Kamisu Reina:Jilid 1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Fumi Saito[edit]

Bagian 1[edit]

Aku tidak memiliki teman.


Bukan karena aku benci berbicara kepada orang lain, atau karena aku penuh ketidakpercayaan, atau karena aku terlalu malas untuk memelihara hubungan. Ini bukannya aku sengaja ingin menghindari pertemanan; secara singkat dan sederhana, aku tidak mampu melakukannya. Ibuku selalu bilang padaku itu bukanlah masalah besar, karena aku pintar dan nilaiku bagus, tetapi dari sudut pandangku mana ada bukan masalah besar. Dia tidak tahu betapa susahnya bersekolah untuk orang yang tidak menjalin pertemanan.


Seperti sekarang:bahkan meskipun ini jam istirahat dan semua orang saling mengobrol, aku duduk di sini sendirian seperti aku ada di dimensi lain. Keadaan ini bertambah parah selama waktu makan siang, ketika aku tanpa satu kata yang keluar mengunyah makananku sedangkan semua teman sekelasku, mereka menyatukan meja dan makan bersama – aku selalu merasa seperti orang yang tersesat di suatu pulau tandus yang dikelilingi lautan yang sangat luas.


Dari waktu ke waktu aku merasa kalau semua orang adalah alien yang menyamar sebagai manusia, sedang memperdayaiku, makhluk bumi yang terakhir.


Konyol. Konyol, memang, tetapi itu membuktikan betapa kesendirian yang aku rasakan saat aku berada di sekolah.


Karena tidak ada yang bisa kulakukan saat jam pelajaran, aku mulai membaca buku di waktu luang bahkan ketika aku benar-benar tidak menyukainya. Karena itu, aku menjadi lebih susah untuk mendekati dan memperlebar jarak antara aku dengan teman sekelasku. Ini adalah suatu lingkaran setan:aku membuat kesalahan untuk seseorang yang suka menyendiri, padahal aku berpikir itu sama sekali tidak benar. Aku suka berceloteh, juga! Aku ingin mengobrol tentang siapa pria terkeren di kelas kami atau siapa anggota favoritku dari boyband apalah itu namanya! Tetapi aku diabaikan. Aku hanya didekati oleh teman-temanku saat keperluan yang benar-benar penting.


Kenapa aku tidak mampu berteman? Apa yang membuatku berbeda dari orang lain? karena tidak ada yang bisa kuperbuat, aku sering memikirkan pertanyaan ini.


Ini pasti karena aku jelek, aku punya banyak jerawat, mataku kecil dan hidungku rata, sama seperti dadaku. Tetapi apakah aku terlihat seburuk itu? Aku pikir tidak. itupun keliru untuk menyalahkan penampilanku, apapun penilaiannya.


Ini karena kemampuan komunikasiku. benar, aku tidak bagus saat berbicara dengan orang lain. Tapi kenapa begitu? Karena aku selalu berhati-hati saat berbicara? Karena aku gugup saat berbicara? Tidak, bukan itu semua. Itu hanyalah lingkaran setan lain yang dimulai karena aku tidak sering berbicara kepada orang lain.


Penyebab dasarnya pasti karena….aku takut terluka. Aku takut merasa menjadi orang aneh. Aku takut merusak suasana hati dengan membuat ucapan yang tidak pantas. Aku takut pendapat-pendapat lain keluar dariku.


Sebelum aku memahami hal itu, aku sedang memandangi grup Mizuhara-san di baris kedua dekat jendela. Mizuhara-san mirip seperti pemimpin di kelas ini, dan mempunyai banyak teman. Mereka terlihat sangat senang. Mereka sangat membuat iri hati.


Tetapi biarpun berada di tengah-tengah anggota grup yang tergolong akrab. Aku yakin orang-orang itu bisa memaki teman di grup yang sama yang mereka tidak sukai. Tidak ada yang sempurna. Semua orang mempunyai sifat yang mungkin membuat kesal. Aku, untuk hal yang satu itu, aku punya banyak.


Oleh karena itu, pasti mustahil menjalin pertemanan untukku.


Tetapi itu tak apa.


Aku mungkin tidak mempunyai teman biasa, tetapi aku mempunyai sahabat.


Aku punya satu sahabat yang tak tergantikan –


Reina Kamisu.


“Kamu terlalu baik, itulah masalahmu.” itu yang Reina katakan padaku saat kami berjalan pulang ke rumah ketika aku memberitahunya kenapa aku tidak bisa berteman.


Senyuman luar biasa yang dia pancarkan ketika mengatakan itu tidak bisa menahanku mengaguminya untuk sesaat. Rambut panjangnya bagai gagak-hitam yang paling bersih dan sangat lembut hingga tidak terpikirkan untuk menemukan celah dirambutnya, sedangkan tubuhnya melekuk seperti model, tidak seperti pertumbuhanku yang belum dewasa.


Reina betul-betul cantik. Kecantikan yang tidak terjangkau akal.


“Aku baik…? Aku pikir tidak. aku hanya tidak mau disakiti”


“Bukankah itu yang membuatmu baik hati?”


“Kenapa begitu?”


“Maksud aku, ini bukannya semua orang ingin terluka, benar? Merekapun tidak ingin terluka.”


“Tapi mereka terus bersama-sama dengan yang lain.”


“Ya. maka apa yang membedakanmu dengan mereka? Biar Kuberitahu: kamu sensitif untuk menyakiti perasaan orang lain. Kamu takut disakiti, fumi, tetapi kamu juga takut menyakiti seseorang.”


Ya, aku tidak mau menyakiti orang lain secara serampangan.


“Itulah sebabnya mengapa kamu sangat baik kepada semua orang.”


“Reina…”


Aku sangat berterimakasih untuk kata-katanya.


Padahal aku tahu bahwa kenyataannya aku hanyalah seorang pengecut. Reina semata-mata hanya melapisi perkataannya dengan kata-kata yang manis sebelum mengucapkannya padaku.


Tetapi kepekaannya itu membuatku bahagia.


Aah, Reina tentu tak ada bandingannya. meskipun dia di tahun ketiga seperti aku, dia sangat berbeda.


“Kamu sangat beruntung, Reina…”


“Mm? Mengapa?”


“Maksud aku…kamu cantik dan kamu pun pintar…aku tak bisa berhenti berpikir bahwa Tuhan memperlakukan kita secara tidak adil.”


Ya, Tuhan tidak adil. Jika Dia adil, Reina dan aku tidak akan menghuni di dunia yang sama. Aku menduga Tuhan tidak berkeliling untuk menimbang segala yang Dia ciptakan, dan melewatkan kami bahkan lebih ceroboh dari yang pekerja lakukan pada produk diatas conveyor belt [1].


Semua orang tahu itu. Tetapi aku belum cukup dewasa untuk menerima bahwa aku “orang yang rendah derajatnya”.


“Itu tidak benar! Kamu imut, Fumi,” dia merespon dengan senyuman yang ramah, membaca pikiranku.


“…Aku tidak seperti itu. Itu terdengar seperti sarkasme kalau kamu yang omong, tahu tidak…?”


“Ah, itu benar-benar kejam! Tapi Fumi…ketika ada orang seperti kamu yang lebih menyukai aku, maka disitu ada pula orang yang lebih menyukai kamu!”


“Tidak akan ada.”


“Tetapi itu ada! Paling tidak satu orang, tepat di sini,” Reina berkata sambil menunjuk dirinya sendiri dan tersenyum.


“Tapi-“


“Seandainya,” dia memotongku, “Seandainya bertujuan untuk membantah, ada banyak orang yang lebih menyukaiku dibanding kamu, kenapa kamu harus peduli? Jumlah tidak berarti apapun. Atau apakah kamu mau menjadi sorotan orang banyak seperti seorang idol?”


“Bukan seperti itu.”


“Lantas tidak ada yang perlu dikhawatirkan, iya kan? Paling tidak ada satu orang di sini yang berpikir kamu tidak tergantikan. Atau apakah kamu tidak puas dengan itu?”


“Mmm! Aku tidak bisa berharap banyak!”


“…Aku mengerti.”


Reina tersenyum ramah lagi, yang mana membuatku malu dengan tingkah lakuku.


Aah..aku tetap seperti anak kecil. Bodohnya aku. Serius. Aku bertaruh kalau Reina menyangka, aku cemburu dengan kecantikannya, yang mana itu memang benar. Aku amat kotor. Sekarang dia kehilangan kepercayaan padaku, aku yakin.


“…Fumi, kamu menyalahkan dirimu sendiri, bukan?”


“Eh?”


“Oh… kamu sungguh adalah orang yang terlalu baik . Apakah kamu pikir aku telah menyinggung?”


“Tapi—“


“Tidak ada tapi, kamu menjadi sedikit kasar, tahu tidak?”


“Eh?”


“Fumi, kamu adalah teman tersayang yang aku punya. Seseorang yang penting untukku. Dengan bersikap begini, terlihat seolah-olah kamu tidak percaya padaku?”


“Ah…”


“Fumi. Aku sahabatmu, kan?”


“Tentu saja!”


Aku bisa mengatakan ini untuk memastikan.


“Kamu adalah teman yang tak tergantikan, Reina!”


Teman tersayang yang tidak akan bisa tergantikan.


Seandainya Reina tidak berada di sini, aku—


Aku sejak dahulu sudah—

Bagian 2[edit]

Hari buruk lain dimulai.


Fakta bahwa aku biasanya sendirian pada pagi hari hanya membuat semakin parah;Reina sering berangkat lebih awal ke sekolah karena latihan pagi di klub atletik. Aku pernah sekali memutuskan berangkat di waktu yang sama seperti yang dia lakukan, tetapi menunggu di ruang kelas sampai pelajaran dimulai lumayan menyedihkan, dan terutama, aku tidak ingin mengganggunya, sehingga aku memutuskan mengesampingkan hal itu.


Aku berjalan sendirian ke sekolah dan menuju loker sepatu untuk mengganti dengan sepatu indoorku.


“…”


Apa ini…? Pagi! Aku mendengar seseorang berbicara dibelakangku (sudah pasti bukan menyapaku) dan dengan cepat menutup lokerku. Setelah siswa itu pergi, aku membukanya lagi.


“Oh, eh…”


Ada sepucuk surat diatas sepatu indoorku.


Aku menggapainya, tetapi tak tahu harus berbuat apa, tanganku tetap disitu sampai siswa lain mendekat. Berpacu dengan waktu yang singkat, aku menjejalkan suratnya ke dalam tasku.


Ya ampun, ya ampun… a-apa-apaan ini…?


Aku merasa tidak nyaman. Aku tidak tau kenapa, tetapi terlalu banyak orang di sini. Aku merasa seperti orang-orang disekitarku sedang mengamatiku. Kapanpun ada lirikan mengarah kemataku (dan aku tahu itu hanya mengarah ke mereka dan tidak melihatku) aku merasa ini menusukku.


Tidak ada seorang pun akan peduli denganku, aku tahu itu, tetapi aku tidak bisa menahan perasaan bahwa semua orang terus mengamati setiap langkahku.


Tidak mampu menopang pandangan lebih lama lagi, aku kabur ke kamar mandi dan masuk ke wc, dan mengambil suratnya.


Menjejalkan surat ke dalam tas membuatnya lecek – maaf kepada orang yang menaruh ini didalam lokerku.


Aku hamparkan suratnya.



“Untuk Fumi Saito


Aku menulis surat ini untukmu karena ada hal yang ingin aku beritahu kepadamu.


Tolong tunggu di kelasmu sepulang sekolah.”


Itu isinya.


“Ah…hah…” aku membuang nafas, sadar bahwa aku menarik nafas ketika membaca.


Kira-kira tentang apa? Karena pendeknya, aku masih tahu itu, secara obyektif, ini mungkin sepucuk surat cinta. Akan tetapi, ini tertuju kepadaku. Sepucuk surat cinta untukku? Serius? Apakah itu mungkin?


“Ya, itu mungkin!” Reina berkata.


Kita sedang beristirahat dan pergi ke bordes tangga yang menuju atap. Karena atap tidak bisa dimasuki, tangga di sini terlihat tidak pernah digunakan oleh siapapun, itulah kenapa kita sering memanfaatkannya untuk berdiskusi sesuatu yang rahasia (meskipun kebanyakan aku yang punya sesuatu untuk didiskusikan).


“Bagaimana bisa kamu begitu yakin?! Maksud aku, kita sedang membicarakan tentangku di sini…!”


“Seperti yang aku bilang ke kamu tempo hari, Fumi : kamu adalah gadis yang menarik.”


Aku membuka mulutku untuk menyangkal apa yang dia katakan, tetapi aku mempertimbangkan kembali, memikirkan kembali bagaimana kita hanya bicara berputar-berputar terakhir kali.


“Jadi, Bagaimana tentang ini, Fumi?”


“Hah? Apa maksudmu?”


“Apa tanggapanmu ke surat cinta itu?”


“Ah—“


Aku sepenuhnya lupa tentang hal itu karena aku terlalu fokus dengan kenyataan bahwa aku menerima surat untuk pertama kali. Betul, aku masih harus menanggapinya.


“R-Reina, aku, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan!”


“Pertama-tama, bagaimana perasaanmu tentang cowok itu?”


“Cowok itu…?”


Aku hamparkan suratnya dan memeriksa lagi.


“Baiklah, Fumi? Bagaimana perasaanmu kepadanya? Apakah kamu saling mengenal? Atau tidak, mungkin?”


“…Tidak.”


“Hm?”


“Tidak ada namanya.”


“Coba…coba aku lihat.”


Aku memberi Reina suratnya. Dia memeriksa secarik kertas dari semua sisi, dan akhirnya menghela nafas.


“Kamu benar. Tidak ada nama.”


“…Kamu pernah menerima surat cinta sebelumnya, iya kan, Reina?”


“Ya, Aku pernah.”


“Apakah ada yang tidak ada namanya?”


“…Hm…mungkin ada satu, tetapi dalam keadaan dimana pengirimnya sudah jelas. Aku selalu tahu siapa yang mengirim surat.”


“Aku mengerti…”


Aku membaca lagi suratnya. “Tolong tunggu dikelasmu sepulang sekolah” – suatu permintaan yang tulus kepadaku.


“…Apa yang akan kamu lakukan?” Reina bertanya.


“Bukankah kamu tahu apa yang akan aku lakukan, Reina?”


“…Benar. Itulah kamu!” dia tersenyum muram.


“Jangan…jangan menunggu aku hari ini sesudah aktivitas klubmu.”


“Kenapa jangan…?”


“…” aku tetap diam, tak mampu memberi jawaban yang wajar. Aku juga benar-benar tidak tahu mengapa aku meminta. Biasanya, aku ingin dia bersamaku terus. Reina memberiku senyuman ceria,”…Hei, Fumi. Kamu sejak lama ingin pergi ke akuarium, bukan?”


“…Ya, aku suka lumba-lumba.”


“… Kalau begitu ayo kapan-kapan kita pergi kesana !”


Kenapa dia mengusulkan itu sekarang?


“…Mm! ini adalah sebuah janji!”


Aku tahu kenapa, dan itu membuatku senang.



Jam Pelajaran telah berakhir.


Aku selalu tetap di sekolah meskipun tanpa menerima sepucuk surat, karena aku menunggu aktivitas klub Reina berakhir.


Hari ini, bagaimanapun, Aku meminta Reina pulang sendiri. Aku sendirian – sendirian menunggu si pengirim surat.


Sambil memandang buku yang terbuka, aku mengira-ngira dari siapa surat tersebut. Kado-kun, cowok yang populer di kelas karena jago bermain basket? Mm, aku akan senang. Cowok nakal dari kelas kami, Ashizawa-kun? Dia sedikit menakutkan, tapi aku pikir aku akan menghargai itu. Bagaimana dengan Kogure-kun, walaupun dia agak aneh? Aku mungkin akan sedikit waspada terhadapnya, tetapi aku tetap senang. Dan Dojima-kun, yang orang-orang menghindarinya karena jorok? Aku tidak ingin kencan dengannya, tapi aku akan senang.


Ini anugerah senantiasa memikirkan hal menyenangkan.


Tetapi bagaimana aku akan merespon ketika seseorang mengajak kencan?


Sekarang…aku tidak punya rencana, karena aku tidak tahu apa yang akan diharapkan dariku. Aku sedikit takut, dan aku tidak tahu bagaimana aku harus memperlakukan pihak lain.


Aku pikir sepasang kekasih harus berciuman? Tetapi bagaimana rasanya itu? ketika kamu merasakan seperti berciuman? Bagaimana aku harus bereaksi ketika dia ingin aku untuk menciumnya? Akankah dia sakit hati ketika aku menolak? Maka aku tidak bisa menolak… aku tidak ingin dibenci, lagipula.


Benar. Penolakan bukan pilihan.


Mm, jadi itu tidak masalah siapa yang memberikan aku surat – aku harus menuruti dan menunggu di kelasku sepulang sekolah.


Diluar sudah gelap. Sekolah akan segera ditutup.


Mungkin, tidak ada seorang pun yang akan datang. Mungkin, ini hanya lelucon. Bila seperti itu – aku merasa agak lebih tenang.


Aku menyimpan buku yang hampir tidak aku baca dan hanya memandanginya saja, dan bersiap untuk pergi, tatkala tiba-tiba, grup Mizuhara masuk ke kelas. Mereka semua ikut klub tenis, sehingga aku mulanya menyangka mereka datang untuk menaruh raket di sini.


Akan tetapi, tatapan mereka kepadaku menyingkap lebih dari itu.


Mizuhara-san menatap kepadaku. “Hah, jadi kamu menunggu.”


“Er…”


Gadis sekelilingnya mulai terkikih-kikih saat mereka melihatku gugup.


“Apa kami membuat harapanmu pupus?” Mizuhara-san bertanya dengan menyeringai.


“Eh, um…?”


Apa yang harus aku jawab…? Apa jawaban yang mereka harapkan dariku?


“Mungkin.. aku mengharapkan…”aku menjawab secara jujur.


Tiba-tiba, salah satu dari mereka tertawa lepas, tidak mampu menahan lebih lama lagi.


“Oh ayolah, itu bodoh! Tidak ada laki-laki tertarik dengan orang berwajah masam sepertimu!”


“Kaho! Jangan kejam kepadanya!”


“Tapi lihat…”


“Baiklah, dia memang cukup mudah percaya, tetapi itu membuat jelas betapa seriusnya dia, ya kan?”


“Yeah, dia ternyata tidak terbiasa untuk surat sejenis ini.”


Tanpa memberi aku kesempatan untuk menyela, Takatsuki-san dan Omi-san tetap berbincang betapa bodoh dan anehnya aku.


Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.


Berharap. Benar, aku punya harapan yang lemah bahwa seseorang mungkin menyukaiku. Betapa bodohnya aku. Itu tidak masuk akal. Sama sekali tidak mungkin.


Sekarang. Ada suatu penghalang yang jelas antara ketenteraman dunia dan diriku. Transparan, seperti gelas kaca. Kalaupun mereka bisa melihatku, tidak ada seorang pun berusaha membaca apa perasaan yang aku pegang dibalik wajahku. Kalaupun mereka bisa mendengarku, tidak ada seorang pun berusaha untuk memahami arti dari kata-kataku.


Ini hampir seperti mataku mempersepsikan sesuatu seluruhnya berbeda dari semua orang. Kapan saja aku menjangkau tanganku, aku hanya bisa menggenggam udara.


Sendirian. Aku sendirian.


Seseorang sepertiku? Sepertinya begitu. Pada akhirnya tidak ada yang tertarik padaku, kecuali sebagai orang untuk diusik. Sebagai bahan tertawaan.


“…Uh…”


Ah…aku tidak ingin menangis…tetapi air mata mengalir. Ini akan mengganggu kesenangan mereka. Aku minta maaf, tetapi aku menangis, aku benar-benar minta maaf.


Seperti yang diduga, mereka mulai membuat wajah yang risau.


Terdesak untuk tidak menunjukkan mereka air mataku, aku menutup mataku.


“Ah…kita membuatnya menangis. Maaf, Saito-san,” Mizuhara-san berkata dengan lembut. “Tapi kamu tahu? Kami tidak bermaksud menyakitimu. Bagaimana mengatakannya…kamu selalu menolak berbicara kepada orang-orang bukan?


Bukan, aku sederhananya tidak mampu berbicara kepada orang-orang!


“Aku pikir itu bukan hal yang bagus, jadi aku memikirkan untuk melakukan ini, sejenis perlakuan mengguncang hati, mungkin membantumu. Aku tidak bermaksud melukai.”


Aku mau tahu seberapa besar kebenaran perkataannya? Mungkin itu alasannya, tapi bagaimana sepucuk surat cinta palsu mengira dapat membuatku berbicara secara normal? Apakah tidak ada cara lain? Bukankah itu hanya dalih untuk mengusikku?


“Tidak bermaksud menyinggung! Serius!...akankah kamu memaafkan aku?”


Biarpun begitu, ada sesuatu yang tersesak dalam suaranya yang membuatku menggangguk selagi aku masih menutup mataku.


“Aah, Terima kasih banyak…aku benar-benar minta maaf. Okay, sampai jumpa.” Sekali aku memaafkan mereka, mereka dengan cepat pergi.


…tetapi Mizuhara-san tidak kejam. Dia mungkin sepenuhnya salah penilaian, tetapi dia peduli terhadapku. Dia memperhatikanku.


Ya, dia tidak kejam.dia…tidak kejam.


“Apa-apaan ini!”


Perkataan hatiku menjadi buyar. Dikejutkan oleh suara mendadak, aku mendongak.


“Ah…kimura-kun…”


Oh tidak, dia melihat wajahku yang dibasahi air mata. Aku pasti terlihat buruk sekarang…


“Maaf! Aku mendengar diam-diam percakapan kalian,” dia berkata dengan wajah yang khawatir.


“Mmm! Aku baik-baik saja…”kata ini keluar dari bibirku karena aku ingin meyakinkan dia kembali.


“…Mereka mengganggumu dengan surat cinta palsu, benar? Itu kejam. Dia…Mizuhara memang selalu seperti itu. Kamu bisa bilang hobi dia adalah memainkan perasaan orang lain!” Kimura-kun nyerocos, kelihatan sungguh-sungguh marah padanya.


Apakah dia marah demi aku? Benar demi aku? kalau iya, mengapa?


Ok, apa yang kira-kira harus kulakukan? Apa yang kira-kira harus kulakukan untuk menenangkan dia?


“Tak apa, Kimura-kun…aku tau ini hanya tipuan.”


“Kamu tahu ini tipuan?” dia bertanya sambil menaikkan alis.


“Aku tahu itu…akan berakhir seperti ini.”


“…Tapi kalau begitu kenapa tidak kamu abaikan suratnya?”


“---“


Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.


“Baiklah, terserah saja…bagaimanapun, kalau hal seperti ini terjadi lagi, biarkan aku mengetahuinya!”


“Eh?!”


“A-Apa? kamu tidak percaya padaku, atau apa?”


Aku menggelengkan kepala dengan kencang. wajar aku terkejut – lagipula, dia tidak akan mendapat keuntungan apapun dari menolongku.


“Kamu gadis yang cukup aneh…okey, cepat pulang!” dia berkata dengan senyuman sambil menaruh tangan diatas kepalaku, setelah itu pergi. Tak mampu mengetahui maksudnya, aku hanya memandanginya dengan bingung.


Ketika berjalan pulang ke rumah, aku mulai merenungkan alasan kenapa aku tidak bisa mengabaikan suratnya.


Aku menduga suratnya palsu – karena tidak ada nama, karena kertas yang digunakan bukan khas anak laki-laki, dan terutama, karena aku perhatikan penulis dengan sengaja mencoba memalsukan tulisan tangannya.


Biarpun begitu, andaikata, yang mana tidak mungkin, surat cinta itu asli? kalau seperti itu, mengabaikan akan menyakiti orang itu. Aku akan mengkhianati orang itu dan ketulusan permintaannya Untuk memintaku menunggu. Aku tidak bisa melakukan itu. Benar-benar tidak bisa.


Di samping itu , aku juga tidak bisa mengabaikan apapun yang terjadi: orang yang ingin membuat lelucon pada bebanku berharap untukku berperan sebagai orang bodoh. Bila aku mengabaikan permintaan tersebut, aku akan mengkhianati ekspektasi mereka. Aku akan merusak kesenangan mereka. Aku akan jatuh dalam ketidaksukaan mereka.


Itulah mengapa aku tidak mampu mengabaikan surat tersebut.


Apakah aku membuat pilihan yang tepat? Tidak, aku yakin tidak. kalau iya –


Ini tidak akan sangat menyakitkan.


Reina.


Ini menyakitkan, Reina!


Aku tidak ingin berada di sini, ini menyakitkan!


Untuk pertama kalinya di waktu yang lama, aku menghadapi pemikiran itu lagi. Pemikiran yang selalu aku pegang sebelum bertemu Reina.


Benar, Seandainya Reina tidak berada di sini, aku—


Aku sejak dahulu sudah— mati.


Aku memikirkan tentang kematian tak terhitung berapa kali.


Aku yakin tidak ada hal seperti waktu bahagia.


Orang-orang dewasa berbohong saat mereka berbicara dengan menduga masa muda bahagia. Jika mereka jujur, maka kenangan nostalgia pasti akan membungkus ingatan mereka, karena mereka tidak bisa menahan ketiadaan harapan dalam realitas sebaliknya. Berpikir ulang pada hari itu, semuanya dimanfaatkan untuk lebih baik, agar bertahan menghadapi masa kini.


ini menuntun pada kesimpulanku:


Kehidupan sia-sia dan akan selalu menjadi sia-sia. Kita menghuni kehidupan gelap gulita kita sebab kita bergantung pada pecahan masa lalu gemilang yang muncul sekarang dan nanti, lalu kita memikirkan kembali pada pecahan masa lalu itu dengan senyuman nostalgia di wajah kita. Seperti orang tolol.


Akan tetapi, aku tidak mempunyai suatu masa lalu untuk berlindung. Aku tidak punya masa lalu yang romantis di pikiranku saat aku kehilangan harapan dalam realitas. Aku tidak punya pilihan lain selain untuk menerima bahwa hidup itu dipenuhi dengan keputusasaan dari bawah sampai atas. Oleh karena itu, satu-satunya tempat untuk aku melarikan diri adalah kematian.


Jangan berpikir bunuh diri, orang-orang berbicara seperti itu. Tapi apakah pernyataan tersebut didukung oleh pemikiran yang aktual? Kamu tidak akan membunuh, tentu saja. Kamu tidak akan mencuri, tentu saja. Kamu tidak akan melakukan bunuh diri, tentu saja. Jawabannya sangat jelas bahwa tidak ada tempat untuk keraguan. Pernyataan tersebut secara sempurna pasti benar.


Kamu harus berjalan di suatu jalan terjal tanpa akhir yang tidak berarti sedikitpun, dan kamu secara alamiah tidak diijinkan untuk berhenti. Suatu sistem yang sia-sia.


Apa yang kamu ingin aku lakukan? Apa yang kira-kira aku lakukan?


Seseorang selamatkan aku! Berikan aku harapan! Tidak, aku tidak ingin begitu serakah. Tolong seseorang, perhatikan aku bahwa aku berjalan di jalan ini dan katakanlah beberapa kata lembut untukku…


“Fumi.”


Terkejut dengan suara yang memanggilku di waktu yang tepat, aku mengangkat kepalaku.


“Reina..”


Setelah berbicara aku menyadari bahwa aku sedang menangis.


“Kamu menyuruh aku untuk pulang ke rumah, tetapi kamu tidak melarangku untuk menemuimu, kan?” dia tersenyum lembut kepadaku.


“…Aku tidak sanggup.”


Sungguhpun dia paham maksudku, dia dengan lembut memelukku.


“…Ini menyakitkan, bukan?”


Aku tidak sanggup…aku tidak sanggup lagi!


Aku akan bergantung kepadamu, Reina! Aku akan bersandar kepadamu! Aku mempercayakan hidupku kepadamu!


“Baiklah,” dia berbisik kepadaku. “Aku tidak akan mengkhianati kamu.”


“–!”


Aku dengan jelas mengerti sekarang kenapa aku menyuruh Reina pulang ke rumah lebih awal.


Ini karena aku tahu bahwa dia akan menenangkanku.


Karena aku tahu bahwa aku akan bergantung kepadanya.


Apa konsekuensinya?


Aku telah lama kehilangan keseimbangan di sini, dan membutuhkan sesuatu untuk berlindung.


Tak perlu dikatakan, Reina kamisu telah mengambil peran sebagai pelindungku, sebagai tempat perlindunganku.


Tapi sekarang, karena pelukannya, aku benar-benar telah menjadi orang tanggungan untuknya. Mungkin sudah begitu keadaannya untuk waktu yang lama, tapi apapun yang terjadi, aku tidak lagi mampu hidup tanpa Reina.


untuk mencegah hal itu, aku menyuruhnya pulang.


“…Reina…Aku…”


“Tak apa. Jangan Khawatir. Aku akan memikul bebanmu.”


Kata-katanya menembusku.


Aku merasa seluruh tubuhku mulai luluh ke tubuh Reina. Perlahan tapi pasti, aku memudar ke dalam dirinya.


Semacam kebahagiaan.


Aku menyadari bahwa betapa berartinya diterima oleh seseorang.


“Uh…gh...,” aku merintih selagi air mataku menekan. Jatuh di Reina, menghasilkan bekas kecil. Aku senantiasa menyangka air mataku hanya akan jatuh ke tanah, tapi aku salah


– air mataku menjangkau hati Reina.


Aku bagian dari Reina, dan – Reina adalah segalanya untukku.

Bagian 3[edit]

Aku berubah. Cairan “Reina” terus menerus tertuang ke dalam wadah “Aku”, sementara cairan “Aku” tumpah dari wadah.


Wadahnya masih Aku, tetapi isinya adalah Reina;


Reina menjadi inti sari dariku.


Aku tetap tidak berbicara apapun di kelas (meskipun Kimura-kun, yang duduk dibelakangku, berbicara kepadaku dari waktu ke waktu), tapi aku tidak merasa tertekan lagi.


Aku tak sendirian.


Keyakinan itu yang memberiku kekuatan. Pemikiran yang aku pegang yang enyah entah dimana.


Aku tidak peduli apapun selama Reina bersamaku.


Itulah apa yang aku pikirkan. Itulah apa yang aku yakini.


Tapi bukan dalam impian liarku yang seperti kukira hal itu bisa bertambah buruk.


“Aku tidak bisa menemukan dompetku!” Mizuhara-san teriak dengan gelisah.


Semua orang yang hadir di homeroom setelah pelajaran, termasuk guru kelas kami Kosugi-sensei, memfokuskan pandangan ke mizuhara-san selagi dia terdesak mencari dompetnya. Anggota grupnya sedang mengamatinya dengan khawatir. Untuk beberapa saat, ruang kelas menjadi sunyi, sampai seseorang memeriksa kalau dompetnya sendiri masih ada, dan yang lain pun meniru. Aku tidak membawa dompetku ke sekolah, tapi aku meraih ke dalam kantongku supaya tak janggal sendiri.


Seiring waktu semua orang menyatakan bahwa uang mereka aman, Mizuhara-san masih duduk di tempat duduknya, terlihat bersusah payah. Kosugi-sensei berjalan menuju dia.


“Sudah kamu temukan?”


“Belum…”


“Apa kamu yakin tadi disana?”


“Tentu saja”


“Baiklah,” guru tersebut berkata dengan kernyitan dahi dan kembali ke meja guru. “Oke, seperti yang kalian dengar, Mizuhara telah kehilangan dompetnya. Tentu, ini mungkin ada sedikit semacam kesalahpahaman kepadanya, tetapi-“ dia mulai menjelaskan dengan cara yang tidak jelas bahwa ada suatu peluang seorang siswa kelas ini mungkin mencuri dompet Mizuhara-san.


Kemungkinan terjadi pencurian adalah tinggi, menganggap barang apa yang telah hilang. Belum lama ini, ada yang meributkan tentang kecurian pemutar mp3.


Mizuhara-san, yang memastikan bahwa ini pencurian, terlihat marah, sehingga para anggota grupnya, ikut terpengaruh olehnya.


“Apakah seseorang tahu dimana dompet dia mungkin berada?” guru tersebut bertanya.


Semua orang hanya saling bertukar pandangan, guru tersebut tidak mengharapkan jawaban apapun, entah- si pelaku atau orang yang tahu siapa yang melakukan perbuatan ini tidak akan berbicara sekarang.


Atau begitu yang aku pikirkan. Tapi ternyata aku salah.


Kimura-kun dengan perlahan mengangkat tangannya.


“Kimura, kamu tahu sesuatu?”


“Tidak, tidak juga… tapi ada yang menggangguku.”


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak berpikir itu hal yang lumrah untuk sekalian mengambil dompet ketika mencuri uang. Biasanya, kamu tinggal mengeluarkan isinya saja kan? Tepatnya, itu bagaimana pencurian di kelas 5 terjadi.”


“…Mungkin.”


“Disamping itu, lebih masuk akal kalau mencuri uang semua siswa dikelas daripada hanya punya Mizuhara-san. Namun, Cuma dia korbannya.”


“Apa yang ingin kamu katakan?”


“Yang ingin aku katakan bahwa ini entah suatu kesalahpahaman atau lelucon yang berlebihan terhadap Mizuhara-san.”


“Ini pasti bukan suatu kesalahpahaman!” Mizuhara-san tidak setuju. “Seseorang menjahiliku!”


“Jail, hmm? Berapa uang yang ada di dompetmu, kalau boleh tahu?”


“…1000 yen dan recehan, terus kenapa?” dia menjawab dengan masam.


“Kalau begitu ini bisa jadi bukan karena uang. Ini terlihat tujuan si pelaku adalah untuk mengganggu Mizuhara-san; dan tidakkah itu mempersempit daftar pelaku ke jumlah yang dapat dikendalikan?” Kimura-kun berkata, menyebabkan semua orang saling bertukar pandangan lagi.


Itu berarti bahwa si pelaku mempunyai dendam kepada Mizuhara-san, atau setidaknya tidak berpikir baik tentang dia?


Sampai pada pemikiran ini –


–Aku memperhatikan tatapan mata mulai memfokuskan pandangan kepadaku.


“Hah…?”


Beberapa murid yang tidak memandangiku memperhatikan bahwa teman mereka yang lain sedang memfokuskan pandangannya kepadaku, dan dengan demikian mengikuti. Saat mengetahuinya, siswa yang lain menatap kepadaku. Semua mata tertuju padaku.


Kenapa? Kenapa mereka melihat kepadaku?


Ini membuat tampak seperti…seperti –


Guru kami, juga, memperhatikan bahwa aku menjadi pusat perhatian, dan melihat padaku, cuman untuk mengalihkan pandangannya ke Mizuhara-san. Aku mengikuti pandangannya.


Entah kenapa, Mizuhara-san membuat muka kesadaran.


“Saito,” guru berkata padaku dengan suara keras, membuatku ketakutan.


Hanya karena dia memanggil namaku?...Ya, tapi aku..tapi aku tidak bodoh seakan tidak mengerti situasinya. Untukku barusan adalah sebuah – vonis hukuman mati.


“Apa kamu tahu sesuatu?”


“Eh? Ah..er…”


Aku tidak tahu apapun! Aku tidak bersalah! Tapi…aku gagal untuk mengatakannya dengan wajar.


“Ada apa? aku menanyakanmu sebuah pertanyaan, Saito.”


Tapi dia mencurigaiku.


“Uh…”


Semua orang melihat kearahku, mencurigaiku – itu lebih dari cukup untuk membuatku kehilangan kata-kata, tapi mereka tidak memahami itu.


Yang mereka pahami adalah seperti ini: aku sedang panik karena aku ketahuan, karena aku si pelaku.


Aku sadar betul hal itu, dan aku tahu bahwa aku harus benar-benar menjawab pertanyaannya dengan percaya diri, tapi aku mendapati diriku tak mampu melakukannya.


“Aku…Aku..”


Seandainya saja ada seseorang di sini yang mengerti kepribadianku – jika saja Reina di sini – dia bisa menjelaskan hal ini kepada mereka, tetapi dia tidak di sini.


Dia tidak di sini.


Aku tidak punya satu pendukung pun di sini.


“Aku tidak…aku tidak tahu apa-“


“Kosugi-sensei,” Mizuhara-san berkata, memotong kata-kata putus asa yang singkat dariku. Aku melihatnya dalam keheranan.


Tidak ada kemarahan lagi di wajahnya.


“Ada apa, Mizuhara?”


“Aku telah melakukan suatu hal kepada Saito-san yang mungkin membuatnya memendam dendam kepadaku. Aku menjahilinya. memikirkan itu sekarang… suatu keburukan dariku,” dia berkata dengan menangis.”Tapi aku…aku melakukan hal itu karena aku pikir bisa membantunya untuk lebih membuka dirinya sendiri!”


Terkejut dengan apa yang dia katakan, aku menatapnya. Ekspresi menyedihkan di wajahnya asli. Mizuhara-san jujur.


Biarpun begitu, belum jelas untukku apakah dia benar-benar mencoba untuk membuka hatiku dengan surat palsu itu, atau hanya ingin memuji dirinya sendiri pada tujuan mulianya karena situasi yang dia dapatkan pada dirinya.


Apapun jawabannya, ada satu hal yang menjadi sebuah fakta.


Kata-katanya memojokkan posisiku.


“…”


Semua mata tertuju padaku.


Tatapan, tatapan, tatapan, tatapan, tatapan.


Seperti cahaya yang diproyeksikan lewat suatu pengulangan, tatapan penuh rasa mencela mereka menembus melaluiku.


Tidak ada kecurigaan dari mereka lagi.


Ini sudah diputuskan.


Ini sudah diputuskan bahwa akulah si pelaku.


“Bukan, Aku buka-“


“Itu memang KAMU!” Takatsuki-san memotong. “Kamu sangat kesal, tapi kamu tidak bisa membela dirimu sendiri karena kamu terlalu takut! Makanya kamu terpaksa menggunakan semacam cara kotor – untuk melepas rasa frustasimu!”


“Jangan bicara begitu, Kaho. Aku…aku juga salah…”


Juga.


Perkataan Mizuhara-san yang menangis tersedu-sedu punya maksud tersembunyi tapi dengan jelas menyiratkan bahwa aku si pelaku dan dia adalah si korban.


Hasilnya, kata-katanya menuang bensin kedalam api. Dengan kepala berapi-api, Takatsuki-san berjalan ke arahku. Takut dipukul, aku melindungi kepalaku dan mundur.


Akan tetapi, dia tidak bermaksud memukulku, tujuannya adalah tasku. Dia mengambilnya, membukanya, membaliknya dan menumpahkan isinya keatas mejaku.


Dan entah kenapa, ada dompet yang tidak dikenali diantara barang-barang yang jatuh diatas mejaku. Akan tetapi, seseorang telah menyobek dompetnya dengan sebuah cutter.


“…Saito, ke ruang guru nanti.”


Saat guru berkata seperti itu, tangisan tersedu-sedu yang tidak terkontrol menggema di kelas.


Tak perlu disebut, itu adalah Mizuhara-san.


Aku melihat sekeliling.


Tatapan. Tatapan. Tatapan. Tatapan. Tatapan. Tatapan.


Seperti pemecah kebekuan, tatapan penuh rasa mencela mereka menembus melaluiku.


Reina tidak di sini.


Dengan kata lain – tidak ada seorang pun di sini.


Aku tidak punya satu pendukung pun di sini.


Pada hari selanjutnya, mejaku menghilang.


Hingga sekarang, aku cuma udara untuk semua orang, tapi mulai saat ini, mereka bahkan tidak mengakui aku sebagai udara lagi.


Aku bahkan tidak dizinkan ada.


Sebuah meja hilang di kelas seperti sebuah pecahan hilang dalam suatu puzzle; tapi dalam kasus ini mejaku yang hilang. Hanya aku yang merasa bahwa pecahannya menghilang –


Untuk orang lain, puzzlenya sudah lengkap.


Aku pergi ke beranda dan memindahkan meja dan kursi kembali ke tempat asalnya. Tempat asal? Sungguh? Tidak, mungkin tempat asal dimana aku duduk seharusnya bukan didalam kelas, tapi di beranda.


Tapi ketika kemungkinan itu benar…aku tidak mau memedulikannya.


Putih, semuanya berubah putih.


Semuanya sekeliling Reina dan aku berubah putih.


Seperti sebuah novel kurang jarak, aku tak mampu untuk merasakan akan putihnya dunia di sini. Mereka menghilang. Segalanya disekelilingku lepas dari jangkauan.


Atau mungkin –


Aku yang kekurangan warna.


Istirahat makan siang berakhir tanpa pembicaraanku kepada siapapun.


Aku benar-benar tidak berbicara satu kata pun, karena aku tidak bisa bertemu Reina juga. Tidak ada satu kata pun keluar dariku atau untukku.


Orang-orang berhenti berbicara kepadaku. Bukan, itu bukan pengabaran, tapi paling tidak sebelumnya, tidak ada niat jahat didalamnya.


Aku bahkan tidak diizinkan untuk percakapan singkat. bahkan kimura-kun tidak mampu mengatasi medan magnet disekitarku yang muncul di kelas.


“…”


Aku sadar hal itu


Aku sadar hal itu, namun ini terlihat jelas.


Tidak seorang pun peduli jika aku menghilang.


Dunia tidak akan menghilang ketika aku menghilang.


Langit yang biru akan seutuhnya mengabaikanku dan bahkan tidak membuatnya turun hujan. Tidak seorang pun peduli apapun yang terjadi padaku. Aku benar-benar terpisah dari ketenteraman dunia.


Sekali lagi, suatu pemikiran akrab menyerangku.


–Aku… aku tidak bisa menahannya lagi, Reina!


Mengapa? Apa yang sudah kuperbuat? Aku tidak ingin dibenci. Itu saja…aku hanya menutup diriku kedalam kotak kecilku karena aku takut disakiti, tapi kenapa malah mereka menusuknya dengan tombak?


Ini menyakitkan, ini menyakitkan, ini menyakitkan!


Selamatkan aku Reina, selamatkan aku Reina, selamat aku Reina, selamatkan aku Reina.


“Mereka semua benar-benar kejam.”


“-Huh?”


Reina berdiri dihadapan mataku.


“Huh? Ada apa, Fumi?”


“Ah,mmm…tidak ada apa-apa.”


Pelajaran telah berakhir; aku menangkap Reina ketika dia hendak pergi ke klubnya dan berkonsultasi dengannya di tempat biasa kami di tangga menuju atap.


Ya, itu terdengar sangat wajar.


Kenapa kemudian hal itu terasa fatal? tidak tahu jawabannya.


“Kenapa mereka berpikir kamu si pelaku tanpa bukti yang memberatkan? Tidak mungkin kamu akan melakukan hal itu.”


“…Yah, mereka tidak tahu kepribadianku. Disamping itu, dompet Mizuhara-san ada didalam tasku, sehingga wajar bahwa mereka akan berpikir aku yang melakukannya.”


“Ya, tapi Fumi...kenapa dompet itu ada didalam tasmu?”


“Karena-“


Aku benar-benar tidak ingin memikirkan tentang hal itu…


“…Alasan pertama yang muncul dibenakku mungkin karena seseorang mencoba menjebakmu.”


“…Yeah, kemungkinan besar.” Kecuali jika aku mempunyai kepribadian ganda.”…Seseorang yang membenciku?”


“Aku…aku pikir tidak begitu. Kamu bukan salah satu orang yang membuat banyak musuh…aku pikir itu seseorang yang berpikir secara sederhana bahwa mudah untuk mengambinghitamkanmu.”


Mungkin.


Tapi bagaimanapun, seseorang yang cukup membenciku tak masalah dengan mengambinghitamkanku.


“Itu kejam! Kita harus menemukan dan memberi pelaku pelajaran!”


“Tidak…tidak usah!”


“Kenapa? Bukankah kamu menderita dengan situasi saat ini?”


“Iya. Iya, tapi…”


“Tapi?”


“Masalahnya bukan hal baru. Itu sekedar timbul di permukaan sekarang…”


“Itu bukan…maksudku, kamu bukan yang paling tidak populer…”


“Kamu pikir begitu? Aku cukup yakin ini hanya masalah waktu saja. Sebagai contoh, jika posisi Mizuhara-san dan posisiku dibalik, aku kemungkinan besar juga akan berakhir dengan akhir yang singkat dari orang yang membosankan.”


“Tidak, kamu-“


Reina kehilangan kata-kata. Ketika muncul untuk memutuskan siapa yang bersalah, ini bukan masalah apa yang telah dilakukan, tetapi siapa yang melakukan. Antara guru dan siswa, siswa yang akan menjadi pihak yang bersalah; antara seorang siswa terhormat dan seorang siswa nakal, seorang siswa yang nakal yang akan menjadi pihak yang bersalah;antara seseorang yang cantik dan seseorang yang jelek, seseorang yang jelek akan menjadi pihak yang bersalah.


Dan tentu saja, antara Mizuhara-san dan aku, aku yang akan menjadi pihak yang bersalah.


Dengan kata lain, hasilnya sudah diputuskan selama ini.


Reina pintar, dia menyadari hal itu.


“…Itu tidak benar!”


Reina tidak yakin kata-katanya sendiri, dan terlihat di wajahnya, dia menegur dirinya sendiri karena ragu-ragu.


…namun tidak perlu menegur dirinya sendiri, sebab itulah faktanya.


“Reina.”


“Hm?”


“Kamu tetap disampingku kan?”


“Ya!”


Bagus.


Aku punya pendukung. Aku punya teman yang tak tergantikan. Aku punya Reina.


Maka aku mungkin masih berada di sini.


“Ah-“ Reina tiba-tiba berbicara, sehingga aku mengikuti pandangannya.


“Um…”


Kimura-kun berdiri disana, nampaknya merasa tidak-pantas-di sini.


“…Kimura-kun? Ada masalah apa?”


“Ah, ya…bisakah kamu meluangkan waktu sebentar?” dia bertanya ogah-ogahan.


“Y-Yeah…ada apa?”


“Langsung saja ke poinnya, Ashi-chan memberitahuku untuk memanggilmu, karena aku kebetulan sudah tahu bahwa kamu kadang kala di sini.”


“Ashi-chan?”


“Aku bicara tentang Ashizawa-kun! Toshiki Ashizawa.”


Si perangai buruk Ashizawa-kun…? Apa yang dia inginkan dariku?


Apapun itu, itu tidak bagus untukku. Ekspresi Kimura-kun membuatnya jelas.


“Err…apakah dia…marah?”


“…”


Dia hanya menatapku dengan seksama, dan pada akhirnya memalingkan tatapannya.


“…Dia marah kan?”


“Saito-san. Mungkin lebih baik bila kamu tidak pergi menemuinya.” Dia bergumam dengan mata berpaling.


…kelihatannya ini lebih serius dari yang aku pikir. Tapi jika aku tidak pergi, keengganan Ashizawa-kun terhadapku akan berkembang.


Aku-aku tidak menginginkan itu. Aku tidak ingin dihindari terlebih lagi karena suatu kesalahpahaman.


“…Aku akan pergi.”


“Okay…” dia berkata olah-olah ia akan mendapat pemukulan dari Ashizawa-kun.


“Fumi,” Reina berbicara kepadaku dengan nada khawatir.


“Aku akan baik-baik saja,” aku tersenyum dan melambaikan selamat tinggal padanya.


Dibawa ke kelas kami (Kimura-kun segera pergi ke klubnya), Ashizawa-kun memojokkanku, dan tanpa diberi waktu untuk kebingungan, aku dikepung oleh teman-temannya, Takatsuki-san dan anggota grup lain, ketika beberapa dari teman sekelasku menyaksikan dari jarak yang aman. Mizuhara-san di sini juga, tapi menyaksikan dari kejauhan dengan ekspresi cemas.


“Okay. Apakah kamu tahu apa ini?” Ashizawa-kun berkata dengan nada menindas sambil memegang sesuatu dihadapan wajahku. Susah untuk melihat dari jarak dekat, tapi aku bisa mengenali bahwa itu dompet Mizuhara-san.


“—“


Aku mencoba menjawab, tapi kata-kata menempel di tenggorokanku. Semua orang menyaksikanku secara seksama dengan nampak sekali kebencian;aku merasa bahwa aku dilarang untuk berbicara. Aku takut.


Tangan kanannya, yang tepat disamping kepalaku, mungkin akan kelepasan seketika. Dia pasti ingin. Dia marah. Dan sasaran sempurna untuk melampiaskan kemarahannya tepat di depan matanya.


Aku takut! Kenapa mereka melihat kepadaku seperti itu? Aku tidak bisa berkata apapun! Aku dilarang untuk berbicara!


“Hey! Aku bertanya padamu apa ini!” dia berteriak. Tangan kanannya berkedut.


“Ini sebuah…dompet…”


“Dompet siapa?”


“Mizuhara-san…”


“Benar. Ini dompet Yuu.”


Yuu? memikirkan hal itu, itu nama depan Mizuhara-san.


“Ini dompet yang aku berikan untuk hari ulang tahunnya. Ini dompet yang kamu potong dengan sebuah cutter sialan!” dia berkata, air liurnya terbang ke wajahku.


Kemarahan yang membuatnya kehilangan lebih dari setengah akal sehatnya. Seandainya aku seorang pria, dia sudah memukulku beberapa waktu lalu.


“Kamu tahu bahwa Yuu berpacaran dengan Toshiki, bukan?”


Takatsuki-san berkata dengan wajah menakutkan.”Dan kamu juga tahu bahwa dompet ini hadiah dari dia, ya kan?”


Aku tidak. Aku tidak tahu bahwa mereka pasangan. Rumor tersebut tidak mencapai padaku sama sekali.


“Itulah mengapa kamu mencuri dompet tersebut ketika kamu kesal, bukan? Kamu tidak bisa menyembunyikan hal itu!”


Tidak, aku tidak melakukan apapun!


Tapi aku tidak bisa mengatakan itu. Meski bila aku mengatakan dan menjelaskan diriku, mereka tidak akan mempercayaiku.


“Kamu mengerti itu? Ini bukan sesuatu yang kamu bisa tebus dengan uang sialan!”


Tangan kanannya bergerak. Aku secara otomatis menutup mataku. Biarpun begitu, dia entah bagaimana bisa mengontrol dirinya sendiri dan memukul tembok dibelakangku.


Pikiranku kosong seperti lukisan putih. Aku sekujur tubuh gemetaran.


Apa yang harus aku lakukan? Aku takut! Tolong, jangan sakiti aku. Aku tidak melakukan apapun!


“Selamatkan aku…?”


Aku bergumam akhirnya, terpojok dan terintimidasi.


“Selamatkan aku…?”


Awalnya, yang lain tampaknya berpikir bahwa aku memohon kepada mereka, tapi mereka dengan cepat menyadari itu bukan keadaannya dan terkejut.


“Selamatkan aku…”


Aku meminta pertolongan. Tentu, hanya ada satu orang yang akan aku memintakan pertolongan.


“Selamat aku…Reina.”


Aku tidak ingin membuat Reina terlibat, maka aku mencoba menyelesaikan masalah tanpa kedatangannya padaku.


Tapi aku gagal.


Aku membayangkan bagaimana rambut panjangnya bergoyang selagi Reina muncul dan dengan cepat membebaskanku dari cakar mereka. Aku merasakan bahwa gambaran ini akan menjadi kenyataan. Dan kemudian dia akan tersenyum padaku dengan wajah begitu cantiknya,


“Semuanya baik-baik saja, Fumi.”


-Akan tetapi, Reina tidak muncul.


Ilusi manis itu membawaku dari tanah menuju awan, menuju ke puncak. Tapi pada akhirnya, aku terus-menerus merangkak di tanah dalam kenyataan. Aku mengalutkan puncak lagi.


“Uh…uh…”


Tak mampu menahannya, aku mulai menangis.


Dikacaukan oleh air mataku, tanda-tanda kekerasan menghilang, meskipun Ashizawa-kun masih tampak marah.


“Apa?! apakah kamu pikir kita akan memaafkanmu kalau kamu menangis?!” Takatsuki-san berteriak saat ia semakin dekat denganku. “Selain itu, tidak ada orang yang akan “menyelamatkan’ seseorang sepertimu!”


“Tapi ada…”


“Siapa? Ibumu? Seorang guru? Mereka akan menolongmu karena itu memang tugas mereka!”


“Ada!”


“Dan siapa itu?! Tuan yang baik, Kamu-“


“Reina! Reina Kamisu ada untukku!” aku berteriak. Dengan suara yang mungkin terkuat dalam seumur hidupku.


Takatsuki-san – tidak, semua orang yang hadir – melebarkan mata mereka dalam menanggapi teriakan bertenagaku. Aku terkejut oleh diriku sendiri, juga, tapi aku tidak menyesalinya.


Karena itu satu hal yang aku tidak akan izinkan siapa pun untuk berselisih denganku.


Aku memiliki seorang teman yang tak tergantikan.


Aku memiliki Reina Kamisu.


Aku tidak akan membiarkan siapa pun berkata sebaliknya.


Mengambil keuntungan dari kebingungan mereka, aku melarikan diri. Aku melarikan diri dari mereka. Aku tidak butuh apa-apa lagi. tidak suatu apapun. Yang kubutuhkan adalah Reina. Selama Reina bersama denganku, aku baik-baik saja.

Bagian 4[edit]

Seperti yang dijanjikan, Reina dan aku pergi ke akuarium.


Disana banyak pengunjung dari yang diduga pada hari kerja, kebanyakan yaitu keluarga dengan anak-anak dan pasangan muda berumur sekitar 20 tahun. Kemungkinan karena mereka tidak dibatasi waktu.


Dan tentu saja, kami satu-satunya siswa sekolah menengah disekitar.


“Reina, apa kamu yakin kamu tidak perlu berangkat ke sekolah?”


“Ini baik-baik saja, tapi bagaimana denganmu, Fumi?”


“Aku tidak keberatan sama sekali.”


Aku tidak disambut di sekolah, lagipula. Orang tuaku tidak memperhatikan bahwa aku sedang membolos, entahlah, kecuali jika mereka mendapat telepon dari sekolah. Kenyataanya. Membolos sekolah hari ini membuatku bertanya-tanya kenapa aku tidak melakukan hal ini lebih cepat sebelumnya.


Aku mengamati melalui kaca ke dalam tangki air.


Ikan-ikan cantik. Semua itu yang muncul dibenak. Mereka masuk dalam spesies Chaetodon auripes[2], tapi melupakan itu ddengan cepat. Oleh sebab itu, aku hanya merasakan kalau mereka cantik.


Namun itu menyenangkan.


“Oh, lihat, Fumi! Banyak ubur-ubur!”


“Keren.”


“Aku suka ubur-ubur.”


“Kamu suka? Kenapa?”


“Hm? Yah…kenapa ya? Mungkin karena…mereka tidak terlihat seperti makhluk hidup?”


Mereka tidak terlihat seperti makhluk hidup – sekarang dia menyebutkan hal itu, dia ada benarnya juga. Didalam sebuah akuarium, mereka masih merasa sedikit seperti makhluk hidup, tapi ketika mereka ditahan dalam sebuah tangki air di rumah, mereka lebih seperti dekorasi. Dekorasi yang bersinar dan berdenyut. Ketika ubur-ubur ditaruh dalam sebuah tangki di sebuah rumah, peranan mereka berganti dari seekor makhluk hidup menjadi dekorasi.


“Selain itu, ubur-ubur jenis yang menonjol. Semua ikan lainnya di sini hanya ikan, tetapi ubur-ubur merasa seperti sama sekali makhluk yang berbeda. Ah, aku tidak jelas, ya kan?”


“Tidak, aku tahu apa yang kamu maksud. Kamu mau ngomong bahwa ubur-ubur hanya-lah ubur-ubur, benar?”


“Ah, Ya, persis. Ubur-ubur hanya-lah ubur-ubur.”


Ubur-ubur hanya-lah ubur-ubur.


Menatap Reina, yang memandang ke dalam tangki air, aku berpikir:


Reina juga seperti itu.


Reina Kamisu hanya-lah Reina Kamisu.


cantik yang tidak terjangkau akal, sama sekali berbeda dengan orang lain, dan pendukungku satu-satunya.


Reina melihat lirikanku.


“…Ada apa, Fumi?” dia bertanya.


“Mm, tidak ada apa-apa.”


Dia memiringkan kepalanya.


“Reina…pertunjukkan lumba-lumba akan segera dimulai!”


“Hm? Oh, kamu benar. Okay, ayo cepat.”


Dengan langkah cepat, berjalan menuju stadium dimana pertunjukan lumba-lumba berlangsung.


Dalam perjalanan, kami melewati sebuah tangki dimana sejumlah besar ikan bergerombol dan berputar-putar tanpa henti.


Tidakkah mereka kelelahan? Aku tidak hanya buruk secara fisik, tapi juga secara mental. Berputar-putar sepanjang waktu tidak akan membuat mereka pergi lebih jauh, lagipula. Kalau mereka tidak ingin pergi kemanapun, apakah tujuan mereka terus menerus melakukan ini sampai mereka tidak mampu bergerak lagi? Tidakkah mereka merasa hidup seperti itu sia-sia?


Namun ikan tersebut tetap berputar-putar, tidak peduli tentang pemikiranku.


Tempat duduk di stadium ditempati dari belakang sampai depan.


“Ayo ke barisan depan, Reina.”


“Eh? Kita akan basah!”


“Aku tahu, tapi aku ingin menyaksikan lumba-lumbanya sedekat mungkin.”


Dengan merengut tapi tersenyum lembut, dia mengikutiku ke barisan depan dan duduk.


“Ngomong-ngomong, Fumi, aku sudah memberitahumu kenapa aku menyukai ubur-ubur, tapi apa alasanmu menyukai lumba-luma?”


“Hm…karena mereka menarik.”


“Hanya itu?”


“Tidak, terlepas dari hal itu…”


Sebelum aku bisa meneruskan, wanita dari pertunjukan memulai narasi, dimulai dengan suatu penjelasan singkat pada kondisi alam dari lumba-lumba (dimana hidung mereka, bahwa mereka mendengar suara melalui tulang-tulang mereka, dan lain lain.)


Dan kemudian pertunjukan dimulai.


Saat beberapa lumba-lumba melompat ke udara untuk menyapa kami, aku sudah terpesona.


Mereka cukup besar ketika kamu sungguh-sungguh melihat mereka-lompatan mereka spektakuler dan menyebabkan anak-anak dibangku penonton berteriak kegirangan. Mereka terlihat sangat besar tapi menggemaskan.


Saat mereka mendarat lagi, air terciprat ke arah kami. Aku secara alami mundur kebelakang. meskipun tidak mengenai bajuku, sepatuku sedikit basah.


Menakjubkan! Itu menakjubkan! Lumba-lumba hebat!


Selama pertunjukan, mereka melompat melewati lingkaran, mengembalikan bola yang wanita lempar ke mereka dan berenang berputar-putar…singkatnya, itu mengagumkan dan aku terserap.


“Lumba-lumba tentu cerdas…” Reina tiba-tiba berucap.


“Pastinya!” aku merespon dengan cepat.


“Hahaha, kamu benar-benar suka mereka, bukan? Apakah kecerdasan juga suatu alasan mengapa-“


“Yeah!”


Pertunjukan mencapai klimaks, yang mana menampilkan sebuah trik dimana tiga lumba-lumba harus secara bersamaan melompati tongkat yang telah diatur pada posisi yang sangat tinggi.


“Dan kamu tahu, lumba-lumba mengirimkan gelombang ultrasonik dan menentukan posisi objek melalui gelombang yang dipantulkan!”


“Seperti kelelawar.”


“Hmm…aku tidak berpikir mereka dalam golongan yang sama, tapi ya.”


Para lumba-lumba bersiap diri untuk sinyal si wanita.


Apakah mereka mampu melompat begitu tinggi? Yah, mereka tidak akan melakukan ini kalau mereka tidak bisa, tapi aku takut bahwa salah satu dari mereka tidak melakukannya.


Aku menahan nafasku.


Lumba-lumba berdiri berdampingan (bisa kamu bayangkan keadaan ini?) dan – lompat.


“Whoa!”


Itu memukau untuk mata.


Dengan cipratan besar, ketiga lumba-lumba tersebut mendarat ke dalam air, membuat beberapa gelombang besar.


“Luar biasa…” aku berkata dalam ketakjuban.


Melihat kolam bergelombang, aku sampai pada pemikiran bahwa lumba-lumba mungkin penyebab tidak pernah berakhirnya gelombang lautan.


“Hey, Fumi? Lumba-lumba dapat berkomunikasi lewat suara, benar?”


“Yeah. Meskipun tidak diketahui seberapa canggih percakapan mereka. Aku percaya bahwa keterampilan komunikasi mereka setingkat dengan kita.”


“Begitu…itu akan bagus.”


“Mm, sebenarnya, alasan lain kenapa aku suka lumba-lumba adalah karena mereka dapat berkomunikasi dengan satu sama lain!”


“Oh, Bagus.”


Pertunjukan berakhir dan pengunjung mulai pergi sedangkan para lumba-lumba menawarkan perpisahan mereka dengan berenang berkeliling dan melakukan atraksi individual.


“Kamu tahu, ketika belajar bahwa lumba-lumba dapat berkomunikasi lewat suara, aku cemburu pada mereka,” aku bergerutu sambil menyaksikan atraksi mereka.


“…Cemburu?” Reina bertanya bingung, memiringkan kepalanya kesamping.


“…”


Aku goyah bila aku harus menjelaskan hal itu kepadanya. Jika aku meneruskan, aku akan merusak suasana hati yang menyenangkan.


“Aku pikir bahwa komunikasi lewat kata-kata terlalu rumit untukku.”


Tapi aku tidak ingin memiliki rahasia dari Reina.


“Fumi…”


“Aku yakin bahwa bahkan aku akan bisa mendapatkan teman bila aku punya cara lain berkomunikasi…”


“Kamu punya aku, Fumi!”


“…Mm.”


Kata-katanya ini cukup bagiku.


“Tapi kamu tahu, belakangan ini aku memikirkan itu…”


“Hm?”


“Aku pikir bahwa aku mungkin menjadi ‘seperti itu’.”


“…’Seperti itu’?”


Tak mampu menjawabnya, aku memandangi lumba-lumba lagi, yang mana sibuk menunjukkan atraksi mereka. Salah satu dari mereka melambaikan selamat tinggal dengan siripnya. Aku melambai balik.


Dan itulah apa yang aku maksud.


Aku melambaikan tanganku karena aku dengan leluasa menerjemahkan lumba-lumba melambaikan siripnya sebagai “Selamat tinggal”. Tindakan kita tidak selaras sama sekali.


Benar, semenyedihkannya itu, aku tidak bisa berbicara dengan lumba-lumba. Tapi itu tidak terbatas pada lumba-lumba.


Bahasaku menjadi berbeda dari siapapun juga, dan itulah kenapa tidak bisa lolos kepada siapapun. Kata-kataku tidak mencapai siapapun.


Kecuali untuk Reina.


Caraku berkomunikasi menjadi berbeda. Dan itulah kenapa aku putus hubungan dan menghilang.


Kami meninggalkan akuarium, yang mana berada ditengah dari taman akuatik. Aku berjalan ke bangku dan duduk. Reina duduk disebelahku.


“Reina? Akankah kamu…”


Reina menatapku ketika aku tiba-tiba mulai berbicara.


“Akankah kamu baik-baik saja seandainya hanya kita manusia di bumi?”


Aku melihat sekeliling. Tidak ada orang yang dekat selain Reina, yang mana tidak mengejutkan untuk hari kerja sore. Kita sendirian. Aku tidak akan berada paling khawatir seandainya bumi hancur sekarang dan kita tertinggal cuma berdua.


“Hm…itu akan cukup merepotkan karena kita tidak memiliki listrik…”


“Dan jika kamu berpikir tentang hal itu tanpa kekhawatiran tersebut?”


Reina memandang wajahku dengan seksama, dan menjawab dengan senyuman:


“Dalam hal itu, tidak terdengar terlalu buruk.”


“Benarkah?”


“Benar!”


Aku memandangnya. Aah, dia tidak mengatakannya hanya bersebab. Aku senang, sungguh. lagipula, dia berbeda dariku! Tidak sepertiku, dia dicintai oleh banyak orang. Meskipun begitu, dia akan ada bersamaku.


“Tapi kamu tahu, Reina, Ibumu akan…berada-“


-Ibu Reina?


Segera aku curiga dan berhenti.


Banyak orang?


Yah, pasti banyak. Dia cantik dan baik, tidak sepertiku. Tetapi-


-Tetapi siapa mereka, khususnya?


“Fumi…?”


“Hey, Reina…”


“Ada apa?”


“…Aku tidak pernah ke rumahmu, haruskah aku?”


“Apa kamu yakin?”


“Dimana kamu tinggal lagian? Dekat? Kamu mestinya dekat. lagipula, kamu pulang ke rumah bersamaku.”


“Ada apa, Fumi? Itu jelas tidak?”


“Kenapa begitu – meskipun kita teman dekat – aku belum pernah ke tempatmu?”


“…” Reina tetap diam.


Eh? Tunggu! Apa kira-kira maksudnya?


Kami sahabat, tidak peduli bagaimana kelihatannya, jadi kenapa aku tidak tahu siapa teman-temannya dan keluarganya, dan dimana dia tinggal?


“Omong-omong, Reina-“


“Jangan katakan itu!” dia memotong pertanyaan singkatku.


“Reina…?”

“Jangan katakan lebih jauh lagi…” dia berkata dengan penuh kesedihan dan menghindarkan matanya.


Ada perihal…? Aku tidak tahu apa itu, tapi Reina punya alasan untuk tidak memberitahuku tentangnya.


Setiap orang punya hal yang dia tidak ingin atau tidak bisa katakan.


Tapi,


Tapi –


“- Itu kejam!”


“…Huh?”


“Bukankah kita sahabat? Kita tidak seharusnya menyimpan rahasia apapun dari satu sama lain! Ataukah aku satu-satunya yang merasa seperti itu? Hm?”


“Tidak!”


“Akan tetapi!”


“Ini tidak bagus, Fumi!”


“Kenapa? Aku tidak mengerti, Reina!” aku berteriak dan selagi aku berteriak, aku melihat bahwa air mata mengalir ke pipiku, yang membuat Reina tercengang.


Hawa dingin berdenyut diantara kami. Ini…tidak terjadi sebelumnya. Ini adalah pertama kali bahwa kita diliputi oleh semacam suasana dingin.


Perasaanku mencapai Reina. Dia tahu bahwa aku tidak akan pernah membenci atau mencemooh dia.


Tidak ada alasan untuk punya rahasia.


Itu harusnya tidak ada.


Namun –


“Aku tidak bisa mengatakan hal ini,” dia berkata secara tegas.


“Mengapa kamu…”


Penolakan.


Tidak., bukan itu. Itu tidak boleh. Reina tidak akan pernah berkeinginan untuk menyakitiku. Itu suatu hal…itu pasti suatu hal yang dia tidak bisa katakan meskipun begitu.


Tentu aku bisa memahami itu.


Tapi –


“Jangan meragukanku.”


Aku terus menerus merasa bahwa dia menolakku.


“Uh…”


Oleh karena itu, cucuran air keluar dari mataku.


Dan setelah aku menyadari bahwa itu air mata, mereka mulai mengucur seperti air terjun. Aah, aku menangis terlalu sering akhir-akhir ini! Ayolah, aku tidak ingin menunjukkan siapapun air mataku. Aku tidak ingin mengganggu siapapun. Tapi mereka tidak mau berhenti.


Aku menekan kepalaku dengan lututku selagi aku menangis kejer.


“ – Fumi.”


Suara Reina.


Suara lembut Reina.


“Aku minta maaf.”


Semua yang aku bisa rasakan adalah suara tangisanku sendiri, yang entah mengapa aku tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi.


Aku terus menangis seperti orang idiot, dan ketika aku mengangkat kepalaku –


–Reina tidak ada.


“Reina…?”


Aku melihat dan berlari ke sekeliling mencarinya.


Tapi dia tidak ada dimana pun untuk ditemukan.


Reina tidak ada dimana pun lagi.


Aku berdiri di luasnya, kosongnya taman akuatik, tertinggal dibelakang, sendirian di dunia.

Bagian 5[edit]

Orang-orang mempunyai penghapus didalam hati mereka.


saat efisiensi mereka berbeda dari orang ke orang –


Beberapa dari mereka mungkin benar-benar buruk – siapapun bisa menggunakan penghapus mereka.


Hapus, hapus. Okay, pergi kamu. Kamu merusak pemandangan.


Tolong enyah. Hapus, hapus.


Dua minggu telah berlalu sejak insiden dari dompet Mizuhara-san. Satu minggu sejak aku pergi ke akuarium dengan Reina.


Bahkan setelah rentang beberapa waktu, tak seorangpun berbicara kepadaku. Seperti hari-hari sebelumnya, aku hanya duduk di kursiku yang tak seharusnya di sini, dan menatap keluar jendela.


Aku telah banyak memudar.


Namun, mereka tetap menghapusku. Hapus, hapus.


Hari demi hari, aku dihapus. Sedikit demi sedikit, aku memudar. Hapus, hapus. Sebagian besar eksistensiku berubah menjadi butir-butir serpihan penghapus dan disapu dari mejaku.


Itu tidak bakal menjadi lebih baik. Mereka telah menjadi sangat terbiasa untuk menghapusku yang tidak ada seorang pun memiliki keraguan tentang hal itu, apalagi perasaan bersalah. Aku akan tetap dihapus secara mekanis. Jika ada emosi manusia yang terlibat, maka itu gangguan kecil karena penghapus mereka lelah karena penggunaan.


Dan Reina masih menghilang dalam putih dan pudarnya dunia.


Kenapa? Aku tidak akan bertahan seperti ini! Reina… kenapa kamu meninggalkan aku, Reina?


Kenapa kamu tidak muncul dihadapanku? Bahkan jika kamu mempunyai rahasia, itu seharusnya bukan halangan untuk kita!


Atau apakah kamu membenciku sekarang?


Apapun itu, aku ingin melihatmu!


Aku ingin melihatmu, aku ingin melihatmu, aku ingin melihatmu!


Tapi tidak peduli berapa kali aku memohon, Reina tidak muncul. Dan dimanapun aku tahu bahwa dia tidak akan pernah muncul.


Tidak ada artinya lagi.


Di kelas ini yang ada hanya suara gaduh yang tidak relevan, gambar yang tidak relevan, teman sekelas yang tidak relevan, dan diriku yang tidak relevan.


Tidak ada artinya lagi.


Tidak ada artinya…di sini.


“- Selamat tinggal,” aku berbisik sambil aku berdiri.


Guru berkata sesuatu. Ah, aku sedang berada di tengah ‘pelajaran’?


Oh, dia marah. Tapi aku bagaimanapun juga tidak mengerti tentang apa semua itu, dia tidak sedang berbicara kepadaku, iya kan?


Oh, dia tidak marah lagi. Tapi aku bertanya-tanya kenapa dia melihatku seperti itu? Ini pertama kalinya seseorang melakukan hal itu, sehingga aku tidak tahu apa maksudnya itu. Tapi terlihat sedikit sepertinya dia menakutkan.


Aku meninggalkan kelas.


Jauh dibelakangku, kelas membuat keributan, tapi itu tidak relevan untukku. Tidak relevan. Sama sekali tidak relevan.



Aku duduk sendirian di bordes tengah-tengah tangga menuju atap.


Ini kedua kalinya sejak aku datang kesini bahwa bangunan sekolah semakin berisik. Jam berapa ini?


Suara gaduh pertama mungkin istirahat makan siang, maka itu pasti akhir dari sekolah hari ini?


Reina. Akankah aku pernah melihatmu lagi?


Entah kenapa. Aku merasa bahwa aku tidak akan. Aku sudah merasakan itu semenjak dia menghilang dariku di taman akuatik itu. Terus kenapa? Apa-apaan tentang itu? Itu tidak mengubah apapun – aku tetap membutuhkan dia, begitu ingin, begitu putus asa.


Reina adalah segalanya dariku. Tidak ada yang tersisa jika kamu mengambilnya dariku. Aku kosong. Gumpalan daging goyah yang tidak punya tulang.


“Aah…”


Apa yang harus aku perbuat? Bagaimana aku bisa bertemu dengan reina? Aku tidak tahu! Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?


Tiba-tiba, aku mendengar seseorang berjalan menaiki tangga.


Aku menyiapkan diriku. Itu mungkin dia – dia mungkin datang seperti yang aku inginkan.


“…Saito-san.”


Kimura-kun muncul dihadapanku.


“Kimura-kun…jadi kamu datang untuk berbicara denganku…”


“Yeah…aku tidak punya alasan untuk menolak bila kamu memanggilku…”


Benar. Aku meletakkan sepucuk surat kedalam loker sepatunya untuk memanggilnya kesini. Seperti yang dulu Mizuhara-san lakukan.


“Aku juga membawa ini kesini bersamaku. Ini menyakitkan untuk melewati tatapan guru-guru,” dia menjelaskan sambil mengeluarkan kunci menuju atap.


“Mm. terima kasih,” kataku dan menerima kunci dari tangannya yang dapat dilihat gemetaran. Mungkin, dia telah menyadari kenapa aku memanggilnya kesini.


“…” dia tetap diam.


“Apa kamu tidak ingin bertanya…?”


“Bertanya apa…?” dia berkata dengan canggung.


“Mengapa aku memintamu membawakanku kunci menuju atap.” Setelah beberapa saat, dia dengan enggan bertanya, “Mengapa?”


Untuk memberitahu kebenaran, aku tidak yakin bagaimana menjawabnya, entahlah. Karena mungkin – tidak, pasti – jawabanku adalah untuk menyakitinya.


Tapi itu tak apa, bukan? Kimura-kun hanya sebagai teman lain sekelasku yang tidak relevan, lagipula.


Aku menjawab: “Untuk membalas dendam.”


Wajanya membeku seketika.


Oh, jadi aku benar. Akhirnya, aku bisa memastikan kecurigaanku.


“Balas dendam…?” dia menggagap sedih dalam kebingungan, dan bahkan lebih gugup karena itu.


“Kamu memotong dompet Mizuhara-san dan menaruhnya kedalam tasku, bukan?”


“K-Kenapa kamu berkata begitu…?” dia melawan, masih tidak mengakui itu, meskipun ia tahu bahwa dia tidak bisa menyelesaikannya.


“Tak apa! aku tidak berencana untuk menanyakanmu tentang itu.”


Pada kenyataannya, aku benar-benar tidak merasa seperti sedang menanyakan dan menyalahkan dia. Sebagaimana aku pernah katakan kepada Reina, aku hendak masuk ke situasi ini bagaimanapun – Kimura-kun cuma kebetulan salah satu yang menekan saklar.


Kata-kataku tampaknya menenangkannya sedikit.


“T-Tapi…bagaimana kamu tahu?”


Apa kamu benar-benar ingin tahu? Bukankah itu akan menyulitkan untukmu?


“…Haruskah aku menjawab itu?”


Akhirnya menyadari maksud dari jawabanku, dia terlihat suram dan berkata, “…Tidak perlu.”


“Okay.”


Sambil berkata ini, aku memasukkan kunci kedalam gembok.


Ada beberapa alasan kenapa aku mencurigai Kimura-kun.


Keraguan pertamaku muncul ketika dia memulai percakapan denganku setelah aku menerima surat cinta palsu. Aku sadar bahwa Kimura-kun tidak punya perasaan untukku, jadi aku bertanya-tanya kenapa dia tiba-tiba menjadi begitu lembut.


Petunjuk yang lain adalah reaksi umum ketika dompet Mizuhara-san hilang. Semua orang mengganggap aku si pelaku dengan cepat. Dengan kata lain, sesuatu menuntun mereka untuk percaya bahwa aku memiliki dendam kepada Mizuhara-san. Sejauh yang aku tahu, satu-satunya perselisihan dengan Mizuhara-san dan aku adalah surat cinta itu, yang berarti bahwa seseorang menyebarkan ceritanya. Tapi hanya anggota grupnya dan aku, serta Kimura-kun yang tahu tentang itu. Tentu saja, aku tidak memberitahu siapapun, dan Mizuhara-san dan teman-temannya tidak terlihat seperti mereka ingin memberitahu semua orang tentang hal itu, lagipula.


Tapi yang paling penting dari semuanya, tak ada orang lagi selain Kimura-kun yang mengusulkan bahwa si pelaku mesti mempunyai dendam kepada Mizuhara-san. Dia mencari perhatian mereka kepadaku dalam sikap yang terang-terangan.


Aku tidak tahu kenapa dia melakukan hal itu. Mungkin dia punya dendam terhadapku yang aku tidak tahu apa itu, atau dia mungkin punya perasaan kuat berhubungan dengan Mizuhara-san dan Ashizawa-kun.


Tapi aku benar-benar tidak peduli.


Cerita dia tidak relevan kepadaku.


Aku putar kuncinya, dan pintu terbuka dengan bunyi klik. Aku dengan ragu memutar gagang pintunya – yeah, nampaknya baik-baik saja.


“…Apa yang kamu berencana lakukan di atap, Saito-san?”


“…” aku perlahan berbalik kepadanya.


“Saito-san…?”


Aku menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan.


“Hey, Kimura-kun –“


“- Apakah kamu mengenal Reina Kamisu?”


Mungkin aku benar-benar berpikir bahwa Reina akan menungguku disisi lain pintu.


Ini adalah tempat yang tidak ada yang diperbolehkan masuk, meskipun sangat dekat. Ini adalah tempat yang kita semua tahu ada, tapi hanya sedikit yang benar-benar pernah disini. Dan itulah kenapa aku merasa bahwa aku akan menemukannya di sini.


Tapi tentu, tidak ada tanda-tanda Reina.


Aku berjalan ke tengah-tengah atap dan berputar-putar.


Para siswa yang sedang pulang kerumah, tiang listrik yang berdiri dalam jarak yang teratur, kawasan perbelanjaan, sungai kotor kami, sekolah lain, sebuah rumah, rumah-rumah lain – pemandangan yang tidak relevan. Tapi satu hal dalam pemandangan yang tidak relevan ini – matahari merah berkilau-kilauan bersembunyi sebagian dibelakang gedung di cakrawala – terasa relevan untukku.


Matahari hampir bersembunyi pada sisi lain, menyelesaikan pekerjaannya untuk hari ini, tapi mengambang disana dibatas, ini terasa seperti dia memanggilku.


Aku kembali ke pintu untuk menguncinya.


Sekarang aku sepenuhnya sendirian.


Aku bersandar pada pagar, dan ketika menyaksikan matahari perlahan menyembunyikan wajah-nya, aku memikirkan sekali lagi tentang Reina Kamisu.


Reina menghilang. Ya, dia menghilang.


Seorang siswa yang cantik dan populer tiba-tiba berhenti datang ke sekolah dan pergi menghilang. Ini mestinya jelas-jelas suatu insiden serius untuk sekolah menengah Shikura ini. Semestinya begitu.


Biarpun begitu, tidak ada yang membicarakan tentang hal ini.


Tentu saja, tidak ada yang akan memberitahuku, tapi meski aku bisa menguping akan rumor-rumor. Ini aneh. Reina kamisu tidak muncul dimana pun. Tidak ada yang membicarakan tentang seorang gadis luar biasa seperti dia. Apakah itu mungkin?


Aku menetapkan hati dan menyelinap melihat kedalam kelasnya. Pertama, aku tidak bisa percaya akan mataku, kemudian aku tidak bisa percaya akan telingaku, dan akhirnya, aku tidak bisa percaya akan diriku sendiri.


Tempat duduknya tidak ada. Loker sepatunya tidak ada. Namanya tidak ada. yang berkaitan dengan kehadirannya tidak ada.


Reina tidak ada dimana-mana.


Dan saat aku melihat wajah Kimura-kun ketika aku tanya dia tentang Reina, aku menjadi yakin. –


–Reina Kamisu menghilang.


Ini bukan kematian yang sederhana. Dia menghapus segala eksistensinya, segala sesuatu yang terkait dengan itu, dan menghilang.


Tanpa meninggalkan orang-orang sesuatu dari dirinya. Dan sepenuhnya mencabut fakta bahwa seseorang bernama Reina Kamisu pernah ada, dia menghilang.


Dengan pengecualian dariku, sahabatnya.


Tapi meski aku punya beberapa kenangan kosong yang tersisa seperti tetesan soda di pinggiran kaleng kosong. Aku tidak ingat dimana kami bertemu, bagaimana kami menjadi teman, atau dimana kami pergi berpisah dari akuarium. Tidak ada.


Kenangan itu akan segera pudar juga, menghapus eksistensi dia sekali dan seluruhnya.


Reina menghilang.


Reina, yang menjadi segalanya untukku, menghilang.


Jadi – tidak ada alasan untukku ada di sini lagi.

Aku memanjat ke pagar. Ini lebarnya 15cm, jadi aku bisa berdiri tanpa masalah.


Aku berpikir melepas sepatuku, tapi aku memutuskan mengesampingkan hal itu; aku tidak mencoba untuk bunuh diri atau apapun.


Aku sekedar ingin melihat Reina.


Tentu. Aku tidak bisa memastikan jika bisa bertemu dengannya seperti itu. Itu hanya pemikiran absurd bahwa jika tidak di sini, dia pasti ‘disana’. Itu hampir seabsurd pemikiran bahwa seekor burung dapat terbang melewati langit menuju ruang angkasa.


Tapi aku tidak bisa memikirkan hal lain lagi.


Tidak ada jalan lain, dan jika itu satu-satunya jalan, kenapa aku tidak mencobanya? Tidak ada yang menghentikanku. Biar aku ulangi: aku tidak punya alasan ada di sini, sehingga tidak ada yang menghentikanku.


Aku tiba-tiba mengingat kembali apa yang aku katakan ke Kimura-kun.


–Untuk membalas dendam.


Ya, suatu balas dendam cantik. Dengan membawakanku kunci, kamu mendapati dirimu terlibat dalam apa yang akan terjadi sekarang, bukan?


Aku bertanya-tanya apakah dia akan mempunyai sedikit kepedihan akan penyesalan, meskipun dia mungkin tidak peduli tentangku?


Aku melihat kebawah, dan menciut sedikit, ketakutan akan rasa sakit imanen yang aku hampir melupakan tentang hal itu. Itu akan menyakitkan. Sepuluh kali…ratusan kali lebih sakit dari sebuah suntikan. Tapi aku tidak boleh gentar.


Apa yang penting untukku? Bertemu Reina. Bersama-sama dengan Reina.


Itu yang penting. Itu saja…


benar, dengan keteguhan!


Karena aku merasa seperti aku bisa lebih menerima dengan cara seperti itu.


Aku mengambil lompatan kuat.


Tiba-tiba, dunia berputar dan berubah sepenuhnya.


Tak mampu dengan benar memahami dunia yang tak terduga ini, aku hampir pingsan.


Aku hanya bisa bilang bahwa ini bukan tempat dimana aku ingin pergi. Aku mendapati diriku dalam drama tragis.


Aah…apakah aku gagal? Apakah aku bagaimanapun juga membuat keputusan yang keliru…?


Tapi –


Baru saja aku hampir menyerah, aku menyadari bahwa aku menang taruhan.


“Reina…”


Reina tepat didepan mataku.


“Reina, aku merindukanmu…”


Dia memberiku senyumnya yang lembut dan begitu cantik.


“Reina…beritahu aku: dimana kamu?”


“Aku –“ dia menjawab.


“Aku di sini, Reina Kamisu berada – di sini.


Ah, benar.


Kenapa aku tidak memperhatikan hal sesederhana itu?

Atsushi Kogure[edit]

Bagian 1[edit]

Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.


Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, aku mendapati suatu temuan yang mengerikan.


Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu dia yang tidak akan pernah aku lupakan.


Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, dia menemukan tubuh utamaku dan melihatnya. Lalu – tersenyum.


Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.


Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.


Aku terlahap oleh eksistensinya. Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.


Ya. Aku – Aku membenci gadis itu. Dia merampas segalanya dariku.


Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga. Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.


Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!

Bagian 2[edit]

“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.


“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”


“Reina Kamisu…" Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.


“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”


“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”


“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.


Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.


Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.


Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.


Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.


Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.


Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.


Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.


Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.


Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa itu masih suatu luka yang tidak berbekas. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup. Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.


Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.


“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.


“Iya?”


“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”


“Ya, Tentu saja.”


Aku berencana begitu lagipula.


Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.


Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.


Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.


Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.


Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.


Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.


“Aku tidak akan kalah!”


“Melawan siapa…?” dokter Mihara bertanya, tetap serius.


“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”


Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”


Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.


Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik. Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih karena aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan jangan membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.


Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.


Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”


“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”


“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.


Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.


Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.


“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.


“Kamu salah sangka, men.”


“Apa maksudmu?”


“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”


“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?” Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”


Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”


ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.


Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.


Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.


Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.


Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara. Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.


Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.


Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.


Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.


Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.


Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.


Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.


Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.


Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.


Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi. Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,'[3] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak ada. Apa kamu mengerti? Sama sekali tidak ada. Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, sehingga itu bahkan melebihi suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R. Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”


Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.


Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.


Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini: “Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan bunuh diri,” Yuuji memberitahuku.


“Sebuah catatan bunuh diri? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”


“tepat sekali.”


“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”


“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”


“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”


“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.


“Apa maksudmu?”


“Kimura salah menyebut namanya.”

Oh.


Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.


Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.


Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.


“…”


Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.


Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.


Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.


Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!


“Cih..!”


Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.


Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!


Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).


Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.


Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh. Dan ini masih menyakitkan.

Bagian 3[edit]

Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.


Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.


Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, 'kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan serial TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak terkendali. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!


“Seperti yang kukira…”

Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!


“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.” Iya-lah. Semua anak kecil tahu itu. Semua orang tahu itu, walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.


Benar. Keluargaku mati.


Mati?


Ya, mereka mati…kan?


Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.


“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.


Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?


“Apakah kamu mau mati, juga?” Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.


Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!


Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.


Dia mendekat.


“H-Hentikan…” Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.


Lalu dia mengayunkannya.


“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”


Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.


Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.


“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.


“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.


“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”


“Ya.”


“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”


Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.


“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.


Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.


“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku memegang dadaku.


“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”


Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.


Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.


Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.


Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.


Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”


Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.


Aku memegang dadaku.


Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.


Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.


Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.


Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?




Aku memasuki kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.


Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.


Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.


Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.


Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.


Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.


Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.


Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?


“Rekan” itu bisa saja aku.


Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.


Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.


Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.


Kalau dipikir-pikir – Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?


Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.


Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.


Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.


Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.


Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.


Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.


Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.


“Kogure-kun.” Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.


“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.


“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, kan?


“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”


Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”


“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”


“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”


Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.


“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”


“Dia tidak akan.”


“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”


“Tidak, kita sudah...putus.” Terkejut, aku membeku seketika.


“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah. Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.


Dan ikatan itu membinasakan Kimura

Sayang sekali.


Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.


“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”

Nah benar kan.


“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, kan?” dia bertanya.


“Ya.”


“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”


“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”


“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“


“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.” Itu hanya alasan yang dia karang.


“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”


“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”


“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”


“Ke dirinya sendiri?”


“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”


Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.


“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.


“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”


Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.


“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, kan?”


“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”


Percakapan berubah tiba-tiba.


“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”


“Bagaimana dengan roh gentayangan?”


“Omong kosong.”


Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu? –Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan? Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.


…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan terhadap Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?


Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?


“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?”

Mizuhara mengangguk.


“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”


Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.


Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.


“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”


“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?


“Bukan!” Mizuhara menyanggah.


“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “


“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”


“Terus siapa – “


Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.


“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”


Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.


Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga terus menerus bicara hal yang membingungkan.


Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.


“Jadi…kamu melihat dia, benar?”


Dia mengangguk secara perlahan.


“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.


Mizuhara mengangguk.


Aku berjeda sebentar dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.


Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.


“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.


“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”


“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”


Suatu kebetulan.


Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.


Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari kehendak bebas (free will) [4] mereka sendiri.


Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.


Tunggu dulu…


Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disitu. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai makhluk apapun itu.


“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?” Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.


“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”


Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.


Mizuhara ketakutan.


Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.


“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,


“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati."



Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.


Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir. Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.


Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.


Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?


Dikutuk sampai mati.


Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.


Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.


Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?


Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.


Namun, aku menggelengkan kepalaku.


Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.


Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?


…Ya.


Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.


Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.


Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.


Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?


…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.


Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.


“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.


Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –


–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.


Kulitku merinding.


Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.


“-Ah”


Aku tahu…


Aku tahu suara itu.


Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.


“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”


Ini sakit.


Luka di dadaku menyakitkan.


Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyerupai darah – seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.


Aku tidak boleh, kalah.


Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.


Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.


Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.


Aku harus bertahan sekarang.


“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!” Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.


“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”


Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.


“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.


“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”


“Ya”


“Aku menyimak?”


“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”


“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.


“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”


Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.


Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.


“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak


“Kebenaran?”


“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.” Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.


Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.


Dinding pertanyaan.


Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.


Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.


Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :


“Apakah penting mengetahui hal itu?”


“Penting. Makanya aku bertanya.”


“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”


“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.


Tahan, tahan, tahan.


“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”


“-Kenapa?!”


“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”


“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”


“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”


“Lalu apa yang kamu maksud…?1”


“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”


“Ya.”


“Hm…”


“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”


Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.


Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.


Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.


Namun –


“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.


“…Apa?”


“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.” Mataku melebar.


“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”


“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”


“…Penglihatan yang lebih teliti?”


“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”


Dia…tidak mengerti?


“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”


“T-Tentu saja tidak!”


“Aku seharusnya tahu.”


“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”


“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu. Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”


Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.


Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.


“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”


Tidak penting mengetahui kebenarannya.

Lukaku terbuka.


Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”


“Satu hal lagi,” dia berucap.


Ini menyakitkan.


“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”


Sialan, ini menyakitkan.


“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”


Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!


“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”


Ah, aku mengerti.


Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.


“Aku juga sudah membunuhmu!”


Benar – aku sudah mati.


Bagian 4[edit]

Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.


Aku mati.


Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.


Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.


Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.


Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.


Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.


Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.


Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.


…Bedebah.


Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.


Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku? Bagaimana bisa aku menjawab itu?


Tidak…tidak tepat.


Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?


Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.


Namun, tiba-tiba : “Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.


“Oke…”


Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.


Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.


“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.


“Ya…”


Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya. …aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.


“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”


“Aku baik-baik saja.”


Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.


Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku : Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?


“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”


“Mm…ah.”


“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”


Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.


“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”


Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar. Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.


Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”


Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.


“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.


“Itu…itu hanya kekeliruan.”


“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”


Apakah begitu…?


Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.


Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.


Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.


“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”


“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”


“Ya, aku tahu.”


Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”


“Ya…”


“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”


“Hah?”


“Cepat!”


Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”


Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.


Ibu.


Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.


karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan. Kenapa begitu? Kenapa?


Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.


Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.


Lalu kenapa aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini?


“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”


“Ya?”


“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.


Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.


“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”


Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.


“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi memasuki ruangan.


“Hai,” aku menjawab. Dia duduk dikursi seberang dariku.


“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”


“Banyak hal yang telah terjadi.”


“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”


“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”


“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.


“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”


“Oh? Mimpi seperti apa?”


Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.


“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”


Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.


“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”


“Ya. Terus, dokter, namanya adalah Reina Kamisu.


Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”


“Dokter.”


“Ya?”


“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”


Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”


“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”


Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.


Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.


Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.


Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.


“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.


“Apakah itu semua?” aku bertanya.


“…Semua?”


“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”


Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.


“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”


“Ya.”


“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?


“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”


“…Aku pikir begitu.”


“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”


“…” dia terdiam.


“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”


“Silahkan.”


“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”


“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?


“Ya, tentu saja bukan. Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”


“…”


“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”


“…Ya, katakan.”


“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”


“Apa…apa dia menjawab?”


“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”


“Hm…”


“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”


Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.


“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu. –Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh.”


Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”


“Di McDonalds dekat stasiun. Tentu saja, dalam dunia nyata.”


Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.


Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.


Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.


Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.


Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.


“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.


“Tentu saja.”


“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”


“Benar.”


“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di kehidupan nyata, benar?”


“Benar.”


“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu, apakah itu benar?”


“…”


“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”


“…Memastikan apa?”


“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”


“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,


“Namun – “


“Orang itu tak pernah ada.”


Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku.


“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.


“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”


“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau dia ada!”


Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak berpikir itu bohong.


“Atsushi-kun…”


“Reina Kamisu ada! Dia disini bersama kita!” aku berteriak.

Aku harus memastikan hal ini.


Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh. Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.


Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.


Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.


Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.


Aku membunyikan bel.


“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.


“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.


Papan yang bertuliskan Kimura.


Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.


“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.


Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.


“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.


“…Ya?”


“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “


Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.

“-Bolehkah aku membaca catatan bunuh diri Kimura?”


Bagian 5[edit]

Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.


Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.


Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua disini sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.


Lukaku bahkan lebih memburuk.


Itu menyakitkan.


Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.


Aku menyusut. Sepenuhnya.


Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu. Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan bunuh diri Kimura.


Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.


sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa lagi yang harus ditulis. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.


Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.


Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.


Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.


Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.


Tidak ada artinya dalam hidupku.


Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.


Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.


Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.


Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.


Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku. Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu. Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat. Aku sungguh-sungguh minta maaf, -


Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.


Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san.”


Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.


sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.”


Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.


Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.


Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.


Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.


Kenapa aku tidak memanggil bibiku ibu?


Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku ayah juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.


Aku melihat amplopnya.


Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.


Ya, itu nama ayahku.


Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir.


“Apa kamu sedang mencariku lagi?”


Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.


“Tepat sekali!” aku menjawab.


“Apa yang kamu inginkan?”


“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”


“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”


Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”


“Itu benar.”


“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”


“Benar sekali.”


“Yang berarti itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan?”


Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:


“Tentu saja bukan dia.”


Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.


“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.


“Lanjutkan.”


“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.


“Itu pemikiran yang aneh sekali.”


“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”


“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”


“Hah?”


“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”


Memang, aku menginginkan alasan, namun –


“Aku tidak peduli.”


Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.


Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada.


Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.


Seseorang seperti – si gadis cantik disini.


Namun, meski betapa palsu pelakunya –


“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh, benar?”


Reina Kamisu memandangku secara seksama.


“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.


“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.


“-Jadi?”


“Hm?”


“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.


Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.


Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.


Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – seorang pembunuh berdarah dingin.


Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.


Oleh karena itu, aku meminta darinya:


“- Tolong, bunuhlah aku.”


Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.


Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.


Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.


“Kenapa kamu memintaku? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”


“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”


“Hmmm…? Masih cukup kuat, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.


Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.


Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?


Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.


Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.


“Cuma penasaran,” aku berkata kepadanya.


“Hm?”


“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, kan?”


Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:


“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”


“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”


Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.


“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.


Fakta bahwa tidak ada satu pun momen damai ini yang nyata membubuhi.


“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.


Jari-jarinya mencekik aku.


Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.


Ah – aku sedang menghilang selamanya.


Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.


Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.


Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.


Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?


Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.


Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:


Terima kasih.


Kemudian – Atsushi Kogure mati.

Shizuka Wakui[edit]

Bagian 1[edit]

Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.


Prinsip Konservasi Massa [kb]

Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.

Prinsip [kb]

  1. sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.
  2. sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.


Cara kerja dunia begitu sederhana. Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting, jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.


Apa kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?


Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerapkali berbareng meskipun cara-cara mereka berbeda.


Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.


Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.


Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.


Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”


Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – apapun itu.


Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –


“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?” Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.


“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.


“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.


“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”


“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.


“Tidaklah!”


“Oh ya…,” dia bergumam sedih.


“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”


“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.


“Senpai~!”


“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”


Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.


“Dadah.”


“Ah…”


Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.


Tapi itu harus menunggu, oke?


Sebenarnya, dunia dalam bahaya.


Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan. Dunia sedang dalam bahaya.


Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar. Kita benar-benar dalam bahaya.


Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.


Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.


Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.


Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.


Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.


Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?


Dengan pertanyaan itu di dalam benak, aku mulai memperhatikan.


Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya ternyata sangat kelihatan, berada di sisi lain. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.


Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.


Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.


Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.


Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.


Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.


Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :


Tiga siswa mati di SMA Shikura.


Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.


Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?


Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.


Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?


Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?


Itulah yang menakutiku.


Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.


Dunia dalam bahaya.


Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.


Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.


{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}


{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}


{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}


{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}


Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.


Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.


Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat. Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.


Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.


- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.


--- Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.


Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.


Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.


Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.


Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?


Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.


Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?


Kaki ku berhenti sepenuhnya.


Tapi -


Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...


Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.


Aku ketakutan... Sungguh, tapi


Aku tidak punya pilihan lain.


{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}


{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}


{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}


Suaranya menjadi semakin nyaring.


Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.


Suatu dendam? Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.


Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.


Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).


...Huh? Dia (perempuan)?


Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?


Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.


Tak ada seorangpun.


Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, sehingga aku mencoba berbicara kepada benda itu.

"Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?"

Dia mengangkat kepalanya.


"Ah -" aku merintih kaget.


Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.


Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -


"Reina... Kamisu."


- Tahu nama fenomena itu.


Bagian 2[edit]

"Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita." Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya "Kenapa ?"


"Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?"


Dia memberiku anggukan kecil.


"Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?"


"Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain," aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, "Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak."


Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.


"Siapa," dia berbicara setelah jeda sebentar "Yang kamu bicarakan ?"


"Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?"


"...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain."


"Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini."


Sikapnya menggelap dengan jelas.


"Dia tidak akan... Datang kembali."


"Begitukah...?"


"Iya," dia mengangguk.


Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.


Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.


Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.


Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.


"Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?" Dia berujar, kembali ke topik, "Menurutku, terlalu dini untuk itu."


"Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu."


"Bukan itu masalahnya," dia membantah. "Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka.."


"Terus dimana masalahnya?" Aku bertanya.


"Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan."


"Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?"


Dokter berjeda untuk beberapa saat. "Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini."


Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?


Oleh karena itu, aku memprotes: "Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!"


"......" Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.


"Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik."


"Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku."


"Kenapa?" Aku bertanya, agak jengkel.


"... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi."


“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.


“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”


“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.


“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”


“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”


“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”


Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes: “Jangan bercanda.”


“Wakui-san…”


“Aku masih aneh, hah? Itu tidak benar! Aku sudah normal kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”


Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.


“Wakui-san!”


Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.


Sudah tidak ada jalan kembali.


Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.


Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.


Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.


Begitu perkataannya, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.


Berdelusi? Aku?


Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.


Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.


Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya sehingga dia tidak akan salah paham.


Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?


… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.


Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!


Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.


“Auw!”

Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?


Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.


“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.


“Tak ada alasan.”


“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”


“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”


Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.


Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.


Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:


“Shizuka, Ingin pulang bareng?”


“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”


Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah. Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”


“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.


“Aku tahu!”


“lantas jangan memerengut.”


“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”


Terkejut, aku kehilangan kata-kata.


“Yah…itu benar, tapi…”


“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”


Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan: “…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”


Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.


“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.


Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.


Langkahku perlahan-lahan meningkat.


Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.


Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.


“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.


Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.


“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.


“…Apaan tuh ‘C2’?”


“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”


“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”


“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”


Kazuaki Toyoshina.


Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.


Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.


“Oke, ayo kita berbincang.”


“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”


“Ok, bagaimana kalau kantin?” Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.



Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk. Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.


Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?


Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.


Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?


Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?


“…Emm…” dia akhirnya berbicara.


“Hm?”


“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”


Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.


“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”


“Sudah.”


“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”


“…” dia tetap diam.


“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”


Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”


Aku menggangguk menjawabnya.


“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”


“…Dan siapa?”


“Apa kamu sangat ingin tahu?”


Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.


Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.


Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.


“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.


“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”


Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.


“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.


Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.


“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”


“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”


Tak peduli bagaimana kamu melihatnya? Juga saat kamu melihat kami?”


“Mungkin…”


“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”


“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.


“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”


“Hah…?”


“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”


“Kamu tidak…?”


“Mm.”


Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.


“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.


Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”


“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”


“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”


“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.


“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”


Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?


“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.


Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”


Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.


“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.


Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.


“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?” Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.


Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”


"Ya, sampai jumpa.”


Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.


Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:


Hei Shizuka, Apa kamu serius?


Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.


Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja. Hozumi-chan.


Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.


Terus memangnya kenapa?


Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?


Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?


Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.


…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.


Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.


Berterima kasih kepadanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.


Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.


Aku – -meremukkan gelas kertas di tanganku.



Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.


Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia disana. Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.


{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}


{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}


{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}


Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.


Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.


Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa mereka. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. Mereka tidak akan melepaskan kesempatan itu.


Aku berusaha mengabaikan mereka seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.


Aku hanya perlu menghindari kontak dengan mereka, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.


Mengabaikan mereka dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.


Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah: “Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”


“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.


Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya. “Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”


“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.


“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?” Hah, pertanyaan ku diabaikan.


Tawaranmu, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”


“Serius…?”


“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.


“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.


“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”


Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.


“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”


“Mengerti?”


“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”


“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi (ketidak cocokan) antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”


“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan energi humanoid untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.


“…Maaf, aku kebingungan.”


“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.


“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?


“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”


“Aku, Aku kira tidak.”


“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”


“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”


Lagian, kita tidak bisa melihat udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.


“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”


“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”


“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.


“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”


Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.


“Kenapa kamu bertanya?”


“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”


“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”


“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, aku mengerti apa yang dia maksudkan.


“Yap, aku Reina Kamisu. Itu dan bukan yang lain.


Benar, aku sudah menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’


“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”


“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”


“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”


“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”


“Kekuatan apa?”


“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”


“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”


Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:


Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.


Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.


Jika aku harus mempercayai perkataannya…


“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”


“Ya.”


“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”


'Beberapa’,” dia tersenyum. “Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?


“…Itu berarti maksudmu…?”


“Kamu mungkin mengetahuinya.”


Dengan kata lain, Reina telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?


Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:


“Aku tahu semuanya, Shizuka.”


Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.


Kamu memperoleh kemampuan itu setelah insiden itu, bukan?

Bagian 3[edit]

Aku mengenakan pakaian kesukaanku, gaun putih.


Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.


Apa aku tidak cantik?


Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?


Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.


Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.


Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.


Dan kamu yang akan menelanjangiku.


-Atau begitulah aku berharap.


Tapi sekarang –


Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.


Karena kesukaanku, gaun putih penuh dengan noda.


Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.


Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.


Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.


Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.


Bagian 4[edit]

Sial!… ini tidak berfungsi.


‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.


Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.


Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.


“Kazuki, berbicara denganku sebentar?” Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.


“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?” Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.


“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”


“Shizuka…?”


“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”


“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”


“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.


“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”


“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”


“…Oke.”


“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”


“Oke…”


“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? Dunia akan berubah terbalik. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”


“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.


Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”


Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”


“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”


Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.


Kazuaki menyentuh lenganku.


Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.


“Kazuaki…Apakah kamu sudah lupa?”


Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.



Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.


Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.


Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket, aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.


Aku tetap bersama Kazuaki.


Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.


Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.


“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.


Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menyeringai. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:


“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”


“…”


Tentu saja aku ingat.


Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.


“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.


Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.


“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.


Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.


Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.


Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.


“Kazuaki, dengar…”


“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.


“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”


“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”


“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”


“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “


“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.


Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:


“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. Ini adalah dunia dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat."


“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”


“…”


Kamu sangat berarti untukku.


Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.


Dia memandang ke bawah kembali.


“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”


“…Tak apa, Kazuaki. Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.” Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.


Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.


Meskipun begitu –


“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”


Meskipun begitu, aku mempunyai keyakinan.


Lagian, ada seseorang yang membenarkan pandanganku.


“Kenyataan.”


“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”


Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…


Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.


Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. Kenyataan untukku ialah bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah dia dan aku.


“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”


“Hm…?”


“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”


“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.


Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.


“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”


Sembari berujar, dia mendekati ku.


Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.


Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.


Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.


Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.


Akhirnya, dia – mendekap ku.


“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”


Aku bahagia.


Aku sangat bahagia.


Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.


Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.


Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya –


Meskipun gaun putih ku telah ternoda.


Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.


Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.


Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.


Akan tetapi tetap –


“…Jangan sentuh aku.”


-Aku tak bisa.


Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.


Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.


Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.


“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.


Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.


“Maaf membuatmu menangis…”


Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.


“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu, bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”


Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.


“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”


“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.


“Hm?”


“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”


Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.


“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “


“-Adalah tempat aku diperkosa.”


Berhenti. Kazuaki berhenti sepenuhnya.

Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.


-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.


“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.


Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.


Aku yakin kengeriannya tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.


“Itu benar-benar…mengerikan!”


Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.


Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.


Kazuaki tidak tahu itu.


Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.


Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.


Namun, tidak dalam kasusku.


“Aku harus pergi,” aku berujar.


“…Pergi kemana?” dia berkata.


“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”


“Hah?”


“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”


Ada maksudnya dunia melawan ku


Iya kan, Reina?


Bagian 5[edit]

Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.


Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.


Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.


Aku paham. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.


Aku melihat sekeliling kamarku.


Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.


Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?


…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.


Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.


Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.


Aku kenakan kalungnya.


Aku tidak akan goyah lagi.


Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.


“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.


“Pergi agak jauh.”


Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.


Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, sehingga mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.


Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.


{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}


{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}


{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}


Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:


{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}


Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.


“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.

{Kamu bisa… melihatku?}


“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”


{Aku mengerti… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}


“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”


{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}


“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”


Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.


{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}


“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”


{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, sehingga aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu mengerti apa yang aku maksud?}


“Aku mengerti, tapi aku belum terlalu yakin.”


{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}


“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”


{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}


“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”


Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,


{Ya… mungkin kamu benar.}


Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.


Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.


“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”


{Apa maksudmu…?}


Aku menemukan dia.


“Bukankah kamu mengingatku?”


{Tidak…}


Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.


“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”


{jadi begitu…maaf.}


“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”


{Atsushi Kogure…}


“Aku mengerti, Atsushi-kun ya.”


{Siapa namamu..?}


“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”


{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}


“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”


{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}


“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”


{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}


“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”


{Ya…}


Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?


Matanya melebar seketika. Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.


{Aku tidak tahu.}


Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.


{Aku tidak tahu!} dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.


Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.



Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.


Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.


Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak. Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.


Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.


Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.


Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.


Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’. Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.


Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.


“Kamu terlambat.”


Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.


“Maafkan aku.”


Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.


Aku memandang danau didepanku.


Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.


Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.


Namun, dengan keadaan danau ini, sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.


Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.


“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”


“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”


“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”


“Kenapa…?”


“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”


Aku melihat ‘mereka’ lagi.


Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.


Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.


“Ah-“


Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya. Ini dia. Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.


Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian kita terbawa oleh mereka. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.


“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”


“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”


Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.


Mereka adalah – musuhku.


Aku menekan kalung salibku dengan erat.


“Reina, satu hal terakhir.”


“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.


“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”


“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”


“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”


“Iya.”


“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.


“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”


“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”


Dan –


“- Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.


Reina menggangguk dengan senyuman.


Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.


Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.


Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.

Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.


Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:

Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana –


-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.


“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.


Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!


Ya! Aku menemukan kebenarannya!


Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.


Terlebih lagi, bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.


“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”


“Ya!”


Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.


Aku tinggal mengumpulkan keberanian dan melompat ke dalam danau –


Waktunya pergi ke panggung baru ku –


Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –


“—Ah –“


Selagi – aku – memegang – kalung – ku –


Suara, seseorang.


<-TSCHHHHHHHHHHHHHH–


Bekas luka.

Tubuh.

gaun putih.


“-Tidak.”


Shizukamenangis.


“-Tidak ada!”


-TSCHHHHHHHHHHHHHH–


“Nih…hadiah natal.”


“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”


“Tentu.”


“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”


“Tidak seberapa.”


“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”


“Ya, itu berlian…”


“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”


“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”


-TSCHHHHHHHHHHHHHH–


“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”

“Apakah ada artinya semua ini?”


-TSCHHHHHHHHHHHHHH–


Aku tidak akan berhenti menangis.

Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.


“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”


“Apakah ada artinya semua ini?”


Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:


“-Tidak.”


“-Tidak ada!”


“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”


“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”


Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.


Ya, sekarang aku ingat –


Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri –


Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.


-TSCHHHHHHHHHHHHHH–


“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.


Kalungku basah kuyup bersama keringatku.


“Reina Kamisu – “


“Ya?"


“Siapa kamu?”


Reina Kamisu menahan napasnya.


“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.


Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.


“…Kenapa dengan itu?”


“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa menjadi benar!”


Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!


Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.


“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”


Dia dengan diam-diam mendengarkanku.


“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“


“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”


“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“


“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. Diberi nama Reina Kamisu.


Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.


Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.


Dan Atsushi-kun – -sudah tak ada lagi.


“Ah…ah…”


Aku memegang kalung salibku dengan erat.


Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.


“Apakah kamu berniat membunuhku?" Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.


“Kenapa aku harus?” dia membalas.


“M-Maksudku, itu benar kan bahwa kamu yang menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?


Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”


“…Mungkin?”


“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”


“Itu tidak-“


“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.


“Hah?”


“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”


Ah –


Aku paham apa yang dia maksud.


Reina adalah suatu fenomena.


Hanya suatu fenomena.


Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.


Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.


“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”


“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?


Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.


Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.


Kamisu Reina selalu berada disini.


Aku berdiri sendirian ditepi danau.

Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.

Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.


Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.

-sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.

Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.


Baiklah –


Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku. Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Kazuaki Toyoshina Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Epilog Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Kata Penutup