Mushoku Tensei (Indonesia):Jilid 21 Bab 8

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 8: Bertemu Dengan Uskup Agung Dan...[edit]

Bagian 1[edit]

"Biar kusimpan barang bawaanmu."

Sebelum masuk, kami digeledah.

Sepertinya mereka coba mencari senjata untuk kemudian disita.

Aku harus meninggalkan persenjataanku seperti pisau, dan gulungan lingkaran sihir.

Untungnya, Magic Armor Versi II tidak dianggap senjata, sehingga aku tidak perlu melepas pakaian.

Cliff tidak mengatakan apa-apa, mungkin karena dia sudah mempercayaiku.

Aku juga menyerahkan sarung tangan kiriku yang dilengkapi batu penyerap sihir, dan sarung tangan kanan yang dilengkapi senapan sihir.

Setelah semuanya beres, aku pun masuk ke dalam.

Pusat bangunan ini tampak seperti labirin.

Hampir tidak ada jalan lurus di dalamnya, semuanya berliku.

Semua sisi bangunan dicat dengan warna putih, sehingga sulit membedakan apa yang ada di depan kita.

Inilah jantung komunitas Agama Milis.

Aku yakin bangunan ini juga dilengkapi dengan mekanisme pertahanan dari serangan musuh.

Dengan cepat, Cliff membawaku ke ruangan Uskup Agung.

Ruangan itu dijaga oleh dua ksatria, dan dilengkapi dengan mantra penghalang.

"Asal tahu saja, kau tidak bisa lagi menggunakan sihir setelah memasuki penghalang ini.”

"Baik."

Penghalang ini setidaknya dibuat dengan sihir kelas Saint atau Raja.

Mungkin, para ksatria penjaga ini juga sudah menguasai teknik pedang tingkat Saint, atau bahkan Raja.

Aku tidak yakin…. sepertinya, menjaga Uskup Agung hanyalah pekerjaan sampingan mereka. Dengan kemampuan setinggi itu, mereka bahkan bisa terjun dalam suatu peperangan.

"Yang Mulia, salam."

Kakek Cliff, Harry Grimoire, berada di balik penghalang yang transparan.

Dia tampak seperti seorang kakek yang baik hati. Aku sudah menduganya sejak membaca surat itu.

Dia memiliki janggut putih panjang, dan mengenakan jubah resmi uskup yang bersulam emas.

"Ya, terima kasih."

Suaranya kuat seperti Sauros, tetapi tidak setajam Reyda.

Kalau dirasakan dari auranya, dia bukanlah orang biasa.

Tapi, tampaknya orang ini cukup bijak.

Jadi ini ya Sang Uskup Agung itu…..

"Izinkan aku memperkenalkan Rudeus Greyrat. Kami belajar bersama di Akademi Sihir Ranoa, dia adalah juniorku. Sihirnya lebih hebat daripada sihirku. Dia sungguh terampil menggunakan sihir. Aku sudah lama mengenalnya, jadi hari ini ingin kubawa dia pada Anda, Yang Mulia.”

Saat Cliff memperkenalkanku, Uskup Agung perlahan mengangguk dengan lembut.

Mungkin, aku harus memperkenalkan diri lebih rinci.

Cliff hanya memperkenalkanku sebagai teman, selanjutnya giliranku.

Kami pun sudah membicarakan ini tadi malam.

"Baiklah…. Rudeus-dono, ada perlu apa denganku? Kudengar-dengar, kau ingin meminta ijin mendirikan cabang perusahan pasukan bayaran. Atau menjual patung Ras Supard? Atau mengumpulkan sekutu untuk Dewa Naga Orsted?”

Waduh…..

Tahu darimana dia?

Cliff, apakah kau yang memberitahunya?

Yahh…. terserah lah.

Cepat-lambat, tujuanku pasti terungkap.

Sekarang, lebih baik aku menjelaskannya dengan detail.

...Hah?

Kenapa Cliff memandangi kami dengan wajah heran?

"Pantas saja kau dijuluki Tangan Kanan Dewa Naga….. Cliff, jadi seperti inikah temanmu?”

Gawat…. kenapa pembicaraannya jadi begini…..

Sepertinya dia salah sangka. Mungkin dia mengira rencanaku itu buruk.

"Maaf, tapi aku…..”

Dia mulai membaca suatu dokumen sambil tersenyum.

"Rudeus Greyrat. Kau berasal dari Keluarga Notus Greyrat yang terkenal. Putra Paul Greyrat, murid Raja Pedang Ghyslaine Dedorudia. Setelah terkena bencana metastasis, kau kembali ke Fedoa tiga tahun kemudian. Kau bersekolah di Akademi Sihir Ranoa, kemudian berkenalan dengan Tuan Putri Ariel. Beberapa tahun kemudian, kau bertarung melawan Dewa Naga Orsted, namun kalah. Setelah itu, kau memutuskan untuk menjadi sekutunya. Kau lah yang membantu Ariel Anemoi Asura naik tahta dengan mengalahkan para pesaingnya, bersama Kaisar Utara Auber dan Dewa Air Reyda. Saat ini, kau sedang berusaha mendirikan cabang perusahaan prajurit bayaran di berbagai negara besar, serta mempengaruhi orang-orang penting di negara tersebut untuk membela Dewa Naga Orsted….. ada yang kurang?”

Cukup detail.

Tapi, informasi-informasi itu sudah seperti rahasia umum.

Kau bisa mendapatkan semuanya dengan bertanya pada siapapun.

Dia sudah melucuti identitasku, jadi tidak ada gunanya aku berbohong.

Namun, aku tidak begitu terkejut.

Ada beberapa cerita yang tidak dia sebutkan.

"Ada beberapa hal yang Anda lewatkan. Aku kembali ke Fedoa dari Benua Iblis tidak sendirian. Aku diantar oleh prajurit dari Ras Supard bernama Ruijerd. Aku pun tidak membunuh Kaisar Utara Auber sendirian, aku dibantu oleh Raja Pedang Ghyslaine dan Eris. Sedangkan Dewa Air Reyda dibunuh oleh Orsted, aku bahkan tidak bisa melakukan apapun di hadapannya. Ada satu lagi fakta penting yang tidak Anda sebutkan, yaitu aku adalah murid Penyihir Air Kelas Raja, Roxy Migurdia.”

"Hou, kau cukup jujur rupanya."

Uskup Agung mengangguk dengan berkata, ‘Fumufumu’, lalu dia menuliskan sesuatu pada kertas di mejanya.

Aku tidak tahu apa yang kau tulis, tapi jangan lupa menambahkan catatan bahwa aku adalah muridnya Roxy.

"Jadi, alasanmu menjual patung Ras Supard adalah untuk membalas budi pada prajurit bernama Ruijerd itu? Kau tidak berencana memojokkan orang-orang yang membenci ras iblis?”

"Memojokkan adalah kata yang kurang tepat. Sebenarnya aku hanya ingin mereka menghargai ras iblis. Pada dasarnya, kita semua sama.”

"Hooo…."

Aku tahu ada sekelompok orang yang membenci ras iblis di Kerajaan Suci Milis, mungkin patung Ruijerd dianggap sebagai benda berbahaya bagi mereka. Jika aku menjual patung Ruijerd, mereka akan menganggapku sebagai orang sesat atau pemberontak yang membahayakan idealisme mereka.

"Lalu, mengapa kau ingin mempengaruhi orang-orang penting untuk membela Osretd?”

"Sekitar 80 tahun ke depan, Dewa Iblis Laplace akan bangkit kembali. Dan saat itu, dia akan kembali mengobarkan perang yang begitu besar. Salah satu orang yang bisa menghentikan itu adalah makhluk terkuat di dunia ini, yaitu Dewa Naga Orsted. Jadi, kita harus memihaknya.”

Uskup Agung mendengarkan penjelasanku tanpa mengubah ekspresi wajahnya sama sekali.

Dia hanya mengangguk setuju.

"Begitu ya. Jadi, dengan memanfaatkan Cliff, kau ingin membangun koneksi denganku. Sehingga, aku bisa berpihak pada Fraksi Dewa Naga Orsted, bukankah begitu….?”

"Tidak, itu tidak tepat.”

Entah kenapa, aku merasa sedang bernegosiasi dengan kakek ini.

Yah, tidak masalah sih.

Negosiasi memang penting.

Ayo kita mulai…...

"Aku memang membutuhkan bantuan Cliff, tapi sekali lagi…. ‘memanfaatkan’ bukanlah kata yang tepat. Justru, aku datang ke sini untuk menolong Cliff agar mendapatkan posisi penting di Gereja Milis.”

"Hooo… kau ingin mendukung Cliff dari belakang ya?”

"Awalnya begitu…. namun, ternyata Cliff tidak mengharapkan bantuanku. Cliff orang yang hebat, jadi dia ingin meraih prestasi dengan usahanya sendiri. Aku tidak boleh mencampuri urusannya. Jadi, aku hanya akan membantu bila sangat-sangat diperlukan.”

Bibir Uskup Agung melengkung tersenyum ketika aku mengatakan itu.

Wajahnya seperti seorang kakek saat melihat cucunya mendapatkan nilai 100 pada rapornya.

"Begitukah? Jadi, Cliff mengatakan itu padamu…?”

"Ya. Jadi, Rudeus datang ke sini sebagai bawahannya Dewa Naga.”

Dia mengatakannya dengan jujur.

Kakek itu pasti sudah mencari informasi tentangku.

Mungkin dia hanya ingin menguji reaksiku. Jika aku salah menanggapinya, dia tidak akan memberikan dukungannya pada kami. Namun sepertinya aku berhasil membuatnya terkesan.

Yahh, mungkin juga tidak…. toh, aku tidak tahu apa-apa.

Yang jelas, aku tidak berbohong.

Di jaman seperti ini jarang ada orang jujur, namun masih banyak orang yang menyukai kejujuran.

"Seperti yang Anda sebutkan sebelumnya, aku datang ke sini dengan 2 tujuan. Pertama, mendirikan cabang perusahaan prajurit bayaran. Kedua, mendirikan bisnis patung Ras Supard. Kumohon bantuannya untuk mewujudkan kedua tujuanku itu.”

Mengenai masalah Keluarga Latreia, kesampingkan saja itu untuk sementara waktu.

Itu adalah masalah pribadi, jangan dibahas di sini.

"Hmm."

Uskup Agung memandangku dengan senyuman lembut di wajahnya.

Mungkin itulah wajah aslinya.

Namun, senyuman itu sangat samar, seolah-olah ekspresi wajahnya tidak berubah.

"Kurasa hubungan seseorang tidak akan semudah itu rusak.”

Uskup Agung mengatakan itu dengan ringan.

Mungkin itu adalah nasehat bagi kami.

Aku tidak pernah berniat meninggalkan Cliff.

Kurasa, Cliff juga tidak akan meninggalkanku.

"Jadi, untuk mempererat ikatanmu dengan Cliff ... aku akan mendukung rencanamu membuat cabang perusahaan di sini.”

Dia mengatakan itu dengan entengnya.

Tadinya kupikir kami masih harus tawar-menawar, namun ternyata tidak.

Mungkin dia ingin menjaga ikatanku dengan Cliff.

Bagaimanapun juga, aku masih bisa memberikan manfaat pada Fraksi Uskup Agung.

"Namun, izin untuk memasarkan patung Ras Supard agaknya cukup sulit.”

"Mengapa?"

"Aku berada di pihak fraksi yang tidak membenci ras iblis, namun belakangan ini fraksi anti-ras iblis semakin berkembang besar. Saat ini, kekuasaanku belum cukup untuk memberikan ijin menjual patung ras iblis pada masyarakat. Dan aku tidak bisa sewenang-wenang melakukannya. Bahkan, kemungkinan besar Uskup Agung selanjutnya akan dipilih dari fraksi anti-ras iblis…….”


Uskup Agung menyatakan itu sembari memandangiku.

Aku penasaran… apakah itu berarti dia secara tidak langsung memintaku untuk mengalahkan fraksi anti-ras iblis?

Aku berharap demikian.

Jika mendapatkan dukungan dari Uskup Agung, aku bisa bergerak bebas untuk mengalahkan mereka.

Aku pun sudah memutuskan hubungan dengan Keluarga Latreia, jadi aku tidak punya beban jika harus melawan mereka.

Tapi sayangnya, masih ada Therese di sana. Aku tidak ingin melawan bibiku yang selalu baik padaku itu. Aku berhutang banyak padanya.

Ini cukup membingungkan.

Jika Cliff berhasil merebut posisi Uskup Agung, maka permusuhanku dengan Keluarga Latreia semakin jelas. Sehingga, aku tidak punya pilihan selain menghancurkan mereka.

Semuanya tergantung keputusan Cliff.

Hmm ...

"... baiklah, terimakasih telah memberikan ijin untuk mendirikan cabang perusahaan prajurit bayaran, Yang Mulia.”

"Ya."

"Aku sangat terbantu.”

Untuk masalah fraksi anti-ras iblis, aku belum menemukan titik terangnya.

Tentu saja, itu berarti aku tidak bisa membuka bisnis pemasaran patung Ruijerd dalam waktu dekat.

Yahh…. sabar saja dulu. Setidaknya, aku sudah bisa memulai pengembangan PT. Rudo.

Jangan serakah.

“Lalu, apakah kau bersedia membantu Cliff melawan fraksi anti-ras iblis?” kakek itu mulai meminta kejelasan.

“Maaf, kalau soal itu…. aku belum bisa memutuskannya.”

"Hohoho… sayang sekali.”

Uskup Agung mengatakan itu sembari tersenyum lebar.

Bagian 2[edit]

Cliff masih harus mengerjakan sesuatu, jadi dia meninggalkanku sendirian dia Pusat Gereja Milis ini.

"Fiuh ..."

Aku menghela napas panjang saat keluar dari gereja.

Sungguh melelahkan ...

Putri tembem dan Uskup Agung…. hari ini aku bertemu dengan dua orang yang menarik.

Keduanya cukup berkesan bagiku.

Namun, mereka berasal dari fraksi yang berbeda.

Oh ya…. setelah mencari tahu, ternyata putri berpipi tembem itu adalah Gadis Kuil, dan dia bukanlah gadis biasa.

Uskup Agung memimpin fraksi pro-ras iblis.

Sedangkan putri itu memimpin fraksi anti-ras iblis.

Ordo Ksatria Kuil juga membela fraksi anti-ras iblis.

Keluarga Latreia tidak terkecuali.

Aku tidak percaya orang sebaik Therese begitu diskriminatif pada ras iblis.

Aku harap suatu hari nanti dia membuka matanya.

Lalu siapakah yang kudukung? Tentu saja fraksi pro-ras iblis, yang dikepalai oleh Uskup Agung.

Tapi, aku tidak bisa melupakan begitu saja jasa Therese yang telah dua kali menolongku.

Meskipun aku masih kesal pada Keluarga Latreia, bukan berarti aku tidak mau balas budi pada Therese.

Sepertinya Gadis Kuil itu tidak sekonyol para pengikutnya.

Setelah kupikir-pikir lagi…. mungkin lebih baik aku berada di pihak netral. Karena kedua fraksi ini sama-sama punya sisi negatif dan positif.

Ya… kurasa itulah pilihan terbaik sekarang.

Oh iya, aku harus bertemu lagi dengan Gadis Kuil, karena aku sudah berjanji menceritakan tentang Eris padanya.

Aku pun masih penasaran dengan kemampuannya.

Mungkin kecil kemungkinannya dia adalah bidaknya Hitogami…. namun tidak sampai 0%.

Aku tidak pernah bisa membedakan mana yang bidaknya Hitogami, mana yang bukan.

Setidaknya, aku tidak mendapatkan gangguan dari bidak-bidak Hitogami saat mendirikan cabang PT. Rudo di Asura.

Apakah rencanaku ini berbahaya bagi Hitogami atau tidak….

Aku tidak tahu…. tidak ada gunanya pula dipikirkan.

Aku harus bersyukur tidak mendapatkan hambatan besar sampai sejauh ini.

Tapi…. jika hambatan itu benar-benar datang, maka pastilah bidak-bidaknya Hitogami sudah turun tangan. Jadi aku harus mencari mereka, dan melenyapkannya.

Aku harus tetap waspada pada siapapun yang mencurigakan.

Gadis Kuil, Claire, atau siapapun itu….. bisa saja menjadi bidak Hitogami.

Tapi aku tidak boleh terlalu fokus pada mereka, karena itu akan membuatku melakukan kesalahan.

Sebelum aku mendirikan cabang PT. Rudo, ada baiknya aku menghubungi Orsted dengan alat komunikasi itu.

Ya.

Untungnya aku sudah mendapatkan dukungan dari Uskup Agung.

Jadi, aku harus mulai secepatnya.

Pertama-tama, beli gedung yang cocok sebagai kantor cabang.

Pasang alat komunikasi dan lingkaran sihir di sana.

Sehingga aku bisa melapor pada bos.

"Oke. Langkah pertama adalah memilih gadung untuk kantor cabang."

Lebih baik aku menyerahkan urusan itu pada Aisha.

Apakah kami harus membuka kantor cabang di Distrik Niaga atau Distrik Petualang? Sepertinya Aisha lebih tahu akan hal itu.

Aisha pasti sudah mengenal daerah ini dengan baik. Kemampuan adaptasi gadis itu sungguh luar biasa, bahkan dia pernah dibesarkan di kota ini.

Lokasi kantor yang tepat akan mempermudah meluasnya koneksi.

Kemudian, tentang Zenith……..

Kalau Aisha sibuk menyiapkan kantor baru, maka tidak ada orang yang merawatnya.

Mungkin kami bisa mengajarkan Wendy bagaimana cara merawat Zenith…..

Yahh…. sepertinya hanya itu solusinya.

Nanti akan kita bahas lebih jauh setelah kembali ke rumah Cliff.

Bagian 3[edit]

Dengan naik kereta kuda, aku pun kembali ke rumah Cliff di Distrik Agama.

Hari sudah petang.

Perutku kosong, aku tidak sabar makan malam bersama keluargaku.

Aku harap ada yang menjual telur di sekitar sini.

Telur rebus, telur goreng, telur dadar ...

Roti…. steak babi goreng juga boleh……

Dengan sebutir telur saja, nafsu makanmu bisa meningkat.

Aisha memang pintar memasak.

Sesampainya di rumah….

"Aku pulaaaang, wah… perutku keroncongan nih…"

Namun, aku mendengar teriakan Aisha dari dalam.

“Kenapa pulangnya telat sekali!!?”

Aku bergegas masuk ke dalam rumah.

Aku mendapati Aisha sedang berdiri bersama Wendy.

"Kenapa lama sekali!!?”

"E-eehh… tidak apa-apa, kan? Lagian, aku punya banyak urusan.”

"Tidak apa-apa gundulmu! Kemarin Onii-chan sudah dengar, kan? Tolong jelaskan padaku! Seenak saja Onii-chan keluar tanpa memberitahuku! Kami sudah lelah menunggumu! Onii-chan harusnya kembali lebih cepat! Kita harus bicara, Onii-chan!”

"Kemaren? Duh, aku tidak begitu ingat sih. T-tapi kan….”

"Bukannya aku sudah bilang!!?? Harusnya Onii-chan pergi bersama kami!!”

Aisha sungguh geram, bahkan dia coba memukulku, namun Wendy menahannya…..

Jarang sekali aku melihat Aisha semarah ini.

Aku coba mengingat-ingat kembali apa kesalahanku, tapi akhirnya Wendy tidak bisa menahannya, dan aku pun kena pukul.

"Aisha, tenanglah sedikit."

"Baik!"

Akhirnya dia melepaskanku.

Aisha sadar bahwa tindakannya terlalu berlebihan.

"Ah, Onii-chan ... maafkan aku ..."

Dia menahan tangannya sembari menunduk.

"Ada apa sih? Maaf, aku tidak begitu ingat apa yang kau katakan kemaren."

Lebih baik aku menanyakan apa yang terjadi.

Kalau aku memarahinya, aku juga salah.

Namun, Aisha hanya menunduk dengan wajah biru, dan tidak membalas pertanyaanku.

Biasanya dia segera menjawab ketika ditanyai.

"Yahhh..."

Seolah gregetan melihat kami berdua, akhirnya Wendy yang bicara.

"Siang tadi, Gisu datang ..."

"Gisu ...?"

"Dia datang menemui Zenith-san. Dia menyayangkan Zenith-san yang terkurung di rumah, padahal sudah lama dia tidak pulang ke Milis.”

Kali ini Aisha yang menjawab.

"…..terkurung di rumah…..”

Aku mulai merasakan firasat buruk.

Wah…. ada yang tidak beres nih.

"Aisha, kumohon jelaskan dengan detail mulai awal…. Kau bisa melakukannya, kan?”

"Ya..."

Aisha mulai bercerita.

Pada siang hari, sepertinya Gisu datang berkunjung.

Karena dia adalah mantan rekan setim Zenith, maka Aisha dan Wendy mengijinkan mereka bertemu.

Sebenarnya Aisha tidak begitu memperhatikan wajah orang itu, namun kalau dilihat dari pakaiannya, bicaranya, dan tingkahnya…. dia mirip sekali seperti Gisu.

Setelah mempersilahkan Gisu masuk, Aisha ada urusan keluar rumah.

"Kenapa kau keluar rumah, Aisha ...?"

"Aku ingin membeli kebutuhan sehari-hari ... sepertinya Wendy bisa jaga rumah, jadi aku pergi begitu saja…. maafkan aku.”

"Tidak apa-apa….”

Sepertinya, itulah kesalahan Aisha.

Jarang sekali dia teledor seperti itu.

Nah….kemudian….

Gisu ngobrol bersama Wendy dan Zenith selama beberapa saat, entah apa yang mereka bicarakan. Tentu saja Zenith membutuhkan bantuan Wendy untuk berkomunikasi, karena dia belum bisa bicara.

Tapi, kemudian, Gisu menyarankan sesuatu….

’Sayang sekali Zenith harus berdiam diri di rumah. Bukankah sebaiknya kita ajak dia jalan-jalan? Pasti dia ingin mengunjungi tempat-tempat yang sudah lama tidak dilihatnya.’

Kurang-lebih seperti itulah sarannya.

Wendy pun menyetujuinya.

Meskipun begitu, sebenarnya Wendy sedikit khawatir.

Tapi ini bukan sepenuhnya salah Wendy.

Kami belum menceritakan padanya tentang percekcokan di Kediaman Latreia.

Kami tidak bisa menyalahkan Wendy, karena Gisu memang jagonya merayu.

Dia sangat mahir membujuk orang lain.

Lagipula, aku juga telah berencana membawa Zenith jalan-jalan keliling kota.

Gisu pun membawa Zenith keluar rumah.

Sayangnya Wendy tidak ikut bersama mereka….. nah, di sinilah masalahnya.

"Saat pulang ke rumah, aku tidak melihat mereka ... aku sudah coba mencari mereka di kota, namun tidak bisa menemukannya."

Rupanya Aisha segera mencari Gisu dan Zenith ke kota, namun hasilnya nihil.

Waktu terus berlalu, namun Aisha tidak kunjung menemukan mereka sampai senja.

Mungkin mereka akan pulang terlambat, namun kenapa tidak juga kembali?

Aisha mulai khawatir, namun dia tidak bisa menyalahkan Wendy, dan akhirnya…. aku pun pulang.

"Apa yang harus kulakukan Onii-chan, tadinya kupikir semuanya baik-baik saja ... apakah ini salahku ...? Apa yang harus kulakukan…. Apa yang harus kulakukan?”

Aisha kesal pada dirinya sendiri, sampai-sampai hampir menangis.

Tenanglah dulu, nak.

"Tenang dulu…. mungkin ini hanyalah kecerobohan Gisu. Mungkin mereka keasyikan jalan-jalan sampai lupa waktu.”

"Tapi, Nyonya Zenith hilang!!”

"Tenanglah, Aisha."

Aku juga mulai merasa khawatir.

Tapi…. Gisu lah yang membawanya keluar… dia adalah kolega kami. Dia bukan orang jahat, kan?

Dia memang tidak bisa bertarung, tapi bukan berarti tidak mampu membela diri. Dia punya segudang kemampuan yang bisa membuatnya bertahan hidup bahkan sampai hari ini. Pengalamannya bertualang jauh lebih banyak dariku.

Kurasa, Zenith aman bersamanya.

Yahh, kalau Gisu sih ...

Mungkin dia mengajak Zenith makan malam, atau semacamnya…..

Dia memang teledor. Mungkin, mereka akan kembali tengah malam, lalu Gisu meminta maaf sembari menggaruk kepalanya dan berkata, ’Ahh…. maaf….maaf….kalian khawatir ya… kebetulan kami tadi bertemu kenalan lama, jadi kami ngorbol lama sekali, ahahahah….’

Ya, seperti itulah dia.

"Untuk saat ini, lebih baik kita menunggu saja.”

Itulah yang kuputuskan.

Bagian 4[edit]

Matahari telah sepenuhnya terbenam.

Cliff kembali dengan ekspresi lelah di wajahnya.

Namun, Zenith dan Gisu belum kembali.

Untungnya, aku dan Aisha sudah tenang.

"Aku minta maaf ... tapi, tolong jangan salahkan Wendy, ini salahku ..."

Setelah mendengar cerita kami, Cliff sempat memarahi Wendy, namun Aisha membelanya.

Dia tidak menduga akan jadi seperti ini.

Dia hanyalah seorang pelayan.

Terlebih lagi, dia adalah pelayan dadakan, jadi dia belum siap menghadapi semua ini.

Kau tidak boleh menyalahkan seseorang, hanya karena dia belum siap.

Hanya orang gagal yang suka menyalahkan orang lain.

"Aku akan pergi mencari ibu. Cliff-senpai, kau di rumah saja."

"Ah, baiklah ..."

Aku keluar mencari mereka, meskipun sekarang saatnya makan malam.

Sepertinya terlalu terlambat jika aku mencari sekarang.

Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Harus ada seseorang yang mencari Zenith.

Gisu lah yang membawanya keluar. ‘ Jadi, harusnya mereka berdua sedang bersama.

Monyet brengsek itu memang tidak bisa bertarung, tapi aku yakin dia bisa melakukan sesuatu jika ada bahaya.

Dia jago mengumpulkan informasi, memetakan lahan, belanja, memasak, merawat peralatan, dan yang paling penting…. menjaga keseimbangan kelompok.

Satu-satunya kelemahannya hanyalah, dia gak bisa gelud.

Meskipun demikian, aku percaya Zenith akan baik-baik saja bersama Gisu.

Tapi, jika muncul musuh yang begitu kuat, maka celakalah mereka.

Dalam keadaan kritis, dia tidak akan bisa melindungi Zenith, bahkan melindungi diri sendiri saja belum tentu mampu.

Aku tahu Gisu punya seribu cara untuk menghindari kondisi gawat seperti itu.

Namun, dia tetaplah tidak sempurna.

Bisa saja terjadi hal-hal konyol seperti, Zenith tidak sengaja menginjak kaki om-om sangar, dan membuatnya marah. Itu juga berbahaya.

Zenith bersama Gisu yang merupakan ras iblis. Jika ada Keluarga Latreia melihatnya, itu juga bisa menimbulkan masalah. Karena mereka begitu membenci ras iblis.

Mereka pasti akan segera membawanya pulang.

Tapi……..

Tunggu sebentar…….

Jangan-jangan ini hanyalah sebuah tipu muslihat.

Jangan-jangan Gisu itu palsu.

Jangan-jangan Gisu itu adalah salah seorang Keluarga Latreia yang menyamar.

Postur tubuh, wajah, cara bicara, dan perilakunya mirip Gisu. Namun dia hanyalah orang lain yang menyamar untuk menipu Wendy dan Aisha. Mungkinkah begitu?

Terlebih lagi, jarang ada pria yang ciri-cirinya mirip Gisu. Jadi, jika ada orang mirip dengannya, maka Aisha tidak mencurigainya.

Adapun kemungkinan buruk lainnya adalah…..

Dia bukan Gisu palsu, tapi…….

Dia adalah bidaknya Hitogami.

Aku tidak ingin memikirkannya, tapi kemungkinan itu selalu ada.

Gisu adalah ras iblis, dan tak satu pun ras iblis mau memasuki Distrik Agama karena pengikut Milis terkenal membenci mereka. Lantas, apa yang dia lakukan di rumah Cliff? Benarkah dia hanya ingin mengajak Zenith jalan-jalan?

Bisa jadi, dia mau repot-repot datang ke rumah Cliff atas saran Hitogami ...

Sekarang bukan saatnya ragu.

Keraguan dan kekhawatiran tidak akan membuahkan apapun.

Sekarang juga bukan saatnya menyesali keadaan.

Kami sudah kehilangan banyak waktu.

Aku harus bergerak sekarang juga.

Aku mengenakan Magic Armor Versi II, lalu segera meniggalkan rumah Cliff.

"Kemana aku harus mencari terlebih dahulu? Apakah kami harus berpencar?"

Aisha bersamaku.

Zenith belum ditemukan ... kami berdua tidak bisa tenang.

Kalau Aisha panik, aku harus menenangkannya.

"Aisha, lebih baik kita mencari bersama, masalah akan tambah runyam bila kau hilang.”

"Y-ya… aku mengerti."

Aisha punya kenangan buruk saat dia hendak diculik.

Sepertinya dia mulai khawatir jika Zenith diculik orang jahat.

Di dunia ini, penculikan adalah kejahatan mainstream…..

Tapi, tidak semudah itu.

Mereka harus menghadapi Gisu terlebih dahulu, sang petualang kelas S, jika ingin menculik Zenith.

Andaikan aku berada di posisi si penculik, maka aku akan mencari target yang lebih mudah.

"..."

Setelah berlari beberapa langkah, tiba-tiba aku berhenti.

Ke arah mana kita harus mencari terlebih dahulu?

Gawat, aku mulai panik. Aku harus menenangkan diri dulu.

Tenang, semuanya akan baik-baik saja, berpikirlah dengan tenang.

Tarik napas dalam-dalam.

"Suu ... Haa ..."

Aku bersama Aisha yang jauh lebih cerdas dariku.

Aku harus berdiskusi dengannya.

"Aisha ... menurutmu ke manakah Gisu pergi?"

"Err ... Distrik Petualang?"

"Kenapa ke sana?"

"Gisu-san pasti tidak nyaman berlama-lama di Distrik Agama, jadi dia ingin pergi ke distrik yang lebih bersahabat dengannya, yaitu Distrik Petualang. Sebenarnya, bisa juga mereka pergi ke Distrik Niaga, tapi karena Gisu-san adalah seorang petualang, maka kurasa dia lebih memilih pergi ke Distrik Petualang karena banyak teman di sana.”

"Oke, kalau begitu ayo kita menuju ke Distrik Petualang."

Aisha memang hebat, dia masih bisa menganalisis dengan begitu jeli di saat-saat seperti ini.

Kita harus lekas ke sana sebelum mereka pergi lebih jauh.

"Ayo cepat."

"Oh iya… haruskah kita menggunakan kuda, atau kereta mungkin?”

"Hmm?"

Kuda ...

Aku masih belum bisa menunggangi kuda.

Tapi, bukan berarti aku tidak bisa naik kuda.

Aku sudah berlatih, jadi aku bisa mengemudikan kereta kuda.

Namun, dengan kendaraan seperti itu, kami tidak bisa bergerak bebas.

Baiklah.

Aku bisa berlari lebih cepat dengan menggunakan sihir.

"Kita tidak butuh kuda."

"Eh?"

Aku menggendong Aisha bagaikan putri.

Kemudian, kuaktifkan Magic Armor Versi II dengan Mana-ku.

Lalu, kutekuk kakiku.

Aku sudah berlatih meringankan dentumannya.

"Aisha, pegang erat-erat ya….."

"Eh ...? Ah!"

Aisha memegang dan mencengkeram jubahku dengan kuat.

Aku pun menggendong Aisha dengan erat.

"... Ah, ah! Jangan…. jangan… hentikaaaaaaan….”

Sepertinya Aisha menjerit, namun aku tidak begitu mendengarnya.

Kami pun melompat tinggi ke langit malam.