Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Fumi Saito

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Fumi Saito[edit]

Bagian 1[edit]

Aku tidak memiliki teman.


Bukan karena aku benci berbicara kepada orang lain, atau karena aku penuh ketidakpercayaan, atau karena aku terlalu malas untuk memelihara hubungan. Ini bukannya aku sengaja ingin menghindari pertemanan; secara singkat dan sederhana, aku tidak mampu melakukannya. Ibuku selalu bilang padaku itu bukanlah masalah besar, karena aku pintar dan nilaiku bagus, tetapi dari sudut pandangku mana ada bukan masalah besar. Dia tidak tahu betapa susahnya bersekolah untuk orang yang tidak menjalin pertemanan.


Seperti sekarang:bahkan meskipun ini jam istirahat dan semua orang saling mengobrol, aku duduk di sini sendirian seperti aku ada di dimensi lain. Keadaan ini bertambah parah selama waktu makan siang, ketika aku tanpa satu kata yang keluar mengunyah makananku sedangkan semua teman sekelasku, mereka menyatukan meja dan makan bersama – aku selalu merasa seperti orang yang tersesat di suatu pulau tandus yang dikelilingi lautan yang sangat luas.


Dari waktu ke waktu aku merasa kalau semua orang adalah alien yang menyamar sebagai manusia, sedang memperdayaiku, makhluk bumi yang terakhir.


Konyol. Konyol, memang, tetapi itu membuktikan betapa kesendirian yang aku rasakan saat aku berada di sekolah.


Karena tidak ada yang bisa kulakukan saat jam pelajaran, aku mulai membaca buku di waktu luang bahkan ketika aku benar-benar tidak menyukainya. Karena itu, aku menjadi lebih susah untuk mendekati dan memperlebar jarak antara aku dengan teman sekelasku. Ini adalah suatu lingkaran setan:aku membuat kesalahan untuk seseorang yang suka menyendiri, padahal aku berpikir itu sama sekali tidak benar. Aku suka berceloteh, juga! Aku ingin mengobrol tentang siapa pria terkeren di kelas kami atau siapa anggota favoritku dari boyband apalah itu namanya! Tetapi aku diabaikan. Aku hanya didekati oleh teman-temanku saat keperluan yang benar-benar penting.


Kenapa aku tidak mampu berteman? Apa yang membuatku berbeda dari orang lain? karena tidak ada yang bisa kuperbuat, aku sering memikirkan pertanyaan ini.


Ini pasti karena aku jelek, aku punya banyak jerawat, mataku kecil dan hidungku rata, sama seperti dadaku. Tetapi apakah aku terlihat seburuk itu? Aku pikir tidak. itupun keliru untuk menyalahkan penampilanku, apapun penilaiannya.


Ini karena kemampuan komunikasiku. benar, aku tidak bagus saat berbicara dengan orang lain. Tapi kenapa begitu? Karena aku selalu berhati-hati saat berbicara? Karena aku gugup saat berbicara? Tidak, bukan itu semua. Itu hanyalah lingkaran setan lain yang dimulai karena aku tidak sering berbicara kepada orang lain.


Penyebab dasarnya pasti karena….aku takut terluka. Aku takut merasa menjadi orang aneh. Aku takut merusak suasana hati dengan membuat ucapan yang tidak pantas. Aku takut pendapat-pendapat lain keluar dariku.


Sebelum aku memahami hal itu, aku sedang memandangi grup Mizuhara-san di baris kedua dekat jendela. Mizuhara-san mirip seperti pemimpin di kelas ini, dan mempunyai banyak teman. Mereka terlihat sangat senang. Mereka sangat membuat iri hati.


Tetapi biarpun berada di tengah-tengah anggota grup yang tergolong akrab. Aku yakin orang-orang itu bisa memaki teman di grup yang sama yang mereka tidak sukai. Tidak ada yang sempurna. Semua orang mempunyai sifat yang mungkin membuat kesal. Aku, untuk hal yang satu itu, aku punya banyak.


Oleh karena itu, pasti mustahil menjalin pertemanan untukku.


Tetapi itu tak apa.


Aku mungkin tidak mempunyai teman biasa, tetapi aku mempunyai sahabat.


Aku punya satu sahabat yang tak tergantikan –


Reina Kamisu.


“Kamu terlalu baik, itulah masalahmu.” itu yang Reina katakan padaku saat kami berjalan pulang ke rumah ketika aku memberitahunya kenapa aku tidak bisa berteman.


Senyuman luar biasa yang dia pancarkan ketika mengatakan itu tidak bisa menahanku mengaguminya untuk sesaat. Rambut panjangnya bagai gagak-hitam yang paling bersih dan sangat lembut hingga tidak terpikirkan untuk menemukan celah dirambutnya, sedangkan tubuhnya melekuk seperti model, tidak seperti pertumbuhanku yang belum dewasa.


Reina betul-betul cantik. Kecantikan yang tidak terjangkau akal.


“Aku baik…? Aku pikir tidak. aku hanya tidak mau disakiti”


“Bukankah itu yang membuatmu baik hati?”


“Kenapa begitu?”


“Maksud aku, ini bukannya semua orang ingin terluka, benar? Merekapun tidak ingin terluka.”


“Tapi mereka terus bersama-sama dengan yang lain.”


“Ya. maka apa yang membedakanmu dengan mereka? Biar Kuberitahu: kamu sensitif untuk menyakiti perasaan orang lain. Kamu takut disakiti, fumi, tetapi kamu juga takut menyakiti seseorang.”


Ya, aku tidak mau menyakiti orang lain secara serampangan.


“Itulah sebabnya mengapa kamu sangat baik kepada semua orang.”


“Reina…”


Aku sangat berterimakasih untuk kata-katanya.


Padahal aku tahu bahwa kenyataannya aku hanyalah seorang pengecut. Reina semata-mata hanya melapisi perkataannya dengan kata-kata yang manis sebelum mengucapkannya padaku.


Tetapi kepekaannya itu membuatku bahagia.


Aah, Reina tentu tak ada bandingannya. meskipun dia di tahun ketiga seperti aku, dia sangat berbeda.


“Kamu sangat beruntung, Reina…”


“Mm? Mengapa?”


“Maksud aku…kamu cantik dan kamu pun pintar…aku tak bisa berhenti berpikir bahwa Tuhan memperlakukan kita secara tidak adil.”


Ya, Tuhan tidak adil. Jika Dia adil, Reina dan aku tidak akan menghuni di dunia yang sama. Aku menduga Tuhan tidak berkeliling untuk menimbang segala yang Dia ciptakan, dan melewatkan kami bahkan lebih ceroboh dari yang pekerja lakukan pada produk diatas conveyor belt [1].


Semua orang tahu itu. Tetapi aku belum cukup dewasa untuk menerima bahwa aku “orang yang rendah derajatnya”.


“Itu tidak benar! Kamu imut, Fumi,” dia merespon dengan senyuman yang ramah, membaca pikiranku.


“…Aku tidak seperti itu. Itu terdengar seperti sarkasme kalau kamu yang omong, tahu tidak…?”


“Ah, itu benar-benar kejam! Tapi Fumi…ketika ada orang seperti kamu yang lebih menyukai aku, maka disitu ada pula orang yang lebih menyukai kamu!”


“Tidak akan ada.”


“Tetapi itu ada! Paling tidak satu orang, tepat di sini,” Reina berkata sambil menunjuk dirinya sendiri dan tersenyum.


“Tapi-“


“Seandainya,” dia memotongku, “Seandainya bertujuan untuk membantah, ada banyak orang yang lebih menyukaiku dibanding kamu, kenapa kamu harus peduli? Jumlah tidak berarti apapun. Atau apakah kamu mau menjadi sorotan orang banyak seperti seorang idol?”


“Bukan seperti itu.”


“Lantas tidak ada yang perlu dikhawatirkan, iya kan? Paling tidak ada satu orang di sini yang berpikir kamu tidak tergantikan. Atau apakah kamu tidak puas dengan itu?”


“Mmm! Aku tidak bisa berharap banyak!”


“…Aku mengerti.”


Reina tersenyum ramah lagi, yang mana membuatku malu dengan tingkah lakuku.


Aah..aku tetap seperti anak kecil. Bodohnya aku. Serius. Aku bertaruh kalau Reina menyangka, aku cemburu dengan kecantikannya, yang mana itu memang benar. Aku amat kotor. Sekarang dia kehilangan kepercayaan padaku, aku yakin.


“…Fumi, kamu menyalahkan dirimu sendiri, bukan?”


“Eh?”


“Oh… kamu sungguh adalah orang yang terlalu baik . Apakah kamu pikir aku telah menyinggung?”


“Tapi—“


“Tidak ada tapi, kamu menjadi sedikit kasar, tahu tidak?”


“Eh?”


“Fumi, kamu adalah teman tersayang yang aku punya. Seseorang yang penting untukku. Dengan bersikap begini, terlihat seolah-olah kamu tidak percaya padaku?”


“Ah…”


“Fumi. Aku sahabatmu, kan?”


“Tentu saja!”


Aku bisa mengatakan ini untuk memastikan.


“Kamu adalah teman yang tak tergantikan, Reina!”


Teman tersayang yang tidak akan bisa tergantikan.


Seandainya Reina tidak berada di sini, aku—


Aku sejak dahulu sudah—

Bagian 2[edit]

Hari buruk lain dimulai.


Fakta bahwa aku biasanya sendirian pada pagi hari hanya membuat semakin parah;Reina sering berangkat lebih awal ke sekolah karena latihan pagi di klub atletik. Aku pernah sekali memutuskan berangkat di waktu yang sama seperti yang dia lakukan, tetapi menunggu di ruang kelas sampai pelajaran dimulai lumayan menyedihkan, dan terutama, aku tidak ingin mengganggunya, sehingga aku memutuskan mengesampingkan hal itu.


Aku berjalan sendirian ke sekolah dan menuju loker sepatu untuk mengganti dengan sepatu indoorku.


“…”


Apa ini…? Pagi! Aku mendengar seseorang berbicara dibelakangku (sudah pasti bukan menyapaku) dan dengan cepat menutup lokerku. Setelah siswa itu pergi, aku membukanya lagi.


“Oh, eh…”


Ada sepucuk surat diatas sepatu indoorku.


Aku menggapainya, tetapi tak tahu harus berbuat apa, tanganku tetap disitu sampai siswa lain mendekat. Berpacu dengan waktu yang singkat, aku menjejalkan suratnya ke dalam tasku.


Ya ampun, ya ampun… a-apa-apaan ini…?


Aku merasa tidak nyaman. Aku tidak tau kenapa, tetapi terlalu banyak orang di sini. Aku merasa seperti orang-orang disekitarku sedang mengamatiku. Kapanpun ada lirikan mengarah kemataku (dan aku tahu itu hanya mengarah ke mereka dan tidak melihatku) aku merasa ini menusukku.


Tidak ada seorang pun akan peduli denganku, aku tahu itu, tetapi aku tidak bisa menahan perasaan bahwa semua orang terus mengamati setiap langkahku.


Tidak mampu menopang pandangan lebih lama lagi, aku kabur ke kamar mandi dan masuk ke wc, dan mengambil suratnya.


Menjejalkan surat ke dalam tas membuatnya lecek – maaf kepada orang yang menaruh ini didalam lokerku.


Aku hamparkan suratnya.



“Untuk Fumi Saito


Aku menulis surat ini untukmu karena ada hal yang ingin aku beritahu kepadamu.


Tolong tunggu di kelasmu sepulang sekolah.”


Itu isinya.


“Ah…hah…” aku membuang nafas, sadar bahwa aku menarik nafas ketika membaca.


Kira-kira tentang apa? Karena pendeknya, aku masih tahu itu, secara obyektif, ini mungkin sepucuk surat cinta. Akan tetapi, ini tertuju kepadaku. Sepucuk surat cinta untukku? Serius? Apakah itu mungkin?


“Ya, itu mungkin!” Reina berkata.


Kita sedang beristirahat dan pergi ke bordes tangga yang menuju atap. Karena atap tidak bisa dimasuki, tangga di sini terlihat tidak pernah digunakan oleh siapapun, itulah kenapa kita sering memanfaatkannya untuk berdiskusi sesuatu yang rahasia (meskipun kebanyakan aku yang punya sesuatu untuk didiskusikan).


“Bagaimana bisa kamu begitu yakin?! Maksud aku, kita sedang membicarakan tentangku di sini…!”


“Seperti yang aku bilang ke kamu tempo hari, Fumi : kamu adalah gadis yang menarik.”


Aku membuka mulutku untuk menyangkal apa yang dia katakan, tetapi aku mempertimbangkan kembali, memikirkan kembali bagaimana kita hanya bicara berputar-berputar terakhir kali.


“Jadi, Bagaimana tentang ini, Fumi?”


“Hah? Apa maksudmu?”


“Apa tanggapanmu ke surat cinta itu?”


“Ah—“


Aku sepenuhnya lupa tentang hal itu karena aku terlalu fokus dengan kenyataan bahwa aku menerima surat untuk pertama kali. Betul, aku masih harus menanggapinya.


“R-Reina, aku, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan!”


“Pertama-tama, bagaimana perasaanmu tentang cowok itu?”


“Cowok itu…?”


Aku hamparkan suratnya dan memeriksa lagi.


“Baiklah, Fumi? Bagaimana perasaanmu kepadanya? Apakah kamu saling mengenal? Atau tidak, mungkin?”


“…Tidak.”


“Hm?”


“Tidak ada namanya.”


“Coba…coba aku lihat.”


Aku memberi Reina suratnya. Dia memeriksa secarik kertas dari semua sisi, dan akhirnya menghela nafas.


“Kamu benar. Tidak ada nama.”


“…Kamu pernah menerima surat cinta sebelumnya, iya kan, Reina?”


“Ya, Aku pernah.”


“Apakah ada yang tidak ada namanya?”


“…Hm…mungkin ada satu, tetapi dalam keadaan dimana pengirimnya sudah jelas. Aku selalu tahu siapa yang mengirim surat.”


“Aku mengerti…”


Aku membaca lagi suratnya. “Tolong tunggu dikelasmu sepulang sekolah” – suatu permintaan yang tulus kepadaku.


“…Apa yang akan kamu lakukan?” Reina bertanya.


“Bukankah kamu tahu apa yang akan aku lakukan, Reina?”


“…Benar. Itulah kamu!” dia tersenyum muram.


“Jangan…jangan menunggu aku hari ini sesudah aktivitas klubmu.”


“Kenapa jangan…?”


“…” aku tetap diam, tak mampu memberi jawaban yang wajar. Aku juga benar-benar tidak tahu mengapa aku meminta. Biasanya, aku ingin dia bersamaku terus. Reina memberiku senyuman ceria,”…Hei, Fumi. Kamu sejak lama ingin pergi ke akuarium, bukan?”


“…Ya, aku suka lumba-lumba.”


“… Kalau begitu ayo kapan-kapan kita pergi kesana !”


Kenapa dia mengusulkan itu sekarang?


“…Mm! ini adalah sebuah janji!”


Aku tahu kenapa, dan itu membuatku senang.



Jam Pelajaran telah berakhir.


Aku selalu tetap di sekolah meskipun tanpa menerima sepucuk surat, karena aku menunggu aktivitas klub Reina berakhir.


Hari ini, bagaimanapun, Aku meminta Reina pulang sendiri. Aku sendirian – sendirian menunggu si pengirim surat.


Sambil memandang buku yang terbuka, aku mengira-ngira dari siapa surat tersebut. Kado-kun, cowok yang populer di kelas karena jago bermain basket? Mm, aku akan senang. Cowok nakal dari kelas kami, Ashizawa-kun? Dia sedikit menakutkan, tapi aku pikir aku akan menghargai itu. Bagaimana dengan Kogure-kun, walaupun dia agak aneh? Aku mungkin akan sedikit waspada terhadapnya, tetapi aku tetap senang. Dan Dojima-kun, yang orang-orang menghindarinya karena jorok? Aku tidak ingin kencan dengannya, tapi aku akan senang.


Ini anugerah senantiasa memikirkan hal menyenangkan.


Tetapi bagaimana aku akan merespon ketika seseorang mengajak kencan?


Sekarang…aku tidak punya rencana, karena aku tidak tahu apa yang akan diharapkan dariku. Aku sedikit takut, dan aku tidak tahu bagaimana aku harus memperlakukan pihak lain.


Aku pikir sepasang kekasih harus berciuman? Tetapi bagaimana rasanya itu? ketika kamu merasakan seperti berciuman? Bagaimana aku harus bereaksi ketika dia ingin aku untuk menciumnya? Akankah dia sakit hati ketika aku menolak? Maka aku tidak bisa menolak… aku tidak ingin dibenci, lagipula.


Benar. Penolakan bukan pilihan.


Mm, jadi itu tidak masalah siapa yang memberikan aku surat – aku harus menuruti dan menunggu di kelasku sepulang sekolah.


Diluar sudah gelap. Sekolah akan segera ditutup.


Mungkin, tidak ada seorang pun yang akan datang. Mungkin, ini hanya lelucon. Bila seperti itu – aku merasa agak lebih tenang.


Aku menyimpan buku yang hampir tidak aku baca dan hanya memandanginya saja, dan bersiap untuk pergi, tatkala tiba-tiba, grup Mizuhara masuk ke kelas. Mereka semua ikut klub tenis, sehingga aku mulanya menyangka mereka datang untuk menaruh raket di sini.


Akan tetapi, tatapan mereka kepadaku menyingkap lebih dari itu.


Mizuhara-san menatap kepadaku. “Hah, jadi kamu menunggu.”


“Er…”


Gadis sekelilingnya mulai terkikih-kikih saat mereka melihatku gugup.


“Apa kami membuat harapanmu pupus?” Mizuhara-san bertanya dengan menyeringai.


“Eh, um…?”


Apa yang harus aku jawab…? Apa jawaban yang mereka harapkan dariku?


“Mungkin.. aku mengharapkan…”aku menjawab secara jujur.


Tiba-tiba, salah satu dari mereka tertawa lepas, tidak mampu menahan lebih lama lagi.


“Oh ayolah, itu bodoh! Tidak ada laki-laki tertarik dengan orang berwajah masam sepertimu!”


“Kaho! Jangan kejam kepadanya!”


“Tapi lihat…”


“Baiklah, dia memang cukup mudah percaya, tetapi itu membuat jelas betapa seriusnya dia, ya kan?”


“Yeah, dia ternyata tidak terbiasa untuk surat sejenis ini.”


Tanpa memberi aku kesempatan untuk menyela, Takatsuki-san dan Omi-san tetap berbincang betapa bodoh dan anehnya aku.


Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.


Berharap. Benar, aku punya harapan yang lemah bahwa seseorang mungkin menyukaiku. Betapa bodohnya aku. Itu tidak masuk akal. Sama sekali tidak mungkin.


Sekarang. Ada suatu penghalang yang jelas antara ketenteraman dunia dan diriku. Transparan, seperti gelas kaca. Kalaupun mereka bisa melihatku, tidak ada seorang pun berusaha membaca apa perasaan yang aku pegang dibalik wajahku. Kalaupun mereka bisa mendengarku, tidak ada seorang pun berusaha untuk memahami arti dari kata-kataku.


Ini hampir seperti mataku mempersepsikan sesuatu seluruhnya berbeda dari semua orang. Kapan saja aku menjangkau tanganku, aku hanya bisa menggenggam udara.


Sendirian. Aku sendirian.


Seseorang sepertiku? Sepertinya begitu. Pada akhirnya tidak ada yang tertarik padaku, kecuali sebagai orang untuk diusik. Sebagai bahan tertawaan.


“…Uh…”


Ah…aku tidak ingin menangis…tetapi air mata mengalir. Ini akan mengganggu kesenangan mereka. Aku minta maaf, tetapi aku menangis, aku benar-benar minta maaf.


Seperti yang diduga, mereka mulai membuat wajah yang risau.


Terdesak untuk tidak menunjukkan mereka air mataku, aku menutup mataku.


“Ah…kita membuatnya menangis. Maaf, Saito-san,” Mizuhara-san berkata dengan lembut. “Tapi kamu tahu? Kami tidak bermaksud menyakitimu. Bagaimana mengatakannya…kamu selalu menolak berbicara kepada orang-orang bukan?


Bukan, aku sederhananya tidak mampu berbicara kepada orang-orang!


“Aku pikir itu bukan hal yang bagus, jadi aku memikirkan untuk melakukan ini, sejenis perlakuan mengguncang hati, mungkin membantumu. Aku tidak bermaksud melukai.”


Aku mau tahu seberapa besar kebenaran perkataannya? Mungkin itu alasannya, tapi bagaimana sepucuk surat cinta palsu mengira dapat membuatku berbicara secara normal? Apakah tidak ada cara lain? Bukankah itu hanya dalih untuk mengusikku?


“Tidak bermaksud menyinggung! Serius!...akankah kamu memaafkan aku?”


Biarpun begitu, ada sesuatu yang tersesak dalam suaranya yang membuatku menggangguk selagi aku masih menutup mataku.


“Aah, Terima kasih banyak…aku benar-benar minta maaf. Okay, sampai jumpa.” Sekali aku memaafkan mereka, mereka dengan cepat pergi.


…tetapi Mizuhara-san tidak kejam. Dia mungkin sepenuhnya salah penilaian, tetapi dia peduli terhadapku. Dia memperhatikanku.


Ya, dia tidak kejam.dia…tidak kejam.


“Apa-apaan ini!”


Perkataan hatiku menjadi buyar. Dikejutkan oleh suara mendadak, aku mendongak.


“Ah…kimura-kun…”


Oh tidak, dia melihat wajahku yang dibasahi air mata. Aku pasti terlihat buruk sekarang…


“Maaf! Aku mendengar diam-diam percakapan kalian,” dia berkata dengan wajah yang khawatir.


“Mmm! Aku baik-baik saja…”kata ini keluar dari bibirku karena aku ingin meyakinkan dia kembali.


“…Mereka mengganggumu dengan surat cinta palsu, benar? Itu kejam. Dia…Mizuhara memang selalu seperti itu. Kamu bisa bilang hobi dia adalah memainkan perasaan orang lain!” Kimura-kun nyerocos, kelihatan sungguh-sungguh marah padanya.


Apakah dia marah demi aku? Benar demi aku? kalau iya, mengapa?


Ok, apa yang kira-kira harus kulakukan? Apa yang kira-kira harus kulakukan untuk menenangkan dia?


“Tak apa, Kimura-kun…aku tau ini hanya tipuan.”


“Kamu tahu ini tipuan?” dia bertanya sambil menaikkan alis.


“Aku tahu itu…akan berakhir seperti ini.”


“…Tapi kalau begitu kenapa tidak kamu abaikan suratnya?”


“---“


Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.


“Baiklah, terserah saja…bagaimanapun, kalau hal seperti ini terjadi lagi, biarkan aku mengetahuinya!”


“Eh?!”


“A-Apa? kamu tidak percaya padaku, atau apa?”


Aku menggelengkan kepala dengan kencang. wajar aku terkejut – lagipula, dia tidak akan mendapat keuntungan apapun dari menolongku.


“Kamu gadis yang cukup aneh…okey, cepat pulang!” dia berkata dengan senyuman sambil menaruh tangan diatas kepalaku, setelah itu pergi. Tak mampu mengetahui maksudnya, aku hanya memandanginya dengan bingung.


Ketika berjalan pulang ke rumah, aku mulai merenungkan alasan kenapa aku tidak bisa mengabaikan suratnya.


Aku menduga suratnya palsu – karena tidak ada nama, karena kertas yang digunakan bukan khas anak laki-laki, dan terutama, karena aku perhatikan penulis dengan sengaja mencoba memalsukan tulisan tangannya.


Biarpun begitu, andaikata, yang mana tidak mungkin, surat cinta itu asli? kalau seperti itu, mengabaikan akan menyakiti orang itu. Aku akan mengkhianati orang itu dan ketulusan permintaannya Untuk memintaku menunggu. Aku tidak bisa melakukan itu. Benar-benar tidak bisa.


Di samping itu , aku juga tidak bisa mengabaikan apapun yang terjadi: orang yang ingin membuat lelucon pada bebanku berharap untukku berperan sebagai orang bodoh. Bila aku mengabaikan permintaan tersebut, aku akan mengkhianati ekspektasi mereka. Aku akan merusak kesenangan mereka. Aku akan jatuh dalam ketidaksukaan mereka.


Itulah mengapa aku tidak mampu mengabaikan surat tersebut.


Apakah aku membuat pilihan yang tepat? Tidak, aku yakin tidak. kalau iya –


Ini tidak akan sangat menyakitkan.


Reina.


Ini menyakitkan, Reina!


Aku tidak ingin berada di sini, ini menyakitkan!


Untuk pertama kalinya di waktu yang lama, aku menghadapi pemikiran itu lagi. Pemikiran yang selalu aku pegang sebelum bertemu Reina.


Benar, Seandainya Reina tidak berada di sini, aku—


Aku sejak dahulu sudah— mati.


Aku memikirkan tentang kematian tak terhitung berapa kali.


Aku yakin tidak ada hal seperti waktu bahagia.


Orang-orang dewasa berbohong saat mereka berbicara dengan menduga masa muda bahagia. Jika mereka jujur, maka kenangan nostalgia pasti akan membungkus ingatan mereka, karena mereka tidak bisa menahan ketiadaan harapan dalam realitas sebaliknya. Berpikir ulang pada hari itu, semuanya dimanfaatkan untuk lebih baik, agar bertahan menghadapi masa kini.


ini menuntun pada kesimpulanku:


Kehidupan sia-sia dan akan selalu menjadi sia-sia. Kita menghuni kehidupan gelap gulita kita sebab kita bergantung pada pecahan masa lalu gemilang yang muncul sekarang dan nanti, lalu kita memikirkan kembali pada pecahan masa lalu itu dengan senyuman nostalgia di wajah kita. Seperti orang tolol.


Akan tetapi, aku tidak mempunyai suatu masa lalu untuk berlindung. Aku tidak punya masa lalu yang romantis di pikiranku saat aku kehilangan harapan dalam realitas. Aku tidak punya pilihan lain selain untuk menerima bahwa hidup itu dipenuhi dengan keputusasaan dari bawah sampai atas. Oleh karena itu, satu-satunya tempat untuk aku melarikan diri adalah kematian.


Jangan berpikir bunuh diri, orang-orang berbicara seperti itu. Tapi apakah pernyataan tersebut didukung oleh pemikiran yang aktual? Kamu tidak akan membunuh, tentu saja. Kamu tidak akan mencuri, tentu saja. Kamu tidak akan melakukan bunuh diri, tentu saja. Jawabannya sangat jelas bahwa tidak ada tempat untuk keraguan. Pernyataan tersebut secara sempurna pasti benar.


Kamu harus berjalan di suatu jalan terjal tanpa akhir yang tidak berarti sedikitpun, dan kamu secara alamiah tidak diijinkan untuk berhenti. Suatu sistem yang sia-sia.


Apa yang kamu ingin aku lakukan? Apa yang kira-kira aku lakukan?


Seseorang selamatkan aku! Berikan aku harapan! Tidak, aku tidak ingin begitu serakah. Tolong seseorang, perhatikan aku bahwa aku berjalan di jalan ini dan katakanlah beberapa kata lembut untukku…


“Fumi.”


Terkejut dengan suara yang memanggilku di waktu yang tepat, aku mengangkat kepalaku.


“Reina..”


Setelah berbicara aku menyadari bahwa aku sedang menangis.


“Kamu menyuruh aku untuk pulang ke rumah, tetapi kamu tidak melarangku untuk menemuimu, kan?” dia tersenyum lembut kepadaku.


“…Aku tidak sanggup.”


Sungguhpun dia paham maksudku, dia dengan lembut memelukku.


“…Ini menyakitkan, bukan?”


Aku tidak sanggup…aku tidak sanggup lagi!


Aku akan bergantung kepadamu, Reina! Aku akan bersandar kepadamu! Aku mempercayakan hidupku kepadamu!


“Baiklah,” dia berbisik kepadaku. “Aku tidak akan mengkhianati kamu.”


“–!”


Aku dengan jelas mengerti sekarang kenapa aku menyuruh Reina pulang ke rumah lebih awal.


Ini karena aku tahu bahwa dia akan menenangkanku.


Karena aku tahu bahwa aku akan bergantung kepadanya.


Apa konsekuensinya?


Aku telah lama kehilangan keseimbangan di sini, dan membutuhkan sesuatu untuk berlindung.


Tak perlu dikatakan, Reina kamisu telah mengambil peran sebagai pelindungku, sebagai tempat perlindunganku.


Tapi sekarang, karena pelukannya, aku benar-benar telah menjadi orang tanggungan untuknya. Mungkin sudah begitu keadaannya untuk waktu yang lama, tapi apapun yang terjadi, aku tidak lagi mampu hidup tanpa Reina.


untuk mencegah hal itu, aku menyuruhnya pulang.


“…Reina…Aku…”


“Tak apa. Jangan Khawatir. Aku akan memikul bebanmu.”


Kata-katanya menembusku.


Aku merasa seluruh tubuhku mulai luluh ke tubuh Reina. Perlahan tapi pasti, aku memudar ke dalam dirinya.


Semacam kebahagiaan.


Aku menyadari bahwa betapa berartinya diterima oleh seseorang.


“Uh…gh...,” aku merintih selagi air mataku menekan. Jatuh di Reina, menghasilkan bekas kecil. Aku senantiasa menyangka air mataku hanya akan jatuh ke tanah, tapi aku salah


– air mataku menjangkau hati Reina.


Aku bagian dari Reina, dan – Reina adalah segalanya untukku.

Bagian 3[edit]

Aku berubah. Cairan “Reina” terus menerus tertuang ke dalam wadah “Aku”, sementara cairan “Aku” tumpah dari wadah.


Wadahnya masih Aku, tetapi isinya adalah Reina;


Reina menjadi inti sari dariku.


Aku tetap tidak berbicara apapun di kelas (meskipun Kimura-kun, yang duduk dibelakangku, berbicara kepadaku dari waktu ke waktu), tapi aku tidak merasa tertekan lagi.


Aku tak sendirian.


Keyakinan itu yang memberiku kekuatan. Pemikiran yang aku pegang yang enyah entah dimana.


Aku tidak peduli apapun selama Reina bersamaku.


Itulah apa yang aku pikirkan. Itulah apa yang aku yakini.


Tapi bukan dalam impian liarku yang seperti kukira hal itu bisa bertambah buruk.


“Aku tidak bisa menemukan dompetku!” Mizuhara-san teriak dengan gelisah.


Semua orang yang hadir di homeroom setelah pelajaran, termasuk guru kelas kami Kosugi-sensei, memfokuskan pandangan ke mizuhara-san selagi dia terdesak mencari dompetnya. Anggota grupnya sedang mengamatinya dengan khawatir. Untuk beberapa saat, ruang kelas menjadi sunyi, sampai seseorang memeriksa kalau dompetnya sendiri masih ada, dan yang lain pun meniru. Aku tidak membawa dompetku ke sekolah, tapi aku meraih ke dalam kantongku supaya tak janggal sendiri.


Seiring waktu semua orang menyatakan bahwa uang mereka aman, Mizuhara-san masih duduk di tempat duduknya, terlihat bersusah payah. Kosugi-sensei berjalan menuju dia.


“Sudah kamu temukan?”


“Belum…”


“Apa kamu yakin tadi disana?”


“Tentu saja”


“Baiklah,” guru tersebut berkata dengan kernyitan dahi dan kembali ke meja guru. “Oke, seperti yang kalian dengar, Mizuhara telah kehilangan dompetnya. Tentu, ini mungkin ada sedikit semacam kesalahpahaman kepadanya, tetapi-“ dia mulai menjelaskan dengan cara yang tidak jelas bahwa ada suatu peluang seorang siswa kelas ini mungkin mencuri dompet Mizuhara-san.


Kemungkinan terjadi pencurian adalah tinggi, menganggap barang apa yang telah hilang. Belum lama ini, ada yang meributkan tentang kecurian pemutar mp3.


Mizuhara-san, yang memastikan bahwa ini pencurian, terlihat marah, sehingga para anggota grupnya, ikut terpengaruh olehnya.


“Apakah seseorang tahu dimana dompet dia mungkin berada?” guru tersebut bertanya.


Semua orang hanya saling bertukar pandangan, guru tersebut tidak mengharapkan jawaban apapun, entah- si pelaku atau orang yang tahu siapa yang melakukan perbuatan ini tidak akan berbicara sekarang.


Atau begitu yang aku pikirkan. Tapi ternyata aku salah.


Kimura-kun dengan perlahan mengangkat tangannya.


“Kimura, kamu tahu sesuatu?”


“Tidak, tidak juga… tapi ada yang menggangguku.”


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak berpikir itu hal yang lumrah untuk sekalian mengambil dompet ketika mencuri uang. Biasanya, kamu tinggal mengeluarkan isinya saja kan? Tepatnya, itu bagaimana pencurian di kelas 5 terjadi.”


“…Mungkin.”


“Disamping itu, lebih masuk akal kalau mencuri uang semua siswa dikelas daripada hanya punya Mizuhara-san. Namun, Cuma dia korbannya.”


“Apa yang ingin kamu katakan?”


“Yang ingin aku katakan bahwa ini entah suatu kesalahpahaman atau lelucon yang berlebihan terhadap Mizuhara-san.”


“Ini pasti bukan suatu kesalahpahaman!” Mizuhara-san tidak setuju. “Seseorang menjahiliku!”


“Jail, hmm? Berapa uang yang ada di dompetmu, kalau boleh tahu?”


“…1000 yen dan recehan, terus kenapa?” dia menjawab dengan masam.


“Kalau begitu ini bisa jadi bukan karena uang. Ini terlihat tujuan si pelaku adalah untuk mengganggu Mizuhara-san; dan tidakkah itu mempersempit daftar pelaku ke jumlah yang dapat dikendalikan?” Kimura-kun berkata, menyebabkan semua orang saling bertukar pandangan lagi.


Itu berarti bahwa si pelaku mempunyai dendam kepada Mizuhara-san, atau setidaknya tidak berpikir baik tentang dia?


Sampai pada pemikiran ini –


–Aku memperhatikan tatapan mata mulai memfokuskan pandangan kepadaku.


“Hah…?”


Beberapa murid yang tidak memandangiku memperhatikan bahwa teman mereka yang lain sedang memfokuskan pandangannya kepadaku, dan dengan demikian mengikuti. Saat mengetahuinya, siswa yang lain menatap kepadaku. Semua mata tertuju padaku.


Kenapa? Kenapa mereka melihat kepadaku?


Ini membuat tampak seperti…seperti –


Guru kami, juga, memperhatikan bahwa aku menjadi pusat perhatian, dan melihat padaku, cuman untuk mengalihkan pandangannya ke Mizuhara-san. Aku mengikuti pandangannya.


Entah kenapa, Mizuhara-san membuat muka kesadaran.


“Saito,” guru berkata padaku dengan suara keras, membuatku ketakutan.


Hanya karena dia memanggil namaku?...Ya, tapi aku..tapi aku tidak bodoh seakan tidak mengerti situasinya. Untukku barusan adalah sebuah – vonis hukuman mati.


“Apa kamu tahu sesuatu?”


“Eh? Ah..er…”


Aku tidak tahu apapun! Aku tidak bersalah! Tapi…aku gagal untuk mengatakannya dengan wajar.


“Ada apa? aku menanyakanmu sebuah pertanyaan, Saito.”


Tapi dia mencurigaiku.


“Uh…”


Semua orang melihat kearahku, mencurigaiku – itu lebih dari cukup untuk membuatku kehilangan kata-kata, tapi mereka tidak memahami itu.


Yang mereka pahami adalah seperti ini: aku sedang panik karena aku ketahuan, karena aku si pelaku.


Aku sadar betul hal itu, dan aku tahu bahwa aku harus benar-benar menjawab pertanyaannya dengan percaya diri, tapi aku mendapati diriku tak mampu melakukannya.


“Aku…Aku..”


Seandainya saja ada seseorang di sini yang mengerti kepribadianku – jika saja Reina di sini – dia bisa menjelaskan hal ini kepada mereka, tetapi dia tidak di sini.


Dia tidak di sini.


Aku tidak punya satu pendukung pun di sini.


“Aku tidak…aku tidak tahu apa-“


“Kosugi-sensei,” Mizuhara-san berkata, memotong kata-kata putus asa yang singkat dariku. Aku melihatnya dalam keheranan.


Tidak ada kemarahan lagi di wajahnya.


“Ada apa, Mizuhara?”


“Aku telah melakukan suatu hal kepada Saito-san yang mungkin membuatnya memendam dendam kepadaku. Aku menjahilinya. memikirkan itu sekarang… suatu keburukan dariku,” dia berkata dengan menangis.”Tapi aku…aku melakukan hal itu karena aku pikir bisa membantunya untuk lebih membuka dirinya sendiri!”


Terkejut dengan apa yang dia katakan, aku menatapnya. Ekspresi menyedihkan di wajahnya asli. Mizuhara-san jujur.


Biarpun begitu, belum jelas untukku apakah dia benar-benar mencoba untuk membuka hatiku dengan surat palsu itu, atau hanya ingin memuji dirinya sendiri pada tujuan mulianya karena situasi yang dia dapatkan pada dirinya.


Apapun jawabannya, ada satu hal yang menjadi sebuah fakta.


Kata-katanya memojokkan posisiku.


“…”


Semua mata tertuju padaku.


Tatapan, tatapan, tatapan, tatapan, tatapan.


Seperti cahaya yang diproyeksikan lewat suatu pengulangan, tatapan penuh rasa mencela mereka menembus melaluiku.


Tidak ada kecurigaan dari mereka lagi.


Ini sudah diputuskan.


Ini sudah diputuskan bahwa akulah si pelaku.


“Bukan, Aku buka-“


“Itu memang KAMU!” Takatsuki-san memotong. “Kamu sangat kesal, tapi kamu tidak bisa membela dirimu sendiri karena kamu terlalu takut! Makanya kamu terpaksa menggunakan semacam cara kotor – untuk melepas rasa frustasimu!”


“Jangan bicara begitu, Kaho. Aku…aku juga salah…”


Juga.


Perkataan Mizuhara-san yang menangis tersedu-sedu punya maksud tersembunyi tapi dengan jelas menyiratkan bahwa aku si pelaku dan dia adalah si korban.


Hasilnya, kata-katanya menuang bensin kedalam api. Dengan kepala berapi-api, Takatsuki-san berjalan ke arahku. Takut dipukul, aku melindungi kepalaku dan mundur.


Akan tetapi, dia tidak bermaksud memukulku, tujuannya adalah tasku. Dia mengambilnya, membukanya, membaliknya dan menumpahkan isinya keatas mejaku.


Dan entah kenapa, ada dompet yang tidak dikenali diantara barang-barang yang jatuh diatas mejaku. Akan tetapi, seseorang telah menyobek dompetnya dengan sebuah cutter.


“…Saito, ke ruang guru nanti.”


Saat guru berkata seperti itu, tangisan tersedu-sedu yang tidak terkontrol menggema di kelas.


Tak perlu disebut, itu adalah Mizuhara-san.


Aku melihat sekeliling.


Tatapan. Tatapan. Tatapan. Tatapan. Tatapan. Tatapan.


Seperti pemecah kebekuan, tatapan penuh rasa mencela mereka menembus melaluiku.


Reina tidak di sini.


Dengan kata lain – tidak ada seorang pun di sini.


Aku tidak punya satu pendukung pun di sini.


Pada hari selanjutnya, mejaku menghilang.


Hingga sekarang, aku cuma udara untuk semua orang, tapi mulai saat ini, mereka bahkan tidak mengakui aku sebagai udara lagi.


Aku bahkan tidak dizinkan ada.


Sebuah meja hilang di kelas seperti sebuah pecahan hilang dalam suatu puzzle; tapi dalam kasus ini mejaku yang hilang. Hanya aku yang merasa bahwa pecahannya menghilang –


Untuk orang lain, puzzlenya sudah lengkap.


Aku pergi ke beranda dan memindahkan meja dan kursi kembali ke tempat asalnya. Tempat asal? Sungguh? Tidak, mungkin tempat asal dimana aku duduk seharusnya bukan didalam kelas, tapi di beranda.


Tapi ketika kemungkinan itu benar…aku tidak mau memedulikannya.


Putih, semuanya berubah putih.


Semuanya sekeliling Reina dan aku berubah putih.


Seperti sebuah novel kurang jarak, aku tak mampu untuk merasakan akan putihnya dunia di sini. Mereka menghilang. Segalanya disekelilingku lepas dari jangkauan.


Atau mungkin –


Aku yang kekurangan warna.


Istirahat makan siang berakhir tanpa pembicaraanku kepada siapapun.


Aku benar-benar tidak berbicara satu kata pun, karena aku tidak bisa bertemu Reina juga. Tidak ada satu kata pun keluar dariku atau untukku.


Orang-orang berhenti berbicara kepadaku. Bukan, itu bukan pengabaran, tapi paling tidak sebelumnya, tidak ada niat jahat didalamnya.


Aku bahkan tidak diizinkan untuk percakapan singkat. bahkan kimura-kun tidak mampu mengatasi medan magnet disekitarku yang muncul di kelas.


“…”


Aku sadar hal itu


Aku sadar hal itu, namun ini terlihat jelas.


Tidak seorang pun peduli jika aku menghilang.


Dunia tidak akan menghilang ketika aku menghilang.


Langit yang biru akan seutuhnya mengabaikanku dan bahkan tidak membuatnya turun hujan. Tidak seorang pun peduli apapun yang terjadi padaku. Aku benar-benar terpisah dari ketenteraman dunia.


Sekali lagi, suatu pemikiran akrab menyerangku.


–Aku… aku tidak bisa menahannya lagi, Reina!


Mengapa? Apa yang sudah kuperbuat? Aku tidak ingin dibenci. Itu saja…aku hanya menutup diriku kedalam kotak kecilku karena aku takut disakiti, tapi kenapa malah mereka menusuknya dengan tombak?


Ini menyakitkan, ini menyakitkan, ini menyakitkan!


Selamatkan aku Reina, selamatkan aku Reina, selamat aku Reina, selamatkan aku Reina.


“Mereka semua benar-benar kejam.”


“-Huh?”


Reina berdiri dihadapan mataku.


“Huh? Ada apa, Fumi?”


“Ah,mmm…tidak ada apa-apa.”


Pelajaran telah berakhir; aku menangkap Reina ketika dia hendak pergi ke klubnya dan berkonsultasi dengannya di tempat biasa kami di tangga menuju atap.


Ya, itu terdengar sangat wajar.


Kenapa kemudian hal itu terasa fatal? tidak tahu jawabannya.


“Kenapa mereka berpikir kamu si pelaku tanpa bukti yang memberatkan? Tidak mungkin kamu akan melakukan hal itu.”


“…Yah, mereka tidak tahu kepribadianku. Disamping itu, dompet Mizuhara-san ada didalam tasku, sehingga wajar bahwa mereka akan berpikir aku yang melakukannya.”


“Ya, tapi Fumi...kenapa dompet itu ada didalam tasmu?”


“Karena-“


Aku benar-benar tidak ingin memikirkan tentang hal itu…


“…Alasan pertama yang muncul dibenakku mungkin karena seseorang mencoba menjebakmu.”


“…Yeah, kemungkinan besar.” Kecuali jika aku mempunyai kepribadian ganda.”…Seseorang yang membenciku?”


“Aku…aku pikir tidak begitu. Kamu bukan salah satu orang yang membuat banyak musuh…aku pikir itu seseorang yang berpikir secara sederhana bahwa mudah untuk mengambinghitamkanmu.”


Mungkin.


Tapi bagaimanapun, seseorang yang cukup membenciku tak masalah dengan mengambinghitamkanku.


“Itu kejam! Kita harus menemukan dan memberi pelaku pelajaran!”


“Tidak…tidak usah!”


“Kenapa? Bukankah kamu menderita dengan situasi saat ini?”


“Iya. Iya, tapi…”


“Tapi?”


“Masalahnya bukan hal baru. Itu sekedar timbul di permukaan sekarang…”


“Itu bukan…maksudku, kamu bukan yang paling tidak populer…”


“Kamu pikir begitu? Aku cukup yakin ini hanya masalah waktu saja. Sebagai contoh, jika posisi Mizuhara-san dan posisiku dibalik, aku kemungkinan besar juga akan berakhir dengan akhir yang singkat dari orang yang membosankan.”


“Tidak, kamu-“


Reina kehilangan kata-kata. Ketika muncul untuk memutuskan siapa yang bersalah, ini bukan masalah apa yang telah dilakukan, tetapi siapa yang melakukan. Antara guru dan siswa, siswa yang akan menjadi pihak yang bersalah; antara seorang siswa terhormat dan seorang siswa nakal, seorang siswa yang nakal yang akan menjadi pihak yang bersalah;antara seseorang yang cantik dan seseorang yang jelek, seseorang yang jelek akan menjadi pihak yang bersalah.


Dan tentu saja, antara Mizuhara-san dan aku, aku yang akan menjadi pihak yang bersalah.


Dengan kata lain, hasilnya sudah diputuskan selama ini.


Reina pintar, dia menyadari hal itu.


“…Itu tidak benar!”


Reina tidak yakin kata-katanya sendiri, dan terlihat di wajahnya, dia menegur dirinya sendiri karena ragu-ragu.


…namun tidak perlu menegur dirinya sendiri, sebab itulah faktanya.


“Reina.”


“Hm?”


“Kamu tetap disampingku kan?”


“Ya!”


Bagus.


Aku punya pendukung. Aku punya teman yang tak tergantikan. Aku punya Reina.


Maka aku mungkin masih berada di sini.


“Ah-“ Reina tiba-tiba berbicara, sehingga aku mengikuti pandangannya.


“Um…”


Kimura-kun berdiri disana, nampaknya merasa tidak-pantas-di sini.


“…Kimura-kun? Ada masalah apa?”


“Ah, ya…bisakah kamu meluangkan waktu sebentar?” dia bertanya ogah-ogahan.


“Y-Yeah…ada apa?”


“Langsung saja ke poinnya, Ashi-chan memberitahuku untuk memanggilmu, karena aku kebetulan sudah tahu bahwa kamu kadang kala di sini.”


“Ashi-chan?”


“Aku bicara tentang Ashizawa-kun! Toshiki Ashizawa.”


Si perangai buruk Ashizawa-kun…? Apa yang dia inginkan dariku?


Apapun itu, itu tidak bagus untukku. Ekspresi Kimura-kun membuatnya jelas.


“Err…apakah dia…marah?”


“…”


Dia hanya menatapku dengan seksama, dan pada akhirnya memalingkan tatapannya.


“…Dia marah kan?”


“Saito-san. Mungkin lebih baik bila kamu tidak pergi menemuinya.” Dia bergumam dengan mata berpaling.


…kelihatannya ini lebih serius dari yang aku pikir. Tapi jika aku tidak pergi, keengganan Ashizawa-kun terhadapku akan berkembang.


Aku-aku tidak menginginkan itu. Aku tidak ingin dihindari terlebih lagi karena suatu kesalahpahaman.


“…Aku akan pergi.”


“Okay…” dia berkata olah-olah ia akan mendapat pemukulan dari Ashizawa-kun.


“Fumi,” Reina berbicara kepadaku dengan nada khawatir.


“Aku akan baik-baik saja,” aku tersenyum dan melambaikan selamat tinggal padanya.


Dibawa ke kelas kami (Kimura-kun segera pergi ke klubnya), Ashizawa-kun memojokkanku, dan tanpa diberi waktu untuk kebingungan, aku dikepung oleh teman-temannya, Takatsuki-san dan anggota grup lain, ketika beberapa dari teman sekelasku menyaksikan dari jarak yang aman. Mizuhara-san di sini juga, tapi menyaksikan dari kejauhan dengan ekspresi cemas.


“Okay. Apakah kamu tahu apa ini?” Ashizawa-kun berkata dengan nada menindas sambil memegang sesuatu dihadapan wajahku. Susah untuk melihat dari jarak dekat, tapi aku bisa mengenali bahwa itu dompet Mizuhara-san.


“—“


Aku mencoba menjawab, tapi kata-kata menempel di tenggorokanku. Semua orang menyaksikanku secara seksama dengan nampak sekali kebencian;aku merasa bahwa aku dilarang untuk berbicara. Aku takut.


Tangan kanannya, yang tepat disamping kepalaku, mungkin akan kelepasan seketika. Dia pasti ingin. Dia marah. Dan sasaran sempurna untuk melampiaskan kemarahannya tepat di depan matanya.


Aku takut! Kenapa mereka melihat kepadaku seperti itu? Aku tidak bisa berkata apapun! Aku dilarang untuk berbicara!


“Hey! Aku bertanya padamu apa ini!” dia berteriak. Tangan kanannya berkedut.


“Ini sebuah…dompet…”


“Dompet siapa?”


“Mizuhara-san…”


“Benar. Ini dompet Yuu.”


Yuu? memikirkan hal itu, itu nama depan Mizuhara-san.


“Ini dompet yang aku berikan untuk hari ulang tahunnya. Ini dompet yang kamu potong dengan sebuah cutter sialan!” dia berkata, air liurnya terbang ke wajahku.


Kemarahan yang membuatnya kehilangan lebih dari setengah akal sehatnya. Seandainya aku seorang pria, dia sudah memukulku beberapa waktu lalu.


“Kamu tahu bahwa Yuu berpacaran dengan Toshiki, bukan?”


Takatsuki-san berkata dengan wajah menakutkan.”Dan kamu juga tahu bahwa dompet ini hadiah dari dia, ya kan?”


Aku tidak. Aku tidak tahu bahwa mereka pasangan. Rumor tersebut tidak mencapai padaku sama sekali.


“Itulah mengapa kamu mencuri dompet tersebut ketika kamu kesal, bukan? Kamu tidak bisa menyembunyikan hal itu!”


Tidak, aku tidak melakukan apapun!


Tapi aku tidak bisa mengatakan itu. Meski bila aku mengatakan dan menjelaskan diriku, mereka tidak akan mempercayaiku.


“Kamu mengerti itu? Ini bukan sesuatu yang kamu bisa tebus dengan uang sialan!”


Tangan kanannya bergerak. Aku secara otomatis menutup mataku. Biarpun begitu, dia entah bagaimana bisa mengontrol dirinya sendiri dan memukul tembok dibelakangku.


Pikiranku kosong seperti lukisan putih. Aku sekujur tubuh gemetaran.


Apa yang harus aku lakukan? Aku takut! Tolong, jangan sakiti aku. Aku tidak melakukan apapun!


“Selamatkan aku…?”


Aku bergumam akhirnya, terpojok dan terintimidasi.


“Selamatkan aku…?”


Awalnya, yang lain tampaknya berpikir bahwa aku memohon kepada mereka, tapi mereka dengan cepat menyadari itu bukan keadaannya dan terkejut.


“Selamatkan aku…”


Aku meminta pertolongan. Tentu, hanya ada satu orang yang akan aku memintakan pertolongan.


“Selamat aku…Reina.”


Aku tidak ingin membuat Reina terlibat, maka aku mencoba menyelesaikan masalah tanpa kedatangannya padaku.


Tapi aku gagal.


Aku membayangkan bagaimana rambut panjangnya bergoyang selagi Reina muncul dan dengan cepat membebaskanku dari cakar mereka. Aku merasakan bahwa gambaran ini akan menjadi kenyataan. Dan kemudian dia akan tersenyum padaku dengan wajah begitu cantiknya,


“Semuanya baik-baik saja, Fumi.”


-Akan tetapi, Reina tidak muncul.


Ilusi manis itu membawaku dari tanah menuju awan, menuju ke puncak. Tapi pada akhirnya, aku terus-menerus merangkak di tanah dalam kenyataan. Aku mengalutkan puncak lagi.


“Uh…uh…”


Tak mampu menahannya, aku mulai menangis.


Dikacaukan oleh air mataku, tanda-tanda kekerasan menghilang, meskipun Ashizawa-kun masih tampak marah.


“Apa?! apakah kamu pikir kita akan memaafkanmu kalau kamu menangis?!” Takatsuki-san berteriak saat ia semakin dekat denganku. “Selain itu, tidak ada orang yang akan “menyelamatkan’ seseorang sepertimu!”


“Tapi ada…”


“Siapa? Ibumu? Seorang guru? Mereka akan menolongmu karena itu memang tugas mereka!”


“Ada!”


“Dan siapa itu?! Tuan yang baik, Kamu-“


“Reina! Reina Kamisu ada untukku!” aku berteriak. Dengan suara yang mungkin terkuat dalam seumur hidupku.


Takatsuki-san – tidak, semua orang yang hadir – melebarkan mata mereka dalam menanggapi teriakan bertenagaku. Aku terkejut oleh diriku sendiri, juga, tapi aku tidak menyesalinya.


Karena itu satu hal yang aku tidak akan izinkan siapa pun untuk berselisih denganku.


Aku memiliki seorang teman yang tak tergantikan.


Aku memiliki Reina Kamisu.


Aku tidak akan membiarkan siapa pun berkata sebaliknya.


Mengambil keuntungan dari kebingungan mereka, aku melarikan diri. Aku melarikan diri dari mereka. Aku tidak butuh apa-apa lagi. tidak suatu apapun. Yang kubutuhkan adalah Reina. Selama Reina bersama denganku, aku baik-baik saja.

Bagian 4[edit]

Seperti yang dijanjikan, Reina dan aku pergi ke akuarium.


Disana banyak pengunjung dari yang diduga pada hari kerja, kebanyakan yaitu keluarga dengan anak-anak dan pasangan muda berumur sekitar 20 tahun. Kemungkinan karena mereka tidak dibatasi waktu.


Dan tentu saja, kami satu-satunya siswa sekolah menengah disekitar.


“Reina, apa kamu yakin kamu tidak perlu berangkat ke sekolah?”


“Ini baik-baik saja, tapi bagaimana denganmu, Fumi?”


“Aku tidak keberatan sama sekali.”


Aku tidak disambut di sekolah, lagipula. Orang tuaku tidak memperhatikan bahwa aku sedang membolos, entahlah, kecuali jika mereka mendapat telepon dari sekolah. Kenyataanya. Membolos sekolah hari ini membuatku bertanya-tanya kenapa aku tidak melakukan hal ini lebih cepat sebelumnya.


Aku mengamati melalui kaca ke dalam tangki air.


Ikan-ikan cantik. Semua itu yang muncul dibenak. Mereka masuk dalam spesies Chaetodon auripes[2], tapi melupakan itu ddengan cepat. Oleh sebab itu, aku hanya merasakan kalau mereka cantik.


Namun itu menyenangkan.


“Oh, lihat, Fumi! Banyak ubur-ubur!”


“Keren.”


“Aku suka ubur-ubur.”


“Kamu suka? Kenapa?”


“Hm? Yah…kenapa ya? Mungkin karena…mereka tidak terlihat seperti makhluk hidup?”


Mereka tidak terlihat seperti makhluk hidup – sekarang dia menyebutkan hal itu, dia ada benarnya juga. Didalam sebuah akuarium, mereka masih merasa sedikit seperti makhluk hidup, tapi ketika mereka ditahan dalam sebuah tangki air di rumah, mereka lebih seperti dekorasi. Dekorasi yang bersinar dan berdenyut. Ketika ubur-ubur ditaruh dalam sebuah tangki di sebuah rumah, peranan mereka berganti dari seekor makhluk hidup menjadi dekorasi.


“Selain itu, ubur-ubur jenis yang menonjol. Semua ikan lainnya di sini hanya ikan, tetapi ubur-ubur merasa seperti sama sekali makhluk yang berbeda. Ah, aku tidak jelas, ya kan?”


“Tidak, aku tahu apa yang kamu maksud. Kamu mau ngomong bahwa ubur-ubur hanya-lah ubur-ubur, benar?”


“Ah, Ya, persis. Ubur-ubur hanya-lah ubur-ubur.”


Ubur-ubur hanya-lah ubur-ubur.


Menatap Reina, yang memandang ke dalam tangki air, aku berpikir:


Reina juga seperti itu.


Reina Kamisu hanya-lah Reina Kamisu.


cantik yang tidak terjangkau akal, sama sekali berbeda dengan orang lain, dan pendukungku satu-satunya.


Reina melihat lirikanku.


“…Ada apa, Fumi?” dia bertanya.


“Mm, tidak ada apa-apa.”


Dia memiringkan kepalanya.


“Reina…pertunjukkan lumba-lumba akan segera dimulai!”


“Hm? Oh, kamu benar. Okay, ayo cepat.”


Dengan langkah cepat, berjalan menuju stadium dimana pertunjukan lumba-lumba berlangsung.


Dalam perjalanan, kami melewati sebuah tangki dimana sejumlah besar ikan bergerombol dan berputar-putar tanpa henti.


Tidakkah mereka kelelahan? Aku tidak hanya buruk secara fisik, tapi juga secara mental. Berputar-putar sepanjang waktu tidak akan membuat mereka pergi lebih jauh, lagipula. Kalau mereka tidak ingin pergi kemanapun, apakah tujuan mereka terus menerus melakukan ini sampai mereka tidak mampu bergerak lagi? Tidakkah mereka merasa hidup seperti itu sia-sia?


Namun ikan tersebut tetap berputar-putar, tidak peduli tentang pemikiranku.


Tempat duduk di stadium ditempati dari belakang sampai depan.


“Ayo ke barisan depan, Reina.”


“Eh? Kita akan basah!”


“Aku tahu, tapi aku ingin menyaksikan lumba-lumbanya sedekat mungkin.”


Dengan merengut tapi tersenyum lembut, dia mengikutiku ke barisan depan dan duduk.


“Ngomong-ngomong, Fumi, aku sudah memberitahumu kenapa aku menyukai ubur-ubur, tapi apa alasanmu menyukai lumba-luma?”


“Hm…karena mereka menarik.”


“Hanya itu?”


“Tidak, terlepas dari hal itu…”


Sebelum aku bisa meneruskan, wanita dari pertunjukan memulai narasi, dimulai dengan suatu penjelasan singkat pada kondisi alam dari lumba-lumba (dimana hidung mereka, bahwa mereka mendengar suara melalui tulang-tulang mereka, dan lain lain.)


Dan kemudian pertunjukan dimulai.


Saat beberapa lumba-lumba melompat ke udara untuk menyapa kami, aku sudah terpesona.


Mereka cukup besar ketika kamu sungguh-sungguh melihat mereka-lompatan mereka spektakuler dan menyebabkan anak-anak dibangku penonton berteriak kegirangan. Mereka terlihat sangat besar tapi menggemaskan.


Saat mereka mendarat lagi, air terciprat ke arah kami. Aku secara alami mundur kebelakang. meskipun tidak mengenai bajuku, sepatuku sedikit basah.


Menakjubkan! Itu menakjubkan! Lumba-lumba hebat!


Selama pertunjukan, mereka melompat melewati lingkaran, mengembalikan bola yang wanita lempar ke mereka dan berenang berputar-putar…singkatnya, itu mengagumkan dan aku terserap.


“Lumba-lumba tentu cerdas…” Reina tiba-tiba berucap.


“Pastinya!” aku merespon dengan cepat.


“Hahaha, kamu benar-benar suka mereka, bukan? Apakah kecerdasan juga suatu alasan mengapa-“


“Yeah!”


Pertunjukan mencapai klimaks, yang mana menampilkan sebuah trik dimana tiga lumba-lumba harus secara bersamaan melompati tongkat yang telah diatur pada posisi yang sangat tinggi.


“Dan kamu tahu, lumba-lumba mengirimkan gelombang ultrasonik dan menentukan posisi objek melalui gelombang yang dipantulkan!”


“Seperti kelelawar.”


“Hmm…aku tidak berpikir mereka dalam golongan yang sama, tapi ya.”


Para lumba-lumba bersiap diri untuk sinyal si wanita.


Apakah mereka mampu melompat begitu tinggi? Yah, mereka tidak akan melakukan ini kalau mereka tidak bisa, tapi aku takut bahwa salah satu dari mereka tidak melakukannya.


Aku menahan nafasku.


Lumba-lumba berdiri berdampingan (bisa kamu bayangkan keadaan ini?) dan – lompat.


“Whoa!”


Itu memukau untuk mata.


Dengan cipratan besar, ketiga lumba-lumba tersebut mendarat ke dalam air, membuat beberapa gelombang besar.


“Luar biasa…” aku berkata dalam ketakjuban.


Melihat kolam bergelombang, aku sampai pada pemikiran bahwa lumba-lumba mungkin penyebab tidak pernah berakhirnya gelombang lautan.


“Hey, Fumi? Lumba-lumba dapat berkomunikasi lewat suara, benar?”


“Yeah. Meskipun tidak diketahui seberapa canggih percakapan mereka. Aku percaya bahwa keterampilan komunikasi mereka setingkat dengan kita.”


“Begitu…itu akan bagus.”


“Mm, sebenarnya, alasan lain kenapa aku suka lumba-lumba adalah karena mereka dapat berkomunikasi dengan satu sama lain!”


“Oh, Bagus.”


Pertunjukan berakhir dan pengunjung mulai pergi sedangkan para lumba-lumba menawarkan perpisahan mereka dengan berenang berkeliling dan melakukan atraksi individual.


“Kamu tahu, ketika belajar bahwa lumba-lumba dapat berkomunikasi lewat suara, aku cemburu pada mereka,” aku bergerutu sambil menyaksikan atraksi mereka.


“…Cemburu?” Reina bertanya bingung, memiringkan kepalanya kesamping.


“…”


Aku goyah bila aku harus menjelaskan hal itu kepadanya. Jika aku meneruskan, aku akan merusak suasana hati yang menyenangkan.


“Aku pikir bahwa komunikasi lewat kata-kata terlalu rumit untukku.”


Tapi aku tidak ingin memiliki rahasia dari Reina.


“Fumi…”


“Aku yakin bahwa bahkan aku akan bisa mendapatkan teman bila aku punya cara lain berkomunikasi…”


“Kamu punya aku, Fumi!”


“…Mm.”


Kata-katanya ini cukup bagiku.


“Tapi kamu tahu, belakangan ini aku memikirkan itu…”


“Hm?”


“Aku pikir bahwa aku mungkin menjadi ‘seperti itu’.”


“…’Seperti itu’?”


Tak mampu menjawabnya, aku memandangi lumba-lumba lagi, yang mana sibuk menunjukkan atraksi mereka. Salah satu dari mereka melambaikan selamat tinggal dengan siripnya. Aku melambai balik.


Dan itulah apa yang aku maksud.


Aku melambaikan tanganku karena aku dengan leluasa menerjemahkan lumba-lumba melambaikan siripnya sebagai “Selamat tinggal”. Tindakan kita tidak selaras sama sekali.


Benar, semenyedihkannya itu, aku tidak bisa berbicara dengan lumba-lumba. Tapi itu tidak terbatas pada lumba-lumba.


Bahasaku menjadi berbeda dari siapapun juga, dan itulah kenapa tidak bisa lolos kepada siapapun. Kata-kataku tidak mencapai siapapun.


Kecuali untuk Reina.


Caraku berkomunikasi menjadi berbeda. Dan itulah kenapa aku putus hubungan dan menghilang.


Kami meninggalkan akuarium, yang mana berada ditengah dari taman akuatik. Aku berjalan ke bangku dan duduk. Reina duduk disebelahku.


“Reina? Akankah kamu…”


Reina menatapku ketika aku tiba-tiba mulai berbicara.


“Akankah kamu baik-baik saja seandainya hanya kita manusia di bumi?”


Aku melihat sekeliling. Tidak ada orang yang dekat selain Reina, yang mana tidak mengejutkan untuk hari kerja sore. Kita sendirian. Aku tidak akan berada paling khawatir seandainya bumi hancur sekarang dan kita tertinggal cuma berdua.


“Hm…itu akan cukup merepotkan karena kita tidak memiliki listrik…”


“Dan jika kamu berpikir tentang hal itu tanpa kekhawatiran tersebut?”


Reina memandang wajahku dengan seksama, dan menjawab dengan senyuman:


“Dalam hal itu, tidak terdengar terlalu buruk.”


“Benarkah?”


“Benar!”


Aku memandangnya. Aah, dia tidak mengatakannya hanya bersebab. Aku senang, sungguh. lagipula, dia berbeda dariku! Tidak sepertiku, dia dicintai oleh banyak orang. Meskipun begitu, dia akan ada bersamaku.


“Tapi kamu tahu, Reina, Ibumu akan…berada-“


-Ibu Reina?


Segera aku curiga dan berhenti.


Banyak orang?


Yah, pasti banyak. Dia cantik dan baik, tidak sepertiku. Tetapi-


-Tetapi siapa mereka, khususnya?


“Fumi…?”


“Hey, Reina…”


“Ada apa?”


“…Aku tidak pernah ke rumahmu, haruskah aku?”


“Apa kamu yakin?”


“Dimana kamu tinggal lagian? Dekat? Kamu mestinya dekat. lagipula, kamu pulang ke rumah bersamaku.”


“Ada apa, Fumi? Itu jelas tidak?”


“Kenapa begitu – meskipun kita teman dekat – aku belum pernah ke tempatmu?”


“…” Reina tetap diam.


Eh? Tunggu! Apa kira-kira maksudnya?


Kami sahabat, tidak peduli bagaimana kelihatannya, jadi kenapa aku tidak tahu siapa teman-temannya dan keluarganya, dan dimana dia tinggal?


“Omong-omong, Reina-“


“Jangan katakan itu!” dia memotong pertanyaan singkatku.


“Reina…?”

“Jangan katakan lebih jauh lagi…” dia berkata dengan penuh kesedihan dan menghindarkan matanya.


Ada perihal…? Aku tidak tahu apa itu, tapi Reina punya alasan untuk tidak memberitahuku tentangnya.


Setiap orang punya hal yang dia tidak ingin atau tidak bisa katakan.


Tapi,


Tapi –


“- Itu kejam!”


“…Huh?”


“Bukankah kita sahabat? Kita tidak seharusnya menyimpan rahasia apapun dari satu sama lain! Ataukah aku satu-satunya yang merasa seperti itu? Hm?”


“Tidak!”


“Akan tetapi!”


“Ini tidak bagus, Fumi!”


“Kenapa? Aku tidak mengerti, Reina!” aku berteriak dan selagi aku berteriak, aku melihat bahwa air mata mengalir ke pipiku, yang membuat Reina tercengang.


Hawa dingin berdenyut diantara kami. Ini…tidak terjadi sebelumnya. Ini adalah pertama kali bahwa kita diliputi oleh semacam suasana dingin.


Perasaanku mencapai Reina. Dia tahu bahwa aku tidak akan pernah membenci atau mencemooh dia.


Tidak ada alasan untuk punya rahasia.


Itu harusnya tidak ada.


Namun –


“Aku tidak bisa mengatakan hal ini,” dia berkata secara tegas.


“Mengapa kamu…”


Penolakan.


Tidak., bukan itu. Itu tidak boleh. Reina tidak akan pernah berkeinginan untuk menyakitiku. Itu suatu hal…itu pasti suatu hal yang dia tidak bisa katakan meskipun begitu.


Tentu aku bisa memahami itu.


Tapi –


“Jangan meragukanku.”


Aku terus menerus merasa bahwa dia menolakku.


“Uh…”


Oleh karena itu, cucuran air keluar dari mataku.


Dan setelah aku menyadari bahwa itu air mata, mereka mulai mengucur seperti air terjun. Aah, aku menangis terlalu sering akhir-akhir ini! Ayolah, aku tidak ingin menunjukkan siapapun air mataku. Aku tidak ingin mengganggu siapapun. Tapi mereka tidak mau berhenti.


Aku menekan kepalaku dengan lututku selagi aku menangis kejer.


“ – Fumi.”


Suara Reina.


Suara lembut Reina.


“Aku minta maaf.”


Semua yang aku bisa rasakan adalah suara tangisanku sendiri, yang entah mengapa aku tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi.


Aku terus menangis seperti orang idiot, dan ketika aku mengangkat kepalaku –


–Reina tidak ada.


“Reina…?”


Aku melihat dan berlari ke sekeliling mencarinya.


Tapi dia tidak ada dimana pun untuk ditemukan.


Reina tidak ada dimana pun lagi.


Aku berdiri di luasnya, kosongnya taman akuatik, tertinggal dibelakang, sendirian di dunia.

Bagian 5[edit]

Orang-orang mempunyai penghapus didalam hati mereka.


saat efisiensi mereka berbeda dari orang ke orang –


Beberapa dari mereka mungkin benar-benar buruk – siapapun bisa menggunakan penghapus mereka.


Hapus, hapus. Okay, pergi kamu. Kamu merusak pemandangan.


Tolong enyah. Hapus, hapus.


Dua minggu telah berlalu sejak insiden dari dompet Mizuhara-san. Satu minggu sejak aku pergi ke akuarium dengan Reina.


Bahkan setelah rentang beberapa waktu, tak seorangpun berbicara kepadaku. Seperti hari-hari sebelumnya, aku hanya duduk di kursiku yang tak seharusnya di sini, dan menatap keluar jendela.


Aku telah banyak memudar.


Namun, mereka tetap menghapusku. Hapus, hapus.


Hari demi hari, aku dihapus. Sedikit demi sedikit, aku memudar. Hapus, hapus. Sebagian besar eksistensiku berubah menjadi butir-butir serpihan penghapus dan disapu dari mejaku.


Itu tidak bakal menjadi lebih baik. Mereka telah menjadi sangat terbiasa untuk menghapusku yang tidak ada seorang pun memiliki keraguan tentang hal itu, apalagi perasaan bersalah. Aku akan tetap dihapus secara mekanis. Jika ada emosi manusia yang terlibat, maka itu gangguan kecil karena penghapus mereka lelah karena penggunaan.


Dan Reina masih menghilang dalam putih dan pudarnya dunia.


Kenapa? Aku tidak akan bertahan seperti ini! Reina… kenapa kamu meninggalkan aku, Reina?


Kenapa kamu tidak muncul dihadapanku? Bahkan jika kamu mempunyai rahasia, itu seharusnya bukan halangan untuk kita!


Atau apakah kamu membenciku sekarang?


Apapun itu, aku ingin melihatmu!


Aku ingin melihatmu, aku ingin melihatmu, aku ingin melihatmu!


Tapi tidak peduli berapa kali aku memohon, Reina tidak muncul. Dan dimanapun aku tahu bahwa dia tidak akan pernah muncul.


Tidak ada artinya lagi.


Di kelas ini yang ada hanya suara gaduh yang tidak relevan, gambar yang tidak relevan, teman sekelas yang tidak relevan, dan diriku yang tidak relevan.


Tidak ada artinya lagi.


Tidak ada artinya…di sini.


“- Selamat tinggal,” aku berbisik sambil aku berdiri.


Guru berkata sesuatu. Ah, aku sedang berada di tengah ‘pelajaran’?


Oh, dia marah. Tapi aku bagaimanapun juga tidak mengerti tentang apa semua itu, dia tidak sedang berbicara kepadaku, iya kan?


Oh, dia tidak marah lagi. Tapi aku bertanya-tanya kenapa dia melihatku seperti itu? Ini pertama kalinya seseorang melakukan hal itu, sehingga aku tidak tahu apa maksudnya itu. Tapi terlihat sedikit sepertinya dia menakutkan.


Aku meninggalkan kelas.


Jauh dibelakangku, kelas membuat keributan, tapi itu tidak relevan untukku. Tidak relevan. Sama sekali tidak relevan.



Aku duduk sendirian di bordes tengah-tengah tangga menuju atap.


Ini kedua kalinya sejak aku datang kesini bahwa bangunan sekolah semakin berisik. Jam berapa ini?


Suara gaduh pertama mungkin istirahat makan siang, maka itu pasti akhir dari sekolah hari ini?


Reina. Akankah aku pernah melihatmu lagi?


Entah kenapa. Aku merasa bahwa aku tidak akan. Aku sudah merasakan itu semenjak dia menghilang dariku di taman akuatik itu. Terus kenapa? Apa-apaan tentang itu? Itu tidak mengubah apapun – aku tetap membutuhkan dia, begitu ingin, begitu putus asa.


Reina adalah segalanya dariku. Tidak ada yang tersisa jika kamu mengambilnya dariku. Aku kosong. Gumpalan daging goyah yang tidak punya tulang.


“Aah…”


Apa yang harus aku perbuat? Bagaimana aku bisa bertemu dengan reina? Aku tidak tahu! Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?


Tiba-tiba, aku mendengar seseorang berjalan menaiki tangga.


Aku menyiapkan diriku. Itu mungkin dia – dia mungkin datang seperti yang aku inginkan.


“…Saito-san.”


Kimura-kun muncul dihadapanku.


“Kimura-kun…jadi kamu datang untuk berbicara denganku…”


“Yeah…aku tidak punya alasan untuk menolak bila kamu memanggilku…”


Benar. Aku meletakkan sepucuk surat kedalam loker sepatunya untuk memanggilnya kesini. Seperti yang dulu Mizuhara-san lakukan.


“Aku juga membawa ini kesini bersamaku. Ini menyakitkan untuk melewati tatapan guru-guru,” dia menjelaskan sambil mengeluarkan kunci menuju atap.


“Mm. terima kasih,” kataku dan menerima kunci dari tangannya yang dapat dilihat gemetaran. Mungkin, dia telah menyadari kenapa aku memanggilnya kesini.


“…” dia tetap diam.


“Apa kamu tidak ingin bertanya…?”


“Bertanya apa…?” dia berkata dengan canggung.


“Mengapa aku memintamu membawakanku kunci menuju atap.” Setelah beberapa saat, dia dengan enggan bertanya, “Mengapa?”


Untuk memberitahu kebenaran, aku tidak yakin bagaimana menjawabnya, entahlah. Karena mungkin – tidak, pasti – jawabanku adalah untuk menyakitinya.


Tapi itu tak apa, bukan? Kimura-kun hanya sebagai teman lain sekelasku yang tidak relevan, lagipula.


Aku menjawab: “Untuk membalas dendam.”


Wajanya membeku seketika.


Oh, jadi aku benar. Akhirnya, aku bisa memastikan kecurigaanku.


“Balas dendam…?” dia menggagap sedih dalam kebingungan, dan bahkan lebih gugup karena itu.


“Kamu memotong dompet Mizuhara-san dan menaruhnya kedalam tasku, bukan?”


“K-Kenapa kamu berkata begitu…?” dia melawan, masih tidak mengakui itu, meskipun ia tahu bahwa dia tidak bisa menyelesaikannya.


“Tak apa! aku tidak berencana untuk menanyakanmu tentang itu.”


Pada kenyataannya, aku benar-benar tidak merasa seperti sedang menanyakan dan menyalahkan dia. Sebagaimana aku pernah katakan kepada Reina, aku hendak masuk ke situasi ini bagaimanapun – Kimura-kun cuma kebetulan salah satu yang menekan saklar.


Kata-kataku tampaknya menenangkannya sedikit.


“T-Tapi…bagaimana kamu tahu?”


Apa kamu benar-benar ingin tahu? Bukankah itu akan menyulitkan untukmu?


“…Haruskah aku menjawab itu?”


Akhirnya menyadari maksud dari jawabanku, dia terlihat suram dan berkata, “…Tidak perlu.”


“Okay.”


Sambil berkata ini, aku memasukkan kunci kedalam gembok.


Ada beberapa alasan kenapa aku mencurigai Kimura-kun.


Keraguan pertamaku muncul ketika dia memulai percakapan denganku setelah aku menerima surat cinta palsu. Aku sadar bahwa Kimura-kun tidak punya perasaan untukku, jadi aku bertanya-tanya kenapa dia tiba-tiba menjadi begitu lembut.


Petunjuk yang lain adalah reaksi umum ketika dompet Mizuhara-san hilang. Semua orang mengganggap aku si pelaku dengan cepat. Dengan kata lain, sesuatu menuntun mereka untuk percaya bahwa aku memiliki dendam kepada Mizuhara-san. Sejauh yang aku tahu, satu-satunya perselisihan dengan Mizuhara-san dan aku adalah surat cinta itu, yang berarti bahwa seseorang menyebarkan ceritanya. Tapi hanya anggota grupnya dan aku, serta Kimura-kun yang tahu tentang itu. Tentu saja, aku tidak memberitahu siapapun, dan Mizuhara-san dan teman-temannya tidak terlihat seperti mereka ingin memberitahu semua orang tentang hal itu, lagipula.


Tapi yang paling penting dari semuanya, tak ada orang lagi selain Kimura-kun yang mengusulkan bahwa si pelaku mesti mempunyai dendam kepada Mizuhara-san. Dia mencari perhatian mereka kepadaku dalam sikap yang terang-terangan.


Aku tidak tahu kenapa dia melakukan hal itu. Mungkin dia punya dendam terhadapku yang aku tidak tahu apa itu, atau dia mungkin punya perasaan kuat berhubungan dengan Mizuhara-san dan Ashizawa-kun.


Tapi aku benar-benar tidak peduli.


Cerita dia tidak relevan kepadaku.


Aku putar kuncinya, dan pintu terbuka dengan bunyi klik. Aku dengan ragu memutar gagang pintunya – yeah, nampaknya baik-baik saja.


“…Apa yang kamu berencana lakukan di atap, Saito-san?”


“…” aku perlahan berbalik kepadanya.


“Saito-san…?”


Aku menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan.


“Hey, Kimura-kun –“


“- Apakah kamu mengenal Reina Kamisu?”


Mungkin aku benar-benar berpikir bahwa Reina akan menungguku disisi lain pintu.


Ini adalah tempat yang tidak ada yang diperbolehkan masuk, meskipun sangat dekat. Ini adalah tempat yang kita semua tahu ada, tapi hanya sedikit yang benar-benar pernah disini. Dan itulah kenapa aku merasa bahwa aku akan menemukannya di sini.


Tapi tentu, tidak ada tanda-tanda Reina.


Aku berjalan ke tengah-tengah atap dan berputar-putar.


Para siswa yang sedang pulang kerumah, tiang listrik yang berdiri dalam jarak yang teratur, kawasan perbelanjaan, sungai kotor kami, sekolah lain, sebuah rumah, rumah-rumah lain – pemandangan yang tidak relevan. Tapi satu hal dalam pemandangan yang tidak relevan ini – matahari merah berkilau-kilauan bersembunyi sebagian dibelakang gedung di cakrawala – terasa relevan untukku.


Matahari hampir bersembunyi pada sisi lain, menyelesaikan pekerjaannya untuk hari ini, tapi mengambang disana dibatas, ini terasa seperti dia memanggilku.


Aku kembali ke pintu untuk menguncinya.


Sekarang aku sepenuhnya sendirian.


Aku bersandar pada pagar, dan ketika menyaksikan matahari perlahan menyembunyikan wajah-nya, aku memikirkan sekali lagi tentang Reina Kamisu.


Reina menghilang. Ya, dia menghilang.


Seorang siswa yang cantik dan populer tiba-tiba berhenti datang ke sekolah dan pergi menghilang. Ini mestinya jelas-jelas suatu insiden serius untuk sekolah menengah Shikura ini. Semestinya begitu.


Biarpun begitu, tidak ada yang membicarakan tentang hal ini.


Tentu saja, tidak ada yang akan memberitahuku, tapi meski aku bisa menguping akan rumor-rumor. Ini aneh. Reina kamisu tidak muncul dimana pun. Tidak ada yang membicarakan tentang seorang gadis luar biasa seperti dia. Apakah itu mungkin?


Aku menetapkan hati dan menyelinap melihat kedalam kelasnya. Pertama, aku tidak bisa percaya akan mataku, kemudian aku tidak bisa percaya akan telingaku, dan akhirnya, aku tidak bisa percaya akan diriku sendiri.


Tempat duduknya tidak ada. Loker sepatunya tidak ada. Namanya tidak ada. yang berkaitan dengan kehadirannya tidak ada.


Reina tidak ada dimana-mana.


Dan saat aku melihat wajah Kimura-kun ketika aku tanya dia tentang Reina, aku menjadi yakin. –


–Reina Kamisu menghilang.


Ini bukan kematian yang sederhana. Dia menghapus segala eksistensinya, segala sesuatu yang terkait dengan itu, dan menghilang.


Tanpa meninggalkan orang-orang sesuatu dari dirinya. Dan sepenuhnya mencabut fakta bahwa seseorang bernama Reina Kamisu pernah ada, dia menghilang.


Dengan pengecualian dariku, sahabatnya.


Tapi meski aku punya beberapa kenangan kosong yang tersisa seperti tetesan soda di pinggiran kaleng kosong. Aku tidak ingat dimana kami bertemu, bagaimana kami menjadi teman, atau dimana kami pergi berpisah dari akuarium. Tidak ada.


Kenangan itu akan segera pudar juga, menghapus eksistensi dia sekali dan seluruhnya.


Reina menghilang.


Reina, yang menjadi segalanya untukku, menghilang.


Jadi – tidak ada alasan untukku ada di sini lagi.

Aku memanjat ke pagar. Ini lebarnya 15cm, jadi aku bisa berdiri tanpa masalah.


Aku berpikir melepas sepatuku, tapi aku memutuskan mengesampingkan hal itu; aku tidak mencoba untuk bunuh diri atau apapun.


Aku sekedar ingin melihat Reina.


Tentu. Aku tidak bisa memastikan jika bisa bertemu dengannya seperti itu. Itu hanya pemikiran absurd bahwa jika tidak di sini, dia pasti ‘disana’. Itu hampir seabsurd pemikiran bahwa seekor burung dapat terbang melewati langit menuju ruang angkasa.


Tapi aku tidak bisa memikirkan hal lain lagi.


Tidak ada jalan lain, dan jika itu satu-satunya jalan, kenapa aku tidak mencobanya? Tidak ada yang menghentikanku. Biar aku ulangi: aku tidak punya alasan ada di sini, sehingga tidak ada yang menghentikanku.


Aku tiba-tiba mengingat kembali apa yang aku katakan ke Kimura-kun.


–Untuk membalas dendam.


Ya, suatu balas dendam cantik. Dengan membawakanku kunci, kamu mendapati dirimu terlibat dalam apa yang akan terjadi sekarang, bukan?


Aku bertanya-tanya apakah dia akan mempunyai sedikit kepedihan akan penyesalan, meskipun dia mungkin tidak peduli tentangku?


Aku melihat kebawah, dan menciut sedikit, ketakutan akan rasa sakit imanen yang aku hampir melupakan tentang hal itu. Itu akan menyakitkan. Sepuluh kali…ratusan kali lebih sakit dari sebuah suntikan. Tapi aku tidak boleh gentar.


Apa yang penting untukku? Bertemu Reina. Bersama-sama dengan Reina.


Itu yang penting. Itu saja…


benar, dengan keteguhan!


Karena aku merasa seperti aku bisa lebih menerima dengan cara seperti itu.


Aku mengambil lompatan kuat.


Tiba-tiba, dunia berputar dan berubah sepenuhnya.


Tak mampu dengan benar memahami dunia yang tak terduga ini, aku hampir pingsan.


Aku hanya bisa bilang bahwa ini bukan tempat dimana aku ingin pergi. Aku mendapati diriku dalam drama tragis.


Aah…apakah aku gagal? Apakah aku bagaimanapun juga membuat keputusan yang keliru…?


Tapi –


Baru saja aku hampir menyerah, aku menyadari bahwa aku menang taruhan.


“Reina…”


Reina tepat didepan mataku.


“Reina, aku merindukanmu…”


Dia memberiku senyumnya yang lembut dan begitu cantik.


“Reina…beritahu aku: dimana kamu?”


“Aku –“ dia menjawab.


“Aku di sini, Reina Kamisu berada – di sini.


Ah, benar.


Kenapa aku tidak memperhatikan hal sesederhana itu?