Mushoku Tensei (Indonesia):Jilid 21 Bab 12

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 12: Negosiasi Yang Meyakinkan[edit]

Bagian 1[edit]

”Jangan sisakan sebutir nasi pun di piringmu, nanti nasinya menangis.”

Itulah yang biasa ibu ucapkan saat kita masih kecil.

Tapi….. tentu saja itu hanya peribahasa.

Tidak mungkin nasinya menangis.

Nasi bukanlah makhluk hidup, jadi dia tidak bisa menangis.

Itu hanyalah sebuah kebohongan yang membuat kita merasa iba.

Bahkan…. andaikan saja nasi benar-benar bisa menangis, maka bukankah kita tidak boleh memakannya? Karena dengan memakannya berarti kita membunuhnya?

Artinya…. jangan pernah menyisakan makananmu, karena tidak semua orang bisa menikmatinya.

Atau dengan kata lain….. jangan pernah berusaha setengah-setengah.

Kerjakan saja semuanya sampai tuntas.

Cukup sudah pelajaran bahasanya…..

Sekarang…..

Aku sedang duduk di sofa yang sudah Aisha siapkan untuk kantor cabang PT. Rudo yang baru.

Kami sekarang sedang berada di Distrik Niaga, pada ruang bawah tanah kedai yang sudah bangkrut. Tempat inilah yang kami beli untuk dijadikan kantor baru.

Di sini ada banyak tong berserakan yang isinya makanan diawetkan, dan juga beberapa potong jubah hitam yang belum selesai dijahit.

Aku menggunakan gulungan teleportasi untuk berpindah ke tempat ini.

Gulungan itu berisikan lingkaran sihir teleportasi dua arah.

Kami sengaja memasang titik relay-nya di sini.

Ada seorang gadis di hadapanku.

Gadis ini biasanya bertingkah manis dan kekanak-kanakan.

Tapi sebenarnya usianya sudah lebih dari 20 tahun.

"Kantor ini tua sekali."

Gadis yang sering disebut Miko-sama itu duduk di depanku.

Aku tidak mengikatnya, memborgolnya, memasungnya, atau apalah itu.

Dia duduk manis di lantai batu yang berdebu.

Itulah yang terjadi selanjutnya…..

Aku menculik Miko.

"Sebenarnya apa yang kau mau?"

"Hah?"

"Kenapa tiba-tiba kau keluar gereja saat aku sedang bertarung melawan ksatria-ksatriamu? Bahkan kau tidak coba melarikan diri saat kutangkap…..”

Kalau dipikir-pikir lagi, Miko keluar pada saat yang terlalu tepat.

Momennya begitu pas, seolah-olah dia sudah menunggu saat itu.

Kemudian dia kutangkap tanpa perlawanan.

"... Itu hanya kebetulan. Awalnya aku tidak tahu kalian sedang bertarung….. saat kulihat ke luar, aku terkejut karena kabutnya begitu tebal.”

Kau terlalu sembrono.

"Apakah kamu berbohong?"

"Ya, itu bohong. Sebenarnya, aku membaca ingatan salah seorang pengawalku, dan saat itulah aku tahu bahwa Therese akan melakukan sesuatu padamu. Maka, aku pun keluar.”

"Ho ~ o ... jadi kamu datang untuk membantuku?"

"Ya. Kemudian, saat menatap matamu, aku tahu apa yang sebenarnya terjadi si sini.”

Saat itulah dia membaca pikiranku.

Kemampuannya bahkan bisa menembus helm Magic Armor Versi I yang begitu tebal dan dipenuhi Mana.

Kemampuan seorang Miko sungguh misterius.

Aku bahkan tidak memahami prinsip di balik kekuatan super milik Zanoba.

"Kita kan teman….jadi, aku ingin membantumu."

"...."

Nasi yang menangis sudah menjadi bubur.

Aku sudah terlanjut menculiknya.

Tidak mungkin aku mengembalikan Miko, lalu meminta maaf baik-baik.

Tidak ada rencana cadangan.

Aku harus terus maju.

Aku punya dua kartu as sekarang, yaitu Miko….. dan diriku sendiri.

Kemungkinan terburuknya adalah….

Uskup Agung, Kardinal, Therese, dan Claire menjadi musuhku.

Cliff, Aisha, dan Gisu sudah berada di genggaman Hitogami.

Sejam telah berlalu sejak pertarungan kami di taman Pusat Gereja. Mereka pasti sudah mengerahkan pasukan yang lebih besar untuk mencari Miko.

Sepertinya tak seorang ksatria pun melihatku berteleport tadi. Tapi, lebih baik aku berasumsi bahwa Ordo Ksatria Kuil akan segera menemukan tempat ini.

Aku tidak punya waktu lagi untuk mengatur pemanggilan Magic Armor Versi I, sehingga kusembunyikan saja di dalam tanah dengan bantuan sihir Quagmire.

Sayangnya, itu akan membuatku kesulitan memanggilnya kembali.

Aku tidak punya pilihan lain…. karena gulungan sihir itu hanya bisa digunakan sekali.

Sekarang, yang kumiliki hanyalah sihirku sendiri…. dan juga Miko sebagai sandera.

Dengan dua kartu as tersebut, aku akan mengatasi masalah ini.

"Miko, tolong jawab pertanyaanku, sehingga kau bisa mempercayaimu.”

"Silahkan saja."

Ada yang ingin kutanyakan langsung padanya.

Dia bilang ingin membantuku.

Tapi, sebelum aku mempercayai tawaran itu, ada informasi yang ingin kudapatkan darinya.

"Tolong jelaskan lagi tentang kemampuan khususmu sebagai seorang Miko."

"Kau masih belum tahu?"

"Aku ingin mendengarnya langsung darimu."

Mungkin kemampuannya berbeda dari apa yang dijelaskan Orsted.

"Aku bisa membaca sebagian pikiran seseorang.”

"Sebagian?"

"Ya, aku bisa melihat sedikit pikiran seseorang, beserta ingatan-ingatan lainnya yang terkait.”

"Jadi, kau bisa membaca isi kepala seseorang?”

"Kurang tepat…. sebenarnya aku hanya bisa melihat masa lalu seseorang lewat pikirannya. Semakin lama kutatap mata seseorang, maka semakin jauh aku mengetahui masa lalunya.”

Ternyata begitu ...

Tapi, dia hanya bisa melihat memori masa lalu.

Hammmm…..

"Apakah hanya melihat?"

"Ya, aku hanya bisa melihatnya."

"Bisakah kau mengembalikan ingatan masa lalu seseorang yang cacat mental?”

"Tidak bisa. Tapi, jika aku mengombinasikan kemampuanku dengan sihir penyembuhan, mungkin aku bisa melakukannya…..”

Jadi, belum tentu dia bisa menyembuhkan Zenith.

"... kau hanya bisa membaca memori masa lalu? Bagaimana dengan pikiran seseorang saat ini? Tidakkah kau bisa membacanya?"

"Yahh… sepertinya aku bisa menebaknya."

Jadi begitu ya…. dengan membaca bekas-bekas pemikiran seseorang, dia bisa menduga apa yang sedang dipikirkan orang tersebut.

Masuk akal.

Karena kau pasti akan berpikir terlebih dahulu, sebelum melakukan tindakan.

Tak peduli se-spontan apapun tindakanmu, kau pasti memikirkannya terlebih dahulu.

Misal, kau ingin tahu apakah temanmu sudah makan pagi ini. Lalu, kau bertanya padanya, ”Apakah kau sudah sarapan pagi ini?”. Nah… sebelum orang itu bertanya, Miko sudah mengetahuinya karena dia bisa melihat apa yang telah dipikirkan targetnya.

"Jadi, orang yang masa lalunya kelam tidak akan berani menatap matamu, Begitu, kan?”

Pada dasarnya, gadis ini adalah pendeteksi kebohongan.

Dia bisa mengungkap rahasia siapapun yang dikehendakinya.

Yang perlu dia lakukan hanyalah melakukan kontak mata dengan targetnya.

Sebaliknya, jika dia berbohong, tidak akan ada orang yang tahu ... karena perkataan Miko tidak pernah diragukan kebenarannya.

Itulah kemampuan Miko ini.

Sangat berbeda dengan kekuatan super milik Zanoba, tapi pada dasarnya mereka sama-sama mempunyai kemampuan khusus.

Orang-orang terpilih seperti mereka selalu digunakan untuk kepentingan politik negaranya.

"Tapi Rudeus-sama tidak pernah menghindari tatapan mataku.”

"Ya…. karena aku tidak pernah berbuat jahat sebelumnya. Jadi, apa yang perlu kutakutkan?”

Sebenarnya aku pernah menghindari tatapan matanya, saat aku berniat menculiknya.

Tapi aku urung melakukan itu.

Kalau dia sudah tahu apa yang hendak kukatakan, maka aku tidak perlu menjelaskan panjang-lebar.

"Jika aku membaca semua masa lalumu, apakah kau tidak keberatan…?”

"...."

"Hah? Jadi, Dewa Naga Orsted punya kutukan seperti itu? Hmmm, jadi itu ya Hitogami. Dia pernah menyarankan padamu untuk….. ara ara ara ara….”

Wajah Miko tiba-tiba memerah.

Ada apa?

Apakah kau melihat sesuatu yang erotis?

Yahh, mau bagaimana lagi…. masa laluku memang dipenuhi dengan hal mesum.

Maaf ya… orang suci sepertimu terpaksa melihat adegan-adegan tidak seronok di masa laluku.

"Ah…. kau pernah menikah dua kali? Ah…. bahkan tiga kali? Waahh… apa itu? Altar penyembahan? Apa yang kau sembah itu….? Waah….waaahh… artefak dewi??”

Akhirnya Miko tidak tahan, lalu dia memalingkan wajahnya dariku.

Dia berkeringat dingin.

Napasnya ngos-ngosan.

Sepertinya dia menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.

"Apa yang kau lihat?"

"Ingatan yang kotor ... dan buku yang tidak sesuai ajaran Gereja Milis….serta ritual aneh….”

"Rupanya kau menyelam cukup dalam pada masa laluku.”

"Y-ya."

Miko mundur sedikit, lalu membenarkan rok yang menutupi kakinya.

Aku memang tidak punya agama, tapi ajaran Dewi Roxy sudah cukup memberikan ketenangan jiwa padaku.

Jadi, aku tidak memerlukan agama apapun.

"Mari kita kembali berdiskusi."

"Ya..."

Aku berdeham.

Harusnya aku merasa malu setelah masa laluku yang penuh erotisme terungkap.

Tapi ini bukan saatnya malu.

Ada hal lebih penting yang perlu kami bahas.

Jadi…. nanti saja bernostalgianya.

"Pertama-tama, aku ingin bertanya padamu, Miko-sama. Apakah kau tahu orang yang mendalangi penangkapan itu?”

"Mungkin yang coba menjebakmu adalah Kardinal, atau bahkan Uskup Agung. Kurasa ini semua tidak ada hubungannya dengan Hitogami.”

Dengan kata lain, fraksi anti maupun pro ras iblis sama-sama bisa menjadi musuh.

Apakah Keluarga Latreia tidak terlibat ...?

Kalau tidak, mungkin aku bisa melancarkan serangan mendadak ...

"Bagaimana dengan Keluarga Latreia?"

"Mungkin saja mereka juga terlibat, tapi kurasa bukanlah dalang utamanya."

Jadi, ini tidak ada hubungannya dengan kasus Zenith.

Baguslah.

Ini masalah persaingan klasik antara Uskup Agung dan Kardinal.

Bagiku, keduanya sama-sama mencurigakan.

"Kenapa menurutmu Hitogami tidak terlibat dalam insiden ini?"

"Hitogami pasti akan mempengaruhi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi, seperti halnya Uskup Agung atau Kardinal. Tapi, seburuk-buruknya mereka, kedua orang itu tidak akan mempercayai Tuhan selain Milis.”

"Apa kau punya bukti?"

"Aku kan bisa mengetahui semuanya setelah menatap mata seseorang."

Ya… betul juga. Kenapa aku menanyakan hal seperti itu.

Tapi, bisakah aku percaya padanya ...

Seperti yang kubilang tadi, jika gadis Miko ini berbohong, maka tak seorang pun bisa mengungkap kebenarannya. Karena selama ini dia selalu dipercaya sebagai narasumber terbaik di negeri ini.

"Jika kau masih tidak mempercayaiku, maka gunakan aku sebagai sandera untuk mendapatkan apa yang kau inginkan.”

"Tidak…. Ksatria Kuil pasti sudah menyiapkan segala cara untuk mendapatkanmu kembali. Jadi, aku tidak bisa begitu saja melakukan barter….”

"Akulah harapan Ksatria Kuil.”

Miko menyela dengan mengatakan itu.

Kemudian dia tersenyum lebar.

"Ordo Ksatria Kuil ... ah tidak…. seluruh fraksi anti-ras iblis akan kehilangan peluang menang jika aku mati.”

"Dengan kata lain, mereka pasti akan menuruti permintaanku jika aku berjanji akan melepaskanmu?”

"Ya… sepenting itulah keberadaanku bagi mereka.”

Ya ampun…….

Aku tidak ingin melihat hal-hal mengerikan lagi. Bisa saja mereka membalas penculikan ini dengan menangkap Aisha, lalu mereka menebasnya di depan mataku.

"Tidak… aku tahu Ksatria Kuil bukanlah orang-orang bodoh. Mungkin, saat ini mereka sudah merencanakan pembalasan dengan menculik kolegaku, seperti Aisha, Gisu, atau bahkan Cliff. Atau mungkin, mereka sudah tahu lokasi kita saat ini. Mereka pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkanmu kembali.”

"Kalau begitu, aku akan membantumu bernegosiasi dengan mereka.”

"Itu ide yang bagus, tapi mereka bisa mengepung kita dengan sejumlah besar prajurit bantuan.”

"Bukankah Rudeus-sama cukup kuat untuk menyingkirkan mereka semua? Kau bahkan bisa bertahan saat melawan orang sekuat Dewa Naga Orsted ataupun Kaisar Utara Auber.”

Ohh…kau juga melihat pertarungan itu?

Yah, mungkin saja aku bisa mengalahkan mereka.

Tapi aku tidak mau sesumbar. Meskipun mereka hanyalah prajurit biasa, aku harus mempertimbangkan kemungkinan terburuk.

Jika aku bertarung dengan kekuatan penuh, aku bahkan bisa membantai ksatria-ksatria Otaku itu, yang katanya merupakan pasukan terbaik di Ordo Ksatria Kuil.

"Jika ada yang menyerang kita, kurasa itu ulah Fraksi Uskup Agung…. bukannya Ksatria Kuil.”

"Kenapa begitu?"

"Mungkin aku akan terbunuh dalam penyerangan itu, sehingga Ordo Ksatria Kuil tidak akan mengambil resiko sebesar itu. Namun, lain halnya dengan Fraksi Uskup Agung.”

Faksi Uskup Agung seolah-olah akan bergerak untuk melindungi Miko.

Tapi, meskipun Miko terbunuh selama pertarungan, mereka tetap akan diuntungkan.

"Ksatria Kuil hanya bisa menggunakan sihir penghalang atau semacamnya untuk mendapatkanmu kembali.”

"Dan kau sudah mengalahkan Pasukan Penjaga Makam Suci, yaitu kelompok Ksatria Kuil terkuat. Jika kau memperhatikan dengan lebih seksama, maka kau pasti menyadari bahwa Ksatria Kuil lebih unggul dalam bertahan daripada menyerang. Bahkan, teknik pedang yang mereka kuasai adalah Teknik Dewa Air, yang sifatnya bertahan. Mereka pasti akan berpikir dua kali menantang orang yang sudah mengalahkan Therese dan kelompoknya.”

... itu masuk akal.

Ya, tak heran mereka disebut yang terkuat, karena pertahanannya memang cukup tangguh.

Mereka memiliki koordinasi yang baik sebagai tim, tapi ...

Mereka lemah dalam pertarungan individual.

Tidak….aku tidak bisa menyebutnya lemah.

Mereka bahkan bisa menangkis Stone Cannon-ku, kemudian melancarkan serangan balik dengan cepat.

Saat melawan Magic Armor Versi I pun, mereka terus bertarung tanpa rasa takut.

Mungkin teknik Dewa Pedang dan Dewa Air mereka mencapai level lanjut, dan mereka juga menguasai sihir penghalang level dasar dan menengah. Aku juga yakin di antara mereka ada yang bisa menggunakan sihir penyembuhan. Dengan kemampuan selengkap itu, mereka tidak bisa disebut lemah.

Secara individu mungkin mereka tidak begitu hebat, namun lain ceritanya saat mereka bertarung bersama-sama.

Therese juga tidak begitu hebat saat bertarung sendirian, tapi dia memiliki kelebihan dalam mengoordinasi bawahannya.

Mungkin aku masih bisa menang meskipun tidak menggunakan Magic Armor Versi I.

Tapi pasti aku akan kesulitan menghadapi mereka.

Aku sudah mengalahkan kelompok Ksatria Kuil terkuat, adakah lawan yang lebih hebat daripada mereka?

"Bagaimana dengan Ksatria Ordo Penasehat, dan kalau tidak salah….. Ordo Gereja juga mempunyai ksatria, kan?”

"Ordo Gereja memang mempunyai ksatria, tapi mereka hanya ditugaskan di dalam gereja saja. Mereka tidak mencampuri urusan seperti ini. Sedangkan Ksatria Ordo Penasehat tidak berada di negara ini.”

Ah…. untung saja.

Saat mendengarnya, aku jadi semakin percaya diri.

Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah bernegosiasi bersama mereka, dengan Miko sebagai sandera.

Aku tidak takut jika mereka datang menyerang. Bagaimanapun juga, bosku adalah Orsted! Mau apa kalian!

Aku akan mengembalikan Miko-sama kesayangan kalian tanpa cacat sedikit pun, tapi turuti permintaanku!

Jika kalian berlutut padaku sembari memohon Miko dilepaskan, mungkin akan kumaafkan kalian!

Tapi, untuk sementara ini, aku ingin meminjam jasa Miko untuk mencari bidak Hitogami.

Jika negosiasi ini berjalan lancar, maka kami bisa meninggalkan negara ini dengan aman.

Mungkin aku harus mengurungkan niatku membuka cabang PT. Rudo di Milis.

Jika dalam beberapa tahun ke depan Cliff berhasil menduduki posisi penting, maka aku bisa menawarkan kembali rencana itu.

Tapi tergantung situasinya nanti, jika pemimpin yang berkuasa dipengaruhi oleh Hitogami, maka Cliff harus menyerah menjadi orang penting di negara ini.

Kita tidak punya pilihan lain.

Maaf Cliff, inilah yang terbaik.

"Jika kau mengkhawatirkan serangan ordo ksatria, maka lebih baik kita cepat pergi dari tempat ini. Rudeus-sama juga harus mempertimbangkan keselamatan rekan-rekanmu, karena jika mereka tertangkap, maka kita berada dalam kesulitan.”

"Betul..."

Hanya sejam berlalu setelah insiden di taman itu.

Terlalu cepat bagi mereka menangkap Aisha, Gisu, atau bahkan Cliff.

Namun, jika aku terus bersembunyi, Fraksi Kardinal tidak akan tinggal diam.

Mereka akan semakin frustasi, sehingga cenderung melakukan tindakan-tindakan berbahaya.

Baiklah.

Saatnya bertaruh.

Tidak lucu bila salah satu temanku celaka karena Miko kusandera.

Aku harus siap.

Aku perlu kartu as lainnya.

"... Miko-sama, ada hal lain yang ingin kutanyakan."

"Apa itu?"

"Kenapa kau berpihak padaku? Bahkan kau tidak memberi perlawanan saat kutangkap ..."

Miko menatapku dengan bingung.

Lalu tersenyum lembut.

Itulah senyum seorang penganut setia ajaran Milis yang penuh kasih sayang.

"Ya, karena…. aku bisa hidup sampai sekarang karena jasa istrimu, dan prajurit Ras Supard itu.”

Apakah dia mengetahuinya setelah membaca ingatanku?

Apakah dia sudah membaca semua ingatan tentang Eris di masa lalu?

Atau jangan-jangan, dia pernah membaca ingatan Eris saat bertemu dengannya dulu?

Aku tidak tahu…….

"Terlebih lagi, aku kesal pada ksatria-ksatriaku, karena mereka coba menangkap teman baruku ini. Sudah lama lho aku tidak punya teman sepertimu.”

"...."

"Kau menceritakan hal-hal tentang Eris-sama yang menyenangkan, dan melukis Pohon Saraku kesukaanku. Milis-sama pernah berdakwa, ’Tidaklah sopan bila kau melupakan kebaikan seseorang.’

"......"

“Bahkan, aku bisa membantu menyembuhkan ibumu. Aku bisa diam-diam meminjamkan kekuatanku, tapi kau tidak pernah memintanya….”

Miko menunjukkan wajah cemberut, sepertinya dia sedang merajuk. Tapi aku hanya diam.

"Aku tahu, Rudeus-sama…. awalnya, orang sepertimu akan menganggapku musuh, sehingga kau berniat menculikku…. tapi itu tidak benar.

"Ya..."

Aku sudah mengurungkan niatku untuk menculikmu, tapi aku punya kesempatan.

Jadi, sekarang kumohon ceritakan semua hal yang belum kupahami.

Baiklah.

Yang sudah terjadi… biarlah terjadi.

Nasi sudah menjadi bubur.

Tidak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi.

Selanjutnya, aku harus memanfaatkan situasi ini untuk meraih tujuanku.

Yaitu...

Pertama, selamatkan Zenith.

Kedua, pastikan keselamatan Aisha, Gisu, dan Cliff.

Ketiga, jangan menyusahkan Cliff dan fraksinya.

Keempat, kalau masih memungkinkan…. teruskan proyek PT. Rudo di Milis.

Kelima, kalau ada kesempatan…. dapatkan ijin memasarkan figure Ruijerd.

Keenam, jika poin keempat dan kelima terlaksana, maka kita siap menjalin koneksi antara para petinggi Milis dan Fraksi Orsted.

Untuk sekarang, lebih baik aku fokus pada tujuan pertama terlebih dahulu.

Saatnya mengambil langkah selanjutnya.

Kartu asku sekarang adalah Miko.

Dan juga diriku sendiri.

Harusnya itu saja sudah cukup.

Tapi jika memungkinkan, aku ingin menambah kartu as lainnya.

Yaitu seseorang yang tidak terlibat dalam masalah ini, dan bisa membuat persiapan.

Sehingga aku bisa melancarkan serangan mendadak.

"Untung saja aku tidak membawa Eris, kalau dia di sini, masalah ini akan semakin runyam.”

"Yahh, padahal aku ingin sekali bertemu dengan Eris-sama lagi."

Bagian 2[edit]

Aku kembali ke Pusat Gereja Milis.

Sudah 2 atau 3 jam berlalu sejak insiden di taman itu.

Aku tidak melihat seorang Ksatria Kuil pun di kota.

Mungkin Gisu dan Cliff belum memberitahuku.

Tadi kami meloloskan diri dengan menggunakan sihir teleportasi.

Di dunia ini tidak banyak orang yang mengetahui sihir tersebut.

Maka, wajar saja para Ksatria Kuil memblokade pintu masuk Pusat Gereja, karena mereka berpikir bahwa aku masih di dalam.

Tapi sejam kemudian, sepertinya seseorang di antara mereka mulai berpikir bahwa aku sudah meninggalkan tempat itu.

Sehingga, mereka mulai mengumpulkan pasukan yang lebih banyak lagi, untuk melakukan pencarian di kota. Setidaknya, mereka butuh sejam lagi untuk mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar.

Dengan mempertimbangkan kesalahan-kesalahan kecil, mungkin waktu mereka tertunda sejam lagi.

Meskipun gerbang kota sudah ditutup rapat, seharusnya mereka belum bergerak dengan kekuatan penuh.

Tidak mudah mengerahkan pasukan sebesar itu.

Di kota ini hanya beberapa orang tertentu yang tahu tentang sihir teleportasi, termasuk Aisha, Gisu, dan Cliff.

Aku bersama Gisu saat memasang lingkaran sihir teleportasi di ruangan bawah tanah itu, untuk jaga-jaga agar kami bisa keluar dari kota ini bersamaan.

Cliff bahkan membantuku menggambar lingkaran sihir teleportasi itu, yang mengarah langsung ke Sharia.

Jika salah satu dari mereka mengkhianatiku, maka Ordo Ksatria Kuil bisa menemukan lingkaran sihir itu dengan mudah.

Tapi, buktinya sampai saat ini tidak ada seorang ksatria pun yang menggeledah kantor kami, sehingga aku tidak lagi mencurigai keduanya.

Lalu, bagaimana dengan Kardinal dan Uskup Agung? Tidak lucu jika mereka mengetahui tempat itu.

Sayangnya, tidak mustahil bila mereka mendapatkan informasi itu.

Bahkan mereka bisa mendapatkan informasi itu dari Hitogami. Tapi, menurut Miko itu mustahil, karena mereka berdua tidak mengakui Tuhan selain Milis.

... tunggu sebentar… aku merasakan sesuatu yang aneh.

Sudah dua jam berlalu, sepertinya lawanku masih tertinggal ...

Mungkinkah Therese bergerak atas kemauannya sendiri?

Sembari memikirkan itu, kami mendekati Pusat Gereja.

Kemudian, orang-orang ber-armor biru mulai melihat kedatangan kami.

"Miko-sama telah kembali ...!!"

"Rudeus muncul bersama Miko-sama!!"

"Panggil bala bantuan!!"

Sekelompok ksatria segera berdatangan.

Bukan hanya dari dalam Pusat Gereja, mereka juga berdatangan dari area sekitarnya.

Seketika, mereka segera mengepung kami.

Apakah aku berada dalam masalah?

"Rudeus-sama, jangan jauh-jauh dariku."

"...."

Aku pun meraih tangan Miko seerat mungkin.

Aku tidak menyodorkan pisau ke leher Miko atau semacamnya, tapi para ksatria itu sudah mengacungkan senjatanya padaku.

Namun mereka tidak juga menyerang.

Miko benar. Aku akan aman selama bersamanya.

"Beraninya kau melakukan perbuatan keji itu pada Miko-sama ...!"

"….aku bahkan belum pernah menyentuh tangan Miko-sama seperti itu!!"

"Dengan menculik Miko-sama, berarti kau mempermalukan seluruh penganut ajaran Milis! Dosamu tidak termaafkan!!”

Salah satu di antara mereka marah karena tidak pernah menyentuh tangan Miko-sama ... aneh sekali kau…. jadi kau iri padaku?

Kami belum menjelaskan apapun, tapi mereka tanpa henti terus meludahkan tuduhannya padaku.

Ya, aku sudah tahu itu

Aku sudah melumpuhkan pengawal setia Miko, bahkan menculiknya, Tentu saja mereka marah besar padaku.

Itu wajar saja.

Bahkan dalang di balik insiden ini pasti berpikiran sama dengan mereka.

"Kapten, ayo serang dia bersama ...! Beberapa jam yang lalu dia baru saja melawan Pasukan Penjaga Makam Suci! Pasti Mana-nya sudah terkuras banyak!”

"Tunggu dulu… meskipun kekuatannya sudah banyak berkurang, bukan berarti dia tidak bisa melukai Miko-sama!”

"Tidak masalah, kapten! Jika kita menyerang bersama, dia pasti lebih memilih melindungi dirinya sendiri daripada melukai Miko-sama!”

Mereka malah berdebat sendiri.

Kau harus menuruti perkataan kaptenmu, lho…. atau jangan-jangan, kau adalah bidaknya Hitogami?

"Miko-sama, apakah ada di antara mereka yang dipengaruhi Hitogami?”

"Tidak, tapi pria itu adalah bawahannya Uskup Agung. Dia sama sekali tidak berhubungan dengan Hitogami. Dia bahkan tidak tahu rincian masalahnya.”

Aku bertanya dengan berbisik, dan seperti itulah jawaban Miko.

Baiklah…..

Ayo kita mulai.

"Aku ingin berbicara dengan Uskup Agung! Tolong beri jalan!”

Aku berteriak sekeras yang aku bisa.

Para ksatria kembali mencelaku setelah mendengar teriakan sombong itu.

"Apa katamu!"

"Dasar bajingan! Memangnya kau siapa? Berani-beraninya kau menemui Uskup Agung!?”

"Lepaskan Miko-sama sekarang juga, dan terimalah hukumanmu!”

Beberapa orang sudah menyiapkan pedangnya, dan siap menebasku kapanpun.

Tapi, saat melihat tubuh Miko yang gemetaran, mereka jadi ragu, lalu kembali menyarungkan pedangnya.

Wowww….jadi kalian benar-benar takut Miko-sama lecet ya…..

Setelah bertarung dengan Pasukan Penjaga Makam Suci, aku pun mengerti……

Gadis ini bahkan lebih diidolakan daripada seorang putri.

Kalau begitu ... ayo kita mulai bacotnya.

"Namaku Rudeus Greyrat! Bawahan Dewa Naga Orsted! Demi nama besar tuanku, aku tidak bermaksud melukai Miko-sama, yang merupakan simbol dari keyakinan Milis!”

Aku mengangkat tangan kananku.

Gelang yang kudapatkan dari Orsted bersinar mengkilap di pergelangan tanganku.

Mungkin mereka tidak mengenal gelang ini, tapi setidaknya aku bisa menggertak mereka.

"Jika kalian tidak memenuhi tuntutanku, maka bersiaplah merasakan kemarahan Dewa Naga Orsted dan para pengikutnya! Tidak hanya kalian…. seluruh pengikut Milis juga akan terkena imbasnya.”

Aku mulai mengancam mereka.

Aku sudah menyiapkan ancaman itu.

Aku menggunakan nama Orsted tanpa izin, tetapi itu tidak masalah.

Sebetulnya dia tidak punya bawahan selain aku, jadi….. agaknya kurang tepat bila kusebut ‘para pengikutnya’.

"...!"

Para Ksatria Kuil meringis, lalu mundur selangkah.

Sepertinya mereka termakan gertakanku, jadi mereka tampak ragu.

Itu sudah cukup bagiku.

"Aku ingin berbicara langsung dengan Uskup Agung! Ini adalah permintaan langsung dari Tangan Kanan Dewa Naga! Aku juga ingin tahu dimanakah ibuku berada! Nasib Miko-sama ada di tanganku, jadi pertimbangkan baik-baik jawaban kalian!”

Sebenarnya aku hanya ingin berbicara pada Uskup Agung….. sudah, itu saja.

Tapi, dengan keadaan seperti ini, aku bisa menuntut lebih. Bahkan, masalah Zenith bisa jadi masalah negara!

"...."

"Apa...?"

"Jadi, kau menyandera Miko-sama atas alasan seperti itu ..."

Namun mereka tidak juga memberiku jalan,

Lambat.

Bisakah kalian menyingkir? Aku tidak punya banyak waktu.

Ataukah kalian akan memanggil komandan kalian?

"Buka jalan!"

"Minggir!”

Saat aku masih berpikir, tiba-tiba dari belakangku muncul empat orang yang terdiri dari pria dan wanita.

Aku mengenal tiga diantaranya.

Mereka adalah anggota grup Otaku itu.

Armor mereka pun sudah penyok.

Dan Therese juga bersama mereka.

Ketika Therese melihatku, dia menunduk meminta maaf.

Di sana juga ada kakek tua berjanggut putih yang umurnya mungkin 50 tahunan.

Wajahnya keriput, namun tatapan matanya masih tajam, seolah tidak termakan umur.

Aku tidak mengenalinya.

Dia mengenakan armor biru mirip Therese, jadi dia pasti anggota Ordo Ksatria Kuil.

Tapi, disain armornya sedikit lebih kompleks.

Seolah-olah, armor itu setingkat lebih baik daripada armor Ksatria Kuil pada umumnya.

Ksatria Kuil lainnya masih mengepung kami.

Ah, itu mereka…..

Agak jauh di sana, aku melihat anggota Pasukan Penjaga Makam Suci lainnya.

Kelompok ksatria terkuat sudah keluar bersama komandannya, jadi kakek tua ini pasti….. bosnya Ksatria Kuil.

"Aku adalah Komandan Batalyon Ordo Pedang Ksatria Kuil, namauku Carlyle Latreia."

... Ah.

Jadi, dia yang namanya Carlyle.

Atau…. kau boleh sebut, kakekku…..

"Pertama-tama, kita kesampingkan dulu apapun yang terjadi saat ini… mari kita berkenalan, wahai Rudeus Greyrat…. putra dari Zenith Greyrat.”

Dia segera melanjutkan kalimatnya, tanpa memberiku kesempatan berbicara. Matanya tertuju lurus padaku.

Tatapan matanya lebih tajam daripada Claire.

Jadi, pasangan suami-istri ini sama-sama bermata tajam ya….

Sepertinya aku akan kerepotan ...

"Kau Rudeus Greyrat, kan?"

".... bukan."

Hampir saja kupanggil dia kakek, namun saat kuingat kembali hubunganku dengan Claire saat ini, maka kubuang jauh-jauh panggilan itu.

Aku di sini sebagai anak buahnya Orsted.

Memang benar aku adalah putranya Zenith…. tapi bukan itu peranku di sini.

Jadi, jangan anggap aku cucumu, pak tua…..

"Memang benar namaku adalah Rudeus Greyrat, tapi aku di sini sebagai perpanjangan tangan Dewa Naga Orsted, dan aku ke sini untuk berbicara langsung dengan Yang Mulia.”

"Hm."

Aku menyatakan itu sembari bersedekap, membusungkan dada, dan mengangkat daguku tinggi-tinggi….. Eris juga sering melakukan pose ini.

Sesaat, aku bisa melihat senyum tipis di wajah Carlyle.

Namun ekspresinya langsung menegang.

"Baiklah, aku akan membawamu ke tempat Yang Mulia berada."

Sembari tetap memasang wajah tegang, Carlyle mulai bergerak memasuki Pusat Gereja.

Sembari mengikuti ayahnya, Therese pasang wajah cemas.

"... bagaimana menurutmu, Miko-sama?"

".... Therese hanya mengikuti perintah Kardinal. Sayangnya aku tidak bisa melihat mata Carlyle, jadi aku tidak tahu niatnya.”

Aku meminta pendapat Miko dengan bisikan.

Kemampuan gadis ini benar-benar mempermudah pekerjaanku.

Tapi sayangnya kami tidak bisa membaca pikiran Carlyle.

Harusnya dia bukan musuh kami, tapi aku merasakan ada yang aneh darinya. Aku akan terus mengawasinya.

Dengan mengabaikan Ksatria Kuil lainnya, kami pun mengikuti pak tua itu.

Bagian 3[edit]

Kami dipandu langsung ke ruangan pusat.

Di sebelah kiri, kanan, depan, dan belakangku, anggota Pasukan Penjaga Makam Suci terus menjagaku.

Mereka tidak lagi memakai helm.

Langkah kaki mereka mantab, jadi kurasa mereka sudah menerima sihir penyembuhan.

Meskipun aku tetap waspada, sepertinya mereka tidak berniat melakukan apapun padaku.

Dalam pertarungan tadi, aku menembus sihir penghalang kelas Raja yang mereka bangga-banggakan.

Lalu, kuhempaskan mereka satu per satu seperti lalat.

Tapi, tak seorang pun mati.

Jika mereka cerdas, harusnya mereka sudah tahu bahwa aku tidak 100% menggunakan kekuatanku saat itu.

Perbedaan kekuatan kami terlalu jauh.

Apalagi aku punya Miko sebagai sandera.

Mereka tidak cukup bodoh melawan orang yang barusan mengalahkan mereka beberapa jam yang lalu, dan aku yakin mereka pun tidak ingin Miko terluka.

Mereka pasti sangat malu.

Apalagi om Sampah itu.

Saat ini, dia sengaja memalingkan wajah dariku.

Tapi sepertinya dia tidak dendam padaku.

Bahkan tampaknya dia tidak berusaha menjagaku.

Malahan, seolah-olah dia coba melindungiku.

"...."

Kami terus berjalan menyusuri Pusat Gereja selama beberapa menit.

Tanpa kusadari, aku kehilangan arah.

Lorong yang kami lewati terasa melingkar, namun sebenarnya berbelok sejauh 70° mungkin.

Sejak awal memasuki bangunan ini, aku sudah tahu bahwa detailnya begitu rumit. Lorong-lorong ini seakan membentuk labirin.

"Ini seperti labirin."

"Ya. Bangunan ini memang dirancang untuk memudahkan para petinggi gereja, seperti Uskup Agung atau aku, melarikan diri saat terjadi bahaya yang mengancam nyawa kami.”

Jawab Miko.

Dindingnya juga sepertinya tertutup semacam mantra penghalang.

Suasananya sangat sunyi, sampai-sampai aku hampir mengantuk.

"Ya!"

"Miko-sama tahu semua lorong ini."

"Kami biasa main petak-umpet di sini.”

Kemudian, para Otaku itu mulai berkomentar.

Jadi, bangunan ini sengaja didisain untuk memudahkan orang penting melarikan diri saat terjadi bahaya.

Tapi, aku jadi bingung.

Bagaimana orang-orang penting itu bisa menemukan jalan keluar di tempat yang membingungkan seperti ini ...

Kalau aku harus melarikan diri dari gedung ini, mungkin aku akan menembus langit-langit, kemudian keluar dari atas.

Kalau membobol dinding…. sepertinya itu mustahil, karena dilengkapi dengan mantra penghalang.

Ya.

Tidak perlu cemas…..aku akan baik-baik saja.

"Masih belum sampai nih? Kenapa jauh sekali….”

"Sedikit lagi."

Carlyle menanggapiku tanpa meliihat ke belakang.

Sungguh?

Aku tidak sedang dijebak, kan?

Aku harus tetap waspada, terutama pada orang-orang di belakangku.

Lalu, tiba-tiba mereka mulai berteriak.

"Carlyle! Kau tidak sopan! Paling tidak lihatlah lawan bicaramu!”

"Ingatlah! Rudeus memegang tangan Miko-sama!”

"Bagaimana jika dia marah, lalu melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa Miko-sama!!??”

"Lihatlah armor kami yang sudah penyok ini! Hanya manusia super yang bisa membengkokkan armor suci ini! Kau harus tahu betapa berbahayanya monster ini!”

"Kalau Rudeus kesal sedikit saja, kulit halus Miko-sama bisa memar!!”

"Semuanya diam!"

Bentakan Therese membungkam mulut mereka.

Saat itu juga, Carlyle berhenti lalu menoleh padaku.

"……sedikit lagi…..”

"….ya, aku tahu…..”

Aku mengangguk sekali lagi, lalu kembali berjalan mengikutinya.

Tidak lebih dari 10 langkah kemudian……….

Carlyle berhenti di depan suatu pintu, lalu mengetuknya.

"Kami telah membawa Rudeus Greyrat."

Ternyata memang sedikit lagi.

Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terburu-buru.

Kukira tadi kami tersesat, namun ternyata tidak…. bahkan, kami hanya berbelok dua kali saja.

Mungkin aku bisa menemukan jalan kembali sendirian.

"Silahkan masuk."

Aku mendengar suara Uskup Agung dari dalam ruangan.

Carlyle membaca mantra singkat pada pintu itu, lalu membukanya.

Sambil memegang pintu yang sudah terbuka, dia memberi isyarat untuk mempersilahkanku masuk.

"Masuklah……."

"Ya, permisi."

Aku memasuki ruangan sambil memegang lengan Miko.

Apakah aku harus melepaskan tangannya sekarang ...?

Tidak, jangan sekarang….

Aku tidak boleh lengah sedikit pun.

"...."

Aku memasuki semacam ruangan konferensi.

Ada suatu meja panjang yang dikelilingi lebih dari 10 kursi, jadi kami bisa duduk saling berhadapan.

Uskup Agung ada di sana, dan juga…….. Cliff.

Ada orang lain yang tampak mirip seperti Uskup Agung, dia mengenakan jubah yang mewah. Apakah dia sang Kardinal?

Ada juga pria selain Carlyle yang memakai armor yang terlihat mahal.

Armornya berwarna putih. [1]

Di belakang mereka berdiri tujuh ksatria, dengan tangan bersedekap.

Aku pernah melihat dua di antara mereka.

Mereka adalah pengawal Uskup Agung.

Semuanya menghadap padaku.

Sepertinya aku telah menyela rapat yang sedang seru-serunya.

Sambil menahan napas, mereka terus memperhatikanku tanpa mengucap sepatah kata pun.

Dan….. agak jauh di sudut meja sana….

Ada dua orang yang duduk sendirian.

Salah satunya adalah wanita tua yang membungkam mulutnya rapat-rapat.

Dia memelototiku.

Itu si tua bangka, Claire Latreia.

Dan di sebelahnya.

Ah…. itu dia…. akhirnya kutemukan dia…..

Seorang wanita yang sedang melamun sembari menatap langit-langit.

Umurnya masih di bawah 40 tahun.

Dia lah wanita yang paling dicintai Paul di dunia ini, melebihi siapapun juga.

Ibuku.

Zenith sedang duduk di sana.

Ara?

Tunggu.

... Kenapa keduanya ada di sini?

Ada apa ini?

Aku masih belum paham.

Aku belum menuntut mereka untuk mengembalikan Zenith.

Braaaaakkk!!!

Suara itu memecah keheningan.

Pintu di belakangku terbanting sampai tertutup.

Para Ksatria Kuil langsung membentuk formasi untuk memblokade pintu itu.

Mereka berdiri di hadapan para ksatria lain di belakang ruangan.

Hanya Therese yang duduk.

"Semua aktor dan aktris sudah naik panggung….. maka, saatnya memulai pertunjukan ini…..”

Uskup Agung mengatakan itu.

Sepertinya, aku sudah ditunggu.

Tadinya, kupikir rencanaku sudah matang…… tapi ternyata, aku malah terjebak oleh rencana lawan-lawanku.

"Rudeus-sama, Miko-sama, silahkan duduk…."

Apakah aku benar-benar sudah terjebak?

Tapi kurasa….. situasi ini tidak buruk.

Aku masih bisa memberikan perlawanan.
  1. Asal tahu saja, armor Ordo Ksatria Kuil berwarna biru, Ksatria Gereja berwarna putih, sedangkan Ordo Perintah berwarna perak.