Mushoku Tensei (Indonesia):Jilid 21 Bab 10

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 10: Percaturan[edit]

Bagian 1[edit]

Keesokan harinya.

Aku pergi ke ruangan yang dilindungi oleh mantra penghalang sekali lagi, untuk bertemu Uskup Agung.

Cliff berdiri di sampingku.

"Yang Mulia, aku senang Anda sehat-sehat saja hari ini.”

Cliff juga mengetahui kejadian semalam.

Aku telah menjelaskan padanya alasan mengapa aku tidak kembali bersama Zenith.

Dia juga marah pada tindakan Keluarga Latreia yang semena-mena. Lalu, aku memintanya untuk menemaniku menghadap kakeknya sekali lagi.

Untungnya, aku diperbolehkan bertemu dengan Uskup Agung 2 hari berturut-turut.

Karena Uskup Agung sangat sibuk, kami diminta menunggu selama beberapa saat sebelum memasuki ruangannya.

"Wajahmu tampak berantakan, Rudeus-sama."

"Anda melihatnya?"

Aku menyentuh pipiku.

Aku barusan bercukur, tapi tampaknya masih ada sedikit kumis yang tersisa.

Setiap kali mengingat wajah Claire, emosiku memuncak. Itulah yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak semalam.

Ditambah dengan sedikit kumis yang tersisa….. wajar saja wajahku terlihat berantakan.

"Apakah hari ini kita akan membicarakan masalah itu?”

Uskup Agung seakan tahu apa yang hendak kubahas hari ini.

Mungkin dia sudah mendengar kasus hilangnya Zenith.

"Sebenarnya, ibuku diculik tadi malam."

"Aku tahu. Lantas, siapa pelakunya?"

Uskup Agung menatapku dengan sedikit senyum di wajahnya.

Kalau dinilai dari ekspresi wajahnya, tampaknya dia sudah tahu kasus ini.

Mungkin Uskup Agung ingin mendengar kasus itu langsung dari mulutku.

"Kurasa…. Keluarga Latreia yang melakukannya."

Setelah aku menceritakan rincian peristiwa kemarin, Uskup Agung sedikit menyipitkan matanya.

"Jadi, kau meminta bantuanku untuk menemukan ibumu?”

"Benar….."

Uskup Agung membelai janggutnya seolah sedang merenung.

Janggutnya panjang seperti Santa Clause.

Lalu, dia menatapku.

Mulutnya tersenyum samar, tapi tatapan matanya masih polos.

"Kalau begitu, apa untungnya bagiku ...?"

"Yang Mulia?"

Cliff menyela kebingungan saat mendengarkan jawaban kakeknya.

"Dia adalah temanku. Ini bukan tentang fraksi, ini tentang keluarganya. Kurasa, tidaklah bijak jika Anda tawar-menawar dengan Rudeus….”

"Harus ada timbal-balik, Cliff."

Uskup Agung menegur Cliff dengan nada suara lembut.

"Seperti katamu tadi…. ini adalah masalah pribadi Rudeus-sama dengan Keluarga Latreia, harusnya kita tidak ikut campur. Jika Keluarga Grimoire mencampuri urusan mereka, maka Keluarga Latreia tidak akan terima. Tetapi, jika Uskup Agung dilibatkan sebagai perantara, maka mungkin mereka akan bersedia mendengarkan omonganku. Ini adalah masalah antara ibu, putri, dan cucunya. Jika kita memaksakan diri mencampuri urusan mereka, maka Keluarga Latreia akan merasa dirugikan, sehingga Keluarga Grimoire akan berhutang banyak pada mereka.”

Claire jelas-jelas ingin menggunakanku sebagai umpan untuk memancing Keluarga Grimoire terlibat dalam masalah ini. Uskup Agung tahu benar akan hal itu, sehingga dia tidak akan begitu saja memakan umpannya.

"Adakah sesuatu yang Anda inginkan dariku, Yang Mulia?"

"Mari kita lihat…. tentu saja ada banyak hal yang kuinginkan dari seorang yang dijuluki Tangan Kanan Dewa Naga. Julukan itu bukan main-main. Jika aku bisa meminta apapun pada anak buah salah satu makhluk terkuat di dunia ini, maka itu sungguh luar biasa. Malahan, aku merasa kasihan pada Keluarga Latreia yang memusuhi orang sekuat dirimu. Apa mereka mau cari mati?”

"... Aku tidak tahu. Mungkin mereka tidak menyadarinya…."

Tapi Claire selalu saja meremehkanku, padahal dia sudah tahu bahwa aku adalah anak buahnya Orsted.

Dia mengenal Aisha, tapi dia sepenuhnya mengabaikan salam perkenalanku.

"Tuan Latreia adalah orang yang lihai dalam mengumpulkan informasi. Aku yakin dia sudah tahu kedatangan orang sekuat dirimu, dan dia tidak akan meremehkan bawahannya Dewa Naga.”

Tuan Latreia? Maksdunya bukan Claire.

Mungkin dia sedang membicarakan Carlyle, suaminya Claire.

"... Aku belum pernah bertemu dengan kepala Keluarga Latreia. Mungkin saja nenek bertindak atas kemauannya sendiri.”

Mungkin suaminya sudah memperingatkan Claire, tapi dia bebas melakukan segala sesuatu atas kemauannya sendiri.

Aku bukanlah bangsawan kelas atas, dan aku tidak memegang jabatan penting di negara manapun.

Meskipun Claire tahu aku adalah anak buah seorang Dewa Naga, itu tidak akan banyak berpengaruh padanya.

Meskipun Claire tahu aku memiliki koneksi dengan Ariel, dia tidak tahu seberapa dekat hubungan itu.

Mungkin dia berpikir bahwa aku hanyalah orang tidak berguna yang memanfaatkan nama besar orang lain.

Claire melihatku sebagai orang yang tidak pantas disandingkan dengan nama-nama besar itu.

"Claire-dono terkadang terlalu menekankan masalah silsilah ... sehingga, mungkin saja ... "

Uskup Agung berpikir sambil membelai janggutnya, lalu mengangguk.

"Yah, kurasa tidak apa-apa. Ada pepatah yang berbunyi, ’tidak ada resiko….tidak ada hasil’. Jadi, Rudeus-dono ... apa yang bisa kau lakukan untukku?”

Apa yang bisa kulakukan, ya?

Mungkin, pertanyaan ini sama seperti, ’Sejauh mana usahamu?’

Atau, seberapa kuat tekadku….

"…...."

Tiba-tiba aku mengingat apa yang telah kupikirkan kemaren.

Yaitu, rencana gila yang sangat beresiko bagi keselamatan keluarga dan teman-temanku.

Sekarang, coba kita nyatakan rencana gila itu.

"Aku bisa saja menculik Miko-sama."

Begitu mendengar kata-kata itu, Cliff berteriak.

"Menculik!? Apa yang kau maksudkan, Rudeus!?"

"Pada dasarnya, kita akan menawan pemimpin tertinggi fraksi anti-ras iblis.”

"Jangan ngawur!! Jika kau lakukan itu, mungkin kau akan menghancurkan Keluarga Latreia sepenuhnya! Kau ingin menghancurkan keluarga ibumu sendiri??”

Perlahan, aku menoleh pada Cliff.

"Aku sudah bukan lagi bagian dari keluarga itu.”

Cliff terdiam tanpa kata, lalu aku memalingkan wajahku darinya.

Uskup Agung tersenyum melihat kami.

"Tapi…. tentu saja aku membutuhkan ijin Anda untuk melakukan itu, Yang Mulia. Kalau Anda berkenan, aku bahkan bisa membumi hanguskan kota ini, dan membakar habis hutan-hutannya.”

Aku sesumbar.

Namun, Uskup Agung hanya menanggapiku dengan membelai jenggot panjangnya, tanpa berkata sedikit pun.

Mungkin itu terlalu berlebihan baginya.

Mungkin dia berpikir ada yang salah denganku.

Aku tidak keberatan jika kau berhati-hati padaku.

Tapi yang jelas, aku tidak punya motif tersembunyi.

Yang kupikirkan saat ini hanyalah menyelamatkan Zenith.

"Aku menentangnya!!"

Cliff tiba-tiba berteriak.

"Penculikan adalah kejahatan. Tidak peduli seburuk apapun perbuatan mereka padamu, kau tidak boleh membalasnya dengan kejahatan!! Kakek, kami mohon bantuanmu, agar masalah ini dapat diselesaikan dengan lebih damai!!”

"..."

"Rudeus…. kamu juga salah! Kenapa kali ini caramu begitu kotor!?? Seolah-olah kau bukanlah Rudeus yang selama ini kukenal!! Aku bahkan bisa merasakan amarah yang berkobar di dalam jiwamu!!”

Amarah yang berkobar?

Memang itu penyebabnya.

Aku benar-benar muak dengan perlakuan Claire pada kami.

Aku dendam pada Claire Latreia.

Untung saja aku tidak membantai mereka.

Kalau dia tidak merebut Zenith dariku, aku tidak akan semarah ini.

Baru kali ini aku merasakan amarah yang begitu besar. Bahkan saat Eris terluka oleh serangan Kaisar Utara, dan Roxy tersayat pedang Dewa Kematian, aku masih bisa mengendalikan emosiku.

Itu karena Eris dan Roxy bukanlah orang yang lemah. Mereka masih bisa berjuang meskipun lawannya begitu kuat. Andaikan mereka mati di tangan musuh, tentu saja aku akan sedih, namun setidaknya aku masih bisa menghargai semangat juang mereka yang tak kenal takut.

Tapi lain ceritanya dengan Zenith. Dia lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa. Bagaimana bisa wanita selemah itu dizolimi dengan begitu kejinya?

Dia bahkan tidak menyatakan apapun saat kuajak ke Milis untuk memenuhi perintah dari surat itu.

Dia disuruh menikahi pria yang tidak dia kenal, lalu melahirkan anak-anaknya.

Andaikan saja Zenith tidak cacat mental, lalu dia datang ke Milis atas kemauannya sendiri, mungkin hatiku tidak akan sesakit ini.

Andaikan dia menentang keras permintaan ibunya, namun gagal, dan harus menikahi pria yang telah dipilih Claire, maka setidaknya aku masih bisa menghargai perjuangannya.

Namun dia cacat mental.

Dia bahkan tidak bisa menolak apapun yang terjadi padanya.

Itulah yang membuatku sangat murka.

Tidak…. ini lebih parah daripada kemurkaan.

Aku juga merasakan kesengsaraan, dan keputusasaan.

Aku pun merasakan emosi yang jauh lebih pahit daripada hanya sekedar kemarahan.

Ya….

Aku ingin Claire juga merasakan emosi itu.

Jika aku benar-benar menculik Miko-sama, maka itu semua salahmu, Claire!!

Aku ingin melihat si tua bangka itu sengsara dan menderita.

Itulah dendam yang begitu ingin kubalas.

…... perbuatanku ini sungguh tercela, ya……

"Rudeus, semuanya belum terlambat. Kau masih bisa bernegosiasi dengan mereka. Kalau perlu, aku ikut denganmu.”

"Cliff-senpai ..."

"Keluarga Latreia menawarkan bantuan untuk mencari ibumu, kan? Tidakkah kau berpikir bahwa masalah ini hanyalah kesalahpahaman belaka? Jika kalian bertukar pikiran dengan kepala dingin, bukankah masalah bisa teratasi dengan damai?”

Saat mendengar perkataan Cliff itu, aku sedikit tersadar.

Namun, emosi kembali menguasai pikiranku.

Bahkan jika kami harus berdiskusi, nenek tua itu tidak akan mau mendengar perkataanku.

Sepertinya aku tidak akan bisa berdamai dengan si tua bangka itu.

Cara berpikir kami terlalu berbeda.

Seolah-olah, kami tidak berbicara bahasa yang sama.

"... Kamu mungkin benar."

Namun, mungkin Cliff benar.

Permasalahannya hanyalah perbedaan cara pandangku dan Claire.

Seperti kata Cliff, jika ada pihak ketiga yang mau menengahi masalah kami, mungkin solusi yang sama menguntungkan bisa didapatkan.

Pihak ketiga itu bukanlah Uskup Agung, karena kedudukannya yang tinggi sebagai pemimpin fraksi pro-ras sihir.

Jika dia kami pilih sebagai penengah, maka pihak Keluarga Latreia pasti akan menuntut banyak hal.

Cliff juga tidak cocok.

Dia memang cucunya Uskup Agung, namun Cliff tidak memiliki jabatan penting di negeri ini. Toh, dia barusan lulus sekolah.

Claire sepertinya tidak akan menghiraukan perkataan Cliff.

Masih ada seseorang yang bisa kami jadikan mediator.

Mungkin Claire mau mendengar perkataan orang ini, dan dia juga tidak banyak menuntut syarat para fraksi pro-ras iblis.

Lebih baik aku berkonsultasi dengan orang itu, daripada Uskup Agung.

"Baiklah…. aku akan coba berkonsultasi dengan Therese-san, Yang Mulia. Aku mohon maaf sebesar-besarnya karena telah merencanakan penculikan yang begitu tercela.”

"Mungkin itulah pilihan terbaik."

Uskup Agung mengatakan itu, sambil tersenyum lembut.

"Di antara para ksatria Ordo Kuil, dia lah yang paling bijak. Aku yakin dia bisa memberikan solusi yang kalian cari.”

Setelah mendengarkan perkataan Uskup Agung, aku menundukkan kepalaku, dan Cliff menghela napas lega.

Bagian 2[edit]

Besok aku akan mulai berbicara dengan Therese.

Namun, ada sedikit masalah.

Dia adalah pemimpin ksatria pengawal Miko.

Dia adalah kapten Ordo Perisai Ksatria Kuil.

Biasanya dia bersama Miko, agar bisa terus menjaganya.

Ordo Ksatria Kuil selalu mendampingi kemanapun si putri tembem itu pergi.

Seperti halnya Uskup Agung, Miko selalu disibukkan dengan berbagai urusan keagamaan.

Sepertinya dia sering keluar Pusat Gereja Milis dulu, namun tidak lagi belakangan ini karena kerap terjadi upaya pembunuhan. Jadi, dia jarang keluar gereja, kecuali jika ada urusan penting.

Beberapa orang yang tinggal di Pusat Gereja Milis bersama Miko adalah para Ksatria Kuil, pengguna sihir penyucian dan penghalang, serta sekitar 10 pengawal pribadi.

Dia dijaga ketat.

Aku sulit menemui Therese karena dia selalu bersama Miko.

Surat tidak akan sampai padanya, dan dia tidak akan keluar gereja meskipun kami memanggilnya.

Mungkin aku harus menggunakan kewenangan Uskup Agung untuk menemui Therese.

Tapi, tentu saja ada cara lain.

Menurut informasi dari Uskup Agung, dia tidak terus mendampingi Miko sepanjang tahun.

Setiap beberapa hari sekali, dia diijinkan keluar sebentar sampai taman Pusat Gereja Milis.

Itulah yang terjadi tempo hari. Dengan kata lain, dia menemani Miko menikmati waktu luangnya di taman.

Di saat senggang, biasanya Miko pergi ke taman bersama orang-orang kepercayaannya, untuk melihat-lihat pepohonan dan bunga. Biasanya juga mereka saling mengobrol dan menyapa orang-orang di sekitarnya.

Bagi Miko yang hidupnya terus dibatasi, itu adalah saat-saat yang selalu dia tunggu.

Saat itulah aku akan menuju ke taman untuk menemui Therese.

Jika aku menunggu mereka keluar, gerak-gerikku malah akan dicurigai.

Lagipula, Miko adalah orang penting.

Tapi, tentu saja Ksatria Ordo Kuil akan terus mengamatiku.

Agar tidak mengundang kecurigaan, aku berjalan-jalan mengelilingi taman setiap hari.

Seolah-olah, aku bertugas sebagai pengawal Cliff yang mengantarnya pergi ke kantor setiap hari, dan menghabiskan waktu senggang di taman.

Bahkan, aku membawa kanvas, dan mulai menggambar pemandangan sebagai pelukis dadakan.

Dengan alasan tidak bisa menyelesaikan lukisan setiap hari, aku diperbolehkan mengunjungi taman itu lagi dan lagi.

Pada saat yang sama, Aisha dan Gisu juga bergerak.

Dengan begitu cepat, Aisha terus mencari Zenith di setiap distrik.

Sedangkan Gisu menyewa orang untuk mengamati Kediaman Keluarga Latreia.

Tentu saja, belum ada hasilnya.

Akhirnya, suatu hari aku bertemu dengan Miko saat dia sedang menghabiskan waktu luangnya.

"Ah, Rudeus-sama! Akhirnya ketemu juga!"

Ketika Miko melihatku, dia langsung berlari ke arahku.

"Kau telah berjanji padaku! Tolong ceritakan tentang Eris.”

Seperti keinginannya, aku menceritakan kisah Eris padanya.

Banyak hal menarik yang dialami Eris saat kami bertualang. Aku menceritakan itu semua, dan Miko pun mendengarnya dengan senang.

Para pengawalnya masih mewaspadaiku.

Itulah pekerjaan mereka, yaitu menjauhkan Miko dari orang-orang yang tampak mencurigakan.

Tentu saja, sebenarnya aku bukanlah orang yang mencurigakan.

Mereka sudah mengenalku sebagai temannya Cliff, bahkan Therese mengakuiku sebagai keponakannya.

Setelah bercerita pada Miko, akhirnya aku punya kesempatan berkonsultasi dengan Therese.

Sepertinya dia juga sudah tahu insiden diculiknya Zenith.

Kemudian, dia memberikan banyak saran padaku.

"Aku tidak percaya ibu melakukan hal seperti itu ... oh iya, tak lama lagi aku akan mendapatkan hari lubur. Nanti aku akan berbicara pada ibu. Jangan khawatir, Zenith tidak akan menikahi pria yang tidak dikenalnya.”

Therese mengatakan itu sambil menepuk dadanya, yang ukurannya sebesar Zenith.

Dia memang bisa diandalkan.

"Namun, dulu ibu sangat menentangku bergabung dengan Ordo Ksatria Kuil, jadi aku tidak yakin dia mau mendengarkan perkataanku.”

"... lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Yahh…aku akan berbicara pada ayah atau kakak, masih banyak orang yang bisa membantu kita, jadi jangan khawatir.”

Terimakasih banyak.

Bagian 3[edit]

Beberapa hari berlalu.

Zenith masih belum ditemukan.

Menurut Gisu, tak seorang pun pelayan tampak mencurigakan di Kediaman Keluarga Latreia.

Mereka juga tidak berhubungan dengan orang luar.

Tentu saja tidak ada tanda-tanda keberadaan Zenith di sekitar rumah itu.

Oleh karena itu, Gisu mulai menduga bahwa Zenith dikurung di dalam rumah, dan tidak diperbolehkan keluar sedikit pun.

Kantor untuk cabang baru PT. Rudo telah dipilih.

Kami membeli bekar kedai di Distrik Niaga.

Saat ini Aisha sedang sibuk menyiapkan makanan dan pakaian untuk para prajurit baru.

Aku sudah menyiapkan alat komunikasi sihir dan lingkaran sihir teleportasi di ruangan bawah tanah kantor itu.

Lingkaran sihir yang kami pakai adalah tipe yang menggunakan kristal sihir. Karena aku membawanya dalam bentuk gulungan, maka hanya bisa diapakai sekali.

Yah, mungkin aku tidak akan menggunakannya.

Dengan menggunakan alat komunikasi sihir, aku berkonsultasi dengan Orsted dari jarak jauh.

Aku memberitahu Orsted tentang keadaan di sini, serta beberapa dugaanku akan campur tangan bidak-bidaknya Hitogami.

Aku juga melapor tentang seorang Miko yang memiliki kemampun bisa membaca pikiran orang lain.

Aku belum mengetahui namanya, dan orang-orang hanya memanggilnya dengan sebutan Miko-sama.

Setelah kucaritahu, ternyata dia memang tidak punya nama.

Ketika Miko itu diadopsi oleh gereja, nama aslinya dibuang.

Sejak saat itu, dia dianggap sebagai orang penting, dan sering dimanfaatkan untuk kepentingan gereja.

Miko itu bisa membaca pikiran orang lain.

Dengan menatap mata seseorang, dia bisa membaca pikirannya.

Tugas utamanya adalah menginterogasi seseorang.

Saat terjadi kasus di pengadilan, dia selalu dipanggil untuk mengungkap kebenaran dari sang pelaku kriminal.

Dia bisa mengungkap kejahatan siapapun, bahkan para Uskup dan bangsawan terhormat.

Dia adalah pendeteksi kebohongan terbaik di negeri ini, dan raja pun mengakui kehebatannya.

Namun dia membela Fraksi Kardinal, yang beroposisi dengan Uskup Agung.

Hmmm…. bisa membaca pikiran ya…..

Jika gadis itu bisa memanipulasi pikiran seseorang……

Mungkinkah dia bisa menyembuhkan Zenith yang menderita cacat mental?

Menurut Orsted, kekuatan gadis itu hanya sebatas melihat pikiran seseorang, bukannya mengaturnya, sehingga itu mustahil…. tapi….

Jika aku mendapat kesempatan, aku akan memintanya menganalisis pikiran Zenith.

Bagaimanapun juga, aku belum berkomunikasi dengannya semenjak kematian Paul. Tidak… lebih lama lagi… terakhir kali kami berbicara adalah sebelum Paul menitipkanku pada Keluarga Boreas.

Namun, sepertinya kekuatan Miko hanya bisa digunakan oleh orang gereja.

Atau lebih tepatnya, Fraksi Kardinal lah yang memiliki kekuatan itu sepenuhnya. Jadi, aku membutuhkan ijin untuk menggunakannya.

Tanpa ijin Fraksi Kardinal, tak seorang pun bisa menggunakan kekuatan Miko, bahkan tidak untuk Uskup Agung maupun keluarga kerajaan Milis.

Aku memang cukup dekat dengan gadis tembem itu, namun bukan berarti aku bisa membawanya ke Kediaman Keluarga Latreia, untuk membongkar semua kebusukan Claire.

Oh iya, tampaknya Miko dengan kekuatan menarik ini…. tampaknya tidak ditakdirkan memiliki umur panjang.

Orsted sudah berkali-kali melihat gadis itu di perulangan kehidupan sebelumnya. Tak peduli berapa kali pun diulang, gadis itu akan meninggal pada umur 10-an tahun, dan paling tua 30 tahun.

Dengan umur sesingkat itu, menurut Orsted hampir mustahil Miko menjadi bidaknya Hitogami.

Sekarang, mengenai Keluarga Latreia.

Saat ini, terhitung sudah 4 orang mencapai umur dewasa [1] di Keluarga Latreia, tidak termasuk Zenith.

Mereka adalah…..

Kepala keluarga saat ini, Count Carlyle Latreia.

Istrinya, Claire Latreia.

Putra tertua, Ksatria Kuil Edgar Latreia.

Putri ketiga, Ksatria Kuil Therese Latreia.

Yang terakhir adalah, putri pertama Anise Latreia, yang sudah menikah dengan Marquis Birnkrant.

Keluarga Marquis Birnkrant bermukim di sebelah barat Milishion, jaraknya mungkin sehari perjalanan dari ibukota.

Jadi, dia tidak tinggal di rumah itu.

Hal yang sama berlaku untuk putra tertua, Edgar.

Sebagai pemimpin pleton Ordo Ksatria Kuil, sepertinya dia telah pindah ke kota yang sama dengan Anise tinggal.

Kepala keluarga, Carlyle, adalah seorang komandan batalion Ordo Ksatria Kuil.

Itu adalah jabatan yang cukup menyita waktu, jadi dia tinggal di mess sembari bekerja, dan hanya kembali ke Kediaman Latreia 10 hari sekali.

Begitupun dengan Therese. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Therese selalu mendampingi Miko di Pusat Gereja Milis.

Dia bahkan tidak pulang ke rumah saat liburan.

Itu artinya, hanya Claire yang tinggal di Kediaman Latreia, dan dia lah yang mengatur semuanya.

Aku juga bertanya kepada Orsted tentang Claire.

Seperti inilah penjelasannya…..

Claire Latreia:

Putri tertua dari keluarga Latreia.

Sejak lahir dia memang sudah keras kepala.

Pendidikan etiket yang ketat membuatnya menjadi orang yang disiplin, baik pada orang lain maupun dirinya sendiri.

Begitu memutuskan sesuatu, dia tidak akan pernah merubahnya, bahkan sampai akhir hayat.

Suaminya, Carlyle, menikahi putri tertua Keluarga Latreia ini.

Dia melahirkan seorang putra dan tiga orang putri.

Sejauh yang Orsted ketahui, dia hanyalah wanita biasa yang bisa kau temui di mana pun.

Dia tidak pernah meraih prestasi yang bisa membuat namanya tertulis di dalam buku sejarah.

Dia menyukai orang-orang yang adil dan benar, dan membenci kejahatan.

Orsted pun menduga bahwa dia bukanlah orang yang tega menculik putrinya sendiri.

Selanjutnya, Orsted memberitahuku rincian perebutan kekuasaan di Gereja Milis.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Gereja Milis terbagi menjadi dua fraksi besar, yaitu Fraksi Uskup Agung dan Fraksi Kardinal.

Gereja Milis terpisah sekitar 300 tahun yang lalu.

Sebelumnya, seluruh pemuka agama di Gereja Milis sepakat untuk menganut suatu ayat di dalam kitab suci mereka, yang berbunyi ’Semua iblis harus dimusnahkan.’, sehingga mereka pun menentang keberadaan ras iblis.

Sampai akhirnya, seorang pendeta menafsirkan ayat lainnya yang berbunyi, ’Rahmat Milis berlaku adil pada setiap ras di dunia ini’, sehingga menyebabkan perbedaan pendapat di kalangan para pemuka agama.

Sejak saat itu, munculah dua fraksi yang membela dan membenci ras iblis. Mereka pun terus berselisih sampai saat ini.

Seperti inilah profil kedua fraksi tersebut saat ini:

Faksi Uskup Agung, yaitu mereka yang mengakui keberadaan ras iblis. Inilah fraksi terbesar saat ini. Fraksi ini dipimpin langsung oleh kakek Cliff, yang tidak lain adalah Uskup Agung. Sebagian besar masyarakat umum di Kerajaan Suci Milis dan Ordo Penasehat adalah bagian dari fraksi ini.

Faksi Kardinal, yaitu mereka yang menentang keberadaan ras iblis. Inilah fraksi yang dipimpin oleh Gadis Kuil, yang tidak lain adalah Miko-sama. Keluarga Latreia, Ordo Bangsawan, dan Ordo Kuil adalah bagian dari mereka.

Sedangkan, Ordo Kerajaan dan sebagian pendeta berada di pihak netral.

Fraksi anti-ras iblis berhasil mendominasi sampai 50 tahun yang lalu, sehingga menyebabkan ras-ras non-manusia di Milishion berada dalam tekanan sosial, dan terjadi banyak keributan di Hutan Agung.

Namun, setelah ras menusia berhasil mengakhiri konflik dengan ras hewan, maka mencuatlah fraksi pro-ras iblis.

Selama 30 tahun berikutnya, faksi pro-ras iblis gantian mendominasi. Sampai akhirnya, lahirlah Miko yang memberikan dukungannya pada fraksi oposisi. Ini menyebabkan Pendeta Agung yang merupakan pengikut fraksi anti-ras iblis naik jabatan menjadi Kardinal [2], dan fraksi tersebut kembali memperkuat pengaruhnya.

Kurang-lebih, begitulah yang terjadi selama ini.

Yang terakhir….. tentang keterlibatan Hitogami.

Menurut Orsted, saat ini tidak ada orang penting di Milis yang berhubungan langsung dengan Hitogami.

Tak peduli sekuat apapun Kerajaan Suci Milis, mereka tidak akan berpihak pada Laplace di kemudian hari.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa Milis bukanlah penghalang bagi rencana kami.

Hitogami dan Orsted tidak peduli fraksi manapun yang memenangkan persaingan politik ini.

Tapi tentu saja, aku menginginkan Cliff memperoleh kedudukan sebagai Uskup Agung.

Mungkin saja ada campur tangan Hitogami untuk mencegahnya.

Namun, perkembangan terakhir ini agak aneh.

Andaikan Claire benar-benar tidak mencuri Zenith, maka pastinya ada pihak ketiga yang menginginkan Zenith, dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan persaingan kedua fraksi.

Bahkan, Hitogami mungkin tidak terlibat dalam insiden ini.

"Jika ada orang yang kau curigai sebagai bidaknya Hitogami, maka bunuh saja dia.”

Itulah yang dianjurkan Orsted.

Aku pun mulai berpikir bahwa aku harus melakukannya.

Hanya itu informasi yang kudapat dari si bos.

Harusnya aku mendengar informasi ini lebih awal.

Yahh… toh, aku tidak menyangka akan terjadi masalah serumit ini. Awalnya, kupikir kami hanya perlu berkunjung sesaat ke rumah Claire, saling menyapa dan melepas kangen, lalu pulang.

Untuk proyek di Kerajaan Raja Naga selanjutnya, aku akan lebih berhati-hati untuk menyiapkan persiapan yang matang.

Bagian 4[edit]

Beberapa hari lagi telah berlalu.

Therese datang membawa kabar baik.

"Ibu mengaku telah mengurung Zenith."

"Ooooh!"

Therese memutuskan untuk menemui Claire pada hari liburnya yang berharga.

Melalui percakapan yang panjang, akhirnya Claire mengaku secara tidak langsung, bahwa dia telah menyuruh anak buahnya mengambil Zenith dari Gisu.

Jadi, dia pasti sedang mengurung Zenith di suatu tempat.

"Namun, seperti yang sudah kuduga sebelumnya, pengakuan ibu sedikit aneh ... sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Kupikir, dia tidak serius ingin menikahkan Zenith, tapi….”

"Begitu ya ... jadi, di mana dia mengurung ibuku?"

"Maaf, aku gagal memaksanya menyebutkan tempatnya."

Ekspresi Therese menjadi suram.

Dia sudah berusaha mengungkap dimanakah mereka menyekap Zenith, namun gagal.

Setelah itu, dia mencoba membujuk Claire untuk mengembalikan Zenith kepadaku.

Diskusi mereka terus berlanjut, lalu Claire mengatakan hal seperti, ’Kurasa, tidak mudah menemukan pria yang mau menikahi seorang janda yang cacat mental.’

Kemudian Therese sedikit memujiku dengan mengatakan, ’Mungin ibu tidak berhubungan baik dengan Rudeus, tapi dia bisa meminta Uskup Agung melakukan sesuatu jika dia mau, jadi lebih baik ibu jangan terlalu meremahkan pria itu. Aku yakin pria seperti Rudeus bisa menjaga Zenith sampai akhir hayat nanti.’

Namun, Claire memberikan jawaban yang tidak berarti dan menghindari topik pembicaraan itu.

"Akhirnya, dia mengalihkan topik pembicaraan dengan menanyakan kapan aku menikah….. Maaf, ketika membahas tentang pernikahanku, ujung-ujungnya kami selalu bertengkar….”

"..."

Gisu mengatakan bahwa setelah penculikan itu, tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari pihak Keluarga Latreia.

Seolah-olah Claire sedang menyembunyikan suatu rahasia besar.

Orsted pun bilang bahwa nenek itu bukanlah tipe orang yang mau berbuat kotor dengan menculik anaknya sendiri.

Mungkin ada sesuatu yang terjadi.

... Tapi…. apapun masalah yang sedang dia hadapi, aku tidak punya hak untuk ikut campur. Aku sudah memutuskan hubungan dengannya, dan yang kuinginkan sekarang hanyalah kembalinya Zenith.

Lagipula, dia juga tidak memperdulikanku.

Dia selalu memandang rendah diriku.

"Yahh, setidaknya… sampai sekarang pun kita tahu bahwa ibu tidak bisa menemukan calon suami yang cocok untukku. Jadi, belum tentu dia bisa menemukan pria yang tepat untuk Zenith.”

"Hah? Ah, itu benar juga. Sepertinya itu masalahnya."

Aku tidak paham lelaki macam apa yang diinginkan Claire, tapi pendapat Therese logis juga.

"Sudah kubilang, ibu bukanlah orang jahat, dia hanya keras kepala. Selanjutnya, aku akan minta pendapat ayah. Aku juga akan meminta saudara laki-laki dan perempuanku pulang dari luar kota. Meskipun keras kepala, ibu sering mendengar pendapat laki-laki. Jika ayah dan saudara laki-lakiku berbicara padanya, mungkin ibu akan mendengarkannya.”

"Terimakasih atas semua informasi dan kerja kerasmu, Therese-san."

"Kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Lagipula, ibu yang salah."

Therese menangani semuanya dengan baik.

Sampai-sampai, aku penasaran mengapa dia begitu baik padaku.

Padahal, kami jarang bertemu ...

"Therese! Apakah kalian sudah selesai ngobrolnya?”

Ketika pembicaraan terhenti, Miko itu datang.

"Ya, Miko-sama! Aku mohon maaf sedalam-dalamnya karena telah menggunakan waktu tugasku untuk kepentingan pribadi!”

"Tidak apa-apa. Bagaimanapun juga, dia adalah suaminya Eris-sama. Budi baik harus dibalas. Begitulah ajaran Milis-sama.”

Aku mengerti, Therese mau membantuku, sebagiannya karena pengaruh Eris.

Sepertinya, baru kali ini aku melihat orang yang benar-benar berterimakasih pada Eris.

Baiklah, kalau anak kami sudah cukup besar nanti, aku akan kembali lagi ke sini untuk berkunjung.

"Miko-sama, waktunya sudah habis."

"Mari kembali ke ruangan Anda."

"Rudeus-dono, terimakasih."

Belakangan ini, para pengikut Miko semakin sopan padaku.

Awalnya, mereka membenciku mungkin karena aku berteman dengan cucunya Uskup Agung. Namun belakangan ini aku tidak lagi melihat kebencian itu.

Mereka tetap mewaspadaiku, namun tidak lagi mengancamku seperti yang mereka lakukan tempo hari. Itu mungkin karena mereka tahu bahwa aku tidak berhubungan langsung dalam persaingan politik, bahkan aku cenderung berada di pihak netral.

Atau….. mungkin juga karena aku ramah pada Miko.

Aku tidak pernah melukai Miko, selalu bersikap sopan padanya, dan sering menghiburnya dengan cerita-cerita konyolku bersama Eris.

Setiap kali bersamaku, Miko selalu terlihat ceria.

Saat Miko kembali ke ruangannya, tampaknya dia sangat menantikan bertemu lagi denganku esok hari.

Itu semua hasil dari kerja kerasku mendekati Miko.

Lagipula, Therese yang merupakan komandan mereka, selalu bersikap baik padaku. Hubungan kami sebagai keluarga sangat terlihat.

Kalau komandannya saja ramah padaku, maka mereka tidak punya alasan untuk membenciku.

Jujur, sebenarnya aku ingin mereka lebih waspada.

Karena dengan begini….. keamanan Miko bisa terancam. Jika aku benar-benar ingin menculik Miko, maka itu akan semudah mengambil lolipop dari mulut anak kecil.

Namun, aku takut usaha Therese berakhir dengan sia-sia…. Buktinya, sampai sekarang pun kami belum bisa menemukan Zenith.

Kalau sudah tidak ada pilihan lain, maka aku terpaksa menggunakan cara kasar.

Aku akan melakukan apapun untuk merebut kembali Zenith, entah itu menculik Miko, atau menyerbu Kediaman Latreia.

Prioritas utamaku adalah Zenith.

Jika aku tidak sanggup menyelamatkannya, maka aku akan kehilangan wajah di depan makam Paul, dan Lilia yang sedang merawat Sylphy.

Oleh karena itu, aku menghindari kontak mata secara langsung dengan Miko.

Gawat kalau dia sampai tahu rencanaku yang tersembunyi ini.

Namun, kalaupun Miko menatap mataku, kurasa dia tidak akan bisa menyimpulkannya. Karena niat burukku ini masih 50 : 50.

Tapi, aku tidak boleh mengambil resiko.

Aku harus tetap menghindari kontak mata langsung dengannya.

Kurasa, para pengawal itu tidak menyadari bahwa aku sengaja menghindari kontak mata dengan putrinya.

Toh aku tidak sendirian, di Pusat Gereja ini pasti banyak orang lain yang juga menghindari kontak mata secara langsung dengan sang Miko.

Tak seorang pun ingin pikirannya dibaca, sehingga rahasianya terungkap.

Wajar saja bila ada orang yang mengalihkan tatapannya dari mata Miko.

Oleh karena itu, menculiknya bukanlah hal yang mustahil.

Yang perlu kulakukan hanyalah menempatkan gulungan lingkaran sihir teleportasi di bawah kursinya. Lalu, aktifkan lingkaran sihirnya dengan Mana, maka dia pun akan berpindah ke tempat yang kami inginkan.

Saat Miko lenyap, aku akan pura-pura panik bersama para pengawal lainnya, sehingga mereka tidak mencurigaiku. Toh, sihir teleportasi adalah hal tabu di dunia ini, jadi mereka tidak akan tahu trik yang kugunakan itu.

Tinta pada gulungan sihir itu akan hilang, dan menyisakan selembar kertas biasa.

Jika semuanya berjalan dengan lancar, maka tak akan ada seorang pun yang tahu bahwa akulah pelakunya.

Lingkaran sihir itu akan langsung terhubung dengan titik relay di bawah kantor cabang PT. Rudo yang baru.

Di sana cukup banyak tersedia makanan dan pakaian untuk memfasilitasi Miko.

Kami akan bernegosiasi, dan Aisha mengawasinya.

Namun…. sebisa mungkin aku ingin menghindari rencana ini.

Karena, jika aku melakukan itu, mungkin Therese tidak akan memaafkanku. Dia lah yang bertanggung jawab menjaga Miko, jadi dia akan berada dalam masalah jika Miko hilang.

Padahal dia selalu membantuku.

Dia juga tidak setuju dengan tindakan ibunya sendiri, Claire.

Dia bahkan meminta ayah dan saudaranya datang dari luar kota, untuk ikut membujuk Claire.

Tapi, aku tidak tahu apa yang dipikirkan Count Carlyle terhadap permasalahan ini.

Yang jelas, Therese berada di pihak kami.

Aku tidak ingin membalas budi baiknya dengan melakukan kejahatan pada Miko.

"Therese-san. Jika ada kesempatan, mohon kenalkan aku pada Count Carlyle, bibi, dan paman. Aku ingin memperkenalkan diriku pada mereka, dan meminta bantuan secara langsung.”

"Tentu."

Namun, meskipun sudah meminta bantuan mereka…. aku tetap akan bergerak sendiri.

Meskipun harus berbuat kotor, aku akan tetap menjaga janjiku pada Paul dan Lilia, untuk terus melindungi Zenith.

Tapi, jika aku harus melawan Therese, aku akan berbicara terlebih dahulu padanya. Aku akan menyatakan bahwa hubungan keluarga kami berakhir.

Jika aku terpaksa harus menculik Miko, aku tidak akan menggunakan cara licik seperti tadi. Aku akan menerobos masuk ruangannya, mengalahkan para pengawalnya, lalu menculik sang putri.

Itu sungguh beresiko, tapi itulah cara jantan untuk melawan Therese.

"Padahal Zenith sudah melahirkan putra yang hebat sepertimu, kenapa ibu masih saja ingin punya cucu lagi…. bukankah sebaiknya dia mencarikan jodoh untukku?..... huffff….”

Sembari menggerutukan itu, Therese pergi meninggalkanku, dan aku pun membungkuk padanya.

Aku tidak sehebat itu, Therese-san.

Bagian 5[edit]

Beberapa hari lagi telah berlalu.

Mungkin sudah 14 atau 15 hari berlalu semenjak aku tiba di kota ini.

Ada informasi baru dari Aisha dan Gisu yang terus mencari keberadaan Zenith.

Kemarin, terlihat seseorang dari toko pakaian yang bolak-balik ke Kediaman Keluarga Latreia.

Setelah Aisha cari tahu, ternyata orang itu diminta mengukur pakaian pengantin untuk wanita dari Keluarga Latreia.

Saat si penjahit diminta menggambarkannya, dia bilang wanita itu sudah cukup berumur dan tatapannya kosong. Itu pasti Zenith.

Ditambah lagi, Keluarga Latreia meminta pengawalnya untuk menghubungi pihak gereja secara rahasia.

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa mereka akan segera mengadakan pernikahan.

Jadi, kami hampir kehabisan waktu.

Namun, jangan terlalu gegabah menyimpulkan keadaan.

Saat ini, putra tertua dan putri tertua Keluarga Latreia sedang menuju Milishion untuk memenuhi panggilan Therese.

Mereka sempat mengirimkan surat pada Therese, yang berbunyi, ’Tidak peduli apapun yang terjadi, ibu tidak sepatutnya menikahkan seorang wanita yang bahkan tidak bisa berbicara. Itu adalah hal yang konyol’

Tampaknya mereka berada di pihak kami.

Namun aku masih belum mendengar kabar Count Carlyle.

Sebagai komandan batalion, aku yakin dia sangat sibuk.

Tapi menurut Therse, “Ayah tidak akan menyetujui keputusan ibu.” Jadi, anggap saja dia berada di pihak kami.

Aku tidak tahu apakah dia akan menentang tindakan Claire, tapi aku ingin sekali bertemu dengannya.

Jika seluruh keluarga sudah berpihak pada kami, maka Claire tidak bisa berbuat apa-apa.

Meskipun dia lah yang sekarang berkuasa di rumah itu, tapi dia bukanlah kepala keluarga.

Hanya tinggal tunggu waktu sampai Claire menyesali perbuatannya.

Kau bisa menyebutnya, “skakmat”.

Kalau bukan karena jasa Therese, keadaan tidak akan berubah. Entah bagaimana lagi aku harus berterimakasih padanya.

Kalaupun Claire tetap menentang keputusan keluarga, yahh…. setidaknya, aku sudah tahu dimana posisi Zenith sekarang. Kalau mau main kasar….. ayo aja!

Saat inipun, kami bisa menyusup ke dalam rumah itu, lalu mencari di ruang manakah Zenith ditahan.

Tapi, lebih baik kita mengikuti alur. Kita tunggu sampai seluruh Keluarga Latreia berkumpul, kemudian mereka akan bersama-sama menentang keputusan Claire.

Sebisa mungkin, jangan gunakan cara kasar, karena itu akan semakin memperburuk hubunganku dengan Keluarga Latreia.

Baiklah…...

Ini adalah masalah pribadiku dengan Claire.

Kita bisa menyelesaikan ini tanpa campur tangan Cliff ataupun Uskup Agung.

Memang tidak mudah, tapi setidaknya aku sudah boleh berpikir optimis.

Ya.

Untung aku tidak mengamuk di sana.

Jika kita berpikir dengan tenang, kita bisa menyelesaikan masalah ini baik-baik.

Tidak perlu menculik Miko.

Saat itu, pikiranku sedang kacau.

Jika kau ingin mendapatkan hasil yang instan, mungkin kau akan melakukan kesalahan.

Kita harus menyelesaikan semuanya satu per satu.

Dengan begitu, kau bisa menyudutkan musuhmu sampai tidak bisa berbuat apa-apa.

Meskipun dendamku padanya tidak terbalaskan, namun setidaknya rencana Claire gagal.

"..."

Sambil memikirkan hal-hal seperti itu, aku menuju ke halaman Pusat Gereja.

Setelah sekitar 2 minggu berlalu, seluruh bunga pohon Saraku telah berguguran.

Namun, aku masih bisa membayangkan indahnya bunga Saraku yang bermekaran.

Kemaren, aku sering duduk di sini sembari melukis pohon Saraku. Namun, sebenarnya lukisan itu sungguh payah.

Begitupun dengan para Otaku itu, mereka juga payah. Awalnya mereka selalu mengolok-olok diriku.

Namun, ketika aku menyarankan Miko mengenakan gaun putih one-piece, mereka pun memujinya.

Semudah itukah aku merubah perasaan mereka?

Miko juga mengatakan bahwa dia ingin melihat lukisanku saat sudah selesai nanti.

Kalau kau memang menginginkan lukisan itu, aku bisa membuatnya sebanyak yang kau mau.

Jangan hanya lukisan….. sebenarnya aku juga ingin menunjukkan sebuah figure padamu.

Tapi, figure itu adalah ras iblis.

Agaknya sulit menunjukkan figure Ruijerd pada pemimpin fraksi anti-ras iblis. Namun, jika aku berhasil membujuknya, lalu dia mengijinkanku untuk memasarkan figure itu, pasti akan laku keras.

Atau mungkin….. awalnya aku tidak perlu menunjukkan patung ras iblis.

Pamerkan saja patung lainnya. Jika dia menyukainya, dan memberikan ijin pemasaran, maka aku akan menyelipkan figure Ruijerd di antara patung-patung itu.

Tidak, itu juga mustahil.

Sepertinya Miko tidak punya kewenangan sebesar itu.

"...Hah?"

Tiba-tiba, aku merasakan ada yang aneh di dekat pintu masuk.

Aku bisa merasakan kehadiran seseorang di sana.

"... Apakah mereka sudah tiba?"

Biasanya, setelah aku memasuki taman, beberapa orang penjaga akan berpatroli, kemudian Miko pun datang.

Harusnya aku dulu yang tiba di sini….. apakah hari ini mereka berpatroli lebih awal?

Atau mungkin dia bukan para penjaga?

Aku terus melangkahkan kakiku menuju taman.

Bunga-bunga di pohon Saraku telah sepenuhnya gugur.

Aku pun meletakkan kanvas dan peyangganya.

Aku masih bisa melihat wujud orang itu, tapi aku merasakan kehadirannya.

Ataukah itu hanya imajinasiku saja?

Indraku tidaklah setajam Ruijerd, jadi mungkin saja aku salah.

"Hm?"

Saat melihat ke bawah, kudapati ada jejak kaki.

Sepasang jejak kaki.

Jadi….. memang ada orang di sini.

Jejak kaki itu mengarah ke balik pohon Saraku.

Tampaknya ada orang yang bersembunyi di balik pohon ini.

"... Therese-san?"

Kutebak itu Therese-san.

Untuk jaga-jaga, kuaktifkan mata iblisku.

Tak ada jawaban.

Ada yang salah.

"Siapa itu!?"

Sembari berteriak lebih lantang, aku mengalirkan Mana pada Magic Armor Versi II.

Aku siap bertarung.

Dengan kewaspadaan penuh, aku mendekati pohon itu.

Kalau kau tidak mau menunjukkan dirimu…. maka biar aku yang mengungkapnya.

Sambil menjaga jarak, aku akan menyerang dengan sihir begitu mendekatinya.

Agar pohon Saraku kesukaan Miko ini tidak rusak, maka aku harus menggunakan sihir angin.

Yang lebih dahulu menyerang, dia lah yang menang.

"Hah?"

Mana yang kualirkan ke tangan tiba-tiba menyebar.

Ada yang tidak beres.

Begitu aku memperhatikannya….. semuanya sudah terlambat.

Aku segera melangkah mundur sejauh mungkin, namun punggungku membentur semacam dinding.

Saat kulihat ke belakang, tidak ada dinding apapun di sana.

Tidak….. sebenarnya ada dinding….. namun tidak terlihat.

Inilah dinding transparan yang dibentuk oleh sihir penghalang.

"...!"

Aku segera melihat ke bawah kakiku.

Awalnya aku tidak menyadarinya karena hari ini matahari bersinar cukup terang, tapi ternyata ada lingkaran sihir di sana yang bersinar redup.

"... Sihir penghalang rupanya."

Aku pernah melihat sihir penghalang ini sebelumnya.

Cara kerjanya adalah membatasi pergerakan korbannya dengan dinding yang tidak terlihat.

Kau akan terjebak di dalam suatu area yang terbungkus oleh dinding transparan itu, dan kau tidak bisa menggunakan sihir di dalam area tersebut. Kau tidak bisa mengumpulkan Mana di dalamnya.

"Itu penghalang level Raja, Rudeus-kun."

Sebuah suara terdengar dari balik pohon.

Perlahan-lahan, munculah ksatria wanita berarmor biru dari balik bayang-bayang pohon.

Dia mengenakan helm yang kokoh, namun aku bisa melihat wajahnya yang mirip Zenith.

Bukan hanya dia.

Dari balik pohon-pohon lain dan semak-semak, muncul juga beberapa prajurit berarmor lengkap.

Mereka adalah para Otaku yang selalu mengawal si putri.

Mereka adalah anggota Ordo Ksatria Kuil.

Setidaknya, itulah yang kuyakini…. namun wajah mereka tertutup oleh helm berbentuk aneh, jadi aku tidak bisa memastikannya.

"Maaf, tapi ... kami mendengar kabar bahwa kau berusaha menculik Miko-sama.”

Aku pun kaget.

Para ksatria mengitari penghalang yang sudah menjebakku.

Satu-satunya yang berbicara padaku adalah Therese-san dari depan.

"Oleh karena itu, kami harus mengamankanmu."

Para ksatria yang memakai helm menancapkan pedang dan sarung mereka ke dalam tanah.

Suara aneh bergema di sekelilingku.
  1. Ingat, dewasa di dunia ini adalah orang yang umurnya sudah melewati 15 tahun, jadi belum tentu dia masih muda.
  2. Bagi kalian yang masih asing dengan istilah ini, Kardinal adalah para pendeta yang memiliki posisi lebih tinggi dalam suatu organisasi keagamaan. Mereka lah yang berhak dipilih sebagai Uskup Agung. Kalau dianalogikan dengan pemilu, mereka seperti Capres.