Iris on Rainy Days Indo Teks Penuh

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Prolog[edit]

Berikut adalah sisa-sisa dari robot yang telah dihancurkan.

Lengan kirinya telah terpisah dari bahunya. Lengan kirinya yang tersisa membengkok kea rah yang tidak wajar. Tubuh bagian bawahnya, yang terburai, menghilang. Dari perutnya, katup dan bagian-bagian yang terlihat seperti organ berjumbai berantakan.

Sekilas, robot ini seperti tak lebih dari sebuah rongsokan. Tapi di masa lalu, dia hidup bahagia dengan melayani sebuah keluarga dan dicintai oleh pemiliknya.

HRM021-a, terdaftar dengan nama Iris Rain Umbrella.

Berdasarkan data pada sirkuit mental milik HRM021-a, rekaman ini direkonstruksi oleh Ralph Ciel, dari Laboratorium Robotik Pertama, Universitas Oval.

Bab 1 – Pembongkaran[edit]

"Hati-hati di jalan! Pulanglah lebih awal!" (Iris Rain Umbrella)

Iris on Rainy Days p012.jpg

7 Hari Sebelumnya[edit]

Di pusat Venus Fountain Plaza, berdirilah sebuah patung dewi yang sangat menakjubkan.

Dia memiliki tungkai dan lengan yang ramping, kulit seputih susu, dan sosok yang begitu agung. Hari ini, dewi tersebut menyunggingkan senyum simpul di wajahnya, dan dalam diam mengamati sekitarnya.

Kota Oval pernah runtuh saat terjadi peperangan. Saat sebagian besar daerah di kota tersebut terbakar habis, hanya patung dewi itu yang secara ajaib selamat dengan tanpa tergores. Sejak saat itu, patung dewi tersebut menjadi simbol harapan dan kebangkitan, dan dilindungi sebagai aset budaya terpenting milik negara kami.

Selain patung dewi setinggi 170 cm itu, air mancur tersebut memancurkan banyak air yang berwarna-warni. Di bangku coklat yang banyak terdapat di sekitar air mancur, para orang tua saling mengobrol, anak-anak sedang bermain, dan pasangan-pasangan kekasih asyik memadu kasih. Suasana penuh harmoni tersebut seperti yang terdapat di dalam lukisan.

-benar-benar mirip.

Kemudian aku mendengar suara keriuhan, dan aku segera menyesuaikan fungsi pupil di dalam sistem visualku. Setelah memfokuskan pandangan ke arah patung dewi, aku mendesah pelan.

Patung dewi tersebut terlihat seperti Professor. Profesor merupakan peneliti robot unggulan, Doktor Wendy von Umbrella, Ph. D. Aku sangat bangga padanya: dia merupakan sosok yang tinggi, cantik, anggun, memiliki rambut berwarna hitam, dan memakai kacamata dengan gagang perak mengkilap yang sangat cocok baginya.

Sementara aku sedang membayangkan sosok Profesor, aku tengah menatap patung dewi dengan tatapan kosong, kemudian tercium bau asam manis dari asap rokok. Aku lalu memutar leherku untuk mencari sumber bau tersebut.

Orang yang duduk di bangku dan sedang merokok adalah seorang lelaki paruh baya yang mengenakan setelan biru gelap. Dia sedang membaca Oval Daily edisi hari ini; tapi barusan dia mulai melihatku dengan sembunyi-sembunyi tiap beberapa saat. Aku menyapanya sambil tersenyum, dan dengan tersipu dia mengalihkan pandangannya.

Rokok elektrik, ngomong-ngomong, merupakan produk yang digunakan untuk latihan berhenti merokok. Bentuknya bundar seperti namanya dan ukurannya sebesar lingkaran yang dibuat dengan melingkarkan jari jempol dan telunjukmu. Saat orang akan menghisapnya, rokok bundar itu akan mendadak tegak, dan kemudian ujungnya dapat dinyalakan.

Meskipun rokok itu digunakan untuk menggantikan tembakau dan membantu perokok untuk berhenti, akhir-akhir ini banyak perokok yang membelinya karena mereka suka dengan aromanya. Rokok elektrik yang paling populer adalah yang berbentuk angka 8 dengan menggabungkan dua rokok menjadi satu. Rokok yang seperti ini bisa dipisah menjadi dua bagian, satu untuk merokok, dan satunya untuk wadah abu.

Aku tahu tentang hal itu karena Profesor Umbrella menyukai rokok yang seperti itu.

- Mnn.

Aku kembali memandang patung dewi itu lagi, dan mulai merenung. Patung dewi itu benar-benar mirip dengan Profesor. Tapi, aku merasa ada 'sesuatu' yang kurang. Setiap aku melihatnya, aku punya perasaan aneh.

Saat pertanyaan sia-sia ini muncul di benakku, waktu pun telah habis.

- Lima menit lagi, kau akan terlambat untuk pulang dari waktu yang dijadwalkan.

Suara elektrik dari sirkuit jiwaku mengingatkanku untuk cepat pulang.

- Baiklah, ini sudah hampir waktunya pergi.

Aku kemudian berbalik dan segera pulang. Keranjang belanja di tanganku dipenuhi oleh bahan-bahan untuk makan malam hari ini, dan seekor ikan La Bier yang berkilat licin kuletakkan di punggungku, sehingga orang-orang di jalan menoleh saat melihatku. Wajar kalau mereka terkejut melihatku membawa ikan besar sepanjang satu meter sedangkan tinggiku sendiri hanya seratus lima puluh sentimeter. Tapi setelah mereka tahu kalau aku adalah robot, mereka memakluminya.

Membedakan antara robot dan manusia sangatlah mudah. Yang memiliki antena bundar di telinganya (mirip seperti earphone) adalah robot, yang tidak punya itu adalah manusia. "Itu robot dari kediaman Umbrella!"- sebuah suara sangat jelas memasuki sistem pendengaranku. Jadi aku tersenyum kepada orang tersebut.

Robot yang dimiliki sebuah keluarga bukanlah hal yang aneh, karena Profesor adalah orang yang terkenal, aku selalu diperhatikan saat aku lewat.

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit dari Fountain Plaza, aku tiba di kediaman Umbrella. Dengan menghadap pintu berwarna biru-ivy itu aku berkata: "Nomor sertifikasi HRM021-a, Iris Rain Umbrella. Aku pulang." Setelah suara elektronis berkata "Sertifikasi selesai, silahkan masuk", pintu besar itu lalu membuka.

Kediaman Umbrella adalah tempat yang sangat besar. Terdapat halaman yang luasnya seperti tiga petak stasiun, dan benar-benar luas jika dibandingkan dengan tempat tinggal para administrator. Dinding luar yang menggunakan bata merah membuat orang mengerti tentang keagungan sejarah dan tradisi keluarga Umbrella. Setelah memasuki tempat tinggalnya, akan terdapat aula yang mewah. Sinar matahari yang masuk dari luar akan mengenai tempat lilin dan menghasilkan pantulan yang berwarna-warni. Karpet yang terhampar di lantai terlihat sama seperti yang biasanya ada di kastil kuno. Berbagai lukisan raksasa tergantung di tembok. Setiap lukisan harganya cukup untuk berfoya-foya selama hidup. Setelah melewati koridor dengan lantai yang sangat mengkilap, aku menaruh ikan yang kubawa di lemari pendingin. Aku merasa agak baikan setelahnya, dan aku berjalan ke arah ruangan paling barat di lantai ini

- Ruang riset. Di ruang riset terdapat banyak alat dan bahan, ruang yang bersih tapi dingin itu seperti lapangan bersalju saat musim dingin.

Kemudian aku duduk di ranjang berwarna krem dekat dinding dan mengecek status meterku. Batere 82.50%, kotoran tubuh 1.73%. Tenaganya masih cukup untuk bekerja, tapi Profesor menyuruhku mengisi ulang. Jadi aku akan mengisi. Setelah membersihkan tabung panjang dengan bahan kimia dua kali, aku membuka tutup di pergelangan tanganku, terdapat selang penghubung disitu. Jika aku melakukan kesalahan dalam tahapannya, minyak mesin berwarna hitam itu akan tercecer di ruangan ini, jadi aku harus sangat berhati-hati. Aku memasukkan tabung tersebut ke tangan kanan dan kiriku secara berurutan, lalu kutekan sebuah tombol di mesinnya. Tenaga listrik dan minyak pelumas lainnya secara perlahan mengalir melalui selang penghubung di pergelangan tanganku. Pada saat yang sama, kotoran berwarna coklat tersedot keluar melalui pergelangan tangan kiriku.

Di bagian awal pedoman perawatan robot dikatakan bahwa sistemnya sama seperti manusia yang menggunakan infus. Memang benar, sistem tersebut mengeluarkan dan membersihkan kotoran di dalam tubuh, jadi lebih seperti dialisis buatan daripada infus. Aku mendongak saat mengisi batere, melihat ke lapisan logam di langit-langit. Cerminnya memantulkan seluruh bayangan diriku.

Secara teknis, tidak ada perbedaan gender pada robot, tapi aku nampak seperti anak perempuan. Umurku diatur menjadi sekitar lima belas tahun. Aku memiliki mata biru dengan alis lentik dan rambut bergelombang sebahu dengan warna maroon. Panjang tungkai dan lenganku hampir sama dengan Profesor dan wajahku sangat cantik seperti Profesor - Aku tahu ini karena Profesor selalu memuji kecantikanku - bukan hanya pendapatku saja. Baju Maid yang kupakai dirancang dalam gaya seperti di dongeng-dongeng. Sebuah bandana pelayan terpasang di kepalaku, sementara potongan apronnya memperjelas lekukan dadaku. Gaun berwarna peach yang kupakai ketat di bagian pinggang, sementara bagian bawahnya sangat longgar, dan membuat orang melihatnya seperti baju pengantin. Di mana Profesor membeli pakaian pelayan yang cantik ini, pikirku? Sampai sekarang itu masih menjadi misteri. Setelah dua belas menit lebih satu detik, proses pengisian selesai. Batere 99.93%, kotoran di tubuh 0.02%.

- Baiklah, target telah tercapai.

Aku turun dari ranjang, meninggalkan ruang riset. Tujuanku selanjutnya adalah dapur, karena aku harus menyiapkan makan malam. Di dapur yang luas dan tidak kalah dengan restoran berkelas itu, aku mulai merebus ikan La Bier. Ada banyak panci, wastafel, dan kompor gas di sini, tapi aku selalu memasak di bagian kiri dapur. Profesor sangatlah kaya, dan dia bahkan bisa mempekerjakan lebih dari sepuluh, atau dua puluh juru masak, tapi dia tidak memiliki satupun sampai sekarang. Tak hanya juru masak, dia juga tidak mempekerjakan pelayan, dan aku harus mengurus kediaman Umbrella yang sangat luas ini. Aku hanya berusaha sekuat tenaga, dengan rajin mengerjakan hal-hal seperti memasak, mencuci baju dan menyapu lantai. Aku segera memotong ikan La Bier, dan mengangkat potongan ikannya secara perlahan.

-- 200.0025 gram.

Sementara aku mencari resep yang terdapat di sirkuit jiwaku, aku menyelesaikan persiapan membuat rebusan Bill Labier. Ngomong-ngomong, ‘La Bier’ adalah ikan yang mirip dengan salmon, sedangkan ‘La Bier’ sendiri adalah nama orang. Aku pernah mendengar seorang nelayan bernama La Bier berhasil menangkap ikan La Bier besar beberapa waktu lalu, dan dia membutuhkan waktu semalaman untuk menghabiskannya. Dia memasaknya dengan cara memotong-motongnya lalu merebusnya bersama dengan beberapa rempah – itulah cara masak La Bier yang sebenarnya. Memang kedengarannya gampang, tapi kalau kau ingin memasaknya dengan benar, kau memerlukan beberapa teknik. Gampangnya, kau harus mengatur apinya dengan seksama dan dengan sabar menghilangkan busanya. Sejak saat aku mengambil pisau dapur, dua puluh tujuh menit telah berlalu, dan aku menyelesaikan pekerjaanku. Aku menaruh sisa makanan ke dalam lemari es. Profesor tidak memiliki banyak tamu, jadi mungkin sisa makanan ini akan membusuk di dalam lemari es. Dengan banyaknya bahan yang dibeli dan dapur yang begitu luas, keluarga Umbrella mungkin memang boros.

Saat aku mengeluh dengan suara pelan, sebuah suara elektonik bergema di benakku.

--- Profesor Wendy von Umbrella sudah pulang.

“Dia kembali!”

Aku bergegas dari dapur, melewati aula, dan dengan kasar membuka pintu. Dengan baju yang berkibar, aku segera berlari ke halaman depan.

--- Profesor! Profesor!! Profesor!!! Seseorang yang melewati gerbang adalah seseorang wanita yang tinggi, berambut hitam, dan memakai jaket, terlihat seanggun angsa dan terlihat begitu cantik meskipun dia tak memakai make up – Profesorku berjalan santai menujuku. Dan dia kemudian melambaikan tangannya.

Tanpa peduli akan kehabisan batere, aku berlari sekuat tenaga menuju Profesor. Aku berlari dengan kecepatan seratus meter dalam 9 detik, dan mengerem dengan mendadak tiga meter di depan Profesor. Aku tidak berkeringat maupun terengah-engah, tapi badanku mengeluarkan panas seperti kompor yang dihidupkan, seolah-olah tubuhku mendidih. Sosok Profesor bergerak-gerak dalam sirkuit jiwaku.

“Selamat datang kembali, Profesor!”

Aku merentangkan lenganku saat menyambut Profesor. Hal ini mungkin terlihat berlebihan, tapi itulah caraku menunjukkan rasa sayangku kepada Profesor. Profesor melihatku sambil tersenyum. Dia mematikan rokoknya dan membersihkan debunya. Sistem penciumanku mendeteksi bau asam manis setelahnya.

“Aku pulang, Iris. Apakah kau berbuat baik hari ini?”

Itu adalah suara yang agak dalam dan dingin bagi seorang perempuan. Kacamata berbingkai perak di hidungnya membuat wajah bijaknya bahkan terlihat lebih luar biasa.

“Ya! Saya sudah berbuat banyak hal baik hari ini, Profesor!”

“Begitu ya. Lalu bagaimana dengan makan malamnya?”

“Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya memasak sup ikan La Bier!”

“Bagus sekali”

Profesor menjulurkan tangan kanannya padaku.

--- Ini dia!

Aku dengan bahagia menanti saat tersebut.

Tangan Profesor dengan lembut menyentuh pucuk kepalaku. Dia kemudian mengelus-elus rambut maroonku dengan lembut.

Ini benar-benar kebahagiaan yang tiada tara.

Terdengar suara penuh kepuasan dari tenggorokanku saat aku dielus-elus bagaikan anak kucing. Aku menikmati belaian tangan lembut Profesor, dan bau asam manis dari tembakau yang menggelitik hidungku.

Makan malam selalu menjadi saat yang membuatku gugup.

Profesor dengan perlahan menyendok sepotong ikan La Bier dari mangkuknya. Dia kemudian melanjutkan dengan memakai pisau kecil untuk memotong ikannya, menusukkan garpu kemudian melahapnya dengan bibirnya yang semerah mawar.

Karena sedang mengunyah, wajah Profesor bergerak sedikit. Aku menatap wajahnya dengan agak khawatir.

--- Profesor, bagaimana? Enakkah?

Berkali-kali aku bertanya dalam hati, menunggu Profesor mengatakan pendapatnya.

“Hmm....”

Profesor memutar lehernya. Kemudian, sirkuit jiwaku mendadak dingin. Jika digambarkan dalam sudut pandang manusia, itu seperti sensasi ketika kau merinding.

“E- e- e- mmm, anu, apakah ada yang salah?”

Tanyaku dengan cepat sambil merasa agak pusing. Bagi Iris Umbrella yang selalu bangga dengan kemampuannya melakukan pekerjaan rumah tangga, diberi tahu kalau masakanku tidak enak bagaikan mendapat pertanyaan tentang apa arti eksistensiku sendiri.

“Kalau boleh jujur...”

Profesor, dengan menaikkan satu alis indahnya, berkata dengan nada yang kurang menyenangkan.

“K...Kalau boleh j...jujur?” aku menanti dengan gugup komentar selanjutnya.

Tapi, kemudian mulut Profesor melengkung membentuk senyuman. Dia lalu berkata.

“Ini sangat enak”

Aku sangat terkejut dan tanpa sadar membuat suara “Eh...?” yang terdengar bodoh.

“Ah... Eh? Apa anda tidak menyukainya....”

“Tidak, ini sangat enak. Dan kupikir kau mengatur apinya dengan baik.”

“............”

“Oh? Ada apa, Iris? Kenapa kau menunjukkan ekspresi tercekat begitu?”

Kau bisa bilang bahwa Profesor adalah seorang S. Ya, S dalam permainan S&M. Seorang yang sadis. Dia selalu menggunakan hal-hal seperti ini untuk menjebakku. Ngomong-ngomong, ini adalah yang kedua puluh empat kalinya. Hal yang disesalkan dari sebuah robot adalah mereka dapat mengingat dengan jelas beberapa hal yang sepele sekalipun.

Iris on Rainy Days p025.jpg

“Ya ampun, Profesor! Saya sudah mengatakan untuk tidak membuat lelucon yang seperti itu!” Aku melempar serbet dengan marah kepada Profesor.

“Oi, oi, itu terlalu berlebihan”

“Sup ikan La Bier itulah yang berlebihan! Anda memberitahu saya untuk membeli seekor, dan apa yang akan anda lakukan dengan sisanya!” Dengan santai Profesor menjawab “Aku akan menghabiskannya dalam 2 hari,” dan meneruskan makan. Aku membalas “Anda selalu berbohong.......,” meremas serbet terakhir, melemparnya, dan serbet itu mengenai lengan Profesor dengan bunyi plop.

“Mnn, ini sangat enak. Iris sangat pintar memasak.”

Ujar profesor dengan berhati-hati, dan menyuapkan sepotong La Bier lagi ke mulutnya. Meskipun aku agak merasa kesal, melihat Profesor menikmati supnya, ada sedikit kepuasan dalam hatiku.

Setelah makan malam, Profesor pergi ke kamar mandi. Saat mencuci piring, aku mengingat-ingat kelakuan-kelakuan Profesor yang kekanak-kanakan, tertawa sebentar, lalu merasa sebal, tapi aku masih terus tersenyum.

Hari ini, Profesor masih kelihatan cantik, masih suka mengolok-olok orang, masih lembut dan masih suka mengelus rambutku.

--- Mmm, saat ini aku merasa puas dan tidak dapat berbicara.

Malam yang damai begitu cepat berlalu, dan sekarang waktunya tidur. Aku mengganti pakaianku dengan piyama kesayanganku yang bermotif bunga-bunga, kemudian mengetuk pintu kamar Professor.

“Profesor, maaf mengganggu”

Aku masuk ke dalam kamarnya. Seperti biasa, Profesor memakai piyama ungu yang agak terbuka di bagian dadanya, dan sedang berbaring di ranjangnya. Dia sedang menghisap rokok elektriknya. Bau asam manis bercampur dengan sedikit aroma peppermint, dan aroma tersebut berhembus bersama dengan asap rokok. Slogan di televisi yang mengatakan “Rasa dari cinta pertamamu”, sepertinya sangat tepat. Itu benar – itu adalah rasa dari cinta pertamaku. Cinta antara Profesor dan aku – aku ingin merasakannya juga, tapi hanya aku saja yang jatuh cinta, Profesor sendiri cukup kalem menyikapinya. Aku mengerti perasaan ini mungkin sia-sia, jadi sebaiknya aku berhati-hati.

“Profesor, merokok di tempat tidur itu tidak sopan.”

“Itu tidak melanggar hukum.”

“Dan bisa menyebabkan kebakaran.”

“Aku tidak pernah dengar ada cirgarette yang menyebabkan kebakaran”

Profesor menatap langit-langit, terus mengepulkan asap. Ah, benar, ‘cirgarette’ adalah nama lain dari rokok elektrik.

“Data mengatakan ada delapan kejadian total di tahun ini”

Aku menutupi pandangan Profesor dengan menjulurkan kepalaku dari atas. Asapnya membuat mataku perih.

“Berapa kali hal tersebut terjadi di Kota Oval?” Profesor terus merokok.

“.......tidak pernahl”

“Kalau begitu ini tidak apa-apa”

“Tapi anda tidak bisa menggunakan hal tersebut sebagai dalih, Profesor”

Aku dengan keras kepala merebut rokok tersebut dari Profesor. “Ah, kembalikan!” Profesor segera duduk dan mengulurkan tangannya ke sikuku. Sebagai balasan karena Profesor mengerjaiku saat makan malam, aku berlari ke sekeliling kamar sambil memegang rokoknya. Profesor segera bangkit dan mengejarku. Aku bersembunyi di belakang meja dan kursi agar Profesor tidak bisa menangkapku. Meskipun kelihatan kekanak-kanakan, tapi masih ada sisi yang menyenangkannya.

--- Ah

Patung dewi itu tidak memakai kacamata.

“Ada apa?” Profesor menatapku dari ranjang. Aku secara perlahan memiringkan kepalaku, dan mengatakan pendapatku dengan jujur: “Profesor sangat... cocok mengenakan kacamata dan merokok.”

“Hah? Kenapa kau tiba-tiba berkata begitu?”

“Tidak, itu hanya pendapatku.... Tidak apa-apa kan, Profesor?”

Pertanyaan tersebut berarti, “Bolehkah aku masuk ke selimut Profesor?”

“Kemarilah.”

Profesor mengangkat selimutnya dan melambai padaku. Aku berkata “Permisi,” kemudian dengan gugup berbaring di sebelah Profesor. Setelah itu aku meringkuk dan mendongakkan kepalaku untuk melihat Profesor.

Kami berbaring begitu dekat, dan aku bisa melihat bayanganku di pupilnya.

“Selamat tidur, Profesor,”

Aku kemudian menyandarkan kepalaku di dada Profesor yang besar dan empuk. Rasanya begitu nyaman dan aromanya begitu harum. Professor memelukku dengan lembut dan mengelus rambutku. Kemudian dia berkata “Selamat tidur, Iris” dan mencium keningku.

Setelah mengubah statusku ke mode tidur, aku memasuki dunia mimpi.

Aku juga senang hari ini.

Enam Hari Sebelumnya[edit]

“Terima kasih sudah berlangganan!”

Seperti biasa, suara pelayan tersebut terdengar begitu bersemangat di belakangku. Aku kemudian berjalan menuju kediaman Umbrella. Jika kemarin aku membawa ikan La Bier besar, hari ini aku membawa kaki sapi coklat dan daun bawang. Karena tubuhku kecil, aku benar-benar terlihat seperti dihimpit oleh daging dan daun bawang.

Aku berjalan dengan cepat dan orang-orang di jalan menatapku. Setelah aku pikir-pikir lagi, menu makan malam di kediaman Umbrella selalu diketahui oleh orang-orang. Tadi malam kami memasak sup La Bier, dan hari ini menunya adalah sup daging dengan bawang ala Oval. Setelah memutari sudut dan berjalan lewat Venus Fountain Plaza, aku tiba di Commerce Avenue.

Kota Oval begitu menawan, dengan sungai yang mengalir di sekitarnya dan kotanya terlihat berbentuk oval dari atas. Daerah ini pernah dilanda banjir, tapi populasinya – baik pendatang atau warga setempat – terus meningkat sejak sistem pengairan dan pembuangannya selesai dibangun. Ngomong-ngomong, tempat kerja Profesor – Laboratorium Robotik Pertama Universitas Oval – adalah bangunan tertinggi di kota ini.

Pusat penelitian robot tersebut hampir seluruhnya menjadi tujuan wisata, sehingga warganya sangat toleran terhadap robot. Setidaknya, tidak ada papan dengan tulisan ‘Robot dilarang masuk’ yang ditempel di bus atau di restoran. Namun bahkan di kota yang seperi ini, tidak semua orang toleran terhadap robot. Seperti barusan, sekelompok ibu-ibu yang tinggal di sekitar sini bergosip :

“Lihat, itu kan robot milik profesor wanita itu”

“Ya, dan dia sangat aneh...”

Aku tidak mendengarkan percakapan tersebut dengan sengaja, itu hanyalah salah satu fungsiku yang secara otomatis mendeteksi suara-suara yang ada di sekitarku.

Pertama, aku harus menekankan bahwa aku adalah robot biasa yang diciptakan oleh Profesor untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dan nomor sertifikasiku adalah HRM021-a. Tugasku adalah mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dan berbincang-bincang dengan Profesor. Sudah, itu saja.

Hanya saja, orang-orang memang senang bergosip, dan makin lama rumornya makin bertambah. Diantara gosip yang tidak mengenakkan itu mengatakan bahwa ilmuwan robotik top Wendy von Umbrella adalah seorang lesbian dan memiliki ketertarikan yang menyimpang terhadap robot berbentuk gadis kecil – atau semacamnya. Mungkin karena Profesor adalah wanita lajang dan telah banyak menolak orang yang melamarnya, sehingga membuat rumor seperti itu muncul.

Memang ada sebagian orang yang menggunakan robot wanita untuk melakukan ‘hal seperti itu’. Aku tidak bisa menyangkalnya, bahkan keuntungan dari segmen pasar tersebut menyumbang sangat banyak bagi industri robot. Beberapa orang kaya bahkan membeli beberapa jenis robot yang sama untuk membuat ‘harem virtual’.

Ya, hal tersebut memang ada, tapi Profesor bukanlah orang yang seperti itu.

Aku sudah melayaninya selama tiga tahun dan Profesor tidak pernah meminta layanan seksual dariku. Dia tidak akan berbuat seperti itu.

Profesor membuatku karena ‘adik’nya meninggal dalam sebuah kecelakaan.

Di suatu musim gugur empat tahun yang lalu, Umbrella bersaudara pergi liburan bersama. Profesor yang mengemudikan mobilnya. Saat dalam perjalanan, mereka bertabrakan dengan sebuah truk yang menerobos garis tengah. Pihak yang bersalah tentu saja si pengemudi truk, tapi Profesor yang merasa bertanggung jawab atas kematian adiknya. Sejak saat itu tidak ada mobil di kediaman Umbrella.

Nama adiknya adalah Iris Rain Umbrella. Dan aku juga dinamai demikian.

Aku menjadi ‘pengganti’ adiknya. Sama seperti rokok elektrik yang menggantikan rokok konvensional, aku juga hanya merupakan tiruan yang terlihat sangat mirip dengan aslinya. Setiap Profesor memandangku, dia bukan melihatku, tapi melihat adiknya yang mewujud pada diriku.

Aku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Profesor selalu merawatku; jika aku ingin pergi keluar untuk bermain atau aku sedang menginginkan sesuatu, dia biasanya akan mengiyakan permintaanku. Dan yang paling penting adalah sikap lembutnya kepadaku. Jika aku masih tidak senang dengan hal itu, maka aku sungguh robot yang tidak bersyukur.

Kadang-kadang ada sedikit rasa sakit di dadaku bagaikan tertusuk duri dari bunga mawar, tapi aku menganggapnya biasa.

Hari ini, setelah makan malam adalah saatnya perawatan mingguanku.

“Ayo kita mulai~”

Dengan mengenakan jas laboratorium berwarna putih, Profesor memasuki laboratorium riset. Dia memegang setumpuk dokumen. Melihat hal ini, aku menunjukkan ekspresi enggan dan memalingkan muka.

Itu karena aku tidak menyukai proses perawatannya.

Profesor segera mengeluarkan senter kecil dari sakunya, kemudian menekan saklarnya, dan mengarahkan sinarnya ke mataku. Ini bukan untuk memeriksa kematian, tapi untuk mengetahui apakah pupilku berfungsi dengan baik.

Setelah itu, Profesor mengambil beberapa kartu dan mengocoknya dengan cepat seperti pesulap, kemudian meletakannya di depanku. Aku langsung menjawab nama gambar yang muncul di hadapanku – “Bintang, salib, apel, persegi.”

‘Bagus sekali.”

Sistem visual dinamisku sepertinya berfungsi dengan baik.

Kemudian, Profesor mengatakan “Ayo, ahh~” seperti pengasuh yang sedang merawat anak-anak. Aku langsung merasa agak malu. Profesor membuka mulutku dengan jarinya yang mengenakan sarung tangan, dengan cermat memeriksa kondisi mulutku. Aku sendiri tidak bisa berhenti mengeluarkan suara terengah-engah.

Profesor dengan cepat menuliskan hasilnya di selembar kertas di sampingnya. Itu adalah dokumen resmi yang akan dikirim ke kantor pemerintahan setelah ini. Hukum menyatakan bahwa keluarga pemilik robot harus melakukan pemeriksaan rutin dua kali dalam setahun.

Untukku, pemeriksaan tersebut dilakukan setiap minggu. Mungkin karena aku adalah robot model baru, jadi aku harus melakukan berbagai pemeriksaan.

“Selanjutnya adalah pemeriksaan kulit.”

--- ini dia! Pemeriksaan kulit!

Seperti namanya, ini adalah pemeriksaan terhadap seluruh permukaan kulitku. Yang artinya – aku harus melepas bajuku.

“Pertama, wajahmu.”

Profesor memegang wajahku dengan kedua tangannya, kemudian menarikku makin dekat kepadanya.

--- Uwaa!

Profesor menatap wajahku dengan begitu tajam. Bagian hitam matanya semakin mendekat ke arahku.

“Hmm....” Profesor mengamatiku dengan begitu serius sampai seolah-olah dia akan menjilat wajahku. Aku sendiri membeku tapi jantungku berdetak cepat.

Jika aku bergerak sedikit saja, wajah kami akan bersentuhan.

“Kulit wajahmu baik-baik saja.” Profesor segera menuliskan hasilnya. Kemudian dia mengatakan ini dengan santai: “Sekarang buka bajumu.”

“B- Baik, Prof...”

Akupun melepas kaus kakiku dengan gugup dan menaruhnya ke dalam keranjang pakaian. Kemudian aku melepas riasan kepala maid, apron dan baju, hanya menyisakan bra dan celana pendekku. Aku sama sekali tidak merasa kedinginan. Malah badanku merasa begitu panas.

Alasan Profesor menyuruhku melepaskan bajuku bukan karena untuk melakukan hal-hal yang cabul. Pemeriksaan kulit ini bertujuan untuk memeriksa apakah ada goresan atau perubahan lain pada kulit buatanku. Wajah, leher, bahu, lengan, perut dan punggung, Profesor mengecek semuanya dengan begitu serius.

--- Ahh... huu.

Kulit buatanku dapat merasakan nafas Profesor, sehingga aku merinding. Meskipun aku mendapatkan perawatan seperti itu tiap minggu selama tiga tahun, aku masih belum terbiasa.

“Baiklah, lepaskan bra mu.”

“Uuu.....”

“Ada apa?”

Aku segera menguatkan diriku dengan berkata “Tidak.... Tidak apa-apa” saat meletakkan tanganku di punggungku. Jika aku tidak mengikutinya, maka waktu pemeriksaannya akan makin lama.

Aku lalu melepaskan bra biru mudaku, memperlihatkan dadaku yang putih. Tidak terlalu besar atau kecil, Profesor bilang bahwa bentuk yang lembut sangat cocok untuk gadis di usia ini. Karena aku meniru sosok adik Profesor, maka mungkin ukuran dadanya juga seperti milikku. Profesor melepas kacamatanya dan melihat dengan seksama. Aku menjadi sangat malu sampai aku mungkin bisa menyemburkan api.

“Lalu, lepaskan celana dalammu juga.” profesor menuliskan hasilnya di kertas dan dengan santai mengatakan instruksi selanjutnya.

--- Uuuuuu.

Aku mengaitkan jariku ke celana dalamku dan dengan enggan melepaskannya. Aku merasa sangat malu sampai terasa mau pingsan.

Setelah melepas celana dalamku, aku benar-benar telanjang bulat.

“Biar kulihat......”

Profesor segera berjongkok di depanku. Kemudian dia mengamati bagian ‘depan’ dan ‘belakang’-ku. Aku bisa merasakan nafas Profesor, dan kepalanya sedikit menyentuh perut bawahku. Jika orang lain melihat ini, mereka akan berpikir yang tidak-tidak.

“Hmm.... Ini....”

Suara lembut Profesor langsung berubah menjadi kasar. Sepertinya dia telah menemukan ‘itu’.

“Noda itu lagi?”

Tanyaku padanya, sementara Profesor menjawab sambil mengeceknya: “Ya. Ada satu di pantat kananmu.” Kemudian, dia menggunakan jarinya untuk menyentuh noda tersebut. Badanku berayun sedikit.

“Diameternya lima sentimeter dan warnanya ungu muda.......”

Profesor menuliskan ciri-ciri noda tersebut di kertas. Entah kenapa, kadang muncul noda-noda seperti itu di tubuhku. Tempatnya pun berpindah-pindah. Bahkan kadang ada yang munul di wajahku. Awalnya aku terkejut, tapi sekarang aku sudah terbiasa dengan itu.

“Apa itu bisa diperbaiki?”

“Tentu saja”

Profesor mengeluarkan sebuah alat yang lebih kecil dari senter tadi dan menekankan alat tersebut ke bagian bawahku. Metode ini disebut metode pembersihan dengan pemisahan optik, atau nama lainnya adalah ‘membersihkan noda’ di kulit buatanku.

“Nah, sudah.”

Profesor menepuk pantatku. Aku memeganya dengan pelan-pelan, lalu segera memakai bra dan celana dalamku. Untung saja bekas yang menempel hari ini sangat kecil. Jika bekas tersebut lebih besar, aku mungkin masih berdiri telanjang di sini.

“Ayo kita beristirahat sebentar.”

Setelah berkata begitu, Profesor meninggalkan lab riset. Karena disini tidak boleh merokok, dia akan merokok di koridor.

Pemeriksaan tersebut akhirnya selesai. Aku langsung bersantai kemudian.

Demi reputasi Profesor, aku akan menjelaskan sedikit – Profesor memeriksaku sendiri dan memilih tidak membawaku ke spesialis karena jika aku menolak untuk diperiksa sendiri, aku harus melakukan perawatan di tempat lain. Dan aku mungkin harus menunjukkan tubuhku pada teknisi yang berjenis kelamin laki-laki. Bahkan memikirkannya saja, sudah membuatku takut….

Jadi, Profesor mengambil sertifikasi untuk menjadi teknisi robot dan mengambil tanggung jawab untuk perawatanku. Hal itu juga mengurangi prosedur memusingkan yakni, harus mengunjungi beberapa departemen pemerintah yang berbeda-beda. Aku bisa di periksa di rumah seperti ini hanya karena Profesor sangat peduli padaku.

---Aku mengerti itu, tapi……

Lima menit kemudian, Profesor duduk kembali dan berkata “Baiklah,” dan menyilangkan tangan di dadanya. Masih ada banyak dokumen pemeriksaan, dan aku harus melakukan pemindaian terhadap sirkuit jiwa, verifikasi kendali perilaku dan pemeriksaan terhadap sirkuit keamananku.

Sambil merasa kesal, aku menatap Profesor dengan bersungut-sungut seperti anak kecil yang menatap seorang dokter memegang jarum suntik.

Setelah melihat tatapanku, Profesor berbicara dengan nada yang aneh seperti kepada anak yang manja “Ara, Nona Iris, apa kau ingin mengatakan sesuatu?” dari mulutnya, terlihat jelas bahwa dia sedang menahan tawa.

“Tidak ada!”

Dengan sebal aku melengos.

Lima Hari Sebelumnya[edit]

Pada hari setelah pemeliharaan.

Aku melanjutkan menyapu lantai dan mencuci seperti biasa, tapi aku punya banyak waktu luang setelah siang. Yah, itu adalah kesalahan kepribadianku karena aku merasa tidak nyaman jika aku tidak menyelesaikan pekerjaan ku segera.

---Kemudian.

Kira- kira pada pukul 4.12 profesor kembali

“hmm, remote, remote……”

Aku berteriak ‘aku menemukannya’, kemudian aku berbaring setelah membawakan remote ke meja, dan menyalakan televisi. Pasti akan jadi lebih mudah jika aku menyimpan sebuah remote di dalam tubuhku, tapi sayangnya aku tidak memiliki fungsi itu. Sekali lagi professor berkata, ‘jika aku mengistal sesuatu yang tidak terlalu berguna, akan merepotkan saat pemeliharaan.’

Pada layar besar sedang menampilkan berita hari ini. Skandal politikus, situasi tentara di utara, dan kasus pembunuhan dimana-mana. Aku menatap kosong pada mulut presenter wanita yang berkomat-kamit itu.

Mnnn, ini begitu membosankan.

Aku menahan posisiku saat ini dan menekan tombol remote, yang berbunyi ‘klik’. Saluran-saluran di tv itu terus berganti, tapi tidak ada satupun tayangan saluran memasak atau game show yang kusukai.

Aku ogah-ogahan menggantinya kembali ke saluran berita, dan ‘itu’ secara tiba-tiba muncul. Siang ini, sebuah robot tiba-tiba mengamuk di Stasiun Oval di Venus Fountain Plaza’.

Venus Fountain Plaza adalah tempat dimana patung dewi yang sangat mirip seperti professor berada.

Siaran berita melaporkan bahwa sebuah robot besar yang bekerja di toko suku cadang bekas di dekat sini berteriak-riak kemudian mengamuk. Robot itu memukul dan menghancurkan dinding di toko, kemudian berpindah ke air mancur plaza. Setelah menerima sebuah panggilan, polisi segera menuju ke lokasi dan menyelesaikan masalahnya.

‘ini adalah rekaman dari insiden tersebut.’

Setelah presenter itu selesai berbicara, tayangan berpindah ke tayangan lainnya.

Ini mungkin rekaman yang diambil dari kamera CCTV. Pada layar, sebuah robot abu-abu berbentuk silinder datang dan menggerak-gerakkan tangannya. Dia berulang-ulang memukul dinding di toko, bagaikan seorang jagoan di film aksi, dia terlihat sangat mirip seperti manusia. Beberapa goresan jelas seperti kilat bisa terlihat dibagian belakangnya.

Pada akhirnya, dengan gemetar robot itu berjalan ke plaza.

---Ahhh, itu tidak boleh.

Aku berdoa dalam hatiku.

---Kau tidak boleh kesana.

Tapi keinginanku tidak tersampaikan kepadanya. Robot itu melangkah menuju ke keramaian plaza. Seperti yang sudah kuduga, aksinya menyebabkan kekacauan yang besar di antara orang-orang tua yang sedang mengobrol, anak-anak kecil yang berisik, dan pasangan-pasangan yang sedang bermesraan.

Robot itu berdiri sendirian setelah orang-orang bubar. Hanya air mancur yang berdansa berirama dibelakang robot itu, membentuk tetesan-tetesan berwarna pelangi yang tak terhitung jumlahnya. Adegan aneh itu memungkiri kenyataan situasinya.

Dan kemudian, tiba-tiba-

Beberapa titik biru muncul pada tubuh robot itu bagaikan kunang-kunang yang hinggap. Robot itu menundukan kepalanya perlahan untuk melihat bagian itu, kemudian sinar laser tiba-tiba menembus udara dan menghantam tepat di titik-titik biru itu berada. Cahaya laser itu menembus kulit logam robot itu dan banyak uap mengepul seperti larva saat itu menyentuh air mancur.

Itu adalah senapan laser polisi.

Tembakan kedua. Laser itu memanacarkan suara yang dalam. Cahaya laser itu menembus udara dan menembus tangan kanan robot itu dari pundak.

Tangannya terjatuh ke tanah dengan ‘suara bising’. Robot itu menunduk untuk mengambil lengan kirinya, dan tembakan ketiga menghantamnya dengan tepat. Tangan kirinya yang terulur diselimuti dengan panacaran sinar biru seperti tongkat peniup kaca yang memancarkan percikan yang kejam. Tidak lama setelah itu, tembakan ke empat mengenai kaki kanannya, yang menyebabkan dia kehilangan keseimbangannya, kemudian kelima, keenam, ketujuh terus menembaknya---

---Ahhhh, hentikan itu, aku tidak mau melihat itu lagi!

Bisa dibilang bahwa dia musnah dengan mudahnya. Sekitar 30 detik setelah tembakan pertama, sebagian besar bagian tubuh robot terbelah.

Robot itu sekarang terdiam, 5 orang menggunakan helm logam seperti mangkuk ikan, terburu-buru menuju TKP. Mereka adalah unit polisi special penuh dengan perlengkapan dengan perlengkapan baja perak dan mereka disebut dengan Pasukan Pembersih Limbah. Mereka memegang senapan laser dengan bagian pengisi berbentuk bulat tajam sepanjang hampir 1 meter, yang digunakan oleh unit untuk melawan robot.

Saat mereka mulai memunguti bagian-bagian robot, salah satu dari mereka memungut ‘kepala’ dari robot tersebut dan mengangkatnya ke udara seperti rampasan perang. Minyak dari mesin hitam mengalir keluar dari kepala seperti darah, memercik ke tanah dengan bintik berminyak.

Aku merasa jijik dengan pemandangan itu. Aku merasa mual.

Setelah rekaman itu berhenti, wajah presenternya muncul kembali di layar. Dia berkata bahwa ini adalah robot ke tiga di kota Oval bulan ini.

Robot kriminal. Itulah apa yang mereka panggil ketika sebuah robot yang melakukan kejahatan.

Ada kategori dari robot kriminal: pertama adalah kejahatan yang disebabkan oleh manusia menggunakan robot, yang kedua adalah kejahatan yang disebabkan oleh robot yang mengamuk dengan sendirinya. Bagaimana bisa orang menentukan yang mana robot mengamuk dikarenakan kesalahan teknis atau karena keinginan dari pemiliknya? Pejabat dan 'unit pembedahan peradilan' tidak bisa.

Insiden robot mengamuk terjadi kurang dari satu persen dari kecelakaan mobil, tapi berita selalu melebih-lebihkan berita itu. Dikarenakan tekanan publik, perusahaan robot mungkin harus menarik produknya. Proses dari menangani masalah ini sebenarnya sama dengan penanganan masalah produk lainnya.

Namun karena harga robot jauh lebih mahal dari mobil mewah, itu adalah pukulan keras untuk perusahaan itu. Kasus-kasus dari perusahaan yang bangkrut karena harus menarik produk mereka terlalu jarang tidak jarang.

Aku tidak seharusnya menonton ini.

Aku mematikan TV dan berbaring di tikar membentuk (大), menutup mata ku. Ketika robot-robot ingin menenangkan diri, mereka menutup mata mereka. Menutup sementara indra visual memberi efek mengistirahatkan fungsi rangsangan mereka di logam sirkuit.

Aku tidak menyadari kalau diluar hujan. Aku hanya bisa mendengar suara hujan di ruangan. Video tentang robot yang malang mulai muncul di anganku. Bagian-bagian robot akan muncul di toko suku cadang bekas, atau mungkin seutuhnya meleleh pada peleburan besi tua. Bagaimanapun juga, dia tiba-tiba mengamuk, menghancurkn fasilitas publik dan kedamaian. Robot seperti itu hanya pantas dijadikan logam bekas.

Tapi

Sebuah pertanyaan muncul dihati ku.

Kenapa dia tiba-tiba muncul dan mengamuk?

Empat Hari Sebelumnya[edit]

Hari Minggu.

Aku mengenakan gaun putih dengan renda, dan sedang memerikas penampilanku sendiri di depan cermin.

Aku akan berkencan dengan Profesor hari ini. Ya, hanya kencan setengah hari untuk makan siang dan menonton film.

“Iris, kita akan segera berangkat~”

Terdengar suara Profesor dari lantai bawah.

“Iya, saya segera ke sana!”

Aku merespon dengan suara keras, sambil mengenakan topi jerami. Topi tersebut untuk menyembunyikan antena yang terdapat di atas telingaku, sehingga tidak akan ada anak kecil yang penasaran akan berteriak: “Robot! Itu robot!”

---Penampilan oke, topi siap, daya batere penuh!

Aku segera bergegas turun setelah mengecek semua yang kubutuhkan.

Professor berdiri di pintu depan dengan mengenakan pakaiannya yang biasa.

---Sungguh menawan!

Kemeja biru dan celana jins hijau itu sebenarnya pakaian yang lumayan kasual,tapi karena dia sangat tinggi, dandanan itu malah semakin menunjukkan sosoknya yang menonjol. Jika saat ini terdapat kuda putih di sebelahnya, maka dia akan terlihat seperti seorang pangeran – tapi analogi ini sepertinya terlalu aneh. Sebuah wadah rokok berwarna perak terlihat berkilau di depan dadanya. Karena Profesor menggantungkan wadah rokok itu di lehernya, jadi itu kelihatan seperti kalung. Wadah rokok itu berisi rokok elektrik miliknya yang berbentuk angka 8.

“Profesor, bagaimana penampilanku?”

Aku memutar badanku seperti seorang pedansa. Gaun dan topiku melambai pelan terkena angin. Professor menyipitkan matanya, seperti silau karena matahari, lalu dia pun berkata “Mnn, itu cocok denganmu.”

Itu cocok denganmu… Itu cocok denganmu… Itu cocok denganmu… Itu cocok denganmu… Kata-kata Profesor terngiang-ngiang di sirkuit jiwaku.

Ahh, hanya mendengarnya saja, sudah membuatku bahagia sepanjang hari.

“Ayo berangkat.”

Profesor berjalan sambil menyibakkan rambut panjangnya. Aku memegang tangannya saat berdiri di sebelahnya.

Ketika pintunya terbuka, langit biru yang begitu cerah – sampai membuat orang ingin bernyanyi – menyambut kami.

Aku menunjukkan sertifikasi robotku di loket, kemudian petugasnya mengukurku. Karena antennaku tersembunyi, jadi mereka curiga kepadaku karena mereka tidak bisa mengidentifikasi apakah aku manusia atau robot.

Sepertinya elevatornya sedang dimatikan hari ini; karena kami berpapasan dengan beberapa teknisi di pintu masuk bioskop. Lebih separuh dari mereka merupakan robot pekerja, sepertinya model HRL004 jika dilihat dari penampilannya. Yang manapun itu, mereka adalah model lama. Robot pekerja telah eksis lebih lama dibanding robot keluarga. Karena banyak dari mereka yang dijual di pasaran, maka mereka sering terlihat di jalan-jalan, menjadi pelayan di restoran, satpam di malam hari, pembantu di lobi perusahaan, dan tukang kayu – penggunaan mereka benar-benar bermacam-macam.

Robot keluarga yang sudah tua juga sering dijual di pasar barang bekas dan digunakan kembali sebagai robot pekerja. Robot yang berbentuk gadis muda biasanya memasuki pasar robot pekerja dengan cara seperti ini. Akhir-akhir ini, orang yang menggabungkan bagian-bagian bekas dari sebuah robot untuk membuat robot baru yang makin bagus, dan sering muncul masalah di tengah-tengah masyarakat karena hal tersebut. Ngomong-ngomong, itu bertentangan dengan hukum mengenai orang tidak berkualifikasi yang menciptakan robot, kasus ini sama seperti fakta bahwa seseorang yang tidak bisa merakit mobil, lalu mengemudikannya begitu saja.

Setelah masuk ke dalam bioskop, Profesor dan aku memilih tempat duduk di bagian belakang ruangan. Kami menaruh jus dan popcorn di meja kecil yang terdapat di sela-sela kursi. Lima menit kemudian, filmnya dimulai.

“Hei, Profesor.”

“Ada apa?”

“Kenapa hari ini kita nonton film horor?”

Dua gadis muda yang menonton film horor bersama-sama merupakan sesuatu yang aneh. Orang lain yang menonton di sini adalah para pasangan anak laki-laki dan perempuan.

“Menganalisa perilaku zombie bisa digunakan sebagai referensi untuk teori kontrol gerakan pada robot.”

“Huh...... Teori kontrol gerakan........”

Profesor selalu bersemangat terhadap risetnya. Aku selalu kagum pada dedikasinya itu, dan di dalam hati aku berkata: “Profesor memang hebat,”, lalu kulihat bibir Profesor sedikit tersenyum, mungkin dia geli pada sesuatu, entah apa itu.

“Eh, kenapa anda tersenyum?”

“Ah tidak…. Iris benar-benar gadis yang polos dan baik.”

“Eh?”

Aku tidak tahu kenapa Profesor memujiku, tapi itu juga membuatku senang.

“Ah… benar juga, Profesor, berdasarkan investigasi saya, film yang berjudul ‘This is a Fateful Encounter’ adalah yang paling populer, sebuah mahakarya yang begitu menyentuh.... Jarang-jarang kita datang kemari, jadi apa anda ingin menontonnya?”

“Bukankah itu film romantis?”

“Saya pikir tidak apa-apa menonton film romantis.”

“Cerita yang seperti itu sangat payah, lho.”

“B-Bagaimana dengan film bertema monster? Seperti ‘Monster Showdown: Vanilla vs Chocola’?”

“Mungkin akan ada banyak anak kecil yang menonton. Tidak bisa. Mereka akan membuat keramaian saat menonton.”

“Lalu bagaimana dengan ‘Third-rate Demon God Visa Darke’?”

“Bukankah itu serial? Aku belum melihat seri pertamanya, jadi bagaimana aku bisa mengerti jalan ceritanya?”

“Uuuu….. Anda tahu kan kalau saya sangat takut melihat film horror?”

“Benarkah?”

“Iya benar.”

Aku menggembungkan pipiku dan mulai merasa kesal. Professor hanya tertawa terbahak-bahak saat melihatku.

Kemudian, tiba-tiba terdengar suara bel, dan filmnya pun dimulai.

Zombie yang sudah lama ditunggu-tunggu kemudian muncul dengan berjalan menyeret kaki terpincang-pincang, sampai memenuhi layar. Begitulah.

“Lumayan.”

Professor memberikan kesannya terhadap film tersebut dengan puas. Sepertinya dia merasa bahwa efek khusus di film horror itu cukup memadai.

Sedangkan aku… aku menjadi sebuah robot dengan muka pucat yang sedikit-sedikit mengejang saat ada adegan kekerasan.

“Iris, kau baik-baik saja?”

“B-b-b-bagaimana mungkin saya baik-baik saja?! A-ap-apa-apaan itu, dipotong-potong dengan bunyi bzzztt~ lalu mendadak muncul ‘dong~!’”

Meskipun ini adalah film horror, aku berpikir bahwa ini lebih seperti film kekerasan yang berdarah-darah.

Di tengah-tengah film, aku mencoba untuk memeluk Profesor beberapa kali karena ketakutan, tapi dia mendorongku dengan tangan kanananya tanpa ekspresi.

Aku mencoba membuang ingatanku tentang darah yang mengucur, otak yang terburai, dan usus yang menggeliat… semua itu terpatri di sirkuit jiwaku… dan aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku untuk mengenyahkan memori buruk itu, meskipun aku tahu kalau hal itu tidak akan berefek apa-apa terhadap data yang sudah terlanjur masuk.

“Karena kupikir kita jarang kesini, bagaimana kalau kita berfoto untuk kenang-kenangan?”

“Eh~ Disini?”

Setelah memanggil seorang pekerja di dekat situ, Profesor memberikan kameranya kepada pekerja tersebut. Sepertinya Profesor akan mengambil foto kenang-kenangan kami di depan poster film horror ‘Nightmare~ Rotten Nightmare’.

“Tidak, ayo kita cari tempat lain.”

“Tidak bisa. Hari ini kita menonton film horror, jadi kita harus mengambil fotonya di sini.”

“Kita akan dikutuk kalau mengambil foto di sini.”

“Itu bukan alasan yang ilmiah.”

Setelah memegang sikuku erat-erat, Profesor merangkulku di depan poster tersebut.

Badan kami menempel dengan erat, dan ini akan jadi momen yang hebat suatu saat nanti. Tapi sekarang, aku hanya merasa bahwa lengan zombie yang ada di poster sewaktu-waktu akan melompat keluar. Terutama zombie yang bagian bawahnya terpotong, ususnya terburai; memikirkannya saja sudah membuatku gemetaran.

“Oke, cheese!”

Setelah berkata begitu, si pekerja menekan shutter-nya.

Seperti itulah, aku berada di dalam foto dengan wajah pucat pasi dan senyum yang dipaksakan, sementara Profesor tersenyum dengan jahilnya.

Iord 050.jpg

Setelah makan siang di restoran dekat situ, kami berbelanja bahan-bahan selama 30 menit untuk makan malam; kemudian kami pulang.

Di perjalanan pulang, aku dan Profesor bergandengan tangan.

Dan sekarang, Profesor sedang membaca koran yang dia beli di kios. Salah satu isinya adalah tentang ‘Unit yang Dibentuk dari Robot Model Baru Untuk Meratakan Basis Musuh.’

“Membaca sambil berjalan itu berbahaya, Profesor.”

“Tidak apa-apa. Toh aku memegang tanganmu, Iris.”

“Dasar……”

“Itu karena berita spesial di ‘Oval Times’ benar-benar menarik, jadi aku tidak bisa melewatkannya. Crane Cloudy adalah salah satu peneliti robot paling unggul di dunia ini.”

Meskipun Profesor sedang berkencan denganku, dia sangat sibuk dengan korannya. Aku cemburu dengan koran itu.

Sambil menarik tangan Profesor, yang sedang memegang koran di tangan satunya, kami pun tiba di Venus Plaza.

--- Itu dia!

Sekitar lima puluh meter dari plaza, aku melihat toko itu. Temboknya hancur, tanahnya tersuruk, dan juga terdapat pita kuning di luar yang melarang orang-orang masuk. Ini adalah tempat terjadinya tindak kriminal robot yang kulihat di berita televisi.

“Profesor.”

“Hmm?”

Profesor akhirnya mengalihkan perhatiannya dari korannya, kemudian dia mendongak.

“Tentang itu……” Aku menunjuk kepada toko yang dindingnya runtuh itu.

Profesor mengangguk lalu menjawabnya “Tempat terjadinya robot yang mengamuk itu?” Sepertinya Profesor juga mengetahui hal tersebut.

“Kenapa robot itu mengamuk?”

Aku mengungkapkan keraguanku pada kasus ini.

Profesor langsung merendahkan suaranya dan menjawab: “Aku diperintahkan untuk menjaga rahasia tentang ini, jadi aku tidak bisa memberitahumu.”

“Eh?” Aku bertanya dengan bingung. “Diperintahkan?”

Profesor tersenyum tipis dan mengedikkan bahu, sembari berkata: Aku hanya bercanda.”

“Robot tersebut dikirim ke pusat penelitian kami untuk menjalani pembedahan. Dan kelompok kami yang bertanggungawab atas robot itu.”

Aku mengedip terkejut. Aku tidak pernah menduga bahwa robot yang kulihat di berita akan berurusan dengan Profesor. Saat memikirkan hal tersebut, badan yang dikhususkan dalam urusan robot adalah ‘Laboratorium Robotik Pertama Universitas Oval’ yang juga merupakan tempat Profesor bekerja, jadi wajar saja jika hal tersebut terjadi.

“Tahu maksudku, kan?”

“Mnn, ya……”

Profesor meletakkan telunjuknya di dagunya.

“Sederhananya, kami berpikir bahwa ‘arus pendek yang terjadi di system penggerak yang menyebabkan gangguan di sistem keamanannya.’ Meskipun begitu, kami masih belum sepenuhnya yakin mengenai beberapa hal karena robot tersebut sudah rusak parah.”

Robot memiliki sekumpulan sirkuit yang disebut tiga sistem utama. Mereka adalah sirkuit mental, sirkuit pengendali gerakan, dan sirkuit keamanan.

Jika diibaratkan sebagai manusia, sirkuit mental adalah otak, sirkuit pengendali gerakan adalah saraf tulang belakang dan sistem saraf. Perintah yang diberikan oleh sirkuit mental akan ditransmisikan ke seluruh tubuh melalui sirkuit pengendali gerakan, dan menyebabkan anggota badan bergerak.

Sirkuit keamanan lebih seperti sistem rem darurat yang akan mencegah dua sistem pertama tadi mengalami gangguan. Semua robot harus memasang sirkuit kemanan; para perakit telah diperintahkan oleh pemerintah untuk melakukan hal itu, jadi aku pun punya sirkuit seperti itu di dalam tubuhku.

“Meskipun demikian, masih ada hal yang kukhawatirkan.”

Professor lanjut berbicara. Dia mengeluarkan rokoknya dari dalam wadah dan menghisapnya. Rokok elektrik itu kemudian mengepulkan asap ungu.

“Setelah memulihkan data dari sirkuit mentalnya, aku menemukan sesuatu yang aneh. Sepertinya robot bisa memiliki ‘ilusi’.”

“Ilusi…hah?”

Professor mengangguk. Aroma asam manis menguar dari rokoknya.

“Robot itu sepertinya sedang mengejar ‘seseorang’ yang hanya bisa dilihatnya. Jika kau mengatakannya seperti ini, kau mungkin akan mudah menjelaskan perilaku robot tersebut secara logis. Robot itu menghancurkan pintu karena ‘orang itu’ berada di balik pintu tersebut, dan dia berjalan ke arah air mancur juga karena ‘orang itu’ pergi kesana.”

Robot memiliki halusinasi. Mungkinkah begitu?

“Aku pernah menerima laporan tentang pengaturan visual dan warna milik robot mengalami kerusakan sebelumnya, tapi kasus ini berbeda dari biasanya…. Selain itu, anggota lain di kelompok kami tidak menyadari hal ini sebelum aku yang mengatakannya. Ampun deh….”

Mata Profesor berkilat seperti matahari musim panas, dan suaranya juga agak bersemangat. Kapanpun dia berbicara tentang hal yang berkaitan dengan robot, Profesor menjadi begitu bersemangat. Aku suka melihat Profesor yang seperti ini.

Meskipun begitu, karena topik kita saat ini adalah tindak kejahatan robot, perasaaanku agak rumit.

“Oh….?”

Tiba-tiba Profesor berhenti.

“Ada apa?”

“Iris, tunggu di sini sebentar.”

Setelah itu, Profesor berjalan ke seberang.

Dia berjalan menghampiri sebuah robot yang tergeletak di tanah. Kaki kanannya patah, badannya hancur, dan dia bergelung seperti kucing di teras toko yang tutup.

Professor tidak peduli bajunya kotor, kemudian dia membawa bagian atas robot itu lalu menyandarkannya di pintu toko. Lantas, dia mulai memeriksa robot tersebut dengan ekspresi yang amat serius.

“Hmm, model 007 ya…” Profesor bergumam.

Professor kemudian mengeluarkan sebuah batere cadangan dari saku dan memasukkannya ke dalam dada robot tersebut. Setelah beberapa detik, terdengar bunyi ‘bip’, dan dada si robot mengejang sesaat seperti diestrum ketika detak jantung manusia berhenti.

“Bagus sekali, sirkuit mentalnya masih berfungsi.”

Setelah mengeluarkan baterenya, Profesor mengambil ponsel dan menelepon seseorang.

“…..Ah, Ralph? Ini aku. Aku di dekat Fountain Plaza sekarang.”

Professor dengan cepat menceritakan tentang model dan kondisi robot itu kepada orang di seberang saluran telepon. Percakapan tersebut berakhir dalam 30 menit, kemudian Profesor mengamati penutup jalan yang tergeletak di dekatnya.

“Anak ini…. Sepertinya telah melewati jalan yang gelap dan sempit ….”

Seperti yang dikatakan Profesor, robot itu nampaknya muncul dari gorong-gorong karena tubuhnya sangat kotor. Saat membayangkan tentang robot yang merangkak melalui gorong-gorong yang sempit dan gelap, aku merasa mual.

Profesor kemudian merekatkan stiker degan tulisan ‘Laboratorium Robotik Pertama Universitas Oval: Informasi Reklamasi Final’ di dada robot tersebut, kemudian berkata padaku, “Maaf membuatmu lama menunggu.”

“Profesor, apa anda barusan menelpon pusat riset?”

“Ya. Aku mengusahakan beberapa hal untuk bisa membawa anak ini.”

Aku menoleh untuk melihat robot tersebut.

“Anda bisa memperbaikinya?”

“Yah, aku takkan tahu sebelum mencobanya.”

Profesor sering memperbaiki robot yang tergeletak di jalan. Jika dia mengetahui identitas robot tersebut, dia akan mengontak pemilik resminya. Meskipun sebagian robot yang beruntung akan diambil kembali oleh pemiliknya, sedangkan sebagian besar berakhir di ruang penyimpanan di pusat riset. Jika robot tersebut diklaim terlebih dulu oleh Departemen Manajemen Robot, maka dia akan dihancurkan setelah melalui beberapa proses. Dari perspektif ini, robot yang ditemukan oleh Profesor sangatlah beruntung.

Sambil berjalan dengan bergandengan tangan, aku bertanya.

“Professor.”

“Ada apa?”

“Kenapa anda sering membantu memperbaiki robot?”

“Hmm, ya....”

Profesor berpikir sebentar lalu menatapku.

“Mungkin... karena alasan itulah aku hidup?”

Aku merasa bahwa senyum yang Profesor berikan benar-benar tulus tapi tersirat kesedihan yang mendalam.

Ekspresi seperti ini terkadang muncul di wajah Profesor.

Setelah makan malam pada hari itu, Profesor memulai ‘percakapan spesial’ yang sudah lama kunantikan. Itu karena Profesor menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari yang kuperkirakan. Hari ini aku mendapat percakapan khusus dan kencan juga; benar-benar hari yang spesial.

Aku memindahkan meja dan kursi ke lab riset sambil menyiapkan papan kecil dan penghapus, kemudian aku juga menyiapkan makanan ringan dan teh. Selesai.

Sebuah percakapan spesial.

Itu merupakan pembicaraan pribadi yang diperuntukkan bagiku dari waktu ke waktu.

Profesor memberi kuliah di Universitas Oval setiap minggu. Karena beliau adalah sorang jenius muda terdepan dalam teknik robotik, kelasnya akan selalu dipenuhi orang-orang yang ingin mendengar kuliahnya. Bahkan banyak juga yang berasal dari universitas lain.

Perkuliahan Profesor sangat spesial dan akan selalu dimulai dengan topik-topik filosofis seberti ‘Robot dan Etika,’ ‘Robot dan Cinta’ dan sebagainya. Saat dulu aku mempelajari tentang materi tersebut, aku berteriak: “Aku juga ingin ikut!,” tapi akhirnya aku tetap tidak bisa ikut. Aku ingin melihat secara langsung, Profesor berdiri di depan dengan mengenakan jas putih dan memegang penunjuk, sedang mengajar dengan postur heroik dan nada yang tegas. Karena robot tidak memiliki hak untuk bersekolah, maka jika aku hadir diam-diam di kuliahnya, hal itu akan merepotkan Profesor. Saat aku sudah akan menyerah, Profesor memberiku saran:

“Kenapa kita tidak mengadakan kuliah sendiri di rumah?”

Mulai saat itu, Wendy von Umbrella mengadakan kelas spesial untuk Iris Rain Umbrella seorang.

Aku kemudian mengeluarkan buku catatan tebal dari folder kesayanganku. Buku tersebut dipenuhi oleh tulisan-tulisan pertanyaan yang kuajukan saat kuliah.

Seperti misalnya,

“Apakah robot mengalami perkembangan psikologis?”

“Apakah robot mengalami pubertas dan masa transisi?”

“Apa bedanya emosi pada manusia dan robot?”

“Bisakah robot masuk surga?”

“Apakah suatu hari manusia bisa menikahi robot?”

“Seberapa besar rasa cinta Profesor padaku?”

Meskipun terdapat juga beberapa pertanyaan pribadi, hal itu masih bisa ditoleransi karena ini masih terhitung sebagai percakapan pribadi.

“Baiklah, kembalilah ke tempat dudukmu.”

Profesor kemudian masuk ke lab. Hari ini, dia mengenakan jas putih di luar pakaiannya, rambut indahnya diikat di belakang. Sedangkan aku, aku memakai pakaian maidku yang biasanya, jadi kombinasi penampilan kami berdua terlihat aneh.

Profesor menaruh tangannya di podium kayu yang dia bawa dari universitas, lalu berkata: “Mari mulai mengabsen.”

“Iris Rain Umbrella.”

“Hadir! Hadir, hadir, hadir!”

Aku berdiri dari balik meja, mengacungkan tanganku dengan bersemangat seperti anak kecilyang baru masuk sekolah.

“Iris.”

“Ya!”

“Kamu hanya perlu mengatakan ‘hadir’ satu kali saja.”

“Baik!”

Aku sangat bahagia saat ini. Akan lebih bagus kalau robot bisa pergi ke sekolah suatu hari.

Profesor berdeham sebentar lalu memulai kuliah dengan ‘Baiklah, buka halaman lima puluh dua.’

Aku membuka buku bacaan yang digunakan Profesor di universitas. Karena aku membacanya berkali-kali, buku itu sudah agak kumal.

“Tema kuliah pada hari ini adalah ‘Arti Eksistensi Robot.’ Saat ini, jenis riset ini dikategorikan sebagai psikologi robot. Sebuah tesis yang kubicarakan sekitar delapan tahun lalu menyebabkan diskusi panas......”

Profesor mengajarkan materi tersebut dengan cepat. Papan tulisnya kemudian segera dipenuhi dengan tulisan indah Profesor.

Aku merekam semua perkataan Profesor di buku catatan. Tentu saja, sirkuit mentalku sudah menyimpan perkuliahan tersebut secara otomatis, tapi itu tidak akan terasa seperti kuliah. Hal yang terpenting adalah suasana dan perilaku kita.

Tiga puluh menit kemudian.

“......Hmm, itu tadi adalah sejarah dari ‘arti hidup’ dan ‘kebersihan mental’ mulai dari robot model lama sampai yang model terbaru. Meskipun penyusunannya agak jelek jika dilihat dari sudut pandang akademis, tapi itu bisa menjadi referensi bagi para mahasiswa...... Ada pertanyaan?”

“Ada!”

Aku mengacungkan tangan kananku dan melambaikannya berkali-kali. Tapi disini hanya ada satu murid saja.

“Iris.”

“Kuliah anda sangat menarik, terima kasih!”

Hal pertama yang harus dilakukan adalah bersikap sopan.

“Kemudian, tentng ‘arti ksistensi’ yang profesor jelaskan barusan, apakah itu termasuk ‘robot harus melayani majikannya’?”

“Tentu saja. Mempelajari robot memang lazim dalam keluarga robot tersebut; arti mereka sebenarnya adalah melayani pemiliknya.”

“Jadi kalau begitu arti eksistensiku adalah untuk melayani Profesor.”

“Bagaimana kau bisa menyimpulkannya begitu?”

“Karena aku mencintai Profesor.”

“Baiklah, baiklah.”

“Mengatakan ‘baiklah’ satu kali saja cukup; Profesor yang mengatakan itu.”

“Kau benar-benar cerewet.”

Profesor mendesah.

Saat dia menuliskan tabel dan penjelasan di papan, aku memikirkan tema hari ini – arti eksistensi kita. Akhirnya, setelah aku mengumpulkan sebuah laporan sederhana mengenai pendapatku, kuliah tersebut akan segera selesai.

“Aku sudah selesai!”

“Wow, cepat sekali.”

Bagaikan detektif yang telah memecahkan kasus yang sulit, aku menghempaskan laporanku ke podium.

“Laporan Impresi (Ke-18)” Tema..... Robot dan Arti Eksistensinya. Arti eksistensiku adalah Profesor. Profesrku yang tercinta. Aku mencintaimu, Profesor. Menikahlah denganku, Profesor. Selesai!

Setelah membaca laporanku, ekspresi Profesor menjadi sekaku wajah polisi yang keduluan detektif.

“Erm, Iris.”

“Ya!”

“Laporanmu hanya satu arah.”

“Tapi itu sudah menjelaskan segalanya.”

“Motivasimu benar-benar rendah.”

“Aku sangat termotivasi!”

“Apa kau mengejekku?”

“Mungkin saja begitu.”

Setelah mendesah, Profesor mengeluarkan rokok elektrik dari wadahnya. Dia melepas salah satu bagiannya dan menghisapnya.

“Profesor, rokok.....”

“Tidak apa-apa. Ini bukan di universitas.”

“Bukan begitu... Tapi dilarang merokok di lab.”

“Ah.”

Dengan ekspresi seperti orang yang akan mengamuk, Profesor berkata sambil merengut: “Kuliah hari ini cukup sampai di sini!” Dia melepas jas putihnya, melemparkannya kemeja, dan meninggalkan kelas dengan cepat sambil meninggalkan asap ungu di belakangnya. “Ampun deh….” Perkataan Profesor itu nyaris tak terdengar.

Aku mengambil laporan yang kutulis. Diatasnya terdapat tulisan merah besar berbunyi “ULANGI” Lelucon hari ini sepertinya memang agak berlebihan. Itu karena kelas spesial ini adalah kesempatanku menjahili Profesor, jadi aku gatel ingin melakukannya.

Mungkin aku harus membuatkan teh dan kue untuk Profesor agar memperbaiki moodnya.

Tiga Hari Sebelumnya[edit]

Pagi ini berbeda dari biasanya.

Hari ini dimulai dengan suram, yaitu hujan yang tidak berhenti-henti. Seakan-akan langit sedang menangis karena akan berpisah dengan matahari; hujan yang suram membuat orang-orang tertekan.

Aku membangunkan profesor dan menyiapkan sarapan setelah itu. Tapi hari ini, entah kenapa, tanpa sengaa aku menhanguskan telur… kenapa ya.

Di pagi yang tidak biasa ini, prosefor mengatakan hal-hal yang tidak biasa juga.

“Iris, erm……..”

Ketika berjalan ke pintu keluar, Profesor melihatku dari halaman yang menghubungkan jalan diluar.

“Ada apa, Profesor?”

“Setelah aku pulang nanti, aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu”

“Sesuatu……penting?”

Profesor mengangguk sambil memegang payungnya.

Ekpresinya begitu tenang, tapi juga tampak kesepian.

Aku bertanya, “Apa ada yang salah?” lalu aku menaikan payung ku lebih tinggi, untuk melihat wajah profesor.

“Aku akan memberitahumu setelah pulang. Yah, setelah makan malam.”

“Saya benar-benar tidak suka jika anda bertingkah misterius seperti ini!”

“Aku akan memberitahumu setelah pulang. Yah, setelah makan malam.”

“Heh heh heh. Mnn, ini bukan sesuatu yang buruk. Gimana ya bilangnya….. Ah, kamu bisa menganggapnya hadiah?”

Aku berteriak keras “itu bagus!” dan menganggkat payungku lebih tinggi lagi.

“Ap-apa yang akan Anda berikan pada saya!? Saya ingin buku nikah dengan Profesor!”

“Jangan biara omong kosong. Ah, tapi buku nikah ya…. Itu tidak menjamin ‘kebahagiaan abadi’.”

“Hah? Abadi? Ap-apa itu!?”

“Aku akan memberitahukanmu nanti. Jadilah gadis baik sampai saat itu.”

“Mengerti! Profesornya Iris akan jadi gadis baik juga hari ini!”

“Aku pergi.”

Profesor mulai melangkah.

“Hati-hati dijalan! Cepat pulang!”

Tanpa menolehkan kepalanya ke belakang, Profesor melambaikan tangannya tingi-tingi.

Payung biru itu seperti gambar warna air yang dicat ringan, kemudian dia memudar dalam tetesan hujan dan kabut. Kemudian, sosok Profesor lenyap begitu saja di tikungan.

Hujan mulai lebat. Aku berjalan kembali ke ambang pintu. Entah kenapa, aku tiba-tiba merasakan seseorang menarik rambutku, jadi aku berbalik sebelum memasuki rumah.

Tidak ada seorangpun di pintu.

Siang ini, aku sudah menyelesaikan pekeraan rumahku dan tugas untuk mengisi ulang daya ku. Setelah itu, aku mulai belajar dengan giat di sofa.

Buku ini berjudul ‘New: Basic Theory of Robot Engineering’, dan aku meminjam ini dari koleksi buku-buku Profesor. Profesor adalah seorang sosok gadis cantik yang luar biasa, tapi rak bukunya dipenuhi dengan buku-buku akademis, tanpa ada satupun buku tentang fashion. Ngomong-ngomong, aku membaca bab ‘Emotions and Expression of Robots’ di buku ini.

Tema dari bab ini menceritakan bagaimana ‘emosi’ maksud dari circuit mental robot akan berefek ke ‘ekspresi’ yang ditampilkan pada wajah buatan mereka.

Manusia biasanya tertawa saat senang dan menangis saat sedih. Bagaimanapun juga, hal itu berbeda dengan robot. Jika sirkuit mental spesial tidak dibuat, robot tidak akan memiliki ‘ekspresi’, jika kulit buatan dan otot mereka tidak dimodifikasi oleh teksini yang handal, robot-robot tidak anak bisa mengkomunikasikan ‘ekspresi’ juga.

Sebagai tambahan, ekspresi manusia begitu rumit. Contohnya ‘tertawa’, hehehehe adalah tertawa, hohoho juga tertawa, senyuman lembut juga tertawa, senyuman manis juga tertawa, senyuman malu-malu juga tertawa, dan masih banyak jenis tertawa lainnya. Ada pula begitu banyak perbedaan antara ekspresi-ekspresi lainnya. Ekspresi-ekspresi manusia bisa dikategorikan menjadi kurang lebih jutaan bentuk; hanya dengan membuat perubahan kecil ke sirkuit mental, robot-robot bisa mengungkapkan ekspresinya seperti kehidupan. Karenanya, ekpresi wajah dan bahasa software pengenalan adalah yang terbaik dan yang paling mahal di pasar robot. Harga dari software ekspresi kadang-kadang bisa lebih mahal daripada harga robot itu sendiri.

Dalam tubuh ku diinstal versi software terbaru. Aku begitu bersyukur pada Profesor untuk membiarkanku tertawa dan menangis, marah, mengamuk dan lain-lain.

Aku menutup buku yang kubaca. Sekarang pukul 5.45 sore.

Profesor akan segera pulang. Aku harus menyiapkan makan malam sekarang.

Namun…..

Lebih dari satu jam sudah berlalu, dan sekarang pukul 7.30 malam.

--Profesor begitu terlambat……

Profesor belum kembali juga. Dia terlambat kurang lebih sejam, tiga belas menit dan dua puluh detik.

Panci di dapur sudah terisi dengan makan malam untuk hari ini— Laulyl dengan mentega cair, dan itu hanya butuh sedikit dipanaskan.

--Ini begitu aneh.

Profesor akan menghubungi setiap kali dia pulang kerumah. Bahkan, aku tidak menerima pesan apapun darinya hari ini.

Aku ingin menghubungi ponsel Profesor, tapi dia mengingatkanku untuk tidak menghubunginya saat dia bekerja.

Aku tidak sabar menatap jarum jam di dinding.

Tik tok, tik tok.

Profesor belum kembali juga.

Tik tok, tik tok.

Aku sudah menyelesaikan seluruh pekerjaan ku.

Tik tok, tik tok.

Belum kembali, belum kembali?

Jam dinding terus berputar, dua putaran, tiga putaran—

Tiba-tiba setelah mencapai putaran ketujuh…

Trriiiiiing, triiiiiing……… Telepon di koridor berdering.

--- itu pasti Profesor!

Aku segera berlari kencang ke koridor dan meraih penerima telepon.

“Halo, maaf membuat anda menunggu! Ini dengan Kediaman Umbrella!”

Aku menunggu balasan dari seberang dengan jantung yang berdebar-debar.

“Maaf menelepon selarut ini. Ini dari Laboratorium Robotik Pertama Universitas Oval.”

Yang menjawab dari seberang telepon adalah suara seorang pria. Laboratorium Robotik Pertama adalah tempat Profesor bekerja.

Mengetahui bahwa itu bukan Profesor, aku langsung kecewa, tapi aku masih menjawab dengan sopan.

“Saya adalah robot milik Wendy von Umbrella. Majikan saya saat ini sedang tidak berada di tempat, jadi, silahkan tinggalkan pesan jika anda ingin menghubunginya.”

Aku menjawab dengan nada seperti mesin.

Setelah diam beberapa saat, pria tersebut berkata dengan pelan: “Saya asisten Profesor Umbrella, Ralph Ciel.”

Sensitivitas fungsi pendengaranku segera menajam.

“Begitu ya. Terima kasih telah membantu majikan saya selama ini.”

“…..tentang Profesor Umbrella.”

“Ya.”

--- Ini aneh.

Aku merasakan kulitku merinding saat ini.

Kenapa orang ini menelpon kesini secara khusus?

Jika dia ingin berbicara dengan Profesor, dia hanya perlu menghubungi nomor ponselnya.

Rasa cemas dan takut merayap padaku bagaikan serangga.

“E-erm!” Maka dari itu, aku tidak tahan untuk bertanya, “Apa ada sesuatu yang terjadi pada Profesor!?”

Dia agak ragu sejenak, tapi kemudian berbicara dengan nada yang pasti.

Kemudian, suatu fakta menusuk telingaku bagaikan belati yang tajam.

“Profesor Umbrella telah meninggal dalam sebuah kecelakaan.” ---?

Apa.

Yang terjadi---

Apa?

Berpikirlah,

Dunia,

Semuanya---

“---halo, halo halo!?”

Suara seseorang terdengar dari penerima telepon.

--- tamu.

Aku berpikir tentang berapa lama waktu yang sudah berlalu.

--- seorang tamu

Suara elektronik itu terus memanggilku.

--- ada seorang tamu di depan pintu.

Saat itu, aku mulai kembali sadar.

Ada sesuatu yang menyentuh kakiku.

Aku melihat ke bawah dan mendapati penerima telepon menggantung dan mengayun pelan mengenai kakiku.

--- ahhh.

Jariku mulai bergetar..

---benar.

---Professor…..

Ingatan yang tadi terlupakan, tiba-tiba muncul dari alam sadarku.

---karena sebuah kecelakaan….

---ada telepon.

Telepon yang mengerikan.

---mati.

---ada tamu. Tolong segera sambut mereka.

Karena suara elektronis itu menyentakku, aku mulai berjalan.

Nyaris seperti berlari, aku menuruni lantai lalu membuka pintu.

Dan pergi ke luar.

Di luar, hari telah malam dan semuanya gelap.

Aku berjalan ke pintu lengkung, mendapati sebuah mobil hitam terparkir di jalan di depan pintu.

Di luar kursi pengemudi, seorang pria dengan setelan dan wajah yang sedih berdiri di sana. Pria tersebut masih muda, tapi wajahnya pucat dan pipinya cekung seperti orang tua.

Aku memanggilnya, lalu dia meniggalkan mobil tempatnya bersandar barusan dengan terkejut, mengisyaratkan bahwa dia adalah asistennya, Ralph Ciel.

Dialah orang yang melakukan telepon yang menakutkan itu.

“Anda Nona Iris Rain Umbrella…..hah?”

Ralph berujar dengan suara pelan. Aku mengangguk.

Setelah itu, pintu mobil terbuka. Karena Ralph yang menyuruh, aku duduk di samping kursi pengemudi.

Aku tidak menanyakan kemana kita akan pergi.

Saat di mobil, aku melihat keluar jendela dengan mata yang tidak fokus. Lampu-lampu neon di Commercial Street memancarkan cahaya tipis seperti meteor yang jatuh, kemudian menjauh dariku perlahan-lahan.

Ralph tidak mengatakan apapun. Itu bukan karena dia khawatir tentangku jika mengatakan sesuatu, tapi lebih seperti dia tidak punya kekuatan untuk bicara. Yang paling tidak mengenakkan ialah, satu-satunya topik yang bisa kami berdua bahas hanyalah tentang Profesor, tapi jika kita membicarakannya, kita akan harus kembali ke berita buruk itu lagi. Setelah sekitar sepuluh menit berlalu, kami sampai di rumah sakit. Aku turun dari mobil dan memandang kepada bangunan putih yang menyambut kami malam ini.

Ralph membawaku ke pintu masuk basement rumah sakit. Kami melewati beberapa pemeriksaan kemanan sepanjang jalan, di lobi dan di lift, dan kartu identitas dan barang lain milik kami juga ikut diperiksa. Setelah mengetahui bahwa aku adalah robot milik Profesor, beberapa orang melihat ke arahku dengan penasaran.

Kamarnya berada di ujung koridor lantai B4.

Setelah mendorong pintu dengan tanda ‘ruang jenazah’ di luarnya, aku bisa melihat sebuah kapsul sepanjang kira-kira dua meter di tengah ruangan. Menurut Ralph, tubuh Profesor disimpan di kapsul putih tersebut.

Sebelum membuka kotaknya, Ralph menjelaskan ‘insiden’ tersebut secara singkat.

Tadi pagi, Profesor sedang berada di lab analisis bedah tujuh di lantai dua belas, sedang melakukan ‘pembedahan resmi’. Ada cukup banyak insden robot mengamuk seperti ini yang terjadi akhir-akhir ini, dan robot-robot tersebut terus menerus dikirim ke lab. Saat itu pun, aku langsung teringat dengan robot yang mengamuk di Venus Fountain Plaza.

“Insiden tersebut terjadi tiga puluh menit setelah pembedahan dimulai.”

Ralph membasahi bibirnya yang kering lalu melanjutkan.

Setelah robot tersebut dibawa ke ruang analisis bedah, Profesor dan kelompok Ralph mulai membedahnya.

Pembedahannya berlangsung selama kurang lebih setengah jam, dan saat itu kecelakaannya terjadi. Robot tersebut tiba-tiba menyala, berdiri, dan mulai mengamuk. Meskipun baterenya masih sedikit, dia menyala tanpa sebab. Sebelum mereka sempat mengunakan senjata laser, robot tersebut meruntuhkan tembok di ruangan tersebut dengan kekuatan yang di luar logika manusia.

“Profesor Umbrella adalah orang yang berada paling dekat saat itu……. Karena semuanya terjadi begitu cepat, Profesor tidak sempat kabur, sehingga robot itu---“

Perut Profesor tertusuk sampai tembus.

Professor mati.

Setelah itu, robot tersebut diserang oleh senjata laser.

Dan di sinilah kita sekarang.

Tutup berwarna putih dari kapsul itu membuka seperti bunga yang mekar, kemudian jasadnya muncul di depanku.

“Pro- fesor….”

Dengan terhuyung aku berjalan menuju Professor, yang terbaring di dalam, seperti sedang tidur.

Wajah Profesor telah kehilangan ronanya, tapi terlihat begitu damai, seperti sedang tidur saja. Meskipun begitu, setitik darah masih terlihat di sudut bibirnya. Darah kering yang melekat di dada dan perutnya kelihatan amat kontras dengan wajahnya yang putih, jadi aku tidak tahan untuk tak memandanginya selama beberapa lama. Seperti mawar merah yang diawetkan di dalam es, Profesor memancarkan kecantikan yang abadi.

Aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh wajahnya.

Sangat dingin.

Badan Profesor begitu dingin sampai-sampai aku mencurigai ada gangguan yang terjadi di fungsi pendeteksi temperaturku. Suhu badannya jauh lebih rendah daripada orang yang hidup.

Aku mulai merintih dalam hati.

Profesor. Ini aku, Iris.

Profesor. Apakah itu sakit? Anda kehilangan banyak darah, jadi pasti sakit.

Profesor. Kenapa anda tetap melakukan hal yang berbahaya? Kenapa anda tidak membiarkan yang lain yang mengurus robot tersebut?

Profesor. Profesor, yang selalu membantu para robot selama ini, kenapa anda harus terbunuh oleh robot? Itu konyol.

Profesor. Saya di sini. Iris di sini.

Jadi Profesor. Tolong buka mata anda. Beri saya perintaah. Goda aku. Belai rambutku--- Saat itulah.

‘Hal’ itu mengusik pandanganku. Setelah menatap lekat-lekat, aku melihat sebuah wadah rokok berwarna silver yang familiar di meja kecil di dalam kapsul yang berisi jasad Profesor. Profesor sangat menyayangi wadah rokok ini yang terlihat seperti kalung. Aku mengulurkan tanganku untuk meraihnya dan jemariku bergetar hebat. Terdapat darah kering di luarnya, dan hanya ada rokok elektrik yaang kulihat saat membuka tutupnya.

“Ahhh….”

Dan aku melihatnya.

Sebuah foto kecil dijejalkan di dalam tutupnya. Latar belakang foto itu adalah poster film, dan ada seorang gadis dan seorang wanita yang tersenyum jahil dan melingkarkan tangannya di bahu si gadis.

Itu adalaah fotoku bersama Profesor yang kami ambil sebelum ini.

“Saat Profesor Umbrella meninggal, beliau masih menggenggam wadah rokok itu.”

Ujar Ralph dengan suara pelan.

Dua Hari Sebelumnya[edit]

Hari ini adalah hari pertama sejak Profesor meninggal.

Aku menghabiskan waktuku dengan malas di rumah. Aku hanya duduk terdiam sepanjsang malam, dan menatap pemandangan diluar jendela kamar. Langit terlihat begitu gelap, burung-burung berkicau. Mereka terlihat mennyandungkan nyanyian kedamaian. Namun, aku merasa seperti satu-satunya orang yang tersisa dimuka bumi ini. Aku tidak sedih, ini lebih seperti aku tidak bisa menerima kenyataan.

Tidak tahu harus apa, aku hanya melakukan rutinitas pekerjaanku seperti biasa.

Pekerjaan-pekerjaan ku.

Aku membersihkan rumah, memotong rumput, membayar tagihan.

Saat mencuci pakaian Profesor, tangan ku gemetar. Setelah menyiapkan makanan, aku terkejut, menyadari bahwa tidak ada yang akan menghabiskannya.

Kasur dikamar Profesor begitu dingin. Aku berfikir bahwa itu tidak akan pernah menjadi hangat menyerang pikiranku, hal ini begitu menyakitkan.

Aku tidak tau lagi apa yang harus kulakukan. Tapi, aku hanya melanjutkan pekerjaan rumahku. Itu adalah caraku melarikan diri dari kenyataan. Bagi ku meghadapi kenyataan adalah suatu hal yang benar-benar menakutkan.

Saat malam tiba, tidak ada lagi yang harus ku kerjakan.

Aku duduk di balkon diluar kamar, memeluk lututku. Aku merasa mungkin Profesor akan kembali jika aku menunggu sedikit lebih lama. Itulah kenapa aku menggenggam tempat rokoknya dan menunggunya sepanjang malam.

Tapi Profesor tetap tidak kembali.

--PERINGATAN--

Saat fajar menyingsing, ada sebuah suara datang dari sirkuit otakku.

--BATERAI LEMAH DALAM 5 MENIT--

Sebuah suara tanpa intonasi, berbicara dengan nada cepat.

--SEGERA LAKUKAN PENGISIAN ULANG--

Aku berdiri dengan lemah dan berjalan tertatih menuju labolatorium.

Dalam perjalananku, aku terjatuh di lantai karena kehabisan daya. Kaki kanan ku bergerak- gerak aneh. Menyeret kakiku yang satunya, aku berjalan dengan lambat menuju labolatorium.

Duduk di kasur putih susu, aku membuka pergelangan tangan ku. Unit pengisian daya muncul.

Saat itu aku berfikir untuk memotong pergelangan tangan ku.

Jika aku memotong pergelangan tangan ku, aku akan mati. Aku menemukan cara termudah untuk pergi. Aku bisa pergi ke tempat Profesor pergi. Keadaan mentalku begitu berantakan sejak kepergian Profesor, dengan segera aku melakukannya untuk mewujudkan gairahku.

Memegang tombol kembali, aku menekan tombol itu. Udara panas menyembur dari mulutku. Setelah itu, kepulan api merah muncul. Perlahan, aku memindahkan pembakar itu ke pergelangan tangan ku. Lelehan-lelehan logam berjatuhan seperti keringat dan unit pengisian ulang perlahan-lahan meleleh. Dalam sepuluh detik, sambungan elektronik itu terbakar seluruhnya. Mesin hitam itu mengeluarkan oli dalam jumlah yang banyak.

Itu adalah adegan yang menyeramkan. Minyak menyembur dari pergelangan tangan ku bahkan mengenai atap. Labolatorium yang awalnya berwarna putih seputih salju berubah menjadi hitam dengan oli yang bau. Melihat pemandangan dalam keadaan yang menyenagkan, suara elektronik “PERINGATAN! PERINGATAN! PERINGATAN! PERINGATAN!” didalam sirkuit berfikirku berteriak dengan kencang.

Hanya dalam 5 menit oli di dalam mesin mengalir keluar dari tubuhku. Hanya ada cairan hitam pekat keluar dari tangan ku. Ini hampir seperti air mancur diluar stasiun Square.

Kemudian,

Aku mengalami rasa yang sangat menyakitkan.

Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Pusing, mual dan rasa sakit seperti tengkorak ku terbelah dan tergores, menghantamku lagi dan lagi. Seperti manusia yang meminum racun, bibirku gemetaran. Rasanya sangat sakit, aku berguling-guling karena rasa sakit di lantai dan memeluk dadaku.

--PERHATIAN! 30 DETIK SEBELUM DAYA MATI! SEGERA LAKUKAN PROSEDUR PERAWATAN!--

Seperti biasanya, suara cepat, suara elektronik itu mengumumkan kematianku.

Tiba-tiba, seperti orang gila, mataku terbuka lebar.

--Tidak! Aku tidak ingin mati!--

Aku berdiri dengan panik dan meraih kabel pengisi daya dengan kasar. Berulang kali aku berusaha untuk memmasukkannya ke dalam lubang pengisian daya di pergelangan tanganku. Namun unit pengisian daya itu sudah rusak karena panas. Seperti menjahit dengan jarum, semua usahaku untuk menyambungkan kabel itu gagal.

--DAYA HABIS DALAM 10, 9, 8, 7…--

Panik dalam ketakutan, aku terus berusaha memasukkan kabel itu dengan unit pengisian daya di pergelangan tanganku. Colok. Colok. Colok. Colok. Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati.

Suara ‘klik’ muncul dari kabel yang sudah tersambung dengan unit pengisian daya. Elektrik dan oli mesin mulai terpompa dalam tubuhku. Suara-suara peringatan itu berhenti, dan aku terbebas dari rasa yang sangat menyakitkan dan perasaan mual.

Aku benar-benar lega, dari lubuk hatiku yang paling dalam.

Ah…aku tidak bisa mati sekarang.

Bagus.

--bagus?

Aku benar-benar terkejut.

Apakah bagus kalau aku tidak mati?

…saat Profesor sudah mati?

Apakah hidup sendiri adalah hal yang membahagiakan?

Apakah hidup dengan tidak bersalah dan dan hidup dengan memalukan adalah hal yang membahagiakan?

Sisi lain dalam diriku terus berbisik.

Iris Rain Umbrella. Kenapa kamu tetap hidup? Bagaimanapun kau adalah robot. Kenapa kau takut mati? Orang yang kau layani sudah pergi dengan tenang, apalagi yang berharga untuk hidupmu. Walaupun begitu kenapa kau masih tetap ingin hidup? Mati! Mati! Cepat mati sekarang!

Sangat merasa jijik dengan diriku sendiri, aku mencakar kepalaku dengan keras dan berusaha untuk mencabut rambutku.

Tidak diragukan lagi, aku terobsesi untuk hidup. Aku ingin hidup. Aku tidak mau mati. Itulah yang aku rasakan, apa yang kusadari, setelah mengadapi kematian untuk yang pertama kali.

Aku meremehkan diriku sendiri. Merasa bersalah karena sangat mencintai Profesor. Menyesal karena setiap hari tidak mengungkapkan perasaan ku tanpa malu-malu, aku tidak memaksakan diri untuk ikut dengannya.

Kapanpun aku menarik rambutku, kabel yang melekat di pergelangan tangan ku jatuh ke lantai. Itu sangat menyusahkan, tapi aku tidak berani untuk mengambilnya.

Dinding dan atap menjadi hitam dan bau. Duduk diatas darah hitam yang menyembur dari tubuhku, aku tetap menarik rambutku seperti orang gila. Lusinan lembar rambut terlepas dari kepalaku dan jatuh ke lantai.

Sehari Sebelumnya[edit]

Saat siang hari, seorang tamu datang.

Seorang pria tidak dikenal dengan seragam abu-abu muncul didepan pintu dengan 3 robot besar dan kasar. Mereka menyatakan bahwa mereka dari Manajemen Robot Cabang Oval, mengatakan kalau mereka disini untuk mengambil hak atas kepemilikanku. Ketika mencium bau oli mesin dari badanku, pria itu mengkerutkan dahi.

Aku adalah property Profesor, tapi sepertinya Profesor tidak memiliki saudara., jadi tidak ada seorang pun yang dapat mewarisiku. Jadi, aku telah menjadi saudara ipar ‘res nullius’, dan aku dikategorikan kedalam properti bangsa. Mereka menuntut kepemilikanku sebagai perwakilan Negara – itulah yang mereka jelaskan.

Aku dihimpit dan diseret oleh kedua robot itu menuju rak yang kuat di mobil pengawal. Aku tidak bisa melawan, karena tidak ada lagi tenaga yang tersisa dalam diriku.

Setelah sampai di kantor Departemen Manajemen Robot, pria dengan tangan kekar itu memegangiku, dan menuntunku ke tempat tujuan. Dengan pengawalan robot-robot baja, aku dibawa ke tempat itu.

Ini adalah pabrik pemeliharaan robot.

Sebelum robot-robot bisa dijual di pasaran sebagai sebuah produk., mereka harus bisa memenuhi standar pemuasan dan keamanan yang ditetapkan oleh pemerintah, jadi mereka di tes disini. Robot yang lolos tes pengecekan akan dibawa ke pelelangan dengan pihak-pihak tertentu.

Semenjak pertama kali aku dibuat, Profesor adalah satu-satunya orang yang melakukan pemeliharaan dan pengecekan terhadapku, jadi ini adalah pertama kalinya bagiku melihat pabrik pemeliharaan robot.

‘Lepaskan bajumu”

Dia memerintah kepadaku. Tanpa adanya pengenalan.

Aku ragu-ragu melepas pakaianku dengan tangan yang gemetar. Setelah kaus kaki dan celemek ku dilepas, berikutnya adalah bajuku--

‘Jangan membuang-buang waktu”

Inspektur itu memerintahku. Dengan ganas, dia menatapku yang hanya mengenakan pakaian dalam.

‘Cepat, lepaskan semua”

Banyak dari inspektur-inspektur pria itu memandang ke arahku. “Kami semua orang dewasa, apa yang membuatmu malu!” ejekan dari seseorang membuat mereka semua tertawa.

Setelah melepas pakaianku,mereka mulai mendekatiku dengan malu-malu.

Tangan pria-pria itu menjalari tubuhku. Beberapa melakukannya untuk mesin, beberapa lagi melakukan hal tidak senonoh.

Aku hanya bisa terdiam membiarkan mereka menyentuhku sesuai keinginan mereka.

Otakku dipenuhi dengan hal-hal memalukan dan menjijikan begitu inspeksi itu berakhir.

Pengecekan Mental Sirkuit, konfirmasi kontrol pergerakan, pengecekan keamanan sirkuit. Prosedur pengecekan datang silih berganti, sembari aku berpindah ke sana-sini dalam pabrik itu.

Mereka tidak mengembalikan pakaian ku, jadi aku tetap telanjang. Kotak rokok yang bergantung di leherku satu-satunya yang tersisa.

Akhirnya, aku menjalani tes terakhir ‘tes penjualan baru’.

‘Tes penjualan baru’ adalah pelelangan untuk mengembalikan standar memuaskan dan keamanan robot ke pasaran. Jika robot tidak memiliki pembeli, dia akan diedarkan ke pasar suku cadang bekas—akan dibongkar menjadi potongan-potongan logam.

Sebelum tes dimulai, aku harus memakai ’pengikat leher’ di ruang tunggu. Pengikat leher itu berfungsi sebagai label untuk pimpinan produk, nomor dan kode bar tercetak disini.

Aku berjalan menuju ruangan tes penjualan baru, melihat-;lihat ruangan galeri dari atas suatu conveyor belt yang berputar. Robot-robot yang lain berjalan bersama dalam barisan, dan mereka juga duduk di atas conveyor belt menunggu giliran.

Dengan kecepatan 10 cm per detik, aku berputar di conveyor belt itu. Disisi lain dari kamera-kamera, orang-orang mungkin memutuskan robot mana yang akan dibeli, bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan seperti “Bisakah benda ini dijual” “Apakah itu memiliki harga” dan lain sebagainya. Sekararang, aku hanya bisa duduk melamun, memikirkan hal-hal sepele seperti “Atapnya begitu putih… itu aneh” “ Hari apa ini?” Dan lain sebagainya.

Hanya seperti itu, aku terus berputar dengan conveyor belt itu. Robot-robot lain ikut berputar bersamaku. Ini adalah komedi putar yang mengatur hidup dan mati kita.

Setelah putaran ke sepuluh, aku ditarik dari sabuk. Tidak ada yang membeliku.

Satu-satunya masa depan ku adalah menjadi lempengan logam.

Hari Pembongkaran[edit]

Aku mendengar suara dengung yang teredam- klang, klang.

Conveyor belt bergerak dengan ritme yang teratur.

Dengan telanjang bulat, aku terbaring lemah di lantai.

Aku berada di sebuah pabrik yang menangani mesin yang berada di pinggiran Oval City –secara umum dikenal sebagai ‘pabrik robot’. Telah diputuskan bahwa aku akan diubah menjadi potongan logam, kemudian aku diangkut dengan truk dan dibawa kemari. Nasib serupa juga terjadi pada robot lainnya, tapi mereka lebih seperti robot yang akan diturunkan di lahan eksekusi, karena tak satu pun dari mereka bicara.

Seraya terantuk-antuk di bak truk, aku merenungkan alasan kenapa tidak ada yang mau membeliku. Apakah karena usaha bunuh diriku yang diketahui saat pemeriksaan sirkuit mental? Atau apakah karena aku dibuat mirip dengan adik Professor, sehingga sulit dijual? Atau apakah karena harga robot model baru terlalu mahal, sehingga mereka menyingkirkanku?

Aku tidak tahu.

Tapi setidaknya aku yakin akan satu hal.

Aku akan segera dibongkar.

Kenapa aku duduk di sini seperti ini? Kemana menghilangnya saat-saat yang indah dan menyenangkan bersama Professor? Fakta bahwa aku akan segera dibongkar terasa seperti mimpi.

Aku tidak bisa lari. Dengan adanya sirkuit keamananku, sirkuit mentalku sepenuhnya terkunci. Lagipula, batereku akan segera habis.

Aku menunggu saat-saat tersebut perlahan menghampiriku. Conveyor Belt-nya berputar tanpa henti. Area bagian pembongkaran semakin terlihat dan itu terlihat bagaikan setan yang akan menelanku.

Wadah rokok yang tergantung di leherku mengeluarkan suara gemeretak, pelan-pelan bergetar di dadaku seperti makhluk hidup.

Saat aku mencapai lantai abu-abu yang mengerikan, lengan pembongkarnya menahan lengan kananku. Seperti orang yang ditangkap oleh polisi, sikuku di pelintir ke belakang dengan suara gemeretak. Alarm peringatan terus menerus berdering di benakku, sehingga aku segera menghentikan programnya. Itu tidak akan berguna saat ini.

Ada ratusan tonjolan di lengan mesinnya, dan mereka tiba-tiba menggeliat seperti tentakel. Tonjolan-tonjolan itu kemudian mengeluarkan sesuatu cairan lengket berwarna putih yang menjerat lenganku. Cairan tersebut seperti alat pemadam kebakaran yang mencegah sesuatu terbakar. Cairan yang panas dan bergelembung itu terlihat seperti air sabun.

Tangan kananku diselimuti gelembung-gelembung putih, kemudian lengan pembongkarnya menembakkan sinar laser, dan mulai memotong lenganku. Rasa sakit yang sangat parah segera membuatku merintih, sehingga secara refleks aku mematikan fungsi sensorikku. Jika tidak begitu, maka aku bisa jadi gila.

Tak lama setelah itu, suara otot buatan yang tercabik-cabik mulai menggema. Katup yang menyalurkan minyak mesin pada tubuhku telah terpotong.

Suara-suara bising akan muncul ketika minyak mesinnya tercecer mengenai sinar laser, dan mengeluarkan asap dengan bau yang membuat mual di saat yang sama.

Tiga puluh dua detik setelah prosesnya dimulai, lengan kananku sudah sepenuhnya terpotong. Setelah kehilangan lengan kananku, selanjutnya adalah lengan kiriku.

Lengan pembongkar tersebut memelintir lengan kiriku. Ratusan tonjolan yang terdapat di permukaannya kemudian menyemprotkan zat berwarna putih seperti ulat yang sedang mengalami metamorphosis, kemudian meratakannya ke lengan kiriku. Asap mengepul, sinar laser membentuk pola melengkung di lenganku, dan mematahkannya.

Setelah itu, lengan kiriku sepenuhnya terpotong dari badanku. Seluruh proses tersebut memakan waktu tiga puluh empat detik.

Setelah lenganku, selanjutnya adalah kaki kananku.

Bagian yang akan dipotong diluruskan dengan suara gemeretak dan dilumuri gelembung-gelembung cairan yang tadi mereka semprotkan, kemudian sinar laser yang berwarna biru ditembakkan, dan munculah asap yang baunya memuakkan.

Karena kakiku lebih tebal daripada lenganku, prosedur ini memakan waktu yang lebih lama. Satu menit sebelas detik totalnya.

Saat ini, aku memperhatikan bahwa kaki kananku yang sedang dipotong memiliki label yang tertempel di atasnya. Bagian itu tidak akan menjadi milikku lagi, tapi akan menjadi ‘barang dagangan’ yang akan diperjualbelikan di pasar barang bekas.

Kaki kananku yang terpotong menggelinding ke tempat daur ulang disamping conveyor belt. Puluhan ‘kaki’ dari robot lain bergabung disitu seperti mayat yang dimutilasi. Beberapa kaki masih bergerak-gerak, dan terlihat sangat menjijikkan. Mesin pembongkaran mulai menangani kaki kiriku setelah kaki kananku selesai dipotong.

Aku hanya bisa memandangi laser biru tersebut dengan termenung. Aku tidak bisa memfokuskan pandanganku kepada hal lainnya, dan pandanganku juga semakin kabur.

Aku hanya berharap ini semua cepat selesai. Bahkan sedetik lebih cepat juga tidak apa-apa. Maka dari itu, aku mencoba kabur dari realita, dengan memikirkan Professor.

Kami berencana pergi ke taman hiburan minggu depan. Kami akan menonton film lagi minggu selanjutnya. Kami akan membeli baju-baju bulan depan.

Dan kemudian---

Saat itu, sinar lasernya muncul dalam pandanganku. Aku langsung terpikir akan sesuatu. Apakah laser itu adalah laser yang sama seperti yang digunakan untuk melumpuhkan para robot?

Oh iya, berbicara mengenai senjata laser – pertanyaan lain pun terlintas di pikiranku.

Apa yang terjadi kepada robot yang mengamuk di plaza air mancur?

Saat aku kembali ke kenyataan, kaki kiriku sudah tiada. Aku tidak yakin berapa lama prosesnya berlangsung.

Aku terbaring di conveyor belt tanpa anggota gerakku.

Setelah itu, proses pemotongan kepalaku dimulai.

Dua lengan pembongkar menjepit kepalaku. Rasanya dingin, kasar, dan keras. Itu sangat berbeda dengan lengan Professor yang kokoh dan lembut.

Salah satu lengan mesin tersebut kemudian menempelkan pisau bedah berwarna biru di leherku. Bilah panas itu mendekat sedikit demi sedikit.

Aku masih mencoba lari dari kenyataan.

Tempatku melarikan diri adalah tentu saja dengan mengingat Professor.

--- dia bilang bahwa dia ingin mengatakan tentang sesuatu saat dia sudah pulang.

Itu adalah percakapan terakhirku dengan Professor.

Iya juga….. Professor---

---apa yang hendak dia katakan… yah, hadiah?

Professor.

Hadiah apa yang anda bicarakan?

Menggemalah suara-suara cabikan, kemudian kepalaku terpisah dari tubuhku.

Beberapa katup yang seperti pembuluh darah menggantung di bagian bawah kepalaku. Aku menatap tubuhku melalui bagian depan katup. Bagian dada dan perutku menggeliat tanpa henti seperti makhluk hidup aneh.

Yang anehnya lagi ialah, aku tidak merasa takut sedikitpun.

Berbeda dengan lenganku yang terpotong, hatiku merasa baik-baik saja. Selanjutnya, aku dengan tenang akan menyongsong kematian. Tapi ini bukanlah karena perubahan perasaan yang cepat, bukan karena aku telah menyaksikan kehidupan dan kematian di depan mataku, tapi karena hatiku sudah mati.

Akhirnya, lengan pembongkar mendekat ke kepalaku, satu-satunya bagian yang tersisa.

Kemudian mereka mulai memotong kepalaku.

Pertama, kulit kepalaku dirobek, rambut maroon-ku yang kubanggakan terlepas bersamaan dengan kulit kepalaku.

Selanjutnya, alat logam berbentuk bulat menusuk rongga mataku sehingga bola mataku terdorong keluar dengan bunyi ‘pop’. Pandangan bola mata kananku yang sudah terdorong keluar bertemu dengan mata kiriku. Tapi kemudian bola mata kiriku juga terdorong keluar.

Cahaya hilang dari duniaku.

Kemudian, sesuatu seperti batang dijejalkan ke dalam telingaku. Aku tidak bisa mengetahui benda apa itu karena aku tidak bisa melihat. Lalu sesuatu yang seperti laser membentuk dua lingkaran di wajahku, dan telinga serta sisitem pendengaranku juga tercerabut.

Suara menghilang dari duniaku.

Mesin itu lanjut dengan mengulitiku, dan aku perlahan jadi seperti buah. Mencabut gigiku, lidahku, hidungku---

Tak bisa melihat, mendengar, membaui, dan merasakan apapun.

Meskipun begitu, aku masih memikirkan Professor sampai detik terakhir.

Professor.

Dimana anda sekarang, Professor?

Apakah anda di surga? Nyamankah di sana? Apa anda sudah makan? Ingatlah untuk tidak merokok di tempat tidur.

Professor.

Kemana saya akan pergi setelah ini?

Apakah ada surga untuk para robot? Seperti apa tempatnya? Apakah dapurnya berfungsi? Apakah pelayan tokonya ramah?

Professor.

Kenapa anda meninggal?

Apakah itu karena saya tidak patuh? Apa karena saya tidak menonton film dengan benar? Atau karena saya tidak mengerjakan laporan dengan serius?

Professor. Saya sangat ingin bertemu dengan anda. Saya sangat sangat sangat sangat sangat ingin bertemu dengan anda.

Apakah masih mungkin bagi kita untuk bertemu? Bisakah saya masuk ke surga para manusia tetap sebagai robot?

Professor.

Ahhhh, Professor.

Apakah surga manusia dekat dengan surga para robot----

Bab 2 – Lahir Kembali[edit]

“Selamat datang di klub baca malam.” (Lilith Sunlight)

Hari Ke-1[edit]

--

Swoosh.

--?

Ada sebuah suara.

Seperti hujan---

Seperti tayangan TV yang jelek---

Sebuah suara.

Yang menusuk---

Kemudian aku bangun.

---aku.

Kesadaranku perlahan pulih.

---….hi…dup…?

Aku masih hidup--- setidaknya, sirkuit mentalku tidak rusak parah sampai aku tidak bisa mengetahui apapun yang terjadi.

Meskipun begitu, bidang pandanganku tidak begitu jelas. Kualitas penglihatanku sangat buruk, ada banyak partikel seperti pasir yang menari-nari di depan mataku. Selain itu, terdapat ‘garis-garis’ yang biasanya muncul di film-film kuno. Ada beberapa garis putih yang muncul di hadapanku.

Yang paling menyedihkan ialah pandanganku menjadi monokrom – tanpa warna. Konyol sekali melihat dunia hanya berwarna hitam dan putih.

--- Apa… ada apa ini?

Aku mencoba mengorek ingatanku yang masih samar-samar ini.

Aku diubah menjadi potongan logam di pabrik pembongkaran. Lengan dan kakiku dibuang, sedangkan kepala dan badanku telah dipotong-potong.

--- Lalu, di mana ini?

Pengaturan pendengaranku perlahan kembali berfungsi. Sekarang aku bias membedakan suara-suara di sekitarku.

“Oi, pindahkan kesana!”

“Berhentilah membuang-buang waktu!”

“Bergeraklah yang cepat, Idiot!”

Teriakan marah dan suara berisik lainnya berlangsung di sekitarku. Ada juga suara dentang logam yang berat.

--- Lahan… konstruksi?

Aku melihat ke sekelilingku. Tapi penglihatan monokromku yang kehilangan warna tidak dapat menangkap situasi saat ini dengan jelas.

Apalagi, garis-garis putih yang seperti hujan hampir memenuhi bidang pandangku. Seakan-akan, aku sedang memakai kacamata yang banyak goresannya.

Untuk memahami situasi, aku memicingkan mata dan berpikir sebentar.

--- Siapa ini?

Melihat sebuah penampakan, aku menoleh dan melihat ke sebuah robot.

Robot ini aneh.

Kepalanya seperti ember logam yang diberi mata mirip dengan lensa teropong, dan dia juga punya mulut yang sebenarnya adalah sebuah speaker. Penampilannya benar-benar seperti produk eksperimen anak sekolah pada jaman dahulu.

Badannya juga mengerikan. Lengan kirinya lebih pendek sepuluh sentimeter daripada lengan kanannya, jemarinya membengkak seperti memuai. Dia tidak punya kaki, yang menggantikannya kemudian adalah ban track yang berkarat. Ukuran dan kesesuaian bagian badan robot tersebut benar-benar buruk.

Dia mungkin salah satu robot sederhana terbuat dari suku cadang bekas yang kemudian dihubungkan kepada inti sistem dan sirkuit mental, lalu dipaksakan hidup. Mungkin ini juga seperti itu.

Robot itu barusan memandangku.

--- apa ini?

Dengan merasa agak kurang nyaman, aku mundur, dan robot itu juga ikut mundur.

--- Eh?

Aku mengangkat ‘tangan kanan’ku, dan robot itu mengangkat ‘tangan kiri’nya. Itu membuatku merasa seperti bercermin.

Aku melihat tanganku. Jemariku terlihat bengkak seperti yang dimiliki oleh robot yang di hadapanku.

--- Mungkinkah…

Kemungkinan tersebut membuatku gemetar. Meskipun begitu, ada perasaan niscaya yang menyeruak di dalam diriku. Aku telah dibongkar, dan berubah menjadi potongan logam. Lalu bagaimana mungkin aku akan memiliki tubuh asliku?

Itu artinya….

Aku melangkahkan kaki anehku untuk mendekati’nya’. Dan ‘dia’ juga mendekat padaku. Robot yang bayangannya terpantul di cermin itu, tidak lain adalah, aku.

Aku menatap’nya’ sesaat. Karena aku sangat kaget, aku jadi membisu. Bahkan aku tidak bisa menggerakkan badanku.

Iord 104.jpg

--- Ini… aku… Pikiranku tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi pada diriku.

Aku memandang kepada robot yang ada di hadapanku sekali lagi. Kepala seperti ember yang terbalik, mata seperti teropong, dan speaker kecil sebagai mulut. Lengan kiri yang aneh dan pendek – ah bukan, apa itu lengan kanan –

“Mn….”

Aku mulai merasa mual. Itu adalah rasa mual amat parah yang menyeruak dari dalam tenggorokanku, seolah badanku perlahan membusuk.

Badanku kemudian mengalami kejang sebentar, menahan muntah sehingga tidak bisa keluar.

Setelah perasaan tersebut mereda, aku tiba-tiba mulai merasa jijik kepada’nya’, yang berdiri di hadapanku. Itu benar-benar rasa jijik kepada diri sendiri yang sangat parah sampai bisa membuat orang putus asa.

Setelah itu, aku bertingkah seolah sudah gila – aku mungkin memang sudah gila sungguhan – dan mulai menghantamkan kepalaku ke cermin yang menampilkan bayanganku. Seolah aku bisa menyingkirkan penampilanku yang sekarang dengan melakukan itu.

Ini semua bohong. Tidak, aku tidak ingin mempercayai semua ini. Aku mengutuk robot di depanku berkali-kali.

Dimana langit yang biru itu? Dimana tungkai panjang yang kubanggakan itu? Kulit putih saljuku? Rambut maroon-ku?

Kenapa, kenapa ini---

Kenapa aku menjadi robot jelek ini?

Mungkin akibat dari benturan, sebuah suara berkelontang berasal dari kepalaku. Sepertinya ada bagian yang terlepas.

--- Itu benar.

Aku sudah memutuskan. Aku tidak ingin badan yang seperti ini. Aku bisa saja menghancurkannya menjadi berkeping-keping.

Maka dari itu, aku mulai membentur-benturkan kepalaku lagi. Dengan seluruh kekuatanku, aku menghantamkan kepalaku lagi dan lagi. Aku tidak bisa merasakan sakit. Retakan kemudian muncul di cermin, dan kepalaku jadi agak penyok.

Pada saat itu.

“Oi, robot baru! Apa yang kau lakukan?”

Sebuah teriakan marah muncul dari belakangku.

“Jangan bergerak! Ini perintah!”

Langsung setelah aku mendengar perintahnya, badanku tiba-tiba diam. Badanku tidak bisa bergerak, bagaikan dibekukan.

Seorang laki-laki yang mengenakan pakaian abu-abu menghampiriku. Sebuah emblem seperti logo perusahaan tercetak di dadanya.

Pria tersebut berdiri di depanku, dan memandangiku dengan mata gelapnya yang seperti rawa berlumpur.

“Pengisian….. sepertinya baik-baik saja. Dengar, bergegaslah dan pergi ke posmu!”

“Mengerti….”

Suaraku bukan lagi seperti suara gadis kecil, tapi suara elektronis biasa. Suara elektronis tanpa emosi.

Benakku masih bingung, tapi tubuhku mulai bergerak berkeriut, dan agak mundur sedikit. Saat ini, aku menyadari bahwa benda yang sejak tadi kugunakan untuk membenturkan kepalaku adalah sebuah cermin yang besar. Di sampingnya, ada banyak sekali sampah yang terdapat di area itu.

“Ayo cepat bekerja! Ini perintah!”

Teriakan marah dari pria tersebut membuat badanku membatu dan kakiku mulai bergerak sendiri.

Aku mungkin berjalan dari lereng sepanjang sekitar seratus meter. Batangan logam, beton dan bahan material lainnya ditumpuk seperti bukit di area tersebut. Robot lainnya membawa material-material ini menaiki lereng. Dan sepertinya membawa bahan konstruksi kini menjadi pekerjaan baruku.

Karena itu, aku mulai membawanya. Meskipun aku agak enggan melakukannya, aku tidak bisa mengabaikan perintah yang diberikan. Kode komando yang terpasang di sirkuit keamananku membuatku bergerak tanpa melanggar perintah.

Di mana ini? Kenapa aku melakukan pekerjaan seperti ini? Aku sama sekali tidak tahu. Aku membawa material beberapa kali, puluhan kali, mondar-mandir di area konstruksi. Saat aku berhenti berjalan, teriakan marah akan mencapaiku seperti panah. Setiap kali begitu, tubuhku akan membeku dan bergerak tanpa izin bagaikan dihipnotis.

Akhirnya, matahari yang berwarna abu-abu tenggelam di cakrawala. Meskipun begitu, pekerjaannya masih berlanjut.

Saat larut malam. Setelah akhirnya menyelesaikan pekerjaan kami untuk hari itu, aku dan robot lainnya berkumpul di dekat gudang. Puing dan material lain menumpuk di gudang, sementara papan-papan persegi disusun rapi di depanku. Papan-papan tersebut adalah tempat untuk mengisi daya. Para robot dibariskan di depan papan pengisian, menyambungkan steker ke badan mereka masing-masing. Adegan itu terlihat seperti mayat yang berjajar menunggu diberi makan.

Aku berdiri di depan batu nisan itu, menunggu giliran. Saat pegawainya tiba, tutup di depan dadaku dibuka dengan bunyi ‘keriut’, lalu seutas kabel tebal ditancapkan di situ.

Segera setelah itu, aku kehilangan kesadaranku.

Hari Ke-2[edit]

Hari ini, aku melanjutkan ‘pekerjaan’ yang kulakukan kemarin.

Pekerjaan yang kulakukan hari ini sama seperti kemarin. Mengangkut bekas bahan-bahan konstruksi – mengangkut puing dan batangan logam yang nyaris mencapai langit itu adalah tugas para robot ini. Terdapat setumpuk tinggi bahan bekas konstruksi di sini, dan terdapat tanda bekas bakaran di mana-mana. Sepertinya tempat ini merupakan reruntuhan yang tersisa dari ledakan bom di sebuah bangunan besar.

Di sisi lain reruntuhan, terhampar lautan berwarna abu-abu. Tidak, lautan harusnya berwarna biru. Itu karena pengelihatanku monokrom, dan hanya bisa membedakan warna putih, hitam, dan abu-abu, aku tidak akan tahu mengenai warna lainnya.

Penglihatanku masih buruk. Garis-garis putih seperti yang terdapat di film-film lama masih muncul dalam pandanganku. Suara gemerisik masih terdengar tanpa henti. Jadi aku menyebutnya ‘hujan’. Garis-garis putih adalah rintik hujan, sedangkan suara gemerisiknya adalah suara hujan. Hanya itu yang bisa kulihat dan kudengar.

Dibalik hujan itu, terdapat ratusan robot yang berbaris tak beraturan, juga sedang membawa bahan bekas konstruksi. Kebanyakan tungkai mereka tidak sesuai dengan badannya, karena mereka juga robot yang dibuat dari barang bekas. Dengan tanpa bicara mereka mengangkut bahan bekas konstruksi tanpa henti.

Aku mengangkut material diantara mereka sambil memikirkan kejadian kemarin.

Apa yang kulakukan di sini?

Dibuat oleh Professor, tinggal dengan Professor, bekerja untuk Professor, dimiliki secara eksklusif oleh Professor. Itulah aku.

Tapi, ada apa dengan kondisi saat ini? Tubuh indah dan hangat milik seorang gadis kini telah tiada lagi. Digantikan dengan dengan barang rongsokan yang digabung-gabungkan – teropong untuk mata, speaker kecil sebagai mulut, badan yang pendek dan tebal, dan potongan roda track bekas di bagian bawah tubuhku – tubuh jelek yang akan membuat orang merasa mual hanya dengan melihatnya.

Aku kembali merasa jijik kepada diriku sendiri beberapa kali dalam hari ini.

Dengan suara ‘tuk’, ada yang melempari kepalaku. Sebuah batu sebesar kepalan tangan menggelinding di depanku.

“Berhenti melamun, nomor 108!” terdengar suara teriakan marah dari pengawas, “Siapa yang bilang kau boleh istirahat! Sana cepat bergerak!”

“Maafkan aku.”

Setelah meminta maaf dengan suara elektronisku, dengan limbung aku mengubah arah jalanku, dan naik ke atas lereng.

Aku memulai perjalananku yang keempat puluh tiga hari ini.

Dibawah langit yang kelabu dan suram, aku lanjut mengerjakan pekerjaan yang mengesalkan ini. Ada lebih dari seratus rekan pada lereng di depanku, dan sangat banyak jalur.

Dan aku mengulang proses yang sama.

Apa yang kulakukan di sini?

Datangnya malam diumumkan ketika jam kerja berakhir.

Aku masuk ke gudang, menancapkan steker ke badanku.

Hanya saat dayaku dimatikan, hujannya akan berhenti.

Hari ke-8[edit]

Seminggu telah berlalu, tapi aku tetap mengulangi kegiatan yang sama.

Sebagai robot pekerja nomor ’108’, aku tetap memindahkan material bekas konstruksi seperti biasa. Visiku tetap monokrom, langit, laut dan tanah semuanya menjadi abu-abu. ‘Hujan’ itu tidak menunjukkan tanda-tanda mau berhenti. Suara gemerisik itu berbunyi terus-menerus, tidak terhitung berapa kali garis-garis putih muncul di depan mataku.

Aku terus mengulangi kegiatan-kegiatanku kurang lebih 120 kali tiap hari – antara 116 kali dan 128 kali, menjadi terbiasa, bolak balik di area. Tanpa istirahat. Para pekerja bekerja sampai 18 jam perhari.

Setelah bolak-balik di area lebih dari ribuan kali, aku mengerti beberapa hal.

Pertama, area itu dibagi menjadi 2 bagian besar. ‘Jeroan’ dan ‘usus’.

Mesin-mesin besar seperti derek dan truk pengangkat akan mengangkut tumpukan besar material limbah konstruksi disekitar laut. Material-material yang dihilangkan akan dikumpulkan di tempat yang sama, ditumpuk tinggi seperti menara. Itulah yang dinamakan ‘jeroan’. Tugas Robot-robot seperti kami adalah pergi ke lereng, dan memunguti material limbah-limbah konstruksi di ‘jeroan’ ke bagian interior area, yaitu ‘usus’. Melintas diantara jeroan dan usus adalah tugas kami.

Jarak yang ditempuh untuk bolak balik adalah sekitar 200 meter, sementara lereng merupakan jalan yang curam. Permukaan yang membuat kami sulit untuk berjalan itu, adalah jalanan kotor yang harus kita lewati berulang-ulang. Alasan kenapa truk tidak bisa mengangkut material limbah konstruksi langsung dari area, adalah karena tanahnya sangat lembek.

Ngomong-ngomong, material limbah konstruksi adalah makanan cepat saji bagi ‘usus’. Sampah akan jadi sama seperti limbah, tapi aku tidak tahu bagaimana bisa disebut seperti itu.

Ada begitu banyak jenis-jenis material limbah konstruksi, seperti lempengan baja, dan potongan logam hangus. Senjata dan dan sisa-sisa dari ledakan kadang terlihat sesekali. Kemudian, apakah tempat ini mungkin adalah fasilitas penghubung ke kemiliteran? Area ini dikelilingi oleh untaian kawat baja tinggi,

Hari ini, kami para robot dipindahkan ke ‘makanan cepat saji’ sebelumnya dari ‘jeroan’ ke ‘usus’. Setelah mengangkuti material limbah konstruksi ke jeroan, kita harus menempatkannya di conveyor belt. Seperti namanya ‘usus’, bentuk dari conveyor belt itu juga seperti usus besar dan kecil. Di sisi lain peralatan transportasi, pekerjaaan sepuluh pekerja yang memakai masker gas adalah memilah material limbah.

Pertama, aku berfikir bahwa para pekerja adalah manusia juga. Namun dari pergerakan mereka dan nomor seri yang mereka teriakkan kepada inspector yang marah, akhirnya aku menyadari bahwa mereka semua jugalah robot. Aku tidak tahu alasan kenapa mereka semua mengenakan masker gas, tapi mungkin mereka bersentuhan langsung dengan material-material yang berbahaya untuk robot.

Singkatnya hampir semua pekerja yang bekerja di tempat kosntruksi penghancuran ini adalah robot. Tugas manusia hanya memantau dan memberi perintah.

Kita harus melakukan pekerjaan untuk mereka seperti budak, melakukan pekerjaan seperti semut yang mengangkut makanan yang sama, membawa material limbah tanpa berhenti. Setelah pekerjaan selesai, kita akan kembali ke sarang kita.

Minggu ini, aku tidak memikirkan soal Profesor. Setiap kali aku mengenangnya, aku langsung menyegel emosi itu di dalam lubuk hatiku yang terdalam. Aku pun yakin, jika aku mengenang saat-saat indah itu sembari menghadapi realita yang kejam ini, maka aku tidak akan bertahan lebih lama.

Maka, aku perlahan-lahan berhenti mengenangnya. Apa yang sedang kulakukan, kenapa aku melakukan ini—hari-hari berlalu, dan pertanyaan-pertanyaan berhenti muncul di otakku.

Hanya Tuhan yang tahu kapan, aku akan menjadi salah satu robot bisu, robot-robot abu-abu.

Hari Ke-15[edit]

Di dunia monokrom dimana langit dan bumi kehilangan semua warnanya, aku juga mondar-mandir di lahan konstruksi hari ini. Dari ‘usus’ ke ‘jerohan’ dan sebaliknya.

Terus-terusan mondar-mandir di tempat seperti ini sebanyak seribu delapan ratus dua belas kali, aku bahkan akan berpapasan dengan ‘rekan’ku meskipun aku tidak menginginkannya. Seiring berlalunya waktu, sosok abu-abu mereka yang seperti hantu logam terus bertumpuk dalam benakku yang kosong. Seperti ruang kosong yang diselimuti debu.

Terlepas dari itu, karena kebiasaan robot yang menyedihkan, setelah aku menyusun data, aku membuat sebuah kesimpulan.

Berikut adalah detailnya.

- Jumlah total robot pekerja ......110 unit

• Hanya robot yang membawa material di bagian ‘usus’ dan ‘jerohan’ yang dihitung.

- Kategori A (Ketinggian)

Dibawah satu meter .... 23 unit

Di atas satu meter, di bawah dua meter .... 81 unit

Dua meter ke atas .... 6 unit

- Kategori B (Type)

Terbuat dari rongsokan .... 93 unit

Robot bekas .... 17 unit

• Dinilai dari penampilan.

- Kategori C (Sistem Pergerakan Tubuh Bagian Bawah)

Roda Track [1] .... 82 unit

Empat kaki .... 26 unit

Dua kaki .... 2 unit

Awalnya, mereka hanyalah angka-angka tanpa arti.

Tapi bagiku, deretan nomor yang terakhir – khususnya yang bertuliskan ‘dua kaki .... 2’ di kategori C, sangatlah berarti bagiku.

Mereka adalah si nomor Lima Belas dan Tiga Puluh Delapan.

--- Siapa mereka?

Saat memindahkan material bekas, aku menyesuaikan sudut lensaku.

Pandanganku kemudian berhenti pada sebuah robot raksasa yang memiliki tinggi dan lebar lebih dari dua meter – nomor identifikasi ‘Lima Belas’.

Tungkai yang sangat kuat mencuat dari tubuh abu-abunya yang terlihat seperti drum. Hanya kakinya yang berwarna hitam seperti mengenakan sepatu. Tubuh raksasanya akan membuat dia gampang dilihat dari manapun.

Nomor Lima Belas memiliki kekuatan yang sangat besar, dia dengan mudah menggunakan lengannya untuk mengangkut material seberat ratusan kilogram. Dia juga mondar-mandir di lahan konstruksi hari ini. Sebagai tipe berkaki dua, jejak kakinya yang sebesar kaki gajah tercetak di mana-mana. Rekan-rekanku dan aku melewati bekas jejaknya setidaknya tiga kali sehari.

Lalu ada lagi seseorang yang kuperhatikan.

Dia (perempuan).

Benar, bukan dia (laki-laki), tapi dia (perempuan). Robot bertipe dua kaki lainnya – nomor identifikasi ‘Tiga Puluh Delapan’.

Dia sekitar dua kepala lebih tinggi dariku, dan kuperkirakan tingginya seratus empat puluh sentimeter. Dia mengenakan pakaian seperti tukang kayu, dan rambut panjangnya diikat dengan pita yang menggantung di depan bahu kanannya. Dengan langkah yang enerjik, dia juga membawa material bekas dan mondar mandi di lahan konstruksi hari ini.

Diantara ratusan robot yang ada di sini, tidak ada yang sangat mirip dengan manusia kecuali dia. Badannya tidak terdiri dari rongsokan. Tungkai dan badannya sepertinya merupakan bagian yang unik darinya.

Asal tahu saja, si robot gadis – nomor Tiga Puluh Delapan – dan si robot raksasa – nomor Lima Belas – sering bekerja bersama. Mereka kadang berjalan bergandengan, dan ngobrol dengan asyik.

Apa yang mereka bicarakan? Siapa mereka? Saat sedang memindahkan limbah material, aku tidak bisa berhenti memikirkan mereka berdua.

Penyebab mengapa aku merasa seperti ini, aku juga tidak tahu.

Meskipun begitu, aku merasa hanya dengan menatap mereka berdua, aku bisa merasa sedikit lega di tengah realita yang jahat ini.

Hari Ke-32[edit]

Sebulan telah berlalu, sejak pertama kali aku datang ke lahan kostruksi.

Aku masih memikirkan tentang mereka berdua sampai sekarang. Sebuah robot tinggi besar dan robot berwujud seorang gadis kecil – nomor Lima Belas dan Tiga Puluh Delapan.

Dua robot yang sungguh berbeda.

Pertama, si robot raksasa, nomor Lima Belas.

Dia memiliki badan yang besar, tapi gerakannya lambat. Meskipun dia terlihat gahar dengan membawa setumpuk material bekas dengan langkah besar, tapi dia terjatuh karena terselip di lumpur. Dan juga, penampilannya setelah terjatuh, wajahnya menghadap ke atas sementara kaki dan tangannya bergerak-gerak seperti serangga yang terbalik – jujur saja, itu sangat menggelikan.

Sebaliknya, gerakan si robot gadis – nomor 38 – sangat gesit. Dia melewati robot lain secepat angin. Dia jadi terlihat seperti seekor kucing atau tupai, yang memberikan kesan seperti binatang kecil tapi gesit.

Kapanpun si robot gadis itu melewati si robot raksasa nomor 15, mereka selalu mengatakan sesuatu. Biasanya, mereka memberikan respon seperti ‘Hey!’ ‘Baik-baik saja?’ ‘Aku pergi!’ dan sebagainya, kemudian dia akan mengetuk pelan pinggul si raksasa.

Mereka berdua terlihat seperti sepasang sahabat yang sudah mengenal lama.

Tetapi, kita tidak pernah satu lokasi.

Di lahan konstruksi, rekan-rekan robotku tidak mengenal kata ‘bersosialisasi’. Mereka hanya akan membawa material dari pagi sampai sore, dan hari mereka akan diakhiri dengan dimatikan dayanya pada larut malam. Disini, satu-satunya hubungan yang dialami oleh mereka adalah, robot harus mengikuti perintah manusia, dan tidak ada selain itu. Tidak ada percakapan, dan tidak ada saling membantu.

Nomor Lima Belas dan Tiga Puluh Delapan bukanlah satu-satunya robot yang bisa berbicara. Aku melihat banyak robot lain yang menjawab ‘Ya’ ‘Mengerti’ ‘Maafkan saya’ dan seterusnya setelah diperintah oleh bos manusia. Beberapa diantaranya mengatakan ‘Maaf!’ ketika saling bertabrakan.

Meskipun begitu, aku tidak pernah melihat robot lain berbincang-bincang selama sebulan aku di sini, kecuali si nomor Lima Belas dan Tiga Puluh Delapan.

Hari ke- 44[edit]

Titik persimpangan muncul tiba-tiba. Ini adalah pagi keempat puluh empat sejak aku tiba disini.

Setelah selesai memindah limbah material ke ‘usus’, sesorang memulai pembicaraan denganku di jalan pulang.

“Kau yang disana, tunggu sebentar.”

“Eh?”

Aku menoleh, seorang gadis - nomor identifikasi ‘tiga puluh-delapan’ kini berada di depan ku. Baju kerja dengan kantung besar masih dikenakan pada tubuh langsing nya. Mata yang besar dan indah menatap ku secara langsung.

Wajah putih gadis itu mendekat dari atas. Aku tidak bisa melakukan apapun selain mundur sedikit kebelakang. Sudah lama aku tidak merasa sekaget ini.

“Berapa nomor identifikasimu?”

“....... Eh?”

Aku sesaat tidak mengerti yang gadis itu bicarakan. Gadis yang selalu aku amati dari kejauhan tiba-tiba memulai pembicaraan denganku, dan itu benar-benar membuatku terkejut, ditambah lagi aku belum berbicara dengan siapapun sebulan ini.

Aku memberinya respon hampa “N-nomor idenifikasi?” di saat yang bersamaan ekspresi khawatir tampak pada wajah gadis itu.

“Apa kau....... tidak ingat nomor identifikasi mu sendiri? Dengar, itu adalah nomor yang inspector gunakan saat dia memanggilmu.”

Saat ini, gadis itu menempatkan kedua tangan pada pinggulnya, sambil sedikit memiringkankan kepala indahnya. Rambut yang diikat dengan pita besar berayun di depan dada nya kesana-kemari. Dia terlihat sangat imut, penuh energi dan begitu bersemangat seperti bunga matahari yang sedang mekar.

“Erm...... aku nomor Seratus Delapan.

Aku akhirnya memberikan jawaban. Sampai sekarang, aku masih belum bisa percaya suara anorganik itu berasal dariku.

“Nomor Seratus Delapan huh...... itu artinya kau datang baru-baru ini ya.” Gadis itu mendekat dan meperkenalkan diri “aku nomor Tiga puluh-Delapan, namaku Lilith. Senang bertemu denganmu.”

Lilith. Aku akhirnya tahu nama gadis itu. Terdengar hampir sama dengan namaku.

“Ah, jangan berhenti. Kita akan dimarahi jika berhenti bekerja. ......juga aku ingin tanya sesuatu.”

Setelah mengatakanya, Lilith memandangku dengan rasa ingin tahu.

“Kenapa kau sering menatapku belakangan ini?”

Aku ketahuan.

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, jadi aku hanya bisa mengatakan ‘aku minta maaf’.

“Ah, tidak masalah. Lilith melambaikan tanganya , “Kau tidak perlu meminta maaf. Aku hanya ingin tahu alasanmu melakukan itu. ......Apa mungkin itu adalah cinta pada pandangan pertama?”

Lilith mulai tertawa, mata besarnya seketika mengecil. Dia terlihat cukup kekanak-kanakan. Bahkan mungkin lebih muda dariku, karena sebelumnya umurku di atur lima belas tahun.

“Erm......yah.....aku sungguh tertarik dengan kalian berdua.”

“Berdua?”

“Nona Lilith dan Tuan Lima belas.”

“Nomor lima belas.....Ohhh, apa yang kaumaksud Volkov?”

Volkov. Aku baru saja mengetahui nama robot besar itu, nomor lima belas.

Lilith kembali bertanya: “Kenapa kau tertarik dengan kami?”

Saat itu juga, aku sudah mencapai ‘jeroan’, dan mengangkat limbah konstruksi sebelum menjawabnya. Lilith juga sedang memanggul materialnya. Setelah itu, kita berbalik dan berjalan menuju ‘usus’.

Pembicaraan dimulai lagi.

“Kalian berdua kelihatan sangat akrab.”

“Ehh, benarkah?”

Lilith menaikan sedikit nada bicara nya. Ujung mulut nya juga naik membentuk senyum, kelihatanya dia senang mendengar itu.

Lima belas menit berlalu.

“...... Huh, bukankah itu artinya kau sedang menguntit kami?”

“Tidak, aku tidak sedang menguntit......”

Kami kemudian membawa limbah material menuju ‘usus’. Lilith berjalan bersamaku selama tiga kelokan.

“Tuan Volkov sudah beberapa kali berpapasan denganku sebelumnya. Tapi ..... dia mengabaikanku.”

“Oh, disana!” teriak Lilith, “Penglihatan dan pendengaran pria itu tidak begitu baik. Jadi kupikir dia tidak menghiraukanmu, dia hanya tidak memperhatikanmu saja.”

Lilith baru saja memanggil Volkov dengan sebutan ‘pria itu’. Mereka seperti pasangan suami-istri yang tinggal bersama dalam waktu lama.

“Oh, aku mengerti. Jadi begitu ya.”

“Jadi, kau harus melakukan ini jika ingin memangil pria itu.”

Setelah mengatakanya Lilith melangkah kedepan dan menepuk bahu Volkov dengan lembut. Lalu, dia bertanya, seolah-olah ingin segera pergi ke kamar kecil.

“Apakah ada orang disini? Apa ada orang disini?”

Volkov tiba-tiba menoleh, menjawab “Oh ~ada, ada’ untuk mengonfirmasi.

“Lihat~” Lilith menunjukkan senyum lebar di wajahnya. “Kau harus melakukan itu pada Volkov. Jika tidak, dia tidak akan pernah memperhatikanmu.”

“Oh.............. jadi ada cara untuk memanggilnya ya?”

“Sebelumnya dia dibuat sebagai robot militer. Oleh karena itu, dia memiliki beberapa kerusakan saat kembali dari perang.”

“Nona Lilith sepertinya benar-benar memahami tuan Volkov.”

“Hentikan.”

Lilith menggunakan tangan kosong nya untuk menutup mulutku.

“Sebutan Nona itu, bisakah kau hentikan?”

“Eh?”

Lilith sedikit menaikan alisnya, dan menatapku dengan kedua mata besarnya yang satu terlihat kekanak-kanakan dan satunya bijaksana.

“Sekarang kita sudah berteman, jadi kau tidak perlu menggunakan sebutan itu. Aku Lilith Sunlight.”

“Sunlight...... Nama yang indah.”

Dengan jujur mengutarakan perasaanku. Nama yang cocok untuk orang yang ceria seperti dirinya.

“Su- sungguh?” Lilith terlihat bahagia, “...........Baiklah, orang ini bernama Voulkov Galosh.”

“Bukan, yang benar Volkov Galosh.” - Pria besar itu segera berbalik dan mengoreksi dia.

“Eh, kau mendengarnya?”

“Lilith-berbuat-salah.”

“Bukankah akan terdengar lebih baik jika kau mengganti namamu menjadi ‘Voulkov’? Nama itu lebih cocok untuk mu.”

“Voulkov- salah. Volkov- tetap- Volkov.”

“Kau benar-benar tidak bisa diajak bercanda.”

Lilith tertawa licik, lalu berbalik.

“Benar, kau pasti juga memiliki nama, kan? Melihatmu terbiasa dengan ini, ‘tempat asal’ mu seharusnya tidak buruk, ‘kan?”

Aku menyebut namaku dengan ragu.

“Aku Iris........ Iris Rain Umbrella.”

“Iris......? Eh, itu terdengar seperti nama perempuan.”

“Erm, begitulah.....”

Kemudian, terdengar teriakan inspector.

“Oi...dilarang mengobrol! Nomor Lima-belas dan tiga puluh-delapan dan.....Nomor seratus-delapan. “

Setelah mengatakan ‘Maaf’ dengan nada yang keras, Lilith menjulurkan lidahnya padaku.

Hari ke-55[edit]

Setelah pertemuan itu, waktu yang kuhabiskan bersama mereka semakin banyak hari demi hari. Mereka adalah teman pertama semenjak aku berada di lahan konstruksi.

‘Hujan’ nya tidak kunjung berhenti. Dalam pandangan monokromku, masih tersisa berbagai campuran suara dan garis putih yang tak terhitung jumlahnya.

“Kemudian~”

Selagi kami berjalan dari ‘jeroan’ menuju ‘usus’, di seberang hujan tampak Lilith yang terus berbicara dengan riang. Dia benar-benar cerewet.

Inspector berteriak ‘Oi...nomor Lima-belas jangan hanya berdiri disana!’, lalu dia menendang Volkov.

Aku membalas: “Baiklah!”

“Jadi, apa kau tahu apa yang Volkov balas?”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia membalas.......’Maafkan saya, saya akan segera duduk!’ karena inspector berkata ‘jangan hanya berdiri di sana’, jadi dia duduk. Kemudian tubuh besar nya menindih inspector yang sedang berada di belakangnya.”

“Itu cukup mengerikan.”

“Suara melengking inspector barusan benar-benar menarik.”

“Benar, itu sungguh menarik.”

Lilith mulai tertawa, melihat tawa ceria nya, aku kembali bersemangat.

“Bagaimana kau bertemu dengan Volkov?”

“Oh, itu” Lilith menaikan kedua alis nya, “Bukan sesuatu yang spesial. Kami bertemu di lahan konstruksi setahun lalu. Volkov terlebih dahulu bekerja saat aku tiba disini......... aku merasa dia terlihat mirip.”

“Mirip........siapa?”

“Seorang kenalanku dulu. Dia sebuah robot bernama Lightning, aku bekerja denganya di toko loak. Dia sungguh besar tapi juga lamban.”

Saat itu juga, Lilith memalingkan pandanganya ke kejauhan.

“Karena itu, aku memperhatikan Volkov saat aku disini......selanjutnya aku memulai pembicaraan, dan ngobrol biasa denganya.”

Suara keras sirine tiba-tiba berbuyi. Itu adalah tanda istirahat makan siang. Tetapi, makan siang hanya diperuntukan untuk manusia, sementara robot tidak mempunyai hal semacam itu, satu-satunya waktu untuk beristirahat adalah saat pengisian daya pada malam hari.

“Sampai ketemu besok.”

Lilith beranjak pergi, dengan cepat melewati robot lain didepan nya. Rambut panjang miliknya berkibar dengan penuh energi.

Aku melihat ke arah dia pergi, dan melihat robot berukuran besar berjalan mendekatinya. Itu adalah Volkov. Seperti kemarin, hari ini dia juga membuat jejak-jejak kaki berukuran besar. Gadis mungil itu mengetuk tubuh besar nya sembari mengatakan ‘apa ada orang disana?’.

Aku mulai terbiasa melihat tingkah mereka, dan aku pun merasakan sebuah kehangatan di hatiku. Sudah sekian lama aku tidak merasakan kehangatan seperti ini di hatiku.

Aku bersyukur memiliki mereka berdua. Meskipun aku belum bisa menerima penampilan baruku ini, namun setidaknya aku tidaklah begitu menyesal seperti dulu. Mereka menerima ku apa adanya. Sejujurnya, itu membuatku cukup bahagia.

Jika aku dapat membuat suatu ekspresi, aku mungkin sedang tersenyum.

Setelah pekerjaan selesai, kita berkumpul di gudang seperti biasa.

Kami tidak diurutkan berdasar nomor identifikasi. Alasan utamanya kami dikumpulkan bersama adalah untuk mencegah pencurian dan untuk mengisi daya. Tidak masalah jika kau duduk di sembarang tempat.

Hari ini Lilith duduk di samping ku.

“Hey, Iris.”

“Hmm?”

Lilith berbicara dengan lirih: “Temani aku malam ini.” Sebuah senyuman yang penuh arti muncul diwajahnya.

“Eh? Menemani mu?”

Saat aku ingin menanyai maksudnya, inspector sudah berada dekat dengan kami.

Setelah kabel pengisi daya masuk kedalam tubuhku, tombol akan segera dimatikan. Besok akan menjadi pagi yang kedua saat aku bangun….itulah yang ada di pikiran ku.

    ..... Iris.

Aku mendengar suara seseorang.

    Hey, Iris!

‘Hujan’ muncul seperti biasa, aku membuka mata.

“........Lilith?”

“Ah, kau akhirnya bangun. ........aktivasi mu lama sekali.”

Lilith mencabut kabel pengisi daya dari tubuh ku, dan menutup pelindung yang terletak di bagian dada.

Klang.

Aku baru sadar, bahwa saat itu langit masih gelap gulita. Biasanya, cahaya akan langsung masuk melalui jendela gudang.

“.......Eh? Gelap?”

“Benar, sekarang masih gelap. Sekitar pukul dua pagi.”

“Pukul dua pagi.....”

Aku melihat ke sekeliling gudang, ini pertama kalinya aku bangun di waktu seperti ini.

“Iris, kau duluan.”

Lilith menujukan senyuman yang ceria.

“.......duluan?”

Aku memiringkan kepala.

Gadis itu mundur kebelakang dan mengulurkan tangan putih nya, seakan-akan ingin mengajaku untuk berdansa.

“Selamat datang di klub baca malam.”

Gudang terlihat menakutkan saat malam hari.

Para robot duduk manis di depan mesin pengisi daya yang memiliki bentuk seperti nisan. Tentu saja, tidak ada yang bergerak. Pada robot, terlihat cahaya pengisi daya yang berkelap-kelip. Lilith dan diriku menyelip diantara ratusan robot.

Robot bertubuh besar yang terlihat familiar duduk di kerumunan itu. Kabel besar tertancap di pantat nya seperti ekor, cahaya berkelap-kelip menandakan dia sedang mengisi daya.

“Rasakan ini!”

Lilith sengaja melepas kabel pengisi daya Volkov menggunakan kedua tangan nya, lalu dia membuka pelindung di dada, memasukan tangan kanan dan mulai mencari.

Beberapa detik berlalu, suara deruman ringan menggema ke seluruh gudang, dan mata Volkov pun menyala.

“Cepatlah bangun, sampah.”

Lilith mulai mengomel lagi.

Volkov berbicara sambil mempertahankan posisinya di tanah: “Volkov- memulai aktivasi- tidak bisa- bergerak.”

“Shhh, jangan keras-keras.”

Lilith mengecilkan nada bicara sambil memperingatkan nya.

Sembari menunggu Volkov memulai pengaktifan kembali, aku bertanya sesuatu yang dari tadi mengganguku.

“Kenapa Lilith bisa aktif sendiri? Tombol daya sudah dipastikan mati.....”

“Ahhh, itu.”

Lilith dengan bangga menunjuk dada menggunakan jempol nya.

“Baterai ku tipe pengisian-aktif. Artinya, aku akan otomatis menyala saat pengisian selesai.”

Aku hanya bisa berpikir ‘Ahh, jadi begitu ya.’ Jadi, dia bisa menyalakan dirinya sendiri meski manusia sudah mematikan daya nya. Tetapi, masih ada pertanyaan di benak ku.

“Tapi pengisian-aktif mu apakah tidak diambil oleh manusia?”

Jika robot pekerja dapat bergerak bebas saat malam, mematikan daya mereka adalah pekerjaan yang sia-sia.

“Menyembunyikanya cukup mudah. Terdapat banyak perkakas dan suku cadang jika kau berada di sini dalam waktu lama. Jadi, aku bisa melakukanya sendiri.”

Setelah mengatakanya, dengan bangga dia memperlihatkan temuan alat rumah tangga (benda itu kebanyakan sudah rusak atau kotor), buku, pemutar musik, dan alat perekam diantara tumpukan material. Dia sama sekali tidak menunjukan muka bersalah saat menjelaskan ‘rampasan perang’ miliknya. Aku bertanya dengan setengah terkesan dan setengah tak berdaya.

“Tapi robot tidak boleh melakukan sesuatu yang melanggar peraturan, ‘kan? Jadi kenapa Lilith mencurinya?”

“Oh, mungkin yang kau maksud adalah kode pencegahan pelanggaran dalam sirkuit pengamanan. Itu bukan masalah, karena aku……umm.”

Kemudian, Volkov berdiri perlahan. Tubuh besar nya mengeluarkan suara berderak, dan bayangannya sampai menyelimuti gudang. Mata nya menyala di kegelapan dengan terang.

“Lupakan saja, aku jelaskan semuanya nanti. Ayo kita pindah.”

Lilith bergerak menuju gudang.

“Gak papa nih, kita hanya setengah terisi?”

“Huh......”

Aku berjalan mengikutinya. Volkov mengikuti kami di belakang.

Gundukan kecil limbah material tertumpuk pada bagian dalam gudang, sisa-sisa benda yang terlihat seperti pergelangan tangan manusia tersebar dimana-mana. Itu mungkin bagian tubuh robot. Dilihat dari jumlahnya, bahkan cukup untuk membuat dua atau tiga toko loak.

Kami berjalan melewati gundukan material, dan sampai pada area luas tidak lama setelahnya. Hanya di tempat ini material terlihat disisihkan, sehingga menampilkan ruang berukuran sekitar tiga meter persegi. Sebuah tatakan ditempatkan di atas meja kayu, pemandangan ini tampak seperti adegan di film jika kau mengabaikan wajah lelah mereka.

Kami bertiga duduk di meja itu.

“Jadi, di gudang ada tempat seperti ini....”

Aku melihat sekitar meja. Meja itu dipenuhi dengan lempengan besi yang menumpuk, seolah-olah bisa jatuh kapanpun.

“Benar, Iris.”

Lilith mencari ke bawah meja dan mengeluarkan buku tebal.

“Kau bisa membaca?”

Lilith mengeluarkan buku bacaan anak-anak. Aku membaca judul buku itu.

“.......Third-rate Demon God Visa Darke.”

“Bagus sekali!” Lilith bersorak dengan antusias, “Kau bisa membaca! Itu bagus! Hurray!...”

“Tidak, itu bukanlah hal yang luar biasa.”

Menerima pujian berlebihan dari Lilith, aku sungguh merasa malu. Itu bukanlah buku yang terlau rumit, ‘untuk anak usia delapan tahun ke atas’ yang tertulis di depan sampul bukunya.

Seorang pemuda (yang cukup tampan) menggunakan jubah hitam, bersandar ke dinding dengan gelang putih yang bersinar di tangan kirinya terlihat di sampul buku. Meski aku hanya pernah sekali mendengar judulnya, kelihatanya buku itu cukup terkenal.

“Aku jarang membaca belakangan ini, transisi bahasa ku juga rusak. Volkov masih bisa membaca, tapi dia tidak bisa melihat kata yang terlalu kecil. .....jadi cuma ini yang bisa kita lakukan.”

Lalu, Lilith membuka buku dan melebarkanya ke depan Volkov. Dia menggunakan buku itu menutupi seluruh penglihatan Volkov.

Kemudian, Volkov mengatakan ‘Raja’. Lilith memindah buku nya dan berkata ‘Iblis’, ‘Vi’ . ‘sa’ mereka berdua membaca seperti itu bergantian.

Lilith menutup buku dan menghela napas. “Dia hanya bisa membaca satu kata dalam sekali ucap.....jadi lima puluh halaman membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. “Volkov- berusaha- keras.” Robot besar itu kesal.

“Mnn hmm, kau memang benar-benar berusaha~” Lilith tersenyum dengan rasa simpati.

“Volkov- melakukan- yang terbaik.”

“Benar, benar~”

Lilith berdiri dan mengusap kepala Volkov seolah-olah dia sedang menenangkan anak kecil. Volkov terlihat gembira. Aku penasaran jenis hubungan seperti apa yang mereka punya.

“Jadi, bagaimana menurutmu?”

Dia melihatku dari dekat.

“Aku akan benar-benar berterima kasih, jadi maukah kau membacakan buku untuk ku?”

“Mnn, baiklah...” aku mengambil buku itu dari tangan Lilith, “Aku harus mulai membaca darimana?”

“Lebih baik kau membacanya dari awal. Sia-sia jika kau menyelesaikanya dalam sekali baca. .......Ah, Volkov, kau sekarang boleh pergi jika kau mau.”

Lilith mengatakannya dengan nada yang menghina, sementara itu mata Volkov bersinar.

“Volkov- ingin- tahu- ceritanya.”

Lilith tertawa. Kelihatanya dia sangat senang kapanpun mengerjai Volkov.

“Aku mulai membacanya.” Aku membuka halaman pertama, “Sang raja iblis Visa Darke yang malang. Bab satu ‘Raja iblis tidak bisa menggunakan sihir’. ...err, prolog.”

Seperti itulah, kami bertiga memulai pertemuan ‘klub baca malam’.

“ ‘Lalu?’ Darke berbicara dengan dinginya, ‘Kau bilang menghancurkan dunia adalah pekerjaan Raja Iblis?’ setelah mendengar permintaanya, gelang di tanganya berbicara langsung: ‘Itu benar, Tuan Darke.”

Aku membaca buku secara perlahan.

Lilith duduk di sampingku. Menyandarkan tubuhnya ke depan meja dengan mata besar yang dipenuhi antusiasme. Di sisi lain, Volkov tetap diam, tapi matanya sesekali bersinar. Mereka berdua kelihatanya sangat menyukai buku ini.

Setelah membaca sekitar tiga puluh lembar, aku mulai kesulitan memahami cerita ‘Third-rate Demon God Visa Darke’.

Karakter utama, Visa Darke, adalah seorang raja iblis. Dia adalah pemimpin yang memerintah kerajaan iblis, berasal dari keluarga terhormat, tapi tidak tertarik dengan pekerjaanya sebagai raja iblis. Penyebabnya adalah, dia enggan menggunakan kekuatanya untuk menginvasi daerah lain atau mendatangkan bencana pada dunia manusia, dia malah tertarik memperbaiki alat sihir yang dikumpulkan dari seluruh wilayah kerajan iblis, supaya bisa digunakan lagi seperti dulu.

Gelang sihir yang berada di pergelangan tangan Darke bernama ‘Flo Snow’, itu adalah gelang hidup yang indah seputih salju dengan suara sejernih es. Gelang itu berkepribadian serius, juga tegas pada tuan nya yang selalu memperbaiki alat sihir sementara mengabaikan status nya sebagai raja iblis. Tetapi, Darke lupa akan pekerjaanya hari ini, dan dia tidak pernah belajar dari kesalahanya. Dia berbohong pada Flo, dan menyelinap ke kota

“Iris, bagaimana selanjutnya. Apa yang Darke katakan?”

Lilith menarik-narik siku ku, memaksa untuk melanjutkan ceritanya. Aku sudah membaca buku nya sampai bagian yang belum pernah mereka baca, oleh karena itu dia menjadi begitu berisik dengan berteriak ‘Cepat, cepat’ ‘Apa selanjutnya?’

“Baiklah, ayo kita lanjutkan. ....... ‘Hey Flo, kekuatan sihirku menjadi begitu lemah. Apakah tidak masalah jika aku sedikit bergantung dengan alat sihir?’ Darke berbicara pada Flo Snow dengan nada dingin seperti biasa. ‘Itu hanya alasanmu saja, Tuan Darke.’ Kekuatan sihirmu tidak lemah, kau hanya kurang berlatih. Ahh, ini benar-benar ironis. Jika ini terus berlanjut, kau tidak akan sanggup menghadap pendahulu mu lagi.’

Di malam seusai pembicaraan mereka, saat Darke berbaring di matras nya, salah satu alat sihir Darke kembali aktif dan berubah menjadi monster mengerikan. Monster itu menyusup ke kamar Darke

“Shh”

Tiba-tiba, Lilith menempelkan telunjuk ke bibirnya.

“Matikan lampunya!”

Volkov segera mematikan lampu mata nya. Aku mematikan sistem penerangan milik ku juga.

“Petugas patroli!”

Lilith menempelkan jari telunjuk pada bibir selagi mata tajam nya terfokus pada pintu masuk gudang.

Setelah itu, aku melihat cahaya redup dalam gudang. Bisa jadi itu petugas patroli yang memegang senter. Cahaya itu berpindah dari satu robot ke robot lainnya.

Karena sampah yang tertumpuk mengelilingi kami, ‘tempat ini’ tidak tampak dari pintu masuk. Meski begitu, kami selalu ketakutan pada setiap cahaya yang masuk kesini.

Lima menit berlalu, Lilith berbisik ‘Kupikir dia sudah pergi...’ setelah menilik keluar melalui celah, lalu dia kembali ke meja.

Aku merasa lega. Volkov mengeluarkan suara ‘Hu...’~.

“Kita tidak ketahuan.”

Lilith berbicara dengan nada rendah: “Tenang saja, Petugas patroli hanya memeriksa. Mereka tidak akan menghitung jumlah robot nya.

“Apa yang akan terjadi jika kita ketahuan?”

“Tidak ada yang tahu......mungkin mereka akan membongkar kita menjadi lempengan. ........ Tetapi, mereka bisa saja menyita barang-barang ini.”

Dia mengambil buku dari tangan ku, dan menyembunyikan ke bawah meja.

“Apa kita akan melanjutkanya?”

“Meski aku sangat~ ingin melanjutkannya, malam ini cukup sampai disini saja. Mereka akan curiga jika baterai kita tidak terisi penuh.

Pertemuan klub baca berakhir begitu saja.

Yang terjadi pada Darke setelah dia mendengar suara-suara aneh, akan berlanjut esok, pukul dua di pagi hari.

Hari ke- 69[edit]

Di dunia monokrom dimana bumi dan langit terlihat tidak menyenangkan, aku kembali mengerjakan tugasku. Tanpa hentinya bolak-balik mengangkut barang dalam hujan yang abadi.

Lilith biasanya menemaniku, dan kami pergi setelah selesai berbincang-bincang.

Pada dasarnya, aku dan Volkov bisa berbincang sekarang. Setiap kali aku menghampiri dan menepuk tubuh besar nya perlahan sambil bertanya, ‘Apa ada orang disana?’, dia akan berbalik, dan memberi jawaban aneh ‘Oh~ ada, ada’.

Malam hari nya, kami memulai penantian panjang untuk pertemuan klub baca malam. Terhitung, mulai dari dua minggu sejak aku pertama kali membacakan buku, kami dengan cepat telah mencapai bab ke-6 dari “Third-rate Demon God Visa Darke’. Terdapat delapan bab pada seri ini, jadi kami sudah berada di akhir cerita. Rangkuman cerita dari bab satu ke bab lima kurang-lebih adalah seperti ini ‘Raja iblis Darke secara diam-diam keluar dari kastil, membawa pulang beberapa alat sihir’  ‘Dimarahi gelang ajaib Flo Snow’  ‘Alat sihir nya sebenarnya sangatlah kuat......’ Percakapan antara iblis berjubah hitam dan gelang perak pada setiap volume benar-benar menarik, tidak hanya pada Lilith dan Volkov, aku sendiri juga kecanduan dengan ceritanya.

Tetapi, penceritaan dari bab ke-enam berbeda dari bab sebelumnya. Darke meninggalkan Flo, dan memulai perjalanan, mereka hilang kontak antara satu sama lain selama sebulan. Selang beberapa lama, Flo, yang sudah cukup marah sedari awal, merasa khawatir, dan menyadari ‘perasaan asli’ nya. Dia, yang selalu memarahi Darke, sebenarnya…. hubungan mereka berdua mulai berkembang.

Waktu berlalu, tanpa sadar, aku sudah dua bulan berada di sini. Itu artinya sudah dua bulan berlalu sejak profesor meninggal.

Untuk hali ini, lebih baik aku tidak terlalu memikirkanya.

Pukul dua pagi hari.

Di gudang yang terselimut kegelapan, cahaya pengisian dari robot berkelap-kelip seperti kunang-kunang. Sebuah area di ujung gudang disinari cahaya bulan, dan di situlah pesta kecil milik kami diadakan.

“Bacakan lagi paragraf sebelumnya.”

Lilith perlahan menggunakan jarinya untuk menepuk sikuku. Jika kami sampai pada bagian yang membuatnya tertarik, dia segera memintaku membacakannya lagi.

“Flo merenung. Hingga sekarang, apakah dia benar-benar membantu Darke.”

“Hmm...”

Lilith memiringkan kepala selagi memeluk lutunya, kelihatanya dia merasa bingung dengan itu.

Pada bagian cerita ini, Flo Snow si gelang sihir terlihat galau belakangan ini.

Dia cukup percaya diri pada metode mendidiknya saat dia mulai melayani pendahulu keluarga Darke. Meski Darke menggunakan kata kasar, dia selalu mendengarkan nasihat Flo pada akhirnya, jadi itu sama sekali bukan masalah untuknya. Bahkan aku, yang membaca buku ini, mempunyai perasaan seperti ‘Ahh~ pikiran mereka benar-benar terhubung satu sama lain.’

Tetapi, kini Darke meninggalkan Flo, bahkan tidak mengirim pesan sebulan sejak dia berangkat. Hal seperti ini tidak pernah terjadi di masa lalu. Flo merasa tidak nyaman karena sendirian, dan terus memikirkan Darke setiap harinya. Darke selalu berusaha memerankan tugasnya sebagai Raja iblis hingga sekarang, tapi apakah benar keberadaanya hanya mengganggu dan merepotkan? Juga dia sadar dengan ‘perasaan asli’ miliknya… rasa cinta nya pada Darke pasti hanya akan menyusahkan Darke, jadi hal inilah yang membuatnya terganggu.

“............... Flo Snow.”

Lilith berbicara perlahan.

“Gimana bilangnya ya, Flo terlalu mengkhawatirkanya. Dia sudah lama bersama dengan Darke, dia seharusnya merasa lebih percaya diri.”

Lilith membela gelang itu. Aku juga merasakan hal yang sama.

Kemudian, Volkov bertanya.

“Tapi- Darke- tidak- kembali. Kenapa?”

“Itu karena......”

Tidak seperti biasanya, Lilith kehilangan kata-kata. Meski, Darke tidak bisa ditebak dan kekanak-kanakan, dia sebenarnya baik dan jujur. Jadi, pasti ada suatu alasan yang membuat dirinya tidak bisa segera kembali.

“Iris, tolong teruskan bacanya.”

Lilith menyodok sikuku. Aku mengangkat buku dan mengatakan: “Kalau begitu mari kita teruskan.”

Saat itu juga.

“Ah...”

Buku lepas dari tanganku dengan sendirinya.

“Eh, kau baik-baik saja?”

Sambil meminta maaf, aku ambil bukunya. ‘Hujan’ menjadi lebih parah belakangan ini, jadi memungut buku itu dari jauh menjadi cukup sulit.

“Flo berpikir. Apakah dia benar-benar membantu Darke bahkan hingga sekarang. Setelah itu, dia kembali merenungkannya.”

Dalam hujan, pandanganku bergerak mengikuti kata-kata. Garis putih yang meyerupai awan muncul di ujung figur berbentuk jet di atas setiap kata.

“Jika dia tidak bisa membantu Darke, lantas hidup macam apa yang akan dia jalani?”

Kemudian, aku menutup buku nya.

“Ada apa, Iris?”

Lilith memandang wajahku dengan terkejut.

Aku mengutarakan perasaan ku.

“Kalimat barusan, apakah kau memperhatikanya?”

“Eh........yang mana?”

“Jika dia tidak bisa membantu Darke......bagian itu.”

Pemikiran Flo Snow persis dengan yang kupikirkan setelah aku tiba di lahan konstruksi.

       Jika aku tidak bisa membantu, maka hidup macam apa yang akan dia jalani?

Bekerja setiap hari tanpa istirahat, mematikan daya saat malam tiba, bangun di pagi hari. Dan proses itu berulang setiap hari. Apakah masih ada makna dalam kehidupan seperti ini? Aku, yang tidak bisa membantu profesor, apakah keberadaanku masih memiliki nilai?

Pertanyaanku bercampur dengan kekhawatiran Flo yang tidak bisa membantu raja iblis.

Oleh karena itu, aku bertanya.

“Hidup, apakah hidup itu?”

Orang pertama yang menjawab adalah Lilith.

“Mnn......hidup....”

Dia memiringkan kepalanya.

“Selama kau tidak mati....itulah hidup, ‘kan?”

“Ah, bukan, bukan itu maksudku,”

Aku melanjutkan pertanyaanku.

“Aku harus menyederhanakanya seperti ini,....... ‘tujuan dari kehidupan’. Untuk robot seperti kita, apa yang disebut ‘hidup’ dan ‘tujuan dari kehidupan’….itulah pertanyaan yang sedang kupikirkan saat ini.”

“Maaf, aku benar-benar tidak tahu apa yang kau katakan.”

“Erm, begini...... bukankah Flo hidup hanya untuk raja iblis Darke? Itulah tujuan hidupnya. Kemudian, apa tujuan hidup kita?”

Aku mencoba menjelaskan, sementara Lilith mengatakan ‘Ah...jadi itu yang kau maksud’. Dia sepertinya memahami pertanyaanku barusan.

Aku menanti jawabanya.

Dia menjawab langsung.

“Hal-hal seperti, apa itu tujuan kehidupan hanyalah pertanyaan yang dilontarkan para pemalas.”

“......Eh? Pemalas?”

“Lebih tepatnya, hanya robot dengan kehidupan nyaman yang menanyakan ini. ....robot menyedihkan seperti kita tidak memerlukan tujuan hidup. Selama baterai dan bagian tubuh kita tidak hancur seluruhnya, selama belum datang hari dimana kita akan menjadi lempengan besi, maka kita masih berguna, bukankah begitu arti hidup kita?”

Dia mengatakan itu dengan logis.

“Err, maaf. Tujuan hidupmu...”

“Artinya, ‘hidup’ adalah perjuangan menuju garis akhir”

Lilith melontarkan itu dengan nada kasar. Kata-katanya semacam mengandung makna.

Saat itu juga, Volkov menyela: “Aku- pikir- itu- salah.”

“Mnn” Lilith menaikan alis mata nya, kemudian menoleh ke arah Volkov, “Hey, kau berani juga ya berbeda pendapat denganku. Lilith Sunlight.”

Lilith dengan santai mengejek Volkov.

Tetapi, Volkov benar-benar tidak tahu bagaimana cara untuk bercanda. Dia menjawab dengan serius: “Volkov- memiliki- pendapat-yang berbeda- dengan- Iris.”

Matanya menatapku dengan tajam.

“Lilith- mendefinisikan-apa-itu- hidup- mati. ....sedangkan-Iris- mendefinisikan- kenapa-kita- hidup.”

Setelah mendengarka penjelasan Volkov, aku merasa senang. Karena Volkov menangkap maksud dari pertanyaanku.

“Benar, benar! Yang Volkov barusan katakan persis seperti yang kumkasud! Eksistensi kita mengundang pertanyaan : Mengapa kita hidup?. Itulah tujuan eksistensi kita sebenarnya.”

“Volkov, bagaimana pendapatmu? Tujuan eksistensi kita? Kenapa kita terus bertahan untuk tetap hidup?”

“Volkov- tidak- tahu.”

Kemudian, dia meneruskan.

“Volkov- dulu mengikuti- perang- membunuh- banyak. ....Manusia- robot- membunuh- banyak.”

Mendengarkan kata-katanya, tubuh ku merinding. Lilith memandang Volkov dengan serius.

“Volkov- tahu- cara- membunuh.”

Aku memandang cahaya redup yang bersinar di sorot matanya.

“Tapi- tidak- tahu- cara- untuk- hidup.”

Setelah mengatakan itu, dia tenggelam ke dalam kesunyian.

Kesunyian merambat ke seluruh sudut gudang.

Setelah beberapa lama, Lilith perlahan berbicara: “.......begitu ya.”

“Ah tidak apa-apa, walaupun kau tidak tahu jawabanya, gak papa kok.....aku juga tidak tahu.”

Tatapan Lilith pada Volkov terlihat lembut. Dia terkadang menatap Volkov seperti itu.

“Pertanyaan seperti: apakah arti hidup kita… bukankah itu sangat sulit dijawab….”

Dia melirik ke arah jendela gudang.

“Bahkan manusia kesulitan menjawab itu.”

Iord 146.jpg

Hari ke-73[edit]

Dalam dunia kelabu yang telah kehilangan warnanya. Aku bolak-balik di lahan konstruksi seperti biasa. Limbah material terkumpul dalam ‘jeroan’ perlahan bergerak menuju ‘usus’, kemudian dicerna.

Hujan semakin lebat. Penglihatan mata sebelah kananku kabur, dan garis vertikal tampak mengelilingi pandangan. Seperti biasa, suara hujan mengganguku, dan itu menyulitkanku mendengar suara lain dari luar. Meski begitu, teriakan inspector masih bisa terdengar.

Terlepas dari itu, ada satu hal yang aku sadari.

....Klang.

Saat aku memindah material, bunyi itu terdengar lagi.

....Klang, Klang.

Suara itu terngiang di kepalaku. Itu terdengar seperti kerikil yang membentur di dalam tengkorakku.

Suara itu muncul setelah aku mendapat tubuh ini, dan itu mungkin bisa terjadi saat aku menabrak cermin. Meski sudah sedikit berkurang, kelihatanya suara tersebut menjadi sedikit berirama sekarang. Dan juga, saat aku memutar leherku, suara itu akan terdengar jelas sekali lagi.

Apa sebenarnya suara itu…..aku terus memikirkanya saat aku bergerak.

Sebenarnya, itu tidak mengganguku jika dibandingkan dengan hujan, itu hanya mengeluarkan suara klang. Mungkin itu cuma sekrup atau baut yang kendor.

Aku bergerak ke depan bersama suara itu, aku merasa seperti sebuah mainan yang selalu mengeluarkan suara setiap kali berjalan.

Setelah pekerjaan selesai, sekarang waktunya untuk kembali membaca.

“Pada malam sunyi itu, Flo Snow meninggalkan kastil raja iblis. .....bersambung.”

Aku menyelesaikan bab ke-enam buku ‘Third-rate Demon God Visa Darke’. Hanya dua bab lagi yang tersisa.

Setelah sekitar tiga bulan, Darke akhirnya kembali. Tetapi, dia tidak menjawab kapanpun Flo bertanya kemana dia pergi. Meski Flo lega akan kepulanganya, dia juga terluka dengan sikap tertutup Tuannya. Oleh karena itu, dia ‘kabur’ pada akhir cerita bab ke-enam. Itu karena dia merasa keberadaanya sudah tidak lagi dibutuhkan oleh Darke.

“Hmmm!”

Lilith mengerang, seolah-olah dia sudah tidak sanggup lagi mendengar cerita ini. Kemudian dia berteriak : “Diskualifikasi!”

“Apa?” aku mencari kata barusan dalam buku.

“Flo sudah banyak menderita! Darke tidak menerangkan apapun padanya, dia tidak cocok menjadi tuan nya.”

Lilith protes dengan berapi-api. Jarang melihatnya marah seperti ini.

“Darke benar-benar aneh belakangan ini. Dia mungkin sedang terobsesi dengan alat baru nya itu, sehingga melupakan miliknya yang saat ini dia punya.”

Lilith memandangku seakan-akan dia ingin mendengar pendapatku.

Aku percaya dengan Darke, dan tidak setuju dengannya. Jadi aku sedikit mengkritiknya.

“Bukan seperti itu. Lihat, itulah yang tertulis disini.” aku membalik halaman satu per satu, “Sang raja iblis melirik pada gelang putih. Tetapi, dia tidak mengatakan apapun….itu bukti bahwa Darke mengetahui masalah yang sedang dialami Flo.”

“Jadi, kenapa dia tidak mengatakan apapun?” Lilith menyuarakan ketidaksetujuanya.

“Itu karena Darke khawatir denganya. Darke menghormati perasaan dan harga diri Flo, jadi dia hanya mengamatinya.’

“Hmm.....menurutku tidak seperti itu.....”

Lilith sepertinya cukup berpihak pada Flo belakangan ini. Itulah mengapa pendapatku berbeda karena aku percaya pada Darke.

Volkov tetap diam. Dia perlahan melirik Lilith tanpa mengatakan apapun.

Awal dari cerita bab ke-tujuh jauh lebih buruk.

Apa-apaan ini.......!

Aku juga ikut tersentak.

Setelah Flo kabur, Darke tidak mencarinya, justru membuat gelang baru dengan sihirnya.

“Dengan puas, Darke mengangkat dan mengamati gelang barunya itu. Gelang putih sempurna yang memancarkan keindahan dari seluruh perak di dunia yang terkumpul pada satu titik.

“Cukup, cukup cukup cukup!”

Lilith dengan marah berteriak seperti suara sapi [2] “Bu- bu bukankah itu bodoh!? Kenapa Darke tidak mencari Flo!? Dan dia bahkan membuat gelang baru, dasar iblis! kejam!”

Lilith menarik leherku dan mulai menggoncamgkanya. Suara ‘klang’ berdentang lagi di kepalaku.

“Darke pasti punya rencanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Meski aku berkata seperti itu, aku benar-benar tidak tahu apa yang ada dipikirkan Darke saat ini.

Kenapa justru Darke membuat gelang baru di saat seperti ini? Memperbaiki alat sihir merupakan tugasnya, tapi dia tidak melakukanya kali ini, melainkan membuat alat yang baru. Ditambah lagi, dia tidak mencoba untuk mencari Flo......

Tanpa menyembunyikan perasaan tidak senangnya, Lilith lalu memaksaku: “Lanjutkan, lanjutkan!”

Aku ragu untuk bagian selanjutnya, tapi aku mulai membaca.

“Pada saat itu, Flo Snow yang telah kabur – kini sampai- di suatu tempat- yang jauh....dari....“

Saat itupun, aku berhenti membaca “.....Iris?” “Mnn?” mereka berdua mengeluarkan suara kebingungan di waktu yang bersamaan.

      Ini buruk.

Hujan. Seperti jalanan dengan banyak lampu merah, garis putih saling bersinggungan pada tiap katanya, mencegahku untuk melanjutkan membaca.

Aku dengan tenang menyesuaikan fokus pada sistem pupil. Tetapi, penyebabnya bukan karena penglihatanku yang tidak fokus, melainkan pandanganku yang terhalang, jadi aku tidak bisa melihat apapun.

“Hey, Iris ada apa denganmu?” Lilith dengan perlahan menyentuh tanganku.

“Tidak.........aku baik-baik saja.”

Aku kembali fokus ke arah buku.

Situasinya berubah. Suasananya kembali tenang.

“Pada saat itu, Flo Snow yang telah kabur, kini sampai di suatu tempat yang yang sangat jauh dari kastil raja iblis, namun dekat dengan sungai kerajaan iblis. Biasanya, saat ini adalah waktu dimana dia dan Darke sedang berbincang......”

Hujan masih turun.

Pandangan monokrom terlihat seperti film lawas terbagi dalam beberapa bagian.

Aku tidak memberitahukan itu ke siapapun.

Tidak pada Lilith, dan juga Volkov.

Aku menyukai perkumpulan klub baca kecil ini.

Seperti Lilith yang memintaku untuk terus membaca dengan mata antusiasnya.

Seperti Volkov yang tenang mendengarkan dengan wajah sigap.

Aku menyukai saat dimana waktu mengalir secara lembut dan perlahan seperti ini.

“Kesepian, Flo merasa kesepian hingga dia ingin menangis. Kenangan yang terukir dalam ingatanya semuanya adalah tentang Darke....”

Dalam hujan yang berjatuhan dengan lebatnya, aku terus membaca.

Hujanya mungkin tidak akan berhenti untuk saat ini.

Aku mungkin juga kehilangan penglihatanku dalam waktu dekat.

Tuhan, aku memohon padamu. Ini adalah doa dengan nyawaku sebagai gantinya.

Berikanlah aku sedikit waktu.

Aku mohon jangan ambil penglihatanku sebelum pertemuan klub baca yang santai ini berakhir.

Hari ke-78[edit]

Hari ini hujan seperti biasanya. Hari dengan hujan yang tidak akan berakhir.

Aku juga memindahkan material seperti biasa.

Pada pesisir pantai terdapat tumpukan limbar material yang menggunung, dan tumpukan tersebut berkurang secara signifikan. Itu menandakan bahwa pekerjaan kami segera berakhir.

Suara klang dari besi di dalam kepalaku terngiang bagaikan tarian seorang penari yang aneh.

Aku merasa ingin membuka kepalaku, dan mengeluarkan benda itu. Tetapi, aku tidak nyaman menggunakan tanganku untuk melakukan pekerjaan beresiko seperti itu. Membuka kepalaku sih hal yang mudah, tapi menutupnya sungguh merepotkan.

Selagi berpikir, aku melihat pemandangan langka siang ini sembari terus melakukan pekerjaan.

Pemandangan seorang inspector yang sedang meminta maaf.

Pada pusat pengawasan, inspector yang biasanya berada di lantai paling atas terlihat sedang membungkuk, dengan sebuah senyuman ramah pada wajahnya. Setelah melihat lebih lanjut, aku menemukan seorang pria paruh baya dengan perawakan sedang yang menggunakan setelan jas, dia berdiri di samping inspector, menunjuk kesana-kesini.

…..Dia mungkin seorang petinggi, mungkin juga dia adalah manajer umum di sini.

Aku melihat sekilas saat membuang limbah material. Pria yang berada pada menara pengawas menunjuk kami beberapa kali. Setiap kali dia melakukan itu, inspector dengan terburu-buru mencatatnya. Aku bertanya-tanya apa yang sedang mereka bicarakan.

Aku mengalihkan perhatian ke depan, dan tatapan mataku berhenti di belakang punggung besar Volkov. Lilith terlihat ada di dekatnya.

Aku mempercepat jalan roda track-ku, untuk bertanya pada mereka.

Suara menggangu yang ada di kepalaku berbunyi saat aku berjalan dalam hujan.

“Tidakkah kau merasa aneh?”

Orang yang mengatakan itu tidak lain adalah Lilith.

Pukul dua pagi kemarin, kami mengadakan pertemuan klub baca pada meja kayu tua di gudang seperti biasanya.

“Apa yang aneh?”

“Iris, kau juga melihatnya, kan? Pria gemuk itu.”

Mungkin benda itu dia dapatkan di tumpukan limbah material, Lilith menatapku sambil mengayunkan perekam kecil di tanganya. Wajah elegan, dan cantiknya menunjukan ekspresi tidak puas, sementara alisnya dikernyitkan.

“Ah, maksudmu pria mengenakan setelan jas yang sedang berbicara dengan inspector?”

“Benar, benar. Dia mungkin orang dari kantor pusat yang sebelumnya pernah datang ke sini, bukan?”

“Kantor pusat.....? kantor pusat mana?”

“Kantor pusat dari perusahaan ini, bukankah itu adalah logo merah yang sama pada seragam inspector.... sayang sekali aku tidak bisa membaca kalimat yang tertulis di sana.”

“Logo merah...?”

Aku tidak bisa membedakan warna, jadi aku tidak bisa mengingatnya.

“Mobil yang mereka naiki juga memiliki logo yang sama, jadi mungkin mereka dikirim kesini dari kantor pusat di Oval.”

Setelah mendengar kata ‘Oval’, jantungku tiba-tiba berdebar. Itu adalah nama tempat di mana aku dan profesor tinggal.

“Apakah Oval..... dekat dari sini?”

“Eh? Apa yang kau maksud Kota Oval?”

Aku mengangguk, lalu Lilth menjawab: “Kota itu disamping tempat ini. Kau bahkan tidak memerlukan lima belas menit ke sana dengan mobil.”

“Lima belas menit.....”

Aku tersontak dengan jawaban ini. Lima belas menit naik mobil. Setelah tiba di sini. Aku merasa seolah-olah berada ribuan mil jauhnya dari rumah, dan berada di tempat asing, tapi tidak pernah berpikir bahwa tempat ini begitu dekat dengan Kota Oval.

Kemudian, Lilith melanjutkan pembicaraanya.

“Benar, aku mendengar beberapa berita aneh hari ini. Itu adalah hal sama yang Inspector katakan saat petinggi dari kantor pusat meninggalkan tempat ini.

Kemudian, Lilith merendahkan suaranya. Sebenarnya, hanya ada robot yang dimatikan dayanya yang berada di gudang meski dia tidak melakukanya.

“Setelah pekerjaan ini selesai, orang-orang disini akan dipecat.”

“......? apa artinya itu?”

“Itu~ artinya~ dipecat, pecat! Setelah pekerjaan ini selesai, kita akan menjadi lempengan besi.”

‘Uuu...!”

Yang hanya bisa aku lakukan hanyalah mengerang. Setelah mendengar kata ‘lempengan besi’, aku mengingat apa yang terjadi pada ‘hari itu’. Hari di mana anggota tubuhku dicabut. Aku tidak ingin menjalani hal menyakitkan itu lagi.

“....... Bagaimana menurutmu?”

Tidak biasanya, Lilith menanyakan pendapat pada Volkov, dan si besar pun segera menjawabnya.

“Robot- harus- mematuhi- manusia.”

Tidak puas, Lilith memukul lengan Volkov.

“Yang benar saja.... apa kau benar-benar berpikir seperti itu? Apakah kau mengerti bahwa kita akan menjadi lempengan besi jika ini terus berlanjut?”

“Robot- harus- mematuhi- manusia.” Volkov mengulangi perkataanya.

“Sudah cukup, bodohnya aku menanyakan pertanyaan ini padamu.”

Lilith menyandarkan tubuhnya pada tumpukan limbah di depannya.

“Aku sudah pasti tidak ingin diubah menjadi seperti itu.”

Sambil menatap Lilith, aku pun berkata: “Tapi kita tidak bisa melakukan apapun tentang hal itu.”

“Bukankah semuanya akan terselesaikan jika kita kabur?”

“Tapi ada kode perintah pada tubuh kita.”

“Itu bukan masalah, aku sudah menghilangkanya dari dulu.”

“......... Eh?”

Aku hampir tidak percaya. Kode perintah adalah komponen penting dalam sirkuit pengamanan pada tubuh robot. Program itu tidak bisa dihilangkan, jadi robot tidak mempunyai alasan untuk tidak mematuhi manusia.

“Sirkuit keamanan miliku rusak. Mungkin itu terjadi di lahan konstruksi ke-empat sebelum ini? Itu tidak sengaja rusak saat aku terlindas alat derek. Tetapi, dayaku tidak akan terisi jika aku rusak, jadi aku hanya berpura-pura mematuhi manusia.”

“Apa kau serius........ jadi apakah hal yang sama juga terjadi pada Volkov?

“Sirkuit- pengaman- Volkov- masih- sama.”

“Itu karena dia adalah robot militer.”

Lilith melihat Volkov saat dia berbicara.

“Sirkuit pengaman miliknya cukup unik. Aku mencoba mencabut itu sebelumnya, tapi tetap gagal. ...... prosesnya sih bisa kulakukan, tapi ada pengaturan aneh di dalamnya......”

Volkov berbicara dengan kepalanya menonggak ke atas: “Volkov-aman.” Lilith menjawab dengan acuh: “Ya, ya, kau benar-benar aman.”

“Tapi ini bukan waktunya mengatakan hal ini dengan tenang.”

Lilith menatap Volkov secara langsung.

“Apa kau rela diubah menjadi lempengan besi.”

“Robot- harus- mematuhi- manusia.”

“Benar......”

Lilith mendesah. Dia terlihat gusar. Meski dia jarang menampilkan sikap seperti ini, dia benar-benar peduli dengan Volkov.

“........Lupakan, daripada terus begini, akan lebih baik jika aku mencabut sirkuit pengaman milikmu sekarang, Iris. Jika terjadi sesuatu, bahkan jika mereka menekan ‘tombol penghentian darurat’, kau masih bisa lolos.”

Tombol penghentian darurat digunakan hanya dalam keadaan darurat agar para robot berhenti bergerak. Aku pernah melihat device tombol itu tergantung di sabuk inspector.

“Dicabut? Apa itu bisa dilakukan?”

“Tentu saja, aku lah yang bertanggung jawab memperbaiki kolegaku di lahan konstruksi sebelumnya. ...... meski itu dilakukan secara spontan.”

Lilith mengambil kotak peralatan dari bawah meja. Tentu saja, itu merupakan ‘rampasan perang’ dari lahan konstruksi.

“Jangan bergerak, sirkuit mental itu rapuh.” Dia bergerak dari belakang, mendekatiku dengan obeng di kedua tanganya.

“A-apa itu benar-benar bisa dilakukan?”

“Tentu saja........ mungkin.”

Suara retakan terdengar dari kepalaku, Lilith sudah mulai mengendorkan sekrupnya. Satu per satu sekrup berukuran kecil diletakan pada kotak berbentuk persegi di atas meja.

Akhirnya, dengan suara klang, kepalaku terbuka.

“Oh? Itu komponen berkualitas rendah dari pabrik kelas tiga. ...... jadi seperti ini keadaanya ya.”

Lilith kemudian mengangguk, sepertinya dia memahami sesuatu.

“Apa yang kau pahami barusan?”

“Aku paham bagaimana kau bisa berada di sini. Dari toko loak itu.”

“Toko loak?”

“Bukankah harga robot baru mahal? Itulah mengapa toko loak mengumpulkan komponen bekas seperti ‘tangan atau kaki’, jadi pembuatan ‘robot bekas’ semakin bertambah jumlahnya. Aku pernah mendengarnya. Tempat itu akan mengumpulkan barang bekas, mengubah mereka, dan merakit kembali sebuah robot modifikasi….. seperti diriku…”

“Kau mungkin saja dibeli inspector dari toko loak di Kota Oval. Tapi, sebenarnya Departemen Manajemen Robot yang menjual itu pada mereka, ‘kan?”

Aku pikir dia benar. Jadi, aku menjelaskan proses diriku sampai di lahan konstruksi setelah diubah menjadi lempengan besi.

“Apa kau bercanda........” saat itu juga Lilith berkata dengan terkejut.

“Ada apa?”

“Wow, ini pertama kalinya aku melihat sirkuit mental seperti ini...”

Melihat pada struktur dalam milikku, Lilith mengatakan itu dengan kagum. “Wow! Sirkuit pengamannya sangat kecil! Dan inikah struktur uniknya!?” Lilith terlihat begitu semangat. Aku hanya bisa tersipu.

Ekspresi Lilith berubah muram. Dia mengamatiku dari samping. Rambut panjangnya dengan lembut menyentuh bahuku.

“Kau, siapa kau sebenarnya?”

“........ Apa?” aku memiringkan kepalaku.

“Bagian tubuhmu kelihatan cukup tua, tapi sirkuit mentalmu lebih canggih.”

“Itu karena....”

Sebuah bayang muncul di pikiranku. Itu adalah kenangan pahit yang kukunci di dalam hatiku, masa lalu yang tidak ingin aku hadapi.

“Ah, apa ini?” Lilih mengatakan itu dengan terkejut.

“Apanya?”

“Kelihatanya ada benda terkunci yang tergantung di dekat sirkuit mentalmu.”

“Terkunci?”

Aku tiba-tiba mengingat sesuatu ‘suara itu’ yang selalu berbunyi di kepalaku belakangan ini.

“Tunggu sebentar....”

Lilith mengambil kawat besi di tempat peralatan dan memutarnya menjadi kail, seperti yang digunakan pada joran.

“Aku akan mengeluarkanya segera.”

Beberapa saat kemudian, suara klik menggema di kepalaku, kemudian dia berkata: “Sudah selesai”. Sepertinya kail itu berhasil menangkap mangsanya.

“Apa ini.......permata?” Lilith menggumam dengan terkejut sambil memegang kawat besi itu.

“Eh?”

Aku berbalik, dan di sana aku mendapati Lilith mengatakan: “Lihat”, sembari menepatkan benda yang dia dapat ke atas meja.

Permata abu-abu berbentuk oval dengan kunci di dalamnya.

Bukan, sebenarnya bukan abu-abu, melainkan cahaya perak yang terpantul dari........ Wadah rokok bundar.

“Ah.....”

Noda darah kering masih menempel pada wadah rokok bundar yang menghitam karena oli.

Dengan tangan gemetar, aku membuka wadah rokok bundar itu, kemudian okok bundar berbentuk angka 8 yang familiar menggelinding ke arah meja, lalu benda itu jatuh tanpa suara seperti sepeda yang kehilangan pengemudinya.

“Ahhh.....”

‘Foto itu’ menempel pada penutup wadah rokok bundar.

Seorang gadis yang mengenakan gaun berjumbai dan topi jerami berdiri di depan poster film. Disampingnya, perempuan bertubuh tinggi yang mengenakan kaos dan celana jeans dengan senyum licik pada wajah nya, dia………….. adalah……………

“Pro..... fesor.....”

Tangan kananku yang sedang memegang wadah rokok bundar mulai gemetar. Kini gemetarnya menyebar ke seluruh tubuh. Perasaan yang lama aku kubur, rasa sakit yang aku tahan, kasih sayang dan rasa putus asa keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam, menggelora pada tubuhku. Profesor di dalam foto sedang mengulurkan tangannya untuku, membawaku kembali di masa-masa menyenangkan di masa lalu. “Aku pulang, Iris. Apa kau telah berbuat baik hari ini?” Profesor mengelus kepalaku dengan lembut, tapi juga sedikit kasar. “Mnn, masakan ini benar-benar enak. Iris sungguh pandai memasak.” Profesor memujiku. “Ah, nona Iris apa kau ingin bicara sesuatu tentang ini?” Profesor merundungku. “Erm, Iris.” Gusar profesor. “Selamat malam, Iris.” kata Profesor dengan lembut. Tetapi, profesor sekarang telah tiada. Aku tidak bisa melihat nya lagi... Profesor... Profesor... Profesor... ahhhh... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor... Profesor

“Uu- aa....... UWAAAAAA……………”

Aku berteriak. Aku terbaring mengejang di atas meja, kulepaskan teriakan penuh keputusasaan, sampai-sampai diriku sendiri takut mendengarnya. Momen bahagia dan kenangan indah pecah bagaikan gelas, menusuk hatiku yang rapuh. Luapan perasaan yang membanjiri hatiku kini berubah menjadi ombak besar, menenggelamkan diriku di dalamnya.

“Iris!” Pada saat yang bersamaan, teriakan keras Lilith terdengar. Lengannya dengan paksa memeluk tubuhku yang sedang mengejang.

“Tenang, semuanya akan baik-baik saja....!”

“Ahh, ahhh………”

Aku tertahan oleh siku Lilith, mengekang perasaanku. Saat aku tenggelam dalam laut yang dipenuhi rasa sakit dan kesedihan, aku dengan takut menunggu semuanya berlalu.

“Tidak apa-apa........ sekarang baik-baik saja, Iris......”

Seperti ibu yang menenangkan anaknya yang sedang menangis, Lilith terus meyakinkanku. Tubuh yang kurasakan di punggungku begitu lembut dan hangat, mengingatkan saat profesor memeluku seperti ini.

Tubuh gemetarku berangsur berhenti.

Waktu kembali mengalir.

Kejangku berhenti, hanya tangan yang masih sedikit bergetar.

Lilith khawatir, dia menggengam tanganku tanpa suara. Volkov juga memandang kami tanpa suara.

“............ Apa kau sudah tenang?”

Lilith betanya dengan suara lembut. Aku menjawab pelan “Ya...”

Setelah itu, dia melihat ke arah wadah rokok bundar dan ke arahku, kemudian bertanya ragu-ragu: “Apa ini?”

Aku mengangguk, lalu menaikan kepalaku untuk melihat mereka.

Sosokku yang terlihat khawatir terpantul pada mata Lilith yang besar.

Mata persegi Volkov memancarkan cahaya konstan, dia pun menungguku untuk berbicara.

………..Baiklah, kuceritakan pada mereka berdua.

Kemudian, semua cerita secara mendetil tumpah ruah dari mulutku bagaikan bendungan yang jebol. Aku menceritakan bahwa aku diciptakan Profesor Umbrella yang terkenal, kematian Profesor akibat sebuah kecelakaan, diriku yang mencoba bunuh diri karena purus asa tapi gagal, orang-orang dari Departemen Manajemen Robot yang muncul di hadapanku, diriku yang diubah menjadi lempengan besi, dan kedatanganku disini setelah bangun.

Aku menunjukan foto itu denga tangan kananku: “Ini Profesor.....Ini aku.” Pada saat yang bersamaan, Lilith menelan ludahnya sendiri. Tubuh Volkov sedikit menegang.

Setelah sekitar sepuluh menit, aku berhenti. Kesunyian kembali menyelimuti gudang.

Di dalam wadah rokok bundar di atas meja, Profesor dan aku tersenyum. Profesor dengan ekspresi yang jahil, sementara diriku yang sedikit marah.

“Jadi begitu....” Lilith memandang foto pada wadah rokok bundar itu, sambil menggumam : “Aku sudah menduganya… karena menurutku Iris terdengar seperti nama cewek.”

Kemudian, dia berkedip, menaikan kepalanya seolah-olah dia sudah mendapat kesimpulan.

“Sebenarnya, ceritamu sama sepertiku.”

Dia menatap langsung kearahku.

“Aku juga tinggal di rumah manusia sebelumnya.”

Setelah itu, dia memulai menceritakan masa lalunya.

Lima tahun lalu, Lilith dibeli oleh keluarga terhormat ‘Sunlight’. Karena keluarga Sunlight tidak memiliki anak, mereka membeli model robot gadis sebagai gantinya.

Pada awalnya, Lilith hidup bahagia di sana, dan mendapatkan cinta dari ‘orang tuanya’. Mereka membelikan baju untuknya, main bersamanya, dan merawat dirinya seperti darah daging mereka sendiri. Kepribadian yang selalu bersemangat adalah bukti orang tuanya menghabiskan banyak uang untuknya.

Situasi berubah setelah dua tahun kedatangan Lilith. Orang tuanya memiliki anak. Lilith bahagia karena kelahiran adik kecilnya, namun selanjutnya tidaklah mudah.

Keluarga Lilith menelantarkanya.

Kejadianya terjadi secara tiba-tiba. Suatu hari, karyawan pendaur ulang robot datang kerumahnya tanpa pemberitauan, dan menyeretnya keluar rumah. Orang tuanya bahkan tidak peduli atas kepergiannya.

Setelah itu, dia dijual kembali sebagai ‘persediaan bekas’. Dia merupakan pelayan sebelumnya, kemudian dipindah ke perusahaan konstruksi, lalu datang ke lahan konstruksi ini. Meski terlihat rapuh, kapasitas baterai dan kemampuan fisiknya sangat bagus, itulah kenapa dia masih bisa bertahan sampai sekarang.

Dia menceritakan masa lalunya seolah-olah itu sama sekali tidak mengganggunya. Terakhir, dia mengatakan bahwa, akulah orang pertama yang mengetahui masa lalunya jika Volkov tidak dihitung.

‘Dia juga sama.”

Kemudian, Lilith menoleh ke arah Volkov dan bertanya, “Bolehkah aku menceritakanya pada Iris?” Volkov mengangguk perlahan.

“Apa kau mengingat nama panjang Volkov?”

“Bukankah Volkov Galosh?”

Lilth mengangguk, kemudian melanjutkan: “Sebenarnya, nama lengkapnya adalah Volkov Galosh Ouroboros.”

“Benar, Ouroboros, nama belakangnya berasal dari nama ular yang muncul dalam mitos. ........” Saat Volkov bergabung dalam militer, dia masuk dalam satuan unit dengan sebutan Ouroboros.

‘Volkov- tahu- cara- membunuh’ kalimat itu menggema di kepalanya.

“Satuan unit dengan sebutan Ouroboros adalah unit yang terdiri dari robot, sekelompok Mech....Err, apa itu?”

Lilith melirik Volkov, kemudian dia menjawab pendek: “Mech Corp.”

“Benar, dalam Mech Corp, mereka dikirim ke berbagai medan pertempuran. Tetapi, mereka menerima perintah untuk mundur saat melancarkan pertempuran yang ke dua puluh delapan.”

“Kenapa?”

“Karena model robot terbaru ditemukan. Dengan mengirim senjata baru, ‘model tua’ seperti Volkov dilenyapkan.”

Sebenarnya, aku sudah mendengar berita ini sebelumnya di berita.

“Tapi kenapa robot militer dipekerjakan di lahan konstruksi?”

“Kelihatanya perusahaan ini memiki koneksi dengan militer. Meski latar belakangnya rumit, perusahaan hanya bekerja pada proyek subkontrak. ..... Dan juga, kebanyakan orang tidak tahu tentang ini, tapi manajemen robot militer kelihatanya tidak terlalu ketat.”

“Ketat?”

“Terlepas dari Volkov, banyak robot yang pada awalnya digunakan untuk militer dijual di pasaran. Mereka merupakan robot tua yang tersisa karena semakin menurunya jumlah peperangan.”

“Jadi begitulah keadaanya.....”

“Kejam, ‘kan mereka. Menciptakan saat mereka dibutuhkan, meninggalkan saat tidak lagi dibutuhkan.”

Lilith mengangkat bahu saat mengatakan itu. Aku tidak bisa mengatakan apapun.

Kemudian, dia mengambil wadah rokok bundar dan mengatakan sesuatu sembari memandangi foto itu.

“Meski begitu....... nasibmu jauh lebih baik.”

“Lebih baik?”

“Bukankah profesor mencintaimu hingga akhir?”

“Tapi………..”

Sekarang Profesor tidak lagi di sini, jadi mengatakan hal seperti itu tidak ada guna nya….. aku ingin menjawab seperti itu, tapi kuurungkan niatku.

Lilith ditelantarkan oleh orang tuanya. Volkov ditelantarkan oleh militer.

Sedangkan Profesor………..tidak menelantarkanku.

“Benar, lebih baik.” Lilith terus memandang foto itu, menggumamkan sesuatu tanpa sadar. “Hingga saat-saat terakhir, kau masih dicintai....”

Aku akhirnya memahaminya, alasan Lilith selalu berpihak pada gelang ajaib Flo Snow.

Setelah gelang baru muncul, gelang lama akan kehilangan rumahnya.

Gelang itu menggambarkan Lilith, dan juga Volkov.

Hari ke-83[edit]

Hari ini dimulai seperti hari-hari sebelumya.

Bangun karena inspector mengetuk di pagi hari, kemudian kami merangkak keluar dari gudang seperti semut yang berbaris menuju pada pekerjaan yang monoton.

Kejadian itu terjadi pada siang hari. Saat sirene yang menyiaratkan istirahat makan siang, Lilith dan aku segera mengakhiri pembicaraan.

“Iris.”

Tatapan Lilith tiba-tiba menajam.

“Ada apa?”

“Lihat itu.”

Dia memberitahu dengan mata yang menyempit. ……Ah......

Aku mengikuti ke mana tatapan mata Lilith mengarah, dan di sana aku mendapati ‘pria itu’ berdiri di stasiun pengawas. Dia adalah seorang ‘petinggi dari kantor pusat’ yang terlihat sedang memberikan pengaraha pada inspector pada hari itu. Dia sedang menggenggam ponsel.

“Apa yang sedang dia bicarakan?”

“Tidak tahu.....?”

Setelah pria itu mengakhiri panggilanya.

Suara berisik dari mesin usang bergema di lahan konstruksi. Setelah melihat lebih dekat, aku mendapati sebuah mobil lebih besar dari truk yang biasa digunakan untuk memindahkan limbah material terpakir pada lereng, di depan lahan konstruksi…. tepat nya pada ‘usus’. Aura aneh mengelilingi mobil hitam tersebut, bentuk kokohnya mengingatkan pada mobil zirah kepolisian.

“Berhenti!”

Teriakan inspector terdengar, dan ratusan robot menghentikan pergerakan mereka di saat yang bersamaan.

“Sekarang, bagi yang namanya dipanggil, segera berkumpul di ‘usus’. Nomor Dua, Enam, Tujuh, Sembilan...”

Seakan-akan sedang membaca daftar izin masuk, inspector membacakan nomor-nomor secara bergantian.

“Tiga belas, Enam belas, Tujuh belas.....”

Nomor Lima belas, Volkov, dilewati.

“Apa yang sedang terjadi....?

Aku menatap Lilith, sementara dia menggelengkan kepalanya. Setelah itu, nomor Lilith, Tiga puluh-delapan juga dilewati.

Aku dengan tenang mengamati kejadian mendadak ini. “Enam puluh-sembilan, Seratus dua, Seratus lima, Seratus tujuh....” Nomor identifikasiku Seratus delapan dilewati. Aku sama sekali tidak tahu maksudnya.

“Seratus lima belas, Seratus delapan belas. ...itu saja. Semua yang namanya dipanggil segera berkumpul! Cepat!”

Jumlah robot yang dipanggil adalah empat puluh satu unit, hampir sepertiga jumlah robot yang ada.

Kurang dari lima menit, empat puluh satu robot berbaris di depan mobil besar itu. Terlihat seperti antrian di depan toko yang laris.

“Baiklah, ayo mulai!’

Inspector berteriak, kemudian pintu dari mobil besar terbuka. Setelah pintu dinaikan, ‘penggiling’ besar berputar di dalamnya sembari mengeluarkan suara hantaman. Adegan ini mengingatkanku pada mobil pengumpul sampah yang berkeliling di sekitar kota. Hanya saja mobil di depan kami jauh lebih besar dari itu.

Yang pertama dipanggil yaitu nomor Dua. Robot berkaki empat yang seperti kuda lompat, menggerakan tubuhnya langkah demi langkah ke depan inspector.

“Masuk.”

Setelah dia selesai mengatakan itu, inspector menunjuk mobil dibelakangnya dengan ibu jari. Rahang besi mengeluarkan suara hantaman, dan putaran tanpa henti menunggunya. Nomor dua menatap inspector tanpa sepatah kata pun, nampaknya dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

“Cepat! Ini perintah!”

Mendengar teriakan marahnya, tubuh nomor Dua membeku seperti tersambar petir. Lalu, keempat kakinya bergerak secara tidak normal menuju penggilingan.

“........Yang bener aja nih.”

Hanya perkataan itu yang bisa terucap dariku, kemudian nomor Dua melangkah maju ke penggilingan saat itu juga.

Persis saat itu juga.

Terdengar rentetan suara keretak dari besi, dan bagian depan nomor Dua terbelah oleh pisau penggiling. Setelah itu, kaki kanannya hancur berkeping-keping dan terhisap ke dalam mobil. Ketika proses penekanan pada papan besi, tubuh bagian atasnya perlahan menjadi gepeng. Rahang besi kejam itu membuat suara keretak, menggigitnya sampai hancur.

Dengan bengong dan terkejut, aku memandang hukuman mati itu yang datang tanpa peringatan awal. Semuanya terdiam seribu bahasa.

Pada akhirnya, tubuh bagian atas nomor Dua ditelan oleh penggiling, sementara dia terlihat seperti berdiri terbalik, kaki bagian belakangnya kini mencuat. Juga, kaki belakangnya mengeluarkan suara keretak, suara itu seperti seseorang yang sedang mengunyah kerikil hingga halus, beberapa sekrup dan baut berteberangan, seakan-akan mereka sedang ditelan oleh iblis hitam. Kurang dari sepuluh detik setelahnya, tubuh nomor Dua telah benar-benar binasa. Hanya sepuluh detik, tapi aku seakan-akan melihat adegan gerak lambat berisi siksaaan paling keji di dunia ini.

Nomor Dua dan diriku tidak pernah saling berbicara.

Meski begitu, aku melihatnya berkeliaran di sekitarku selama tiga bulan terakhir ini. Itulah sebabnya, aku tahu bahwa nomor identifikasi ‘miliknya’ adalah nomor Dua, diantara ratusan robot lainnya. Dia merupakan tipe robot berkaki empat, produksi lama, model HRP006.

Dia benar-benar lenyap sepenuhnya. Kami tidak akan pernah bertemu kembali. Rasa takut membuat tubuhku mulai gemetar.

“Selanjutnya, nomor Enam!”

Ketika inspector berteriak, nomor Enam gemetar.

Aku juga tahu nomor Enam, dia tipe roda track sepertiku, tidak berkepala, tapi memiliki pengaturan visual yang mirip teleskop terpasang disekitar dadanya, robot tipe pekerja dengan model yang cukup tua. Kami bertemu hanya pada saat dia tanpa sengaja terpleset pada kubangan lumpur, lalu menabrakku. Saat itu, dia secara refleks mengatakan ‘maaf’ padaku, dan suara elektoniknya cukup mirip dengan yang kumilki.

Hanyalah itu saat di mana kami saling berpapasan.

Tetapi, meski begitu… hubungan kami berakhir sudah…

“Masuk! Ini perintah!”

Nomor Enam melebarkan tanganya seolah-olah sedang memberikan persembahan. Dalam sekejap, saat ujung jarinya menyentuh penggiling, seluruh tangannya terpelintir ke dalam, hancur oleh suara hantaman dan suara keretak. Saat lenganya berputar masuk hingga bahunya, tubuhnya terlontar persis seperti nomor Dua, postur sandaranya memelintir roda track-nya masuk kedalam mobil. Tidak lama setelah itu, bagian-bagian kecil terlempar keluar dari mobil seolah-olah seperti mengeluarkan biji saat sedang memakan buah.

Setelah lima detik nomor Enam menghilang.

“Selanjutnya, nomor Tujuh!”

Hukuman mati berlanjut, meski mereka tidak mengatakanya, kami tahu bahwa ini merupakan proses mengubah robot tua yang tidak efisien menjadi lempengan besi. Si kaki empat nomor Dua, tipe roda track nomor Enam, dan nomor Tujuh yang baru saja dipanggil, kinerja mereka tidak baik belakangan ini. Pergerakan mereka lambat, dan juga mereka biasa menjatuhkan limbah material, jadi mereka sering terkena marah inspector.

“Selanjutnya, nomor Sembilan!”

Iblis hitam mengaum dengan kerasnya, terus menerus menelan robot itu. Dengan kejamnya menggilas anggota tubuh dan badan mereka, dan terkadang memuntahkan kepingan-kepingan mereka. Sisa dari ‘makanan’ terkumpul dibawah mobil.

Hukuman mati yang menyedihkan ini berlanjut hingga tersisa robot terakhir.

“Ada apa!? Cepat dan masuklah!”

Robot terakhir, nomor Seratus Delapan belas berdiri di depan mobil. Dia datang ke lahan konstruksi ini setelah diriku tiba, tipe berkaki dua yang sangat lambat, dia berjalan dengan lengan dan kakinya seperti orang sakit. Meski dia hanya disentuh perlahan oleh robot lain, dia akan jatuh ke lantai. Tetapi, hal itu bukan salahnya, dan jelas karena kurangnya perawatan sebelum dia tiba di sini.

“Oi, nomor Seratus Delapan belas! Ada apa denganmu! Ini perintah!”

Mendengar suara tak sabar inspector, tubuh nomor Seratus Delapan gemetar dengan hebat.

Setelah itu, seluruh tubuhnya kejang, dia berjongkok dan memeluk kepala dengan tangan ramping miliknya.

“Hey, apa yang sedang kau lakukan, berdiri nomor Seratus Delapan belas! Ini perin….“

Disaat yang bersamaan.

Nomor Seratus Delapan belas meloncat seperti bola karet dan mulai melarikan diri dengan cepat.

“Apa...!”

Inspector terkejut. Menurut apa yang aku ketahui, dia adalah robot pertama yang berani mengabaikan perintah dan melarikan diri di tengah keramaian. Mungkin karena sirkuit pengamanya gagal fungsi, nomor Seratus Delapan belas memberontak manusia dan lari sempoyongan dengan cepat menjauhi kami.

Tetapi, inspector tidak mengejarnya, dan juga tidak memerintahkan robot lain untuk mengejarnya. Itu karena nomor Seratus Delapan belas sudah memanjat pagar besi yang mengelilingi lahan konstruksi.

…..Ahh, jangan yang bagian itu!

Nomor Seratus Delapan belas memanjat sekitar lima meter pada kawat tipis. Sekejap saat tangannya menyentuh duri kawat besi, percikan terlihat dan asap putih keluar, kemudian nomor Seratus Delapan belas jatuh dari atas pagar. Sebuah arus bertegangan tinggi menyerang tubuhnya.

Jatuh ke tanah, dia berteriak saat berdiri. Tetapi, tubuhnya gemetar seakan-akan menjadi lumpuh, jelas karena sirkuit dalamnya terkena arus pendek, membuat tubuhnya tidak bisa digerakan.

Oleh karena itu, sebuah robot mengikatnya dengan perintah inspector. Lalu, robot itu diangkut seperti membawa limbah material, perlahan membawanya kembali. Ini adalah adegan yang sudah terulang ribuan kali. Yang berbeda, di adegan ini adalah nomor Seratus Delapan belas yang sedang diangkut kesini menangis ‘Tidak, tidak, aku tidak ingin mati!’

Melihat ekspresinya, aku tidak bisa melakukan hal lain kecuali mengingat percobaan bunuh diriku di laboratorium riset di kediaman Umbrella. Rasa takut dan energi yang menyerang seseorang pada saat mendekati kematiannya sendiri. ‘Tidak, tidak, aku tidak ingin mati!’…itu merupakan keinginan kuat untuk tetap bertahan hidup.

“E-erm!”

Saat aku kembali sadar, aku berteriak. Aku, diriku tidak yakin apakah aku ingin menyelamatkan nomor Seratus Delapan belas. Aku hanya bisa berteriak setelah melihatnya merintih.

Meski begitu…….

Di saat aku akan menggerakan roda track milikku dan bergerak maju, seseorang menggenggamku dari belakang dengan kekuatan besar, dan dengan kasar menarik ku.

……Eh?

Aku menaikan kepalaku, melihat Lilith berdiri di depan. Dia menaikan alis pada mata bulat miliknya, dan menunjukkan ekspresi mengerikan yang belum pernah aku lihat sebelumnya, kemudian dia mengatakan dengan kasar dan kesal: “Jangan bergerak!”, sementara aku hanya menatap dirinya dengan pandangan kosong. Ekspresi sedih terlihat di wajahnya, dan menambahkan dengan suara gemetar: “Aku mohon padamu, tetaplah tenang untuk saat ini....” setelah itu, dia tidak berbicara lagi.

Nomor Seratus Delapan belas diangkut ke depan mobil, dan dimasukan ke dalamnya. Eksekutor besi membuka rahangnya, perlahan mengunyah tubuh bagian bawah nomor Seratus Delapa belas seolah-olah sedang mencicipi hidangan lezat. Selama proses itu, teriakan kematian menggema ke seluruh lahan konstuksi, menusuk ke gendang telinga semua orang. Pada akhirnya, nomor Seratus Delapan belas mati.

Setelah iblis yang menelan empat puluh satu robot pergi, yang tersisa hanyalah sejumlah besar kepingan besi.

Setelah itu, inspector memerintahkan kami untuk kembali bekerja. Pekerjaan pertama adalah membersihkan sisa organ dan daging teman kami.

Kami bekerja tanpa suara. Lilith dan Volkov masih memungut, mengangkat sisa-sisa teman kami yang berbau oli.

Aku mengambil lensa penglihatan milik nomor Seratus Delapan belas. Lensa itu berubah menjadi debu, hilang bersama angin.

Malam itu, kami memutuskan untuk melarikan diri.

Bab 3 – Eksekusi[edit]

"Aku bersyukur telah bertemu denganmu" (Volkov Galosh)

Malam sebelumnya[edit]

“Rencana kita sudah ditetapkan.”

Tengah malam pukul dua, di samping meja bundar seperti biasa, Lilith berkata dengan nada rendah dan serius.

Dalam dua hari ini, kami telah melakukan pertemuan teknis tiap malamnya.

Topiknya tentang rencana melarikan diri.

“Apakah kita...... benar-benar akan melakukanya besok?”

‘Hukuman mati’ terjadi siang kemarin, selagi kami menentukan untuk melarikan diri kemarin malam. Merencanakan pelarian untuk esoknya sepertinya adalah keputusan yang cukup terburu-buru.

Lilith berkata.

“Kita tidak bisa menunda-nunda lagi........ Karena, kita tidak akan tahu kapan ‘lain kali’ akan datang.”

“Itu tidak sepenuhnya salah.....”

Tapi perasaan tidak nyaman ini masih terus menggangguku.

“Apakah mobil itu pernah terlihat sebelumnya?”

“Aku tidak tahu.” Lilith menggelengkan kepalanya, “Aku baru melihatnya pertama kali kemarin. ...... apa kau juga sama, Volkov?”

Lilith menoleh padanya, dan saat itu juga Volkov mengangguk.

Aku bertanya lagi.

“Kenapa mereka tidak memilih untuk melakukan perawatan? Mereka tidak perlu membongkarnya secara langsung....”

“Biaya, biaya. Jika dibandingkan biaya untuk melakukan perawatan, membeli yang baru dari toko bekas akan jauh lebih murah.”

Lilith memberikan jawaban sederhana, dan mudah dimengerti. Aku hanya bisa menjawab: “....... Aku mengerti.”

“Ngomong-ngomong… Lilith mengulangi perkataanya, “Kita tidak bisa menunda-nunda lagi.”

Saat itu juga, Lilith menatapku sejenak, lalu melirik Volkov.

……Ah, jadi seperti itu.

Dia melakukan ini untuk Volkov dan diriku.

Diriku, yang dibuat dari barang bekas, dan Volkov, yang memiliki respon lambat. Jika akan dilakukan ‘hukuman mati’ untuk kedua kalinya, yang paling berada dalam bahaya tidak usah ditanyakan lagi. Karena kami lah jawabannya. Lilith tidak memikirkan keselamatanya sendiri, tapi lebih seperti, dia tidak ingin kami menghadapi resiko.

“Tentang rencana melarikan diri kita besok…. “

Lilith mengembalikan pembicaraan ke topik utama.

“Menurut pembahasan kita kemarin, pelarian ini membutuhkan dua syarat, yaitu ‘rute’ dan ‘timing’ ..... Pertama, rute pelarian.”

Lilith mengambil rongsokan di bawah, kemudian menempatkan papan besi bengkok dan beberapa sekrup ke atas meja.

“Ini lahan konstruksi. Sebelah sini ‘jeroan’, sementara sisi itu ‘usus’.”

Lilith menggerakan jarinya, membuat skema diagram lahan kontruksi yang sederhana.

“Terdapat arus bertekanan tinggi di sekeliling kawat besi, jadi rute ini tidak akan berhasil. Oleh karena itu, yang tersisa hanya dua rute pelarian. Pertama, yaitu melalui ‘jeroan’, dengan melarikan diri di sepanjang garis pantai; lainya melalui usus kemudian melarikan diri ke lahan utama. Kupikir kalian sudah tahu, tapi melarikan diri melalui jeroan terlalu berbahaya, tidak ada tempat bersembunyi sepanjang garis pantai, jadi kita akan tertembak senjata laser dengan cepat.”

Lilith menirukan bentuk senjata, dan mengarahkan itu pada bidaknya.

“Jadi, kita harus memilih rute ‘usus’ untuk melarikan diri. Metode untuk melakukan ini adalah dengan mencuri truk yang digunakan memindah material, kemudian melarikan diri ke kota, dan berbaur dengan kendaraan biasa.”

“Tunggu sebentar, siapa yang akan mengemudikan truk curian itu?”

“Bukankah itu sudah jelas.... akulah orangnya.”

“Eh? Lilith bisa mengemudi?”

“Sebelumnya, aku adalah supir di lahan konstruksi ini. Bahkan aku mengendarai ekskavator dan derek.”

“Lilith- tidak punya- SIM.”

“Volkov, diam.”

Setelah menyela Volkov, Lilith melanjutkan penjelasanya.

“Ini tahap-tahapnya....”

Lilith menjelaskan tahap-tahap pelarian kami satu per satu. Aku paham dengan ide miliknya. Itu merupakan rencana menantang yang tidak pernah robot pikirkan sebelumnya, sebuah rencana yang akan mempecundangi manusia.

Tetapi, aku masih memiliki pertanyaan terkait rencana yang dibuat Lilith.

“Bisakah....... kita semua melarikan diri bersama?”

“Hah?” Lilith terkejut.

“Maksudku, karena kita melarikan diri, kenapa tidak semuanya sekalian....?”

“Itu mustahil.”

Lilith tiba-tiba menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Apakah kau tahu ada lebih dari delapan puluh robot di sini? Dilihat dari segi manapun, tiga robot yang keluar bersamaan terlalu banyak. Dan juga, aku pikir mereka tidak akan mendengar instruksi kita.”

Lilith mengatakan itu dengan dingin.

Dia berkata menurut pengalamnya, sebuah rencana pelarian diri akan berhasil jika sedikit orang yang terlibat pada rencana tersebut, dan tidak pernah ada kasus sebelumnya di mana sejumlah besar robot berhasil melariakan diri bersamaan.

Tetapi, aku masih merasa ragu karena harus meninggalkan robot lain. Mungkin aku mulai bersimpati pada mereka karena selama tiga bulan terakhir kami selalu bersama. Yang mengerikan adalah, hukuman mati yang kejam itu masih bersemayam di pikiranku.

Setelah itu, aku teringat Profesor, yang selalu menolong robot di pinggir jalan. Benar juga, jika di sini ada Profesor, dia pasti akan.......

Oleh karena itu, aku mengutarakan isi pikiranku.

“Lilith.”

“Ada apa?”

“Setidaknya, kita bisa melakukan ini kan?”

Pendapatku sebenarnya merupakan sebuah ‘kompromi’. Setelah mendengar pendapatku, Lilith mengerang dengan ekspresi bingung di wajahnya.

Itu karena pendaptku terlalu kekanak-kanakan.

Hari Pelaksanaan[edit]

Dua hari setelah ‘hukuman mati’ dilakukan, atau hari ke delapan puluh lima sejak aku tiba di lahan konstruksi.

Tengah malam.

Sekejap saat truk terakhir yang memindah limbah material tiba di lahan konstruksi.

“Para robot!”

Lilith berteriak dengan keras, melalui sebuah pengeras suara kecil di tanganya.

“Dengarkan baik-baik!”

Suaranya bergema di lahan konstruksi. Itu karena aku secara sembunyi-sembunyi menyetel pengeras suara di punggung beberapa robot (Tentu saja, peralatannya didapat dari ‘rampasan perang’ yang kami dapat di limbah material.)

Dan juga, kami memiliki trik rahasia lainya.

“Mulai dari sekarang- semuanya- tinggalkan- tempat ini-!”

Lilith memberikan perintahnya… dengan menggunakan suara milik inspector yang terdengar dari pemutar suara.

Itu adalah kalimat familiar yang kita dengar tiap paginya.

“Ini perintah…..“

Efeknya bekerja dengan cepat.

Semuanya berlarian pada tanah yang berlumpur, beberapa lari ke jeroan, lainya lari ke arah usus.

Pelarian yang tiba-tiba ini membuat inspector panik.

“Apa yang kalian lakukan! Berhenti! Semuanya berhenti! Ini perintah!”

Lalu, robot yang melarikan diri menghentikan pergerakan mereka seketika.

Tetapi, kami sudah menduga akan terjadi hal ini.

“Mulai dari sekarang!- semuanya- tinggalkan- tempat ini! Ini perintah-!”

Keadaan kini dibalikan, karena menerima perintah baru, robot lari kesana kemari seolah-olah mereka terlepas dari kutukan. Kekacauan terjadi sekali lagi.

Rencana awal Lilith adala menggunakan robot lain sebagai umpan. Kami akan mengulangi perintah inspector yang diedit, sementara kami bertiga melarikan diri di tengah-tengah kekacauan tersebut.

Aku menambah…. “Kita cabut saja semua sirkuit pengaman mereka supaya dapat melarikan diri.”

Proses pencabutan cukup sederhana. Karena sirkuit pengaman robot adalah suku cadang murah dari toko diskon, kami hanya perlu mencabutnya secara paksa. Jadi, kemarin kami mencabut sirkuit pengaman dari delapan puluh lebih robot. Meski Lilith bergumam ‘Yakin nih, kita akan melakukan ini....?’, dia masih memberikan banyak bantuan.

Itulah bagaimana rencana kita berubah menjadi ‘Kekacauan Robot.’

“Darurat, berhenti! Darurat, berhenti!”

Suara sirene berbunyi keras, dan aku melihat inspector dengan kalut menekan tombol penghentian yang tergantung di sabuknya. Tetapi, perintah itu tidak bekerja pada robot yang telah kehilangan sirkuit pengamanya.

Hingga sekarang, semua berjalan sesuai rencana kami.

Dalam kekacauan, hanya Volkov yang tetap tidak berubah sembari mempertahankan pose sedang memindahkan material. Lututnya menekuk sedikit, terlihat seperti patung. Lilith tidak bisa mencabut sirkuit pengaman miliknya, jadi perintah dari tombol penghentian bisa mempengaruhinya.

“Pindahkan-nomor lima belas- ke sini!”

Lilith menyalakan pemutar suara, memerintah robot di dekatnya. Meski robot yang telah dicabut sirkuit pengamanya tidak harus mengikuti perintah, mereka masih berkumpul di sekitar Volkov karena rasa takut luar biasa yang terbentuk akibat setiap hari mematuhi perintah inspector.

Empat robot mengangkat Volkov yang tidak bergerak. Walaupun Volkov sangat besar, robot yang sudah terbiasa memindah limbah material dengan mudah mengangkat tubuh besarnya ke belakang truk.

“Ekk! Supir truk berlari dengan cepat. Lilith memutar kunci truk, menyalakan mesinya. Kelihatanya bagian paling krusial dari rencana ini… yaitu mendapatkan kendaraan telah berhasil.

“Mulai dari sekarang, semuanya- tinggalkan- tempat ini!"

Lilith menyalakan pemutar suara lagi, sementara robot yang mengangkat Volkov menyingkir seperti anak kecil yang sadar mereka telah tertipu. Beberapa dari mereka melambai dan berteriak: “Selamat tinggal!”, “Kalian benar-benar hebat!”

“Selamat- selamat tinggal! Aku harap semuanya berjalan lancar untuk kalian....”

Aku melambaikan tanganku dengan sekuat tenaga, mengucapkan salam perpisahan pada mereka. Kita mungkin tidak akan pernah melihat mereka lagi…aku memiliki perasaan itu di hatiku.

Suara sirene yang terus berbunyi, robot yang melarikan diri, teriakan marah inspector, perintah palsu inspector yang menggema di setiap tempat… kekacauan lahan konstruksi mencapai batasnya malam itu.

“Iris! Kita berangkat!”

Teriakan Lilith terdengar dari kursi supir. Suara mesin menekanku seperti ringkikan kuda.

“Ah, tung- tunggu!”

Aku tergesa-gesa lari menuju truk.

“Baiklah, tarik lenganku!”

Lilith mengulurkan tanganya, setelah mengerahkan begitu banyak kekuatan, Lilith menarik diriku yang tidak bisa naik ke atas truk dengan roda track ini. Saat itulah pertama kalinya aku merasakan kekuatan luar biasa miliknya.”

“Ayo pergi!”

Seolah-olah kami tidak benar-benar mengendarai sebuah truk, Lilith berteriak dengan riang.

Dia menginjak gas, kemudian mesin mengaum. Truk pelarian akhirnya memulai perjalanan dengan tiga kriminal di dalamnya.

baterai=04:50:36[edit]

Truk melaju. Aku melirik pada conveyor belt di area ‘usus’, lalu limbah material di atasnya jatuh berserakan ke tanah akibat tubrukan dengan truk.

Penghalang pertama adalah pos penjaga pada pintu keluar lahan konstruksi.

“Truk yang disana, berhenti!”

Pengeras suara mengeluarkan perintah pada kami untuk berhenti. Gerbang otomatis menurun, dan penghalang jalan berbentuk kerucut menghalangi kami.

“Siapa saja yang berada di depan kami akan kami buat gepeng.”

Lilith mengatakan kalimat yang berlebihan, terus melajukan truknya, dan mempercepat lajunya.

‘Uwaa, whoa!, kita menabrak mereka!”

Kami menabrak tepat pada saat aku berteriak. Beberapa penghalang jalan mental, tiang kayu pengangkat juga patah, dan itulah bagaimana truk secara langsung lolos dari penghalang pertama.

“Hmph, mudah sekali.” Kata Lilith. Sembari memegang setir, sebuah kilatan cahaya bersinar di matanya, dan senyuman menakutkan di bibirnya seakan-akan dia tampak seperti orang yang tidak kukenal. Sambil duduk di sebelahnya, aku hanya bisa berteriak ‘Ah, uwaaa....’, dan aku pun memasang sabuk pengamanku dengan panik. Truk berguncang keras, aku sudah menabrak atap truk tiga kali.

Truk melaju pada tanah berbatu dengan liar, lalu sampai di jalan biasa dengan cepat.

“Lilith!”

“Ada apa?”

“Apa menurutmu truk bisa terbang?”

“...Apa?”

“Penghalang kedua!”

Papan peringatan dengan tulisan ‘dilarang masuk’ muncul di depan kami, dan juga terdapat lubang yang besar dan dalam. Jika kami tetap memaksa melewatinya, kami pasti akan jatuh. “R- rem!” aku seketika memeluk kepalaku.

“Kita akan gagal jika berhenti!” Lilith kembali menambah kecepatan.

“Hey, Lilith?!”

Dalam sekejap, di saat aku berteriak, papan peringatan ‘dilarang masuk’ bertumbukan dengan truk, kami pun terperosok dalam lubang. Untungnya di sana ada gundukan tanah, kemudian Lilith menabraknya dengan kecepatan tinggi sehingga membuat truk kembali terpental ke atas. Lalu, truk mendarat dengan suara dentuman keras.

“Berhasil!”

Lilith berteriak riang setelah terbang dengan sempurna keluar dari lubang. Ini bahkan tidak layak disebut ‘mengemudi dengan ceroboh’.

“Iris, nyalakan radionya!”

“Aku tidak membawanya!”

“Bukan, radio yang ada di dalam truk! Tekan tombol itu!”

“I- ini?”

“Itu tombol lampu peringatan bahaya! Di bawahnya.... benar... yang itu!”

Aku dengan tergesa-gesa menekan tombol itu. Suara berfrekuensi tinggi mulai menggema dalam truk.

“Pilih saluran!”

“Tunggu sebentar!”

Dalam truk yang berguncang dengan keras, aku mengubah saluran. Tetapi, semua saluran memainkan musik atau lagu, tidak ada saluran yang menginformasikan tentang keadaan lalu lintas.

“Tidak ada informasi lalu lintas!”

“Tidak....aku ingin musik... musik!”

“Eh? Musik? Kenapa?”

Aku bertanya, sementara itu Lilith kembali berteriak sekuat tenaga.

“Tentu saja, untuk menghidupkan suasananya!!”

Setelah beberapa detik, suara musik rock meraung. Mengikuti perintah Lilith, aku mengeraskan volume hingga maksimal.

“E-rm!” aku berteriak selagi menutupi telinga.

“Ada apa, Iris!?” Lilith juga berteriak.

“Apakah tidak apa-apa!? Memainkan musik rock sekeras ini!”

“Tidak apa-apa! Musik ini! Terasa lebih baik!. .... Lihat penghalang ketiga!”

Kumpulan mobil berbaris di depan kami. Kelihatanya mereka menunggu lampu hijau… sebelum aku sempat berpikir, Lilith kembali menginjak gas untuk melesat ke depan. Penyanyi rock di radio sedang berteriak, tapi aku tidak yakin apa yang dia teriakan.

“Minggir minggir minggiiiiiiiiiiiiiiiiir!!”

Lilith dengan mulusnya memutar setir, menggerakan truk ke sisi kiri jalan. Dia ingin lewat di antara mobil-mobil dan pembatas, tapi ruangnya tidak cukup dilewati truk sebesar ini.

“Tuan Lilith memyuruh kalian untuk minggir!!”

Lilith membunyikan klakson beberapa kali. Pengemudi mobil di depan kebingungan, kemudian rasa takut terlihat di wajah mereka. Mobil-mobil itu seketika menyingkir.

Setelah itu, Lilith menabrakan sisi kanan truk dengan pembatas sembari menyasak kaca mobil di sisi kiri, dia pun melewati lima mobil yang menunggu lampu hijau dalam sekali tancap.

“Tunggu, Lilith, ada persimpangan!”

Tentu saja, persimpangan yang ramai dengan mobil menghadang di depan kami.

Tetapi, kata ‘rem’ tidak ada di pikiran Lilith. Dia membunyikan klakson berkali-kali seolah-olah dia menganggapnya mainan, dan terus melaju. Ditambah penyanyi rock sedang menyanyikan chorus ‘AYO! AYO! AYO!’.”

Truk yang tiba-tiba mengamuk di persimpangan membuat mobil lain berhenti, suara decitan roda yang mengiris hati berbunyi saat mobil-mobil itu mengerem mendadak, sementara kami mengebut melintasi jalan seperti peluru. Suara tabrakan terdengar di belakang kami, aku yakin itu tanpa harus memutar kepalaku untuk memastikanya.

Selagi berpikir bahwa aku masih hidup, tanpa diduga, penyanyi rock sedang menyanyikan sebuah ballada dengan teknik falsseto. Lilith perlahan menggumam bersamaan mengikuti alunan lagu.

“Lilith, bukankah sekarang sudah saatnya untuk melambat... sepertinya kita sudah aman…..”

“Permintaan ditolak!”

“Eh?”

“Dibelakangmu! Penghalang keempat sedang mendekat!”

Lewat jendela, aku melihat kebelakang. Tiga mobil dengan sirene mengejar kami.

Itu para polisi!

baterai=04:46:03[edit]

“Pada truk yang di depan! Segera berhenti!” Mobil polisi memberi perintah, “Pinggirkan truk ke kiri dan berhenti!”

“E-Erm! Polisi dibelakang kita” aku berteriak dengan panik.

“Polisi?!” Lilith berteriak dengan nada marah.

“Mereka menyuruh kita untuk berhenti!”

“Lalu!?”

“Eh, jadi..... apa yang harus kita lakukan?”

“Tentu saja kita harus menyingkirkan mereka!”

Lilith terus menginjak gas.

Mesin mengaum, dan truk yang melaju melebihi batas menabrak sisi jalan. Momentum menekan tubuhku ke pintu kiri.

“Bagaimana!? Seberapa jauh mereka?”

“Cukup jauh! Tapi mereka terus mengejar kita...... Ah!”

“Ada apa Iris!”

“S- Sesuatu datang!”

“Katakan lebih jelas!”

“Ada benda kecil sedang mengejar!”

Lilith mengeluarkan kepalanya dari jendela, “Apa itu!?” Rambutnya berkibar oleh angin dengan bebasnya.

“Whoa, bukankah itu ‘robot lalu lintas’?”

Beberapa robot mengejar kami dari belakang. Tubuh bagian atas mereka humanoid, sementara ada empat roda di tubuh bagian belakang… simpelnya, mereka adalah robot mobil. Sirine di kepala adalah bukti bahwa mereka juga mobil polisi.

“Robot lalu lintas?”

“Robot polisi yang mengatur lalu lintas! Mereka bagian dari satuan polisi yang bertugas mengejar mobil yang tidak mengindahkan batas kecepatan.”

“Me-Mereka semakin mendekat!”

“Aku tahu!”

Lilith kembali menginjak gas. Tetapi, kecepatan robot lalu lintas juga semakin tinggi. Jarak di antara kami perlahan-lahan memendek.

“Truk di depan! Segera berhenti! Atau aku akan hentikan truk kalian secara paksa. Truk di depan....”

Suara elektronik memberikan peringatan dari belakang. Suara itu terdengar sangat serius.

“Lilith, me-mereka memegang senjata!”

“Senjata apa!”

“Senjata api!”

“Mereka berencana memecahkan ban, hah..... Iris!”

“Aku memerintahkanmu untuk menyerang!”

“Ehhh?!”

“Mungkin ada kotak peralatan di dekat kakimu, ‘kan!”

Aku menurunkan kepalaku untuk melihat, kotak peralatan ada di bawah kursi. Lilith sebelumnya menggunakan itu untuk membuka kepalaku.

“Tabur peralatan di dalamnya ke jalan!”

“Eh? Kenapa!”

“Berhenti bertanya, cepatlah!”

Aku tidak mengerti alasan melakukanya, tapi karena robot lalu lintas mulai melepaskan tembakan, aku tidak punya waktu lagi untuk berpikir.

“Rasakan itu!”

Aku mengikuti perintah Lilith, menabur sekrup di dalam kotak peralatan ke jalan lewat jendela. Bunyi denting terdengar di jalanan malam saat sekrup tersebar di aspal.

Berikutnya, robot lalu lintas terpeleset setelah menginjak sekrup tadi.

“Lagi, lagi! Taburkan semuanya!”

“Me- mengerti!”

Aku memuntahkan kotak peralatan, menaburkan semua yang ada di dalamnya. Sekrup, baut, paku, mata rantai yang kusebar menggelinding di jalan dengan suara dentingan.

Dampaknya terjadi seketika. Robot lalu lintas menginjak itu lagi dan lagi, kemudian terpeleset dan meluncur di jalanan.

“Ini.... oli?”

Setelah melihat lebih dekat, aku menyadari ada noda hitam bekas oli pada kotak peralatan. Alasan kenapa robot lalu lintas jatuh dengan mudah mungkin karena oli tersebut.

“Bagaimana? Itulah yang namanya persiapan.” Lilith menyeringai, “Benar~ ayo kita pergi ke kota sebelah…….“

Di saat itu juga.

“Lilith di depanmu!”

Aku berteriak. Lilith pun tersentak “Sial.....!”, wajahnya terlihat kecewa. Sirene yang tak terhitung jumlahnya berada di depan kami, beberapa tank yang lebih besar dari truk memblokade jalan seperti dinding besi.

“Ini buruk!”

Lilith tiba-tiba mengerem, tapi sudah terlambat.

Kemudian tank menembakan pancaran cahaya, dalam sekejap pandangan kami memutih.

baterai=04:21:29[edit]

“Uuu......”

Ketika aku tersadar, aku sudah terlempar ke aspal yang dingin.

Saat itu hujan. Tidak, itu hanya karena kondisi penglihatanku yang buruk.

Truk terlihat berada di sisi kanan dari pandangan penglihatanku. Truk yang sudah terbalik, roda yang terus berputar sia-sia, dan trailer yang terbakar hebat. Di kegelapan, api yang membara menerangi langit malam.

Aku mencoba mengingat.

Laser tajam yang terlepas dari mobil polisi bersenjata yang tak terhitung jumlahnya, penglihatanku yang memutih…. jadi seperti itu… aku tertembak oleh senjata laser.

Aku akhirnya mengerti apa yang baru saja terjadi.

“Lilith!” dengan panik aku memanggil nama temanku, “Lilith, kau dimana!”

Aku menopang tubuhku dengan dua tangan di jalan, berdiri dan mengamati sekitar. ‘Hujan’ begitu deras, tapi kelihatanya penglihatanku masih baik-baik saja. Dalam pandangan hitam dan putih, aku mencari sosok Lilith.

…Ah!

Di bawah pembatas yang berada cukup jauh dari truk yang terbalik, aku melihat sebuah sosok.

Rambut panjang yang tersebar di tanah seperti kipas.

“Lilith! Apa kau baik-baik saja?! Lilith!”

Aku berteriak dengan panik. Tetapi Lilith hanya terkulai di tanah, tak bergerak.

….Tunggu aku, Lilith, aku akan segera menyelamatkanmu.

Aku menghindari kepingan truk yang tersebar di sekelilingnya, dan mendekati Lilith dengan roda track milikku.

Sebelum aku sampai kesisinya, Lilith mengerang kesakitan, dan kembali sadar. Dia perlahan mengangkat tubuh atasnya, melihat sekeliling, dan akhirnya tatapan mata kami bertemu.

“Lilith, apa kau baik-baik saja!”

“Mnn.......... sepertinya begitu. Kalau cuma segini sih gak masalah, tapi orang itu….”

Setelah dia mengatakan itu, Lilith kemudian memandang ke arah truk.

“Jangan bergerak!”

Teriakan bernada kasar terdengar, kemudian punggung Lilith ditendang, dan dia terbanting ke permukaan tanah yang keras.

“Ahhh.....!” setelah mengetahui penyerangan terhadapnya, tubuhku membeku karena rasa takut.

Seseorang yang barusan menendang Lilith berhelm besi dengan bentuk aneh, dan dilengkapi dengan zirah, memegang senjata laser yang juga mengeluarkan sinar abu-abu di tanganya.

Aku teringat akan sesuatu. Berita pada siang hari, di plaza, robot yang mengamuk, laser biru, unit khusus, dan….

Salah satu dari mereka menangkat kepala robot seperti piala.

“Jangan bergerak, ini perintah!” kata orang berhelm itu dengan nada dingin, “Letakan tangan kalian di belakang kepala!”

“Brengsek......!” Lilith seketika mengumpat. Tubuhnya meluncur seperti pegas, kepala bagian belakangnya ditabrakan ke pria yang barusan menekan dirinya. Pria itu meringis, sambil menutupi kepalanya.

“Iris, kita pergi dari sini!”

“Ba- baiklah!”

Selagi terkejut dengan aksi berani Lilith pada polisi, aku mengulurkan tangan kananku. Lilith juga mengulurkan tangan kananya.

Dalam sekejap, pancaran cahaya menyerangnya.

Tangan kanan Lilith tiba-tiba lepas, dan jatuh ke tanah di depanku.

Dia berteriak dengan keras, dengan suara yang melengking, kemudian dia duduk terkulai di aspal tanpa daya. Oli keluar dari tangan kananya yang terpotong, bahkan hingga mengenaiku. Seseorang yang menggunakan zirah sekejap bergegas menuju Lilith, mengarahkan senjata laser.

“Jangan terlalu bersemangat, nona.” Seseorang yang Lilith tabrak di kepala dengan kasar menjambak rambut dan mengangkatnya. Lilith mengerang, dia kesakitan.

“Berkat seranganmu tadi, salah satu gigiku copot. ......sekarang terimalah ini sebagai balasan.”

Cahaya kembali menusuk tubuhnya.

Telinga kiri dan wajah bagian kiri Lilith sepenuhnya terbakar. Dia bahkan berteriak lebih keras dari sebelumnya, lalu tergeletak begitu saja di jalan. Saat pria itu menekan wajah bagian kirinya, Lilith mengejang di tanah. Melihat pemandangan ini, pria itu mulai tertawa.

“Lilith! matikan sensor rasa sakitmu! Lili………”

Aku berteriak sekuat tenaga, tapi pria itu segera membungkamku dengan tendangannya.

“Lebih baik kita belah mereka, sehingga lebih mudah memindahkannya.” “Benar.” Selagi membicarakan itu, mereka mengarahkan senjata laser pada kepala Lilith. Wajahnya begitu ketakutan saat mereka menempatkan jarinya pada pelatuk. Melihat kejadian ini, tubuhku mulai sedikit bergetar.

“Uwaaaaa!”

Tanpa sadar, aku sudah berlari ke arah mereka dan berteriak.

“Apa!” pria itu segera kehilangan keseimbanganya. Dengan panik, aku meraih kakinya. “Lepaskan aku!”, Pria itu tidak sabar ingin segera menghempaskanku. Tapi aku tidak akan melepaskanya begitu saja dengan mudah.

“Iris!” Lilith meneriakan namaku.

“Lilith!, cepat pergi!” aku segera menjawab sembari ditendangi oleh pria itu.

Tetapi, aku tidak bisa bertahan lebih lama setelahnya.

Tubuhku diserang oleh ‘sesuatu yang panas’. Saat aku mencari tahu apa itu “Ah.....’, aku telah tergeletak di permukaan jalan, menatap kepingan-kepingan roda track miliku turun dari angkasa.

“Uuu....!” aku mengerang dengan keras, perlahan menatap tubuh bagian bawahku. Bagian itu tertembak, dan hilang tak berbekas. Bagian di bawah pinggang terbakar, beberapa pipa berceceran seperti jeroan, dengan percikan yang berteberangan.

“Hentikan!” Lilith berteriak tanpa daya. “Setidaknya lepaskan dia!”

Tetapi, mereka membalas permohonannya dengan kekerasan. Moncong senjata laser dimasukan ke dalam mulut Lilith, dan suara kokang keluar dari dalam tenggorokanya.

“Jangan khawatir....... kalian berdua akan menjadi lempengan logam.”

…..Lilith! Ah, Lilith!

Aku segera mengangkat tubuhku, tapi tidak ada yang bisa kulakukan setelah dihujani oleh pancaran cahaya itu. Aku bahkan tidak bisa berbicara.

……Tolong!

Aku meneriakan itu dalam hati, lalu mengunakan segenap kekuatanku untuk berteriak.

“….Uaaaaaaa – arr- gggh…….!!”

Aku mendengar sebuah suara. Sebuah auman yang sangat keras seperti raungan binatang.

Mereka saling melihat satu sama lain, dan bertanya: “Apa itu barusan?”

Kemudian, “UUAAAAAAARRRRRRGGGGHH!” auman keras membelah keheningan malam. Mereka berbalik ke arah datangnya suara. Dalam jarak pandang mereka, terlihat truk besar yang terbakar.

Lalu, sebuah lengan yang terbakar api…….

Muncul dari dalam truk.

Iord 206.jpg

baterai= 04:10:15[edit]

Lengan tiba-tiba muncul dari dalam truk yang terbakar itu, kemudian menjebol badan truk bagaikan karnivora yang memburu mangsanya. Oli pun berceceran kemana-mana, dan saat itu juga api mulai menjalar ke segala arah. Monster itu muncul dengan tubuh terselimuti api.

“UUAAAAAAARRRRRRGGGGHH!”

Si monster mengaum di langit malam. Udara di sekitarnya pun bergetar.

“A..... apa itu?”

Pria itu dengan cepat mengangkat senjatanya. Senjata yang berada dalam mulut Lilith juga dikeluarkan.

Setelah terhempas ke samping, Lilith menggerakan tubuhnya dengan lemas, dan bergumam:

“Vol......... Kov?”

Volkov…. ahh, itu memang dia… sosok mengerikan yang terselimuti api bergerak perlahan ke arah kami.

Cahaya terang terpancar oleh mata kotak miliknya, berjalan ke mari dengan suara berdentang. Kedua lenganya diangkat untuk mengusir orang yang berada di dekatnya, amarah bersinar di matanya.

Seorang pria berteriak: “Berhenti! Ini perintah!”

Meski dia ditodong dengan senjata laser, Volkov tidak berhenti. Setiap kali kaki kuatnya melangkah, sebuah lubang terbentuk di permukaan jalan beraspal, dan percikan api berhamburan di langit malam.

“Berhenti! Ini perintah!”

Pria itu kembali memerintah, tapi raksasa yang tertutup api tidak memiliki keinginan untuk mematuhi instruksi tersebut. Dia mendekati kami seolah-olah tidak mendengar perintah itu. Kekuatan luar biasa terpancar di matanya…. Ah, bukan, lebih tepatnya…. nafsu membunuh.

“Tembak!!”

Sekejap saat perintah diberikan, mereka menekan pelatuk. Sejumlah pancaran cahaya membentuk garis lengkung, melesat ke arah Volkov seolah-olah cahaya itu tersedot padanya. Pemandangan yang pernah aku lihat di berita teringat kembali di kepalaku.

Tetapi.

“Apa?!” mereka terdiam seribu bahasa.

Saat pancaran cahaya itu mencapai tubuh Volkov, cahaya terang tersebar seperti cipratan air pada dinding. Tembakan laser menyebar ke sekeliling jalan, asap hitam keluar seiring dengan suara percikan .

Pada tubuh raksasa yang dipenuhi bekas tembakan, cat miliknya meleleh seperti tetesan keringat, bagian logam yang menghitam seakan tertelan oleh malam. “UUAAAAAAARRRRRRGGGGHH!” dia kembali mengaum pada langit malam, seolah-olah berkata, ”Inilah aku!”.

“Z-zombie Mech Corp.....!?” seorang polisi bergumam ketakutan.

Serangan kedua mendapatkan hasil yang sama. Tembakan laser terhalang oleh zirah raksasa itu dan terpantul ke arah jalan beraspal, menciptakan lubang yang tak terhitung jumlahnya di sana. Serangan ketiga, keempat, dan kelima pun dilancarkan, dan perlahan-lahan wajah mereka kehilangan warnanya.

“Monster....”

Volkov memantulkan tembakan laser yang bahkan dapat memotong logam, mereka tidak pernah mengira akan melawan monster seperti itu. Senjata yang semestinya dapat diandalkan berubah menjadi onggokan logam, yang bisa mereka lakukan hanyalah mundur ke mobil berzirah. Melihat kejadian di hadapannya, raksasa itu perlahan menekuk lutunya seakan dia sedang mengejang.

Dalam sekejap, dia melompat ke angkasa. Sosok berselimutkan api tersebut melompat ke angkasa bagaikan matahari yang menyilaukan, kemudian mendarat di depan mobil berzirah dengan suara dentuman. Mereka dengan cepat melompat keluar dari mobil, selagi raksasa itu mengangkat mobil yang besarnya lima kali lipat dari tubuhnya menggunakan lengan kuat milknya.

“UUAAAAARRGGGHH!”

Setelah auman singkat itu, mobil berzirah dilempar kearah mobil lain. Setelah suara keras tabrakan terdengar, dua mobil yang bertabrakan sekejap tertelan oleh api yang menyala, dan meledak.

Lalu, dia bergerak maju ke arah mobil berzirah yang paling besar. Membengkokan bumper seperti kertas lipat, kemudian melepas zirah logam berat dengan lengan kuatnya, dan dengan keras memukul bagian yang tidak terlindungi menggunakan tangan kanan.

Itu adalah serangan yang sangat cepat seperti anak panah. Dalam sekejap tangan kananya memancarakan cahaya, menyalurkan energi seperti pijaran laser. Setelah itu, bagian tubuh mobil membesar seperti balon, lalu meledak menjadi bola pijar.

Tetapi, mereka tidak berhenti begitu saja.

Terdengar suara konstan bernada rendah berasal dari baling-baling helikopter yang berputar di udara, kemudian menjatuhkan sesuatu dari udara.

Itu bom, bom jatuh tepat di atas Volkov, potongan logam yang memancarkan pantulan cahaya mengerikan.

Lilith berteriak: “Volkov! Di atasmu! Lari”

Setelah mendengar teriakanya, Volkov mendongak ke atas dan melihat angkasa, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya.

Berikutnya, sebuah tembakan yang sama dengan tembakan yang meledakan mobil berzirah melesat dari tangannya. Bom meledak di angkasa seperti kembang api, berubah menjadi bubuk yang tersebar. Terhempas oleh gelombang kejut, tubuh Lilith terlempar ke sampingku.

Setelah ledakan mereda, Volkov masih tegap berdiri seolah-olah tidak terjadi apapun. Sebuah cahaya terang ditembakan dari tanganya. Tembakan itu bahkan lebih kuat dari sebelumnya, menenggelamkan sekelilingnya menuju dunia putih.

“Cukup, Volkov! Hentikan!”

Tetapi, kata-kata Lilith tidak diperhatikan olehnya.

Sebuah cahaya seperti laser ditembakan dari tangan kanannya…. cahaya itu mempunyai gabungan kekuatan sepuluh kali senjata laser… yang menerangi gelapnya malam. Helikopter yang sebelumnya membumbung tinggi di langit malam meledak, dan menghilang di udara. Beberapa pecahan berwarna hitam jatuh di permukaan jalan yang jauh dari sini, bagaikan gagak yang kehabisan tenaga, dan terbakar dalam api redup.

Tidak ada siapapun di sini selain kami.

Mobil yang terbakar hebat, mengeluakan asap hitam ke langit malam seperti pilar. Pecahan-pecahan yang terbakar tersebar menerangi setiap tempat.

Ini adalah medan perang. Sebuah medan perang yang penuh dengan kematian dan pembunuhan tanpa pandang bulu, dipenuhi dengan api dan kengerian.

Monster itu secara aneh melihat keadaan di sekelilingnya, kemudian berbalik menatap kami.

Lalu, dengan perlahan menuju ke arah kami.

Sosok miliknya yang terlihat di sisa mobil zirah yang terbakar bagaikan iblis yang baru saja bangkit dari dunia mitos. Mata tajam dan aneh miliknya bersinar di kegelapan malam seperti mercusuar.

Aku mengingat kata yang pernah dia ucapakan.

……Volkov- dulu- pernah – ikut – perang.

....Benar, seperti itu…

….Volkov- membunuh- banyak.

Dia adalah senjata. Sebuah mesin pembunuh yang menyembunyikan senjata mengerikan.

Akhirnya, raksasa itu berhenti di depan kami. Bayangan besar menutupi Lilith dan diriku.

“Vol......Kov?”

Lilith bergumam, sementara dia mengulurkan tangan kuat miliknya. Dia menggunakan tangan kanannya untuk menggendong Lilith. Api yang menutupinya sudah hilang.

“Tu- tunggu sebentar!”

Monster itu tidak menjawab Lilith, tapi justru mengulurkan tangan satunya ke arahku. Dalam sekejap aku sudah berada di tangan kirinya.

Dalam panas api yang membuat merinding dan bunyi kacau dari sirene, raksasa menekuk lutunya, dengan penuh tenaga melompat dari tanah, melesat ke langit malam.

Dengan itu, kami dibawa menuju kekegelapan olehnya.

baterai=03:58:01[edit]

Kau tidak akan pernah bisa membayangkan seperti apa Volkov yang lamban bisa berlari secepat ini.

Dia berlari kencang di jalanan, menuruni tangga dengan cepat, menabrakan dirinya ke pembatas, bergerak kesan-kemari di dalam kota. Lilith dan aku berbaring di tangan kuatnya seperti bayi, menatap dengan kosong pada pemandangan malam yang jauh membentang.

Setelah sekitar sepuluh menit, kami sampai di bawah jembatan besi di mana tidak ada satupun orang yang melintas. Sebuah sungai besar dengan lebar sekitar tiga puluh meter mengalir dalam kegelapan, di mana jembatan besi berada di atasnya. Aku sudah tidak lagi mendengar bunyi sirine, jadi sepertinya kami berada jauh dari tempat di mana kami bertarung dengan polisi.

Aku kehilangan tubuh bagian bawah, oleh karena itu, aku tidak bisa lagi duduk secara normal, aku hanya bisa bertumpu pada rangka bawah jembatan. Lilith berbaring di jalanan dengan lemas, menggunakan lengan kirinya untuk menekan bahu yang sekarang sudah hilang sebagian, doa menatap pada robot raksasa hitam pekat, yang berdiri di samping kami seperti patung penjaga.

“Kamu ini…. kenapa sih?”

Lilith bertanya dengan nada khawatir, tapi dia tidak menjawab, dan hanya menatap tanpa sekalipun berkedip pada kami.

“Volkov Galosh.” Lilith memanggil namanya dengan nada rendah, “Katakan sesuatu.”

“....” Raksasa hitam itu tidak menjawab.

Sebuah kereta perlahan melintas pada jembatan di atas kami. Rambut Lilith berkibar oleh angin, lalu jatuh kembali ke atas bahunya.

“........ Yang benar saja.” Lilith berdiri setelah menyangga dirinya pada permukaan tanah dengan tangan kiri.

“Lilith?”

“Aku harus membangunkan pria ini.”

Lilith mendekatinya, kemudian…..

Dia mengetuk pinggul Volkov.

“Hey! hey! Hey! hey! Ada orang di dalam!!? Ada orang di dalam!!?”

Lilith mengetuk pinggul Volkov dengan sekuat tenaga…. alih-alih menyebutnya mengetuk, bisa dikatakan dia memukulnya.

“Aku tahu ada orang di dalam!” dia berteriak mengancam, “Keluar sekarang juga!”

Pada saat itu juga.

Mata Volkov tiba-tiba menyala. Kemudian, lehernya bergerak dengan suara keretak. Volkov menatap gadis yang sedang memukuli tubuhnya.

Kemudian dia berkata dengan lambat seperti biasanya.

“Oh....... Volkov-ada- ada.”

“Lama sekali!” Lilith memukul lengannya tanpa ampun.

“Lilith- sangat- kejam.”

“Ini semua salahmu!” Lilith memukul Volkov lagi. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Lilith berbalik untuk melihatku, dan mengangkat bahu sambil berkata: “Yang benar saja, dia hanya membuat kita berada dalam masalah.” Meskipun dia berkata seperti itu, ekspresinya menunjukan bahwa dia sedikit lega.

“Mnn, yahh..... terima kasih untuk yang tadi.”

Lilith menatapnya sekilas dengan malu, menggumamkan: “...... terima kasih.”

“Lilith- malu.”

“Diam.”

Lilith memiringkan kepalanya ke samping, sementara Volkov menggaruk kepalanya. Melihat interaksi mereka sudah kembali normal, aku pun merasa lega. Sebuah kereta melintas pada jembatan besi sekali lagi, dan getaran datang dari belakang kami.

Setelah suara kereta berhenti, aku bertanya.

“Lilith, apa kau baik-baik saja?”

Wajah bagian kirinya terluka, dan terlihat sangat menyakitkan. Itu adalah bekas yang tertinggal setelah tertembak oleh senjata laser milik polisi. Dan juga, bagian tangan kirinya telah lenyap.

“.....” Lilith tidak menjawab

“Lilith?”

“Ahh, mnn, aku baik-baik saja. Hanya saja sistem pendengaranku rusak. Malah, aku yang harusnya bertanya, apa kau baik-baik saja?”

“Aku, yahh.......”

Aku menatap pada tubuh bagian bawah, kawat dan pipa berserakan seperti jeroan.

“Ahh, maaf, tidak mungkin kau baik-baik saja.”

“Bagian utama, yaitu sirkuitku masih berfungsi, jadi pada dasarnya aku baik-baik saja.”

“...... seperti itu ya.”

Sepertinya Lilith ingin mengatakan hal lain, tapi dihentikan. Mungkin, dia berpikir bahwa sia-sia memikirkan luka kami sekarang.

“Lalu...... apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”

“Mnn......”

Lilith kebingungan.

“Volkov, kau ada ide?”

Setiap berada dalam hal yang serius. Dia selalu menanyakan pendapat Volkov.

Raksasa itu perlahan menaikan kepalanya, membuat suara “Hmm...”

“Volkov- tidak- tahu.”

“Huh...” Lilith menekan tangan ke dahinya, menggumam, “Aku yang bodoh menanyakan hal ini padamu.”

Setelah itu, dia balik bertanya padaku.

“Bagaimana menurutnu, Iris?”

“Yahh.... ku pikir lebih baik kalau kita bersembunyi dulu.”

“Mnn, masih terlalu bahaya untuk kita melarikan diri ke kota sebelah. Perlu waktu lagi hingga semuanya aman, lalu kita pergi....”

Lilith mengatakan kata-kata yang hanya diucapkan seorang kriminal. Tidak, sekarang kami memanglah kriminal.

“Tapi, tetap tinggal di sini juga tidak baik. Ayo kita cari tempat yang lebih cocok untuk bersembunyi.”

“Yeah.”

“Volkov, gendong Iris.”

Volkov mengangguk, mengulurkan tanganya padaku.

baterai=03:45:32[edit]

Kami bertiga berjalan menyusuri sungai.

Setiap kali Volkov melangkahkan kakinya, kerikil yang berada di pinggiran sungai hancur. Suara kerikil yang hancur terus terdengar seiring berjalannya waktu, sementara itu aku melihat ke depan dengan mataku yang bergoyang kesana-kemari karena guncangan dari langkah Volkov.

Jalan berpasir seakan tanpa batas di depan kami, sementara di sebelah kiri terdapat sungai hitam. Tidak ada lampu jalan di dekat sungai, dan aku merasa seolah-olah kami berjalan di terowongan yang gelap.

Apa yang ada di depanmu? Kemana kita pergi? Kegelapan malam merasuk ke dalam tubuku, membuat diriku semakin mual.

Setelah kami beristirahat sebentar, suara gumaman Lilith terdengar dari samping. Rupanya dia sedang menggumamkan lagu. Nada tenang itu membuat sedikit rileks. Kalau aku berada di posisinya, mungkin aku sudah menangis dari tadi.

Setelah dia selesai menggumamkan lagu itu.

“Hey, Iris?” Lilith berjalan santai, menoleh untuk melihatku, “Bolehkah aku meminta bantuanmu?”

“Apa itu?” sembari masih berada di lengan Volkov, aku melihat ke arahnya.

“Lanjutkan ceritanya.”

“.....Hmm?”

“Third-Rate Demon God Visa Dark.”

“Tapi kita tidak punya bukunya.”

Lilith terdiam beberapa saat, lalu berkata: “Bukankah kau ingat isinya?”

“Eh?”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Bukankah kau sudah membaca dan mengingat semua isinya? Aku tahu kau sudah membaca keseluruhanya.”

“E-erm, yahh...” aku tiba-tiba tergagap.

“Apakah kondisi penglihatanmu begitu buruk?”

Mendengar pertanyaanya, aku meneguk. Hujan di depanku berhenti sesaat.

Lilith menunjukkan ekspresi bingung di wajahnya, menatapku tanpa berkedip di seberang hujan. Dia mengerutkan kedua alisnya, meski sebuah senyum terlukis di wajahnya.

“Aku tau itu, kita telah bersama dalam waktu yang lama. Kau terus menjatuhkan limbah material belakangan ini, dan berjalan tidak stabil.”

Dia benar.

Belakangan ini, penglihatanku semakin memburuk. Aku masih bisa melihat dalam ‘gerimis’, tapi jarak pandangku akan terhalang oleh garis vertikal putih saat ‘hujan’. Hujan itu terus turun setiap hari seakan tanpa akhir.

Itulah kenapa aku ingin menyelesaikan buku itu sebelum aku kehilangan penglihatan, aku tidak ingin pertemuan klub baca berakhir karena diriku.

“Maaf, buruknya kesehatanku membuatmu khawatir” aku meminta maaf. Rambut Lilith bergoyang saat dia menggelengkan kepalanya kekiri dan kanan.

“Kau tidak perlu meminta maaf. ...... kau sudah menyelesaikan bukunya?”

Aku mengangguk.

“Jadi, aku akan menanyakanmu sekali lagi. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada Darke.”

Lilith menaikan kepalanya dan melihatku. Nadanya cukup sopan untuk seorang Lilith.

“........ Baiklah, aku mengerti.”

Aku tidak yakin bisa bercerita dengan santai pada saat kritis seperti ini. Aku berpikir bahwa Lilith merasa tidak nyaman jika kami tidak melakukan sesuatu. Sama halnya denganku. Dan Volkov mungkin juga merasa seperti itu.

Dalam kegelapan, tanpa tujuan, tanpa tempat aman, dan tidak tahu kapan mereka akan mulai mengejar.

Kami membutuhkan cerita ini sekarang juga.

Cerita kenangan yang membahagiakan dari iblis berjubah hitam yang sering kali meninggalkan tugasnya tapi sangat perhatian, dan sebuah gelang perak yang serius tapi acuh.

Oleh karena itu, aku mulai membaca.

Pertemuan klub baca malam dimulai.

‘Tubuh Flo Snow gemetar karena kaget. Benar, Darke menyiapkan gelang baru hanya untuknya.’

Aku menceritakan bab ketujuh dari seri ‘Hadiah Raja Iblis.’

Cerita berlanjut, Lilith terus mengeluarkan suara-suara seperti ‘Ah’ ‘Uuu!...’ di sampingku. Sembari terus menggendongku, Volkov terkadang bergumam dengan nada rendah sembari memikirkan ceritanya.

Pada bab keenam sebelumnya, gelang sihir Flo Snow kehilangan kepercayaan dirinya, dan ‘kabur’ dari kastil raja iblis. Lalu, Darke menciptakan ‘gelang baru’ untuk menggantikan dirinya…. itu adalah setengah cerita pertama dari bab ketujuh.

Di bagian terakhir bab ketujuh, alasan Darke menciptakan gelang baru terungkap.

Gelang baru itu akan menjadi ‘tubuh baru’ Flo Snow. Flo Snow pada mulanya adalah ‘jiwa’ yang tertidur pada kuil di dunia iblis, kemudian dibangunkan menggunakan gelang sebagai perantara. Setelah bertahun-tahun melewati masa sulit, gelang yang digunakan sebagai perantara melemah, dan Darke membuat gelang baru untuk memindah Flo setelah dia mengetahui hal itu. Alasan kenapa dia meninggalkan kastil dalam waktu lama yaitu untuk mengumpulkan berbagai material yang diperlukan untuk wadah baru Flo Snow.

“Darke berkata dengan lembut: ‘Flo Snow yang aku cintai. Aku ingin memberimu hadiah hari ini.’ Setelah mengatakan itu, dia mengeluarkan gelang putih bersih. Gelang itu cantik dibuat dari kristal yang dibentuk menyerupai kepingan salju. ‘Sekarang, kau tidak akan bermasalah. Selamanya, sempurna sepanjang masa.’ Flo tidak tahu harus berkata apa. Tetapi pada saat ini….“

Setelah memindahkan jiwa Flo Snow ke gelang baru, hal aneh terjadi pada tubuh Darke. Demi membuat gelang baru, dia menggunakan seluru kekuatan sihirnya.

“Tubuh Darke perlahan- lahan berubah menjadi partikel cahaya, meleleh dalam udara. Flo dengan kosong menatap sosoknya: ‘Ahh, Darke kumohon jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendirian!’ Darke dengan lembut menggengam tanganya berkata: ‘Flo, maafkan aku. Juga, terima kasih atas semua yang sudah kau lakukan. Aku….‘ Darke berubah menjadi bola cahaya, tersenyum untuk terakhir kalinya, kemudian melanjutkan kalimatnya ‘…..mencintaimu sejak lama.’ Setelah mengatakan itu, Tubuh Darke seluruhnya berubah menjadi partikel cahaya, dan tersebar ke segala penjuru. Lalu, cahaya itu naik ke angkasa dan menghilang.”

Setelah membacakan itu, aku berhenti. Suara tangisan terdengar disampingku.

“Lilith?”

“Darke……” Lilith menggunakan tangan kiri untuk menghapus air matanya sendiri. Lalu, dia berbicara sesuatu yang sulit didengar. “Aku juga berpikir cerita itu akan memiliki akhir yang bahagia...”

Aku menghela setelah menyelesaikan bab ketujuh.

Sembari kami mengumpulkan bagian terbaik dari cerita ini, kami bertiga berjalan dalam hening selama beberapa saat.

“Terakhir, kita sampai di bab kedelapan. Bab terakhir…..“

Lilith mengangkat tanganya, “Tunggu sebentar, Iris. Membaca bab terkahirnya lain kali saja. Sia- sia mendengarkan keseluruhan ceritanya dalam sekali baca, dan juga...”

Mungkin karena dia mengingat bagian tertentu cerita tadi, Lilith menitikan air mata. Aku pun menjawab: “...... Mengerti.”

“Volkov apakah tidak apa-apa?”

Lilith bertanya. Volkov mengangguk.

Setelah pertemuan klub baca berakhir. Kami bertiga kembali berjalan. Seolah-olah kami berjalan dalam terowongan yang gelap gulita, kami berjalan ke dalam kegelapan, dan terus maju. Entah apa yang menunggu di depan, kami tidak tahu.

Hanya suara air mengalir dan suara hujan yang gemerisik.

baterai=02:14:17[edit]

Yang menemukan tempat itu adalah Lilith.

Saat menjelang fajar, kami mulai cemas menemukan tempat bersembunyi untuk satu hari.

“Bukankah ini tempat masuk menuju gorong-gorong.”

Lilith menunjuk pada pintu gorong-gorong di bawah jembatan besi. Tempat itu tertutup oleh semak-semak, dan pintu masuknya dipenuhi karat. Itu mengingatkanku pada raja iblis Darke yang biasa menggunakan pintu keluar yang ditutupi semak-semak saat dia keluar dari kastil secara diam-diam.

“Volkov, coba kau buka.”

Mendengar instruksi Lilith, Volkov menekuk lututnya, mengulurkan kedua tanganya pada pintu gorong-gorong. Suara gesekan antar logam berdentang, lalu pintu itu terbuka dengan suara klang.

Sebuah lubang di bawah penutup, menggoda kami untuk masuk ke dalam dunia bawah tanah yang gelap.

“Selanjutnya apa?”

Aku mengamati lubang itu dan bertanya: “Tidak ada pilihan selain masuk, sebentar lagi siang.”

“Tapi....” aku menatap Volkov.

“Ah, benar...”

Lilith sepertinya juga sudah memperkirakanya. Diameter lubang yang mengarah kedalam jalur air sekitar satu meter. Kecuali Lilith dan diriku, Volkov tidak akan bisa masuk.

Dia mendesah, sambil mengatakan: “Pada akhirnya, kita tidak punya pilihan. Ayo kita cari tempat lain.” Lilith membatalkan rencananya menggunakan gorong-gorong itu.

Di saat yang bersamaan, Volkov tiba-tiba berbicara.

“Volkov- tinggal.”

“Hmm?” Lilith mengambil beberapa langkah ke depan. Dia berbalik dan berkata, “Apa yang barusan kau katakan, Volkov?”

“Volkov- tinggal. ... Lilith- dan Iris- pergi-saja.”

“Eh? Kau maksudmu kita pergi duluan?”

Volkov mengangguk.

“Idiot, apa kau sedang berusaha sok keren atau semacamnya?”

Lilith menyentil lengan Volkov menggunakan jarinya. Tetapi, Volkov tidak menjawab, melainkan menempelkan tangan kanannya ke lengan Lilith.

“A- Apa maksudnya ini...?”

“Di sini.”

“Eh?”

“Mereka- di sini.”

Itu merupakan saat-saat paling gelap sebelum fajar.

Titik seperti bintang yang tak terhitung jumlahnya muncul di langit.

“Hey! Bukankah mereka unit militer!”

Titik-titik di langit membesar. Titik itu merupakan helikopter. Lampu sorot melintas di atas kepala kami.

“Lilith- cepat- pergi.”

“Apa yang kau katakan! Kita kabur bersama!”

Tetapi, Volkov dengan paksa menggengam bahu Lilith, mengulangi perkataanya barusan.

“Volkov- tinggal.”

Kemudian, dengan paksa menggendong Lilith, mendorongnya masuk kedalam lubang.

“Tunggu sebentar, Volkov! Lepaskan aku!” Lilith terus mengelak, tapi Volkov tidak berhenti.

“Unit militer- mengejar- Volkov.”

Volkov juga menggendongku, mendorongku masuk setelah Lilith.

Di saat itu juga, Volkov menatapku. Matanya menyiratkan bahwa dia memohon sesuatu. Itu mungkin artinya dia…

“Lilith, ayo pergi.”

Aku menarik Lilith.

“Tunggu, kenapa kau juga mengatakan itu!!”

“Kumohon pertimbangkan perasaan Volkov.”

“Aku……“

“Rusak. Volkov tiba-tiba mengatakan sesuatu, “Volkov- rusak.”

“...Eh?” Lilith menatap Volkov dengan khawatir.

Seolah-olah dia mengatakan hal itu tanpa khawatir sedikit pun, dia menjelaskan: “Volkov- terbakar- dalam- truk. Sirkuit- pengaman- rusak. Oleh karena itu- Volkov- menggunakan senjata........ itu- aktif.”

“Aktif.....?”

Lilith dengan hati-hati menanyakan itu seakan dia ketakutan mendengar responnya, sementara Volkov menjawabnya seperti biasa.

“Pengaturan- penghancur diri.”

Sekejap, Lilith tertegun.

Volkov tidak berbohong, tidak juga bercanda.

Tidak pernah sekali pun.

Aku menggenggam tangga gorong-gorong, melihat wajah Volkov sekali lagi. Tekad yang begitu tenang tapi kuat tersembunyi pada kedua mata kotak miliknya.

Aku mengerti. Volkov ketakutan. Volkov begitu ketakutan hingga berpikir dia akan menjadi masalah jika kabur bersama dengan sebuah robot militer.

Lilith perlahan menggelengkan kepalanya, bertanya.

“Kau bercanda, ‘kan? Penghancur diri dan semacamnya, itu cuma kebohongan yang kau karang sendiri, ‘kan Volkov?”

Lilith menatapku tidak percaya.

Volkov menjawab sederhana: “Itu sungguhan.”

“Oleh karena itu- selamat tinggal.”

Penutup pintu masuk ditutup. Wajah Volkov sedikit demi sedikit menghilang.

“Volkov, jangan! Jangan memutuskan sesuatu seenaknya! Kita harus melarikan diri bersama!”

Volkov tidak menjawab, tapi dia melihatku dan berkata.

“Iris, aku serahkan Lilith padamu.”

Aku mengangguk. Tekad kuat miliknya tidak bisa dihentikan. Juga, kami tidak bisa menghentikanya sendiri dengan kekuatan kami.

Tapi Lilith tidak menyerah, dia berteriak: “Apa yang kau lakukan, hentikan itu! Lepaskan aku!”, dia dengan panik mencoba melepaskan lengan Volkov menggunakan tangan kirinya. Volkov dengan kuat menggenggam tangan Lilith, mengunci pergerakanya. Lalu, dia menatap langsung ke mata Lilith.

“............... Volkov?” Lilith dengan khawatir menatap ke arah raksasa yang tiba-tiba berhenti. Volkov menatap Lilith tanpa suara. Seakan waktu berhenti mengalir, mereka berdua menatap satu sama lain.

“Lilith.”

Saat itu, kalimat Volkov tidak tersendat seperti biasanya, dia mengatakannya dengan lancar.

Kalimat itu terdengar seperti sebuah pengakuan.

“Aku bersyukur telah bertemu denganmu.”

Mata Lilith berlinang. Bibirnya gemetar, seakan dia ingin mengatakan sesuatu.

Tapi kemudian, Volkov mendorong Lilith.

“Ahh!” Lilith mengerang, jatuh kedalam gorong-gorong. Aku ikut jatuh bersamanya.

Di saat-saat terakhir sebelum kami jatuh, aku melihat pancaran sedih di mata Volkov. Walau begitu, pintu masuk dengan cepat tertutup, dan pancaran itu menghilang.

baterai=02:01:40[edit]

Kami jatuh kedalam gorong-gorong. Lilith dan diriku menciptakan sejumlah besar air, dan terseret arus.

“Uwaa!”

Aku mengapung kembali setelah tenggelam beberapa saat, dan dengan tidak berdaya aku terseret bersama arus. Aku mendayung menggunakan tanganku, tapi dengan tubuh hancur ini tidak banyak yang bisa kulakukan.

“Iris!”

Lilith keluar dari dalam air, dan menggenggam tanganku. Setelah itu, dia membawaku ke tepian beton.

Kami terseret sekitar ratusan meter. Dengan membawa diriku, Lilith keluar dari air.

“.......... Uhuuk, uhuuk!”

Dia memuntahkan sejumlah besar air selagi menahan tubuh dengan kaki kirinya. Setiap tangga yang ada di sini dibangun tepat disamping air yang mengalir.

“.......... Ampun deh, apa sih yang dia pikirkan!”

Lilith mengomel. ‘Ka, ka, ka....’ setelah mengeluarkan tawa aneh itu, aku berbicara.

“Li-Lilith....... ka ka......”

Sepertinya sirkuitku mengalami arus pendek setelah terendam air.

“Apakah kau baik-baik saja? Kau basah kuyup.”

Lilith mengangkat tubuhku seolah-olah dia sedang menggendong bayi, sekuat tenaga menggoncangkan tubuhku naik turun.

“Bukankah ini buruk!”

Lilith berteriak kalang kabut. Dia muram, menunjukan ekspresi marah.

Tetapi, aku tahu dia hanya berusaha memberanikan diri. Buktinya dia selalu menatap ke arah ‘hilir’ gorong-gorong dengan miris.

Itu adalah tempat dimana kami dan Volkov terpisah.

Aku menatap ke arah yang sama tanpa bersuara. Air mengalir begitu cepat ke arah hilir, dan jalur ini tidak terhubung dengan jalur yang mengarah ke hulu, jadi mustahil untuk berenang kembali.

Setelah berpikir dan merenung, dia mengangkat kepalanya.

“Ayo pergi, Iris.”

“........ Baiklah.”

Aku menjawab perlahan. Setelah itu, Lilith menggendongku di punggungnya.

baterai=01:49:52[edit]

Kami terdiam untuk waktu yang lama.

Meski tidak ada yang bisa kulakukan, aku masih ingin membantu…. Aku pun mengubah lampu di pengaturan penglihatan menjadi senter, menerangi jalan di depan kami.

Aku terus memikirkan Volkov sembari berjalan di belakang Lilith. Apa yang terjadi denganya setelah itu? Apa dia benar-benar melawan unit militer? Pengaturan penghancur diri… apa itu berfungsi?

Lilith tidak mengataan apapun. Dia pasti memikirkan hal yang sama.

Setelah sekitar sepuluh menit.

Lilith tiba-tiba berbicara: “Orang itu, benar-benar lambat. Penglihatan dan pendengaranya buruk. Dia juga tergagap saat berbicara.”

“Mnn...”

Apa sebenarnya maksud dari kata-kata Lilith?

“Semenjak bergabung dengan militer, dia sudah banyak mendapat masalah, tapi itu sama sekali bukan salahnya,”

Setelah mengatakan itu, nadanya merendah.

“…. Tapi, aku juga salah.”

“......... Kenapa?”

“Belakangan ini sih sudah jarang ditemukan, tapi dulu banyak sekali bom pada lahan konstruksi itu. Bahkan sudah hal yang biasa ketika 3 robot meledak gara-gara bom tiap harinya. .... setelah menyaksikan hal seperti itu, bukankah kebanyakan orang akan berhenti mengambil limbah material yang telihat seperti bom?”

Dia menyesuaikan posturnya, mendorongku sedikit ke atas. Aku memeluknya lagi.

Suara Lilith tiba-tiba bergetar. “Tapi orang itu tidak berhenti. Dia terus mengambil dan membawa material yang mirip seperti bom.”

“Kenapa? Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri?”

“Yep, bunuh diri. Tidak peduli setangguh apapun dirinya, dia akan tetap menjadi lempengan logam setelah berkali-kali terkena bom. Meski begitu, orang itu tetap saja membawa bom. Menurutmu kenapa dia melakukanya?”

Aku berhenti bicara. Lilith meneruskan dengan nada gemetaran.

“Dia melakukanya untukku.”

Dengan nada lemah, dia mengatakan kalimat itu dengan cepat dan gemetaran.

“Dia sungguh idiot!. DIa selalu mengatakan sesuatu seperti: ‘aku tidak akan hancur jika bom tiba-tiba meledak’, kemudian dia juga mengambil bagianku. Tapi dia hancur sedikit demi sedikit. Tidak bisa mendengar dengan baik, tidak bisa melihat dengan baik, dan cara bicaranya juga aneh. Meski begitu, dia tetap saja membawa bom. Setelah aku menyuruhnya berhenti, kau tahu apa yang dia katakan?”

Lilith mempercepat langkah kakinya, seolah-olah dia ingin membuat kami menabrak.

“Volkov- membawa- bom.”

Lilith meniru cara bicara Volkov.

“Lilith- aman.”

Suaranya berhenti dalam duka.

“Volkov- bahagia...”

Setelah mengatakan itu, dia terdiam.

“Sungguh......idiot.”

Cairan menetes ke tanganku yang berada di bahunya. Tetesan itu mengalir melalui tanganku dan jatuh ke bawah.

……….Volkov- tahu- cara- membunuh.

Kata-kata Volkov terngiang di kepalaku.

……..Tapi- tidak- tahu- cara- untuk- hidup.

Saat itu dia mengatakan bahwa tidak tahu bagaimana cara untuk hidup. Dia mengatakan itu dengan ekspresi penuh kesedihan.

Tapi kenyatanya tidak begitu. Dia telah menemukan alasanya.

Bertemu dengan Lilith, memindah bom demi Lilith, melawan polisi bahkan unit militer hanya untuk Lilith.

…….Aku bersyukur telah bertemu denganmu.

Dia mengatakan itu saat kami berpisah. Aku sungguh memahaminya sekarang.

Dia hidup untuk Lilith. Lilith adalah nyawa kedua milik Volkov setelah kekalahanya di medan pertempuran. Lilith adalah alasannya hidup.

Lilith masih menangis dengan lirih.

Aku tetap diam, tidak ada kekuatan lain yang terkumpul kecuali di lenganku.

Seperti yang biasa Profesor lakukan, aku memeluknya dengan lembut di punggung.

Itu adalah saat setelah suara ledakan yang memekikan telinga terdengar dari atas.

Mungkin itu adalah suara teman kami yang meledak berkeping-keping.

baterai=01:28:13[edit]

Terpaan angin dingin melintasi gorong-gorong. Angin itu tiba-tiba berhenti dalam sekejap.

Lilith berhenti bergerak.

Aku bertanya: “Lilith?”, lalu dia mengusap hidungnya, dan menoleh untuk melihatku dengan mata yang lembab.

“Apa kau mendengar sesuatu?”

Lilith menyimak sesuatu saat mengatakan itu. Aku menyesuaikan pengaturan suara hingga ke titik paling sensitif.

Aku bisa mendengar suara hujan, angin, air mengalir, dan…..

Langkah kaki manusia.

Langkah kaki milik banyak orang.

“Kelihatanya mereka masih mengejar kita.”

Lilith menggigit bibirnya.

Hanya melihat bahunya yang gemetaran saja sudah cukup untuk memberitahuku apa yang sedang dia pikirkan. Karena unit militer ada di sini, itu artinya hal yang menghalangi mereka sudah tidak ada. Tetapi, Lilith dan diriku tidak menyebutkan dia lagi. Jika kami menyebut dia, Lilith akan mulai menangis, dan itu juga akan menyakitiku.

Kami berjalan dengan cepat. Menggunakan sistem penerangan dari pengaturan penglihatan, kami terus berjalan pada jalur di dalam gorong-gorong. Terkadang, aku mendengar suara mereka yang bergema pada jalur ini.

“Lihat!”

Lilith mengatakan itu dengan nada rendah.

“Pintu keluarnya.”

Aku menatap pada langit-langit. Ada tangga pada dinding, dan sebuah lubang diatasnya. Itu adalah lubang yang mirip dengan lubang dimana kami masuk sebelumnya.

“Apakah kita sudah sampai di Kota Oval?”

“Yeah, kemungkinan kita sudah berada di kota sekarang.”

“Apa yang selanjutnya kita lakukan.”

“Yang bisa kita lakukan hanyalah keluar. ........ kita akan segera ketahuan jika terus berada di sini.”

Saat ini, suara dan langkah kaki mereka semakin keras.

“Pegangan yang kuat.”

Seraya menggendongku di punggungnya, Lilith meraih tangga pada dinding, memanjat keatas satu per satu. Setelah tiga puluh detik, penutup lubang berbentuk bulat muncul diatas kami. Penutup itu adalah jalan keluar dari gorong-gorong.

Demi membantu Lilith yang kehilangan lengan kirinya, aku mengeluarkan tanganku, dengan hati-hati mendorong penutup gorong-gorong. Cahaya sedikit demi sedikit masuk kedalam celah.

Ketika penutup terbuka sebagian, Lilith mengeluarkan kepalanya.

“Benar, kita beruntung!”

Dia membuka penutup sepenuhnya, mempersilahkanku untuk memanjat duluan, kemudian dia menyusul setelahnya.

Mungkin karena hari sudah siang, dunia bawah tanah terlihat begitu menyesakan. Tempat dimana kami keluar adalah gang yang terletak diantara gedung dengan sampah yang berserakan, dan air kotor ditanah. Apakah itu suara mesin yang terdengar dari jauh?

Lilith menaruh penutup ketempat asalnya, kemudian berteriak dengan sorakan kemenangan seakan sedang menyemangati dirinya sendiri.

“Benar, ini adalah tahap kedua dari operasi melarikan diri!”

Saat itu, aku berpikir akhirnya kami lolos dari kejaran unit mliter.

Tetapi, kami terlalu naif. Aku harusnya berpikir bahwa unit militer akan menempatkan beberapa orang didepan pintu masuk gorong-gorong.

“Ayo pergi, Iri……“

Kalimatnya terpotong sebelum dia selesai mengucapkanya.

Dua pancaran cahaya menusuk dirinya.

baterai=01:24:41[edit]

“Ah....!”

Seperti boneka yang kehilangan benangnya, tubuh Lilith terkulai, terbaring di bawah.

“Lilith!”

“Uuu...” Lilith menekan dadanya, dan meronta-ronta. Sejumlah besar oli terciprat keluar dari tubuhnya, menyebar di tanah seperti genangan darah.

“Jangan bergerak! Ini perintah!”

Suara teriakan mengaung pada gang kecil, dua orang yang menggunakan pakaian militer berlari ke arah kami. Senjata laser di tangan mereka.

“Apa? Ada satu lagi.”

Salah satu dari mereka sepertinya mengetahui keberadaanku.

“Apakah kita juga berurusan dengan yang ‘satu ini’? “Mnn, benar.”. mereka dengan santai memutuskan kematianku seperti sedang berdiskusi tentang menu makan siang.

Sebuah senjata diarahkan tepat di wajahku. Panas yang tersisa dari tembakan sebelumnya membuat asap keluar dari moncong senjata tersebut.

….Ahh, apakah aku sudah mati?

Aku menatap kosong pada senjata itu. Sama seperti saat aku dibongkar, aku tidak bisa merasakan kematian yang berada didepan mata, dan aku pun mulai lari dari kenyataan

Pada detik-detik itu.

“Kaaaaaa!”

Lilith berdiri sambil berteriak seperti hewan buas, menabrakan dirinya ke arah pria didepan. Pria itu segera kehilangan keseimbanganya.

Menggunakan kesempatan ini, Lilith menarik tananku, lari menjauh dengan cepat.

Sebuah kaliamat yang familiar ‘Berhenti! Ini perintah!’ terdengar dari belakang, tapi dia terus berlari dengan kencang.

Setelah berhasil keluar dari gang, kami sampai di jalan raya. Beberapa mobil melaju melalui jalan yang berada di depan kami.

Seorang wanita yang melintas berteriak setelah melihat Lilith dan diriku. Kerumunan manusia di sekitar kami mulai membuat keributan ketika melihatku yang hanya tersisa tubuh bagian atas, Lilith yang bertangan satu dan oli yang merembes dari dadanya.

Teriakan dari unit militer mendekat dari belakang. Setelah berpikir beberapa saat, Lilith lari ke arah jalan.

“Lilith, kemana kau per……“

“Kita akan naik itu.”

Itu merupakan truk kecil yang menunggu lampu merah. Di saat lampu berubah menjadi hijau, dan truk mulai bergerak, Lilith melemparku ke arah trailer dan masuk setelahnya.

Kemudian, truk itu pun melaju.

baterai=01:16:56[edit]

Suara sirene menggema di sekitar kami, tapi truk terus melaju melintasi kota.

“Lilith, Lilith kau baik-baik saja?”

Didalam trailer truk, aku dengan panik memanggil namanya.

Wajahnya begitu menderita. Terdapat lubang sebesar kepalan tangan di dada dan perutnya, pipa-pipa ang keluar menyemburkan oli ke mana-mana.

“Iris....”

“I- iya?”

Agar bisa medengarnya dengan jelas, aku pun mendekat.

Dia berkata dengan nada parau: “Turunlah dari truk setelah melewati jalan yang ramai.”

“Tapi...” aku menatap pada lukanya. Tidak usah ditanya lagi, dia terluka begitu parah…. bahkan sangat parah. Di sisi lain, aku tidak bisa bergerak karena kehilangan tubuh bagian bawahku. Sistemku yang menggunakan tiga sirkuit utama tidak tergores sedikit pun. Tetapi, Lilith berbeda. Sejumlah besar oli yang keluar menenunjukan sirkuit pentingnya telah rusak. Meski begitu, dia masih mencoba mengangkat tubuhnya. Kemudian, dia memuntahkan oli.

“Lilith!”

“Aku baik-baik saja.” Dia menggunakan tangan kirinya untuk menyeka oli yang keluar dari mulut. Sembari memaksakan tersenyum padaku, dia berkata, “Ini bukan apa-apa.”

Seakan bertolak belakang dengan perkataannya, cairan hitam terus mengalir keluar dari dada dan perutnya.

Setelah truk melaju sekitar lima menit, kami keluar dari pusat kota, dan sampai pada jalan pinggiran kota yang gersang.

Lilith memelukku. Aku mengutuk ketidakmampuanku dan aku pun salut dengan keberanianya.

Mengambil kesempatan saat truk menurunkan kecepatanya, Lilith meloncat keluar dari truk…. atau lebih tepatnya berguling-guling keluar dari truk. Pengemudi truk tidak meperhatikan kami, dan pergi begitu saja.

Lilith berdiri dengan begitu labil, kemudian dia melihat ke sekitar. Untung saja daerah ini sepi.

“Ah, ayo masuk.”

Sebuah rumah tua di depanya, nama agen dan kata ‘Dijual’ tertulis pada papan di depan rumah itu.

Lilith menggendongku di punggung sekali lagi, lalu berjalan menuju halaman belakang dengan langkah yang begitu labil. Yang bisa kulakukan hanyalah tergolek di punggung Lilith.

Kami masuk melalui gerbang dan berjalan ke halaman. Halaman itu tidak terawat dan dipenuhi rumput liar.

Dia berbaring di bawah kanopi. Selama tidak ada orang yang datang ke sini, maka tak seorang pun dapat melihat kami dari jalan.

“Lilith...”

Aku memanggil namanya sembari mendesah.

Tubuh Lilith tidak akan bisa bertahan lebih lama. Mungkin karena mendarat dengan keras setelah dia melompat berusan, beberapa filamen dan sirkuit keluar dari lubang dimana dia tertembak. Pipa yang mengeluarkan percikan bergerak-gerak seperti makhluk hidup, dan menyemburkan percikan beberapa kali.

…….Jika ini terus berlanjut, baterainya akan...

“Heh.. heh..... Ini sangat buruk.....” Lilith mengatakan itu dengan santai, menyentuh dadanya, sambil memposisikan diri. Dia ingin menutupi sirkuit yang terbuka dari tubuhnya, tapi itu sia-sia saja.

“Iris.”

“Iya?”

“Begini...”

Dia mengeluarkan kotak berbentuk persegi dari dalam dadanya.

Itu adalah kotak kartu kotor karena noda dari oli.

“Buka.”

Aku membuka kotak sesuai perkataanya, dan sebuah kertas plastik ada di dalamnya. Sebuah nama bank yang tidak asing tertulis di dalamnya.

“.......Kartu kredit?” aku menatap Lilith.

“Benar, kata sandinya adalah HRM019, nomor sertifikasiku.”

Aku sama sekali tidak tahu apa maksudnya. Kenapa dia menyerahkan kartu kredit padaku?

“Dan juga, di bagian bawahnya....” Lilith perlahan memberiku instruksi, “Ada kertas kan? Coba buka.”

Aku membuka kertas yang berada di bagian bawah kotak. Itu merupakan peta Kota Oval dan daerah sekitarnya. Hanya satu tempat yang dilingkari pensil.

“Itu adalah sebuah toko loak.”

Selagi mengatakan itu, oli mengalir keluar dari mulutnya.

“Ingat? Aku menyebutkan padamu sebelumnya. Sebuah robot bernama Lightning.”

Lightning…. itu sepetinya nama robot yang bekerja di toko loak yang pernah Lilith sebutkan. Robot yang mirip seperti Volkov.

“Pergi ke sana dan minta dia memperbaikimu.”

“Ba...... baiklah.”

“Hati-hati saat kau pergi. Kau harus segera bersembunyi setelahnya, aku sarankan kau bersembunyi di bawah mobil. Dan juga……”

Aku menyelanya, “Tu- Tunggu sebentar. Bukankah kau juga ikut?”

“Dasar bodoh...... tentu aku tidak bisa pergi dengan keadaan seperti ini.”

“Setelah aku sampai di toko loak itu. Aku akan meminta mereka untuk menolongmu. Jadi, tunggu saja hing……”

Kali ini, Lilith yang gantian menyela. “Iris, dengar.”

Nada bicaranya terdengar mantab, tapi tatapanya perlahan memudar. Cahaya dimatanya redup, menandakan baterainya dalam keadaan lemah.

“Aku tidak sanggup lagi.”

Mendengar itu, aku terkejut.

“Lilith, jangan katakan itu. Selama aku meminta bantuan seseorang di sana, kau akan....”

Lilith menggelengkan kepala, oli mengalir keluar dari lehernya. “Tidak, kau tidak akan bisa diperbaiki jika kau tidak mempunyai cukup uang. Jelas tidak bisa.”

“Lilith, aku tidak bisa begitu saja meninggalkanmu di sini.”

Aku memohon sambil menatapnya. Tetapi, Lilith menggelengkan kepalanya dan berkata: “Tidak apa-apa, cepatlah pergi.”

Meninggalkan Lilith dan melarikan diri sendirian. Aku tidak bisa dan tidak akan melakukan hal seperti itu.

Aku mengembalikan kertas itu kepadanya. “.......... Tidak, aku tidak akan melarikan diri sendirian. Itulah kenapa aku tidak bisa menerima ini.”

Dalam sekejap.

“Iris Rain Umbrella!” Lilith menggenggam bahuku dengan tangan kanannya, matanya melebar hingga terlihat menakutkan, “Jangan naif!”

Teriakanya membuatku ketakuatan. Seluruh tubuhku digetarkan oleh emosinya.

Iord 245.jpg

“Dengar, kau harus tetap hidup! Jika kau mempunyai kartu itu, kau bisa diperbaiki! Tapi aku sudah tidak sanggup lagi! Jadi hanya kau yang bisa diperbaiki!”

“Ta- tapi.”

“Jangan ragu! Kau harus berani tetap hidup meski kau sendirian! Dunia ini keras! Jika kau lemah, kau akan menjadi lempengan logam.”

Dia batuk dan menyemburkan oli dari mulutnya. Cairan hitam itu mengenai wajahku.

Meski begitu, dia terus melanjutkan.

“Cepatlah pergi!”

“Tapi, tapi!”

“Iris! Jangan membuatku terbebani lebih lama lagi!

Lilith menatapku dengan ekspresi muram. Sambil menggenggam tanganya, aku berkata seperti anak yang manja: “Tidak, aku tidak mau...”

Berlanjut seperti itu, aku terus menolaknya.

Senyuman lembut tiba-tiba terlukis di wajahnya.

Dia mengangkat tanganya, perlahan menyentuh wajahku. Tanganya kotor karena oli. “Iris, aku akan mengatakan sesuatu padamu...”

Lilith mengatakan itu seakan sedang mengajariku.

“Dunia ini........ tidak ada yang pasti di dunia ini dan kau tidak akan pernah bisa menduga apa yang akan terjadi besok. ....... Dunia ini dipenuhi dengan hal-hal yang sulit, selama kau bisa menemukan jalan, kau akan tetap hidup.”

Jari rampingnya menyentuhku, sementara aku hanya bisa menatap kosong pada sorot matanya yang memulai memudar.

“Gak masalah kan. Meski kau sendirian, kau masih bisa tetap hidup. .....Percayalah pada dirimu sendiri. Karena…. “

Dia melihat langsung ke arah mataku, berkata dengan suara parau.

“Kau adalah robot yang dicintai hingga detik terakhir.”

Setelah mengatakan itu, tangannya jatuh terkulai dari wajahku.

Aku tidak mengatakan apapun.

Apa yang Lilith katakan benar. Bandingakan denganku, yang tidak tahu apapun, dia yang hidup dengan kekuatanya sendiri mungkin benar.

Tetapi, meski begitu, aku tidak setuju denganya dalam beberapa hal.

Apa yang harus kulakukan? Jika Profesor di sini, apa yang akan dia lakukan?

Ah, benar juga, Profesor akan….

“Lilith, dengarkan aku”

Aku membuka penutup pada dadaku, mengeluarkan wadah rokok abu-abu. Itu adalah tempat penyimpan rokok kenang-kenangan antara Profesor dan diriku. Setelah aku membuka tutupnya, aku mengambil rokok bundar berbentuk 8 di dalamnya.

“Sebelumnya, Profesor mengatakan ini. Kita sama seperti rokok bundar berbentuk 8 ini. ..... Lihat, ini akan menjadi dua lingkaran jika kita memutuskanya.”

Aku memutuskan rokok bundar itu. Satu lingkaran akan digunakan untuk seseorang yang ingin berhenti merokok, dan bagian lainya digunakan sebagai asbak. Setelah itu, aku menempelkan kembali dua lingkaran itu.

“Lihat, ini akan menjadi 0 jika hanya ada satu, dan lingkaran satunya juga sama. Tapi, kau akan mendapatkan angka 8 jika menggabungkanya. Menggabungkanya akan membuatnya lebih kuat…. itulah angka 8 dan itulah kita.”

Itulah sudut pandang yang aku pelajari dari Profesor, sebuah kata-kata penutup yang biasa dia katakan dalam kuliah khususnya. Sembari menatap rokok bundar Profesor, aku mengingatnya.

Lilith menatap rokok bundar ditanganku, bergumam dengan suara yang hampir tidak bisa didengar: “Bukankah itu....sama saja membohongi dirimu sendiri....?” pancaran di matanya hampir redup sepenuhnya.

Aku tidak peduli jika itu sama seperti membohongi diri sendiri. Aku hanya tidak ingin melihatnya mati, tidak ingin dia kehilangan harapan. Jadi aku melanjutkan omonganku.

“Profesor dan diriku, Lilith dan Volkov, Lilith dan aku, semuanya sama seperti rokok berbentuk 8 ini, kita bisa bergabung. Ini tidak akan berfungsi jika salah satunya hilang. Jadi, Lilith…….”

Suara elektronik terdengar seperti suara asliku saat ini.

“Aku pasti akan menyelamatkanmu.”

Lilith tidak mengatakan apapun.

Dia hanya berkedip dan menutup matanya.

Saat ini, baterai miliknya habis.

baterai=00:58:34[edit]

Aku sesaat terpaku ketika menatap Lilith.

Walaupun aku mengatakan semua itu, aku masih merasa tidak nyaman. Sampai saat ini, Lilith lah yang memimpin kami semua, dan kami mendapat pertolongan dari Volkov saat kami dikejar. Tapi sekarang aku sendirian, tidak ada yang menolongku, dan kurasa tidak akan ada orang yang akan menyelamatkanku.

Tempat itu terletak dekat Plaza Venus Fountain. Dari situ, mungkin toko loak yang dimaksud Lilith adalah salah satu kios dari puluhan pertokoan di sana. Lokasiku sekarang yang jadi masalahnya, tapi mungkin akan lebih mudah jika aku melihatnya dari bangunan putih tertinggi di sekitar area ini… yaitu, dari Laboratorium Robotik Pertama Universitas Oval.

Setelah memutuskan akan ke sana, aku hendak memasukkan kembali peta tersebut ke dalam kotak, kemudian.

“Ahh....”

Aku menemukan foto kecil pada bagian dalam kotak.

Ada tiga orang di foto itu. Seseorang yang di tengah adalah Lilith yang mengenakan gaun imut, sementara dua orang lainnya terlihat seperti pasangan berusia sekitar tiga puluh tahun, mereka sedang tersenyum di sampingnya.

Di dalam foto itu Lilith juga tersenyum lebar, dan terlihat begitu bahagia. Senyumanya lembut dan polos, dan orang-orang ini mungkin tidak bisa membayangkan betapa hebatnya Lilith yang sekarang.

Aku mengingat kalimat yang pernah diucapkanya.

…..Kejam, ‘kan mereka. Menciptakan saat mereka dibutuhkan, meninggalkan mereka saat tidak dibutuhkan.

Dia kecewa saat itu, dan ekspresi dingin terlihat di wajahnya.

Aku kembali melihat foto itu, mereka bertiga adalah keluarga yang bahagia. Kebahagiaan indah seperti pemandangan yang melekat di dalam bingkai. Dia terlihat seperti malaikat yang tidak mengerti arti curiga, sebuah senyuman bahagia dan polos terlukis di wajahnya. Dia masih tidak tahu tentang peristiwa buruk yang akan datang setelahnya.

Dadaku terasa sakit. Sampai sekarang, sudah berapa kali dia melihat foto ini? Apa yang dia rasakan tentang masa lalunya, apakah dia bahagia?

Sampai detik ini pun, dia selalu menyembunyikan foto berharga ini di dadanya. Dia tetap menjaga sebuah foto orang tua yang telah membuang dirinya.

…..Percayalah pada dirimu sendiri. Kau adalah robot yang dicintai hingga detik terakhir....

“Lilith...”

Ekspresi muram menghilang dari wajah Lilith karena baterai yang terkuras habis, yang tersisa di wajahnya hanyalah ekspresi polos seperti anak-anak. Aku mengulurkan tanganku, dengan lembut menyentuh wajah kirinya yang terluka.

Oli menetes keluar dari mataku bagaikan air mata. Setetes demi setetes.

Aku bersumpah pada diriku.

“Aku pasti akan menyelamatkanmu.”

Pasti.

Setelah itu, aku memindah tubuh Lilith ke hutan terdekat, dan menyembunyikanya dengan hati-hati agar tidak ada yang menemukanya. Lalu, aku memasukan kotak kartu, dan wadah rokok milik Profesor ke dalam dadaku.

Kemudian, aku berpikir sejenak.

Jika aku keluar dengan keadaan seperti ini, orang pasti akan segera memanggil polisi. Jadi, itu bukanlah pilihan. Aku harus menemukan cara yang lebih efektif agar bisa sampai ke toko loak yang Lilith bicarakan. Tetapi, aku tidak mempunyai ponsel, dan mustahil menggunakan telepon umum dengan tubuh ini. Jadi, bagaimana caranya aku bisa pergi sampai ke toko loak dekat plaza Venus Fountain? Menurut perhitunganku, jaraknya sekitar dua kilometer antara Plaza dan tempat ini.

…….Plaza?

Plaza Venus Fountain. Kata-kata itu mengingatkanku akan sesuatu. Saat di mana Profesor dan diriku melintasi tempat itu setelah selesai nonton film di bioskop. Benar, Profesor menolong sebuah robot di trotoar saat itu. Dan bagaimana robot itu masuk ke plaza, aku mengingatnya….

Kata-kata Profesor terngiang dikepalaku.

“Anak ini…. Sepertinya telah melewati jalan yang gelap dan sempit ….”

“Gorong-gorong......”

baterai=00:43:08[edit]

Sebelum pergi, aku ‘memodifikasi’ tubuhku terlebih dahulu.

Aku menarik semua pipa dan kawat yang mencuat dari bagian yang dihancurkan oleh laser. Benda itu hanya mengganggu, dan akan mengeluarkan suara saat bersentuhan dengan aspal jalan. Lalu, mematikan pengaturan yang sudah tidak berfungsi lagi. Setelah mematikan sistem pengaturan pergerakan tubuh bagian bawah, tubuhku terasa lebih ringan.

Setelah modifikasi selesai, aku meninggalkan halaman rumah tua itu, hingga sampai ke jalan. Aku membuka penutup selokan terdekat saat sepi dan masuk kedalamnya. Selokan itu cukup sempit, jadi yang bisa kulakukan adalah mengorbankan tangan kiriku. Aku mengerahkan semua kekuatan pada bahuku, dan dengan mudah melepasnya. Tubuhku yang terdiri dari barang bekas berguna pada saat seperti ini. Aku memasukan tangan kiri itu ke selokan.

Lalu, pergi.

Selokan itu dipenuhi oleh lumut basah. Aku dengan cepat merakak maju dengan kepala, tangan kanan, dan tubuh yang tersisa. Seperti zombie dalam film, aku merangkak tanpa mempedulikan penampilanku.

Saat aku mencapai pojok selokan, tubuhku terasa nyeri. Aku meregangkan lengan, memutar kepala, menyesuaikan tubuhku sedikit demi sedikit, dan mulai berjalan perlahan. Aku memiringkan tubuhku secara diagonal, lalu melintas.

Bahkan diriku, harus bersusah-payah melakukan hal ini.

Sebuah penutup berbentuk persegi yang mirip seperti pagar besi mengelilingi selokan ini. Memiliki lebar sekitar tiga puluh meter dan panjang satu meter yang membentang sepanjang pinggir jalan. Beberapa lubang kecil yang menyerupai kasa terbuka (mungkin digunakan untuk mengarahkan air hujan agar mengalir ke sini), memudahkanku mengintip situasi di atas. Aku melihat ke atas sesekali, memastikan posisiku, lalu bergerak perlahan dengan lenganku.

Setelah bergerak sekitar tiga puluh menit, aku akhirnya sampai pada pusat perbelajaan depan stasiun Oval. Dari papan nama toko ikan, aku berasumsi bahwa sekarang aku berada di area timur jalan perbelanjaan, sekitar lima ratus meter dari air mancur plaza di mana patung dewi berdiri. Itu mengingatkanku saat di mana aku membeli seekor ikan besar tiga bulan lalu, untuk membuat sup La Bier untuk Profesor.

Aku hanya bisa merangkak menggunakan tangan kanan ini. Dibandingkan dengan menggunakan dua tangan, aku bisa bergerak jauh lebih cepat, hal ini cukup ironis. Mulai dari sekarang, tangan kiri dengan panjang yang tidak sama, tak akan pernah menyentuh lantai lagi.

Penglihatanku buruk… sepertinya lebih tepat kalau kau menyebutnya ‘hampir buta’. Mata kanan kehilangan penglihatanya, dan mata kiriku hanya bisa melihat melalui “jendela kecil” seolah-olah melihat dari pecahan kaca. Jika tempat ini bukan pusat perbelanjaan kota Oval, aku sudah menyerah sejak tadi. Benar, aku masih memiliki kesempatan. Sang dewi masih disampingku.

Orang-orang yang membeli barang di pusat perbelanjaan biasanya akan melewati selokan ini, dan aku akan menahan nafasku, lalu bergerak tanpa bersuara. Papan nama dari toko daging sudah terlihat. Benar. Aku juga membeli sesuatu dari sini tiga bulan lalu. Aku membeli beberapa daging di sini untuk membuat sup domba, dan membeli beberapa bawang di toko sembako. Sungguh nostalgia.

Aku pulang.

Setelah berbelok dari toko sembako, aku akhirnya sampai pada jalan utama, dan akan tiba di air mancur plaza Oval setelah terus bergerak lurus. Ada patung dewi yang mirip dengan Profesor di tengah air mancur. Lilith mengatakan toko loak berada disekitar jalan tersebut, jadi itu mungkin berada di samping jalan utama.

Lantas, hanya tersisa lima puluh meter lagi.

Aku bergerak lurus sekali lagi, sekuat tenaga merangkak dengan tangan kanan ini.

Di saat itu juga.

…….!

Tubuhku terasa semakin berat.

Ini gawat, bateraiku akan habis sebentar lagi.

Aku harus cepat.

Cepat. Lebih cepat.

Tinggal tiga puluh meter.

Sedikit lagi, sedikit lagi.

Tinggal dua puluh meter lagi.

Menggerakan tangan ini begitu berat dan sakit.

Sepuluh meter.

Lenganku sakit, suara keretak keluar dari tubuhku.

Bergeraklah, tubuhku. Hanya tinggal sedikit lagi, aku akan sampai sebentar lagi.

Lima meter. Tiga meter. .......

Akhirnya, aku sampai.

Aku membuka penutup selokan di atas, mengangkat tubuhku dengan tangan kanan, lalu keluar.

Aku terkejut dengan apa yang kudapati.

Sejak awal, aku tak pernah punya harapan.

“...... Eh?”

Toko loak itu tidak ada di sana.

Di antara toko yang tersusun dengan rapi di pusat perbelanjaan, hanya ada sebuah petak kosong tersisa bagaikan bagian depan gigi yang ompong.

……..Sekitar pukul satu siang.

Berita yang aku tonton……..

……..Di Plaza Venus Fountain yang terletak di Kota Oval.

Suara dari pembawa berita…..

Insiden robot yang mengamuk.

Semua itu menggema dalam pikiranku yang hampa.

Setelah menyadari kebenaranya, aku menatap kosong pada kehampaan itu.

….Kau bercanda, ‘kan?

Entah berapa kali aku menatap pada tempat itu, tempat kosong itu tidak berubah. Rumput liar tumbuh pada tanah datar itu. Bukan hanya itu.

….ini bohong, ‘kan?

Sebuah penatu berdiri di samping kanan, dan toko alat tulis di sisi kiri, kedua pintu itu tertutup rapat. Aku tidak lagi meragukannya, tempat kosong itu benar-benar tempat yang dilingkari pada peta.

Lalu, kata-kata dari pembawa suara tercampur dengan kata-kata miliku.

…..Robot berukuran besar yang bekerja di toko barang bekas terdekat

Toko barang bekas….. atau…….toko loak.

…..Mungkinkah.....

Sebuah kebenaran yang menyakitkan tersimpulkan dalam pikiranku.

‘Lightning’ yang Lilith bicarakan adalah robot yang muncul di berita. Dia menghancurkan seisi toko seakan mengamuk, lalu dihancurkan berkeping-keping menggunakan senjata laser di air mancur plaza. Robot besar itu adalah dia.

Kepala yang diangkat saat itu adalah Lightning.

baterai=00:05:36[edit]

Ditempat toko loak yang kosong, aku terdiam.

Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku mempertaruhkan nyawa, menyeret tubuh beratku ke sini susah-payah.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Hujan yang membuatku kesulitan menjadi kian parah. Garis putih yang menghalangi penglihatanku meningkat drastis, kepingan-kepingan penglihatan yang tersisa kini remuk.

Semakin terpojokan, aku menopang tubuhku di jalan menggunakan kepalaku.

Apa yang harus kulakukan? Lilith, apa yang harus kulakukan?

Haruskah aku kembali sekarang? Mustahil. Aku tidak punya tenaga lagi. Lagipula, jika bateraiku habis dalam perjalanan kembali, hanya kematian yang menungguku. Benar, baterai. Tidak peduli apa yang kulakukan, yang harus kupikirkan pertama adalah baterai……..

Tiba-tiba, tubuhku mengejang dengan hebat. Aku ingat sesuatu.

Benar, kediaman Umbrella. Aku bisa mengisi ulang asalkan aku bisa sampai di sana, dan melakukan perbaikan juga. Tiga bulan telah berlalu, apakah aku masih bisa bertahan? Sudahkan kediaman Umbrella dirubuhkan?

Untuk mematahkan semua keraguan, aku menggelengkan kepalaku. Ini bukan saatnya untuk berpikir berlarut-larut, itu satu-satunya tempat yang bisa kutuju. Aku harus, dan ingin pergi ke sana.

Mengabaikan tubuh lelah ini, aku mengunakan seluruh kekuatan untuk mengangkat lenganku.

Aku mengulurkan lenganku dan menapak pada permukaan jalan untuk harapan terakhir.

Tetapi.

……Peringatan!

Suara elektronik berdering di mental sirkuitku. Suara itu terdengar persis seperti suara elektrodiagram saat jantung berhenti berdetak.

Suara elektronik yang terus menerus berdering memberi peringtan yang mengerikan.

….Dalam lima menit, baterai akan habis. Segera lakukan pengisian daya.

Peringatan itu adalah deklarasi kematian. Diputuskan bahwa hanya ada lima menit waktu yang tersisa dalam hidupku, sebuah deklarasi yang kejam.

Ini tidak adil. Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Aku memukul jalan dengan lenganku. Rasa sakit dan frustasi menyulut kemarahan keluar dari tubuhku.

Meski begitu, aku terus mengulurkan tanganku. Seakan ingin meraih harapan terakhir, aku menyentuh aspal jalan, menarik tubuhku ke depan. Pipa keluar dari dalam tubuhku lagi. Saat pipa bersentuhan dengan jalan, keluar suara dentang yang sangat mengganggu. Meski begitu, aku terus mengulurkan tanganku, mengulurkan tangan lagi, lagi, lagi, dan lagi.

……Tiga menit tersisa, segera lakukan pengisian daya.

Waktu berlalu begitu saja, tanganku menjadi semakin berat, membuat tubuhku menjadi lebih sulit digerakan. Seakan-akan, ada udara bertekanan tinggi yang menggencet tubuhku. Meski begitu, aku menggunakan tangan yang tersisa ini untuk merangkak dengan sekuat tenaga.

……Dua menit tersisa, segera lakukan pengisian daya.

Hujan menjadi kian lebat. Bukan hujan lebat, melainkan hujan badai, hujan badai yang menyembunyikan segalanya. Pergerakanku terhenti, hanya waktu yang terus berjalan.

…..Satu menit tersisa, segera lakukan pengisian daya.

Api kekuatan dan stamina perlahan mati. Sumpahku pada Lilith bahwa aku akan menyelamatkanya, kini hanya menjadi kenangan lama, dan perlahan-lahan lenyap. Jiwa yang berada jauh dalam tubuhku terluka parah. Empat puluh detik tersisa, tiga puluh, ahhhh, dua puluh, sepul…..

…….Baterai habis. Sistem offline.

Detik itu, saat hatiku akan segera tenggelam ke dalam keputusasaan.

Sebuah suara tiba-tiba berbunyi.

…….Iris Rain Umbrella!

Itu adalah suara yang kuat dan megah.

……Jangan terlalu naif!”

Dia membuatku terkejut.

…..Cepatlah pergi!

“UWAAAAAAAAAAAAAA!!”

Aku berteriak. Suara yang keluar seperti auman hewan buas benar-benar berbeda dengan suaraku yang biasa.

Aku menggunakan kobaran semangat kecil yang tersisa untuk mengangkat tanganku.

Kemudian.

Seperti mobil yang berpindah gigi, sesuatu menggelora di dalam tubuhku. Sistem yang mati sebelumnya seketika menyala, sementara sirkuit mentalku memanas, membakar hingga ke titik hampir meleleh. Tenaga yang sangat besar keluar dari dalam tubuh, membuat diriku bergerak lincah.

Aku menaikan tanganku yang begitu ringan, lalu meninju jalan untuk maju ke depan. Seluruh tenaga yang ada ditubuhku terkonsentrasi dalam ujung jari, menyeret tubuhku ke depan.

…….Iris!

Kata-kata Lilith memotivasi diriku.

…..Jangan ragu!

Percikan bunga api bertebaran di permukaan jalan.

…….Kau harus berani untuk tetap hidup meski kau sendirian!

Benar! Janganlah ragu, Iris Rain Umbrella!

Aku mengangkat tanganku sekuat tenaga. Maju, maju, meski hanya sedikit, aku melontarkan tubuhku ke depan, menopang dengan tangan, sebuah masa depan, dan janji yang aku buat bersamanya.

…..Dunia ini keras!

Dalam badai, aku mengerahkan semuanya, mengulutkan tanganku ke arah masa depan.

…..Jika kau lemah, kau akan menjadi lempengan logam!

Pikiran dan data menjadi tidak teratur dalam tubuh yang terlalu panas ini. Kenangan-kenangan berubah menjadi foto yang sobek, serpihan-serpihan masa lalu menari-nari di udara. Serpihan kenangan yang sobek itu membagi hidupku menjadi beberapa bagian, kehidupan yang bahagia bersama Profesor, perpisahan yang mendadak, bagian tubuh yang terpotong-potong, perubahan wujudku, memindah limbah material, jeroan, usus, Lilith, Volkov, melarikan diri, sinar laser, raksasa berapi……semua itu mengangkat tubuhku dalam sekejap, dan mendorongku naik.

Tetapi, selanjutnya.

…..Eh?

Serpihan-serpihan kenangan itu mulai kehilangan warnanya, berputar, dan menusuku dengan kejamnya. Itu adalah kenangan yang terkunci dalam lubuk hatiku….rumah yang asing, keluarga yang asing, dipukul, ditendang, dibakar, melarikan diri, melarikan diri, ahhh, tanganku patah, kakiku patah, aku ditindih, dihimpit, hujan, aku sendirian, apa yang sebenarnya terjadi, ingatan-ingatan, aku, tidak, mengingat, sentuhan, rasa sakit, kesedihan, semua ini berputar dalam tubuhku, ditekan, menyembur, mengalir, ahhh, rasa benci, aku benci kekejaman, aku benci kesendirian, kenapa aku lupa, kenapa aku ingat, aku kabur, dari rumah, keluargaku menyiksaku, kabur, melarikan diri, menyeret tubuhku, menyeret, tertindas mobil, tapi terus menyeret tubuhku walaupun, benar, di hari itu, hari hujan itu, aku, aku, aku, orang itu orang itu orang itu.

Di saat itu juga.

Sekejap

Dalam sekejap.

Seakan hanya aku yang terpisah dari dunia ini, waktu berhenti berputar.

Hujan mulai turun.

baterai=00:00:00[edit]

Tapi Profesor, Profesorku benar-benar berdiri di sana, dia tersenyum padaku.

Aku kehilangan seluruh tenagaku, tapi aku lega. Sebuah perasaan merasuk ke dalam ragaku, dan aku memandang Profesor dengan termenung.

Ahhh, Profesor. Anda masih hidup. Kenapa anda tidak memeberitahuku sebelumnya.

Ngomong-ngomong, Profesor. Kenapa aku merasa bahwa anda terlihat agak berbeda saat ini?

Kenapa anda tidak memakai kacamata anda? Apakah ketinggalan di rumah?

Kenapa anda tidak mengenakan wadah rokok di leher anda? Ahhh, itu karena aku sedang memegangnya. Aku akan segera mengembalikannya.

Kenapa anda memakai gaun putih hari ini? Itu berbeda dari jas putih yang biasanya anda kenakan. Apa kita punya baju seperti itu di rumah?

Dan, dan, Profesor, Profesor---

Mengapa anda berdiri di tengah air mancur?

Iord 266.jpg

Bab 4 - Surat[edit]

“Iris, kau lah yang paling kucintai.” (Wendy von Umbrella)

Kutipan ‘Oval Times’ edisi sore 10 Agustus[edit]

Pasukan Pertahanan Nasional Menekan Pemberontakan Robot

Insiden pemberontakan robot yang terjadi pada larut malam tanggal sembilan Agustus di RL Composite Construction Co. Ltd. akhirnya berhasil ditekan oleh Pasukan Pertahanan Nasional.

Sebuah robot raksasa yang melawan di daerah pinggiran Ovalite City berhasil dipukul mundur oleh serangan dari militer. Setelah diinvestigasi, diketahui bahwa robot tersebut adalah robot militer model ‘F-110’ yang pernah ikut pada peperangan di utara, dan merupakan kekuatan utama Mech Corps dengan nama ‘Ouroboros’.

Mengenai alasan penggunaan robot senjata yang terbengkalai dalam kegiatan konstruksi, RL Company belum membuat pernyataan publik. Selain itu, departemen militer dan perusahaan perakit robot, Galosh Company, yang turut serta dalam pengembangan model ‘F-110’ seharusnya menunggu……

Kutipan ‘Oval Times’ Edisi Sosial 14 Agustus[edit]

Kertas yang Terselip pada Laporan yang Teridentifikasi Sebagai Literatur Anak-anak

Departemen hubungan masyarakat milik militer membuat pernyataan resmi terkait insiden pemberontakan robot yang terjadi di perusahaan RL pada tanggal sembilan Agustus.

Saat badan dari robot raksasa ‘F-110’ yang bertahan sampai akhir meledak, banyak lembaran kertas yang tercecer saat itu. Warga sangat ingin tahu dengan isi kertas tersebut, jadi kemudian hasil penyelidikan mengenai isinya diumumkan.

Kertas tersebut berasal dari sejumlah buku. Sisa-sisa dari kertas yang telah terbakar dikonfirmasi berasal dari buku bacaan anak-anak ‘Third-Rate Demon God Visa Darke’ (Total delapan volume, Terbitan Highcut), karangan Sandy Windbell.

Adapun mengenai hubungan antara buku tersebut dengan peristiwa pemberontakan robot, hal itu masih diinvestigasi.

Kutipan Kolom ‘Oval Times’ 16 Agustus[edit]

Robot Modern 35 ‘Akhir dari Robot Tertentu.’

Itu terjadi pada pagi hari tanggal 10 Agustus.

Di Venus Fountain Plaza di depan Stasiun Oval, seorang pria yang sedang merokok untuk menghabiskan waktu sembari menunggu kereta melihat sebuah kejadian aneh.

Sebuah robot ambruk di depan patung dewi.

Jika hanya begitu, maka hal tersebut tidaklah penting, tapi sisi keanehannya terletak pada bagaimana cara robot tersebut bersikap. Robot yang ambruk itu hanya memiliki tubuh bagian atas, dan bagian bawah tubuhnya seperti habis dibom. Hanya kepala dan lengan kanannya yang melekat di badannya.

Bagaimanapun, robot itu merangkak sambil merentangkan satu-satunya lengannya, menyeret tubuhnya ke depan, menyeberangi jalan utama di jalan umum untuk sampai ke patung dewi tersebut. Perlu sekitar sepuluh menit untuk merangkak menempuh jarak sekitar seratus meter dan kemudian menaruh sesuatu di kaki patung dewi saat robot itu sampai ke tengah air mancur. Itu adalah sebuah wadah rokok berwarna perak. Setelah itu, robot tersebut terlihat menggumamkan sesuatu seperti sedang bercakap-cakap dengan patung tersebut. Mungkin karena robot itu kehabisan baterai, dia langsung berhenti setelahnya.

Setelah merenungkan tentang insiden ini, saya mengingat kuliah yang disampaikan oleh Professor Umbrella yang terhormat yang memiliki kuasa dalam teknik robotic yang meninggal karena kecelakaan Mei lalu. Professor menduga bahwa robot yang sedang mengalami ‘halusinasi’ mungkin merupakan salah satu tanda-tanda yang terjadi saat mereka mengamuk. Hal itu mungkin merupakan halusinasi yang muncul dari keinginan kuat si robot untuk mencari pemilik kesayangannya.

Setelah Professor meninggal, meskipun tidak ada bukti yang mendukung hipotesis ini, saya masih tertarik kepada teorinya. Apakah robot yang muncul di fountain plaza juga mengalami halusinasi pada saat terakhirnya? Jika Professor Umbrella masih hidup, saya akan langsung menanyakan pendapatnya. ……

(Dihilangkan)

Menurut hasil yang telah saya peroleh dari Departemen Pengaturan Robot cabang Oval, sisa-sisa robot tersebut sudah dihancurkan menjadi potongan logam.

(Penulis – Karen Cloudy)

Surat Dari Profesor Wendy Von Umbrella[edit]

Surat milik Profesor Umbrella ditemukan ketika barang-barang peninggalannya dirapihkan

Untuk Iris yang tercinta:

Saat kau membaca surat ini, itu artinya aku sudah tidak ada di dunia ini.

........ cara penulisan surat yang mellow ini mungkin terkesan seperti film drama TV, itu membuatku sedikit malu.

Ketika menuliskan surat ini umtukmu, aku merasa sedikit galau.

Namun, terlalu emosional rasanya jika kusampaikan ini secara langsung padamu (masalah utamanya karena aku terlalu malu.), jadi menurutku lebih baik mengatakanya lewat sepucuk surat.

Mari kita mulai.

Sebenarnya, yang membuatmu bukanlah diriku.

Maaf.

Tetapi, ada satu alasan di balik kebohonganku.

Tiga tahu lalu, aku bertemu denganmu.

Sore itu, aku baru saja pulang, tapi aku menemukan robot asing di bawah pintu masuk rumahku.

Robot itu adalah dirimu.

Saat pertama kali melihatmu, kau seperti lempengan besi yang baru saja didaur ulang. Tangan kanan dan kirimu patah, pipa-pipa dan sirkuit mencuat keluar dari tubuhmu, hampir seluruh kulit buatanmu terkelupas.

Awalnya aku memutusakan untuk berpura-pura tidak melihatmu, dengan hanya melewatimu.

Penampilanmu membuatku merasa tidak nyaman, penampilan itu mungkin karena kau dibuang secara ilegal. Kasus pembuangan ilegal meningkat seiring berjalanya waktu. Aku ingin menghubungi Departemen Manajemen Robot untuk memungutmu.

Tapi ketika aku akan masuk, kau mengatakan itu.

Kakak...

Aku sungguh terkejut.

Adikku sudah meninggal sejak setengah tahun lalu.

Dan juga, suaramu sangat mirip dengan suara adikku, Iris.

Ah, mungkin juga tidak, sepertinya aku terlalu membayangkan adikku saat kau mengatakan itu. Setelah kehilangan adikku, aku merasa kesepian, dan menangis setiap kali aku mengenangnya.

Lantas, aku melihatmu seperti adikku yang bergulung seperti anak kecil kedinginan.

Tanpa kusadari, tubuhku bergerak sendiri untuk memayungimu. Aku tidak bisa membiarkan tubuhmu basah kuyup karena hujan.

Lalu, aku membawamu masuk ke rumah. Au merasakan kau begitu ringan saat kugendong, mungkin karena tubuhmu kehilangan komponen utamanya. Sirkuit utma milikmu tidak berfungsi sama sekali, dan terlihat bekas yang menandakan ada mobil yang melindasmu. Kerusakan pada mental sirkuitmu sangat parah, dan data sebelumnya sudah tidak bisa digunakan lagi (Itulah alasan kenapa kau tidak memiliki ingatan tentang masa lalu).

Saat aku memperbaikimu, aku memberimu nama ‘Iris’, dan membuatmu berdasarkan penampilan adikku. Aku juga mempunyai alasan melakukan itu.

Kau mungkin juga tahu tentang hal ini. Terdapat ‘Sistem Registrasi Robot’ di negara ini. Karena ada keterbatasan pada sistemnya, pemilik robot hanya dapat mengkonfirmasi kewajiban dan hak sebagai pengguna setelah mendaftarkan diri di Departemen Manajemen Robot. Dengan kata lain, itu merupakan tanda kependudukan untuk robot.

Tentu saja, aku menelusuri tentang orang yang mendaftarkanmu sebelumnya. Itulah bagaimana aku menemukan nama pemilikmu.

Orang itu terlihat cukup kaya. Bisa dilihat dari mental sirkuit dan beberapa bagian tubuhmu dibuat dari material yang mahal. Tetapi, di saat yang bersamaan...... aku merasa ragu apakah harus terus menuliskan ini, tapi kau juga mempunyai kewajiban untuk mengetahui kebenaranya, jadi aku lanjut menuliskan semua ini agar kau tahu faktanya.

Saat aku menemukanmu, terdapat begitu banyak tandan-tanda penganiyaan di tubuhmu. Luka yang tampak seperti pukulan benda tumpul atau tusukan pisau tersebar di seluruh tubuhmu. Itu yang membuatku berpikir bahwa orang itu mempunyai obsesi yang aneh atau kegilaan. Saat aku mengingat bekas luka itu, aku merinding. Alasan kenapa aku memeriksa kulitmu dengan seksama selama perawatan disebabkan oleh hal ini. Setelah beberapa lama, ‘luka sebelumnya’ kembali muncul di sekujur tubuhmu. Ini merupakan suatu kejadian yang belum pernah ditemukan sebelumnya, dan penelitian atas fenomena tersebut masih berlanjut hingga saat ini.

Oleh karena itu, aku menggunakan ‘Sistem Registrasi Kehendak Kepemilikan Robot’. Selama pengguna masih hidup, sebuah robot yang digunakan sebagai pengganti keluarga tidak dapat menjadi target pelelangan atau penyitaan. Aku memanfaatkan ‘celah’ hukum, dengan itu mereka tidak dapat menangkapmu, dan kau menjadi pengecualian dari daftar investigasi polisi.

Mungkin kau bisa mendapatkan kebahagiaan dengan berpenampilan seperti adikku. Menjadi pengganti adikku yang meninggal mungkin juga membuatmu merasakan sakit.

Tetapi, tolonglah percaya padaku, aku tidak pernah sekalipun melihatmu sebagai pengganti adik perempuanku. Itu benar. Bagiku, kau hanyalah satu-satunya Iris di dunia ini.

Topik pembicaraan pada surat ini jadi meluas tidak jelas, tapi ada sedikit lagi yang ingin kusampaikan.

Dari dulu sampai sekarang, aku selalu mengatakan padamu alasan kematian adikku disebabkan oleh kecelakaan dengan truk. Sebenarnya itu bohong.

Yang sebenarnya adalah, mobil yang aku kendarai bersama adikku tidak bertabrakan dengan truk, melainkan bertabrakan dengan robot yang sedang mengamuk. Setelah itu, adikku yang tepat duduk disampingku meninggal karena insiden tersebut.

Alasan kenapa aku begitu ingin meneliti robot yang mengamuk dan ikut berpartisipasi dalam pengadilan, adalah karena insiden itu. Agar korban-korban lain seperti adikku tidak muncul lagi, aku ingin melakukan penelitian itu.

Sekarang, aku menuliskan surat ini karena penelitian robot sangatlah berbahaya. Robot yang mengamuk sangat tidak stabil, aku tidak bisa memperkirakan kapan ‘hal buruk’ akan terjadi karena mereka. Tentu saja, pencegahaan yang kami lakukan juga sangat baik, tapi ini bukanlah bidang yang sudah bisa ‘dipetakan’ dalam teori sains manapun. Oleh karena itu, aku menuliskan ini sebagai pencegahan…… untukmu.

Tentang hadiah yang aku berikan padamu……..

Mungkin kau sudah tahu, tapi selain penelitian robot yang mengamuk, aku juga membantu robot yang tergeletak di pinggir jalan untuk mencapai tujuan jangka panjang.

Pekerjaan ini bermula saat aku bertemu denganmu. Sebelumnya aku hanya akan berpura-pura tidak meihat saat bertemu robot yang tergeletak di jalan. Setelah kejadian yang merenggut nyawa adikku, aku tidak berani mendekati robot saat bekerja.

Namun, aku berubah setelah tinggal bersama denganmu. Kapan pun aku menemukan robot yang tergeletak, aku selalu mengingat saat-saat bersamamu. Oleh karena itulah aku selalu membantu mereka.

Seperti inilah hidupku stelah bertemu denganmu, setelah aku menyelamatkanmu.

Iris yang tercinta, aku sudah menyiapkan sebuah hadiah kecil untukmu.

Sayangnya, tubuhmu tidak bisa bertahan lama, aku pikir luka dan memar yang menyebar di tubuhmu akan semakin memburuk.

Oleh karena itu, aku menyiapkan sebuah tubuh ‘cadangan’ di hari itu. Jika kau mengalami sesuatu yang buruk, kau bisa mengubah tubuh yang lama dengan yang baru. Membuatmu terus hidup bahagia selamanya, itulah keinginan terbesarku.

Terlepas dari perawatan dan perbaikan, jika kau punya pertanyaan apapun, kau bisa bertanya pada temanku, Ralph Ciel.

Dia orang yang dapat dipercaya. Dia pasti bisa membantumu.

Saat aku menuliskan ini, gerimis mulai turun di luar.

Sama dengan hari di mana aku menemukanmu, yaitu hari hujan yang dingin.

Bertemu denganmu…. Iris di hari yang hujan seperti itu, sepertinya itu adalah takdir yang sudah disuratkan Sang Dewi untuk kita.

Benar, kau selalu mengatakan kalau aku mirip dengan patung itu.

Sepertinya cukup menarik kalau kita memasangkan seputung rokok di mulut patung itu.

Ayo bermain-main lagi lain waktu, seperti mengalungkan tempat rokok ini pada kepala sang dewi. Tapi apakah kita akan berdosa jika melakukan itu?...... Logika seperti itu tidaklah ilmiah.

Jadi, lupakan saja rencana kita itu.

Maaf, aku tertawa terbahak-bahak bahkan hingga membasahi kertas.

Aku berjanji akan menonton film bersamamu besok. Karena itu film horror, kau mungkin akan bertingkah lucu. Heh heh heh heh. Aku tak sabar ingin melihatnya.

Untuk kata-kata terakhir.

Iris, kau lah yang paling kucintai.

Wendy Von Umbrella.

Eksperimen Reboot Ralph Ciel[edit]

Melihat tubuh indah seorang gadis yang terbaring di matras, Ralph hanya mendesah.

….Waktu telah berlalu.

Pada hari itu, tiga bulan lalu, dia menghubungi gadis muda untuk menyampaikan sebuah berita buruk. Sekarang, hari itu sudah lama sekali berlalu.

Robot yang hanya tersisa bagian kepala dan tangan kanan disimpan dalam kotak transparan di ujung laboratorium. Untuk mendaur ulang itu, dia meminta cuti panjang, dan dia pun pergi kesana-kemari dengan susah payah. Oleh karena itu, beberapa hari lalu dia akhirnya menemukan sirkuit mental yang katanya merupakan ‘nyawa’ dari sebuah robot.

Dia mengakhiri pemeriksaan terakhir dengan tubuh yang sudah kelelahan. Kemudian, dia menekan tombol yang menyuplai daya listrik.

Karena sebuah serangan, dada indah milik gadis itu tertembus dengan kejamnya, namun dia berhasil memulihkannya pada bentuk semula.

Ralph terus menatap robot itu.

……..Orang itu benar-benar cerdas.

Cairan merah mengalir di wajah gadis putih itu. Detail seperti ini adalah bukti bahwa robot itu diciptakan dengan begitu teliti.

“Mnn...”

Gadis itu mengeluarkan suara.

Ralph berdiri dari kursinya, dan berjalan mendekat di samping matras. Gadis itu perlahan membuka matanya, dan cahaya terang terpantul dari mata birunya. Meski tidak begitu mirip, mata itu mngingatkan Ralph pada sosok Profesor Umbrella yang telah meninggal. Robot itu dibuat berdasarkan penampilan fisik adiknya, pantas saja mereka mirip.

Baginya, keberadaan Umbrella sangat penting. Ralph bisa memahami ini setelah dia meninggal. Ralph masuk pusat penelitian saat umurnya lima belas tahun, dan bertemu denganya saat melakukan praktikum. Umbrella adalah gurunya, dia bagaikan sekuntum bunga indah yang hanya bisa dia kagumi dari kejauhan. Saat Umbrella memilih dirinya menjadi asisten, dia merasa bahwa itu adalah saat yang paling membahagiakan, dia bahkan mulai percaya pada keberadaan Tuhan kala itu.

Walaupun Ralph menyukainya, dia tidak mengutarakan perasaanya yang terkubur hingga detik terakhir. Karena dia yakin bahwa dirinya tidak pernah ada di dalam hati wanita jenius itu. Satu-satunya yang berada di dalam hati wanita itu, hanyalah gadis ini…. dengan sertifikasi nomor HRM021- a.

“Pro......fesor?”

Gadis yang terbaring di matras dingin, bergumam pelan.

Membuat gadis ini terbangun sekarang, apa artinya bagi Ralph? Ralph bertanya pada dirinya sendiri. Namun, jawabanya cukup jelas. Ralph mencintai Profesor Umbrella, dan menghormati dengan sepenuh hatinya. Itulah kenapa dia tidak bisa meninggalkan robot yang Profesor cintai.

“Kau mengerti apa yang kukatakan?”

Ralph bertanya dengan nada dalam dan tenang.

Gadis itu membuka bibirnya perlahan, berbicara dengan nada rendah, “Iya.....”, mendengar suara merdunya, dia berpikir kalau si gadis sangat mirip dengan Profesor Umbrella.

“Kontrol pergerakan masih berjalan. Kau bisa bergerak setelah tiga puluh menit, jadi tunggu sebentar.”

Gadis itu berkedip lalu mengangguk.

“Hujanya......sudah berhenti.....”

Saat tubuhnya bisa bergerak kembali, gadis itu mengangkat tubuh atasnya dan bertanya.

“Kenapa...... aku di sini?”

Gadis itu menatap Ralph dengan mata birunya.

Saat itu Ralph sadar akan sesuatu. Dibandingkan dengan terakhir kali dia bertemu dengannya, warna pupil gadis itu sedikit berubah. Mata gadis itu berubah dari biru muda menjadi biru dongker, pupil yang indah seperti langit setelah tersibak badai.

“Pegang ini.”

Ralph memberikan cermin ke tangan gadis itu. Dia pun menatap pada cermin, menunjukan ekspresi bingung di wajahnya. Rambut merah yang mencapai bahu, kulit putih, pupil biru…. cermin menatulkan sosok gadis berumur lima belas tahun, bernama Iris Umbrella.

“Akan aku ceritakan apa yang terjadi padamu.”

Ralph mengatakan itu saat menggeser kursi ke samping si gadis. Kemudian, dia menjelaskan apa yang telah terjadi hingga sekarang.

Setelah Profesor meninggal, Ralph ditugaskan membersihkan barang miliknya. Lalu, dia menemukan ‘wasiat’ Profesor yang tertumpuk di antara kertas dan buku di pusat penelitian. Lebih tepatnya, ‘wasiat’ itu hanyalah sketsa, dan kelihatan belum sepenuhnya selesai, juga tidak dimasukan dalam amplop. Ditemukanya surat itu tiga hari setelah Profesor meninggal.

Saat itu juga dia sadar tentang Iris, dan segera menghubungi kediaman Umbrella, namun dia sudah diambil oleh Departemen Manajemen Robot. Ralph sama sekali tidak menduga mereka akan secepat itu, dan kejadian mendadak itu membuatnya kebingungan.

Ralph segera menginvestigasi lokasi Iris. Namun, Departemen Manajemen Robot tidak mengatakan apapun tentang Iris, mereka menggunakan kebijakan dengan kerahasiaan sebagai alasan. Pada akhirnya, dia tidak bisa menemukan Iris yang sudah menjadi lempengan logam.

Tiga bulan stelah kepergian Profesor, Ralph yang sudah hampir menyerah, kini mendengar berita aneh. Seseorang menemukan robot yang tergeletak di Venus Fountain Plaza, dan memberikan wadah rokok bundar ke patung dewi. Itulah yang dia dengar dari teman reporternya bernama Karen Cloudy.

Mengingat isi dari wasiat Profesor, Ralph dengan intuisinya segera mencari robot itu. Terakhir, berkat persuasi yang begitu bersemangat…. tentu saja, berkat membayar sejumlah uang bantuan….. dia memindah sisa robot itu dari departemen dengan alasan ‘pembuangan’. Setelah melihat foto Profesor bersama Iris yang menempel pada wadah rokok, membuktikan bahwa intuisi Ralph benar.

Lantas, dia ‘mengembalikan’ tubuh Iris. Menyelesaikan perawatanya dengan cepat, berkat tubuh ‘cadangan’ yang Profesor siapkan sebelumnya.

“................... Ini wasiat yang Profesor tinggalkan.”

Ralph menyerahkan surat yang dimasukan dalam amplop biru padanya. Dia mengambilnya dengan tangan yang gemetar, dan mulai membaca surat itu dari ‘Iris yang tercinta’.

Setelah beberapa saat, Ralph melanjutkan.

“.......... Semua kepunyaan Profesor Umbrella sekarang menjadi milikmu. Tetapi, hukum tidak akan mengakui inventaris milik robot, jadi semua barang itu akan disimpan atas nama Laboratorium Robotik Pertama Universitas Oval. Dan juga........”

Setelah mendengar kata-katanya, Iris hanya mengangguk perlahan.

Dia mulai menangis, air mata menetes pada surat wasiat di tanganya. Melihat mata birunya yang basah, Ralph berpikir, ‘sungguh indah’.

“Ahh iya, tunggu sebentar.”

Setelah mengakhiri kalimatnya, Ralph berdiri dari tempat duduk.

Setelah lima menit berlalu dia kembali, Iris sudah bangkit dari matras, bersandar di dinding dengan mengenakan baju putih yang terlihat seperti gorden. Sekitar satu meter di depanya terdapat kotak tranparan, dan puing-puing sebuah robot ditempatkan di dalamnya….. itu adalah ‘tubuh lama’ miliknya, tubuh yang hanya menyisakan kepala dan tangan kanan, sebuah tubuh yang tampak seperti lempengan logam.

“Apakah saya...... dapat menyentuhnya?”

Dia menyakan sesuatu pada Ralph dengan ragu. Ralph menekan tombol, membuka kotak transparan sambil berkata: “Mnn, tidak masalah.”

Seolah sedang menenangkan anak kecil yang tertidur, Iris mengelus pipi robot itu. Kemudian, dia berjongkok, dan memeluk dengan lembut puing-puing robot sambil berkata, “Terima kasih atas kerja kerasmu.”

Air mata mengalir melewati wajah cantiknya, menetes pada dada puing-puing robot itu.

Ralph menatapnya. Sosok robot yang sedang memeluk sisa-sisa robot terlihat tidak realistis, tapi adaegan yang aneh itu mengisi relung hati semua insan dengan kesedihan. Tiga tahun lalu, saat membawa dan memperbaiki gadis….. HRM021-a mungkin perasaan itu sama dengan ini.

Setelah Iris mengendorkan genggamanya, Ralph bertanya.

“Oh iya....... aku baru saja mengeluarkan benda ini dari tubuhnya.”

Sebuah kotak kartu dengan noda oli berada di tanganya.

“Kotak kartu ini berada di dalam dada puing-puing ‘tubuh’ yang kau pegang. Terdapat sebuah peta dan kartu kredit dengan nama orang lain, apa ini....”

Dalam sekejap, ekspresi Iris berubah.

Mata birunya terbelalak, merenggut kotak kartu dan membuka penutupnya. Foto bersama dengan gadis kecil berumur sekitar dua belas atau tiga belas tahun, dan terlihat orang tua yang mungkin merupakan keluarganya.

“Erm!”

Dia tiba-tiba berteriak. Lalu, meraih bahu Ralph, mendekatkan wajah seakan dia akan menciumnya. Ralph bertanya dengan terkejut: “A-Ada apa?”

“Berapa lama waktu telah berlalu sejak anda menemukan saya!?”

Ralph menjawab dengan bingung: “Err....... sekitar dua minggu yang lalu.....”

“Dua minggu....” Iris menggengam erat kotak kartu itu, menunjukan wajahnya yang penuh semangat.

“Saya pergi dulu!”

Setelah mengatakan itu, dia membuka pintu ruangan dan keluar dengan mengenakan kain tipis.

Ralph tertegun, lalu segera mengejarnya.

Aku keluar tanpa menggunakan sepatu. Tuan Ralph meneriakan sesuatu dari belakang, tapi suaranya tidak masuk jangkauan pendengaranku.

Bateraiku penuh. Meski pergerakan kaki dan lenganku masih sulit, aku tidak peduli.

Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian itu.

……Tuhan. Oh, Tuhan.

Aku berdoa berulang kali menuju patung dewi yang mirip Profesor. Aku berlari tanpa henti, bergerak dengan kecepatan seratus meter dalam sembilan detik. Seakan aku sedang menunggu kepulangan Profesor, aku maju ke depan tanpa mempedulikan apapun. Tubuhku hanya tertutup sepotong kain putih, tapi aku tidak peduli.

Jarak antara pusat penelitian dan kediaman Umbrella cukup dekat, dan tidak jauh dari air mancur plaza dimana patung itu berdiri.

Ditambah lagi, itu adalah lokasi yang dekat dengan tempat di mana dia berada.

Selagi berlari, aku mencari informasi menggunakan peta kota. Data simpanan dan peta sama persis. Aku dapat menemukanya jika terus berlari ke arah berlawanan dengan sistem drainase air mancur plaza.

Akhirnya, aku sampai di pusat perbelanjaan. Penjaga toko ikan meneriakan sesuatu dengan terkejut: “Eh, Iris?”, aku melambai padanya sambil tersenyum, lalu kembali berlari.

Patung dewi mulai terlihat pada jarak pandangku. Orang tua yang sedang berbincang, anak kecil yang bermain, dan sepasang kekasih yang sedang bermesraan duduk pada bangku terdekat. Adegan seperti inilah yang sangat aku sukai. Di depanku, sudah pasti ada toko barang bekas yang sudah digusur. Aku ingat bahwa aku menghabiskan seluruh bateraiku tepat di sini. Namun, itu bukan lagi masalah sekarang. Setelah berbelok di ujung, aku kembali berlari tanpa henti. Memasuki kawasan pemukiman………

Kemudian, aku pun kembali ke ‘rumah itu’.

Aku berjalan masuk melalui halaman, pipa yang rusak tersebar dimana-mana. Itu adalah bagian dari tubuhku.

Kemudian, aku berlutut, mencari di sekitar semak-semak dengan merangkak.

Aku mencari dengan gugup.

Tuhan.

Ah, Tuhan, Terima kasih.

“Lilith.....”

Gadis itu sedang menungguku seraya mempertahankan posturnya dengan mata tertutup, seolah sedang tertidur.

Surat Dari Iris[edit]

Surat dari Iris Rain Umbrella

Profesor yang tercinta:

Profesor menulis surat untuk saya terlebih dahulu.

Oleh karena itu, saya juga menulis surat untuk anda.

Meski saya berkata begitu, sebenarnya saya juga menuliskan beberapa catatan untuk ‘perbincangan spesial’.

Profesor.

Pertama, saya akan menuliskan apa yang membuat saya bahagia.

Lilith kembali hidup sejak minggu kemarin.

Ah iya, Lilith adalah teman saya.

Dia sangat menyenangkan untuk diajak ngobrol, berani, dan dapat dipercaya.

Saat saya menemukanya di semak-semak halaman, saya sungguh lega.

Apakah itu merupakan berkah dari patung dewi? Atau mungkin itu karena kekuatan Profesor?

Setelah memulihkan tubuhnya, aku sadar bahwa warna rambut miliknya pirang. Pandangan saya hitam putih pada saat itu, jadi saya tidak bisa membedakannya.

Lilith denga rambut pirang sungguh manis. Namun, dia masih membenci mengenakan kostum pelayan. Padahal, saya rasa itu akan cocok untuknya.

Profesor.

Selain Lilith, saya berteman dengan satu robot lagi.

Dia adalah Volkov.

Untuk melindungi Lilith dan diriku, dia meninggal di medan pertempuran bersama unit militer.

Dengan bantuan Tuan Ralph, kami mendapat kepingan tubuh Volkov.

Bagian tubuh Volkov dikirim ke pusat penelitian untuk diteliti.

Sekarang, Lilith sedang memeluk kepingan Volkov di dadanya.

Profesor.

Setelah kehilangan anda, saya tidak mengerti lagi apa makna eksistensi saya di dunia ini.

Tetapi, setelah saya pergi ke dunia luar, bekerja dengan susah payah, juga bertemu Lilith dan Volkov, meski masih kebingungan, saya merasa telah mengetahui apa yang harus saya lakukan. Profesor, apakah anda mengetahui literatur anak yang berjudul ‘Thrid Rate Demon God Visa Darke’?

Buku itu mengisahkan seorang raja iblis yang selalu bermain-main dan gelang ajaib miliknya, yang bernama Flo Snow, mereka selalu terbawa pada berbagai masalah karena alat sihirnya.

Ah, benar juga, Darke mirip seperti Profesor. Sekilas, kalian berdua terkesan dingin, tapi sebenarnya sangat baik. Darke memberikan gelang baru pada Flo Snow di akhir cerita sama seperti Profesor yang memberi saya tubuh baru ini.

Raja iblis mati sebelum bab terakhir, sementara Flo menangis karena kehilangan. Namun, setelah dia pulih dari kesedihan, dia memberanikan diri memulai tantangan baru. Seperti yang Drake lakukan di masa lalu, dia mencari alat sihir yang rusak lalu memperbaikinya, memberikan ‘rumah baru’ bagi alat sihir yang kehilangan kekuatan mereka. Dia mewariskan keinginan Darke, dan menemukan tujuan baru dalam hidupnya.

Itulah sebabnya saya ingin membuat ‘rumah baru’ seperti dirinya. Sederhanya, itu adalah ‘penampungan’ bagi para robot. Saya ingin merawat robot yang kehilangan pemiliknya, ditinggalkan, diasingkan dari medan pertempuran atau bagi mereka yang sudah tidak mampu bekerja di lahan konstruksi... akan saya kumpulkan mereka semua di rumah ini. Lalu, kami akan bekerja sama untuk mendapatkan uang. Uang yang didapat digunakan untuk perbaikan dan pengisian daya.

Tuan Ralph setuju dengan gagasan saya. Dia akan memperbaiki dan merawatku di waktu luangnya. Dia benar-benar orang yang baik.

Setelah saya menjelaskan gagasan ‘penampungan robot’ pada Lilith, yang pertama dia katakan adalah, “Jika kau ingin menampung semua robot, maka itu tidak akan pernah berakhir, jadi lebih baik kau menyerah saja.” Dia mengatakan bahwa ada sepuluh atau bahkan seratus ribu robot yang ditinggalkan pemiliknya setiap harinya, segala usaha yang akan saya lakukan tidaklah cukup, itu hanya akan membuang uang dan waktu.

Namun, setelah saya memasang iklan tentang penampungan robot, nomor Dua Puluh Delapan dan Dua Puluh Lima….. ahh, err, nomor itu adalah panggilan teman saya sebelumnya, menghubungi kediaman Umbella tiga hari setelahnya. Lilith yang mengangkat panggilan sangat terkejut. Nomor Dua Puluh Delapan juga menghubungi kami sehari kemudian, dan robot-robot asing lain juga datang langsung ke kediaman Umbrella kemarin. Karena terjadi perubahan seperti ini, maka pekerjakan saja mereka di sini……itulah yang Lilith putuskan. Dia ingin bekerja keras di lahan konstruksi demi mendapatkan uang.

Sepertinya, saya akan sibuk sekali.

Apakah anda mengingat robot yang berada di toko barang bekas? Robot besar muncul di berita yang mengamuk di air mancur plaza?

Lilith mengatakan pada saya bahwa namanya adalah Lightning O’ Milber.

Kenapa dia mengamuk?

Pemilik toko barang bekas meninggal beberapa hari setelah kejadian amukan dari robot itu. Hubungan antar pemilik dan robot juga sangat baik.

Profesor pernah mengatakanya, ‘bukan? Robot itu mungkin sedang mengalami halusinasi.

Walaupun demikian, asumsi ini terdengar terlalu dipaksan, sepertinya saya hanya bisa menebaknya.

Hari dimana dia mengacaukan plaza, mungkin karena dia ingin mencari pemiliknya.

Saya sudah mengerti bagaimana rasanya kehilangan pemilik. Kapan pun saya mengingat Profesor, saya akan merasakan kesedihan dan kesepian yang mendalam, lalu dada saya akan merasa sesak. Saat saya menuliskan surat ini, tangan saya juga gemetar.

Jadi, Profesor. Kita hentikan dulu sampai di sini.

Saya akan menuliskan surat untuk anda lain kali.

Aku milikmu sepenuhnya,

Akulah Iris-mu.

Oh, Profesor, Profesor!

Coba lihat ke arah jendela sekarang.

Langitnya biru, sungguh biru...

Saya menyukai hari-hari cerah seperti ini.

Namun Profesor.

Saya juga menyukai hari yang hujan.

Kenapa begitu?

Heh heh, bukanya sudah jelas.

Karena saya bertemu dengan Profesor pada hari yang hujan.

Kata Penutup[edit]

Senang bertemu dengan kalian, namaku Matsuyama Takeshi.

‘Iris on Rainy Days’ adalah novel keempat yang terpilih di Dengeki Novel Prize, dan juga novel baru yang sudah lama saya nantikan.

Karakter utama pada kisah ini adalah seorang robot. Kata ‘robot’ berasal dari kata ‘robota’ dalam bahasa Ceko, yang memiliki arti ‘pekerja kasar’. Melalui kata ‘robot’ aku membayangkan….. robot adalah suatu eksistensi yang bertugas menjadi buruh di tempat manusia berada. Mereka tidak memiliki perasaan, rasa sakit, dan tidak akan komplain, oleh karena itu mereka adalah alat yang mudah digunakan. Lalu, aku merasa akan menarik jika menulis tentang robot yang memiliki ‘keberadaan mirip dengan manusia’, dan itulah alasan kenapa aku menulis novel ini.

Buku ini dapat dipublikasikan karena bantuan orang banyak.

Tokuda-sama dan Tsuchiya-sama dari editorial, aku pasti sangat menyulitkan kalian pada proses pengeditan. Saat aku menerima panggilan dari editorial musim gugur kemarin, aku sangat bahagia. Juga Hirasato-sama sebagai ilustrator, terima kasih banyak untuk ilustrasinya yang sangat indah. Aku menyimpan sketsa gambarnya di laci mejaku. Di lain pihak, para proofreader, desainer cover dan semua orang di ASCII MEDIA WORKS, aku mengucapkan banyak terima kasih.

Disamping itu, pembaca pertama novel Iris S-couple, yang memberiku informasi K-senpai, S dan Y yang telah mengurusku sejak SMA, N dan T yang ikut merayakan keluarnya novel ini. Temanku di SMP, SMA, dan murid di perkuliahan juga para senpai, tidak lupa keluarga dan saudara yang sudah membesarkan aku dengan begitu baik. Terima kasih banyak semuanya.

Terakhir, bagi para pembaca yang membeli buku ini, aku berterima kasih dengan segenap hati. Ketika hujan turun, kemudian kalian berpikir, ‘Ah, hujan ini mengingatkanku pada suatu novel....’, maka saya akan merasa sangat bahagia sebagai penulis.

Aku mempersembahkan buku ini kepada seseorang yang sudah kukenal sejak SMA yang terkadang terlihat malu, tapi sangat aktif saat kumpul bersama, yaitu teman lamaku… Arai Sao

Matsuyama Takeshi.
  1. Roda kayak di tank militer
  2. Pada versi Jepangnya, dia mengatakan ”Mou, mou, mou…”, yang merupakan ekspresi kesal dan meminta untuk menghentikan sesuatu. Nah, suara itulah yang dimaksud dengan suara sapi.