Mushoku Tensei (Indonesia):Jilid 21 Bab 11

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 11: Skak Mat[edit]

Bagian 1[edit]

Halo semuanya.

Rudeus Greyrat di sini.

Saat ini, aku telah terkepung oleh delapan orang yang mengenakan armor berwarna biru.

Mereka semua sedang mendekat padaku.

Mungkin, aku punya sedikit waktu untuk mengenalkan mereka pada kalian.

Ksatria no. 1, Therese….. dia tepat berada di depanku.

Latreia Therese.

Ya, kalian pasti sudah mengenalnya.

Dia adalah bibiku, dan merupakan salah satu keluarga Latreia.

Dari semua Ksatria Kuil di fraksi anti-ras iblis, dia lah yang paling ramah padaku.

Dia masih bersimpati padaku meskipun tahu aku berteman dekat dengan ras iblis ...

Ras iblis dan manusia memang tidak jauh berbeda, kan?

Biasanya dia ramah padaku, namun…. apa yang terjadi kali ini?

Wajahnya tertutupi helm, jadi aku tidak bisa melihatnya.

Nah, mari kita lanjut ke kanan, searah perputaran jarum jam.

Dan, di sebelah kanan Therese adalah ...

Seorang pria yang mengenakan helm berbentuk mirip tengkorak.

Armor penutup dadanya terlihat retak.

Aku sering melihat kerusakan armor seperti itu.

Aku tidak tahu namanya, tapi sebut saja si Ksatria Tengkorak.

Di sebelahnya...

Ada pria yang mengenakan helm berbentuk mirip ember. Orang seperti itu banyak terlihat di sudut-sudut Kota Milishion.

Dari 7 orang di sini, hanya dia yang mengenakan jubah merah.

Miko sangat menyukai jubah itu, dan sering mengusap-ngusapkan tangannya untuk membersihkannya.

Namai saja dia, si Ksatria Ember.

Dan di sebelah kanannya lagi ...

Ada seorang pria yang mengenakan helm mirip batu nisan, yang bertuliskan RIP.

Tingginya mungkin lebih dari dua meter.

Aku pernah melihat Miko naik ke pundak pria ini untuk memetik buah-buahan di pohon.

Namai saja dia Ksatria Nisan.

Yang keempat...

Dia memakai helm yang dilengkapi aseksoris mirip sapu bambu.

Sedangkan armornya polos.

Yahh...

Sapu kan buat bersih-bersih….. mengapa kau pasang di kepala, om?

Jadi, namai saja dia Ksatria Sapu.

Kurang tiga lagi….

Jujur saja, mereka tidak terlalu berbeda, jadi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

Namun, saat Miko memanggilnya, mereka selalu berbangga diri dengan membusungkan dadanya.

Tunggu dulu, sepertinya aku mengingat kode nama mereka…..

Pokoknya berhubungan dengan benda-benda di kuburan.

Om ini namanya Peti Mati Hitam, yang itu namanya Kain Kavan, dan yang itu……Pemakaman, kurasa?

Ah… lupa aku, pokoknya seperti itu.

Sedangkan nama tim mereka adalah…… duh, apa ya…..

"Saatnya menginterogasi!! Aku, Therese Latreia, komandan Pasukan Penjaga Makam Suci, siap memulai!!”

"Hah!"

Tujuh ksatria di sekitarku menikamkan pedang mereka ke tanah.

Ya…. aku ingat sekarang, nama pasukan ini adalah Penjaga Makam Suci.

Kalau tidak salah Therese pernah mengatakannya padaku.

"Kita akan mulai menanyai si tersangka!! Apakah ada yang keberatan!!?”

"Tidak!"

"Tidak!"

"Keberatan! Eksekusi saja segera!"

"Tidak!"

"Tidak!"

"Tidak!"

"Tidak!"

"Keberatan ditolak!"

Duh… si om ember terlihat tertekan.

Oh iya…. mereka kan suka mendakwa tanpa alasan yang jelas.

... Ah, kalau begitu biar aku.

"Aku!! Rudeus Greyrat keberatan!"

Um ... tunggu sebentar.

Aku tidak paham apa yang sedang terjadi di sini.

Seseorang…. tolong beri aku petunjuk.

Mereka pun mulai menjelaskan.

Beginilah ceritanya……….

Untuk menyelamatkan Zenith, aku hendak berkonsultasi dengan Therese, yang merupakan komandan pasukan penjaga Miko. Biasanya kami bertemu di taman Pusat Gereja, namun hari ini mereka malah menangkapku.

Menurut mereka, aku dicurigai sebagai orang sesat yang berniat mencelakakan Miko.

Itu dia.

Ya… aku tidak menyangkalnya.

Aku memang pernah berniat menculik Miko, setidaknya sekali atau dua kali.

Namun aku urung melakukannya. Sekarang, aku hendak bernegosiasi dengan Therese mengenai upaya pembebasan Zenith.

Dengan kata lain, ini hanyalah salah paham.

Apakah ada orang yang memfitnahku?

Tapi, aku belum memberitahu rencana penculikan itu pada siapapun.

Kecuali…….. Aisha, Gisu, Cliff ... dan Uskup Agung?

Mungkin Uskup Agung lah orang yang menyebarkan kabar itu.

Atau mungkin, Gisu tertangkap, lalu dia mengungkap segalanya karena takut dihukum.

... Atau mungkin Aisha? Apakah dia aman?

"Sekarang saatnya kami menginterogasimu! Rudeus Greyrat sang tersangka utama, kau harus menjawab semua pertanyaan kami dengan jujur!”

"... baiklah….."

Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Untuk saat ini aku harus tenang dan mendengarkan pertanyaan mereka.

Jika aku bertindak gegabah, maka semua usahaku selama ini akan sia-sia saja.

"Terdakwa Rudeus Greyrat. Apakah kau pernah membagikan buku yang menceritakan bahwa ras iblis bukanlah makhluk yang jahat? Apakah kau ingin mengajak orang lain berteman dengan ras iblis?”

Mereka sepertinya telah menyelidiki aku.

Yah, Uskup Agung juga tahu tentang hal itu.

Apakah mereka punya semacam database?

"Tidak."

"Tolong jawab dengan jujur. Jadi informasi yang kami dapat salah?”

"Aku memang menjual buku tentang ras iblis, namun aku belum mendapatkan ijin menjual buku tersebut di Kerajaan Suci Milis. Kalau di Kerajaan Asura sih…. aku sudah menjual buku itu dengan bebas, dan mendapatkan sejumlah laba darinya.”

"Tidak mungkin kau dapat untung, karena harganya murah sekali."

Yah, memang murah, apalagi di dunia ini buku dianggap sebagai benda berharga.

Tapi aku lebih fokus pada jumlah, daripada keuntungan.

"Kalau begitu, harusnya kalian juga tahu bahwa……….."

"Terdakwa tidak diijinkan membicarakan hal yang tidak ditanyakan.”

Aku hanya ingin kau mendengarkanku sebentar.

Aku menjual buku itu hanya untuk membersihkan nama baik Ruijerd.

Harusnya kau tahu itu, Therese.

Kita sudah membicarakannya dulu.

"Terdakwa Rudeus Greyrat. Apakah kau menyembah ras iblis, layaknya Tuhan?”

"..."

Pertanyaan ini semakin tidak jelas. Tidak ada gunanya aku menjawabnya.

"Tidak, aku bahkan tidak percaya Tuhan.”

"Luar biasa!"

"Terdakwa telah berbohong!"

"Itu bohong!"

"Pembohong!"

"Dia pasti berbohong!"

"Menurutku, terdakwa berbohong!"

"Itu bohong!"

"Menurut suara terbanyak, disimpulkan bahwa dia berbohong!”

Mengerikan…. inikah yang mereka sebut demokratis?

Percuma saja…. interogasi ini hanyalah sandiwara belaka.

Sejak awal aku tidak bisa membela diri.

"Ini pertanyaan terakhir. Terdakwa Rudeus Greyrat. Apakah kau berencana menculik Miko-sama, sang Gadis Kuil?”

"Tidak. Aku memang sudah mengatakan itu pada beberapa orang, tapi aku tidak pernah benar-benar melakukannya.”

Tentu saja aku serius saat mengatakannya, namun kau tidak berhak disalahkan jika belum mengerjakan rencana jahatmu.

"Bohong!"

"Terdakwa telah berbohong!"

"Dia bohong!"

"Dia berbohong!"

"Itu bohong!"

"Menurut penilaianku, terdakwa berbohong!"

"Dia dusta!"

Nah, kan….

Interogasi ini hanyalah lelucon.

Tuduhan mereka benar-benar mutlak, tanpa bisa kusanggah sedikit pun.

Sayangnya, itu tadi adalah pertanyaan terakhir ...

"Suara mayoritas telah menetapkan bahwa terdakwa berbohong."

Therese sudah menyimpulkan, kemudian ketujuh ksatria mulai menyiapkan pedangnya.

Mereka mengerikan.

Kenapa aku tidak menyadari ini selama beberapa hari terakhir? Pasti ada yang kulewatkan.

"Kami memutuskan bahwa Rudeus Greyrat adalah orang sesat yang pantas dihukum. Apakah ada yang keberatan dengan keputusan ini?”

"Tidak keberatan!"

"Tidak keberatan!"

"Tidak keberatan!"

"Aku keberatan! Harusnya kita tidak perlu menginterogasi orang sesat ini! Eksekusi saja langsung!”

"... Tidak keberatan!"

"Tidak keberatan!"

"Tidak keberatan!"

"Tidak keberatan!"

Si om ember seakan membelaku, namun itu hanyalah lelucon.

"Dengan dosa sebesar itu, maka kami memutuskan terdakwa Rudeus Greyrat harus dihukum seumur hidup!”

"Apa?? Hukuman seumur hidup? Apakah aku akan dipenjara sampai mati?”

Sebenarnya tidak ada gunanya bertanya, tapi aku pun melakukannya.

"Tidak ... bukan seperti itu. Kau tetap dibiarkan hidup, namun tanganmu akan dipotong dan disegel dengan sihir penghalang dan sihir bumi, sehingga kau tidak lagi bisa menggunakan sihir seumur hidupmu.”

Seperti itulah jawabannya.

Wah, tampaknya mereka tidak main-main ....... lantas apa yang harus kulakukan?

Mereka ingin menyegelku.

Tanganku akan dipotong, lalu disegel dengan sihir penghalang dan sihir bumi.

Itu semacam borgol yang akan mengunci segala macam sihirku.

Dengan begitu aku tidak akan bisa lagi menggunakan sihir, ataupun ilmu pedang.

Aku sih tidak masalah…. tapi sayangnya, aku juga tidak bisa meremas Oppai-nya istri-istriku jika tanganku buntung.

Aku harus menggunakan lengan buatan lagi deh…..

Lengan Zariff tidak sama seperti lengan asli. Sensasinya berbeda, dan terasa kurang mantab ketika meremas Oppai.

Harusnya, tangan manusia hangat, lembut, dan nyaman…. tidak seperti lengan buatan yang keras, dingin, dan tidak nyaman.

"Therese-san, apakah kau hobi menyegel orang?”

"... bukankah itu lebih baik daripada membunuh orang?"

Jadi itu ya sifat aslimu….

Apakah dia benar-benar rela melakukan ini?

Tanganku ini adalah tangan pembela kebaikan, lho…. errr, maksudku, aku lebih sering menggunakannya untuk meremas Oppai daripada membunuh orang…. itu bagus, kan?

"Errr, tapi kalau aku memeluk istriku tanpa menggunakan tangan…. kan tidak nyaman…..”

"Ha? Apa ...?"

"Enak lho punya istri…..kalian bisa memeluknya setiap saat.”

"Cuih!"

Therese mendecakkan lidahnya padaku. Kau tidak paham, kan? Makanya, cepetan nikah….

Kau tidak akan menghukumku karena berbuat mesum pada istriku, kan?

"Ah terserah lah…. yang jelas kalian tidak akan membiarkanku lepas, kan?”

"Ya."

“Tentu saja.”

"Investigasi kalian hanya pembenaran.”

"Betul."

"Akan tetapi….. jika kalian bisa mendatangkan Miko-sama ke sini, maka aku bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah.”

"... Tidak perlu. Tujuh ksatria sudah lebih dari cukup untuk mendakwa seorang kafir sepertimu.”

"Jadi, kalian tidak bisa mendatangkan Miko-sama ke sini?”

"Ya."

Aku tidak bisa melihat ekspresi wajah Therese karena tertutup helm.

Tapi sepertinya, aku mendengar suaranya agak sedikit gemetaran.

"Selama ini Therese-san selalu baik padaku. Apakah kau melakukan itu hanya untuk menjebakku?”

"... Tidak, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Bahkan Miko-sama juga mempercayaimu. Tapi, kau sendirilah yang merusak hubungan baik kita dengan rencana jahatmu, Rudeus-kun.”

"Percayalah padaku, Therese-san…. aku tidak pernah berniat merusak hubungan baik kita. Aku bisa berteman akrab dengan Miko-sama, yaitu orang yang begitu penting bagi kalian.”

"...."

Dia tidak membalasnya.

Mungkin dia sedang berpikir.

Ha...

Sayang sekali.

Padahal aku berniat menjalin hubungan baik dengan kedua fraksi.

Sebisa mungkin aku berusaha menahan amarahku. Aku ingin menyelesaikan kasus Zenith dengan negosiasi yang damai.

"Therese-san, lalu bagaimana dengan nasib ibuku?"

"... Aku tetap akan membujuk ibu untuk melepaskan Zenith. Namun, itu tidak ada hubungannya dengan kejahatanmu ini.”

Hmmmm.

Kalau dilihat dari jawabannya, sepertinya bukan Therese yang merencanakan ini semua.

"Mungkin aku bukan penganut ajaran Milis yang taat, tapi aku kenal baik dengan Uskup Agung ... kau juga sangat mengenalku kan, Therese-san…. lalu mengapa harus kau lakukan ini….?”

"Apakah kami memberimu kesempatan bertanya?"

Pertanyaanku terputus oleh pertanyaan lainnya yang dingin.

Aku tidak perlu menanyakan itu.

Sejak awal pun, mereka tidak berniat menjawab pertanyaanku.

"Sebelum kalian menghukumku, ijinkan aku mengajukan pertanyaan terakhir. Darimana kalian tahu bahwa aku berniat menculik Miko-sama? Apakah ada dewa yang mewahyukannya lewat mimpi?”

"Tidak, kami mendapatkan informasi itu dari orang yang terpercaya. Kami tidak akan mau mendengar kabar burung yang belum tentu kebenarannya.”

"Atau mungkin…. dewa itu menyebut dirinya Milis?”

Saat aku mengatakan itu, para Otaku di sekitarku mulai bereaksi keras.

"Jangan sembarangan menyebut nama Milis!!!"

"Milis adalah junjungan kami!!!"

"Milis tidak akan menurunkan wahyu pada ksatria rendahan seperti kami!!!”

"Hanya Miko-sama yang layak menerima wahyu seperti itu!!!"

"Tapi, sampai sekarang pun orang seagung Miko-sama tidak pernah menerima wahyu dari Milis!!”

"Milis adalah Tuhan Tertinggi kami!"

"Mereka yang sembarangan menyebut nama Milis adalah iblis!!!”

Kemudian, bersamaan dengan hujatan-hujatan itu, Therese dengan bangga berkata ...

"Ya, mereka benar…… Rudeus-kun, jangan pernah kau meragukan keimanan kami.”

"... aku lega mendengarnya."

Mungkin kefanatikan mereka terlalu berlebihan, tapi setidaknya tidak ada bidak Hitogami di antara mereka.

Sepertinya, mereka semua adalah pengikut ajaran Milis yang taat.

Mendengar perkataan mereka saja, aku sudah tahu.

"...."

Aku mengeluarkan tanganku dari jubah, lalu mengangkatnya ke atas.

Mulai terdengar suara berdengung.

Aku sudah menyiapkan benda khusus di tangan kiriku untuk mengatasi masalah seperti ini.

"Serap…….."

Jika kau tersegel oleh sihir yang bisa menghambat sihir lainnya, maka cara mengatasinya mudah. Serap saja sihir penghalang itu dengan batu sihir.

Seketika, lingkaran sihir di kakiku pun lenyap.

Mata para Ksatria Kuil itu terbelalak saat melihatnya.

"Baiklah, kalau kalian mau berkelahi…. ayo aja…."

Bagian 2[edit]

"Semuanya! Mundur!!"

Atas perintah Therese, mereka pun melompat mundur seketika.

Saat itu juga, aku menembaki mereka dengan peluru batu dari tanganku.

Kecepatan dan kekerasan normal saja.

Mereka tidak akan mati jika terkena serangan normal seperti itu, kecuali jika terkena organ vitalnya.

Tembak.

Kau duluan, Ksatria Ember!

"Tahan!"

"Bantu dia!"

Dua buah peluru batu yang kutembakkan ke arahnya segera dibelokkan oleh rekan-rekannya.

Di tangan mereka ada semacam perisai transparan.

Itu adalah sihir penghalang tingkat dasar, Magic Shield.

... apakah sihir itu benar-benar tingkat dasar? Peluru batu normalku dibelokkan oleh sihir tingkat dasar?

"Debu, Makam, Tengkorak pindah ke sisi kanan! Sampah, Peti Mati, Kain Kavan jaga sisi kiri! Pemakaman dan aku akan bergerak bebas!"

Ternyata…. kode nama si Ksatria Ember adalah “Debu”

Kode nama si Ksatria Nisan adalah “Makam”.

Kode nama si Ksatria Sapu adalah “Sampah”.

Dan si Ksatria Tengkorak…. ya, tengkorak.

Sedangkan tiga sisanya sudah benar.

Kode nama yang aneh…. tapi memang begitulah adanya, karena julukan mereka adalah Pasukan Penjaga Makam Suci, jadi kode namanya berhubungan sama kuburan.

Tiga orang di setiap sisi menembakkan sihir bersamaan.

Itu adalah sihir api, air, dan bumi.

Tiga elemen yang berbeda mereka tembakkan sekligus. Tapi seratus elemen pun tidak masalah bagiku.

"Serap………"

Sembari menyerap sihir mereka, aku menembakkan peluru batu lainnya, tapi lagi-lagi mereka menangkisnya.

Pria yang menggunakan perisai sihir penghalang itu sepertinya ditugaskan khusus untuk bertahan.

"—Dengan rahmatmu, kobaran api redup berubah menjadi pijaran yang menyala terang!! Flamethrower!!"

“….. berikan pedang es agung-Mu, dan tebas musuh-musuh-Mu! Icicle Break!"

Pada saat yang sama, sihir ditembakkan dari sisi lain.

Api dan air.

Ah tidak, orang ketiga baru saja melepaskan sihir lainnya.

Itu adalah sihir bumi, Earth Lance!

"Serap semua!"

Aku menyerap sihir api dan air itu bersamaan.

Lalu aku menggagalkan Earth Lance dengan Quagmire.

Ups, aku terlalu lambat.

Aku tidak melepaskan serangan balasan.

Tapi kakiku masih bisa bergerak bebas.

Aku langsung mundur untuk menghindari sihir yang beterbangan dari sisi lainnya.

Hanya seseorang yang merapalkan mantra. Tampaknya itu adalah sihir api normal, Fire Ball.

Kenapa hanya seorang, kenapa tidak langsung tiga saja?

Aku tidak punya waktu untuk memikirkan itu.

Aku mengarahkan kedua tanganku ke sisi kiri dan kanan mereka.

"Stone Cannon!"

Setelah aku melangkah mundur lebih jauh, akhirnya aku bisa melihat formasi mereka dengan jelas.

Ada 3 orang di sisi kiri dan kanan.

Di antara mereka, dua orang memegang perisai transparan. Kedua orang inilah yang selalu mementahkan peluru batuku. Sedangkan yang lainnya terus menyerang dengan tembakan sihir dari berbagai elemen.

Perlawanan yang bagus.

Aku sudah meningkatkan dan memperkeras peluru batuku, bahkan aku sudah menggunakan Stone Cannon, tapi mereka masih saja bisa menangkisnya.

Hmmm, sepertinya aku kenal dengan teknik tangkisan itu.

Itu adalah Teknik Dewa Air.

Jadi begitu ya, mereka mengombinasikan Teknik Dewa Air dan perisai sihir penghalang. Pantas saja pertahanan mereka begitu kuat. Luar biasa.

"Wahai roh-roh bumi! Jawab panggilanku, lalu naiklah sampai menembus angkasa! Earth Lance!!"

"Wahai roh-roh air yang agung, aku memohon pada Kaisar Guntur! Turunkan pedang es-Mu yang agung itu, dan tebas mereka!! Icicle Break!!”

Pada saat itu, dua ksatria yang tidak membawa perisai menembakkan sihir.

Dengan mudah aku membuyarkan sihir mereka dengan batu penyerap sihir….. lalu, apa yang harus kulakukan?

Formasi mereka tidak berubah, tiga orang di kiri dan tiga orang di kanan.

Ada seorang di setiap sisi yang membawa perisai transparan, dan siap menangkis seranganku.

Karena aku hanya menembakkan dua peluru sekaligus, maka dua orang itu sudah cukup untuk menghentikan seranganku.

Orang ketiga membalas dengan menembakkan mantra serangan.

Kemudian, orang yang tidak menyerang, meletakkan perisai mereka sesaat.

Saat aku jeda sesaat, mereka terus menembakkan tiga elemen sihir.

Sejauh ini, mereka hanya bisa melepaskan sihir berelemen api, air, dan bumi.

Mungkin mereka belum tahu bahwa aku memiliki batu sihir yang bisa menyerap Mana.

Awalnya mereka hanya bisa menyerangku dari satu sisi, mungkin itu karena jaraknya masih jauh.

Kalau waktunya tepat, mungkin aku bisa menembus inti formasi mereka.

Mungkin aku bisa menyerang saat mereka membaca mantra ...

Harusnya pertahanan mereka bisa ditembus saat para pemegang perisai itu jeda sesaat ...

Kalau aku tidak merusak formasi mereka, aku tidak akan bisa mengalahkannya.

... itu mungkin bukan ide yang bagus.

Tapi…. coba saja….

"Fireball!"

Dengan teriakan keras yang disengaja, aku mulai mengemas Mana untuk mengaktifkan sihir.

Mana-nya cukup besar untuk menghasilkan sihir bola api berdiameter sekitar 2m.

Bola api sebesar itu termasuk sihir kelas lanjut.

Tapi, kecepatannya lebih lambat daripada Stone Cannon.

Dengan lembut, aku melemparkan bola api itu.

Aku bermaksud menghantamkannya pada sisi kiri dan kanan formasi mereka.

"Tahan!"

Seperti biasa, dia ksatria pemegang perisai mulai menyiapkan pertahanan.

Tapi, sihir penghalang juga punya kelemahan.

"Ran Ma!!"

"!?"

Aku mengacaukan sihir penghalang mereka dengan sihir pengganggu, Ran Ma.

Seperti kebanyakan sihir lainnya, sihir penghalang juga mengonsumsi banyak Mana selama masih diaktifkan.

Prinsip itu juga berlaku meskipun kau menggunakan sihir penghalang level dasar.

Selama masih mengumpulkan Mana, aku bisa meniadakannya dengan Ran Ma, meskipun mereka tidak merapalkan mantranya.

Aku melihat ksatria di sisi kiri sedang menurunkan perisainya, sedangkan di sisi kanan masih siaga.

Tapi, jika salah satu sisi saja tidak terlindungi, maka rusaklah formasi mereka.

"...!"

Pada saat aku masih berpikir, tiba-tiba sesuatu terbang dari belakang.

Aku pun menoleh ke belakang, sembari menyiapkan lenganku untuk bertahan.

Setelah terdengar suara, *kraaaak*, benda itu pecah berkeping-keping.

Itu adalah batu kecil berwarna coklat.

Setelah menahan batu itu, sikuku terasa sedikit sakit.

Itu adalah sihir peluru batu seperti yang selalu kugunakan.

Baru kali ini aku menghadapi lawan yang sama-sama bisa menggunakan peluru batu.

"Ternyata Rudeus bisa menggunakan sihir dengan kedua tangannya! Dua orang harus bertahan, jika salah satunya jeda, maka yang lain harus melindunginya! Jangan melakukan kesalahan sedikit pun!”

Therese dan dua ksatria lainnya langsung menyusup di belakangku.

Sekarang, aku juga harus bertahan dari serangan belakang.

"...."

Entah sejak kapan, tiba-tiba aku terkepung.

Sepertinya aku barusan membuat kesalahan besar.

Aku belum tahu bagaimana kemampuan serangan jarak dekat mereka.

Ksatria yang barusan terkena bola apiku tampaknya masih sehat, hanya armor-nya saja yang mengepulkan asap putih.

"Rudeus-kun. Kami adalah pasukan Ksatria Kuil terbaik. Kau tidak akan menang melawan kami.”

"Sungguh?"

"Dalam sepuluh hari terakhir kami sudah mempelajari cara bertarungmu. Karena kau cukup terkenal, maka kami bisa mendapatkan informasi tentangmu dengan mudah, jadi kami sudah menyiapkan strategi untuk menghadapimu.”

Fumu.

Lalu, mengapa kau tidak juga menghunuskan pedangmu?

Aku kan hanya bisa menggunakan sihir.

Dalam keadaan seperti ini, mungkin mereka tidak bisa menghindari sihirku dari jarak dekat.

Tapi, bukan berarti aku sudah kehabisan trik.

Mungkin mereka masih ragu, atau bahkan kelelahan.

Sekarang aku sama sekali tidak bisa kabur, sepertinya strategi mereka cukup efektif.

Sejauh ini tak satu pun serangan mereka bisa mengenaiku, jadi aku masih berada di atas angin.

Aku jadi penasaran….. strategi macam apa yang telah mereka siapkan untuk melawanku. Kalau trik kalian hanya sihir penghalang itu, maka percuma saja.

"Rudeus-kun, menyerah lah! Kau boleh saja menghancurkan sihir penghalang kelas Raja kami, tapi kau tidak akan bisa menghindar dari kekalahanmu!”

"Hooo…. Benarkah?”

"Kami juga sudah memasang penghalang pada pintu taman! Tidak ada seorang pun yang bisa menolongmu sekarang! Kalau mau selamat, maka menyerahlah!”

Apakah kau yakin…?

Kalau memang begitu, berarti kalian benar-benar merencanakan penangkapan ini dengan sangat matang.

Aku tidak akan bisa menang kalau tidak serius.

Aku harus mencoba berbagai cara untuk merusak strategi mereka.

Tapi….. jika aku kalah… maka habislah semuanya.

"...Quagmire."

Sekarang bukan lagi saatnya main-main.

Bagian 3[edit]

--- Sudut Pandang Therese ---

Saat Rudeus menggumamkan sesuatu, tiba-tiba muncul rawa berlumpur di bawah kakiku.

Kami juga sudah mendengar tentang sihir ini.

Inilah sihir yang juga menjadi julukan Rudeus, Quagmire.

Biasanya, sihir ini dia gunakan untuk membuat genangan lumpur licin yang membuat lawannya terpeleset.

Tapi, kali ini skalanya berbeda.

Seluruh permukaan tanah di taman ini menjadi genangan lumpur.

Pohon Saraku kesukaan Miko-sama dan pohon Balta mulai tersedot ke dalam lumpur.

Tapi, jangan kira kau bisa menghentikan kami dengan sihir seperti ini.

Sampah mulai merapalkan sihir untuk melawan Quagmire. Namun, Rudeus sudah mengaktifkan sihir lainnya.

"...Dense Fog."

Sesaat berikutnya, kabut tebal mulai menelan tempat ini.

Gawat! Ini berbahaya.

"Tetap waspada! Kita harus menyingkirkan rawanya terlabih dahulu, dan jangan menyerang rekanmu tanpa sengaja!”

Saat berikutnya, kilat ungu melonjak ke arah kami.

Serangan itu terlalu cepat, kemudian aku mendengarkan suara ledakan yang nyaring.

"Jangan panik! Armor kita tahan terhadap sihir Electric! Pastikan dia tidak melarikan diri! Jaga dia!"

“Siap!” aku mendengarkan balasan itu dari balik kabut.

Baiklah.

Menurut informasi yang kami dapatkan, salah satu kelemahan Rudeus adalah serangan jarak dekat.

Semua anggota Pasukan Penjaga Makam Suci adalah pendekar pedang level lanjut ke atas. Kami juga mampu menggunakan sihir penghalang level lanjut.

Bertarung satu lawan satu kami sanggup, apalagi beregu.

Meskipun aku hanya menguasai Teknik Dewa Air level menengah, tapi si Pemakaman sudah hampir menguasai level Saint.

Walaupun kekuatan Rudeus sudah setara dengan penyihir kelas Kaisar, belum tentu dia bisa menembus formasi pertahanan kami.

Kami tidak akan membuat kesalahan pada formasi kami.

"—Kami akan menangkal sihir Quagmire!”

"Shifting Sand!"

Ketika Pemakaman menyelesaikan mantranya, suara Sampah mulai terdengar.

Lumpur di kaki kami dengan cepat berubah menjadi pasir, sehingga pijakan kami lebih keras.

Maafkan aku, Rudeus-kun.

Quagmire dapat dilawan dengan sihir level lanjut, Shifting Sand.

Namun sihir seperti ini tidak diajarkan di akademi.

Penelitian untuk menangkal sihir kombinasi juga masih berkembang ...

Jadi, kemungkinan besar kau tidak tahu sihir penangkal seperti Shifting Sand.

Aku jadi penasaran… apakah ini pertama kalinya sihir Quagmire digagalkan?

Aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan, tapi kurasa…. ini sudah skakmat.

Tentu saja, sebenarnya aku tidak percaya bahwa kau berencana menculik Miko-sama.

Miko-sama benar-benar senang berteman denganmu.

Kau pun sangat mengkhawatirkan Zenith, sehingga kau meminta bantuan dariku ...

Aku mengerti hanya itulah yang kau inginkan.

Tapi, mau bagaimana lagi……

Karena ini adalah instruksi langsung dari Kardinal.

Tak peduli informasi ini benar atau salah, kami harus menjalankan perintah.

Hanya Sampah yang benar-benar marah padamu, karena dia begitu mencintai Miko-sama ...

Setidaknya, kami akan membiarkanmu hidup.

Asal tahu saja, hukuman potong tangan dari Kardinal adalah hukuman yang paling ringan.

Bahkan, kami tidak menggunakan pedang beracun untuk melawanmu.

Tidak masalah, Rudeus-kun.

Tidak masalah jika kau kehilangan kedua tanganmu di usia semuda itu, bukankah kau punya istri setia yang selalu melayanimu?

Eris akan selalu melindungimu karena kau tidak bisa lagi menggunakan tangan untuk bertarung.

Terlebih lagi, kau adalah orang kepercayaan Dewa Naga.

Saat kecil, aku sering mendengar cerita bahwa ras naga mempunyai kekuatan yang misterius.

Bahkan, mungkin Dewa Naga bisa merusak segel yang kami buat.

Kau bisa menjalani sisa hidupmu di tempat yang jauh dari jangkauan kami.

Mengenai Zenith…. kami pasti bisa menyelamatkannya, entah bagaimana caranya.

Tapi, meskipun begitu ...

"…..hapus Dense Fog."

Suara Pemakaman membuatku kembali tersadar.

Pada saat yang sama, tiba-tiba aku merasa tidak nyaman.

... Ada yang aneh.

Apa itu?

Masih belum terjadi apa-apa.

Oh iya…. setelah melepaskan kabut tebal ini, sepertinya Rudeus belum bergerak sedikit pun?

Benarkah dia coba melarikan diri? Atau terus bertarung melawan kami?

Namun, meskipun jarak pandangku hanya 1 meter, aku masih bisa mendengarkan suaranya.

Dia sempat melepaskan Electric tadi, tapi setelah itu tidak melakukan apa-apa.

Jangan-jangan dia sudah melarikan diri? Tapi sejak kapan?

Pertama Quagmire, lalu Dense Fog, dan Electric setelahnya. Ketiga sihir itu sudah cukup menghentikan pergerakan kami.

Dia bisa menggunakan sihir yang bergitu bervariasi, tapi sayangnya sudah terlam………

"………Wind Blast!"

Sihir angin membersihkan kabut dalam sekejap.

"..."

"...."

"...... Eh?"

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat.

Setelah kabut tersibak, Rudeus pun lenyap.

Yang tersisa hanyalah gulungan yang robek dan kusut.

Dan batu besar ...?

Apakah itu patung?

Atau Armor?

"... s-s-sihir pemanggilan???"

Tanpa sadar aku mengucapkan itu…. dia bahkan bisa menggunakan sihir pemanggilan!!??

Sesaat kemudian, Armor besar itu mulai bergerak.

Aku belum pernah melihat Armor semasif itu, dan gerakannya pun luar biasa cepat.

Bagian 4[edit]

--- Sudut Pandang Rudeus ---

Mungkin posisiku tidak diuntungkan, namun ini bukan saatnya main-main.

Kabut dengan cepat menghilang.

Mereka hanya bisa tercengang, seakan tidak pernah melihat armor sebesar ini.

Sembari membuka mata iblis, aku mentarget kedua ksatria yang menggunakan perisai penghalang, lalu kutembakkan Stone Cannon sekali….. dua kali….. dan tiga kali.

Dengan mudah kutembus pertahanan mereka.

Lalu kuhantam mereka dengan perisai Magic Armor Versi I.

Tentu saja aku tidak serius menghantamnya.

Aku hanya menjatuhkan mereka.

Jangan sampai membunuh mereka, karena urusannya akan semakin runyam.

Pada saat yang sama, aku menjatuhkan tiga pria lagi dengan Gatling Gun-ku.

Kuayunkan lengan kiriku lebar-lebar.

Terdengar desingan nyaring saat Gatling Gun-ku memuntahkan peluru-pelurunya.

Tiga pria meringkuk kesakitan saat seranganku meremukkan tulang kering mereka.

Sebisa mungkin, aku menjaga kekuatanku agar kaki mereka tidak meledak.

Harusnya mereka tidak mati, karena aku sengaja tidak mengenai titik vitalnya.

Kukontrol seranganku dan kuatur seakurat mungkin untuk mengenai kepala mereka, agar mereka segera pingsan.

Tinggal dua ksatria tersisa.

Aku mundur selangkah sebelum berbalik, seperti yang diajarkan Orsted kepadaku.

Jika musuh menyerang dari belakang, kau harus menggunakan gerakan kaki yang cepat untuk menghindari mereka.

Aku tidak merasakan serangan datang dari belakang, tapi aku tetap berbalik untuk memastikannya.

Kemudian, aku mendapati Therese di belakangku.

Matanya terbelalak, dan mulutnya terbuka lebar.

Ksatria di sebelahnya segera menghunuskan pedang untuk melindungi komandannya.

Tapi sudah terlambat.

Kau terlalu lambat.

Untung saja kau tidak menghadapi Eris, karena dia bisa memotongmu sepuluh kali sebelum kau sempat menghunuskan pedangmu.

Dengan Magic Armor Versi I, aku bisa dengan mudah mengatasi kecepatannya.

Mereka bukan lagi lawanku.

Sebelum dia sempat mencabut pedangnya, aku langsung menghantamnya dengan tinjuku.

Dia terbang jauh, sampai akhirnya berhenti karena menghantam dinding Pusat Gereja.

Therese masih berdiri di sana dengan wajah keheranan. Tubuhnya kaku, tanpa bisa bergerak sedikit pun.

Seolah-olah, dia tidak mempercayai apa yang sedang dilihat matanya sendiri.

"A-a-a-apa ..."

Akhirnya, aku pun melumpuhkan Therese dengan serangan peluru batu sepelan mungkin. Aku bahkan tidak menggunakan tinjuan Magic Armor Versi I.

Selesai sudah.

Mereka bukan tandingan Magic Armor Versi I yang bahkan pernah membuat Orsted kesulitan menghadapinya.

Aku bisa menghabisi lawan-lawanku sebelum mereka sempat menyerang. Pertahanan tangguh mereka hanya seperti lelucon di hadapan Magic Armor Versi I.

Apakah ini keputusan yang benar?

Therese dan Ksatria Kuil lainnya bergelimpangan di sekitarku.

Mereka semua masih hidup.

Sebisa mungkin aku berusaha tidak membunuh lawan-lawanku, kecuali dia bidaknya Hitogami.

Itulah prinsipku.

Kali ini, aku masih bisa menjaga prinsip itu.

"Haah ~ ... lega…..."

Belakangan ini pikiranku kacau karena frustasi, namun pertarungan ini kembali membuatku bersemangat. Rasanya puas sekali.

Sesekali, kau perlu melampiaskan kekesalanmu seperti ini. Tapi jangan keterlaluan ya….

Untungnya Eris tidak ikut bersamaku.

Kalau ada dia di sini, entah apa yang akan terjadi dengan kalian.

Lalu….apa yang harus kulakukan sekarang?

Setelah kekalahan ini, Ksatria Kuil lainnya pasti akan memusuhiku.

Oh iya….. sebenarnya, siapa sih yang telah mengkhianatiku?

Hanya ada beberapa orang yang pernah mendengar rencana jahatku menculik Miko, yaitu Aisha, Gisu, Cliff, dan…….kakeknya?

Bagaimana dengan Wendy? Apakah dia juga pernah mendengarnya?

Yang jelas, Aisha tidak mungkin membocorkan informasi itu.

Jika Aisha ingin mencelakaiku, maka dia tidak perlu repot-repot melakukan itu.

Dia hanya perlu meminta, ”Onii-chan…..gendong aku dong….”

Lalu, saat aku menikmati Oppai-nya yang mulai kencang, dia akan menggigit leherku.

Atau, dia juga bisa membubuhkan racun ke dalam minumanku, kapanpun dia mau.

Cliff dan Gisu juga tidak mungkin.

Karena posisi mereka sama.

Mereka sama-sama tidak perlu mengkhianatiku untuk menjatuhkanku.

Lalu, apakah Uskup Agung pelakunya?

Akankah Uskup Agung mencoba membunuhku dengan penangkapan ini?

Apa yang dia dapatkan dengan menyingkirkanku?

Tidak…. mungkin justru sebaliknya.

Mungkin dia ingin membunuh beberapa Ksatria Kuil dengan mengadunya melawanku.

Uskup Agung tahu bahwa aku berada di pihaknya, tapi sampai sejauh ini belum ada tindakan nyata dariku yang benar-benar menguntungkannya.

Mungkin dia berencana memanfaatkanku.

Lalu, sementara Pasukan Penjaga Makam Suci sibuk melawanku, dia punya kesempatan menculik Miko.

Tunggu…. tunggu.

Therese mengatakan bahwa informasi tersebut berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

Dari sudut pandang Fraksi Kardinal, apakah informasi dari fraksi oposisi bisa dipercaya?

Uskup Agung adalah lawan politik mereka.

Bukankah itu berarti perkataan Uskup Agung tidak selayaknya mereka percayai?

Pertama, ada juga kemungkinan bahwa tuduhan penculikan Miko hanyalah kebetulan saja.

Meskipun itu benar, mungkin saja informasi itu hanya berasal dari orang yang mengada-ngada.

Tunggu.

Daripada menganggap ini kebetulan, bukankah sebaiknya aku menduga keterlibatan Hitogami?

Mungkin saja bidak Hitogami yang mendalangi insiden ini.

Mungkin tidak ada yang mengkhianatiku, jadi semua ini adalah ulah bidaknya Hitogami.

Apa maksud Hitogami?

Aku tidak bisa melihat masa depan, jadi aku tidak tahu.

Tapi yang pasti, apapun yang dia lakukan akan berujung pada kemalangan.

"...."

Aku tidak bisa menebak siapakah bidaknya Hitogami.

Memikirkan itu tidak ada gunanya.

Aku memiliki masalah yang lebih mendesak.

Yaitu, menentukan siapa lawanku.

Saat ini, aku tidak tahu apa yang terjadi pada Miko.

Celakanya, Pasukan Penjaga Makam Suci yang seharusnya melindunginya ...... sudah kubuat babak belur seperti ini.

Dengan begini, Fraksi Kardinal akan mulai bergerak melawanku.

Kejahatan yang dituduhkan padaku tidak akan berubah. Mereka tetap menganggap bahwa aku berniat menculik Miko.

Mereka bahkan akan menyerang Cliff, Gisu, Aisha, dan tentu saja Uskup Agung.

Apa yang harus kulakukan...

Apa yang dapat kulakukan...

Apakah aku harus mengumpulkan semua teman-temanku, lalu melarikan diri dari ibukota?

Tidak, bagaimana dengan Zenith?

Aku tidak boleh pergi tanpa Zenith.

Aku harus pergi ke Kediaman Keluarga Latreia dan menyelamatkan Zenith ...

Tetapi, bagaimana jika dia sudah dipindahkan?

Jika mereka tahu kami akan segera menemukan Zenith, bukankah mereka akan memindahkannya ke tempat lain?

Sampai kapan aku harus melawan ksatria-ksatria Milis ini?

Tampaknya….. memang inilah yang diinginkan Hitogami.

Ah.

Aku pasti bisa melakukan sesuatu…..

Sekarang, lebih baik aku mengamankan Aisha, Gisu, dan Cliff.

Lalu aku akan pergi ke Kediaman Keluarga Latreia untuk menyelamatkan Zenith.

Jika itu tidak berhasil, mungkin aku bisa pergi ke Istana Kerajaan Milis, lalu menangkap keluarga bangsawan sebagai sandera.

Mungkin itu lebih baik daripada menculik Miko.

Ahh….. aku lelah berpikir.

"... Ah."

Tiba-tiba, terdengar sebuah suara.

Seseorang sedang melihat kami dari pinggiran taman yang sudah berubah menjadi rawa.

Di depan pintu Pusat Gereja yang hanya bisa dibuka dengan kunci khusus, berdirilah seorang gadis.

Dia di sana sembari memegang kunci.

Sendirian.

"...."

Sepertinya dia sedang menatap mataku.

Aku mencoba memalingkan wajah, tetapi sudah terlambat.

Tidak hanya menatap mataku, namun dia juga membaca semua pikiranku.

Lalu….. dia tersenyum, dan merentangkan tangannya padaku.

Apa maksudnya itu?

Oh…. aku tahu….

Jadi begitu ya…..

Tiba-tiba…. aku memutuskan sesuatu….

Baiklah………..

Akan kuculik Miko.