Jilid 5 - Pedang Suci Pembunuh Raja Iblis

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Berikut adalah ilustrasi yang terdapat dalam jilid 5 :


Prolog[edit]

Dia sedang bermimpi.

Sebuah mimpi yang sangat jelas― untuk ia pahami bahwa ia sedang berada dalam mimpi.

Kedipan pedang. Bentrokan pisau.

Sambil berjalan menyusuri koridor yang diwarnai warna merah dari darah tentara yang tak terhitung jumlahnya―

Yang mengayunkan pedang cahaya bersinar, adalah seorang gadis dengan rambut emas yang indah.

Gerakan itu mengalir seperti tarian pedang, memotong segala macam roh yang datang padanya.

Sosok gadis itu menebarkan rasa deja vu.

Sampai saat ini, ada banyak karya seni yang ia lihat, seperti potret, patung dan lukisan.

Areishia Idriss.

Ratu Suci yang pernah menggulingkan Raja Iblis.

...... Mengapa aku bermimpi tentang dia?

Di sini ia tidak memiliki tubuh fisik yang bisa bergerak, hanya kesadarannya melayang lewat mimpi ini jelas, seperti pertanyaan itu.

Sejak kapan tepatnya mimpi ini?

Selanjutnya― mimpi apa ini?

Di tengah-tengah kesadarannya― akhirnya, ia mencapai saat yang akan tercatat dalam sejarah.

Mengalahkan spirit terakhir, gadis itu perlahan-lahan berjalan keluar koridor, menuju ke kedalaman terdalam dari kastil.

Mengangkat «Pedang Suci» yang memancarkan cahaya di udara dengan kedua tangan, ia mengangkat kepalanya, melihat tahta.

Di sana, duduk seorang pria sendirian, tenang, begitu damainya.

Daerah di sekitar tahta itu diliputi api gelap, sehingga wajahnya tidak dapat diidentifikasi.

Namun, siapa yang duduk di atas takhta itu, secara intuitif dapat dipahami hanya dengan sekilas

Raja Iblis Solomon

Di masa lalu, ia telah membawa bencana dan kehancuran di seluruh tanah, tirani terburuk yang sudah turun dalam sejarah.

Mendominasi spirit yang kuat dari tujuh puluh dua pilarnya , satu-satunya elementalist laki-laki.

Api gelap menyenangkan menari mengancam di sekelilingnya, seolah-olah mengancam gadis itu.

Namun, gadis itu tidak goyah.

Karena di tangannya ia memegang pedang suci, yang menguatkan hatinya.

"Raja Iblis Jahat, dengan nama Raja-Raja Elemental dan pedang suciku, pergilah."

Seperti angin bertiup yang mengenai rambut emasnya yang mengepul, gadis itu berlari terus.

Terukir di bilah pedang suci, dalam bahasa roh, adalah nama yang diberikan pada pedang cahaya silver itu―

Begitu aku melihat nama itu, aku berteriak.

"―Est!"


BAB 1

Bagian 1[edit]


"-!?"

Bangun, ia menemukan dirinya berada di ranjang empuk.

... Dia duduk dan menatap dirinya sendiri.

Dia tidak memakai seragam sekolahnya, melainkan satu set piyama longgar. Tampaknya seseorang telah membantunya mengganti pakaiannya saat ia tak sadarkan diri.

Mimpi yang telah ia lihat menyebabkan dia mengeluarkan keringat dingin.

"Aku -"

Apa yang terjadi -

Mencoba mengingat peristiwa yang terjadi sebelum ia pingsan, Kamito mengusap kepalanya yang sakit.

Pada saat itu -

"Kamito, kau sudah bangun?"

Dari sudut ruangan terdengar suara.

Kamito berbalik, dan melihat seorang gadis cantik berseragam duduk di kursi dekat dinding.

Dia mempunyai dua ekor kuda merah di sisi kepalanya.

Pupil ruby-merah transparannya menatap cemas ke arahnya.

"... Claire, kamu tidak berada di sini sepanjang waktu, kan?"

"Eh? Tidak, tidak begitu lama ..."

Claire panik dan menggeleng.

Namun, lingkaran hitam di matanya memungkiri fakta bahwa dia tidak beristirahat dengan cukup.

"Aku minta maaf karena sudah membuatmu khawatir."

"B-Bukan apa-apa, aku tidak khawatir."

Kamito membalas kekhawatiran Claire dengan senyum kecut, dan melihat sekitar ruangan.

Ruangan benteng telah diatur untuk peserta «Tarian Pedang». Melihat jendela yang luas dan alat rumah tangga yang berkualitas, bisa dikatakan bahwa ini bukanlah tempat tinggal Kamito yang dipersiapkan untuknya, yang tidak berbeda dari ruang penyimpanan, tapi ruang lain yang tidak ia diketahui.

Fajar hampir datang, matahari bersinar lemah melalui celah tirai.

"Itu bagus, tidurlah sekarang, demammu belum sepenuhnya hilang."

"Ah? Aku demam?"

"Mmhm, tampaknya telah lebih baik sekarang, tapi demammu cukup parah beberapa saat yang lalu."

Claire membungkuk dan meletakkan tangannya di dahi Kamito itu.

Sentuhan kulit dingin terasa sangat nyaman. .... Oh. Seandainya demam itu bisa berkepanjangan.

"Lagi pula, Claire -"

"Ya, ada apa?"

"Eh, kenapa aku pingsan?"

"....... Kamu tidak ingat?"

Mata Claire terbelalak.

"Jangan bilang kamu amnesia ..."

"Tidak, tidak ada yang serius. Hanya saja kepalaku masih berdenyut dan aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi tepat sebelum aku pingsan."

Kamito menggeleng diam-diam.

"Peristiwa Dansa?"

"Ya, aku ingat itu. Kau menolak undangan dari putra mahkota dari sebuah negara dengan menamparnya ..."

"Uh, yeah."

"Setelah itu, Ren Ashbell mengajakku untuk menari -"

Sementara memijat pelipisnya yang sakit, Kamito merasa ingatannya secara bertahap kembali dalam urutan kronologis.

Sesuatu yang besar pasti terjadi.

Tidak ada kesalahan tentang itu. Ada sesuatu yang sangat penting -

"Ren Ashbell mengukir [Tanda Kegelapan] padaku, dan kemudian -"

Ketidaksabaran terbakar di dadanya.

Berkilauan di sudut pikirannya adalah gambar pedang perak bercahaya.

"Dan kemudian, aku-"

"Kamito, Kau telah menyelamatkan kami dari seorang assasins [Sekolah Instruksional]!"

Melihat Kamito marah, Claire berbicara.

"Assasins [Sekolah Instruksional]?"

Kamito mengangkat kepalanya tiba-tiba.

Itu benar. Pada waktu itu, akumelawan Roh militer Muir−

Kata-kata Claire mengingatkan kenangan semalam yang membanjiri pikirannya.

Selama upacara pembukaan Blade Dance tadi malam, Muir Alenstarl, assasins [Sekolah Instruksional] yang menyebut dirinya adik Kamito, telah mengendalikan roh militer untuk menyerang Claire dan lainnya.

Ditandai [Tanda Kegelapan] oleh Ren Ashbell dan penuh luka, Kamito berusaha berlari menuju medan pertarungan, menuju Roh militer Muir Alenstarl - tapi pada saat itu, Tanda Kutukan mulai bekerja pada tubuh Kamito, dan ia diliputi perasaan nyeri yang sangat.

Dan kemudian -

"...!"

Begitu ingatannya kembali, seluruh tubuh Kamito menegang, seolah-olah ia telah disambar petir.

Gambar yang muncul di dalam pikirannya adalah seorang gadis - dengan mata ungu yang misterius.

Dengan rambut putih keperakan yang indah dan mencerminkan sinar bulan.

Dengan tangan kecil yang lembut membelai punggungnya.

Dan dengan bibir yang dingin seperti es belum panas seperti api ketika mereka menyentuh nya.

Lalu ia berubah menjadi partikel cahaya yang tak terhitung banyaknya, yang hilang ke sebuah kekosongan

Itulah saat terakhir kali Kamito melihatnya.

"... Es ... t?"

Nama itu terucap dari bibirnya dalam gemetar, ia spontan bernapas .

Itu adalah nama seseorang yang selalu ada di sisinya, nama seseorang sangat penting, nama Roh kontraknya.

Gangguan ingatan sebelumnya pasti dikarenakan ia tidak ingin menghadapi kenyataan ini.

"Kamito ..."

Pelan, kata-kata khawatir Claire hampir tak terdengar oleh Kamito.

"Kamu pasti bercanda ... Est, mengapa dia-"

Kata-kata itu berputar dalam rongga ingatannya.

Ingatannya baru pulih setelah ia berusaha mengulang adegan terakhir sebelum ia mulai kehilangan kesadaran.

Pada saat itu, ia berbisik di telinganya:

Selamat tinggal, Kamito -.

Roh Pedang Est - dengan rambut putih keperakan, seperti peri salju.

Kontraknya dengan dia awalnya hanyalah sebuah kebetulan.

Sementara ia mempertahankan kontrak dengan Roh Kontrak dari masa lalu, hasil akhirnya adalah kontrak yang tidak lengkap.

Awalnya, ia bahkan tidak bisa mengeluarkan sepersepuluh kekuatan dari kekuasaan dengan kontrak. Pasti cukup menyakitkan bagi Roh kuat seperti dia.

Namun, Est mengatakan bahwa tidak apa-apa.

Untuk dapat kontrak denganmu, itu saja indah - ia mengatakan.

Tapi aku -

Tiga tahun lalu, aadalah hari dimana ia telah kehilangan Roh Kontrak sebelumnya.

Mulai hari itu, ia bersumpah untuk tidak kehilangan orang penting lagi.

"Namun aku- lagi!"

Est telah menghilang.

Dia telah mengorbankan keberadaan dirinya untuk menyelamatkan Kamito yang terkikis oleh Tanda Kutukan.

"Sialan -"

"Kamito!"

Dia mengangkat tangannya dengan putus asa dimana Claire dengan cepat menahannya.

Claire menatap terus ke matanya, dengan maksud menenangkannya.

"Est tidak hilang."

"Ah?"

"Bagaimanapun juga, tanganmu masih memiliki tanda Kontrak Roh, bukan?"

Mata Kamito melebar.

"Y. .. a ... memang."

Tangan kanannya, yang di pegang Claire, masih memiliki gambar pedang yang bersilangan .

Itu adalah bukti dari Kontrak Roh-Segel Roh.

Jika Kontrak Roh itu hilang, maka Segel Roh tentu saja menghilang.

Alasan mengapa Kamito tetap percaya selama tiga tahun bahwa Restia belum lenyap-alasan mengapa ia mempertahankan secercah harapan-sepenuhnya karena Segel Roh yang tertulis di tangan kirinya masih ada.

Segel Roh yang menghubungkan Kontraktor dengan Roh Kontrak, adalah [Gerbang] spesial.

Sekarang rasa sakit itu terlalu lemah untuk dirasakan - tapi selama Segel Roh di tangan kanannya tidak menghilang, ia masih memiliki bukti bahwa Est belum sepenuhnya hilang.

"Est, dia masih hidup."

"Ya. Dan bahkan jika kita tidak bisa memanggilnya keluar sekarang, pasti ada cara untuk melakukannya."

Jika itu terjadi, aku akan tetap seperti ini.

"... Ah ah ah ah ah!"

Dengan rasa sakit yang dia rasakan di seluruh tubuhnya, Kamito bangkit dari tempat tidur.

"Tunggu, tunggu sebentar, apa yang kamu lakukan kamu masih belum bisa -!?"

"Est menungguku - Aku tidak punya waktu untuk tidur-tiduran!"

Disaat tangan Claire berusaha menghentikannya-

Gurgle gurgle ~

Suara aneh muncul di dalam ruangan.

"... Claire?"

Semua kekuatan telah terkuras dari tubuhnya.

"...... ~! I-I-Ini adalah salahpaham, t-tidak ada suara aneh barusan!"

"Kau ... jangan bilang, kau belum makan apa-apa sejak kemarin?"

"Itu karena kamu masih demam, jadi ..."

Claire tersipu dan tergagap.

"Kamu harus makan karena besok pertempuran akan dimulai."

"... A-Aku tahu. Omong-omong, kamu belum makan juga."

"Yah, jangan khawatir aku sudah terbiasa dengan hal itu ..."

Di masa mudanya, Kamito telah menghabiskan sebagian besar waktunya menjalani pelatihan intensif di [Sekolah Instruksional].

Pendidikan yang ia terima di sana bahkan termasuk pelatihan untuk menahan lapar. Meskipun ia tidak berniat mencoba hal seperti itu, ia sekarang bisa dengan mudah pergi tanpa makanan selama beberapa hari.

Kemudian lagi ...

Sesuatu tiba-tiba terpikir oleh Kamito.

Semua orang sekarang tahu bahwa aku dari [Sekolah Instruksional] ...

Justru karena mereka adalah sahabat yang penting, ia tidak ingin mereka tahu masa lalunya.

Setelah mereka mengetahui hal itu, ia pikir bahwa mereka tidak akan mau berteman dengan dia lagi.

Itu wajar jika mereka akan berpikir seperti itu.

Sebaliknya, mereka telah memperlakukan Kamito -

"Kau ... tak peduli apakah terbiasa atau tidak terbiasa, itu sepenuhnya diluar konteks. Jika kamu tidak makan dengan baik, kamu tidak akan pernah mendapatkan kembali kekuatanmu. Dengar, aku bahkan membawa kemari buah khusus u-untukmu. "

Mendengar ini, Claire menunjukkan keranjang di meja samping tempat tidur.

Itu terisi penuh dengan Persik matang yang tampak lezat.

"- Claire, terima kasih."

"Jangan terlalu berlebihan, bukan apa-apa. Bagaimanapun juga, buah-buah ini tidak mungkin bisa dikembalikan."

"Tidak seperti itu!"

Kamito menatap langsung Claire.

"Bahkan setelah tau kalau aku adalah seorang yatim piatu dari [Sekolah Instruksional], Kau masih berteman denganku, dan mengatakan itu bukanlah masalah .... Tentang itu, aku merasa sangat senang."

"A-apa, ah, itu ..."

Claire tersipu dan membuang muka.

"T-Tapi tentu saja, bukankah itu hanya hal lain? Terlepas dari masa lalumu, kamu adalah Roh Budakku sekarang dan hal itu tidak akan pernah berubah!"

Dengan senyum kecut dan mengangguk kepalanya, Kamito merogoh keranjang dan mengambil buah persik.

"Sini, berikan aku pisau kecil, aku akan memotongnya."

"Serahkan saja padaku. Kau terluka, beristirahatlah."

"Persik adalah buah yang rapuh, sehingga sulit dikupas. Kupikir kau tidak pandai mengupas buah?"

"B-baiklah , jika kamu pikir begitu ..."

Claire menyembunyikan wajahnya. Sejujurnya, tampaknya semua perempuan di akademi, baik muda maupun dewasa, mereka semua tidak bagus dalam urusan rumahtangga. Bukan hanya Claire yang sangat buruk dalam menyiapkan buah.

Kamito mengangkat bahu, mengambil pisau di meja, dan mulai mengupas buah persik , dalam gerakan melingkar.

Menonton karya cekatan nya, Claire bertanya emosional:

"Apakah kamu belajar ini dari [Sekolah Instruksional] juga?"

"Tidak, aku belajar memasak dan keterampilan lainnya selama perjalanan. Teman perjalananku sangat pilih-pilih soal rasa!"

"... Pendampingmu, yang kau maksudkan berarti gadis Roh Kegelapan itu?"

"Yeah ..."

Sementara pemotongan persik, ekspresi Kamito berubah asam.

"Yah - jadi seperti itu ..."

Claire tampak ragu.

"Lihat, ini sudah dikupas."

Seolah-olah untuk mengubah topik pembicaraan, Kamito menusuk buah persik yang telah dikupas dengan garpu dan memberikannyakepada Claire.

Sambil memakannya, dia meminum jus peachnya .

"Yum yum ~ begitu manis, ini benar-benar enak...!"

Dua ikat kuda merahnya menari dalam sukacita.

Claire meletakkan tangannya di pipinya, ekspresi kebahagiaan tipis muncul di wajahnya. Dia tampak begitu manis sehingga siapapun bisa terpesona olehnya.

"Nah, sekarang, ini lainnya ..."

Kamito mengangkat garpu untuk memegang persik. Seperti kucing yang menggoda, tatapan Claire mengikutinya dalam keadaan seperti-kerasukan.

"Dan, ini !"

Dia memindahkan tangannya.

"Ah!"

Dan lagi.

"B-Benar-benar sekarang!"

Mulut Claire membuka dan menutup saat ia mengunyah Persik.

Kiri, kanan. ... Dan lagi.

Terlihat sangat menarik, Kamito ingin terus melihatnya untuk sedikit lebih lama -

"... ~ Oi, k-kenapa kau begitu kejam!"

Claire geram, air mata menggenang di matanya.

"... Maaf, itu karena kamu terlihat begitu lucu seperti kucing, jadi."

"...?! A-apa maksudmu dengan lucu ... tolol b-bodoh, itulah dirimu!"

Dengan wajah memerah, isyarat panik Claire -

"Aah."

- Persik pun menghilang.

Dan dia menggigitnya.

"Wah, ah, itu sangat enak..."

"Kau seperti kucing."

Kamito menatap Claire.

"Hei, bukankah situasi ini pernah terjadi?"

"Hrm, pernah terjadi?"

"Orang yang terluka adalah kamu, tapi aku yang makan."

"Nah, ini masalah kecil, jangan khawatir tentang hal itu."

Kamito mengangkat bahunya, dan menempatkan buah Persik ke mulutnya sendiri.

rasa tajam jus peach menyebar segera di mulutnya.

"Mmm, ini benar-benar enak. Ini benar-benar matang!"

"Aku-bukankah itu garpu yang sama ..."

"... Kenapa?"

"T-Tidak, itu tidak -"

Claire buru-buru mengalihkan mata darinya.

"Pokoknya -"

Kamito meletakkan garpu kesamping dan bertanya.

"Ya, apa?"

"Apa format untuk [Tarian Pedang]? Ramalan dari Ratu telah terungkap, kan?"

Sementara Kamito tak sadarkan diri, lima Ratu telah mengadakan upacara di kuil besar dari [Institut Ritual Kedewaan], dimana Lima Raja Elemental diberikan wahyu ilahi mereka. Kinerja itu akan diputuskan melalui wahyu ilahi ini - seperti untuk format kompetisi, itu akan diumumkan di kemudian hari.

Pada saat ini, ekspresi Claire menjadi serius.

"Mmhm, pertunjukan Tarian Pedang yang akan disajikan akan bertempat di -[Tempest]."

"[Tempest], ya ..."

Itu telah menjadi format kompetisi yang digunakan untuk Tarian Pedang tidak hanya dalam beberapa tahun terakhir, tetapi juga puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu.

Para elementalists yang akan menyuguhkan pertunjukan Tarian Pedang akan datang bersama-sama dan berkumpul di tanah suci yang luas, dan tim akan melakukan pertempuran dengan satu sama lain selama beberapa hari. Keterampilan tempur masing-masing individu akan diuji, tetapi di luar itu, makna yang lebih besar adalah kemampuan taktis dan strategis, serta kerja tim dan kerjasama.

"... Ini akan menjadi pertempuran yang sulit."

"Memang. Di sisi lain, mereka jelas bisa memilih gaya turnamen KO. Jika demikian, aku kira ini adalah hasil terbaik."

Claire mengangguk dengan ekspresi serius di wajahnya.

Format pertunjukan Tarian Pedang akan menjadi «Tempest». Ini bagian dari salah satu informasi yang sebelumnya dia pikirkan. Dengan kendala hanya "lima elementalists untuk tim", sedikit menyelidiki tentang sejarah Blade Dance akan membuat jelas bahwa jumlah format kinerja yang mungkin berjumlah hanya sekitar sepuluh atau lebih.

Sebagai bukti, Roh Academy Areishia bahkan melakukan latihan ekstensif di bawah asumsi bahwa kinerja ini akan dipilih.

Namun, kita masih bisa terus berharap, selama mungkin, bahwa kinerja ini tidak akan dipilih - cara berpikir ini masih benar.

Lebih daripada keterampilan individu, format kompetisi ini menekankan kekuatan gabungan tim. Salah satu kesulitan adalah mengatakan sistem ini bermanfaat bagi Claire, yang masih khawatir dan kurang percaya diri dalam hal kerja sama tim.

Selain itu, «TIM • SCARLET» dibentuk baru-baru ini. Kelima anggota mulai bekerja sama hanya beberapa minggu lalu. Sementara masing-masing dari mereka adalah elementalist yang kuat dalam hal individu, kekuatan tim gabungan mereka masih tidak bisa dibandingkan dengan yang ada pada tim lain.

Selanjutnya ...

Tatapan Kamito berubah ke Segel Roh yang tertulis di tangan kanannya.

Setelah semua, kekuatan luar biasa Kamito selalu tak tertandingi di antara teman-temannya.

Namun, kini Kamito sedang dalam kondisi kehilangan Roh Spiritnya.

Meskipun sebelumnya dikenal sebagai Penari Pedang Terkuat, namun tanpa roh kontraknya, Kamito tidak bisa mencapai kekuatan penuh sebagai seorang elementalist.

Setelah itu, ia mengistirahatkan tangannya pada dadanya yang masih sedikit terluka.

-Segel Kegelapan ini belum memudar sepenuhnya.

«Segel Kegelapan» Ren Ashbell telah terukir bahkan sekarang masih menggerogoti tubuhnya.

Meskipun Est telah mengurangi kerusakan dengan mengorbankan dirinya, itu tidak sepenuhnya menghancurkannya.

"Est ..."

Menggumamkan namanya, bahkan menyuntikkan ke dalamnya kuasa ilahi, Segel Roh tidak memberikan respon.

Sebaliknya, rasa sakit yang intens menyerang seluruh tubuhnya.

"... Ah, sialan ..."

"Sebaiknya kau tidak bertindak gegabah. Apa yang dapat kau lakukan sekarang adalah beristirahat dengan baik dalam rangka untuk mendapatkan kembali kekuatan dan kuasa ilahi."

"... Ah, ah, aku tahu."

Mengepalkan bibirnya erat, Kamito mengangguk dan meletakan tubuhnya di tempat tidur lagi.

Bagian 2[edit]

... Kamito tampaknya cukup tertekan.

Di luar ruangan Kamito, Claire mendesah kecil.

Ini tidak masuk akal. Setelah semua, ia adalah elementalist yang telah kehilangan semangat kontrak mereka didepan matanya sendiri.

Kepahitan itu, Claire memahami semua dengan baik, karena dia juga telah kehilangan Scarlet di masa lalu. Saat itu, Claire telah menyerah pada dirinya sendiri, dan bahkan membiarkan dirinya tergoda oleh roh gelap.

Tentu saja, Hilangnya Est telah membuat juga Claire terguncang.

Est bukan hanya Roh Kontrak.

Dia juga pendamping penting Claire di institusi; selama lebih dari dua bulan, mereka telah bertempur berdampingan.

"....... Kita perlu menemukan cara untuk membawa Est kembali."

Masalah kecilnya adalah bahwa, tanpa Est, «TIM • SCARLET» tidak punya kesempatan untuk memenangkan pertempuran royale. Kamito memiliki kekuatan tak tertandingi, tapi elementalist tanpa Roh Kontrak di sisinya tidak akan mampu melakukan yang terbaik di kompetisi seperti «Tarian Pedang», di mana ada banyak lawan tangguh.

Harus ada cara untuk membawa kembali Est - benar, ia berkata begitu, tapi apa sebenarnya yang perlu dilakukan, dia tidak tahu. Dengan asumsi itu, mungkin semua akan baik-baik saja, tetapi mereka mungkin tidak memiliki cukup waktu.

Pertempuran Tarian Pedang akan dimulai besok, mereka memiliki sisa waktu satu hari. Jika Kamito tidak bisa membawa Est kembali pada saat itu, mereka harus mengandalkan hanya empat orang yang tersisa untuk memenangkan pertempuran royale.

Meskipun mereka tidak bermaksud untuk kalah dari tim lain, faktanya adalah bahwa peluang mereka meraih kemenangan melawan lawan yang kuat-seperti, katakanlah, Dracunia Dragons yang dipimpin oleh Leonora Lancaster-memang tipis.

Selain itu, dalam rangka untuk memenangkan perhelatan akbar, mereka akan masih harus mencatat Ren Ashbell, yang paling kuat dari Tarian Pedang.

Kemudian lagi, masih memungkinkan untuk Kamito mencari roh yang lain untuk kontrak dengannya.

Tapi, setelah dipertimbangkan, itu tidak mungkin ...

Mondar-mandir di serambi, Claire menggeleng. Meninggalkan masalah ini dengan menemukan Roh Kontrak baru yang cocok, Kamito pasti akan menolak gagasan Roh lain selain Est.

Berbicara tentang siapa -

Tiba-tiba, citra gadis Roh Kegelapan secara tidak sengaja muncul dalam pikiran Claire.

Rambut hitam legam, tertiup angin. Seorang gadis cantik dengan mata berwarna senja.

Pada akhirnya, aku masih tidak bertanya pada Kamito tentang dia ...

Rasa nyeri terasa di dadanya saat ia memikirkannya.

Kemarin malam, di pelataran kastil: Kamito dan gadis Roh Kegelapan, bibir mereka terkunci dalam ciuman.

Ini bukan berarti bahwa ia tidak memiliki kesempatan untuk bertanya, hanya saja bukan waktu yang tepat untuk hal tersebut. Kaget dan marah atas kehilangan Est, Kamito tidak dalam keadaan baginya untuk mengejar hal tersebut sampai selesai.

Tapi gadis itu, memiliki hubungan apa dengan Kamito ...?

Roh Kontrak sebelumnya adalah seorang gadis Roh Kegelapan yang, bahkan sekarang, masih ada dihati Kamito.

Rasa sakit aneh di dadanya membakar lebih banyak dan lebih intens.

"Y-Yah, apa pun, bajingan itu bisa berciuman dengan siapapun yang ia inginkan! Ini tidak ada hubungannya denganku kan?"

Claire beralasan hal ini untuk dirinya sendiri dan kemudian berhenti di luar ruangan.

Dia membuka pintu -

"... Hah!?"

Ada tiga orang di ruangan yang bangkit dari sofa serempak.

"Apakah Kamito sudah bangun!?"

Claire menganggukan kepalanya dalam menanggapi pertanyaan Ellis.

"Well, yeah, tetapi tampaknya demamnya belum benar-benar turun. Dia harus terus beristirahat."

"..... Hmm, aku tahu. Setelah semua, menyenangkan mengetahui dia baik-baik saja."

"T-Untuk benar-benar memiliki seorang gadis khawatir terhadapnya. Orang ini masih menyebabkan sakit kepala seperti sebelumnya!"

Rinslet menyeberang dan mengetukkan jarinya gelisah.

"... Itu semua benar-benar berkat Est. Keterampilanku tidak begitu berguna melawan Tanda Kegelapan itu."

Berbeda dengan mereka berdua, yang tampaknya telah bernapas lega, Fianna menampilkan ekspresi muram.

Fianna awalnya Putri Kedua terbaik dari keseluruhan gadis di «Divine Ritual Institute». Kekuatan dan keterampilan pemecahan kutukan sebanding dengan gadis-gadis Putri saat ini.

Namun, «Tanda Kgelapan» yang ditorehkan oleh Ren Ashbell pada tubuh Kamito yang berisi kutukan begitu kuat sehingga meninggalkan bekas yang bahkan Fianna tak berdaya.

Jika pada saat itu Est tidak mengorbankan dirinya, maka -

Tubuh fisik Kamito sudah benar-benar berkarat oleh kutukan. Paling buruk, ia bahkan mungkin telah meninggal.

"Aku telah mencari melalui berbagai materi tapi masih tidak bisa menemukan informasi apapun tentang kutukan ini."

Tumpukan buku-buku berat sekitar Fianna setinggi gunung.

Dia membawa ini semua dari institusi tersebut. Mereka berisi mantra dan kutukan serta dokumen yang berkaitan dengan roh.

"Tapi sampai sekarang, aku masih belum bisa percaya bahwa ..."

Ellis berbicara sambil mengepalkan bibirnya.

"Ren Ashbell akan pergi sejauh itu untuk melakukan hal seperti ini-"

"... Ya, saya tahu."

Claire mengangguk.

Penari Pedang Terkuat.

Tujuannya adalah untuk menjadi Putri Elementalist, orang yang paling dipuji.

Pada Tarian Pedang tiga tahun lalu, pertunjukan Tarian Pedangnya telah mempesona banyak gadis.

Apakah itu Claire, Ellis, atau siapa pun, mereka semua sepkat untuk menjadi orang kuat dan terhormat seperti dia. Mereka telah mengalami banyak, siksaan pelatihan ketat Akademi dalam rangka menjadi elementalist seperti dia.

Yang mengherankan ialah ketika Muir Alenstarl mengatakan kepada mereka bahwa dialah yang telah mengukir «Tanda Kegelapan» di tubuh Kamito, mereka benar-benar tidak bisa untuk percaya.

Refleksi-Namun, selanjutnya

Tak satu pun dari mereka tahu apa-apa tentang siapa dia ...

Misalnya, apa yang ingin dia minta pada Raja Elemental sebagai pemenang dari Tarian Pedang tiga tahun sebelumnya.

Mengapa, setelah mencapai tingkat ketenaran yang tinggi , dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak dari mata dunia.

Dan mengapa, dengan hal-hal yang terjadi di negara mereka saat ini, apa yang ingin dia perbuat?

Segala macam spekulasi bermunculan, tetapi masih tetap misteri.

Akhirnya, mengapa elementalist terkuat memasang kutukan pada Kamito.

Alasan untuk itu tidak jelas juga.

Untuk tindakan pencegahan, sehingga dapat mengurangi kekuatan Kamito sejumlah tertentu sebelum pertempuran royale?

Bahkan jika begitu, maka tidak perlu menggunakan strategi seperti memakai kutukan.

Kita hanya perlu bertarung dengan kekuatan luar biasa untuk mengalahkan orang lain, seperti apa yang Muir Alenstarl lakukan.

"Tanpa bukti, bahwa elementalist penipu mungkin juga menjadi Ren Ashbell."

"... Tapi dalam kasus itu, mengapa tidak menggunakan identitas sebenarnya?"

"Mungkin ada beberapa alasan mengapa ia tidak bisa menggunakan identitas aslinya," gumam Fiana.

"Kau pikir ada alasan tersembunyi?"

"Ah ... Aku-aku tidak mengatakan apa-apa!"

Dengan mengerutkan kening, Claire, Fianna buru-buru menggeleng.

"Jika ada seseorang yang menyamar sebagai Ren Ashbell dan menggunakan namanya, aku tidak akan pernah memaafkannya."

Meletakkan tangannya di pedang di pinggangnya, Ellis berbicara.

"Ayo, mari kita mengambil inisiatif untuk pergi meminta padanya-"

"Mustahil. Kita bahkan tidak tahu di mana dia berada di awalnya."

Claire menggeleng impulsif pada usulan berbahaya Ellis.

Tim yang mewakili Ren Ashbell, Tim Inferno dari Alpha Teokrasi, rupanya tinggal di sebuah menara di luar daerah di mana mereka menunggu kesempatan untuk menyerang. Tak ada yang tahu di mana mereka berada.

Selain itu, Muir Alenstarl, yang telah menghilang setelah pertempuran kemarin, tidak menyerah pada rencananya untuk membunuh Claire dan timnya. Cepat atau lambat, cara mengendap-endap akan lebih praktis daripada yang menyerang langsung yang berbahaya.

"Niat nya memang menjadi perhatian utama, tapi-masalah utama di sini tetaplah Est."

Claire berpaling ke arah Fianna dan bertanya,

"Aku akan langsung bertanya mengenai Est -. Bisakah dia kembali?"

"Itu ..."

Fianna mengelus dagunya, seolah-olah tenggelam dalam pikirannya.

". Jika tangan Kamito masih menunjukkan tanda-tanda Segel Spirit, itu adalah bukti bahwa Est belum sepenuhnya hilang. Biasanya, setelah dia sepenuhnya mendapatkan kembali kekuatannya, Est bisa kembali. Hanya saja -."

"Hanya apa?"

"Ini hanya hipotesis saya -. Est mungkin telah terperangkap dalam penjara kutukan. Mengenai ini, saya tidak bisa memastikan."

"Apa maksudmu?"

"Est menggunakan kekuatannya untuk menekan kutukan, jadi dia tidak benar-benar bisa istirahat. Sekarang dia mungkin dikurung, dibelenggu oleh kutukan, sehingga tak bisa bergerak."

"Dalam rangka menyelamatkan Est, kita harus berurusan dengan kutukan pertama, bukan?"

Ellis mengangguk dengan ekspresi serius.

"Sehubungan dengan « Tanda Kegelapan », saya bisa mendapatkan bantuan dari pasukan di« Divine Ritual Institute ».... Selanjutnya, adalah masalah Kamito sendiri. Meskipun saya tidak berpikir ini akan menghancurkan Rohnya ... "

"Tapi, sepertinya dia benar-benar marah ......"

Bahkan di depan Claire, ia bersikap dengan berani agar tidak membuat siapa pun melihat dia lemah. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan betapa hilangnya Est mempengaruhi dirinya.

Terlihat dari hal itu, menyimpannya beberapa waktu mungkin diperlukan sebagai pencegahan.

"Dalam hal ini ...... apakah ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuknya?"

Rinslet berkata.

"Bicara sejujurnya, itu bukan karena kita tidak memiliki pilihan ..."

"Eh, benar-benar?" "Apa itu?" "J-Jangan membuat kita menebak-nebak! Beritahu kami langsung, tolong!"

Mendengar ini, Claire dan lainnya yang belum menyerah, berkumpul di depan Fianna.

Fianna menghela napas dan berkata:

"... Bantuan lawan kita sendiri. Sementara itu menyebalkan, kita benar-benar tidak punya pilihan."

Dia mengucapkan kalimat ini yang bermakna samar -

Dan kemudian memberitahu mereka tentang apa yang mereka - bisa - lakukan - untuk - Kamito.

"...!"

Wajah ketiganya langsung berubah merah cerah.

"T-Tunggu. Hal semacam itu - bagaimana mungkin kita bisa melakukan itu!"

"B-Benar-benar sekarang! Itu hal yang memalukan ... sebagai seorang ksatria, aku tidak bisa menerimanya!"

"Perlu diingat bahwa saya adalah putri sulung keluarga Laurenfrost yang mulia!"

Gelombang protes dari para gadis datang pada waktu bersamaan.

"Hmm - jadi Anda bermaksud mengatakan bahwa Anda tidak ingin Kamito pulih?"

Fianna berbicara tajam dan menunjuk ke arah mereka.

"I-Itu ..."

"Tentu saja itu tidak benar-"

"... Aku-aku tidak bermaksud seperti itu, kecuali-"

Tiga gadis tersipu dan tergagap.

Sebuah senyum nakal muncul di wajah Fianna.

"Baiklah, itu selesai. Ada berbagai macam alat peraga seremonial dalam bagasi yang saya dibawa. Bantuan untuk dirimu.

Sambil berbicara, ia merogoh tas travel dan mengeluarkan segudang kostum berwarna-warni dan alat peraga.


Bagian 1[edit]

Kicau-kicauan, cicit-cicitan ... Dengan suara mereka, burung-burung itu menandai fajar pagi.

Sebuah sinar hangat matahari masuk melalui jendela disamping tempat tidur dikamar Kamito.

Setelah berbicara dengan Claire pagi ini, dia kembali tertidur nyenyak sekali lagi, tapi sepertinya tidak terlalu banyak waktu berlalu.

Kamito mengalami demam yang tidak terlalu lama, yang sekarang telah hampir sepenuhnya memudar.

"Mmm... ah ..."

Dia mengusap kelopak mata yang kabur, berpindah-pindah, dan siap untuk keluar dari tempat tidur.

Pada saat itu -

"Aaah!"

"..."

Sikunya tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembut dan lembut.

Juga, ada semacam suara indah sekarang ...

Kamito berkedip, bingung dengan apa itu, ia melayangkan pandangannya ke arah suara.

Dia melihat sebentuk putaran berbulu putih, yang membuatnya tetap nyaman di sampingnya saat dia tidur.

"... A-Apa ini?"

Tak dipercaya pandangannya sehingga mata Kamito terkejut.

Namun, ia langsung teringat sesuatu ...

Menyelinap ke tempat tidurku ... satu-satunya yang akan melakukan hal semacam itu -

"Apakah Est!?"

Dia buru-buru menyampakkan selimut.

"A-Ah! A-Apa yang kau lakukan padaku!?"

"... Hah?"

Kamito membeku, berkata-kata.

Tersembunyi di bawah selimut bukan Roh Spirit yang suka berpakaian telanjang dengan kaus kaki setinggi paha.

Apa yang dia lihat adalah bulu putih murni, dan sepasang telinga besar panjang yang menggantung ke bawah.

Dan rambut emas yang pucat mempesona -

Oh My... Nona kelinci.

"... Hei, Rinslet! Apa yang kau pikir kau lakukan?"

"T-Tidak, itu tidak benar! A-Aku Nona Kelinci sekarang!"

Rinslet memerah, malu. Telinga Kelinci di kepalanya bergerak-gerak ke atas.

"Aku berkata, Rinslet -"

"Ini" Nona Bunny '. "

"Nah, Nona Bunny."

Sesuai permintaannya, Kamito mengulang patuh.

"Pakaian kamu ini, apa yang sedang kau lakukan?"

"Ini ... Aku. .."

Sebagai tanggapan, Rinslet hanya bisa menggosok kedua tempurung lutut dengan canggung sambil gagap dan tidak mampu berbicara.

Melihat Rinslet biasanya keras kepala dan Kamito sadar memakai ekspresi seperti memberi perasaan adorasi yang tak terlukiskan.

... Omong-omong, pakaian ini terlalu menantang, bukan? Ini praktis membutakan!

Apabila melihat lebih dekat akan terlihat bahwa -

Pakaian Nona Kelinci yang Rinslet kenakan berada di sebagian besar batas yang tidak sopan.

Itu satu set pakaian yang sangat berbau erotis, terbuat dari bahan seperti pakaian dalam, dengan bulu halus lembut yang dijahit pada mana-mana.

Ada banyak bulu pada kedua tangan dan kakinya, dan ekor-seperti bola bulu menggantung dari belakang.

Yang paling menarik dari seluruh pakaian ialah kerah kulit yang diikat di lehernya.

Gadis elegan, aristokrat, putri kaya mengenakan kerah yang ... kombinasi itu cukup untuk memberikan orang pikiran yang salah.

"Aku berubah menjadi Nona Bunny oleh ilmu sihir ... chuu!"

Gadis itu berkata kaku, seolah-olah membaca baris dari narasi.

"Apa, 'chuu'?"

"Ini jeritan kelinci."

"Aku tidak bisa membayangkan jeritan kelinci terdengar seperti itu ..."

Tatapannya berpindah jauh dari puncak kembar besar dan lembah tepat di depan matanya, Kamito menggeleng dan berbicara.

Tepat pada saat ini -

"- K-Kamito, aku sudah membuat sarapan untukmu!"

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Orang yang berdiri di sana adalah Kapten Knights-Ellis.

"Apa?"

Kamito berhenti bicara sekali lagi.

Ellis, yang berdiri di depannya, berpakaian seperti Rinslet dalam pakaian yang masih dalam tepi kesopanan.

Satu-satunya perbedaan adalah bahwa ia mengenakan telinga anjing bukan kelinci, dan bulu di tangannya tidak putih, tapi coklat.

Telinga atas kepalanya berayun menerus saat dia bergerak.

"E-Ellis ... bagaimana mungkin kamu juga ..."

"T-Tidak, jangan katakan lebih lanjut!"

Berwajah merah dan menggigit bibirnya, Ellis yang malu-malu tampak seolah-olah ia ingin menemukan lubang untuk masuk bersembunyi.

"Oooh, j-jika saudara tertuaku melihat aku berpakaian seperti ini, aku tidak tahu apa yang akan mereka katakan ..."

Air mata bersinar dari sudut mata cokelatnya, mungkin karena malu mengungkapkan perasaannya.

... Sekarang ... bagaimana situasinya?

... Apa sih yang terjadi? Mengapa Kapten baik-hati dan taat aturan berpakaian sedemikian rupa tidak bermoral?

"H-Hanya tidak keberatan pada pakaian saya, baik-baik saja."

"Uh ... bagaimana kamu mengharapkan orang untuk tidak keberatan?"

Ellis mengabaikan jawaban membingungkan Kamito itu.

Dia berdeham dengan batuk, dan mendorong kereta makan kecil dari koridor.

"Ah?"

Aroma roti baru dipanggang segera memenuhi ruangan.

"... Yah, sarapan datang, aku membuat ini untuk Anda."

Ada makanan sarapan baru disiapkan di gerbong makan, dimana uap di atasnya mulai tersebar.

Piring termasuk - roti panggang untuk tingkat sempurna, sup labu tebal bergaya Prancis, omelet nikmat lembut, Caesar salad dengan menambahkan tuna, dan terakhir tapi paling tidak untuk hidangan penutup, ada yoghurt diatasnya dengan selai stroberi.

Pada pandangan pertama, meskipun ini tidak persis kelas tinggi, orang bisa mengatakan bahwa setiap hidangan telah siap dengan perawatan yang sangat teliti.

"... Kau begitu ahli! Apakah Anda melakukan semua ini sendiri, Ellis?"

"Y-Ya, saya mempersiapkan ini di dapur menara. Hanya karena aku tidak ingin melupakan keterampilan kuliner saya, itu tidak khusus dibuat untuk Anda!"

Ellis memalingkan muka, ekspresi malu tiba-tiba melintas di wajahnya saat dia membungkuk di samping Kamito.

"Kapten, bagaimana Anda bisa melakukan ini!"

Mengabaikan protes Rinslet, ia menunjukan Kamito:

"-Aku akan memberimu makan ... B-buka mulut, datang."

"T-Tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri -!"

"Tentu saja tidak, kaulah yang terluka setelah semuanya."

"Lukaku sudah sembuh -"

- Ke mulutnya.

Mengambil keuntungan dari momen mulut Kamito itu terbuka, boneka omelet Ellis masuk ke dalam mulutnya.

"..."

"B-Bagaimana?"

"... S-Super lezat!"

Omelet itu tidak hanya cukup manis, tapi itu juga sangat lembut dan halus yang meleleh di mulutnya. Ini melampaui-karya sempurna oleh Ellis yang dikonfirmasi mengatakan bahwa hidangan sederhana, tes besar bahwa itu keterampilan koki.

"Apakah itu benar-benar begitu! ... Itu bagus."

Ellis tersenyum malu-malu, telinga anjing di kepalanya bergerak naik dan turun.

Melihat Kapten biasanya serius dan tegas memakai ekspresi seperti itu, Kamito tidak bisa membantu tetapi merasa kupu-kupu di perutnya.

"Hmph-Kapten, kau terlalu licik untuk melakukan hal ini."

Pipi sombong Rinslet sedikit marah dan berkata.

"... Rinslet?"

"L-Lalu aku akan memberikan Kamito-san pijatan."

Setelah mengatakan ini, Rinslet segera mulai memijat bahu Kamito dengan kekuatan lembut.

"... Apa?"

"Bagaimana rasanya?"

"Kau begitu pandai dalam hal ini ... kelelahan saya perlahan-lahan menghilang, wow."

Kamito tidak hanya mengucapkan kata-kata semacam pujian kosong, teknik memijat Rinslet adalah benar-benar standar profesional.

Sensasi nyaman membuat semua otot tegang dalam tubuhnya rileks satu per satu.

"Kau tahu, aku memijat Carol sepanjang waktu, karena ia terus memuji saya, saya sadar menjadi sangat baik memijat."

"Jadi itu sebabnya ..."

... Maid itu bisa memerintahkan tuannya untuk memijati bahunya baginya adalah, dalam arti tertentu, hampir berlebihan.

"Oh ya, Anda sebaiknya menerima saya dengan baik. Akulah pewaris klan Laurenfrost. Sebenarnya, saya tidak pernah bisa melayani orang dengan cara ini."

"Y-Yah ..."

Pada saat ini, Kamito tiba-tiba merasa dua benjolan lembut punggungnya.

"Tapi ... hanya untuk hari ini ... semua orang ..."

Rinslet mencondongkan badan dan berbisik ke telinga Kamito ini:

"Setiap orang bisa menjadi ... Hewan Peliharaan Kamito-san."

"Uh ... a-apa katamu -!"

Dalam kepanikan, Kamito memutar kepalanya, maka -

"A-Aku juga, hanya untuk hari ini, saya bukan Kapten Anda!"

Kemudian Ellis itu, berteriak, menyemangati sampai telinga anjingnya:

"Saya ingin menjadi ... anjing peliharaan kecil K-Kamito."

"Ellis!?"

Apa yang terjadi dengan mereka berdua?

"Kamito ..." "Kamito-san ..."

Ekor hewan kecil mereka terayun, mereka berdua menatap Kamito dengan api di mata mereka.

... Mengapa ia merasa pusing dengan kebingungan? Mungkinkah demam lain?

Hei, sesuatu tidak benar ...

Suhu di dalam kamar itu terus meningkat.

Boom boom boom ...

"... K-Kalian ... kerusakan apa yang kalian lakukan?"

"Claire?!"

Kamito berbalik dan melihat -

Pintu, yang belum ditutup, dibuka dengan keras. Berdiri ada Claire dengan cambuk pembakaran-panas di tangannya.

Bahunya gemetar sedikit marah, dan dua ekor kuda merah terang menunjuk tegak seperti api.

Namun, apa yang terpaku tatapan Kamito adalah bagaimana dia berpakaian.

Di atas kepalanya adalah sepasang telinga kucing merah yang bergetar.

Pada tubuh langsing mungilnya ada pakaian erotis yang terbuat dari bulu merah.

Paha putih telanjang dipajang begitu berani sehingga seseorang dapat melihat langsung mereka.

"B-Bagaimana mungkin kamu melakukan hal ini? Pakaian itu ...!"

Kamito bergumam, tercengang, kemudian -

"Waaaah! Bodoh B-Bodoh, apa yang Anda lihat!"

Claire tersipu dan memegangi lututnya malu-malu.

Dia kemudian membuat suara seperti kucing menggeram rendah, dan menatap Kamito dengan air mata di matanya.

"Hmph, apa ... dalam hal apapun kamu ingin bilang bahwa dada kecil saya mengecewakan, bukan begitu!?"

"..."

Sejujurnya berbicara, bahwa set pakaian itu memang membuat dada Claire tampak lebih mungil.

Meskipun dengan pakaian yang sama bisa membawa keluar lembah antara payudara Ellis dan Rinslet, fakta yang tak terbantahkan dari hal itu, melihat Claire memakainya hanya memberikan kesan melihat washboard seseorang.

Karena itu, bagaimanapun, itu tidak mengurangi pesona yang dia pancarkan. Keputusasaannya dia atas ukuran dadanya bahkan membuatnya tampak menyedihkan dan halus, yang hanya meningkatkan keindahan nya.

"Tidak sama sekali. Bagaimana seharusnya saya mengatakan itu ... Saya pikir Anda sangat lucu seperti ini."

Kamito mengungkapkan perasaan jujur.

"A-A-Ah! A-apa omong kosong yang kamu katakan!"

Pipi Claire tumbuh lebih merah dan merah. Dia melambaikan cambuk di tangannya, yang membuat suara menampar.

"Oooh ..." "Kamito-san!"

Pada saat ini, salah satu telinga anjing Ellis dan telinga kelinci Rinslet itu memiringkan ke arah Kamito, dan mereka menggembungkan pipi mereka sedikit kesal.

"Aku tidak peduli lagi ... kamu benar-benar orang bodoh mengerikan!"

Claire bergumam terbata-bata, lalu berjalan menuju Kamito -

Lalu ia tiba-tiba melompat ke tempat tidur Kamito bmasuk

"Uhhh ... ... hey ... kalian ...!"

Ketiga gadis-gadis cantik berpakaian seperti binatang lucu erotis mendorong satu sama lain di sekitar tempat tidur kecil, bahu telanjang mereka menempel pada lengan Kamito.

"Kalau begitu, kau katakan padaku ... apakah ada yang bisa saya lakukan untuk kamu, Kamito?"

Claire menggigit bibirnya ringan dan menatap Kamito dengan mata melirik-keatas.

"Apa pun Aku. .. ingin kamu lakukan?"

"Seperti ... oh ya, tidur di pangkuanku ... atau membantu Anda membersihkan telinga Anda ... hal-hal semacam itu?"

"Tidur di pangkuanmu?"

Tindakan seperti mimpi umum di antara semua orang.

Kamito sengaja melirik paha lembut Claire yang tampak - dan kemudian tatapannya cepat pergi berpindah.

"Oh, tapi hanya untuk hari ini! kamu biasanya adalah budakku, tapi hanya untuk hari ini ... Aku-aku bersedia ... untuk menjadi budakmu!"

"B-Benarkah?"

Kamito menanyainya dan Claire mengangguk.

"Y-Ya! Untuk hari ini, saya akan menyetujui apa pun yang Anda minta dari saya! A-Anda lebih baik mempersiapkan diri!"

"Tunggu sebentar, apa yang saya harus mempersiapkan diri untuk itu?"

"K-Kamito ... itu sama bagi saya!"

"Dan aku!"

Ellis dan Rinslet juga terserah dia, memeluk Kamito erat dengan tubuh mereka.

"Tapi ... tidak-ada perintah seksual sekalipun."

"Siapa yang akan melakukan itu! Orang seperti apa yang kalian pikir aku ini!?"

"Huh, kau tidak ingin membuat perintah seperti itu? Oh, oke ..."

Untuk beberapa alasan, terlihat kekecewaan merayap di wajahnya saat ia menggumamkan kata-kata itu.

Membiarkan mendesah, Kamito berkata frustrasi:

"- Sekarang bisa kau katakan padaku mengapa kalian bertiga berpakaian seperti ini?"

Dia blak-blakan bertanya pada ketiganya.

"Ini ... itu karena ..."

Ketiga wanita saling memandang dengan panik.

Setelah beberapa saat, Claire akhirnya menyerah dan berkata: "K-Karena setelah Est menghilang, Anda tampak begitu muram dan depresi -"

"... Hah?"

"Jadi kami memutuskan untuk berpakaian seperti ini untuk menghiburmu ...!"

Merah padam, Claire dengan canggung menyelesaikan penjelasannya.

Dikatakan bahwa ketika sebuah elementalist dalam keadaan mental yang buruk, mereka tidak akan memiliki cara untuk memanggil roh. Dalam kasus yang lebih serius, mereka mungkin kadang-kadang bahkan kehilangan kekuasaan gadis-gasis itu.

Misalnya, Fianna telah ditangani pukulan emosional yang berat empat tahun lalu, dan telah mampu menggunakan kekuatannya untuk jangka waktu yang panjang setelah itu. Ketika Scarlet dikalahkan oleh roh setan, Claire juga jatuh ke dalam kesedihan, dan tiba-tiba menemukan dirinya mampu memanggil Scarlet.

Jika pukulan dari hilangnya Est menyebabkan jantung Kamito yang akan didominasi oleh perasaan negatif kebencian, yang «gerbang» antara hati mereka akan benar-benar menutup selamanya, tidak pernah buka lagi. Sebenarnya, sebenarnya ada banyak gadis putri yang telah kehilangan status mereka sebagai elementalists karena trauma tersebut kepada jiwa mereka.

Jadi sederhananya, mereka ingin menghiburku - kira-kira niat seperti ini?

Terbukti, ia telah membuat wanita-wanita ini terlalu khawatir.

Namun, Kamito mengucapkan terima kasih dari lubuk hatinya untuk perhatian mereka.

"... Tapi kenapa berpakaian seperti binatang-binatang kecil dan mengambil suatu tindakan?"

Tanya Kamito.

"Fianna yang mengatakan kepada kami rahasia ini. K-Kau bajingan, Anda menyukai hal semacam ini, bukan?"

"Putri sialan itu, ya ..."

Kamito menggertakkan gigi dan bergumam.

... Jadi begitu, kostum hewan seksual ini semua koleksi rahasia Fianna itu.

"Itu ... tidak mungkin benar, Anda tidak menyukai tampilan ini?"

"Hmm? Yah ... Aku tidak mengatakan saya tidak menyukai itu."

Meskipun keberatan ia merasakan, Kamito enggan mengakui itu -

Sejujurnya, dia benar-benar pikir itu cukup lucu.

Selain itu, bahwa anak perempuan aristokrat sombong akan bersedia untuk mempermalukan diri mereka sendiri secara menyeluruh dalam rangka untuk menghiburnya - walapun metode mereka tidak benar, niat positif mereka sudah cukup untuk membuat orang ingin terus terang berterima kasih pada mereka.

"... Kalian semua, terima kasih."

"Aku tidak melakukannya untukmu, Kamito, aku hanya ingin Est kembali dengan cepat, itu saja."

Saat Claire membalikkan kepalanya, telinga kucing di kepalanya bergerak juga.

Ellis dan Rinslet, juga, malu-malu mengguncang ekor mereka.

"- N-Nah, akankah kita berjalan-jalan di luar?"

Claire, yang berdeham, menarik-narik piyama Kamito dan bertanya.

"Di luar?"

"Hari ini adalah hari terakhir kita istirahat sebelum kompetisi utama dimulainya, tentu saja kita harus pergi ke luar dan memiliki waktu yang baik! Tinggal terkunci di sebuah ruangan dengan tertekan sepanjang hari hampir bukan solusinya, kan?"

"... Itu benar."

Semua yang Kamito bisa lakukan sekarang adalah untuk percaya pada Est dan menunggu dia kembali.

Jika Kamito, kontraktor nya, tidak bisa keluar dari depresi, «gerbang» akan menjadi mustahil untuk membuka.

Pergi ke luar untuk mengangkat semangatnya mungkin ide yang baik.

"Dan di pulau ini mengambang, bahkan ada Biblion yang dikelola oleh« Ilahi Ritual Institute »."

Rinslet menambahkan.

"Biblion?"

"Telah dikatakan bahwa banyak informasi tingkat tinggi diarsipkan dalam Biblion suci, informasi yang tidak dapat ditemukan bahkan di perpustakaan segel kita. Jika Est benar-benar Roh Spirit yang disegel di dalam pedang suci kuno, kita mungkin dapat menemukan petunjuk dalam dokumen-dokumen. "

"... Jika memang demikian, kedengarannya seperti menarik untuk dilihat."

Anekdot dari Pedang Suci Pembunuh Raja Iblis dapat ditemukan di seluruh benua, dan meskipun kebenaran dan fiksi yang dicampur di dalamnya, mengingat Est adalah roh yang sangat kuat, tidak akan mengejutkan untuk menemukan penyebutan nya di salah satu kuno catatan.

"Sudah diputuskan, sekarang bergegas dan bersiap-siap untuk pergi!"

"Mhmm, kita tidak bisa ceria hanya dengan terkurung dalam ruangan sepanjang waktu."

"Dan di tempat yang begitu dekat dengan pelabuhan, ada banyak toko disekitar sini juga."

Ketiga gadis ramai bersama-sama, semua berusaha untuk mengambil lengan Kamito itu.

"Tunggu, biarkan aku mengganti pakaianku ... Juga, kalian tidak ingin pergi keluar berpakaian seperti ini, kan?"

"Aaah! T-Tentu saja tidak!"

Gadis-gadis tersipu dan cepat melepaskan Kamito.

Bagian 2[edit]

Jadi -

Kamito dan teman-temannya, mengenakan pakaian mereka, menaiki kereta ke pelabuhan.

Biblion suci tampaknya terletak tidak terlalu jauh dari sini, struktur kayu polos dan sederhana yang didirikan sisi ke sisi di daerah pelabuhan ini, menciptakan suasana yang hidup seperti itu jalan-jalan belanja saat perayaan.

Selain itu, berbagai negara di benua ini mengkombinasikan untuk mengumpulkan dana untuk berbagai fasilitas makanan dan hiburan untuk menyambut para penonton dari Tarian Pedang.

Karena ini adalah dunia roh asli, dimana manusia dilarang untuk hidup, fantasi berjalan-jalan ini hanya akan muncul selama beberapa hari.

Itu adalah pemandangan yang hanya terlihat selama Tarian Pedang.

"Wow - langit cerah hari ini."

"Mm, karena kita berada di awan, tentu saja."

Claire menggeliat seperti kucing saat ia berjalan, ia dan Kamito mengobrol sambil berjalan bersama-sama.

Kemudian, angin sejuk menyegarkan bertiup, dan rambutnya Claire, yang diikat menjadi dua ekor kuda, bergoyang tertiup angin.

Agak renggang di langit, pulau terapung - Ragna Ys - berdiri tidak pada posisi melawan angin kencang, tetapi karena tanah suci ini memiliki perlindungan tambahan dari Raja Elemental Angin, bahaya itu hanya akan menjadi pesona.

Kerajinan kecil terbang satu per satu antara kesenjangan dalam awan dan tiba di pelabuhan.

Sehubungan acara utama Tarian Pedang segera dimulai, bangsawan dari negara di seluruh benua sudah mulai berkumpul di sini.

"Ini benar-benar spektakuler."

"Hanya di pulau apung Anda dapat melihat pemandangan seperti itu."

Ellis dan Rinslet mengungkapkan rasa takjubnya mereka dengan seruan gumaman.

"... Ini akan menjadi besar jika Fianna bisa ikut dengan kami."

Sementara bergumam, Kamito mengangkat kepalanya untuk melihat jelas, langit biru yang luas.

Pada saat ini, Fianna tampaknya mencari cara untuk menghancurkan «Tanda Kegelapan» yang ada pada Kamito. Dia telah tanpa lelah mengunjungi kenalan lama sewaktu ia berada di «Divine Ritual Institute».

"Kemudian, mari kita membeli beberapa hadiah untuk diberikan kepada Fianna, benarkan?"

"Mmm, ya."

Batu tulis jalan berjajar dengan berbagai toko-toko.

Karena mereka hanyalah pasar sementara, bahan mereka terbuat dari bahan yang tidak terlalu mengesankan. Namun, pengrajin atau koki yang bekerja di dalam adalah bakat-bakat atas yang telah direkrut dari berbagai negara. Tarian Pedang adalah kesempatan yang sangat baik untuk menampilkan prestise bangsa sehingga negara cenderung murah hati menghabiskan sejumlah besar uang untuk ini.

Kelompok ini berjalan ke jantung pusat perbelanjaan, dan melewati sekelompok wisatawan yang baru saja turun dari sebuah pesawat terbang.

"Aku tidak ingin mengatakan ini, tetapi tempat ini benar-benar sangat ramai."

"Pria dimana-mana ... aku mulai merasa pusing."

Ellis dan Rinslet melihat sekeliling dengan gelisah.

Tampaknya bahwa wanita, yang dibesarkan di lingkungan yang terlindung, tidak mnyukai tempat-tempat yang ramai seperti itu.

Selain itu, kota di sini berbeda dari kota perguruan: pria menyumbang proporsi yang lebih besar dari orang-orang di sini. Meskipun mereka berada di antara elementalists terbaik, di sini mereka segera kembali menjadi gadis lugu murni. Setiap kali seorang pria, yang melintas, mnyenggol bahu mereka, mereka akan memgeluarkan jeritan kecil dan menekan erat lengan Kamito.

Claire tidak terkecuali, dari awal, ia berulang kali telah menempel dekat Kamito kemudian segera menarik diri.

Setiap kali dia bersandar pada Kamito, dia akan menjauh memerah, ketika dia selanjutnya menabrak orang lewat, dia akan kembali ke Kamito.

Gadis ini bodoh, apa yang dia lakukan?

Ketika Claire bersandar ke dia lagi, Kamito cepat mengambil tangannya.

"Aaaah! A-Apa yang kamu lakukan!"

Berapi-api gadis kucing ini menangis marah, wajahnya merah.

"Siapa yang mengajarimu cara berjalan begitu goyah? Itu sangat berbahaya."

"Yah ... o-oke, aku akan membiarkan Anda memegang tangan saya, tapi di sini saja."

Sebagai reaksi mereka berpegangan tangan, Claire berbalik menatap samping malu-malu.

"Kau terlalu licik ..."

Rinslet menggembungkan pipinya sedih, lalu meraih tangan kosong lainnya Kamito itu.

"Rinslet?"

"Aku-aku takut Anda tersesat, jadi berpeganglah erat-erat."

Lalu Ellis, juga bergabung, melihat bahwa kedua tangan Kamito yang penuh, ia tidak punya pilihan selain untuk memegang lengannya.

"E-Ellis ...!"

"Hei ... Kapten! kamu memblokir jalan di sini!"

"I-Itu kamu, bukan aku! Lepaskan tangan Kamito itu sekarang!"

"Ah ... kalian semua, saya tidak bisa berjalan seperti ini!"

Gadis-gadis, semua yang menempel pada Kamito, mulai bertengkar.

Mereka membuat adegan sedemikian rupa sehingga orang yang lewat di dekatnya mulai berbisik di antara mereka:

"Cepat, lihat ke sana, tiga gadis mulia melayani pemuda itu, wow."

"Itu karena dia adalah laki-laki yang dikabarkan seorang elementalist, kau tahu ..."

"Itu terlalu jahat baginya, menenggelamkan taringnya ke gadis-gadis halus itu."

"Tapi, lihatlah ekspresi gadis-gadis itu', mereka tampaknya tidak membencinya sama sekali."

"Mereka haruslah berada di bawah semacam mantra sihir aneh, tentu saja."

Yah ... Situasi ini tampaknya telah menjadi sedikit lebih buruk ...

Kamito telah lama digunakan sebagai lambang permusuhan dari orang asing.

Namun, dia tidak ingin menodai reputasi wanita yang bermitra dengannya.

"Saya katakan ... ada terlalu banyak orang di sini, jadi mengapa kita tidak menemukan tempat teduh untuk beristirahat?"

"Mm, kedengarannya bagus ..."

Claire dan yang lainnya mengangguk untuk menunjukkan persetujuan mereka. Tampaknya mereka juga memikirkan hal yang sama.

Mereka memandang berkeliling untuk mencari toko dimana mereka bisa mendapatkan secangkir teh. Dan kemudian -

"Kamito-san, lihat ... ada toko « La Parfait » di sana!"

Rinslet menunjuk ke arah sebuah kafe chic-yang tampak di seberang jalan.

"Katakanlah, bukankah itu « La Parfait » yang terkenal!? Aku selalu ingin mencoba kue mereka."

"Jika ingatan saya benar, café ini sangat populer di seluruh kekaisaran ... berisi orang-orang penting juga."

Bahkan Claire dan Ellis tahu itu. Terbukti, bisnis yang telah mendirikan kios sementara yang sangat terkenal.

"... Dalam hal ini, kita akan pergi ke sana?"

"Setuju!" "Ya!" "Mmhm ...!"

Ketiganya mengangguk setuju dan menyeret Kamito arah itu.

Bagian 3[edit]

Toko «La Parfait» hampir terisi penuh, begitu banyak sehingga kelompok harus menunggu sedikit sebelum disajikan.

Sambil duduk di pintu masuk menunggu untuk dilayani, Kamito memeriksa dekorasi kios itu. Balok horizontal langit-langit secara alami membungkuk seperti cabang-cabang pohon, Kamito sangat menghargai suasana hangat kayu unik yang hendak disampaikan ini.

"Aku heran ini adalah tempat yang santai. Ketika saya mendengar kalian mengatakan itu adalah salah satu toko kekaisaran paling populer, saya berharap jauh lebih mewah dan mewah."

"Ini hanya sebuah Toko sementara yang disiapkan untuk « Tarian Pedang », jadi tentu saja itu tidak akan dihias dengan baik. Toko-toko mereka yang biasa berisi begitu wanita aristokrat baik yang bersedia untuk menyembunyikan identitas mereka hanya untuk memasuki toko ini . "

"Oh, jadi begitu ... Hei, berbicara tentang itu, aku tidak membawa uang tunai ..."

Wajah Kamito tiba-tiba berubah pucat.

Sebuah toko bahkan tuan putri akan menyamar - ini tentu jelas toko benar-benar kelas tinggi.

"Walaupun ini adalah toko biasa, tidak peduli seberapa banyak kau bawa, kau masih tidak mampu membelinya."

"Toko-toko ini gratis bagi peserta Tarian Pedang."

"Jadi-jadi begitu ..."

Pada kata-kata Rinslet itu, Kamito mendesah meyakinkan.

Setelah beberapa saat, keempat melangkah ke kursi mereka.

"Saya ingin kue Persik, sorbet Persik ... dan mousse Persik."

Claire membalik membuka menu dan menunjuk dengan jarinya pada pilihan makanan penutup.

"Kenapa kau begitu banyak memilih pilihan persik ... bukankah kamu sudah memakannya di tadi pagi?

"B-Bukan urusanmu ... jadi apa yang harus kupilih?"

"Cream puff rasa raspberry ini juga terlihat lezat."

"Y-Ya, tampaknya lezat."

"Oh ... Hidangan ini menempatkan beberapa es krim pada pai apel segar panas untuk dimakan bersama-sama ..."

"Mari kita memesan satu dan membaginya, semua orang dapat memiliki beberapa. Kamito, apa yang akan kamu inginkan?"

"Oooh ... Baiklah, aku akan memilih scone, kufikir ..."

Kamito menjawab acuh tak acuh, tapi kemudian -

"Apa sikap itu, kamu tampak begitu enggan."

"Aku benar-benar kasihan makanan pada makanan penutup yang kamu pesan seperti itu untuk makan."

"Jika Anda seorang pria sejati, Anda harus memilih tegas ... Yah, aku sedang berbicara tentang memilih kue."

Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, Kamito mendapati dirinya sedang memarahi oleh wanita.

"M-Maaf ..."

Mereka bertiga selalu bertengkar ketika dalam pelatihan, tapi dalam situasi ini, mereka selalu dalam pemahaman penuh.

Rinslet memanggil pelayan, dan satu-per-satu memerintahkan mereka membuatkan kue mereka dan makanan penutup dengan nama yang sengaja akan membuat salah satu dari mereka menggigit lidah.

"- Dan terakhir, saya ingin empat cangkir teh hitam dari daerah Laurenfrost."

"Ya."

"Ah ... m-maafkan aku, tunggu dulu!"

Ellis berteriak keras untuk menghentikan pelayan, yang sedang bersiap untuk pergi.

"Ya?"

"Silakan tambahkan sedikit krim dan madu untuk teh saya, dan jika Anda bisa, menambahkan beberapa marshmallow mengambang juga."

"Uh ... Maafkan aku, tamu terhormat, tapi toko kami tidak melayani seperti semacam minuman."

"B-Begitukah Dapatkah Anda tidak membuat pe -?! Oooh"

Setengah jalan melalui kalimatnya, Ellis berhenti.

Itu karena Rinslet mencubit bagian belakang lehernya.

"Hei, apa yang kamu lakukan!"

"Oh my god, apakah kau tidak malu! Saya tidak suka mengatakan hal-hal seperti itu, tapi keluarga Fahrengart harus benar-benar berkelas tinggi!"

Rinslet sangat khusus menyeduh teh, dan selebihnya melarang Ellis menambahkan bahan acak pada pesanannya.

"Jadi bagaimana jika Anda dari keluarga Laurenfrost, itu hanya pilihan keluarga bangsawan pedesaan dikebun, itu saja!"

"A-Anda tidak akan berani ...!"

Intens mini badai salju meledak di samping Rinslet.

"T-Tidak peduli apa, aku tidak peduli, jika tidak manis aku tidak akan meminumnya!"

"Kalau begitu, kenapa tidak Anda hanya memesan coklat tadi?"

"Jangan Anda berpikir kakao agak terlalu kekanak-kanakan?"

"Hanya orang-orang kekanak-kanakan akan memanggil kakao kekanak-kanakan!"

"Oke, oke, berhenti berdebat, kue di sini."

Claire ringan menusuk bahu Rinslet dan berkata.

"Hmph ... tidak peduli, lain kali aku akan mengajarkan Kapten kita bagaimana untuk minum teh."

"Hal-hal manis hanya lebih baik ..."

Ellis mengatakan secara setengah-menantang dengan bibir mengerucut.

Tidak lama setelah itu, deretan makanan penutup dikirim ke meja mereka.

Ditempatkan dalam wadah perak, masing-masing kue dan roti tampak seperti sebuah karya seni yang indah.

Saat melihat mereka, kemarahan dua gadis aristokrat menghilang dan digantikan oleh ekspresi sukacita.

"Aku tidak bisa membantu tapi merasa bahwa ... untuk makan sesuatu yang begitu indah akan hampir menjadi sia-sia."

"Ini makanan ringan yang dibuat oleh koki terbaik mewakili kerajaan kami."

Selagi Claire berbicara, dia membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigitnya keluar dari peach pie.

"Waaah ... itu benar-benar lezat!"

"Cream puff rasa raspberry ini juga rasanya luar biasa halus dan lezat."

"Mmmm, mungkin ada beberapa anggur manis ditambahkan ke kue spons ini ... Saya harus mencobanya lain kali."

Kamito mendengarkan komentar gadis-gadis ', kemudian menempatkan kuenya sendiri ke dalam mulutnya.

"Oh, sangat lezat."

Meskipun ia tidak ahli makanan, rasa manis di mulutnya itu memberinya perasaan yang kaya dan mulia.

Namun, dibandingkan dengan ini -

Melihat ekspresi gembira di wajah anak-anak membuat Kamito merasa bahagia bisa dijelaskan dirinya.

"Kamito, apa itu?"

"Hah? Oh ..."

Kamito tersentak dari lamunannya, hanya untuk menemukan Claire curiga menatapnya. Dia cepat-cepat mengalihkan tatapannya dan pura-pura ketidaktahuan.

"Untuk berpikir bahwa kios ini akan dibongkar segera setelah tarian Pedang, sayang!"

"Itu hanya bagaimana hal itu. Tapi ... ada toko di kekaisaran, jadi kita pasti akan memiliki kesempatan untuk mengunjungi lagi."

"Mmm, waktu berikutnya kami pergi, kita harus yakin untuk bersama Fianna ... dan Est."

Kamito menatap semangat segel di tangan kanannya dan bergumam.

"Kamito ..."

"Kamito-san ..."

Mendengar ini, Ellis dan Rinslet mengangkat kepala mereka.

"Est-akan kembali, aku janji."

Claire berbicara dengan nada tenang tapi suara meyakinkan.

"Jadi ... hanya percaya dalam dirinya dan menunggu dia untuk kembali. Satu-satunya orang yang bisa membantunya keluar dengan cara ini adalah elementalist dirinya -.. Anda"

"Mmmm ..., kau benar."

Kamito mengangguk - dan kemudian merenung:

... Mitra akan membuat yang satu kuat - yang mungkin merujuk kepada perasaan yang aku alami sekarang.

Tiga tahun lalu, Penari Pedang Terkuat memang sangat cepat dan kuat.

Hanya dalam hal keterampilan sebagai elementalist, ia tak tertandingi.

Tapi kekuatan fisik yang rapuh dan mudah dihancurkan oleh pukulan yang kuat, mereka adalah kekuatan yang dikembangkan melalui kesepian.

Kamito di masa lalu tidak memiliki satu yang dapat diandalkan.

Setelah kehilangan Restia, dia hanya ditinggalkan dengan keputusasaan yang kekal.

Sekarang, bagaimanapun, saya punya teman yang bersedia mendukung saya.

Jadi hati saya tidak akan lagi pecah.

Aku tidak akan tenggelam dalam keputusasaan lagi.

... Sejauh ini, Est telah menyelamatkan saya berkali-kali.

Kamito mengepalkan tinjunya di atas meja.

- Jadi, giliran saya sekarang. Tidak diragukan lagi: Aku akan menyelamatkanmu.

Bagian 4[edit]

Sanctuary paling penting dalam keseluruhan pulau mengambang Ragna Ys-Aula Besar Raja Elemental Angin- terletak di atas sebuah daerah berbukit. Itu agak jauh dari gedung tempat para peserta Tarian Pedang.

Bangunan putih terbuat dari kombinasi bahan berkualitas terbaik dan teknologi mutakhir. Pembangunan besar menutupi seluruh bukit, satu bisa menghargai keagungan bahkan dari luar pulau terapung.

Itu tidak hanya tempat di mana roh-roh angin mendengarkan keputusan Spirit Raja ke tanah suci, tetapi juga di mana gadis putri dari «Divine Ritual Institute» dipilih oleh berbagai negara akan berlatih ibadah mereka. Oleh karena itu, bahkan bangsawan negara akan benar-benar tidak diperbolehkan masuk.

Namun, pada saat itu momen yang sangat, ada seorang wanita di luar gerbang berteriak cemas:

"Silakan memeriksa siapa saya! Berilah aku kesempatan berbicara dengan Reicha-sama-!"

Dia seseorang yang berpisah dari tim yang sama dengan Kamito - Fianna.

Memasang tatapan serius jarang terjadi, dia mengakui dengan berdiri didepan penjaga di pintu gerbang.

"Kau benar-benar tidak menyerah."

Pria penjaga setengah baya menatap Fianna dengan mata ramah.

Wajahnya jelas menyatakan keras kepala.

"Tolong mundur. gerbang « Divine Ritual Institute » kami tidak akan pernah membuka untuk hal apapun, apalagi me,berikan kesempatan berbicara dengan Reicha-sama. Permintaan Anda benar-benar tidak akan pernah dikabulkan."

Penjaga itu mengucapkan sebuah pernyataan yang mungkin sudah diulang berkali-kali sebelumnya.

... Ini sangat menyebalkan! Orang-orang ini sangat keras kepala seperti biasa!

Fianna mengutuk sabar pada dirinya sendiri.

Karena itu, ia sebenarnya mengharapkan reaksi seperti itu dari awal, karena orang yang dia ingin melihat bukan orang yang akan bertemu dengan siapa saja.

Jika saya bisa meminjam kekuatannya, tentu akan cukup untuk mematahkan kutukan pada Kamito. Tapi ...

Penjaga itu menatap Fianna, tidak berusaha menyembunyikan ekspresi penghinaan.

Terbukti, dia tidak kecenderungan sedikit pun untuk membuka pintu.

... Yah, aku tahu alasan berabad-abad lalu.

Menolak untuk menyerah, Fianna menggigit bibirnya.

Yang dia pikir adalah Penghilangan Spirit oleh Putri yang telah mengkhianati Raja Elmental Api - Rubia Elstein.

Sudah ada harapan tinggi yang ditempatkan pada Fianna untuk menjadi penerus, tetapi insiden Rubia telah meninggalkan kengerian tak terhapuskan dalam hatinya, yang menyebabkan dia kehilangan kekuatan memanggil roh kontrak, dan dengan itu, status sebagai putri pertamanya.

Dan Fianna Ray Ordesia menjadi Putri Yang Hilang, benar-benar mengecewakan orang-orang yang punya harapan besar dan mendiskreditkan «Divine Ritual Institute».

... kamu orang yang berpikiran sempit, yang hanya tahu bagaimana menyelesaikan dalam upaya dangkal, benar-benar menjijikan.

Bahkan orang tua Areishia sendiri -kaisar dan permaisuri-dan berbagai bangsawan itu semua tidak berbeda.

Ketika Fianna masih menjadi gadis penerus putri, orang-orang ini telah menyanjung dia dalam setiap cara yang mungkin. Setelah ia kehilangan dia kekuasaan terhadap Roh KOntrak. Namun, mereka segera menghina dan merendahkan dirinya, mengubah sikap mereka lebih cepat daripada mengubah halaman dari sebuah buku.

Tentu saja, tidak semua mereka yang seperti itu. Itu hanya bahwa «Divine Ritual Institute» organisasi yang telah membusuk di bawah beban sejarah panjang, dan memang memiliki sisi gelap.

Melihat penolakan keras Fianna untuk pergi, penjaga menggelengkan kepala dan berkata:

"Saya tidak ingin terus membuang-buang waktu saya pada Anda."

Setelah mengatakan ini, ia berbalik dan kembali ke kuil.

"Tunggu sebentar-a"

Fianna cepat berpindah untuk mengejar ketinggalan dengan dia, tapi-

"Aaaah!?"

Tiba-tiba, angin sengit berembus menyentuh Fianna dari kakinya.

Fianna dan Claire yang berbeda jelas bahwa mereka tidak menerima pelatihan tempur khusus untuk elementalists. Terlambat untuk melindungi dirinya sendiri, ia jatuh dengan keras ke tanah.

"... Apa?"

Dia melihat sesuatu berdiri di pintu - Roh Angin magis yang tampak seperti singa bersayap.

Itu adalah Roh The Guardian, itu tidak membuat kontrak dengan elementalists, tapi bangunan. Ini benar-benar bangunan, ternyata benar-benar tempat kudus.

"Tampaknya tidak mungkin untuk menerobos gerbang depan ..."

Fianna memelototi Guardian saat menyuarakan gesekan dengan bibir.

Bagian 5[edit]

Pedang jatuh dalam kegelapan misterius.

Ia bersinar, pedang indah, yang ditelan oleh kehampaan seperti lumpur, dimana secara bertahap kehilangan cahayanya.

- Begitu aneh. Apa yang terjadi padaku?

Meskipun demikian, pedang ini rupanya masih mempertahankan kesadaran dirinya.

Meskipun hilangnya tubuh fisiknya telah mempengaruhi dirinya, merusak ingatannya -

Ingatannya dari peristiwa terakhir adalah sejernih kristal.

Dia ingat kehangatan saat ia memeluknya dengan kedua tangan di punggungnya.

Dan, hanya untuk instan singkat, sentuhan bibir mereka terhadap satu sama lain.

Kemudian - suara keras memanggil nama sendiri.

... K-Kamito!

Kilauan nya semua hilang, pedang secara perlahan tenggelam dalam kegelapan jurang -


Godaan Tuan Putri Naga[edit]

Bagian 1[edit]

Setelah meninggalkan kafe, Kamito dan yang lain mengambil jalan dekat pelabuhan.

Dikelilingi oleh tiga wanita cantik, Kamito masih menerima beberapa tatapan dari orang yang lewat yang membuatnya merasa tak nyaman, tapi karena mereka agak jauh dari pusat belanja jalan, situasinya jauh lebih baik.

"Bisa kita lihat di toko itu?"

Uluran tangan Rinslet itu menunjuk pada sebuah kios yang khusus menjual gaun aristokrat.

"Tak ada masalah." "Ya, aku tak keberatan."

Claire dan Ellis mengangguk setuju.

"Rinslet, kamu membeli pakaian sekarang?"

Kamito bertanya, bingung. Karena ‘Tarian Pedang’ akan dimulai besok, dia takkan memiliki banyak kesempatan untuk memakai apa pun selain seragamnya.

"Aku tidak membeli itu untuk diriku sendiri, aku membeli itu untuk Carol dan adikku."

"Adikmu?"

"Ya, adikku yang datang khusus untuk menontonku untuk memamerkan bakatku."

Rinslet menepuk-nepuk rambut panjangnya bahagia.

Pada saat itu, maid Carol tiba di pelabuhan siap untuk menyambut gadis yang dibicarakan Rinslet.

"Oh, ternyata Rinslet memiliki adik juga ... Aku membayangkan dia terlihat seperti kakaknya, dia menjadi, anak menyenangkan yang indah ".

"K-Kamito-san, a-apa omong kosong yang kamu semburan ..."

Pada kasual obrolan dipikirkan Kamito itu, Rinslet tersipu, malu.

"Ad-adikku yang sangat cantik juga!"

"Adikku Velsaria adalah sebuah keindahan juga!"

"Uh ... kenapa kalian tiba-tiba mengatakan semua ini ..."

Claire dan Ellis merasakan rasa dijelaskan daya saing.

"Yah, aku akan menunggu dengan sabar di luar. Panggil aku ketika kalian sudah selesai. "

Kamito berbalik untuk pergi, Claire menarik-narik lengan bajunya untuk menghentikannya.

"Kau harus ikut denganku."

"... Kenapa? Toko ini hanya menjual pakaian anak perempuan, bukan? "

"I-Itu tidak masalah ... kita harus tetap bersama."

"Yah ... Hei ...! "

Kamito secara paksa ditarik ke toko dengan lengan bajunya.

Toko tiba-tiba luas. Selain pakaian modis, juga menjual barang-barang seperti pakaian.

"Kalau begitu, biarkan aku pertama memilih sesuatu untuk adikku."

Rinslet bahagia menghilang ke toko.

"Kamito, menunggu di sini dan aku ... Aku akan pergi mencoba sesuatu. "

"Cobalah sesuatu?"

"... U-Eh, maksudku, sehingga kamu dapat membantuku membuat keputusan. "

Pipi Claire memerah.

... Oh, aku mengerti.

Kamito dilanda pemahaman mendadak, dan tidak bisa menahan senyum.

Dibesarkan di keluarga bangsawan terlindung, Claire mungkin tidak digunakan untuk memilih pakaian sendiri.

... Meskipun begitu, itu bukan merupakan ide yang baik untuk memintaku untuk minta nasihat.

"Aku akan senang membantu ... tapi aku tidak bertanggung jawab!"

"Itu tidak masalah, aku hanya ingin pengalamanmu."

Claire mengangkat kedua ekor kuda dengan bangga, tersenyum manis dan berkata:

"Aku ingin kamu untuk mengagumi aku setelah makeover-ku cantik."

"Aku harap untuk itu ... Tapi, dengan model begitu menakjubkan, aku yakin setiap pakaian yang kamu pilih akan tampak bagus. "

"...B-Bodoh! Kau bicara omong kosong lagi! "

Claire memerah di goda Kamito dan dengan warna merah wajahnya.

Bagian 2[edit]

Pada saat yang Claire sisi kiri Kamito itu -

...Kesempatan bagus!

Pada sudut toko, Ellis diam-diam berteriak pada dirinya sendiri.

Sekarang semua orang menghalangi keluar dari jalan.

Tentu saja, sebagai Knight, Ellis membanggakan diri pada kejujuran dan bangsawan.

Biasanya, dia tidak akan pernah mengambil tindakan seperti di belakang punggung dua lainnya.

Namun, ada beberapa hal yang terlalu penting untuk mengakui. Sekarang adalah waktu yang tepat!

Ellis tegas mengerutkan bibir indah nya.

Setelah refleksi lebih lanjut, sejak tiba di pulau ini mengambang, ia selalu setengah mengalahkan yang lebih lambat dibandingkan dengan dua lainnya.

Pakaian yang dikenakannya untuk memurnikan dirinya di danau adalah pakaian renang kompetisi polos, gaun malam dia susah payah mempersiapkannya bukan tandingan Claire keindahan unggul, dan bahkan sekarang, dia telah lebih lambat dari Claire dan Rinslet memegang tangan Kamito, dan harus puas lengannya.

Aku-aku benar-benar harus menemukan beberapa cara untuk menaikkan posisiku sekarang ...

Ellis diam-diam menembak melihat ke arah sisi profil Kamito itu.

Itu wajah dia sangat terbiasa melihat, namun, itu mengatur kupu-kupu berkibar di perutnya.

Untuk berpikir bahwa pada awalnya ia memegang prasangka terhadap dia hanya karena dia adalah seorang elementalist laki-laki.

Dia berpikir bahwa ia akan menghancurkan disiplin yang ketat dari Akademi, dan bahwa ia adalah musuh miliknya.

Namun, hal telah berubah.

Kamito ...Aku-

Sebuah emosi baru bertunas di jantung gadis muda ini, yang sebelumnya hanya dikenal dari pendidikan yang ketat.

Dia masih tidak tahu apa perasaan yang tidak diketahuinya.

Meskipun demikian -

Kamito, aku akan senang untuk mengetahui lebih lanjut tentangmu ...

Ellis membelai pita adiknya-Velsaria–untuk di berinya.

Dia merasa melakukan hal itu akan membantunya mengumpulkan keberanian nya.

Menekan nya denyut jantung yang cepat , Ellis maju selangkah.

Bagian 3[edit]

Sebuah sentakan.

"Hah?"

Merasa tarik pada lengan bajunya, Kamito menoleh dan melihat -

Ellis, yang berwajah merah, memiliki tangannya di lengan seragam Kamito.

"Ellis ... ada apa?"

"I... i-ikuti aku!" "...?"

Menarik-narik manset Kamito, Ellis menariknya ke sebuah ruangan kecil dipartisi oleh tirai.

Ternyata menjadi ruang ganti dengan cermin besar.

"A-Apa yang kamu lakukan?"

"J-Jangan ribut! Apakah kamu ingin dibenturkan ke kroket daging kepiting mentega?! "

Ellis menghunus pedangnya dengan desisan, meninggalkan Kamito dengan pilihan selain untuk mengangkat kedua tangannya dan mengangguk dalam persetujuan.

"... Tapi, kenapa kau membawaku ke tempat ruang ganti? "

"Eh, eh, sebenarnya ... i-itu karena aku ingin kau mengomentari pakaian yang ku coba."

"Komentar pada pakaian?"

"Benar. Ini adalah kesempatan langka, jadi aku juga ingin membeli beberapa pakaian. Hanya saja ... Aku malu untuk mengatakan aku tak benar-benar tahu banyak tentang gaun gadis. "

... Oh, jadi dia ingin aku memberinya beberapa saran?

Sesuatu yang tidak benar. Claire dan Rinslet berdua di sini, jadi kenapa memilihku?

"Jika itu pakaian gadis kamu memerlukan bantuanku? Kupikir lebih baik kamu meminta pemilik toko."

"... Oooh, Aku-aku hanya ingin tahu apa yang kamu suka!"

"Oh ... jadi itulah kenapa itu ..."

Pada silau ganas Ellis, Kamito tidak bisa membantu tetapi mengambil beberapa langkah mundur dalam ketakutan.

"...Yah, baiklah, pakaian apa yang ingin kamu coba, Ellis? "

"Ah ... eh, sekarang aku sedang terpecah diantara dua potong -"

Ellis terbatuk keras -

Kemudian mengambil dua artikel yang berbeda dari pakaian dan memberikannya kepada Kamito.

"Oh, jadi itu adalah pilihan antara hitam dan putih ..."

Kain di depannya dihiasi dengan bunga renda yang rumit.

Kain halus dan menebarkan rasa kualitas. Mungkin sutra? Diatas tepi juga dilapisi dengan dekorasi daun teratai yang indah--

"... Hei, bukan pakaian ini! "

Kamito langsung, ditolak.

Tidak ada kesalahan tentang itu, apa Ellis memegang memang satu set pakaian kelas tinggi.

"Nah, jawab dengan cepat ... m-mana yang kamu suka!"

Ellis sendiri tampak malu, saat ia mengajukan pertanyaan, wajahnya merah merona.

"K-Kamu ingin aku memilihnya ..."

Kamito menelan ludah.

Wajah Ellis membuat ekspresi yang sangat serius. Dia tidak terlihat seperti dia sedang bercanda sedikit pun, tapi benar-benar ingin saran Kamito itu.

Di satu sisi memang murni dan indah putih.

Di sisi lain sudah matang, hitam canggih.

Ellis yang bersemangat tinggi, berani dan heroik Kapten Ksatria ... Kebijaksanaan umum akan mengatakan untuk memilih putih, kurasa.

... Tidak, justru karena ini, berpikir sebaliknya mungkin lebih baik.

Untuk gadis yang jujur dan murni seperti Ellis, jika dia tampak dewasa mengenakan pakaian hitam feminin ... kontradiksi pasti akan membangkitkan gairah.

"Kamito, ce-cepatlah memutuskannya! Ini benar-benar memalukan. "

"Oooh, aku tahu ..."

Kamito mengangguk dan buru-buru mengambil keputusan:

"... Aku akan memilih hitam, aku piker dengan pakaian hitam kamu tampak dewasa cocok dengan bagus. "

"Y-Ya, benar ... Pada hari-hari di mana perbedaan antara menang dan kalah penting, aku akan sering mengenakan pakaian hitam. "

Ellis mengangguk, tampak puas.

Dikatakan, saat itu ia tidak sengaja mengintip gadis-gadis yang berganti pakaian di rapat umum Ksatria Sylphid, Ellis juga telah mengenakan pakaian hitam ... yang berarti dikatakan ada beberapa pertandingan penting hari itu?

"L-Lalu aku akan membeli ini, berikutnya aku hanya perlu memastikan ukuran yang pas."

"Mmm, lalu ... Aku akan pergi lebih dulu - "

Kamito mendesah lega dan mulai berjalan keluar dari ruang ganti. Kemudian -

"Oh tidak ... bajingan Kamito, kemana dia pergi sekarang? Aku sudah jelas menyuruhnya untuk menunggu di sini! "

Kamito tiba-tiba mendengar Claire marah.

Terkejut, Kamito dengan cepat menutup tirai ruang ganti dan hanya setengah terbuka.

... Ini mengerikan!

Jika Claire menemukan dia dan Ellis ada di ruang ganti bersama, ia pasti akan dibakar sampai kering.

Kamito cepat berubah untuk memberitahu Ellis tentang Claire yang ada di luar—

"E-Ellis ... apa yang kamu lakukan!?"

Mau tak mau Kamito menatapnya, terbelalak dengan lidah kaku.

Dalam sekejap mata, Ellis sudah mengambil seragamnya dan memakai set pakaian.

"Aaaaaa--"

"... Wow! "

Melihat Ellis di ambang menjerit-jerit, Kamito cepat menutup mulutnya dengan tangannya.

"Mmmm ..."

Dia menggunakan momentum untuk mendorong seluruh tubuh Ellis ke dinding, lalu berbisik di telinganya:

"Jangan membuat suara ... Claire di sekitar sini. "

"...!?"

Mata Ellis melebar terkejut.

"... Kamito? Kemana dia pergi? "

Claire sedang mencari di mana-mana, dengan suaranya, dia sangat dekat.

Bahkan gerakan sekecil apapun akan memberi mereka pergi.

Kedua ini berhimpit ke dinding, nyaris tidak berani untuk bernapas.

"..."

"..."

Sedikit lega lolos dari antara jari-jari Kamito diatas mulut Ellis.

Melalui pakaian, dia bisa merasakan kelembutan payudara besar nya. Kamito merasa seolah-olah hatinya marah memukul cukup keras untuk didengar.

Dada E-Ellis benar-benar sesuatu ...

Payudara lembut nya bergetar dan berubah bentuk sebagai lengannya menempel terhadap mereka.

Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, riak lembab berenang di dalam kedua mata cokelat Ellis juga.

... Seperti ini, mereka melewati puluhan detik, yang terasa seperti selamanya.

Claire mungkin sudah ada di tempat lain, karena suaranya akhirnya tak bisa lagi didengar.

"...Wah. "

Tampaknya krisis telah terhindari. Sebuah beban terangkat dari pundak Kamito, dan ia menarik napas.

"K-Kamito ... kamu ...!"

Ellis cepat pindah dari Kamito, dan tajam memelototinya.

"K-Kenapa kamu tiba-tiba melakukan itu!"

"... Maafkan aku, itu adalah situasi yang mendesak, aku sangat menyesal. "

Sementara ia meminta maaf sebesar-besarnya, Kamito berpaling dari pakaian Ellis.

"Uhm ... Sudahlah, dalam hal apapun itu aku yang memintamu untuk membantuku memilih pakaian di tempat pertama. "

STnBD V05 079.jpg

Ellis lembut berdeham, malu-malu mengangkat matanya ke arah Kamito dan berkata:

"Oh - Oh ya ..."

"Apa sekarang?"

"Apakah kamu pikir p-pakaian ini benar-benar ... terlihat bagus padaku?"

Ellis menggosok pahanya dengan menarik dan memikat melawan satu sama lain sambil malu-malu bertanya.

"Ah, aku pikir itu terlihat bagus. Gimana ya aku harus mengatakan itu ... Aku merasa gembira ketika aku melihat itu. "

"B-benarkah ...!"

Pada jawaban jujur Kamito itu, bibir Ellis melengkung ke atas dalam senyum bahagia.

"Sempurna ... Lalu pada saat kritis, aku akan pastikan untuk memakainya. "

"... Saat kritis? Oh, berarti pada kompetisi yang dimulai besok. "

"Aku benci kamu ... Itu bukan sama sekali apa maksudku! "

Seolah-olah ia terasa sulit, Ellis mencubit lengan Kamito.

... Ellis itu benar-benar bisa mengatakan sesuatu seperti "Aku benci kamu" dengan menggemaskan.

Bagian 4[edit]

Setelah berangkat ruang ganti, Kamito, berpura-pura seolah-olah tidak banyak yang telah terjadi, menepuk bahu Claire dan berkata.

"- Claire, maaf telah membuatmu menunggu."

"K-Kau bajingan, ke mana kau pergi! Aku mencarimu kemana-mana! "

"Maaf, aku pergi ke luar toko... Oh, gaun yang kamu kenakan sangat lucu. "

"Huh ... B-Benarkah? kamu benar-benar berpikir ini sangat lucu? "

Sebuah embusan udara panas muncul dari puncak kepala Claire, dan dua ekor kuda nya bergerak ke atas dan ke bawah.

Dia mengenakan gaun putih dengan gaya yang lebih dewasa, yang juga dipotong sangat rendah di depan.

Sejujurnya berbicara, daerah dada gaun tampak sedikit runtuh, tapi Kamito sengaja tidak menyebutkan titik itu. Selain itu, kesampingkan masalah cocok atau tidaknya gaun itu, Claire menyenangkan seperti biasa.

"Hmph ... Nah, apalagi. Mulai sekarang, aku melarangmu untuk datang dan pergi kapanpun kau inginkan. Kau berada disisi tuanmu, mengerti?"

"Baiklah, aku mengerti."

Sepertinya ia telah berhasil berhasil menenangkan gadis Kucing Neraka.

Beruntung terhindar terbakar sampai kering, Kamito mendesah lega.

"Ho ho, kamu terlihat seperti membeli sesuatu dan mengungkapkan secara tidak sengaja."

"A-Apa yang terjadi denganku, kenapa aku pergi sejauh ini untuk membeli pakaian provokatif seperti itu ..."

Yang dua lainnya menunggu di depan kios, Rinslet selesai berbelanja untuk adiknya dan Ellis membeli pakaian dalamnya. Tugas selesai, mereka menuju ke Biblion, berjalan-jalan dari pelabuhan.

Terletak di bidang sedikit dataran tinggi, itu tampak seperti benteng besar dari luar.

Seperti menara dimana Kamito dan yang lainnya menetap di, bangunan, ini juga sudah diperbaiki melalui restorasi peninggalan kuno.

Dalam hal ukuran tipis, Biblion tidak bisa dibandingkan dengan perpustakaan tersegel, kebanggaan Academi Roh Areishia, tapi itu rumah bagi banyak koleksi kuno yang langka dan buku-buku terlarang bahkan legendaris.

Tempatnya seperti salah satu di mana mereka akan menemukan cara untuk menghancurkan «Tanda Kegelapan» mengikis Kamito, atau bahkan petunjuk bagaimana untuk membawa kembali Est yang menghilang.

Kamito dan yang lainnya memasuki gedung, pemandangan yang menyambut mereka adalah bahwa rak buku yang tak terhitung banyaknya, masing-masing setinggi langit-langit.

"Perpustakaan ini sangat besar ..."

"Kami akan meneliti« Tanda Kegelapan ». Kamito, pergi cari petunjuk untuk Est - harus ada sedikit informasi di sini tentang legenda Pedang Suci pembunuh Iblis ".

"Oh, oke."

Kamito mengangguk menunjukkan persetujuannya, kemudian berjalan ke rak buku yang memegang catatan legenda dari seluruh benua.

Pada perjalanan ke sana, bisikan rendah dari« Institut Ritual Suci »putri kerajaan berbisik satu sama lain melayang ke telinganya.

"Cepat, lihat, itu adalah elementalist laki-laki." "Dia cabul kami telah mendengar rumor tentangnya?" "Hati-hati, jangan melihat matanya, kamu akan dikotori!"

K-Kenapa bahkan putri kerajaan di Sanctuary tahu desas-desus tentangku?

Kamito mendesah berat dan mulai mencari dokumen tentang Pedang Suci.

Bagian 5[edit]

Sementara itu, Claire dan yang lainnya, yang dipimpin oleh pustakawan, telah memasuki arsip tersegel terletak di bawah tanah.

Setelah semua, lubang kutukan Kamito itu adalah salah satu bahkan Fianna yang terbaik kedua putri perdana dari « Institut Ritual Suci »-tidak bisa menghancurkannya.

Dengan begitu, umum itu akan membuang-buang waktu untuk sekadar mencari literatur tentang roh sihir. Oleh karena itu, setelah beberapa kali berpikir, gadis-gadis memutuskan untuk memusatkan penelitian mereka pada buku-buku terlarang dalam arsip tersegel.

Buku-buku terlarang tertutup dalam beragam konten, misalnya, beberapa informasi rahasia yang dimiliki pada segel kutukan-bantalan—teknik yang banyak negara kini melarang untuk penelitian.

"Mengingat sifat dari kutukan itu, mungkin sesuatu yang mirip dengan segel kutukan-bantalan."

"Itu mungkinkan ... Selain itu, ada juga tanda-tanda bahwa Ren Ashbell itu Teokrasi Alpha yang diam-diam melakukan penelitian pada segel kutukan-bantalan—"

"Meskipun kami berada di sana, mungkin lebih baik jika kita menyelidiki Teokrasi Alpha."

Satu demi satu, Claire dan yang lainnya mulai membalik-balik buku terlarang yang ada di rak.

Meskipun mereka semua putri bangsawan dari keluarga terhormat, hanya statusnya putri kerajaan mereka saja takkan mendapatkan mereka akses ke buku-buku terlarang.

Semua dari mereka bisa memiliki akses ke buku-buku ini hanya karena situasi tertentu mereka-mereka adalah peserta dalam Festival Tarian Pedang.

"Rekaman ekspedisi hukuman dari ranking-S, roh yang tidur di dalam hutan roh ...bukan."

"Data tentang segel kutukan-bantalan dikumpulkan selama masa Perang Blue Baltic... Oh, yang satu ini mungkin berisi petunjuk. "

"... Sihir Taboo kuno ... Buku ini mengkin berguna-Ahhh!? "

Sambil mencari melalui koleksi, Ellis menjerit kaget.

"Ellis, apakah kamu menemukan petunjuk!?"

"Apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu begitu merah? "

"Bu-bukan! Bukan apa-apa sama sekali - "

"...?"

Claire melirik buku yang Ellis pegang terbuka.

Kemudian -

"Ah ah ah! A-Apa ini! "

Claire tersipu malu juga.

Gambar di buku itu potret seorang putri kerajaan dalam posisi yang sangat tidak senonoh.

Tabu ritual sihir ini isi buku itu begitu eksplisit realistis yang bahkan Claire, yang memiliki titik lemah untuk novel roman provokatif, tidak bisa membantu tetapi mengambil tiga langkah mundur.

"J-Jorok ... ini terlalu mesum!"

"Kapten, Kamu yang mesum!"

"T-Tidak! Aku sedang mencari buku-buku tentang ritual dan tidak sengaja mengambil yang satu ini, itu saja! "

Dari cara Ellis buru-buru menggeleng dalam penyangkalan, orang-orang bisa mengatakan ini gadis Ksatria yang mulia cukup terkejut.

"..." "..." "..."

Mereka terdiam beberapa saat.

Melihat buku tabu sebelum mereka, gadis-gadis menelan ludah dengan gugup.

"Aku bilang ...k-kenapa tidak kita membolak-balik sebentar dan melihatnya?"

Claire mengusulkan saran, dan agak sedikit ragu-ragu dalam suaranya.

"... I-Itu bisa menjadi baik, mungkin ada sesuatu yang berguna dalam sana, Kalian tidak pernah tahu."

"Y-Ya ... seseorang tidak dapat menyangkal ada kemungkinan seperti itu -"

STnBD V05 086.jpg

Rinslet dan Ellis keduanya mengangguk, tapi mencegah tatapan mereka, tidak nyaman dengan melihat satu sama lain.

Claire mengangguk dan psikologis mempersiapkan diri, kemudian mulai membolik-balik buku dengan jari gemetar.

Kemudian –

"... Wow!? A-Apa ini! A-Aku tidak mengerti ... "

"Apa yang terjadi ...p-penutup matanya, dan lalu melakukan sesuatu seperti itu ... aaaah!"

"Apakah i-ini ... pria ...?"

"Taruh d-di mulut seseorang ... dan ... j-juga menjilatnya?" "U-Untuk pergi sejauh ini untuk menempatkan bahwa di antara payudara seseorang ... ewwww ... b-bagaimana bisa seseorang bersedia melakukan hal seperti itu!"

"..." "..." "..."

Gadis-gadis ini relatif bersalah dan akan malu untuk sekadar berpegangan tangan dengan seorang anak usia mereka sendiri.

Dampak dari mengintip ke dalam dunia yang tak dikenal tiba-tiba meninggalkan mereka kata-kata.

Satu-satunya suara yang terdengar adalah membalik halaman, menggema di arsip tersegel, diam.

Di semua kebenaran, mereka bertiga benar-benar menikmati apa yang mereka lihat.

Bagian 6[edit]

Sementara Claire dan yang lainnya semakin bersemangat melihat arsip bawah tanah –

"... Wah ... ketika aku selesai membaca ini, aku akan meninggal karena kelelahan. "

Kamito memindahkan tumpukan dokumen ke meja dan mulai investigasi pada legenda Pedang Suci.

Pedang Suci Pembunuh Iblis juga dikenal sebagai «Pedang Suci Severian», adalah pedang yang sangat berharga dari legenda.

Sumber nama ini berasal dari legenda Ratu Suci-Areishia Idriss.

Dia adalah pemegang dari «Pedang Suci», serta orang yang mengalahkan raja iblis.

Tidak ada orang di benua ini yang tidak tahu namanya.

Anehnya, bagaimanapun, kebanyakan orang hanya tahu nama Areishia Idriss, dan bukan kebenaran eksploitasi nya. Selanjutnya, generasi masa depan telah menghiasi banyak legenda nya, sehingga kebenaran itu hampir mustahil untuk diketahui.

... Baiklah, tak apa-apa, Ratu Suci agung, tak penting.

Prioritas utama nya sekarang adalah «Pedang Suci» yang dia pegang.

Hanya memperhatikan frase yang berhubungan dengan «Pedang Suci», Kamito membolik-balik dokumen dengan cepat.

« Pedang Suci » mampu mengalahkan Raja Iblis itu pasti bukan senjata biasa.

Yang paling mungkin adalah argumen-Pedang Suci itu sebenarnya diciptakan dari roh-roh tingkat tinggi.

Setelah menghilangkan Raja Iblis, Ratu Areishia rupanya menyegel roh terkontrak yang telah berjuang bersama dia sepanjang jalan di salah satu pedang di dalam benteng raja iblis.

Pedang yang digunakan untuk menyegel roh, pedang yang ia andalkan untuk melakukan semua ini, adalah «Pedang Suci Severian».

Adapun alasan mengapa Areishia ingin menyegel roh terkontraknya sendiri di dalam pedang yang tak ada yang tahu. Demikian pula, ada banyak spekulasi tentang keberadaan setelah dia menghilangkan Raja Iblis, tapi tidak ada jawaban yang meyakinkan.

Kamito menutup buku, berbicara..

Kesimpulannya adalah ... kami masih tidak bisa mengatakan sesuatu dengan pasti, apa yang diketahui masih belum diketahui.

Meskipun mereka telah mengakses berbagai dokumen, hampir semua dari mereka hanya berisi desas-desus tanpa dasar fakta.

Adapun hutan roh yang Est semula disegel di dalam, ia tidak bisa menemukan sesuatu yang lebih rinci dari apa yang sudah di perpustakaan segel.

– Karena itu, bagaimanapun, Kamito tidak punya harapan yang tinggi di tempat pertama.

Namun banyak dokumen yang sama aku lihat, tidak ada cara untuk membawa kembali Est.

Selain itu, apakah Est atau bukan Pedang Suci Pembunuh Iblis asli tidak masalah. Untuk Kamito, dia adalah mitra pentingnya, titik yang takkan mengubah apa pun.

"Est ..."

Kamito dengan lembut mengelus segel roh di tangan kanannya.

Est, dengan rambut indah menyilaukan perak putih, perawan kulit putih susu, dan wajah yang biasanya tanpa ekspresi, sampai Kamito membelai kepalanya, dia kemudian akan menyipitkan matanya dengan senyum untuk menunjukkan kesenangan.

... Est pasti akan datang kembali kepadaku.

Untuk percaya padanya dengan sepenuh hati dan menunggu dia kembali - itu semua Kamito bisa lakukan untuknya sekarang.

Kamito kembali ke kakinya, mengambil tumpukan dokumen dengan kedua tangan dan siap untuk mengembalikan mereka ke rak ..

Baru saja ia habis menempatkan semua buku kembali ke posisi tampilan aslinya -

"- Kamu Kazehaya Kamito?"

Kamito berbalik ke arah panggilan mendadak.

"Oh, Tuhanku!"

Wanita muda di hadapannya adalah salah satu yang telah ia bertemu sebelumnya.

Alasannya reaksi sengaja jeritan kaget Kamito itu karena ia benar-benar tak ingin bertemu orang tersebut.

"Apa -- ucapan yang kamu pikir sendiri? Kazehaya Kamito? "

Gadis itu mengerutkan kening sedih.

Dengan rambut tebal sebahu terang hitam, ia memiliki jenis keindahan.

Gadis itu mengenakan topi beret dihiasi dengan puncak naga terbang, serta seragam militer hitam yang memberinya aura megah dan cocok dengan sangat baik.

Dia juga menatap dingin pada Kamito, melalui kacamatanya, dengan tatapan yang kuat dan kuat.

Dia adalah seorang kontestan dari Dracunia, Pemimpin Ksatria dari Kerajaan Naga - Leonora Lancaster.

Dalam Tarian Pedang, ia merupakan salah satu elementalists yang lebih menjanjikan dan favorit untuk memenangkan turnamen.

Namun, dia juga seorang gadis yang berbahaya yang berusaha secara fisik berurusan dengan Kamito.

"K-kau bodoh, apa yang kau lakukan di sini?"

"Pertanyaan bodoh apa itu. Jelas, aku mengumpulkan informasi tentang tim negara lain. "

Leonora mendorong kacamatanya dengan jari tengahnya, memberikan Kamito tampilan jengkel dan menjawab.

Jadi itu saja ... Memang, ada beberapa dokumen di tangannya. Meskipun memiliki kekuatan dari beberapa pemain lain bisa disaingi, dia masih dimasukkan ke dalam upaya untuk mencari tahu tentang pesaing - dia benar-benar adalah lawan yang tangguh.

Kamito kemudian mengangkat pertanyaan tentang hal lain saat ia menyadarinya:

"Kau tidak memakai kacamata sebelumnya, kan?"

"... Kau benar-benar mesum terburuk daripada rumor katakan, bahkan jika perubahan halus tersebut tidak dapat luput dari perhatianmu."

"Eh ... apakah ini perubahan yang halus?"

... Jika itu adalah perubahan gaya rambut, dia mungkin tidak menyadarinya, tapi kacamata yang agak sulit untuk mengabaikannya.

"Aku hanya memakainya untuk membaca. Penglihatanku sebenarnya sangat buruk. Aku menggunakan roh sihir selama ‘Tarian Pedang’ untuk memperkuat visiku. "

Gadis Ksatria Naga menatap Kamito dingin, dan melanjutkan:

"Katakan langsung jika kau ingin ... mengatakan aku tidak terlihat baik dalam kacamata."

"Ah ...? Tidak sama sekali, aku pikir tampilan yang cocok untukmu, kupikir itu sangat lucu. "

"O-Omong kosong yang kau katakan! Kau cabul dengan jimat kacamata! "

"Apa lagi sekarang ..."

Tiba-tiba dan tak dapat dijelaskan omelannya. Kamito menyipitkan mata dan bergumam dalam kebingungan.

Leonora berdeham dan menjawab dengan pertanyaan sendiri:

"Dan kau, kenapa kau datang ke tempat seperti ini?"

"... Ah, eh, karena aku ingin menyelidiki beberapa hal. "

Ini akan menjadi bencana jika pesaing datang tahu tentang ia kehilangan Est.

Kamito memberikan jawaban jelas berharap untuk menghindari topik tersebut, tapi -

Leonora tiba-tiba mengubah tatapannya menuju ke rak Kamito yang telah dikembalikan buku-bukunya.

"Jadi, hal yang sedang kamu selidiki hubungannya dengan roh terkontrakmu?"

"... Ah!? "

Terkejut, Kamito naluriah melanda tempur berpose untuk menangkis musuh.

"... Bahkan kalian tahu tentang hal itu? "

"Apakah kamu mengacu pada - hilangnya roh pedangmu?"

"..."

Tatapan dingin Leonora sepertinya menembus melalui Kamito.

"Maaf, aku melihat pemandangan pertempuran antara kamu dan roh militer."

"... Jadi begitukah."

Rupanya, dia telah melihat kasus penuh pertempuran antara kerumunan dan Muir Alenstarl.

Pada saat itu, dalam rangka untuk mencegah orang-orang menyadari pertempuran diluar, Ren Ashbell telah meletakkan sebuah Isolasi Barrier skala besar di sekitar menara, tetapi tidak menipu seorang seperti elementalist sekuat Leonora.

"Jadi kau hanya diam menyaksikan Claire dan yang lainnya terluka?"

"Apakah aku memiliki kewajiban untuk memasuki pertempuran untuk menyelamatkan mereka?"

"Ini ..."

Kamito terpaksa menelan kata-kata tuduhan jahat.

Dia memang ada benarnya. Tidak berarti itu dia wajib untuk memperpanjang tangan membantu elementalists tim saingannya.

"Kau terlalu naif. «Tarian Pedang» adalah kontes ramah, itu adalah perang simbolis dengan urusan prestise nasional dan kesejahteraan yang dipertaruhkan."

Setidaknya penalaran itu cukup benar.

Negara menang dari ‘Tarian Pedang’ akan menerima segala macam berkat dari Lord Elemental - pengaruh ini sangat besar, dan bahkan bisa mempengaruhi nasib seluruh negeri.

Selanjutnya, Ksatria Dracunia yang pasti bukan satu-satunya orang yang telah menyaksikan pertempuran.

"Dalam kasus apapun, aku yakin kalian suka menonton kami saling mengalahkan satu sama lain."

Dia tidak menyalahkannya- meskipun Kamito memahami hal ini dalam hatinya, dia takkan bisa menjaga kata-kata kasar dari mulutnya.

"Tidak .. pada kenyataannya, mengenai hilangnya roh pedangmu, aku juga sangat menyesal."

Menggelengkan kepalanya, Leonora berbicara tiba-tiba.

"Aku bisa merasakan roh yang memiliki kekuatan sama denganku Pedang Suci Pembunuh Naga - sebagai seorang ksatria, aku sangat berharap untuk melakukan pertempuran dengan mu pada kondisi terbaikmu."

Melihat ekspresi tulus, respon Kamito adalah –

"Leonora, kau salah."

"salah?"

"Est belum benar-benar hilang. Juga ..Kekuatan sebenarnya jauh lebih daripada yang kau tahu. "

"... Oh, kalau begitu, aku minta maaf. "

Leonora tersenyum dan mengangguk paham.

Itu mungkin sebuah ilusi, tapi pada saat itu, murid-muridnya tampak berubah warna.

"Aku tidak berniat untuk pergi dengan mudah padamu, meskipun. Seperti kata pepatah di negara kita-«Naga dari Dracunia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengambil bahkan berburu singa»-Aku akan melakukan segalanya dalam kekuatanku untuk mengalahkanmu. "

"Itu baik-baik saja ... menunjukkan apa yang kau punya."

Kamito menjawab acuh tak acuh, tapi mendesah pahit untuk dirinya sendiri:

Gadis ini benar-benar saingan ...

Leonora Lancaster memiliki kekuatan yang solid, dan bisa berdiri untuk elementalist terkuat di Akademi - Velsaria.

«Nidhogg» yang ia panggil adalah roh naga yang luar bisa, dalam satu pukulan, langsung menguapkan roh militer yang menyerang kapal terbang. Tingkat kekuatannya sulit untuk dipahami.

Namun, itu tidak di mana kekuatan sebenarnya dari gadis naga ini berbaring.

Meskipun ia juga memiliki kekuatan yang besar, itu tidak membuat sombong nya. Dia takkan ceroboh bahkan terhadap lawan lemah - ini temperamen sempurna adalah senjata yang paling mengancam nya.

Dengan hal-hal di negara mereka saat ini, dengan Est hilang, mereka benar-benar tidak bisa melawan dia.

"Nah, jika kamu bersikeras -"

Tiba-tiba, tiba-tiba Leonora mendorong Kamito ke rak buku.

"... Kau!? "

Kamito nyaris menghentikan diri dari berteriak.

Sepasang mata ke atas melengkung dianggap Kamito dari bawah kacamata.

Agak manis bau sampo menggelitik hidung Kamito.

"...A-Apa yang kau inginkan!? "

"Bukankah kamu yang bilang 'menunjukkan apa yang kau punya'? Kazehaya Kamito. "

Leonora memegang jari telunjuknya ke bibir Kamito, dan melangkah lebih dekat kepadanya.

Dengan sempurna payudara bergoyang menempel erat terhadap lengan Kamito.

... Ini ... dada yang satu ini benar-benar tak terduga, besar!

Dia mungkin berpakaian untuk menutupi tubuhnya, seperti Ellis.

... Aku begitu bodoh, ini bukan waktu untuk memiliki pikiran omong kosong seperti itu!

Meskipun mereka berdua tersembunyi oleh rak buku, ada beberapa gadis kerajaan di dekatnya. Jika mereka tertangkap, mereka pasti akan dikirim ke dewan ‘Institut Ritual Suci’ untuk kenakalan ini.

"Jantungmu berdetak lebih cepat, oleh tubuhku kau bersemangat?"

"J-Jangan pergi tanpa berkata? Yang dipegang begitu erat oleh seorang gadis cantik sepertimu- "

"... C-Cantik? Aku? "

Gadis Naga menatap dengan mata lebar karena terkejut.

"Ini pertama kalinya ... orang mengatakan sesuatu seperti itu kepadaku ..."

"P-Pokoknya, biarkan aku pergi!"

"Bagaimana kamu akan lakukan?"

"... Apa maksudmu? "

"Seperti yang kukatakan,«Naga dari Dracunia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengambil bahkan berburu singa». Setelah melihat pertempuranmu melawan Muir Alenstarl tadi malam, personel militer negara kami membuat keputusan darurat untuk mengubah strategi kami melawanmu.”

"Strategi melawanku?"

"Untuk memukul mu sebelum kamu tenggelam kedalam cengkeraman jahat di salah satu dari Ksatria putri kerajaan rekan timmu."

"Itu kebijakan negaramu!?"

Kamito tidak bisa membantu tetapi mengaum.

Dracunia ... bahwa negara itu lebih mengerikan daripada ia bayangkan.

"Tapi militer kita juga sampai pada kesimpulan yang lain - seperti kau hanya elementalist pria di dunia, ini akan menjadi mengerikan untuk memiliki keturunan akhir yang luar biasa seperti itu."

"... Oh, aku rasa aku mengerti apa yang kau maksud. "

Kamito mengatakan pelan, memutar matanya.

Dalam istilah sederhana, mereka saat ini berada dalam situasi yang dikenal umum sebagai perangkap Kecantikan.

"Patuh, menyembah di kakiku - Kazehaya Kamito."

Leonora membisikkan kata-kata manis yang ternyata kepala seseorang mati rasa.

G-gadis ini, dia benar-benar telah benar-benar berubah dari terakhir kali ...!

Sebelumnya, Kamito hanya harus sengaja menyikat dadanya untuk gadis Ksatria Naga pingsan ini, dia pada awalnya lebih bersalah daripada gadis-gadis Academi.

Bahkan jika itu karena dia telah diperintahkan untuk melakukannya, bagaimana dia berhasil menggoda Kamito seperti ini?

Gadis di depannya - tampaknya orang yang sama sekali berbeda.

"Hei, kau bahkan ..."

Pada saat itu, tiba-tiba Kamito menyadarinya -

Murid awalnya hitam Leonora kini memiliki mantel merah berasap, seakan terbakar oleh api.

... Apa yang terjadi?

Tepat ketika Kamito mengerutkan kening dalam pikiran –

"Kau benar-benar seorang pria keras kepala yang menolak untuk patuh menyerahkan, bertentangan dengan apa rumor katakan ..."

Leonora memilih rok seragamnya oleh kedua belah pihak, dan perlahan-lahan terangkat ke atas.

"... Apa? "

Pada saat ini, jantung Kamito yang tanpa sadar mulai berdenyut-denyut.

Didampingi oleh suara gesekan kain, roknya mendekati bahkan lebih dekat ke tepi kesopanan.

Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, meskipun sudah lama melewati garis peringatan - celana dalamnya yang tak bisa dilihat.

"Hei ... k-kau akan mengekspos celana dalam mu!"

"Kau tak perlu khawatir, sebagai hamba naga, kami putri kerajaan Dracunia ... tidak memiliki kebiasaan memakai celana dalam."

"Bagaimana itu tidak perlu khawatir!"

Memang, ia telah mendengar tentang putri kerajaan elementalist memilih untuk tidak mengenakan pakaian dalam untuk meningkatkan hubungan mereka dengan jiwa mereka.

"Meninggalkan perlawanan, kemudian menyatakan loyalitas kekalmu ke negaraku."

"T-Tolong hentikan ...!"

Dalam kecepatan suara gosok kain, roknya akan benar-benar terangkat. Kemudian –

"K-Kalian berdua! Ap-Ap-Ap-Apa hal-hal yang tak terkatakan yang kau lakukan! "

"...!?"

  • Gogogogogo ...!*

Itu tak lain dari –

Claire, bahunya bergetar dan dua ekor kuda merahnya meremang karena marah.

"M-menjijikkan ... bahwa kau akan berpikir untuk melakukan sesuatu yang begitu tak bermoral dan mesum di Biblion suci ..."

"Kami meninggalkanmu sendirian sesaat, dan kau mengambil kesempatan untuk melakukan hal seperti itu!"

Ellis dan Rinslet juga memelototi Kamito, marah.

"T-Tidak, ini bukan apa yang kalian pikirkan! Ini ... "

"Terganggu oleh gangguan ..."

Sambil menghela napas, Leonora cepat memisahkan diri dari Kamito.

"... Leonora? "

Kamito menatapnya, bingung, dan menyadari sesuatu -

Beberapa waktu lalu, glasir merah berasap dibakar di pupil matanya telah menghilang, digantikan oleh hitam asli.

Selain itu, ekspresi wajah Leonora yang menyarankan bahwa sesuatu yang memiliki dia baru saja menghilang.

"Aku sangat menyesal, sekarang« Darah Naga »dalam tubuhku tampaknya telah bangkit sembarangan."

"« Darah Naga »?"

Ini kata aneh meninggalkan Kamito bingung.

Namun, telinga waspada Claire mengejang.

"- Lalu ... lain kali. Lain kali kita bertemu mungkin berada di medan perang. "

Leonora berbalik dan cepat berbaris, gaya militer, dari tempat kejadian.

"..."

Kamito menyaksikan citranya bergerak semakin jauh.

"... Ayo, berbicara ... Kau bajingan, apa yang kau lakukan dengan wanita itu? "

Claire mempertanyakan Kamito dingin.

"Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja, dan kami hanya berbagi beberapa obrolan kosong tentang acara utama besok ... Aku bersumpah. "

"... Ooh, jadi begitu? Lupakan saja. "

"Apakah kau menemukan tentang Est?"

"Tidak, tidak ada yang berguna ... bagaimana dengan pertemuan mu?"

Kamito kembali bertanya, kemudian -

Tiga wanita tersipu-tomat merah.

"K-Kami tak menemukan apa-apa!"

"Benar! A-Dan juga, kita pasti tidak mengintip buku-buku sihir tabu, oh! "

"I-Itu ...!"

"...?"

Pada reaksi bingung mereka, Kamito mengernyit kebingungan.

Bagian 7[edit]

Terbenam matahari pada saat itu di tim Biblion.

Di kereta angkutan, Kamito bertanya pada Claire:

"Hei, tentang«Darah Naga»yang Leonora bicarakan sebelumnya? Maksudnya apa? "

"... Tentang itu, aku hanya pernah mendengar desas-desus. "

Mengistirahatkan tangannya di pipinya, Claire merenungkan:

"Itu jenis konstitusi tertentu... Dikatakan bahwa orang dengan «Darah Naga» akan sangat jarang terlahir sebagai putri kerajaan dalam pelayanan naga. Legenda mengatakan bahwa ketika «Darah Naga» terbangun dalam tubuh putri gadis kerajaan, dia akan menjadi satu dengan «naga»."

"Menjadi satu dengan« naga »?"

Apa maksud kata-kata tersebut? Itu sulit untuk dipahami.

Namun, apa yang bisa ia katakan dengan pasti adalah bahwa - Leonora telah jelas menjadi orang yang sama sekali berbeda, sekarang.

Untuk berpikir seperti Ksatria Naga mulia benar-benar akan menjadi seperti itu ...

Mengingat sentuhan lembut payudara mengatur berkibar perut Kamito.

"Hei ... Kamito, kau tak berpikir omong kosong, kan? "

"T-Tidak, aku tidak ... hanya berpikir bahwa Leonora lawan yang cukup tangguh, itu saja-"

"B-benarkah, ya, jika itu dada gadis itu ... dia harus bisa meletakkan di antaranya!"

"Antara? Antara apa? "

"A-Atau, kau bisa mengatakan ... kecuali kau bermaksud, mengukur mu begitu besar sehingga bahkan gadis itu tidak akan mampu untuk menyesuaikan ...?"

"... Apa? "

Bingung, Kamito memandang ke arah Ellis dan Rinslet yang duduk berhadapan, dan untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, mereka berdua berwajah merah karena malu.

Aduh, apalagi ...

Kamito menurunkan tubuhnya perlahan ke kursi kereta.

Memandang keluar jendela pada pemandangan, ia melihat matahari terbenam secara bertahap ke bukit-bukit.

Kompetisi utama Festifal Tarian Pedang, akan dimulai besok.

Ini akan menjadi hari yang panjang, presentasi penuh sulit untuk Festifal Tarian Pedang.

Hari ini adalah hari terakhir ia akan memiliki begitu banyak waktu luang untuk menikmati dengan rekan setimnya.

Pada pikiran ini, Kamito sengaja mengulurkan tangan untuk menyentuhnya - pedang pasangannya, yang biasanya selalu tergantung di pinggangnya.

"..."

Namun, tangannya yang bertemu hanya kekosongan.

Dia tak bisa merasakan sakit sedikit dari roh segel di tangan kanannya.

Bagian 8[edit]

Sang pedang, kilaunya semua hilang, jatuh terasa seperti kedalam keabadian melalui kegelapan tak berbatas.

Dia tidak tidur, namun bukan sadar, hanya diam dan diam.

Apakah ini akan memanggil perasaan damai atau penyiksaan bervariasi dari orang ke orang, tapi sejujurnya, ini definisi tambahan yang berarti - keheningan adalah keheningan.

Pedang tenggelam di kegelapan pekat, yang dulunya dunia yang tidak ada dengan palang kegelapan.

Kamito ...

Kekuatannya hampir semua hilang, semua roh pedang hanya bisa memanggil namanya.

Kamito ... aku pedangmu, sehingga -

Sang roh berbisik, dan pada saat itu –

Keluar dari kegelapan, tiba-tiba ditembak cahaya menyilaukan.

Sosok yang muncul dalam cahaya itu - telanjang, berkulit pucat, gadis berambut putih keperakan.

Dia tampak seperti Est dalam bentuk manusia.

- Siapa kau?

Sang pedang bertanya kepada gadis di depannya.

Saya, satu kesadaran denganmu... sebelumnya dikenal sebagai «Pedang Suci Pembunuh Iblis».

Gadis berambut putih keperakan menjawab, ekspresinya kosong.

Kamu ... adalah aku?

Ya. kamu adalah saya - sedangkan saya, saya adalah pelengkapmu.

Di jawabannya, Est akhirnya mengerti identitas sebenarnya dari gadis itu.

Kau adalah «tubuh» ... ya kan?

Ya, saya kehadiran fisik yang lebih tinggimu.

Gadis itu mengangguk, tanpa ekspresi.

Dia adalah roh pedang tingkat tertinggi dengan kekuatan luar biasa –Pedang Suci Pembunuh Iblis asli.

Ketika Est telah membuat roh kontrak tidak lengkap dengan Kamito, dia telah terpecah menjadi dua individu.

Mungkin itu karena Est telah kehilangan kekuatannya dan berada di ambang menghilang bahwa akalnya bergabung dengan dua dari mereka mungkin bisa kembali menyambung kembali.

Aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi.

Gadis yang tampak persis seperti Est lembut mengulurkan tangan kanannya padanya -

Dan memerintahkan dengan suara tanpa ekspresi, dingin:

Saya memerintahkanmu untuk segera menghancurkan kontrak dengan Kazehaya Kamito, dan kembali pada saya.

Baginya, ini adalah permintaan yang tidak bisa dipungkiri.

Bagaimanapun, kontrak Est dengan Kamito berada di tempat pertama sebuah informasi, peristiwa kejadiannya kebetulan.

Karena Pedang Suci Pembunuh Iblis awalnya tidak dimaksudkan untuk membuat kontrak dengan elementalists.

Bahkan dia sendiri tidak tahu kenapa ia membiarkan dirinya menjadi roh kontrak untuk anak itu.

Ini konflik emosi terbagi untuk membentuk«Terminus Est» - ini adalah asal mula dari Est lainnya.

Namun, sekarang bahwa «gerbang» kontrak antara Est dan Kazehaya Kamito ditutup, dia bisa memanfaatkan waktu ini untuk menyatukan kembali bagian yang hilang dari «Terminus Est».

Tanpa diduga -

...A-Aku menolak.

Sang pedang-Est-menolak uluran tangan gadis Pedang Suci.

Sang pedang menembus kegelapan di sekitarnya, dan ujung runcingnya mengarah ke tenggorokan gadis itu.

-Kamu menolak

Aku tidak ... Aku tidak ingin memutuskan kontrakku dengan Kamito ...

Kamu hanyalah bagian dari diri saya, namun kamu ingin menentang keinginan saya?

Aku pedang Kamito, bukan sesuatu darimu.

Est mengungkapkan keinginannya untuk menolak jelas kepada sang gadis.

- Saya mengerti, tampaknya ... sang elementalist telah berkecambah di dalam benih kesadaran diri mu.

Sekali lagi tanpa ekspresi, sang gadis itu berkata pelan.

Rambut putih keperakan nya, yang memancarkan, cahaya redup dalam gelap, mengobar dengan keras.

Tapi saya harus memberitahumu, Est ... kamu—atau saya harus katakan, saya—tidak memiliki hak untuk menjadi pedang setiap orang.

... Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud?

Karena keberadaan saya sendiri adalah semacam dosa.

—Dosa?

Sang pedang tidak bisa mengerti arti kata-kata gadis itu karena, saat itu dia kontrak dengan Kamito, dia telah kehilangan sebagian besar kenangan yang dia miliki dengan tubuh aslinya.

Est yang ini ditinggalkan dengan beberapa fragmen memori masa lalu yang tidak lengkap.

Serta memori singkat yang dihabiskan dengan Kamito dan lain-lain.

Ingat itu, dosa-dosa yang kamu—dan saya—harus tanggung.

Gadis berambut putih keperakan dengan lembut menyentuh ujung pedang.

Dalam sekejap, kenangan mengalir seperti semburan sengit dalam pikiran Est -

Ingat itu, peristiwa dengan orang pertama yang kontrak dengan saya ... Areishia Idriss.


Bab 4 - Saudara Perempuan Laurenfrost[edit]

Bagian 1[edit]

Kamito dan yang lain kembali ke Menara tepat sebelum matahari sepenuhnya tenggelam melewati cakrawala.

Seperti kemarin, ada sebuah pesta dansa di menara aula besar. ini tidak ada hubungannya dengan upacara pembukaan, namun; itu hanya suatu kegiatan yang diselenggarakan untuk kaum bangsawan, jadi hampir tidak ada elementalists yang berpartisipasi. Sebagaimana mereka melakukan pertempuran di acara turnamen utama hari berikutnya, mereka hanya tidak pada mood untuk melakukan sesuatu seperti pesta dansa.

Kamito kembali ke kamarnya sendiri dan Mengumpulkan hal-hal yang akan dia bawa besok.

Barang-barang yang dia dimasukkan ke dalam tas termasuk beberapa makanan yangg mudah untuk dibawa dan lentera yang terbuat dari kristal roh, dan kebutuhan lain untuk bertahan hidup dihutan.

Dalam aturan permainan yang beratnya terbatas dari hal-hal yang dapat dia bawa bersamanya, item harus dengan hati-hati dipilih.

"Pertandingan individu tiga tahun yang lalu itu jauh lebih mudah daripada yang sekarang..."

Pada waktu itu, Kamito hanya menyibukkan diri dengan mengalahkan lawan setelah muncul dihadapannya. Namun, kali ini, dia harus membuat rencana untuk memastikan kelangsungan hidup semua anggota kelompok.

Karena sendirian, Kamito bukanlah tandingan untuk Ren Ashbell.

Tidak... seperti saat ini, tanpa Est, Dia tidak memiliki cukup kekuatan untuk mengalahkan bahkan Leonora Lancaster dan tim elementalist lainnya.

"... Aku seharusnya tidak menjadi beban bagi orang lain."

Kamito bergumam pada dirinya sendiri. Kemudian--

Dari luar ruangan datang suara gadis cantik.

"Wow, sungguh indah! rambut Kakakku benar-benar cantik!"

"Ah ah... Mireille, jangan menarik rambutku!"

... Itu suara Rinslet's.

"Apa itu?"

Kamito membuka pintu dan berjalan ke lorong --

Dan melihat seorang gadis kecil yang menarik-narik rambut Rinslet.

"... Rinslet, apa yang kau lakukan?"

"Ah... Kamito-san!?"

Dengan suara itu, Rinslet terkejut memutar kepalanya.

"Kamito?"

Gadis kecil bermain dengan rambutnya menoleh ke arah Kamito juga.

Seperti Rinslet, gadis kecil itu juga memiliki rambut emas pucat yang cantik.

Dia mengenakan gaun putih kontras dengan mata hijau emerald nya.

Gadis kecil itu terlihat sekitar tujuh atau delapan tahun. dia masih muda, dia tampak sangat imut, dan agak sama seperti Rinslet.

"Oh wow, itu adalah Kamito onii-chan! Lihat, aku bertemu Kamito-chan!"

Menyeringai lebar, gadis itu mengambil langkah besar menuju Kamito --

Dan, ditenggelamkan kepalanya ke perut kamito.

"Ahhh... apa!?"

Kaget, Kamito tidak bisa merespon, tetapi Rinslet tergesa-gesa berlari, mengatakan:

"Mireille, kamu tidak boleh melakukan itu! Kamu adalah seorang wanita dari Keluarga Laurenfrost, bagaimana bisa kamu menampilkan perilaku yang benar-benar tidak senonoh!"

"Tidak apa-apa, Kamito-chan akan segera menjadi kakak ipar Mireille."

"... Apa?"

Setelah mendengar kata-kata gadis itu, Kamito mengerutkan kening dalam kebingungan.

"M-M-Mireille! A-A-A-Apa yg kamu katakan!"

"Huh? Bukankah kakak selalu menulis surat untukku... ooo, ooo..."

Rinslet dengan cepat meletakkan tangannya dimulut gadis itu.

Kamito menggaruk kepalanya dan berkata:

"... Eh, gadis ini... adalah adik Rinslet?"

"Itu benar. Namaku Mireille Laurenfrost, dan Aku putri ketiga keluarga Laurenfrost."

Terbebas dari pegangan rinslet, gadis itu bagi Kamito seperti seorang bangsawan yang sempurna.

Mata hijau emeraldnya menari-nari dengan imut.

Ketika dia tumbuh dewasa, dia pasti memiliki Kecantikan yg anggun, seperti Rinslet.

"Aku Kazehaya Kamito, rekan tim dari Rinslet --"

"Aku tahu, anjing peliharaan dari rekan timmu dan budak dari kakakku, kan?"

Mireille tersenyum manis dan berkata.

"P-Peliharaan anjing kecil, apa sih?"

"M-Mireille! Berhenti berbicara omong kosong!"

Rinslet cepat berbisik padanya, tapi Mireille hanya menampilkan wajah yang tidak bersalah dan melanjutkan:

"Huh, itu tidak benar? Jadi, apakah itu... pacar?"

"T-Tentu saja tidak! B-B-Bagaimana dia bisa menjadi... P-Pacar..."

Yang tertua daridua bersaudara menepuk tangan tangannya kepipi, wajahnya yang sangat memerah tampak asap menguap naik dari kepalanya.

"Oooh... kakak malu sekarang, lucu sekali!"

"... Hmph, aku b-benci kamu, berhenti bicara omong kosong untuk menggoda aku!"

STnBD V05 111.jpg

Rinslet dengan lembut menepuk Mireille dipunggungnya.

Melihat mereka berdua, Kamito tidak bisa menahan senyum.

...Rinslet tersipu, kehilangan semua dominasi Karena adik kecilnya.

Sementara adegan ini memang lucu, keliru untuk menyebut kekasih atau pacar Kamito. Tentu saja sangat tidak bagus untuk Rinslet.

Kamito dengan lembut meletakkan tangannya di kepala mireille.

"Ai!"

Mireille menjerit seolah-olah dia sedang digelitik.

"Aku bukan Anjing peliharaan Rinslet, ataupun pacarnya. seharusnya kamu tidak menggoda kakakmu seperti itu."

"... Oh... uh-huh. Kamito-kun, aku minta maaf."

Sedikit memerah, mireille mengangguk.

Tampaknya bahwa, seperti kakaknya, dia secara alami anak yangg jujur dan baik.

"Oooh... Kamu seharusnya tidak menyangkal seperti itu..."

Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, Rinslet menggigit bibirnya dengan sedikit ekspresi tidak senang. Kemudian --

"Itu tidak bisa Kamito-san, untuk memikat semua dari kami bertiga dengan kata-kata manismu..."

"Carol!? Kapan kau datang –"

Sang maid, yang muncul entah dari mana, tersenyum dan tertawa.

Dari kata-kata Carol, Rinslet menatap Kamito dengan takjub dan berkata:

"K-Kamito-san... T-Tidak, aku tidak memiliki tiga orang adik!"

"Rinslet... Apakah kamu memikirkan hal-hal tak senonoh?"

Rinslet melangkah ke depan dan seolah-olah untuk melindungi adiknya, sementara Kamito memutar mata padanya.

"A-Aku pikir, kalau aku bersama-sama dengan kakakku... Aku tidak keberatan melakukan sesuatu."

Adik perempuan ini sungguh, mengatakan hal-hal aneh.

Carol membersihkan tenggorokannya, mencubit leher belakang mireille dan berkata:

"Baiklah, Mireille-san... kakak Anda memiliki hal-hal yg harus dilakukan, jadi lebih baik kita tidak mengganggu dan kembali ke kamar."

"Oooh... tapi aku masih ingin bermain lebih lama dengan Kamito-kun."

Melihat Mireille menolak dan menggelengkan kepalanya tanda penolakan, Carol berbisik di telinganya:

"Baiklah, Anda tidak boleh mengganggu kakak Anda diwaktu pribadi!"

"Oh... B-Benar. Aku mengerti, Carol."

Mireille tiba-tiba berhenti rewel dan memeluk erat lengan Rinslet.

"Kakak, aku akan bersorak untuk mu besok, kamu harus menyelamatkan Judia dan membawa dia kembali!"

ekspresi tersenyumnya tiba-tiba berubah sangat serius.

Dilain pihak, Rinslet juga mengangguk dengan wajah tekad kuat.

"Aku tahu, serahkan itu kepadaku."

Mireille melepaskan lengan kakaknya dengan lembut, kembali ke senyumnya yang asli, dan berputar ke arah Kamito.

"Kamito-kun, setelah tarian pedang berakhir, kamu harus datang mengunjungi daerah Laurenfrost kami."

"Mmm, aku tahu."

"Jika Kamito-kun benar-benar menjadi kakak iparku, itu akan menjadi sangat menyenangkan..."

"Huh?"

Dengan kata-kata itu,meninggalkan Kamito yang terguncang, Mireille --

Keluar ke ujung lorong, didampingi oleh Carol.

"Aku b-benci dia... mengurus adik kecil ini benar-benar membuat aku sakit kepala..."

"Tapi Rinslet adalah kakak yang benar-benar tahu Bagaimana untuk merawat orang."

"T-Tapi tentu saja, karena aku saudari tertua di rumah."

Sedikit malu, Rinslet menyisir rambutnya yang panjang.

Kamito tiba-tiba merasa penasaran tentang nama yang telah disebutkan Mireille secara sepintas.

"Oh ya, siapa itu judia, seseorang yang kalian berdua bicarakan barusan ?"

"..."

Awan gelap menyelimuti wajah Rinslet.

"M-Maaf... Sepertinya aku menanyakan sesuatu yang seharusnya tak kutanyakan?"

"T-tidak, sama sekali tidak!"

Menurunkan pandangan matanya, dan menggelengkan kepalanya, Rinslet berkata:

"Judia adalah adikku yang lain, putri kedua Laurenfrost."

"Jadi kamu punya adik yang lain."

"Mmm. Dia sekarang di Kastil Laurenfrost, dalam keadaan tertidur panjang."

Penuh air mata, Rinslet menceritakan seluruh kisahnya pada Kamito.

Putri kedua dari keluarga Laurenfrost, Judia Laurenfrost, awalnya berperingkat tinggi, princess maiden luar biasa di «Divine Ritual Institute». Namun, beberapa tahun yang lalu, sementara melakukan ritual persembahan terhadap Lord Elemental Air, dia membuat kesalahan. Dalam kemarahan, Lord Elemental memenjarakan dia dalam kutukan es yang tak akan mencair.

Kepala keluarga Laurenfrost telah merekrut elementalists dari seluruh kerajaan mencoba untuk mematahkan kutukan, tetapi tidak berhasil. Meskipun memiliki kekuatan berbagai Roh tingkat-tinggi, mereka tidak bisa mematahkan kutukan.

Setelah itu, Judia berbaring tak bergerak, dalam tidur nyenyak.

"... kutukan dari Lord Elemental air? Itu pasti menjadi sesuatu yang tidak dapat elementalist manusia patahkan."

"Ya, hanya ada satu jalan yang tersisa untuk menyelamatkan Judia."

Mengepalkan tinju nya, Rinslet melanjutan: "Itu adalah hadiah pemenang Blade Dance – berkah dari Lord Elemental. «Harapan» ku hanya untuk Lord Elemental Air untuk memberi belas kasih dan memberikan pengampunannya, untuk membiarkan aku menyelamatkan Judia."

"Rinslet..."

Kata-katanya menyalakan kembali api dipikiran Kamito.

Ya, ini tidak hanya aku...

Claire, Ellis, Fianna... dan Rinslet juga. Partnernya dalam «Blade Dance» semua memiliki motivasi yang kuat tak tergoyahkan.

Menghilangnya Est, tepat didepan matanya, setelah Roh Kamito dan membuat dia lebih sedikit pemanggilan.

Namun, dia tidak bisa membiarkan dengan alasan yang seperti itu.

Meletakkan kedua tangannya di bahu Rinslet, Kamito mengatakan pada dia:

"Rinslet, kita benar-benar harus mencapai kemenangan."

"Y-Ya, kau benar!"

Rinslet tersipu dan tersenyum bahagia.

Mungkin karena dia biasanya lebih suka keras kepala, terlihat sombong, Kamito merasa bahwa Rinslet yang tersenyum terus terang tampak sangat menggemaskan.

"Yah, Kamito-san... Aku akan kembali ke kamarku dan bersiap."

"Tentu."

Rinslet berbalik dan berlari ke arah ujung koridor.

"Kalau begitu, aku juga akan melanjutkan persiapanku."

Kamito mengangkat bahunya dan mulai kembali menuju kamarnya. Kemudian --

"Hee hee... Kamito, kau selalu populer seperti biasanya."

"Fianna!?"

Fianna berdiri di pintu Kamito, dan tampaknya telah disana selama beberapa waktu.

"Bagaimana itu? Berkencan dengan Claire dan sisanya?"

Putri tertinggi kedua tersenyum dan menggoda Kamito.

"...kencan? Tidak sama sekali, itu hanya –"

Dipertengahan kalimatnya, Kamito berhenti, tidak mengetahui cara terbaik untuk melanjutkan.

Dari sudut pandang objektif, hal itu memang terlihat seperti kencan... mungkin.

Selain itu, itu tampak seperti tamasya sembrono dengan tiga Gadis murni, keindahan tak ternoda.

Dengan reaksi Kamito, Fianna mendesah, dan berkata:

"Ah... Aku mengerti Kamito sekarang tidak hanya Iblis di malam hari, Tetapi Iblis di siang hari juga."

"... Iblis di siang hari, apaan itu?"

"Sudahlah, itu adalah aku yang membuat kalian untuk pergi keluar dan bersenang... sekarang giliran aku untuk menunjukkan pergerakanku."

"... Giliranmu, pergarakanmu? Apa maksudmu?"

Kamito memiringkan kepalanya, tidak paham.

Fianna tiba-tiba terlihat serius.

"Aku bertemu seorang kenalan yang dapat mematahkan kutukan yang ada padamu."

"Benarkah!?"

Sementara Kamito dan yang lain sedang melakukan tur jalan-jalan, Fianna telah mencari orang yang bisa menghancurkan «Brand of Darkness».

"... Fianna, terima kasih banyak. "

"Sama-sama... Namun, masih ada satu masalah."

"Masalah?"

"Karena dia princess maiden berperingkat tinggi, aku tidak bisa meminta dia untuk meninggalkan «Grand Shrine», Jadi pertemuan dengannya akan sedikit sulit. Dengan demikian, aku akan memerlukan kamu untuk datang bersamaku secara pribadi, Kamito."

"... Oh, jadi itu hal itu? Tentu saja aku bisa pergi bersamamu."

"Mengagumkan. Jadi, tanpa basa-basi lagi, aku meminta kamu untuk bergegas dan mengganti pakaian kamu?"

"Mengganti pakaianku?"

"Ya, aku ingat bahwa Kamito... Kamu tampaknya menjadi sangat cantik bila berpakaian sebagai seorang gadis?"

Bagian 2[edit]

-- Beberapa menit kemudian.

Didepan cermin di kamar, berdiri seorang gadis berambut hitam.

"..."

"... Ini sungguh mengejutkan, aku tidak pernah membanyangkan untuk bisa begitu akurat."

"Kau anak nakal, Jangan bilang kau benar-benar senang..."

"T-Tidak seperti itu, hanya ini solusi kita."

Fianna membuat jarak, mencoba untuk membersihkan masalah.

Dia benar-benar menikmati ini...

Kamito bergumam pelan.

Memang, gadis yang dipantulkan di cermin adalah Kamito, mengenakan pakaian upacara «Divine Ritual Institute».

Ada wig hitam di kepala dan bedak make up di wajahnya.

bahkan dengan lapisan lipstik berwarna ceri pucat pada bibirnya, dia terlihat sosok gadis yang sangat muda.

STnBD V05 119.jpg

"Sungguh cantik... Meskipun garis luarmu sedikit berbeda, sungguh kecantikan yang tak terbantahkan... Kamu benar-benar terlihat seperti seorang Ren Ashbell. Jika kamu berjalan di jalan-jalan seperti ini, kamu pasti akan menjadi subjek pembicaraan."

"H-Hey... bisakah kamu merahasiakannya"

Kamito secara naluriah melihat sekeliling.

Walaupun mereka di dalam Ruangan, tidak ada Jaminan; dibalik dinding ada telinga.

Setelah melihat wajah malu kamito, Fianna tersenyum manis dan berkata:

"Namun pakaian ini benar-benar adalah sebuah mahakarya. Itu sungguh cantik aku ingin memanggil semua orang agar semua orang bisa melihatnya."

"... Tolong jangan!"

Kamito mati-matian memohon kepada Fianna, seolah-olah mengemis untuk hidupnya.

"Oh... hati-hati, dengan teriakan yang keras, kamu akan terdengar oleh orang-orang di koridor."

Tiba-tiba, tepat saat itu --

dari sisi lain dari pintu terdengar suara sesuatu yang jatuh di lantai.

"...!?"

Kamito berbalik ke arah suara itu --

"Ka-Ka-Kamito!? A-Apa yang kau lakukan!?"

Itu Claire, ekspresi shock dan menyeramkan di wajahnya. Sesuatu berserakan di lantai yang telah jatuh dari tangannya.

"C-Claire!? K-Kamu salah, ini tidak seperti yang kamu pikirkan -- ah!"

Kamito bergegas maju, untuk menjelaskan tentang dirinya.

Namun, karena tergesa-gesa, dia tersandung kain pakaian dan jatuh, dan bantalan dada terjatuh dari dadanya dan jatuh ke lantai

...Semua orang diam selama beberapa detik.

"Eh... Yah, ini... "

Memecah keheningan, Claire membuka mulutnya dan berkata:

"T-Tidak, tidak peduli... Aku tidak keberatan! H-Hanya saja... aku hanya terkejut tiba-tiba menemukan bahwa kamu memiliki hobi seperti itu. U-Uh... setiap orang mempunyai hobi mereka sendiri, setelah semua!"

"Itu adalah apa yang aku katakan, kamu telah salah!"

Kamito menegakkan dirinya dan dengan keras menjelaskan, tapi Claire berlagak bodoh dan berpura-pura tidak mendengar.

"K-Kau tidak perlu menyembunyikan, itu saja! Itu... Kau terlihat sangat cocok dalam hal itu, dan aku pikir kau tampak cantik berpakaian sebagai seorang gadis. Meskipun hobi ini sesuatu yang kau tidak ingin publikasikan, aku mendukung kamu, Kamito; aku akan merahasiakan untuk mu, Ya!"

"Aku tidak membutuhkan dukungan mu!"

"Ha ha... Kamito, itu fantastis."

Fianna tertawa, melihat keduanya.

"Fianna... Aku mohon padamu, bantu aku menjelaskan hal ini kepada Claire, tolong."

"Yah, aku tak punya pilihan... Aku akan senang untuk melihat lebih banyak dari pertunjukan yang bagus ini."

"... Apa maksudmu?"

Claire terlihat bingung.

"Ini adalah sebuah cerita panjang... Kamito dan aku akan menyelinap ke Grand Shrine, untuk meminta seorang princess maiden peringkat tinggi untuk menghancurkan «Brand of Darkness» pada tubuhnya."

"Maksudmu... Grand Shrine?"

Pada poin ini, Claire menjatuhkan rahangnya karena shock. Itu adalah reaksi yang bisa dimengerti. Grand Shrine adalah wilayah Maha Suci Diantara seluruh pulau, tidak dapat diakses bahkan oleh peserta Blade Dance.

"A-Apa yang akan kamu lakukan disana! tahukah kamu bahwa ada Guardian Spirit yang sangat kuat menjaga tempat itu?"

"Tentu aku tidak berencana menerobos gerbang depan! Kita akan masuk melalui jalan rahasia; oleh karena itu, aku perlu Kamito untuk berpenampilan sebagai seorang princess maiden."

"Tapi... I-Ini terlalu berbahaya...!"

"Lalu, beritahu aku, Apakah ada cara lain untuk menyingkirkan kutukan dari kamito?"

"I-Itu..."

Melihat Claire kehilangan kata-kata, Kamito dengan lembut meletakkan tangan dikepalanya.

"Ah!... A-Apa yang kau lakukan! "

"Jangan khawatir, aku tidak akan dengan mudah tertangkap."

"..."

Sebagai tanggapan, Claire menggigit bibir dengan gugup --

"Yah, baiklah... Aku tahu..."

Dia mengangguk dengan enggan.

"Namun, dalam hal ini, aku harus ikut juga."

"Jangan lakukan itu. Sedikit orang yang menyelinap kedalam, lebih baik. Dan Claire, warna rambut mu terlalu mencolok."

"Claire, Apakah kamu khawatir tentang aku?"

"Bodoh! T-Tentu saja tidak."

"Yakinlah, aku akan kembalikan Kamito kepadamu dengan keadaan utuh."

"...Oooh... Aku b-bahkan tidak berpikir apa-apa tentang itu!"

"Ha ha... Kalau begitu, aku akan meninggalkan sisanya padamu. Kamito, ayo pergi."

Fianna melambaikan tangan pada Claire yang tersipu malu, dan kemudian --

Bergegas.

Dia menekan dada lembutnya ke lengan Kamito.

"Hei Hei! Fianna!?"

Jantungnya berdetak kencang, Kamito tersipu.

"Oooh... J-jadi apa... Kamito kamu idiot!"

Claire bergegas keluar dari ruangan sambil menangis.

Bagian 3[edit]

bagian dari pulau terapung,«Ragna Ys», Terdiri dari jaringan gua-gua bawah tanah yang luas.

Tidak ada orang yang hidup sampai hari ini yang tahu ketika itu dibangun, atau bahkan untuk tujuan apa.

Ada sosok berdiri di tempat ini dimana bahkan para princess maiden peringkat tertinggi itu diperintahkan untuk berhenti.

Dia adalah gadis bertopeng merah terang -- Ren Ashbell.

Dia berada di ruang persegi yang penuh ukiran.

Memang kontras dengan gua-gua alam sekitar, Ruangan ini jelas sudah dibangun oleh manusia.

Ruang batu kecil itu ternyata Sacred True Sanctuary.

Grand Shrine didirikan jauh dibawah supaya tidak terlihat penampilannya yang megah.

Ada bau busuk berhembus di tempat ini.

Gadis bertopeng sedang menatap sarkofagus hitam yang ditempatkan di tengah ruangan.

Hanya kehadiran sarkofagus memberikan tekanan udara yang menakutkan dan menyeramkan.

"-- sudah lama aku mencari kamu, Ren Ashbell."

Keluar dari datangnya suara, seorang gadis muda kekanak-kanakan.

Seorang gadis berambut abu-abu perlahan-lahan berjalan keluar dari kegelapan.

Dia adalah Muir Alenstarl.

Dia, yang telah hilang sejak malam pertempuran terakhir, dia adalah peringkat kedua «Beast» dari Instructional School.

"Tampaknya bahwa orang keempat tersebut akhirnya di sini. Lily adalah yang menarik dia kesini sekarang."

"Sepertinya begitu? Putri yang benar-benar membawa masalah bagi orang lain."

Yang mereka bicarakan adalah anggota keempat tim Inferno -- Sjora Kahn. Dia dan Lily berbeda dari Muir karena mereka sudah tidak diambil oleh orang-orang Ren Ashbell, tetapi elementalists diangkat oleh rekomendasi religious Teokrasi Alpha.

Teokrasi Alpha tidak memberikan Ren Ashbell informasi apapun tentang kemampuan Sjora, karena Sjora bertanggung jawab untuk memantau semua tindakan Ren Ashbell.

"Muir Alenstarl... Kamu datang hanya untuk berbicara tentang hal ini?"

"Tentu saja tidak. Izinkan aku bertanya padamu... Kau iblis, apa yang telah kau lakukan pada kakakku?"

Muir bertanya marah, seolah-olah pisau telah ditusuk ke lehernya.

"Kau tidak puas dengan caraku melepaskan kekuatan penuhnya?"

"Ini harusnya menjadi tanggung jawab Muir untuk membangunkan kekuatan saudaraku sendiri."

"Itu bukan maksudku untuk menyangkal, tetapi karena alasan lain, aku tidak memiliki pilihan lain selain untuk mempercepat rencana awal."

Ren Ashbell mengangkat bahunya, tampaknya tidak terganggu.

"Dan jika tubuh kakakku tidak bisa menahan, apa yang akan kau lakukan?"

"Jika demikian, itu berarti bahwa dia tidak memiliki hak akan menggantikan Iblis raja -- itu saja."

"Apa yang kau katakan...!"

Saat ini, ekspresi Muir berubah tajam dan kejam.

"Kau tidak bisa menerima itu? Maka di waktu berikutnya... Bangkitkan dia menggunakan tanganmu sendiri."

Setelah mengatakan itu, Ren Ashbell melemparkan cincin kecil pada Muir.

"... Dan ini?"

"Aku punya artefak kuno «Mythical class» ini dari fogeys tua di Alpha. Tiga Roh militer yang tersegel adalah semua senjata yang ditolak oleh pedoman internasional."

"Apakah kau pikir Muir akan begitu mudah disuap oleh mainanmu ini?"

"Ini adalah hanya tanda persahabatan kita; Harap menerima hal itu."

"... Hmph, aku hanya akan menonton dan melihat seberapa lama kau dapat bertahan."

Sementara mengenakan cincin, Muir melotot marah padanya.

"Meskipun Muir membantumu untuk sekarang, aku tidak seperti Lily. Jika kau berani meletakkan tangan pada kakakku lagi, aku akan membunuhmu tanpa belas kasihan."

"Terserah... Silakan, jika kau bisa."

Ren Ashbell dengan mudah membuat Muir menjadi ganas, kemudian --

Menoleh ke arah sarkofagus hitam.

"Berbicara tentang itu... Apa yang kau lakukan di sini?"

"ritual kebangkitan."

"...huh? Apa itu?"

"Membawa Roh kematian untuk kembali hidup didunia -- «instrutional school» menganggap ini sebagai tindakan paling dilarang dari semua."

"Membawa Roh kematian...?"

Ren Ashbell menempatkan rantai permata sarkofagus.

Itu «batu darah» -- ditemukan hanya di dunia roh asli, suatu krital roh yang sangat berharga mengandung kekuatan kristal roh biasa tidak mungkin jadi tandingannya.

Selanjutnya, dengan suara yang terdengar jelas, dia mulai mengucapkan rapalan yang terdengar seperti kutukan.

"Oh Lord elemental dunia bawah, saya mohon Anda untuk memanggil kembali jiwa-jiwa dari benih-benih kegelapan– "

Dari balik topeng keluar semacam bahasa roh yang sulit untuk dipahami.

Jika ada princess maiden dari Institut disana, mereka pasti akan sangat terkejut.

Hanya princess maiden peringkat tertinggi yang diizinkan untuk merapalkan bahasa kuno tingkat tinggi.

Bump, bump -- dari sarkofagus hitam keluar seperti detak jantung.

Tiba-tiba, «batu darah» merah cerah hancur!

Kemudian --

Mendesis... Desisan... Mendesis

Dengan gerakan-gerakan kecil, tutup sarkofagus perlahan-lahan terbuka, dan dari celah kecil -- muncul sesuatu!

"A-Apa sebenarnya... ini...?"

Muir Alenstarl tidak bisa bergerak tetapi Badannya mulai merinding, pemandangan mengerikan yang terlihat di depan matanya.

"Dia adalah Ren Ashbell sebelumnya -- Nepenthes Lore."

Suara Ren Ashbell bergema di Ruangan batu diliputi dengan bau busuk daging.

"Dia itu juga – anggota kelima «Tim Inferno»."



Bab 5 : Putri Maiden dari Grand Shrine[edit]

Bagian 1[edit]

"Aku nggak nyangka kalau di bawah altar, ada gua-gua sebesar ini!"

"Iya, bahkan aku pikir putri-putri suci di «Institut Ritual Suci» nggak tahu tentang keberadaan gua-gua ini."

Sambil memegang kristal roh dengan satu tangan untuk menyinari jalan mereka, Kamito berjalan melalui gua-gua bawah tanah yang besar.

Gua-gua ini, dibuat oleh orang-orang tak dikenal, sebenarnya cukup besar untuk memuat seluruh bagian Kuil Agung.

Di antara stalaktit terdapat jaring-jaring laba-laba yang besar, kelelawar-kelelawar yang berterbangan menari-nari di atas kepala mereka, dan kerumunan serangga kecil di tanah membuat Fianna tidak sengaja menjerit.

"Yang Mulia baik-baik saja ?"

"Aku putri kedua dari Kekaisaran yang mulia... Aku nggak mungkin takut sama serangga-serangga seperti ini.... Aaaaah!"

"Keras kepala... Hei, perhatikan langkahmu."

Saat sang putri mengeluarkan jeritan nyaring karena ketakutan, Kamito menggenggam tangannya dengan erat.

"K-Kamito? Mengapa..?"

"Sudah merupakan tugas laki-laki untuk melindungi perempuan... Atau mungkin kamu tidak suka memegang tangan laki-laki?"

"B-Bukan, bukan begitu... Hanya saja..."

"Jeritanmu tadi sebenarnya cukup imut".

"... A-Aku benci kamu! Kamu jahat, Kamito..."

Melihat ekspresi Fianna yang sedang cemberut, Kamito tidak bisa menahan tawanya.

Meski dia suka menggodai Kamito tanpa belas kasih, saat putri ini digoda oleh Kamito, dia menunjukkan sosok aslinya yang polos dan pemalu.

"O iya... Bagaimana kamu tahu tempat seperti ini ?"

"Ketika aku masih belajar di Institut, aku datang ke pulau ini sebagai bagian dari ritual untuk Raja Elemental Angin. Seniorku memberitahu tentang tempat ini."

"Senior... Siapa ?"

"Sang Ratu Bencana - Rubia Elstein."

"... Apa?!"

Saat itu juga, Kamito memekik dengan keras.

"Kamu teman kakaknya Claire ?"

"Ya. Dulu sahabatku sedikit, dan dia... merupakan salah satu dari sahabatku."

Ekspresi Fianna berubah menjadi gelap dan terlihat kesepian, dan dia bergumam tentang masa lalu.

"Bahkan putri maiden tertinggi pun diminta untuk berhenti disini, jadi aku sendiri juga nggak tahu kenapa dia bisa tahu gua-gua ini—" Di saat itu juga...

"Shhh... Diam sebentar!"

Kamito menghentikan langkahnya dan berbisik ke Fianna.

"Ada apa ?"

"... Ada orang di dekat kita."

"Bagaimana bisa !? Cuma aku yg tahu te—"

Fiana langsung diam di tengah kata-katanya.

Karena dia juga sudah mendengar suara orang berbicara.

—Kalau... badannya tidak bisa menahan... apa... kemudian...

—Kalau begitu, berarti... tidakpunya hak untuk... itu saja.

Kata-kata mereka bergema di gua.

Karena dinding gua memantulkan suara, mereka tidak tahu seberapa jauh mereka dengan orang yang berbicara.

Bagaimanapun, Kamito yakin bila dia sudah pernah mendengar suara itu sebelumnya.

"Itu Muir Alenstarl... Jadi yang satunya pasti—"

Kamito memegang bahu Fianna untuk melindunginya, dan mengambil nafas panjang untuk mengontrol emosinya.

"Mengapa bajingan itu disini..!"

Orang yang berbicara dengan Muir memang Ren Ashbell.

—Orang yang sama yang menanamkan «Tanda Kegelapan» ke Kamito, dan orang yang bertanggungjawab atas menghilangnya Est.

"Sial.."

Kamito sudah pasti akan lari dan melawannya dalam situasi seperti ini.

Akan tetapi Kamito bahkan tidak bisa memanggil roh untuk bertarung saat ini.

Terlebih lagi, dia tidak bisa membiarkan Fianna dalam bahaya.

Karena itu Kamito hanya bisa menahan amarah dan keinginannya untuk menyerang, dan tetap bersembunyi dengan tenang.

Pembicaran mereka akhirnya selesai.

"...Kupikir mereka sudah pergi."

"Ya."

Kamito menurunkan tingkat kewaspadaannya, mengambil nafas, dan berkata.

"—Apa... yang barusan mereka lakukan ?"

"Entahlah... mungkin melakukan semacam ritual sihir."

"Ritual sihir ?"

"Iya. Aku mendengar seperti rapalan bahasa roh, tapi terdengar agak berbeda dibanding bahasa roh biasa... Terasa agak seram dan membuatku merinding."

"Mengapa mereka memilih tempat seperti ini—"

Kamito mengernyitkan alisnya karena bingung.

"Hmmm... Kamito ?"

"Apa ?"

"S-Sampai kapan kau berencana memelukku ?"

"M-Maaf!"

Wajah Fianna merah padam dan Kamito cepat-cepat melepas pelukannya.

Bagian 2[edit]

"Oooh... Apa salahnya aku ikut, Kamito bodoh!"

Di kamarnya, Claire menggerutu sambil merebahkan diri di kasur.

Ellis dan Rinslet sedang bersama keluarganya yang datang untuk mendukung mereka, sedangkan Claire dan Scarlet sendirian di rumah.

"Bodoh..."

Claire memeluk bantalnya dengan erat sambil tengkurap.

Mereka pasti memiliki alasan yang kuat, dan tidak punya pilihan lain selain meninggalkan Claire sendirian.

... Tapi, Claire merasa kesepian, seperti dia ditinggalkan oleh anggota timnya.

"Mereka ngapain aja... nggak ada yang tahu..."

Saat mereka meninggalkan ruangan, Fiana menekan lengan Kamito dengan dadanya.

Kamito terlihat sedikit terkejut, tapi... sepertinya tidak terlalu menolak juga.

"Bagaimanapun juga, apapun yang dilakukan si bangsat itu dengan putri mesum itu bukan urusanku..."

... Namun, perasaan tidak nyaman masih mengganggu di dalam dadanya.

"... Laki-laki, apa mereka semua suka gadis berdada besar ?"

Mungkin itu apa yang dilihatnya di buku terlarang di Biblion, yang menceritakan tentang berbagai macam ritual menggunakan tubuh putri maiden, tapi Claire malah semakin sadar akan dadanya yang memalukan.

"M-Mustahil... Bahwa ada yang menaruh sesuatu seperti itu di antara...!"

Sebersit pikiran tentang hal itu membuat Claire malu hingga mukanya merah padam.

"Ditaruh di antara..."

Gosok gosok. Remas remas.

Sebagai percobaan, dia menggosok dadanya yang kecil dengan lembut.

... Tidak mungkin. Dengan dada sekecil itu, tidak mungkin baginya untuk menahan benda seperti yang diilustrasikan di buku.

Yang mungkin dilakukannya hanya menggosokkan di permukaan—

"Aaah... Omong kosong apa yang kupikirkan!"

Mukanya merah, Claire memeluk bantalnya dengan cepat.

"Meow—?"

"S-Scarlet! P-P-P-Pergi kamu!"

Claire menyingkirkan bantalnya; Scarlet terkejut dan keluar dari kamar.

"..."

Dia sekarang benar benar sendirian di kamar.

"... Kenapa aku nggak... n-n-nyoba yang tertulis di buku itu?"

Claire menelan ludah.

Buku terlarang itu juga berisi tentang metode untuk memperbesar ukuran payudara.

Menggunakan kemampuan otak yang membuatnya meraih nilai yang tinggi di Akademi, Claire memanfaatkan saat dimana Ellis dan Rinslet terganggu untuk menghapalkan isi tulisan itu.

"...A-Aku harus mencobanya, kalau tidak aku ngga tahu bakal berhasil atau nggak."

Dia menelan ludahnya lalu mengambil batu kecil dari tasnya.

«Roh Petir» level rendah disegel di kristal roh itu. Meskipun kristal roh seperti ini mahal, tapi tidak tergolong jarang ditemui; sebenarnya digunakan untuk menakuti makhluk liar di hutan.

Claire menaruhnya di atas pakaian dalamnya yang berwarna putih, dan memijat dadanya dengan lembut lewat pakaiannya.

"Mmm...."

Claire kesakitan bila dadanya terkena ujung batu yang tajam, namun Claire mengatakan pada dirinya sendiri untuk berani dan menahan rasa sakit itu.

Claire fokus ke jari-jarinya, mengonsentrasikan kekuatan sucinya ke kristal roh.

Biasanya, dengan memberi ledakan kekuatan suci ke dalam kristal, melepaskan roh yang tersegel di dalamnya. Namun kali ini metode yang digunakan adalah memasukkan kekuatan suci pelan-pelan dan terkontrol, cara ini membutuhkan kemampuan lebih—namun metode ini sangat mudah bagi seseorang seperti Claire.

"I-Ini akan membuat dadaku lebih besar...? Yeeee!"

Roh yang tersegel mulai merrespon, mengeluarkan percikan energi yang lemah ke tubuh Claire.

Perasaan nyaman meracuninya, membuatnya menggigil sampai ke ujung jarinya.

"A-Apa yang terjadi... Uhh... Aaaah!"

Claire mendesah sambil menekan kristal roh yang terus memercikkan energi ke dadanya.

"Aaaa-aaah, mmm, aah-ha, aah... oooh..."

Tidak sanggup menahan rasa sakit, Claire menggenggam sprei dengan tangannya dan menghembuskan nafas panjang.

"Aku h-harus kuat, biar dadaku jadi lebih besar... Aaaah!"

Tiba tiba percikan energi yang lebih kuat melanda tubuhnya, membuat Claire menggigil tidak karuan, dan badannya miring ke belakang.

G-Gimana sekarang, aku n-nggak bisa berhenti..!

Saat rasa sakit mengalir keluar dari tubuhnya, Claire mulai kehilangan kesadarannya.

"—Apa, jadi kamu minta aku melakukan hal ini untuk kamu ?"

Waktu itu, tanpa alasan yang jelas, sosok Kamito terbersit di pikiran Claire. Sosok imajiner Kamito melihatnya dengan ekspresi seperti yang ada di novel romantis kesukaannya, ekspresi yang tenang, kejam, dan angkuh.

"N-Nggak! Bodoh... Berhenti sekarang, jangan lanjut lagi!"

"Oh... Kamu benar-benar berharap aku berhenti ?"

"Eh? ... Aaaa!"

"Lihat dirimu, suara apa yang kamu buat ? Kamu memang gadis muda yang nakal."

"Oooh, mmm... S-Siapa bilang... Aaaah..."

"Kenapa kamu tidak mengakui perasaanmu yang sebenarnya, nona muda?"

"Perasaan apa... aaaah.... ohhh!"

"Em... Itu..."

"...Whew... oooh... Kamito, kamu bo..."

"Itu... Claire-sama?"

"... Hah!?"

Suara di samping telinganya mengejutkan Claire kembali ke kenyataan.

Di luar pintu berdiri seorang gadis memegang sebuah kotak.

"Waaaah... K-Kenapa kamu disini!?"

"S-Saya minta maaf telah mengganggu anda! Pintunya tidak terkunci, jadi—"

Gadis itu mengangguk meminta maaf.

"Ada yang bisa kubantu ?"

Claire duduk tegak, menelan ludahnya lalu bertanya.

"Ya, seseorang meminta saya memberikan ini kepada anda—"

Gadis itu menaruh kotak di tangannya ke rak di samping pintu.

Kotak itu ditandai dengan segel yang sangat familiar bagi Claire.

"Ini dari Direktur Akademi Greyworth... Apa isinya ?"

Claire membuka kotak tersebut. Isinya adalah buku dan dokumen yang sangat banyak.

Bagian 3[edit]

“-Kamu bilang, kamu bermimpi tentang Ratu Suci Areishia?”

“Mmm... Aku cuma ngga bisa melupakannya saja.”

Di gua yang gelap –

Kamito berjalan dengan Fianna sembari menceritakan tentang mimpinya.

Mimpi itu– dimana Ratu Suci Aerishia menggunakan «Pedang Suci Pembasmi Iblis» untuk menaklukkan Raja Iblis.

Kamito merasa bahwa isi mimpi itu ada hubungannya dengan Est.

“Itu memang mimpi yang susah dilupakan...”

Fianna menopang dagunya dengan tangan sambil berpikir sebentar, lalu berkata :

“Mungkin... Pikiran dan perasaan Kamito bercampur dengan Est.”

“Maksudmu ?”

Kamito hanya tahu sedikit tentang masalah akademik, namun Fianna dulunya seorang putri suci yang hebat, jadi dia sangat menguasai hal akademik.

“Sering terdapat koneksi mental antara elementalis dengan roh terkontraknya di mimpi mereka. Terutama ketika «Gerbang» antara mereka tidak dapat terbuka, kejadian ini semakin biasa terjadi.”

Saat Fianna berbicara, dia menggambarkan dengan jari telunjuknya.

“Saat aku kehilangan hubungan dengan roh terkontrakku, aku sering bermimpi tentang seorang ksatria menyerbu di medan perang.”

Ksatria di mimpinya itu mungkin saja «Georgios» yang dikendalikannya. Bisa dilihat bahwa meski seorang elementalis kehilangan kekuatannya, hubungan antara keduanya tidak putus begitu saja.

“Mimpi itu – kamu bilang itu bagian dari memori Est ?”

Bila benar, mungkinkah Est adalah Pedang Suci Pembasmi Iblis yang asli ?

“Mmm... Seharusnya mimpimu merupakan campuran dari memorimu dan Est – “

Fianna tiba-tiba berhenti sambil berkata.

“Aku mengerti perasaanmu... Hal yang sama juga aku alami sebelumnya.”

“Fianna...”

Kamito juga berhenti dan menghadap ke Fianna.

Putri Kekaisaran yang kedua, calon pengganti Rubia, calon pewaris tahta putri suci. Sayangnya, ketika dia kehilangan kemampuan untuk mengendalikan roh dan menjadi seorang putri suci yang gagal, orang-orang di sekelilingnya mengubah sikap mereka dan melihatnya dengan penuh kekecewaan.

Hal ini tentu menjadi mimpi buruk bagi seorang gadis yang polos.

“Tapi Fianna, kamu tidak menyerah begitu saja.”

“Itu karena Kamito.”

Jawab Fianna sambil menatap Kamito.

“Karena aku ?”

“Tiga tahun lalu, tarian pedang yang kamu tampilkan memberiku, elementalis yang gagal, inspirasi dan harapan baru. Kalau nggak, mungkin aku masih sembunyi di istana sekarang ini.”

“Kamu melebih-lebihkan.”

Kamito menggelengkan kepala karena malu.

“Tentu saja tidak, terlebih lagi... Sejak itu, aku punya perasaan terhadap Kamito— “

Saat itu, sekelompok kelelawar terbang melewati kepala mereka.

“Aaaah!”

Fianna menjerit tidak sengaja.

Kamito mengayunkan lenteranya, kelelawar pun menjauh karena ketakutan.

“... Nggak apa-apa sekarang. Kamu tadi bilang apa ?”

“N-Nggak! Aku nggak bilang apa-apa!”

Fianna bergumam untuk menghiraukan masalah tersebut, lalu mulai berjalan lagi,

...Selain suara langkah kaki, hening berlangsung agak lama antara kedua orang tersebut.

“Oh, Kamito, kamu nggak berencana memberitahu Claire tentang identitasmu sebenarnya ?”

Pertanyaan Fianna muncul begitu saja.

“Mmm, lupakanlah... Bila aku menghancurkan mimpi seseorang, aku nggak bisa hidup tenang.”

Mimpi terus bertahan sebagai mimpi adalah situasi yang paling tepat.

Penari pedang terkuat tiga tahun lalu sudah lama hilang.

Lebih baik baginya untuk tetap ada hanya di imajinasi Claire dan teman-temannya.

“Terlebih lagi... Bila mereka tahu tentang kebiasaanku berpakaian sebagai perempuan, mereka akan terus menertawakanku.”

Melihat pakaiannya sendiri, Kamito bergumam.

“Hee heee... Berarti cuma aku yang tahu tentang rahasia kecil Kamito ?”

Fianna tiba-tiba tersenyum riang, dan menggengam lengan Kamito dengan erat.

“Hey, hati-hati.”

“Nggak apa-apa, meski aku terpeleset, Kamito akan menangkapku sebelum aku jatuh.”

“Hey... Sebagai putri, hati-hati sedikit terhadap laki-laki!”

“Huh, kamu tahu? Seorang putri hanya gadis biasa di hadapan laki-laki yang dia sukai!”

Fianna mengeluarkan lidahnya dengan nakal ke Kamito.

Responnya yang manis membuat jantung Kamito berdetak cepat.

“Putriku terhormat, mohon berhenti bercanda denganku.”

“... Aku benci kamu, aku nggak bercanda.”

bagian 4[edit]

Setelah cukup lama, mereka berdua akhirnya tiba di terowongan rahasia Grand Temple.

Jalur atas diblokir oleh lempengan batu raksasa, dimana ada ukiran sempit dari kata-kata dalam bahasa roh.

Pintu keluar ada di sini; pelataran Grand Temple itu hanya di luar.

"Kamito, bisa aku naik di pundak mu?"

"Tentu saja, tak masalah."

Sambil mengangguk, Kamito membungkuk untuk memungkinkan Fianna untuk menaiki.

Merasakan lembut nya pahanya di bagian belakang lehernya membuat hati Kamito yang tanpa sengaja bisa melompat ke tenggorokannya - bagaimana ia berharap dia tidak akan marah kepadanya karena itu.

"O-Omong-omong ... Aku benar-benar tidak perlu menyembunyikan wajahku?"

"Sesuatu yang mencurigakan sesungguhnya akan membuat kita lebih mudah ditemukan. Selain itu, aku seorang gadis dan bahkan saya pikir Kamito terlihat sangat cantik, sehingga kamu tidak perlu khawatir sama sekali."

"Pujian tersebut benar-benar tak membikin aku merasa lebih baik ..."

Kemudian, Fianna menyanyikan apa yang terdengar seperti kutukan sihir. Kata-kata roh di batu bersinar terang biru, dan seluruh lempengan dengan rapi dibagi di tengahnya dan membuka ke arah luar.

Sinar bulan yang cerah dipancarkan langsung ke dalam gua yang gelap.

Malam telah jatuh pada dunia luar, dan api unggun terbakar untuk menerangi halaman besar.

"-Sepertinya tidak ada orang di sekitar, mari kita pergi sekarang."

Fianna mengulurkan tangan dan meletakkan tangannya di tanah, kemudian perlahan-lahan naik keluar.

Kamito melompat dalam satu lompatan, dan disusul di belakangnya.

Untungnya, pakaian ritual memiliki rok panjang, sehingga bahkan jika Kamito melihat ke atas, celana Fianna masih akan tersembunyi.

"Sayang sekali ... aku bahkan khusus memakai celana favorit Kamito hari ini."

"Aku-aku bahkan tidak se seperti ... hentikan!"

"Oooh, kelihatannya aku telah mengenai pada kebenaran!"

"Uhhh ..."

Melihat ekspresi Kamito yang penasaran, Fianna pecah menjadi gelak tawa.

Setelah naik ke permukaan tanah, mereka berdua bergegas ke koridor batu di depan halaman.

"Ku bilang ... Jika kita ketahuan, kita akan harus melarikan diri dari setiap roh penjaga satu di sini?"

"Jangan terlihat bersalah, dan kita tidak akan tahu."

Keduanya saling berbisik gugup sambil berjalan di sepanjang koridor batu yang membentang di depan mereka.

Pada saat itu, seorang gadis sang putri muncul di depan mereka dan mulai berjalan ke arah mereka.

"Ooh!? Aku

Jantung Kamito itu tersentak, dan ekspresi wajahnya membatu.

Gadis itu menarik semakin mendekat, langkah demi langkah-

Sama seperti mereka akan melewati satu sama lain, dia tiba-tiba berhenti di depan mereka dan berkata:

"Harap,kemana tujuan anda ke?"

"Untuk ruang Reicha-sama. Reicha-sama mengatakan dia merasa tidak enak badan, jadi ..."

"Oh, begitu? Maaf untuk menyulitkan anda."

Fianna menjawab sang putri gadis mempertanyakan dengan tenang, tenang ekspresi di wajahnya, dan yang terakhir kemudian berbalik dan pergi.

"Dengar, kita tidak hanya berhasil melewati uji coba ini?"

"Wow ... Keberanian gadis sang putri benar-benar adalah hal lain yang. Aku sangat takut jantungku hampir berhenti"

Untuk laki-laki untuk memasuki «Divine Ritual Institute» benar-benar keterlaluan. Sebuah aturan penting tersebut belum pernah rusak sebelumnya.

Jika mereka ditangkap, dalam kasus terbaik mereka akan dieksekusi, sedangkan dalam kasus terburuk ... Tidak apa, itu yang terbaik untuk tidak berpikir tentang hal itu.

"Lewat sini."

Fianna, yang berjalan di depan, memberi isyarat diam-diam dengan tangannya.

mengikuti langkahnya-

"..."

- Pasangan ini mencapai ujung koridor panjang, di mana ada satu set pintu besar dihiasi dengan ukiran rumit.

Dekorasi pintu ini terasa berbeda dengan pintu lain: hias pada bingkai pintu beberapa kristal roh sangat murni dan berharga.

"... Uh ... Fianna, bisa aku mengajukan pertanyaan?"

Kamito bertanya, ekspresi berkedut di wajahnya.

"Apa itu?"

"Jangan - Jangan Pintu ini ....... Tidak apa, ku kira tak usah dikatakan ..."

"Memang, itu hanya apa yang Kamito pikirkan."

Fianna mengangkat bahunya pada Kamito dgn nakalnya.

"Aku tidak punya pilihan ... Yang sang gadis putri lainnya dari status yang lebih tinggi daripada aku berada di sana, selain wanita ini?"

"Apa kau serius?"

"Jangan khawatir, aku sangat yakin."

Menyelesaikan kalimatnya, Fianna mengetuk dgn tangkas pada pintu tiga kali, sesuai dengan peraturan yang tepat.

Duo ini menunggu untuk sementara-

Akhirnya, pintu besar perlahan terbuka.

Pemandangan begitu menyambut mereka adalah-

Sebuah karpet merah begitu terbentang lurus di depan mereka, dan cerah berkilauan kristal roh.

Ini adalah ruang suci, penuh dengan aura ketenangan yang muram.

Sebuah tirai tipis menggantung di ujung ruangan, di balik itu adalah siluet sosok sedikit kecil.

"Apa yang pengunjung inginkan? Saya percaya saya telah menginstruksikan untuk tidak saat sedang makanku-"

Suara megah tinggi terdengar ke ruang depan.

Namun, tidak terpengaruh, Fianna berjalan ke depan dan berkata:

"Lama tidak bertemu, Reicha. Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?"

"... Hah?"

Gadis itu buru-buru menarik ke samping tirai, kemudian - rahangnya turun terkejut.

"... Tak mungkin, Fianna-sempai!?"

bagian 5[edit]

Reicha Alminas .

Dia adalah salah satu dari « Queens » telah mendapatkan kehormatan melayani lima Elemental Lords .

Hanya ada lima Queens di seluruh benua , dan mereka adalah yang paling terkemuka dari semua gadis putri .

Meskipun Fianna mengatakan ia ingin membawa Kamito untuk bertemu seorang putri tinggi peringkat maiden -

Dia tidak pernah sejenak bermimpi bahwa dia mengacu pada Ratu saat ini .

" Kenapa kau tidak memberitahu saya sebelumnya? "

" Karena ... Jika saya , Anda tidak akan datang , akan Anda Kamito ? "

Kamito tidak bisa menyembunyikan perasaan yang saling bertentangan itu . Demikian juga , gadis yang duduk di sampingnya juga gugup menghindari tatapannya , dan tampak agak gelisah .

Gadis itu memiliki rambut hitam glossy rapi dilakukan di kepang , dan mata lucu seperti itu dari hewan kecil .

Mengenakan pakaian ritual merah terang , dia tampak seperti kupu-kupu akan mengambil penerbangan.

Pada lima belas , dia setahun lebih muda dari Kamito . Seperti Rubia Elstein , dia adalah salah satu dari beberapa teman dekat Fianna dan confidantes sementara dia berada di « Divine Ritual Institute » .

Dia melayani Api Elemental Lord - dengan kata lain , ia berhasil posisi Bencana Ratu Elementalist itu .

Kamito sudah memperkenalkan diri , dihapus penyamarannya , dan mengungkapkan bahwa ia sebenarnya laki-laki.

Setelah menemukan bahwa Kamito sebenarnya laki-laki , Reicha sangat hampir pingsan di tempat , dan hanya berhasil tetap sadar berkat penjelasan fasih Fianna itu .

" II - Jika saya sopan , itu karena itu adalah waktu - f pertama saya berbicara dengan seorang laki-laki ... "

" N - Jangan pikiran . Aku harus menjadi orang minta maaf , tongkang pada Anda tiba-tiba seperti ini . "

Melihat Ratu angguk kepalanya meminta maaf ke arahnya , Kamito juga menundukkan kepala sebagai jawaban .

Meskipun jelas menjadi putri gadis peringkat tertinggi di benua itu , dia tetap rendah hati dan sopan .

Karena rank nya , Kamito seharusnya menggunakan sopan , bahasa formal ketika menangani nya . Namun, terlepas dari fakta bahwa , ia tetap tampak seperti gadis muda biasa , sehingga Kamito tidak bisa membantu tetapi berbicara kepadanya sebagai sama .

" Hee hee , sedikit Reicha masih sebagai lucu seperti biasa . "

Fianna tersenyum nakal dan mengulurkan tangan untuk merasakan dada kecilnya .

" Ah - S - sempai , apa yang kamu lakukan ! "

" Dada Anda tampaknya mendapatkan sedikit lebih besar ? "

" Oooh ... I- aku benar-benar tidak ... ! "

Reicha tersipu dan memutar tubuhnya membela diri .

... Bahkan jika dia memang seorang teman lama , untuk melakukan sesuatu seperti itu untuk seorang Ratu mendorongnya sedikit , bukan?

Kamito pecah menjadi keringat dingin dan mengalihkan matanya canggung .

Kedua gadis kenang sayang untuk sementara waktu, kemudian -

" Reicha , sebenarnya ... Saya memiliki nikmat untuk meminta dari Anda . "

Fianna membuat permintaan dengan ekspresi serius .

" Sebuah nikmat - ya ? "

Reicha berkedip , bukan pemahaman .

" Mmhmm ​​, saya perlu meminjam kekuatan Anda , untuk mematahkan kutukan pada dirinya - Kamito . "

" Maksudmu laki-laki ini telah dikutuk ? "

Api Ratu bertanya, berbalik untuk melihat Kamito .

" Semangat blade saya mungkin telah terperangkap oleh kutukan ini . Silakan menyelamatkannya , aku mohon . " Kamito menempatkan kedua tangannya di tanah dan memohon Reicha dengan segenap hatinya .

" Itu adalah kutukan begitu kuat sehingga bahkan aku tidak bisa memecahkannya Namun, Anda telah mendapat restu dari Api Elemental Lord ; . Dengan kekuatan itu, Anda pasti dapat menghancurkan bahkan kekasarannya dari kutukan . "

" Anda benar . Jika saya menggunakan « Sacred Flames kiamat » , kutukan apapun akan berubah menjadi asap , itu benar . Tapi ... "

Reicha menunduk dan bergumam .

Itu wajar bahwa ia akan ragu-ragu .

Bahkan pada perintah salah satu teman terbaiknya , Fianna , dia tetap seorang « Ratu » yang harus mengikuti aturan dan melakukan hal-hal dengan buku .

Menggunakan daya Api Elemental Tuhan untuk keuntungan pribadi adalah suatu tindakan yang tidak akan pernah dimaafkan .

Suatu periode panjang keheningan terjadi , dan kemudian -

" Aku tahu . "

" Hah? "

Pada saat itu , Kamito mengangkat kepalanya dan dianggap Reicha bingung .

" Karena itu adalah permintaan sempai , jadi ... Tapi hanya sekali ini, . Aku tidak akan membuat pengecualian ini lagi "

Api Ratu mendesah , dan menganggukkan kepalanya seolah-olah membuat keputusan.

bagian 6[edit]

Setelah beberapa saat lebih-

"- Nah, mari kita mulai ritual."

Reicha, yang telah berubah menjadi satu set pakaian ritual putih bersih, berlutut malu-malu di depan Kamito.

Tenang, penampilan meyakinkan dia kontras dengan bahwa dari gugup, gadis muda malu hanya beberapa waktu yang lalu; mereka tampak seperti hampir dua orang yang berbeda.

Sehingga tidak mengganggu ritual tersebut, Fianna telah mundur ke sudut ruangan untuk menjaga mereka dari jauh.

"Aku akan meninggalkan segala sesuatu di tangan Anda, R-Reicha-sama."

"Tolong, panggil saja aku Reicha, Kamito-sama."

Ratu Api tersenyum tenang, kemudian membelai tangan Kirito lembut.

"Apakah kamu akan takut - Maksudku, takut untuk menyentuh tubuh laki-laki?"

"... Sejujurnya, ya, sedikit takut. Tapi ... Anda adalah teman senpai saya."

"Tampaknya Anda ingin mempercayai Fianna sepenuhnya."

"... Ya, memang. Fianna-sensei adalah satu-satunya orang yang dapat berdiri di sisiku."

Bergumam pada dirinya sendiri, seolah-olah mengingat memori yang jauh dari beberapa peristiwa masa lalu.

Hubungan antara mereka berdua tampaknya menjadi lebih dalam dari sekedar persahabatan.

"Juga, saya bisa merasakannya, kau bukan orang jahat yang berbahaya."

"Begitukah?"

"Jangan menilai saya berdasarkan penampilan saya dan usia.

Saya setelah semua Ratu, dan saya cukup percaya diri dalam kemampuan saya untuk menilai orang-orang."

Reicha mengatakan dengan senyum yang asli.

Senyumnya penuh pesona, dan bisa dengan mudah memikat seseorang melihat itu.

"Sekarang, kemudian, Kamito-sama, silakan lepas bajumu."

"Ooh ... Mmm-mmm ..."

Kamito mengangguk, dan melepas jubah tipis yang ia kenakan di bawah gaun putrinya.

The «Brand Of Darkness» di dadanya, berada tepat di atas hatinya, telah berubah menjadi luka yang gelap gulita.

"Ahhh ... I-Itu benar-benar sesuatu ...!"

Reicha menepuk kedua tangan ke pipinya yang merah padam.

"I-Ini adalah pertama kalinya saya melihat tubuh l-laki-laki ..."

"Oh, jadi begitu ..."

Kamito memalingkan muka, merasa sedikit gelisah.

Untuk memiliki tubuh telanjang dicermati begitu dekat oleh seorang gadis secara misterius membuatnya malu.

"Kamito, wajah Anda sangat merah."

Berdiri di sisi ruangan, Fianna berkata, kemudian segera terbatuk beberapa kali.

Reicha mengulurkan tangan untuk menyentuh dada Kamito itu.

"... Sangat ... sangat tegap dan solid!"

"Tidak apa-apa, itu adalah hasil dari semua pelatihan di Sekolah Instruksional ..."

Jari ramping Ratu berjalan bersama tubuh bagian atas telanjang Kamito, membuatnya gatal sedikit.

Namun, di mana jari-jarinya menyentuh, ia tiba-tiba merasa gelombang sakit nyeri.

Kemudian, Reicha menutup matanya, dan sungguh-sungguh mulai meneriakkan kutukan dalam bahasa roh.

"O menguasai tertinggi semua api duniawi, hakim yang keras dan prajurit besar - Ini adalah kata-kata doa untuk ritual yang didedikasikan untuk «Fire Elemental Lord».

Rambut Reicha mulai bertiup liar seolah-olah dengan embusan angin panas, dan cahaya putih terang bersinar di ujung jarinya.

"Api Suci Penghakiman - menebus dosa-dosa kita dan membersihkan -kami Kata-kata yang berasal dari bibir pucat yang tipis adalah tingkat tertinggi dari bahasa roh Kuno.

Gadis kecil di depan matanya tampaknya kerasukan.

"Oooo ..., ahhh ...!"

Kamito mengeluarkan erangan rasa sakit yang tak terkendali.

Api biru cerah dari ujung jari Reicha membakar kulitnya, dagingnya hangus. "Oww ... aaaaaaaa ... aaah-!"

Rasa sakit yang tak terbayangkan tampaknya berubah menjadi raungan binatang mengerikan, yang bergegas keluar dari tenggorokan Kamito itu.

Dia merasakan tinnitus tajam, seolah-olah kembang api yang meledak di kepalanya. Keringat mengalir dari setiap pori-pori, dan otot-ototnya menegang keras untuk hampir mematahkan tulang-tulangnya.

"Menjadi abu dan debu! Api Anda dapat memurnikan semua kegelapan, membakar habis semua kutuk!"

The «Brand of Darkness» dicantumkan pada dada Kamito tiba-tiba mulai membakar secara intensif.

"... -!"

Kamito meledak raungan tanpa kata-kata.

Dalam kesadarannya dengan cepat memudar - Kamito merasakan nyeri yang datang dari tangan kanannya.

- Mungkinkah ... tanda spirit Est ...!?

Sama seperti ia melihat, dari sudut matanya, Tanda spiritnya mulai memancarkan cahaya terang-

Kamito kehilangan kesadaran, dan terjun ke dalam kegelapan.



Bab 6 : Memori Pedang Suci[edit]

Bagian 1[edit]

Di dalam jurang tanpa dasar, Kamito jatuh tanpa henti.

Ditelan oleh kegelapan, Kamito membuka matanya.

Dia tidak bisa merasakan waktu yang berlalu - mungkin sudah beberapa jam, atau mungkin beberapa detik? Dia sudah tidak bisa menebaknya.

Di tempat ini, Kamito menemukan pedang yang tertelan oleh kegelapan.

Pedang indah yang bertuliskan bahasa roh.

Setelah melihat pedang itu, setiap jengkal tubuh Kamito mulai terbangun.

Itu Est!-

Dia yakin kalau yang dipikirkannya itu benar.

Kamito melepaskan beban berat yang mengikat dirinya, dan mendekati pedang itu.

Tapi, ketika menyentuh gagangnya -

Pedang itu tiba-tiba memancarkan sinar terang yang mendorong tangan Kamito untuk menjauh.

"Apa!?"

Rasa sakit menusuk ujung jarinya.

Ini- pastilah sebuah penolakan.

"Est... Kenapa-"

"-Kamito, aku tidak bisa menjadi pedangmu."

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!"

"- Karena, sekarang aku ingat. Semua dosaku... dosa yang tidak bisa dimaafkan."

"Dosa?"

Kata itu hampir tidak bisa dihubungkan dengan pedang indah yang bersinar di depannya, pikir Kamito.

"Aku tidak mau mengulanginya lagi, jadi-"

... Ini... Apa...?

Kamito merasaan sakit di kepalanya.

Sebuah serangan gambar secara luar biasa membanjiri kepalanya.

.... A-Apa ini kenangan Est?

Bagian 2[edit]

Kisah ini terjadi di masa lalu.

Pada saat itu, benua ini terpisah menjadi beberapa negara kecil. Masa dimana terjadi perang dan kekacauan.

Tokoh utama dalam kisah ini adalah pedang suci legendaris dan seorang gadis muda.

Areishia Idriss - gadis ini berasal dari desa tanpa nama yang berada di perbatasan.

Gadis gembala yang memilii wajah canti, dan dia sangat suka dengan rambutnya yang berwarna emas berkilauan.

Dia seharusnya tumbuh dengan normal, jatuh cinta, menjalani kehidupan yang normal, dan menemukan kebahagiaaan yang normal.

Namun, ketika dia berusia 14 tahun, sebuah insiden terjadi kepada gadis ini yang menyebabkan orang-orang memanggilnya Ratu Suci.

Suatu hari, ketika dia mendaki gunung untuk mengambil kayu bakar, Areishia menemukan sebuah pedang di dalam bangunan nenek moyangnya.

Pedang suci yang selama berabad-abad tidak ada yang bisa menghapus segelnya.

Gadis itu mengulurkan tangannya untuk mencabut pedang itu, dia sama sekali tidak tahu kalau ada roh yang sangat kuat tersegel di dalamnya.

Tiba-tiba, roh pedang bangkit dari cahaya yang menyilaukan.

"Siapa kau?"

Tanggapan dari roh pedang itu adalah:

"Aku adalah pedangmu, nyonya. Aku akan memberikan diriku sepenuhnya hanya untuk elementalisku - Kau."

Gadis itu tidak tahu kenapa pedang suci itu memilihnya, seorang gadis gembala, untuk membuat kontrak dengannya. Namu, dengan polos dia menerima kontrak itu.

Sejujurnya, gadis itu hanya merasa kesepian.

Di sisi lain, roh pedang itu tidak berperasaan, dan hanya setia untuk melayani tuannya, gadis itu.

Dia bukan roh yang khas, tapi senjata roh dibuat untuk digunakan dalam perang selama Era Archeozoic.

Jadi, kurasa aku tidak berguna- kata roh pedang itu.

Namun, karena gadis itu sepanjang hidupnya tinggal sebagai penggembala biasa, dia tidak mengerti hal-hal filosofis seperti itu.

Hal semacam itu tidak penting-

Gadis itu hanya bahagia karena telah menemukan teman wanita pertamanya.

"Siapa namamu?"

"Namaku asliku tidak bisa diucapkan dalam bahasamu. Tapi, dalam bahasa roh, kau bisa memanggilku Terminus Est."

"Namamu terdengar agak panjang... Bagaimana kalau aku memanggilmu Est?"

"Namaku bukan Est, aku Terminus Est."

"Aku tidak terlalu suka, sulit untuk mengucapkannya. Sudah diputuskan, namamu Est."

Gadis itu langsung tersenyum, dan mengulurkan tangannya ke arah kepala Est seperti hewan peliharaan.

"Nyonya, tolong jangan lakukan itu."

Est memprotes dengan ekspresi kosong.

Kisah ini terjadi setelah pertemuan Ratu Suci dan pedang suci legendaris.

Berita terkontraknya gadis gembala dengan pedang suci legendaris langsung menyebar ke penjuru negeri.

Tentang seorang gadis muda yang bukan keturunan elementalis bisa melakukan kontrak dengan roh tingkat tinggi - hal seperti itu sudah cukup mengubah gadis itu menjadi seorang penyelamat, menjadi ratu suci supranatural.

Karena pada zaman itu hampir tidak ada elementalis, orang-orang harus bertahan sendiri untuk melawan roh yang memberontak.

Jadi, gadis itu mulai menggunakan kekuatan yang diberikan oleh roh pedang untuk membawa perdamaian ke dunia, baik untuk mengamankan - atapun untuk mengalahkan roh-roh.

Orang-orang memuji gadis itu, dan memberinya gelar Ratu Suci.

Terlepas dari seberapa lelah dan sedihnya gadis itu, gadis itu akan selalu memiliki senyuman untuk menyemangati orang lain.

Ada beberapa orang yang cemburu, yang membencinya, dan bahkan ada yang dekat dengannya hanya agar bisa terkenal.

Meski begitu, gadis itu masih bertempur, dengan pedang ditangannya.

"Nyonya, mengapa kau bertarung demi orang-orang itu?"

Suatu hari, roh pedang itu bertanya kepada gadis itu.

Kenapa bertarung - untuk pertama kalinya, pedang yang punya sifat sebagai senjata roh, ingin tahu tentang hal semacam itu.

"Karena hanya ini yang bisa ku lakukan, karena itu aku harus bertarung."

"Aku tidak mengerti maksudmu. Tapi, karena aku pedangmu, aku akan melakukan perintahmu, nyonya."

"Est.... Jangan mengatakan hal aneh seperti itu, kau kan temanku."

"....Teman?"

"Naiklah, ayo kita makan. Roti panggang yang aku buat hari ini sepertinya lezat."

"Nyonya, izinkan aku untuk mengulanginya - aku tidak perlu makan makanan manusia."

".... Sepi banget kalau aku makan sendiri. Ayo makan?"

".... Jika itu permintaan nyonya, aku akan mematuhinya."

Roh pedang itu mengangguk.

Namun, terlihat sedikit kebingungan di wajahnya.

Di dalam hatinya tumbuh setitik- sesuatu semacam emosi.

Keberanian seorang gadis dengan pedang suci itu perlahan dikenal hingga seluruh penjuru benua.

Secara bersamaan, teror raja iblis yang sangat kejam membawa seluruh benua ke dalam peperangan dan penderitaan.

Berbagai negara bersatu dengan mengirimkan bala tentara untuk mengalahkan raja iblis, tetapi mereka gagal total. Para tentara hanya bisa mundur karena menghadapi pasukan roh yang diperintah oleh raja iblis.

Akhirnya, orang-orang tidak punya pilihan lagi selain menaruh harapan terakhir mereka kepada seorang gadis muda.

Seorang gadis yang hanya berusia 14 tahun, gadis yang belum pernah merasakan cinta.

"Est, aku harus bertarung... Aku harus bertarung, untuk semua orang yang menderita di dunia ini."

"Ya, nyonya. Aku adalah pedangmu - aku akan melakukan apapun untukmu."

Dan kemudian gadis itu dengan sepenuh hati bertarung di dalam perang berdarah.

Roh pedang yang kemudian dikenal sebagai Pedang Suci Pemusnah Iblis itu sudah melihat semuanya.

Dia tidak punya pilihan selain menyaksikan semuanya - termasuk akhir dari kejadian itu.



Bagian 3[edit]

"-to... Kamito!"

"Mmmmmhm...."

Kamito membuka matanya dan melihat Fianna yang memandanginya dengan cemas.

"Kamito... Apa kau baik-baik saja?"

"A-Aku pingsang?"

"Mmm, tapi hanya sebentar."

"Ohh..."

Kamito merasa kalau dia sudah pingsan selama beberapa jam, tapi seolah semua itu hanya perasaannya saja.

Reicha, yang berada di sampingnya, melanjutkan pembicaraan dengan nafas berat.

"Aku sudah berhasil menghilangkan Brand of Darkness yang berada di dalam tubuh Kamito."

"... Seriusan?"

"Ya, tapi..."

Wajah Reicha melemas lalu berbisik dengan suara rendah.

"Aku takut roh pedang Kamito-sama... menghilang..."

"..."

Kamito langsung melihat simbol roh yang berada di tangan kanannya.

Simbol yang tadinya bersinar itu, sekarang sama sekali tidak merespon.

"Est..."

"Kamito-sama... Ketika kau pingsan, apa kau melihat sesuatu di pikiranmu?"

"Pikiranku..."

Kamito mengelus pelipisnya yang sakit, dan-

Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

Sebuah pedang, jatuh ke dalam kegelapan yang tak terbatas.

Dan menolak keras ketika dia mengulurkan tangannya untuk menggapai Est.

Kemudian, Kamito teringat memori tentang Est.

Kamito teringat memori Est dengan seorang gadis - orang pertama yang membuat kontrak dengannya.

Yang Kamito tidak mengerti, mungkin, kenapa memori itu bisa membuat Est menolaknya.

"Dosa yang tak termaafkan... apa itu?"

...yang menyebabkan Est terperangkap di dalam kegelapan, adalah dosanya?"

"Ooooooo..."

Lalu, Reicha tiba-tiba lemas dan jatuh ke tanah.

"Kau kenapa!?"

Kamito dengan cepat membantunya.

Tubuh langsing Reicha tergeletak lemas di lengan Kamito.

"Sepertinya kita harus membawamu ke rumah sakit?"

"Y-Ya. Maaf, sepertinya aku sedikit capek..."

"Ritual sirih memang melelahkan, apalagi kemarin Reicha melakukan ritual pernyataan Elemental Lord."

"Maaf... Semua terjadi karena aku..."

"Jangan bilang begitu, tubuhku lah yang paling lemah..."

Ketika Reicha menggeleng-gelengkan kepalanya, Kamito menurunkannya ke atas kasur agar beristirahat.

"Kita harus bergerak, putri-putri bangsawan pasti akan segera datang untuk menghadiri The Queens."

"MmmmHmm, aku tahu."

Kamito mengangguk, menunduk ke arah Reicha.

"Reicha, terima kasih sudah menyelamatkanku. Aku tidak akan melupakannya hutang budiku pada mu."

"Ti-Tidak usah terlalu..."

"Kita akan bertemu lain waktu. Lalu, aku akan menemuimu sebagai pemenang Blade Dance."

Fianna dan Reicha, masih beristirahat di kasur, saling bergandengan erat.

"Baiklah. Meskipun aku tidak bisa menyemangati tim-tim yang mewakili negara masing-masing pada upacara pembukaan, kau bisa yakin kalaudi dalam hatiku, aku akan selalu mendukung tim senpai."



Bagian 4[edit]

Di dalam tas yang dikirim dari sekolah untuk ruangan Claire, berisi berita terakhir tentang musuh mereka.

"Kesimpulannya, prioritas utama sekarang adalah memikirkan rencana penyerangan untuk Kamito untuk beraksi diluar medan pertempuran."

Sendirian, Claire mondar-mandir di ruangan kosong sambil membaca bahan materinya, berpikir keras tentang taktik bertempurnya nanti.

"Ellis akan kesulitan untuk menyerang di baris depan kalau sendirian, aku harus ikut juga atau tidak, ya...?"

Sampai sekarang, rencana yang ada hanyalah Kamito menyerang dengan serangan luar biasanya di baris depan, sambil empat orang di belakang membantunnya. Namun, dengan Kamito yang tidak bisa memanggi Est, rencana ini tidak akan bisa digunakan.

Alternatif lainnya yang sedang Claire pikirkan adalah memindahkan dirinya, yang awalnya berada di tengah untuk mengatur semua serangan serta menyerang bersama Ellis. Meskipun rencana ini hanyalah menyembus pertahanan musuh dengan satu-satunya serangan Kamito, tapi elemen api dan angin sejak awal memang saling mendukung, sehingga memberi mereka lebih banyak potensi serangan.

"Tapi... Kalau begitu, aku takut kalau terjadi sesuatu dari belakang Fianna."

Fianna hampir tidak menjalani latihan menyerang, dan dia biasanya memberikan bantuan dari belakang melalui ritualnya, ritual yang dapat menambah kekuatan dari roh pedang. Di rencana sebelumnya, Claire haus melindunginya dari tengah, tapi jika Claite pindah ke depan, Claire tidak bisa menjamin keselamatan Fianna. Dalam hal ini, semua bergantung kepada Rinslet, yang berperan sebagai sniper dan pendukung menggunakan elemen api.

".... Rencana ini harus dipertimbangkan lagi."

Claire meremas kumpulan kertas yang dia gunakan sebagai catatan dan membuangnya.

Scarlet membantu membakar kertas itu.

"Aku sudah memikirkannya dari tadi, tapi tidak ada ide yang bagus..."

Rencana lain yang Claire pikirkan tadi punya banyak kekurangan, dan tidak ada solusi yang tepat.

"... Ternyata kita terlalu bergantung kepada Kamito dan Est."

Desah Claire, dan kembali membaca dokumen yang diberikan Akademi kepada mereka.

Selain merancang strategi mereka, sangat penting untuk menganalisa keadaan lawan, sehingga mereka bisa memanfaatkan kelemahan musuh.

Musuh yang pasti harus kita waspadai adalah-

Claire membuka dokumen itu dan mambaca halaman pertama.

Di situ tertulis - Tim Perwakilan dari Negara Agama, Alphas.

Dokumen ini berisi tentang tim blade dance terkuat - Tim Inferno.

Namun, isi dokumen itu hampir semuanya kosong, karena mereka tidak bisa mencari tahu nama anggota dari tim tersebut.

Informasi yang mereka punya tentang kemampuan tempur musuh hanyalah elementalis yang menyerang mereka waktu itu - Muir Alenstarl. Sejujurnya, kalau ada 3 elementalis lainnya yang sebanding dengan Muir di tim itu... Tidak ada kesempatan lagi untuk menang.

"Jadi, biarkan hal ini menjadi pertimbangan kita nanti."

Claie menaruh dokumen itu di pangkuannya, dan mulai mencari laporan lainnya.

Total, ada 24 tim yang mengikuti Blade Dance. Umumnya, setiap negara boleh mengiimkan 1 tim, tapi untuk negara seperti Kerajaan Ordeshia, yang luas dan ada banyak sekali elementalis, bisa mengirimkan beberapa tim.

Kerajaan Quina di barat dan Negara Kepulauan Robica masing-masing mengirimkan 2 tim, dan satu-satunya yang mengirimkan 3 tim selain Kerajaan Ordeshia adalah Kerajaan Suci, Lugia.

Dasi sekian banyak tim dari negara-negara tersebut, yang paling menyita pehatian adalah Four Gods dari Quina, Sacred Knight dari Kerajaan Suci Lugia, dan Milla Bassett - elementalis muda paling berbakat yang mengikuti Blade Dance kali ini mewakili Kerajaan Rossvale, bersama dengan Rupture Division.

Dan ada lagi-

"- Musuh masyarakat nomor satu... Dragon Knights milik Dracunia Duchy."

Darcunia tampil sebagai pemenang dalam beberapa edisi Blade Dance lalu, dan benar-benar negara kuat dengan rekor yang mengesankan.

Dan sebelumnya Claire sudah melihat kekuatan Leonora.


Death Gaze penghancur milik Leonora - Nidhogg nya mengeluarkan serangan luar biasa untuk mengahancurkan kapal terbang berisi roh miiter.

Dokumen yang diberikan Akademi menandai kekuatan Leonora dengan peringkat AAA.

Claire mendapatkan peringkat AA ketika masih di Akademi, Ellis juga demikian. Rinslet A, sedangkan Fianna D. Namun, peringkat Fianna dihitung ketika dia tidak belajar secara formal, Jadi penilaiannya kurang akurat. Kebetulan, salah seorang yang sebelumnya Tim Scarlet kalahkan , Velsaria Eva, berada di peringkat AAA.

Tentu saja,karena hasil analisa ini berasal dari guru-guru di Akademi, kita tidak bisa mengetahui secara pasti tentang kekuatan seorang elementalis. Contohnya, meskipun peringkat Rinslet 1 tingkat di bawah Claire, ketika mereka bertarung, mereka hampir setara.

"... Bisa dibilang, ini hanya prediksi awalnya saja."

Leonora Lancaster adalah elementalis yang sangat hebat, hal itu tidak bisa terbantahkan.

Tapi di Blade Dance, tempat berkumpulnya elementalis hebat, dia bukan apa-apa lagi.

Namun... Data Leonora ada sesuatu yang sangat penting.

Yaitu info tentang Dragon Blood- kekuatan yang dia dapat lewat gais keturunannya.

Dilihat dari penilaian baru Leonora setelah mendapatkan kekuatan spesialnya, Claire hanya bisa memandanginya, matanya terbelakak.

"- Level S."

Menurut sejarah, hanya segelintir elementalis yang mendapatkan peringkat itu. Dalam beberapa tahun teakhir, Greyworth Ciel Mais muda sudah punya peringkat SS, tapi tidak semuannya benar.

Kekuatan Leonora pertama kali terlihat di publik ketika dia berusia 14 tahun. Dia bangkit ketika tes awal untuk masuk Ksatria Dragon Emperor, dan walaupun hanya beberapa menit, tapi dia memusnahkan semua pesaingnya yang ingin bergabung dengan Ksatria.

Menurut buku panduan, kekuatan Dragon Blood tidak bisa digunakan semaunya, tapi kekuatan itu sangat tidak terkendali-

"Jika memungkinkan, aku harap kita tidak berhadapan dengannya."

Desah Claire, dan menaruh buku panduan itu di atas meja.

Di saat yang sama, pintu tiba-tiba terbuka - itu Kamito, yang sudah berganti pakaian dengan seragam biasanya.

"Kamito... Hei, kenapa kau kelihatan lemas banget!"

Memucat khawatir, Claire langsung bergegas ke samping Kamito.

"... Ritual pelepasan kutukan ternyata lebih melelahkan dari yang kubayangkan."

Tidak peduli dia masih mengenakan seragamnya, Kamito jatuh ke atas kasurnya.

"Dan Brand of Darkness?"

"Mmmmm... Terima kasih untuk teman Fianna, kutukan itu sudah hancur."

Kamito membuka kancing seragamnya untuk memperlihatkan bekas luka di dadanya -

"Aieeeeeeeeah!"

"Jeritan imut macam apaan tuh..."

"Si-Siapa yang menyuruhmu buka baju!"

Claire menjerit, wajahnya memerah karena malu.

Claire diam-diam melihat sekilas tubuh Kamito, otot dada... dan sesuatu mulai bedebar kencang di dalam dada Claire.

"Tapi, masalahnya, Est masih tidak bisa-"

Kamito menunduk lemas dan menggelengkan kepalanya.

"Oh..."

Melihat ekspresi Kamito yang putus asa, Claire tidak bisa membantunya tapi dia bisa merasakan sakitnya hati Kamito.

Kamito sangat kuat, sangat kuat sehingga dia meninggalkan jauh teman-teman seumurannya di sekolah Institusional.

Terutama karena hal itu, sulit untuk melupakan 1 hal -

Kenyataannya, Kamito, seperti teman-temannya, mudah sakit hati di umurnya yang ke 16 nya.

Claire naik ke kasur, bersandar lembut di samping Kamito, dan berkata.

"Tenang saja, Est pasti kembali."

"Claire..."

Kamito tiba-tiba mengangkat kepalanya.

"... Aku bisa melihat selana dalammu."

"...Huh? Waaaaaaaaaahhhhhhh! Bodoh!... Kamu sangat bodoh!!! Mesum!"



Bagian 5[edit]

Di sebuah menara yang terdengar suara musik. Sementara, di taman...

Seorang gadis berdiri dan memakai topeng merah cerah..

"Sebentar lagi akan dimulai... Ren Ashbell."

"Ya."

Malaikat bersayap hitam tiba-tiba muncul dibelakangnya.

gadis yang memiliki rambut hitam seperti tengah malam dan mata berwarna kuning seperti matahari terbenam, dia pastinya si elemental kegelapan, Restia.

"Tampaknya... Kamito sudah lulus dari cobaanmu."

"Mengejutkan sekali, roh pedang itu mau mengambil kutukan itu, tapi itu satu-satunya solusi- Gate yang sekarang sudah terbuka tidak bisa tertutup."

Kata Ren Ashbell dengan ekspresi dingin.

"Jika dia tertelan kegelapan, bukankah akan menghancurkan rencanamu?"

"Jika level toleransi pria itu rendah, dia tidak mungkin menjadi kartu truf ku."

"Apa kau sudah menemukan seorang Ratu yang mau melayaninya?"

"Aku dapat beberapa calon yang ku pilih, tapi itu bukan urusanmu."

"- Calon yang kau bilang bukan adik mu, kan?"

Tiba-tiba, rumput dan pohon semuanya terbakar.

Dan, berubah menjadi abu lalu jatuh beserakan.

"elemental Kegelapan, sebaiknya kau jaga ucapanmu."

"Ooooh, Seram... Aku cuma bercanda."

Satu-satunya yang bisa terdengar di dalam kegelapan adalah tawa ejekan yang menggema.

Tanpa disadari, elemental kegelapan bersayap hitam pun menghilang.

Ren Ashbell mendecakkan lidahnya, lalu menatap kearah pepohonan di taman.

"- Menguping itu hanya untuk orang rendahan... gadis Drakula."

"Kau bercanda, kau sudah menyadarinya dari tadi, kan?"

Sosok yang muncul dari balik pohon adalah Leonora Lancaster, si Drakula.


Laonora mengeluarkan aura membunuh yang berbahaya, saking kuatnya sehingga semua orang pasti langsung menyadari keberadaannya.

Dia memegang pedang yang besar - Pedang Suci Pembunuh Naga.

" - Kau kelihatan galak, apa yang bisa aku bantu?"

"Dragon yang berada di dalam tubuhku ingin bertarung dengan orang yang kekuatannya sama denganku. Aku harap kau mengerti."

Meskipun kalimat yang digunakan Leonora sangat halus, tapi nada bicaranya menyembunyikan sebuah perasaan yang sangat kuat.

Matanya berkobar karena rasa lapar ingin bertarung dengan seseorang. Semua orang yang tau perilaku normal Leonora pasti akan berfikir kalau dirinya yang sekarang adalah orang lain.

"Kau keturunan Drakula - yang mewarisi darah naga, sekarang kau - kau gadis yang menarik."

Gumam Ren Asbell dai dalam topengnya.

"Ayo... Blade dancer terkuat, keluarkan pedangmu!"

Leonora menggenggam eat pedangnya, bersiap untuk menyerang. Dia mencoba menahan impulsnya dengan akal sehat, tapi tubuhnya mengeluarkan aura yang membuat orang berfikir kalau dia akan akan menyerang setiap saat.

"Kalau dipikir soal standarmu. Seorang pemula sepertimu tidak layak melawan Godslaying Flame ku."

"Kau... akan menyesal... Ren Ashbell!"

Leonora, melepaskan amarahnya, dan maju kedepan dengan seluruh kekuatannya.

Dia melepaskan serangan yang jauh lebih kuat dan cepat daripada orang lain yang sudah mengumpulkan semua kekuatannya.

Dalam sekejap, lantai batu di taman hancur berkeping-keping dan terbang ke segala arah-!

Tapi -

"Gerakan bagus, tapi masih kurang... Pedang tidak bisa menembus api."

Di tempat serangan pedang Leonora, sosok blade dancer tekuat menghilang.

"Apa?"

"Leonora berbalik, dan, kekuatan yang sangat hebat menyerang tapat di dadanya."

"Ooh... Aghhhhhh...!"

Leonora membungkuk kesakitan, dan gadis bertopeng itu berbisik di sampingnya.

"Akan menarik kalau aku mengambil Dragon dan ku persembahkan untuk Raja Iblis. Kekuatan milikmu mungkin berguna untuk membantu kebangkitan-Nya."

"Apa... maksud... mu?"

Dengan tangan yang masih di dada Leonora, tepat di titik serangannya tadi, Ren Ashbell mengucapkan mantra kutukan yang singkat.

Api hitam muncul dari ujung jari-jarinya, kemudian masuk ke jantung Leonora.

"Arghhh.... aaaaaaaaaaaah!"

Gadis itu menangis tersiksa dan menggema ke seluruh bagian taman -

Kemudian Leonora hilang kesadaran.


Bagian 6[edit]

Di dalam kegelapan - Est duduk, memegangi lututnya, kepalanya menunduk, diam, dan tenggelam dalam pikirannya.

Dia sangat senang karena Kamito mau menerimanya lagi.

Dia juga senang karena Kamito menganggapnya sebagai hal yang tidak tergantikan.

Namun, Est tidak bisa membalasnya.

Karena dia terikat oleh memori yang diberikan oleh tubuh utamanya.

- Menjadi pedangnya adalah hal yang tidak termaafkan.

- Menjadi pedangnya adalah hal yang tidak termaafkan.

- Menjadi pedangnya adalah hal yang tidak termaafkan.

Kalimat itu diulang terus tanpa henti.

Roh pedang Est - Kberadaannya terdapat dosa di tubuhnya yang tidak bisa dimaafkan.

"... Kamito... Aku... Aku sudah tidak bisa lagi..."

Di dalam kegelapan yang pekat, Est mulai menangis.



Bagian 7[edit]

Ratu Pelindung berdiri berdiri sangat lama di atas dataran pegungunangan yang luas, pedangnya tertancap di tanah.

Sekarang dia tidak dikenal sebagai Ratu Suci lagi - Amor putihnya yang tampak berlumuran lumpur dan darah, sementara semangat biasanya sudah tidak ada lagi.

Gadis itu bertarung melawan musuh yang lebih kuat jika dibandingkan bala tentara Raja Iblis.

Dia juga melawan kemenangan dan kekalahan yang tak berhingga, bernagai strategi, dan juga pengkhianatan.

Sepanjang jalannya, jumlah orang yang bisa dia percaya tinggal 1 - pedang yang sudah berjuang dengannya sejauh ini.

"Aku ingin bertanya, Est..."

"Nyonya, apa yang kau inginkan?"

"Apa kau mau selalu di sampingku?"

Gadis itu langsung tersenyum hanya untuk sahabatnya - senyum lembut dari seorang gadis gembala yang lugu.

"Aku adalah pedangmu; aku akan melindungimu hingga akhir hidupmu."

"Kau benar... Kau pedangku, dan hingga kini itulah yang terpenting."

Gadis itu tersenyum polos kepada Est yang tanpa berekspresi.

"Nyonya?"

"Tapi, suatu hari nanyi, ketika raja iblis audah kalah, ketika perang ini sudah selesai, aku harap kau bisa menjadi -"

Lalau, gadis itu mengatakan sesuatu -

Sesuatu, sesuatu yang tidak bisa Est ingat walau sekuat apapun dia mencoba.



Bab 7 : Pertarungan Sebenarnya Dimulai[edit]

Bagian 1[edit]

Aula dipenuhi dengan kegelisahan dan kegembiraan.

Semua penonton dari berbagai penjuru negeri berkumpul di sini.

Bercampur dengan para bangsawan dan putri-putri dari setiap negara ke dalam tempat pelatihan utama, mereka semua memakai seragam Akademi Areishia.

Peserta Blade Dance berkumpul di atas sebuah altar yang berada di tengah-tengah aula.

Tidak ada ejekan yang terdengar, karena semua penontonnya berasal dari kaum bangsawan.

Tampaknya mereka adalah penggemar dari masing-masing elementalis, sehingga setiap penampilan tim pasti diikuti oleh sorakan penggemarnya.

"Ojou-sama, berjuanglah~!"

"Aku percaya dan akan terus menunggu kemenangan Ojou-sama! Kemenangan untuk Laurenfrost!"

Di depan para penonton, Carol dan Meireille melambaikan spanduk putih.

"Shhhhh Astaga, mereka berdua.... malu-maluin!"

Rinslet tersipu malu dan bersembunyi di balik Kamito.

"Kamito, tetap waspada. Kau terlalu menarik perhatian."

"Ya, aku mengerti."

Kamito memeriksa sekelilingnya dan merasa ada banyak orang yang memandanginya.

Selain Leonora, sepertinya Muir yang mereka lawan waktu itu juga ada di sini.

Sepertinya mereka belum tau kalau aku kehilangan Est...

Jika mereka tahu situasi Kamito sekarang, mereka tidak akan menatapnya dengan waspada, melainkan dengan tatapan seperti elang yang sedang mengincar mangsanya.

"Fufu, Kamito populer juga ya."

Kata Fianna menggoda.

Selain tim Inferno, 23 tim lainnya sudah berkumpul.

Meskipun begitu, Ksatria Dracunia dari Dragon Emperor punya perhatian yang sangat besar.

Di sekeliling ketuanya, Leonora, berkumpul elementalis-elementalis handal. Ksatria Naga adalah sebuah kelompok militer dengan peraturan yang tegas. Semua anggotanya berdiri tegak tanpa bergerak sama sekali.

Mata Kamito berpapasan dengan mata Leonora.

Mata merah yang sangat berbeda dengan yang mereka temui kemarin di perpustakaan.

Hawa dingin tiba-tiba mengalir di punggungnya.

Rasanya seperti melihat predator raksasa.

"- pelatihan Ksatria Naga Dracunia punya kualitas tinggi. Tak terkecuali Leonora, sepertinya mereka tidak punya celah."

Ellis mencatat sambil menganalisa tim musuh.

"Ya, jika kita mengabaikan Tim Inferno, mereka adalah salah satu tim terfavorit untuk menang. Tapi ada juga tim lain yang harus kita waspadai."

Kata Claire sambil berbisik dan Fianna serta Rinslet juga mengarahkan kepala mereka ke dekat Claire.

"Pertama, dua perwakilan dari akademi yang sama dengan kita, Tim Wyvern dan Tim Cernunnos. Selain itu, si gadis druid punya kekuatan yang luar biasa jika di luar ruangan. Kemungkinan dia akan mengajak semua monster-monster di hutan untuk menyerang kita."

Selain itu, mereka mengalami kerugian besar ketika latihan melawan gadis druid itu. Dia musuh yang tidak ingin Kamito lawan.

Kemudian Claire menatap tim yang memakai pakaian asing.

"Mereka Four Gods, tim kebanggan Kerajaan Quina. Mereka tim yang ahli dalam taktik perang."

Kerajaan Quina adalah sebuah negara besar yang terletak di bagian timur benua. Kerajaan Quina punya kebudayaan yang berbeda dengan negara-negara barat seperti Ordesia.

"Yang berambut putih itu adalah kartu as mereka, Shao Fu. Dia menggunakan roh binatang suci, Byakkou."

"Four Gods? Dengan lima orang?"

"Orang kelimanya mungkin yang mengontrol Four Gods."

Jawab Claire, dia lalu mengubah pandangannya ke tim yang mengenakan pakaian suci berwarna putih.

"Mereka Sacred Spirit Knight dari Kerajaan Suci Lugia. Kartu as mereka adalah runner-up dari Blade Dance terakhir, Ksatria Suci Luminaris."

"Geh!?"

Kamito terkejut mendengar nama itu.

"Kamito-san, ada apa?"

"Ti-Tidak, tidak apa-apa..."

Kamito dengan cepat menggelengkan kepalanya.

Aku yakin kalau dia pengguna roh suci. Karena waktu itu pertandingan yang buruk dengan atribut kegelapannya Restia, pertarungan yang lumayan keras.

Ikut Blade Dance lagi setelah 3 tahun sangat jarang terjadi. Biasanya butuh waktu puluhan tahun, dan kadang hanya terjadi sekali dalam ratusan tahun.

Karena pembatasan usia bagi para gadis, bertarung dengan lawan yang sama pun harusnya tidak pernah terjadi, tapi tampaknya sekarang adalah kejadian yang akan penuh dengan kejutan.

"Dia berumur sembilan belas tahun, jadi bisa dibilang dia yang tertua di Blade Dance kali ini. Tampaknya dia bersumpah akan mengalahkan Ren Ashbell untuk mengembalikan kehormatannya."

"A-Aku tahu..."

"Kamito-kun, mukamu lemas sekali..."

Fianna menggoda muka lusuh Kamito.

"Selanjutnya, Rupture Division dari Kerajaan Rossvale. Kartu as mereka adalah Milla Bassett, peserta paling muda dengan usia tiga belas tahun. Meskipun mereka adalah negara baru yang mendapat kemerdekaan dari Kerajaan Suci Lugia beberapa tahun lalu, katanya elementalis mereka berada di tingkat atas."

"- Lalu mereka?"

Kamito menatap ke arah tim yang barusan memperhatikan mereka.

"Wakil dari Kerajaan Balstan. Mereka dibawah kendali pemerintahan."

"Kenapa mereka memelototi kita?"

"Umm... mungkin karena aku."

Claire kelihatan sulit mengatakannya.

"Maksudmu?"

"Ingat, karena kemarin aku menampar pangerannya-"

"......Ah, aku ingat."

Kamito akhirnya ingat.

Putra mahkota Kerajaan Balstan. Pangeran yang sangat tertarik dan mencoba untuk mencium Claire.

"Jadi karena kau membuat malu mereka."

"Lebih baik jika pangeran itu tidak lancang."

Untuk beberapa alasan, Rinslet lebih marah ketimbang Claire.

"Pemerintah Kerajaan Balstan mungkin memerintahkan mereka untuk membalas dendam. Maaf, aku telah ceroboh karena membuat masalah."

"Tidak, jika waktu itu Claire tidak melakukan apapun, aku akan melakukannya."

"........Eh? Um, berarti....."

Wajah Claire pun memerah.

Sebuah keributan mulai terdengar di pintu masuk kuil.

"-Akhirnya mereka datang."



Bagian 2[edit]

Begitu Ren Ashbell masuk, semuanya langsung diam.

Dia memimpin 4 elementalis yang menutupi dirinya dengan jubah.

"Jadi, itu Tim Inferno..."

Kamito berhenti bernafas dan memperhatikan mereka.

Dia langsung menemukan seorang gadis kecil dengan rambut abu-abu.

Monster dari Sekolah Instruksional - Pengguna Roh Militer, Muir Alenstarl.

Dia langsung mengalihkan matanya setelah melihat Kamito.

Yang berjalan di samping Muir adalah seorang gadis jangkung dengan rambut hijau. Telingannya yang terlihat di bawah tudungnya khas milik ras Elfim. Kemampuan khusus Elfim adalah operasi tersembunyi di dalam hutan, jadi, mungkin dia adalah elementalis pengumpul informasi.

Selain mereka bertiga, ada seorang gadis dengan rambut biru. Dia satu-satunya yang memakai aksesoris mewah dari emas dan perak yang melintas di jubahnya dan dia membawa kipas lipat dengan desain mencolok.

"Kebanggan dari keluarga Kerajaan Alphas Theocracy, - jangan bilang, Demon Caster, Sjora Kahn!?"

"Kau kenal dia?"

Kamito bertanya dan Claire menggangguk.

"Dia penyihir nomor satu di kerajaan mereka, penerus dari Dusk Witch."

"Kalau memikirkan selain Muir, kemungkinan ada yang sama sepertinya..."

Eluh Kamito sambil menyeka keringan tadi keningnya.

Tapi yang lebih dikhawatirkan dari ketiga orang itu dan menjadi pusat perhatian peninton - orang terakhir.

Ketika dia muncul, keheningan yang terdengar tadi mulai terisi dengan suara gemuruh.

"..... Siapa, orang itu?"

Seorang ksatria hitam yang ditutupi baja hitam.

Bukan hanya penampilannya yang aneh, Seluh tubuhnya pun diselimuti oleh aura misterius.

Seharusnya dia tidak berada di sini - untuk beberapa alasan, itu yang Kamito rasakan.

"Kekuatan sucinya sangat kuat..."

Fianna, yang mudah menerima hal semacam itu, berkata dengan suara gemetaran.

Ren Ashbell menatap Kamito lalu berjalan ke arahnya.

Suasanya sangat hening dan hanya ada suara sepatu besi yang menggema.

"Kamito..."

"Tidak apa-apa."

Kamito maju selangkah, membelakangi Ojou-samas.

Dan berdiri di depan gadis bertopeng merah itu.

"Sepertinya ada yang bisa mematahkan Brand of Darkness."

"Sayang sekali. Tidak semua hal sesuai dengan keinginanmu."

Kamito menatap balik mata merah di balik topeng.

"Brand itu hanya sebagai awal memulai kebangkitan Maou dalam dirimu. Setelah Gate terbuka, benda itu tidak akan bisa hilang."

"- Apa maksudmu tentang Maou?"

Ren Ashbell tersenyum didalam topeng itu dan berbisik dengan suara lirih.

"Jika kau mau tahu, maju dan lawanlah aku - Ren Ashbell."

"Ren Ashbell, huh. Ironis sekali."

Kamito mengecakkan lidahnya dan mengerang.

"Tapi, akan ku perjelas. Jika aku mengalahkanmu, kau akan menceritakan semuannya."

"Percaya diri sekali. Untuk seseorang yang sudah kehilangan roh terkontraknya."

"Est pasti kembali. Dia partner terbaikku."

Kamito mengangkat bahunya, berbalik lalu pergi tanpa sepatah katapun.

Dan begitulah akhir perjanjian singkat antara kedua Ren Ashbell.

Keributan mulai terdengar lagi di kuil.

Di atas api unggun, 5 putri roh muncul.

Diantara mereka ada Reicha Alminas.

Ketika Kamito bertemu dengannya kemarin, Reicha menjadi gadis penurut, tapi dengan melakukan ritual menggunakan pakaian khusus, dia berpenampilan salah seorang dari 5 putri tertinggi.

Akhirnya, detil dari Tempest muncul dari kelima putri roh itu.

Pengenalan Blade Dance akan dilangsungkan di sebelah utara hutan Ragna Ys.

Tempat itu dilindungi dengan penghalang oleh semua putri dari Divine Ritual Institute, sehingga tidak mungkin untuk meninggalkan tempat itu seenaknya. Perwakilan masing-masing negara di pindahkan ke berbagai lokasi secara acak, dan selama 7 hari, mereka akan melakukan Blade Dance.

Ada 1 peraturan - Dilarang membunuh elementalis lain.

Blade Dance bukanlah pertarungan seni bela diri, melainkan sebuah ritual.

Jadi, tidak akan diperbolehkan menodai ritual kepada raja roh dengan sebuah kematian.

Persaingan ditentukan dengan cara mengumpulkan batu roh khusus yang dibagikan kepada setiap perwakilan tim - Magic Stone.

Jika peserta terpisah dengan Magic Stone selama lebih dai 1 menit, mereka akan langsung dikeluarkan dari arena.

7 hari setelah upacara pembukaan. 4 tim yang terbanyak mengumpulkan Magic Stone akan dibawa ke hadapan raja-raja roh untuk mempersembahkan penyelesaian dari Blade Dance. Pada poin ini, meskipun seorang anggota sudah hilang, kelima anggota akan terus melanjutkannya ke final.

"- Keberuntungan dan berkah suci untuk para putri Blade Dance."

Kelima putri roh membaca doa dari raja-raja roh secara bersama-sama.

Hal itu menandakan awal dari pertempuran.

Di tengah sorak sorai yang sangat berisisk, para elementalis memasuki lingkaran teleportasi yang berada di atas altar.

Tepat sebelum memasuki lingkaran teleportasi, Kamito berbalik menghadap para Ojou-samas.

"Semuanya, kita pasti menang!"

"Ya-ya-ya♪" "Pastinya!" "Itu, um, itu kalimatku!"

Mantan putri kedua Ordeshia, Fianna Ray Ordeshia.

Kapten Ksatria Sylphid, Ellis Fahrengart.

Putri tertua dari keluarga Laurenfrost, Rinslet Laurenfrost.

Adik Ratu Bencana, Claire Rouge dari keluarga Elstein.

Dan pemenang Blade Dance tiga tahun lalu - Kazehaya Kamito.

Empat perempuan dan satu laki-laki, dengan harapan masing-masing, berjalan untuk menghadapi Blade Dance.



Bagian 3[edit]

Setelah masuk ke dalam lingkaran teleportasi, hutan yang misterius terlihat di seberangnya.

Kabut tipis menghalangin pandangan Kamito, teriakan burung dan binatang bisa terdengar dari kejauhan.

"Di dalam hutan, ya... Ada banyak tempat yang bisa digunakan musuh untuk bersembunyi..."

Claire, yang dipindahkan setelah Kamito, sekilas melihat lingkungan sekitar.

"Haruskah aku menggunakan familiar angin ku untuk memeriksa keadaan sekitar?"

"Itu benar... Tidak, mungkin lebih baik tidak usah. Bukan berarti aku tidak mempercayaimu, Ellis. Tapi pengguna roh sihir roh pasti akan segera menemukan kita."

"........ Benar juga, yah."

Angguk Ellis.

"Fenrir ku akan membawa barang-barang kalian."

Rinslet memanggil roh sihir es menggunakan jarinya.

Badai salju buatan Fenfir pun muncul.

Seketika, mereka berlima masuk ke dalam badai tersebut lalu menghilang.

"Mudah sekali."

"Area Laurenfrost sudah diisolasi, jadi meminta Fenfir untuk membawa barang adalah pilihan bagus."

Rinslet mengelus kepala Fenrir dan Fenrir membalas dengan rengekan manis.

Mu, Scarlet imut, tapi Fenrir juga imut..."

Ellis menetap Fenrir dengan ekspresi seperti jatuh cinta.

"Hawa dingin di keluarga Laurenfrost sudah cukup menyiksa. Atau lebih tepatnya, aku tersesat di taman waktu itu, ketika aku datang ke rumah utama untuk bermain ketika kita masih kecil."

"Ketika aku menemukamu, kau memelukku dan menangis... mendesah, aku penasaran, kemana ya Claire imut pergi?"

Rinslet mendesah dengan tatapan yang sangat jauh.

"Ka-Kau...! kalau kau bicara lagi, aku akan menjadikanmu abu!"

"Seberapa luas taman itu, sampai kau tersesat..."

Sisi lain Claire itu membuat kaget Kamito.

"Kita harus menemukan tempat singgah, atau kita akan mati kedinginan."

"Ya, itu benar."

Kamito mengangguk.

Meskipun tempat ini di dalam Ragna Ys, entah karena perlindungan dari raja roh angin tergolong lemah atau semacamnya, udaranya benar-benar dingin. Seragam sekolah akademi juga memiliki anti dingin, tapi tampaknya tidak terlalu berguna terhadap dinginnya malam.

"Mengamankan pasokan air juga penting. Akan lebih baik kalau dekat dengan sungan atau danau."

Saran Claire bukan hanya air minum, tapi sarannya juga dibutuhkan untuk penyucian elementalis yang digunakan untuk menghilangkan berbagai noda.

"Bagaimanapun, hal yang pertama kita lakukan adalah mengamati lingkungan sekitar. Formasi kita akan terdiri dari aku di baris depan, Rinslet dan Fianna di tengah, Ellis dan Kamito di barisan belakang."

Claire mengusulkan formasinya.

Fianna yang lemah terhadap pertempuran akan berada di tengan agar bisa dilindungi semuanya, dan rinslet bisa melihat ke segala arah. Kamito yang punya kekuatan besar akan bertugas mengawasi lingkungan dan 2 orang yang punya kekuatan besar dalam pertarungan 1 lawan 1, Claire dan Ellis, akan berada di pinggir.

Kamito dan lainnya membentuk formasi dan mulai meju menelusuri hutan.



Bagian 4[edit]

Mereka sudah menelusuri hutan selama setengah jam.

Sejak beberapa saat yang lalu, roh cahaya berbentuk bola sering melintas di langit.

Mereka adalah roh-roh yang menampilkan Blade Dance dari arena ke kuil besar.

Tampaknya mereka dilatih agar tidak mengganggu kegiatan para elementalis. Namun, saat ini pasti Kamito dan lainnya sedang ditayangkan di layar.

"Kita belum menemukan tanda-tanda adanya air. Tempat ini sebesar apa, sih?"

"Hutan ini harusnya lumayan luas. Luas Ragna Ys sama dengan luas sebuah negara kecil."

Claire, yang berjalan di depan, menjawab pertanyaan Kamito.

"Sepertinya kita harus membuat peta."

Kata Rinslet sambil melepas cabang pohon dari rambutnya.

"...... Kakiku sudah mulai sakit."

Fianna, yang tidak biasa jalan jauh, hanya bisa meringis.

Berbeda dengan Claie dan lainnya, Fianna adalah murid pindahan dan tidak melakukan pelatihan yang sama di lapangan terbuka.

"Apa aku harus menggendongmu?"

"eh? Ti-Tidak usah, aku tidak apa-apa..."

Wajah Fianna memerah, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jangan dipaksakan. Bisa-bisa nanti kau tidak bisa jalan."

"Ta-Tapi, aku... itu, aku pakai rok pendek..."

"A-Ah, benar juga..."

...... Sesuai perkiraan, bahkan ratu yang selalu menggoda Kamito pun akan malu dengan hal itu.

"Kamito, kau memikirkan hal-hal mesum lagi!"

Ellis mengeluarkan pedangnya.

"A-Aku tidak memikirkannya! Atau lebih tepatnya, mencari solusinya!"

"Hmph.... Ka-kakiku sakit..... mungkin."

Ellis menggigit bibirnya seperti cemberut.

Dilihat dari kondisinya tadi, sepertinya bukan masalah. tapi-

"Be-Begitukah?... Tapi, sesuai dugaan, membawa dua orang tuh kelihatan sedikit menyulitkan."

"Ka-Kakiku tiba-tiba juga mulai sakit."

"Ya, meminjamkan bahumu mu-mungkin cukup membantuku."

"Ya, aku bisa."

"Be-Begitukah? Ja-Jadi, aku akan menyadarkan tubuhku."

Rinslet tersenyum dan pindah ke bahu Kamito.

".......!"

Seragam yang sedikit bau keringat.

Jantung Kamito berdetak seiring sensasi lembut yang menyentuh lengannya.

"......Ti-Tidak adil, Rinslet! Kamito, tolong pinjami aku bahumu juga!"

Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui Kamito, Ellis juga ikutan menempel di bahunya.

"Ja-Jadi.... Aku juga♪!"

Fianna juga menyandarkan kepalanya ke punggung Kamito.

"A-Aduh, kok jadi begini...."

Kamito terdengar kesulitan karena dipeluk oleh 3 perempuan.

"Hey, kalian bertiga! Formasinya jadi berantakan!"

"Fufufu, kau bohong, Claire. Lebih baik kau juga mengatakan kalau kakimu sakit."

"Apa... da-dasar bodoh! Aku tidak apa-apa, aku masih bisa berjalan sendiri!"

Claire marah dengan wajah yang memerah karena digoda Fianna.

"...."

Dan Kamito berhenti berjalan.

"Kamito, ada apa?"

"Diam. Kita ketahuan."

"......!?"

Mereka bertiga langsung melepaskan diri dari Kamito dan memanggil roh mereka masing-masing.

Suara tali busur yang ditarik pun terdengar lirih.

Tidak, bukan diam - tapi jangan bergerak

Kamito mempertajam indranya dan mencari keberadaan musuh.

Dua orang. Mereka pengintai atau ada yang bersama mereka.

"Tidak terduga kalau kita akan terkena perangkap secepat ini."

"Ya, meskipun bukan rencana baik untuk bertindak secepat ini -"

Tepat setelah Kamito mengangguk.

"- Mereka datang!"

Sebuah kilatan cahaya meledak.



Bagian 5[edit]

...Pengalih perhatian, huh!

Yang meledak adalah batu roh yang sebelumnya sudah ditanam di tanah.

Tadi itu adalah pengalih perhatian tapi tidak punya kekuatan.

Tapi cukup untuk membuat celah bagi musuh.

Bersamaan dengan itu, Kamito merasakan aura kuat datang mendekat.

....... Dari bawah!

Kamito merasa ledakan tadi mengganggunya. Kamito mempercayai instingnya dan melompat.

Kemudian. Sebuah tangan pasir raksasa muncul dari tempatnya tadi.

Sesuai perkiraannya, ada orang lain juga.

Tangan pasir itu bergerak dan memanjang ke arah lengan Kamito -

"Aku tidak akan membiarkannya, Taring Pembeku, tembuslah - Freezing Arrow!"

Panah es Rinslet menusuk lengan pasir.

"Kamito, di atasmu!"

Claire memperingatkannya.

Kamito pun melompat -

"- Hancurkan mereka sampai mati, wahai roh monster batu Gargoyle!"

Sebuah bayangan langsung jatuh ke tanah. Seekor raksasa jatuh dari atas.

Tanah dan pasir berserakan di udara karena getara hebat.

Seorang gadis elementalis naik ke punggung roh yang punya bentuk seperti goblin batu.

Seragam putih yang indah.

"Seingatku, itu milik Kerajaan Balstan..."

" - tuan pendekar O, jadilah perisaiku!"

Dari kejauhan, muncul roh ksatria milik Fianna.

Pedang ksatria itu membentuk sebuah kilauan melengkung. Lalu suara batu yang hancur terdengar, lengan monster itu pun hancur.

Dua puluh detik setelah kilatan tadi, mata Kamito akhirnya sembuh.

Ojou-samas membuat formasi mengelilingi Claire.

Aku bener-benar tidak bisa melakukannya tanpa Est, tapi -

Kamito membuat sebuah pedang pendek menggunakan sihir dasarnya.

Dia mencoba mengitari sekeliling daerah serangan - lalu.

Raksasa pasir muncul di hadapannya, menebarkan tanah dan pasir ke udara.

"Cih.......!"

Kamito menjaga jarak sambil mengecakkan lidahnya.

Pengguna roh pasir - di mana mereka?

Kamito segera memeriksa sekitarnya.

Opini pertama yaitu elementalis sudah menggunakan roh atribut tanah mereka untuk bersembunyi dibawah tanah menggunakan sihir roh. Tapi sama sekali tidak berbekas.

Orang kedua muncul di belakangnya -

Yang satu lagi......!

Muncul seorang gadis yang membawa pedang di balik pepohonan.

Sebuah kilatan membelah pohon dibelakang Kamito.

Kamito melindungi dirinya dan menghindar.

"Mampu menghindari pisau anginku, sesuai yang diharapkan dari elementalis laki-laki."

Gadis itu berteriak seperti akan melawan Kamito.

"Kau telah membuat malu tuanku - maaf, tapi aku harus memusnahkanmu sekarang juga!"

"Jadi serangan ini adalah balas dendam untuk pengeran idiot itu, huh...?"

Kamito mendesah keheranan.

Ada saja orang bodoh yang membawa masalah pribadi mereka ke Blade Dance.

"..... Aku turut bersimpati, kontraktor Roh Kerajaan Balstan."

"Aku tidak akan membiarkanmu mengejek tuanku!"

Gadis elementalis angin itu mengayunkan pedangnya.

Kamito melompat kesamping untuk menghindar. Pisau angin sedikit mengenai lehernya.

...... Kalau saja ada Est, serangan seperti itu tidak akan mempan.

Terjangan pisau angin yang terbang ke segala arah menghalangin Kamito untuk mendekat.

"Hah, sepertinya kau sungguh tidak bisa bertarung tanpa roh terkontrakmu!"

.........Kenapa dia tau kalau aku kehilangan Est?

Ketika Kamito merasa keheranan, pada saat itu juga - petir putih kebiruan muncul dari arah belakang.

Dia langsung berbalik dan menahannya dengan pedang sihir roh miliknya.

Pedang itu langsung hilang menjadi butiran halus.

Kmaito melihat arah serangan tadi, seorang gadis berdii di sana sambil membawa Senjata Elemental berbentuk busur.

"Tidak mungkin. Dia menyadari serangan kejutan barusan!?"

Elementalis angin itu kaget.

"Itu karena aku tahu kalau ada orang lain yang bersembunyi."

Kamito mengangkat bahunya.

"Sudah kuduga, kau berbahaya. Kami harus menghancurkanmu ketika kau tiba bisa menggunakan roh terkontrakmu."

"Kau sedikit melebih-lebihkan."

Kamito mengamati sekitarnya tanpa melemahkan perlindungannya ketika bercanda.

Di belakang ada elementalis beratribut angin yang menggunakan pedang. Di depan ada elementalis beratribut petir yang menggunakan busur.

...... Mereka bertiga sudah terlatih. Sesuai perkiraan, akan sulit jadinya.

Keringat dingin berkumpul di keningnya.

Untuk beberapa waktu tertentu, kabut tebal menyelimuti hutan.

Itu bukan kabut biasa. Jelas-jelas kabut itu dibuat dengan sihir roh.

Claire dan lainnya berjuang melawan roh monster batu tidak jauh dari tempatnya berdiri, tapi karena kabut, dia tidak bisa mendengar suara pertempuran ataupun suara mereka sama sekali.

Sejak awal, rencana mereka adalah memisahkan ku, ya -

Saat ini, Blade Dance dlam pertempuran sengit.

Tidak perlu mengalahkan semua tim musuh sekaligus.

Kamito tidak tahu darimana mereka memperoleh informasi tentang hilangnya Est, tapi mereka sudah merencanakan untuk menyerang Tim Scarlet yang sudah kehilangan kekuatan terkuat mereka.

Kedua elementalis yang bertarung dengan Claire dan lainnya mungkin hanya mengulur waktu.

Jadi, aku harus mengulur waktu. Sampai Claire dan lainnya datang-

Kamito mencengkram tangannya dan mengambil kuda-kuda.

"Tidak berguna!"

Elementalis angin mengayunkan pedangnya dan melepaskan beberapa pisau angin.

Tapi Kamito tidak diam saja. Dia bergeser sedikit dan menghindarinya dengan jarak setipis rambut.

"Dia bisa melihat pisau anginku!?"

"- Sayang sekali, tapi arah serangan pisau anginmu mudah ditebak di hutan!"

Pisau itu tidak terlihat, tapi dia bisa melihat pisau itu memotong daun dan cbanag pohon. Setelah menerima beberapa serangan, Kamito sudah tahu kecepatan dan lebar pisau angin itu.

Tentu saja, untuk melakukannya dibutuhkan insting yang luar biasa dan keberanian.

Salah sedikit bisa fatal. Karena aturan yang berlaku, kepalanya tidak akan lepas tapi kesadarannya akn hilang.

Mempercepat gerakannya, Kamito mendekati elementalis angin.

"Aku, aku tidak akan membiarkanmu!"

Tiba-tiba panah petir datang ke arah Kamito - namun,

Kamito langsung menghilang.

"Apaaaaa!?"

Kamito menghentak tanah dan terbang lurus ke atas.

Teknik bertempur yang sudah diajarkan kepadanya di Sekolah Instruksional - Gerakan Meta Tiga Dimensi!

Anak yatim lainnya yang berasal dari Sekolah Instruksional, Jio Inzagi, juga menggunakan teknik ini, tapi kecepatannya tidak sebanding dengan Shadow Weaving milik Kamito.

Melompat diantara cabang-cabang pohon, itu adalah teknik gerakan yang berkecepatan tinggi ke segala arah utnuk mengecoh lawan. Dari sekian banyak elementalis yang menerima pelatihan, tidak semua bisa melakukannya.

Kamito mempercepat gerakannya sambil menghentakkan batang pohon. Elementalis angin dan petir menembaki ke arah Kamito tapi tidak mengenai sasaran.

"- Sandman, robohkan pohon-pohon di sekitarmu!"

Elementalis angin berteriak.

Roh pasir meraung dan merobohkan pohon-pohon di sekitarnya.

Mekipun tubuh monster itu tampak kusam, tapi kecepatannya luar biasa. Kamito pernah bertarung dengan elementalis beratribut tanah - bentuknya seperti batu, tapi baru kali ini Kamito melawan jenis roh yang punya pergerakan seperti itu.

"Cih...."

Kamito tidak punya pilihan lain kecuali mendarat karena sudah kehilangan pijakan kakinya.

" - Angin O, bertiuplah dengan kencang!"

Beberapa pisau angin muncul dari samping tangan monster pasir.

Rambut ekor kuda berwarna biru terkibas oleh angin.

Ellis yang memegang Senjata Elemental Ray Hawk di tangannya.

" - Ellis, terima kasih banyak."

"Maaf telat. roh kabut itu menghalangiku."

Ellis mendarat dengan mulus dan menyiapkan tombaknya dengan gerakan indah.

"Khhuuuu, rencana kita gagal... huh, mundur!"

Elementalis angin langsung memutuskan untuk mundur.

Rencana untuk memisahkan Kamito dengan serangan cepat ditambah serangan mendadak sudah gagal. Tidak ada gunanya lagi untuk bertarung lebih jauh lagi.

"- memangnya aku akan melepaskanmu!"

Ellis mengayunkan Ray Hawk.

Sihir roh angin Ellis berada beberapa tingkat di atas roh angin musuh. Pisau-pisau angin memotong pohon-pohon di jalurnya dan menyerang elementalis yang berusaha kabur.

Tepat di jalur pisau angin Ellis - Monster pasir berdiri di sana.

Pisau-pisau angin langsung mengenai monster pasir. Elementalis angin dan petir sudah menghilang ke dalam hutan.

Ellis menggigit bibirnya karena kesal. Roh pasir mulai membangun tubuhnya lagi.

Namun, ketika bagian depan monster itu terhempas angin, Kamito menyadari sesuatu.

Aku pikir gerakan roh itu memang bagus..... ternyata kau bersembunyi di sana.

Pasir mulai berkumpul lagi dan menutupi luka monster itu - tepat sebelum itu terjadi.

Kamito langsung melompat ke arah bekas serangan Ellis - Dia pukul ulu hati monster itu.

Rasanya seperti pasir yang menerima pukulannya.

Monster pasir yang sedang membangun badannya itu langsung hancur.

Yang muncul di dalam monster itu adalah seorang gadis yang sedang pingsan.

"Apaan ini?"

"Raksaan pasir itu adalah Senjata Elementalnya."

Kamito mengangkat bahu dan menjawab pertanyaan Ellis.

"....... Maaf. Aku akan mengambilnya."

Kamito membungkuk dan mengambil Magic Stone dari leher gadis itu.

Gadis ini akan dipindahkan ke kuil besar jika mereka menunggu selama 1 menit.

"Kamito!" "Kamito-kun!" "Kau baik-baik saja, kan?"

Claire dan lainnya berlari dari dalam hutan.

Sepertinya pertempuran yang satu lagi hasilnya sudah kelihatan.

"Apa kalian terluka?"

"Ya..... hmmm, jangan bilang kau mengalahan mereka tanpa roh milikmu?"

Claire melebarkan matanya.

"Tidak, sangat berbahaya kalau Ellis tidak datang. Akhirnya mereka melarikan diri."

"Ini," kata Kamito sambil melemparkan Magic Stone kepada Claire.

"Kami mengalahkan seorang elementalis monster batu. Si elementalis kabut berhail lolos."

"Claire menggenggam 2 Magic Stone di tangannya..

"Berbahaya kalau terus mengejar mereka. Tampaknya mereka itu tim yang sangat teliti."

"Bagaimanapun, aku tidak terpikir kalau kita akan diserang secepat ini."

"Ya, tampaknya lebih baik kita cepat-cepat menemukan perkemahan."

Claire mengangguk setelah mendengar kata-kata Ellis.

Seperti yang diperkirakan, mereka tidak akan senang dengan kemenangan petama mereka.

Kamito berjalan ke jalanan yang masih tertutup sisa-sisa batu roh.

Yang masih aneh, bagaimana mereka bisa menyergap kami.

Mereka bergerak seperti tahu lokasi Kamito dan lainnya, padahal Blade Dance baru dimulai tidak lebih dari 1 jam yang lalu.

Dan juga, mereka tahu kalau aku sudah kehilangan Est.

"..................."

Kamito menatap segel roh yang berada di tangan kirinya.

Pada akhirnya, meskipun tubuh Kamito merasakan bahaya, Gate tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka.

"Est......"



Bagian 6[edit]

"Seperti yang diharapkan, Kazehaya Kamito-"

Seseorang menonton hari pertama Blade Dance dari kejauhan.

Duduk di sebuah bukit yang sedikit lebih tinggi dari kelima gadis yang berseragam militer.

Salah satu dari mereka difavoritkan menang dalam kompetisi kali ini, Perwakilan dari Kerajaan Dracunia, Knights o the Dragon Emperor.

Mereka menggunakan sihir roh beratribut Naga, Dragon Eye untuk mengamati dari kejauhan.

"Karena itulah dia cocok sebagai tumbal untuk naga yang tertidur di dalam tubuhku."

Gadis yang berdiri di tepi tebing - Leonora Lancaster menjilat bibirnya.

Dengan keganasan yang berasal dari dalam tubuhnya, matanya bersiar seperti darah.

Dragon Blood Leonora-sama bangkit.....

Wakil Kapten, Yuri El Cid, terlihat ketakutan.

Bulu kuduk di punggunya berdiri semua.

Kekuatan aneh yang diwariskan kepada orang yang melayani naga - Dragon Blood.

Untuk keempat kalinya Yuri melihat mata merah Leonora.

Pertama kali dia melihatnya kira-kira 1 tahun yang lalu di pintu masuk untuk pemeriksaan Knights of the Dragon Emperor. Leonora telah melenyapkan semua kontestan lainnya dalah hitungan menit.

Sebuah tarian gila yang bisa menimbulkan orban jiwa.

Jika naga dalam dirinya terbangun, temannya pun tidak ada yang bisa menghentikannya.

Tapi, kali ini dia terlihat berbeda dari biasanya.....

Yuri melihat Leonora dari samping.

Dilihat dari penampilannya, dia teeriihat tenang.

Untuk beberapa alasan, ketertarikannya hanya ditujukan ke satu orang dan dia hanya ingin membunuh eleentalis laki-laki itu.

Leonora berdiri daan melihat pemandangan di depannya tanpa bersuara.

" - Malam ini, kita akan memburu sekelompok singa."

Yuri dan lainnya mengangguk tanpa berkata-kata apapun.

Tadi itu adalah tanda serangan untuk Knights of the Dragon Emperor.



Bab 8 - Percobaan Kegelapan[edit]

Bagian 1[edit]

Malam sebelum memimpin gabungan kekuatan militer benua untuk menyerang kastil Maou.

"Hei, Est?"

Gadis suci Areishia bertanya kepada Est.

"Ya."

"Jika aku tidak di sini lagi, apa yang akan Est lakukan?"

Tidak seperti manusia yang kembali ke tanah, roh tidak memiliki rentang hidup. Tidak peduli seberapa kuat ikatan itu dengan roh terkontrak, seseorang pasti akan selalu harus berpisah dengan mereka.

Melihat Est yang masih bingung, gadis itu melanjutkan.

"Jika aku tidak di sini lagi, Est harus memastikan untuk menemukan elementalist baru untuk membuat kontrak, oke."

"Aku tidak mau."

Est menjawab tanpa ragu-ragu.

roh pedang yang selalu patuh tidak setuju dengan tuannya untuk pertama kalinya.

"Est?"

"aku adalah pedangmu. Aku tidak akan menjadi milik orang lain."

"Est ......"

"tuan, mengapa kau menanyakan hal seperti itu?"

"Itu ......"

Dia memasang ekspresi bermasalah.

Segala sesuatu tentang apa yang takdirnya akan terjadi dalam waktu dekat - wajah yang tahu semua ini.

Bagian 2[edit]

Dan dengan demikian gadis suci dan pedang legenda pergi menemui akhir cerita.

Setelah beberapa tahun perang, gadis suci Areishia melancarkan serangan terhadap kastil Maou.

Mengalahkan sejumlah musuh, tangan murni gadis itu sudah berlumuran darah, tapi dia masih tidak kehilangan harapan.

-Bahwa setelah pertempuran ini akan menjadi dunia yang damai.

Sementara mengetahui nasib tubuhnya, dia terus melawan.

Suara gadis itu menggema melalui ruang perjamuan kastil.

"-Est, pinjamkan aku kekuatan mu!"

"Ya, tuan!"

Pedang suci yang terkuat tergenggam di kedua tangannya memancarkan cahaya menyilaukan.

Menekan mundur kegelapan, gadis itu berlari sementara membidik jantung Maou.

"Est, ini adalah terakhir kalinya aku menggunakan kamu sebagai pedang. Itulah sebabnya-"

Semuanya terjadi dalam sekejap.

Pedang suci bersinar dan meledakan hati Maou dengan cepat.

Memberikan teriakan penderitaan saat sekarat, Maou itu dikalah dari dunia ini.

Bagian 3[edit]

"Haa, haa, haa ......"

Bermandikan dalam darah hitam raja iblis, gadis itu jatuh ke tanah.

"tuan?"

"Tidak apa-apa ...... Est ......"

untuk menenangkan kekhawatiran Est, dia menepuk-nepuk kepalanya.

"Fua ...... tuan ...... tolong berhenti."

"Fufu, kamu suka ini, kan, Est."

"...... Jangan menggodaku."

Meskipun Est mempertahankan wajah tanpa ekspresi, dia memutar kepalanya dengan pipi sedikit memerah.

Ini adalah pertama kalinya sejak dia bertemu dengannya bahwa Est telah menunjukkan reaksi seperti itu.

Gadis itu senang dengan itu.

Untuk gadis yang berangsur-angsur membunuh emosi manusia nya sesuai dengan harapan masyarakat pada dirinya sebagai Ratu Suci, ini adalah satu-satunya ketenangannya.

"Maaf, Est ...... sebenarnya, aku ingin menepuk kepala mu seperti ini lagi ......"

Berlumuran darah hitam, suara gadis itu goyah.

"tuan, apa ...... apa yang kau katakan?"

"...... Sungguh, aku minta maaf."

"tuan?"

Dalam Detik berikutnya, jari-jari gadis membuat suara kaku dan hancur

bagian 4[edit]

"-- Kamito. Hei, Kamito."

"Mmm...... Claire?"

Sementara bahunya terguncang , Kamito terbangun .

Sebuah aroma yang bagus melayang dekat hidungnya . twintails pada pipinya sedikit menggelitik.

"Ayolah, makanan sudah siap. Bangunlah"

"Ini akan menjadi dingin jika kamu tidak segera bangun."

Kamito mengucek mata dan mengangkat setengah bagian atasnya dari tanah yang keras.

Matahari sudah mulai terbit saat Kamito dan yang lain akhirnya menemukan perkemahan.

di samping gunung, ada sungai yang mengalir dengan tenang. Ikan yang dapat dimakan juga ada dan airnya cocok untuk pemurnian. Setelah membuat tenda sederhana dan meninggalkan persiapan makanan untuk para gadis, Kamito telah tidur siang untuk persiapan menjadi penjaga malam.

Malam sudah benar-benar datang.

Berjalan ke tepi sungai di mana ada meja yang dibangun dari pohon, dia menemukan sebuah makan malam mewah di atasnya.

Ikan asap dari sungai, dibumbui risotto, dan sup dengan sayuran kering. Ini adalah beberapa makanan kaleng yang Claire telah bawa.

"Apakah tidak apa-apa makan ini dengan boros dari hari pertama?"

"Karena itu adalah hari pertama, makanan lezat diperlukan untuk meningkatkan semangat."

"Yah, itu terdengar beralasan..... dan ini terlihat sungguh enak."

Kamito duduk di atas batu dan mulai dengan risotto yang mengepul.

"......!"

"b-bagaimana?"

Rinslet bertanya sambil terlihat gugup.

"......benar-benar enak! Apakah kamu benar-benar membuat ini dengan bahan kalengan?"

"Ya.... Aku, aku senang itu sesuai selera kamu."

Rinslet tersenyum lebar dengan bahagia.

"Seperti yang diharapkan dari Rinslet."

"Kuu ...... p-posisi ku adalah......"

Ellis tampak sedikit muram sambil mendesah.

"Ah, tidak, masakan Ellis memiliki perasaan buatan sendiri untuk itu dan aku suka itu dengan caranya sendiri."

"b-buatan sendiri...kamu bilang....? rumah... istri..."

Dia tidak tahu apa yang dia bayangkan tapi Ellis telah keluar dengan wajah merah.

"b-besok, aku akan membuat makan malam... jadi aku akan membuat hidangan favorit Kamito."

"Ya, aku menantikan untuk itu... ngomong-ngomong, apa yang kita lakukan tentang mandi?"

"Kami membuat satu di area terdekat. Scarlet bekerja keras."

Scarlet yang berbaring di samping Claire mengeluarkan sebuah suara nyaaa.

"Fufu, tidak apa-apa untuk masuk dengan Kamito-kun?"

"Eh?"

"b-bodoh, Kamito masuk setelahnya! Berdiri berjaga di sini!"

Claire berkata marah dengan wajah merah.

Bagian 5[edit]

"a-apa yang kau pikirkan, kau!"

"Oh, aku hanya sedikit menggodamu. Dan Claire, bukankah kamu sedikit tergoda?"

"Ap... itu tidak benar!"

"Kau terlalu keras! Bahkan jika kita berada di dalam penghalang, jangan biarkan penjagaanmu lengah!"

"Meskipun kapten ksatria menjadi paling keras."

"...m-maaf."

Agak jauh dari perkemahan, gadis-gadis itu membuka baju.

Di samping mereka adalah pemandian udara terbuka dengan uap panas.

Itu bukan air panas . Georgios membawa batu-batu besar untuk mengisolasi bagian dari sungai, mereka memiliki Scarlet yang melepaskan api di sana.

Percikan cahaya dari seseorang yang memasuki air .

Setelah melepas seragam akademi mereka, kulit para princess maiden terkena cahaya samar bulan malam.

"E-Ellis, kamu mengenakan pakaian dalam cukup dewasa, kan..."

"a-apakah begitu?"

Ellis mengalihkan pandangan karena malu .

"u-untuk menggunakan hitam... sungguh cabul..."

Claire melirik payudara Ellis dengan dingin.

"i-ini tidak cabul! Kamito yang memilih --"

"Eh?"

"Ap-apa maksudmu?"

"Ah, tidak, itu, umm..."

Dalam sorotan pertanyaan, Ellis telah menggali kuburannya sendiri.

"Claire, bukankah kamu sedikit tumbuh juga?"

Fianna meraba-raba dada Claire.

"Fuaaa, a-apa yang kau lakukan, kau ratu mesum!"

"...Apakah imajinasi ku? Rasanya seperti mereka telah tumbuh sedikit sejak aku terakhir meraba-raba mereka."

"... Eh? b-benarkah!?"

Rambut merah Claire sedikit melonjak.

"j-jangan katakan hal itu dari roh kilat dari kemarin adalah efektif..."

"Apa yang kau bicarakan?"

"..b-bukan apa-apa!"

Claire tenggelam di bawah permukaan air dan meniup gelembung.

Bagian 6[edit]

Dia bisa mendengar suara-suara bersemangat gadis-gadis dari jauh.

Seperti yang diduga, bahkan tanpa Kamito dengan pendengaran yang baik itu bisa membuat kata-kata mereka terdengar.

Kamito menjaga pengawasan dari bayangan bebatuan. Ada juga roh yang mendapat kekuatan dengan datangnya malam. Berbeda dengan pertandingan di akademi, kita juga harus waspada terhadap serangan malam.

" ......"

Menarik napas, dia menatap segel roh yang terukir di tangan kanannya.

Est ...

Dia melihat sekilas Kenangan masa lalu Est.

Mimpi tentang mantan tuannya Est, Ratu Suci yang membunuh Maou tersebut.

Aku tidak bisa menjadi pedang Kamito - mengatakan itu, Est telah menolak Kamito.

Hanya apa yang telah Est ingat -

Dan kemudian.

Di hutan di depannya, kehadiran samar muncul.

"...!"

Kamito refleks langsung berdiri dan memasuki sebuah mode pertempuran.

... Jangan bilang mereka menerobos penghalang Fianna!?

Sebuah penghalang yang memberitahu mereka ketika seseorang atau binatang mendekat seharusnya telah dipasang.

Masalahnya adalah siapa yang berhasil melewati penghalang itu tanpa menghilangkannya.

"-- Siapa kau."

Kamito melotot ke rimbunan pepohonan .

Dan.

"Jangan membuat wajah yang menyeramkan, Kamito."

Didepan matanya, kegelapan berputar-putar mengambil bentuk manusia.

Orang yang muncul ada seorang gadis cantik berbalut gaun warna gelap.

"...Restia!?"

Kamito melebarkan matanya dan memandang gadis di depannya.

Roh terkontraknya sebelumnya.

Satu-satunya yang dia selalu ingin bertemu, eksistensi berharga yang tak tergantikan.

Satu-satunya yang pertama kali memberikan cahaya untuk Kamito yang telah kehilangan hatinya.

Tapi sekarang, dia --

"...untuk apa kau datang kemari?"

"begitu dingin, meskipun aku khawatir tentang kamu."

Restia hampir Tanpa disadari cemberut.

Sikap yang sangat dirindukan itu membuat hati Kamito terasa sakit.

Saat gaun berkibar, Restia perlahan-lahan berjalan ke arahnya.

"Ini tidak seperti kamu untuk memiliki pertarungan keras melawan lawan sekaliber itu."

"Apakah kamu orang yang mengatakan kepada mereka aku kehilangan Est?"

"Ya, itu benar."

Setelah Restia mengakuinya terus terang terasa tidak berujung.

Karena itu, dia tidak tahu harus bilang apa.

Aku selalu dapat tertangkap dalam langkahnya...

Restia datang tepat di depannya dan menatap wajahnya dengan mata yang berwarna senja.

Itu hampir sama dengan tiga tahun yang lalu kecuali bahwa Kamito sekarang lebih tinggi.

Kontras dengan kegelapan adalah kulit putih mulus. Bibir bersemu merah.

Itu keindahan yang membuat jantungnya berdebar secara tidak sadar.

Dan bisikan manis yang berasal dari bibirnya.

"Jika kamu tidak dapat menggunakan roh terkontrak, kamu dapat menggunakan aku."

"... Apa, apa kau?"

"Ini tidak benar-benar mengejutkan. aku masih roh terkontrakmu."

"... Setelah sekian lama, apa yang kau rencanakan?"

Kamito menggigit bibirnya .

Memang benar bahwa dia masih memiliki segel roh Restia di tangan kirinya, namun -- «Gerbang» tidak pernah dibuka bahkan sekali sejak hari itu.

"Itu karena kamu tidak memiliki persyaratan, Kamito. Tetapi dengan kekuatan kamu yang baru terbangun – kamu dapat menggunakan aku lagi seperti sebelumnya."

Restia tersenyum manis sambil tertawa kecil.

"aku..."

Kamito menatap tangan kiri yang memakai sarung tangan.

Elemental Waffe yang dia gunakan tiga tahun yang lalu sebagai Ren Ashbell - «Vorpal Sword».

Kekuatan pedang iblis untuk memotong apapun yang sebanding dengan Terminus Est.

Tanpa Est, memenangkan Blade Dance adalah mustahil.

Tapi jika mantan roh terkontraknya kembali padanya sekali lagi -

Dia bahkan bisa menang melawan Ren Ashbell yang lain.

"Namun, aku mempunyai syarat."

STnBD V05 217.jpg

Dan. Restia menaruh jari telunjuknya ke bibirnya.

"Sebuah syarat?"

"Ya, kamu harus memutuskan kontrak dengan roh pedang lainnya."

"...!?"

"Apakah kamu pikir aku tidak akan cemburu jika kamu mengkontrak roh yang lain?"

Restia berbisik ke telinganya dengan nada cemberut.

Kamito - meraih bahu Restia dan memisahkannya dari dia.

"Maaf, tapi aku tidak bisa melakukan itu."

Kamito menggeleng dengan tegas.

"aku percaya pada Est. Bahwa dia pasti akan kembali."

Dia telah hidup tiga tahun terakhir demi mendapatkan Restia kembali.

Alasan dia berpartisipasi dalam «Blade Dance» adalah untuk alasan yang sama.

Tapi dia tidak bisa memutuskan kontrak dengan Est untuk itu.

"Est adalah partner penting ku... sama seperti kamu."

"aku mengerti - itu patut disayangkan."

Restia menggeleng sedih.

"Tapi aku ingin tahu apakah kamu bisa mengalahkannya tanpa roh terkontrak."

"Dia?"

Pada saat yang sama dia bertanya, sosok Restia memudar dan mulai menghilang.

"Tunggu, Restia!"

"Aku selalu menunggu, Kamito. Sampai kamu memanggilku - Oke?"

Restia benar-benar melebur dalam kegelapan.

Detik berikutnya, sebuah api jatuh dari langit.

Sebuah kilatan tajam. Menghasilkan ledakan angin yang menghempaskan Kamito.

tanah dan pasir yang terbang merobohkan pepohonan hutan itu.

Apa... itu...!?

Sementara mengerang, Kamito mengangkat wajahnya.

Dan.

Dari pusat ledakan, bayangan hitam raksasa berdiri.

"Apa!?"

Itu naga hitam legam dengan sayap yang menyebar seolah-olah untuk menutupi bulan.

Api yang berkobar menyala dalam malam.

Seorang gadis mengenakan mantel hitam berjalan keluar dari dalam api yang menari.

Mata merahnya menembus malam.

Sebuah kehadiran yang tak menyenangkan...

Hawa membunuh yang bahkan bisa dirasakan pada kulit seseorang.

"...sebuah sambutan yang kasar untuk seorang ksatria. Leonora."

"--Seperti yang kau katakan, Kazehaya Kamito."

Leonora mengatakan dengan tangannya lurus di udara.

"Naga dari Dracunia berburu singa dengan seluruh kekuatan mereka."

Roh Naga «Nidhogg» membuka mulutnya dan melepaskan sebuah tembakan api.




Bab 9 - Pembunuh Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

"...Tidak mungkin, sebuah serangan!?"

Pada saat itu ledakan menyilaukan datang dari perkemahan.

Claire dan yang lain tengah berganti pakaian setelah menyelesaikan mandi.

"Penghalang sudah rusak -- mereka datang!"

Bersamaan dengan teriakan Claire.

Fianna, Ellis dan Rinslet memanggil roh masing-masing.

Api Scarlet menerangi kegelapan di sekitarnya.

Dan di atas uap berdiri tiga orang dengan senjata terhunus.

"mengejutkan, Knigt of Dragon Emperor datang menyerang di malam seperti ini."

"Kami adalah tentara sebelum kami menjadi ksatria. Untuk membawa kemenangan dan kebanggaan kembali ke rumah, kami tidak akan melewatkan metode yang paling efektif."

Orang yang menjawab adalah seorang gadis rambut pendek seperti anak laki-laki.

Dia menyiapkan tombak «Elemental Waffe» nya.

"Kita setidaknya memperkenalkan diri kita sendiri. Wakil Kapten Knight of Dragon Emperor, Yuri El Cid."

"ketua «Tim Scarlet» Claire Rouge."

Claire dengan cepat merubah Scarlet menjadi Lidah api.

Sambil tetap menjaga perhatiannya ke depan, dia berbisik ke Ellis dibelakangnya.

"Leonora tidak ada di sini. Ledakan barusan mungkin dia."

Jika itu Nidhogg, yang menyebabkan banyak kehancuran dalam satu serangan itu sangat mungkin.

Mereka telah menargetkan Kamito saat dia sendirian dan datang untuk menghancurkan dia.

"Tidak peduli seberapa kuat Kamito, dia tidak akan bisa menang melawan Leonora tanpa Elemental Waffe."

"... Aku mengerti. Aku akan pergi untuk membantu Kamito."

Ellis segera memahami maksud Claire dan mulai melantunkan sihir roh «Penerbangan» nya.

Dia menendang tanah dan terbang ke udara malam yang diterangi oleh api.

Tapi.

"-- Aku tidak akan membiarkan kamu pergi ke Leonora-sama!"

"Apa?"

Ksatria lain menghalangi jalan Ellis.

Seorang elementalist dengan roh naga terbang.

Mereka telah mengantisipasi tindakan mereka dan bersembunyi di hutan sebelumnya. Dan lawannya adalah tipe roh naga terbang. roh sihir Ellis tidak bisa bergerak lebih cepat dari itu.

"... Ini buruk. Kita sudah benar-benar terpisah."

"Kamito..."

Beralih ke arah kobaran api yang meningkat, Claire menggigit bibirnya.

Bagian 2[edit]

Api berkobar di tanah.

Disertai dengan suara keras, api melapisi tanah.

...kekuatan destruktif mengerikan!

Kamito Menjadi sesak nafas oleh kekuatan angin yang dihasilkan dan terjatuh ke tanah.

dengan cepat bangun dan membuka matanya --

Sebuah adegan seperti akhir dari dunia terbentang di depannya.

Tanah berlubang seperti kawah. Dinding api menelan kegelapan malam.

Di sisi lain dari dinding api, roh naga meraung dengan sangat ganas.

Angin yang menyertainya menyebarkan api.

naga hitam legam mengepakkan sayapnya yang sangat besar.

dalam cahaya putih kebiruan dari bulan, Leonora Lancaster berjalan ke arahnya diam-diam.

Mengangkat tangannya keatas, naga berubah menjadi kegelapan.

Kegelapan kemudian dikumpulkan dan langsung membentuk pedang iblis besar.

"Elemental Waffe roh naga «Nidhogg» -- «Dragon Slayer»."

Leonora bergumam acuh tak acuh dan mengangkat pedang iblis.

Kamito merasakan secara naluriah.

Itu buruk...!

Tepat ketika dia bangun dan menghindar.

"-- Hancurkan!"

Leonora menutup jarak dalam sekejap.

-- Cepat!

Tepat sebelum pedang iblis mengenai, Kamito melompat ke samping.

Suara tanah yang hancur.

Pedang iblis sedikit menggores dia dan pada seragam putihnya terdapat darah di atasnya.

Kamito meringis oleh rasa sakit yang tajam dari goresan.

... Jangan bilang dia benar-benar mewujudkan Elemental Waffe nya!?

Jika Kamito tidak mengelak, dia akan terbelah menjadi dua.

Dia mengayunkan pedangnya dengan maksud penuh untuk membunuh Kamito.

Apakah ini pengaruh «Dragon Blood» yang Claire bicarakan...

Mata merah brilian Leonora bersinar dalam kegelapan.

Sebuah kondisi dimana dia kehilangan sebagian besar alasannya dan menjadi sinting.

Itu dilarang untuk membunuh lawan dalam Blade Dance. Itu sebabnya elementalists umumnya membatasi perwujudan Elemental Waffe mereka dan memilih untuk menyebabkan kerusakan dengan divine power mereka secara langsung.

Tapi sekarang, Leonora telah serius mencoba membunuh Kamito.

"Cih --"

Kamito dengan cepat melantunkan sihir roh pembuat senjata dan menciptakan pedang pendek di tangannya.

Dengan «Gerbang» Est yang tertutup, ini adalah yang terbaik yang bisa dia lakukan dengan divine power nya.

Itu hanya pengganti yang bisa melancarkan satu serangan dari serangan susulan pedang lawan sebelum hancur.

Melompat dari lumpur dan sesaat sebelum mendarat -- Leonora mengayunkan pedang iblis nya.

Kekuatan yang meremukkan tulang diciptakan.

"Gahaa ...!"

Badai pedang yang kejam terus berlanjut tanpa belas kasihan.

Kamito berguling di tanah dan nyaris tidak bisa menghindari serangan itu.

"... Ini seperti dia tidak memiliki celah."

Keringat dingin berkumpul di keningnya.

Mereka adalah gerakan tidak terduga untuk lengan langsing dan halus seperti itu dengan sebuah pedang besar.

Dia mungkin menggunakan sihir roh ciri naga untuk menambah kekuatan otot nya.

"-- Ini tidak cukup... buat darahku menjadi lebih mendidih, Kazehaya Kamito!"

pedang iblis berayun lagi. Sementara memancarkan raungan seperti naga, pedang itu melepaskan gelombang energi.

Taring tak terlihat yang akan merobek daging. Ini mirip pedang angin milik Ellis, tapi kekuatan penghancurnya pada skala yang berbeda.

Mengiris menembus seragam sekolah, darah menetes dari bahunya.

"Kuu, dia kuat, seperti yang aku pikir...!"

Kamito mengutuk sambil menyeka darah dari bibirnya.

divine power yang luar biasa mengalir di seluruh tubuhnya.

Dalam puncak pertarungan, Kamito tidak punya kesempatan untuk menang sekarang.

-- Tidak ada cara lain selain menjadikan sebuah pertarungan gesekan dengan mundur ke dalam hutan.

Seiring dengan kebangkitan «Dragon Blood» nya dan kekuatan yang besar itu, Leonora kehilangan kemampuannya untuk berpikir dengan tenang. Jika Kamito bergerak diam-diam, dia setidaknya bisa mengulur waktu.

Ini seharusnya bisa menahan divine power yang mematikan dari «Dragon Blood».

Ada kemungkinan batas waktu seberapa lama dia bisa bertarung dalam kondisi ini. batas elementalist normal biasanya hanya satu menit. Kemungkinan Leonora sekitar lima menit.

-- Jika aku bisa tetap aman selama lima menit, aku bisa menang.

saat Kamito hendak mundur ke hutan.

Api raksasa menyala di bawah tebing dekat sungai yang jauh darinya.

"Ap...!?"

Dia tidak berpikir tentang di mana itu. Di sanalah Claire dan sisanya.

"-- Sepertinya mereka terlibat dalam pertempuran dengan bawahan ku."

mata Leonora berkilauan dan dia menutup jarak dalam sekejap.

"Jika kamu ingin melindungi teman-teman mu, kamu harus menggunakan kekuatan penuhmu dan mengalahkan aku!"

Pedang iblis Leonora mendekatinya --!

Bagian 3[edit]

"-- jadilah abu!"

Mengayunkan Lidah Api, dia menembakan sihir roh «Fireball» pada waktu yang sama.

Yuri El Cid -- elementalist tombak itu dilalap api.

"Seperti yang diduga, jika itu adalah serangan langsung -- ehh!?"

"Sayang sekali tapi sihir roh atribut api tidak akan bekerja melawan «Lindwyrm» ini!"

Menembus dinding api, naga raksasa dengan sisik merah melaju ke arahnya.

"Rinslet!"

"Aku tahu, freezing fangs, tembuslah -- «Freezing Arrow»!"

menargetkan pada tubuh naga api, dalam sekejap dia menembakkan panah es.

Tapi sebelum panah itu mengenainya, naga api menyemburkan api dan mencairkannya.

Panah yang nyaris mengenai juga dipentalkan dari sisik dan menghilang.

"Tidak mungkin, «Freezing Arrows» ku...!"

".,. Itu menggunakan sihir roh atribut naga!"

Claire berteriak saat dia melenyapkan api naga itu.

Spesialisasi roh naga adalah kekuatan mereka yang luar biasa dan ketahanan tinggi terhadap serangan sihir. Terutama dengan «Anti-magic Dragon Scales» mereka, ketahanan sihir mereka terhadap lima elemen utama menjadi digandakan.

Untuk Claire dan yang lainnya yang menggunakan roh dari lima elemen utama, mereka adalah lawan yang benar-benar sulit.

"Claire! «Georgios» saja tidak bisa menahan mereka ...!"

Dan dari belakang terdengar suara Fianna.

roh ksatria nya saat ini menangani dua roh naga.

Lawannya adalah tipe tanpa sayap atau sisik -- roh naga spesialis jarak dekat yang mengamuk.

mengayunkan cakar raksasa dan ekor, mereka perlahan-lahan menyudutkan roh ksatria.

roh naga yang mengamuk berada jauh di atas kekuatan roh ksatria. Alasan mereka ditahan di teluk adalah bahwa roh ksatria memiliki teknik khusus untuk menghadapi naga.

Tapi ada dua lawan. Dan mereka sedang dikendalikan oleh elementalists terampil.

Seperti yang diduga, bahkan roh ksatria spesialis pertahanan bisa mencapai akhir yang menentukan hanya dengan pedang dan perisai.

"Fianna ... Rinslet!, tolong beri aku sedikit waktu!"

Claire segera meminta back-up tapi --

"...!?"

Ellis mendarat tepat di depannya.

"... Aguu!"

"Ellis!"

Melihat ke langit, dia melihat gadis mengendarai roh naga terbang menari di udara.

"Aku sudah bilang, aku tidak akan membiarkan kamu mengganggu Leonora-sama!"

Roh naga terbang meraung, berbalik arah ke tempat jatuhnya Ellis dan melepaskan bola api yang tak terhitung --

"Kau!"

Claire dengan cepat mengayunkan Lidah Api dan menghadang bola api di udara menyebabkan banyak ledakan.

"Ellis, bisakah kamu bergerak?"

"... Ya, maaf. Aku baik-baik saja."

Ellis yang tertutup luka menahan «Ray Hawk» nya dan terhuyung-huyung bangkit diatas kakinya.

Roh milik Ellis adalah kelas atas dalam akademi. Bahkan mengabaikan keuntungan apapun dari pertarungan di udara, telah dipukul secara sepihak --

"Orang-orang ini kuat pada masing-masing individual dan kerja sama tim mereka jauh lebih baik daripada kita."

"Itu benar ..."

Dengan menyakitkan Claire mengakui kebenaran pengamatan Ellis.

Jika salah satu dari Claire atau Rinslet mendukungnya, Ellis seharusnya mampu melawan secara seimbang.

Tapi lawan tidak pernah membiarkan menunjukan sebuah kesempatan.

"Georgios ku --"

"Haa, haa ... kompatibilitas dengan Lindwyrm terlalu keras ...!"

Pada titik tertentu, mereka telah dijaga oleh empat anggota Knights of the Dragon Emperor.

Roh Ksatria sedang tertekan mundur oleh kedua roh naga yang mengamuk dan Rinslet telah benar-benar kelelahan.

"-- mengeliminasi wakil Ordesia. Sebuah hasil yang bagus untuk pertempuran pertama kami."

Yuri El Cid membentuk tombak naga api nya.

"Ini adalah akhir. Claire Rouge."

Bagian 4[edit]

Pedang iblis yang seharusnya mengayunkan --

Dihentikan di udara.

"... Ap, apa!?"

Mata merah Leonora melebar terkejut.

Sambil melihat pada wajah garang tapi masih tetap wajah yang cantik dari seorang gadis, Kamito menggumam.

"Ini awalnya teknik untuk bersembunyi sementara merayap."

yang menahan pergelangan tangan Leonora yang memegang pedang iblis adalah lengan Kamito.

Dia tidak bisa menghentikan serangan pedang iblis nya.

Tapi itu berbeda untuk lengan yang memegang serangan.

Kamito menekan lengannya pada pergelangan tangan Leonora seperti dia dihembuskan sebelum serangan.

Jika dia menarik ketika Leonora menarik kembali pedangnya dan langsung mendorong dengan segenap kekuatan, itu akan menciptakan pembukaan celah mematikan -- keterampilan taijutsu sederhana namun efektif.

Logikanya, itu sederhana, tetapi waktu yang dibutuhkan sangat fatal. Itu bukan sesuatu yang amatir bisa tirukan.

Itu hanya karena Kamito telah menjalani pelatihan keras dari «Instruksional School», dia bisa melakukannya dalam pertempuran nyata.

tubuh Leonora mematung dalam posisi mengayunkan pedangnya.

"Teknik ksatria tanpa pedang -- dengan nama lain «Sword Break». Sebuah keterampilan sesat. ini adalah dari wanita penyihir senja Greyworth dan bukan «Instruksional School»."

"-- aku mengerti. Jadi ini adalah teknik terkuat roh ksatria di benua, Sir Greyworth.

Mata merah menatap Kamito.

Mata naga yang diwarnai dengan sukacita pertempuran -- benar-benar mata penggila pertempuran.

"Tapi trik cerdik bukanlah apa-apa tanpa kekuatan mutlak...!"

divine power Leonora meningkat drastis.

Dengan raungan ganas yang mengguncang atmosfer, dia mendorong seolah-olah untuk menghancurkan dia sampai mati --

"-- Itu sembrono, Leonora!"

Pada saat keseimbangan kekuatan pecah, Kamito mengirim pukulan lurus ke ulu hatinya -- tetapi,

Tepat sebelum itu, Leonora melompat ke samping -- itu bukan sebuah tehnik, hanya insting.

Menyerang sisi samping Kamito, kilatan cahaya mencungkil tanah.

yang telah mengirimkan serangan adalah ornamen pada gagang «Dragon Slayer». Jika dia tidak mengelak, itu akan menusuk jantungnya tanpa keraguan.

Kamito melompat sambil mengucurkan darah dari sisi nya. Karena dia menghindari murni dengan insting, dia tidak bisa melakukan pendaratan sempurna.

Leonora mengayunkan pedang ke setiap arah lain.

Sayatan pedang membagi horisontal. Gelombang kejut yang tampak seperti mereka bisa menghancurkan semua tulang dalam tubuh seseorang.

Tubuh Kamito terlempar ke samping dan menabrak batu.

...Tulang lengan ku...!

Leonora tidak berhenti. Dia menyerang dengan raungan yang meningkat.

Kamito menyiapkan pedang sihir rohnya di pinggangnya. Dia akan mencocokkan dengan waktu lawannya dan memberikan sebuah serangan balik -- itu adalah pertaruhan berbahaya, tetapi tidak ada alternatif.

Jika aku tidak mengalahkan dia dengan cepat, Claire dan yang lainnya akan --

Leonora menyerang seperti naga, menyebabkan getaran sambil mendekat.

Dia tidak akan memiliki belas kasihan pada dirinya yang berada di bawah pengaruh «Dragon Blood».

Jika kamito melewatkan waktunya bahkan hanya sedikit -- apa yang menunggunya adalah kematian.

Saat pedang memasuki pendangannya.

Kamito melompat dari batu di belakangnya.

-- Aku dapatkan kau!

Menghindar setipis rambut, jarak yang sempurna.

kamito tidak berpikir pedang dengan kaliber ini akan mampu menembus sihir penguatan Leonora, tapi ada cara lain untuk melawan. Jika dia mematahkan posturnya dan menggunakan beberapa serangan, dia harusnya mampu mempengaruhi bahkan pada dragon knight kuat ini --

Namun.

"Aku sudah mengatakannya, kan, bahwa trik cerdik tidak akan bekerja pada ku!"

Leonora Lancaster --

mengarahkan pada Kamito yang berdiri di hadapannya dan melemparkan «Dragon Slayer».

Berbalut arus udara spiral, pedang besar terbang dalam garis lurus.

"...!?"

Kamito tidak mengantisipasi hal ini.

Kamito mendecak lidahnya dan menghindar tapi Leonora sudah mendekat --

"Sialan ...!"

Kamito langsung menggunakan pedang sihir roh untuk bertahan. Tapi tinju leonora yang diperkuat sihir meluncur menembus pedang dan mengenai rahang Kamito.

penglihatannya berguncang. Begitu dia tersadar bahwa dia telah terbang di udara, dia membentur tanah.

Sialan ... melemparkan pedang besar dengan satu tangan? Itu terlalu tidak masuk akal ...

Intinya dia telah terluka. Dia mengutuk sementara mengkonfirmasikan bagian apa yang masih bisa bergerak.

Rusuknya terpotong dan beberapa organ telah rusak.

Jari-jarinya sudah mati rasa dan tidak bisa bergerak. Itu sudah tidak layak dalam kondisi untuk melawan.

"-- Lebih, buat darah ku mendidih lagi, Kazehaya Kamito. «Naga» yang tertidur dalam diriku ingin menggila dengan mu."

Leonora mengambil pedang iblis yang dia lemparkan dan perlahan-lahan berjalan ke arahnya.

Seperti seekor naga yang menikmati perburuan.

"-- Jika tidak, kamu akan mati."

"...Jangan hanya mengatakan apa pun yang kau inginkan."

Sementara mengerang dari rasa sakit, Kamito mendorong tanah dan berdiri.

Lebih dari sebelumnya, api dari tepi sungai telah menjadi lebih ganas dan asap hitam naik dari itu.

Claire, Ellis, Fianna, Rinslet ...

Dia mencengkeramkan jarinya yang mati rasa pada penyesalan karena tidak bisa melindungi mereka.

Aku tidak bisa menang melawan Leonora Lancaster pada tingkat ini --

Kamito menegaskan itu dengan tenang.

-- Itu benar, jika tetap seperti ini.

Segel roh di tangan kirinya terasa sakit. Tidak, dia sudah menyadarinya. Karena belum terlalu lama, segel telah terbakar dengan tekanan yang panas.

«Gerbang» tidak pernah dibuka sejak hari itu tiga tahun lalu.

Tapi sekarang dia bisa merasakan dia memanggilnya.

Dia hanya harus memanggil namanya. Hanya dengan itu, dia akan mendapatkan kembali pedang iblis terkuat.

Kekuatan untuk mengalahkan Leonora dan menyelamatkan rekan wanitanya.

Elemental Waffe kegelapan peringkat tertinggi -- «Vorpal Sword».

Dia bisa kembali dalam sekejap. Pada Ren Ashbell tiga tahun lalu.

Tapi itu di bawah syarat bahwa dia memutus kontrak di tangan yang lain.

Gadis roh pedang itu telah menutup hatinya dalam kesedihan dan sendirian di kegelapan.

kau --

Suara Kamito bergetar seperti erangan.

Itu adalah konflik sesaat. Kehilangan sebuah arah.

Tapi dengan cepat dia mengangkat kepalanya dan menggeleng.

Dia sudah meneguhkan hati dari awal.

Aku adalah tuannya Est!

Mata merah Leonora melotot dengan kejam saat dia mendekati --

"Kazehaya Kamito, aku kecewa padamu."

The «Dragon Slayer» menusuk dada Kamito.

Bagian 5[edit]

Di dalam kesadarannya yang telah tenggelam ke dalam kegelapan --

Kamito menemukan seorang gadis duduk sambil memeluk lutut.

Rambut putih keperakan yang bersinar cemerlang bahkan dalam kegelapan.

Kulit putih tanpa cacatnya seperti pedang beku.

"-- Est."

Kamito meletakkan tangannya pada pipi roh pedang yang telah menutup hatinya.

Mata violet misterius membelalak kaget.

"Kamito ...!"

"Est, aku meminta kamu -- pinjamkan kekuatan mu. Aku ingin kamu untuk melindungi teman-teman kita!"

Beralih ke Est yang berjongkok, Kamito berteriak.

Tapi Est tanpa kata menggelengkan kepalanya.

"Kamito, aku minta maaf. Aku tidak bisa menjadi pedangmu lagi."

"Kenapa --"

"Aku akan, suatu hari mengambil nyawa Kamito."

Pada saat itu, sesuatu yang dingin terasa di ujung jari Kamito.

"...Est?"

itu adalah air mata.

Dia adalah roh pedang yang menunjukkan emosi tunggal.

Ketika jari-jarinya menyentuhnya, pusaran emosi mengalir ke dalam dirinya.

Ratu Suci dan «Demon Slayer» -- yang terakhir dari kenangan mereka bersama-sama.

Bagian 6[edit]

Di depan Est --

sang gadis suci yang telah mengalahkan tubuh Maou mengkristal menjadi batu roh.

"tu...an......?"

"Est, jangan membuat wajah seperti itu."

Tangan kanan Areishia yang masih bisa bergerak menyentuh pipi Est saat dia berjuang untuk bicara.

"Aku tahu tentang hal ini dari awal."

Dia membuat semacam ekspresi dewasa meskipun hanya enam belas tahun.

Melihat bahwa jari-jari itu mengkristal --

Roh Pedang akhirnya mengerti.

Bahwa ini adalah -- kutukan.

Gabungan kebencian dan kutukan dari roh-roh yang telah dibunuh oleh kekuatan pedang suci itu sejauh ini.

Itu telah berkumpul sampai batas dan mengikis tubuh tuannya.

«Demon Slayer» adalah pedang yang menghancurkan segala kutukan.

Tetapi kutukan itu tidak menghilang dari dunia ini. Pedang suci yang telah menyerap berbagai kutukan itu suatu hari akan berakhir pada tuannya.

Roh senjata -- «Terminus Est» itu bukan pedang suci.

Mengambil hidup penggunanya dalam pertukaran untuk memberikan kekuatan yang sangat besar itu tidak salah lagi adalah sifatnya pedang iblis.

"Tidak... mungkin..."

tangan pemaaf gadis itu. Est tidak bisa melihat sebagai jari-jari itu yang selalu lembut mengelus kepalanya mengeras dan menjadi batu roh.

"tuan! Aku tidak tahu! Bahwa aku --"

"Aku tahu, Est."

Areishia tersenyum dan menatap Est dengan lembut.

"tuan... kamu tahu bahwa kamu akan..."

"Ya. Itulah mengapa itu bukan kesalahan Est."

Sementara menepuk-nepuk rambut putih keperakan Est, dia perlahan mengangguk.

Tapi suaranya goyah dan air mata berkumpul di matanya.

Itu jelas. Dalam menghadapi kematian, tidak mungkin dia tidak takut.

Itu sebabnya dia bukanlah sesuatu seperti gadis suci.

Dia hanya seorang gadis normal yang berusia enam belas tahun.

"tuan..."

"selamat tinggal, Est. Satu-satunya temanku."

"Tidak, kamu tidak bisa... tuan...!"

Sebuah suara kecil keluar dari bibir Est.

"Tidak... Arei... Shia...!"

"...Itulah pertama kalinya kau memanggil namaku. Aku se...nang..."

"...!?"

Dengan suara yang jernih, leher gadis itu mengkristal.

Est hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.

STnBD V05 241.jpg

Saat ini gadis yang telah mengungkapkan hatinya untuk pertama kalinya hancur setelah menjadi kristal bening.

"Est, aku --"

Air mata panas jatuh ke pipi Est.

"Jujur, aku tidak ingin menjadi sesuatu seperti seorang gadis suci."

"-- Areishia!"

ratapan bergema melalui kastil Maou.

Untuk gadis suci yang menanggung harapan dari semua orang dan telah berjuang sampai titik ini sendirian --

Itu adalah akhir dari dia.

Dan Est menyegel dirinya sendiri di gudang senjata Maou.

Sehingga tidak seorang pun akan mengkontrak pedang iblis yang tersembunyi jauh di dalam.

Jadi dia tidak akan pernah kehilangan orang penting lagi.

Dia tidak akan pernah membuka hatinya kepada siapa pun -- dia sungguh-sungguh bersumpah untuk itu.

Bagian 7[edit]

"-- aku tidak punya hak untuk menjadi pedang Kamito."

"...."

Kamito menjadi terdiam pada masa lalu Est itu yang dia telah ketahui sekilas.

Gadis yang telah memberikan emosi untuk gadis roh senjata ini telah tiada.

Est telah mengambil kehidupan gadis itu sendiri dengan kutukannya.

Itu sebabnya dia menutup hatinya.

Untuk ratusan tahun, dia terus memisahkan diri dari orang-orang yang ingin mengontraknya.

Jadi dia tidak akan pernah disentuh oleh orang lain lagi.

Kamito tidak bisa membayangkan bagaimana kesepian yang pasti.

"Est..."

Kamito mengusap ujung mata Est.

Mata ungu yang misterius berkedip.

"Jangan berkata kamu tidak memiliki hak. Aku butuh Est."

"kamu tidak bisa... jika kamu terus menggunakan pedang iblis seperti aku, aku akan mengambil hidupmu!"

Kamito meletakkan tangannya di atas kepala Est.

"Aku tidak akan kalah pada kutukan semacam itu."

Dia mengelus rambut putih keperakan yang indah itu.

"Fuaa... Kamito... berhenti, tolong..."

"Aku tidak mau. Sampai kamu berhenti menangis."

"Kami...to......"

"Est, kutukanmu dan takdirmu sebagai pedang iblis, aku akan mengambil semuanya."

Dan kemudian --

Dia memeluk tubuh Est yang lembut.

"Jadi kembalilah, Est!"

"Tidak ... Aku akan, untuk Kamito..."

Untuk menghentikan kata-kata itu --

Kamito memeluk Est dan menyegel bibirnya.

"...!?"

Mata Est terbuka karena terkejut.

Itu adalah ritual untuk mengontrak roh tingkat atas.

sebuah Ciuman sumpah.

Kamito dengan lembut memisahkan bibir mereka.

"Aku akan mengatakannya sekali lagi, Est. Aku membutuhkanmu."

Dia meneriak ini sambil memegang tubuh halus dengan erat.

"jadilah pedangku, Est!"

Dalam menanggapi kata-kata Kamito yang kuat --

"Kamito, aku --"

Rambut putih keperakan Est bersinar.

Bagian 8[edit]

"...... Apa!?"

Mata merah Leonora melebar.

Dari tangan kanan Kamito yang seharusnya sudah tersingkir, cahaya yang kuat bersinar.

"-- Ratu Baja yang tidak memihak, pedang suci yang menghancurkan kejahatan!"

Bibirnya bergetar melantunkan kata-kata pemanggilan roh.

"...!?"

Dihadapkan dengan suara yang kuat yang memiliki sisi misterius itu, Leonora mengambil langkah mundur.

"...itu tidak mungkin, «Dragon» dalam diriku takut?"

«Dragon Blood» dalam keadaan sepenuhnya terbangun sehingga dia bisa mengerti, ini adalah ketakutan yang benar.

Dan juga--

"-- Sekarang berubahlah menjadi pedang baja dan jadilah kekuatan di tanganku!"

Seolah-olah untuk membakar mata, cahaya yang dahsyat dipancarkan!

Di depan Kamito, «Gerbang» yang menghubungkan tuan dan roh terkontrak mereka telah terbuka.

Seorang yang muncul adalah seorang gadis dengan rambut putih keperakan berkibar indah.

"...... Es ...... t, terima kasih. Untuk mendengarkan keegoisanku."

Sementara menekan pada lubang di dadanya, dia tersenyum kecut.

"Kamito, aku adalah pedangmu -- selama yang kamu inginkan."

Est mengatakan itu dengan wajah tanpa ekspresi yang sama seperti biasa.

Dia bertanya-tanya apakah pipi sedikit memerah yang bisa dia lihat itu karena api.

"Jadi kau sudah memanggil kembali «Demon Slayer»..."

Pancaran mata merah Leonora meningkat.

"Ini adalah alasan yang cukup bagus dalam mengalahkanmu!"

meraung, dia mengayunkan «Dragon Slayer» --

"-- Hancurkan, naga iblis tirani!"

Cahaya merah melesat keluar dari ujung pedang.

berkobar di tanah dan langsung menghancurkan pohon yang berada dijalurnya.

"-- Est!"

Tapi Est tidak menghindarinya dan hanya berdiri di sana.

STnBD V05 247.jpg

Dengan ekspresi seperti es, dia berpaling ke arah kobaran api dan mengarahkan telapak tangannya.

"-- aku sedang berbicara dengan Kamito sekarang, jadi jangan mengganggu kami."

kobaran api yang mengamuk diatas bumi itu menyebar dengan mudah.

"...!?"

Leonora melebarkan matanya karena terkejut.

Est memancarkan aura dahsyat yang tidak sesuai dengan penampilannya.

"... Est, ayo lakukan!"

"Ya!"

Kamito dengan gemetar berdiri dan memegang tangan Est.

Luka di dadanya terbuka dan sejumlah besar darah berceceran di tanah.

Sendi lengan nya terkilir tulang rusuknya patah.

Itu adalah kondisi yang hanya dapat digambarkan sebagai penuh luka.

Tapi untuk beberapa alasan, dia tahu dia tidak akan kalah.

Hanya memiliki Est didekatnya, sepertinya telah memberi kekuatan yang mengalir dari dalam dirinya.

Kamito melantunkan kata-kata roh untuk pelepasan dan tubuh Est menyebar menjadi partikel cahaya.

Dalam Detik berikutnya, tangan Kamito memegang pedang yang bersinar putih keperakan.

Demon Slayer -- Terminus Est.

"Mari kita lakukan, Leonora Lancaster!"

Kamito berteriak saat ia mempersiapkan Est di kedua tangan.

Tidak membutuhkan trik cerdik -- hanya satu serangan sudah cukup.

"-- Jawablah pada panggilan darahku, naga iblis, mengamuklah!"

Leonora juga memposisikan «Dragon Slayer» nya lagi dan meraung.

Dan kedua pengguna pedang suci berlari pada waktu yang sama.

"Ohhhhhhhhhhh!"

"Ahhhhhhhhhhh!"

Angin dari pedang menusuk ke dalam tanah dan mengirim tanah dan pasir terbang.

"--rasakan darahku yang mendidih dengan tubuh mu!"

Pedang besar mengayun didepan matanya.

Berbalut divine power yang cukup untuk menghancurkannya bahkan jika itu hanya menggores, Leonora menyerang.

Tapi Kamito tidak gentar dan langsung berakselerasi ke arah itu.

Tidak ada yang perlu ditakutkan.

Karena Kamito sekarang memiliki pedang terkuat.

"Est, kesedihan dan keputusasaanmu, aku akan mengakhiri semua itu!"

Ketika dua pedang bertemu, «Demon Slayer» memancarkan cahaya --

Dan menghancurkan «Dragon Slayer» dalam satu serangan.

Bagian 9[edit]

"...... Tidak mungkin, Leonora-sama telah!?"

seru Yuri El Cid.

divine power yang dia rasakan datang tidak terlalu jauh juga sudah berhenti.

"melihat kearah lain di tengah-tengah pertempuran? Kami sedang benar-benar diremehkan."

sesaat sebuah celah terbuka pada dinding besi dragon knight. Claire tidak melewatkannya.

mengayunkan Lidah Api nya, dia menjatuhkan tombak itu dari tangannya.

"...Sial!"

"-- Scarlet!"

cambuk api langsung kembali ke bentuk kucing liar dan menyerang.

"Cih!"

Yuri menendang tanah dan mundur.

"Kita hentikan perburuan. Mundur!"

"Yuri-sama!?"

"Leonora-sama kalah."

"Ap...!"

Warna wajah Knights of the Dragon Emperor berubah seketika.

Tapi sebagai prajurit alami, mereka dengan cepat memahami situasi dan segera mengikuti perintah, mundur ke hutan.

"Aku tidak akan membiarkan mu! Freezing Fangs, serbu -- Freezing Arrow!"

Rinslet menembakan panah es, tapi mereka terhalang oleh pohon-pohon hutan.

"Kamito mengalahkan Leonora?"

"... Sepertinya itu yang terjadi."

Claire mengangguk sambil melihat ke arah dari perkemahan yang terbakar.

Bagian 10[edit]

"... Kenapa kau tidak mengambil «Magic Stone» ku?"

Leonora yang sedang terbaring di tanah bertanya.

Mata merah gilanya telah kembali ke hitam tenang.

...Tampaknya «Dragon Blood» sudah tenang.

"aku tidak akan mengatakan itu adalah hadiah untuk membantu ku mendapatkan kembali Est tetapi --"

Kamito juga jatuh.

Itu adalah tubuh yang lebih sensitif ketimbang yang dia bayangkan.

Wajah mulianya memasuki matanya.

"Kali ini aku akan mengampuni kamu. Dan aku ingin bersilang pedang dengan dragon knight Leonora yang asli daripada seseorang yang dipengaruhi oleh «Dragon Blood»."

"...Naif sekali, kamu."

"...Yah, sebenarnya aku bahkan tidak bisa menggerakkan jari sedikitpun."

Kamito mengatakan dengan senyum kecut dan Leonora menoleh dengan wajah merah.

"s- seperti yang aku pikir, kau berbahaya ... dalam berbagai cara."

"Apa maksutnya? berbagai cara macam apa itu?"

"k-kau cukup berisik, kau bermoral binatang!"

Leonora mengirim Kamito terbang dan berdiri.

«Dragon Blood» yang mengamuk tampaknya telah memangsa divine power nya sehingga dia berdiri gemetaran.

"Aku tidak akan kalah berikutnya, Kazehaya Kamito."

"Ya, aku juga. aku tidak punya niat untuk kalah."

Leonora tersenyum dan menghilang ke dalam api.

"...Kamito benar-benar tuan tanpa kesetiaan."

Mendengar suara cemberut dari Est dari atas kepalanya, Kamito pingsan.


-- Dan kali ini ia tidak melihat mimpi itu....




Epilog[edit]

Kamito terbangun di atas tandu di tenda.

Tampaknya Claire dan yang lainnya telah menemukan Kamito tidak sadar.

Perban membungkus luka-lukanya di sana-sini. Bagian kikuk dibungkus kemungkinan besar hasil karya Claire.

......Sepertinya ojou-sama aman.

Sama seperti ia menarik napas lega dan bangkit---

"Kamu masih tidak boleh bergerak, Kamito."

"Owaa, E, Est!"

Sepenuhnya telanjang Roh pedang dengan cepat berbaring di sampingnya.

...... Tidak, ada, tentu saja, kaos kaki setinggi lutut menutupi kakinya.

"Est ......"

Jika itu adalah Kamito yang biasa, ini akan dimana ia akan memarahinya,

Yah, aku akan memaafkannya untuk hari ini ......

Kamito memeluk Est ke dirinya sendiri.

"Fuwa ...... Ka, Kamito!?"

Bahu Est bergetar.

Karena dia selalu mempertahankan wajah dingin dan tanpa ekspresi, aksi itu menarik.

"...... Aku kesepian. Aku takkan marah hari ini jadi tinggal denganku di sini."

Dengan senyum masam, ia membawa selimut menutupi tubuh kecil Est.

"Kamito ......"

Est melebarkan matanya yang ungu dan melekat diri kepadanya.

Mulutnya tersenyum ringan dalam sukacita.

"Kamito, kamu hangat ......"

"Aku mengerti."

Sementara jantung Kamito berpacu, ia memeluk bahu bergetar Est.

Di bawah selimut, Est menceritakan berbagai hal tentang apa yang terjadi setelah dia menghilang.

Tentang momen tunggal ketika «Tubuh Sejati» dia telah terhubung dengan Kamito. Tapi segera setelah itu, «Gerbang» telah ditutup lagi sehingga dia sekarang memiliki kepribadian yang terpisah dari «Pembasmi Iblis» legendaris.

Tanpa diduga, gadis suci Areishia, yang merupakan memori hilang Est saat ini--- adalah apa maksudnya.

Ingatannya sudah terpecah-pecah, sehingga ingatannya hanya benar-benar dimulai dari saat mereka bertemu sekitar dua bulan lalu.

Kamito bingung untuk sementara waktu tapi ---

"...... Bagaimanapun, itu baik untuk hanya mengatakan bahwa Est adalah Est, kan?"

"Ya, Kamito. Pemahaman itu baik-baik saja."

...... Dan karena tampaknya bekerja, ia berhenti berpikir mendalam tentang hal itu.

Lalu ---

"Kamito, apakah kamu benar-benar tidak menyesal?"

"Tentu saja tidak. Aku tidak akan mengatakannya dua kali."

Kamito menjawab tegas pertanyaan Est.

"pedang iblis terkutuk atau apapun, Est adalah pedang-ku --- dari sekarang dan di masa depan."

"Tapi aku akan mencuri hidup Kamito itu ......"

"Hei, Est ---"

Kamito menyela.

"Est sekarang hanya memiliki sekitar sepersepuluh dari masa lalu« Pembasmi Iblis», kan?"

"Ya, Kamito."

Est mengangguk dari dalam pelukannya.

"Jadi kutukan itu hanya sepersepuluh dari aslinya. Jika hanya itu banyak, setidaknya, aku tidak akan berubah menjadi batu selama Tarian Pedang."

Kamito membelai rambut Est.

"Aku tidak bergabung dengan Tarian Pedang memiliki «keinginan» diberikan oleh raja Roh. Tapi aku telah menemukan «keinginan» yang aku ingin memenuhinya."

Itu untuk menghapus kutukan Est dan membuatnya menjadi pedang suci sejati.

"Ya, Kamito. Aku pedangmu --- selama yang kamu inginkan."

Dia mengatakan itu dengan wajah tanpa ekspresi yang sama, tetapi dengan semangat yang besar di balik itu.

Dan pada saat itu.

Pintu masuk ke tenda dibuka ---

"Apa!?" "Bagaimana tak tahu malu ......!" "Kamito-kun, betapa berani......"

Ellis, Rinslet dan Fianna dengan rahang menganga.

lalu ---

"Y, kau, ap-ap-ap, apa yang kau lakukan!"

Gogogogogogogogogo ......!

Claire mendekat dengan Lidah Api di tangannya.

"T, tunggu, Claire, ini ......"

Kamito cepat mencoba untuk membuat alasan ---

Sepenuhnya telanjang-kecuali-untuk-lutut-kaus kaki Est berdiri di depan Claire.

"Ap, apa itu ......"

Claire tersendat di depan kekuatan yang menindas nya.

"Kamito adalah tuanku."

"...... M, meskipun begitu, ini adalah masalah tentangmu tidur bersama!"

"Claire juga tidur dengan Scarlet."

"D,dia kucing jadi tidak apa-apa!"

"Aku kucing."

"Eh?"

"aku pedang Kamito. Mainan Kamito itu kucing. Kamito itu...... itu sebabnya tidak ada masalah."

Karena itu, Est menempel ke Kamito.


STnBD V05 259.jpg

"Fuaaa ...... ma, mainan ...... ap, apa yang kau katakan!"

Claire berteriak dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca.

"Kamito mengatakan ia akan menerima semua dari diriku."

"Ap, apa itu ...... Ka, Kamito adalah roh budakku!"

Fianna menepuk frustrasi punggung Claire.

"Claire, mari kita biarkan Est memiliki Kamito selama satu hari. Hanya untuk hari ini."

"Kamito-san, karena aku pikir, kamu benar-benar seperti gadis-gadis kecil!"

"Untuk meletakkan tanganmu pada gadis-gadis muda, ya, yang harus diperbaiki! Menjadi neapolitan!"

Yang mencolok Rinslet dan Ellis yang telah menarik pedangnya keduanya menatap Kamito dengan mata dingin.

"Tidak apa-apa, Kamito. Aku akan melindungimu."

"Tolong ampunii aku tarian pedang......"

--- Malam pertama «Tarian Pedang» berlalu.