Hai to Gensou no Grimgar (Indonesia): Jilid 2 Bab 1

From Baka-Tsuki
Jump to navigation Jump to search

Suatu Level yang Berbeda[edit]

Setelah Haruhiro dan kawan-kawannya berkeliaran menjual hasil buruan hari ini dan membagi ratakan uangnya, mereka iseng-iseng berdiskusi tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Sebuah suara keras berdentang dengan dahsyat di pasar Altana.


“Apakah itu...” alis Haruhiro mengerut. “Lonceng jam enam? Tapi itu berbunyi tujuh kali, dan orang-orang lain juga panik...”


“Apa?! Apa?! Apa yang terjadi?!” rambut berantakan Ranta terhembus ke depan dan belakang saat dia menegakkan kepalanya.


“Mm?” Yume berkedip-kedip, sembari menarik rambut twin-tailnya yang dikepang. “Apa yang terjadi?”


Shihoru mendekat ke Yume. “Sepertinya suatu... keadaan darurat?”


Moguzo mengelus belakang helmnya, dia terlihat cemas dan gelisah.


“Ini tidak mungkin...” Mary sedikit membungkuk ke depan, dengan mata menciut. “Serangan musuh?”


“Huh?” Haruhiro memiringkan kepalanya. Dia paham apa arti kata tersebut, tapi tidak mengerti dengan apa yang ia maksud. “Serangan musuh?”


Sebuah jeritan menusuk ke udara entah datang darimana. Kedengarannya agak jauh.


Lubang hidung Ranta melebar. “Oy! Oy! Oy!” Teriaknya. “Whoa! Whoa! Whoa!”


Mengapa dia bertingkah seceroboh itu? Apa karena kebodohannya?


“Mary, apa yang kau maksud dengan ‘musuh’?” tanya Haruhiro.


“Mungkin Orc.”Jawabnya pendek.


Orc? Ia penasaran, karena jarang mendengar kata tersebut.


“Lari!” jerit seseorang.


“Orc!” jerit yang lainnya.


“Itu Orc!”


“Ada orc di sini!”


“Kita diserang!”


“Oh?” Yume menaruh jari telunjuk di dagunya. “Aku tidak tahu kalau okras bisa menyerang.”


Langsung saja Haruhiro membalas, “Bukan, bukan okras, tapi ORC!”


Orang-orang di pasar yang tercerai berai tiba-tiba langsung berubah menjadi aliran padat tubuh manusia, dan langsung menelan Haruhiro serta kawan-kawannya. Aliran pembeli yang syok membawanya pergi, dan dia tahu bahwa mustahil untuk berjalan melawan arus yang mendorongnya.


“Apa---!” Ranta mencoba melawan kerumunan tersebut, tapi dia juga merasa ini mustahil. “Apa-apaan iniiiii!”


“Whoa!” mata Mogzo terlihat berputar kebingungan. Orang sebesar Mogzo kesulitan gara-gara terserempet sikut dan lutut berbulu.


“To-Topiku!” Shihoru berteriak saat topi penyihir lepas dari kepalanya.


Haruhiro menjulurkan tangan, lantas memeganginya. Kemudian semuanya berjalan menurun. Karena tertarik bersama dengan orang di belakangnya, dia langsung terpisah dari kawan-kawannya.


“Haru!” seru Yume.


“HARU!” suara Mary.


Ujung kepala Mogzo-lah yang satu-satunya bisa dia lihat sekarang, dan hampir tak terlihat. Tapi berjalan kembali ke sana adalah hal mustahil.


“Te-teman-teman!” Haruhiro melambaikan tangannya, tapi sayang. Dia sudah kehilangan Mogzo. “Jaga diri kalian, semuanya!”


Walau dia mengatakan itu pada mereka, Haruhiro sadar bahwa dirinyalah yang seharusnya paling berhati-hati. Jika dia mencoba menerobos kerumunan ini, dia malah akan terinjak-injak. Dia bahkan bisa mati. Mati seperti itu... jangan, tidak boleh. Jadi untuk sekarang, dia tak punya pilihan lain kecuali pasrah terseret arus.


Sebuah serangan... atau begitulah yang Mary katakan. Serangan musuh? Orc. Apa itu orc? Haruhiro merasa pernah mendengar kata tersebut sebelumnya entah dimana.


Apapun itu Orc, ini bukanlah hal yang biasa di Altana. Invasi. Jadi kita sedang diserang? Altana sedang diserang oleh orc atau apalah itu? Dan semuanya hanya melarikan diri? Tapi ke mana?


Ini adalah sebuah kota; semuanya tinggal di sini. Lagipula Altana dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan tebal, itu artinya tempat ini cukup aman. Mungkin. Kayaknya sih aman. Atau setidaknya itulah yang Haruhiro pikirkan. Tempat yang seharusnya jadi tempat teraman, diserang. Apa ini artinya... mungkinkah....


...ini benar-benar buruk?


Meja-meja pedagang yang berjajar di jalanan terjungkir, dagangan mereka tercecer dan hampir rusak di injak-injak. Sungguh mubazir, pikir Haruhiro. Beberapa kios bahkan ada yang rusak, dan yang lain bahkan sudah rata dengan tanah. Pemiliknya pasti bakal marah...


Tunggu, ini bukan saatnya memikirkan hal seperti itu!


Suatu jeritan menyedihkan terdengar dari arah yang orang-orang tuju. “Mereka di sini! Musuhnya di sini! Lari! LARI! Ke arah lain! Lari!”


Tiba-tiba arus kerumunan tersebut mulai bergerak ke arah sebaliknya. Tapi berbalik arah itu adalah hal yang mustahil dilakukan dalam keadaan seperti ini. Sementara orang yang di depan kebingungan, orang yang di belakang tetap bergerak maju. Dan Haruhiro yang tidak cukup beruntung, terjebak tepat di tengah-tengah peralihannya. Dia sadar bahwa dia terdesak dan tak dapat bergerak.


“Tidak---Tidak bisa bernafas! Jangan dorong!” dia megap-megap.


Dia bakal terjepit hingga mati. Mati seperti ini... kau bercanda kan! Entah bagaimana caranya, Haruhiro akhirnya berhasil menerobos dan menghindar dari kerumunan orang, sampai dia mencapai kios pedagang yang masih berdiri. Dia merundup melalui tirai hitam yang berfungsi sebagai jalan masuk.


“Ugh, menjijikkan...” hidungnya berontak karena bau menyengat yang diciumnya.


Dan bukan hanya baunya yang terasa aneh; barang-barang yang berjejer di counter dan lemari juga, terisi oleh binatang, sisa-sisa hewan, tulang, taring, bulu, dan bahkan asesoris yang terbuat dari itu semua ada di sini.


“Sebelah sini...”


Suara yang muncul tiba-tiba membuatnya terkejut dan mendengking. Saat dia lihat, seorang nenek tua keriput berbaju hitam memanggilnya di balik counter. Jelas di mata Haruhiro bahwa nenek tersebut sungguh gelap.


“Ayo sini!” nenek tua tersebut menyuruh Haruhiro yang tidak menjawabnya.


Dengan malu-malu, Haruhiro nyeplos. “Err, ini tokomu, Nek?”


“Kurang ajar! Aku bukan nenek tua! Panggil aku nona muda!”


“Um... Nona...” Haruhiro membenarkan ucapannya saat perempuan tersebut tersenyum.


“Gitu dong...”


“Tapi kau bukan seorang... maksudku, kau tidak terlihat seperti...”


“Hey, kalau kau mau jadi orang yang jujur, jangan setengah-setengah!”


Itu karena perempuan—berperan-orang-lucu-ini sungguh mencurigakan dari awal, pikir Haruhiro, tapi tak ia katakan.


Perempuan tua itu mengangkat bahunya. “Aku Madam Babaa.”


“Ma’am itu kependekan dari madam!” ceplos Haruhiro.


Perempuan tua itu mendengus. “Ya gitulah, orang-jujur.”


“...Makasih. Kurasa.”


“Jangan mulai kurang ajar kepadaku, bocah!” dia berhenti. “Lupakan. Mari mulai lagi. Namaku Madam Babaa, seorang Spellcrafter, dan seperti yang kau lihat, aku adalah pemilik toko ini. Apa kau anggota pasukan relawan?”


“Yeah, memang kenapa?” balas Haruhiro, dia mencoba sebisanya untuk mengalihkan pandangan dan tidak menghembuskan nafas melalui hidungnya.


Tirai pintu mencegahnya untuk melihat apapun yang sedang terjadi di luar. Akan tetapi, Haruhiro masih bisa mendengar sedikit keributan dari luar sana. Penyerbuannya masih berlangsung, atau kira-kira seperti itu.


“Sebuah invasi? Sungguh?” dia berbisik pada dirinya sendiri.


“Orc? Oh yah. Hal itu terjadi beberapa kali.” Madam Babaa menunjuk dengan tangan kiri. “Kau bukanlah seorang pemula, kan?”


“Kurasa,” ucap Haruhiro. “Aku belum lama bekerja sebagai pasukan Crimson Moon.”


“Sudah kuduga. Apa kau seorang perjaka?”


“Se apa?”


“Bocah bodoh. Aku tidak membicarakan apa kau pernah melakukannya dengan seorang gadis atau belum! Pasukan relawan disebut perjaka sampai mereka bisa membunuh orc. Jangan katakan... kau double-perjaka?!”


“Single, double, triple, SIAPA YANG PEDULI?!”


“Nggak ada ambisi sama sekali!” Madam Babaa menuding kepadanya. “Kau ini lelaki, bukan? Seorang pemuda, kan? Kau ingin membunuh orc dan tidur dengan gadis, bukan? Apa yang ingin kau lakukan tanpa tindakan?!”


“Jadi? Apa peduli ku?!”


“Bocah idiot!” bentak Madam Babaa, dengan air liurnya yang bertebaran.


Dia terlihat seperti ingin mencelanya lebih lanjut, tapi pintu tirainya tiba-tiba terbuka. Haruhiro terkejut sesaat seseorang masuk. Walau, itu bukan seseorang. Bukan manusia, semuanya, berkulit hijau.


Dia besar. Tingginya tidak sepadan dengan lingkar badannya. Dadanya berbentuk barel, dengan hidung yang terlihat seperti habis dipukul ke dalam; telinganya runcing, ada gading babi hutan menempel di ujung mulutnya yang lebar, dan rambutnya berwarna merah darah. Ia memakai baju amor dan memegang sebilah pedang bermata satu.


Saat Haruhiro kebingungan makhluk apakah itu, Madam Babaa menjerit, “ORRRRRC!” dia memegang sesuatu seperti tongkat berjalan di tangannya. “Ia di tokoku! Bocah prajurit, sekarang adalah kesempatanmu untuk melepaskan keperjakaanmu! Dapatkanlah!”


“A-aku?!” Haruhiro tergagap-gagap sembari ia mengeluarkan pisau belatinya; dia hampir tak bisa memegang eratnya. “Ti-tidak mungkin! Aku sendirian, dan aku hanyalah seorang Thief!”


“Emang kenapa?! Aku seorang nenek tua! Berusahalah sekuat tenaga, Thief!” Madam Babaa memarahinya sembari memukul punggung Haruhiro dengan keras.


“W-whoa!” dia hampir terjatuh ke tanah. Perempuan itu sungguh kuat untuk seorang nenek.


Orc tersebut sudah semakin mendekat dan Haruhiro sadar bahwa dirinya berada dalam bahaya besar. Ia mengangkat, mengayunkan dan menusuk ke Haruhiro dengan pedangnya, sembari meneriakkan bahasa yang Haruhiro tak mengerti.


“Apa-apaan---! Tidak mungkin!” dia menangkis dan menghindari serangan tersebut tapi akhirnya ia sadar bahwa ia sudah tertekan ke meja counter.


“Apa yang kau lakukan?!” Madam Babaa menjerit kepadanya.


“Kau tanya aku?!” Haruhiro berbalik ke atas meja counter dan mencoba untuk lari darinya.


“OSHUU BAGDA!!!” teriak orc, melompat dan mengejarnya.


Tidak ada jalan lain. Mungkin Haruhiro akan mati. Dia akan mati terbunuh. Dia berteriak gila, mengambil apapun dan semua benda yang bisa ia gapai untuk dilempar ke orc itu. Tapi walaupun mengenainya, orc itu terlihat seperti tak merasakan apapun.


Tidak mungkin! Tidak mungkin, tidak mungkin, TIDAK MUNGKIN! Kata-kata gagal menggambarkan betapa buruk keadaannya. Haruhiro menerobos melalui pintu tirai dan berada di luar toko lagi.


“Ia... tidak mengikutiku?” dia berbisik pada dirinya. Tidak lama setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, Madam Babaa pun keluar. “Bocah prajurit! Bagaimana bisa kau meninggalkan seorang nenek tua biasa untuk mati?! Oh, sungguh tak berperikemanusiaan!”


“Dan memangnya apa yang kau harapkan dariku...?” Haruhiro menggerutu.


Dia bisa melihat bayangan orc yang lain dari kejauhan. Lagipula, semuanya masuk akal karena ini adalah invasi, sehingga pasti ada lebih dari satu Orc. Sangat banyak. Sungguh buruk. Sangat-sangat buruk. Dia harus lari. Bersembunyi di satu tempat, mungkin, sampai orang yang bisa mengalahkan orcnya datang. Bukan berarti Madam Babaa itu seorang teman atau apa. Dia benar-benar orang asing. Dia tidak punya kewajiban untuk menolongnya. Dan meskipun mau, dia tetap tidak bisa membantunya.


“Aku tidak punya pilihan lain...”


Dia mengambil satu napas dalam---dan membuka pintu tirainya lagi. Sialan! Apa yang aku lakukan?! Bukankah dia ingin lari? Dia masih ingin lari. Keinginannya untuk melarikan diri memuncak. Tapi jika dia meninggalkannya, walaupun dia benar-benar orang asing, Haruhiro tahu bahwa dia nggak akan tidur nyenyak lagi jika dia tidak berbuat demikian.


Jadi dia tidak punya pilihan lain. Bukan karena hal ini mungkin akan terus menghatuinya jika ia tak melakukannya—tapi karena ini satu-satunya hal yang pantas dilakukan oleh seorang manusia.


Orc tersebut mengayunkan pedangnya ke arah Madam Babaa. Dia menahannya dengan tongkat berjalannya, bersungut-sungut karena kekuatan yang hampir membuatnya berlutut, wajahnya memerah sembari berusaha untuk tetap berdiri. Untung saja tongkat berjalannya kuat, tapi walaupun dia bisa menghentikan serangan orc tersebut, itu cukup nekat. Bukan waktunya untuk tertegun, karena; keadaannya benar-benar membuat putus asa.


Haruhiro mencabut pisau belati dan melihat ke arah punggung orc tersebut. “[BACKSTAB!]”


Pisaunya, malah tergelincir dan membelok ke samping karena amor orc tersebut. Orcnya berbalik dan berteriak, “GASHUU HA!”


“Bocah prajurit!” mata Madam Babaa bersinar. “Ku rasa aku jatuh cinta!”


“Tolong jangan!” balas Haruhiro, berbalik memancing orc itu. “Ayo ke sini! Atau... lupakan!”


Sayangnya, perhatian orc itu sekarang berubah dari Madam Babaa ke Haruhiro. Aku harus menghentikannya... pikir Haruhiro. Aku harus lari saat ada kesempatan... Tapi sudah terlambat untuk menyesalinya.


“HASHUU HASHUU HASHUU!” orc itu berteriak sembari mengejar Haruhiro keluar dari toko.


Haruhiro melarikan diri hingga nafasnya menjadi berat dan terengah-engah. Armornya ringan dan dia berlari sebisanya, namun sebaliknya, orc itu, walaupun memakai amor berat, tapi bisa mengejarnya dengan mudah. Dia tidak bisa menjaga jarak dengannya.


“Mengerikan...” dia menggerutu, berbelok ke gang kecil. Mencoba menyusahkan orc tersebut, dia menyelipkan dirinya di antara celah sempit kedai-kedai, memaksakan dirinya melewatinya.


Tapi orc itu tepat di belakangnya, armornya berdenting, mengikuti Haruhiro ke mana pun. Haruhiro ingin menyerah. Dia ingin mengatakan kepada orc itu, Permisi, tapi bisakah kita melintasi garis finisnya sekarang? Kau tidak masalah kan?


Dia memutuskan kalau belokan selanjutnya akan menjadi garis finisnya. Haruhiro mungkin bisa mencapainya, tapi setelah itu... sepertinya dia sudah tidak mungkin untuk melanjutkan. Dia berada di ambang batas, baik secara mental maupun fisik. Maaf, tapi ini waktunya istirahat.


Haruhiro berbelok, hampir-tersandung di sekitar belokan, lalu sebuah suara, pelan dan serak menyuruhnya, “Menunduk!”


Dia mematuhinya secara refleks dan merasa sesuatu mengayun di atas kepalanya. Itu adalah sebilah pedang. Di sekitar pondokan, seseorang telah menunggunya. Pemilik suara serak itu. Dia mengayunkan pedangnya searah horizontal, melewati kepala Haruhiro beberapa inci, dan menabrak orc tersebut.


Renji.


Renji telah bergabung dengan Crimson Moon di hari yang sama dengan Haruhiro, tapi ia tidak kelihatan seperti itu. Dibalik armornya yang stylish terdapat sebuah jubah bergaris-kulit dan dia memegang sebuah pedang yang menakjubkan. Haruhiro tahu bahwa Renji itu berbeda sesaat dia melihatnya, meskipun begitu, sulit dipercaya kalau perbedaannya sungguh besar.


Satu tebasan, sungguh. Renji telah membunuh orc itu dengan hanya satu tebasan. Perbedaannya sangatlah besar.


“Kau tak apa?” tanya Renji, kemudian Haruhiro secara otomatis mengangguk.


Nggak keren. Nggak keren banget. Kenapa aku sangat menyedihkan? Benar-benar malu, Haruhiro segera kembali berdiri dan berpikir dia tidak seharusnya mengucapkan terima kasih, tapi itu tidaklah terucap.


“Renji, kau membuat mereka marah lagi!” suara baru itu dimiliki oleh orang beramor menakjubkan dengan rambut yang cepak. Dia menunjuk ke arah lain jalan.


Dia adalah Ron. Saat Haruhiro melihat ke mana ia menunjuk, dia melihat tiga orc mendatangi mereka.


“Jeerumea gram fel kanon!” teriak Adachi, seorang Mage dengan kacamata rangka-hitam, sembari ia melepaskan elementalglyph dari ujung tongkatnya.


Haruhiro tidak tahu tipe sihir itu. Sebuah elemental berwarna kebiruan terbang menuju salah satu orc tersebut dan melingkari kakinya. Orc itu tidak tergelincir atau terjatuh, tapi dia tak lagi bisa berjalan. Dua yang lainnya tak peduli dengan temannya yang tersihir. Mereka tetap mendekat.


Tiba-tiba, sebuah kaki yang panjang keluar dari gang dan membentur lutut orc itu. Orc itu tidak mungkin bisa menghindar, tendangan itu sudah terencana dengan matang. Haruhiro tidak yakin, tapi itu kelihatannya seperti teknik bertarung kelas Thief, [KNEESHATTER]. Orc itu jatuh ke depan dengan erangan keras. Orang yang menjatuhkannya sedikit berpakaian mencolok, dengan warna yang cerah.


Sassa, huh...


“Bagus!” ucap Ron, sembari ia melangkah maju untuk membereskan sisanya.


Dilihat bagaimanapun Ron tidaklah pendek; akan tetapi dia masih terlihat sebanding dengan orc. Tapi walaupun tubuhnya kecil, serangan-serangan Ron dapat memukul mundur mereka. Di lain sisi, orc yang tersihir oleh Sassa sudah mulai bisa menggerakkan kakinya lagi untuk bergabung dengan kawannya, walaupun dia kelihatan sangat kesakitan. Sassa tidak membiarkannya. Dia berdiri di depannya untuk menghalanginya, dan dengan tinggi kurang dari lima kaki, dia terlihat seperti kurcaci dengan tubuh canggungnya.


Seorang gadis berpakaian Priest dan membawa sebuah tongkat pendek, juga ada di sana, tapi dia pergi melewati Haruhiro layaknya seorang anak kecil mencoba untuk bertindak seperti orang dewasa. Apa yang Chibi coba lakukan?


Chibi menggumamkan sesuatu dan memukulkan tongkatnya tepat ke arah orc itu. Orc itu mengaum padanya dan menyingkirkan tongkat itu dengan pedang miliknya.


“Ap---!” Haruhiro tersedak.


Ayunan pedang orc itu meleset saat Chibi memukulkan tidak hanya ujung tongkatnya, tapi seluruh batang melingkar dan melengkung.


“Yah!” dia menjerit. Menggunakan momentum dari ayunan tersebut, dia memutarkannya untuk memukul pinggang orc tersebut.


Serangan itu tidak dapat menjatuhkan orc itu, tapi dia mendapat perhatiannya. Orc itu terhenti, dan Chibi melompat kembali ke mana Renji menunggu.


Dia mengelus kepalanya dengan tangan besarnya dan berkata, “Kerja bagus, Chibi.”


Chibi bersenandung senang, wajahnya memerah.


Selanjutnya, Renji menikamkan tepian pedangnya ke pundak orc. Sulit dipercaya walaupun orc itu memakai amor yang kelihatan-kuat---Lagian, itulah Renji. Dia menyentakkan pedangnya, dan disaat yang sama dia menendang dada orc dengan tenaga yang cukup untuk membuatnya terbang. Orc memukul dengan membabi-buta, dan mencoba untuk tidak tumbang, namun itu bukanlah masalah bagi Renji. Dia membunuhnya dengan mudah dengan menusukkan pedang ke bawah tenggorokannya, kemudian memutarnya dan membelahnya.


Sebuah raungan datang dari orc yang Ron geluti; orc itu sudah dipaksa berlutut dengan serangan Ron yang tanpa ampun, dan dia bisa menghabisinya tanpa masalah. Sembari menekan mereka dengan sorakan, Ron menghujani mereka dengan serangan di atas kepala dan dia berhasil dengan cepat. Dia tidak berhenti hingga tengkorak mereka terbuka lebar.


Kuat... dan juga, berisik, catat Haruhiro.


Saat Haruhiro terkagum-kagum oleh Ron, di lain sisi Renji mulai beraksi. Sekarang, dia mendekat ke aras orc yang tadi telah tersihir oleh Adachi, dan cara Renji bergerak—itu mengingatkan Haruhiro kepada Master Barbara dari Guild Thieves-nya. Pergerakan keduanya hampir sama, diam-diam dan senyap.


Haruhiro terpesona terhadapnya.


Apalagi cara Renji menggunakan pedangnya. Walau terlihat sangat berat, tapi Renji mengayun dan memintalnya sangat mudah seakan-akan pedang itu sudah menjadi bagian dari tangannya. Dia telah memotong leher orc pertama, tulang serta semuanya, seolah-olah leher Orc hanyalah secarik kertas tisu. Haruhiro berpikir itulah hal yang paling menakjubkan. Bagaimana mungkin Renji membelah benda sekeras tulang tanpa kesulitan apapun?


“Itu yang terakhir,” kata Ron, menaruh pedangnya ke pundaknya.


Haruhiro tak bergerak, dia takjub—dan mungkin kekagumannyalah yang membuatnya tersadar, saat yang lain lengah. Mungkin ini karena matanya butuh untuk melihat lebih dari satu tempat, jadi walaupun dia tidak mencoba untuk memperhatikan ke semua sisi di sekelilingnya, tapi pandangannya tetap lebih luas dari mereka.


Sesuatu sedang bergerak. Dari atas bangunan. Dari atap.


“Renji, si atasmu!” seru Haruhiro.


Renji segera melompat ke belakang. Sedetik saja terlambat, dia bisa saja terbelah menjadi dua.


Sesuatu telah terjun ke atas Renji dari atap bangunan. Itu adalah sesosok orc dilihat dari manapun; akan tetapi, rambutnya putih, dengan kemilau perak. Aneh juga, karena rambut Renji juga sama-sama perak.


Mungkin ini sebuah hukum alam, pikir Haruhiro. Rambut perak sama-sama gilanya.


Sama seperti Renji, orc itu juga sama gilanya, sama kakunya. Bukan hanya ukurannya. Orc itu mengenakan amor ebony hitam, dan jubah yang terpasang di pundaknya terlihat seperti kulit harimau—atau mungkin itu benar-benar kulit harimau. Sungguh mencolok dan tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkannya selain kampret, gila bener!.


Setiap inci di mukanya berisi tato. Maco gila dan kampret bener. Matanya. Gila bener. Matanya berwarna kuning. Mengerikan dan gila bener. Ekspresinya sangat teratur dan kalem, jadi mungkin dia cukup pintar. Gila bener.


Dan terakhir, pedang yang ada di tangannya. Warnanya ungu, pedang bermata satu, tebal dan panjang, tepian pedangnya sangat tajam, ujungnya bergerigi—kampret, kampret maksimal, sialan.


Terlebih lagi, saat orc gila itu melihat wajah Renji, sekitar sepuluh orc berdatangan lagi dari atap gedung di sekitar mereka. Ini sungguh di luar batas kegilaan yang sepertinya semua situasi ini sudah kampret-nggak-bisa-dibenerin-lagi.


Orc-orc itu bergerak terjun dari atap, tapi mereka semua berhenti ketika orc berpakaian kulit harimau yang kayak-bos, mengangkat tangan kirinya. Ia membuka mulutnya dan mulai berbicara.


“Aku...”


Apa? Haruhiro kebingungan. Apa dia baru saja bilang “Aku”?


“...IshhDogrann. Kau, siapa?”


Dia berbicara. Sumpah! Dia berbicara! Bahasanya memang agak kacau sih, tapi dia bicara bahasa manusia. Ujung bibir Renji sedikit melengkung ke atas. Dia tersenyum. Dia selalu terlihat sedang tersenyum, tapi bukankah agak aneh tersenyum di saat-saat seperti ini?


“Namaku Renji. Kau mau melawanku, IshhDogrann?”


“ONN GASHUU RADDO!” orc yang lain menurunkan senjata saat bos mereka, IshhDogrann memberikan perintah.


Apa itu artinya dia ingin bertarung satu ronde?


“Jangan ada yang ikut campur,” Renji memerintahkan Party-nya, dengan suara pelan.


Apa dia benar-benar ingin melakukannya? Bertarung satu-lawan-satu? Renji serius? Sepertinya sih iya.


Mereka bertarung. Haruhiro tak melihat siapa yang mengambil serangan pertamanya. Kedua pedang saling bertemu dengan suara dentingan yang keras; menimbulkan percikan, dan kuda-kuda mereka terkunci saat keduanya mencoba untuk mengungguli satu sama lain. Tapi mereka tidak hanya menekan sampai situ—mereka juga secara bergantian merubah titik berat tubuh sehingga mereka bisa menggunakan lutut juga.


Jika Haruhiro terkena lututnya seperti yang mereka lakukan, dia bakal terpental jauh hingga terjungkal. Mereka berdua ingin menghancurkan keseimbangan masing-masing, tapi mereka tetap bisa bertahan. Mereka terpisah dengan cepat.


IshhDogrann mengincar kaki Renji, tapi Renji melompat untuk menghindar dari terjungkal dan membalas dengan sebuah serangan ke arah kepala IshhDogrann. Bos orc itu menahannya dengan sebuah sarung tangan di lengannya, merunduk, dan—dan jubah harimaunya. Dia melemparkan jubahnya ke arah Renji.


Haruhiro benar-benar terkejut oleh serangan dadakan itu, tapi Renji tidak. Dia tidak panik, sama sekali tak bersuara, dia hanya menarik jubahnya ke angkasa dan menusukkan pedangnya ke orc itu. IshhDogrann mungkin bermaksud untuk mengejutkan Renji dengan itu dan membuat pertahanan lawannya terbuka.


Saat triknya gagal, orc itu sedikit mundur dan sedikit merundukkan badannya dengan kuda-kuda yang sigap.


“Bagus. Manusia. Kau mahir. Dasar Warrior.”


“Tentu,” Renji menjawab dengan ketus, menutup jarak di antara mereka.


Pedang mereka beradu lagi. Sekarang, kurasa, Renjilah yang menyerang. Tangan Haruhiro mengepalkan genggamannya dengan kuat.


Renji bisa melakukannya. Dia bisa menang. Bunuh dia! Kalahkan dia!


Atau itulah yang Haruhiro percaya. Atau itulah kelihatannya. Renji mendominasi, tetap berada di atas angin. Celakanya, tiba-tiba—dalam sekejap mata, pedang IshhDogrann telah memotong ke dalam tangan kiri Renji.


Apa? Haruhiro tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi.


Renji memisahkan dirinya dari orc itu, melemaskan tangannya. Darahnya mengucur deras dari luka parah di dekat sikunya. Kawan-kawan dari Party-nya tersentak dan meneriakkan kekhawatiran mereka, saat sorakan memuncak dari orc di sekeliling mereka.


Renji menurunkan tangan kirinya, dan menahan genggaman pedangnya dengan tangan kanannya. Sepertinya dia ingin melanjutkan dengan satu tangan—karena luka di tangan kirinya membuatnya tak punya pilihan lain. Tangan itu mungkin sudah tak berguna sekarang. Tapi pedang Renji besar dan berat. Dia jelas berada pada keadaan yang tak menguntungkan.


Dia mengambil nafas dalam... dan tersenyum. Sekalipun sudah luka parah, dia masih tetap tersenyum.


“Tidak buruk,” dia mengatakannya pada bos orc.


Senyumnya berbeda dari yang tadi ia buat. Sekarang bukan hanya ujung bibirnya; senyumnya kini melebar hingga ke seluruh wajahnya. Itu membuat Haruhiro merinding.


Menakutkan... Renji betul-betul menyeramkan, pikirnya, dan itu bukanlah pertama kalinya. Renji memang seperti itu sejak awal.


Renji menyerang lagi. IshhDogrann, masih memegang pedangnya dengan kedua tangan, menangkis serangan satu-tangan dari Renji dengan mudah. Serangan Renji kali ini lebih ringan, dan jika mereka beradu sekarang, dia mungkin tidak akan bisa menandingi kekuatan bos orc itu.


Tentunya, kelihatannya orc tersebut hampir mementalkan pedang Renji dari tangannya beberapa kali—Renji hampir tidak dapat menahan genggamannya. Hal ini membuat tubuh bagian atasnya, dari dada hingga kepala, sangat terbuka untuk diserang.


Chibi berteriak dengan suara nyaringnya saat IshhDogrann memukul wajah Renji dengan punggung tangannya yang memakai armor. Sarung tangan yang ia kenakan seluruhnya terbuat dari logam dan piringan menyatu seluruhnya hingga ke jari-jemarinya. Pukulan tadi mematahkan hidung Renji; memukulnya ke dalam sangat keras, dia bersimbah darah dalam hitungan detik.


Renji, masih tersenyum, menyerang lagi.


Serangannya tertangkis atau terpental di setiap giliran, bahkan bos orc itu menghujani serangan balik kepadanya. Tak lama, Renji diselimuti luka-luka. Dia memakai armor, tapi bukan tipe armor yang benar-benar menutupi penggunanya dari kepala hingga ujung kaki. IshhDogrann mengincar serangannya ke area yang terbuka dengan ketelitian yang mengerikan. Bahkan lebih buruknya, pedang menyeramkan bos orc itu dapat mengoyak bagian armor yang kecil beberapa kali.


“OSHUU! OSHUU! OSHUU!” bawahan orc bersorak kegirangan, mereka menapakkan kaki ke tanah.


Renji terus menyerang, tapi Haruhiro tak mampu lagi berdiri melihatnya. Tekad murninyalah satu-satunya hal yang membuat Renji terus bertahan. Entah seperti itu, atau mungkin Renji tahu jika ia beralih menjadi bertahan, dia bisa dikalahkan dengan segera. Dia tak punya pilihan selain tetap menyerang.


“Ron!” Haruhiro tidak bisa terus diam. “Kau tak akan membantunya?! Kau cuma berdiri di sana?! Adachi! Chibi! Sassa! Renji bisa mati!”


“Jika kita lakukan itu...” ucap Sassa, wajahnya pucat dan berkeringat—dia memaksakan dirinya tersenyum dengan sengit. “Renji akan membunuh kita setelah itu.”


Chibi juga berkata sesuatu, ekspresinya sama marah dengan keinginannya menuliskan perasaan di wajahnya. Haruhiro tidak berpikir itu adalah isyaratnya akan sesuatu, tapi dia tidak yakin.


Renji menyerang lagi dan lagi, akan tetapi IshhDogrann dengan mudah menepisnya. Keadaannya tidaklah berubah. Orc itu terlihat seperti akan mementalkan pedang Renji dari tangannya, bagaimanapun Renji masih bisa menahan genggamannya, membuat tubuh atasnya terbuka sangat lebar untuk diserang. Ini buruk. Tidak ada yang berubah. Renji akan kalah.


IshhDogrann dapat memukul wajah Renji sekali lagi—hanya saja kali ini, Renji tak membiarkannya.


Renji menggenggam pedang dengan kedua tangan dan mengangkatnya tinggi. Bos orc itu segera mundur untuk menghindari serangan selanjutnya.


Tapi itu mustahil. Itu tidak mungkin terjadi. Tangan kiri Renji seharusnya sudah benar-benar tidak berguna lagi... tapi tepat di depan mata Haruhiro, di sana ia berdiri, memegang pedangnya kuat-kuat dengan kedua-tangannya.


Renji mengeluarkan auman buas, haus akan darah. Haruhiro tidak berpikir bahwa IshhDogrann mundur hanya karena itu—tapi dalam hitungan detik, orc itu membeku di sana. Renji melepaskan serangan pedangnya searah diagonal, pedangnya membelah sangat dalam ke arah pundak bos orc.


Lalu dia benar-benar melepaskan pedangnya dan memukul jatuh IshhDogrann dengan satu pukulan. Tanpa henti, Renji terus memukul bos orc itu, tapi amarahnya tidaklah liar dan tak bertujuan. Itu adalah amarah yang teratur. Dengan ketelitian dan ketepatan yang cermat.


Vol 2 g.jpg


IshhDogrann tak lagi bergerak. Keheningan terjadi di sekitar area ini, dengan suara pukulan sistematis, Renji terus menghujani lawannya dengan serangan, dan itu adalah satu-satunya suara yang menggema melalui jalanan ini. Semuanya benar-benar terdiam kecuali Renji. Dia mengepalkan kedua tangannya, mengangkatnya tinggi hingga di atas kepalanya, lalu melayangkan pukulannya yang tersisa ke wajah bos orc itu.


Renji mendesah panjang dan melemaskan lehernya ke kanan dan ke kiri. “Tidak buruk. Tidak buruk sama sekali, IshhDogrann. Akan kupastikan aku mengingat namamu.”


Ron mendengus. “Kau sungguh kacau, Renji.”


Cahaya berlintas pada kacamata Adachi saat dia menatap ke orc yang ada di atas atap. Sassa masih terlihat lemas untuk berdiri. Chibi bergegas berlari ke arah Renji, tapi dia hanya melambai, dan malah mengambil pedang IshhDogrann. Dia menunjuk ke arah orc yang berkeliaran di atas.


“Apa? Kau ingin coba melawanku? Maka ayo turun ke sini! Aku akan mengalahkan kalian semuanya.”


Bukankah dia agak sedikit menyombongkan diri? Pikir Haruhiro. Hanya itu yang bisa dipikirkan oleh Haruhiro. Mungkin adalah ide bagus jika dia sombong pada lawannya dalam keadaan seperti ini.


Salah satu orc melambaikan tangannya untuk memberikan perintah. Beberapa yang lainnya menggerutu terdengar seperti sedang protes, tapi terdiam setelah tatapan orc yang pertama tertuju pada mereka. Mereka semua lalu mundur.


“Aku telah...” Haruhiro hampir tak bisa menahan dirinya, lantas dia menjatuhkan dirinya ke tanah. “Aku telah terselamatkan.”


Itu semua telah terjadi tepat di depan matanya, tapi dia masih belum mempercayainya. Dia menatap Renji, memalingkan wajah, lalu melihat ke arahnya sekali lagi. Renji itu sangatlah kuat dan sungguh menakjubkan. Jika Party Haruhiro dibandingkan dengan grup Renji, kata-kata seperti “tidak cukup” atau “iri” sudah tak lagi pantas.


Renji itu kuat. Benar-benar terlalu kuat.


Haruhiro menghela nafas dan melihat ke bawah ke arah tangannya. Tangannya kosong. Dia segera melinguk ke arah sekitar, tapi benda itu tak ada di manapun. Topi milik Shihoru. Kapan dia menghilangkannya? Itu bukanlah hal yang penting, tapi dia masih tidak bisa mengingatnya. Benda itu sekarang hilang.


“...Apa yang telah aku lakukan?” dia berbisik pada dirinya sendiri.


Mundur ke Ilustrasi Kembali ke Halaman Utama Teruskan ke Bab 2