Iris on Rainy Days Indo: Cerita Pendek - Hari Ke-22 Setelah Aktifasi

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Hari Ke-22 setelah Aktivasi[edit]

Kemudian akhir pekan pun berakhir.

“Jadi, Iris……..”

Diatas sofa, Profesor mengatakan itu, sambil menyilangkan kedua kakinya.

“Berikan jawabanmu.”

“Baiklah.”

Profesor mengatakan itu dengan aneh, tapi dia melhatku seperti remaja yang nakal.

“Ayo kita mulai dengan film yang kau sukai.”

Aku menganguk dan menyiapkan jawaban atas pertanyaan itu.

“Saya menyukai film zombie, terutama film ‘Dancing With The Zombie’.

“Kau sudah menontonya?”

“Iya.”

“Bagaimana?”

“Terdapat banyak zombie.”

“Menarik?”

“Tidak.”

“...”

Alis mata Profesor berkedut.

“Ehem. Jadi ini pertanyaan berikutnya. Baju seperti apa yang ingin kau kenakan?”

“Saya ingin mengenakan baju dengan banyak renda, terutama seragam maid yang ringan.”

“Okay, jadi kau suka seragam maid.”

“Tidak, saya tidak memiliki ketertarikan khusus.”

Pipi Profesor juga berkedut.

“...selanjutnya,” dia mengatakan itu, tapi sepertinya dia sudah kehilangan minat. “Apa yang ingin kau lakukan, Iris.”

“Pelayanan seks.”

“Iris”

“Iya?”

“Semua itu merupakan hal yang tidak ingin kau lakukan, tapi aku sukai, benar ‘kan?”

Setelah mengatakan itu, Profesor menggerakan tanganya, “Oh, tidak, pelayanan seks itu tidak termasuk.”

“Apa ada yang salah dengan jawaban saya?”

“Semuanya salah.”

Profesor menekan mata dengan jarinya dan memijitnya.

“Ini pertama kalinya aku mendengar robot berkata bohong dengan begitu mudahnya.”

“Saya tidak berbohong.”

Aku mengutarakan hal itu sesuai fakta.

“Apa yang ingin anda lakukan adalah apa yang ingin saya lakukan. Aku tidak berbohong.”

“Kau berbohong. Kau berbohong.”

“Saya tidak berbohong.”

“Aku tidak mau mengakuinya.”

Profesor menyandarkan tubuhnya pada kursi dan mendongakkan kepalanya.

“Hm, dua puluh tiga hari memang waktu yang terbilang singkat.”

“Apa yang anda maksudkan?”

“Maksudku, kau belum memahami perasaamu sendiri, Iris.”

……Perasaan.

Aku sudah memikirkan itu seminggu ini. Perasaanku. Apa yang ingin aku lakukan. Apa yang kusukai...

“Apakah itu adalah Prosedur Pemeliharaan Kesadaran Pribadi yang termasuk dalam fungsi emosi?”

“Iya, itu.”

Itu adalah fungsi yang diadopsi dari perasaan manusia. Kepribadian terbentuk setelah manusia lahir, kemudian dia memutuskan sesuatu menurut kehendaknya masing-masing.

Tetapi robot berbeda. Robot disesuaikan dari awal menurut kebutuhan penggunanya. Bisa dikatakan bahwa ‘sifat’ robot adalah kebalikan dengan kepribadian manusia.

“Baiklah, Iris tolong jawab pertanyaan selanjutnya.”

“Pertanyaan?”

“Apa yang dimaksud dengan Prosedur Pemeliharaan Kesadaran Pribadi? Jelaskan secara singkat dengan dua puluh kata.”

“Itu adalah fungsi emosi terdapat pada robot yang berfungsi membentuk, mengubah, atau melengkapi kepribadian dasar untuk mencocokan kebutuhan pengguna mereka.”

“Berapa kata tadi yang kau ucapkan?”

“Dua puluh.”

“Wuu..”. Profesor menunjukkan ekspresi kekalahan yang aneh di wajahnya, “... jadi nama apa yang umum untuk proses itu?”

Aku mendapatkan jawaban itu dalam 0.1 detik.

“Proses Perkembangan.”

“Bagus.”

Profesor bertepuk tangan.

“Aku memberimu proses perkembangan. Jadi seperti itulah maksudku, aku berharap kau bisa ‘berkembang’.”

“Saya... berkembang?”

“Iya. Melihat, mendengar, merasakan, dan tergangu karena hal-hal yang berbeda. Dengan itu, kau bisa berkembang. Aku berharap kau bisa berkembang perlahan menjadi dewasa.”

“...”

Aku menjalankan sirkuit mentalku dengan kecepatan penuh, memahami perkataan Profesor.

“Apa?”

“Iya?”

Aku tidak memahami itu tapi aku tetap mencoba, jadi aku menanyakan penjelasan lebih lanjut lagi.

“Profesor, kenapa anda berharap aku dapat berkembang?”

“Soal itu...”

Profesor memandangku lagi dan mengernyitkan matanya seakan dia melihat sesuatu yang terang.

“Kau bisa mendapat kehidupan yang baik meski sendirian.”

Kehidupan kami berlanjut dengan tenang.

Keesokan harinya, aku memasak. Setelah selesai sarapan, Profesor pergi ke pusat penelitian untuk bekerja. Sebelum dia kembali, aku memasak, mencuci, bersih-bersih, dan melakukan setiap pekerjaan rumah. Di sore hari, aku berdiri di depan pintu untuk menyambut kepulangan Profesor.

Setiap hari selalu sama.

Aku berbincang tentang apapun bersama Profesor di malam hari. Pada makan malam yang baru saja kami lakukan, kami berbincang tentang aktor tv pada acara drama sabun dan bagaimana dia menghabisakan liburanya….hanya itu, dari sudut pandang manusia itu merupakan basa-basi.

Tentu saja, kami juga membicarakan tentang ‘PR’.

Apa yang aku inginkan……untuk mendapatkan jawaban ini, aku jalankan mental sirkuit sekuat tenaga. Aku juga mengajukan pertanyaan kepada Profesor, dan aku mendapat jawaban yang berbeda.

“Iris. kau sudah berhasil mendapat cukup ‘perasaan’ dan juga kesadaran diri. Jika kau benar-benar sadar akan hal ini, kau bisa lebih jujur pada dirimu sendiri.”

“Menjadi lebih jujur...”

“Iya.”

“Saya kurang mengerti.”

Aku selalu mengatakan itu di saat aku tidak menemukan jawaban.

“Profesor, anda bisa membuat keputusan apapun, dan saya akan mengikutinya.”

“Tidak, aku tidak akan pernah melakukan itu.”

Profesor menjawab itu dengan nada jahil, kemudian dia memukul kepalaku.

Lalu dia selalu berkata, “Kau harus memutuskan sendiri pilihanmu.”

Kemudian, aku bebincang banyak dengan Profesor. Hari-hari berlalu. Jadwal terisi. Minggu depan, akhir pekan bulan ini, hari libur bulan depan…. semuanya terjadwal sesuai rencana Profesor. Dan aku akan terus hidup dengan damai...

Setidaknya, itulah yang aku pikirkan.

.....Sampai suatu hari.