Iris on Rainy Days Indo: Eksekusi - battery=03:58:01

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

baterai=03:58:01[edit]

Kau tidak akan pernah bisa membayangkan seperti apa Volkov yang lamban bisa berlari secepat ini.

Dia berlari kencang di jalanan, menuruni tangga dengan cepat, menabrakan dirinya ke pembatas, bergerak kesan-kemari di dalam kota. Lilith dan aku berbaring di tangan kuatnya seperti bayi, menatap dengan kosong pada pemandangan malam yang jauh membentang.

Setelah sekitar sepuluh menit, kami sampai di bawah jembatan besi di mana tidak ada satupun orang yang melintas. Sebuah sungai besar dengan lebar sekitar tiga puluh meter mengalir dalam kegelapan, di mana jembatan besi berada di atasnya. Aku sudah tidak lagi mendengar bunyi sirine, jadi sepertinya kami berada jauh dari tempat di mana kami bertarung dengan polisi.

Aku kehilangan tubuh bagian bawah, oleh karena itu, aku tidak bisa lagi duduk secara normal, aku hanya bisa bertumpu pada rangka bawah jembatan. Lilith berbaring di jalanan dengan lemas, menggunakan lengan kirinya untuk menekan bahu yang sekarang sudah hilang sebagian, doa menatap pada robot raksasa hitam pekat, yang berdiri di samping kami seperti patung penjaga.

“Kamu ini…. kenapa sih?”

Lilith bertanya dengan nada khawatir, tapi dia tidak menjawab, dan hanya menatap tanpa sekalipun berkedip pada kami.

“Volkov Galosh.” Lilith memanggil namanya dengan nada rendah, “Katakan sesuatu.”

“....” Raksasa hitam itu tidak menjawab.

Sebuah kereta perlahan melintas pada jembatan di atas kami. Rambut Lilith berkibar oleh angin, lalu jatuh kembali ke atas bahunya.

“........ Yang benar saja.” Lilith berdiri setelah menyangga dirinya pada permukaan tanah dengan tangan kiri.

“Lilith?”

“Aku harus membangunkan pria ini.”

Lilith mendekatinya, kemudian…..

Dia mengetuk pinggul Volkov.

“Hey! hey! Hey! hey! Ada orang di dalam!!? Ada orang di dalam!!?”

Lilith mengetuk pinggul Volkov dengan sekuat tenaga…. alih-alih menyebutnya mengetuk, bisa dikatakan dia memukulnya.

“Aku tahu ada orang di dalam!” dia berteriak mengancam, “Keluar sekarang juga!”

Pada saat itu juga.

Mata Volkov tiba-tiba menyala. Kemudian, lehernya bergerak dengan suara keretak. Volkov menatap gadis yang sedang memukuli tubuhnya.

Kemudian dia berkata dengan lambat seperti biasanya.

“Oh....... Volkov-ada- ada.”

“Lama sekali!” Lilith memukul lengannya tanpa ampun.

“Lilith- sangat- kejam.”

“Ini semua salahmu!” Lilith memukul Volkov lagi. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Lilith berbalik untuk melihatku, dan mengangkat bahu sambil berkata: “Yang benar saja, dia hanya membuat kita berada dalam masalah.” Meskipun dia berkata seperti itu, ekspresinya menunjukan bahwa dia sedikit lega.

“Mnn, yahh..... terima kasih untuk yang tadi.”

Lilith menatapnya sekilas dengan malu, menggumamkan: “...... terima kasih.”

“Lilith- malu.”

“Diam.”

Lilith memiringkan kepalanya ke samping, sementara Volkov menggaruk kepalanya. Melihat interaksi mereka sudah kembali normal, aku pun merasa lega. Sebuah kereta melintas pada jembatan besi sekali lagi, dan getaran datang dari belakang kami.

Setelah suara kereta berhenti, aku bertanya.

“Lilith, apa kau baik-baik saja?”

Wajah bagian kirinya terluka, dan terlihat sangat menyakitkan. Itu adalah bekas yang tertinggal setelah tertembak oleh senjata laser milik polisi. Dan juga, bagian tangan kirinya telah lenyap.

“.....” Lilith tidak menjawab

“Lilith?”

“Ahh, mnn, aku baik-baik saja. Hanya saja sistem pendengaranku rusak. Malah, aku yang harusnya bertanya, apa kau baik-baik saja?”

“Aku, yahh.......”

Aku menatap pada tubuh bagian bawah, kawat dan pipa berserakan seperti jeroan.

“Ahh, maaf, tidak mungkin kau baik-baik saja.”

“Bagian utama, yaitu sirkuitku masih berfungsi, jadi pada dasarnya aku baik-baik saja.”

“...... seperti itu ya.”

Sepertinya Lilith ingin mengatakan hal lain, tapi dihentikan. Mungkin, dia berpikir bahwa sia-sia memikirkan luka kami sekarang.

“Lalu...... apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”

“Mnn......”

Lilith kebingungan.

“Volkov, kau ada ide?”

Setiap berada dalam hal yang serius. Dia selalu menanyakan pendapat Volkov.

Raksasa itu perlahan menaikan kepalanya, membuat suara “Hmm...”

“Volkov- tidak- tahu.”

“Huh...” Lilith menekan tangan ke dahinya, menggumam, “Aku yang bodoh menanyakan hal ini padamu.”

Setelah itu, dia balik bertanya padaku.

“Bagaimana menurutnu, Iris?”

“Yahh.... ku pikir lebih baik kalau kita bersembunyi dulu.”

“Mnn, masih terlalu bahaya untuk kita melarikan diri ke kota sebelah. Perlu waktu lagi hingga semuanya aman, lalu kita pergi....”

Lilith mengatakan kata-kata yang hanya diucapkan seorang kriminal. Tidak, sekarang kami memanglah kriminal.

“Tapi, tetap tinggal di sini juga tidak baik. Ayo kita cari tempat yang lebih cocok untuk bersembunyi.”

“Yeah.”

“Volkov, gendong Iris.”

Volkov mengangguk, mengulurkan tanganya padaku.