Mary yang asli?

Haruhiro berpikir bahwa semuanya akan kembali normal begitu mereka keluar dari dunia aneh ini, dan kembali ke Grimgar. Party Haruhiro tiba di Parano melalui suatu pintu misterius di Kamp Leslie. Dengan logika yang sama, maka harusnya mereka bisa kembali ke Grimgar setelah melalui pintu juga, kan?

Berbeda dengan Alice, dia tiba di Parano setelah melalui kabut yang tebal di suatu gua. Tidak ada pintu. Jadi, harusnya pintu yang dilindungi raja itu hanya mengarah ke Grimgar.

Dia mengingat kembali kisah Urashima Taro yang diceritakan Alice kepadanya. Mungkin tidak ada gunanya mengkait-kaitkan kisah itu dengan petualangannya di Parano, tapi Haruhiro benar-benar merasa telah menghabiskan waktu yang begitu lama di dunia ini. Namun, dia juga tidak merasakan penuaan. Jadi, mana yang benar? Apakah mereka telah menghabiskan waktu yang begitu lama di Parano, atau justru sebaliknya? Tapi, mungkin itu hanya perasaannya saja.

Layaknya Urashima Taro, mungkin sebenarnya Haruhiro mengalami penuaan di dunia lain, tapi karena sihir, ilusi, atau apalah itu, dia tidak menyadari penuaan itu. Urashima Taro menua bukan karena membuka kotak itu, melainkan sihir yang membuatnya tidak menyadari penuaan telah lenyap.

Maka….. apakah sebaiknya mereka kembali ke Grimgar, meskipun sanggup melakukannya?

Lift mirip roller coaster ini akhirnya berhenti, dan pintunya pun segera terbuka.

Sebelum pertanyaan apakah harus pulang itu terjawab…. haruskah mereka melangkah keluar dari lift ini? Ataukah sebaiknya kembali saja?

Tiba-tiba Haruhiro merasa napasnya sesak. Ruangan macam apa ini? Nan jauh di sana ada tembok yang berwarna putih, namun yang lainnya hitam. Bukannya hitam pekat sih, sebuat saja kehitaman.

Di sekitar mereka ada tonjolan-tonjolan tajam yang mirip pedang, tombak, Katana, atau terserah apapun kau menyebutnya. Jika dia tertusuk satu saja, akan runyam urusannya. Meskipun sudah berjalan dengan hati-hati, siapapun pasti akan kesulitan mendekati singgahsana raja dengan adanya tonjolan-tonjolan tajam ini.

Singgahsana raja ada di depan dinding putih. Ada undak-undak yang membuat elevasinya lebih tinggi daripada yang lainnya.

Pintunya.

Ya…. ada benda berbentuk mirip pintu tersegel oleh lilitan rantai yang disandari oleh seorang pria sembari bersila.

Wajahnya berjenggot, dia mengenakan pakaian hitam ketat yang terbuat dari kulit, atau semacamnya. Seperti yang Kuzaku katakan, pria itu memancarkan aura negatif, layaknya orang jahat. Jika bukan karena mahkota di kepalanya, dia tidak akan terlihat begitu agung. Namun, sudah jelas bahwa pria itu yang paling berkuasa di sini.

Berapa meter jarak mereka menuju tempat duduk raja? Kurang-lebih 30-an meter, atau mungkin 50 meter, atau bahkan lebih.

Meskipun begitu, Haruhiro merasa sangat dekat dengannya, seolah-olah dia bisa menyentuh hidungnya. Apakah itu ilusi yang terjadi karena raja begitu agung, ataukah efek sihir?

Io, Tonbe, dan Gomi mendekati kursi raja, kemudian berlutut, lalu diikuti oleh Kuzaku. Bahkan Setora pun mengikutinya, bersama Kiichi yang menunduk seperti anjing di sebelahnya.

Yang masih belum keluar dari lift adalah Haruhiro, Mary, dan Enba.

"Hei, Io." sapa raja dengan suara bergema.

Suara yang luar biasa, pikir Haruhiro.

Baru kali ini dia mendengar suara seagung itu. Suaranya dalam, tapi lembut, dan membuat hati bergetar saat mendengarkannya. Haruhiro seakan terkuasai oleh suara itu. Seketika, dia keluar dari lift mirip roller coaster lalu berlutut. Tanpa sadar, dia juga menundukkan wajahnya. Bahkan, dia merasa tidak sanggup berlama-lama menundukkan wajah di depan pria itu.

Wajahnya tertunduk, namun entah kenapa dia bisa merasakan senyum yang mengerikan dari sang raja. Padahal, dia sama sekali tidak melihatnya.

Bagaimana dengan Mary? Dan Enba? Dia ingin melihat mereka, namun tidak bisa.

Apakah ini sihir? Ya… ini pasti efek sihir raja.

"... Ya, Yang Mulia," jawab Io dengan suara selemah dengungan nyamuk.

Io-sama yang cantik hanya bisa bertekuk lutut di hadapan raja. Yahh…. mau bagaimana lagi, dia kan raja.

Berkali-kali Alice menentang pria ini. Konyol sekali. Mana mungkin itu terjadi. Dia pasti berbohong, kan? Sekuat apa mental Alice jika dia benar-benar bisa melakukan itu? Atau, mungkin saja raja semakin kuat sejak saat itu.

"Io… lagi-lagi kau membawakan pengikut baru untukku." kata raja.

"... Ya, Yang Mulia ... tugas hamba adalah menambah jumlah pengikut Yang Mulia ... itulah sebabnya hamba membawakan mereka ke hadapan Yang Mulia ... "

“Seperti biasa, kau selalu membantuku, Io ... tapi……."

"A-a-ada apa Yang Mulia?"

“Salah satu dari mereka tidak membungkuk di hadapanku. Apa maksudnya ini?"

Haruhiro terkejut setengah mati saat mendengarkan itu, lalu dia segera melirik ke belakang.

Mary membungkuk.

Enba…..?

Ya… Enba masih berdiri tegak di lift mirip roller coaster.

“E-Enba! A-apa yang terjadi denganmu? Ayo, cepat ke sini ... ” dengan panik Setora segera memerintahnya. Dari caranya bicara, sepertinya Setora sudah memberikan perintah sebelumnya, tapi kenapa dia tidak merespon.

Akhirnya, dia bergerak perlahan-lahan. Jika dilihat dari caranya berjalan, jelas ada yang salah padanya.

Dia tidak mau berlutut, dan entah kenapa kedua tangannya gemetaran. Lalu, kenapa pula kepalanya mengangguk-angguk seperti itu? Sepertinya, dia bisa roboh kapanpun.

Saat Haruhiro masih kebingungan, Enba pun terjatuh ke lantai tepat di belakang Setora dan Kiichi.

Dia tertelungkup dengan posisi seperti orang bersujud. Tubuhnya kejang-kejang seperti robot yang konslet.

"Aneh sekali," kata raja sambil cekikikan. Dia tidak curiga. Bahkan, sepertinya tingkah Enba membuatnya terhibur. Haruhiro tidak menduga ini bakal terjadi, tapi untungnya dia masih bisa mengendalikan kepanikannya. Mungkin itu karena aura mengintimidasi dari sang raja sedikit berkurang. Kenapa bisa begitu? Apakah efek sihirnya melemah?

Sekarang….! pikir Haruhiro. Mungkin aku bisa menggunakan Stealth sekarang…. aku harus berkosentrasi penuh…. bayangkan aku tenggelam ke dasar lantai….

Ini dia….

Haruhiro belum bergerak dari tempatnya. Dia mencoba berkosentrasi untuk mengaktifkan skill Stealth. Posisinya belum berubah sedikit pun. Namun, dia merasa jauh lebih santai. Pikirannya semakin tenang.

Dia masih tidak tahu sihir macam apa yang digunakan raja, tapi sepertinya efeknya membuat orang lain merasa tertekan.

Skill Stealth Haruhiro membuat seseorang tidak bisa mendeteksi keberadaannya. Jadi, kekuatan raja tidak berefek padanya.

Setiap kali menggunakan Stealth, jiwanya menjadi tenang. Atau mungkin lebih tepatnya, saat Haruhiro bisa mengendalikan hatinya, dia bisa menggunakan skill itu.

Berkat skill Stealth, Haruhiro bisa berpikir dengan lebih jernih. Tanpa skill itu, mungkin dia akan membuat kesalahan karena panik.

Seketika….. ruangan ini berubah total.

Bagaikan fatamorgana yang tiba-tiba lenyap, ruangan ini menunjukkan tampilan yang sebenarnya.

Ada benda-benda menjijikkan tampak seperti organ binatang yang berceceran di lantai, dinding, dan langit-langit. Tidak hanya itu, ada juga akar-akar pohon tampak tua yang menjalar di seluruh ruangan.

Singgahsana raja berubah menjadi beberapa benda kotak yang ditumpuk bersamaan, dan pintu surga ditempatkan di belakangnya. Sedangkan di bawahnya ada pintu gerai dan beberapa undak-undak.

Dinding yang tadinya putih, berubah menjadi penuh noda.

Di langit-langit ada sangkar yang terdapat seorang wanita di dalamnya. Itu pasti Yonaki Uguisu.

Benda-benda tajam yang mencuat itu bukanlah pedang, tombak, ataupun Katana.

Namun…. yang paling menyita perhatian adalah, tiba-tiba Haruhiro mendapati bocah-bocah lelaki pucat tanpa busana, mungkin umurnya sekitar 10 tahunan.

Bocah-bocah itu sedang berdiri di berbagai tempat pada ruangan ini. Ada yang punggungnya bungkuk dengan tangan telentang, ada yang kakinya terbuka, ada yang badannya miring ke kanan, ada yang berjongkok, ada yang berlutut dengan satu kaki.

Semuanya memiliki wajah oval yang sempurna, matanya bening, dan mulutnya kecil. Semuanya terlihat begitu identik, tanpa sedikit pun perbedaan. Ukuran badannya pun seperti dicopy.

Ada apa dengan anak-anak ini?

Haruhiro memutuskan untuk menahan skill-nya, sampai dia memahami situasi ini.

Sebisa mungkin Haruhiro berusaha tidak menggerakkan kepalanya, dia hanya menggulirkan matanya ke kiri-kanan, untuk melirik ke setiap sudut ruangan ini. Dia belum mengaktifkan skill-nya, jadi jangkauan pandangan Haruhiro cukup terbatas.

Tampaknya raja belum menyadarinya. Raja tahu bahwa Haruhiro ada di hadapannya, tapi dia tidak bisa mendeteksi apa yang sedang Haruhiro lakukan.

Raja….? Ah, itu sang raja….

Raja terlihat seperti orang tua berjanggut, karena itulah penampilan yang dipilihnya. Tapi, yang Haruhiro lihat sekarang adalah anak kecil tanpa busana. Apa maksudnya ini? Jumlahnya tidak hanya satu, melainkan cukup banyak, dan semuanya identik tanpa perbedaan sedikit pun. Mungkin jumlah mereka ada puluhan….. ah tidak, mungkin ratusan.

Sepertinya, salah satu dari mereka adalah wujud asli sang raja.

Dengan kata lain, tak peduli seperti apapun bentuknya saat ini, sebenarnya raja berwujud anak kecil.

Tapi yang mana….?

Logikanya, anak yang duduk di kursi raja adalah yang asli, sedangkan yang lainnya adalah Doppel. Dengan begitu, maka Doppel raja ada banyak? Mungkinkah itu terjadi?

Pintu lift mirip roller coaster telah tertutup, kemudian liftnya kembali ke tempat awal. Tak lama lagi, Alice dan Ahiru juga akan datang.

"Memiliki terlalu banyak pengikut tidaklah baik.” raja mulai berbicara lagi.

Kali ini suaranya berbeda. Haruhiro yakin suara asli raja bernada cukup tinggi, tapi dia memaksanya terdengar rendah.

Dari mana asalnya suara itu? Sepertinya bukan dari bocah yang duduk di singgahsana raja.

Apakah bocah itu menggerakkan mulutnya? Dia tidak tahu. Masih banyak bocah yang memalingkan wajahnya dari Haruhiro, jadi dia belum bisa menyimpulkannya.

"Kalau mereka semua berguna…. bagus sekali," lanjut raja. "Jika mereka semua menarik…. itu lebih bagus lagi.”

"Hamba akan terus berusaha yang terbaik." Io menundukkan kepalanya lebih dalam.

Tonbe dan Gomi sampai menempelkan wajahnya ke lantai, dengan punggung gemetaran.

"Melayani Yang Mulia adalah ... satu-satunya kebanggaan hamba," kata Io. "Hamba akan terus mengumpulkan banyak pengikut untuk Yang Mulia….. jadi…..tolong kembalikan…..”

"Kau ingin temanmu kembali?"

"Tidak, um ... jika memungkinkan ... jika Yang Mulia mengijinkannya ... meskipun dia tidak beguna bagi Yang Mulia…..”

"Pria itu telah membuatku kesal, dan kau memintaku untuk melepaskannya?”

"T-Tidak, b-b-bukan begitu maksud hamba ... mohon maaf, h-h-hamba terlalu banyak menuntut ... t-t-tapi, jika hamba berhak diberi imbalan…. m-m-maka hanya satu keinginan hamba…..”

"Aku akan mempertimbangkannya."

“Te-Terima kasih! H-hamba akan berusaha sekuat tenaga untuk terus melayani Yang Mulia, j-j-jadi kumohon pada Yang Mulia…..”

"Kubilang, aku hanya mempertimbangkannya….” sang raja mempertegasnya.

"T-t-t-tentu saja hampa paham!! I-i-itu tidak masalah, asalkan Yang Mulia berkenan mempertimbangkannya…. i-i-i-itu sudah lebih dari cukup….”

Ketika Io berbicara dengan raja, Haruhiro yakin bahwa tidak ada bocah yang menggerakkan bibirnya. Setidaknya, semua bocah yang wajahnya kelihatan oleh Haruhiro hanya terdiam. Namun, masih ada ratusan bocah lainnya yang tidak menghadap ke arah Haruhiro.

Gawat nih, pikir Haruhiro. Jika dia tidak bisa menemukan wujud asli sang raja, maka percuma saja semua usahanya. Tapi, tentu saja dia tidak boleh berhenti sekarang.

"Mulai sekarang, kalian semua adalah pengikutku."

Dari mana asal suara ini?

“Bekerja keraslah kalian, dan buat aku senang. Jika kalian berhasil, aku akan memberikan imbalan. Berharaplah kalian menjadi pengikutku yang setia, seperti Io.”

Gawat….gawat…, pikir Haruhiro dengan panik. Dia masih juga belum menemukan bocah itu. Hampir mustahil menemukan satu sumber suara dari ratusan bocah bermuka identik.

Suara lift kembali terdengar. Apakah Alice dan Ahiru sudah tiba?

Kemudian, terjadi sesuatu…..

Nyaris saja……

Jika Haruhiro berhenti mencari, maka dia tidak akan pernah menemukannya.

Ada seorang bocah yang menengok ke arah lift mirip roller coaster. Dia berada di depan-kanan Haruhiro, atau sekitar 10 meter searah diagonal. Dia sedang duduk di lantai, sambil memeluk lututnya. Haruhiro tidak bisa melihat wajah bocah itu, setidaknya sampai dia menoleh pada lift.

Harusnya, dia lah wujud asli sang raja.

Grimgar Vol 14 (11).jpg

Pintu lift mulai terbuka.

Dengan tangan terikat di belakang, dan sabuk membelit leher, Alice dibawa oleh Ahiru. Sekilas mata itulah yang tampak, tapi wajah Alice terlihat begitu menantang, bahkan dia sama sekali tidak menyembunyikannya. Dia sama sekali tidak terlihat seperti buron yang barusan ditangkap. Itu hanyalah sandiwara.

Namun, Alice mulai meringis. Dia tampak meronta. Sihir raja mulai berdampak padanya, dan memaksanya tunduk.

"Ayo!" Ahiru mendorong Alice dari belakang.

Alice terhuyung ke depan, tetapi tidak berlutut bahkan setelah masuk ruangan ini.

"Hei! Berlutut lah, Putri!” bentak Ahiru, sambil menarik sabuknya. Alice akhirnya jatuh berlutut dengan satu kaki.

"Wah…wah…putriku akhirnya datang juga….”

Bocah yang sepertinya adalah wujud utama sang raja sedang menatap Alice. Mulutnya juga bergerak saat dia berbicara. Ya….. tidak salah lagi, itulah sang raja.

"Siapa yang kau sebut putri?" Alice meludah. "Aku bukan putrimu. Sudah berkali-kali aku mengatakannya. Rasanya ingin sekali kuludahi wajahmu itu.”

"Mana sekop kotormu itu?"

"Kotor kau bilang? Wajahmu jutaan kali lebih kotor daripada sekopku, tau? Kau membuatku muak.”

“Sudah lama aku tidak mendengar ocehanmu yang berani itu” kata raja. “Aku sudah mulai bosan dengan nyanyian Yonaki Uguisu. Mungkin lebih baik kulumatkan dia jadi bayangan, lalu kuganti dia denganmu.”

"P-Paduka! Tunggu dulu…. kumohon!” Ahiru segera merangkak dan berteriak padanya. Dia masih memegang ikat pinggang di tangan kanannya, sehingga leher Alice terjerat saat dia melakukan itu.

“Guh! Hei, Ahiru, kau ...!”

"…Maaf."

"Kenpa kau minta maaf ...?"

"Ah ..." Ahiru segera menutup mulutnya dengan tangan kiri.

Saat itulah tubuh utama raja berdiri. "Kalian berdua ... merencanakan sesuatu, ya?”

"Tidak! Tidak! P-Paduka, itu tidak benar!” seru Ahiru.

"Itu tidak benar?"

Di depan Ahiru, yang menggelengkan kepalanya dengan panik, Alice membuka pengekang di kedua tangannya, dan juga sabuk yang melilit lehernya. Mereka sudah mengaturnya agar mudah dilepas.

"A-aku diancam oleh Tuan Putri."

"Aku memang menyuruhnya membawaku ke sini," kata Alice dengan dingin. "Kau tahu alasannya, kan?"

"Kau ingin bertemu rajamu lagi? Akhirnya kau sadar betapa nyamannya menjadi hewan peliharaanku, Alice.”

“Jangan konyol. Aku ke sini untuk mencincangmu sampai jadi potongan-potongan kecil.”

"Tanpa sekop kotor yang kau banggakan itu?"

"Sebenarnya…. aku masih membawanya."

Alice tiba-tiba membungkuk, lalu merogohkan tangan ke dalam mulutnya. Io dan yang lainnya terbelalak saat melihat itu. Mereka tahu ini hanyalah sandiwara, namun tetap saja mengejutkan. Memang mengerikan ketika Alice menarik keluar sekop mirip daging itu dari dalam rongga mulutnya.

"Urgh ... blech ... uhhh ... blech ..."

Itu tampak sangat menyakitkan. Pasti sulit mengeluarkannya, tapi…. bagaimana bisa dia memasukkannya? Kalau dilihat dari ukuran sekop, harusnya benda sebesar itu tidak muat di perut ataupun ususnya. Tapi bagian inti dari sekop itu mirip daging, maka harusnya tidak begitu keras dan bisa mengkerut. Nyatanya, onggokan daging itu bisa keluar dengan mudah.

Setelah bagian intinya yang mirip daging keluar, selanjutnya serat-serat hitam pembungkusnya. Bagaikan mie instan yang dimuntahkan lagi, mulut Alice mulai mengeluarkan serat-serat hitam tersebut. Panjang sekali, dan tebal. Padahal Alice tidaklah gemuk, malahan cukup ramping. Bagaimana bisa dia menyimpan itu semua di dalam perutnya?

Bahkan raja terkejut melihat itu. Dia memperhatikan Alice dengan mata terbuka lebar.

Berkat itu, Haruhiro bisa mendekati raja sambil menggunakan Stealth-nya.

Haruhiro mendekati raja dari belakang secara diagonal. Selangkah lagi, jarak di antara mereka hanya terpaut selengan.

Setelah melangkah dua kali, lalu dia memeluknya. Haruhiro melakukannya tanpa sadar. Tiba-tiba, dia merasakan, Aku tidak akan membiarkannya pergi, aku akan melindunginya.

Padahal, mulanya Haruhiro ingin menghabisi bocah itu, karena dia adalah wujud asli sang raja. Namun, tiba-tiba dia urung melakukannya.

Kulit bocah itu dingin.

—A-a-apa yang kulakukan…..—

"Ah…?!"

Saat Haruhiro memeluknya, sihir Resonance pun aktif. Tak lama lagi, mereka berdua akan saling terhubung.

Tapi…..

….itu pun gagal.

Apakah ada yang salah? Ataukah dia hanya sedang sial?

Whuuuuuushhh! bocah itu seakan-akan terhisap ke lantai, lalu melarikan diri.

Dia menyelinap ke bawah lengan Haruhiro, dan meloloskan diri.

Dalam sekejap, ruangan ini berubah lagi menjadi gelap. Benda-benda tajam seperti tombak, pedang, atau Katana kembali mencuat.

Apakah ini sihir sang raja?

Haruhiro gagal menangkapnya. Rupanya, bocah itu menyadari kehadirannya.

"Kau!!!" raja meraung. Suaranya bukan lagi terdengar seperti anak kecil.

Pria berjanggut itu bangkit dari kursinya.

“Kau menyentuhku! Sihir apa yang kau gunakan itu!”

"Kau mengacaukannya, Haruhiro!" Alice baru saja selesai memuntahkan sekopnya.

Sembari menyeka air liur di bibirnya, dia mencoba membuka kulit sekopnya, tapi gagal.

"Ah ...!" tiba-tiba Alice tersemat ke tanah, seolah-olah ada yang menindihnya dari atas.

Kulit sekop itu seperti bunga layu. Alice mungkin sudah berusaha keras untuk bangkit kembali, tapi sepertinya gagal. Kakinya hanya gemetaran tanpa bisa dia kendalikan.

Ahiru, Io, Tonbe, Gomi, Kuzaku, Setora, Mary, dan Kiichi…. mereka semua berkerumun dengan gemetaran. Pandangan Haruhiro mulai kabur, sehingga dia kesulitan melihat teman-temannya.

Sepertinya Haruhiro menangis. Kenapa menangis? Dia tidak sedang sedih.

Apakah dia takut? Ya. Dia luar biasa takut.

Dia mencoba menutup matanya. Dia tidak ingin melihat apa pun. Dia tidak mau mendengar apapun. Dia tidak tahan lagi. Kenapa matanya masih terbuka? Apakah usahanya percuma saja? Kenapa tidak menyerah saja? Bukankah itu lebih mudah?

Bukannya dia gigih, ulet, atau semacamnya. Haruhiro hanya takut bila dia menutup matanya, maka semuanya akan berakhir. Mungkin itu karena dia pengecut.

Namun….. tiba-tiba dia melihat keajaiban…… Enba berdiri.

Tidak hanya itu.

Enba meledak.

Air mata Haruhiro masih mengucur dengan deras, tapi dia bisa melihat Enba benar-benar hancur menjadi kepingan kecil.

"Itu tidak penting lagi," ucap sebuah suara.

Shihoru.

Itu Shihoru.

Dia keluar setelah Enba meledak berkeping-keping.

Air mata berkilauan menyebar ke segala penjuru. Kilaunya begitu terang sampai menyakitkan mata siapapun yang melihatnya.

Seperti Haruhiro yang terus mengucurkan air matanya, Shihoru juga demikian, namun air matanya berkilauan bagaikan kristal.

"Apakah itu sihirmu?!" teriak raja. Pria berjanggut yang mungkin merupakan Doppel bocah kecil pucat itu, sedang mengarahkan telapak tangannya pada Shihoru.

Shihoru terjatuh karena tidak kuasa menahan aura raja yang begitu mengintimidasi, namun akhirnya dia berhasil berdiri.

Kau sungguh luar biasa, Shihoru, pikir Haruhiro. Air matamu juga luar biasa, bagaikan banjir kristal yang berkilauan.

"Kenapa kalian selalu saja mengejekkuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!??”

Ketika Shihoru mengayunkan kedua tangannya ke atas, air matanya yang berkilauan terbang menuju raja. Sungguh indah, bagaikan kunang-kunang yang beterbangan di langit malam.

Apakah raja sanggup menahan air mata Shihoru? Ketika tetesan-tetesan air mata itu terkena raja, terdengar gemerisik suara mirip benda pecah.

Luar biasa. Rupanya serangan itu berhasil. Tetesan kristal air mata semakin menekan raja.

Tidak butuh waktu lama, pria berjanggut itu akhirnya menyusut dan terus mengecil sampai tidak kelihatan lagi.

Sudah? Selesai?

Tentu saja tidak.

Di sebelah Shihoru, dengan jarak yang cukup dekat dengan kursi raja, munculah pria tua berjanggut yang juga memakai mahkota.

Tidak semudah itu. Pria yang mengkerut tadi tidak lain hanyalah Doppel raja lainnya. Raja memiliki banyak sekali Doppel. Meskipun satu telah lenyap, masih banyak salinan lain yang menggantikannya.

“Beraninya kau menentang raja! Akan kulumatkan kau sampai menjadi bayangan!” pria berjanggut itu mengangkat kaki kanannya, berusaha ingin menginjak Shihoru. Tiba-tiba, tubuh sang raja membesar, bahkan saaangat besar. Dia tidak lagi seukuran manusia. Ya….. karena dia memang bukan manusia. Dia adalah Doppel.

Apa yang harus Haruhiro lakukan sekarang? Bisakah dia menjaga pikirannya tetap tenang? Dia tidak tahu.

Dengan tersentak, Shihoru menatap pria berjanggut itu. Air matanya berhenti mengalir. Dia begitu ketakutan, sampai-sampai air matanya tidak lagi keluar.

Saat Haruhiro berpikir, Aku tidak boleh membiarkan ini…, badannya sudah bergerak terlebih dahulu.

"Hentikan ...!" Haruhiro berlari ke arah mereka.

Apa yang dia rencanakan? Apa yang bisa dia lakukan? Mungkin tidak ada. Tapi, dia harus menyelamatkan Shihoru.

Haruhiro tidak peduli apakah Shihoru telah berubah menjadi Trickster, monster mimpi, atau makhluk-makhluk aneh lainnya…. baginya, Shihoru tetaplah Shihoru. Selamanya Haruhiro akan menganggapnya teman. Dan bagi Haruhiro, teman selalu lebih penting daripada dirinya sendiri.

"Apa?" pria berjanggut itu menoleh ke arahnya. Saat sang raja menatap Haruhiro, tubuhnya tidak bisa bergerak seakan lumpuh. “Jadi, kau ingin berubah menjadi bayangan terlebih dahulu? Baiklah, akan kukabulkan keinginanmu!”

Karena terintimidasi oleh sihir raja, Haruhiro tidak bisa menggerakkan seujung jari pun.

Matilah aku, pikirnya. Raja akan menginjak Haruhiro sampai lumat dan menjadi bayangan. Kemudian, setelah itu, mungkin dia akan melakukan hal yang sama pada Shihoru.

Alice pun tidak bisa mengalahkan raja. Tapi….. jika Haruhiro menggunakan Resonance untuk meningkatkan kekuatan sihir Alice, apakah mereka bisa melakukan sesuatu?

Tapi, semuanya sudah terlambat. Hanyalah kegagalan yang tersisa.

"Majulah, gendut!" sebelum semuanya bisa berakhir, Dark Knight berdagu panjang itu melemparkan temannya yang gendut.

Harusnya Tonbe sama sekali tidak bisa bergerak karena terintimidasi oleh sihir raja, namun dia bisa meluncur dengan cepat setelah dilemparkan oleh Gomi. Apakah mereka menggunakan sihir, sehingga bisa bergerak? Itu sungguh luar biasa, sepertinya mereka pantas dipuji.

Tonbe menggelinding di antara Haruhiro dan raja. Dia pun membawa cermin besarnya, sehingga terlihat seperti kura-kura.

"Demi Io-sama ...!"

Aneh sekali…. mengapa Tonbe dan Gomi melakukan ini? Haruhiro begitu tersentak, sampai-sampai dia tersadar dari pengaruh sang raja. Dia kembali bisa berpikir dengan normal.

Oh, aku mengerti, pikirnya.

Tonbe berseru, "Demi Io-sama ...!"

Rupanya, Tonbe dan Gomi tahu bahwa sihir Haruhiro adalah kunci mengalahkan sang raja. Jika Haruhiro mati, maka mereka tidak lagi punya harapan mengalahkan raja. Tentu saja, itu artinya Io juga akan celaka. Itulah alasan mereka berdua memberanikan diri menyerang sang raja. Mereka tidak punya pilihan selain melakukan ini.

"Jangan menggangguku!" pria berjanggut menyematkan kaki kanannya pada Tonbe.

Pada saat itu, Haruhiro berkosentrasi penuh untuk kembali mengaktifkan skill Stealth. Saat Stealth-nya aktif, dia tidak lagi melihat si pria berjanggut. Itu semua cuma ilusi. Yang ada hanyalah bocah kecil yang berdiri di depan Tonbe. Rupanya sihir raja hanya mempengaruhi raga seseorang. Sihir itu tidak berdampak pada Haruhiro karena saat menggunakan Stealth, jiwanya seolah lepas dari raga, kemudian bersatu dengan lingkungan di sekitarnya. Bukan berarti Haruhiro mati, tapi beberapa kali saat menggunakan Stealth, dia pun merasa seolah lepas dari badannya.

Beberapa detik lagi, Tonbe akan diinjak sampai menjadi bayangan. Tapi, sebenarnya itu semua tidak nyata. Pria tua berjanggut sebesar raksasa itu hanyalah ilusi. Tapi setidaknya, semua orang di sini melihat raksasa itu, kecuali Haruhiro dan si bocah itu sendiri. Bukan berarti Haruhiro bisa tinggal diam. Nyata atau tidak, bocah itu tetaplah bisa menggunakan sihir yang bisa merubah seseorang menjadi bayangan, entah bagaimana caranya. Dia harus melakukan sesuatu.

Dalam mode Stealth-nya, Haruhiro membuka matanya lebar-lebar. Dia harus mengetahui bagaiman cara bocah itu merubah lawannya menjadi bayangan. Selama ini, semuanya mengira bahwa raja bisa berubah menjadi raksasa, lalu melumatkan korbannya sampai menjadi bayangan dengan diinjak oleh kaki besarnya. Itu tidak benar. Pasti dia punya trik lainnya yang tidak disadari oleh siapapun sebelumnya.

Itu dia….!

Tiba-tiba, ada bocah lainnya yang muncul dari lantai. Bocah itu begitu identik dengan tubuh utama raja, karena dia adalah salah satu Doppel-nya. Dia muncul tepat di sebelah Tonbe, lalu menusukkan tangan kanannya pada sisi tubuh Tonbe.

Ya…. inilah trik raja sebenarnya.

Lalu, bocah itu menghisap semacam zat dari tubuh Tonbe. Zat apa itu? Apakah darah? Air? Atau…. semacam energi kehidupan, mungkin?

Apapun itu…. tubuh Tonbe perlahan-lahan mengering, menghitam, dan akhirnya berubah menjadi bayangan.

Terlihat senyuman di wajah si bocah dan Doppel-nya.

Kali ini…..

Kali ini Haruhiro tidak akan mendapatkan kesempatan lain.

Dia tidak boleh melakukan kesalahan lagi.

Dengan secepat kilat, dia mendekati tubuh utama raja…. mendekapnya…. lalu….

Resonance…..

Dia pun menjadi satu dengan bocah itu.
  1. Usura-boke artinya dungu
  2. Tasukete berarti “tolong”.