Mushoku Tensei (Indonesia):Jilid 21 Bab 7

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 7: Pusat Organisasi Keagamaan Milis[edit]

Bagian 1[edit]

Setelah bertemu Claire, aku pulang ke rumah Cliff dengan sakit hati.

Namun, sesampainya di sana aku disambut oleh suatu pemandangan yang mengherankan.

Wow, Cliff sedang memeluk seorang wanita yang tidak kukenal.

Seorang wanita yang tampak polos.

Rambutnya pendek berwarna cokelat muda, ada bintik-bintik di wajah, dan tubuhnya pendek.

Meskipun perawakan wanita itu kurus secara keseluruhan, namun sepertinya dia pernah gemuk.

Yang jelas dia bukan Elinalise.

Elinalise penuh nafsu, sedangkan wanita ini tidak.

Keduanya sama sekali tidak mirip.

Apa-apa’an ini…..

Cliff-senpai…..

Padahal dia selalu mengeritikku karena punya banyak istri .......

Apakah ini alasanmu tidak membawa Elinalise? Hanya untuk berselingkuh?

Jadi, selama ini kau menduakan Elinalise?

Meskipun Elinalise adalah tante girang, namun dia telah melahirkan anakmu…. dimana perasaanmu?

Cliff-senpai….. ini bohong, kan.

Pertama, Claire…. lalu, Cliff-senpai…. jika memang seperti ini kelakuan sebenarnya para penganut Agama Milis, maka aku akan berhenti mempercayai mereka.

Ah.

Sial, apakah ini yang disebut cinta?

Sylphy, Roxy, Eris.

Siapapun…. tolong peluk aku erat-erat, aku butuh seseorang yang bisa menenangkan jiwaku.

Supaya aku kuat menjalani semua ini.

"Ah, Rudeus, pas banget kau datang. Bisakah kau mengambilkan kotak di atas rak itu. Aku pendek, jadi aku tidak bisa mengambilnya meskipun menggunakan alat.”

"Ah, ya."

Saat aku kembali tersadar dari hayalanku, Cliff sudah melepaskan pelukannya pada wanita itu.

Sepertinya mereka tidak malu sama sekali, padahal aku jelas-jelas melihat mereka berpelukan.

Seakan-akan itu adalah hal yang sudah biasa mereka lakukan.

"Wendy, apakah pergelangan kakimu cidera?"

"Tidak kok, terimakasih sudah mengkhawatirkanku."

Aku mengambil kotak yang diminta Cliff dari rak, sembari mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

Setelah mendapatkan kotaknya, kubersihkan debu yang menempel padanya, lalu kuserahkan pada Cliff.

"Maaf ...... dengan ini, mungkin ...... ah, pokoknya aku senang kau datang kemari hari ini, besok aku akan berusaha lebih baik…..”

Cliff mengeluarkan semacam emblem dari dalam kotak tersebut.

Itu adalah lambang Gereja Milis.

Kenapa dia memberinya pada wanita itu? Apakah ini soal pekerjaan?

"Rudeus, kenapa kau kembali? Bukankah seharusnya kau sudah tinggal di Kediaman Keluarga Latreia?”

Aku ingin bercerita banyak pada Cliff tentang apa yang kami alami hari ini.

"Yahh, jadi begini ceritanya…..”

Bagian 2[edit]

Dengan emosional, aku menjelaskan semua yang terjadi di kediaman Latreia.

Kuceritakan semuanya, mulai dari salam perkenalan yang buruk, mulut busuk Claire, aku membuat sedikit keributan sebelum pergi, sampai akhirnya aku berhasil menenangkan diri, meskipun amarahku kembali saat kuingat semua itu.

"......yahh….."

Cliff hanya mengerutkan keningnya sembari mendengarkan ceritaku.

Orang beriman seperti Cliff pasti paham bagaimana perasaanku saat ini.

"..... Itu benar. Di Kerajaan Suci Milis, masih ada adat seperti itu, dimana orang tua berhak menentukan jodoh anak-anaknya. Anggapan tentang wanita itu juga benar. Di Milis, wanita baru dianggap berguna setelah melahirkan anak…… tapi, menikahkan seorang wanita cacat mental itu kurasa keputusannya sendiri.”

"Kau tidak menyetujuinya, kan?"

Dia jahat. Dia kejam. Dia tidak punya hati.

Bahkan aku yang biasanya tenang, tidak tahan mendengar omongan nenek itu.

Aku tidak percaya Zenith punya ibu seperti itu.

"Tapi, Nyonya Claire mungkin sedikit bingung. Putrinya tiba-tiba datang dengan kondiri mengenaskan seperti itu. Andaikan kau berada di posisinya…. bisakah kau memahami perasaannya?”

Cliff mengatakan itu sembari menghiburku.

Sepertinya dia juga jengkel dengan kelakukan si tua itu.

Namun, Cliff hanya mendengar semuanya dari ceritaku.

Mungkin dia juga ingin menganalisis masalah ini dari sudut pandang Claire.

Yahh… coba saja bayangkan.

Anakku sendiri .......

Misalnya Lucy ...... ahh, sebenarnya aku tidak mau membayangkan Lucy menderita cacat mental seperti itu.

Kalau begitu, Norn saja.

Saat Norn tumbuh dewasa, dia melakukan perjalanan jauh untuk menemuiku, lalu saat kami bertemu, aku mendapatinya dalam keadaan cacat.

Dia datang bersama seorang pelayan dan pria yang mengaku sebagai sanak keluargaku.

Tentu saja aku akan kebingungan.

Mungkin sulit membayangkannya, tapi .......

"Kalau semisal anakku datang dalam kondisi cacat, maka apakah menikah solusinya?”

"........ kurasa tidak, tapi….. bukankah pilihan itu tidak buruk? Jika anakmu yang cacat mendapatkan suami, maka akan ada orang yang selalu menjaganya.”

Aku tidak berpikir ke arah itu.

Ini seperti menggunakan kembali barang yang sudah terpakai.

Memang itu menguntungkan tapi bagaimana bisa kau menyamakan anakmu sendiri dengan barang?

Apakah kau memikirkan bagaimana perasaan anakmu?

Sialan.

Saat melihat wajah Claire yang menyebalkan itu, aku membuat kerusuhan di rumahnya.

Aku menggunakan Rock Cannon untuk melibas semua penjaga rumah, sedangkan Claire hanya melihat kerusuhan itu dengan tatapan dingin.

Seolah-olah dia berkata, ’Mengapa si badung ini membuat keonaran, padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun.’

Aku tahu dia takut melihat tindakan berutalku, namun itu belum cukup merubah keputusannya.

Mulut kotornya tidak berubah.

"Apapun itu, aku paham dengan keadaanmu. Jadi, silahkan saja menginap di rumahku.”

"Terima kasih banyak."

"Tanah ini berada di bawah kepemilikan Uskup Agung, meskipun Keluarga Latreia berusaha melakukan sesuatu padamu, mereka tidak bisa berbuat seenak jidat di sini.”

Setelah mendengar itu, aku baru sadar bahwa Keluarga Latreia bisa melakukan hal kotor untuk merebut Zenith dari kami.

Aku sudah memutuskan untuk keluar dari rumah Claire.

Aku tidak ingin lagi bertemu dengan si tua bangka itu.

Begitupun dengan Claire, harusnya dia sudah muak denganku.

Tapi, kami masih memiliki orang yang mereka inginkan, yaitu Zenith. Jadi, mungkin saja mereka melakukan berbagai hal untuk merebut Zenith dari kami.

Lebih baik kita kembalikan Zenith ke Sharia.

"Ibumu baru saja kembali ke kampung halamannya, jadi jika kau langsung memulangkannya ke Sharia, itu sungguh menyedihkan.”

"Benar juga….."

Mills adalah kota kelahiran Zenith.

Andaikan Zenith sudah sadar, mungkin dia ingin lebih lama tinggal di sini, untuk mengunjungi beberapa tempat yang sudah lama tidak dia datangi.

Aku pun berniat membawanya jalan-jalan mengelilingi Milishion jika ada waktu senggang.

"Tapi...."

"Kalau kau pergi keluar, jangan sungkan untuk meminta bantuan Wendy. Dia sedikit kikuk, namun masih bisa diandalkan.”

Sembari menganjurkan itu, Cliff melihat wanita yang tadi kukira selingkuhannya.

"...... Cliff-senpai, siapa dia?"

"Ah, maafkan aku. Aku terlambat memperkenalkannya. Dia Wendy. Dia adalah….. hmmm, gimana ya bilangnya…. pokoknya, hubunganku dengannya seperti kau dan Sylphy.”

"Aku mengerti….aku mengerti…. Cukup, itu saja yang perlu kau akui, aku sudah memahami detailnya.”

Seperti hubunganku dan Sylphy…..

Aku mengerti… aku mengerti…. Jadi, memang benar ya….

Semuanya sudah terjawab.

"Jangan khawatir, aku akan merahasiakannya dari Elinalise-san.”

"Tidak, tunggu, tunggu sebentar, sepertinya kau salah sangka….”

Cliff tampaknya menyadari ada yang tidak beres dengan pemahamanku, lalu dia mulai menjelaskan semuanya dengan panik.

Sepertinya, hari ini ada acara yang digelar di Pusat Gereja Milis. Sehingga, kami memerlukan persiapan untuk berbenah.

Agar semuanya lancar, akhirnya Cliff memutuskan untuk menyewa seorang pelayan.

Tapi, bukan sembarang pelayan.

Cliff mengunjungi panti asuhan tempat dia dibesarkan dulu.

Di panti asuhan tersebut, anak-anak diajarkan keterampilan mengurus rumah, seperti bersih-bersih dan memasak.

Tak jarang, anak-anak dari panti asuhan ini disewa sebagai pelayan dengan harga murah.

"Wendy adalah anak yatim paling senior di panti asuhan itu. Tak lama lagi, dia akan diminta meninggalkan panti asuhan karena umurnya sudah cukup dewasa. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menyewanya agar pengalamannya semakin banyak. Tentu saja, dia juga akan membantu kita membersihkan rumah ini.”

Intinya, gadis itu disewa sebagai pelayan senior.

Pengalamannya juga akan bertambah saat dia bekerja di rumah orang penting, seperti cucu Uskup Agung.

Itu adalah tawaran yang sama-sama menguntungkan.

"Namaku Wendy. Aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti para pelayan pada umumnya. Mohon kerjasamanya.”

Sama seperti Sylphy……..

Maksudnya teman masa kecil? Ohh, kukira istrimu…….

Bilang dong.

Namun, aku tidak bisa menebak berapakah umur Wendy. Kuharap tidak terjadi kesalahpahaman saat kami tinggal serumah mulai besok.

Ah, kurasa Cliff tidak akan salah sangka.

Bahkan, aku bisa mengurusi rumah ini tanpa bantuan Wendy.

".........."

Bagian 3[edit]

Mungkin, keputusanku meninggalkan rumah Keluarga Latreia adalah kesalahan besar.

Kalau sudah begini, langkah paling aman adalah mengembalikan Zenith ke Sharia.

Tapi, aku yakin Zenith masih ingin tinggal beberapa lama di kota ini, yang merupakan tempat kelahirannya.

Duh…. lagi-lagi aku bertindak sembrono.

Harusnya, aku membatu Cliff diam-diam, sampai dia mendapatkan posisi yang cukup kuat untuk menekan Keluarga Latreia.

Namun dengan begini, rencana itu akan semakin sulit terlaksana.

"Aisha, bagaimana menurutmu?"

"..... Eh?"

Aku kebingungan, sehingga perlu mendengar pendapat orang lain.

Aisha, berikan opinimu.

"Apakah sebaiknya kukembalikan ibu ke Sharia? Ataukah biarkan dia tinggal untuk sementara waktu bersama kita, sembari kita ajak jalan-jelan keliling kota di saat senggang? Menurutku, ibu masih belum melepas rindu dengan kota kelahirannya ini.”

Setelah mendengarkan itu, Aisha mulai berpikir serius sembari bersedekap.

Namun, dia segera mengangkat wajahnya, lalu melihat ke arah Cliff.

"Apakah rumah ini benar-benar aman?"

"Ya. Ukurannya memang kecil, namun Keluarga Latreia tidak bisa berbuat sesuka hati di lingkungan ini. Jika mereka melakukannya, akan terjadi masalah besar.”

"Tapi, kalau Keluarga Latreia memang berniat cari masalah, maka bukankah tidak mustahil mereka menyerang tempat ini?”

"Kurasa kecil kemungkinannya, karena mereka sangat menjaga nama baik keluarganya.”

Nama baik ya…..

Mungkin Cliff benar, karena harga diri wanita tua itu sangatlah tinggi. Dia tidak mungkin begitu saja merusak nama baik keluarga yang dibangga-banggakannya.

Dia memang orang yang keras kepala dan super menyebalkan, namun pikirannya masih waras.

"Baiklah, kurasa tidak apa-apa."

Aisha mengatakan itu masih dengan bersedekap.

"Menurutku, wanita bernama Claire itu tidak akan mencoreng nama baik keluarganya, hanya karena ingin merebut paksa ibu kalian.”

Betul.

Zenith masih berharga bagi mereka, tapi tidak seberharga nama baik keluarga.

Cliff pun tidak habis pikir dengan ide itu, bagaimana bisa mereka memaksa seorang wanita yang bahkan tidak bisa bicara untuk menikah sekali lagi, lalu melahirkan anak? Sudah serusak itukah akhlak para penganut ajaran Milis?

Meskipun terlalu fanatik, sebenarnya para penganut ajaran Milis terkenal berbudi luhur. Buktinya, mereka mau membiayai Paul untuk meneruskan upaya pencarian korban-korban bencana metastasis di Fedoa. Apakah mereka melakukannya dengan ikhlas? Ataukah ada motif tersembunyi di baliknya?

Jangan-jangan, mereka melanjutkan proyek itu hanya untuk mencari budak-budak baru.

Sejauh itukah nafsu telah mengendalikan mereka? Apakah cinta dan kasih sayang tidak dipentingkan lagi dalam ajaran Milis? Padahal, kalian menjunjung tinggi asas kesetiaan, dan memprotes konsep poligami.

Kalau semua pengikut ajaran Milis seperti itu, mungkin hanya Cliff dan Norn yang kupercayai sebagai orang beriman.

"Mungkin mereka sudah menyadari betapa menyeramkannya Onii-chan, sehingga mereka tidak mengejar kita…. Jadi kurasa Nyonya Zenith akan baik-baik saja.”

Ya, kuharap itu benar.

Buktinya, setelah angkat kaki dari Kediaman Keluarga Latreia, tak seorang pun mengikuti kami selama dalam perjalanan.

Tadinya kupikir ada beberapa penjaga yang ditugaskan untuk membuntuti kami.

Aku tidak tahu, apakah mereka takut padaku, atau sudah menyerah merebut Zenith dari kami.

Tapi, mereka tahu hubungan pertemananku dengan Cliff.

Aku tidak tahu dari mana dia mendapatkan informasi itu, tapi ...... semuanya sudah terungkap. Bahkan saat ini, aku jelas-jelas tinggal di rumahnya Cliff. Aku tidak lagi bisa mengelak.

"Kupikir, lebih baik kita tinggal di tempat oposisi, daripada tinggal di tempat netral yang belum tentu keamanannya.”

"Aku mengerti."

Aku tidak ingin mengambil resiko.

Anggap saja mereka tidak berusaha merebut kembali Zenith.

Aisha memang hebat, dia bisa menganalisisnya dengan jitu.

"Baiklah kalau begitu…..."

Sela Cliff.

"Besok, aku akan bertemu kakekku, apakah kau mau ikut denganku, Rudeus? Persaingan kami dengan kubu Latreia semakin meruncing, kami pun tidak bisa bergerak sebebas biasanya. Sedangkan….. kau butuh koneksi, kan?”

"Gak papa, nih?"

"Tentu saja, kau boleh membantu kakekku semampumu. Aku akan memperkenalkanmu dan Aisha pada kakek, lalu semua terserah padamu.”

"Aku paham."

Cliff memperbolehkanku membantu kakeknya, namun tidak untuknya. Dia masih ingin berusaha sendiri.

Aku juga tidak berniat membantu Cliff, kecuali keadaan begitu genting.

Namun, aku belum tahu bagaimana aku harus membantu kakeknya.

Mungkin kita bisa memikirkannya nanti, yang jelas sekarang kita harus kenal pada Uskup Agung terlebih dahulu.

Tidak hanya Zenith, aku juga punya tugas membentuk cabang PT. Rudo di kota ini.

Aku bisa melakukannya sembari melindungi Uskup Agung.

Dengan membentuk koneksi yang solid, musuh pun akan kesulitan memberikan perlawanan pada kami.

"... mohon bantuannya."

Sembari memikirkan berbagai hal, aku membungkuk pada Cliff.

Masih ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

Jadi, lupakan hari yang menyebalkan ini, dan teruslah maju.

Bagian 4[edit]

Keesokan harinya.

Setelah sarapan, kami mulai bergerak menuju Pusat Gereja Milis.

Aisha tetap tinggal di rumah untuk merawat Zenith.

Pusat Gereja Milis adalah bangunan megah berlapis emas, dengan atap yang berbentuk seperti bawang.

Warna dasar bangunan itu adalah putih dan perak, yang melambangkan moto utama Kerajaan Suci Milis, yaitu kedamaian dan kesucian.

Dari kejauhan, disain keemasan bangunan itu begitu mencolok.

Tapi, bentuk atap mirip bawang itu begitu konyol, seakan tidak pantas dengan kemegahan bangunan itu.

Tapi, saat kau melihatnya dari jauh, tidak masalah sih.

Dengan perpaduan warna emas, perak, dan putih, bangunan itu semakin indah.

Saat kau melihatnya dari dekat…. sekali lagi kukatakan, disain atap mirip bawang itu sungguh mengganggu.

Yahh, kuharap di bangunan semegah ini aku tidak bertemu dengan orang tua yang menyebalkan seperti kemarin.

Bagaimanapun juga, bangunan ini juga berfungsi sebagai Pusat Organisasi Keagamaan Milis.

Gereja pusat ini dihuni oleh ratusan, atau bahkan ribuan orang beriman kelas atas macam Cliff.

Mungkin disain bangunannya sedikit konyol, tapi orang-orang suci tinggal di sini.

Tentu saja, aku tidak bisa memahami sedikit pun ajaran agama mereka.

Bangunan ini dihiasi oleh emas, namun ironisnya….. di duniaku sebelumnya orang suci dan para pemimpin sering kali terbuai oleh kilauan emas.

Apakah itu juga berlaku untuk orang suci di dunia ini?

Sebetulnya itu semua karena politik. Jika kau memang menginginkan kekuasaan politik, maka janganlah kau berdandan layaknya orang suci, toh ucapanmu kebanyakan hanyalah omong kosong.

Yahh, tapi tidak ada salahnya aku bergaul dengan orang seperti itu, toh aku hanya ingin memanfaatkan mereka untuk melancarkan rencanaku.

Aku juga perlu menjadi orang terkenal seperti mereka.

Dengan memamerkan koneksiku dengan Ariel dan Orsted, harusnya itu cukup membuatku terpandang di dunia ini.

Bahkan, si nenek itu tidak meremehkanku lagi saat kutunjukkan emblem bersimbol Dewa Naga.

Tua bangka itu terlalu sering meremehkan orang.

Aku bukan pria biasa, lho…. aku adalah orang sukses di dunia ini.

Maka, hari ini aku mengenakan jubah yang elegan.

Inilah seragam resmiku.

Akulah Rudeus Greyrat, si Tangan Kanan Dewa Naga.

Aku cukup bangga dengan sebutan itu.

"Mohon maaf sebelumnya, tapi orang yang tidak memiliki surat ijin tidak boleh masuk.”

Aku berhenti di pintu masuk gereja.

"Begitukah? Apakah harus bawa surat ijin? Tidak bisakah aku masuk bersama para pendeta? Aku adalah temannya cucu Uskup Agung, lho.”

"Sejak dulu, satu surat ijin hanya berlaku untuk satu orang.”

"Oww. Yah ... jadi aturannya seketat itu ya….”

Oh iya, kalau tidak salah kemaren Cliff tampak bingung saat memandangi emblem yang kuambilkan dari atas rak.

Mungkin dia memikirkan soal surat ijin yang tidak kumiliki.

Hari ini Cliff mengenakan pakaian resmi Pendeta Milis.

Sepertinya tadi malam dia menjahitkan emblem itu pada pakaiannya.

"Jika Bapa Cliff punya surat ijin, maka dia bisa meminta surat ijin sementara di dalam. Tapi, prosesnya agak lama.”

".... Ah, benar juga. Maafkan aku Rudeus. Aku akan segera kembali dengan membawakan surat ijin sementara untukmu.”

Cliff mengatakan itu, sambil meminta maaf padaku.

"Aku mengerti. Tidak perlu tergesa-gesa, kalem saja.”

Cliff pun segera masuk ke dalam gereja.

Dan aku pun tertahan di luar selama beberapa saat.

Ngapain ya enaknya? Bagaimana kalau jalan-jalan dulu?

Bagian 5[edit]

Bangunannya besar, dalamnya juga luas.

Mungkin ukurannya 4 kali lipat Kediaman Latreia.

Bangunan ini memiliki 4 lantai, jika kau melihat dari atas, tiap tingkatnya membentuk pola seperti □ yang berada di dalam ◇.

Seolah-olah ada persegi yang bertumpuk di dalam persegi lainnya.

Di sisi terluar □ terdapat kantor pusat.

Terlihat banyak orang yang bekerja di sana, mulai dari para pegawai gereja, sampai pendeta yang sibuk dengan prosedur keagamaan.

Mereka mengurus berbagai hal, seperti orang-orang yang hendak memeluk Agama Milis, sampai pemakaman.

Sepertinya, mereka juga mengurus pemasaran simbol-simbol keagamaan.

Seperti halnya kantor pusat organisasi keagamaan, segala kegiatan yang terjadi di bawah naungan Gereja Milis.

Di dalam ◇ terdapat kantor untuk para pemuka-pemuka agama yang sudah kondang.

Hanya orang-orang penting yang diperbolehkan memasuki tempat khusus itu.

Tampaknya, para pegawai kantor pun tidak begitu tahu kegiatan apa yang terjadi di dalam.

Jadi bisa dikatakan, itu adalah departemen pusat Gereja Milis.

Sudah pasti, kau memerlukan surat ijin yang lebih tinggi untuk memasukinya.

Sementara aku melihat ke sana-sini, tak terasa sudah tengah hari.

Perutku mulai minta diisi.

Namun sepertinya, aku tidak bisa mengajak Cliff makan siang, karena dia belum menyelesaikan laporannya.

Dia sudah membuat janji untuk bertemu Uskup Agung kemaren, mungkin itu bukanlah hal yang sulit karena Uskup Agung adalah kakeknya sendiri.

Namun, aku orang luar.

Sepertinya aku belum bisa menemui Uskup Agung. Bagaimanapun juga, mereka ingin melepas rindu setelah sekian lama berpisah.

Yahh…….. seharusnya begitulah hubungan antara kakek dan cucu, tidak seperti yang kualami kemaren. Reuni keluarga yang seharusnya mengharukan, malah berubah menjadi perkelahian.

Tapi aku tidak melupakan permintaan Elinalise.

Aku akan tetap menolong Cliff, namun kami juga harus jaga jarak.

"Mungkin aku juga harus membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu Uskup Agung ... "

Sembari memikirkan berbagai hal, akhirnya aku sampai di halaman.

Ada empat halaman di kantor pusat.

Keempatnya berada di sudut bangunan yang bentuknya seperti ◇ bila dilihat dari atas.

Ada banyak pohon dan tanaman di halaman itu. Tampaknya tanaman-tanaman itu tumbuh pada empat musim yang berbeda.

Sekarang adalah musim semi, dan aku tanpa sengaja menuju ke taman musim semi.

Di taman musim semi, bunga-bunga beraneka warna bermekaran dengan indahnya.

Terutama, sangat banyak bunga-bunga yang berwarna pink, kuning sampai putih. Semuanya tampak cerah.

Sembari menikmati pemandangan ini, aku berjalan menyusuri taman dengan nyaman.

Dulu aku sering mengamati bunga-bunga seperti ini, dan mencocokkannya dengan kamus tanaman di tanganku, namun aku tetap tidak bisa mengenali bunga-bunga yang aneh ini.

Tidak… tunggu dulu, aku mengenali pohon berbunga pink ini.

Bunga ini sungguh mirip seperti bunga kebanggaan negaraku, bahkan namanya pun mirip.

Apa sih namanya….. yang pasti mirip seperti Sakura, tapi aku tidak begitu mengingatnya. Seseorang pernah memberitahuku dulu.

"Lihat, Saraku-nya sudah mekar!!”

Tiba-tiba seseorang meneriakkan itu…. oh iya, namanya adalah Saraku.

Pohon yang sama juga tumbuh pada pegunungan di sebelah utara Kerajaan Asura.

Pada awal musim semi, pohon ini memekarkan bunganya yang berwarna pink, orang-orang Asura sering menyebutnya “Pohon Pemanggil Musim Semi”.

Kalangan bangsawan juga menyukai pohon ini karena batangnya mengeluarkan wewangian yang unik.

Harganya mahal, karena habitat asli pohon ini berada di pegunungan yang jauh.

Namun, sekarang keluarga bangsawan Asura sudah berhasil membudidayakan Saraku di hutan, lalu mengeksportnya ke berbagai negara.

Ariel lah yang memberitahukan semua itu padaku, saat kami berkunjung di Kerajaan Asura tempo hari.

"Ya, indah sekali!"

"Saraku benar-benar cocok untuk Miko-sama!"

"Tau kah kau, Saraku ini didatangkan langsung dari Kerajaan Asura saat penobatan Uskup Agung, lho….”

"Oh, hah. Miko-sama tahu segalanya, ya!”

Entah kenapa, aku mulai merasakan hal buruk saat mendengar percakapan itu.

Lalu, aku pun menoleh ke arah mereka.

"Lihat!! Lihatlah aku!! Seakan-akan aku sedang dihujani daun Saraku!”

"Miko-sama yang berdiri di tengah-tengah daun Saraku yang berguguran .... terlihat begitu menawan."

"Indahnyaaaa!"

Mushoku 20 (9).jpg

Di sana, ada orang yang tampak seperti putri, entah dari kerajaan mana.

Putri itu mengenakan gaun yang berenda-renda, dia sedang menari-nari di bawah daun Saraku yang berguguran, sembari menengadahkan tangannya.

Mungkin dia masih muda…. umurnya sekitar 20-an, kurasa.

Penampilannya cantik, tapi dia agak gemuk.

Wendy juga terlihat sedikit montok tetapi lengan dan kakinya ramping. Namun putri ini, lengan dan kakinya tampak berlemak.

Menurutku, baik Wendy maupun putri ini sama-sama tidak sehat. Si Wendy kurang makan, sedangkan putri ini kurang olahraga.

Ada beberapa pria yang berkerumun di sekitar putri itu.

Totalnya, ada 7 pria.

Wahh, biasanya angka ganjil adalah pertanda buruk.

Pria-pria itu terus mengucapkan pujian ketika si putri mengatakan apapun.

Lama-lama itu membuatku kesal.

Padahal, tidak ada yang istimewa dari putri itu. Mengapa kalian terus memujinya?

Kalian hanyalah seperti sekumpulan Otaku yang tidak pernah melihat cewek cantik.

Bahkan di antara pria-pria itu, ada yang wajahnya terlihat begitu nafsu.

Tapi, mereka terlihat cukup macho dengan mengenakan armor di dadanya, sehingga tidak mirip seperti Otaku yang terkesan culun.

"..... Aare?"

Mereka terlihat senang berada di dekat si putri, namun terkesan dibuat-buat.

Bahkan, ada pria yang tampaknya tidak kuat terus-terusan bersandiwara.

Apa-apa’an mereka…..

Tapi, sebenarnya itu wajar saja.

Seorang putri memang layak dipuji, tak peduli kau ikhas menyanjungnya atau tidak.

Yahh…. selama kau menjadi bawahannya, itu adalah bagian dari tugasmu.

Kalau dilihat dari otot mereka, aku tahu pria-pria itu bukanlah prajurit sembarangan.

Mungkin teknik pedang mereka sudah mencapai tingkat lanjut, dan hanya sedikit di bawah kelas Saint.

Aduh…. sepertinya mereka sadar bahwa aku telah mengamati sang putri sejak tadi.

Untuk berjaga-jaga, hari ini aku mengenakan Magic Armor Versi II di bawah jubahku.

Karena aku tidak membawa Aqua Heartia atau alat sihir lain, maka setidaknya aku harus mengenakan Magic Armor Versi II. Ini semua untuk menjamin keamananku sendiri.

Mereka cukup waspada.

Tapi…. perasaan apa ini…..

Aku merasakan kegelisahan yang cukup mengganggu.

Aku tidak bisa menjelaskannya dengan benar.

Yang jelas…. aku tidak merasa nyaman.

...... mungkinkah, salah satu dari mereka adalah bidaknya Hitogami?

Apakah aku harus menyelidikinya?

Tidak…. tunggu dulu…. berpikirlah sejenak.

Jika aku menyebut nama ‘Hitogami’, akankah terjadi masalah?

Dulu aku hampir terbunuh oleh si bos saat menyebutkan nama itu sembarangan.

Lebih baik jangan menyebut nama itu…. pancing saja dengan pertanyaan lain.

"Ara? Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu. Kau baru saja memeluk Agama Milis ya?”

Saat aku masih bingung apa yang harus kukatakan, putri itu mengajukan pertanyaan padaku.

"Ah....."

Dengan wajah polos, dia memandangku.

Dia melirikku, sembari mendorong badannya maju, dan mengaitkan kedua tangan di belakang punggungnya.

Kalau Sylphy melakukan pose itu, aku tidak akan bisa menahan nafsuku.

Tapi, Roxy tidak pernah melakukannya.

Kalau Eris….. hmmm, aku bahkan tidak akan bisa bergerak seperti katak yang dimangsa ular.

"Bagaimana…..?"

Ahh, kenapa malah memikirkan istri-istriku pada keadaan seperti ini.

Um, um.

Aku ke sini tidak untuk memeluk agama, sih…..

Pertanyaan pancingan macam apa yang bisa membongkar identitasnya sebagai bidak Hitogami?

"Apakah kamu percaya pada Tuhan?" [1]

Tanpa sengaja, pertanyaan itu terlepas begitu saja dari mulutku.

Dalam sekejap, tiga pria Otaku langsung menghunuskan pedangnya padaku.

Sedangkan empat pria lainnya segera melindungi si putri di balik tubuhnya.

Wah….wah…wah, kalian garang sekali. Kalau begitu, kalian sama sekali tidak mirip seperti Otaku.

Suasana menjadi mencekam.

Mereka semua menatapku dengan tajam.

Sungguh mengerikan.

Berbahaya, mereka sungguh berbahaya.

Harusnya aku tidak mengatakan pertanyaan bodoh itu.

Bagaimana bisa aku mempertanyakan Tuhan di Pusat Gereja Milis?

Apakah pertanyaan itu mirip seperti hinaan bagi mereka?

"Tentu saja kami percaya pada Tuhan."

"Tuhan kami adalah Milis-sama."

"Kenapa kau mempertanyakan hal sejelas itu?"

"Jangan-jangan kau tidak percaya pada Milis-sama?"

"Jadi, kau tidak percaya pada Tuhan?”

"Apakah kau orang kafir....?"

"Dasar sesat!"

Pria-pria itu terus melontarkan tuduhan demi tuduhan dari mulutnya. Mereka seakan jijik melihatku.

Gawat, kalau begini terus, bisa-bisa aku dibakar hidup-hidup seperti para penyihir di zaman Eropa kuno.

"M-Maaf ... sebenarnya aku tadi sedang melamun, lalu tidak sengaja menanyakan itu ... jadi, mohon maafkan aku."

Untuk sekarang, lebih baik kita minta maaf.

Baiklah.

Bagaimanapun juga tempat ini adalah Pusat Gereja Milis.

Semua orang di sini beriman.

Mungkin, baru kali ini ada orang yang meragukan keberadaan Tuhan di tempat seperti ini.

Tentu saja itu membuatku begitu mencurigakan.

Jadi, mohon maafkan aku.

"Grave, apa yang harus kita lakukan?"

"Terserah padamu, Dust."

"Kalau begitu, ayo kita bunuh dia. Mungkin dia akan menyebarkan ajaran sesat. Anehnya dia tampak begitu tenang ... tapi dia berpotensi membahayakan Miko-sama, jadi kita harus melenyapkannya.”

"Baiklah, baiklah, ayo kita bunuh dia."

Keputusan yang sangat cepat.

Semudah itukah mereka memutuskan membunuh orang? Itukah yang disebut bijak?

Kalau aku berada pada posisi kalian, aku akan berpikir berkali-kali dengan ragu.

"Tidak, tidak, kumohon tenanglah dulu… tolong dengarkan ceritaku ..."

Kalau aku berkelahi melawan mereka, Cliff akan kerepotan, padahal pekerjaannya belum selesai.

Pohon-pohon Saraku yang indah ini juga bisa rusak, kan?

Tidak baik berkelahi di tempat seperti ini, lebih baik kita bicara baik-baik.

Tapi sayangnya…. instingku berkata lain.

Mata iblisku terbuka, lalu kulihat salah satu pedang mereka menembus tubuhku.

Seketika, aku bersiap-siap dengan mengalirkan Mana pada Magic Armor.

Sebisa mungkin aku ingin menghindari keributan dengan mereka, tapi apa boleh buat….. sepertinya aku harus berkelahi, karena tampaknya mereka tidak akan memaafkanku tak peduli apapun alasanku.

Mood-ku lagi jelek sejak kemaren.

"... Apakah kau serius ingin menusukku?"

Saat aku menanyakan itu, tiba-tiba mereka menatapku dengan mata penuh nafsu membunuh.

Mereka mulai ambil ancang-ancang, untuk menggunakan teknik pedangnya padaku.

Mereka datang.

"Tunggu!"

Bergemalah suara yang terdengar begitu berwibawa.

Rasanya, aku pernah mendengar suara ini. Tapi entah dimana…..

Begitu mendengar seruan itu, seketika pra pria menghentikan serangannya.

"Apa yang kalian lakukan!"

Seorang ksatria wanita mendekati kami.

Usianya mungkin di pertengahan 30-an.

Dia mengenakan pakaian yang sama seperti para pria itu, dilengkapi dengan armor dada berwarna biru.

Kalau dilihat dari wajahnya, wanita ini cukup tegas, namun juga kalem.

Tapi…. aku kenal wajah itu.

"Kapten, orang kafir ini ini membahayakan Miko-sama."

Salah seorang Otaku melaporkan itu dengan tak acuh.

Jangan berbohong.

"Itu tidak benar, aku hanya melihat-lihat pohon Saraku yang bermekaran ..."

"Diam kau!!"

Sambil menyodorkan pedang padaku, salah seorang dari mereka memperingatkanku dengan suara rendah.

Kenapa aku harus diam? Tidak bolehkah aku membela diri?

"Orang kafir ...?"

Dan akhirnya, ksatria wanita itu melihat ke arahku.

"Ah!"

Ya…. aku ingat sekarang.

Senyum lebar mulai merekah di wajah wanita cantik itu.

"Rudeus! Bukankah kau Rudeus? Wow, sudah lama sekali kita tidak jumpa!"

Sembari melihat salah seorang Otaku yang masih mengacungkan pedangnya padaku, wanita itu menjerit kegirangan.

"Turunkan pedangmu, dia adalah keponakanku!"

Dengan kaget, mereka menuruti kata ksatria wanita itu, dan aku pun menutup kembali mata iblisku.

Bagian 6[edit]

Latreia Therese.

Adik perempuan Zenith…. atau sebut saja, bibiku.

Orang ini telah banyak membantuku selama perjalanan dari Benua Milis ke Benua Tengah.

Tampaknya Therese adalah pemimpin para Otaku itu.

Atas perintahnya, para Otaku itu segera menarik kembali pedangnya tanpa banyak protes.

Mereka pun meminta maaf padaku, meskipun sedikit kurang ikhlas.

Aku juga meminta maaf karena telah menanyakan sesuatu yang tidak sopan pada mereka. Namun, sepertinya mereka masih membenciku, karena aku masih bisa merasakan keinginan mereka untuk membunuhku.

Kemudian, mereka kembali menjaga putrinya di kejauhan.

"Kau masih mengingatku? Padahal kita hanya bertemu sekali….."

"Tentu saja aku ingat. Bibi benar-benar membantuku dalam perjalanan ke Benua Tengah.”

Sembari mengabaikan para Otaku itu, aku terus mengobrol tentang berbagai hal dengan Therese.

Lama tidak berjumpa dengannya.

"Aku sudah dengar kabar bahwa kau sempat mengunjungi rumah kemaren, namun aku tidak menduga kau juga akan mengunjungi Pusat Gereja Milis. Jangan-jangan kau sengaja datang ke sini untuk menemuiku?”

"Tidak, aku datang ke sini untuk diperkenalkan pada Uskup Agung oleh salah seorang temanku...... Therese-san, aku tidak menduga bakal bertemu denganmu di sini."

Terakhir kali kami bertemu, kalau tidak salah Therese hendak dipindahkan ke West Port.

Tapi itu sudah 10 tahun yang lalu.

Tidak aneh bila dia kembali ke Milis.

"Yahh, berbagai hal telah terjadi."

Therese mengatakannya sembari mengangkat bahu dan tersenyum masam.

Mungkin dia enggan membicarakannya.

Toh, aku juga tidak mau mencampuri urusan pribadinya.

Tapi, ada hal lain yang ingin kudengar darinya.

"Apakah semua orang sudah tahu bahwa kemaren aku datang mengunjungi Kediaman Keluarga Latreia? Apakah kabar itu disebarluaskan?”

"Ya, banyak orang sudah mengetahuinya, tapi bukan berita pertengkaranmu dengan ibu.”

"Pertengkaran ... yahh, aku sih tidak mengelak."

"Aku tahu perkataan ibu telah membuatmu tersinggung. Yahh, memang seperti itulah dia. Aku yakin dia menuntut banyak hal darimu.”

"Ya, itu benar! Kumohon dengarkan ceritaku! Aku sama sekali tidak bermaksud buruk!"

Aku berjumpa dengan bibi yang sudah lama tidak kutemui.

Sebenarnya aku tidak yakin, apakah wanita ini lawan atau kawan, tapi…. bibirku tidak bisa berhenti menceritakan berbagai hal yang terjadi tempo hari.

Tanpa bisa kukendalikan, aku terus curhat padanya.

Rupanya, kejadian kemaren masih membuatku kesal, sehingga aku perlu berbagi cerita bersama orang lain, agar bebanku terasa lebih ringan.

Atau mungkin, aku butuh perhatian dan senyuman ibu, agar sakit hatiku sedikit terobati. Karena Zenith hanya menunjukkan wajah polos tiap hari, maka aku pun begitu senang saat mendapatkan perhatian dari wanita yang berwajah mirip dengannya, yaitu bibiku.

"Waduh, kalau berita ini tersebar semakin luas…. apa kata orang?"

"Tidak, itu tidak mungkin ... meskipun ibu orangnya keras, tapi…. kurasa dia tidak akan melakukannya. Tapi, Rudeus-kun…. apakah kau mengatakan sesuatu yang membuat ibu marah? Orang itu akan langsung naik pitam jika mendapati sesuatu yang membuatnya tersinggung.”

"... Aku tidak yakin…. tapi, aku telah berusaha sebisa mungkin menjaga lidahku agar tidak mengatakan apapun yang membuatnya marah.”

"Hmm."

Therese bersedekap sembari bergumam panjang dan berpikir.

"Yah, kalau kau berkunjung ke rumah sekali lagi, maka dengarkanlah perkataan ibu dengan sangat hati-hati. Ibu memang keras kepala, tapi dia bukan orang yang jahat. Mungkin, ini hanyalah kesalahpahaman sepele.”

"......"

Tanpa basa-basi, Therese memberikan pendapatnya.

Meskipun itu hanya kesalahpahaman, namun sudah sepantasnya aku marah.

Aku bahkan tidak berencana kembali ke rumah itu, atau meminta seseorang menjadi penengah perselisihan kami.

Biasanya, aku tidak akan sungkan minta maaf terlebih dahulu bila merasa berbuat salah. Tapi baru kali ini aku sama sekali tidak merasa salah.

Yahh, kalau memang benar ini hanyalah suatu kesalahpahaman, maka dia harus meminta maaf padaku dengan ikhlas terlebih dahulu, barulah aku mau mengakui kesalahanku, yang telah menghajar para penjaga rumah secara brutal.

"Tapi…. Rudeus-kun sudah tumbah besar ya! Ah tidak… mungkin lebih tepat menyebutmu tumbuh dewasa. Berapa umurmu sekarang? 20-an?”

Dengan riang, Therese sengaja merubah topik pembicaraan.

Yahh, aku juga tidak ingin terus-terusan membahas Claire.

"Ya, umurku sudah 22 tahun."

"Begitu, ya! Yahh, kita memang sudah berpisah 10 tahun lamanya ... oh iya! Bagaimana dengan Eris-sama! Apakah dia baik-baik saja? Dia pasti tumbuh menjadi wanita yang luar biasa!”

Therese begitu bersemangat seperti anak kecil.

Sebagai pemimpin ksatria, penampilannya sungguh gagah, namun seakan itu bertolak belakang dengan sifatnya yang begitu riang.

Wajahnya yang serius tampak seperti Claire, namun senyumannya sangat mirip Zenith.

Itu sungguh indah…..

Ah, tidak…tidak…tidak boleh….

Dia adalah bibiku.

"Eris sehat-sehat saja. Tahun lalu, dia melahirkan putra kami."

"Putra kalian ...? Ah, jadi kalian berdua benar-benar menikah!!? Selamat ya!”

"Terima kasih banyak."

"Apakah dia ikut denganmu?"

"Tidak, aku memintanya tinggal di rumah kami, di Sharia. Dia harus mengurus anaknya.”

"Aku mengerti….aku mengerti…. meskipun kalian terpisah begitu jauh, jagalah hubungan pernikahan kalian. Kau harus tetap setia padanya.”

Setia? Aku beristri tiga lho…. oh iya, dia kan juga penganut ajaran Milis, jadi dia pikir aku hanya menikah sekali saja.

Lebih baik aku tidak membahas statusku sebagai suami yang berpoligami.

Bahas saja yang lainnya. Mungkin dia akan marah saat mengetahui itu.

Aku tidak ingin merusak momen reuni kami yang berharga ini.

"Jadi begitu ya…. Rudeus dan Eris kecil itu sekarang sudah menikah, ya…. haaaa….”

Anehnya, sepertinya Therese tampak pasrah.

Dia menghela napas panjang saat mendengar kata ‘pernikahan’.

Kalau dilihat dari reaksinya…. mungkinkah dia belum menikah?

Atau mungkin malah sudah bercerai?

Um, berapa ya umur wanita ini?

Zenith berusia sekitar 38 tahun, karena dia lebih muda ... mungkin dia sekitar 35?

Di dunia ini, seseorang dianggap dewasa setelah menginjak usia 15 tahun, dan umumnya kami menikah pada usia 20 tahun…. jadi, kalau dia belum menikah, maka itu sudah sangat terlambat.

Ummm…..

"Bagaimana pekerjaanmu?"

Sepertinya, aku harus merubah topik pembicaraan, maka aku pun membahas tentang pekerjaan.

"Uh? Ah! Banyak hal telah terjadi, sih. Tapi aku kembali ke Milishion untuk menjadi pengawal Miko-sama. Sekarang, aku membawahi pria-pria yang tadi menyerangmu.”

Therese mengatakan itu sembari melirik sekelompok pria Otaku itu.

Di antara ketujuh pria itu, dua orang masih waspada, sedangkan sisanya kembali bercengkrama dengan si putri.

Kalau dilihat seperti ini, sebenarnya mereka orang yang damai.

"Mereka cukup menakutkan."

"Ah ... belakangan ini semakin sering terjadi upaya pembunuhan, jadi kami mengumpulkan orang-orang yang unggul dalam bertarung. Ordo Ksatria Kuil meminta mereka menjadi para pengawal orang-orang penting. Jadi…. jangan heran bila mereka selalu waspada.”

Therese bekerja di Ordo Ksatria Kuil, dan mereka sedang memperkuat pasukannya.

Pria-pria ini memang dipekerjakan untuk menghabisi orang yang mencurigakan. Pantas saja mereka begitu waspada.

Saat mereka menyadari adanya sedikit gangguan saja, mereka sudah siap untuk melenyapkannya.

Aku jadi teringat Orsted. Meskipun dia orang baik, tapi tidak akan segan membunuh siapapun.

"Yahh, meskipun pria-pria itu sangat fanatik, sebenarnya mereka tidak jahat…. buktinya, mereka sangat menyukai Miko-sama.”

Bagiku, mereka tetaplah menakutkan.

Aku tahu kalian sangat mempercayai Tuhan dan mengamalkan ajaran Milis, tapi bukan berarti kalian harus membantai orang yang kalian anggap sesat, tanpa pikir panjang.

Bukankah Milis mengajarkan cinta kasih?

"Therese? Bolehkah aku ikutan ngobrol bersama kalian?”

Tiba-tiba, seseorang mengatakan itu dari belakang kami.

Dia adalah si putri gendut.

Tentu saja para Otaku itu mengikuti si putri dari belakang, mereka bahkan siap menghunuskan pedangnya kapan pun.

"Tadi aku tidak sengaja mendengar nama Eris, apakah kalian mengenal Eris-sama, sang pendekar pedang berambut merah itu?”

Jadi, mereka menyebutnya ‘Miko-sama’….apakah itu berarti dia seorang Miko seperti Zanoba?

Kalau begitu, siapa nama asli putri ini?

Mari kita coba tanya…. Ah tidak, aku harus memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Claire mengabaikanku meskipun sudah memperkenalkan diri. Tapi, aku yakin putri ini lebih menghargaiku. Bagaimanapun juga, etikanya adalah memperkenalkan diri terlebih dahulu di hadapan seorang putri.

"Maaf, aku terlambat memperkenalkan diri. Namaku Rudeus Greyrat. Aku adalah orang kepercayaan Dewa Naga Orsted, yang merupakan salah satu dari Tujuh Kekuatan Dunia. Sedangkan, Eris Greyrat Sang Raja Pedang adalah istriku.”

Dewa Naga dan Raja Pedang.

Harusnya, siapapun akan gentar saat mendengar dua gelar menakutkan itu.

Jika bidaknya Hitogami ada di antara ketujuh pria itu, maka dia harusnya bereaksi saat mendengar nama Orsted. Namun, sepertinya tidak.

"Wow! Begitukah!? Eris-sama pernah menyelamatkan nyawaku 10 tahun yang lalu!”

Sepuluh tahun yang lalu? Bukankah itu saat aku berkunjung ke Milishion?

Kalau tidak salah, Eris pernah menceritakannya padaku.

Dia pergi ke hutan untuk berburu Goblin, namun akhirnya dia bertemu dengan orang-orang mencurigakan yang hendak berbuat jahat pada gadis kecil. Eris pun membantai mereka, dan menyelamatkan si gadis. Jadi, dia lah gadis itu?

"Bisakah aku bertemu Eris-sama sekarang?”

"Sayangnya tidak bisa, karena Eris kuminta tinggal di rumah untuk mengurus anaknya.”

"Yahh, sayang sekali."

Saat si putri tampak sedih, ketujuh pria itu pun menundukkan kepalanya dengan lesu.

Wah, kalian kompak sekali. Rupanya, kalian benar-benar menyukai putri ini ya.

Tapi, putri ini tidak juga memberitahu namanya.

Apakah aku harus memanggilnya Miko-sama juga?

"Berarti, aku juga harus berterimakasih pada Dewa Naga Orsted-sama…. dia juga menyelamatkanku.”

"Apa?"

Tunggu dulu……

Jadi, waktu itu Orsted juga menyelamatkanmu? Apa maksudmu?

Padahal, saat itu aku, Eris, dan Ruijerd belum bertemu Orsted.

Kalau sekarang, aku sudah menjadi bawahannya Orsted, dan Eris pun menerimanya.

Mungkin kau bisa bilang, Eris juga bawahannya Orsted sekarang.

Aku sungguh tidak paham apa maksudmu….. apa hubungannya Orsted dengan kejadian hari itu?

"Kenapa Anda berterimakasih pada Orsted? Pada saat itu, aku dan Eris bahkan belum mengenal Orsted. Jika Miko-sama berniat berterimakasih padanya, aku yakin Orsted akan menerimanya dengan senang hati. Namun, aku masih belum paham apa yang membuat Anda berterimakasih padanya.”

"...? Apakah kau yakin dia mau menerima ucapan terimakasihku?”

"Aku tidak tahu….. tapi, kurasa Anda tidak bisa menemuinya dengan mudah, karena dia juga punya kutukan."

Saat aku mengatakan itu, si putri mendekatiku, lalu mengamati wajahku dengan seksama.

Matanya bundar dan indah, pipinya tembem dan imut.

Kedua matanya tidak berbeda warna.

Jadi, dia tidak memiliki mata iblis sepertiku, atau Cliff.

Namun………. aku tahu dia sedang melakukan sesuatu, entah apa.

Aku tidak bisa memahaminya.

Seolah-olah tatapannya menjerat tubuhku, namun aku masih bisa bergerak dengan bebas.

"... hmmm, sepertinya kau tidak berbohong."

Dia mengangguk sembari menatapku dengan serius.

"Bagaimana Anda bisa tahu bahwa aku tidak berbohong?"

"Yahhh, aku tahu saja."

Dengan tenang, dia melirik Therese dan ketujuh pria itu.

Inikah kemampuannya sebagai Miko?

Seperti halnya Zanoba, setiap Miko mempunyai kekuatan khusus yang tidak dimiliki orang lain. Zanoba mempunyai fisik yang kuat, sedangkan putri ini pasti memiliki kemampuan khusus lainnya.

Apakah dia bisa melihat sesuatu hanya dengan kontak mata? Melihat kebohongan mungkin? Atau membaca pikiran orang lain mungkin…?

Apapun itu, yang jelas bukan kemampuan biasa.

"... Apakah Anda barusan menggunakan kekuatan Miko?"

"Ya, benar."

Aku ingin mendengarkan kekuatan gadis ini dengan detail, tapi sepertinya para Otaku itu tidak mengijinkan.

Apa yang harus kulakukan?

Orsted bahkan tidak mengatakan apapun tentang gadis ini.

"Hee ..."

Gawat.

Aku mulai merasakan firasat buruk. Sepertinya, akan terjadi suatu masalah tak lama lagi.

Para Otaku itu terus menatapku dengan tajam, seolah-olah mereka akan menyerangku kapanpun.

Tapi, aku harus mengetahui kekuatan Miko-nya.

Mungkin aku tidak bertemu dengannya lagi.

Aku harus bertanya dan mendengarnya.

"Suu ... fuu ..."

Pertama-tama, ambil napas dalam-dalam.

Sebelum berbicara lebih jauh, ada baiknya kutanyakan suatu hal yang paling penting, yaitu…..

"Miko-sama. Maafkan ketidaksopananku, bolehkah aku menanyakan sesuatu pada Anda?”

Aku meminta ijin terlebih dahulu sebelum bertanya.

Ini merupakan langkah yang penting.

Lagipula, aku tidak menginvestigasinya, aku hanyalah menanyakan satu pertanyaan.

"Ya, tentu saja."

"Belakangan ini, adakah seseorang yang muncul di dalam mimpimu, dan mengaku sebagai dewa? Biasanya, dia akan menceritakan tentang masa depan atau semacamnya.”

"Tidak, aku tidak pernah menemui orang seperti itu di dalam mimpiku. Bahkan, baru kali ini aku mendengarnya. Aku tidak akan pernah memimpikan orang aneh seperti itu.”

Sang putri berbicara dengan datar.

Dia hanya memandangku sembari mengatakan itu.

Dia bilang tidak pernah menemui orang seperti itu di dalam mimpinya, dan tidak akan pernah.

Aku percaya begitu saja.

Mungkin, gadis ini punya kekuatan melihat masa depan atau semacamnya, sehingga dia cukup yakin bahwa dia tidak akan memimpikan hal seperti itu.

Atau mungkin, dia juga punya kekuatan seperti Orsted, yang menyebabkan Hitogami tidak bisa mengendalikannya.

Apakah dia sudah tahu tentang Hitogami? Kalau dia benar-benar bisa membaca pikiran seseorang, maka harusnya dia sudah mengetahuinya dari pikiranku.

Hitogami pun akan kesulitan berhadapan dengan orang seperti ini, karena dia bisa membaca semua maksud yang tersembunyi di dalam pikiran seseorang.

"Terima kasih banyak."

Aku merasa lega.

Syukurlah dia bukan musuhku.

Aku tidak tahu apakah Miko-sama berbohong atau tidak…. tapi, lebih baik kita percayai saja dia untuk sementara.

"Sekarang, giliranku!"

"...! Ya, silahkan bertanya apapun padaku.”

Apa yang ingin kau dengar dariku, Tuan Putri?

Kalau kau bisa membaca pikiran, maka mengapa kau repot-repot bertanya?

Sepertinya, dia tidak selalu bisa menggunakan kemampuan itu.

Apakah syaratnya dia harus melakukan kontak mata dengan orang yang hendak dibaca pikirannya?

Jadi…. jika tidak ingin pikiranku terbaca, maka aku harus mengalihkan pandangan darinya?

"Tolong ceritakan lebih banyak tentang Eris-sama!"

"...Siap."

Ah, jadi itu yang ingin kau ketahui.

Baiklah.

Dia bukan musuhku, dia juga bukan bidaknya Hitogami. Jadi….. tidak masalah kan jika aku bercerita tentang Eris padanya?

Dia adalah orang yang berpengaruh, jadi aku bisa memanfaatkannya untuk melancarkan rencanaku.

Setelah bercerita tentang Eris, aku bisa membahas Orsted.

Lalu, kita membicarakan pembukaan baru cabang PT. Rudo, yang bisa menjamin keselamatanmu dan keturunanmu 80 tahun kemudian dari kekacauan yang kembali akan dibuat oleh reinkarnasi Dewa Iblis Laplace.

Kita bisa bekerjasam untuk merekrut prajurit yang unggul...

Tapi…. gak papa nih jadi sekutunya Miko-sama? Bukankah Cliff akan mengenalkanku dengan Uskup Agung? Apakah Miko-sama dan Uskup Agung berhubungan baik?

"Rudeus! Rudeus, dimana kau!?”

Saat aku mempertimbangkan berbagai hal sebelum berbicara dengannya, tiba-tiba namaku dipanggil oleh seseorang yang kukenal.

Itu suara Cliff.

Sepertinya, dia sudah mendapatkan surat ijin sementaranya.

"Ah ... Maafkan aku, Miko-sama. Sepertinya aku harus pergi."

"Eeh! Harus sekarang ...?"

Si putri tampak kecewa, dan ketujuh Otaku itu menundukkan kepalanya, seolah merasakan hal yang sama dengan si putri.

Kalian memang konyol.

Sebenarnya aku ingin ngobrol lebih lama denganmu, tapi Cliff sudah memanggil.

Semoga kita jumpa lagi.

"Aku tinggal di kota ini selama beberapa bulan, jadi kalau kita bertemu lagi, aku akan banyak bercerita tentang Eris..."

"Janji ya!"

Aku membungkuk pada si putri, lalu pamit pada Therese.

"Therese-san, jika kau bertemu nenek, bilang saja aku akan terus menjaga ibu, jadi jangan coba merebutnya dariku….. dan juga, tolong aktifkan kembali Kelompok Pencarian Fedoa, jika mereka butuh uang, aku siap menanggungnya.”

"... aku mengerti, aku akan menyampaikannya jika ada kesempatan.”

"Terimakasih sebelumnya."

Setelah membungkuk pada Therese, aku melirik sekilas pada ketujuh Otaku itu, lalu pergi meninggalkan mereka.

Miko ya……..

Ini kedua kalinya aku bertemu dengan Miko, setelah Zanoba.

Dia pasti bisa membantu rencanaku.

Kurasa dia bukan musuh.

Tapi… meskipun tidak pernah bertemu dengan Hitogami, kurasa dia mengetahuinya.

Aku tidak boleh lengah.

Ah, aku lupa bertanya nama lengkapnya ...

Baiklah, tidak apa-apa, lain kali saja.

Sembari memikirkan berbagai hal, aku menerima surat ijin sementara yang diberikan Cliff.

Aku pun siap memasuki Pusat Gereja Milis.
  1. Agak sulit menerjemahkan kalimat ini, karena di Bahasa Indonesia, kita membedakan antara Tuhan dan Dewa. Tapi di Bahasa Jepang, Tuhan dan Dewa sama-sama disebut “Kami”. Aku yakin Rudeus menanyakan, ’apakah kau percaya pada Kami’ yang merujuk pada Hitogami, atau si Dewa Manusia, bukannya ‘Tuhan’ seperti yang kalian pahami. Namun, dalam konsep Agama Milis, yang mereka sembah adalah Tuhan, bukannya Dewa. Kenapa begitu? Karena sebenarnya Agama Milis sangat mirip seperti Protestan ataupun Kristiani di dunia nyata, terutama jika dilihat dari segi pemuka agamanya, yaitu Uskup Agung. Kalian tidak pernah mendengar para pemeluk agama tersebut menyembah Dewa, kan? Dewa biasanya digunakan oleh saudara-saudari kita yang beragama Budha, Hindu, ataupun Kong Hu Cu. Sehingga, Ciu lebih memilih kosakata Tuhan di sini.