Jilid 11 - Periode Masa Muda - Bab Adik Perempuan

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Novel Illustrations[edit]

Bab 1: Surat[edit]

Bagian 1[edit]

Pagi itu, aku membuka mataku.

Sylphy sedang tidur sembari menggunakan lenganku sebagai bantal.

Rambut dan tengkuknya terlihat putih bersih.

Jika kau menatapnya lebih dekat, kau akan melihat bulu matanya yang lentik.

Wanita imut dan manis ini sedang tidur menggunakan lenganku sebagai bantal, tanpa mengenakan sehelai pun pakaian dalam.

Dia tidur begitu damai sembari menunjukkan wajahnya yang tanpa daya.

Hanya itu yang terjadi, namun sayangnya aku sudah merasakan kesibukan yang akan segera datang pagi ini.

Kubuka selimut yang membalut tubuh kami berdua, kemudian kulihat ”bunga sakura”-nya Sylphy. [1]

Di atasnya ada sedikit bekas lebam.

Itu adalah bekas ciuman.

Akulah yang membuat tanda itu semalam.

Dalam kehidupanku sebelumnya, aku selalu penasaran apa sih enaknya ngecapin tanda cipokan seperti itu.

Namun sekarang aku tahu bahwa ketika kau bangun, dan melihat tanda ciuman yang telah kau berikan pada tubuh pasanganmu semalam, itu sungguh membanggakan.

Kurasa itu sama seperti sensasi DQN [2] yang menggambar tato atau menusukkan tindik pada tubuh pacarnya.

Itu adalah tanda bahwa kau telah menakhlukkan pasanganmu semalam, dan itu sangatlah membanggakan.

Sylphy adalah istriku.

Aku tidak akan menyerahkannya kepada siapapun.

Sembari memikirkan hal seperti itu, gajahku sudah mulai latihan radio pagi. [3]

Meskipun kemaren si gajah juga latihan begitu berat, tapi hari ini masih saja bersemangat.

Dalam kehidupanku sebelumnya, si gajah hanya berlatih seorang diri, meskipun beberapa tahun terakhir si gajah hanya hidup sebagai seorang Hikkikomori, tapi ketika tiba saatnya beraksi, dia pun sangat enerjik.

Jangan…jangan… aku tidak boleh membiarkan si gajah mengamuk lagi pagi hari ini.

Karena Sylphy akan segera bekerja.

Aku pun juga harus menyelesaikan semua rutinitas pagiku.

Aku melepaskan lenganku dari tindihan kepala Sylphy, dan menggantikannya dengan bantal.

"Nnn ... Rudi, yang itu jangan diminum ..."

Sylphy meringkukkan tubuhnya dengan sedikit gemetar.

Dia terlihat begitu imut ketika mengigau seperti itu.

Aku penasaran, apa yang tidak boleh diminum dalam mimpinya.

Apa jangan-jangan… yang dia maksud adalah “Air Mineral Sylphy”. [4]

Entah bagaimana ini terjadi, tiba-tiba aku ingin menyentuh dada Sylphy dan sedikit membelainya.

Jika aku melakukannya terlalu kuat di pagi hari, dia akan bangun dari tidurnya. Oleh karena itu, aku harus melakukannya dengan begitu lembut, dan perlahan-lahan.

Hampir seperti menyentuh tahu saat kau menyaringnya.

Sensasi yang lembut.

Sebelumnya, aku tidak pernah mengira bisa menyentuh benda seperti ini di pagi hari, ahh, aku merasa seperti pria paling beruntung di dunia ini.

Dadanya benar-benar ‘sederhana’ ya?

"Nn ... Rud ...?"

Sylphy dengan samar membuka matanya dan menatapku.

Lalu dia meraih tanganku….. dan dengan wajah linglung, dia tertawa kosong sambil berkata,

"...Selamat beraktifitas."

"Aku pergi dulu ya… nanti aku kembali lagi."

Dan aku pun meninggalkan ruangan.

Kita bisa bermalam bersama tiga hari lagi, kan?

Aku tak sabar menantinya.

Bagian 2[edit]

Belakangan ini, hidupku damai-damai saja.

Tidak ada masalah ataupun insiden serius.

Kalaupun ada masalah, palingan hanyalah masalah biasa mirip seperti kekacauan yang Rinia dan Pursena berikan padaku di awal-awal aku bersekolah dulu.

Aku mendengar ada seorang bocah laki-laki yang baru bersekolah tahun ini, namun dia sudah berhasil menjadi bos preman, dan meringkus preman-preman lain pada kelas yang sama.

Setelah itu, dia mulai menguasai Grup Bancho [5] seorang diri, namun akhirnya dia dikalahkan oleh Zanoba.

Kemudian, banyak hal terjadi, dan dia pun bersedia masuk ke kelompokku.

Menurutku, itu adalah suatu kasus yang tidak terduga, dan cukup membuatku terkejut.

Menurut cerita yang aku dengar, nampaknya di sekolah kami ada kelompok semacam Empat Raja Tertinggi, yang biasa disebut “Kelompok Enam Iblis”, dan mereka cukup berkuasa.

Tapi uniknya, mereka menganggapku sebagai bos terakhir.

Dengan kata lain, jika seseorang sudah berhasil mengalahkan kelompok tersebut, maka dia berhak untuk melawanku sebagai bos terakhir.

Hal seperti ini sudah sering kubaca pada Manga yang menceritakan tentang preman.

Lebih baik mereka tidak memberikan nama seperti Festival Gakuensai, atau semacamnya. [6]

Kebetulan, keenam “iblis” tersebut adalah Zanoba, Cliff, Rinia, Pursena, Fitts, dan Badigadi.

Kalau ada orang yang sanggup mengalahkan keenam “iblis” itu, maka aku juga penasaran, apakah akan muncul seseorang yang akhirnya bisa mengalahkan si Raja Iblis, yang tidak lain adalah aku sendiri.

Aku sih gak suka dapat masalah.

Namun, si bos preman tahun pertama ini sepertinya cukup payah, karena Zanoba sudah mengalahkannya, padahal Zanoba hanyalah “iblis” level 1

Ketika bertemu denganku, dia hanya bisa meringkukkan tubuhnya sambil gemetaran.

Yang aku dengar sih, dia berhasil menandingi Zanoba karena bisa menjaga jarak serangan, kemudian melancarkan sihir pada Zanoba dari kejauhan.

Entah bagaimana caranya, akhirnya Zanoba berhasil menahannya, lalu mendekat saat lawan kehabisan Mana-nya, kemudian Zanoba menumbangkannya hanya dengan satu pukulan.

Pada pertarungan jarak jauh, dia bisa saja unggul, tapi kalau Zanoba sudah mendekat, maka dia tidak lagi punya peluang menang.

Lain kali, sepertinya aku akan mengajari Zanoba jurus pamungkas, yaitu mengayunkan sebuah batu dengan pemukul golf, dan mengirim lawan terbang sampai ke Negri China. [7]

Apapun itu, sekarang aku tahu bahwa ada beberapa orang yang menganggapku sebagai Bancho. [8]

Tapi, berkat status itu, sekarang perkataanku didengar banyak orang, jadi sebenarnya itu cukup membantu.

Beberapa hari yang lalu, aku mendapati beberapa orang sedang mengintaiku dari belakang gedung sekolah.

Kemudian muka mereka memucat setelah tahu bahwa aku menyadari keberadaan mereka.

Kalau ada pembullyan, kemudian aku berkata, “hentikan itu”, maka semuanya pun berhenti seketika.

Ini bukanlah status yang buruk.

Sampai sekarang pun, aku tidak pernah bisa memaafkan orang yang membully orang yang lemah.

Meskipun yang salah adalah pihak terbully, aku tetap tidak bisa memaafkannya.

Bagian 3[edit]

Suatu hari.

Datanglah sepucuk surat.

Itu dari Paul.

Sepertinya, surat yang terkirim tahun lalu akhirnya sampai ke sini.

“Untuk Rudeus.

Aku sudah membaca suratmu. Kau akan bersekolah di Akademi Sihir.

Selamat!

Berbagai hal telah terjadi, tapi aku senang kau berhasil menapaki jalanmu sendiri.

Aku yakin Elinalise sudah pernah menceritakannya, dan percayalah kami bisa menjamin keselamatan Zenith.

Itu berkat bantuan Roxy, Talhand, dan Elinalise.

Tolong juga ucapkan terimakasihku pada Elinalise.

Yah, aku yakin dia hanya akan membalasnya dengan cemberut.

Baiklah, saat ini kami sedang berada di East Port.

Kami bersiap-siap menuju Benua Begaritto setelah ini.

Aku belum pernah ke Benua Begaritto, tapi seharusnya itu adalah tempat paling berbahaya kedua setelah Benua Iblis.

Aku sedikit tidak nyaman jika harus bepergian ke sana sambil membawa anak-anak.

Norn dan Aisha masih berusia sembilan tahun.

Jadi, aku pun berpikir untuk mengirimkan mereka ke tempatmu.

Meskipun begitu, aku sadar betul bahwa perjalanan menuju ke tempatmu jugalah berbahaya.

Ginger mengatakan bahwa dia bersedia menjadi pendamping mereka, tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.

Ini adalah perjalanan yang berbahaya, tapi aku tidak ingin berpisah lagi dengan mereka dan saling mengkhawatirkan, jadi aku saja yang menemani mereka.

Aku hampir saja pergi bersama mereka untuk menuju ke tempatmu, namun ternyata ada seorang yang muncul.

Kau kenal betul dengan orang ini.

Dia menyanggupi mengawal kedua adikmu sampai ke tempat tujuan dengan aman, jadi aku menyerahkan mereka padanya.

Sepertinya kau juga akan terkejut ketika berjumpa dengan orang ini.

Tapi aku pastikan dia adalah orang yang sangat bisa dipercaya.

Jujur saja, aku malu sebagai ayah.

Tapi adik-adikmu akan berada dalam bahaya jika semisal aku luput mengawal mereka.

Namun, aku masihlah tidak bisa melepaskan mereka, sehingga aku sempat berpikir untuk membawa mereka kemanapun aku pergi.

Tapi, kalau aku benar-benar menginginkan mereka sampai ke tujuan dengan selamat, maka orang ini adalah jawaban yang paling tepat.

Termasuk kamu juga.

Setelah Norn dan Aisha sampai di sana, aku ingin kau menyediakan tempat untuk mereka hidup dan bersekolah, yahh tempat yang kecil tidak apa lah.

Aku juga membekali mereka dengan sejumlah uang untuk hidup dan mendaftar sekolah, jadi gunakan uang itu dengan bijak.

Uangnya tidak sedikit, lho.

Jangan pernah gunakan itu untuk main wanita, atau semacamnya.

... Yahh, aku yakin kau bisa bertanggung jawab dengan benar.

Ada suatu hal yang ingin kulakukan seorang diri…. Maaf, karena aku selalu menjadi ayah yang merepotkanmu.

Maafkan aku, tapi hanya kau lah yang bisa kupercayai.

Oh iya, kau sudah berusia 15 tahun kan, jadi pada saat surat ini tiba, harusnya kau sudah menginjak 16 tahun.

Kamu sudah dewasa

Aku merasa bersalah karena tidak mengucapkan selamat pada hari ulang tahunmu.

Aku juga tidak mengucapkan selamat pada hari ulang tahun ke-10 Aisha dan Norn.

Tapi….yahhh… kalau ada kesempatan kita berkumpul sekali lagi, kita bisa merayakannya sepuas-puasnya.

Bersama dengan seluruh keluarga kita.

Serahkan saja urusan Zenith padaku, jangan khawatir.

Sebenarnya, Kelompok Pencarian Wilayah Fedoa telah bubar, yang tersisa hanyalah Lilia, Talhand, Roxy, Vera, Shera, dan aku.

Tapi jangan pernah remehkan kami, kekuatan kami cukup untuk pulang dengan selamat dari Benua Begaritto.

Jika semuanya berjalan dengan baik, meskipun sudah terlambat setahun atau dua tahun, aku yakin kami pasti bisa menemukan ibumu.

Awalnya, kupikir Lilia akan pergi bersama adik-adikmu, namun ternyata dia lebih mengkhawatirkanku daripada anak-anaknya.

Aku masih tidak bisa menerimanya. Betapa menyedihkan ayahmu ini.

Meskipun aku mengatakan itu pada Lilia, dia masih mempercayai Aisha sepenuhnya.

Sepertinya dia sudah mengajarkan hal paling penting pada putrinya itu.

Aisha adalah anak yang jenius.

Melihat kau dan Aisha sejenius itu, kadang-kadang aku tak yakin kalau kalian berdua adalah anak kandungku.

Tapi, Norn adalah anak biasa.

Dia sedikit berbeda denganmu dan Aisha.

Mungkin kau akan dibuatnya marah sekali-dua-kali, tapi kumohon lihatlah lebih jauh dan lebih bijak.

Lagipula, aku cukup memanjakannya, jadi mungkin saja dia akan tumbuh menjadi cewek yang egois.

Sepertinya dia masih membencimu, terlebih lagi… hubungannya dengan Aisha tidaklah sebaik yang kau kira.

Kalau begitu, aku menduga dia akan menjadi anak yang suka menyendiri, tapi ... sebagai kakak laki-lakinya… aku ingin kau terus menjaga dia tanpa sedikit pun membencinya.

Untuk berjaga-jaga, aku sudah menitipkan surat yang sama pada mereka berdua.

Aku yakin orang itu akan menjaga mereka dengan sebaik mungkin. Tapi kalau mereka tidak kunjung datang ke tempatmu setelah 6 bulan surat ini kau baca, maka aku ingin kau mencari mereka.

Sekian dulu untuk kesempatan ini.

Pada akhirnya, ayah yang payah ini hanya bisa merepotkan anak laki-lakinya, dan aku sangat menyesal akan hal itu.

Aku titipkan kedua putri kesayanganku padamu.

Dari Paul Greyrat.

Itu adalah surat yang dipenuhi dengan permintaan maaf.

Paul…… kau ... ampun deh.

Sepertinya Norn dan Aisha sedang menuju ke sini.

Aku agak khawatir, tapi kupikir mungkin lebih baik mereka datang kemari daripada pergi ke Benua Begaritto bersama mereka.

Tapi, bukankah akan lebih baik jika mereka dititipkan pada orang tua Zenith di Milishion?

Ah tidak juga, sepertinya akan timbul masalah baru kalau mereka terus tinggal bersama kakeknya.

Mungkin tidak masalah bagi Norn, tapi tak setitik pun darah Zenith mengalir di tubuh Aisha.

Sepertinya tidak akan terjadi banyak masalah pada perjalanan mereka.

Kalau dibandingkan Benua Tengah dengan Benua Iblis, tingkat bahayanya cukup rendah.

Kalau pun ada bahaya, paling-paling hanyalah para penculik anak. Tapi mereka hanya menculik anak-anak yang lemah dan tanpa penjagaan.

Kalau mereka berdua didampingi oleh seseorang yang sangat Paul percayai, maka aku yakin tidak akan ada orang yang berani menculik mereka secara paksa.

Tertulis pada surat ini bahwa mereka didampingi oleh seseorang yang cukup kuat.

Ginger adalah ksatria wanita dari kerajaan Zanoba.

Tapi aku tidak ingat seberapa hebat kemampuannya.

Setahuku, para ksatria Shirone telah mempelajari jurus Dewa Air, aku yakin teknik itu sangat berguna ketika kau mengawal seseorang.

Tunggu… ada hal lain yang tertulis pada surat itu.

Di sana tertulis bahwa aku pun sangat mengenal orang ini.

Aku penasaran siapa sih orang ini. Mungkin Gisu?

Tidak mungkin Eris, kan?

Orang yang dipercaya Paul dan sangat kukenal…. Apa mungkin orang itu?

Bagaimanapun juga, dia pernah bilang akan ikutan mencari di Benua Tengah. Mungkin saja mereka bertemu secara tidak sengaja.

Kalau memang benar orang itu, maka aku tidak akan merasa khawatir.

Bahkan Ginger pun tidak perlu ikutan mengawal mereka.

Apapun itu, aku bisa merasakan dari surat ini bahwa Paul benar-benar memasrahkan semuanya padaku.

Tidak baik jika aku menyalahi kepercayaan itu.

Bagaimanapun juga, aku adalah anak tertua!

Namun, kalau memang begitu keadaannya, untung saja aku sudah membeli rumah.

Di sini masih banyak kamar kosong.

Jadi, keluargaku bisa menerima mereka tanpa masalah.

Adapun masalahnya adalah, kedua adikku masihlah terlalu muda.

Rutinitas malamku bersama Sylphy bisa jadi tontonan yang buruk bagi mereka.

Yahh, harusnya gak masalah sih, asalkan kamar kami terpisah cukup jauh.

Aku juga tak sabar menyambut mereka.

Aku penasaran, kapan mereka akan datang.

Mungkin sekitar dua bulan lagi.

Dan sebelum itu.

"Lebih baik aku mendiskusikannya dulu tentang hal ini."

Aku akan membahasnya dengan Sylphy.

Jam-jam segini, dia pasti berada di dapur sedang memasak.

Setelah melihat ke dapur, di sana ada seorang wanita berpostur kecil sedang memotong sayur-sayuran.

Tubuhnya pendek, bahu kecil, badan ramping dan proporsional.

Setelah melihat sosoknya dari belakang, aku mulai merasa sedikit terangsang.

"Sylphy ...!"

Aku memeluk Sylphy dari belakang.

Aku meletakkan tanganku di ujung celemeknya dan meraba dadanya yang lembut.

"Aduh!!"

"Ah."

Sylphy terkejut, lantas dia tanpa sengaja mengiris jarinya sendiri.

Gumpalan darah merah terciprat, dan menetes ke atas talenan.

Pada saat aku memeluknya, dia tidak sengaja mengiris jarinya.

"... Wah, Rudi, jangan melakukan itu saat aku memegang pisau, itu berbahaya."

Sylphy mengatakan itu dengan begitu kesal.

Sayatan di jarinya pun sembuh dalam waktu singkat.

Dia sepertinya menggunakan sihir penyembuhan, bahkan tanpa dia sadari.

"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi saat kau sedang memasak."

"Ya, bersabarlah kalau aku sedang masak, toh aku akan segera selesai."

Aku keluar dari dapur dan menunggu di ruang makan.

Aku sedikit gugup.

Aku akhirnya membuatnya terluka.

Aku memang kurang sabaran.

Aku duduk di kursi dan menunggu.

Kemudian, ketika Sylphy keluar dari dapur, aku hanya bisa menundukkan kepalaku.

"Aku sangat menyesali kecerobohanku tadi."

"Aku tidak marah. Jika kau mau minta maaf, lakukan saja dengan normal."

"Yeah, maaf."

"Ya, aku sih gak masalah, asal lain kali kau harus lebih berhati-hati."

Kami duduk bersama di dua kursi dan mulai makan.

Jarakku dan Sylphy cukup dekat.

Sepertinya dia tidak marah.

Belakangan ini, mungkin aku terlalu memanjakannya, aku takut suatu saat nanti dia terlalu tergantung padaku.

"Jadi… ada apa? Tidak biasanya Rudi seceria ini."

"Ya, aku menerima sepucuk surat dari ayahku."

"Eh!! Dari Paul-san !?"

Aku menyerahkan surat tersebut pada Sylphy yang terkejut.

Dengan ekspresi tegang dia mulai membaca surat itu, kemudian dia terlihat sedikit kecewa.

"Ah, sepertinya kabar bahwa kita menikah masih belum sampai sana."

Sepertinya dia ingin tahu reaksi keluargaku terhadap pernikahan kami.

Namun, setelah dia terus membacanya, ekspresi wajahnya menjadi semakin serius.

Akhirnya, dia berbisik, "Hmmm, begitu ya… Bukankah ini bagus, Rudi? Semuanya selamat.."

"Ya."

Kalau dipikir-pikir lagi, bisa saja Sylphy merasa sedih setelah membaca surat yang membawa kabar bahagia ini, karena bagaimanapun juga, keluarga Sylphy tidak tersisa setelah insiden metatasis.

Harusnya perkataannya lebih halus.

Setelah melihat wajahku, Sylphy tersenyum pahit.

"Ampun deh…. Rudi, jangan pasang muka seperti itu. Ibu dan ayahku memang sudah meninggal, tapi sekarang aku sudah punya Rudi dan Elinalise-san di sini, jadi aku tidak akan kesepian."

Sambil mengatakan itu, Sylphy menggenggam tanganku dan tersenyum sambil mengatakan "yeah ~"

Belakangan ini, Sylphy makin manis aja.

Rambutnya yang sebelumnya sangat pendek, kini telah sedikit tumbuh, dan itu membuatnya semakin tampak feminim.

Rambut putihnya begitu halus, dan telinga panjangnya yang mencuat dari rambutnya tampak begitu imut.

Wanita ini adalah istriku.

Ini bukan mimpi, kan.

"Sylphy ..."

Aku ingin membuat keluarga baru dengan gadis imut ini.

Tentu saja aku menginginkannya.

Lagipula, kami selalu melakukan “itu” ketika kami bermalam bersama.

Meskipun begitu, Sylphy lah yang akan menanggung semua resiko ketika anak kami lahir.

Pantatnya kecil dan imut, tapi tampaknya tidak begitu kuat untuk melahirkan bayi.

Karena ada sihir penyembuhan di dunia ini, maka kupikir resiko kematian bayi bisa ditekan ...

Namun, proses melahirkan masihlah sulit bagi sang ibu.

Ah tidak, masalah yang jauh lebih besar akan datang setelah itu, yaitu bagaimana kami membesarkan anak.

Jujur saja, Sylphy dan aku sama-sama masih belum matang sebagai orang dewasa.

Tentu saja, dari segi usia, kami berdua sudah dianggap orang dewasa di dunia ini, dan bisa mencari penghasilan.

Namun, aku penasaran apakah kami bisa sukses sebagai orang tua?

... Ah tidak apa-apa, semua orang di dunia ini juga sama.

Jadi, aku pasti juga bisa melakukannya.

Sekalipun tidak bisa, masih ada Sylphy di sini.

Kalau kami berdua sama-sama berusaha, maka semuanya akan baik-baik saja.

Dua tahun kemudian, Paul dan yang lainnya juga akan kembali.

Lilia juga punya caranya sendiri dalam mengasuh anak, dia pasti akan sangat membantuku nanti.

Masalahnya adalah si ibu mertua.

Aku telah mendengar bahwa Zenith dan Sylphy cukup akrab, oleh karena itu, aku yakin bahwa tidak akan terjadi hal yang buruk ketika mereka hidup satu atap nantinya.

Kalau Paul sih ... jika aku menunjukkan cucunya padanya, pasti dia akan sangat bahagia.

Oh, gawat.

Lupakan itu sejenak, ada hal lebih penting yang harus kami bahas saat ini juga.

"Aku yakin kau mengerti setelah membaca surat itu… kedua adik perempuanku akan datang dan tinggal di sini, lho. Aku ingin membiarkan mereka tinggal di rumah ini, tapi apakah kau tidak keberatan?"

"Kenapa tidak boleh? Rumah ini akan semakin ramai, kan."

Sambil mengatakan itu, Sylphy tertawa malu-malu.

Jadi, dia tidak keberatan.

Bagian 4[edit]

Setelah kami selesai makan malam, kami pindah ke ruang tamu.

Sudah waktunya belajar sihir.

Seperti biasa, aku masih belum bisa menggunakan sihir penyembuhan tanpa mantra.

Namun, aku telah belajar pelafalan mantranya dalam hati, dan memahami teorinya, sehingga bisa kugunakan lain waktu.

Mantra tanpa suara bukanlah satu-satunya metode untuk mengaktifkan Mana.

Mantra tanpa suara memang hebat, namun aku tidak harus terpaku pada teknik itu, lagipula aku tidak perlu terburu-buru menguasainya.

Aku sadar bahwa bakatku sudah dianugrahkan sejak lahir, namun aku tidak yakin bisa menjadi yang terkuat di dunia ini.

Oleh karena itu, yang perlu kulakukan sekarang adalah memperkuat dasarnya terlebih dahulu, agar aku tidak gagal nantinya.

"Fununu ...!"

Saat ini, dengan menggunakan teknik Ran Ma, Sylphy sedang mencoba memecahkan Water Ball yang telah kubuat.

Ujung jarinya menghadap tanganku, wajahnya merah padam, dan dia mengerang-ngerang.

Aku terus mempertahankan wujud Water Ball dengan Mana-ku, agar tidak hancur.

Rasanya seperti latihan mengangkat beban.

Jika Water Ball penyok, bengkok, kemudian pecah, maka Sylphy lah yang menang.

Hadiahnya adalah, dia boleh melakukan apapun padaku di atas ranjang malam ini.

Meskipun dia kalah sekalipun, akan akan melakukan apapun yang dimintanya dengan senang hati.

Sebaliknya, jika aku sanggup mempertahankan wujud Water Ball tersebut, maka akulah yang menang.

Kemudian, aku lah yang berhak melakukan apapun pada Sylphy di atas ranjang malam ini.

Meskipun kalah, aku sudah memiliki Sylphy sepenuhnya.

Biasanya sih, aku yang akan keluar sebagai pemenang dalam adu sihir seperti ini.

Saat ini, sepertinya Sylphy bisa menggunakan sihir tingkat lanjut pada semua jenis elemen, kecuali api.

Dan juga, sihir penyembuhan dan detoksifikasinya sama-sama sudah mencapai level lanjut.

Sepertinya, beginilah statistiknya.

---

Sihir Api: tingkat menengah

Sihir Air: tingkat lanjut

Sihir Bumi: tingkat lanjut

Sihir Angin: tingkat lanjut

Sihir Penyembuhan: tingkat lanjut

Sihir Detoksifikasi: tingkat lanjut

---

Spesifikasinya sudah cukup tinggi.

Aku pun baru tahu, tapi keenam jenis ini disebut "Enam Jenis Dasar" di Akademi Sihir.

Meskipun disebut dasar, sebenarnya keenam jenis sihir tersebut adalah sihir-sihir yang paling sering digunakan.

Sehubungan dengan pelajaran di Akademi Sihir, dalam dua atau tiga tahun pertama, kau harus bisa mencapai tingkat dasar pada enam jenis sihir tersebut.

Setelah kau berhasil mencapainya, maka untuk tahun-tahun berikutnya, kau sendirilah yang akan memutuskan jenis sihir apakah yang akan kau tekuni, kemudian mempelajarinya sampai tingkat lanjut.

Setidaknya, itulah standar belajar di akademi ini.

Meskipun kau sudah memilih jenis sihir yang paling kau minati, tanpa adanya bakat, kau hanya akan berhenti di tingkat menengah, tanpa bisa mencapai tingkat lanjut tak peduli sekeras apapun kau mencoba.

Misalnya, kau tidak memiliki jumlah Mana yang cukup besar untuk mengaktifkan sihir kombinasi ...

Meskipun sudah mencapai tingkat lanjut, hampir tidak pernah ada siswa yang berhasil melampauinya untuk mencapai tingkat Saint.

Tapi, selalu ada orang-orang berbakat seperti Sylphy dan Cliff yang muncul setiap 10 tahun sekali.

Itu berarti, setiap 10 tahun sekali, ada saja siswa yang berhasil mencapai tingkat Saint.

Mungkin kau boleh menyebut mereka jenius, namun sejenius apapun mereka, itu masihlah biasa-biasa saja.

Karena faktanya, tidak pernah ada seorang pun yang berhasil mencapai tingkat Dewa.

Lantas bagaimana denganku? Aku juga penasaran sampai sejauh mana kemampuanku berkembang.

Setelah menggabungkan cerita yang aku dengar dari Badigadi dan Kishirika, tampaknya jumlah Mana yang bersemayam di dalam tubuhku sudah mendekati tingkatan Dewa.

Namun, tidak serta-merta aku bisa mencapai tingkat Dewa dengan mudah.

Ini bagaikan memasang setangki penuh bahan bakar pesawat pada mobil kelas menengah.

Dengan bahan bakar sebanyak dan sebagus itu, mobil tersebut akan terus melaju, namun tidak akan pernah melaju lebih kencang.

Meskipun sudah diberi bahan bakar yang banyak, bahkan kau sudah memodifikasi mobil tersebut dengan mesin jet, maka tetap saja mobilnya tidak akan melaju lebih kencang, karena rangkanya tidak akan kuat.

Dari perspektif desain, mobil itu hanyalah onggokan sampah.

Namun, mobil yang terus berjalan karena persediaan bahan bakar yang banyak bukanlah hal yang buruk.

"Ngomong-ngomong, Sylphy…."

"Ap-apa? Aku sedang berkonsentrasi nih ..."

"Menurutmu, apakah anak kita nanti akan menjadi seorang penyihir yang berbakat?"

"Faa- !?"

Konsentrasi Sylphy terganggu.

Ran Ma-nya gagal dan Water Ball mencapai bentuk bulat sempurna.

Aku membekukan bola air tersebut, kemudian menuangkannya ke dalam cangkir di depanku.

"Li-lihat saja nanti kalau sudah lahir ..."

Wajah Sylphy menjadi merah padam, dan kedua kakinya tak berhenti bergetar.

"Agar terlahir dengan sempurna, maka ayahnya juga harus berusaha semaksimal mungkin, kan?"

Sambil tertawa dan berusaha menutupi mulutnya, Sylphy mendekat kemudian menggosok-gosok pahaku

Tangan ramping Sylphy menggelitikku.

Sebagai balasan, aku mengusap sisi belakang bahu Sylphy.

Belakangan ini, interaksi seperti inilah yang membuatku semakin bahagia.

Dalam sekejap, aura di ruang keluarga menjadi berwarna merah jambu.

Sylphy membenamkan wajahnya di atas bahuku sembari dia memelukku.

Manis sekali.

Sang ayah ingin memberikan yang terbaik sekarang.

Lu-lupakan sejenak kelahiran anak pertama. Bukankah masih terlalu dini membahas itu, bahkan Sylphy belum positif hamil.

Janganlah menghitung anak ayam ketika masih berbentuk telur… bukankah begitu?

"Ya, tapi karena darah keturunan Elf-ku begitu kuat, mungkin akan sulit untuk membuatnya ... Aku tahu betul Rudi menginginkan seorang anak, tapi nampaknya akan sangat lama membuatnya. Nenek ...ah, maksudku Elinalise-san juga pernah mengatakan hal serupa, tapi dalam waktu dekat ini, sepertinya aku belum bisa mengandung ... "

Sylphy mengangkat kepalanya dari bahuku, kemudian dia menunduk dengan ekspresi khawatir di wajahnya.

Beberapa bulan sejak kami menikah.

Hubungan seksku bersama Sylphy berjalan dengan baik.

Kami sedikit bicara di ranjang, tapi ketika pelatuk pistol magnum-ku sudah tertarik, aku sering mengatakan percakapan-percakapan yang kerap kudengar di eroge.

Sebetulnya itu tidak terlalu bermakna, tapi aku hanya ingin coba mengatakan gombalan-gombalan di eroge, aku pun tahu itu sungguh menjijikkan, tapi entah kenapa aku tertarik melakukannya.

Sylphy mungkin menafsirkannya dengan serius.

Sepertinya dia tidak sampai mengkhawatirkan kesuburannya, namun tetap saja ada beberapa hal yang mengganjal di pikirannya.

"Ka ... Kalaupun aku tidak bisa melahirkan anak, aku sih gak masalah kalau Rudi nikah lagi, oke?"

"Untuk saat ini, aku sama sekali tidak memikirkan hal seperti itu."

"Tapi Rudi ... kamu sungguh-sungguh menginginkan anak, ‘kan?"

Aku akan mencoba memikirkannya dari perspektif yang berbeda.

Misalnya, aku adalah seorang pria yang mandul, sedangkan Sylphy sebagai istriku sangat menginginkan anak.

Sylphy main serong dengan pria lain, kemudian dia bisa melahirkan anak.

Mungkin aku akan bunuh diri setelahnya.

Aku tidak boleh membiarkan Sylphy menderita seperti itu.

"Kau benar-benar bodoh, Sylphy. Sebenarnya yang kuinginkan bukanlah anak, melainkan benih cinta yang sama-sama kita buat. "

"Rudi ..."

"Aku mencintaimu Sylphy, permaisuriku."

Bahkan menurutku, kalimat itu cukup norak.

Sampai-sampai bagian belakang leherku gatal.

Namun Sylphy ... atau mungkin hampir semua wanita di dunia ini, pasti akan menyerah jika pria kesayangannya mengatakan hal seperti itu.

Beberapa hari yang lalu, aku pernah melucu dengan mengatakan, "Matamu bersinar seterang bintang" dan wajah Sylphy pun langsung berubah menjadi merah padam.

Efeknya sungguh luar biasa.

Kalau aku ragu mengatakan hal seperti itu, maka hubungan kami tidak akan pernah berkembang.

"... aku juga mencintaimu."

Mata Sylphy mulai berair ketika dia bersandar di pundakku.

Wajahnya merah padam, bibirnya tersenyum, dan dia terlihat begitu malu.

Perfecto Kommunikation. [9]

Nah, sekarang saatnya naik ke lantai dua.

Aku menggendong Sylphy layaknya seorang putri.

Sylphy meletakkan tangannya di leherku.

Pada mata berair itu, aku bisa melihat pantulan bayangan sosokku yang berusaha seromantis mungkin. Jantungku pun berdegup kencang bagaikan bel alarm.

Dan dia pun juga terangsang.

Hal yang terpenting agar hubungan seks sukses adalah kedua pasangan harus sama-sama terangsang.

Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panas.

Bab 2: Kegagalan[edit]

Bagian 1[edit]

Insiden ini terjadi satu bulan setelah suratnya tiba.

---

Siang hari.

Aku sedang membantu eksperimen Nanahoshi.

Namun hari ini, prosesnya sedikit berbeda.

"Jika lingkaran sihir ini berhasil, kita bisa melanjutkan ke fase berikutnya."

Nanahoshi mengatakan itu sambil membentuk lingkaran sihir yang jauh lebih besar daripada lingkaran sihir manapun yang pernah dia ciptakan sebelumnya.

Jauh…jauh lebih besar, tapi meskipun aku berkata begitu, sebetulnya ukurannya hanyalah sekitar setengah petak tikar Tatami.

Namun ukuran itu sudah dianggap besar di dunia ini, dan pada lingkaran sihir tersebut tergambar pola-pola rumit yang saling tumpang tindih.

Lingkaran sihir ini adalah sebuah mahakarya yang memerlukan waktu sebulan penuh untuk menggambarnya.

Sedangkan bagi Nanahoshi, ini adalah hasil jeri payah setelah 2 tahun penuh meneliti.

"Sekarang, bisakah kau memberitahuku apakah maksud dari lingkaran sihir ini?"

"... Ini untuk memanggil benda dari dunia lain."

"Bencana metastasis tidak akan terjadi lagi, kan?"

Karena Nanahoshi dipanggil ke dunia ini, bencana teleport itu pun terjadi.

Artinya, bencana serupa bisa saja terulang lagi, meskipun yang dipanggil adalah benda yang jauh lebih kecil.

Seridaknya itulah yang kupikirkan, tapi Nanahoshi menggelengkan kepalanya.

"Tidak apa-apa ... setidaknya, secara teori itu tidak akan terjadi."

"Bolehkah aku tahu teori apa yang kau maksud barusan?"

"Menurut percobaan yang kukerjakan sampai sekarang, kau memerlukan Mana yang jauh lebih besar untuk memanggil suatu benda yang lebih besar dan kompleks. Dengan kata lain, hukum kekekalan energi juga berlaku pada sistem sihir di dunia ini. Kali ini, benda yang akan kita panggil adalah objek yang kecil dan sederhana. Jika kita berasumsi bahwa proses pemanggilan diriku mengakibatkan bencana yang bisa melenyapkan seluruh wilayah, maka benda yang akan kita panggil kali ini hanya akan mengakibatkan bencana seluas 1 meter persegi saja. Jujur saja, aku tidak bisa membayangkan bencana tersebut terjadi lagi, tapi untuk jaga-jaga saja, aku sudah menyiapkan sistem keamanan pada lingkaran sihir ini. Lagipula, aku sudah bisa menghitung seberapa banyak Mana yang akan digunakan untuk percobaan kali ini."

Hukum kekekalan energi ya.

Apa sih itu? Ah, sudah lupa aku.

"Hukum kekekalan energi ... apa sih itu?"

Apakah itu berbeda dengan hukum kekekalan massa ...?

"... Aku tidak yakin bisa menjelaskan semuanya pada orang yang tidak tahu apa-apa sepertimu, tapi yang jelas… jika terjadi suatu keanehan di dunia ini, maka penyebabnya hampir pasti adalah Mana. Sihir yang sering kau gunakan… apa sih namanya… peluru batu, ya? Seakan-akan kau bisa membentuk batu dari udara, namun sebenarnya yang terjadi adalah, kau merubah Mana-mu menjadi batu."

Sepertinya, aku sudah salah mengira tentang cara kerja dunia ini.

Aku mengerti sekarang, hukum kekekalan energi ya.

Jadi, semakin besar Mana yang kau berikan pada sesuatu, maka semakin besar pula efeknya, seperti suhu yang naik secara drastis pada sihir api, berat batu yang meningkat pada sihir bumi, dan sejenisnya.

"Lalu...?"

Setelah itu, Nanahoshi menjelaskan beberapa hal padaku, namun jujur saja itu terlalu sulit, maka aku pun tidak memahaminya.

Dia mulai menjelaskan berbagai macam hukum, kegunaan ukuran lingkaran sihir, dan efek ini-itu… semuanya sungguh membuatku bingung.

Yang pasti, jika dia menerapkan suatu hukum, maka akan terjadi sesuatu.

Jujur saja, meskipun teori-teori yang dia jelaskan tidak terbukti kebenarannya, aku masihlah tidak tahu.

Yang aku mengerti adalah Nanahoshi menjelaskan itu semua dengan penuh percaya dir.

Kalau dia terlihat begitu percaya diri, maka aku bisa bilang bahwa kemungkinan sukses percobaan kali ini cukuplah tinggi.

Yahh, kalau gagal, mungkin aku akan terlempar ke suatu tempat.

Dengan kemampuanku saat ini, aku pasti bisa kembali, entah bagaimana caranya.

"Jika percobaan ini gagal, kemudian aku terlempar ke suatu tempat, aku ingin kau menghubungi keluargaku."

"Kan sudah kubilang, bahwa ini semua akan aman-aman saja."

Setelah percakapan berakhir, aku pun berdiri di depan lingkaran sihir.

"Kalau begitu, aku akan mulai."

"Semoga berhasil."

Aku penasaran, apakah dia benar-benar memohon untuk keberhasilanku.

Ataukah dia serahkan sepenuhnya pada Tuhan.

Aku mulai menuangkan Mana ke dalam lingkaran sihir.

Ujung lingkaran sihir di atas kertas mulai menyala.

Kemudian, seluruh lingkaran sihir mulai melepaskan cahaya redup.

Aku sadar betul bahwa Mana-ku disedot terus-menerus dari lenganku.

Namun, ada sesuatu yang agak aneh.

Aku merasa ada sesuatu yang janggal.

Aku merasa bahwa lingkaran sihir itu bersinar dengan stagnan.

Ada juga bagian yang sama sekali tidak bersinar ...

Psht !!!

Suara kecil terdengar.

Tiba-tiba Mana berhenti mengalir.

Cahaya redup dari lingkaran sihir berhenti bersinar.

"..."

Dengan demikian, prosesnya sudah berakhir.

Setelah itu, lingkaran sihir tidak bereaksi apapun.

Setelah diamati lebih dekat, ternyata terbentuk semacam celah pada sebagian kertas itu.

Kalau dibandingkan dengan sistem listrik, mungkin barusan saja terjadi konsleting, dan sistem pengamannya berfungsi.

Bagaimanapun juga, ini adalah ...

Sebuah kegagalan.

"... gimana nih?"

"Gagal."

Nanahoshi mengatakannya dengan tenang.

Lalu, dia merebahkan dirinya pada kursi, dan meletakkan salah satu sikunya di meja.

Dia mendesah dalam.

"Fuuuuhh ...."

Dia terus saja menatap kertas yang masih terletak di lantai.

Sebagian warna pada kertas itu telah lenyap, yang tersisa hanyalah gambar lingkaran sihir yang sudah rusak.

Dan juga celah itu.

Nanahoshi masih saja memandangi kertas itu dengan bengong, tanpa mengatakan sepatah katapun.

Setelah beberapa saat, dia melihat ke arahku dan berkata.

"Terima kasih atas kerjamu hari ini. Sudah, cukup sampai di sini saja ... kau boleh kembali."

Hasil kerja keras dua tahun penuh.

Berakhir hanya dalam hitungan detik saja.

Namun, percobaan dan kegagalan adalah dua kata yang tidak pernah terpisah.

"Yahh, hal seperti ini memang sering terjadi."

"..."

Aku berusaha menghiburnya, tapi Nanahoshi tidak menanggapi.

... Aku penasaran, apakah ini semua salahku?

Tidak, seharusnya ini tidak ada hubungannya denganku.

Aku terus mengirim Mana ke dalam lingkaran sihir tersebut.

Aku hanya melakukan transfer Mana seperti biasanya, dan siapapun yang punya Mana berlebih pasti bisa mengikuti percobaan ini.

Kalau pun aku salah, maka Nanahoshi juga patut disalahkan karena dia tidak menerangkan semua prosesnya dengan simpel.

"..."

Nanahoshi masih membisu.

Bagaimanapun juga, percobaan hari ini berakhir.

"Kalau begitu, aku permisi dulu."

Aku berdiri.

Tepat sebelum aku meninggalkan ruang percobaan, aku melihat Nanahoshi sekali lagi.

Dia masih berpose seperti tadi, tanpa bergerak sedikit pun.

Aku melewati ruang penyimpanan yang sesak dengan berbagai macam barang, ketika aku meninggalkan ruang penelitian.

Setelah berjalan beberapa langkah, aku pun menghentikan derap kakiku.

Selama beberapa bulan terakhir, Nanahoshi sangat tegang memikirkan penelitiannya.

Dia mungkin benar-benar terguncang karena kegagalan ini.

Sikap itu, perilaku itu…

Apakah melongo seperti itu membuatnya lebih baik, daripada harus meratapi gagalnya penelitian ini?

Tidak, biarpun begitu, Nanahoshi adalah seorang wanita yang kuat.

Aku yakin dia sudah siap menerima kegagalan seperti ini.

Setidaknya, itulah yang kupikirkan…….

"Aaaaaaaaaaaahhhhhh ......!"

Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari ruang penelitian.

Bersamaan dengan itu, aku mendengar suara sesuatu yang pecah.

Suara seseorang mengamuk.

Aku berbalik dan segera kembali ke ruang penelitian.

"Aaaaaaaah!"

Di sana, Nanahoshi sedang ngamuk dengan rambutnya yang acak-acakan.

Dia merobek-robek buku-buku yang ditulisnya sendiri menjadi carikan kertas kecil, kemudian menyebarkannya, dia kehilangan kendali, dia membalikkan rak, dan menghambur-hamburkan isi toples ke segala penjuru.

Dia melepas topengnya dan melemparkannya ke bawah.

Sambil mencoba menggaruk wajahnya, dia terhuyung-huyung ke dinding.

Sembari memukuli dinding, dia membalikkan, dan menyebarkan isi toples ke mana-mana.

Masih belum puas, dia terus membanting isi toples yang sudah berserakan di lantai, dia berdiri lagi dan berusaha merobek-robek rambutnya sendiri.

Aku langsung panik, kemudian aku bergegas mencengkram tangannya untuk menghentikan semua kegilaan ini.

"Woi ... tenanglah!"

"Aku tidak bisa pulang, aku tidak bisa pulang, aku tidak bisa pulang ..."

Nanahoshi menggumamkan itu berulang kali, dengan tatapan mata kosong.

Semua ototnya mengejang, seakan-akan dia menghimpun kekuatannya untuk mengamuk kapanpun dia mau.

"Aku tidak bisa pulang, aku tidak bisa pulang, aku tidak bisa pulaaaaaaaaaaaaaaaang!"

Nanahoshi meronta-ronta.

Dia mencoba melepaskan diri dariku sampai tetes keringatnya yang terakhir.

Untungnya, semua gadis hikkikomori tidak memiliki stamina yang kuat.

Mereka lemah.

Tidak mungkin dia bisa melepaskan diri dariku.

Tak lama kemudian, dia berhenti meronta, dan akhirnya jatuh lemas.

Ketika aku mulai melepaskan tanganku, dia hanya bisa jatuh tersungkur di lantai.

"Hei, apa kau baik-baik saja?"

Setelah melihat wajah itu, secara refleks aku menyadari bahwa dia berada dalam bahaya.

Warna wajahnya putih pasi, sorot matanya kosong, dan ada kantong mata gelap di bawah kelopak matanya, bibirnya telah kehilangan warnanya, mengering, dan retak.

Inilah wajah seseorang yang mengalami depresi berat setelah mendapati kegagalan serius.

Dia mungkin mencoba bunuh diri.

"...."

Aku tidak bisa mengatasi ini sendirian.

Apa yang harus kulakukan?

Siapa yang bisa membantuku di saat seperti ini...?

Sylphy.

Iya, Sylphy.

Kalau ada Sylphy di sini, dia pasti bisa membantuku, entah bagaimana caranya.

Ah benar juga, hari ini dia tidak ada jadwal jaga malam di tempat Tuan Putri.

Baiklah, hari ini aku akan pulang ke rumah bersama Nanahoshi.

Itu dia.

Tidak, tapi sebelum itu, bukankah lebih baik jika aku menenangkannya di suatu tempat.

"Apa kamu baik baik saja?"

"..."

"Kau bekerja terlalu keras, tahu. Beristirahatlah hari ini."

"..."

Nanahoshi tidak menanggapi.

Aku membalikkan bahunya dan setengah memaksanya berdiri.

Dengan begitu, aku meninggalkan ruang penelitian sembari membawanya.

Kuncinya ... Ah tidak, kunci saja nanti.

Kurasa akan baik-baik saja membiarkan ruangan ini terbuka selama 1 atau 2 hari. Mungkin saja.

Dengan begitu, aku menuju ke tempat Sylphy berada, yaitu di ruang kelas murid tahun kelima.

Atau, aku bisa memanggilnya keluar.

Aku terus berjalan sambil membopong Nanahoshi, tatapan mata orang-orang di sekitar tertuju pada kami.

Kemudian, kami bertemu dengan sekumpulan murid di antara kelas.

Mereka berbicara dengan keras.

Kami terlalu mencolok.

Apakah karena seorang wanita menyandarkan kepalanya pada bahuku?

Sekarang Nanahoshi tidak mengenakan topengnya.

Lebih baik kami tidak mengundang perhatian.

Tapi apa yang harus aku lakukan?

"Shisho!"

Aku mendengar suara itu dari belakang.

Setelah berbalik. Kudapati Zanoba di sana.

"Shisho ... ada apa !?"

"Zanoba, Nanahoshi dalam bahaya, bantu aku."

"... apakah dia sakit !?"

"Sepertinya begitu."

"Kalau begitu, kita harus memindahkannya ke ruang perawatan sekarang."

Ya, pertama-tama kita harus pergi ke sana.

Ruang perawatan, atau dulu aku lebih sering menyebutnya UKS.

Baiklah.

"Shisho, aku akan membawanya."

"Lakukan dengan sopan."

"Tentu saja, kemarilah, Silent-dono."

Zanoba mengangkat Nanahoshi dan membawanya seperti seorang putri.

Dia memegangnya dengan mantab dan stabil. Nanahoshi sama sekali tidak menolak.

Dia benar-benar lemas, seakan-akan jiwanya lepas dari raganya.

"Minggir kalian semua!"

Sembari Zanoba berteriak, kami langsung melewati kerumunan murid.

Mereka menyibak seperti laut yang terbelah.

Aku pun mengikutinya dari belakang.

Bagian 2[edit]

Kami sampai di ruang perawatan.

Kami menempatkan Nanahoshi di tempat tidur.

Ekspresi wajahnya kosong.

Wajahnya sangat mengerikan.

Seakan-akan, sang malaikat pencabut nyawa sudah berada di dekatnya.

Aku sudah menyampaikan kabar ini pada salah satu penyihir penyembuh terbaik di sekolah ini, yaitu Sylphy, namun dia masih bertugas.

Tapi, kerusakan mental seseorang tidak bisa disembuhkan dengan sihir penyembuh.

Tiba-tiba, aku melihat kakiku, di sana ada Juile yang menarik-narik mansetku.

"Master, wajahmu terlihat mengerikan."

Setelah mendengar kata-kata itu, aku menyentuh wajahku sendiri.

Sekarang, aku ingin tahu ekspresi macam apa yang kubuat.

Ah, pastilah sangat menyeramkan.

Aku harus lebih tenang.

"Yeah, wajahku pasti jelek sekali, ya."

Aku meletakkan tanganku di atas kepala Julie dan menepuknya.

Sepertinya, aku telah membuat gadis kecil ini khawatir.

"Permisi, Shisho."

Tiba-tiba, aku diberi secangkir minuman dari samping.

Zanoba yang melakukannya.

"Terima kasih."

Aku menerimanya sembari mengucapkan terima kasih, kemudian meminumnya.

Sepertinya dia mendapatkan minuman ini dari sebuah kendi yang tersedia di ruang perawatan.

Ketika aku meminumnya, seakan-akan lidahku terasa seperti tanah gersang yang barusan saja disirami air.

Tanpa kusadari, sepertinya mulutku sudah begitu kering.

"Fu ..."

Aku duduk di kursi dan menarik napas panjang.

Zanoba berdiri di sampingku, diam-diam dia bertanya.

"Shisho, apa yang terjadi? Ini pertama kalinya aku melihat Shisho sepanik ini."

"Ah..."

Aku menjelaskan hal-hal yang terjadi di ruang percobaan.

Eksperimen tersebut gagal dan Nanahoshi mulai lepas kendali.

Sepertinya dia akan mati jika aku meninggalkannya sendirian, maka aku pun menyelamatkannya.

Setelah Zanoba mendengarnya, dia memandang Nanahoshi dengan ekspresi galau.

"Kurasa, dia tidak melakukan penelitian ini dengan ikhlas?"

"... sepertinya itu ada benarnya juga."

Tidak-tidak, bukannya begitu.

Ini bukan permasalahan ikhlas atau tidak.

Masalahnya adalah “keharusan”… dia tidak mungkin bisa kembali kalau dia tidak menjalankan penelitian itu.

Kalau penelitiannya tidak berjalan dengan baik, ya seperti inilah akhirnya, apa boleh dikata.

Sudah enam tahun sejak insiden teleport membunuh ribuan jiwa.

Dia tersandung pada langkah pertama.

"..."

Aku mendesah kemudian rebahan di kursi.

Entah kenapa, aku merasa begitu lelah.

Zanoba tidak mengatakan apapun setelahnya.

Kami hanya menatap kosong pada langit-langit di hadapan Nanahoshi, saat ini hanya diam yang bisa kami lakukan.

Bagian 3[edit]

Setelah beberapa saat, Nanahoshi memejamkan mata, lalu tertidur.

Hampir bersamaan dengan itu, Sylphy pun muncul.

Ariel tidak ada.

"Aku datang untuk memastikan kabar bahwa Rudi dan Zanoba-kun membawa seorang siswi ke ruang perawatan. "

Sepertinya kabar itu sudah menjadi rumor.

Aku membuat seorang siswi pingsan, membawanya ke ruang perawatan, kemudian aku melakukan hal yang tidak-tidak padanya.

Itu sungguh kejam, mengapa mereka begitu tidak mempercayaiku. Apakah karena aku? Seorang Bancho?

Padahal aku tidak melakukan apapun untuk mendapatkan kepercayaan mereka.

Baiklah.

Aku memberitahu Sylphy tentang hal-hal yang terjadi di ruang penelitian.

Percobaannya gagal, dan setelah itu Nanahoshi mengamuk.

Kemudian, semuanya berakhir seperti ini.

"Beneran nih??"

Ekspresi wajah Sylphy berubah serius, kemudian dia menatap Nanahoshi.

"Sepertinya berbahaya jika kita tinggalkan dia sendirian, bahkan dia bisa saja bunuh diri. Oleh karena itu, kurasa kita perlu membiarkannya menginap semalam di rumah kita. "

"Bukankah lebih baik kita tinggalkan dia di ruang perawatan?"

"Pada saat dia bangun, akan lebih baik bila ada orang yang dia kenal di sisinya."

Paling tidak, pada saat depresi seperti ini, tidak baik kalau kita membiarkannya sendirian.

Dia bisa tenggelam semakin dalam pada keputusasaannya.

Nanahoshi masih muda. Kondisi mentalnya masih labil, jadi dia tidak bisa bertahan sendirian dalam kondisi selemah ini.

Mungkin saja, dia akan mengamuk lagi ketika sudah bangun nanti.

Namun, aku bisa merasakan bahwa stressnya kali ini berbeda dari yang biasanya.

Ketika terluka, hati manusia tidak akan bisa disembuhkan dengan begitu mudah.

Dengan kata lain, satu-satunya solusi yang bisa dipikirkannya saat ini adalah bunuh diri.

"Aku tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk menenangkannya. Hanya saja, aku merasa bahwa kita harus merawatnya untuk beberapa hari ini, dan membiarkannya menginap di rumah kita."

"Umm, gak papa nih kalau kuserahkan semua masalah ini padamu?"

"Gak papa sih, asalkan jangan suruh aku menyiapkan makanan untuknya, karena masakanku tidaklah seenak yang kau kira."

Artinya, dia akan dikarantina sampai dia tenang.

Mungkin lebih baik jika kita membuatnya melupakan kenyataan ini untuk sementara waktu.

Terkadang, lari dari masalah adalah suatu hal yang perlu dilakukan untuk menenangkan diri sejenak.

Ini mirip seperti, “mundur selangkah, untuk maju lebih jauh”.

"... Aku gak berniat melakukan hal yang tidak-tidak padanya, lho."

"Aku mengerti! Tapi, apakah ada suatu hal yang membuatmu merasa bersalah?"

"Tidak ada."

Aku sama sekali tidak merasa bersalah.

Meskipun begitu, itu tidak merubah kenyataan bahwa aku membawa wanita lain ke rumahku.

Bukan hanya wanita biasa… dia adalah wanita teladan yang kini lemah tanpa daya.

Tapi, sepertinya Sylphy sudah mempercayaiku sepenuhnya.

Jadi, inilah kepercayaan istri pada suaminya, ya.

"Aku akan menyerahkan kasus ini sepenuhnya padamu, Rudi. Jadi, hari ini kau akan pulang bersamanya?"

"Yeah… ah, iya… sepertinya aku tidak bisa menemanimu belanja, gak papa ya?"

"Serahkan padaku."

Aku mengangguk mantab pada istriku yang bisa dipercaya.

Sylphy memang bisa diandalkan.

Bagian 4[edit]

Setelah meninggalkan sekolah, aku bergegas pulang ke rumah.

Zanoba menawarkan diri untuk ikutan mengangkut Nanahoshi.

Tadi dia menggendongnya bak seorang putri, tapi kini dia menggendongnya di punggung seperti membawa karung.

Zanoba adalah seorang pangeran, tapi entah kenapa dia cocok juga menggendong karung seperti tukang.

"Maafkan aku karena telah merepotkanmu, Zanoba."

"Ah tidak, toh aku hanya berguna untuk urusan seperti ini."

Zanoba dengan mudah menggendong Nanahoshi yang masih terkulai lemas.

Julie mengikuti di belakangnya.

Kalau Zanoba mengenakan pakaian selam dan bor, dia akan mirip sekali seperti Mr. Bubble, apalagi ada Julie di dekatnya. [10]

Paling tidak, aku ingin membantu dengan menggendong Julie.

"Hyaa! Master, ada apa ini?"

"Tidak ada apa-apa."

Zanoba baru saja melirik sekilas ke arahku.

Aku berjalan sambil menggendong Julie di pelukanku.

Tanpa kuduga, tubuh Julie ternyata benar-benar ringan.

Setahun sebelumnya, tubuhnya hanya terdiri dari kulit dan tulang, tapi sepertinya dia makan dengan benar akhir-akhir ini.

Ototnya tidak terlalu besar sih, tapi bukankah itu wajar bagi anak umur 7 tahun?

"Julie, apakah Zanoba baik padamu?"

"Ya, tuan memberiku banyak makanan."

"Aku mengerti, Tuanmu memberikan banyak makanan rupanya?"

"Tuan memberiku banyak makanan yang enak-enak."

"Bagus sekali."

Kalau dipikir-pikir lagi, aku penasaran apakah Nanahoshi benar-benar makan dengan layak akhir-akhir ini.

Pada saat aku membopongnya, dia terasa begitu kurus.

Yahh, tubuhnya tidak sampai seringan bulu sih, tapi tetap saja dia tidak sehat.

Mungkin dia tidak makan dengan benar, dan hanya mengurusi penelitiannya saja.

Makanan adalah obat untuk menstabilkan emosi.

Makanlah hidangan yang enak, atau makanlah bareng orang yang kau sayangi. Itu adalah obat yang manjur untuk menangkal stress.

Dengan begitu, kau bisa lebih bahagia.

Sepertinya, Nanahoshi sama sekali tidak mempertimbangkan itu.

"Fuuuuuhhh ..."

Aku mendesah.

Aku penasaran bagaimana cara hidup Nanahoshi selama ini.

Tidak makan dengan benar, dan hanya terfokus pada penelitian. Itu sungguh pola hidup yang tidak sehat.

Dia tidak pernah ngobrol dengan siapapun, dan setiap hari dia menghabiskan waktu hanya dengan menggambar lingkaran sihir.

"Shisho… ini semua bukanlah salahmu, jadi jangan terlalu dipikirkan."

"Yeah, aku mengerti."

Tampaknya Zanoba mengerti makna dari desahan panjangku barusan.

Dia menatapku dengan wajah begitu serius.

Sepertinya dia lebih mengkhawatirkanku daripada Nanahoshi.

Yah, karena Zanoba tidak terlalu dekat dengan Nanahoshi.

Ya, mau bagaimana lagi.

"..."

Untuk beberapa saat, kami berjalan dalam keheningan.

Lalu aku mendengar suara detak jantung Julie.

Karena Julie masih anak-anak, suhu tubuhnya lebih tinggi dan lebih hangat dariku.

Entah kenapa, aku jadi santai ketika merasakan detak jantung ini.

Nanti, aku akan membelikan Julie sesuatu.

Sesaat kemudian, kami sampai di rumahku.

Kami menempatkan Nanahoshi pada kamar yang sudah kusiapkan untuk adik perempuanku.

Dia benar-benar berbaring dengan lemas di tempat tidur.

Matanya terbuka.

Tampaknya dia sempat terbangun.

Tapi, tatapan matanya masih kosong. Aku tidak tahu ke arah mana dia memandang.

Dia hampir mirip seperti mayat.

Aku tidak yakin, apakah dia benar-benar sanggup kembali normal seperti sedia kala ...

Kalau menurut dugaanku sih, kesempatan itu masih ada.

Kondisinya kritis, tapi aku yakin dia tidak apa-apa.

Ketika kau terjatuh ke dasar jurang yang dalam, yakinlah kau bisa mendaki lagi untuk kembali ke tempat semula.

Tadinya dia bertingkah seperti orang yang kejang-kejang.

Sukurlah itu tidak berlanjut.

Kemduian, aku meraba-raba pakaiannya, dan mengambil benda apapun yang tampak seperti senjata berbahaya.

Ada pisau kecil pada salah satu kantong bajunya.

Itu bukanlah senjata yang cukup berbahaya untuk membunuh orang, tapi untuk saat ini lebih baik kusita pisau tersebut.

Di ruangan ini tidak ada benda berbahaya yang bisa dia gunakan untuk menghabisi nyawanya sendiri.

Jendelanya ... oh iya, ruangan ini berada di lantai dua, sepertinya ada potensi bahaya pada jendala itu.

Sepertinya aku harus menutup jendelanya dengan sihir bumi, ya.

Sebetulnya dia masih bisa memecahkan kaca, dan menggunakan serpihannya untuk menyayat buluh nadinya sendiri, tapi nampaknya dia tidak punya cukup tenaga untuk melakukannya.

Karena Nanahoshi tidak bergerak

Kemudian, aku pun beranjak ke lantai satu.

"Apakah dia akan baik-baik saja?"

"Yahhh..."

Saat aku turun ke lantai pertama, entah kenapa Zanoba bertanya dengan cemas.

Padahal, biasanya orang ini tidak acuh pada apapun kecuali aku.

Meskipun begitu, dia adalah pria yang baik.

"Kau sudah banyak membantuku hari ini, Zanoba."

"Tidak, aku selalu merepotkan Shisho, jadi bantuan sekecil ini tidaklah masalah bagiku. "

Zanoba mengatakan itu dengan wajah seriusnya yang seperti biasa.

Seperti yang sudah kuduga, dia adalah pria yang bisa diandalkan.

"Shisho, Anda juga baik-baik saja, kan?"

"Aku? Memangnya kenapa?"

"Sepertinya Shisho begitu terpukul ketika Silent-dono pingsan."

Tentu saja aku merasa sedih.

Apakah kesedihan itu tercermin begitu jelas di wajahku?

Ya.

Sepertinya begitu.

Nanahoshi mengamuk bagaikan orang gila.

Setelah aku menghentikannya, dia hanya bisa terkulai lemas bagaikan cangkang kosong.

Ketika menyaksikan semua itu, aku jadi teringat masa lalu.

Kasus Nanahoshi sedikit berbeda denganku, namun penderitaan mental kami sama.

Aku merasakan empati padanya.

Kalau saat itu aku terus terpuruk, maka mungkin saja aku berakhir seperti Nanahoshi saat ini.

"Entah kenapa, ini mengingatkanku pada suatu memori kelam di masa lalu."

"Apakah Shisho berkenan menceritakannya?"

"... Sewaktu kecil, aku pernah mengalami depresi seperti itu, dan akhirnya aku hanya bisa mengurung diri."

"Aku tidak bisa memahami perasaan itu."

Mungkin aku tidak pandai menerangkannya, jadi Zanoba tidak bisa memahaminya, tapi perasaan memanglah bukan suatu hal yang bisa kau pahami dengan mudah.

"Sepertinya begitu."

"Pokoknya, kalau Shisho membutuhkan tenagaku lagi, jangan sungkan untuk memanggilku, karena hanyalah tenaga yang kupunya untuk membantumu. "

"Yeah, aku pasti akan mengandalkanmu nanti."

Aku bersyukur atas niat baik Zanoba.

Orang ini… tanpa patung pun, dia masihlah orang baik.

Setelah itu, beberapa saat berlalu, dan Zanoba pun pamit undur diri.

Karena tidak ada lagi yang perlu aku kerjakan, maka aku pun menghabiskan waktu dengan membaca buku, sedangkan Nanahoshi tetap tertidur.

Aku sedikit ragu, apakah aku bisa meninggalkannya atau tidak.

Dalam keadaan galau seperti ini, ada kalanya kau ingin sendirian.

Dan dia selalu sendirian selama ini.

Tak punya teman.

Akhirnya, aku memutuskan untuk menemani Nanahoshi di sisinya, sampai Sylphy kembali.

Bab 3 - Ilham[edit]

Bagian 1[edit]

Satu minggu telah berlalu sejak kami mulai merawat Nanahoshi.

Dia hanya menatap kosong sepanjang hari.

Namun, sepertinya fase kritisnya sudah lewat.

Nafsu makannya rendah, dia hanya mau makan kalau kami paksa, dan begitupun dengan mandi.

Dia masuk ke kamar mandi, namun tidak mau membasuh tubuhnya.

Namun, karena fase kritisnya sudah lewat, aku bisa merasakan sedikit keinginan hidup pada Nanahoshi daripada sebelumnya.

Tapi dia masihlah begitu lemah, seakan-akan dia bisa hancur kapan pun jika diberi sentuhan sedikit saja.

Dia juga tidak memiliki energi.

Dia bagaikan seorang cewek yang ditipu kelompok Yakuza, kemudian dipaksa main video JAV. [11]

Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian.

Aku harus berhati-hati agar Luke tidak memangsa gadis lemah seperti ini.

Satu-satunya yang kurasakan pada diri Nanahoshi saat ini adalah, “kebosanan hidup”.

Percobaannya berkali-kali gagal, namun sepertinya dia memendam semua kekesalan itu.

Dia tampak begitu percaya diri dengan dasar-dasar teorinya yang kuat.

Aku penasaran, apakah kegagalan ini membuat semua jeri payahnya percuma.

Aku tidak pernah mengalami kegagalan sebesar itu sebelumnya.

Mungkin, satu-satunya saat yang paling mirip dengan kegagalan ini adalah ketika data game online yang sudah kumainkan selama bertahun-tahun, tiba-tiba tidak valid, kemudian terhapus.

Sesaat setelahnya, aku mendapatkan notifikasi bahwa aku gagal log in, kemudian akunku di-ban. Jantungku berdetak dengan begitu kencang, dan akhirnya aku menghabiskan hari tanpa melakukan apapun.

Setelah memprotes ke admin, dan merengek-rengek, tetap saja semuanya tidak bisa dikembalikan, dan akhirnya aku pun menangis sendirian sampai tertidur.

Setelah itu, aku tidak termotivasi melakukan apapun selama sebulan.

Waktu itu, aku bersumpah pada diri sendiri bahwa aku tidak akan pernah lagi bermain game online dengan serius.

Kasus Nanahoshi berbeda dengan game online.

Dia memiliki tujuan untuk kembali ke dunia asalnya.

Jika dia harus menyerah, itu sama saja dengan kehilangan tujuan hidup.

Aku memikirkan berbagai hal untuk memberikan bantuan padanya ...

Kalau begini terus, dia akan menghabiskan hari-harinya tanpa melakukan apapun.

Namun, aku bahkan tidak yakin apakah dia masih bisa mendengarkan perkataanku.

Itulah yang kupikirkan.



"Aku pikir, aku sudah menutup semuanya ..."

Suatu hari, tiba-tiba dia mengatakan itu.

Aku tidak merespon dan hanya mendengarkan.

"Lingkaran sihir, kalau aku boleh mengumpamakan, dunia kita sebelumnya itu mirip seperti papan sirkuit. Ketika kau menggabungkan sejumlah pola sirkuit, maka kau bisa membuatnya berfungsi. Namun, tak peduli seberapa keras kau mencoba, ada bagian-bagian tertentu yang tidak bisa disatukan. Tak peduli sebanyak apapun aku merubah susunan kabelnya, selalu saja ada 1 – 2 titik yang tidak mau terhubung. Aku mencoba menghubungkannya secara paksa, tapi di titik-titik lain selalu terjadi kerusakan. "

Untuk menghubungkan rangkaian yang tidak bisa saling terkoneksi, dia memperbesar skalanya sampai dua kali lipat.

Kemudian untuk memperbaiki suatu kesalahan, dia menambahkan sirkuit lainnya.

Namun pada akhirnya, yang dia dapatkan hanyalah suatu lingkaran sihir yang tetap tidak berfungsi karena kerusakan di suatu titik.

Sebenarnya, kegagalan ini masihlah suatu pencapaian yang perlu dibanggakan.

Hanya saja, ada suatu serpihan terakhir yang membuat semuanya gagal.

"Ini bertentangan dengan hukum fisika. Singkatnya, aku tidak akan bisa kembali ke duniaku."

Itu adalah lingkaran sihir yang begitu rumit seakan-akan mirip seperti kertas mache.

Aku yakin Nanahoshi telah berusaha keras membuatnya.

Dengan upaya sekeras itu, harusnya sirkuit yang tidak terhubung, akhirnya bisa terhubung.

Namun, meskipun satu sambungan berhasil terhubung, selalu muncul sambungan lain yang terputus.

"Sudah tidak mungkin ..."

Nanahoshi mengatakan itu sembari meringkuk di sudut ranjang.

Bagian 2[edit]

Aku memutuskan kembali ke laboratorium penelitian Nanahoshi, untuk mendapatkan beberapa informasi.

Setelah mendengar ceritanya, aku teringat sesuatu.

Mungkin saja, ada suatu petunjuk yang tersisa di sana.

Meskipun begitu, aku tidak ingin memberikan harapan palsu padanya.

Pertama, aku harus memikirkan apa yang bisa kulakukan, kemudian memeriksanya.

Hari berikutnya. Aku memanggil Cliff ke ruang penelitian Zanoba.

Jika tiga orang bertemu, katanya kau akan mendapatkan ilham lebih mudah.

Aku memutuskan untuk meminjam kecerdasan Genius-sama.

Tentu saja, Elinalise juga ikut ke ruang penelitian.

"Aku masih tidak percaya Silent terpuruk seperti itu."

Sepertinya Elinalise tinggal di laboratorium penelitian Cliff, tapi aku penasaran, apa yang terjadi dengan kelasnya.

Elinalise sudah lama bersekolah di akademi ini, dia bahkan masuk pada tahun yang sama denganku, tapi jangan heran kalau besok dia drop out.

Yahh, bagaimanapun juga, dia adalah orang yang bebas.

"Tapi dia tampak seperti gadis yang lebih kuat dariku."

"Orang yang benar-benar kuat tidak akan mengasingkan diri, ataupun mengkhawatirkan sesuatu."

"Yahh, aku rasa itu benar."

Elinalise mengangkat bahunya.

Sepertinya Elinalise juga tidak banyak berkomunikasi dengan Nanahoshi.

Mungkin meminta bantuan pada mereka adalah suatu keputusan yang tepat.

"Kalau begitu, kalian berdua… pertama-tama lihatlah ini."

Aku menunjukkan lingkaran sihir itu pada Zanoba dan Cliff.

Pada saat itu, wajah Cliff langsung cemberut.

"Sungguh lingkaran sihir yang kotor."

Hmm, tanggapan yang cukup menarik.

"Jadi, ada lingkaran sihir yang kotor dan yang bersih?"

"Tentu saja. Saat kau menciptakan alat sihir, efeknya tidak akan optimal jika kau membuatnya terlalu kecil dan kotor. Kalau aku yang membuatnya, aku pasti akan menciptakannya dengan sebersih mungkin. Misalnya, di sini, jika kau ingin menghubungkannya ke sini, maka area ini harus dibuat sebersih mungkin."

"Oh?"

Cliff mengarahkan jarinya ke lingkaran sihir, kemudian dia menerangkan itu semua dengan penuh percaya diri.

Yahh, siapapun boleh mengkritik kerjaan yang sudah selesai.

Tapi, kritikan Cliff belum tentu benar, kalau pun kami mengikuti saran Cliff, jumlah error-nya akan semakin meningkat.

Aku yakin itu.

"Ah, tapi, idenya luar biasa memang. Aku tidak pernah mengira ada seorang penyihir yang membuat loop pada bagian ini ... ah, aku paham, itu karena deskripsi pada sisi ini menjadi rumit ...?"

Cliff menggumamkan beberapa hal sambil melihat lingkaran sihirnya.

Ini misalnya, itu misalnya…. Dia terus menduga-duga beberapa hal yang tidak pernah kumengerti.

Aku penasaran, apakah aku juga perlu mempelajari lingkaran sihir ya?

Sepertinya aku akan memahaminya, selama aku belajar dengan tekun…. Ah, gak juga sih.

"Shisho, lingkaran sihir macam apa ini?"

"Ini adalah lingkaran sihir pemanggilan yang Silent telah teliti selama ini, namun dia mendapati sedikit kebuntuan, aku ingin kalian juga melihatnya."

Setelah mengatakan itu, Zanoba memiringkan kepalanya.

"Namun, Shisho…. Bukankah sihir pemanggilan tidak diajarkan secara rinci di sekolah?"

"Yahh, meskipun kita tidak bisa menemukan apapun, kurasa itu tidak masalah."

Hanya saja…. Jika kau tidak memahami sesuatu, kemudian kau berpikir bersama-sama temanmu, maka salah satu di antara kalian mungkin akan menemukan jawabannya.

Sebaliknya, jika bidangnya berbeda, ide-ide yang keluar mungkin juga akan berbeda.

"Sekarang, kuminta kalian melihat bagian ini, sepertinya lingkaran sihirnya terputus di sini, apakah kau mengerti sesuatu?"

Aku mengarahkan jari aku ke bagian yang sobek ketika percobaan berlangsung.

"... Eh? Iya, benar juga, ada celah di sini, aku tadi tidak menyadarinya. Lingkaran sihir ini tidak lengkap. Ummm, harusnya bagian ini terhubung ke ... sini?"

Cliff terkejut.

Meskipun menyebut dirinya sendiri jenius, sepertinya dia tidak bisa mengenali kesalahan itu secara langsung.

"Untuk menghubungkan sirkuit ini, apakah kau punya ide?"

Setelah menanyakan itu, Cliff menyilangkan lengannya dan berpikir.

Dia mulai bergumam pada dirinya sendiri tentang ini dan itu.

Dia sedang menulis berbagai catatan pada memo di tangannya.

"Ini adalah masalah yang sulit. Jika kau menggambar ulang dari nol ... Tidak tapi ...tidak mungkin."

"Mungkinkah akan bekerja jika kita menggunakan sistem jamak?"

Ketika Cliff hampir menyimpulkan sesuatu, Zanoba pun menyela.

Wajah Cliff terlihat semakin bingung.

"Sistem jamak? Apa maksudmu?"

"Aku juga sedang meneliti tentang patung. Pada patung hidup yang pernah kutemukan di rumah Sisho, terdapat beberapa lapis lingkaran sihir yang saling tumpang-tindih. Namun, karena aku baru saja memulai penelitianku, maka aku sama sekali tidak bisa meniru menggambar lingkaran sihir seperti itu ... "

"Tunggu sebentar, maksudmu boneka yang pernah dikira hantu itu, kan? Bisakah kau menunjukkannya padaku sebentar?"

"Shisho, gak papa nih?"

Entah kenapa, dia meminta izin padaku terlebih dahulu. Setelah menunggu beberapa saat, Zanoba pun kembali sembari membawa potongan lengan patung tersebut.

Cliff melihat lingkaran sihir yang terdapat pada potongan lengan itu dengan penuh antusias.

Kemudian, dia menyatakan sesuatu.

"Yang menciptakan lingkaran sihir ini adalah seorang jenius."

Itu adalah pernyataan yang hampir tidak pernah keluar dari mulut seorang Cliff yang sombong.

"Aku tidak pernah melihat lingkaran sihir seperti ini sebelumnya ... a ... aku sama sekali tidak mengerti teori di balik penggambaran lingkaran sihir ini. Ada dua lingkaran sihir yang saling tumpang-tindih ... Tidak, bukan begitu, bahkan lebih dari dua. Sepertinya, jika lingkaran-lingkaran sihir ini tidak saling bertumpukan seperti ini, sistemnya tidak akan berjalan dengan benar ... Tapi, meskipun patung ini sudah hancur, itu masih bisa bergerak ... Kok bisa? ... Sialan, apa yang terjadi dengan lingkaran-lingkaran sihir ini?"

Cliff menggertakkan giginya, dan ekspresi kekalahan terlihat jelas di wajahnya.

Dia terlihat seperti seorang pangeran dari negeri sayur yang iri pada sang superman legendaris. [12]

"Aku belum bisa memahaminya secara detail. Menurut buku yang pernah kubaca, lingkaran sihir itu semata-mata dibuat untuk mengontrol pergerakan siku patung."

Setelah Zanoba mengatakan itu dengan acuh, Cliff terlihat seperti hendak nangis.

Aku yakin dia sangat malu karena Zanoba tahu sesuatu hal yang tidak dia pahami.

Elinalise segera bergegas mendekatinya.

Dia menarik kepala Cliff ke dadanya dan membelainya.

"Ya, ya… aku sekarang paham karena penjelasan Cliff sang jenius. Jika kau menyelidikinya lebih lama, kau pasti akan mengerti detailnya.”

"A-a-aku tahu itu!"

Wajah Cliff memerah, dan sepertinya dia kembali bersemangat.

Elinalise memang benar-benar hebat memainkan perasaan lelaki.

Tapi, sekarang ada hal yang lebih penting yang harus kita pecahkan, jadi mesra-mesraannya nanti saja ya.

"Cliff-senpai. Jika kau menggunakan teknik yang sama pada boneka ini, apakah kau bisa memecahkan masalah di lingkaran sihir Silent?"

"Aku tidak tahu, tapi itu mungkin saja."

Tampaknya dia tidak tahu pasti ya.

Namun, aku yakin itu adalah suatu petunjuk.

Sampai sekarang, Nanahoshi hanya pernah menggambar lingkaran sihir satu lapis.

Kalau dia ingin membuat lingkaran sihir berlapis, pasti masih ada banya metode yang belum terpikirkan olehnya.

Atau mungkin dia tidak mencobanya karena ada alasan lain.

Aku berharap bahwa pembicaraan kami akan menjadi titik terang bagi masalah Nanahoshi.

Mudah-mudahan dia kembali mendapatkan motivasinya.

Bagian 3[edit]

Keesokan harinya, aku membawa Nanahoshi keluar.

Aku akan membawanya kembali ke ruang penelitiannya.

Ruangan yang masih berserakan ditinggalkan sama seperti keadaan kemaren.

Atmosfer kelam masih menyelimuti ruangan ini, namun Zanoba dan Cliff sudah bersiap-siap kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Mereka memeriksa bahan penelitian yang Nanahoshi teliti sampai saat ini.

Setelah Nanahoshi melihat semuanya, tiba-tiba dia tertawa tersedu-sedu.

"Ada apa ini? Kenapa ada tiga pria di ruanganku? Kalian mau memperkosaku atau apa?”

Perkosa dia bilang.

Sudah sesakit itukah otakmu?

Setelah hanya sekali kegagalan ...

Yahh, satu kesalahan besar saja sudah cukup untuk membuat orang jadi gila.

"Apa maksudmu!? Aku adalah pengikut setia ajaran Milis, tahu!!"

Cliff langsung meledak-ledak.

Agama Milis serupa dengan agama Kristen dalam hal-hal tentang kesucian.

Kau hanya boleh menikahi satu wanita seumur hidupmu, dan jangan pernah berzinah dengan siapapun.

Itu adalah suatu pantangan.

"Ah, baiklah, aku mengerti."

Nanahoshi berjalan dengan langkah terhuyung-huyung, lalu dia duduk di kursi.

Kemudian, dia bersandar pada kursi itu dengan begitu lemas.

"Cliff-senpai, Zanoba, sekarang… mulailah membicarakan temuan kita kemaren."

Aku menunjukkan kepada Nanahoshi sejumlah ide yang telah dipikirkan oleh mereka berdua tadi malam.

Nanahoshi mendengarkan penjelasan, namun kelihatannya dia sama sekali tidak tertarik.

Kami pun mengutarakan beberapa ide alternatif, seperti:

Lingkaran sihir yang telah dibetulkan oleh Cliff.

Lingkaran sihir berlapis yang diusulkan oleh Zanoba, setelah melakukan beberapa penelitian tentang patung hidup.

Bahkan aku ikut menyarankan ide tentang lingkaran sihir tiga dimensi.

Namun dia hanya melihat kami dengan tatapan mata tak acuh.

Tanpa ada perubahan sedikit pun pada ekspresinya.

Dia hanya menatap bengong pada kami.

Bengong.

Namun, ternyata dia sedang mengamati sesuatu.

Perlahan-lahan, ekspresi wajahnya mulai menunjukkan suatu minat.

Ekspresi wajahnya terlihat datar, namun ternyata dia sedang berkosentrasi.

"Ah."

Tiba-tiba, Nanahoshi mengucapkan sesuatu.

"Mungkinkah itu berhasil ...?"

Dan berbisik seperti itu.

Seketika, Nanahoshi tiba-tiba melompat dan berdiri dari tempat duduknya.

"Aku mengerti, aku mengerti, jadi kau tidak perlu terfokus pada satu lapis saja. Yahh, itu ada benarnya. Aku bisa menggambar beberapa lingkaran sihir, kemudian menggabungkannya secara bersamaan. Jika aku membuat lingkaran sihir yang berlapis-lapis, maka aku bisa mengatur ukurannya. Kenapa aku tidak memikirkan hal sesimpel ini!"

Dia mulai mondar-mandir di sekitar ruangan sebanyak tiga atau empat kali putaran, dan dia terlihat begitu gelisah.

Dia mengambil pulpen dan kertas di atas meja.

Kemudian, dia mulai menggambar diagram sihir dengan begitu tangkas.

Tampaknya dia juga sedang menulis rumus-rumus perhitungan, kemudian dia hapus itu, dan menulisnya lagi berulang-ulang.

"Ah, bukan begini, tidak seperti ini!"

"Hei, bukankah seperti ini?"

Cliff tiba-tiba menjulurkan kepalanya untuk melihat apa yang sedang Nanahoshi tulis dengan begitu gusar.

Dia menggunakan tinta merah untuk menambahkan beberapa tulisan pada catatan Nanahoshi.

Cliff-senpai memang jos.

Tapi dia tidak pernah tanggap dalam membaca suasana.

"Ah, aku paham ... kau pintar juga."

"Tentu saja, karena aku sangat jenius."

"Lalu bagaimana dengan ini? Gak papa nih seperti ini? Aku sih cukup meragukan yang bagian ini ...? "

"Eh ... tunggu sebentar ..."

Saling berdampingan, Cliff dan Nanahoshi saling bertukar pendapat sembari terus menuliskan berbagai hal pada kertas itu.

Aku mengintipnya, tapi yang bisa kulihat hanyalah tulisan yang terlihat seperti coretan anak kecil.

"Zanoba, apakah kamu mengerti?"

"Pada tingkatan seperti itu, aku sama sekali tidak mengerti ..."

Kami berdua seakan dikeluarkan dari grup ini.

Bagaimanapun juga, Cliff memang menakjubkan.

Padahal, dia masih baru meneliti lingkaran sihir, namun pengetahuannya sudah menyamai Nanahoshi yang telah melakukan penelitian itu selama bertahun-tahun.

Yahh, oke lah.

Asalkan Nanahoshi kembali bersemangat, aku juga ikut senang.

... Jika seperti ini, meskipun percobaan selanjutnya masih gagal, tapi aku yakin dia sudah mendapatkan dasar yang kuat.

"Zanoba, maaf merepotkanmu, tapi kumohon kau tetap di sini untuk mengawasi mereka."

"Shisho mau pergi ke mana?"

"Aku akan menghubungi Elinalise-san, jika dia tahu kekasihnya sedang berduaan dengan wanita lain, aku yakin dia pun akan merasa kesal."

Sambil mengatakan itu, aku pergi dari ruangan ini.

Saat aku meninggalkan ruang penelitian, aku bisa mendengar suara ceria Nanahoshi.

Bahkan, inilah pertama kalinya aku mendengar suara seceria itu dari Nanahoshi sejak pertama kali kami bertemu.

Bagian 4[edit]

Seminggu kemudian.

Nanahoshi menyelesaikan lingkaran sihirnya.

Itu adalah lingkaran sihir yang hampir setebal dek kartu, karena dia menumpukkan 5 lembar kertas secara bersamaan.

Masing-masing lingkaran sihir digambar secara terpisah, kemudian direkatkan oleh semacam pasta.

Sementara Cliff dan Zanoba mengawasi, aku mulai menuangkan Mana ke dalamnya.

Mana-ku tersedot terus menerus.

Lingkaran sihir mulai melepaskan cahaya.

Cahaya yang begitu terang.

Ruangan ini begitu silau, bagaikan disinari matahari di siang bolong.

Dari dalam cahaya… sedikit demi sedikit mulai terbentuk suatu wujud.

Pada saat cahaya padam, sesuatu dari dunia lain telah terpanggil ke dunia ini.

Botol plastik.

Tidak memiliki label atau tutup, itu adalah botol plastik yang sederhana.

"Oh, ini luar biasa, bukan?"

"Apa ini? Kaca? Bukan? Ini lebih mirip seperti ..."

Zanoba dan Cliff tidak bisa menyembunyikan kegembiraan saat melihat botol plastik itu untuk pertama kalinya.

Elinalise dan Julie juga, mereka mengintip dengan ekspresi penuh antusias.

Nanahoshi juga, setelah melihat benda yang berhasil dia panggil, dia mengepalkan tinjunya, sembari berbisik, “bagus…..bagus….bagus…”

Mereka semua melihat botol plastik itu.

Itu hanyalah botol plastik biasa.

Namun, jadi terasa luar biasa.

Karena botol plastik itu adalah bukti bahwa dunia kami yang sebelumnya benar-benar terhubung dengan dunia ini.

Itu bukanlah benda organik, tak punya nyawa, dengan bentuk yang sangat-amat sederhana.

Namun, benda seperti itu tidak pernah ada di dunia ini.

"Kita berhasil, bukan?"

Aku mengatakan itu pada Nanahoshi.

Kemudian dia mengangguk dengan begitu gembira.

"Ya, kita berhasil, dengan begini akhirnya kita bisa melanjutkan ke fase berikutnya! Lingkaran sihir yang menggunakan struktur berlapis, jika aku terus mengembangkan metode ini, kemungkinan besar kita bisa memanggil apapun. Kalaupun kau ingin merubah struktur lingkaran sihirnya, kau hanya perlu menambahkan dua atau tiga lapis lagi, kemudian ... "

Kemudian, Nanahoshi berbalik dan menatapku.

Secepat itu juga, dia langsung memalingkan wajahnya yang terlihat penuh rasa bersalah.

"... Maafkan aku…. A-aku berhutang padamu."

Mushoku10 09.jpg

"Kita harus impas, kan? Lain kali, kalau aku berada dalam masalah, kau harus membantuku, oke?"

"... Tentu ... Tentu saja."

Nanahoshi yang kalem sungguh menawan.

Tiba-tiba Elinalise melihat kami, dia menatap kami tanpa bergerak sedikit pun.

"Entah kenapa, kalian tampak dekat sekali ya."

"Elinalise-san, kau selalu saja menganggap serius hubungan orang lain."

"Yah, mau bagaimana lagi, kalian berdua kan pria dan wanita yang umurnya hampir sama. Tapi itu tidak baik, lho."

Mata ibu mertua mulai bersinar.

Aku sih gak punya niatan selingkuh.

Lagipula, Sylphy sudah tahu semuanya.

"Kurasa begitu… bagaimanapun juga, Rudeus dan Sylphy masihlah pengantin baru, akan runyam jadinya kalau istrinya salah sangka. "

Nanahoshi mundur selangkah.

Elinalise pun tersenyum, kemudian dia menepuk bahu Nanahoshi.

"Ufufu, jangan dipikirkan… ah, benar juga… ayo minum-minum di bar! Tentu saja nona ini yang akan traktir!"

Nanahoshi hanya membalas ajakan Elinalise dengan senyuman pahit.

Biasanya, dia akan menunjukkan wajah enggannya, dan terang-terangan menolak ajakan tersebut.

Namun, yah, hari ini dia tak kuasa menolaknya.

"Yahh, apa boleh buat, tapi setelah kutraktir minum, hutang budiku pada kalian dianggap impas, ya."

"Tentu saja, benar kan Cliff?"

Cliff yang sedang meremas dan mencengkeram botol plastik itu dengan penuh rasa penasaran, tiba-tiba menoleh setelah namanya dipanggil.

"Eh, Ah, ya… benar! Ya, anggap saja impas. Tapi, karena kemampuanmu sungguh hebat, maka lain kali bantulah juga penelitianku!"

Setelah mendengar kata-kata itu, Elinalise hanya menanggapinya dengan terkikik sambil tersenyum.

Bagian 5[edit]

Kami semua berangkat ke bar di siang bolong.

Entah kenapa, Rinia dan Purusena yang tadinya berada di kelas, sekarang ikutan minum bersama kami.

Mereka bilang bahwa mereka tidak mau ketinggalan kesempatan ini, jadi kami pun mengajaknya.

Aku penasaran, kenapa mereka bisa tahu kalau kami mau ditraktir minum.

Ketika melihat sekelompok siswa dan siswi penting mau minum-minum di bar, Ariel akhirnya juga ikutan.

Setelah menjelaskan apa yang telah terjadi, dia pun berkata, "Kalau begitu, akan kuajak penjaga kepercayaanku." lantas Sylphy akhirnya juga bergabung.

Pengawal itu hanyalah alasan, sebenarnya Ariel ingin agar Sylphy ikut bersenang-senang bersama kami.

Pada saat kami meninggalkan gerbang sekolah, tiba-tiba Badigadi sudah ikutan di belakang tanpa seorang pun menyadari kedatangannya.

Sejak kapan dia di situ ...

Ketika melewati Guild Sihir, Nanahoshi menarik beberapa lembar uang.

Tampaknya, dia menitipkan sejumlah besar uang di Guild Sihir.

Itulah pengganti bank.

Badigadi sih sudah biasa minum-minum di bar.

Masih tengah hari, sehingga pengunjungnya adalah pelanggan biasa.

Namun, Nanahoshi tidak terlalu mempermasalahkan hal seperti itu.

Di meja kasir, dia menjatuhkan sekantong penuh uang, dengan suara “bruk”.

"Hari ini kusewa semua tempat di bar ini."

"Eh?? Eh??"

Badigadi mengatakan, "Tunggu tunggu" pada si pemilik bar yang masih kebingungan.

Dia mengambil sekantong koin emas dari sakunya, kemudian menjatuhkannya juga di meja kasir dengan suara “bruk”. Pembayaran ganda.

"Hari ini adalah perayaan. Kami akan mentraktir semua pelanggan di kedai ini."

Itulah yang dia nyatakan.

Betapa loyal.

Raja iblis memang top, aku sangat memujamu.

Ekspresi wajah sang raja iblis seakan-akan mengatakan bahwa, menyewa seluruh bar seperti ini adalah hal yang biasa.

Kemudian dia berkata.

"Bawa keluar semua makanan pada daftar menu yang bar ini miliki!"

Ya, setidaknya semua orang pasti pernah punya keinginan mengucapkan kalimat seperti itu.

Gak masalah sih, toh bukan aku yang bayar, tapi apakah sang pemilik bar punya cukup banyak persediaan makanan untuk melayani pelanggan sebanyak ini?

Yahh, biarlah dia yang memikirkannya.

Ketika hidangan pertama datang, Raja Iblis berdiri, lantas dia berkata.

"Sebenarnya, kita sedang merayakan apa?"

"Penelitian Silent telah berhasil."

"Ahh, aku mengerti… kalau begitu… emm, namamu Silent, kan? Berikan sambutan pada kami."

Nanahoshi pun bangkit dari tempat duduknya.

Dengan sedikit wajah enggan.

".... Terima kasih banyak untuk kerjasama kalian hari ini."

"Baiklah, ayo bersulang!"

"Bersulaaaaaaang!"

Aku jadi teringat perjamuan yang kulakukan saat pesta pernikahan kami.

Bagian 6[edit]

Traktiran yang menyenangkan.

Ketika merayakan sesuatu, tidak masalah jika kita membuat kegaduhan dan minum-minum alkohol.

Perayaan seperti ini tak pernah kurasakan di kehidupanku sebelumnya.

Namun di dunia ini, aku merasakannya berkali-kali.

Ketika masih menjadi petualang, aku berhubungan dengan banyak orang, dan juga sering minum-minum bersama mereka.

Namun, entah kenapa aku selalu merasa bahwa hal seperti ini cukup merepotkan.

Orang-orang yang mabuk, membuat kegaduhan, bahkan kerusuhan… mereka sungguh bodoh.

Harusnya mereka juga bertoleransi dan memperhatikan orang-orang di sekitar mereka.

Namun, setelah berkali-kali melakukannya, akhirnya aku mengerti perasaan mereka.

Setiap manusia punya saat-saat dimana mereka perlu melepaskan segala beban yang selama ini mengganjal.

Aku pikir itulah nikmatnya.

Aku memikirkan semua itu sambil menonton Nanahoshi menyanyikan lagu Anime berbahasa Jepang sembari menjewer telinga Rinia.

Kalau kau tidak melepaskan semua kejenuhanmu sesaat, mungkin kau tidak akan bertahan lebih lama lagi.

Karena, hidup selalu dipenuhi dengan hal-hal yang menyakitkan.

Meskipun terpaksa, jika kau tidak meluangkan waktu untuk bersenang-senang seperti ini, maka lama-lama kau bisa stress.

Aku yakin, orang seusia Elinalise dan Badigadi pun mengetahui hal ini dengan sangat baik.

Mungkin itulah yang disebut kebijakan orang tua.

Yahh, ada beberapa pria yang tak kuat minum sampai kepalanya nyungsep ke gelasnya.

Alkohol memanglah obat terbaik.

Terkadang, alkohol bisa mengobati penyakit hati.

Hari ini Sylphy dan aku minum tanpa ragu.

Tapi, kami tidak minum alkohol di rumah.

Karena kita tidak memiliki kebiasaan seperti itu.

Untuk pertama kalinya, hari ini aku mengerti betapa buruknya sikap Sylphy saat mabuk.

Ah tidak, itu tidak buruk.

Tidak terlalu buruk.

Hanya saja, dia tidak kuat minum banyak alkohol.

"Hei, Rudi, elus-elus kepalaku."

"Ya, ya, baiklah."

"Maukah kau mengunyah telingaku?"

"Baiklah…. Selamat makaaaan."

"Awawa, geli."

Kalau mabuk Sylphy jadi makin manis.

Hebat.

Kalau begitu, kami akan minum secara rutin di rumah nanti.

Ah, tapi kalau begini, gawat jadinya kalau dia minum ketika aku tidak di rumah.

Sepertinya aku harus melarang dia minum di luar rumah.

Aku penasaran, apakah dia tidak mempermasalahkan larangan seperti itu.

Ah, kurasa tidak apa-apa.

Dia kan sudah menjadi milikku sepenuhnya, jadi gak papa dong bila aku melakukan apapun sesukaku.

"Rudi, kau boleh meremas-remasku, lho?"

"Ya, baiklah, kalau begitu akan kupegang pinggulmu."

"Uee ~ aku sungguh senang..."

Sepertinya tawa Sylphy terkesan jorok.

Ah, tapi memeluk cewek mabuk oke juga sih, aku mulai mengerti mengapa orang-orang begitu suka lagu cinta.

N ban ba, aku ra ssame ra ssa. [13]

Baiklah, hari ini biar kuantar pulang perempuan ini, lagian rumahku tidak begitu jauh dari sini.

"Rudi umm, begini lho… anu… waktu itu… anu… aku….anu… merasa sedikit cemburu, lho."

"Eh, serius? Kenapa kok cemburu? Cemburu pada siapa? Belakangan ini aku sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan siapapun, lho."

"Maksudku, Ruijerd-san, kau pernah menceritakan kisah tentangnya, kan? Pada saat Rudi berbicara tentang Ruijerd-san, entah kenapa itu keren sekali. Dia pastilah orang yang spesial bagimu."

"Ah tidak, aku hanya menghormatinya, tidak lebih… Maafkan jika ceritaku itu membuatmu merasa cemburu."

"Tidak mungkin ... kau hanya milikku seorang ... jangan ada orang lain yang lebih spesial daripada diriku."

“Kau hanya milikku seorang”, katamu? Itu agak berbeda dari apa yang kau katakan tempo hari.

Sepertinya inilah perasaan Sylphy yang sesungguhnya.

Akan lebih baik jika Sylphy jujur seperti ini, namun lama-lama mengerikan juga ya… sepertinya Sylphy terlalu memaksakan dirinya.

Yahh, pikirkan saja nanti… untuk saat ini, aku ingin menikmati saat-saatku dengan elf imut ini.

Setelah meletakkan Sylphy di pangkuanku dan menggoda dia, Nanahoshi mendekati kami.

"Apa-apa’an baka-kappuru [14] ini?? Jangan mesra-mesraan di depan umum!! Kau pikir sudah berapa lama sejak terakhir kali aku bertemu Aki?!!"

Dia datang untuk bikin ribut. Dia mabuk.

Aku penasaran, apakah dia sudah selesai karokeannya.

Kalau lagunya terkenal sih, mungkin aku tahu liriknya, jadi kita bisa duet ..

Tapi lagu anime yang dia tahu berbeda dengan lagu anime di jamanku, jadi perbedaan kedua generasi sangat terasa di antara kami. [15]

"Kalau mau mesra-mesraan, lakukan di tempat lain yang sepi napa!!”.

"Jangan berkata begitu, sekarang semua sedang mabuk, jadi lupakan saja aturan itu."

"Sejak awal, aku ingin sekali memprotes kalian… apa-apa’an kalian… kerjanya cuma mesra-mesraan aja!! Apakah karena sudah menikah, lantas kalian bebas mesra-mesraan di manap saja?? Okelah, aku bisa menerima itu… tapi apakah baik ketika kalian mesra-mesraan di depan orang yang lagi sedih??... Oke, aku berterimakasih telah dirawat di rumah kalian saat aku depresi, tapi kalau malam tiba…suara desahan kalian terdengar jelas sampai kamarku, tau!! Ampun deh ... kyaaaa?! "

Badigadi mengangkat Nanahoshi ke bahunya.

"Fuhahahaha, kau di sini rupanya. Aku ingin menghabiskan hari ini dengan mendengar lagu anehmu!"

"Bukan aneh! Di duniaku, lagu semacam itu sangat populer!"

"Itu cerita yang sangat menarik! Aku tidak tahu dari dunia mana kau berasal, tapi pokoknya teruslah bernyanyi! Bernyanyilah dengan segenap jiwamu!"

"Tunggu sebentar, aku perlu bicara pada Rudeus terlebih dahulu ..."

"Fuhahahahaha, kalau kau hanya mau protes pada Rudeus, maka lebih baik kau bernyanyi bersama kami sampai puas! Nyanyi…nyanyi!"

"Protesku hanyalah pembukaan??!"

Sepertinya Nanahoshi sedang meneriakkan sesuatu.

Aku penasaran, apakah dia ingin berterimakasih padaku atau semacamnya.

Yahh, kau tidak perlu mengucapkan terimakasih saat kau benar-benar membutuhkan bantuan.

Hehe… Badigadi membawanya, berarti secara harfiah, dia sedang diculik oleh raja iblis. Bukankah itu buruk.

Ini mirip putri di suatu cerita yang pernah kubaca.

Hanya saja, sang putri tidak dijebloskan ke penjara setelah diculik, melainkan disuruh nyanyi.

Dia malah dibawa ke panggung bar.

Beberapa saat kemudian, lagu Nanahoshi kembali dilantunkan.

Setelah terlambat beberapa saat, iringan musik pun dimulai.

Apakah itu troubadour? [16] Itulah yang kuduga, tapi yang memegang alat musiknya adalah Badigadi.

Apakah sang raja iblis benar-benar bisa memainkan alat musik?

Meskipun dia tadi menawarkan alat musik tersebut pada Nanahoshi untuk memainkannya, ujung-ujungnya dia sendiri yang memainkan itu?

Aku tak pernah memahami pria itu.

Ah, terserahlah, pokoknya aku cukup kangen dengan musik anime seperti ini.

Apa ya judulnya ...

Kalau gak salah, gan…ra. [17]

Di jamanku belum ada lagu seperti itu, jadi Nanahoshi lah yang lebih memahaminya.

Sebenarnya Nanahoshi bukanlah otaku sejati, tapi karena musik ini begitu populer, jadi tidaklah aneh kalau dia mengetahuinya.

Namun, tentu saja dia menyanyikannya dengan payah.

Kurasa itu karena iringannya tidak sesuai dengan melodinya.

Atau lebih tepatnya, iringannya tidak berusaha menyamai nyanyian Nanahoshi yang payah.

Tapi, asyik aja sih.

Yahh, hari ini, Nanahoshi lah bintangnya.

Meskipun nyanyinya payah, tidak apa-apa, asalkan perasaannya tersampaikan dengan baik lewat lagu tersebut.

Jadi kau sudah begitu kangen dengan kampung halamanmu.

Bukannya aku tidak memahami perasaanmu.

Tapi bagiku, dunia yang kusayangi adalah dunia ini.

Apapun itu, acara traktiran ini cukup menyenangkan.

Kalau ada perayaan, maka digelarlah pesta.

Itu adalah kebiasaan yang bagus.

Lain kali, aku harus mengingatnya.

Bagian 7[edit]

Pestanya bubar ketika sang bintang utama, Nanahoshi, sudah KO karena alkoholnya.

Tampaknya Rinia dan Purusena akan membawa Nanahoshi ke kamarnya di asrama, kemudian tidur di sana.

Yang lainnya pulang bersama dua atau tiga orang.

Dan si raja minum tampaknya ingin mencari tempat lain untuk melanjutkan acara minumnya.

Sylphy dan aku memutuskan untuk pulang ke rumah.

Sylphy yang masih mabuk tertawa terbahak-bahak, sembari mengatakan “dyufufu”, dan menempel di lenganku.

Karena jalannya sempoyongan, aku memegang erat pinggulnya.

Sylphy benar-benar menyerahkan tubuhnya sepenuhnya padaku.

Jika aku berada di goukon [18] sekarang, aku akan menyatakan "Aku bisa melakukannya!". Hmm, tampaknya aku sekarang memahami perasaan orang-orang itu.

Meskipun begitu, aku tidak merasa bersalah.

Sekarang ...

Setelah kita kembali ke rumah, akan berbeda ceritanya.

"... Rudi, entah kenapa… kok terdengar berisik?"

Tiba-tiba, Sylphy mengatakan itu.

"Hn?"

Setelah dia memberitahuku, aku pun berusaha berkosentrasi untuk mendengar.

Kemudian, aku mendengar semacam suara dentuman dan perkelahian.

Aku penasaran, apakah ada orang yang berkelahi… entah di mana.

Ada juga semacam suara kucing sedang bertengkar.

Sambil menerka-nerka, aku pun mendekati rumahku.

Kemudian… aku melihatnya.

Seseorang memukul pintu depan rumahku.

Dari kejauhan, aku hanya bisa melihat sosoknya dengan samar. Tapi aku yakin ada seseorang di sana.

Seorang bocah laki-laki dari tetangga sebelah, atau mungkin saja pencuri.

Sambil berpikir dalam keadaan setengah mabuk, aku pun mengaktifkan mata iblis untuk memastikan.

Sylphy mengusap-usap wajahnya, kemudian dia pun berdiri sendiri meskipun masih terhuyung-huyung.

"Rudi, aku akan menggunakan sihir detoksifikasi."

"Mengerti."

Aku menerima sihir detoksifikasi tanpa mantra dari Sylphy, kemudian pengaruh alkohol pada tubuhku menghilang.

Sebenarnya masih terasa sedikit pusing sih, tapi tak masalah.

Agar tidak ketahuan, kami diam-diam mendekatinya.

Aku mendengar suara.

"Itu karena Norn-ane melakukan kesalahan selama perjalanan, akhirnya kita jadi terlambat datang deh!"

"... Bukankah Aisha tadi tidak mempermasalahkannya… lantas kenapa baru sekarang protesnya??!"

"Sejak awal kita tak pernah tahu dimanakah letak rumahnya yang benar! Lantas apa yang akan kita lakukan sekarang, semua penginapan mungkin sudah tutup!! Mungkin kita akhirnya harus berkembah di luar dengan hawa sedingin ini!"

"... Aku juga tidak ingin melakukan itu. Tapi sejak awal Aisha lah yang mengatakan bahwa kita tidak memerlukan penginapan, karena kita bisa berdiam di rumah dia. Aku sih gak pernah mau tinggal di rumah dia, tapi aku dipaksa!"

"Bagaimanapun juga, Ginger-san bilang tidak apa-apa! Meski begitu, kalau kita tidur di penginapan, nanti kita akan terlihat seperti orang idiot!"

"... Aisha, semua idemu selalu berakhir dengan sia-sia."

Suara yang manis dan berisik.

Itu adalah suara anak kecil yang pernah kuingat, tapi entah dimana.

Di tengah percakapan itu, ada sebuah suara yang pernah kudengar.

Lalu.

"Kalian berdua tenanglah, tempat ini tidak salah kok. Sudah lama aku tidak merasakan kehadirannya."

Orang yang tenang.

Begitu kudengar suara itu.

Ada suatu perasaan aneh yang merayap di dadaku.

Aku menarik napas lega, kemudian kudekati mereka.

"...Ah."

"Onii-Chan!"

Di sana kudapati kedua adik perempuanku yang sudah tumbuh dewasa.

Tubuh mereka dibalut baju musim dingin dengan warna senada, hampir mirip seperti Ice Climbers. [19]

Norn Greyrat dan Aisha Greyrat.

Norn menunjukkan wajah muram setelah melihatku, kontras dengannya, Aisha menunjukkan wajah bahagia berbinar-binar penuh semangat.

"Onii-chan, sudah lama aku ingin bertemu denganmu!"

Aisha datang, kemudian meloncat padaku.

Hampir seperti pria tua yang menangis, [20] dia memelukku dengan kedua tangan dan kakinya yang erat.

Masih dalam posisi seperti itu, lantas dia mengusapkan pipinya padaku.

Pipi lembut dan licin itu menekanku.

Aku penasaran, kenapa rasanya sangat dingin? Apakah karena aku mabuk?

"Uhi ~ ah, onii-chan, kamu sangat hangat! Dan kamu berbau alkohol!"

"Aku kedinginan ... Lepaskan aku sebentar."

Setelah melepaskan diri dari Aisha, aku melihat Norn.

Dia menggigit erat bibirnya dan menyapaku dengan menundukkan wajahnya.

"... apakah kamu minum alkohol?"

"Yeah, ada perayaan kecil-kecilan tadi."

Wajahnya terlihat sangat tidak bahagia.

Atau mungkin dia malu?

Yahh, apa boleh dikata… toh Paul sudah bilang bahwa dia tidak begitu menyukaiku.

Kemudian, dari belakang Norn,

"Rudeus, sudah lama tidak bersua."

Seorang pria botak dengan bekas luka di wajahnya berdiri di sana.

Dia memegang tombak bercabang tiga, dan tampak seperti seorang prajurit yang membanggakan.

Penampilannya tidak berubah sejak tiga tahun lalu kami berpisah.

"Ya, sudah lama tak jumpa, Ruijerd-san."

Perasaan kangen meluap di dadaku.

Aku teringat hari-hari yang pernah kami jalani bersama.

Kami sering merapatkan berbagai macam rencana… kamudian akhirnya dia memutuskan untuk berpisah.

"..."

Aku bingung mau ngomong apa.

Sementara aku mencoba memilih kata-kata, Ruijerd tiba-tiba melihat ke belakangku.

"Ketika sedang singgah di suatu Guild Petualang, aku pernah mendengar kabar bahwa kau telah menikah, tapi ... sepertinya pasanganmu bukan Eris. "

Yang tercermin di mata Ruijerd adalah sosok Sylphy.

Sylphy langsung terkejut, kemudian dia menundukkan wajahnya.

"Umm, Rudi, bagaimana kalau kita mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah terlebih dahulu?"

"Ah, itu benar, kalian masuklah ke dalam."

Aku membuka kunci di rumah dan menunjukkan bagian dalam rumahku pada mereka.

Aku tidak pernah mengira bahwa mereka akan datang secepat ini.

Hanya sebulan lebih beberapa hari sejak surat Paul tiba.

Itu jauh lebih cepat daripada dugaanku.

Bab 4: Nostalgia Dan Ketidaksabaran[edit]

Bagian 1[edit]

Saat ini, aku sedang duduk di sofa, di ruang tamuku.

Orang yang duduk di depanku adalah Ruijerd.

Sylphy mengantarkan Aisha dan Norn ke kamar mandi.

Sylphy dan aku sudah menetralkan diri sepenuhnya dari efek alkohol.

Aku yakin napas kami masih berbau sedikit alkohol, tapi sihir Detoksifikasi cukup ampuh menghilangkan efek alkohol.

"..."

Ketika melihat wajah Ruijerd di depan perapian yang menyala, aku teringat kembali saat kami pertama kali bertemu di depan api unggun.

Tidak hanya itu, kami juga sering ngobrol bertiga bersama Eris di depan api unggun seperti itu.

"Sudah lama tak jumpa ya."

"Ya."

Ruijerd menyipitkan matanya, sudut mulutnya sedikit terangkat ketika dia tersenyum kecil.

Betapa kangen diriku saat-saat seperti ini.

"Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak karena kau telah mengawal kedua adikku sampai ke sini dengan selamat."

"Tidak perlu berterimakasih. Sudah jelas kalau kita harus melindungi anak kecil."

Betul. Ruijerd adalah orang yang selalu menyukai anak kecil.

Kalau tidak salah, ketika kami masih bertualang bersama, aku pernah mengejeknya seperti lolicon, bukankah begitu?

Rupanya, pengawal yang ditulis dalam surat Paul adalah Ruijerd.

Aku sempat berpikir itu Ghyslaine, tapi….kalau urusan mendampingi anak-anak, pastilah Ruijerd orangnya.

Tidak ada orang lain yang lebih diandalkan daripada dia.

Kecintaannya pada anak kecil setara dengan keinginanku melindungi adik-adikku selamanya.

Namun, waktu sudah begitu lama berlalu sejak terakhir kali aku bercakap-cakap dengan Ruijerd.

Terakhir kali aku berbicara dengannya, kami membahas apa ya?

Karena Ruijerd orangnya cukup pendiam, maka aku tidak pernah berbicara banyak hal.

"Omong-omong, Rudeus, apa yang terjadi dengan Eris?"

Ruijerd tanpa ragu-ragu membahas topik yang paling sensitif bagiku.

Itu adalah topik yang paling enggan kubahas.

Namun, karena yang bertanya adalah Ruijerd, aku yakin ada sesuatu yang ingin dia ketahui.

"... Berbagai hal telah terjadi, kalau kau ingin mendengarnya dengan urut, maka beginilah ceritanya ..."

Aku memberitahu Ruijerd tentang berbagai hal yang terjadi di Kamp Pengungsi setelah kami berpisah.

Aku pun menceritakan malam pertamaku dengan Eris.

Setelah itu, dia menghilang, dan akibatnya, aku jatuh ke dalam jurang keputusasaan.

Faktanya adalah, aku tidak pernah bisa bangkit dari keterpurukan setelah perpisahan itu.

Aku menghabiskan waktu dua tahun sebagai seorang petualang untuk mencari ibuku.

Aku bertemu dengan Elinalise dan mendengar banyak hal darinya.

Setelah mengikuti saran Hitogami, aku memutuskan untuk mendaftar di Akademi Sihir.

Di sana, aku bertemu dengan Sylphy, dan dia menyembuhkan penyakitku.

Kemudian, kami akhirnya menikah.

"Aku paham..."

Ruijerd mendengarkan dengan tenang tanpa banyak komentar.

Akhirnya, dia hanya mengatakan satu hal.

"Hal seperti ini sudah sering terjadi."

"Benarkah?"

Saat aku balik bertanya, Ruijerd hanya membalasnya dengan anggukan.

"Kemungkinan besar, dia memiliki masalah tersembunyi seorang prajurit, dan aku yakin Eris tidak melakukan itu karena dia membencimu.”

"Tapi ... dia bilang kita tidak cocok, dan ..."

"Aku tidak tahu apa maksud Eris sebenarnya. Mungkin saja maksudnya persis seperti apa yang dia katakan, namun mungkin saja kau salah mengerti akan sesuatu."

"Maksudmu, sebuah kesalahpahaman?"

"Yeah, Eris tidak terampil bermain kata-kata."

Ruijerd pun tidak mahir bermain kata-kata.

Setelah mendengar itu dari Ruijerd, aku pun mulai menduga bahwa ada makna tersembunyi dalam perkataan Eris waktu itu.

"Namun, paling tidak, selama perjalanan, dia pernah menyukaimu. Jika datang suatu kesempatan bertemu lagi dengannya, harusnya kau mencoba berbicara lagi padanya dengan kepala dingin. "

Bisa saja aku hanya salah paham.

”Kita tidak cocok bersama”…. Bisa jadi, maksudnya adalah : “Aku belum pantas disetarakan denganmu.”

Dia mungkin pergi untuk berlatih, sehingga kemampuannya bisa menandingiku saat kita bertemu lagi nanti.

“Karena itu, tunggulah aku….” mungkin seperti itulah makna tersembunyi di balik surat Eris kala itu.

"..."

... Meskipun aku mengatakan itu, saat ini sepertinya sudah terlambat ...

Apapun makna di balik surat itu… yang jelas, selama tiga tahun terakhir aku sangatlah merana.

Tidak ada surat lain yang dikirimkan Eris padaku selama tiga tahun terakhir ini.

Dan orang yang menyelamatkanku dari keterpurukan ini adalah Sylphy, bukannya Eris.

Kalau begitu… campakkan saja Sylphy, kemudian kuulangi semuanya kembali bersama Eris.

Tapi tidak mungkin aku bisa melakukan itu.

Hubunganku dengan Sylphy sudah sampai sejauh ini.

Lagipula, jujur saja, aku sedikit takut bertemu dengan Eris lagi.

Bukannya aku tidak mempercayai kata-kata Ruijerd, tapi mungkin saja dia sudah bosan denganku.

Kalau aku mendekatinya dengan maksud ingin rujuk, mungkin dia akan menghajarku tanpa sudi melihat ke arahku ...

Tentu saja, aku akan merasa sakit baik fisik maupun mental.

... Ah sudahlah, aku ingin berhenti memikirkannya.

Terlepas dari apa maksud surat itu yang sesungguhnya… faktanya sekarang aku sudah berkeluarga.

Meskipun aku memikirkannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.

"Ruijerd-san, lantas… bagaimana kabarmu?"

"...Ah."

Aku mengubah topik pembicaraan.

Aku ingin mendengarkan cerita Ruijerd.

Dari ekspresi wajahnya, terlihat jelas bahwa dia masih ingin membahas topik tadi, namun akhirnya dia hanya menundukkan kepalanya untuk membalasku.

"Selama dua tahun terakhir, aku berada di daerah berhutan lebat di selatan."

Misi Ruijerd tidaklah berubah, dia masih ingin mencari sisa-sisa ras Supard, dan dia memprediksi bahwa mereka mungkin saja tinggal di area hutan, pada Benua Tengah.

Sebagai permulaan, ia memutuskan untuk mengitari kawasan hutan lebat yang membentang di sisi selatan Gugusan Pegunungan Raja Naga. Di sana, dia menghabiskan waktu 2 tahun untuk mencari di setiap area.

Dia tidak menemukan seorang ras Supard pun di sana.

Namun, sepertinya dia menemukan barang-barang peninggalan korban bencana teleportasi.

Setelah itu, dia membawa barang-barang tersebut ke kota terdekat dan mengumpulkan informasi di sana.

Pada akhirnya, pencariannya di hutan lebat selama 2 tahun tidaklah menghasilkan apa-apa.

Ruijerd mulai menyusuri pantai untuk pergi ke selatan, sampai akhirnya dia tiba di East Port.

Rencananya adalah mengumpulkan informasi dari arah Milis, setelah menyelesaikan itu, dia bermaksud pergi ke utara, lalu melakukan pencarian di zona pertikaian.

Namun, ia beruntung bertemu Paul dan yang lainnya di sana.

Setelah itu, sama seperti yang tertulis dalam surat Paul.

Paul ragu-ragu membawa kedua putrinya dalam perjalanan, kemudian Ruijerd menawarkan diri sebagai pendamping keduanya.

"Kalau diingat-ingat, aku juga bertemu dengan Shisho-mu."

"Kau bertemu Roxy-sensei?"

"Ya..."

Ruijerd tersenyum pahit.

"Kesan yang aku dapatkan darinya sedikit berbeda dari apa yang selalu kudengar darimu."

"Begitukah, misalnya apa?"

"Setelah memberitahu nama rasku padanya, dan menunjukkan tanda di dahiku, dia benar-benar ketakutan. "

"Ah."

Kalau diingat-ingat lagi, orang yang mengajariku bahwa ras Supard adalah makhluk berbahaya adalah Roxy, kan….

Meskipun Roxy berkata begitu, toh dia sendiri juga ras iblis. Ironisnya, orang-orang yang paling takut pada ras Supard adalah ras iblis itu sendiri.

Yahh, mau bagaimana lagi.

Roxy terkesan malu dan takut setelah melihat Ruijerd ...

Aku juga ingin melihatnya ...

"Terus, kau datang bersama dengan Ginger-san sampai di sini, kan?"

"Ya, kami tiba di malam hari, lantas kami pergi ke Akademi Sihir, tapi kami tidak dapat menemukanmu."

Keempatnya mengira aku tinggal di asrama, sehingga mereka mencariku di dalam lingkungan Akademi Sihir.

Namun, saat itu, kami sedang minum-minum di bar.

Sepertinya, mereka telah menanyai banyak orang, tapi tidak tahu aku pergi ke mana, sehingga mereka diberi alamat rumahku.

Agar tidak saling berpapasan, mereka berpisah dengan Ginger di sana, dan itulah yang terjadi sampai kudapati mereka berdua menggedor pintuku beberapa saat yang lalu.

Tapi, dalam perjalanan ke sini, Aisha atau Norn beberapa kali salah jalan, atau mungkin, sejak awal orang-orang telah salah memberikan alamat pribadiku, sehingga mereka tersesat beberapa kali.

Ketika mereka berputar-putar tanpa tujuan di suatu tempat yang aneh, akhirnya Ruijerd merasakan kehadiranku, dan sampai lah mereka di rumahku.

"Aku paham ... kalau begitu, ijinkan aku mengucapkan terimakasih sekali lagi, terima kasih banyak."

"Tidak perlu berterimakasih, kita kan sudah lama berteman."

Ruijerd mengatakan itu sambil meringis.

Aku boleh bangga punya kenalan orang sehebat Ruijerd.

"Tapi, perjalanan kalian cukup cepat, ya."

Surat itu baru saja tiba bulan lalu.

Setidaknya, aku memprediksi bahwa mereka akan datang 2 atau 3 bulan lagi.

"Adikmu sangat bersemangat."

"Yang mana?"

"Aisha, berkat anak itu, kami bisa bergerak dengan sangat efisien."

Menurut ceritanya, Aisha menyarankan agar mereka memanfaatkan karavan pedagang supaya bisa melanjutkan perjalanan di malam hari.

Hanya saja, karavan pedagang biasanya tidak mau dinunuti orang luar.

Namun, Aisha bernegoisasi dengan mereka untuk memanfaatkan kemampuan Ruijerd yang unggul sebagai pendamping. Akhirnya, mereka diperbolehkan menumpang, dengan syarat Ruijerd “membersihkan” jalan di depan mereka.

Tidak hanya Ruijerd, Ginger juga bertindak sebagai pemandu jalan.

Sebuah negosiasi yang bagus.

Tapi, perjalanannya tidaklah semulus itu.

Ketika sang pedagang berhenti, maka mereka juga harus ikut berhenti, kalau mereka ingin terus melanjutkan perjalanan, maka mereka harus menemukan karavan pedagang lainnya untuk ditumpangi.

Dengan berganti-ganti karavan seperti itu, mereka pun bisa melanjutkan perjalanan dengan cukup efisien.

Ada kalanya mereka harus kembali beberapa kali ke kota sebelumnya, dan mereka juga harus mengunjungi beberapa tempat yang biasa dilewati pedagang.

Ketika tiga orang lainnya bertanya, mengapa kita harus repot-repot kembali ke kota sebelumnya, Aisha hanya menanggapi:

"Karena dengan begini, kita akan lebih cepat sampai."

Sekilas, memang tidak ada gunanya kembali ke tempat sebelumnya, namun dengan begitu Aisha bisa mengumpulkan informasi tentang jadwal perjalanan para pedagang, dan tempat manakah yang akan mereka tuju.

Aku paham sekarang, si kecil ini memang jenius.

Itu sungguh pemikiran yang luar biasa.

"Tapi, bukankah itu sangat merepotkan bagi Ruijerd-san? Maksudku, kau harus memandu karavan di malam hari, dan di siang hari pun kau harus tetap mengawal mereka."

"Tidak masalah. Dulu, aku biasa bepergian tanpa istirahat sedikit pun .. tapi .. "

"Tapi?"

"…Sudah lama aku tidak merasakan kerja keras seperti ini."

Setelah mengatakan itu, Ruijerd hanya tertawa terbahak-bahak.

Aku penasaran, apakah itu membuatnya teringat masa-masa Perang Besar Manusia-Iblis?

Namun, Aisha itu ...

Aku tak pernah mengira dia tega sekali mempekerjakan Ruijerd dengan begitu keras.

Dia pikir dia siapa?

"Aduh, gimana ya bilangnya, pastinya adik perempuanku sudah banyak merepotkanmu..."

"Aku cukup senang kok."

Seperti biasa, Ruijerd selalu lemah terhadap anak kecil.

Meskipun begitu, tidak baik jika dia tumbuh menjadi seorang wanita yang suka memanfaatkan senior-seniornya.

Nanti aku akan berbicara serius dengannya.

"Tapi, ketika Ruijerd-san mengawal karavan di malam hari, kedua adikku tidur dengan lelap, kan?"

"Dia tidak tidur, dia selalu menghitung rute yang paling efisien menuju sini.”

Hmmm.

Sepertinya dia tidak serta-merta memanfaatkan Ruijerd begitu saja.

Sepertinya, dia menghabiskan hari-harinya dengan memperhitungkan rute tersebut.

Menggambar dan memperhitungkan rute sepanjang malam.

... Kalau begitu, kurasa tidak apa-apa.

"Namun, dia masih anak-anak."

Aisha mungkin sangat menikmati perjalanan ini, meskipun dia terus mempertimbangkan berbagai hal, namun tubuhnya yang kecil juga memerlukan istirahat. Pasti ada saat-saat dimana dia dan Norm tak kuat lagi berjalan, kemudian terlelap.

Sepertinya Aisha sudah memperhitungkan semuanya agar mereka sampai di sini sebelum musim dingin tiba.

Dengan kata lain, sebenarnya dia berencana datang ke sini sebelum surat itu tiba.

"Aku yakin Ginger-san juga kerepotan, lantas apa yang dia katakan?”

"Dia malah senang. Tak ada yang membuatnya bahagia selain bertemu dengan tuannya lebih cepat."

Sepertinya banyak orang kolot seperti itu di dunia ini.

Ginger selalu mematuhi perintah Zanoba untuk melindungi keluargaku, bahkan sampai saat ini.

Dia sungguh orang yang setia.

Aku penasaran, apakah sekarang dia sudah bertemu dengan Zanoba.

Aku pun penasaran, bagaimanakah raut wajahnya ketika tahu bahwa Zanoba sudah punya Julie.

"Sepertinya begitu, dia punya motivasi tersendiri untuk sampai ke sini dan bertemu tuannya."

"Aku paham sekarang…… Ah iya, Ruijerd-san, berapa lama kau berencana tinggal di sini?"

Aku menanyakan itu begitu saja.

Sekitar seminggu mungkin.

Seharusnya, seminggu adalah waktu yang cukup untuk membawa Ruijerd berkeliling sekolahan sembari mengenalkannya pada teman-temanku.

Aku yakin Zanoba akan senang.

Aku pun penasaran apa yang akan dikatakan Rinia dan Pursena.

Dan aku tidak tahu apa yang akan dirasakan Cliff.

Ruijerd mungkin kenal Badigadi.

"Aku akan berangkat besok."

Semua rencanaku sirna seketika mendengar balasan cepat dari Ruijerd.

"Itu sangat mendadak, kan..."

"Yeah, beberapa hari yang lalu, aku mendengar informasi bahwa seorang ras iblis terlihat jauh di dalam hutan bagian timur pada daratan utara. Aku ingin mencari dan melihat siapakah dia?”

Tampaknya Ruijerd telah menemukan lokasi berikutnya yang diduga dihuni oleh sisa-sisa ras Supard.

Sebenarnya itu cukup menyedihkan, namun aku tak ingin mengatakan itu padanya.

Tapi tidak ada gunanya menahan Ruijerd lebih lama lagi di sini.

"Lagi pula, aku tidak ingin merepotkanmu lebih lama."

"Kau tidak berhak berkata seperti itu."

Mana mungkin aku direpotkan oleh salah satu orang yang paling berjasa dalam hidupku.

"... Hanya saja ... aku tidak merasa nyaman berada di sini."

Ekspresi wajahnya terlihat seperti orang yang kesepian ketika mengatakan itu.

Tampaknya, Ruijerd masih terkejut bahwa Eris dan aku terpisah.

"..."

Dalam pikiranku sendiri, meskipun sudah berlalu tiga tahun lamanya, kenangan akan petualanganku bersama Eris dan Ruijerd masih terbekas begitu jelas.

Tapi, aku tidak tahu, apakah Ruijerd juga masih mengenangnya.

Jika aku berada di posisi Ruijerd, kemudian melihat aku dan Sylphy saling menggoda satu sama lain sebagai suami – istri, mungkin dadaku akan terasa sesak.

"Yahh, mau bagaimana lagi ..."

Aku merasa seakan-akan mulai muncul retak-retak kecil pada ikatan persaudaraanku dengan Ruijerd.

Mungkin Eris lah sosok yang selama ini mempererat persaudaraanku dengan Ruijerd, dan saat dia tidak lagi ada di sini, maka semuanya berubah.

"Rudeus."

Setelah namaku dipanggil, aku pun mengangkat wajahku.

Tanpa kusadari, tiba-tiba wajahku kembali menunduk.

Ruijerd tertawa terbahak-bahak.

"Jangan pasang wajah seperti itu, aku pasti akan kembali lagi."

Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain membalasnya dengan senyum pahit.

Aku tidak pernah menyesali kenyataan bahwa aku telah menikahi Sylphy.

Tapi di saat yang sama, aku juga merasa telah membuat suatu kesalahan yang besar.

"Jika aku bertemu dengan Eris, aku akan meminta dia menceritakan kejadian itu dari sudut pandangnya sendiri."

"...Ya, lakukanlah."

Aku menatap mata Ruijerd dan mengatakan itu.

Sorot matanya tampak redup.

Bagian 2[edit]

Segera setelah itu, Sylphy keluar dari kamar mandi.

Sepertinya Norn tertidur di dalam bak mandi.

Aisha mandi dengan semangat, namun begitu keluar dari kamar mandi, sepertinya dia kehabisan tenaganya, kemudian tertidur lelap.

Mandi memang membuat sekujur badanmu jadi rileks.

Air hangat bekerja dengan baik merefleksi tubuh yang lelah.

"Terima kasih atas bantuanmu."

"Yeah, sepertinya Aisha-chan masih mengingatku. Hanya sekali lirik, dia bisa menebak dengan benar bahwa aku adalah Sylphy yang pernah dia kenal. Dia memang berbeda dari anak pada umumnya."

"Ada perbedaan warna rambut, kacamata hitam, dan pakaian lelaki, jadi itu tidak dihitung."

"Tapi nampaknya, Norn-chan sama sekali tidak ingat."

"Yahh, tidak semua anak mengingat seorang gadis tetangga yang pernah mereka temui saat umurnya baru 3 – 4 tahun. "

"Aku rasa juga begitu."

Keduanya meringkuk bersama dan tertidur di ranjang yang sama, setelah pakaiannya diganti dengan piyama oleh Sylphy.

Aku akan mendengarkan cerita dari mereka berdua besok.

"Umm, senang bertemu denganmu, aku Sylphiette Greyrat."

"Yeah, aku Ruijerd Supardia."

Dengan canggung, Sylphy menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ruijerd.

Dua orang yang pernah sama-sama menderita karena warna rambut mereka yang hijau.

Namun sekarang, tak selembar rambut hijau pun ada di kepala mereka.

"Ummm ... Ruijerd-san kamar seperti apa yang kau inginkan?"

"Yang mana pun tidak masalah."

"... Rudi, haruskah kita memberikan ruang yang besar? Bagi Rudi, dia adalah tamu yang penting, kan?"

Bagi Ruijerd, kurasa ukuran ruangan bukanlah hal yang penting baginya.

Bagaimanapun juga, aku sudah sering melihat dia tidak tidur di ranjang.

"Silakan tidur dimanapun kau suka. Anggap saja rumah sendiri."

"Ah, baiklah kalau begitu, aku istirahat dulu sekarang."

Ruijerd berdiri sambil mengatakan itu.

"Ya selamat malam."

Sylphy dan aku, kami berdua terus menatap tajam, sembari mendengarkan suara langkah kakinya menjauh.

Sepertinya ia memasuki ruangan tempat kedua anak itu sedang tidur.

Dasar lolicon!

Ah tidak, sewaktu kami masih berpetualang bersama, tidak sekalipun Ruijerd menggangguku dan Eris ketika kami tidur.

Dia memang pria seperti itu.

Dia sengaja memperkeras langkah kakinya sehingga kita tahu ruang mana yang dipilihnya.

Padahal, dia adalah seorang petarung yang cukup lihai melenyapkan suara langkah kakinya, sehingga tak seorang pun menyadari kedatangannya.

Tapi dia tidak akan melakukan hal seperti itu di hadapanku.

"Aku penasaran, apakah aku sudah melakukan sesuatu yang tidak sopan di hadapannya?"

Tiba-tiba, Sylphy berkata begitu dengan cemas.

Aku pun merasa bahwa sikap Ruijerd barusan cukup dingin.

Biasanya, jika seseorang mengajaknya bersalaman, maka dia tidak akan membiarkan suasana menjadi canggung.

Sepertinya, dia masih belum menerima sepenuhnya pernikahan antara Sylphy dan aku.

"Tidak, Sylphy tidak melakukan kesalahan apapun. Dia hanya tidak bisa akrab dengan orang yang pertama kali dia temuai…. Ya, seperti itulah Ruijerd."

"Kalau begitu, gak papa kan ..."

Sepertinya Sylphy merasa sedikit sakit hati.

"Ayo kita tidur juga."

"Ya."

Kami belum makan malam, tapi aku tidak lapar.

Ah, paling tidak kami harus menyuguhkan camilan pada Ruijerd, kan?

Atau mungkin tidak….

Aku memadamkan api di perapian dan memastikan pintu depan terkunci.

Salah satu prajurit terbaik di dunia ada di rumah ini sih, tapi tidak baik jika aku tidak mengunci pintu dengan benar.

Setelah itu, aku memadamkan lampu dan naik ke lantai atas bersama Sylphy.

Kami pun tidur di ranjang berdua.

Lalu, tiba-tiba Sylphy berkata.

"Oh iya, sebenarnya hari ini aku ingin mampir ke sana."

"Eh? Ah, iya juga ya."

Hari ini aku tidak memeluk Sylphy.

Ini adalah pertama kalinya aku tidak memeluknya bukan karena dia sedang menstruasi.

Bagian 3[edit]

Hari berikutnya.

Aku terbangun di ranjangku seperti biasanya.

Sylphy masih tidur.

Biasanya, dia tidur dengan meringkuk bagaikan bola, dan menggunakan lenganku sebagai bantal, tapi hari ini dia menggunakan bantal sungguhan untuk menyangga kepalanya, tampaknya itu tidak membuatnya nyaman.

Tanpa sadar, aku biasanya merasakan kehangatan tubuhnya, sehingga membangkitkan gairah seksku, lalu kuraba dadanya yang rata.

Merasakan tubuh wanita setiap jengkalnya sungguh membuatku bahagia.

Namun, anehnya hari ini aku tidak merasakan kenikmatan itu.

Hari ini perasaanku bagaikan cuaca yang buruk.

Ini adalah hari yang buruk untuk gajahku.

Meski aku merasa senang saat Ruijerd berkunjung.

Entah kenapa aku merasa sedikit murung dan tidak nyaman.

Sepertinya, Eris lah yang mengganggu suasana hatiku.

Sepertinya mood-ku akan sedikit membaik setelah aku berlatih pagi hari.

Lantas, aku memutuskan untuk memulai latihan harianku.

Tapi, aku tidak merasa begitu bersemangat.

Mungkin mood-ku akan membaik setelah aku berlatih pemanasan sealam 5 menit atau 10 menit.

Sambil memikirkan itu, aku pun pergi ke luar rumah.

Tiba-tiba, aku melihat sesosok orang di tengah-tengah dinginnya salju.

Rupanya kami mendapat tamu di pagi-pagi seperti ini, mereka sedang berdiri di depan halaman rumahku.

Ada dua orang.

Keduanya lebih tinggi daripada diriku.

Salah satunya adalah prajurit botak.

Seorang pria yang membotaki habis kepalanya untuk menghilangkan rambut hijaunya, dan dia akan melakukan itu selamanya.

Dia berada di luar tanpa mengenakan pakaian musim dingin apapun, dia hanya mengenakan pakaian khas rasnya, sambil membawa tombak kebesaran bercabang tiga

Ternyata itu adalah Ruijerd.

Kemudian yang satunya lagi.

Seorang berpawakan besar, berotot, kulit hitam legam, dan rambut ungu.

Dengan enam tangannya bersedekap, dia berdiri di depan Ruijerd dengan sesumbar.

"..."

"..."

Auranya sangat buruk.

Ini berbahaya.

Situasinya memanas.

Kalau ada petugas kebersihan yang mendekat, dia pasti akan segera binasa.

"..."

Kali ini, tak ada sedikit pun senyuman di wajah Badigadi.

Rupanya mood-nya sedang buruk.

Tidak biasanya dia begitu.

Badigadi biasanya tertawa terbahak-bahak, namun kali ini dia diam seribu bahasa.

Aku penasaran, apakah ada yang salah pada wajah Ruijerd, sehingga membuat moodnya memburuk?

Aku tidak bisa melihat mukanya dari belakang.

Apakah mereka berdua sudah saling kenal?

Mereka berdua hidup sejak Kampanye Laplace, kan?

Salah satunya adalah kepala Pasukan Kerajaan Laplace, dan satunya lagi adalah anggota fraksi oposisi Laplace.

Sekarang Ruijerd sangat membenci Laplace, tapi saat dia masih membelanya, pasti kedua orang ini pernah berselisih.

"...Hmmm."

Badigadi melirikku.

Kemudian melihat Ruijerd sekali lagi.

"Jadi begitu ya….."

Badigadi menyimpulkan sesuatu, kemudian dia mengangguk.

Kemudian, tanpa mengatakan apa-apa setelah itu, dia membalikkan badan, dan pergi begitu saja.

Dia menghilang di kejauhan.

"..."

Ruijerd berbalik, masih tanpa kata.

Raut wajahnya cukup tegang.

Keringat dingin mulai menetes di wajahnya, yang mana itu jarang sekali terjadi pada prajurit sekelas Ruijerd.

"Apa yang terjadi dengan Badi-sama?"

"...hanya masalah masa lalu….."

Aku merasa, pernah ada suatu kisah yang terjadi pada mereka berdua.

Karena kelicikan Laplace, kala itu ras Supard menyerang siapapun dengan membabi buta, tanpa membedakan kawan dan lawan.

Kemungkinan besar, dia sempat membunuh beberapa orang dari wilayah yang dikuasai Badigadi.

Tak peduli seberapa kecil area yang dia kuasai, raja iblis tetaplah raja iblis.

Jika wilayah kekuasaanmu diserang, maka kau tidak akan mungkin mengabaikannya.

Aku penasaran, apa yang terjadi pada hubungan mereka setelah itu.

Aku benar-benar tidak bisa membayangkan Badigadi yang ceria itu masih memendam luka lama terhadap ras Supard.

Tidak, justru sebaliknya.

Badigadi selalu ingin meminjamkan kekuatannya pada orang lemah yang diinjak-injak.

Meskipun Laplace ikut campur dalam rencana itu.

Ruijerd membunuh mereka dan Badigadi ingin membalaskan dendamnya.

Aku yakin itulah yang terjadi.

Tidak, tunggu sebentar.

Laplace adalah dalang di balik insiden kebrutalan ras Supard, namun bukankah hanya sisa-sisa ras Supard seperti Ruijerd yang mengetahui fakta itu? Bukankah kecil kemungkinannya Badigadi juga mengetahui hal tersebut?

Lain kali akan kutanyakan hal ini pada Ruijerd secara pribadi.

... Kalau suatu saat nanti aku berhasil memproduksi secara massal patung Ruijerd, kemudian kusebarkan ke seluruh dunia, maka seperti apakah wajah sang raja iblis saat itu.

Mudah-mudahan dia hanya menertawakannya dengan terbahak-bahak.

Hmmm...

Bagaimanapun juga, aku tidak nyaman jika hubungan Ruijerd dan Badigadi terus memburuk seperti ini.

"Ruijerd-san, semenjak raja iblis datang ke sekolahan ini, kami berteman cukup baik, namun aku bisa sedikit memprediksi apa yang terjadi di antara kalian pada masa lalu ... "

"Jangan khawatir, aku tidak punya niat untuk bertarung melawannya."

Ruijerd mengatakan itu sambil tersenyum pahit.

Meskipun dia mengatakan itu, beberapa saat yang lalu aku benar-benar merasakan Ruijerd melepaskan hawa membunuhnya.

Mungkinkah, pertarungan tidak akan terjadi sebelum salah satu dari mereka bergerak terlebih dahulu?

"Namun, aku tak pernah menyangka bahwa orang itu ada di tempat seperti ini."

"Aku sendiri juga bingung, namun dia datang untuk mencariku."

"Ah, dia memang selalu seperti itu."

Ruijerd tersenyum pahit dan akhirnya kembali ke rumahku.

Aku tak pernah menyangka bahwa hubungan Ruijerd dan Badigadi seburuk itu.

Aku tidak pernah mengetahuinya.

Kupikir Badigadi bisa akrab dengan siapa saja.

Bagian 4[edit]

Setelah kembali ke dalam rumah, Sylphy yang sudah terbangun menyiapkan sarapan.

Entah kenapa, Aisha mengenakan seragam maid-nya dan ikut membantu Sylphy di sampingnya.

Sepertinya Norn masih tidur.

Kurasa aku akan membangunkannya, kemudian aku menaiki tanggu untuk menuju kamarnya.

Aku mengetuk beberapa kali, kemudian segera memutar kenop pintu, tapi karena aku merasakan semacam firasat buruk, aku pun menghentikan itu seketika.

"Sudah waktunya sarapan pagi, jadi turunlah."

Tidak ada jawaban, tapi setelah mendengarkan dengan saksama, aku mendengar suara gemerisik orang sedang berganti pakaian.

Sepertinya dia sedang bersalin pakaian.

Aku bukanlah lucky-pervert [21].

Aku juga bukan lagi tipe protagonis bebal.

"...Ya."

Setelah mendengar suara keluar dari dalam, aku turun ke lantai pertama dengan tenang.

Kami berlima akan sarapan bersama.

Perilaku Aisha cukup sopan untuk anak seusianya, dia pun makan dengan begitu rapih.

Ruijerd sama seperti biasanya, dia tidak bisa menggunakan alat makan apapun selain garpu.

Norn sepertinya masih setengah tertidur dan gaya makannya tidak sesopan Aisha.

Atau lebih tepatnya, dia hanya menggunakan garpu seperti yang dilakukan Ruijerd.

Itu adalah tabiat buruk dalam tata krama makan di meja. Kalau boleh kubandingkan, itu sama saja dengan menusuk daging dengan pisau, lalu kau jejalkan begitu saja ke mulutmu tanpa memotongnya.

"Kalau begitu, sudah waktunya aku pergi."

Segera setelah sarapan berakhir, Ruijerd memutuskan untuk pergi.

Barang-barang bawaannya begitu sedikit sehingga meringankannya.

Kami berempat bermaksud mengantarnya pergi sampai gerbang kota.

Ruijerd mengatakan bahwa itu tidak perlu, tapi ini bukan perkara perlu – tidak perlu.

Mengantarkan kepergian teman adalah suatu hal yang biasa.

Meskipun Ruijerd menginap di rumahku semalam, kami tidak banyak ngobrol, dan akhirnya kami berlima berjalan menyusuri kota untuk mengantarkan keberangkatannya.

Norn meraih sisi manset Ruijerd.

Itu adalah suatu cara yang tepat untuk menghentikan seorang lolicon, bahkan terdengar efek suara ketika Norm melakukan itu.

Ruijerd berjalan agak lambat.

Sembari mengikuti langkahnya, kami juga berjalan pelan.

Sepertinya Norn tidak mau berpisah dengan Ruijerd.

Aku mengerti perasaannya, karena aku juga masih menginginkan dia tinggal di rumahku, setidaknya sampai beberapa hari ke depan.

Aku ingin berbicara dengannya lagi.

Aku bimbang, apakah lebih baik aku menahannya sekarang juga?

Jujur saja, bahkan di usia sedewasa ini, aku masih ingin menghabiskan waktu bersama Ruijerd.

Ada banyak hal yang perlu kami bicarakan, yang tidak akan habis diomongkan semalam saja.

Ada banyak orang yang ingin kuperkenalkan dengannya, dan ada pula banyak hal yang ingin kutunjukkan padanya.

Tapi, ujung-ujungnya kita pasti akan membahas Eris.

Aku tidak ingin berpisah dengan Ruijerd dengan sedikit pun rasa bersalah.

Ini bukan pula kesalahan Sylphy, tapi ...

Aku merasa bahwa Ruijerd akan terus membahas tentang Eris sampai semuanya tuntas. Ya, aku bisa merasakan itu dengan jelas dari gesturnya bicara.

Tapi, aku bahkan tidak tahu di mana Eris sekarang berada.

Sementara aku memikirkan itu, dalam waktu singkat kami sampai di gerbang kota.

"Baiklah… jagalah diri kalian baik-baik."

"Ruijerd-san juga, jagalah dirimu baik-baik ..."

Kami mengucapkan salam perpisahan dengan kata-kata pendek.

Meski ada banyak hal yang ingin kukatakan, ketika saatnya berpisah telah tiba, entah kenapa justru perkataan singkat itu yang keluar dari mulutku.

Nah, lagipula kami tidak akan berpisah selamanya, kan….

Mungkin kita bisa membicarakan berbagai hal lebih baik ketika semuanya sudah tenang nanti.

Sepertinya dia juga sudah mengucapkan salam perpisahan pada Ginger kemaren, entah kapan tepatnya dia melakukan itu.

"Terima kasih banyak atas bantuannya!"

Aisha menundukkan kepalanya dengan sopan dan penuh semangat.

Tak peduli secerdas apapun Aisha merencanakan rute perjalanannya, semuanya tidak akan berhasil tanpa bantuan Ruijerd.

Sepertinya dia benar-benar mengerti akan hal itu.

Aku yakin, ketika Aisha dan Norn terlelap, Ruijerd melindungi mereka tanpa henti.

"Aisha, jangan meminta hal yang tidak-tidak pada Rudeus."

"Ya! Aku tau itu!"

Ruijerd tersenyum kecut, kemudian dia membelai kepala Aisha.

"U ... Umm.Ummm, Ruijerd-san ..."

Norn masih belum melepaskan pakaian Ruijerd.

Dia menunjukkan ekspresi galau di wajahnya, jelas sekali terlihat bahwa si kecil ini masih belum rela berpisah dengan pengawalnya selama perjalanan kemari.

"Jangan khawatir, kita akan bertemu lagi."

Ruijerd tersenyum kecil dan meletakkan tangannya di atas kepala si gadis.

Aku kangen betul dengan adegan seperti ini.

Ruijerd juga pernah menepuk kepalaku seperti itu ketika aku galau.

Norn hanya tertunduk, namun kemudian dia mengangkat wajahnya.

Terlihat jelas bahwa dia ingin mengucapkan sesuatu, tapi dia tetap terdiam.

Ekspresi wajahnya berubah berkali-kali, sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka mulutnya.

"A... aku ingin pergi bersamamu ...!"

Dia menyatakan itu.

Ruijerd membelai kepalanya, dan wajah sang prajurit legendaris pun terlihat galau.

"..."

Dia terus membelai kepalanya tanpa mengucap sepatah katapun.

Namun, genangan air mulai terbentuk di kelopak mata Norn.

"Setelah ini, kau harus mengandalkan Rudeus…. bukan aku lagi."

"Tapi, meskipun begitu…. Dia ... dengan Oto-san…..!"

"Masalah itu sudah lama berlalu, kini dia sudah banyak membenahi diri. Begitupun dengan ayahmu. Kau sendiri juga telah mendengar banyak hal tentang masalah yang dihadapi kakakmu selama perjalanan, jadi kau pasti sudah mengerti. "

"Tapi, kemarin dia mabuk-mabukan, lagian…. dulu pasangannya bukanlah wanita ini! Aku tidak bisa mempercayainya!"

Tentu saja…. Waktu itu aku masih bersama Eris.

Setelah mendengar itu, suasana di sekitar kami mendadak membeku.

Namun, nampaknya satu-satunya orang yang sudah menduga bahwa Norn akan berkata begitu, hanyalah aku.

Kalau diingat-ingat lagi, aku sudah berbicara dengan Sylphy mengenai banyak hal tentang Eris.

Bukannya aku tidak setia atau suka selingkuh.

Namun, kurasa… seperti itulah pandangan Norn terhadapku.

Ruijerd melihat ke arah Sylphy, dan aku hanya tersenyum pahit.

"Begitulah hubungan antara orang dewasa. Hal seperti itu sering kali terjadi. Bukan berarti kakakmu tidak setia, lho. "

"..."

Setelah Ruijerd mengatakan itu, dia melepaskan tangannya dari kepala Norn.

Dengan enggan, Norn akhirnya melepaskan pakaian Ruijerd.

"Kau ... tolong beritahu aku namamu sekali lagi."

"Ah, ya, namaku Sylphiette."

"Sylphiette. Bersama dengan Rudeus, aku mempercayakan kedua gadis ini."

"W-Wa, y-ya!"

Akhirnya Ruijerd bertukar beberapa kata dengan Sylphy.

Aku penasaran, apa sih yang sedang dipikirkan Ruijerd pada saat-saat seperti ini.

Aku hanya bisa berdoa agar kami tidak meninggalkan kesan buruk pada Ruijerd.

"Kalau begitu… sampai jumpa lagi suatu saat nanti."

Aku melihat Ruijerd sampai dia menghilang di kejauhan.

Sekali lagi, aku merasakan syukur yang sama dengan yang kurasakan saat terkahir kali berpisah dengannya.

Aku yakin, Aisha dan Norn juga merasakan hal yang sama.

Bab 5: Perlakuan Terhadap Adik Perempuan[edit]

Bagian 1[edit]

Setelah mengantar kepergian Ruijerd, kami pulang ke rumah.

Dalam perjalanan, kami berpisah dengan Sylphy.

Aku ingin bersamanya, tapi dia punya pekerjaan lain.

Tidak baik bolos kerja tanpa pemberitahuan.

Dia menuju sekolah untuk memberikan beberapa laporan pada Ariel.

Pada saat kami sampai di rumah, hari sudah siang.

Waktunya makan siang.

Suasananya sangat canggung ketika aku bersama Norn, kalau begitu… aku memasak saja lah.

Aisha menawarkan bantuan, tapi kali ini aku lebih memilih memasak sendiri.

Masakan hari ini benar-benar 'masakan bujangan'.

Kalau aku boleh menamai masakanku kali ini, maka namanya adalah 'Nasi Goreng Kacang', atau semacamnya.

Yahh, mau bagaimana lagi. Tidak seperti Sylphy, aku toh tidak serius belajar memasak.

"Apakah itu enak?"

"Ini sangat enak!"

"......"

Aisha sedang makan dengan riang.

Norn makan tanpa keluhan juga.

Masakanya berbeda jauh seperti langit dan bumi jika dibandingkan dengan masakan Sylphy, namun rasanya tidaklah buruk.

Setelah selesai makan siang, kami pergi ke ruang tamu.

Norn dan Aisha duduk berdampingan, dan aku duduk menghadapi mereka.

Aku menarik napas sebelum kumulai suatu pembicaraan.

"Yahh, ini agak terlambat, tapi pertama-tama, aku ingin mengucapkan selamat karena kalian telah menyelesaikan perjalanan panjang ke sini."

"Ya, aku juga senang melihat Onii-sama sehat-sehat saja."

Kata Aisha, dengan ekspresi riang.

Dia mengenakan pakaian maid.

Kalau dibandingkan dengan terakhir kali aku melihatnya mengenakan pakaian tersebut, yang sekarang jauh lebih cocok.

Ada tambalan pada beberapa tempat di pakaiannya, namun sepertinya itu karena insiden di kerajaan Shirone.

Sepertinya dia begitu tertarik dengan ruangan ini, karena dia terus melihat sekeliling dengan mata berbinar-binar.

Rambut kuncir kudanya bergoyang-goyang ke kiri-kanan.

Ada pita berwarna putih yang menghiasi rambut kuncir kudanya, tapi pita itu sudah agak kusam, bahkan warnanya mulai berubah menjadi abu-abu, yang mana itu semakin membuatnya mencolok.

"......"

Norn masih saja menundukkan kepalanya, seperti anak yang barusan kenal pada seseorang.

Pakaiannya cukup normal seperti kebanyakan anak seumurnya.

Pakaiannya berwarna biru dengan disain yang imut.

Di Kerajaan Millis aku melihat banyak anak berpakaian seperti ini, tapi agaknya model pakaian tersebut cukup mencolok di negara ini.

Rambut pirangnya sedikit lebih panjang daripada rambut Aisha.

Dia mengikat rambutnya ke belakang dengan klip rambut yang besar, dan itu semakin membuat penampilannya terlihat modis.

"Tampaknya Aisha telah bekerja cukup keras selama perjalanan."

"Ya, itu semua kulakukan agar aku lebih cepat bertemu Onii-sama, aku sama sekali tidak kerepotan kok."

Kata Aisha dengan jujur.

Tapi kenapa nadanya aneh hari ini.

Aku penasaran, mengapa tingkahnya aneh hari ini?

"Mulai sekarang dan seterusnya, kita akan menjadi keluarga, dan ini adalah rumah kalian, jadi jangan pernah sungkan melakukan apapun di rumah ini, anggap saja rumah kalian sendiri. "

"Ya, tapi meski kita adalah keluarga, ini masihlah rumah Onii-sama, maka setidaknya aku harus melakukan sesuatu, jadi aku akan membantu Onii-sama dengan bersih-bersih rumah setiap hari."

Entah kenapa, aku merasakan suatu jarak yang lebar di antara kami. Kenapa ya? Apakah aku telah melakukan suatu kesalahan? Mungkin karena dia memanggilku Onii-sama?

"Hei, imouto-sama."

"Ada apa, Onii-sama?"

"Bisakah kau berhenti memanggilku begitu?"

"Tidak mau, itu adalah panggilan yang pantas untuk orang yang lebih tua darimu, kau pun pernah berkata begitu sebelumnya, lantas mengapa aku harus menghentikan itu?"

Apakah karena aku menggunakan sebutan kehormatan, lantas dia menolak untuk menghentikannya?

"Aku mengerti, aku tidak akan lagi menggunakan sebutan kehormatan."

"Aku mengerti, ternyata panggilan kehormatan tidak cocok untuk saudara dekat ya. Akan terasa kesenjangan di antara kita, tapi ijinkan aku memanggilmu dengan sebutan Onii-chan, karena kau lebih tua dariku."

Oi, berhenti menggunakan panggilan kehormatan bukan berarti harus memanggilku dengan sebutan Onii-chan. Yahh, tidak apalah. Setidaknya dia bisa membedakan panggilan untuk orang yang lebih tua darinya. Itu bagus.

Panggilan seperti itu akan membuatmu merasa tidak akrab dengan seseorang, mungkinkah Ruijerd dan Eris juga merasakan hal yang sama? Tapi, aku pun percaya bahwa panggilan kehormatan adalah salah satu cara paling sopan untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Nah, lain kali kita bertemu, ayo berbicara dengan lebih santai… seperti….

“Hei, Ruijerd, gimana kabar loe? Udah banyak berubah nih, sekarang loe agak kurusan dan gak berjanggut. Apa? Udah ganti nama nih?”

...... sesuatu seperti itu.

Ruijerd adalah seseorang yang aku hormati. Tidak mungkin aku berbicara padanya tanpa menggunakan panggilan kehormatan.

Itu sudah pasti.

Kalau aku berbicara seperti itu dengan Ruijerd atau Roxy di dunia paralel, mungkin mereka akan menghajarku sampai mampus.

"Aisha, Norn, ini pertama kalinya kita hidup bersama seperti ini, mungkin masih banyak hal tentang kalian yang tidak kuketahui, begitupun sebaliknya…. Yahh… mohon kerjasamanya ya."

"Ya!"

"......"

Aisha mengangguk dengan riang.

Entah kenapa, ini terasa seperti saat aku memberikan daging pada Pursena. Dia selalu saja menunjukkan ekornya. Seakan dia berkata, “Aku akan mendengarkan apapun katamu.”

Sebaliknya, Norn masih saja jutek. Terlihat di wajahnya bahwa dia sama sekali tidak ingin tinggal bersamaku.

Yah, mau bagaimana lagi, karena aku meninggalkan kesan buruk padanya saat pertemuan pertama kami. Bahkan, saat kami bereuni kembali, aku tidak berada dalam kondisi terbaikku. Aku sedang mabuk dan menggandeng wanita lain. Lebih baik aku bersikap lebih hati-hati di depan gadis kecil ini.

"Aku tidak pernah mengira Onii-chan akan menikahi Sylphy-ane, aku sangat terkejut, bukankah begitu… Norn-ane?"

Dengan begitu, Aisha mengajak Norn ikut dalam topik pembicaraan ini.

"A... aku tidak begitu ingat Sylphy-san."

Kata Norn sambil menggelengkan kepalanya.

Usaha pendekatan yang gagal, ya? Karena dia tidak seperti Aisha, dia tidak belajar etiket bersama Sylphy dan tidak banyak berhubungan dengannya.

"Hei..hei, Onii-chan, apakah terjadi sesuatu? Apa yang terjadi dengan Eris-san? Bukankah sebelumnya kau selalu bersamanya?"

Mushoku11 04.jpg

Kata Aisha sembari bersandar padaku. Yahh, sepertinya mereka semua penasaran dengan nasib Eris setelah tidak lagi bersamaku.

"Ya...."

Setelah itu, aku menjelaskan semua yang terjadi padaku setelah kembali ke Wilayah Fedoa, Eris meninggalkanku, dan aku menjadi seorang petualang.

Lalu aku terjangkit suatu penyakit, dan untuk menyembuhkannya, aku harus bersekolah di Akademi Sihir, kemudian aku bertemu Syphy dan dia lah yang mampu menyembuhkan penyakitku.

Tentu saja aku tidak menyebutkan bahwa penyakitku itu adalah impotensi, aku pun tidak membahas bagaimana cara penyembuhan penyakit tersebut.

Bagaimanapun juga, itu bukanlah topik pembicaraan yang layak didengar oleh gadis berusia 10 tahun.

Setelah itu, aku menjelaskan kondisi Sylphy, dan juga fakta bahwa dia harus menyembunyikan gender-nya di depan umum.

Sebenarnya ini adalah rahasia besar yang harus kujaga, tapi menurutku Ariel sudah memberikan hak padaku untuk menyampaikan fakta tersebut pada orang-orang yang kupercayai, lagian dua gadis ini masih terlalu kecil untuk memikirkan hal seperti itu.

Karena kami akan hidup bersama, maka mereka pasti akan menyadari fakta itu cepat atau lambat.

Tidak baik baik jika aku kehilangan kepercayaan dari adik-adikku hanya karena menyembunyikan fakta tersebut, lagian mereka lebih mudah diajak bekerjasama untuk menjaga rahasia itu.

"Begitulah adanya."

Aku menyelesaikan monologku.

Norn masih menunduk dengan wajah serius, dan Aisha menatapku dengan cemas.

"Jadi, apakah kau sudah benar-benar sembuh?"

"Oh, aku sudah sembuh total, jadi jangan khawatirkan aku lagi."

Meskipun begitu, aku masih “berobat” setiap 3 hari sekali.

Lantas, Aisha menepuk tangannya sebagai pertanda memahami sesuatu.

"Oh, aku baru ingat!"

"N ~?"

"Ayah memberikan sesuatu padaku untuk diberikan pada Onii-chan."

Setelah mengatakan itu, Aisha melompat dan pergi ke lantai dua, beberapa saat berselang dia pun kembali bersama suatu kopor.

"Ya, ini dia, terimalah!"

Kopornya terkunci rapat, dengan tiga gembok besar yang menyegelnya. Apakah Paul melakukan ini untuk mengamankannya dari para pencuri? Yahh, mungkin juga Paul melakukannya agar Aisha dan Norn tidak usil membukanya.

"Oh, kuncinya ......"

"N? Oh ~"

Tampaknya Aisha memiliki kuncinya. Setelah kuterima kunci itu, aku pun langsung memasukkannya ke lubang gembok.

"Oh."

Di dalamnya penuh sesak dengan emas dan perak.

Di suratnya, Paul memang sempat menulis bahwa dia akan memberikan sejumlah uang padaku untuk menghidupi kedua gadis ini. Tapi ini terlalu banyak!

Di sana ada beberapa lusin batangan logam mulia dengan simbol Kerajaan Milis.

Secara kasat mata, sulit untuk menerka nilai semua harta ini, tapi kalau dijual pasti harganya begitu tinggi.

Inilah uang yang Paul sebutkan dalam suratnya, dengan harta sebanyak ini setidaknya kami bisa hidup selama 10 tahun tanpa bekerja sedikit pun, tapi aku harus berhati-hati agat tidak membelanjakannya dengan sia-sia.

Di kopor ini terselip 2 pucuk surat, ayo kita periksa isinya.

Salah satunya adalah surat yang sama dengan surat yang telah kuterima sebelumnya. Sedangkan yang satunya adalah surat dari Lilia, ini menyangkut pendidikan dan kepribadian Aisha dan Norn.

Aisha adalah anak yang brilian dan tidak akan membuat kesalahan, tapi karena dia sedikit nakal, aku harus bersikap tegas terhadapnya.

Norn adalah gadis biasa, tapi karena dia sering dibandingkan dengan Aisha di sekolah, itu mungkin membuat kepribadiannya memburuk. Tapi akan lebih baik jika aku memperlakukannya dengan baik, seperti itulah yang tertulis dalam surat tersebut.

Lilia tampaknya agak keras pada Aisha. Mungkin dia melakukan itu untuk mengingatkan Aisha akan statusnya sebagai anak selir, sedangkan Norn adalah putri dari istri yang sah.

Tapi menurutku, kau harus memperlakukan kedua anakmu dengan adil.

Namun, Aisha benar-benar hebat.

Setelah setahun belajar, tampaknya Lilia sudah kehabisan materi yang perlu diajarkan padanya.

Dia cukup pandai dalam pelajaran membaca, menulis, sejarah, dan matematika.

Selain itu, dia terampil membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan memasak. Ilmu pedangnya berada pada tingkat dasar teknik Dewa Air, dan dia menguasai enam basic sihir pada tingkat dasar.

Dia pernah bersekolah di Millis, tapi sejak Roxy tiba dan Paul melanjutkan perjalanan untuk menemukan Zenith, dia sudah tidak lagi menyentuh bangku sekolah dalam waktu yang cukup lama.

Pantas saja Norn minder, karena Aisha begitu superior.

Norn adalah gadis normal, dia tidak punya keahlian khusu, namun juga tidak buruk dalam berbagai bidang. Meskipun prestasinya lebih baik daripada Eris ketika seumuran dengannya, kurasa dia adalah gadis yang biasa-biasa saja…. Atau mungkin… malah di bawah rata-rata.

Norn juga mengalami insiden metastasis, dan sejak saat itu, dia selalu berusaha yang terbaik untuk bertahan hidup bersama ayahnya. Aku sungguh tidak ingin kehilangan kepercayaan dari adikku yang satu ini.

Tidak ada surat lain, sebenarnya aku mengharapkan suatu kiriman dari Roxy, tapi ....

Yahh, bagaimanapun juga, ini adalah surat pribadi antar keluarga, jadi dia pasti sungkan mengirimkan surat untuk diriku secara khusus.

"Kalau begitu… setelah kalian menetap di sini, selanjutnya kalian harus meneruskan sekolah."

"Ehh!"

Kata Aisha dengan suara tidak senang, apakah dia trauma dengan sekolahnya sebelumnya?

"Tidak ada lagi yang bisa aku pelajari di sekolah, aku hanya ingin melayani Onii-chan di rumah."

"Tapi…...."

"Tapi… aku hanya ingin melayani Onii-chan! Ingatlah janji waktu itu! Aku tidak akan pernah melupakannya!"

Lalu dia melepaskan ikatan rambutnya, dan menunjukkan pelindung dahi yang pernah kuberikan sebelum kami berpisah di Shirone.

Bagian logamnya telah ditekuk, sehingga bisa digunakan sebagai penjepit rambut, namun itu sudah usang dan kusam.

Aku merasa bahagia saat melihatnya masih menyimpan benda yang pernah kuberikan dulu.

Sepertinya aku mengerti perasaan Aisha yang tidak mau melanjutkan sekolahnya.

Sejujurnya, aku juga tidak begitu setuju menyekolahkan lagi gadis yang sudah jenius ini. Yang terpenting adalah kemauannya untuk belajar. Jika tidak ada kemauan, maka bersekolah hanya buang-buang waktu saja. Aku juga mengalaminya ketika masih duduk di bangku sekolah menengah.

Pada suratnya, Paul jelas-jelas memintaku untuk menyekolahkan kedua gadis ini.

Tidak ada yang namanya wajib belajar di dunia ini, tapi ...

"Kalau begitu, setidaknya ikutlah ujian masuk akademi sihir, untuk selanjutnya, keputusanku akan tergantung dari hasil ujian masuk tersebut."

"Ya ... Oh, aku mengerti."

Kata Aisha sambil meringis.

Dia tampaknya percaya diri akan mendapatkan nilai tinggi. Yahh, kalau dia berhasil mendapatkan nilai tinggi sebelum masuk sekolah, maka aku akan membebaskannya dari kewajiban belajar, dan akan kuceritakan pada Paul nanti.

"Norn, bagaimana kalau kamu ikut ujian juga?"

"......"

Ketika aku mengalihkan pembicaraan ke Norn, dia hanya memalingkan wajahnya tanpa mengucap sepatah kata pun. Aku penasaran, separah itukah kebenciannya terhadapku ... apakah dia tidak akan berbicara padaku lagi?

Sementara aku memikirkan itu, dia membisikkan sesuatu……..

"…….Tapi, aku mungkin akan gagal dalam ujian itu."

Sepertinya, ini pertama kalinya dia berbicara denganku, mungkin dia tidak sebenci itu padaku, aku pun senang mendengarnya.

Ya…. tidak baik kalau dia terus-terusan mengabaikanku.

"Tidak perlu khawatir, meskipun kau gagal, selama kau membayar uang sekolah, mereka pasti akan menerimamu."

"Erm ... Bukannya aku ingin bersekolah di sana!"

Aku dibentak, mungkin karena aku membicarakan kecacatan sekolah itu.

"Eh, Norn-ane, kenapa kau berbicara sekasar itu pada Onii-chan…"

"Tapi, kau juga mendengarnya kan…. dia bilang, dia akan menyuap sekolahan agar menerimaku, atau semacamnya."

"Norn-ane lah yang salah karena tidak pernah belajar dengan serius!"

"Aku bisa belajar dengan serius kalau aku mau!"

Norn mulai berteriak dan menjambak rambut Aisha.

Aisha meraih pergelangan tangan Norn, kemudian dia julurkan tangannya pada wajah Norn, lantas dia mencakarnya, dan balas menjambak rambut kakaknya.

Ini seperti perkelahian dua ekor kucing, ya… seperti itulah perkelahian antar bocah.

Yahh, kalau cuma ini sih, kurasa gak papa.

Asalkan mereka tidak saling jotos atau saling gencet.

Kalau hanya pertengkaran kecil seperti ini sih gak masalah, tapi sebagai kakak tertua, aku harus menengahi mereka.

Mari kita hentikan mereka.

"Tolong hentikan."

Sebenarnya sih aku ingin mengatakan itu pelan-pelan, tapi entah kenapa nada bicaraku sedikit meninggi…. Hasilnya, mereka berdua berhenti seketika dengan tubuh gemetaran.

"......"

Norn tampaknya masih ingin mengatakan sesuatu, namun dia hanya bisa tertunduk dengan mata berkaca-kaca.

.... Hmmmm.

Kurasa, dia tertekan oleh superioritas diriku dan Aisha.

"Yahh, begini lho, Norn…. Sekolah di kota ini akan menerima murid yang membayar uang sekolah, terlepas dari perbedaan bakat, ras, ataupun status sosial… memang seperti itulah peraturannya, jadi bukannya aku berniat menyuap mereka atau apa.”

"...... Hiks….hiks…."

Dia mencoba menyeka air matanya sambil terisak-isak.

"Kau ingat Roxy-sensei, bukan? Dia juga pernah bersekolah di sini. Ini sekolah yang sangat bagus. Belajarlah dengan baik di sini, mungkin kau juga akan menemukan sesuatu yang kau sukai ... "

….Maksudku, sesuatu yang membuatmu bisa mengungguli Aisha, aku tahan mulutku untuk tidak mengatakan itu, pada situasi seperti ini, akan lebih baik jika aku tidak membanding-bandingkan siapapun.

Norn terus menunduk selama beberapa saat, namun akhirnya dia berkata….

"Aku mengerti… aku akan mengikuti ujian."

Akhirnya, setelah mengatakan itu, dia berdiri dan meninggalkan ruang tamu.

Aisha berkata dengan suara jengkel pada Norn yang terus berjalan menjauh.

"Norn-ane, kita masih belum selesai bicara!"

"Diam!"

Kemudian kami mendengarnya berlari ke lantai dua dan membanting pintu.

Aku mengerti.

Dia adalah anak yang susah diatur, dan memiliki kepribadian yang susah dimengerti.

Aku penasaran, apakah aku bisa akur dengannya?

"Ah, dia selalu seperti itu, aku tidak suka dengan anak yang susah diatur. Onii-chan juga setuju, kan?"

Aisha meminta persetujuanku sambil mengangkat bahunya.

Sikap Aisha juga tidak bisa dibenarkan, karena dia selalu saja memandang rendah Norn.

Ini tidak bagus.

"Aisha."

"Ya?"

"Mulai sekarang, berhentilah mengatakan 'kamu tidak belajar dengan serius' atau perkataan kasar lainnya pada Norn.”

"Ee ~ h ......"

Ketika aku mengatakan itu, Aisha cemberut dan membalasku dengan nada jengkel.

"Tapi, Norn-ane memang tidak pernah berusaha dengan serius."

"Yahh, dari sudut pandangmu mungkin memang terlihat seperti itu, tapi mungkin Norn sudah berusaha semaksimal mungkin dengan caranya sendiri ... "

"Yahh .......... Kalau Onii-chan bilang begitu, aku akan menjaga lisanku lain kali."

Dia mengangguk dengan setengah hati.

Yahh, mungkin perkataanku sama sekali tidak meyakinkannya, karena aku masih belum memahami mereka berdua.

Tapi aku harus memperlakukan dua gadis kecil ini dengan sebaik mungkin….hmmm, sepertinya itu tidak akan mudah.

Bagian 2[edit]

Sore harinya, aku meninggalkan kedua adikku di rumah, lantas aku pergi ke sekolah. Aku mengunjungi ruang guru untuk berbicara dengan wakil kepala sekolah Jinas mengenai ujian masuk untuk kedua adik perempuanku.

"Jika mereka belajar di sekolah lain sebelumnya, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan kurlikurlum yang kita ajarkan di sekolahan ini, jadi kita harus mengadakan ujian masuk secepat mungkin.”

Itulah sebabnya, kami akan mengadakan ujian masuk seminggu setelahnya.

Ini seperti tes dadakan, tapi sepertinya itu tidak masalah bagi mereka berdua.

"Aku yakin mereka adalah murid yang hebat, karena mereka adalah adik Rudeus-san."

"Yang satunya memang cukup pintar, tapi yang satunya lagi biasa-biasa saja."

"Jangan merendah, aku yakin mereka bisa menggunakan mantra tanpa suara?"

"Tidak mungkin."

Sambil mengobrol seperti ini bersama Jinas, tiba-tiba aku teringat sesuatu.

"Ngomong-ngomong, wakil kepala sekolah, apakah Badigadi-sama berada di sekolah hari ini?"

"Kalau Yang Mulia ... aku belum melihatnya hari ini."

"Begitu ya…."

Dia adalah temanku yang sulit kupahami.

Namun, dia selalu menyebabkan kehebohan di mana pun dia berada, jadi aku pasti bisa menemukannya dengan cepat.

"Jika kau ada urusan dengannya, aku bisa menyampaikan pesanmu padanya, lho?"

"Yahh, tidak terlalu penting sih, tapi aku ingin berbicara empat mata dengannya."

"Aku mengerti, jika aku melihatnya, aku akan memberitahunya nanti."

Dengan begitu, aku pun meninggalkan wakil kepala sekolah Jinas.

Aku berencana untuk pulang setelah itu, tapi karena aku masih punya sedikit waktu, aku memutuskan untuk mengunjungi Nanahoshi sebentar.

Aku mengetuk pintu lalu masuk, namun anehnya, dia sedang tidak berada di ruangannya. Si cewek hikkikomori itu sedang keluar rupanya.

Untuk memastikannya, aku pun berkeliling di ruang penelitiannya sebentar, tapi masuk ke kamar tidaklah diperbolehkan.

Tapi secara tiba-tiba, aku mendengarkan suatu suara dari kamarnya.

"N ... Ugh"

Jadi dia sedang berada di kamar.

Aku mendengar suara rintihan, sepertinya dia kesakitan. Aku ragu-ragu, apakah harus masuk ke dalam kamarnya ataukah tidak. Namun, tak lama berselang, Nanahoshi keluar dari kamarnya dengan wajah pucat pasi.

"Hei, apa kau baik-baik saja?"

"...... aku gak enak badan ...... ...... ...... kepalaku sakit ...... a"

Wow, bau alkohol tercium dari mulutnya.

Habis minum-minum di bar ya?

Yahh, pantas saja pusing, karena dia banyak minum.

Kalau dia terlalu banyak minum, pantas saja kepalanya masih pusing sampai saat ini.

"Duduklah sebentar, aku akan mengobatimu."

Setelah mengatakan itu, aku membawanya ke laboratorium dan memintanya duduk pada suatu kursi. Sembari memegang kepalanya, dan merapalkan mantra sihir detoksifikasi. Setelah itu, aku meredakan sakit kepalanya dengan sihir penyembuhan.

"Fiuh ..... aku terselamatkan."

Nanahoshi mengucapkan terima kasih sambil memegang pelipisnya.

Lalu dia memakai topeng di meja, dan berubah menjadi "Silent Seven Star" sang wanita bertopeng.

"Hari ini kau mau apa? Jika kau meminta imbalan, aku belum menyiapkannya."

Jawaban yang dingin, tapi terkesan sedikit “dere-dere”. Apakah ini yang dinamakan kuudere? [22]

"Tempo hari, ketika aku kembali ke rumah, adik perempuanku tiba dari perjalanannya. Karena aku harus mempersiapkan pendaftaran mereka di sekolahan ini, maka hari ini aku menemui ... "

"... adik perempuan? Maksudmu adik perempuanmu dari dunia ini? Ataukah adik perempuanmu yang mengalami perjalanan antar dimensi? [23]"

"Tidak mungkin, mereka adalah adik perempuanku dari dunia ini."

"Begitukah?"

Nanahoshi menatap wajahku.

"Jika mereka adalah adik perempuanmu dari dunia ini, maka mereka sangat imut, kan?"

"Apakah kau baru saja menyanjung wajahku?"

"Maksudku, dari perspektif orang Jepang. Aku tidak tahu bagaimana kau melihatnya, tapi menurutku, orang-orang dari dunia ini terlihat seperti orang barat yang ada di dunia kita sebelumnya."

"Ohhhh, ya."

Aku dipuji, sial, dasar gadis Gal [24] berbahaya.

Kalau dia mengatakan ini dulu, mungkin aku sudah salah sangka mengira, “ahh, dia pasti sudah jatuh cinta padaku…”

Tapi sekarang aku bukan lagi pria lajang, dan aku tidak akan goyah oleh pujian seperti itu.

"Berapa umur mereka?"

"Kalau tidak salah, seharusnya umur mereka 10 tahun."

"Aku paham ... aku punya saudara laki-laki seumuran itu di rumah dulu, kalau alur waktu dunia ini berjalan setara dengan dunia kita sebelumnya, maka harusnya dia sekarang sudah lebih tua dariku."

Setelah mengatakan itu, Nanahoshi menyipitkan matanya seakan sedang mengenang masa lalu.

Apakah dia kangen Jepang pada saat-saat seperti ini?

Kalau aku sih tidak punya kenangan indah tentang 'adik laki-laki'.

"Aku ingin puding."

Kata Nanahoshi dengan tiba-tiba.

Yahh, tiba-tiba dia merubah topik pembicaraan 180°.

Mengapa harus puding?

"Apakah kau memiliki kenangan spesial tentang puding?"

"Aku pernah meninggalkan puding mahalku di kulkas, kemudian dia memakannya tanpa izin ... "

Sepertinya, semua adik lelaki sama saja, tapi nampaknya Nanahoshi juga merindukan kenangan pahit seperti itu.

Dia sedikit mendongakkan wajahnya ke atas, mungkin dia ingin menangis. Baiklah, menangislah sepuasmu, aku akan memalingkan wajahku.

"Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu"

"E ~ e ... aku dulu selalu merepotkanmu. Tapi sekarang, kurasa kau adalah orang yang baik."

"Fufufu, jika kau jatuh cinta padaku, maka kau akan ..."

"Apa-apa’an itu!? Berlagak sok keren!??"

Nanahoshi tertawa sedikit setelah mengatakan itu, yahh, mungkin inilah yang disebut perbedaan generasi. Aku akan bertanya tentang percobaan itu lain kali, kalau dia sudah lebih tenang.

Bagian 3[edit]

Sepulang sekolah.

Aku pulang ke rumah bersama Sylphy, aku ingin meminta Sylphy untuk banyak membantu adik-adik perempuanku, karena mereka sama-sama wanita, mungkin istriku lebih memahami kedua adikku daripada aku.

"Oh, Rudi, ayo kita pergi berbelanja. Karena jumlah penghuni rumah bertambah, maka kita perlu membeli bahan makanan lebih banyak lagi."

Dengan demikian, aku bersama Sylphy pergi ke pasar.

Saat kami menginjakkan kaki di pasar, hal pertama yang menyita perhatian kami adalah aroma kacang goreng yang menggoda selera.

Distrik pasar dipenuhi oleh pengunjung bahkan di malam hari. Padahal tadinya kukira, pasar hanya akan ramai di pagi hari saja. Kami hendak membeli daging yang dijajakan oleh para pemburu. Mereka pergi memburu hewan-hewan di pagi hari, kemudian kembali ketika petang.

Dengan kata lain, mereka menyimpan daging di siang hari, kemudian mereka jual di malam hari.

Meskipun barang dagangannya tidak bervariasi, namun harganya relatif tinggi.

Namun, di negara “Tiga Serangkai Sihir” kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan dengan uang.

Tapi jika kau menuju ke timur, atau lebih tepatnya negara-negara yang lebih miskin, kau belum tentu bisa mendapatkan sesuatu meskipun kau punya uang.

Ngomong-ngomong, membekukan bahan makanan di sini sangatlah mudah, karena kau bisa memintanya pada Guild.

Yahh, sebenarnya itu hanyalah permintaan dari para murid yang baru saja belajar sihir.

Sembari berbelanja, aku ngobrol bersama Sylphy tentang apa yang seharusnya kita lakukan mulai saat ini.

"Aku mengerti, jadi hubungan mereka tidak sebagus itu, ya?"

"Sejujurnya, aku bahkan tidak tahu apa yang dipikirkan gadis seusia mereka ..."

"Yahh."

"Aisha tidak mau bersekolah, dia bersikeras ingin menjadi Maid di rumah kita. Bagaimana menurutmu?"

"Karena aku juga jarang berada di rumah, kalau dia ingin melakukan itu, aku justru terbantu. "

Sylphy berkata sambil tertawa, sepertinya tidak masalah baginya jika perannya di rumah digantikan oleh Aisha

"Sylphy, kita harus menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab."

"Ya."

"Bukankah akan lebih baik bila Aisha mendapatkan kesempatan bersekolah di Akademi Sihir?"

"Un, aku mengerti, kalau begitu kita perlu menyuruhnya merubah warna rambut, sehingga dia bisa bersekolah di Akademi Sihir dengan nyaman, kan?” [25]

Sylphy menempelkan tangannya di dagunya seolah memikirkan apa yang harus dimasaknya untuk makan malam, tapi akhirnya dia memilih Ham, yang harganya cukup mahal.

"Sylphy, kita sedang berbicara serius, maka pikirlah dengan matang."

"Tentu saja aku sedang berpikir dengan serius, tapi…. aku kira Aisha-chan jauh lebih menakjubkan daripada yang Rudi pikirkan."

"Lantas?"

"Aku yakin, dia akan baik-baik saja, terlepas dari apakah dia akan bersekolah atau tidak ..."

"O ~ h."

"Jadi, kurasa lebih baik kita mendukung keputusan apapun yang akan dia pilih."

Sylphy nampaknya begitu percaya pada Aisha, kalau dipikir-pikir lagi, Sylphy mengenal Aisha dengan cukup baik. Maksudku, aku pernah mendengar bahwa Aisha adalah anak yang begitu luar biasa ketika dia masih kecil. Ketika bencana teleportasi belum terjadi, Sylphy dan Aisha kan pernah cukup dekat.

"Masalahnya adalah Norn-chan, dia tidak nyaman ketika terpisah dari Paul-san dan Ruijerd-san. Kita harus menjaganya dengan baik."

"Betul."

Ketika aku melihat betapa tenangnya Sylphy, aku pun menyadari bahwa tingkahku cukup gugup.

Entah kenapa, hari ini Sylphy terlihat sangat bisa diandalkan, seperti Fitts-senpai yang kukenal dulu. Eh, dia kan memang Fitts-senpai.

"Biarlah Aisha melakukan apapun yang diinginkannya, akan tetapi kita harus menempatkan Norn pada track-nya?"

"Track?"

"Maksudku, mengarahkannya ke jalan yang benar."

"Yah, kedengarannya bagus."

Tapi… bukankah itu artinya kita memperlakukan kedua gadis itu secara berbeda? Gak papa nih?

Tapi, ada perbedaan besar dalam kemampuan mereka, jadi jangan pernah menyamakan keduanya. Aku harus bisa memisahkan yang mana diskriminasi, yang mana perbedaan.

"Apakah aku mengatakan sesuatu yang terkesan arogan?"

"Tidak, justru pendapatmu telah banyak membantuku, aku pun bisa berpikir lebih logis."

"Tapi, aku harus menjaga Ariel-sama, jadi aku tidak bisa sering-sering bertemu mereka ..."

Kata Sylphy dengan wajah khawatir sambil menggaruk bagian belakang telinganya.

Karena dia harus menjaga Ariel-hime, dia pun khawatir tidak bisa banyak bertemu dengan keluarganya. Bagi seorang wanita yang telah menikah, pastinya itu sangat merepotkan. Apakah aku harus memintanya berhenti bekerja untuk Ariel?

Oh, tiba-tiba aku menanyakan hal itu……

"Hei, Sylphiette-san ..."

"Ada apa, Rudeus-san?"

"Kalau aku memintamu berhenti bekerja pada Tuan Putri Ariel sehingga kau bisa lebih fokus dengan keluargamu, apa yang akan terjadi?"

Aku menanyakan itu dengan nada bicara sesantai mungkin, tapi Sylphy menatapku dengan wajah serius.

"... Aku mungkin tidak mau lagi menjadi istri Rudi."

Eh?

... Itu cukup mengejutkan. Sepertinya kalau aku bertanya dengan cara yang lebih baik, jawabannya akan berbeda, tapi mungkinkah ... dia memang lebih mementingkan Ariel daripada aku ... ahh, aku paham, jadi Ariel lebih penting daripada aku ya….

"Ah."

Setelah melihat ekspresi wajahku, tiba-tiba Sylphy panik.

"Jangan salah paham, aku sangat mencintai Rudi. Ah tidak.. bahkan lebih dari cinta biasa. Ini adalah perasaan membingungkan yang aku sendiri tidak memahaminya."

Sylphy yang panik imut juga.

"Yahh, kurasa aku sama-sama menyayangi kalian berdua, tapi aku juga ingin punya anak, lho ..."

Sylphy membelai perutnya sambil mengatakan itu.

Setelah mendengar itu, aku merasa tubuhku semakin panas. Hari ini Sylphy mengatakan itu secara blak-blakan di depan umum.

"Tapi aku juga menyayangi Ariel-sama, itu adalah rasa sayang yang berbeda dengan rasa sayangku pada Rudi ... ya, itu adalah rasa sayang sebatas teman dekat ... "

Kata Sylphy…. kalau dipikir-pikir lagi, ini adalah pertama kalinya aku mendengar ungkapan perasaan Sylphy pada Ariel

"Ariel-sama, meski kelihatannya sangat sempurna, tapi sebenarnya dia punya banyak sekali kelemahan. Jika aku tidak berada di sisi Rudi, aku yakin Rudi masih bisa melanjutkan hidup, namun kalau tidak ada aku dan Luke di sisi Ariel-sama, maka dia tidak akan hidup lebih lama lagi, itulah yang membuatku tidak pernah bisa meninggalkannya….."

Setelah mengatakan itu, Sylphy menggaruk-garuk bagian belakang telinganya lagi.

Dan dia menambahkan… “Tapi… kehidupanku yang sekarang ini adalah kehidupan yang sudah lama aku impikan… jadi, aku akan selalu berada di sisimu juga.”

Nampaknya Syphy menganggap bahwa perkataannya itu cukup egois.

Sylphy merasa bahwa dia memanfaatkan kebaikanku untuk mendapatkan apa yang selalu dia impikan, oleh karena itu… dia akan membalasnya dengan selalu berusaha menjadi wanita yang aku cintai.

Namun, bukanlah itu kenyataannya.

"......"

Aku tidak membalasnya dengan ucapan, melainkan sebuah ciuman pada pipi Sylphy, saat aku melakukan itu, kamu mendengar 'Hyu ~ u, Hyu ~ u' dan beberapa cibiran dari orang di sekitar, tanpa disadari kami telah menjadi pusat perhatian mereka, lantas Sylphy mengeluarkan kacamata hitamnya dan berubah menjadi Fitts-senpai yang begitu manis.

Setelah beberapa menit, Sylphy menenangkan diri, kemudian kami lanjut berbelanja, namun perbicaraan kami sedikit menyimpang dari topik semula.

Yahh, pokoknya topik yang ingin kubahas dengannya sudah kusampaikan, asalkan Sylphy bisa akur dengan kedua adikku, maka bebanku akan berkurang.

Sejujurnya, aku sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan gadis-gadis kecil itu.

"Karena aku tidak memahami pikiran dan perasaan para gadis, maka aku akan banyak mengandalkan Sylphy sekali lagi…"

"Un ~ ... kita sudah menikah, jadi saling membantu adalah hal yang biasa."

Kata Sylphy sembari tertawa.

Istriku sangat bisa diandalkan.

Tapi perkataannya tadi cukup membekas dalam pikiranku : ”Rudi masih bisa hidup tanpa diriku, tapi Ariel-sama tidak bisa….”. Hah, aku bertaruh Sylphy juga bisa hidup dengan baik meskipun tanpa diriku, seperti ketika dia berperan sebagai Fitts-senpai.

Seminggu kemudian, Aisha mendapat nilai sempurna dalam ujian masuk.

Kemampuan Aisha:

Dia mungkin tidak menyadarinya, tapi sebenarnya kemampuannya sudah mencapai level Maid kerajaan.

Bab 6: Pelayan dan Murid Asrama[edit]

Bagian 1[edit]

Setelah ujian selesai, aku membawa Aisha dan Norn pulang ke rumah kami.

Itu adalah ujian tertulis.

Sebetulnya itu bukanlah ujian yang cocok untuk anak umur 10 tahun.

Itu adalah ujian masuk pragmatis yang menggabungkan pengetahuan umum dan enam jenis sihir dasar.

Ujian itu diwajibkan untuk semua umur dan kalangan.

Ujian itu berbeda dengan ujian masuk yang kutempuh saat itu.

Tentu saja berbeda, karena aku adalah siswa khusus.

Aisha mendapat nilai sempurna dalam ujiannya.

Aturan di sini berbeda dengan aturan di Milis.

Dengan kata lain, ada perbedaan yang besar dalam pengetahuan umum.

Meski begitu, dia bisa mendapatkan nilai sempurna.

Aku pun puas.

Jinas mengatakan, jika Aisha mampu melakukan itu meskipun umurnya masih 10 tahun, maka dengan tambahan beberapa syarat tertentu, dia bisa diterima sebagai siswa khusus sepertiku.

Tapi, bukan itu janjiku pada Aisha.

"Kalau begitu, seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, aku akan melayani Onii-chan, kan!?"

Setelah kami kembali ke rumah, Aisha mengatakan itu dengan penuh kemenangan.

Ekspresi yang penuh dengan kebanggaan.

"Itu berarti kau berniat menjadi pembantu rumah tangga? Meskipun kita adalah keluarga?"

"Salah, aku tidak akan menjadi pembantu rumah tangga, aku akan menjadi pembantu pribadi Onii-chan!"

Mimpinya adalah melayani Onii-chan sepenuhnya.

Aku semakin penasaran dengan anak ini.

Aku pun tak kuasa menahan pikiran jorokku.

Namun, janji tetaplah janji.

"Baiklah, kalau begitu, dengarlah apapun yang kukatakan."

"Ya! Aku tak sabar untuk melayanimu, tuan!"

Tuan… kedengarannya bagus.

Kalau bukan adik perempuanku yang memanggil begitu, aku pasti sudah bersemangat sekali.

Meskipun aku sudah punya istri tercinta.

"Meskipun begitu, jika ada suatu hal yang ingin kau pelajari, maka katakan saja tanpa ragu "

"Apakah itu berarti Tuan akan mengajarkannya padaku?"

Aisha memasukkan salah satu jarinya ke bibirnya dan melirikku dengan genit.

Aku penasaran, apakah dia ingin diajari hal-hal yang mesum.

Jika dia mengatakan sesuatu seperti, "Onii-chan ... ajari aku bagaimana cara membuat anak."

Aku akan mengajarinya tentang pendidikan seks tanpa ragu sedikit pun.

Tentu saja pendidikan seks formal tanpa sedikit pun erotisme.

"Lagian, mengapa kau mesti memanggilku Tuan?"

"Karena aku akan melayanimu, maka harus ada perbedaan di antara kita."

Oh? Aku tersanjung.

"Bukankah panggilan Onii-chan saja sudah cukup?"

"Jangan, itu sama saja dengan mencampur-adukkan urusan pribadi dan pekerjaan."

Wah, gadis yang dapat nilai 100 di ujian masuk memang hebat.

Tapi, kosakata yang dikuasai gadis ini memang cukup beragam.

Kurasa, itu baik.

Namun, sepertinya Sylphy akan memandangiku dengan tatapan mata sinisnya.

Bagaimanapun juga, dia sudah mendapatkan nilai sempurna, jadi kubiarkan dia melakukan apapun sesukanya.

"Aku mengerti, dalam hal pekerjaan, berkonsultasilah dengan Sylphy, dan putuskan semuanya."

"Ya, aku sudah mempelajari banyak hal tentang menjadi seorang pelayan yang baik dan benar dari ibuku. Jadi, serahkan saja semuanya padaku."

Setelah mengatakan itu, Aisha berdiri dan menyilangkan kedua tangannya di depan celemeknya, lalu membungkuk padaku.

Inilah hari kelahiran adik perempuan Maid-ku.

Kedengarannya aneh deh.

Nah, bagaimanapun juga, aku berkewajiban mengajarinya berbagai hal, di duniaku sebelumnya, ini disebut "membantu mengerjakan tugas."

Bagian 2[edit]

Sedangkan untuk hasil ujian Norn, tak satu pun mata pelajaran mendapatkan nilai bagus.

Menurut Jinas, nilainya rata-rata, atau mungkin sedikit lebih rendah daripada nilai anak seumuran dengannya, namun itu tidak buruk.

Meskipun begitu, jika dibandingkan dengan nilai Aisha, perbedaannya sungguh mencolok.

Perjalanannya kemari menghabiskan waktu sekitar setahun, selama itu pula dia tidak mengenyam pendidikan sekolah, kemudian dia tiba-tiba harus menghadapi ujian masuk dengan level kesulitan yang lebih tinggi daripada pelajaran yang biasa dia pelajari…. Yah, apa boleh buat.

Aku yakin, setidaknya dia menyukai kesempatan untuk belajar dan mengulas.

Eh, tidak perlu terburu-buru.

Tidak masalah kok, selama dia bisa berkembang di sini.

Meskipun dia tidak bisa menjadi nomor satu, menetapkan nilai rata-rata sebagai targetnya bukanlah suatu hal yang buruk.

Masyarakat sosial terbentuk dari kompromi semacam itu.

Tidak apa-apa jika kau tidak menjadi yang terbaik. Tidak apa-apa jika kau hanya mendapatkan hasil rata-rata.

"Norn, subjek mana yang ingin kamu pelajari?"

"..."

Norn tidak menjawab.

Dia masih saja menundukkan kepalanya, sembari mengalihkan pandangan dengan wajah cemberut...

Sepertinya dia masih tidak menyukaiku.

Aku ingin dia lebih dekat denganku.

Namun, yahh, sepertinya tidak ada hal yang bisa kulakukan lagi untuk mempererat hubungan kita.

"Aku tidak begitu mengenal subyek-subyek pelajaran di sekolahan ini ... Kalau tidak salah, setelah mengambil kelas pengetahuan umum selama tiga tahun, kau diperbolehkan memilih subyek lainnya. Di sekolah kita, ada banyak pelajaran menarik yang bisa kau ambil. Nah sekarang, cobalah untuk mengambil kelas itu selama beberapa tahun, nanti kita lihat apakah ada sesuatu yang ingin kau dalami. Kalau memang kau tidak tertarik mengambil subyek apapun, cobalah mengambil kelas sihir penyembuhan, kurasa itu bukanlah pilihan yang buruk. Ibu juga seorang penyihir penyembuh, kan. Karena hanya ada sedikit penyihir penyembuhan di sekitar daerah ini, maka kau akan bisa menemukan pekerjaan di klinik dokter atau rumah sakit."

"..."

Karena dia tak kunjung menjawab, aku pun terus mengoceh sendiri.

Dan tiba-tiba, Norn melihat ke arahku.

Entah kenapa, aku merasa bahwa tatapan itu menyatakan bahwa dia ingin mengatakan sesuatu.

Aku diam saja.

"... aku ingin tinggal di asrama."

Norn tiba-tiba mengatakan itu dengan nada gugup.

Aku mulai memikirkan kata-kata itu.

"Tinggal di asrama, ya."

Itu tidak baik.

Meski begitu, mudah saja jika aku ingin menolaknya, karena aku lah yang diberi tanggung jawab penuh atasnya.

Namun, aku akan coba memikirkannya dengan serius.

Nampaknya Norn berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya.

Pertama, dia masih berusia 10 tahun, dan dia akan hidup mandiri di asrama.

Terlalu dini baginya untuk hidup mandiri seperti itu.

Namun, tinggal di asrama bukan berarti kau tidak berkomunikasi dengan orang lain.

Pada dasarnya, ada dua orang yang tinggal dalam satu kamar.

Karena Norn baru datang kemari, dia hanya memiliki beberapa kenalan.

Dia juga tidak punya teman.

Jika dia tinggal di asrama, mungkin dia bisa mendapatkan beberapa teman.

Tapi, aku yakin bahwa akan muncul beberapa masalah jika gadis sekecil ini ingin hidup secara mandiri.

Pastinya, ada beberapa pelajar lain yang mulai tinggal di asrama sejak usia dini.

Ada banyak aturan yang mengikat di asrama, dan itu adalah tempat yang relatif aman.

Meskipun baru berusia 10 tahun, aku yakin dia tidak akan merasa terganggu.

Sebenarnya aku ingin lebih akrab dengannya, tapi kalau keadaan ini dibiarkan berlarut-larut ...

Aku merasa bahwa, meskipun tiap hari kami tinggal serumah, namun ada semacam penghalang yang memisahkan kami secara emosional.

Dalam kehidupanku sebelumnya, aku selalu tinggal di rumah orang tuaku.

Aku menutup diri dan menolak dunia luar.

Keluargaku sudah berusaha yang terbaik untuk mendekatkan diri denganku.

Memancing dengan memberikan barang-barang mahal padaku, membawa makanan-makanan lezat, berbicara tentang masa depan dengan kata-kata manis, dan masih banyak lagi.

Tapi setiap saat, aku merasa bahwa hatiku semakin menjauh dari keluargaku.

Aku merasa seperti diperlakukan layaknya binatang.

Alih-alih tinggal di tempat yang sama, bertemu orang yang sama, dan berbicara pada “topeng” yang sama setiap hari… aku lebih memilih tinggal di tempat yang agak terpisah, dan mengamati semuanya dari kejauhan… itu bukanlah pilihan yang buruk, kan?

Bukankah penting bagi setiap individu untuk menenangkan pikiran dan melihat berbagai hal dari sisi yang berbeda?

Sebagai individu yang lebih superior, tentu saja Aisha memandang rendah Norn.

Aku sudah menyuruhnya untuk lebih berhati-hati saat bicara, tapi karena sepertinya Aisha menganggap dirinya tidak membuat kesalahan, maka dia pun tidak begitu menggubrisnya.

Sepertinya, satu-satunya pilihan adalah memperbaiki hubungan ini dalam jangka panjang.

Norn pasti sangat tertekan, karena setiap hari di rumah ini dia bertemu dengan Aisha yang selalu merendahkannya, dan juga bertemu denganku yang selalu dibencinya…

Aku bukanlah kakak super yang bisa menyelesaikan semua masalah mereka, tapi aku akan berusaha yang terbaik untuk mencari jalan keluarnya.

Aku juga pernah merasakan kefrustasian seperti itu, yaitu saat aku mencoba tumbuh berkembang di bawah bayang-bayang saudaraku yang jauh lebih berprestasi ...

Tidak ada pilihan selain melarikan diri dari rumah.

Aku sudah tahu nasib seorang gadis muda yang lari jauh dari rumah.

Dia bertemu dengan orang jahat, kemudian dibiarkan menginap di rumahnya, tapi dia harus melakukan segala sesuatu padanya.

Kalau begitu, akan lebih baik jika menyuruhnya tinggal pada suatu tempat yang sudah kupastikan keamanannya.

Lagi pula, Sylphy juga masih sering tinggal di asrama.

Dia pulang ke rumah 3 hari sekali, itu artinya dia berada di asrama cewek selama 2 hari penuh.

Kalau terjadi sesuatu di asrama, aku yakin Sylphy bisa membantunya.

Untungnya, sepertinya Norn tidak membenci Sylphy.

Kurasa perbincangan telanjang pada hari pertama memang berpengaruh. [26]

Ya, setelah mempertimbangkannya, kurasa itu bukanlah pilihan yang buruk.

Tinggal di asrama pada usia 10 tahun.

Aku penasaran, apakah dia bisa mandiri dan bersosialisasi dengan baik pada teman-teman lainnya.

"Aku mengerti, kurasa tidaklah masalah kalau Norn ingin hidup di asrama. Aku akan mengirimkan surat pengantar ke asrama perempuan."

"Eh! Onii-chan!?"

Yang pertama kali menjerit terkejut adalah Aisha.

Seakan-akan, dia tidak percaya apa yang barusan didengarnya.

"Kenapa? Bukankah nilai Norn-ane begitu jelek!??"

Ucapan lembut dan imut seorang Maid yang kudengar sebelumnya, sudah lenyap.

"Aisha ??"

"Aku juga sudah berusaha keras! Tidak adil namanya kalau Onii-chan menuruti permintaan Norn-ane begitu saja!"

Bukan begitu masalahnya.

Dari sudut pandang Aisha, aku pilih kasih dalam menentukan keputusan.

Menurutnya, kau harus mendapatkan nilai bagus dalam ujian, maka barulah keinginanmu dituruti.

Dia bilang, dia sudah berusaha keras dalam menempuh ujian tersebut. Mungkin dia telah belajar keras untuk mempersiapkan ujian saat aku tidak memperhatikannya.

Sedangkan Norn tidak melakukan apapun.

Namun, saat Norn meminta sesuatu, aku langsung mengiyakannya.

Itu tidak adil. Itu adalah pilih kasih.

Dalam keadaan seperti ini, apa ya yang dikatakan orang tuaku dalam kehidupan sebelumnya.

Aku tidak ingat.

Sepertinya, mereka mengatakan… ”Dengar dulu penjelasan kami…” atau semacamnya.

Aku sendiri lupa, apakah kemudian aku mendengarkan penjelasan mereka, ataukah tidak.

Yang jelas, aku tidak pernah berubah setelahnya.

Aku penasaran, apakah itu juga akan terjadi pada Aisha.

Apakah dia akan bersedia mendengarkan penjelasanku.

Aku yakin dia tidak akan semudah itu mendengarkan penjelasanku.

Ah tidak, dia adalah anak yang jenius, jadi dia pasti mudah mengerti.

Aku yakin, jika aku menjelaskan semuanya dengan benar, maka dia akan memahaminya.

Setidaknya, itulah yang aku pikirkan, tapi sepertinya tidak akan semudah itu.

Apapun itu, aku harus mencoba berbicara dengannya.

"Aisha, bukannya aku menyetujui apapun kemauan Norn. Aku hanya berpikir bahwa semuanya akan lebih baik bila Norn tinggal di asrama. "

"Tapi……."

"Norn tidak banyak mendapat kenalan sejak datang kemari ... yaahh, sebenarnya aku tidak begitu tahu sih, karena kami tidak cukup dekat satu sama lain. Tapi aku yakin kau juga melihat bahwa Norn kesulitan tinggal di sini, seakan-akan bernafas saja sulit di rumah ini. "

"Tapi, Otou-san bilang ... kami harus hidup bersama dengan Onii-chan."

Hm.

Setelah dia mengatakan itu, aku sempat berpikir untuk membatalkan keputusanku, dan mengharuskan Norn tinggal di rumah ini.

Tidak… tidak bisa begitu.

Perkataan Paul tidaklah mutlak, dan aku punya hak untuk memutuskan segala sesuatu.

Paul sering keliru.

Tapi, aku pun tidak yakin apakah keputusanku benar.

"Tentu saja, aku tidak berniat mengingkari tanggung jawabku pada kalian berdua. Tapi, kalau begini jadinya, Norn akan terus mendapat kesulitan. Dengan tinggal di asrama, mungkin dia akan memperoleh sesuatu yang tidak akan dia dapatkan di rumah ini."

"...."

Aisha menundukkan pandangannya.

Entah kenapa, air mata mulai menggenangi kelopak matanya.

"... lebih mengutamakan Norn-ane…. Apakah itu karena ibuku hanya seorang selir?"

Tiba-tiba, Aisha mengatakan hal semacam itu.

Selir.

Setelah mendengar kata-kata itu.

Secara refleks, aku mulai merasakan suasananya memburuk.

"Selir? Maksudmu Lilia-san? Aisha, siapa yang memberitahumu hal seperti itu? Apakah Otou-san yang melakukannya? Tidak mungkin Norn yang mengatakannya, kan?"

"Ibu sendiri yang mengatakannya, dan juga neneknya Norn ..."

Tetesan air mata yang besar mulai jatuh dari mata Aisha.

Neneknya Norn, dengan kata lain dia adalah ibunya Zenith yang tinggal di Milis.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau memang Lilia sendiri yang mengatakan itu.

Mungkin dia selalu merasa rendah karena kedudukan Zenith dan aku.

Sepertinya dia bermaksud untuk menyampaikan fakta yang sesungguhnya, dari posisinya sebagai pelayan.

Oleh karena itu, dia sengaja memberitahu Aisha bahwa posisi keluarganya lebih rendah daripada keluarga Norn.

Aku yakin Paul tak pernah pilih kasih pada kedua putrinya, tapi belum tentu dia bisa menutup perbedaan status di antara mereka berdua.

Orangtua Zenith adalah kaum bangsawan.

Kalau tidak salah ingat, keturunan keluarganya adalah orang terhormat.

Bibiku, Therese, sama sekali bukan orang jahat.

Namun, bukan berarti semua keluarga ibuku tidak mempermasalahkan status sosial.

Sejak awal, mereka masih punya alasan untuk menyayangi putri Zenith, tapai mereka sama sekali tidak punya alasan untuk menyayangi putri Lilia.

Karena mereka tidak terkait hubungan darah.

Tidak ada yang bisa disalahkan.

Karena penyebabnya adalah budaya dan cara pikir.

"Apakah karena kami bukan saudara sedarah ... Hikkks ..."

Namun, anak kecil tidak mungkin terluka karena hal seperti itu.

Aisha mulai terisak-isak dengan wajah cemberutnya.

Mungkin ada sesuatu yang salah kumengerti.

Aisha punya cara pikir sendiri dalam menilai sesuatu.

"Aku tidak pernah sekalipun menganggap Lilia-san rendah karena dia selir. Aku memperlakukan kalian berdua setara sebagai adik perempuanku."

"Tapi ... aku, Hikss ... telah bekerja sangat keras, belajar, dan mengikuti ujian, sedangkan Norn-ane…."

Aisha terlihat sangat imut ketika terbata-bata seperti itu.

Ternyata dia belajar keras sebelum ujian berlangsung.

Padahal dia hanya memiliki jeda waktu selama seminggu.

Dia mampu mendapatkan nilai sempurna hanya dengan belajar selama seminggu ...

"Aisha."

"Apa?"

"Mungkin kau tidak akan paham jika kuungkapkan ini dalam sebuah kalimat, namun aku sangat menghargai kerja kerasmu. Oleh karena itu, aku pun mengabulkan keinginanmu untuk tidak bersekolah di Akademi Sihir."

"Tapi, tadi kau bilang Norn-ane diizinkan tinggal di asrama?"

“Hikks”, suara isakan tangis Aisha menggema di hatiku.

Namun, ini bukan pilih kasih.

"Setelah mempertimbangkan banyak hal, aku pun harus memberikan keputusan. Kalau misalnya kau mengatakan ingin bersekolah mulai sekarang, tentu saja aku akan mengijinkannya, tapi ternyata kau lebih memilih menjadi Maid di rumah ini, kan? Sebaliknya, jika Norn menolak bersekolah, tentu saja aku akan melarangnya karena nilainya tidak memadai, namun ternyata dia masih bersedia sekolah, asalkan tinggal di asrama. Itulah yang membuatku mengabulkan permintaannya. Jadi, ini semua demi kebaikan Norn, bukannya aku pilih kasih.”

Setelah mengatakan itu, Aisha menutup mulutnya dan terdiam selama beberapa saat.

Kemudian….

".....Aku mengerti."

Meskipun mengatakan itu, ekspresi wajahnya jelas-jelas menunjukkan bahwa dia masih tidak puas.

Namun pada akhirnya, dia menerimanya dengan mengangguk.

Norn hanya melihat perdebatan kami berdua dengan tak acuh.

Namun, kurang-lebih aku sudah memahami penyebab perselisihan ini.

Keluarga Zenith memandang Aisha sebagai anak haram.

Oleh karena itu, Aisha berjuang keras agar tidak kalah dari Norn.

Sudah kuduga, Paul tidak membahas masalah ini dengan jelas di suratnya….

Aku tidak pernah menduga bahwa akar permasalahannya berawal dari status sosial, dan itulah yang membuat hubungan dengan kedua adikku semakin memburuk.

Tapi di sini adalah rumahku, tidak ada kaum bangsawan di sini.

Tidak ada yang memandang rendah Aisha.

Kalau aku terus mendekati mereka dengan baik, maka seiring berjalannya waktu, semua permasalahan pasti akan terselesaikan.

"Kalau begitu, ijinkan aku memberikan syarat tambahan atas keputusanku tadi. Norn, setidaknya sepuluh hari sekali, kau harus mengunjungi rumah ini. "

Setelah mengatakan itu, Norn menurunkan alisnya.

"...Kenapa aku harus melakukan itu?"

"Karena aku mengkhawatirkanmu."

Aku masih bertanggung jawab sebagai pengawas mereka berdua.

Bagaimana aku bisa menghadapi Paul jika dia tahu aku mengasingkan salah satu putri kesayangannya di asrama sekolah.

"...Aku mengerti."

Norn mengangguk seakan tidak percaya.

Bagian 3[edit]

Dengan demikian, ada warna baru dalam keseharian hidupku, yaitu kedua adikku.

Aku mengirimkan surat pengantar pada asrama perempuan, agar Norn bisa diterima di sana.

Aku juga sudah berbicara dengan Sylphy tentang hal ini, jika terjadi suatu masalah di asrama yang melibatkan Norn, kuminta dia menyelesaikannya segera.

"Apakah kau sengaja menjauhkan diri dengan Norn?"

Sylphy mengatakan itu dengan nada sedikit kesal.

Menurutnya, akan lebih baik jika Norn tetap tinggal di rumahku, dan melakukan berbagai hal bersama kami.

Sebenarnya aku juga sempat memikirkan itu.

Tapi, kalau dipertimbangkan lagi, terutama masalah status sosial antara Aisha dan Norn, sepertinya tinggal di asrama adalah pilihan terbaik baginya.

Aku juga menceritakan persoalan status sosial tersebut pada Sylphy.

"Mungkin lebih baik kita memisahkan Aisha dan Norn untuk sementara waktu. Aisha mulai membawa-bawa masalah status sosial ibunya. Yahh, bukannya aku berniat menjauhkan diri dari Norn, sih. Tiba-tiba saja kita semua tinggal serumah, nampaknya itu membuat Norn sedikit tertekan, sehingga lebih baik kita sedikit jaga jarak.”

"Hnnn ... jadi itu ya yang terjadi ... aku mengerti. Sebisa mungkin, aku akan terus mengawasi Norn-chan."

Akhirnya Sylphy mengangguk setuju dengan puas.

Semuanya akan baik-baik saja, selama tidak ada gangguan ke depannya.

Bagian 4[edit]

Aisha telah menjadi pelayan rumah tangga kita.

Dia memang superior.

Sejak Aisha mulai mengurus berbagai hal di rumah ini, beban Sylphy berkurang drastis.

Aisha bertanggung jawab atas semua pekerjaan bersih-bersih.

Membersihkan cucian juga tanggung jawab Aisha.

Pekerjaanku telah diambil oleh Aisha.

Itu berarti aku tidak bisa lagi menggosok-gosokan sempak Sylphy pada pipiku.

Dengan begitu, aku harus mencari hobi lain.

Namun, ada tugas yang tidak ditangani oleh Aisha, yaitu belanja dan masak. Sylphy lah yang melakukannya.

Aisha adalah seorang pelayan.

Selain itu, dia bahkan membersihkan cerobong asap, selalu mengucapkan salam pada orang-orang di sekitar rumah kami, dan dia juga menyelesaikan banyak hal lainnya yang tidak pernah terduga olehku.

Dia benar-benar hebat.

Dia begitu unggul dan tidak pernah membuat kesalahan. Dia sempurna.

Aku yakin dia berusaha keras tanpa pernah kusadari.

Sepertinya Aisha benar-benar serius menjadi seorang Maid.

Dia melepaskan status adik perempuan, dan melakukan berbagai tugas dengan semangat sekeras baja.

Ini adalah hasil pendidikan dari Lilia.

Dia mengerjakan berbagai tugas di rumah kami. Ketika kami pulang, dia akan membantu Sylphy memasak, membantuku menyiapkan bak mandi, menyiapkan pakaian ganti sebelum Sylphy dan aku masuk ke kamar mandi, membantu Sylphy setelah keluar dari bak mandi, seperti menggosok punggungnya dan menata rambutnya.

Bahkan ketika malam tiba, dia mengenakan baju dingin, kemudian keluar untuk menjemput Sylphy pulang.

Sampai-sampai Sylphy merasa terganggu oleh ketekunan Aisha.

Sebenarnya aku cukup senang melihat mereka berdua.

Saat ada tamu, dia pun melayaninya dengan begitu baik.

Meskipun begitu, satu-satunya tamu yang sering berkunjung ke rumah kami belakangan ini adalah Nanahoshi.

Suatu hari, dia sengaja datang ke rumah untuk berterimakasih secara formal.

Dia bersedia membuat sesuatu sebagai tanda ucapan terimakasih, lantas kuminta lingkaran sihir yang berfungsi untuk mengaktifkan sihir pemanggilan.

Saat penelitiannya mencapai fase kedua, dia pun memberikan berbagai penjelasan padaku.

Aisha juga melayani Nanahoshi dengan begitu baik.

Dia mempersiapkan bak mandi dan mengganti pakaian, bahkan sampai menggosok tubuhnya ...

Namun, sepertinya Nanahoshi sangat terganggu olehnya.

Aku pun mengatakan pada Nanahoshi bahwa, hanyalah orang jahat yang mencibir pekerjaan yang dilakukan sepenuh hati oleh Aisha.

Mungkin memang benar bahwa kamar mandi adalah tempat yang sangat private, sehingga seseorang akan merasa risih jika ada orang lain yang menemaninya mandi.

Lain kali Nanahoshi mandi di rumahku, akan kubilang Aisha untuk tidak banyak mengganggunya.

Kemudian, ketika aku mengerjakan sesuatu di ruang tamu, Aisha terus saja melakukan ini-dan-itu untuk membuatku semakin nyaman.

Dia menjaga nyala api di perapian agar suhu ruangan tetap hangat, dia menyeduhkan minuman hangat untukku, dan sebagainya…..

Aku benar-benar merasa aneh diperlakukan seperti ini oleh adik perempuanku sendiri.

Namun, Aisha melakukannya dengan begitu senang.

Aku yakin tidak apa-apa jika terus seperti ini untuk sementara waktu.

Aku pun tidak pernah memaksanya melayaniku ...

Itulah yang aku pikirkan, tapi jika kau sudah terbiasa menggunakan sihir sejak kecil, maka kapasitas Mana-mu akan meningkat.

Aku ingat ada aturan seperti itu.

Kalau dia tidak bersekolah, maka setidaknya dia perlu latihan sihir di rumah.

Setelah mencapai usia 10 tahun, Mana-nya tidak akan meningkat secara signifikan, namun anak dengan bakat seperti ini masihlah memiliki masa depan yang cerah sebagai penyihir.

Dengan mengambil kesempatan ini untuk berlatih, aku yakin dia akan bisa menggunakan sihir serangan sampai level menengah.

Dia sudah tidak punya masalah dalam menguasai sihir level dasar, sedangkan sihir level menengah lebih aplikatif bila digunakan dalam pertempuran sungguhan.

"Aisha, kemarilah sebentar, aku akan mengajarimu sihir."

"Onii-chan akan mengajariku!?"

Senyum bahagia terlihat jelas di wajahnya.

Ketika dia terharu akan sesuatu, nada bicaranya mulai berubah.

Sepertinya pengendalian emosinya masih belum sehebat Lilia.

"Sepertinya kau perlu belajar sihir, tapi kalau kau tidak mau, yaa ..."

"Tidak mungkin aku menolaknya!"

Sembari mengatakan itu, Aisha melompat ke atas pangkuanku.

Oh, betapa imut.

"Mohon bantuannya!"

Akhirnya, aku pun punya murid baru..

Meskipun begitu, dia sudah mempelajari semua sihir dasar.

Meskipun belum mempelajari sihir tingkat menengah, hanya dengan membaca bukunya saja, aku yakin dia bisa segera menguasainya.

Namun, dia tidak bisa menggunakan mantra tanpa suara.

Itu adalah teknik yang mustahil digunakan orang berumur 10 tahun ke atas.

Sekarang, aku mewajibkan dia untuk menggunakan hampir semua Mana-nya setiap hari.

Pada malam hari, Aisha merangkak naik ke tempat tidurku.

"Onii-chan, bolehkah aku tidur bersamamu?"

Itulah yang terjadi di suatu malam, aku pun tidak menolaknya.

Yahh, kakak – adik tidur bersama kan gak papa.

"Tentu, sekarang… kemarilah."

Aku sama sekali tidak mengeluh, malah aku mempersilahkan dia naik ke ranjangku.

Tubuh Aisha tentu lebih kecil daripada tubuh Sylphy, namun suhu tubuhnya begitu panas.

Karena hawa di luar dingin, dia cocok sekali sebagai gulingku.

Tentu saja, tidak ada unsur erotis kali ini.

Jujur saja, aku pun tidak terangsang.

Dia belum mengembangkan aspek seksualnya.

Bukannya dia tidak paham hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas, namun hawa nafsunya masih belum berkembang pada umur sedini ini.

Aku tidak merasa bersalah.

Yahh, kalau akhirnya nanti Aisha benar-benar memiliki hasrat seks padaku, maka saat itu juga dia harus berhenti mendekatiku.

Meskipun dia bukanlah adik kandungku, namun aku tidak pernah menyetujui hubungan seperti itu.

Karena aku tidak mau menghancurkan hubungan baik antara keluarga kami yang telah terjalin selama ini.

Bagian 5[edit]

Yahh, masalah baru muncul ketika Sylphy pulang ke rumah setiap 3 hari sekali.

Karena pada saat itulah giliranku mendapatkan terapi penyembuhan penyakit kelamin.

Karena adik perempuanku juga berada di rumah ini, maka kami tidak boleh mengumbar nafsu di depannya.

Namun, ketika aku melihat Sylphy yang tidur di sampingku tanpa daya, aku pun tidak mampu lagi menahan hasrat seksku.

Yahh, sebenarnya sih masih bisa ditahan kalau aku berusaha keras melakukannya…. Atau mungkin, aku bisa melampiaskannya dengan masturbasi.

Akan tetapi, Aisha selalu berada di dekatku.

Tidak mungkin aku masturbasi di toilet sekolahan.

Lagian, aku sudah punya istri, jadi sangatlah disayangkan bila aku berkencan dengan tanganku sendiri.

Sembari aku mengkhawatirkan berbagai hal, akhirnya hasrat seksualku menumpuk.

Dengan tubuh seorang pria muda yang sehat secara jasmani dan rohani, bila aku tidak mengeluarkannya selama seminggu, bisa-bisa nanti keluar secara spontan.

Sedangkan di sampingku saat ini, ada seorang wanita imut yang tidur tanpa daya.

Wanita ini pun tidak pernah menolak ketika aku ingin mengeluarkannya.

Dia sudah berusaha keras untuk mengandung anakku. Bodoh rasanya kalau menahan nafsu pada wanita jinak seperti ini.

"Fu ..."

Akhirnya, gajahku mulai berontak.

Sekarang, aku harus memastikan bahwa pintunya terkunci rapat, aku bahkan menggunakan sihir bumi untuk memasang lapisan kedap suara pada dinding kamar kami.

... Lalu, aku hanya perlu berdoa agar Aisha tidak mengintip dari celah-celah yang mungkin masih terbuka.

"Rudi, hari ini kamu sungguh luar biasa ..."

Setelah beberapa ronde, akhirnya Sylphy tergeletak lesu.

Badannya basah kuyup oleh keringat, dan rambutnya acak-acakan.

Setelah mengobrol santai beberapa saat, aku mulai menyeka tubuhnya dengan handuk basah sambil duduk di atas kasur.

Aku masih mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan halus.

Karena basah oleh keringat, bajuku tampak seperti kaos olahraga.

Mungkin agak aneh bagiku mengenakan pakaian saat bersenggama, namun terkadang itu justru membangkitkan gairah Sylphy.

Terkadang seks lebih nikmat dilakukan saat pasanganmu masih menganakan sedikit pakaian, daripada telanjang bulat.

Misalnya, saat malam pertamaku bersama Eris, dia mengenakan daster hitam.

Namun, ada beberapa cara lain untuk membangkitkan hasrat seksual. Tidak harus mengenakan pakaian tertentu.

Contohnya, Elinalise yang selalu mengucapkan kata-kata provokatif ketika mau beraksi di ranjang.

Sedangkan, Rinia dan Pursena selalu memamerkan kemolekan tubuhnya.

"..."

"Hn? Ada apa Rudi?"

Saat aku menyadarinya, aku mendapati diriku sedang membelai tubuh ramping Sylphy dari belakang.

Ini sungguh tubuh yang indah.

Ada beberapa lekukan tubuh yang tidak seragam, namun itu justru membuatnya semakin indah.

Ada beberapa tumpukan lemak di sana-sini, namun terasa lembut saat diraba.

Merangkul dan membelai dia seperti ini saja sudah membuat gajahku meraung.

"Umm ... apakah kamu masih ingin melakukannya lagi?"

"Tidak, Sylphy kan besok pagi harus bekerja. Aku akan menahannya. Tapi besok pagi, aku akan sedikit melampiaskan nafsuku dengan merabamu.”

"Ya ampun ... aku sih gak masalah kalau kau tidak menahannya."

Sylphy akhirnya merebahkan dirinya ke kasur ...

Kemudian dia menghadapiku dan mengulurkan kedua tangannya ke arahku.

"Tidak apa-apa kok, Rudi. Ayo."

Sylphy mengatakan itu dengan malu-malu dan wajah merona.

Seketika, kesabaranku berubah menjadi gejolak nafsu.

Aku sudah tidak tahu lagi apa itu kesabaran.

Kuraih kedua tangannya, kemudian kuterjang dia sebebas mungkin.

Itulah yang kurasakan malam itu.

Bagian 6[edit]

Sekarang.

Berbicara tentang Norn, ketika semua persiapan masuk asrama sudah diselesaikan, tiba-tiba dia menjadi penurut selama beberapa hari.

Namun dia tidak mengatakan sesuatu padaku secara khusus.

Meskipun begitu, perilakunya juga tidak buruk padaku.

Singkatnya, dia mau mendengarkan dan melakukan apapun yang kuminta.

Tapi, bukan berarti kami semakin akrab.

Sebenarnya aku ingin lebih memperdalam hubungan kekeluargaan di antara kami.

Karena itulah aku mencoba bertanya padanya sekali, "Mau masuk mandi bersama?"

Siapa tahu aku bisa melakukan “pembicaraan telanjang” padanya.

"...Tidak."

Namun, Norn menolaknya dengan ekspresi wajah yang sangat tidak menyenangkan untuk dilihat.

Alih-alih, Aisha berkata, "Ah, biar aku saja," kemudian dia mandi bersamaku, menggosok punggungku, bahkan memijitku.

Aisha bisa menangani semuanya dengan mudah tanpa kesalahan.

Bahkan caranya menggosok punggung juga sangat terampil. Dia bisa menjadi wanita sabun yang terampil nantinya. [27]

Ah tidak, aku bisa dapat masalah kalau itu jadi kenyataan.

Bagian 7[edit]

Persiapan Norn untuk masuk asrama selesai setelah diproses beberapa hari.

Sepertinya teman sekamarnya adalah pelajar tahun keempat.

Jadi dia satu angkatan dengan Nanahoshi, ya.

Aku juga memiliki kenalan samapai pelajar tahun kelima atau keenam.

Teman sekamarnya memiliki topi yang bentuknya hampir menyerupai kakatua, perilakunya pun mirip seperti kakatua.

Gerak-geriknya seakan menunjukkan bahwa dia selalu gelisah.

Dia adalah blasteran ras iblis dan ras hewan.

Namanya Melissa.

Aku tidak pernah mendengar rumor buruk apapun tentang dirinya.

Ada banyak keturunan blasteran dari berbagai ras di sekolahan ini.

Aku harus memastikan Norn untuk tidak berkata rasis pada siapapun.

Sekarang, mungkin lebih baik aku menyuruhnya memulai dengan salam perkenalan.

Sembari memikirkan itu, aku pun mendekatinya dengan tersenyum, tapi dia ketakutan.

Dia bahkan tidak bisa bicara.

Itu menakutkan.

Mungkin lebih baik aku merahasiakan statusku sebagai saudaranya Norn.

Bagaimanapun juga, aku diperlakukan sebagai Bancho di sekolah ini.

Akan sangat menyedihkan bila Norn tidak mendapatkan teman karena mereka takut pada kakaknya.

Yah, mudah-mudahan semuanya berjalan baik-baik saja tanpa membuatku khawatir.

Kalau aku terlalu banyak mencampuri urusannya, mungkin dia akan terganggu.

Kalau perlu bantuan, dia bisa mengandalkan Sylphy, Luke, atau Ariel.

Ketiganya adalah orang terkenal di sekolahan ini.

Kalau kau kenal dengan orang populer, maka secara otomatis teman-temanmu akan bertambah.

Atau mungkin juga tidak. Bisa saja Norn iri pada mereka dan akhirnya tidak berani bergaul dengan mereka.

Bagaimanapun juga, suka-duka anak remaja adalah bagian dari pertumbuhan, bukan?

Hmm.

Betapa sulit.

Interaksi sosial memanglah sulit.

Tidak baik kalau Norn tidak tumbuh menjadi seorang wanita yang mandiri.

Aku yakin, lebih baik aku tidak banyak ikut campur, sampai waktunya dia benar-benar membutuhkan pertolongan.

Untuk sementara, aku hanya akan menunggu dan mengamati.

Meskipun begitu… ya… aku cukup khawair.

Bagaimanapun juga, pilihan yang terbaik adalah Norn hidup bersama kami dalam satu rumah.

Pada hari ketika kami mengantar Norn ke asrama, aku mengatakan pada Norn untuk membawa tasnya, mengenakan seragamnya, dan banyak hal lain yang perlu dia perhatikan.

Di asrama, kau harus mematuhi peraturan.

Dia perlu berusaha yang terbaik untuk belajar.

Meskipun dia sekamar dengan ras iblis, jangan pernah memandang rendah temanmu.

Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tapi jika aku terlalu banyak ngomong, maka dia tidak akan bisa mengingatnya semua.

"Norn, kalau ada masalah di sekolah, jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan pada Sylphy."

Paling tidak, itulah yang ingin kukatakan.

"Ya."

Norn mengatakan iya tanpa melihat ke arahku.

Aku penasaran, apakah benar suatu hari nanti kami bisa akur.

Aku masih khawatir.

"Dan juga, setelah bangun dan sebelum tidur, jangan lupa sikat gigimu dengan benar."

"Ya."

Aku perlu mengatakan itu juga.

"Jangan lupa mandi."

"Ya."

Aku juga perlu mengatakan itu.

"Jangan lupa kerjakan PR-mu."

"...Ya."

Ah iya, masalah kesehatan juga penting.

"Jangan sampai kena flu."

"..."

Dia melihatku dengan tatapan mata sangat kesal.

Sudah kuduga, aku terlalu mengkhawatirkannya.

Cerita Selingan: Penelitian Tentang Patung dan Hubungan Antara Tuan & Pelayan[edit]

Kisah ini terjadi saat Nanahoshi masih menemui kebuntuan pada percobaannya, sedangkan Zanoba sudah menemukan sesuatu pada penelitiannya tentang patung,

Sebenarnya dia telah menceritakan padaku suatu rahasia tentang pantung sebelumnya.

Ini terjadi sekitar seminggu sebelum Nanahoshi mengamuk.

Bagian 1[edit]

"Shishou, lihat ini."

Hari itu.

Saat memasuki laboratorium penelitian, Zanoba dengan gembira membawa sebuah kotak.

Ekspresinya berkali-kali lebih sombong daripada biasanya.

"Apa ini?"

"Ini adalah lengan boneka hantu waktu itu."

Zanoba meletakkan kotak di atas meja dan mengeluarkan isinya yang dibungkus kain.

Saat balutan kain itu dilepas, seperti kata Zanoba, ada sebuah lengan patung di sana.

Namun, lengan itu sudah teriris dengan potongan bundar layaknya jelly kacang merah.

"Aku melihat ada sendi pada bagian di mana catnya mengelupas, kemudian inilah yang kudapati."

Zanoba menunjukkan bagian potongan lengannya.

Pola seperti kode QR ditulis dengan rapat di sana.

Atau dengan kata lain, itu adalah lingkaran sihir.

Lingkaran sihir ini berbeda dengan apa yang biasa digambar Nanahoshi.

Polanya cukup misterius bagiku.

Ada pola yang berbeda pada bagian potongan lengan.

Bagian belakang dan depan.

Polanya sedikit berbeda.

Meskipun keduanya adalah bagian dari sendi yang sama, namun polanya tidak sama.

"Aku paham ... lingkaran sihirnya dipadatkan bahkan di bagian lengan. Yang menarik adalah, polanya berbeda pada permukaan sendi."

Ini terlihat seperti potongan tubuh manusia, dengan irisan berbentuk bundar.

"Namun, tadinya aku tidak menyangka bahwa ada sendi pada bagian ini."

"Aku pun tidak akan menyadarinya kalau catnya tidak terkelupas."

"Aku paham."

Zanoba tampak sangat bersemangat setelah menemukan hal seperti ini.

Aku sih biasa saja.

Karena aku sudah menduga bahwa patung ini tidak akan bergerak dengan sendirinya tanpa ada mekanisme seperti ini.

"Ah, aku paham, dengan adanya lingkaran sihir ini, potongan badan patung ini masih bisa bergerak sedikit."

"Oh, Shishou, apakah kau mengerti teori di balik formasi sihir seperti ini?"

"Tidak…. Tidak sama sekali."

Tapi, aku tahu bahwa lingkaran sihir ini berfungsi menggerakkan potongan tubuh ini.

Atau lebih tepatnya, jika formasi sihir ini tidak digambar di lengan, seseorang tidak mungkin mengendalikannya, kan?

Atau apakah ada fungsi lain?

Aku tidak akan tahu kecuali kita menelitinya.

Bagaimanapun juga, patung ini bisa berkeliaran dengan sendirinya di lingkungan rumah, pada saat malam tiba. Bahkan dia berpatroli dan bersih-bersih lingkungan rumah.

Jika menemukan musuh, dia juga akan melenyapkannya.

Setelah selesai bersih-bersih, dia akan kembali ke tempat pengisian daya layaknya robot.

Benda itu memiliki fungsi semacam itu.

Bahkan Roomba [28] pun tidak memiliki fungsi seperti itu.

Dia memiliki kemampuan untuk melawan obyek yang teridentifikasi sebagai musuh, itu sudah mirip seperti Roach Motel. [29]

Sepertinya patung ini dibuat dengan cara yang lebih rumit, dan lingkaran sihir itu tidak hanya digambar pada kepala dan tubuhnya.

Aku tidak ingin membuat Roomba.

Tapi aku ingin membuat patung yang bisa bergerak.

Aku ingin melihat seseorang beraksi.

Kalau patungnya bisa bergerak, maka peminatnya juga banyak.

Aku mungkin bisa menjualnya dengan harga yang cukup tinggi.

Ah, tidak… aku melakukan ini bukan untuk menimbun uang.

Sebenarnya aku masihlah orang normal yang juga menyukai uang, tapi jika aku punya banyak uang, aku hanya akan menghabiskannya dengan berfoya-foya.

Aku melakukan ini untuk membuat patung yang bisa mengembalikan kehormatan ras Supard ...

Itulah salah satu impianku.

Mimpi lain adalah memiliki seorang Maid robot.

"Pasti ada lingkaran sihir untuk mengendalikan gerakan di kepala atau badan. Jika kau menemukannya, tolong 'hancurkan' dengan hati-hati. "

"Ya, Shishou."

Zanoba mengangguk, kemudian dia membungkus potongan badan patung itu, dan mengembalikannya ke kotak.

Bagian 2[edit]

Maka, setelah menemukan itu, Zanoba pun memikirkan sebuah teori.

Dengan teori itu, dia membantu Nanahoshi menyelesaikan lingkaran sihir berlapis.

Meskipun dia hampir menyerah, akhirnya dia berhasil memanggil sesuatu dari dunia lain.

Aku yakin, aku akan segera menyelesaikan robot maid-ku.

Dalam waktu dekat ini.

Ketika memikirkan itu, aku pun menjadi lebih termotivasi.

Hari ini, seperti hari-hari lainnya, aku mengunjungi laboratorium Zanoba.

Aku berjalan dengan santai.

"Zanoba, aku masuk."

Aku mengetuk sekali, kemudian masuk ke dalam lab Zanoba.

Ada seorang gadis berdiri di sana yang bertugas sebagai penjaga gerbang.

Meski bukan wanita cantik, aku masih mengenalinya.

"Ooh, Ginger-san, sudah lama tak jumpa ya."

Sejak tadi dia menatapku dengan curiga, tapi ketika aku menyapanya, dia menundukkan wajahnya dengan ekspresi serius.

"Pasti Anda adalah Rudeus-dono.. ya, sudah lama tak jumpa."

Seorang mantan ksatria Shirone, dan pengawal Pangeran Ketiga Zanoba:

Ginger York

Sudah lama tak jumpa cewek satu ini.

"Aku mohon maaf….. setelah sampai di sini, aku telah berencana untuk mengunjungi rumah Anda setidaknya sekali, namun aku belum melakukannya karena belakangan ini aku cukup sibuk."

"Tidak masalah, sebenarnya akulah yang perlu minta maaf, karena aku belum mengucapkan terimakasih padamu setelah menemani dan menjaga adik-adikku selama perjalanan menuju ke sini ... "

"Berkat Aisha-dono, perjalanan kami sangat cepat, itu sudah cukup bagiku."

Ginger melambaikan tangan padaku, itu adalah kode untuk mengijinkanku masuk ke dalam.

Zanoba dan Julie sedang bekerja seperti biasa.

Zanoba sedang menyalin lingkaran sihirnya, dan Julie memahat sebuah figure.

Sepertinya kerjaan Julie sudah mau selesai, aku pun memutuskan untuk melihatnya.

"Bagaimana?"

"Ya, sudah hampir selesai, Master. Bagaimana menurutmu?"

"Patung Zanoba ini cukup bagus, tapi bukankah ini terlihat terlalu keren?"

"Tuan memang keren."

Ya.

Dia masih polos, tapi dia memang punya selera yang bagus.

Dia pun belajar dengan cepat.

Zanoba masih bekerja.

Saat aku melihatnya, Ginger tiba-tiba menatapku seakan ingin mengatakan sesuatu.

"... Ada apa Ginger-san?"

"Tidak…. bukan apa-apa ... hanya saja, kau sudah banyak berubah."

"Terakhir kali kita bertemu adalah sekitar empat tahun yang lalu, ‘kan? Tentu saja sekarang aku sudah dewasa."

Baru-baru ini, aku merasa bahwa banyak orang yang bilang aku keren.

Apakah daya tarik seksualku menarik perhatian mereka?

Jika aku tidak menikahi Sylphy, mungkin sekarang aku sudah punya harem.

Ah tidak, memiliki harem sama saja dengan mengundang bencana.

Bisa jadi, aku punya anak yang tidak diinginkan.

"Ngomong-ngomong, mulai sekarang, apakah rencanamu, Ginger-san?"

"Aku berpikir untuk tinggal di sisi Zanoba."

"Jadi, maksudmu kembali menjadi penjaga?"

"Ya, karena aku telah menyelesaikan misiku."

Misi menjaga Lilia dan Aisha selama perjalanan.

Dia dengan setia melindungi mereka berdua, dan itu adalah misi yang dia emban selama bertahun-tahun.

Sungguh kesetiaan yang mengagumkan.

Zanoba harus lebih menghargai kesetiaan wanita ini.

Sebuah berkah dan tugas.

"Zanoba, bukankah seharusnya kau memberinya semacam hadiah?"

"Tidak, Rudeus-dono, aku ..."

"Hmm, kamu benar Sishou… Ginger, apa yang kau mau?"

Zanoba mengajukan pertanyaan itu.

Ginger menatap bingung.

Tentunya, dia belum menerima apapun dari Zanoba sampai sekarang.

Dia berpikir sejenak, lalu berlutut sebelah kaki dengan kepala tertunduk.

Lalu, dia berbicara.

"Kalau begitu, tolong izinkan aku mendidik Julie. Dia jugalah muridnya Rudeus-dono, jadi kuranglah sopan bila dia bekerja untuk Zanoba. "

"Baiklah, aku beri izin."

"Ya terima kasih banyak!"

Izin untuk mengajar, ya.

Itu berbeda dari apa yang kuduga sebelumnya.

Pada akhirnya, ini semua demi Zanoba, bukan?

Mungkin juga tidak, karena budak tidak diharapkan untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi.

Manusia memakan Buah Kuldi, kemudian diusir dari surga.

Sebelum kejadian itu, manusia terus hidup bahagia di dalam surga dan tidak pernah memiliki keraguan.

Itulah bentuk pembangkangan manusia setelah iblis mengajari untuk memakan Buah Kuldi. Jika manusia tidak pernah tahu akan keberadaan Buah Kuldi, maka mereka akan hidup selamanya di surga. Tuhan pun kerepotan setelah makhluknya tahu lebih banyak.

Artinya, pihak yang lebih berkuasa selalu mengharapkan orang-orang yang dikuasainya tetap bodoh.

Itu sebabnya budak tidak mendapat pendidikan yang layak.

Resiko pemberontakan akan meningkat.

Meski sebagai gantinya, produktivitas mereka juga meningkat.

Yahh, aku sih gak masalah.

Kalau dia meminta sebidang tanah, itu baru merepotkan.

Aku bukanlah orang loyal yang menuruti apapun yang diminta bawahanku.

"Sekarang, mari kita bicara tentang penelitiannya. Ada perkembangan apa?"

"Kurasa, selanjutnya aku akan meneliti bagian kaki."

"Kalau menurutku sih, bukankah lebih baik jika kita pelajari terlebih dahulu mekanisme lingkaran sihir itu secara menyeluruh sebelum meneliti bagian kaki? Setelah kau potong bagian kaki, kau tidak akan bisa menyambungnya lagi."

"Ya, kurasa kau benar."

"Jika kita menunjukkan ini pada Cliff-senpai atau Nanahoshi, mereka mungkin tahu sesuatu."

Zanoba dan aku mulai membongkar lengan kedua. Tiba-tiba, Ginger berdiri di sampingku. Aku pun penasaran apa yang ingin dia lakukan.

"Ada apa?"

"Rudeus-dono ... Um, meski Zanoba tidak pernah mempermasalahkannya, dia masihlah bangsawan Shirone. Terlepas dari hubungan kalian sebagai guru dan murid, bukankah lebih baik bila kau menggunakan bahasa yang lebih formal?"

"Hmm?"

Jadi aku tidak sopan ya?

Kalau dipikir-pikir, aku selalu menggunakan bahasa biasa ketika berbicara dengan Zanoba.

Harusnya, aku menggunakan nama kehormatan.

Setelah aku membicarakan ini dengan Aisha tempo hari, nampaknya kepekaanku sedikit berkurang.

Bagaimanapun juga, Ginger adalah abdi Zanoba, jadi dia pasti kesal ketika seorang rakyat biasa sepertiku berbicara dengannya tanpa tata krama.

Yah, apa boleh dikata, aku akan menggunakan panggilan kehormatan pada Zanoba ketika ada Ginger di dekat kami.

"Kau benar…. aku minta maaf… aku sudah ceroboh karena tidak bertata krama ketika berbicara dengan Zanoba ... "

Ketika aku mengatakan itu.

Zanoba bergerak.

"GINGERRRRR!"

Zanoba meraih leher Ginger.

Dia diangkat dan disematkan ke dinding.

Terdengar suara hantaman yang keras.

Julie terkejut dan berhenti menggerakkan tangannya.

"Dasar bajingan! Shisho melakukan itu karena dia telah akrab denganku! Apa yang telah kau katakan?! Cepat minta maaf! Minta maaf pada Shisho sekarang juga!"

"Guh ... uughh ...!"

Ginger kesakitan.

...Hei.

Hei, dia sungguh-sungguh tersedak.

Ini terlalu berlebihan!

"Zanoba! Zanoba! Lepaskan dia!"

Saat aku berteriak, Zanoba melepaskan tangannya.

Terlihat jelas tanda cengkraman pada leher Ginger.

Dia mencoba menggenggam lehernya, dan wajahnya yang pucat meringis kesakitan.

Dia tidak bisa mengangkat tangannya. Sepertinya tulang bahunya patah ketika Zanoba menyematkannya ke dinding.

Aku langsung merapalkan sihir penyembuhan dan menyembuhkan luka-lukanya.

Ginger berlutut di depanku dan menunduk.

"Uhuk ... Uhuk ... Rudeus-dono, aku minta maaf."

Dia meminta maaf padaku.

Padahal karena akulah dia tercekik seperti itu ...

"..."

Aku tidak bisa menerimanya.

Kau meminta maaf kepadaku?? Bukankah itu salah?

Ginger tidak melakukan kesalahan apapun.

Lantas aku menoleh pada Zanoba.

"Zanoba, kau ini bodoh atau apa?!"

"Hah ...? T-tapi Shisho, dia dengan egoisnya menegurmu tanpa tahu hubungan kita yang sebenarnya..."

"Meski begitu, kau tidak perlu main fisik!"

Ginger telah melayaninya untuk waktu yang lama.

Dia telah melindungi keluargaku selama empat tahun di negeri asing.

Dia datang jauh-jauh kembali ke sini meski mengalami kesulitan selama perjalanan.

Namun, hanya karena sekali menegurku, tenggorokannya hancur, dan bahunya patah.

Ini terlalu kejam.

Aku bersyukur telah menjadi teman dekar Zanoba.

Itu bahkan membuatku sangat bahagia.

Namun, hanya karena satu kesalahan saja, dia tidak perlu menghukum bawahannya yang setia dengan begitu kasar.

"Tidak, Rudeus-dono, tidak apa-apa. Meskipun sudah lama aku tidak bertemu dengannya, Zanoba telah berkembang dengan sangat baik. Aku sama sekali tidak menyesal."

Ginger mengatakannya dengan wajah serius.

...Hah?

Apakah aku yang salah?

Kupikir, seharusnya dia diberi penghargaan lebih atas kesetiaannya selama ini.

Apakah itu pemikiran yang tidak berdasar?

"... Zanoba."

"Ya, Shisho."

"Menurutku, kau adalah teman yang baik."

Ketika aku mengatakan itu, wajah Zanoba sumringah.

"Namun, Ginger telah melindungi keluargaku. Sejak kami berpisah, selama 4 tahun terakhir, dia selalu melindungi mereka. Aku berhutang banyak padanya. Tolong jangan menyepelekan kesetiaannya selama ini. "

"Aku mengerti Shisho, Ginger, aku minta maaf."

Zanoba mengangguk dengan wajah lesu. Namun, Ginger berbicara.

"Tidak, Tuan Zanoba, kau tidak perlu mengatakan itu. Karena aku telah bersumpah untuk selalu setia mengabdi padamu, aku tidak akan merasa puas meskipun aku telah mempertaruhkan nyawaku. Aku mohon maaf atas ketidaksopananku. "

Dengan balasan Ginger yang begitu formal, aku tidak bisa lagi mengatakan sesuatu. Jadi, seperti inilah hubungan tuan dengan pelayannya.

Jika Zanoba salah, haruskah aku menasehatinya dengan benar?

Tidak… kurasa tidak.

Kurasa ini bukanlah sesuatu yang harus kukhawatirkan.

Aku tidak pernah tahu bagaimana susunan hierarki bangsawan Shirone, jadi aku hanya akan mengacaukan segalanya kalau aku ikut campur.

Bagian 3[edit]

Lupakan sejenak hubungan antara Ginger dan Zanoba… sekarang, penelitian patung hidup semakin membuahkan hasil.

"Yahh, meskipun aku menyarankan agar fokus dulu ke lengannya, semua terserah padamu mau lanjut meneliti bagian yang mana."

"Tidak, aku akan mengikuti saran Shisho. Daripada memisahkannya, lalu memasangnya kembali, lebih baik aku membuat lagi lengan yang sama."

Dengan demikian, diputuskan bahwa kita akan menganalisa lengan lebih detail.

Aku juga harus mengajak Cliff dan Nanahoshi untuk membantu.

Jika tidak, Zanoba mungkin akan melakukan semuanya sendirian.

Aku tidak banyak membantu, dia pun nampaknya bisa mengatasi semuanya.

"Serahkan saja ini padaku. Sepertinya aku semakin mahir dalam hal ini."

"Oh, begitu kah?"

"Ya, aku sendiri juga terkejut, tapi aku selalu menemukan hal baru setiap kali meneliti patung ini."

Dia meneliti benda kesukaannya senpanjang hari.

Sedangkan Julie adalah seorang pembuat patung berbakat.

Bagi Zanoba, inilah kehidupan idealnya.

Namun, apa yang akan terjadi setelah dia lulus?

Apakah dia akan menetap di sini?

Yahh, bukan aku yang memutuskan itu.

Namun, salah satu alasan Zanoba melakukan ini semua adalah diriku.

"Baiklah, teruskan, aku akan datang lagi besok."

"Aku akan menunggumu."

"Kumohon jangan pernah kasar pada Ginger."

"Tentu saja."

Setelah saling bertukar kalimat terakhir, aku pun meninggalkan laboratorium Zanoba.

---

Maka, penelitian tentang patung terus berlanjut.

Bab 7: Bos Preman dan Anak Buahnya[edit]

Bagian 1[edit]

Tanpa terasa, sebulan telah berlalu.

Hari ini di Akademi Sihir Ronoa, grup preman akan mengadakan pertemuan.

...dengan kata lain……

Inilah jadwalnya kelas homeroom siswa khusus.

---

Saat ini, aku mengkhawatirkan adikku, Norn.

Sejak dia memutuskan untuk tinggal di asrama, hubungan kami juga tidak kunjung membaik.

Malahan, ketika kami saling berpapasan di jalan, dia hanya mengabaikanku.

Kadang-kadang dia menatapku dengan tatapan penuh cemoohan.

Yah, mungkin juga itu hanya perasaanku saja ...

Namun, apapun itu, kami tidak pernah akur.

Yahh….

Gak papa sih….

Meskipun aku sedikit kesepian, tidak masalah.

Sejak awal memang kami tidak pernah akur.

Meskipun begitu, aku akan tetap melindungi Norn dari apapun yang akan terjadi.

Aku tidak boleh menjadi seperti orang tua yang terlalu menuntut.

Ya.

Statusku sebagai bos preman cukup menyenangkan.

Aku bisa melakukan apapun, kecuali ketika di-bully oleh guru homeroom.

Dan karena aku mengenal Jinas, aku bisa berkonsultasi dengannya.

Aku bisa berkonsultasi dengannya tentang banyak hal.

Seharusnya aku memberikan suatu buah tangan pada Jinas kali ini.

Namun, dalam rentang waktu sebulan ini, Norn belum berteman dengan siapapun.

Ketika aku melihatnya di lorong-lorong sekolah, dia hampir selalu sendirian.

Meskipun dia tidak tampak kesepian, aku cukup prihatin melihat kondisi adikku itu.

Yah, aku harus tetap berpikiran positif meskipun dia tak punya teman.

Tapi, apakah dia baik-baik saja di kelas?

Apakah dia baik-baik saja di asrama?

Aku benar-benar khawatir

Meskipun begitu, aku tidak boleh terlalu mencampuri urusannya.

Sebagai bos preman, aku punya beberapa kenalan pelajar tahun pertama yang juga dianggap preman.

Bisa saja aku menyuruhnya untuk membantu Norn, namun kalau Norn tahu itu, maka dia pasti akan semakin membenciku.

Lagi pula, aku agak lupa nama pelajar tahun pertama itu?

Yang kuingat adalah, dia mirip seperti anak anjing Siberian Husky. [30]



"Belakangan ini nampaknya bos sedang galau."

"Yeah, nano."

Ketika aku sedang termangu, Rinia dan Pursena mengintipku dari samping.

Duo gadis berisik.

Namun keduanya adalah idola para lelaki ras hewan.

Setelah aku bersekutu dengan Putri Ariel, mereka mendapatkan kembali anak-anak buahnya. [31]

Sekarang, mereka tidak perlu khawatir kekurangan teman.

"Karena kamu sedang galau, bos, maka kami sudah menyiapkan hadiah untukmu, nyaa."

"Butuh waktu sebulan untuk menyiapkannya, nano."

Sembari mengatakan itu, Rinia meletakkan sebuah tas kardus di atas meja.

Itu cukup besar.

Aku penasaran apa isinya?

"Oh, bukalah nanti di rumah."

"Buka saat tidak ada yang melihatnya, nano."

Hei, itu mencurigakan.

Apa itu?

Apakah isinya bubuk itu?

Happy Turn Powder? [32]

Di bagian timur daratan utara, pada salah satu wilayah Benua Iblis, ada bubuk yang beredar di pasaran yang katanya bisa memberikan kebahagiaan padamu.

Di negara ini, tidak ada peraturan yang melarang obat-obatan ilegal.

Sejauh yang kutahu, Milis dan Asura memiliki undang-undang tentang pelarangan itu, tapi tidak di sini.

Tentu saja, aku tidak akan mencari-cari bubuk ilegal seperti itu.

Jika itu beracun dan membuat ketagihan, maka sihir detoksifikasiku tidak akan berfungsi.

Namun, aku pernah mendengar bahwa sihir detoksifikasi tingkat Saint mampu menyembuhkannya.

Aku tidak mau tergantung pada benda seperti itu.

Tapi, mungkin aku perlu memakainya dalam keadaan tertentu.

Aku akan menyimpannya sekarang.

Kalau aku sedang bokek, harga jualnya mahal lho.

"Terima kasih banyak."

"Tidak masalah, Nya."

"Bos kan sedang bermasalah, Nano."

Ah.

Betul.

Omong-omong, kedua gadis ini juga tinggal di asrama.

Karena sudah tinggal di asrama selama 6 tahun, pastilah mereka tahu banyak hal.

Aku harus sedikit berkonsultasi dengan mereka.

"Sebenarnya, aku khawatir dengan adik perempuanku."

"Adik? Ah, tempo hari kami sempat bertemu dengannya, Nya. Gadis yang berpakaian seperti pelayan itu, kan."

"Waktu itu dia sedang berada di pasar. Kami tahu karena aroma tubuhnya mirip seperti bos."

Sepertinya mereka berdua bertemu dengan Aisha di kota.

Si Maid kecil sering tidur bersamaku, itulah mengapa bau tubuhnya sama sepertiku.

"Bukan dia, maksudku adikku yang satu lagi. Dia mulai tinggal di asrama bulan lalu.”

"Eh? Ada lagi, Nya?"

"Dia tinggal di asrama, Nano?"

Mereka berdua saling pandang.

Mereka belum berkenalan dengan Norn, tapi sepertinya mereka tidak menyadarinya kalaupun mereka sudah saling bertemu.

Karena Norn jarang di sisiku, mungkin mereka tidak bisa mencium aroma tubuhku pada Norn.

"Ya, tapi sepertinya dia membenciku, dan akhir-akhir ini kami jarang bicara. Apa yang bisa kulakukan agar hubungan kami membaik?”

"Eh, ummm ... mari kita lihat, Nya…. ini masalah yang sulit, Nya."

"Selama kita membicarakan hal-hal yang positif tentang bos, sepertinya dia akan senang, Nano."

Manipulasi informasi.

Jika orang-orang membicarakan bahwa Rudeus di sekolah adalah pahlawan super yang populer, apakah Norn akhirnya mau bicara denganku?

Meskipun Rinia dan Pursena berencana memanipulasi informasi, di sekolah ini sudah beredar kabar bahwa Rudeus adalah bos preman terkenal.

Aku ingin mereka membicarakan rumor yang lebih positif tentangku, seperti Rudeus menyelamatkan anak anjing, atau semacamnya.

Mungkin cerita seperti saat pertama kali aku bertemu Julie akan bagus.

"Ah, benar juga, adikku sepertinya tidak punya teman. Seharusnya aku tidak secemas ini, karena toh dia baru ngekos sebulan. Namun, sebagai murid pindahan, aku khawatir dia tidak bisa beradaptasi dengan baik di kelas.”

"A-Aku paham, Nya. Tapi, kau tidak tahu pastinya, Nya."

"M-Mungkin saja dia tidak punya kesempatan untuk berbicara dengan Bos, Nano."

Sejak kami mulai berbicara, Rinia dan Pursena bertingkah aneh.

Seolah-olah ada sesuatu yang mereka bingungkan.

Cara bicaranya gagap, berarti ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku.

"... Jangan-jangan, kalian mengganggu adikku saat aku tidak memperhatikannya."

"B-Bukan begitu, Nya!"

"Benar! Kami sama sekali tidak pernah memikirkan hal seperti itu! Bukankah bos pernah bilang untuk tidak membully yang lemah? Kami akan mengingat itu selamanya, Nano!"

Aku paham.

Lalu mengapa mereka tergagap?

Ada yang aneh.

Tapi, karena aku sudah memberitahu mereka, mulai sekarang mereka pasti akan membantu Norn ketika dia mendapat masalah.

"B-Bos…a-adikmu…k-kira-kira berapakah umurnya, Nya?"

"Apakah dia lebih tua daripada si gadis Maid, Nano? Atau lebih muda?"

Mereka menanyakan sesuatu yang aneh.

Meski usianya lebih tua, kelahirannya hanya terpaut beberapa jam.

"Umurnya sebaya, usianya sepuluh tahun."

"A-aku paham, Nya!"

"Kalau begitu, kami benar… kami tidak melakukan apa-apa padanya, Nano."

Sepertinya mereka merasa bersalah.

Mereka mungkin bersikap sok kuasa terhadap pelajar baru.

Yah, kalau mereka hanya mengancamnya, harusnya sih gak masalah.

Keduanya gemetar ketakutan.

Aku punya firasat buruk tentang ini.

Entah kenapa, aku jadi ingin membuka hadiah yang mereka berikan padaku sekarang juga.

"Kalian kan sudah repot-repot memberiku hadiah, mana mungkin aku marah pada kalian."

Meskipun ada mayat seekor tikus di dalamnya ... Yahh, paling tidak aku hanya akan terkejut sebentar.

Lalu, aku melihat Cliff yang duduk di sebelah kami.

"Bagaimana menurutmu, Cliff-senpai?"

Aku memutuskan untuk bertanya padanya.

"... Hmph, kamu bisa bertahan meski tidak punya teman!"

Saat Cliff mengatakan itu, rasanya agak berat.

Ahh, jangan khawatir senpai, kau tidak sendirian sekarang.

Elinalise juga bersamamu.

... Ah, dan aku juga.

Tapi, meskipun Cliff tidak bisa membaca suasana…….

….aku ingin dia tahu bahwa setidaknya dia punya orang yang selalu bersamanya.

Bagian 2[edit]

Istirahat makan siang.

Nanahoshi membawa makan siangnya sendiri ke kantin.

Dia menyadari bahwa makan bersama adalah hal yang penting.

Lagian, dia sangat tenang kalau sedang makan.

"Ada apa...?"

"Tidak… tidak ada apa-apa."

Saat aku menatapnya, dia balik menatapku.

Meskipun dia memasak makanannya sendiri, sampai sekarang pun dia tidak begitu banyak makan.

Dia bukanlah orang yang pilih-pilih makanan, namun ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa makanannya lezat.

"Sepertinya tidak enak."

"Ya, meskipun aku sendiri yang membuatnya, rasanya tetap saja payah."

"Bahan makanan di dunia ini tidak bisa dibandingkan dengan Jepang."

"Ya."

"Apakah ada makanan dari dunia ini yang kau suka?"

"Yahh, keripik kentang yang kumakan di pesta pernikahanmu sungguh enak. Rasanya lezat."

Sylphy lah yang membuatnya.

Pastinya, keripik kentang mudah dibuat, dan rasanya tidak terlalu berbeda dengan keripik kentang dari dunia kami dulu.

"Haruskah aku memasak keripik kentang lagi?"

"...Tidak, terima kasih."

Baiklah, lain kali akan kubuatkan ketika kau mampir ke rumahku untuk mandi.

Namun, beberapa bulan terakhir ini, Badigadi tidak kelihatan di manapun.

Aku tidak melihatnya minum-minum di kantin.

Aku ingin berbicara dengannya tentang Ruijerd.

Tapi, kalau tidak ada dia, sisi positifnya adalah Julie tidak minum-minum lagi.

Ginger mengajarkan etiket pada Julie.

Saat Badigadi ada di sekitarnya, dia pasti akan mengajaknya minum.

Tapi, tanpa Badigadi di sini, serasa ada yang kurang.

Tawanya benar-benar menyenangkan untuk didengar.

Katanya sih, tawa adalah inti dari kebahagiaan.

"Fuhahahahaha!"

"M-Mengapa kau tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal seperti itu? Apakah aku melakukan sesuatu?"

"Shisho?"

"Master ...?"

Tiba-tiba, aku coba tertawa,

Tapi yang kudapat hanyalah malu.

Aku tidak bisa melakukannya seperti Badigadi.

"Apa yang kamu tawakan?"

Luke tiba-tiba muncul.

Seperti biasa, dia tampil elegan layaknya ikemen, tapi hari ini dia tidak membawa harem.

Sylphy juga tidak bersamanya.

"Karena Raja Iblis tidak ada di sini, aku mencoba tertawa seperti dia."

"Aku paham ... Rudeus, bisakah kau datang ke Ruang Dewan Siswa?"

Wajah Luke tampak serius.

Apakah terjadi sesuatu?

"Oke."

Dengan cepat aku menelan makananku, kemudian mengikuti Luke.

Luke tampak marah.

Langkah kakinya begitu tegas.

Saat memasuki ruang Dewan Siswa, ada dua orang lainnya yang sedang menunggu.

Ekspresi Ariel sama seperti biasanya, namun kali ini wajahnya agak pucat. Sylphy juga tampak gelisah.

Pada meja di depan mereka, ada benda seperti kantong kecil.

Tampaknya, terjadi sesuatu tak lama setelah jam pelajaran dimulai.

"Terima kasih atas panggilannya, apakah terjadi sesuatu?"

"Ya..."

Ariel mengangguk sembari menghela napas.

Sepertinya telah terjadi sesuatu yang serius.

"Belakangan ini, ada keresahan di asrama wanita, terutama para pelajar baru."

"Oh."

Para pelajar baru di asrama wanita.

Sepertinya ini berhubungan dengan Norn.

"Ketika aku bertanya kepada mereka apa yang telah terjadi, mereka hanya membalasku dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran."

Mungkinkah Norn terlibat masalah ini?

Kalau begitu, aku juga akan membantu.

Jika aku bisa mengatasi masalah ini dengan baik…

….maka aku akan kembali mendapatkan kepercayaan Norn.

"Hari ini, di antara orang-orang yang aku tanyai secara rinci, tentang Rinia dan Pursena, um ... "

Rinia dan Pursena juga terkait dengan hal ini.

Padahal aku sudah menyuruh mereka untuk tidak membully adik kelasnya.

Mungkin mereka membully pelajar lainnya?

Atau mungkin memalak siswi yang sedang makan daging atau dendeng.

"Sepertinya mereka memaksa juniornya untuk melepaskan celana dalamnya di tempat itu juga.”

Celana dalam?

"..."

Dalam sekejap, tatapanku mengarah pada tas kardus yang telah mereka berikan.

Tidak mungkin.

Tapi, itu tidak mungkin.

"Ketika aku mencari informasi dari mereka di kantin, keduanya bilang padaku bahwa ‘bos akan senang’ atau semacamnya.”

"..."

Artinya, ada celana dalam tas ini.

Apalagi yang belum dicuci.

Ya Tuhan.

Siapa sih yang menginginkan ini?

Ah, sayangnya aku juga merasa sedikit senang.

"Dan juga, aku mendengar bahwa celana dalam yang mereka kumpulkan ditaruh di dalam tas kardus ..."

Saat Ariel mengatakan itu, dia diam-diam melihat tas yang sedang kupegang.

Semua orang di ruangan ini juga menatap tas tersebut.

Mereka mungkin menghubungkan informasi yang mereka dengar dengan isi tas ini.

Mereka mungkin cukup yakin bahwa tas ini penuh berisi sempak.

Mimpiku tas berisi penuh dengan sempak telah menjadi kenyataan.

"Rudeus-sama, maafkan aku, tapi ..."

"Tas ini adalah sesuatu yang aku terima dari Rinia dan Pursena pagi ini. Mereka memintaku untuk tidak melihat isinya sampai aku sampai di rumah, tapi…. Mungkin saja isi tas ini sama persis dengan apa yang kalian tebak.”

Aku mengambil inisiatif untuk mengaku terlebih dahulu. Jika aku mengatakannya belakangan, aku akan mendapatkan masalah.

"Aku mengerti, kalau begitu biarkan aku menanyakan suatu hal lagi untuk memastikan ... apakah kamu menyuruh mereka melakukan ini?"

"Tidak, kau keliru."

Aku menjawab seketika dengan setegas-tegasnya.

Jika nada bicaraku terkesan ragu, maka mereka tidak akan memaafkanku.

Aku harus menjawab dengan tegas.

Jika tidak, pasti akan terjadi kesalahpahaman di sini.

"Jadi, menurut pengakuanmu, kau tidak terlibat dalam masalah ini."

"Sama sekali tidak."

Lagian, mengapa aku harus merencanakan hal gila seperti itu?

Apalagi adikku juga tinggal di asrama.

Sialan, apakah ada alasan yang bisa kuucapkan?

Cara untuk menghilangkan kesalahpahaman ini ...

"Aku mengerti, aku akan mempercayaimu."

Ariel mendesah ringan saat dia berbicara demikian.

Dia percaya padaku.

Meskipun aku tidak memiliki bukti apapun.

"Terima kasih banyak."

"Tidak, hanya saja aku juga berpikir bahwa ini aneh. Aku tahu kau cukup berbahagia hidup bersama Sylphy, lantas mengapa kau menyerang wanita lain ... "

Apakah dia juga sudah mendengar betapa bahagianya aku saat bermalam dengan Sylphy?

Kalau begini caranya, tetap saja aku yang dipermalukan karena hubungan ranjang kami terungkap ke publik.

"... Sylphy, apakah kau sudah bercerita pada Tuan Putri tentang hubungan ranjang kita?"

"Tidak, tidak sama sekali, aku tidak mengatakan apapun! Putri Ariel, apa maknanya ini!?"

Sylphy menggelengkan kepalanya dengan panik.

Yahh, meskipun mereka sudah sangat akrab, aku pikir Sylphy tidak akan begitu mudahnya menceritakan hubungan intim kami.

Meskipun dia membicarakannya, yahh… gak papa juga sih.

Selama Sylphy tidak menggerutu karena merasa tidak puas…..

"Tidak, aku hanya menggoda kalian. Yang jelas, aku juga ikut bahagia jika hubungan suami-istri kalian berjalan dengan baik.”

Yahh, terserah.

Namun, mengapa kedua ras hewan itu melakukan ini ...

Mengumpulkan celana dalam, itu bukanlah ide yang akan terpikirkan oleh orang biasa.

Ah tidak, kalau diingat-ingat lagi, sepertinya aku pernah mengatakan sesuatu pada mereka…..

…..tentang mengumpulkan celana dalam wanita atau semacamnya ...

Tentu saja maksudku hanya bercanda, aku tidak pernah mengira mereka akan menganggapnya serius.

Yup, itu bukan salahku.

Aku tidak terlibat dalam masalah ini.

Lupakan saja mereka.

"Yahh, mungkin mereka salah menafsirkan apa yang pernah kubicarakan, kalau begitu aku akan menegur mereka nanti. Ah, tolong berikan ini kembali kepada para korban, Putri Ariel. Ngomong-ngomong, aku belum melihat apa isinya, tentu saja aku juga belum menyentuhnya."

Kukatakan itu sembari kuberikan tas kardus pada Ariel.

Rinia dan Pursena tidak melakukan ini karena kebencian.

Aku harus menegur mereka dengan benar.

Sebenarnya… kalau mereka memang ingin membuatku senang… harusnya mereka menyuruh para gadis itu melepaskan sempaknya tepat di hadapanku.

Tunggu…tunggu… bukan begitu.

Itu salah besar.

"Ya tentu."

Ariel mengangguk saat membuka tasnya.

Dengan begini, kasusnya sudah beres.

"Wah banyak sekali celana dalamnya…. Yakin nih mau dikembalikan?"

Ariel mengatakan itu.

Sambil menoleh ke arah Sylphy.

"Kau salah, aku tidak tertarik pada celana dalam atau semacamnya."

"... aku mengerti…. aku minta maaf."

"Tidak… tidak apa-apa… selama ini menghilangkan kesalahpahaman di antara kita."

Fiuh, hampir saja, hampir saja.

Kalau benda seperti itu kubawa pulang, aku pasti akan kesusahan membuangnya.

Kalau terdesak, mungkin aku akan menyiram alkohol pada sempak-sempak itu, kemudian kubakar.

"Tapi, aku senang, tadinya kupikir aku tidak bisa memuaskanmu."

Sylphy mengatakan itu dengan terang-terangan, sehingga menurunkan tensi di ruangan ini.

Tapi, Sylphy segera menyadari apa yang baru saja dia katakan, wajahnya pun memerah padam.

Lalu, berdentanglah lonceng yang menandakan jam makan siang telah usai.

"Oh, gawat nih, aku bisa terlambat masuk kelas."

"Aku minta maaf, ini semua adalah kesalahan Rinia dan Pursena."

"Ah tidak, hal seperti ini memang kadang-kadang terjadi."

Luke membuka pintu, mendesakku agar aku pergi.

Aku pergi untuk meninggalkan ruangan.

Setelah itu, Ariel dan Sylphy mengikutiku.

Luke adalah orang yang terakhir keluar dari ruangan dewan siswa, kemudian dia mengunci pintunya.

"Ayo pergi."

Saat aku berjalan keluar, Ariel berjalan di sampingku.

Sylphy dan Luke mengikutinya.

Ah, mungkin lebih baik aku berjalan di belakang sang putri.

"Ah."

Sementara aku memikirkan itu, Norn tiba-tiba muncul saat kami berbelok di sudut.

Dia melihat sekeliling dengan ekspresi gelisah dan was-was di wajahnya, lalu dia melihatku sambil terengah-engah.

"Norn, ada apa? Kelas akan segera dimulai."

"..."

Norn mengalihkan mukanya dengan kesal.

Dia menghadap ke arah Ariel.

"Senang bertemu denganmu, aku adalah ketua dewan siswa sekolahan ini, Ariel. "

Ariel tersenyum lembut, dan wajah Norn mulai merona.

Karismanya memang luar biasa.

"Namaku… N-Norn Greyrat ..."

"Oke, Norn-san, ada apa? Sudah waktunya pelajaran dimulai."

"Ah, um, aku tidak tahu dimana letak ruang latihan ketiga ..."

"Begitu ya..."

Sepertinya Norn tertinggal oleh teman-temannya saat berganti ruang kelas.

Aku merasa kasihan padanya.

Itu jelas menyakitkan.

Dia ditinggal oleh teman-temannya.

"Luke, tolong antarkan dia."

"Ya, kemarilah."

Luke memberi dorongan lembut pada punggung Norn, dan kemudian mengantarnya.

Norn semakin tersipu malu.

Bagaimanapun juga, Luke adalah seorang pria yang tampan.

Tapi Luke bukan pria baik-baik. Dia seorang hidung belang.

"..."

Tiba-tiba, Norn berbalik dan menatap kami.

Aku, Ariel, dan Sylphy.

Dia menatap kami satu per satu.

Lalu, dia berbalik lagi dengan gusar.

Apa sih kesalahan yang telah kuperbuat...

Bagian 3[edit]

Sepulang sekolah.

Aku memanggil Rinia dan Pursena ke belakang gedung sekolah.

Setelah bencana yang kualami hari ini, aku ingin membicarakan sesuatu dengan mereka.

Di belakang gedung sekolah.

Kalau di film-film remaja, ini adalah tempat yang biasa digunakan untuk menyelesaikan berbagai macam urusan.

Rinia dan Pursena datang dengan bangganya.

"Ada apa bos? Kenapa memanggil kami ke sini?"

"Kau ingin menyatakan cintamu, Nano? Lebih baik kau bicara dulu pada Fitts-san, atau dia akan marah."

Keduanya berlagak sombong, tapi ...

"Aku ingin membicarakan isi tas yang kalian berikan padaku. Siang ini, aku berikan itu pada Putri Ariel, lalu kuminta dia mengembalikan semuanya ke pemilik aslinya.”

Ketika aku mengatakan itu, ekspresi wajah mereka langsung berubah drastis,

Kemudian mereka mulai saling menyalahkan satu sama lain.

"Lihat, kan sudah kubilang itu ide buruk, Nya!"

"Ini kesalahan Rinia. Kau bilang Boss pasti akan bahagia, Nano!"

"Itu karena Pursena memaksaku, Nya!"

"Kan aku sudah bilang untuk mencobanya dengan celana dalammu terlebih dahulu, Nano!"

"Tidak adil kalau hanya aku yang mencobanya!"

"Itulah kenapa aku mengambil celana dalam siswi lainnya, Nano!"

"Maksudku, kau juga harus melepaskan celana dalammu!"

"Bokongku terlalu besar, jadi gak enak rasanya kalau gak pake sempak!"

Mereka memulai sketsa komedi yang menjemuhkan.

Apa maksudmu aku punya fetish pada pantat yang kecil?

Aku lebih suka pantat yang besar.

"Diam!"

Lantas, kusuruh diam mereka berdua.

"Bukankah aku telah mengatakan ini berkali-kali sebelumnya? Bukankah sudah kubilang untuk tidak membully orang yang lemah?"

Keduanya gemetar.

"K-Kami tidak membully orang yang lemah, Nya!"

"I-itu benar, kami hanya meminta mereka untuk melepasnya ..."

'Memintanya', ya.

Ketika mereka berdua memintanya, maka tidak ada seorang adik kelas pun yang berani membantah.

"Kalian kan ras hewan, maka seharusnya kalian tahu betapa memalukannya melepas pakaian di depan umum ... "

"K-Kami memberikan sempak cadangan pada mereka kok!"

"Tapi bukankah itu tetap mengganggu para junior kalian?"

"K-Kami tidak memaksa kok, dan kami tidak melepas celana dalam para siswi yang menolaknya dengan keras… Mungkin itu karena ukuran celana dalam cadangan yang kami berikan terlalu berbeda dengan miliknya."

Hmm?

Sepertinya ada perbedaan cerita dengan yang kudengar dari versi Ariel.

Jujur saja, kalau mereka memaksa para juniornya untuk melepaskan sempak, aku malah merasa jijik.

Kalau memang begitu kejadiannya, aku akan memaksa mereka telanjang di depan publik sebagai balasan.

Mereka harus merasakan balasan yang setimpal.

"K-Kau tidak perlu marah kalau belum terpuaskan, Nya."

"Ini hanyalah kesalahpahaman, Nano, mohon maafkan kami ..."

Keduanya meringkuk minta maaf.

Namun, kalau dipikir-pikir lagi, mereka berdua melakukan ini semua demi aku.

Belakangan ini aku tampak bermuram durja, maka mereka mengumpulkan celana dalam untuk membuatku kembali bahagia.

Meskipun aku tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan, namun mereka tidak mendasari perbuatannya dengan niat jahat.

Tentu saja, jika aku menjadi korban, aku juga akan merasa jijik.

Namun, Rinia dan Pursena telah melakukan ini dengan niat baik.

Tidak seperti aku di kehidupan sebelumnya, mereka tidak berusaha mempermalukan orang lain dengan perbuatannya.

Apa yang mereka lakukan tidaklah berbeda dengan anak-anak yang mengumpulkan kulit serangga musim panas.

Akan sangat berlebihan jika aku memberikan hukuman berat pada mereka.

"Kalau aku menemukan seseorang yang terluka karena tindakan kalian ini, maka akan kubuat kalian bersujud padanya tanpa pakaian."

"Aku, aku mengerti, Nya."

"Maafkan aku, Nano ..."

Nah, selanjutnya aku hanya perlu menunggu kabar dari Ariel.

Aku tidak perlu lagi marah pada mereka.

Aku penasaran, apakah itu karena mereka adalah pengikutku?

Sepertinya aku juga pilih kasih pada teman-teman terdekatku.

"Jadi, mengapa kalian berpikir untuk memberiku hadiah berupa kumpulan celana dalam?"

Ketika aku menanyakan itu, keduanya menatapku dengan bingung.

Lantas dia berkata “Bukankah itu sudah jelas?”

"Agama Boss adalah Dewa Celana Dalam, kan Nya?" [33]

"Kau tampaknya menyembahnya dengan sangat serius, Nano."

Ahh.

Aku paham, jadi ini semua memang karena kesalahanku.

Penyebabnya adalah, karena aku menunjukkan kepada mereka “Artefak Dewa” beberapa waktu lalu.

"Bukan begitu, aku tidak pernah mengganggap celana dalam sebagai pengganti sesembahan pada dewa. Celana dalam yang kusembah adalah celana dalam yang dipakai oleh orang yang sangat aku dewakan. Dengan kata lain, itu adalah sempak suci."

Aku memang suka celana dalam.

Tapi, tidak semua celana dalam aku dewakan.

"Karena itulah, aku meminta kalian untuk tidak melakukan hal konyol seperti ini lagi."

"Aku mengerti, Nya."

"Kami akan berhati-hati, Nano."

Kemudian, aku tiba-tiba menambahkan…..

"Jika kalian ingin memberiku pakaian dalam, lebih baik kalian lucuti pakaian kalian tepat di hadapanku."

"Eh?"

"Eh?"

Oh sial, aku keceplosan.

Rinia dan Pursena membalasnya dengan nyengir.

"Jadi Bos benar-benar menyukai kami, Nya."

"Mau bagaimana lagi, Bos adalah hewan jantan, dia tidak akan bisa tenang kalau berada di dekat kita, Nano."

Cih, tutup mulut kalian.

Perkataan itu dengan tegas menyatakan bahwa aku memang suka celana dalam.

Mungkinkah mereka juga menyukaiku ...?

Tidak, itu salah.

Ini bukan cinta.

Ini lebih seperti kebaikan hati.

Berbeda dengan Sylphy yang benar-benar mencintaiku.

Meskipun aku mengatakan itu, aku tidak mengerti perbedaannya.

Karena aku tidak mengerti, aku hanya akan menganggapnya sebagai pertanda persahabatan.

Apapun itu, kami selesai berbicara.

Kami pun pergi dari belakang gedung sekolah.

Meskipun begitu, beberapa gosip yang muncul akibat kejadian ini, sedikit merusak reputasiku.

Yahh, itu pun bukan masalah besar sih.

Aku adalah tipe orang yang tidak terlalu peduli dengan rumor.

Ketika kami bertiga pergi, kami melihat sekelompok orang berbaris di luar gedung sekolah.

Mereka adalah siswi-siswi baru.

Mereka mungkin berbaris untuk mengambil celana dalamnya.

Kami melewati mereka dari belakang, jadi mereka tidak menyadari kami…

Gadis yang berada di barisan terakhir adalah…. Norn.

"...!"

Norn menatapku, bersama Rinia dan Pursena di sampingku.

Lalu, dengan ekspresi seperti “aku tidak percaya ini!”, dia melotot padaku dengan kebencian yang membara.

"Lihat, ada seorang junior yang memelototi kita… apa-apa’an dia? Sok kuat, ha?"

"Fakku nano, mari kita tunjukkan padanya bahwa dia harus menghormati senior-seniornya."

"Dengar… dia lah adikku."

Tepat saat aku mengatakan itu.

Telinga kedua ras hewan itu terkulai lemas.

"W-wahh… pantas saja dia begitu bersemangat."

"Dia sangat imut, Nano."

Mereka begitu mudah dibaca.

Aku menepuk kedua bahu mereka.

"Baiklah, bersahabatlah dengannya, oke?"

"Tentu saja."

"Kami tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya, Nano."

Namun, meski aku ingin berbicara dengan Norn, bagaimana aku harus melakukannya?

Baiklah, meski aku tidak bisa melakukannya sekarang, aku harap tidak akan ada masalah di kemudian hari.

---

Jadi, hari-hari berikutnya berlalu tanpa masalah.

Hubunganku dengan Norn juga tak kunjung membaik.

Tapi, dia menepati janjinya untuk mengunjungi rumah setiap sepuluh hari sekali.

Meski dia membenciku, dia patuh mendengarkan apa yang kukatakan.

Kupikir dia akan banyak memberontak, tapi setidaknya dia bersedia tatap muka denganku secara langsung.

Meskipun dia terkesan ogah-ogahan ketika melakukannya.

Hmm ...

Kalau dipikir-pikir lagi, terlepas dari fakta bahwa umurnya terlalu muda ketika pertama kali bertemu denganku, kami juga baru bertemu sekali.

Mungkin itulah yang membuat kami tidak begitu akrab sebagai kakak – adik.

Sedangkan, hubunganku dengan Aisha agak aneh.

Sebenarnya, kau tidak bisa begitu saja akrab dengan seseorang hanya karena dia adalah keluargamu.

Aku sungguh memahami itu.

Sebaliknya, kau tidak bisa memaafkan seseorang begitu saja hanya karena dia adalah keluargamu.

Seperti saat aku memukuli Paul di depan Norn.

Aku dan Paul sudah berdamai setelah peristiwa itu.

Namun, dari perspektif Norn, itu adalah sesuatu yang masih belum bisa dimaafkan.

...Jika…..

….Jika saja dia membahas peristiwa itu, maka saat itu juga aku akan minta maaf padanya.

Aku akan meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi saat itu dengan sejujur-jujurnya……. tapi tidaklah baik mengungkit-ungkit sesuatu yang telah berlalu.

Yahh, tidak perlu terburu-buru.

Kami akan bersama selama bertahun-tahun.

Satu atau dua tahun lagi, mungkin hubungan kami akan perlahan-lahan membaik.

Sebagai saudara kandung, kami tidak harus selalu dekat sih.

Perlahan-lahan kami akan saling mendekat, sembari tetap jaga jarak.

Perlu waktu untuk mendekatinya.

Sementara aku berpikir begitu……..

Norn mulai menutup diri.

Bab 8: Perasaan Kakak Laki-laki[edit]

Bagian 1[edit]

Ketika aku pergi ke sekolah bersama Sylphy,

Aku mendapati kabar bahwa Norn mulai menutup diri.

Orang yang memberitahuku adalah Rinia dan Pursena.

Mereka menunggu di gerbang depan sekolah pagi-pagi sekali.

Mereka memberitahuku bahwa sejak kemarin, Norn mengurung diri di kamar asrama dan tidak pernah keluar lagi.

"... Aku akan pergi menemuinya!"

Ketika dia mendengarnya, Sylphy bergegas menuju asrama wanita.

Dan giliran aku mendengarnya, aku hanya bisa terdiam.

Harusnya aku pergi bersama Sylphy.

Fakta bahwa 'Norn menutup diri' membuatku kehilangan ketenanganku.

Bagiku, ‘menutup diri’ atau ‘hikkikomori’ memiliki makna yang dalam.

"Bos ... bukankah kau juga harus pergi melihatnya, Nya?"

"Apakah kau akan meninggalkannya sendirian, Nano?"

Aku masih tertegun seakan tidak percaya ketika mendengar kabar ini.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang bisa kulakukan?

Aku tidak tahu

Selama hidupku di dunia sebelumnya, aku tidak pernah bisa mengatasi masalah Hikkikomori.

Mengapa?

Karena di luar penuh dengan musuh.

Jika aku pergi ke sekolah, aku akan dibully lagi.

Ya.

Pasti pembullyan yang menyebabkan Norn menutup diri di kamarnya.

Jika seorang Hikkikomori pergi ke luar, dia hanya akan semakin menderita.

Kalau begitu, aku perlu menyingkirkan sumber permasalahannya.

Alih-alih bertemu dengan Norn, aku terlebih dahulu perlu menyingkirkan alasan mengapa Norn menjadi Hikkikomori.

Aku langsung berpikir.

Alasan.

Kemungkinan besar, alasannya adalah, dia dibully.

Aku mengingat jelas apa yang terjadi pada hari itu.

Kantin SMA.

Menunggu dalam antrean selama 5 menit, kemudian ketika kupikir giliranku telah tiba, ada segerombol preman berwajah seram yang memotong antrean.

Dengan rasa keadilan yang bodoh, aku pun membentak mereka.

Namun preman-preman itu hanya mengabaikannya sambil mengatakan “Hah? Memangnya aku peduli?”

Lalu aku mengeraskan suaraku, sehingga orang lain tahu bahwa di sini sedang terjadi suatu ketidakadilan.

Lalu, orang-orang mulai mengarahkan tatapannya kepada kami.

Aku sempat merasa bangga karena orang-orang tahu bahwa diriku sedang memperjuangkan suatu keadilan.

Kemudian, yang kudapat hanyalah, aku dipukuli sampai babak belur.

Aku dipukuli sampai akhirnya aku tidak bisa berdiri lagi.

Setelah kejadian itu, seakan-akan aku menjalani kehidupan sehari-hariku di dalam neraka.

Kalau Norn mengalami hal yang sama, tentu saja aku akan menyelamatkannya.

Akan kulawan orang-orang yang membuat Norn tertekan, tak peduli apakah mereka berasal dari keluarga bangsawan.

Aku akan melawan mereka dengan segenap kekuatanku.

Aku akan membuat mereka menyesal karena membuatku bertarung dengan serius.

Meskipun masalah ini dimulai dari tindakan atau perkataan Norn yang kurang pantas.

Di dunia ini ada orang-orang yang berbuat baik dan orang-orang yang berbuat jahat.

Norn adalah adikku

Meskipun dia membenciku, meski dia membenci Aisha, dia tidak berhak diperlakukan seperti ini….

Dia adikku

Seorang kakak laki-laki adalah seseorang yang harus melindungi keluarganya.

Seorang kakak laki-laki sejati tidak boleh meninggalkan mereka.

Bagian 2[edit]

Aku bersama Rinia dan Pursena menuju ke kelas tahun pertama.

Sebenarnya sudah cukup kalau aku pergi seorang diri, namun sepertinya penampilanku kurang meyakinkan.

Jika aku bersama Rinia dan Pursena, setidaknya orang akan segan ketika melihatku.

"Bos..."

"Rinia, hentikan, dia benar-benar marah…. Itu sungguh menakutkan."

Keduanya mulai meragukan tindakanku.

Tapi aku sudah merencanakannya.

Aku sendiri pun sadar bahwa tidak biasanya aku bertindak seperti ini.

Bukannya aku tidak memahami keprihatinan orang-orang di sekitarku.

Tapi, saat ini, aku adalah seorang wali murid yang protektif.

Aku akan membuang rasa maluku.

Aku sampai pada kelas Norn, yaitu kelas tahun pertama.

Tampaknya kelas homeroom sudah dimulai.

"Permisi."

Mushoku11 05.jpg

Setelah membuka pintu, aku nyelonong masuk ke dalam kelas.

"Ru, Rudeus ... kelas sedang berlangsung."

"Aku ingin meminta waktu kalian sebentar, apakah diijinkan?"

"Tapi..."

"Aku bilang, apakah diijinkan?"

Aku mengabaikan guru itu, kemudian aku berdiri di depan kelas begitu saja.

Aku mengamati seisi kelas.

Semuanya memasang wajah bingung.

Tentunya, di antara mereka ada orang-orang yang membully Norn.

Apakah mereka melakukan kekerasan fisik seperti memukulnya atau menendangnya?

Mungkin juga mereka melukainya secara lisan.

Aku datang ke sini untuk merobek-robek orang yang mengganggu Norn sampai menjadi potongan-potongan kecil.

"Semuanya…. Mungkin kalian sudah tahu akan hal ini, namun hari ini adalah seseorang yang tidak masuk kelas.”

"..."

"Semuanya…. Entah kalian sudah mengetahuinya atau belum, yang jelas dia adalah adikku.”

Suara gumaman mulai bergema di seisi ruangan.

"Aku memang belum mendengar cerita darinya secara langsung, namun dia bukanlah orang yang suka bolos kelas. Sehingga, pastilah ada suatu alasan kuat mengapa dia tidak bersekolah hari ini. Aku yakin, salah satu di antara kalian lah yang menyebabkan adikku tidak masuk sekolah.”

Aku melihat seisi kelas sembari mengatakan itu.

Setelah melihat tatapan mataku, banyak dari mereka memalingkan wajahnya.

Meskipun kami memakai seragam yang sama, tampaknya aku cukup membuat mereka terintimidasi.

Hmm, ada yang mencurigakan di sana, pasti dia lah pelakunya.

Dia adalah tersangka pertama.

Namun, aku tidak bisa mengingat namanya.

Mungkinkah...?

Tidak, masih terlalu dini untuk menyimpulkan.

"Bagi mereka yang bertanggung jawab atas kasus ini, sebenarnya aku tidak menuntut banyak hal, mungkin saja ini hanyalah suatu kesalahpahaman, atau justru adikku lah yang salah.”

Aku terus mengawasi seluruh murid di kelas ini.

Siapa…siapakah yang telah bertindak begitu kejam terhadap adikku?

Apakah dia orangnya? Si bangsawan yang terlihat seperti bonbon itu? [34]

Ataukah dia? Si ras iblis yang tampangnya terlihat jahat itu?

Ah tidak…. Justru sekumpulan gadis yang terlihat normal itulah yang mencurigakan.

Bagaimanapun juga, para pembully selalu terlihat normal sekilas.

"Jika memungkinkan, tolong mengakulah, aku tidak akan marah. Aku hanya ingin tahu mengapa kau menyakiti adik perempuanku, lantas kami akan minta maaf kalau kami yang salah."

Ah tidak juga….. begitu seseorang mengaku… akan kusobek-sobek dia.

Ada beberapa siswi yang seusia Norn di sini.

Namun sebagian besar pelajar di kelas ini lebih tua darinya.

Beberapa di antaranya berusia di atas 15 tahun.

Apakah mereka berpura-pura tidak melihat apa-apa? Ataukah mereka ikutan membully?

Membully gadis berusia 10 tahun? Tidak bisa dimaafkan!!

"..."

Tidak seorang pun mengaku.

Mereka hanya bengong menatapku.

"Uh, um ..."

Akhirnya ada seorang gadis yang mengangkat tangannya dengan gugup.

Secara refleks, aku ingin menembaknya dengan peluru batuku, namun aku sebisa mungkin menahan diri.

Gadis itu sangat pemalu.

Nampaknya dia berusia sekitar 13 tahun. Wujudnya mirip rakun karena dia adalah ras hewan.

Model rambutnya Bob pendek, [35] entah kenapa dia terkesan lemot, dan juga pipinya tembem.

Sebenarnya, dia malah lebih mirip seperti orang yang terbully.

"W-w-waktu itu, aku sempat berbicara pada Norn-chan ..."

"Apakah kau tidak sengaja mengatakan suatu hal yang buruk padanya?"

Kalau itu hanyalah suatu percekcokan, ya mau bagaimana lagi.

"T-tidak….a-aku mengenal Rudeus-san, tapi Norn-chan adalah gadis biasa. Karena itulah, ketika aku mengatakan bahwa dia sangat berbeda dari kakaknya, kemudian dia sangat marah..."

Marah?

Saat Norn dikatakan berbeda denganku?

Ada apa ini….

"Ah."

Tiba-tiba, guru di sampingku angkat bicara.

Aku menatapnya.

Dia adalah seorang guru wanita setengah baya.

Jangan bilang, kau juga terlibat masalah ini?

Faktanya, bully tidak hanya terjadi di antara murid.

Mungkin saja ada seorang guru yang menjadi otaknya.

"Apakah Anda ingat sesuatu, bu guru?"

"Tempo hari, Norn-san mengumpulkan beberapa pekerjaan rumah ..."

"Kau memberikan banyak PR, kemudian… karena dia tidak mampu menyelesaikan semuanya, maka kau suruh dia berdiri di depan kelas tanpa busana?”

"T-tidak mungkin aku melakukan itu! Hanya saja, nilainya cukup buruk, lantas kuminta dia lebih giat belajar seperti kakaknya.”

"..."

"Kemudian, dengan wajah hampir menangis, dia mengatakan: Aku akan berusaha yang terbaik."

Hah?

Dia ingin menangis?

"Kalau diingat-ingat lagi, waktu itu juga begitu ..."

Setelah si guru selesai, beberapa murid lainnya ikut angkat bicara.

Bagian 3[edit]

Kami meninggalkan kelas, kemudian pergi ke kantin.

Karena jam pelajaran sedang berlangsung, maka kantin pun sepi.

Aku duduk di suatu tempat, kemudian menundukkan kepalaku pada permukaan meja.

Aku sedikit terbebani.

Itu semua salahku.

Norn dibanding-bandingkan denganku sampai hampir menangis.

Para murid di kelas itu telah menyadari bahwa hubunganku dengan Norn adalah kakak-beradik.

Tentu saja.

Tidak seperti Aisha, Norn dan aku berasal dari ayah dan ibu yang sama.

Wajah kami sangat mirip.

Dan Norn benci berhubungan denganku.

Tentu saja dia benci ketika dibanding-bandingkan denganku, yang jauh lebih berprestasi darinya.

Ah, tentu saja, mereka tidak salah.

Paling tidak, mereka tidak punya niatan jahat ketika membanding-bandingkan kami.

Bahkan teman yang cukup dekat dengannya mengatakan hal seperti itu.

Dia berbeda dengan kakaknya yang bos preman itu.

Tak peduli gelar apapun yang kusandang, yang pasti, aku adalah orang terkenal di sekolahan ini.

Dan, karena aku terkenal, orang-orang itu membanding-bandingkan kami dengan begitu mudahnya.

Namun, bagi Norn, itu sangat menyakitkan.

Bahkan di sekolah sebelumnya, dia selalu dibandingkan dengan Aisha.

Dia pasti sudah mengalami lebih banyak tekanan jika dibandingkan dengan Aisha.

Setelah masuk sekolah baru, dan tinggal di asrama.

Dia akhirnya bisa berpisah dari Aisha.

Setidaknya itulah yang dia pikirkan, namun faktanya, dia dibandingkan lagi denganku.

Tidak peduli ke manapun dia pergi, dia selalu saja dianggap lebih rendah daripada saudaranya.

Pasti menyakitkan baginya.

Belum lagi insiden celana dalam kemaren.

Untungnya, tak satu pun pelajar tahun pertama trauma oleh insiden itu, ini semua berkat Ariel yang berhasil menenangkan suasana.

Meskipun awalnya ada rumor bahwa mereka dipaksa melucuti celana dalamnya, namun ternyata Rinia dan Pursena hanya menggantinya dengan celana dalam lain.

Itulah yang Ariel laporkan pada mereka yang mengamati insiden pemerasan celana dalam tempo hari.

Aku memasrahkan sisanya pada Ariel.

Dia memiliki kemampuan untuk menenagkan semuanya.

Meski begitu, Norn pasti sudah mendapat tekanan yang tak terkira.

Kakaknya adalah seorang hentai.

"Haa ..."

Apa yang telah kulakukan?

Membajak kelas yang sedang berlangsung.

Mengatakan semua itu.

Wali murid yang terlalu protektif?

Bukankah aku hanyalah seorang idiot?

"Terima kasih, kalian berdua, sepertinya aku lah yang bodoh."

Sekarang, aku berterima kasih pada Rinia dan Pursena.

Mereka rela mengikuti seorang idiot.

Aku telah membuat mereka melakukan hal-hal yang tidak berguna.

"Seseorang yang membela adiknya bukanlah idiot, Nya."

"Tapi itu sungguh mengejutkan, sekarang kesanku terhadapmu semakin membaik, Nano."

Aku membuat cangkir, kemudian menuangkan air ke dalamnya.

Lalu kuminum.

Rasanya hambar.

Tapi minuman itu berhasil membantuku sedikit rileks.

"Hei, Bos, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Tidak ada yang bisa kulakukan, akulah yang harus disalahkan karena telah membuatnya menutup diri."

Dia menutup diri.

Ya, dia memisahkan diri dari dunia luar.

Meski baru sehari.

Dia telah menjadi Hikkikomori.

"Kita perlu memaksanya menghadiri kelas, Nano."

"Itu benar, Nya."

"Jika dia, lama-lama dia bisa bodoh, Nano."

"Benar, Nya… Benar, Nya."

"Dia akan menjadi murid bodoh seperti Rinia."

"Benar kata Pursena ... apa!?"

Aku tidak punya waktu untuk bercanda dengan dua komedian ini.

Aku mengerti kesulitan seorang Hikkikomori.

Sebagian orang melakukan Hikkikomori dengan terpaksa.

Ada alasan kuat yang membuatnya memutuskan hubungan dengan dunia luar.

Meskipun kau memaksanya untuk keluar kamar, itu tidak akan menyelesaikan inti permasalahannya.

Itu hanya akan membuat situasi semakin buruk.

Meski begitu, dibiarkan mendekam dalam kamar juga tidak baik.

Dia pasti akan menyesalinya suatu saat nanti.

Setelah sebulan atau dua bulan, dia akan menyadari bahwa waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali lagi.

Karena aku sudah merasakan semuanya.

Tapi, meskipun aku menjelaskannya, dia tidak akan mengerti.

Yang tersisa hanyalah penyesalan akan waktu yang tidak pernah kembali.

Jika dia terus bertahan menjadi Hikkikomori selama setahun, atau bahkan 10 tahun… kemudian dia menyesalinya… maka semuanya telah terlambat.

Itulah sebabnya orang tua selalu mendorong anak-anaknya untuk melakukan yang terbaik.

Agar mereka tidak menyesal di kemudian hari.

"Sebagai orang yang paling payah dalam keluarganya, apa yang bisa dia lakukan ketika orang lain membanding-bandingkannya?"

Ketika aku bertanya kepada Rinia dan Pursena, mereka hanya mengangkat bahu tanpa jawaban.

"... aku bukan murid yang bodoh, jadi aku tidak tahu harus menjawab apa, Nya."

"Nilai kami cukup baik, Nano."

Kalau dipikir-pikir, alasan kedua gadis ini dikirim ke sini adalah karena mereka belum layak dinobatkan sebagai pemimpin.

Para petinggi desa mungkin menyuruhnya belajar agar menjadi pemimpin yang cakap.

Meski mereka belum mampu menjadi pemimpin yang baik, tapi mereka optimis itu bisa dirubah, dan setelah belajar tekun, mereka pun cukup berprestasi di sekolahan ini… ya, mungkin begitu.

Namun, Norn sangat naif.

Mereka tidak bisa dibandingkan.

"Ah, tapi ada satu hal lagi, Nya…..."

Rinia tiba-tiba menyebut nama seseorang….

"Bibi Ghyslaine adalah orang kasar yang tidak pernah melakukan segala sesuatu dengan benar. Tapi dalam hal ilmu berpedang, dia sanggup menyandang gelar sebagai Raja Pedang."

"Ah ... aku mengerti."

Ghyslaine adalah pengecualian.

Namun, itu mungkin adalah bakat tak terduga yang dimilikinya.

Sejak awal, Norn dan Aisha tidak harus melakukan sesuatu yang sama.

Jika kau tidak ingin dibandingkan dengan seseorang, maka lakukan sesuatu yang berbeda.

Tapi aku tidak tahu, apakah ‘sesuatu yang berbeda’ itu.

Namun, dunia ini luas.

Seseorang bisa menggali bakatnya dalam berbagai bidang, entah itu sihir, ilmu berpedang, atau yang lainnya.

Atau mungkin dia bisa menemukan obsesi pada bidang yang tidak dikuasainya.

Seperti Zanoba contohnya. Dia begitu suka patung, namun sama sekali tidak punya bakat membuat patung.

Meskipun begitu, Zanoba tidak pernah menyerah mempelajari patung.

Membuat patung, mengamatinya, menyayanginya, dan bahkan mengumpulkannya.

Itu sudah cukup membuatnya hidup bahagia.

Namun, jika aku mengatakan itu pada Norn, dia tidak akan menerimanya.

Aku pun begitu. Karena minat kami berbeda.

"Kalau begitu, apa yang sebaiknya kukatakan padanya?"

"Tidak perlu memikirkannya begitu keras, katakan saja terus terang bahwa dia tidak bisa selamanya mengunci diri di kamar, Nya."

"Benar, katakan padanya untuk segera keluar dan menghadiri kelas."

Ngomong sih mudah.

Tapi, kalau begitu ...

Apakah aku yang berpikir terlalu rumit?

Norn baru berumur sepuluh tahun.

Mungkin dia hanya ngambek.

Meskipun dia menutup diri, toh itu baru berlangsung sehari, dan besok baru dua hari.

Bukankah “Hikkikomori” adalah istilah yang terlalu berat untuk orang yang hanya mengurung dirinya dalam kamar selama 2 hari??

Mungkin dia hanya ingin menyendiri untuk menjernihkan pikiran.

Dia sudah lelah berbicara dengan orang lain, itulah mengapa dia menyendiri.

Terlalu jauh jika ‘menyendiri’ dibandingkan dengan ‘hikkikomori’.

Sebagai kakaknya, aku harus mendukungnya dan membuatnya menjalani hidup senyaman mungkin.

Kalau memang dia membutuhkan sedikit waktu untuk menyendiri, bukankah lebih baik aku membiarkannya?

Gak papa nih membiarkannya berpikiran suram?

Tapi Norn belum cukup umur untuk dianggap sebagai anak SMP maupun SMA, saat ini dia masih seusia anak SD.

"Baiklah, ayo kita menemuinya."

Tanpa sadar, aku memutuskan itu.

"Bagus lah, Nya."

"Katakan saja padanya secara langsung, Nano."

Meskipun aku berkata begitu, apakah dia benar-benar akan mendengarkan perkataan kami?

Bagaimanapun juga, akulah sumber masalahnya.

Aku masih tidak tahu harus berkata apa.

Ah tidak, aku tidak akan memikirkannya sekarang, tapi aku harus mengatakan sesuatu jika kita bertemu nanti.

"Sekarang, bagaimana cara kita bertemu dengannya?"

Norn ada di asrama perempuan.

Jangankan kamar Norn, masuk ke dalam asrama saja belum tentu aku diijinkan.

"Kita akan masuk dengan paksa, Nya."

"Kita akan menyelinap, Nano, biarkan kami menunjukkan jalannya."

Rinia dan Pursena mengatakan itu sembari menepuk dada raksasanya.

Bagian 4[edit]

Menyusup.

Itu tidaklah begitu sulit.

Aku punya banyak kenalan di sana.

Sylphy dan Putri Ariel juga ada di sana.

Ketika aku memberi tahu Ariel pokok permasalahannya, dia pun langsung menyetujuinya.

Meski begitu, selain Goriade, tidak semua petugas patroli keamanan asrama wanita setuju dengan rencanaku, jadi aku tetap harus menyelinap.

Yang menjadi mata-mata adalah Rinia, Pursena, dan Sylphy.

Sylphy cukup tertekan.

"Maafkan aku, meskipun aku sudah menyanggupi untuk menyelesaikan semua masalah Norn di asrama…. Sebenarnya, aku tidak mampu berbuat apapun, bahkan aku belum bertanya apa-apa padanya."

"Bukan… ini bukan salahmu, Sylphy, akulah yang harus disalahkan."

Aku menjelaskan kepada Sylphy apa yang terjadi.

Bahwa, akulah pokok permasalahan yang membuat Norn menutup diri.

Wajah Sylphy tampak suram, dan dia hanya menanggapinya dengan menggelengkan kepala.

"Ini juga bukan salah Rudi."

"Tetapi aku..."

Aku telah ...

Tidak, sebenarnya aku tidak melakukan apapun.

Apa yang harus kulakukan….. aku tidak tahu.

Tetapi…. Aku tetap harus menyelesaikan masalah ini.

Bagian 5[edit]

Waktu malam.

Aku menuju asrama wanita pada waktu makan malam.

Saat ini, sebagian besar siswi sedang makan di kantin.

Ariel sedang berpidato di sana.

Semua orang pun berkumpul untuk mendengarkannya.

Namun, masih ada beberapa orang yang tidak berada di sana.

Karena kantin tidak bisa menampung semua siswi.

Meski begitu, rencana kami adalah mengarahkan sebanyak mungkin petugas patroli keamanan ke luar asrama, dan itu berhasil.

Aku bergerak sedekat mungkin dengan pintu masuk asrama yang telah kami amankan.

Kusen jendela didekorasi dengan sekuntum bunga.

Aku berjalan menuju jendela itu, lalu melemparkan kerikil kecil dari bawah.

Saat kerikil membentur kusen jendela, jendelanya pun dengan cepat terbuka.

Aku menggunakan Sihir Bumiku, Earth Spear, untuk mengangkat diriku sampai ke jendela, kemudian menyelinap masuk melaluinya.

Pada saat yang sama, aku melepaskan Earth Spear, dan kembali ke tanah.

Begitu memasuki ruangan, hidungku dipenuhi dengan bau hewan.

Meskipun baunya cukup menyengat, namun aku masih bisa menahannya.

Itu adalah aroma ras hewan wanita yang sudah melewati masa pubernya.

Itu adalah aroma khas yang dicari oleh ras hewan lelaki ketika musim kawin tiba.

"Kerja bagus."

"Selamat datang."

Rinia menyambutku.

Matanya berkilau di dalam kegelapan.

Itu adalah mata kucing.

Aku mengamati sekelilingku.

Pada dasarnya, ruangan ini sama seperti kamar-kamar pada umumnya.

Ada tempat tidur ganda, meja, kursi, dan lemari.

Meski sudah gelap, aku bisa melihat benda-benda yang berserakan.

"Tolong jangan menatapku seperti itu Nya, itu memalukan."

"Maaf."

Dalam kegelapan, aku mencari-cari jalan keluar.

Tanganku merasakan sesuatu.

Itu adalah suatu benda yang terbuat dari bahan yang lembut.

"Ah, itu bra Pursena."

"..."

Pursena memakai ukuran ini?

Besar juga.

"Hmm, kalau kau mau…. Ambilah."

"Tidak, tidak."

Aku melemparkan bra Pursena ke samping.

Biasanya aku akan mengambil kesempatan ini untuk mengendusnya, tapi aku tidak punya waktu untuk itu sekarang.

Rinia mengetuk pintunya dari dalam.

Terdengar ketukan balasan.

"Sekarang sudah aman."

Pada saat bersamaan dia mengatakan itu, dia membuka pintu, kemudian aku terjun ke dalam gerobak yang sudah dipersiapkan untukku.

Itu adalah gerobak yang biasa membawa cucian.

Aku menyelinap ke dalam seprei yang menutupinya.

Dari baunya, aku tahu bahwa ini adalah seprei yang biasa dipakai Sylphy.

Untuk menyembunyikan aku, gerobak itu diisi penuh dengan selimut, kemeja, dan pakaian dalam.

Semuanya milik Sylphy.

Namun, anehnya aku sama sekali tidak terangsang.

Mungkin karena pikiranku terlalu fokus pada Norn.

Saat ini, Norn pasti merasa sangat menderita.

Menurup diri, kesepian, dan tanpa teman.

Aku harus menyelamatkannya.

Sebagai kakak laki-lakinya, aku harus menyelamatkannya.

"Baiklah, ayo kita jalan."

Gerobak mulai bergerak.

Sementara itu, aku terus memikirkan Norn.

Tidak apa-apa kalau dia hanya ngambek.

Namun, kalau hatinya terluka lebih dalam ...

Aku penasaran, apa yang bisa kulakukan untuk menyembuhkannya….

Paling tidak, sebelum saudara laki-lakiku mengusirku, aku tidak pernah meninggalkan rumah.

Sekarang, dalam posisi sebagai kakak atau wali murid, aku malah tidak bisa memikirkan cara untuk membuatnya keluar dari kamar.

"Kami sudah sampai."

Tanpa kusadari, gerobak ini sudah sampai di tempat tujuannya.

Ini adalah kamar Norn.

Bagian 6[edit]

Aku masuk ke dalam.

Gelap.

Lampu tidak menyala.

Aku menyalakan lilin yang ada di sudut ruangan.

Cahaya redup menyinari tempat ini, dan aku melihat seorang gadis sedang duduk di tempat tidur sambil memeluk kakinya

Dalam kegelapan, sepasang mata terlihat.

Norn hanya duduk di sana, dan menatapku.

"..."

Aku berjalan dengan hati-hati, kemudian duduk di kursi.

Pada saat seperti ini, apa yang harus aku katakan?

Apa yang bisa kukatakan sehingga dia mau mendengarku?

Aku tidak tahu.

Kalimat-kalimat yang sudah kupikirkan, semuanya sirna.

Satu-satunya yang kuyakini saat ini adalah, dia akan semakin membenciku jika aku mengucapkan kata yang salah.

Tidak mudah mengatakan hal-hal yang tepat pada saat seperti ini.

Paling tidak, ada beberapa kalimat terlarang untuk diucapkan sebelum aku mendengar penjelasan darinya, seperti……

Pergilah ke sekolah.

Kau pikir, siapa yang membayar sekolahmu?

Jangan pernah merepotkan orang lain.

Kalimat seperti itu justru berdampak buruk baginya.

Seperti yang dikatakan Rinia dan Pursena, lebih baik aku mengatakan inti permasalahannya secara langsung.

Norn masih berusia sepuluh tahun, mungkin saja dia mau mendengarkan omongan orang yang lebih tua darinya.

Namun, itu tidak akan menyelesaikan apapun.

Mungkin, dalam waktu dekat, sesuatu seperti ini akan terjadi lagi.

Dan pada waktu itu, Norn akan menjadi semakin keras kepala.

Pertama, penyebabnya menjadi tertutup adalah aku sendiri.

Ekspresi macam apa yang harus kutunjukkan padanya saat mengatakan itu?

Haruskah aku menampar wajahku sendiri ketika mengatakannya?

Atau, haruskah aku meminta maaf terlebih dahulu padanya?

Tapi jika aku minta maaf, apakah itu akan menyelesaikan masalahnya?

Norn akan terus dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang dianggap jenius oleh semua orang.

"Norn."

"Nii-san."

Suara kami terdengar tegang.

Aku ingin mendengarkan cerita Norn, sembari menutup mulutku rapat-rapat.

Tapi Norn juga menutup mulutnya tanpa seucap kata pun.

Rasanya seperti kesempatan sekali seumur hidup yang lewat begitu saja.

Aku memutuskan untuk berbicara lebih dulu.

"Norn, maafkan aku, sejak kau tinggal di asrama ini, aku selalu mendapat masalah, ya?"

Norn masih tidak mengatakan apa-apa.

"Kau baru saja bersekolah, tapi karena aku, semuanya jadi seperti ini. Aku tidak tahu harus berkata apa ... "

Norn masih tidak mengatakan apa-apa.

"Aku, tidak tahu apa yang kau alami ..."

Norn masih tidak mengatakan apa-apa.

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.

Padahal, aku sudah berusaha memikirkan berbagai hal sebelum tiba di sini.

Sejak awal, aku tidak tahu apa-apa tentang Norn.

Kami terpisah jauh sejak kecil, dan aku tidak pernah berusaha untuk memahaminya.

"... Meskipun keadaan sudah menjadi seperti ini, aku masih tidak tahu harus berbuat apa."

Norn masih tidak mengatakan apa-apa.

Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.

Aku juga tidak tahu apakah dia mendengarkanku atau tidak.

Jadi tidak ada gunanya?

Haruskah aku meninggalkannya seperti yang pernah kulakukan pada Paul?

Ya.

Itu benar.

Mungkin lebih baik sekarang aku pergi saja, kemudian kubicarakan ini dengan yang lainnya.

Jika aku meminta pendapat Nanahoshi, mungkin aku akan mendapatkan suatu petunjuk, karena dia juga suka mengunci dirinya seperti Norn.

Kalau aku meminta bantuan Elinalise, mungkin dia bisa mengeluarkan Norn dari kamar ini.

Aku tidak bisa menyelesaikan ini sendirian.

"...Ah."

Tiba-tiba, aku teringat masa laluku.

Dikala aku menjadi seorang Hikkikomori, kemudian kakakku datang ke kamarku.

Waktu itu, dia menghadapiku dan membicarakan argumen-argumen yang logis.

Aku pun menolaknya mentah-mentah.

Meski begitu kami sempat bersama selama beberapa saat.

Sembari melihatku, matanya seakan ingin menyampaikan sesuatu.

Aku pun hanya menolaknya karena aku berpikir dia tidak akan mengerti isi hatiku.

... Mungkin…. seperti inilah perasaan kakakku saat itu.

Aku tidak bereaksi pada perkataannya, dan kakakku akhirnya terdiam.

Entah berapa jam itu berlangsung, sampai akhirnya kakakku menyerah dan pergi dari kamarku.

Sejak saat itu, kakakku tidak pernah lagi berkomunikasi denganku.

Setelah itu, aku juga tidak pernah tahu apa yang dipikirkan kakakku.

Namun, meskipun dia tidak lagi datang ke kamarku, orang-orang lainnya bergantian mengunjungiku.

Mungkin kakakku lah yang meminta mereka datang ke kamarku.

Namun, aku tetap tidak mendengar apapun yang dikatakan mereka.

...Mungkin…..

….sama seperti kakakku dulu….

Jika sekarang aku pergi dari sini….. aku tidak akan pernah kembali.

Norn juga akan tetap menutup dirinya di dalam kamar.

Aku tidak boleh pergi dari sini.

Di dalam ruangan yang remang-remang ini, aku terus menunggu jawaban darinya.

Bab 9: Norn Greyrat[edit]

Bagian 1[edit]

-- Sudut Pandang Norn --

Kapan ya aku mulai takut pada kakakku…..

Setidaknya, itu tidak terjadi sejak pertama kali kami bertemu.

Tapi, waktu itu, dia memukuli ayah.

Aku mencintai ayahku.

Meskipun dia payah, tapi aku tahu bahwa dia sangat mencintaiku dengan segenap hatinya.

Mungkin itu tidak sepenuhnya benar, tapi sebagai anak berumur 5 tahun kala itu, aku memang mencintai ayahku lebih dari apapun.

Kakakku memukul ayah yang begitu kusayangi.

Dia muncul tiba-tiba, lalu menghajar ayahku begitu saja.

Aku tidak mengerti pembicaraan mereka saat itu.

Namun, sekarang aku tahu bahwa kakak mengalami banyak kesulitan sebelum dia bertemu kembali dengan ayah.

Aku juga tahu dia mempermainkan ayahku dan bertengkar melawannya.

Saat itu, urusan mereka sama sekali tidak berhubungan denganku.

Yang jelas, kakakku memukuli ayah.

Ketika aku melihat mereka saling baku hantam……

Aku sempat berpikir bahwa ayah akan terbunuh…….

Lalu, akhirnya aku memikirkan suatu kesimpulan… yaitu satu-satunya kesimpulan yang kuyakini kebenarannya…

Bahwa, dia bukanlah keluargaku.

Bukan karena rasa takut.

Melainkan karena kebencian.

Perasaan benci yang terus berlarut-larut.

Tapi, ternyata semua orang memujinya.

Bahkan ayah juga memujinya, adik perempuanku dan pelayan yang kutemui saat itu juga memujinya.

Semakin mereka memuji kakakku, semakin besar pula kebencianku padanya.

Aku juga merasakan kebencian yang sama pada adik perempuanku.

Kami sekolah di tempat yang sama, dan dia adalah sainganku dalam berbagai bidang.

Baik itu pelajaran, maupun olahraga.

Kemudian, karena unggul di berbagai bidang, dia pun meremehkanku.

Aku berpikir bahwa kita tidak akan pernah bisa akur.

Aku tersiksa oleh superioritasnya.

Orang yang tidak menyetujuinya adalah nenekku.

Dia membenci adikku yang tidak terikat hubungan sedarah, dan dia menaruh harapan berlebih padaku.

Tidak, mungkin tidak tepat jika itu disebut ‘harapan’.

Nenekku pernah berkata.

"Sebagai seorang gadis keturunan Keluarga Ratreia, kau harus memiliki bakat yang tidak membuat kami malu."

Kemudian aku dipaksa belajar etiket dan berbagai hal formal lainnya.

Aku tidak bisa melakukannya dengan baik, dan setiap kali aku gagal, dia memarahiku.

Nenekku selalu berkata:

"Jika kau terikat oleh para petualang, maka kau akan mengotori darah keturunan kita."

Aku segera tahu bahwa dia sedang membicarakan ayah dan ibuku.

Nenekku membenci ayahku yang bekerja dengan segenap kekuatannya.

Lantas, aku juga membenci nenekku.

Kemudian, datanglah seorang gadis penyihir yang mengaku sebagai mantan gurunya kakakku. Dia memberitahu kami dimanakah tempat ibuku berada. Aku pun memilih untuk pergi bersama ayah daripada tinggal dengan nenek.

Namun, ayahku kebingungan.

Dia bingung, apakah harus meninggalkan aku bersama nenekku.

Ibuku mewarisi darah bangsawan Milis, dan ayahku adalah keturunan langsung dari bangsawan Asura.

Singkatnya, aku adalah keturunan orang terhormat.

Kakek dan nenekku sepertinya ingin agar aku tinggal bersama mereka.

Tapi, aku benci itu.

Karena itulah aku memohon dengan tersedu-sedu pada ayah untuk menyertakan aku dalam misinya.

Namun.

Ayah malah mengirimku ke tempat kakak.

Dia bilang dia akan melakukan perjalanan yang berbahaya.

Dia juga mengatakan bahwa kakakku sudah mempunyai tempat tinggal di utara, maka dia pun memintaku untuk tinggal di sana.

Ayah mengatakan bahwa, ketika dia sudah menemukan ibu nanti, maka kami semua akan berkumpul kembali.

Aku menangis.

Aku bilang, aku benci itu. Aku menangis, karena aku juga ingin menuju ke tempat ibu berada.

Menurutku, aku tidak boleh berpisah dari ayahku tak peduli apapun yang terjadi.

Jika Ruijerd-san tidak muncul di sana, mungkin aku masih bersikeras untuk ikut dengan ayah.

Dia mengatakan bahwa Benua Begaritto bukanlah tempat yang nyaman, dan jika aku sakit di sana, maka itu akan semakin merepotkan ayah.

Ruijerd-san.

Aku ingat betul dia.

Aku pertama kali bertemu dengannya pada hari yang sama ketika aku bertemu kakakku.

Dia memberikan bantuan kepadaku yang hendak roboh.

Dia menepuk kepalaku dengan tangannya yang lembut.

Dia memberiku sebuah apel.

Saat itu, aku tidak tahu namanya.

Setelah mengetahui bahwa dia adalah penjaga kakakku, aku sengaja tidak menanyakan namanya.

Namun, dia tidak berubah sejak terakhir kali kami bertemu, dia selalu menepuk kepalaku, dan membujukku dengan lembut.

Dan dengan demikian, akhirnya aku merubah pendirianku untuk pergi ke tempat kakak.

Ketika kami memulai perjalanan, adik perempuanku sangat bersemangat.

Dia tidak lagi memakai topeng yang selalu dia kenakan di depan ayah dan ibunya, namun kali ini dia memakai ‘topeng pemimpin’ di wajahnya. Dia terus merencanakan sesuatu yang tidak masuk akal.

Sudah kukira, otaknya memang selalu dipenuhi dengan ide bodoh.

Sebenarnya dia tidak perlu sesemangat itu ketika ada dua orang dewasa yang siap membantu kita.

Itulah yang aku pikirkan.

Tapi, Ruijerd-san dan Ginger-san begitu mematuhi perkataan adikku.

Kurasa itu tidak adil.

Mereka mengikuti arahan adik perempuanku, namun mereka tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan.

Namun, aku masih bisa bertahan karena kasih sayang dari Ruijerd-san.

Dia selalu mengawasi aku.

Tapi, dia juga memuji kakakku.

Dia selalu mengatakan bahwa kakakku adalah orang yang luar biasa.

Dia ingin cepat-cepat bertemu dengannya.

Dia adalah orang yang pelit senyum, namun dia selalu tersenyum bahagia ketika menceritakan kakak.

Aku yakin bahwa kakak yang kukenal, dan kakak yang dia kenal, adalah dua insan yang berbeda.

Itulah yang aku pikirkan.

Ahh.

Sejak saat itulah….

Aku mulai takut pada kakak.

Kalau Ruijerd-san sampai menghormatinya, artinya dia begitu kuat.

Semuanya mengatakan bahwa dia adalah orang yang harus dihormati.

Namun, di dalam hatiku, sosok kakakku masihlah sama dengan orang yang pernah menghajar ayah yang begitu kusayangi.

Mungkin.

Mungkin saja….

Kakakku juga akan menghajarku?

Jika aku mengatakan hal yang membuatnya jengkel, akankah dia memukulku?

Aku jadi takut bertemu dengannya.

Harus sampai kapan aku tinggal bersamanya? Itu juga membuatku takut.

Aku cemas sampai-sampai tidak bisa tidur… kalaupun bisa tidur, aku terbangun di tengah malam berkali-kali.

Namun, Ruijerd-san selalu menghiburku ketika itu terjadi.

Dia menempatkanku di pangkuannya, lalu dia menceritakan kisah dari masa lalu sambil melihat langit malam.

Ada banyak cerita sedih, tapi entah kenapa aku bisa santai ketika mendengarnya, kemudian aku pun tidur dengan nyenyak.

---

Bagian 2[edit]

Ketika akhirnya kami bertemu lagi, kakakku sedang mabuk, dan ada seorang wanita di sampingnya.

Wanita itu adalah teman masa kecilnya dari Desa Buina, dan dia telah menikahinya.

Aku sama sekali tidak mengingat wanita itu.

Tapi, aku masih bisa mengingat dengan samar-samar bahwa ada seorang gadis yang sering bersama adikku dan ibunya ketika aku kecil.

Aku sempat berpikir bahwa wanita itu bukanlah gadis kecil tersebut.

Kupikir dia adalah orang lain. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda.

Kakakku tampak bahagia.

Ketika aku melihat itu, perasaan benci di dalam hatiku mulai membara.

Ayahku tidak pernah selingkuh dengan wanita manapun.

Dia bilang, dia akan menunda itu semua sampai menemukan ibuku.

Dia tidak pernah menyentuh ibu adikku, dan juga wanita-wanita lain yang selalu bersamanya.

Namun….

Rupanya kakakku adalah seorang munafik.

Hatiku dipenuhi dengan kebencian.

Tapi, aku tidak bisa mengatakan apapun.

Karena aku takut.

Jika, aku mengatakan sesuatu, mungkin aku akan dipukul olehnya.

Jika kakakku memukulku, Ruijerd-san mungkin akan marah.

Tapi, ketika Ruijerd-san akhirnya bertemu dengan kakakku, wajahnya tampak begitu bahagia.

Mungkin, dia tidak akan semarah itu padanya.

Mungkin dia malah akan memarahiku.

Mungkin, dia akan menegurku untuk tidak bertingkah egois.

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

Kemudian, keesokan harinya, Ruijerd-san pergi.

Aku pikir dia akan bersama kami selamanya.

Aku tidak ingin berpisah darinya.

Tapi, dia pergi.

Aku menjadi semakin takut.

Kakakku beserta istrinya, dan juga adikku…. Semuanya tinggal di rumah yang sama.

Adikku sangat bersemangat ketika bertemu dengan kakakku.

Sepertinya, istri kakakku adalah wanita yang lembut.

Tapi, dia bukan sekutuku.

Di rumah ini, aku sama sekali tidak memiliki sekutu.

Sampai ayahku kembali, aku tidak punya pilihan selain mendekam di rumah ini dengan ketakutan.

Adikku begitu menyayangi kakakku.

Tapi tidak bagiku.

Adik perempuanku dimanjakan, dan aku disuruh bekerja lebih keras.

Adikku berkata bahwa aku selalu gagal karena aku tidak pernah berusaha dengan serius.

Tapi, ketika kau tidak bisa melakukan sesuatu, maka hasilnya akan sama saja tak peduli sekeras apapun kau berusaha.

Tak peduli seberapa baik usahaku, tak peduli seberapa keras aku berlatih, aku tidak pernah bisa menandingi adikku.

Apa yang harus kulakukan?

Agar mereka tidak memarahiku, dan agar aku tidak dibanding-bandingkan lagi dengan adikku, maka aku lebih memilih untuk bersembunyi.

Aku takut diusir keluar dari rumah.

Kemudian, kakakku menganjurkan agar aku bersekolah di kota ini.

Sekolah di sini sedikit lebih khusus, dan berbeda dengan sekolahku dulu di Milishion.

Meskipun kami berada di kelas yang sama, namun teman-temanku bukanlah gadis sebaya denganku, beberapa dari mereka bahkan jauh lebih tua.

Jujur saja, aku tidak ingin bersekolah di sini.

Pada akhirnya, aku akan dibandingkan dengan adik perempuanku lagi.

Namun, tampaknya adikku yang berbakat itu dibebaskan dari kewajiban bersekolah.

Bagiku, itu adalah secercah harapan untuk lepas darinya.

Jika adik perempuanku tidak ada di sana, mungkin aku bisa belajar dengan lebih tekun.

Setidaknya, itulah yang sempat kupikirkan.

Kakakku berbicara dengan adikku, dan dia memberikan beberapa syarat padanya.

Akan diadakan suatu ujian masuk.

Itu merupakan syarat mutlak untuk masuk sekolah.

Aku juga mengambilnya.

Tapi, aku merasa putus asa.

Meskipun aku mengikuti ujian, nilaiku hampir pasti tidak akan melampaui batas lulus.

Aku menyatakan ketidakmampuanku pada kakak, namun dia malah mengatakan, asalkan punya uang, siapapun bisa bersekolah di sana.

Dia sama sekali tidak peka terhadap maksudku, lalu aku tanpa sengaja membentaknya.

Itu menyulut kemarahan adikku, dan kami pun bertengkar.

"Hentikan."

Seruan kakakku menggema di ruangan tersebut, dan itu menyebabkan ketakutanku semakin menjadi.

Sepertinya, dia akan segera menghajarku.

Aku takut.

Aku menangis.

Mulai saat itu, aku tidak punya pilihan selain hidup bersamanya dalam ketakutan.

Pada hari ujian.

Aku mendengar informasi tentang asrama dari kakakku.

Di sana, para pelajar bisa hidup mandiri.

Sepertinya ada fasilitas seperti itu di sekolah ini.

Itulah yang kupikirkan.

Adik perempuanku pasti akan lulus ujian dengan nilai yang sangat bagus.

Lalu, dia dibebaskan dari kewajiban bersekolah.

Jika aku tinggal di asrama, aku tidak perlu bertemu dengan kakakku tiap hari.

Aku tidak akan dibandingkan dengan siapa pun, dan aku bisa hidup dengan bebas.

Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya itu adalah pilihan terbaik saat ini.

Beberapa hari kemudian, hasil ujian masuk diumumkan.

Kakakku bertanya apa yang ingin kulakukan kedepannya.

Dengan malu-malu, aku berkata, "Aku ingin mencoba tinggal di asrama."

Kupikir dia akan marah.

Ayah telah memerintahkan aku agar tinggal bersama kakak.

Surat yang diterima adikku seharusnya mengatakan hal yang sama.

Karena itulah, kupikir dia akan marah, kemudian memukulku dan menyuruh agar aku tidak bersikap egois.

Tapi, tanpa kuduga, kakak langsung menuruti permintaanku tanpa syarat apapun.

Satu-satunya yang marah adalah adikku.

Adik perempuanku bersikeras bahwa itu tidak adil, dan dia menuduh kakak telah pilih kasih.

Padahal, sampai sekarang pun dia selalu diperlakukan lebih baik dariku,

Dia protes bahwa orang yang tidak lulus ujian dengan nilai memuaskan tidak perlu dituruti permintaannya.

Tapi, mengapa kakak memberikan izin dengan begitu mudahnya?

Aku tidak tahu.

Aku tidak pernah mengerti pemikiran kakakku.

Lagipula, dia sama sekali tidak marah padaku, terlepas dari bentakannya yang lantang ketika melerai kami berkelahi.

... Mungkin, kakak sudah tidak memperdulikanku lagi.

Mungkin, dia berpikir bahwa mengurusku di rumahnya akan sangat merepotkan, sehingga dia mengijinkanku hidup di asrama.

Meskipun aku tidak mengajukan permintaan seperti itu, sepertinya dia tetap akan mengirimku ke asrama wanita.

Ketika berpikir seperti itu, entah kenapa hatiku merasa sedih.

Meskipun begitu, ini semua pantas kuterima.

---

Bagian 3[edit]

Segalanya terasa baru di asrama.

Pertama, aku mendapatkan teman sekamar baru.

Melissa-senpai berasal dari ras iblis.

Nenekku mengatakan bahwa ras iblis itu jahat.

Aku selalu diajari untuk menjauh dari orang-orang ras iblis, dan mereka harus dihancurkan.

Namun, seandainya aku tidak bertemu dengan Ruijerd-san, sampai sekarang pun pasti aku masih berpikir seperti itu.

Karena itulah, ketika aku bertemu dengan Melissa-senpai, aku mengerti bahwa aku harus bersikap sopan padanya, dan memperlakukannya seperti manusia pada umumnya.

Saat aku menyapanya dengan baik, Melissa-senpai pun menyambutku dengan baik.

Aku masuk pada tengah semester, namun dia tetap menerimaku dengan tangan terbuka dan membantuku dalam berbagai hal.

Dia mengajarkan berbagai hal padaku seperti tata cara makan, cara menggunakan toilet, dan juga peraturan-peraturan asrama lainnya.

Semuanya diajarkan oleh Melissa-senpai.

Senpai adalah anggota patroli keamanan asrama, dia mengatakan bahwa semua siswi yang tinggal di asrama ini adalah keluarga, dan kami harus hidup dengan rukun.

Sebagai ras iblis, wajahnya cukup menyeramkan, namun dia punya rasa tanggung jawab yang besar.

Aku pun merasa senang bisa menjalani kehidupan seperti ini di asrama.

Namun, aku harus mengunjungi rumah kakak tiap 10 hari sekali, dan itu cukup merepotkan.

Tapi, kakak tidak menanyakan kehidupan sekolahku secara detail, aku pun lega.

Hidupku di asrama dimulai.

Pelajarannya sulit.

Mungkin itu karena cara mengajar guru di sini berbeda dengan guruku di sekolah sebelumnya.

Penyebab lainnya, mungkin karena aku masuk di tengah-tengah semester, jadi aku ketinggalan banyak pelajaran.

Di Milis aku banyak belajar tentang agama, namun di Ranoa tidak ada pelajaran seperti itu, kami malah mempelajari sihir tiap hari.

Aku sama sekali tidak paham, terlebih lagi aku tidak belajar dari awal, jadi aku mengalami masa-masa sulit di hari pertamaku sekolah.

Jika nilaiku buruk, mungkin aku akan dikirim lagi ke rumah kakak.

Karena tidak mau itu terjadi, aku pun belajar lebih giat di asrama.

Dengan ikhlas, Melissa-senpai bersedia mengajariku bagian pelajaran yang tertinggal dan tidak kupahami.

Untuk pertama kalinya, aku pun memahami bagian-bagian pelajaran yang tertinggal.

Tentu saja, lain ceritanya kalau adikku yang mempelajarinya, dia pasti akan mengerti dalam waktu singkat.

Aku muak dengan kebodohanku sendiri.

Sekolahan ini begitu luas, sehingga aku berkali-kali kesasar. Aku sering merepotkan para senior dan guru ketika menanyakan arah dan letak suatu kelas.

Aku tercengang ketika melihat kelas fisik dan sihir yang tidak pernah ada di Milis.

Aku juga pernah sekali melihat kakakku di sekolahan.

Dia balik melihatku, dan aku sangat malu karena dia adalah orang yang cukup disegani di sekolahan ini.

Kakak juga cukup ditakuti oleh semua murid.

Sepertinya dia punya enam bawahan, dan bisa melakukan apapun bersama mereka.

Di antara mereka, ada dua orang yang lagaknya sombong di asrama.

Bahkan Melissa-senpai pun mengingatkanku untuk sebaiknya tidak menentang mereka.

Sepertinya, kakak memanfaatkan mereka berdua untuk melakukan operasi pengumpulan celana dalam.

Apakah istrinya tahu akan hal yang memalukan ini?

Dia mungkin tidak tahu.

Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada sempak-sempak itu, namun satu hal yang pasti, dia selalu bermain-main seperti ini, sedangkan ayah sedang berusaha keras menemukan ibu.

Dadaku dipenuhi dengan kebencian.

Aku meremehkannya.

Meskipun aku menganggapnya payah, sebenarnya kakak adalah orang yang bereputasi bagus di sekolahan.

Dia tidak pernah berbuat kasar pada pelajar reguler, meskipun dia berbuat sesukanya sendiri, tidak berarti orang lain terganggu oleh itu.

Bahkan, dia mengingatkan para preman sekolahan untuk tidak membully yang lemah.

Ada murid yang cukup menakutkan di kelasku, dan dia sering bercerita tentang kakak dengan begitu bangganya.

Kemampuan sihirnya lebih baik daripada siapapun di sekolahan ini, dan cara mengajarnya juga hebat.

Sepertinya, dia juga sering mengajari sihir pada murid yang lebih muda dariku.

Teman sekelasku, Melissa-senpai, bahkan guruku…. Semuanya memintaku untuk mengikuti jejak kakak.

Aku harus berusaha menjadi orang sehebat dia.

Aku tidak mengerti apa yang mereka pikirkan.

Kenapa aku harus menjadi orang seperti kakak yang selalu kutakuti, kubenci, dan kubentak?

Aku tidak ingin menjadi seperti dia.

Tapi, itu semakin membuatku frustasi.

Kedua keluargaku itu, sama-sama berada pada suatu level yang tidak akan pernah bisa kugapai.

Dia adalah suatu eksistensi yang tidak akan pernah bisa kuraih tak peduli seberapa keras usahaku menyamainya.

Meskipun aku membencinya.

Meskipun aku meremehkannya.

Tapi, aku selalu lebih rendah darinya.

---

Bagian 4[edit]

Hari itu.

Aku kembali ke asrama, kemudian membenamkan tubuhku di kasur.

Berbagai emosi bercampur aduk dalam hatiku.

Kepahitan. Kesedihan. Ketidakberdayaan. Amarah.

Semuanya bercampur pada luapan air mata.

Setelah beberapa saat, Melissa-senpai kembali.

Dia dengan ramah bertanya kepadaku…. Kenapa aku menangis? Apakah ada yang salah?

Aku hanya mengabaikannya, mengatakan tidak ada yang salah, kemudian menutupi diriku dengan selimut.

Apa yang harus aku lakukan?

Apakah salah aku bersikap begitu dingin pada kakakku?

...Aku paham.

Mungkin kakak yang sekarang bukan lagi orang yang sama ketika dia menghajar ayah dulu.

Hari itu…. hari ketika kakak memukuli ayah.

Aku masih terlalu kecil.

Setelah itu, ayah berulang-ulang kali mengatakan bahwa, “Kakakmu juga sudah melalui masa-masa yang sulit”, namun aku tidak pernah memahaminya.

Tapi sekarang, terutama saat ini, aku sedikit mengerti apa yang dia rasakan.

Aku sudah berusaha keras di sekolah, namun semua orang tetap saja membandingkanku dengan kesempurnaan kakak.

Mungkin waktu itu kakak juga begitu. Dia sudah berusaha keras keluar dari Benua Iblis, namun ayah hanya menganggapnya main-main saja.

Tentu saja dia marah… tentu saja hatinya sakit….

Kalau kau sudah berusaha begitu keras, kemudian ada seseorang yang tidak menghargai usahamu… maka tentu saja kau ingin menghajar orang tersebut, meskipun dia adalah ayahmu sendiri.

Tapi, kalau memang itu yang terjadi…..

Apakah aku masih layak memasang muka di depan kakakku?

Apa yang kakak inginkan dariku?

Bagaimana reaksi kakak dan ayahku?

Berpikirlah.

Berpikirlah.

Perutku terasa sakit.

Seakan-akan hatiku teremas dengan kencang.

Aku menjadi mual.

Aku menghabiskan waktu demi waktu hanya dengan meringkuk di tempat tidur.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Bertemu dengan kakakku saja, aku tidak sanggup.

Pada saat seperti ini, ayah selalu datang untuk menyelamatkanku.

Ketika aku meringkuk di kasur karena terbebani oleh hal-hal yang menyakitkan, ayah selalu datang untuk menghampiriku dan menghiburku.

Ketika ayah tidak ada, Ruijerd lah yang menggantikan perannya.

Dia akan memangkuku, menepuk kepalaku, kemudian membicarakan berbagai hal yang bisa melipur lara di hatiku.

Di sini, aku tidak punya siapa-siapa.

Melissa-senpai telah banyak membantuku.

Namun, dia tidak sama seperti ayah ataupun Ruijerd-san.

“Kalau begitu, ayo kita temui kakakmu”, atau “Kau harus masuk kelas lagi.”

Dia mengatakan hal-hal seperti itu.

Aku tahu.

Tapi tubuhku menolak bergerak.

---

Bagian 5[edit]

Aku penasaran, sudah berapa lama aku galau seperti ini.

Berpikir, kelelahan, lalu tidur.

Begitu terus berulang-ulang……. tanpa terasa, sudah beberapa hari berlalu.

Aku duduk di sudut tempat tidur.

Ketika aku tersadar, tiba-tiba kakak sudah berada di hadapanku.

Dia duduk di kursi, sembari menempatkan sikunya di sandaran.

Lalu dia menatapku dengan tajam.

"Norn."

"Nii-san."

Untuk pertama kalinya, aku memanggilnya ‘nii-san’. [36]

Banyak hal muncul di kepalaku.

Namun, sepertinya ini bukanlah ilusi.

Bukankah ini asrama wanita?

Lantas, kenapa dia ada di sini?

Aku bingung.

Kakakku sedang menatap gadis yang kebingungan ini.

Selama beberapa saat, kami saling pandang tanpa mengucap sepatah kata pun.

Mungkin, inilah kali pertama aku benar-benar memandang wajah kakakku.

Dia tampak khawatir.

Wajahnya memang mirip seperti ayah.

Yaitu wajah yang selalu membuat pikiranku tenang.

Tentu saja, karena mereka adalah ayah dan anak.

"Norn, maafkan aku, sejak kau tinggal di asrama ini, kau selalu mendapat masalah, ya?"

Kakak mengatakannya dengan tenang.

"Aku, tidak tahu apa yang kau alami... Meskipun keadaan sudah menjadi seperti ini, aku masih tidak tahu harus berbuat apa."

Kakakku mengatakan itu dengan wajah gelisah.

Sosok yang terlihat persis seperti ayahku.

"..."

Setelah menyelesaikan kalimatnya, kakak sama sekali tidak bergerak.

Dia menatapku dengan begitu khawatir.

Namun, dia tidak bergerak seinchi pun dari tempat duduknya.

Andaikan dia ayah, pasti dia sudah memelukku tanpa ragu lagi,

Dan andaikan dia Ruijerd-san, mungkin dia sudah menepuk-nepuk kepalaku.

Namun, kakak tidak mendekatiku.

"Ah..."

Sepertinya……

…….aku mengerti mengapa dia tidak bergerak mendekatiku.

Dia takut aku menolaknya.

Ketika aku memikirkan itu, anehnya perasaan benci di hatiku perlahan sirna.

Perasaan benci dan takut terhadap kakakku yang tak pernah tercurahkan.

Sekarang, aku tidak lagi merasa takut.

Kakak seperti ayahku.

Kakak, pasti tidak akan memukulku.

Dan pastinya, dia tidak akan pernah lagi memukuli ayah.

"... Uuu ..."

Aku harus memaafkan kakakku.

"U ... hiks ..."

Tanpa kusadari, air mata sudah merembes di pipiku.

Tenggorokanku tersedu, dan aku mulai menangis.

"Maafkan aku, nii-san ... maafkan aku."

Kakakku mendekat dengan malu-malu, kemudian duduk di sampingku.

Lalu, dengan lembut, dia meletakkan tangannya di atas kepalaku, kemudian memelukku erat-erat.

Tangan kakakku terasa hangat, dadanya besar dan kokoh.

Dan, aroma tubuhnya persis seperti ayah.

Pada hari itu, aku pun menangis di pelukan kakakku sepanjang malam.

--- Sudut Pandang Rudeus ---

Pada akhirnya, aku tidak dapat melakukan apapun.

Dia tidak akan mengatakan apapun padaku.

Apa yang membuatnya tidak puas…. Apa yang membuatnya tidak nyaman…. Semuanya masih misteri….

Aku tidak mengerti perasaannya yang sebenarnya.

Norn terus menangis.

Ketika dia selesai menangis, dia hanya berbisik "Aku baik-baik saja sekarang".

Tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya, wajahnya sekarang tampak lebih segar.

Dia menatap mataku.

Dengan begitu tajam.

Ketika aku melihat itu, aku merasa lega.

Aku pikir semuanya akan baik-baik saja.

Karena itulah aku mempercayakan Sylphy untuk mengurus sisanya, lantas aku meninggalkan asrama wanita.

---

Bagian 6[edit]

Keesokan harinya, Norn menjadi ceria lagi.

Tapi, itu bukanlah perubahan yang terlihat jelas.

Saat dia melihatku di lorong sekolah, setidaknya dia berkata, “Nii-san, selamat pagi.”

Dia tidak banyak bicara, namun juga tidak mendekatiku.

Nampaknya pikiran Norn sudah lebih terbuka, dan itu jelas lebih baik daripada diriku yang sama sekali tidak berubah pada situasi ini.

Aku masih tidak bisa memahaminya.

Aku tidak bisa mengatakan apapun, dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Itu sungguh mengecewakan.

Tadinya kupikir, aku bisa memahami perasaan seorang Hikkikomori yang tidak berdaya melakukan apapun.

Tapi saat menghadapi Norn, hanya ini yang bisa kulakukan.

Mungkin,

Mungkin saja,

Norn sendirilah yang telah membuka perasaannya padaku.

Sehingga, dia bisa bangkit dari keterpurukan.

Itu berarti, dia adalah gadis yang luar biasa, karena pada kehidupan sebelumnya aku tidak pernah bisa melepaskan diri dari rantai depresi.

Paul dan Aisha mungkin mengira bahwa Norn tidak pandai mengerjakan berbagai hal.

Namun, aku tidak berpikir begitu.

Paling tidak, dia bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah bisa kulakukan pada kehidupanku sebelumnya.

Andaikan saja pada kehidupan sebelumnya aku bisa bangkit dari keterpurukan seperti Norn,

Akankah semuanya berubah?

Apakah aku bisa menghindari masa depan dimana kakakku menghajarku?

Aku tidak tahu.

Aku tidak tahu tentang kejadian di masa lalu.

Itu tidak sama dengan situasi yang saat ini kami hadapi.

Meskipun aku merasakan hal yang sama dengan Norn, belum tentu aku berani keluar kamar saat itu.

Reinkarnasi ke dunia lain, jika aku tidak bertemu dengan Roxy, mungkin aku tetap akan menjadi seorang Hikkikomori di dunia ini.

Kembali ke masa lalu adalah hal yang mustahil.

Masa lalu tidak akan berubah.

Hubungan dengan keluargaku yang memburuk tidak akan pernah kembali normal.

Kakak laki-lakiku akan tetap melihatku sebagai seorang pecundang.

... Namun, rasanya penghalang yang membuatku tidak bisa berbicara, sekarang telah lenyap.

Kalau saja Nanahoshi berhasil menemukan jalan pulang…….

Pada saat itu juga aku ingin mengirimkan sepucuk surat untuk abangku.

Jika kau pernah mengkhawatirkan adikmu yang tidak berguna ini, maka kuucapkan terimakasih padamu, aku sungguh ingin meminta maaf.

Bab 10: Keseharian Bersama Adik Perempuan[edit]

Bagian 1[edit]

Sebulan telah berlalu.

Musim pun telah berubah, sekarang suhu sudah mulai hangat.

Ini adalah musim panas keduaku semenjak datang ke kota ini.

Sebenarnya suhunya masih belum setinggi musim panas, tapi orang-orang sudah mulai mengenakan pakaian yang lebih ringan.

Para siswi dan para pelayan seperti Aisha mulai mengenakan pakaian lengan pendek, dan itu semakin menyejukkan pemandangan.

Ketika di rumah, Sylphy juga sering mengenakan kaos tanpa lengan.

Dia tidak punya pakaian ringan seperti itu, namun tempo hari dia membelinya.

Bagian tubuh Sylphy semakin jelas terekspose, dan itu adalah pemandangan yang indah bagiku.

Ketika melihat tubuh ramping Sylphy dan bahunya yang putih, secara spontan aku langsung ingin memeluknya.

Ini musim yang indah.

Di negeri ini tidak ada serangga hitam yang seenaknya datang ke rumah orang dan menetap di sana. [37]

Berbicara tentang makhluk hitam, belakangan ini aku jarang lihat Badigadi.

Aku penasaran ke mana orang itu pergi.

Bagian 2[edit]

Yahh, dalam sebulan terakhir, berbagai perubahan telah terjadi.

Pertama, Norn telah mendapatkan beberapa teman.

Bukan hanya teman cowok, dia juga mendapatkan teman cewek dari kelas yang berbeda, tempo hari aku tidak sengaja melihatnya sedang jalan dengan sekelompok pelajar yang terdiri dari 2 pria dan 3 wanita.

Seorang gadis berusia sekitar 10 tahun berbicara dengan cekikikan bersamanya.

Bagi Norn, mereka adalah teman-teman pertamanya.

Sebagai kakaknya, setidaknya aku ingin kenal dengan mereka.

Karena itulah, aku meminta Norn untuk membawa mereka ke rumah, tapi dia menolaknya.

Sepertinya agak memalukan ketika mengenalkan teman-teman pada keluarganya.

Apapun itu, nampaknya tidak ada yang aneh pada kehidupan sekolah Norn akhir-akhir ini.

Aku sedikit lega.

Hubungan antara Norn dan aku mulai berjalan dengan baik.

Salah satu perkembangan paling signifikan dalam hubungan kami adalah, tempo hari Norn bertanya padaku tentang pelajaran.

Aku sangat antusias menanggapinya.

Aku sempat berpikir akan mengajarinya semua jurus rahasiaku.

Tapi, kalau kalau terlalu antusias seperti itu, aku khawatir Aisha akan marah dan menganggapku pilih kasih lagi.

Sepulang sekolah, aku mengajarinya di perpustakaan.

Belajarnya berlangsung sekitar sejam.

Dia mengulas hal-hal yang dia pelajari sepanjang hari, dan mempersiapkan berbagai materi untuk besok.

Hanya itu sih, namun perubahan ini sudah cukup signifikan dalam hubungan kami.

Norn bekerja sangat keras, namun sayang sekali hasilnya kurang memuaskan.

Kurasa dia tidak tahu bagaimana cara menerapkan kemampuannya.

Meskipun begitu, dia tidaklah seburuk Eris dan Ghyslaine dalam hal pelajaran teoritis.

Jika dia memberikan yang terbaik, pasti tak lama lagi dia akan sejajar dengan murid-murid lainnya.

"Kalau diingat-ingat lagi, Ruijerd-san mengatakan bahwa kampung halamannya ada di Wilayah Babinosu, tapi Nii-san telah menjelajahi Benua Iblis, kan? Apakah kau tahu dimana tempatnya?”

"Hn? Tidak tahu. Tapi aku pernah mendengar bahwa tempat itu dekat dengan Wilayah Biegoya. Aku sih tidak pernah pergi ke sana."

Sembari belajar bersama Norn, kami mulai terbiasa ngobrol tentang berbagai hal.

Meskipun begitu, topik yang dibahas Norn kebanyakan tentang Ruijerd.

Apapun itu, yang penting pembicaraan kami nyambung, karena kami sama-sama kenal baik dengan Ruijerd.

Aku juga senang mendapat teman ngobrol tentang Ruijerd.

"Begitu ya ... Benua Iblis itu tempat macam apa sih?"

"Monster di sana besar-besar. Budayanya sangat berbeda dengan budaya manusia, tapi kurasa tidak terlalu berbeda dengan daerah di sekitar sini. Apapun itu, Benua Iblis adalah tempat tinggal untuk ras iblis seperti kampung halaman pada umumnya.”

Norn selalu berbicara padaku dengan santun.

Dia adalah adik perempuan yang perlu kuhormati.

Sedangkan, Aisha jarang menggunakan panggilan kehormatan ketika berbicara padaku, mungkin Norn melakukan ini untuk menjaga jarak tertentu denganku.

"Ah, nii-san, apa kamu pernah mendengar cerita tentang tombak milik Ruijerd-san?"

"Itu ya…. Itu adalah cerita yang dipenuhi air mata, kan?"

"Benar ... Apakah kita bisa melakukan sesuatu untuk membantunya?"

"...Ya."

Mungkin sudah saatnya aku memulai rencanaku itu ke tahap selanjutnya.

Bagian 3[edit]

Membuat patung ras Supard dan menjualnya bersamaan dengan satu set buku.

Rencana itu masih ada di benakku.

Namun, saat ini masih mustahil memproduksi patung secara massal karena Mana Julie belum cukup besar.

Akan tetapi, sepertinya ini adalah saat yang bagus untuk membuat patung prototype.

Mengenai buku tentang Ras Supard, satu-satunya kendala adalah kurangnya waktu menulis.

Tempo hari, aku sudah menguasai sihir penyembuhan tingkat lanjut dan sihir detoksifikasi tingkat menengah.

Namun, aku melakukannya dengan menghafal mantra, dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Aku bingung, apa yang harus kupelajari selanjutnya.

Kalau tidak ada hal lain yang ingin kupelajari, mungkin aku hanya akan mengambil kelas sihir detoksifikasi tingkat lanjut.

Mungkin aku akan coba mencari guru yang bisa mengajariku sihir angin dan api kelas Saint.

Ah tidak juga, sihir kelas Saint mengijinkan penggunanya memanipulasi cuaca, jadi hampir tidak ada orang yang ingin menggunakannya.

Tidak ada salahnya sih mempelajari sihir kelas Saint, namun aku lebih suka mempelajari sesuatu yang bisa digunakan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti berkuda ...

Setelah aku memikirkannya, akhirnya aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan.

Aku memutuskan meluangkan waktu untuk menulis.

Selain itu, aku juga menulis ketika belajar bersama Norn.

Sebuah buku yang berisikan masa lalu ras Supard secara jelas.

Aku bukanlah seorang penulis berbakat, namun setidaknya aku pasti bisa menulis jika belajar sedikit demi sedikit.

... Setidaknya, itulah yang kupikirkan…. Namun, ketika menulis sesuatu tentang kejadian masa lalu, aku tidak tahu apa yang sebaiknya kutulis.

Aku penasaran, apakah sebaiknya aku mengumpulkan sejumlah fakta sejarah, seperti gaya penulisan dokumenter?

Ataukah lebih baik menulis dengan gaya kisah, seperti ketika kau menulis buku diary.

Kata orang, lebih baik kau menulis sesuatu yang epik mulai halaman pertama.

Aku kira sekitar 10 halaman cukup.

Kemudian, kita akan mencetaknya seperti majalah, kita bendel bersama figur Ruijerd, dan mendistribusikannya.

Aku yakin, bahasa penulisan yang ringan lebih diminati oleh pembaca.

Mungkin, para pembaca akan suka cerita tentang ‘si baik’ Vs ‘si jahat’, sedangkan Laplace akan memainkan peran sebagai ‘si jahat’.

Ah tidak juga, bukankah sebagain orang di Benua Iblis masih menganggap Laplace sebagai pahlawan?

Kalau aku memberikan peran si jahat padanya, mungkin tulisanku akan mengundang kebencian dari sebagian kalangan.

"Nii-san, apa yang sedang kau lakukan?"

Sambil merenungkan ini dan itu, Norn tiba-tiba bertanya padaku.

"Ya, aku sedang berpikir untuk menulis buku tentang sisi positif ras Supard. Tapi, aku tidak tahu sebaiknya harus mulai dari mana."

"Fuu ... nn ..."

Sambil mengatakan itu, Norn melihat hasil pekerjaanku.

Naskah yang sedang kutulis berjudul, "Sejarah Konflik dan Penindasan Prajurit Ruijerd yang Agung”.

Aku masih menulis sekitar satu halaman, ini tentang garis besar prajurit legendaris bernama Ruijerd.

Karena aku cukup mengaguminya, maka seakan-akan Ruijerd kuagungkan sebagai orang suci di tulisanku.

"Apakah hanya segini?"

"Hmm, belum, masih ada lebih banyak lagi setelah ini."

Aku tidak tahu sebaiknya menulis dari mana.

Cerita tentang pertarungan selama Kampanye Laplace masih tersimpan di dalam kepalaku, aku juga sudah tahu tentang sejarah penganiayaan ras Supard.

Namun, karena aku sudah lama mendengarnya, entah kenapa sekarang aku sedikit lupa akan kisah itu.

Mungkin, sebaiknya kucatat pada sebuah memo?

"A-Apakah aku boleh membantu menulisnya?"

Norn bertanya dengan gugup.

Kemudian, Norn mengungkapkan beberapa hal padaku. Sepertinya, ketika dalam perjalanan ke sini, saat malam tiba, Rujierd biasa memangku Norn, mengusap-usap kepalanya, sembari menceritakan kisah masa lalu tentang ras Supard. Itulah kenapa Norn cukup memahami latar belakang Ruijerd.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Waktu kami bertualang bersama Eris dulu, Ruijerd gak pernah tuh memangku dan mengusap-usap kepalaku, apakah karena Norn adalah karakter Imouto? Ah, ini tidak adil!!

Tidak-tidak, bukan begitu.

"Wah, kau membantu sekali. Tapi jangan sampai mengganggu kegiatan belajarmu ya.”

"Ya."

Dengan demikian, Norn menulis buku bersamaku.

Sejak hari itu, di sela-sela belajar bersama Norn, kami berdua menulis buku tentang Ruijerd.

Tulisan kami begitu awam dan kasar.

Namun, anehnya… ketika aku membaca tulisan itu, aku langsung teringat pada Ruijrd, dan tanpa sadar aku menitihkan air mata.

Tulisan yang begitu menyentuh.

Mungkin saja Norn memiliki bakat sastra.

Ah, tidak juga… mungkin saja aku yang terlalu bego.

Namun, ketika kau menyukai sesuatu, kemudian menekuninya, maka lama-kelamaan kau akan mahir dalam bidang tersebut.

Kata orang sih begitu.

Menulis pun demikian, kalau dia menekuni bidang ini, maka bukannya tidak mungkin dia akan menjadi seorang penulis handal suatu saat nanti.

Sekarang, aku terus saja merevisi bagian-bagian yang penulisannya tidak tepat, dan aku juga mengawasi Norn setiap kali dia menulis naskahnya.

Tampaknya tulisan Norn bisa menghasilkan suatu karya yang jauh lebih menarik daripada tulisanku sendiri.

Bagian 4[edit]

Nah, ketika aku mulai dekat dengan Norn, suatu perubahan juga terjadi pada Aisha.

Meskipun kami sudah cukup akrab, tidak berarti Aisha juga akur dengan Norn.

Sama seperti biasanya, hubungan mereka tidaklah begitu baik; Aisha selalu saja meremehkan kakaknya itu, bahkan bertengkar dengannya. Namun akhir-akhir ini itu sudah jarang terjadi.

Akan tetapi, aku masih saja khawatir.

Mungkin ada sesuatu yang dipendam Aisha.

"Aisha, kalau ada sesuatu yang ingin kau katakan, maka katakan saja padaku, oke?"

Aku hanya bisa mengatakan itu.

Meskipun hubunganku dengan Norn semakin membaik, aku tidak punya niatan sedikit pun menjauhi Aisha.

"Hal yang ingin kukatakan?"

"Ya, misalnya kalau aku terlalu banyak memperhatikan Norn, dan kurang berinteraksi denganmu akhir-akhir ini. Atau mungkin kau ingin istirahat dari pekerjaanmu yang melelahkan. Atau mungkin kau ingin tidur seharian ... "

"Aku boleh mengutarakan apa yang kuinginkan?"

Aisha meletakkan jarinya di dagu, sambil memiringkan kepalanya dan mendengarkan perkataanku.

Dia terlihat manis saat melakukan itu.

"Benar, minta saja apapun yang kau mau. Kau tidak perlu sungkan."

"Apapun ... Kalau begitu, aku ingin suatu hal."

Aisha tertawa setengah menggoda.

Aku penasaran apa yang ingin dia minta.

Apakah dia menginginkan tubuhku?

Aku mengatakan bahwa aku akan mendengarkan apapun permintaannya, tapi aku tidak pernah bilang bisa mengabulkan segala keinginannya. Kalau aku menyatakan itu, dia pasti akan marah.

"Tolong beri aku upah kerja!"

Setelah mendengar kata-kata itu dari Aisha, aku merasa agak bingung.

"Upah ...?"

Kalau dipikir-pikir lagi, aku mempekerjakannya sebagai pelayan di rumah ini, dan aku sama sekali tidak membayarnya.

Namun, aneh rasanya membayar sejumlah uang pada keluarga sendiri.

Atau mungkin tidak….

Dengan kata lain, dia minta gaji bulanan, kan?

Karena telah bekerja sebagai pelayan dengan baik, maka berikan gaji padanya.

Pasti itulah maksudnya.

"Baiklah, aku mengerti."

Aku dengan senang menurutinya.

Namun, mengenai jumlahnya, kurasa kami bertiga harus duduk bersama untuk membahasnya.

Kami telah mempertimbangkan untuk memberi Aisha gaji yang besar, namun dia menolaknya.

Menolak karena jumlahnya terlalu banyak, apakah karena dia baru berusia 10 tahun?

Pada akhirnya, kami memberikan gaji yang tidak terlalu besar, dan tidak terlalu sedikit. Yahh, cukup lah.

Kami telah menetapkan gaji yang pantas untuknya.

"Memangnya ada barang yang ingin kau beli?"

Sekarang, aku mencoba bertanya apakah alasan di balik keinginannya itu.

Hanya untuk jaga-jaga saja kok.

Sejenius apapun Aisha, dia masihlah anak kecil, jadi pastilah ada barang yang ingin dia beli.

"Ada deh."

Namun, Aisha segera menjawabnya dengan cukup cepat.

Tapi dia tidak menyebutkan barangnya secara spesifik ...

Sudah kuduga dia akan mengatakan itu,

"Aku mengerti. Kalau begitu, ikutlah denganku saat aku pergi berbelanja nanti.”

Aku pun mengajaknya berbelanja bersama.

Ini adalah kencan.

Kencan bersama adik perempuanku.

Betapa indahnya kata-kata itu.

Tapi aku tidak lupa memberitahu Sylphy bahwa kami akan pergi berbelanja bersama.

Sekarang dia sedang libur, namun aku malah meninggalkannya dengan pergi berbelanja bersama Aisha.

Entah kenapa, aku jadi merasa sangat menyesal.

Tapi, karena aku berkencan dengan adikku sendiri, kurasa tidak masalah.

Aku tidak selingkuh, kan.

Namun, aku penasaran apa yang ingin Aisha beli.

Apakah dia ingin membeli sesuatu yang ekstrim, seperti budak laki-laki misalnya?

Aku tidak ingin berurusan dengan budak laki-laki.

Namun, sesekali rumah kami dikunjungi oleh seorang pria hitam, besar, kekar yang suka terbahak-bahak dan minta makanan.

Ah, tapi belakangan ini om itu jarang terlihat lagi.



Hari kencan pun tiba.

Tempat yang ingin Aisha tuju adalah toko biasa.

Itu adalah sebuah toko kecil di sudut pasar, yang menjual berbagai macam barang secara umum.

Ada banyak rak yang berjajar di toko itu, namun sepi pelanggan.

Toko itu memberi kesan seakan-akan barang-barang lama berserakan di mana-mana.

Di sana, Aisha membeli tiga pot bunga kecil.

"Buat apa pot itu? Apakah kau berencana menjatuhkan pot bunga pada kepala raja iblis yang tak sengaja lewat di depan rumah kita?”

"Tidak, aku hanya berencana menanam bunga, apa itu aneh?"

Aisha bertanya sembari melirikku dari bawah.

Aku pun segera menjawabnya.

"Tentu saja tidak."

Hanya saja, aku tidak bisa membayangkan gadis sejenius Aisha punya hobi yang begitu normal seperti menanam bunga.

Kupikir, dia lebih suka pekerjaan lain seperti membersihkan, menganggarkan dana, atau bahkan menghitung laba dan rugi.

Seperti itulah yang kubayangkan.

Berkebun adalah hobi yang bisa dinikmati oleh siapapun.

Percayalah bahwa kekuatan alam akan menumbuhkan tanamanmu dengan baik, kau hanya perlu merawatnya dengan perlahan dan hati-hati.

Tapi, bukankah orang jenius biasanya benci sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan rencana? Jadi, dia tidak akan percaya pada kekuatan alam yang akan menumbuhkan tanaman.

Ah tidak juga, beberapa orang cerdas juga senang pada sesuatu yang misterius. Jadi, mempercayai kekuatan alam bukanlah hal yang begitu buruk baginya.

"Kalau begitu, bukankah kita perlu membeli humus? Tanah di sekitar rumah kita tidak begitu subur, jadi tanamannya tidak bisa tumbuh dengan baik.”

"... Aku malah berpikir bahwa Onii-chan bisa membuat tanah yang subur dengan sihirnya, kemudian memberikannya padaku, apakah itu mungkin?”

Dia mengatakannya dengan melirik padaku.

Aku sudah menyiapkan jawabannya.

"Tentu saja bisa."

Karena aku laki-laki, aku sangat suka berkotor-kotor ria dengan mencangkul tanah dan menanam bijih tumbuhan.

Aku akan menyiapkan tanah yang amat subur untukmu sampai-sampai membuat Pohon Baobab tumbuh dari bijih Tulip. [38]

"Apakah kau sudah punya benihnya?"

"Dalam perjalanan, aku pernah mengumpulkan sejumlah benih.”

"Jika kau mendapatkannya dari alam liar, mungkin benihnya tidak akan bertunas, lho?"

"Hn? Gak papa sih."

Sementara kami mengobrol tentang tumbuhan, kami melihat barang-barang lain di dalam toko yang cocok untuk berkebun.

Aku juga membeli beberapa anting sebagai hadiah untuk Sylphy.

Itu adalah anting-anting berbentuk tetesan air mata yang dilengkapi dengan permata berwarna biru.

Aku yakin itu akan cocok dengannya.

"Apakah itu hadiah untuk Sylphy-ane?"

"Ya, aku begitu sayang istriku."

"Sylphy-ane memang beruntung memiliki suami sehebat Onii-chan, kalau kau punya waktu untukku, aku juga ingin dimanjakan oleh Onii-chan.”

Dia pun mengatakan itu sambil melirikku.

Tentu saja aku sudah menyiapkan tanggapan untuknya.

"Tidak mungkin, aku bisa dihajar oleh ayah.”

"Cheh ..."

Sambil membicarakan hal-hal seperti itu, kami membayar semuanya di kasir, kemudian kami pun meninggalkan toko itu.

Tujuan selanjutnya adalah toko kain.

Ada sejumlah besar kain tenun gulungan pada toko itu.

Aku membeli karpet untuk rumahku juga di toko ini, bahkan Ariel sendiri yang telah merekomendasikan toko ini karena kualitasnya.

Pilihan harganya juga bervariasi, toko ini tidak hanya membidik pelanggan menengah ke atas.

Tokonya pun sangat lapang.

Aku penasaran, dari mana Aisha menemukan informasi tentang toko semacam ini.

Di toko ini, Aisha membeli beberapa lembar gorden.

Itu adalah gorden berwarna merah muda yang dilengkapi dengan jumbai-jumbai, harganya pun agak mahal.

Aisha menawar harga serendah mungkin.

Dia bahkan menggunakan namaku dan Ariel untuk meyakinkan si pemilik toko agar memberikan harga murah.

Namun akhirnya, kami membelinya dengan harga yang cukup mahal.

"Kalau uangmu tidak cukup, aku bisa ikut patungan lho…"

"Hnn, tidak perlu, uangnya pas kok!!"

Akhirnya dia membeli gorden itu dengan seluruh sisa uang tabungannya.

Belanjaannya tepat seharga uang yang aku berikan sebagai gaji.

Mungkin inilah yang disebut naluri bisnis yang baik, oh aku merasakan sesuatu yang mengerikan dari anak ini.

"Kurasa, lebih baik kau menyisakan sedikit uang gajimu? Hanya jaga-jaga saja kalau ada pengeluaran ekstra."

Aku pun memberikan nasehat seperti itu.

Karena bagaimanapun juga, kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.

Misalnya, tiba-tiba diteleport ke Benua Iblis.

Sebenarnya, aku juga punya kebiasaan menyimpan sejumlah uang pada saku-saku bajuku.

Atau bahkan pada alas sepatuku.

"Lain kali aku akan melakukan itu!"

Akhirnya, dia membeli pot bunga dan gorden berwarna pink.

Dia memang jenius, tapi tetap saja seleranya Maid.

"Aku selalu menginginkan benda-benda imut ini."

"Lilia-san tidak pernah membelikannya untukmu?"

"Oka-san bilang ini tidak diijinkan. Katanya, seorang pelayan tidak diijinkan mempunyai selera dalam hal furnitur ... apakah memang tidak diperbolehkan?"

Aisha memang pintar memanfaatkan kebaikan orang lain, dia mengerikan.

Dia mengatakan itu sambil melirikku dan menempel pada pinggangku.

Namun aku sudah menyiapkan jawabannya.

"Tentu saja boleh."

Kalau saja aku orang asing, aku pasti sudah mengarungimu.

Sejak hari itu, ruangan Aisha mulai dipenuhi dengan benda-benda bertemakan Maid.

Sepertinya Aisha menyukai aksesoris seperti itu.

Ada bunga kecil yang dia tumbuhkan di dalam pot, ada juga boneka-boneka mungil seukuran kepalan tangan yang berjajar di rak.

Tanpa kusadari, sekarang dia membordir ujung celemeknya, dia pasti punya selera yang bagus dalam fashion.

Aku penasaran, apakah dia akan segera menjadi seorang Gal.

Onii-chan masih sedikit khawatir.

Mungkin saja tak hanya Aisha yang akan menjadi Gal, namun juga Norn.

Bagian 5[edit]

Nanahoshi juga telah meneruskan penelitiannya.

Eksperimen terakhir sukses memanggil botol plastik dari dunia lain.

Saat ini, botol plastik itu telah berubah fungsi menjadi vas, dan dia meletakkannya pada jendela ruang penelitian.

Setelah berhasil sampai sejauh ini, lantas dia memulai tahap penelitian selanjutnya.

"Selanjutnya, kita akan coba memanggil ‘material organik’ dari dunia kita sebelumnya.”

Nanahoshi menyatakan itu.

"Material organik?"

"Benar, enaknya sih makanan."

Nampaknya, setelah insiden kemaren, Nanahoshi semakin percaya padaku.

Dia membicarakan penelitian tahap selanjutnya bersamaku dengan cukup rinci, sebelumnya sih ini hampir tidak pernah terjadi.

Tahap pertama, memanggil material anorganik dari dunia lain.

Tahap kedua, memanggil material organik dari dunia lain.

Tahap ketiga, memanggil "Vegetasi" atau "Makhluk hidup" seperti "Hewan Kecil."

Tahap keempat, memanggil makhluk hidup dari dunia ini, “dengan syarat tertentu”.

Tahap kelima, atau tahap terakhir, yaitu mengirimkan makhluk panggilan tersebut “ke kondisi asalnya”.

Tentu saja, botol plastik itu bukanlah benda organik, sepertinya masih diperlukan penyesuaian lanjutan, meskipun itu hanya hal-hal sepele.

"Apa yang kau maksud ‘dengan syarat tertentu’?"

"Yahh, kalau aku dikirim ke tempat lain, tapi kemudian kesasar ke tempat yang tidak dikenal, akan repot juga, kan?”

Dengan kata lain, kelinci percobaannya terus di-upgrade sampai mendekati manusia, kemudian tujuan akhir dari penelitian ini adalah berteleport kembali ke Jepang.

Bisa dibilang, hanya itulah tujuan akhir dari eksperimen ini.

Kebetulan, pada eksperimen pemanggilan botol plastik kemaren, nampaknya tidak ada cacat pada obyeknya.

Namun, hasilnya belum tentu sama ketika diterapkan pada makhluk hidup.

Misalnya, jika kita ingin memanggil kucing dari dunia lain, maka bisa saja yang muncul macam, cheetah, jaguar, atau mungkin leopard. Karena semua termasuk keluarganya kucing. Jadi, obyek yang dipanggil harus lebih spesifik.

Meskipun sudah berhasil memanggil kucing, ada detail-detail lain yang perlu ada pada kucing tersebut. Misalnya, warna kucing tersebut harus hitam, atau putih, atau coklat, buntutnya harus panjang atau mungkin pendek, dll.

"Untuk meneliti syarat-syarat khusus ini, mungkin aku perlu bertemu dengan orang itu lagi.”

Sembari membahas berbagai hal, tiba-tiba Nanahoshi menyinggung seseorang.

Mungkin, yang dimaksud Nanahoshi adalah orang yang lebih mengerti tentang sihir pemanggilan.

"Seseorang… apakah maksudmu orang yang lebih memahami sihir pemanggilan?"

"Siapa lagi...?"

Nanahoshi meletakkan tangannya di rahang dan berpikir sebentar. Dia mengangguk-angguk sendiri, kemudian berkata “Yeah”, lantas menerangkan sesuatu padaku.

"Akan kujelaskan sedikit… Teknik pemanggilan di dunia ini dibagi menjadi 2 kategori. Pertama, teknik pemanggilan hewan mistis, kedua teknik pemanggilan roh.”

"Oh…….."

Tampaknya teknik pemanggilan hewan mistis berhubungan dengan pemanggilan monster.

Memanggil monster dengan kecerdasan tinggi tergantung pada formasi lingkaran sihirnya, kemudian mereka akan memberikan syarat tertentu yang harus kau penuhi untuk menjadikannya pelayan (Tsukkaima).

Tipe monster yang kau dapatkan tergantung pada seberapa mahir kau menguasai sihir pemanggilan.

Ada berbagai jenis hewan mistis yang bisa dipanggil.

Artinya, ada berbagai jenis monster dari dunia lain yang bisa menjadi Tsukkaima-mu, bahkan makhluk legendaris.

Tentu saja, itu tidak hanya terbatas pada makhluk hidup.

Sebenarnya, botol plastik yang berhasil kami panggil tempo hari tergolong jenis hewan mistis.

Tapi, kau juga bisa memanggil benda.

Kalau aku bisa menguasai sihir ini, maka aku akan memanggil sempak yang sedang digunakan Roxy!! Mungkin saja, kan?

Namun, memanggil roh memerlukan teknik yang berbeda.

Sebenarnya, kau menggunakan sejumlah Mana untuk membentuk makhluk yang bernama ‘roh’ tersebut.

Dengan kata lain, kau sendirilah yang menciptakan eksistensi itu.

Kalau dibandingkan dengan ilmu dari duniaku sebelumnya, sihir ini mirip seperti bahasa pemrograman.

"Tapi, jangan bilang siapa-siapa ya tentang hal ini."

"Mengapa?"

"Di masyarakat, konon katanya roh berasal dari Dunia Hampa [39], lantas mereka dipanggil ke dunia ini.”

Dengan kata lain, metode pemanggilan roh dianggap sama seperti pemanggilan hewan mistis.

Mengenai hewan mistis… pengendaliannya sulit, tapi mereka bergerak berdasarkan apa yang kau pikirkan, dan ketika kau sudah menguasai mereka, penggunaannya sangatlah mudah.

Sedangkan untuk roh… pengendaliannya mudah, namun mereka hanya bisa melakukan sesuatu yang telah kau “program” sebelumnya.

Tapi, jika kau bisa membuat program yang rumit pada suatu roh, maka mereka bisa bergerak layaknya manusia pada umumnya.

Tampaknya, Nanahoshi benar-benar menganggap roh sebagai hasil pemrograman.

Dan “orang itu” adalah seorang programer yang sangat handal.

"Aku paham sekarang."

"Ini sedikit OOT… tapi… nih, lingkaran sihir yang kau minta tempo hari.”

Sambil mengatakan itu, Nanahoshi memberikan segulung kertas padaku.

Suatu lingkaran sihir yang digambar dengan halus terlampir pada gulungan kertas tersebut

"Apa ini?"

"Ini adalah lingkaran sihir untuk memanggil roh cahaya."

Roh cahaya, bukankah itu tipe roh yang selalu beterbangan di sisi tuannya sembari memancarkan cahaya terang?

Dia bisa menuruti perintah sederhana seperti "sinari itu!!", tapi setelah beberapa waktu, Mana-nya akan terkuras kemudian dia lenyap.

Sepertinya itu adalah tipe roh yang rapuh.

Tampaknya, semakin banyak Mana yang kau alirkan pada rohmu, maka semakin lama dia bertahan.

Namun, itu biasa-biasa saja sih.

Maksudku, aku tetap menghargai hadiah yang diberikan Nanahoshi karena aku telah membantu menyukseskan eksperimen sebelumnya, tapi ...

"Lingkaran sihir itu adalah benda yang tidak pernah dipakai oleh siapapun pada Akademi Sihir ini, benda itu asli berasal dari orang yang kusebutkan tadi."

"Oh, jadi begitu ya?"

Jadi, ini adalah rare item [40] dong.

"Kalau eksperimen tahap kedua ini berhasil, aku akan memberimu benda yang lebih menakjubkan. Jadi, mohon bantuannya.”

Sambil mengatakan itu, Nanahoshi menggenggam kedua tangannya.

Ah, lama tak melihat pose seperti itu. [41]

Tentu saja, aku membantu Nanahoshi bukan karena imbalan.

"Kau mungkin bisa menggunakan sihir bumimu untuk menciptakan benda seperti stempel kentang [42], sehingga kita bisa membuat lingkaran sihir secara massal. Jika kau membawa lingkaran-lingkaran sihir itu ke Guild Sihir, mungkin kau bisa menjualnya dengan harga yang cukup tinggi.”

"Menjualnya, katamu? Aku gak akan kena tuntutan hak cipta nih?"

"Tidak apa-apa, toh penciptanya bukanlah orang berpikiran sempit yang marah karena hal sepele seperti ini.”

Stempel kentang ya……

Aku penasaran apakah tidak apa-apa jika lingkaran sihir tidak ditulis tangan.

"Tapi, kalau kau menjualnya ke Guild Sihir, jangan lupa sertakan namaku. Itu akan membuatmu terhindar dari segala bentuk penipuan.”

"Aku mengerti."

Dengan demikian, aku mendapat salah satu sumber pemasukan finansial.

Namun, aku tak mengira bahwa roh di dunia ini bisa dimanipulasi manusia.

Entah kenapa, aku punya perasaan bahwa ini berkaitan dengan penelitian yang sedang Zanoba kerjakan.

Jika kita menggabungkannya, mungkin kita bisa menciptakan robot yang bisa merangkak atau semacamnya.

Imajinasiku semakin meluas.

"Ah, benar juga…. Kalau kita memanggil benda anorganik dari dunia lain, bisakah kita memanggil benda yang berguna?”

Tiba-tiba suatu ide terlintas di pikiranku, lantas aku pun menanyakannya.

Kemudian, Nanahoshi menggelengkan kepalanya.

"Bedasarkan penelitian sebelumnya, kita hanya bisa memanggil benda yang terdiri dari suatu material tunggal. Karena hanya botol plastik yang berhasil kita panggil, aku kira biasnya masih terlalu besar.”

Satu jenis material.

Botol plastik yang kami panggil kemaren tidak mempunyai tutup ataupun plastik merk.

Tapi, jika syarat-syarat khusus itu berhasil kita terapkan, kemungkinan besar kita bisa memanggil komponen-komponen secara terpisah, kemudian kita satukan semuanya.

"Lagian, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, jika kita terlalu banyak memanggil sesuatu dari dunia lain ke dunia ini, maka itu akan berujung pada kekacauan di kemudian hari nanti.”

Itu akan berdampak pada perubahan sejarah atau semacamnya ya.

"Tapi, menurutku kau terlalu mengkhawatirkannya."

"Kalau kau memang berpikir begitu, ya coba saja nanti, tapi aku tidak mau ikut bertanggung jawab.”

Dingin sekali.

Yah, apa boleh buat.

Bagian 6[edit]

Berbicara tentang Zanoba.

Suatu hari, dia akhirnya berhasil menyelesaikan figure Naga Merah.

Tidak begitu mirip dengan naga merah yang pernah kulihat, tapi sudut pembingkaiannya sudah cukup keren, jadi ini adalah patung yang bagus.

Dia menghabiskan waktu cukup lama membuat itu, tapi Julie merasa puas.

Dia bukanlah anak yang sering tertawa. Aku mengangkatnya, kemudian memintanya melihat figure itu dari atas, lantas dia pun berkata “Oh….!”, dengan kagum. Beberapa figure terlihat biasa-biasa saja, namun ketika kau mengamatinya dari sudut yang tepat, maka akan terlihat lebih mengagumkan.

"Tuan! Master! Terima kasih banyak!"

Julie berkata dengan agak canggung, namun akhirnya dia menundukkan kepala dengan santun.

"Humu, mulai sekarang, bekerjalah lebih giat… oke?"

Zanoba mengangguk dengan lebay.

Bagus sekali.

Julie juga mengangguk dengan gembira sekali lagi.

"Ya!"

Yang jelas, bahasa manusia Julie sudah semakin lancar.

Mungkin itu bukan karena cara mengajarku yang bagus, melainkan Ginger sering kali memperbaiki cara bicaranya setiap kali melakukan kesalahan.

Jika kau membenarkan setiap kata saat melakukan kesalahan, maka kau akan belajar bahasa dengan lebih cepat.

"Bukankah itu bagus, Julie? Pastikan kau merawatnya dengan baik."

"Aku juga mengucapkan terimakasihku pada Ginger-sama."

Ginger selalu berjaga di sudut ruangan, dia membawakan minum untuk Zanoba dan menerima tamu-tamu yang datang.

Kalau tidak salah, dia menyewa kamar apartemen di dekat sekolahan, jadi dia setiap hari tinggal di sana.

Sebenarnya masih ada satu kamar kosong di sebelah ruangan Zanoba, tapi dia menolak menggunakannya karena menganggapnya terlalu terhormat tinggal di samping sang pangeran.

Alih-alih seorang kesatria, dia lebih mirip seperti selirnya.

Atau mungkin, dia terlalu memuja pangerannya itu.

Jangan-jangan, kalau Zanoba meminta nyawanya, dia dengan senang hati merobek isi perutnya.

"Ada apa?"

"Aku hanya penasaran, mengapa Ginger-san bersumpah setia pada Zanoba."

Tiba-tiba saja aku ingin menanyakan hal seperti itu, kemudian Ginger mengangguk seakan berkata, ”Terimakasih telah bertanya.”

"Ibu Zanoba-sama secara personal meminta padaku untuk melayani Zanoba-sama. Sejak saat itu, aku bersumpah setia padanya. Aku akan melayani Zanoba-sama dengan segenap raga dan jiwaku.”

"Oh, itu sungguh cerita yang indah ... lantas?"

"Lantas? Sudah… itu saja…"

Itu saja? Dan itu sudah cukup membuatmu menjaga sumpah setia itu sampai akhir hayatmu?

Mungkin, memang seperti itulah makna sebuah sumpah bagai seorang ksatria.

Jika kau mampu maka jagalah sumpah itu sampai akhir hayat, jika tidak mampu, lepaskan sumpah tersebut sejak awal.

Tidak, tunggu dulu……..

Kalau kuingat-ingat lagi, sepertinya aku pernah membaca ini pada suatu Manga jadul.

Cerita tentang masyarakat feodalistik yang terdiri dari orang-orang sadis dan masokis yang tak terhitung jumlahnya.

Aku penasaran, apakah Ginger adalah seorang masokis.

Setelah berpikir seperti itu, tampaknya aku sedikit memahaminya.

Meskipun begitu, aku tidak yakin itu adalah cerita yang menyenangkan.

Bagian 7[edit]

Beberapa kemajuan juga terlihat pada penelitian Cliff.

Sepertinya, dia berhasil menyelesaikan prototype alat sihir pertama yang bisa menekan efek kutukan.

Cliff menceritakan temuannya itu padaku dengan cukup bangga.

"Alat ini bisa mengirimkan Mana dari luar untuk menyeimbangkan Mana dari dalam tubuh. Sebenarnya alat ini tidak cukup sakti untuk menekan kutukan, namun setidaknya, alat ini bisa membatasi efek kutukan tersebut sampai beberapa kali lipat.”

Tampaknya alat itu bisa menyelaraskan Mana dari luar dan dari dalam tubuh, kemudian bisa melemahkan efek kutukan dalam tubuh Elinalise.

Dia pun menerangkan cara kerja alat itu dengan cukup rumit.

Karena aku bukan orang teoritis seperti Cliff, jadi aku iya-kan saja lah.

Namun, tampaknya masih mustahil menangkal efek kutukan sepenuhnya.

"Tapi, ada dua masalah."

Sambil mengatakan itu, Cliff akhirnya menunjukkan wujud alat temuannya padaku.

Dia mengeluarkan semacam Mawashi yang terlihat seperti popok. [43]

"Ah, aku tahu…. Bentuknya sangat memalukan, kan?"

"Benar, aku tidak tega meminta Lize mengenakan benda seperti ini."

Tampaknya Cliff dan Elinalize memperdebatkan hal ini.

Elinalize mengatakan bahwa dia tidak peduli dengan bentuk alat sihirnya, tapi Cliff tetap bersikeras bahwa benda ini tidak pantas dia kenakan.

Sepertinya Cliff sangat terganggu jika pacarnya mengenakan benda yang tampak memalukan seperti ini.

Aku lega karena Cliff juga mempertimbangkan segi estetika.

Namun, mereka berdamai kembali setelah hanya bertengkar semalaman.

Dasar pasangan bego.

"Berkat kerjasama penelitian dengan Zanoba dan Silent, aku berhasil membuat versi lebih kecil. Namun efektifitas alat ini masih harus dikembangkan lagi. Serahkan saja itu pada orang jenius sepertiku, itu bukanlah urusan yang sulit.”

Jadi, dia berusaha memperkecil ukuran sempak ajaib itu.

Kenapa bentuknya harus sempak?

Mudah saja…. Karena kutukan Elinalise berpusat pada organ kewanitaannya, yang membuat nafsu sex-nya terus berkobar. Jadi, cara kerja alat ini adalah, memasangnya pada bagian tubuh yang menderita efek kutukan.

Aku tidak tahu sampai seberapa jauh dia bisa mengecilkan ukurannya, tapi jika dia berhasil merubahnya menjadi seperti sarung tangan, maka Zanoba pun pasti akan bersedia memakainya.

Ingat, kekuatan Zanoba juga berasal dari efek kutukan, sehingga dia disebut Miko. Efek kutukan tersebut membuatnya menjadi manusia super kuat yang bisa menghancurkan apapun tanpa sengaja.

Jika Zanoba bisa memakainya dalam bentuk sarung tangan, maka dia bisa melemahkan kekuatannya, sehingga bisa membuat patung dengan halus.

Ah, mungkin juga tidak… karena sejak awal sifat Zanoba sangatlah ceroboh, jadi meskipun efek kutukannya melemah, dia tetap saja akan merusak patung-patung itu.

"Lantas, masalah kedua apa?"

Setelah aku tanyakan itu, Cliff menunjukkan ekspresi suram di wajahnya.

"Itulah alasan kenapa aku memanggilmu ke sini, Rudeus."

"Oh."

"Sebenarnya, alat ini mengonsumsi jumlah Mana yang cukup besar.”

Mengonsumsi Mana.

Alat sihir diaktifkan saat pengguna mengirimkan Mana ke dalamnya.

Kalau alat sihir menyedot Mana terlalu besar, maka alat tersebut tidak praktis lagi.

Alat sihir yang ideal adalah alat sihir yang mengonsumsi Mana tidak terlalu besar, sehingga tidak menyulitkan penggunanya dan bisa dipakai setiap saat.

Terlepas dari seberapa besar kapasitas Mana Elinalise, Cliff saja hanya bisa menggunakan alat ini selama sejam.

"Aku ingin kau membantuku dalam penelitian ini. Alat sihir ini masih akan terus kukembangkan sedikit demi sedikit. Karena hanya kita berdua yang akan mengetesnya, maka kita akan membatasi jumlah pengujian dalam sehari.”

“Aku paham sekarang, serahkan saja padaku.”

Cliff tidak hanya menyebut dirinya sendiri jenius, namun kapasitas Mana dalam tubuhnya juga tidak sedikit.

Namun, tampaknya Mana-nya masih kurang untuk pengujian alat ini.

Sehingga, sekarang giliranku untuk membantunya.

Dengan demikian, sejak hari ini aku membantu penelitian Cliff.

Untungnya, alat sihir ini tidak memiliki efek menekan hasrat seksual, kecuali jika nafsumu berasal dari efek kutukan seperti Elinalise.

Bagian 8[edit]

Belakangan ini, aku menjalani hidupku dengan cukup baik.

Bangun di pagi hari untuk latihan.

Sarapan.

Pergi ke sekolah, bertemu Zanoba, bertemu Cliff,

Mendengarkan laporan progres penelitian, sesekali mengutarakan saran.

Setelah makan siang, bertemu dengan Nanahoshi dan membantu eksperimennya,

Sepulang sekolah, aku membantu Norn belajar selama sekitar satu jam.

Dalam perjalanan pulang, aku berbelanja bersama Sylphy,

Setelah kembali ke rumah, bertemu dengan Aisha,

Mandi bersama Sylphy, kami bertiga makan malam bersama.

Kemudian, berlatih sihir bersama istri tercinta sambil ngobrol tentang ini-dan-itu.

Setelah menemani Aisha tidur, aku berjuang bersama Sylphy untuk bikin anak.

Kemudian tertidur nyenak, sembari menggunakan tubuh Sylphy sebagai bantal.

Tidak banyak perbedaan setiap harinya, dan kami terus melangkah maju seraya menjalani kehidupan sehari-hari.

Kurasa, gaya hidup seperti inilah yang orang-orang sebut “kebahagiaan”.

Ini adalah hal yang belum pernah kudapatkan pada kehidupan pertamaku.

Beberapa tahun lagi, ketika Paul kembali bersama Zenith, aku yakin kehidupanku akan semakin bahagia.

Bab 11: Titik Balik 3[edit]

Bagian 1[edit]

Insiden ini terjadi pada suatu hari tertentu.

Di pagi hari, seperti biasa, aku berlatih setelah bangun tidur.

Aku belum melihat Badigadi, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Orang itu memang aneh.

Yah, kalau dia memang ada perlu, ya mau bagaimana lagi, kita tidak bisa mencampuri urusan pribadinya.

... Setidaknya itulah yang disampaikan Elinalise, tapi aku yakin tidak ada hal yang serius.

Setelah berlatih, aku kembali ke rumah. Entah kenapa, aku mendapati Aisha dan Sylphy sedang menungguku dengan wajah serius.

Setelah melihat aku kembali, tatapan mata keduanya terpaku padaku.

"...Ah."

"Rudi ..."

Ini ada apa ya?

Apakah ada masalah, atau mungkin telah terjadi sesuatu yang serius.

Aku merasa sedikit tidak nyaman.

"Umm, awawawa, akhirnya jadi begini… entah kenapa, ini membuatku sedikit takut."

Sementara Sylphy menggaruk bagian belakang telinganya, dia tersenyum tipis.

"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Lihatlah, Sylphy-ane, kumpulkan keberanianmu!"

Setelah ditekan oleh Aisha, Sylphy melangkah ke arahku.

Dengan gelisah, dia meletakkan kedua tangannya di dada, kemudian dia menatapku dengan wajah merona.

Lalu dia meletakkan tangannya di atas perut.

Dia mengatakannya.

"Umm, Rudi, aku ... dua bulan terakhir ini, aku telat."

Telat apa?

Apakah aku pernah menyuruhnya pergi ke suatu tempat?

"Kemudian, aku menyadari bahwa kondisi fisikku sedikit memburuk belakangan ini.”

Aku terpaku pada perut Sylphy.

Itu adalah perut ramping.

Tidak mungkin.

Tidak, tidak mungkin.

"An ... begini lho…. Kemaren…. Aisha memintaku untuk periksa ke dokter kandungan…. Tapi… kemudian sang doktor mengucapkan selamat padaku….”

"...Ooo..."

Suaraku gemetar.

Tanganku gemetar juga.

Bahkan kakiku gemetar.

Selamat.

Bukankah itu berarti dia sedang mengandung?

Ini bukan mimpi, kan?

Aku akan coba mencubit pipiku. Aduh. Ini bukan mimpi.

Aku menelan ludah dalam-dalam.

Aku paham, ternyata memang bukan mimpi.

Jadi, maksudnya telat datang bulan, kan?

Kau selalu bisa melakukan apapun jika kau mencobanya.

Itulah prinsipku.

Kau boleh bilang, semuanya sudah berjalan sesuai apa yang telah kami rencanakan sebelumnya.

Orang bilang Elf susah mengandung, jadi kehamilan Sylphy ini terbilang cepat, aku pun sedikit bingung.

"Umm, Rudi ... bagaimana menurutmu?"

Sylphy menanyakan itu dengan gelisah.

Aku juga bingung harus menjawab apa.

Aku bingung, karena ini terlalu mendadak.

"B-Bolehkah aku menyentuhnya?"

"Eh? T-tentu saja boleh."

Aku membelai perut Sylphy yang ramping.

Sensasi yang sama seperti tiap kali aku mengelusnya.

Pinggang yang ramping, sedikit lemak, dan perut yang kencang.

Setelah menyentuhnya, jariku merasakan sensasi hangat dan lembut.

Ya, memang benar perutnya sedikit lebih besar daripada biasanya. Kurasa begitu…..

Ah, tidak… mungkin hanya imajinasiku saja, itu bukanlah sesuatu yang bisa kau ketahui hanya dengan menyentuhnya saja.

"Aku mengerti, jadi di dalam sini, ada anakku ..."

Setelah mengutarakan itu, rasanya sesuatu yang menyendat di dalam tenggorokanku keluar.

Ada sesuatu yang bergejolak.

Apa ini.

Aku ingin berteriak.

Aku punya anak

Aku berhasil membuat anak.

Seakan-akan ini tidak nyata.

Namun, apapun itu, aku bahagia sekarang.

Ah tidak, kata ‘bahagia’ tidak cukup untuk menerangkan perasaanku sekarang.

Apa ini, apa ini ...

"Onii-sama, bukankah ada sesuatu yang harus kau katakan pada Nyonya?"

Setelah mendengar kata-kata Aisha, aku kembali tersadar.

"Eh?"

Sesuatu yang harus dikatakan.

Aku penasaran apa itu.

Selamat?

Tidak, bukan begitu.

Terima kasih.

Ya, benar, terima kasih.

"Sylphy, terima kasih."

"Eh, terima kasih?"

Sylphy tersenyum pahit.

Bukan itu ya?

Lalu, perkataan apa yang pantas untuknya saat ini?

Kalau diingat-ingat lagi, waktu itu apa yang dikatakan Paul pada Zenith saat mengandung Norn?

“Kau berhasil.”

“Kita berhasil.”

Atau semacamnya….

Dasar, kenapa orang itu harus menggunakan kata-kata yang dingin seperti itu.

Apakah menurutnya kehamilan adalah sesuatu yang bergantung pada usaha si wanita saja?

Yahh… Paul sih memang begitu orangnya.

... Kehamilan

Sylphy sedang hamil.

Wanita imut berambut pendek ini telah mengandung anakku.

Anakku.

Memikirkannya saja, sudah cukup untuk membuatku kehilangan kata.

Entah kenapa, tiba-tiba air mata menetes di pipiku.

"Maaf, entah kenapa… entah kenapa… aku tidak bisa mengatakannya dengan benar. Sylphy..."

"... Wa ... Rudi?"

Aku memeluk Sylphy.

Mushoku11 06.jpg

Aku mengangkat tubuh ringannya, dan aku ingin memutarnya di udara.

Tidak boleh…tidak boleh… jangan berbuat sembrono pada ibu hamil.

Lembut… aku harus memperlakukannya dengan lembut.

Tindakan ceroboh sedikit saja bisa berdampak buruk bagi kandungan.

"... Fufu, Rudi, kau selalu bilang ingin punya anak, kan…."

Sylphy meletakkan tangannya di punggungku dan menepuknya.

Setelah memeluknya erat-erat, aku melepaskan tubuhnya.

Mataku terpaku pada Sylphy.

Bayanganku sendiri tercermin pada mata bulat itu.

Di sana, aku melihat seorang pria payah yang berlinang air mata.

Sylphy segera menutup matanya.

Sambil membelai kepalanya, aku mencium bibirnya.

Sensasi lembut bibirnya.

Inilah cinta.

“Ehemmm….”

Aku kembali tersadar setelah Aisha berdeham.

Tanpa kusadari, tanganku sudah meraba dada dan pantat Sylphy.

"Onii-sama, mulai sekarang tolong kendalikan nafsumu, karena kau bisa mengganggu kesehatan ibu hamil.”

Gawat, gawat.

Selama periode hamil, lebih baik aku tidak mendekati Sylphy.

Tak peduli seberapa besar rasa cintaku padanya, sebaiknya aku tidak mendekatinya.

Ah, tapi setidaknya masih ada selang waktu dua bulan, jadi aku masih punya waktu untuk bermain-main dengan Sylphy… Ah, tidak, tidak… aku harus menahan diri.

"Ya tentu saja."

Aku akan menahan nafsuku.

Aisha tiba-tiba tertawa dan mengangkat ujung roknya.

"Karena begitu, selama Nyonya mengandung, aku akan menjadi pasanganmu."

"Jangan mengigau di pagi hari."

Aisha menundukkan kepalanya dengan lesu.

Aku sih senang aja kau mau denganku, tapi entah kenapa aku tidak merasakan hasrat seksual terhadapmu.

Namun, aku tidak merasa salah mendekati adik perempuanku sendiri.

Ya, gak masalah lah.

Toh, aku tidak ingin melakukan apapun yang berujung pecahnya keharmonisan keluarga kami.

"Kalau begitu, Onii-sama, setelah ini aku akan pergi untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada Ariel-sama, kemudian kembali lagi ke rumah. Nyonya, lebih baik Anda mengambil cuti bekerja.”

Aisha mengatakannya dengan wajah senang.

Jika dia hamil, maka dia tidak bisa menjaga sang putri.

Pastinya, akan lebih baik jika ia cuti.

"Tidak, biar aku yang menghadap Tuan Putri. Kurasa, akan lebih baik jika aku sendiri yang menyampaikannya secara langsung."

"Ha ... Onii-chan, bukankah lebih baik kau tinggal di rumah bersama Sylphy-ane, dan membicarakan berbagai hal tentang rencana ke depannya?"

Aisha mengatakannya sambil mendesah seakan kecapekan.

Membicarakan berbagai hal.

Aku paham, mulai sekarang, ada banyak hal yang perlu kami persiapkan untuk kelahiran si bayi.

"Sudahlah, serahkan saja padaku, aku akan segera pulang kalau urusannya sudah selesai."

"Ya, aku mengandalkanmu."

Aisha pun pergi, Sylphy dan aku tetap di rumah.

Bagian 2[edit]

Sekarang aku sedang duduk di sofa sejajar dengan Sylphy.

Dengan gugup, aku meraih tangan Sylphy, dan dia balik meremas tanganku.

Lalu dia menyandarkan tubuhnya padaku.

"..."

"..."

Aku tidak tahu harus bicara apa.

“Tanggung jawab”, kata-kata itu terngiang di kepalaku, namun aku memang sudah menikahi Sylphy.

"Sylphy….."

"Ada apa, Rudi?"

"Aku yakin kedepannya tidak akan mudah, jadi mohon kerjasamanya ya.”

"Yeah, serahkan saja padaku."

Sylphy tertawa terbahak-bahak, kemudian meletakkan kepalanya di atas pangkuanku.

Aku membelai kepala Sylphy dengan tanganku yang lainnya.

Aku meraba bagian belakang telinganya, dan…….

"Hei Rudi."

"Ya?"

"Mana yang lebih baik menurutmu? Anak laki-laki atau perempuan?"

Tiba-tiba ditanyai begitu, aku pun bingung.

Benar juga, ada anak cowok dan cewek.

"Itu bukanlah hal yang bisa kita tetapkan, bukan?"

Setelah kukatakan itu, Sylphy tertawa dengan malu-malu.

Seorang anak laki-laki atau perempuan.

Aku penasaran mana yang lebih baik.

Aku penasaran mana yang akan lahir.

Untuk meneruskan peran sebagai pemimpin keluarga, kurasa akan lebih baik jika anak pertamaku cowok.

Tidak, keluargaku bukanlah keluarga samurai.

Sepertinya tidak masalah jika pemimpin keluarga selanjutnya adalah wanita.

Lagipula harta bendaku tidaklah terlalu banyak.

Ah tidak, lebih baik jangan berpikir terlalu jauh.

Anak laki-laki atau perempuan.

Kalau di kehidupan sebelumnya, tanpa ragu lagi aku pasti akan menjawab anak perempuan.

Dengan pikiran sekotor jamban, aku akan mengambil gambar pertumbuhan anak perempuanku setiap tahunnya.

Betapa bodohnya aku dulu.

Namun, sekarang juga sama sih.

Selama itu anak yang energik, aku tidak keberatan.

"Tapi… kau tahu, Rudi, entah kenapa aku merasa sedikit lega."

"Mengapa?"

"Dengan begini, akhirnya aku merasa menjadi istri Rudi seutuhnya.”

"..."

Aku rasa, tak peduli di dunia manapun, seorang istri sudah menyelesaikan tugas mulianya setelah melahirkan anak.

Tampaknya Sylphy juga begitu, selama ini dia menanggung kecemasan tidak bisa mengandung, tapi nyatanya dia cukup cepat mengandung untuk seukuran Elf.

Karena memang sifat Elf yang sulit mengandung.

Tentu saja, kekhawatiran semacam itu tidak ada gunanya.

"Tapi, setelah ini Rudi harus menahannya, kan…”

"Itu tidak masalah bagiku."

Inilah tanggung jawab alami seorang ayah.

Aku berbeda dari Paul.

"Jika aku selingkuh pada wanita lain selama kau mengandung… maka marahlah sepuasnya padaku.”

"... Aku tidak akan marah, tapi mungkin aku merasa sedikit kesepian."

Apakah merasa kesepian bisa menyelesaikan permasalahan selingkuh?

Tidak… tentu saja tidak…

Yakinlah aku tidak akan mengkhianatimu. Coba berpikirlah secara logis.

Pikirkanlah dengan sejernih mungkin.

"Kalau ada pria lain yang menyentuh Sylphy, tentu aku akan marah."

Setelah mengatakan itu, Sylphy tertawa dengan, "Nfufu".

Senyuman itu hanya ditunjukkan padaku.

Aku senang.

Untuk beberapa saat, kami melewati waktu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Bagian 3[edit]

Sore hari, Aisha kembali bersama Norn.

"S ... Selamat, Sylphy-san."

"Yeah, terima kasih, Norn-chan."

Setelah menghadap Sylphy, Norn dengan cepat menundukkan kepalanya.

Sylphy hanya meringis sambil tertawa kecil, kemudian dia membelai kepalanya.

Norn terlihat sedikit tersenyum ketika kepalanya dibelai.

Itu berarti, dia merasa nyaman ketika kepalanya dibelai.

Aku penasaran, apakah dia memang menyukainya?

Yah, apapun itu, syukurlah mereka bisa akur.

"Semuanya… sebenarnya hari ini aku berencana berkeliling untuk menyampaikan kabar gembira ini pada siapapun, tapi akhirnya kuputuskan untuk melakukannya besok saja.”

Aisha mengatakan itu pada kami dengan tak acuh.

Sepertinya dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama keluarga hari ini.

Jadi, dia kembali bersama Norn.

Tapi aku tak ingat pernah menyuruhnya membawa Norn.

Yah, gak papa sih.

Tapi, berkeliling sembari menyampaikan kabar gembira ini pada orang-orang sangatlah memalukan.

Lebih baik kami merahasiakan ini selama beberapa hari.

"Aku memberitahu Ariel-sama, bahwa Nyonya perlu istirahat setidaknya selama dua tahun. Aku juga telah meminta dispensasi dari sekolah. Untungnya, Nenek Elinalise-sama bersedia menggantikan peran Nyonya untuk menjaga Tuan Putri.”

"Aku penasaran, apakah itu tidak mengganggu nenek? Misalnya, tentang kutukan itu ... "

"Dia bilang, dia pasti bisa mengatasinya, jadi jangan mengkhawatirkannya."

Elinalise juga pandai mengontrol diri, bagaimanapun juga Cliff sudah menemukam sempak ajaib.

Aku yakin tidak ada masalah.

Lagipula, kalau dia sudah gak kuat nahan nafsunya, ada banyak tempat di sekolah ini yang bisa dia gunakan, seperti ruang kelas yang kosong, gudang olahraga, atau bahkan saat kelas berlangsung.

Beberapa hari setelahnya, Aisha benar-benar menyampaikan kabar gembira ini pada rekan-rekanku di sekolah.

"Lima hari lagi, Zanoba-sama akan datang untuk makan malam bersama. Kita harus mempersiapkan banyak hal. Sedangkan sepuluh hari lagi, giliran Ariel-sama yang akan datang ke sini pada malam hari. Ketika aku bertanya, apakah kami perlu mempersiapkan kamar untuk menginap, dia bilang tidak perlu. Sepertinya, Cliff-sama dan Nenek Elinalise-sama akan datang bersama Ariel-sama. Rinia-sama dan Pursena-sama juga akan berkunjung setelahnya. Selanjutnya, Nanahoshi-sama akan datang ke sini juga untuk memberikan selamat, namun waktunya masih belum pasti. Badigadi-sama masih belum bisa ditemukan, namun aku sudah meninggalkan pesan untuknya.”

Dia mengatakan semua itu dengan nada datar.

Mirip sekali seperti sekretaris.

Aisha memang luar biasa.

"Aku mengerti, terima kasih atas kerja kerasmu, Aisha."

"Ya, Onii-sama."

Setelah mengatakan itu, Aisha mendengus dengan bunyi "fufun" saat melihat Norn.

Norn menatap Aisha seakan tersinggung.

Sepertinya Aisha ingin menunjukkan keunggulannya, jadi dia selalu bersikap baik di hadapanku.

Faktanya, mereka adalah saudara kandung beda ibu.

Aku sudah mengatakan bahwa fakta tersebut bukanlah masalah, dan aku akan tetap memperlakukan mereka dengan seadil-adilnya.

Aku tahu kedua gadis ini sering berselisih mengenai hal-hal yang tidak ada gunanya.

Mereka pernah mengatakan bahwa berkelahi adalah bukti kedekatan seseorang, aku sih gak masalah selama mereka bersaing dengan bersih dan tidak menyebabkan perang dingin.

Dan ketika berkelahi, mereka juga tak pernah mengatakan ejekan-ejekan yang kasar, jadi kurasa tidak masalah untuk saat ini.

"Kalau anak kalian lahir di saat Oto-san pulang, aku yakin dia akan terkejut.”

"Oto-san!"

Setelah mengatakan itu, wajah Norn tiba-tiba menjadi cerah.

Norn adalah anak papa.

Aku yakin, dia pernah berkata bahwa mimpinya di masa depan adalah menikahi ayahnya sendiri. [44]

"Wajah Oto-san yang terkejut, aku ingin melihatnya!"

"Yeah, orang itu pasti akan menjadi kakek yang sangat menyayangi cucunya. Aku yakin dia akan bersyukur sekali atas kelahiran anak kami. Saat Norn dan Aisha lahir, dia pun menjadi deredere.” [45]

Setelah mengatakan itu, Aisha dan Norn tiba-tiba merasa malu.

Kayaknya salah deh, membicarakan sesuatu yang tidak pernah mereka ingat sebelumnya.

"Aku sangat menantikan itu, nii-san."

Setelah mendengar perkataan Norn itu, kami pun tersenyum.

Sylphy dan aku menikah.

Paul, Zenith dan Lilia di sini.

Kemudian, kedua adik perempuanku juga ada di sini.

Kehidupan sempurna seperti yang pernah kami miliki di Desa Buina, nampaknya mimpi itu sudah berada dekat di depan kami.

Bagian 4[edit]

---

Berita buruknya tiba dua bulan setelah itu.

Surat ekspres darurat dikirim, tanggal yang ada pada surat itu dicap setengah tahun yang lalu.

Nama pengirimnya adalah Gisu.

Sifat dari surat darurat adalah, isinya sangat singkat.

"Kesulitan menyelamatkan Zenith, meminta bantuan."

Begitu aku melihat kata-kata itu, segala sesuatu di depan mataku menjadi putih bersih.

---

Pada saat aku menyadarinya, aku berada di sebuah ruangan putih bersih.

Tubuhku kembali ke sosok Otaku tua dan gemuk.

Kemudian, aku merasa nyawaku terpecah belah menjadi serpihan.

Aku terfokus pada makhluk menjengkelkan di hadapanku.

Ya, makhluk itu ada di sana.

Dia lah yang selalu tersenyum di balik mosaik, siapa lagi kalau bukan Hitogami.

"Yo!"

Hei, apa-apa’an ini?

"Apa maksudmu?"

Surat itu

Surat dari Gisu.

Di sana tertulis : "Kesulitan menyelamatkan Zenith, meminta bantuan."

Apa artinya.

"Apa lagi? Yah, aku yakin itu sulit.”

Kau!

Kau sendiri yang bilang kan!!

Jika aku pergi ke Benua Begaritto, aku akan menyesalinya!

Apa-apa’an itu?

Apakah kamu menipuku!?

"Aku tidak menipumu. Jika kau pergi ke Benua Begaritto, maka kau akan menyesalinya. Itu masih belum berubah, bahkan sampai sekarang. "

Ah, begitu.

Aku mengerti.

Dengan kata lain… ah, benar juga… inilah yang ingin kau katakan.

Jika kau pergi ke Benua Begaritto, maka kau akan menyesalinya.

Tapi, jika kau tidak pergi, maka kau juga akan menyesalinya, begitu kan maksudmu…….

"Bukan begitu. Gini deh… apakah sampai detik ini kau pernah menyesali keputusanmu bersekolah di Akademi Sihir? Di sini kau mendapat banyak teman, lho. Kau bertemu dengan berbagai macam orang, bahkan kemampuanmu semakin berkembang. Kau juga sudah menyembuhkan penyakitmu, dan hubunganmu dengan kedua adik perempuanmu juga telah membaik. Apalagi, kau sudah menikah dan sebentar lagi dikaruniai anak.”

... Tentu saja itu tidak buruk, sama sekali tidak buruk.

Tapi kau sudah tahu sejak awal!

Karena kaulah yang mengatakannya!

Kau bilang bahwa lebih baik aku tidak pergi ke Benua Begaritto!

Kamu menipuku!

"Aku tidak menipumu. Bahkan, aku ke sini hanya untuk mengatakan hal yang sama sekali lagi. Lebih baik kau tidak pergi ke Benua Begaritto. Kau akan menyesalinya nanti."

Tapi… tapi.

Keluargaku dalam masalah.

Tolong, setidaknya katakan alasannya.

"Aku tidak bisa mengatakannya."

Sial...

Yahh… kau selalu seperti ini.

"Hay, itu tidak sopan. Padahal aku selalu menolongmu lewat nasehat-nasehatku.”

Kau memang sudah menolongku, namun kau juga sudah menipuku. Keduanya berbeda.

Hei, setidaknya ceritakan sesuatu tentang itu.

Kenapa aku akan menyesal jika aku pergi ke sana?

Jika seperti ini, maka aku tidak bisa mempertimbangkan keputusan apa yang akan kubuat.

"Orang biasa tidak akan mendapatkan petunjuk untuk membuat keputusan, lho. Kau itu spesial.”

Spesial atau tidak, terserah….

Yang jelas, aku tidak ingin menyesali keputusanku kelak.

"Jika kau memikirkannya lagi, aku yakin kau akan mengerti. Kau telah menghabiskan satu setengah tahun bersekolah di Akademi Sihir. Sedangkan adik-adikmu menghabiskan waktu setahun dalam perjalanan menuju ke sini. Tidak ada yang salah, kan?”

Tidak.

Paul dan keluarganya membaca surat yang pernah kukirim, sehingga mereka tahu bahwa aku sudah menetap di sini. Paul pikir, ini adalah tempat yang cukup aman, itulah kenapa dia mengirimkan Aisha dan Norn ke sini.

Kalau aku tidak mengirimkan surat tersebut, mungkin mereka masih menetap di Milis atau salah satu kota pelabuhan.

"Kalau kau tidak mengirim surat itu, Paul akan mengirimkan putri-putrinya ke Kerajaan Asura, karena di sana ada keluarganya Lilia.”

... aku paham sekarang

Sekarang aku mengerti.

"Bahkan sekarang pun keadaannya sama saja, jika kau pergi menuju Benua Begaritto, maka apa yang akan terjadi dengan Sylphy dan anakmu? Mungkin kau bisa menuju Benua Begaritto, kemudian kembali dengan selamat. Namun, apakah kau akan meninggalkan Sylphy sendirian selama itu?”

Jadi maksudmu, pilihan manapun yang akan kuambil, semuanya hanya akan berakhir dengan penyesalan?

"Bisa jadi begitu, kau tidak akan bisa menghindarinya. Jika kau pergi ke Benua Begaritto, kau akan kehilangan suatu kesempatan yang besar. Itulah kenapa, sebaiknya kau tidak pergi ke sana."

Cheh ...

Kalau kau berkata begitu, maka pilihan yang tersisa bagiku hanyalah penyesalan.

Aku mengerti.

"Kalau begitu, maukah kau mendengarkan saranku selanjutnya?"

Ya, sekarang, katakan padaku.

"Uhuk….Rudeus, bersiaplah pada musim kawin ras hewan selanjutnya. Rinia dan Pursena akan datang mendekatimu. Buatlah hubungan dengan salah satu di antaranya. Jika kau melakukan itu, aku yakin hidupmu akan semakin bahagia.”

Hei, kenapa tiba-tiba kau menyuruhku selingkuh?!!

Aku sudah bersumpah setia pada Sylphy, tahu!!

Hubunganku dengan Rinia dan Pursena bukan seperti itu!

Aku yakin ... aku yakin ... aku yakin.

Bersamaan dengan gema suara itu, kesadaranku pun memudar.

Bagian 5[edit]

Aku bangun.

Sylphy menatap wajahku dengan prihatin.

Aku mendapati tubuhku sedang terbaring di tempat tidur.

"Ah, Rudi, apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau mengalami mimpi buruk."

"Ya..."

Apa sih yang terjadi setelah aku membaca surat dari Gisu itu? Ahhh, aku tak ingat.

Aku tidak ingat dengan baik.

Yang jelas, aku tercengang setelah membacanya.

Mungkin karena belakangan ini hidupku damai-damai saja, jadi ketika muncul suatu kabar tidak menyenangkan, aku langsung syok.

Surat dari Gisu.

Permohonan bantuan.

Pasti telah terjadi sesuatu.

Namun, Hitogami sudah memberiku saran.

Meskipun aku berangkat sekarang, tetap saja semuanya akan berakhir dengan penyesalan.

Mungkin pendapat ini terlalu optimis, tapi bisa saja Gisu mengirim surat itu karena terlalu panik.

Benar, toh pengirimnya bukanlah Paul, melainkan Gisu.

Itu hanyalah pemula, si monyet bajingan.

Aku penasaran, mengapa dia mengirimkan surat seperti itu padaku.

Itu karena Paul bilang dia akan mencari Zenith.

Bahkan Paul tidak pernah menyebut nama Gisu pada suratnya.

Mungkin saja Gisu ikutan mencari Zenith atas inisiatifnya sendiri.

Tanggal surat itu dikirim adalah setengah tahun yang lalu.

Mungkin, dia mengirim surat itu sebelum bertemu dengan Paul dan yang lainnya.

Mungkin dia begitu putus asa ketika mengirim surat ini.

Atau…. Bisa saja dia mengirimkan surat yang sama pada Paul.

Kemudian, dia bertemu dengan Paul, dan keadaan bisa lebih terkendali… mungkin itulah yang terjadi.

Tapi…….Semuanya masihlah "mungkin saja".

Aku penasaran, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Karena posisiku saat ini begitu jauh dari mereka, maka aku tidak bisa menduga secara pasti.

Di sini, aku masih tertahan oleh Sylphy dan kandungannya.

Untuk sampai ke Benua Begaritto, tidak peduli seberapa cepat aku menuju ke sana, setidaknya perjalanannya menghabiskan waktu setahun.

Aku harus melalui jalan yang pernah kulewati menuju kota pelabuhan East Port.

Oleh karena itu, mungkin aku bisa menghemat lebih banyak waktu.

Tapi, meskipun aku berhasil memangkas waktu berangkat ke sana menjadi setengah tahun, waktu yang kubutuhkan secara total sampai pulang kembali ke Ranoa adalah setahun.

Mustahil lebih cepat daripada itu.

Dan aku tidak mungkin meninggalkan Sylphy yang tengah hamil muda.

"Sudah kuduga…. Ini karena surat itu, kan…."

"..."

Aku tidak bisa menjawab

Aku telah berjanji untuk selalu berada di sisi Sylphy.

Tidak mungkin aku meninggalkannya secara tiba-tiba.

Aku telah berjanji.

Apakah aku harus meninggalkan pesan untuk Sylphy, dan berharap dia mau mengerti posisiku saat ini?

Ataukah aku harus berdiskusi dengannya untuk mencari jalan terbaik?

Apapun itu….aku tetap akan meninggalkannya, dan itu akan sangat menyakitkan bagiku.

"Hei, Rudi…. Jangan pernah menjadikanku beban… tidak masalah jika kau harus pergi sekarang, kan ada Aisha-chan di sini bersamaku.”

Sylphy mengatakan itu seakan-akan sambil menahan sakit.

Tidak mungkin dia baik-baik saja jika kutinggal pergi.

Bahkan, ini adalah pertama kalinya dia mengandung.

Perutnya semakin membesar setiap harinya.

Menaiki tangga rumah pun semakin sulit.

Mungkin saja aku kembali tinggal nama.

Dia pasti akan terus mengkhawatirkan hal semacam itu.

"... Aku tidak akan pergi, aku akan terus bersamamu, Sylphy."

Setelah kukatakan itu, wajah Sylphy justru terlihat semakin galau.

Kata-kata Hitogami terngiang di kepala aku.

Pada akhirnya, apapun yang kupilih, hasilnya adalah penyesalan.

Kata-kata itu yang membuatku semakin terbebani.

Bagian 6[edit]

Tiga hari sudah berlalu.

Sylphy, Aisha, dan Norn…semuanya terlihat gelisah.

Aku sudah menyatakan bahwa aku tidak akan pergi ke Benua Begaritto.

Namun, apakah ini benar-benar yang terbaik bagi kami? Aku tidak pernah tahu jawabannya.

Aku tidak bisa membedakan mana pilihan yang baik, mana yang buruk.

Aku memang sudah menyatakan untuk tidak pergi, tapi sejujurnya aku masih ragu.

Aku tidak tahu harus membicarakan ini dengan siapa.

Sedangkan, Elinalise mengatakan….

"Kurasa pilihanmu sudah benar, lebih baik kau tidak pergi ke sana."

Kau…..

Dari kata-kata itu, aku mengerti maksud Elinalise sebenarnya.

"Elinalise-san, mungkinkah… justru kau yang berencana pergi?"

"Rudeus, Sylphy adalah cucuku, maka mohon izinkanlah aku membantu demi cucuku itu.”

Tampaknya, surat dari Gisu juga terkirim ke tempat Elinalise.

Namun, dia bilang dia akan pergi.

Itu berarti, dia akan meninggalkan beberapa tugasnya di sini.

"Lantas, bagaimana dengan tugas mengawal Putri Ariel?"

"Di lingkungan sekolah ini hampir tidak ada bahaya. Mempekerjakan pengawal di dalam lingkungan sekolah adalah hal yang bodoh.”

Tidak peduli seberapa rendah tingkat bahayanya, jika terjadi sesuatu yang buruk, maka nyawanya akan terancam.

Ah, tidak juga… aku sih setuju dengan Elinalise. Hanya Ariel satu-satunya orang yang berpikir demikian.

Niat Elinalise sangatlah baik, jadi tidak ada alasan menahannya pergi.

"Terus, bagaimana dengan Cliff?"

"Tentu saja aku akan berpisah darinya. Mungkin itu bisa menyebabkan dia membenciku… kalau memang itu terjadi, ya mau bagaimana lagi.”

"Mengapa kau tidak menjelaskan keadaannya kepadanya? Jika kau menjelaskannya dengan baik, aku yakin dia akan mengerti."

Elinalise tersenyum senyap.

Jarang dia tersenyum seperti itu.

Itu adalah senyuman seseorang yang kesepian.

“Cliff adalah anak yang polos. Dia punya bakat dan masa depannya juga cerah. Dia berpotensi menjadi seorang Paus di masa depan kelak. Cintanya terhadapku hanyalah salah satu bentuk kenakalan anak muda…. Jika kami harus berpisah, mungkin inilah yang terbaik baginya.”

Menyedihkan sekali kau, Cliff.

Doktrin ajaran Milis adalah mencintai seseorang untuk selamanya.

Jika, Elinalise lenyap, mungkin kepercayaan Cliff akan terguncang.

Dia orang yang teguh, namun kalau kepercayaannya hilang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.

"Dan juga……."

Pada akhirnya, Elinalise mengatakan ini…..

"… Aku lah yang memintamu untuk berdiam di sini. Di sini, kau juga punya tanggung jawab besar sebagai ayah yang melindungi keturunanku. Jadi, biarkan aku membalas budi baikmu. Serahkan saja ini padaku, dan tunggulah kami pulang dengan tenang. Sebagai gantinya, di saat kami pulang nanti, tunjukkanlah padakku seorang bayi yang bersemangat.”

Itulah kata-kata terakhirnya yang menutup perbincangan kami.

Sepertinya Elinalise sudah mengukuhkan harapannya.

Bagian 7[edit]

Aku juga membicarakan ini dengan Zanoba.

Bahkan setelah mendengarkan ceritaku, ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali.

"Kalau Shisho sih… aku yakin kau bisa menyelesaikan urusan ini dengan cepat, kemudian lekas kembali ke Ranoa.”

Dia mengatakan itu dengan tak acuh.

"Aku hanya akan menunggu di sini, melanjutkan penelitianku, sembari berharap kau kembali secepat mungkin.”

"Aku tadinya menduga bahwa kau akan melarangku pergi… kalau pun kau mengijinkanku pergi, kupikir kau ingin ikut bersamaku.”

Sebelumnya, saat kami berpisah di Shirone, dia menghalangiku pergi sembari merengek.

Tadinya, kupikir dia juga akan melakukan itu.

Namun, Zanoba justru mengatakan sebaliknya.

"Kalau Shisho menginginkan rekan untuk pergi ke sana, tentu saja aku tidak akan menolaknya… tapi nyatanya, aku tidak terbiasa berpetualang, jadi aku hanya akan merepotkan Shisho nantinya.”

Sekilas, Zanoba menatap Julie.

"Aku pun tidak bisa membawanya dalam perjalanan jauh."

Julie masih kecil.

Sebetulnya dia bisa meninggalkannya di sini bersama Ginger.

Tapi, itu berarti penelitiannya akan tertunda.

Jika dia ikut bersamaku ke Benua Begaritto, mungkin kami akan dihadang oleh monster-monster berbahaya, dan itu memaksa Zanoba menggunakan Mana-nya sampai tetes terakhir, yang mana itu sangatlah berbahaya.

"Zanoba ... aku hanya ingin bertanya padamu sekali lagi… haruskah aku pergi?"

"Hanya Shisho sendiri lah yang bisa menentukan jawabannya."

Aku sendiri lah yang harus memutuskan.

Bagaimanapun juga, perkataan itu terdengar seperti dorongan untuk menyuruhku pergi.

Padahal aku ingin mendengar pendapatnya.

Lalu, tiba-tiba Zanoba mengatakan ini…...

"Tapi Shisho…. Ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu sebelum kau memutuskan semuanya."

"Hn?"

"Meskipun sang ayah tidak berada di sampingnya, bayimu akan tetap lahir. Kalau kau masih saja mengkhawatirkan keluargamu, maka lebih baik kau pergi, biarkan aku yang bertanggung jawab atas keselamatan istri dan anakmu di sini.”

Ada perasaan yang bercampur aduk di balik perkataan Zanoba itu.

Aku paham.

Seorang raja juga tidak pernah mengawasi kehamilan istri dan selir-selirnya, karena baginya tugas negara jauh lebih penting.

"Tentu saja, aku selalu ingin berada di dekat Shisho."

"Aku mengerti ... terima kasih Zanoba."

Sylphy tidak sendiri.

Aisha dan Ariel ada di sini, dan masih banyak lainnya.

Dia tidak sendiri.

Dia tidak pernah kesepian.

Bagian 8[edit]

Haruskah aku pergi ke Benua Begaritto?

Atau haruskah aku tetap di sini?

Elinalise mengatakan bahwa dia akan pergi, dan yang perlu kulakukan hanyalah menunggu.

Zanoba mengatakan bahwa dia akan mengurus semuanya di sini, sehingga aku tidak punya beban untuk pergi ke sana.

Aku bingung, apa yang harus kulakukan.

Kurasa aku harus pergi.

Apa yang dikatakan Zanoba benar.

Jika sang ibu sehat, pastinya si cabang bayi akan lahir secara normal.

Tak peduli, apakah sang ayah ada di sisinya ataukah tidak.

Ah tidak, bukan itu masalahnya.

Karena aku bukanlah raja yang harus melaksanakan tugas negara.

Sudah diputuskan bahwa lebih baik sang ayah ada di dekatnya sampai dia lahir.

Sylphy mengatakan padaku untuk tidak mengkhawatirkan dirinya, namun karena ini adalah pertama kalinya dia mengandung, pasti dia merasa tidak nyaman bila sang suami tidak berada di dekatnya.

Dalam hatinya, dia pasti menangis dan menjerit agar aku tidak meninggalkannya.

Lagipula, aku sudah pernah bilang bahwa aku sangat menginginkan anak dari rahimnya.

Jika berbicara tentang seberapa banyak anak yang kuinginkan, aku sendiri juga tidak tahu jawabannya.

Tapi, Sylphy benar-benar mengabulkan harapanku dengan benih yang terkandung di perutnya.

Dia sedang hamil, sedangkan aku malah meninggalkannya.

Bukankah itu namanya pengkhianatan?

Namun, sampai sekarang aku masih merasa berhutang pada Paul dan yang lainnya.

Aku pun merasa bersalah kalau mendahulukan kepentingan pribadiku.

Sejak awal, harusnya aku pergi ke Benua Begaritto untuk menyelamatkan Zenith, namun aku malah menetap di sini dengan tujuan menyembuhkan penyakit kelaminku.

Saat itu, aku lebih mengutamakan urusanku di atas kepentingan keluarga, lantas saat ini pun, apakah aku masih berhak menggunakan alasan yang sama untuk tidak pergi menyelamatkan Zenith?

... aku tidak tahu

Tapi, mungkin benar kata Hitogami…. Tak peduli manapun yang kupilih, sepertinya ujung-ujungnya hanyalah penyesalan.

Bagian 9[edit]

Aku masih bingung, namun waktu terus berjalan sampai hari keempat.

Hari-hari dimana aku tidak bisa tidur nyenyak terus berlanjut.

Di pagi hari, aku sama sekali tidak semangat melakukan latihan, dan aku melintasi gerbang sekolah dengan pikiran hampa layaknya zombie.

Di kota ini, musim panas pun terasa sangat dingin.

Apalagi di pagi hari, hawanya terasa lebih dingin.

Dengan pikiran hampa, aku melihat matahari terbit di pagi hari.

"...?!"

Tiba-tiba, aku mendengar suara dari belakang.

Setelah berbalik, pintu gerbang terbuka.

Yang berdiri di sana adalah Norn.

Di bahunya, dia menenteng tas besar yang pernah kugunakan selama menjadi petualang.

Tas itu terisi penuh, sehingga terkesan dia hendak menempuh perjalanan jauh.

Namun, karena usianya baru sepuluh tahun, lebih terlihat dia hendak piknik.

"..."

Aku menatapnya dalam diam.

Norn menghindari tatapanku dengan ekspresi canggung di wajahnya.

Wajahnya terlihat seperti orang yang habis dikerjai dalam acara humor.

"Mau ke mana?"

"..."

Norn tidak membalas.

Aku bertanya sekali lagi.

"Mau ke mana, Norn?"

Norn menatapku, kemudian dia membuka mulutnya setelah memutuskan apa yang harus dia katakan.

"Jika ni ... nii-san tidak pergi, maka…. Aku saja yang pergi."

Aku menatapnya dengan serius selama beberapa saat.

Pergi…pergi lah ke Benua Begaritto… seakan-akan itu yang dia sampaikan melalui tatapan matanya.

Aku melihat Norn sekali lagi.

Norn masih kecil.

Terlalu kecil

Dia masih berumur sepuluh tahun.

"..."

Bahkan barang bawaan sebanyak itu tidak cukup sebagai bekal jika dia benar-benar berencana pergi ke sana.

Sepertinya dia punya cukup uang, tapi aku penasaran apakah dia bisa menggunakannya.

Apakah dia tahu rutenya?

Apakah dia punya cara untuk menghindari bahaya?

Jika dia meninggalkan kota ini, bukankah dia akan segera diculik oleh para penjahat?

"Norn, kau tidak mungkin melakukan itu."

"Tapi, nii-san ... oto-san dan oka-san sedang mengalami kesulitan!?”

Norn menatapku dengan mata penuh air yang menggenang.

"Kenapa….. kenapa nii-san tidak mau menyelamatkan mereka !?"

Mengapa.

Itu karena anakku akan lahir.

Aku punya keluarga.

"Nii-san, padahal nii-san sangat kuat, padahal nii-san mampu menyeberangi Benua Iblis!! Tapi mengapa!!??”

Aku mampu pergi ke sana.

Aku juga pernah menjadi petualang selama lima tahun.

Aku memiliki cukup banyak pengetahuan dan pengalaman.

Mungkin aku bukanlah petualang terbaik, namun aku juga bukan petualang yang buruk.

Bahkan tanpa Ruijerd, sekarang harusnya aku bisa menakhlukkan Benua Iblis seorang diri.

"..."

Betul.

Aku bisa melakukannya.

Ini tidak ada hubungannya dengan pilihanku.

Lihatlah Norn, dia tetap ingin pergi meskipun dia tidak mampu.

Namun aku berbeda darinya, karena aku punya kemampuan itu.

Aku mampu pergi ke Benua Begaritto, dan pulang dengan selamat.

Karena alasan itulah Gisu mengirimkan surat itu padaku.

Hanya akulah yang dia maksud.

"... Norn, aku mengerti."

"Ni….. nii-san ...?"

Ada banyak orang yang membantuku merawat Sylphy.

Namun, hanya akulah yang bisa membantu Paul, Zenith, dan yang lainnya.

Hanya aku seorang.

Aku akan pergi ke Benua Begaritto dan melanjutkan perjalanan ke Kota Dungeon Lapan.

Akulah orang yang bisa mengatasi masalah yang terjadi di sana.

"Aku akan pergi Norn, bisakah aku menyerahkan urusan keluargaku padamu?”

Wajah Norn tiba-tiba bersinar.

Kemudian, dia segera menutup bibirnya rapat-rapat.

Dia mengangguk dengan wajah serius.

"Ya."

"Jangan bertengkar dengan Aisha dan tolong bantu Sylphy."

"...Ya!"

"Baiklah, gadis baik."

Aku merasa bahwa aku akan melakukan sesuatu yang buruk pada Sylphy…….

………..Dan juga pada anakku yang akan lahir.

Mungkin dia sudah bosan dengan semua janjiku.

Tidak.

Itu salah.

Aku melakukannya karena aku percaya.

"Aku akan pergi ke Benua Begaritto."

Di sana, aku akan menyelamatkan keluargaku.

Baiklah, aku sudah memutuskannya.

Cerita Selingan: Mempertajam Taring[edit]

Bagian 1[edit]

Daratan Suci Pedang. Dari sana, jika kau berjalan ke utara selama sekitar satu jam, kau akan tiba pada semenanjung tanpa nama. Di sana berdiri seorang gadis yang sedang berlatih mengayunkan pedang. Dia tidak sedang mempraktekkan Teknik Dewa Pedang, ataupun teknik-teknik lainnya, dia hanya berlatih mengayunkan pedang biasa. Nama gadis itu adalah Eris Greyrat.

"..."

Eris Greyrat sedang mengayunkan pedangnya. Dia seorang diri berdiri di sana.

Dia benar-benar mengosongkan pikirannya. [46]

Sia-sia saja bila berlatih ayun pedang sembari memikirkan hal-hal yang tak perlu.

Sia-sia saja bila berlatih ayun pedang sambil menirukan orang lain.

Selama kau mengayunkan pedang dengan pikiran kosong, maka tiap ayunannya akan mempertajam dirimu sendiri.

Sedikit demi sedikit, meskipun perbedaannya hanya setipis kulit ari, namun kamu terus mempertajam dan menguatkan dirimu.

Tapi, seberapa lama kau akan menumpuk lapisan-lapisan tipis itu?

Berapa lama kau harus melakukan ini sampai menandingi level Orsted?

Eris tidak tahu.

Tak seorang pun tahu.


Seakan-akan, setebal apapun lapisan tersebut kau tumpuk, kau tidak akan mencapai level Orsted.

Tapi, seperti itulah salah satu contoh ‘pemikiran yang tidak perlu’.

"... Cih."

Eris mendecakkan lidahnya, menggelengkan kepalanya, lalu dia duduk. Dia pun mulai berpikir.

Ini adalah sesuatu yang merepotkan. Dia ingin mengalahkan Orsted. Semakin dia memikirkan itu, maka Orsted seakan semakin menjauh.

Dulu, Shisho-nya Eris, atau yang lebih dikenal dengan Ghyslaine, pernah mengatakan ini;

“Berpikir”

katanya.

Namun, berpikir bukanlah salah satu keahlian Eris. Tak peduli sebanyak apapun dia berpikir, dia tak pernah menemukan jawabannya.

Sehubungan dengan ini, Shisho keduanya, atau yang lebih dikenal sebagai Ruijerd, pernah mengatakan padanya:

“Paham?”

Ketika dia mengalahkan Eris dalam suatu latihan, Ruijerd akan mengakhiri pertandingan itu dengan bertanya: “Paham?” , dia akan terus mengulanginya lagi, lagi, dan lagi sampai Eris paham. Meskipun otaknya tidak berputar, Eris tetap akan bangkit lagi dan terus mencoba.

Eris menghormati Ghyslaine. Dia juga menghormati Ruijerd. Pelajaran dari Dewa Pedang hanya membuatnya kesal, oleh karena itu, dia hanya memahami pelajaran yang pernah diberikan oleh guru-guru yang dia hormati.

Dia terus mengayunkan pedangnya dengan pikiran kosong. Dia akan mengayunkan pedangnya sampai dia lelah, kemudian dia duduk dan beristirahat sambil berpikir. Lalu saat dia sudah bosan memikirkannya, dia akan berdiri lagi dan terus mengayunkan pedangnya.

Inilah yang diperintahkan oleh Dewa Pedang pada Eris. Eris terus mengayunkan pedangnya seperti yang diperintahkan gurunya itu, kalau capek, dia akan duduk, kalau sudah tidak capek, dia kembali mengayunkan pedangnya, kalau capek, dia akan duduk, kalau sudah tidak capek, dia kembali mengayunkan pedangnya, kalau capek, dia akan duduk, kalau sudah tidak capek, dia kembali mengayunkan pedangnya…. Begitu seterusnya…. Kalau dia lapar, dia akan makan sesuatu, kalau sudah kenyang, dia akan kembali mengayunkan pedangnya… dan…. Ya seperti tadi…

Dia pernah berlatih seperti ini di Dojo, namun selalu saja ada orang yang mengganggunya.

Kebanyakan, orang yang mengganggunya adalah murid-murid cewek.

Misalnya, mereka akan mengatakan:

“Hei, kau ikutlah dengan pertunjukan pedang kami di pagi hari.”

“Hei, makanannya sudah siap tuh…. Cepat makanlah.”

“Hei, berlatihlah denganku sebentar.”

“Hei, kau bau banget… cepat mandi sana!”

Karena mereka semakin membuatnya kesal, Eris pun meninggalkan dojo. Setelah itu, dia berjalan lurus ke depan. Akhirnya dia menemukan semenanjung yang sepi, tanpa ada seorang pun yang mengganggu, dan di sana lah dia memulai latihannya lagi. Untuk makanannya, dia membawa dari dapur Dojo, atau dia hanya perlu membunuh beberapa ekor monster yang menyerangnya, kemudian menyantapnya.

Karena masih musim dingin, dia pun membawa kayu bakar dari Dojo, kemudian dia nyalakan api dengan sihir. Kalau sudah lelah sekali, dia akan kembali ke Dojo untuk tidur selama yang dia mau.

Eris terus menjalani gaya hidup seperti ini selama setengah tahun.

Mengayunkan pedang, berpikir, mengayunkan pedang, berpikir, mengayunkan pedang, berpikir, mengayunkan pedang, berpikir, mengayunkan pedang, berpikir. Sampai akhirnya dia menyadari bahwa mengayunkan pedang tidaklah semudah kelihatannya.

Ketika dia masih kecil, dia mengira bahwa itu jauh lebih mudah daripada belajar pelajaran sekolah, dan dia lebih cocok melakukannya. Pemikiran seperti itu tidak pernah berubah bahkan sampai detik ini. Dia lebih cocok mengayunkan pedang daripada belajar teori.

Namun, akhirnya dia tahu bahwa itu tidak mudah. Bahkan, lebih mudah belajar pelajaran sekolah, karena kau hanya perlu mendengarkan apa yang guru bicarakan di depan kelas.

Sebenarnya, mengayunkan pedang hanyalah mengangkat pedangmu, kemudian menebaskannya ke bawah, hanya itu, tidak lebih…. Tapi entah kenapa, dia tidak kunjung bisa menguasainya. Dia harus mengangkat pedangnya lebih cepat, dan juga menebaskannya ke bawah dengan begitu cepat. Sembari memikirkan dua konsep dasar itu, dia terus mengayunkan pedangnya.

Ayunan pedangnya kini jauh lebih cepat daripada setengah tahun yang lalu. Namun, tebasan Ghyslaine tetaplah lebih cepat darinya. Ruijerd bahkan lebih cepat lagi. Sang Dewa Pedang juga lebih cepat lagi. Dan Orsted, mungkin dialah yang tercepat.

Eris duduk. Dia mulai berpikir. Dia mulai memikirkan bagaimana cara mengayunkan pedangnya dengan baik dan benar. Dia teringat sosok Dewa Pedang, Ruijerd, dan Orsted.

Bagaimanakah cara Dewa Pedang menggerakkan senjatanya? Bagaimana dengan Ruijerd, dan juga Orsted?

Dia akan mencoba meniru mereka, meniru setiap jengkal gerakannya mulai dari ujung jari sampai bahu. Kemudian, sambil berusaha menuju level yang lebih tinggi, dia akan mencoba meniru gerakan mereka. Dia ingin melampaui mereka.

Namun, dia tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Dia tidak tahu. Tidak mungkin dia bisa mengetahui hal serumit itu, karena Eris payah dalam berpikir.

Begitu dia bosan memikirkannya, dia akan berdiri dan terus mengayunkan pedangnya. Dia akan terus mengayunkan pedangnya bahkan dengan pikiran kosong.

- Angkat, dan ayunkan ke bawah.-

“Harus lebih cepat.”

- Angkat, dan ayunkan ke bawah.-

“Harus lebih cepat.”

Dia akan terus mengulanginya, tidak peduli puluhan kali, ratusan kali, atau bahkan ribuan kali,.

Tapi terkadang, pikiran duniawi terus mengganggunya. Ini terjadi ketika dia mulai lelah.

"... Cih."

Setelah mendecakkan lidahnya, Eris duduk. Tangannya sakit. Kepalanya tidak bisa berpikir dengan benar. Dia mengeluarkan kain dari dadanya, kemudian mengikatnya pada kepala.

Sebenarnya, Eris tidak pernah menganggap latihan ini sulit. Dia selalu mengingat kejadian 3 tahun lalu, di Rahang Bawah Naga Merah. Pada saat itu, dia bisa bertahan dari serangan salah satu makhluk terkuat di dunia ini. Itulah sebabnya, dia selalu percaya diri bisa menyelesaikan latihan sederhana ini. Tak peduli dia merasakan sakit, frustasi, ataupun putus asa….ini tidaklah sesulit melawan Orsted kala itu. Walaupun saat ini lelaki itu tidak lagi berada di sisinya… ini tetaplah tidak sulit.

"Rudeus ..." gumamnya.

Namun, dia tidak bisa memikirkan apapun lebih jauh. Bagaimanapun juga, Eris payah dalam berpikir. Dia bukanlah seorang jagoan yang selalu berpikir optimis terhadap apapun, dia tahu kalau memikirkannya lebih dalam, lama-lama dia akan hancur.

"Fiuh ..."

3 tahun.

Meskipun dia merasa sudah lebih kuat daripada sebelumnya, namun jalan yang harus dilaluinya masihlah sangat jauh.

Eris berdiri, kemudian mulai mengayunkan pedangnya lagi.

Bagian 2[edit]

Karena tak kuasa melawan rasa kantuk, Eris pun kembali ke Dojo. Saat kembali, dia mendapati seorang pria asing yang berdiri di pintu masuk Dojo.

Dia adalah pria yang eksentrik. Dia mengenakan mantel berwarna pelangi, celana pendek sedikit di atas lutut, dan empat bilah pedang di pinggulnya. Dia punya tato bergambar merak di pipinya dan rambutnya ditata seperti bentuk antena parabola.

Ketika dia melihat Eris, dia sedikit menundukkan kepalanya dan memberi salam.

"Akulah…."

"Minggir……."

Eris hanya mengucapkan satu kata pada pria yang menghalanginya masuk ke Dojo Dia tidak memiliki energi untuk berbicara lebih banyak.

Karena lelah berlatih ayun pedang, tenaganya sudah mencapai batas, begitupun dengan emosinya. Kilatan matanya bagaikan binatang buas. Aura membunuh terpancar dari seluruh tubuhnya, bagaikan cahaya. Di sana berdiri seekor binatang buas yang tidak mengizinkan siapapun mendekatinya.

Mushoku10 10.jpg

"...!"

Pria itu segera menarik pedangnya.

"Menghalangi saja…. Minggirlah!!!"

Eris berbicara sambil melangkah maju. Dalam keadaan seperti ini, Eris hanya menganggap pria itu sebagai pengganggu, bagaikan kerikil yang menghalangi jalan menuju tempat tidurnya.

Pada saat itu, pria itu tidak mengerti apa yang Eris bicarakan. Yang ada di hadapannya hanyalah seekor binatang kelaparan. Dia tidak sengaja lewat di depan binatang kelaparan yang sedang mencari mangsa. Setidaknya, itulah yang bisa dia simpulkan berdasarkan pengalamannya selama ini.

Dia tidak pernah mengira bahwa binatang seperti ini bisa bicara. Namun, setelah beberapa detik Eris menyiapkan pedangnya, arulah si pria sadar bahwa yang sedang dihadapinya saat ini bukanlah binatang, melainkan seorang wanita Swordsman.

"A-Apa-apa’an perempuan ini ...? Aku adalah Auber, Sang Pedang Merak. Aku di sini untuk bertemu dengan murid Dewa Pedang. Bisakah kau menyampaikan ini pada Tuan ... "

"Sudah kubilang….Minggir!!"

Sambil jengkel, Eris maju satu langkah lagi. "Minggir" katanya. Namun, perkataan itu tidak tersampaikan pada pria bernama Auber tersebut. Yang bisa dirasakan pria itu hanyalah binatang haus darah yang menyerang mangsanya.

Berbicara kepadanya tidak ada gunanya. Itulah yang terpikirkan di kepala pria tersebut. Sepertinya, selangkah lagi, dia akan berada di dalam jangkauan serang si hewan buas. Setelah menyadari ini, tangan kanan Auber menggenggam pedangnya erat-erat, sementara tangan kirinya berpindah ke pedang pendek di pinggangnya. Namun, pedang yang dipegangnya itu tertuju pada arah yang salah. Sisi yang menghadap ke Eris adalah bagian belakang pisau.

Dia sekarang berada di dalam jangkauan serang Eris. Pada saat itu, Eris memutuskan untuk menyentil batu kerikil yang menghalangi di hadapannya.

"Ssst!" [47]

Bilah pedang Eris melesat padanya. Itu adalah teknik 「Longsword of Light」yang sudah mencapai batas tertingginya setelah dilatih berulang kali dengan mengayunkan pedang. Itu adalah teknik yang membuat orang biasa tidak mampu berbuat apapun. Itulah jurus membunuh mutlak Teknik Dewa Pedang.

"Fhh-!"

Tapi, itu hanya berlaku pada orang biasa. Auber mengayunkan pedang di tangannya dan menangkisnya. Seketika menyadari itu, Eris melancarkan tebasan kedua.

"...!"

Pedang Eris ditahan oleh pedang di tangan kiri Auber. Auber adalah pengguna pedang ganda, sedangkan Eris sering menggunakan kedua tangannya untuk mengayunkan sebilah pedang. Seharusnya, kekuatan tebasan mereka tidak bisa dibandingkan. Namun ternyata, tebasan Eris berhasil dia hentikan. Pedang Eris berhenti tepat di dekat rambut Auber yang seperti parabola. Serangan Eris terhenti, kemudian dia terdorong maju.

Pada saat itu, pedang kanan Auber bergerak. Dia membidik leher Eris dan tebasannya bergerak dengan kecepatan yang mengerikan.

"Cih!"

Eris melepaskan pedangnya, kemudian menjatuhkan diri ke bawah dengan posisi jongkok. Pedang Auber memotong udara yang barusan saja leher Eris berada di sana.

Eris berguling-guling bagaikan kucing. Dia berusaha meraih kembali pedangnya yang barusan dia lepas. Auber segera menendang pedang itu sehingga terpental, dan terkubur di salju.

Harusnya, kemenangan Auber sudah mutlak.

Namun, Eris tidak berhenti. Mengetahui bahwa dia tidak lagi bisa menggunakan senjata untuk menyerang, Eris pun melompat pada Auber dengan tangan kosong.

Auber segera menghantam Eris dengan permukaan pedangnya yang pipih. Itu adalah hantaman yang cukup kuat untuk mematahkan leher seseorang.

Namun.

Namun, Eris tidak akan berhenti.

"Gahhhhh!"

Eris mengayunkan tinjunya ke dagu Auber. Dalam posisi masih menggenggam pedangnya, Auber menggerakkan tangan kirinya untuk menghentikan serangan tersebut.

"Mu-!"

Tangan kanan Auber tertangkap oleh Eris. Jari-jari Eris berhasil meraih pusat pedang Auber. Dia mencoba mengambil pedang lawannya.

Auber mulai merinding. Dia menyadari bahwa binatang buas ini tidak akan berhenti sampai dia terbunuh. Dia menendang perempuan yang sedang berusaha merebut pedangnya, kemudian dia membenarkan posisi pedangnya sekali lagi.

Untungnya, Eris terpental sampai ke tempat pedangnya berada. Napasnya kasar, lalu dia pun mengambil pedangnya. Tidak ada pilihan selain membunuhnya.

Namun… saat Auber mulai mempersiapkan pedangnya, dan serius ingin membunuh lawannya… tiba-tiba terdengar…

"Cukup."

Seseorang mengatakan itu. Seketika, hawa membunuh lawannya terhenti, dan Eris pun juga menghentikan gerakannya.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba Dewa Pedang telah berdiri di pintu masuk Dojo. Auber menyarungkan pedangnya, dan Eris merebahkan tubuhnya di tanah. Dia terengah-engah, sembari mendongak ke langit. Wajahnya dipenuhi kefrustasian karena gagal menumbangkan musuhnya.

Auber meletakkan tangan kanannya ke dada, dan membungkuk.

"Lama tak jumpa, Tuan Dewa Pedang."

"Rupanya kau yang datang, ‘Kaisar Utara’."

"Aku melihat suratmu dan ... dan juga wanita itu ..."

"Yeah, menakjubkan, bukan?"

"Ini pertama kalinya aku bertemu dengan seorang Swordsman yang begitu serius. Dia seperti binatang buas ... Ahh, diakah Mad Dog yang pernah kau sebutkan?"

Sementara Auber mengobrol dengan Dewa Pedang, Eris berdiri, tubuhnya bergoyang bagaikan hantu. Melihat sosok itu, Auber kembali menyiapkan pedangnya.

"..."

Eris melotot pada Auber, kemudian dia memasuki Dojo.

"..."

Lantas, Eris pun memasuki Dojo tanpa melirik Auber yang tercengang di belakangnya. Dia menyeka luka di pipinya, kemudian tanpa menggoyahkan salju, dia berjalan menyusuri koridor dan masuk ke kamarnya. Eris melemparkan pedangnya ke dekat bantal, lalu merobohkan diri pada kasurnya yang keras. Lantas, dia pun terlelap dalam kondisi seperti itu.

Dia menyesal atas kekalahannya. Namun, saat ini, itu adalah hal yang sepele bagi Eris.

Bagian 3[edit]

Malam itu, Ghyslaine tiba di ruang jamuan.

Di sana duduk Dewa Pedang Gul Farion dan seorang tamu, 「Kaisar Utara Auber」. Dia memiliki gaya rambut eksentrik dan mengenakan pakaian yang aneh. Ghyslaine sedikit mengerutkan dahi ketika melihatnya. Namun, dia tidak begitu memperdulikannya, dan nyelonong masuk begitu saja. Kemudian, dia langsung membahas pokok permasalahan.

"Shisho, kenapa kamu berhenti mengajar Eris?"

Mendengar itu, Dewa Pedang tertawa terbahak-bahak.

"Aku sudah mengajarinya, bukan?"

"Hanya mengajari latihan mengayunkan pedang?"

"Tidak…. bagaimana cara menempa dirinya sendiri."

Dewa Pedang menjawab seolah itu hal yang wajar. Nada bicaranya sama sekali tidak serius. Itu adalah jawaban yang tenang. Ghyslaine cukup tersinggung dengan sikap gurunya itu. Karena itulah, dia memeras otaknya yang tumpul itu untuk memilih kata yang tepat.

"Shisho selalu mengatakan ini. “Lakukan segalanya secara rasional”, bukankah begitu?"

"Aku memang pernah bilang begitu."

"Eris menghabiskan waktunya tiap hari dengan mengayunkan pedang seperti orang idiot, itukah yang Anda sebut rasional?”

"Hah ...?"

Dewa Pedang memandang Ghyslaine sambil mengerutkan dahinya.

"Sejak kapan kau suka membahas hal-hal yang menyebalkan seperti ini?"

"Sebelum aku kembali ke sini!"

"... jadi kau tidak lagi mendengarkan kata-kata Shisho-mu?"

"Tapi ... Uh!"

Sebelum Ghyslaine menyadarinya, tiba-tiba sebilah pedang diacungkan padanya. Kalau orang biasa melihatnya, seolah-olah pedang itu muncul secara tiba-tiba. Ghyslaine telah melihat gerakan pedang itu. Namun, dia tidak bisa meresponnya. Meskipun dia adalah seorang Raja Pedang, dia tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan Sworsman tercepat ini.

"Ghyslaine, taukah kau bahwa aku cukup menyesal telah mengajarimu ilmu berpedang.”

"..."

"Ghyslaine, kau seperti seekor macan kelaparan yang kehilangan taringnya, kemudian berubah menjadi anak kucing yang mungil. Andaikan kau masih seperti yang dulu, mungkin sekarang kau sudah menyandang gelar Kaisar Pedang.”

Ketika mendengar perkataan Dewa Pedang, Ghyslaine hanya bisa menelan ludah. Belakangan ini, Ghyslaine sendiri telah merasa bahwa kemampuannya melemah.

Namun, itu bukan sesuatu yang dianggapnya buruk.

Memang, pertumbuhannya sebagai Swordsman telah terhenti. Dia tidak akan menjadi lebih kuat daripada kondisinya saat ini. Namun, sebagai gantinya dia mendapatkan sesuatu yang hebat: yaitu kebijakan dan pengetahuan. Itu adalah hal yang tidak pernah dia dapatkan sebagai Swordsman.

"Kau tidak akan menunjukkan taringmu lagi."

Dewa Pedang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk pedang. Dia mengharapkan Ghyslaine memahami hal itu. Namun, Ghyslaine justru bertanya dengan nada kesal….

"Aku tidak mengerti, mengapa Anda tidak lagi melatihnya? Apakah Eris merupakan murid yang menyedihkan?"

Dewa Pedang menghela napas. Dia mendesah bagaikan guru yang harus mengeja dari A sampai Z untuk membuat muridnya mengerti.

"Dengarkan, Ghyslaine, jika kau ingin melampaui kemampuanku, maka ikutilah metode rasional sampai akhir, suatu hari nanti kau bisa menjadi lebih hebat daripada diriku. Aku pun menjadi seperti ini karena aku selalu mengikuti cara yang rasional. Tentu saja, untuk menjadi Dewa Pedang, kau memerlukan usaha dan bakat, tapi mari kita kesampingkan kedua hal itu terlebih dahulu. Target gadis itu adalah mengalahkan Dewa Naga. Ya…. Siapa lagi kalau bukan Dewa Naga Orsted yang itu…. Orsted adalah suatu makhluk yang sudah berada di luar rasionalitas manusia. Dia bagaikan monster yang datang dari dimensi lain. Dia tidak mungkin bisa mengalahkan makhluk itu hanya dengan mendapatkan latihan dariku.”

Dewa Pedang menyipitkan matanya seolah mengingat sesuatu yang sudah lama berlalu. Sebenarnya, dia pernah sekali melawan Orsted. Itu terjadi sebelum dia menyandang gelar Dewa Pedang, yaitu saat dia masih menjadi Saint Pedang yang keras kepala. Hasilnya, dia kalah total, bahkan dia masih beruntung nyawanya tidak melayang. Dia juga bingung, bagaimana bisa dia kalah dari Orsted tanpa kehilangan sepotong tubuh pun. Dia begitu keras kepala saat itu. Seperti Eris, mulai saat itu dia selalu berlatih untuk mendapatkan kekuatan yang bisa melampaui Orsted. Hasilnya adalah statusnya sebagai Dewa Pedang saat ini. Namun akhirnya dia mengerti bahwa status tertinggi sebagai Swordsman pun belum cukup untuk meraih level yang setara dengan Sang Dewa Naga.

"Hei, Ghyslaine, latihan dan belajar bukanlah hal yang sama, lho? Apalagi kalau kau memiliki tujuan tertentu. Semua percuma saja jika kau menelan apapun yang diajarkan padamu, bukankah begitu?"

"... Shisho selalu membicarakan hal-hal yang rumit, jadi aku tidak mengerti."

"Hah!"

Jawaban Ghyslaine hanya membuat Dewa Pedang mendengus.

Betul. Dia adalah seorang idiot yang tidak akan mengerti meskipun kau mengeja A sampai Z sepelan mungkin.

"Yahh, intinya, gadis itu tidak akan hanya mendapatkan pelajaran dariku. Aku sudah mempersiapkan berbagai hal untuknya. Salah satunya, ya pria ini….”

Sembari mengatakan itu, Dewa Pedang menunjuk ke arah Auber. Auber memberi anggukan kecil dan menyapa Ghyslaine.

"Aku adalah Kaisar Utara, Auber Corvette. Aku dikenal sebagai「 Pedang Merak 」. "

Ghyslaine mengerutkan kening. Dia melakukan itu karena mencium aroma aneh dari tubuh Auber. Itu adalah bau seperti jeruk yang kuat. Mungkin karena parfumnya. Bagi seorang ras hewan seperti Ghyslaine, itu adalah aroma yang tidak menyenangkan.

"Ada urusan apa Swordsman beraliran Dewa Utara di sini?"

"Aku dipanggil ke sini oleh Tuan Dewa Pedang. Dia memintaku untuk melatih salah satu muridnya."

Ekspresi wajah Ghyslaine tampak semakin ragu. Kemudian dia menanyakannya secara langsung pada Shihso-nya.

“Mengapa Eris harus mempelajari aliran Pedang Dewa Utara? Dia tidak cocok dengan pergantian teknik seperti ini.”

“Karena Dewa Naga juga menggunakannya.”

Ghyslaine terlihat semakin ragu. Dia belum pernah mendengar bahwa Dewa Naga bisa menggunakan teknik Pedang Dewa Utara. Kalau Orsted benar-benar bisa menggunakannya, maka kemampuannya berada di atas Dewa Utara itu sendiri.

"Sebetulnya makhluk seperti apa sih Dewa Naga itu?"

"Mana kutahu ... Tapi, tak peduli teknik Dewa Pedang, Dewa Utara, ataupun Dewa Air, Orsted bisa menggunakan dan menggabungkan semuanya. Tentu saja, jika kau menguasai ketiganya, maka kau layak melawannya. Sebaliknya, jika kau tidak menguasai satu saja di antara ketiga teknik itu, maka jangan mimpi bisa menandinginya.”

Kegelapan di wajah Ghyslaine mulai lenyap. Betul juga, mempelajari teknik yang digunakan oleh lawan adalah suatu pendekatan yang rasional.

"Aku mengerti, jadi Shisho nanti juga akan memanggil pengguna teknik Dewa Air?"

"Yeah, aku akan mengirimkan surat padanya."

"Aku mengerti."

Ekor Ghyslaine mulai bergoyang-goyang, dan itu adalah pertanda bahwa suasana hatinya sudah membaik. Melihat itu, Dewa Pedang hanya terkekeh-kekeh. Ghyslaine hanya bisa memahami hal-hal yang mudah. Itu artinya, dia tidak pernah berubah sejak dahulu.

"Kalau begitu, Kaisar Utara, kumohon bantuannya."

Karena keraguannya telah hilang, Ghyslaine langsung berdiri dan memberikan sambutan pada Kaisar Utara. Kemudian dia berlutut dengan salah satu kakinya, itulah etiket penyambutan oleh Swordsman beraliran Dewa Pedang.

"Mmn, Raja Pedang, tentu saja aku akan membantumu."

Auber sekali lagi meletakkan tangannya di dada dan membalas sapaannya. Dengan demikian, Eris akan memulai latihannya dari awal lagi.


Eris akhirnya akan menjadi 「Saint Utara」 setahun sejak saat itu.
  1. Kalau kalian masih polos, maka harus kuberitahu bahwa yang dimaksud bunga sakura di sini adalah “puting susu”, lah….. kenapa kok diumpamakan bunga sakura? Karena beberapa wanita puting susunya berwarna pink, yang katanya itulah puting susu terseksi.
  2. Orang bebal
  3. Itu semacam senam kesehatan, lihat saja di : https://www.youtube.com/watch?v=XrEH5JLljDI
  4. Sebenernya LN ini bukan untuk kalian yang terlalu alim. Tapi sebagai penerjemah, ane harus menganggap kalian semua tidak paham, maka dari itu ane terpaksa menerangkan. Jadi, yang dimaksud air mineral di sini adalah cairan hormon dari kubul cewek. Ya, kurasa kalimat itu cukup sopan, susah memang kalo nerjemahin bahasa vulgar.
  5. Grup Preman.
  6. Itu adalah parodi Manga yang berjudul Sakigake!! Otokojuku, yaitu Manga jadul yang diterbitkan mulai tahun 1985 – 1991. Yang pasti, penulis LN ini adalah seorang otaku lama, jadi ada beberapa Manga yang tidak akrab di telinga kita, karena kebanyakan orang Indo hanya menikmati animanga dari tahun 2000 ke atas.
  7. Nah, ini parodi dari Manga apa, kami gak tahu, karena seperti yang sudah kami jelaskan tadi, si penulis adalah Otaku jadul, jadi Manga yang dia baca lawas-lawas, sehingga sulit sekali melacak sumbernya.
  8. Bos preman.
  9. Kalimat ini dibaca dengan lafal “inggris-kejepangan”.
  10. Ini adalah parodi game yang berjudul BioShock. Cek saja di : http://bioshock.wikia.com/wiki/BioShock
  11. Ya, memang nyesek banget, sih :v
  12. Ini adalah parodi Dragon Ball. Biar kami jelaskan, negeri sayur = vegetable = Vegeta. Sedangkan si superman legendaris di sini adalah Goku.
  13. Ini diduga adalah lirik lagu Jepang Door to Hope.
  14. Di sini Nanahoshi sengaja mencampur bahasa Jepang dan Inggris. Baka=bego, kappuru=couple=pasangan, yahh intinya dia ingin bilang: “pasangan bodoh”.
  15. Ingat, meskipun sama-sama berasal dari Jepang, perbedaan umur Rudeus dan Nanahoshi cukup jauh.
  16. Puisi yang dibacakan untuk mengiringi musik, terutama musik cinta.
  17. Gandhara song.
  18. http://en.wikipedia.org/wiki/Konpa
  19. Ice Climbers adalah nama game Nitendo klasik yang mengisahkan tentang orang Eskimo.
  20. http://en.wikipedia.org/wiki/Konaki-jiji
  21. Ini adalah suatu istilah yang biasa dipakai di animanga harem untuk mendeskripsikan orang yang ketiban sial dengan tanpa sengaja melihat hal-hal yang mesum.
  22. Bagi kalian yang belum paham Kuudere (クーデレ), biarkan Ciu jelaskan. Jadi, Kuudere adalah sifat karakter wanita dalam animanga yang terkesan dingin atau bahkan cuek. Namun lama-kelamaan dia akan menunjukkan kepeduliannya pada sesama.
  23. Dia mengira adik Rudi juga datang dari Jepang.
  24. Berarti gadis muda/ABG/Cabe-cabean.
  25. Sylphy hanya bercanda dengan membandingkan pengalamannya dulu ketika warna rambutnya berubah.
  26. Ingat, Sylphy lah yang memandikan mereka ketika pertama kali datang ke rumah Rudeus. Sebenernya “perbincangan telanjang” di sini mengarah pada salah satu kebiasaan orang Jepang, yaitu curhat bersama saat mandi di Onsen. Nah, biasanya, persahabatan semakin erat setelah mereka mandi bersama. Filosofi telanjang di sini menggambarkan bahwa tidak ada penghalang di antara mereka ketika curhat.
  27. http://en.wikipedia.org/wiki/Soapland
  28. Roomba adalah robot pembersih berupa cakram yang bisa menyedot debu dan bergerak dengan begitu leluasa. Info selengkapnya bisa kalian baca di sini : https://dailysocial.id/post/mendukung-konsep-smart-home-roomba-980-ialah-robot-pembersih-terpintar/ .
  29. Sedangkan Roach Motel adalah perangkap kecoa yang bentuknya kotak seperti rumah serangga. Alat ini bisa mengundang para kecoa untuk memasukinya, kemudian memerangkapnya.
  30. Siberian Husky adalah anjing asal Rusia yang wujudnya mirip seperti serigala, mereka bahkan melolong layaknya seekor serigala. Meskipun tubuhnya lumayan besar dan terlihat segahar serigala, namun anjing ini sangatlah jinak, mereka hampir tidak pernah menyakiti manusia meskipun bukan majikannya. Anjing jenis ini biasanya hidup di daerah bersalju dan dimanfaatkan untuk menarik kereta salju.
  31. Gang Pursena & Rinia yang lama telah dikalahkan oleh Fitts dan Ariel, kemudian mereka mendapatkan kembali anak buahnya setelah menjadi pengikut Rudeus. Jadi, sebenarnya anak buah mereka adalah para pengikut Rudeus.
  32. Ini adalah nama merek biskuit dari Jepang. Kalo di Indonesia, bentuknya seperti jajan lidah kucing. Katanya, kalo makan biskuit ini langsung happy.
  33. Ini tentang Roxy.
  34. Bonbon adalah merk camilan yang berbentuk bola-bola coklat.
  35. Atau bahasa Indonesia-nya potong bathok.
  36. Sebelumnya, dia selalu memanggil Rudeus dengan sebuatan “Ani”, yang mana Ciu merasa kurang pantas bila tidak diterjemahkan menjadi “kakak”. Toh artinya masih setara, namun ketika dia merubahnya menjadi ‘nii-san’, panggilan itu jauh lebih hormat daripada ‘kakak’, kalau mau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, kurang-lebih kita harus memakai ‘kakanda’, sayangnya itu cukup aneh di telingaku, jadi Ciu biarkan saja ‘nii-san’.
  37. Yang dia maksud adalah lipan, bahasa Jepangnya : Mukade.
  38. Pohon Baobab adalah pohon yang besar dan rimbun, mustahil bila pohon ini tumbuh dari bijih Tulip. Jadi, Rudi hanya melebih-lebihkan saja.
  39. Baca lagi jilid 2.
  40. Ini adalah istilah game. Jadi, kubiarkan saja seperti itu. Artinya sih “benda langka”.
  41. Itu adalah pose mainstream orang Jepang ketika berusaha keras.
  42. Stempel kentang biasanya digunakan untuk kesenian anak kecil, mungkin jaman sekarang sudah jarang dibuat, namun beberapa dasawarsa lalu, stempel kentang adalah prakarya yang wajib dibuat oleh anak-anak TK.
  43. Mawashi adalah sempaknya pesumo.
  44. Ini adalah guyonan klasik bocah-bocah Jepang. Ketika mereka dekat dengan seseorang yang lebih tua, entah itu kakak, ayah, ibu, paman, bibi, atau bahkan orang lain, mereka ingin menikahinya ketika sudah dewasa nanti. Di beberapa Doujin, ini menjadi genre tersendiri. #Ifyouknowwhatimean.
  45. Malu-malu kucing lah ya.
  46. Sebenarnya teknik mengosongkan pikiran dalam ilmu berpedang biasa disebut Mushin.
  47. Ini adalah efek suara Auber menghirup udara melalui celah-celah giginya.