Difference between revisions of "Hai to Gensou no Grimgar (Indonesia): Jilid 14 Bab 19"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
(Created page with "==Bab 19 : Sang Raja Telanjang [streaking].== Pada suatu waktu, hiduplah seorang bocah yang begitu cerdas. Dia terlahir sebagai bocah yang otaknya jauh lebih encer daripada...")
 
(No difference)

Latest revision as of 13:23, 14 July 2019

Bab 19 : Sang Raja Telanjang [streaking].[edit]

Pada suatu waktu, hiduplah seorang bocah yang begitu cerdas.

Dia terlahir sebagai bocah yang otaknya jauh lebih encer daripada orang-orang di sekitarnya yang bodoh.

Sedangkan, orang-orang dewasa tidak paham apa gunanya menjadi pintar. Mereka hanya bisa memuji si bocah yang dapat mengingat berbagai macam hal, karena dia jenius. Yahh…. mau bagaimana lagi, memang seperti itulah orang bodoh, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.

Tidak mungkin orang-orang bodoh itu memahami kekayaan, kedalaman, ketajaman, dan ketinggian dari intelejensitas seseorang. Jika bisa, maka mereka bukan orang bodoh namanya.

Namun, si bocah tetap percaya bahwa ada orang lain yang lebih pintar daripada dirinya di luar sana.

Ada begitu banyak manusia yang hidup di planet ini, dan dunia berkembang tiap harinya, maka jumlah orang pintar pun bertambah banyak. Jika tidak, maka dunia ini aneh.

Namun, kenapa sulit sekali mencari orang yang lebih pintar darinya? Bahkan, kedua orang tua yang melahirkan si bocah juga bodoh, dan setiap hari dia selalu saja bertemu dengan orang-orang yang lebih bodoh darinya.

Bagi si bocah, pola pikir orang bodoh begitu mudah dibaca. Sebaliknya, tak seorang bodoh pun paham pemikiran si bocah. Tidak ada yang bisa memahaminya.

Mungkin bocah itu tidak beruntung. Kebetulan saja dia terlahir di lingkungan yang penuh dengan orang bodoh. Andaikan saja dia terlahir di tempat yang banyak dihuni orang cerdas, maka pasti ada orang yang memahaminya, dan bocah itu bisa menjalani hidup seperti yang dia inginkan.

Si bocah bahkan menganggap orang-orang bodoh di sekitarnya bukan manusia. Dia tidak membenci mereka, atau menganggap mereka jahat. Dia hanya sedih hidup bersama mereka.

Mengapa tidak seorang pun sama sepertinya? Tidak masalah kan bila mereka sama sepertinya?

Mereka tidak pernah meminta menjadi bodoh, dan si bocah juga tidak pernah ingin dilahirkan sebagai orang pintar. Tak seorang pun bisa menentukan takdirnya sendiri. Kita harus hidup dengan apapun yang telah diberikan sejak lahir.

Si bocah tahu bahwa waktu akan terus berjalan. Itu menyebabkan kita tumbuh dewasa, menjadi tua, lantas mati.

Kematian adalah lenyapnya fungsi kehidupan. Pada manusia, contohnya adalah kesadaran menghilang, dan kau tidak bisa memulihkannya. Saat itulah kau dinyatakan mati.

Kehidupan dan kematian tidaklah bermakna. Hidup hanyalah kegiatan bereproduksi untuk menghasilkan keturunan. Hanya itu tugas makhluk hidup, tidak ada lainnya.

Kalau dipikir-pikir lagi, wajar saja mereka bodoh. Karena mereka tidak pernah memikirkan apa yang terjadi dengan hidup ini dan bagaimana kesudahannya. Mereka hanya menerima semua apa adanya, dengan alasan ’sudah diatur takdir’. Orang yang jarang berpikir lebih tenang daripada orang yang pikirannya kritis, karena mereka tidak pernah mengkhawatirkan berbagai hal.

Itulah yang membuat bocah itu sempat berpikir, ’Ahh…. sial sekali aku diberi kecerdasan sebaik ini.’

Bocah yang pandai itu adalah makhluk istimewa, namun itu malah membuatnya sedih.

Terkadang sakit hatinya sedikit terobat saat menyadari bahwa keistimewaannya adalah sebuah berkah. Dengan berpikir positif seperti itu, dia pun bisa bertahan dari frustasi dan orang-orang bodoh di sekitarnya, yang tiap hari kerjanya hanya membuat keributan dan kegaduhan. Ya… memang hanya itu yang bisa dilakukan orang bodoh.

Dia tahu betul bahwa dirinya berbeda dari orang-orang bodoh itu, dan dia masih bisa bertahan hidup bersama mereka.

Aku istimewa, tidak seperti kalian semua, suatu hari nanti aku akan melakukan sesuatu yang membuat namaku terukir pada sejarah. Mungkin aku akan menjadi penulis terkenal, memenangkan penghargaan internasional, memecahkan rekor olahraga dunia, atau semacamnya. Mungkin, tak seorang pun menyadari betapa spesialnya diriku sebelum itu semua kuperoleh. Mereka semua hanyalah kumpulan orang idiot. Sedangkan aku adalah orang yang spesial, yahh…. mau bagaimana lagi, aku bahkan tidak bisa menyalahkan mereka. Sejak awal kita berbeda dan akan terus berbeda. Sampai kapanpun juga, aku tidak akan bisa disamakan dengan orang-orang bodoh itu.

Begitulah cara pikir bocah itu. Tapi….. sebenarnya bagaimana ini semua bisa terjadi?

Biasanya, orang terlahir cerdas karena faktor genetika. Kalau dianalogikan dengan cabang olahraga, tidak semua orang bisa lari sejauh 100 m selama 9 detik, tak peduli sekeras apapun dia berlatih. Ini semua masalah bakat, talenta, dan bawaan. Bakat muncul tiba-tiba, seolah jatuh dari langit. Apakah semua orang berbakat seperti itu? Tidak juga. Ada beberapa orang yang memperoleh bakatnya dari serangkaian kerja keras dan latihan. Dia terus berusaha untuk mendapatkan prestasi dan pencapaian, sehingga banyak orang memujanya.

Ya…. kuncinya adalah prestasi dan pencapian. Orang-orang akan menyebutmu jenius bila mendapatkan dua hal itu, tak peduli kau mendapatkan bakatmu langsung dari langit, atau bersusah payah memperolehnya.

Mulanya, bocah itu menganggap dirinya istimewa, dan jenius, tetapi dia salah besar. Itu karena, jika kau bertanya apakah bocah itu telah mendapatkan pencapaian atau prestasi, maka jawabannya adalah belum. Dia hanya lebih pintar daripada orang-orang di sekitarnya, sehingga tak seorang pun memahaminya. Itu juga yang membuatnya merasa terisolasi karena bakatnya yang istimewa.

Bocah itu adalah pembaca yang rajin. Orang tuanya tidak memiliki pendidikan yang tinggi, tapi setidaknya mereka bersedia membelikan banyak buku bagi si bocah.

Anak-anak seusianya lebih suka membaca komik atau karangan fiksi, yang bahkan tidak baik untuk para idiot seperti mereka. Sedangkan, bocah itu lebih suka disibukkan dengan bacaan berliterasi berat dan buku diktat tingkat lanjut.

Berkat itu, saat si bocah menginjak usia 10 tahun, hampir semua jenis huruf Kanji bisa dia baca. Dia mendapatkan wawasan dari banyak hal, misalnya: nama-nama burung, tumbuhan, pergerakan bintang, penyelesaian persamaan kuadrat, bahkan dasar-dasar bermusik.

Memang benar bocah itu begitu cerdas. Dan kecerdasannya itu dia gunakan untuk membaca dan memahami lebih banyak buku daripada orang lain, mengamati banyak hal, dan menganalisisnya.

Memang benar bocah itu berbakat, namun tidak serta-merta dia berhenti mengembangkan bakatnya. Dia pun bekerja keras untuk meningkatkan kecerdasannya itu.

Orang bilang, tanpa 1% inspirasi, kerja keras sebesar 99% akan percuma. Sedangkan, 1% inspirasi ini berasal dari kerja keras. Orang sukses pun demikian, mereka selalu menghabiskan waktu setiap harinya untuk berpikir keras mendapatkan 1% inspirasi.

Kesimpulannya, bakat bisa diperoleh tidak hanya dari pemberian Tuhan semata, melainkan melalui serangkaian proses kerja keras. Dan ketika bakat mampu memberimu prestasi, maka orang lain akan mengakuinya.

Saat itu, si bocah berusia sekitar 10 tahun. Karena suatu kejadian yang tidak masuk akal, dia terlempar ke dunia yang sungguh berbeda dari dunianya semula. Dia tidak bisa menjelaskan kejadian itu secara logis, dan dunia baru itu sungguh menakutkan. Apapun yang terjadi, dia harus berjuang hidup di sana.

Jika dia tidak cerdas, mungkin dia sudah termakan oleh makhluk-makhluk mirip monster aneh itu. Untungnya, dia berhasil bertahan hidup dengan memanfaatkan kemampuan nalarnya. Dia pahami hukum yang bekerja di dunia itu, sehingga dia bisa terus hidup. Jika dia tidak mempunyai kemampuan analisis yang mumpuni, mungkin dia sudah melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.

Dengan kecerdikannya pula, dia berhasil berkali-kali mengatasi masalah.

Di dunia aneh itu, si bocah bertemu banyak orang. Sebagian besar di antara mereka mau bekerjasama dengannya, namun sebagian lainnya tidak. Tidak jarang, orang yang tidak mau bekerjasama dengannya berakhir dengan kematian.

Untung saja dia baru berumur 10 tahun, sehingga ketika ada bahaya yang datang, orang-orang yang lebih dewasa cenderung melindunginya. Ada juga yang berpendapat bahwa anak kecil itu hanya menganggu saja, namun tidak banyak orang seperti mereka.

Bocah itu juga menyaksikan dengan mata-kepalanya sendiri beberapa orang yang menjadi korban keganasan monster-monster aneh itu. Pernah ada seorang pria yang menganggap bocah itu seperti adiknya sendiri, suatu saat dia tertangkap monster dan hendak dicabik-cabik. Pada saat-saat terakhirnya, kakak angkatnya itu berseru padanya, ”Cepatlah pergi!! Tinggalkan aku sendirian!!”

Sembari menangis sedih, bocah itu pun melarikan diri dan meninggalkan si pria malang.

Hal serupa terjadi lagi pada seorang wanita yang sudah menganggap bocah itu anaknya sendiri. Suatu saat datanglah monster, dan melahap kepala wanita itu. Menyadari si wanita tidak bisa tertolong, lagi-lagi si bocah lari meninggalkannya begitu saja.

Orang-orang yang melindungi bocah itu bertambah banyak, namun tidak sedikit juga yang gugur. Setiap kali rekannya mati, bocah itu mempelajari kesalahan mereka, dan itu membuatnya semakin berpengalaman.

Namun, tak peduli betapa cerdas dan berpengalaman, dia hanyalah bocah berumur 10 tahun. Dia selalu diremehkan karena masih kecil.

Dia selalu bersandiwara menjadi anak kecil yang polos, tapi di dalam hati dia sangat kecewa. Bahkan, tidak sedikit orang dewasa yang mencacinya dari belakang.

"Tentu saja dia sangat berguna. Tapi dia hanya anak-anak. Kenapa dia begitu percaya diri? Kita memanfaatkannya karena dia memiliki sihir yang bagus…. sudah, itu saja. Jangan salah paham, ya.”

"Hey, kau tidak perlu sejahat itu padanya. Dia masih kecil. Biarkan saja dia merasa percaya diri. Abaikan saja semua omongannya, toh yang penting kita bisa memanfaatkannya. Kalau dia macam-macam, kita bisa beri pelajaran nanti.”

Pada suatu saat, terjadilah masalah di mana si bocah itu harus melindungi orang-orang dewasa dengan kekuatannya.

Segerombolan besar monster datang menyerang, dan orang-orang dewasa itu dibuat lari kocar-kacir. Si bocah mulai bosan dengan tingkah mereka.

Kenapa dia harus melindungi orang-orang seperti mereka dengan kekuatannya?

Biarkan saja mereka mati. Biarkan saja monster-monster itu melahap mereka. Mereka pikir aku hanyalah bocah kecil. Tapi, aku bukan bocah lagi. Aku bukan bocah berumur 10 tahun. Aku sudah dewasa. Tak akan kubiarkan mereka meremehkan aku. Aku akan menjadi raja, dan akan kujadikan mereka semua budakku. Mereka semua akan melayaniku, kerja untukku, dan menjadi pengikutku yang setia. Akan kujadikan dunia ini milikku. Aku akan menguasainya, dan memerintahnya.

Akhirnya, semua orang dewasa yang mengenali bocah itu mati terbantai oleh monster. Orang dewasa lain yang selanjutnya bertemu dengan bocah itu tidak mengetahui identitas sesungguhnya.

Di dunia ini, semuanya bisa menggunakan sihir. Si bocah mempunyai sihir yang bisa merubah wujudnya menjadi sosok raja di mata orang lain.

Ketika dia mendapati orang-orang kurang ajar yang tidak mau mengikuti perintahnya, atau tukang tipu yang tidak bisa dipercaya, dia akan langsung menghabisi mereka, atau lebih tepatnya….. menyedot nyawa mereka sampai kering dan menghitam bagaikan bayangan. Dia semakin kuat setelah menyedot kehidupan orang lain.

Kemudian, dia memahami jenis-jenis sihir. Sihir di dunia ini jenisnya bermacam-macam, tapi ada beberapa orang yang memiliki potensi sihir luar biasa. Saat muncul orang-orang seperti itu, mereka akan menjadi ancaman bagi kekuasaan sang raja.

Dengan kecerdasan akalnya, bocah itu mengklasifikasi sihir-sihir di dunia ini. Coba analogikan dengan warna…… bila seseorang hanya memahami warna merah, biru, dan kuning, maka orang itu akan mengidentifikasi oranye sebagai ‘merah terang’, hitam sebagai ‘biru tua’, dll. Orang itu akan mendeskripsikan beratus-ratus warna hanya dengan tiga warna dasar tersebut.

Sama halnya dengan sihir, para penghuni asal dunia ini mungkin bisa membedakan lebih banyak sihir. Tapi, bocah itu datang dari dunia lain, di mana tidak pernah ada sihir. Maka, si bocah hanya bisa membedakan beberapa jenis sihir saja dengan mengklasifikasinya dalam kategori-kategori umum.

Menurut si bocah, sihir di dunia ini sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa pemiliknya. Dengan dasar itu, dia membedakan sihir menjadi tiga tipe umum, ditambah lagi tipe keempat yang begitu jarang.

Dengan pengetahuan barunya itu, si bocah semakin mudah menganalisis lawan-lawannya, sekaligus menemukan kelemahannya. Dia banyak membantai dan memperbudak orang-orang lainnya. Tak ada seorang pun yang berani menentang raja.

Raja tahu dirinya begitu ditakuti, dan dia pun tahu bahwa para pengikutnya tidak ikhlas setia padanya. Namun tetap saja, bila dia tidak bertindak keras pada mereka, raja akan diremehkan lagi. Wajar saja, ada beberapa orang yang berencana membunuh sang raja.

Akan tetapi, tidak semua pengikutnya seperti itu. Ada juga yang setia, walaupun jumlahnya tidak banyal.

Ada seorang pengikutnya yang bodoh dan setia bernama Bayard. Orang itu selalu disebut sebagai pengikut terbaik raja, namun dia ditangkap oleh Haname. Sang raja marah, lalu dia berencana mengalahkan Haname dengan tangannya sendiri. Namun, Haname adalah makhluk yang biasa disebut Trickster. Semua Trickster memiliki sihir yang berbeda dengan tiga tipe yang telah dia simpulkan. Itu membuat raja ragu melawannya, karena dia tidak bisa menganalisis kelemahan Trickster. Dengan kata lain, Trickster adalah lawan yang berbahaya baginya.

Bukannya dia tidak bisa mengalahkan Haname bila bertarung dengan serius, tapi dia kahwatir ada seorang pengkhianat yang menikamnya dari belakang saat sedang sibuk melawan sang Trickster. Lagipula, Bayard adalah pengikut yang tidak begitu berotak, sehingga dia mengikhlaskannya pada Haname.

Pengikut terbaik kedua adalah orang paling tenang yang pernah dia kenal, namun dia cukup cerdas. Bisa dibilang, dia lah yang otaknya paling encer jika dibandingkan dengan pengikut-pengikut raja lainnya. Dia begitu tanggap, responsif, dan cekatan. Baru kali ini raja bertemu dengan orang yang begitu tanggap terhadap berubahnya situasi.

Tak sekalipun raja pernah mencium aroma pengkhianatan dari pengikutnya ini, tidak hanya itu, dia juga tidak pernah membuat raja tersinggung. Pokoknya, pengikutnya ini begitu membantu dan membuatnya tenang.

Namun, semua kebaikannya itu membuat raja curiga. Pada suatu saat, raja menyuruh pengikutnya itu untuk memijitnya, namun sepertinya dia melakukan sesuatu pada sang raja.

Saat pengikutnya itu sedang memijit kaki dan tangannya, raja merasakan sihirnya berubah. Itu adalah sihir yang tidak bisa dikategorikan raja dalam 3 tipe umum. Raja menyebut sihir langka itu, Resonance. Seharusnya sihir tipe keempat itu tidak pernah ada. Dia harus melenyapkannya secepat mungkin.

Namun, pengikutnya itu berhasil menghindari hukuman raja dengan kecerdasannya. Dia tau apa yang sedang dipikirkan raja, maka tentu saja dia tahu bahwa sang raja akan menghukumnya. Akhirnya, dia meminta ijin mendaki Menara Besi Langit untuk mencapai puncaknya. Raja tahu dia tidak akan kembali, dan begitupun dengannya. Akhirnya, pengikut itu benar-benar tidak pernah kembali.

Jika dia tidak memutuskan menetap di Menara Besi Langit sampai berkarat, maka raja pasti sudah menyedot habis nyawanya.

Hal serupa terjadi pada dua pengikut raja lainnya, yaitu Tikus Pelangi dan Sleepingman. Mereka berdua sudah lama menghuni dunia ini, dan telah melayani raja dengan baik. Akan tetapi, mereka juga pergi dari sisi raja.

Mereka selalu bekerja dengan tulus dan ikhlas demi sang raja. Jika tidak melakukan itu, maka sang raja pasti sudah menghabisi mereka. Namun, bukan berarti mereka mempercayai raja. Raja pun tidak begitu mempercayai mereka.

Ah tidak………. lebih tepatnya, mereka tidak mempercayai raja, karena sejak awal raja tidak pernah mempercayai mereka.

Apapun itu, hasilnya sama saja.

Aku selalu saja sendrian, renung sang raja. Semua orang selalu memuji pakaianku yang mewah, namun sebenarnya aku sama sekali tidak memakai busana.

Tidak ada yang menyadari aku telanjang.

(Tidak….masih ada.)

…Siapa itu?

Kau bisa melihat wujudku yang sebenarnya, siapa kau?

Mungkinkah kau menggunakan sihir….. Resonance?

Tunggu…. sepertinya aku mengenalmu.

Bukankah kau sudah berkarat di Menara Besi Langit?

(Aku bukan dia.)

Kau melihat isi hatiku dengan sihirmu? Kau memahami apa yang kurasakan?

(Sepertinya…. iya. Namamu adalah….hmmm, Niiyama Reon.)

Niiyama Reon.

Namaku.

Kalau begitu…

Jika kau tahu itu, maka harusnya….

Kau sudah tahu apa yang telah kulakukan selama ini…..

…. Semua yang telah kulakukan di tempat ini….

Ketika sekumpulan monster mimpi itu menyerangku…. S-sebenarnya, a-aku tidak bermaksud mengabaikan orang-orang dewasa itu….. t-tapi….

…..aku bergabung dengan kawanan monster mimpi untuk melahap mereka….

Kuhabiskan semuanya.

Jika ada yang selamat, mereka hanya akan menghalangi langkahku. Tak akan kubiarkan satu saja tersisa. Karena…. mereka tahu kelemahanku.

Aku hanya anak berusia 10 tahun.

Sebenarnya, akulah pemimpin mereka. Tapi, dengan sombongnya mereka menyuruhku bernyanyi, menari, melucu, dan melakukan apapun yang mereka mau padaku.

Awalnya, kupikir aku akan selalu membutuhkan bantuan orang-orang dewasa itu untuk terus bertahan di dunia aneh ini, karena aku hanyalah seorang bocah berumur 10 tahun yang lemah. Aku ingin mereka melindungiku, dan aku juga ingin berguna bagi mereka. Aku hanya ingin menolong, namun niat baikku itu dimanfaatkan oleh mereka.

Aku selalu berusaha keras melakukan yang terbaik. Namun, aku mulai menyadari mereka sering mengejekku di belakang. Sedikit demi sedikit aku mengetahui kebobrokan mereka. Mereka hanya menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang, bahkan sex bebas. Apakah tidak ada hal lain lebih berguna yang bisa mereka kerjakan? Namun, aku hanyalah anak kecil, sehingga yang bisa kulakukan hanyalah pura-pura tidak melihat. Aku cuma bocah ingusan. Apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bocah polos berumur 10 tahun.

Aku tidak menyesali apapun. Aku selalu benar. Itulah yang terbaik saat ini. Aku tidak keberatan. Aku tidak akan meninggalkan mereka. Aku akan bertahan di sini. Aku akan terus bersama mereka.

(Kamu ketakutan.)

Ya, aku ketakutan.

Menurutmu berapa banyak orang yang telah kubunuh? Berapa banyak orang yang telah kuhisap nyawanya?

Tapi, kuanggap itu bukan kejahatan, karena akulah rajanya. Aku yang memimpin tempat ini, dan akulah yang tertinggi. Parano adalah kerajaanku. Di sini, aku yang menentukan apa itu keadilan, apa itu kejahatan. Dan apapun yang kulakukan selalu benar. Yahh…. setidaknya, selama aku masih berada di Parano, aku tidak pernah salah.

Aku tidak kenal siapa dirimu, tapi aku bisa menghisap nyawa siapapun, termasuk teman-temanmu. Kemudian, kujadikan mereka budakku.

Itu bukan dosa. Tidak ada hukum yang melarangnya. Dan aku tidak pernah melakukan kesalahan.

Bahkan, kuanggap itu perbuatan baik. Aku harus dipuji dan diberi penghargaan.

Di sini, aku akan menjadi raja agung selamanya.

(Tapi kamu sendirian.)

Tidak masalah. Aku memang selalu sendirian. Karena hanya boleh ada satu raja di dunia ini. Tidak boleh ada saingan lainnya. Di sini, waktu tidak ada batasnya. Itulah yang membuatku menjadi raja selamanya. Terkadang, aku merasa sedikit terkekang dan tidak nyaman, namun lama-kelamaan aku akan terbiasa dengan itu semua.

Aku tahu…. aku tahu bahwa aku tidak bisa mempercayai siapapun. Mempercayai orang lain hanyalah suatu kebodohan. Dan kau…. tak lama lagi kau akan merasakan kemarahanku. Akan kuhisap nyawamu sampai kering. Kau hanya akan menjadi ampas mirip bayangan yang bisa kukendalikan sesuka hati dengan sihirku.

Aku tahu…. aku tahu masih banyak jenis sihir yang tidak kupahami di dunia ini. Masih banyak sihir yang tidak termasuk tiga jenis umum yang telah kusimpulkan dulu. Kemungkinan terbetuk sihir baru tidaklah terhingga. Bahkan, sihirku tidak selalu seperti ini. Aku bisa menjadi semakin kuat, sedikit demi sedikit. Mungkin aku butuh waktu, tapi aku bisa mengatur semuanya dengan sihir. Aku abadi di dunia ini. Waktuku tidak terbatas. Aku tidak butuh orang lain. Aku hanya butuh diriku sendiri. Hanya aku yang boleh menguasai semua ini.

(Kamu tidak sendiri.)

Aku……..

(Kau tidak sendiri.)

Tidak sendiri?

(Ya. Kamu tidak sendiri. Aku ada di sini.)

Tidak.

Jangan berbohong.

Orang sepertimu tidak akan pernah memaafkanku. Semua perbuatanku itu tidak termaafkan.

Aku hanya bocah berumur sepuluh tahun.

Aku masih kecil.

Tapi…

Aku telah membunuh begitu banyak orang.

Demi kepentinganku sendiri.

Aku membunuh begitu banyak orang.

(Aku tahu.)

(Karena aku adalah kamu.)

(Bukan orang lain.)

(Aku sama sepertimu.)

Tapi,

Aku menyadari……….

…….bahwa diriku sangatlah………

Menjijikkan.

Aku takut.

Aku takut pada diriku sendiri melebihi apapun di dunia ini

Semua yang telah kulakukan selama ini…. begitu…...

Aku tidak punya pilihan lain. Aku terpaksa melakukannya untuk bertahan hidup. Setiap orang harus mementingkan dirinya sendiri. Memang seperti itulah sifat kita.

Tapi………. benarkah begitu?

Benarkah kita hanya mementingkan diri sendiri? Bukankah pernah ada beberapa orang yang rela mati demi diriku? Seperti pria itu…. atau wanita itu?

Mereka lebih tua dariku. Aku bersikap semanis mungkin agar mereka sayang padaku. Mereka jatuh ke dalam jebakanku.

Sebenarnya mereka adalah orang baik. Mereka lebih mementingkan diriku daripada dirinya sendiri. Mereka telah banyak menolongku. Aku selamat karena jasa mereka. Mereka terus melindungiku lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi.

Tanpa bantuan mereka, tidak mungkin aku menjadi raja sekarang.

Raja selalu saja kesepian. Bahkan tak seorang pun menyadari aku telanjang.

Aku takut pada diriku sendiri.

Itulah sebabnya aku takut meninggalkan tempat ini.

Aku harus tinggal di sini selamanya.

Aku akan terus menjadi raja selamanya.

Pintu…….

Pintu itu……..

Jangan buka pintunya……….

Tak seorang pun boleh membuka pintunya…….

Jangan tinggalkan aku sendirian.

Aku tidak ingin sendirian.

Aku kesepian.

Tapi aku harus tinggal sendiri di sini selamanya.

(Kamu tidak sendiri.)

(Niiyama Reon.)

(Ada seseorang yang menemanimu.)

(Yaitu aku.)

(Aku di sini……….)

Di sini.

(Di sebelahmu.)

(Lihatlah.)

(Aku…)

(... memegang tanganmu.)

Tangan ini ...

Terasa hangat.